Pendekar Budiman: Bagian 15

Pendekar Budiman: Bagian 15
Oleh Gu Long

Orang yang di depan bertangan kosong tidak membawa sesuatu senjata. Sedangkan pinggang orang di belakang terselip sebilah pedang yang sudah terhunus dari sarungnya.

Tiba-tiba Sun-hoan merasa cara orang ini menyelipkan pedang pada tali pinggangnya serupa benar dengan A Fei, bedanya cuma A Fei suka menyelipkan pedangnya pada bagian tengah tali pinggang dengan gagang pedang mengarah ke kanan, sebaliknya orang ini menyelipkan pedang di sisi kanan tali pinggang dengan gagang pedang mengarah ke kiri.

Jangan-jangan orang ini kidal, biasa menggunakan tangan kiri?

Mau tak mau bekernyit juga kening Li Sun-hoan.

Dia tidak suka berhadapan dengan jago pedang yang kidal, sebab cara orang kidal memainkan pedangnya pasti berlawanan dengan orang lain, jurus serangannya juga pasti lebih licin dan ganas, sangat sukar dilayani. Ini adalah hasil pengalamannya sekian tahun, sekali pandang saja segera diketahuinya lawan ini pasti sangat tangguh.

Jika Li Sun-hoan sedang memerhatikan jago pedang kidal itu, yang diperhatikan Sun Sio-ang adalah sesuatu urusan lain.

Bahwa kedua orang itu berjalan dengan lambat, langkahnya lebar, tampaknya tidak berbeda dengan cara berjalan orang biasa, tapi entah mengapa, dirasakan oleh Sio-ang cara berjalan mereka itu agak istimewa.

Diperhatikannya hingga lama, akhirnya baru diketahuinya apa sebabnya.

Biasanya bilamana dua orang berjalan secara berbaris, langkah mereka pasti sama. Tapi cara berjalan kedua orang ini sangat istimewa, setiap kali orang yang di belakang melangkah selalu jatuh di tengah-tengah antara langkah pertama dan kedua orang di depan. Keempat kaki tampaknya tumbuh pada tubuh satu orang.

Sio-ang tidak pernah melihat cara berjalan serupa ini. Dia sangat tertarik. Sebaliknya Li Sun-hoan tidak tertarik sama sekali, malahan dia merasa rada ngeri.

Bahwa cara berjalan kedua orang itu sudah dapat bekerja sama serapi itu, jelas di antara mereka sudah ada kesatuan batin. Kalau berjalan saja dapat bekerja serajin itu, pada waktu bertempur tentu saja kerja sama kedua orang terlebih ajaib.

Melulu Siangkoan Kim-hong saja sudah terhitung jago top dunia persilatan, kalau bertambah lagi seorang Hing Bu-bing, tentu saja sukar dibayangkan.

Diam-diam Sun-hoan kebat-kebit, sungguh ia tidak mengerti cara bagaimana supaya dapat membobol kerja sama kedua orang ini, juga tidak berani membayangkan cara bagaimana si kakek di dalam gardu panjang itu akan mengenyahkan kedua orang ini.

Dalam pada itu si kakek tetap asyik mengisap pipa tembakaunya di dalam gardu, api pipa sebentar terang sebentar guram.

Mendadak Sun-hoan juga menemukan di antara terang dan guramnya api tembakau itu pun ada semacam irama yang aneh, pada waktu terang lebih lama daripada waktu guram.

Mendadak api tembakau menyala serupa sebuah lampu. Belum pernah Li Sun-hoan melihat orang mengisap pipa tembakau dan bisa menyalakan api tembakaunya.

Agaknya Siangkoan Kim-hong juga telah melihat kejadian itu, sebab pada saat itu juga dia lantas berhenti melangkah.

Begitu dia berhenti, orang yang ikut di belakangnya juga lantas berhenti, sungguh keduanya seperti sudah ada kontak batin yang ajaib.

Pada saat itulah api di gardu itu pun padam mendadak. Bayangan si kakek juga lantas tertelan oleh kegelapan.

Siangkoan Kim-hong berdiri di tepi jalan, sampai lama barulah ia memutar badan dan masuk ke dalam gardu, lalu berdiri diam di depan si kakek.

Ke mana pun Siangkoan Kim-hong pergi, ke situ pula orang yang di belakangnya, yaitu Hing Bu-bing, selalu ikut, satu langkah pun tidak pernah berpisah. Tampaknya dia serupa benar bayangan Siangkoan Kim-hong.

Keempat lampu berkerudung juga lantas bergeser mengelilingi gardu. Seketika dalam gardu menjadi terang sehingga kelihatan si kakek masih tetap memakai bajunya yang berwarna biru tapi sudah luntur itu dan asyik mengisi tembakau pada pipanya sambil berduduk di atas bangku batu, dia seperti tidak tahu ada orang datang.

Siangkoan Kim-hong juga tidak bicara, ia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik capingnya yang lebar, seperti tidak ingin air mukanya dilihat orang. Tapi pandangannya tidak pernah meninggalkan tangan si kakek, setiap gerak-gerik si kakek selalu berada di bawah pengawasannya yang cermat.

Perlahan si kakek mengeluarkan tembakau dari sebuah kantongan yang tergantung pada pipanya yang panjang, diisi ke dalam ujung pipa, dipadatkan, lalu mengeluarkan sepotong besi ketikan dan sepotong batu api.

Gerak-geriknya sangat perlahan, namun sangat mantap.

Dia menaruh alat ketik api itu di atas meja batu, lalu mengeluarkan sehelai kertas kapas dan dipelintir menjadi upet, kemudian memegang lagi besi ketikan untuk membuat api.

Mendadak Siangkoan Kim-hong melangkah maju, ia ambil upet yang terpelintir sangat halus dan rata itu, kemudian disodorkan ke dekat batu api yang sedang diketik si kakek.

“Tik-tik”, bunyi batu diketik dengan lelatu tepercik. Upet telah menyala.

Segera Siangkoan Kim-hong mengangsurkan api yang menyala itu ke ujung pipa tembakau si kakek.

Meski tempat sembunyi Li Sun-hoan dan Sio-ang agak jauh dari gardu itu, namun mereka berada di tempat gelap sehingga setiap gerak-gerik si kakek dan Siangkoan Kim-hong dapat dilihat mereka dengan jelas.

“Apakah perlu ke sana?” tanya Sun-hoan.

Sio-ang menggeleng, desisnya, “Tidak perlu, kakek pasti dapat mengenyahkan mereka.”

Dia bicara dengan penuh keyakinan, tapi mendadak Sun-hoan merasakan tangan si nona berubah dingin, bahkan agak basah seperti berkeringat dingin. Dengan sendirinya ia tahu sebab apa nona itu berkhawatir.

Panjang pipa tembakau itu cuma dua kaki, sekarang tangan Siangkoan Kim-hong berjarak tidak ada dua kaki di depan hidung si kakek, setiap saat dia mampu menyerang Hiat-to bagian mana pun di tubuh kakek itu.

Bahwa sekarang Siangkoan Kim-hong tidak turun tangan, tentu dia hanya menunggu kesempatan saja.

Si kakek sedang mengisap tembakaunya. Entah karena tembakaunya kurang kering atau karena mengisinya terlalu padat sehingga sejauh itu tembakau belum lagi menyala, sebaliknya sumbu api sudah hampir padam.

Gaya isap tembakau si kakek sangat istimewa juga, dia memegang pangkal cangklong dengan ibu jari, jari tengah dan jari telunjuk tangan kiri, sedangkan jari manis dan jari kelingking agak menjengkit ke atas.

Sebaliknya Siangkoan Kim-hong memegang upet dengan ibu jari dan jari telunjuk, ketiga jari yang lain tertekuk ke bawah.

Dalam keadaan demikian, jari manis dan jari kelingking si kakek cuma berjarak beberapa senti saja dari urat nadi pergelangan tangan Siangkoan Kim-hong.

Tubuh kedua orang sama tidak bergerak, kepala juga tidak terangkat, hanya api upet yang berkelap-kelip memancarkan cahaya.

Sementara itu api upet sudah dekat dengan jari tangan Siangkoan Kim-hong, tapi dia seperti tidak merasakan sama sekali.

Pada saat itulah, “buss”, akhirnya tembakau dalam bedutan si kakek tersulut.

Ketiga jari Siangkoan Kim-hong yang rada tertekuk itu seperti sedikit bergerak, jari manis dan jari kelingking si kakek juga bergerak, gerakan mereka sama cepatnya dan juga sama ringannya, tapi hanya bergerak sedikit saja lantas berhenti.

Lalu Siangkoan Kim-hong mulai menyurut mundur dan si kakek juga mulai mengisap tembakaunya. Dari awal sampai akhir kedua orang sama-sama tidak pernah memandang lawannya barang sekejap pun.

Sampai di sini barulah Li Sun-hoan menghela napas lega. Bagi pandangan orang, kedua orang yang berada di dalam gardu itu seperti sedang menyulut tembakau saja, tapi Li Sun-hoan tahu sesungguhnya telah terjadi duel yang mendebarkan.

Siangkoan Kim-hong mencari kesempatan asalkan perhatian si kakek rada meleng, segera dia akan turun tangan. Dan sekali dia turun tangan dia yakin pasti akan merobohkan lawan.

Tapi kesempatan yang ditunggu sejauh itu tidak diperoleh. Sampai akhirnya dia tidak tahan lagi, ketiga jarinya siap untuk menyerang. Namun kedua jari si kakek juga telah siap menghadapi setiap perubahan.

Betapa rumitnya kejadian ini hanya tokoh kelas tinggi seperti Li Sun-hoan saja yang mampu menikmatinya, sebab apa yang diperlihatkan kedua orang itu adalah ilmu silat yang paling tinggi. Kedua orang hanya menggerakkan jari saja, namun setiap gerakan meliputi perubahan yang sukar diduga dan menentukan mati atau hidup, bahayanya pasti tidak di bawah pertarungan orang lain yang menggunakan senjata tajam.

Cuma sekarang saat krisisnya sudah lalu.

Siangkoan Kim-hong telah menyurut mundur ke tempat semula.

Perlahan si kakek mengisap tembakaunya satu kali, lalu mengangkat muka, seperti baru sekarang dia melihat Siangkoan Kim-hong, ia tersenyum dan menyapa, “Engkau sudah datang?”

Siangkoan Kim-hong mengiakan.

“Kau datang terlambat,” kata si kakek.

“Anda telah menunggu di sini, apakah memang sudah kau perhitungkan dengan tepat aku pasti akan lalu di sini?” tanya Siangkoan Kim-hong.

Si kakek tertawa pula, “Ya, yang kuharapkan justru semoga engkau jangan datang.”

“Sebab apa?”

“Sebab umpama kau jadi datang, tetap engkau harus segera pergi pula.”

“Dan kalau aku tidak pergi?”

“Kuyakin engkau pasti akan pergi.”

Mendadak kedua tangan Siangkoan Kim-hong terkepal dengan erat. Hing Bu-bing yang selalu ikut di belakangnya serupa bayangan, segera tangan kiri juga meraba tangkai pedangnya.

Seketika suasana di dalam gardu diliputi hawa pembunuhan.

Namun si kakek tetap asyik udut, ia mengisap, lalu diembuskan dengan perlahan. Asap yang terembus dari mulutnya itu semula berbentuk panjang serupa seutas tali, lalu tali asap ini mulai berubah menjadi bengkok dan mendadak membelok, memancar ke muka Siangkoan Kim-hong.

Siangkoan Kim-hong seperti terkejut, tapi pada saat itu juga asap tembakau lantas buyar.

Siangkoan Kim-hong menatap tajam asap yang buyar itu, tangan yang terkepal erat lantas mengendur.

Tangan Hing Bu-bing yang meraba tangkai pedang juga lantas dilepaskan.

“Sungguh kagum,” kata Siangkoan Kim-hong mendadak sambil memberi hormat.

“Terima kasih,” jawab si kakek.

“Tujuh belas tahun yang lalu kita pernah bertemu satu kali, setelah perpisahan sekarang, entah kapan lagi baru akan berjumpa pula?” kata Siangkoan Kim-hong.

Dengan hambar si kakek menjawab, “Bertemu untuk bertengkar, kan lebih baik tidak bertemu.”

Siangkoan Kim-hong diam saja. Si kakek mulai udut lagi.

Perlahan Siangkoan Kim-hong membalik tubuh dan melangkah ke luar gardu. Seperti bayangan, Hing Bu-bing terus mengikut di belakangnya ….

Cahaya lampu berkerudung itu makin jauh dan makin guram, akhirnya bumi raya ini tenggelam pula dalam kegelapan.

Namun sorot mata Li Sun-hoan masih tertuju ke arah menghilangnya cahaya lampu, tampaknya seperti menanggung sesuatu pikiran.

Pada waktu Siangkoan Kim-hong melangkah pergi, seperti sengaja dan juga seperti tidak sengaja dia pernah memandang sekejap ke arah sini, dan untuk pertama kali inilah Sun-hoan melihat matanya.

Belum pernah dilihatnya sorot mata setajam dan seseram ini. Dari sinar mata orang dapat dipastikannya betapa hebat tenaga dalam Siangkoan Kim-hong, mungkin jauh lebih menakutkan daripada apa yang tersiar.

Bahkan yang paling menakutkan adalah sinar mata Hing Bu-bing. Cukup memandangnya sekejap saja, siapa pun akan merasa tidak enak perasaannya, terasa mual, seperti mau tumpah. Sungguh pada hakikatnya itu bukan mata manusia, juga bukan mata binatang.

Baik mata manusia atau mata binatang tentu hidup, ada perasaan, baik perasaan rakus, kejam dan sebagainya, sedikitnya tetap semacam perasaan.

Tapi mata Hing Bu-bing adalah mata yang mati, dia tidak tahu apa artinya perasaan, bahkan tidak tahu segala kehidupan, termasuk kehidupannya sendiri.

Sun Sio-ang tidak memerhatikan hal-hal demikian, sebab dia asyik memandang Li Sun-hoan. Baru pertama kali ini dia dapat melihat Sun-hoan sejelasnya.

Meski dalam kegelapan, profil Li Sun-hoan tetap terlihat sedemikian jelas, terlebih matanya dan hidungnya, memberi kesan yang sangat mendalam.

Matanya celung, tapi terang, penuh kecerdasan, meski sorot matanya mengandung rasa keletihan dan mencemoohkan, tapi penuh rasa simpati yang luhur.

Hidungnya lurus tegak, mancung, melambangkan kekerasan hatinya, kejujurannya dan juga ketabahannya tanpa gentar menghadapi apa pun.

Meski ujung matanya sudah mulai ada kerutan, tapi terlihat lebih masak jadinya, lebih berdaya tarik, lebih menimbulkan rasa aman, membuat orang menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Inilah model lelaki yang diidam-idamkan oleh kebanyakan anak gadis.

Mereka tidak merasakan bahwa si kakek di gardu sedang mendekati mereka, sedang memandang mereka dengan tersenyum dan penuh rasa terhibur.

Dengan tenang si kakek memandangi mereka sekian lamanya barulah menegur, “Adakah di antara kalian suka mengobrol bersama si kakek?”

*****

Entah sejak kapan rembulan sudah menghiasi cakrawala.

Jalan raya itu lurus membentang ke depan di bawah cahaya sang dewi malam.

Si kakek dan Li Sun-hoan berjalan di depan, Sun Sio-ang mengikut di belakang dengan diam.

Meski tidak bicara, tapi saking gembiranya rasanya dia ingin berteriak, sebab asal dia memandang ke depan lantas terlihat lelaki yang paling dikagumi dan paling menyenangkan itu.

Cahaya rembulan tambah terang sehingga bayangan mereka tercetak di atas tubuhnya. Sio-ang merasa sangat bahagia.

Terdengar si kakek lagi berkata setelah mengembuskan asap tembakau, “Sudah lama kudengar akan dirimu, sudah lama ingin kuminum arak bersamamu dan mengobrol. Baru sekarang kurasakan mengobrol denganmu memang hal yang sangat menggembirakan.”

Sun-hoan hanya tersenyum saja, tapi Sun Sio-ang yang mengintil di belakangnya lantas tertawa mengikik, katanya, “Tapi sampai saat ini, kecuali memberi salam padamu, sepatah kata pun tidak dibicarakannya kepadamu.”

“Justru di sinilah letak kebaikannya,” ujar si kakek. “Apa yang tidak perlu dikatakan tidak diucapkannya, yang tidak perlu ditanyakan juga tidak pernah ditanyakannya. Jika orang lain, tentu sejak tadi sudah berusaha bertanya asal usul kita.”

Sun-hoan tersenyum, katanya, “Bisa jadi semua itu disebabkan lantaran aku sudah dapat menerka asal usul Cianpwe.”

“Oo?” heran juga si kakek.

“Kumaklum, di dunia ini, orang yang mampu menggertak mundur Siangkoan Kim-hong tidaklah banyak,” kata Sun-hoan.

“Hah, jika kau sangka kepergian Siangkoan Kim-hong adalah karena gentar padaku, maka jelas kau salah besar,” ujar si kakek dengan tertawa.

Tanpa memberi kesempatan bicara kepada Li Sun-hoan, segera ia menyambung pula, “Betapa hebat Kungfu Siangkoan Kim-hong tentu sudah dapat kulihat, pemuda yang senantiasa mengintil di belakangnya itu juga lawan yang lebih menakutkan. Jika mereka berdua maju sekaligus, di dunia ini pasti tidak ada yang mampu menandingi mereka dalam 300 jurus, apalagi hendak mengalahkan mereka.”

“Masa Cianpwe sendiri juga tidak sanggup?” tanya Sun-hoan dengan sinar mata gemerdep.

“Ya, aku pun tidak,” kata si kakek.

“Tapi mereka toh pergi juga.”

Si kakek tertawa, “Mungkin mereka merasa sekarang belum perlu membunuh diriku, bisa jadi mereka juga sudah mengetahui beradanya dirimu di sini, mereka tidak yakin akan dapat mengalahkan kita berdua.”

Sio-ang tidak tahan, tukasnya, “Seumpama dia mengetahui ada orang bersembunyi di balik pohon, dari … dari mana dia tahu akan Li … Li-tamhoa adanya?”

“Jago kelas tinggi serupa Li-tamhoa, biarpun dia cuma berdiri diam saja tanpa bicara juga akan terasa timbulnya semacam hawa membunuh,” tutur si kakek.

“Hawa membunuh?” Sio-ang menegas.

“Ya, hawa membunuh, dengan sendirinya hanya tokoh kelas top seperti Siangkoan Kim-hong saja yang dapat merasakan hawa membunuh semacam ini.”

Sio-ang menghela napas, katanya sambil menggeleng, “Cerita kakek terlalu dalam, aku tidak paham.”

“Ilmu silat memang sesuatu yang mahaajaib, tidak banyak orang yang benar-benar memahaminya,” ujar si kakek.

“Entah apa yang menyebabkan mereka pergi, yang jelas budi bantuan Cianpwe sungguh ….”

“Jika kau sangka sengaja kubantu dirimu, maka kembali kau salah lagi,” sela si kakek. “Setiap urusan yang kulakukan selalu demi diriku sendiri.”

“Akan tetapi ….”

Kembali si kakek memotong dengan tertawa, “Aku cuma senang melihat orang semacam dirimu dapat hidup dengan baik, sebab orang semacam dirimu sudah tidak banyak lagi yang hidup di dunia ini.”

Sun-hoan hanya tersenyum dan diam saja.

“Meski baru pertama kali ini kita bertemu, tapi aku sangat memahami sifatmu, sebab itulah aku pun tidak mau membujuk agar engkau pergi dari sini,” kata si kakek pula dengan pandangan yang tajam, lalu menyambung dengan sangat prihatin, “Aku cuma berharap engkau dapat memahami sesuatu.”

“Mohon petunjuk,” pinta Sun-hoan.

“Lim Si-im tidak memerlukan perlindunganmu, kepergianmu dari sini akan bermanfaat baginya,” ujar si kakek dengan sungguh-sungguh.

Kembali Sun-hoan terdiam.

“Lim Si-im sendiri bukanlah sasaran pokok yang diincar orang-orang itu, sebabnya orang-orang itu hendak mencelakai dia hanya disebabkan dirimu, atau dengan lain perkataan, sebabnya orang lain hendak mencelakai dia adalah karena engkau melindungi dia. Jika engkau tidak melindungi dia, pada hakikatnya tidak ada lagi orang lain yang ingin mencelakai dia …. Masakah dalih ini tidak kau pahami?”

Mendadak Li Sun-hoan serupa kena dicambuk orang, kesakitan sehingga sekujur badan berkejang, mendadak ia merasa dirinya seperti mengkeret menjadi kerdil.

Si kakek seperti tidak memerhatikan penderitaannya, sambungnya lagi, “Jika kau pikir dia terlalu kesepian dan ingin menemani dia, saat ini juga tidak perlu lagi, sebab Liong Siau-hun sudah pulang, jika engkau tetap tinggal di sini hanya akan menambah kesedihannya saja.”

Sun-hoan memandang jauh ke kegelapan sana, ia diam saja sampai sekian lama, lalu menghela napas panjang, gumamnya dengan rawan, “Ya, aku salah … aku salah ….”

Jalannya lantas membungkuk, panggang sukar ditegakkan lagi.

Sio-ang memandangi bayangan punggung orang dengan rasa kasihan dan simpatik.

Ia tahu sang kakek sengaja menyinggung perasaannya, supaya dia sakit, ia pun tahu cara kakeknya ini sangat bermanfaat bagi Li Sun-hoan, cuma dia tidak sampai hati.

“Mendadak Liong Siau-hun pulang, sebab dia sudah mendapatkan seorang pembantu yang dia yakin dapat menghadapi Li Sun-hoan,” ucap si kakek pula.

“Untuk apa dia mencari orang untuk menghadapi diriku? Betapa pun aku tetap memandangnya sebagai sahabatku,” ujar Sun-hoan dengan senyum getir.

“Tapi tidak begitu jalan pikirannya,” kata si kakek. “Apakah kau tahu siapa orang yang didatangkannya itu?”

“Oh Put-kui?” tanya Sun-hoan.

“Betul, memang si gila itu.”

“Apakah si Oh gila itu benar-benar memiliki Kungfu mahalihai?” sela Sio-ang tiba-tiba.

“Di seluruh kolong langit ini, sejauh ini hanya dua orang tetap tak dapat kuraba sampai di mana kelihaian Kungfu mereka,” tutur si kakek.

“Kedua orang yang mana?” tanya Sio-ang.

“Seorang di antaranya ialah Li-tamhoa, seorang ialah Oh si gila,” jawab si kakek sambil memandang Sun-hoan dengan tersenyum.

“Ah, Cianpwe terlampau memuji,” ujar Sun-hoan dengan tertawa. “Setahuku, Kungfu kawanku yang bernama A Fei itu pasti tidak di bawahku, juga Hing Bu-bing itu ….”

“A Fei serupa juga Hing Bu-bing, pada hakikatnya mereka tidak paham ilmu silat,” potong si kakek.

“Cianpwe bilang mereka tidak paham ilmu silat?” Sun-hoan menegas dengan heran.

“Ya, bukan saja mereka tidak paham ilmu silat, bahkan mereka tidak cocok untuk bicara ….” mendadak si kakek mendengus, “Hm, mereka hanya mahir membunuh orang.”

Sun-hoan terdiam sampai lama, katanya kemudian, “Tapi A Fei tetap berbeda daripada Hing Bu-bing.”

“Beda apa?”

“Mungkin cara mereka membunuh orang ada persamaan, tapi tujuan mereka membunuh pasti tidak sama.”

“Oo?” heran juga si kakek.

“Hanya pada saat terpaksa barulah A Fei membunuh orang, tapi Hing Bu-bing memang membunuh orang demi membunuh.”

Si kakek manggut-manggut, “Ya, memang tidak salah ucapanmu, kutahu A Fei adalah sahabatmu, tapi mengapa sama sekali tidak kau perhatikan nasib si A Fei, mengapa tidak kau jenguk dia?”

“Aku ….” Sun-hoan menunduk.

“Jika ingin kau jenguk dia, sekaranglah saat yang baik, kalau tidak, mungkin akan terlambat.”

Mendadak Sun-hoan membusungkan dada dan berucap, “Baik, sekarang juga kupergi mencari dia.”

Baru sekarang sorot mata si kakek menampilkan secercah senyuman, katanya, “Kau tahu tempat tinggalnya?”

“Kutahu,” jawab Sun-hoan.

Tiba-tiba Sio-ang menyusul ke depan katanya dengan sinar mata mencorong, “Mungkin engkau takkan menemukan dia, biarlah kubawa engkau ke sana.”

Belum lagi Sun-hoan bicara pula, mendadak si kakek menarik muka dan berkata, “Kau sendiri masih ada pekerjaan, Li-tamhoa tak memerlukan kau jadi petunjuk jalannya.”

Mulut si nona menjengkit dan menunduk, tampaknya hampir saja menangis.

Sesudah termenung sejenak, akhirnya Sun-hoan memberi salam, katanya, “Baiklah sekarang juga kumohon diri.”

Mestinya banyak yang hendak dibicarakannya, tapi cuma satu kalimat ini saja diucapkannya, sebab ia tahu berhadapan dengan si kakek, apa pun yang dikatakannya hanya berlebihan saja.

Si kakek mengangkat ibu jari dan memuji, “Bagus, sekali bilang pergi segera pergi, inilah sikap tegas seorang lelaki sejati!”

Sun-hoan benar-benar sekali bilang pergi seketika juga berangkat, bahkan menoleh pun tidak.

Sun Sio-ang memandangi kepergiannya dengan mata merah basah.

Perlahan si kakek menepuk bahu sang cucu, ucapnya dengan lembut, “Hatimu sangat sedih bukan?”

Sio-ang tetap memandang ke arah menghilangnya bayangan Li Sun-hoan, jawabnya lirih, “Tidak.”

Si kakek tertawa, tertawa yang welas asih dan penuh kasih sayang, ucapnya sambil menggeleng, “Budak bodoh, memangnya kau kira kakek tidak tahu pikiranmu?”

Dengan mulut menjengkit akhirnya Sio-ang tidak tahan dan berkata, “Jika kakek tahu mengapa tidak boleh kupergi bersama dia?”

“Budak bodoh,” ucap si kakek dengan lembut, “kau tahu, lelaki semacam Li Sun-hoan itu masakah begitu mudah diperoleh?”

“Gemerdep sinar matanya mencerminkan kecerdasannya yang sudah kenyang asam garam kehidupan ini,” dengan tersenyum si kakek menyambung pula, “Bilamana ingin kau dapatkan seorang, perlu lebih dulu kau dapatkan hatinya. Untuk ini memang tidak sederhana, tapi harus berdaya secara perlahan, jika terburu-buru dan terlalu mendesak, bisa jadi dia akan lari ketakutan.”

*****

Meski Li Sun-hoan berangkat pergi begitu saja tanpa menoleh, tapi hatinya seperti tetap terikat oleh seutas benang yang tidak kelihatan, terikat dengan erat.

Ia tahu dengan kepergiannya ini, entah kapan baru dapat bertemu lagi dengan Lim Si-im.

Waktu mau bertemu terasa sulit, ketika harus berpisah juga susah.

Selama belasan tahun ini hanya tiga kali dia bertemu dengan Lim Si-im dan setiap kali hanya bertemu secara terburu-buru, terkadang malahan tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun. Namun begitu benang yang mengikat hatinya itu selalu tergenggam di tangan Lim Si-im, asal dapat melihat dia, bahkan asalkan dapat merasakan Si-im berada di sekitarnya, maka puaslah hatinya.

Angin dingin mendesir menyayat muka, sudah ada tanda musim dingin akan tiba, saat itu memang sudah dekat musim rontok berakhir.

Perasaan Li Sun-hoan juga hampa serupa musim rontok yang hampir lalu ini.

“Beradanya dirimu di sini hanya akan menambah kesusahan dan penderitaannya ….”

Ucapan si kakek ini seakan-akan masih mengiang di tepi telinganya.

Ia pun tahu memang tidak seharusnya dirinya menemui Si-im lagi, malahan seharusnya tidak boleh lagi memikirkannya.

Ia berhenti dan bersandar pada sebatang pohon kering di tepi jalan dan mulai terbatuk-batuk dengan hebat, ketika batuknya mereda, diambilnya keputusan takkan memikirkan lagi hal-hal yang seharusnya tidak boleh dipikirnya.

Untung dia masih dapat memikirkan berbagai urusan lain.

Kakek itu bukan cuma seorang cendekiawan, pasti juga seorang kosen dunia Kangouw, seorang tokoh kelas tinggi, segala persoalan di dunia ini seolah-olah sangat sedikit yang tidak diketahuinya.

Namun siapakah dia, apa kedudukannya, semua ini tetap misterius.

Terhadap Sun bungkuk itu Sun-hoan juga sangat kagum.

Seorang kalau sanggup bersabar hidup dengan mengelap meja dan menyapu selama 15 tahun, apa pun maksud tujuannya, ketekunannya itu tetap pantas dikagumi.

Sesungguhnya demi siapakah dia berbuat demikian? Sesungguhnya apa yang dijaganya?

Mengenai Sun Sio-ang. Dengan sendirinya ia pun tahu isi hati si nona.

Tapi dia tidak dapat menerima, juga tidak berani menerimanya.

Pendek kata, sekeluarga ini sama penuh mengandung misterius ….

*****

Di kaki bukit, dikelilingi hutan, sebuah dusun pegunungan yang sunyi, dari jauh tertampak sehelai panji rumah minum yang terpancang tinggi di atas tiang bambu.

Baru melihat panji tempat minum itu Li Sun-hoan lantas mengiler.

Araknya tidak terlalu keras, tapi cukup jernih, arak yang disuling dengan sumber air gunung.

Sumber air itu mengalir dari belakang gunung, Sun-hoan tahu mengikuti aliran sumber air itu akan sampai di sebuah hutan lebat di belakang gunung, di situ terdapat beberapa rumah papan yang cukup indah. Dan di situlah A Fei dan Lim Sian-ji berdiam.

Teringat kepada wajah A Fei yang tampan dan agak kurus itu serta matanya yang mencorong tajam, sikapnya yang angkuh dan keras, seketika darah Li Sun-hoan terasa bergolak.

Yang sukar membuatnya lupa adalah wajahnya yang sukar menampilkan senyuman itu, juga hatinya yang membara tapi tersembunyi di dalam salju itu.

Kenangan lama, demikianlah perasaan Li Sun-hoan sekarang. Sebelum tiba di sini dia ingin cepat berada di sini, setiba di sini dia justru merasa enggan untuk menemui A Fei.

Ia tidak tahu selama dua tahun ini betapa Lim Sian-ji meladeni anak muda itu.

“Meski dia serupa bidadari kahyangan, tapi suka menyeret kaum lelaki ke neraka.”

Apakah sekarang A Fei telah terjerumus ke dalam neraka?

Sun-hoan tidak berani memikirkannya, ia sangat memahami A Fei, ia tahu orang semacam A Fei itu, demi cinta takkan menyesal hidup di dalam neraka.

Kembali magrib tiba pula.

Di rumah minum kecil itu tidak ada lampu. Maklumlah, minyak lampu tidaklah murah, sedangkan di rumah minum ini tidak ada tamu lain, bisnis yang kurang menguntungkan perlu menghemat, harus bekerja secara efisien.

Sun-hoan berduduk di pojokan yang paling gelap sana. Ini adalah kebiasaannya, sebab berduduk di tempat yang strategis begini, sekali pandang saja ia dapat mengawasi setiap orang yang masuk, sebaliknya orang lain sangat sukar melihat dia.

Tapi sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang pertama yang datang ialah Siangkoan Hui.

Begitu masuk segera Siangkoan Hui berduduk di tempat yang paling dekat dengan pintu, matanya terus-menerus menatap keluar, seperti lagi menunggu orang, tampak rada gelisah dan juga agak tegang.

Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaannya yang selalu bersikap tenang dan pendiam.

Yang ditunggunya seorang yang sangat penting, malahan dia datang sendirian tanpa membawa pengikut, hal ini jelas membuktikan janji pertemuan ini sangat rahasia.

Di pedusunan terpencil begini mengapa ada tokoh yang begitu penting baginya? Siapakah yang ditunggunya? Apakah kedatangannya ini ada sangkut pautnya dengan A Fei dan Lim Sian-ji?

Sun-hoan sengaja menopang dagu sehingga wajahnya hampir tertutup oleh telapak tangannya.

Padahal dia tidak perlu berbuat demikian, sebab Siangkoan Hui takkan melihat dia. Pandangan Siangkoan Hui selalu tertuju keluar, sama sekali tidak melihat ke arah lain.

Cuaca tambah kelam, akhirnya rumah minum kecil ini ada cahaya lampu.

Siangkoan Hui tampak terlebih gopoh, semakin tidak tenang.

Pada saat itulah tiba-tiba datang dua buah tandu kecil dan berhenti di depan warung minum, pemikul tandu adalah anak muda berusia 30-an, semuanya memakai baju dan celana biru yang masih baru, berikat pinggang warna merah sehingga kelihatan gagah dan kereng.

Dari tandu kecil pertama turun seorang nona cilik berbaju merah berusia antara 13-14 tahun, meski belum ada daya pikat terhadap lelaki, tetapi lenggak-lenggoknya cukup menggiurkan.

Baru saja Siangkoan Hui mengangkat cawan araknya, mendadak ditaruhnya kembali.

Sambil mengerling sekelilingnya dengan matanya yang jeli, si nona cilik mendekati Siangkoan Hui dengan langkah yang lemah gemulai, dengan tersenyum manis ia menegur, “Kongcu tentu sudah lama menunggu?!”

Gemerdep sinar mata Siangkoan Hui, jawabnya, “Engkau ini ….”

Kembali si nona cilik mengerling kian kemari, lalu mendesiskan beberapa patah kata.

Serentak Siangkoan Hui berbangkit dan berseru, “Di mana dia? Mengapa dia tidak datang?”

“Jangan gelisah Kongcu, ikutlah padaku,” ujar si nona cilik dengan tertawa.

Sun-hoan menyaksikan Siangkoan Hui melangkah keluar dan naik ke tandu kedua, menyaksikan para penggotong tandu mengangkat tandu, dan di sinilah dilihatnya sesuatu keganjilan.

Para kuli penggotong tandu itu masih muda dan kuat, gerak-geriknya gesit dan cekatan, penggotong tandu pertama tampak tanpa makan tenaga dan tandu terus diangkat begitu saja. Sebaliknya pada tandu kedua terlihat para penggotongnya merasa kepayahan.

Padahal para kuli penggotong tandu itu sama muda dan sama kuatnya, tandunya juga sama, tubuh Siangkoan Hui juga tidak begitu besar, mengapa tandu kedua yang ditumpanginya bisa jauh lebih berat daripada tandu pertama?

Cepat Sun-hoan membayar uang minum dan meninggalkan warung minum itu.

Sebenarnya dia tidak suka ikut campur urusan orang lain, juga tidak suka mencari tahu rahasia orang, tapi sekarang ia memutuskan akan menguntit Siangkoan Hui, ingin tahu siapa yang berjanji bertemu dengan dia? Sebab dirasakannya kedatangan Siangkoan Hui ke sini sedikitnya pasti sangkut pautnya dengan A Fei.

Urusan orang lain boleh tidak digubrisnya, tapi urusan A Fei mau tak mau harus diurusnya.

Jalan utama pada pedusunan ini hanya satu, yaitu dimulai jalan simpang dari jalan raya, melalui sebuah toko kelontong kecil, sebuah warung beras, sebuah warung minum dan tujuh atau delapan keluarga penduduk terus melingkar masuk ke sebuah hutan trembesi.

Ke dalam hutan trembesi itulah tandu itu menuju.

Cara berjalan penggotong tandu di depan sangat ringan, langkahnya juga cepat, tapi penggotong tandu yang belakang tampak bermandi keringat, sebab tandu yang digotong mereka bukan saja berat, juga terus-menerus bergerak.

Mendadak dari dalam tandu kedua itu bergema suara orang tertawa. Suara tertawa yang merdu dan genit, bahkan membawa suara napas yang agak terengah. Siapa pun, asalkan lelaki, bila mendengar suara tertawa demikian pasti akan tertarik.

Hanya perempuan yang genit dan menggiurkan saja dapat mengeluarkan suara tertawa demikian.

Padahal yang duduk di dalam tandu itu jelas-jelas Siangkoan Hui adanya, masakah dia sudah berubah menjadi perempuan?

Selang sejenak, kembali tersiar suara genit yang menggetar sukma, “Jangan, Hui cilik … jangan begini … tidak boleh di sini ….”

Lalu terdengar suara Siangkoan Hui dengan napas terengah, “Sungguh aku tidak tahan lagi, aku … aku tidak sanggup menunggu, kau tahu betapa kurindukan dirimu?”

“Kiranya kau pun serupa lelaki lain, merindukan diriku adalah karena ingin menganiaya diriku.”

“Betul juga ucapanmu, aku justru ingin menganiaya dirimu, sebab kutahu kau suka dianiaya lelaki, betul tidak … betul ….”

Sengal napas bertambah keras, tapi suara ucapannya tambah rendah, “Ya, ya, boleh … boleh kau aniaya diriku ….”

Makin lirih dan makin sayup suaranya hingga akhirnya tak terdengar lagi.

Tandu mulai menanjak ke lereng bukit.

Sun-hoan bersandar di balik pohon trembesi dan lagi batuk perlahan. Baru diketahuinya bawa penumpang tandu kedua itu kiranya ada dua orang. Dari satu di antaranya dengan sendirinya ialah Siangkoan Hui. Lantas siapakah perempuan yang menunggunya di dalam tandu itu?

Suara tertawanya yang nyaring merdu, ucapannya yang menggetar kalbu, Sun-hoan sudah sangat mengenalnya. Mesti banyak perempuan genit di dunia ini, tapi kegenitan yang cepat merangsang hati kaum lelaki tidaklah banyak.

Sungguh dengan mudah Sun-hoan dapat menyebutkan nama perempuan itu. Tapi dia tidak berani menyebutnya, sebab dia belum berani memastikannya.

Terhadap urusan apa pun Sun-hoan tidak mau sembarangan menjatuhkan kepastiannya, sebab ia tidak ingin mengalami kesalahan lagi, baginya, salah satu kali sudah terlampau banyak.

Kesalahan satu kali bukan saja telah membikin susah hidupnya sendiri, bahkan juga telah membikin merana hidup orang lain.

Di atas bukit, di tengah hutan trembesi sana ada sebuah villa kecil. Di depan villa itulah tandu itu berhenti, kuli tandu bagian belakang sedang mengusap keringat, sedangkan si nona cilik sudah keluar dari tandu bagian depan dan menaiki tangga serta mengetuk pintu.

“Tok … tok-tok ….” hanya tiga kali dia mengetuk dan pintu lantas terbuka.

Baru sekarang dari tandu kedua melangkah keluar satu orang. Seorang perempuan.

Sun-hoan tidak dapat melihat mukanya, hanya tampak baju dan rambutnya agak kusut, potongan tubuhnya sangat menggiurkan, gaya jalannya terlebih memesona.

Gaya jalan perempuan itu dirasakan Sun-hoan juga sudah dikenalnya dengan baik.

Sebelum si dia masuk ke villa itu, dia menoleh dan melambaikan tangan kepada Siangkoan Hui yang baru keluar dari tandu, lalu menyelinap ke balik pintu.

Sun-hoan cuma dapat melihat sebagian mukanya, sekali ini dapatlah Sun-hoan memastikan siapa dia. Perempuan ini memang betul Lim Sian-ji adanya.

Jika Lim Sian-ji berada di sini, lalu di manakah A Fei?

Sungguh Sun-hoan ingin memburu ke sana untuk tanya kepadanya, tapi dia dapat menahan perasaan sendiri, sebab ia tidak sudi melihat apa yang akan dilakukan antara Lim Sian-ji dengan Siangkoan Hui itu. Ia muak.

Meski dia sendiri bukan seorang Kuncu, bukan seorang gentleman, tapi apa yang dilakukannya takkan dilakukan oleh kebanyakan Kuncu, bahkan juga tidak sudi dan tak mampu dilakukannya. Maklumlah, sebab di dunia ini cuma ada seorang Li Sun-hoan, tidak ada sebelum ini, juga mungkin tidak ada untuk selanjutnya.

Lantaran itulah meski ada sementara orang berharap Li Sun-hoan lekas mati, tapi juga ada sebagian orang rela mengorbankan segalanya asalkan dia tetap hidup.

*****

Malam tambah larut, dan Li Sun-hoan masih terus menunggu.

Seorang kalau sedang menunggu selalu akan terkenang kepada macam-macam urusan.

Teringat olehnya waktu pertama kali bertemu dengan A Fei ….

Pemuda itu sedang berjalan sendirian di tanah bersalju melulu, tampak menyendiri dan kesepian, kelihatan lelah, tapi dia lebih suka menyendiri, lelah dan lapar daripada menerima berkah seseorang.

Waktu itu Li Sun-hoan tidak kesepian, sebab dia didampingi Thi Toan-kah.

Teringat kepada Thi Toan-kah, ia jadi terbayang kepada wajahnya yang berewok dan tubuhnya yang kekar bagai gemblengan baja.

Cuma sayang, meski tubuhnya sekeras baja, namun hatinya justru lunak dan mudah terpengaruh, sebab itulah hidupnya juga selalu lebih banyak sedih daripada gembiranya.

Pikir punya pikir, mendadak Li Sun-hoan jadi ingin minum arak. Untung padanya selalu terbawa sebuah botol arak buatan perak dan berbentuk pipih. Dikeluarkannya botol arak perak itu dan ditenggaknya habis sisa araknya.

Lalu dia mulai terbatuk lagi.

Selama dua tahun ini batuknya sudah banyak berkurang, tapi bilamana mulai batuk lagi lantas sukar berhenti. Dengan sendirinya ia tahu gejala ini tidaklah sehat.

Akan tetapi dia tidak sedih. Selamanya dia tidak mau sedih bagi dirinya sendiri.

Pada saat itulah pintu villa terbuka lagi. Siangkoan Hui melangkah keluar. Di bawah cahaya lampu yang menyorot dari dalam, Siangkoan Hui kelihatan lebih riang daripada biasanya, cuma kelihatan agak letih.

Dari balik pintu terjulur keluar sebuah tangan menarik tangan Siangkoan Hui. Terdengar sayup-sayup bisikan asmara yang menggetar sukma, tampaknya si dia lagi memberi pesan agar selekasnya berjumpa pula.

Sampai sekian lamanya barulah tangan itu mengendurkan pegangannya, sampai sekian lama pula barulah Siangkoan Hui meninggalkan villa itu. Dia melangkah dengan perlahan dan berulang-ulang menoleh, jelas merasa berat untuk tinggal pergi. Padahal waktu itu pintu villa sudah tertutup kembali.

Siangkoan Hui memandang langit dan menarik napas panjang, mendadak ia percepat langkahnya, gerak-geriknya kelihatan agak linglung, terkadang tersenyum dan sering juga menghela napas.

“Apakah dia juga telah terseret ke neraka?”

Cahaya lampu di balik jendela villa itu kelihatan lembut dan berwarna jambon.

Akhirnya Siangkoan Hui telah pergi. Tiba-tiba Sun-hoan merasa pemuda ini harus dikasihani.

Banyak di dunia ini pemuda pintar dan tinggi hati, tapi mereka justru sangat gampang ditipu oleh orang perempuan dan dipermainkannya.

Sun-hoan menghela napas panjang, dengan langkah lebar ia menuju ke villa itu.

Villa itu terbuat dari kayu yang dibangun di pinggang bukit, bagian samping ada sebuah tangga sempit, kelihatan indah dan artistik.

Sun-hoan mengetuk pintu, “Tok … tok-tok”, ia pun menirukan cara mengetuk pintu si nona cilik tadi.

Benar juga, sejenak kemudian pintu lantas terbuka sedikit, seorang menegur, “Kau ….”

Baru satu kata terucap lantas dilihatnya siapa yang mengetuk pintu, maka cepat pintu segera hendak dirapatkan lagi. Namun Sun-hoan lantas menolak pintu dan masuk ke situ.

Yang membukakan pintu ternyata bukan Lim Sian-ji, juga bukan si nona cilik berbaju merah, melainkan seorang nenek berambut putih dan muka berkeriput.

Dengan tercengang ia pandang Li Sun-hoan dan bertanya dengan suara gemetar, “Sia … siapa engkau? Untuk apa datang kemari?”

“Kudatang mencari seorang sahabat lama,” jawab Sun-hoan.

“Sahabat lama? Siapa sahabat lamamu?” tanya si nenek.

Sun-hoan tertawa, “Bila dia melihatku pasti akan kenal.”

Sembari bicara ia terus melangkah ke dalam.

Mestinya nenek itu ingin merintanginya, tapi tidak berani, ia hanya berteriak, “Di sini tidak ada sahabatmu segala, yang ada di sini cuma diriku dan cucu perempuanku.”

Namun Li Sun-hoan masih tetap melangkah ke dalam, apa pun yang dikatakan si nenek dianggapnya seperti tidak mendengar.

Villa itu seluruhnya ada tiga ruangan, sebuah ruangan tamu, sebuah ruang makan dan sebuah lagi kamar tidur, semuanya terpajang indah sekali. Tapi di dalam ketiga ruangan tidak terlihat bayangan Lim Sian-ji.

Si nona cilik berbaju merah terdapat di situ, tampaknya dia sangat takut, mukanya pucat dan tubuh gemetar, ia sembunyi dalam pelukan si nenek dan melototi Li Sun-hoan, ucapnya dengan gemetar, “Nenek, apakah … apakah orang ini bandit?”

Agaknya si nenek juga ketakutan sehingga tidak sanggup bicara lagi.

Meski sering dipandang orang sebagai petualang, lelaki mata keranjang, bahkan disangka orang sebagai pembunuh, tapi belum pernah Sun-hoan disangka orang sebagai bandit.

Keruan ia serbarunyam, tanyanya dengan tersenyum, “Apakah kau lihat aku mirip bandit?”

“Jika bukan bandit, mengapa tengah malam buta menerobos ke rumah orang?” ucap nona kecil dengan menggigit bibir.

“Kudatang mencari nona Lim,” kata Sun-hoan.

Agaknya si nona cilik merasa sikap Sun-hoan cukup ramah sehingga tidak merasa takut lagi, dengan berkedip ia berkata, “Di sini tidak ada nona Lim, yang ada cuma nona Ciu.”

Sun-hoan melenggong, jangan-jangan Lim Sian-ji memakai nama samaran, segera ia menegas, “Di mana nona Ciu itu?”

Nona cilik itu menuding hidungnya sendiri dan menjawab, “Aku she Ciu, nona Ciu ialah diriku.”

Sun-hoan tertawa. Mendadak ia merasa dirinya seperti seorang tolol.

Tampaknya nona cilik itu juga merasa heran, dengan tersenyum ia tanya, “Rasanya aku tidak kenal engkau, ada apa engkau mencariku?”

“Yang kucari adalah seorang nona besar dan bukan nona cilik,” ujar Sun-hoan.

“Di sini tidak ada nona besar,” nona cilik itu menggeleng.

“Baru saja tidak ada orang datang kemari?”

“Ada ….”

“Siapa?” tanya Sun-hoan cepat.

“Aku dan nenekku, kami baru saja pulang dari kota,” jawab si nona cilik dengan mengerling. “Di sini cuma ada dua orang, yang kecil ialah diriku, yang besar adalah nenekku, tapi sudah lama beliau bukan lagi nona, tentunya bukan dia yang kau cari.”

Kembali Sun-hoan tertawa atau lebih tepat dikatakan menyengir.

“Kecuali kami berdua, tiada orang lain lagi yang datang kemari, juga tidak ada orang yang keluar, bila ada orang lain yang kau lihat, tentu yang terlihat ialah setan.”

Sun-hoan memang tidak melihat ada orang keluar. Tapi jelas-jelas dilihatnya Lim Sian-ji masuk ke sini.

Apakah dia benar-benar telah melihat setan?

Masakah perempuan yang keluar dari tandu tadi ialah nenek ini?

Mendadak si nenek berlutut dan berseru, “O, kasihanilah kami nenek dan cucu, kami tidak mempunyai sesuatu barang berharga, tapi jika ada yang dipenujui Tuan, silakan ambil saja.”

“Baik,” jawab Sun-hoan.

Karena di atas meja ada sebotol arak, maka botol arak itulah lantas diambilnya, ia terus melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Terdengar nona cilik tadi lagi menertawakan dia, “Hihi, kiranya orang ini bukan bandit melainkan seorang setan arak saja.”

*****

Bulan masih menghiasi cakrawala. Di bawah cahaya rembulan air sumber yang mengalir itu kelihatan gemerdep serupa tali perak.

Dengan membawa sebotol arak yang isinya masih tersisa setengah botol itu, Li Sun-hoan berjalan menyusuri tepi sumber air yang mengalir di tengah malam sunyi dan menerbitkan suara gemercik perlahan serupa irama musik itu, ia melangkah dengan perlahan, ia tidak tergesa, ia tidak ingin tiba di tempat tinggal A Fei pada waktu orang masih tidur, ia tidak suka mengganggu kenyenyakan tidur mereka.

Selamanya Li Sun-hoan tidak suka mengganggu ketenangan orang, tapi siapa pun juga dan kapan pun boleh mengganggunya dan pasti tidak menjadi soal.

Nenek itu memang betul seorang nenek, jelas bukan samaran Lim Sian-ji. Lantas ke manakah perginya Lim Sian-ji?

Sun-hoan mengucek-ngucek mata sendiri sambil bergumam, “Apa barangkali mataku sudah mulai kabur?”

Rembulan sudah terbenam, bintang sudah jarang, ufuk timur sudah mulai remang, akhirnya hari pun terang. Musim rontok sudah hampir berakhir, musim dingin sudah dekat, bunga Bwe sudah mulai mekar.

Mendadak Li Sun-hoan mencium bau harum bunga semerbak, waktu ia angkat kepala, hutan Bwe sudah terlihat di depan. Di tengah hutan itu samar-samar sudah kelihatan ujung bangunan rumah.

Menghadapi hutan Bwe, Li Sun-hoan berubah seperti orang linglung lagi.

Hutan Bwe di depan kelihatan semarak, tapi mana ada bunga Bwe di dunia ini terlebih indah daripada bunga Bwe yang mekar di taman kediamannya sendiri?

Di samping hutan Bwe itu pun merupakan ujung dari sumber air. Terlihat air terjun memancarkan airnya dari pinggang bukit menghiasi hutan Bwe ini sehingga serupa sebuah lukisan.

Dan di dalam lukisan ternyata ada seorang.

Sun-hoan tidak dapat melihat wajah orang ini, hanya kelihatan dia memakai baju dan celana hijau yang bersih dan masih baru, rambut jaga tersisir rapi, orang itu menjinjing seember air, menyusur hutan Bwe dan masuk ke rumah papan itu.

Meski perawakan orang ini mirip A Fei, tapi Sun-hoan tahu dia pasti bukan A Fei, sebab bentuk A Fei tidak serapi itu. Lantas siapakah dia?

Tak teringat olehnya siapakah yang bertempat tinggal bersama A Fei? Cepat ia memburu ke sana.

Pintu rumah terbuka, di dalam rumah tidak ada perabotan yang mewah, tapi terawat dengan bersih, teratur dengan apik.

Pada pojok rumah sana ada sebuah meja besar, pemuda yang berbaju baru itu sedang memeras kain lap dari ember dan mulai membersihkan meja.

Caranya mengelap meja terlebih perlahan daripada Sun bungkuk, juga lebih cermat, tampaknya bila di atas meja sampai tersisa setitik kotoran, maka dia akan malu besar.

Perlahan Sun-hoan mendekat dari belakang, ia merasa bayangan punggungnya serupa benar dengan A Fei. Tapi orang ini pasti bukan A Fei, sebab A Fei takkan mengelap meja.

Jika orang ini tinggal di sini, dengan sendirinya dia kenal A Fei, atau sedikitnya dia tahu A Fei berada di mana.

Sun-hoan sengaja berdehem perlahan dengan harapan orang akan berpaling, supaya dia dapat minta keterangan padanya.

Reaksi orang ini tidak cepat, namun berpaling juga dengan perlahan.

Seketika Li Sun-hoan melenggong. Orang yang disangkanya pasti bukan A Fei ternyata A Fei adanya.

Wajah A Fei tidak berubah, matanya masih besar, hidungnya tetap mancung, tampaknya tetap ganteng, bahkan lebih tampan daripada dulu. Cuma sikapnya sudah berubah, berubah banyak.

Matanya sudah kehilangan daya tariknya, air mukanya yang keras dan angkuh itu juga sudah lenyap, sudah berubah menjadi ramah, bahkan agak kaku. Masakah ini A Fei sesungguhnya?

Inikah pemuda yang dahulu suka berjalan sendiri di tanah bersalju dan tidak suka menerima bantuan siapa pun? Benarkah dia pemuda dengan pedang secepat kilat yang pernah merontokkan nyali lawan-lawannya itu?

Sungguh sukar dibayangkan bahwa pemuda berbaju baru dan sedang mengelap meja ini ialah A Fei yang pernah dikenalnya dahulu itu?

Dengan sendirinya sekarang A Fei juga dapat mengenali Li Sun-hoan. Semula dia kelihatan melenggong, seperti sangat di luar dugaan, kemudian baru menampilkan secercah senyuman. Syukurlah senyumnya masih tetap menarik seperti dulu.

Sun-hoan juga tersenyum, namun dalam hati terasa getir.

Dan begitulah kedua orang berdiri berhadapan, saling pandang dan tersenyum, siapa pun tidak bergeser, juga tidak bicara, namun mata kedua orang mulai basah, mulai merah.

Entah berselang berapa lama barulah A Fei berucap perlahan, “Engkau ….”

“Ya, aku,” kata Sun-hoan.

“Engkau toh datang juga.”

“Ya, aku toh datang juga.”

“Kutahu engkau pasti akan datang.”

“Ya, aku pasti akan datang.”

Mereka bicara dengan sangat lambat, sebab suara mereka agak tersendat, sampai di sini keduanya lantas tutup mulut pula, seperti tiada sesuatu yang dapat dibicarakan lagi.

Pada saat yang sama, mendadak keduanya sama memburu maju, saling menggenggam tangan masing-masing dengan erat.

Sampai lama sekali barulah Li Sun-hoan menghela napas panjang, sedapatnya ia menahan gejolak perasaan sendiri dan berucap, “Baik-baikkah selama dua tahun ini?”

“Baik … baik sekali,” perlahan A Fei mengangguk. “Dan engkau?”

“Aku? …. Aku tetap sama saja,” ujar Sun-hoan. Ia perlihatkan botol arak yang dibawanya dan berkata pula dengan tertawa, “Coba lihat, aku tetap minum arak, sampai penyakit suka batuk seakan-akan hilang terguyur arak, engkau ….”

Belum habis ucapannya mendadak ia terbatuk-batuk lagi.

A Fei memandangnya dengan tenang, air matanya seperti mau menitik.

Mendadak seorang berseru, “Ai, coba, Li-toako datang kemari, tidak lekas kau silakan dia duduk, tapi cuma berdiri saja ….”

Suaranya merdu dan simpatik. Akhirnya Lim Sian-ji muncul juga.

Lim Sian-ji sama sekali tidak mengalami perubahan. Dia masih tetap muda, tetap cantik. Waktu tertawa tetap cerah dan menarik, matanya tetap bersinar, mencorong terang seperti kedip bintang di langit.

Jika ada yang bilang dia telah berubah, maka perubahannya adalah karena dia terlebih masak daripada dulu, terlebih gemilang dan terlebih penuh daya pikat.

Dia berdiri di situ dan memandangi Li Sun-hoan dengan lembut, ucapnya, “Sudah hampir dua tahun, selama ini Li-toako tidak pernah datang menjenguk kami, barangkali sudah melupakan kami?”

Siapa pun kalau mendengar ucapan ini pasti yakin Li Sun-hoan sudah mengetahui tempat tinggal mereka dan selama ini tidak mau datang menjenguk mereka.

Sun-hoan tertawa, jawabnya perlahan, “Tidak kau papak dengan tandu, cara bagaimana dapat kudatang kemari?”

Lim Sian-ji berkedip-kedip, “Hah, bicara tentang tandu, sungguh aku pun ingin coba menumpang satu kali, ingin kutahu bagaimana rasanya.”

Gemerdep sinar mata Li Sun-hoan, “Engkau tidak pernah menumpang tandu?”

Sian-ji menunduk, ucapnya dengan hampa, “Orang semacam diriku masakah berhak menumpang tandu?”

“Tapi di kota semalam kulihat seorang menumpang tandu, tampaknya sangat mirip dirimu,” sembari bicara tanpa berkedip Sun-hoan menatap Sian-ji.

Ternyata tiada terlihat kegugupan sedikit pun pada wajah Lim Sian-ji, sebaliknya ia tertawa dan berkata, “Ah, tentu aku keluar dalam mimpi, betul tidak?”

Pertanyaannya itu ditujukan kepada A Fei.

Segera A Fei menjawab, “Ya, setiap malam dia selalu tidur dengan sangat dini dan tidak pernah keluar rumah.”

Sun-hoan jadi melongo. Ia tahu A Fei pasti tidak berdusta. Tapi jika benar Lim Sian-ji tidak pernah keluar rumah, siapakah perempuan yang keluar dari tandu itu semalam?

Sian-ji telah mendekati A Fei, membetulkan bajunya yang agak kusut, dengan suara lembut ia bertanya, “Apakah tidurmu sangat nyenyak semalam?”

A Fei mengangguk.

“Jika begitu, bawalah Li-toako berjalan-jalan keluar, akan kubuatkan beberapa macam santapan sekadar menjamu kedatangan Li-toako,” kata Sian-ji pula. Ia melirik Sun-hoan sekejap, lalu menyambung dengan tersenyum manis, “Bunga Bwe di luar sudah hampir mekar, kutahu Li-toako paling suka kepada bunga Bwe, betul tidak?”

*****

Gaya berjalan A Fei tampaknya sudah berubah.

Dahulu, bilamana dia berjalan tubuhnya selalu tegak, setiap langkahnya mempunyai jarak tertentu, otot dagingnya sama sekali mengendur. Bila berjalan bagi orang lain adalah semacam olah raga, bagi A Fei justru semacam istirahat.

Tapi sekarang cara berjalan A Fei tidak tegak lagi seperti dahulu, tampaknya rada bimbang, seperti menanggung semacam perasaan, serupa juga agak tegang. Jelas dia tidak dapat lagi membuat santai tubuhnya.

Mereka berjalan sekian jauh dan tetap tidak bicara, sebab Sun-hoan tidak tahu apa yang harus dibicarakan.

Mestinya dia ingin tanya sebab apa A Fei mengasingkan diri ke tempat ini? Apakah Lim Sian-ji sudah mengaku dosa? Kekayaan yang berhasil dikumpulkannya dari kejahatannya apakah telah dikembalikan kepada yang empunya? Namun Sun-hoan tidak bertanya.

Nyata dia tidak suka menyinggung perasaan A Fei.

Setelah berjalan sekian jauhnya lagi, tiba-tiba A Fei menghela napas panjang dan berkata, “Maaf, aku bersalah padamu.”

Sun-hoan juga menghela napas, “Demi menyelamatkan diriku, engkau tidak sayang mengaku sebagai Bwe-hoa-cat, bahkan jiwa sendiri pun tidak kau pikirkan, jika tindakanmu ini kau anggap bersalah padaku, sungguh aku justru berharap segenap manusia di dunia ini sama berbuat salah padaku.”

A Fei seperti tidak mendengar ucapannya, perlahan ia menyambung lagi, “Pada waktu kupergi, seharusnya kuberi tahukan padamu.”

“Kutahu engkau tentu ada kesulitan, aku tidak menyesali dirimu,” ujar Sun-hoan.

“Aku pun tahu tidak pantas aku bertindak demikian, namun apa pun juga aku tidak sampai hati turun tangan padanya, sungguh aku … aku tidak dapat meninggalkan dia.”

“Adalah sesuatu yang jamak seorang lelaki mencintai seorang perempuan, engkau tidak salah, mengapa engkau menyalahkan dirimu sendiri?” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

“Tapi … tapi ….” mendadak bergolak emosi A Fei, serunya, “aku bersalah padamu, juga berdosa terhadap orang yang dicelakai Bwe-hoa-cat itu.”

Sun-hoan termenung sejenak, lalu coba bertanya, “Tapi dia sudah memperbaiki kesalahannya, bukan?”

“Pada waktu kami berangkat, memang harta benda yang dikumpulkannya telah dibagi kembali kepada yang mempunyai.”

“Jika demikian, apa pula yang kau risaukan?” Sun-hoan tidak ingin A Fei memikirkan urusan ini lagi, mendadak ia menengadah dan berkata dengan tertawa, “Lihatlah, bunga Bwe di sini mekar.”

“Ehm,” A Fei mengangguk.

“Kau tahu ada berapa bunga yang mekar di pohon ini?”

“Tujuh belas.”

Hati Li Sun-hoan kembali tenggelam, lenyaplah senyumnya. Sebab bunga Bwe ini sudah dihitungnya dan memang benar 17 kuntum, ia dapat memahami bilamana seorang cuka menghitung bunga, maka dapat dibayangkan betapa hampa hati orang ini.

*****

Rumah A Fei ini seluruhnya ada lima ruangan, sebuah ruang tamu, sebuah gudang, di belakang adalah dapur dan kakus, sisa dua ruang yang lain terdapat tempat tidur. Kamar tidur yang agak lebih besar bahkan ada meja rias dengan perabotan yang lebih lengkap.

“Sian-ji tidur di sini,” kata A Fei.

Kamar lain yang lebih kecil juga teratur rajin dan bersih. “Dan inilah kamar tidurku,” sambung anak muda itu.

Sun-hoan melenggong. Baru sekarang diketahuinya selama ini A Fei dan Sian-ji tidur terpisah, padahal kedua muda-mudi sudah hidup bersama selama dua tahun, A Fei juga pemuda yang sehat dan kuat.

Hal ini sangat di luar dugaan Li Sun-hoan, juga sangat dikaguminya.

Tiba-tiba terunjuk senyuman pada wajah A Fei, katanya, “Tentu kau heran bila kau tahu betapa dini kupergi tidur selama dua tahun ini.”

“Oo?” heran juga Sun-hoan.

“Bila hari sudah gelap, segera kupergi tidur, dan begitu kepalaku menempel bantal, dengan cepat kupulas. Tidur sampai pagi dan tidak pernah terjaga bangun di tengah malam,” tutur A Fei.

Sun-hoan termenung sejenak, katanya kemudian, “Kehidupan yang tenteram dan teratur dengan sendirinya menjadikan tidurmu enak.”

“Selama dua tahun ini hidupku memang terasa tenteram,” ujar A Fei. “Selama ini belum pernah kuhidup setenang ini. Dia … dia memang sangat baik padaku.”

“Aku sangat senang mendengar keteranganmu ini, sangat senang ….”

Dengan sendirinya Sun-hoan tidak ingin diketahui A Fei bahwa tertawanya tidak wajar, maka pada waktu bicara ia lantas berpaling ke arah lain, mendadak ia bertanya, “Di manakah pedangmu?”

“Aku tidak menggunakan pedang lagi,” jawab A Fei.

Baru sekarang Sun-hoan benar-benar terperanjat, serunya, “Engkau tidak menggunakan pedang lagi? Sebab apa?”

“Pedang adalah senjata ganas, hanya selalu mengingatkan padaku kejadian masa lampau,” tutur A Fei.

“Apakah hal ini juga lantaran bujukannya?”

“Dia sendiri juga melepaskan segalanya, kami sama-sama ingin melupakan segala apa yang telah lalu dan ingin bekerja mulai awal.”

Sun-hoan mengangguk-angguk, ucapnya perlahan, “Bagus, bagus, bagus ….”

Dia seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi pada saat itu terdengarlah suara Lim Sian-ji, “Hidangan sudah siap, tuan-tuan disilakan makan!”

Tidak banyak macam hidangannya, tapi cukup bagus. Bahwa Lim Sian-ji mahir mengolah santapan seenak ini juga sesuatu yang tak terduga.

Kecuali santapan, di atas meja juga ada cawan arak, tapi isinya bukan arak melainkan air teh.

“Di pegunungan sunyi, secara mendadak sukar menyuguhkan arak, terpaksa memakai teh sebagai arak,” ujar Sian-ji dengan tertawa.

“Untung kubawa sendiri setengah botol arak ….” sambil bicara Sun-hoan mengerling sekitarnya dan menemukan botol araknya yang tertaruh di pojok sana, lebih dulu ia minum habis teh pada cawannya, lalu berkata kepada A Fei, “Mari, lekas kau pun minum tehmu, akan kutuangkan arak bagimu.”

A Fei diam saja. Sedangkan Lim Sian-ji tersenyum manis.

“Sekarang aku pantang minum arak,” kata A Fei tiba-tiba.

Kembali Sun-hoan terkejut. “Hah, kau pantang arak? Sebab apa?”

Tiada tampak sesuatu perasaan pada wajah A Fei.

Dengan tersenyum Sian-ji bicara, “Minum arak terlalu banyak tentu akan mengganggu kesehatan, betul tidak Li-toako?”

Sun-hoan termenung, sekian lamanya barulah ia menjawab dengan tertawa, “Betul, banyak minum arak akan berubah semacam diriku ini. Bilamana boleh mundur lagi dua puluh atau belasan tahun, pasti juga aku tidak mau minum arak.”

A Fei menunduk dan mulai makan nasi.

*****

Hidangan malam lebih baik lagi daripada makan siang. Lalu hari pun gelap.

Sun-hoan tidur di kamar A Fei dan A Fei tidur di ruang tamu.

Sian-ji sendiri mengatur tempat tidur mereka, ditaruhnya seperangkat baju di ujung tempat tidur, ia membawakan air cuci muka bagi A Fei, meladeninya cuci muka, malahan dia yang mengambilkan handuk untuk membersihkan muka A Fei.

Setelah A Fei berbaring, Sian-ji menyelimutinya pula. “Malam dingin, hati-hati Fei cilik, jangan sampai masuk angin,” demikian pesannya seperti kepada anak kecil.

Dia meladeni A Fei dengan cermat, seorang ibu pun belum tentu serajin ini merawat anaknya. Seharusnya A Fei terhitung beruntung.

Tapi entah mengapa, Sun-hoan merasa kurang paham, ia tidak tahu kehidupan A Fei ini sesungguhnya beruntung atau tersiksa?

Lebih-lebih ketika Sian-ji memanggil “Fei cilik” dengan lembut, tanpa terasa Sun-hoan lantas teringat kepada suara yang didengarnya dari tandu semalam, “Jangan … jangan begini, Hui cilik … jangan di sini ….”

Lafal antara Fei dan Hui memang hampir sama, kecuali mereka berdua, entah masih ada Fei atau Hui mana lagi?

Sun-hoan sendiri tidak tahu apakah merasa geli atau duka.

Suara orang mendengkur di luar sudah bergema, benar juga begitu menempel bantal A Fei lantas terpulas.

Kamar Lim Sian-ji juga sunyi, agaknya juga sudah tidur.

Perlahan Sun-hoan bangun dan memakai baju, lalu keluar. Banyak urusan ingin dibicarakannya dengan A Fei. Tapi anak muda itu tidur dengan sangat lelap, didorong pun tak mau bangun, seumpama babi juga takkan tidur selelap ini, apalagi A Fei yang biasanya selalu waspada.

Sun-hoan berdiri di depan tempat tidur A Fei dan termenung, perlahan air mukanya mengunjuk rasa gusar.

“Setiap hari dia selalu tidur dengan sangat dini dan tidak pernah keluar!”

“Begitu malam tiba aku lantas tidur, sekali pulas sampai pagi, tidak pernah terjaga bangun.”

Sun-hoan ingat malam ini ada hidangan Pay-kut-teng (kuah masak tulang iga), rasanya cukup lezat, banyak A Fei minum kuah itu, Lim Sian-ji juga membujuk supaya Sun-hoan minum kuah itu.

Sun-hoan tidak sampai hati menolak maksud baik orang. Namun pada waktu Sian-ji menambah nasi ke dapur, kesempatan itu telah digunakannya memberikan semangkuk kuah bakut itu kepada A Fei. Ia ingat, ketika Sian-ji melihat mangkuknya sudah kosong, nona itu tertawa senang.

Memangnya di dalam kuah itu telah ditaruh obat bius? Pantas setiap hari A Fei selalu tidur dengan lelapnya. Jika A Fei tidur nyenyak, apa pun yang dilakukan Sian-ji tentu takkan diketahuinya.

Tapi mengapa dia tidak sekalian menaruh racun saja di dalam makanan? Ya, tentu lantaran A Fei masih ada harganya untuk diperalat.

Seketika terpancar rasa gusar dari mata Sun-hoan, ia membalik tubuh dan menggedor pintu kamar Lim Sian-ji. Namun tidak ada jawaban, tidak ada reaksi.

Selama hidup Sun-hoan belum pernah mendobrak pintu kamar orang dan menerjang masuk begitu saja. Tapi sekali ini harus dikecualikan.

Ternyata benar tidak ada orang di dalam kamar. Ke mana perginya Lim Sian-ji? Tanpa pikir Sun-hoan lantas berlari keluar.

Cahaya lampu di villa itu tampak indah.

Ketika dari villa ini menuju ke rumah papan tempat tinggal A Fei hampir makan waktu satu malam, tapi sekali ini dari sana ke sini Sun-hoan hanya memerlukan waktu satu jam saja.

Dia yakin Sian-ji pasti berada di villa ini. Selagi dia menimbang apakah akan menerjang masuk begitu saja, sekonyong-konyong pintu villa terbuka.

Seorang keluar perlahan, tampaknya juga serupa Siangkoan Hui, meski kelihatan sangat gembira, tapi jelas rada letih.

Dari cahaya lampu yang menyorot keluar dari balik pintu kelihatan dia memakai baju hitam yang singsat, sinar matanya gemerdep.

Mestinya Li Sun-hoan bukan orang yang mudah terkejut, tapi begitu melihat orang ini ia lantas kaget.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: