Pendekar Budiman: Bagian 02

Pendekar Budiman: Bagian 02
Oleh Gu Long

Baru sekarang kakek itu menghela napas panjang, pedang pun jatuh ke lantai, serunya dengan wajah cerah, “Ah, kiranya Li … Li-tamhoa, sudah hampir seharian kutunggu kedatanganmu di sini.”

“Tunggu kedatanganku?” Sun-hoan menegas.

“Ya,” jawab si kakek. “Tadi ada seorang … seorang Kongcu … pahlawan, banyak yang dibunuhnya, hanya seorang dibiarkan hidup dan suruh kujaga dia, katanya sebentar lagi Li-tamhoa akan kemari dan orang ini agar diserahkan padamu. Jika tidak kukerjakan dengan baik, maka … maka nyawaku akan dicabutnya.”

“Di mana orang yang ditinggalkan di sini itu?”

“Di dapur?” jawab si kakek

Dapur itu tidak kecil, malahan sangat resik, benarlah seorang terikat berduduk di kursi, kurus kecil orangnya, pada daun telinganya ada secomot bulu hitam.

Li Sun-hoan memang sudah menduga A Fei pasti akan meninggalkan orang ini agar dapat ditanyai olehnya. Tapi jelas orang ini tidak menyangka akan bertemu dengan Li Sun-hoan, sinar matanya kelihatan merasa takut, ujung mulut tampak kedutan, tapi tidak dapat bersuara.

Rupanya A Fei tidak saja mengikatnya erat-erat, juga mulutnya telah disumbat dengan kain.

Agaknya pemuda itu khawatir orang ini akan memancing atau menggertak si kakek dengan perkataannya, maka mulutnya lantas disumbat sekalian. Baru sekarang Sun-hoan merasa pemuda itu ternyata juga sangat cermat cara bekerjanya.

Tapi mengapa orang ini tidak sekalian ditutuk saja Hiat-to kelumpuhannya dan mengapa perlu diikat cara demikian?

Sinar pisau Li Sun-hoan berkelebat, tapi tidak melukai orang itu melainkan cuma mencungkit kain penyumbat mulut orang itu. Namun begitu hampir saja orang itu jatuh kelengar saking kagetnya.

Ia ingin minta ampun, tapi mulut terasa kering dan kaku sehingga sepatah kata pun tidak sanggup berucap.

Sun-hoan juga tidak mendesaknya, tapi berduduk di depannya, lalu ia suruh si kakek memindahkan semua barang santapan di luar tadi ke situ, ia mendahului menuang satu cawan arak dan menenggaknya hingga habis, lalu bertanya dengan tersenyum, “Siapa namamu?”

Muka orang itu tampak pucat, ia menjilat bibirnya yang kering, lalu menjawab dengan suara parau, “Ang Han-bin.”

“Kutahu kau suka minum arak, nah, minurnlah secawan!” kata Sun-hoan.

Malahan tali pengikat orang itu terus dipotongnya, lalu ia menuang pula satu cawan arak dan disodorkan padanya.

Keruan orang itu terbelalak, tercengang dan sangsi, sekuatnya ia meremas lengan sendiri yang kaku, ia tidak berani menerima cawan arak itu, tapi juga tidak berani menolak.

Sun-hoan tertawa, katanya, “Jika ada orang menyuguh arak padaku, selamanya tidak pernah kutolak.”

Terpaksa orang yang bernama Ang Han-bin itu menerimanya dengan tangan gemetar, sekalipun ada setengah cawan terminum, tapi setengah cawan lain sama tercecer pada bajunya.

“Ai, sayang, sungguh sayang ….” gumam Sun-hoan dengan gegetun, “apabila kau mau belajar seperti diriku, carilah sebilah pisau dan belajar mengukir, selanjutnya tanganmu pasti takkan gemetar, ilmu mengukir dapat membikin mantap gerakan tangan, inilah rahasiaku.”

Lalu ia menuang lagi dua cawan arak, katanya dengan tertawa, “Perempuan cantik tidak boleh diperlakukan dengan kasar, arak baik tidak boleh disia-siakan, kedua hal ini hendaklah selalu kau ingat dengan baik.”

Sekali ini Ang Han-bin menerima cawan arak itu dengan kedua tangannya meski kedua tangannya masih terus gemetar, khawatir arak tercecer lagi, cepat ia menunduk dan mendekatkan mulutnya pada cawan sehingga isi cawan dapat ditenggaknya hingga habis.

“Bagus,” seru Sun-hoan dengan tertawa, “selama hidupku tidak mempunyai kepandaian lain kecuali hal tadi dan seluruhnya sudah kuberitahukan padamu, untuk itu entah cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku?”

“Aku … aku ….” Ang Han-bin gelagapan.

“Kau pun tidak perlu berbuat lain, cukup kau keluarkan saja bungkusan itu dan aku pun merasa puas,” kata Sun-hoan.

Tangan Ang Han-bin gemetar lagi, untung cawannya sudah kosong. Ia menarik napas panjang, lalu bertanya, “Bungkusan apa maksudmu?”

“Masa kau tidak tahu?” tanya Sun-hoan.

Sebisanya Ang Han-bin memperlihatkan secercah senyuman, jawabnya, “Cayhe (aku yang rendah) benar-benar tidak tahu.”

Sun-hoan menggeleng, katanya dengan menyesal, “Ai, kuanggap orang yang gemar minum pada umumnya pasti lebih suka blak-blakan, tapi kau … sungguh kau sangat mengecewakan aku.”

“Ah, mungkin … mungkin Li-tayhiap salah paham. Cayhe memang ….”

Belum habis ucapan Ang Han-bin, mendadak Li Sun-hoan menarik muka dan berkata, “Hm, sudah kau minum arakku, tapi berani berdusta padaku. Ayo, kembalikan saja arakku.”

“Ba … baik, akan … akan kubelikan ….”

“Yang kuminta adalah arak yang kau minum tadi, arak lain aku tidak mau.”

Ang Han-bin jadi melenggong, ia mengusap keringat yang memenuhi keningnya sambil menyengir, ucapnya dengan tergegap, “Tapi … tapi arak sudah terminum ke dalam perut, cara … cara bagaimana ….”

“Mudah sekali,” tukas Sun-hoan, sekali berkelebat, tahu-tahu pisaunya sudah mengancam di dada Ang Han-bin, katanya, “Nah, jika arak sudah berada dalam perutmu, kan beres urusannya jika kubedah saja perutmu.”

Tambah pucat muka Ang Han-bin, katanya sambil menyengir, “Ai, jang … janganlah Li-tayhiap bergurau dengan hamba.”

“Memangnya kau kira aku lagi bergurau denganmu?” sedikit Sun-hoan menekan, dengan perlahan pisaunya telah menggores setitik pada dada Ang Han-bin sehingga berdarah.

Secara ilmu, jiwa, hanya kaum pengecut saja yang suka berbohong, tapi kaum pengecut bila melihat darahnya sendiri, seketika akan ketakutan dan mau mengaku terus terang. Teori ini rasanya tidak ada yang lebih jelas daripada Li Sun-hoan.

Di luar dugaannya, pisau yang sedikit ditusukkan itu ternyata mengenai benda keras seperti halnya menusuk batu. Sedangkan Ang Han-bin masih juga menyengir, seolah-olah tidak merasakan apa pun.

Mencorong terang sinar mata Li Sun-hoan, tapi pisau tidak ditusukkan lagi. Bahwa si pengecut ini ternyata kebal, hal ini pun tidak mengejutkan Sun-hoan, ia malah bertanya dengan tersenyum, “Tentunya sudah cukup lama kau berkecimpung di dunia Kangouw?”

Ang Han-bin tidak menyangka orang akan bertanya demikian padanya, ia terkesiap, lalu menjawab dengan tersenyum, “Sudah … sudah ada 20-an tahun.”

“Jika begitu tentunya kau tahu di dunia Kangouw ada beberapa benda mestika yang sangat ajaib, meski sangat jarang orang yang melihat benda-benda mestika tersebut, tapi hal ini sudah lama diketahui, konon salah satu di antaranya adalah ….”

Dipandangnya Ang Han-bin tajam-tajam, lalu menyambung sekata demi sekata, “Ada sepotong Kim-si-kah (baju kutang benang emas), kabarnya benda ini kebal senjata tajam apa pun, kedap air dan anti api. Jika sudah 20-an tahun kau berkecimpung di dunia Kangouw, seharusnya pernah kau dengar benda mestika ini.”

Air muka Ang Han-bin berubah menjadi seperti mayat, ia melonjak bangun dan segera bermaksud kabur.

Gerakannya tidak lambat, sekali melesat sudah sampai di ambang pintu, tapi sebelum dia melompat keluar, tahu-tahu Li Sun-hoan sudah berdiri di depannya.

Ang Han-bin menjadi nekat, sedikit berputar, senjatanya tombak berantai telah ditanggalkan dari pinggangnya, cahaya perak berkelebat, seperti pagutan ular, kontan tombaknya menusuk Li Sun-hoan.

Sedikitnya sudah 20-30 tahun Ang Han-bin berlatih Kungfu menggunakan tombak yang berantai ini, tusukannya ini cukup lihai, tombak yang lemas ini seketika tersendal menjadi lurus kencang dan langsung menusuk tenggorokan lawan.

Terdengar suara “cret” satu kali, tangan Li Sun-hoan bergerak sedikit, tangannya masih memegang cawan arak, dengan cawan arak inilah dia kunci ujung tombak Ang Han-bin, dan entah mengapa, cawan arak itu tidak tertusuk pecah oleh ujung tombak.

“Selanjutnya jika ada orang membujuk aku pantang minum arak, tentu akan kukatakan padanya bahwa minum arak juga ada faedahnya, paling tidak cawan arak pernah menyelamatkan jiwaku,” demikian kata Li Sun-hoan dengan tertawa.

Seketika Ang Han-bin berdiri seperti patung dengan dahi penuh butiran keringat.

“Eh, jika kau tidak ingin berkelahi lagi, hendaklah kau lepaskan kutang benang emas yang kau pakai itu sebagai uang minum, dengan demikian kukira sudah cukup untuk membayar dua cawan arak yang telah kau minum,” kata Sun-hoan pula.

“Kau … kau benar-benar meng … menghendaki ….” Ang Han-bin tidak sanggup meneruskan ucapannya karena gemetar ketakutan.

“Sebenarnya tidak ada maksudku menghendaki benda ini,” kata Sun-hoan, “bahwa kau mampu membawa lari bungkusan itu pada saat aku lengah, hal ini harus diakui karena kepintaranmu. Tapi tidak pantas kau katakan kepada orang lain bahwa akulah yang mengambil bungkusan itu, aku palinsg benci apabila difitnah orang.”

“Ya, bungkusan ini memang … memang kuambil, isi bungkusan itu juga … juga Kim-si-kah, tapi … tapi ….” saking cemasnya Ang Han-bin tidak sanggup meneruskan lagi, bahkan air mata hampir saja menitik.

“Meski Kim-si-kah memang mestika pelindung tubuh, tapi apa gunanya benda itu bagimu?” ujar Sun-hoan. “Sekalipun kau pakai sepuluh potong Kim-si-kah, pisauku tetap dapat merenggut nyawamu, untuk apa pula kau bela benda ini dengan mati-matian? Benda semacam ini tidak pantas dimiliki orang macam kalian ini, jika diberikan padaku mungkin kau dapat hidup beberapa tahun lebih lama.”

“Hamba juga tahu tidak pantas memiliki benda mestika ini,” ucap Ang Han-bin dengan menyesal, “tapi bukan maksud hamba ingin mengangkanginya ….”

“Memangnya maksudmu hendak kau berikan lagi kepada orang lain? Diberikan kepada siapa?” tanya Sun-hoan.

Ang Han-bin mengertak gigi, dengan nekat ia tutup mulut.

“Banyak caraku membikin orang bicara sejujurnya,” ancam Sun-hoan dengan tak acuh, “akan tetapi aku tidak suka bertindak demikian, aku pun berharap jangan kau paksa kugunakan kekerasan.”

Akhirnya Ang Han-bin menghela napas, katanya, “Baiklah, akan kukatakan.”

“Sebaiknya kau ceritakan sejak awal,” kata Sun-hoan.

“Tahukah Li-tayhiap Te Ngo yang berjuluk ‘Sin-thau’ (maling sakti)?” tutur Ang Han-bin setelah berpikir sejenak. “Tapi maling rendahan begitu, mungkin Li-tayhiap tidak kenal dia.”

“Tapi kutahu orang ini, bahkan kenal dia dengan baik,” ujar Sun-hoan dengan tertawa. “Ginkang dan Kungfu pada tangannya terhitung lumayan, kekuatan minum arak juga tergolong bolehlah.”

“Dan Kim-si-kah ini berasal dari dia, entah dicurinya dari mana,” tutur Ang Han-bin pula.

“Oo? Lantas bagaimana pula bisa sampai di tanganmu?”

“Dia terhitung sahabat karib Cukat Lui, kami bertemu di tengah perjalanan, kami lantas minum arak bersama, setelah mabuk, dia mengeluarkan Kim-sim-kah untuk pamer, merah mata Cukat Lui melihat benda mestika ini, dia lantas … lantas ….”

“Jika kalian sudah berani berbuat serendah itu, masakah tidak berani menceritakannya secara terus terang?” damprat Sun-hoan.

Ang Han-bin menunduk, ucapnya dengan menyesal, “Te Ngo tahu Kim-si-kah ini adalah benda yang diincar oleh setiap orang Kangouw sekarang, jika dia membawa benda mestika ini, tidak seharusnya dia minum sampai mabuk.”

“Kesalahannya bukan lantaran mabuk, tapi lantaran salah memilih kawan,” ejek Sun-hoan.

Muka Ang Han-bin yang pucat tadi bisa juga berubah menjadi merah.

Sun-hoan berkata pula, “Meski Kim-sih-kah ini terkenal sebagai salah satu di antara ‘Bu-lim-sam-po’ (tiga pusaka dunia persilatan), tapi sebenarnya benda ini tidak banyak gunanya, sebab baju kutang hanya dapat dipakai oleh orang yang sedang bertanding dengan lawan yang sama kuat, bila dipakai orang biasa, betapa pun jiwa tetap akan melayang. Maka aku sangat heran entah sebab apa benda ini menjadi incaran orang, kukira di dalam hal ini pasti ada sebab-sebab lain.”

“Betul, di dalam urusan ini memang ada suatu rahasia ….” tutur Ang Han-bin sambil menyengir, “Padahal rahasia ini sekarang sudah bukan rahasia lagi, sebab ….”

Bicara sampai di sini, tiba-tiba pemilik kedai minum tadi muncul dengan membawa dua poci arak, serunya dengan tertawa, “Arak ini baru saja kuhangatkan, silakan Paduka Tuan Li-tamhoa cicipi satu cawan dulu.”

Sun-hoan tersenyum, katanya, “Jika tujuanmu agar lain kali kumampir di rumah minum ini, maka sebaiknya jangan kau sebut Paduka Tuan padaku, sebab bila kudengar panggilan demikian, sukarlah bagiku untuk minum arak.”

Cawan arak tadi masih dipegangnya, segera ia menuang satu cawan penuh, terendus bau arak yang sedap, seketika air mukanya berubah cerah pula, ucapnya sambil mengangguk, “Ehmm, sungguh arak bagus!”

Sekali tenggak ia habiskan secawan itu, lalu terbatuk-batuk pula hingga menungging.

Si kakek pemilik kedai menghela napas, dia angkat sebuah kursi dan memapah Li Sun-hoan berduduk sambil berkata, “Batuk sangat merusak badan, perlu hati-hati ….”

Wajahnya yang tua itu tiba-tiba menampilkan secercah senyuman, lalu ucapnya pula, “Arak ini khusus dapat menyembuhkan batuk, setelah Anda minum, selanjutnya dijamin takkan batuk lagi.”

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Kalau arak dapat menyembuhkan batuk, sungguh arak yang istimewa. Silakan kau pun minum secawan,”

“Tidak, aku tidak minum,” jawab si orang tua.

“Sebab apa? Masakan penjual arak lebih suka minum air daripada minum arak?” tanya Sun-hoan.

“Biasanya aku pun suka minum secawan dua, akan tetapi … sepoci arak ini tidak boleh kuminum,” bicara sampai di sini, sorot matanya yang buram tadi sekonyong-konyong berubah menjadi mencorong terang dan kelihatan bersifat licik.

Tapi Li Sun-hoan seperti tidak memperhatikannya dia tetap bertanya dengan tersenyum, “Memangnya kenapa?”

Orang tua itu memandangi pisau kecil di tangan Li Sun-hoan, katanya perlahan, “Sebab setelah minum arakku ini, asalkan sedikit menggunakan tenaga, racun dalam arak segera akan bekerja dan dalam waktu singkat akan mati dengan tujuh lubang berdarah (yang dimaksudkan tujuh lubang adalah mata, telinga, hidung dan mulut).”

Seketika Sun-hoan melenggong seperti patung.

Kejut dan girang Ang Han-bin, katanya, “Tak tersangka kau datang membantuku, sungguh aku sangat berterima kasih dan kelak pasti akan kubalas kebaikanmu ini.”

“Tidak perlu kau terima kasih padaku,” jengek si orang tua.

Air muka Ang Han-bin berubah, katanya pula dengan menyengir, “Ah, kenapa engkau bicara demikian, jangan-jangan engkau juga … juga ingin ….”

Sembari bicara, tombak berantai yang dipegangnya segera menyambar ke depan.

Si orang tua meraung gusar, tubuhnya yang semula kelihatan loyo itu mendadak menegak lebih tinggi satu kaki, sekali tangan kirinya meraih, kontan ujung tombak berantai itu dipegangnya, bentaknya, “Huh, hanya orang macam kau juga berani bergebrak dengan orang tua?”

Ternyata kakek yang semula kelihatan takut-takut itu, hanya dalam sekejap saja telah berubah menjadi seorang lain, wajahnya tampak bersemu ungu dan gilap.

Melihat air muka yang aneh itu, tiba-tiba Ang Han-bin ingat akan seorang, serunya kaget, “Ampun Cianpwe, hamba tidak tahu Cianpwe adalah ….”

Tapi sudah terlambat baginya untuk minta ampun, mendadak tinju kanan si orang tua menghantam, “blang”, kontan tubuh Han-bin mencelat, tombak berantai yang masih dipegangnya juga putus menjadi dua potong, darah segar berhamburan, tubuhnya yang mencelat itu menumbuk dinding dan tepat jatuh dalam wajan besar di atas tungku sana.

Tenaga pukulan itu sungguh sangat mengejutkan.

Li Sun-hoan menghela napas, katanya sambil menggeleng kepala, “Sudah kukatakan sejak tadi, dengan memiliki Kim-si-kah ini, kau akan mati terlebih cepat.”

Si orang tua membuang setengah potong tombak berantai yang dipegangnya itu, ia pandang mayat Ang Han-bin dengan terkesima, garis-garis keriput pada mukanya tertampak jelas lagi, gumamnya, “Sudah 20 tahun, sudah 20 tahun ….”

“Maksudmu sudah 20 tahun kau tidak lagi membunuh orang, begitu?” tanya Sun-hoan.

Mendadak si kakek berpaling dan menatap Li Sun-hoan dengan tajam, “Tapi aku belum lagi lupa cara bagaimana membunuh orang, bukan?”

“Apakah berharga kau bunuh seorang hanya karena persoalan ini?”

“Pada 20 tahun yang lalu, tanpa sebab aku pun suka membunuh.”

“Tapi sekarang 20 tahun sudah lalu, sungguh tidak mudah kau dapat sembunyi selama 20 tahun. Kan tidak perlu kau bongkar asal usulmu sendiri hanya persoalan sekecil ini?”

“Memangnya kau tahu siapa aku?”

Sun-hoan tertawa, jawabnya, “Jangan lupa, betapa gemilangnya tokoh Ci-bin-ji-long Sun Gwe pada 20 tahun yang lampau, betapa dia berani membawa lari istri pemimpin besar perserikatan 72 organisasi pelabuhan daerah Kanglam, keberaniannya itu sungguh membuatku sangat kagum.”

“Hm, dalam keadaan begini kau berani mengejek diriku?” damprat si kakek.

“Jangan kau kira kusindir kau, seorang lelaki kalau rela mengorbankan segalanya demi membela perempuan yang dicintainya, maka lelaki demikian sungguh harus dipuji. Sebenarnya aku sangat kagum padamu, tapi sekarang ….” setelah menggeleng kepala, Sun-hoan melanjutkan, “sekarang aku menjadi sangat kecewa, sebab tidak pernah kusangka bahwa Ci-bin-ji-long tidak lebih hanya seorang pengecut yang cuma berani menaruh racun secara diam-diam, tapi tidak berani menghadapi lawan secara terang-terangan dengan Kungfu sejati.”

Orang tua ini memang bernama Sun Gwe yang dulu terkenal dengan julukan Ci-bin-ji-long atau si muka ungu.

Dia mendelik terhadap Li Sun-hoan, belum lagi dia bicara, tiba-tiba seorang menanggapinya dengan tertawa, “Hah, janganlah kau salahkan dia, untuk menaruh racun juga perlu kepandaian khusus, kalau dia saja belum lagi sanggup.”

Jelas itu suara seorang perempuan, enak kedengarannya.

“Ya, sejak tadi seharusnya kuingat inilah perbuatan Jiang-wi Hujin,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Sungguh tidak sia-sia jika Li Sun-hoan bisa mati di tangan si cantik yang namanya termasyhur di dunia Kangouw pada masa 20 tahun yang lampau.”

Suara merdu itu tertawa ngikik, ucapnya, “Benar-benar mulut yang manis, apabila kita bertemu pada 20 tahun yang lalu, tentu aku tidak ikut lari bersama dia melainkan minggat bersamamu.”

Di tengah suara tertawa, muncul juga orangnya dengan langkah yang lemah gemulai.

Meski sudah 20 tahun lalu, tapi tampaknya dia tidak terlalu tua, lirikan matanya masih memesona, giginya juga sangat putih, cuma pinggangnya …. Hakikatnya dia tidak punya pinggang lagi, bentuk tubuhnya sekarang lebih mirip sebuah gentong.

Li Sun-hoan jadi melongo seperti orang yang keselak oleh sebutir telur.

Inikah Jiang-wi Hujin atau si Nyonya Mawar?

Sungguh ia tidak percaya.

Adalah hal yang menyesalkan dan menyedihkan bagi wanita cantik yang sudah mulai menanjak tua. Tapi perempuan ini ternyata masih belum menyadari bahwa usianya bukan remaja lagi, namun masih berusaha mengikat daging lebih pada pinggangnya dan menutupi keriput mukanya dengan bedak tebal, jadinya tidak lagi membuat orang menyesal atau sedih, tapi menggelikan dan memuakkan.

Hal ini sebenarnya cukup jelas, anehnya kebanyakan perempuan di dunia ini justru tidak tahu atau sengaja pura-pura tidak tahu.

Jiang-wi Hujin atau si Nyonya Mawar ini tidak saja berdandan sebagai gadis remaja dan bersolek berlebihan, bahkan berkundai cioda dan memakai wewangian yang menusuk hidung.

Dia pandang Li Sun-hoan dengan tertawa, katanya, “Sungguh Li-tamhoa yang tidak bernama kosong, sudah 20 tahun lamanya tidak pernah kulihat lelaki menarik seperti ini, namun 20 tahun yang silam ….” ia menghela napas gegetun, lalu menyambung, “Di rumahku waktu itu selalu penuh dengan tetamu, setiap ksatria muda, setiap pendekar cakap, siapa yang tidak berusaha berkunjung padaku? Asalkan mereka sempat bicara sepatah dua atau memandang sekejap padaku, maka gembiralah mereka seperti orang baru putus lotere, Mungkin kau tidak percaya, boleh coba kau tanya dia jika tidak percaya.”

Yang dimaksudkan adalah Sun Gwe, lelaki ini bersungut saja tanpa bicara.

Memandangi gempalan daging pada leher Jiang-wi Hujin yang bergetar seperti bunga mawar yang bergoyang tertiup angin, lalu dipandangnya pula Sun Gwe, diam-diam Li Sun-hoan merasa menyesal bagi lelaki itu. Dapat dirasakannya selama 20 tahun ini kehidupan orang tua ini tentu dilewatkan dengan tidak enak.

Tapi Jiang-wi Hujin lantas menghela napas malah, katanya pula, “Namun selama 20 tahun ini aku benar-benar tersiksa, setiap hari hanya sembunyi di dalam rumah, bertemu dengan siapa pun tidak berani, sungguh aku menyesal ikut minggat bersama lelaki tak becus begini.”

Sun Gwe tidak tahan, ia pun menghela napas panjang dan mengomel, “Memang, keparat dia kalau tidak menyesal.”

Seketika Jiang-wi Hujin berjingkrak, teriaknya, “Apa katamu? Dulu kuhidup senang bahagia, tapi terbujuk dan ikut minggat bersamamu ke tempat setan ini, perempuan cantik jelita telah kau rusak menjadi begini, sekarang kau malah bilang menyesal segala. Ayo, omong lagi, omong lagi!”

Sun Gwe hanya mendengus saja tanpa bicara.

Segera Jiang-wi Hujin berteriak pula “Coba katakan, Li-tamhoa, adakah perasaan lelaki semacam ini? Bila tahu dia akan berubah menjadi begini, lebih baik kumati saja sejak dulu-dulu.”

Habis berkata ia lantas kucek-kucek matanya seperti mau menangis, tapi sayang setetes air mata saja tidak menitik.

“Untung Hujin tidak mati, kalau tidak, akulah yang akan menyesal setengah mati?” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.

“Apa betul? Masakah kau benar-benar ingin melihat diriku?”

“Tentu saja betul, ke mana lagi dapat kucari bidadari cantik lagi gemuk seperti engkau?”

Sampai pucat muka Jiang-wi Hujin saking gusarnya. Sebaliknya Sun Gwe dapat menahan tertawa gelinya.

“Padahal Kim-si-kah ini juga tiada gunanya bagi Hujin,” kata Sun-hoan pula, “sebab biarpun kutang ini kau potong menjadi dua tetap tidak cocok untuk ukuran tubuhmu.”

Dengan geregetan Jiang-wi Hujin mengumpat, “Jika … jika kubiarkan kau mati cepat, anggaplah kau yang beruntung.”

Segera ia mencabut sebatang tusuk kundai emas yang runcing, dengan gemas ia mendekati Li Sun-hoan. Tapi Sun-hoan tetap berduduk tenang saja tanpa gentar.

Sun Gwe berkerut kening, katanya, “Kim-si-kah sudah kita dapatkan, lekas kita selesaikan pekerjaan pokoknya, untuk apa merecoki dia?”

“Urusan nyonya tidak perlu kau ikut campur!” Jiang-wi Hujin meraung murka.

Dalam pada itu Li Sun-hoan tampaknya benar-benar tidak dapat bergerak lagi, ia hanya memandang orang tanpa berdaya.

Siapa tahu, baru saja perempuan gendut itu sampai di depan Li Sun-hoan dan bermaksud menyarangkan tusuk kundainya pada mata Li Sun-hoan, sekonyong-konyong Sun Gwe bertindak, dari belakang ia tendang perempuan itu hingga mencelat ke atas.

Tubuh yang beratus kati itu menumbuk atap rumah sehingga seluruh rumah seakan-akan gempa, waktu ia jatuh ke lantai, keadaannya sudah sekarat.

Li Sun-hoan jadi tercengang juga, tanyanya, “Apakah kau bunuh dia demi menolong diriku?”

Dengan gemas Sun Gwe menjawab, “Selama 20 tahun ini aku sudah kenyang menderita, hampir gila aku dibuatnya. Jika tidak kubunuh dia, tidak sampai setengah tahun aku bisa mati kaku oleh karena tingkah olahnya.”

“Tapi hubungan kalian kan terjadi atas suka sama suka, jangan lupa, 20 tahun yang lalu kau ….”

“Hm, kau kira aku yang membujuk dia dan membawanya kabur?”

“Memangnya bukan begitu?” tanya Sun-hoan.

“Huh, justru tidak begitu,” jengek Sun Gwe. “Waktu kami bertemu, hakikatnya aku tidak tahu dia adalah bini Nyo si jenggot, makanya ku ….”

Dia batuk beberapa kali, lalu menyambung, “Siapa tahu aku lantas dimakannya, dia ngotot ikut kabur bersamaku, tatkala mana Nyo si jenggot sudah menyusul tiba dengan berpuluh jagoannya, mau tak mau aku harus kabur secepatnya.”

“Itu kan tanyanya dia memang suka pada kalau tidak masakah dia mau minggat bersamamu?”

“Suka padaku? Hehe! ….” dengus Sun Gwe. “Kemudian baru kuketahui aku tidak lebih hanya dijadikan tumbal belaka. Kiranya pada waktu Nyo si jenggot pergi jauh, dia telah bergendakan dengan orang, bahkan sudah melahirkan anak. Ia khawatir sukar mempertanggungjawabkan anak haramnya itu apabila Nyo si jenggot pulang, maka dengan nekat ia kabur bersama gendaknya dengan membawa lari harta benda cukup banyak.”

“O, kiranya dalam urusan ini masih ada liku-liku demikian?!” kata Sun-hoan.

“Tak tersangka, sebagian besar harta benda yang dibawa lari dari tempat Nyo si jenggot itu kemudian digondol kabur pula oleh gendakannya itu, jadinya dia kehilangan orang dan harta, selagi bingung, sialan, kebetulan dia bertemu denganku.”

“Kalau tahu begitu duduknya perkara, kenapa tidak kau jelaskan kepada orang lain bahwa bukan kau yang membawa lari bini orang?”

“Semula aku pun tidak tahu,” tutur Sun Gwe, “secara kebetulan kudengar igauannya pada waktu dia mabuk. Nah, kalau beras sudah telanjur menjadi nasi, apa pula yang dapat kukatakan?”

“Dan bagaimana dengan anaknya?” tanya Sun-hoan.

Sun Gwe diam saja tanpa menjawab.

Li Sun-hoan menghela napas, katanya, “Jika demikian, seharusnya kau bunuh dia dulu-dulu, kenapa menunggu sampai sekarang?”

Sun Gwe tetap diam saja.

“Bagaimanapun aku akan mati, apa alangannya kau beritahukan padaku?”

Stelah berpikir lagi sejenak, akhirnya Sun Gwe berkata, “Membuka kedai minum juga ada manfaatnya, yaitu dari tetamu yang datang sering-sering bisa diperoleh kabar-kabar yang menarik. Kau tahu, peristiwa apa yang paling menarik yang terjadi di dunia Kangouw akhir-akhir ini?”

“Dari mana kutahu, aku kan tidak membuka kedai minum?” jawab Sun-hoan.

Lebih dulu Sun Gwe celingukan ke kanan dan ke kiri seperti maling takut kepergok, lalu dengan suara tertahan ia mendesis, “Kau tahu, Bwe-hoa-cat yang pernah malang melintang di dunia pada 30 tahun yang lampau kini telah muncul kembali?!”

Bwe-hoa-cat atau maling bunga Bwe (sakura), nama ini membuat Li Sun-hoan terkesiap juga.

“Waktu Bwe-hoa-cat malang melintang dahulu, kau masih kecil dan mungkin tidak tahu betapa lihainya. Tapi dapat kuberitahukan padamu, hampir tidak ada seorang pun yang tidak takut padanya waktu itu, sampai-sampai ketua Tiam-jong-pay, yaitu Go Bun-thian yang terkenal sebagai jago pedang nomor satu juga binasa di tangannya.

Setelah ganti napas, lalu ia menyambung, “Tindak-tanduk Bwe-hoa-cat ini tidak menentu dan sukar diraba jejaknya, baru saja Go Bun-thian menyatakan hendak mencari dia, keesokannya sudah dia mati di rumahnya sendiri tanpa ada tanda luka apa pun, hanya pada ….”

Sampai di sini ia berhenti mendadak sambil celingukan lagi kian kemari seperti khawatir Bwe-hoa-cat yang jejaknya sukar diraba itu mendadak muncul di belakangnya.

Akan tetapi suasana tetap sunyi senyap, sampai suara bunga salju yang bertebaran di atas rumah pun terdengar, maka Sun Gwe menarik napas lega, katanya lebih lanjut, “Hanya pada dada korbannya terdapat bekas luka kecil seperti ditusuk jarum dalam bentuk lima kelopak bunga sakura. Setiap orang tahu itulah tanda pengenal Bwe-hoacat, tapi tidak ada yang tahu sesungguhnya senjata rahasia apa yang digunakannya? Sebab tidak ada seorang pun yang pernah bergebrak dengan dia dapat lolos dengan hidup, sebab itu juga tidak ada orang yang tahu bagaimana wajah aslinya.”

Baru saja berhenti penuturannya, mendadak ia menambahkan lagi, “Semua orang hanya tahu dia pasti seorang lelaki.”

“Oo?” Sun-hoan bersuara ragu.

Maka Sun Gwe menyambung lagi, “Sebab dia tidak cuma merampas harta, juga memperkosa. Dia dibenci oleh orang dari golongan hitam maupun kalangan putih, tapi semuanya tak berdaya. Tapi bila ada yang berani mengucapkan kata-kata yang memusuhi dia, tidak lebih dari tiga hari orang itu pasti akan binasa dan pada bagian dada terdapat tanda pengenalnya yang khas, yaitu bunga sakura. Kita tahu, bagian dada, hulu hati, adalah bagian yang fatal, tapi Bwe-hoa-cat itu justru selalu mengincar bagian tersebut tanpa kecuali, seakan-akan kalau tidak begitu takkan tertampak kelihaiannya.”

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Makanya kau yakin asalkan memakai baju kutang Kim-si-kah ini akan dapat mengatasi keganasan Bwe-hoa-cat itu. Dan bila Bwe-hoa-cat dapat kau bekuk, tentu namamu akan termasyhur dan setiap orang dari lapisan apa pun pasti akan berterima kasih padamu, dan tidak ada lagi yang memikirkan perbuatanmu pada masa lampau.”

Gemerdep sinar mata Sun Gwe, katanya, “Kita sama tahu, asalkan dapat mengelakkan serangan mautnya pada bagian dada, maka posisi kita sudah kuat dan banyak kesempatan untuk mengatasi dia.”

Dia mengoceh dengan berseri-seri seolah-olah sedang menghadapi adegan yang sungguh-sungguh terjadi, sambungnya, “Sebab serangan mautnya itu tidak pernah meleset, sebab itulah pada waktu dia melancarkan serangannya pasti tidak memikirkan gerak lanjutannya, tentu lengah penjagaannya terhadap keselamatannya sendiri.”

“Ehm, kedengarannya logis juga,” ujar Sun-hoan.

“Kalau tidak masuk akal, tentu orang Kangouw tidak berlomba-lomba berusaha mendapatkan Kim-si-kah ini,” kata Sun Gwe dengan tertawa.

“Tapi jangan lupa, hidupmu di sini cukup tenang dan aman, musuhmu sudah banyak yang melupakan dirimu, apa lagi yang kau cari? Kenapa mesti cari penyakit sendiri?”

“Kau tahu apa?” jawab Sun Gwe. “Jika Bwe-hoa-cat dapat kubinasakan, bukan saja namaku yang termasyhur, bahkan … bahkan masih banyak manfaatnya.”

“Manfaat apa lagi?” tanya Sun-hoan.

“Semenjak lenyap tanpa bekas pada 30 tahun yang silam, orang Kangouw menyangka Bwe-hoa-cat sudah menemui ajalnya, siapa tahu kurang-lebih setengah tahun yang lalu mendadak dia muncul kembali, hanya dalam waktu beberapa bulan yang singkat ini sudah tujuh atau delapan puluh peristiwa besar yang telah dilakukannya, sampai-sampai anak perempuan ketua Hoa-san-pay juga diperkosanya, dunia Kangouw benar-benar menjadi gempar dan panik.”

“Aii kalau dihitung, usia orang ini kan sudah 60 atau 70, tak tersangka hasratnya masih sebesar ini,” ujar Sun-hoan dengan gegetun.

“Maka sejak kemunculannya kembali, setiap orang Kangouw yang mempunyai sedikit harta benda lantas merasa terancam, terutama yang mempunyai anak istri cantik benar-benar merasa tidak tenteram, makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak. Sebab itulah diam-diam sudah berpuluh tokoh saling berjanji, barang siapa dapat membunuh Bwe-hoa-cat, maka mereka akan membagikan setengah bagian harta benda milik mereka kepadanya. Dan dapat kau bayangkan, gabungan dari jumlah harta benda orang banyak itu tentu tidak sedikit.”

“Apakah ini rahasia yang bukan lagi rahasia itu?” tanya Sun-hoan.

Sun Gwe mengangguk, tuturnya pula, “Selain itu, wanita tercantik di dunia yang diakui setiap orang Kangouw juga menyatakan, barang siapa baik tua maupun muda, boleh orang preman atau pun pendeta, asalkan dapat membunuh Bwe-hoa-cat, maka dia rela menjadi istrinya.”

“Harta dan perempuan memang memikat, pantas kehidupan yang enak kau tinggalkan dan lebih suka ikut berkecimpung dalam air keruh ini, pantas juga kau tega membunuh binimu sendiri. Dan sekarang, tampaknya giliranku yang akan kau bunuh.”

“Bicara sejujurnya, aku pun merasa kematianmu sangat penasaran, cuma, mau tak mau harus kubunuh kau.”

Mendadak Li Sun-hoan tertawa, katanya dengan tenang, “Bicara sejujurnya, kau kira membunuh diriku adalah tindakan yang sangat mudah?”

Sun Gwe sudah angkat bogemnya, mendadak ia luruskan lagi ke bawah, sejenak ia pandang Sun-hoan dengan melotot, akhirnya tersembul senyuman pada ujung mulutnya dan berkata, “Orang semacam kau ternyata dapat hidup sampai sekarang, ini suatu tanda untuk membunuh kau memang bukan pekerjaan mudah, tapi sekarang ….”

Pada saat itulah mendadak berkumandang suara gelak tertawa di luar, seorang lagi berkata, “Bicara sejujurnya, apakah kau lihat dia seperti orang yang keracunan?”

Sun Gwe terkejut dan cepat membalik tubuh, di depan pintu sepen sana entah sejak kapan sudah berdiri seorang berbaju hijau, perawakannya tidak pendek, tapi juga tidak tinggi, sikapnya tenang dan gagah, tapi wajahnya hijau pucat dan seram, seperti memakai topeng, tapi seperti juga memang begitulah wajah aslinya.

Dengan berdekap tangan ia melangkah masuk dengan perlahan sambil bergumam, “Seorang kalau ingin menaruh racun di dalam arak kepada seorang peminum, maka segala macam perbuatan bodoh pasti juga dapat diperbuatnya, betul tidak?”

Kata terakhir itu ditujukan kepada Li Sun-hoan. Tiba-tiba Sun-hoan melihat orang ini memiliki sepasang mata yang sangat menarik, sangat tidak seimbang dengan wajahnya yang seram itu. Sama halnya dua biji mutiara terbingkai pada daging babi mati.

Sun-hoan memandangi mata orang yang indah itu, katanya dengan tersenyum, “Main gila pada waktu berjudi dengan penjudi, menaruh racun dalam arak kepada peminum, bicara tentang kecantikan perempuan lain di depan bininya sendiri, barang siapa melakukan ketiga hal ini, akibatnya dia pasti akan menyesal.”

“Tapi sayang, waktu mereka menyesal kebanyakan sudah kasip,” jengek si baju hijau.

Sun Gwe memandangi mereka dengan melenggong, mendadak ia berlari maju dan menyerobot poci arak di depan Li Sun-hoan.

“Tidak perlu kau periksa lagi, di dalam arak memang beracun, sedikit pun tidak salah,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

Dengan suara parau Sun Gwe berteriak, “Tapi mengapa kau ….”

“Apakah di dalam arak beracun atau tidak, mungkin orang lain sukar mengetahuinya, tapi pemabuk serupa diriku ini, cukup kuendus dengan hidung saja lantas tahu segalanya,” tutur Sun-hoan dengan tertawa. “Dan di sinilah letak faedahnya orang minum arak, hal ini seharusnya diketahui oleh orang yang tidak suka minum arak.”

“Namun jelas-jelas kulihat arak ini telah kau minum,” seru Sun Gwe.

“Memang betul sudah kuminum, tapi waktu kubatuk, arak itu tertumpah keluar lagi,” ucap Sun-hoan dengan tersenyum.

“Trang”, poci yang dipegang Sun Gwe jatuh ke lantai.

“Tampaknya sekarang dia sangat menyesal,” ujar si baju hijau, “cuma sayang, menyesal pun sudah terlambat.”

Sun Gwe meraung murka, sekaligus ia menghantam tiga kali kepada si baju hijau.

Selama 20 tahun ini dia tidak mengabaikan Kungfunya, sebaliknya malah banyak lebih maju, tiga kali pukulannya sungguh sangat dahsyat, menerbitkan deru angin yang mengejutkan, kalau terkena pukulannya, jangankan kepala manusia, kepala kerbau pun bisa hancur.

Tampaknya si baju hijau sudah terkurung di bawah angin pukulannya, bukan saja tidak mampu menangkis, bahkan menghindar pun sukar.

Tak terduga, orang itu sama sekali tidak menangkis, juga tidak berkelit, hanya sebelah tangannya mengebas perlahan, jelas dia bergerak belakangan, tapi entah cara bagaimana, belum lagi kepalan Sun Gwe mengenai sasarannya, tahu-tahu muka sendiri sudah tertampar lebih dulu malah.

Padahal gerak tangan si baju hijau serupa orang yang lagi menepuk lalat, tapi kontan Sun Gwe menjerit seperti babi hendak disembelih, lalu jatuh terjungkal.

Waktu ia berusaha merangkak bangun, pipi sebelah kiri sudah merah bengkak besar, sampai mata pun terdesak miring ke samping.

“Bicara sejujurnya, kematianmu sebenarnya rada penasaran,” demikian ucap si baju hijau dengan hambar, “Mestinya tidak ada maksudku membunuhmu, tapi tanganku ….”

Sebelah pipi Sun Gwe yang tidak abuh itu tampak pucat seperti mayat, otot dagingnya sama berkejang, membetot daging bengkak pipi sebelahnya. Tampangnya sungguh sangat mengerikan.

Sebelah matanya yang masih dapat terpentang lebar itu memandang tangan si baju hijau dengan terbelalak penuh rasa kejut dan takut, serunya dengan suara parau, “Tangan … tanganmu ….”

Kiranya tangan si baju hijau memakai sarung tangan besi warna hijau gelap, bentuk sarung tangan yang jelek dan berat, tapi warnanya segera membuat orang merinding bila melihatnya.

Sorot mata Sun Gwe yang menampilkan rasa takut itu kini berubah menjadi putus asa, suaranya juga semakin lemah, gumamnya, “O, dosa apakah yang kubuat sehingga sekarang aku kepergok Jing-mo-jiu (tangan hantu hijau)? Li … Li-tamhoa, engkau orang berhati baik, kumohon … kumohon dengan sangat, lekas … kau bunuh saja diriku.”

Li Sun-hoan tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak, matanya juga menatap kedua tangan si baju hijau, hanya ujung kakinya digunakan untuk mendepak tombak berantai yang putus tadi ke depan Sun Gwe.

Cepat Sun Gwe meronta maju dan menjemput tombak rantai itu, ucapnya dengan suara gemetar, “Teri … terima kasih, mati pun takkan kulupakan, ke … kebaikanmu!”

Habis berkata, dengan sisa tenaganya ia tikamkan tombak rantai itu ke tenggorokan sendiri, kontan darah muncrat keluar dari lehernya, darahnya sudah berwarna merah hitam dan berbau busuk seperti air got.

Li Sun-hoan memejamkan mata dan menghela napas, ucapnya dengan gegetun, “Di dunia persilatan ada Jit-tok (tujuh racun), racun yang paling jahat ialah Jing-mo-jiu, tampaknya semboyan ini bukan omong kosong!”

Si baju hijau juga sedang memandang kedua tangan sendiri, ia pun menghela napas, katanya, “Orang lain sama bilang kalau terkena pukulan Jing-mo-jiu akibatnya hidup tidak lebih enak daripada mati, maka diharapkan mati lebih cepat akan lebih baik, tampaknya cerita ini pun tidak berlebihan.”

Sun-hoan membuka matanya, sorot matanya berpindah ke wajah si baju hijau dan berucap dengan suara tertahan, “Tapi kutahu Anda bukanlah si hantu hijau In Gok.”

“Dari mana kau tahu aku bukan dia? Memangnya kau kenal dia?”

“Ehmm!” Sun-hoan mengangguk.

Si baju hijau seperti tertawa, lalu berkata, “Sama sekali aku tidak bermaksud memalsukan dia, aku adalah ….”

“Kutahu In Gok tidak punya murid,” sela Sun-hoan.

“Siapa bilang aku muridnya?” mata si baju melotot. “Huh, dia menjadi muridku saja belum setimpal.”

“Oo?!” Sun-hoan bersuara ragu.

“Kau kira aku membual?” tanya si baju hijau.

“Tapi aku tidak berminat untuk mengetahui asal-usul Anda,” ujar Sun-hoan dengan tak acuh.

Mata si baju hijau mendadak memancarkan sinar tajam, ucapnya sambil melotot, “Urusan apa yang dapat menimbulkan minatmu? Kim-si-kah?”

Li Sun-hoan tidak menjawab, hanya perlahan meraba pisau yang dipegangnya.

Sinar mata si baju hijau juga beralih pada pisau kecil itu, katanya. “Orang sama bilang timpukan pisaumu tidak pernah meleset, entah kabar ini dilebihkan atau tidak?”

“Dahulu juga banyak orang yang meragukan kabar tersebut.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang orang-orang itu sudah mati semua,” jawab Sun-hoan dengan perlahan, terkilas rasa kesepian pada sinar matanya.

Sejenak si baju hijau terdiam, mendadak ia bergelak tertawa.

Suara tertawanya sangat istimewa, seperti tertawa yang dibuat-buat, meski suara tertawanya sangat keras, tapi air mukanya tetap kaku, tanpa emosi. Lalu katanya, “Bicara terus terang, aku ingin menjajalnya.”

“Kuharap sebaiknya jangan kau coba-coba,” kata Sun-hoan.

Suara tertawa si baju hijau berhenti seketika, kembali ia melototi Li Sun-hoan beberapa kejap, lalu bertanya, “Kim-si-kah berada pada tubuh orang yang mati di dalam wajan, bukan?”

“Ehmm,” Sun-hoan mengangguk.

“Jika sekarang kuangkat orang mati itu dan ….”

“Dan kau pun akan segera berubah menjadi orang mati ….” tukas Sun-hoan.

Kembali si baju hijau tertawa, katanya, “Bukanlah kutakut padamu, cuma aku tidak suka bertaruh, juga tidak mau menyerempet bahaya.”

“Ehm, itulah kebiasaan yang baik, asalkan tetap kau pertahankan kebiasaanmu itu tanggung kau akan panjang umur.”

“Tapi tetap ada akalku untuk membikin kau serahkan Kim-si-kah itu kepadaku,” kata si baju hijau dengan sinar mata gemerdep.

“Oo?!” Sun-hoan bersuara tak acuh.

“Kau tahu, Jing-mo-jiu (tangan hantu hijau) ini adalah milik In Gok yang digembleng dengan inti baja dan direndam dengan berpuluh macam racun, setelah mengalami proses pembuatan selama tujuh tahun barulah jadi, maka tangan hantu ini boleh dikatakan salah satu senjata yang paling ganas di dunia persilatan.”

“Ya, kutahu, menurut kamus senjata susunan Pek-hiau-sing, Jing-mo-jiu ini menduduki nomor sembilan, memang terhitung senjata mestika terkemuka.”

“Jika demikian, bila kuberikan Jing-mo-jiu ini kepadamu, maukah kau serahkan Kim-si-kah padaku?”

Li Sun-hoan berpikir sejenak sambil memandangi pisau yang dipegangnya, katanya kemudian dengan perlahan, “Pisauku ini hanya buatan pandai besi biasa, hasil buatan dalam waktu tiga jam saja, tapi waktu Pek-hiau-sing menilai segala macam senjata di dunia ini, pisau terbang si Li ini diberinya nomor tiga dalam daftarnya”

Si baju hijau menghela napas panjang, katanya, “Jadi maksudmu, baik buruknya senjata tidak menjadi soal, yang lebih penting adalah orang yang menggunakan senjata itu.”

“Anda ternyata seorang cerdas,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.

“Makanya kau tidak mau tukar-menukar?” tanya si baju hijau.

“Jika aku mau, tentu Jing-mo-jiu itu takkan berada padamu sekarang,” kata Sun-hoan.

Sejenak si baju hijau termenung, tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah kotak panjang gepeng dari dalam bajunya dan ditaruh di atas meja dengan hati-hati, dibukanya kotak itu dengan kedua tangan yang memakai sarung tangan besi itu, seketika timbul hawa pedang yang dingin menyayat.

Ternyata isi kotak itu adalah sebilah pedang pandak yang bersinar gemerlapan.

“Pedang mestika harus diberikan kepada ksatria sejati,” kata si baju hijau. “Hi-jong-kiam (pedang usus ikan) ini tiada bandingannya di dunia, rasanya senjata ini sangat cocok bagi seleramu.”

Li Sun-hoan tampak tertarik, katanya, “Apakah Anda anak murid Cong-liong Lojin dari Cong-kiam-san-ceng?”

“Bukan,” jawab si baju hijau.

“Jika demikian, dari mana kau peroleh pedang ini?”

“Kakek Cong-liong sudah mati, pedang ini kudapatkan dari anaknya, Yu Liong-sing.”

“Hi-jong-kiam adalah pedang wasiat yang dipuja setiap jago persilatan, meski Cong-kiam-san-ceng (perkampungan penghimpun pedang) terkenal sebagai kedungnya macam-macam pedang pusaka, tapi kalau bukan lantaran Cong-liong Lojin adalah sahabat sehidup semati para ketua Siau-lim, Bu-tong dan Kun-lun-pay, tentu sudah sejak dulu pedang ini dirampas orang. Walaupun begitu sudah sering terjadi juga banjir darah di Cong-kiam-san-ceng demi mempertahankan pedang ini dari incaran musuh, lalu Yu-siaucengcu masakah mau memberikan pusaka keluarganya ini kepada orang lain dengan begitu saja?”

Si baju hijau mendengus, “Hm, jangankan cuma sebilah pedang saja, sekalipun kuminta dia memberikan kepalanya pasti, juga takkan ditolaknya, kau percaya tidak?”

Li Sun-hoan termenung lagi sejenak, tanyanya kemudian, “Pedang ini jelas lebih tinggi nilainya daripada Kim-si-kah, mengapa Anda mau menukar barang yang bernilai lebih rendah dengan pusaka yang sukar dicari ini?”

“Soalnya aku mempunyai watak yang aneh semakin sukar kudapatkan sesuatu, semakin ingin kumiliki.”

“Haha, kebetulan aku pun mempunyai watak yang sama,” seru Sun-hoan dengan tertawa.

“Jadi kau tetap tidak menerima tawaranku?”

“Tidak,” jawab Sun-hoan tegas.

“Mengapa kau harus memiliki Kim-si-kah itu?” anya si baju hijau dengan rada aseran.

“Itu urusan pribadiku dan tiada sangkut-pautnya dengan Anda.”

“Hahaha!” si baju hijau menengadah dan ngakak. “Sudah lama kudengar Li-tamhoa tidak menghiraukan harta dan kedudukan, kekayaan dipandangnya seperti sampah, 20 tahun yang silam rela meninggalkan gelar pangkatnya, 10 tahun yang lalu juga meninggalkan segenap harta bendanya dan rela mengasingkan diri jauh ke luar daerah perbatasan sana. Tapi … orang semacam ini, mengapa sekarang juga memandang penting terhadap sepotong Kim-si-kah yang tidak ada artinya?”

“Alasanku mungkin sama juga dengan Anda,” ujar Sun-hoan dengan hambar.

Si baju hijau melotot. “Hah, jangan-jangan kau pun lantaran si cantik nomor satu di dunia itu?”

“Mungkin betul,” ucap Sun-hoan dengan tertawa.

Tertawa juga si baju hijau, katanya, “Benar, memang sudah lama kudengar selamanya Li-tamhoa tidak pernah menolak perempuan cantik dan arak enak.”

“Ya, sayang Anda bukanlah perempuan cantik,” ujar Sun-hoan.

“Masakah kau yakin aku bukan?” kata si baju hijau dengan tertawa.

Sekonyong-konyong suara tertawanya berubah menjadi nyaring merdu dan genit. Perlahan dia menanggalkan sarung tangannya yang berwarna hijau gelap itu dan tertampaklah kedua tangannya ….

Selama ini belum pernah Li Sun-hoan melihat tangan seindah ini.

Selain julukan “Li si pisau terbang”, Li Sun-hoan juga terkenal sebagai “Li si perayu”, selama hidupnya entah sudah berapa banyak perempuan cantik yang pernah berhubungan mesra dengan dia, pada waktu dia tidak, memegang pisau dan cangkir arak, entah berapa banyak pula tangan putih halus yang telah dipegangnya.

Tangan perempuan cantik kebanyakan memang indah. Akan tetapi dari pengalaman dan pengamatan Li Sun-hoan, ia menemukan betapa indahnya tangan perempuan cantik, sedikit banyak pasti juga ada cirinya. Misalnya ada yang berkulit agak hitam, ada yang berkuku agak kasar, ada yang berujung jari kurang lentik, bahkan ada yang berpori agak kasar.

Bahkan perempuan yang pernah dicintainya, perempuan yang tak dapat dilupakannya selama hidup, tangan perempuan itu pun ada cirinya. Yaitu, lantaran wataknya terlampau keras, maka tangannya menjadi agak lebih besaran daripada mestinya.

Akan tetapi tangan yang terpampang di depan matanya sekarang justru sangat indah tanpa cacat bilamana tidak boleh dikatakan sempurna, sedemikian putih, sedemikian mulus tangan ini laksana kemala putih yang telah digosok dengan teliti, tanpa warna lain, halus dan lunak, jika tambah sedikit akan menjadi terlalu gemuk, bila dikurangi sedikit akan menjadi terlalu kurus pula. Tangan ini sedemikian sempurna, tidak panjang, juga tidak pendek. Pas begitulah.

“Nah, bukankah tanganku jauh lebih sedap dipandang daripada Jing-mo-jiu?” kata si baju hijau dengan suara lembut. Mendadak suaranya juga berubah begitu merdu dan menggiurkan, sekalipun dilukiskan “bagaikan kicau burung kenari” juga masih terasa merendahkan dia.

Li Sun-hoan menghela napas gegetun, ucapnya, “Membunuh orang dengan kedua tanganmu ini pasti tiada seorang pun yang mampu melawan, untuk apa pula kau pakai Jing-mo-jiu?”

Si baju hijau tertawa genit, katanya, “Dan kalau sekarang kurundingkan lagi soal pertukaran denganmu, bukanlah syaratnya sudah tambah baik bagimu?”

“Tidak, belum cukup baik,” jawab Sun-hoan.

Mendadak si baju hijau menggunakan tangannya yang putih mulus itu untuk menarik lengan bajunya, seketika lengan bajunya terlepas dan tertampaklah lengannya yang bernas, tapi tidak gemuk, lengan yang teramat indah.

Tangannya saja sudah memesona, ditambah lagi kedua lengannya yang mulus ini, pandangan orang bertambah silau.

“Bagaimana sekarang?” tanya si baju hijau.

“Belum cukup,” jawab Sun-hoan.

“Hihi, semua lelaki memang serakah, lebih-lebih lelaki yang pandai, semakin tinggi kepandaiannya semakin besar pula serakahnya ….” sambil tertawa mengikik si baju hijau lantas melenggang-lenggokkan tubuhnya, selesai ucapannya itu, tubuhnya sudah tersisa sehelai baju dalam yang tipis sehingga samar-samar kelihatan isi di balik baju tipis itu.

Segala sesuatu yang kelihatan samar-samar biasanya menggelitik, memandang bunga di tengah kabut biasanya sangat menggiurkan.

Sun-hoan menuang satu cawan arak yang sudah tidak beracun, ia angkat cawan dan berkata, “Menikmati pemandangan indah harus disertai minum arak. Mari minum!”

“Kutahu kau tetap merasa belum cukup, begitu bukan?”

“Kebanyakan lelaki memang serakah,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

Diiringi suara tertawanya yang nyaring bagai bunyi keleningan, mulailah si baju hijau membuka sepatu dan kaus kaki.

Pada umumnya gaya orang membuka sepatu pasti tidak menarik, tapi si baju hijau ini harus dikecualikan, kaki siapa pun kebanyakan rata kasap, tapi kakinya juga harus dikecualikan.

Kakinya indah, betisnya juga menggiurkan, jika banyak lelaki di dunia ini rela mati diinjak oleh kaki ini, maka pasti tidak ada orang yang meragukannya.

Menyusul diperlihatkan pula kedua pahanya, sekarang tertampaklah lengkap kedua kakinya yang jenjang itu.

Sesaat itu, napas Li Sun-hoan serasa berhenti.

“Bagaimana, masih belum cukup?!” tanya pula si baju hijau dengan suara lembut.

Li Sun-hoan mennggak habis isi cawannya, lalu berucap dengan tertawa, “Jika kukatakan cukup, maka aku adalah orang tolol.”

Maka apa yang tertampak selanjutnya adalah sesosok tubuh yang bugil tanpa sehelai benang pun, sukar untuk dibayangkan bahwa di dunia ini ternyata ada tubuh sedemikian sempurna.

Payudaranya yang bernas dan tegak, kedua pahanya yang ….

Tapi di belang tubuh yang mulus ini tergeletak tiga sosok mayat, namun hal ini tidak mengurangi daya tariknya, sebaliknya malah tambah menantang, sungguh pemandangan ini dapat membuat lelaki nekat melakukan kejahatan apa pun.

Satu-satunya penyesalan yang masih ada ialah dia belum lagi menanggalkan topengnya yang seram itu. Dia hanya memandang Li Sun-hoan dengan sorot mata yang genit, ucapnya dengan napas agak terengah, “Dan sekarang kiranya sudah cukup, bukan?”

Li Sun-hoan memandang topengnya, jawabnya dengan tersenyum, “Sudah hampir, hanya selisih sedikit saja.”

“Kau … kau sungguh lelaki yang tidak tahu batas.”

“Lelaki yang mudah tahu batas sering kali akan kehilangan sesuatu yang paling menyenangkan.”

Dada si baju hijau tampak naik-turun, puting payudaranya yang kecil kemerahan menegak dengan menantang di depan mata Li Sun-hoan.

“Meng … mengapa kau harus melihat wajahku?” katanya dengan suara agak gemetar. “Dengan begini, bukankah akan lebih fantastis dan lebih menyenangkan?”

“Kutahu bahwa wanita yang berperawakan indah justru berwajah buruk,” kata Li Sun-hoan dengan tertawa.

“Kau kira mukaku sangat buruk?”

“Bukan mustahil,” ujar Sun-hoan.

Si baju hijau menghela napas menyesal, katanya, “Ai, sungguh sukar melayani kau, tapi kuharap sebaiknya jangan kau lihat wajahku.”

“Sebab apa?” tanya Sun-hoan.

“Setelah kutukar Kim-si-kah itu denganmu, segera aku akan angkat kaki, selanjutnya mungkin takkan bertemu lagi. Kau berikan Kim-si-kah padaku, dan kuberikan kesenangan yang paling nikmat di dunia ini padamu. Transaksi ini sangat adil, tidak ada pihak yang rugi, sebab itu pula selanjutnya siapa pun tidak perlu saling ingat lagi.”

“Ehm, boleh juga!”

“Tapi bila sempat kau lihat wajahku, selamanya tentu takkan kau lupakan diriku. Sebaliknya aku pasti takkan … takkan main lagi denganmu. Jadinya kau bisa mabuk kepayang, hal ini bukankah sama seperti kau cari susah sendiri?”

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Tampaknya kau sangat percaya pada diri sendiri.”

Tangan si baju hijau yang halus itu merosot turun perlahan dari dadanya, ucapnya dengan senyum menggiurkan, “Masakah aku tidak boleh percaya pada diri sendiri?”

“Tapi kan bisa jadi aku tidak mau mengikat transaksi ini dengan kau?” ujar Li Sun-hoan dengan tak acuh.

Si baju hijau seperti melenggong, tanyanya kemudian, “Benar kau tidak mau?”

Akhirnya ia angkat tangannya dan topeng ditanggalkannya. Lalu dia memandang Li Sun-hoan dengan sikap menantang seakan-akan lagi berkata, “Masakah sekarang kau tetap tidak mau?”

Wajahnya sungguh sukar dilukiskan cantiknya, wajah demikian ditambah lagi tubuh yang sempurna, sungguh jarang ada lelaki di dunia ini yang sanggup menolaknya.

Sekalipun orang buta juga dapat mengendus bau semerbak yang teruar dari tubuhnya dan dapat mendengar bisikannya yang menggetar kalbu. Semua ini membuat lelaki mana pun tak dapat melawannya.

Kembali Li Sun-hoan menghela napas gegetun, “Pantas orang semacam In Gok rela memberikan Jing-mo-jiu kepadamu, juga tidak heran Yu-siaucengcu mau mempersembahkan pedang pusaka keluarganya ke bawah kakimu, sekarang mau tak mau aku harus percaya akan kebenarannya.”

Si cantik yang tidak ada taranya dalam keadaan telanjang bulat ini hanya tersenyum saja tanpa bicara. Sebab ia tahu dirinya sudah tidak perlu bicara lagi.

Dia cukup bicara dengan lirikan matanya, bicara dengan senyum genitnya, bahkan tangannya, kakinya, dadanya, dan … pendek kata, setiap bagian tubuhnya seakan-akan dapat bicara.

Ia tahu semua ini sudah cukup, jika masih ada lelaki yang tidak paham maksudnya, maka lelaki ini pasti seorang dungu.

Maka dia lagi menunggu, juga menantang.

Tapi Li Sun-hoan justru tidak berbangkit dari tempatnya, sebaliknya ia malah menuang arak pula dan menenggaknya habis, lalu menuang lagi secawan dan diangkat serta berkata dengan tertawa, “Sudah lama sekali tidak pernah kunikmati pemandangan demikian, terima kasih atas pertunjukanmu.”

Si dia menggigit bibir dengan malu-malu kucing, ucapnya dengan menunduk, “Tak tersangka lelaki semacam kau juga perlu membikin tabah hatimu dengan minum arak.”

“Soalnya kutahu perempuan yang cantik kebanyakan juga sukar diberi kepuasan,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

Nona itu bersuara genit, lalu memberosot ke dalam pangkuan Li Sun-hoan serupa seekor ular.

“Trang”, cawan arak jatuh dan pecah berantakan. Sebelah tangan Li Sun-hoan mengelus punggung si dia yang halus licin itu hingga ke bawah, tapi tangan yang lain tetap memegangi pisaunya yang tajam itu.

Tubuh si nona bergeliat, ucapnya lembut, “Pada waktu begituan tangan orang lelaki tidak pantas memegang pisau.”

“Pada waktu tangan seorang lelaki memegang pisau, tidak seharusnya kau duduk di dalam pangkuannya,” suara Li Sun-hoan juga sangat halus.

“Masa … masakah kau tega membunuhku?” ucap si nona dengan tersenyum genit.

“Seorang anak perempuan tidak boleh terlalu percaya akan diri sendiri, lebih-lebih tidak boleh memikat lelaki dengan telanjang bulat, dia harus berbaju rapi dab menunggu dipikat oleh si lelaki, kalau tidak, si lelaki akan merasa hambar kepadanya.”

Perlahan Li Sun-hoan telah mengangkat pisaunya, ujung pisau menggores perlahan pada permukaan leher si nona, setitik darah tampak menetes di dadanya yang putih mulus sehingga mirip setangkai bunga mawar merah di atas tanah salju.

Perempuan itu benar-benar terperanjat, tubuhnya yang halus dan lemas itu seolah-olah berubah menjadi kaku.

“Nah, sekarang apakah kau masih percaya akan diri sendiri dan menganggap aku tindak tega membunuhmu?” tanya Sun-hoan dengan tersenyum dengan ujung pisau masih mengancam di tenggorokan si dia.

Bibir perempuan itu tampak gemetar, mana dia sanggup bersuara lagi.

Li Sun-hoan berkata pula, “Selanjutnya kuharap kau ingat beberapa hal. Pertama, kaum lelaki pada umumnya tidak suka dipaksa. Kedua, kau tidak secantik sebagaimana kau sangka sendiri.”

Nona itu menggigit bibir dengan kencang, ucapnya dengan suara gemetar, “Baik … baiklah, aku menyerah. Kumohon pisaumu ini disingkirkan.”

“Ingin kutanya sesuatu padamu,” kata Sun-hoan.

“Ka … katakan saja ….”

“Apa yang kau inginkan, dengan mudah dapat kau peroleh dari banyak lelaki, maka tidak mungkin kau tamak harta, kau sendiri seorang perempuan, tentu juga bukan lantaran terpikat oleh perempuan. Lalu, sesungguhnya apa yang kau tuju sehingga kau rela mengorbankan segalanya demi mendapatkan Kim-si-kah ini?”

“Kan sudah kukatakan sejak tadi, sesuatu yang sukar kudapatkan, semakin besar hasratku untuk memperolehnya,” jawab si nona.

Li Sun-hoan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum, “Jika pisauku tidak kusingkirkan dari lehermu, apakah lehermu tidak dapat menyingkir dari pisauku?”

Tanpa omong segera nona itu memberosot keluar dari pangkuan Sun-hoan, begitu cepat serupa seekor kucing yang baru terinjak ekornya.

“Hawa sangat dingin, bisa masuk angin jika tidak memakai baju,” kata Sun-hoan pula.

Si nona mendelik, matanya yang jeli itu seakan-akan membara.

Selang sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata, “Sejak mula sudah kuketahui, betapa pun kau pasti tidak tega membunuhku.”

“Oo, apa betul?” perlahan Sun-hoan mengelus mata pisaunya, lalu sambungnya dengan perlahan, “Selesai ucapanku ini, jika kau belum lagi pergi, maka pisau ini akan bersarang di tenggorokanmu. Kau percaya tidak?”

Perempuan itu tidak berani bicara lagi, dengan menggereget ia comot bajunya dan melompat pergi dengan cepat.

Terdengar suaranya yang penuh rasa dendam berkumandang dari kejauhan, “Li Sun-hoan, kau bukan lelaki, hakikatnya kau bukan manusia, sesungguhnya kau memang tidak berguna. Pantasan tunanganmu dahulu bisa ikut minggat bersama sahabatmu, baru sekarang kutahu apa sebabnya!”

*****

Timbunan salju makin tebal di luar dan memantulkan cahaya yang terang, tapi di dalam dapur justru kelam dan sunyi seperti kuburan, membuat orang tidak kerasan berdiam di situ. Akan tetapi Li Sun-hoan justru masih duduk tenang tanpa bergeser sedikit pun dari tempat semula.

Sorot matanya penuh rasa pedih dan duka, apa yang diucapkan perempuan tadi serupa jarum tajam yang menusuk hulu hatinya.

Tunangannya … sahabatnya ….

Li Sun-hoan memegang poci arak, dituangnya sisa arak seluruhnya, lalu ia terbatuk-batuk pula tiada berhentinya, mukanya yang pucat kembali menampilkan warna merah kelam.

Sambil meraba dada ia bergumam dengan pedih, “O, Siau-hun dan Si-im, aku tidak menyalahkan kalian, betapa pun orang akan omong tentang kalian, sama sekali tidak kusalahkan kalian. Sebab kutahu kalian tidak bersalah, semuanya gara-gara perbuatanku sendiri.”

Pada saat itulah, “blang”, mendadak daun pintu terpentang. Seorang merangkak masuk, bentuknya serupa segumpal daging, perutnya besar seperti tambur, sekujur badan hanya daging melulu, seluruh tubuh berlepotan tanah, rambut dan jenggotnya juga semrawut seperti sudah sekian tahun tidak pernah mandi, dari jauh sudah terendus bau kecut dan busuk.

Masuknya dengan merangkak seperti bola menggelinding, sebab kedua kakinya telah buntung sebatas pangkal paha.

Sun-hoan mengernyitkan dahi dan berkata, “Jika kedatanganmu ingin minta sedekah, maka jelas kau salah pilih waktunya.”

Dianggapnya seolah-olah pengemis saja. Tapi orang itu seperti tidak memperhatikan ucapan Li Sun-hoan, tubuhnya yang gemuk tapi cacat itu ternyata tidak lamban gerak-geriknya, sekali kedua tangannya menahan lantai, dengan cepat ia menggelinding ke depan tungku.

“He, apakah kedatangan Anda juga untuk Kim-si-kah ini?” tanya Sun-hoan dengan terkesiap.

Kembali kedua tangan orang buntung itu menekan lantai, seperti seekor katak raksasa ia melompat ke atas tungku. Di atas tungku masih terdapat wajan besar dengan sesosok mayat, dan Kim-si-kah juga masih berada pada mayat itu.

“Jangan kau kira pisauku ini tidak dapat membunuh orang,” jengek Li Sun-hoan. “Apabila Anda tidak berhenti bertindak, mungkin di sini akan bertambah lagi sesosok mayat.”

Tapi orang buntung itu tetap tidak menggubrisnya, dengan cepat ia copot Kim-si-kah yang terpakai oleh si mayat, baju kutang pusaka itu tidak kelihatan sesuatu yang istimewa kecuali warna keemasan yang mencolok.

Anehnya Li Sun-hoan masih tetap berduduk diam saja, pisaunya tidak beraksi, dia hanya melototi orang buntung itu, bahkan sorot matanya menampilkan rasa takut dan jeri.

Dilihatnya kedua tangan si orang buntung mendekap Kim-si-kah di depan dadanya, katanya dengan bergelak tertawa, “Pertarungan antara burung bangau dengan kerang berakhir si nelayan yang meraih keuntungannya. Hahaha, tak tersangka benda mestika ini akhirnya kuperoleh semudah ini.”

“Tapi masih ada diriku di sini, pisau juga masih kupegang, apakah tidak terburu nafsu Anda bicara demikian?” jengek pula Sun-hoan.

Orang buntung itu melompat turun seperti katak dan menggelinding ke depan Li Sun-hoan, dipandangnya Sun-hoan dengan menyengir sehingga kelihatan barisan giginya yang kuning.

Dengan tertawa terkekeh-kekeh ia mengejek, “Kalau pisau sudah kau pegang, mengapa tidak kau bunuh diriku? Li si pisau terbang, sekali timpuk tidak pernah meleset. Semboyan ini tersiar ke mana-mana, bila pisau kau sambitkan, orang cacat semacam diriku ini masakah mampu menghindar?”

“Aku merasa kau ini sangat menyenangkan, maka tidak tega membunuhmu,” Sun hoan juga tertawa.

“Hahaha, jika kau sendiri tidak mau omong biarlah kukatakan bagimu,” orang aneh itu bergelak tertawa. “Orang lain mengira kau tidak keracunan, tapi kutahu persis kau keracunan, hanya saja kau dapat menahan perasaanmu, maka orang lain sama tertipu olehmu.”

“Oo?” Sun-hoan masih tenang-tenang saja.

“Tapi jangan kau harap akan menipu diriku, sebab kutahu racun yang tertaruh di dalam arak adalah racun tanpa warna dan tanpa bau, sekalipun indera penciummu lebih tajam daripada anjing juga tidak dapat mengendusnya.”

Lama juga Li Sun-hoan memandangnya, lalu tersenyum hambar dan berkata, “Benarkah Anda tahu sejelas ini?”

Orang buntung itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Dengan sendirinya kutahu dengan sangat jelas, sebab akulah yang menaruh racun dalam arakmu. Kau keracunan atau tidak hanya aku yang tahu, sebab itulah orang lain dapat kau tipu, tapi tidak dapat menipuku.”

Air muka Li Sun-hoan tetap tidak berubah, tapi otot daging pada ujung matanya sudah mulai berkedut, selang sejenak barulah ia menghela napas panjang, katanya, “Belum ada satu hari penuh, sudah enam-tujuh peristiwa aneh yang kulihat, tampaknya hari ini aku lagi mujur.”

“Apakah Anda tidak ingin tahu dirimu mati di tangan siapa?”

“Ehm, coba jelaskan!”

“Anda berpengalaman luas, tentunya tahu di dunia Kangouw ada tujuh orang yang paling kotor dan rendah ….”

“O, Jit-biau-jin (tujuh manusia ajaib)!” seru Sun-hoan.

“Betul,” orang buntung itu terbahak-bahak. “Jit-biau-jin itu benar-benar semuanya manusia busuk, yang lelaki bajingan, yang perempuan jalang, semuanya tidak tahu malu. Tidak ada ilmu silat yang mereka kuasai dengan baik, tapi dalam hal main racun atau menaruh obat bius, mencuri atau merampok, menculik atau menipu, kepandaian sejenis ini bagi mereka boleh dikatakan nomor satu di dunia Kangouw dan tiada bandingannya.”

Li Sun-hoan memandangnya dengan terbelalak, tanyanya, “Apakah Anda termasuk satu di antara Jit-biau-jin itu?”

Orang buntung itu tidak langsung menjawab tapi berkata, “Di antara Jit-biau-jin itu ada seorang yang paling kotor dan tidak tahu malu, namanya ….”

“Biau-long-kun Hoa Hong!” tukas Sun-hoan.

“Salah sedikit, nama lengkapnya ialah Hek-sim-biau-long-kun (si perjaka ajaib berhati hitam),” kata si buntung dengan tertawa. “Orang ini tidak punya kepandaian apa pun, untuk memperkosa gadis saja tidak berani, pintarnya cuma memikat perempuan keluarga baik-baik, menipu harta dan mencuri hati perempuan. Bicara tentang Kungfu penggunaan racun, terkadang si ahli racun Ngo-tok-tongcu juga mengaku kalah padanya.”

“Jelas benar Anda terhadap orang she Hoa ini,” kata Sun-hoan.

“Tentu saja kutahu sangat jelas mengenai dia, sebab aku ialah dia, dan dia ialah aku,” si buntung terkekeh-kekeh.

Li Sun-hoan menarik napas panjang, sekali ini dia benar-benar tercengang.

“Anda tentunya sangat heran bukan? Mengapa Biau-long-kun yang terkenal cakap itu bisa berwujud segumpal daging begini?”

“Apabila orang berbentuk seperti Anda juga mahir memikat perempuan dari keluarga baik-baik, maka kawanan perempuan itu mungkin orang buta seluruhnya,” kata Sun-hoan dengan gegetun.

“Kau salah lagi,” kata si buntung, Hoa Hong alias si kumbang, “Yang kupikat sekali-kali bukan orang buta, malahan kebanyakan bermata jeli. Cuma, seorang kalau kedua kakinya terpenggal buntung, lalu dikurung di kamar bawah tanah, setiap hari diberi makan semangkuk nasi dengan minyak babi, maka selang beberapa tahun kemudian, sekalipun seorang mahacakap juga akan berubah menjadi gumpalan daging.”

Li Sun-hoan berkerut kening, katanya, “Apakah Ci-bin-ji-long suami-istri yang melakukannya terhadapmu?”

Hoa Hong termenung, lalu jawabnya dengan tertawa, “Tadi dia telah berkisah padamu, sekarang aku pun ingin berkisah, cuma ceritaku ini jauh lebih berliku daripada kisahnya.”

“Oo?” Sun-hoan merasa di luar dugaan bahwa orang pun ingin berkisah.

“Tahun itu aku lagi apes, mungkin keblinger, tanpa kusadari telah kupikat istri si berewok, lebih celaka lagi, dari hubungan gelap itu telah diberi hadiah seorang orok, maka mau tak mau dia lantas minggat bersamaku.”

“O, kiranya orang yang diceritakan Ci-bin-ji-long itu ialah dirimu,” tukas Sun-hoan dengan tercengang. “Jadi dia telah kena getahnya dari nangka yang kau makan.”

“Tidak, dia salah omong sedikit.”

“Oo?!” heran juga Sun-hoan.

“Sama sekali aku tidak membawa lari harta benda perempuan itu seperti apa yang diceritakannya. Andaikan ada niatku itu juga tidak dapat kulaksanakan, perempuan itu jauh lebih cerdik daripada setan, hakikatnya tidak ada kesempatan bagiku untuk turun tangan.”

Dia berhenti dan menghela napas, lalu menyambung, “Dalam pada itu minggatnya istri bersamaku telah diketahui si berewok dan telah diadakan pengejaran. Dasar nyaliku memang kecil, segera timbul pikiranku untuk mencari seorang sebagai tumbal. Maka si Mawar lantas kusuruh memikat Ci-bin-ji-long, mestinya perempuan itu tidak mau, katanya Ci-bin-ji-long kurang cakap, tapi kemudian dapatlah kubujuk dan mau melaksanakan kehendakku.”

“O, kiranya kalian berdua telah bersekongkol,” kata Sun-hoan.

“Waktu itu jika sekalian kuteruskan tipuku dan kabur begitu saja, tentu aku akan selamat. Tapi harta benda yang dibawa si Mawar dari tempat si berewok itu berjumlah tidak sedikit, aku merasa berat untuk meninggalkannya, maka aku lantas berjanji dengan dia, apabila urusan minggatnya sudah mereda dan tidak diusut lagi oleh si berewok, lalu akan kucari dia lagi untuk mengenyahkan Ci-bin-ji-long.”

Kembali dia menghela napas menyesal, lalu melanjutkan, “Tapi aku lupa bahwa di dunia ini tidak ada perempuan yang tidak berubah pendiriannya. Setelah sekian lama hidup bersama Ci-bin-ji-long, dia jadi jatuh hati benar-benar padanya. Waktu kudatang lagi mencarinya, mereka berdua lantas merobohkan diriku, kedua kakiku dipotong dan aku disiksanya selama belasan tahun.”

“Mengapa dia tidak membunuh saja dirimu?” tanya Sun-hoan heran.

“Jika kutahu hati perempuan, tentu takkan menjadi begini,” ujar Hoa Hong sambil meringis. “Dahulu aku selalu menganggap diriku ini paling paham perasaan perempuan, makanya mendapatkan pembalasan seperti ini. Seorang lelaki kalau mengira dirinya paling paham hati orang perempuan, maka dia pantas menerima segala akibatnya.”

Sun-hoan menghela napas panjang dan berkata, “Ceritamu memang jauh lebih menarik daripada kisahnya tadi.”

“Tapi kisah yang lebih menarik belum lagi kuceritakan,” ujar Hoa Hong.

“Oo, masih ada cerita lain?” tanya Sun-hoan.

“Setelah kau keracunan, bukan saja hilang tenagamu, bahkan di dalam tiga jam kau pasti akan mati, sebab itulah tidak perlu kubunuh kau, biarkan saja kau duduk di sini untuk merasakan bagaimana nikmatnya orang menunggu ajal.”

“Untuk ini kukira tidak perlu lagi, sebab rasanya menunggu ajal sudah pernah kurasakan beberapa kali,” ujar Sun-hoan dengan hambar.

“Tapi dapat kujamin sekali ini adalah penghabisan kalinya,” kata Hoa Hong dengan menyeringai.

Sun-hoan tertawa, katanya, “Jika demikian, silakan Anda pergi, cuma … di luar badai salju turun dengan derasnya, dalam keadaan Anda sedemikian ini apakah sanggup menempuh perjalanan jauh?”

“Untuk ini Anda tidak perlu ikut khawatir,” kata Hoa Hong. “Orang yang tidak berkaki kan juga dapat naik kuda? Sudah kudengar suara ringkik kuda di luar itu penuh tenaga, kuyakin pasti ada beberapa ekor kuda pilihan.”

Sembari bergelak tertawa ia terus merangkak keluar, ia malah sempat melambaikan tangannya dan mengucapkan, “Selamat tinggal, sampai berjumpa pula!”

Sun-hoan menanggapi dengan tersenyum, “Selamat jalan, maaf tidak dapat kuantar keluar!”

Lalu terdengarlah ingar-bingar kuda meringkik, kemudian semakin menjauh suara derap lari kuda.

Li Sun-hoan tetap duduk tenang di tempatnya sambil memandangi poci arak di atas meja. Sebuah poci sudah kosong, poci yang lain masih berisi.

Poci yang berisi itu diangkatnya dan diendusnya, lalu dicicipi seceguk, gumamnya, “Benar-benar tanpa warna dan tak berbau, cara menaruh racun orang ini memang luar biasa.”

Ia minum lagi seceguk besar, lalu memejam mata dan bergumam pula, “Arak ini memang lumayan, kalau minum satu cawan akan mati dan minum satu poci juga mati, kenapa tidak kuminum lebih banyak agar arak sedap ini tidak tersia-sia.”

Dan dia benar-benar menghabiskan seluruh isi poci itu, lalu bergumam lagi, “Li Sun-hoan, wahai Li Sun-hoan, sudah lama seharusnya kau mati, apa alangannya jika kau mati sekarang? Tapi sedikitnya tidak boleh kau mati di dalam dapur dan berjubelan dengan orang-orang ini.”

Maka ia lantas meronta bangun berdiri dan melangkah keluar dengan sempoyongan.

Di atas salju tampak bekas telapak kaki kuda yang menuju ke arah tenggara.

Li Sun-hoan mencari tanah bersalju yang paling resik, di situlah dia duduk bersila, lalu dari bajunya dikeluarkannya sepotong patung kayu yang belum selesai diukirnya.

Profil patung ukiran ini sudah terbentuk, matanya seolah-olah sedang menatap Li Sun-hoan dengan ujung mata yang tampaknya mengandung kemurungan.

Sun-hoan tersenyum pedih, ucapnya, “Untuk apa kau pandang diriku? Aku tidak lebih hanya seorang petualang yang sukar diobati lagi, seorang pemabuk, adalah benar kau jadi istri Siau-hun, yang salah ialah diriku.”

Sekuatnya ia mengukir lagi untuk menyelesaikan patung orang ini. Akan tetapi pegangannya sudah tidak kuat lagi, tenaga sudah habis, pisau yang tajam tak sanggup lagi mengukir.

Cuaca mulai kelam, salju turun pula. Li Sun-hoan setengah bertiarap dan terbatuk-batuk, setiap kali batuk seakan-akan sedang memanggil, “Si-im, Si-im! ….”

Apakah Si-im dapat mendengarnya?

Tentu saja Si-im tidak mendengar, tapi ada seorang dapat mendengarnya.

Si berewok telah menggendong Li Sun-hoan dan dibawa lari dengan cepat.

“Apabila dalam waktu dua jam dapat kau susul seorang yang buntung kedua kakinya dan berbentuk seperti gumpalan daging, bisa jadi ada harapan jiwaku dapat diselamatkan. Sebab hanya pada orang yang meracuni diriku itulah bisa diperoleh obat penawarnya.”

Itulah kata-kata terakhir yang dapat diucapkan Li Sun-hoan sebelum dia jatuh pingsan.

Hampir segenap tenaga si berewok dikeluarkan untuk membawa lari Li Sun-hoan, air matanya telah membeku di bawah kelopak matanya, angin dingin meniup dari depan menyayat laksana pisau.

Sekonyong-konyong, di tengah desir angin dingin itu berkumandang suara orang menjerit.

Air muka si berewok berubah, ia ragu sejenak, tapi segera ia berlari secepatnya ke arah suara jeritan itu, yang pertama dilihatnya adalah bangkai kuda yang menggeletak di luar hutan. Tanpa pikir ia menerobos ke dalam hutan yang penuh salju itu, seketika ia jadi tertegun.

Hoa Hong dapat disusulnya, akan tetapi sudah menjadi mayat.

Badan Hoa Hong mirip landak, penuh tertancap oleh berbagai macam senjata rahasia, ada piau, anak panah, jarum, biji besi berduri, gotri dan sebagainya ….

Timbul rasa duka dan kecewa pada wajah si berewok, sungguh malan nasib Hoa Hong, kedua kakinya sudah buntung dipotong orang, dan dikurung orang selama belasan tahun seperti babi, pada akhirnya jiwanya malah melayang di bawah hujan senjata rahasia.

Tapi demi teringat kematian orang ini mungkin juga akan merembet pada keselamatan Li Sun-hoan, seketika rasa duka si berewok berubah menjadi khawatir, serunya dengan parau, “Apakah orang ini?”

Diam-diam ia berharap bukan inilah orang yang hendak dicari Li Sun-hoan. Tapi didengarnya Li Sun-hoan menghela napas menyesal dan berkata, “Ya, tidak salah lagi, inilah orangnya.”

Si berewok menanggalkan baju kulitnya dan dibentang di atas tanah, lalu memapah Sun-hoan duduk di situ, ucapnya, “Mungkin obat penawar terdapat pada tubuhnya, dia sudah mati, urusan menjadi lebih mudah, biar kugeledah bajunya.”

“Hati-hati, kebanyakan senjata rahasia beracun, jangan sampai tanganmu terluka,” pesan Sun-hoan. Meski jiwanya sendiri setiap saat bisa melayang, tapi dia tetap memperhatikan keselamatan orang lain.

Sedapatnya si berewok menahan air mata terharunya yang hampir menetes, cepat ia melompat ke samping mayat Hoa Hong.

Dia berjongkok di situ dan sibuk menggeledah badan yang sudah tak bernyawa itu, tapi sampai sekian lamanya tidak ditemukan sesuatu, ketika kedua tangannya berhenti bekerja, untuk sekian lamanya dia tidak dapat berdiri.

“Tidak ada?” tanya Sun-hoan.

Kerongkongan si berewok seperti tersumbat, sukar untuk bicara.

Sun-hoan tertawa hambar, katanya, “Sudah kuduga nasibku takkan semujur ini. Sudah belasan tahun dia dikurung orang, mana bisa dia membawa obat penawar?”

Si berewok mengepal tinjunya dan mengetuk batok kepala sendiri, gumamnya, “Bila kutahu siapa yang membunuh dia, tentu ada harapan, kuyakin obat penawarnya pasti dibawa lari oleh pembunuh itu.”

“Mungkin betul, mungkin juga tidak ….” Sun-hoan berkata dengan rasa hampa.

“Namun senjata yang membinasakan dia ini adalah senjata rahasia yang sangat umum, setiap orang Kangouw bisa menggunakan senjata rahasia macam begini,” mendadak si berewok melonjak girang dan berseru, “Aha, kutahu siapa yang membunuhnya.”

“Oo?!” Sun-hoan merasa sangsi.

Si berewok lantas berlari ke hadapan Li Sun-hoan dan berkata, “Pembunuhnya pasti cuma satu orang, berbagai macam senjata rahasia ini dihamburkan sekaligus oleh dia seorang diri.”

“Oo?!” Sun-hoan bersuara tak acuh pula.

“Belasan macam senjata rahasia ini rata-rata cukup keji dan dapat mencabut nyawanya, tapi orang itu sengaja menghamburkan belasan macam senjata ini, cara keji serupa orang gila ini masakah ada orang kedua di dunia Kangouw?”

“Ya, betul, hanya ada satu, yaitu Jian-jiu-lo-sat (si hantu perempuan bertangan seribu),” kata Sun-hoan. “Akhirnya Biau-long-kun toh mati juga di tangan orang perempuan.”

“Tepat!” seru si berewok sambil berkeplok. “Kecuali Jian-jiu-lo-sat, mana orang lain sanggup menghamburkan belasan macam senjata rahasia sekaligus? ….”

Mendadak ia berhenti berucap, tanyanya sambil melototi Li Sun-hoan, “Jadi sejak tadi sudah kau ketahui? ….”

Tersembul senyuman getir pada ujung mulut Li Sun-hoan, katanya, “Meski sudah kuketahui juga tidak ada gunanya. Jejak Jian-jiu-lo-sat sukar dicari, entah sekarang dia sudah berada di mana, jelas tidak dapat kita susul dia.”

“Tapi apa pun juga harus kita cari dia,” seru si berewok dengan penasaran.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: