Pendekar Budiman: Bagian 13

Pendekar Budiman: Bagian 13
Oleh Gu Long

Sesaat sebelum subuh tiba selalu sangat gelap. Tapi kegelapan juga ada waktunya berlalu, di ufuk timur sudah muncul cahaya terang, bersama dengan itu kabut malam juga buyar.

Dari balik pohon waru di depan loteng kecil itu perlahan muncul sesosok bayangan. Dia berdiri tegak di situ, rambut dan bajunya hampir basah kuyup oleh air embun.

Seperti orang linglung ia terus memandangi jendela di loteng kecil itu, dia kelihatan pucat dan lebih tua daripada umurnya yang sebenarnya, kelihatan lelah dan kurus.

Dia inilah orang yang muncul dari balik kabut seperti badan halus semalam itu, juga si setan arak yang sepanjang hari senantiasa mabuk di kedai Sun bungkuk itu. Meski dia tidak bicara, namun di dalam hati sedang menjerit.

“Si-im, O, Si-im, engkau tidak bersalah padaku, akulah yang salah. Meski selalu berada di dekatmu dan melindungimu.”

Cahaya sang surya membelah sisa kabut pagi, cuaca tambah terang. Orang ini mendekap mulut dengan tangannya, sebisanya menahan batuknya, diam-diam ia melintasi jalan berbatu yang tertutup lumpur dan daun rontok itu terus menembus ke pintu bundar bercat merah yang sudah luntur itu.

Seluruh kompleks perumahan ini tidak terawat sama sekali dan telantar. Kemegahan masa lampau kini tinggal galagasi saja memenuhi setiap sudut. Sekeliling tidak terlihat bayangan orang, juga tidak terdengar suara manusia.

Dia menuruni undak-undakan batu yang panjang dan sampai di halaman depan.

Halaman depan seakan-akan lebih sunyi dan lebih bobrok daripada taman belakang, hanya rumah papan kecil di samping pintu gerbang sana masih terhitung lumayan. Sungguh bagi orang yang pernah berkunjung ke tempat ini pasti takkan menyangka gedung yang megah dan cemerlang itu hanya dalam waktu dua tahun saja sudah berubah sedemikian rupa.

Dia menunduk dan terbatuk-batuk perlahan, cahaya mentari menyinari kepalanya, hanya dalam semalam saja rambutnya yang semula hitam pekat kini sudah mulai beruban oleh rasa sedih dan duka.

Kemudian ia mendekati rumah papan kecil itu. Pintu hanya dirapatkan saja, perlahan ia membukanya.

Begitu pintu terpentang, seketika terendus bau arak murahan yang menusuk hidung. Keadaan di dalam rumah kotor dan semrawut, seorang mendekap di atas meja dengan tangan memegang satu botol arak.

Kembali seorang setan arak. Lelaki setengah baya itu tersenyum ejek terhadap diri sendiri, lalu ia mengetuk pintu.

Akhirnya orang yang mendekap di atas meja itu mendusin juga, ia mengangkat kepalanya sehingga tertampak mukanya yang burik dan berkeriput, rambutnya pada kedua pelipisnya juga sudah putih semua.

Siapa pun tidak menyangka si burik inilah ayah kandung Lim Sian-ji, perempuan paling cantik di dunia persilatan.

Dengan mata yang masih sepat ia memandang sekitarnya, lalu mengucek-ngucek mata dan bergumam, “Sepagi ini sudah ada orang mengetuk pintu, setan barangkali?!”

Habis bicara demikian barulah ia melihat lelaki setengah baya itu, segera ia mengomel, “Hei, siapa kau? Kenapa datang ke sini? Cara bagaimana kau masuk ke sini?”

Suaranya tambah keras dan semakin garang sehingga lagaknya hampir serupa masih berkuasa sebagai kepala rumah tangga.

Lelaki setengah baya itu tertawa dan berucap, “Dua tahun yang lalu kita pernah bertemu, apakah engkau sudah pangling padaku?”

Si burik mengamat-amatinya sejenak, seketika berubah air mukanya, cepat ia berbangkit dan segera hendak berlutut, serunya dengan girang, “Hei, kiranya Li ….”

Lelaki setengah baya itu keburu memegangnya sebelum si burik berlutut, dan belum lanjut ucapan orang ia lantas mendekap mulutnya, ucapnya dengan tersenyum, “Syukurlah engkau masih kenal padaku. Marilah kita berduduk dan bicara.”

Cepat si burik mengambilkan bangku dan berkata, “Mana bisa hamba pangling kepada Toaya? Kejadian dahulu adalah karena mataku buta, tapi sekali ini tidak bisa terjadi lagi. Cuma … selama dua tahun ini tampaknya Toaya sudah bertambah tua.”

Lelaki setengah baya alias Li Sun-hoan tampak terharu, ucapnya perlahan, “Kau pun tambah tua, kita sama-sama tambah tua. Selama dua tahun ini apakah kehidupan kalian cukup menyenangkan?”

Si burik menggeleng kepala, ucapnya dengan menyesal, “Di depan orang lain mungkin perlu aku membual, tapi di depan Toaya ….” ia menghela napas lagi, lalu menyambung dengan tersenyum getir, “Terus terang, selama dua tahun ini sungguh aku pun tidak tahu cara bagaimana kulewatkannya, biasanya hari ini menjual sebuah lukisan dan besok menjual meja kursi untuk biaya hidup, ai ….”

“Masakah untuk biaya hidup saja sulit?” tanya Sun-hoan dengan kening bekernyit.

Si burik menunduk dengan mengembeng air mata.

“Waktu pergi, masakah Liong-siya tidak meninggalkan biaya rumah tangga secukupnya?” tanya Sun-hoan.

Si burik menggeleng kepala sambil mengucap matanya.

Air muka Sun-hoan tambah pucat, kembali ia terbatuk-batuk lagi.

“Hujin sendiri mempunyai sedikit simpanan dan perhiasan, namun hati beliau terlalu baik, semua miliknya telah dibagikan kepada kaum hamba sebagai pesangon untuk mencari hidup sendiri-sendiri. Hujin lebih suka menderita sendiri daripada membikin susah orang lain.”

Berkata sampai di sini, suara si burik menjadi tersendat-sendat.

Sun-hoan termenung agak lama, katanya kemudian dengan menyesal, “Tapi engkau tetap tinggal di sini, sungguh engkau seorang yang setia.”

Si burik menunduk dan tertawa, katanya dengan ragu, “Yang benar karena hamba tidak mempunyai tempat lain yang dapat kutuju ….”

“Ah, tidak perlu kau rendah hati,” ucap Sun-hoan dengan lembut. “Aku cukup mengerti akan dirimu. Ada sementara orang yang perangainya tidak baik, namun hatinya justru sangat baik. Cuma sayang, jarang ada orang yang dapat memahami mereka.”

Mata si burik menjadi merah basah lagi, katanya dengan tersenyum haru, “Arak ini tidak enak, jika Toaya sudi, silakan minum sedikit.”

Dengan hormat ia hendak menuangkan arak, tapi segera diketahui botolnya sudah kosong.

Sun-hoan tertawa cerah, “Aku sih tidak ingin minum arak melainkan ingin minum teh saja. Coba katakan, aneh tidak, bahwa aku ingin minum teh, inilah untuk pertama kalinya terjadi selama sekian tahun ini.”

Si burik tertawa, “Ini soal gampang, segera akan kumasak air dan menyeduhkan teh bagi Toaya.”

“Siapa pun yang kau temui jangan sekali-kali kau katakan aku berada di sini,” pesan Sun-hoan.

Si burik mengangguk, “Toaya jangan khawatir, sekarang hamba tidak berani banyak mulut lagi.”

Dengan tergesa-gesa ia lantas pergi, bahkan tidak lupa merapatkan pintu.

Wajah Li Sun-hoan segera berubah rawan lagi, gumamnya, “Si-im, O, Si-im, akulah yang membuat engkau menderita, betapa pun harus kulindungimu dan takkan kubiarkan orang mencelakaimu.”

Sementara itu cahaya sang surya menembus ke dalam rumah melalui jendela, hari sudah terang benderang.

Daun teh si burik kurang sedap. Tapi kalau daun teh diseduh air panas, betapa pun rasanya pasti tidak terlalu jelek. Hal ini serupa orang perempuan, asalkan masih muda, betapa pun takkan membikin jemu orang lelaki.

Perlahan Sun-hoan menghirup air teh yang panas itu, caranya minum teh jauh lebih lambat daripada minum arak. Sehabis minum satu cawan, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Dahulu ada seorang sahabatku yang sangat pintar pernah mengatakan sesuatu yang sangat menarik.”

“Cara bicara Toaya sendiri juga sangat menarik,” ujar si burik.

“Dia bilang,” sambung Sun-hoan, “di dunia ini tidak ada arak yang tidak membuat mabuk dan juga tidak ada gadis yang jelek. Katanya pula bahwa justru lantaran kedua hal itulah maka dia bertahan hidup seterusnya.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan berseri. “Padahal arak simpanan lama, makin lama makin harum. Perempuan yang baik juga makin tua makin menyenangkan rasanya.”

Jelas si burik tidak dapat memahami “rasa” pada ucapannya itu, ia termangu sejenak, lalu menuangkan lagi secawan teh bagi Li Sun-hoan, kemudian baru bertanya, “Kepulangan Toaya sekali ini apakah ada sesuatu keperluan?”

Sun-hoan terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Ada orang menyebarkan berita bahwa di sini terpendam harta karun.”

“Harta karun?” si burik menegas dengan tertawa. “Haha, alangkah baiknya jika benar di sini ada harta karun.”

Mendadak lenyap senyumnya, ia melirik Sun-hoan sekejap, lalu bertanya, “Tapi bila benar di sini ada harta karun terpendam, tentu yang paling tahu adalah Toaya sendiri.”

Sun-hoan menghela napas, “Biarpun kita tidak percaya ada harta karun terpendam di sini, namun tidak sedikit orang lain sama percaya.”

“Yang menyebarkan desas-desus itu siapa? Mengapa dia sengaja menyiarkan isu demikian?” tanya si burik.

“Tujuannya jelas sengaja memancing orang-orang yang tamak ke sini agar saling membunuh, dengan begitu penyebar desas-desus itu sendiri dapat menggagap ikan di dalam air keruh.”

“Kecuali itu apakah masih ada tujuan lain?” tanya si burik.

Gemerdep sinar mata Sun-hoan, “Sudah sekian lama aku tidak pernah muncul, di dunia Kangouw sudah banyak orang yang mencari tahu jejakku, dengan isunya yang menggemparkan ini mungkin sengaja hendak memancing kemunculanku.”

S i burik membusungkan dada dan berucap, “Muncul juga boleh, memangnya takut apa? Biarkan mereka rasakan kemahiran Toaya.”

“Tapi di antara orang-orang yang datang itu mungkin ada beberapa di antaranya tidak mampu kulayani,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum getir.

Si burik terkejut, “Masakah di dunia ini ada orang yang tidak dapat dilayani Toaya?”

Belum lagi Sun-hoan menjawab, mendadak terdengar pintu gerbang diketuk orang dengan gencar, terdengar suara nyaring seorang sedang berteriak, “Sepada! Permisi! Numpang tanya, apakah di sini kediaman Liong-siya? Kami sengaja berkunjung kemari dan ingin bertemu.”

“Aneh,” si burik bergumam, “Sudah dua tahun ini setan saja tidak ada yang berkunjung ke sini, kenapa hari ini mendadak kedatangan tamu?”

*****

Cukup lama juga si burik keluar, waktu kembali, dengan tertawa ia menutur, “Kiranya hari ini adalah hari ulang tahun Hujin, sampai aku pun lupa. Syukurlah orang-orang itu masih ingat dan sengaja datang menyampaikan selamat kepada Hujin.”

Sun-hoan termenung sejenak, lalu bertanya, “Siapakah yang datang?”

“Seluruhnya datang lima orang,” tutur si burik. “Di antaranya seorang kakek yang berwibawa, seorang lagi masih muda dan cakap. Orang ketiga bermata satu, yang paling menakutkan adalah orang yang berwajah pucat menghijau itu.”

“Dan orang kelima buntung sebelah kakinya, bukan?” tukas Sun-hoan dengan kening bekernyit.

“Betul, dari mana Toaya tahu? Masa engkau kenal mereka?” tanya si burik.

Sun-hoan batuk perlahan, sorot matanya menampilkan cahaya tajam, sorot mata tajam demikian membuatnya seperti mendadak berubah menjadi seorang lain.

Namun si burik tidak memerhatikan perubahan Sun-hoan itu, katanya pula dengan tertawa, “Meski bentuk kelima orang itu aneh dan lucu, tapi kado yang mereka bawa ternyata tidak sedikit, bahkan pada waktu Liong-siya masih berada di rumah dulu juga tidak pernah ada orang mengantarkan kado sebesar ini.”

“Oo, sumbangan apa itu?” tanya Sun-hoan.

“Di antara kedelapan macam kado mereka itu ada sebuah mata uang besar yang terbuat dari emas murni, sedikitnya ada empat atau lima kati beratnya. Sungguh tidak pernah kulihat orang seroyal ini.”

Sun-hoan berkerut kening, “Apakah Hujin menerima sumbangan mereka?”

“Semula Hujin tidak mau terima,” tutur si burik, “tapi orang-orang itu berduduk di ruangan tamu dan tidak mau pergi, betapa pun mereka mohon bertemu dengan Hujin, mereka mengaku sebagai sahabat baik Liong-siya. Karena tidak dapat menolak lagi, terpaksa Hujin menyuruh Siauya (tuan muda) meladeni tetamunya.”

Dia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tersenyum, “Jangan Toaya mengira usia Siauya masih kecil, caranya meladeni tamu cukup pintar, caranya bicara juga tidak kalah daripada orang tua. Setiap tamu itu sama memuji kepintaran Siauya.”

Sun-hoan memandang air teh sambil bergumam, “Jika kelima orang itu sudah datang, siapa pula yang mau datang dan adakah yang berani datang?”

*****

Saat itu Cukat Kang, Ko Hing-kong, Yan Siang-hui, Tong Tok dan Siangkoan Hui berada di ruangan besar yang alat perabotnya sudah sebagian besar diusung pergi, mereka sedang berbicara dengan seorang anak belasan tahun berbaju merah.

Meski kelima orang itu tergolong gembong dunia persilatan yang tinggi hati, namun sekarang tiada seorang pun berani meremehkan anak kecil di depan mereka, cara bicara mereka juga sangat sungkan.

Hanya Siangkoan Hui saja tetap berduduk dengan tenang tanpa bicara, agaknya tidak ada sesuatu urusan di dunia ini dapat membuat anak muda yang selalu bersikap dingin ini membuka mulut.

Cukat Kang tersenyum ramah dan berkata, “Bakat Siaucengcu sungguh luar biasa, kesuksesan di kemudian hari pasti tak terbatas, tatkala mana mudah-mudahan Siaucengcu takkan melupakan kami apabila kebetulan bertemu lagi, dengan begitu cukuplah kami akan bersyukur dan bergirang.”

“Ah, bila kelak Wanpwe mampu mencapai setengah kesuksesan para Cianpwe sudah lebih cukup dan puas, untuk itu perlu juga petunjuk dan dukungan para Cianpwe,” jawab anak merah itu dengan tertawa.

“Hahaha, Siaucengcu memang pandai bicara, pantas Liong-siya ….” belum lanjut ucapan Cukat Kang, mendadak sorot matanya terhenti ke luar ruangan.

Kiranya si burik telah datang lagi membawa tamu lain, tamu yang ikut di belakangnya berjubah hitam dan pakai ikat kepala hitam, sepatu dan kaus kaki juga hitam, punggung menyandang pedang bersarung hitam, orang ini benar-benar serbahitam.

Perawakannya tinggi besar, jauh lebih tegap daripada si burik. Wajahnya kelihatan pucat kelabu, alisnya panjang lurus, sinar matanya tajam, sikapnya angkuh, jenggotnya yang jarang-jarang menghiasi dagunya.

Melihat lagak si baju hitam ini, setiap orang pasti menduga dia bukan sembarangan orang.

Cukat Kang berlima saling pandang sekejap, agaknya mereka juga sama bertanya-tanya asal usul pendatang ini.

Dalam pada itu si anak merah sudah menyongsong ke bawah undak-undakan dan menyapa, “Banyak terima kasih atas kunjungan Anda sehingga menambah cemerlang tempat yang sepi ini.”

“Kau inikah putra Liong Siau-hun?” tanya si baju hitam sambil mengamat-amati bocah itu.

“Betul, Wanpwe Liong Siau-in, Cianpwe pasti sahabat lama ayah, entah siapa nama Anda yang terhormat?”

“Namaku biarpun kukatakan juga tidak kau kenal,” ucap si baju hitam dengan tak acuh, dengan angkuh ia terus melangkah ke tengah ruangan.

Cukat Kang berlima juga berbangkit untuk menyambutnya, katanya dengan tertawa, “Kami ….”

Tapi segera si baju hitam memotong ucapannya, “Kutahu siapa kalian, sebaliknya tidak perlu kalian tanya asal usulku.”

“Namun ….”

Kembali si baju hitam memotong, “Tujuan kedatanganku tidak sama dengan kalian, aku cuma ingin melihat-lihat saja ….”

“Aha, bagus sekali jika begitu,” seru Cukat Kang dengan tertawa cerah. “Setelah urusan di sini selesai, tentu kami akan menyampaikan tanda terima kasih.”

“Aku tidak urus kalian, kalian juga jangan gubris diriku, kedua pihak tidak ada sangkut paut, untuk apa mesti berterima kasih?” jengek orang itu, lalu ia mengambil kursi terus berduduk, bahkan terus memejamkan mata seperti orang lagi mengumpulkan semangat.

Kembali Cukat Kang berlima saling pandang sekejap.

Tiba-tiba Ko Hing-kong berkata dengan tersenyum, “Tempat ini termasyhur sebagai taman indah nomor satu di dunia Kangouw, entah sudikah Siaucengcu membawa kami sekadar meninjau sekeliling tempat ini?”

Dengan menyesal Liong Siau-in menjawab, “Maaf, karena Wanpwe tidak becus sehingga rumah ini telantar tak terawat ….”

Dengan serius Ko Hing-kong memotong, “Gunung tidak mengutamakan tinggi, bila keramat tentu terkenal. Sungai tidak mengutamakan dalam, bila ada naga akan dipuja. Selama belasan tahun ini di sini terkenal tempatnya kaum pendekar dan wanita cantik, biarpun cuma terdiri dari beberapa gubuk juga cukup menarik.”

“Jika demikian pendapat Anda, mari silakan,” ujar Liong Siau-in.

Rombongan mereka lantas menuju ke belakang dengan si anak merah sebagai penunjuk jalan. Yang ikut paling belakang ialah si baju hitam. Matanya tetap setengah terbuka dan setengah terpejam, kedua tangan terselubung di dalam lengan jubah, tampaknya seperti tidak bersemangat.

Sembari berjalan Liong Siau-in memberi keterangan, ia tuding hutan Bwe yang sudah layu di kejauhan sana dan berkata, “Di sana itulah Leng-hiang-siau-tiok.”

Gemerdep sinar mata Yan Siang-hui, tanyanya, “Konon dahulu Li-tamhoa cilik berdiam di paviliun itu.”

“Betul,” jawab Siau-in sambil menunduk.

Tangan Yan-siang-hui meraba tombak berantai yang tersembunyi di dalam bajunya, jengeknya, “Dia ahli pisau, aku ahli tombak terbang, sungguh menarik bila pada suatu hari dapat kujajal dia.”

Si baju hitam berdiri di belakang sana, mendadak ia mengejek, “Jika benar dapat kau coba dia barulah peristiwa aneh.”

Serentak Yan-siang-hui berpaling dan melototinya dengan gusar.

Tiba-tiba Liong Siau-in berkata dengan tertawa, “Pisaunya itu juga buatan besi dan bukan senjata gaib, namun berita yang tersiar di dunia Kangouw seakan-akan dia itu dewa pedang saja, terkadang aku merasa geli sendiri bila mendengar berita mengenai dia.”

“Kabarnya dia yang merusak Kungfumu, tentunya kau masih dendam padanya,” kata si baju hitam.

“Li-toasiok adalah sahabat ayah, terhitung angkatan tua, bila orang tua memberi hajaran kepada anak muda juga pantas, mana kuberani dendam padanya. Apalagi, seorang yang tidak menguasai ilmu silat juga belum tentu jelek dan tetap masih bisa berbuat sesuatu dengan baik, betul tidak, Cianpwe?”

Cara bicara Siau-in atau si anak merah ini sedemikian polos dan lugas. Si baju hitam memandangnya lekat-lekat dan sukar menduga jalan pikirannya yang sesungguhnya.

Serentak Cukat Kang berkeplok memuji, “Bagus, sungguh anak yang bijaksana, melulu ucapanmu ini saja sudah tidak malu sebagai putra Liong-siya.”

“Terima kasih atas pujian Cianpwe,” jawab Siau-in sambil memberi hormat.

“Konon Lim Sian-ji juga tinggal di sana, apa betul?” tiba-tiba Siangkoan Hui bertanya.

Akhirnya pemuda yang selalu bersikap dingin ini buka suara juga. Sampai Liong Siau-in pun merasa heran, cepat ia menjawab dengan tersenyum, “Betul.”

“Dan ke mana dia sekarang?” tanya pula Siangkoan Hui.

“Bibi Lim menghilang secara mendadak pada suatu malam dua tahun yang lampau,” tutur Siau-in, “Sampai baju dan perhiasan juga tidak sempat dibawanya pergi. Siapa pun tidak tahu ke mana perginya bibi, ada yang bilang dia dibawa pergi oleh orang yang bernama A Fei, ada pula yang mengatakan bibi sudah mati dibunuh oleh A Fei.”

Siangkoan Hui berkerut kening dan tidak bicara lagi.

Sesudah melintasi jembatan kecil, rombongan mereka sampai di depan loteng kecil itu.

Gemerdep sinar mata Cukat Kang, agaknya dia sangat tertarik oleh bangunan mungil ini.

Tiba-tiba Ko Hing-kong bertanya, “Entah tempat apa pula ini?”

“Inilah tempat kediaman ibuku,” tutur Siau-in.

“Aha, kebetulan,” seru Ko Hing-kong dengan tertawa. “Kedatangan kami memang hendak mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibundamu, entah Siaucengcu apakah berkenan membiarkan kami menyampaikan hormat kepada beliau.”

Berputar biji mata si anak merah, katanya dengan tertawa, “Biasanya ibu tidak suka menerima tamu. Biarlah kucoba bertanya kepada beliau di atas.”

“Silakan,” ucap Ko Hing-kong.

Perlahan Siau-in lantas naik ke atas loteng, tubuhnya kelihatan agak bungkuk, sama sekali tidak ada lagi kelincahan seorang anak muda.

Sesudah anak itu naik ke atas, dengan suara tertahan barulah Ko Hing-kong mendengus, “Hm, bocah ini sungguh sangat licin, kalau sudah besar pasti terlebih hebat.”

“Huh, anak kecil serupa dia, adalah aneh kalau bisa hidup lama,” ujar Tong Tok dengan tertawa dingin.

Senyuman yang menghiasi wajah Cukat Kang sudah lenyap, tiba-tiba ia mendesis, “Ssst, apakah kau yakin inilah tempatnya?”

Dengan suara terlebih rendah Ko Hing-kong menjawab, “Semalam sudah beberapa kali kupelajari surat itu, jelas harta pusaka keluarga Li terpendam di loteng kecil ini. Konon harta benda yang dikumpulkan mereka selama beberapa turunan tak terhitung jumlahnya.”

Sembari bicara ia terus melirik si baju hitam.

Si baju hitam masih berdiri jauh di sana, sedang asyik melihat pertarungan dua ekor jangkrik di tengah semak rumput, hakikatnya tidak memerhatikan apa yang dipercakapkan mereka.

Sinar mata Cukat Kang kembali gemerdep, katanya, “Harta benda adalah soal kecil, yang utama adalah barang antik dan lukisan kuno koleksi Li-tamhoa tua serta kitab pusaka ilmu silat Li-tamhoa cilik adalah barang yang harus diperoleh Pangcu, maka hari ini kita tidak boleh pulang dengan tangan hampa!”

Ko Hing-kong mengangguk tanda setuju.

Dalam pada itu tampak Liong Siau-in sudah turun dari loteng.

Dengan tertawa cerah Cukat Kang lantas bertanya, “Apakah ibunda bersedia menerima kami?”

Dengan air muka keheranan Liong Siau-in menjawab sambil menggeleng kepala, “Ibu ternyata tidak berada di atas.”

Kening Cukat Kang bekernyit, “Memangnya ke mana?”

“Wanpwe sendiri heran,” tutur Siau-in. “Selama ini ibu jarang turun dari loteng.”

“Jika demikian, selekasnya beliau pasti akan pulang, marilah kita naik ke atas untuk menunggunya,” ajak Cukat Kang.

Segera tiga orang berbaju kuning berlari datang dan berseru, “Biarkan hamba sekalian membersihkannya dahulu baru nanti Tongcu disilakan naik ke atas.”

Semula ketiga orang ini berdiri lebih jauh daripada si baju hitam, kini mereka berlari datang, tampaknya Liong Siau-in hendak merintangi mereka, tapi tidak berani dan akhirnya memberi jalan.

Setelah berpikir sejenak, Cukat Kang memberi tanda dan berkata, “Baiklah, boleh kalian periksa dulu keadaan di atas. Cuma ….”

Belum lanjut ucapannya dan selagi ketiga orang berbaju kuning itu mulai melangkah ke sana, mendadak dari atas loteng melompat turun sesosok bayangan, selagi masih terapung di udara cambuk panjang yang dipegangnya lantas menyabat sehingga menimbulkan suara menderu keras, cambuk panjang itu mendadak membuat tiga lingkaran dan tepat menjerat leher ketiga orang berbaju kuning.

Sekali cambuk itu mengencang, “krek”, segera mengendur pula dan tertarik pergi.

Orang pertama belum sempat bersuara, tahu-tahu roboh dengan kepala terkulai ke samping, menggantung di atas pundak, ternyata tulang lehernya telah terjerat patah oleh lingkaran cambuk tadi.

Orang kedua lantas menjerit ngeri dan jatuh telentang dengan lidah terjulur dan mata mendelik, beberapa kali dia bernapas dengan memburu, akhirnya napas pun putus.

Orang ketiga masih sempat memegangi lehernya dan berlari beberapa langkah ke depan, habis itu baru jatuh tersungkur, tubuhnya berkelojotan dan kerongkongan mengeluarkan suara “krak-krok”, dia beruntung tidak binasa, tapi jauh lebih menderita daripada mati.

Sesudah kejadian demikian barulah orang yang melayang turun dari atas loteng itu hinggap di tanah, tertampak mukanya yang lonjong serupa muka kuda terdapat tembong hijau sebesar telapak tangan. Nyata dia inilah Pian-sin atau dewa cambuk Sebun Yu.

Hanya sekali sabat dengan cambuknya dan kontan tiga orang tergeletak. Mau tak mau Cukat Kang dan lain-lain sama terperanjat.

Hanya si baju hitam saja malah memperlihatkan sikap menghina, ucapnya dengan tak acuh, “Huh, kiranya cambuk ular si dewa cambuk juga cuma sebegini saja.”

Lalu ia menengadah dan menarik napas panjang, seperti menyesal, juga seperti sangat kecewa.

Maklumlah, bilamana cambuk Sebun Yu itu menggunakan tenaga sepenuhnya, maka ketiga orang berbaju kuning itu tentu akan mati ketika, tapi sekarang kematian mereka bertiga terjadi secara beruntun, cara matinya juga tidak sama, ini menandakan tenaga penggunaan cambuk Sebun Yu itu kurang merata sehingga korbannya tidak mati secara serentak.

Dengan terkekeh Cukat Kang lantas mengejek, “Hehe, Sebun Yu, semalam beruntung dapat kau kabur, sekarang boleh coba kabur lagi?”

Wajah Sebun Yu tampak kelam, mendadak cambuknya menyambar lagi.

Sekali ini tidak menimbulkan suara apa pun, ketika ujung cambuk menyambar tiba baru terdengar suara “sret” yang nyaring, nyata kecepatan cambuknya di atas kecepatan suara.

Pada saat itu juga tubuh Cukat Kang mendadak meloncat terbalik, tongkat digunakan menangkis cambuk musuh, seketika ujung cambuk melihat batang tongkat serupa ular membelit musuh.

“Crat”, mendadak tongkat menancap tanah, kaki Cukat Kang menegak ke atas, ia berdiri terjungkir di atas tongkat, berbareng orangnya berputar seperti gasingan sehingga tongkat yang menyangga tubuhnya juga ikut berputar.

Dengan sendirinya cambuk yang membelit tongkat itu ikut berputar dan makin berputar makin mengencang dan makin pendek, tanpa kuasa Sebun Yu jadi ikut terseret maju. Cambuk sepanjang tiga tombak itu dalam sekejap saja sudah ada separuh yang melilit di atas tongkat.

Karena Sebun Yu memainkan cambuk dengan sebelah tangan, sebaliknya Cukat Kang menahan di atas tongkat dengan seluruh badannya, maka tenaga pada cambuk Sebun Yu menjadi tidak dapat menahan kekuatan tongkat yang berputar itu.

Air muka Sebun Yu dari hijau berubah merah, lalu dari merah berubah pucat, butiran keringat juga lantas mengucur dari dahinya turun ke pipi.

Mendadak Cukat Kang menggertak satu kali, tubuh yang menegak di atas tongkat mendadak menyapu ke samping.

Serangan ini tertampak serupa dengan caranya menyerampang dengan tongkat, cuma sekarang dia menggunakan tubuhnya sebagai tongkat, sebaliknya tongkat menancap di tanah serupa orangnya.

Tongkat adalah benda mati, sedangkan manusia adalah makhluk hidup, dengan sendirinya caranya menyapu musuh dengan kaki itu jauh lebih dahsyat.

Bilamana Sebun Yu melepaskan cambuknya, dengan mudah dapatlah dia menghindarkan serangan lawan, namun dia terkenal sebagai “dewa cambuk”, jika cambuk ditinggalkan, lalu ke mana lagi mukanya akan ditaruh?

Sebaliknya jika dia tetap mempertahankan cambuknya terpaksa harus menggunakan tangan kiri untuk menahan kaki musuh. Padahal tenaga tangan mana bisa lebih kuat daripada tenaga kaki, bilamana dia sambut serangan musuh, tangannya bisa terdepak hancur. Sebenarnya kalau bicara tentang Kungfu sejati dan tenaga dalam, jelas Sebun Yu tidak lebih asor daripada Cukat Kang. Namun jurus menyapu dengan kaki ini sengaja dilatih oleh Cukat Kang khusus untuk menghadapi Sebun Yu.

Apa pun juga Sebun Yu juga jago kelas top, biarpun terancam bahaya tidak menjadi panik, mendadak ia membentak, tubuhnya terus bergerak cepat mengitari tongkat musuh. Tujuannya jelas, yaitu hendak melepaskan cambuknya yang membelit di tongkat musuh itu. Namun Cukat Kang seperti sudah memperhitungkan tindakannya ini, sekali kakinya melurus, tubuhnya lantas berpegangan pada tongkatnya serupa bendera berkibar, ia pun ikut berputar dan ujung kakinya masih terus mengancam dada Sebun Yu, masih terus membayangi musuh tanpa berhenti.

Perubahan ini sungguh sangat aneh dan juga sukar dibayangkan.

Namun si baju hitam malah menghela napas gegetun dan bergumam, “Tenaga tongkat sakti ternyata juga cuma begini saja.”

Betapa cepat cara berputar Sebun Yu tetap tidak dapat menandingi kecepatan berputar tongkat yang menjadi poros itu. Tampaknya cambuk membelit terlebih kencang dan semakin pendek, kalau dia tidak segera melepaskan cambuknya, pasti tubuhnya akan remuk didepak oleh kaki Cukat Kang.

Pada saat itulah mendadak Tong Tok menjengek, “Hm, ajal sudah di depan mata, masih bertahan mati-matian. Biarlah kubantu keberangkatanmu saja!”

Segera ia mengeluarkan senjata andalannya, yaitu Tang-long-to, golok kaki belalang, golok melengkung seperti gergaji. Tertampaklah cahaya hijau berkelebat, segera goloknya mengacip ke punggung Sebun Yu.

Tapi baru saja goloknya terangkat, sekonyong-konyong dadanya seperti digontok oleh kepalan yang tidak kelihatan, kontan dia roboh terjungkal.

Untuk menjerit saja dia tidak sempat, tahu-tahu napasnya lantas putus, sebab pada tenggorokannya telah menancap sebilah pisau. Sebuah pisau biasa yang tidak menarik.

Seketika air muka semua orang sama berubah. Cukat Kang juga sempat melirik pisau kecil itu, tanpa terasa ia berteriak, “Hah, pisau kilat si Li cilik!”

Karena bersuara, perhatiannya lantas terpencar, tenaganya juga buyar, mendadak tubuh berputar ke arah terbalik, jelas ia tak dapat menguasai diri sendiri lagi.

Kesempatan ini telah digunakan Sebun Yu dengan baik, sekuatnya ia menarik kembali cambuknya.

Cukat Kang melompat ke udara dan melayang lebih dua tombak ke sana, “tok”, tongkat mengetuk tanah, orangnya lantas berdiri tegak dan kuat.

Namun sorot matanya tampak memperlihatkan rasa kejut dan sangsi. Dalam pada itu terlihat dari luar loteng sana telah muncul satu orang.

Pakaian orang ini tidak teratur, rambutnya semrawut, begitu rudin tampaknya, mukanya juga pucat kurus, namun sinar matanya mengilat dan lebih tajam daripada sembilu.

Sambil memegang tongkatnya dengan erat, Cukat Kang menegur dengan suara parau, “Apakah Li-tamhoa kecil adanya?”

“Ah, terima kasih,” jawab orang itu dengan tertawa hambar.

Tanpa terasa Cukat Kang menyurut mundur satu langkah, bentaknya dengan bengis, “Selamanya kita tidak bermusuhan, untuk apa kau cari perkara kepada kami?”

“Selamanya aku tidak suka bermusuhan dengan siapa pun, tapi juga tidak suka dimusuhi orang,” jawab Sun-hoan dengan tak acuh. Perlahan ia meraba mata pisau yang dipegangnya, lalu menyambung dengan perlahan, “Di sini tidak terdapat harta karun terpendam segala, sia-sia saja kalian sibuk kian kemari, sungguh aku pun menyesal, pada waktu pulang nanti harap kalian bawa kembali kado yang kalian bawa kemari itu.”

Cukat Kang, Siangkoan Hui, Ko Hing-kong sama menatap pisau yang dipegang Li Sun-hoan, kerongkongan mereka pun seperti tersumbat, tidak ada yang sanggup bicara lagi.

Mendadak Yan-siang-hui membentak, “Jika kami tidak mau pergi, lantas kau mau apa?”

Sun-hoan tersenyum tak acuh, “Kukira akan lebih baik Anda pergi saja.”

Dengan suara bengis Yan-siang-hui berteriak pula, “Li Sun-hoan, sudah lama ingin kucoba dirimu, orang lain takut kepadamu, aku Yan-siang-hui tidak nanti takut.”

Segera ia membuka dada bajunya sehingga kelihatan dua baris tombak pendek yang berjajar di depan dadanya.

Pita hiasan tangkai tombak bergerak tertiup angin dan mengeluarkan cahaya kemilau di bawah sinar matahari sehingga kedua baris tombak kecil itu mirip dua baris gigi binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

Namun Li Sun-hoan sama sekali tidak memandangnya barang sekejap pun.

Sekonyong-konyong Yan-siang-hui menggertak, kedua tangannya bekerja sekaligus, dalam sekejap sembilan buah lembing atau tombak kecil telah disambitkan, tertampak cahaya merah bertebaran di udara, belum lagi melayang ke depan Li Sun-hoan lantas rontok seluruhnya secara mendadak.

Waktu orang memandang Yan-siang-hui, orang itu sudah roboh terjengkang dengan sebilah pisau mengilat menancap di lehernya. Pisau kilat si Li kecil.

Siapa pun tidak tahu bilakah pisau itu bersarang di tenggorokan Yan-siang hui, tapi jelas baru terjadi dalam sekejap waktu kedua tangannya bergerak tadi. Belum lagi dia menyambit sepenuh tenaga tahu-tahu pisau sudah hinggap di lehernya, sebab itulah tombak terbang tidak menyambar sepenuhnya ke depan melainkan terus rontok setengah jalan.

Kedua mata Yan-siang-hui tampak mendelik penuh rasa kaget dan tidak percaya, selama ini dia yakin tombak terbang sendiri secepat kilat, ia tidak percaya ada orang bisa terlebih cepat daripadanya.

Mati pun tidak percaya di dunia ada pisau secepat ini.

Si baju hitam tadi memandang sekejap jenazah Yan-siang-hui yang menggeletak tak bernyawa lagi itu dengan senyuman mengejek, ucapnya hambar, “Kan sudah kukatakan sebelumnya, bilamana kau mampu menandingi dia barulah peristiwa mahaaneh, sekarang terbukti bukan?”

Perlahan ia berpaling dan menatap Li Sun-hoan lekat-lekat, lalu berkata pula, “Pisau kilat si Li ternyata tidak mengecewakan.”

“Anda ini ….”

“Sudah lama kukagumi nama Li-tamhoa cilik,” si baju hitam memotong ucapan Li Sun-hoan, “Pertemuan hari ini perlu kuberi tanda penghormatan.”

Bicara sampai di sini, mendadak ia berputar, “creng”, pedang sudah dilolosnya, batang pedangnya juga hitam mulus tanpa cahaya, begitu pedang terangkat, segera timbul hawa dingin.

Ko Hing-kong hanya sempat merasakan mukanya disambar angin dingin, tahu-tahu pedang hitam itu sudah menyambar tiba di tengah-tengah kedua matanya dan menembus batok kepalanya.

Baru saja ia berkedip, segera tak terasakan sakit lagi dan roboh terjungkal.

Cukat Kang sempat melihat pedang hitam menyambar dan batok kepala Ko Hing-kong lantas menyemburkan darah segar, sama sekali kawannya itu tidak sempat menangkis, juga tidak mampu berkelit.

Ia cukup kenal kepandaian Ko Hing-kong dan tahu dia pasti bukan tandingan si baju hitam, tapi tidak dimengertinya mengapa menghindar saja tidak mampu dilakukan rekannya itu.

Namun pada saat itu ia pun tidak sempat banyak berpikir, tiba-tiba dirasakannya hawa dingin menyambar tiba pula, cepat ia menggertak, tongkat pun lantas menyabet.

Dia berjuluk “Hing-sau-jian-kun” atau sekali serampang menyapu seribu prajurit, hal ini menandakan betapa dahsyat jurus serangan tongkatnya.

Akan tetapi sekali berputar, segera pedang si baju hitam menebas balik lagi. Terdengar “trang” sekali, lelatu api meletik, tongkat baja seberat hampir seratus kati itu patah menjadi dua, bahkan pedang masih terus menyambar ke depan.

Seketika Cukat Kang merasa angin dingin menyambar mukanya dan tidak merasakan sakit lagi, kontan ia pun roboh terkapar.

Semua itu hanya berlangsung dalam waktu singkat saja. Mendadak Sebun Yu menengadah dan menghela napas panjang, ucapnya dengan rawan, “Dunia Kangouw kini tampaknya tidak ada tempat berpijak lagi bagiku.”

Sekali melayang, secepat terbang ia menghilang di balik wuwungan rumah sana.

Baru saja Sebun Yu melayang pergi, serentak Siangkoan Hui juga bergerak. Tapi pada saat itu juga pedang hitam menyerangnya.

Siangkoan Hui bersuit panjang, kedua gelang baja induk beranak segera bergerak. Kembali terdengar “trang” disertai letikan lelatu api, pedang baja lawan terjepit mentah-mentah oleh kedua gelangnya.

“Bagus!” seru si baju hitam, begitu bersuara, berbareng pedangnya berputar dan kontan gelang lawan pun patah, tahu-tahu ujung pedang sudah mengancam di tenggorokan Siangkoan Hui.

Siangkoan Hui memejamkan mata, sedikit pun tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, air mukanya tetap dingin kaku. Hati anak muda ini sungguh serupa baja.

Si baju hitam menatapnya dengan dingin, tanyanya, “Apakah kau ini anak murid Siangkoan Kim-hong?”

Siangkoan Hui mengangguk perlahan.

“Selamanya pedangku tidak kenal ampun namun mengingat usiamu masih begini muda dan dapat menangkis seranganku, sungguh jarang terjadi,” si baju hitam mengangkat pedangnya dan mengetuk perlahan di dahi Siangkoan Hui, lalu menambahkan, “Baiklah, kuampuni kau, pergilah!”

Namun Siangkoan Hui tetap berdiri di tempatnya, perlahan ia membuka mata dan melototi si baju hitam, ucapnya, “Meski tidak kau bunuh diriku, namun ingin kubicara padamu.”

“Katakan saja,” ujar si baju hitam.

Sekata demi sekata Siangkoan Hui menegaskan, “Meski sekarang kau lepaskan diriku kelak pasti akan kutuntut sakit hati ini, tatkala mana tidak nanti kuberi ampun padamu!”

“Hahaha, bagus, engkau memang tidak malu sebagai anak Siangkoan Kim-hong,” mendadak si baja hitam bergelak tertawa. “Kelak jika dapat kau bunuh diriku, tidak nanti kusalahkan dirimu, bahkan aku akan merasa bangga, sebab apa pun juga aku tidak salah pandang orang.”

Air muka Siangkoan Hui tetap dingin, ucapnya, “Jika demikian, sekarang juga kumohon diri.”

“Pergilah, akan kutunggu dirimu,” ujar si baju hitam.

Siangkoan Hui memandangnya lekat-lekat, perlahan ia membalik badan dan melangkah pergi.

“Nanti dulu!” bentak si baju hitam mendadak.

Perlahan Siangkoan Hui menghentikan langkahnya.

“Ingat, kulepaskan dirimu sekarang bukanlah lantaran kau putra Siangkoan Kim-hong, melainkan karena dirimu sendiri,” kata si baju hitam.

Siangkoan Hui tidak menoleh, juga tidak bicara lagi, perlahan ia melangkah ke depan.

Setelah bayangan punggung orang menghilang, sampai sekian lamanya baru si baju hitam berpaling menghadapi Li Sun-hoan, dengan ujung pedang ia tuding kedua sosok mayat, lalu berucap dengan tak acuh, “Dengan kedua orang inilah sekadar kuhormati pertemuan kita hari ini, semoga dapat Anda terima dengan senang hati.”

Li Sun-hoan termenung dan menatap pedang di tangan orang, katanya tiba-tiba, “Ko-yang-thi-kiam, pedang besi si Ko-yang?”

“Betul, aku Kwe Ko-yang,” jawab si baju hitam.

“Ehm, Ko-yang-thi-kiam ternyata juga tidak bernama kosong,” kata Sun-hoan sambil menghela napas.

Si baju hitam alias Kwe Ko-yang memandang pedang besi di tangan sendiri, lalu berucap, “Dan entah bagaimana bila Ko-yang-thi-kiam dibandingkan pisau kilat si Li?”

Sun-hoan tersenyum hambar, “Aku justru tidak ingin tahu jawabannya.”

“Sebab apa?”

“Sebab bila salah seorang di antara kita ingin tahu jawabannya, nanti pasti akan menyesal.”

Wajah Kwe Ko-yang yang pucat kelabu itu tampak bersemu merah karena emosi, teriaknya, “Tapi jawaban ini makin cepat makin baik,” teriak Kwe Ko-yang dengan beringas. “Selama sehari belum jelas unggul atau asor antara kita, selama sehari pula aku tak bisa tenteram.”

Sun-hoan terdiam agak lama, katanya kemudian dengan menyesal, “Habis kau ingin kapan?”

“Hari ini juga!”

“Di sini?”

“Ya, di sini. Tempat ini adalah bekas tempat kediamanmu, jelas engkau sudah mendapatkan keuntungan soal tempat.”

Sun-hoan tersenyum dan mengangguk, “Betul, melulu ucapanmu ini sudah cukup membuktikan engkau memang tokoh kelas top.”

“Tapi setelah aku yang menentukan waktunya, sepantasnya engkau yang menentukan tempatnya.”

“Untuk ini kukira tidak perlu,” jawab Sun-hoan dengan tertawa.

Kwe Ko-yang berpikir sejenak, katanya dengan tegas, “Baik, jika demikian mari ikut padaku.”

“Silakan,” kata Sun-hoan. Baru dua-tiga langkah, tanpa terasa ia memandang sekejap ke arah loteng kecil.

Diketahuinya Liong Siau-in sejak tadi lagi memandangnya dengan penuh rasa dendam dan benci, betapa hebat ilmu pedang Kwe Ko-yang dan betapa mengerikan kematian Cukat Kang ternyata tidak pernah mengalihkan pandangan anak ini barang sekejap pun.

Tapi begitu Sun-hoan melihatnya, segera ia tertawa dan menyapa dengan hormat, “Selamat, Li-toasiok. Ibu senantiasa teringat kepadamu, hendaknya paman sering-sering kemari menjenguk kami.”

Sun-hoan mengangguk dengan tersenyum, ucapan anak ini selalu membuatnya sukar menjawab.

Mendadak Liong Siau-in berlari maju dan menarik lengan baju Sun-hoan serta membisikinya, “Orang itu kelihatan sangat jahat, hendaknya paman jangan ikut pergi bersama dia.”

Sun-hoan tersenyum getir, katanya, “Setelah besar nanti baru akan kau ketahui bahwa ada sementara urusan meski engkau tidak ingin mengerjakannya, tapi mau tak mau harus kau lakukan.”

“Namun … namun bila … bila terjadi sesuatu atas diri paman, lantas … lantas siapakah yang akan melindungi kami ibu dan anak?” ucap Siau-in dengan khawatir.

Seketika Sun-hoan tertegun.

Entah selang berapa lama, ketika ia menengadah lagi, dilihatnya entah sejak kapan Lim Si-im telah muncul di langkan loteng dan sedang memandang kepada mereka. Sorot matanya menampilkan rasa rindu dendam yang tak terkatakan, tapi juga menunjukkan rasa terhibur dan bersyukur.

Putra kesayangannya akhirnya berbaikan dengan Li Sun-hoan, bahkan tampaknya sedemikian akrab, urusan apa pula di dunia ini dapat membuatnya lebih gembira daripada kejadian ini?

Hati Li Sun-hoan terasa pedih sehingga tidak berani menengadah lagi.

Dalam pada itu Liong Siau-in sedang berseru, “Lihatlah Bu, baru saja paman Li datang kemari, segera beliau akan pergi lagi.”

“Paman Li ada urusan, terpaksa beliau harus … harus pergi,” ucap Si-im dengan tersenyum, senyuman yang rawan dan hampa.

Apabila saat ini Li Sun-hoan menengadah dari memandangnya, pasti hatinya akan remuk redam.

“Masa ibu tidak ingin bicara apa-apa dengan paman Li?” seru Siau-in pula.

Bibir Si-im tampak rada gemetar, katanya kemudian, “Ada apa-apa biarlah dibicarakan kelak bila paman Li kembali lagi ke sini.”

“Tapi … tapi kukira paman Li takkan kembali lagi,” kata Siau-in.

“Omong kosong!” omel Si-im. “Ayo, lekas kemari, biarkan paman Li berangkat.”

Akhirnya Siau-in mengangguk dan melepaskan lengan baju Li Sun-hoan, ucapnya dengan menunduk, “Baiklah, silakan paman Li berangkat, hendaknya jangan engkau memikirkan kami lagi, memang sudah suratan nasib kami ibu dan anak harus hidup tanpa sandaran, tidak ada orang yang perlu mengkhawatirkan kami.”

Ia mengucek matanya, seperti mau menangis.

Dalam pada itu Kwe Ko-yang sudah berada di ujung jembatan kecil sana dan sedang memandang mereka dengan dingin.

Akhirnya Sun-hoan membalik tubuh dan melangkah ke sana, tanpa menoleh dan tanpa bicara lagi.

Setelah Sun-hoan pergi jauh barulah Liong Siau-in mengangkat kepala dan menatap bayangan punggungnya dengan sorot mata yang penuh rasa benci dan dendam, tersembul pula senyuman keji pada ujung mulutnya, gumamnya perlahan, “Kutahu hatimu saat ini pasti sangat sedih, justru sengaja kubikin kau sedih, dalam keadaan perasaanmu tidak tenteram begini dan harus bertanding dengan tokoh kelas tinggi seperti orang she Kwe itu, maka tiada ubahnya seperti mencari kematian bagimu.”

*****

Dengan tangan berselubung di dalam lengan baju, Kwe Ko-yang sedang melangkah ke depan dengan perlahan.

Li Sun-hoan mengikut di belakangnya dengan diam.

Jalan sangat panjang, sempit dan berliku, entah di mana letak ujungnya. Angin berdesir, rumput di tepi jalan tampak kering.

Meski langkahnya perlahan, namun Kwe Ko-yang melangkah dengan lebar, setiap satu langkah pasti meninggalkan bekas tapak kaki yang cetek, bekas tapak kaki itu sama ceteknya, jarak setiap langkahnya juga sama.

Meski tampaknya dia melangkah dengan begitu saja, padahal diam-diam ia sedang mengerahkan segenap tenaganya sehingga merata pada anggota badannya. Bilamana dirasakan tenaga sudah merata pada puncaknya, segera dia akan berhenti dan sampailah pada ujung jalan, tatkala mana jiwa salah seorang juga akan sampai pada ujungnya.

Agaknya Li Sun-hoan juga mengerti akan hal ini. Kwe Ko-yang benar-benar lawan yang sangat menakutkan, selama hidup Li Sun-hoan mungkin baru sekarang ditemuinya seorang lawan yang benar-benar tangguh.

Setiap orang yang berlatih Kungfu, bilamana kepandaiannya sudah mencapai puncaknya, biasanya akan merasa kesepian, sebab pada taraf demikian sangat sukar mencari seorang lawan. Sebab itulah ada orang yang suka “mencari kalah”, sebab dirasakannya asalkan bisa menemukan seorang lawan tangguh, andaikan kalah juga akan menggembirakannya.

Akan tetapi perasaan Li Sun-hoan sekarang tidak gembira sedikitnya. Sebaliknya perasaannya terasa kusut. Ia tahu dalam keadaan begini harus menghadapi duel dengan lawan seperti Kwe Ko-yang, persentase untuk menang tidak banyak, kesempatannya untuk kembali dengan hidup sangat kecil.

Pada ujung jalan ini mungkin juga merupakan ujung kehidupannya. Jalan ini mungkin adalah jalan kematiannya. Dia tidak takut mati, tapi apakah dia boleh mati sekarang juga?

Sekitar yang dilalui mereka semakin lapang, di kejauhan tertampak hutan terembesi dengan daunnya yang kemerah-merahan seperti darah. Apakah di situlah ujung jalan kematian?

Mendadak Li Sun-hoan berhenti.

Dia tidak bicara, juga tidak menerbitkan sesuatu suara, tapi dapat dirasakan oleh Kwe Ko-yang, segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini seolah-seolah tak dapat terlepas dari mata telinganya.

Dia tidak menoleh, tapi bertanya sekata demi sekata, “Apakah di sini?”

Sun-hoan terdiam agak lama, jawabnya kemudian, “Hari … hari ini tidak dapat … tidak dapat kugebrak denganmu!”

Serentak Kwe Ko-yang membalik tubuh, sorot matanya menatap Li Sun-hoan setajam mata pisau, bentaknya bengis, “Apa katamu?”

Sun-hoan menunduk dengan hati pedih seperti ditusuk jarum. Ia tahu apa yang diucapkannya dan di tempat seperti ini sekarang tidak ada bedanya seperti desersi di garis depan, perbuatan demikian biarpun mati juga takkan dilakukannya.

Tapi sekarang mau tak mau harus dilakukannya.

Dengan suara bengis Kwe Ko-yang menegas pula, “Kau bilang tidak dapat bergebrak denganku?”

Sun-hoan mengangguk tanpa bersuara.

“Sebab apa?” tanya Kwe Ko-yang.

Sun-hoan menghela napas panjang, “Aku mengaku kalah!”

Mata Kwe Ko-yang terbelalak lebar, ia pandang Sun-hoan seperti belum pernah mengenalnya.

Sampai lama sekali, tiba-tiba Kwe Ko-yang juga menghela napas dan berkata, “Wahai Li Sun-hoan, engkau memang tidak malu disebut sebagai kesatrianya zaman ini.”

Sun-hoan tersenyum getir, ucapnya, “Kesatria? Orang semacam diriku dapat dianggap sebagai kesatria?”

Kwe Ko-yang manggut-manggut, “Ya, di seluruh dunia ini mungkin cuma engkau saja yang dapat disebut sebagai kesatria.”

Belum lagi Sun-hoan bersuara, segera Kwe Ko-yang menyambung, “Kau bilang engkau mengaku kalah, tapi aku justru tahu betapa diperlukan keberanian seorang untuk mengaku kalah. Bagiku pengakuan demikian biarpun mati juga takkan kukatakan.”

Dia tertawa, lalu melanjutkan, “Tapi untuk mati adalah sangat mudah, orang yang rela mengaku kalah demi orang lain, lebih suka menerima aib bagi dirinya sendiri, inilah seorang kesatria sejati, seorang lelaki tulen!”

“Kau ….” Sun-hoan tidak sanggup melanjutkan ucapannya, kerongkongannya serasa tersumbat, hatinya bergolak dan sukar ditahan.

“Aku sangat memahami perasaanmu,” kata Kwe Ko-yang pula, “Kau bilang tidak dapat bergebrak denganku, sebab kau pikir saat ini dirimu tidak boleh mati. Kau tahu ada orang yang masih memerlukan perlindunganmu, tidak dapat kau pergi meninggalkan dia.”

Sun-hoan termenung dan tidak sanggup bicara lagi, hampir saja air mata bercucuran.

Seorang sahabat yang paling dapat diandalkan sering kali adalah musuh yang paling menakutkan, tadi seorang lawan yang menakutkan sering-sering juga sahabatmu yang paling mengetahui isi hatimu.

Sebab orang yang memenuhi syarat untuk menjadi lawanmu baru setimpal pula untuk menjadi sahabatmu. Sebab hanya orang semacam inilah yang dapat memahamimu.

Hati Li Sun-hoan entah merasa gembira atau sedih atau berterima kasih. Namun apa pun perasaannya tetap sukar dikemukakannya.

Mendadak Kwe Ko-yang berkata lagi, “Tapi hari ini mau tak mau aku harus bertanding denganmu.”

“Mengapa?” Sun-hoan melengak.

Kwe Ko-yang tersenyum hambar, “Di kolong langit ini ada berapa orang Li Sun-hoan? Jika sekarang tidak bertanding denganmu, mungkin seterusnya tidak pernah lagi akan kutemui seorang lawan seperti dirimu.”

“Asalkan urusan di sini sudah selesai, bila Anda kehendaki kelak, setiap saat kusiap mengiringi tantanganmu,” kata Sun-hoan dengan perlahan.

“Tidak,” ujar Ko-yang sambil menggeleng, “tatkala mana mungkin kita tidak dapat saling gebrak lagi.”

“Sebab apa?” tanya Sun-hoan.

Kwe Ko-yang memandang jauh ke langit sana, di mana gumpalan awan bergerak mengambang di udara. Dengan tersenyum hambar kemudian ia menjawab, “Tatkala mana bisa jadi kita sudah menjadi sahabat!

Li Sun-hoan termenung hingga lama, ucapnya kemudian dengan rawan, “Jadi engkau lebih suka menjadi musuhku daripada menjadi sahabatku?”

Mendadak Kwe Ko-yang menarik muka dan berucap dengan bengis, “Hidup orang she Kwe ini sudah kupersembahkan pada pedangku, mana ada sisa tenaga untuk bersahabat lagi? Apalagi, sahabat mudah diperoleh, lawan yang dapat saling mengerti justru sangat sukar dicari.”

Istilah “saling mengerti” biasanya digunakan untuk melukiskan sahabat yang baik, tapi sekarang digunakannya melukiskan lawan, jika didengar orang lain, selain sukar dimengerti, bisa jadi akan ditertawakannya.

Namun Li Sun-hoan justru dapat memahami maksudnya.

“Di kolong langit ini, lawan yang sanggup bertarung denganku tentu saja tidak cuma engkau seorang, tapi biarpun ada yang Kungfunya jauh lebih tinggi daripadaku juga tidak kupandang sebelah mata, apalagi bila aku harus mati di tangan mereka, sungguh aku tidak rela.”

“Betul, untuk mencari seorang sahabat yang kuhormati adalah tidak sulit, ingin mencari seorang lawan yang dapat kuhargai itulah yang teramat sukar.”

“Memang begitu, sebab itulah biar pertarungan kita hari ini orang she Kwe harus mati di tanganmu juga takkan menyesal.”

Jawab Sun-hoan dengan rawan, “Akan tetapi aku ….”

Kwe Ko-yang memotong ucapannya dengan melambaikan tangannya, “Kupaham maksudmu, bilamana tak beruntung engkau gugur nanti, cita-citamu yang belum terlaksana pasti akan kuselesaikan bagimu. Orang yang perlu kau lindungi juga pasti akan kujaga supaya seujung rambut pun takkan diganggu orang.”

Li Sun-hoan menjura sehormatnya dan berkata dengan khidmat, “Setelah mendapat jaminan Anda ini, biarpun mati juga Li Sun-hoan tidak perlu menyesal. Terima kasih.”

Selama hidup Li Sun-hoan tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada siapa pun, sekarang ucapan terima kasih ini justru timbul dari lubuk hatinya yang dalam.

Kwe Ko-yang balas menjura dan menjawab, “Terima kasih atas kerelaanmu. Silakan!”

“Silakan!” kata Sun-hoan.

Adalah sangat terpuji di antara sahabat dapat saling hormat-menghormati, tapi saling hormat di antara lawan justru terlebih mengharukan.

Cuma sayang, perasaan demikian sangat jarang dapat dipahami orang. Mungkin lantaran sulit dimengerti, makanya tambah berharga.

Angin mendesir, hawa pedang dingin menyayat, suasana diliputi keseraman.

Kwe Ko-yang telah melolos pedangnya dan melintang di depan dada, pandangannya tidak pernah terlepas dari tangan Li Sun-hoan. Ia tahu betapa hebat dan menakutkan tangan lawan ini.

Kini Li Sun-hoan seperti sudah berubah sama sekali, meski rambutnya tetap semrawut, pakaiannya tetap tak teratur, namun dia tidak lagi lesu, tidak lagi pucat. Malahan kepucatan wajahnya sekarang menampilkan semacam cahaya terang yang mencolok.

Selama dua tahun ini dia serupa sebilah pedang pusaka yang selalu tersimpan di dalam kotak, tidak ada yang dapat melihat cemerlang sinarnya. Tapi sekarang pedang terpendam itu sudah keluar dari kotaknya. Sekali tangannya bergerak, sebilah pisau sudah terpegang.

Itulah pisau terbang si Li yang tidak pernah meleset dan sekali kena pasti tembus tenggorokan.

Angin meniup terlebih keras, membawa semacam deru suara yang mengerikan.

Pedang Kwe Ko-yang bergerak, cahaya hitam tajam langsung mengarah leher Li Sun-hoan, belum tiba pedangnya hawa dingin tajam sudah menyambar lebih dulu.

Cepat Sun-hoan menggeser ke belakang, punggung telah mepet batang pohon. Tiba-tiba pedang Kwe Ko-yang juga ikut menusuk lurus ke depan.

Sukar menghindar lagi bagi Li Sun-hoan, mendadak tubuhnya merosot ke bawa mengikuti batang pohon.

Kwe Ko-yang bersuit panjang, serentak ia meloncat maju, cahaya pedang pun berubah sebagai sejalur pelangi. Manusia dan pedangnya seakan-akan terlebur menjadi satu. Daun pohon rontok berhamburan tersambar oleh hawa pedang yang tajam.

Dengan enteng Li Sun-hoan melejit ke samping, melintasi pelangi dan hawa pedang dan turun ke bawah ikut daun rontok yang berhamburan.

Kembali Kwe Ko-yang bersuit nyaring, sekali berjumpalitan di atas, pelangi pedang mendadak berubah berbintik-bintik yang tak terhitung jumlahnya dan membura ke atas kepala Li Sun-hoan, sungguh serangan yang dahsyat dan lihai.

Beberapa meter di sekitar Li Sun-hoan sudah terkurung di bawah sinar pedangnya, ke mana pun berkelit tetap sukar meloloskan diri.

Mendadak terdengar “tring” sekali disertai percikan lelatu. Pisau kecil pada tangan Li Sun-hoan dengan tepat beradu dengan mata pedang.

Dalam sekejap itu hawa pedang yang memenuhi udara lenyap seketika, daun merah yang rontok berhamburan menghujani Kwe Ko-yang. Namun pedang masih terpegang melintang di depan dadanya.

Pisau Li Sun-hoan juga masih terpegang di tangannya, namun mata pisaunya sudah terpatahkan oleh pedang. Ia pandang Kwe Ko-yang dengan tenang, Kwe Ko-yang juga memandangnya dengan diam.

Kedua orang sama-sama tidak memperlihatkan sesuatu perasaan. Namun keduanya sama tahu, pisau Li Sun-hoan ini tidak mungkin dapat digunakan lagi.

Pisau kilat si Li mengutamakan kecepatan, tapi sekarang ujung pisau patah, dengan sendirinya besar pengaruhnya terhadap kecepatannya. Biarpun pisau itu disambitkan lagi juga sukar melukai sasarannya.

Pisau si Li yang tak terkalahkan sekarang ternyata tiada kemungkinan untuk menang. Perlahan Li Sun-hoan melambaikan tangannya ke bawah.

Daun rontok yang terakhir pun sudah jatuh ke tanah, suasana kembali sunyi, keheningan seperti di kuburan.

Mendadak Kwe Ko-yang menghela napas, perlahan ia masukkan pedang ke sarungnya, meski air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, namun sorot matanya jelas menunjukkan kehampaan, ucapnya rawan, “Aku kalah!”

“Siapa bilang kau kalah?” tanya Sun-hoan.

“Aku sendiri mengaku kalah,” jawab Kwe Ko-yang. Ia tersenyum pedih, “Ucapan ini semula kukira sampai mati pun takkan kukatakan, tapi sekarang telah kukatakan, hatiku terasa riang malah, riang sekali, riang gembira ….”

Berulang tiga kali ia menyatakan riang hatinya, mendadak ia menengadah dan terbahak-bahak. Di tengah gelak tertawanya ia terus membalik tubuh dan meninggalkan hutan ini.

Li Sun-hoan memandangi kepergian orang hingga lenyap di kejauhan, mendadak ia berjongkok dan terbatuk-batuk.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berkeplok dan bersorak, “Hebat, hebat sekali, sungguh sangat hebat!”

Suaranya nyaring merdu serupa kicauan burung kenari.

Waktu Li Sun-hoan berpaling, terlihatlah seorang nona berkucir berlari keluar, dari hutan, kiranya si nona berkucir cucu si kakek tukang dongeng itu.

Mata si nona yang jeli dan besar itu seakan-akan juga menampilkan senyuman, katanya pula, “Hari ini dapat kusaksikan pertarungan kalian berdua, biar mati pun aku tidak menyesal.”

Mungkin Sun-hoan tidak berminat untuk bicara, maka dia cuma tertawa saja.

Si nona berkucir berkata pula, “Mestinya ada kesempatan tiga kali bagimu untuk membinasakan Kwe Ko-yang, tapi kesempatan itu tidak kau gunakan, kemudian hasratmu membunuh sudah lenyap dan pisaumu patah, tampaknya Kwe Ko-yang akan dapat membinasakan dirimu, tapi dia justru mengaku kalah dengan sukarela lahir batin ….”

Ia menghela napas, lalu menyambung, “Orang seperti kalian baru benar-benar lelaki sejati, benar-benar kesatria tulen, jika begitu saja kau bunuh dia atau dia bunuh engkau, betapa pun tinggi kepandaian kalian juga takkan terpandang olehku.”

Li Sun-hoan terdiam sejenak, katanya kemudian, “Kwe Ko-yang memang tidak malu disebut sebagai kesatria sejati.”

“Dan engkau?” tanya si nona.

Sun-hoan menggeleng dengan tersenyum getir, “Aku … terhitung apa aku ini?”

Biji mata si nona berputar, tanyanya tiba-tiba, “Coba jawab, waktu pedangnya menebas pertama kali, jurus apa yang dilontarkannya?”

“Hong-kui-liu-in (angin lesus membuyarkan awan),” jawab Sun-hoan.

“Dan jurus kedua?”

“Liu-sing-tui-goat (bintang meluncur mengejar rembulan).”

“Nah, dari jurus pertama berubah menjadi jurus kedua, karena perubahannya teramat cepat, dengan sendirinya gerak pedangnya terdapat titik peluang, bilamana dalam sekejap itu pisaumu menyambar, bukankah seketika dapat kau cabut nyawanya?”

Sun-hoan tidak dapat membantah.

“Inilah kesempatan pertama yang kau lewatkan untuk membinasakan dia, dan apakah perlu kukatakan lagi kesempatan yang kedua dan ketiga.”

“Sudahlah, tidak perlu kau katakan lagi,” ujar Sun-hoan sambil menyengir.

“Hm, orang sama bilang Li Sun-hoan adalah seorang lelaki sejati, siapa tahu juga suka rada banci,” jengek si nona.

Selama hidup Li Sun-hoan sudah sering dimaki orang, tapi dimaki sebagai banci baru terjadi sekali ini, keruan ia menyengir dan serbarunyam.

Si nona melotot padanya dan berkata pula, “Jika engkau tidak dapat bicara lagi, kenapa tidak berbatuk saja?”

“Pandangan nona sungguh sangat tajam, tentu engkau seorang besar, agaknya aku telah bersikap kurang hormat padamu,” ujar Sun-hoan dengan gegetun.

Mendadak si nona tertawa, “Jangan kau umpak diriku, aku tidak sebesar dirimu, mana boleh kau anggap sebagai orang besar?”

Sun-hoan tidak tahan lagi akan batuknya.

“Kutahu biasanya engkau tidak suka membual dan memuji diri sendiri, engkau selalu menjunjung orang lain, ini memang segi baikmu, tapi juga penyakitmu. Seorang hidup tidak boleh terlalu merendahkan diri sendiri.”

“Nona ….”

“Aku she Sun dan bernama Sio-ang, Ang artinya merah,” tukas si nona.

“Dan aku Li ….”

“Namamu sudah kukenal, bahkan sudah lama ingin kucari dirimu untuk bertanding.”

“Bertanding apa?” tanya Sun-hoan dengan melengong.

Sun Sio-ang tertawa mengikik, “Dengan sendirinya takkan kutantang bertanding Kungfu denganmu, bicara tentang Kungfu, biarpun kulatih seratus tahun lagi juga bukan tandinganmu. Aku cuma ingin bertanding minum arak denganmu. Setiap kali bila kudengar ada seorang yang kuat minum arak melebihiku, seketika timbul hasratku untuk menantangnya bertanding.”

Sun-hoan tertawa geli, “Kutahu orang yang gemar minum arak sama mempunyai ciri demikian, tak tersangka engkau juga punya penyakit yang sama.”

“Cuma, bila sekarang kita bertanding minum, rasanya aku lebih beruntung.”

“Sebab apa?” tanya Sun-hoan.

Dengan sungguh-sungguh Sun Sio-ang menjawab, “Baru saja engkau bertempur, dengan sendirinya tenagamu sudah banyak berkurang, kekuatanmu minum arak tentu juga terpengaruh. Minum arak pun serupa bertanding Kungfu, waktu, tempat, ketenangan, ketiganya tidak boleh berkurang satu pun.”

“Cukup dengan ucapanmu ini saja engkau patut dipuji sebagai ahli minum arak,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Haha, dapat bertanding minum dengan kaum ahli seperti dirimu, biarpun mabuk pun takkan menyesal.”

Seketika bercahaya mata Sun Sio-ang, cahaya kebanggaan, tapi dia sengaja tetap menarik muka, katanya, “Baik, setelah aku mendapat keuntungan waktu, tentunya tidak boleh menarik keuntungan soal tempat. Dalam hal tempat boleh terserah kepada pilihanmu.”

“Jika begitu, mari ikut padaku,” ujar Sun-hoan.

*****

Menjelang senja biasanya adalah saat paling sepi bagi orang dagang. Waktu itu Sun bungkuk lagi duduk di depan pintu.

Pada saat itulah muncul Li Sun-hoan bersama Sun Sio-ang. Tak tersangka oleh Sun bungkuk bahwa kedua orang ini bisa berkumpul, bahkan bersenda gurau segala. Sungguh kejadian aneh bahwa kedua orang ini bisa mendadak menjadi kawan.

Li Sun-hoan sengaja tidak menghiraukan rasa heran Sun bungkuk, padahal dalam hati sendiri ia pun merasa geli, sungguh ia sendiri tidak tahu mengapa bisa berkawan dengan nona cilik ini. Padahal nona cilik ini sangat ceriwis, sekali bicara lantas mencerocos seperti burung berkicau tanpa berhenti, terkadang bahkan membuat orang sukar melayaninya.

Selama ini ada dua hal yang sering membikin pusing kepala Li Sun-hoan.

Pertama adalah waktu makan tiba-tiba diketahuinya teman makan tiada seorang pun mau minum arak. Dan yang kedua adalah mendadak bertemu dengan perempuan ceriwis.

Anehnya sekarang dia tidak merasa pusing kepala, sebaliknya sangat gembira.

Maklumlah, kebanyakan orang yang takaran minum araknya kuat tentu suka ada orang menantang minum padanya, asalkan ditantang minum arak, urusan lain dapat dikesampingkannya untuk sementara.

Apalagi kalau orang yang menantang minum padanya ialah seorang perempuan cantik, tentu saja hal ini lebih membuatnya gembira.

Sepanjang jalan Li Sun-hoan telah bertanya dan diketahui kakek tukang dongeng itu bernama Sun si rambut putih, ialah kakek nona cilik ini. Kedua orang tua Sio-ang sudah lama meninggal, selama ini dia hidup bersama sang kakek, boleh dikatakan tidak pernah berpisah sehari pun.

Karena itu Li Sun-hoan lantas tanya kepada si nona, “Mengapa kakekmu sekarang tidak berada bersamamu?”

Jawaban Sun Sio-ang sangat sederhana, “Kakek pergi memapak seorang ke luar kota.”

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: