Pendekar Budiman: Bagian 07

Pendekar Budiman: Bagian 07
Oleh Gu Long

Dengan sendirinya ucapan Sun-hoan ini sengaja diperdengarkan kepada A Fei.

Kembali A Fei termenung sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Mereka bilang engkau Bwe-hoa-cat, lantas benarkah engkau Bwe-hoa-cat?”

Sun-hoan tersenyum dan menjawab, “Perkataan sementara orang sebenarnya tidak ada ubahnya seperti kentut belaka.”

“Jika cuma kentut, untuk apa kau pedulikan ocehan mereka?” kata A Fei, mendadak ia berjongkok terus menggendong Li Sun-hoan di atas punggungnya.

Pada saat itulah mendadak Dian Jit turun tangan, toyanya yang lemas itu bekerja dengan cepat, sekaligus ia tutuk beberapa Hiat-to penting di dada A Fei, asalkan salah satu tempat tertutuk, jangan harap lagi A Fei akan bisa bergerak.

A Fei ternyata tidak melolos pedangnya, ia pun serupa Li Sun-hoan, sekali pedangnya bekerja, biasanya tidak pernah kembali dengan hampa.

Tetapi sekali ini ia tahu pedangnya pasti takkan berhasil merobohkan lawan.

Sejak tadi Tio Cing-ngo tidak bersuara dan juga tidak bergerak, hanya mukanya kelihatan masam, kini mendadak ia membentak, “Terhadap Bwe-hoa-cat tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw, kenapa kalian tidak turun tangan?”

Tapi semua orang sama ragu memandangi bayangan toya Dian Jit yang berkelebat di sekitar A Fei, meski toya rotan Dian Jit terhitung alat Tiam-hiat istimewa, namun belum lagi dapat mengatasi anak muda itu.

“Membunuh Bwe-hoa-cat adalah pahala yang gemilang, mengapa kesempatan baik ini kalian sia-siakan?” seru Tio Cing-ngo pula.

Baru lenyap suaranya, serentak beberapa macam senjata menghujani Li Sun-hoan yang berada di punggung A Fei.

Cepat Lim Sian-ji memburu maju dan menarik tangan Liong Siau-hun, serunya, “Siko, mengapa tidak kau cegah tindakan mereka?”

“Tidakkah kau lihat aku pun ditutuk orang?” sahut Siau-hun dengan sedih.

Pada saat itulah mendadak terdengar serentetan jeritan ngeri, tiga orang tergetar mundur sempoyongan. Akhirnya pedang A Fei dilolos juga.

Meski pedangnya belum pasti mampu melukai Dian Jit, kalau orang lain ingin mencari mampus, tentu dia tidak sungkan-sungkan lagi. Maka darah pun berhamburan mengikuti berkelebatnya sinar pedang, mantel bulu Li Sun-hoan telah terciprat darah.

Segala macam senjata itu tidak tampak lagi, hanya toya rotan Dian Jit yang masih terus mengurung mereka serupa ular berbisa, setiap serangannya tidak pernah meninggalkan Hiat-to maut di tubuh A Fei.

Toya rotan itu jauh lebih panjang daripada A Fei, jika anak muda itu ingin menjaga keselamatan Li Sun-hoan, terpaksa ia tidak berani mendesak maju, kalau dapat mendesak maju, terpaksa ia harus berkelit dan menghindari setiap serangan toya.

Tiba-tiba Lim Sian-ji berseru dengan menyesal, “Betapa pun Tio-toaya memang orang yang luhur budi dan tidak sudi main kerubut ….”

Gemerdep sinar mata Tio Cing-ngo, dengusnya, “Tadi kan sudah kukatakan tadi, terhadap orang rendah semacam Bwe-hoa-cat tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw segala.”

Segera ia melompat ke pinggir ruangan, dari rak senjata diraihnya sebatang tombak, sekali berputar, langsung ia menusuk punggung Li Sun-hoan.

Nama Tio Cing-ngo cukup terkenal di dunia persilatan dan memang tidak bernama kosong, serangan tombaknya itu tidak dapat diremehkan.

Tombak adalah embahnya senjata, toya adalah rajanya gegaman, apalagi semakin panjang senjata yang dipakai semakin besar pula daya ancamannya. Senjata A Fei hanya sebilah pedang yang pendek, cukup payah baginya menghadapi dua macam senjata lawan yang lebih panjang, apalagi dia menggendong lagi seorang, pula dia sama sekali tidak tahu lawan hendak menutuk Hiat-to bagian mana.

Walaupun Dian Jit sudah berada di atas angin, tapi entah mengapa, setiap kali dia melancarkan serangan maut, pada detik terakhir selalu gagal, selalu tak dapat merobohkan lawan.

Setelah sekian puluh jurus lagi, tiba-tiba dilihatnya meski anak muda itu tidak sempat belas menyerang, tapi langkahnya ternyata sangat ajaib, jelas-jelas kelihatan serangannya akan berhasil, tahu-tahu anak muda itu bergeser, entah dengan langkah apa, serangannya lantas luput.

Maki pengalaman Dian Jit sangat luas juga tidak tahu asal usul ilmu langkah A Fei itu, diam-diam ia membatin, “Asal-usul anak muda ini pasti tidak sembarangan, untuk apa kuikat permusuhan dengan dia?”

Berpikir demikian, segera ia tersenyum dan berkata, “Saudara cilik, kukira lebih baik kau turunkan dia saja, kalau tidak, bukannya dia membikin susah padamu, sebaliknya engkau yang membikin susah dia.”

“Betul,” tukas Lim Sian-ji, “lebih baik kau turunkan dia saja, kujamin Dian-jitya tidak berniat melukaimu, juga pasti takkan membunuh dia.”

Suaranya sangat lembut dan juga sungguh-sungguh, air mukanya penuh rasa cemas dan prihatin.

A Fei menggereget, ucapnya, “Jika kalian menghendaki kuturunkan dia, kalian sendiri mengapa tidak berhenti?”

Serentak Dian Jit melompat mundur sambil menarik kembali toyanya. Tombak Tio Cing-ngo sudah telanjur menusuk, mendadak ia tahan sekuatnya sehingga ujung tombak menusuk ke bawah. “Creng”, lelatu api meletik, ujung tombak patah dan mencelat.

Sama sekali A Fei tidak melirik mereka, ia dudukkan Li Sun-hoan di atas kursi, dilihatnya dada Li Sun-hoan terengah-engah, mukanya yang putih timbul pula semacam warna merah pucat, jelas sejak tadi sekuatnya ia menahan batuknya, sebab ia khawatir batuknya akan memengaruhi konsentrasi A Fei menghadapi musuh.

A Fei merasa darah panas bergolak dalam rongga dadanya, sambil menggereget ucapnya perlahan, “Ya, aku salah, aku cuma memikirkan ketangguhan sendiri, tapi melupakan dirimu.”

Sun-hoan tertawa, “Baik kau benar atau salah, aku tetap berterima kasih padamu.”

Begitu bicara, serentak dia terbatuk-batuk lagi.

A Fei memandangnya lekat-lekat, sampai sekian lama barulah ia membalik tubuh menghadapi Tio Cing-ngo, katanya. “Sungguh aku menyesal mengapa tempo hari tidak kubunuh dirimu!”

Sambil bicara, berbareng pedangnya juga menusuk.

Betapa cepat serangannya sungguh sukar dilukiskan. Mana bisa Tio Cing-ngo menghindari serangan kilat ini?

Tampaknya darah pasti akan tercecer, siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar seorang menyebut Buddha, “Omitohud!”

Baru saja kata pertama itu diucapkan, serentak deru angin menyambar dengan membawa serenceng bayangan hitam. Waktu kata kedua diucapkan, angin tajam dan bayangan hitam itu sudah hampir mengenai punggung A Fei.

Padahal pedang A Fei jelas kelihatan sudah menusuk ke depan, tapi pada detik yang menentukan itulah sekonyong-konyong ia menarik pedang dan berputar tubuh. “Cring”, sinar pedang sempat menyungkit bayangan hitam tadi, Kiranya segandeng tasbih.

Sampai di sini barulah suara ucapan “Omitohud” tadi terdengar lengkap, tasbih itu mencelat terlempar oleh ujung pedang, dan ujung pedang masih mengeluarkan suara mendengung. Nyata satu gandeng tasbih itu ternyata membawa tenaga sambitan yang mahadahsyat.

Meski ujung pedang masih bergetar, namun A Fei tetap berdiri tegak di tempatnya.

Sementara itu fajar menyingsing, di bawah remang subuh kelihatan lima orang Hwesio berjubah kelabu, bersepatu kain dan berkaus kaki putih melangkah masuk ruangan itu dengan perlahan. Padri yang paling depan sudah tua, alis dan jenggotnya sudah putih seluruhnya, namun wajahnya bersemu merah, sinar matanya tajam, sikapnya kereng.

Ketika Hwesio tua itu merangkap kedua tangannya, kalung tasbih tadi entah mengapa tahu-tahu sudah berada kembali ke tangannya.

Rasa kaget Tio Cing-ngo oleh serangan A Fei tadi baru sekarang lenyap, melihat Hwesio beralis putih ini, cepat ia memberi hormat dan menyapa, “Atas kunjungan Taysu ini, maafkan jika tidak dilakukan penyambutan selayaknya.”

Hwesio alis putih itu hanya tersenyum saja, sorot matanya menatap tajam ke muka A Fei, ucapnya dengan suara lantang, “Cepat amat pedang tuan ini.”

“Jika pedangku tidak cepat, saat ini mungkin perlu minta Taysu bersembahyang bagi arwahku,” kata A Fei.

“Ah, soalnya padri tua tidak suka menyaksikan pertumpahan darah, sebab itulah kuturun tangan, ketahuilah, betapa cepatnya pedangmu tetap tidak lebih cepat daripada pandangan Buddha.”

“Memangnya tasbih Taysu sendiri bisa lebih cepat daripada pandangan Buddha?” jawab A Fei. “Jika kumati di bawah tasbih Taysu, bukankah Taysu harus memikul dosa pembunuhan ini?”

“Kurang ajar!” bentak Tio Cing-ngo, “Berani kau bicara kasar terhadap Hou-hoat-taysu (padri agung pembela agama) dari Siau-lim-si?”

“Ah, tidak apa,” ujar si Hwesio alis putih. “Lidah anak muda memang lebih tajam daripada senjata, rasanya padri tua masih sanggup menahannya.”

Tiba-tiba Lim Sian-ji menimbrung dengan tertawa, “Jika Sim-bi Taysu tidak menyalahkan perbuatanmu, tidak lekas kau pergi saja?”

Tio Cing-ngo lantas mendengus, “Tadi dia tidak mau pergi, sekarang mungkin sudah terlambat.”

“Oo? Memangnya dapat kau rintangi diriku?” ujar A Fei sembari bertindak ke luar dengan langkah lebar.

Air maka Tio Cing-ngo berubah lagi, “Taysu ….”

“Ah, Sim-bi Taysu selamanya welas asih, mana beliau mau mempersulit anak muda yang tidak tahu diri itu,” tukas Dian Jit dengan tertawa. “Biarkan dia pergi saja!”

Tio Cing-ngo menghela napas, gumamnya, “Adalah gampang membiarkan dia pergi, untuk menyuruhnya datang lagi mungkin akan sangat sulit.”

Tiba-tiba Sim-bi Taysu berkata dengan suara berat, “Ciangbun-suheng (kakak guru pejabat ketua) kami menerima berita pos merpati dari cabang biara kami dan diketahui murid keluarga swasta perguruan kami Cin Tiong mengalami luka parah, seketika padri tua diperintahkan berangkat ke sini ….”

“Ya, cuma sayang kedatangan Taysu sudah agak terlambat ….” Tio Cing-ngo menghela napas ambil melototi Li Sun-hoan.

*****

Sementara itu hari sudah terang, sudah banyak orang berlalu-lalang di jalan raya, A Fei berjalan di atas salju yang tertimbun semalam, meski langkahnya cepat dan enteng, namun perasaannya sangat berat dan tertekan.

“He, tunggu … tunggu ….” tiba-tiba seorang memanggilnya.

Suaranya sedemikian nyaring, sedemikian merdu, tanpa menoleh pun A Fei tahu siapa yang memanggilnya. Sebab diketahuinya orang di tepi jalan sama terkesima memandangi belakangnya, orang yang sedang berjalan juga sama berhenti, yang sedang bicara juga lupa bicara.

A Fei tidak berpaling, tapi tanpa terasa ia pun berhenti. Didengarnya suara napas terengah perlahan sudah berada di belakangnya, bau harum yang memabukkan juga tercium, mau tak mau dia harus berpaling.

Dilihatnya Lim Sian-ji sedang tersengal-sengal napasnya, wajahnya yang cantik bersemu merah, cahaya subuh yang mulai mencorong di ufuk timur seolah-olah berubah suram dibanding kecantikan si nona.

Pandangan semua orang di jalan raya sama terbeliak, semuanya terkesima, mendadak terdengar suara gemeresak, entah bakul telur ayam siapa yang jatuh pecah berantakan.

Tapi pandangan A Fei tetap sedingin salju yang berserakan di jalan.

Sian-ji menunduk, dengan muka merah ia berkata, “Kudatang untuk … untuk minta maaf padamu, aku ….”

“Kan tidak ada kesalahanmu yang perlu minta maaf padaku?” ujar A Fei.

Sian-ji menggigit bibir, ucapnya sambil mengentakkan kakinya, “Ai, orang-orang itu sungguh terlalu banyak tingkah, terlalu kurang ajar!”

“Masa tindakan mereka itu ada sangkut pautnya denganmu?” ujar A Fei.

“Tapi engkau telah menyelamatkan diriku, mana … mana boleh ku ….”

“Kutolong dirimu tapi kan tidak menolong mereka,” kata A Fei. “Kutolong dirimu bukan menghendaki kau mintakan maaf bagi mereka.”

Muka Sian-ji bertambah merah, serupa orang yang mendadak menumbuk dinding, setiap ucapannya yang belum selesai selalu diguyur dengan air dingin.

“Apa lagi yang hendak kau katakan?” tanya A Fei.

Lim Sian-ji memang tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Selama hidupnya belum pernah menemui orang semacam ini, dia senantiasa yakin sekalipun gunung es juga akan cair bila berhadapan dengan dirinya.

Malahan A Fei lantas berkata pula, “Sampai bertemu!”

Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak Sian-ji memanggilnya pula, “Nanti dulu, ada yang hendak kukatakan.”

Sekali ini A Fei sama sekali tidak menoleh lagi.

“Ingin … ingin kutanya padamu, di … di mana kiranya dapat kutemui engkau?” seru Sian-ji.

“Tidak perlu kau cari diriku,” jawab A Fei.

“Jika begitu, bila … bila Li Sun-hoan mengalami sesuatu, harus kuberi tahukan kepada siapa?” seru Sian-ji pula.

Serentak A Fei berpaling dan berkata, “Kau tahu rumah berhala keluarga Sim di luar gerbang barat kota?”

“Jangan kau lupa, sedikitnya aku sudah bertempat tinggal lima-enam tahun di kota ini,” kata Sian-ji dengan tersenyum.

“Di rumah berhala itulah kutinggal,” tutur A Fei. “Sebelum matahari terbenam, tidak nanti kupergi dari sana.”

“Bagaimana bila matahari sudah terbenam?” tanya Sian-ji.

A Fei termenung sejenak sambil menengadah, katanya kemudian dengan perlahan, “Jangan kau lupa, Li Sun-hoan adalah sahabatku. Tidak banyak sahabatku, malahan sukar mencari keduanya sahabat seperti dia. Jika dia mati, dunia ini terasa tidak menarik lagi.”

Sian-ji menghela napas, ucapnya dengan hampa, “Memang sudah kuduga malam nanti engkau pasti akan datang ke sini lagi untuk menolongnya. Cuma perlu kau ketahui, betapa baiknya sahabat tetap tidak lebih penting daripada keselamatan jiwanya sendiri.”

Mendadak A Fei menunduk kembali dan melototi Lim Sian-ji, ucapnya sekata demi sekata, “Kuharap selanjutnya tidak pernah lagi kau bicara demikian padaku, sekali ini kuanggap saja tidak mendengar apa-apa.”

*****

Sudah sekian hari turun salju, baru hari ini kelihatan sinar sang surya.

Tapi sinar matahari tidak dapat menerangi rumah ini, Li Sun-hoan juga tidak menyesal, sebab sudah diketahuinya di dunia ini memang banyak sekali tempat yang selamanya tidak pernah melihat sinar matahari. Apalagi soal menyesal dan kecewa, semuanya sudah terbiasa baginya.

Dia tidak tahu apa yang hendak dilakukan Dian Jit, Tio Cing-ngo dan lain-lain terhadapnya, malahan dia malas memikirkan hal ini. Dian Jit dan begundalnya telah membawa padri Siau-lim-si untuk menemui Cin Hau-gi ayah dan anak, dan Li Sun-hoan dikurung di gudang kayu yang gelap dan lembap, Liong Siau-hun juga tidak membelanya lagi.

Namun Sun-hoan tidak menyalahkan dia. Liong Siau-hun tentu juga mempunyai kesulitannya sendiri, apalagi sekarang ia pun tidak berbuat apa-apa. Yang diharapkan Sun-hoan sekarang adalah semoga A Fei jangan datang menolongnya, sebab kini dapat diketahuinya dengan jelas, biarpun gerak pedangnya sangat cepat, tapi Kungfunya terdapat banyak titik lemah yang aneh, pengalaman tempurnya juga sangat sedikit. Bila berhadapan dengan lawan seperti Dian Jit, Sim-bi Taysu dan sebagainya, jika sekali serang gagal, mungkin selamanya dia takkan mampu menyerangnya lagi.

Padahal Sun-hoan yakin asalkan digembleng dua-tiga tahun lagi, pasti A Fei dapat menambal titik lemah ilmu silatnya, tatkala mana mungkin anak muda itu akan menjagoi dunia tanpa tandingan. Sebab itulah A Fei harus tahan hidup dua-tiga tahun lagi.

Lantai sangat lembap, hawa dingin terasa merasuk tulang, kembali Sun-hoan terbatuk-batuk tanpa berhenti, dia berharap dapat minum secangkir arak pada saat ini.

Namun hasrat untuk minum satu cangkir arak saja sekarang telah berubah menjadi kenikmatan yang tidak mungkin terjadi. Bila orang lain mengalami nasib seperti Li Sun-hoan sekarang, bukan mustahil akan menangis sedih sekali. Tapi Li Sun-hoan justru malah tertawa, ia merasa perubahan segala sesuatu di dunia ini sungguh sangat menarik.

Padahal tempat ini adalah bekas miliknya, segala sesuatu yang berada di sini adalah haknya, tapi sekarang dia malah dituduh sebagai maling kumbang, diringkus dan dikerangkeng di gudang kayu bakar serupa seekor anjing. Siapakah yang pernah membayangkan akan peristiwa lucu ini?

Tiba-tiba pinta terbuka.

Apakah Tio Cing-ngo tidak sabar menunggu lebih lama lagi dan sekarang juga datang untuk mencabut nyawanya?

Tapi segera diketahui Li Sun-hoan bahwa yang datang ini bukanlah Tio Cing-ngo. Tercium olehnya bau harum arak, menyusul lantas terlihat sebelah tangan yang memegang cawan arak terjulur masuk melalui celah-celah pintu.

Tangan ini sangat kecil, ujung lengan baju pada pergelangan tangannya kelihatan berwarna merah.

“He, Siau-in, kau!” sapa Sun-hoan.

Cawan arak itu tertarik kembali, lalu Ang-hay-ji, si anak serbamerah itu melangkah masuk dengan tertawa-tawa, kedua tangannya memegang cawan arak dan diciumnya bau arak itu, lalu berkata dengan tertawa, “Kutahu engkau sekarang pasti sangat ingin minum arak, betul tidak?”

Sun-hoan tertawa, “Jadi kau tahu aku ingin minum arak, makanya khusus kau antar arak bagiku?”

Ang-hay-ji mengangguk, cawan arak itu disodorkan ke depan Sun-hoan.

Selagi Sun-hoan hendak membuka mulut, mendadak anak itu menarik kembali cawan enaknya dan berkata dengan tertawa, “Coba kau tebak dulu arak apakah ini, jika tepat kau tebak baru kuberi minum padamu.”

Sun-hoan memejamkan mata dan tarik napas panjang, lalu berkata dengan tertawa, “Inilah arak Tik-yap-jing simpanan lama, arak kegemaranku, jika bau arak ini saja tidak kukenal, mungkin aku memang pantas mati saja.”

Ang-hay-ji tertawa, katanya, “Pantas orang bilang Li-tamhoa adalah ahli arak dan perempuan, buktinya memang tidak salah. Tapi bila engkau memang ingin minum arak ini, perlu kau jawab dulu suatu pertanyaanku.”

“Pertanyaan apa?” ucap Sun-hoan.

Tiba-tiba air muka si anak merah yang tertawa berubah menjadi kelam, ia melototi Li Sun-hoan dan berkata tegas, “Ingin kutanya padamu, ada hubungan apa antara dirimu dengan ibuku? Apakah dia sangat suka padamu?”

Air maka Sun-hoan seketika juga berubah, jawabnya sambil bekernyit kening, “Apakah pertanyaan ini pantas kau ajukan?”

“Mengapa tidak pantas kutanyakan? Urusan sang ibu, anaknya kan berhak mengetahuinya?”

Dengan gusar Sun-hoan menjawab, “Masa tidak kau ketahui bahwa ibumu mencintaimu dengan segenap jiwa raganya, mengapa kau berani mencurigai dia?”

“Hm, jangan kau kelabui aku!” jengek Ang-hay-ji. “Segala urusan tak dapat mengelabui diriku.”

Setelah menggereget, dia menyambung pula, “Begitu ibu mendengar urusanmu, segera dia menutup pintu kamar dan menangis secara bersembunyi. Padahal waktu aku hampir mati tangisnya juga tidak sedemikian berduka. Nah, ingin kutanya padamu, apa sebabnya?”

Hati Sun-hoan seperti dipuntir-puntir, ia merasa dirinya telah berubah menjadi segumpal tanah liat dan lagi diremas-remas dan diinjak-injak orang.

Selang agak lama barulah ia menarik napas berat, lalu berkata, “Harus kukatakan padamu, kau dapat mencurigai siapa pun, tapi tidak boleh mencurigai ibumu. Tidak ada setitik alasan pun bagi orang lain untuk mencurigainya. Nah, lekas kau pergi dengan arakmu ini.”

Ang-hay-ji melototinya dan berkata, “Arak ini sengaja kubawa untukmu, mana boleh kubawa pergi lagi?”

Mendadak ia siramkan secawan arak itu ke muka Li Sun-hoan.

Sana sekali Sun-hoan tidak bergerak, bahkan tidak memandangnya sekejap pun, sebaliknya ia berkata dengan suara lembut, “Kau masih seorang anak, aku tidak marah padamu ….”

“Seumpama aku bukan anak, memangnya apa yang dapat kau lakukan atas diriku?” jengek Ang-hay-ji. Mendadak ia mencabut sebilah pisau dan digerak-gerakkan di depan wajah Li Sun-hoan sambil berteriak, “Nah, lihatlah yang jelas! Inilah pisaumu, dia (ibunya yang dimaksud) bilang dengan memegang pisau ini sama dengan jimat penyelamat. Tapi sekarang apakah dapat kau lindungi diriku? Padahal menyelamatkan dirimu sendiri saja tidak mampu lagi.”

Sun-hoan menghela napas, katanya, “Ya, betul, pisau hanya untuk mencelakai orang dan tak dapat melindungi orang.”

Muka Ang-hay-ji tampak pucat, serunya dengan parau, “Telah kau bikin badanku cacat selamanya, sekarang aku pun akan membikin kau rasakan siksaan seperti diriku, ku ….”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, “Siau-in, apakah kau berada di dalam?”

Suara itu sangat halus dan enak didengar, tapi demi mendengar suara itu, seketika air muka Sun-hoan dan Ang-hay-ji berubah lagi.

Cepat Ang-hay-ji menyimpan kembali pisaunya, air mukanya menampilkan senyuman kekanak-kanakan pula, sahutnya, “Ya, ibu, aku berada di sini! Kubawakan arak untuk paman Li, karena seruan ibu, anak menjadi kaget sehingga arak tersiram semua di atas badan paman Li.”

Pada waktu dia bicara, Lim Si-im sudah muncul di ambang pintu, kedua matanya yang jeli itu kelihatan rada bendul, penuh rasa pedih dan tampak marah.

Tapi setelah Ang-hay-ji menggelendot di sebelahnya, sinar matanya segera berubah menjadi lembut, katanya, “Paman Li sekarang tidak ingin minum arak, sebaiknya sekarang kau harus tidur, lekas pergi!”

“Paman Li pasti difitnah orang, kenapa tidak kita tolong dia?” ujar Ang-hay-ji.

“Hus, anak kecil, jangan sembarang omong,” omel Si-im. “Lekas pergi tidur!”

Ang-hay-ji menoleh dan tertawa terhadap Li Sun-hoan, katanya, “Paman Li, kupergi dahulu, besok akan kubawakan arak lagi bagimu.”

Memandangi senyum kekanak-kanakannya itu, tanpa terasa tangan Sun-hoan berkeringat dingin, ngeri akan tingkah laku anak itu.

Didengarnya Si-im lagi menghela napas sedih, ucapnya, “Semula kukhawatir anak ini dendam padamu, tapi sekarang … sekarang dapatlah kurasa lega. Terkadang dia dapat berbuat kesalahan, tapi pada dasarnya dia bukan anak buruk.”

Sun-hoan hanya menyengir saja tanpa memberi komentar.

Mendengar suaranya yang penuh kasih ibu itu, apa yang dapat dikatakannya? Dia cukup tahu cinta adalah buta, terutama cinta seorang ibu.

Si-im juga tidak memandangnya, selang agak lama barulah ia berkata dengan perlahan, “Engkau sebenarnya seorang yang sangat memegang janji, tapi sekarang, mengapa engkau telah berubah?”

Sun-hoan merasa kerongkongannya seperti tersumbat, apa pun tak dapat diucapkannya.

“Engkau sudah berjanji padaku pasti takkan pergi mencari Lim Sian-ji, tapi mereka menemukan dirimu di tempat Sian-ji.”

Sun-hoan tertawa, ia tidak tahu mengapa dirinya masih dapat tertawa, tapi dia benar-benar telah tertawa. Katanya, “Kuingat ruangan ini baru dibangun belasan tahun yang lalu, betul tidak?”

“Ehm,” Si-im mengangguk sambil berkerut kening.

“Tapi sekarang, rumah ini sudah tua, ujung dinding sana sudah retak, jendela juga rusak …. Semua ini suatu tanda waktu sepuluh tahun memang tidak pendek, dalam waktu sekian rumah dapat berubah menjadi bobrok, apalagi manusia?”

Si-im meremas-remas tangan sendiri, ucapnya dengan suara gemetar, “Memangnya sekarang … sekarang engkau sudah berubah menjadi pembohong?”

“Aku memang seorang pembohong,” jawab Sun-hoan. “Cuma pengalamanku membohongi orang sekarang telah bertambah banyak.”

Si-im menggigit bibir, mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi.

Sun-hoan masih tertawa, betapa tujuannya sudah tercapai. Dia memang sengaja hendak melukai hati Lim Si-im, supaya dia lekas pergi. Agar orang lain tidak ikut tersangkut olehnya, terpaksa ia keraskan hati untuk melukai hati orang yang memerhatikan dia. Sebab orang ini juga yang paling diperhatikan olehnya.

Pada waktu dia melukai perasaannya, sama halnya dia melukai hatinya sendiri. Meski dia masih tertawa, tapi hatinya sudah remuk rendam ….

Ia memejamkan mata dan menahan air mata supaya tidak menetes, ketika dia membuka mata pula, diketahuinya entah sejak kapan Lim Si-im sudah berada kembali di dalam rumah dan sedang memandangnya lekat-lekat.

“Ken … kenapa engkau belum lagi pergi?” tanya Sun-hoan.

“Aku cuma ingin tanya padamu dengan jelas, sesungguhnya engkau ini Bwe-hoa-cat atau bukan?” kata Si-im.

Mendadak Sun-hoan terbahak-bahak, “Hahaha, apakah aku ini Bwe-hoa-cat? …. Kau tanya aku ini Bwe-hoa-cat atau bukan ….”

“Meski aku yakin engkau pasti bukan Bwe-hoa-cat, tapi … tapi tetap ingin kudengar langsung dari mulutmu sendiri ….”

Sun-hoan tertawa, “Jika kau tidak percaya, untuk apa bertanya pula? Kalau aku pembohong apa gunanya kau tanya lagi? Bila aku dapat membohongimu satu kali, tentu dapat bohong seratus kali, bahkan seribu kali ….”

Air muka Si-im bertambah pucat, tubuh pun menggigil.

Selang agak lama, mendadak ia mengentak kaki katanya, “Akan kulepaskan kau, tak peduli engkau Bwe-hoa-cat atau bukan tetap kulepaskan dirimu. Aku cuma minta setelah kau pergi, jangan kau kembali lagi ke sini, jangan kembali untuk selamanya!”

“Berhenti!” bentak Sun-hoan mendadak. “Mana boleh kau berbuat begini? Kau kira akan kuminta pertolonganmu? Kau kira aku akan melarikan diri dengan mencawat ekor seperti seekor anjing kena gebuk? Memangnya kau pandang diriku ini orang macam apa?”

Tapi Si-im tidak menghiraukannya, ia putar badan Sun-hoan terus hendak membuka Hiat-to kelumpuhannya yang tertutuk.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang membentak dengan bengis, “Si-im, apa yang hendak kau lakukan?”

Itulah suara Liang Siau-hun.

Serentak Si-im membalik tubuh dan melototi Liong Siau-hun yang berdiri di ambang pintu itu, jawabnya dengan sekata demi sekata, “Apa yang ingin kulakukan, memangnya engkau tidak tahu?”

Air muka Liong Siau-hun berubah, ucapnya, “Namun ….”

“Namun apa?” potong Si-im dengan suara keras, “Tindakan ini seharusnya dilakukan olehmu, memangnya sudah kau lupakan budi kebaikannya kepada kita? Apakah sudah kau lupakan urusan masa lampau? Masa akan kau saksikan begini saja dia dibunuh orang?”

Badan Si-im tambah menggigil, teriaknya lagi dengan parau, “Jika tindakan ini tidak berani kau lakukan, terpaksa aku yang melakukannya, masa kau cegah?”

Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, mendadak ia memukuli dadanya sendiri sambil sesambatan, “Ya, aku tidak berani, aku penakut, pengecut? Tapi … tapi kenapa tidak kau pikirkan, mana boleh kita bertindak demikian? Setelah kita menolong dia, apakah mereka akan melepaskan kita!”

Si-im memandangnya dengan terbelalak, seperti tidak pernah mengenalnya. Perlahan ia menyurut mundur dan berucap dengan terputus-putus, “Kau … kau berubah, kau sudah berubah … dahulu … dahulu engkau bukan orang semacam ini ….”

“Betul, mungkin aku sudah berubah,” jawab Siau-hun dengan sedih, “sebab sekarang aku sudah punya istri, sudah punya anak, demi mereka, setiap tindakanku harus kupikirkan, aku tidak mau membikin mereka ….”

Belum lanjut ucapannya, menangislah Si-im tergerung-gerung.

Di dunia ini memang tidak ada kata lain yang lebih menggetarkan perasaan kasih sayang seorang ibu daripada kata “anak”.

Mendadak Siau-hun berlutut di depan Sun-hoan, ucapnya dengan air mata bercucuran, “Maaf, saudaraku, aku bersalah padamu, kumohon engkau sudi mengampuniku ….”

“Mengampunimu?” kata Sun-hoan. “Pada hakikatnya aku tidak paham apa yang sedang kalian bicarakan. Kan sudah kuberi tahukan sejak mula bahwa urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, jika aku mau pergi, tentu aku mempunyai akal untuk angkat kaki dan tidak memerlukan pertolongan kalian.”

Dia bicara sambil memandangi ujung kaki sendiri, sebab ia tidak dapat memandang mereka, ia khawatir air mata sendiri mungkin sukar tertahan dan akan menetes.

“Saudaraku,” kata Siau-hun pula, “kutahu seluruhnya tuduhan tak berdasar mereka kepadamu. Tapi dapat kujamin mereka pasti takkan membunuh dirimu, asalkan engkau sudah bertemu dengan Sim-oh Taysu, tentu urusan akan beres.”

“Sim-oh Taysu?” Sun-hoan menegas sambil berkerut kening. “Memangnya mereka hendak membawaku ke Siau-lim-si?”

“Betul,” jaw b Siau-hun. “Tapi meski Cin Tiong adalah murid kesayangan Sim-oh Taysu, kita tahu padri agung itu pasti takkan sembarangan mendakwa orang yang tak berdosa. Apalagi, saat ini Pek-hiau-sing Cianpwe juga berada di Siau-lim-si, dia pasti juga akan membela keadilan bagimu.”

Sun-hoan tidak bicara lagi, sebab telah dilihatnya kemunculan Dian Jit.

Dian Jit sedang memandangnya dengan tersenyum. Pada saat munculnya Dian Jit, cepat Si-im telah pulih ketenangannya, ia mengangguk perlahan kepada Dian Jit, lalu melangkah pergi.

Angin malam mendesir dingin, baru melangkah dua-tiga tindak, mendadak Si-im berseru, “Anak In, keluar sini!”

Ternyata Ang-hay-ji bersembunyi di ujung rumah sana, cepat dia menyelinap keluar, katanya dengan tertawa, “Akan tidak dapat tidur, bu, maka … maka ….”

“Maka kau cari orang-orang ini dan dikerahkan ke sini, begitu bukan?” tukas Si-im.

Ang-hay-ji memburu maju dengan tertawa, tapi mendadak dilihatnya air muka sang ibu sama dingin dan kelamnya seperti sesaat sebelum fajar menyingsing itu, seketika ia berhenti dan kepala pun tertunduk.

Si-im memandanginya dengan diam, inilah putra kandungnya, permata hatinya, jiwanya, darah dagingnya. Tanpa terasa air matanya yang baru saja diusap kembali menetes lagi.

Selang agak lama barulah Si-im menghela napas, gumamnya sambil menengadah, “O, mengapa dendam selalu lebih sukar dilupakan daripada budi kasih ….”

*****

Untuk melupakan budi kasih orang lain memang sangat mudah, tapi sangat sulit untuk melupakan dendam kepada orang lain. Sebab itulah kesedihan di dunia ini selalu lebih banyak daripada kebahagiaan.

Dengan mengepal kedua tinjunya erat-erat Thi Toan-kah sedang mondar-mandir di dalam ruangan rumah berhala itu, entah sudah berapa puluh kali dia berjalan kian kemari, api unggun sudah hampir padam, tapi tidak ada yang menambahi kayu bakar.

A Fei cuma duduk diam saja di sana tanpa bergerak.

Dengan gemas Thi Toan-kah berkata, “Memang sudah kupikirkan sekalipun Bwe-hoa-cat sudah kau bunuh, para pendekar itu pasti juga takkan mengakui kebenaran tindakanmu. Kutahu, bilamana sekawanan anjing liar melihat daging, mana mungkin daging itu akan diserahkan kepada orang lain?”

“Memang sudah kau nasihati diriku, tapi aku toh pergi ke sana, sebab betapa pun aku harus ke sana,” kata A Fei.

“Dan untung engkau telah pergi ke sana, kalau tidak, mungkin selamanya engkau tak dapat memahami watak asli kawanan pendekar itu,” setelah menghela napas, mendadak Thi Toan-kah berpaling dan memandang A Fei lekat-lekat, lalu katanya pula, “Tapi apakah benar tidak kau lihat Siauya kami?”

“Tidak,” jawab A Fei.

Thi Toan-kah memandangi api unggun yang hampir padam itu dengan termangu-mangu, lalu bergumam, “Entah bagaimana keadaannya sekarang?”

“Selamanya dia tidak perlu orang lain berkhawatir baginya,” ucap A Fei.

Thi Toan-kah tertawa cerah, “Betul, meski para pendekar itu memandangnya seperti duri di dalam daging, tapi tidak ada seorang pun berani mengusik sepotong jarinya.”

Setelah mondar-mandir lagi dua-tiga putaran tiba-tiba ia berkata pula sambil memandang cuaca subuh di luar, “Hati sudah terang, aku mau berangkat.”

“Baik,” kata A Fei.

“Jika dapat kau temui Siauyaku, katakan apabila Thi Toan-kah berhasil menyelesaikan budi dan sakit hatinya, kelak pasti akan kembali ke sini untuk mencarinya.”

A Fei mengiakan.

“Selamat berpisah,” Thi Toan-kah menjura sambil menatap wajah anak muda yang kurus itu. Meski kelihatan rasa beratnya, namun dia melangkah pergi juga tanpa menoleh.

A Fei tetap diam saja, bahkan tidak menengadah untuk memandangnya. Sorot matanya yang dingin dan tajam itu seolah-olah timbul selapis kabut yang lembap.

Berapa orang di dunia ini yang dapat memandang budi kasih terlebih berat daripada sakit hati?

A Fei memejamkan matanya, seperti tertidur, tapi ujung matanya merembes keluar setitik air mata sehingga tampaknya serupa setetes embun yang membeku di atas batu karang.

Dia tidak menceritakan apa yang dialami Li Sun-hoan, sebab dia tidak ingin menyaksikan Thi Toan-kah mengadu jiwa bagi Li Sun-hoan, untuk ini ia sendiri yang akan membela Li Sun-hoan dengan mati-matian. Demi setia kawan, apa artinya selembar jiwa?

Makin terasa dingin di dalam ruangan rumah berhala ini, api unggun sudah padam, lantai batu sudah ada es beku, dan di situlah A Fei masih berduduk.

Meski tipis baju yang dipakainya, namun api dalam hatinya justru berkobar. Api yang tidak pernah padam.

Justru lantaran di dalam hati sementara manusia masih menyala api semacam ini, maka dunia ini tidak sampai tenggelam dalam kegelapan, lelaki yang berdarah panas juga takkan kesepian untuk selamanya.

Entah sudah berapa lama lagi, sinar sang surya pagi perlahan mengantar datang sesosok bayangan orang, bayangan yang memanjang dan menutupi muka A Fei.

Anak muda ini tidak membuka matanya, ia cuma tanya, “Apakah kau? Ada beritanya?”

Kepekaan pancaindra anak muda ini ternyata terlebih tajam daripada binatang buas sekalipun. Yang datang ternyata benar Lim Sian-ji adanya. Mukanya tampak kemerahan karena senangnya, dengan napas agak terengah ia menjawab, “Ya, kubawa berita baik.”

“Berita baik?” A Fei menegas, ia hampir tidak percaya di dunia ini masih ada berita baik baginya.

Maka Sian-ji bertutur, “Meski untuk sementara dia tak dapat lolos, setidak-tidaknya sudah terhindar dari bahaya.”

“Oo?” A Fei sangat tertarik.

“Sebab Dian Jit dan lain-lain terpaksa harus menuruti pendirian Sim-bi Taysu yang memutuskan hendak mengirim dia ke Siau-lim-si,” tutur Sian-ji lebih lanjut. “Ketua Siau-lim-pay, Sim-oh Taysu, terkenal saleh dan berbudi luhur. Kabarnya Pek-hiau-sing dari Pengkang saat ini juga berada di Siau-lim-si, jika kedua orang ini tidak dapat mencuci bersih kejahatan yang dituduhkan kepadanya, maka orang lain lebih-lebih tidak mampu lagi.”

“Pek-hiau-sing, orang macam apakah Pek-hiau-sing!” tanya A Fei.

Sian-ji tertawa dan bertutur pula, “Orang ini adalah mahatahu nomor satu di dunia, dia serbamengerti dan segala paham. Bahkan katanya cuma dia saja yang dapat membedakan tulen atau palsunya Bwe-hoa-cat.”

A Fei termenung sejenak, mendadak ia membuka mata, katanya sambil melototi Liu Sian-ji. “Apakah kau tahu orang macam apakah yang paling menjemukan di dunia ini?”

Sian-ji seperti tidak berani beradu pandang dengan sorot matanya yang tajam itu, dia mengerling ke arah lain dan menjawab, “Jangan-jangan yang kau maksud adalah lelaki munafik semacam Tio Cing-ngo itu?”

“Lelaki munafik memang menggemaskan, tapi manusia sok serbatahu juga menjemukan.”

“Sok serbatahu? Apakah kau maksudkan Pek-hiau-sing?” tanya Sian-ji.

“Betul,” jawab A Fei. “Orang semacam ini sok pintar sendiri, menganggap dirinya lain daripada yang lain dan serbamengerti, cukup berdasarkan sepatah katanya saja dapat menentukan nasib orang lain. Padahal berapa banyak urusan yang benar-benar dipahaminya?”

“Tapi orang lain sama bilang ….”

“Huh, justru orang lain sama bilang dia tahu segalanya, akhirnya dia terpaksa harus menipu dirinya sendiri juga dan menganggap dirinya memang serbatahu,” jengek A Fei.

“Engkau tidak … tidak percaya padanya?” tanya Sian-ji.

“Aku lebih suka percaya kepada seorang yang tidak tahu apa-apa.”

Sian-ji tertawa, “Caramu bicara sungguh menarik. Jika aku bisa lebih sering bercakap-cakap denganmu, tentu aku akan berubah menjadi lebih pintar.”

Seorang kalau ingin orang lain berkesan baik padanya, jalan yang paling tepat adalah berusaha orang lain mengetahui dirinya sangat suka padanya. Cara ini entah sudah berapa kali dilaksanakan oleh Lim Sian-ji.

Tapi sekali ini dia gagal, sebab pada hakikatnya A Fei seperti tidak mendengar apa yang diucapkannya, anak muda itu berbangkit dan menuju ke depan pintu, dipandangnya salju yang tertimbun di luar sambil termangu-mangu, sejenak kemudian barulah ia tanya dengan suara berat, “Bilakah mereka hendak berangkat?”

“Pagi esok,” tutur Sian-ji.

“Mengapa perlu tunggu sampai esok?”

“Sebab malam ini mereka hendak menjamu Sim-bi Taysu sebagai tanda selamat jalan.”

Mendadak A Fei berpaling kembali dan melototi Sian-ji dengan sinar mata gemerdep. “Kecuali itu, apakah tidak ada alasan lain lagi?”

“Kenapa harus pakai alasan lain lagi?”

“Sebab tidak nanti Sim-bi Taysu membuang waktu sehari hanya karena untuk makan saja.”

“Betul juga ucapanmu,” ujar Sian-ji. “Sim-bi Taysu tidak segera berangkat, tapi tinggal di sini untuk makan, sebab dalam perjamuan nanti akan hadir pula seorang tamu khusus.”

“Oo? Siapa dia?” tanya A Fei.

“Thi-tiok Siansing.”

“Thi-tiok Siansing? Siapa pula dia?”

Sian-ji terbelalak seperti sangat terkejut, “Masa Thi-tiok Siansing saja tidak kau kenal?”

“Kenapa aku harus kenal dia?” jawab A Fei tak acuh.

Sian-ji menghela napas, “Sebab Thi-tiok Siansing ini meskipun bukan tokoh yang paling ternama di dunia Kangouw sekarang, sedikitnya dia terhitung tokoh terkemuka.”

“Oo?!” A Fei merasa tidak mengerti.

Maka Sian-ji menyambung pula, “Konon tinggi ilmu silat orang ini sudah tidak di bawah ketua ketujuh perguruan besar dunia persilatan saat ini.”

A Fei mendengus, “Tokoh dunia persilatan terkemuka juga sudah banyak yang kulihat.”

“Tapi orang ini berbeda dengan yang lain,” ujar Sian-ji. “Dia pasti bukan tokoh yang bernama kosong, selain ilmu silatnya tinggi, senjata andalannya, yaitu sebatang Thi-tiok (seruling besi), di dalam seruling besi itu tersembunyi 13 biji paku sambar nyawa yang khusus digunakan menyerang Hiat-to, dia terhitung jago Tiam-hiat nomor satu dalam Bu-lim sekarang.”

Sembari bicara ia terus memerhatikan perubahan air muka anak muda itu. Tapi sekali ini kembali A Fei membuatnya kecewa.

Sama sekali air muka A Fei tidak memperlihatkan rasa kejut atau kagum, dia malah tertawa dan berkata, “Aha, rupanya mereka sengaja mendatangkan tuan seruling besi (Thi-tiok Siansing) ini untuk menghadapi diriku.”

Sian-ji tampak sedih, katanya, “Cara bekerja Sim-bi Taysu biasanya sangat cermat, dia, khawatir ….”

“Dia khawatir kupergi menolong Li Sun-hoan, maka didatangkannya Thi-tiok Siansing sebagai pengawal,” tukas A Fei.

“Biarpun mereka tidak mencarinya, Thi-tiok Siansing pasti juga akan datang kemari.”

“Sebab apa?” tanya A Fei.

“Sebab gundik kesayangan Thi-tiok Siansing juga menjadi korban keganasan Bwe-hoa-cat.”

Mencorong sinar mata A Fei, ia pandang tangkai pedang yang terselip pada ikat pinggangnya, tanyanya perlahan, “Bilakah dia akan sampai di sini?”

“Kabarnya dia akan hadir pada jamuan makan malam nanti.”

“Jika begitu, bisa jadi sehabis makan malam mereka akan terus berangkat.”

Sian-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Ya, bisa jadi ….”

“Bisa jadi juga mereka takkan berangkat untuk selamanya,” potong A Fei.

“Takkan berangkat untuk selamanya? Memangnya kenapa?” tanya Sian-ji.

Dengan sekata demi sekata A Fei menjawab, “Bilamana istriku mati di tangan seorang, tidak nanti kubiarkan orang itu pergi ke Siau-lim-si dalam keadaan hidup.”

Tergerak hati Sian-ji, “Jadi kau khawatir kedatangan Thi-tiok Siansing akan segera turun tangan keji terhadap Li Sun-hoan?”

“Ehm,” A Fei mengangguk.

Sian-ji melenggong sekian lamanya, kemudian menghela napas panjang dan berkata, “Ya, betul juga, memang mungkin terjadi begitu. Selamanya Thi-tiok Siansing tidak kenal ampun, biarpun Sim-bi Taysu juga tidak dapat mencegahnya.”

“Pembicaraanmu sudah habis, bolehlah kau pergi,” kata A Fei tiba-tiba.

“Tapi … tapi engkau apakah bermaksud menolong Li Sun-hoan lebih dulu sebelum Thi-tiok Siansing tiba di sini?”

“Apa kehendakku kan tiada sangkut pautnya denganmu? Nah, silakan pergi saja.”

“Tapi … tapi melulu tenagamu seorang pasti sukar menyelamatkan dia,” segera ia menyambung lagi sebelum A Fei bersuara, “Kutahu ilmu pedangmu sangat tinggi. Tapi Dian Jit dan lain-lain juga tidak lemah. Malahan Sim-bi Taysu terhitung jago nomor dua dari Siau-lim-pay, tenaga luar dalamnya sudah mencapai tingkatan yang sempurna.”

A Fei hanya memandangnya dengan dingin tanpa bicara apa pun.

Sian-ji menghela napas, “Saat ini tokoh terkemuka dunia persilatan boleh dikatakan sama berkumpul di Hin-hun-ceng sini, jika kau ingin menolong orang pada siang hari bolong, sungguh … sungguh ….”

“Sungguh gila, begitu bukan?” tukas A Fei mendadak.

Sian-ji menunduk, ia tidak berani beradu pandang dengan sinar matanya.

A Fei tertawa lagi, ucapnya, “Setiap orang ada kalanya bisa gila-gilaan terkadang hal ini pun bukan tindakan jelek.”

Sian-ji menunduk sambil memainkan ujung bajunya, selang sekian lama, mendadak mencorong sinar matanya, katanya, “Ya, kupaham maksudmu.”

“Oo?” A Fei jadi melengak malah.

“Sebab orang lain sama tidak menduga engkau berani turun tangan pada siang hari, maka penjagaan mereka pasti tidak ketat. Apalagi semalam mereka baru sibuk semalam suntuk, bisa jadi mereka sama tidur siang ….”

“Sudah terlalu banyak kau bicara,” potong A Fei dengan hambar.

Sian-ji tersenyum, “Baik, biar kututup mulut saja. Tapi engkau … engkau tetap harus waspada, bila terjadi sesuatu, janganlah lupa di Hin-hun-ceng ini masih ada seorang penghuni yang utang jiwa padamu.”

*****

Senja pada musim dingin selalu datang terlebih dini daripada biasanya, belum lama lewat tengah hari, cuaca sudah mulai suram, tapi untuk menyalakan lampu terasa agak dini juga.

Bagi kebanyakan orang, pada waktu demikian ini adalah saat yang paling sunyi dalam sehari.

Sudah lebih dari satu jam A Fei menunggu di atas wuwungan di seberang Hin-hun-ceng sana.

Dia mendekam di sana, serupa seekor kucing yang berjaga di luar liang tikus. Dari kepala sampai ujung kaki tidak bergerak sedikit pun, hanya sinar matanya yang tajam senantiasa gemerdep.

Angin meniup kencang dan dingin serupa pisau menyayat badan. Tapi A Fei sama sekali tidak menghiraukannya. Sudah sejak berumur sepuluh tahun, karena ingin membunuh seekor rase, dia pernah mendekam di atas tanah salju tanpa bergerak selama dua-tiga jam.

Waktu itu dia harus bersabar demi perut yang kelaparan, kalau rase itu tidak berhasil ditangkapnya, bisa jadi dia akan mati kelaparan.

Bukan kesulitan besar bagi seorang yang menderita demi mempertahankan hidup selanjutnya. Sebaliknya kalau seorang menderita bagi kehidupan orang lain, inilah tindakan yang tidak gampang. Biasanya jarang yang sanggup melakukannya.

Pintu gerbang Hin-hun-ceng masih seperti biasanya, tidak pernah tertutup, tapi suasana sunyi, tidak kelihatan sesuatu kendaraan, juga jarang ada orang berlalu di situ.

Namun A Fei tidak menjadi lengah, kehidupan di hutan belukar telah mendidiknya menjadi peka dan waspada serupa binatang buas, setiap kali sebelum melakukan sesuatu sergapan, biasanya harus sabar menunggu dan menunggu sampai lama sekali.

Ia tahu, semakin lama menunggu dan semakin banyak melihat, semakin tak dapat berbuat kesalahan. Ia pun tahu, betapa kecilnya sesuatu kesalahan yang diperbuatnya bisa menjadi kesalahan yang fatal.

Dalam pada itu dilihatnya ada seorang sedang melangkah keluar dari Hin-hun-ceng, meski berjarak agak jauh, tapi A Fei dapat melihat jelas orang ini bermuka bopeng atau burik.

Dengan sendirinya tak tersangka olehnya bahwa si burik inilah ayah Lim Sian-ji. Hanya diduganya si burik ini pasti seorang hamba yang berkuasa di dalam perkampungan itu.

Sebab kalau seorang budak biasa, tentu takkan berlagak seperti si burik ini. Sebaliknya kalau bukan kaum hamba, tentu juga tidak perlu berlagak tuan besar. Maklum, biasanya mandor memang lebih besar lagaknya daripada tuannya.

Begitulah, dengan lagak tuan besar, Lim-toacongkoan (kepala rumah tangga Lim) ini sedang menuju ke rumah minum, tentunya dia ingin membual di sana. Tak terduga, baru saja ia membelok tikungan jalan sana, mendadak ujung pedang mengancam tenggorokannya.

A Fei tidak sudi menggunakan pedang terhadap orang begini, tapi bicara dengan pedang jauh lebih efektif daripada menggunakan mulut. Jelas ia pun tidak suku banyak omong dengan orang macam ini, maka dengan tegas ia mendengus, “Pendek kata, kutanya satu kalimat harus kau jawab satu kalimat. Kalau tidak kau jawab, segera kubunuh kau. Salah jawab juga kubunuh, Nah, paham?”

Si burik ingin mengangguk, tapi khawatir janggutnya terluka oleh pedang, maka sukar untuk bicara, hanya keringat dingin yang memenuhi dahinya.

“Ingin kutanya padamu, apakah Li Sun-hoan masih berada di dalam?” A Fei mulai bertanya.

“Iy … iya ….” sampai lama bibir si burik bergerak baru tercetus satu kata ini.

“Di mana?” tanya A Fei pula.

“Di … di gudang kayu, dek … dekat dapur!”

“Bawa aku ke sana!”

Si burik terkejut, “Mana … mana dapat kubawa engkau ke sana, aku … aku tidak berdaya ….”

“Kau pasti mempunyai akal,” jengek A Fei, pedangnya mendadak menyambar ke samping, “cret”, ujung pedang menancap dinding.

“Nah, kau pasti punya akal, bukan?” A Fei menegas pula dengan pandangan tajam.

“Iy … iya ….” gemertuk gigi si burik.

“Baik, sekarang putar balik ke sana, langsung pulang, jangan lupa, aku berada di belakangmu,” kata A Fei.

Cepat si burik memutar tubuh, tapi baru dua-tiga langkah, mendadak ia berucap dengan gemetar, “Tapi … tapi bajumu … biarlah jaket kulitku ini boleh … boleh Tuan pakai.”

Baju yang dipakai A Fei hanya sepotong baju kulit tipis dan sangat mencolok, maka gagasan yang baik juga bila si burik meminta A Fei memakai jaket kulitnya.

Banyak gagasan yang baik di dunia ini memang tercetus di bawah ancaman senjata.

Dan Lim-toacongkoan kita jelas bukan baru pertama kali ini membawa teman pulang ke rumah, maka seorang A Fei yang ikut di belakangnya tidak terlalu diperhatikan oleh kawanan centeng yang berjaga di depan pintu.

Gudang kayu memang tidak jauh letaknya dari dapur, sebaliknya letak dapur cukup jauh daripada rumah induk.

Melalui jalan kecil si burik membawa A Fei ke gudang kayu dan tidak kepergok seorang pun. Seumpama kepergok juga orang akan menyangka Lim-toacongkoan hendak mencari santapan ke dapur.

A Fei sendiri tidak menyangka urusan ini dapat berlangsung dengan lancar dan semudah ini.

Tertampak sebuah halaman kecil yang terpencil dan sebuah rumah kecil yang tersudut, pintunya sudah tua, tapi di luar telah ditambahi dua buah gembok yang besar dan kuat.

“Li-toaya terkurung di dalam rumah ini, silakan Tuan ….”

“Kukira kau pun tak berani berdusta padaku,” jengek A Fei sambil menatapnya dengan tajam.

“Masa … masa hamba berani bergurau dengan kepala sendiri?” cepat si burik menjawab dengan menyengir.

“Baik,” kata A Fei. Baru selesai ucapannya, tangannya membalik dan sekali jotos si burik terus roboh pingsan. Secepat terbang A Fei melompat ke sana, pintu didepaknya hingga terpentang.

Di luar pintu tidak ada penjaga, mungkin karena siapa pun tidak menyangka A Fei berani menolong tawanan pada siang hari, bisa juga semua orang ingin menggunakan kesempatan ini untuk tidur siang.

Gudang kayu ini hanya terdapat sebuah jendela yang sangat kecil sehingga merupakan sebuah penjara yang gelap, di kaki onggokan kayu yang tertumpuk tinggi meringkuk satu orang, entah sedang tidur atau pingsan.

Begitu melihat baju kulitnya itu seketika darah panas dalam rongga dada A Fei bergolak. Ia sendiri tidak mengerti mengapa bisa timbul rasa persahabatan sedalam ini terhadap orang ini.

Tanpa pikir ia melompat maju sambil berseru dengan suara parau, “Engkau ….”

Tak terduga, pada saat itu juga, dari bawah kulit berbulu itu mendadak menyambar sinar pedang, Secepat kilat sinar pedang menebas kedua kaki A Fei.

Kejadian ini sungguh sama sekali di luar dugaan, serangan pedang ini pun cepat luar biasa. Untung A Fei juga masih memegang pedang, gerak pedangnya ternyata lebih cepat, sukar dibayangkan cepatnya, meski lawan melakukan serangan lebih dulu, tapi pedang A Fei yang bergerak belakangan telah menyambar tiba lebih dulu pada sasarannya.

“Creng”, ujung pedang A Fei tepat menusuk batang pedang lawan. Seketika orang itu merasa tangan tergetar keras, pedang pun terpukul jatuh.

Orang itu pun tokoh kelas tinggi, meski menghadapi bahaya dia tidak menjadi panik, cepat ia menjatuhkan diri dan terguling jauh ke sana, habis itu baru dia perhatikan wajahnya, ternyata Yu Liong-sing adanya.

A Fei tidak kenal dia, juga tak dipandangnya lagi, segera ia hendak mundur keluar, meski cukup cepat mundurnya, tapi toh terlambat juga. Di luar pintu sudah siap toya rotan dan golok emas yang menutup jalan mundurnya. Mereka ialah Dian Jit dan Tio Cing-ngo.

Dan baru saja A Fei berhenti bergerak, terdengarlah suara gemuruh, tumpukan kayu yang membukit itu mendadak berguguran dan muncul belasan orang, semuanya berseragam baju ringkas, memegang busur dengar panah yang siap dibidikkan ke arah A Fei.

Siapa pun juga, betapa pun tinggi Kungfunya jika terkurung oleh belasan pemanah tangguh jelas sangat sulit untuk meloloskan diri.

“Apa abamu sekarang?” tegur Dian Jit dengan tersenyum mengejek.

A Fei menghela napas, perlahan ia berduduk malah dan berkata, “Silakan turun tangan saja.”

“Haha, bagus Anda memang seorang yang dapat melihat gelagat, biarlah orang she Dian memenuhi kehendakmu!” seru Dian Jit sambil tergelak. Segera ia memberi tanda dan barisan panah segera berhamburan.

Pada saat yang sama, mendadak A Fei menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, tangan kirinya sempat menyambar pedang Yu Liong-sing yang jatuh tadi. Sekali pedang berputar, hujan panah itu sama tergetar mencelat. Berbareng itu A Fei terus berguling ke depan pintu.

Mendadak Tio Cing-ngo meraung murka, golok emasnya terus membacok.

Tak terduga belum lagi bacokan Tio Cing-ngo itu mengenai sasarannya, tahu-tahu sinar pedang menyambar lagi secepat kilat ke muka Tio Cing-ngo.

Sungguh kejut Tio Cing-ngo tak terkatakan, cepat ia hendak menangkis, namun sudah kasip. “Crit”, pedang sudah kena menusuk lehernya, darah muncrat keluar seperti air mancur.

Dalam pada itu Dian Jit menyurut mundur setengah langkah, menyusul toyanya lantas menyabet. Tapi pada saat itu A Fei telah melompat keluar pintu.

Dian Jit seperti hendak mengejar, tapi urung. Dilihatnya Tio Cing-ngo memegangi lehernya yang mengeluarkan suara “krak-krok”, ternyata dia tidak sampai putus napas.

Rupanya A Fei terburu-buru hendak menerjang keluar sehingga serangannya agak menceng satu-dua senti dan tepat menembus di antara jalan napas dan jalan makanan, tidak sampai mengenai bagian yang mematikan.

Dalam pada itu A Fei sudah melayang ke luar halaman, mendadak tangannya mengayun ke belakang, pedang tertimpuk ke arah Dian Jit. Mestinya Dian Jit hendak mengejar keluar, tapi cepat ia menyurut mundur lagi. “Crat”, pedang itu menancap di dinding.

Sampai sekarang barulah Yu Liong-sing menghela napas panjang, ucapnya, “Cepat amat cara turun tangan anak muda ini!”

Dian Jit tersenyum, katanya, “Nasibnya juga cukup mujur.”

“Mujur?” Yu Liong-sing tidak mengerti.

“Masa Siaucengcu tidak melihat tubuhnya telah terkena dua anak panah?” kata Dian Jit pula.

“Betul, kulihat dia putar pedang dengan tangan kiri dan di antara sinar pedang masih ada peluang, kuyakin dia pasti tidak mampu menangkis barisan panah Dian-jitya itu Anehnya, dia ternyata tidak terluka.”

“Hal ini disebabkan dia memakai Kim-si-kah,” ujar Dian Jit. “Perhitunganku sudah cermat, tapi tetap salah satu langkah ini. Kalau tidak, biarpun kepandaiannya setinggi langit juga jangan harap bisa lolos dari gudang kayu ini dengan hidup.”

Yu Liong-sing termangu memandangi pedang yang menancap di dinding, lalu menghela napas berat, ucapnya, “Hari ini mestinya dia tidak kemari, dan aku pun tidak perlu datang.”

Dian Jit tertawa, katanya, “Kalah menang adalah soal biasa di medan perang, kenapa Siaucengcu mesti kesal. Apalagi, biarpun keparat itu dapat menerobos rintangan kita ini, memangnya dia mampu lolos dari rintangan kedua?”

Betul juga, baru saja A Fei melayang keluar pintu sana, tiba-tiba didengarnya suara orang menyebut Buddha, suaranya lantang berkumandang dari berbagai penjuru.

Habis itu, tahu-tahu ia sudah terkepung oleh lima orang padri Siau-lim yang berjubah kelabu.

Kelima padri ini sama merangkap kedua tangannya di depan dada, sikapnya kereng, gerakannya enteng tapi mantap, begitu berdiri lantas tegak dan kukuh seperti gunung.

Padri yang mengepalai kelima orang ini beralis putih dan berjenggot panjang, kereng dan berwibawa, tangan kiri memegang segandeng tasbih, dia inilah padri sakti Siau-lim-si yang terkenal.

A Fei menyapu pandang sekejap kelima padri itu, sikapnya tenang tanpa gentar, ucapnya dengan tegas, “Kaum padri ternyata juga bisa main sergap.”

“Sama sekali tidak ada maksud kami hendak main sergap, janganlah Sicu bersilat lidah, bersilat lidah hanya akan menyakiti hati, takkan melukai orang, sebaliknya bisa melukai diri sendiri.”

Kalem saja padri agung itu bicara, tapi bagi pendengaran A Fei, setiap katanya mendengung seperti bunyi genta di tepi telinga.

“Agaknya cara Hwesio bersilat lidah juga tidak kurang tajam daripadaku,” jengek A Fei sembari bicara, segera ia pun menerobos miring ke sana.

Ia tahu bilamana dirinya mengapung ke atas, bagian kaki pasti akan memberi peluang kepada lawan untuk menyerangnya Sebab itulah ia harus menyelinap lewat melalui celah-celah dua orang di sebelahnya.

Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak, sekonyong-konyong kawanan padri Siau-lim-si itu pun bergerak cepat mengitar di sekelilingnya. Ketika ia berhenti, serentak kawanan padri itu pun berhenti.

“Orang beragama tidak suka main bunuh, Sicu membawa pedang, gerak kakimu juga cepat, asalkan engkau sanggup menerobos keluar dari barisan Lo-han-tin yang kecil ini, segera kami mengaku kalah dan akan mengantar kepergianmu dengan hormat,” demikian Sim-bi Taysu berucap.

A Fei menarik napas dalam-dalam, tapi tubuhnya tidak bergerak. Dapat dilihatnya Kungfu kawanan padri Siau-lim-si ini sangat tinggi, bahkan bekerja sama dengan sangat rapat, boleh dikatakan air saja tak dapat menembusnya.

Pada waktu kecil A Fei pernah melihat seekor bangau besar terkurung oleh seekor ular sanca, walaupun patuk bangau itu cukup tajam, tapi sebegitu jauh tidak berani menyerang lebih dulu.

Waktu itu A Fei sangat heran, kemudian baru diketahuinya bahwa bangau cukup kenal sifat ular. Setelah ular sanca itu melingkari si bangau, kepala dan ekornya saling berjaga laksana pukulan guntur dan sambaran kilat, bilamana bangau mematuk kepala ular, kedua kakinya tentu akan dibelit oleh ular, jika dia mematuk ekor ular, tentu kepala ular akan memagutnya juga.

Sebab itulah si bangau hanya berdiri saja tanpa bergerak, ditunggunya ular sanca tidak sabar lagi dan melancarkan serangan, maka secepat kilat dipatuknya leher ular.

Semalaman A Fei mengintai pertarungan menarik itu di atas pohon, dari situlah dipahaminya siasat “kepala dan ekor saling membantu” yang merupakan kunci strategi militer, kalau ditambah lagi siasat “mengatasi gerakan dengan ketenangan”, tentu akan lebih yakin lagi akan menang.

Penemuan masa kecil itu tidak pernah dilupakan A Fei. Sebab itulah ketika kawanan padri Siau-lim-si itu tidak bergerak, sedikit pun dia juga tidak bergerak.

Sebaliknya Sim-bi Taysu menjadi kurang sabar, ia menegur, “Apakah Sicu menyerah untuk diringkus?”

“Tidak,” jawab A Fei. Selamanya dia bicara cekak aos, tidak suka bertele-tele, tidak mau memboroskan satu kata pun.

“Jika tidak menyerah, kenapa tidak pergi?” kata Sim-bi Taysu pula.

“Engkau tidak membunuhku, aku pun tidak membunuhmu, dan kalau tidak kubunuh engkau, sukar bagiku untuk menerjang keluar,” jawab A Fei.

Sim-bi tertawa hambar, “Apabila Sicu mampu membunuhku, mati pun padri tua takkan menyesal.”

“Baik,” ucap A Fei, dan dia mulai bergerak. Sekali bergerak lantas secepat kilat. Tertampak sinar pedang berkelebat, langsung menutuk tenggorokan Sim-bi Taysu.

Pada saat yang hampir sama, serentak kawanan Hwesio Siau-lim-si juga bergerak, delapan telapak tangan sama menghantam ke arah A Fei.

Tak terduga, baru saja pedang A Fei menusuk, gerak tubuhnya mendadak berubah, sukar untuk diketahui cara bagaimana dia menggeser langkah, tahu-tahu dia berubah arah. Pedang yang jelas kelihatan menusuk Sim-bi Taysu juga mendadak berganti sasaran sehingga tangan keempat Hwesio Siau-lim-si itu seolah-olah sengaja disodorkan untuk ditusuk pedang.

“Bagus!” ucap Sim-bi Taysu dengan suara tertahan. Dan begitu bersuara, lengan bajunya lantas mengebas, angin kencang menyambar setajam sembilu, serangan ini memaksa A Fei harus menyelamatkan diri lebih dulu.

Dengan begitu, meski keempat Hwesio itu menghadapi bahaya, mereka tidak perlu berusaha menyelamatkan diri, di sinilah letak kehebatan kerja sama Lo-han-tin yang terkenal dari Siau-lim-si.

Di luar dugaan, pada saat itu juga arah pedang A Fei mendadak berubah lagi, arah yang ditusuk semula ke timur, mendadak berubah menjadi menusuk ke barat.

Padahal yang berubah bukankah arah serangan pedangnya melainkan langkahnya. Karena cepatnya sehingga sukar dibayangkan orang bahwa di dunia ini terdapat kaki segesit ini.

“Bret”, tahu-tahu lengan baju Sim-bi Taysu tertusuk robek. Menyusul sinar pedang berubah menjadi selarik cahaya pelangi, orang dan pedangnya seolah-olah terlebur menjadi satu, tahu-tahu A Fei sudah menerjang keluar kepungan.

Dengan menyerempet bahaya beruntung usaha A Fei berhasil dengan baik, tapi ia pun lupa, dengan begitu bagian punggungnya lantas memberi peluang bagi musuh untuk menyerang.

“Jangan tergesa-gesa, Sicu, selamat jalan!” terdengar Sim-bi Taysu berseru, kontan A Fei merasa ditumbuk oleh suatu arus tenaga yang kuat, punggungnya terhantam seperti dipalu, meski dia memakai Kim-si-kah, baju kutang yang kebal, tidak urung dada juga terasa panas dan napas sesak.

Seketika tubuhnya melayang lebih jauh ke depan seperti layang-layang putus.

“Kejar!” salah seorang Hwesio Siau-lim-si itu berseru.

“Tidak perlu,” kata Sim-bi Taysu.

“Takkan jauh dia kabur, mengapa Susiok melepaskan dia?” ujar Hwesio muda itu.

“Jika dia tak dapat kabur jauh, untuk apa mengejarnya?” ujar Sim-bi.

Hwesio muda itu berpikir sejenak, lalu tersenyum dan berucap, “Ya, perkataan Susiok memang betul.”

Sambil memandangi arah lari A Fei, perlahan Sim-bi Taysu bergumam, “Orang beragama mengutamakan welas asih, jika tidak perlu melukai orang memang lebih baik tidak.”

Dari jauh Dian Jit menyaksikan semua itu, mendadak ia pun tertawa dan bergumam, “Alangkah welas asihnya orang beragama, jika ada orang lain mau membunuh baginya, lebih baik dia sendiri tidak perlu turun tangan.”

Dalam pada itu A Fei sedang melayang ke depan. Tenaga pukulan Sim-bi Taysu sungguh luar biasa dahsyatnya, setelah melintasi dua wuwungan rumah barulah A Fei dapat menahan diri. Waktu dia hendak melompat ke depan lagi barulah diketahui dia sudah terluka dalam. Namun sedikit luka ini ia percaya masih sanggup bertahan.

Gemblengan sejak kecil dan kehidupan yang sulit menjadikan dia seorang yang tidak gampang roboh, tubuhnya hampir serupa gemblengan baja.

Senja tambah kelam, seputar tak tampak bayangan orang, tapi di atas setiap pohon, di balik setiap wuwungan rumah, setiap pojok, selalu ada kemungkinan menunggu musuh yang akan menyergapnya.

Bahwa A Fei dapat lolos, ini sudah beruntung baginya. Selama ini, hampir jarang terjadi ada orang mampu membobol kepungan Lo-han-tin Siau-lim-si yang dipimpin sendiri oleh tokoh kedua perguruan ternama itu.

Akan tetapi A Fei tidak bermaksud kabur. Jika satu pekerjaan belum berhasil dilaksanakan, tidak nanti ia tinggalkan setengah jalan.

Ke manakah Dian Jit dan begundalnya menyembunyikan Li Sun-hoan?

Setajam mata elang A Fei terus mencari sekitarnya, segesit kucing ia melayang turun dan menyusup ke taman belakang. Tubuh seorang di atas wuwungan terlalu mencolok, di dalam taman justru banyak tempat sembunyi yang baik.

Sekonyong-konyong didengarnya suara tertawa orang. Suara tertawa itu tidak keras, tapi jaraknya sangat dekat, seperti berada di sampingnya. Waktu ia berpaling baru diketahui jarak orang yang tertawa itu cukup jauh.

Beberapa tombak di sebelah sana ada sebuah gardu pemandangan dan orang itu berduduk di dalam gardu, sedang membaca sambil bersandar pada langkan, asyik benar membacanya sehingga seperti sama sekali tidak memerhatikan urusan lain.

Orang itu memakai baju lapis kapas yang sudah tua, mukanya kurus kuning, jenggotnya jarang-jarang, serupa seorang pak guru yang kurang vitamin.

Tapi tertawa seorang pak guru kurus tentu takkan dirasakan orang seperti orang tertawa di sampingnya kecuali ahli Kungfu yang memiliki tenaga dalam yang sempurna.

A Fei menghentikan langkahnya dan memandangnya dengan tenang.

Pak guru itu seolah-olah tidak melihat A Fei, jarinya dibasahi dengan air ludah, lalu membalik halaman buku dan masih terus membaca dengan asyiknya.

Selangkah demi selangkah A Fei mundur ke belakang, setelah belasan langkah, dengan cepat ia membalik tubuh dan sekaligus melayang tiga tombak ke sana, tanpa menoleh lagi ia melompat pula dua-tiga kali dan menyelinap masuk ke hutan Bwe (sakura). Bunga sakura sedang mekar mewangi.

A Fei menarik napas panjang-panjang, ditahannya darah yang hampir tersembur dari kerongkongannya. Ia merasa luka sendiri jauh lebih berat daripada dugaannya semula, karena mengeluarkan tenaga lagi, darah lantas hampir tumpah, rasanya sukar untuk bergebrak lagi dengan orang.

Akan tetapi pada saat itu jaga, sekonyong-konyong terdengar suara seruling bergema mengalun angkasa, bunga salju yang berada di ranting pohon sama berguguran menjatuhi tubuh A Fei.

Di tengah berhamburnya bunga salju, terlihat seorang sedang meniup seruling dengan bersandar pada pohon Bwe di depan sana, seorang tua berbaju kapas tebal, jelas si pak guru yang asyik membaca tadi.

Suara seruling dari melengking tinggi mulai berubah rendah, menjadi sendu dan mengharukan.

Sekarang A Fei tidak kabur lagi, ia pandang orang dengan tajam, lalu berucap sekata demi sekata, “Thi-tiok Siansing!”

Seketika suara seruling berhenti.

Orang itu memang betul Thi-tiok Siansing, si seruling besi.

Dia menengadah, sorot matanya gemerdep, dalam sekejap saja si pak guru yang kelihatannya loyo kurang vitamin itu seketika seperti berubah lebih muda belasan tahun.

Ia pandang A Fei sekian lamanya, tiba-tiba berkata, “Kau terluka?”

Melengak juga A Fei, diam-diam ia mengakui betapa tajamnya pandangan orang.

“Terluka pada bagian punggung?” tanya pula Thi-tiok Siansing.

“Kalau sudah tahu, untuk apa pula bertanya?” jawab A Fei.

“Sim-bi Hwesio yang menyerangmu?”

A Fei hanya mendengus saja.

Thi-tiok Siansing tertawa sambil menggeleng kepala, katanya, “Tokoh Siau-lim-si ternyata juga cuma begitu saja.”

“Cuma begitu apa?” tanya A Fei.

“Dengan kedudukannya, sepantasnya dia tidak menyerang orang dari belakang. Dan kalau sudah dapat melukaimu, seharusnya tidak melepaskan dirimu dengan hidup sehingga datang ke depanku.” Tiba-tiba Thi-tiok Siansing tertawa, lalu bergumam, “Jangan-jangan Hwesio tua ini sengaja hendak ‘pinjam golok untuk membunuh orang’?”

A Fei berkata, “Ingin kuberi tahukan tiga hal padamu. Pertama, kalau tidak menyerang dari belakang, pada hakikatnya dia tidak dapat menyerang diriku. Kedua, biarpun dia dapat menyerang pasti juga tak dapat membunuhku. Ketiga, kau pun lebih-lebih tidak dapat membunuhku.”

“Hahaha!” Thi-tiok Siansing bergelak tertawa, “Besar amat suaramu, anak muda!”

Dan begitu berhenti suara tertawanya, dengan bengis ia berkata, “Setelah kau terluka, mestinya aku tidak mau turun tangan. Tapi cara bicaramu terlalu sok, betapa pun harus kuhajar adat padamu.”

A Fei merasa sudah bicara terlalu banyak, ia malas untuk berucap lagi.

“Mengingat kau sudah terluka, baiklah, aku akan mengalah tiga jurus padamu,” kata Thi-tiok Siansing.

Tiba-tiba A Fei tertawa sambil mengembalikan pedang pada ikat pinggangnya, lalu membalik tubuh dan melangkah pergi.

Mendadak Thi-tiok Siansing tertawa panjang ambil melayang ke udara, lengan baju terbentang, serupa elang saja ia hinggap di depan A Fei, bentaknya, “Setelah bertemu denganku, kau ingin pergi lagi?”

Tanpa meliriknya A Fei menjengek, “Jika aku tidak pergi, kau hendak mati!”

Thi-tiok Siansing tergelak, “Aku harus mati? Mungkin kau yang akan mati!”

“Tidak ada seorang pun mampu mengalah tiga urus padaku!” ucap A Fei.

“Maksudmu, bila kuberi tiga jurus padamu aku pasti mati?” jengek Thi-tiok Siansing.

A Fei tidak bicara lagi, ia berpaling ke sini dan menatap orang. Seketika Thi-tiok Siansing merasa hawa dingin timbul dari lubuk hatinya.

Thi-tiok Siansing adalah tokoh terkemuka yang disegani, keberhasilannya itu bukan secara kebetulan, tapi memang mengandalkan Kungfu sejati dalam berbagai pertempuran, dalam setiap pertempuran selalu akan dihadapinya sepasang mata lawan.

Macam-macam bentuk mata sudah pernah dilihatnya, ada mata yang penuh rasa benci, murka dan ada juga sorot mata yang penuh mengandung rasa ketakutan dan mohon dikasihani.

Tapi sorot mata seperti A Fei sekarang belum pernah dilihatnya.

Sorot mata yang hampir tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, biji mata anak muda ini pun serupa buatan batu, kaku dan dingin.

Tanpa terasa Thi-tiok Siansing menyurut mundur setengah langkah.

Pada saat itulah pedang A Fei lantas bergerak. Dan sekali pedangnya menyerang tidak pernah meleset. Inilah keyakinan A Fei, serangan yang tidak pasti berhasil takkan dilakukannya.

Mendadak tubuh Thi-tiok Siansing mengapung ke atas, menjulang tinggi ke pucuk pohon, terdengar suara gemeresik, bunga salju dan bunga Bwe rontok bertebaran.

Putih salju dan merah bunga berpadu menjadi suatu pemandangan yang menakjubkan, dipandang dari bawah, Thi-tiok Siansing seakan-akan sedang menari di udara di tengah berhamburnya salju dan bunga Bwe.

Sama sekali A Fei tidak mendongak, pedang sudah disimpannya kembali.

Thi-tiok Siansing juga lantas melayang turun, sedemikian lambat turunnya sehingga mirip layangan yang tidak mendapatkan angin, selagi tubuhnya masih terapung, di atas tanah salju sudah berlumuran darah segar.

A Fei memandang darah yang memenuhi tanah itu, katanya perlahan, “Tidak ada orang yang mampu memberi tiga jurus serangan padaku. Satu jurus saja tidak dapat!”

Thi-tiok Siansing bersandar pada pohon Bwe dengan napas terengah. Mukanya pucat pasi, di bawah leher, di atas dada, penuh berlepotan darah.

Seruling besinya yang termasyhur dan disegani sama sekali tidak sempat digunakan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: