Pendekar Budiman: Bagian 05

Pendekar Budiman: Bagian 05
Oleh Gu Long

“Hm, jika kalian kalah, kau bilang terjebak, bila kukalah, tentulah karena kepandaianku terlalu rendah, logikamu ini sudah kuketahui, tidak perlu kau jelaskan lagi,” jengek si berewok.

Dengan gusar Tio Cing-ngo membentak, “Orang she Thi, mengingat kegagahanmu maka sengaja kulindungimu, janganlah tidak tahu diri.”

Air muka si berewok rada berubah, ucapnya dengan ketus, “Rasanya orang she Thi juga tidak perlu perlindungan Tio-toaya, buktinya aku pun dapat hidup sampai sekarang. Kini aku menang merasa bosan hidup, jika mampu silakan saja Tio-toaya turun tangan.”

Tio Cing-ngo mendelik, matanya seakan-akan membara, jengeknya, “Ya, bagus … bagus ….”

Ia mengucapkan beberapa kali “bagus”, tapi memapah pergi Cin Hau-gi.

Liong Siau-hun masih berusaha mencegah kepergiannya dengan membujuk, “Ada urusan apa, marilah kita bicarakan secara baik-baik, buat apa ….”

Mendadak Cin Hau-gi tertawa pedih, katanya, “Haha, kami ayah dan anak sudah terjungkal di sini, apa pula yang perlu dibicarakan?”

Terpaksa Liong Siau-hun menunduk dan mengusap keringat, waktu ia menengadah, Cin Hau-gi dan Tio Cing-ngo sudah pergi jauh.

Li Sun-hoan menghela napas menyesal, ucapnya, “Toako, baru saja kupulang lantas menimbulkan macam-macam kesulitan bagimu, sungguh aku ….”

“Ai, jangan kau bicara demikian, saudaraku,” potong Liong Siau-hun dengan tertawa. “Memangnya bilakah kita bersaudara pernah takut kepada kesulitan.”

“Akan tetapi, kutahu Toako menjadi serba salah ….”

“Ai, saudaraku, tidak perlu kau pikirkan diriku, apa pun yang kau lakukan, tetap kuberdiri di pihakmu.”

Darah panas dalam dada Li Sun-hoan bergolak, air mata hampir saja menitik keluar.

Liong Siau-hun memandang si berewok sekejap, seperti ingin bicara apa-apa, tapi mendadak ganti ucapan, “Fajar sudah hampir tiba, jelas malam ini Bwe-hoa-cat takkan muncul. Kalian tentu lelah dalam perjalanan, silakan pergi istirahat saja.”

Sun-hoan mengiakan.

“Sudah kusuruh orang membersihkan paviliun Ting-tiok-han bagimu apabila engkau tetap ingin tinggal di tempat lama, boleh kuminta Sian-ji pindah dan tinggal sementara di tempat Si-im,” kata Liong Siau-hun pula.

“O tidak perlu Ting-tiok-han juga sangat bagus,” ujar Sun-hoan.

Siau-hun memandang sekejap lagi kepada si berewok, tapi tetap tidak bicara, hanya air mukanya menampilkan perasaan khawatir, jelas menanggung sesuatu pikiran.

Ting-tiok-han atau paviliun mendengarkan bambu, di sekeliling rumah ini memang banyak pohon bambu. Daun bambu gemersik tertiup angin.

Gemersik daun bambu di tengah malam buta membuat orang yang gembira juga akan terasa kesepian, apalagi sudah belasan tahun meninggalkan tempat ini dan sekarang Li Sun-hoan pulang lagi ke sini dengan perasaan yang telah hancur.

Cahaya pelita berkelip redup, kerut pada ujung mata Sun-hoan tampaknya juga bertambah rapat.

Si berewok tampak berduduk termenung, jelas diliputi pergolakan perasaan. Entah lewat berapa lama, tiba-tiba ia menggereget, seperti telah mengambil sesuatu keputusan, lalu berucap dengan suara parau, “Siauya, mungkin tidak boleh tidak aku harus pergi.”

“Kau mau pergi? Kau pun mau pergi?” tanya Sun-hoan dengan melengak.

“Atas budi kebaikan Siauya, mestinya hamba sudah bertekad akan mengabdi selama sisa hidupku ini untuk membalas budi Siauya, akan tetapi sekarang ….”

Pada saat itulah, di tengah malam sunyi, tiba-tiba berkumandang suara ringkik kuda dari kejauhan.

Lelaki berewok itu tersenyum pedih, ucapnya, “Tio Cing-ngo dan begundalnya itu jelas sudah tahu akan asal-usulku, mungkin sekarang mereka sudah menyampaikan berita kepada musuhku, sebenarnya tidak kupikirkan soal mati hidupku sehingga tidak perlu kutakut kepada mereka, namun ….”

“Namun kau khawatir diriku ikut tersangkut, begitu bukan?” tukas Sun-hoan.

“Hamba tahu Siauya bukan orang yang takut perkara, akan tetapi peristiwa delapan belas tahun yang lalu memang kesalahanku, mana boleh Siauya ikut tersangkut dan dicaci maki serta dihina orang.”

Sun-hoan terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang, katanya, “Kejadian itu adalah karena kesalahanmu yang tidak disengaja, derita batin selama 18 tahun ini sudah kau bayar dengan cukup, kukira mereka tidak dapat terlalu mendesak orang.”

Si berewok tersenyum pedih, “Meski Siauya berpikir para demikian, tapi orang lain mungkin tidak berpikir sirna. Utang berdarah di dunia Kangouw harus dibayar lunas dengan darah juga.”

Tanpa menunggu tanggapan Sun-hoan, segera ia sambung pula, “Apalagi, hendak kujenguk juga Bwe-jisiansing itu, setelah terluka dia pergi dengan marah, entah sanggup pulang sampai di rumah atau tidak belum lagi diketahui. Apa pun juga, dia mau ikut kemari juga lantaran mengingat pada diri kita.”

Sampai lama Sun-hoan termenung, akhirnya bertanya dengan rawan, “Kau mau pergi ke mana?”

Si berewok menghela napas, “Sekarang aku pun tidak tahu harus ke mana, cuma ….” tiba-tiba ia tertawa, lalu melanjutkan, “aku pasti takkan pergi jauh-jauh, setiap malam bulan terang dan tenang bisa jadi aku akan kembali dengan membawa arak untuk diminum bersama Siauya.”

“Baik,” seru Sun-hoan sambil berbangkit.

Kedua orang berdiri berhadapan, air mata pun berlinang-linang, lalu keduanya melengos.

Perpisahan antara ksatria terkadang jauh lebih mengharukan daripada perpisahan kaum remaja. Sebab meski di dalam hati penuh diliputi berbagai perasaan, tapi siapa pun tidak mau mengutarakannya.

Sun-hoan hanya berucap dengan hambar, “Kau mau pergi, aku pun tidak ingin merintangimu. Tapi hendaknya boleh kuantar kau sebentar.”

Jalan raya yang panjang itu tampak sunyi dan bersih, timbunan salju semalam telah tersapu ke tepi jalan.

Sudah mulai remang-remang di ufuk timur, dari kejauhan mulai ada suara gaduh orang ramai ke pasar. Bumi raya ini sudah mendusin dari tidurnya.

Tapi cuaca masih gelap, tampaknya hari ini juga tidak bakalan ada cahaya matahari.

Jalan raya masih sepi, meski terkadang dari kejauhan ada suara ayam berkokok dan juga suara batuk Li Sun-hoan, tapi tetap belum dapat melonggarkan dunia yang sunyi dan menyesakkan napas ini.

Tiba-tiba si berewok berhenti melangkah, ucapnya dengan tertawa, “Biarpun mengantar seribu li, akhirnya pasti juga berpisah. Siauya … bolehlah engkau pulang saja.”

Sun-hoan berjalan pula beberapa langkah, lalu berhenti juga, dipandangnya pohon tunggal di ujung jalan sana, setelah termangu-mangu sekian lamanya, akhirnya ia membalik tubuh dan berkata, “Baik, aku akan pulang, semoga … semoga kau jaga dirimu baik-baik.”

Si berewok mengangguk, sahutnya dengan parau, “Ya, harap Siauya juga menjaga diri dengan baik.”

Ia tidak pandang Sun-hoan lagi, dengan kepala tertunduk ia lewat di samping Sun-hoan.

Setelah balasan langkah, tiba-tiba ia berhenti lagi, ia berpaling dan berkata, “Siauya, jika engkau tidak ada urusan lain, hendaknya tinggal saja lebih lama di sini. Apa pun juga Liong-toaya adalah seorang lelaki sejati, seorang sahabat.”

Sun-hoan menengadah dan berucap dengan gegetun, “Ada sahabat seperti Liong Siau-hun, apa pula yang perlu kusesalkan?!”

“Jika Siauya memutuskan akan tinggal di sini, bisa jadi selekasnya aku akan kembali untuk mencari Siauya,” kata si berewok.

Sun-hoan tertawa, “Ya, mungkin aku akan tinggal di sini, toh tiada tempat lain yang perlu kudatangi.”

Meski dia tertawa, tapi tertawanya terasa memilukan.

Mendadak si berewok membalik tubuh dan melangkah pergi dengan cepat.

Cuaca sudah mulai terang, namun hujan salju tampaknya juga akan turun pula.

Udara yang kelabu dan berat seakan-akan hendak menindih ke bawah. Namun hati si berewok terasa lebih kelabu dan lebih berat daripada cuaca ini.

Apa pun juga yang menyebabkan pelariannya dahulu, tampaknya sekarang dia akan mulai lagi dengan kehidupan pelarian yang tidak ada habis-habisnya itu. Sudah sepuluh tahun dia dan Sun-hoan hidup dalam pelarian, tidak ada orang yang lebih jelas betapa siksa derita orang hidup dalam pelarian. Hal itu serupa impian buruk yang tidak pernah mendusin selamanya.

Tapi selama sepuluh tahun itu, sedikitnya dia telah tinggal bersama Li Sun-hoan, sedikitnya ada seorang yang mendampinginya, sedikitnya masih ada orang yang dapat dijadikan tumpuan perasaannya.

Akan tetapi sekarang, segalanya sudah tiada lagi, dia sudah terpencil sendirian sama sekali.

Jika dia seorang pengecut, bisa jadi malah tidak perlu lari, sebab ia tahu di dunia ini tidak ada urusan yang lebih menderita daripada kehidupan dalam pelarian. Bahkan juga tidak kematian.

Pengucilan yang membuat putus asa itu sungguh bisa membikin gila orang.

Tapi mau tak mau dia harus lari, dilihatnya Li Sun-hoan dapat hidup tenteram lagi di rumah, maka dia harus pergi, betapa dia akan tersiksa juga tak boleh membikin susah Li Sun-hoan.

Sekarang mestinya dia harus menenangkan diri dan merenungkan tujuan selanjutnya, tapi dia tidak berani tinggal diam, ia ingin menuju ke tempat yang banyak orang.

Ia terus berjalan tanpa tempat tujuan, entah sudah berapa jauhnya, tiba-tiba diketahuinya sudah berada di tengah sebuah pasar sayur. Ia menjadi geli sendiri.

Selama hidupnya entah sudah berkunjung ke tempat macam apa pun, dia pernah datang ke istana kaum bangsawan, pernah bertamu ke rumah penjual bakmi, juga pernah mampir ke kamar anak gadis keluarga hartawan, tapi juga pernah ngendon di rumah hiburan kelas kambing. Pernah dia pergi ke Hek-liong-kang, di mana hidung orang bisa lepas terbeku karena hawanya yang sangat dingin, tapi juga pernah mengunjungi daerah panas yang dapat membuat masak sebutir telur yang dijemur sinar matahari, yaitu di daerah Turfan yang terletak di wilayah Sinkiang.

Akan tetapi pergi ke pasar sayur, selama hidupnya baru terjadi pertama kali ini.

Pada pagi hari di musim dingin, tempat yang paling ramai dikunjungi orang di dunia ini mungkin adalah pasar sayur, siapa pun kalau datang ke sini tentu takkan merasa kesepian.

Di sini ada ibu rumah tangga yang menggendong anak, ada nenek yang membawa tongkat, ada koki yang berlepotan minyak, ada babu yang berbedak tebal … semuanya datang untuk berbelanja, semuanya membawa keranjang sayur dan bersimpang-siur kian kemari diseling suara ribut mulut antara seorang perempuan udik penjual sayur dengan seorang tukang daging babi hanya lantaran uang sepicis ….

Suasana hiruk-pikuk dengan bau amis ikan dan bau minyak Yucakue yang masih panas, ada bau tanah dari sayur yang baru dibedol serta bau tak sedap lainnya.

Orang yang tidak pernah datang ke pasar sayur tentu tak dapat membayangkan bagaimana bau yang bercampur aduk itu, siapa pun yang biasa datang ke tempat begini, tidak terlalu lama tentu hidungnya akan kebal.

Akan tetapi setiba di sini, perasaan si berewok menjadi banyak lebih cerah, sebab suara dan bau di sini terasa segar dan baru, penuh daya hidup.

Di dunia ini mungkin banyak orang yang bosan hidup, ada yang membunuh diri dengan melompat dari gedung pencakar langit, ada yang menggantung diri, ada yang menggorok leher, ada yang mendodet perut sendiri dan juga ada yang minum endrin, tapi pasti tidak pernah terjadi orang membunuh diri di tengah pasar sayur.

Di sini, si berewok hampir dapat melupakan segala permusuhan di dunia Kangouw yang berbau darah. Ia bermaksud membeli dua potong Yucakue (penganan serupa untir-untir) untuk dimakan.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berteriak di depan sana, “Dijual, daging segar! Dijual daging segar!”

Begitu suara ini bergema, segera menimbulkan kegemparan di sana sini. Menyusul kerumunan orang di depan sana sama menyurut mundur ke sini, setiap orang sama pucat, bahkan anak kecil sama menangis ketakutan.

Orang yang berada di belakang beramai-ramai sama tanya, “He, ada kejadian apa?”

Seorang yang baru lari mundur dari depan sana menjawab dengan napas tersengal, “Ada … ada orang menjual daging!”

Orang yang bertanya tertawa, “Di pasar sini ada puluhan penjual daging, kenapa merasa takut?”

“Tapi … tapi daging yang dijual orang ini tidak sama dengan orang lain,” tutur yang ketakutan itu, “Daging yang dijualnya adalah daging manusia!”

Bahwa di tengah pasar ada orang menjual daging manusia, hal ini membuat si berewok juga terkejut.

Tertampak orang yang berkerumun dari sana sini bertambah banyak, meski sama merasa takut, tapi juga ingin tahu sesungguhnya apa yang terjadi.

Memang ada sementara orang perempuan yang pergi ke pasar bukan melulu untuk berbelanja, tapi juga sambil mengobrol dan berceloteh dengan nona cilik dan menantu orang untuk saling tukar informasi, mencari tahu rahasia rumah tangga orang, menambah bahan cerita bila pulang mengobrol dengan tetangga.

Sekarang di pasar sayur terjadi hal aneh ini, tentu saja tidak ada yang mau pergi, semuanya ingin menonton keramaian.

Si berewok berkerut kening, ia mendesak maju ke tengah kerumunan orang banyak. Tapi air mukanya seketika berubah, tampaknya jauh lebih terkejut daripada orang lain.

Di pasar sayur, bagian penjualan daging tergolong sudut yang lebih bersih, para jagal yang tidak pernah meninggalkan goloknya itu selalu menampilkan rasa lebih terhormat dibandingkan penjual tahu dan sayur umpamanya.

Akan tetapi sekarang para jagal itu pun sana mengkeret oleh apa yang terjadi di depan mereka.

Bagian penjual daging itu ada satu rumah yang memasang papan pemberitahuan dengan tulisan: “Daging sapi dan kambing, baru disembelih dan masih segar.”

Tapi di belakang meja daging itu bukan ditunggui penjual lelaki dengan golok jagalnya melainkan berdiri seorang perempuan bermata satu, berbadan tinggi besar dan gemuk. Tangan memegang golok pengorek daging tulang, mukanya benjal-benjol, ada satu garis bekas luka pada ujung mata kanan yang pakai kain penutup itu menyilang ke ujung mulut sebelah kiri, tampangnya lebih mirip bajak laut daripada muka orang perempuan.

Yang lebih mengerikan lagi adalah apa yang tergeletak di atas meja bukan daging sapi atau kambing, tapi seorang manusia.

Manusia hidup dan segar bugar!

Baju orang ini sudah dibelejeti hingga bersih, kelihatan kulit badannya yang putih pucat, baris tulang iganya bergemetar, kedua tangan mendekap kepala dan meringkuk di atas meja penjual daging, kecuali kulitnya yang membungkus tulang, tampaknya tidak ada kelebihan daging yang berharga.

Dengan tangan kiri si perempuan mata satu mencekik leher lelaki telanjang itu, tangan kanan mengangkat golok dagingnya tinggi-tinggi, sorot matanya yang cuma satu itu gemerdep buas penuh rasa benci dan dendam, dan juga penuh nafsu membunuh.

Melihat perempuan bermata satu ini, si berewok seperti melihat setan iblis, seketika air mukanya pucat seperti mayat, dalam sekejap tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.

Melihat si berewok, garis bekas luka pada wajah perempuan bermata satu itu pun berubah menjadi merah membara, ia melototi si berewok beberapa kejap, lalu menegur sambil menyeringai, “Apakah Toaya (tuan) ini datang untuk membeli daging?”

Si berewok seperti terkesima sehingga tidak mendengar ucapan orang.

Perempuan bermata satu berkata pula dengan tertawa terkekeh-kekeh, “Hehe, barang baik harus dijual pada orang ahli, sudah kuketahui daging kambing yang gemuk ini pati takkan dibeli orang lain terkecuali Toaya ini, sebab itulah sudah sekian lama kutunggu kedatanganmu di sini.”

Baru sekarang si berewok menghela napas panjang, ucapnya dengan tersenyum getir, “Sudah lama tidak bertemu, kenapa Toaso (kakak ipar) ….”

Belum lanjut ucapan si berewok, “crot”, mendadak si perempuan bermata satu menyemburkan riak kental dan tepat hinggap pada muka si berewok.

Sama sekali si berewok tidak mengelak, juga tidak mengusap, sebaliknya terus menunduk.

Dengan gusar perempuan mata satu itu meraung pula, “Huh, Toaso? Memangnya siapa mengaku sebagai Toaso binatang penjual kawan macammu ini! Jika kau berani nnemanggil Toaso lagi, segera kupotong dulu lidahmu!”

Muka si berewok menjadi pucat, sama sekali tidak berani menjawab.

“Hm, setelah Ang Thian-kiat kau jual, selama beberapa tahun ini tentu kau hidup bahagia dan kaya raya, memangnya begitu pelit sehingga membeli beberapa kati daging saja merasa keberatan?” jengek si perempuan mata satu.

Mendadak ia menjambak rambut lelaki telanjang di atas meja daging itu, katanya pula dengan menyeringai, “Jika kau tidak mau beli, terpaksa kusembelih dia untuk umpan anjing.”

Orang yang meringkuk di atas meja itu tampak ketakutan sehingga kaku, ia termangu dengan mata terbelalak, air liur tampak mengalir, mana sanggup bicara lagi?

Melihat orang ini, si berewok menjadi kaget dan pedih, serunya dengan parau, “He, Bwe-jisiansing, mengapa engkau ….”

Mendadak si perempuan mata satu membentak, “Tidak perlu banyak bacot, aku cuma tanya padamu, mau beli atau tidak?”

Si berewok menghela napas, tanyanya kemudian, “Entah cara bagaimana akan kau jual dia?”

“Bergantung kepadamu ingin beli berapa, beli satu kati ada harga satu kati, beli setengah kuinta1 tentu saja lebih murah.”

Mendadak perempuan itu mengayun goloknya dan “cret”, golok menabas ke bawah, golok tebal dan besar itu menancap di atas meja daging, selisih satu senti saja mungkin kepala Bwe-jisiansing sudah berpisah dengan tuannya.

Dengan mendelik perempuan itu berkata pula, “Nah, jika kau mau beli satu kati, harus kau tukar dengan satu kati dagingmu sendiri. Sekali kutabas kujamin juga pas satu kati, tidak nanti salah potong secuil pun.”

“Tapi … tapi kalau ingin kubeli dia seluruhnya, seorang bulat?” ucap si berewok dengan suara parau.

“Jika kau mau membeli satu orang bulat, maka kau harus ikut pergi bersamaku,” teriak si perempuan mata satu dengan bengis.

“Baik, kuikut pergi bersamamu!” jawab si berewok dengan menggereget.

Untuk sejenak perempuan itu melototi si berewok, lalu berkata pula sambil menyeringai, “Pintar juga kau mau ikut pergi bersamaku. Sudah 17 tahun lebih 8 bulan kucari dirimu dan baru sekarang bertemu, memangnya dapat kubiarkan kau lolos lagi?”

Si berewok menengadah dan menarik napas panjang, ucapnya, “Setelah kau temukan diriku, masa perlu kukabur lagi?”

*****

Pada suatu tanah pekuburan di kaki bukit sana ada sebuah rumah gubuk kecil, entah tempat tinggal penjaga kuburan keluarga siapa. Dalam musim dingin, setan dalam kuburan saja mungkin juga kedinginan dan meringkuk di dalam peti mati dan tidak berani keluar, dengan sendirinya penjaga kuburan itu menghilang entah bersembunyi ke mana.

Di bawah emper rumah bergantung sepotong tiang es, angin dingin meniup masuk rumah melalui celah-celah dinding papan sehingga menyayat badan rasanya, di bawah suhu sedingin ini, siapa pun tidak tahan berdiam lama di rumah gubuk ini.

Tapi pada saat itu justru ada satu orang sudah tinggal sekian lamanya di dalam gubuk ini.

Di dalam rumah ada sebuah meja kayu yang sudah reyot, di atas meja tertaruh sebuah kuali hitam. Orang ini duduk bersila di atas tanah dan memandangi kuali ini dengan terkesima.

Dia memakai baju berlapis kapas yang sudah rombeng, bertopi rosokan, bersenjata kapak, di pojok rumah sana malah tertaruh setengah pikul kayu bakar, jelas orang ini penebang pohon atau pencari kayu bakar. Tapi wajahnya yang hitam dengan tulang pipi tinggi, beralis tebal dan bermulut lebar, matanya gemerdep, tampaknya tiada sedikit pun mirip seorang tukang kayu.

Kini sinar matanya juga penuh rasa murka dan benci, ia termangu-mangu entah memikirkan apa, sementara itu tanah juga beku, tapi mereka tidak merasakan dingin.

Tidak lama, di luar gubuk tiba-tiba bergema suara “srak-srek” orang berjalan.

Serentak si tukang kayu memegang kapaknya dan membentak dengan suara tertahan, “Siapa itu?”

“Aku!” terdengar suara si perempuan bermata satu yang serak dan bengis.

Seketika si tukang kayu tampak tegang, dengan suara tersendat ia bertanya, “Apakah betul orangnya berada di kota?”

“Betul,” jawab si perempuan mata satu, “berita tua bangka itu memang dapat dipercaya, sudah kubawa pulang orangnya.”

Segera si tukang kayu melompat bangun dan membuka pintu, maka masuklah si perempuan mata satu dengan membawa si lelaki berewok. Badan kedua orang sama penuh bertaburan bunga salju. Di luar memang hujan salju dengan lebat.

Dengan pandangan penuh dendam si tukang kayu melototi si berewok, matanya seakan-akan menyemburkan api.

Tapi si berewok hanya menunduk saja tanpa bicara.

Selang sejenak, mendadak si tukang kayu membalik tubuh terus berlutut di depan kuali hitam di atas meja tadi, air mata pun berlinang-linang, sampai lama tidak sanggup berbangkit kembali.

Sekonyong-konyong terdengar pula orang berjalan di luar.

“Siapa?” bentak si perempuan mata satu dengan suara tertahan.

“Aku dan Lojit (si nomor tujuh),” sahut suara seorang yang mirip suara benda pecah.

Lalu pintu terdorong dan masuklah dua orang. Satu di antaranya bermuka burik dan memanggul seikat besar sawi putih.

Seorang lagi berbadan kurus kecil, seorang penjual Taukoa (tahu kering).

Kedua orang ini tadi juga berada di pasar sayur, senantiasa menguntit di belakang si berewok. Tapi lantaran sedang dirundung macam-macam pikiran, maka si berewok tidak memperhatikan penguntitan mereka.

Kini kedua orang ini juga melototi si berewok sekejap, si burik penjual sawi terus menjambret leher baju si berewok sambil membentak, “Orang she Thi, apa yang akan kau katakan sekarang?”

Dengan suara tertahan si perempuan mata satu membentak, “Lepaskan dia! Ada pertanyaan apa boleh dikemukakan setelah semua orang hadir.”

Si burik tampak menggereget menahan perasaannya, akhirnya ia lepaskan ti berewok dan memberi hormat dengan anggukan tiga kali terhadap kuali hitam di atas meja, air mata pun bercucuran.

Tidak lama kemudian berturut-turut datang pula tiga orang. Yang seorang menyandang sebuah peti obat dan memegang tongkat, tampaknya seorang penjual obat di tepi jalan atau tabib kelilingan.

Orang kedua berbadan gemuk, membawa pikulan yang memuat guci arak, sedangkan orang ketiga adalah seorang buta tukang nujum.

Begitu melihat si berewok, ketiga orang ini juga memperlihatkan rasa murka, tapi mereka juga lantas memberi hormat kepada kuali hitam dan tidak ada yang bersuara.

Cahaya refleks salju membuat keadaan di luar sangat terang, tapi di dalam rumah justru kelam dan seram

Ketujuh orang itu duduk bersila di lantai, semuanya bermuka kelam dan menggertak gigi menahan gusar, tampaknya mirip sekawanan setan yang lolos dari neraka dan sengaja pulang untuk menuntut balas.

Wajah si berewok juga penuh rasa duka, menunduk dan tidak bersuara.

Tiba-tiba si perempuan mata satu berkata, “Longo (kelima), apakah kau tahu Losam (ketiga) sempat hadir sebentar lagi?”

Si gemuk penjual arak menjawab, “Kuyakin pasti dapat hadir, sudah kuterima beritanya.”

“Jika begitu, mengapa sampai sekarang belum muncul?” ujar si perempuan mata satu dengan kening berkerut.

Si buta tukang nujum menghela napas panjang, ucapnya perlahan, “Kita sudah menunggu selama tujuh belas tahun, masa tidak sabar menunggu sebentar lagi?”

Perempuan bermata satu juga menghela napas panjang sambil bergumam, “Ya, sudah tujuh belas tahun, sudah tujuh belas tahun ….”

Sampai beberapa kali ia menyebut tujuh belas tahun, makin lama makin sedih suaranya.

Jelas selama 17 tahun dilaluinya secara tidak enak, selama itu entah telah merasakan betapa banyak pahit getir dan mencucurkan berapa banyak air mata dan darah. Ketujuh orang sama melototi si berewok, sinar mata mereka seakan-akan membara.

Si buta tukang nujum berkata pula, “Selama 17 tahun, senantiasa kami berharap akan dapat bertemu lagi dengan orang she Thi, tapi sayang sekarang ….”

Kulit matanya yang pucat itu tampak mengejang, lalu menyambung dengan suara serak, “… sekarang entah bagaimana wujudnya? Losi (keempat), dapatkah kau beritahukan padaku?”

Si tabib kelilingan menggereget dan bertutur, “Dia kelihatan tidak banyak berbeda daripada 17 tahun yang lalu, cuma janggutnya bertambah panjang dan badannya bertambah gemuk.”

“Bagus, bagus ….” seru si buta sambil menengadah dan tertawa pedih, “Orang she Thi, kau tahu selama 17 tahun ini siang dan malam selalu kudoakan semoga badanmu sehat walfiat agar kita dapat bertemu pula, dan tampaknya Thian memang tidak membikin kecewa padaku.”

“Setelah dia menjual Ang Thian-kiat, dengan sendirinya dia kaya raya dan hidup bahagia, mana bisa hidup sengsara seperti hewan serupa kita ini ….” dengan mengertak gigi si perempuan mata satu menimpali. Lalu dia tuding si penjual arak dan berkata pula, “Coba, An-lok Kongcu Thio-longo sampai berkeliling menjual arak. Ih-jiko juga sudah menjadi orang buta … semua ini mungkin tak pernah kau bayangkan, bukan?”

“Semua ini kan hasil usahanya, mana bisa tak terbayangkan olehnya?” tukas si tukang kayu.

Si berewok diam saja dengan memejamkan mata, ia tidak berani membuka mata, ia takut bilamana membuka mata, segera air mata akan mengucur tak tertahankan.

Tujuh belas tahun sudah lalu … ya, sudah tujuh belas tahun ….

Siksa derita yang dirasakan mereka selama 17 tahun ini, siapa pula yang tahu?

Sekonyong-konyong seorang berteriak di luar, “Toaso … Toaso …. Ada berita baik ….”

Cepat si perempuan mata satu memburu ke luar, tegurnya dengan mengeryitkan kening, “Ada urusan apa, gembar-gembor?!”

Orang itu menjawab, “Baru saja aku bertemu dengan Thi-bin-bu-su Tio Cing-ngo, dia bilang orang she Thi itu berada ….”

Sembari bicara ia terus menolak pintu dari melangkah masuk ke dalam, seketika ucapannya terputus dengan mulut melongo, sebab dilihatnya orang yang hendak dicarinya ternyata sudah berada di dalam rumah.

“Hehehe, tentunya tak kau sangka, bukan!” kata si perempuan mata satu dengan terkekeh-kekeh.

Orang yang baru datang itu menarik napas panjang, ucapnya, “Thi Cing-ngo bilang dia tinggal di rumah Liong Siau-hun, tak terduga dia ….” mendadak ia pegang tangan si perempuan mata satu dan bertanya, “Toaso, cara bagaimana dapat kau temukan dia dan membawanya ke sini?”

“Kuterima berita dari si kura-kura tua dari Liong-sin-bio, katanya dia dan Li Sun-hoan sedang menuju ke sini,” tutur si perempuan bermata satu. “Maka kami telah menguntitnya sepanjang jalan sampai di sini, mestinya kita sungkan terhadap Li Sun-hoan dan tidak bebas untuk bertindak, siapa tahu dia sendiri berpisah dengan Li Sun-hoan.”

“Hahaha, ini namanya ajalnya sudah sampai, matanya telah ditutup tangan setan, maka kesasarlah dia ke sini,” tukas si buta tukang nujum dengan tertawa seram.

Pendatang terakhir tadi berdandan ringkas singsat, di antara delapan orang ini hanya dia saja yang masih tetap berdandan sebagai seorang Kangouw, dua batang tombak pandak tersandang menyilang di punggungnya sehingga jauh lebih tinggi di atas kepalanya.

Kini dia juga menengadah dan menghela napas menyesal, ucapnya, “Thian bermata dan cukup adil, akhirnya dia terjatuh juga ke dalam tangan Tionggoan-pat-gi (delapan bersaudara angkat dari Tionggoan) kita. Akhirnya dendam berdarah Ang Thian-kiat dapat ….” sampai di sini suaranya jadi tersendat dan sukar meneruskan, mendadak ia berlutut di depan kuali hitam itu dan menangis sedih.

Serentak ketujuh orang lainnya juga sama berlutut dengan air mata bercucuran.

Selang agak lama, orang Kangouw tulen itu melompat bangun, lalu berseru dengan geram sambit melototi si berewok, “Nah, Thi Toan-kah, apakah masih kenal padaku?”

Si berewok, Thi Toan-kah, mengangguk jawabnya dengan rawan, “Ya, engkau baik ….”

“Dengan sendirinya aku sangat baik,” tukas orang Kangouw itu, “Selama hidup Pian Go tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, maka aku pun tidak perlu main sembunyi-sembunyi, sedikitnya hidupku jauh lebih senang daripadamu.”

“Samko,” seru si burik dengan gusar, “untuk apa banyak omong dengan dia? Lekas bedah dadanya dan rogoh hatinya untuk dijadikan sesaji bagi arwah Toako di alam baka, kan beres segala urusannya?”

“Lojit,” sahut si orang Kangouw yang bernama Pian Go itu, “salahlah ucapanmu. Jika kita ingin membunuh orang, hendaknya kita lakukan secara terbuka, harus membikin setiap orang luar tidak dapat bicara apa-apa lagi, juga harus membuat pihak lawan menyerah lahir batin.”

“Betul,” sela si buta, “sudah 17 tahun kita menunggu, masakah perlu terburu-buru barang sejenak lagi.”

Karena ucapannya ini, yang lain tidak dapat bicara lagi.

“Jika demikian, lantas cara bagaimana akan kau bereskan urusan ini, Losam??” tanya si perempuan bermata satu.

Pian Go menjawab, “Kita harus tanya dulu sejelas-jelasnya, lalu mencari beberapa orang luar untuk ikut mengadilinya, apabila setiap orang sama menyatakan orang she Thi ini pantas dibunuh, tatkala mana barulah kita bunuh dia.”

Mendadak si burik melonjak bangun, teriaknya dengan gusar, “Tanya apa lagi, memangnya ada orang berani menyatakan perbuatannya itu tidak pantas dibunuh.”

“Kalau memang tidak ada orang yang akan menyatakan dia tidak pantas dibunuh, apa alangannya kalau kita tanyai dia?” ujar si buta.

Si burik berteriak pula dengan gemas, “Memangnya siapa … siapa yang akan kau minta untuk ikut mengadilinya?”

“Dengan sendirinya harus kita cari orang yang mahaadil dan tanpa pandang bulu, bahkan harus tidak mempunyai sangkut-paut apa pun baik dengan Tionggoan-pat-gi kita maupun dengan orang she Thi.”

“Sesungguhnya siapa yang hendak kau minta ikut mengadilinya, lekas kaukatakan,” ucap si perempuan bermata situ dengan tidak sabar.

“Pertama ialah Thi-bin-bu-su Tio Cing-ngo.” tutur Pian Go, “Orang ini boleh dikatakan ….”

Mendadak Thi Toan-kah tertawa pedih, serunya, “Sudahlah, kalian tidak perlu repot mengundang orang segala, lekas bunuh saja diriku. Aku mengaku memang berbuat salah terhadap Ang Thian-kiat, sekarang meski mati pun aku tidak menyesal.”

“Hm, nadanya seakan-akan merasa tidak suka terhadap Tio Cing-ngo,” jengek si perempuan mata satu.

“Bila Tio Cing-ngo sengaja memberitahukan kepada Pian-losam tentang jejaknya, dengan sendirinya di antara mereka pasti ada persengketaan, mana dia dapat menegakkan keadilan baginya,” ujar si buta.

“Walaupun begitu juga tidak menjadi soal, sebab selain Tio Cing-ngo telah kuundang lagi dua orang,” kata Pian Go.

“Oo? Dua orang lagi siapa?” tanya si buta.

“Yang seorang adalah pak tua yang biasanya jual cerita di alun-alun, orang ini boleh dikatakan ahli dalam bidangnya, tapi sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan orang Kangouw. Seorang lagi adalah pemuda yang baru muncul di dunia Kangouw ….”

“Anak muda yang masih hijau pelonco juga kau ajak ke sini, dia tahu apa?” omel si perempuan mata satu.

“Meski dia baru muncul di dunia Kangouw, tapi wataknya keras dan tegas, tidak pandang bulu, boleh dikatakan seorang lelaki gilang-gemilang. Meski baru dua hari kukenal dia, tapi kuyakin dia pasti bukan manusia rendah dan jahat.”

“Baru kenal dua hari dan sudah kau ketahui dia orang baik?” jengek si perempuan mata satu. “Tampaknya sifatmu yang suka bersahabat ini sampai kini belum juga berubah.”

Ia berhenti sejenak, mendadak meraung gusar, “Dahulu jika bukan gara-garamu yang membawa pulang orang she Thi ini, katamu dia orang baik dan dapat bersahabat dengan dia, tentulah Ang Thian-kiat takkan mati di tangannya.”

Pian Go menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Tapi si buta lantas berucap, “Apa pun juga orang luar yang kita mintai menjadi juri, gagasan ini memang betul. Betapa pun Tionggoan-pat-gi tidak boleh sembarangan membunuh orang.”

Dia tertawa, lalu menyambung, “Apalagi, kalau Losam sudah mengundang orang ke sini, mana boleh kita membiarkan tamu kita berdiri kedinginan di luar?”

“Oo, orangnya sudah datang?” si perempuan mata satu menegas.

Pian Go menyengir dan menjawab, “Mestinya hendak kuajak mereka bertiga ke tempat Liong Siau-hun sana, akan kuselesaikan urusan ini di depan orang banyak, tak terduga Toaso sudah menemukan orang she Thi dan membawanya kemari.”

Perempuan mata satu termenung sejenak, mendadak ia membuka pintu dan berseru, “Jika kalian sudah datang, silakan masuk saja!”

Si berewok, Thi Toan-kah, sudah bertekad tak mau membuka mata lagi. Pada saat demikian dan di tempat ini, sungguh dia tidak sudi lagi melihat cecongor Tio Cing-ngo yang berjuluk “wajah besi mahaadil” itu, Dia sudah mengambil keputusan takkan bicara apa pun.

Terdengar suara langkah orang, benar juga ada dua orang masuk ke situ.

Langkah orang pertama kedengaran mantap dan kuat, jelas bagian kaki sudah terlatih cukup tangguh. Dalam dunia persilatan terkenal Lan-kun-pak-tui atau kepalan selatan dan kaki utara. Tio Cing-ngo adalah tokoh daerah utara, Kungfu pada kedua kakinya tentu saja tidak lemah.

Langkah orang kedua juga kedengaran berat tapi mengambang, waktu masuk malah terdengar napasnya rada tersengal, andaikan orang ini pun paham ilmu silat pasti juga terbatas.

Anehnya Thi Toan-kah tidak mendengar suara langkah orang ketiga. Apakah yang datang cuma dua orang saja? Atau mungkin langkah orang ketiga ini sama sekali tidak menimbulkan suara?

Si buta seperti berbangkit dan menyapa, “Berhubung sedikit persoalan saudara kami pada masa lampau, untuk itu Anda bertiga telah sudi berkunjung kemari, tapi Anda bertiga telah menunggu sekian lama di bawah hujan salju, sungguh terlalu ceroboh sambutan kami, mohon sudi dimaafkan.”

Cara bicaranya kalem, tidak lambat juga tidak cepat, dingin dan hambar, siapa pun tidak tahu yang diucapkan itu timbul dari lubuk hatinya yang murni atau cuma berolok-olok belaka.

Terdengar Tio Cing-ngo menjawab, “Kaum kita harus menegakkan keadilan bagi dunia Kangouw untuk membela kawan, biarpun belati menancap iga takkan gentar. Kenapa Ih-jisiansing bicara sedemikian sungkan.”

Setiap kali buka suara orang she Tio ini selalu berlagak ksatria dan terhormat, hal ini sudah membosankan telinga Thi Toan-kah, bahkan memuakkannya.

Lalu terdengar seorang tua bicara dengan suara yang lantang, “Aku sih cuma seorang tukang cerita, tapi biasanya yang kuceritakan juga kisah ksatria Kangouw yang berbudi luhur, dalam hatiku sendiri sudah lama mengagumi para ksatria Kangouw, kini mendapat kehormatan untuk hadir kemari, sungguh aku merasa sangat beruntung.”

Dengan dingin si buta menanggapi, “Asalkan sekembali Anda nanti sukalah kau ceritakan kisah nyata ini kepada umat manusia seluruh dunia, untuk itu sebelumnya kami mengucapkan terima kasih.”

“Hal ini adalah kewajibanku, sepulangnya nanti pasti akan kuceritakan apa yang kulihat ini, maksud tujuan undangan Pian-samya kepadaku memang juga demikian adanya.”

Baru sekarang Thi Toan-kah tahu maksud Pian Go mengundang seorang tukang cerita ini, diam-diam ia memuji kerapian cara bekerja Pian Go.

Mendadak terdengar si perempuan mata satu berucap, “Dan entah siapa nama sahabat yang mulia ini? Bolehkah memberitahu?”

Jalan ucapannya ditujukan kepada orang ketiga.

Tapi orang itu tidak bersuara, sebaliknya Pian Go lantas menanggapi, “Biasanya sahabat ini tidak suka orang lain mengetahui namanya ….”

“Namanya memang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini,” sela si buta. “Jika dia tidak budi mengatakan, kita pun tidak perlu tanya. Sebaliknya nama kita yang berkepentingan ini tidak boleh tidak perlu diketahui olehnya.”

Segera Pian Go menyambung, “Semula kami berdelapan saudara, berkat pujian sahabat dunia Kangouw, kami disebut Tionggoan-pat-gi. Padahal sebutan ini hanya sekadar pujian sahabat belaka ….”

“Kukira bukan pujian sahabat belaka,” tiba-tiba si buta memotong pula, “meski Kungfu kita berdelapan tidak luar biasa, tampang kita juga tidak mengejutkan, tapi apa yang kita lakukan selalu mengutamakan setia kawan dan tidak pernah berbuat sesuatu yang memalukan.”

Mendadak Tio Cing-ngo berseru, “Tionggoan-pat-gi luhur budi, orang Kangouw siapa yang tidak tahu!”

Si tukang cerita itu juga berkeplok dan berkata, “Tionggoan-pat-gi, sungguh nama yang gemilang, Losiansing ini tentunya tokoh utamanya?”

“Tidak, aku saudara kedua,” sahut si buta “Namaku Ih Beng-oh, dahulu terkenal dengan julukan ‘Sin-bok-ji-tian’ (mata sakti serupa kilat), tapi sekarang ….”

Ia berhenti dan tersenyum pedih, lalu melanjutkan, “Sekarang julukanku ialah ‘Yu-gan-bu-cu’ (bermata tapi tak bisa melihat). Nah, hendaknya kau ingat dengan baik!”

“Mana dapat kulupakan,” sahut si tukang cerita.

“Dan Samte kami Po-ma-sin-jiang (tombak sakti berkuda mestika) Pian Go sudah kau kenal, adapun diriku sendiri nomor empat, namaku Kim Hong-pek,” sambung si tabib keliling.

“Menurut logat bicara Anda, rasanya seperti asli orang Lam-yang-hu,” ujar si tukang cerita.

“Betul,” kata si tabib alias Kim Hong-pek.

“Toko obat It-tiap-tong (cukup satu resep) di Lam-yang-hu sudah terkenal selama beratus tahun,” kata si tukang cerita. “Waktu kecilku juga pernah pakai obat cacing keluaran It-tiap-tong, entah Anda ini ….”

“Kalau juragan muda Ban-seng-wan saja sekarang juga menjual arak, untuk apa bicara lagi tentang anggota keluarga It-tiap-tong?”

“Ban-seng-wan (taman selaksa korban)? Masa putra Thio-losianjin (dermawan Thio) juga berada di sini?” seru si tukang cerita.

“Betul,” kata Kim Hong-pek.

“Yang mana?” tanya si tukang cerita.

“Ialah diriku si penjual arak ini,” tukas orang yang membawa pikulan arak itu.

Si tukang cerita menghela napas panjang, seperti terkejut, seperti juga sangat terharu karena anggota keluarga ternama dan kaya raya itu sekarang sama menjadi rudin begini.

“Namaku Thio Seng-hun,” kata si penjual arak pula, “si tukang kayu adalah Lakte (adik keenam) kami, meski kapaknya sekarang cuma digunakan untuk memotong kayu, tapi dahulu terkenal sebagai Lip-pi-hoa-san (sekali tabas membelah gunung Hoa) ….”

“Dan aku Lojit (ketujuh), namaku Kongsun Uh, aku bernama Uh (hujan), sebab lubang burik pada mukaku mirip tetesan hujan,” demikian si bopeng juga berucap.

“Dan aku Lopat (kedelapan), namaku Sebun Liat,” sambung si penjual Taukoa.

“Lalu siapakah Toagisu (ksatria pertama)?” tanya si tukang cerita.

“Toako kami Ang Thian-kiat sudah mati terbunuh,” tutur Kongsun Uh. “Yang inilah istri Toako kami ….”

“Namaku tidak sedap didengar, Li-tu-hou (si wanita jagal) Ang-toanio,” tukas si perempuan bermata satu, “kuharap kau ingat baik-baik namaku.”

Dengan tersenyum si tukang cerita menjawab, “Meski aku sudah tua, tapi kuyakin daya ingatanku masih cukup baik.”

“Kami minta engkau ingat baik-baik nama kami bukan supaya nama kami disebarluaskan olehmu, tapi melalui mulutmu hendaknya kau siarkan dendam kesumat berdarah kami agar orang Kangouw sama mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.”

“Dendam kesumat?” si tukang cerita menegas. “Apakah Ang-toagisu ….”

“Orang ini bernama Thi-kah-kim-kong Thi Toan-kah, dia inilah yang membunuh Toako kami,” seru Kongsun Uh dengan beringas.

“Kami berdelapan saudara serupa saudara sekandung,” tutur Kim Hong-pek. “Meski kami mempunyai pekerjaan masing-masing, tapi bila mana tiba hari Tiongciu, setiap tahun kami pasti berkumpul untuk beberapa bulan di perkampungan Toako.”

“Sebenarnya kami berdelapan saudara sudah cukup ramai, maka sejauh itu belum lagi menambah sahabat baru,” sambung Thio Seng-hun. “Tapi tahun itu Samko pulang dengan membawa seorang, katanya orang ini adalah seorang, sahabat sejati.”

“Padahal orang ini adalah Thi Toan-kah yang lupa budi dan ingkar janji, manusia yang mencari keuntungan sendiri dengan menjual sahabat,” tukas Kongsun Uh dengan penuh rasa dendam.

“Pada dasarnya Toako kami memang seorang simpatik, seorang yang cinta sahabat lebih daripada jiwa sendiri,” sambung Kim Hong-pek, “ketika Toako melihat orang she Thi ini memang memper seorang lelaki sejati, beliau pun memandangnya sebagai sahabat sendiri. Siapa tahu … siapa tahu dia ternyata bukan … bukan manusia, tapi hewan.”

“Waktu itu kami berkumpul untuk merayakan tahun baru, sehabis tahun baru, kami pun sama berpisah,” tutur Thio Seng-hun. “Tapi Toako sengaja menahan dia agar tinggal lagi satu-dua bulan. Siapa duga secara diam-diam dia telah mengundang beberapa musuh Toako, pada tengah malam buta mereka menyerbu rumah Toako dan mengganas, Toako terbunuh, Ang-keh-ceng dibakarnya, untunglah Toaso dapat meloloskan diri, tapi juga terluka parah.”

“Tentunya kalian melihat bekas luka pada mukaku ini?” seru Ang-toanio dengan suara parau. “Bacokan ini hampir membelah kepalaku, kalau saja mereka tidak salah sangka aku sudah mati, tentu aku pun tidak bisa lolos dari kekejaman mereka.”

“Waktu itu seluruh penghuni Ang-keh-ceng boleh dikatakan hancur lebur, orang terbunuh habis dan perkampungan terbakar ludes, tapi tidak ada yang tahu siapa yang mengganas. Coba pikir, kejam tidak orang ini?” teriak Kongsun Uh.

“Setelah kami mendapat berita ini, serentak kami meninggalkan segala urusan pribadi dan bersumpah akan menemukan keparat ini untuk menuntut batas bagi Toako,” sambung Kim Hong-pek. “Dan syukurlah Thian Mahaadil, dapat kami temukan dia.”

“Sekarang sudah kami uraikan asal mula perkara ini,” seru Ang-toanio dengan beringas, “Nah, menurut pendapat kalian bertiga, orang she Thi ini pantas dibunuh atau tidak?”

“Jika berita ini benar, biarpun Thi Toan-kah dicincang hancur lebur juga tidak berlebihan,” ucap Tio Cing-ngo dengan tegas.

“Sudah tentu cerita ini benar-benar kisah nyata,” teriak Kongsun Uh sambil melonjak. “Jika tidak percaya boleh silakan kalian tanya dia sendiri.”

Thi Toan-kah kelihatan mengertak gigi dan berucap dengan parau, “Sudah kukatakan sejak tadi aku memang malu terhadap Ang-toako, mati pun aku tidak menyesal.”

“Nah, kalian sudah dengar sendiri,” teriak Kongsun Uh pula, “bukankah dia sudah mengaku sendiri?!”

“Bila dia sendiri sudah mengaku, apa pula yang dapat dikatakan orang lain?” ujar Tio Cing-ngo.

“Aku ini tukang cerita, sering kukisahkan Sam-kok yang mengutamakan budi luhur dan setia kawan, juga cerita Gak Hui yang patriotik, tapi manusia berhati keji seperti dia ini, mungkin menteri dorna sebangsa Co Jo dan Cin Kue juga harus mengaku kalah.”

“Jika demikian, jadi kalian bertiga sama menganggap orang she Thi ini pantas dibunuh?” tanya Ang-toanio.

“Ya, pantas dibunuh,” jawab si tukang cerita.

“Bukan saja pantas dibunuh, bahkan harus mencincangnya untuk memberi contoh kepada orang Kangouw!” tukas Tio Cing-ngo.

Mendadak seorang menimpali, “Hm, ucapanmu selalu menyinggung Kangouw, memangnya cuma kau sendiri saja yang dapat mengatasnamakan Kangouw?”

Suara orang ini singkat tapi kuat, setiap katanya setajam sembilu, dingin dan juga cepat.

Sejak masuk ke rumah ini baru sekarang untuk pertama kalinya dia bersuara, jelas dia inilah “orang ketiga” yang langkahnya tidak menimbulkan suara serupa binatang buas itu.

Hati Thi Toan-kah bergetar, tiba-tiba ia merasa suara orang ini sudah sangat dikenalnya. Tanpa terasa ia membuka mata, maka tertampaklah orang yang berduduk di tengah antara Tio Cing-ngo dan seorang kakek berbaju hijau, jelas dialah si pemuda yang dingin dan suka menyendiri itu, si A Fei.

“Hei, Fei-siauya, mengapa engkau juga kemari?” hampir saja Thi Toan-kah berteriak, tapi sekuatnya ia mengertak gigi sehingga tidak satu kata pun yang tercetus.

Dalam pada itu air muka Tio Cing-ngo lantas berubah, ucapnya, “Memangnya sahabat ini menganggap manusia begini tidak pantas dibunuh?”

“Hm, jika kuanggap dia tidak pantas dibunuh, tentu kalian akan membunuh diriku sekalian, begitu bukan?” jengek si A Fei.

“Kentut makmu!” damprat Kongsun Uh dengan murka.

“Makku kentut, makmu juga kentut, setiap orang pasti mengentut, kenapa mesti dipersoalkan?” ujar A Fei.

Kongsun Uh jadi melengak dan tidak dapat bicara lagi. Sungguh mereka tidak pernah melihat orang bicara demikian. Mereka tidak tahu bahwa sejak A Fei dilahirkan di dunia fana ini hakikatnya dia tidak pernah kenal pada kala-kata makian ini.

Perlahan si buta Ih Beng-oh berkata, “Kami mengundang sahabat kemari, tujuan kami justru ingin memohon sahabat suka menegakkan keadilan dan membela kebenaran, asalkan sahabat dapat menjelaskan apa alasan orang ini tidak pantas dibunuh, bahkan jika alasanmu cukup masuk di akal segera juga kami siap membebaskan dia.”

Dengan suara bengis Tio Cing-ngo menyela, “Kukira dia cuma mencari perkara tanpa alasan, untuk apa tuan-tuan menaruh perhatian kepada ucapannya.”

A Fei memandangnya sekejap, lalu berucap, “Kau bilang orang lain mencari keuntungan sendiri dengan menjual kawan, engkau sendiri bukankah juga pernah menjual beratus orang sahabat? Yang membakar dan membunuh orang Ang-keh-ceng tempo dahulu bukankah kau pun termasuk satu di antaranya, cuma saja Ang-toanio tidak melihat dirimu.”

“Heh, apakah betul?” seru kedelapan orang itu dengan terkejut.

“Tentu saja benar,” kata A Fei. “Sebabnya dia ingin membunuh orang she Thi ini kan sengaja hendak menghilangkan saksi hidup belaka.”

Tadinya Tio Cing-ngo cuma mencibir dan berlagak meremehkan, kini mau tak mau ia menjadi gugup, teriaknya gusar, “Kentut ….”

Karena gugupnya, hampir saja ia pun mencaci maki dengan kata kasar seperti Kongsun Uh, syukur baru “kentut” terucapkan, segera teringat olehnya kata makian demikian bisa membikin merosot harga dirinya sebagai seorang “pendekar”. Maka cepat ia menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, tak tersangka anak muda belia seperti dirimu sudah mahir memfitnah orang. Untungnya tidak ada orang yang mau percaya kepada keteranganmu yang cuma sepihak ini.”

“Keterangan sepihak katamu? Lantas keterangan pada pihakmu mengapa kau minta orang lain harus percaya?” jengek A Fei.

“Orang she Thi itu sudah mengaku sendiri, masa tidak kau dengar?”

“Sudah kudengar,” kata A Fei.

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu ujung pedangnya sudah mengancam leher Tio Cing-ngo.

Padahal Tio Cing-ngo adalah jago berpengalaman luas, mestinya bukan orang yang mudah dihadapi. Tapi sekali ini entah sebab apa, sama sekali tak diketahuinya cara bagaimana anak muda itu melolos pedangnya. Ia cuma merasa pandangannya kabur dan tahu-tahu ujung pedang orang sudah berada di depan tenggorokannya. Ingin berkelit sudah tidak keburu, mau bergerak juga tidak berani. Terpaksa ia bicara dengan suara parau, “Kau … kau mau apa?”

“Aku cuma ingin tanya padamu, tempo hari waktu terjadi pembunuhan di Ang-keh-ceng, bukankah kau pun ikut serta?” tanya A Fei.

“Gi … gila kau!” teriak Tio Cing-ngo dengan gusar.

“Jika tidak cepat kau akui, sekali tusuk kubinasakan dirimu!” ancam A Fei dengan hambar.

Ucapannya acuh tak acuh, serupa bergurau antarsahabat, tapi biji matanya yang hitam gilap itu memancarkan semacam cahaya gemerlap tajam yang membuat orang mau tak mau harus percaya kepada ucapannya.

Seketika butiran keringat sebesar kedelai berketes-ketes dari kening Tio Cing-ngo, jawabnya dengan terputus-putus, “Aku … aku ….”

“Hendaknya kau jawab dengan hati-hati, jangan salah satu kata pun,” kata A Fei.

Padahal pedang yang terselip di pinggang A Fei itu terlihat jelas oleh setiap orang, bahkan semua orang merasa geli terhadap pedangnya yang serupa pedang permainan anak kecil itu. Tapi sekarang tidak ada seorang pun yang meremehkannya.

Muka Tio Cing-ngo pucat pasi, saking kekinya hampir saja ia jatuh kelengar. Meski Tionggoan-pat-gi bermaksud menolongnya, terpaksa tidak berani turun tangan dalam keadaan demikian.

Di bawah gerak padang secepat ini, siapa yang mampu menolong orang? Apalagi mereka sendiri juga ingin mencari keterangan sejelasnya, mereka pun tidak berani memastikan Tio Cing-ngo tidak ikut serta dalam pembunuhan di Ang-keh-ceng tempo dulu.

“Eh, untuk penghabisan kalinya kutanya padamu, penghabisan kali, kuulangi, dan tidak ada kali berikutnya,” ucap A Fei pula. “Nah, kutanya padamu, Ang Thian-kiat terbunuh olehmu, betul tidak?”

Tio Cing-ngo memandangi biji mata yang hitam gilap itu, ia merasa tulang sumsum sendiri seakan-akan beku, tanpa terasa ia menjawab dengan gemetar, “Iy … iya ….”

Baru saja “ya” diucapkannya, seketika air muka Tionggoan-pat-gi berubah menjadi beringas.

Serentak Kongsun Uh berjingkrak murka dan mendamprat. “Bangsat piaraan biang anjing, setelah kau lakukan perbuatan khianat itu, berani lagi kau datang ke sini dan berlagak orang baik?”

Mendadak A Fei tertawa dan berseru, “Tuan-tuan jangan marah, kematian Ang Thian-kiat sesungguhnya tidak ada sangkut-pautnya sedikit pun dengan dia.”

Tionggoan-pat-gi jadi melengak.

Dengan sengit Kongsun Uh berkata, “Tapi … tapi dia sendiri kan … kan sudah mengaku? ….”

“Ya, tapi pengakuannya itu hanya membuktikan sesuatu, yaitu, bilamana seorang dalam keadaan terpaksa maka apa yang diakuinya itu pada hakikatnya tidak masuk hitungan.”

Air muka Tio Cing-ngo dari pucat berubah menjadi merah sebaliknya air muka Tionggoan-pat-gi yang merah menjadi pucat. Beramai-ramai mereka lantas membentak, “Bilakah kami pernah memaksa dia bicara? Memang kau anggap pengakuan ini karena dipaksa? Jika dia merasa penasaran, kenapa dia sendiri tidak bicara terus terang?”

Dengan kalem Ih Beng-oh lantas menambahkan, “Thi Toan-kah, apabila kau anggap kami telah salah menuduh dirimu, saat ini kebetulan dapat kau jelaskan duduknya perkara kepada kami.”

“Betul,” teriak Kongsun Uh sambil melompat maju ke depan Thi Toan-kah, “jika ada persoalan, bicaralah lekas, tidak nanti ada orang akan menyumbat mulutmu!”

Tapi Thi Toan-kah tetap tutup mulut rapat-rapat, air mukanya tampak penuh menderita.

“Jika tiada sesuatu yang dapat kau katakan, hal ini menandakan kau sendiri telah mengakui perbuatanmu, sekali-kali tidak pernah kupaksa pengakuanmu dengan kekerasan,” seru Ang-toanio.

Thi Toan-kah menghela napas panjang, ucapnya dengan sendu, “Fei-siauya, sungguh aku tidak dapat bicara apa-apa, terpaksa kukecewakan maksud baikmu.”

Kongsun Uh melonjak pula dan berteriak terhadap A Fei, “Nah, kau dengar sendiri, dia sendiri menyatakan tidak dapat bicara apa-apa lagi, lalu apa pula yang dapat kau katakan?”

“Peduli dia bicara atau tidak, yang jelas aku tidak percaya dia adalah seorang yang suka menjual sahabat demi mencari keuntungan sendiri,” kata A Fei.

“Bukti dan saksi sudah lengkap, mau tak mau kau harus percaya!” Kongsun Uh meraung murka.

“Hm, persetan bilamana dia tetap tidak percaya, kenapa kita mesti meminta dia percaya?” jengek Ang-toanio.

“Betul, urusan ini pada hakikatnya memang tidak ada sangkut-pautnya dengan dia,” sambung Kim Hong-pek.

“Tapi setelah kuhadir di sini, urusan ini menjadi ada sangkut-pautnya denganku,” kata A Fei.

“Dirodok, memangnya ada sangkut-paut apa dengan ibumu?” damprat Kongsun Uh dengan murka.

“Jika aku tidak percaya berarti kalian tidak boleh mengganggu dia,” jawab A Fei.

“Keparat, memangnya kau terhitung barang apa, berani ikut campur urusan kami?” teriak Ang-toanio.

“Justru hendak kubinasakan dia, coba saja apa abamu?” si tukang kayu juga meraung. Orang ini paling sedikit bicara, tapi bergerak paling cepat. Begitu bicara, begitu pula kapaknya membacok batok kepala Thi Toan-kah.

Dahulu dia berjuluk “Lip-pi-hoa-san” atau sekali bacok membelah gunung Hoa, jurus serangan ini adalah jurus andalannya, dengan sendirinya kekuatannya tidak alang kepalang dahsyatnya.

Tapi Thi Toan-kah masih tetap duduk di tempatnya, biarpun dia menguasai Kungfu Thi-poh-sam yang kebal juga akan terbelah oleh bacokan kapak.

Maklumlah, biarpun Thi-poh-sam dikenal sebagai Kungfu yang kebal terhadap senjata tajam, padahal yang dimaksudkan senjata tajam adalah sejenis senjata biasa seperti golok atau pedang, bahkan harus tahu bagian mana yang akan diserang, pada tempat itulah lebih dulu dikumpulkan tenaga dalam. Bilamana menghadapi tokoh kelas tinggi, biarpun benar berotot kawat dan bertulang besi juga akan terhantam remuk, apalagi si berewok juga manusia berdarah daging.

Kungfu kekebalan demikian juga hampir lenyap dalam dunia persilatan, soalnya meski orang berhasil meyakinkannya juga tidak besar daya gunanya, sebab itulah jarang ada yang mau melatihnya. Kalau tidak, melulu si berewok sja sudah mampu mengatasi Bwe-hoa-cat, untuk apa mesti berebut Kim-si-kah segala?”

Dalam pada itu, si tukang cerita menjerit kaget, disangkanya si berewok pasti akan binasa.

Siapa tahu pada saat itu juga mendadak cahaya pedang berkelebat, “cret”, kapak yang besar itu terkutung menjadi dua potong, “trang”, pangkal kapak jatuh di depan Thi Toan-kah.

Rupanya sambaran pedang itu cepat luar biasa, sedikit ujung pedang menyabat pada tangkai kapak, seketika tangkai kapak yang terbuat dari kayu itu terkutung.

Saat itu si tukang kayu lagi mengayun kapak sekuatnya, mendadak tangannya tergetar, “krak-krek”, siku dan pergelangan tangannya keseleo, tubuhnya juga condong ke depan, tepat dia menubruk ke arah ujung pedang seakan-akan tenggorokannya sengaja disodorkan untuk ditusuk orang.

Keruan kejadian ini sangat mengejutkan, muka mereka menjadi pucat, meski mereka juga bukan jago lemah, tapi untuk menolong jelas tidak keburu lagi.

Tak terduga A Fei lantas melintangkan pedangnya, batang pedang tepat menahan dagu si tukang kayu. Saking kagetnya tukang kayu itu terus menjengkang ke belakang, orangnya lantas jatuh pingsan.

Sekali serang A Fei mengatasi Tio Cing-ngo tadi, orang lain sama menyangka gerak serangannya dilancarkan secara mendadak selagi lawan tidak berjaga-jaga, jadi kemenangannya hanya kebetulan. Tapi gerak pedangnya yang luar biasa sekarang membuat semua orang benar melongo kaget.

Tionggoan-pat-gi sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw, lawan tangguh macam apa pun pernah mereka hadapi, tapi ilmu pedang pemuda aneh ini benar-benar membikin mereka tercengang, sungguh sukar untuk dipercaya bahwa di dunia ini ada ilmu pedang secepat ini.

Pada waktu ujung pedang A Fei meninggalkan tenggorokan Tio Cing-ngo tadi, sebenarnya kepalan Tio Cing-ngo sudah siap menghantam punggung anak muda itu.

Tapi demi melihat betapa lihai serangan A Fei itu, kepalan yang hampir mengenai sasarannya itu ditariknya kembali mentah-mentah. Soalnya Kungfu anak muda itu teramat hebat dan mengejutkan, ia percaya tidak nanti punggungnya sengaja dikosongkan untuk diserang musuh.

Tio Cing-ngo tidak berani membayangkan betapa reaksi lihai lawan yang akan terpancing oleh sergapannya itu, sebab itulah dia urung menyerang.

A Fei seperti tidak merasakan apa-apa, dengan tenang ia pegang tangan Thi Toan-kah dan berkata, “Ayolah pergi! Mari kita pergi minum arak!”

Tanpa kuasa Thi Toan-kah terseret pergi. Tapi Kongsun Uh, Kim Hong-pek dan Pian Go serentak mengadang di depan mereka.

“Masa sekarang juga sahabat mau pergi?! Mungkin tidak semudah ini?!” seru Kim Hong-pek dengan suara parau.

“Memangnya apa yang harus kulakukan? Apakah mesti kubunuh dirimu?” jawab A Fei dengan tak acuh.

Kim Hong-pek melototi orang, entah mengapa, sinar mata A Fei yang dingin itu membuatnya ngeri. Padahal selama hidupnya entah sudah berapa kali dia bertempur mati-matian dengan orang, tapi rasa ngeri seperti ini baru terjadi dua kali. Pertama kali terjadi pada waktu dia berumur 14, waktu itu dia kesasar di hutan ketika berburu dan kepergok sekawanan serigala lapar di tengah malam.

Kalau dirasakan sekarang, dia lebih suka kepergok lagi dengan sekawanan serigala lapar itu daripada menghadapi ujung pedang pemuda aneh ini.

Tiba-tiba Ih Beng-oh menghela napas, ucapnya dengan suara berat, “Biarkan dia pergi!”

“Mana boleh lepaskan dia?” teriak Ang-toanio dengan suara serak. “Memangnya jerih payah kita selama ini dianggap ….”

“Ya, anggap saja dimakan anjing,” jengek Ih Beng-oh.

Air mukanya tetap dingin dan seram, tetap hambar, tidak marah, juga tidak emosi, ia cuma menjura kepada A Fei dan berkata, “Silakan Anda pergi saja. Memang beginilah urusan dunia Kangouw, barang siapa bersenjata lebih cepat, dialah yang berhak dan berkuasa.”

“Terima kasih atas petunjukmu,” kata A Fei. “Ucapanmu, ini pasti takkan kulupakan.”

Semua orang menyaksikan A Fei menyeret pergi Thi Toan-kah, ada yang gemertuk giginya saking menahan gemasnya, ada yang mengentak kaki, ada pula yang mencucurkan air mata.

Lebih-lebih Ang-toanio, ia tidak tahan dan menangis tergerung-gerung sambil mengentak kaki, teriaknya, “Ken … kenapa kau lepaskan dia? Mana … mana boleh kau lepaskan dia?”

Air muka Ih Beng-oh tetap hambar tanpa emosi, ucapnya perlahan, “Memangnya apa yang dapat kau lakukan? Apakah menyuruh dia membinasakan kita seluruhnya?”

“Ucapan Jiko remang betul,” tukas Pian Go. “Selama gunung tetap menghijau, jangan kantir tiada mendapat kayu bakar. Asalkan kita masih hidup, tentu akan tiba kesempatan kita untuk menuntut balas.”

Mendadak Ang-toanio memburu maju dan menjambret leher baju Pian Go sambil meraung, “Masih juga kau berani bicara? Kembali sahabat baik yang kau bawa kemari, kembali gara-garamu ….”

“Betul, akulah yang membawa dia ke sini, betapa pun aku harus bertanggung jawab kepada Toaso,” jawab Pian Go dengan pedih.

“Bret”, robek leher bajunya, segera ia pun membalik tubuh dan menerjang ke luar.

Ang-toanio melengak, cepat serunya, “Kembali, Losam ….”

Tapi waktu ia mengejar ke luar, bayangan Pian Go sudah hilang.

Ih Beng-oh menghela napas, ucapnya, “Sudahlah, biarkan dia pergi, semoga dia dapat membawa kemari sahabatnya yang lama itu.”

Terbeliak mata Kim Hong-pek, gumamnya, “Apabila Samko benar dapat mendatangkan orang itu, betapa cepat gerak pedang bocah ini juga tidak ada artinya.”

Tiba-tiba Tio Cing-ngo tertawa dan berkata “Padahal Pian-samhiap tidak perlu mencari bala bantuan lagi.”

“Oo?!” Kim Hong-pek bersuara ingin tahu.

“Sebab besok atau lusa akan datang tiga orang kosen ke sini,” tutur Tio Cing-ngo, “Sekalipun anak muda tadi berkepala tiga dan bertangan enam, pasti juga akan kubuat ketiga kepalanya berpisah dengan tuannya.”

“Memangnya tiga orang kosen siapa?” tanya Kim Hong-pek.

Dengan perlahan Tio Cing-ngo menjawab, “Bila kalian mendengar nama mereka, mungkin kalian akan melonjak kaget ….”

*****

Meski waktu lohor, tapi cuaca kelam seperti magrib.

Dengan tenang A Fei sedang berjalan, serupa waktu pertama kalinya Thi Toan-kah melihat dia, masih kelihatan menyendiri, kesepian dan letih.

Tapi sekarang Thi Toan-kah sudah tahu, bilamana menghadapi bahaya, anak muda yang kelihatan letih ini akan berubah menjadi tangkas, berubah gesit dan perkasa.

Thi Toan-kah berjalan di sisi anak muda itu, entah betapa banyak kata-kata yang ingin diucapkannya, tapi entah cara bagaimana harus mulai bicara.

Li Sun-hoan juga seorang yang tidak banyak bicara. Sudah belasan tahun dia hidup bersama Li Sun-hoan, maka dia telah berhasil belajar menggunakan diam sebagai gantinya kata-kata. Sejak tadi dia hanya bicara dua kata saja, yakni “terima kasih”.

Tapi segera diketahuinya kedua kata ini pun berlebihan, sebenarnya tidak perlu. Sebab ia tahu A Fei juga serupa Li Sun-hoan. Di depan orang semacam mereka ini, selamanya tidak perlu kau katakan “terima kasih” segala.

Di tepi jalan ada sebuah gardu kecil, gardu istirahat bagi orang lalu. Tapi sekarang gardu ini hanya timbunan salju melulu.

A Fei masuk ke gardu itu, katanya tiba- tiba, “Mengapa engkau tidak mau membeberkan persoalan yang membikin penasaran padamu?”

Thi Toan-kah termenung agak lama, setelah, menghela napas panjang, lalu berkata “Ada sementara urusan, lebih baik mati daripada kukatakan”

“Engkau adalah sahabat yang baik, tapi kalian telah salah sangka sesuatu.”

“Oo?!” Thi Toan-kah melengak.

“Kalian sama mengira jiwa adalah miliknya sendiri, setiap orang berhak untuk mati.”

“Memangnya salah?”

“Tentu saja salah,” mendadak A Fei membalik tubuh dan melototi Thi Toan-kah, “manusia dilahirkan bukan untuk mati.”

“Akan tetapi, bilamana seorang tiba pada saat harus mati ….”

“Biarpun menghadapi kematian juga harus berjuang untuk mencari hidup,” tukas A Fei.

Dia menengadah memandang cakrawala yang luas, perlahan ia menyambung pula, “Thian (Tuhan) khawatir engkau dahaga, maka engkau diberi air minum. Khawatir engkau lapar, diciptakanlah makanan bagimu. Khawatir engkau kedinginan, diciptakan kapas untuk dibuat baju agar engkau tidak kedinginan ….” dengan melotot ia-pandang Thi Toan-kah dan meneruskan dengan suara keras, “Coba, tidaklah sedikit Thian telah berbuat bagimu, akan tetapi apa yang telah kau lakukan bagi Thian?”

Thi Toan-kah melenggong, ia menunduk dan berucap, “Ya, apa pun tidak pernah kulakukan.”

“Engkau dilahirkan dan dibesarkan oleh ayah bundamu,” kata A Fei pula, “jerih payah mereka pun tak terperikan dan apa pula yang pernah kau lakukan bagi mereka?”

Thi Toan-kah menunduk terlebih rendah dan tidak bersuara.

“Engkau cuma tahu ada kata-kata yang tidak boleh kau beberkan, jika kau beberkan berarti tidak setia terhadap sahabat. Namun bila kau mati begitu saja, cara bagaimana pula akan bertanggung jawab terhadap ayah bundamu? Juga terhadap Thian?”

Kedua tinju Thi Toan-kah terkepal erat, tanpa terasa telapak tangannya berkeringat dingin.

Meski setiap patah kata anak muda itu sangat sederhana, tapi di dalamnya mengandung filsafah yang sangat dalam. Tiba-tiba Thi Toan-kah merasakan anak muda ini meski terkadang kelihatannya seperti tidak tahu urusan, tapi ketajaman otaknya, kejernihan pikirannya, bahkan Li Sun-hoan juga tak dapat menandinginya. Terhadap urusan tetek bengek kehidupan manusia mungkin tidak dipahaminya sama sekali, sebab pada hakikatnya hal-hal itu memang tidak pernah diperhatikannya.

“Manusia dilahirkan untuk hidup,” ucap A Fei pula sekata demi sekata, “Siapa pun tidak berhak mengantarkan kematian sendiri,”

Butiran keringat tampak memenuhi kepala Thi Toan-kah, ia menunduk dan bergumam, “Ya, aku salah, aku salah ….”

Tiba-tiba ia seperti membulatkan tekad, katanya sambil menengadah, “Sebabnya aku tidak mau membeberkan seluk-beluk perkara itu adalah karena ….”

“Kupercaya padamu,” potong A Fei sebelum lanjut ucapan orang, “tidak perlu kau beri penjelasan padaku.”

“Tapi … tapi berdasarkan apa kau yakin aku ini bukan manusia yang suka menjual sahabat untuk keuntungan sendiri?” tanya Thi Toan-kah.

“Pandanganku takkan keliru,” ujar A Fei dengan hambar. Gemerdep sinar matanya, dengan penuh keyakinan ia menyambung pula, “bisa jadi hal ini disebabkan aku dibesarkan di hutan belukar. Manusia yang dibesarkan di hutan belukar akan serupa dengan binatang buas, secara naluri mempunyai semacam kemahiran yang dapat membedakan hal-hal yang baik dan jahat.”

*****

Dalam pada itu Li Sun-hoan lagi kesal di kamarnya. Ia merasa orang-orang yang tinggal di Hin-hun-ceng rata-rata memuakkan, kalau dibandingkan, Yu Liong-sing masih terhitung lumayan, sebab paling sedikit dia tidak suka menjilat pantat.

Jika pribadi seseorang sudah terasa memuakkan, ditambah lagi pandai menjilat pantat, kelakuannya sungguh bisa membikin orang mengkirik.

Sebab itulah Li Sun-hoan lebih suka berdiam di dalam kamarnya daripada bergaul dengan manusia yang memuakkan itu.

Dengan sendirinya Liong Siau-hun kenal sifatnya, dia tidak memaksanya ke luar. Maka Li Sun-hoan lantas berbaring sendirian di tempat tidurnya untuk menanti datangnya sang malam. Ia tahu malam nanti pasti akan terjadi banyak peristiwa yang menarik.

Angin mendesir menimbulkan gemersik dedaunan.

Di pojok langit-langit kamar ada seekor labah-labah sedang membuat jaring.

Manusia kan juga serupa labah-labah? Setiap manusia di dunia ini juga sama membuat jaring, lalu memasukkan dirinya sendiri ke tengah jaring.

Li Sun-hoan juga mempunyai jaringnya sendiri, selama hidup jangan harap akan dapat lolos dari jaringnya, sebab jaring ini dibuat olehnya sendiri.

Teringat pada janji bertemu dengan Lim Sian-ji malam nanti, tanpa terasa gemerdep sinar matanya. Tapi bila teringat kepada Thi Toan-kah, tanpa terasa sinar matanya menjadi guram lagi.

Hari akhirnya gelap juga.

Baru saja Sun-hoan bangun berduduk, tiba-tiba didengarnya ada suara keresek pada tanah salju di luar, suara orang berjalan dengan perlahan sedang menuju ke sini. Cepat ia merebahkan diri lagi. Dan baru saja ia berbaring, suara langkah orang itu sudah berada di luar jendela.

Sedapatnya Sun-hoan bersabar, ia tidak menegur, orang itu pun tidak masuk, jelas pendatang ini pasti bukan Liong Siau-hun, jika Liong Siau-hun, tidak nanti dia berdiri di luar.

Habis siapa pendatang ini? Apakah Lim Si-im?

Darah serasa membanjiri kepala Li Sun-hoan, sekujur badan seakan-akan gemetar. Pada saat itu juga orang di luar itu berdehem perlahan, lalu bertanya, “Apakah Li heng sudah tidur?”

Itulah suara Yu-siaucengcu dari Cong-liong-san-ceng, Yu Liong-sing.

Sun-hoan menghela napas lega, entah senang entah kecewa. Ia memberosot turun dari tempat tidurnya untuk membuka pintu, sapanya, “Aha, tamu yang sukar diharapkan. Silakan masuk, silakan!”

Yu Liong-sing melangkah ke dalam kamar dari berduduk, satu kejap saja ia tidak pandang Li Sun-hoan.

Setelah menyalakan lampu, Sun-hoan melihat air muka Yu-siaucengcu ini rada hijau kepucat-pucatan. Umumnya orang yang berwajah demikian pasti tidak bermaksud baik.

Dengan tersenyum Sun-hoan bertanya. “Minum teh? Atau arak?”

“Arak,” jawab Yu Liong-sing singkat.

“Aha, bagus,” seru Sun-hoan, “Di tempatku ini memang tidak pernah ada tamu yang minum teh.”

Sekaligus Yu Liong-sing minum tiga cawan, mendadak ia melototi Li Sun-hoan dan berkata “Apakah kau tahu mengapa kuminum arak?”

Sun-hoan tersenyum, ucapnya, “Arak juga dikenal sebagai ‘pemancing syair’, disebut ‘penyapu sedih’. Tapi kukira Yu-heng toh tidak ada sedih yang perlu disapu, juga tidak perlu memancing syair, jangan-jangan engkau minum arak hanya untuk menabahkan hati?”

Yu Liong-sing melotot, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa latah. “Cring”, padang yang tergantung di pinggang dilolosnya. Cahaya padang kemilau laksana air telaga.

Sekonyong-konyong Yu Liong-sing berhenti tertawa, lalu melotot dan bertanya, “Kau kenal pedang ini?”

Sun-hoan menyentil perlahan batang pedang orang sambil bergumam, “Ehmm, pedang bagus, pedang hebat!”

Dia seperti tidak tahan oleh hawa pedang yang dingin, kembali ia terbatuk-batuk tiada hentinya

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: