Pendekar Budiman: Bagian 08

Pendekar Budiman: Bagian 08
Oleh Gu Long

“Tapi kau pun tidak mati sebab kau benar telah mengalah tiga jurus padaku dan tidak ingkar janji,” kata A Fei pula. Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung, “Sedikitnya engkau terlebih hebat daripada Sim-bi Hwesio.”

Seperti diketahui, Sim-bi menyatakan takkan melukai A Fei asalkan anak muda itu mampu menerjang keluar kepungan Lo-han-tin, tapi akhirnya A Fei toh dilukainya juga. Pelajaran ini takkan dilupakan A Fei untuk selamanya.

Dengan napas tersengal tiba-tiba Thi-tiok Siansing berkata, “Dan masih ada dua jurus lagi.”

“Masih ada dua jurus lagi?” A Fei menegas dengan heran.

Sekuatnya Thi-tiok Siansing menahan rasa sakitnya dan menjawab, “Ya, bukankah kuberi tiga jurus serangan padamu dan engkau baru menyerang satu kali.”

Sekali lagi A Fei membalik tubuh dan menatapnya lekat-lekat, sampai lama sekali baru dia berkata, “Baik!”

Perlahan tangannya lantas memukul lagi dua kali di dada Thi-tiok Siansing, katanya, “Sekarang sudah genap tiga jurus….”

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara “cring” yang ramai, berpuluh bintik perak menyambar keluar dari seruling besi yang dipegang Thi-tiok Siansing.

Sekuatnya A Fei berjumpalitan ke belakang hingga lebih dua tombak jauhnya, waktu turun ke bawah, ia tidak sanggup berdiri tegak lagi, kaki terasa lemas dan terduduk.

Air muka Thi-tiok Siansing yang pucat itu timbul cahaya merah, ucapnya dengan napas terengah, “Hari ini dapat kubelajar sesuatu hal, yakni tidak boleh sok memberi tiga jurus serangan kepada orang. Engkau juga mendapat satu pelajaran, yaitu, bilamana mau menyerang, harus sekali serang membuat roboh lawan, kalau tidak, lebih baik jangan kau serang.”

A Fei mengertak gigi sambil memandang bintik perak yang menancap pada kakinya, ucapnya sekata demi sekata, “Ya, kejadian ini pasti takkan kulupakan.”

“Baiklah, boleh kau pergi!” ujar Thi-tiok Siansing.

Belum lagi A Fei bicara, terdengar suara orang berlari datang. Suara seorang sedang berseru, “Thi-locianpwe, apakah engkau berhasil?”

“Lekas pergi!” desis Thi-tiok Siansing. “Aku tidak sanggup lagi membunuhmu, tapi juga tidak ingin kau mati dibunuh orang lain.”

Segera A Fei menjatuhkan diri dan menggelinding beberapa tombak ke sana. Meski kakinya tidak dapat berjalan, tapi kedua tangannya masih sangat kuat.

Namun ia pun tahu dirinya takkan jauh, tanah bersalju yang putih itulah merupakan maut baginya, betapa pun ia tidak sanggup menghapus jejaknya sendiri yang tertinggal di atas salju.

Cepat atau lambat Dian Jit dan begundalnya pasti akan menyusulnya. Apalagi sekarang dirasakannya darah bergolak dalam rongga dadanya, meski dia bertahan sekuatnya, akhirnya darah pasti juga akan tertumpah ke luar.

Tanpa dikejar musuh juga dia merasa takkan tahan lama, ia hanya berharap dapat bertemu dengan Li Sun-hoan untuk penghabisan kalinya, untuk memberitahukan kepadanya bahwa dia telah berusaha sepenuh tenaganya.

Pada saat itulah sesosok bayangan telah menubruk ke arahnya….

*****

Di dalam rumah itu hanya menyala sebatang lilin.

Cahaya lilin menyinari wajah Li Sun-hoan yang pucat bersemu merah penyakit, dia terbatuk-batuk tiada berhenti, hampir saja tidak dapat bernapas lagi.

Liong Siau-hun memandangnya dengan diam, ditunggunya setelah batuknya mereda barulah disodorkannya secawan arak ke tepi mulutnya dan dituangkan perlahan ke dalam mulutnya.

Habis minum secawan arak, tertawalah Sun-hoan, katanya, “Toako, coba lihat, setetes saja tidak tercecer. Biarpun aku digantung terjungkir, jika ada orang melolohi aku minum arak, pasti juga takkan tercecer setitik pun.”

Liong Siau-hun ingin tertawa, tapi urung, ucapnya dengan sedih, “Mengapa tidak kau biarkan kubuka Hiat-tomu yang tertutuk?”

Sun-hoan tertawa, jawabnya, “Aku ini seorang yang tidak tahan godaan, bilamana kau buka Hiat-toku, bisa jadi segera kukabur.”

“Sekarang mereka tidak… tidak berada di sini, jika… jika kau mau….”

Cepat Sun-hoan memotong ucapan Siau-hun, “Toako, masa sampai saat ini belum lagi kau paham maksudku?”

“Kupaham,” ujar Siau-hun dengan menyesal, “cuma….”

“Ah, kutahu apa yang hendak kau katakan lagi,” tukas Sun-hoan dengan tertawa. “Namun sesungguhnya engkau tidak berbuat salah apa pun padaku. Kau pindahkan diriku ke sini dari gudang kayu yang pengap itu, apalagi kau sediakan arak pula bagiku, semua ini kurasakan tidaklah sia-sia persaudaraan kita selama ini.”

Siau-hun menunduk dan terdiam sampai lama, ucapnya kemudian dengan rawan, “Dan besok… besok juga engkau akan pergi, aku….”

“Jangan sekali-kali kau antar keberangkatanku,” tukas Sun-hoan, “Selamanya aku tidak suka diantar juga tidak suka mengantar. Sebab terasa muak bilamana kulihat orang yang mengantar itu bermuka sedih seperti kematian ibunda sayang.”

Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung pula, “Pula kepergianku ini juga takkan lama, bisa jadi cuma beberapa hari saja akan kembali lagi ke sini.”

Pada saat itulah mendadak seorang menyambung, “Jelas kalian tahu kepergiannya ini pasti takkan kembali lagi untuk selamanya, mengapa kalian masih juga menipu dirinya sendiri.”

Perlahan tampak Lim Si-im melangkah masuk, wajahnya yang cantik kelihatan sudah banyak lebih kurus lagi.

Sorot mata Sun-hoan lantas menampilkan rasa pedih, namun sedapatnya dia tertawa dan berkata, “Kenapa aku takkan kembali lagi? Kalian adalah sahabatku yang paling baik, aku tentu….”

Si-im tidak membiarkan dia menyelesaikan ucapannya, dengan ketus ia memotong, “Siapa sahabat baikmu? Di sini pada hakikatnya tidak ada sahabatmu.”

Mendadak ia menuding Liong Siau-hun dan berkata pula, “Memangnya kau kira dia sahabatmu? Jika dia sahabatmu, tentu dia melepaskan kau pergi dengan segera.”

Cepat Siau-hun menjelaskan, “Namun dia tidak….”

“Dia tidak mau pergi, sebab dia takut membikin susah padamu,” tukas Si-im. “Tapi mengapa tidak kau lepaskan dia? Pergi atau tidak adalah urusannya, melepaskan dia atau tidak adalah urusanmu.”

Tanpa menunggu jawaban Siau-hun, segera ia berlari pergi tanpa menoleh.

Serentak Siau-hun berdiri dan berseru dengan suara parau, “Ucapannya memang betul, apakah kau mau pergi atau tidak harus kubebaskan dirimu.”

Mendadak Sun-hoan bergelak tertawa.

Siau-hun melengak, tanyanya kemudian, “Apa… apa yang kau tertawakan?”

“Bilakah kau tunduk kepada perintah orang perempuan?” seru Sun-hoan. “Liong Siau-hun yang menjadi sahabatku adalah seorang lelaki sejati, seorang jantan, bukan pengecut yang takut bini.”

Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, air mata pun bercucuran, katanya dengan terputus-putus, “Saudaraku, engkau… engkau teramat baik padaku, sungguh… sungguh aku tidak tahu cara bagaimana membalas kebaikanmu.”

“Justru ada suatu urusan ingin kuminta pertolonganmu,” kata Sun-hoan tiba-tiba.

Serentak Siau-hun memegang pundak Sun-hoan dan berseru, “Urusan apa? Katakan saja, lekas katakan!”

“A Fei, pemuda yang datang kemarin itu, tentunya Toako masih ingat padanya?”

“Tentu saja ingat,” sahut Siau-hun.

“Bila dia mengalami sesuatu bahaya, kumohon Toako suka membantunya.”

Perlahan Siau-hun mengendurkan pegangannya, lalu menghela napas panjang, ucapnya, “Dalam keadaan demikian masih juga kau pikirkan dia, masa tidak pernah kau pikirkan dirimu sendiri?”

“Aku cuma ingin jawabanmu, menyanggupi tidak permintaanku?” tanya Sun-hoan.

“Tentu saja kuterima permintaanmu,” jawab Siau-hun. “Cuma, mungkin takkan kutemui dia lagi.”

Sun-hoan melengak, “Sebab apa? Masakah dia….”

“Kan kau lihat sendiri dia telah pergi kemarin, mana bisa dia datang lagi?” ujar Siau-hun dengan tertawa.

Sun-hoan menghela napas, katanya, “Aku pun berharap dia jangan datang lagi. Cuma, dia pasti akan datang pula.”

“Jika dia akan datang menolongmu, mengapa sampai saat ini belum tampak muncul?” ujar Siau-hun, ia menghela napas gegetun, lalu menyambung, “Saudaraku, engkau selalu berbudi luhur kepada orang lain. Tapi, orang lain belum tentu berbuat sama terhadapmu.”

Sun-hoan tertawa, “Cara bagaimana dia terhadapku adalah urusannya, namun tetap kuminta kepada Toako, selanjutnya bilamana kau lihat dia di mana pun, janganlah kau lupa bahwa dia adalah sahabatku.”

“Baik, sahabatmu juga sama dengan sahabatku,” jawab Siau-hun.

Pada saat itu tiba-tiba ada orang memanggil di luar sana, “Liong-siya… Liong-siya!”

Siau-hun berbangkit, tapi lantas berduduk pula dan berkata, “Saudaraku, engkau….”

Sun-hoan tertawa, “Arak pun sudah cukup kuminum, silakan kau pergi saja. Cuma harus selalu kau ingat, janganlah esok pagi kau ikut mengantar kepergianku.”

Perlahan Siau-hun melangkah pergi, tapi begitu keluar pintu, seketika langkahnya dipercepat. Dilihatnya Dian Jit berdiri di bawah bayang-bayang pohon sana dan sedang menggapai padanya.

Dengan langkah cepat ia mendekat ke sana, tanyanya dengan suara tertahan, “Bagaimana, berhasil?”

“Tidak,” jawab Dian Jit.

Berubah air muka Liong Siau-hun, “Tidak berhasil? Kalian belasan orang, ditambah Sim-bi Taysu dan Thi-tiok Siansing, masa tidak mampu menghadapi seorang anak muda?”

“Tapi anak muda ini benar-benar teramat lihai,” ujar Dian Jit sambil menyengir. “Bahkan boleh dikatakan rada menakutkan. Mendingan cuma Tio-lotoa saja yang dilukainya, sekarang Thi-tiok Siansing juga terluka oleh pedangnya.”

Berulang-ulang Liong Siau-hun mengentak kaki, katanya, “Memang sudah kuduga bocah itu tidak dapat dipandang enteng, kalian justru bilang Thi-tiok Siansing pasti dapat mengatasi dia.”

“Meski dia dapat lolos, tapi tetap terkena suatu pukulan Sim-bi Taysu.” tutur Dian Jit.

“Jika demikian, tentu dia tak bisa kabur, mengapa tidak kalian kejar?”

“Orang Siau-lim-si sudah mengejarnya,” sahut Dian Jit. “Aku sengaja kemari untuk memberitahukan padamu.”

“Baik, coba kulihat ke sana. Perintahkan orang berjaga di sini,” kata Siau-hun.

*****

Di sebelah sana ada sebuah gunung-gunungan.

Baru saja mereka pergi, dari balik gunung lantas muncul sesosok bayangan orang serupa badan halus. Matanya yang jeli itu memancarkan rasa kejut dan curiga, juga penuh rasa duka dan murka.

Gemetar sekujur badannya dengan air mata bercucuran. Sungguh tak disangkanya suami sendiri adalah seorang khianat penjual sahabat.

Remuk redam hati Si-im. Dia menangis perlahan, lalu seperti mengambil sesuatu keputusan dengan tekad penuh, segera ia melangkah ke rumah tempat Sun-hoan ditahan.

Pada saat yang sama, didengarnya suara langkah orang berlari datang, cepat Si-im menyelinap lagi ke balik bayang-bayang gunung buatan itu.

Dian Jit berlari tiba dengan membawa tujuh atau delapan lelaki kekar berpakaian ringkas, dengan suara tertahan ia memberi perintah, “Jaga pintu ini, siapa pun dilarang masuk. Yang melanggar boleh dibunuh saja tanpa perkara.”

Agaknya Dian Jit sendiri terburu-buru ingin ikut mengejar A Fei, maka cepat ia melayang pergi lagi.

Segera para penjaga itu memasang panah dan menarik busur, siap berjaga di luar pintu dan jendela.

Si-im menggigit bibir dengan erat sehingga berdarah. Ia menyesal pada dirinya sendiri mengapa meremehkan ilmu silat, tidak mau giat berlatih Kungfu, sebab dia menganggap banyak urusan di dunia ini tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan.

Baru sekarang dia menyadari banyak persoalan yang mau tidak mau harus diselesaikan dengan kekerasan. Seketika ia pun tidak mendapat akal untuk masuk ke dalam rumah itu.

Tiba-tiba didengarnya suara orang bernapas agak terengah, sesosok bayangan muncul dari depan sana, langkah orang ini tampak kurang mantap, namun cukup cepat.

Segera Si-im mengenalnya sebagai Thi-tiok Siansing yang baru tiba siang tadi.

Didengarnya Thi-tiok Siansing sedang menegur para penjaga, “Apakah orang she Li itu dikurung di dalam?”

Para penjaga itu saling pandang, lalu seorang menjawab, “Entah, kami pun tidak jelas.”

“Baik, minggir, biar kumasuk dan melihatnya sendiri,” kata Thi-tiok Siansing.

“Menurut perintah Dian-jitya, siapa pun dilarang masuk,” kata orang itu.

“Dian Jit maksudmu?” Thi-tiok Siansing menegas dengan gusar. “Huh, Dian Jit itu orang macam apa? Apakah kalian kenal siapa diriku?”

Penjaga itu memandang tubuh Thi-tiok Siansing yang berlepotan darah, lalu menjawab, “Tapi siapa pun dilarang masuk.”

“Baik,” kata Thi-tiok Siansing, mendadak ia angkat tangannya, “tring”, setitik sinar perak menyambar ke depan dan ….

*****

Saat itu Li Sun-hoan sedang memejamkan mata seperti tertidur.

Sekonyong-konyong didengarnya suara jeritan ngeri, suaranya tidak keras, bahkan sangat singkat.

Ia tahu hanya pada saat tenggorokan seorang tertembak oleh semacam Am-gi atau senjata rahasia yang kecil barulah tidak sempat mengeluarkan suara jeritan keras. Kejadian ini sudah terlalu banyak dilihatnya.

Ia berkerut kening, pikirnya, “Masakah ada orang datang hendak menolongku?”

Sejenak kemudian lantas dilihatnya seorang berjubah hijau dengan tangan memegang seruling besi melangkah masuk ke situ, mukanya tampak pucat, tapi beringas penuh nafsu membunuh.

Sorot mata Sun-hoan berhenti pada seruling yang dipegang orang, ucapnya, “Thi-tiok Siansing?”

Thi-tiok Siansing tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya, “Hiat-tomu tertutuk?”

Sun-hoan tertawa, “Dari arak yang terletak di depanku dan tidak kuminum, tentu dapat kau duga aku pasti tidak dapat bergerak.”

“Jika sama sekali tidak ada tenagamu untuk melawan, mestinya tidak dapat kubunuh dirimu, tapi mau tidak mau harus kubunuh kau,” kata Thi-tiok Siansing.

“Oo?” Sun-hoan bersuara singkat.

“Tidak kau tanya sebab apa hendak kubunuh dirimu?” ucap Thi-tiok Siansing dengan melotot.

Kembali Sun-hoan tertawa, katanya, “Jika kutanya, mungkin kau akan murah, lalu hendak kuberi penjelasan padamu, dan kau pasti juga tidak percaya dan tetap akan membunuhku. Nah, untuk apa aku banyak omong?”

Thi-tiok Siansing melengak, mendadak ia berseru, “Betul, tak peduli apa keteranganmu tetap akan kubunuh dirimu….”

Tiba-tiba tersembul perasaan menderita pada wajahnya, keluhnya dengan suara parau, “O, Ju-hi sayang, betapa mengenaskan kematianmu, akhirnya dapatlah kubalaskan sakit hatimu.”

Perlahan seruling besinya diangkat lagi.

Sun-hoan menghela napas, gumamnya, “O, Ju-ih, bilamana kau lihat diriku tentu engkau akan kaget sekali, sebab engkau tidak kenal padaku dan aku pun tidak kenal padamu….”

Pada saat itulah mendadak Lim Si-im menerobos masuk sambil berseru, “Nanti dulu, aku ingin bicara.”

Dengan terkejut Thi-tiok Siansing berpaling, serunya, “Hujin, kiranya kau? Hendaknya jangan kau rintangiku, siapa pun tidak boleh merintangiku.”

Kelam wajah Si-im, katanya, “Aku tidak ingin merintangimu, tapi ini kan rumahku, ingin membunuh kan harus juga kuturun tangan lebih dulu.”

“Kau pun hendak membunuh dia? Sebab apa?” tanya Thi-tiok Siansing sambil berkerut kening.

“Alasanku untuk membunuhnya jauh lebih kuat daripada alasanmu,” kata Si-im. “Kau cuma hendak membalas dendam bagi gundikmu, tapi aku ingin menuntut balas bagi putraku, sebab… sebab aku hanya mempunyai seorang anak.”

Di balik ucapannya itu dia seakan-akan hendak bilang, “Dan gundikmu kan tidak cuma satu.”

Thi-tiok Siansing termenung agak lama, katanya kemudian, “Baik, setelah kau turun tangan baru aku akan bertindak.”

Ia percaya kepada kelihaian seruling sendiri, biarpun menyerang lebih belakangan juga pasti akan mencapai sasaran lebih dulu.

Siapa tahu, ketika Si-im berlalu di depannya, mendadak tangannya membalik dan tepat menghantam dadanya.

Meski ilmu silat Lim Si-im tidak tinggi, tapi ia pun bukan perempuan yang lemah, apalagi pukulan ini menggunakan segenap tenaganya, Thi-tiok siansing sendiri tidak berjaga-jaga, keruan ia terpukul hingga terpental dan menumbuk dinding.

Maklumlah, luka Thi-tiok memang cukup parah, jika dia masih mau menuntut balas pada Li Sun-hoan, yang diandalkan cuma senjata rahasia di dalam serulingnya. Sekarang dadanya kena digenjot Si-im, luka lama kambuh kembali, segera darah tertumpah, orangnya juga lantas jatuh kelengar.

Hati Si-im berguncang hebat, hampir saja ia pun roboh pingsan.

Sun-hoan tahu selama hidup Si-im sangat lemah lembut, ibaratnya seekor semut saja tidak pernah diinjaknya. Sekarang perempuan yang berhati lembut ini ternyata dapat menyerang orang, sungguh tidak keruan perasaan Sun-hoan, entah pilu entah girang.

Tapi dengan keraskan hati ia lantas menjengek, “Hm, untuk apa lagi kau kembali ke sini?”

Si-im menarik napas dalam-dalam untuk menghentikan gemetar badannya, lalu menjawab, “Kudatang lagi untuk melepaskan dirimu.”

Sun-hoan menghela napas, “Masa belum kau dengar jelas ucapanku tadi? Sekali kubilang tidak mau pergi, betapa pun tetap tidak mau pergi.”

“Kutahu, demi Siau-hun engkau tidak mau pergi,” seru Si-im. “Tapi apakah kau tahu dia… dia….”

Mendadak ia bergemetar lagi terlebih hebat daripada tadi, sekuatnya ia berseru pula, “Dia… dia telah mengkhianatimu, dia berkomplot dengan mereka.”

Habis berucap demikian, ia kehabisan tenaga dan jatuh terkulai. Ia mengira Li Sun-hoan pasti akan terkejut demi mendengar keterangan ini.

Siapa pun tidak menduga Sun-hoan tetap tenang saja tanpa memberi reaksi apa pun, sebaliknya ia malah tertawa, ucapnya dengan tawar, “Mungkin kau salah paham, mana bisa dia menjual diriku?”

Sekuatnya Si-im memegang meja sehingga cangkir di atas meja sama berdenting, serunya dengan suara parau, “Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kudengar dengan telingaku sendiri!”

“Mungkin kau salah lihat, juga salah dengar,” kata Sun-hoan.

“Masa… masa sampai sekarang engkau tetap tidak percaya?”

“Kukira engkau terlalu letih sehingga banyak bekerja salah,” kata Sun-hoan dengan suara halus. “Pergilah tidur, besok tentu akan kau ketahui suamimu adalah seorang lelaki yang dapat dipercaya sepenuhnya.”

Si-im memandangnya dengan sorot mata yang guram, sampai sama sekali ia pandang Sun-hoan, mendadak ia mendekap di atas meja dan menangis tergerung-gerung.

Sun-hoan memejamkan mata, seakan-akan tidak tega memandangnya, ucapnya dengan parau, “Untuk apa kau….” belum lanjut ucapannya darah segar lantas tersembur dari mulutnya.

Si-im tidak sanggup menahan dirinya lagi, perasaan yang tertekan selama sepuluh tahun ini serupa gunung api yang meletus. Dengan terhuyung-huyung ia menubruk ke arah Sun-hoan ambil berteriak, “Jika engkau tidak pergi, biarlah kumati di depanmu.”

Sun-hoan menggereget dan berucap sekata demi sekata, “Engkau mau mati atau akan hidup, sangkut paut apa denganku?”

Sekonyong-konyong Si-im menatapnya dengar mata terbelalak, teriaknya dengan terputus-putus, “Kau… kau….”

Setiap kali mengucap “kau”, setiap kali pula menyurut mundur selangkah. Mendadak ia merasa dirinya terjatuh dalam pangkuan seorang.

Ternyata Liong Siau-hun sudah berdiri di situ dengan wajah kelam. Ia rangkul pundak Si-im dengan erat, seakan-akan khawatir bilamana pegangannya mengendur, segera Si-im akan memberosot dan lenyap dari pegangannya dan takkan kembali lagi untuk selamanya.

Si-im dapat melihat tangan Siau-hun, mendadak ia dapat menenangkan diri, ucapnya dengan dingin, “Singkirkan tanganmu, selanjutnya jangan kau sentuh diriku lagi!”

Muka Siau-hun mendadak berkerut-kerut, seperti kena dicambuk orang satu kali.

Akhirnya ia melepaskan pegangannya dengan perlahan, ia pandang Si-im dengan tajam, katanya, “Jadi semuanya telah kau ketahui?”

“Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak dapat mengelabui orang selamanya,” sahut Si-im dengan dingin.

“Telah… telah kau beri tahukan padanya semuanya?” tanya Siau-hun.

Mendadak Sun-hoan tertawa, katanya, “Padahal tidak perlu dia memberitahukan padaku juga sudah lama kuketahui.”

Sejak tadi Siau-hun seperti tidak berani beradu pandang dengan Sun-hoan, baru sekarang mendadak ia mengangkat kepala dan menegas, “Sudah lama kau tahu?”

“Ehm,” Sun-hoan mengangguk.

“Bilakah engkau tahu?” tanya Siau-hun pula.

Sun-hoan menghela napas, “Pada saat kau pegang tanganku sehingga Dian Jit sempat merobohkan diriku. Cuma… cuma, meski kutahu tetap tidak kusalahkan kau.”

Siau-hun mengepal kedua tinjunya sehingga urat hijau sama menonjol di punggung tangannya.

“Jika… jika kau tahu, mengapa… mengapa tidak kau katakan?” seru Si-im dengan suara gemetar.

Sun-hoan tersenyum hambar, “Mengapa harus kukatakan?”

Si-im menatapnya lekat-lekat, kembali tubuhnya bergemetar pula, serunya, “Sengaja tidak kau katakan, apakah… apakah demi diriku?”

“Demi dirimu?” tukas Sun-hoan dengan kening bekernyit.

“Kau khawatir aku akan berduka bila mengetahui hal ini, engkau tidak mau membikin berantakannya rumah tanggaku, sebab… sebab rumah ini sebenarnya memang milikmu, engkau….” ia tidak sanggup melanjutkan, sebab air matanya lantas berderai sebagai hujan.

Mendadak Sun-hoan bergelak tertawa, “Hahahaha! Mengapa orang perempuan suka menghibur dirinya sendiri secara demikian? Bahwa aku tidak bicara adalah karena tidak ada gunanya meski kukatakan. Bahwa aku tidak mau pergi adalah karena kutahu dia pasti takkan membiarkan kupergi.”

Ia masih terus tertawa dan juga terbatuk-batuk, mendadak air matanya bercucuran, entah mengucurkan air mata karena tertawa atau karena batuknya?

Dengan pedih Si-im berucap, “Dan sekarang apa yang kau katakan toh tidak ada persoalan lagi, sebab aku kan sudah tahu….”

Mendadak Sun-hoan berhenti tertawa dan berteriak dengan bengis, “Kau tahu? Kau tahu apa? Apakah kau tahu perbuatan Liong Siau-hun ini demi siapa? Apakah kau tahu yang ditakuti dia justru adalah karena khawatir kubikin rumah tangga kalian pecah berantakan, makanya dia berbuat demikian? Soalnya dia memandang rumah tangganya jauh lebih penting daripada segalanya, juga memandang dirimu jauh lebih penting daripada apa pun….”

Si-im menatapnya dengan terbelalak, mendadak ia pun terbahak-bahak dengan parau, “Hahaha, dia telah membikin susah padamu, tapi engkau malah membelanya. Haha, bagus, bagus! Engkau memang seorang kawan sejati. Tapi apakah kau tahu aku juga manusia…. Apa anggapanmu terhadapku?”

Bicara sampai di sini, suaranya menjadi parau dan terputus-putus, entah masih tertawa atau sedang menangis?

Kembali Sun-hoan terbatuk-batuk dengan hebat, darah pun merembes keluar dari ujung mulutnya.

Siau-hun menatapnya dengan tajam, ucapnya kemudian dengan serak, “Perkataanmu memang tidak salah, memang betul demi rumah tanggaku ini, demi putraku, kehidupan kami semula baik-baik, tenang dan bahagia, tapi kedatanganmu telah… telah mengubah segalanya….” mendadak ia meraung kalap, “Mestinya aku majikan rumah ini, tapi dengan kedatanganmu, segera kurasakan diriku ini cuma bertamu saja di sini. Mestinya aku mempunyai seorang putra kesayangan, lantaran kedatanganmu dia menjadi cacat selama hidup.”

Dengan menyesal Sun-hoan menjawab, “Ucapanmu memang betul, aku memang… memang seharusnya tidak perlu datang kemari!”

Mendadak Siau-hun merangkul lagi Si-im erat-erat dan berteriak dengan parau, “Akan tetapi yang lebih penting, demi dirimu, aku tak dapat kehilangan dirimu….”

Belum habis ucapannya, bercucurlah air matanya.

Si-im memejamkan matanya, air matanya menitik dari ujung matanya serupa butiran mutiara, ucapnya. “Bilamana ada setitik saja kau pikirkan diriku, tentu tidak perlu engkau bertindak demikian.”

“Aku pun tahu tidak pantas bertindak demikian, tapi aku… sungguh aku takut,” ratap Siau-hun.

“Kau takut apa?”

“Kutakut kehilangan dirimu, kutakut ditinggal dikau!” seru Siau-hun dengan suara parau. “Sebab biarpun tidak kau katakan juga kutahu engkau tidak… tidak pernah melupakan dia, maka kutakut engkau akan kembali lagi kepadanya.”

Mendadak Si-im berjingkrak dan berteriak, “Singkirkan tanganmu! Bukan saja tanganmu kotor, hatimu juga kotor! Memangnya kau anggap aku ini orang macam apa? Dan kau pandang dia orang macam apa?”

Ia terus menjatuhkan diri ke lantai sambil meratap, “O, masa engkau sudah melupakan diriku… betapa pun aku adalah istrimu!”

Siau-hun berdiri kaku seperti patung, hanya air matanya yang masih terus mengalir.

Sun-hoan memandang mereka dengan rawan, gumamnya, “Salah siapakah ini?… Sesungguhnya siapa yang bersalah?….”

*****

Di tempat lain, A Fei merasa seperti berbaring di dalam gumpalan awan, tubuh terasa lemas dan melayang-layang di tengah semacam bau harum yang sedap.

Ia sudah mendusin, tapi rasanya seperti dalam mimpi.

Dalam mimpinya juga selalu ditemui salju, ladang belukar, binatang buas dan serentetan bencana dan penderitaan yang tak habis-habis….

“Engkau sudah mendusin?” demikian terdengar seorang menegurnya.

Suaranya begitu halus, begitu lembut dan penuh perhatian.

Waktu A Fei membentang matanya, dilihatnya raut wajah yang sangat cantik dengan senyuman yang lembut dan menarik, kerlingan matanya membawa perasaan cinta kasih yang amat mendalam.

Wajah yang cantik ini hampir serupa wajah ibunya.

Dia masih ingat waktu kecilnya, ketika dia sakit, sang ibu juga duduk di sampingnya dan menjaganya dengan lembut seperti wajah yang cantik ini. Cuma hal ini sudah terjadi lama sekali sehingga hampir dilupakan olehnya.

Segera ia meronta-ronta hendak turun dari tempat tidur sambil berseru, “He, tempat apakah ini?”

Tapi baru saja ia berduduk, segera ia rebah lagi.

Dengan lembut Lim Sian-ji membetulkan selimutnya dan berucap, “Jangan kau tanya tempat apakah ini, anggaplah sebagai rumahmu sendiri.”

“Rumahku?” A Fei menegas. Selamanya ia tidak paham apa artinya “rumah”. Sebab dia tidak pernah punya rumah.

Lim Sian-ji tersenyum manis, katanya, “Kukira rumahmu pasti sangat hangat dan bahagia, engkau pasti mempunyai seorang ibu yang baik, beliau tentu sangat lembut, sangat cantik, dan juga sangat sayang padamu.”

A Fei termenung, entah selang berapa lama barulah ia berucap dengan perlahan, “Tapi aku tidak punya rumah, juga tidak punya ibu.”

Sian-ji tercengang, katanya, “Namun… namun waktu engkau tidak sadar, berulang kali engkau menyebut namanya.”

“Pada waktu berumur tujuh, beliau sudah meninggal,” ucap A Fei tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, namun begitu matanya tertampak sudah basah.

Sian-ji menunduk, “Maaf, tidak… tidak seharusnya kusinggung hal yang dapat menyedihkan hatimu.”

Setelah terdiam sejenak, tiba-tiba A Fei bertanya, “Engkau yang menolong diriku?”

“Waktu itu engkau jatuh pingsan, maka untuk sementara kubawa dirimu ke sini, hendaknya engkau merawat lukamu dengan tenteram, pasti takkan ada orang berani menerobos ke sini.”

Wajah A Fei yang dingin itu tiba-tiba dirangsang emosi, ucapnya dengan tersendat, “Sekarang aku telah utang jiwa padamu!”

“Tidak, engkau tidak utang apa-apa kepadaku,” ucap Sian-ji dengan lembut. “Jangan lupa, jiwaku ini juga kau selamatkan tempo hari.”

A Fei menghela napas panjang, ucapnya, “Mengapa engkau menolong diriku? Mengapa….”

Sian-ji memandangnya dengan termangu, tanpa terasa tangannya terjulur dan meraba wajahnya, katanya dengan lembut, “Sekarang jangan kau pikirkan apa pun, kelak… kelak akan kau ketahui apa sebab apa kuselamatkan engkau dan mengapa kuberbuat begini padamu.”

Tangannya begitu halus dan lunak seperti tak bertulang, terasa hangat pula. Wajahnya yang cantik bersemu merah.

A Fei tidak berani memandangnya, ia memejamkan mata.

Hatinya sebenarnya sekeras baja, tapi sekarang entah mengapa, sampai lubuk hatinya yang paling dalam juga berguncang, laksana air telaga yang tenang mendadak bergelombang.

Belum pernah terpikir olehnya bahwa hatinya juga mempunyai perasaan demikian. Tapi dia tetap memejamkan mata dan berkata, “Sudah waktu apa sekarang?”

“Belum lewat tengah malam,” jawab Sian-ji.

A Fei meronta bangun berduduk.

“Hen… hendak ke mana kau?” tanya Sian-ji.

“Tidak boleh kubiarkan Li Sun-hoan dibawa pergi mereka,” seru A Fei.

“Tapi dia sudah dibawa pergi,” tutur Sian-ji.

“Bluk”, A Fei menjatuhkan diri ke ranjang dengan air keringat bercucuran, ucapnya, “Kau bilang saat ini belum lagi lewat tengah malam?”

“Sekarang memang belum lewat tengah malam, namun Li Sun-hoan sudah dibawa pergi pagi kemarin.”

“Pagi kemarin?” A Fei menegas. “Masa sudah sehari semalam aku tidak sadar?”

Perlahan Sian-ji mengusap keringat di dahinya dengan sepotong saputangan berwarna jambon, katanya, “Lukamu sangat parah, selain dirimu mungkin tidak ada yang tahan. Maka engkau harus menurut perkataanku, istirahatlah baik-baik di sini.”

“Tapi Li….”

Segera Sian-ji mendekap mulut A Fei dan mendesis, “Ssst, jangan kau sebut dia lagi, kutahu keadaannya tidak terlalu berbahaya. Umpama hendak kau tolong dia juga harus menunggu sampai lukamu sembuh.”

Ia mengungkatnya berbaring di atas bantal, lalu berkata pula, “Jangan khawatir, jika Sim-bi Taysu bilang hendak membawanya ke Siau-lim-si, maka sepanjang jalan pasti takkan mengalami sesuatu bahaya.”

*****

Saat itu Li Sun-hoan sedang duduk bersandar di dalam kabin kereta dan memandangi Sim-bi Taysu dan Dian Jit yang berduduk di depannya, tiba-tiba ia tertawa.

Dian Jit melotot, “Ada apa? Kau rasa kami sangat lucu?”

“Aku cuma merasa sangat geli,” jawab Sun-hoan dengan tenang.

“Geli?” Dian Jit menegas.

Sun-hoan menguap dan memejamkan mata, seperti ingin tidur.

Dian Jit menjambret dada bajunya dan bertanya, “Dalam hal apa aku menggelikan, katakan!”

“O, maaf, yang kumaksudkan bukan dirimu,” jawab Sun-hoan acuh tak acuh. “Meski di dunia ini banyak orang yang menggelikan, tapi engkau harus dikecualikan, sesungguhnya dirimu sama sekali tidak menarik.”

Air muka Dian Jit berubah, sampai sekian lamanya ia mendelik, tapi akhirnya ia lepaskan Sun-hoan.

Sejuk tadi Sim-bi Taysu tidak menghiraukan apa yang dibicarakan mereka, sekarang ia tidak tahan dan ikut bertanya, “Apakah kau rasa diriku menggelikan?”

Selama hidupnya belum pernah bertemu dengan seorang yang mengatakan dia menggelikan.

Kembali Sun-hoan menguap, jawabnya dengan kemalas-malasan, “Kurasakan engkau menggelikan, sebab belum pernah kulihat Hwesio menumpang kereta. Kuanggap seorang saleh sebagai dirimu tidak pantas menunggang kuda, juga tidak boleh menumpang kereta.”

Sim-bi malah tertawa, katanya, “Hwesio jaga manusia, selain boleh menumpang kereta, juga harus makan nasi.”

“Jika engkau sudah duduk di dalam kereta, mengapa tidak berduduk dengan santai,” kata Sun-hoan. “Kulihat caramu berduduk ini lebih mirip orang yang sakit wasir.”

Seketika muka Sim-bi Taysu berubah masam, katanya, “Apakah kau ingin kusumbat mulutmu?”

“Jika hendak kau sumbat mulutku, kuharap kau gunakan botol arak, paling baik botol arak yang penuh berisi arak,” kata Sun-hoan.

Sim-bi memandang Dian Jit sekejap, perlahan tangan Dian Jit lantas terjulur pada Hiat-to bisu Li Sun-hoan, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “Bilamana tanganku menekan, tentu kau tahu bagaimana akibatnya?”

Sun-hoan tertawa, “Kutahu, bilamana tanganmu menekan, tentu takkan kau dengar lagi kata-kata yang menarik.”

“Jika begitu, biarlah….”

Baru bicara sampai di sini, belum lagi tangannya bekerja, mendadak terdengar suara ringkik kuda yang keras disusul suara bentakan gusar si kusir, serentak kereta pun berhenti.

Padahal kereta itu sedang berlari dengan kencang, sekarang berhenti secara mendadak, tentu saja para penumpangnya sama tersuruk dari tempat duduknya, kepala hampir saja membentur dinding kereta.

“Ada apa?” teriak Dian Jit dengan gusar, “Masa kalian….”

Baru saja kepalanya melongok ke luar jendela, seketika dia bungkam, air mukanya juga berubah pucat.

Kiranya di tepi jalan yang penuh timbunan salju itu berdiri tegak seorang dengan tangan menahan tali kendali kuda sehingga kuda penarik kereta itu berjingkrak dan meringkik, namun tangan orang itu tetap lurus tak bergerak seperti tonggak besi.

Dia memakai jubah hijau dengan lengan baju yang longgar, jubah ini dipakai oleh siapa pun pasti akan terlalu besar, tapi berada pada tubuhnya justru belum lagi melampaui dengkul.

Jika tinggi badannya sangat mengejutkan, di atas kepalanya justru ditambahi pula sebuah kopiah tinggi berbentuk aneh, sehingga dipandang sepintas lalu dia serupa sebatang pohon kering.

Hanya dengan sebuah tangan saja dapat menahan kuda yang sedang berlari kencang, betapa hebat tenaganya sungguh sangat mengejutkan. Yang lebih menakutkan lagi adalah matanya yang pada hakikatnya tidak menyerupai mata manusia itu.

Matanya ternyata berwarna hijau siwer, berkelip-kelip, serupa api setan.

Baru saja Dian Jit melongok, segera ia menarik kembali kepalanya, selain mukanya pucat, bibirnya juga rada gemetar.

“Di luar ada orang?” tanya Sim-bi Taysu.

“Ehm,” Dian Jit mengangguk.

Alis putih Sim-bi Taysu berkerut-kerut, katanya pula, “Siapa dia?”

“In Gok!” tutur Dian Jit.

Mendadak Sun-hoan tertawa, katanya, “Aha kiranya mencari diriku!”

“Jing-mo-jiu In Gok juga sahabatmu?” tanya Sim-bi Taysu.

“Sayang, sahabat ini juga serupa sahabatku yang lain, sama-sama menghendaki nyawaku,” ucap Sun-hoan dengan tertawa.

Air muka Sim-bi Taysu berubah prihatin, perlahan ia membuka pintu kereta dan melangkah keluar, sapanya sambil memberi hormat, “Apakah In-sicu adanya?”

Jing-mo-jiu In Gok, si tangan iblis hijau, memandang sekejap dengan dingin, lalu mendengus, “Sim-oh atau Sim-bi?”

“Hwesio tua adalah Sim-bi.”

Siapa yang berada di atas kereta?” tanya In Gok.

“Orang beragama tidak berdusta, penumpang kereta ini selain Dian-jitya, ada lagi seorang Li-sicu,” tutur Sim-bi Taysu.

“Baik, serahkan Li Sun-hoan dan segera kulepaskan kalian pergi,” kata In Gok.

“Maksud tujuan kubawa Li-sicu ke Siau-lim-si juga hendak memberi hukuman padanya, bilamana kita mempunyai maksud yang sama, tidak perlu lagi In-sicu mengalangi perjalanan kami.”

“Serahkan Li Sun-hoan dan segera kulepaskan kalian pergi,” kata In Gok pula.

Berulang-ulang hanya kata-kata itu saja yang diucapkan In Gok, apa pun yang dikatakan orang lain tetap tidak digubrisnya, wajahnya yang pucat dingin itu serupa muka orang mati, tidak kelihatan sesuatu perasaan apa pun.

“Jika kutolak, lantas bagaimana?” kata Sim-bi Taysu.

“Jika begitu, lebih dulu akan kubunuh dirimu lalu membinasakan Li Sun-hoan,” ujar In Gok.

Sejak mula tangan kirinya melambai ke bawah dan tertutup oleh lengan bajunya yang longgar.

Sekarang mendadak tangan kirinya terjulur keluar, terlihat cahaya hijau berkelebat, serentak dia mencakar ke arah Sim-bi Taysu. Inilah Jing-mo-jiu, tangan iblis hijau yang merontokkan nyali orang Kangouw.

Sim-bi Taysu meraung gusar, serentak dari belakangnya empat bayangan kelabu menubruk maju, Sim-bi mengegos ke samping, empat Hwesio berjubah kelabu sudah mengepung In Gok di tengah.

“Haha, bagus!” seru In Gok dengan terbahak. “Memang sudah lama ingin kubelajar kenal dengan Lo-han-tin Siau-lim-si.”

Di tengah gelak tertawanya, dari tangan hijau mendadak tersembur keluar asap hijau, “pluk”, terdengar letusan perlahan, asap hijau lantas bertaburan memenuhi udara.

“Cepat tahan napas!” teriak Sim-bi Taysu.

Dia hanya memperingatkan anak muridnya sehingga lupa akan diri sendiri, baru habis ucapannya, segera dirasakan hawa amis terisap ke dalam mulutnya.

Melihat wajah Sim-bi Taysu berubah pucat, para Hwesio Siau-lim-si sama terkejut.

Mendadak Sim-bi melompat jauh ke sana, cepat ia duduk bersemadi, dengan Lwekang yang terlatih berpuluh tahun ia mengerahkan tenaga dalam untuk mendesak keluar hawa berbisa yang terisap tadi.

Para Hwesio Siau-lim-si juga lantas menyusul ke sana, mereka berdiri mengadang di depan Sim-bi, dalam keadaan demikian terpaksa mereka harus menjaga keselamatan Sim-bi lebih dulu dan mengesampingkan Li Sun-hoan.

Tapi In Gok tidak lagi memandang mereka, sekali lompat ia mendekati pintu kereta.

Dilihatnya Li Sun-hoan masih duduk bersandar di situ, sedangkan Dian Jit sudah menghilang.

In Gok melototi Sun-hoan dan bertanya sekata demi sekata, “Khu Tok dibunuh olehmu?”

“Ehm,” Sun-hoan mengangguk.

“Baik, jiwa Khu Tok ditukar dengan jiwa Li Sun-hoan, satu bayar satu, matinya tidak penasaran.”

Habis bicara, Jing-mo-jiu lantas terangkat lagi, tapi tidak lantas dihantamkan….

*****

Saat itu A Fei sedang memandangi langit-langit, sampai lama sekali tidak bicara.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Sian-ji dengan suara lembut.

“Kau bilang dia takkan menemui bahaya dalam perjalanan?” tanya A Fei.

“Pasti tidak,” ujar Sian-ji dengan tertawa. “Dia dikawal Sim-bi Taysu dan Dian Jit, siapa yang berani mengganggu seujung jarinya?”

Perlahan ia membelai rambut A Fei, lalu berkata pula, “Jika kau percaya padaku, tidurlah dengan nyenyak. Aku akan berjaga di sini, pasti takkan kutinggal pergi.”

A Fei memandangnya lekat-lekat, kerlingan mata si nona sedemikian menggiurkan, tulus dan hangat.

Kelopak mata A Fei lambat laun terkatup….

*****

“Apa lagi yang hendak kau katakan?” demikian In Gok lagi bertanya sambil menyeringai terhadap Li Sun-hoan.

Memandangi Jing-mo-jiu orang yang keji itu, Sun-hoan berucap perlahan, “Cuma satu kalimat saja ingin kukatakan.”

“Apa itu? Cepat katakan!”

“Untuk apa kau antar kematian ke sini?” kata Sun-hoan sambil menghela napas.

Berbareng tangannya juga bergerak, sinar pisau berkelebat, kontan In Gok berjumpalitan ke sana. Di atas tanah salju telah bertambah genangan darah segar.

Sementara itu bayangan In Gok sudah melayang lagi beberapa tombak jauhnya, terdengar suaranya yang serak bergema di kejauhan, “Li Sun-hoan, ingatlah, kelak pasti ku….”

Sampai di sini mendadak suaranya terputus.

Angin dingin menyayat, suasana hening bagai kuburan.

Mendadak terdengar orang berkeplok tertawa, Dian Jit menerobos keluar dari belakang kereta sambil bersorak, “Bagus, bagus! Pisau kilat si Li memang benar tidak pernah meleset. Sungguh tidak bernama kosong!”

Sun-hoan termenung sejenak, katanya kemudian dengan hambar, “Apabila kau buka seluruh Hiat-toku yang tertutuk, tentu dia takkan lolos.”

“Jika kubuka seluruh Hiat-tomu, engkaulah yang akan lolos,” tukas Dian Jit dengan tertawa.

Ia tepuk-tepuk pundak Li Sun-hoan, lalu berkata pula dengan tertawa, “Engkau hanya bisa menggerakkan kedua tanganmu, hanya dapat menyambitkan sebilah pisau, toh tetap dapat melukai In Gok sehingga kabur. Orang semacam dirimu ini, mau tak mau aku harus terlebih hati-hati dan waspada.”

Dalam pada itu para Hwesio Siau-lim sudah memayang Sim-bi Taysu ke sini. Wajah Sim-bi kelihatan pucat dengan napas terengah, begitu naik ke atas kereta segera ia berkata, “Lekas berangkat, lekas!”

Setelah kereta mulai jalan barulah ia menghela napas lega, ucapnya, “Sungguh Jing-mo-jiu yang keji.”

“Tapi ada senjata lain yang lebih keji, yaitu pisau terbang si Li,” tukas Dian Jit dengan tertawa.

Sim-bi memandang Sun-hoan, ucapnya, “Anda ternyata sudi turun tangan membantu, sungguh di luar dugaanku.”

Sun-hoan tertawa, “Yang kutolong bukan dirimu, bukan kalian melainkan diriku sendiri. Tidak perlu di luar dugaan, juga tidak perlu berterima kasih padaku.”

“Tadi kutanya padanya lebih suka pergi ke Siau-lim-si bersama kita atau lebih baik jatuh dalam cengkeraman In-Gok,” tutur Dian Jit. “Sesudah dia pilih satu di antaranya, lalu kubuka Hiat-to kedua tangannya, kuberi pula sebilah pisau.”

Ia tersenyum, lalu menambahkan pula, “Dan kukira dengan demikian sudah cukup.”

Sim-bi termangu-mangu, gumamnya kemudian, “Pisau terbang si Li …. Sungguh pisau kilat!”

Tenaga dalam Sim-bi Taysu memang sangat hebat, menjelang magrib, hawa racun yang terisap sudah ditolak keluar semua, air mukanya telah kembali cerah.

Kemudian mereka mencari sebuah hotel yang tenang untuk beristirahat, waktu makan malam juga sudah tiba. Hwesio juga manusia, selain perlu makan nasi juga harus tidur.

Dian Jit mengangkat Sun-hoan dan didudukkan pada sebuah kursi, katanya dengan tersenyum, “Jika kubuka Hiat-to sebelah tanganmu, maksudnya supaya kau dapat memegang sumpit dan bukan menyuruhmu sembarangan omong. Nah, jelas bukan?”

Sun-hoan menghela napas menyesal, “Makan nasi tanpa arak sama halnya sayur tanpa garam, cemplang, tidak ada rasanya, sungguh tidak enak.”

“Diberi makan nasi pun sudah enak, kukira seadanya saja,” jengek Dian Jit.

Peraturan Siau-lim-si memang sangat keras, pada waktu makan, para Hwesio Siau-lim-si tidak ada yang bicara, bahkan tak berani bersuara sedikit pun. Meski di atas meja hanya tersedia beberapa macam sayuran saja, tapi mereka sudah terbiasa makan sederhana, ditambah lagi perjalanan berhari-hari, perut lapar, makan pun banyak.

Hanya Sim-bi Taysu saja baru sembuh dari sakitnya, ia cuma minum bubur dengan kecap dan tidak makan lain.

Dian Jit sendiri sudah pesan beberapa macam santapan lezat dan siap hendak dinikmatinya sendiri, maka sekarang dengan perut kosong sedang menunggu.

Di sebelah sana Sun-hoan telah menyumpit sepotong tahu, tapi baru sampai di tepi mulut mendadak ia taruh kembali makanan itu dan berseru, “Sayuran ini tidak boleh dimakan.”

“Kalau tuan besar Li tidak biasa makan sayuran begini, tampaknya kau harus menderita lapar,” kata Dian Jit.

“Di dalam sayur ada racun!” desis Sun-hoan dengan suara tertawa tertahan.

“Haha, tidak mendapatkan arak, segera timbul macam-macam permainanmu,” seru Dian Jit dengan tertawa. “Memang kutahu ada ….”

Mendadak suara tertawanya terputus, serupa leher tercekik secara mendadak.

Rupanya pada saat itu juga dilihatnya air muka keempat Hwesio Siau-lim-si telah berubah menjadi pucat kelabu, tapi para Hwesio itu tidak merasakan apa pun dan tetap asyik makan.

Mendadak Sim-bi Taysu juga kaget, serunya, “Cepat, cepat mengerahkan tenaga dalam untuk mencegah menjalarnya racun.”

Keempat Hwesio itu belum lagi mengetahui apa yang terjadi, jawab mereka dengan tertawa, “Masa Susiok ….”

“Kalian keracunan, masa sama sekali tidak tahu,” seru Sim-bi pula dengan khawatir.

“Keracunan?” kata salah seorang Hwesio itu. “Keracunan oleh siapa?….”

Tapi setelah keempat Hwesio itu saling pandang sekejap, serentak mereka berteriak, “Hei, wajahmu ….”

Belum lanjut ucapan mereka, kontan semuanya roboh terkulai.

Waktu Sim-bi memandang mereka lagi, wajah keempat orang sudah berubah bentuk, mata melotot, hidung berkerut dan muka beringas.

Racun dalam sayur ternyata tak berwarna dan tak berbau sehingga orang yang keracunan tidak merasakan apa pun. Ketika mereka mengetahui dirinya keracunan, semuanya sudah terlambat.

Mau tak mau Dian Jit merasa ngeri, desisnya, “Racun apakah ini? Mengapa sedemikian lihai?”

Meski biasanya Sim-bi Taysu sangat sabar, tidak urung sekarang ia naik darah, ia melompat ke sana, pelayan dicengkeramnya seperti elang mencengkeram anak ayam, bentaknya dengan bengis, “Racun apa yang kau taruh di dalam sayur?”

Melihat empat orang telah menggeletak tak bernyawa, pelayan itu ketakutan setengah mati, gigi sampai gemertuk dan tidak sanggup bicara.

Sun-hoan menghela napas, gumamnya, “Tolol, bila aku yang menaruh racun, tentu sejak tadi aku sudah lari, untuk apa menonton lagi di sini?”

Pukulan Sim-bi Taysu sudah hampir dijatuhkan, karena ucapan Sun-hoan itu, mendadak ia urung menghantam, segera ia melompat ke luar.

Dian Jit juga ikut menerobos keluar, tapi segera memutar balik dan mengempit Li Sun-hoan, jengeknya, “Seumpama kami mati keracunan seluruhnya, kau sendiri juga tak bisa kabur. Apa pun juga kau harus mengiringi diriku, aku hidup kau hidup, aku mati kau pun mati.”

Sun-hoan tertawa, katanya, “Tak tersangka aku akan mendapatkan pelayanan istimewa darimu. Cuma sayang, engkau bukan wanita cantik, sedangkan terhadap lelaki aku justru tidak berminat.”

*****

Waktu itu sudah lewat jam makan, bagian dapur restoran itu sudah menganggur, koki besar telah membuat dua macam sayur, koki kedua mengambil sepoci arak, keduanya sedang menongkrong di situ untuk menikmati saat yang paling menyenangkan selama sehari ini.

Pada saat itulah mendadak Sim-bi Taysu menerobos masuk dengan gusar, tapi segera ia melenggong begitu melihat kedua koki itu. Ternyata air muka kedua orang itu pun sudah berubah hitam.

Mungkin si koki besar sudah setengah mabuk, dengan tertawa ia menyapa, “Apakah Taysu juga mau minum barang satu dua cawan? Silakan, mari.”

Belum lanjut ucapannya, mendadak koki itu jatuh terjungkal di atas tungku, wajan ambruk membentur botol minyak, maka tumpahlah minyak ke dalam wajan dan memantulkan cahaya minyak yang mengilat.

Ternyata di dalam minyak yang mengilat itu terdapat seekor kelabang.

Baru sekarang jelas duduknya perkara. Ternyata racun berasal dari minyak goreng.

Dengan minyak goreng ini si koki membuatkan sayuran bagi para Hwesio Siau-lim-si, lalu dengan minyak goreng itu ia membuat sayur untuk dirinya sendiri, maka jiwanya melayang tanpa mengetahui apa sebabnya.

Jadi racun sudah dapat ditemukan. Namun siapakah gerangan orang yang menaruh racun ini?

Sambil memandang kelabang di dalam minyak, Sun-hoan berucap dengan gegetun, “Memang sudah kuduga cepat atau lambat dia pasti akan datang.”

“Siapa yang kau maksudkan? Kau tahu siapa yang menaruh racun?” tanya Dian Jit.

“Secara umum, racun di dunia ini terbagi menjadi dua jenis,” tutur Sun-hoan. “Yang semacam adalah racun binatang. Racun dari tumbuh-tumbuhan lebih banyak digunakan orang, sedangkan orang yang menggunakan racun dari binatang lebih sedikit. Orang yang mampu meracuni orang secara lihai di luar tahu korbannya, di dunia ini paling-paling juga cuma satu-dua orang saja.”

“Apakah kau maksudkan Ngo … Ngo-tok-tongcu dari Kek-lok-tong di daerah Miau?” seru Dian Jit.

“Kuharap bukan dia,” ujar Sun-hoan.

“Masakah dia juga datang ke daerah Tionggoan sini? Untuk apa dia kemari?” kata Dian Jit pula.

“Dia datang mencari diriku,” tutur Sun-hoan.

“Cari dirimu? Apakah dia ….” Dian Jit tahu tidak mungkin Li Sun-hoan bersahabat dengan manusia berbisa itu, maka belum lanjut bicaranya segera ia berganti ucapan, “Tampaknya sahabatmu tidak banyak, sebaliknya musuhmu tidaklah sedikit.”

“Betapa banyak musuh akan lebih baik, tapi sahabat cukup satu-dua orang saja,” ujar Sun-hoan. “Sebab sahabat terkadang jauh lebih menakutkan daripada musuh.”

“Bahwa di dalam sayur ada racun, cara bagaimana dapat kau lihat?” tanya Sim-bi Taysu tiba-tiba.

“Aku sendiri tidak tahu mengapa dapat kulihat, yang jelas sudah dapat kulihat,” ujar Sun-hoan dengan tertawa tak acuh. “Hal ini serupa waktu kumain Pay-kiu, apabila kutaksir kartu pertama akan menang, maka di situlah kutaruh dan tentu menang. Jika orang bertanya padaku cara bagaimana mengetahuinya, maka aku pun tak dapat menjawabnya.”

Sim-bi menatapnya sejenak, katanya kemudian kepada kawannya, “Sepanjang jalan kita gunakan dia sebagai pedoman, kalau dia makan baru kita makan juga.”

Padahal dua hari lagi dapatlah mereka sampai di Siong-san, di gunung itulah letak Siau-lim-si. Tapi waktu dua hari ini dirasakan terlebih panjang daripada hari-hari yang lain, sebab setiap orang Kangouw tahu, jika Ngo-tok-tongcu sudah bertekad akan membunuh seorang, maka orang itu harus dibunuhnya, tidak ada persoalan lain di dunia ini yang dapat menyuruhnya batal setengah jalan.

Sim-bi telah menyerahkan jenazah keempat murid keponakannya kepada sebuah biara yang berdekatan, lalu berangkat lagi dengan tergesa-gesa, sepanjang jalan tidak ada lagi yang mau menyinggung tentang makan-minum.

Mereka boleh tidak makan dan minum, tapi si pengemudi kereta tidak mau ikut kelaparan bersama mereka. Pada waktu tengah hari, di suatu kota kecil ia lantas masuk sebuah warung dan makan-minum sepuasnya.

Sim-bi Taysu dan Dian Jit terpaksa menunggu di dalam kereta, mereka tetap tidak berani bersantap. Jika hanya untuk makan semangkuk mi babat dan beberapa potong penganan harus menyerempet bahaya keracunan, jelas mereka lebih suka menahan lapar saja.

Tidak lama kemudian, si kusir telah kembali dengan membawa beberapa potong kue kukus, sembari berjalan ia masih terus menggerogoti kue kukus dengan nikmatnya.

Dian Jit mengawasi air muka si kusir, diperhatikannya sampai lama sekali, tiba-tiba ia bertanya, “Kue ini berapa duit sebiji?”

“Ah, sangat murah,” jawab si kusir dengan tertawa, “cuma tiga duit sebiji, rasanya juga lumayan. Apakah Toaya mau mencicipinya?”

“Baik, kau bagi beberapa biji kepada kami, malam nanti kutraktir dirimu minum arak,” kata Dian Jit.

Segera si kusir memberikan seluruh kue yang dibawanya itu melalui jendela kereta, selang sekian lama lagi, kereta pun sudah dijalankan dan si kusir tetap tidak ada sesuatu tanda kelainan.

Biru sekarang Dian Jit merasa lega, ucapnya dengan tertawa, “Kue kukus ini tentunya tidak beracun, silakan Taysu makan.”

Tapi Sim-bi Taysu masih sangsi, setelah berpikir sejenak, lalu katanya, “Silakan Li-sicu makan.”

Sun-hoan tertawa, jawabnya, “Tak terduga kalian menjadi sungkan padaku seperti terhadap tamu saja.”

Dengan tangan kirinya ia pegang sepotong kue itu, sebab hanya tangan kirinya saja yang dapat bergerak. Tapi mendadak kue itu ditaruhnya kembali, katanya dengan menyesal, “Kue ini juga tidak boleh dimakan.”

“Tapi si kusir sudah makan dan tidak terjadi apa-apa,” ujar Dian Jit.

“Dia boleh makan, kita tidak boleh,” kata Sun-hoan.

“Sebab apa?” tanya Dian Jit dengan penasaran.

“Sebab yang hendak diracun oleh Ngo-tok-tongcu dari Kek-lok-tong bukan dia,” jengek Sun-hoan.

“Apakah sengaja hendak kau bikin kami kelaparan?” damprat Dian Jit.

“Jika tidak percaya, kenapa tidak kau coba?” ujar Sun-hoan.

Dian Jit melototinya sampai sekian lama, mendadak ia berteriak agar kereta berhenti, si kusir dipanggilnya turun, lalu diberinya setengah potong kue kukus itu dan menyaksikannya kue itu dimakan olehnya.

Setengah potong kue itu sekaligus dijejalkan ke mulut oleh si kusir dan segera berpindah ke dalam perut, namun tidak ada tanda sedikit pun dia keracunan.

Dian Jit melirik Sun-hoan sambil tersenyum dingin, tanyanya, “Sekarang berani lagi kau bilang kue ini tidak boleh dimakan?”

“Tetap kukatakan tidak boleh,” jawab Sun-hoan, ia menguap dan ingin tidur.

Dengan gemas Dian Jit berkata, “Aku justru akan makan, boleh kau lihat.”

Walaupun begitu katanya, betapa pun ia tetap tidak berani menyerempet bahaya. Kebetulan dilihatnya ada seekor anjing sedang menggonggong di belakang kereta, anjing itu kurus kering, mungkin juga anjing kelaparan.

Tiba-tiba Dian Jit mendapat akal, dilemparkannya setengah potong kue itu kepada anjing. Biarpun kurus, anjing itu seperti tidak berminat terhadap kue kukus, hanya digigit sekali, lalu ditinggalkan.

Siapa tahu, baru beberapa langkah anjing itu berlari, mendadak terdengar suara mengaing, anjing itu melonjak ke atas dan jatuh terjungkal ke tanah, setelah berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.

Baru sekarang Dian Jit dan Sim-bi Taysu terperanjat benar-benar.

“Nah, betul tidak,” kata Sun-hoan dengan menyesal. “Cuma sayang, yang mati keracunan adalah anjing dan bukan dirimu.”

Biasanya Dian Jit suka berbangga menghadapi segala sesuatu selalu tenang, sedikit pun tidak pernah memperlihatkan rasa panik. Tapi sekarang tidak urung air mukanya berubah pucat. Mendadak ia mendelik dan membentak si kusir, “Mengapa bisa terjadi begini?”

Dengan gemetar si kusir menjawab, “Hamba tidak tahu, kue itu hamba beli dari warung mi babat tadi.”

“Anjing saja mati keracunan, mengapa tidak dapat meracun mati dirimu? Jangan-jangan kau sendiri yang menaruh racun?” Dian Jit menyeringai sambil menjambret leher maju si kusir.

Gemertuk gigi si kusir karena ketakutan sehingga tidak sanggup bicara lagi.

“Tidak ada gunanya kau paksa dia bicara, sebab dia memang tidak tahu-menahu,” ujar Sun-hoan acuh tak acuh.

“Dia tidak tahu? Habis siapa yang tahu?” teriak Dian Jit.

“Aku tahu,” kata Sun-hoan.

“Kau tahu?” Dian Jit melengak. “Coba katakan, apa-apaan ini?”

“Kue tadi beracun, tapi dalam kuah mi babat terdapat obat penawar racun,” tutur Sun-hoan.

Sampai sekian lama Dian Jit melenggong, ucapnya kemudian dengan mendongkol, “Tahu begini, mengapa tadi kita tidak makan mi babat saja.”

“Jika kau makan mi, racun juga terdapat di dalam mi,” kata Sun-hoan.

Cara menaruh racun Ngo-tok-tongcu ternyata sangat ajaib dan sukar dijaga, menghadapi lawan begini, rasanya tidak ada jalan lain kecuali tutup mulut serapatnya, dan hal ini berarti harus kelaparan dan kehausan.

Mia-tak-mau Dian Jit merasa sedih. Sim-bi juga kelihatan murung.

“Syukur satu-dua hari lagi sudah dapat sampai tempat tujuan, kalau cuma puasa sehari dua hari kukira tidak menjadi soal,” kata Sim-bi kemudian.

“Biarpun tidak makan dan minum juga tiada gunanya,” tukas Dian Jit.

“Oo, maksudmu?” Sim-bi tidak mengerti.

“Mungkin dia sengaja menunggu kita kehabisan tenaga karena kelaparan, lalu dia akan turun tangan,” tutur Dian Jit.

Seketika Sim-bi tidak dapat bicara lagi.

Tiba-tiba gemerdep sinar mata Dian Jit, serunya, “Aku mempunyai akal.”

“Akal apa?” tanya Sim-bi Taysu.

Dian Jit mendesis dengan suara tertahan, “Orang yang hendak diracunnya jelas bukan Taysu, juga bukan diriku ….”

Ia melirik Sun-hoan sekejap dan tidak melanjutkan.

Sim-bi tahu maksud Dian Jit, katanya dengan kurang senang, “Tapi sudah kusanggupi akan membawa orang ini pulang ke Siau-lim-si, betapa pun tidak boleh kubiarkan dia mati di tengah jalan.”

Dian Jit juga tidak ngotot lagi, tapi bilamana dia pandang Li Sun-hoan, seketika sorot matanya menampilkan nafsu membunuh. Agaknya diam-diam ia sudah ambil keputusan, ia pikir, “Hwesio selain harus makan dan tidur, sekali tempo kan juga harus pergi ke kakus.”

Tak terduga, Sim-bi seperti dapat menyelami jalan pikirannya, ke mana pun dan berbuat apa pun tidak pernah ia tinggalkan Li Sun-hoan di luar pengawasannya sendiri.

Karena itulah Dian Jit jadi mati kutu, meski gelisah dan mendongkol, tapi tidak berdaya.

Cepat juga perjalanan kereta, menjelang magrib mereka tiba pula di situ kota kecil.

Sekali ini si kusir tidak berani lagi bicara tentang makan dan minum segala. Pada waktu kereta mereka melalui jalan raya, tiba-tiba terendus bau sedap Yu-ca-kue yang digoreng oleh penjualnya di tepi jalan.

Bagi seorang yang sudah kelaparan hampir sehari suntuk, betapa tergiurnya bau sedap ini sungguh sukar dilukiskan.

Seketika Dian Jit celingukan ke kanan ke kiri, benarlah dilihatnya di tepi jalan sana ada seorang penjual Yu-ca-kue (sejenis kue untir yang digoreng), tampaknya sangat laris, hal ini terbukti di depan berkerumun belasan pembeli, ada yang minta dibungkus dan dibawa pulang, ada yang beli kontan di situ dan kontan dimakan, dan yang makan di situ ternyata tiada seorang pun yang mati keracunan.

Dian Jit tidak tahan, katanya, “Masakah Yu-ca-kue ini juga tidak boleh dimakan!”

“Orang lain boleh makan, hanya kita yang tidak boleh,” kata Sun-hoan. “Biarpun, seribu orang makan kue ini tetap tidak beralangan, tapi sekali kita makan segera akan mati keracunan.”

Jika kata-kata ini diucapkan dua hari yang lalu, Dian Jit pasti tidak percaya. Tapi sekarang bilamana dia teringat kepada betapa keji dan banyak macam ragamnya cara Ngo-tok-tongcu menaruh racun, tanpa terasa ia merinding dan tidak berani coba-coba makan Yu-ca-kue segala.

Papa saat itu mendadak didengarnya seorang anak kecil berteriak dan menangis, “Minta kue … ibu, belikan kue, Yu-ca-kue!”

Terlihat dua anak kecil berumur tujuh atau delapan tahun berdiri di samping penjual Yu-ca-kue dan sedang berjingkrak dan merengek. Lalu dari toko kelontong di sebelah sana muncul seorang perempuan gemuk, kontan kedua bocah itu ditampar seorang satu kali, lalu kuping mereka dijewer terus diseret masuk ke dalam toko sambil mengomel, “Setan alas, diberi pangsit mi tidak mau, malahan minta Yu-ca-kue. Nanti kalau setan tua tukang kibul itu mendapat lotre, tentu setiap hari akan kubawa kalian masuk restoran.”

Sambil menangis salah seorang anak itu berteriak, “Kalau dapat lotre, kuminta makan-nasi goreng.”

Diam-diam Sun-hoan menggeleng kepala dan menyesali ketidakadilan sosial di dunia ini, bagi pandangan anak kecil ini, mungkin makan nasi goreng sudah dianggapnya kenikmatan yang luar biasa.

Jalan raya tidak lebar, ditambah lagi orang berkerumun di depan penjual Yu-ca-kue ini cukup banyak, maka kereta mereka menjadi agak teralang dan belum dapat lewat ke sana.

Tiba-tiba kedua anak tadi berlari keluar lagi, masing-masing membawa semangkuk pangsit mi dan duduk di tepi jalan sambil memandangi Yu-ca-kue yang dipegang orang lain, tampaknya mereka hampir mengiler.

Melihat pangsit mi dalam mangkuk kedua anak itu, mendadak Dian Jit melompat turun dari keretanya, ia lemparkan sepotong uang perak kepada penjual Yu-ca-kue, segera belasan potong kue yang baru dikeluarkan dari wajan diserobotnya semua.

Meski marah pembeli lain yang telah menunggu cukup lama, tapi melihat lagak Dian Jit yang tidak boleh diremehkan itu, mereka tidak berani banyak omong, hanya dalam hati saja mencaci maki.

Balasan potong Yu-ca-kue itu dibawa Dian Jit ke depan kedua bocah itu, sapanya dengan tertawa, “Eh, adik cilik, kuberi makan Yu-ca-kue kepada kalian dan kau beri pangsit mi padaku, mau?”

Kedua anak itu terbelalak bingung.

Segera Dian Jit menambahkan, “Nanti kuberi lagi uang untuk membeli permen!”

Setelah melenggong lagi sejenak, mendadak kedua anak itu menyodorkan mangkuknya kepada Dian Jit, yang satu menerima Yu-ca-kue, yang lain mengambil uangnya, lalu berlari pergi dengan gembira.

Tertampil juga senyuman geli pada sinar mata Sim-bi Taysu, ketika melihat Dian Jit datang kembali dengan membawa dua mangkuk pangsit mi, ia tertawa dan berkata, “Dian-sicu memang banyak tipu akal, sungguh aku sangat kagum.”

“Bukan aku rakus dan suka makan,” kata Dian Jit, “soalnya malam ini kita masih harus melanjutkan perjalanan, untuk itu kita perlu mengisi perut sekenyangnya supaya bertenaga, kalau tidak, bilamana terjadi sesuatu lagi di tengah jalan, sedangkan badan lemas, lalu cara bagaimana kita mampu menghadapinya?”

“Ya, betul,” kata Sim-bi.

Dian Jit lantas menyodorkan semangkuk pangsit mi itu, katanya, “Silakan makan!”

“Terima kasih,” ucap Sim-bi sambil menerima pangsit mi.

Meski pangsit mi cuma makanan biasa, tapi bagi mereka sekarang tiada ubahnya seperti makanan paling mahal dan sukar dicari. Sebab siapa pun dapat memastikan di dalam pangsit mi ini tentu tidak beracun.

Dian Jit melirik Li Sun-hoan, ucapnya dengan tertawa, “Coba katakan lagi, apakah pangsit mi ini juga tidak boleh dimakan?”

Belum menjawab Sun-hoan sudah terbatuk-batuk lagi.

Dian Jit bergelak tertawa, katanya, “Apabila Ngo tok-tongcu dapat memperhitungkan lebih dulu di dalam mi, maka biarpun aku mati keracunan juga rela.”

Sembari tertawa semangkuk pangsit mi itu lantas dimakannya hingga habis.

Sim-bi Taysu juga sependapat dengan Dian Jit, betapa lihai Ngo-tok-tongcu juga bukan dewa yang dapat meramal apa yang belum terjadi. Maka ia pun makan pangsit mi itu dengan perasaan aman. Cuma cara makan orang beragama biasanya memang lebih sopan, lebih halus, disumpit dan dikunyah dengan perlahan, jika semangkuk pangsit mi dengan cepat telah masuk perut Dian Jit, maka Sim-bi sendiri baru makan dua-tiga sumpit.

Sementara itu kereta sudah berada di luar kota, si kusir berharap selekasnya dapat mengantar penumpangnya sampai di tempat tujuan, lalu dia sendiri dapat makan-minum sepuasnya, maka doa melarikan keretanya dengan sangat cepat.

“Jika lari kereta secepat ini, tidak sampai fajar tiba kita pasti dapat sampai di Siong-san,” ujar Dian Jit dengan tertawa.

Wajah Sim-bi Taysu juga menampilkan perasaan lega, katanya, “Dalam dua hari ini tentu ada anak murid perguruan kami akan memapak, asalkan dapat ….”

Mendadak ucapannya terhenti dengan tubuh gemetar, mangkuk yang dipegangnya juga hampir terlepas, kuah pangsit mi sampai tumpah dan mengotori jubahnya.

“He, Taysu, apakah engkau ….” seru Dian Jit dengan kaget.

“Prak”, tahu-tahu mangkuk teremas hancur oleh Sim-bi Taysu.

“Masa pangsit mi ini pun beracun!” seru Dian Jit.

Sim-bi menghela napas panjang sambil menggeleng.

Dian Jit menarik leher baju Li Sun-hoan sambil berteriak dengan suara serak, “Coba kau pandang wajahku, apakah mukaku juga ….”

Dia tidak melanjutkan ucapannya, sebab dia tidak perlu tanya lagi.

Sun-hoan menarik napas, katanya, “Meski selama ini aku sangat benci padamu, tepi tidak ingin kusaksikan kau mati.”

Muka Dian Jit pucat seperti mayat, badan gemetar, ia melototi Sun-hoan dengan gemas, selang sejenak ia berucap dengan menyeringai, “Huh, kau tidak ingin melihat kumati, aku justru ingin melihat kau mati. Seharusnya sudah lama kubunuh kau!”

“Apakah tidak terlambat jika sekarang kau bunuh diriku?” kata Sun-hoan.

“Ya, jika sekarang kubunuh dirimu memang agak terlambat, tapi juga tidak terlalu terlambat,” ucap Dian Jit dengan geregetan, segera ia mencekik leher Li Sun-hoan.

*****

A Fei telah berdiri, meski air mukanya kelihatan pucat, namun dia dapat berdiri dengan tegak.

Lim Sian-ji memandangnya dengan mesra penuh kasih sayang, ucapnya, “Engkau sungguh orang baja, semula kukira paling sedikit tiga-empat hari lagi baru engkau dapat sembuh, siapa tahu belum ada setengah hari engkau sudah dapat turun dari tempat tidur.”

A Fei berjalan dua lingkaran di dalam rumah, tiba-tiba ia bertanya, “Menurut pandanganmu, dapatkah dia sampai di Siau-lim-si dengan selamat?”

Sian-ji tampak kurang senang, omelnya, “Mengapa yang selalu kau bicarakan hanya dia dan dia saja, mengapa tidak kau bicara tentang diriku, atau mengenai dirimu sendiri?”

“Dapatkah dia sampai di Siau-lim-si dengan selamat?” kembali A Fei bertanya sambil menatap Lim Sian-ji, apa pun yang dikatakan nona itu yang ditanyakannya juga tetap mengenai diri Li Sun-hoan.

“Ai, kau ini, sungguh aku tak berdaya,” omel Sian-ji dengan tertawa. Dengan halus ia tarik A Fei berduduk, lalu ucapnya dengan lembut, “Namun jangan kau khawatir, bukan mustahil saat ini dia sudah berada di ruang tamu Siau-lim-si dan sedang minum teh, harus kau ketahui, teh Siau-lim-si selama ini sangat terkenal.”

Rasa gelisah A Fei tampak mereda, katanya dengan tertawa, “Setahuku, biarpun orang mencekik lehernya juga dia pasti tidak mau minum teh.”

*****

Leher Li Sun-hoan memang tercekik dan hampir saja tidak dapat bernapas.

Wajah Dian Jit tampak semakin beringas, napas juga hampir putus, namun tangannya yang penuh urat hijau masih juga mencekik dengan erat.

Sun-hoan merasa pandangannya mulai gelap, wajah Dian Jit dirasakannya semakin samar dan jauh, jauh sekali. Ia tahu “kematian” sudah mendekat.

Pada detik antara hidup dan mati itu dia mengira akan dapat mengenangkan banyak persoalan, sebab menurut cerita orang, konon sebelum ajal seorang bisa mendadak teringat kepada macam-macam hal.

Namun Sun-hoan tidak dapat memikirkan apa-apa, tidak merasakan duka, juga tidak merasa takut, ia malah merasa geli dan hampir saja tertawa. Sebab tak pernah terpikir olehnya dirinya bisa sama-sama mengembuskan napas terakhir bersama Dian Jit, biarpun sama-sama menuju ke akhirat, ia merasa Dian Jit pasti bukan teman seperjalanan yang baik.

Didengarnya Dian Jit lagi berteriak dengan suara parau, “Li Sun-hoan, betapa panjang napasmu, mengapa engkau belum lagi mati?”

Mestinya Sun-hoan hendak menjawab, “Sedang kutunggu kematianmu lebih dulu.”

Akan tetapi ia tidak dapat bicara, malahan ganti napas saja tidak dapat. Dirasakan suara Dian Jit juga berubah semakin jauh, seperti berkumandang dari neraka.

Ia tidak kuat meronta lagi, perlahan ia mulai pingsan.

Pada saat demikian itulah, sekonyong-konyong didengarnya jeritan kaget seorang, suara jeritan itu terdengar sayup-sayup dan juga sangat jauh, kedengaran juga suara Dian Jit.

Habis itu dada terasa longgar, napas menjadi lancar, pandangannya mulai terang. Ia dapat lagi melihat Dian Jit. Cuma sekarang Dian Jit sudah roboh di jok depan, kepalanya terkulai miring ke bawah, hanya matanya saja yang masih mendelik padanya.

Waktu ia berpaling, dilihatnya Sim-bi Taysu lagi tersengal-sengal, jelas baru saja terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Sun-hoan memandangnya sekian lama, akhirnya bertanya, “Engkau yang menolong diriku?”

Sim-bi tidak menjawab, tapi lantas membuka Hiat-to kelumpuhan Sun-hoan dan berkata dengan parau, “Mumpung Ngo-tok-tongcu belum muncul, lekas kau lari saja!”

Tapi sama sekali Li Sun-hoan tidak angkat kaki, bahkan bergerak saja tidak, ucapnya dengan suara tertahan, “Sebab apa kau lepaskan diriku? Apakah sudah kau ketahui aku bukan Bwe-hoa-cat?”

“Orang beragama tak mau menambah dosa mendekati ajalnya,” ucap Sim-bi dengan menyesal, “maka baik engkau Bwe-hoa-cat atau bukan, yang penting lekas kau pergi secepatnya, bilamana Ngo-tok-tongcu muncul, maka terlambatlah biarpun kau ingin lari.”

Sun-hoan memandangi wajah Hwesio tua yang mulai hitam hangus itu, katanya, “Terima kasih atas maksud baikmu. Cuma sayang, aku serbabisa, hanya kabur saja aku tidak bisa.”

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: