Archive for category Hadis

Polemik Memendekkan Tsaub Di Atas Mata Kaki

Untuk berhasil memahami as-Sunnah secara benar, kita harus menghimpun semua hadis sahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang muthlaq dengan yang muqayyad dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khash. Dengan cara itu, dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Dan sebagaimana telah ditetapkan bersama, bahwa as-Sunnah menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskan makna-maknanya; dalam arti bahwa as-Sunnah merinci apa yang dinyatakan oleh al-Qur’an secara garis besarnya saja, menafsirkan bagian-bagian yang kurang jelas, mengkhususkan apa yang disebutnya secara umum dan membatasi apa yang disebutnya secara lepas (muthlaq); maka sudah barang tentu, ketentuan-ketentuan seperti itu harus pula diterapkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Ambillah sebagai misal, hadis-hadis yang berkenaan dengan larangan “mengenakan sarung sampai di bawah mata kaki”, yang mengandung ancaman cukup keras terhadap pelakunya. Yaitu hadis-hadis yang dijadikan sandaran oleh sejumlah pemuda yang amat bersemangat, untuk menunjukkan kritik yang tajam terhadap siapa-siapa yang tidak memendekkan tsaub (baju gamis)-nya sehingga di atas mata kaki. Sedemikian bersemangatnya mereka, sehingga hampir-hampir menjadikan masalah memendekkan tsaub ini, sebagai syiar Islam terpenting, atau kewajiban yang mahaagung. Dan apabila menyaksikan seorang ‘alim atau da’i Muslim yang tidak memendekkan tsaubnya, seperti yang telah mereka lakukan, maka mereka akan mencibirnya dalam hati atau adakalanya menuduhnya secara terang-terangan sebagai orang yang “kurang beragama”! Padahal, seandainya mereka mau mengkaji sejumlah hadis yang berkenaan dengan masalah ini, lalu menghimpun antara yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan tuntunan agama Islam kepada para pengikutnya dalam soal-soal yang menyangkut kebiasaan hidup sehari-hari, niscaya mereka akan mengetahui apa sebenarnya yanh dimaksud oleh hadis-hadis seperti itu. Dan sebagai akibatnya, mereka akan mengurangi ketegaran sikap mereka dan tidak menyimpang terlalu jauh dari kebenaran, serta tidak akan mempersempit sesuatu yang sebetulnya telah dilapangkan oleh Allah SWT bagi manusia. Perhatikanlah hadis yang dirawikan oleh Muslim dari Abu Dzar r.a. bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Tiga jenis manusia, yang kelak, pada hari kiamat, tidak akan diajak bicara oleh Allah: (1) seorang mannan (pemberi) yang tidak memberi sesuatu kecuali untuk diungkit-ungkit; (2) seorang pedagang yang berusaha melariskan barang dagangannya dengan mengucapkan sumpah-sumpah bohong; dan (3) seorang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai di bawah kedua mata kakinya.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lainnya, juga dari Abu Dzar: “Tiga jenis manusia, yang kelak pada hari kiamat, tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang oleh-Nya, tidak ditazkiah oleh-Nya, dan bagi mereka tersedia azab yang pedih.” (Rasulullah saw mengulangi sabda beliau itu tiga kali, sehingga Abu Dzar berkata: ‘Sungguh mereka itu adalah manusia-manusia gagal dan merugi! Siapa mereka itu, ya Rasulullah?’ Maka jawab beliau): “Orang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai ke bawah mata kaki; orang yang memberi sesuatu untuk kemudian diungkit-ungkit; dan pedagang yang melariskan barang dagangannya dengan bersumpah bohong.” (HR. Muslim) Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan “orang yang menjulurkan sarung sampai ke bawah mata kaki”? Apakah mencakup siapa saja yang memanjangkan sarungnya, walaupun hal itu semata-mata karena kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat lingkungannya dan tanpa maksud menyombongkan diri? Mungkin saja hal itu didukung oleh hadis yang dirawikan dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah: “Sarung yang di bawah mata kaki akan berada di neraka.” Yang dimaksud dengan “sarung” dalam hadia itu, ialah “kaki” seseorang yang sarungnya terjulur sampai di bawah mata kakinya. Ia akan dimasukkan ke neraka, sebagai hukuman atas perbuatannya. Akan tetapi, bagi orang yang sempat membaca semua hadis yang berkenaan dengan masalah ini akan mengetahui apa yang ditarjihkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lainnya, bahwa yang dimaksud di sini adalah sikap sombong yang menjadi motivasi orang yang menjulurkan sarungnya. Itulah yang diancam dengan hukuman yang keras. Untuk itu, mari kita baca hadis-hadis shahih yang dirawikan berkenaan dengan hal ini. Telah dirawikan oleh Bukhari dalam bab “Barangsiapa Menyeret Sarungnya Bukan Karena Sombong”, sebuah hadis riwayat Abdullah bin Umar, dari Nabi saw, katanya: “Barangsiapa menyeret sarungnya (yakni menjulurkannya sampai menyentuh atau hampir menyentuh tanah) karena sombong, maka Allah tidak akan memandang kepadanya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah salah satu sisi sarungku selalu terjulur ke bawah, kecuali aku sering-sering membetulkan letaknya.” Nabi saw berkata kepadanya: “Engkau tidak termasuk orang-orang yang melakukannya karena kesombongan.” Al-Bukhari juga merawikan dalam bab yang sama, dari Abu Bakrah, katanya: “Kami sedang bersama Rasulullah ketika terjadi gerhana matahari. Beliau berdiri lalu berjalan menuju masjid sambil menyeret sarungnya karena tergesa-gesa ….” Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab “Orang yang Menyeret Sarungnya Karena Sombong”, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah SWT tidak akan memandang kepada siapa yang menyeret sarungnya karena kesombongan.” Dan dari Abu Hurairah pula, bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang laki-laki sedang berjalan dengan berpakaian amat mewah yang membuat dirinya sendiri merasa kagum, sementara rambutnya tersisir rapi, ketika tiba-tiba ia ditelan oleh longsoran tanah. Maka ia pun terus-menerus berteriak ketakutan sampai hari kiamat.” Dan diriwayatkan oleh Ibn Umar dan juga dari Abu Hurairah: “Seorang laki-laki sedang berjalan sambil menyeret sarungnya, ketika tiba-tiba ditelan longsoran tanah, membuatnya terus-menerus berteriak ketakutan didalamnya sampai hari kiamat.” Muslim telah merawikan hadis dari Abu Hurairah ini dan sebelumnya. Dan juga yang bersumber dari Ibn Umar, melalui beberapa jalur, diantaranya: “Barangsiapa menyeret sarungnya, tidak ada maksudnya selain untuk membanggakan diri, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Dari riwayat tersebut, secara jelas Nabi saw menekankan soal “membanggakan diri” sebagai satu-satunya alasan. Dengan demikian, tak ada ruang bagi siapa pun untuk menakwilkannya. An-Nawawi dikenal sebagai seorang tokoh yang tidak suka mempermudah, bahkan ia cenderung memilih penilaian yang lebih ketat dan lebih berhati-hati. Ketika menguraikan hadis tentang “orang yang menjulurkan sarungnya”, ia berkata: “Adapun yang dimaksud dalam sabda Nabi saw sebagai “orang yang menjulurkan sarungnya” adalah orang yang melakukannya sehingga sarungnya itu menyentuh atau hampir menyentuh tanah, sambil menyeretnya dengan sikap sombong. Makna tersebut dapat diketahui dari hadis lainnya yang berbunyi: ‘Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret tsaubnya dengan maksud menyombongkan diri.’ Adanya keterangan tentang sikap menyombongkan diri, membuat lingkup ancaman keras terhadapnya terbatas hanya apabila hal itu dilakukan demi menunjukkan kesombongan. Buktinya, Rasulullah saw mengizinkannya bagi Abu Bakar dengan ucapan beliau: ‘Engkau tidak termasuk mereka.’ Sebab, kalaupun ia juga ‘menyeret sarungnya’, maka hal itu tidak disertai dengan sikap menyombongkan diri.” Dan telah berkata al-Hafizh Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas hadis-hadis riwayat Bukhari yang berisi ancaman terhada orang-orang yang menjulurkan sarung atau menyeret baju gamisnya: “Dalam hadis-hadis ini, ditegaskan bahwa menjulurkan sarung (sampai ke bawah mata kaki) karena ingin menyombong, termasuk dosa besar. Dan jika hal itu bukan karena kesombongan pun, maka tetap saja hal itu haram menurut pengertian zahir hadis-hadis itu. Tetapi mengingat adanya keterangan tambahan tentang sikap sombong dari mereka yang melakukannya, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan menjulurkan sarung atau menyeretnya, tidaklah haram sepanjang tidak disertai sikap menyombong.” Dan telah berkata al-Hafizh al-Faqih Ibn ‘Abd al-Bar: “Yang dapat dipahami dari hadis-hadis tersebut ialah, apabila perbuatan ‘menyeret’ itu bukan karena kesombongan, maka ancaman terhadapnya itu tidak berlaku. Walaupun pada dasarnya perbuatan ‘menyeret’ gamis atau jenis pakaian lainnya, tetap tercela dalam keadaan apapun.” Masih ada lagi yang menguatkan pemahaman seperti ini, yakni membatasi perbuatan ‘menjulurkan sarung’ yang terkena ancaman, hanya apabila dilakukan karena kesombongan semata-mata. Hal itu ialah kenyataan bahwa ancaman dalam hadis-hadis itu merupakan ancaman amat keras. Sampai-sampai menjadikan orang seperti itu, termasuk tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang dan tidak ditazkiah oleh-Nya serta disediakan azab yang pedih bagi mereka! Dan sampai-sampai Nabi saw mengulangi ancaman itu sebanyak tiga kali, sehingga Abu Dzar merasa ketakutan dan berkata: “Sungguh mereka telah gagal dan sangat merugi! Siapakah mereka ya Rasulullah?” Semua itu menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu, termasuk dosa-dosa besar yang sangat terlarang dan mendatangkan kebinasaan. Dan itu tidak akan berlaku kecuali pada hal-hal yang berkaitan dengan “kebutuhan-kebutuhan mendasar” yang dijamin pelaksanaan dan keselamatannya oleh syariat, yakni yang berkenaan dengan urusan agama, jiwa, akal, kehormatan, nasab dan harta; dan itulah tujuan-tujuan pokok syariat Islam. Adapun perbuatan memendekkan sarung atau baju gamis adalah termasuk estetika dan berkaitan dengan kesopanan pergaulan yang dengannya hidup ini menjadi indah, dengan cita rasa yang tinggi dan budi pekerti yang luhur. Sedangkan memanjangkannya atau menjulurkannya — tanpa suatu tujuan yang tercela — paling-paling hanya termasuk hal yang makruh (tak disukai). Karena itu, yang sangat dipentingkan oleh agama mengenai ini dan yang ditujukan kepadanya perhatian terbesar adalah niat serta motivasi yang berada di balik suatu perbuatan lahiriah. Dan yang sangat ingin ditentang di sini olehnya adalah kesombongan, keangkuhan, kepongahan, kebanggaan diri dan sebagainya yang semua itu termasuk penyakit-penyakit hati dan penyimpangan kejiwaan yang tak seorang pun akan masuk surga apabila di dalam dirinya bersemayam perasaan seperti itu walaupun hanya sebesar zarrah. Itulah yang sangat menguatkan perlunya membatasi ancaman keras yang ditujukan terhadap perbuatan menjulurkan sarung semata-mata apabila hal itu bermotivasi kesombongan dan kebanggaan diri saja sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis lainnya. Masih ada lagi hal lain di samping apa yang telah kami kemukakan di atas. Yaitu bahwa urusan pakaian, potongan dan bentuknya berkaitan dengan kebiasaan dan adat istiadat manusia yang seringkali berlainan sesuai dengan perbedaan iklim antara panas dan dingin, juga antara yang kaya dan miskin, yang kuat dan yang lemah, jenis pekerjaan, tingkat kesejahteraan hidup serta pelbagai pengaruh dan latar belakang lainnya. Dalam hal-hal seperti ini, syariat senantiasa bersikap lunak dan tidak ikut campur kecuali dalam batas-batas tertentu, demi mencegah timbulnya penonjolan kemewahan dan kemubaziran dalam kehidupan lahiriah ataupun kehendak menyombongkan diri yang bersemayam di dalam hati seseorang serta dalam beberapa hal seperti itu yang telah diketahui secara rinci. Berkaitan dengan hal ini, al-Bukhari pada bab “Pakaian” dalam Shahihnya telah menyediakan pasal yang khusus tentang firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya …?” (al-A’raf: 32). Demikian pula Nabi saw telah bersabda: “Silakan kalian makan, minum, berpakaian dan bersedekah, tetapi jangan berlebih-lebihan dan jangan pula demi kesombongan.” Dan telah berkata Ibn Abbas ra: “Makanlah makanan yang kau ingini, kenakanlah pakaian yang kau ingini, selama kau menghindari dua hal: pemborosan dan keangkuhan.” Ibn Hajar mengutip ucapan salah seorang gurunya, al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Syarh Tirmidzi: “Pakaian yang sangat panjang sehingga menyentuh tanah adalah termasuk kesombongan dan hukumnya adalah haram. Dan sekiranya dinyatakan tentang haramnya semua pakaian yang dipanjangkan lebih daripada ukuran yang biasa dikenakan orang, maka pernyataan itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi manusia di zaman ini telah menciptakan berbagai aturan dalam memanjangkannya. Sehingga setiap kelompok masyarakat mempunyai tanda-tanda khusus yang menunjukkan identitas mereka. Maka apabila hal tersebut dilakukan demi kesombongan tentu hukumnya haram. Tetapi yang hanya mengikuti adat kebiasaan semata-mata tidaklah dianggap haram. Kecuali yang panjangnya sedemikian rupa sehingga menyentuh tanah dan menyebabkan orang berjalan sambil menyeretnya. Al-Qadhi ‘Iyadh mengutip dari sebagian ulama bahwa mereka tidak menyukai pakaian yang panjangnya melebihi kebiasaan, juga kebiasaan berpakaian yang sangat panjang atau sangat lebar. Berdasarkan hal tersebut di atas, apa yang telah menjadi adat kebiasaan harus pula diperhitungkan sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi. Sebab adakalanya suatu perbuatan yang menyimpang dari kebiasaan umum mungkin justru menjadikan pelakunya makin terkenal. Sedangkan cara berpakaian yang sengaja dimaksudkan untuk tujuan seperti itu adalah tercela pula. Maka yang paling baik adalah sikap yang tengah-tengah. Walaupun demikian, sekiranya ada orang yang memendekkan tsaubnya demi mengikuti as-Sunnah dan menjauhkan diri dari tuduhan hendak menyombong atau demi menghindar dari perbedaan pendapat para ulama ataupun ingin memilih jalan yang lebih selamat maka Insya Allah ia akan beroleh pahala juga. Tetapi dengan syarat, ia tidak boleh memaksa orang lain melakukan seperti dirinya sendiri. Dan juga tidak boleh bertindak keterlaluan dalam mengkritik orang yang tidak melakukannya; yang memercayai pendapat para imam dan ahli tahkik lain yang telah kami sebutkan sebelum ini. Sebab setiap mujtahid akan beroleh bagiannya dan setiap orang akan dinilai sesuai dengan niatnya. Mencukupkan diri dengan pengertian lahiriah (zahir) suatu hadis saja tanpa memperhitungkan hadis-hadis lainnya serta nash-nash lain yang berkaitan dengan topik tertentu; seringkali menjerumuskan orang ke dalam kesalahan dan menjauhkannya dari kebenaran serta maksud sebenarnya dari konteks hadis tersebut. Sumber: Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw” karangan Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Kharisma, 1993 hal. 106-113.

Leave a comment

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal Apa yang dikatakan oleh para ulama tentang dibolehkannya menggunakan hadis-hadis dha’if untuk fadhail amal, tidaklah berarti menetapkan disunnahkannya sesuatu berdasarkan hadis yang seharusnya tidak boleh dijadikan hujjah. Sebab, menetapkan disunnahkannya sesuatu adalah termasuk suatu hukum syar’i dan karena itu, tidak berlaku kecuali dengan suatu dalil syar’i pula. Dan siapa saja yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai suatu perbuatan tertentu, tanpa mengemukakan dengan suatu dalil syar’i maka ia telah mensyariatkan sesuatu yang tidak ada izin Allah tentangnya. Sama halnya seandainya ia menghukumkan tentang halal ataupun haramnya sesuatu (tanpa dalil syar’i). Karena itu, para ulama berbeda pendapat dalam selainnya. Bahkan hal itu merupakan dasar agama yang disyariatkan.

Adapun yang dimaksud oleh para ulama mengenai hal itu, adalah dalam kaitannya dengan suatu perbuatan yang memang telah dinyatakan sebagai disukai atau dibenci oleh Allah berdasarkan nash atau ijma‘. Seperti tentang disukainya tilawat Al-Qur’an, membaca tasbih, berdoa, bersedekah, memerdekakan budak dan berbuat kebajikan kepada manusia. Atau tentang tidak disukainya perbuatan berdusta, berkhianat dan sebagainya. Berdasarkan hal itu, apabila diriwayatkan suatu hadis tentang keutamaan beberapa perbuatan yang mustahab serta pahala yang disediakan baginya atau tentang tidak disukainya perbuatan tertentu serta hukuman yang disediakan baginya, sedangkan besarnya pahala dan hukumannya masing-masing, dinyatakan dalam suatu hadis yang tidak kita ketahui bahwa ia adalah maudhu’ maka dalam hal ini, boleh saja meriwayatkannya atau mengamalkannya. Dalam arti, bahwa orang (boleh saja) mengharapkan pahala tersebut atau merasa takut akan hukuman seperti itu. Sama halnya seperti seorang yang sudah mengetahui sebelumnya bahwa perdagangan adalah suatu usaha menguntungkan, tetapi kini ia diberitahu bahwa keuntungannya amat sangat banyak. Maka apabila keterangan tersebut memang benar, ia akan memperoleh manfaat darinya. Tetapi apabila keterangan tersebut ternyata bohong, ia tidak akan rugi karenanya.

Misalnya, berbicara tentang “targhib wa tarhib” dengan menggunakan hadis-hadis Israiliyat, mimpi-mimpi, ucapan para salaf dan ulama, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ulama tertentu dan sebagainya. Semua itu, yang tidak boleh dijadikan dasar bagi penetapan suatu hukum syar’i apapun, baik mustahab ataupun lainnya, tetapi boleh disebutkan dalam rangka targhib dan tarhib (memberikan harapan atau mempertakuti dengan ancaman).

Berdasarkan hal itu, apa saja yang telah diketahui kebaikan atau keburukannya dengan adanya dalil-dalik syariat, maka (hadis-hadis) seperti itu, (bisa saja) membawa manfaat dan tidak mengakibatkan suatu mudharat, baik dalam keadaannya benar-benar sebagai hadis ataupun tidak.

Adapun yang telah jelas diketahui sebagai hadis maudhu‘, maka tidak dibenarkan memberi perhatian kepadanya. Sebab, kebohongan tidak akan membawa manfaat apapun. Selanjutnya, jika telah diketahui dengan pasti bahwa ia adalah hadis shahih, maka ia dapat dijadikan dasar bagi penetapan hukum. Dan jika mengandung kedua kemungkinan (shahih dan maudhu‘) bolehlah diriwayatkan, mengingat adanya kemungkinan kesahihannya, disamping tidak adanya mudharat sekiranya ia adalah hasil kebohongan. Adapun Ahmad bin Hanbal hanyalah mengatakan: “Apabila yang dibicarakan adalah tentang targhib dan tarhib, maka kami akan mempermudah mengenai (persyaratannya) sanadnya.” Artinya, bahwa kami akan merawikannya (tetap) dengan menyebutkan sanadnya, walaupun para perawinya tidak termasuk orang-orang tsiqah (yang dipercayai) dan yang dapat dijadikan hujjah. Demikian pula pernyataan sebagian dari mereka, bahwa hadis-hadis dha’if boleh dijadikan dasar untuk amal-amal kebajikan (fadhail amal); yang dimaksud dengan itu adalah amalan-amalan yang memang dinilai sebagai amal shaleh (berdasarkan dalil-dalil syar’i) seperti tilawat Al-Qur’an dan zikir serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk.

Dan apabila hadis-hadis dha’if mengandung keterangan tentang kadar atau batasan tertentu, seperti shalat pada waktu tertentu dan dengan bacaan tertentu atau dalam bentuk tertentu, maka tidak dibenarkan meriwayatkannya. Sebab soal disukainya hal-hal yang ditentukan tersebut tidak berdasarkan dalil syar’i. Lain halnya jika seandainya diriwayatkan seperti ini: “Barang siapa memasuki pasar lalu membaca: ‘La ilaha illallah‘ maka ia akan memperoleh pahala … begini dan begini …” (Hal itu boleh saja) mengingat bahwa yang demikian itu termasuk dzikrullah diantara orang-orang yang lalai”, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang cukup dikenal: “Orang yang berzikir kepada Allah diantara orang-orang yang lalai, seperti pohon yang hijau di antara pohon-pohon yang kering.” Adapun sebutan tentang kadar pahala yang diriwayatkan berkaitan dengannya, maka tidak ada mudharatnya, baik itu memang benar ataupun tidak.

Kesimpulannya, hadis-hadis yang tergolong seperti itu (dha’if) boleh diriwayatkan dan diterapkan dalam targhib dan tarhib, tetapi tidak boleh untuk menetapkan tentang hukum mustahabnya. Kemudian dari itu, keyakinan akan kadar besarnya pahala atau ancaman pada perbuatan-perbuatan tersebut, haruslah berdasarkan dalil syar’i.

Sumber:

Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw.” karya Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Karisma, 1993 hal. 78-80

Leave a comment

Jenis-Jenis Kitab Hadis

Jenis-Jenis Kitab Hadis Kitab-kitab hadis terbagi ke dalam beberapa bentuk dan jenis yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dan fungsi disusunnya kitab tersebut. Berikut ini jenis-jenis kitab hadis yang digunakan oleh umat Islam.

1. Kitab Jami’

Kitab jami‘ adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis berkenaan dengan bidang akidah, hukum, adab, tafsir, tarikh dan sejarah hidup. Kitab hadis Sahih al-Bukhari merupakan salah satu kitab yang digelari kitab jami‘. Sebuah kitab hadis disebut dengan jami’ bila mengandung sekurang-kurangnya 8 bidang yaitu: (1) akidah; (2) hukum; (3) sikap hidup orang-orang saleh; (4) adab; (5) tafsir; (6) tarikh; (7) al-fitan, yaitu fitnah-fitnah yang muncul di akhir zaman dan (8) manakib, yaitu pemaparan tentang biografi dan keistimewaan seseorang, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, tabiin, Ahlul Bait dan istri-istri Rasulullah saw. Kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah Sahih al-Bukhari, Jami’ at-Tarmizi, Sahih Muslim, Misykat al-Masabih, Jami’ Sufyan as-Sauri, Jami’ Abdur Razzaq bin Hammam as-San’ani, Jami’ ad-Darimi dan lain-lain.

2. Kitab as-Sunan atau al-Ahkam

Kitab sunan adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan sistematika pembahasan fikih yang bermula dari bab thaharah, shalat dan seterusnya. Namun demikian, di dalam kitab sunan sendiri tidak hanya dimuat hukum-hukum normatif tetapi juga persoalan-persoalan lainnya. Contoh kitab-kitab yang termasuk kategori ini ialah Sunan an-Nasa’i, Sunan at-Tirmizi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abi Daud, Sunan ad-Duruqutni dan Sunan Abi Ali bin as-Sakan.

3. Kitab Musnad

Kitab musnad adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Biasanya dimulai dengan nama sahabat yang pertama kali masuk Islam atau disesuaikan dengan urutan abjad. Misalnya Imam Ahmad yang menulis musnad telah mendahulukan hadis-hadis Abu Bakar dari pada sahabat yang lain.

4. Kitab Mu’jam

Istilah mu’jam tidak hanya digunakan dalam ilmu hadis. Istilah ini kadang digunakan untuk disiplin ilmu keislaman lainnya. Secara bahasa, kata mu’jam bermakna kamus dan bukan bermakna penulisan hadis. Ada juga yang menyebut mu’jam itu sebagai kamus geografi yang menjelaskan geografi suatu tempat seperti Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi atau biografi seorang tokoh seperti al-Mu’jam fi Atar Muluk al-‘Ajam. Kitab mu’jam disusun berdasarkan tertib huruf abjad atau mengikuti susunan nama guru-guru mereka, baik nama asli maupun julukan, sesuai dengan tertib huruf abjad. Selain itu, mu’jam hanya mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw sebanyak mungkin, tanpa mempertimbangkan kualitasnya. Kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah Mu’jam at-Tabrani, Mu’jam al-Kabir, Mu’jam as-Suyuti dan Mu’jam as-Sagir, Mu’jam Abi Bakar, Mu’jam Ibnu Mubarak dan sebagainya.

5. Kitab Rasail

Kitab rasail adalah kitab yang berisi hadis-hadis yang dikumpulkan berdasarkan suatu perkara atau tema tertentu, seperti Raf’u al-Yadain karya Iman Bukhari. Dalam kitab ini, Imam Bukhari mengemukakan hadis-hadis tentang mengangkat tangan tanpa membahas kedudukannya, apakah ada yang mansukh, syaz, mujmal atau lainnya. Contoh-contoh lainnya adalah kitab Juz an-Niyyah oleh Ibnu Abi ad-Dunya, Juz al-Qira’ah Khalfa al-Imam oleh al-Baihaqi, Juz Fadail Ahl al-Bait oleh Abu al-Husin al-Bazzar, Juz al-Munziri fi Man Gufira Lahu Ma Taqaddama min Zanbihi, Juz Asma’ al-Mudallisin dan Juz A’mal al-Yaum wa al-Lail.

6. Kitab Mustadrak

Kitab mustadrak adalah kitab hadis yang mengumpulkan hadis-hadis yang tidak disebutkan oleh pengarang sebelumnya, baik secara sengaja maupun tidak. Contohnya kitab Mustadrak al-Hakim yang diterbitkan sebanyak 4 jilid. Hadis-hadis dalam kitab ini dihimpun berdasarkan syarat-syarat yang digunakan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Kitab ini tidak boleh dibaca begitu saja, tetapi harus didampingi kitab takhrijnya yang ditulis oleh adz-Dzahabi. Diantara contoh kitab mustadrak yang lain adalah Mustadrak Hafiz Ahmad al-Maliki.

Sumber:

Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” karangan Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani, 2008

Leave a comment

Sunnah

Sunnah arti asalnya dalam bahasa adalah jalan, metode dan tradisi yang mencakup tradisi yang baik dan yang tidak baik. Dengan pengertian ini pula kata sunnah digunakan dalam berbagai ayat dan hadis. Sebagai misal dalam sebuah ayat disebutkan:

“…. dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (Al-Ahzab: 62)

Sunnah dalam ayat ini juga bisa berarti undang-undang atau sistem. Dalam hadis Nabi saw disebutkan:

Siapa yang mentradisikan sebuah tradisi yang baik dalam Islam sehingga setelah wafatnya sunnah tersebut dilakukan oleh masyarakat, maka baginya akan dituliskan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…. ” (Shahih Muslim)

Adapun kata sunnah telah digunakan dalam berbagai cabang ilmu agama dan dalam beragam makna. Sebagai contoh, dalam istilah muhadditsin, sunnah diartikan sama dengan hadis, yang dapat digunakan untuk perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat seorang maksum. Makna sunnah seperti ini juga diterima oleh ulama ushul fikih. Mereka menjadikan sunnah sebagai sumber rujukan kedua setelah Al-Qur’an untuk mendapatkan hukum-hukum Islam.

Sementara dalam istilah fukaha, kata sunnah kadang diposisikan berlawanan dengan bid’ah, dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang mempunyai akar dalam agama dan kadang diposisikan berhadapan dengan faridhah dan dipakai untuk menunjukkan hal-hal yang mustahab.

Sepertinya kata “sunnah” meski digunakan untuk menunjukkan perkataan dan perbuatan maksum, namun dalam penggunaannya kata ini lebih sering dipakai untuk menujukkan perbuatan dan taqrir maksum (daripada untuk menunjukkan perkataan). Sebagaimana yang digunakan oleh Imam Ali dalam masalah khilafah, ketika beliau berkata, “Aku akan berbuat (menjalankan pemerintahan ini) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.” Maksud beliau adalah mengikuti sirah amali Rasulullah dalam segala urusan, termasuk didalamnya bagaimana Rasul saw melakukan pembagian baitul mal. Makna sunnah ini lebih sedikit cakupannya daripada hadis.
Dengan memperhatikan sumber-sumber dalam sebagian riwayat, makna yang lebih khusus ini diterima dikalangan ulama Islam. Perlu disebutkan, sebagian peneliti memperluas pengertian sunnah sehingga mencakup juga sirah para sahabat nabi, meski pandangan ini tidak benar menurut ulama Syi’ah.

Sumber:
Buku “Sejarah Hadis” hal. 32-34 karangan Dr. Majid Ma’arif penerbit Nurul al-Huda 2012

Leave a comment

Hadis Shahih

Hadis Shahih

Shahih menurut bahasa berarti sehat, kebalikan dari sakit. Sedang menurut istilah ialah hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat illat (cacat) yang merusak.

Implementasi definisi tersebut ialah, bahwa suatu hadis dikatakan shahih apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Mutassil sanadnya

Sanad dari matan hadis itu rawi-rawinya tidak terputus melainkan bersambung dari permulaannya sampai pada akhir sanad. Oleh karena itu, hadis mursal, munqathi’, mu’dhal, dan muallaq tidak termasuk dalam kategori hadis yang muttasil sanadnya.

2. Rawi-rawinya adil

Adil adalah perangai yang senantiasa menunjukkan pribadi yang taqwa dan muru’ah (menjauhkan diri dari sifat atau tingkah laku yang tidak pantas untuk dilakukan). Yang dimaksud adil disini adalah adil dalam hal meriwayatkan hadis yaitu orang Islam yang mukallaf (cakap bertindak hukum) yang selamat dari fasiq dan sifat-sifat yang rendah.
Oleh karena itu, orang kafir, fasiq, gila dan orang yang tidak pernah dikenal, tidak termasuk orang yang adil. Sedangkan orang perempuan,  budak dan anak yang sudah mumayyiz bisa digolongkan orang yang adil apabila memenuhi kriteria tersebut.

3. Rawi-rawinya sempurna kedhabitannya

Yang dimaksud sempurna kedhabitannya ialah kedhabitannya pada tingkat yang tinggi. Dalam hal ini, dhabit ada 2 macam yaitu:

A. Dhabit hati
Seseorang dikatakan dhabit hati apabila dia mampu menghafal setiap hadis yang didengarnya dan sewaktu-waktu dia bisa mengutarakan atau menyampaikannya.

B. Dhabit kitab
Seseorang dikatakan dhabit kitab apabila setiap hadis yang dia riwayatkan tertulis dalam kitabnya yang sudah ditashih (dicek kebenarannya) dan selalu dijaga.

4. Tidak syadz

Yang dimaksud syadz disini ialah hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang terpercaya itu tidak bertentangan denga hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi.

5. Tidak terdapat illat

Illat disini ialah cacat yang samar yang mengakibatkan hadis tersebut tidak dapat diterima.

Sumber:
Buku “Ilmu Ushul Hadis” karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki hal. 52-53 penerbit Pustaka Pelajar

Leave a comment

Fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Ditinjau dari segi fungsinya, sunnah mempunyai hubungan yang sangat kuat dan erat sekali dengan Al-Qur’an. Sunnah an-Nabawiyah mempunyai fungsi sebagai penafsir Al-Qur’an yang membuka rahasia-rahasia Al-Qur’an dan menjelaskan kehendak-kehendak Allah SWT dalam perintah dan hukum-hukum-Nya. Dan jika ditinjau dari segi dilalahnya (indeksial)nya terhadap hukum-hukum yang dikandung Al-Qur’an, baik secara global maupun rinci, status sunnah dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) macam yaitu:

1. Sebagai pengukuh (ta’kid) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an

Sunnah dikaitkan sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an apabila makna yang terkandung didalamnya cocok dengan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Nabi saw bersabda:

Sesungguhnya Allah SWT memanjangkan kesempatan kepada orang-orang zalim, apabila Allah menghukumnya maka Allah tidak akan melepaskannya.”

Hadis tersebut cocok dengan firman Allah SWT:

Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat zalim.” (Huud: 102)

Hadis yang berfungsi sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an jumlahnya banyak sekali, seperti hadis-hadis yang menunjukkan atas wajibnya shalat, zakat, haji, amal, berbuat baik, memberi maaf dan sebagainya.

2. Sebagai penjelas terhadap maksud ayat-ayat Al-Qur’an

Hadis dalam fungsi ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

a. Menjelaskan ayat-ayat mujmal

Hadis dalam fungsi ini diantaranya ialah hadis yang menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan hukum-hukumnya, dari segi praktiknya, syarat waktu dan tatacaranya, seperti masalah shalat dimana di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara rinci tentang bilangan rakaat, waktu, syarat dan sebagainya. Tetapi semua itu dijelaskan oleh sunnah.

b. Membatasi lafadz yang masih muthlaq dari ayat-ayat Al-Qur’an

Hadis yang membatasi kemutlakan lafadz dari ayat Al-Qur’an ini ialah seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang lafadz al-Yad (tangan) yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah kedua tangannya.” (al-Maidah: 38)

Bahwa yang dimaksud memotong tangan dalam ayat tersebut adalah tangan kanan dan pemotongannya adalah sampai pergelangan tangan, tidak sampai siku.

c. Mengkhususkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum

Hadis dalam kategori ini ialah seperti hadis yang mengkhususkan makna zalim dalam firman Allah SWT:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.” (al-An’am: 82)

Bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut adalah menyekutukan Tuhan. Peristiwanya ialah sewaktu ayat tersebut turun, sebagian sahabat mengira bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut ialah zalim dalam arti umum, sehingga dia berucap,”Siapakah di antara kita yang tidak zalim? Kemudian Nabi saw menjawab,”Bukan itu yang dimaksud, tetapi yang dimaksud zalim pada ayat itu ialah menyekutukan Tuhan (syirik).”

d. Menjelaskan makna lafadz yang masih kabur

Diantaranya ialah seperti hadis yang menjelaskan makna dua lafadz “al-Khaithu” dalam firman Alah SWT:

Dan makan minumlah kamu hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (al-Baqarah: 187)

Peristiwanya ialah sebagian sahabat ada yang mengira bahwa yang dimaksud benang dalam ayat itu ialah tali yang berwarna hitam dan putih. Kemudian Nabi saw bersabda bahwa yang dimaksud ialah terangnya siang dan gelapnya malam.

3. Menetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an

Contoh sunnah semacam ini banyak sekali seperti hadis-hadis yang menetapkan hukum haram mengawini seorang perempuan beserta bibinya, riba fadhal dan makan daging himar piaraan.

4. Menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an, diantaranya ialah seperti hadis:

Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris.”

Hadis tersebut menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an tentang diperbolehkannya wasiat kepada ahli waris, baik kepada kedua orang tua atau kerabat-kerabat waris lainnya, sebagaimana firman Allah SWT:

Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 180)

Dari buku “Ilmu Ushul Hadis” (al-Manhalu al-Lathiifuu fi Ushuuli al-Hadisi al-Syarifi) karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki terbitan Pustaka Pelajar hal. 8-13

Leave a comment

Musnad Ahmad: 4001-5000

Musnad Ahmad 4001: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Basyir bin Sulaiman dari Sayyar Abu Al Hakam dari Thariq dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang terdesak kebutuhan lalu mengadukan kepada manusia, maka sangat layak kebutuhannya itu tidak mendapat kemudahan. Dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah, niscaya Allah akan menganugerahkan rizki yang cepat atau kematian yang lambat.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Basyir Abu Isma’il dari Sayyar Abu Hamzah lalu ia menyebutkannya. Ayahku yakni yang benar adalah Sayyar Abu Hamzah. Ia (perawi) berkata; Namun Sayyar Abu Al Hakam tidak menceritakan sedikit pun dari Thariq bin Syihab.

 

Musnad Ahmad 4002: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Umarah bin Umair Al Laitsi dari Wahb bin Rabi’ah dari Abdullah ia berkata; Aku berlindung di balik Ka’bah, ketika itu masuk dua orang bani Tsaqif dan dua orang menantunya dari Quraisy, atau satu orang Quraisy dan dua orang menantunya dari banu Tsaqif, banyak lemak perut dan sedikit pemahaman hati mereka. Mereka mengatakan suatu perkataan yang belum pernah aku dengar. Lalu salah seorang mereka berkata kepada temannya; Apa menurutmu, Allah ‘azza wajalla mendengar ucapan kita ini? Yang lain berpendapat; Menurutku, Dia mendengar bila kita mengeraskan suara dan tidak mendengar bila kita berbisik. Yang lain menjawab; Jika Dia mendengar darinya sesuatu, maka Dia mendengar semuanya. Lalu aku melaporkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan) ayat Al Qur`an. Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Umarah dari Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah, ia pun menyebutkan makannya, lalu turunlah ayat: (Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan) hingga firmanNya: (Maka kalian termasuk orang-orang yang merugi).

 

Musnad Ahmad 4003: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan telah menceritakan kepada kami Amru bin Abdullah telah menceritakan kepadaku Abu Amru Asy Syaibani ia berkata; telah menceritakan kepadaku pemilik rumah ini yakni Ibnu Mas’ud ia berkata; Aku bertanya; Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.”

 

Musnad Ahmad 4004: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra`il dari Abu Ishaq dari Abdurrahman bin Al Aswad telah mengabarkan kepada kami Al Aswad dan ‘Alqamah atau salah satu dari keduanya, dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir di setiap mengangkat (kepala) dan turun, ia mengatakan; Demikian pula yang dikerjakan oleh Abu Bakr dan Umar radliallahu ‘anhuma.

 

Musnad Ahmad 4005: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari ayahnya dari Abu Ishaq dari Abdurrahman bin Al Aswad, dan Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radliallahu ‘anhuma, mereka bertakbir di setiap turun dan mengangkat kepala.

 

Musnad Ahmad 4006: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra`il dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila beliau beristirahat di tempat tidurnya, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya seraya mengucapkan: “Ya Allah, selamatkanlah aku dari siksamu pada hari dibangkitkannya pada hambaMu.”

 

Musnad Ahmad 4007: Telah menceritakan kepada kami Waki’ ia berkata, Sufyan berkata; Al A’masy berkata; Dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak selayaknya seseorang mengatakan; Aku lebih baik dari pada Yunus bin Matta.”

 

Musnad Ahmad 4008: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering menyelangi nasehat dalam beberapa hari karena takut kebosanan menimpa kami.

 

Musnad Ahmad 4009: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang wanita bercampur dengan wanita lain untuk diceritakan sifatnya kepada suaminya, seakan ia melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 4010: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Allah melaknat pembuat tato dan yang minta dibuatkan tato, yang mencukur alis dan yang meratakan gigi untuk kecantikan. Hal ini sampai kepada seorang wanita bani Asad dikenal dengan Ummu Ya’qub, ia menemuinya dan berkata; Aku telah membaca di antara dua kitab namun aku tidak mendapatkan apa yang kamu katakana. Ia berkata; Apakah kamu tidak mendapati ayat: (Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah)? Wanita itu berkata; Sesungguhnya aku melihat hal ini terjadi pada keluargamu juga. Ia berkata; Silakan kamu periksa. Ia melanjutkan; Lalu wanita itu pun pergi melihatnya kemudian kembali seraya berkata; Aku tidak melihat apapun. Abdullah berkata; Seandainya hal itu terjadi padanya niscaya kami tidak akan berkumpul dengannya.

 

Musnad Ahmad 4011: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan satu kalimat sedangkan aku mengatakan satu perkataan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mati sementara ia menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya ia masuk Neraka.” Sedangkan aku melanjutkan; Barangsiapa yang mati tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya ia masuk surga. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, lalu ia menyebutkan seperti itu hanya saja ia menambahi; “Ia menjadikan tandingan bagi Allah.”

 

Musnad Ahmad 4012: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari ayahnya dan Isra`il dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dengan mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwaan, terpeliharanya harga diri dan rasa kecukupan.”

 

Musnad Ahmad 4013: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Syimr bin ‘Athiyah Al Kahili dari Mughirah bin Sa’d bin Al Ahram Ath Tha`i dari ayahnya dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menyibukkan perdagangan hingga kalian mencintai dunia.”

 

Musnad Ahmad 4014: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Syu’bah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq dari Al Aswad dari Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat An Najm lalu beliau sujud diikuti oleh orang-orang yang bersamanya kecuali satu orang tua, ia mengambil segenggam kerikil atau pasir seraya mengatakan; Cukuplah bagiku seperti ini sambil menempelkan ke dahinya. Abdullah berkata; Sungguh aku melihat ia terbunuh sebagai kafir.

 

Musnad Ahmad 4015: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepada kami ‘Atha` bin As Sa`ib dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4016: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah, dan Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Al Hakam dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur lima rakaat, lalu dikabarkan kepada beliau mengenai penambahan dalam shalat. Beliau bertanya: “Apa itu?” Mereka menjawab; Engkau shalat lima rakaat, dia berkata; lalu beliau memalingkan kakinya kemudian beliau sujud dua kali setelah salam.

 

Musnad Ahmad 4017: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Umarah dari Wahb bin Rabi’ah dari Abdullah ia berkata; Aku berlindung di balik Ka’bah, ketika itu tiga orang bani Tsaqif dan dua orang menantunya dari Quraisy datang, banyak lemak perut dan sedikit pemahaman hati mereka. Ia melanjutkan; Mereka mengatakan suatu pembicaraan, lalu salah seorang mereka mengatakan; Apa menurutmu, Allah ‘azza wajalla mendengar ucapan kita? Yang lain berpendapat; Dia mendengar bila kita mengeraskan suara dan tidak mendengar yang kita bisikkan. Yang lain menjawab; Jika Dia mendengar sesuatu, tentu Dia mendengar semuanya. Ia melanjutkan lagi; Lalu hal itu aku laporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia mengatakan; Maka turunlah ayat: (Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian) hingga firmanNya: (Maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya). Ia (Ahmad) berkata; Telah menceritakan kepadaku Manshur dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Abdullah (redaksi) seperti itu.

 

Musnad Ahmad 4018: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Abdullah ia berkata; Aku Mendengar sekali lagi; Ia memarfu’kan kemudian meninggalkannya, ia melihat Amirul Mukminin atau seseorang salam dua kali lalu berkata; Dari mana ia mempelajarinya?

 

Musnad Ahmad 4019: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Ketika turun ayat ini: (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik)), hal itu membuat berat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata; Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Bukan seperti yang kalian maksud, sesungguhnya maksudnya sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya: (Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar).”

 

Musnad Ahmad 4020: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau memberi salam ke sebelah kanan ASSALAMU ‘ALAIKUM WARAH MATULLAH, ASSALAMU ‘ALAIKUM WARAH MATULLAH hingga terlihat dari sini putih pipi beliau.

 

Musnad Ahmad 4021: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari seorang laki-laki dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Berjalanlah (bila) menuju masjid karena merupakan petunjuk dan sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 4022: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra`il dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Abdullah ia berkata; Aku bertanya; Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya.” Ia melanjutkan; Aku bertanya lagi; Kemudian apa? Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ia berkata lagi; Aku bertanya lagi; Kemudian apa? Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah ‘azza wajalla.” Seandainya aku meminta tambah, beliau pun akan menambahnya.

 

Musnad Ahmad 4023: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Manshur dari Khaitsamah dari orang yang mendengar Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada bincang-bincang (setelah Isya`) kecuali bagi orang yang shalat dan musafir.”

 

Musnad Ahmad 4024: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku adalah Rasulullah, kecuali pada tiga orang; Jiwa dibalas jiwa, orang tua yang berzina dan orang yang murtad dari agamanya memisahkan dari jama’ah.”

 

Musnad Ahmad 4025: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah ia berkata; Abdullah berkata; Aku mencari Abu Jahl pada perang Badr dan mendapatinya telah terputus kakinya, ia pincang, ia berjalan merangkak dengan pedangnya. Aku pun berkata; Segala puji bagi Allah yang telah menghinakanmu, wahai Musuh Allah. Ia berkata; Tidaklah ia kecuali seseorang yang diperangi kaumnya? Ia melanjutkan; Lalu aku meraih pedangku yang tidak bagus dan kusambar tangannya, pedangnya pun terjatuh, aku pun meraihnya dan memukulnya hingga membunuhnya. Ia melanjutkan; Kemudian aku keluar hingga aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seakan-akan aku diasingkan dari bumi, lalu aku mengabarkan kepada beliau, beliau pun bersabda: “Allah, Dzat yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia.” Ia berkata; Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Ia melanjutkan; Aku berkata; Allah, Dzat yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Ia berkata; Lalu beliau keluar berjalan bersamaku hingga berdiri di atasnya seraya bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menghinakanmu, wahai Musuh Allah. Orang ini adalah Fir’aunnya umat ini.” Perawi berkata; Ayahku menambahkan dalam hadits itu dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah, ia berkata; Abdullah berkata; Maka aku mendapat harta rampasan perang berupa pedangnya.

 

Musnad Ahmad 4026: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Amru telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di waktu perang Badar seraya bertanya; Aku telah membunuh Abu Jahl. Beliau bersabda: “Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia? Ia mengatakan; Aku menjawab; Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, ia mengulanginya tiga kali. Beliau bersabda: “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang telah membenarkan janjiNya, menolong hambaNya dan menghancurkan pasukan sendirian. Mari tunjukkan kepadaku.” Maka kami pun pergi mencarinya, ketika mendapatkannya beliau bersabda: “Ia adalah Fir’aun umat ini.”

 

Musnad Ahmad 4027: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Aku berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di jalan Madinah, beliau melewati beberapa orang Yahudi, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian lainnya; Tanyakan kepadanya mengenai ruh, namun sebagian lainnya mengatakan; Jangan kalian menanyakan kepadanya. Mereka bertanya; Wahai Muhammad, apa itu ruh? Ia melanjutkan; Maka beliau berdiri, saat itu beliau bersandar di batang kurma sedang aku berada di belakangnya, aku mengira beliau sedang mendapat wahyu. Beliau pun bersabda: ” (Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”).” Ia berkata lagi; Maka sebagian mereka mengatakan; Sudah kami katakan, jangan bertanya kepadanya.

 

Musnad Ahmad 4028: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ammar bin Mu’awiyah Ad Duhni dari Salim bin Abu Al Ja’d Al Asyja’i dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dinampakkan dua perkara sedikit pun kepada Ibnu Sumayyah kecuali ia akan memilih mana yang lebih mendapat petunjuk dari keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4029: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak bin Harb dari Ibrahim dari ‘Alqamah, dan Al Aswad dari Abdullah ia berkata; Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengatakan; Wahai Rasulullah, aku menemui seorang wanita di sebuah kebun, maka akupun menanggungnya (kebutuhan hidupnya) untukku, aku menggaulinya, menciumi dan melakukan apa saja kepadanya selain menyetubuhinya. Ia mengatakan; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendiamkannya hingga turun ayat ini: (Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat). Ia melanjutkan; Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan membacakan ayat itu kepadanya. Umar pun berkata; Wahai Rasulullah, apakah itu khusus untuknya atau untuk seluruh manusia, beliau menjawab: “Bahkan untuk seluruh manusia.”

 

Musnad Ahmad 4030: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra`il dari Abu Ishaq dari Amru bin Maimun dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada kami, saat itu beliau bersandar kepada Qubbah Hamra`, beliau bersabda: “Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?” mereka menjawab; Tentu. Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?” mereka menjawab; Tentu. Beliau bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan agar kalian menjadi setengah penghuni surga, dan aku akan menyampaikan kepada kalian tentang sedikitnya kaum muslimin pada saat itu. Dan tidaklah mereka pada hari itu kecuali seperti rambut putih berada di kulit kerbau hitam, atau rambut hitam di kulit seekor kerbau merah. Dan tidak akan masuk surga kecuali jiwa muslim.”

 

Musnad Ahmad 4031: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Hammam dari Utsman bin Hassan dari Fulfulah Al Ju’fi berkata: Aku termasuk diantara orang-orang yang terkejut dan tergesa-gesa mendatangi Abdullah bin Mas’ud berkaitan dengan berbagai macam Mushhaf, seorang lelaki berkata: Kami tidak datang untuk berkunjung akan tetapi karena masalah ini mengejutkan kami, lantas Ibnu Mas’ud berkata: Sesungguhnya Alquran diturunkan kepada Nabi kalian shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari tujuh pintu dengan tujuh huruf dan sesungguhnya kitab sebelum Alquran diturunkan dari tujuh pintu dengan satu huruf.

 

Musnad Ahmad 4032: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Amru bin Murrah dari Abdullah ia berkata; Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam diberi segala sesuatu kecuali lima kunci-kunci ghaib (Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat).

 

Musnad Ahmad 4033: Telah menceritakan kepada kami Sufyan yakni Ibnu Uyainah dari Mis’ar dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mughirah Al Basykuri dari Al Ma’rur dari Abdullah ia berkata; Ummu Habibah berdoa; Ya Allah, anugerahilah aku kebahagiaan dengan suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan saudaraku, Mu’awiyah dan dengan ayahku, Abu Sufyan. Ia berkata; Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya engkau telah memohon kepada Allah ajal yang telah ditetapkan, bekas-bekas yang telah disampaikan dan rizki-rizki yang telah dibagikan. Tidak ada sesuatu yang disegerakan sebelum waktunya atau sesuatu yang ditangguhkan. Bagaimana seandainya engkau memohon kepada Allah ‘azza wajalla agar Dia menyelamatkanmu dari siksa kubur dan siksa neraka.”

 

Musnad Ahmad 4034: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Mas’ud; Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai kera dan babi, apakah mereka merupakan perubahan atau sudah ada sebelumnya? Maka beliau menjawab: “Tidak, bahkan telah ada sebelumnya, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak menghancurkan suatu kaum lalu merubah keturunannya dan tidak pula generasinya.”

 

Musnad Ahmad 4035: Berkata Abdullah bin Ahmad; saya membacakan kepada ayahku dari sini hingga selesai maka dia menetapkannya telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Amru dia berkata; telah menceritakan kepada kami Zaidah telah menceritakan kepada kami Ashim bin Abi An Najud dari Zirr dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi antara Abu Bakr dan Umar sementara Abdullah sedang shalat, ia membaca surat An Nisaa` hingga menyelesaikannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang suka membaca Al Qur`an dengan tunduk sebagaimana ia diturunkan, hendaklah membaca seperti bacaan Ibnu Ummu ‘Abd, kemudian mengajukan permintaan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Mintalah, pasti engkau akan diberi, mintalah, pasti engkau akan diberi, mintalah, pasti engkau akan diberi.” Beliau melanjutkan; “Di antara yang ia minta adalah; ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA IMANAN LA YARTAD WA NA’IMAN LA YANFAD WA MURAFAQATA NABIYYIKA MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM FI A’LA JANNATIL KHULD, (Ya Allah, Aku memohon kepadaMu kenikmatan yang tidak pernah musnah, ketentraman mata yang tidak pernah habis dan menyertai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga paling tinggi, surga Al Khuld (abadi).” Ia berkata; Lalu Umar radliyallahu ta’ala ‘anhu menemui Abdullah untuk memberi kabar gembira kepadanya namun ia mendapati Abu Bakar ridlwanullah ‘alaih telah mendahuluinya. ia pun berkata; Jika kamu melakukannya maka kamu akan mendahului kebaikan ini.

 

Musnad Ahmad 4036: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku telah menceritakan kepada kalian Amru bin Mujammi’ Abu Al Mundzir Al Kindi ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla melipatgandakan satu kebaikan anak Adam menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kecuali puasa. Puasa adalah untukKu dan Akulah yang membalasnya. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan pada hari kiamat. Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada wewangian misik.

 

Musnad Ahmad 4037: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku telah menceritakan kepadamu Amru bin Mujammi’ telah mengabarkan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika pembantu salah seorang kalian datang membawa makanan, hendaklah ia mendekatkan dan mendudukkannya atau agar ia menikmatinya karena ia telah terkena panas dan asapnya.”

 

Musnad Ahmad 4038: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepadamu Amru bin Mujammi’ telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali mempersembahkan sesaji dan menyembah patung adalah Abu Khuza’ah Amru bin Amir, dan sungguh aku melihatnya menyeret usus-ususnya di neraka.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku; Telah menceritakan kepadamu Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Yazid bin ‘Atha` dari Abu Ishaq Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu namun tanpa menyebutkan lafadz “Dan menyembah berhala-berhala.”

 

Musnad Ahmad 4039: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepadamu Amru bin Mujammi’ telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (meminta-minta) yang ditolak karena satu dan dua suap atau satu dan dua kurma.” Aku bertanya; Wahai Rasulullah, lalu siapakah orang miskin itu? Beliau menjawab: “Ia adalah orang yang tidak meminta-minta kepada manusia namun ia tidak mendapati apa yang dibutuhkannya, dan tidak menampakkan (kemiskinannya) sehingga diberi sedekah.”

 

Musnad Ahmad 4040: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kalian Al Qosim bin Malik ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tangan itu ada tiga macam; Tangan Allah yang paling tinggi, setelahnya tangan orang yang memberi dan yang paling bawah adalah tangan orang yang meminta.”

 

Musnad Ahmad 4041: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepadamu Ali bin ‘Ashim ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencela saudaranya semuslim adalah kefasikan, memeranginya adalah kekufuran dan kehormatan hartanya seperti kehormatan darahnya.”

 

Musnad Ahmad 4042: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah dua kotak yang diberi tanda yang dilemparkan dengan lemparan, kedua benda itu adalah judinya orang ‘Ajam (non Arab).”

 

Musnad Ahmad 4043: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bertaubat dari dosa itu adalah hendaklah ia bertaubat dan tidak mengulanginya.”

 

Musnad Ahmad 4044: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Muslim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang kalian menjaga wajahnya dari api neraka walaupun dengan (sedekah) satu belahan kurma.”

 

Musnad Ahmad 4045: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila pembantu salah seorang kalian datang membawa makanan, hendaklah ia duduk bersamanya atau ia menerima bagiannya, karena ia telah mewakili panas dan asapnya.”

 

Musnad Ahmad 4046: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepadaku ‘Atha bin As Sa`ib ia berkata; Aku menemui Abu Abdurrahman, ketika itu ia sedang mengobati seorang pemuda dengan sundutan api. Ia melanjutkan; Aku bertanya; Apakah engkau mengobati dengan sundutan api? Ia menjawab; Ya, ia adalah obat orang Arab. Abdullah bin Mas’ud berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah ‘azza wajalla menurunkan penyakit melainkan Dia telah menurunkan pula obatnya, tidak diketahui oleh orang yang jahil dari kalian dan diketahui oleh orang yang mengetahui hal itu dari kalian.”

 

Musnad Ahmad 4047: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Amru ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla membuka pintu-pintu langit pada sepertiga malam terakhir kemudian Dia turun ke langit dunia, setelah itu Dia membentangkan tanganNya seraya berfirman: Tidaklah seorang hamba yang memohon kepadaKu, pasti aku akan memberinya. (hal itu berlangsung) hingga terbit fajar.”

 

Musnad Ahmad 4048: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Al Haddad ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sukain bin Abdul Aziz Al ‘Abdi telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al Hajari dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan menjadi faqir orang yang berhemat.” Abdullah bin Ahmad berkata; Sampai di sini aku membacakan kepada ayahku dan dari sini pula ayahku menyampaikannya kepadaku.

 

Musnad Ahmad 4049: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim dari Abu Ma’mar dari Abdullah bahwa ia mengatakan tentang ayat ini: (iqtarobatis sa’ati wan syaqqol qomar) ia melanjutkan; Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjadi bulan terbelah menjadi dua bagian atau dua belahan, Syu’bah ragu, satu belahan dari balik gunung dan belahan lainnya di atas gunung, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, Saksikanlah.”

 

Musnad Ahmad 4050: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim dari ‘Alqamah bahwa Ibnu Mas’ud ditemui Utsman di ‘Arafah, lalu ia mempersilahkan dan berbicara kepadanya. kemudian Utsman berkata kepada Ibnu Mas’ud; Apakah kamu menyukai seorang wanita yang akan aku nikahkan kamu dengannya? maka Abdullah bin Mas’ud memanggil ‘Alqamah dan menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian mampu menikah maka menikahlah, karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menjadi tamengnya atau tameng baginya.”

 

Musnad Ahmad 4051: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim bahwa Al Aswad dan ‘Alqamah pernah bersama Abdullah di dalam rumah, lalu Abdullah bertanya; Apakah mereka akan shalat? Mereka menjawab; Ya. Ia mengatakan; Ia pun shalat bersama mereka tanpa adzan dan iqamah dan berdiri di tengah mereka, kemudian berkata; Apabila kalian bertiga, maka lakukanlah seperti ini, namun bila kalian lebih banyak maka hendaklah salah seorang kalian mengimami kalian dan hendaklah kalian meletakkan kedua tangannya di antara kedua pahanya jika melakukan ruku’ lalu tenanglah, seakan-akan aku melihat persilangan jari-jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 4052: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Khilas, dan dari Abu Hassan dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Subai’ah binti Al Harits melahirkan lima belas malam setelah suaminya wafat, lalu Abu Sanabil mendatanginya seraya berkata; Sepertinya engkau ingin menyatakan bahwa sudah baa’ah (selesai iddah dan siap menikah), ketahuilah engkau belum boleh menikah hingga lewat satu dari dua iddah yang terlama, Lantas Subai’ah mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkannya apa yang telah dikatakan oleh Abu Sanaabil, lantas Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: Abu Sanaabil telah berkata dusta, jika seseorang yang engkau sukai datang melamarmu maka datanglah kepadaku atau kabarilah aku, maka Subai’ah mengabari Nabi bahwa iddahnya sudah lewat. Bercerita kepada kami Abdullah bin Bakr, berkata: Bercerita kepada kami Sa’id dari Qotaddah dari Khilas dari Abdullah bin Utbah: Sesungguhnya Subai’ah binti Harits lalu menuturkan haditsnya atau yang semakna dengannya dan didalamnya Nabi bersabda: jika datang kepadamu orang yang sekufu’ maka datanglah kepadaku atau kabarilah aku Namun di dalamnya tidak ada Ibnu Mas’ud dan Abdul Wahhab berkata: Hadits ini diriwayatkan dari Khilas dari Ibnu ‘Utbah secara mursal.

 

Musnad Ahmad 4053: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dia berkata; ada seorang laki-laki yang menikah dan belum memenuhi kewajiban kepada isterinya -maksudnya karena terburu meninggal–. Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Khilas dan Abu Hassan Al A’raj dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud bahwasanya dia berkata; Maka mereka adukan persengketaannya kepada Ibnu Mas’ud selama sebulan atau kurang lebih selama itu. Mereka katakan; “Engkau harus mengeluarkan fatwa tentang kasus wanita ini! Maka Ibn Mas’ud mengeluarkan fatwanya; “Kuputuskan, wanita itu harus dibayar maharnya sebagaimana wanita umumnya, mahar tersebut tidak boleh dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan, ia berhak memperoleh warisan, dan ia mempunyai masa iddah. Kalaulah fatwaku benar, itu berasal dari Allah ‘azza wajalla, dan kalaulah salah, itu berasal dariku dan setan, Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari fatwaku. Spontan ada beberapa orang dari suku Asyja’ yang diantaranya Aljarrah dan Abu Sinan berdiri. Kata mereka ” Kami bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah memutuskan seorang wanita janda kami yang bernama Barwa’ binti Watsiq persis sebagaimana yang kau putuskan.” Ketika itu pula Abdullah bin mas’ud senang, karena fatwanya sesuai fatwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakar dia berkata; berkata Sa’id. Telah berkata ayahku, dan aku membacakan kepada Yahya bin Sa’id dari Hisyam dari Qatadah dari Khilas dan dari Abi Hassan dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud bahwasanya Ibnu Mas’ud pernah ditanya perihal wanita yang dinikahi si laki-laki, dan si laki-laki belum menyebutkan nama maharnya, lantas si laki-laki meninggal sebelum berumahtangga dengan isterinya. Kata Utbah, maka mereka mengadukan sengketanya kepada Ibn mas’ud, lantas ia sebutkan hadis. Hanya ia katakan, suaminya namanya Hilal, setahu saya ia mengatakan, nama suaminya Ibnu Murrah. Sedang Abdul wahhab mengatakan bahwa nama suaminya Hilal bin Murrah al-asyja’i. Telah menceritakan kepada kami Bahz dan Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Khilas dan Abu Hassan dari Abdullah bin Utbah bahwasanya ia diadukan kepada Ibnu Mas’ud tentang seorang wanita yang dinikahi laki-laki lantas meninggal, dan ia sebutkan hadis. Kata Utbah, lantas Aljarrah dan Abu Sinan berdiri dan bersaksi bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam memutuskan kasusnya sebagaimana kasus yang pernah terjadi pada mereka, yaitu kasus yang pernah dibawa oleh Asyaja’ bin raits tentang Barwa’ binti Wasyiq al-asyja’iyah. Nama suami Barwa’ adalah Hilal bin Marwan. Kata Marwan, Rasulullah memutuskan kasus ‘Utbah sebagaimana kasus yang pernah terjadi pada mereka, tepatnya yang pernah diadukan oleh Asyja’ bin raits tentang kasus barwa’ binti Watsiq al-asyja’iyah yang suaminya bernama Hilal bin marwan.

 

Musnad Ahmad 4054: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Ubaid Ath Thanafisi dari ‘Ashim bin Abu An Najud dari Zirr bin Hubaisy dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan berlalu hari-hari dan tidak akan pergi masa hingga seorang dari ahlu baitku menguasai bangsa Arab, ia diberi nama seperti namaku.”

 

Musnad Ahmad 4055: Telah menceritakan kepada kami Umair bin Ubaid dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi salam ke sebelah kanannya hingga terlihat putih pipi beliau, seraya mengucapkan: “ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAH.” Dan ke sebelah kirinya hingga terlihat putih pipi beliau seraya mengucapkan: “ASSALAMU’ALAIKUM WAHMATULLAH.”

 

Musnad Ahmad 4056: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al Muharibi dari Al A’masy dari Ibrahim, dan yang lainnya berkata; Dari ‘Alqamah ia berkata; Abdullah berkata; Tatkala kami duduk-duduk di masjid pada malam jum’at, ada seorang laki-laki Anshar berkata; Demi Allah, sungguh jika seorang laki-laki mendapati laki-laki lain bersama istrinya, kemudian berbicara (menyampaikan tuduhan) ia akan didera dan jika membunuhnya ia akan dibunuh diam, dan jika diam ia pun diam dengan memendam kemarahan. Demi Allah, besok pagi aku akan melaporkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pagi harinya ia pun menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; Wahai Rasulullah, jika seorang laki-laki mendapati istrinya bersama laki-laki lain, kemudian berbicara (menyampaikan tuduhan) ia akan didera, jika membunuhnya ia akan dibunuh diam, dan jika diam ia pun diam dengan memendam kemarahan. Maka beliau pun berdoa: “Ya Allah, bukalah. Ya Allah, bukalah.” Ia melanjutkan; Turunlah ayat li’an: (Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri) al ayat.

 

Musnad Ahmad 4057: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris ia berkata; Aku mendengar Al Hasan bin Ubaidullah ia menyebutkan dari Ibrahim dari ‘Alqamah bahwa ia mengabarkan kepada mereka dari Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat bersama mereka lima rakaat kemudian berpaling, hal ini membuat satu sama lain saling bertanya, mereka pun bertanya kepada beliau; Wahai Rasulullah, engkau shalat lima rakaat lalu berpaling. Maka beliau sujud bersama mereka dua kali dan salam, setelah itu bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa lupa seperti kalian yang bisa lupa.”

 

Musnad Ahmad 4058: Telah menceritakan kepada kami Al Fadlal bin Dukain ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Qais dari Al Huzail dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pembuat tato dan yang minta ditatokan, yang menyambung rambut dan minta disambungkan, muhallil dan muhallalah (orang yang menikah untuk menghalalkan perceraian tiga kali) serta pemakan riba dan yang meminta makan riba.

 

Musnad Ahmad 4059: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Qais dari Huzail dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pembuat tato dan yang minta ditatokan, yang menyambung rambut dan minta disambungkan, muhallil dan muhallalah (orang yang diminta menikah untuk menghalalkan perceraian tiga kali) serta pemakan riba dan yang meminta makan riba.

 

Musnad Ahmad 4060: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tanyakan; Amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua dan berjihad fisabilillah ‘azza wajalla.”

 

Musnad Ahmad 4061: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari seorang laki-laki dari Amru bin Wabishah Al Asadi dari ayahnya ia berkata; Ketika aku sedang berada di rumahku di Kufah, tiba-tiba aku mendengar suara di pintu; Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk? Aku jawab; ‘Alaikumussalam, masuklah. Tatkala masuk tenyata ia adalah Abdullah bin Mas’ud, aku tanyakan; Wahai Abu Abdurrahman, jam berapakah kunjunganmu ini? Ketika itu matahari sedang terik, ia mengatakan; Siang ini terasa lama bagiku dan aku mengingat siapa yang akan aku ajak bicara. Ia (Wabishah) melanjutkan; Ia pun menyampaikan kepadaku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku pun menyampaikannya, ia mengatakan; kemudian dia bercerita kepadaku dengan berkata: Aku mendengar Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Akan datang fitnah (pembunuhan dan kekafiran) yang mana orang yang tidur lebih baik dari yang tidur dengan miring dan orang yang tidur dengan miring lebih baik dari orang yang duduk dan orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari dan orang yang berlari lebih baik dari yang berkendaraan dan yang berkendaraan lebih baik dari yang berlari, yang terbunuh semuanya masuk neraka. Ibnu Mas’ud berkata: Aku bertanya; Wahai Rosulullah, kapankah hal itu terjadi? Nabi menjawab: hal itu terjadi pada hari-hari harj (banyaknya pembunuhan), Aku bertanya: kapankah terjadinya harj? Nabi menjawab: Yaitu ketika seseorang merasa tidak aman dengan teman duduknya, Aku bertanya: apa yang engkau perintahkan jika aku mendapati hal itu? Nabi berkata: tahanlah diri dan tanganmu dan masuklah kedalam rumahmu, Aku berkata: Wahai Rosulullah, bagaimana jika seseorang masuk kerumahku? Nabi menjawab: masuklah ke dalam kamarmu, aku bertanya: bagaimana jika dia masuk ke kamarku? Nabi menjawab: masuklah ke dalam masjidmu, dan lakukan hal ini -nabi berkata sambil menggenggam tangan kanannya di pergelangan tangannya- dan ucapkan: Robbku adalah Allah hingga engkau meninggal dalam keadaan demikian. Bercerita kepada kami Ali bin Ishaq, berkata: bercerita kepada kami Abdullah yaitu Ibnul Mubarok, berkata: telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ishaq bin Rasyid dari Amr bin Wabishoh Al Asadi.

 

Musnad Ahmad 4062: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Abdah bin Abu Lubabah bahwa Syaqiq bin Salamah mengatakan; Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Alangkah buruknya seorang laki-laki maupun perempuan untuk mengatakan; Aku lupa surat ini dan itu atau ayat ini dan itu, tetapi ia dilupakan.”

 

Musnad Ahmad 4063: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Al A’masy mengenai firmanNya ‘azza wajalla: (Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar). Ia mengatakan Ibnu Mas’ud berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat permadani hijau dari surga yang menutupi ufuk. (hadits) ini disebutkan dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah.

 

Musnad Ahmad 4064: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak bahwa ia mendengar Ibrahim menceritakan dari ‘Alqamah dan Al Aswad dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengatakan; Wahai Nabiyullah, sesungguhnya aku mengurung seorang wanita di kebun, lalu aku berbuat semua hal kepadanya namun aku tidak menyetubuhinya, aku menciuminya dan terus seperti itu, aku tidak berbuat selain itu maka hukumlah aku sesukamu. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan apa pun kepadanya hingga orang itu pun pergi. Lalu Umar berkata; Allah telah menutupi (dosa) nya jika ia menutupi dirinya. Ia (Ibnu Mas’ud) berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandanginya seraya bersabda: “Bawalah ia kepadaku.” Ia pun dihadapkan kepada beliau dan dibacakan kepadanya ayat: (Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk) hingga (orang-orang yang ingat). Mu’adz bin Jabal bertanya; Apakah (ayat) itu hanya untuknya atau seluruh manusia, wahai Nabiyullah. Beliau menjawab: “Bahkan untuk seluruh manusia.” Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dari Ibrahim dari ‘Alqamah dan Al Aswad, lalu ia menyebutkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 4065: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Isra`il dari Simak dari Abdurrahman bin Abdullah dari ayahnya ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membantu kezhaliman kaumnya, ia ibarat seekor unta yang jatuh dari tempat tinggi dan diangkat dengan ekornya.”

 

Musnad Ahmad 4066: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Abdurrahman bin Yazid ia berkata; Aku bersama Ibnu Mas’ud berangkat dari Arafah, ketika sampai di Muzdalifah ia shalat Maghrib dan Isya` dengan adzan dan iqamah pada setiap shalat, dan makan malam di antara keduanya, kemudian tidur hingga ada seorang yang mengatakan bahwa telah terbit fajar, ia shalat Fajar kemudian berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dua shalat ini di tempat ini diakhirkan dari waktunya di tempat ini, adapun maghrib sesungguhnya manusia tidak datang ke tempat ini hingga mereka mengakhirkannya sedangkan fajar pada saat ini.” Kemudian ia berhenti, tatkala fajar menguning ia berkata; Jika Amirul Mukminin benar ia akan memulai perjalanan sekarang. Perawi berkata; Abdullah tidak berhenti berbicara hingga Utsman memulai perjalanan.

 

Musnad Ahmad 4067: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepadaku ayahku dari Mina` dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam datangnya utusan dari jin, ketika utusan itu pergi beliau menghela nafas, aku pun bertanya; Ada apa dengan engkau. Beliau menjawab: “Telah dikabarkan kepadaku akan kematianku Wahai Ibnu Mas’ud.”

 

Musnad Ahmad 4068: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku berkeinginan untuk memerintah salah seorang laki-laki untuk mengimami shalat bersama orang-orang kemudian aku melihatnya lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka yang tidak menyaksikan shalat Jum’at.”

 

Musnad Ahmad 4069: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Fazarah Al ‘Aisi ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Zaid mantan budak Amru bin Huraits dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Tatkala malam telah gelap, ada dua orang laki-laki yang terlambat lalu keduanya mengatakan; Wahai Rasulullah, kami ingin shalat Fajar bersamamu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Apakah engkau punya air?” Aku menjawab; Aku tidak punya air, namun aku punya bejana kulit berisi nabidz (sari buah kurma). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kurma bagus dan air yang suci.” Lalu beliau berwudlu`.

 

Musnad Ahmad 4070: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mereka terlambat shalat Jum’at, sungguh aku ingin memerintahkan kepada para pemudaku untuk mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, lalu aku akan bakar rumah-rumah mereka yang tidak mengikuti shalat Jum’at.”

 

Musnad Ahmad 4071: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Abdullah bin Utsman dari Al Qosim dari ayahnya bahwa Al Walid bin Uqbah pernah sekali mengakhirkan shalat, lalu Abdullah bin Mas’ud berdiri dan mengumandangkan iqamah lalu mengimami shalat. Kemudian Al Walid mengirim surat kepadanya; Apa yang menyebabkanmu melakukan hal itu, apakah ada perintah dari amirul mukminin atau engkau telah berbuat bid’ah? Ia (Ibnu Mas’ud) membalas; Tidak ada perintah dari amirul mukminin dan aku pun tidak berbuat bid’ah, akan tetapi Allah ‘azza wajalla dan RasulNya enggan menunggu shalatmu sementara engkau sibuk dengan urusanmu.

 

Musnad Ahmad 4072: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari ‘Alqamah bin Qais dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu ‘Alalihi wa Sallam pergi menunaikan hajatnya lalu beliau menyuruh Ibnu Mas’ud mengambil tiga buah batu. Ia pun datang membawa dua buah batu dan satu kotoran, beliau membuang kotoran seraya bersabda: “Ini adalah kotor. Berikan batu itu kepadaku.”

 

Musnad Ahmad 4073: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya bin Abu Za`idah ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Isa bin Dinar dari ayahnya dari Amru bin Al Harits bin Abu Dlirar dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Aku lebih sering berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua puluh sembilan hari dari pada berpuasa bersama beliau tiga puluh hari.

 

Musnad Ahmad 4074: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya Telah menceritakan kepadaku Isra`il dari Abu Fuzarah dari Abu Zaid mantan budak Amru bin Huraits dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Apakah engkau memiliki air?” aku menjawab; Tidak. Beliau bertanya: “Lalu apa yang di dalam bejana ini?” aku menjawab; Nabidz (sari buah kurma). Beliau meminta: “Berikan itu padaku, kurma yang baik dan air yang suci.” Beliau pun berwudlu dengannya dan melakukan shalat.

 

Musnad Ahmad 4075: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Isma’il dari Qais dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Kami pernah (berperang) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak disertai istri-istri kami, kami bertanya; Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri? Namun beliau melarang kami melakukannya seraya membaca ayat: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu) al ayat.

 

Musnad Ahmad 4076: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Zaid bin Jubair dari Khisyf bin Malik dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan diyat membunuh tanpa sengaja dengan dua puluh anak unta betina berumur dua tahun, anak unta jantan berumur dua tahun, dua puluh anak unta betina berumur tiga tahun, dua puluh unta betina berumur empat tahuh dan dua puluh unta betina berumur lima tahun.

 

Musnad Ahmad 4077: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya dari ayahnya dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa melihatku di dalam mimpinya, sesungguhnya akulah yang ia lihat, karena setan tidak dapat menyerupai diriku.”

 

Musnad Ahmad 4078: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Al Hasan bin Al Hurr dari Al Qosim bin Mukhaimirah ia berkata; ‘Alqamah meraih tanganku sambil mengatakan; Abdullah meraih tanganku sambil mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meraih tanganku dan mengajariku tasyahhud dalam shalat: “Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya, kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kita dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

 

Musnad Ahmad 4079: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Sulaiman dari Syaqiq ia berkata; Aku pernah bersama Abdullah dan Abu Musa yang sedang bercerita, keduanya menyebutkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sebelum terjadi hari kiamat, akan datang hari-hari di mana ilmu akan diangkat, kebodohan merajalela dan banyaknya Al Haraj (kegoncangan).” Ia mengatakan; Keduanya berkata; Al Haraj adalah pembunuhan.

 

Musnad Ahmad 4080: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Simak dari Al Qosim bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abdullah ia berkata; Kami pernah melakukan perjalanan malam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia melanjutkan; Lalu kami bertanya; “Wahai Rasulullah, duh sekiranya kita sentuh tanah–maksudnya istirahat-lantas kita tidur, dan hewan tunggangan kita bisa merumput. Kata Abdullah, Rasul pun mengiyakan. Rasulullah berujar: “Baik, namun tolong sebagian kalian menjaga yang lain.” Kata Abdullah, maka aku memberi usulan “Biarlah saya yang menjaga kalian.” Selanjutnya aku ketiduran, aku tidur pulas dan tidak bangun selain ketika matahari telah terbit. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam belum juga bangun kecuali setelah mendengar ucapan kami. Lantas Rasulullah perintahkan Bilal mengumandangkan adzan, ia iqamati, dan rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengimami shalat kami.

 

Musnad Ahmad 4081: Telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Adi ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Abdul Karim dari Abu Al Washil dari Ibnu Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Al Muhill dan Al Muhallalah (Orang yang diminta menghalalkan pernikahan setelah perceraian) itu terlaknat.”

 

Musnad Ahmad 4082: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abu Ishaq dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Mereka (para sahabat) suka membaca (Al Qur`an) di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga beliau menegur: “Kalian telah mengganggu bacaan Al Qur`anku.”

 

Musnad Ahmad 4083: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hajjaj dari Fudlail dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk ke surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”

 

Musnad Ahmad 4084: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Abdurrahman bin Al Aswad dari ayahnya ia berkata; Aku dan pamanku masuk menemui Ibnu Mas’ud di Hajirah. Ia melanjutkan; Lalu ia mendirikan shalat, kami pun berdiri di belakangnya, ia melanjutkan; Lalu ia meraih menarikku dengan satu tangan dan menarik pamanku dengan tangan lain. Ia berkata lagi; Kemudian mengedepankan kami hingga setiap kami berada di sampingnya, setelah itu ia berkata; Demikianlah yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mereka bertiga.

 

Musnad Ahmad 4085: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Al Mas’udi dari Simak bin Harb dari Abdurrahman bin Abdullah dari ayahnya Ibnu Mas’ud ia berkata; Tatkala seseorang dari umat sebelum kalian sedang bertafakkur di kerajaannya, dia menyadari bahwa apa yang ada padanya telah menyibukkannya dari beribadah kepada Robbnya, lantas pada suatu malam dia keluar dengan sembunyi-sembunyi dari istananya dan pada pagi hari dia berada di kerajaan orang lain, kemudian dia mendatangi pesisir pantai dan lalu membuat batu bata dengan mendapatkan upah lalu dia bisa makan dan bersedekah dengan sisanya hal itu terus berlangsung hingga kabarnya sampai kepada raja mereka berikut ibadah dan kemurahannya. Lalu sang raja mengundangnya untuk datang namun dia menolaknya lalu sang raja mengulangi undangannya dan mengulangi lagi namun dia tetap enggan untuk datang, dan berkata: ada urusan apa aku dengan dia? Ibnu Mas’ud berkata: lalu si raja mendatanginya, tatkal si lelaki itu melihat raja dia lari, melihat hal itu raja segera menyusulnya namun tidak dapat menyusulnya, berkata Ibnu Mas’ud: Wahai hamba Allah, aku tidak akan mencelakakanmu, lantas dia berhenti hingga raja dapat menemuinya lalu bertanya: Siapakah engkau -semoga Allah merahmatimu-? Dia menjawab: Saya fulan bin fulan raja di kerajaan ini dan ini. Aku telah merenungi keadaanku lalu aku menyadari bahwa apa yang ada padaku telah menghalangiku dari beribadah kepada Robbku, maka aku meninggalkannya dan mendatangi tempat ini untuk beribadah kepada Robbku, Lalu si raja berkata: engkau tidaklah lebih membutuhkan kepada ibadah yang engkau lakukan dari pada aku. Ibnu Mas’ud berkata: kemudian si raja turun dari kendaraannya lalu mengikuti jejak lelaki itu, setelah itu keduanya beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla lalu keduanya berdoa kepada Allah untuk dimatikan. Berkata Ibnu Mas’ud: lalu keduanya meninggal, jika aku berada di Rumailah Mesir niscaya akan aku tunjukan kuburan keduanya sesuai dengan ciri-ciri yang tunjukan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

Musnad Ahmad 4086: Telah menceritakan kepada kami Yazid dan Abu An Nadlr keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Al Walid bin Al ‘Aizar dari Abu Amru Asy Syaibani dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tanyakan; Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya.” Ia melanjutkan; Aku bertanya lagi; Kemudian apa lagi wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” ia berkata lagi; Aku tanyakan lagi; Kemudian apa lagi wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah.” ia melanjutkan; Aku pun diam, seandainya aku tambahkan pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentu beliau akan menambahkan lagi.

 

Musnad Ahmad 4087: Telah menceritakan kepada kami Yazid yakni Ibnu Harun telah mengabarkan kepada kami Al ‘Awwam telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad mantan budak Umar bin Al Khaththab dari Abu Ubaidah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua orang muslim manapun yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum mencapai baligh, mereka akan menjadi benteng baginya yang akan membentengi dari neraka.” Ia berkata; Abu Dzar berkata; Aku telah ditinggal mati dua anakku, wahai Rasulullah. Beliau menjawab: “Dua anak juga.” Ia melanjutkan; Abu Al Mundzir pemimpin pembaca Al Qur`an berkata; Aku telah ditinggal mati satu anak saja, wahai Rasulullah. Beliau menjawab: “Dan satu anak juga tetapi hal itu terjadi pada pertama kali musibah.”

 

Musnad Ahmad 4088: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Al ‘Awwam bin Hausyab ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq Asy Syaibani dari Al Qosim bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Peperangan Islam akan berlangsung hingga tiga puluh lima, tiga puluh enam atau tiga puluh tujuh. Bila mereka binasa, maka itulah jalan orang yang binasa, namun bila masih hidup, maka agama mereka akan tegak selama tujuh puluh tahun.”

 

Musnad Ahmad 4089: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari As Sudi dari Murrah dari Abdullah, Abu Syu’bah berkata; Dan aku tidak memarfu’kannya kepadamu tentang firman Allah ‘azza wajalla: (wa man yurid fihi bil hadi bi zhulmin nudziqhu min ‘adzabin alim) ia mengatakan; Seandainya ada seorang laki-laki melakukan penyimpangan di ‘Adn dengan terang-terangan, niscaya Allah akan merasakan adzab yang pedih kepadanya.

 

Musnad Ahmad 4090: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah, ditanyakan; Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengetahui umatmu pada hari kiamat yang belum pernah engkau lihat? Beliau menjawab: “Mereka bersinar wajahnya dan bercahaya karena bekas wudlu.”

 

Musnad Ahmad 4091: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Fudlail bin Marzuq telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Juhani dari Al Qosim bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba pun ketika dilanda sakit dan sedih lalu mengucapkan; ALLAHUMMA INNI ‘ABDUKA WABNU ‘ABDIKA WABNU AMMATIKA, NASHIYATI BIYADIKA MADLIN FI HUKMIKA ‘ADLUN FI QADLA`UKA, AS`ALUKA BIKULLI ISMIN HUWA LAKA SAMMAITUKA BIHI NAFSAKA AU ANZALTAHU FI KITABIKA AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA AU ISTA`TSARTA BIHI FI ‘ILMIL GHAIB ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR`AN RABI’A QALBI WA NURA SHADRI WA JILA`A HUZNI WA DZAHAABA HAMMI ILLA ADZHAMALLAHU ‘azza wajalla HAMMAHU WA ABDALAHU MAKANA HUZNIHI FARAHAN. (Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa), ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadlaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihan), kecuali Allah ‘azza wajalla akan menghilangkan kesedihan dan menggantikan kedukaan menjadi kebahagiaan.” Mereka bertanya; Wahai Rasulullah, sepantasnyalah kami mempelajari kalimat-kalimat itu. Beliau menjawab: “Benar, sepantasnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”

 

Musnad Ahmad 4092: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Yazid telah menceritakan kepada kami Farqad As Sabakhi ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Jabir bin Yazid bahwa ia mendengar Masruq menceritakan dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya aku pernah melarang ziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, aku pernah melarang kalian menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, namun sekarang simpanlah, dan aku juga pernah melarang kalian membuat minuman dengan bejana dari kulit, namun sekarang buatlah nabidz (sari buah kurma) di dalamnya dan hindarilah setiap yang memabukkan.”

 

Musnad Ahmad 4093: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Sa’id dari Abdullah bin As Sa`ib dari Zadzan dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla memiliki malaikat di bumi yang senantiasa berkeliling untuk menyampaikan kepadaku salam dari ummatku.”

 

Musnad Ahmad 4094: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun dan Ibnu Abu Adi dari Ibnu Aun telah menceritakan kepadaku Muslim Al Bathin dari Ibrahim At Taimi dari ayahnya dari Amru bin Maimun dia berkata; “Setiap kali aku tidak ketemu Ibnu mas’ud –atau dengan redaksi “Sangat jarang Ibnu mas’ud tidak bertemu denganku-pada hari kamis, Ibnu Abi Adi mengatakan “Kamis sore’, selain aku sendiri yang akan mendatanginya. Kata Amru, Tak pernah aku mendengar Ibnu mas’ud mengatakan “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda.” hanya suatu petang ia keceplosan mengucapkan ‘Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda.” Ibn Adi mengatakan, Ibn mas’ud mengatakan “Kudengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda.” Seketika itu pula Abdullah bin mas’ud tertunduk. Kata Amru, dan kucermati Ibn mas’ud sedang ia berdiri dengan kancing sarungnya yang copot, sedang kedua matanya berlinang, urat lehernya menggelembung, dan dengan gugup ia koreksi ucapannya dengan beliau ucapkan “Atau sepertinya kurang sedikit, atau lebih sedikit, atau mendekati, atau kata-kata semisal.”

 

Musnad Ahmad 4095: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan kepadaku surat Al Ahqaf dan beliau membacakan kepada yang lain namun berbeda pada salah satu ayat. Aku tanyakan; Siapa yang membacakan kepadamu. Ia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membacakan kepadaku, lalu aku katakan kepadanya; Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membacakan kepadaku begini dan begitu. Aku pun menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang di sampingnya ada seorang laki-laki, aku tanyakan; Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah membacakan kepadaku begini dan begitu? Beliau menjawab: “Benar.” Yang lain berkata; Bukankah engkau telah membacakan kepadaku begini dan begitu? Beliau pun menjawab: “Benar.” Lalu terlihat kebencian pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian seorang laki-laki di samping beliau mengatakan; Hendaklah setiap orang dari kalian membaca sebagaimana yang ia dengar, karena sesungguhnya binasalah atau dibinasakan kaum sebelum kalian karena perselisihan. Namun aku tidak tahu apakah beliau memerintahkan hal itu atau sesuatu yang dikatakan dari hatinya.

 

Musnad Ahmad 4096: Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud dan ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Murawwiq Al ‘Ijli dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh lima shalat semuanya seperti shalatnya.” ‘Affan berkata; Telah sampai kabar kepadaku dari seseorang bahwa Abu Al ‘Awwam menyepakatinya; Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab dari Sa’id dari Qatadah dari Abu Al Ahwash dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti itu.

 

Musnad Ahmad 4097: Telah menceritakan kepada kami Abu Qathan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak dari Ibrahim dari pamannya dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Aku pernah bertemu seorang wanita di pinggiran kota Madinah, lalu aku melakukan segala perbuatan selain bersetubuh. maka turunlah ayat: (Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam).

 

Musnad Ahmad 4098: Telah menceritakan kepada kami Abu Qathan telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Sa’id bin Amru dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya; Kapan terjadi Lailatul Qadar itu? Beliau menjawab: “Siapa dari kalian yang ingat malam berwarna merah itu?” Abdullah berkata; Aku, ayah dan ibuku jadi tebusannya. Sesungguhnya di kedua tanganku ada beberapa kurma yang menjadikan menu sahurku sambil bersembunyi di balik bagian belakang tungganganku karena fajar tiba. Hal itu terjadi ketika qumair (bulan kecil) telah muncul.

 

Musnad Ahmad 4099: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dan Abu Nu’aim, Telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dari ayahnya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan dan yang memberi makan riba serta dua saksi dan sekretarisnya.

 

Musnad Ahmad 4100: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Hashirah telah menceritakan kepada kami Al Qosim bin Abdurrahman dari ayahnya dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami: “Bagaimana jika kalian menjadi seperempat penghuni surga, kalian seperempatnya sementara seluruh manusia tiga perempatnya?” Mereka menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. Beliau bertanya lagi: “Bagaimana jika kalian menjadi sepertiganya?” Mereka menjawab; Itu lebih banyak. Beliau bertanya lagi: “Bagaimana jika kalian menjadi sebagiannya?” Mereka menjawab; Itu juga lebih banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat, penduduk surga berjumlah seratus dua puluh barisan, sedangkan kalian sebanyak delapan puluh barisan.”

 

Musnad Ahmad 4101: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud, bahwa mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengetahui seseorang dari umatmu sementara engkau belum pernah melihatnya? Beliau bersabda: “Wajah yang memancarkan sinar dari bekas bersuci.”

 

Musnad Ahmad 4102: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku mengambil langsung dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak tujuh puluh surat dan tidak ada seorang pun yang menyelisihinya.”

 

Musnad Ahmad 4103: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah ia berkata; telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah dari Abu Wa`il dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Seseorang laki-laki Anshar mengucapkan satu kalimat yang menandakan adanya kemarahan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku merasa tidak nyaman untuk mengabarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, ingin sekali aku menebus kesalahan itu dengan semua keluarga dan hartaku. Beliau mengatakan: “Mereka telah menyakiti Musa Alaihi shalatu wassalam lebih dari itu, namun ia bersabar.” Kemudian beliau juga mengabarkan, bahwa ada seorang Nabi yang didustakan oleh kaumnya, kaum tersebut memukulnya saat ia datang dengan membawa agama Allah, ” Ibnu Mas’ud berkata, “Seraya beliau mengusap wajahnya dengan berkata: “Ya Allah, ampunilah kaumku! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.”

 

Musnad Ahmad 4104: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah dari Abu Wa`il dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku mendahului kalian sampai di telaga, sungguh aku akan dipertentangkan oleh banyak kaum kemudian aku dimenangkan atas mereka. Aku pun bertanya: ‘Wahai Rabbku, sahabatku, sahabatku! ‘ Lalu diberitahukan kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu’.”

 

Musnad Ahmad 4105: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Firas dari Amir dari Masruq dari Abdullah ia berkata, “Kadang kala ia menceritakan kepada kami, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau marah dan berubah warna wajahnya, kemudian beliau bersabda begini ini, atau seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 4106: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah mengabarkan kepada kami ‘Atha bin As Sa`ib bahwa Abu Abdurrahman telah menyampaikan kepadanya, bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah ‘azza wajalla menurunkan penyakit melainkan Dia menurunkan obatnya.” Sekali waktu ‘Affan menyebutkan, “Melainkan Dia menurunkan obat untuknya, ia diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4107: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah memberitakan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pinggir gunung, saat itu beliau shalat sedangkan pa tidur.” Ibnu Mas’ud berkata, “Tiba-tiba seekor ular melewati lewat di depan beliau hingga kami pun terbangun. Beliau bersabda: “Yang telah mencegahnya dari menyerang kalian adalah Dzat yang mencegah kalian dari menyerangnya.” Kemudian turunlah ayat kepada beliau: ‘ (Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya…) ‘ (Qs. Al Mursalaat: 1-2). Kemudian aku mengambil ular tersebut, sementara pada mulutnya terasa lembab.”

 

Musnad Ahmad 4108: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Hashirah telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Abdurrahman dari Ayahnya ia berkata; Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam waktu perang Hunain. Lalu orang-orang berpaling dari beliau (dari perang) dan hanya delapan puluh orang Muhajirin dan Anshar yang tetap bertahan, kemudian kami mundur tanpa membelakangi musuh dan merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka sakinah (ketenangan).” Ibnu Mas’ud berkata, “Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan memakai Baghlah (kuda hasil perkawinan dari keledai dan kuda) berjalan agak cepat hingga beliau miring dari pelana, lalu aku katakan, ‘Naiklah, niscaya Allah akan meninggikanmu.’ Nabi berkata: “Ambilkan aku segenggam tanah.” Beliau kemudian menaburnya ke seluruh wajah musuh hingga mata mereka dipenuhi tanah. Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menyeru: “Dimanakah para muhajirin dan Anshar!” Aku lalu menyahut, “Mereka di sana.” Nabi lalu menyuruhku dengan berkata: “Panggillah mereka!” Lalu aku memanggil mereka sehingga mereka datang dengan menghunus pedang di tangan kanan bagaikan kilat-kilat dan kaum musyrikin lari ke belakang.”

 

Musnad Ahmad 4109: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dan Hasan bin Musa keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, Hasan berkata; dari ‘Atha, dan ‘Affan berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Atha bin As Sa`ib dari Amru bin Maimun dari Ibnu Mas’ud, Hasan berkata; Sesungguhnya Ibnu Mas’ud menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada suatu kaum yang masuk neraka selama yang Allah kehendaki, lalu Allah memberi rahmat dan mengeluarkan mereka. Mereka lalu menempati surga yang paling bawah, lalu mereka mandi di sungai yang bernama Al Hayawan (kehidupan), penghuni surga menamakan mereka dengan Al Jahannamiyyun (orang-orang yang telah masuk neraka Jahannam). Seandainya salah seorang dari mereka menjamu seluruh penghuni bumi, niscaya ia dapat memberi mereka kasur, makanan, minuman dan memberi mereka selimut.” Aku kira beliau mengatakan pula: “Juga menikahkan mereka.” Hasan menyebutkan, “Hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun (dari nikmat yang dia miliki).”

 

Musnad Ahmad 4110: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Ashim dari Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud ia memarfu’kan hadits tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya dari Jahannam.”

 

Musnad Ahmad 4111: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dan Hasan bin Musa keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pernah diperlihatkan kepadaku umat-umat terdahulu, hingga aku pun tertahan oleh umatku.” Beliau melanjutkan sabdanya: “Aku melihat mereka dan merasa taajub dengan banyaknya jumlah dan keadaan mereka. Jumlah mereka telah memenuhi lembah dan gunung.” Hasan menyebutkan, “Allah lalu berfirman: “Wahai Muhammad, apakah kamu telah ridla?” Aku (Muhammad) menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau akan mendapatkan sejumlah itu.” Affan dan Hasan menyebutkan, “Allah lalu berfirman: “Wahai Muhammad, sesungguhnya bersama mereka ada tujuh puluh orang yang masuk surga tanpa hisab, mereka tidak melakukan kay (berobat dengan besi yang dipanaskan), tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur (menyandarkan nasib kepada sesuatu). Dan mereka hanya bertawakkal kepada Rabb mereka.” Ukasyah berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk dari mereka.” Lalu beliau mendoakannya, kemudian yang lain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku bersama mereka.” Beliau bersabda: “Engkau telah didahului Ukasyah.”

 

Musnad Ahmad 4112: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid bersama dengan Abu Bakar dan Umar. Sementara Ibnu Mas’ud sedang melaksanakan shalat di dalam masjid dengan membaca surat An Nisaa` hingga selesai ayat ke seratus. Kemudian Ibnu Mas’ud berdoa dalam keadaan berdiri shalat, beliau lalu bersabda: “Mintalah niscaya engkau akan diberi, mintalah niscaya engkau akan diberi.” Kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana saat ia diturunkan, hendaklah ia membaca dengan qira’ah Ibnu Ummi Abd.” Ketika tiba waktu pagi, Abu Bakar pergi menemui Abdullah bin Mas’ud untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Abu Bakar lalu bertanya, “Apa yang kamu minta kepada Allah tadi malam?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengucapkan, ‘Ya Allah, aku meminta kepadamu keimanan yang tidak akan murtad, kenikmatan yang tidak akan hilang, bisa menemani Muhammad di surga yang tinggi dan kekal.” Umar lalu datang, lantas dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya Abu Bakar telah mendahuluimu.” Maka Umar pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, tidaklah aku berlomba dengannya dalam kebaikan kecuali ia mendahuluiku.” Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Zaidah telah menceritakan kepada kami Ashim bin Abu An Najud dari Zir dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya bersama Abu Bakar dan Umar radliallahu ‘anhum…lalu ia menyebutkan seperti hadits tersebut.”

 

Musnad Ahmad 4113: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Qais telah mengabarkan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari Abidah As Salmani dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di dalam kata-kata indah terdapat sihir dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang mendapatkan hari kiamat dalam keadaan hidup, dan orang yang menjadikan kuburan mereka sebagai masjid.”

 

Musnad Ahmad 4114: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Jarir -yakni Ibnu Hazim- telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah bin Qais dari Abdullah ia berkata, “Allah melaknat para wanita pembuat tato, yang mencabut bulu alis, meratakan gigi dan wanita yang merubah ciptaan Allah.” Kemudian ia melanjutkan: “Ketahuilah, aku melaknat siapa yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Seorang wanita dari bani Asad lalu berkata, “Sesungguhnya aku mengira hal itu untuk keluargamu.” Abdullah lalu berkata, “Pergi dan lihatlah!” kemudian wanita tersebut pergi dan melihat. Wanita itu kemudian berkata, “Aku tidak sesuatu pun pada mereka dan tidak aku dapati di dalam mushhaf.” Abdullah berkata, “Benar. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakannya.” Abu Abdurrahman berkata; Telah menceritakan kepada kami Syaiban telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4115: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Zubaid dan Manshur dan Sulaiman, mereka mengabarkan kepadaku bahwa mereka mendengar Abu Wa`il menceritakan dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” Zubaid berkata, “Aku bertanya kepada Abu Wa`il sebanyak dua kali, “Benarkah engkau mendengarnya dari Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Benar.”

 

Musnad Ahmad 4116: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim At Taimi dari Al Harits bin Suwaid ia berkata; Abdullah berkata, “Aku masuk ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau menderita demam, aku pun meletakkan tanganku kepadanya seraya berkata, ‘Engkau menderita demam yang sangat! ‘ Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku menderita demam sebagaimana demamnya dua orang laki-laki dari kalian.” Abdullah melanjutkan, “Aku lalu berkata, “Hal itu karena taun menerima dua pahala.” Beliau menjawab: “Benar, tidaklah seorang mukmin yang terkena sakit atau yang lainnya kecuali Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pepohonan mengugurkan daun-daunnya.”

 

Musnad Ahmad 4117: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad yakni Ibnu Ishaq dari Abdurrahman bin Al Aswad dari Ayahnya ia berkata; Aku dan ‘Alqamah masuk ke tempat Ibnu Mas’ud di Hajirah, saat matahari telah condong ia mendirikan shalat dan kami pun berdiri di belakangnya, lalu ia menarik tanganku dan tangan temanku, seraya menempatkan kami di kedua sampingnya dan ia berdiri di antara kami. Setelah itu ia mengatakan, “Beginilah yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka bertiga, lalu beliau shalat bersama kami, setelah selesai shalat beliau bersabda: “Sesungguhnya akan datang para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, maka janganlah kalian menunggu mereka dan jadikan shalat bersama mereka sebagai tambahan (sunnah).”

 

Musnad Ahmad 4118: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa lupa sebagaimana kalian lupa, maka siapa saja dari kalian yang ragu dalam shalatnya, tentukanlah mana yang benar lalu sempurnakanlah dan sujud dua kali.”

 

Musnad Ahmad 4119: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Umarah dari Abdurrahman bin Yazid ia berkata, “Al Asy’ats bin Qais masuk menemui Abdullah saat ia sedang makan siang, lalu ia berkata, “Wahai Abu Muhammad, mendekatlah kemari untuk makan siang.” Al Asy’ats menjawab, “Bukankah hari ini adalah hari ‘Asyura?” Abdullah bertanya, “Apa itu?” Al Asy’ats menjawab, “Hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan puasa sebelum Ramadan, ketika datang bulan Ramadan beliau meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 4120: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq bin Salamah dari Abdullah ia berkata, “Sungguh aku mengetahui An Nazha`ir (surat yang berdekatan panjang atau maknanya) yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua surat dalam satu rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4121: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku mendahului kalian sampai di telaga. Sungguh, akan ada beberapa lelaki yang diusir dariku, hingga aku pun berkata: ‘Wahai Rabbku, itu adalah sahabatku! ‘ Lalu dikatakan: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu’.”

 

Musnad Ahmad 4122: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Ketika turun ayat: ‘ (Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) ‘ (Qs. An Nashr: 1), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan: “Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4123: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Abu Rafi’ dari Ibnu Mas’ud bahwa pada malam kedatangan jin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis di sekitanya, lalu salah seorang dari mereka datang seperti kerumunan lebah. Beliau bersabda kepadaku: “Jangan berpindah dari tempatmu.” Beliau pun membacakan Kitabullah ‘azza wajalla kepada mereka, tatkala melihat sekumpulan orang beliau pun berkata: ‘Sepertinya itu mereka.’ Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: ‘Apakah kamu membawa air? ‘ Aku menjawab, ‘Tidak. Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu membawa Nabidz (perasan anggur)?” Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun berwudlu dengannya.”

 

Musnad Ahmad 4124: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id dan Ibnu Ja’far keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, Muhammad -yakni Ibnu Ja’far- berkata, dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku diperbolehkan mengambil umatku sebagai kekasih, tentu aku akan menjadikan Abu Bakr sebagai kekasih.”

 

Musnad Ahmad 4125: Telah menceritakan kepada kami Abu Qathan dari Al Mas’udi dari Ali bin Al Aqmar dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata, “Barangsiapa senang berjumpa Allah besok sebagai seorang muslim, hendaklah menjaga seluruh shalat lima waktu ketika dipanggil untuk melaksanakannya. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah menetapkan sunnah-sunnah petunjuk kepada Nabi-Nya, dan semua itu adalah sunnah-sunnah petunjuk. Dan aku tidak mengira salah seorang dari kalian melainkan ia memiliki masjid yang digunakan untuk shalat di rumahnya, seandainya kalian shalat di rumah dan meningalkan masjid kalian, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat.”

 

Musnad Ahmad 4126: Telah menceritakan kepada kami Abu Qathan telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Ketika turun ayat: ‘ (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) ‘ (Qs. An Nashr: 1), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan: “Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat. Ya Allah, ampunilah aku. Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku, Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu.”

 

Musnad Ahmad 4127: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari Al Aswad dari Abdullah ia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah gua saat diturunkan kepadanya ayat: ‘ (Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan) (Qs. Al Mursalaat: 1). Abdullah melanjutkan, “Lalu kami mengambil langsung dari mulut beliau, ketika itu muncul seekor ular, beliau pun mengatakan: “Bunuhlah ia.” Abdullah berkata, “Kami pun mengejar untuk membunuhnya, namun ia telah mendahului kami (pergi). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menjaganya dari kalian sebagaimana Dia menjaga kalian darinya.”

 

Musnad Ahmad 4128: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lupa ketika shalat, lalu beliau melakukan sujud sahwi dua kali setelah mengucapkan (salam).”

 

Musnad Ahmad 4129: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari Abdurrahman bin Yazid ia berkata; Abdullah melempar Jumrah ‘Aqabah dari lereng bukit sebanyak tujuh kerikil sambil bertakbir pada setiap (lemparan) kerikil. Lalu ditanyakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang melemparnya dari atas bukit?” Abdullah pun menjawab, “Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya, ini adalah tempat di mana surat Al Baqarah diturunkan kepada beliau.”

 

Musnad Ahmad 4130: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari Abu Ma’mar dari Abdullah ia berkata, “Saat kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina, bulan terbelah hingga sebagiannya berada di belakang gunung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Saksikanlah!”

 

Musnad Ahmad 4131: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek saku atau memanggil dengan panggilan jahiliyah.”

 

Musnad Ahmad 4132: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qosim telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Abu Nahsyal dari Abu Wa`il ia berkata; Abdullah berkata, “Keutamaan Umar bin Al Khaththab radliyallahu Ta’ala ‘anhu atas manusia ada pada empat hal; tentang tawanan perang badar, ia mengusulkan untuk membunuh mereka (tawanan) hingga Allah pun berfirman: ‘ (Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil) ‘ (Qs. Al Anfal: 68). Juga tetang hijab, Umar mengusulkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar para wanita mengenakan hijab, sehingga Zaibab berkata kepadanya, “Apa urusan kamu atas kami wahai Ibnul Khaththab, sementara wahyu turun di rumah kami.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: ‘ (Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir…) ‘ (Qs. Al Ahzab: 53). Dan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuknya: ‘Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.’ Dan dialah orang yang pertama berpendapat dan yang membaiat Abu Bakar di antara semua manusia.”

 

Musnad Ahmad 4133: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami ‘Ashim -yakni Ibnu Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar- dari Amir bin As Simth dari Mu’awiyah bin Ishaq dari ‘Atha bin Yasar dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang para pemimpin sesudahku, mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka.”

 

Musnad Ahmad 4134: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin Maisarah ia berkata; Aku mendengar An Nazzal bin Sabrah Al Hilali ia menceritakan dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku mendengar seorang laki-laki membaca ayat berbeda dari apa yang aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku mengajaknya serta melaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Mas’ud berkata, “Lalu aku lihat tanda kebencian pada wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Semuanya benar, janganlah kalian berselisih.” Kuat pengetahuanku Mis’ar berkata, “Ia telah menyebutkan dalam hadits itu: “Janganlah kalian berselisih, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih hingga mereka binasa.”

 

Musnad Ahmad 4135: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Muhammad -yakni Ibnu Thalhah- dari Zubaid dari Murrah dari Abdullah ia berkata, “Kaum musyrikin menahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari shalat Ashar hingga matahari menguning atau memerah. Beliau bersabda: “Mereka telah menyibukkan kita dari shalat Wustha, semoga Allah memenuhi mulut-mulut dan kubur mereka dengan api.” Atau beliau bersabda: “Semoga Allah memenuhi mulut-mulut dan kubur mereka dengan api.”

 

Musnad Ahmad 4136: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad -yakni Ibnu Zaid- dari ‘Ashim dari Abu Wa`il dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi harta rampasan perang Hunain di Ji’ranah, mereka saling berdesak-desakan hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba dari hamba Allah yang diutus oleh Allah kepada kaumnya, namun mereka memukul dan menghianatinya.” Beliau melanjutkan: “Lalu ia mengusap darah dari dahinya seraya berdoa: ‘Ya Rabbku, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui’.” Abdullah berkata; Seakan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap darah dari dahinya, beliau menceritakan seorang laki-laki sambil berdoa: ‘Ya Rabbku, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui’.”

 

Musnad Ahmad 4137: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad -yakni Ibnu Zaid- dari ‘Ashim dari Abu Wa`il dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Seorang laki-laki Ahli Suffah meninggal dunia, lalu para sahabat mendapatkan dua dinar dalam selimutnya, mereka pun melaporkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu bersabda: “Kayyatan (dua kantong).”

 

Musnad Ahmad 4138: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur bin Al Mu’tamir dari Ibrahim dari Abidah As Salmani dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Seorang pendeta Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Muhammad, Atau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pada hari kiamat Allah ‘azza wajalla memegang langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, gunung di atas satu jari, pepohonan pada satu jari, air dan embun di atas satu jari dan seluruh makhluk-Nya pada satu jari seraya berfirman: ‘Aku adalah Penguasa’.” Abdullah bin Mas’ud berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gerahamnya sebagai pembenaran dari ucapannya, beliau lalu membaca ayat: ‘ (Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya) ‘ (Qs. Az Zumar: 67). Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Manshur, lalu ia menyebutkannya dengan sanad dan maknanya. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gerahamnya sebagai bentuk pembenarannya atas ucapan Yahudi tersebut.”

 

Musnad Ahmad 4139: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Hayyan telah mengabarkan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari Abdurrahman bin Yazid ia berkata, ” Abdullah melempar jumrah di lereng bukit, aklu lalu berkata, ‘Orang-orang tidak melempar dari sini! ‘ Ia menjawab, “Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya, ini adalah tempat di mana surat Al Baqarah diturunkan kepada beliau.”

 

Musnad Ahmad 4140: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Al Mu’tamir dari Ayahnya dari Sulaiman Al A’masy dari Syaqiq bin Salamah dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Tatkala kami berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sekumpulan anak yang sedang bermain, di antaranya Ibnu Shayyad, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Semoga engkau beruntung, apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” ia justru balik bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” Umar radliyallahu Ta’ala ‘anhu lalu berkata, “Biarkan aku penggal lehernya!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Jika ia adalah orang yang kalian takuti, niscaya kalian tidak akan mampu (membunuhnya).”

 

Musnad Ahmad 4141: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad -yakni Ibnu Salamah- dari ‘Ashim dari Zirr dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku mengambil langsung dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak tujuh puluh surat yang tidak diperselisihkan oleh seorang pun.”

 

Musnad Ahmad 4142: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Khalid dari Abu Ma’syar dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sungguh akan menggantikanku dari kalian orang-orang yang berakal dan beradab, kemudian orang-orang setelahnya kemudian orang-orang setelahnya, dan janganlah kalian berselisih, niscaya hati kalian akan berselisih dan jauhilah oleh kalian perselisihan seperti keributan pasar.”

 

Musnad Ahmad 4143: Telah menceritakan kepada kami Syuja’ bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu Khalid yang dikenal di kalangan banu Dalan dengan Yazid Al Wasithi dari Thalq bin Habib dari Abu ‘Aqrab Al Asadi ia berkata, “Aku menemui Ibnu Mas’ud yang saat itu aku dapati ia berada di hasil buminya – tempat pengeringan kurma-. Aku mm dia mengatakan, ‘Maha benar Allah dan Rasul-Nya’. Aku lalu naik dan mendekat ke tempat ia berada, aku lalu tanyakan kepadanya, ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, ada apa? Engkau katakan ‘Maha benar Allah dan Rasul-Nya’? Ibnu Mas’ud lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita bahwa malam lailatul qadar pada pertengahan tujuh hari terakhir, sebagai tandanya matahari akan muncul di pagi hari dengan tidak membawa sinar.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Aku lalu naik untuk melihat dan melihatnya, lalu aku katakan, ‘Maha benar Allah dan Rasulk-Nya’.”

 

Musnad Ahmad 4144: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah dan Ali bin Ishaq ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Musa bin Ali bin Rabah ia berkata; Aku mendengar Ayahku mengatakan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya pada malam yang sangat gelap, beliau membawa tulang seraya bersabda: “Janganlah engkau beristinja` (cebok) dengan ini apabila buang air besar.”

 

Musnad Ahmad 4145: Telah menceritakan kepada kami Ubaidah bin Humaid dari Al Mukhariq bin Abdullah Al Ahmasi dari Thariq bin Syihab ia berkata; Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku telah menyaksikan satu peristiwa dari Al Miqdad, sungguh aku menjadi sahabatnya lebih aku cintai dari pada semua yang ada di muka bumi ini.” Abdullah bin Mas’ud melanjutkan, “Miqdad menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia adalah pemuda Persi. Lalu ia berkata, “Berilah kabar gembira kepada kami wahai Nabiyullah! Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepada engkau sebagaimana yang dikatakan oleh bani Isra`il kepada Musa shallallahu ‘alaihi wasallam ‘ (Pergilah engkau bersama Rabbmu berperang, sedang kami duduk di sini menunggumu) ‘ (Qs. Al Maaidah: 24). Tetapi demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh kami akan berperang di sisimu, di samping kanan, kiri dan di belakangmu, hingga Allah memenangkanmu.”

 

Musnad Ahmad 4146: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Abu Ishaq ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al Aswad bin Yazid An Nakha’i dari Ayahnya dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Turun ayat (Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan) (Qs. Al Mursalaat: 1), kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam al hayyah.” Abdullah Mas’ud melanjutkan, “Lalu kami bertanya kepadanya, ‘Apa yang disebut malam Al Hayyah itu wahai Abu Abdurrahman? ‘ Ia menjawab, “Tatkala kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam di gua Hira`, tiba-tiba muncul seekor ular dari gunung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintah kami untuk membunuhnya, kami pun mengejarnya namun ia lebih cepat dari kami. Beliau bersabda: “Biarkanlah ia, karena Allah telah menjaganya dari kalian sebagaimana Dia telah menjaga kalian darinya.”

 

Musnad Ahmad 4147: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Abu Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al Aswad bin Yazid An Nakha’i dari pamannya Abdurrahman bin Yazid ia berkata, “Aku bersama Abdullah bin Mas’ud berhenti di sisi Jumrah, ketika berhenti di sisinya ia mengatakan, ‘Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya, ini adalah tempat diturunkan surat Al Baqarah kepada beliau di hari melempar jumrah.” ‘Abdurrahman melanjutkan, “Abdullah bin Mas’ud pun melemparnya dengan kerikil sebanyak tujuh butir, ia bertakbir di setiap lemparan kerikil kemudian ia berpaling.”

 

Musnad Ahmad 4148: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih bin Kaisan dari Al Harits, aku kira ia adalah Ibnu Fudlail dari Ja’far bin Abdullah bin Al Hakam dari Abdurrahman bin Al Miswar dari Abu Rafi’ dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang Nabi pun yang diutus oleh Allah ‘azza wajalla kepada umat sebelumku kecuali ia memiliki para pembantu dan sahabat dari umatnya yang mengikuti sunnah dan melaksanakan perintahnya, kemudian datang generasi setelah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka perbuat dan mereka berbuat dengan apa yang tidak diperintahkan.”

 

Musnad Ahmad 4149: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Shalih, Ibnu Syihab berkata; Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Tatkala kami duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sekitar delapan puluh pemuda Quraisy, dan tidak ada seorang pun selain orang Quraisy. Demi Allah, aku tidak pernah melihat wajah seorang pun yang lebih tampan dari pada mereka ketika itu. Lalu mereka menyebutkan tentang wanita dan membicarakannya, beliau pun ikut berbincang bersama mereka hingga aku lebih menyukai agar beliau diam.” Abdullah bin Mas’ud melanjutkan, “Kemudian aku menemui beliau, beliau lalu mengucapkan kalimat syahadat dan bersabda: “Amma ba’du, wahai sekalian orang Quraisy, sesungguhnya kalian lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan selama kalian tidak bermaksiat kepada Allah, jika kalian bermaksiat niscaya Allah akan mengutus kepada kalian orang yang akan mematahkan kekuatan kalian sebagaimana tongkat ini dipatahkan -beliau menunjuk tongkat yang ada padanya- kemudian beliau mematahkan tongkat yang ada padanya dan ternyata dia mengeluarkan kilauan putih.”

 

Musnad Ahmad 4150: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami ayahku dari Abu Ishaq ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Umais ‘Utbah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Abdullah bin Mas’ud dari Abu Fazarah dari Abu Zaid mantan budak Amru bin Huraits Al Makhzumi dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Tatkala kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah, ketika beliau bersama beberapa orang sahabatnya, tiba-tiba beliau bersabda: “Hendaknya seseorang diantara kalian ada yang menyertaiku, dan janganlah orang yang didalam hatinya terdapat kecurangan ikut menyertaiku.” Lalu aku ikut bersama beliau dengan membawa wadah, dan aku tidak menyangka dalam wadah tersebut kecuali hanya berisikan air, lalu aku keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika kami sampai di penghujung kota Makkah, aku melihat sekumpulan orang yang sangat banyak dari berbagai kalangan. Ibnu Mas’ud melanjutkan; “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan garis untukku, beliau bersabda: “Tetaplah kamu di sini, sehingga aku kembali padamu.” Ibnu Mas’ud berkata; “Aku tetap di tempat tersebut sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak menuju mereka, aku sempat melihat mereka tengah berkerumun menunggu kedatangan beliau, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berbincang-bincang bersama mereka hingga larut malam. Ketika waktu fajar tiba, beliau bersabda kepadaku: “Engkau masih masih ditempat ini wahai Ibnu Mas’ud?” aku menjawab; “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau tadi mengatakan ‘tetaplah di sini hingga aku kembali padamu.’ Ibnu Mas’ud melanjutkan; kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu membawa air untuk berwudlu’?’ Aku menjawab; “Ya,” Ketika aku membuka wadah tersebut, ternyata isinya minuman dari perasaan kurma, maka aku berkata kepada beliau; “Wahai Rasulullah, demi Allah sungguh aku tadi mengambil wadah tersebut dan aku tidak mengira yang didalamnya kecuali air, ternyata ia adalah minuman dari perasaan kurma.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kurma yang bagus dan air yang suci.” Setelah itu beliau berwudlu dari air tersebut, ketika beliau hendak shalat, aku sempat menemui dua orang dari mereka, keduanya berkata; “Wahai Rasulullah, Sesungguuhnya kami menginginkan engkau menjadi imam shalat kami.” Ibnu Mas’ud berkata; “kemudian keduanya membuat shaf shalat di belakang beliau, dan shalat bersama kami. Seusai mengerjakan shalat, aku bertanya; “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Mereka adalah sekelompok jin dari daerah Nashibin, mereka datang kepadaku karena suatu persengketaan yang terjadi di antara mereka, mereka juga sempat bertanya kepadaku mengenai makanan (yang layak) mereka (makan), maka aku beritahukan kepada mereka mengenai makanan (yang layak) mereka (konsumsi).” Aku bertanya kepada beliau; “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk makanan mereka wahai Rasulullah?” beliau menjawab; “Aku telah membekali makanan mereka berupa kotoran, jika mereka menemukan kotoran binatang, maka mereka akan mendapatkan gandum, dan jika mereka menemukan tulang, maka mereka menemukan tulang itu terbungkus dengan daging.” Oleh karena itu Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bersuci dengan kotorang dan tulang.”

 

Musnad Ahmad 4151: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub ia berkata; Telah menceritakan kepadaku ayahku dari Abu Ishaq ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al Aswad bin Yazid An Nakha’i tentang tasyahhud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pertengahan dan akhir shalat dari ayahnya dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepadaku bacaan tasyahhud di pertengahan dan akhir shalat, sedangkan kami menghafalkan dari Abdullah ketika ia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bacaan itu kepadanya. Jika beliau duduk di pertengahan shalat dan akhirnya di atas telapak kaki kirinya beliau membaca: “Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya, kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kita dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.” Ia melanjutkan; Kemudian jika berada di pertengahan shalat, beliau bangkit setelah selesai dari membaca tasyahhud dan jika di akhir shalat, beliau berdoa setelah membaca tasyahhudnya apa yang dikehendaki oleh Allah untuk berdoa kemudian salam.

 

Musnad Ahmad 4152: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami ayahku dari Abu Ishaq ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al Aswad bin Yazid An Nakha’i tentang berpalingnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah shalat, dari ayahnya berkata; Aku mendengar seseorang bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang berpalingnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari shalatnya apakah ke sebelah kanannya atau sebelah kirinya. Ia melanjutkan; Abdullah bin Mas’ud berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling dari shalatnya sesuai yang dikehendakinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering berpaling dari shalatnya ke arah kirinya menuju kamarnya.

 

Musnad Ahmad 4153: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib dari Muhammad bin Ishaq bahwa Abdurrahman bin Al Aswad menceritakan kepadanya, bahwa Al Aswad menceritakan kepadanya, bahwa Ibnu Mas’ud menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berpaling ke arah kiri setelah selesai shalat menghadap ke arah kamarnya.”

 

Musnad Ahmad 4154: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Abu Ishaq telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ka’b Al Quradli dari Orang yang telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Tatkala kami bersamanya pada di masjid Kufah pada hari jum’at -ketika itu Ammar bin Yasir adalah gubernur Kufah dipemerintahan Umar bin Khaththab, dan Abdullah bin Mas’ud sebagai bendahara Baitulmal-, saat Abdullah bin Mas’ud melihat bayangan sudah setinggi alas kaki (sandal), ia mengatakan, “Jika pemimpin kalian mengikuti sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam, ia akan keluar sekarang.” Muhammad bin Ka’b melanjutkan, “Demi Allah, belum selesai Abdullah bin Mas’ud berbicara, Ammar bin Yasir keluar seraya mengatakan, ‘Telah masuk waktu shalat’.”

 

Musnad Ahmad 4155: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Abu Ishaq ia berkata, dan telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al Aswad bin Yazid An Nakha’i dari Ayahnya ia berkata, “Aku dan pamanku, ‘Alqamah, masuk menemui Abdullah bin Mas’ud di Hajirah.” Ia melanjutkan, “Lalu Abdullah bin Mas’ud lalu mendirikan shalat pada waktu Zhuhur, kami pun berdiri di belakangnya, lalu ia menarik tanganku dan tangan pamanku seraya menempatkan seorang dari kami di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya. Kemudian dia berdiri di antara kami, kami pun membuat satu shaf di belakangnya. Setelah itu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Beginilah yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka bertiga, beliau shalat bersama kami lalu bersabda setelah selesai: “Sesungguhnya akan datang para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, maka janganlah kalian menunggu mereka dan jadikan shalat bersama mereka sebagai tambahan (sunnah).”

 

Musnad Ahmad 4156: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Fudlail Al Anshari Al Khathmi dari Sufyan bin Abu Al Auja` As Sulami dari Abu Asy Syuraih Al Khuza’i ia berkata, “Gerhana matahari terjadi pada masa Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu, sementara di Madinah ada Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu.” Abu Syuraih berkata, “Lalu Utsman shalat bersama orang-orang sebanyak dua rakaat dan sujud dua kali pada tiap rakaat. Kemudian Utsman berlalu masuk ke dalam rumahnya, sementara Abdullah bin Mas’ud duduk di samping kamarnya ‘Aisyah dan kamipun duduk disekitarnya. Abdullah lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk shalat tatkala terjadinya gerhana matahari dan bulan, jika kalian melihat gerhana maka segeralah shalat karena jika itu adalah gerhana yang kalian takutkan (yaitu salah satu dari tanda kiamat besar), maka kalian dalam keadaan tidak lalai dan jika bukan kalian telah melakukan suatu kebaikan.”

 

Musnad Ahmad 4157: Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ayahku dari Ayahnya dari Abu Ubaidah bin Abdullah dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat seakan beliau berdiri di atas bara.” Sa’d berkata, “Aku lalu bertanya kepada bapakku, ‘Apakah hingga beliau bangkit? ‘ ia menjawab, ‘Ya’.”

 

Musnad Ahmad 4158: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami ayahku dari ayahnya dari Abu Ubaidah bin Abdullah dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada pada rakaat kedua seakan berada di atas batu panas -mungkin juga ia menyebutkan; dua rakaat pertama-.” Abu Ubaidah berkata, “Aku lalu bertanya kepada bapakku, ‘Hingga beliau bangun? ‘ Ia menjawab, ‘Ya, hingga bangun’.” Bapakku berkata, “telah menceritakan kepada kami Nuh bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d ia berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku dari Abu Ubaidah bin Abdullah dari Bapaknya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada rakaat kedua seakan duduk di atas batu panas.” Ubaidullah berkata, “Aku lalu bertanya kepada bapakku, ‘Hingga beliau bangun? ‘ Ia menjawab, ‘Ya, hingga bangun’.”

 

Musnad Ahmad 4159: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari Abidah As Salmani dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga terakhir masuk surga dan penghuni neraka terakhir keluar dari neraka adalah seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu Allah ‘azza wajalla berfirman kepadanya: Pergilah engkau dan masuklah ke surga. Ia pun mendatanginya namun terlihat olehnya bahwa surga telah penuh, ia pun kembali dan berkata; Wahai Rabbku, telah aku dapati surga telah penuh. Rabbnya berfirman: Pergilah engkau dan masuklah ke surga. Ia pun mendatanginya namun terlihat olehnya bahwa surga telah penuh, ia pun kembali dan berkata; Wahai Rabbku, telah aku dapati surga telah penuh. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, Dia pun berfirman: Pergilah engkau, sesungguhnya bagimu seperti dunia bahkan sepuluh kali sepertinya atau sepuluh seperti dunia.” Beliau melanjutkan: “Ia berkata; Wahai Rabbku, apakah Engkau menertawakanku padahal Engkau adalah Raja.” Beliau bersabda: “Dikatakan; Ini adalah tempat penghuni surga paling rendah.”

 

Musnad Ahmad 4160: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah Al Bakka`i telah menceritakan kepada kami Manshur dari Salim dari Ayahnya dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun dari kalian melainkan telah disertakan untuknya satu qarin (pendamping) dari jin.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana denganmu?” Beliau menjawab: “Demikian pula denganku, namun Allah menolongku atasnya sehingga ia masuk Islam dan tidak menyuruhku selain terhadap kebenaran.”

 

Musnad Ahmad 4161: Abdullah berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Al Qasim bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata -Dan Abdullah mendengar di Khasaf-, ia berkata, “Kami, sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menilai bahwa ayat (tanda karamah) itu suatu barakah, sementara kalian menilainya sebagai hal yang menakutkan. Saat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak memiliki air, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata kepada kami, ‘Carilah oleh kalian siapa yang masih memili air! ‘ kami kemudian melakukannya, maka diberikanlah air kepada beliau. Beliau kemudian menuangkannya ke dalam bejana seraya meletakkan kedua telapak tangannya, maka serta merta keluarlah air dari ujung jemari beliau. Kemudian beliau bersabda: “Marilah bersuci dengan sesuatu yang berbarakah, dan keberkahan itu datangnya dari Allah, ” maka aku pun memenuhi perutku, sementara beliau juga memberikannya kepada orang-orang.” Abdullah melanjutkan, “Kami juga mendengar makanan bertasbih saat ia dimakan.”

 

Musnad Ahmad 4162: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Abdul Malik -yakni Ibnu Umair- dari Abdurrahman bin Abdullah -yakni Ibnu Mas’ud- dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim memerangi saudaranya adalah kekufuran dan mencelanya adalah kefasikan.”

 

Musnad Ahmad 4163: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari ‘Ashim bin Abu An Najud dari Abu Wa`il dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang isteri menyebutkan sifat-sifat fisik seorang wanita kepada suaminya, atau mensifatinya kepada suaminya, atau kepada seorang laki-laki seakan ia melihatnya. Apabila mereka bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya, karena hal itu akan membuatnya sedih. Barangsiapa bersumpah dengan sumpah palsu untuk merampas harta saudaranya.” Atau beliau bersabda: “Harta seorang muslim, niscaya ia akan berjumpa Allah ‘azza wajalla sementara Dia dalam keadaan murka kepadanya.” Ia (perawi) berkata, “Lalu Al Asy’at bin Qais mendengar Ibnu Mas’ud menyampaikan masalah ini, lalu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan hal itu berkenaan denganku dan terhadap seorang laki-laki yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sumur.”

 

Musnad Ahmad 4164: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud mengenai ayat ini: ‘ (Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha) ‘ (Qs. An Najm: 13-14). Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki enam ratus sayap yang bertaburan dari bulunya berwarna warni mutiara dan yaqut.”

 

Musnad Ahmad 4165: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Abu Ishaq dari ‘Alqamah bin Qais -namun ia tidak mendengar hadits tersebut darinya, dan seseorang menanyakannya tentang hadits ‘Alqamah, yaitu hadits ini- bahwa Abdullah bin Mas’ud menemui Abu Musa Al Asy’ari di rumahnya. Kemudian datanglah waktu shalat, Abu Musa lalu berkata, ‘Majulah engkau wahai Abu Abdurrahman,, karena engkau adalah orang yang lebih tua dan berilmu.” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Tidak, sebaiknya engkau saja, karena kami datang kepadamu di rumah dan masjidmu, engkau lebih berhak.” ‘Alqamah berkata, “Abu Musa pun maju dan melepas kedua sandalnya, setelah salam Ibnu Mas’ud berkata, “Apa yang mendorongmu melepas sandal? Apakah engkau sedang berada di lembah yang suci? Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat dengan memakai kedua khuf dan sandal.”

 

Musnad Ahmad 4166: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash ia mendengar darinya, dari Abdullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kaum yang meninggalkan shalat Jum’at: “Sungguh, aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang mengimami shalat kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.”

 

Musnad Ahmad 4167: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq ia berkata; Aku mendengar Abdurrahman bin Yazid berkata, ” Abdullah bin Mas’ud melaksanakan haji, lalu ‘Alqamah menyuruh aku untuk ikut melakukannya, maka aku pun ikut melaksanakan haji bersamanya. …lalu ia menyebutkan hadits. Ketika terbit Fajar Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kerjakanlah shalat.” Maka aku pun bertanya, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, ini ada waktu yang kamu tidak pernah melakukan shalat!” Abdullah bin Mas’ud lalu menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan shalat pada waktu ini, kecuali shalat ini di tempat ini dari hari ini.” Abdullah bertanya lagi, “Dua shalat yang dirubah dari waktunya; shalat Maghrib dilakukan ketika orang-orang datang ke Muzdalifah dan shalat Subuh ketika Fajar telah menyingsing. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan demikian.”

 

Musnad Ahmad 4168: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa ia berkata; Aku mendengar Hudaij saudara Zuhair bin Mu’awiyah dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami kepada Najasyi, saat itu kami berjumlah sekitar delapan puluh orang, di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un dan Abu Musa, mereka mendatangi Najasyi. Sementara orang-orang Quraisy mengutus Amru bin ‘Ash dan Umarah bin Walid dengan membawa hadiah. Tatkala keduanya menghadap Najasyi, keduanya lalu sujud di hadapannya kemudian berdiri di samping kanan dan kirinya. Setelah itu keduanya kepada Najasyi, “Sesungguhnya beberapa orang dari bani paman kami telah datang di negerimu dan mereka membenci kami dan agama kami.” Najasyi bertanya, “Dimanakah mereka?” Keduanya menjawab, “Mereka semuanya ada di negerimu, suruhlah mereka menghadap.” Najasyi lantas pun memanggil mereka. Ja’far berkata, “Saya yang akan menjadi juru bicara kalian hari ini.” Para sahabat lalu mengikutinya, kemudian mereka masuk dan memberi salam tanpa melakukan sujud (seperti yang dilakukan oleh utusan Quraisy). Orang-orang pun bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak sujud kepada raja?” Ja’far menjawab, “Kami tidak sujud kecuali hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.” Najasyi bertanya, “Jelaskan kenapa demikian!” Ja’far berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengutus kepada kami Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memerintahkan kepada kami untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah, menyuruh kami untuk shalat dan menunaikan zakat.” Amru bin ‘Ash berkata, “Sesungguhnya mereka menyelisihi engkau mengenai Isa bin Maryam!” Najasyi bertanya, “Apa pendapat kalian mengenai Isa bin Maryam dan Ibunya?” Para sahabat menjawab, “Kami katakan sebagaimana firman Allah Ta’ala, dia adalah kalimat Allah dan ruh-Nya, Dia masukkan ke dalam rahim wanita perawan dan rajin beribadah (Maryam) yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki, dan belum pernah memiliki anak.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Lalu Najasyi mengambil sepotong kayu dari tanah dan berkata, “Wahai sekalian penduduk Habasyah dan para pendeta! Demi Allah, mereka tidak menambahkan sedikitpun dari apa yang kita katakan (yakini tentang Isa). Selamat datang untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang bersama kalian, aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah, dialah orang yang kami dapatkan ciri-cirinya dalam Injil dan dialah rasul yang diberitakan oleh Isa bin Maryam. Tinggallah kalian sesuka hati kalian, demi Allah jika bukan karena urusan kerajaan niscaya aku akan mendatanginya hingga aku yang akan membawa kedua sandalnya dan memberinya air wudlu’. Najasyi kemudian memerintahkan untuk mengembalikan hadiah dari Quraisy.” Setelah itu Abdullah bin Mas’ud segera kembali ke Madinah hingga dia dapat ikut serta dalam perang Badar.”

 

Musnad Ahmad 4169: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki bertanya kepada Al Aswad bin Yazid, saat itu ia sedang mengajarkan Al Qur`an di masjid. Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana engkau membaca huruf ini: FAHAL MIN MUDDAKIR? Menggunakan dzal atau dal?” Al Aswad menjawab, “Tidak, tapi dengan huruf Dal.” Kemudian Al Aswad berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca MUDDAKIR, dengan huruf Dal.”

 

Musnad Ahmad 4170: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far -yakni Al Makhrami ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Fudlail dari Ja’far bin Abdullah bin Al Hakam dari Abdurrahman bin Al Miswar bin Makhramah dari Abu Rafi’ ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang Nabi pun kecuali ia memiliki para pembantu dan sahabat dari sahabatnya yang mengikuti jejaknya dan melaksanakan petunjuknya, kemudian setelah itu datang generasi dari para pemimpin, mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat dan melakukan perbuatan yang tidak diperintahkan.”

 

Musnad Ahmad 4171: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Qais dari Huzail dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para wanita yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan, muhilla dan muhallal, pembuat tato dan orang yang minta dibuatkan, pemakan riba dan yang memberi makan (riba).”

 

Musnad Ahmad 4172: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Al A’masy dari Abu Razin dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam gua, lalu turunlah ayat: ‘ (Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan) ‘ (Qs. Al Mursalaat: 1), aku pun membacanya hampir seperti apa yang beliau bacakan kepadaku meskipun aku tidak mengetahui dua ayat manakah beliau berhenti.”

 

Musnad Ahmad 4173: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, Abu Ishaq berkata; Telah memberitakan kepada kami dari Al Aswad dari Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membaca surat An Najm, beliau sujud dan tidak ada seorang pun yang tidak sujud kecuali seorang laki-laki yang mengangkat segenggam pasir dan meletakkan di wajahnya sambil berkata, ‘Cukuplah ini bagiku’. Abdullah berkata, “Sungguh, setelah itu aku melihatnya terbunuh sebagai orang kafir.”

 

Musnad Ahmad 4174: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan satu kalimat dan aku menambahi satu kalimat lagi: “Barangsiapa mati sedangkan ia menjadikan tandingan bagi Allah, niscaya Allah akan memasukkannya ke neraka.” Dan Abdullah berkata, “Dan aku menambahi, ‘Barangsiapa mati sedangkan ia tidak menjadikan tandingan bagi Allah, niscaya Allah akan memasukkannya ke surga’.”

 

Musnad Ahmad 4175: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Abu Wa`il menceritakan dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya, karena hal itu membuatnya sedih, dan janganlah seorang isteri menyebutkan sifat fisik seorang wanita lain kemudian mensifatinya kepada suaminya hingga ia seperti melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 4176: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Abu Wa`il menceritakan dari Abdullah ia berkata; Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu terhadap kesyirikan yang telah kami lakukan, apakah kami akan disiksa?” Belaiu menjawab: “Barangsiapa berbuat baik dari kalian di dalam Islam, ia tidak akan disiksa terhadap kesyirikan yang telah ia perbuat. Dan barangsiapa berbuat buruk dari kalian di dalam Islam, ia akan disiksa terhadap kesyirikan yang telah ia perbuat dan di dalam keIslamannya.”

 

Musnad Ahmad 4177: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Abu Wa`il dari Abdullah bahwa ia berkata, “Sesungguhnya aku telah diberitahu perkumpulan kalian ini, namun aku enggan keluar karena khawatir membuat kalian bosan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyela-nyela hari untuk memberi nasehat, khawatir membuat kami bosan.”

 

Musnad Ahmad 4178: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Mahdi telah menceritakan kepada kami Washil dari Abu Wa`il ia berkata, “Suatu hari setelah shalat shubuh kami pergi ke tempat Abdullah bin Mas’ud, kami mengucapkan salam di sepan pintu miliknya, hingga ia pun memberi izin. Seorang laki-laki dari kami lalu berkata, “Aku tadi malam membaca Al Mufashshal (surat-surat antara Qaf atau Al Hujurat hingga akhir) seluruhnya?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, ” (Jika benar membacanya semua) Ini terlalu cepat seperti cepatnya sya’ir, kami telah mendengar bacaan ini. Dan sungguh, aku telah hafal surat yang berdekatan panjang atau makna yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu delapan belas surat dari Mufashshal dan dua surat yang diawali dengan Haa-Miim.”

 

Musnad Ahmad 4179: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Mahdi telah menceritakan kepada kami Washil Al Ahdab dari Abu Wa`il dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab: “Engkau membuat tandingan bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Aku berkata lagi, “Lalu apa wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Bila engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

 

Musnad Ahmad 4180: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Ibnu Mas’ud berkata, “Dulu ketika aku berumur menjelang akil baligh aku menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abu Mu’aith, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta Abu Bakar datang yang ketika itu sedang dalam pelarian dari orang-orang musyrik. Mereka berdua lalu berkata: “Wahai bocah, apakah kamu mempunyai susu untuk kami minum?” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku adalah orang yang dapat dipercaya dan aku bukan orang yang memberi minuman kepada kalian berdua.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi: “Apakah kamu mempunyai anak hewan yang belum pernah dikawini oleh pejantan?” Aku menjawab, “Ya, aku punya.” Lantas aku pun memberikan kambing tersebut kepada mereka berdua. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengikat anak hewan tersebut lalu mengusap-usap susunya dan berdo’a, tiba-tiba susunya menjadi banyak. Kemudian Abu Bakar membawanya ke sebuah batu besar dan memerahnya di sana. Rasulullah, Abu Bakar dan aku lalu meminum susu kambing itu, setelah itu beliau berkata kepada susu hewan itu: ‘Menyusutlah! ‘ Maka susu hewan itupun menyusut. Setelah itu aku mendatangi beliau dan berkata, ‘Ajarkanlah aku tentang ini.’ Lalu beliau berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya kamu adalah anak yang cerdas.’ Ibnu Mas’ud berkata, “Akupun mendengar tujuh puluh surat dari mulut beliau dan tidak ada seorangpun yang menyelisihinya.”

 

Musnad Ahmad 4181: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Isma’il bin Raja` dari Abdullah bin Abu Al Hudzail dari Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seandainya aku diperbolehkan menjadikan seseorang sebagai kekasih, tentu aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, tapi ia adalah saudara dan sahabatku. Dan Allah telah menjadikan teman kalian (Nabi Ibrahim) sebagai kekasih-Nya.”

 

Musnad Ahmad 4182: Telah menceritakan kepada kami Affan berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Atha bin As Sa`ib dari Asy Sya’bi dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya kaum wanita Muslimah pada waktu perang uhud mereka berada di belakang pasukan kaum muslimin untuk mengobati kurban luka orang-orang musyrikin. Sekiranya aku waktu itu bersumpah niscaya aku pasti akan menepatinya. Sungguh, saat itu tidak ada seorang pun di antara kami yang masih menginginkan dunia hingga Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat: ‘ (Diantara kalian ada yang menginginkan dunia dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat kemudian Dia memalingkan kalian kepada mereka untuk menguji kalian) ‘ (Qs. Ali Imran: 152). Hingga ketika para sahabat Nabi mulai menyelisihi dan menyalahi perintahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta sembilan orang yang terdiri dari tujuh orang sahabat anshar dan dua orang dari quraisy dikucilkan, dan beliau adalah orang yang kesepuluh. Lalu ketika mereka (kesembilan orang) itu mendekat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: ‘Semoga Allah menyayangi orang yang telah dikembalikannya kepada kami.’ Lalu seorang laki-laki anshar berdiri dan beranjak untuk berperang sesaat hingga ia pun akhirnya terbunuh. Lalu ketika mendekat lagi, Nabi pun berdo’a: ‘Semoga Allah menyayangi orang yang telah dikembalikannya kepada kami’, dan beliau masih terus mengucapkannya hingga tujuh orang (dari kaum anshar) semuanya terbunuh (di medan perang). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: ‘Sungguh, sahabat-sahabat kami telah berlaku adil.’ Abu Sufyan lalu datang dan berkata, “Hubal maha tinggi!” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Katakanlah ‘Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia’.” Lalu para sahabat pun mengatakan: “Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia”. Abu Sufyan lalu berkata, “Kami mempunyai ‘Uzza sedang kalian tidak mempunyai ‘Uzza!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda: “Katakanlah ‘Allah adalah Penolong kami dan orang-orang kafir tidak mempunyai penolong’.” Kemudian Abu Sufyan berkata: “Hari ini adalah ganti dari hari Badar, adakalanya satu hari kami menang dan adakalanya kalah, adakalanya satu hari kami diberi kesusahan dan adakalanya pula diberi kegembiraan, Handlalah dengan Handlalah, dan si fulan dengan si fulan.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sama, pasukan kami yang terbunuh maka sesungguhnya mereka hidup (di alam kubur) dan diberikan rezeki kepada mereka. Sedangkan pasukan kalian yang terbunuh, mereka akan disiksa dalam api neraka.” Abu Sufyan berkata, “Di antara pasukan ada yang dimutilasi, jika korban mutilasi itu bukan dari kelompokku maka aku tidak akan memerintahkan sesuatu atau melarang, aku suka atau benci, tidak susah dan tidak senang.” Abdullah bin Mas’ud berkata, “Para sahabat pun memeriksa, ternyata Hamzah perutnya telah dibelah, Hindun telah mengambil hatinya dan bermaksud untuk memakannya namun ia tidak bisa memakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Apakah Hindun telah memakannya sesuatu dari jasadnya? Mereka menjawab, “Tidak”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kelak Allah tidak akan memasukkan jasad Hamzah ke dalam api neraka sedikitpun.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan jasad Hamzah dan menshalatinya, setelah itu didatangkan kepada beliau jasad kaum Anshar yang juga telah gugur di medan jihad dan beliau meletakkan di samping jasad Hamzah lalu beliau menshalatinya. Jasad orang anshar itu diangkat namun jasad Hamzah masih tetap di tempatnya. Setelah itu didatangkan lagi kepada beliau jasad orang anshar yang lain yang juga gugur, lalu beliau meletakkannya di samping jasad Hamzah dan menshalatinya lagi, kemudian beliau mengangkat jasad orang anshar tersebut namun jasad Hamzah masih tetap di tempat, hingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatinya sampai tujuh puluh kali pada hari itu.”

 

Musnad Ahmad 4183: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ibrahim Al Hijri ia berkata; Aku mendengar Abu Al Ahwash dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tahukah kalian, sedekah apakah yang paling utama?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian memberikan satu dirham kepada saudaranya, atau mempersilahkan punggung untanya, atau susu kambing, atau susu sapi.”

 

Musnad Ahmad 4184: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah, dan telah menceritakan kepada kami Manshur bin Al Mu’tamir dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Alangkah buruknya salah seorang dari mereka.” Atau beliau bersabda: “Salah seorang dari kalian jika mengatakan, ‘Aku lupa ayat ini dan itu’, tetapi ia telah dilupakan. Dan ingatlah selalu Al-Qur’an, karena ia akan lebih cepat lepas dari dada seseorang daripada seekor unta dari ikatannya.”

 

Musnad Ahmad 4185: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Abu Wa`il ia menceritakan dari Abdullah ia berkata, “Kami pernah berbicara dalam shalat lalu aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau namun beliau tidak menjawabnya, beliau pun menanyaiku tentang apa yang telah terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sedang menyampaikan kepada Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya -Syu’bah berkata; Aku kira beliau mengatakan- apa yang Dia kehendaki. Dan di antara yang disampaikan kepada Nabi-Nya ialah ‘Hendaklah kalian tidak berbicara di dalam shalat’.”

 

Musnad Ahmad 4186: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabir dari Abdurrahman bin Al Aswad dari Ayahnya dari Abdullah ia berkata, “Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur sebanyak lima rakaat, lalu mereka bertanya, ‘Apakah ada penambahan dalam shalat? ‘ Beliau pun melakukan sujud dua kali.”

 

Musnad Ahmad 4187: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah ia berkata; Aku mendengar Manshur menceritakan dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidak boleh berbicara malam kecuali pada dua orang, atau salah satu dari dua orang; orang yang shalat dan musafir.”

 

Musnad Ahmad 4188: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Qais dari Huzail bin Syurahbil ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Musa Al Asy’ari mengenai seorang wanita yang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan, cucu perempuan (dari anak laki-lakinya) dan saudara perempuan. Maka Abu Musa menjawab, “Berikanlah kepada anak perempuannya setengah dari harta warisan, dan kepada saudara perempuannya setengah.” Kemudian ia berkata, “Datanglah kalian kepada Ibnu Mas’ud karena sesungguhnya dia akan mengikuti pendapatku ini.” Maka merekapun mendatangi Ibnu Mas’ud dan mengabarkan pendapat Abu Musa kepadanya, Ibnu Mas’ud pun berkata, “Kalau begitu aku telah sesat dan aku bukan termasuk orang yang diberi petunjuk (dalam hal ini). Sesungguhnya aku akan memutuskan dengan keputusan yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Syu’bah berkata, “Aku mendapatkan ungkapan ini tertulis, ‘Sungguh aku akan memutuskan berdasarkan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; anak perempuan mendapat setengah dari harta warisan, dan cucu perempuan (dari anak laki-laki) mendapat seperenam untuk menggenapkan dua pertiga dari bagian, lalu sisanya untuk saudara perempuannya. Datanglah kalian ke tempat Abu Musa dan kabarkanlah kepadanya pendapat Ibnu Mas’ud.” Abu Musa berkata, “Janganlah kalian bertanya kepadaku selama orang yang luas ilmunya ini (Ibnu Mas’ud) masih berada di tengah-tengah kalian.”

 

Musnad Ahmad 4189: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jami’ bin Syaddad ia berkata; Aku mendengar Abdurrahman bin Abu ‘Alqamah berkata; Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami kembali bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Hudaibiyah, ” lalu mereka menyebutkan bahwa mereka singgah di suatu tempat yang datar -yakni dataran berpasir-. Beliau lalu bersabda: “Siapakah yang akan menjaga kita (membangunkan dari tidur)?” Bilal lalu menjawab, “Saya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Kalau begitu silahkan tidur.” Ibnu Mas’ud berkata, “Mereka pun tidur hingga matahari terbit, sebagian orang lalu bangun, dan di antara mereka yang bangun adalah fulan, fulan dan Umar Ibnul Khaththab.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Berbicaralah.” Ibnu Mas’ud melanjutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bangun dan berkata: “Lakukanlah sebagaimana kalian bisa lakukan.” Maka kami pun melakukannya. Beliau lalu berkata lagi: “Lakukanlah seperti itu jika kalian tertidur atau lupa.” Ibnu Mas’ud berkata, “Unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hilang, kemudian aku mencarinya, kemudian aku menemukan tali pengikatnya tersangkut pada sebuah pohon. Maka aku pun membawanya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lantas mengendarainya dengan senang hati. Dan jika turun wahyu, maka hal itu akan tampak berat sekali pada diri beliau, dan kami bisa mengetahui hal itu. Beliau kemudian menutup wajahnya dengan kain, dan beliau tampak begitu berat hingga kami tahu bahwa wahyu telah turun kepada beliau. Beliau kemudian mengabarkan kepada kami bahwa telah turun kepada bewliau ayat: ‘ (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata) ‘ (Qs. Al Fath: 1).

 

Musnad Ahmad 4190: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hammad ia berkata; Aku mendengar Abu Wa`il mengatakan; Abdullah berkata, “Saat duduk Tahiyat kau membaca ‘Assalamu ‘alaallahi (Semoga kesejahteraan atas Allah) ‘. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menegur: “Janganlah kalian mengatakan; ‘Semoga kesejahteraan atas Allah’, karena sesungguhnya Allah adalah As Salam. Tetapi ucapkanlah; ATTAHIYAATULILLAH WASH SHA; AWAATU WATH THAYYIBAAT ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHANNABIYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAAKATUH ASSALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA IBAADILLAHISH SHAALIHIIN ASYHADU ANLAA ILAHA ILLAALLAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU (Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kita dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4191: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil Al Ahdab dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Dosa apakah yang paling besar? ‘ Beliau menjawab: “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu, dan berzina dengan isteri tetangga serta membunuh anak karena khawatir ia akan ikut makan bersamamu.” Atau”Makan makananmu.”

 

Musnad Ahmad 4192: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Abu Wa`il dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya, karena hal itu membuatnya sedih. Dan janganlah seorang isteri menyebutkan sifat-sifat fisik seorang wanita kepada suaminya sehingga seakan ia melihatnya.””

 

Musnad Ahmad 4193: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan satu kalimat dan aku menambahi satu kalimat lagi: “Barangsiapa mati sedangkan ia menjadikan tandingan bagi Allah, niscaya Allah akan memasukkannya ke neraka.” Abu Wa`il melanjutkan, “Abdullah berkata, “Aku lalu menambahi ‘Barangsiapa mati sedangkan ia tidak menjadikan tandingan bagi Allah, niscaya Allah akan memasukkannya ke surga’.”

 

Musnad Ahmad 4194: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Umarah bin Umair menceritakan dari Al Aswad dari Abdullah bahwa ia berkata, “Janganlah salah seorang dari kalian menjadikan bagian untuk setan, berpendapat bahwa yang benar menurutnya ialah berpaling ke sebelah kanannya. Sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpaling ke sebelah kirinya.”

 

Musnad Ahmad 4195: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Umarah bin Umair atau Ibrahim -Syu’bah ragu- ia menceritakan dari Abdurrahman -yaitu Ibnu Yazid- dari Abdullah bahwa ia berkata, “Aku pernah shalat dua rakaat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar di Mina. Dan aku berharap dua rakaat itu diterima dariku dari jumlah empat rekaat yang ada.”

 

Musnad Ahmad 4196: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syubah dari Sulaiman dari Abdullah bin Murrah dari Al Harits Al A’war dari Abdullah ia berkata, “Pemakan riba, orang yang memberinya (makanan riba), dua saksinya, dan sekretarisnya jika mereka mengetahui hukumnya, wanita bertato, yang membuat tato, yang minta ditato agar lebih cantik, orang yang menanti sedekah dan orang yang murtad sebagai orang Arab setelah hijrah, mereka semua terlaknat atas lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4197: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syubah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Murrah menceritakan dari Masruq dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; Membunuh jiwa (dibalas) dengan jiwa, orang tua yang berzina dan orang yang meninggalkan agamanya.” Atau “Memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin.”

 

Musnad Ahmad 4198: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syubah dari Sulaiman ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah ia berkata, “Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek baju atau menyebut dengan sebutan jahiliyah.” Sulaiman berkata, “Aku kira ia memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4199: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syubah dari Al Hakam dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau pernah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah ada penambahan shalat? ‘ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam balik bertanya: ‘Apa itu benar? ‘ Mereka menjawab, ‘Engkau telah melakukan shalat Zhuhur lima rakaat.’ Beliau pun sujud dua kali setelah salam.” Syubah berkata, “Aku mendengar Sulaiman dan Hammad menceritakan bahwa Ibrahim tidak mengetahui apakah beliau shalat tiga atau lima rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4200: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syubah dari Mughirah dari Ibrahim ia berkata; Abdullah berkata, “Sepertinya aku melihat putihnya pipi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau memberi salam ke sebelah kiri.”

 

Musnad Ahmad 4201: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dari Sa’id bin Abu Abu ‘Arubah dari Qatadah dari Abu Al Ahwash dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutamakan shalat berjama’ah dari pada shalat sendirian dengan dua puluh lima kali lipat, masing-masing sama seperti shalat yang dilaksanakannya.”

 

Musnad Ahmad 4202: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata, “Allah melaknat para wanita yang bertato, yang mencabuti bulu alis dan orang yang meratakan giginya.” Syu’bah berkata, “Menurutku ia mengatakan, “Mereka merubah ciptaan Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4203: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Abdullah ia berkata, “Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah buang air besar dan aku bersamanya, lalu beliau mengatakan: “Carikan tiga buah batu untukku.” Abdullah berkata, “Namun aku mendapatkan dua buah batu dan satu kotoran.” Abdullah berkata lagi, “Aku pun membawakan kepadanya, beliau lalu mengambil dua buah batu dan membuang kotoran itu seraya mengatakan: “Ini adalah kotor.”

 

Musnad Ahmad 4204: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari ‘Ashim dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya, karena hal itu membuatnya sedih.”

 

Musnad Ahmad 4205: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari ‘Ashim dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat garis dengan tangannya, lalu beliau mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliau membuat garis di samping kanan dan kirinya seraya bersabda: “Ini adalah jalan-jalan, tidak ada satu jalan pun kecuali ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat: ‘ (Dan sesungguhnya ini adalah jalan-ku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)) ‘ (Qs. Al An’aam: 153).

 

Musnad Ahmad 4206: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari ‘Atha bin As Sa`ib dari Al Qasim bin Abdurrahman dari Ayahnya dari Abdullah ia berkata, “Seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang berbincang dengan para sahabatnya. Lalu orang-orang Quraisy berkata, “Hai Yahudi, orang ini mengaku sebagai Nabi!” Yahudi itu pun berkata, “Sungguh, aku akan menanyakan sesuatu padanya, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi.” Yahudi itu lalu menghampiri beliau dan duduk di dekatnya seraya bertanya, “Wahai Muhammad, dari apa manusia diciptakan?” Nabi lalu menjawab: “Wahai Yahudi, setiap manusia itu diciptakan dari nutfah (air mani) seorang lelaki dan nutfah seorang wanita. Nutfah laki-laki sifatnya lebih keras dan nantinya dia akan berubah menjadi tulang dan urat saraf. Adapun nutfah wanita sifatnya lebih halus dan nantinya dia akan membentuk daging dan darah.” Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata, “Beginilah yang dikatakan nabi-nabi sebelummu.”

 

Musnad Ahmad 4207: Telah menceritakan kepada kami Ubaidah -yakni Ibnu Humaid- dari Manshur dari Abu Wa`il ia berkata, ” Abdullah bisa memberi nasihat setiap hari Kamis dan Senin. Kami lalu bertanya, atau ditanyakan, “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh kami sangat menyukai nasihatmu dan berharap agar engkau memberi peringatan kepada kami setiap hari.” Abdullah berkata, “Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menemui kalian itu, hanya saja aku khawatir kalian akan bosan, dan aku akan berselang dalam menyampaikan nasihat sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berselang menasehati kami.”

 

Musnad Ahmad 4207: Telah menceritakan kepada kami Ubaidah -yakni Ibnu Humaid- dari Manshur dari Abu Wa`il ia berkata, ” Abdullah bisa memberi nasihat setiap hari Kamis dan Senin. Kami lalu bertanya, atau ditanyakan, “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh kami sangat menyukai nasihatmu dan berharap agar engkau memberi peringatan kepada kami setiap hari.” Abdullah berkata, “Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menemui kalian itu, hanya saja aku khawatir kalian akan bosan, dan aku akan berselang dalam menyampaikan nasihat sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berselang menasehati kami.”

 

Musnad Ahmad 4208: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab dari Al Hajjaj dari Ibrahim dari Al Aswad dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminta-minta sesuatu padahal ia tidak membutuhkannya, kelak pada hari kiamat ia akan datang masih terlihat bekas luka di wajahnya. Dan sedekah itu tidak halal diberikan kepada orang yang masih memiliki lima puluh dirham atau emas yang senilai dengan itu.”

 

Musnad Ahmad 4209: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ats Tsauri dari ‘Alqamah bin Martsad dari Al Mughirah bin Abdullah Al Yasykuri dari Al Ma’rur bin Suwaid dari Abdullah ia berkata, “Ummu Habibah pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kebahagiaan dengan suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan ayahku, Abu Sufyan dan dengan saudaraku, Mu’awiyah.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Sesungguhnya engkau telah memohon kepada Allah ajal yang telah ditetapkan, rizki-rizki yang telah dibagikan dan contoh yang telah disampaikan. Tidak ada sesuatu yang disegerakan sebelum waktunya atau sesuatu yang ditangguhkan dari waktunya. Seandainya engkau memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa di neraka dan siksa di kubur, tentu itu lebih baik bagimu.”

 

Musnad Ahmad 4210: Masih melalui jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya; dari Ibnu Mas’ud Ia berkata; Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kera dan babi termasuk binatang yang dihilangkan?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak menghilangkan suatu kaum, atau ‘membinasakan suatu kaum, lalu menimpakan kepada keturunan mereka dan tidak pula generasinya. Kera dan babi itu memang telah ada sejak dulu.”

 

Musnad Ahmad 4211: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku membacakannya di hadapan bapakku dari sini, lalu ia mengesahkannya. Dan ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Idris Asy Syafi’i telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin Salim -yakni Al Qaddah- telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij bahwa Isma’il bin Umayyah telah mengabarkan kepadanya dari Abdul Malik bin Umair bahwa ia berkata, “Aku pernah mendatangi Abu Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud bersamaan dengan datangnya dua orang laki-laki yang sedang mentransaksikan barang. Dia berkata, “Ini aku beli dengan ini dan ini.” Dan yang lain juga berkata, “Ini aku jual dengan ini dan ini.” Abu Ubaidah berkata, ” Abdullah bin Mas’ud juga pernah dihadapkan dengan permasalahan seperti ini lalu dia berkata, “Aku juga pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam yang ketika itu juga sedang menghadapi permasalahan seperti ini, lalu beliau menyuruh penjual untuk dimintai pernyataan sumpah, kemudian si pembeli diberikan pilihan kepadanya; jika berkehendak ia boleh mengambilnya dan jika berkehendak ia juga boleh meninggalkannya (membatalkan).” Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku membacakannya di hadapan bapakku, ia berkata; telah dikabarkan kepadaku oleh Hisyam bin Yusuf tentang dua jual beli dalam hadits Ibnu Juraij dari Isma’il bin Umayyah dari Abdul Malik bin Ubaid. Dan bapakku berkata; Hajjaj Al A’war Abdul Malik bin Ubaidah berkata; dan telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Laila dari Al Qasim bin ‘Abdurrahman dari Ibnu Mas’ud, namun dalam hadits tersebut tidak disebutkan ‘dari bapaknya’.”

 

Musnad Ahmad 4212: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku telah membacakannya di hadapan ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu ‘Ajlan ia berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Aun bin Abdullah dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika pembeli dan penjual berselisih, maka ucapan yang diambil ialah perkataan penjual, sedangkan pembeli diberi hak untuk memilih.”

 

Musnad Ahmad 4213: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku telah membacakannya di hadapan ayahku; Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al Mas’udi dari Al Qasim dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika pembeli dan penjual berselisih, sementara keduanya juga tidak memiliki bukti, maka ucapan yang diambil ialah perkataan pemilik barang, atau mereka mengembalikannya kepada harga penjualan.”

 

Musnad Ahmad 4214: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku telah membacakannya di hadapan ayahku; telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ma’n dari Al Qasim dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika pembeli dan penjual berselisih sementara barang dagangan masih utuh, maka ucapan yang diambil ialah ucapan penjual, atau keduanya mengembalikan kepada penjualan.”

 

Musnad Ahmad 4215: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku; Telah menceritakan kepada kami Umar bin Sa’d Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ma’n dari Al Qosim ia berkata; Abdullah berselisih pendapat dengan Al Asy’ats, ia berkata, Abdullah berkata, “Aku tawar sepuluh.” Al Asy’ats menjawab, “Dua puluh.” Abdullah lalu lagi, “Jadikan seseorang antara aku denganmu (sebagai penengah).” Al Asy’ats menjawab, “Pokoknya hanya ada aku dan engkau.” Abdullah berkata, “Putuskanlah dengan apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika penjual dan pembeli berselisih namun belum ditemukan kesepakatan, maka yang diterima adalah perkataan penjual atau keduanya mengurungkan jual beli.”

 

Musnad Ahmad 4216: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kitabnya; Telah menceritakan kepada kami Husyaim bin Basyir dari Ubaidullah dan Abu Mu’awiyah telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa pada perang Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada kuda dua bagian dan kepada penunggangnya satu bagian.” Abu Mu’awiyah berkata, “Beliau memberikan kepada seorang lelaki dan kuda tunggangannya dengan tiga bagian; satu bagian untuk dirinya dan dua bagian untuk kudanya.”

 

Musnad Ahmad 4217: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ziyad bin Jubair ia berkata, “Aku melihat seorang lelaki mendatangi Ibnu Umar dan memberitahukan kepadanya bahwa dulu ia bernadzar untuk berpuasa pada setiap hari rabu, kemudian hari itu bertepatan dengan hari ‘iedul adlha atau ‘iedul fitri. Maka Ibnu Umar menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan (kita) untuk memenuhi nadzar, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita berpuasa pada hari sembelihan (‘iedul adlha).”

 

Musnad Ahmad 4218: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian sedang bertiga maka janganlah dua orang di antara mereka berbicara tanpa melibatkan orang yang ketiga”.

 

Musnad Ahmad 4219: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Nafi’ dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membebaskan bagiannya kepemilikannya pada diri seorang budak, maka ia dibebani untuk menyempurnakan pembebasannya dengan harga yang sama.”

 

Musnad Ahmad 4220: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Abu Khalid dari Abu Ishaq dari Said bin Jubair ia berkata, “Kami pernah bersama-sama Ibnu Umar radliallahu ‘anhu saat ia bertolak dari Arafah untuk jama’, lalu dia melakukan shalat maghrib bersama kami, setelah berlalu ia berkata, “Dirikanlah shalat!” kemudian dia mengerjakan shalat dua rakaat (Isya) lantas berkata, “Beginilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam di tempat ini, sebagaimana yang telah aku lakukan.”

 

Musnad Ahmad 4221: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ya’la bin Atha dari Al Walid bin ‘Abdurrahman al Jurasyi dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhu, bahwa ia pernah melewati Abu Hurairah yang sedang menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengikuti jenazah dan menshalatkannya maka ia akan memperoleh pahala satu qirath, jika ia ikut menyaksikan penguburannya maka ia akan memperoleh pahala dua qirath. Dan satu qirath itu lebih besar dari gunung Uhud.” Lalu Ibnu Umar berkata kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, benarkah hadits yang kau sampaikan dari Rasul itu? cobalah cek kembali!” Abu Hurairah lalu berdiri menghampiri Ibnu Umar dan mengajaknya menemui ‘Aisyah, lalu ia berkata, “Wahai Ummul Mukminin, aku bersumpah atasmu dengan nama Allah, apakah kamu pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa mengikuti jenazah dan menshalatkannya maka ia akan memperoleh pahala satu qirath, jika ia ikut menyaksikan penguburannya maka ia akan memperoleh pahala dua qirath? ‘ Aisyah menjawab, “Ya.” Abu Hurairah lalu berkata, “Sungguh, aku tidak disibukkan dengan bercocok tanam dan berjualan di pasar untuk mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku selalu minta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu kalimat untuk ia ajarkan kepadaku, dan makanan untuk ia berikan kepadaku.” Ibnu Umar lalu berkata kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, di antara kami kamu adalah orang yang paling sering bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang paling tahu tentang hadits beliau.”

 

Musnad Ahmad 4222: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ibnu Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang Muhrim (orang yang memakai pakaian ihram) tidak mendapatkan sepasang sandal, maka ia boleh memakai sepasang sepatu, dan hendaklah ia memotongnya hingga sebatas di bawah kedua mata kaki.”

 

Musnad Ahmad 4223: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Said dan Ubaidullah bin Umar dan Ibnu Aun, dan tidak hanya seorang saja dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari mana ia harus memulai berihram? Nabi menjawab: “Penduduk Madinah memulai ihram dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam memulai ihram dari Juhfah, penduduk Yaman memulai ihram dari Yalamlam, dan penduduk Najd memulai ihram dari qarn (qarnul manazil).”

 

Musnad Ahmad 4224: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ibnu Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika orang yang berihram tidak mendapatkan sandal, hendaklah ia mengenakan khuff, lalu memotongnya hingga sebatas di bawah mata kaki.”

 

Musnad Ahmad 4225: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Bakr bin Abdullah dari Ibnu Umar ia berkata, “Ucapan talbiyah Rasulullah ialah sebagai berikut: “LABBAIKAALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LAA SYARIIKALAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LAA SYARIIKALA (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, Duhai Allah. Aku penuhi panggilan-Mu wahai Dzat yang tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan nikmat adalah milik-Mu, demikian juga dengan kekuasaan, dan tiada sekutu bagi-Mu) ‘. Dan Ibnu Umar lalu menambahkan, ” LABBAIKA LABBAIKA WA SA’YADAKA WAL KHAIRA FII YADAIKA LABBAIKA WAR RAGHBAA`U ILAIKA WAL ‘AMALU (Aku penuhi panggilan-Mu, aku mengharap kebahagiaan dari-Mu, dan segala kebaikan ada di tangan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu dan semua kecintaan hanya tertuju untuk-Mu, serta amal perbuatan (hanya dimaksudkan untuk memperoleh ridla-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4226: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Yahya bin Said dari Abdullah bin Abu Salamah dari Ibnu Umar ia berkata, “Kami pernah berangkat ke Arafah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di antara kami ada yang bertakbir dan ada yang mengucap talbiyah.”

 

Musnad Ahmad 4227: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Yunus telah mengabarkan kepadaku Ziyad bin Jubair ia berkata, “Aku pernah di Mina bersama Ibnu Umar, lalu dia melewati seorang lelaki yang sedang menyembelih kambing yang gemuk dan susunya banyak. Ziyad lalu berkata, “Sembelihlah ia dengan sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4228: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin Abu Khalid telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair ia berkata, “Aku pernah bersama Ibnu Umar saat berangkat dari ‘Arafah, kemudian ia menuju Jam’ (nama tempat), lalu shalat maghrib dan isya’. Selesai shalat ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan di tempat ini seperti yang aku lakukan.” Husyaim pernah berkata, “Ia shalat maghri bersama kami kemudian berkata, “Mari kerjakan shalat.” Dan ia mengerjakan shalat dua rakaat kemudian berkata, “Beginilah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama kami di tempat ini.”

 

Musnad Ahmad 4229: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Said dan Ubaidullah bin Umar dan Ibnu Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi pernah ditanya mengenai hewan yang boleh dibunuh oleh orang yang sedang berihram, beliau lalu menjawab: “Ia boleh membunuh kalajengking, tikus, burung rajawali, burung gagak, dan anjing gila.”

 

Musnad Ahmad 4230: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Atha bin As Sa`ib dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, bahwa ia pernah mendengar bapaknya bertanya kepada Ibnu Umar, “Kenapa aku tidak melihatmu menyentuh rukun kecuali menyentuh dua rukun ini; hajar aswad dan rukun yamani? Maka Ibnu Umar menjawab, “Jika aku melakukannya itu karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyatakan bahwa dengan menyentuhnya akan dapat menghapus kesalahan-kesalahan (yang diperbuat).

 

Musnad Ahmad 4231: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya; dari Ibnu Umar Ia berkata, “Aku mendengar beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan thawaf selama seminggu dengan menghitungnya dan shalat sebanyak dua rakaat, maka pahalanya seperti membebaskan hamba sahaya.”

 

Musnad Ahmad 4232: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Umar; Ia berkata, “Aku mendengar beliau bersabda: “Tidaklah seseorang mengangkat kakinya dan meletakkannya kembali (melangkah) kecuali akan dicatat baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejelekan, serta diangkat baginya sepuluh derajat.”

 

Musnad Ahmad 4233: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyentuh hajar Aswad, semenjak itu aku tidak pernah meninggalkan untuk menyentuhnya baik di waktu susah maupun mudah.”

 

Musnad Ahmad 4234: Telah menceritakan kepada kami Husyaim -telah mengabarkan kepada kami tidak hanya satu orang-, dan Ibnu Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memasuki Baitullah bersama dengan Fadll bin Abbas, Usamah bin Zaid, Utsman bin Thalhah dan Bilal. Lalu beliau menyuruh Bilal untuk segera menutup pintu itu. Beliau berada di dalamnya selama beberapa saat sebagaimana yang Allah kehendaki, setelah itu beliau keluar lagi.” Ibnu Umar berkata, “Dan orang yang paling pertama aku temui dari orang-orang yang masuk tadi adalah Bilal, lalu akupun bertanya kepadanya, “Di sebelah manakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat? Bilal menjawab, “Di sini, antara dua tiang ini.”

 

Musnad Ahmad 4235: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang Al Qar’ dan Al Muzaffat untuk dijadikan membuat perasan nabidz di dalamnya.”

 

Musnad Ahmad 4236: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu hendak menghadiri shalat Jum’at hendaklah ia mandi terlebih dahulu”.

 

Musnad Ahmad 4237: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengacungkan senjata kepada kami, maka ia bukan dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 4238: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah tunggangannya dan shalat menghadap ke arahnya.”

 

Musnad Ahmad 4239: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir aku mendengar Burd dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian tidur selama tiga malam kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya.” Ibnu Umar berkata, “Setelah itu tidaklah aku tidur pada suatu malam, kecuali catatan wasiatku telah tertulis di sisiku.”

 

Musnad Ahmad 4240: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman dari Ubaidullah dari Nafi’ ia berkata; Aku melihat Ibnu Umar melakukan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya ke arah mana pun hewan itu menghadap, lalu hal itu aku tanyakan kepadanya, ia pun menjawab, “Aku melihat Abul Qasim melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4241: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memerah binatang ternak milik orang lain kecuali dengan izin mereka.”

 

Musnad Ahmad 4242: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al Azraq dari Ubaidullah -yakni bin Umar- dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah menjamak dua shalat; Maghrib dan Isya` apabila senja telah hilang. Ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tergesa-gesa dalam perjalanan, maka beliau menjamak keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4243: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Utsman -yakni Al Ghathafani- telah mengabarkan kepada kami Umar bin Nafi’ dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qaza’. Dan Qaza’ adalah mencukur rambut bayi dengan membiarkan sebagian rambutnya.”

 

Musnad Ahmad 4244: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf dari Sufyan dari Abu ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ bin Hakim ia berkata, “Abdul Aziz bin Marwan menulis surat kepada Ibnu Umar ‘Sampaikanlah keperluanmu kepadaku’.” Al Qa’qa’ melanjutkan perkataannya, ” Ibnu Umar lalu menulis balasan kepadanya, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulailah dengan orang kamu nafkahi’. Aku tidak meminta sesuatu darimu, namun aku tidak menolak rizki yang Allah berikan melalui tanganmu.”

 

Musnad Ahmad 4245: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdush Shamad telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat para pelukis (makhluk bernyawa) akan disiksa dan dikatakan kepadanya, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan!.”

 

Musnad Ahmad 4246: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Sa’id bin Jubair bahwa Ibnu Umar pernah melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya, jika akan sujud ia turun dan ia juga mengerjakan shalat witir di atas tanah.”

 

Musnad Ahmad 4247: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Sa’id bin Jubair ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, ” (Bagaimana jika) seorang laki-laki menuduh isterinya berbuat zina?” Ia lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memisahkan antara dua saudara bani ‘Ajlan. Beliau bersabda: “Allah mengetahui bahwa salah seorang dari kalian berdusta, apakah dari kalian ada yang bertaubat?” Keduanya menolak, hingga beliau mengulanginya tiga kali namun keduanya masih menolak, maka beliau pun memisahkan keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4248: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ ia berkata, ” Ibnu Umar pernah mengumandangkan adzan shalat di Dlajnan, kemudian ia menyeru ‘Shalatlah di rumah-rumah kalian! ‘ Setelah itu ia menceritakan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau pernah memerintahkan seorang muadzin untuk menyerukan ‘shalatlah di rumah-rumah kalian’, di suatu malam yang dingin dan turun hujan, atau saat bepergian.”

 

Musnad Ahmad 4249: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain untuk berburu atau menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan selalu berkurang dua qirath setiap hari.” Lalu dikatakan kepada Ibnu Umar, “Sesungguhnya Abu Hurairah memberi tambahan, ‘dan anjing untuk menjaga tanaman’? Ibnu Umar lalu berkata, “Darimana Abu Hurairah mendapatkan lafadz ‘anjing untuk menjaga tanaman? ‘

 

Musnad Ahmad 4250: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar ditemui oleh anaknya, Abdullah bin Abdullah, saat itu punggungnya bersandar pada dinding. Ia (Abdullah) pun berkata, “Sungguh, aku tidak merasa aman jika terjadi peperangan di antara manusia pada tahun ini sehingga engkau akan terhalangi untuk datang ke Ka’bah.” Ibnu Umar kemudian menaggapinya dengan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar untuk naik haji, kemudian orang-orang kafir Quraisy menghalanginya untuk datang ke Ka’bah, jika aku dihalangi untuk datang ke Ka’bah maka aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Umar lalu membaca: ‘ (Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..) ‘ (Qs. Al Ahzab: 21). Ibnu Umar melanjutkan, “Sungguh, aku telah mewajibkan atas diriku untuk umrah, ” Kemudian ketika ia berjalan hingga Baida`, ia pun berkata, ‘Aku tidak melihat kecuali masalah keduanya sama, sungguh aku persaksikan kepada kalian bahwa aku telah mewajibkan atas diriku untuk umrah dan haji.’ Kemudian ia datang dan thawaf untuk keduanya dengan satu kali thawaf.”

 

Musnad Ahmad 4251: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku melihat para laki-laki dan wanita berwudlu dari satu bejana.”

 

Musnad Ahmad 4252: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, pakaian apa yang boleh dikenakan oleh orang yang sedang ihram? Atau ia bertanya, “Pakaian apa yang harus ditinggalkan oleh orang yang sedang ihram?” Beliau menjawab: “Ia tidak boleh mengenakan kemeja, celana, surban dan khuff (sepatu) kecuali jika tidak mendapatkan sepasang sandal. Barangsiapa tidak mendapatkan sepasang sandal, hendaklah ia memakainya sebatas di bawah kedua mata kaki. Tidak mengenakan mantel yang bertutup kepala dan tidak pula mengenakan pakaian yang diolesi wewangian wars dan za’faran.”

 

Musnad Ahmad 4253: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah mengatakan mengenai ‘Asyura, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan puasa hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura. Namun ketika diwajibkan puasa Ramadan, puasa itu ditinggalkan.” Abdullah sendiri tidak berpuasa pada hari itu kecuali datang waktu berpuasanya.”

 

Musnad Ahmad 4254: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pembeli dan penjual mempunyai hak untuk memilih hingga keduanya berpisah, atau akad yang terjadi adalah jual beli khiyar (dengan cara pilih).” Ayyub berkata, “Kemungkinan Nafi’ menyebutkan, “Atau salah seorang dari keduanya mengatakan kepada yang lain ‘Pilihlah’.”

 

Musnad Ahmad 4255: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengunjunginya baik dengan berkendaraan atau berjalan kaki, yakni masjid quba’.”

 

Musnad Ahmad 4256: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan sedekah Ramadan (zakat fitrah) atas setiap laki-laki, wanita, merdeka dan budak sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” Ibnu Umar melanjutkan, “Setelah itu orang-orang menyamakannya dengan setengah sha’ gandum.” Ayyub berkata; Dan Nafi’ berkata, “Ibnu Umar pernah mengeluarkan (zakat) berupa kurma selama satu tahun, karena jarangnya kurma ia pun mengeluarkannya berupa gandum.”

 

Musnad Ahmad 4257: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengadakan perlombaan pacuan kuda. Beliau mengadu kecepatan kuda yang telah dilatih dari Hafya` atau Haifa` hingga Tsaniyatul Wada’, dan kuda yang belum dilatih dari Tsaniyatul Wada’ hingga masjid Bani Zuraiq.” Abdullah berkata, “Ketika itu akulah ikut berlomba dan dapat mengalahkan orang-orang, kuda yang aku tunggangi berlari kencang menuju masjid Bani Zuraiq.”

 

Musnad Ahmad 4258: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dalam satu bulan ada dua puluh sembilan hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal dan jangan berbuka (Idul fitri) hingga kalian melihat hilal. Jika kalian terhalang oleh mendung, maka hendaklah kalian genapkan bilangannya.” Nafi’ berkata, “Jika telah berlalu dua puluh sembilan hari di bulan Sya’ban, Abdullah bin Umar mengutus seseorang untuk melihat hilal, bila hilal terlihat maka besok berarti hari Ied, namun bila tidak terlihat dan tidak ada mendung ataupun asap yang menutupi pandangannya, maka keesokan harinya ia berbuka (tidak berpuasa), namun bila ada mendung atau asap yang menutupi pandangannya maka pada keesokan harinya ia berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 4259: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Nafi’ berkata, ” Telah diberitahukan kepadaku bahwa Ummu Salamah bertanya, “Lalu bagaimana dengan kami?” Beliau menjawab: “Turunkanlah satu jengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi, “Kalau begitu, telapak kaki kami terlihat?” Beliau menjawab: “Turunkanlah satu jengkal dan tidak lebih dari itu.”

 

Musnad Ahmad 4260: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang muzabanah. Muzabanah adalah menjual kurma yang masih berada di pohon dengan kurma yang ditimbang dengan berat tertentu, jika ternyata (kurma yang dipohon) beratnya lebih, maka itu adalah keuntungan bagiku. Jika kurang berarti aku rugi.”

 

Musnad Ahmad 4261: Ibnu Umar berkata; Telah menceritakan kepadaku Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan jual beli Araya dengan perkiraan.”

 

Musnad Ahmad 4262: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual janin yang masih dalam kandungan.”

 

Musnad Ahmad 4263: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami melakukan shalat malam?” Beliau menjawab: “Hendaklah seorang dari kalian shalat dua rakaat dua rakaat, jika khawatir dengan datangnya waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sehingga menjadi witir untuk shalat yang telah dilakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4264: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual kurma sehingga ia matang, dan melarang menjual gandum sehingga ia terlihat putih dan selamat dari serbuan hama penyakit. Beliau melarang baik penjual maupun pembelinya.”

 

Musnad Ahmad 4265: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ ia berkata; Ibnu Umar berkata, “Dalam mimpi aku melihat seakan-akan di tanganku ada sehelai kain sutera, dan tidaklah aku menunjukkan padanya satu tempat di surga kecuali ia akan terbang bersamaku menuju ke tempat itu. Hafshah pun menceritakan mimpi itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya saudaramu adalah seseorang yang shalih.” Atau: “Sesungguhnya Abdullah adalah seorang laki-laki shalih.”

 

Musnad Ahmad 4266: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban. Maka seorang penguasa atas manusia, ia adalah pemimpin bagi mereka dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban. Dan seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”

 

Musnad Ahmad 4267: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang haji atau perang, beliau naik ke sebuah dataran tinggi lalu berseru: “ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR, AAYIBUUNA TAA`IBUUNA SAAJIDUUNA ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUN SHADAQALLAAHU WA’DAHU WANASHARA ‘ABDAHU WAHAZAMAL AHZAABA WAHDAHU (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah segala kekuasaan dan puji, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami semua kembali, bertaubat, bersujud, beribadah dan memuji hanya kepada Rabb kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan sebuah pasukan sendirian) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4268: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Pernah dihidangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seekor Dlabb (sejenis biawak), beliau tidak memakannya dan tidak pula mengharamkannya.”

 

Musnad Ahmad 4269: Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membawa seorang lelaki dan wanita dari kalangan mereka yang telah berzina. Nabipun bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian dapati dalam kitab suci kalian?” Mereka menjawab, “Kami akan menjemur muka mereka berdua di tengah terik matahari hingga mereka akan merasa hina.” Rasulullah berkata: “Kalian telah berdusta! Sungguh, dalam kitab suci kalian terdapat hukum rajam (bagi orang yang berzina), maka bawalah kitab Taurat kemari dan bacakanlah jika kalian benar-benar orang yang jujur.” Maka merekapun mendatangkan kitab Taurat beserta orang yang buta sebelah matanya yang biasa dipanggil Ibnu Suriya, dia adalah orang yang ditugasi untuk membaca kitab itu. Lalu ia membacanya hingga ia sampai pada suatu bagian dari kitab itu, iapun menutupkan tangannya padanya. Maka dikatakan kepadanya, “Angkatlah tanganmu!” Maka diapun mengangkat tangannya dan ternyata lembaran itu bersinar. Mereka akhirnya mengaku, “Wahai Muhammad, sesungguhnya di dalamnya memang benar terdapat perintah rajam, akan tetapi kami selalu menutup-nutupinya.” Maka Rasulullah memerintahkan untuk merajam keduanya.” Ibnu Umar berkata, “Aku melihatnya orang yang laki-laki melindungi perempuannya untuk melindungi agar tidak terkena lemparan batu.”

 

Musnad Ahmad 4270: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Orang-orang pernah bermimpi lalu mereka menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku.” Atau bersabda: “Aku mendengar mimpi kalian semua, menyatu pada tujuh hari terakhir, maka barangsiapa di antara kalian hendak mencari lailatul qadar, hendaklah ia mencarinya di tujuh malam terakhir.”

 

Musnad Ahmad 4271: Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar pernah mencerai isterinya satu kali saat ia sedang haid. Maka Umar menanyakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau memerintahkan agar Ibnu Umar merujukinya lagi, kemudian menahannya sampai isterinya mengalami haid. Kemudian hendaknya ia menahannya lagi sampai isterinya suci (dari haid), setelah itu ia boleh menceraikan isterinya sebelum menyetubuhinya kembali.” Beliau bersabda: “Begitulah iddah yang diperintahkan Allah Ta’ala dalam menceraikan isteri.” Dan Ibnu Umar jika ditanya mengenai seorang lelaki yang menceraikan isterinya sedang dalam keadaan haid, niscaya dia akan menjawab, “Adapun aku, dulu juga pernah menceraikan isteri dengan talak satu atau dua, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk rujuk lalu menahannya hingga ia mengalami haid, lalu menahannya lagi sampai ia suci dari haid tersebut, setelah itu suami boleh menceraikannya sebelum menyetubuhinya kembali. Sedangkan kamu telah menceraikan isterimu dengan talak tiga, dan kamu telah bermaksiat kepada Allah dalam urusan talak, sekarang isterimu telah menjadi bain.”

 

Musnad Ahmad 4272: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar -ia memarfu’kannya-, beliau bersabda: “Sesungguhnya kedua tangan juga bersujud sebagaimana sujudnya wajah, jika salah seorang dari kalian meletakkan wajahnya hendaklah ia meletakkan tangannya juga, dan bila ia mengangkatnya hendaklah mengangkat kedua tangannya juga.”

 

Musnad Ahmad 4273: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjual pohon kurma yang telah dikawinkan, maka hasilnya adalah milik penjual, kecuali jika pembeli mensyaratkan dalam penjualannya.”

 

Musnad Ahmad 4274: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Sallam pernah memotong tangan orang yang mencuri tameng seharga tiga dirham.”

 

Musnad Ahmad 4275: Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tahu bahwa tanah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering disewakan untuk ditanami pohon yang biasa dipakai tiang rumah atau ditanami pohon tin. Aku tidak tahu berapa tanah saat itu disewakan? Ibnu Umar juga biasa menyewakan tanahnya pada masa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan pada masa pemerintahan Mu’awiyah. Sehingga ketika sampai pada pemerintahannya (Mu’awiyah), sampailah berita kepadanya bahwa Rafi’ menyampaikan hadits Rasul yang melarang hal itu. Maka ia segera mendatangi Nafi’ untuk menanyakannya. Rafi’ lalu menjawab, “Ya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang penyewaan kebun atau sawah.” Lalu Ibnu Umar pun meninggalkannya dan ia tidak lagi menyewakan tanah, dan bila ia ditanya mengenai hal itu ia menjawab, ‘Ibnu Hudaij mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang menyewakan ladang.”

 

Musnad Ahmad 4276: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ketahuilah, ternak orang lain tidak boleh diperah susunya tanpa seizin pemiliknya. Maukah salah seorang di antara kamu minumannya diambil, pintunya dipecahkan dan semua yang ada di dalamnya dikeluarkan? Sesungguhnya di dalam susu binatang ternak itu ada makanan buat kamu sekalian, maka janganlah ia diperah kecuali dengan izin pemiliknya, atau perintah pemiliknya.”

 

Musnad Ahmad 4277: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah shalat dua rakaat sebelum Zhuhur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dan dua rakaat setelah Isya` di rumahnya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Hafshah menceritakan kepadaku bahwa beliau juga melakukan shalat dua rakaat ketika terbit Fajar, setelah itu mu’adzin menyerukan panggilan untuk shalat (subuh).” Ayyub berkata, “Menurut sepengetahuanku ia berkata, “Beliau melakukan dua rakaat ringan dan dua rakaat setelah Jum’at di rumahnya.”

 

Musnad Ahmad 4278: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian bepergian dengan membawa Al-Qur’an, sebab aku khawatir bila musuh mendapatkannya.”

 

Musnad Ahmad 4279: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kalian dan perumpamaan kaum Yahudi dan Nasrani adalah seperti seseorang mempekerjakan beberapa tenaga kerja, lalu ia berkata, ‘Siapa yang mau bekerja dari semenjak shalat shubuh hingga tengah hari untuk mendapatkan upah satu qirath? Maka kaum Yahudi pun mengambil pekerjaan itu. Kemudian ia berkata lagi, ‘Siapa yang mau bekerja dari siang hingga shalat Ashar untuk mendapatkan upah satu qirath? ‘ Maka kaum Nasrani pun mengambil pekerjaan itu. Kemudian dia berkata lagi, ‘Siapa yang mau bekerja untuk dari shalat Ashar hingga terbenam matahari untuk mendapatkan upah dua qirath? ‘ Maka kalian pun mengambil pekerjaan itu. Lalu orang-orang Yahudi dan Nasrani marah-marah seraya berkata, ‘ (kami tidak terima) kami bekerja lebih lama tapi kami mendapat upah lebih sedikit! ‘ Lalu Allah berfirman: ‘Apakah aku menzhalimi hak kalian? ‘ mereka menjawab, ‘Tidak’. Allah pun berfirman: ‘Itulah anugerah yang Aku berikan kepada siapa saja yang Aku kehendaki’.”

 

Musnad Ahmad 4280: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat dahak di arah kiblat masjid, beliau pun berdiri lalu menggosoknya. Atau ia mengatakan, “Beliau menggaruk dengan tangannya, kemudian beliau menghadap ke arah manusia dan memarahi mereka seraya bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berhadapan dengan wajah salah seorang dari kalian ketika dalam shalatnya, oleh karena itu janganlah ia meludah ke arah mukanya dalam shalatnya.”

 

Musnad Ahmad 4281: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Ayyub berkata, “Aku tidak mengetahuinya melainkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah lalu ia memberi pengecualian maka ia diberi pilihan, jika mau ia boleh meneruskan sumpahnya dan jika mau ia boleh menarik sumpahnya, dan ia tidak menanggung dosa.” Atau beliau bersabda: “Dan ia tidak berdosa.”

 

Musnad Ahmad 4282: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Shalatlah di rumah-rumah kalian dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” Nafi’ berkata, “Aku kira ia menyebutkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4283: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Bayan dari Wabarah ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah aku boleh thawaf di Baitullah padahal aku telah berihram untuk haji? Ibnu Umar balik bertanya, “Memangnya ada apa?” Laki-laki itu menjawab, “Ibnu Abbas telah melarangnya.” Ibnu Umar lalu berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berihram untuk haji dan beliau melakukan thawaf di Baitullah dan (sa’i) antara Shafa dan Marwa.”

 

Musnad Ahmad 4284: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani dari Jabalah bin Suhaim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan kurma dengan cara dua biji dua biji sekaligus, kecuali engkau telah meminta izin kepada para sahabatmu.”

 

Musnad Ahmad 4285: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Hushain dari Mujahid dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah menjilati jari-jarinya kemudian berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui pada bagian mana berkah makananmu.”

 

Musnad Ahmad 4286: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepada kami Az Zuhri dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian meninggalkan api menyala di rumah kalian ketika tidur.”

 

Musnad Ahmad 4287: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepada kami Az Zuhri dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta yang di dalamnya tidak ada yang menjadi hewan tunggangan.”

 

Musnad Ahmad 4288: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka dipukul jika membeli kurma dengan taksiran kemudian menjualnya di tempatnya, hingga mereka membawanya (menjual) di tempat mereka.”

 

Musnad Ahmad 4289: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas kendaraannya ke mana pun kendaraannya menghadap.”

 

Musnad Ahmad 4290: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Abu Bakr bin Umar dari Sa’id bin Yasar dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat witir di atas kendaraan.”

 

Musnad Ahmad 4291: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Abu Amru bin Yahya dari Sa’id bin Yasar dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di atas keledai yang sedang menuju ke Khaibar.”

 

Musnad Ahmad 4292: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Umar bin Al Khaththab mensedekahkan kudanya di jalan Allah lalu ia mendapati kuda tersebut dijual, maka ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang setatus hukum jika ia membelinya kembali? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memberi jawaban: “Janganlah kamu ambil kembali sedekahmu.”

 

Musnad Ahmad 4293: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika isteri salah seorang dari kalian meminta izin shalat di masjid, janganlah ia melarangnya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Isteri Umar bin Khaththab radliallahu ‘anhu biasa shalat di masjid. Umar lalu berkata kepadanya, “Sungguh, engkau akan tahu apa yang aku sukai! ‘ Isterinya menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan berhenti hingga engkau melarangku.’ Lalu ketika Umar ditikam, isterinya juga berada di masjid.”

 

Musnad Ahmad 4294: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar Umar mengucapkan, “Demi ayahku!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegurnya: “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian, apabila salah seorang dari kalian bersumpah, hendaklah bersumpah atas nama Allah atau hendaklah ia diam.” Umar berkata, “Setelah itu aku tidak pernah bersumpah atas nama mereka, baik menyebut maupun menceritakan kepada selainku.”

 

Musnad Ahmad 4295: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Sa’id bin Khutsaim telah menceritakan kepada kami Hanzhalah dari Salim bin Abdullah ia berkata, “Ayahku, Abdullah bin Umar, bila menemui seseorang yang hendak bepergian, ia mengatakan kepadanya, “Mendekatlah hingga aku bisa mendoakanmu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kami.” Kemudian ia berdoa: ‘ASTAUDI’ULLAAHA DIINAKA WA AMAANATAKA WA KHWAATIIMA ‘AMALALAKA (Aku menitipkan kepada Allah perkara dienmu, amanahmu serta amal perbuatanmu yang terakhir) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4296: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman -yakni Ibnu Mahdi- telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual kurma hingga nampak nampak kematangannya, beliau melarang penjual dan pembelinya. Beliau juga melarang bepergian ke negeri musuh dengan membawa Al-Qur’an, khawatir musuh akan mendapatkannya.”

 

Musnad Ahmad 4297: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam melarang nikah syighar (nikah tanpa mahar).”

 

Musnad Ahmad 4298: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki melakukan li’an kepada isterinya dan tidak mengakui anaknya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memisahkan keduanya dan memberikan anak kepada sang isteri.”

 

Musnad Ahmad 4299: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang muzabanah. Muzabanah adalah menjual kurma dengan kurma, anggur dengan kismis dengan takaran.”

 

Musnad Ahmad 4300: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merajam seorang laki-laki Yahudi dan seorang wanita Yahudi.”

 

Musnad Ahmad 4301: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Abu Bakr bin Umar dari Sa’id bin Yasar dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat witir di atas unta.”

 

Musnad Ahmad 4302: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menghentikan barang dagangan hingga diturunkan di pasar, beliau juga melarang najasy (menambah harga untuk menipu yang lain), beliau bersabda: “Janganlah sebagian kalian menjual di atas penjualan sebagian lain.”

 

Musnad Ahmad 4303: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Umar; Bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tergesa-gesa dalam perjalanannya, beliau menjama’ shalat Maghrib dan Isya`.”

 

Musnad Ahmad 4304: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Musa bin Uqbah dari Nafi dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menebang pohon kurma milik bani Nadlir dan membakarnya.”

 

Musnad Ahmad 4305: Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Al Auza’i dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4306: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Al Muththalib bin Abdullah bin Hanthab bahwa Ibnu Umar berwudlu tiga kali-tiga kali, dan ia menyandarkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4307: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ mantan budak Ibnu Umar, bahwa Ibnu Umar pernah mendengar suara seruling penggembala, ia pun menutup telinganya dengan jarinya dan membelokkan arah kendaraannya dari jalan. Ia lalu bertanya, “Wahai Nafi’, apakah engkau masih mendengarnya?” Aku pun menjawab, “Masih.” Ibnu Umar pun berjalan lagi hingga aku mengatakan, “Tidak dengar.” Maka ia pun melepas kedua tangannya dan mengembalikan kendaraannya pada jalan semula. Kemudian ia mengatakan, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar suara seruling penggembala, beliau berbuat seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 4308: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i bahwa Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Qilabah telah menyampaikan kepadanya dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan ada api keluar dari Hadlramaut.” Atau, “Di Hadlramaut, lalu ia akan menggiring manusia.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: “Hendaklah kalian tetap berada di Syam.”

 

Musnad Ahmad 4309: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Ubaidullah bin Umar dari Kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila minum hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.”

 

Musnad Ahmad 4310: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Pakaian apa yang boleh dikenakan orang yang ihram?” Sekali waktu Sufyan menyebutkan, “Pakaian apa yang yang tidak boleh dikenakan orang yang ihram?” Beliau menjawab: “Ia tidak boleh mengenakan kemeja, burnus (kain yang dikaitkan pada kepala), celana panjang, imamah (surban yang dililitkan pada kepala). Atau kain yang diberi waras (wewangian) atau za’faran, dan khuf (semacam sepatu) kecuali bagi yang tidak mendapatkan sandal. Dan barangsiapa tidak mendapatkan sandal ia boleh menganakan khuf dengan syarat memotongnya hingga di bawah mata kaki.”

 

Musnad Ahmad 4311: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar berjalan di depan jenazah.”

 

Musnad Ahmad 4312: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila mengawali shalatnya, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahunya, demikian pula bila hendak rukuk dan bangkit dari rukuk.” Sekali waktu Sufyan menyebutkan, “Ketika bangkit dari rukuk, dan yang sering ia katakan adalah ‘setelah bangkit dari rukuk, namun beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud.”

 

Musnad Ahmad 4313: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual kurma dengan kurma.” Sufyan mengatakan, “Seperti ini yang kami hafal ‘buah dengan kurma’. Zaid bin Tsabit mengabarkan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan jual beli dengan sistim ‘Araya.”

 

Musnad Ahmad 4314: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ antara shalat Maghrib dan Isya` apabila tergesa dalam perjalanannya.”

 

Musnad Ahmad 4315: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai hewan yang boleh dibunuh oleh seorang yang sedang ihram? Beliau menjawab: “Ada lima hewan yang tidak berdosa untuk dibunuh di tanah Haram; Kalajengking, tikus, burung gagak, burung rajawali dan anjing gila.”

 

Musnad Ahmad 4316: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kebinasaan itu ada pada tiga hal; Kuda, wanita dan rumah.” Sufyan berkata, “Kami menghafalnya dari Salim yakni kebinasaan.”

 

Musnad Ahmad 4317: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang tertinggal shalat Ashar, ia seperti telah kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 4318: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya secara periwayatan, dan sekali waktu ia menyebutkan dan menyampaikannya hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian meninggalkan api menyala di rumah kalian ketika tidur.”

 

Musnad Ahmad 4319: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, “Seorang laki-laki bermimpi bahwa lailatul qadr terjadi pada malam kedua puluh tujuh, atau malam ini dan ini. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat mimpi-mimpi kalian telah sepakat, maka carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir, tepatnya pada malam-malam ganjil.”

 

Musnad Ahmad 4320: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri ia mendengar Salim dari Ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar Umar radliallahu ‘anhu mengatakan, “Demi bapakku, demi bapakku!” Maka beliau menegurnya: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla melarang kalian bersumpah atas nama bapak-bapak kalian.” Umar pun berkata, “Demi Allah, demi Allah! Setelah itu aku tidak pernah bersumpah atas nama mereka, baik menyebut maupun menceritakan kepada selainku.”

 

Musnad Ahmad 4321: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain untuk berburu atau menjaga (ternah), maka pahalanya akan berkurang setiap hari sebanyak dua qirath (sebesar gunung).”

 

Musnad Ahmad 4322: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh dengki kecuali pada dua hal; Seseorang yang dianugerahi Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia membacanya sepanjang siang dan malam. Dan seseorang yang dianugerahi harta oleh Allah, lalu ia mensedekahkannya di jalan yang benar malam dan siang hari.”

 

Musnad Ahmad 4323: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada waktu malam, maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.”

 

Musnad Ahmad 4324: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menjual budak dan ia memiliki harta, maka hartanya adalah milik penjualnya kecuali bila pembeli mensyaratkannya dalam penjualan. Dan barangsiapa menjual kurma yang telah dikawinkan, maka hasil penyemaiannya adalah milik penjual kecuali bila pembeli mensyaratkannya dalam penjualan.”

 

Musnad Ahmad 4325: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi dahulu.”

 

Musnad Ahmad 4326: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang memberi nasehat kepada saudaranya tentang rasa malu, lalu beliau bersabda: “Rasa malu itu adalah bagian dari iman.”

 

Musnad Ahmad 4327: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan tempat miqat. Dan sekali waktu ia menyebutkan, “Tempat memulai ihram penduduk Madinah adalah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, penduduk Najd dari Qarn dan penduduk Yaman dari Yalamlam.”

 

Musnad Ahmad 4328: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika isteri salah seorang dari kalian meminta izin shalat di masjid, janganlah ia melarangnya.”

 

Musnad Ahmad 4329: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah ular-ular, ular yang di atas punggungnya ada dua garis putih, serta ular berekor pendek (bunting), sebab keduanya bisa menyebabkan kebutaan dan gugurnya janin.” Dan Ibnu Umar selalu membunuh setiap ular yang dijumpainya. Abu Lubabah atau Zaid bin Al Khaththab lalu melihatnya sedang melemparkan seekor ular, maka ia berkata, “Sesungguhnya telah dilarang membunuh ular yang berada di sarangnya.”

 

Musnad Ahmad 4330: Ia berkata; Sufyan bin Uyainah membacakan kepadaku; Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memakan daging kurbannya (yang disimpan) lebih dari tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 4331: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya bagaimana melakukan shalat malam. Beliau menjawab: “Hendaklah salah seorang dari kalian shalat dua rakaat dua rakaat, namun apabila ia khawatir masuk waktu Shubuh, maka shalat witirlah satu rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4332: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar ia mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual wala` dan menghadiahkannya.”

 

Musnad Ahmad 4333: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian memasuki tempat suatu kaum yang diadzab kecuali jika kalian menangis (sedih), jika kalian tidak bisa menangis maka janganlah kalian memasukinya, karena aku khawatir ia akan menimpa kalian seperti apa yang telah menimpa mereka.”

 

Musnad Ahmad 4334: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang dlab (sejenis biawak), beliau pun menjawab: “Aku tidak memakannya namun aku tidak mengharamkannya.”

 

Musnad Ahmad 4335: Telah menceritakan kepada kami Sufyan; Aku mendengarnya dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika ada orang Yahudi mengucapkan salam kepadamu, maka sesungguhnya yang ia ucapkan adalah; ASSAAMU ‘ALAIKA (semoga kecelakaan menimpa kalian), maka jawablah: WA ‘ALAIKA (dan atas kamu).” Sekali waktu beliau mengatakan: “Jika ada orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah: WA’ALAIKUM, (dan atas kalian), karena sesungguhnya yang mereka ucapkan ialah; ASSAAMU ‘ALAIKUM (semoga kecelakaan menimpa kalian).”

 

Musnad Ahmad 4336: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila kalian bertiga maka janganlah dua orang berbisik tanpa menyertakan yang ketiga.” Sekali waktu ia menyebutkan, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan yang ketiga, apabila mereka bertiga.”

 

Musnad Ahmad 4337: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membai’at (janji setia) untuk selalu mendengar dan taat, kemudian beliau mengatakan: “Semampu kamu.” Sekali waktu ia menyebutkan, “Lalu beliau membisikkan kepada salah seorang dari kami: “Semampu kamu.”

 

Musnad Ahmad 4338: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Umar ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar (hak pilih) selama mereka belum berpisah.” Atau, “Jual beli khiyar (tawar menawar).”

 

Musnad Ahmad 4339: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam, cucunya Abdullah bin Waqid mendengar Ibnu Umar, “Hai anakku, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla tidak akan melihat kepada orang yang menujulurkan kainnya karena sombong.”

 

Musnad Ahmad 4340: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam dari Abdullah bin Umar, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah masuk masjid bani Amru bin ‘Auf, yakni masjid Quba` dan shalat di dalamnya. Lalu beberapa orang Anshar masuk dan mengucapkan salam kepada beliau. Beliau masuk masjid bersama Shuhaib, maka aku pun menanyai kepada Shuhaib, “Jika ada seseorang yang mengucapkan salam kepada beliau di saat shalat, bagaimana yang beliau lakukan?” Shuhaib menjawab, “Beliau memberi isyarat dengan tangannya.” Sufyan berkata, “Aku menyuruh seseorang ‘Tanyakan kepada Zaid, ‘Apakah benar engkau mendengarnya dari Abdullah?, sebab aku takut menanyakan padanya. Maka ia pun berkata, “Wahai Abu Usamah, apakah engkau mendengarnya dari Abdullah bin Umar?” Ia menjawab, “Sungguh, aku telah melihat serta menanyakannya.”

 

Musnad Ahmad 4341: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kaisan dari Salim dari Ayahnya, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika kembali dari haji, atau umrah, atau perang, beliau naik ke sebuah dataran tinggi dan berseru: “LA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI`IN QADIIR, SHADAQALLAAHU WA’DAH WANASHARA ‘ABDAH WAHAZAMAL AHZAABA WAHDAH, AAYIBUUNA INSYA ALLAH TAA`IBUUNA ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah segala kekuasaan dan puji, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan sebuah pasukan sendirian Kami semua kembali, bertaubat, beribadah dan memuji hanya kepada Rabb kami).”

 

Musnad Ahmad 4342: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Musa bin Uqbah dari Salim ia berkata; Ibnu Umar pernah berkata, “Inilah Baida`, tempat yang kebanyakan orang berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memulai ihram kecuali dari masjid.”

 

Musnad Ahmad 4343: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Labid dari Abu Salamah dari Ibnu Umar, “Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang shalat malam, lalu beliau menjawab: “Dua rakaat dua rakaat, namun apabila engkau khawatir masuk waktu Shubuh, maka shalat Witirlah satu rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4344: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Labid dari Abu Salamah; Aku mendengar Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jangan sekali-kali orang-orang Arab badui mengalahkan kalian dari shalat kalian, ketahuilah bahwa shalat itu adalah shalat Isya. Mereka memerah susu unta mereka di malam hari.”

 

Musnad Ahmad 4345: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dan Hisyam dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang dlab (sejenis biawak), beliau pun menjawab: “Aku tidak memakannya namun aku tidak mengharamkannya.”

 

Musnad Ahmad 4346: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Yahya bin Sa’id dari Nafi’, Ibnu Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar, tatkala melihat beliau telah berada di atas mimbar aku pun mempercepat langkahku masuk masjid dan segera duduk, namun aku tidak mendengar apapun hingga beliau turun. Maka aku bertanya kepada orang-orang tentang apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menjawab, “Beliau melarang membuat nabidz (sari buah kurma) dengan menggunakan Ad Dubba` dan Al Muzaffat.”

 

Musnad Ahmad 4347: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Muslim bin Abu Maryam dari Ali bin Abdurrahman Al Mu’awi ia berkata, “Aku pernah shalat di samping Ibnu Umar, lalu aku membalikkan kerikil. Ia pun berkata kepadaku, “Jangan engkau membalikkan kerikil itu, sebab itu dari setan. Tetapi sebagaimana aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau hanya menggerakkannya begini.” Abu Abdullah berkata, “Yakni satu kali usapan.”

 

Musnad Ahmad 4348: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian bepergian dengan membawa Al-Qur’an, karena aku khawatir musuh akan mendapatkannya.”

 

Musnad Ahmad 4349: Aku mendengar Sufyan berkata, “Sesungguhnya ia pernah bernadzar untuk beri’tikaf di Masjidil Haram, lalu ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun memerintahkan kepadanya untuk menetapinya. Dikatakan kepada Sufyan, dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, sesungguhnya Umar bernadzar? Ia menjawab, “Ya.”

 

Musnad Ahmad 4350: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa beliau bersabda: “Wajib atas setiap Muslim bahwa tidak boleh ia bermalam selama dua malam kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya.”

 

Musnad Ahmad 4351: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus ekspedisi ke Najd. Mereka mendapatkan bagian mencapai dua belas unta, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi tambahan setiap satu orang satu ekor unta.”

 

Musnad Ahmad 4352: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Nafi’ ia berkata, “Kami pernah bersama Ibnu Umar di Dlajnan, lalu ia mendirikan shalat kemudian berseru, ‘Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian’, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh kepada mu`adzin pada malam turun hujan atau dingin ‘Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian’.”

 

Musnad Ahmad 4353: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dan sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa bersumpah atas sebuah janji lalu mengatakan ‘INSYAAALLAH, maka ia telah mengecualikannya.”

 

Musnad Ahmad 4354: Ia berkata; Sufyan membacakan kepadaku; Aku mendengar Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual janin yang berada dalam kandungan.”

 

Musnad Ahmad 4355: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Jud’an dari Al Qasim bin Rabi’ah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan pada waktu penaklukan Makkah, saat beliau berada di atas tangga Ka’bah: “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan pasukan Ahzab sendirian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang terbunuh dengan sengaja atau karena suatu kesalahan, dengan cambuk atau tongkat, (keluarganya) berhak mendapat seratus ekor unta, sekali waktu ia menyebutkan, “empat puluh ekor unta yang sedang hamil. Sesungguhnya semua bentuk balas dendam pada masa jahiliyah, darah dan dakwaan, sekali waktu ia menyebutkan, “darah dan harta, sekarang semua itu berada di bawah kedua kakiku ini (kekuasaanku). Kecuali memberi minum kepada orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji dan perawatan Baitullah, sebab sesungguhnya aku membiarkannya dilakukan oleh para penduduknya sebagaimana yang telah berlalu.

 

Musnad Ahmad 4356: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, Shadaqah mendengar Ibnu Umar menyebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tempat memulai ihram penduduk Najd dari Qarn, penduduk Syam dari Juhfah dan penduduk Yaman dari Yalamlam -Ibnu Umar tidak mendengarnya, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-. Tempat memulai ihram penduduk Madinah adalah dari Dzul Hulaifah.” Mereka bertanya kepadanya, “Lalu dari manakah penduduk Iraq?” Ibnu Umar menjawab, “Waktu itu belum ada.”

 

Musnad Ahmad 4357: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Atha bin As Sa`ib dari Abdullah bin Ubaid bin Umair dari Ibnu Umar hingga sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) kepada dua rukun, dapat menghapuskan dosa-dosa.”

 

Musnad Ahmad 4358: Telah menceritakan kepada kami Sufyan ia berkata; Amru mendengar Ibnu Umar, “Kami pernah melakukan mukhabarah (mengelola tanah dengan pembagian tertentu) dan kami tidak memandang hal itu sebagai dosa. Hingga Rafi’ bin Khadij mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang hal itu, lalu kami pun meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 4359: Telah menceritakan kepada kami Sufyan ia berkata; Amru mendengar Sa’id bin Jubair mengatakan; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada dua orang yang melakukan li’an: “Hisab kalian berdua adalah terserah Allah, jika salah seorang kalian berdua berdusta, maka tidak ada celah bagimu atas isterimu.” Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan hartaku? Beliau menjawab: “Tidak ada harta bagimu, jika tuduhanmu terhadap isterimu benar, maka harta itu sebagai tebusan dari penghalalan kemaluannya, namun jika kamu yang dusta, maka kamu lebih tidak berhak lagi atas harta tersebut.”

 

Musnad Ahmad 4360: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Amru dari Abu Al Abbas dari Abdullah bin Umar -dikatakan kepada Sufyan; Ibnu Amru berkata, bukan Ibnu Umar- bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengepung penduduk Tha`if dan beliau tidak mendapatkan sesuatu dari mereka, beliau mengatakan: “Insya Allah, kita akan kembali besok.” Kaum muslimin pun terlihat kecewa dengan hal itu, maka beliau pun mengatakan: “Pergilah.” Mereka pun pergi berperang hingga mereka banyak terluka. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan lagi: “Insya Allah, kita akan kembali besok.” Maka kaum muslimin bergembira, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa.”

 

Musnad Ahmad 4361: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Salim dari Ayahnya hingga sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila seorang budak menjadi milik dua orang lalu salah seorang dari keduanya membebaskan bagian yang menjadi miliknya; jika ia masih mempunyai kemudahan dalam harta, hendaklah sisa harga budak tersebut dihargai, tanpa pengurangan dan kezhaliman, kemudian hendaklah ia dibebaskan.”

 

Musnad Ahmad 4362: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Isma’il Asy Syaibani, “Aku pernah menjual kurma yang masih berada di pohonnya seharga seratus wasaq, bila lebih adalah milik mereka dan bila kurang juga milik mereka. Lalu aku tanyakan kepada Ibnu Umar, ia pun menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal itu, namun beliau membolehkan Araya.”

 

Musnad Ahmad 4363: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Az Zuhri dari Ibnu Umar di antara keduanya ada Salim, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu shalat dua rakaat selesai shalat Jum’at.”

 

Musnad Ahmad 4364: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Fajar telah memancarkan sinarnya, beliau shalat dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4365: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma’il bin Umayah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati Umar ketika dalam sebagian perjalanannya mengatakan, “Demi bapakku, demi bapakku!” Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah atas nama bapak-bapak kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaklah bersumpah atas nama Allah, jika tidak hendaklah diam.”

 

Musnad Ahmad 4366: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umayah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengadakan perlombaan pacuan kuda. Beliau mengadu kuda yang telah terlatih Hafya`, dan kuda yang belum dilatih dari Tsaniyatul Wada’ sampai masjid Bani Zuraiq.”

 

Musnad Ahmad 4367: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Musa dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar keluar untuk berumrah, lalu orang-orang mengabarkan kepadanya bahwa Makkah terjadi sesuatu. Ibnu Umar lalu berkata, “Aku membaca talbiyah untuk umrah, jika aku tertahan (dihalangi), maka aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian Ibnu Umar membaca talbiyah untuk umrah, dan ketika ia telah berjalan hingga sampai di daerah Baida`, ia berkata, “Tidaklah jalan umrah juga sebagaimana jalan untuk haji, sungguh aku akan menggabung dengan haji.” Kemudian ia berkata, “Aku persaksikan kepada kalian bahwa aku telah mewajibkan atas diriku untuk haji, sebab jalan untuk haji adalah sebagaimana juga jalan untuk umrah.” Kemudian Ibnu Umar datang ke Makkah dan melakukan thawaf di Ka’bah tujuh kali, dan juga antara Shafa dan Marwah.” Setelah itu ia berkata, “Seperti inilah aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya, beliau datang ke Qudaid membeli hewan kurban dan menuntun bersamanya.”

 

Musnad Ahmad 4368: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub bin Musa dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar mendatangi Qudaid (nama tempat) dan membeli seekor hewan kurban, lalu ia melakukan thawaf di Baitullah dan (sa’i) antara Shafa dan Marwa. Kemudian ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 4369: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ayyub -yakni Ibnu Musa- dari Nafi’, “Aku pernah mendengar seorang laki-laki bani Salimah menceritakan kepada Ibnu Umar, bahwa budak wanita milik Ka’b bin Malik pernah menggembalakan kambing miliknya di Sal’, lalu ada seekor kambing yang akan mati, maka ia pun mengambil sebuah batu tajam dan menyembelihnya. Ibnu Umar lalu memerintahkan untuk memakan dagingnya.”

 

Musnad Ahmad 4370: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari Isma’il bin Abdurrahman bin Dzu`aib dari bani Asad bin Abdul ‘Uzza, ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Ibnu Umar ke Hima, ketika matahari tenggelam kami takut untuk mengatakan ‘shalatlah’. Hingga ketika hingga cahaya putih menghilang dari senja dan datang kelamnya malam waktu Isya`, ia berhenti dan melakukan shalat tiga rakaat dan dua rakaat. Kemudian ia berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4371: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid ia berkata; Aku pernah menemani Ibnu Umar dalam perjalanan menuju Madinah, namun aku tidak mendengar ia menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali satu hadits yaitu; ‘Ketika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diberi beberapa biji kurma, beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya di antara pepohonan ada satu pohon yang perumpamaannya seperti perumpamaan seorang muslim.” Aku pun ingin menjawab bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku melihat ternyata aku adalah orang yang paling kecil umurnya, aku pun hanya terdiam malu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengatakan: “Itu adalah pohon kurma.”

 

Musnad Ahmad 4372: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid ia berkata; Ibnu Umar menyaksikan penaklukan Makkah ketika umurnya masih dua puluh tahun. Ia menunggangi kuda yang belum jinak dan membawa sebuah tombak yang berat, lalu Ibnu Umar pergi menyendiri bersama kudanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Sesungguhnya Abdullah, sesungguhnya Abdullah.”

 

Musnad Ahmad 4373: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah mengabarkan kepada kami Imran -yakni Ibnu Hudair- dan Waki’ secara makna, ia mengatakan; telah mengabarkan kepada kami Imran dari Yazid bin ‘Utharid, Waki’ As Sadusi Abu Al Bazari berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang hukum minum sambil berdiri, maka ia menjawab, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami pernah makan dan minum sambil berdiri, sementara kami sedang melakukan sa’i.”

 

Musnad Ahmad 4374: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar, pada hari raya mereka mendahulukan shalat sebelum khutbah.”

 

Musnad Ahmad 4375: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta antara seseorang dan isterinya melakukan li’an (saling melakukan sumpah), kemudian beliau memisahkan keduanya.” Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4376: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ja’far bin Az Zubair dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Umar, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang air yang berada di tengah padang pasir, dan air itu biasa diminum oleh binatang ternak dan binatang buas. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jika air itu sebanyak dua qullah, maka ia tidak kotor (najis).”

 

Musnad Ahmad 4377: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari pamannya Wasi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Suatu hari aku pernah memanjat ke atap rumah Hafshah, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang buang hajat dengan menghadap ke Syam dan membelakangi kiblat.”

 

Musnad Ahmad 4378: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Dulu pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami biasa tidur dan istirahat di masjid, saat itu kami masih remaja.”

 

Musnad Ahmad 4379: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Umar pernah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta petunjuk dari beliau dalam mengurusnya seraya berkata, “Di Khaibar aku memiliki sebidang tanah namun aku belum pernah memperoleh satu harta yang lebih aku cintai dari padanya, apa yang engkau perintahkan kepadaku? Beliau menjawab: “Jika mau engkau boleh menahan dan mensedekahkannya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Umar lalu mensedekahkan kebun tersebut untuk tidak menjualnya, tidak dihadiahkan dan tidak diwariskan.” Ibnu Umar melanjutkan, “Umar pun mensedekahkannya kepada orang-orang fakir, para kerabat, hamba sahaya, fi sabilillah, Ibnu Sabil dan orang yang bertamu. Dan tidak berdosa orang yang merawatnya untuk memakannya dengan cara yang baik atau memberi makan kepada temannya dengan tidak menimbunnya.”

 

Musnad Ahmad 4380: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa ketika Ghailan bin Salamah Ats Tsaqafi masuk Islam, ia memiliki isteri sepuluh orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengatakan kepadanya: “Pilihlah empat orang di antara mereka.”

 

Musnad Ahmad 4381: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ ia berkata, “Kerap sekali Ibnu Umar mengimami kami dengan membaca dua dan tiga surat dalam shalat fardlu.”

 

Musnad Ahmad 4382: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu ada dua puluh sembilan hari, begini dan begini, jika kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah ia.” Dan Ibnu Umar jika pada malam dua puluh sembilan langit mendung atau tertutup awan, maka keesokan harinya ia berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 4383: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah telah mengabarkan kepadaku Bapakku telah mengabarkan kepadaku Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian memilih waktu terbit dan tenggelam matahari untuk melaksanakan shalat, karena sesungguhnya ia terbit di antara dua tanduk setan. Maka apabila tabir matahari itu muncul, janganlah kalian shalat hingga benar-benar nampak, dan jika tabir matahari tenggelam maka janganlah kalian shalat hingga benar-benar telah hilang.”

 

Musnad Ahmad 4384: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, firman Allah: ‘ ((yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam) ‘ (Qs. Al Muthaffifiin: 6), beliau mengatakan: ” (Yaitu) pada hari itu manusia berdiri di atas keringatnya hingga sebatas pertengahan daun telinganya.”

 

Musnad Ahmad 4385: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menancapkan sebuah tombak lalu shalat menghadap ke arahnya.”

 

Musnad Ahmad 4386: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaid telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah seorang wanita bepergian -tiga kali-, kecuali bersama dengan mahramnya.”

 

Musnad Ahmad 4387: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada ubun-ubun kuda itu ada kebaikan hingga hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4388: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya dari Pamannya dari Ibnu Umar ia berkata, “Suatu hari aku pernah memanjat atap rumah Hafshah, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang buang hajat dengan membelakangi Baitullah dan menghadap ke Syam.”

 

Musnad Ahmad 4389: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia berlari-lari tiga kali dan berjalan empat kali putaran. Ia mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya dan beliau berjalan di antara dua rukun.” Ibnu Umar berkata, “Beliau berjalan antara keduanya agar memudahkan dalam beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) padanya.”

 

Musnad Ahmad 4390: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang dlab (sejenis biawak) saat beliau di atas mimbar, maka beliau menjawab: “Aku tidak memakannya, namun aku tidak melarangnya.”

 

Musnad Ahmad 4391: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Umar; Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan pohon ini, maka jangan sekali-kali ia mendatangi masjid.”

 

Musnad Ahmad 4392: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah shalat di atas kendaraannya dan shalat witir di atasnya, ia pun menyebutkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4393: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang tertinggal shalat ‘Ashar dengan sengaja hingga terbenam matahari, seakan ia kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 4394: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Al Minhal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang menjadikan ayam hidup sebagai sasaran (latihan) tembak. Maka Ibnu Umar pun berkata, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memutilasi hewan.”

 

Musnad Ahmad 4395: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abjar dari Tsuwair bin Abu Fakhitah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah derajatnya, ia akan melihat dalam sebuah istana selama dua ribu tahun. Ia melihat bagian paling ujungnya sebagaimana ia melihat bagian paling dekatnya, ia juga akan melihat para isteri dan pembantunya. Dan sesungguhnya penghuni surga yang paling mulia derajatnya akan melihat wajah Allah Ta’ala setiap hari sebanyak dua kali.”

 

Musnad Ahmad 4396: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Suqah dari Abu Bakr bin Hafsh dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar, adakah pintu taubat bagiku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam balik bertanya kepadanya: “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu masih memiliki bibi?” laki-laki itu menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengatakan: “Kalau begitu berbaktilah kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 4397: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Makkah maka beliau memasukinya dari Tsaniyatul Ulya, dan bila keluar maka beliau melalui Tsaniyatus Sufla.”

 

Musnad Ahmad 4398: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abu Shalih dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Dulu kami pernah menduga-duga, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, para sahabatnya masih banyak, demikian pula Abu Bakr, Umar dan Utsman, setelah itu kami diam.”

 

Musnad Ahmad 4399: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Abu Utsman dari Abu Az Zubair dari ‘Aun bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Umar ia berkata, “Tatkala kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada salah seorang laki-laki yang mengucapkan, ‘ALLAHU AKBAR KABIRAN WAL HAMDULILLAHI KATSIRAN WA SUBHANALLAHI BUKRATAN WA ASHILAN (Maha Besar Allah, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha suci Allah di pagi dan sore hari) ‘. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa yang mengucapkan kalimat ini dan ini?” Laki-laki itu menjawab, “Saya wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda: “Aku kagum dengannya, karena telah dibukakan pintu-pintu langit baginya (kalimat itu).” Ibnu Umar berkata, “Setelah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hal itu, aku tidak pernah meninggalkan (mengucapkan) kalimat itu.”

 

Musnad Ahmad 4400: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Ayyub dari Nafi’ ia berkata, “Jika Ibnu Umar masuk dan telah dekat dengan Al haram, ia menahan bacaan talbiyahnya, dan jika telah sampai Dzu Thuwa ia menginap hingga datang waktu Shubuh, kemudian ia shalat dan mandi. Kemudian ia menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan seperti ini. Setelah itu ia masuk Makkah pada waktu Dluha, ia mendatangi Baitullah dan beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) kepada hajar aswad sambil mengucapkan: BISMILLAH ALLAHU AKBAR. Kemudian ia berlari tiga kali putaran dan berjalan di antara dua rukun, ketika melewati hajar aswad ia mengusapnya dan bertakbir setiap empat kali putaran dengan berjalan, lalu ia mendatangi maqam dan shalat dua rakaat, kemudian kembali ke hajar aswad dan menciumnya. Setelah itu ia keluar menuju Shafa dari Babul A’zham. Ia berdiri lalu bertakbir tujuh kali diulang sebanyak tiga kali, lalu bertakbir kemudian mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Maha Besat atas segala sesuatu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4401: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Abdul Khaliq ia berkata; Aku bertanya kepada Sa’id bin Al Musayyab tentang nabidz (sari buah kurma), ia pun menjawab, “Aku pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan di samping mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, ‘Ini utusan Abdul Qais datang bersama Al Asyajj bertanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang minuman, maka beliau menjawab: “Jangan kalian minum menggunakan hantamah atau dubba` dan juga naqir.” Lalu aku katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Muhammad, bagaimana dengan muzaffat? ‘ aku kira ia lupa. Maka ia menjawab, ‘Waktu itu aku tidak mendengarnya dari Abdullah bin Umar, namun ia membencinya.’

 

Musnad Ahmad 4402: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Hakam dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual mani hewan jantan.”

 

Musnad Ahmad 4403: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dan Muhammad bin Ja’far keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri, Ibnu Ja’far menyebutkan dalam haditsnya; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Salim dari ayahnya, bahwa Ghailan bin Salamah Ats Tsaqafi masuk Islam sementara ia memiliki sepuluh isteri, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadanya: “Pilihlah empat dari mereka.” Kemudian pada masa pemerintahan Umar, ia menceraikan para isterinya dan membagikan hartanya di antara anak-anaknya. Ketika hal itu sampai ke telinga Umar, maka ia pun berkata, “Sungguh, aku punya prediksi bahwa setan yang biasa mencuri pendengaran, ia telah mendengar berita kematianmu sehingga ia melemparkannya ke dalam jiwamu. Dan kamu tidak tidak akan lama lagi untuk tingga (hidup di dunia). Demi Allah, engkau segera merujuk mereka dan mengambil hartamu, atau aku akan wariskan kepada mereka semua dari hartamu, dan aku akan perintahkan untuk melempari kuburanmu sebagaimana kubur Abu Righal dilempari batu.”

 

Musnad Ahmad 4404: Telah menceritakan kepada kami Abbad Ibnul Awwam telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Husain dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis ketentuan sedekah (zakat) dan belum memberlakukannya kepada para ‘amil zakat sampai beliau wafat, dan beliau menyertakannya dengan pedang beliau. Ketika beliau telah wafat, Abu Bakar pun memberlakukannya hingga ia wafat, kemudian Umar juga memberlakukannya hingga ia wafat pula. Dan aturannya ialah; jika mempunyai lima unta, wajib mengeluarkan zakat satu kambing. Jika memiliki sepuluh unta, wajib mengeluarkan dua kambing. Jika memiliki lima belas unta, wajib mengeluarkan zakat tiga kambing. Jika memiliki dua puluh unta, wajib mengeluarkan zakat empat kambing, dan jika memiliki dua puluh lima unta, wajib mengeluarkan zakat anak unta yang berumur satu tahun.” Bapakku berkata, “Kemudian aku mendapatkan sakit di majelis Ubad bin Awam, hingga akupun menulis kelengkapan hadits tersebut. Dan sepertinya aku tidak memahami betul sebagian hadits hingga terusannya aku agak ragu. Dan akupun membiarkan hadits itu dalam bentuk seperti ini di dalam musnad pada hadits Az Zuhri dari Salim. Sebab dia telah mengumpulkan hadits Zuhri dari Salim, maka ia menceritakan sanad tersebut dalam hadits Salim, dari Muhammad bin Yazid dengan lafadz yang sempurna, juga dalam hadits Abbad, dari Abbad Ibnul Awwam.”

 

Musnad Ahmad 4405: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid -yakni Al Wasithi- dari Sufyan -yakni Ibnu Husain- dari Az Zuhri dari Salim dari ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membuat ketetapan atas wajibnya sedekah (zakat), namun beliau belum sempat mengeluarkan kepada para pekerjanya hingga beliau wafat.” Perawi melanjutkan, “Setelah itu Abu Bakar mengeluarkannya dan terus melakukannya hingga ia meninggal, kemudian setelah itu Umar mengeluarkannya dan terus melakukannya.” Perawi melanjutkan lagi, “Maka saat Umar meninggal, pesan wasiat itu pun masih ada. Di antara isinya adalah, bahwa setiap unta yang berjumlah lima ekor hingga dua puluh empat zakatnya adalah satu ekor kambing. Jumlah dua puluh lima hingga tiga puluh ekor zakatnya adalah bintu makhadl, jika tidak ada bintu makhadl maka bisa dengan ibnu labun. Jika jumlah lebih dari tiga puluh lima hingga empat puluh lima, maka zakatnya adalah bintu labun. Jika bertambah lagi satu hingga enam puluh ekor maka zakatnya adalah hiqqah. Jika bertambah lagi hingga jumlah tujuh puluh lima maka zakatnya adalah jadza’ah. Jika bertambah lagi hingga sembilan puluh ekor, maka zakatnya adalah dua bintu labun. Jika bertambah lagi hingga seratus dua puluh maka zakatnya adalah dua hiqqah. Jika jumlah unta terus bertambah, maka setiap lima puluh ekor unta zakatnya adalah satu hiqqah, dan setiap empat puluh zakatnya bintu labun. Sementara untuk kambing, maka setiap jumlah empat puluh hingga seratus dua puluh zakatnya adalah satu ekor kambing. Jika bertambah lagi hingga sejumlah dua ratus maka zakatnya adalah dua ekor kambing. Jika bertambah lagi hingga jumlah tiga ratus maka zakatnya adalah tiga ekor kambing. Jika bertambah lagi maka tidak ada zakat, kecuali jika jumlahnya sampai empat ratus. Jika kambing terus bertambah, maka untuk setiap penambahan seratus ekor zakatnya adalah satu ekor, tidak boleh memisahkan kambing yang telah terkumpul (dalam jumlah tertentu) atau menggabungkan kambing yang sudah terpisah untuk menghindari atau mengurangi kadar kewajiban zakat, dan kambing yang dimiliki secara bersama harus digabung secara adil (sama rata), jangan diambil kambing yang umurnya sudah diluar batas kewajaran, dan bukan pula yang memiliki cacat.”

 

Musnad Ahmad 4406: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau: “Barang siapa memerdekakan bagiannya.” Atau, beliau mengatakan dengan lafadz ‘Syaqishan’, atau ‘syirkan’ (bagian) pada kepemilikan seorang budak, lalu ia memiliki harta yang senilai dengan harga (sisa) budak tersebut, maka budak tersebut telah mereka, jika tidak maka sungguh ia telah memerdekakan sebagian darinya.” Ayyub berkata, “Kemungkinan Nafi’ berkata dalam hadits ini, atau bisa juga tidak. Aku tidak tahu apakah kata itu ada dalam hadits tersebut, atau memang kata-kata yang disisipkan oleh Nafi’, yakni perkataan ‘Maka sungguh ia telah memerdekakan (apa yang telah ia merdekakan) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4407: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari perang, haji atau umrah, beliau naik ke sebuah dataran tinggi atau lalu berseru: “ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR, AAYIBUUN TAA`IBUUN SAAJIDUUN ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUN SHADAQALLAAHU WA’DAHU WANASHARA ‘ABDAHU WA HAZAMAL AHZAABA WAHDAHU (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah segala kekuasaan dan puji, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami semua kembali, bertaubat, bersujud, beribadah dan memuji hanya kepada Rabb kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan sebuah pasukan Ahzab sendirian) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4408: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Yunus dari Al Hasan dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah Tabaaraka wa Ta’la menjadikan seorang hamba pemimpin bagi orang yang dipimpinnya, sedikit atau banyak, melainkan Allah Tabaaraka wa Ta’ala akan menanyakannya pada hari kiamat. Apakah ia menegakkan perkara Allah atas mereka atau menyia-nyiakannya, sehingga Allah juga akan bertanya kepadanya tentang keluarga yang dipimpinnya.”

 

Musnad Ahmad 4409: Telah menceritakan kepadaku Isma’il ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Abdullah bin Muslim saudara Az Zuhri dari Hamzah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa seseorang dari kalian meminta-minta hingga berjumpa Allah Tabaraka wa Ta’ala, sedang tidak ada sedikit pun daging di wajahnya.”

 

Musnad Ahmad 4410: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepadaku Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah ia berkata, “Dulu mereka sering menghentikan makanan yang akan dibawa ke pasar, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka menjualnya hingga diturunkan (di pasar).”

 

Musnad Ahmad 4411: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Kaum jahiliyah biasa membeli daging unta beserta janin yang ada di dalam perutnya, kemudian janin yang ada dalam perut itu kemudian melahirkan pula anak unta, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4412: Telah menceritakan kepada kami Sufyan ia berkata; Amru -yakni Ibnu Dinar- berkata; Mereka menyebutkan tentang seorang laki-laki yang mengucapkan talbiah untuk umrah, lalu bertahallul. Setelah itu apakah ia boleh menyetubuhi isterinya sebelum melakukan thawaf antara Shafa dan Marwa? Lalu kami tanyakan kepada Jabir bin Abdullah, ia pun menjawab, ‘Tidak boleh, hingga ia melakukan thawaf antara Shafa dan Marwa.’ Kami juga menanyakan kepada Ibnu Umar, lalu ia menjawab, ‘Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, beliau melakukan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh putaran, lalu shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, dan beliau melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa.’ Kemudian ia membaca firman Allah: ‘ (Telah ada dalam diri Rasulullah itu contoh yang baik bagi kamu sekalian) ‘ (Qs. Al Ahzaab: 21).

 

Musnad Ahmad 4413: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Tatkala orang-orang melakukan shalat Shubuh di masjid Quba`, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang dan berkata, ‘Sungguh, tadi malam telah turun Al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau diperintahkan untuk menghadap ke Ka’bah, maka menghadaplah kalian kepadanya.’ Lalu mereka pun menghadap ke Ka’bah.”

 

Musnad Ahmad 4414: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memakan daging hewan kurban kalian melebihi tiga hari.” Maka jika telah terbenam matahari pada hari ketiga, Ibnu Umar tidak makan daging hewan kurbannya.

 

Musnad Ahmad 4415: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap yang memabukkan itu adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 4416: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tidak mengetahuinya selain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap yang memabukkan itu khamer, dan setiap yang memabukkan itu adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 4417: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat sekali di masjidku ini lebih utama dari pada shalat seribu kali di masjid lain kecuali shalat di Masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 4418: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang muzabanah. Muzabanah adalah menjual buah (kurma yang masih berada di pohon) dengan kurma dengan takaran, anggur dengan kismis (anggur kering) dengan takaran, dan biji gandum dengan tanaman dengan takaran.”

 

Musnad Ahmad 4419: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Para pengkhianat akan dikibarkan bendera baginya pada hari kiamat, dan dikatakan, ‘Inilah pengkhianatan fulan bin fulan’.”

 

Musnad Ahmad 4420: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengacungkan senjata (menyerang) kepada kami, maka bukan dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 4421: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il telah menceritakan kepadaku Salim Abu Abdullah dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengiringi jenazah hingga menshalatinya, maka baginya dua qirath.” Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang dua qirath itu, beliau pun menjawab: “Seperti gunung Uhud.”

 

Musnad Ahmad 4422: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Malik telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Dua orang laki-laki penduduk Masyriq datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu keduanya berbicara hingga membuat orang-orang kagum dengan penjelasannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penjelasan itu mengandung sihir.” Atau, “Sesungguhnya sebagian penjelasan itu merupakan sihir.”

 

Musnad Ahmad 4423: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Di Mina aku shalat dua rakaat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman selama pemerintahannya kemudian ia menyempurnakannya.”

 

Musnad Ahmad 4424: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jadikanlah dari shalat kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikannya sebagai kuburan.”

 

Musnad Ahmad 4425: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah memberitakan kepada kami Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Potonglah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian.”

 

Musnad Ahmad 4426: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba wanita Allah mendatangi masjid Allah.”

 

Musnad Ahmad 4427: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ telah mengabarkan kepadaku Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bermalam di Dzu Thuwa hingga pagi hari, kemudian beliau masuk Makkah, dan Ibnu Umar melakukan sebagaimana yang beliau lakukan.”

 

Musnad Ahmad 4428: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang yang memendekkan rambutnya?” Beliau masih mengucap: “Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya.” Dan pada kali keempat, beliau mengatakan: “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya.”

 

Musnad Ahmad 4429: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah salah seorang dari kalian kecuali akan dinampakkan kepadanya tempat kembalinya siang malam. Jika ia termasuk penghuni surga, maka ia ditunjukkan sebagai penghuni surga. Dan jika ia termasuk penghuni neraka, maka ia ditunjukkan sebagai penghuni neraka. Dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat kembalimu, hingga kamu diutus kepadanya’.”

 

Musnad Ahmad 4430: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang menyuruh seseorang dari tempat duduknya lalu menempatinya, tetapi lapangkanlah dan luaskanlah.”

 

Musnad Ahmad 4431: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum Zhuhur dua kali rakaat dan setelahnya dua kali rakaat, setelah Maghrib dua rakaat, setelah Isya` dua rakaat, dan setelah Jum’at rakaat. Dan untuk shalat Jum’at dan Maghrib beliau melakukannya dirumahnya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Saudara perempuanku, Hafshah, mengabarkan kepadaku bahwa beliau shalat dua rakaat ringan jika terbit Fajar. Dan itu adalah waktu yang aku tidak pernah masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4432: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah menawarkan diri untuk ikut serta dalam perang Uhud sedang saat berumur empat belas tahun, namun beliau tidak membolehkannya. Kemudian dia menawarkan diri lagi untuk ikut dalam perang khandaq saat berumur lima belas tahun, kemudian beliau pun memberinya izin.”

 

Musnad Ahmad 4433: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Umar pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang bolehkah seseorang tidur dalam keadaan junub? Beliau menjawab: “Boleh, jika ia telah berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 4434: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempekerjakan penduduk Khaibar dengan upah setengah dari hasil panen buah-buahan atau tanaman.”

 

Musnad Ahmad 4435: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya yang ketiga.”

 

Musnad Ahmad 4436: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaan pembawa (penghafal) Al-Qur’an seperti orang yang memiliki unta yang terikat. Jika pemiliknya mengikatnya maka ia dapat mempertahankannya, namun jika ia membiarkannya niscaya unta itu akan pergi.”

 

Musnad Ahmad 4437: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ada dua orang Yahudi berzina, lalu keduanya dibawa ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau memerintahkan untuk merajam keduanya.” Ia melanjutkan, “Aku melihat si laki-laki melindungi wanitanya dengan badannya (agar si wanita tidak terkena lemparan batu).”

 

Musnad Ahmad 4438: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu Umar saat ia sedang di atas tunggangan, dan saat itu Umar sedang bersumpah atas nama bapaknya. Maka beliau bersabda: “Janganlah kalian bersumpah atas nama bapak-bapak kalian, hendaklah seseorang bersumpah atas nama Allah atau diam.”

 

Musnad Ahmad 4439: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ” (Hendaklah) mendengar dan taat terhadap seseorang dalam perkara yang ia sukai atau benci kecuali bila ia diperintah untuk bermaksiat. Jika ia diperintah untuk bermaksiat, maka tidak ada mendengar dan tidak pula ketaatan.”

 

Musnad Ahmad 4440: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membacakan surat As Sajdah kepada kami, lalu beliau sujud dan kami pun sujud bersamanya hingga ada di antara kami yang tidak mendapatkan tempat untuk meletakkan dahinya.”

 

Musnad Ahmad 4441: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat yang dilakukan secara berjama’ah lebih banyak pahalanya dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh.”

 

Musnad Ahmad 4442: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat lailatul qadar dalam mimpinya pada malam ke tujuh akhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Aku melihat kalian saling menyebutkan mimpi kalian pada malam ke tujuh akhir bulan Ramadan, maka carilah ia pada malam ke tujuh terakhir.”

 

Musnad Ahmad 4443: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Abu Sa’id dari Juraij atau Ibnu Juraij ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Empat perkara yang aku perhatikan engkau melakukannya yang tidak seorang pun melakukannya? ‘ Ia menjawab, “Apa itu?” Ibnu Juraij berkata, “Aku melihatmu mengenakan sandal sibtiyah, aku melihatmu hanya menyentuh dua rukun Yamani saja dan tidak menyentuh selainnya, aku melihatmu tidak melakukan talbiyah hingga engkau meletakkan kakimu di pelana, dan aku melihatmu mengecat janggutmu dengan warna kuning?” Ibnu Umar menjawab, “Adapun mengenakan sandal sibtiyah, ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenakannya dan berwudlu dengannya serta beliau menyukainya. Menyentuh dua rukun, ini karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyentuhnya dan tidak menyentuh lainnya. Sedangkan pewarnaan kuning pada janggut karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengecat kuning janggutnya. Dan adapun talbiyahku setelah tenang menunggang kendaraanku, karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika telah meletakkan kakinya di pelana dan tenang kendaraannya maka beliau melakukan talbiyah.”

 

Musnad Ahmad 4444: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dan Muhammad bin Ubaid Ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika seorang budak baik dalam beribadah kepada Rabbnya Tabaaraka wa Ta’ala dan melayani majikannya, maka baginya pahala dua kali.”

 

Musnad Ahmad 4445: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Malik telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar bahunya, dan melakukan seperti itu pula saat rukuk, jika mengangkat kepalanya dari rukuk. Dan jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya) ‘, beliau mengucapkan: ‘RABBANA WA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, milik-Mu segala pujian) ‘. Namun saat sujud beliau tidak melakukan seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4446: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Dzi`b telah menceritakan kepadaku Utsman bin Suraqah; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan shalat sunnah ketika bepergian sebelum maupun sesudah shalat.”

 

Musnad Ahmad 4447: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq dari Abdullah bin Malik bahwa  ketika di Jama’ (Muzdalifah), Ibnu Umar pernah shalat Maghrib dan Isya dengan satu kali iqamah. Abdullah bin Malik pun bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman, shalat apa ini?” lalu Ibnu Umar menjawab, “Aku pernah melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tempat ini dengan satu kali iqamah.”

 

Musnad Ahmad 4448: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai cincin emas dan mengarahkan batu cincinnya pada telapak tangan, ketika orang-orang ikut mengenakannya, maka beliau pun menaggalkannya dan mengenakan memakai cincin dari perak.”

Musnad Ahmad 4449: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mimpi (yang benar) adalah bagian dari tujuh puluh bagian dari kenabian.”

 

Musnad Ahmad 4450: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau pernah berdiri di pintu rumah Aisyah, kemudian beliau menunjuk dengan tangannya ke arah timur seraya bersabda: “Fitnah akan muncul dari sini, dari arah terbitnya tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 4451: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata; Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, anaknya datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah gamismu hingga aku bisa mengkafaninya dengan gamis itu, shalatlahkanlah, dan mintakanlah ampun untuknya.” Beliau lalu memberikan gamisnya dan bersabda: “Beritahukanlah kepadaku.” Tatkala beliau hendak pergi untuk menshalatinya, Umar berkata, “Bukankah Allah telah melarangmu menshalati orang-orang munafik?” Maka beliau menjawab: “Aku berada di antara dua pilihan; (Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka) ‘ (Qs. At Taubah: 80). Beliau pun menshalatinya, lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat: ‘ (Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka) ‘ (Qs. At Taubah: 84). Ibnu Umar berkata, “Setelah itu mereka (orang-orang munafik) tidak lagi dishalatkan.

 

Musnad Ahmad 4452: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menancapkan tombak lalu shalat menghadap ke arahnya.”

 

Musnad Ahmad 4453: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merubah nama ‘Aashiyah (yang bermaksiat), beliau bersabda: “Namamu Jamilah (yang cantik).”

 

Musnad Ahmad 4454: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Zaid Al ‘Ammi dari Abu Ash Shiddiq dari Ibnu Umar ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan kepada Ummahatul Mukminin memanjangkan kain bawah satu jengkal, namun mereka minta tambahan satu jengkal lagi, beliau pun menambahkan satu jengkal lagi kepada mereka. Maka mereka menjadikannya satu hasta, lalu mereka mengutus seseorang kepada kami lalu kami pun mengukur satu hasta bagi mereka.”

 

Musnad Ahmad 4455: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Rawwad telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat dahak di arah kiblat masjid, lalu beliau menggosoknya dan mengharumkan tempatnya.”

 

Musnad Ahmad 4456: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Kami tanyakan, ‘Bagaimana jika mereka berempat? ‘ Beliau menjawab: “Tidak masalah.”

 

Musnad Ahmad 4457: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Rawwad dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) kepada hajar aswad dan rukun Yamani setiap melakukan thawaf.”

 

Musnad Ahmad 4458: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Ibnu Dinar; Aku mendengar Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian memanggil saudaranya dengan panggilan ‘Hai, kafir’, sungguh, ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4459: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Labid dari Abu Salamah dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jangan sekali-kali orang-orang bandui mengalahkan kalian atas nama shalat kalian, sesungguhnya itu adalah Isya’, mereka menyebutnya dengan Al Atamah (malam) karena mereka memerah susu unta mereka di waktu malam.”

 

Musnad Ahmad 4460: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Husain telah menceritakan kepada kami Amru bin Syu’aib telah menceritakan kepadaku Sulaiman mantan budak Maimunah. Ia berkata, “Aku pernah datang menemui Ibnu Umar yang sedang duduk di lantai padahal orang-orang sedang shalat berjama’ah di masjid. Aku pun bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang itu?” Ia menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu melakukan (satu) shalat dua kali dalam sehari.”

 

Musnad Ahmad 4461: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Malik telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa meminum khamer di dunia dan tidak bertaubat darinya, maka di akhirat kelak akan diharamkan baginya dan tidak akan diberi minumannya.”

 

Musnad Ahmad 4462: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ ia berkata; Aku tidak mengetahuinya kecuali dari Abdullah bahwa Al Abbas pernah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bermalam di Makkah pada hari-hari (yang seharusnya) ia berada di Mina, karena keperluan memberi minum. Maka beliau membolehkannya.”

 

Musnad Ahmad 4463: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nikah syighar. Ia bertanya, “Aku lalu bertanya kepada Nafi’, ‘Apa nikah syighar itu? ‘ ia menjawab, “Seseorang menikahkan anaknya kepada seorang laki-laki lalu laki-laki itu menikahkah anaknya dengan dirinya (tanpa mahar/menukar), atau seseorang menikahkan saudara perempuannya dengan seorang laki-laki, lalu laki-laki itu menikahnya saudara wanitanya dengan dirinya.”

 

Musnad Ahmad 4464: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abu Salamah; Aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata, “Aku ditanya tentang orang-orang yang melakukan li’an pada masa pemerintahan Ibnu Az Zubair, apakah keduanya dipisahkan? Aku tidak tahu apa yang aku katakan, maka aku beranjak dari tempatku menuju ke rumah Ibnu Umar. Aku tanyakan lalu bertanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, tentang orang-orang yang melakukan li’an, Apakah keduanya dipisahkan? ‘ Ia pun menjawab, “Subhanallah, sesungguhnya yang pertama kali menanyakan perkara ini adalah fulan bin fulan, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang seseorang yang melihat isterinya melakukan perbuatan keji, jika ia mengadukannya, berarti ia berbicara perkara besar, jika ia diam, ia diam menanggung hal itu? ‘ Beliau diam dan tidak menjawab. Setelah beberapa waktu, orangitu kembali datang kepada beliau dan berkata, ‘Yang aku tanyakan kepadamu tentangnya telah menimpa diriku! ‘ Maka Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat kepada mereka dalam surat An Nuur: ‘ (Dan orang-orang yang menuduh isterinya) ‘, hingga sampai ayat: ‘ (Bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar).’ (Qs. An Nuur: 6-9). Beliau memulai kepada laki-laki itu dengan memberi nasehat dan mengingatkan serta mengabarkan kepadanya bahwa adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat. Laki-laki itu pun menjawab, ‘Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak mendustaimu! ‘ Kemudian beliau menemui isteri (laki-laki tersebut) dengan memberi nasehat dan mengingatkan serta mengabarkan kepadanya bahwa adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat. Wanita itu pun menjawab, ‘Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, sesungguhnya ia (suamiku) berdusta! ‘. Perawi melanjutkan, “Beliau pun menemui lagi laki-laki itu, kemudian laki-laki itu bersaksi kepada Allah dengan empat kali bahwa ia termasuk orang-orang yang benar, dan kelima kalinya bahwa laknat Allah akan menimpanya jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Kemudian beliau menemui isteri (laki-laki tersebut), isterinya pun bersaksi kepada Allah empat kali bahwa suaminya termasuk orang-orang yang berdusta, dan bersaksi kelima kalinya bahwa laknat Allah akan menimpanya jika suaminya termasuk orang-orang yang benar. Setelah itu beliau menceraikan keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4465: Telah menceritakan kepada kami Yahya yakni Ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah telah mengabarkan kepadaku Ayahku telah mengabarkan kepadaku Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila sinar matahari terbit, maka akhirkanlah shalat hingga benar-benar jelas, maka apabila sinar matahari tenggelam, maka akhirkanlah shalat hingga benar-benar tenggelam.”

 

Musnad Ahmad 4466: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah telah mengabarkan kepadaku Ayahku telah mengabarkan kepadaku Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melakukan shalat tepat pada terbitnya matahari dan tenggelamnya, karena ia terbit di antara dua tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 4467: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah seorang wanita bepergian lebih dari tiga hari kecuali ia bersama mahramnya.”

 

Musnad Ahmad 4468: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang firman-Nya: ‘ ((yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?) ‘ (Qs. Al Mutahffifiin: 6), beliau bersabda: “Ia berdiri di atas keringatnya hingga mencapai sebatas kedua telinganya.”

 

Musnad Ahmad 4469: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika orang Yahudi memberi salam, sesungguhnya ia mengucapkan, ‘ASSAMU ‘ALAIKUM (Semoga kecelakaan atas kalian) ‘, maka katakanlah, ‘ALAIKA (atasmu pula) ‘.” Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4470: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Simak bin Harb dari Mush’ab bin Sa’d, bahwa beberapa orang masuk ke tempat Ibnu Amar yang sedang sakit, mereka memuji-mujinya. Ibnu Umar lalu berkata, “Adapun aku, maka aku bukanlah seperti orang-orang yang menipumu, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak akan menerima sedekah dari hasil penipuan, dan tidak pula shalat tanpa bersuci terlebih dahulu.”

 

Musnad Ahmad 4471: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjadikan Usamah sebagai pemimpin kaum, lalu orang-orang ingin mencela kekuasaannya. Maka beliau bersabda: “Jika kalian mencela kekuasaannya berarti kalian juga mencela kekuasaan ayahnya. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar pantas menjabatnya dan ia adalah orang yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya anaknya ini adalah orang yang paling aku cintai setelahnya.”

 

Musnad Ahmad 4472: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Ibnu Dinar; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aslam, semoga Allah menyelamatkannya, Ghifar, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dan ‘Ushayyah, ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

 

Musnad Ahmad 4473: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Orang-orang Quraisy selalu bersumpah atas nama bapak-bapaknya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah hendaklah ia bersumpah atas nama Allah, janganlah kalian bersumpah atas nama bapak-bapak kalian.”

 

Musnad Ahmad 4474: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il dari Abu Hanzhalah; Aku bertanya kepada Ibnu Umar radliyallahu Ta’ala ‘anhuma tentang shalat ketika bepergian, ia menjawab, “Shalat dalam bepergian itu dua rakaat.” Kami katakan, “Tapi kami berada dalam keadaan aman?” Ia menjawab, “Itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4475: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar, Ayahku berkata; Dan Yahya bin Sa’id sekali waktu menyebutkan dari Umar bahwa ia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar sewaktu jahiliyah, yaitu beri’tikaf satu malam di masjid?” Beliau pun menjawab: “Penuhilah nadzarmu itu.”

 

Musnad Ahmad 4476: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila seorang budak melayani majikannya dan baik dalam beribadah kepada Rabbnya, maka baginya pahala dua kali.”

 

Musnad Ahmad 4477: Telah menceritakan kepada kami Yahya -yakni Ibnu Sa’id- dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang-orang yang membuat gambar ini akan diadzab, lalu dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan’.”

 

Musnad Ahmad 4478: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menghadang rombongan dagang di luar pasar (sehingga mendapatkan harga murah).”

 

Musnad Ahmad 4479: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila makan malam salah seorang dari kalian telah dihidangkan sedangkan shalat telah didirikan, maka janganlah ia mendirikannya hingga ia selesai (menyantapnya).”

 

Musnad Ahmad 4480: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir.”

 

Musnad Ahmad 4481: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Dzi`b dari pamannya Al Harits dari Hamzah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Aku pernah memiliki isteri yang Umar tidak menyukainya, lalu Umar berkata, ‘Ceraikanlah ia’, namun aku enggan melakukannya. Lalu Umar mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun bersabda: “Taatilah ayahmu.”

 

Musnad Ahmad 4482: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian diundang untuk menghadiri walimah, hendaklah ia menghadirinya.”

 

Musnad Ahmad 4483: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Umar pernah melihat pakaian yang dijahit atau terbuat dari sutra yang sedang dijual, lalu ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, “Seandainya engkau membeli dan mengenakannya pada hari Jum’at, atau untuk menerima utusan?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini adalah orang-orang yang tidak dapat mengenakannya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam diberi hadiah, di antaranya terdapat pakaian sutra, lalu beliau mengirimkan sebagian pakaian sutra itu kepada Umar. Maka Umar pun bertanya, “Aku telah mendengar apa yang engkau katakan namun justru engkau mengirimkannya kepadaku?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku mengirimkannya kepadamu agar engkau menjualnya atau memakaikannya (kepada isteri).”

 

Musnad Ahmad 4484: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abdul Malik telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Jubair bahwa Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas kendaraannya dari Makkah menuju Madinah, menghadap ke mana pun unta itu menghadap. Lalu turunlah ayat kepadanya: ‘ (Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah) ‘ (Qs. Al Baqarah: 115).

 

Musnad Ahmad 4485: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa makan sesuatu dari pohon ini maka janganlah ia mendatangi masjid.”

 

Musnad Ahmad 4486: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Dulu mereka sering memborong makanan yang akan dibawa ke pasar, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka menjualnya hingga diturunkan (di pasar).”

 

Musnad Ahmad 4487: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari perang, ekspedisi, haji atau umrah, beliau naik ke sebuah dataran tinggi seraya berseru: “ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR, AAYIBUUN TAA`IBUUNA SAAJIDUUNA ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUNA SHADAQALLAAHU WA’DAHU WA NASHARA ‘ABDAHU WA HAZAMAL AHZAABA WAHDAHU (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah segala kekuasaan dan puji, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami semua kembali, bertaubat, bersujud, beribadah dan memuji hanya kepada Rabb kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan sebuah pasukan Ahzab sendirian) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4488: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.”

 

Musnad Ahmad 4489: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Demam itu bagian dari hawa panas neraka jahannam, oleh karena itu dinginkanlah dengan air.”

 

Musnad Ahmad 4490: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau pada hari Khaibar melarang memakan daging keledai jinak.”

 

Musnad Ahmad 4491: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan puasa wishal (puasa sehari semalam tanpa buka) di bulan Ramadan, orang-orang pun melakukannya lalu mereka mengatakan, ‘Engkau melarang kami melakukan wishal namun engkau melakukannya? ‘ Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak seperti salah seorang dari kalian, aku diberi makan dan minum.”

 

Musnad Ahmad 4492: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian melakukan transaksi atas transaksi saudaranya, dan jangan melamar atas lamaran saudaranya kecuali mendapat izin darinya.”

 

Musnad Ahmad 4493: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya di depan kalian ada telaga yang luasnya antara Jarba` dan Adzruh.”

 

Musnad Ahmad 4494: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan, wanita yang membuat tato dan yang minta ditato.”

 

Musnad Ahmad 4495: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Makkah dari Tsaniyatul ‘Ula yang terdapat di Bathha` dan keluar dari Tsaniyatus Sufla.”

 

Musnad Ahmad 4496: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Malik yakni Ibnu Mighwal dari Muhammad bin Suqah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Sesungguhnya kami pernah menghitung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu kali duduk mengucapkan doa: “RABBIGHFIRLI WATUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWABUL GHAFUR (Ya Allah, ampunilah dosaku dan terimalah taubatku, karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Menerima taubat) ‘, sebanyak seratus kali.”

 

Musnad Ahmad 4497: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Fudlail -yakni Ibnu Ghazwan- dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam datang ke rumah Fatimah dan mendapati gorden di atas pintu rumahnya, lalu beliau tidak jadi masuk ke dalam. Dan jarang sekali beliau masuk ke rumahnya kecuali menemui Fatimah terlebih dahulu.” Ibnu Umar melanjutkan, “Saat Ali datang ia melihat Fatimah sedang murung, maka ia bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?” Fatimah menjawab, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam datang kepadaku namun beliau tidak masuk.” Maka Ali pun menemui beliau seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fatimah merasa sedih sekali karena engkau mendatanginya namun tidak masuk ke rumah.” Maka Nabi menjawab: “Aku tidak mempunyai kecintaan terhadap dunia, aku tidak mempunyai kecintaan terhadap ukir-ukiran.” Ibnu Umar melanjutkan lagi, “Lalu Ali pergi menemui Fatimah dan mengabarkan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam kepadanya. Fatimah pun mengatakan, “Tanyakan kepada beliau, ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku? ‘ Lalu beliau mengatakan: “Katakan padanya: ‘Hendaknya engkau mengirimnya ke bani Fulan.”

 

Musnad Ahmad 4498: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Fudlail -yakni Ibnu Ghazwan- telah menceritakan kepadaku Abu Duhqanah ia berkata; Aku pernah duduk di samping Abdullah bin Umar, lalu ia bercerita, “Ada seorang tamu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata Bilal; “Carikan kami makanan (untuk hidangan)!” Maka Bilalpun pergi dan menukar dua sha’ kurma (jelek) dengan satu sha’ kurma bagus, dan memang saat itu kurma orang-orang Madinah tidak bagus. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun terkejut dan bertanya: “Dari mana kurma ini?” Kemudian Bilal memberitahukan kepada beliau bahwa ia telah menukar satu sha’ kurma bagus dengan dua sha’ kurma jelek, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kembalikan kurma kami (yang jelek).”

 

Musnad Ahmad 4499: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa minum khamar di dunia, ia tidak akan meminumnya di akhirat kecuali ia bertaubat.”

 

Musnad Ahmad 4500: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian diundang menghadiri walimah pernikahan, maka hadirilah.”

 

Musnad Ahmad 4501: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Al Abbas bin Abdul Muththalib meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bermalam di Makkah pada malam Mina untuk memberi minum, lalu beliau memberi izin kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 4502: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperkerjakan penduduk Khaibar dengan upah setengah hasil tanaman dan kurma. Beliau memberikan kepada para isterinya setiap tahun seratus delapan puluh wasaq kurma dan dua puluh wasaq gandum. Ketika Umar bin Al Khaththab menjadi khalifah, ia membagi tanah Khaibar, ia memberi pilihan kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mempetak tanah atau menjamin mereka dengan beberapa wasaq setiap tahun. Maka mereka berselisih pendapat, sebagian mereka memilih mempetak tanah untuk mereka namun sebagian lainnya memilih jaminan beberapa wasaq, di antara mereka adalah Hafshah dan ‘Aisyah yang memilih jaminan beberapa wasaq.”

 

Musnad Ahmad 4503: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abdullah bin Abu Salamah dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pagi hari dari Mina menuju Arafah, sebagian kami ada yang bertalbiyah sebagian lain bertakbir.”

 

Musnad Ahmad 4504: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai cincin perak yang dikenakan di tangannya, kemudian setelah itu dipakai di tangan Abu Bakr, kemudian tangan Umar lalu tangan Utsman. Cincin tersebut mempunyai ukiran ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam’.”

 

Musnad Ahmad 4505: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di tempat itu, tapi lapangkan dan luaskanlah.”

 

Musnad Ahmad 4506: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membeli makanan maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia menerimanya.”

 

Musnad Ahmad 4507: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami Hajjaj dari Wabarah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh tikus, burung gagak dan serigala.” Nafi’ berkata, “Ibnu Umar ditanya, “Bagaimana dengan Ular dan Kalajengking?” Ia menjawab, “Hal itu juga pernah disampaikan.”

 

Musnad Ahmad 4508: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mencegat barang dagangan sehingga masuk ke pasar.”

 

Musnad Ahmad 4509: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita terbunuh pada sebagian peperangannya, maka beliau pun melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak.”

 

Musnad Ahmad 4510: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengenakan sarung tangan dan cadar, dan pakaian yang diberi wewangian wars dan za’faran.”

 

Musnad Ahmad 4511: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad -yakni Ibnu Ishaq- dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mengantuk di masjid pada hari Jum’at, hendaklah ia berpindah ke tempat duduk yang lain.”

 

Musnad Ahmad 4512: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Abu Bakr bin Salim dari Ayahnya dari Kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku, akan dibangunkan sebuah rumah baginya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 4513: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Hanzhalah dari Salim; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di dekat ka’bah aku melihat seorang lelaki berambut lurus sedang meletakkan tangannya di atas dua orang lelaki, rambutnya meneteskan air. Akupun bertanya: ‘Siapakah dia? ‘ orang-orang menjawab, ‘Isa bin Maryam atau Al Masih bin Maryam.’ Dan aku tidak mengetahui sesuatupun. Lalu aku melihat di belakangnya seorang lelaki berkulit merah, rambutnya keriting dan matanya yang sebelah kanan buta, ia mirip seperti Ibnu Quthn yang pernah aku lihat. Akupun bertanya: ‘Siapakah dia? ‘ orang-orang menjawab, ‘Al Masih Ad Dajjal’.”

 

Musnad Ahmad 4514: Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Al Hafari dari Sufyan dari Isma’il dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk membunuh anjing-anjing hingga kami pun membunuh anjing milik seorang wanita yang datang dari pedalaman.”

 

Musnad Ahmad 4515: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Fudlail -yakni Ibnu Ghazwan- dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lelaki manasaja yang mengkafirkan orang lain, maka ia akan kafir jika memang benar adanya. Namun jika tidak benar, maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang mengatakannya.”

 

Musnad Ahmad 4516: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah mengabarkan kepada kami Abdullah -yakni Ibnu Mubarak- telah memberitakan kepada kami Malik bin Anas dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita terbunuh pada beberapa peperangannya, maka beliau pun mengingkarinya dan melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak.”

 

Musnad Ahmad 4517: Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abdullah bin Abdullah dari Sa’d mantan budak Thalhah, dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sekiranya aku tidak mendengarnya satu atau dua kali -ia menghitungnya hingga tujuh kali-, tapi aku telah mendengarnya lebih banyak dari itu. Beliau bercerita: “Ada seseorang bernama Al Kifl dari kalangan bani Isra`il, ia tidak pernah menjauhi dosa yang dilakukannya. Suatu ketika datang seorang wanita kepadanya dan ia pun memberi wanita itu enam puluh dinar sebagai bayaran untuk bersetubuh dengannya. Ketika Kifl duduk di atasnya layaknya seorang suami yang menunggangi isterinya, mendadak wanita itu gemetar dan menangis. Lalu iapun bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Apa aku telah memaksamu? ‘ Wanita itu menjawab, ‘Tidak, akan tetapi perbuatan ini belum pernah aku lakukan sama sekali, dan aku melakukannya karena suatu kebutuhan.’ Lalu Kifl berkata, ‘Hingga kamu melakukan hal ini padahal kamu belum pernah melakukannya? ‘” Ibnu Umar melanjutkan: “Kemudian Kifl turun dari atas tubuh wanita itu dan berkata, ‘Pergilah kamu, dan dinar-dinar itu untuk kamu’.” Beliau melanjutkan lagi ceritanya: “Demi Allah, setelah itu Kifl berkeinginan untuk tidak bermaksiat kepada Allah selama-lamanya, lalu pada malam itu ia meninggal dunia, dan pada pagi harinya di atas pintu rumahnya terdapat tulisan: “Allah Azza Wa Jalla telah mengampuni dosa-dosa Kifl’.”

 

Musnad Ahmad 4518: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami ‘Ashim yakni Ibnu Muhammad dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya manusia mengetahui bahayanya kesendirian niscaya tidak ada seorang pun berjalan sendirian di malam hari selamanya.”

 

Musnad Ahmad 4519: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid dari Yusuf bin Shuhaib dari Zaid Al ‘Amy dari Ibnu Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin dikabulkan do’a dan dihilangkan kesusahannya, hendaklah ia meringankan beban orang yang kesusahan.”

 

Musnad Ahmad 4520: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Yazid dari Abdurrahman bin Abu Lailai dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah mencium tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4521: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Ammar dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah Aisyah seraya bersabda: “Sumber kekufuran adalah dari sini, dari arah munculnya tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 4522: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang wishal dalam berpuasa, dikatakan kepada beliau, “Tapi engkau melakukannya!” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak seperti salah seorang dari kalian, aku diberi makan dan minum oleh Rabbku.”

 

Musnad Ahmad 4523: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Al Mundzir dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika air mencapai dua atau tiga qullah, ia tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu pun.” Waki’ berkata, “Yakni bejana dari tembikar.”

 

Musnad Ahmad 4524: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitnah akan datang dari sini yakni dari arah timur.”

 

Musnad Ahmad 4525: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abu Hanab dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Sallam berkhutbah di samping tiang ini, yang saat itu tiang tersebuat terbuat dari sebatang pohon kurma.”

 

Musnad Ahmad 4526: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Qudamah bin Musa dari Syaikh dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah terbit Fajar kecuali dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4527: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dan Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu shalat dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya.”

 

Musnad Ahmad 4528: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Taubah Al Ambari dari Muwarriq Al ‘Ijli ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah engkau melakukan shalat Dluha?” Ia menjawab, “Tidak.” Aku bertanya lagi, “Apakah Umar melakukannya?” Ia menjawab, “Tidak.” Aku bertanya lagi, “Apakah Abu Bakar melakukannya?” Ia menjawab, “Tidak.” Aku tanyakan lagi, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya?” Ia menjawab, “Aku tidak akan menduga-duga.”

 

Musnad Ahmad 4529: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan Al Qur`an seperti perumpamaan seekor unta yang terikat, jika pemiliknya mengikatnya maka ia dapat mempertahankannya, namun jika membiarkannya, niscaya unta itu akan pergi.”

 

Musnad Ahmad 4530: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Sa’id bin As Sa`ib dari Dawud bin Abu ‘Ashim Ats Tsaqafi ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar mengenai shalat di Mina, lalu ia menjawab, “Apakah engkau mendengar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Aku menjawab, “Ya, aku beriman dan mendapat hidayah dengannya.” Ia lalu berkata, “Sesungguhnya beliau melakukan shalat di Mina sebanyak dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4531: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isa bin Hafsh bin ‘Ashim dari Ayahnya radliyallahu ta’ala anhuma, ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Ibnu Umar lalu melakukan shalat fardlu, kemudian ia melihat sebagian anak-anaknya melakukan shalat sunnah. Ibnu Umar pun bertanya, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar dan Utsman ketika bepergian, namun mereka tidak melakukan shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat.” Ibnu Umar kemudian mengatakan, “Sekiranya aku mengerjakan shalat sunnah, maka aku lebih suka untuk mengerjakan shalat wajib dengan sempurna.”

 

Musnad Ahmad 4532: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar dan Abdurrahman bin Al Qasim dari Ayahnya dari Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibuatkan satu liang lahat.”

 

Musnad Ahmad 4533: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Mujahid dari Ibnu Umar, bahwa dalam shalat dua rakaat sebelum Fajar dan dua rakaat sesudah Maghrib Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca: QUL YA AYYUHAL KAFIRUN (surat Al Kafirun) dan QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al ikhlas). Lebih dari dua puluh tiga, atau tiga belas kali.”

 

Musnad Ahmad 4534: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang tubuhku seraya bersabda: “Wahai Abdullah, jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang dalam perjalanan, dan persiapkanlah dirimu untuk menghadapi kematian.”

 

Musnad Ahmad 4535: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Imran bin Hudair dari Yazid bin ‘Utharid Abu Al Bazari As Sadusi dari Ibnu Umar ia berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami pernah minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.”

 

Musnad Ahmad 4536: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kunci-kunci ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; ‘ (Sesungguhnya hanya Allah lah yang mengetahui datangnya hari kiamat, dan Dia lah Dzat yang menurunkan hujan, yang mengetahui janin yang ada dalam kandungan, dan jiwa manusia tidak mengetahui apa yang akan dapat diperbuatnya esok hari, dan ia juga tidak tahu di bumi mana dia akan mati, Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui) ‘ (Qs. Luqman: 31).

 

Musnad Ahmad 4537: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Uyainah bin Abdurrahman dari Ali bin Zaid bin Jud’an telah menceritakan kepadaku Salim dari Ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang mengenakan sutera adalah orang yang tidak akan merasakannya di akhirat.”

 

Musnad Ahmad 4538: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Ibnu Rawahah ke Khaibar membuat taksiran (pada buah mereka), kemudian memberi pilihan kepada mereka apakan akan mengambilnya atau menolak. Maka mereka berkata; Ini adalah kebenaran, dengannya langit dan bumi berdiri.”

 

Musnad Ahmad 4539: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi’ dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengebiri kuda dan binatang ternak.” Ibnu Umar melanjutkan, “Sebab itu adalah tempat perkembangbiakan makhluk.”

 

Musnad Ahmad 4540: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Muhammad dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya manusia mengetahui bahayanya kesendirian, niscaya tidak ada seorang pengendara berjalan sendirian di malam hari selamanya.”

 

Musnad Ahmad 4541: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Umarah dari Abu Tamimah Al Hujaimi dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar dan Utsman, tidak ada shalat setelah Shubuh hingga terbit yakni matahari.”

 

Musnad Ahmad 4542: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melakukan shalat tepat pada terbitnya matahari dan tenggelamnya, karena ia terbit di antara dua tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 4543: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan kepada para wanita memanjangkan kain bawah satu jengkal. Mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu telapak kaki kami akan tersingkap!” Beliau menjawab: “Turunkanlah sejengkal, tidak boleh lebih dari itu.”

 

Musnad Ahmad 4544: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al ‘Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Sungguh, sebaik-baik nama kalian adalah Abdullah dan Abdurrahman.”

 

Musnad Ahmad 4545: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abu Janab dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada penyakit menular, thiyarah (firasat buruk) dan burung hantu.” Lalu seorang laki-laki menghadap beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan unta yang terkena penyakit kudis hingga seluruh unta terkena kudis?” Beliau menjawab: “Itulah takdir, lalu siapakah yang menulari unta pertama?”

 

Musnad Ahmad 4546: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Razin bin Sulaiman Al Ahmari dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali, lalu wanita itu dinikahi oleh seorang laki-laki, lalu ditutuplah pintu dan dilepaslah penutup kemudian ia menceraikannya sebelum menyetubuhinya. Apakah wanita itu halal bagi seorang laki-laki pertama?” Beliau menjawab: “Tidak, hingga ia merasakan bercinta (bersetubuh) dengannya.” Dan Telah menceritakan hadits itu kepada kami Abu Ahmad -yakni Az Zubairi- ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Razin.”

 

Musnad Ahmad 4547: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id bin Abu Hindi dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Makkah, beliau berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kematian kami di dalamnya hingga Engkau mengeluarkan kami darinya.”

 

Musnad Ahmad 4548: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hanzhalah dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dibuat lukisan, yakni pada wajah.”

 

Musnad Ahmad 4549: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi’ dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian tergesa-gesa ketika makan karena hendak shalat.” Nafi’ melanjutkan, ” Ibnu Umar pernah mendengar iqamah ketika itu ia sedang makan malam, namun ia tidak tergesa-gesa.”

 

Musnad Ahmad 4550: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Umar dari Qaza’ah ia berkata, ” Ibnu Umar berkata kepadaku, “Aku titipkan engkau sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menitipkanku: “ASTAUDI’ULLAHA DIINAKA WA AMAANATAKA WA KHAWAATIIMA AMALIKA (Aku titipkan agama, amananah dan amal terakhirmu kepada Allah) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4551: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar Al Jumahi dari Sa’id bin Hassan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah singgah di Arafah, tepatnya di bukit Namirah. Ketika Al Hajjaj membunuh Ibnu Zubair, ia mengirim utusan kepada Ibnu Umar menanyakan waktu kepergian Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pada hari ini. Ibnu Umar lalu menjawab, “Jika matahari telah tergelincir.” Maka Al Hajjaj mengirim seseorang untuk melihat waktu tersebut, ketika Ibnu Umar hendak pergi, ia bertanya, “Apakah matahari telah condong?” Mereka menjawab, “Belum.” Ibnu Umar bertanya lagi, “Apakah matahari telah condong?” Mereka menjawab, “Belum.” Tatkala mereka mengatakan, “Matahari telah condong.” Ia pun berangkat.”

 

Musnad Ahmad 4552: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Farqad As Sabakhi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminyaki rambutnya dengan minyak tanpa campuran wewangian pada saat sedang ihram.”

 

Musnad Ahmad 4553: Telah mencerita0kan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Firas dari Abu Shalih dari Zadzan dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah memanggil budaknya lalu memerdekakannya seraya berkata, “Aku tidak memiliki keinginan dari pahalanya seperti ini untuk sesuatu yang diangkat dari bumi. Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menampar budaknya maka kafarahnya adalah memerdekakannya.”

 

Musnad Ahmad 4554: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ubadah bin Muslim Al Fazari telah menceritakan kepadaku Jubair bin Abu Salamah bin Jubair bin Muth’im; Aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika pagi dan sore hari: ALLAHUMMA INNII AS`ALUKA AL AFWA WAL ‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAAYA WA AHLI WA MAALII ALLAHUMMASTUR ‘AURATII WA AAMIN RAU’AATII ALLAHUMMAH FAZHNII MIN BAINI YADAYYA WA MINKHALFII WA ‘AN YAMIINII WA AN SYIMAALII WA MIN FAIQII WA A’UUDZU BI’AZHAMATIKA AN UGHTAALA MIN TAHTI, YAKNI AL KHASF (Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan kepada-Mu dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan hilangkanlah rasa takutku. Ya Allah, jagalah diriku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, aku berlindung dengan keagungan-Mu dari kedengkian dari arah bawahku yakni kehinaan) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4555: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari An Najrani dari Ibnu Umar, bahwa pernah dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam orang yang sedang mabuk, lalu beliau menjatuhkan had (hukuman) atasnya. Beliau bertanya: “Apa yang telah kamu minum?” ia menjawab, “Anggur dan kurma.” Beliau bersabda: “Cukuplah disebut sebagai peminum jika minum salah satu dari keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4556: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Abu Thu’mah mantan budak mereka, dan dari Abdurrahman bin Abdullah Al Ghafiqi bahwa keduanya mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam bersabda: “Khamer itu dilaknat dari sepuluh arah; khamernya, peminumnya, orang yang menuangkan, penjual, pembeli, pemeras, orang yang minta diperaskan, pembawanya dan orang yang dihantarkan kepadanya serta orang yang memakan hasil penjualannya.”

 

Musnad Ahmad 4557: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Musa, Waki’ berkata; menurut kami dari Ibnu Uqbah dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Sumpah yang pernah diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Sallam adalah: “LA, WA MUQALLIBAL QULUB (Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4558: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin Abdurrahman mantan budak keluarga Thalhah, dari Salim -yakni Abdullah- dari Ibnu Umar bahwa ia pernah menceraikan isterinya yang sedang haid, lalu Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menjawab: “Perintahkan ia untuk merujuknya, kemudian hendaklah ia ceraikan dalam keadaan suci atau hamil.”

 

Musnad Ahmad 4559: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Syarik dari Abdullah bin ‘Ushm, dan Isra`il bin ‘Ishmah berkata; Waki’ berkata; dia adalah Ibnu ‘Ushm, ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam bersabda: “Sesungguhnya di Tsaqif itu ada orang yang perusak dan pendusta.”

 

Musnad Ahmad 4560: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Syu’bah dari Ya’la bin ‘Atha dari Ali Al Azdi dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4561: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim bin Ubaidullah dari Salim dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia yang paling pedih siksaanya pada hari kiamat adalah para penggambar, dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan’.”

 

Musnad Ahmad 4562: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syarik dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas untanya.”

 

Musnad Ahmad 4563: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Tatkalah kami bersama manusia di masjid Quba` selepas shalat Shubuh, tiba-tiba ada orang datang kepada mereka seraya mengatakan, “Sungguh, telah diturunkan Al Qur`an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan perintah untuk menghadap ke arah Ka’bah, beliau bersabda: “Berpalinglah (ke Ka’bah).”

 

Musnad Ahmad 4564: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ayahnya dari Abdullah bin Abu Al Mujalid dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam bersabda: “Barangsiapa tidak mengakui anaknya untuk membuka kejelekannya, maka Allah pada hari kiamat akan mengungkap kejelekannya di depan para saksi, dan qishash dibalas dengan qishash.”

 

Musnad Ahmad 4565: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abu Dzi`b dari pamannya Al Harits dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam menyuruh kami untuk meringankan bacaan dalam shalat meskipun beliau sendiri mengimami kami dengan membaca surat Ash Shaffat.”

 

Musnad Ahmad 4566: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hisyam bin Sa’d dari Umar bin Asid dari Ibnu Umar ia berkata, “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami pernah mengatakan bahwa sebaik-baik orang adalah Rasulullah, kemudian Abu Bakr, kemudian Umar, dan anak Abu Thalib (Ali) telah diberi tiga perkara, yang sekiranya salah satunya diberikan kepadaku, niscaya itu lebih aku sukai dari pada unta merah; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan dia dengan puterinya dan telah melahirkan anak untuknya, semua pintu telah ditutup kecuali pintunya di masjid, dan beliau memberinya bendera pada perang Khaibar.”

 

Musnad Ahmad 4567: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Yazid bin Bisyr dari Ibnu Umar ia berkata, “Islam dibangun di atas lima dasar; bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa Ramadan.” Yazid melanjutkan, “Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, “Dan jihad fi sabilillah?” Ibnu Umar menjawab, “Jihad adalah amalan yang baik, beginilah yang diberitahukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam kepada kami.”

 

Musnad Ahmad 4568: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abu Al Yaqzhan dari Zadzan dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang akan mendapatkan wanginya misik pada hari kiamat; seorang laki-laki yang memimpin suatu kaum dan rakyatnya merasa senang, seorang laki-laki yang mengumandangkan adzan lima waktu shalat setiap hari dan malam serta seorang budak yang menunaikan hak Allah Ta’ala dan majikannya.”

 

Musnad Ahmad 4569: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Abu Yahya Ath Thawil dari Abu Yahya Al Qattat dari Mujahid dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tubuh penghuni neraka akan bertambah besar di neraka hingga jarak antara daun telinga dengan pundaknya seperti perjalanan tujuh ratus tahun, dan tebal kulitnya selebar tujuh puluh hasta, serta gigi gerahamnya sebesar gunung Uhud.”

 

Musnad Ahmad 4570: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Yazid bin Ziyad dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam melarang Ruqba. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa menghadiahkan berarti ia adalah miliknya.”

 

Musnad Ahmad 4571: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar dari rumah Aisayah seraya bersabda: “Sungguh, kekufuran akan muncul dari sini, dari arah munculnya tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 4572: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ja’far bin Az Zubair dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar dari ayahnya Abdullah bin Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang air di tengah padang pasir dan sering diminum oleh binatang ternak dan buas. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jika air itu sebanyak dua qullah, maka ia tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”

 

Musnad Ahmad 4573: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali ia telah mensifatinya (dajjal) kepada umatnya, dan aku mensifatinya dengan sifat yang belum pernah disampaikan oleh seorang pun sebelumku. Sesungguhnya Dajjal adalah buta sebelah matanya, sedangkan Allah Tabaraka wa Ta’ala tidaklah buta mata kanan-Nya, matanya seperti anggur yang menyembul.”

 

Musnad Ahmad 4574: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Hajjaj dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga matahari terbenam, maka ia seperti kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 4575: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Bahir Ash Shan’ani Al Qaash bahwa Abdurrahman bin Yazid Ash Shan’ani ia telah mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin melihat hari kiamat seperti melihat dengan pandangan mata, hendaklah ia membaca; IDZASY SYAMSU KUWWIRAT (surat At Takwir), IDZAS SAMA`UN FATHARAT (surat Al Infithaar) dan IDZAS SAMA`UN SYAQQAT (surat Insyiqaaq).” Dan aku kira beliau juag membaca surat Huud.”

 

Musnad Ahmad 4576: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Sufyan -yakni Ibnu Husain- dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Ketika Hafshah menjadi janda dari Khunais bin Hudzafah, Umar radliyallahu Ta’ala ‘anhu bertemu Utsman lalu memperlihatkannya. Utsman pun berkata, “Aku tidak butuh dengan seorang wanita, namun aku akan lihat.” Lalu Umar menemui Abu Bakr dan memperlihatkan kepadanya namun ia terdiam, Umar merasakan sesuatu atas Abu Bakr karena ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meminangnya. Umar lalu menemui Abu Bakr seraya bertanya, ‘Aku telah memperlihatkannya kepada Utsman, ia pun menolakku, aku perlihatkan kepadamu, engkau pun mendiamkanku, seakan engkau sangat marah kepadaku dari pada Utsman yang menolakku. Lalu Abu Bakr menjawab, “Rasulullah telah menceritakannya kepadaku tentang masalah Hafshah, dan itu adalah rahasia, dan aku tidak ingin menyebarkan rahasia.”

 

Musnad Ahmad 4577: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencarinya (malam lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh.” Beliau juga menyebutkan: “Carilah pada malam kedua puluh tujuh, yakni lailatul qadar.”

 

Musnad Ahmad 4578: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Jabalah bin Suhaim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hantamah.” Ditanyakan, “Apa hantamah itu?” Ia menjawab, “Al Jarrah, yakni perasan nabidz (rendaman buah kurma).”

 

Musnad Ahmad 4579: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Husain bin Dzakwan -yakni Al Mu’allim- dari Amru bin Syu’aib dari Thawus bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas memarfu’kan hadits ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidak halal bagi seseorang yang memberikan sesuatu lalu ia memintanya kembali kecuali seorang ayah terhadap yang telah diberikan kepada anaknya. Dan perumpamaan orang yang memberikan sesuatu lalu memintanya kembali seperti seekor anjing yang memakan makanan hingga jika telah kenyang, ia memuntahkannya kemudian menelan muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 4580: Telah menceritakan kepada kami Yazid dari Nafi’ bin Amru Al Hujami dari Abu Bakr bin Musa ia berkata, “Aku pernah bersama Salim bin Abdullah bin Umar, lalu rombongan ummul banin yang membawa lonceng-lonceng lewat. Salim lalu menceritakan riwayat dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersadba: “Para malaikat tidak akan menyertai perjalanan pengendara unta yang berjalan sambil membawa lonceng. Berapa banyak dari mereka yang membawa lonceng.”

 

Musnad Ahmad 4581: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammam bin Yahya dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq ia adalah An Naji dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika kalian meletakkan jasad orang yang meninggal dari kalian dalam kubur maka bacalah; BISMILLAH WA ‘ALA MILLATI RASULILLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI SALLAM (Dengan menyebut nama Allah dan atas agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”

 

Musnad Ahmad 4582: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammam bin Yahya dari Qatadah dari Abu Al Hakam Al Bajali dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga tanaman, penjaga atau berburu, niscaya akan berkurang pahala amalnya setiap hari dua qirath.” Aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana jika ia ada di rumahku namun aku membencinya? Ibnu Umar menjawab, “Ia tergantung penghuni rumah yang memilikinya.”

 

Musnad Ahmad 4583: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Musa bin Uqbah telah menceritakan kepadaku Salim dari Ibnu Umar tentang mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Abu Bakr dan Umar. Beliau bersabda: “Aku melihat manusia telah berkumpul lalu Abu Bakar berdiri dan mengangkat satu atau dua ember air namun ia menariknya pelan dan Allah mengampuninya. Kemudian Umar mengangkat ember itu lalu berubah menjadi satu ember besar. Aku tidak melihat seorang manusia pun yang tekun beramal hingga orang lain merasa puas terhadapnya.”

 

Musnad Ahmad 4584: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bulan itu begini, begini dan begini.” Dan beliau menggenggam ibu jarinya pada hitungan ketiga.”

 

Musnad Ahmad 4585: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Al Akhnas dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada ubun-ubun kuda itu ada kebaikan hingga hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4586: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam bersabda: “Perwalian itu milik orang yang memerdekakan.”

 

Musnad Ahmad 4587: Telah menceritakan kepada kami Rauh ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Al Muththalib bin Abdullah bin Hanthab ia berkata, ” Ibnu Umar berwudlu tiga kali tiga kali, dan ia memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan Ibnu Abbas berwudlu sekali-sekali, dan ia memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4588: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di Bathha`, tepatnya di Dzul Hulaifah, lalu beliau melakukan shalat.”

 

Musnad Ahmad 4589: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Musa bin Uqbah; Aku mendengar Salim bin Abdullah ia berkata, “Pernah Ibnu Umar hampir-hampir mengutuk Baida`, ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan tahallul dari Masjid.”

 

Musnad Ahmad 4590: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar pernah berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKU LA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4591: Telah menceritakan kepada kami Rauh dan ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Humaid, ‘Affan menyebutkan dalam haditsnya; Telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Bakar bin Abdullah dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya datang ke Makkah sambil bertalbiyah.” Dan ‘Affan menyebutkan, “Membaca talbiah untuk haji, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin, hendaklah ia menjadikannya sebagai umrah kecuali orang yang membawa hewan kurban.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah salah seorang dari kami pergi ke Mina sementara kemaluannya meneteskan air mani (junub)?” Beliau menjawab, “Boleh, demikian pula melempar jumrah.” Ali bin Abu Thalib datang dari Yaman lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Untuk apa engkau talbiah?” Ali menjawab, “Aku mengucapkan talbiah sebagaimana yang diniatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Rauh menyebutkan, “Kalau begitu engkau harus menyembelih kurban bersama kami.” Humaid berkata, “Hadits ini kekudian aku ceritakan kepada Thawus, lalu ia menjawab, “Seperti inilah orang-orang melakukannya.” Affan berkata, “Jadikanlah sebagai umrah.”

 

Musnad Ahmad 4592: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Musa bin Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminum khamer di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat kecuali bertaubat.” Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4593: Telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin Amir telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr dari Al A’masy dari ‘Atha bin Abu Rabah dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika manusia telah bakhil dan kikir terhadap dinar dan dirham, mereka berjual beli dengan system ‘inah (riba), mengikuti ekor-ekor sapi serta meninggalkan jihad fi sabilillah, niscaya Allah akan menurunkan bencana dan Dia tidak akan mengangkat dari mereka hingga mereka kembali kepada agama mereka.”

 

Musnad Ahmad 4594: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah mengabarkan kepada kami Isra`il dari Fudlail dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam mengakhirkan shalat Isya hingga sebagian sahabat ada yang sedang shalat, bangun dari tidur dan ada yang mengerjakan shalat tahajud. Rasulullah kemudian bersabda: “Sekiranya tidak kawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk melaksanakan shalat pada waktu ini, shalat ini, atau yang sepertinya.”

 

Musnad Ahmad 4595: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar radliyallahu ta’ala ‘anhuma, bahwa Al Abbas pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menginap (di malam Mina) di Makkah agar ia bisa memberi minum orang-orang, lalu beliau memberi izin kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 4596: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad dari Humaid dari Bakr bin Abdullah bahwa Ibnu Umar pernah tidur di Bathha` (nama tempat) dan ia menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4597: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad dari Farqad As Sabakhi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melakukan ihram, beliau meminyaki rambutnya dengan minyak tanpa dicampuri wewangian.”

 

Musnad Ahmad 4598: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Musa bin ‘Alqamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap khamer adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 4599: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Umar ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap yang memabukkan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 4600: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Muhammad; Aku mendengar Ayahku mengatakan; Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkara (kepemimpinan) ini akan terus berada pada orang quraisy hingga manusia tersisa dua orang saja.” Abdullah bin Umar berkata, “Beliau menggerakkan jarinya dengan memiringkan keduanya seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 4601: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepada kami Imran bin Hudair dari Yazid bin ‘Utharid Abu Al Bazari ia berkata; Ibnu Umar berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami pernah minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.”

 

Musnad Ahmad 4602: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Muslim mantan budak Abdul Qais, Mu’adz berkata; Syu’bah berkata; Al Qurri berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah engkau berpendapat bahwa shalat witir itu sunnah?” Ibnu Umar menjawab, “Apa yang sunnah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam telah melakukan shalat witir begitu juga kaum muslimin.” Laki-laki itu berkata lagi, “Bukan begitu, apakah ia hukumnya sunnah?” Ibnu Umar menjawab, “Hah! Apa kamu tidak berakal? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam dan kaum muslimin selalu melakukan shalat witir.”

 

Musnad Ahmad 4603: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Pakaian apa yang harus dikenakan oleh orang yang ihram? ‘ Beliau menjawab: “Janganlah kalian mengenakan kemeja, surban, mantel yang bertutup kepala, celana dan khuff kecuali tidak ada sepasang sandal, jika tidak ada sandal maka boleh mengenakan khuff sebatas di bawah kedua mata kaki dan tidak pula mengenakan pakaian yang diolesi wewangian wars.” Ibnu ‘Aun berkata, “Sebagian hadits menyebutkan dengan lafadz ‘Dicelup’ dan ada juga dengan ‘diolesi wars (wewangian) dan za’faran’. Ibnu ‘Aun melanjutkan, ‘Dalam Kitab Nafi’ disebutkan dengan lafadz, ‘diolesi.’

 

Musnad Ahmad 4604: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Adi dari Muhammad bin Ishaq ia berkata; Dan aku menyebutkannya kepada Ibnu Syihab ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Salim Abdullah bin Umar pernah melakukan hal itu kemudian Shafiyyah binti Abu Ubaid menceritakan kepadanya bahwa Aisyah telah menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keringanan kepada para wanita untuk mengenakan sepatu (khuf).”

 

Musnad Ahmad 4605: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu ‘Adi dari Sulaiman -yakni At Taimi- dari Thawus ia mengatakan; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, ‘Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membuat nabidz (rendaman buah) dengan bejana dari tembikar?” Ia menjawab, “Benar.” Thawus berkata, “Demi Allah, aku mendengarnya dari dia.”

 

Musnad Ahmad 4606: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari ‘Atha dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram, ia lebih utama.”

 

Musnad Ahmad 4607: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Allah telah mengumpulkan yang pertama dan terakhir pada hari kiamat, akan diangkat bendera untuk setiap pengkhianat, lalu dikatakan, ‘Ini adalah pengkhianatan Fulan bin Fulan’.”

 

Musnad Ahmad 4608: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Janganlah salah seorang dari kalian (melakukan shalat) bertepatan dengan terbit matahari dan tenggelamnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4609: Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat dahak di arah qiblat masjid lalu menggaruknya, kemudian beliau menghadap kepada orang-orang seraya bersabda: “Jika salah seorang dari kalian melakukan shalat janganlah ia meludah di hadapannya, karena Allah Ta’ala sedang berhadapan dengan salah seorang dari kalian jika sedang ia melakukan shalat.”

 

Musnad Ahmad 4610: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memasukkan kakinya di pelana dan unta telah berdiri tegak lurus, beliau melakukan talbiah dari masjid Dzul Hulaifah.”

 

Musnad Ahmad 4611: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Thariq Syajarah, beliau masuk Makkah dari Tsaniyah Ulya dan keluar dari Tsaniyah Sufla.”

 

Musnad Ahmad 4612: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan thawaf pertama di Baitullah, beliau berlari tiga kali dan berjalan empat kali.”

 

Musnad Ahmad 4613: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Al-Qur’an itu seperti perumpamaan seekor unta yang terikat, jika pemiliknya mengikat dengan tali maka ia mampu menahannya, namun jika melepas talinya, ia akan pergi.”

 

Musnad Ahmad 4614: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke Quba` dengan berkendaraan dan berjalan.”

 

Musnad Ahmad 4615: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad bin Sirin dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat Maghrib itu witirnya siang hari, maka lakukanlah witir pada shalat malam.”

 

Musnad Ahmad 4616: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Sulaiman At Taimi dari Thawus dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, namun jika kalian khawatir datang waktu Shubuh, lakukanlah witir satu rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4617: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin Ziyad Asy Syaibani telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Shubaih Al Hanafi ia berkata, “Aku pernah shalat di Baitullah dengan seorang lelaki tua di sampingku, lalu aku memanjangkan shalat hingga aku meletakkan tanganku pada pinggangku kemudian lelaki tua itu memukul dadaku dengan pukulan yang tidak terlalu keras hingga aku berkata dalam hatiku, ‘Apa gerangan yang membuatnya bimbang terhadapku’, maka akupun segera mempercepatnya, dan ternyata di belakangnya ada seorang anak lelaki sedang duduk. Maka aku pun bertanya, “Siapa lelaki tua ini?” “Ini adalah Abdullah bin Umar “, jawabnya. Lalu akupun duduk hingga ia pergi. Setelah itu aku bertanya, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, apa yang membuatmu bimbang terhadapku?” Ia menjawab, “Kamulah sebabnya.” Aku menyahut, “Ya.” Ia berkata lagi, “Tindakan memanjangkan bacaan dalam sholat itulah yang pernah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4618: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah dari Umar bin Husain dari Abdullah bin Abu Salamah dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pagi Arafah, sebagian dari kami bertakbir dan sebagian membaca talbiah, sedangkan kami ketika itu bertakbir.” Ibnu Umar melanjutkan, “Aku berkata, “Heran sekali, bagaimana bisa kalian tidak menanyakan kepadanya, bagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4619: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hajjaj bin Arthah dari Wabarah; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kepada orang yang sedang ihram untuk membunuh binatang; tikus, burung gagak dan burung rajawali.” Lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimana dengan ular dan kalajengking?” Ibnu Umar menjawab, “Terkadang disebutkan binatang itu.”

 

Musnad Ahmad 4620: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ikrimah bin Khalid Al Makhzumi dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang laki-laki membeli pohon kurma yang telah dikawinkan oleh pemiliknya, lalu hal itu diadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memutuskan bahwa buahnya adalah milik pemiliknya yang telah mengawinkanya kecuali pembeli mensyaratkannya.”

 

Musnad Ahmad 4621: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dan Ishaq bin Isa ia berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Az Zubair bin Al Khirrit dari Al Hasan bin Hadiah ia berkata; Aku pernah bertemu Ibnu Umar, Ishaq berkata, “Lalu ia bertanya kepadaku, ‘Dari daerah mana kamu? ‘ Aku menjawab, ‘Dari penduduk ‘Uman.’ Ia bertanya lagi, ‘Dari penduduk ‘Uman? ‘ Aku menjawab, ‘Ya.’ Ibnu Umar lantas berkata, “Maukah aku beritahukan kepadamu apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Aku menjawab, ‘Tentu.’ Ibnu Umar lalu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah daerah yang bernama ‘Uman, di sampingnya terdapat telaga.” Ishaq menyebutkan, “Pada sisinya terdapat laut, perhiasan di dalamnya lebih bagus dari pada dua perhiasan di laut lain.”

 

Musnad Ahmad 4622: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan setengah tanah Khaibar kepada penduduknya. Tanah itu berada dalam pengelolaan mereka sepanjang masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar, hingga Umar mengutusku untuk meminta bagian kepada mereka. Namun mereka menyihirku hingga pergelangan tanganku bengkok, maka Umar pun mengambil paksa dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 4623: Telah menceritakan kepada kami Yazid dari Hammam dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Aisyah ingin membeli Barirah namun keluarganya enggan menjualnya kecuali jika perwaliannya masih atas nama mereka. Maka Aisyah pun mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Belilah dia lalu bebaskanlah, sesungguhnya perwalian itu milik orang yang membayar harganya.”

 

Musnad Ahmad 4624: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim telah menceritakan kepada kami Nafi’ ia berkata, ” Ibnu Umar merasakan kedinginan yang amat sangat saat itu ia sedang ihram, lalu ia berkata, “Berikan kain kepadaku.” Aku pun memberinya Burnus (mantel yang terdapat tutup kepalanya). Ibnu Umar lalu meletakkannya seraya berkata, “Mengapa kamu memberiku pakaian yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dikenakan oleh orang yang sedang ihram!”

 

Musnad Ahmad 4625: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun ia berkata, “Aku menulis surat kepada Nafi’ untuk bertanya kepadanya, ‘Apakah dakwah wajib dilakukan sebelum peperangan? ‘ Ibnu Aun melanjutkan, “Lalu ia membalas suratku, ” (Dakwah) itu dilakukan pada permulaan Islam, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyergap bani Musthaliq. Saat itu mereka sedang lalai dan hewan-hewan ternak mereka pun sedang diberi minum. Beliau membunuh pasukan mereka dan menawan tawanan mereka, sehingga tertawanlah Juwairiyah binti Al Harits tertawan. Abdullah bin Umar menceritakan hadits ini kepadaku, dan ia termasuk salah satu pasukan yang ikut saat itu.”

 

Musnad Ahmad 4626: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari Khubaib bin Abdurrahman bin Khubaib dari Hafsh bin ‘Ashim dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman selama enam tahun di Mina, mereka melakukan shalat seperti shalat seorang musafir.”

 

Musnad Ahmad 4627: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon yang daunnya tidak akan pernah jatuh, pohon apa itu?” Ibnu Umar berkata, “Mereka pun menjawab ini dan itu namun tidak ada yang benar, dan aku ingin menjawab bahwa itu adalah pohon kurma, tapi aku malu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Ia adalah pohon kurma.”

 

Musnad Ahmad 4628: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Anas bin Sirin dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam dua rakaat dua rakaat, kemudian beliau melakukan witir satu rakaat di akhir malam, setelah itu beliau berdiri seakan-akan adzan dan iqamah di kedua telinganya.”

 

Musnad Ahmad 4629: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Isma’il dari Abu Hanzhalah ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat dalam perjalanan. Maka ia menjawab, “Shalat dalam perjalanan adalah dua rakaat.” Abu Hanzhalah bertanya lagi, “Tapi kami berada dalam keadaan aman dan tidak ada sesuatu pun yang kami takuti?” Ibnu Umar menjawab, “Itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4630: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua manusia kelak di hari kiamat akan dibangkitkan menghadap Rabb semesta alam, karena keagungan Ar Rahman Tabaraka Wa Ta’ala pada hari kiamat hingga keringat akan menenggelamkan sebagian orang setinggi pertengahan daun telinga mereka.”

 

Musnad Ahmad 4631: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah Khamer, dan setiap yang memabukkan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 4632: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Umar- dari Yahya bin ‘Abdurrahman bin Hathib bahwa ia menceritakan kepada mereka, dari Ibnu Umar ia berkata, “Suatu ketika pada peperangan Badar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di Qalib dan berseru: “Wahai fulan, wahai fulan! Apakah kamu telah mendapati apa yang telah dijanjikan Rabbmu adalah benar adanya? Demi Allah, sungguh mereka sekarang sedang mendengar ucapanku.” Yahya berkata, ” Aisyah lalu berkata, “Semoga Allah Ta’ala berkenan mengampuni Abu ‘Abdurrahman, dia lupa dan keliru sebab yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ‘Sungguh mereka sekarang telah mengetahui bahwa yang pernah aku katakan kepada mereka adalah benar, dan sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘ (Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar) ‘ (Qs. An Naml: 80), ‘ (dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar) ‘ (Qs. Fathir: 22).”

 

Musnad Ahmad 4633: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Amru dari Yahya bin ‘Abdurrahman bin Hathib dari Ibnu Umar ia berkata, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kuburan dan berkata: “Sesungguhnya orang yang berada di kuburan ini sekarang sedang diadzab dikarenakan tangisan dan ratapan keluarganya kepadanya.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Semoga Allah Ta’ala mengampuni Abu ‘Abdurrahman, ia telah keliru. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘ (Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain) ‘ (Qs. Al An’aam: 164). Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang ada di dalam kuburan ini sekarang sedang diadzab, dan keluarganya sedang meratapi atasnya.”

 

Musnad Ahmad 4634: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad dari Yahya bin ‘Abdurrahman bin Hathib ia berkata, ” Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jumlah hari dalam sebulan ada dua puluh sembilan hari.” Kemudian beliau mengisyaratkan seraya membuka kedua telapak tangannya dua kali dan yang ketiga kali beliau menggenggamkan ibu jari beliau. Lalu ‘Aisyah berkata, “Semoga Allah Ta’ala mengampuni Abu ‘Abdurrahman, ia keliru. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meninggalkan (mendiamkan) isteri-isteri beliau selama sebulan, lalu pada hari ke dua puluh sembilan beliau bergaul dengan mereka. Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, tapi engkau bergaul dengan isterimu pada hari kedua puluh sembilan?” Lalu beliau menandaskan lagi: “Sesungguhnya jumlah hari dalam sebulan ada dua puluh sembilan hari.”

 

Musnad Ahmad 4635: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Isma’il dari Salim Al Barrad dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menshalati jenazah maka baginya satu qirath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; Apa Qirath itu? Beliau menjawab: “Pahala sebesar gunung Uhud.”

 

Musnad Ahmad 4636: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad -yakni Abu Ishaq- dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar ini, beliau memperingatkan orang-orang yang sedang berihram dari hal-hal yang dimakruhkan atas mereka.”Janganlah kalian memakai surban, kemeja, celana, dan mantel yang terdapat tutup kepalanya. Jangan memakai khuf (sepatu), kecuali jika sangat terpaksa sekali itupun ia harus memotongnya hingga sebatas di bawah mata kakinya, dan juga tidak memakai baju yang diusapi wewangian.” Ibnu Umar berkata, “Aku juga mendengar beliau melarang para wanita Muslimah untuk tidak memakai sarung tangan, niqab (cadar), dam kain yang diolesi wewangian.”

 

Musnad Ahmad 4637: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Amru dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwa ia menceritakan kepada mereka dari Ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak dibenarkan menjual kurma hingga nampak layak dikonsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4638: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Sufyan -yakni Ibnu Husain- dari Al Hakam dari Mujahid ia berkata, “Ketika kami bersama Ibnu Umar dalam suatu perjalanan, ia melewati sebuah tempat lalu menjauhinya kembali. Lalu ditanyakan, “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ibnu Umar pun menjawab, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal ini, maka aku pun melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4639: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Yahya -yakni Ibnu Sa’id- dari Muhammad bin Yahya bin Habban telah mengabarkan kepadanya, bahwa seorang laki-laki mengabarkan kepadanya dari ayahnya Yahya bahwa ia pernah bersama Abdullah bin Umar, lalu Abdullah bin Umar menceritakan kepadanya tentang fitnah, “Kalian tidak akan melihat sedikit pun pembunuhan, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dua orang berbicara tanpa menyertakan teman keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4640: Telah menceritakan kepada kami Yazid ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Mas’udi dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali ia berkata, “Ketika ‘Ubaid bin ‘Umair sedang berkisah, dan saat itu Abdullah bin Umar sedang bersamanya, ‘Ubaid berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan seorang munafik seperti seekor kambing yang berada di antara dua kelompok kambing yang sedang berada di kandangnya. Setiap ia mendatangi kelompok kambing yang satu, mereka menanduknya. Dan setiap kali ia mendatangi kelompok kambing yang lain, merekapun menanduknya.” Mendengar itu Abdullah bin Umar berkata, “Bukan begitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi sabda beliau yang benar adalah: “Seperti seekor kambing yang berada di antara dua kambing.” Abu Ja’far (perawi) berkata, “Lalu lelaki tua itupun marah. Melihat kejadian itu, Abdullah bin Umar berkata, “Kalau seandainya aku tidak mendengarnya dari Rasul, aku tidak akan membantah perkataanmu.”

 

Musnad Ahmad 4641: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun ia berkata; Aku menulis surat kepada Nafi’, “Aku menanyakannya, ‘Apa yang menyebabkan Ibnu Umar menahan diri untuk ikut dalam peperangan, dan apakah seseorang boleh membawa serta orang lain dalam peperangan tanpa seizin imamnya? ‘ Maka ia menjawab, “Ibnu Umar selalu ikut dalam peperangan dan ia menggendong anaknya di atas punggungnya dan berkata, ‘Sesungguhnya seutama-utama amalan setelah amalan shalat ialah jihad di jalan Allah.’ Dan tidak ada yang menyebabkannya menahan diri dari perang kecuali wasiat Umar, anak-anak kecil dan pekarangan yang banyak. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerang mereka dengan tiba-tiba saat mereka lalai dan hewna ternak mereka diberi minum. Akibatnya, pasukan mereka banyak yang terbunuh, kaum wanita dan anak-anak dari kalangan mereka juga banyak yang ditawan, termasuk di dalamnya Juwairiyah binti Al Harits. Yang mengabarkan hadits ini kepadaku adalah Abdullah bin Umar, dia saat itu ikut andil bersama tentara kaum muslimin. Dan mereka menyerukan adanya peperangan hanya di awal-awal penyebaran Islam saja. Adapun seorang tentara, ia tidak boleh membawa serta orang lain dalam peperangan kecuali dengan izin pemimpinnya.”

 

Musnad Ahmad 4642: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua orang berbicara dan tidak melibatkan orang ketiga, jika tidak ada orang lain selain mereka.” Ibnu Umar melanjutkan lagi, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga melarang seseorang menduduki tempat duduk orang lain, beliau bersabda: “Jika ia kembali lagi, ia lebih berhak atasnya.”

 

Musnad Ahmad 4643: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mengantuk di masjid pada hari Jum’at, hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat duduk yang lain.”

 

Musnad Ahmad 4644: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad dari Nafi’, dan Ubaidullah bin Abdullah bin Umar telah menceritakannya kepada kami dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada lima binatang yang boleh dibunuh; burung gagak, tikus, burung rajawali, kalajengking, anjing gila.”

 

Musnad Ahmad 4645: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau mengambil sebuah tongkat atau kerikil dan menggarukkannya. Beliau kemudian bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sedang shalat maka janganlah ia meludah di arah kiblatnya, karena sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala.”

 

Musnad Ahmad 4646: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, dan witir itu satu rakaat di akhir malam.”

 

Musnad Ahmad 4647: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dajjal itu matanya buta sebelah seperti buah anggur yang tersembul.”

 

Musnad Ahmad 4648: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ashbagh bin Zaid telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Abu Az Zahiriyyah dari Katsir bin Murrah Al Hadlrami dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa menimbun makanan hingga empat puluh malam, berarti ia telah berlepas diri dari Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala juga berlepas diri dari-Nya. Dan siapa saja memiliki harta melimpah sedang di tengah-tengah mereka ada seorang yang kelaparan, maka sungguh perlindungan Allah Ta’ala telah terlepas dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 4649: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa ia membenci adanya persyaratan dalam haji, ia mengatakan, “Cukuplah bagi kalian Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya beliau tidak mensyaratkan sesuatu.”

 

Musnad Ahmad 4650: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dan Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai dlab (sejenis biawak), maka beliau menjawab: “Aku tidak memakannya namun tidak mengharamkannya.”

 

Musnad Ahmad 4651: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Isra`il dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bolehkah aku membeli emas dengan perak?” Beliau menjawab: “Jika engkau telah mengambil salah satu dari keduanya, maka hendaklah tidak menimbulkan lawan transaksimu berpisah darimu dan menyebabkan kesamaran antara engkau dan ia.”

 

Musnad Ahmad 4652: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Dawud yakni Ibnu Qais dari Zaid bin Zaid bin Aslam ia berkata, “Ayahku pernah mengutusku ke rumah Ibnu Umar, lalu aku berkata, ‘Bolehkah aku masuk? ‘ Ibnu Umar pun mengenal suaraku lalu berkata, ‘Wahai anakku, jika engkau mendatangi suatu kaum maka ucapkanlah; ‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM’, jika mereka menjawab salammu maka katakan, ‘Bolehkah aku masuk? ‘ Ibnu Umar melanjutkan, “Kemudian ia melihat anaknya menjulurkan kainnya, ia pun mengatakan, ‘Naikkanlah kainmu! Sungguh, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena kesombongan, niscaya Allah tidak akan melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 4653: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian tidak melakukan shalat pada saat matahari terbit dan terbenamnya.”

 

Musnad Ahmad 4654: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Bakar bin Ubaidullah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan jika minum, hendaklah ia minum dengan tangan kanannya karena setan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.”

 

Musnad Ahmad 4655: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan beristilam (menyentuh, mencium atau berisyarat) kepada dua rukun baik saat mudah maupun susah, sejak aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersitilam kepada keduanya.” Ma’mar mengatakan, “Dan telah mengabarkan kepadaku Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4656: Ia mengatakan; Dan telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencukur rambut di dalam hajinya.” Ia mengatakan, “Dan telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4657: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Pada waktu penaklukan Makkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Baitullah dengan mengendarai unta milik Usamah bin Zaid hingga berhenti di halaman Ka’bah, lalu beliau meminta kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, ia pun memberikan dan membukakannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Usamah, Bilal dan Utsman bin Thalhah masuk ke dalam. Lalu mereka menutup pintu setelah itu membukanya kembali.” Abdullah berkata, “Aku segera menemui orang-orang itu, aku pun mendapati Bilal sedang berdiri di depan pintu, aku bertanya kepadanya, “Di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat?” Ia menjawab, “Di antara dua tiang depan.” Abdullah melanjutkan perkataannya, “Aku lupa untuk menanyakan kepadanya, ‘Berapa rakaat beliau melakukan shalat?”

 

Musnad Ahmad 4658: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan orang-orang yang lemah untuk meninggalkan Muzdalifah pada malam hari.”

 

Musnad Ahmad 4659: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Malik dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku Shalat Maghrib bersamanya tiga rakaat dan shalat Isya dua rakaat dengan satu kali iqamah. Maka Malik bin Khalid Al Haritsi bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman, shalat apa ini?” Ibnu Umar menjawab, “Aku pernah melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tempat ini dengan satu kali iqamah.”

 

Musnad Ahmad 4660: Ia mengatakan; Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Sa’id dari Ibnu Umar. (dalam jalur lain disebutkan) Dan dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Malik Al Asadi dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ antara shalat Maghrib dan Isya dengan cara melakukan shalat Maghrib tiga rakaat dan shalat Isya’ dua rakaat dengan satu kali iqamah.”

 

Musnad Ahmad 4661: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucap talbiyah: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dan Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4662: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa pada hari Hudaibiyah: “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya.” Lalu seseorang bertanya, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya?” Beliau berdoa lagi: “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya.” Orang itu pun bertanya lagi, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya?” Hingga ia mengatakan tiga atau empat kali, kemudian beliau menambahkan: “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya.”

 

Musnad Ahmad 4663: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan thawaf ifadlah pada hari nahr (hari penyembelihan), kemudian beliau pulang dan melakukan shalat Zhuhur di Mina.”

 

Musnad Ahmad 4664: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki memanggil seraya berkata, “Wahai Rasulullah, pakaian apa yang harus dihindari seorang yang sedang ihram?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia tidak memakai celana, kemeja, mantel yang terdapat tutup kepalanya, surban dan baju yang telah diolesi za’faran dan wars. Dan hendaklah salah seorang dari kalian melakukan ihram dengan mengenakan sehelai sarung, selendang dan memakai sepasang sandal, jika tidak medapatkan sandal, hendaklah ia memakai sepasang khuf (sepatu) dan potonglah hingga sebatas di bawah mata kaki.”

 

Musnad Ahmad 4665: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakan daging kurban yang disimpan hingga tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 4666: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membebaskan bagian yang menjadi miliknya pada (kepemilikan) seorang budak, hendaklah budak tersebut dihargai dari hartanya.”

 

Musnad Ahmad 4667: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim berhak melewati tiga malam kecuali ia melakukan wasiat.”

 

Musnad Ahmad 4668: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Umar membawa kudanya untuk diinfakkan fi sabilillah, kemudian ia melihat kudanya dijual dan berniat untuk membelinya lagi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepadanya: “Janganlah engkau mengambil kembali apa yang telah engkau sedekahkan.”

 

Musnad Ahmad 4669: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ayahnya dan Al A’masy dan Manshur dari Sa’id bin Ubadah dari Ibnu Umar ia berkata, “Umar pernah bersumpah, “Demi bapakku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya, beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan sesuatu selain Allah Ta’ala maka ia telah berbuat kesyirikan.” Dan yang lain mengatakan, “Itu adalah syirik.”

 

Musnad Ahmad 4670: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Isma’il bin Umayyah telah mengabarkan kepadaku orang yang tsiqah atau orang yang tidak tertuduh dusta, dari Ibnu Umar bahwa ia pernah melamar seorang gadis dari kerabatnya.” Ia berkata, “Dan ibunya (ibu si gadis) cenderung untuk menikahkannya dengan Ibnu Umar sedang bapaknya lebih cenderung untuk menikahkannya dengan anak yatim yang ada dalam asuhan Ibnu Umar.” Ibnu Umar melanjutkan, “Akhirnya bapak gadis itu menikahkannya dengan anak yatim tersebut. Maka isterinya (ibu sang gadis) bergegas mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu kepada beliau. Maka beliau pun bersabda: “Suruhlah wanita-wanita itu untuk meminta persetujuan kepada para anak gadisnya.”

 

Musnad Ahmad 4671: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku ‘Atha dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh Umra dan Ruqba, maka barangsiapa yang menghibahkan sesuatu kepada seseorang, ia menjadi miliknya selama hidup dan matinya.”

 

Musnad Ahmad 4672: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Rawwad dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan batu cincinnya pada telapak tangan.”

 

Musnad Ahmad 4673: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Rawwad dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di masjid, beliau melihat dahak di arah kiblat. Selesai shalat beliau bersabda: “Sungguh, jika salah seorang dari kalian shalat di masjid, hakikatnya ia sedang berbicara kepada Rabbnya, dan Allah Tabaraka wa Ta’ala menghadapkan wajah-Nya kepadanya. Maka, janganlah kalian meludah di arah kiblat atau sebelah kanannya.” Kemudian beliau meminta sebuah tongkat lalu menggaruknya, beliau lalu meminta wewangian dan meneteskannya.”

 

Musnad Ahmad 4674: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Abu Ishaq dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dari dua puluh lima atau lebih dari dua puluh kali -Abdurrazaq berkata; Aku ragu- membaca QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN (surat al Kafirun) dan QUL HUWALLAHU AHAD (surat al Ikhlas) pada dua rakaat Fajar.”

 

Musnad Ahmad 4675: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah memberitakan kepada kami Syaikh penduduk Najran telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Al Bailamani dari Ayahnya dari Ibnu Umar, bahwa ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Persaksian siapakah yang dapat diterima dalam persusuan?” Nabi menjawab: “Persaksian seorang laki-laki atau seorang wanita.” Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Syaibah dari Mu’tamir dari Muhammad bin Utsaim dari Muhammad bin ‘Abdurrahman dengan makna ini.”

 

Musnad Ahmad 4676: Abu ‘Abdurrahman berkata; dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Abdullah bin Abu Syaibah ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Muhammad bin ‘Utsaim dari Muhammad bin Abdurrahman bin Al Bailamani dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai persaksian yang diterima dalam persusuan. Beliau menjawab: “Persaksian seorang laki-laki dan wanita.”

 

Musnad Ahmad 4677: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dan Ibnu Bakr keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ibnu Thawus dari Ayahnya dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya seraya berkata, ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membuat nabidz (rendaman kurma) dalam bejana yang terbuat dari tembikar dan Ad Duba (bejana yang terbuat dari buah labu)?” Ibnu Umar menjawab, “Ya.”

 

Musnad Ahmad 4678: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan Jarr, Muzaffat dan Dubba`.” Abu Az Zubair berkata, “Dan aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan Jarr, Muzaffat dan Naqir, dan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mendapat suatu tempat untuk membuat rendaman sari buah untuknya, maka beliau dibuatkan rendaman sari buah menggunakan wadah besar terbuat dari batu.”

 

Musnad Ahmad 4679: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Tsabit Al Bunani ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang nabidz (rendaman buah) menggunakan bejana dari tembikar. Ia menjawab, “Itu haram.” Aku bertanya lagi, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya?” Ibnu Umar menjawab, “Para sahabat menyakini itu.”

 

Musnad Ahmad 4680: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminum khamer di dunia kemudian ia mati dalam keadaan masih meminumnya dan belum bertaubat, maka Allah mengharamkannya di akhirat.”

 

Musnad Ahmad 4681: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari ‘Atha bin As Sa`ib dari Abdullah bin Ubaid bin Umair dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminum khamer, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam. Jika ia bertaubat Allah akan mengampuninya, namun jika ia meminumnya lagi maka Allah Ta’ala berhak memberinya minum dari sungai Khabal.” Dikatakan, “Apa sungai Khabal itu?” Beliau menjawab: “Nanah yang bercampur darah yang keluar dari tubuh penduduk neraka.”

 

Musnad Ahmad 4682: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada nikah syighar dalam Islam.”

 

Musnad Ahmad 4683: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dua kali pada shalat Jum’at, dan beliau duduk sebentar di antara keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4684: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata di atas mimbar: “Barangsiapa akan menghadiri shalat Jum’at hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4685: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnah setelah shalat Jum’at sebanyak dua rakaat di rumah.”

 

Musnad Ahmad 4686: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari perang Hunain, Umar bertanya tentang nadzar yang telah ia ucapkan di waktu jahiliyah untuk beri’tikaf satu hari. Lalu beliau menyuruh untuk melaksanakannya, Umar pun berlalu dari hadapan beliau.” Ibnu Umar melanjutkan, “Dan beliau memerintahkan aku untuk membawa budak wanita yang tertawan didapatkan dari perang Hunain.” Ibnu Umar melabjutkan, “Budak itu kemudian aku titipkan ia di salah satu rumah orang desa saat aku singgah. Ketika aku berada di ujung Hunain, mereka telah keluar sambil berjalan, mereka berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membebaskan kami.” Perawi berkata, “Umar kemudian kepada Abdullah, “Pergi dan kirimkanlah budak itu.” Ibnu Umar berkata, “Kemudian aku pergi dan aku kirim budak tersebut.”

 

Musnad Ahmad 4687: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan Al-Qur’an jika dijaga oleh penghafalnya dengan membacanya siang dan malam, seperti seorang laki-laki yang memiliki unta. Jika ia mengikatnya maka bisa menjaganya, namun jika ia melepaskan ikatannya maka unta itu akan pergi, demikian pula dengan penghafal Al-Qur’an.”

 

Musnad Ahmad 4688: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang; orang yang diberikan Al-Qur’an oleh Allah lalu ia membacanya sepanjang siang dan malam, dan orang yang diberikan harta oleh Allah lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”

 

Musnad Ahmad 4689: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir, pada sembilan malam terakhir.”

 

Musnad Ahmad 4690: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Al Qasim bin Rabi’ah dari Ibnu Umar, Abdurrazaq berkata; sekali waktu Ibnu Muhammad berkata, dan sekali waktu Ibnu Rabi’ah berkata- Ibnu Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berceramah, yang saat itu beliau berada di tangga Ka’bah: “Segala puji bagi Allah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan sedirian. Ketahuilah, kemuliaan turun temurun yang terjadi pada masa jahiliyah berada di bawah kakiku pada hari ini, kecuali berkhidmat kepada Baitullah dan memberi minum orang berhaji. Ketahuilah, antara kesengajaan dan ketidak sengajaan dan pembunuhan dengan cambuk dan batu, hukumannya adalah seratus unta, di antaranya ada empat puluh unta yang mengandung anaknya di perutnya.”

 

Musnad Ahmad 4691: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Hamzah bin Abdullah dari Ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kebinasaan itu terdapat pada tiga golongan; Kuda, wanita dan rumah.”

 

Musnad Ahmad 4692: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Shadaqah Al Makki dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf dan berkhutbah kepada manusia, beliau katakan: “Ketahuilah, jika salah seorang dari kalian melakukan shalat, sungguh ia sedang berkomunikasi dengan Rabbnya. Maka, hendaklah salah seorang dari kalian mengetahui apa yang ia panjatkan kepada Allah dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya di atas bacaan sebagian yang lain dalam shalat.”

 

Musnad Ahmad 4693: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Umar pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah salah seorang dari kami boleh tidur dalam keadaan junub?” Beliau menjawab: “Ya, namun hendaknya berwudlu seperti wudlu untuk shalat.” Nafi’ berkata, “Jika Ibnu Umar ingin melakukannya lagi, ia berwudlu seperti wudlu untuk shalat, kecuali mencuci kedua kakinya.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepadaku Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu, bahwa Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4694: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang salah seorang dari kalian memilih waktu terbenamnya matahari lalu melakukan shalat di saat itu.”

 

Musnad Ahmad 4695: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menghalang-halangi para wanita Muslimah untuk mendatangi.” Atau beliau bersabda: “Shalat berjamaah di masjid.”

 

Musnad Ahmad 4696: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah telah menceritakan kepadaku Umar bin Habib dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang menghalangi isterinya mendatangi masjid.” Lalu anak Abdullah bin Umar berkata, “Sungguh, kami akan melarang mereka mendatangi masjid.” Abdullah berkata, “Aku menyampaikan kepadamu sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun kamu berkata demikian.” Mujahid berkata, “Maka Abdullah tidak mengajaknya bicara hingga ia meninggal dunia.”

 

Musnad Ahmad 4697: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Bahir Al Qashsh bahwa Abdurrahman bin Yazid Ash Shan’ani telah mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin melihat hari kiamat seperti melihat dengan pandangan mata, hendaklah ia membaca: IDZASY SYAMSU KUWWIRAT (surat At Takwir), IDZAS SAMA`UN FATHARAT (surat Al infithar), dan IDZAS SAMA`UN SYAQQAT (surat Al Insyiqqaq).” ‘Abdurrahman berkata, “Menurutku Ibnu Umar menyebutkan ‘dan surat Huud’.”

 

Musnad Ahmad 4698: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Shalih bin Kaisan dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan talbiah ketika beliau beserta untanya berdiri tegak.”

 

Musnad Ahmad 4699: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memakan daging kurban yang telah disimpan lebih dari tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 4700: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; Nafi’ berkata kepadaku; Abdullah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada lima jenis binatang yang boleh dibunuh, dan orang yang membunuhnya tidak berdosa; burung gagak, burung rajawali, kalajengking, anjing, hewan yang suka menggigit dan tikus.”

 

Musnad Ahmad 4701: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari hadits Salim bin Abdullah bahwa Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah lailatul qadar pada tujuh hari terakhir bulan Ramadan.”

 

Musnad Ahmad 4702: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dan Ibnu Bakr keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; Ibnu Syihab berkata; Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah bahwa Abdullah bin Umar berjalan di sebelah jenazah, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman mereka berjalan di depan jenazah.” Telah menceritakan kepada kami Hajjaj ia berkata; Aku membaca buku Ibnu Juraij; Telah menceritakan kepadaku Ziyad yakni Ibnu Sa’d dari Ibnu Syihab dari Salim dari Ibnu Umar seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4703: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bahir dari Abdurrahman bin Yazid seorang penduduk Shan’an, dan orang yang paling mengerti halal dan haram, dari Wahb -yakni Ibnu Munabbih- ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin menyaksikan hari kiamat, hendaklah ia membaca IDZASY SYAMSU KUWWIRAT (surat At Takwir).”

 

Musnad Ahmad 4704: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar ia mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan di atas mimbar: “Barangsiapa mendatangi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4705: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual kurma hingga nampak layak konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4706: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar; Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing penjaga, atau anjing untuk berburu, niscaya setiap hari pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath.”

 

Musnad Ahmad 4707: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Sa’id bin Jubair ia berkata; Aku mengatakan kepada Ibnu Umar, “Ada seseorang melakukan li’an (melaknat) terhadap isterinya. Maka Ibnu Umar menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memisahkan antara dua saudara dari bani ‘Ajlan, beliau bersabda: “Sungguh, salah seorang dari kalian pasti berdusta, apakah dari kalian ada yang ingin bertaubat?” beliau mengucapkan tiga kali.”

 

Musnad Ahmad 4708: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah Ubaidullah berkata; Telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempekerjakan penduduk Khaibar untuk mengelola setengah wilayahnya yang dapat menghasilkan tanaman atau kurma. Setiap tahun beliau memberi isteri-isterinya seratus delapan puluh wasq kurma dan dua puluh wasq gandum.”

 

Musnad Ahmad 4709: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan kakinya pada pelana dan untanya telah berdiri tegak, beliau melakukan talbiah dari masjid Dzul Hulaifah.”

 

Musnad Ahmad 4710: Telah menceritakan kepada kami Hammad, Ubaidullah berkata; Telah mengabarkan kepada kami dan Muhammad bin Bisyr berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebut-nyebut Al Masih. Ibnu Bisyr menyebutkan dalam haditsnya, “Dan menyebutkan tentang kedatangan Dajjal di tengah-tengah manusia seraya bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaaraka Wa Ta’ala tidak buta sebelah mata-Nya, ketahuilah sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal itu buta mata sebelah kanannya, dan matanya seperti buah anggur yang tersembul.”

 

Musnad Ahmad 4711: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian diundang untuk menghadiri walimah maka hadirilah.” Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits dan sifat seperti ini.” Bapakku berkata; Dan telah menceritakan kepada kami sebelumnya, ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hisyam dan Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama kami pada salah satu shalat malam hari sebanyak dua rakaat kemudian salam, lalu beliau menyebutkan hadits: “Maka hadirilah….”

 

Musnad Ahmad 4712: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaia bin Abu Za`idah telah menceritakan kepadaku Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahuluilah shalat Shubuh dengan shalat Witir.”

 

Musnad Ahmad 4713: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan anak mula’anah kepada ibunya.”

 

Musnad Ahmad 4714: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria telah mengabarkan kepadaku ‘Ashim Al Ahwal dari Abdullah bin Syaqiq dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahuluilah shalat Shubuh dengan shalat Witir.”

 

Musnad Ahmad 4715: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun selalu menyembelih kurban.”

 

Musnad Ahmad 4716: Telah menceritakan kepada kami Qurran bin Tammam dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah ke mana pun kendaraannya menghadap.”

 

Musnad Ahmad 4717: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah Al Fazari telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz dari Isma’il bin Jarir dari Faza’ah ia berkata, “Ketika Abdullah bin Umar mengutusku untuk suatu keperluan ia mengatakan kepadaku, ‘Kemarilah agar aku dapat melepas kepergianmu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melepas kepergianku ketika beliau mengutusku untuk keperluannya. Beliau menjabat tanganku seraya mengucapkan, “Aku titipkan agama, amanah dan amal terakhirmu kepada Allah.”

 

Musnad Ahmad 4718: Telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman Abu Muhammad Al Kilabi telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ayahnya dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri di dekat kuburan Badar seraya bersabda: “Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian adalah benar?” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka dapat mendengar apa yang aku katakan.” Lalu hal itu disampaikan kepada Aisyah, ia pun berkata, “Ia telah keliru, yakni Ibnu Umar! Sesungguhnya yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Sesungguhnya mereka sekarang akan mengetahui apa yang telah aku katakan kepada mereka adalah benar adanya.”

 

Musnad Ahmad 4719: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ayahnya dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya mayit akan diadzab disebabkan tangisan keluarganya.” Hal itu disampaikan kepada Aisyah, maka ia pun mengatakan, “Ibnu Umar keliru, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati sebuah kuburan seraya bersabda: “Sesungguhnya penghuni kuburan ini akan diadzab sedangkan keluarganya menangisinya.” Kemudian ia membaca ayat: ‘ (Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain) ‘ (Qs. Al An’aam: 164).

 

Musnad Ahmad 4720: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari peperangan atau ekspedisi, haji atau umrah, jika telah berdiri tegak di atas kakinya, beliau bertakbir tiga kali kemudian mengucapkan: “LA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIIR, AAYIBUUN TAA`IBUUN ‘AABIDUUNA SAAJIDUUN LIRABBINAA HAAMIDUN SHADAQALLAAHU WA’DAHU WA NASHARA ‘ABDAHU WA HAZAMAL AHZAABA WAHDAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah segala kekuasaan dan puji, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami semua kembali, bertaubat, beribadah, bersujud dan memuji hanya kepada Rabb kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan sebuah pasukan Ahzab sendirian) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4721: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ja’far bin Az Zubair dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang air yang berada di tengah padang pasir dan sering diminum oleh binatang ternak dan buas. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jika air itu sebanyak dua qullah, maka ia tidak mengandung najis.”

 

Musnad Ahmad 4722: Telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Ubaidullah telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar Ibnu Suraqah ia menyebutkan dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat sunnah sebelum dan sesudah (shalat wajib) ketika bepergian.”

 

Musnad Ahmad 4723: Telah menceritakan kepada kami Abdah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar mendahulukan shalat sebelum berkhutbah ketika ‘Ied.”

 

Musnad Ahmad 4724: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yaman dari Sufyan dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa dalam haji qiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan thawaf satu kali dan tidak melakukan tahallul di antara keduanya, dan beliau membeli hewan sembelihan di sepanjang jalan Qudaid.”

 

Musnad Ahmad 4725: Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz dan Makhlad bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Sa’id Al Ma’na dari Sulaiman bin Musa dari Nafi’ mantan budak Ibnu Umar, Ibnu Umar pernah mendengar suara seruling penggembala, lalu ia menutupi telinga dengan jarinya dan membelokkan arah kendaraannya dari jalan, ia bertanya, “Wahai Nafi’, apakah engkau masih mendengarnya?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu ia berjalan lagi hingga aku mengatakan, “Sudah tidak lagi.” Ia pun melepaskan kedua tangannya dan mengembalikan kendaraannya pada jalan semula seraya berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendengar suara seruling penggembala, beliau melakukan seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 4726: Telah menceritakan kepada kami Al Walid -yakni Ibnu Muslim- telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Al Muththalib bin Abdullah bin Hanthab bahwa Ibnu Abbas berwudlu satu kali satu kali dan menyandarkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan Ibnu Umar berwudlu tiga kali tiga kali dan juga menyandarkan hal itu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 4727: Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Abdurrazaq bin Umar Ats Tsaqafi bahwa ia mendengar Ibnu Syihab mengabarkan dari Salim dari Ayahnya ia berkata; Aku pernah mengikuti shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shalat tanpa adzan dan iqamah. Kemudian aku mengikuti shalat ‘Ied bersama Abu Bakar, ia pun shalat tanpa adzan dan iqamah. Lalu aku mengikuti shalat ‘Ied bersama Umar, ia pun shalat tanpa adzan dan iqamah. Kemudian aku mengikuti shalat ‘Ied bersama Utsman, ia pun shalat tanpa adzan dan iqamah.” Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Ibnu Tsauban bahwa ia mendengar An Nu’man bin Rasyid Al Jazari pernah mengabarkan bahwa ia mendengar Ibnu Syihab Az Zuhri mengabarkan dari Salim bin Abdullah mengabarkan dari ayahnya Abdullah bin Umar seperti hadits ini atau semisalnya.”

 

Musnad Ahmad 4728: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Simak dari Mush’ab bin Sa’d dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak diterima sedekah dari hasil penipuan dan tidak diterima shalat tanpa bersuci.”

Musnad Ahmad 4729: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Ibrahim bin Muhajir dari Abu Asy Sya’tsa` ia berkata, “Kami pernah menemui Ibnu Umar pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Lalu dihidangkan makanan kepada kami, orang-orang pun mendekat namun anaknya justru menyingkir. Maka Ibnu Umar pun berkata kepadanya, “Mendekatlah dan nikmatilah makanan itu.” Anaknya lalu menjawab, “Aku sedang berpuasa.” Ibnu Umar lalu berkata, “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan: “Sesungguhnya ini adalah hari makan-makan dan berdzikir.”

 

Musnad Ahmad 4730: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Barangsiapa melakukan shalat di awal malam, hendaklah ia mengakhiri shalatnya dengan witir, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh demikian.”

 

Musnad Ahmad 4731: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Salim dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah diperlihatkan dalam tidurku bahwa aku mengangkat timba suatu kaum dari sebuah sumur, lalu Abu Bakar datang dan mengangkat satu atau dua ember air namun ia menariknya pelan dan Allah mengampuninya. Kemudian Umar bin Khaththab datang meminta minum mengangkat ember itu, lalu berubah menjadi satu ember besar. Aku tidak melihat seorang manusia pun yang tekun beramal hingga orang lain merasa puas terhadapnya.”

 

Musnad Ahmad 4732: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dari Ubaidullah dari Umar bin Nafi’ dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang qaza’.” Ubaidullah berkata, “Qaza’ adalah mencukur setengah dari rambut kepala.”

 

Musnad Ahmad 4733: Telah menceritakan kepada kami Utsman telah menceritakan kepada kami Umar bin Nafi’ dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qaza’ (mencukur sebagian dan membiarkan sebagian).”

 

Musnad Ahmad 4734: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman; Aku mendengar Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi; Aku mendengar Salim bin Abdullah berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh rongga mulut kalian dipenuhi dengan bara api adalah lebih baik dari pada dipenuhi dengan sya’ir.”

 

Musnad Ahmad 4735: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Rawwad dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa batu cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah telapak tangannya.”

 

Musnad Ahmad 4736: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman aku mendengar Hanzhalah bin Abu Sufyan aku mendengar Salim berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat di dekat ka’bah seorang laki-laki berambut lurus dan sedang meletakkan tangannya di atas dua orang lelaki sementara kepalanya basah berair. Akupun bertanya: “Siapakah dia?” “Ia biasa dipanggil ‘Isa bin Maryam atau Al Masih bin Maryam”, jawab mereka. Dan aku melihat di belakangnya seorang lelaki berkulit merah, matanya yang sebelah kanan buta dan rambutnya keriting, ia mirip seperti Ibnu Quthn yang pernah aku lihat. Akupun bertanya: “Siapakah dia?”Dia adalah Al Masih Ad Dajjal”, jawab mereka.”

 

Musnad Ahmad 4737: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman dan Abdullah bin Al Harits keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hanzhalah aku mendengar Salim berkata; Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Sungguh, Umar bin Khaththab pernah memberikan pakaian sutra kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau membeli pakaian semacam ini dan memakainya bila ada utusan manusia datang kepadamu?” Maka Rasul berkata: “Yang memakai pakaian semacam ini (di dunia) hanyalah orang-orang yang tidak akan memakainya kelak (di akhirat).” Kemudian suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapatkan kiriman tiga pakaian dan beliau pun memberikannya kepada Umar, Ali dan Utsamah bin Zaid. Dengan membawa pakaian tersebut, Umar kemudian datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, engkau berikan ini kepadaku, padahal aku telah mendengar apa yang engkau katakan (tentang kain sutera)!” Beliau menjawab: “Aku berikan itu kepadamu agar engkau jual, atau membelahnya untuk dijadikan tutup kepala bagi isterimu.” Ishaq menyebutkan dalam haditsnya: “Usamah juga mendatangi Rasulullah dengan membawa pakaian tersebut, beliau pun bersabda: “Aku kirimkan itu kepadamu untuk engkau jual.” Aku tidak tahu apakah Beliau juga mengatakan kepada Usamah ‘agar engkau bisa membelahnya dan menjadikannya penutup wajah bagi isterimu’, ataukah tidak.” Abdullah bin Al Harits mengatakan dalam haditsnya, bahwa dia mendengar Salim bin Abdullah berkata; saya mendengar Abdullah bin Umar berkata; “Umar mendapatkan…” kemudian dia menyebutkan makna hadits tersebut. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits telah menceritakan kepadaku Handlalah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; “Lalu Usamah mendatangi Rasulullah dengan mengenakan sutera tersebut, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memandanginya, Usamah berkata; “Engkau sendiri yang memberikan kepadaku untuk aku pakai.” Beliau bersabda: “Aku memberikan kepadamu supaya kamu membelahnya untuk penutup wajah bagi isterimu atau untuk memenuhi kebutuhanmu.”

 

Musnad Ahmad 4738: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman aku mendengar Hanzhalah aku mendengar Salim berkata; Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk ke arah timur, atau ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk ke arah timur dan bersabda: “Sungguh fitnah itu berada di sini, ketahuilah sungguh fitnah itu berada di sini, ketahuilah sungguh fitnah itu berada di sini, dari arah di mana setan-setan menampakkan kedua tanduknya.”

 

Musnad Ahmad 4739: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Sallam aku mendengar Yahya bin Abu Katsir mengabarkan bahwa Abu Salamah mengabarkan kepadanya dari Abdullah bin Umar, bahwasanya ia mendengar dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu adalah dua puluh sembilan hari.”

 

Musnad Ahmad 4740: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Abdurahman bin Sa’d ia berkata; Aku pernah bersama Ibnu Umar, lalu ia melakukan shalat di atas kendaraannya, ia menghadap ke sini dan ke sini. Aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Ia lalu menjawab, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4741: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab dari Abdullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlari-lari kecil tiga putaran dari hajar aswad ke hajar aswad dan berjalan empat putaran.”

 

Musnad Ahmad 4742: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika pulang dari perang Uhud, wanita-wanita Anshar sedang menangisi suami-suami mereka yang terbunuh.” Ibnu Umar melanjutkan, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Akan tetapi tidak ada yang menangisi Hamzah.” Kemudian beliau tidur, ketika terbangun kaum wanita masih menangis. Beliau bersabda: “Jika hari ini mereka menangis hendaklah menangisi jenazah Hamzah.”

 

Musnad Ahmad 4743: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah dan Ali bin Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Hamzah bin Abdullah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa suatu kaum, maka Dia akan menyiksa semua yang ada di dalamnya, kemudian mereka akan dibangkitkan kembali sesuai dengan amal perbuatan mereka.” Dan Ali menyebutkan dalam haditsnya, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Hamzah bin Abdullah bin Umar bahwa ia mendengar Ibnu Umar mengatakannya.”

 

Musnad Ahmad 4744: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Abdul Majid Ats Tsaqafi dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Tidaklah aku mendatangi rukun sejak aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusapnya baik di waktu susah maupun mudah.”

 

Musnad Ahmad 4745: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Abdul A’la dari Khalid dari Abdullah bin Syaqiq dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jika engkau khawatir masuk waktu Fajar maka lakukanlah shalat Witir satu rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4746: Telah menceritakan kepada kami Adl Dlahhak bin Makhlad Abu ‘Ashim dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab dari hadits Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar ia berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku melihat manusia dipukuli jika mereka membeli makanan dengan tanpa ditimbang. Dan mereka diperbolehkan menjualnya hingga mereka membawanya kembali ke rumah mereka terlebih dahulu.”

 

Musnad Ahmad 4747: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid dari Ibnu Abu Dzi`b, dan Yazid berkata; Telah memberitakan kepada kami Al Harits bin Abdurrahman dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk meringankan bacaan, meskipun beliau mengimami kami dengan membaca surat Ash Shaffaat.” Yazid berkata, “Yakni dalam shalat subuh.”

 

Musnad Ahmad 4748: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid -yakni Al Haddad- telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq An Naji dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian meletakkan jenazah kalian di kuburnya maka bacalah: ‘BISMILLAHI WA ‘ALAA MILLATI RASULILLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM (Dengan nama Allah dan di atas millah -agama- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4749: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Yahya dari Muhammad bin Yahya bahwa pamannya Wasi’ bin Habban telah mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Suatu hari aku menaiki atap rumah kami, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di atas dua buah labinah (batu dari tanah) menghadap Baitul Maqdis.”

 

Musnad Ahmad 4750: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Shalat Maghrib adalah witirnya shalat siang, maka lakukanlah witir pada shalat malam.”

 

Musnad Ahmad 4751: Telah menceritakan kepada kami Yazid dari Hajjaj dari Abdul Malik bin Al Mughirah Ath Tha`ifi dari Abdullah bin Al Miqdam ia berkata, “Aku pernah melihat Ibnu Umar berjalan antara Shafa dan Marwah, lalu aku tanyakan kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, mengapa engkau tidak berlari-lari kecil? ‘ Ia pun menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kadang berlari-lari kecil dan kadang tidak.”

 

Musnad Ahmad 4752: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Husain bin Dzakwan dari Amru bin Syu’aib telah menceritakan kepadaku Sulaiman mantan budak Maimunah, Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melakukan suatu shalat dua kali dalam satu hari.”

 

Musnad Ahmad 4753: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Salamah Asy Syaibani aku mendengar Sa’id bin Al Musayyab aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Aku berada di samping mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat utusan Abdul Qais bersama Al Asajj datang. Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang minuman, beliau kemudian melarang mereka menggunakan Al hantam, Ad dubba dan An naqir.”

 

Musnad Ahmad 4754: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Bakr ia berkata; Aku menyebutkan kepada Ibnu Umar bahwa Anas menceritakan kepada kami, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Sallam Shallallahu ‘Alaihi Sallam pernah bertalbiah untuk umrah dan haji. Lalu Ibnu Umar berkata, “Anas keliru, sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Sallam itu bertalbiah untuk haji dan kami pun bertalbiah bersamanya. Ketika datang beliau bersabda: “Barangsiapa tidak memiliki hewan kurban, hendaklah ia menjadikannya sebagai umrah saja.” Ketika itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Sallam memiliki hewan kurban namun beliau tidak bertahallul.”

 

Musnad Ahmad 4755: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Empat kalimat yang aku dapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4756: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Athiyah Al ‘Aufi dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual buah kurma hingga nampak layak konsumsi.” Ibnu Umar melanjutkan, “Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan ia layak konsumsi?” Beliau menjawab: “Jika penyakitnya telah hilang dan terlihat sangat bagus.”

 

Musnad Ahmad 4757: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bagian seorang laki-laki dan kudanya sebanyak tiga bagian; satu bagian untuk dirinya dan dua bagian untuk kudanya.”

 

Musnad Ahmad 4758: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Mujahid dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku mengetahui berkah sebuah pohon seperti berkahnya seorang muslim, yakni pohon kurma.”

 

Musnad Ahmad 4759: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Abdul Malik -yakni Ibnu Abu Sulaiman- dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, ia melakukan shalat menghadap ke arah mana pun kendaraannya menghadap. Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu, dan ia menta’wilkan ayat: ‘ (Dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah muka kalian ke arahnya…) ‘ (Qs. Al Baqarah: 144).

 

Musnad Ahmad 4760: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang bajuku atau sebagian anggota tubuhku sambil bersabda: “Wahai Abdullah, jadilah engkau seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan, dan anggaplah dirimu seperti penghuni kubur.”

 

Musnad Ahmad 4761: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang yang sedang ihram mengenakan burnus (mantel yang terdapat tutup kepalanya), kemeja, surban, celana dan sepasang khuff kecuali terpaksa, ia harus memotongnya hingga sebatas mata kaki. Dan janganlah ia mengenakan baju yang telah diolesi wewangian wars atau za’faran, kecuali telah dicuci.”

 

Musnad Ahmad 4762: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Malik -yakni Ibnu Mighwal- dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang dlab (sejenis biawak), beliau pun menjawab: “Aku tidak memakannya dan tidak pula melarangnya.”

 

Musnad Ahmad 4763: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Malik -yakni Ibnu Mighwal- dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa akan melakukan shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4764: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Abdul Malik bin Al Mughirah Ath Tha`ifi dari Abdullah bin Miqdam bin Ward ia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah namun tidak berlari-lari kecil. Lalu aku tanyakan, ‘Kenapa engkau berbuat demikian? ‘ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya, kadang dengan berlari dan kadang dengan berjalan.”

 

Musnad Ahmad 4765: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Malik bin Abu Ghaniyah telah memberitakan kepada kami Abu Janab dari Syahr bin Hausyab dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika kalian telah meninggalkan jihad, memegang ekor-ekor sapi dan saling berjual beli dengan system ‘inah (riba), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, ia tidak akan bisa lepas dari kalian hingga kalian bertaubat kepada Allah dan kembali kepada jalan yang semestinya atas kalian.”

 

Musnad Ahmad 4766: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Ubaid Ath Thanafisi dari Abu Ishaq yakni As Subai’i dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar: “Barangsiapa akan melakukan shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4767: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik aku mendengar Sa’id bin Jubair ia berkata, “Aku bertanya Ibnu Umar, “Wahai Abu Abdurrahman, apakah suami-isteri yang saling bermula’anah (saling melaknat) harus dipisahkan?” Ibnu Umar menjawab, “Subhanallah, benar. Sesungguhnya orang yang paling pertama menanyakan hal itu kepada Rasulullah adalah si fulan seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu apabila salah seorang di antara kami ada yang melihat isterinya melakukan perbuatan yang keji (zina)? Apa yang mesti ia perbuat? Jika ia mendiamkannya saja maka sungguh ia telah mendiamkan suatu perkara yang amat besar, namun jika mengadukannya kepada hakim maka akibatnya akan fatal (dipisahkan antara keduanya)?” Mendengar itu Rasulullah hanya diam saja dan tidak menjawab, lalu lelaki itupun pergi untuk suatu keperluan. Setelah itu lelaki tersebut datang lagi kepada Rasulullah dan berkata, “Sesungguhnya pertanyaan yang pernah aku ajukan tempo hari sekarang sedang menimpaku.” Allah Ta’ala lalu menurunkan sebuah ayat dalam surat An Nuur: ‘ (dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina) ‘ hingga akhir ayat. Lalu Rasulullah memanggil lelaki tersebut dan membacakan ayat itu kepadanya, beliau juga mengingatkannya kepada Allah dan memperingatkan bahwa adzab dunia itu jauh lebih ringan dibanding adzab di akhirat kelak. Maka laki-laki itu pun berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku sekali-kali tidak berbohong atas isteriku.” Lalu Rasul memanggil isterinya dan menasehatinya, mengingatkan dan memberitahukan kepadanya bahwa adzab di dunia jauh lebih ringan daripada adzab di akhirat. Wanita itu lalu berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sungguh dia (suami) telah berdusta!” Rasulullah lantas memanggil lelaki itu, dan lelaki itu akhirnya mengucap syahadat empat kali dan menandaskan bahwa ia berada di pihak yang benar, selanjutnya yang kelima ia menyatakan bahwa ia bersedia menerima laknat Allah jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Lalu Rasulullah memanggil si isteri dan dia juga mengucap syahadat empat kali dan menandaskan bahwa suaminya telah berdusta atasnya, selanjutnya yang kelima ia menyatakan bahwa ia bersedia menerima murka Allah Ta’ala jika ternyata suaminya berada di pihak yang benar. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan antara keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4768: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Muslim Al Khabbath dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mencegat para pedagang yang sedang mengendarai kendaraan, atau orang kota menjual barang kepada orang pedalaman, beliau sampaikan: “Janganlah seorang dari kalian meminang di atas pinangan saudaranya hingga ia menikahi atau meninggalkannya. Tidak ada shalat sunnah setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam, dan tidak pula setelah shalat Shubuh hingga matahari meninggi atau masuk waktu Dluha.”

 

Musnad Ahmad 4769: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Hamzah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Aku pernah mempunyai isteri yang sangat aku cintai akan tetapi Umar tidak suka kepadanya dan menyuruhku untuk menceraikannya, maka akupun menolaknya. Lalu Umar mendatangi Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abdullah mempunyai seorang isteri yang tidak aku sukai lalu aku menyuruhnya untuk menceraikannya tapi ia menolaknya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadaku: “Wahai Abdullah, ceraikanlah isterimu!” Maka akupun menceraikannya.”

 

Musnad Ahmad 4770: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Dzi`b dari Utsman bin Abdullah bin Suraqah ia berkata, “Kami pernah bepergian bersama Ibnu Umar lalu aku bertanya kepadanya, ia pun menjawab, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertasbih ketika bepergian sebelum atau setelah shalat.” Utsman bin Abdullah berkata, “Dan aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang menjual buah-buahan, ia pun menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual buah-buahan hingga hamanya hilang.” Aku bertanya lagi, “Wahai Abu Abdurrahman, apa maksud hilangnya hama, apa itu hama?” Ia menjawab, “Jika kumpulan bintang Tsuraya telah terbit.”

 

Musnad Ahmad 4771: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Bahz keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabalah, “Aku mendengar Ibnu Umar menyampaikan hadits, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hantamah.” Aku pun bertanya kepadanya, “Apa hantamah itu?” Ia menjawab, “Jarrah geriba dari tembikar.”

 

Musnad Ahmad 4772: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah Aku mendengar Muharib bin Ditsar Aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena kesombongannya, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4773: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Al Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muharib bin Ditsar; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dubba, hantam dan muzaffat.” Syu’bah berkata, “Aku mendengarnya berkali-kali.” Hajjaj berkata; Muharrib mengatakan, “Aku ragu dengan penyebutan An Naqir.” Dan Hajjaj menyebutkan dalam haditsnya berulang kali.”

 

Musnad Ahmad 4774: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu At Tayyah dari Abu Mijlaz dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat witir adalah rakaat paling akhir yang dikerjakan di malam hari.”

 

Musnad Ahmad 4775: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Aswad bin Qais Aku mendengar Sa’id bin Amru bin Sa’id menceritakan bahwa ia mendengar Ibnu Umar menceritakan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kami adalah kaum yang buta aksara, tidak dapat menulis dan menghitung. Satu bulan itu adalah begini, begini dan begini.” Ketiga kalinya beliau mengikat ibu jarinya: “Dan satu bulan itu adalah begini, begini dan begini.” Yakni genap tiga puluh hari.”

 

Musnad Ahmad 4776: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Minhal bin Amru, dan aku mendengar Sa’id bin Jubair mengatakan, “Aku pernah berjalan bersama Ibnu Umar di salah satu jalan Madinah, tiba-tiba ada seorang pemuda yang telah memasang seekor ayam untuk dijadikan sasaran tembak untuk setiap kesalahan mereka.” Sa’id melanjutkan, “Ibnu Umar pun marah dan bertanya, “Siapakah yang melakukan ini?” Mereka pun berpencar hingga Ibnu Umar pun berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menjadikan patung dari hewan.”

 

Musnad Ahmad 4777: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Zaid dan Abu Bakr keduanya anak Muhammad, keduanya mendengar Nafi’ menceritakan hadits dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengucapkan: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4778: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Waqid bin Muhammad bin Zaid bahwa ia mendengar Nafi’ berkata, ” Ibnu Umar pernah melihat seorang miskin, lalu ia mendekatinya dan meletakkan (makanan) di hadapannya, orang itu pun makan dengan banyak sekali. Ibnu Umar lalu berkata kepadaku, “Janganlah engkau memasukkan ia ke rumahku, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang kafir itu makan dalam tujuh usus.”

 

Musnad Ahmad 4779: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Mujahid dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian menghalang-halangi para wanita kalian melakukan shalat di masjid pada malam hari.” Lalu Salim atau sebagian anaknya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan mereka menjadikannya sebagai tempat timbulnya kerusakan.” Mujahid melanjutkan, “Ibnu Umar lalu memukul dadanya seraya berkata, “Aku menyampaikan hadits kepadamu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun engkau mengatakan seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 4780: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah Aku mendengar Sulaiman Al A’masy dan Hajjaj menceritakan dari Al A’masy ia menceritakan dari Yahya bin Watstsab dari seorang syaikh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas celaan mereka adalah lebih besar pahalanya dari pada orang mukmin yang tidak membaur dengan manusia dan tidak sabar atas celaan mereka.” Hajjaj menyebutkan, “Lebih baik dari pada orang mukmin yang tidak membaur dengan mereka.”

 

Musnad Ahmad 4781: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Dzakwan dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbincang tanpa melibatkan yang ketiga.” Dzakwan berkata, “Aku pun bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana jika mereka berempat?” Ia menjawab, “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 4782: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Bakar bin Abdullah dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Ucapan talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: ‘LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4783: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Abdullah bin Bakr keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Yunus bin Jubair bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar tentang seorang laki-laki yang menceraikan isterinya yang sedang haid. Ibnu Umar lalu menjawab, “Apakah engkau mengetahui Abdullah bin Umar? Sesungguhnya ia pernah menceraikan isterinya yang sedang haid. Lalu Umar bergegas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya memberitahukan hal itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Suruhlah ia untuk rujuk kepadanya kemudian jika telah memungkinkan untuk dicerai, ia boleh mencerainya awal habis masa iddahnya.” Ibnu Bakr menyebutkan, “Atau di awal masa sucinya.” Lalu aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah talaknya itu dianggap sebagai talak? ‘ Ia menjawab, “Ya, apa engkau lihat bahwa ia adalah seorang yang bodoh dan dungu?”

 

Musnad Ahmad 4784: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ya’la bin Hakim dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak memakannya, tidak menyuruh untuk memakannya dan tidak pula melarangnya.”

 

Musnad Ahmad 4785: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dan Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Ketika Ghailan bin Salamah masuk Islam ia memiliki sepuluh isteri, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepadanya: “Ambillah empat isteri dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 4786: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepada kami Az Zuhri dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika akan tidur janganlah kalian meninggalkan api menyala di rumah kalian.”

 

Musnad Ahmad 4787: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepada kami Az Zuhri dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, tidak ada yang dapat ditunggangi.”

 

Musnad Ahmad 4788: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan Muhammad bin Ja’far keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; Bahz berkata; Telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Huraits aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bejana dari tanah liat seperti Ad Duba dan Al Muzaffat. Beliau bersabda: “Buatlah nabidz (perasan kurma) dalam wadah minuman.”

 

Musnad Ahmad 4789: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Huraits aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin mencari (lailatul qadr), hendaklah mencarinya di sepuluh hari terakhir. Namun jika berhalangan atau tidak mampu, hendaklah ia tidak terlewatkan pada tujuh hari terakhir.”

 

Musnad Ahmad 4790: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Uqbah aku mendengar Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat malam itu dua-dua, jika engkau khawatir masuk waktu Shubuh maka lakukanlah shalat witir satu rakaat.” Ibnu Umar melanjutkan, “Aku tanyakan, “Apa maksud dua-dua?” Beliau menjawab: “Dua rakaat dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4791: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam ia berkata, “Aku melihat Thawus ketika memulai shalat ia mengangkat kedua tangannya, ketika hendak rukuk dan ketika akan bangkit dari rukuk. Lalu salah seorang sahabatnya menyampaikan kepadaku, bahwa dia (Thawus) telah menceritakan hadits kepadanya dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Telah menceritakannya kepada kami Abu An Nadlr dengan makna yang serupa.”

 

Musnad Ahmad 4792: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Jika ada seseorang memanggil orang lain dengan panggilan ‘Wahai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu di antara keduanya. Jika benar seperti apa yang diucapkannya, maka begitulah. Namun jika tidak benar, maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

 

Musnad Ahmad 4793: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang laki-laki Quraisy tertipu dalam jual beli, hal itu lalu disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Katakanlah ‘Tidak ada penipuan’.”

 

Musnad Ahmad 4794: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah secara makna, Hajjaj berkata dari Jabalah dan Ibnu Ja’far berkata; Aku mendengar Jabalah berkata, “Ibnu Az Zubair pernah memberi kurma kepada kami” Ia melanjutkan, “Pada saat itu manusia dalam kondisi susah, saat kami makan kurma, Ibnu Umar pun melewati kami seraya berkata, “Jangan kalian mencampur dua kurma ketika makan (makan dua-dua sekaligus), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mencampur dua kurma.” Hajjaj berkata, ” (Beliau) melarang untuk makan kurma sekaligus dua-dua, kecuali jika kawannya memberinya izin.” Syu’bah berkata, “Aku tidak mempunyai pemahaman lain, kecuali bahwa perizinan tersebut dari ucapan (tambahan) dari Ibnu Umar.”

 

Musnad Ahmad 4795: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan Muhammad bin Ja’far keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabalah aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena kesombongan, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4796: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Bahz keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabalah bin Suhaim berkata; telah mengabarkan kepadaku Bahz ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu sekian.” Beliau lalu membuka jari-jarinya dua kali dan membengkokkan ibu jarinya pada kali ketiganya.” Muhammad bin Ja’far menyebutkan dalam haditsnya, “Maksud sabda beliau adalah dua puluh sembilan (hari).”

 

Musnad Ahmad 4797: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin ‘Ashim dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah mana pun kendaraannya menghadap. Ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4798: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hubaib -yakni Ibnu Abdurrahman- dari Hafsh bin ‘Ashim dari Ibnu Umar ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau selalu melakukan shalat safar (bepergian) -yakni dua rakaat-, demikian pula dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman, selama enam tahun dari pemerintahannya kemudian ia melakukan shalat empat rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4799: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Farwah Al Hamdani aku mendengar ‘Aun Al Azdi berkata, “Ketika Umar bin Ubaidullah bin Ma’mar menjabat gubernur Persia, ia menulis surat untuk Ibnu Umar menanyakan tentang shalat. Lalu Ibnu Umar membalas yang isinya, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar meninggalkan keluarganya, maka beliau selalu mengerjakan shalat dua rakaat hingga kembali kepada mereka.”

 

Musnad Ahmad 4800: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj Al Ma’na keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muslim bin Abu Maryam, Hajjaj penduduk bani Umayyah berkata; Aku mendengar Abdurrahman bin Ali berkata; Hajjaj Al Umawi berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar ketika melihat seorang laki-laki bermain-main dalam shalatnya, Ibnu Umar berkata, ‘Janganlah engkau bermain-main dalam shalatmu dan berbuatlah sebagaimana yang diperbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Muhammad berkata, “Ibnu Umar lalu meletakkan paha kanan di atas paha kirinya dan meletakkan tangan kiri di atas lutut kirinya, serta meletakkan tangan kanan di atas lutut kanannya.” Dan ia berkata dengan jari-jarinya.”

 

Musnad Ahmad 4801: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hayyan -yakni Al Bariqi- ia berkata, “Dikatakan kepada Ibnu Umar, “Sesungguhnya imam kami selalu memanjangkan rakaat shalat?” Maka Ibnu Umar berkata, “Dua rakaat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih ringan atau sama seperti satu rakaat shalatnya orang ini.”

 

Musnad Ahmad 4802: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ayyub -yakni As Sakhtiyani- dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian menghalang-halangi isteri-isteri kalian untuk shalat di masjid.”

 

Musnad Ahmad 4803: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Ayyub bin Musa menceritakan dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dua orang berbicara tanpa melibatkan temannya yang ketiga, dan janganlah seorang laki-laki menyuruh saudaranya berdiri dari tempat duduknya lalu ia menempatinya.”

 

Musnad Ahmad 4804: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dari Abdurrahman bin Sa’d ia berkata, “Aku pernah menemani Ibnu Umar dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah, lalu ia melakukan shalat di atas kendaraannya menghadap ke Makkah. Lalu aku bertanya kepada Salim, “Seandainya perjalanan itu menuju Madinah, bagaimana ia melakukan shalat?” Ia menjawab, “Tanyakan saja kepadanya.” Aku pun menanyakan hal itu kepada Ibnu Umar dan ia pun menjawab, “Ya, ke sini dan ke sini.” Kemudian ia mengatakan, “Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.” Telah menceritakannya kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Abdurrahman bin Sa’d mantan budak keluarga Umar, lalu ia menyebutkan yang semakna.”

 

Musnad Ahmad 4805: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Anas bin Sirin ia mendengar Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat malam dua rakaat-dua rakaat dan witir satu rakaat pada akhir malam.”

 

 

Musnad Ahmad 4806: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dan Hajjaj berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah aku mendengar Muslim bin Yannaq menceritakan dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah melihat seorang laki-laki yang menjulurkan sarungnya, ia pun bertanya, “Dari golongan siapa kamu?” Laki-laki itu lalu menyandarkan kepada golongannya, dan ternyata ia dari bani Laits. Ibnu Umar pun mengetahuinya seraya berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kedua telingaku ini, beliau bersabda: “Barangsiapa menjulurkan kain sarungnya, ia tidak melakukannya kecuali karena rasa sombong, maka sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4807: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Firas aku mendengar Dzakwan menceritakan dari Zadzan dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa pernah memukul budak miliknya dan belum melaksanakan hadnya atau menamparnya, maka kaffarahnya adalah dengan memerdekakannya.”

 

Musnad Ahmad 4808: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Tsauban Al Anbari ia berkata; aku mendengar Muwarriq Al ‘Ajli berkata, “Aku mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar, atau ia sendiri yang bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah engkau melakukan shalat Dluha?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana dengan Umar?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana dengan Abu Bakar?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ibnu Umar menjawab, “Aku tidak akan menduga-duga.”

 

Musnad Ahmad 4809: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dan Hajjaj berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Simak Al Hanafi ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di rumah, dan kalian akan mendatangi orang yang melarang kalian melakukannya lalu kalian mendengar darinya, yakni Ibnu Abbas.” Hajjaj berkata, “Hingga kalian mendengar ucapannya.” Ibnu Ja’far berkata, “Dan Ibnu Abbas ketika itu sedang duduk di dekatnya.”

 

Musnad Ahmad 4810: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabir aku mendengar Salim bin Abdullah menceritakan bahwa ia melihat Ayahnya mengangkat kedua tangannya ketika takbir, ketika hendak rukuk dan ketika bangkit dari rukuk. Lalu aku menanyakan hal itu kepadanya, ia pun mengaku bahwa ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4811: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku mendapati hadits-hadits ini di dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya, ia bersambung kepada hadits Ishaq bin Yusuf Al Azraq; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Jabalah bin Suhaim dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena rasa sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4812: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, bahwa Umar pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku pernah junub pada malam hari?” Lalu beliau menjawab: “Cucilah kemaluanmu, lalu berwudlu dan tidurlah kembali.”

 

Musnad Ahmad 4813: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya dengan rasa sombong, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4814: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang dlab (sejenis biawak). Beliau menjawab: “Aku tidak memakannya, namun tidak mengharamkannya.”

 

Musnad Ahmad 4815: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menentukan miqat bagi penduduk Madinah adalah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah dan penduduk Najd adalah dari Qarn.” Ibnu Umar berkata, “Aku mendapatkan berita bahwa beliau menentukan bahwa miqat bagi penduduk Yaman adalah dari Yalamlam.”

 

Musnad Ahmad 4816: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual kurma atau pohon kurma hingga nampak layak konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4817: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Zaid bin Jubair ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang menjual kurma yang ada di pohon, lalu ia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual pohon kurma hingga nampak layak konsumsi.

 

Musnad Ahmad 4818: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, bahwa ia melakukan shalat di atas kendaraannya dengan menghadap ke mana pun kendaraan itu menghadap, dan ia mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4819: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Jabalah bin Suhaim ia berkata, “Ibnu Az Zubair pernah memberi kurma kepada kami saat manusia tertimpa musih paceklik.” Jabalah melanjutkan, ” Abdullah bin Umar lewat di depan kami dan melarang kami untuk makan kurma dengan dua biji-dua biji sekaligus. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk makan kurma dengan dua biji-dua biji sekaligus kecuali dengan seizin temannya.”

 

Musnad Ahmad 4820: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa membeli makanan, maka hendaklah tidak menjualnya hingga ia memegangnya.”

 

Musnad Ahmad 4821: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari Simak yakni Al Hanafi aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat dua rakaat di rumahnya.”

 

Musnad Ahmad 4822: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj, Muhammad berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dan Hajjaj berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Simak Al Hanafi ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di rumah sedangkan kalian akan mendatangi orang yang telah melarang kalian melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4823: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari seorang laki-laki Najran bahwa ia bertanya kepada Ibnu Umar seraya berkata, “Hanysanya aku bertanya kepadamu tentang dua perkara; anggur dan kurma serta salam di dalam pohon kurma? ‘ Ibnu Umar lantas menjawab, “Pernah dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang lelaki yang sedang mabuk, laki-laki itu berkata, ‘Aku hanya minum (perasan) anggur dan kurma! ‘ Ibnu Umar, “Lalu Rasulullah menderanya sebagai had (hukuman) dan melarang keduanya (anggur dan kurma) untuk dicampur.” Ibnu Umar melanjutkan jawabannya, “Seorang laki-laki melakukan salam pada kurma kepada seseorang, ” Ibnu Umar melanjutkan, ‘Namun pada tahun itu kurmanya belum masak, sehingga laki-laki tersebut ingin mengambil (uangnya), namun orang yang bersangkutan tidak memberikan (uangnya) kepadanya. Akhirnya laki-laki itu datang bersama orang tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu bersabda: “Apakah kurmanya belum masak?” orang tersebut menjawab, ‘Belum.’ Beliau bersabda lagi: “Lalu kenapa kamu tidak memberikan uangnya kembali?” Ibnu Umar berkata, “Kemudian orang tersebut membayarnya kepada laki-laki tersebut.” Ibnu Umar melanjutkan, “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang salam pada kurma hingga nampak kelayakan untuk konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4824: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas mimbar ditanya oleh seorang laki-laki tentang dlab (sejenis biawak). Lalu beliau menjawab: “Aku tidak memakannya, namun aku tidak mengharamkannya.”

 

Musnad Ahmad 4825: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; Ikrimah bin Khalid berkata, “Aku bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang Umrah yang dilakukan sebelum haji. Ibnu Umar lalu menjawab, “Tidak apa-apa seseorang melakukan Umrah sebelum berhaji.” Ikrimah berkata, ” Ibnu Umar berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan Umrah sebelum berhaji.”

 

Musnad Ahmad 4826: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Seorang laki-laki berdiri di masjid Madinah seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, dari manakah engkau memerintahkan kami untuk memulai talbiah?” Beliau menjawab: “Penduduk Madinah memulai talbiah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah dan penduduk Najd dari Qarn.” Nafi’ berkata kepadaku, “Ibnu Umar menyebutkan kepadaku bahwa orang-orang menyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tempat memulai talbiah penduduk Yaman adalah dari Yalamlam.” Padahal Ibnu Umar berkata, “Aku tidak menyebutkan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4827: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.” Nafi’ berkata; Ibnu Umar berkata, “Aku menambahi: LABBAIKA WA SA’DAIKA WAL KHAIRU FI YADAIKA LABBAIKA WAR RAGHBA` ILAIKA WAL AMAL (Aku penuhi panggilan-Mu, kebahagiaan, kebaikan, kecintaan dan amalan berada di tangan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4828: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Hanzhalah; aku mendengar Thawus berkata, “Aku mendengar seorang laki-laki bertanya Ibnu Umar, ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bejana tembikar dan dubba? Ibnu Umar menjawab, “Ya.”

 

Musnad Ahmad 4829: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Hanzhalah dari Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara seekor anjing selain untuk berburu atau anjing penjaga (ternak), maka akan dikurangi pahalanya setiap hari dua qirath.”

 

Musnad Ahmad 4830: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Tsabit Al Bunani ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, aku tanyakan, “Apakah nabidz (rendaman buah) yang dibuat dalam bejana dari tembikar itu dilarang?” Ia menjawab, “Mereka mengaku begitu.” Aku bertanya lagi, “Siapa yang mengaku? Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Mereka mengaku seperti itu.” Lalu aku tanyakan lagi, “Wahai Abu Abdurrahman, apakah engkau mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ibnu Umar pun menjawab, “Mereka mengaku seperti itu.” Tsabit berkata, “Ketika itu Allah Ta’ala memalingkannya dariku, salah seorang dari mereka (sahabat) jika ditanya, ‘Apakah engkau mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam’, maka ia akan marah seraya menunjukkan kepada sahabatnya (untuk menjawab).”

 

Musnad Ahmad 4831: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Abdullah bin Dinar; aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa tidak mendapatkan sandal, hendaklah ia memakai sepasang khuf (sepatu) yang dirobek.” Atau, “Dipotong hingga sebatas di bawah mata kaki.”

 

Musnad Ahmad 4832: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau melarang menggunakan wewangian wars dan za’faran.” Syu’bah berkata, “Aku pun bertanya, “Untuk orang yang sedang ihram?” Ia menjawab, “Ya.”

 

Musnad Ahmad 4833: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Jika seseorang mengatakan kepada saudaranya ‘Kamu kafir’ atau ‘Hai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4834: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq; Aku mendengar Yahya bin Watstsab berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang mandi pada hari Jum’at. Ia melanjutkan; Maka ia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkannya kepada kami.

 

Musnad Ahmad 4835: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku mendapati di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang mondar-mandir di antara dua kelompok kambing, sesekali ia menuju ke kelompok kambing ini dan sesekali menuju ke kelompok kambing itu. Ia tidak tahu, apakah kelompok ini yang ia ikuti atau yang itu?”

 

Musnad Ahmad 4836: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dan Sufyan bin Uyainah keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Najih dari Ayahnya ia berkata, ” Ibnu Umar pernah ditanya tentang puasa Arafah, ia pun menjawab, “Aku pernah melakukan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun beliau tidak berpuasa, aku juga pernah haji bersama Abu Bakr namun ia tidak berpuasa, aku juga pernah berhaji bersama Umar ia pun tidak berpuasa, dan aku juga pernah berhaji bersama Utsman namun ia tidak berpuasa. Dan aku tidak melakukan puasanya, tidak memerintahkan dan tidak melarang untuk melakukannya.” Sekali waktu Sufyan berkata dari orang yang bertanya kepada Ibnu Umar.”

 

Musnad Ahmad 4837: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat dan bangkit dari rukuk, namun beliau tidak melakukannya ketika sujud.”

 

Musnad Ahmad 4838: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Ayyub dari Nafi’ ia berkata, “Jika Ibnu Umar telah memasuki wilayah dekat tanah suci, ia menghentikan talbiyah kemudian mendatangi Dzu Thuwa, ia bermalam, shalat Shubuh dan mandi di tempat itu. Dan ia mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4839: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian datang untuk shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4840: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, orang yang tertinggal shalat Ashar seakan-akan ia kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 4841: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau memerintahkan kami melakukan shalat malam?” Beliau menjawab: “Hendaklah salah seorang dari kalian melakukan shalat dua rakaat-dua rakaat, jika khawatir masuk waktu Subuh hendaklah ia shalat satu rakaat sehingga ia mengganjilkan shalat yang telah dikerjakan.”

 

Musnad Ahmad 4842: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbunyi: ‘LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4843: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, dari manakah kami harus memulai talbiyah?” Beliau menjawab: “Penduduk Madinah memulai talbiyah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah dan penduduk Najd dari Qarn.” Ibnu Umar berkata, “Orang-orang menambahkan, “Dan penduduk Yaman dari Yalamlam.”

 

Musnad Ahmad 4844: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepadaku Shakhr bin Juwairiyah dari Nafi’ ia berkata; Ketika orang-orang melepaskan ketaatan kepada Yazid bin Mu’awiyah, Ibnu Umar mengumpulkan anak-anak dan keluarganya, setelah bersyahadat ia berkata; Amma ba’du, sesungguhnya kami telah berbai’at terhadap orang ini atas bai’at Allah dan Rasul-Nya dan aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pengkhianat akan dikibarkan bendera untuknya pada hari kiamat, dikatakan ‘Ini adalah pengkhianatan Fulan’, dan pengkhianatan paling besar selain kesyirikan kepada Allah Ta’ala, adalah seseorang membai’at orang lain di atas ba’iat Allah dan Rasul-Nya kemudian ia melanggar bai’atnya.” Maka janganlah salah seorang dari kalian memecat Yazid dan janganlah salah seorang dari kalian mengukuhkan diri dalam perkara ini hingga terjadi pertikaian antara aku dan dia.”

 

Musnad Ahmad 4845: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq telah menceritakan kepadaku Seorang laki-laki bani Ghifar -di dalam majlis Salim bin Abdullah- telah menceritakan kepadaku Fulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dihidangkan makanan dari roti dan daging, beliau lalu bersabda: “Berikan daging lengan (kambing) kepadaku.” Maka beliau diberi lengan kemudian memakannya.” Yahya berkata, “Aku tidak mengetahuinya kecuali seperti ini.” Kemudian beliau bersabda: “Berikan daging lengan (kambing) kepadaku.” Kemudian beliau diambilkan lengan kambing dan memakannya. Setelah itu beliau bersabda lagi: “Berikan aku lengan kambing.” Lantas seorang laki-laki berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kedua itu adalah daging lengan (kambing)!” Beliau lalu bersabda: “Demi bapakku, sekiranya engkau diam, sungguh aku akan tetap (dapat) mengambil daging tersebut selama aku masih memintanya.” Maka Salim berkata, “Adapun ini tidak, aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala melarang kalian untuk bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian.”

 

Musnad Ahmad 4846: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Sa’id bin Jubair ia berkata, “Ketika aku berada di samping Ibnu Umar, ia ditanya tentang perasan nabidz yang dibuat dalam bejana yang dibuat dari tembikar, Ibnu Umar lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkannya.” Saat mendengar jawaban itu aku merasa berat, aku pun menemui Ibnu Abbas dan aku sampaikan bahwa Ibnu Umar pernah ditanya tentang sesuatu.” Sa’id berkata, “Dan aku membesar-besarkannya, maka Ibnu Abbas pun bertanya, “Apa itu?” Aku menjawab, “Ibnu Umar ditanya tentang perasan nabidz yang dibuat dalam bejana dari tembikar, lalu ia menjawab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkannya.” Maka Ibnu Abbas pun berkata, “Memang benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkannya.” Aku lalu bertanya Al jar itu apa?” Ibnu Abbas menjawab, “Setiap sesuatu yang dibuat dari tanah liat.”

 

Musnad Ahmad 4847: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, binatang apa yang boleh dibunuh jika kami sedang ihram? ‘ Beliau menjawab: “Ada lima binatang, tidak apa-apa orang membunuhnya; burung rajawali, tikus, burung gagak, kalajengking dan anjing gila.”

 

Musnad Ahmad 4848: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Saat aku sampai pada barisan orang-orang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah selesai dari khutbahnya, aku pun menanyakan apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka lalu menjawab, “Beliau melarang menggunakan muzaffat dan dubba.”

 

Musnad Ahmad 4849: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tidak mengetahuinya selain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah lalu ia menyertakan pengecualian, maka ia boleh memilih; jika mau ia boleh meneruskan sumpahnya, jika tidak maka ia boleh membatalkannya dan ia tidak berdosa.” Atau beliau bersabda: “Tidak apa-apa.” Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bersumpah.” Lalu ia menyebutkan seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4850: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Abdul A’la dari Yahya -yakni Ibnu Abu Ishaq- dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Umar bin Khaththtab melihat sebuah baju dari sutera di pasar, lalu ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya bila engkau membeli baju ini untuk para utusan?” beliau lalu menjawab, “Sesungguhnya yang memakai sutera atau baju semacam ini (di dunia) hanyalah orang-orang yang tidak akan memakainya di akhirat kelak.” Ibnu Umar berkata, “Setelah itu diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kain dari jenis sutera, lalu beliau mengirimkannya kepada Umar. Umar pun enggan menerimanya, kemudian mendatangi Nabi dan berkata, “Wahai Nabi Allah, engkau mengirimkannya kepadaku padahal aku telah mendengar pernyataanmu tentangnya?” Beliau menjawab: “Aku tidak mengirimnya kepadamu agar engkau untuk kamu pakai, tapi aku kirimkan itu padamu agar dapat engkau jual.” Salim berkata, “Karena sebab hadits inilah Ibnu Umar membenci adanya lukisan di pakaian.”

 

Musnad Ahmad 4851: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hubaib bin Asy Syahid telah menceritakan kepada kami Ayahnya dari Anas bin Sirin ia berkata, “Aku bertanya kepada Abdullah bin Umar, “Apakah aku masih harus membaca bacaan di belakang imam?” Ia menjawab, “Cukup bagimu bacaan imam.” Aku bertanya lagi, “Dalam dua rakaat fajar aku biasa memanjangkan bacaannya?” Ia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat malam dua rakaat-dua rakaat.” Aku pun berkata, “Yang aku tanyakan adalah perihal shalat dua rakaat fajar!” Ibnu Umar lalu ganti berkata, “Kamu adalah orang yang suka menyela perkataan. Apakah kamu tidak melihat bahwa aku hendak menyampaikan hadits, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat malam dua rakaat-dua rakaat, lalu jika khawatir dengan datangnya waktu subuh, beliau melakukan shalat witir satu rakaat lalu meletakkan kepalanya, jika mau kau boleh bilang bahwa beliau tidur, dan jika mau kau boleh bilang bahwa beliau tidak tidur. Kemudian beliau mengerjakan dua rakaat tersebut sementara adzan sedang berkumandang. Maka panjang dari mana?” Kemudian aku bertanya lagi, “Seorang lelaki memberi wasiat untuk membelanjakan harta di jalan Allah, apa ia boleh memakainya untuk berhaji? Ia lalu menjawab, “Jika kamu melakukannya, maka itu juga termasuk membelanjakannya di jalan Allah.” Aku bertanya, “Jika seorang lelaki tertinggal satu rakaat kemudian imam salam, apakah ia boleh langsung berdiri untuk mengqadla’nya sebelum imam itu berdiri?” Ia menjawab, “Jika imam telah salam maka ia boleh langsung berdiri.” Aku bertanya, “Bagaimana dengan seorang lelaki yang mengambil hutangnya melebihi harta yang dihutangkannya?” Ia menjawab, “Setiap pengkhianat akan dipasang bendera pada pantatnya pada hari kiamat sesuai dengan kadar pengkhianatannya.”

 

Musnad Ahmad 4852: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Jahdlam dari Abdullah bin Badr dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun beliau tidak bertahallul, demikian juga dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka tidak bertahallul.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan telah mengabarkan kepadaku Jabir dari Salim dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau melakukan hal itu, seperti hadits Yahya bin Sa’id dalam masalah mengangkat kedua tangan.”

 

Musnad Ahmad 4853: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Amru bin Yahya Al Mazi Al Anshari telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Yasar dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di atas keledai, ketika itu beliau sedang menuju ke Khaibar.”

 

Musnad Ahmad 4854: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Abu Labid dari Abu Salamah dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan sekali-kali kalian terkalahkan oleh orang-orang Badui atas nama shalat kalian, mereka memerah susu unta mereka di waktu malam, yakni shalat Isya.”

 

Musnad Ahmad 4855: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dan Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berilah izin kepada para wanita untuk melakukan shalat di masjid pada malam hari.” Lalu anaknya berkata, “Kami tidak akan memberi izin karena mereka akan menimbulkan kerusakan.” Maka Abdullah bin Umar pun berkata, “Apakah engkau tidak mendengarku? Aku mengatakan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun engkau mengatakan, “Tidak!”

 

Musnad Ahmad 4856: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin ‘Atha dari Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pada ubun-ubun kuda akan tersimpul kebaikan hingga hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4857: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Az Zubair -yakni Abu Ahmad Az Zubairi- ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yakni Ibnu Abu Rawwad- dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menanyakan tentang shalat malam. Beliau pun menjawab: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat dan salam di setiap dua rakaat, namun jika engkau khawatir masuk waktu Shubuh, lakukanlah shalat satu rakaat witir untuk shalat yang telah engkau lakukan.”

 

Musnad Ahmad 4858: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mimpi yang benar termasuk bagian dari tujuh puluh bagian kenabian.”

 

Musnad Ahmad 4859: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Utsman bin Abdullah bin Suraqah ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang menjual buah-buahan (yang masih muda). Ibnu Umar lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual buah-buahan hingga penyakitnya hilang.” Aku tanyakan, “Kapan itu?” Ia menjawab, “Hingga terbit sekumpulan bintang-bintang.”

 

Musnad Ahmad 4860: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak mendapatkan sandal hendaklah ia menggunakan sepasang khuf (sepatu) yang telah dipotong hingga sebatas di bawah mata kaki.”

 

Musnad Ahmad 4861: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Umar; Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan yakni: “Lima binatang yang tidak dilarang untuk dibunuh saat ihram; Ular, kalajengking, tikus, anjing gila dan burung rajawali.”

 

Musnad Ahmad 4862: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Umar; Dan ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aslam, semoga Allah menyelamatkannya. Ghifar, semoga Allah mengampuni dosanya. Dan ‘Ushayyah ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

 

Musnad Ahmad 4863: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sambil menunjukkan tangannya ke arah timur, beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan muncul dari sini, fitnah akan muncul dari sini, fitnah akan muncul dari sini, dari tempat terbitnya tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 4864: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Aisyah dan Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berziarah di malam hari.”

 

Musnad Ahmad 4865: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menentukan miqat bagi penduduk Madinah mulai dari Dzul Hulaifah, penduduk Najd dari Qarn dan penduduk Syam dari Juhfah.” Ibnu Umar berkata, “Ketiga miqat itu aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku diberitahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan; “Dan bagi penduduk Yaman mulai dari Yalamlam.” Lalu ditanyakan kepadanya, “Maksudnya Irak?” Ia menjawab, “Ketika itu belum Irak.”

 

Musnad Ahmad 4866: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Martsad -yakni Ibnu Amir Al Huna`i- telah menceritakan kepadaku Abu Amru An Nadabi telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Umar bin Al Khaththab ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, Allah kagum dengan shalat yang dilakukan dengan berjama’ah.”

 

Musnad Ahmad 4867: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati tumpukan makanan dan telah diperbagus oleh pemiliknya. Lalu beliau memasukkan tangannya dan ternyata ada makanan yang telah rusak. Maka beliau pun berkata, “Juallah yang ini dengan harga tertentu dan yang ini dengan harga tertentu pula. Barangsiapa menipu kami, ia bukan golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 4868: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid -yakni Al Wasithi- telah mengabarkan kepada kami Ibnu Tsauban dari Hassan bin ‘Athiyah dari Abu Munib Al Jurasyi dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diutus dengan pedang hingga Allah yang diibadahi dan tiada sekutu bagi-Nya, rizkiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.”

 

Musnad Ahmad 4869: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban telah menceritakan kepada kami Hassan bin ‘Athiyah dari Abu Munib Al Jurasyi dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang hingga hanya Allah yang diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan rizkiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.”

 

Musnad Ahmad 4870: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat sunnah dua rakaat di rumah.”

 

Musnad Ahmad 4871: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Najih dari Ayahnya ia berkata, ” Ibnu Umar pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu ia menjawab, ‘Aku pernah melakukan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun beliau tidak berpuasa, aku juga pernah berhaji dengan Abu Bakar namun beliau tidak berpuasa, aku juga berhaji dengan Umar ia pun tidak berpuasa, dan aku juga berhaji dengan Utsman namun ia tidak berpuasa. Aku tidak melakukan puasanya, tidak memerintahkan dan tidak melarang melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4872: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak halal bagi seseorang untuk bermalam selama dua malam sementara ia mempunyai sesuatu untuk diwasiatkan, kecuali wasiat tersebut telah tertulis di sampingnya.”

 

Musnad Ahmad 4873: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Menurutku ia telah memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya setiap pagi dan sore. Jika ia termasuk ahli surga maka akan diperlihatkan surga, dan jika ia termasuk ahli neraka maka akan diperlihatkan neraka. Dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat dudukmu’, hingga ia dibangkitkan di hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4874: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar dimintai tolong menemani Shafiyah, lalu ia berjalan pada malam itu sejauh perjalanan tiga hari, ia berjalan hingga sore hari. Aku berkata, ‘Shalatlah’. Namun ia tetap berjalan dan tidak menoleh, ia masih berjalan hingga hari sudah gelap, maka Salim atau seseorang berkata kepadanya, ‘Shalatlah karena hari telah sore.’ Maka Ibnu Umar pun menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika tergesa dalam perjalanan, beliau menjamak di antara kedua shalat ini, dan aku ingin menjamak keduanya, maka (tetap) berjalanlah kalian.’ Lalu Ibnu Umar berjalan hingga terbenam matahari, kemudian singgah dan menjamak kedua shalat itu.”

 

Musnad Ahmad 4875: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Yunus dari Muhammad bin Sirin dari Yunus bin Jubair ia berkata; aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang seorang laki-laki yang menceraikan isterinya ketika sedang haid. Ibnu Umar pun menjawab, “Apakah engkau mengenal Abdullah bin Umar?” Aku menjawab, “Ya.” Ibnu Umar berkata lagi, “Sesungguhnya ia pernah menceraikan isterinya yang sedang haid. Lalu Umar menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menanyakan hal tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar ia merujuknya kembali, dan menceraikannya ketika telah mendapatkan masa iddahnya.”

 

Musnad Ahmad 4876: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ya’la bin ‘Atha bahwa ia mendengar Ali Al Azdi menceritakan, bahwa ia mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Shalat pada malam dan siang hari itu adalah dua rakaat-dua rakaat.” Dan Syu’bah ketika itu sedang menyisirinya.”

 

Musnad Ahmad 4877: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak dari Mush’ab bin Sa’d ia berkata, “Ibnu Amir jatuh sakit lalu orang-orang pun memujinya, namun Ibnu Umar hanya diam saja. Kemudian ia mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya aku bukan seperti mereka yang menipumu, tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari hasil penipuan.”

 

Musnad Ahmad 4878: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Ibnu ‘Aun ia berkata, “Aku menulis surat kepada Nafi’, aku tanyakan kepadanya tentang doa ketika berperang. Ia pun membalasku bahwa itu dibolehkan saat awal-awal permulaan Islam. Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyergap bani Musthaliq saat mereka lalai dan hewan-hewan ternak mereka sedang minum. Beliau membunuh pasukan mereka dan menawan keturunan mereka, dan ketika itu Juwairiyah binti Al Harits tertawan.” Abdullah menceritakan hadits ini kepadaku, dan ia termasuk orangyang terlibat dalam pasukan tersebut.”

 

Musnad Ahmad 4879: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dan Hajjaj berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah aku mendengar Qatadah menceritakan dari Bakr bin Abdullah dan Bisyr bin Al Muhtafiz dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengatakan tentang kain sutera: “Hanyasanya yang mengenakannya adalah orang-orang yang tidak akan mengenakannya kelak.”

 

Musnad Ahmad 4880: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dan Hajjaj berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Qatadah aku mendengar Abu Mijlaz aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Shalat Witir adalah satu rakaat yang dikerjakan di akhir malam.”

 

Musnad Ahmad 4881: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj ia berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Qatadah dari Al Mughirah bin Salman, Hajjaj menyebutkan dalam haditsnya; Aku mendengar Al Mughirah bin Salmna berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Shalat sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah shalat sunnah dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum Subuh.”

 

Musnad Ahmad 4882: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Abu Ishaq, dan Hajjaj menyebutkan dalam haditsnya dari Abu Ishaq aku mendengar Yahya bin Watstsab, bahwa ia bertanya kepada Ibnu Umar tentang mandi pada hari Jum’at, Ibnu Umar lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya kepada kami.”

 

Musnad Ahmad 4883: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah; Aku mendengar Abu Ishaq; Aku mendengar seorang laki-laki penduduk Najran berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, aku tanyakan; Sesungguhnya aku bertanya kepadamu tentang dua perkara Telah menceritakan kepada kami ‘Sesungguhnya aku bertanya kepadamu tentang dua perkara, tentang salam pada kurma dan mencampur anggur dan kurma? ‘ lalu Ibnu Umar menjawab, ‘Pernah dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam orang yang mabuk karena minum (perasan) campuran anggur dan kurma.” Ibnu Umar melanjutkan, “Kemudian beliau menderanya sebagai hukuman, beliau juga melarang untuk mencampur keduanya (dalam satu perasan).” Ibnu Umar melanjutkan, “Ada juga seorang laki-laki yang telah melakukan salam pada buah kurma, namun kurmanya belum layak untuk dikonsumsi. Kemudian orang (yang telah memberikan uang kepadanya) meminta kembali uangnya, namun laki-laki tersebut tidak mau memberikannya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Kemudian keduanya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, nabi lantas bertanya: “Apakah kurmamu telah masak?” Laki-laki itu menjawab, “Belum.” Beliau bertanya lagi: “Lalu mengapa kamu memakan hartanya?” Ibnu Umar berkata, “Kemudian beliau memerintahkan kepadanya untuk mengembali uang tersebut, dan beliau pun melarang melakukan salam pada kurma hingga nampak layak untuk konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4884: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Belum dikatakan jual beli antara dua orang hingga mereka berpisah, kecuali jual beli khiar.”

 

Musnad Ahmad 4885: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang wewangian wars dan za’faran.” Syu’bah berkata, “Aku katakan kepadanya, “Apakah orang yang sedang ihram?” ia menjawab, “Ya.”

 

Musnad Ahmad 4886: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada lima binatang yang tidak dilarang untuk dibunuh; anjing gila, burung gagak, burung rajawali, tikus dan ular.”

 

Musnad Ahmad 4887: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kunci ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui turunnya hujan kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang ada dalam kandungan kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat kecuali Allah, tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang dapat diperbuatnya di hari esok serta tidak ada jiwa yang mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia.”

 

Musnad Ahmad 4888: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual buah kurma hingga nampak layak konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4889: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan aku mendengar Abdurrahman, Ibnu Mahdi berkata; Ia adalah Ibnu ‘Alqamah, ia mengatakan, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis kalian.”

 

Musnad Ahmad 4890: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Musa bin Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menebang pohon kurma milik bani Nadlir dan membakarnya.”

 

Musnad Ahmad 4891: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dan Ishaq -yakni Al Azraq- ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari Sa’id bin Amru dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan menghitung, satu bulan adalah sekian dan sekian.” Hingga beliau menyebutkan dua puluh sembilan.” Ishaq berkata, “Beliau membuka tangannya tiga kali dan memasukkan ibu jarinya pada hitungan ke tiga.”

 

Musnad Ahmad 4892: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman bin ‘Alqamah aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kalian untuk membiarkan jenggot dan mencukur kumis.” Dan Abdullah bin Al Walid berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin ‘Alqamah.”

 

Musnad Ahmad 4893: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim bin Ubaidullah ia berkata; aku mendengar Salim bin Abdullah menceritakan hadits dari Ibnu Umar ia berkata, “Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang harus kami lakukan di dunia ini? Apakah suatu amalan yang sudah ditentukan (takdirkan) atau sesuatu yang belum ditakdirkan, atau sesuatu yang baru?” Beliau menjawab: “Sesuatu yang telah ditakdirkan. Wahai Ibnu Khaththab, hendaklah engkau beramal, sebab setiap orang akan dimudahkan jalannya. Orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang bahagia, maka ia akan (dimudahkan) melakukannya untuk menuju kebahagiaan, adapun orang yang termasuk ke dalam golongan orang-orang sengsara, ia akan (dimudahkan) melakukannya untuk kesengsaraannya.”

 

Musnad Ahmad 4894: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Musa bin Abu Aisyah dari Ubaidullah bin Abdullah ia berkata, “Aku pernah menemui ‘Aisyah dan berkata, ‘Maukah kamu menceritakan kepadaku mengenai sakit Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam? ‘ ‘Aisyah menjawab, “Ya. Ketika badan Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam mulai lemah karena sakit dan tua, beliau bertanya: “Apakah orang-orang (para sahabat) telah melaksanakan shalat?” Kami menjawab, “Belum wahai Rasulullah, mereka semua sedang menunggu tuan.” Beliau bersabda: “Kalau begitu tolong siapkan air dalam bejana!” Maka kamipun menyiapkannya, beliau lalu mandi dan berusaha untuk bangkit dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh pingsan. Ketika siuman beliau bertanya lagi: “Apakah para sahabat telah melaksanakan shalat?” Kami menjawab, “Belum wahai Rasulullah, mereka semua sedang menunggu tuan.” Beliau lalu bersabda: “Kalau begitu tolong siapkan air untukku dalam bejana!” kemudian beliau bangkit dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh pingsan kembali. ‘Aisyah berkata, “Sa’at itu para sahabat sedang berkumpul di masjid menunggu Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam untuk melaksanakan shalat ‘Isya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengutus seseorang agar Abu Bakar mengimami para sahabat. Dan Abu Bakr adalah seorang laki-laki yang hatinya sangat lembut (mudah menangis), maka ia pun berkata, “Wahai Umar, shalatlah bersama orang-orang.” Tapi Umar malah menjawab, “Kamu lebih berhak mengimami daripada aku.” Maka untuk beberapa hari Abu Bakar pun akhirnya menjadi imam bagi para sahabat. Kemudian setelah sakit Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam agak membaik, beliau keluar untuk shalat zhuhur dengan diapit oleh dua orang lelaki yang salah satunya adalah Al ‘Abbas. Ketika Abu Bakar melihat beliau, ia bermaksud untuk mundur dari tempat pengimaman tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya untuk tetap berada di tempatnya, dan beliau menyuruh dua lelaki yang mengapitnya untuk menduduknya di samping Abu Bakar. Lalu Abu Bakar shalat dengan berdiri dan beliau shalat dengan duduk.” Ubaidullah berkata, “Kemudian aku menemui Ibnu ‘Abbas dan berkata kepadanya, “Maukah aku paparkan kepadamu apa yang telah disampaikan ‘Aisyah kepadaku mengenai sakitnya Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam?” Ia menjawab, “Paparkanlah!” Maka aku pun memberitahukan peristiwa itu kepadanya dan ia tidak mengingkari sedikitpun daripadanya selain pertanyaannya, “Apakah ‘Aisyah juga memberitahukan kepadamu siapa orang yang bersama Al ‘Abbas saat mengapit Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam?” Aku menjawab, “Tidak.” Ibnu Abbas lalu berkata, “Dia adalah Ali bin Abu Thalib.”

 

Musnad Ahmad 4895: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Abu Ishaq aku mendengar Yahya bin Watstsab menceritakan dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa akan mendatangi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4896: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari ‘Atha dari Katsir bin Jumhan ia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar melakukan sa’i dengan berjalan antara Shafa dan Marwah, lalu aku bertanya, ‘Mengapa engkau berjalan? ‘ Ia menjawab, ‘Jika aku berjalan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, dan jika aku melakukan lari-lari kecil karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 4897: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amru telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits dari Hamzah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Aku memiliki seorang isteri yang aku cintai namun ayahku membencinya, lalu ayahku menyuruhku untuk menceraikannya dan aku pun menolak. Lalu aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan menceritakan hal itu kepada beliau, maka beliau mengirim utusan kepadaku seraya bersabda: ‘Wahai Abdullah, ceraikanlah isterimu.’ Aku pun menceraikannya.”

 

Musnad Ahmad 4898: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amru telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Abu Nu’aim dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menempatkan kebenaran pada ucapan Umar dan hatinya.”

 

Musnad Ahmad 4899: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amru telah menceritakan kepada kami Ali -yakni Ibnu Mubarak- dari Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadaku Abu Qilabah telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan kepada kami: “Sebelum terjadi hari kiamat akan ada luapan api keluar dari lautan di Hadlramaut.” Atau, “dari Hadlramaut yang akan mengumpulkan semua manusia.” Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Hendaklah kalian selalu berada di wilayah Syam.”

 

Musnad Ahmad 4900: Telah menceritakan kepada kami Sahl bin Yusuf dari Humaid dari Bakar ia berkata; aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Sesungguhnya Anas mengabarkan kepada kami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan: “LABBAIKA BI UMMRATIN WA HAJJIN (Aku penuhi panggilan-Mu untuk Umrah dan Haji) ‘?” Ibnu Umar menjawab, “Anas keliru. Rasulullah keluar lalu bertalbiyah untuk haji dan kami pun bertalbiyah bersamanya, tatkala datang beliau bersabda: “Barangsiapa tidak memiliki hewan kurban, hendaklah ia menjadikannya sebagai Umrah.” Bakr melanjutkan, “Lalu hal itu aku sampaikan kepada Anas, ia pun berkata, “Tidaklah kalian menganggap kami kecuali anak kecil.”

 

Musnad Ahmad 4901: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dan Ibnu Abu Dzi`b keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya ia berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku melihat manusia dipukuli jika mereka membeli makanan dengan tanpa ditimbang. Dan mereka diperbolehkan menjualnya hingga mereka menaikkannya ke atas kendaraan mereka.”

 

Musnad Ahmad 4902: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: dan Abdurrahman dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Barangsiapa mengarahkan senjata kepada kami maka ia bukan dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 4903: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa membebaskan bagian kepemilikannya pada diri seorang budak maka ia telah bebas seluruhnya, jika orang yang membebaskan bagiannya tersebut masih mempunyai uang senilai sisa dari harga budak tersebut, maka hendaklah ia membebaskan seluruhnya.”

 

Musnad Ahmad 4904: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bahwa ia pernah mengumandangkan adzan shalat Isya di dlajanan (sebuah bukit kecil di dekat Makkah). Kemudian ia mengucapkan di sela-sela itu: SHALLUU FIRRIHAAL (Hendaklah kalian shalat dirumah masing-masing) ‘. Dan ia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh muadzin untuk mengucapkan kalimat; FIRRIHAAL pada malam yang dingin atau turun hujan dalam perjalanan.”

 

Musnad Ahmad 4905: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat dahak di arah kiblat masjid lalu beliau menggosoknya, kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sedang melakukan shalat hendaklah ia tidak meludah, karena Allah Ta’ala sedang menghadap kepada wajah salah seorang dari kalian di dalam shalat.”

 

Musnad Ahmad 4906: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih utama dari pada shalat seribu kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 4907: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku menghafal talbiyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LA SYARIIKA LAKA (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 4908: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Musa Al Juhani aku mendengar Nafi’ berkata; aku mendengar Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih utama dari pada shalat seribu kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 4909: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan qar’ dan muzaffat.”

 

Musnad Ahmad 4910: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memotong tangan pencuri karena mengambil baju besi seharga tiga dirham.”

 

Musnad Ahmad 4911: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap pembeli dan penjual mempunyai hak memilih hingga keduanya berpisah, atau menjadi jual beli khiyar (punya hak pilih).”

 

Musnad Ahmad 4912: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam, beliau menjawab: “Hendaklah salah seorang dari kalian melakukan shalat dua rakaat-dua rakaat, jika ia khawatir masuk waktu Subuh, lakukanlah shalat satu rakaat sebagai witir untuk shalat sebelumnya.”

 

Musnad Ahmad 4913: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak apa-apa seseorang membunuhnya lima macam binatang saat ia ihram; kalajengking, tikus, burung gagak, burung rajawali dan anjing gila.”

 

Musnad Ahmad 4914: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa tertinggal shalat Ashar (berjama’ah) maka seakan-akan ia kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 4915: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pohon kurma mana pun yang dijual pohonnya, maka buahnya adalah milik orang yang mengawinkannya kecuali jika pembeli mensyaratkannya.”

 

Musnad Ahmad 4916: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa jika tergesa-gesa dalam perjalanannya ia menjama’ shalat Maghrib dan Isya setelah senja menghilang, dan ia mengatakan, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tergesa-gesa dalam perjalanannya beliau menjama’ kedua shalat itu.”

 

Musnad Ahmad 4917: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia menceraikan isterinya yang sedang haid, lalu Umar menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta fatwa beliau. Beliau pun bersabda: “Suruhlah ia merujuknya kembali hingga ia suci dari haid, kemudian satu haid lagi, jika ia telah suci, hendaklah ia menceraikannya sebelum menyetubuhinya, atau hendaklah menahannya (membatalkannya). Begitulah masa ‘iddah yang diperintahkan dalam menceraikan wanita.”

 

Musnad Ahmad 4918: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Abdullah bin Abdullah dan Salim bin Abdullah keduanya berbicara kepada Abdullah ketika Al Hajjaj turun untuk membunuh Ibnu Az Zubair. Keduanya berkata, “Tidak ada yang membahayakanmu jika engkau tidak berhaji tahun ini, sesungguhnya kami khawatir terjadi perang di antara manusia, dan kamu sendiri akan dihalangi untuk datang ke Baitullah.” Abdullah menjawab, “Jika aku dihalangi untuk pergi ke Baitullah, maka aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau dihalangi oleh orang-orang Quraisy untuk datang ke baitullah, aku juga bersama beliau. Aku persaksikan kepada kalian, bahwa aku telah mewajibkan umrah (kepada diriku), maka jika terbuka jalan untukku, aku akan melaksanakan umrahku, dan jika aku dihalangi untuk datang ke Baitullah, maka aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang saat itu aku sedang bersamanya.” Kemudian ia keluar hingga sampai di Dzul Hulaifah lalu melakukan talbiyah untuk umrah, kemudian ia membaca ayat: ‘ (Telah ada pada diri Rasulullah tauladan yang baik) ‘ (Qs. Al Ahzab: 21). Kemudian Abdullah kembali berjalan, hingga ketika sampai di Baida`, ia berkata, “Perkara itu sebenaranya satu, jika aku dihalangi untuk umrah, berarti aku juga dihalangi untuk haji. Aku persaksikan kepada kalian, bahwa aku telah mewajibkan atas diriku untuk haji bersama umrah.” Lalu Abdullah bernagkat, ia memberli hewan kurban di Qudaid, kemudian thawaf untuk keduanya dengan satu thawaf Baitullah dan juga pada shafa dan marwah, setelah itu ia masih terus seperti itu sampai hari idul Adlha.”

 

Musnad Ahmad 4919: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki berseru kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Pakaian apa yang dapat kami kenakan jika kami melakukan ihram?” Beliau menjawab: “Janganlah kalian mengenakan kemeja, surban, burnus (mantel yang terdapat tutup kepalanya), celaan dan sepasang khuf (sepatu) kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sepasang sandal.” Sekali waktu Yahya menyebutkan, “Kecuali jika seseorang tidak memiliki sepasang sandal, namun hendaklah ia memotongnya sebatas di bawah mata kaki dan jangan pula mengenakan pakaian yang telah diolesi wewangian wars (semacam tumbuhan) atau za’faran.”

 

Musnad Ahmad 4920: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang penguasa manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka, seorang suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka, seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka, seorang budak adalah pemimpin bagi rumah tuannya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.”

 

Musnad Ahmad 4921: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan!.”

 

Musnad Ahmad 4922: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mendatangi shalat Jum’at hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4923: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bepergian ke tempat musuh dengan membawa Al-Qur’an, khawatir jika musuh merampasnya.”

 

Musnad Ahmad 4924: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau penjaga ternak, niscaya akan dikurangi dari amalnya dua qirath setiap hari.”

 

Musnad Ahmad 4925: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki berseru kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Dari mana engkau menyuruh kami mengucapkan talbiyah?” Beliau menjawab: “Penduduk Madinah memulai talbiah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah dan penduduk Najd dari Qarn.” Abdullah berkata, “Dan mereka mengaku bahwa beliau bersabda: “Dan penduduk Yaman dari Yalamlam.”

 

Musnad Ahmad 4926: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena rasa sombong, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Ia berkata, “Sulaiman bin Yasar telah mengabarkan kepadaku bahwa Ummu Salamah menyebutkan tentang wanita kepada beliau, beliau pun menjawab: “Ia boleh menurunkannya sejengkal.” Ummu Salamah berkata lagi, “Kalau begitu akan tersingkap?” Beliau menjawab: “Turunkanlah satu hasta, tidak lebih dari itu.”

 

Musnad Ahmad 4927: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah atas anak kecil, orang dewasa, merdeka dan budak sebanyak satu sha’ kurma atau gandum.”

 

Musnad Ahmad 4928: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Umar bin Nafi’ dari Ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qaza’.” Aku bertanya, “Apa qaza’ itu?” Beliau menjawab: “Mencukur sebagian rambut bayi dan meninggalkan sebagiannya.”

 

Musnad Ahmad 4929: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Baitullah bersama Bilal, Usamah bin Zaid dan Utsman bin Thalhah. Mereka berkumpul di dekat pintu dan menetap sejenak (dalam Ka’bah) kemudian beliau keluar lagi. Ketika pintu terbuka, aku yang pertama kali masuk dan menanyakannya kepada Bilal, “Di manakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat?” Bilal menjawab, ‘Di antara dua tiang terdepan.’ Namun aku lupa menanyakan kepadanya berapa rakaat beliau shalat?”

 

Musnad Ahmad 4930: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Umar radliyallahu Ta’ala ‘anhu membawa kuda perang, lalu Umar memberikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dipergunakan oleh seseorang. Kemudian Umar mendapat kabar bahwa apa yang telah diwakafkannya itu dijual. Maka ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bolehkan jika ia membelinya kembali. Beliau lantas menjawab: “Janganlah engkau membelinya dan menarik kembali sedekahmu itu.”

 

Musnad Ahmad 4931: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku pernah melakukan shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina sebanyak dua rakaat, juga bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman selama pemerintahannya, setelah itu ia shalat dengan sempurna.”

 

Musnad Ahmad 4932: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan Isma’il keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, Yahya berkata; Ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Umar berkata, “Wahai Rasulullah, di Khaibar aku memiliki sebidang tanah namun aku belum pernah memperoleh satu harta yang lebih aku cintai dari padanya, apa yang engkau perintahkan kepadaku? Beliau menjawab:  “Jika mau engkau boleh menahan dan mensedekahkannya.” Ibnu Umar melanjutkan, “Umar lalu mensedekahkan kebun tersebut untuk tidak menjualnya, tidak dihadiahkan dan tidak diwariskan.” Ibnu Umar melanjutkan, “Umar pun mensedekahkannya kepada orang-orang fakir, orang-orang yang bertamu, kaum kerabat, fi sabilillah dan Ibnu Sabil. Dan tidak berdosa orang yang merawatnya untuk memakannya dengan cara yang baik atau memberi makan kepada temannya dengan tidak menimbunnya.”

 

Musnad Ahmad 4933: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus kami dalam sebuah ekspedisi, bagian kami mencapai dua belas ekor unta dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi tambahan harta rampasan perang kepada kami masing-masing unta satu ekor-satu ekor.”

 

Musnad Ahmad 4934: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengadakan perlombaan antara kuda yang telah dilatih dari Hafya` sampai Tsaniyatul Wada’, dan kuda yang belum dilatih dari Tsaniyatul Wada’ sampai masjid bani Zuraiq.”

 

Musnad Ahmad 4935: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Amru telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Abdurrahman dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Satu bulan itu adalah dua puluh sembilan hari.” Lalu mereka menyebutkan hal itu kepada Aisyah, maka ia pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan diri dari isteri-isterinya satu bulan lalu beliau kembali selama dua puluh sembilan?” Lalu ditanyakan kepada beliau, beliau pun menjawab: “Sesungguhnya satu bulan terkadang berjumlah dua puluh sembilan.”

 

Musnad Ahmad 4936: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Malik telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa seorang laki-laki Anshar memberi nasehat kepada saudaranya tentang rasa malu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya rasa malu itu bagian dari iman.”

 

Musnad Ahmad 4937: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Yahya yakni Ibnu Sa’id dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian saling menjual kurma hingga nampak layak konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4938: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isa bin Hafsh telah menceritakan kepadaku Ayahku bahwa ia berkata, “Pernah aku bersama Ibnu Umar dalam suatu perjalanan, lalu ia melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar dua rakaat dua rakaat kemudian bangkit menuju ke sebuah karpet. Lalu ia melihat orang-orang mengucap tasbih selesai shalat, ia pun bertanya, “Apa yang mereka kerjakan?” Aku menjawab, “Mengucap tasbih.” Ibnu Umar lalu berkata, “Seandainya aku berniat melakukan shalat sunnah qabliyah atau ba’diyah niscaya aku akan menyempurnakannya. Aku sering menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau wafat dan beliau tidak melakukannya lebih dari dua rakaat, menemani Abu Bakar hingga wafat dan ia tidak melakukannya lebih dari dua rakaat, demikian pula dengan Umar dan Utsman.”

 

Musnad Ahmad 4939: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Dzi`b dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ shalat Maghrib dan Isya dengan satu kali iqamah, dan beliau tidak bertasbih di antara keduanya serta tidak berdzikir di salah satu dari keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4940: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari At Taimi dari Thawus Ia mendengar Ibnu Umar ditanya tentang perasan nabidz yang dibuat bejana dari tembikar, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perasan nabidz yang dibuat dari bejana tembikar?” Ia pun menjawab, “Ya.” Dan Thawus berkata, “Demi Allah, sungguh aku mendengar darinya.”

 

Musnad Ahmad 4941: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang menjulurkan kain sarungnya, atau pakaiannya -Yahya merasa ragu-, karena rasa sombong, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4942: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas kendaraannya ke arah mana pun kendaraan itu menghadap.”

 

Musnad Ahmad 4943: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, ‘Aku mengalami junub di malam hari? ‘ Beliau lalu menyuruhnya untuk mencuci kemaluannya dan berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 4944: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Syu’bah dan Ibnu Ja’far ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Amru bin Murrah dari Zadzan ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar; ‘Kabarkan kepadaku apa yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari wadah-wadah, dan jelaskan kepada kami tentang itu dengan bahasa kami, karena bahasa kami berbeda, bukan seperti bahasa kalian.’ Ibnu Umar lalu menjawab, “Beliau melarang hantam, yaitu jarr, melarang muzaffat, yaitu muqayyar. Beliau juga melarang dubba`, yaitu qar’, melarang naqir, yaitu pohon kurma yang diukir dan ditenun.” Zadzan berkata lagi, “Lalu engkau engkau perintahkan untuk minum dengan menggunakan apa? ‘ Ibnu Umar menjawab, “Wadah (khusus) untuk minum.” Muhammad berkata, “Beliau memerintahkan agar kami membuat perasan nabidz pada bejana minuman.”

 

Musnad Ahmad 4945: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Ibnu Dinar aku mendengar Ibnu Umar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Akan diberikan bendera kepada para pengkhianat pada hari kiamat, lalu dikatakan, ‘Ini adalah pengkhianatan fulan’.”

 

Musnad Ahmad 4946: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Ibnu Dinar aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang yang sedang ihram untuk mengenakan pakaian yang telah diolesi wewangian za’faran atau wars (sejenis tumbuhan).”

 

Musnad Ahmad 4947: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il telah mengabarkan kepadaku Wabarah ia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Ibnu Umar dan bertanya, “Bolehkah aku melakukan thawaf di Baitullah padahal aku sedang ihram?” Ibnu Umar menjawab, “Apa yang menghalangimu untuk itu?” Laki-laki itu menjawab, “Sesungguhnya fulan melarang kami melakukannya sehingga orang-orang pun kembali dari tempat wuquf. Aku melihat sepertinya ia lebih mencintai dunia sedangkan engkau lebih kami kagumi dari padanya.” Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan haji, beliau melakukan thawaf di Baitullah dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Sunnah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya itu lebih berhak untuk diikuti dari pada sunnah Ibnu Fulan jika engkau orang yang benar.”

 

Musnad Ahmad 4948: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.”

 

Musnad Ahmad 4949: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memerah binatang ternak tanpa seizin pemiliknya.”

 

Musnad Ahmad 4950: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak halal seseorang yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan bermalam selama dua malam kecuali wasiat tersebut tertulis di sisinya.”

 

Musnad Ahmad 4951: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan dari Nafi’ ia berkata, “Saat melakukan ihram Ibnu Umar merasakan kedinginan, aku lalu membawakan burnus (mantel bertutup kepala) untuknya. Maka ia pun berkata, “Jauhkanlah ia dariku, tidakkah engkau mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang burnus bagi orang yang sedang ihram.”

 

Musnad Ahmad 4952: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke masjid Quba` dengan naik kendaraan dan berjalan kaki.”

 

Musnad Ahmad 4953: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Pada ubun-ubun kuda tertulis kebaikan hingga hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4954: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan istilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) kepada keduanya di waktu susah maupun mudah sejak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya, yaitu rukun Yamani dan Hajar Aswad.”

 

Musnad Ahmad 4955: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk melakukan li’an (sumpah) antara suami dan isteri dari Anshar dan memisahkan keduanya.”

 

Musnad Ahmad 4956: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Hari ‘Asyura adalah satu hari di mana orang-orang jahiliyah berpuasa. Ketika kewajiban puasa Ramadan turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentangnya, beliau menjawab: “Itu adalah satu hari dari hari-hari yang dianugerahkan Allah Ta’ala, bagi yang mau boleh melakukannya dan bagi yang mau ia boleh meninggalkannya.” Telah menceritakan kepada kami Rauh telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Al Akhnas telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar, lalu ia menyebutkan seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4957: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak bin Harb dari Mush’ab bin Sa’d dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala tidak akan menerima sedekah hasil dari penipuan dan tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.”

 

Musnad Ahmad 4958: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru bin Yahya dari Sa’id bin Yasar dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di atas keledai yang sedang menuju ke Khaibar, menghadap ke timur. Dan aku membacakan di hadapan Abdurrahman; Malik dari Amru bin Yahya dari Abu Al Hubab Sa’id bin Yasar dari Ibnu Umar, namun ia tidak menyebutkan, “Menghadap ke timur.”

 

Musnad Ahmad 4959: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Abu Bakar bin Umar dari Sa’id bin Yasar, ia berkata, ” Ibnu Umar berkata kepadaku, ‘Hendaklah kamu menjadikan Rasulullah sebagai uswah (suri tauladan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan shalat Witir di atas untanya.’ Dan aku membacakan di hadapan Abdurrahman; Malik dari Abu Bakar bin Umar bin Abdurrahman bin Abdullah bin Umar bin Al Khaththab dari Sa’id bin Yasar, lalu ia menyebutkan hadits ini.”

 

Musnad Ahmad 4960: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Yahya bin Watstsab dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.”

 

Musnad Ahmad 4961: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hanzhalah Al Jumahi dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika isteri-isteri kalian meminta izin kepada kalian untuk shalat di masjid, maka izinkanlah mereka.”

 

Musnad Ahmad 4962: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Aban bin Abdullah Al Bajali dari Abu Bakar bin Hafsh dari Ibnu Umar, bahwa ia keluar pada hari ‘Ied namun ia tidak melakukan shalat sebelum dan sesudahnya. Lalu ia menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya demikian.”

 

Musnad Ahmad 4963: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Khalid dari Abu Hanzhalah ia berkata, “Aku menanyakan kepada Ibnu Umar tentang shalat saat perjalanan maka ia menjawab, ‘Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dua rakaat’.”

 

Musnad Ahmad 4964: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman semasa pemerintahannya, mereka melakukan shalat di Mina sebanyak dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4965: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Mujahid dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh dan dua rakaat setelah Maghrib membaca: QUL YA AYYUHAL KAFIRUN (surat Al Kaafiruun) dan QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlash) sekitar dua puluh lebih atau belasan kali.”

 

Musnad Ahmad 4966: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Umar bin Muhammad dari Nafi’ berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang hukum witir, apakah ia wajib dikerjakan? Lalu Ibnu Umar menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin selalu melakukan shalat witir.”

 

Musnad Ahmad 4967: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Imran bin Hudair dari Abdullah bin Syaqiq Al Uqaili dari Ibnu Umar ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan kepadanya tentang shalat malam, saat itu aku berada di antara orang yang bertanya tersebut dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab: “Dua rakaat-dua rakaat, namun jika engkau khawatir masuk waktu Subuh, lakukanlah witir satu rakaat.” Ibnu Umar melanjutkan, “Kemudian laki-laki itu datang lagi pada tahu berikutnya, sedangkan aku berada di dalam rumah di antara beliau dan orang tersebut, lalu ia menanyakan pertanyaan itu lagi kepada beliau, lalu beliau pun menjawab, “Dua rakaat-dua rakaat, namun jika engkau khawatir masuk waktu Subuh, lakukanlah shalat witir satu rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4968: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrahman dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke Quba`, dan Abdurrahman menyebutkan, “Masjid Quba` dengan berkendaraan dan berjalan kaki.” Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 4969: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ali bin Shalih dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Laili dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah kelompok kaum muslimin.”

 

Musnad Ahmad 4970: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrahman dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi jika mereka berjumpa kalian mereka mengucapkan; AS SAAMU ‘ALAIKUM (semoga kecelakaan atas kalian), maka jawablah: WA’ALAIKUM (Atas kalian juga).”

 

Musnad Ahmad 4971: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Sa’d bin Ubaidah ia berkata, “Aku pernah bersama Ibnu Umar dalam sebuah kumpulan, lalu ia mendengar seorang laki-laki dari kumpulan lain mengucapkan, ‘Tidak, demi bapakku! ‘ Maka Ibnu Umar pun melemparnya dengan batu seraya berkata, “Sungguh, itu adalah sumpah yang diucapkan Umar, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya dan bersabda: ‘Itu adalah ucapan kesyirikan’.”

 

Musnad Ahmad 4972: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari An Najrani dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki yang sedang mabuk, beliau pun memukulnya sebagai had (hukuman) kemudian bersabda: “Apa yang kau minum?” laki-laki itu menjawab, “Anggur dan kurma.” Beliau bersabda: “Janganlah kau mencampur keduanya, cukuplah dari salah satunya.”

 

Musnad Ahmad 4973: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muharib bin Ditsar ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan Ad Dubba`, Al Hantam dan Al Muzaffat.” Syu’bah berkata, “Menurutku ia menyebutkan, “Dan An naqir.”

 

Musnad Ahmad 4974: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrahman dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian masuk kepada kaum yang disiksa, yakni Ashhabul Hijir (kaum yang dihancurkan dengan batu), kecuali masuk dalam keadaan menangis, jika tidak menangis maka janganlah kalian masuk ke tempat mereka, khawatir apa yang telah menimpa mereka akan menimpa kalian.”

 

Musnad Ahmad 4975: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kunci-kunci hal yang ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala; Sesungguhnya Allah lah yang mengetahui datangnya hari kiamat, dan Dia lah Dzat yang menurunkan hujan, yang mengetahui janin yang ada dalam kandungan, dan jiwa manusia tidak mengetahui apa yang akan dapat diperbuatnya esok hari, dan ia juga tidak tahu di bumi mana dia akan mati, Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui.”

 

Musnad Ahmad 4976: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Fudlail dan Yazid ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Fudlail bin Marzuq dari ‘Athiyah Al Aufi ia berkata, “Kepada Ibnu Umar aku membacakan ayat: ‘ (Yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) ‘ (Qs. Ar ruum: 54). Lalu ia pun membaca; ‘ (Dialah Allah, Yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) ‘ (Qs. Ar ruum: 54). Ibnu Umar kemudian berkata, “Aku juga pernah membacakan ayat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang engkau bacakan kepadaku, lalu beliau melakukan seperti yang aku lakukan kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 4977: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin Abdurrahman mantan budak keluarga Thalhah, dari Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah menceraikan isterinya ketika sedang haid. Lalu Umar menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun bersabda: “Suruhlah ia merujuknya kembali, kemudian ia boleh menceraikannya jika telah suci atau mengandung anaknya.”

 

Musnad Ahmad 4978: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrazaq ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim bin Ubaidullah dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa Umar pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk menunaikan ibadah umrah, Rasulullah lalu memberinya izin seraya bersabda: “Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doamu yang baik dan jangan lupakan kami.” Abdurrazaq menyebutkan dalam haditsnya, “Umar lalu berkata, “Aku lebih senang mendengarnya dari pada melihat matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 4979: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Makkah pada siang hari.”

 

Musnad Ahmad 4980: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki (Makkah) dari Tsniyatul ‘Ula dan keluar dari Tsaniyatu As Sufla.”

 

Musnad Ahmad 4981: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Zaid bin Aslam ia mendengarnya dari Ibnu Umar ia berkata, “Ada dua orang laki-laki dari arah timur saling berbincang atau salah satu dari keduanya berbicara, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari penjelasan itu terdapat sihir.” Atau, “Sesungguhnya penjelasan itu mengandung sihir.”

 

Musnad Ahmad 4982: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq An Naji dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian meletakkan orang yang meninggal dunia dari kalian maka ucapkan: ‘BISMILLAH WA ‘ALAA SUNNATI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM (Dengan menyebut nama Allah dan atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”

 

Musnad Ahmad 4983: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Ghazwan dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan diperlihatkan kepada anak cucu Adam di dalam kubur tempat duduknya dari surga atau neraka pada pagi dan sore hari.”

 

Musnad Ahmad 4984: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membeli makanan maka janganlah ia menjualnya (kembali) hingga ia menerimanya.”

 

Musnad Ahmad 4985: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari Abu Ishaq dari An Najrani dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang laki-laki yang melakukan transaksi jual beli pohon kurma sebelum kurmanya berbuah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: ‘Atas dasar apa engkau memakan hartanya? ‘ Dan beliau melarang menjual kurma hingga nampak layak konsumsi.”

 

Musnad Ahmad 4986: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak bin Harb dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika engkau membeli emas dengan perak atau salah satu dari keduanya dengan yang lain, maka jangan sampai ia berpisah darimu hingga selama kamu dengannya masih belum mempunyai kata jadi.”

 

Musnad Ahmad 4987: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia berlari-lari kecil dari Hajar Aswad ke hajar Aswad lagi sebanyak tiga putaran dan berjalan empat putaran, lalu shalat dua rakaat di maqam Ibrahim, kemudian ia menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 4988: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) kepada dua rukun baik dalam situasi susah maupun mudah sejak aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya kepada keduanya, yakni hajar Aswad dan rukun Yamani.”

 

Musnad Ahmad 4989: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sa’id bin As Sa`ib dari Dawud bin Abu ‘Ashim ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang shalat di Mina. Ia pun balik bertanya, “Apakah engkau akan mendengar tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Aku menjawab, “Ya, dan aku beriman kepadanya.” Ibnu Umar lalu berkata, “Beliau melakukan shalat di Mina dua rakaat.”

 

Musnad Ahmad 4990: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dan Salamah bin Kuhail dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa ia melakukan kedua shalat dengan satu iqamah seraya berkata, “Beginilah yang diperbuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama kami di tempat ini.”

 

Musnad Ahmad 4991: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Farqad As Sabakhi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminyaki rambutnya dengan minyak yang tidak dicampuri wewangian ketika melakukan ihram.”

 

Musnad Ahmad 4992: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Nafi’ dari Ibnu Umar dan dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang yang sedang ihram mengenakan pakaian yang diolesi wewangian wars (semacam tumbuhan) atau za’faran.”

 

Musnad Ahmad 4993: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kepada orang yang sedang melakukan ihram mengenakan pakaian yang diolesi wewangian wars atau za’faran.”

 

Musnad Ahmad 4994: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Ziyad bin Jubair, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang seseorang yang bernadzar untuk berpuasa satu hari namun bertepatan dengan ‘Iedul Adlha atau ‘Iedul Fitri. Maka Ibnu Umar menjawab, “Allah memerintahkan untuk menepati nadzar sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita berpuasa pada hari ini.”

 

Musnad Ahmad 4995: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman dari Sufyan dari Jabalah bin Suhaim dari Ibnu Umar, Abdurrahman berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang makan buah kurma dua biji sekaligus hingga ia meminta izin kepada teman-temannya.”

 

Musnad Ahmad 4996: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al A’masy dari Al Minhal yaitu -Ibnu Amru- dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang memasang seekor ayam hidup untuk dijadikan sasaran tembak (latihan), lalu Ibnu Umar pun berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mencincang binatang.”

 

Musnad Ahmad 4997: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hanzhalah dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena rasa sombong, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 4998: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Yazid ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memakai cincin emas lalu orang-orang pun ikut memakai cincin mereka dari emas, beliau lalu membuang cincinnya seraya bersabda: “Aku tidak akan pernah memakainya selamanya.” Yazid berkata, “Lalu orang-orang pun membuang cincin-cincin mereka.”

 

Musnad Ahmad 4999: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Rawwad dan Sufyan dari Umar bin Muhammad dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau menghadapkan mata cincinnya pada telapak tangannya.”

 

Musnad Ahmad 5000: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Umari dari Sa’id Al Maqburi dan Nafi’ bahwa Ibnu Umar pernah memakai sibtiyah (sandal dari kulit sapi), ia berwudlu dengan memakainya dan menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukannya.”

 

Sumber: http://www.lidwa.com

 

 

, ,

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 622 other followers