Pendekar Budiman: Bagian 12

Pendekar Budiman: Bagian 12
Oleh Gu Long

“Lim Sian-ji?” si nona berkucir menegas. “Apakah nona Lim yang termasyhur sebagai wanita cantik nomor satu di dunia itu!”

“Betul,” jawab si kakek.

Si nona berkucir juga menghela napas, gumamnya, “Ai, apakah cinta itu? Kenapa manusia selalu menderita bagi cinta, bahkan tidak ada tempat untuk mengadukannya ….”

Pemuda bermuka merah seperti tidak sabar lagi, dengan kening bekernyit ia berkata, “Jangan pikirkan soal lain, teruskan ceritamu!”

Si kakek menggeleng kepala, “Jika tokoh semacam A Fei dan Li Sun-hoan saja menghilang entah ke mana, masa dunia Kangouw bisa terjadi lagi sesuatu yang menggemparkan dan apa pula yang dapat kuceritakan?”

“Hm, juga belum tentu,” mendadak si jangkung dengan toh hijau pada mukanya itu menjengek.

“Oo? Memangnya berita Anda bisa terlebih banyak daripadaku?” tanya si kakek.

Gemerdep sinar mata si jangkung, ucapnya dengan sekata demi sekata, “Setahuku, dalam waktu singkat segera akan timbul peristiwa yang menggemparkan.”

“Bila akan timbul dan di mana?”

“Brak”, mendadak si jangkung menggebrak meja dan berteriak bengis, “Saat ini, dan di sini juga!”

Mendengar ucapan ini, serentak berubah air muka kedua saudara kembar dan keempat orang dari kelompok ketiga tadi.

Si perempuan berbaju hijau mengerling genit dan berkata, “Menurut pandanganku, saat ini dan di sini takkan terjadi sesuatu yang luar biasa.”

“Hm, setahuku, sedikitnya ada enam orang akan segera mampus di sini!” jengek pula si jangkung.

“Oo, keenam orang yang mana?” tanya si nyonya berbaju hijau.

Si jangkung bermuka tembong minum arak seceguk, lalu bertutur dengan perlahan, “Keenam orang itu ialah Pek-mo-kau (monyet berbulu putih) Oh Hui, Tay-lik-sin (malaikat bertenaga raksasa) Toan Kay-san, Thi-jiang-siau-pa-ong (si raja tombak) Nyo Seng-cu, Cui-coa (ular air) Oh Bi dan Lam-san-siang-hou (dua harimau dari gunung selatan) kedua Han bersaudara.

Sekaligus dia menyebutkan enam nama itu, serentak kedua saudara kembar dan keempat orang dari kelompok ketiga tadi berbangkit, semuanya menggebrak meja dan mencaci maki, “Keparat, kau ini barang apa? Berani sembarangan mengoceh di sini?”

Yang berteriak paling dulu ialah Tay-lik-sin Toan Kay-san. Dia memang tinggi besar, begitu berdiri tampaknya serupa menara menegak.

Meski perawakan kedua Han bersaudara yang kembar itu juga tinggi besar, tapi kalau dibandingkan Toan Kay-san tetap selisih satu kepala.

Rupanya belum puas cara memaki Toan Kay-san tadi, segera ia menyambung pula, “Hm, kulihat kau sendiri yang bakal celaka, hidupmu pasti takkan melampaui malam ini ….”

Belum habis ucapannya, hanya sekali melangkah saja tahu-tahu si jangkung sudah berada di depannya, “plak-plok, plak-plok”, kontan ia gampar Toan Kay-san hingga belasan kali.

Jelas-jelas Toan Kay-san bertangan juga tapi justru tidak mampu menangkis, jelas-jelas punya kaki, tapi justru tidak sanggup berkelit, sampai kepala pun pusing tujuh keliling dan sama sekali tidak dapat bergerak.

Semua orang pun sama melongo menyaksikan kejadian itu.

Terdengar si jangkung menjengek lagi, “Hm, kau kira aku yang akan membunuh kalian? Huh, kalau cuma kalian saja belum perlu kuturun tangan sendiri! Cuma sekadar kuberi hajar adat saja kepada kalian agar cara bicara kalian selanjutnya bisa lebih sopan.”

Sembari bicara, perlahan ia melangkah kembali ke tempatnya semula.

“Nanti dulu!” mendadak si raja tombak Nyo Seng-cu membentak, “Coba katakan dulu, siapakah yang akan membunuh kami?”

Di tengah bentakannya, serentak tombak lantas menusuk ke depan.

Sama sekali si jangkung tidak menoleh, ucapnya dengan tak acuh, “Orang yang akan membunuh kalian segera akan tiba!”

Dia cuma mengegos perlahan saja dan tahu-tahu tombak lawan sudah terkepit olehnya, meski Nyo Seng-cu telah mengerahkan segenap tenaga tetap tidak mampu menariknya kembali, keruan mukanya merah padam serupa hati babi.

Si jangkung lantas menambahkan pula, “Untuk lari saja toh kalian tidak dapat lari lagi, maka boleh tunggu dan lihat saja nanti.”

Mendadak ia kendurkan kepitannya, karena lagi membetot dengan bernafsu, keruan Nyo Seng-cu kehilangan imbangan badan, ia terjengkang ke belakang. Kalau Cui-coa Oh Bi, yaitu si nyonya berbaju hijau, tidak keburu menahannya, bisa jadi meja kursi akan ditumbuknya hingga berantakan.

Waktu ia periksa tombak sendiri, tombak itu sudah berubah menjadi toya. Entah sejak kapan ujung tombaknya telah hilang.

“Cret”, mendadak si jangkung menikamkan ujung tombak di atas meja, lalu perlahan menuang arak dan perlahan diminum seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Keruan keenam orang yang disebutkan tadi saling pandang dengan hati kebat-kebit, wajah pun berubah pucat, semuanya lagi berpikir, “Siapakah yang akan datang dan membunuh kami? Siapa?”

Angin meniup semakin santer di luar, cahaya lilin gemerdep sehingga wajah hijau si jangkung tertampak lebih seram dan menakutkan.

“Siapa pula dia?”

“Betapa tinggi ilmu silatnya, tentu dia juga tokoh Bu-lim kelas satu, mengapa kami tidak kenal dia?”

“Untuk apa dia datang ke sini?”

Begitulah hati semua orang kebat-kebit sehingga tidak ada yang bernafsu untuk minum arak lagi.

Malahan ada yang berpikir akan mengeluyur pergi saja, tapi jika berbuat demikian kan terlalu memalukan, kalau tersiar, cara bagaimana pula dapat berkecimpung di dunia Kangouw? Apalagi bila mengikuti nada bicara si jangkung, umpama mereka bermaksud lari juga tidak bisa lagi.

Oh Hui bertubuh kurus kecil, pada mukanya berbulu putih, maka berjuluk si monyet berbulu putih, mendadak ia berbangkit dengan sinar mata gemerdep, ia mendekati meja kedua Han bersaudara itu, ia memberi hormat dan menyapa, “Nama kebesaran Lam-san-siang-hou sudah lama kukagumi.”

Cepat kedua Han bersaudara juga berdiri dan membalas hormat, Toa-hou, si harimau besar, Han Pan, menjawab, “Ah, terima kasih. Oh-tayhiap dan nona Oh berdua saudara juga terkenal menguasai Ginkang dan senjata rahasia yang tidak ada bandingannya, kami juga sudah lama sangat kagum.”

“Terima kasih,” sahut Oh Hui.

Di sebelah sana si ular air Oh Bi yang berbaju hijau itu pun mengangguk dengan tertawa genit sebagai tanda hormat.

Segera Oh Hui berkata pula, “Apabila Anda berdua tidak menolak, bagaimana kalau pindah saja ke sebelah sana untuk bicara lebih lanjut?”

“Baik, kami memang ada maksud demikian,” jawab Han Beng, si harimau kedua.

Kedua kelompok ini bila bertemu di tempat lain, bisa jadi akan segera saling labrak mati-matian, tapi sekarang mereka harus menghadapi musuh yang sama, biarpun bukan sahabat juga berubah menjadi keluarga.

Sesudah berkumpul dan saling angkat cawan arak, lalu Oh Hui berkata pula, “Selama ini kalian tinggal di daerah timur, sedangkan kami bergerak di daerah selatan, sungguh tidak habis kupikir siapakah gerangan yang bermaksud menumpas kita sekaligus?”

“Ya, kami juga heran,” jawab Han Pan.

“Dari nada ucapan sobat itu tadi, Kungfu orang yang hendak membunuh kita itu pasti sangat tinggi, mungkin kita memang bukan tandingannya,” kata Oh Hui pula. “Tapi apa pun juga, gabungan beberapa orang bodoh akan menghasilkan seorang pintar. Dengan tenaga gabungan kita berenam rasanya masih dapat memberikan perlawanan yang memadai.”

Serentak semangat kedua Han bersaudara terbangkit, seru Han Pan, “memang tepat usapan Oh-heng. Jelek-jelek kita berenam juga tokoh daerahnya masing-masing, kita bukan patung, memangnya diam saja membiarkan kepala sendiri dipenggal orang?”

Segera Han Beng juga berseru, “Betul, seperti kata peribahasa, datang prajurit tahan dengan panglima, banjir air uruk dengan tanah. Jika dia betul-betul datang …. Hehe ….”

Banyak orang memang membesarkan nyali, setelah enam orang bergabung, hati Toan Kay-san dan Nyo Seng-cu menjadi tabah juga. Mereka terus berceloteh, yang ini memuji yang itu, yang itu mengumpak pula yang ini.

Mendadak terdengar orang menjengek di luar.

Seketika berubah air muka keenam orang itu, kerongkongan serasa tercekik mendadak, bukan saja tidak dapat bicara lagi, bernapas pun terasa sesak.

Sun-tocu terkejut, ketika melihat keenam orang yang itu sangat ketakutan, tanpa terasa ia ikut memandang ke sana. Ternyata di depan pintu telah muncul empat orang.

Keempat orang ini memakai baju kuning tua yang sangat mencolok, di antaranya seorang beralis tebal dan bermata besar, seorang lagi berhidung seperti paruh elang, jelas kedua orang inilah yang pagi tadi mencari keterangan padanya itu.

Meski sudah berada di depan pintu, tapi mereka tidak masuk, mereka hanya berdiri di situ dengan tangan lurus ke bawah, juga tidak bicara sehingga tidak kelihatan seram atau menakutkan.

Sungguh Sun-tocu tidak mengerti mengapa keenam orang yang garang itu menjadi begini ketakutan terhadap keempat orang berseragam kuning ini. Melihat sikap keenam orang ini, keempat orang berbaju kuning itu pada hakikatnya bukan lagi manusia melainkan setan.

Diam-diam mereka harus kagum kepada si “setan arak”, segala apa tidak lihat, segala apa tidak dengar, dan dengan sendirinya juga tidak perlu takut.

Yang aneh ialah kedua kakek dan cucu perempuannya itu, yang satu sudah ompong, yang lain lemah lembut, namun sekarang kedua orang ternyata tenang-tenang saja, sedikit pun tidak ada tanda merasa takut, malahan si kakek asyik minum arak.

Dalam pada itu keempat orang berbaju kuning di luar pintu telah berdiri di sisi pintu dan memberi jalan lewat. Seorang anak muda dengan tangan terletak di punggung melangkah masuk dengan perlahan.

Baju anak muda ini juga berwarna kuning tua, mukanya cakap, sikapnya sopan, perbedaannya dengan keempat orang itu adalah pada pinggiran bajunya diberi renda warna emas.

Meski mukanya cakap, namun kelihatan kaku dingin tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan. Setiba di dalam rumah, ia memandang sekeliling, lalu tatapannya lantas hinggap pada tubuh si jangkung bermuka tembong hijau itu.

Namun si jangkung tetap minum arak dengan tenang tanpa menghiraukannya.

Ujung mulut anak muda berbaju kuning itu menampilkan secercah tertawa dingin, lalu membalik tubuh perlahan, sorot matanya yang dingin tajam menyapu pandang sekejap terhadap Nyo Seng-cu berenam.

Keenam orang ini semuanya kelihatan terlebih buas daripada anak muda itu, tapi tersapu oleh sorot matanya, kaki keenam orang itu serasa lemas semua, berduduk saja tidak mantap.

Perlahan anak muda itu mendekati mereka, dikeluarkannya enam biji mata uang tembaga, ia taruh mata uang itu di atas kepala keenam orang itu, setiap orang satu mata uang.

Seketika keenam orang itu berubah seperti boneka, membiarkan orang menaruh barang di atas kepala mereka dengan sesukanya, kentut saja tidak berani.

Pada tangan pemuda berbaju kuning itu masih sisa beberapa biji mata uang, diguncangkan tangannya sehingga berbunyi gemerencing, perlahan ia mendekati si kakek tukang dongeng dengan anak perempuannya yang berkucir itu.

Si kakek menengadah dan memandangnya sekejap, katanya dengan tertawa, “Jika sahabat ini mau minum arak, silakan duduk saja dari minum dua-tiga cawan, akan kutraktir engkau.”

Agaknya dia sudah rada mabuk sehingga lidahnya kelu, bicaranya juga tidak begitu jelas lagi.

Pemuda baju kuning menarik muka, ia pandang orang dengan dingin, mendadak ia menggebrak meja sehingga sepiring kacang goreng di depan si kakek sama meloncat ke atas dan berhamburan ke muka si kakek seperti hujan.

Entah kesima atau karena ketakutan, kakek itu sampai lupa mengelak, berpuluh biji kacang goreng tampaknya segera akan bersarang di muka orang tua itu.

Syukurlah pada detik terakhir, mendadak anak muda itu mengebaskan lengan bajunya sehingga seluruh kacang goreng itu tergulung, waktu ia kebaskan lengan baju pula, serentak kacang goreng itu rontok kembali ke dalam piring.

Si kakek tampak melongo dan tidak dapat bersuara. Sedangkan si nona berkucir lantai berkeplok gembira, serunya, “Wah, sungguh permainan sulap yang menarik!”

Padahal si pemuda berbaju kuning telah memperlihatkan tenaga dalamnya yang sempurna, dipertunjukkan pula gerak menangkap senjata rahasia yang lihai, siapa tahu bertemu dengan penonton kampungan dan menganggap Kungfunya itu sebagai permainan sulap.

Namun anak muda itu tidak marah, ia pandang si nona beberapa kejap, sorot matanya menampilkan senyuman, perlahan ia, menyingkir ke sana.

“He, kenapa tidak diteruskan permainan sulapmu?” seru si nona dengan kecewa.

Segera si lelaki jangkung bermuka tembong hijau itu menjengek, “Hm, kukira jangan terlalu banyak kau lihat permainan sulap semacam ini.”

“Kenapa?” tanya si nona dengan berkedip-kedip bingung.

“Jika kalian bisa ilmu silat, sulapnya tadi mungkin sudah membuat kalian berubah menjadi orang mati,” jengek pula si jangkung.

Si nona berkucir melirik pemuda berbaju kuning sekejap, seperti tidak percaya, tapi tidak berani tanya lagi.

Pada hakikatnya pemuda berbaju kuning tidak menghiraukan apa yang diucapkan si jangkung, perlahan ia mendekati meja si “setan arak”, gemerencing pula sisa mata uang yang masih tergenggam di tangannya.

“Setan arak” itu sudah tidak tahu apa pun, sejak tadi ia tertidur seperti orang mampus sambil mendekap di atas meja.

Sambil tertawa dingin pemuda baju kuning menjambak rambut si pemabuk dan diangkat ke atas, setelah dipandang beberapa kejap barulah dilepaskan. Begitu terlepas, “bluk”, kembali setan arak itu jatuh mendekap di atas meja dan tetap tidur mendengkur.

“Hm, memang tidak salah pemeo yang menyatakan sekali mabuk lupalah segala kesedihan,” jengek si jangkung. “Orang mabuk memang jauh lebih enak daripada orang sadar.”

Pemuda baju kuning tetap tidak menghiraukan ocehan si jangkung, dengan tangan tetap tergendong di punggung perlahan ia melangkah ke luar.

Anehnya Oh Hui, Toan Kay-san, Nyo Seng-cu, Oh Bi, Han Pan dan Han Beng berenam juga ikut pergi, badan bagian atas tidak berani sembarangan bergerak, tampaknya khawatir bila mata uang di atas kepala itu terjatuh. Melihat kecemasan mereka, agaknya bila mata uang itu terjatuh, bisa jadi mereka akan tertimpa malapetaka.

Sun-tocu sudah hidup sekian puluh tahun, tapi belum pernah melihat kejadian aneh semacam ini.

Padahal dengan ilmu silat keenam orang ini, terhadap siapa pun mereka dapat mengadakan perlawanan, mengapa begitu melihat pemuda berbaju kuning ini lantas ketakutan seperti tikus ketemu kucing? Sungguh Sun-tocu tidak habis mengerti.

Tapi ia juga tidak ingin mencari tahu, hidup sampai tua seperti dia, diketahuinya ada sementara urusan lebih baik menghadapinya dengan pura-pura tidak tahu, jika terlalu banyak tahu malah akan mendatangkan kesukaran.

Sudah lama tidak hujan, hanya angin saja meniup santer di gang berdebu itu. Entah mulai kapan keempat orang berbaju kuning tadi sudah membuat beberapa puluh lingkaran di atas tanah, setiap lingkaran hanya sebesar mangkuk saja.

Sesudah keluar, tanpa diperintah Toan Kay-san berenam lantas berdiri pada lingkaran-lingkaran yang digaris oleh keempat orang berbaju kuning tadi, lalu keenam orang itu berubah seperti patung lagi, berdiri tegak tanpa bergerak.

Pemuda berbaju kuning itu kembali lagi ke dalam warung dan berduduk di meja yang ditempati rombongan Toan Kay-san tadi. Air mukanya tetap dingin, sampai sekarang tetap tidak berucap satu kata pun.

Selang tidak lama, kembali datang seorang berbaju kuning. Usia orang ini terlebih tua, daun telinganya bekas terpotong satu, matanya juga buta sebelah, sisa matanya itu memancarkan cahaya kebuasan.

Baju kuning yang dipakainya juga dijahit renda emas, di belakangnya juga mengikut tujuh atau delapan orang, ada tua, ada muda, ada tinggi ada juga pendek. Melihat dandanan mereka jelas bukan orang rendahan, tapi sekarang mereka pun serupa rombongan Toan Kay-san, semuanya berwajah lesu dan tegak leher dengan hati-hati mengintil di belakang si mata satu, setiba di depan warung itu, tanpa disuruh lantas berdiri di tengah-tengah lingkaran yang sudah terdapat di situ.

Seorang di antaranya berkulit hitam, kurus tinggi, namun kelihatan cerdas dan tangkas. Heran juga Toan Kay-san berenam melihat orang ini, dalam hati seperti lagi bertanya, “Mengapa dia juga ikut digiring ke sini?”

Si mata satu menyapu pandang sekejap Toan Kay-san berenam sambil menampilkan senyum dingin, ia pun masuk ke warung itu dan berduduk di depan si pemuda berbaju kuning. Kedua orang saling pandang sekejap dan saling mengangguk, tapi tidak ada yang bersuara.

Selang sekian lama lagi, kembali datang lagi seorang berbaju kuning. Orang ini terlebih tua daripada yang lain, rambutnya sudah putih, baju kuning yang dipakainya juga memakai garis tepi warna emas, di belakangnya malah mengikut belasan orang.

Dipandang dari jauh, kakek ini tiada sesuatu kelainan, tapi sesudah dekat baru terlihat jelas muka kakek ini berwarna hijau, bahkan tangannya juga kelihatan hijau.

Begitu melihat kakek bermuka hijau dan berambut putih ini, orang-orang yang berdiri di luar warung itu sama ketakutan seperti melihat setan, semuanya menarik napas dingin, bahkan ada yang bergemetar.

Tidak sampai setengah jam, berpuluh lingkaran di luar warung itu sudah penuh berdiri orang, semuanya bungkam, tidak berani bersuara, apalagi bergerak.

Sudah empat orang berbaju kuning dengan pinggiran baju berjahit renda emas, orang terakhir adalah seorang kakek rada bungkuk, rambutnya juga sudah ubanan, langkahnya saja sempoyongan, tampaknya lebih tua daripada si kakek tukang dongeng itu, saking tua berjalan pun hampir tidak sanggup lagi, tapi pengikut yang dibawanya kemari justru paling banyak.

Keempat orang ini masing-masing menduduki sesisi meja, begitu masuk lantas berduduk dengan diam, tidak ada yang berbicara, keempatnya serupa orang gagu semua.

Semua orang yang berdiri di lingkaran di luar itu juga tidak berani bersuara, mulut mereka seperti terjahit, baik di luar maupun di dalam, hanya suara napas orang saja yang terdengar, lain tidak.

Warung kecil ini pada hakikatnya berubah serupa kuburan, sampai si Sun bungkuk juga tidak tahan. Namun si jangkung bertembong hijau dan kedua kakek dan cucu perempuannya justru tidak mau pergi. Memangnya mereka ingin menonton keramaian lagi?

Entah berselang berapa lama lagi, dari ujung gang sana tiba-tiba berkumandang suara “tok-tok” secara beruntun, suaranya begitu-begitu saja, monoton dan mengesalkan.

Tapi dalam saat demikian, suara ini seperti menimbulkan semacam rasa seram dan misterius, hati setiap orang seolah-olah diketuk-ketuk oleh palu.

Keempat orang berbaju kuning itu saling pandang sekejap, serentak mereka berdiri.

Suara “tok-tok-tok” itu semakin keras dan bertambah dekat, di tengah remang malam perlahan muncul sesosok bayangan orang.

Orang ini buntung kaki kiri, buntung seluruhnya dari pangkal paha, dia membawa tongkat yang terbuat dari logam, ketika menyentuh tanah itulah menimbulkan suara “tok-tok” yang nyaring.

Sinar lampu yang guram menyorot keluar dari warung kecil itu dan menyinari wajah orang buntung kaki ini, tertampak rambut orang ini semrawut, mukanya hitam seperti pantat kuali dan penuh codet. Matanya segitiga, alisnya kasar seperti sapu, hidungnya sangat besar, mulutnya juga besar luar biasa, barang siapa melihat orang ini pasti akan timbul rasa seram.

Tapi keempat orang berbaju-kuning tadi serentak menyongsong ke depan, menyambut kedatangan si buntung ini dengan hormat.

Si buntung memberi tanda agar tidak perlu banyak adat, lalu “tok-tok-tok” …. Ia pun masuk ke warung kecil itu.

Sekarang Sun-tocu dapat melihat baju panjang yang dipakai si buntung ini juga berwarna kuning tua, bagian baju bawah melingkar di pinggang, sangat dekil sehingga hampir sukar membedakan warna bajunya.

Tapi pada pinggiran baju kuning yang teramat kotor ini justru diberi jahitan dua garis emas.

Melihat kedatangan si buntung ini, air muka si jangkung bertembong hijau juga rada berubah.

Malahan si nona berkucir juga lantas melengos ke sana dan tidak berani memandangnya.

Mata si buntung yang berbentuk segitiga itu gemerdep, ia menyapu pandang sekeliling, ketika melihat si jangkung bertembong hijau, tampaknya ia pun mengernyitkan kening, lalu berpaling kembali dan menyapa, “Kalian semua tentu sudah lelah.”

Meski mukanya jelek dan bengis, tapi cara bicaranya lemah lembut, suaranya juga enak didengar.

Keempat orang berbaju kuning itu sama membungkuk dan menjawab, “Ah, tidak.”

“Sudah dibawa ke sini semuanya?” tanya pula si buntung.

Si kakek berbaju kuning mengiakan.

“Seluruhnya berapa orang?” tanya si buntung.

“Ada 49 orang,” tutur si kakek baju kuning.

“Kau yakin kedatangan mereka seluruhnya adalah untuk urusan itu?”

“Sudah kuselidiki dengan jelas, orang-orang ini sama memburu ke sini dalam waktu tiga hari terakhir ini, jelas pasti lantaran urusan itu, kalau tidak, mengapa serentak mereka datang semua ke sini?”

Si buntung mengangguk, “Baiklah asalkan sudah kau selidiki dengan jelas, betapa pun kita tidak boleh menyalahkan orang tidak berdosa.”

Kakek baju kuning mengiakan.

“Dan apakah orang-orang ini sudah mengerti akan maksud kita?” tanya lagi si buntung kaki.

“Mungkin belum seluruhnya tahu jelas,” jawab si kakek.

“Jika begitu bolehlah kau beri penjelasan kepada mereka.”

Kembali kakek itu mengiakan. Perlahan ia keluar dan berkata, “Siapa kami tentunya kalian sudah tahu, dan maksud tujuan kedatangan kalian, kami juga tahu dengan jelas.”

Perlahan ia mengeluarkan pula sepucuk surat dan menyambung, “Tentu disebabkan kalian sama menerima surat semacam ini, maka serentak memburu ke sini.”

Semua orang tidak berani mengangguk, juga khawatir salah jawab, maka mereka hanya mengeluarkan suara dari hidung sehingga kedengaran sangat lucu dan aneh.

Si kakek baju kuning berkata pula, “Tapi kalau berdasarkan kepandaian kalian dan ingin cari untung di sini, jelas kalian belum memenuhi syarat, oleh sebab itulah sebaiknya kalian boleh pergi, kami dapat menjamin keamanan kalian, asalkan kalian berdiri saja tanpa bergerak, pasti tidak ada yang berani membikin susah kalian.”

Ia tertawa hambar, lalu menyambung, “Tentunya kalian juga tahu, hanya pada keadaan terpaksa saja baru kami melukai orang.”

Dia bicara sampai di sini, sekonyong-konyong ada seorang bersin. Ternyata yang bersin ini ialah Oh Bi, si ular air.

Umumnya orang perempuan sok aksi dan suka pamer, agar pinggangnya kelihatan terlebih ramping, dia lebih suka memakai baju tipis daripada memakai baju tebal yang dapat menutupi keindahan lekuk pinggangnya, penyakit sok demikian banyak menghinggapi kaum perempuan.

Dan karena baju yang dipakai Oh Bi terlalu sedikit dan juga tipis, sedangkan angin di jalan ini cukup santer, dia berdiri paling depan lagi dan menyongsong angin, setelah berdiri sekian lamanya, ia tidak tahan dingin dan mendadak bersin.

Kalau bersin seperti biasanya tentu tidak menjadi soal, paling-paling hidung dikucek-kucek dan habis perkara. Tapi bersinnya sekarang sungguh bikin runyam. Karena bersin, mata uang yang tersunggi di atas kepalanya itu lantas jatuh.

Terdengar suara “tring”, mata uang itu jatuh dan menggelinding jauh ke sana, bukan saja air muka Oh Bi seketika pucat seperti mayat, air muka orang lain juga berubah.

Si kakek baju kuning berkerut kening, dengusnya, “Hm, masakah kau lupa kepada peraturan kami?”

“Ti … tidak,” jawab Oh Bi dengan gemetar.

“Kalau tidak lupa, jelas kau terlalu gegabah,” ujar si kakek sambil menggeleng.

Gemetar tubuh Oh Bi, “Tapi … Wanpwe tidak … tidak sengaja, mohon … mohon Cianpwe sudi mengampuni satu kali saja.”

“Kutahu kau tidak sengaja, tapi peraturan tak boleh dilanggar, bilamana peraturan tidak ditaati, hilanglah segala wibawa. Kau sendiri orang Kangouw kawakan, masakah tidak tahu hal-hal demikian?”

Oh Bi berpaling ke arah Oh Hui, dengan suara memelas ia memohon, “Toako, masa engkau tidak ikut mintakan ampun bagiku?”

Perlahan Oh Hui malah memejamkan matanya, kulit daging pada mukanya tampak berkerut-kerut, jawabnya sedih, “Apa-gunanya biarpun kumintakan ampun bagimu?”

Oh Bi mengangguk, ucapnya dengan tersenyum getir, “Ya, kupaham, tidak kusalahkan dirimu.”

Sorot matanya beralih kepada Nyo Seng-cu, katanya, “Dan bagaimana dengan kau, Siau Nyo? Segera aku akan pergi, masakah tidak ada yang hendak kau katakan padaku?”

Nyo Seng-cu memandang ke depan dengan kaku, tiada terlihat sesuatu perasaan pada wajahnya.

“Masakah memandang sekejap padaku saja engkau tidak sudi lagi?” tanya Oh Bi pula.

Tapi Nyo Seng-co malahan terus memejamkan mata.

Mendadak Oh Bi tertawa terkekeh-kekeh, serunya sambil menuding Nyo Seng-co, “Coba kalian lihat, dia inilah kekasihku, pacarku, gacoanku, semalam dia baru saja bilang padaku asalkan aku baik padanya, mati pun dia rela bagiku. Tapi sekarang? Hah, memandang sekejap padaku saja tidak berani, seolah-olah bisa segera mati apabila memandang sekejap diriku.”

Suara tertawanya semakin perlahan dan semakin lemah, air mata lantas bercucuran, lalu gumamnya, “O, cinta, apa artinya cinta? Apa artinya kasih? Apa pula artinya orang hidup ini? Kan lebih baik mati saja dan beres segalanya daripada susah ….”

Bicara sampai di sini mendadak ia menjatuhkan diri dan berguling beberapa kaki jauhnya, kedua tangannya bergerak sekaligus, berpuluh bintik tajam dengan membawa desing angin segera menyambar ke arah si kakek berbaju kuning. Serentak tubuhnya lantas melompat ke atas, agaknya bermaksud melintas ke balik pagar tembok sana.

Si ular air Oh Bi terkenal tinggi Ginkang dan senjata rahasianya, sekarang terbukti kedua macam Kungfunya itu memang lain daripada yang lain, senjata rahasia yang dihamburkannya sangat banyak, cepat, jitu dan keji pula.

Si kakek berbaju kuning cuma mengernyitkan kening saja sambil berucap perlahan, “Ai, untuk apa kau lakukan hal ini?”

Baik bicara maupun cara berjalan kakek ini selalu lambat, tapi gerak tangannya ternyata cepat luar biasa, dia cuma berucap beberapa patah kata itu, namun berpuluh bintik tajam tadi sudah tergulung semua oleh lengan bajunya.

Dan baru saja tubuh Oh Bi mengapung ke atas, sekonyong-konyong terasa suatu arus tenaga mahadahsyat menerjang tiba.

“Blang”, tanpa kuasa tubuhnya menumbuk dinding dan merosot ke bawah, dari lubang telinga, hidung dan mulut sama mengeluarkan darah.

Si kakek menggeleng kepala, “Sebenarnya kau dapat mati dengan enak, kenapa mesti banyak tingkah?”

Oh Bi meraba dada dan terbatuk-batuk, akhirnya menumpahkan darah.

“Tapi sebelum kau mati dapat kami memenuhi sesuatu permintaanmu,” kata si kakek pula.

“Apakah ini pun peraturan kalian?” tanya Oh Bi dengan megap-megap.

“Betul,” jawab si kakek.

“Apa pun permintaanku pasti akan kalian penuhi?” Oh Bi menegas.

“Ya, bilamana ada sesuatu cita-citamu yang belum terlaksana, kami akan melakukan bagimu, jika ada sakit hatimu belum terbalas, kami juga dapat menuntut balas bagimu.”

Setelah tertawa hambar, perlahan si kakek menyambung lagi, “Betapa pun mujur bagi orang yang dapat mati di tangan kami.”

Mendadak terpancar sorot mata Oh Bi yang aneh, ucapnya, “Jika aku toh harus mati, entah boleh tidak kupilih seseorang untuk membunuhku?”

“Itu pun boleh, entah siapa yang kau pilih?” jawab si kakek.

Mendadak Oh Bi menggereget dan berucap sekata demi sekata, “Ialah dia, Nyo Seng-co!”

Seketika air muka orang she Nyo itu berubah pucat, ucapnya dengan gemetar, “Hei, ap … apa maksudmu ini? Masakah sengaja kau bikin susah padaku?”

Oh Bi tertawa pedih, katanya, “Meski palsu cintamu padaku, tapi cintaku padamu adalah suci murni, asalkan aku dapat mati di tanganmu, mati pun rela.”

Si kakek menyela dengan tak acuh, “Membunuh orang hanya cukup dengan sekali tangan bergerak saja, memangnya belum pernah kau bunuh orang?”

Dia memberi tanda, segera seorang anak buahnya berseragam kuning melolos golok pada pinggangnya dan disodorkan kepada Nyo Seng-co sambil berkata, “Golok ini cukup tajam, sekali tebas saja nyawa seorang pasti tamat, tidak perlu tebas dua kali.”

Tanpa terasa Nyo Seng-co menggeleng kepala dan berkata, “Aku tidak ….”

Baru saja “tidak” terucapkan, sekonyong-konyong mata uang yang disungginya juga jatuh ke tanah. “Tring”, mata uang itu terus menggelinding jauh ke sana.

Keruan Nyo Seng-co terkesima, dalam sekejap tubuhnya basah kuyup keringat dingin.

Dalam pada itu Oh Bi lantas bergelak tertawa seperti orang gila, “Hahahaha! Kan sudah kukatakan sendiri bilamana aku mati kau pun tak dapat hidup sendiri. Sekarang engkau ternyata benar hendak mengiringi kematianku, nyata engkau masih punya perasaan ….”

Gemetar sekujur badan Nyo Seng-co, mendadak ia meraung murka dan mendamprat, “Kau perempuan siluman, hatimu berbisa ….”

Mendadak ia menubruk maju, dirampasnya golok yang dipegang Oh Bi terus dibacokkan ke leher perempuan itu, kontan darah segar terpancur seperti hujan dan membasahi baju Nyo Seng-co.

Dengan terengah dan badan gemetar perlahan Nyo Seng-co menengadah. Mata semua orang sama memandangnya dengan dingin.

Entah sejak kapan di tengah remang malam sudah diliputi kabut.

Nyo Seng-co mengentak kaki, mendadak golok diayun terbalik dan menggorok leher sendiri, kontan ia roboh terkulai dan tepat menindih di atas mayat Oh Bi.

Baru sekarang Sun bungkuk tahu sebab apa cara berjalan orang-orang ini sedemikian berhati-hati, rupanya bila mereka kurang hati-hati sehingga mata uang yang tersunggi di atas kepala mereka itu terjatuh, hal ini berarti kematian bagi mereka.

Sungguh peraturan kawanan berbaju kuning ini teramat menakutkan, juga terlalu kejam.

Adapun si jangkung bermuka tembong itu seolah-olah tidak menghiraukan semua kejadian itu, serupa sudah biasa dilihatnya. Anehnya kawanan orang berbaju kuning itu kenapa tidak menaruh sebuah mata uang di atas kepalanya.

Pada saat itulah si kaki satu mendadak berdiri, perlahan ia mendekati si jangkung, lalu duduk di depannya.

Perlahan si jangkung mengangkat kepalanya dan menatapnya.

Kedua orang sama tidak bicara, sedangkan Sun bungkuk lantas tegang, seperti peristiwa menakutkan segera akan terjadi. Ia merasa sorot mata kedua orang itu sama tajamnya serupa pisau dan kalau bisa ingin menikam hulu hati lawan.

Kabut bertambah tebal.

Entah selang berapa lama lagi, tiba-tiba wajah si kaki satu menampilkan secercah senyuman. Senyuman khas, senyum yang aneh, sekali tersenyum seketika membuat orang lupa kepada kebuasan dan kejelekannya, sebaliknya berubah menjadi lembut, hangat dan mesra.

“Kami sudah tahu siapakah Anda,” demikian ucapnya dengan tersenyum.

“Oo!” si jangkung bermuka hijau hanya bersuara singkat saja.

“Dan siapa kami tentunya Anda pun sudah tahu, bukan?” kata si kaki satu pula.

“Selama dua tahun terakhir ini mungkin sangat sedikit orang yang tidak tahu akan diri kalian,” jengek si jangkung.

Si kaki satu tertawa, perlahan ia mengeluarkan sepucuk surat.

Surat ini serupa dengan surat yang diperlihatkan si kakek berbaju kuning tadi, tampaknya tidak ada sesuatu yang istimewa tapi cukup menarik, sampai Sun bungkuk juga ingin tahu sebenarnya apa yang tertulis di sampul surat itu.

Mata si nona berkucir itu senantiasa melirik ke arah sini, cuma sayang, si kaki satu tekan sampul surat di atas meja dan ditindih dengan tangannya, dengan tersenyum ia berkata pula, “Jauh-jauh Anda datang kemari, tentu juga lantaran adanya surat ini.”

Si jangkung membenarkan.

“Dan apakah Anda tahu siapa yang menulis surat ini?”

“Tidak tahu,” jawab si jangkung.

“Setahu kami, sedikitnya ada ratusan orang Kangouw yang menerima surat serupa ini tapi tiada mendapat sesuatu petunjuk apa pun.”

“Jika kalian saja tidak berhasil menyelidikinya, lantas siapa pula yang mampu?” jengek si jangkung.

“Meski kami tidak tahu siapa penulis surat ini, tapi maksud tujuan mereka sudah kami ketahui,” kata si kaki satu dengan tertawa.

“Oo?!” si jangkung melengak.

“Dia sengaja memancing para kesatria ternama ke sini, jika terjadi gontok-gontokan yang sengit, akhirnya dia yang akan menarik keuntungannya.”

“Bila sudah tahu begitu, mengapa kalian datang kemari?” tanya si jangkung.

“Justru lantaran kami tahu maksud tujuannya culas dan keji, maka kami harus datang kemari,” ujar si kaki satu. “Maksud kami ingin membujuk kawan-kawan yang hadir agar jangan mau terjebak oleh kelicikan orang itu, asalkan para sahabat mau angkat tangan melepaskan urusan ini, tentu malapetaka ini dapat dihindari.”

“Hm, baik benar hati kalian,” jengek si jangkung.

Si kaki satu seperti tidak merayakan ucapannya yang berduri itu, dia tetap tersenyum dan berkata pula, “Kami cuma berharap dapat membuat persoalan besar menjadi soal kecil, dari soal kecil menjadi tidak ada persoalan, supaya kita sama-sama dapat hidup aman tenteram sampai tua.”

“Padahal apa benar di sini terdapat harta karun atau tidak kan belum jelas bagi siapa pun,” ujar si jangkung.

“Memang betul,” seru si kaki satu sambil menepuk paha. “Sebab itulah bila belum apa-apa kita sudah bertengkar, bukankah tidak berharga?”

“Tapi bila aku sudah datang kemari, baik atau buruk harus kulihat sendiri sejelasnya, hanya beberapa patah-kata orang lain saja mana bisa mengenyahkan diriku?” jengek si jangkung.

Seketika si kaki satu menarik muka, “Jika demikian, jadi Anda tidak mau lepas tangan?”

“Hm, biarpun kulepas tangan juga belum tentu mendapatkan giliranmu,” jengek si jangkung.

“Tapi selain Anda rasanya tiada orang lain lagi yang mampu berebut dengan kami,” si kaki satu juga menjengek, mendadak ia ketukkan tongkatnya ke lantai, “crat”, disertai muncratnya lelatu, tahu-tahu tongkat sepanjang lebih empat kaki itu telah ambles lebih tiga kaki ke dalam tanah.

Air muka si jangkung sama sekali tidak berubah, ia malah menjengek, “Hm, hebat benar Kungfu Anda, pantas waktu Pek-hiau-sing menyusun daftar senjata, dia telah memasukkan tongkatmu ini dalam urutan nomor delapan.”

“Dan Coa-pian (cambuk ular) Anda termasuk urutan nomor tujuh, sudah lama aku ingin belajar kenal dengan kalian,” kata si jangkung.

Mendadak sebelah tangannya menahan meja, orangnya terus mengapung ke atas, “serr” disertai kesiur angin tajam, tangan kanannya entah sejak kapan sudah bertambah dengan seutas cambuk panjang warna hitam.

Senjata panjang umumnya sukar dimainkan, orang yang dapat memainkan cambuk sepanjang tujuh kaki sungguh harus diakui sebagai seorang jago kelas tinggi, sekarang cambuk berbentuk ular yang dipegang si jangkung ini ternyata luar biasa panjangnya, andaikan tidak ada tiga tombak sedikitnya juga ada dua setengah tombak.

Sekali tangannya menyendal, dengan membawa desir angin kencang cambuknya lantas menyambar ke atas kepala orang-orang yang berdiri di dalam lingkaran masing-masing itu, terdengar serentetan suara gemerencing, beberapa puluh buah mata uang itu sama jatuh ke tanah.

Padahal di antara beberapa puluh orang itu ada yang tinggi dan ada yang pendek, sekali cambuknya menyapu, semua mata uang yang tersunggi di atas kepala mereka dapat disapu rontok tanpa membuat cedera seujung rambut pun.

Beberapa puluh orang itu boleh dikatakan tiada seorang pun bukan jago Kangouw kawakan, tapi permainan cambuk selihai ini sungguh belum pernah mereka lihat, berada di tangan si jangkung, cambuk panjang itu seolah-olah berubah menjadi hidup dan bermata.

Beberapa puluh orang itu saling pandang sekejap, serentak mereka pun bergerak, ada yang melompat ke atas pagar tembok, ada yang langsung ke atas rumah, seketika terlihat bayangan orang beterbangan, dalam sekejap saja sudah kabur seluruhnya.

Air muka si kakek baju kuning juga berubah, bentaknya dengan beringas, “Kau jatuhkan mata uang di atas kepala mereka, apakah hendak kau ganti nyawa bagi mereka?”

Si kaki satu menjengek, “Hm, dengan selembar jiwa Pian-sin (malaikat cambuk) Sebun Yu kukira sudah lebih dari cukup mengganti berpuluh jiwa mereka.”

Serentak ia menggetarkan lagi tongkatnya ke tanah dan berdiri tegak dengan kaki yang tertinggal satu itu, tertampak kuat dan teguh serupa bukit.

Si kakek baju kuning juga lantas mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang Boan-koan-pit, pensil baja.

Waktu si lelaki bermuka pucat memutar tubuh, tahu-tahu ia sudah memegang sepasang senjata berbentuk aneh, tampaknya mirip golok tapi bukan golok, serupa gergaji namun bukan gergaji, kelihatan bersinar hijau kelam, jelas senjata itu beracun.

Sedangkan si pemuda berbaju kuning sejak tadi tidak pernah bersuara, kedua tangannya juga tetap terselubung di dalam lengan baju, baru sekarang perlahan ia menjulurkan tangannya, senjata yang dipegangnya ternyata sepasang gelang baja, satu besar dan yang lain kecil, senjata ini biasanya disebut gelang baja induk dan anak.

Umumnya senjata mengutamakan “semakin panjang semakin kuat, semakin pendek semakin berbahaya”.

Gelang baja induk beranak ini terlebih bahaya di antara bahaya, sekali bergerak hanya serangan melulu, kalau tidak melukai lawan biarlah dilukai lawan, sebab itulah tidak banyak orang dunia persilatan berani memakai senjata maut ini. Dan orang yang berani menggunakan senjata begini pastilah Kungfunya tidak lemah.

Begitulah serentak keempat tokoh berbaju kuning itu bergerak dan mengepung Sebun Yu di tengah. Hanya si mata satu saja yang menyurut mundur beberapa tindak, ia membuka dada bajunya sehingga kelihatan dua sabuk yang penuh terselip pisau, seluruhnya ada 49 buah pisau lembing, ukurannya tidak sama, ada yang pendek, ada yang agak panjang, yang pendek cuma belasan senti, yang panjang dua-tiga kali lipat.

Kelima orang sama memandang cambuk panjang di tangan Sebun Yu tanpa berkedip, jelas mereka sama waswas terhadap cambuk yang serupa bermata itu.

Si kaki satu terkekeh dan berkata, “Hehe, tentang asal usul keempat kawanku ini tentunya Anda juga sudah mengetahuinya?”

“Sejak tadi aku sudah tahu,” jawab si jangkung alias Sebun Yu.

“Menurut aturan, dengan kedudukan kami berlima mestinya tidak pantas bergabung untuk mengerubuti dirimu seorang, cuma keadaan sekarang harus dikecualikan,” kata pula si kaki satu.

“Hm, kaum pengecut yang suka main keroyok di dunia Kangouw sudah sering kulihat, kan tidak cuma kalian berlima saja,” ejek Sebun Yu.

“Sebenarnya kami tidak bermaksud membunuhmu,” ucap si kaki satu, “tapi engkau telah melanggar peraturan kami, maka tidak boleh lagi kami melepaskan dirimu. Bila aturan rusak, tentu wibawa sukar ditegakkan lagi. Kukira dapat kau pahami dalih ini.”

“Hahahaha!” mendadak Sebun Yu bergelak gelak tertawa. “Jika aku mau angkat kaki, melulu kalian saja kukira belum mampu merintangi diriku.”

Mendadak tangannya bergerak, cambuknya terus berputar beberapa kali sehingga membungkus dirinya sendiri di tengah. Cambuknya masih terus berputar tanpa berhenti hingga kelihatan serupa gasingan.

Si kaki satu membentak sekali, tongkatnya terus menyerampang, Serampangan ini memang satu gerakan biasa, namun betapa dahsyat tenaganya sungguh tak ada bandingannya.

Namun Sebun Yu tetap tertawa, putaran cambuknya bertambah kencang, sekonyong-konyong dia mengapung ke udara.

Tanpa ayal kedua tangan si mata satu bergerak, dalam sekejap 13 buah lembing telah disambitkan, tertampak bayangan pita merah berkelebat, dengan membawa deru angin tajam semua pisau lembing itu menyambar ke arah Sebun Yu.

Lembing panjang disambitkan duluan, tapi lembing pendek sampai lebih dulu pada sasarannya, terdengar suara “srat-sret” yang ramai, belasan lembing itu ternyata sama patah tersabet oleh cambuk yang berputar kencang itu, lembing patah terus mencelat, ada yang menancap di dinding, ada yang jatuh di atap, pita merah hiasan tangkai lembing juga putus dan bertebaran.

Sebaliknya Sebun Yu berputar semakin kencang bagai kitiran, makin berputar juga semakin tinggi, dan hanya beberapa kali kitaran lantas lenyap dalam kabut tebal.

“Kejar!” bentak si kaki satu.

Sekali tongkatnya mengentak tanah, mendadak orangnya lantas menjulang ke atas, meski kakinya tinggal satu, tapi Ginkangnya jauh lebih tinggi daripada orang yang berkaki dua, dalam sekejap ia pun menghilang dalam kabut, hanya terdengar suara angin yang diterbitkan oleh gerak tongkatnya itu masih terdengar dari jauh.

Segera orang-orang berbaju kuning itu menyusul ke sana mengikuti suara angin, hanya sekejap saja gang itu sudah kembali dalam ketenangan seperti biasanya, yang tertinggal hanya genangan darah dan dua sosok mayat.

Apabila tidak terdapat dua sosok mayat yang menggeletak di situ, sungguh Sun bungkuk akan mengira apa yang dilihatnya itu cuma dalam mimpi saja.

Si kakek tukang dongeng entah sejak kapan sudah sadar, ia menyaksikan orang berbaju kuning itu pergi satu per satu, habis itu baru ia menghela napas dan bergumam, “Pantas cambuk ular Sebun Yu mendapat urutan nomor di atas Jing-mo-jiu, melihat beberapa kali gerak cambuk tadi, betapa pun Pek-hiau-sing memang berpandangan tajam.”

“Masa orang Kangouw yang bersenjata cambuk tidak ada yang lebih hebat daripada si jangkung tadi?” tanya si nona berkucir.

“Senjata lemas dapat dilatih sehingga setaraf ini, selama 30 tahun ini belum ada keduanya,” ujar si kakek.

“Dan siapakah si makhluk aneh berkaki satu itu?” tanya pula si nona.

“Orang itu bernama Cukat Kang alias ‘Heng-siau-jian-kun’ (sekali serampang seribu prajurit), yaitu karena tongkat bajanya yang lebih dari 100 kati beratnya itu tidak ada senjata yang lebih berat daripada tongkat yang dipakainya itu.”

“Haha, yang satu bernama Yu (lunak) dan yang lain bernama Kang (keras), tampaknya kedua orang ini memang dilahirkan untuk menjadi musuh,” ular si nona dengan tertawa geli.

“Meski senjata Sebun Yu termasuk lunak, tapi orangnya justru sangat lurus dan keras, sebaliknya Cukat Kang yang bersenjata keras itu justru berhati licik dan licin. Kungfu kedua orang memang saling berlawanan, perangai masing-masing juga tidak sama, namun lunak dapat mengatasi keras, bicara tentang Kungfu, Cukat Kang kalah setingkat, soal adu tipu akal Sebun Yu bisa jadi akan kecundang.”

“Menurut pandanganku, si kakek berjenggot putih itu jauh lebih culas daripada Cukat Kang,” kata si nona.

“Orang itu bernama Ko Hing-kong, seorang ahli Tiam-hiat (ilmu menutuk Hiat-to),” tutur si kakek. “Sedangkan si mata satu bernama Yan Siang-hui, sekaligus ia mampu menyambitkan 49 buah lembing kecil dalam sekejap dan jarang meleset. Senjata kedua orang ini dalam daftar senjata yang disusun Pek-hiau-sing menempati urutan nomor 37 dan 46, di dunia Kangouw mereka pun tergolong jago kelas satu.”

Si nona berkucir mencibir, “Huh, masakah urutan nomor 46 juga terhitung jago kelas satu?”

“Memangnya kau tahu ada berapa juta orang di dunia ini yang berlatih ilmu silat, dan ada berapa orang pula yang namanya bisa tercantum dalam daftar yang disusun Pek-hiau-sing itu?”

“Dan orang yang bermuka pucat hijau itu menggunakan senjata macam apa? Apakah juga terdaftar?”

“Orang itu bernama Tong Tok dan berjuluk ‘Tok-tang-lang’ (si belalang berbisa), senjata yang digunakannya disebut Tong-long-to (golok belalang), golok beracun, barang siapa sampai terluka oleh goloknya, dalam waktu satu jam pasti binasa tanpa tertolong.”

Si nona tertawa mengikik, “Hihi, aku jadi ingat, konon orang ini gemar makan lima macam serangga berbisa, karena hobi makannya itu sehingga sekujur tubuhnya berubah warna hijau, sampai matanya juga berwarna hijau.”

“Ya, beberapa orang itu sudah tergolong jago kelas terkemuka di dunia Kangouw,” tutur si kakek sambil mengetuk pipa tembakaunya dan mengisi tembakau, lalu udut lagi. Setelah mengembuskan asap tembakaunya, ia menyambung pula, “Tapi bila mereka dibandingkan anak muda berbaju kuning yang angkuh itu, mereka boleh dikatakan belum masuk hitungan.”

“Benar, dapat kulihat juga orang itu memang tidak boleh diremehkan,” ujar si nona, “Meski usianya paling muda, tapi dia paling sabar, senjata yang digunakannya juga lain daripada yang lain, entah bagaimana asal usulnya?”

“Pernahkah kau dengar nama Liong-hong-goan (gelang naga dan hong) Siangkoan Kim-hong?” tanya si kakek.

“Tentu saja pernah kudengar,” sahut si nona. “Senjata andalan orang ini bernama Cubo-liong-hong-goan (gelang induk beranak naga dan hong) dan menempati urutan nomor dua dalam daftar senjata susunan Pek-hiau-sing, namanya bahkan di atas pisau kilat Li-tamhoa. Orang Kangouw siapakah yang tidak kenal namanya?”

“Nah, pemuda itu bernama Siangkoan Hui, dia putra satu-satunya Siangkoan Kim-hong,” tutur si kakek tukang dongeng. “Cukat Kang, Tong Tok, Ko Hing-kong dan Yan Siang-hui, mereka juga anak buah Siangkoan Kim-hong.”

Si nona berkucir melelet lidah, “Wah, pantas mereka bertindak sedemikian semena-mena, kiranya mereka mempunyai dukungan sekuat itu.”

“Sudah cukup lama Siangkoan Kim-hong menghilang,” tutur pula si kakek, “tapi dua tahun yang lalu mendadak dia muncul kembali, ada 17 tokoh kelas top yang termasuk dalam daftar senjata itu dicakup olehnya dan terbentuklah Kim-ci-pang (sindikat mata uang emas). Selama dua tahun ini mereka malang melintang di dunia Kangouw dan tidak terkalahkan, setiap orang Kangouw sama miring terhadap mereka, besar pengaruh mereka sekarang bahkan sudah di atas Kay-pang (serikat pengemis).”

“Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia persilatan, masakah sindikat yang kurang terhormat seperti mereka itu dapat menandingi Kay-pang?” ujar si nona.

Si kakek menghela napas, “Selama dua tahun ini, kesatria Kangouw yang hebat sudah semakin berkurang, yang baik surut, yang jahat tumbuh, apabila kaum kesatria muda tidak berusaha maju dari berjuang, entah sampai kapan dunia ini akan dikuasai Kim-ci-pang.”

Sampai di sini, seperti tidak sengaja ia melirik sekejap ke arah “setan arak” yang masih tetap mendekap di atas meja dan belum lagi sadar itu.

Nona berkucir itu menghela napas gegetun, “Jika demikian, bila Kim ci-pang sudah ikut campur urusan ini, pihak lain terpaksa harus menonton saja di samping.”

“Itu pun belum pasti,” ujar si kakek dengan tertawa.

“Memangnya ada pendatang baru yang Kungfunya terlebih tangguh daripada Siangkoan Kim-hong?” tanya si-nona.

“Meski Liong-hong-goan termasuk senjata nomor dua dalam daftar senjata, tapi pisau kilat si Li yang menempati urutan nomor tiga dan Ko-yang-thi-kiam (pedang besi Ko-yang) yang nomor empat itu, Kungfu keduanya belum pasti di bawah Siangkoan Kim-hong,” si kakek tertawa, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Apalagi di atas Liong-hong-goan juga masih ada sebatang pentung mahasakti dan serbahebat yang disebut Ji-ih-pang (pentung serbajadi).”

“Sesungguhnya di mana letak kehebatan Ji-ih-pang itu, mengapa bisa mendapatkan urutan nomor satu di dalam daftar senjata Pek-hiau-sing?” tanya si nona.

Si kakek menggeleng, “Ji-ih-pang juga disebut Thian-ki-pang (pentung rahasia alam), rahasia alam tidak boleh dibocorkan, maka selain Thian-ki-lojin (si kakek rahasia alam) yang memegang Thian-ki-pang itu, mana orang lain bisa tahu?”

Nona berkucir itu termenung sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata pula, “Biarpun Kim-ci-pang itu sangat hebat, tapi kurang pintar mencari nama, masa pakai nama ‘uang’ segala, kan mata duitan jadinya? Sungguh lucu dan menggelikan.”

“Setan pun doyan duit, apalagi manusia,” ucap si kakek dengan sungguh-sungguh. “Segala apa di dunia ini, adakah yang punya daya pikat terlebih besar daripada ‘duit’? Nanti kalau kau sudah berumur setua diriku barulah kau tahu nama ini tidak menggelikan sedikit pun.”

“Tapi di dunia ini juga ada sementara orang yang tidak dapat dipengaruhi dengan duit,” ucap si nona.

“Ya, tapi orang macam begitu teramat sedikit, bahkan makin lama semakin jarang,” kata si kakek.

Kembali si nona terdiam dan termenung memandangi kuku jari sendiri.

Si kakek asyik udut pula, lalu dia mengetuk pipa tembakaunya di tepi meja dan berkata lagi, “Apa yang kuceritakan ini telah kau dengar seluruhnya bukan?”

Berputar biji mata si nona, ia pun melirik si setan arak sekejap dan menjawab dengan tertawa cerah, “Aku kan tidak mabuk, tentu sudah kudengar dengan jelas.”

Si kakek manggut-manggut, “Dan asal usul orang-orang itu tentu juga sudah kau ketahui semua?”

“Ya, tahu semua,” jawab si nona.

“Bagus, dengan demikian selanjutnya kau perlu hati-hati bilamana bertemu dengan mereka.”

Dengan tersenyum si kakek lantas berbangkit, lalu bergumam, “Meski arak di warung ini lumayan, tapi orang hidup kan tidak dapat senantiasa berendam di dalam guci arak dan melewatkan hidup ini secara sia-sia, jika tiba waktunya harus pergi kan harus angkat kaki juga. Betul tidak juragan?”

Kedua kakek bercucu ini bertanya jawab seakan akan sedang bercerita bagi orang lain.

Sampai terkesima Sun bungkuk mendengarkan, kini ia tidak tahan, tanyanya dengan tertawa, “Wah, tampaknya Losiansing sangat hafal terhadap segala seluk-beluk dunia Kangouw, tentu engkau jaga seorang kesatria besar, maka rekening minum kalian biarlah kubereskan bagimu.”

Si kakek tukang dongeng menggeleng dengan tertawa, “Ah, sama sekali aku bukan kesatria apa segala, paling banter aku cuma setan arak saja. Baik seorang kesatria maupun seorang pemabuk, utang harus dibayarnya sendiri, tidak boleh ingkar, juga tidak dapat menghindar.”

Lalu ia mengeluarkan sepotong uang perak dan ditaruh di atas meja, lalu berpegang pada bahu cucu perempuannya, keduanya lantas melangkah pergi dan menghilang di balik kabut sana.

Memandangi bayangan punggung mereka, kembali si Sun bungkuk termenung-menung hingga lama, waktu berpaling kembali barulah diketahuinya si “setan arak” entah sejak kapan sudah sadar kembali, bahkan sudah mendekati meja yang diduduki “malaikat cambuk” Sebun Yu dan sedang mengamat-amati surat yang ditinggalkan Cukat Kang tadi.

Dengan tertawa Sun bungkuk menegur, “Ai, mestinya hari ini engkau jangan mabuk-mabukan sehingga banyak tontonan menarik tadi tak sempat kau lihat.”

Setan arak itu tertawa, lalu menghela napas, katanya. “Tontonan yang lebih menarik bisa jadi belum lagi main, mungkin mau tak mau aku harus ikut menontonnya.”

Sun bungkuk berkerut kening, ia merasa ucapan setiap orang hari ini rada-rada tidak sreg baginya, semuanya seperti salah makan obat saja.

Dalam pada itu si setan arak telah mengeluarkan surat dari sampul itu, hanya dibacanya dua-tiga kejap, mukanya yang pucat lantas timbul warna merah yang aneh, lalu setengah berjongkok dan terbatuk-batuk tiada hentinya.

“Apa yang tertulis di dalam surat itu?” si bungkuk bertanya.

“Tidak tertulis apa-apa,” ujar si setan arak.

Berkedip-kedip si bungkuk. “Katanya orang-orang tadi datang kemari gara-gara menerima surat semacam ini.”

“Oo?!” si setan arak tampak melengak.

“Malahan mereka bilang di sini ada harta karun terpendam, buset!” ucap pula si bungkuk dengan tertawa.

Sembari bicara ia pun bekerja, mengelap meja, tanyanya kemudian, “Apakah engkau masih ingin minum arak? Hari ini kujamu engkau, gratis!”

Dia tidak mendapat jawaban, sebab dilihatnya si setan arak lagi berdiri termangu di sana, sedang memandang jauh ke sana, entah apa yang dipandangnya, sorot matanya tidak ada tanda mabuk, tapi menampilkan semacam perasaan hampa dan pedih yang sukar diceritakan.

Sun bungkuk ikut memandang ke arah yang ditatap si setan arak, maka terlihatlah kelip pelita di atas loteng kecil di balik pagar tembok yang tinggi sana, dipandang di tengah kabut tebal, kelip pelita itu terasa terlebih jauh.

*****

Waktu Sun bungkuk masuk ke belakang, sementara itu sudah lewat tengah malam.

Halaman belakang selalu sunyi senyap, cahaya lampu di dalam kamar si setan arak masih menyala, pintu juga tidak tertutup, malahan berbunyi keriang-keriut tertiup angin.

Teringat kepada kejadian semalam, segera Sub bungkuk menghampirinya, ia mengetuk pintu dan menyapa, “Apakah engkau sudah tidur? Mengapa tidak menutup pintu?”

Namun di dalam rumah tetap sepi tiada orang menjawab.

Perlahan Sun bungkuk menolak pintu, dilihatnya bantal selimut teratur rapi di tempat tidur, sama sekali tidak ada tanda ada orang tidur di situ. Setan arak itu tidak terlihat lagi.

“Aneh, tengah malam buta, ke mana dia?” sambil bergumam si bungkuk melangkah ke dalam.

Dilihatnya di ujung tempat tidur berserakan belasan potong kayu, tapi tidak terlihat pisau kecil yang biasa digunakan mengukir, di atas meja masih tersisa setengah poci arak. Di samping poci terdapat sepotong kertas bekas diremas!

Segera Sun bungkuk mengenali kertas itu adalah surat yang ditinggalkan Cukat Kang tadi.

Ia coba membentang kembali kertas yang sudah teremas kusut itu, terlihat surat itu tertulis: “Malam tanggal 15 bulan sembilan, ada harta karun di Hin-hun-ceng akan tergali, hendaknya Anda jangan menyiakan kesempatan baik ini.”

Isi surat ini hanya terdiri dari tiga kalimat saja, tidak dibubuhi tanda tangan, juga tidak ada nama terang. Tapi semakin singkat isi suratnya, semakin besar menimbulkan rasa ingin tahu orang.

Nyata si penulis surat ini sangat paham ilmu jiwa.

Sun bungkuk berkerut kening, wajahnya juga menampilkan semacam perasaan aneh. Ia tahu Hin-hun-ceng yang disebut itu adalah perumahan megah di depan warungnya itu, namun sama sekali tak terpikir olehnya si “setan arak” itu ada sangkut paut apa dengan Hin-hun-ceng tersebut.

Malam sunyi, kabut menyelimuti bumi, daun rontok memenuhi kolam teratai, jalan kecil itu penuh ditumbuhi rumput liar, halaman yang terawat indah masa lampau kini telah penuh semak-semak rumput dan menimbulkan rasa seram.

Pada ujung jembatan kecil sana terdapat beberapa paviliun indah, di situlah “Leng-hiang-siau-tiok”. Di sini pernah berdiam pendekar ternama nomor satu di dunia persilatan dan juga perempuan paling cantik. Namun semua itu sudah lalu, suasana sudah berbeda.

Kini, di mana-mana penuh galagasi, debu menumpuk tebal, kemegahan masa lampau sudah tidak tertampak lagi bekasnya, sampai pohon Bwe juga sudah kering.

Pelita di atas loteng kecil itu belum lagi padam, dari kejauhan terdengar suara kentungan peronda. Sudah lewat tengah malam dan menjelang pagi.

Malam yang panjang sudah hampir berlalu, dari balik kabut yang tebal sana tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang. Apakah orang yang tidak pernah tidur sepanjang malam atau badan halus yang datang dari alam gaib?

Rambutnya kusut masai, pakaiannya tidak terkancing rapi, tampaknya kedodoran, agak kurus badannya, tapi sikapnya kelihatan gagah, sorot matanya juga gemerdep mirip kerlip bintang di langit.

Dengan perlahan ia melintasi jembatan kecil dan melihat pohon Bwe yang telah layu, tanpa terasa ia menghela napas panjang. Bunga Bwe sebenarnya adalah temannya dahulu, namun sekarang bunga Bwe sudah kering serupa manusianya.

Mendadak ia melayang ke depan secepat burung seriti.

Jendela loteng kecil itu tertutup, di baik kertas jendela yang kekuning-kuningan itu tersorot sesosok bayangan, bayangan itu kelihatan sedemikian kesepian dan sebatang kara ….

Jendela itu ada celah-celah yang tepat dapat digunakan mengintip orang yang kesepian itu, dia sedang menjahit baju menghadap pelita.

Wajahnya kelihatan pucat, matanya yang indah pun sudah kehilangan cahayanya masa lampau.

Tiada terlihat sesuatu perasaan pada wajahnya, tampaknya begitu dingin dan tak acuh, seperti sudah lama melupakan kebahagiaan orang hidup ini, juga melupakan duka lara dunia fana ini.

Dia duduk di situ dan menjahit dengan perlahan, membiarkan masa mudanya ikut lalu bersama ujung jarum.

Baja yang bolong dapat ditambal, namun luka hati tak dapat dirapatkan oleh siapa pun.

Ada lagi seorang anak berumur 13-14 tahun berduduk di depannya.

Anak ini sangat tampan, matanya yang lincah dan hidup itu membuatnya terlebih pintar tampaknya, namun mukanya juga putih pucat, begitu pucat sehingga orang lupa bahwa dia masih seorang anak kecil.

Dia lagi menunduk, sedang berlatih menulis, meski masih kecil, namun dia sudah dapat menguasai gejolak perasaannya, bisa bersabar dan menahan kesepian.

Lelaki yang serupa badan halus tadi masih mendekam di luar jendela dan memandang mereka dengan diam, ujung matanya sudah mengembeng air.

Entah selang berapa lama, tiba-tiba si anak berhenti menulis, mengangkat kepala dan memandang sumbu pelita yang gemerdep di atas meja, memandang dengan termangu-mangu.

Nyonya itu juga berhenti menjahit, melihat anaknya, sorot matanya lantas menampilkan perasaan kasih sayang yang lembut. Ucapnya perlahan, “Siau-in, apa yang kau pikirkan?”

Anak itu menggigit bibir, sahutnya kemudian, “Kupikir, entah … entah bilakah baru ayah akan pulang?”

Tangan si nyonya bergemetar sehingga ujung jarinya tercocok jarum, namun dia seperti tidak merasakan sakit pada tangannya, yang sakit adalah hatinya.

Kembali anak itu berucap pula, “Bu, sebab apakah mendadak ayah pergi? Sampai sekarang sudah dua tahun dan sama sekali tidak ada kabar beritanya.”

Si nyonya termenung hingga lama sekali, lalu menghela napas dan berkata, “Pada waktu dia pergi, aku sendiri tidak tahu.”

Sorot mata anak itu mendadak menampilkan semacam sifat licik, ucapnya, “Tapi kutahu sebab apa dia pergi.”

Nyonya itu mengernyitkan dahi dan mengomel, “Anak kecil, tahu apa?”

“Tentu saja kutahu, karena khawatir Li Sun-hoan akan pulang ke sini untuk menuntut balas padanya, maka ayah pergi dari sini. Bila mendengar nama Li Sun-hoan, seketika air muka ayah lantas berubah.”

Si nyonya ingin bicara, tapi akhirnya semua kata-kata yang hendak diucapkannya berubah menjadi embusan napas panjang belaka. Ia tahu yang diketahui anak ini sangat banyak, mungkin terlalu banyak.

“Tapi sejauh ini Li Sun-hoan belum lagi datang, mengapa ia tidak datang menjenguk ibu,” kata pula si anak.

Tubuh si nyonya menggigil pula, teriaknya mendadak, “Mengapa dia perlu datang menjenguk diriku?”

Anak itu mengikik tawa, “Kutahu dia adalah sahabat baik ibu, betul tidak?”

Muka si nyonya semakin pucat, mendadak ia berbangkit, ucapnya dengan menarik muka, “Fajar sudah hampir tiba, lekas pergi tidur!

Perlahan si nyonya memejamkan mata, dua titik air mata meleleh di pipinya.

Anak itu lantas berdiri, ucapnya dengan tertawa, “Baiklah anak akan pergi tidur. Esok adalah ulang tahun ibu, anak ingin bangun pagi-pagi.”

Dengan tertawa ia mengecup sekali di pipi sang ibu, lalu berkata, “Ibu pun harus tidur, sampai bertemu besok!”

Ia keluar dengan tertawa, begitu sampai di pintu, tertawa yang selalu menghiasi wajahnya seketika lenyap, sebaliknya tertampil semacam rasa benci dan dendam pada sorot matanya, ia bergumam, “Li Sun-hoan, orang lain sama jeri padamu, tapi tidak nanti kutakut padamu. Pada suatu hari kelak akan kubikin kau mati di tanganku.”

Si nyonya mengikuti kepergian anak itu ke luar pintu dengan pandangan yang penuh kasih sayang, tapi juga penuh rasa pedih, sungguh bocah ini seorang anak pintar. Dia hanya mempunyai seorang anak ini.

Anak inilah jiwanya, sukmanya, mestikanya, biarpun bocah ini telah melakukan sesuatu yang melukai hatinya atau bicara apa-apa yang menyinggung perasaannya, dia tetap sayang padanya.

Cinta seorang ibu terhadap anaknya selamanya tak terbatas dan juga tanpa syarat.

Dia berduduk kembali, ia cukit sumbu pelita sehingga lebih terang. Ia takut kepada kegelapan.

Setiap hari pada waktu kegelapan malam akan tiba, dalam hatinya akan timbul semacam rasa takut yang sukar dijelaskan.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong didengarnya suara orang berbatuk perlahan di luar jendela.

Seketika berubah air mukanya.

Sekujur badannya seolah-olah menjadi kaku, dia duduk terkesima dan memandangi jendela, sorot matanya seperti menampilkan rasa girang, tapi juga mengandung rasa takut.

Entah selang berapa lama, perlahan dia berbangkit dan mendekati jendela, dengan tangan yang gemetar ia membuka daun jendela sambil menegur, “Siapa?”

Cuaca remang diliputi kabut mengambang ke dalam jendela dan buyar perlahan, cahaya rembulan yang tertutup kabut hanya tertampak bayangannya yang pudar. Mana ada bayangan manusia di sekeliling situ?

Si nyonya melongok ke kanan dan ke kiri, ucapnya dengan pedih, “Kutahu engkau sudah datang, mengapa tidak tampil saja untuk bertemu denganku?”

Namun tidak ada suara orang juga tidak ada jawaban.

Nyonya itu menghela napas panjang dan berucap pula dengan murung, “Engkau tidak sudi bertemu denganku, hal ini juga tidak dapat kusalahkan dirimu, kami memang bersalah padamu ….”

Makin lama makin lirih suaranya, kembali ia berdiri termangu hingga lama, kemudian daun jendela ditutupnya kembali. Cahaya lampu di balik jendela juga semakin guram dan akhirnya padam.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: