Tafsir Al-Misbah: Surat Al-Fajr

Surat Al-Fajr

detikcom – Jakarta
Surah al-Fajr terdiri dari 30 ayat. Kata AL-FAJR, yang berarti “Fajar”,diambil dari ayat pertama. Ayat-ayat surah ini disepakati turun sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah. Namanya adalah al-Fajr, tanpa wauw, sedikit berbeda dengan bunyi ayatnya yang pertama. Penamaan ini disepakati juga oleh para penulis mushhaf, para perawi hadis, dan para pakar tafsir. Tidak ada nama lain bagi kumpulan ayat-ayat ini kecuali nama tersebut. Uraian utama surah ini adalah ancaman kepada kaum musyrikin Mekkah jangan sampai mengalami siksa yang telah dialami oleh para pendurhaka yang jauh lebih perkasa daripada mereka, sekaligus berita gembira serta pengukuhan hati Nabi SAW dan kaum muslimin yang pada masa turunnya ayat-ayat surah ini masih tertindas oleh kaum musyrikin Mekkah.

Surah ini juga—sebagaimana dikemukakan Thabathaba’i—merupakan celaan kepada mereka yang memiliki ketergantungan sangat besar terhadap dunia sehingga menghasilkan kesewenangan dan kekufuran.
Tema surah ini, menurut al-Biqa’i, adalah pembuktian tentang uraian akhir surah al-Ghasyiyah, yakni kematian, serta hisab (pertanggungjawaban) manusia atas amal- amalnya. Bukti tentang tema utama surah ini diisyaratkan oleh namanya al-Fajr, yakni terpancar saat subuh guna melahirkan siang yang kemarin telah berlalu tanpa perubahan zatnya, demikian juga kebangkitan manusia dari kematian kecil, yakni tidur, dengan tersebarnya cahaya siang agar manusia mencari sarana kehidupan untuk kemudian mengalami hisâb yang menghasilkan ganjaran atau balasan. Demikian al-Biqa’i.

Surah ini merupakan wahyu yang ke-10 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Ia turun sebelum surah adh-Dhuha dan sesudah surah al-Fil. Ayat-ayatnya berjumlah 30 ayat menurut cara perhitungan ulama Kufah dan Syam, dan 32 ayat menurut cara perhitungan ulama Mekkah dan Madinah karena ayat 15 mereka jadikan dua ayat yakni awalnya sampai kata wana’ammahu satu ayat, dan selebihnya satu ayat lagi sampai dengan akraman. Demikian juga ayat 16 mereka jadikan dua ayat, yang pertama sampai kata rizqahu lalu lanjutannya ayat berdiri sendiri sampai dengan ahanan.

Akhir ayat pada surah yang lalu menegaskan tentang keniscayaan kematian dan kembalinya manusia kepada Allah untuk menjalani perhitungan dan memperoleh balasan dan ganjaran. Pergantian malam dan siang dan kemunculan serta kelahiran fajar sebagaimana terlihat setiap hari—setelah kepergiannya atau “kematiannya” kemarin—membuktikan kuasa Allah SWT dalam membangkitkan siapa yang telah mati. Dalam konteks pembuktian itulah Allah pada awal ayat-ayat surah ini bersumpah dengan lima fenomena alam yang terlihat sehari-hari, yaitu:
1. Fajar yakni cahaya pagi ketika mulai mengusik kegelapan malam.
2. Malam-malam sepuluh pada setiap bulan ketika cahaya bulan mengusik kegelapan malam.
3. Yang genap, dan
4. Yang ganjil dari malam-malam hari atau apa saja.
5. Malam secara umum bila berlalu.

Dengan menyebut kelima hal tersebut Allah menekankan pada ayat 5 bahwa benar-benar pada yang demikian itu terdapat sumpah yang mestinya mengantar siapa yang berakal untuk menerima dan meyakini apa yang disampaikan Allah melalui rasul-Nya, yaitu keniscayaan Hari Kiamat.

Setelah ayat-ayat yang lalu menyebut sekian banyak fenomena alam guna menunjuk kuasa-Nya membangkitkan manusia sekaligus kuasa-Nya untuk menjatuhkan sanksi bagi para pendurhaka, ayat 6 bertanya dengan maksud agar dipikirkan bagaimana perlakuan Allah menjatuhkan sanksi terhadap umat terdahulu yang membangkang perintah-Nya.

Tiga umat yang disebut oleh surah ini untuk diperhatikan bagaimana perlakuan Allah terhadap mereka adalah:
1. Umat Nabi Hud, yaitu kaum ‘Ad, yang sangat mahir dalam bangunan, sehingga dilukiskan kotanya yang bernama Iram, oleh ayat 7 dan 8 sebagai kota yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun sebuah kota seperti itu sebelumnya di negeri lain, atau mereka dilukiskan sebagai sangat kuat dan Allah belum pernah menciptakan penduduk sekuat mereka di tempat-tempat lain.
2. Umat kaum Nabi Shaleh, yaitu Tsamud, yang demikian mahir dalam seni pahat, sehingga mereka mampu memotong batu-batu besar di lembah guna dijadikannya istana-istana tempat tinggal dan memahatnya sehingga menghasilkan relief-relief di dinding-dinding istana/ kediaman mereka [9].
3. Kaum Firaun yang memunyai pasak-pasak, yakni piramid-piramid yang terdiri dari batu-batu yang tersusun rapi dan kokoh tertancap di bumi, juga tentara-tentara yang dijadikannya bagaikan pasak guna mengukuhkan kekuasaannya [10].
Ketiga kaum itu, menurut ayat 11 dan 12, melampaui batas dalam negeri tempat tinggal mereka, sehingga di sana banyak terjadi kerusakan.

Ayat 13 menjelaskan dampak buruk dari kesewenangan mereka itu, yakni Allah menuangkan dengan deras dan keras kepada mereka cemeti siksa.
Ayat 14 menjelaskan bahwa sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Mengawasi.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-14
1. Hidup adalah pergantian malam dan siang. Allah kuasa menerbitkan fajar yang menghapus kegelapan, mendatangkan terang di malam-malam gelap, dan tentu saja menghidupkan yang mati. Karena itu, jangan berputus asa dan bersiaplah menghadapi hari esok.
2. Al-Qur’an menginformasikan peristiwa masa lalu yang tidak diketahui orang pada masa turunnya, tetapi terbukti kemudian kebenarannya.*)
3. Kehancuran masyarakat bukan disebabkan karena keterbelakangan dalam bidang pembangunan, atau seni dan teknologi. Karena jika demikian, kaum ‘Ad, Tsamud, dan Firaun yang unggul pada masanya dalam bidang-bidang tersebut tidak dihancurkan Allah. Kehancuran masyarakat adalah akibat kedurhakaan dan kesewenang-wenangan.
4. Penindasan dan kesewenangan penguasa melahirkan kebejatan masyarakat dan kerusakan Negara karena yang demikian itu melahirkan kebencian dan kecurigaan yang memperlemah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

*) Pada tahun 1964-1969 dilakukan penggalian arkeologi, dan dari hasil-hasil analisis pada tahun 1980 ditemukan informasi dari salah satu lempeng tentang adanya kota yang bernama Shamutu, ‘Ad, dan Iram.
Bukti arkeologi lain tentang kota Iram adalah berkat jasa pesawat ulang alik Challenger dan jasa satelit Perancis yang menemukan citra digital berupa garis putih pucat yang menandai beratus-ratus kilometer rute kafilah yang ditinggalkan. Sebagian berada di bawah tumpukan pasir yang telah menimbun selama berabad-abad hingga mencapai ketinggian seratus delapan puluh tiga meter. Berdasarkan data ini, Nicholas Clapp dan rekan-rekannya meneliti tanah tersebut dan melakukan pencarian.
Pada bulan Februari 1992 mereka menemukan bangunan segi delapan dengan dinding-dinding dan menara-menara yang tinggi mencapai sekitar sembilan meter. Agaknya itulah yang dimaksud oleh ayat 7 di atas: “Iram yang memunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”

Setelah mengingatkan jatuhnya siksa atas para pendurhaka sekaligus memperingatkan tentang pengawasan-Nya, ayat-ayat berikut mengecam manusia yang tidak menyadari hal tersebut.
Ayat 15 bagaikan menyatakan: Demikianlah adat kebisaan dan peradaban yang dibangun oleh ketiga masyarakat itu, dan demikian juga kebiasaan Allah dalam perlakuan-Nya kepada para pendurhaka. Sebenarnya Allah tidak menghendaki dari manusia kecuali ketaatan yang bermanfaat buat mereka dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.
Adapun manusia yang durhaka, maka apabila dia diuji oleh Tuhannya, lalu dia dimuliakan dan diberi nikmat seperti harta, kehormatan, dan kekuatan, maka dia senantiasa berkata dengan bangga—tanpa sadar bahwa itu ujian—bahwa: “Tuhanku telah memuliakanku karena aku memang wajar dimuliakan, sebab Tuhan mencintaiku.”
Sebaliknya, menurut ayat 16, bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya atau menimpakan kepadanya aneka kekurangan, seperti penyakit atau hilangnya yang dikasihi, maka dia berkata dengan kesal menggerutu sambil melalaikan tuntunan agama bahwa: “Tuhanku telah menghinakanku.”
Ayat 17 menyanggah ucapan dan dugaan itu: Sekali-kali tidak demikian! Atau berhentilah berucap demikian! Karena kemuliaan berpangkal dari kebajikan dan ketaatan, sedang kehinaan adalah karena kedurhakaan kepada Allah!
Selanjutnya, ayat 18 menegaskan bahwa: Sebenarnya kamu wahai yang diluaskan rezekinya oleh Allah tidak memuliakan anak yatim [17] padahal Allah—menurut pendapatmu—telah memuliakan kamu sebagaimana pengakuanmu sendiri.
Lebih lanjut, ayat 18 menyatakan bahwa lebih dari itu, kamu bahkan tidak saling menganjurkan memberi pangan orang miskin—apalagi memberi mereka pangan— padahal kamu memiliki kelebihan yang melimpah; dan kamu senantiasa mengambil dan menggunakan untuk kepentingan diri kamu, harta pusaka dengan cara menghimpun yakni yang halal bersama yang haram [19], juga kamu terus-menerus mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan [20], yakni disertai dengan ketamakan. Itu semua akibat perhatian yang berlebihan terhadap gemerlap duniawi, padahal mestinya manusia menggunakannya untuk meraih kenikmatan ukhrawi.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat 15-20
1. Jangan menduga ujian—yakni kenikmatan dan harta benda atau kepedihan dan keterbatasan harta—sebagai bukti cinta atau murka Allah. Tidak! Itu adalah ujian dan hasil ujian tidak diumumkan dalam kehidupan dunia ini. Penilaian akhir baru disampaikan kelak di Hari Kemudian.
2. Jika tidak dapat memberi sesuatu yang bermanfaat, maka paling tidak tampillah menganjurkan pihak lain untuk memberi.
3. Yang dikecam adalah yang mencintai harta secara berlebihan, karena ini mengantar kepada pengabaian selainnya, sehingg bila yang bersangkutan dihadapkan pada dua pilihan, walau salah satunya adalah nilai-nilai agama, maka yang mencintai harta secara berlebihan pasti akan memilih harta dan materi.
4. Melupakan Allah ketika bergelimang nikmat atau menggerutu ketika dalam kekurangan bukanlah sifat seorang Mukmin.

Sikap manusia durhaka terhadap dunia secara umum dan harta benda secara khusus, seperti yang digambarkan oleh ayat-ayat yang lalu dikecam oleh ayat-ayat di atas. Mereka menduga itulah jalan kebahagiaan. Ayat 21 di atas menafikan dugaan tersebut dengan menyatakan: Wahai manusia, tidak demikian! Atau ayat itu memperingatkan mereka bahwa: Jangan berbuat demikian, karena yang demikian dapat mencelakakan kamu. Lalu mereka diingatkan tentang masa yang pasti bagi kecelakaan mereka, yaitu bila bumi dengan mudah dihantamkan berturut-turut dengan hantaman yang besar sehingga meluluhkan segala sesuatu.
Ayat 22 menyatakan bahwa ketika itu juga datanglah Tuhanmu—wahai Nabi Muhammad atau wahai manusia— dalam bentuk yang sesuai dengan keagungan dan kesucian-Nya, atau hadirlah ketetapan-Nya, serta tampaklah dengan jelas kuasa dan keagungan-Nya. Sedang para malaikat berbaris-baris sesuai dengan kedudukan dan tugas-tugasnya.
Selanjutnya, ayat 23 menyatakan bahwa pada hari itu diperlihatkanlah neraka Jahanam dengan aneka kengerian dan siksanya. Dan pada ketika itu juga sadarlah manusia tentang apa yang telah dilalaikannya; tetapi kesadaran itu,tidak lagi berguna karena saat itu adalah saat menuai, sedang saat menanam telah berlalu.
Ayat 24 melukiskan penyesalan yang tidak berguna. Ketika itu, manusia yang lalai itu dari saat ke saat selalu mengatakan dengan penuh penyesalan: “Seandainya aku dahulu melakukan kegiatan yang berguna untuk hidupku, tentulah…” Ayat 24 ini tidak menyebut apa yang tentu itu, karena perandaian apa pun tidak ada gunanya
lagi.
Ayat 25 mengingatkan betapa pedih siksa Allah ketika itu. Tidak terbayang dalam benak siapa pun ada yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada satu pun yang dibelenggu seperti belenggu-Nya, yang dilakukan oleh malaikat atas perintah-Nya. Selanjutnya, kalau ayat yang lalu menguraikan penyesalan manusia durhaka, serta ucapan penyesalan mereka, maka ayat 27-30 menggambarkan sambutan Allah kepada yang taat.

Allah berfirman menyerunya ketika ruhnya akan meninggalkan badannya atau ketika dia bangkit dari kuburnya: “Wahai jiwa yang tenang lagi merasa aman dan tenteram karena banyak berzikir dan mengingat Allah! Kembalilah, yakni wafat dan bangkitlah di Hari Kemudian menuju kepada Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu dengan hati rela, yakni puas dengan ganjaran Ilahi lagi diridhai oleh Allah, bahkan oleh seluruh makhluk, maka karena itu masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku yang taat lagi memperoleh kehormatan dari-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku yang telah Ku-persiapkan bagi siapa yang taat kepada-Ku.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat 21-30
1. Sumber kebahagiaan bukanlah harta, dan hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat. Karena itu yang menyesal di Hari Kemudian akan menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama berada di dunia bukanlah untuk kehidupannya.
2. Pada Hari Kiamat, keagungan dan kebesaran Allah akan hadir dan terlihat dengan amat jelas; malaikat-malaikat juga terlihat berbaris bershaf-shaf dan neraka didekatkan serta ia terlihat juga, khususnya oleh para pendurhaka.
3. Mereka yang taat, saat kematian atau ketika bangkit dari kuburnya, akan merasa tenang bertemu dengan Allah dan disambut oleh-Nya dengan sapaan mesra, lalu dipersilakan masuk ke surga. Itu disebabkan jiwa mereka tenang karena ketika mereka hidup di dunia, mereka banyak mengingat Allah swt.
Demikian, Wa Allâh A‘lam.

(Tafsir Al Misbah ini merupakan kerja sama detikcom dengan http://www.alifmagz.com)

About these ads

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 619 other followers

%d bloggers like this: