Pendekar Budiman: Bagian 16

Pendekar Budiman: Bagian 16
Oleh Gu Long

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa orang yang keluar dari vila ini ialah Kwe Ko-yang.

Terlihat dari balik pintu terjulur sebuah tangan yang putih menarik tangan Kwe Ko-yang dan terdengar bisik-bisik yang mesra, seperti lagi memberi pesan dan berharap semoga berjumpa pula.

Selang sekian lama barulah tangan itu melepaskan pegangannya dan sekian lama lagi baru Kwe Ko-yang turun dari tangga. Dia berjalan dengan sangat perlahan dan terkadang masih menoleh, jelas merasa sangat berat untuk berpisah.

Namun pintu vila itu lantas tertutup ….

Semua ini serupa benar pada waktu Siangkoan Hui keluar dari vila ini, kecuali Siangkoan Hui dan Kwe Ko-yang, masih berapa banyak lagi orang lain yang pernah keluar masuk vila ini?

Sesungguhnya vila ini surga atau neraka?

Li Sun-hoan merasa sangat berduka, tapi juga murka. Dia berduka bagi A Fei, juga murka bagi A Fei. Dia tidak pernah semurka seperti sekarang.

Saking tak tahan tadi hampir saja ia menerjang keluar untuk membongkar rahasia kepalsuan Lim Sian-ji, namun Kwe Ko-yang terhitung juga sahabatnya, bahkan seorang lelaki sejati, ia tidak tega menyinggung perasaannya.

Dilihatnya Kwe Ko-yang lagi menengadah, memandang langit dan menarik napas panjang lalu mulai mempercepat langkahnya.

Tapi baru dua-tiga langkah mendadak ia berhenti dan membentak bengis, “Siapa itu yang sembunyi di sana? Keluar!”

Nyata Ko-yang-thi-kiam memang tidak malu sebagai tokoh top dunia persilatan zaman ini, betapa tinggi kewaspadaan dan betapa cepat reaksinya sungguh sukar ditandingi Siangkoan Hui.

Tak peduli dia baru datang dari mana, kepalanya selalu dingin dan pikiran senantiasa jernih, tapi sama sekali tak tersangka olehnya bahwa orang yang muncul dari balik pohon ini ialah Li Sun-hoan ….

*****

Jarak antara vila ini dengan rumah minum itu tidak jauh, tidak banyak yang mereka percakapkan dalam perjalanan, juga keduanya tidak menguraikan isi hati masing-masing. Namun ada urusan yang akhirnya toh harus dibicarakan juga cepat atau lambat.

Rumah minum itu sudah tutup. Tapi mana ada pintu rumah di dunia ini yang dapat merintangi mereka?

Mereka meninggalkan sepotong uang perak di atas meja, lalu mengambil sebotol arak, kemudian mereka duduk di wuwungan rumah minum itu dan minum arak di situ.

Li Sun-hoan sudah pernah minum arak di tempat apa pun, tapi minum arak di wuwungan rumah baru pertama kali ini. Dirasakannya tempat ini memang sangat santai.

Dengan cepat isi botol sudah habis setengah lebih, banyak jaga Kwe Ko-yang minum, menghadapi teman minum seperti Li Sun-hoan, siapa pun akan minum lebih banyak daripada biasanya. Banyak kata-kata baru akan tercetus bilamana sudah banyak minum arak.

Mendadak Kwe Ko-yang bertanya, “Tentu … tentu kau tahu untuk apa kupergi ke vila itu?”

Sun-hoan tertawa, “Kutahu engkau adalah lelaki.”

“Dengan sendirinya kau pun tahu siapa yang berada di vila itu?”

“Ya.”

“Aku jarang mencari dia, hanya … hanya bila perasaanku kurang enak barulah kucari dia.”

Sun-hoan hanya mengangguk saja. Ia sangat memahami perasaannya, ia pun tahu bagaimana kekesalan seorang yang habis mengalami kalah tempur.

“Aku juga banyak mengenal orang perempuan, tapi dia satu-satunya yang paling menyenangkan diriku.”

Sun-hoan termenung sejenak, katanya kemudian, “Apakah kau tahu dia perempuan macam apa?”

Kwe Ko-yang menenggak araknya, lalu berkata, “Sudah cukup lama kukenal dia.”

“Bagaimana dia terhadapmu?” tanya Sun-hoan..

“Bagaimana dia terhadapku?” Kwe Ko-yang tertawa. “Perempuan semacam ini tiada bedanya terhadap lelaki mana pun. Soalnya cuma lelaki itu apakah berharga untuk diperalat olehnya atau tidak.”

“Oo, kau pun tahu dia hendak memperalat dirimu?”

“Tentu saja kutahu,” sahut Kwe Ko-yang dengan tertawa. “Tapi aku tidak peduli, sebab aku pun lagi memperalat dia, asal dia dapat memberi kesenangan padaku, apa alangannya kubalas sedikit imbalannya.”

Sun-hoan mengangguk perlahan, “Ya, ini memang jual-beli yang adil. Akan tetapi … apabila jual-beli kalian merugikan orang lain, apakah juga tidak kau peduli?”

“Merugikan siapa?” tanya Ko-yang.

“Dengan sendirinya orang yang mencintai dia.”

Kwe Ko-yang menghela napas, “Sungguh terkadang aku tidak paham, mengapa perempuan suka membikin susah orang yang mencintai dia?”

Sun-hoan tertawa, “Ya, mungkin karena dia cuma dapat membikin susah orang yang mencintai dia saja, sebab kalau engkau tidak suka padanya, mana bisa kau rasakan dibikin susah olehnya?”

“Wah, tampaknya engkau sangat paham akan orang perempuan,” ucap Ko-yang dengan tersenyum.

“Tidak ada seorang lelaki pun di dunia ini yang benar-benar memahami orang perempuan,” ujar Sun-hoan dengan menyesal. “Bila ada orang menganggap dirinya paling mengerti akan orang perempuan, maka kesusahan yang akan dirasakannya pasti jauh lebih besar daripada orang lain.”

Sampai sekian lamanya Kwe Ko-yang termenung, katanya kemudian, “Apakah benar A Fei sangat mencintai dia?”

Sun-hoan membenarkan.

“Kutahu dia adalah kawan baik A Fei, aku pun tahu A Fei adalah kawan baikmu.”

Sun-hoan tidak menanggapi.

“Tapi aku tidak kenal A Fei, juga belum pernah berjumpa dengan dia,” sambung Kwe Ko-yang.

“Kukira tidak perlu kau beri penjelasan, aku tidak menyalahkan dirimu,” kata Sun-hoan.

Kembali Kwe Ko-yang termenung agak lama, tanyanya kemudian, “Apakah sekarang A Fei masih berada bersama dia?”

“Ya,” jawab Sun-hoan, ia menghela napas panjang, lalu menyambung, “Cintanya kepada dia meski jauh lebih mendalam daripadamu, tapi hubungan antara A Fei dengan dia jauh daripada mesra serupa hubungan kalian ini.”

Kwe Ko-yang tampak heran, “Masa antara mereka tidak ada ….”

“Ya, orang lain siapa pun boleh, hanya A Fei saja yang tidak,” tutur Sun-hoan dengan tersenyum getir.

“Sebab apa?” tanya Ko-yang.

“Sebab dia menghormatinya dan tidak mau memaksanya, dalam pandangannya si dia adalah gadis suci …. Dengan sendirinya ia pun berharap kesan demikian dapat dipertahankan selamanya.”

Sun-hoan menggeleng dan menyambung pula, “Padahal perempuan memang dilahirkan untuk dicintai orang dan dihormati. Apabila seorang lelaki menghormati seorang perempuan yang pada hakikatnya tidak berharga untuk dihormati, maka yang diperolehnya pasti cuma kemasygulan dan kepedihan.”

“O, jadi segala tindak perbuatannya sama sekali di luar tahu A Fei?”

“Ya, tidak tahu sama sekali.”

“Mengapa tidak kau beri tahukan kepadanya?”

“Biarpun kuberi tahukan padanya juga pasti takkan dipercayainya,” ujar Sun-hoan dengan gegetun. “Seorang lelaki kalau sudah mencintai seorang perempuan kupingnya bisa berubah tuli dan matanya akan berubah buta, seorang pintar akan berubah menjadi tolol.”

Kwe Ko-yang termenung sejenak, lalu katanya, “Apakah kau minta kuberi tahukan kepadanya?”

Sun-hoan menjawab dengan pedih, “Dia seorang pemuda yang baik, juga sahabatku, aku tidak tega menyaksikan dia hancur di tangan perempuan semacam ini.”

Kwe Ko-yang diam saja.

“Selama hidupku tidak pernah kuminta bantuan orang,” kata Sun-hoan, “tapi sekali ini ….”

Mendadak Kwe Ko-yang memotong ucapannya, “Akan tetapi, apakah dia percaya kepada keteranganku?”

“Sedikitnya si dia tidak dapat menyangkal sama sekali hubungannya denganmu,” ucap Sun-hoan.

Serentak Kwe Ko-yang berbangkit dan berkata, “Baik, kupergi bersamamu.”

Sun-hoan menjabat tangannya dengan erat, katanya, “Nyata aku tidak salah memandang dirimu, kupercaya engkau dan A Fei pasti juga akan menjadi sahabat yang baik.”

“Sahabat baik tidak perlu banyak, satu pun sudah cukup,” ujar Kwe Ko-yang. “Dia dapat mengikat persahabatan dengan orang seperti dirimu sudah boleh dikatakan tidak sia-sia hidupnya.”

*****

Di rumah papan itu ternyata tidak ada orang.

Tempat yang dibuat tidur A Fei masih terletak di ruang tamu, di dapur masih berserakan sisa makanan semalam, tapi kuali yang digunakan memasak kuah itu sudah kosong dan sudah tercuci bersih.

Keadaan kamar tidur Lim Sian-ji masih tetap seperti semula, daun pintu yang didobrak Li Sun-hoan masih bergoyang-goyang tertiup angin dan mengeluarkan suara keriang-keriut.

Setiap barang di kamar A Fei juga tidak berubah, mereka tidak membawa sesuatu barang apa pun, sampai baju yang disiapkan di ujung tempat tidur itu pun masih terletak di situ dengan baik.

Namun mereka sudah pergi. Jelas berangkat dengan terburu-buru. A Fei telah pergi lagi tanpa pamit, sungguh Sun-hoan tidak percaya. Ia pandang pintu yang terpentang itu, mendadak ia berjongkok pula dan terbatuk-batuk dengan keras.

Kwe Ko-yang memandangnya dengan mondar-mandir, setelah Li Sun-hoan berhenti batuk barulah ia bertanya, “Kau bilang A Fei adalah sahabat baikmu?”

“Ya,” jawab Sun-hoan.

“Tapi engkau tidak tahu kepergiannya.”

Sun-hoan terdiam, lalu menyengir, katanya, “Bisa jadi dia … dia mengalami sesuatu di luar dugaan, mungkin juga ….”

“Mungkin juga dia lebih suka menuruti permintaan orang perempuan,” tukas Ko-yang dengan hambar. Tanpa menunggu tanggapan Li Sun-hoan, segera ia tanya lagi. “Sudah berapa lama mereka tinggal di sini?”

“Hampir dua tahun.”

“Tapi dua tahun yang lalu dia sudah berkencan denganku di vila kecil itu. Bisa jadi tempat ini adalah sarangnya yang lama.”

“Biasa, sarang kelinci yang licin pasti tidak cuma terbatas satu tempat saja.”

“Tapi sayang aku cuma tahu satu tempat ini,” ucap Kwe Ko-yang dengan menyesal.

Sun-hoan tidak bicara lagi, perlahan ia masuk ke rumah Lim Sian-ji itu.

Di dalam rumah ada sebuah ranjang, sebuah lemari, sebuah meja. Kain kelambu berwarna hijau pupus, selimut bantal tampak kacau, seperti habis dipakai tidur. Tapi semua ini tentu saja melulu untuk diperlihatkan kepada A Fei.

Pakaian di dalam lemari tidak banyak, malahan sangat sederhana. Di atas meja ada kotak rias, tapi isinya juga cuma sekadar pupur saja. Dengan sendirinya tempat ini bukanlah tempat rias Lim Sian-ji selain di vila kecil sana.

Setiap barang di rumah ini diperiksa dengan teliti oleh Sun-hoan, tapi semua ini adalah barang yang sangat umum, apa yang dapat dilihatnya?

“Pada waktu aku keluar, dia masih tinggal di vila sana, sekarang dia ternyata sudah pulang ke sini, bahkan telah membawa pergi A Fei dan sama sekali tidak kita pergoki di tengah jalan ….”

“Dengan sendirinya lantaran jalan yang digunakannya adalah sebuah jalan lain,” ujar Sun-hoan setelah berpikir.

“Jalan lain? Sekeliling tempat ini perbukitan melulu, masakah ada jalan lain?”

“Bisa jadi jalan lain justru terletak di perut bukit,” sembari bicara Sun-hoan terus menyingkap kasur dan membongkar dipan, benar juga di bawah tempat tidur ada sebuah lorong rahasia.

Begitu masuk ke lorong rahasia ini segera Sun-hoan tahu di mana lubang tembusnya.

“Menurut pendapatmu, di mana lubang keluar lorong ini?” tanya Ko-yang.

“Pasti di bawah tempat tidur vila sana,” kata Sun-hoan.

“Ya, aku pun sependapat,” ujar Ko-yang, ia mendengus dan menyambung pula, “Turun dari ranjang sini lantas naik ke ranjang sana, cara kerjanya sungguh tidak membuang waktu.”

“Pekerjaannya sangat sibuk, dengan sendirinya waktu sangat berharga baginya,” ujar Sun-hoan dengan hambar.

Air muka Kwe Ko-yang berubah. Meski dia tahu juga apa pekerjaan Lim Sian-ji, tapi orang lain membicarakannya di depannya, betapa pun dirasakan tidak enak.

Kaum lelaki sering mengejek orang perempuan berjiwa sempit, padahal kaum lelaki sendiri belum tentu berjiwa lebih besar, bahkan jauh lebih egois daripada orang perempuan. Sekalipun seorang lelaki sudah mempunyai seratus orang perempuan tetap diharapkannya seratus orang perempuan ini cuma mempunyai kekasih lelaki dia saja, biarpun dia sudah tidak suka lagi kepada seorang perempuan toh tetap berharap agar perempuan itu selalu suka kepadanya.

Jalan di bawah tanah itu tidak terlalu jauh, dan lubang keluarnya memang betul terletak di bawah ranjang di vila itu.

Ranjang ini jauh lebih indah daripada ranjang di rumah papan sana, kelambunya bersulam, seprainya dan selimutnya semua pilihan. Dengan sendirinya Lim Sian-ji tidak berada di situ, yang masih ada cuma si nona cilik berbaju merah.

Dia sedang menyulam bunga di samping meja rias. Ketika Sun-hoan berdua muncul mendadak dia tidak terkejut. Dia seperti sudah menduga akan kedatangan mereka.

Dia hanya melirik mereka sekejap, lalu berkata dengan tersenyum, “Eh, kiranya kalian sudah kenal.”

Kwe Ko-yang menarik muka, tanyanya dengan bengis, “Di sini cuma tertinggal kau sendiri?”

Nona cilik itu memoncongkan mulutnya dan menjawab, “Kenapa engkau jadi segarang ini? Setiap kali engkau datang kemari, yang memasang seprai bagimu ialah aku, yang melipatkan selimut juga aku, masakah engkau sudah lupa.”

Kwe Ko-yang jadi bungkam.

Dengan matanya yang besar nona cilik itu mengerling lagi sekejap ke arah Li Sun-hoan, lalu bertanya, “Engkau inikah Li-tamhoa?”

Sun-hoan mengiakan.

“Betul engkau ini Li-tamhoa, Li Sun-hoan yang termasyhur itu?”

“Engkau tidak percaya?” jawab Sun-hoan.

“Bukan aku tidak percaya, cuma rada tak terduga saja.”

“Tak terduga bagaimana?” tanya Sun-hoan.

“Orang sama bilang Kungfu Li Sun-hoan sangat tinggi, juga sangat cerdik dan cekatan, sungguh aku tidak menyangka engkau juga dapat ditipu ….” si nona cilik berkedip-kedip dengan tertawa. “Maaf jika sebelum ini telah kutipu dirimu.”

“Tidak menjadi soal,” ujar Sun-hoan dengan tertawa. “Sekali tempo ditipu anak kecil juga kejadian yang menyenangkan. Malahan sejak dibohongi olehmu aku merasa diriku jadi jauh lebih muda.”

Nona cilik itu menatapnya lekat-lekat seperti merasa orang ini sangat menarik. Orang semacam Li Sun-hoan memang tidak dapat sering-sering ditemuinya.

Dengan tersenyum ia berkata pula, “Tapi biarpun engkau tidak tertipu olehku, engkau juga kelihatan sangat muda, bila tertipu lagi beberapa kali olehku, mungkin engkau akan berubah menjadi anak kecil.”

“Selanjutnya aku pasti akan sangat hati-hati,” ujar Sun-hoan. “Anak kecil berusia 40 tahun, bukankah akan dianggap orang sebagai siluman?”

“Jangan khawatir,” ucap si nona cilik, “sebelum ini kubohongimu lantaran engkau masih asing bagiku. Nenek bilang, jangan sekali-kali bicara jujur terhadap orang belum kau kenal, kalau tidak bisa jadi engkau akan diculik.”

“Dan sekarang?” tanya Sun-hoan.

“Sekarang kita sudah saling kenal, dengan sendirinya takkan kubohongimu lagi.”

“Jika demikian, ingin kutanya, apakah tadi kau lihat ada orang keluar dari sini?”

“Tidak ada,” jawab si nona cilik. Ia berkedip-kedip, lalu menambahkan, “Tapi dapat kulihat ada orang masuk dari luar.”

“Siapa?”

“Seorang lelaki, kau tidak kenal dia,” nona itu terkikik dan menyambung, “Kecuali dirimu, tidak banyak lelaki yang kukenal.”

Terpaksa Sun-hoan berlagak tidak mendengar ucapannya ini, tanyanya lagi, “Untuk apa dia datang kemari?”

“Orang itu sangat galak, mukanya penuh berewok, ada codet lagi, begitu masuk kemari lantas tanya padaku apakah kukenal Li Sun-hoan? Apakah Li Sun-hoan datang kemari?”

“Lantas bagaimana jawabmu?”

“Karena aku tidak kenal dia, maka sengaja kubohongi dia, kubilang kukenal dirimu dan segera engkau akan kemari.”

“Lalu apa katanya?”

“Dia lantas menyerahkan sepucuk surat kepadaku agar disampaikan kepadamu, malahan ditegaskannya harus langsung kusampaikan kepadamu.”

“Dan telah kau terima?”

“Tentu saja kuterima ….” kata si nona. “Jika tidak kuterima kan sama dengan membongkar kebohongannya sendiri? Orang itu sangat galak, bila tahu aku membohongi dia, mustahil kepalaku takkan dipukul pecah olehnya.”

Nona cilik ini mempunyai semacam kepandaian khas, yaitu apa yang diuraikan seluruhnya serupa terjadi benar-benar.

Jika orang lain tentu akan tanya padanya, “Lantas ke mana perginya pengantar surat itu? Mengapa surat yang hendak disampaikan padaku diantarkannya ke sini?”

Namun Li Sun-hoan tidak bertanya demikian. Ia juga mempunyai semacam kepandaian, yaitu, apa pun yang diceritakan orang dia seperti percaya penuh. Sebab itulah banyak orang yang mengira dirinya benar-benar dapat menipu dia.

Benar juga nona cilik itu lantas mengeluarkan sepucuk surat, nama si penerima yang tertulis di atas sampul memang nama Li Sun-hoan. Surat itu masih terekat rapat, nyata nona cilik ini tidak pernah mencuri baca.

Isi surat itu berbunyi: “Tuan Li yang terhormat, sudah lama mengagumi nama kebesaranmu dan sangat ingin bisa berjumpa. Pada tanggal satu bulan kesepuluh akan kutunggu di bawah air terjun di pegunungan ini. Anda seorang kesatria, kuyakin takkan mengecewakan harapanku ini.”

Penanda tangan penulis surat ini ialah: Siangkoan Kim-hong.

Surat itu sangat sederhana, nadanya juga ramah tamah, tapi siapa pun bila menerima surat semacam ini, umpama tidak lekas membeli peti mati juga akan kaget setengah mati.

Maklum, bilamana Siangkoan Kim-hong telah menantang duel terhadap seorang, mustahil orang itu dapat hidup lama lagi.

Namun Li Sun-hoan tenang-tenang saja, surat itu dilipat dan dimasukkan kembali ke dalam sampulnya, lalu disimpan di dalam saku dengan tetap mengulum senyum.

Sejak tadi nona cilik itu mengawasi air muka Li Sun-hoan, akhirnya ia bertanya, “Apa yang tertulis di dalam surat itu?”

“Oo, biasa, tidak ada apa-apa,” sahut Sun-hoan tertawa.

“Melihat tertawamu segembira ini, penulis surat itu mungkin seorang perempuan.”

“Ya, betul.”

“Apakah dia mengajak berkencan denganmu?”

“Betul juga.”

Nona itu lantas menggerutu, “Huh, tahu begitu tentu tidak kuserahkan surat ini kepadamu.”

“Bila tidak kau sampaikan surat ini kepadaku, dia pasti sangat berduka.”

Nona cilik itu melototinya sekejap dengan gemas, “Bagaimana bentuknya, cantik atau tidak?”

“Tentu saja cantik,” jawab Sun-hoan, “kalau tidak tentu surat ini sudah kubuang. Perempuan bermuka jelek pada hakikatnya terlebih celaka daripada lelaki yang bodoh.”

“Dia … berapa umurnya?” tanya pula si nona dengan menggigit bibir.

“Dengan sendirinya masih muda.”

“Sedikitnya kan jauh lebih tua daripadaku bukan?” jengek si nona.

“Untung juga dia lebih tua daripadamu, kalau tidak paling-paling cuma dapat kuanggap dia sebagai anak angkat.”

Nona cilik itu berteriak dengan mendongkol, “Jika ada nona secantik itu janji berkencan denganmu, mengapa tidak lekas kau pergi menemuinya, untuk apa berdiam di sini.”

“Eh, mana boleh tuan rumah mengusir tamunya,” ujar Sun-hoan.

“Biarpun tidak kuusir toh engkau akan pergi juga.”

“Jika aku tidak pergi?”

Nona itu mengerling genit, “Jika engkau tidak pergi, terpaksa aku yang menjadi tuan rumah harus berusaha melayanimu.”

“Betul?”

“Tentu saja betul. Sedikitnya aku bukan orang pelit, bila engkau mau tinggal sepuluh hari pula akan kuladenimu. Jika engkau suka tinggal selama hidup di sini, aku juga tidak … tidak bakal mengusirmu.”

Bicara sampai di sini mukanya menjadi merah. Bila muka seorang nona cilik bisa merah, hal ini menandakan sesungguhnya dia tidak cilik lagi.

“Baik, jika begitu aku akan tinggal di sini ….”

Belum habis ucapan Sun-hoan segera nona itu melonjak bangun dan berseru, “Hah, apa betul ucapanmu?

“Tentu saja betul, bertemu dengan tuan rumah sebaik ini mana dapat kupergi begini saja?”

Nona itu tertawa cerah, “Kutahu engkau gemar minum arak, segera akan kusediakan. Barang lain tidak ada di sini, kalau arak sih sangat banyak, untuk mandi pun cukup.”

“Kecuali arak, kuminta disediakan juga beberapa potong kayu, makin keras makin baik.”

Nona cilik itu melengak, “Kayu? Untuk apa potongan kayu? Memangnya kau minum arak bersama kayu? Hebat benar gigimu?”

Sejak tadi Kwe Ko-yang selalu memerhatikan mimik wajah Li Sun-hoan, sekarang mendadak ia pun bicara, “Aku tidak makan kayu, aku makan telur, segala macam telur pun boleh. Telur ayam, telur bebek, telur angsa, telur dadar, telur ceplok, pokoknya asal telur pun jadi, makin banyak makin baik.”

Seketika si nona cilik menarik muka, “Kau pun tinggal di sini?” tanyanya dengan melotot.

“Mendapatkan tuan rumah sebaik seperti dirimu, mana aku dapat pergi sendiri?” jawab Ko-yang tak acuh.

Terpaksa si nona cilik pergi dengan uring-uringan, omelnya, “Huh, banyak juga manusia tak tahu diri di dunia ini. Banyak tempat lain, tapi dia justru sengaja mengacau ….”

*****

Di suatu tempat lain Lim Sian-ji lagi duduk di tempat tidur dan sedang membetulkan kancing baju seorang lelaki, caranya menggunakan jarum nyata tidak sehafal dia menggunakan pedang, terbukti sering jarum mencocok tangan sendiri.

A Fei berdiri di depan jendela, sedang memandangi cuaca malam di luar dan entah apa yang direnungkan.

Selesai menjahit kancing baju, Sian-ji menengadah dan perlahan memijat pinggang yang pegal, lalu berucap sambil menggeleng, “Sungguh aku tidak suka tinggal di hotel, betapa baik kamar hotel rasanya tetap serupa kurungan, begitu masuk ke dalamnya lantas terasa pengap. Orang bilang, sarang emas atau sarang perak tetap tidak lebih enak daripada sarang sendiri.”

“Ehm,” A Fei hanya bersuara tak acuh.

“Kuseret engkau keluar rumah, engkau merasa tidak senang, bukan?”

“Ah, tidak,” sahut A Fei.

Sian-ji menghela napas, “Kutahu Li Sun-hoan adalah sahabatmu, bukan maksudku merintangi persahabatanmu dengan dia, soalnya kita kan sudah bertekad akan melupakan segala apa yang telah lalu dan ingin menjadi manusia baru mulai awal, maka tidak boleh tidak harus kita tinggalkan dia. Orang semacam dia ke mana pun pergi selalu diikuti dengan kesulitan.”

Dengan suara lembut ia menambahkan, “Dan kita sudah bersumpah takkan mencari kesulitan lagi, bukan?”

“Ya,” jawab A Fei.

“Apalagi, meski dia seorang yang sangat setia kawan, tapi dia terlalu banyak minum arak, seorang kalau terlalu banyak minum tentu tak terhindar dari kelemahan, bilamana ciri kelemahannya kumat, mungkin dia sendiri tidak sadar apa yang telah diperbuatnya.”

Ia menghela napas, lalu menyambung lagi perlahan, “Lantaran itulah dia mendobrak pintu kamarku dan hendak berbuat ….”

Mendadak A Fei berpaling dan berucap sekata demi sekata, “Hendaknya jangan kau singgung lagi kejadian itu, mau?”

Sian-ji tersenyum lembut, “Padahal sudah lama kumaafkan perbuatannya, sebab dia kan sahabatmu.”

Sorot mata A Fei menampilkan rasa sedih, ia menunduk dan berucap, “Aku tidak … tidak mempunyai sahabat, aku cuma … cuma mempunyai dirimu.”

Sian-ji berbangkit dan menarik tangan anak muda itu, diseretnya ke samping sendiri, perlahan ia meraba pipinya, ucapnya dengan lembut, “Aku pun cuma mempunyai dirimu.”

Ia berjinjit, menempelkan muka sendiri pada muka A Fei, bisiknya, “Sudah cukup bagiku asalkan mempunyaimu, aku tidak menghendaki apa pun.”

A Fei terus mendekapnya erat-erat.

Sekujur badan Sian-ji melengket di tubuh A Fei, keduanya saling peluk dengan erat. Sampai sekian lamanya, mendadak tubuh Sian-ji bergetar perlahan, tanyanya lirih, “Engkau … engkau ingin lagi? ….”

A Fei memejamkan mata dan mengangguk.

“Sebenarnya aku … aku pun ingin,” ucap Sian-ji. “Memang sudah lama ingin kuserahkan segalanya kepadamu, akan tetapi hal ini tidak dapat … tidak dapat kulakukan, sebab … sebab aku belum lagi menjadi istrimu. Mengapa engkau tidak berani melamar diriku secara terang-terangan supaya umum tahu aku ini istrimu, mengapa engkau tidak berani? Apakah kesalahanku yang lalu tidak dapat kau maafkan? Apakah engkau tidak mencintaiku sungguh-sungguh?”

Air muka A Fei tampak sangat menderita, perlahan ia kendurkan tangannya.

Tapi rangkulan Sian-ji bertambah erat, ucapnya lembut, “Betapa pun aku tetap cinta padamu, kau tahu hatiku sudah lama kuserahkan padamu, dalam hatiku cuma adalah dirimu dan tidak ada orang lain.”

Tubuhnya yang gemetar itu mulai bergeliat merapat di tubuh A Fei ….

A Fei mengeluh tak tahan, keduanya mendadak rebah di ranjang.

“Benarkah engkau sangat ingin? …. Apakah perlu kugunakan ….”

Tidak lama kemudian A Fei rebah terkulai di ranjang, semuanya terasa runtuh. Hatinya penuh rasa gemas dan menyesal, juga penuh derita.

Ia benci diri sendiri, ia tahu tidak pantas berbuat demikian, tapi dia sukar melepaskan diri. Terkadang dia ingin mati saja, tapi merasa berat meninggalkan si dia.

Baginya asalkan dapat merangkulnya dengan perlahan sekali saja dan ia pun sanggup menahan segala siksa derita.

Sian-ji telah berbangkit dan sedang menyisir rambut, mukanya merah berseri.

“Siapa pun boleh, hanya A Fei tidak.”

Ujung mulut Sian-ji menampilkan senyuman manis, tapi juga kejam. Dia suka menyiksa lelaki, ia merasa tidak ada perbuatan lain yang lebih menyenangkan daripada tindakannya ini. Berbuat sadis terhadap lelaki.

Pada saat itulah sekonyong-konyong ada orang menggedor pintu dengan keras. Seorang berteriak di luar, “Buka pintu, buka! Kutahu engkau berada di dalam, sudah kulihat kau!”

Serentak A Fei berbangkit dan membentak, “Siapa itu?”

Belum lenyap suaranya pintu sudah terpentang didobrak orang, seorang terus menerjang masuk.

Usia orang ini masih sangat muda, cakap juga, cuma berbau arak, matanya merah dan melulu menatap Sian-ji seolah-olah tiada orang lain lagi di rumah ini.

Ia tuding Sian-ji dan terkekeh-kekeh, “Hehe, meski kau pura-pura tidak melihatku, tapi telah kulihat kau masuk ke sini? Memangnya dapat kau kelabui aku?”

Sian-ji tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, jengeknya, “Siapa kau? Aku tidak kenal padamu!”

“Tidak kenal? Benar tidak kau kenal diriku? Masakah sudah kau lupakan kejadian tempo hari? ….” pemuda itu tertawa. “Bagus, dengan susah payah telah kuantarkan belasan surat bagimu, tapi sekarang engkau tidak mau kenal lagi padaku.”

Mendadak ia menubruk maju dan bermaksud merangkul Sian-ji, teriaknya dengan parau, “Tapi aku tetap kenal padamu, mati pun takkan kulupakan dikau ….”

Dengan sendirinya Sian-ji tidak dapat dirangkul, perlahan ia mengegos sambil berseru, “Orang ini mabuk, orang sinting!”

“Aku tidak mabuk, aku cukup sadar ….” pemuda itu berteriak. “Masih ingat apa yang kau katakan, kau bilang asalkan kuantarkan semua suratmu itu, sebagai imbalannya engkau akan ….”

Dia hendak menubruk maju lagi, tapi A Fei lantas mengadangnya sambil membentak, “Enyah!”

Pemuda itu berteriak, “Siapa kau? Berdasarkan apa kau usir diriku? Barangkali kau ingin mencari muka? Supaya kau tahu, setiap saat dia akan melupakanmu seperti halnya melupakan diriku.”

Mendadak ia terbahak-bahak, “Hahaha, barang siapa mengira disukai olehnya, maka orang itu pasti orang tolol, dungu …. Ketahuilah, sedikitnya dia sudah pernah naik ranjang bersama ratusan orang.”

Belum habis ucapannya kepalan A Fei sudah bekerja. “Blang”, pemuda itu digenjot hingga terpental dan jatuh telentang di pelataran.

Dengan muka kelam A Fei melototi orang yang sudah menggeletak itu, sampai sekian lama barulah ia berpaling menghadapi Lim Sian-ji.

Mendadak Sian-ji mendekap dan menangis sedih, “O, sesungguhnya apa kesalahanku? Meng … mengapa orang-orang ini selalu membikin susah padaku, memfitnahku ….”

A Fei menghela napas panjang, perlahan ia rangkul Sian-ji, ucapnya dengan lembut, “Selama masih ada aku, apa pun tidak perlu takut.”

Lama-lama tangis Sian-ji mulai reda, ucapnya dengan tersendat, “Syukurlah aku masih memiliki engkau, asalkan engkau memahami aku, apa pun yang diperbuat orang lain terhadapku takkan kupikir lagi.”

Dengan murka A Fei berkata, “Selanjutnya jika ada orang berani lagi menghinamu pasti takkan kuampuni dia.”

“Tak peduli siapa pun?” Sian-ji menegas.

“Ya, tidak peduli siapa pun,” ucap A Fei tegas.

Sian-ji terus mendekap dalam pelukan A Fei dan merangkulnya erat-erat. Tapi matanya justru sedang memandang seorang lain, sama sekali tidak kelihatan rasa duka pada sorot matanya, sebaliknya malah penuh rasa tertawa, tertawa yang menggiurkan.

Di tengah pelataran saat itu justru ada seorang lagi memandangnya.

Orang ini berdiri di samping pemuda yang menggeletak itu, perawakannya tinggi kurus, bajunya seperti berwarna emas mulus, panjangnya sebatas dengkul, pedang bergantung di pinggangnya.

Meski ada cahaya lampu di pelataran, tapi tidak begitu terang, hanya samar-samar kelihatan muka orang itu ada tiga jalur bekas luka, satu di antaranya sangat dalam, juga sangat panjang, dimulai dekat rambutnya hingga ujung mulutnya, membuat wajahnya seperti selalu menampilkan semacam senyuman yang kejam dan misterius, yang membuat orang ngeri.

Tapi yang paling menakutkan adalah matanya. Matanya berwarna pucat kelabu, tidak ada perasaan, tidak ada gairah hidup.

Dia memandang Sian-ji sejenak dengan dingin, lalu mengangguk perlahan terus membalik tubuh dan menuju ke deretan rumah di sebelah selatan sana.

Sebentar lagi baru datang dua orang membawa pergi pemuda yang rebah itu. Kedua orang ini juga berseragam kuning, gerak-geriknya gesit cekatan.

Habis itu suara tangis Sian-ji baru berhenti.

Malam bertambah larut.

Terdengar suara mendengkur A Fei, sangat keras dengkurannya, nyata dia telah tidur dengan sangat lelap.

Sehabis minum secangkir teh yang diberikan Sian-ji segera dia terpulas.

Suasana pelataran sangat sunyi, hanya desir angin yang meniup daun pepohonan dan menimbulkan suara gemeresik.

Kemudian daun pintu lantas terbuka sedikit, seorang menyelinap keluar, pintu dirapatkan kembali, perlahan ia menyusuri pelataran dan menuju deretan rumah di sebelah selatan.

Di balik jendela deretan rumah itu masih ada cahaya lampu.

Dari cahaya lampu guram yang menyorot keluar itu tertampak matanya besar sangat memikat. Dia Lim Sian-ji. Dia mulai mengetuk pintu.

Hanya mengetuk sekali segera dari dalam berkumandang suara serak, “Pintu tidak dipalang!”

Perlahan Sian-ji mendorong, pintu benar lantas terbuka. Orang berbaju warna emas yang berdiri di pelataran tadi sekarang berduduk di sebuah kursi yang menghadap pintu, duduk tanpa bergerak serupa sebuah patung.

Sesudah dekat barulah Sian-ji dapat melihat jelas mata orang. Matanya hampir sukar dibedakan antara bagian yang putih dan bagian hitam, seluruhnya seakan-akan berwarna kelabu.

Mata ini tidak mencorong terang, juga tidak tajam, tapi ada semacam daya pengaruh ajaib, sampai Sian-ji juga merasa ngeri, rasa dingin seolah-olah merasuk tulang sumsum.

Namun wajah Sian-ji tetap menampilkan senyum manis. Semakin menakutkan orang yang dihadapi, semakin menarik senyumnya. Inilah senjatanya yang utama untuk melayani kaum lelaki. Sudah biasa dan hafal sekali dia menggunakan senjatanya ini, senjata yang paling efektif.

“Hing-siansing?” tanyanya dengan senyum lebih manis daripada madu.

Orang itu memang Hing Bu-bing, ia tetap pandang Sian-ji dengan dingin, tidak bicara, juga tidak mengangguk.

Tambah menggiurkan senyum Sian-ji, “Nama kebesaran Hing-siansing sudah lama kudengar.”

Hing Bu-bing tetap menatapnya dengan kaku, dalam pandangannya, perempuan cantik nomor satu di dunia ini pada hakikatnya tiada bedanya serupa sepotong kayu.

Namun Sian-ji tetap tidak kecewa, juga tidak putus asa, dengan tersenyum genit ia berkata pula, “Kapan Hing-siansing sampai di sini? Tadi ….”

Mendadak Hing Bu-bing memotong ucapannya dengan ketus, “Bila bicara di hadapanku hendaknya kau ingat satu hal.”

“Asalkan Hing-siansing mau memberi tahu pasti akan kuingat,” jawab Sian-ji dengan lembut.

“Bagiku cuma ada tanya dan tidak ada jawab, tahu?”

“O, ya, tahu,” jawab Sian-ji.

“Tapi setiap pertanyaanku harus ada jawaban, harus jelas, singkat. Aku tidak suka mendengar ucapan yang bertele-tele. Nah, jelas?”

“Ya,” kata Sian-ji dengan menunduk, tampaknya sangat halus dan menurut.

Inilah senjatanya yang kedua yang biasa digunakan untuk menghadapi kaum lelaki. Ia tahu kebanyakan lelaki suka kepada perempuan yang penurut, ia pun tahu bilamana seorang lelaki sudah mulai menyukai seorang perempuan, maka tanpa sadar ia berbalik akan menurut kepada setiap kehendak si perempuan.

“Kau ini Lim Sian-ji?” tanya Hing Bu-bing.

Sian-ji mengiakan.

“Engkau yang berjanji bertemu dengan kami di sini?”

“Ya,” jawab Sian-ji pula.

“Sudah kau wakilkan kami mengundang Li Sun-hoan.”

“Ya.”

“Untuk apa engkau berbuat demikian?”

“Kutahu sejak lama Siangkoan-pangcu telah mencari Li Sun-hoan, sebab Li Sun-hoan selalu suka merintangi jalan orang lain.”

“Maksudmu hendak membantu kami?”

“Ya.”

Mendadak sorot mata Hing Bu-bing menyempit dan mendadak berubah tajam, tanyanya dengan bengis, “Untuk apa kau bantu kami?”

“Sebab aku benci kepada Li Sun-hoan, aku ingin mencabut nyawanya.”

“Mengapa engkau tidak turun tangan membunuhnya sendiri?”

Sian-ji menghela napas, “Tak dapat kubunuh dia, di depannya, berpikir begitu saja tidak berani, sebab sekali pandang saja dia seperti dapat menembus isi hati orang lain, sekali timpuk pisaunya dapat merenggut nyawa orang.”

“Masa benar dia begitu lihai?”

“Dia malahan jauh lebih lihai daripada apa yang kukatakan,” ujar Sian-ji. “Orang yang ingin membunuhnya kebanyakan sudah mati di tangannya, kecuali Hing-siansing dan Siangkoan-pangcu, kukira di dunia ini tidak ada orang lain lagi yang mampu membunuhnya.”

Ia menengadah dan memandang Hing Bu-bing dengan lembut, “Meski belum pernah kulihat ilmu pedang Hing-siansing, namun dapat kubayangkan.”

“Berdasarkan apa dapat kau bayangkan kehebatan ilmu pedangku?”

“Berdasarkan ketenangan dan kesabaran Hing-siansing ini,” jawab Sian-ji. “Meski aku tidak dapat menggunakan pedang, namun kutahu pertarungan di antara jago kelas tinggi yang paling penting adalah kesabaran dan ketenangannya.”

“Sebab apa?” tanya Hing Bu-bing.

“Sebab setiap gerak perubahan permainan pedang pada hakikatnya tidak banyak berbeda. Bilamana Kungfu seorang sudah terlatih sampai suatu tingkatan tertentu, cepat atau lambatnya juga tidak banyak berbeda lagi. Tatkala mana yang menentukan adalah siapa yang lebih sabar dan tenang, siapa yang dapat menemukan titik lemah lawan dan dialah yang akan menang.”

Ia pandang Hing Bu-bing dengan sorot mata penuh rasa kagum, sambungnya, “Tidak sedikit jago pedang zaman ini yang pernah kulihat, tapi kalau bicara tentang ketenangan dan kesabaran, rasanya tiada seorang pun yang dapat melebihi Hing-siansing.”

Jika ingin mengumpak seseorang, hendaknya cara menyanjung puji itu dilakukan tanpa berlebihan dan tidak membuat orang merinding, tapi harus mengenai bagiannya yang tepat, dengan demikian baru terhitung umpakan yang sempurna.

Dalam hal mengumpak orang nyata Lim Sian-ji sudah cukup sempurna.

Rupanya inilah senjatanya yang ketiga untuk menghadapi kaum lelaki.

Ia tahu lelaki pada umumnya suka diumpak, lebih-lebih disanjung puji oleh orang perempuan. Jika ingin menaklukkan hati seorang lelaki, setiap patah kata umpakan orang perempuan jauh lebih efektif daripada beribu prajurit.

Namun wajah Hing Bu-bing tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengar dingin, “Hari yang kau tentukan adalah tanggal satu bulan kesepuluh?”

“Betul, sebab sudah kuperhitungkan pada hari itu Hing-siansing dan Siangkoan-pangcu pasti dapat hadir tepat pada waktunya.”

“Tapi dari mana kau tahu Li Sun-hoan juga pasti akan hadir?”

“Kuyakin dia pasti menerima surat itu, asalkan surat itu diterimanya, dia pasti akan hadir.”

“Kau yakin?” Hing Bu-bing menegas.

Sian-ji tertawa, “Dia tidak takut mati, sebab dia toh takkan hidup lebih lama lagi.”

Mendadak lenyap tertawanya, katanya dengan lirih, “Justru lantaran dia tahu hidupnya takkan lama lagi, makanya menakutkan. Meski Kungfumu lebih tinggi daripada dia, hendaknya kau pun hati-hati pada waktu bertempur dengan dia. Orang semacam dia bilamana bertempur sering kali menjadi nekat.”

Nadanya dan pandangannya penuh rasa prihatin dan simpati, inilah senjatanya yang keempat terhadap kaum lelaki. Bilamana kau ingin orang lain memerhatikan dirimu, lebih dulu harus kau bikin dia tahu engkau sangat memerhatikan dia.

Apabila seorang perempuan cantik mahir menggunakan keempat macam senjata ini secara tepat, di antara seratus orang lelaki sedikitnya ada 99 orang akan bertekuk lutut padanya.

Cuma sayang pengalaman Lim Sian-ji sekali ini harus dikecualikan. Yang dihadapinya ini ternyata bukan lelaki, pada hakikatnya bukan manusia.

Untung dia masih mempunyai semacam senjata lain yang paling efektif.

Inilah senjatanya yang terakhir, juga senjata kaum perempuan yang paling primitif. Terkadang orang perempuan dapat menaklukkan lelaki justru lantaran mereka memiliki senjata yang ampuh ini.

Tapi apakah senjata ini juga sama efektifnya bila digunakan terhadap Hing Bu-bing? Sian-ji menjadi ragu.

Maklum, bila tidak yakin pasti akan berhasil, tidak nanti dia mau menggunakan senjata terakhir ini secara sembarangan.

Sorot mata Hing Bu-bing mulai membesar lagi tapi perlahan berubah menjadi remang kelabu, tampaknya dia seperti tidak berminat terhadap segala urusan duniawi.

Diam-diam Sian-ji menghela napas gegetun, terhadap lelaki semacam ini sungguh dia mati kutu.

Terdengar Hing Bu-bing berucap dengan perlahan, “Apakah sudah selesai pembicaraanmu?”

“Sudah,” jawab Sian-ji.

Perlahan Hing Bu-bing lantas berbangkit dan mendekati meja dengan membelakangi Lim Sian-ji, perlahan ia menuang secangkir teh dan tidak memandang lagi padanya barang sekejap pun.

Sian-ji menjadi rikuh, “Jika Hing-siansing tidak ada keperluan lain, biarlah kumohon diri saja.”

Hing Bu-bing tetap tidak menghiraukannya, dari sakunya dikeluarkan sebiji pil dan diminum dengan teh.

Sian-ji juga tidak tahu orang lagi berbuat apa, setelah ditunggunya lagi sekian lama dan orang tetap tidak berpaling, ia merasa tiada jalan lain kecuali pergi saja.

Tapi sebelum tiba di pintu, mendadak Hing Bu-bing bersuara, “Kabarnya kau suka memelet orang lelaki, betul tidak?”

Sian-ji melengak.

“Begitu kau masuk ke sini lantas hendak kau pikat diriku, betul tidak?” tanya pula Hing Bu-bing dengan dingin.

Sian-ji mengerling dan menunduk, jawabnya, “Aku suka kepada lelaki yang sabar.”

Mendadak Hing Bu-bing membalik tubuh dan berkata, “Dan mengapa sekarang kau mau pergi?”

Sian-ji menengadah dan terlihat sorot mata orang kembali menyempit dan lagi menatap tubuhnya, pandangan demikian serupa orang sedang melihatnya dalam keadaan telanjang bulat.

Muka Sian-ji menjadi merah, ucapnya dengan menunduk, “Hatimu sekeras baja, aku … aku tidak berani ….”

“Tapi orangnya kan bukan baja?” kata Bu-bing perlahan.

Waktu Sian-ji mengangkat kepala dan memandangnya lagi, sorot mata Hing Bu-bing kelihatan mulai mencorong.

“Hanya ada satu cara jika ingin kau pikat diriku, yaitu cara langsung,” ujar Bu-bing.

“Mengapa tidak kau ajarkan padaku?” jawab Sian-ji dengan muka merah.

Perlahan Hing Bu-bing mendekatinya dan menjengek, “Hm, masakah perlu kuajari dirimu?”

Mendadak tangannya membalik dan menampar muka Sian-ji sehingga terpental dan jatuh di atas ranjang, perlahan Sian-ji merintih, meski mukanya kesakitan sehingga berkerut-kerut, tapi sorot matanya memancarkan cahaya membara ….

Perlahan Hing Bu-bing menyusul ke depan ranjang.

Mendadak Sian-ji melompat bangun dan merangkulnya erat-erat sambil meratap, “Jika mau pukul, silakan pukul saja, pukul mati juga tidak menjadi soal bagiku, kurela mati di tanganmu ….”

Tangan Hing Bu-bing kembali memukul lagi.

Berulang terdengar suara keluhan dan ratapan di dalam rumah, namun kedengaran lebih banyak gembira daripada derita.

Memangnya si dia suka disiksa dan dipukuli orang?

*****

Pada waktu Lim Sian-ji keluar dari rumah ini, sementara itu fajar sudah hampir menyingsing.

Dia kelihatan letih dan lesu, kaki pun tampak lemas dan hampir sukar melangkah, tapi tampaknya juga sangat senang dan puas.

Setiap kali bilamana habis menjangkitkan hawa nafsu A Fei, ia sendiri juga merasa tidak enak seperti dibakar, sebab itulah setiap kali juga dia perlu mencari orang kedua untuk melampiaskan api yang membakar itu.

Dia suka menyiksa orang, tapi juga suka disiksa.

Fajar sudah tiba. Sian-ji memandang ufuk timur yang mulai remang-remang itu, gumamnya, “Hari ini tanggal 25 bulan kesembilan, masih ada lima hari … tinggal lima hari …. Wahai Li Sun-hoan, paling banyak engkau hanya dapat hidup lagi lima hari.”

Saat itu Li Sun-hoan asyik mengukir sepotong kayu.

Nona cilik berbaju merah itu menungguinya di samping dan tiba-tiba bertanya, “Sesungguhnya apa yang kau ukir?”

“Tak dapat kau lihat?” sahut Sun-hoan dengan tersenyum.

“Tampaknya seperti patung orang yang kau ukir. Tapi mengapa selalu tidak kau selesaikan? Sungguh ingin kulihat orang yang kau ukir ini cantik atau tidak?”

Senyum Li Sun-hoan lenyap seketika, dia mulai terbatuk-batuk lagi.

Justru lantaran dia tidak ingin orang lain mengetahui siapa yang diukirnya, maka setiap kali patung yang diukir tidak pernah diselesaikannya. Meski dia dapat mengukir seorang lain, tapi tangan seperti tidak mau menurut perintah lagi, profil ukirannya tetap serupa si dia.

Maklum, betapa pun ia tidak dapat melupakan si dia.

Cuaca di luar sudah mulai kelam lagi.

Si nona cilik menyalakan lampu, katanya tiba-tiba, “Hari ini engkau sama sekali belum minum arak.”

“Ehm,” Sun-hoan bersuara perlahan.

“Engkau tidak ingin minum?”

“Sekali tempo tidak minum kan juga baik.”

“Tapi kukira ada baiknya engkau minum sedikit, satu hari tidak minum arak saja tanganmu lantas bergemetar,” ujar si nona cilik dengan tertawa.

Senyuman Sun-hoan lenyap lagi, perlahan ia angkat tangannya, pisau yang dipegangnya memancarkan cahaya hijau gemerdep di bawah sinar lampu.

“Masa, benar tanganku bergemetar?” tenggelam perasaan Sun-hoan, ia memang khawatir pada suatu hari tangannya bisa gemetar bila tidak minum arak. Dan kalau tangan gemetar lalu cara bagaimana mampu menyambitkan pisau yang mematikan orang?

Ia genggam tangkai pisau sekuatnya sehingga ruas jari sampai berubah putih, namun cahaya hijau pada mata pisau tetap gemerdep.

Mendadak Sun-hoan merasakan tangan sedemikian beratnya, mengangkatnya saja terasa tidak sanggup.

Perlahan ia menurunkan tangannya dan memandang cuaca di luar jendela, ucapnya, “Hari ini tanggal berapa?”

“Tanggal 30,” jawab si nona. “Besok sudah bulan kesepuluh.”

Sun-hoan memejamkan mata, selang sejenak baru membuka mata lagi dan bertanya, “Di mana Kwe-siansing?”

“Dia bilang mau ke kota sebentar,” si nona cilik tersenyum. “Jika engkau ingin minum arak, mengapa mesti menunggu dia, aku kan juga dapat mengiringimu minum.”

“Apakah tidak terlalu dini bagimu untuk minum arak pada usia sekarang?”

“Cepat atau lambat toh harus minum, kan lebih baik sekarang juga kumulai minum.”

Dengan tertawa nyaring seperti bunyi kelintingan ia benar-benar pergi mengambilkan arak.

Sun-hoan memandang pisau yang terpegang di tangannya, mendadak ia mengukir lagi dengan keras. Cepat sekali ukirannya, patung yang hampir jadi itu dengan cepat telah diselesaikannya, segera kelihatan profil yang indah dengan hidung yang mancung, tampaknya masih begitu muda.

Namun manusianya? Manusianya sudah tua.

Manusia yang senantiasa dirundung kesedihan selalu lebih cepat menjadi tua.

Sun-hoan memandangi patung itu dengan termangu-mangu, pandangannya tidak pernah bergeser lagi ke arah lain sebab ia tahu selanjutnya tidak dapat lagi melihat si dia.

Mendadak seorang menegur, “Wah, cantik amat patung ini, siapakah dia? Kekasihmu bukan?”

Kiranya si nona cilik sudah kembali dengan membawa sebuah nampan dan entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya.

Sun-hoan tersenyum dan menyimpan patung itu ke dalam lengan baju, sahutnya, “Aku pun tidak tahu siapa dia, mungkin dewi kahyangan ….”

Si nona cilik berkedip dan menggeleng, “Ah, kau bohong, dewi kahyangan semuanya bergembira ria, dia justru kelihatan murung ….”

“Jika di dunia ini ada manusia yang gembira, mengapa di atas langit tidak boleh ada dewi yang murung?”

“Tapi engkau sendiri kan tidak gembira, sebab engkau suka padanya, tapi tidak mendapatkan dia. Betul tidak tebakanku?”

Air muka Sun-hoan berubah, hati pun tenggelam.

“Tidak perlu engkau membohongiku, dari air mukamu dapat kuketahui dugaanku pasti tidak meleset,” kata si nona dengan tertawa.

Sun-hoan menyengir, “Itu kejadian yang sangat lama.”

“Jika kejadian lama, mengapa sampai saat ini belum dapat kau lupakan dia?”

Sun-hoan termangu sejenak, katanya kemudian dengan rawan, “Nanti kalau usiamu sudah sebaya diriku, tentu akan kau ketahui bahwa orang yang ingin kau lupakan juga orang yang paling sukar dilupakan ….”

Nona cilik itu mengangguk perlahan dan coba mencerna arti ucapan Sun-hoan, ia menjadi kesima sehingga nampan yang dibawanya lupa ditaruh.

Sampai sekian lama barulah ia menghela napas dan berucap, “Orang lain sama bilang engkau ini dingin dan tidak berbudi, nyatanya engkau bukanlah manusia demikian.”

“Kau kira aku ini manusia macam apa?”

“Engkau suka murung, perasa, seorang pencinta yang baik, jika engkau benar-benar menyukai seorang perempuan, maka bahagialah perempuan itu.”

“Bisa jadi karena aku belum minum arak, setelah kuminum arak, aku bisa berubah kaku dan tanpa perasaan,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

Si nona juga tertawa, “Jika begitu aku ingin lekas minum arak, aku pun ingin berubah menjadi agak kaku supaya tidak kesal.”

Mendadak ia angkat poci arak yang dibawanya dan menenggaknya beberapa ceguk.

Semakin muda orangnya semakin cepat caranya minum arak. Sebab minum arak memerlukan keberanian. Semakin berani seorang, semakin cepat juga mabuknya.

Muka si nona cilik berubah merah serupa apel, mendadak ia melotot dan bertanya, “Kutahu engkau bernama Li Sun-hoan, tapi apakah kau tahu siapa namaku?”

“Tidak kau katakan, dari mana kutahu?” jawab Sun-hoan.

“Engkau tidak tanya padaku, mengapa perlu kukatakan? Bukan cuma namaku saja, engkau juga tidak tanya siapa diriku, mengapa tinggal sendirian di sini? Ke mana perginya orang lain? …. Apa pun tidak kau tanyakan, apakah lantaran engkau merasa sudah dekat ajal sehingga urusan apa pun tidak ingin tahu!”

“Ah, engkau mabuk, sebaiknya engkau pergi tidur saja,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

“Engkau tidak sudi mendengarkan, bukan? Tapi justru ingin kuberi tahukan padamu. Aku tidak punya papa, tidak punya mama, sebab itu juga tidak tahu she sendiri. Lima tahun yang lalu Siocia membeli diriku, maka aku lantas ikut she Lim. Siocia suka memanggilku sebagai Ling-ling, maka namaku menjadi Lim Ling-ling ….”

Ia tertawa mengikik, lalu menyambung lagi, “Lim Ling-ling, coba, bagus tidak namaku! Seperti sebuah kelenengan, bila diguncang orang aku lantas berbunyi kling-kling ….”

Sun-hoan menghela napas, baru diketahuinya sekarang nona cilik ini pun mempunyai kisah hidup yang memilukan dan tidak serupa lahirnya yang selalu kelihatan gembira itu.

“Apakah kau tahu sebab apa aku tinggal sendirian di sini?” ucap si nona pula. “Kukira tidak menjadi soal kuberi tahukan sekalian. Siocia menyuruhku tinggal di sini untuk mengawasi dirimu dan setiap hari harus berusaha memberi minum arak kepadamu, dia bilang, asalkan tanganmu mulai gemetar, maka hidupmu pun takkan lama lagi.”

Dia pandang Li Sun-hoan, seperti lagi menunggu orang mengumbar marah padanya.

Tapi Li Sun-hoan hanya tersenyum hambar saja, katanya, “Belasan tahun yang lalu sudah ada orang bilang selekasnya aku akan mati, tapi aku tetap hidup sampai sekarang, coba aneh tidak?”

Ling-ling melotot, “Kan sudah kukatakan, tujuanku hendak membikin susah padamu, mengapa tidak kau damprat diriku?”

“Mengapa perlu kudamprat dirimu? Engkau tidak lebih kan cuma sebuah kelenengan kecil saja?” Sun-hoan menghela napas, lalu menyambung, “Setiap orang hidup di dunia ini sukar terhindar menjadi kelenengan orang. Aku kan juga begitu. Bukan mustahil orang yang mengguncang kelenengan itu sendiri juga terikat pula oleh orang lain lagi.”

Ling-Ling memandangnya dengan terbelalak, sekian lama barulah ia menghela napas panjang, “Baru sekarang kutahu engkau memang hebat dan sebab apa Siocia sengaja menghendaki kematianmu.”

“Seorang yang selalu menghendaki kematian orang lain, cepat atau lambat ia sendiri juga akan mati,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum hambar.

“Tapi ada sementara orang, kematiannya akan membuat gembira orang banyak, ada juga kematiannya akan membuat orang mencucurkan air mata ….” Ling-ling menunduk dan menyambung lagi dengan sedih, “Dan jika engkau mati, bukan mustahil aku pun akan mencucurkan air mata bagimu.”

“Sebab kita sudah menjadi sahabat …. Sedikitnya kita sudah berkenalan sekian hari,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

“Bukan begitu halnya,” kata Ling-ling sambil menggeleng. “Kukenal Kwe-siansing itu lebih lama daripada mengenalmu, jika dia mati, tidak nanti kucucurkan air mata setitik pun.”

Ia tertawa sendiri dan menambahkan, “Sebab kalau aku mati, pasti juga dia takkan menangis bagiku.”

“Kau anggap hatinya sangat keras?”

“Bisa jadi pada hakikatnya dia memang tidak punya hati.”

“Jika benar begitu jalan pikiranmu, maka salahlah kau,” ujar Sun-hoan. “Ada sementara orang lahirnya kelihatan sangat dingin, padahal berdarah panas, sahabat yang berbudi. Orang yang tidak mau sembarangan memperlihatkan perasaannya terkadang justru seorang yang penuh perasaan simpatik.”

Hati Sun-hoan seperti tersentuh sehingga tak diketahuinya Kwe Ko-yang sudah berdiri sekian lamanya di luar pintu.

Dia memang seorang yang tidak sembarangan memperlihatkan perasaannya. Saat ini dia masih tetap berdiri di luar pintu tanpa emosi sedikit pun.

*****

Esoknya, pagi sekali Sun-hoan sudah bangun. Pada hakikatnya dia hampir tidak tidur semalaman.

Fajar belum menyingsing dia sudah membersihkan badan dan berdandan dengan rapi.

Sekarang dia menghadapi sang surya yang baru memancarkan cahayanya yang keemasan, rasanya dia sangat bersemangat.

Seorang kalau rajin dan bersih, semangat tentu akan tambah baik. Sun-hoan harus berdandan rapi dan bersih supaya penuh semangat, sebab hari ini adalah hari yang istimewa baginya.

Pada malam nanti boleh jadi dia tidak hidup lagi di dunia ini. Jika waktu hidupnya rajin dan bersih, waktu mati juga harus mati dengan rajin dan bersih.

Dalam pertandingan ini, kemungkinan menangnya tidak besar, kesempatan hidupnya sangat sedikit, tapi asalkan ada setitik harapan pasti takkan dilepaskannya.

Dia tidak takut mati, tapi juga tidak suka mati di bawah tangan yang kotor.

Cahaya sang surya gilang-gemilang, pepohonan menghijau permai, hidup ini sesungguhnya tidak jelek.

Sun-hoan lagi mengikat rambutnya dengan sepotong kain hijau.

Mendadak seorang berseru, “Rambutmu sekusut itu, mana dapat kau pergi bertemu dengan si cantik? Biar kusisirkan rambutmu.”

Entah sejak kapan Ling-ling sudah muncul, matanya tampak masih merah, agaknya pengaruh arak semalam belum lagi hilang seluruhnya, bisa juga semalam diam-diam ia telah menangis.

Sun-hoan tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di kursi dekat jendela, sinar sang surya tepat menyorot pada wajahnya sehingga membuatnya silau, ia memejamkan kelopak mata.

Tiba-tiba seakan-akan terbayang kejadian belasan tahun yang silam.

Hari itu cuaca juga cerah seperti hari ini, bunga seruni mekar semarak di luar jendela, ia duduk di depan jendela vila itu dan seorang sedang menyisir rambutnya.

Sampai sekarang dia seperti masih merasakan kelembutan tangan itu dan kecermatannya.

Hari itu dia akan berangkat ke tempat jauh, sebab itulah si dia menyisir rambutnya dengan lambat-lambat, agaknya dengan kelambatan itu ingin ditahannya supaya Sun-hoan dapat tinggal lebih lama sedikit. Sampai akhirnya tanpa terasa air mata si dia menitik jatuh di atas rambutnya.

Justru pada waktu pulangnya dari perjalanan jauh itu, dia kepergok musuh tangguh dan jiwanya hampir melayang, untunglah Liong Siau-hun telah menolongnya. Hal ini tak pernah dilupakannya.

Tapi dia justru lupa bahwa meski Liong Siau-hun telah menyelamatkan dia satu kali, sebaliknya telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya.

Ada sementara orang mengapa selalu hanya ingat kepada kebaikan orang lain saja?

Dengan mata terpejam Sun-hoan bergumam, “Perjalananku waktu itu akhirnya masih bisa juga pulang ke rumah, sekarang aku pun akan pergi dan dapatkah kukembali lagi dengan hidup? Bilamana kepergianku dahulu tidak pernah pulang lagi, kan semuanya jadi lebih baik? ….”

Ia tidak ingin berpikir lagi, perlahan ia membuka matanya, tiba-tiba dirasakan tangan yang sedang menyisir dengar lambat dan halus.

Tanpa terasa ia menoleh, segera dilihatnya setitik air mata lagi menetes dari pipi Ling-ling dan jatuh di atas rambutnya.

Tangan yang sama halusnya, butiran air mata yang serupa pula.

Sun-hoan merasa seakan-akan berada kembali pada pagi belasan tahun yang lalu, tanpa sadar ia pegang tangan Ling-ling dan bertanya, “Engkau menangis?”

Muka Ling-ling menjadi merah, cepat ia melengos, jawabnya dengan menggigit bibir, “Kutahu janji pertemuanmu adalah hari ini, makanya engkau berdandan serapi ini, betul tidak?”

Sun-hoan tidak bicara, sebab disadarinya tangan ini bukanlah tangan belasan tahun yang lalu itu.

“Karena kepergianmu hendak bertemu dengan si cantik, dengan sendirinya hatiku pilu,” ucap Ling-ling pula dengan hampa.

Perlahan Sun-hoan melepaskan tangan orang, katanya dengan tersenyum, “Engkau masih kecil, bagaimana rasanya pilu, pada hakikatnya sekarang belum dapat kau pahami.”

“Sebelum ini mungkin aku tidak paham, tapi sekarang aku sudah paham. Kemarin mungkin aku tidak paham, tapi hari ini aku sudah paham.”

“Masakah dalam sehari saja engkau sudah dewasa?”

“Tentu saja. Ada orang dalam semalam pun rambutnya berubah menjadi putih semua serupa orang tua, masakah tidak pernah kau dengar cerita ini?”

“Itu disebabkan dia bersedih akan mati dan hidupnya sendiri, tapi apa sebabnya bagimu?”

“Bagiku hal ini disebabkan … apakah kepergianmu ini dapat kembali lagi?” sahut Ling-ling dengan menunduk sedih.

Sun-hoan termenung agak lama, katanya kemudian sambil menghela napas panjang, “Sudah kau ketahui siapa yang akan kutemui nanti?”

Ling-ling mengangguk dengan berat, ia merapikan rambut Sun-hoan dan diikat dengan kain hijau tadi, lalu menjawab, “Kutahu betapa pun engkau pasti akan pergi, siapa pun tidak dapat menahan dirimu.”

“Setelah besar nanti engkau akan tahu bahwa ada sementara urusan tidak boleh tidak harus dikerjakan dan pada hakikatnya tiada pilihan lain,” ucap Sun-hoan dengan lembut.

“Tapi bila aku adalah orang yang kau ukir semalam itu tentu engkau akan tinggal demi diriku, betul tidak?” tanya Ling-ling.

Kembali Sun-hoan terdiam, perlahan wajahnya menampilkan rasa derita, gumamnya, “Aku tidak tinggal demi dia …. Selamanya aku tidak pernah berbuat apa pun baginya, aku ….”

Mendadak ia berbangkit dan memandang jauh ke luar jendela, katanya, “Sudah tiba waktunya aku harus pergi ….”

Belum habis ucapannya, mendadak Kwe Ko-yang muncul sambil berseru, “Aku baru saja pulang dan segera kau mau pergi?”

Dia membawa botol arak, matanya merah, langkahnya sempoyongan, belum masuk ke dalam rumah sudah terendus bau arak yang menusuk hidung.

“Kiranya semalam suntuk Kwe-heng minum arak di kota, kenapa aku tidak diberi tahu.”

“Terkadang dua orang minum bersama lebih baik daripada minum bersama orang banyak,” kata Kwe Ko-yang. Mendadak ia memegang pundak Sun-hoan dan mendesis, “Tentunya kau tahu apa yang kulakukan pada waktu pikiranku lagi kesal.”

Sun-hoan tertawa, “O, kiranya ….”

Belum lanjut ucapan Sun-hoan, tahu-tahu beberapa Hiat-to pentingnya telah ditutuk Kwe Ko-yang secepat kilat. Kontan Sun-hoan roboh terkulai.

Keruan Ling-ling terperanjat, cepat ia memburu maju untuk membangunkan Sun-hoan sambil berteriak, “He, apa yang kau lakukan ini?”

Dalam sekejap itu pengaruh arak Kwe Ko-yang sudah lenyap seluruhnya, mukanya segera berubah lagi menjadi kaku dan dingin, ucapnya dengan kereng, “Setelah siuman nanti boleh kau katakan padanya bahwa kesempatan bertanding dengan Siangkoan Kim-hong tidak selalu ada, maka tidak boleh kusia-siakan kesempatan baik ini.”

“Jadi … jadi hendak kau wakilkan dia ke sana?” tanya Ling-ling.

“Kutahu dia pasti takkan membawaku ke sana, aku juga tidak suka mengiringi dia ke sana, hal ini pun serupa orang minum arak, terkadang harus minum berduaan saja, bila hadir lebih banyak satu orang akan terasa kurang enak.”

Ling-ling tercengang sejenak, mendadak air matanya menitik, ucapnya dengan terharu, “Perkataannya ternyata tidak salah, kiranya engkau juga orang baik.”

Dengan dingin Kwe Ko-yang, berkata pula, “Apakah aku akan mati atau hidup, aku tidak suka melihat orang menangis bagiku, bila melihat air mata orang perempuan rasaku lantas muak. Maka boleh kau simpan air matamu bagi orang lain saja.”

Mendadak ia membalik tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Meski tidak dapat bergerak dan tak dapat bicara, namun Sun-hoan masih sadar, melihat kepergian Kwe Ko-yang itu, air matanya hampir bercucuran.

Entah selang berapa lama barulah Ling-ling mengusap air mata dan bergumam, “Bilamana selama hidup seorang bisa mengikat seorang sahabat sejati yang setia untuk sehidup dan semati, maka jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa diperolehnya.”

Ia coba memeriksa Li Sun-hoan, tapi tak berdaya, katanya kemudian dengan terharu, “Tentunya kau pun pernah banyak berbuat baik baginya, sebab itulah dia … dia mau berbuat demikian bagimu.”

Sun-hoan memejamkan mata, sukar terperikan perasaannya. Tiba-tiba diketahuinya hubungan perasaan antara manusia dan manusia terkadang sangat sulit dimengerti.

Dia memang pernah banyak berbuat bagi banyak orang, orang-orang itu ada yang telah mengingkari dia, ada yang melupakan dia, bahkan ada yang mengkhianati dan menjual dia.

Rasanya dia tidak pernah berbuat sesuatu bagi Kwe Ko-yang, tapi orang ini ternyata tidak sayang untuk mati baginya.

Inilah “persahabatan” sejati.

Persahabatan semacam ini tidak dapat dibeli, juga tidak dapat ditukar dengan apa pun. Mungkin karena di dunia ini masih terdapat persahabatan semacam ini, maka kejayaan umat manusia tetap abadi.

Di dalam rumah mendadak mulai gelap.

Ling-ling telah menutup pintu dan merapatkan jendela, lalu duduk termenung di samping Li Sun-hoan, memandangnya dengan lembut tanpa bicara.

Suasana sunyi senyap, jarum jatuh pun terdengar.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: