Pendekar Budiman: Bagian 10

Pendekar Budiman: Bagian 10
Oleh Gu Long

“Jadi yang dikisahkan kakek sekarang adalah mengenai mereka berdua?” tanya si nona berkucir.

“Betul,” jawab kakek Sun.

Mendadak si nona berkeplok dan tertawa, “Wah, jika begitu pasti sangat menarik. Cuma … cuma, seorang Tamhoalong yang terhormat mengapa disangkutpautkan dengan Bwe-hoa-cat yang terkutuk?”

“Dengan sendirinya ada alasannya,” ujar kakek Sun.

“Alasan apa?” tanya nona berkucir.

“Sebab Bwe-hoa-cat sama dengan Tamhoalong dan Tamhoalong sama dengan Bwe-hoa-cat,” tutur si kakek Sun.

Sungguh tidak kepalang gusar A Fei, hampir saja ia berjingkrak dan mendamprat.

Tapi si nona berkucir telah menggeleng kepala dan berkata, “Jika Tamhoalong ini seorang yang tidak sayang membuang harta kekayaannya yang berlimpah-limpah, tentunya beliau seorang yang meremehkan harta, mengapa mendadak bisa berubah menjadi Bwe-hoa-cat yang suka merampok, membegal dan gemar memerkosa orang perempuan. Ah, aku tidak percaya, tidak percaya.”

“Jangankan kau tidak percaya, tadinya aku pun tidak percaya, maka cukup lama sengaja kuselidiki urusan ini,” tutur si kakek.

“Ya, bicara tentang selidiki-menyelidik, siapa pun tidak lebih cepat daripada kakek dan seluk-beluknya sekarang tentu dapat kakek ketahui dengan jelas, bukan?”

“Tentu saja sudah kuketahui dengan jelas,” ujar si kakek. “Seluk-beluk urusan ini memang sangat ruwet, aneh dan misterius, bahkan tegang dan merangsang, sangat mengasyikkan ceritanya ….”

Sampai di sini, mendadak ia berhenti, kembali ia memejamkan mata lagi seperti mengantuk.

Si nona berkucir tampak gelisah, berulang ia mendesak, “He, mengapa tidak kakek lanjutkan?”

Kakek Sun mengisap pipa tembakaunya, asap tembakau diembuskan perlahan melalui lubang hidungnya, tapi tetap tidak bersuara.

“Baru sampai bagian yang menarik, mengapa kakek lantas mogok, kan bikin kagok jalannya cerita?” omel si nona.

Sejenak kemudian, mendadak ia bertepuk tangan dan berseru, “Ah, aku tahu, kiranya kakek perlu minum arak lebih dulu.”

Sekali ini bukan saja dia tahu, para pendengar juga tahu. Dengan tertawa beramai mereka lantas merogoh saku, mengambil uang. Si pelayan sejak tadi memang sudah menunggu di situ dengan membawa sebuah nampan untuk menerima uang.

Dengan begitu barulah si kakek buka mulut lagi, lebih dulu ia menguap, lalu menyambung ceritanya. “Mula peristiwa terjadi di Hin-hun-ceng.”

“Hin-hun-ceng?” si nona menegas. “Apakah tempat kediaman Liong Siau-hun, Liong-siya itu? Konon perkampungan itu sangat megah dan luas, banyak bangunan kuno dengan taman yang indah, sungguh suatu tempat permai yang jarang ada di provinsi sekitar sini.”

“Betul, Hin-hun-ceng memang tempat bagus, tapi tempat itu asalnya adalah pemberian Li Sun-hoan kepada Liong Siau-hun,” tutur si kakek Sun. “Soalnya mereka berdua adalah saudara angkat yang sehidup semati, malahan nyonya Liong adalah saudara misan Li-tamhoa ….”

Begitulah terjadi tanya jawab antara kakek dan cucu itu, ternyata hampir semua kejadian di Hin-hun-ceng belum lama berselang itu dapat diuraikannya dengan cukup jelas, ketika bicara cara bagaimana Li Sun-hoan salah mencederai Liong Siau-in, cara bagaimana pula terjebak dan tertawan, semua pendengar sama memperlihatkan rasa menyesal. Ketika bercerita mengenai Lim Sian-ji diculik di tengah malam buta dan cara bagaimana si pemuda A Fei menolong si cantik dengan pedang kilatnya, entah sengaja atau tidak, tiba-tiba sorot mata si kakek Sun yang tajam itu memandang ke arah A Fei dan Lim Sian-ji, malahan si nona berkucir juga berulang melirik ke arah mereka.

Meski A Fei tetap tenang saja namun dalam hati sudah mulai bercuriga, “Jangan-jangan dia sudah tahu siapa kami? Mungkinkah cerita mereka ini sengaja diperdengarkan kepada kami?”

Lalu si nona berkucir berkata Lagi, “Jika demikian, mungkin sekali Bwe-hoa-cat itu sudah … sudah mati di tangan pendekar pedang Fei cilik itu?”

“Tapi Tio-toaya, Dian-jitya dan lain-lain justru menganggap yang terbunuh olehnya bukan Bwe-hoa-cat dan yakin Li Sun-hoan adalah Bwe-hoa-cat yang tulen,” kata si kakek Sun.

“Lantas sesungguhnya siapakah Bwe-hoa-cat yang tulen?” tanya si nona.

“Siapa pun tidak pernah melihat Bwe-hoa-cat yang tulen, namun juga tak ada yang tahu yang mana tulen dan yang mana palsu?” tutur kakek Sun dengan gegetun. “Namun Tio-toaya, dan Dian-jitya bukanlah sembarangan orang, mereka orang terhormat, ucapan mereka tentu dapat dipercaya, jika mereka bilang Li Sun-hoanlah Bwe-hoa-cat, orang lain terpaksa juga membenarkan Li Sun-hoan ialah Bwe-hoa-cat Maka Sim-bi Taysu lantas menggiringnya pulang ke Siau-lim-si.”

Kembali ia mengisap tembakau dua-tiga kali, lalu menyambung lagi, “Siapa tahu, setiba di Siau-lim-si, jadinya bukan Sim-bi Taysu mengiring Li Sun-hoan, sebaliknya berubah menjadi Li Sun-hoan mengantar pulang Sim-bi Taysu.”

Keterangan ini tidak saja membikin terkejut Lim Sian-ji, bahkan juga di luar dugaan A Fei, kedua orang sama tidak dapat menerka apa yang terjadi di tengah perjalanan.

Untunglah si nona berkucir telah mewakili mereka bertanya.

Maka si kakek Sun bertutur pula, “Kiranya di tengah perjalanan, Sim-bi Taysu, Dian Jit dan empat murid Siau-lim yang mengiringnya itu telah dicegat oleh Ngo-tok-tongcu, si maharacun dari daerah Miau, kecuali Sim-bi Taysu, yang lain telah binasa seketika, setelah keracunan barulah Sim-bi membebaskan Li Sun-hoan, karena melihat Sim-bi Taysu keracunan sangat parah, hanya di Siau-lim-si saja mungkin ada obat penawarnya, maka cepat ia mengawalnya pulang ke sana.”

Si nona berkucir lantas mengacungkan ibu jari dan memuji, “Itu dia! Li-tamhoa itu sungguh seorang pahlawan, seorang kesatria sejati. Jika orang lain, dalam keadaan begitu mungkin sudah ditinggalkan pergi tanpa gubris mati-hidupnya Sim-bi Taysu, mana lagi mau menolongnya segala.”

“Walaupun betul begitu, namun sayang, para padri Siau-lim-si bukan saja tidak berterima kasih padanya, sebaliknya malah hendak membunuhnya,” tutur Sun tua lebih lanjut.

“Aneh, mengapa begitu?” ujar si nona berkucir dengan heran.

“Sebab pengalaman di tengah perjalanan itu diceritakan sendiri oleh Li Sun-hoan, sama sekali padri Siau-lim-si tidak mau percaya kepada uraiannya.”

“Namun … namun Sim-bi Taysu sendiri kan dapat menjadi saksi!” ujar si nona.

“Ya, tapi sayang, setiba di Siau-lim-si Sim-bi Taysu sendiri lantas wafat,” kata kakek Sun. “Padahal kecuali Sim-bi Taysu sendiri, tiada orang kedua lagi di dunia ini yang tahu persis kejadian yang sebenarnya.”

Bercerita sampai di sini, serentak terdengar suara penyesalan orang banyak di sana-sini.

Dada A Fei juga hampir meledak saking gemasnya, ia tidak tahan dan segera bertanya, “Dan sekarang Lim-tamhoa itu apakah mengalami nasib malang di Siau-lim-si?”

Sun tua meliriknya sekejap, sorot matanya masih mengandung senyuman, sahutnya perlahan, “Meski Kungfu Siau-lim-si dipandang paling top di dunia persilatan, setiap murid Siau-lim juga pasti jago kelas tinggi, tapi bilamana ingin membunuh Li-tamhoa, jelas juga bukan pekerjaan gampang.”

Si nona berkucir juga melirik A Fei sekejap, ucapnya, “Tapi dua kepalan tentu sukar melawan empat tangan, betapa tangkas juga sukar bagi Li-tamhoa untuk menghadapi anak murid Siau-lim-si yang berjumlah berapa ratus orang itu.”

“Biarpun murid Siau-lim mendekati seribu orang, tapi siapa pula yang berani mendahului turun tangan? Siapa pula yang berani menyambut pisau terbang si Li cilik!” tukas Sun tua.

“Betul,” si nona berkucir berkeplok gembira. “Pisau terbang si Li cilik, sekali timpuk tidak meleset. Betapa banyak murid Siau-lim-si juga tidak mampu mencelakai dia, saat ini mungkin dia sudah angkat kaki dari sana.”

“Dia juga tidak perlu angkat kaki dari sana,” ujar Sun tua.

“Sebab apa?” si nona tampak melengak.

“Meski murid Siau-lim-si tidak mampu membekuk dia, tapi dia juga tidak sanggup menerjang keluar dari Siau-lim-si,” tutur Sun tua dengan menyesal. “Apalagi, sebelum duduknya perkara dibikin terang, betapa pun ia tidak mau pergi.”

“Jika dia tidak dapat pergi, juga tidak bisa bertempur, lalu bagaimana?” tanya si nona.

“Berada di tengah kepungan beratus murid Siau-lim-si, apabila pisaunya tertimpuk. ia sendiri pasti juga akan binasa, sebab yang ditakuti murid Siau-lim-si adalah pisau terbangnya yang sakti, tapi biarpun mahasakti pisaunya juga tidak dapat membunuh habis sekian ratus murid Siau-lim.”

“Ya, tapi jika keadaan terus berlarut begitu, akhirnya salah seorang tentu tidak tahan,” ujar si nona berkucir.

Memang demikian pula yang dikhawatirkan A Fei, apabila dia yang menjadi Li Sun-hoan dan menghadapi persoalan yang sama, tentu ia pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Terdengar Sun tua berkata pula, “Tempat mereka berbicara justru berada di luar kamar tidur Sim-bi Taysu yang sudah wafat itu, karena kedua pihak sama bertahan pada pendirian masing-masing, pada suatu kesempatan Li-tamhoa lantas menerjang ke dalam kamar tidur itu.”

“Wah, dengan demikian kan berarti dia mengurung dirinya sendiri?” seru si nona.

“Justru anak murid Siau-lim tidak menduga, bukannya dia menerjang ke luar, sebaliknya malah menyusup ke jalan buntu, makanya memberi peluang baginya untuk masuk ke kamar tidur Sim-bi, namun menyesal pun sudah terlambat.”

“Menyesal? Jika Li Sun-hoan masuk ke jalan buntu sendiri, mengapa mereka malah menyesal?”

“Soalnya di kamar itu selain ada jenazah Sim-bi Taysu, di situ juga tersimpan sejilid kitab pusaka Siau-lim-si, dalam keadaan begitu, mereka tidak berani sembarangan menyerbu ke dalam kamar.”

“Tapi mereka kan dapat mengepung kamar itu, tidak seberapa hari lagi kan Li-tamhoa bisa mati kelaparan dan kehausan?”

“Agaknya anak murid Siau-lim-si juga berpikir demikian, namun apa daya, paman guru kelima mereka, Sim-su Taysu juga berada di kamar itu dan dijadikan sandera oleh Li Sun-hoan, memangnya mereka tega membiarkan Gosusiok (paman guru kelima) mereka juga ikut mati kelaparan dan kehausan?”

“Makanya terpaksa mereka harus mengantar makanan ke dalam kamar agar Sim-su tidak mati kelaparan, dan dengan sendirinya Li-tamhoa juga tidak bakal mati kelaparan.”

Si nona berkucir berkeplok gembira, “Selama beratus tahun Siau-lim-si terkenal sebagai tempat keramat bagi dunia persilatan, siapa pun tidak berani sembarangan main gila di sana, tapi seorang diri Li-tamhoa telah mengubrak-abrik Siau-lim-si, beratus anak muridnya sama mati kutu dan tidak mampu bertindak apa pun kepadanya, bahkan setiap hari harus memberi makan minum kepadanya, malahan khawatir kalau makanan yang diberikan itu tidak cocok dengan seleranya ….”

Setelah tertawa mengikik, lalu ia menyambung pula, “Li-tamhoa ini sungguh seorang tokoh mahahebat, sungguh sangat menarik cerita ini.”

Mendengar sampai di sini, darah dalam rongga dada A Fei juga bergolak dan hampir tidak tahan dan ingin berjingkrak serta memberitahukan kepada mereka bahwa Li-tamhoa adalah sahabatku, sahabat karibku.

Memang, barang siapa mempunyai sahabat semacam Li Sun-hoan tentulah akan merasa bangga.

Tapi kakek Sun berkata pula sambil menghela napas panjang, “Ya, Li-tamhoa memang seorang kesatria mahahebat, cuma sayang, kesatria besar ini lambat atau cepat pasti akan terkubur di Siau-lim-si.”

“Sebab apa?” tanya si nona.

Seperti tidak sengaja kakek Sun melirik lagi sekejap ke arah A Fei, lalu berkata, “Kecuali ada orang dapat membuktikan Li-tamhoa bukan Bwe-hoa-cat, dapat membuktikan bahwa Sim-bi Taysu memang dicelakai oleh Ngo-tok-tongcu, kalau tidak, mustahil pihak Siau-lim-si akan melepaskan dia pergi.”

“Lantas siapakah yang dapat menjadi saksi baginya?” ujar si nona.

Kakek Sun termenung sekian lamanya, akhirnya menghela napas, “Di seluruh kolong langit ini mungkin tiada seorang pun yang dapat.”

Tengah hari sudah lewat, kisah pun berakhir, pendengar mulai bubar, pada waktu pergi banyak juga yang memperbincangkan apa yang didengarnya tadi, bahkan banyak yang merasa sayang dan menyesal bagi nasib Li Sun-hoan selanjutnya.

Sang surya makin mendoyong ke barat, sudah sore hari, di ruangan makan kini tertinggal dua meja saja yang masih ada tetamunya.

Kakek Sun masih minum arak dengan perlahan diseling dengan mengisap tembakaunya. Sedangkan cucu perempuannya, si nona berkucir asyik makan mi. Caranya makan mi rada aneh, lebih dulu ia gunakan sumpitnya untuk memelintir lajur mi, habis itu baru dimasukkan ke dalam mulut.

Lim Sian-ji memandang A Fei dengan mesra, sebaliknya A Fei sedang termenung. Hidangan yang berada di atas meja mereka hampir tidak tersentuh.

Entah berapa lama lagi, mendadak si nona berkucir menaruh sumpitnya, lalu berkata, “Kek, menurut pendapatmu, apakah Li-tamhoa itu difitnah orang?”

Kakek Sun menarik napas, jawabnya, “Biarpun kutahu dia difitnah juga tidak ada gunanya.”

“Tapi dia kan punya sahabat, masakan tiada seorang pun yang mau menolongnya?” ujar si nona.

Kembali kakak Sun menghela napas panjang, “Jika dia terkurung di tempat lain mungkin ada yang akan menolongnya. Tapi dia terkurung di Siau-lim-si, di dunia ini mungkin tidak ada orang yang dapat menolongnya.”

“Jika … jika demikian, seorang kesatria besar begini apakah akan mati terkurung begitu saja?”

Si kakek tampak termenung, sekian lama barulah ia berkata pula, “Ada juga satu jalan, cuma sangat tipis juga harapannya.”

Mendengar perkataan ini, mata A Fei terbeliak.

“Bagaimana caranya?” terdengar si nona berkucir bertanya pula.

Kembali kakek Sun menyapu pandang sekejap ke arah A Fei, lalu bertutur dengan perlahan, “Jika Bwe-hoa-cat yang tulen itu belum lagi mati dan mendadak muncul kembali, dengan sendirinya akan terbukti bahwa Li Sun-hoan bukan Bwe-hoa-cat. Dan kalau dia bukan Bwe-hoa-cat, dengan sendirinya juga tidak ada alasan untuk menuduh dia yang membinasakan Sim-bi Taysu.”

Si nona berkucir juga menghela napas, ucapnya, “Ya, harapan ini memang sangat tipis, umpama Bwe-hoa-cat tulen itu tidak mati, tentu juga dia akan bersembunyi agar Li-tamhoa menjadi tumbal baginya.”

Mendadak kakek Sun mengetuk pipa tembakaunya di atas meja, lalu berkata, “Apakah sudah selesai kau makan mi?”

“Sebenarnya aku sangat lapar, tapi setelah mendengar kisah tadi, hilanglah rasa laparku,” jawab si nona.

“Kalau tidak mau makan lagi marilah kita pergi saja, kalau cuma berduduk saja di sini, selama hidup juga tidak dapat menyelamatkan Li-tamhoa.”

Mereka lantas melangkah pergi. Setiba di ambang pintu, tiba-tiba si nona berkucir menoleh pula dan melirik A Fei sekejap seakan-akan hendak bilang, “Jika kau hanya berduduk saja di sini, cara bagaimana akan dapat kau tolong dia?”

Sian-ji memandangi kepergian mereka, habis itu baru menjengek, “Hm, menurut pendapatmu, orang macam apakah kedua kakek dan cucunya itu?”

“Memangnya orang macam apa?” jawab A Fei tak acuh.

“Sorot mata kakek itu kelihatan tajam, jelas Lwekangnya tidak lemah, langkah nona cilik itu pun cepat dan gesit, Ginkangnya pasti tidak di bawahku.”

“Oo?!” A Fei bersuara singkat.

“Maka menurut pendapatku, jelas kedua orang ini bukan tukang mengobrol biasa, tapi pasti mempunyai maksud tujuan tertentu.”

“Maksud tujuan apa?” tanya A Fei.

“Dia sengaja mengisahkan peristiwa itu agar didengar olehmu, bisa jadi tujuannya supaya kau mau pergi ke sana untuk mengantar kematian.”

“Mengantar kematian?” A Fei tidak mengerti.

Sian-ji menghela napas, “Setelah kau tahu Li Sun-hoan terkurung di Siau-lim-si, tentu tanpa menghiraukan apa pun akan kau tolong dia. Tapi cuma sendirian mana bisa engkau menandingi sekian ratus murid Siau-lim-si?”

A Fei termenung tanpa bersuara.

“Apalagi, bisa jadi apa yang diuraikan mereka tadi hanya dusta belaka, tujuannya supaya kau terjebak.”

Ia pegang tangan A Fei dengan erat, katanya pula dengan lembut, “Seumpama betul cerita mereka tadi, saat ini Li Sun-hoan juga takkan mengalami bahaya apa pun. jika kau pergi ke sana kan bisa memancarkan pikirannya, bila pihak Siau-lim-si menggunakan dirimu sebagai alat pemeras kepadanya, dia pasti akan keluar menolongmu tanpa menghiraukan apa pun risikonya. Jika terjadi demikian, akhirnya bukan kau pergi ke sana untuk menolong dia, sebaliknya malah akan membikin susah padanya.”

Cukup lama A Fei termenung, akhirnya berkata, “Ya, betul juga, pertimbanganmu jauh lebih cermat daripadaku.”

“Jadi engkau berjanji takkan menyerempet bahaya ke Siau-lim-si?”

“Baik,” jawab A Fei.

Karena jawaban yang singkat, cepat dan tegas ini, Sian-ji berbalik sangsi malah.

Tanpa bicara mereka terus pulang ke rumah dengan perasaan tertekan. Baru saja Sian-ji menuangkan secangkir teh, mendadak A Fei berkata, “Jika aku tidak perlu pergi ke Siau-lim-si, bolehlah engkau pulang saja.”

“Dan kau?” tanya Sian-ji.

“Aku … aku ingin berjalan-jalan ke tempat lain.”

Mendadak Sian-ji bergemetar sehingga air teh tertumpah di bajunya, serunya, “Jangan-jangan engkau hendak … hendak memalsukan Bwe-hoa-cat?”

A Fei memandangnya lekat-lekat, sampai lama sekali barulah ia mengiakan dengan menyesal.

“Sudah … sudah bulat tekadmu?” tanya Sian-ji dengan menggigit bibir.

Kembali A Fei mengiakan. Sedemikian singkat dan tegas jawabannya sehingga tidak mungkin dapat ditawar lagi.

Dengan pedih Sian-ji berucap, “Jika … jika begitu, mengapa kau suruh aku pulang?”

“Sebab ini urusanku sendiri.”

“Urusanmu nama juga urusanku,” ucap Sian-ji sambil menunduk.

“Tapi Li Sun-hoan bukanlah sahabatmu.”

“Sahabatmu sama juga sahabatku.”

Terunjuk rasa terima kasih pada wajah A Fei, tapi tidak diucapkannya.

“Sedemikian besar rasa setia kawanmu, mengapa aku tidak?” kata Sian-ji pula. “Meski aku tidak berguna, tapi bila dua orang berada bersama, menghadapi sesuatu urusan kan bisa berunding dan lebih baik daripada sendirian.”

Mendadak A Fei menggenggam tangannya, meski tidak berucap, tapi matanya, sikapnya, sudah bicara segalanya. Pembicaraan tanpa suara ini jauh lebih menggetar sukma daripada bicara dengan bersuara.

Sian-ji tertawa manis, tiba-tiba ia berkerut kening pula dan berkata, “Bila engkau mau memalsukan Bwe-hoa-cat, perlu juga kau cari beberapa sasaran tertentu untuk dikerjai.”

“Ehmm,” A Fei mengangguk.

“Dan tentunya kita tidak dapat mencari orang yang tidak berdosa, betul tidak?”

“Ya, sasaran yang kucari dengan sendirinya orang kaya yang tidak berbudi, atau bandit yang membagi rezeki tanpa ikut operasi.”

Berputar bola mata Sian-ji, ucapnya, “Kabarnya di sekitar sini juga ada seorang sejenis ini.”

“O, siapa?” tanya A Fei.

“Orang ini dahulu adalah bandit besar, setelah lanjut usia barulah cuci tangan, tapi diam-diam masih juga berbuat hal-hal yang kotor.”

“Siapa namanya?”

“Konon aslinya bernama Thio Sing-ki, tapi sekarang orang menyebutnya Thio-wangwe (hartawan Thio) dan juga Thio-taysianjin (si Thio mahadermawan).”

“Huh, Taysianjin?” jengek A Fei dengan kening bekernyit.

Sian-ji tertawa, “Jika dia berhasil merampok sepuluh laksa tahil perak, maka akan dikeluarkannya seratus tahil perak untuk kerja sosial, bila malamnya dia membunuh seratus orang, siang esoknya dia akan memberi sedekah kepada fakir miskin …. Bilamana seorang bandit mau menjadi sosiawan, tentu jauh lebih cepat dan mudah daripada siapa pun.”

*****

Si mahadermawan Thio Sing-ki sedang berbaring di dipannya yang empuk, seperti sedang melamun menghadapi perapian di depannya sambil perlahan menghirup sup sarang burung yang masih hangat-hangat.

Di luar kembali turun salju, tapi di dalam rumah terasa hangat seperti musim semi. Bunga Cui-sian sedang mekar pada sebuah pot bunga di pojok sana dan seekor kucing belang yang kecil tidur kemalas-malasan di bawah pot.

Thio Sing-ki menggeliat malas dan bergumam, “Musim semi tahun ini terlebih dini ….”

Pagi tadi di bawah hujan salju dia menempuh perjalanan sejauh beberapa li untuk menjenguk salah seorang buruh taninya yang terluka didepak keledai. Meski sekarang dia merasa lelah, tapi perasaannya sangat riang. Biasanya orang yang baru berbuat sesuatu yang baik pikirannya tentu terasa gembira, apalagi pada waktu dia menjenguk orang sakit, gundiknya yang ketiga juga melahirkan seorang anak lelaki mungil baginya.

Thio Sing-ki memberikan mangkuk sup sarang burung kepada genduk cilik yang melayani di samping, sekaligus ia terima pipa tembakau yang sudah disulut, ia mengisap dua-tiga kali, sedap rasa tembakaunya, hatinya sangat puas.

Dia memejamkan mata dan bermaksud tidur sejenak untuk menghimpun semangat. Tak terduga mendadak si genduk cilik menjerit kaget, mangkuk sarang burung jatuh berantakan.

Dengan kaget Thio Sing-ki membuka mata, dilihatnya seorang berbaju hitam tahu-tahu berdiri di depannya serupa badan halus saja, siapa pun tidak tahu dari mana dia muncul.

Meski sudah sekian tahun Thio Sing-ki cuci tangan, namun Kungfunya tidak sampai telantar, dengan suara bengis ia membentak, “Maling cilik yang buta, berani tepuk lalat di atas kepala harimau?”

Sembari membentak, pipa tembakaunya terus menyabet kepala si baju hitam.

Tapi pada saat yang sama, sekonyong-konyong sinar tajam berkelebat. Sama sekali Thio Sing-ki tidak tahu cara bagaimana pihak lawan turun tangan, bahkan tidak jelas senjata apa yang digunakan musuh, tahu-tahu ulu hatinya terasa nyes dingin, kontan bertambah dengan lima titik bunga darah.

*****

Bwe-hoa-cat muncul lagi!

Dengan cepat berita ini tersiar, baik di rumah makan, di hotel, di tempat minum, semua orang sama kasak-kusuk membicarakan peristiwa ini.

Apakah orang yang membunuh Thio Sing-ki adalah Bwe-hoa-cat tulen?

Siapa pula sasaran berikutnya?

Setiap hartawan dan setiap orang kaya yang berdosa sama kebat-kebit dan tidak dapat tidur nyenyak.

*****

Dekat magrib, terdengar suara genta berbunyi nyaring menggema dari biara tua itu, para padri Siau-lim tampak hambar tapi khidmat sama melangkah masuk ke ruang pendopo dengan kepala tertunduk.

Langkah mereka jauh lebih enteng daripada biasanya, sebab beberapa hari terakhir ini perasaan setiap murid Siau-lim-si sama tertekan, menanggung sesuatu urusan yang belum terselesaikan.

Suara kidung yang syahdu masih tetap seperti biasa, penduduk di sekitar gunung ini segera tahu anak murid Siau-lim sedang sembahyang malam bilamana mendengar suara kidung yang syahdu itu.

Lereng Siong-san kelihatan kelam, hawa terasa semakin dingin, pegunungan yang diliputi salju itu hampir dapat terlihat seluruhnya sejauh mata memandang, pada saat itulah seorang tampak berlari cepat ke atas gunung, dia inilah Siau Cing, seorang murid Siau-lim-si dari keluarga swasta.

Dia bicara sejenak dengan saudara seperguruan yang bertugas jaga di kaki bukit, gardu depan biara, lalu masuk ke ruangan belakang.

Ruangan Hongtiang (ketua) sunyi senyap, hanya terlihat asap dupa mengepul keluar dari jendela, lalu buyar ke udara.

Langkah Siau Cing sangat enteng, hampir tidak menerbitkan suara, tapi baru saja ia masuk ke ruangan belakang, dari kamar Hongtiang segera bergema suara Sim-oh Taysu yang berat sedang menegur, “Siapa itu?”

Siau Cing berhenti jauh di luar pintu dan menjawab dengan hormat, “Tecu (murid) Siau Cing, ada urusan penting ingin melapor.”

Di dalam kamar Hongtiang hanya ada tiga orang, yakni Sim-oh, Sim-kam dan Pek-hiau-sing.

Air muka mereka tampak kelam, jelas perasaan mereka sama tidak baik, masygul.

Siau Cing tidak berani banyak omong, begitu dia masuk segera ia berkata dengan hormat, “Di dunia Kangouw tersiar berita hangat bahwa Bwe-hoa-cat muncul kembali!”

“Hah, Bwe-hoa-cat?!” serentak Sim-kam dan Pek-hiau-sing berseru kaget.

Sim-oh termenung serupa patung Buddha, tetapi tangannya yang memegang tasbih tampak rada gemetar juga.

Entah berapa lamanya baru dia menghela napas, ucapnya, “Jika Bwe-hoa-cat muncul kembali, apa yang dikatakan Li Sun-hoan itu agaknya memang benar, bisa jadi kita yang salah menuduhnya.”

Pek-hiau-sing memandang Sim-kam tanpa bersuara.

Perlahan Sim-kam Taysu mendekati jendela, ia pandang salju yang memenuhi lereng di kejauhan sana, ucapnya perlahan, “Mungkin juga hal ini semakin membuktikan Li Sun-hoan adalah Bwe-hoa-cat yang sesungguhnya.”

“Apa artinya ucapanmu?” tanya Sim-oh Taysu.

“Jika aku menjadi Bwe-hoa-cat dan mengetahui sudah ada orang lain mati menjadi tumbalku, maka aku pasti akan menyingkir untuk sementara, kalau tidak kan sama dengan menyelamatkan Li Sun-hoan malah?”

Pek-hiau-sing mengangguk dan menimbrung, “Betul, munculnya Bwe-hoa-cat sekarang tiada ubahnya seperti sengaja hendak mencuci bersih kesalahan Li Sun-hoan. andaikan aku menjadi Bwe-hoa-cat pasti takkan berbuat demikian.”

Sim-oh berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jadi maksud kalian ….”

“Yang membunuh Thio Sing-ki pastilah begundal Li Sun-hoan,” ujar Sim-kam. “Dan sengaja memalsukan nama Bwe-hoa-cat, tujuannya hendak membantu Li Sun-hoan agar terhindar dari tuduhan.”

“Jika Li Sun-hoan memang bukan Bwe-hoa-cat, tentu begundalnya tidak perlu bertindak demikian,” demikian Pek-hiau-sing menambahkan.

Akhirnya Sim-oh Taysu berbangkit, ia mengitar beberapa kali di tengah ruangan, mendadak ia berhenti dan bertanya, “Siapa yang dinas jaga di ruang Budhi hari ini?”

“Murid Jisuheng yang bernama It-in dan It-tun,” jawab Sim-kam.

“Panggil mereka kemari,” kata Sim-oh. Dia berdiri memandangi asap yang mengepul dari tungku dengan terkesima. Waktu mendengar langkah kaki It-in dan It-tun, tanpa menoleh ia lantas bertanya, “Apakah santapan malam Gosusiok sudah kalian antar?”

“Su … sudah, cuma … cuma ….” It-in tidak sanggup melanjutkan.

“Cuma apa?” desak Sim-oh Taysu.

It-in menunduk dan menjawab, “Sesuai peraturan sebelumnya, Tecu tetap menaruh makanan di depan pintu, takaran makanan juga serupa kemarin, bertambah sekali lipat daripada biasanya ditambah lagi satu mangkuk air bersih.”

“Tecu sendiri yang menaruh nampan makanan di depan pintu,” sambung It-tun. “Sebab kesempatan itu hendak Tecu gunakan untuk melongok keadaan di dalam, siapa tahu baru saja Tecu sampai di depan pintu segera terdengar suara Li Sun-hoan yang mengusir Tecu lekas pergi, terpaksa Tecu tidak berani tinggal lama-lama di situ, dan baru beberapa langkah Tecu melihat tangan Li Sun-hoan terjulur dari celah pintu untuk mengambil nampan makanan, siapa tahu … siapa tahu sejenak kemudian, semua makanan itu dilemparkannya keluar ….”

“Sebab apa?” tanya Sim-oh Taysu.

It-tun bertutur dengan tergegap, “Dia … dia bilang hidangan tidak enak, tidak ada arak lagi, maka tidak mau makan.”

Sekonyong-konyong Sim-oh berpaling dengan wajah gusar, teriaknya bengis, “Memangnya dia, sangka ini tempat apa? Dikiranya restoran!”

Sudah belasan tahun It-in dan It-tun cukur rambut menjadi Hwesio, belum pernah mereka melihat sang ketua bergusar seperti ini, keduanya sama menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Selang agak lama air muka Sim-oh baru berubah tenang kembali, lalu berpaling ke sana dan memandang anglo dupa pula dengan termenung-menung, sampai lama sekali baru berucap lagi, “Dia bilang mau makan apa?”

“Dia malah … malah menulis satu daftar hidangan dan dilemparkan dari dalam dan minta Tecu menyediakannya menurut daftar, katanya bila satu macam saja tidak benar kontan akan diretur kembali lagi.”

“Coba kulihat daftar makanannya?” kata Sim-oh.

Dengan gugup It-tun menyerahkan secarik kertas, ternyata di situ tertulis empat macam santapan dan satu macam kuah, selain itu dimintanya pula tiga kati arak Tik-yap-jing pilihan. Sungguh celaka, Siau-lim-si yang terhormat dianggapnya sebagai rumah makan saja.

Setiap orang yang melihat daftar makanan ini pasti akan serbamendongkol dan mungkin bisa menggebrak meja, siapa tahu sekarang Sim-oh berbalik bersikap hambar, katanya malah, “Baiklah boleh kau buatkan makanan permintaannya menurut daftar ini.”

Tiba-tiba Sim-kam menyela, “Suheng, mana … mana boleh engkau ….”

Tapi Sim-oh lantas memberi tanda agar jangan bicara lebih lanjut, ucapnya dengan khawatir, “Apabila Li Sun-hoan tidak mau makan, bukankah Gosute juga akan ikut menambah penderitaannya?”

Sim-kam menunduk, ucapnya, “Tapi … tapi kalau kita penuhi permintaannya, bukankah orang she Li itu akan bertambah besar kepala?”

Gemerdep sinar mata Sim-oh Taysu, ucapnya sekata demi sekata, “Aku sudah mengambil keputusan tertentu, biarkan saja dia besar kepala dua hari lagi.”

*****

Saat itu A Fei sedang berbaring di tempat tidur dan berbantalkan siku tangan sambil memandang langit-langit kamar dengan termenung-menung.

Sudah lama sekali dia berbaring dengan posisi demikian tanpa bergerak, sekujur badannya seolah-olah telah berubah menjadi batu.

“Tidak bergerak” juga merupakan semacam kepandaian yang khas. Sebab orangnya harus mempunyai kesabaran luar biasa.

Mungkin banyak orang yang mampu bergerak tanpa berhenti selama dua jam terus-menerus, tapi untuk tidak bergerak sama sekali dalam waktu dua jam, mungkin tidak seberapa banyak yang sanggup di dunia ini. Di hutan belukar, kepandaian “tidak bergerak” demikian terlebih banyak gunanya, tidak cuma sekali hal ini telah menyelamatkan jiwa A Fei.

Kesulitan hidup di hutan belukar, tidak dapat dibayangkan oleh orang yang biasa hidup di tengah khalayak ramai. Terkadang selama beberapa hari berturut-turut tidak mendapatkan makanan dan juga tidak menemukan air minum. Untuk itu terpaksa ia harus menunggu, terpaksa harus sabar, terpaksa “tidak bergerak”.

Sebab dengan “tidak bergerak” akan dapat dihemat tenaga, untuk mencari makanan diperlukan tenaga, dengan begitulah dia bertahan hidup, berjuang melawan keganasan alam selamanya dan tidak pernah berhenti.

Pernah terjadi beberapa kali, bahkan kelinci liar yang paling licin dan licik pun menyangka dia sebagai sepotong batu, waktu itu dia kelaparan sehingga kehabisan tenaga, kalau saja kelinci ini tidak melompat sendiri ke dalam pangkuannya, mungkin dia bisa mati kelaparan.

Jika kelinci yang sukar ditangkap oleh anjing hutan saja dapat melompat sendiri ke dalam pangkuannya, hal ini sungguh dongeng yang sukar dipercaya. Dari ini pun dapat dibayangkan betapa kuat cara A Fei “tidak bergerak”.

Pernah satu kali, selama setengah bulan hujan badai salju terus-menerus, tatkala itu usianya baru sebelas atau dua belas, sudah dua hari dia kelaparan, dalam keadaan begitulah dia justru kepergok seekor beruang.

Tentu saja ia tidak mampu melawan, syukurlah beruang tidak mau makan orang mati, maka dia lantas berbaring dan berlagak mati, tak terduga yang ditemuinya adalah seekor beruang yang licin yang juga hampir gila karena kelaparan, beruang itu tidak mau pergi melainkan masih terus mengitari dia, malahan berulang-ulang mengendusnya dan mencakarnya, bahkan digigitnya.

Namun semua itu ditahannya, sedikit pun dia tidak bergerak.

Pada hari kedua dia menemukan seekor anjing hutan yang hampir mati beku, dapatlah dia mengisi perut sekenyangnya dan pulihlah tenaga badannya, segera dia menyusuri jejak beruang jahat itu untuk menuntut balas.

Kesabaran seorang bukanlah pembawaan, tetapi diperlukan latihan dan gemblengan jangka panjang.

Mula-mula, hanya sebentar saja dia sudah tidak tahan rasa gatal, rasanya dia ingin menggaruknya, lama-lama bila rasa gatal dibiarkan akan berubah menjadi kaku. Dan sekarang rasa kaku pun tidak ada padanya, asalkan dia merasa tidak perlu “bergerak”, maka dia mampu bertahan sampai beberapa jam lamanya.

Waktu Lim Sian-ji pulang, disangkanya A Fei sudah tidur.

Dandanan Sian-ji hari ini sangat aneh, ia memakai pakaian kasar yang longgar sehingga garis tubuhnya tertutup sama sekali. Dia juga memakai sebuah topi bertepi lebar untuk menutupi wajahnya, kepergiannya adalah untuk “mencari berita” dan sudah dua-tiga jam dia pergi.

Waktu mendadak A Fei bangkit berduduk, Sian-ji terkejut, ia terus menubruk ke dalam pangkuan A Fei, ucapnya sambil menepuk dada dengan tertawa, “Kiranya kau pura-pura tidur, memangnya sengaja hendak kau bikin kaget diriku?”

Memandangi senyum manis si dia, A Fei tidak tahan dan merangkulnya dengan perlahan, Sian-ji memejamkan mata dan mengangkat mukanya, tapi A Fei lantas mengendurkan lagi rangkulannya.

Sian-ji membebani rambutnya, ucapnya, “Kau jemu padaku?”

A Fei menggeleng.

“Jika demikian, mengapa … mengapa selama dua hari ini engkau selalu menghindari diriku?”

A Fei menghindari tatapan si dia dan menunduk, “Aku … aku khawatir tidak dapat mengendalikan diri.”

Sian-ji memandangnya dengan mesra, didekatkan mukanya dan mencium pipi A Fei, ucapnya dengan lembut, “Engkau sungguh sangat baik.”

A Fei berdiri, ia gantung topi Sian-ji di dinding, sesudah debar jantungnya agak tenang barulah ia berpaling dan bertanya, “Ada kabar yang kau peroleh?”

Sian-ji menghela napas dan menggeleng.

“Kawanan Hwesio itu tetap tidak mau membebaskan dia?” tanya A Fei.

Sian-ji termenung sejenak, katanya kemudian, “Tindak tanduk Hwesio Siau-lim-si biasanya matang dan mantap, sebelum melakukan sesuatu selalu ditinjau dulu dengan masak dan tidak mau sembarangan bertindak, mereka lebih suka tidak bertindak sesuatu daripada keliru bertindak.”

“Tapi sudah enam-tujuh hari mereka menunggu,” kata A Fei.

“Mungkin mereka belum mau percaya orang, yang membunuh Thio Sing-ki adalah Bwe-hoa-cat, sebab perkara yang dilakukan Bwe-hoa-cat biasanya berentetan, tidak nanti berhenti hanya berbuat satu kali saja.”

A Fei berpikir sampai sekian lama, katanya kemudian, “Pada saatnya mereka harus percaya juga, harus kubikin mereka percaya.”

Mendadak Sian-ji menanggalkan kopiahnya dan berkata, “Coba ikut padaku, akan kubawamu ke suatu tempat.”

“Ke mana?” tanya A Fei.

“Mencari sasaran kedua,” jawab Sian-ji.

*****

Selewat magrib salju mulai cair, itulah waktunya ramainya pasar malam, dandanan mereka sudah berubah sehingga tidak menarik perhatian orang yang berlalu-lalang di jalan raya ramai itu.

Tiba-tiba Sian-ji menunjuk sebuah rumah gadai dan berkata dengan suara tertahan, “Coba kau lihat merek rumah gadai ini.”

Memang besar sekali perusahaan gadai ini, papan namanya yang ditulis dengan huruf besar pada dasar warna hitam dan terbaca dengan jelas, “Rumah Gadai Sun-ki”.

“Adakah sesuatu keistimewaan pada papan merek ini?” tanya A Fei.

Sian-ji tidak menjawab pertanyaannya, setelah melalui lagi beberapa buah toko, ia tuding pula papan merek sebuah restoran besar dan berkata, “Coba kau lihat pula papan merek rumah makan ini.”

Rumah makan itu sangat laris, rumah susun dua itu penuh berjubel dengan tamu, pada papan mereknya juga memakai tanda “Sun-ki”. A Fei tidak tanya lagi, segera dilihatnya sebuah toko kain sutera di seberang sana juga ada papan merek dengan tanda “Sun-ki”.

Tenyata pada tiga jalan raya yang paling ramai di kota ini, setiap beberapa toko di antaranya pasti terdapat sebuah toko memakai merek “Sun-ki”. Dan setiap perusahaan yang memakai merek “Sun-ki” pasti perusahaan besar.

“Apakah toko yang memakai merek Sun-ki ini milik satu orang?” tanya A Fei.

“Ya, semuanya milik Sun-losam,” tutur Sian-ji.

“Dan sekarang kita hendak ke mana?” tanya A Fei pula.

“Ikut saja padaku, tentu kau tahu nanti,” jawab Sian-ji.

A Fei memang bukan orang yang suka bertanya ini dan itu, maka ia tidak bersuara lagi dan meneruskan perjalanan, setiba di luar kota, suasana sepi, cahaya lampu sudah jarang, suara manusia sudah tidak terdengar pula.

Memandang kegelapan di depan, A Fei menarik napas dalam-dalam, dada terasa lapang, bumi dan langit seolah-olah telah menjadi miliknya.

Sian-ji menggelendot di samping A Fei dengan diam saja sambil terus melangkah ke depan. Tiba-tiba A Fei melihat di depan ada sebuah perkampungan yang sangat besar, semakin dekat keadaan perkampungan ini berbalik tidak jelas kelihatan. Maklumlah, karena dinding perkampungan ini tingginya luar biasa sehingga mengalangi jarak pandangnya.

Sian-ji menengadah memandang ketinggian pagar tembok dan bergumam, “Tinggi amat pagar tembok ini? Entah ada empat tombak atau tidak?”

“Kurang lebih memang empat tombak,” kata A Fei.

“Dapatkah engkau melintasinya?” tanya Sian-ji.

“Di dunia ini tidak ada orang yang mampu melayang lewat dinding setinggi ini, tapi kalau mau masuk ke sana, tetap ada jalan yang dapat kita tempuh.”

Sian-ji termenung sejenak, lalu berkata, “Inilah tempat kediaman Sun-losam.”

“Sun-losam adalah sasaranku yang kedua?” tanya A Fei dengan sinar mata gemerdep.

“Beberapa ratus li di sekitar sini pasti tidak ada sasaran lain yang lebih baik,” ujar Sian-ji.

“Tapi Sun-losam kan seorang pedagang?”

“Kutahu engkau tidak suka membikin susah orang dagang, namun orang dagang juga terdiri dari beberapa macam.”

“Sun-losam tergolong jenis yang mana?”

“Jenis yang paling tidak beres,” Sian-ji tertawa, lalu menyambung, “Coba kau pikir, pedagang yang tahu aturan mana bisa membuka belasan toko di suatu jalan yang sama dalam kota. Pedagang yang tertib mana mungkin membangun pagar tembok setinggi ini?”

“Membangun pagar tembok setinggi ini kan tidak salah, membuka toko sekian banyak kan juga tidak melanggar undang-undang?”

“Tapi membangun dinding setinggi itu menandakan hati seorang maling selamanya tidak pernah tenteram, senantiasa takut ada orang akan menuntut balas padanya. Adapun membuka toko sebanyak itu, hal ini disebabkan dia mahir main rampas.”

“Rampas?” A Fei menegas dengan dahi bekernyit.

“Keluarga Sun terhitung keluarga besar, pada angkatan yang lalu sudah ada lima keluarga, sampai angkatan ini, saudara sepupu mereka mudah bertambah menjadi 16 keluarga, seluruhnya lebih 40 buah toko yang diusahakan ke-16 anggota keluarga Sun.”

“Kalau dihitung, satu orang memegang tiga-empat perusahaan, ini pun tidak terlalu banyak.”

“Tapi ke-40 buah toko itu sekarang sudah menjadi milik Sun-losam seluruhnya.”

“Mengapa bisa terjadi begitu?”

“Sebab ke-15 saudara sepupunya telah masuk peti mati semua.”

“Cara bagaimana mereka mati?” tanya A Fei.

“Konon mati sakit, tapi sesungguhnya apa sebabnya kematian mereka tidak diketahui siapa pun. Orang cuma heran ke-15 orang yang biasanya dikenalnya cukup sehat dan segar bugar, mengapa bisa mati seluruhnya dalam waktu dua-tiga tahun saja, serupa kena penyakit menular, mati secara berturut-turut, anehnya Sun-losam sendiri selamat, bahkan jatuh sakit saja tidak pernah.”

A Fei menengadah, agaknya sedang memperhitungkan ketinggian pagar tembok. Dia tidak bicara apa-apa lagi, dengan hambar ia cuma berucap, “Malam besok akan kudatang mencari dia.”

Habis bicara, serentak tangan dan kakinya bekerja, serupa cecak saja ia merayap ke atas pagar tembok.

Tapi dia tidak menggunakan ilmu “cecak merayap dinding”, dia bahkan tidak pernah dengar Kungfu semacam itu, dia hanya menggunakan tangannya yang serupa cakar baja meraih dinding, sekali kakinya memancal, segera tubuhnya mengapung ke atas. Daripada bilang dia mirip cecak lebih tepat kalau dikatakan dia serupa seekor kera yang memanjat dinding tebing.

Setiba di atas pagar tembok dapatlah terlihat sebidang taman dengan pepohonan lebat dan rumah yang berderet-deret di depan sana. Sementara itu cahaya lampu sudah sangat jarang, semua orang sudah pergi tidur, perkampungan seluas ini hanya tersisa beberapa titik cahaya lampu.

Lim Sian-ji adalah seorang perempuan yang cekatan, juga seorang pembantu yang baik, dia sudah bersekongkol dengan seorang budak keluarga Sun dan menyuruhnya menggambarkan sebuah peta dengan keterangan yang sangat jelas, di mana letak ruangan tamu, bagian mana adalah dapur dan di mana pula kamar tidur Sun-losam, semua itu dilukis dengan sangat jelas pada lukisan ini.

Maka tanpa susah payah dapatlah A Fei menemukan Sun-losam.

Waktu itu Sun-losam belum tidur, rumahnya masih terang, saudagar yang pintar dan cerdik ini sudah ubanan rambutnya, saat itu sedang sibuk main Swipoa untuk mencocokkan angka pendapatan sehari.

Permainan Swipoanya tidak terlalu cepat, sebab jari tangannya sangat pendek, baik jari telunjuk, jari tengah dan jari manis hampir sama panjangnya dengan jari kecil.

Namun jari tangannya justru sangat besar, setiap jari seperti pernah ditebas putus oleh orang, sampai kuku saja tidak tersisa, sungguh sukar dimengerti. orang yang biasa hidup mewah di rumah mengapa bisa mempunyai sebuah tangan yang kasar serupa kulit penggali batu bara.

Kiranya pada waktu kecilnya Sun-losam nakal luar biasa, pernah diusir oleh ayahnya sehingga selama lima tahun dia terlunta-lunta di luar, siapa pun tidak tahu apa yang dikerjakannya selama lima tahun itu.

Ada orang bilang selama lima tahun ini Sun-losam telah bergabung dengan bandit besar bernama Hoan Thian-hou, ada pula yang bilang dia telah menjadi pengemis selama lima tahun. Tapi juga ada orang mengatakan dia masuk Siau-lim-si dan melakukan pekerjaan sebangsa menimba air, menyapu daun memesak, banyak sekali penderitaannya tapi dia juga berhasil meyakinkan Kungfu yang lihai, sebab itulah ketika ke-15 saudaranya sama mati, meski ada juga yang merasa curiga, tapi tiada seorang pun berani bicara.

Dengan sendirinya ia menyangkal semua desas-desus, tapi ada sesuatu yang tak dapat disangkalnya yaitu tangannya. Bagi seorang yang berpengalaman sekali pandang saja akan tahu kedua tangannya pasti menguasai Kungfu sebangsa Thi-soa-ciang atau ilmu pukulan pasir besi, kalau tidak, tak nanti kakaknya bisa mendadak mati tumpah darah.

*****

Saat itu Sun-losam lagi berduduk di kursi malasnya, mendadak A Fei menolak daun jendela dan melayang masuk.

Sebenarnya Sun-losam bukan seorang yang lamban reaksinya, tapi baru saja dia mendengar suara daun jendela terbuka, tahu-tahu A Fei sudah berada di depannya. Tak pernah tersangka olehnya ada orang dapat bergerak secepat ini.

“Kau ini Sun-losam?” tanya A Fei dengan pandangan dingin.

Sun-losam berulang-ulang mengangguk, seperti orang melenggong, entah lari ke mana Kungfu yang dikuasainya, sama sekali tidak ada pertanda akan memberi perlawanan.

“Apakah kau tahu untuk apa kedatanganku?” tanya A Fei pula.

Sun-losam tetap manggut-manggut belaka.

A Fei tidak bicara lagi, pedang dilolosnya. Tapi pada detik terakhir itu, mendadak timbul semacam firasat tidak enak dalam hati A Fei, inilah naluri khas yang cuma ada pada binatang liar, serupa seekor kelinci yang mendadak merasakan ada serigala sedang mengintai dalam kegelapan, meski tidak didengarnya sesuatu suara, juga tidak terlibat bayangan serigala.

A Fei tidak ragu lagi, pedangnya lantas menusuk.

“Tring”, mendadak meletik lelatu api, pedang menusuk pada logam sebangsa besi.

Ternyata dada Sun-losam dilapisi papan besi, pantas dia tidak dapat bergerak. Tapi begitu tertusuk pedang, serentak Sun-losam menjatuhkan diri ke bawah meja. Sedangkan tubuh A Fei lantas mengapung ke atas, ia menyadari ada bahaya, dia berharap dapat meloloskan diri dengan selamat.

Namun dia terlambat. Pada saat itu juga dari atas sudah menebar turun sebuah jala raksasa, jala yang luasnya mencakup seluruh ruangan itu, setiap orang yang berada di dalam rumah ini pasti akan terjaring dan tak dapat lolos. Dan baru saja tubuh A Fei mengapung, segera ia pun terjaring.

Cepat ia ayun pedangnya dan menebas, tapi jala itu terbuat dari tali rami yang kuat, betapa cepat tebasannya juga cuma dapat memotong seutas-dua saja dan tetap tidak bisa lolos.

“Bluk”, ia terlilit oleh jaring dan jatuh terbanting.

Anehnya, perasaannya dalam keadaan begini bukan lagi marah, juga tidak cemas atau gelisah, tapi merasakan semacam duka yang dalam, sebab tiba-tiba dapat dirasakannya bagaimana perasaan seekor binatang liar ketika terperangkap oleh seorang pemburu.

A Fei tidak lagi meronta, ia tahu tiada gunanya meronta.

Pada saat itulah dua sosok bayangan orang melayang tiba, kedua orang sama memegang sebatang galah bambu, mereka bekerja cepat, sekaligus beberapa Hiat-to di tubuh A Fei telah tertutuk.

Kedua orang ini yang satu adalah seorang Hwesio jangkung berjubah kelabu dan berkaus kaki putih dan bermuka kuning pucat, seperti seorang yang berpenyakitan sepanjang tahun, namun sinar matanya mencorong dan merah membara.

Seorang lagi kurus kecil, hidung bengkok seperti paruh elang, gerakannya juga gesit, kedua orang turun tangan secepat kilat. Mereka adalah Sim-kam Taysu dari Siau-lim-si dan Pek-hiau-sing yang terkenal sebagai “si serbatahu”.

Sun-losam tidak berada di bawah meja lagi, jelas di situ ada lubang di bawah tanah.

Jelas pula semua ini adalah perangkap.

Pek-hiau-sing tampak sangat senang, ucapnya dengan tertawa, “Sebelumnya sudah kuperhitungkan dengan tepat kau pasti akan datang ke sini. Nah, apa katamu sekarang, menyerah tidak?”

A Fei diam saja tanpa menjawab.

Meski beberapa Hiat-to tertutuk, sebenarnya dia dapat bersuara, tapi dia tidak mau bicara apa pun, juga tidak tanya mengapa orang dapat memperhitungkan akan kedatangannya.

Matanya kelihatan buram, pandangannya serasa hampa, seperti tidak ada sesuatu perasaan. Apakah dia tidak dapat berpikir, atau tidak mau berpikir?

Mendadak Pek-hiau-sing bertanya, “Kutahu engkau ini kawan Li Sun-hoan, karena ingin menolong Li Sun-hoan, maka sengaja mengaku sebagai Bwe-hoa-cat ….”

“Aku memang Bwe-hoa-cat, tidak perlu mengaku, aku pun tidak kenal Li Sun-hoan,” teriak A Fei dengan beringas.

“Hah, coba dengarkan, Sim-kam Suheng, dia bilang dia adalah Bwe-hoa-cat, apakah kau percaya?” kata Pek-hiau-sing.

“Tidak percaya,” jawab Sim-kam.

“Hm, dari mana kau tahu aku bukan Bwe-hoa-cat? Dapat kau buktikan?” jengek A Fei.

Pek-hiau-sing tersenyum, “Memang sulit untuk membuktikannya …. Eh, Sim-kam Suheng, apakah kau ingat Hong-thian-lui dulu mati di tangan siapa?”

“Di tangan Bwe-hoa-cat,” jawab Sim-kam.

“Cara bagaimana matinya?” tanya Pek-hiau-sing pula.

“Pada mayatnya memang juga terdapat tanda bunga Bwe, tapi luka yang mematikannya terletak pada Hian-ki-hiat.”

“Jika demikian, tentunya Bwe-hoa-cat juga seorang ahli Tiam-hiat (ilmu menutuk titik jalan darah).”

“Begitulah,” kata Sim-kam.

Pek-hiau-sing tertawa, ia berpaling kepada A Fei dan berucap pula, “Nah, asalkan dapat kau sebutkan beberapa Hiat-to pada tubuhmu yang kami tutuk tadi, segera kami mengakui engkau adalah Bwe-hoa-cat, bahkan segera pula akan kami bebaskan Li Sun-hoan. Cara ini apakah dapat memuaskan dirimu?”

A Fei diam saja sambil mengertak gigi sehingga berdarah.

Pek-hiau-sing menghela napas, katanya, “Engkau memang tidak malu sebagai kawan baik Li Sun-hoan, demi menyelamatkan dia, engkau tak sayang mengorbankan diri sendiri, padahal entah bagaimana pula sikapnya terhadapmu? Asalkan dia mau keluar dari rumah sana demi dirimu, maka hal ini sudah cukup baik.”

*****

Li Sun-hoan lagi berduduk dengan memegang cawan arak.

Pada pojok ruangan sana berduduk seorang Hwesio yang lemah lembut, usianya sudah lebih setengah abad, tapi belum kelihatan tua. Tampaknya lebih mirip seorang terpelajar, serupa pembesar sipil yang telah pensiun, siapa pun takkan menyangka dia adalah Sim-si, seorang padri sakti Siau-lim-si.

Meski dia telah dijadikan sandera oleh Li Sun-hoan, tapi dia tidak kelihatan marah, sebaliknya tampak sangat sedih, dia hanya berduduk dengan tenang tanpa bersuara.

Layon Sim-bi Taysu masih membujur di tempat tidur, entah siapa yang menutupnya dengan sehelai kain putih.

Mendadak Sun-hoan angkat cawan terhadap Sim-si, ucapnya dengan tersenyum, “Tak tersangka di Siau-lim-si juga terdapat arak sebaik ini, bagaimana kalau Taysu juga minum secawan?”

Sicu-si hanya menggeleng saja.

Kembali Sun-hoan menuang secawan penuh dan ditenggaknya hingga habis, lalu berkata pula dengan tertawa, “Kuminum arak di sini adalah suatu tanda penghormatanku terhadap Sim-oh Taysu, apabila beliau adalah kaum rendah dan pengecut, baik dia orang mati atau masih hidup, tidak nanti kuminum arak di depannya.”

Sim-si menghela napas, perasaannya tambah duka dan pedih, entah untuk yang mati atau untuk dirinya sendiri.

Sun-hoan memandang arak dalam cawan yang berwarna kemerah-merahan itu, mendadak ia pun menghela napas panjang dan berucap, “Terus terang sungguh tak kuduga bahwa sekali ini yang menolong diriku adalah engkau.”

“Aku tidak merasa menolong dirimu,” jawab Sim-si dengan dingin.

“Empat belas tahun yang lalu kuletakkan jabatanku dan minta pensiun serta pulang ke kampung halaman, meski alasanku adalah kesehatan, tapi kalau bukan lantaran laporanmu yang menyatakan diriku selaku seorang pejabat negeri bergaul dengan kaum penjahat, mungkin aku tak sampai mengambil keputusan untuk meletakkan jabatan.”

Sim-si memejamkan mata. ucapnya dengan rawan, “Go Hun-ih (nama asli Sim-si) yang pernah melaporkan dirimu dahulu sudah lama mati, untuk apa engkau mengungkatnya lagi.”

“Betul, setelah masuk pintu Buddha, laksana menjadi manusia pada jelmaan lain,” kata Sun-hoan. “Tapi sejak awal hingga akhir aku tidak pernah menyalahkan dirimu. Tatkala mana engkau adalah Siansu (setingkat inspektur jenderal), adalah tugasmu untuk melaporkan segala apa yang kau anggap benar ….”

Dengan agak emosi Sim-si memotong, “Tidak lama setelah kau mengundurkan diri, aku pun minta pensiun dan menyerahkan diriku ke dalam Buddha, sebabnya adalah karena aku menyadari terlalu banyak omong tentu akan menimbulkan kesalahan, tak terduga akhirnya bertemu lagi dengan engkau di sini ….”

“Aku pun tidak menyangka paduka tuan Siansu yang tegas dan jujur masa lampau sekarang bisa berubah menjadi padri saleh, bahkan sempat menyelamatkan jiwaku pada saat yang paling gawat.”

Mendadak Sim-si membuka mata dan berkata dengan bengis, “Sudah kukatakan tadi, aku tidak pernah menolong dirimu, tapi lantaran kepandaianku yang rendah, makanya dapat kau bekuk dan dijadikan sandera olehmu, sama sekali tidak boleh ada rasa terima kasihmu kepadaku.”

“Tapi kalau tidak ada isyarat darimu, tidak nanti aku menyusup ke dalam rumah ini, dan kalau tidak ada tindakanmu yang diam saja tanpa melawan, mana bisa kutahan engkau di sini?”

Ujung mulut Sim-si tampak berkerut-kerut, tapi tidak bicara lagi.

“Orang beragama pantang berdusta, apalagi di sini hanya terdapat kita berdua saja,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.

Sim-si termenung agak lama, tiba-tiba ia berkata, “Meski ada maksudku untuk menolong dirimu, tapi bukan disebabkan hubungan kita pada masa lampau.”

Sun-hoan seperti tidak heran, namun sikapnya berubah prihatin, tanyanya dengan serius, “Lantas apa sebabnya?”

Beberapa kali Sim-si hendak bicara, tapi urung, tampaknya seperti ada sesuatu yang sukar diuraikannya.

Sun-hoan juga tidak mendesak, ia minum arak lagi dengan perlahan.

Pada saat itulah mendadak di luar ada orang berteriak, “Li Sun-hoan, coba buka jendela dan melihat apa ini!”

Itulah suara Sim-kam Taysu.

Dengan cepat Sun-hoan melompat ke tepi jendela dan melongok sekejap ke luar. Seketika wajahnya berubah pucat.

Sungguh tak terduga olehnya bahwa A Fei bisa jatuh di bawah cengkeraman lawan.

Pek-hiau-sing tampak berdiri di situ juga dengan berpangku tangan dengan wajah berseri, katanya, “Li-tamhoa, tentunya engkau kenal dia. Demi membela dirimu, dia tidak sayang menanggung nama busuk sebagai Bwe-hoa-cat bagimu, tapi apa pula yang kau lakukan baginya?”

Dengan suara bengis Sim-kam menyambung, “Jika ingin kau selamatkan jiwanya, sebaiknya kau serahkan dirimu selekasnya.”

Tangan Sun-hoan menjadi agak gemetar, wajah A Fei tidak terlihat olehnya sebab A Fei mencekam di atas tanah, seperti terluka parah.

Mendadak Sim-kam menjambak rambut A Fei dan mengangkat kepalanya ke arah jendela, lalu berteriak pula, “Nah, Li Sun-hoan, kuberi waktu dua jam padamu, sebelum matahari terbenam bila Gosuheng tidak kau bebaskan dengan baik, untuk seterusnya tak dapat lagi kau lihat sahabatmu ini.”

Tiba-tiba Pek-hiau-sing menambahkan, “Li-tamhoa, orang ini sangat baik padamu, hendaknya kau pun tidak mengingkari dia.”

Sun-hoan berdiri di pinggir jendela, diam seperti patung.

Ia menyaksikan A Fei diseret pergi seperti seekor anjing, ia pun sempat melihat luka pada muka A Fei, ia tahu anak muda itu banyak mengalami siksaan. Namun pemuda yang keras dan kuat itu tidak mengeluarkan rintihan apa pun.

A Fei hanya memandang sekejap ke arah jendela, sorot matanya tampak tenang, seperti lagi memberitahukan kepada Li Sun-hoan bahwa “mati” tidak membuatnya gentar.

Mendadak Li Sun-hoan menuang arak lagi, berturut-turut ia menghabiskan tiga cawan, gumamnya sambil menghela napas, “Sahabat baik, sahabat sejati … kupaham maksudmu, engkau tidak menghendaki kutolong dirimu.”

Sejak tadi Sim-si memandang Sun-hoan dengan tajam, mendadak ia bertanya, “Dan bagaimana dengan pendirianmu?”

Kembali Sun-hoan menghabiskan secawan arak lalu berdiri dengan menyodorkan kedua tangannya ke arah Sim-si dan berkata, “Aku siap menyerahkan diri, setiap saat dapat kau ringkus diriku dan keluar dari sini.”

“Apakah kau tahu sekeluarnya dari sini kau pasti akan mati?”

“Kutahu,” jawab Sun hoan.

“Meski kau tahu biarpun kau mati juga mereka takkan membebaskan kawanmu dan kau tetap akan menyerahkan diri?”

“Ya, kutahu dan tetap aku akan keluar!”

Jawabannya cekak aos dan tegas, sedikit pun tidak ragu.

“Tindakanmu ini apakah tidak terlalu bodoh?” tanya Sim-si.

Sun-hoan tertawa, “Selama hidup setiap orang pasti tak terhindar dari perbuatan bodoh, jika semua orang hanya melakukan hal-hal secara pintar, bukankah kehidupan ini akan menjadi hambar?”

Sim-si seperti lagi merenungkan arti ucapan Li Sun-hoan itu, katanya kemudian, “Betul, seorang lelaki sejati harus tahu apa yang tidak boleh diperbuat dan apa yang harus dilakukannya. Sekalipun kau tahu dia pasti akan mati toh engkau tetap bertindak demikian, sebab engkau tahu tidak boleh tidak melakukannya.”

“Rasanya engkau pun seorang sahabat yang tahu suara hatiku,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.

“Setia kawan lebih utama, mati hidup tak terpikirkan, Li Sun-hoan sungguh tidak malu sebagai Li Sun-hoan ….” gumam Sim-si.

Sun-hoan tidak memandangnya lagi, ia melangkah pergi sambil berkata, “Biar kukeluar lebih dulu.”

“Nanti dulu!” seru Sim-si mendadak. Agaknya tekadnya sudah bulat, katanya pula sambil memandang Sun-hoan lekat-lekat, “Masih ada sesuatu yang belum sempat kukatakan tadi.”

“Oo?” Sun-hoan melengak.

“Kukatakan tadi, ada alasan lain kutolong dirimu,” dengan prihatin Sim-si melanjutkan, “sebenarnya urusan ini adalah rahasia perguruan Siau-lim kami dan sangat penting, mestinya tidak boleh kuceritakan padamu.”

Sun-hoan memutar balik dan menantikan cerita orang lebih lanjut.

Tambah perlahan suara Sim-si, “Betapa kaya perpustakaan Siau-lim-si dapat dikatakan tidak ada bandingannya di dunia ini, di antaranya bukan cuma kitab suci ajaran Buddha saja tapi juga banyak kitab pusaka ilmu silat yang tidak diajarkan kepada sembarangan orang.”

“Ya, hal ini kutahu,” kata Sun-hoan.

“Selama beratus tahu ini banyak juga orang Kangouw yang mengincar kitab pusaka biara kami dan berusaha mencurinya, tapi belum pernah ada yang berhasil dan dapat lolos dari sini.”

“Tapi akhir-akhir ini sudah jarang terdengar ada orang berani menyatroni biara suci ini,” ujar Sun-hoan.

“Engkau orang luar, dengan sendirinya tidak tahu keadaan yang sebenarnya,” kata Sim-si dengan menyesal. “Padahal selama dua tahun ini kitab pusaka biara kami sudah tujuh kali tercuri, kecuali sejilid kitab umum, selebihnya adalah kitab pusaka ilmu silat yang sudah lama tidak diajarkan.”

“Hah, lantas siapakah si pencuri kitab itu?” tanya Sun-hoan dengan melengak.

“Anehnya peristiwa pencurian tujuh kali berturut-turut ini sebelumnya sama sekali tidak ada sesuatu tanda, sesudah terjadi juga tidak ada sesuatu petunjuk yang dapat dicari. Jadi pencurian ini berlangsung tanpa ketahuan siapa pun. Sesudah terjadi satu-dua kali, dengan sendirinya penjagaan diperketat, tetapi pencurian masih terjadi lagi berturut-turut, sampai Samsuheng yang bertugas mengurus balai perpustakaan merasa malu diri dan meletakkan jabatan.”

“Peristiwa besar begini mengapa sama sekali tidak tersiar di dunia Kangouw?”

“Justru lantaran urusan ini cukup gawat, maka Ciangbun-suheng (kakak seperguruan pejabat ketua) memberi pesan agar rahasia ini harus dijaga rapat. Sampai sekarang orang yang mengetahui kejadian ini termasuk dirimu juga cuma sembilan orang saja.”

“Kecuali para sesepuh kalian bertujuh, memangnya ada siapa lagi yang tahu kejadian ini?” tanya Sun-hoan.

“Pek-hiau-sing,” jawab Sim-si.

“Banyak juga urusan yang dicampuri dia,” ujar Sun-hoan.

“Sebenarnya Samsuheng adalah salah seorang di antara kami yang paling cermat,” tutur Sim-si lebih lanjut. “Sesudah dia mengundurkan diri, balai perpustakaan itu menjadi tanggung jawab Jisuheng dan diriku, tugas ini baru kami lakukan sebulan ini.”

Sun-hoan berkerut kening, “Jika Sim-bi Taysu mengemban tugas seberat ini, mengapa sekali ini dia pergi meninggalkan biara?”

“Soalnya Jisuheng juga mencurigai hilangnya kitab pusaka kami ada sangkut pautnya dengan Bwe-hoa-cat, sebab beliau ingin menyelidikinya, siapa tahu kepergiannya ini merupakan perpisahan untuk selama-lamanya.”

Sampai di sini, air matanya menjadi berlinang-linang menghadapi layon Sim-bi yang masih terbujur di pembaringan itu.

Sesudah termenung sekian lama, perlahan Sim-si menyambung pula, “Jisuheng memang seorang yang cermat juga, sebelum meninggalkan biara, lebih dulu beliau mengeluarkan tiga kitab yang paling penting dan disimpan pada tiga tempat yang dirahasiakan. Kecuali Ciangbun-suheng dan diriku, tidak ada orang keempat lagi yang tahu.”

“Apakah salah satu kitab itu tersimpan di dalam rumah ini?” tanya Sun-hoan.

“Betul,” Sim-si mengangguk.

“Pantas juga cara mereka menghadapi diriku di sini, sebab banyak pantangan yang harus dipertimbangkan mereka.”

“Lantaran beberapa kali kehilangan kitab pusaka secara aneh, maka Jisuheng dan aku saling bertukar pikiran, kami berpendapat ada kemungkinan dilakukan oleh maling dalam.”

“Maling dalam?” Sun-hoan menegas.

Sim-si mengangguk, “Ya, meski timbul keraguan kami ini, tapi kami tidak berani mengucapkannya, sebab kecuali kami bertujuh orang utama, anak murid lain tiada satu pun boleh sembarangan masuk tempat penyimpanan kitab.”

Gemerdep sinar mata Li Sun-hoan, ucapnya, “Jika demikian, si pencuri kitab sangat mungkin adalah satu di antara ketujuh saudara seperguruan kalian?”

Sim-si termenung sekian lama, akhirnya menghela napas dan berkata, “Kami bertujuh sedikitnya sudah belasan tahun berada bersama dalam perguruan, adalah tidak pantas jika kami saling mencurigai, sebab itulah untuk menyelesaikan persoalan ini harus dilakukan dengan teliti dan bijaksana, hanya saja ….”

“Hanya saja apa?” tanya Sun-hoan.

“Sebelum Jisuheng meninggalkan biara, diam-diam beliau telah bicara padaku bahwa dia sudah menaruh curiga terhadap salah seorang di antara kami bertujuh yang sangat mungkin adalah si pencuri kitab.”

“Siapakah yang dimaksudkannya?” desak Sun-hoan.

Sim-si menggeleng, “Sayang beliau tidak menyebutkan namanya, sebab dia khawatir salah menuduh orang yang tak berdosa. Dia berharap si maling kitab betul-betul adalah Bwe-hoa-cat, betapa pun Jisuheng tidak mau melihat perguruan sendiri menanggung malu ….”

Bicara sampai di sini, suara Sim-si rada tersendat dan sukar meneruskan lagi.

Sun-hoan mengernyitkan dahi. “Ya, dapat kumaklumi akan jalan pikiran Sim-bi Taysu ini, cuma saja … bilamana di alam baka beliau menyaksikan orang itu hidup bebas di luar hukum, bukankah beliau akan menyesal juga di alam baka sana?”

“Jisuheng juga telah memikirkan hal ini,” tutur Sim-si. “Maka sebelum berangkat dia berkata padaku apabila kepergiannya mengalami sesuatu, maka aku disuruh membaca buku catatan pribadinya, sebab nama orang yang dicurigainya telah ditulisnya dalam halaman terakhir buku catatan itu.”

“Di manakah buku catatannya sekarang?” tanya Sun-hoan.

“Semula disimpan bersama kitab pusaka, tapi sekarang sudah berada padaku ….” Sim-si mengeluarkan sejilid buku kecil bersampul kuning.

Sesudah diterima, Sun-hoan coba membalik halaman terakhir, ternyata di situ hanya terdapat catatan hal-hal pelajaran kitab dan tiada satu kalimat pun yang menyangkut soal kehilangan kitab segala.

Sun-hoan memandang Sim-si, “Jangan-jangan halaman terakhir ini telah dirobek orang?”

“Bukan saja halaman terakhir buku catatan ini sudah terobek, bahkan kitab pusaka itu juga sudah tertukar dan berubah menjadi kitab kosong belaka.”

“Jika demikian, tentunya si pencuri kitab itu sudah mengetahui dirinya telah dicurigai oleh Sim-bi Taysu.”

“Betul, memang begitulah.”

“Tapi kau bilang orang yang mengetahui tempat penyimpanan kitab hanya Ciangbun Sim-oh Taysu dan dirimu saja.”

Dengan muka kelam Sim-si mengangguk, “Ya, memang.”

Air muka Sun-hoan berubah, “Masakah engkau menganggap Sim-oh Taysu ….”

“Belum pasti demikian,” ucap Sim-si, “sebab kalau orang itu sudah mengetahui dirinya dicurigai Jisuheng, dengan sendirinya setiap gerak-gerik Jisuheng pasti juga akan diperhatikan olehnya. Bisa jadi lantaran itulah diam-diam ia dapat mengintai tempat Jisuheng menyembunyikan kitab pusaka, hanya saja ….”

“Apa lagi?” tanya Sun-hoan.

Sim-si menatap Sun-hoan tajam-tajam dan menyambung dengan sekata demi sekata, “Hanya saja, waktu Jisuheng pulang, beliau tidak segera meninggal, malahan, sebenarnya beliau tidak perlu mati.”

Keterangan ini benar-benar membikin Li Sun-hoan melengak.

Dengan mengepal kedua tinjunya Sim-si menyambung pula, “Meski aku tidak banyak mengerti akan seluk-beluk urusan racun, tapi akhir-akhir ini banyak juga buku mengenai hal ini telah kubaca. Maka pada waktu Jisuheng pulang, dapat kulihat dia memang keracunan cukup berat, tapi juga tidak berarti tak tertolong sama sekali, apalagi dalam waktu tingkat juga takkan membahayakan jiwanya.”

“Maksudmu ….” Sun-hoan melenggong.

“Jika si pencuri kitab mengetahui rahasianya telah diketahui Jisuheng, dengan sendirinya Jisuheng akan dibunuhnya untuk menghilangkan saksi.”

Seketika Sun-hoan merasa hawa dalam rumah ini menyesakkan napas. Dia mengitar satu kali, lalu bertanya, “Sepulangnya Sim-bi Taysu, ada berapa orang yang pernah datang ke tempat ini?”

“Toasuheng, Sisuheng, Laksute, semuanya pernah masuk ke sini.”

“Jadi maksudmu, di antara mereka itu sama-sama ada kemungkinan bertindak jahat terhadap Sim-bi Taysu.”

Sim-si mengangguk, “Ini adalah kemalangan perguruan kami, mestinya tidak ingin kukatakan padamu, tapi sekarang kuyakin engkau pagi bukan orang yang mau menjual kawan, maka kuharap engkau ….”

“Kau minta kutemukan si pembunuh itu?” tanya Sun-hoan.

“Ya,” Sim-si mengangguk.

Gemerdep sinar mata Sun-hoan, katanya kemudian sekata demi sekata sambil menatap tajam Sim-si, “Tapi bagaimana bila pengganas itu ialah Sim-oh Taysu?”

Seketika Sim-si melengak, butiran keringat lantas memenuhi dahinya.

“Biarpun segenap anak murid Siau-lim-si mengetahui Sim-oh Taysu adalah pembunuhnya, pasti juga tiada seorang pun mau mengaku, begitu bukan?” tanya Sun-hoan.

Sim-si tidak bersuara lagi, sebab tiada yang dapat lagi dibicarakannya.

Maklumlah, setiap-orang Kangouw sama memandang Siau-lim-si adalah suatu perguruan besar yang terhormat, suci dan agung, jika sekarang pejabat ketua Siau-lim-si sendiri adalah si pembunuhnya, bukankah nama baik dan sejarah Siau-lim-si yang sudah beratus tahun ini akan runtuh sama sekali?

Sun-hoan menyambung pula, “Umpama dapat kubuktikan bahwa Sim-oh Taysu adalah si pembunuh mungkin engkau pun takkan membela diriku, demi mempertahankan kehormatan Siau-lim-si kalian, bisa jadi orang lain yang akan kalian korbankan.”

Sim-si menghela napas panjang. “Betul, demi kejayaan Siau-lim-si, aku memang tidak sayang mengorbankan segalanya.”

“Jika begitu, untuk apa kau minta kucari si pengganas itu?” kata Sun-hoan.

“Meski aku tidak mau melakukan hal yang merugikan nama baik perguruan kami, tapi asalkan engkau dapat membuktikan siapa sesungguhnya pembunuh Sim-bi Suheng, maka aku tidak sayang untuk gugur bersama dia, sedikitnya harus kutindak dia sekalipun darah harus berhamburan.”

“Wah, orang beragama mana boleh timbul angkara murka begini, tampaknya Hwesio seperti dirimu ini belum suci bersih benar.”

Sim-si memejamkan mata dan bersujud, “Buddha saja dapat meraung, apalagi Hwesio seperti diriku?”

“Baik,” serentak Sun-hoan berbangkit. “Berdasarkan ucapanmu ini, tidak perlu lagi aku merasa sangsi.”

Tergerak juga hati Sim-si, “Jangan-jangan engkau sudah tahu siapa si pembunuh itu?”

“Meski aku tidak tahu, tapi ada orang lain yang tahu,” kata Sun-hoan.

“Ya, dengan sendirinya si pembunuh sendiri cuma tahu,” ujar Sim-si.

“Kecuali si pembunuh sendiri, ada lagi seorang juga tahu, orang itu pun berada di sini.”

“Siapa?” Sim-si melengak.

Sun-hoan menunjuk Sim-bi Taysu yang terbaring tak bergerak itu dan berkata, “Dia!”

“Tapi sayang, dia tidak mampu bicara lagi,” ujar Sim-si dengan kecewa.

“Orang mati terkadang juga bisa bicara,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

Mendadak ia menyingkap kain putih penutup layon Sim-bi Taysu, sinar matahari menyorot masuk dari jendela dan menyinari wajah Sim-bi yang sudah mulai mengering itu, muka yang pucat kuning itu bersemu kelabu gelap sehingga kelihatan rada misterius.

“Pernah kau lihat orang yang mati diracun oleh Ngo-tok-tongcu?” tanya Sun-hoan tiba-tiba.

“Tidak pernah,” jawab Sim-si.

“Kau mujur,” ujar Sun-hoan, “sesungguhnya tidaklah sedap dipandang orang yang mati teracun olehnya.”

Sim-si tidak bicara lagi.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: