Pendekar Budiman: Bagian 04

Pendekar Budiman: Bagian 04
Oleh Gu Long

Hari itu juga turun salju, Lim Si-im khusus menyajikan hidangan lezat baginya dan makan minum bersamanya.

Sejak kecil Lim Si-im tinggal di rumah Li Sun-hoan, antara orang tua mereka adalah saudara misan, sebelum orang tua kedua pihak meninggal sebenarnya sudah disepakati akan menjodohkan kedua muda-mudi itu.

Namun Li Sun-hoan dan Lim Si-im tetap bergaul rapat seperti biasa tanpa menghiraukan adat kebiasaan umum, mereka adalah sepasang kekasih, juga dua sahabat.

Meski sepuluh tahun sudah lalu, namun Li Sun-hoan masih ingat dengan jelas kejadian pada hari itu.

Hari itu bunga Bwe mekar dengan indahnya, Si-im tersenyum manis dan cantik melebihi bunga Bwe dengan pipi bersemu merah karena telah minum beberapa cawan arak. Hari itu sungguh penuh gembira dan bahagia.

Akan tetapi peristiwa yang malang segera menyusul tiba.

Pada waktu Sun-hoan pulang dari perjalanan jauh, di perbatasan Soatang dan Hopak dia dikerubut oleh musuh yang bersekongkol dengan Koan-gwa-sam-hiong, tiga gembong penjahat dari luar tembok besar. Dengan perkasa ia membinasakan 19 orang musuh, akhirnya ia sendiri pun terluka dan tampaknya akan tewas di bawah kerubutan musuh.

Untunglah pada saat gawat itu muncul Liong Siau-hun. Dengan tombak peraknya yang lihai Liong Siau-hun telah menyelamatkan jiwa Sun-hoan, diobati pula lukanya dan melindunginya sepanjang jalan hingga sampai di rumah.

Sejak itu Liong Siau-hun selain menjadi tuan penolongnya, juga menjadi sahabat karibnya serta tinggal lama di rumah Sun-hoan.

Tapi kemudian Liong Siau-hun jatuh sakit, cukup berat sakitnya, lelaki yang kuat sebagai baja itu hanya dalam waktu setengah bulan saja telah berubah menjadi kurus kering dan pucat.

Cukup lama Li Sun-hoan bertanya dan mencari tahu apa penyakit yang diderita Liong Siau-hun, akhirnya diketahui sakitnya lantaran Lim Si-im, sakit rindu, rindu dendam karena dia hanya bertepuk sebelah tangan.

Liong Siau-hun tidak tahu di antara Lim Si-im dan Li Sun-hoan sudah ada ikatan jodoh, dia minta tolong agar Li Sun-hoan suka menjodohkan adik misannya itu kepadanya. Dia berjanji kepada Sun-hoan pasti akan menjaga dan melindungi si nona.

Dengan sendirinya Li Sun-hoan serba susah, mana dia dapat menerima permintaan Liong Siau-hun itu. Tapi orang kan tuan penolongnya? Masa dia tega menyaksikan sang tuan penolong mati rindu?

Baginya lebih-lebih tidak mungkin dimintanya agar Lim Si-im suka menikah dengan orang lain, ia tahu Si-im pasti juga takkan terima permintaannya.

Hal ini sangat meresahkan hati Sun-hoan, timbul pertentangan batin yang memusingkan kepala. Setiap hari ia menghibur diri dengan minum arak sampai mabuk. Beberapa hari kemudian, akhirnya ia mengambil keputusan, keputusan yang menyakitkan hati. Dia berusaha agar Lim Si-im sendiri yang meninggalkan dia.

Maka dimintanya Lim Si-im suka merawat sakit Liong Siau-hun, ia sendiri mulai berfoya-foya di luar, bahkan sampai berbulan-bulan tidak pulang ke rumah. Maklum, dia sengaja membuat kesempatan agar Liong Siau-hun dapat berdekatan lebih banyak dengan Lim Si-im.

Si-im sangat sedih melihat perubahan hidup Li Sun-hoan itu, dengan menangis ia coba membujuknya. Akan tetapi Li Sun-hoan tidak mengacuhkannya, ia tertawa dan tinggal pergi, bahkan bertambah nekat, hampir setiap perempuan hiburan ternama di kota raja dibawanya pulang ke rumah.

Selama dua tahun Si-im menyaksikan keruntuhan kehidupan Li Sun-hoan itu, remuk redam hati Si-im, kecewa dan putus asa. Akhirnya dia memilih Liong Siau-hun yang mencintainya dengan penuh kasih sayang itu.

Hal mana berarti rencana Li Sun-hoan telah berhasil. Tapi berhasilnya rencana ini juga menimbulkan kepedihan dan derita batin, membuatnya tidak sanggup lagi berdiam lebih lama di rumah.

Akhirnya ia menyumbangkan seluruh milik warisan orang tua itu sebagai hadiah nikah Lim Si-im, lalu dia pergi dengan tekad takkan menemuinya lagi untuk selamanya.

Akan tetapi sekarang, tanpa terduga dia telah melukai putra tunggal mereka.

Li Sun-hoan menenggak habis arak yang terasa pahit ini, juga menelan air matanya yang hampir menetes, ia berdiri perlahan dan bertanya, “Di mana Liong-siya? Mari kuikut pergi menemuinya.”

*****

Dengan sendirinya tempat ini tidak asing lagi bagi Li Sun-hoan. Perkampungan yang dahulu bernama “Li-wan” atau petamanan keluarga Li sekarang sudah berganti nama menjadi “Hin-hun-ceng” atau perkampungan Hun berjaya.

Yang tidak ada perubahan adalah dua baris sanjak tulisan Sri Baginda yang dijadikan hiasan pintu. Kedua bait sanjak itu berbunyi

Tujuh Cinsu dalam satu keluarga

Tiga Tamhoa antara ayah beranak

Cinsu dan Tamhoa adalah gelar kesusastraan ujian negara, sanjak itu melukiskan kejayaan keluarga Li yang turun temurun selalu Tulus ujian negara dengan kedudukan yang terhormat.

Melihat kedua bait sanjak hiasan itu, hati Li Sun-hoan serasa disayat-sayat sehingga kaki pun terasa berat untuk melangkah lagi.

Sementara itu Pah Eng lantas berlari masuk ke dalam dengan memondong Ang-hai-ji. Cin Hau-gi juga menyeret Bwe-jisiansing ke dalam, sedangkan para centeng yang berjaga di depan pintu sama memandangi Li Sun-hoan dengan penuh keheranan.

Mereka seperti heran mengapa orang asing ini berdiri melenggong di depan pintu seperti orang linglung?

Padahal tempat ini sebenarnya adalah rumah Li Sun-hoan sendiri, dia dibesarkan di sini. Di sini pula dia pernah hidup bahagia dan mendapat kejayaan yang besar. Akan tetapi juga di sini dia pernah mengebumikan layon ayah-bunda dan kakaknya.

Dan siapa pula yang dapat menduga sekarang dia telah berubah menjadi asing di sini?

Melihat Li Sun-hoan termangu-mangu, si berewok lantas mendesis. “Siauya, marilah masuk saja!”

Li Sun-hoan menghela napas, ucapnya, “Ya, kalau sudah datang, cepat atau lambat toh harus masuk ke situ.”

Siapa tahu, baru saja ia melangkah ke atas undak-undakan batu, mendadak seorang membentaknya, “Siapa kau? Berani sembarangan terobosan di rumah Liong-siya?”

Seorang lelaki bermuka bopeng dengan berbaju kulit, tapi bagian dada terbuka, sebelah tangannya menjinjing sebuah sangkar burung, tiba-tiba muncul dari samping dan mengadang di depan Li Sun-hoan.

Sun-hoan berkerut kening, “Anda ini ….”

“Tuanmu adalah Koankeh (pengurus rumah tangga) di sini,” teriak si bopeng sambil bertolak pinggang, “anak perawanku adalah adik angkat nyonya Liong di sini, memangnya kau mau apa?”

“O, jika … jika demikian, biarlah kutunggu saja di sini,” kata Sun-hoan.

“Tunggu juga tidak boleh,” jengek si bopeng. “Memangya kau kira di depan rumah Liong-siya ini boleh dijadikan tempat istirahat?”

Tidak kepalang rasa gusar si berewok, tapi ia pun tahu dalam keadaan demikian sedapatnya harus bersabar.

Tak terduga si bopeng lantas mendamprat pula, “Suruh kau enyah, kenapa tidak lekas enyah, apakah cari mampus?”

Meski Li Sun-hoan masih tahan, tapi si berewok tidak sabar lagi. Selagi ia hendak memberi hajaran kepada si bopeng, tiba-tiba dari dalam terdengar orang berseru, “Sun-hoan, Sun-hoan! Benarkah kau datang kemari?!”

Segera muncul seorang lelaki setengah baya dengan wajah kereng dan berbaju mentereng, jenggot yang jarang-jarang menghiasi dagunya, wajah penuh rasa gembira dan bersemangat, begitu melihat Sun-hoan segera ia merangkulnya dengan erat.

“Ah, ternyata betul kau telah pulang, benar kau telah pulang!” kata pula orang ini dengan suara parau, saking terharu air mata pun bercucuran.

Li Sun-hoan juga tidak tahan akan air matanya yang mengalir, serunya, “O, Toako ….” dia hanya sanggup memanggil “Toako” saja, lalu tenggorokan serasa tersumbat dan tidak sanggup bersuara lagi.

Melihat adegan ini, si bopeng jadi melenggong kaget.

Terdengar lelaki setengah umur tadi, yakni Liong Siau-hun, tiada hentinya bergumam, “O, saudaraku, sungguh betapa kurindukan dirimu, alangkah gembiraku dapat melihatmu sekarang ….”

Sampai beberapa kali dia mengulangi ucapannya itu, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan berkata lagi, “Ai, kita harus bergembira akan pertemuan kita ini, mengapa kita malah mencucurkan air mata seperti orang perempuan ….”

Sambil bergelak tertawa ia rangkul Sun-hoan dan diajak ke dalam, ia terus berteriak-teriak pula. “Lekas panggil keluar nyonya, panggil keluar semua untuk menemui saudaraku. Ah, tahukah kalian siapa saudaraku ini? Bila kukatakan, haha, kalian pasti akan melonjak kaget.”

Si berewok memandangi mereka dengan air mata berlinang, terharu sekali hatinya, entah duka entah girang.

Baru sekarang si muka bopeng tadi mengembus napas panjang, ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aduh, celaka! Kiranya dia inilah Li … Li-tamhoa, malahan rumah ini pun kabarnya adalah pemberiannya, tapi tadi telah kularang dia masuk ke sini, sungguh aku … aku pantas mampus!”

Dalam pada itu si anak merah Liong Siau-in sedang dikerumuni belasan orang di ruangan tengah, agaknya menyadari hubungan erat antara Li Sun-hoan dengan ayahnya, ia menjadi takut sehingga tidak berani menangis lagi.

Baru saja Liong-Siau-hun membawa Li Sun-hoan ke ruangan tengah, dua lelaki yang semula berdiri di samping Liong Siau-in mendadak menubruk maju, mereka menegur sambil menuding hidung Li Sun-hoan, “Jadi kau ini yang melukai tuan muda?”

“Ya, betul,” jawab Sun-hoan dengan menyesal.

“Keparat, besar amat nyalimu!” bentak salah seorang lelaki itu, berbareng mereka lantas menubruk maju dari kanan dan kiri.

Sun-hoan tidak bermaksud melawan, tapi mendadak Liong Siau-hun membentak gusar, sebelah tangannya menyampuk ke belakang, sebelah kaki juga menendang, kontan kedua orang itu terpental dan mencelat.

“Kurang ajar!” damprat Liong Siau-hun. “Nyali kalian yang terlalu besar, berani kalian sembarangan bertindak. Memangnya kalian tahu siapa dia?”

Kedua orang itu jadi melenggong, sungguh mereka tidak menyangka maksud baiknya berbalik salah alamat.

Seorang memegangi mukanya yang terpukul dan berkata dengan gelagapan, “Kami … kami hanya bermaksud membela tuan muda ….”

“Memangnya kalian mau apa?” damprat Liong Siau-hun dengan gusar, “Kau tahu putra Liong Siau-hun sama dengan anak Li Sun-hoan, jangankan Li Sun-hoan memberi hajaran sekadarnya kepada anak itu, sekalipun binatang kecil itu dibunuhnya juga pantas, tahu?!”

Lalu ia perkeras suaranya dan berteriak, “Selanjutnya siapa pun dilarang menyinggung kejadian ini, bilamana ada yang berani mengungkatnya berarti sengaja memusuhi aku Liong Siau-hun!”

Li Sun-hoan berdiri seperti patung, ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.

Kalau saja Liong Siau-hun mendampratnya habis-habisan, bahkan melabraknya sekalian, mungkin hati Sun-hoan akan terasa lebih enak, tapi sekarang Liong Siau-hun lebih mementingkan persaudaraan, hati Sun-hoan jadi malu dan menyesal. Ucapnya kemudian dengan pedih, “Toako, sungguh aku tidak tahu ….”

Tapi Liong Siau-hun lantas menepuk pundaknya dan berkata dengan tertawa, “Eh, saudaraku, kenapa kau pun bicara seperti orang luar. Binatang cilik itu terlalu dimanjakan ibunya sehingga kelewatan nakalnya, seharusnya tidak kuajarkan Kungfu padanya.”

Sambil tertawa ia berseru pula, “Mari, ayo lekas siapkan arak, barang siapa di antara kalian ada yang mampu membuat mabuk saudaraku ini, kontan kuberi hadiah 500 tahil perak.”

Yang hadir di ruangan tamu kebanyakan adalah jago kawakan Kangouw yang pintar melihat arah angin, beramai-ramai mereka lantas berkerumun maju dan bercengkerama dengan Li Sun-hoan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berseru di ruang dalam, “Lekas menyingkap kerai, nyonya akan keluar!”

Dan baru saja seorang kacung yang berdiri di depan pintu menyingkap kerai, segera kelihatan muncul Lim Si-im.

Akhirnya Li Sun-hoan bertemu kembali dengan Lim Si-im, bekas tunangannya.

Si-im mungkin bukan perempuan yang cantik tanpa cacat, tapi siapa pun tidak dapat menyangkal akan kemolekannya. Wajahnya kelihatan putih kepucatan, badannya juga agak kurus, sorot matanya tampak terang, tapi juga agak dingin. Keluwesannya sungguh sukar dilukiskan.

Dalam keadaan bagaimanapun juga dia dapat membuat orang merasakan daya tariknya yang khas itu, barang siapa pernah memandangnya sekejap, maka selamanya sukar untuk melupakan dia.

Wajah ini entah sudah berapa ratus kali muncul di dalam mimpi Li Sun-hoan, tapi rasanya berjarak sedemikian jauhnya dan makin jauh sehingga sukar dicapai.

Setiap kali bila Li Sun-hoan bermaksud menubruk dan merangkulnya, selalu ia terjaga bangun dari impian buruk yang menghancurkan hatinya itu. Lalu dia cuma berbaring bermandi keringat dingin, memandangi kegelapan di luar jendela dengan gemetar dan menanti datangnya fajar. Akan tetapi ketika fajar tiba, dia masih tetap kesepian dan menderita.

Dan sekarang, orang yang selalu dirindukannya itu benar-benar telah muncul di hadapannya, bahkan asalkan tangannya terjulur sudah dapat menyentuhnya. Ia tahu yang dihadapinya sekarang bukan dalam mimpi.

Akan tetapi dapatkah dia mengangsurkan tangannya?

Sungguh dia berharap ini pun dalam mimpi. Akan tetapi fakta terkadang jauh lebih kejam daripada mimpi. Ingin menghindari saja sukar, terpaksa ia tersenyum untuk menutupi derita batinnya, sedapatnya ia perlihatkan senyumnya dan menyapa, “Toaso, baik-baikkah engkau?!”

Toaso, kakak ipar!

Kekasih yang selalu dirindukannya, yang senantiasa diimpikannya sekarang harus dipanggilnya sebagai “Toaso”.

Si berewok melengos ke arah lain, ia tidak sampai hati menyaksikan wajah Li Sun-hoan, sebab hanya dia saja yang tahu betapa pedih dan betapa duka hatinya ketika menyebut “Toaso”.

Ia tidak tahu bilamana dia menjadi Li Sun-hoan apakah juga sanggup memanggil “Toaso”, ia tidak tahu apakah dirinya mempunyai keberanian seperti Li Sun-hoan untuk menanggung siksa derita batin sedalam ini?

Kalau saja ia tidak berpaling ke arah lain, mungkin air matanya sudah bercucuran.

Akan tetapi Lim Si-im seolah-olah tidak mendengar panggilan Li Sun-hoan. Perhatiannya seakan-akan tercurahkan seluruhnya kepada anaknya.

Ketika melihat sang ibu, anak itu lantas menangis lagi keras-keras sambil meronta dan menubruk ke dalam pelukan ibunda, teriaknya, “O, ibu, anak tidak … tidak dapat belajar Kungfu lagi, anak sudah cacat! O, cara … cara bagaimana anak sanggup hidup terus?”

Lim Si-im merangkulnya dengan erat dan bertanya, “Sia … siapakah yang melukaimu?”

“Dia! Siapa lagi?” jawab anak itu.

Lim Si-im memandang ke arah yang ditunjukkan anak itu, akhirnya ia pandang muka Li Sun-hoan

Ia menatap Sun-hoan dengan melotot, seperti menatap seorang yang tidak pernah dikenalnya. Lalu, perlahan sorot matanya menampilkan semacam cahaya dendam dan benci, ucapnya sekata demi sekata, “Kau? Benarkah kau melukai anakku?”

Li Sun-hoan mengangguk dengan limbung.

Entah kekuatan apa yang mendukungnya, dia ternyata tidak ambruk.

Lim Si-im masih menatapnya tanpa berkedip, ucapnya sambil menggigit bibir, “Bagus! Bagus sekali! Memang kutahu tidak nanti kau biarkan kuhidup gembira, bahkan setitik kebahagiaanku yang masih tersisa juga hendak kau rampas, kau ….”

“Tidak boleh kau bicara demikian terhadap Sun-hoan,” teriak Liong Siau-hun memotong ucapan Si-im. “Kejadian ini bukan salahnya, tapi akibat tingkah laku anak In sendiri. Apalagi, waktu itu ia pun tidak tahu anak In adalah putra kita.”

Mendadak Ang-hai-ji alias si anak merah menukas, “Dia tahu, sebelumnya dia sudah tahu! Mestinya dia tidak dapat melukaiku, ketika kudengar dia adalah sahabat baik ayah segera kuberhenti menyerang, siapa tahu kesempatan itu digunakannya untuk melukaiku.”

Saking gusarnya pembuluh darah si berewok serasa mau meledak, sungguh sukar dibayangkan seorang anak kecil begitu sudah pandai memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.

Tapi Li Sun-hoan tetap berdiri kaku di tempatnya, sama sekali tidak bermaksud menyangkal atau membela diri.

Penderitaan apa pun sudah pernah dirasakannya, masakah sekarang dia harus perang mulut dengan seorang anak kecil?

Tapi Liong Siau-hun lantas membentak, “Binatang, kau berani berdusta?!”

Ang-hai-ji menangis dan berteriak, “Aku tidak berdusta! O, ibu, sungguh aku tidak berdusta!”

Dengan gusar Liong Siau-hun hendak menyeret anak itu, tapi Si-im keburu mengadang di depannya dan mendengus, “Hm, hendak kau apakan dia lagi?”

Liong Siau-hun mengentak kaki dengan gusar, “Binatang ini sungguh terlalu, biarlah kubereskan dia sekalian agar kelak tidak membikin malu saja!”

Wajah Si-im yang pucat menjadi beringas, teriaknya, “Jika begitu, biarlah aku pun kau bunuh sekalian!”

Ia melirik sekejap ke arah Li Sun-hoan, jengeknya, “Hm, memangnya kalian tergolong tokoh berkepandaian tinggi, untuk membunuh seorang anak kecil adalah teramat mudah, jika ditambah lagi seorang perempuan kan juga tidak menjadi soal.”

“O, Si-im!” seru Liong Siau-hun sambil mengentak kaki, “Mengapa kau jadi tidak tahu aturan begini?”

Tapi Lim Si-im tidak menghiraukannya lagi, ia rangkul erat-erat anaknya dan diajak masuk ke ruang dalam. Meski sangat enteng langkahnya, namun Li Sun-hoan serasa hancur terinjak.

Siau-hun lantas tepuk-tepuk bahunya dan berkata dengan menyesal, “Sun-hoan, hendaklah jangan kau marah padanya, sebenarnya dia bukanlah perempuan kasar begini. Tapi seorang perempuan kalau sudah menjadi ibu, terkadang lantas tidak bicara secara aturan lagi.”

“Kutahu,” ucap Sun-hoan dengan rawan, “demi anaknya sendiri, apa pun pantas dilakukan oleh seorang ibu.”

Ia tersenyum kecut, lalu menambahkan pula, “Meski aku tidak pernah menjadi ibu orang, sedikitnya sudah pernah menjadi putra orang ….”

*****

Arak dapat menghibur hati yang duka, tapi juga dapat menambah hati nan lara.

Pemeo ini sering diungkapnya dalam berbagai syair kuno. Akan tetapi sebenarnya tidak seluruhnya tepat.

Minum arak dalam jumlah sedikit lebih banyak menambah murung, lebih mudah mengingatkan hal-hal yang menyedihkan. Tapi bilamana dia benar-benar mabuk, maka pikirannya dan perasaannya akan menjadi lumpuh seluruhnya. Lalu tidak ada sesuatu lagi di dunia ini yang dapat membuatnya menderita.

Li Sun-hoan sangat paham akan hal ini, maka sedapatnya ia ingin minum sampai mabuk.

Untuk mabuk bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi seorang bila terlalu banyak menanggung hal-hal yang mendukakan hati dan tambah sering mabuk, maka pada waktu sengaja hendak minum hingga mabuk terkadang justru mengalami kesulitan malah.

Malam sudah larut, arak pun sudah banyak mengalir ke perut, namun Li Sun-hoan masih belum ada tanda-tanda akan mabuk.

Mendadak ia merasa orang lain juga tidak ada yang mabuk, padahal belasan orang Kangouw minum bersama, sampai jauh malam masih juga belum ada seorang pun yang mabuk, hal ini sungguh peristiwa luar biasa.

Semakin jauh malam, air muka semua orang pun semakin cemas, setiap orang sama melongak-longok ke luar, seakan-akan sedang menantikan kedatangan seseorang.

Tiba-tiba terdengar kentongan berbunyi tiga kali, itulah tandanya sudah tengah malam.

Tanpa terasa air muka semua orang sama berubah, ada yang berseru, “Wah, sudah tengah malam, mengapa Tio-toaya belum lagi pulang?”

Li Sun-hoan berkerut kening, tanyanya, “Orang macam apakah Tio-toaya ini? Masa kalian mesti menunggu kepulangannya barulah kalian mau minum arak?”

“Terus terang, Li-tamhoa,” seorang menjawab dengan tersenyum, “apabila Tio-toaya tidak pulang, sungguh arak ini tidak dapat kami minum.”

Seorang lagi menambahkan, “Tio-toaya ini adalah Tio Cing-ngo yang berjuluk Thi-bin-bu-su (bermuka besi tanpa mementingkan diri sendiri), beliau juga saudara angkat Liong-siya kita, masakah Li-tamhoa tidak tahu?”

“Aha, sepuluh tahun tidak berjumpa, rupanya Toako telah banyak mengikat persaudaraan lagi dengan para tokoh termasyhur ini, harus kuberi selamat kepada Toako, marilah habiskan secawan ini,” seru Sun-hoan dengan tertawa.

Muka Liong Siau-hun tampak merah, jawabnya terpaksa, “Saudaraku kan juga saudaramu, biarlah aku pun menghormati engkau satu cawan.”

“Ya, betul juga,” ujar Sun-hoan dengan tertawa, “tak terduga mendadak aku bertambah beberapa Toako juga, cuma entah para ksatria besar ini sudi, mengakui saudara jelek sebagai diriku ini atau tidak?”

“Haha, biarpun mereka sengaja mencari saudara seperti dirimu juga sukar diperoleh, masakah mereka tidak mau mengakui saudara padamu?” ujar Siau-hun dengan terbahak.

“Tapi ….” entah apa yang hendak dikatakan Sun-hoan, tiba-tiba ia berganti ucapan, “Selamanya Tio-toaya terkenal Thi-bin-bu-su, konon sepanjang tahun beliau juga jarang tertawa. Bila dia datang, mungkin aku akan ketakutan sehingga sukar lagi minum arak, tapi kalian justru harus menunggu kedatangannya baru mau minum.”

Semua orang terdiam, juga Liong Siau-hun.

Setelah termenung sejenak, tiba-tiba Siau-hun berkata dengan serius, “Kini Bwe-hoa-cat telah muncul lagi di dunia Kangouw ….”

“Berita ini sudah kudengar,” potong Sun-hoan.

“Tapi tahukah Hiante (adik bijaksana) saat ini Bwe-hoa-cat (bandit bertanda bunga sakura) itu berada di mana?”

“Kabarnya jejak orang ini sukar dicari ….”

“Betul, jejak orang ini memang tidak menentu,” Siau-hun juga memotong ucapan Sun-hoan. “Tapi kutahu dengan pasti saat ini dia berada dalam kota Poting, bahkan bisa jadi sudah berada di sekitar tempat kita ini.”

Ucapan ini membuat semua orang sama, waswas, jelas nama Bwe-hoa-cat cukup ditakuti mereka.

Mau tak mau Li Sun-hoan menjadi prihatin juga, ucapnya, “Jangan-jangan dia sudah pernah muncul di sini?”

“Betul,” tutur Siau-hun dengan gegetun, “Putra sulung Cin Hau-gi, Cin-samko, kemarin malam sudah dilukai olehnya.”

“Di mana dia turun tangan?” tanya Sun-hoan.

“Di belakang taman tempat kita ini,” jawab Siau-hun.

“Siapa lagi yang dicelakainya?”

“Mungkin Hiante belum tahu, setiap malam bandit ini biasanya cuma mencelakai satu orang saja, bahkan tidak mau turun tangan sebelum lewat tengah malam,” Siau-hun tersenyum, lalu menyambung, “Caranya, membunuh orang serupa saja cara orang minum arak, pakai waktu tertentu dan juga pakai takaran.”

Sun-hoan juga tertawa, tapi tertawanya tidak membuat ringan beban pikirannya. Ia berpikir sejenak, lalu bertanya pula, “Lantas apa yang terjadi semalam?”

“Semalam justru aman tenteram,” jawab Siau-hun.

“Jika demikian, mungkin sasarannya cuma Cin-toasiauya saja, selanjutnya mungkin dia takkan datang lagi,” ujar Sun-hoan.

“Tidak,” Siau-hun menggeleng kepala, “cepat atau lambat dia masih akan datang.”

“Sebab apa?” Sun-hoan berkerut kening, “Memangnya dia ada permusuhan dengan Toako?”

Kembali Siau-hun menggeleng kepala, “Tidak, sasarannya bukanlah Cin Tiong, dan juga bukan diriku”

“Habis si … siapa?” seru Sun-hoan.

“Yang menjadi sasarannya ialah Lim ….”

Mendengar perkataan “Lim”, air muka Sun-hoan seketika berubah. Akan tetapi yang diucapkan Liong Siau-hun bukanlah “Lim Si-im” melainkan “Lim Sian-ji”.

Diam-diam Sun-hoan menghela napas lega, tanyanya kemudian, “Lim Sian-ji? Siapa dia?”

“Haha, saudaraku, apabila Lim Sian-ji saja tidak kau ketahui, maka tampaknya kau memang benar sudah tua,” seru Siau-hun dengan tertawa “Bila hal ini terjadi sepuluh tahun yang lalu, kuyakin nama Lim Sian-ji pasti akan kau kenal, lebih kenal daripada siapa pun.”

“Wah, jangan-jangan dia seorang perempuan cantik?” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.

“Bukan saja cantik, bahkan sudah diakui oleh umum sebagai wanita paling cantik di dunia persilatan masa kini,” tukas Siau-hun. “Entah betapa banyak ksatria muda dunia Kangouw yang tergila-gila padanya ….”

Dia tuding beberapa orang di sebelahnya, lalu menyambung dengan tertawa, “Haha, kau kira mereka datang kemari untuk meramaikan tempatku ini? Andaikan Lim Sian-ji tidak berada di sini, biarpun setiap hari kujamu mereka dengan santapan Yan-oh (sarang burung) dan Hi-sit (sirip ikan hiu) juga belum pasti mereka mau berkunjung kemari.”

Muka beberapa orang itu menjadi merah. Dua pemuda berbaju perlente di antaranya menjadi tersipu-sipu.

Liong Siau-hun menepuk pundak mereka keras-keras, ucapnya pula dengan tertawa, “Mujur juga nasib kalian, paling tidak besar harapan kalian akan terkabul, coba kalau saudaraku ini lebih muda sepuluh tahun, tidak nanti kalian akan mendapat bagian.”

Li Sun-hoan bergelak tertawa, ” Eh, memangnya Toako mengira aku sudah tua? Meski tua orangnya, tapi hatiku belum tua.”

“Betul, betul!” Siau-hun terbahak-bahak, “meski tidak sedikit pemuda yang menyembah di bawah gaunnya, tapi kecuali dirimu mungkin tiada orang lain lagi yang punya harapan.”

“Tapi sayang, sudah sepuluh tahun kurendam diriku di dalam guci arak, keterampilanku mungkin sudah jauh ketinggalan,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum getir.

Siau-hun menggenggam tangannya erat-erat, ucapnya, “Agaknya Hiante tidak tahu, nona Sian-ji ini bukan saja secantik bidadari, bahkan berbudi luhur, dia tidak mau menikah dengan siapa pun, tapi telah dikeluarkannya pernyataan, barang siapa, asalkan mampu menumpas. Bwe-hoa-cat, biarpun orang itu kakek-kakek, bopeng atau pincang takkan dipedulikannya, tetap dapat memperistrikan dia.”

“O, mungkin lantaran inilah, maka Bwe-hoa-cat itu bertekad akan melenyapkan nona itu,” kata Sun-hoan.

“Memang betul,” ucap Siau-hun dengan gegetun, “kedatangan Bwe-hoa-cat itu kemarin malam jelas juga hendak mencari dia, tak tersangka kebetulan Cin Tiong berada di sana sehingga dia yang menjadi tumbalnya.”

“Oo, apakah Cin-toasiauya juga salah seorang pengagum nona Sian-ji?” tanya Sun-hoan dengan mata terbelalak.

Siau-hun tersenyum kecut, ucapnya, “Tadinya dia memang punya harapan, tapi sayang sekarang ….”

“Paviliun di taman sana sudah kesepian sekian tahun, sekarang didiami oleh nona Lim, kuyakin suasana pasti tambah ramai, buktinya tengah malam buta toh ada anak muda yang mondar-mandir di sana,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

Muka Siau-hun menjadi merah, “Paviliun itu adalah bekas tempat kediaman Hiante, mestinya tidak boleh kuberikan kepada orang lain, namun … namun ….”

“Bilamana tempat itu dapat didiami si cantik, itu kan tambah cemerlang, tentunya tidak cocok lagi didiami oleh pemabukan seperti diriku ini,” dengan sinar mata mencorong ia tatap Liong Siau-hun, lalu menyambung dengan tersenyum, “Akan tetapi aku jadi ingin tahu ada hubungan apakah antara nona Lim ini dengan Toako?”

Siau-hun berdehem, kemudian menjawab, “O, dia … dia berkenalan dengan Si-im waktu bersembahyang di kelenteng, karena keduanya cocok satu sama lain, mereka lantas mengangkat saudara, seperti halnya kita dahulu.”

Sun-hoan tampak rada melenggong, tanyanya, “Apakah Koankeh yang kulihat di luar tadi adalah ayahnya?”

“Tak kau sangka bukan?” Siau-hun tersenyum. “Memang siapa pun tidak menduga ayah semacam itu dapat melahirkan putri demikian, ini namanya cenderawasih lahir di sarang gagak.”

“Dan Tio-toaya yang Thi-bin-bu-su itu sengaja pergi mengundang bala bantuan untuk melindungi nona Lim? Wah, tampaknya Tio-toaya sekarang juga tahu kasih sayang terhadap si cantik.”

Siau-hun seperti tidak memperhatikan nada mengejek ucapan Sun-hoan, katanya pula, “Maksud Tio-lotoa selain hendak melindungi Sian-ji, juga kesempatan ini akan digunakannya untuk hartawan dunia persilatan daerah Tionggoan untuk menumpas Bwe-hoa-cat. Apalagi beberapa keluarga sudah menyediakan dana yang cukup besar untuk menangkap si bandit. Dana ini sekarang juga tersedia di tempatku, apabila terjadi kehilangan, mungkin siapa pun tidak dapat menggantinya.”

Sampai di sini barulah Sun-hoan terkesiap, serunya, “Dan mengapa Toako mau memikul kewajiban ini?”

“Jika ada beban, terpaksa harus ada yang pikul,” ujar Siau-hun dengan gegetun.

Sampai sekian lama Sun-hoan termenung, kemudian ia bergumam, “Sekarang sudah jauh malam, entah malam ini Bwe-hoa-cat akan muncul atau tidak?”

Mendadak ia berbangkit dan berkata pula, “Tio-tonya belum lagi pulang, jika arak para hadirin tak dapat diminum, biarlah kesempatan ini kugunakan untuk berkeliling di tempat ini sekadar menjenguk kenalan lama.”

“Yang hendak dijenguk Hiante mungkin bukan kenalan lama melainkan Bwe-hoa-cat itu,” ujar Siau-hun dengan dahi berkernyit.

Sun-hoan hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

“Engkau tetap hendak menyerempet bahaya seorang diri?” tanya Siau-hun pula.

Sun-hoan tetap tersenyum tanpa bicara.

Siau-hun memandangnya lekat-lekat sejenak, mendadak ia bergelak tertawa, “Haha, bagus, bagus! Kutahu watakmu, bilamana engkau sudah bertekad ingin melakukan sesuatu, maka siapa pun tidak dapat merintangi kehendakmu. Apalagi, bila Bwe-hoa-cat itu mengetahui Li-tamhoa berada di sini, mungkin dia tak berani muncul lagi ke sini.”

Bunga Bwe masih mekar semarak di taman belakang, bahkan seperti tambah subur daripada sepuluh tahun yang lalu. Akan tetapi bagaimana sepuluh tahun yang lalu?

Biarpun manusianya sama bangganya dengan bunga Bwe yang tetap mekar itu, namun mana tahan oleh berlarutnya sang waktu? Bunga yang layu masih dapat tumbuh dan mekar lagi, tapi manusia?

Bilamana masa remaja manusia sudah lalu, siapa pula yang mampu menyusulnya kembali?

Sun-hoan berdiri termangu di situ, memandangi kelip sinar lampu di kejauhan. Kelip lampu dari gedung itu.

Sepuluh tahun yang lalu gedung ini adalah miliknya, orang yang berada di dalam gedung itu pun miliknya.

Akan tetapi sekarang semua itu sudah lalu bersama dengan masa remajanya dan tidak dapat disusul kembali untuk selamanya. Yang tersisa sekarang hanya kenangan belaka, kenangan yang pedih dan kesepian.

Setelah melintasi jembatan kecil yang tertutup salju, sampailah dia di sebidang hutan bunga Bwe. Di ujung hutan sana menongol juga ujung genting sebuah loteng kecil, inilah tempat sekolah dan belajar pedang Li Sun-hoan masa dahulu, loteng ini berhadapan dengan loteng kecil di kejauhan sana.

Bilamana cuaca cerah, asalkan dia membuka daun jendela, akan terlihatlah kerlingan mata sang kekasih di atas loteng di depan sana.

Akan tetapi sekarang ….

“Cinta yang kental akan mengencer kembali,” Li Sun-hoan menghela napas dan mengebas bunga salju uang hinggap di tubuhnya, dengan rawan ia menyeberangi jembatan kecil itu, menghancurkan timbunan salju di atas jembatan.

Suasana di taman sunyi senyap, tiada bayangan manusia, juga tidak ada suara orang. Lewat tengah malam adalah waktunya muncul Bwe-hoa-cat pada setiap saat, siapa lagi yang mau tinggal di taman yang sepi ini?

Perlahan Li Sun-hoan menuju ke paviliun di hutan Bwe sana. Tujuannya bukan untuk menjenguk si cantik Lim Sian-ji yang tiada bandingannya itu, ia tahu pada waktu demikian Lim Sian-ji pasti juga takkan tinggal di sini. Dia cuma ingin melihat bekas tempat tinggalnya. Orang yang kesepian acap kali akan merasa segala sesuatu pada masa lampau pantas dikenang kembali.

Pada saat itulah, di tengah hutan Bwe yang sunyi itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.

Seketika timbul semangat Li Sun-hoan, dalam sekejap itu tubuhnya seakan-akan penuh tenaga, segesit kucing ia menubruk ke arah suara tertawa itu. Dia seperti mendengar suara jeritan kaget seorang perempuan, cuma suara jeritan itu sangat lirih.

Menyusul lantas dilihatnya sesosok bayangan putih kabur ke sana, sebaliknya sesosok bayangan hitam lantas menerjang ke arahnya.

Perawakan orang ini tinggi besar, daya terjangnya sangat kuat, masih dua-tiga tombak jauhnya sudah dirasakan angin pukulan yang dingin dan kuat menyambar ke mukanya. Segera Li Sun-hoan tahu yang dilatih orang ini adalah sejenis ilmu pukulan dahsyat yang aneh, tenaga pukulannya sudah mencapai tingkat kelas satu.

Bwe-hoa-cat? Jangan-jangan orang inilah si bandit bunga Bwe?!

Li Sun-hoan tidak mau menangkis serangan musuh dengan keras lawan keras. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa, selamanya dia tidak mau membuang tenaga untuk mengadu pukulan dengan orang. Sebab ia merasa tenaganya jauh lebih berharga daripada orang lain.

Pernah seorang kawan berkeras mengajak adu pukulan dengan dia, tapi berulang-ulang Li Sun-hoan menolak. Kawannya bertanya sebab apa dia tidak mau. Sun-hoan menjawab secara diplomatis, “Aku bukan kerbau, untuk apa, harus kuadu tenaga denganmu?”

Baginya, ilmu silat juga semacam seni, andaikan tidak dapat mencapai puncaknya kesempurnaan, sedikitnya harus dapat menguasainya dengan baik. Jika sedikit-sedikit maut adu tenaga, lalu apa bedanya dengan kerbau yang bodoh itu?

Tapi terhadap kawan dia dapat menolak mengadu tenaga, namun sekarang orang ini seakan-akan sengaja hendak membinasakan dia dengan pukulannya yang dahsyat, hampir semua jalan mundurnya sudah terkurung rapat oleh tenaga pukulan hebat ini.

Apalagi kedua orang sama-sama sedang menerjang ke depan, kalau ingin mengelak dalam detik sesingkat ini, andaikan dapat juga pasti akan memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk melancarkan serangan kedua, dan untuk pukulan susulan ini jangan harap lagi akan dapat menghindarnya.

Namun Sun-hoan tetap mengelak, mendadak tubuhnya menyurut mundur. Perubahan gerak tubuhnya sungguh jauh lebih lincah dan gesit daripada ikan di dalam air.

Orang berbaju hitam itu membentak, tenaga pukulannya mendampar tiba pula. Tapi Sun-hoan sempat mendoyong ke belakang, tubuhnya hampir menempel tanah, tangannya tidak kelihatan bergerak, tapi pisaunya sudah menyambar ke depan.

Sinar pisau berkelebat laksana meteor di malam gelap.

Mendadak orang berbaju hitam itu meraung seperti binatang buas terluka, serentak ia melompat mundur dan lari secepat terbang ke balik hutan sana.

Sekali melejit Sun-hoan sudah berdiri tegak pula, dia berdiri dengan tenang di tempatnya, sama sekali tiada bermaksud mengejar.

Tapi sebelum orang berbaju hitam itu kabur ke luar hutan, lebih dulu ia sudah roboh terjungkal.

Sun-hoan menggeleng kepala dan menghela napas, perlahan ia mendekatinya, dilihatnya darah berceceran sepanjang jalan dan orang berbaju hitam itu terkapar di ujung jalan sana. Kedua tangannya memegang erat leher sendiri, darah segar masih merembes keluar dari sela-sela jarinya, pisau kecil yang mengkilat itu sudah tercabut dan terlempar di sampingnya.

Pisau itu dijemput kembali oleh Sun-hoan, ia pun melihat wajah orang berbaju hitam yang berkejang dan menderita itu, ia menghela napas kecewa, katanya, “Jika kau bukan Bwe-hoa-cat, mengapa kau paksa aku turun tangan?”

Orang itu menggereget, tenggorokannya mengorok, tapi tidak dapat berbicara.

“Meski tidak kau kenal diriku, tapi kukenal dirimu,” kata Sun-hoan. “Kau murid tertua In Gok, sepuluh tahun yang lalu sudah pernah kulihat dirimu, barang siapa cukup kulihat satu kali saja dan selamanya takkan kulupakan.”

“Aku … aku pun kenal kau!” orang itu meronta-ronta dan berucap dengan suara parau.

“Jika kau kenal diriku, kenapa hendak kau bunuh aku?” ujar Sun-hoan menyesal. “Masakah hendak kau bunuh diriku untuk menghilangkan saksi? Padahal biarpun kau datang ke sini untuk mengadakan hubungan gelap dengan orang, hal ini kan juga bukan sesuatu yang haram?”

Orang itu terengah-engah dengan sorot mata yang penuh rasa benci, biji matanya melotot seakan-akan meloncat keluar, dia seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi sedikit ia meronta, kembali darah segar muncrat pula dari lukanya.

Sun-hoan menggeleng kepala, gumamnya, “Kutahu pasti ada rahasia apa-apa yang tidak dapat diketahui orang lain, maka tanpa tanya ini dan itu segera hendak kau bunuh diriku untuk menghilangkan saksi. Mungkin tadi tidak terpikir olehmu sasaran yang hendak kau bunuh adalah diriku.”

Ia menghela napas lagi, lalu sambungnya, “Kau ingin membunuhku, makanya kubunuh dirimu, kau salah sasaran, aku pun salah bunuh ….”

Mendadak orang itu meraung pula terus menubruk ke arah Li Sun-hoan.

Tapi Sun-hoan hanya memandangnya dengan tenang tanpa bergerak, tampaknya tangan orang itu sudah hampir mengenai dada Li Sun-hoan, namun segera “bluk”, jatuh terkapar dan tak bergerak lagi untuk selamanya.

Sun-hoan tetap memandangnya dengan tenang, sampai sekian lamanya barulah ia berucap sambil mengernyitkan dahi, “Malam kemarin adalah putra Cin Hau-gi, malam ini murid In Gok, tampaknya waktu luang nona Lim Sian-ji ini cukup banyak, pandangannya juga tajam, yang berkencan dengan dia semuanya anak murid tokoh ternama. Namun anak dara mana yang tidak berahi? Dan jejaka mana yang tidak bergairah? Ini kan bukan sesuatu pelanggaran hukum, kenapa dia takut kepergok orang? Masakah di balik hal ini terdapat sesuatu rahasia?”

Paviliun yang bernama Ling-hiang-siau-tiok itu masih diterangi oleh cahaya lampu, bayangan putih tadi justru berlari ke arah sana, potongan badan bayangan itu kelihatan ramping, mungkinkah dia Lim Sian-ji?

Sambil termenung Li Sun-hoan lantas melangkah ke sana. Gemerdep sinar matanya, dia seperti menemukan sesuatu peristiwa yang sangat menarik.

Angin berembus, ranting Bwe bergoyang, bunga salju jatuh bertebaran.

Sekonyong-konyong selapis timbunan salju tergetar muncrat oleh semacam tenaga yang tidak kelihatan, menyusul sinar perak berkelebat, langsung menusuk punggung Li Sun-hoan.

Tusukan pedang ini datangnya cepat sekali, hawa pedang bergolak, lihai luar biasa, biarpun menusuk dari depan juga sukar untuk ditangkis, apalagi sekarang bagian punggung yang disergap.

Sun-hoan memakai mantel kulit, namun masih terasa dingin hawa pedang yang menyayat kulit badan. Saat itu ujung pedang telah merobek mantel kulitnya.

Pada malam dingin dan sunyi ini, di tengah hutan Bwe yang sepi, ternyata setiap saat dan setiap tempat selalu sudah menunggu orang yang hendak membinasakan dia. Padahal sudah sepuluh tahun dia merantau dan baru sekarang pulang.

Apakah ini sebagai tanda penyambutan selamat pulangnya?

Jika Li Sun-hoan berkelit ke kiri, iga kanan tentu akan ditembus oleh ujung pedang, bila mengelak ke kanan, iga kiri yang akan berlubang. Kalau menghindar ke depan, tepat di tengah punggung yang akan tertembus, sebab betapa pun dia berkelit tetap tidak bisa lebih cepat daripada pedang ini.

Sudah ratusan kali Sun-hoan berpengalaman tempur, tapi belum pernah menemui pedang secepat ini.

“Crit”, ujung pedang sudah menembus mantel kulit Li Sun-hoan. Tapi pada detik berbahaya itu Sun-hoan sempat menggeser ke samping, ketika mata pedang yang dingin menempel kulit badannya, ia merasa bulu roma sama berdiri.

Sudah ratusan kali pengalaman tempurnya, tapi ia pun tidak pernah sedemikian dekat dengan liang kubur seperti sekarang ini.

Setelah tusukannya mengenai tempat kosong, agaknya pihak lawan juga terkejut, segera pedang berputar terus menabas ke samping, tapi pisau Li Sun-hoan telah mendahului memotong pergelangan tangannya.

Sungguh tak terperikan kecepatan pisau ini sehingga sama sekali tidak memberi peluang bagi lawan untuk menghindar. Keruan kejut orang itu tak terhingga, pedang pun terlepas, orangnya terus melayang ke sana.

Pisau Li Sun-hoan sudah terangkat pula. Bila pisau menyambar lagi, siapa lagi di dunia ini yang bisa lebih cepat daripada pisau si Li.

Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak seorang berteriak, “Hei, berhenti, saudaraku!”

Itulah suara Liong Siau-hun.

Sun-hoan melenggong, Liong Siau-hun sudah menerobos masuk hutan, orang tadi pun sudah berdiri tegak lagi, ternyata seorang pemuda berbaju perlente dan bermuka pucat.

Liong Siau-hun berdiri di antara pemuda itu dan Li Sun-hoan, ucapnya sambil mengentakkan kaki, “Ai, kenapa kalian berdua sampai bergebrak?”

Gemerdep sinar mata pemuda berbaju perlente itu, dalam kegelapan kelihatan seperti mata burung hantu.

Dia melototi Li Sun-hoan dan mendengus, “Di luar hutan ada orang mati, kukira yang berada di dalam hutan tentulah Bwe-hoa-cat?”

Sun-hoan tertawa, “Kenapa tidak kau sangka orang mati itu sebagai Bwe-hoa-cat?”

“Rasanya Bwe-hoa-cat tidak semudah itu akan mati di tangan orang lain,” jengek pemuda itu.

“O, memangnya Bwe-hoa-cat itu harus menunggu kematiannya di bawah tangan Anda, begitu?” tanya Sun-hoan, “Cuma sayang ….”

Tiba-tiba Liong Siau-hun menyela dengan tertawa. “Ah, sudahlah, jangan kalian omong lagi. Semua ini hanya karena salah paham belaka, untung kudatang tepat pada waktunya, kalau tidak, dua harimau berkelahi pasti ada yang cedera, akibatnya tentu tidak enak.”

Sun-hoan tersenyum, ia cabut pedang yang masih menyelip dalam mantel kulitnya, perlahan ia sentil batang pedang itu hingga menerbitkan suara mendenging. “Ehm, pedang bagus!” pujinya dengan tersenyum.

Lalu ia mengangsurkan pedang itu dengan kedua tangan dan menambahkan, “Pedangnya pilihan, orangnya pasti juga jagoan. Meski pertemuan ini karena salah paham, tapi kurasakan suatu kehormatan besar. Betapa pun tidak setiap orang dapat berkenalan dengan pedang seorang jagoan!”

Muka si pemuda yang pucat tadi menjadi merah, mendadak ia rebut pedang itu, sekali disendal, “creng”, kembali terbit suara mendenging, pedang telah patah menjadi dua.

“Ah, pedang sebagus itu, kan sayang dipatahkan?!” ujar Sun-hoan dengan gegetun.

Sejak tadi mata anak muda itu terus-menerus melototi Li Sun-hoan, ucapnya dengan suara bengis, “Tanpa pedang ini tetap dapat kubunuh orang, tidak perlu Anda ikut urus pedangku.”

“Wah, tahu begitu, tentu pedang itu tidak perlu kukembalikan kepadamu, sedikitnya pedang ini dapat kutukarkan seperangkat baju untuk menahan dingin.”

“Untuk ini Anda pun tidak perlu khawatir,” jengek anak muda itu. “Jangankan cuma kurobek sehelai mantel kulitmu, biarpun sepuluh atau dua puluh mantel seperti itu juga dapat kuganti sepenuhnya.”

“Tapi mantelku ini mungkin sukar bagi Anda untuk mencari gantinya,” ujar Sun-hoan.

“Oo, apakah mantelmu ini ada keistimewaannya?” tanya anak muda itu.

“Keistimewaan sih tidak ada, cuma mantelku bermata.” ucap Sun-hoan dengan sungguh-sungguh.

Pemuda itu melengak, tapi ia, lantas tertawa dingin, “Hehe, sungguh lucu! Anda sungguh seorang pelawak, ternyata ada mantel yang bermata!”

Sun-hoan tersenyum, “Kalau mantelku tidak bermata, cara bagaimana sanggup menghindar tusukan pedangmu dari belakang?”

Seketika air muka anak muda itu berubah, tangannya sampai gemetar menahan gusar.

Liong Siau-hun lantas berdehem dan menyela dengan tertawa, “Ah, kalian sama-sama suka berkelakar. Padahal Siaucengcu Cong-liong-san-ceng pasti tidak menghiraukan sebatang pedang yang tidak ada artinya ini, dan saudaraku ini masakah memikirkan sepotong mantel kulit begini?”

“Ah, kiranya yang kuhadapi ialah Yu-siaucengcu?!” seru Sun-hoan.

“Betul,” tukas Liong Siau-hun, “Yu-heng bukan saja putra kesayangan Cong-liong-lojin, dia juga satu-satunya ahli waris jago pedang nomor satu jaman kini Soat-eng-cu dari Thian-san. Kalian berdua sama-sama ksatrianya jaman, selanjutnya kalian perlu berdekatan lebih rapat.”

Mata Yu Liong-sing masih melototi Li Sun-hoan, jengeknya, “Berdekatan sih tidak berani, cuma ingin kutahu juga nama sahabat ini ….”

“Kiranya Yu-heng belum kenal saudaraku ini,” tutur Liong Siau-hun dengan tertawa. “Dia she Li, namanya Sun-hoan, di jaman ini kalau ada orang yang setimpal menjadi sahabat Yu-heng, kukira tidak ada orang lain kecuali saudaraku ini.”

Nama Li Sun-hoan membuat air muka Yu Liong-sing rada berubah, matanya sekarang menatap pisau yang dipegang Sun-hoan, sampai lama pisau itu masih dipandangnya.

Li Sun-hoan sendiri tidak memperhatikan apa yang dipercakapkan mereka, matanya memancarkan cahaya yang aneh pula, ia berkomat-kamit sendiri seakan-akan sedang bergumam, “Kembali seorang anak tokoh ternama lagi ….”

Pada saat itulah mendadak seorang menerobos tiba sambil berteriak, “Hei, siapa yang membunuh orang di luar itu?”

Tulang pelipis orang ini menonjol tinggi, jenggotnya putih tapi jarang-jarang dan bermulut lebar yang agak erot sehingga kelihatannya cukup kereng, tapi juga rada kejam tampaknya. Kiranya dia inilah Tio Cing-ngo, si muka besi mahaadil yang disegani setiap orang Kangouw.

Sun-hoan tertawa dan menanggapi ucapannya, “Kecuali aku, siapa lagi?”

Sinar mata Tio Cing-ngo setajam sembilu melototi Sun-hoan, “Jadi kau?! Memang seharusnya sudah kuduga akan dirimu. Ke mana pun kau tiba selalu menimbulkan banjir darah.”

“Apakah orang itu tidak pantas dibunuh?” tanya Sun-hoan.

“Apakah kau tahu siapa dia?” Tio Cing-ngo balas bertanya.

“Cuma sayang dia bukan Bwe-hoa-cat,” kata Sun-hoan.

“Jika kau tahu dia bukan Bwe-hoa-cat, kenapa kau tetap turun tangan keji padanya?”

Dengan tak acuh Sun-hoan menjawab, “Meski sebenarnya aku tidak ingin membunuhnya, tapi aku pun tidak mau dibunuh olehnya. Apa pun juga, membunuh kan lebih baik daripada terbunuh?”

“Jadi dia hendak membunuhmu lebih dulu?” tanya Tio Cing-ngo.

Sun-hoan mengangguk.

“Tanpa alasan, mengapa dia hendak membunuhmu?”

“Aku sendiri juga sangat heran, ingin kutanya dia, tapi sayang dia tidak menghiraukan diriku.”

“Mengapa tidak kau tawan dia hidup-hidup saja?” tanya Tio Cing-ngo dengan gusar.

“Aku pun ingin menawannya hidup-hidup, cuma sayang, pisauku ini tidak mau diajak kompromi, sekali pisauku sudah menyambar, apakah lawan akan hidup atau mati, aku sendiri pun tidak berkuasa lagi.”

Tio Cing-ngo mengentak kaki, teriaknya, “Setelah kau keluar perbatasan negeri, kenapa kau pulang lagi ke sini?”

“Sebab aku terkenang kepada Tio-toaya, saking rindunya aku jadi perlu pulang kemari untuk menjenguk dirimu.”

Sampai gemetar Tio Cing-ngo menahan emosinya, ia tuding Liong Siau-hun dan berteriak, “Bagus, bagus sekali, inilah gara-gara saudaramu yang baik ini, orang lain tidak perlu ikut campur.”

“Ai, ada urusan apa dapat dibicarakan dengan baik, buat apa Toako marah-marah begini,” kata Liong Siau-hun dengan tertawa.

“Apa pula yang perlu dibicarakan!” seru Tio Cing-ngo. “Menghadapi seorang Bwe-hoa-cat saja sudah cukup memusingkan kepala, sekarang harus bertambah lagi seorang In Gok, siapa yang tahan?!”

Tiba-tiba Sun-hoan menjengek, “Betul, akulah yang membunuh Ku Tok, murid kesayangan In Gok, jika diketahui In Gok tentu dia akan menuntut balas, tapi yang akan dicarinya kan cuma diriku seorang saja, untuk apa Tio-toaya mesti ikut khawatir?”

Mendadak Liong Siau-hun juga berkata, “Tengah malam buta Ku Tok datang ke sini, jelas tidak bermaksud baik, bila saudaraku telah membunuhnya kan juga pantas, andaikan kepergok olehku, mungkin aku pun akan membunuhnya.”

Tanpa menunggu selesai ucapannya, segera Tio Cing-ngo melengos dan melangkah pergi dengan mendongkol.

Tiba-tiba si pemuda perlente, Yu Liong-sing, berucap, “Betapa pun Tio-toaya sudah tua, wataknya tambah keras, tapi nyalinya bertambah kecil. Padahal biarpun In Gok datang kemari kenapa mesti ditakuti? Kan kebetulan dapat kita saksikan betapa hebatnya si pisau kilat Li-tamhoa?”

Dengan tak acuh Sun-hoan menanggapi, “Jika Anda benar-benar ingin tahu, sebenarnya juga tidak perlu menunggu sampai datangnya In Gok!”

Seketika air muka Yu Liong-sing berubah, seperti ingin bicara lagi, tapi setelah memandang sekejap pisau di tangan Li Sun-hoan, ia urung bersuara, segera ia pun melengos dan pergi.

Liong Siau-hun seperti hendak memburu ke sana, tapi tidak jadi, ia geleng-geleng kepala dan berkata, “Ai, saudaraku, kenapa engkau bertindak demikian? Seumpama kau pandang hina mereka dan tidak sudi berkawan dengan mereka, kan juga tidak perlu menyinggung perasaan mereka.”

Sun-hoan tertawa, ucapnya, “Toh sudah lama mereka menganggap diriku ini tidak ada gunanya lagi, apakah kusinggung perasaan mereka atau tidak kukira sama saja. Lebih baik terang-terangan kuenyahkan mereka dan habis perkara.”

“Ai, sahabat kan lebih baik bertambah satu daripada berkurang satu,” ujar Liong Siau-hun dengan gegetun.

“Tapi di dunia ada berapa orang yang pantas disebut sahabat sejati? Kalau sahabat seperti Toako, satu saja sudah lebih dari cukup.”

Siau-hun terbahak-bahak, ia tepuk pundak Sun-hoan dengan keras dan berkata, “Bagus, saudaraku, asalkan mendengar ucapanmu ini, biarpun kuputus hubungan dengan semua sahabat lain juga berharga.”

Karena terharunya, kembali Li Sun-hoan terbatuk-batuk lagi.

Siau-hun berkerut kening, “Sudah sekian tahun, batukmu masih ….”

Sun-hoan seperti tidak suka orang menyinggung urusan ini, cepat memotong ucapannya, “Sekarang aku cuma ingin bertemu dengan satu orang.”

“Siapa?” tanya Siau-hun. Ia mengerling dan menyambung sebelum Sun-hoan menjawab, “Lim Sian-ji bukan?”

Sun-hoan tertawa. “Toako, sungguh cuma engkau adalah sahabatku yang karib.”

“Haha, memang sudah kuduga cepat atau lambat kau pasti ingin menemui dia,” ucap Siau-hun dengan tertawa cerah. “Jika si cantik nomor satu di dunia ini tidak kau temui, maka Li Sun-hoan bukan lagi Li Sun-hoan.”

Sun-hoan hanya tersenyum saja, seakan-akan mengaku secara diam-diam.

Akan tetapi apa yang terpikir di dalam hatinya, kecuali dia sendiri mungkin tidak ada orang yang tahu.

Segera Liong Siau-hun menariknya menuju ke luar, katanya dengan tertawa, “Tapi kalau hendak kau cari dia di sini, jelas kau salah alamat. Sebab sejak peristiwa kemarin malam, dia tidak berani tinggal lagi di paviliun ini.”

“Oo?!” Sun-hoan rada heran.

“Sudah dua malam dia selalu berada bersama Si-im,” kata Siau-hun pula. “Kebetulan dapat kau jenguk Si-im sekalian …. Ai, betapa pun dia seorang perempuan, tidak ada alangannya kau pergi ke sana sekadar menghiburnya.”

Sama sekali ia tidak memperhatikan sorot mata Li Sun-hoan yang menderita, ia menghela napas dan menyambung pula, “Sesungguhnya, dia juga tahu betapa nakalnya anak In, dia pasti tidak benar-benar marah padamu.”

Sun-hoan tersenyum, katanya, “Tapi kita sudah datang ke sini, bolehlah kita coba melongok paviliun itu, bisa jadi nona Lim itu sudah pulang sekarang.”

“Baik juga,” ucap Liong Siau-hun dengan, tertawa. “Agaknya kalau malam ini tidak kau temui dia, mungkin tidak dapat kau tidur nyenyak.”

Sun-hoan tetap tersenyum tanpa menanggapi. Akan tetapi sinar matanya gemerdep, seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.

Ternyata betul di paviliun itu tidak ada orang.

Begitu Sun-hoan masuk pintu paviliun itu, dia seperti memasuki kembali kenangan belasan tahun yang lampau.

Keadaan di dalam rumah tetap seperti dahulu, tidak ada perubahan sedikit pun. Meja kursinya tetap terletak di tempat semula, bahkan alat tulis di atas meja juga tidak tergeser ke tempat lain. Jika tidak malam bersalju, tentu rembulan yang menghiasi cakrawala pasti juga seperti sediakala. Salju turun tiada hentinya.

Bunga salju yang berhamburan di jendela menimbulkan suara gemersik laksana bisikan kekasih.

Tanpa terasa Sun-hoan menghela napas, ucapnya, “Sepuluh tahun sudah lalu … mungkin sudah lebih. Terkadang sang waktu terasa lalu dengan sangat lambat, tapi bilamana sudah lalu barulah kita rasakan sang waktu ternyata lewat sedemikian cepatnya.”

Dengan sendirinya Liong Siau-hun juga mempunyai banyak kenangan, tapi mendadak ia tertawa dan berkata, “Masihkah kau ingat pada hari pertama kudatang ke sini, waktu itu kan juga turun salju?”

“Masa … masa dapat kulupakan,” kata Sun-hoan.

“Hahaha, masih kuingat waktu itu kita hampir menghabiskan arak simpananmu, juga cuma sekali itulah kulihat kau mabuk, tapi engkau tidak mau mengaku mabuk, bahkan mengajak bertaruh denganku bahwa engkau masih sanggup menulis sanjak,” tiba-tiba Siau-hun memegang sebatang pit (pensil) dan berkata pula, “Masih kuingat betul, dengan pit inilah kau menulis.”

“Ya, kuingat pertaruhan itu telah kumenangkan,” kata Sun-hoan dengan tertawa, walaupun tertawanya rada getir.

“Dan tentunya tak kau sangka setelah belasan tahun pit ini masih tersimpan di sini dengan baik.”

Sun-hoan tersenyum tanpa bicara, dalam hati timbul rasa hampa dan pedih. Walaupun pit masih tetap di tempat, tapi sudah berganti majikan.

“Aneh juga kalau dibicarakan,” kata Siau-hun pula, “Lim Sian-ji seperti sudah tahu engkau bakal pulang ke sini, meski sudah sekian tahun dia tinggal di sini, tapi setiap benda di sini tidak digesernya sedikit pun.”

“Mestinya dia tidak perlu berbuat demikian,” ujar Sun-hoan hambar.

“Kami tidak menyuruhnya berbuat demikian, tapi dia bilang ….”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, “Siya … Liong-siya!”

“Aku berada di sini, ada urusan apa?” jawab Siau-hun sambil membuka jendela.

Dengan napas terengah-engah orang itu melapor, “Keadaan Cin-siauya tampaknya sangat berat, maka Cin-loyacu minta Liong-siya lekas ke sana.”

Berubah juga air muka Liong Siau-hun, katanya sambil berpaling, “Saudaraku ….”

“Aku masih ingin melihat-lihat sebentar di sini, entah boleh tidak?” ujar Sun-hoan.

“Tentu saja boleh,” kata Siau-hun dengan tertawa. “Tempat ini memang tempatmu, kuyakin kalau Sian-ji pulang tentu dia juga akan sambut dirimu dengan gembira.

Habis berkata, bergegas-gegas ia lantas berlalu. Dan begitu keluar pintu, seketika lenyap pula wajahnya yang tertawa-tawa tadi.

Sun-hoan duduk di atas kursi besar yang berlapiskan kulit harimau. Usia kursi ini mungkin lebih tua daripadanya.

Ia masih ingat waktu kecilnya sering merambat ke atas kursi ini dan menggosokkan bak (tinta) bagi ayahnya. Waktu itu dia berharap bisa lekas besar agar dapat duduk di atas kursi ini.

Tatkala itu pernah timbul semacam pikiran yang aneh, ia khawatir kursi juga akan tumbuh besar seperti manusia. Tapi pada suatu hari akhirnya ia dapat berduduk di atas kursi tanpa merambat lagi, dan juga diketahuinya bahwa kursi takkan tumbuh lebih tinggi, waktu itu diam-diam ia berduka bagi kursi ini dan merasa kasihan padanya.

Tapi sekarang dia justru berharap dapat serupa kursi ini, takkan tumbuh besar untuk selamanya, tapi sayang, meski sekarang kursinya masih tetap sama seperti dulu, namun orangnya sudah tua.

“Tua … sudah tua ….” ia bergumam.

Mendadak seorang tertawa dan menukas, “Siapa bilang engkau tua?”

Orangnya masih di luar, tapi suara tertawanya sudah mendatangkan rasa hangat di dalam rumah. Belum lagi orangnya masuk, suasana musim semi sudah terbawa masuk lebih dulu.

Kalau suara tertawanya saja begini, maka orangnya dapatlah dibayangkan.

Mata Li Sun-hoan seketika terbeliak, tapi dia hanya memandang ke luar pintu tanpa berdiri, juga tidak bicara apa-apa.

Akhirnya masuklah Lim Sian-ji.

Mata orang dunia persilatan memang tidak buta, dia memang benar mahacantik, jika orang melukiskan dia dengan bunga, maka sesungguhnya, terlalu merendahkan dia dan menghinanya. Padahal di dunia ini mana ada bunga secantik dia?

Meski setiap bagian badannya tidak ada satu tempat pun yang tidak menggetar sukma, tapi yang paling menggetar sukma adalah matanya. Tidak ada lelaki yang mampu melawan sinar matanya.

Inilah mata yang dapat membuat orang berbuat kejahatan apa pun.

Tapi sikapnya tertampak sedemikian simpatik, begitu terbuka, tidak sedikit pun bermaksud membikin orang berbuat jahat, kelihatannya dia juga serupa anak perempuan yang paling lembut, paling suci dan bersih di dunia ini.

Namun biarpun dia kelihatan seperti apa pun tetap sukar mengubah kesan Li Sun-hoan kepadanya. Sebab bukan untuk pertama kali ini Sun-hoan melihatnya.

Tempo hari, di dapur rumah makan itu, di samping mayat Bi-kui-hujin atau si nyonya mawar, Sun-hoan sudah pernah belajar kenal kepada “kelembutan” dan “kesuciannya”.

Namun Sun-hoan tetap sukar percaya perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang ini adalah wanita cantik misterius yang mendesaknya untuk bertukar Kim-si-kah itu. Sebab keadaannya sekarang dengan tempo hari jelas seperti terdiri dari dua orang. Apabila Sun-hoan tidak yakin kepada matanya sendiri yang pasti tidak salah lihat, hakikatnya dia tidak percaya bahwa perempuan yang keji, genit dan kenyang asam-garam kehidupan tempo hari itu ialah si nona cilik yang manis dan masih kekanak-kanakan yang berdiri di depannya dengan tertawa ini.

Perlahan Sun-hoan menghela napas dan memejamkan mata.

Lim Sian-ji mengerling dan berucap dengan lembut, “Kenapa kau pejamkan mata? Apa tidak sudi bertemu denganku?”

Sun-hoan tertawa, katanya, “Aku sedang membayangkan keadaanmu pada waktu telanjang bulat tempo hari.”

Muka Lim Sian-ji seperti agak merah, ucapnya dengan menyesal, “Mestinya kuharap engkau tidak mengenali diriku, tapi aku pun tahu harapan ini tidak besar.”

“Jika secepat ini kulupakan dirimu, masa engkau takkan sangat kecewa?”

Sian-ji tertawa manis, ucapnya, “Tapi engkau tidak terkejut ketika melihat diriku, memangnya sebelum ini sudah kau duga siapa diriku?”

“Hal ini mungkin disebabkan wanita yang dapat disebut cantik di dunia persilatan ini tidak banyak.”

“Bisa jadi lantaran kau lihat murid In Gok itu, lantas teringat olehmu akan sarung tangan iblis hijau yang kupakai itu. Karena kau lihat Yu Liong-sing, lantas kau ingat kepada pedang Hi-jong-kiam yang kupakai itu.”

Sun-hoan tersenyum, katanya, “Aku heran, jika kau tahu aku berada di sini, mengapa kau berani datang menemuiku?”

Lim Sian-ji berpikir sebentar, lalu menjawab dengan menggigit bibir, “Menantu bermuka buruk toh akhirnya harus menemui mertua, apa gunanya main sembunyi? Sebab itulah, ketika Liong-siko menyuruhku ke sini, segera kudatang kemari.”

“O, jadi dia yang menyuruhmu ke sini?” tanya Sun-hoan.

Sian-ji tertawa pula, katanya, “Masakah engkau belum mengerti maksudnya? Sejak mula dia sudah ingin menjodohkan kita, hal ini mungkin disebabkan dia merasa bersalah padamu karena dia telah merampas ….”

Sampai di sini, mendadak Sun-hoan menarik muka, sebab diketahuinya apa yang hendak diucapkan Lim Sian-ji, dan karena Sun-hoan menarik muka, seketika Sian-ji berhenti bicara. Betapa pun dia takkan membicarakan hal yang orang lain tidak suka mendengarnya.

Tapi Sun-hoan seakan-akan sedang menanti lanjutan ucapannya, selang sejenak kemudian barulah ia berkata, “Dia tidak bersalah padaku, siapa pun tidak pernah salah padaku, kalau ada, akulah yang bersalah kepada orang lain.”

Sian-ji memandangnya lekat-lekat, tanyanya kemudian dengan suara lembut, “Kau merasa bersalah kepada siapa?”

“Terlalu banyak, sampai aku sendiri tidak dapat menghitungnya,” jengek Sun-hoan.

“Terserah apa yang hendak kau katakan, yang jelas kutahu engkau bukanlah orang demikian,” ujar Sian-ji dengan suara lembut.

“Kau tahu aku ini orang macam apa?”

“Tentu saja kutahu,” jawab Sian-ji. “Waktu aku masih kecil sudah pernah kudengar cerita mengenai dirimu, sebab itulah ketika kuketahui tempat ini adalah bekas tempat tinggalmu, sungguh aku sangat gembira sehingga tidak dapat tidur nyenyak.”

Dengan gaya yang indah ia berputar dan berkata pula, “Coba kau lihat, segala sesuatu di dalam rumah ini bukankah masih sama dengan keadaan sepuluh tahun yang lalu ketika engkau meninggalkan tempat ini, bahkan sebotol arak yang kau simpan pada rak buku sana juga tidak kugeser. Apakah kau tahu sebab apa kuberbuat demikian?”

Sun-hoan tidak menjawab, ia hanya memandangnya dengan dingin.

Sian-ji tertawa, “Tentu saja engkau tidak tahu. Tapi dapat kuberitahukan padamu, yaitu, hanya dengan demikian baru dapat kurasakan tinggal di tempatmu. Terkadang bahkan kurasakan engkau seperti masih berada di dalam rumah ini, sedang duduk di kursi dan lagi memandangiku dengan tenang serta berbincang denganku.”

Dengan kelopak mata setengah terkatup ia menyambung pula dengan lirih, “Terkadang bilamana aku terjaga dari tidurku di tengah malam, selalu kurasakan seakan-akan engkau tidur di sampingku, di atas bantal itu masih tertinggal bau badanmu.”

Tiba-tiba Sun-hoan tertawa, katanya, “Selain diriku, mungkin kau masih ada orang lain?”

Sian-ji menggigit bibirnya, jawabnya, “Kau kira rumah ini pernah dimasuki orang lain lagi?”

“Tempat ini kan sudah menjadi tempatmu, siapa yang kau izinkan masuk juga tidak menjadi soal,” ujar Sun-hoan hambar.

“Kau kira Yu Liong-sing, Ku Tok dan sebagainya pernah masuk ke sini, begitu?” mata Sian-ji tampak agak basah, sambungnya, “Ingin kukatakan padamu, selama ini tidak pernah kuizinkan mereka masuk pintu ini, sebab itulah terpaksa mereka menunggu di hutan Bwe sana, jika kuperkenankan mereka masuk ke sini, mungkin Ku Tok dan Cin Tiong takkan mati.”

Sun-hoan berkerut kening, “Jika demikian, mengapa tidak kau biarkan mereka masuk kemari?”

Sian-ji menggigit bibir pula dan menjawab, “Sebab tempat ini adalah tempatmu, lelaki lain masuk ke sini dan merusak apa yang kau tinggalkan ….”

Dia tidak melanjutkan, seperti tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Kembali Sun-hoan tersenyum dan menukas, “Bau badanku yang kutinggalkan?”

Muka Sian-ji menjadi merah, ucapnya dengan menunduk, “Jadi dapat kau pahami maksudku?”

“Tapi baru sekarang kutahu pada badanku ada baunya ….” kata Sun-hoan dengan tertawa, “cuma entah bagaimana baunya? Harum atau busuk?”

Tambah rendah kepala Sian-ji menunduk, ucapnya, “Kukatakan hal-hal ini bukan untuk dijadikan bahan olok-olokmu padaku.”

“Habis karena apa?” tanya Sun-hoan.

“Masa maksudku belum lagi kau ketahui?”

Sun-hoan tertawa lagi, “Jika demikian, jadi tanpa perantara orang lain tampaknya sangat besar harapanku.”

“Jika … jika bukan lantaran dirimu sudah lama … sudah lama ku …. Masakah tempo hari aku mau ….”

Meski setiap kalimatnya hanya diucapkannya setengah-setengah, tapi terkadang kata-kata yang terucapkan setengah-setengah jauh lebih menarik dan lebih kuat daripada terucapkan seluruhnya.

Maka Sun-hoan menjawab, “O, kiranya kau lakukan seperti tempo hari itu adalah karena kau suka padaku, ai, kusangka tujuanmu adalah karena Kim-si-kah.”

“Dengan sendirinya Kim-si-kah juga menjadi tujuanku.” tukas Sian-ji. “Tapi kalau sasarannya bukan dirimu, mana … mana aku mau ….”

“O, jadi tindakanmu itu bermaksud sekali pukul mendapatkan dua hasil,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

“Tentunya engkau merasa heran mengapa aku pun mengincar Kim-si-kah?”

“Ya aku memang rada heran.”

“Sebabnya adalah karena aku ingin membunuh Bwe-hoa-cat dengan tanganku sendiri.”

“Oo?!” heran juga Sun-hoan.

“Kau tahu, barang siapa dapat membunuh Bwe-hoa-cat sudah kujanjikan akan menjadi istrinya, meski janji ini kuucapkan sendiri, tapi mengandung banyak kepedihan.”

“Dan kau ingin membunuh bandit bunga Bwe itu dengan tanganmu sendiri, apakah karena kau ingin kawin dengan dirimu sendiri?” tanya Sun-hoan dengan tertawa.

“Kuberbuat demikian adalah karena aku tidak mau menikah dengan orang lain, sebab itulah apabila aku dapat membunuh Bwe-hoa-cat dengan tanganku sendiri kan berarti aku tidak perlu lagi kawin dengan orang lain?”

Mendadak ia mendongak dan memandang Sun-hoan dengan lekat-lekat, lalu ucapnya pula dengan perasaan hampa, “Sebabnya adalah karena lelaki di dunia ini tidak ada seorang pun yang kupenujui.”

“Bagaimana dengan diriku?” sorot mata Sun-hoan juga menatapnya dengan tajam.

“Engkau sudah tentu dikecualikan,” jawab Sian-ji dengan tersenyum jengah.

“Sebab apa?” tanya Sun-hoan.

“Sebab engkau tidak sama dengan lelaki lain. Orang-orang itu serupa anjing saja, betapa pun kuperlakukan mereka, tetap juga mereka mengerubungi diriku, hanya engkau ….”

Sun-hoan tersenyum hambar, ucapnya, “Jika begitu, mengapa tidak kau simpan Kim-si-kah di tempatku ini, agar setelah kubunuh Bwe-hoa-cat, lalu kau pun kawin denganku, kan terkabul tujuanmu yang sekali pukul dua hasil itu?!”

Sian-ji tampak terkesiap, tapi segera ia berkata dengan tersenyum, “Ini memang gagasan yang bagus, mengapa tidak terpikir olehku?”

Gemerdep sinar mata Sun-hoan, katanya, “Gagasan sebaik ini, kecuali diriku, siapa lagi yang mampu memikirkannya?”

Lim Sian-ji seperti tidak merasakan ucapan orang bernada mengejek, ia malah genggam kencang tangan Sun-hoan dan berkata, “Kutahu dalam dua hari ini Bwe-hoa-cat pasti akan datang kemari, besok juga akan kutunggu dia di sini.”

“Maksudmu menyuruhku datang lagi kemari esok malam?”

“Ya, boleh kau gunakan diriku sebagai umpan untuk memancing kedatangannya, toh Kim-si-kah berada padamu, andaikan tidak dapat kau bekuk dia, betapa pun dia juga tidak dapat melukaimu. Sebaliknya bila engkau dapat mengatasi dia ….”

Dengan muka merah Sian-ji menunduk pula, ia melirik Sun-hoan dengan kerlingannya yang membetot sukma, meski tidak diucapkannya dengan mulut, tapi semuanya sudah dikatakannya dengan mata.

Mata Sun-hoan juga gemerdep, ucapnya dengan tertawa, “Baik, esok malam aku pasti datang kemari. Kan tolol jika aku tidak datang kemari?”

Perlahan Sian-ji melepaskan tangan Sun-hoan, tapi jarinya yang lentik itu masih merabai punggung tangannya dengan perlahan seakan-akan hati Sun-hoan hendak dirabanya juga.

“Nah, tampaknya sudah banyak yang kau belajar dan sekarang telah tambah maju,” kata Sun-hoan tiba-tiba.

“Aku memang bukan anak bodoh,” ucap Sian-ji dengan muka merah.

“Sedikitnya sekarang kau tambah pintar untuk membikin si lelaki bertindak lebih aktif.”

Tiba-tiba napas Sian-ji terengah-engah, ucapnya dengan terputus-putus, “Tapi … tapi sekarang engkau tidak … tidak mau bukan?”

Sun-hoan memandangnya, sorot matanya dingin, namun ujung mulut telah menampilkan senyuman yang tidak dingin, ucapnya, “Dari mana kau tahu aku tidak mau?”

Sian-ji tertawa terkikik, “Sebab engkau seorang Kuncu (gentleman) bukan?”

“Selama hidupku hanya pernah menjadi Kuncu satu kali, itu pun membuatku menyesal selama tiga hari,” kata Sun-hoan dengan tersenyum.

Sambil mengikik tawa, Lim Sian-ji seperti mau kabur.

Tapi Sun-hoan telah menariknya dan berkata, “Eh, tampaknya setelah kau pancing diriku, lalu akan mengelak.”

Sian-ji mendesis perlahan. “Semua ini kan ajaranmu, engkau yang mengajarku cara bagaimana memancing dirimu, betul tidak?”

Sun-hoan menghela napas gegetun, “Ai, tampaknya terlalu banyak yang kuajarkan padamu, dan kau pun belajar terlalu cepat.”

Mendadak ia mendorong pergi si nona dan berbangkit sambil mengebut baju, lalu melotot ke arah jendela dan berkata, “Sandiwara hari ini sudah tamat, jika pertunjukan ini belum memuaskan Anda, silakan besok menonton lagi.”

Tiba-tiba dari luar jendela ada orang mendengus, “Hm, cara main Anda sungguh sangat hebat, semoga pisau terbang Anda juga sama hebatnya.”

Ketika kata terakhir terucapkan suaranya sudah berada belasan tombak jauhnya.

“Yu Liong-sing!” seru Sian-ji.

“Kau takut dia akan cemburu?” tanya Sun-hoan tiba-tiba.

Sorot mata Sian-ji menampilkan rasa benci, dengusnya, “Hm, berdasarkan apa dia cemburu?… Huh, tak tersangka anak murid keluarga terkemuka yang sok anggap dirinya paling terhormat juga dapat melakukan hal yang tidak tahu malu ini. Mustahil jika selanjutnya mau kugubris dia?”

Sun-hoan tersenyum, “Engkau tidak takut Hi-jong-kiam akan diminta kembali olehnya?”

“Huh, biarpun kulemparkan pedang itu ke depan hidungnya juga dia tak berani mengambilnya kembali.”

“Oo?” Sun-hoan bersuara ragu.

Sian-ji tertawa, “Kan sudah kukatakan, orang semacam ini memang berjiwa rendah seperti anjing, semakin kau maki atau kau gebuk dia, tetap dia akan mengintil di belakangmu sambil menggoyang-goyangkan ekornya.”

“Jika betul ada seekor anjing mengintil di belakang, kan menarik juga?” ujar Sun-hoan.

Sian-ji menarik tangannya dan berkata, “Masa kau benar hendak pergi? Mengapa tidak berduduk sebentar lagi?”

“Jika kutinggal lebih lama di sini, bila sampai digigit anjing, bisa susah,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

“Hm, dia berani ….”

Belum lanjut ucapan Sian-ji, terdengar Yu Liong-sing berseru di kejauhan, “Tamat sandiwara di sini, di sana pertunjukan lain baru mulai. Apakah Anda tidak ingin melihatnya?”

“Nah, kau dengar, kan sudah kuduga dia pasti takkan membiarkan kududuk lebih lama di sini?” kata Sun-hoan dengan tertawa.

Dengan gemas Sian-ji mendengus, “Hm, memang brengsek ….” Tiba-tiba ia tertawa pula, katanya sambil menarik tangan Sun-hoan, “Tapi kita masih punya esok, jangan lupa, datanglah lebih dini esok malam.”

Yu Liong-sing sudah tidak kelihatan lagi, tapi begitu Sun-hoan keluar dari hutan bunga Bwe, segera didengarnya suara ramai-ramai di kejauhan sana, terdengar pula deru angin pukulan yang dahsyat.

Sun-hoan dapat mendengar di tengah suara ramai-ramai itu ada suara si berewok, segera ia menyingsing lengan baju dan memburu ke sana, hanya beberapa kali lompatan saja dapatlah dia mencapai tempat kejadian itu.

Di balik gunung-gunungan sana ada tiga buah rumah indah, di depan rumah itu tampak dua orang sedang bertempur dengan sengit, pukulan kedua orang sama dahsyatnya sehingga bunga salju berhamburan tergetar oleh angin pukulan mereka.

Terdengar si berewok berteriak dengan gusar, “Orang she Cin, percuma kau anggap dirimu sebagai pendekar, padahal sepeser saja tidak berharga. Anakmu terluka parah dan tidak dapat disembuhkan, apa sangkut-pautnya dengan tabib yang kau panggil, kenapa kau salahkan dia dan turun tangan keji padanya?”

Yang sedang bergebrak dengan si berewok ialah Cin Hau-gi, dengan meraung murka ia balas mendamprat, “Kau terhitung barang apa, berdasarkan apa kau berani ikut campur urusanku. Biarlah kubereskan dirimu sekalian!”

Dalam pada itu Liong Siau-hun kelihatan berdiri di samping dan sedang mengentak kaki serba susah, sedangkan Yu Liong-sing menonton di pinggir dengan berpangku tangan.

Ketika Li Sun-hoan memburu tiba, segera Liong Siau-hun menyongsong kedatangannya dan berseru, “Lekas kau larai mereka, saudaraku, Bwe-hoa-cat belum lagi muncul, orang kita sendiri sudah saling baku hantam malah. Ai, macam … macam apa ini?”

Yu Liong-sing lantas menimpali dengan mengejek, “Ini namanya di bawah panglima tangkas tidak ada prajurit lemah, tak tersangka seorang budak Li-tamhoa juga selihai ini, sungguh buas amat ….”

“Betul, dia memang sangat buas,” jawab Sun-hoan dengan tak acuh. “Tapi kalau orang lain tidak merecoki dia, tidak nanti dia mengumbar kebuasannya.”

Dia tidak pedulikan Yu Liong-sing lagi, segera ia tanya Liong Siau-hun, “Sebab apakah bisa terjadi begini?”

Liong Siau-hun menghela napas menyesal, ucapnya, “Justru lantaran luka Cin Tiong terlalu parah dan tak tersembuhkan, maka Cin-samko ….”

“Karena putranya tak tertolong, lalu dia menumpahkan rasa gusarnya terhadap Bwe-jisiansing?” tanya Sun-hoan dengan berkerut kening.

“Maklumlah, orang tua kehilangan anak, betapa pun Cin-samko sangat berduka sehingga melukai Bwe-jisiansing, tapi juga tidak terlalu parah lukanya,” ujar Siau-hun.

Sun-hoan hanya mendengus saja dan tidak menanggapi.

“Bujuklah dia, saudaraku,” pinta Siau-hun pula. “Kutahu, dia hanya turut kepada perkataanmu saja.”

“Mengapa harus kubujuk dia,” jengek Sun-hoan “Andaikan dia tidak turun tangan, akulah yang akan turun tangan.”

Siau-hun melengak dan tidak tahu apa yang harus diucapkan lagi.

Dalam pada itu si berewok sedang melancarkan pukulan dahsyat, setiap serangannya dilontarkan tanpa memikirkan keselamatan sendiri, meski jurus serangannya tidak pasti bagus, tapi dahsyatnya sungguh sangat mengejutkan.

Tampaknya Cin Hau-gi jadi terdesak sehingga sukar melepaskan diri.

Tiba-tiba Yu Liong-sing mengejek pula, “Hm, sungguh jarang ada cara menyerang budakmu ini. Tiap kali dia menghantam seakan-akan sudah siap menahan pukulan lawan. Ilmu pukulan demikian sungguh rada membingungkan.”

“Kenapa mesti bingung, kan sangat sederhana maksudnya,” ujar Sun-hoan dengan hambar.

“O?!” Yu Liong-sing bersuara tidak mengerti.

“Soalnya bila orang lain menghantamnya satu kali, hakikatnya dia tidak merasakannya, sebaliknya jika orang lain terkena satu kali pukulannya, maka orang itu mungkin akan terkapar.”

Berubah merah air muka Yu Liong-sing, belum lagi dia buka suara pula, mendadak seorang membentak dengan gusar, “Sungguh budak yang tidak tahu diri, berani main gila di sini, biar kuberi hajaran setimpal padamu.”

Sambil meraung terlihat Tio Cing-ngo memburu tiba dengan cepat.

Selagi dia hendak menerjang si berewok, mendadak Li Sun-hoan menyela, “Apabila ada orang bermaksud main kerubut, jangan lupa, bisa jadi pisauku juga akan terbang!”

Seketika Tio Cing-ngo berhenti di tempat dan tidak berani bergerak lagi, teriaknya dengan gusar, “Budak yang kau bawa kemari berani bertindak kasar terhadap orang terhormat, engkau tidak menyalahkan dia sebaliknya malah membelanya. Apakah kau kira dunia Kangouw sekarang sudah tidak ada keadilan lagi?”

“Apa yang disebut keadilan Kangouw? Apakah dua lawan satu baru dianggap adil?” jengek Sun-hoan.

“Kau harus tahu, ini bukan pertandingan Kungfu melainkan memberi hajaran kepada kaum budak!” teriak Tio Cing-ngo.

“Biasanya dia tidak perlu dihajar orang, tapi kalau Tio-toaya bermaksud coba-coba beberapa jurus dengan dia, bolehlah kau gantikan Cin-samya, silakan maju.”

“Hm, dia barang apa, masa sesuai bergebrak denganku?” jengek Tio Cing-ngo dengan gusar.

“Dia memang bukan barang, tapi manusia,” sahut Sun-hoan. Ia pandang Tio Cing-ngo dengan tertawa, tiba-tiba ia menambahi, “Memangnya Tio-toaya sendiri barang?”

Sungguh tidak kepalang rasa murka Tio Cing-ngo, air mukanya menjadi merah padam saking dongkolnya.

Sampai di sini terpaksa Liong Siau-hun harus buka suara. Tapi pada saat itu juga mendadak terdengar suara “biang” yang keras, tangan kedua orang beradu, Cin Hau-gi hampir tergetar mencelat, ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk.

Cepat Tio Cing-ngo dan Liong Siau-hun memburu maju untuk membangunkannya.

Dengan suara bengis si berewok lantas berteriak, “Siapa lagi yang ingin memberi hajaran padaku, ayolah silakan maju!”

“Wah, wah, tampaknya hari ini majikan tidak mampu menghajar budak, sebaliknya budak yang menghajar kaum majikan,” ejek Yu Liong-sing.

Dalam pada itu dengan menggeh-menggeh Cin Hau-gi sedang berbisik-bisik di tepi telinga Tio Cing-ngo, lalu orang she Tio ini mendadak melompat maju dan menatap si berewok dengan sorot mata mencorong, katanya, “Tak tersangka sahabat ini menguasai Kungfu keras yang jarang terlihat di dunia Kangouw sehingga tadi aku pun menilai rendah dirimu, pantas Cin-samya kurang hati-hati dan terjebak olehmu.”

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: