Pendekar Budiman: Bagian 17

Pendekar Budiman: Bagian 17
Oleh Gu Long

“Sudah waktunya, apakah Kwe Ko-yang sudah mulai duel dengan Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing? Mati-hidupnya mungkin akan ditentukan dalam sedetik saja, tapi aku malah berbaring di sini dengan adem ayem tanpa berbuat sesuatu baginya?” berpikir sampai di sini, hati Li Sun-hoan serasa mau meledak.

Sekonyong-konyong bergema suara orang naik tangga. Suaranya sangat perlahan, tapi sekali dengar segera Sun-hoan tahu ada dua orang telah datang sekaligus, bahkan Kungfu keduanya tidak lemah.

Menyusul lantas terdengar suara pintu diketuk, “Tok … tok-tok!”

Ling-ling menjadi tegang. Memangnya siapakah yang datang itu? Mungkinkah Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing dan hal ini berarti Kwe Ko-yang telah mengalami nasib malang dan sekarang mereka datang untuk mencari Li Sun-hoan.

“Tok … tok-tok!” pintu diketuk lagi, sekali ini terlebih keras.

Butiran keringat sudah merembes keluar di dahi Ling-ling, mendadak ia angkat Sun-hoan sambil celingukan kian kemari, agaknya ingin mencari suatu tempat untuk menyembunyikan Sun-hoan.

“Tok … tok-tok …. Tok … tok-tok!” berulang pintu terketuk lagi, jelas orang di luar itu mulai tidak sabar, kalau tidak segera dibuka bisa jadi mereka akan masuk dengan mendobrak pintu.

Ling-ling menjadi gugup, serunya, “Tunggu sebentar! Ai, kenapa terburu-buru, orang kan harus pakai baju dulu!”

Sembari bicara ia cukit pintu lemari pakaian dengan ujung kaki, Sun-hoan lantas dimasukkan ke dalam lemari, lalu diuruk lagi dengan beberapa potong baju.

Meski Li Sun-hoan tidak ingin main sembunyi, tapi apa daya, satu jari saja tidak dapat bergerak, terpaksa ia pasrah nasib diperlakukan sesukanya oleh Ling-ling.

Sesudah membetulkan bajunya dan rambutnya, Ling-ling mengusap pula keringat yang memenuhi dahi dan hidungnya, lalu pintu lemari ditutup rapat dan dikunci sekalian.

Kemudian dia sengaja menggerutu, “Ai, orang lagi istirahat tidur siang, tahu-tahu datang tamu lagi, dasar nasib!”

Suaranya semakin menjauh, lalu Sun-hoan mendengar suara pintu terbuka.

Sesudah pintu terbuka, suasana menjadi sunyi malah, agaknya Ling-ling jadi terkesima atau kaget, jelas pendatang adalah orang yang belum pernah dilihatnya.

Apakah Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing?

Orang yang datang itu juga tidak bersuara, sampai sekian lamanya baru terdengar Ling-ling bertanya, “Kalian ingin mencari siapakah? Jangan-jangan salah alamat?”

Orang di luar pintu tetap tidak bersuara.

Mendadak terdengar suara “blang”, agaknya Ling-ling didorong mereka hingga menumbuk pintu, lalu terdengar suara langkah kaki dua orang masuk ke dalam rumah.

Keadaan di dalam lemari gelap lagi pengap, jika orang lain ditutup di dalam lemari seperti Li Sun-hoan sekarang bisa jadi sudah tegang setengah mati.

Jelas kedatangan kedua orang ini tidak bertujuan baik, kalau tidak, tentu mereka takkan memperlakukan Ling-ling seperti sekarang ini.

Tapi sekarang Li Sun-hoan berbalik bisa menenangkan diri. Menghadapi persoalan rumit begini, selalu ia berusaha mempertahankan ketenangan sendiri, sebab ia tahu biarpun dirinya gelisah setengah mati juga tidak ada gunanya.

Dalam pada itu terdengar Lin-ling lagi berteriak, “Apa maksud kalian ini? Memangnya kalian perampok?”

Diam-diam Sun-hoan tertawa geli. Teringat olehnya waktu kedatangannya tempo hari Ling-ling juga menyangkanya sebagai bandit. Nona ini mungkin tidak punya kepandaian lain, tapi kepandaian berlagak dan berdusta agaknya sudah hampir sama hebatnya dengan Lim Sian-ji.

Namun kedua pendatang itu sama sekali tidak menggubris makian Ling-ling tadi, mereka mengitari kedua ruangan di luar, seperti lagi mencari apa-apa, kemudian mereka masuk ke kamar ini.

Ling-ling ikut menerjang masuk dan berteriak, “Ini kamar pribadi Siocia kami, mana boleh sembarangan kalian masuki?”

Sampai di sini barulah kedua pendatang ini membuka mulut. Seorang di antaranya berkata, “Kedatangan kami memang ingin mencari Siocia kalian.”

Suara ini ternyata sangat halus, sangat enak didengar, bahkan seperti bicara dengan tersenyum.

Yang datang ini ternyata orang perempuan!

Hal ini juga di luar dugaan Li Sun-hoan, tak terpikir olehnya ada orang perempuan bisa datang ke sini, pantas Ling-ling jadi melenggong melihat mereka.

“Jadi kalian ingin mencari Siocia kami? Kalian kenal beliau?” demikian Ling-ling lagi tanya.

“Tentu saja kenal ….” jawab perempuan tadi. “Bukan cuma kenal saja, bahkan sahabat baik.”

“Ah, jika begitu, kenapa tidak kalian katakan sejak tadi, sampai kusangka kalian sebagai perampok,” ujar Ling-ling dengan tertawa.

Perempuan itu juga tertawa, katanya, “Apakah bentuk kami kelihatan serupa perampok?”

“Untuk ini agaknya Anda belum tahu bahwa perampok zaman kini tidak serupa penjahat zaman dulu, penjahat zaman sekarang malahan kelihatan terlebih halus dan sopan daripada Anda berdua, bahkan juga lebih cakap dan terpelajar sehingga orang sukar meraba asal usulnya.”

Anak dara ini sungguh siluman mahacerdik, biarpun memaki orang pun tidak perlu memakai kata kotor.

Belum lagi perempuan tadi bersuara, terdengar suara perempuan yang lain telah menyela, “Ke manakah Siociamu, maukah kau panggil dia keluar?”

Suara orang ini bernada rendah, kedengaran agak parau, tapi juga enak didengar. Malahan Li Sun-hoan merasa orang ini sudah cukup dikenalnya, cuma seketika tidak teringat siapa dia.

Maka terdengar Ling-ling lagi menjawab dengan tertawa, “Wah, kedatangan kalian sungguh tidak kebetulan, Siocia sudah keluar beberapa hari yang lalu, aku yang menjaga rumah sendirian, ada urusan apa boleh kalian beri tahukan kepadaku, kan sama saja.”

“Kapan dia pulang?” tanya perempuan pertama tadi.

“Entah …. Siocia tidak bilang, mana kuberani tanya?” jawab Ling-ling.

Mendadak perempuan yang lain mengejek, “Hm, begitu kami datang, dia lantas keluar, kalau kami tidak datang, setiap hari dia di rumah. Memangnya dia tahu akan kedatangan kami maka sengaja bersembunyi dan tidak berani menemui kami?”

Cara bicaranya tidak halus lagi, nyata kedatangannya memang ingin mencari perkara.

Apakah lantaran suami mereka diketahui sering mengadakan hubungan gelap dengan Lim Sian-ji, maka kedatangan mereka sengaja hendak menangkap basah hubungan zina.

Ling-ling tertawa, katanya, “Jika kalian memang sahabat Siocia, bila beliau tahu akan kedatangan kalian, tentu saja beliau akan kegirangan, mana mungkin main sembunyi malah?”

“Tapi ada sementara orang biasanya berani bertemu dengan siapa pun, hanya sahabat saja tidak berani ditemuinya, coba aneh tidak?” ujar perempuan itu dengan tertawa.

Perempuan lain lantas mendengus, “Hm, bisa jadi hal ini disebabkan dia terlalu banyak berbuat kesalahan terhadap sahabat sendiri.”

“Ah, kalian sungguh pandai bergurau,” ujar Ling-ling dengan tertawa. “Tempat sekecil ini, umpama mau main sembunyi juga tidak ada tempatnya.”

“Masa begitu? ….” kata perempuan pertama tadi. “Meski aku tidak hafal tempat ini, kalau aku mau sembunyi, bisa jadi akan menemukan suatu tempat yang baik.”

“Ya, kecuali nona bersembunyi di dalam lemari pakaian,” ujar Ling-ling dengan mengikik tawa. “Tapi seorang kalau sembunyi di dalam lemari, bukankah bisa sesak napas, wah, rasanya tentu tidak enak.”

Perempuan itu juga tertawa, “Betul, Siociamu kan orang halus dan terhormat, masakah sudi bersembunyi di dalam lemari?”

Kedua orang tertawa riang, seperti apa yang dibicarakan mereka itu sangat lucu.

Sesudah tertawa, lalu perempuan itu menyambung lagi, “Cuma, bilamana Siociamu tidak sudi bersembunyi di dalam lemari, lantas siapakah orang yang berada di dalam situ?”

“Siapa? …. Maksudmu di dalam lemari ada orang? Ah, kenapa aku sama sekali tidak tahu?” kata Ling-ling.

“Jika di dalam lemari tidak ada orang, mengapa sejak mula kau adang di depannya? Memangnya kau takut kami akan mencuri pakaian Siociamu?” ujar perempuan tadi.

“Ah, mana … mana pernah kuadang di depan ….” Ling-ling menjadi gelagapan.

“Adik cilik,” ucap perempuan itu dengan lembut, “meski engkau sangat pintar dan pandai bicara, cuma sayang usiamu masih teramat muda, bila ingin membohongi kami dua siluman tua ini, mungkin perlu kau tunggu beberapa tahun lagi.”

Meski Li Sun-hoan tidak dapat melihat keadaan di luar, tapi dapat dibayangkannya wajah Ling-ling sekarang pasti serbasalah, dengan sendirinya hati Sun-hoan sendiri juga tidak enak.

Seorang lelaki besar diketahui bersembunyi di dalam lemari, betapa pun hal ini tidak menyenangkan, sukar dibayangkannya kedua perempuan itu akan memandangnya sebagai orang macam apa. Tapi ia juga tidak dapat menerka sesungguhnya mereka itu perempuan macam apa?

Cara bicara perempuan itu kedengaran lemah lembut, perangainya seperti sangat halus, tapi setiap katanya seakan-akan berduri, jelas dia seorang perempuan yang sangat lihai.

Perempuan yang lain tidak banyak bicara, tapi bila buka mulut selalu bernada garang, agaknya sangat tidak suka terhadap Lim Sian-ji dan sengaja datang membikin perhitungan dengan dia.

Dari suara langkah mereka tadi, jelas Kungfu mereka tidak lemah dan pasti tidak di bawah Lim Sian-ji.

Sungguh Sun-hoan berharap yang bersembunyi di dalam lemari benar-benar Lim Sian-ji adanya agar kedua perempuan ini dapat memberi hajaran setimpal padanya. Biarpun Sian-ji sangat mahir menundukkan kaum lelaki, terhadap kaum perempuan bisa jadi dia akan mati kutu.

Celakanya yang bersembunyi di dalam lemari sekarang ialah Li Sun-hoan sendiri, lebih celaka lagi dia justru akan dijadikan tumbal bagi Lim Sian-ji.

Tiba-tiba terdengar Ling-ling menjerit tertahan, tahu-tahu pintu lemari telah ditarik orang.

Sun-hoan memejamkan mata dan berharap kedua perempuan ini jangan mengenalinya.

Agaknya perempuan itu juga tidak mengira yang bersembunyi di dalam lemari ialah seorang lelaki, seketika ia pun tercengang. Sejenak kemudian barulah ia mengikik tawa dan berucap, “Hihi, adik cilik, siapa orang ini? Dia tidur di sini?”

“Dia … dia kakak-misanku,” jawab Ling-ling.

“Hihi, sungguh lucu,” perempuan tadi tertawa. “Pada waktu kecil sering juga kusembunyikan pacar di dalam lemari pakaian, suatu kali ketahuan orang, maka aku pun mengakui dia sebagai kakak-misanku.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Aneh juga, mengapa anak perempuan umumnya suka bilang pacar sebagai kakak-misan, apakah tidak dapat pakai cara lain.”

“Bagiku ini pertama kali, lain kali aku pasti akan pakai cara lain,” kata Ling-ling.

“Wah, adik cilik ini sungguh kecil-kecil cabai rawit, tampaknya kita pun harus belajar padanya,” ujar perempuan itu dengan tertawa.

Perempuan yang lain termenung saja sejak tadi, tiba-tiba ia berkata, “Jika Lim Sian-ji tidak berada di sini, marilah kita pergi saja.”

“Kenapa terburu-buru?” kata kawannya. “Sudah telanjur datang, apa alangannya berduduk dulu di sini.”

Ketika pintu lemari terbuka tadi segera Sun-hoan mencium bau harum yang sangat memikat, sekarang bau harum ini semakin dekat, agaknya perempuan itu sudah berada di depannya.

Selang sejenak kemudian terdengar ia berkata dengan tertawa, “Wah, adik cilik ini kelihatannya masih kecil, tapi lelaki pilihannya ternyata lumayan.”

“Tidak banyak orang lelaki di tempat pegunungan sini, yang cakap juga sudah diambil Siocia, bagiku terpaksa seadanya,” ujar Ling-ling dengan tertawa.

“Masa engkau tidak puas terhadap lelaki macam begini?” tanya perempuan itu. “Coba kau lihat, dia tidak gemuk, juga tidak kurus, wajahnya juga tidak menjemukan, tampaknya malah cukup berpengalaman terhadap urusan perempuan.”

“Ya, urusan lain dia memang lumayan, cirinya gemar tidur, sekali tidur sukar bangun lagi,” tutur Ling-ling.

“Hihi, hal ini mungkin disebabkan dia terlalu ngoyo bekerja ….” perempuan itu tertawa mengikik. “Ai, bertemu dengan siluman rase cilik seperti dirimu tentu saja dia kehabisan tenaga.”

“Dan usianya juga agak lanjut,” kata Ling-ling.

“Ehm, betul juga, bagimu dia memang agak lebih tua, bagiku rasanya lebih setimpal,” ujar perempuan itu dengan tertawa senang. “Eh, adik cilik, jika dia tidak mencocoki seleramu, boleh kau pindah tangankan dia kepadaku. Selang dua hari lagi pasti kucarikan seorang pemuda untukmu.”

Semula perempuan ini kelihatan lemah lembut, tapi sekali melihat orang lelaki, kontan sifatnya berubah sama sekali, sembari bicara terus saja dia angkat Li Sun-hoan.

Sampai di sini, mau tak mau Li Sun-hoan terpaksa harus membuka mata.

Tapi begitu mata terpentang, seketika ia kaget.

Umur perempuan yang mengangkatnya ini tidak tua, paling-paling baru 26-27 tahun saja, wajahnya tidak jelek, kulit badannya putih, matanya besar, mulutnya kecil, waktu tertawa malah dekik pada pipinya, jika cuma dinilai dari semua yang disebutkan itu, harus diakui dia memang seorang perempuan cantik.

Cuma sayang, dagunya susun tiga, pinggangnya sebesar gentong, daging lebih pada tubuhnya mungkin lebih banyak daripada daging tubuh tiga orang digabungkan menjadi satu. Berada dalam pondongan perempuan itu Li Sun-hoan merasa seperti tidur di dalam gumpalan daging.

Sungguh sukar dibayangkan bahwa perempuan yang bicaranya begitu lembut dan suaranya begitu merdu ternyata seorang perempuan gembrot begini, sungguh terlalu gemuknya.

Sudah banyak macam-macam bentuk orang perempuan telah dilihat Sun-hoan, tapi perempuan gembrot begini sungguh baru sekarang dilihatnya. Seorang lelaki kalau berada dalam rangkulan perempuan gembrot begini, sungguh lebih baik terjun ke sungai saja.

Tapi hal yang lebih mengejutkan Li Sun-hoan adalah perempuan yang lain.

Perempuan ini sangat cantik, sangat memikat, pinggangnya kecil, memakai baju biru yang sangat singsat sehingga garis tubuhnya kelihatan mencolok, tapi lengan bajunya sangat longgar, biarpun berdiri tanpa bergerak juga kelihatan serupa dewi kahyangan.

Perempuan ini tak-lain-tak-bukan ialah Na Kiat-cu, si kalajengking yang pergelangan tangannya dipatahkan Li Sun-hoan itu.

Diam-diam Sun-hoan mengeluh, ia tahu hari ini bisa celaka baginya.

Anehnya, Na Kiat-cu seperti tidak mengenalnya lagi, tidak kelihatan sesuatu perasaan pada wajahnya, bahkan tidak mau memandang lagi kepalanya.

Si perempuan gemuk masih terus tertawa, karena tertawa sehingga daging sekujur badannya ikut bergetar, Li Sun-hoan merasa seperti terjadi gempa bumi.

Ling-ling menjadi gugup, katanya, “Orang ini sangat kotor, sering sampai berbulan-bulan tidak mandi, jangan nona memondongnya, pada tubuhnya selain banyak ketombe juga banyak kutu busuk.”

“Kotor? Siapa hilang dia kotor?” perempuan gemuk itu menegas. “Huh, umpama benar pada tubuhnya banyak ketombe dan kutu busuk juga tidak menjadi soal. Kutu busuk di tubuh orang lelaki pasti juga berbau lelaki.”

Dia tertawa mengekek, lalu menyambung, “Bagiku, setiap barang yang berbau lelaki tentu kusukai.”

“Akan tetapi … akan tetapi selain kotor dan malas, dia juga setan pemabukan,” kata Ling-ling pula.

“Pemabuk tambah baik, lelaki yang kuat minum barulah memiliki kegagahan seorang lelaki,” ujar si perempuan gemuk, tampaknya dia teramat senang sehingga tidak tahan lagi, dirabanya muka Li Sun-hoan sambil tertawa mengikik, lalu berkata lagi, “Jika benar kau gemar minum, tentu akan kutemani minum sepuasnya, ada sementara urusan akan tambah menyenangkan bila dikerjakan sehabis minum arak.”

Betapa pun Ling-ling tidak sanggup tertawa lagi, katanya, “Ada semacam lelaki, biasanya alim, tapi bila melihat orang perempuan, sekujur badan lantas lemas lunglai. Lelaki semacam ini biasanya disebut mata keranjang, dan entah perempuan semacam ini disebut apa?”

Perempuan gemuk itu tidak marah meski tahu Ling-ling bermaksud menyindirnya, dengan tertawa ia menjawab, “Perempuan jenis ini juga disebut mata keranjang. Aku memang setan perempuan mata keranjang tulen, asal melihat lelaki cakap hatiku lantas tertarik.”

“Tapi apakah si lelaki juga tertarik melihatmu?” jengek Ling-ling.

“Kau kira aku terlalu gemuk sehingga tidak menarik?” kata si gemuk. “Padahal, meski aku agak gemuk, tapi lelaki yang berpengalaman sama tahu perempuan gemuk justru lebih lembut dan lebih bergairah, hangat di musim dingin, segar di musim panas, bahkan masih ada kebaikan lain lagi ….”

Dia melirik Sun-hoan dalam pondongannya sekejap, lalu menyambung dengan tertawa genit, “Di mana letak kebaikannya, hihi, sebentar tentu akan kau ketahui.”

Mendadak Ling-ling tertawa mengikik geli sehingga menungging.

Seketika si gemuk mendelik, “Apa yang kau tertawai?”

“Haha, kutertawai dirimu karena menaksir dia,” jawab Ling-ling.

“Mengapa aku tidak boleh menaksir dia?” tanya si gemuk.

“Memangnya kau tahu siapa dia?” tanya Ling-ling.

“Dan apakah kau tahu siapa diriku?” si gemuk balas bertanya.

“Paling tidak engkau tentu bukan adik misannya,” ujar Ling-ling.

“Apakah pernah kau dengar nama si Buddha Perempuan Mahagembira? Aku inilah Ci-cun-po (si mestika mahaagung) anak buahnya, setiap lelaki yang bertemu denganku seluruhnya akan kumakan.”

Hendaknya maklum, Ci-cun-po adalah istilah dalam perjudian Pay-kiu, barang siapa memegang kartu “Ci-cun-po” berarti tak terkalahkan atau semua taruhan akan dimakan semua.

Maka Ling-ling lantas menjawab, “Jika kau berani makan dia, hati-hati bila keselak atau tulangnya mencantol di kerongkongan.”

“Cara kumakan manusia biasanya tanpa menumpahkan tulangnya,” kata si gemuk alias Ci-cun-po. Ia menarik muka dan menyambung pula, “Adik cilik, kuberi nasihat, sebaiknya kau tutup mulut saja. Kalau bukan lantaran aku tidak mau bikin runyam urusan, tentu sejak tadi engkau sudah tutup mulut.”

Ling-ling berkedip-kedip, katanya, “Tapi apakah engkau tidak ingin tahu siapakah dia?”

“Jika kuingin tahu siapa dia kan dapat kutanya dia, tidak perlu kau ikut resah, apalagi … asalkan dia seorang lelaki saja dan sudah cukup bagiku,” Ci-cun-po berpaling dan tertawa kepada Na Kiat-cu, lalu berkata pula, “Tolong kau suka bantu mengenyahkan budak cilik ini dari sini. Kau lihat tempat ini pun lumayan dapat kupinjam pakai sementara, hendaknya engkau jangan mengintip.”

Seluruh tubuh Li Sun-hoan serasa merinding, ingin tumpah tak bisa, ingin mati juga sukar, terpaksa ia berharap Na Kiat-cu akan mencari dan menuntut balas padanya serta lekas membunuhnya.

Konyolnya Na Kiat-cu justru berlagak seperti sama sekali tidak mengenalinya dan tetap berdiri dingin di sana tanpa memandang sekejap, akan tetapi sekarang mendadak ia buka suara, “Aku pun menghendaki lelaki ini!”

Air muka Ci-cun-po berubah hebat, serunya, “Apa? Kau bilang apa?”

Tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan Na Kiat-cu berucap pula sekata demi sekata, “Kubilang aku pun menghendaki lelaki ini?”

Seketika Ci-cun-po mendelik, teriaknya, “Kau berani berebut denganku?”

“Ya, tidak bisa ditawar lagi,” jawab Na Kiat-cu ketus.

Muka Ci-cun-po sebentar pucat sebentar hijau, mendadak ia tertawa dan berkata, “Baiklah, jika kau pun menaksir dia, bagi kita bersaudara kan dapat dirundingkan lebih lanjut.”

“Aku bukan menghendaki orangnya, tapi menghendaki nyawanya,” jengek Na Kiat-cu.

“Ah, itu jadi lebih gampang dibereskan,” seru Ci-cun-po dengan tertawa cerah, “Nanti setelah kupakai dia baru kuserahkan nyawanya kepadamu.”

“Tidak, setelah kucabut nyawanya baru kuserahkan orangnya kepadamu,” kata Na Kiat-cu.

Meski sorot mata Ci-cun-po timbul rasa marah, namun tetap tersenyum dan berkata, “Meski aku sangat menyukai orang lelaki, tapi terhadap orang mati aku tidak berminat.”

“Keadaannya sekarang bukankah tidak banyak berbeda seperti orang mati?” kata Na Kiat-cu.

“Sekarang dia tidak dapat bergerak karena Hiat-to tertutuk, dengan sendirinya aku ada akal untuk membuatnya bergerak,” kata Ci-cun-po dengan tertawa.

“Tapi bilamana dia sudah dapat bergerak, pasti terlambatlah bila nanti aku menghendaki nyawanya.”

Dengan tertawa nyaring Ling-ling menukas, “Betul, bilamana dia dapat bergerak, sekali tangannya bergerak, tentu kalian akan berucap selamat tinggal.”

“Hah, memangnya siapa dia?” melengak juga Ci-cun-po.

“Dia inilah Li si pisau kilat?” kata Ling-ling.

Ci-cun-po melenggong sampai sekian lamanya, kemudian menggeleng perlahan dan berucap, “Tidak, aku tidak percaya. Jika dia benar Li Sun-hoan, mana bisa dia penujui budak cilik macam kau ini.”

“Dia tidak penujui diriku, akulah yang penujui dia,” kata Ling-ling. “Sebab itulah kuharap lekas kalian membunuhnya.”

“Sebab apa?” tanya Ci-cun-po.

“Siocia sering memberitahukan kepadaku, bilamana engkau penujui seorang lelaki, sebaliknya ia menolak kehendakmu, maka lebih baik kau cabut nyawanya daripada dia jatuh lagi ke tangan perempuan lain.”

“Wah, tak tersangka hati budak cilik ini ternyata jauh lebih keji daripadaku,” ucap Ci-cun-po dengan gegetun.

“Nah, apakah sekarang engkau masih tetap menghendaki dia? Engkau benar seberani itu?” tanya Ling-ling.

Ci-cun-po termenung sejenak, katanya kemudian, “Bisa mati di bawah bunga peoni, jadi setan juga tidak penasaran. Kalau dapat menjadi suami-istri dengan lelaki terkenal sebagai Li Sun-hoan, biarpun mati juga tidak perlu menyesal.”

Lalu dia tertawa terhadap Na Kiat-cu dan berkata pula, “Dan kau pun tidak perlu terburu-buru menghendaki dia, sesudah kugunakan orangnya, tetap ada akalku membiarkan nyawanya diberikan padamu.”

Na Kiat-cu tampak bersungut dan tidak bicara.

“Jangan kau lupa, kedatanganku ini adalah untuk membantumu, sedikit banyak kan harus kau beri balas jasa juga kepadaku,” kata Ci-cun-po pula.

Na Kiat-cu termenung sejenak, lalu berkata, “Apabila tangan si lelaki tertebas buntung apakah engkau masih berminat terhadapnya?”

“Tangan buntung sih tidak menjadi soal, asalkan bagian lain tidak buntung,” ujar Ci-cun-po dengan tertawa.

“Jika begitu aku menghendaki sebelah tangannya!” kata si kalajengking biru.

Ci-cun-po berpikir sejenak, “Tangan kanan atau tangan kiri?”

“Dia telah mengutungi tangan kananku, maka haus kutebas juga tangan kanannya,” ucap Na Kiat-cu dengan gemas.

“Baiklah, boleh kau lakukan,” kata Ci-cun-po dengan menyesal. “Tapi hendaknya bekerja secara halus, jangan sampai darah berceceran dan membuat orang muak. Eh, gunakan saja ekor kalajengking itu dan antuplah dia di suatu tempat tubuhnya.”

“Baik, begitu pun boleh,” kata Na Kiat-cu sambil mendekat dengan perlahan, sorot matanya tampak gemerdep.

Cepat Ling-ling berteriak, “Apa betul kalian berani memperlakukan dia cara demikian?”

“Wah, tampaknya hati adik cilik ini yang kesakitan barangkali?” ucap Ci-cun-po dengan lembut.

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong selarik sinar biru menyambar keluar dari lengan baju Na Kiat-cu, secepat kilat menikam ke lengan kanan Li Sun-hoan.

Terdengar suara jeritan ngeri bergema hingga lama, tubuh Li Sun-hoan lantas terbanting ke tanah.

Tapi yang menjerit itu ternyata bukan Li Sun-hoan melainkan Ci-cun-po.

Di tengah jeritan ngeri itu dia telah melemparkan Li Sun-hoan yang dipondongnya dan menerjang Na Kiat-cu dengan kalap.

Namun dengan menggeliat ringan, selicin belut Na Kiat-cu telah menggeser jauh ke sana.

Siapa tahu meski pinggang Ci-cun-po sebesar gentong, gerak-gerik dan reaksinya juga cepat luar biasa, mendadak ia membalik tubuh, sekali raih tangan Na Kiat-cu telah kena dicengkeramnya.

Keruan wajah Na Kiat-cu berubah pucat.

Muka Ci-cun-po sudah berubah menjadi biru hitam, berubah menjadi beringas dan menakutkan, matanya melotot dan berkata dengan menggereget, “Kau … kau berani menyergap diriku, akan kucabut nyawamu!”

Terdengar suara “krek”, tangan Na Kiat-cu telah dibetotnya hingga putus bersama lengan bajunya.

Cepat Na Kiat-cu menggeser beberapa langkah lagi ke samping, tidak terlihat rasa kesakitan sedikit pun pada wajahnya.

Dengan tertawa Na Kiat-cu berkata, “Coba kau lihat apa yang kau pegang itu?”

Waktu Ci-cun-po mengangkat benda yang dipegangnya, tertampak yang terbungkus di balik lengan baju hanya sepotong “ekor kalajengking” yang bercahaya hijau gemerdep.

Kiranya sesudah tangan kanan Na Kiat-cu tertebas putus oleh pisau Li Sun-hoan, sebagai gantinya ia lantas memasang senjata andalan sendiri pada tangan yang buntung itu, lalu ditutup dengan lengan bajunya yang longgar sehingga sukar terlihat dari luar.

“Barang siapa terkena racun ekor kalajengkingku, tidak lebih tujuh langkah berjalan pasti akan mati keracunan,” ucap Na Kiat-cu. “Biarpun badanmu lebih gede daripada orang biasa, bekerjanya racun mungkin lebih lambat, tapi bila engkau mampu berjalan tiga langkah lebih jauh tanpa roboh, untuk itu segera aku akan menyerah padamu.”

Ci-cun-po meraung murka dan menerjang maju lagi. Tapi memang benar, baru dua langkah ia lantas roboh terjungkal.

Na Kiat-cu tidak memandangnya lagi, ia berputar mendekati Li Sun-hoan dan menatapnya dengan dingin, selang sejenak baru bicara dengan perlahan, “Kematian In Gok adalah akibat dia pergi mencari Lim Sian-ji, kedatanganku ke sini sebenarnya bermaksud membikin perhitungan dengan perempuan itu, sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu.”

Tiba-tiba Ling-ling menyela, “Jika kau ingin bicara dengan dia, mengapa tidak kau buka dulu Hiat-tonya?”

Na Kiat-cu tidak menghiraukannya, katanya pula, “Meski engkau telah merusak sebelah tanganku, tapi engkau tidak mencabut nyawaku, betapa pun engkau berbudi padaku. Selama hidup aku cukup tegas membedakan budi dan benci, karena sedikit budimu kepadaku itu, terpaksa aku tidak dapat tinggal diam menyaksikan engkau dinodai oleh babi gemuk tadi.”

Diam-diam Li Sun-hoan menghela napas gegetun, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Na Kiat-cu ternyata orang macam begini.

Didengarnya Na Kiat-cu mendengus lagi, “Sekarang utangku sudah kubayar lunas padamu, utangmu padaku dengan sendirinya juga harus kau bayar, untuk itu aku cuma menghendaki tangan kananmu, tentunya tidak berlebihan bukan permintaanku?”

Tiba-tiba Sun-hoan tertawa, perlahan ia menjulurkan tangan kanan.

Na Kiat-cu jadi melenggong, Ling-ling juga melengak.

Tangan Li Sun-hoan ternyata sudah dapat bergerak, dan dia tidak menggunakan pisau kilatnya.

Seketika Na Kiat-cu hanya memandangi tangan yang terjulur itu dan tidak sanggup bicara lagi.

Tapi Ling-ling lantas berseru, “Hei, ken … kenapa tanganmu mendadak bisa bergerak?”

“Sejak tadi aku telah mengerahkan tenaga untuk membobol Hiat-to yang tertutuk, cuma belum berhasil menembus rintangan terakhir, siapa tahu bantingan tadi justru telah membantu kesukaranku,” tutur Sun-hoan dengan tersenyum.

“Jika begitu mengapa engkau begitu penurut, dia minta tanganmu lantas kau berikan tanganmu begitu saja, ken … kenapa tidak kau berikan dia pisau saja?” kata Ling-ling.

Sun-hoan menarik muka dan tidak menghiraukannya pula, ucapnya perlahan, “Nona Na, apa yang kau minta memang tidak berlebihan, aku juga tidak menyesal. Nah, silakan!”

Kembali Na Kiat-cu termenung sekian lama, kemudian menghela napas panjang dan bergumam, “Di dunia ini ternyata ada manusia semacam ini ….”

Sampai dua kali dia bergumam begitu, mendadak mengentak kaki terus mau tinggal pergi.

Tapi entah kapan Li Sun-hoan telah melompat bangun dan merintangi perginya sambil berkata, “Harap tunggu sebentar.”

“Tunggu apa lagi?” Na Kiat-cu tersenyum pedih. “Sejak tanganmu terjulur, saat itu juga utangmu sudah terbayar lunas. Meski aku ini seorang perempuan, sedikitnya aku pun tahu arti moral.”

Mendadak Ling-ling menyela pula, “Pembawaan perempuan boleh tidak bicara tentang moral, itulah hak asasi orang perempuan. Pembawaan kaum lelaki lebih kuat daripada kaum perempuan, maka adalah pantas kaum lelaki mengalah beberapa bagian kepada kaum perempuan.”

“Siapa yang bilang demikian,” tanya Na Kiat-cu.

“Dengan sendirinya kudengar dari Siocia kami.”

“Kau percaya kepada ocehannya?”

“Dia kan bicara bagi kaum wanita kita, setiap perempuan harus setuju kepada filsafatnya ini.”

Mendadak Na Kiat-cu mendekati Ling-ling dan memberinya beberapa kali tamparan sehingga anak dara itu melongo bingung.

Lalu Na Kiat-cu menjengek, “Aku juga serupa kalian, bukan perempuan baik. Tapi aku sengaja memukulmu, apakah kau tahu apa sebabnya?”

“Sebab … sebab kau ….” dengan gemas Ling-ling hendak memaki, tapi belum habis ucapannya ia lantas mendekap muka sendiri dan menangis.

“Sebabnya adalah karena di dunia ini ada perempuan semacam kalian ini, makanya perempuan dipandang hina oleh kaum lelaki,” ucap Na Kiat-cu. “Dan karena lelaki memandang hina kaum perempuan, maka aku ingin membalas dendam dan akibatnya telah kulakukan hal-hal begitu.”

Makin lirih suaranya sehingga akhirnya agak tersendat, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Pada waktu kulakukan hal-hal begitu, dalam hatiku juga tahu perbuatanku itu bukan cuma menghancurkan orang lain, tapi juga merusak diriku sendiri. Selama hidupku lantas hancur oleh perbuatanku sendiri itu.”

“Apa yang sudah lalu biarkan lalu, engkau masih muda, masih dapat mulai dari awal,” ujar Sun-hoan dengan suara lembut.

Na Kiat-cu menghela napas panjang, “Engkau berpikir demikian, akan tetapi bagaimana orang lain? ….”

“Asalkan kita meraba hati sendiri dan merasa tidak malu, peduli apa dengan orang lain?” ujar Sun-hoan. “Seorang hidup hanya untuk dirinya sendiri dan bukan demi orang lain.”

Na Kiat-cu menengadah dan memandangnya lekat-lekat, lalu bertanya sekata demi sekata, “Apa betul kau hidup hanya bagi dirimu sendiri?”

“Aku ….” Sun-hoan jadi gelagapan.

Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Na Kiat-cu, gumamnya, “Dapat berkenalan dengan orang semacam kau, siapa pun pasti takkan menyesal. Cuma sayang aku tidak kenal dirimu pada sepuluh tahun yang lalu ….”

Sampai di sini, segera ia melayang pergi, terdengar suaranya berkumandang dari jauh, “Mayat Ci-cun-po boleh tinggalkan saja di situ, tentu aku akan kembali untuk membersihkannya, apa yang kulakukan selamanya tidak mau bikin repot orang lain ….”

Semula Ling-ling sedang menangis perlahan, mendadak ia mengangkat kepala dan menjengek, “Huh, sudah jelas berbuat salah, tapi orang lain yang disalahkan. Jelas dirinya sendiri bukan orang baik, justru berlagak gagah kesatria segala. Huh, orang macam begini hanya bikin muak saja.”

“Sebenarnya dia bukan orang semacam yang kau bayangkan,” ucap Sun-hoan dengan menyesal.

Ling-ling mencibir, “Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu apa saja yang telah diperbuatnya?”

“Apa pun yang diperbuatnya, pada dasarnya dia tetap berhati baik,” kata Sun-hoan pula. “Seorang asalkan mempunyai dasar yang baik tentu masih dapat diperbaiki.”

Mata Ling-ling menjadi basah lagi, ucapnya dengan menggigit bibir, “Tentu kau anggap pada dasarnya aku ini jahat dan tidak ada obatnya lagi, betul tidak?”

Sun-hoan tertawa, “Ah, engkau masih anak kecil, belum paham apa artinya baik buruk, belum tahu apa yang bajik dan apa yang jahat. Asal saja ada orang mau membimbing dirimu dengan baik, kukira masih keburu.”

“Engkau mau membimbingku?” tanya Ling-ling sambil berkedip-kedip.

“Asal ada kesempatan selanjutnya ….”

“Selanjutnya? Mengapa harus menunggu selanjutnya, kenapa tidak sekarang saja ….”

“Kau tahu sekarang kuharus menyusul Kwe Ko-yang, asalkan aku masih dapat kembali lagi ke sini ….”

“Kutahu, sekali pergi engkau takkan kembali lagi untuk selamanya,” Ling-ling memotong pula. “Ya, kutahu, aku ini cuma seorang anak kecil, tokoh besar semacam dirimu mana bisa kembali ke sini demi seorang anak?”

Ia kucek-kucek matanya dan menyambung pula, “Apalagi, aku memang bukan apa-apamu, kelak aku akan menjadi baik atau buruk pada hakikatnya juga tidak perlu kau pikirkan. Umpama kelak aku akan berubah sepuluh kali lebih jahat daripada Na Kiat-cu juga tidak ada sangkut pautnya denganmu, biarpun aku dibunuh orang di tengah jalan juga mayatku takkan kau kuburkan.”

Di depan seorang nona cilik, hati siapa yang tega?

Terpaksa Sun-hoan cuma menyengir saja, ucapnya, “Aku pasti akan kembali menjengukmu ….”

“Orang sibuk seperti dirimu, bila engkau teringat padaku dan kembali ke sini, bisa jadi sudah lama aku mati atau sudah berubah menjadi seorang nenek ompong dan reyot.”

“Tidak, selekasnya aku akan kembali ke sini ….”

Seketika Ling-ling berhenti menangis dan menegas, “Betul? Selekasnya engkau akan kembali? Kapan? Akan kutunggu!”

Sun-hoan tersenyum pahit, “Asalkan aku masih hidup, setelah bertemu dengan Kwe Ko-yang, pasti kukembali dulu ke sini untuk menjengukmu.”

Serentak Ling-ling berjingkrak kegirangan, ia melompat dan merangkul leher Sun-hoan sambil berseru, “Oo, engkau sungguh orang baik. Demi engkau, aku pasti akan menjadi orang baik. Cuma jangan sekali-kali engkau dusta padaku, kalau tidak, aku pun tak mau belajar menjadi baik.”

*****

Beban pikiran Li Sun-hoan memangnya sudah cukup berat, sekarang jadi tambah berat lagi.

Hidup Ling-ling nanti akan menjadi baik atau buruk sekarang seolah-olah telah berubah menjadi kewajibannya dan sukar ditolak lagi. Ibaratnya memegang ubi bakar, dibuang sayang, tidak dibuang tangan bisa terbakar. Ia sendiri tidak tahu mengapa ubi bakar ini bisa dipegang olehnya. Ia cuma dapat menyengir saja.

Selama hidupnya ubi bakar yang dipegangnya memang juga sudah terlalu banyak. Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana mengatur nona cilik ini.

Tapi ia pun tidak sempat lagi untuk memikirkan urusan ini, baginya sekarang cuma ada satu urusan penting. Yaitu, ia berharap Kwe Ko-yang belum lagi bertemu dengan Hing Bu-bing dan Siangkoan Kim-hong. Ia harap kepergiannya ini belum terlalu terlambat. Sungguh kalau punya sayap Sun-hoan ingin segera terbang ke sana.

*****

Daun pohon trembesi tampak rontok memenuhi tanah, agaknya rontok lantaran berhamburnya sinar pedang. Suasana sunyi, kecuali gemeresik daun rontok tidak terdengar suara lain.

Apakah pertarungan sengit sudah berakhir?

Lantas siapa pihak yang menang?

Di dalam hutan tiada bayangan orang, umpama sang bayu dapat bicara juga sukar memberitahukan kabar yang ingin diketahui Sun-hoan. Hanya gemercik air mengalir serupa sedang menangisi orang yang kalah.

Jika Kwe Ko-yang sudah mati dalam pertempuran, lantas di mana mayatnya?

Sun-hoan berdiri di tepi sumber air, mendadak ia terbatuk-batuk lagi.

Sang surya sudah menghilang di balik gunung, tiba-tiba dilihatnya air sumber yang sangat jernih itu sekarang membawa warna merah tipis.

Apakah darah orang yang kalah yang telah membuat air sumber menjadi merah?

Sun-hoan coba menuju ke arah hulu sungai kecil itu, dilihatnya sebuah air terjun dengan tabir airnya yang tertuang dari atas tebing setinggi ratusan tombak sana. Dan di tengah tabir air terjun itu tergantung sesosok tubuh manusia.

Orang ini tergantung dua tiga tombak dari permukaan tanah, gerak air terjun sampai di sini sebenarnya tambah keras, namun orang yang tergantung ini tidak keterjang ke bawah.

Baju orang ini seperti berwarna hitam, pakaiannya sudah tidak keruan tersapu oleh air terjun sehingga potongan kain hitam bertebaran dan terhanyut oleh air.

Namun orang itu masih tetap tergantung lurus di situ tanpa bergerak.

Tak tertahan lagi Sun-hoan berteriak, “Kwe Ko-yang … Kwe-heng ….”

Serentak ia melompat ke atas, pandangan menjadi kabur tertutup oleh kabut air dengan rasa dingin yang merasuk tulang, dirasakan pula daya tolak air terjun yang luar biasa dahsyatnya menerjang dari atas.

Namun dia sempat menerobos ke atas dan meraih tangan orang itu. Tangan yang sudah kaku dan dingin.

Sun-hoan memang tidak salah lihat, orang yang tergantung di tengah tabir air terjun ini memang betul Kwe Ko-yang adanya.

Sekujur badan Kwe Ko-yang sudah dingin, sebelah tangannya masih tetap menggenggam pada tangkai pedangnya, mati pun tak dilepaskannya.

Pedangnya yang terkenal, Ko-yang-thi-kiam, tampak ambles ke dalam dinding tebing sebatas tangkai, jelas sebelum mati dengan segenap sisa tenaganya ia tancapkan pedangnya ke dalam tebing dan dia juga bergelantungan di situ.

Untuk apakah dia berbuat begini?

Baru saja Sun-hoan menurunkan mayat Kwe Ko-yang dan membaringkannya di atas batu di tepi sungai, segera didengarnya ada orang bertanya di belakang, “Kenapa dia berbuat demikian?”

Tanpa menoleh Sun-hoan lantas mengenali suara Ling-ling, nona ini seperti sudah bertekad akan menggodanya, diam-diam dia telah ikut kemari.

Didengarnya Ling-ling berkata pula, “Mengapa dia menggantung diri sendiri di situ? Apakah ia khawatir engkau tidak dapat menemukan dia? Mengapa pada saat ajalnya dia sengaja mencuci diri sendiri sebersih ini?”

Sun-hoan menghela napas panjang, “Manusia dilahirkan dalam keadaan bersih, matinya juga harus pulang dengan bersih. Cuma saja, kecuali ini tentu dia masih mempunyai maksud lain.”

“Maksud apa?” tanya Ling-ling.

“Sebab dia tidak ingin mayatnya dikuburkan orang, juga tidak mau dibawa pergi orang lain.”

“Mengapa begitu? Memangnya dia sengaja menunggumu di sini?”

“Ya, dia justru menunggu kedatanganku,” kata Sun-hoan dengan terharu.

“Dia kan sudah mati, untuk apa pula menunggumu?”

Sun-hoan memandang ke langit dan menjawab, “Sebab ada urusan yang perlu diberitahukannya kepadaku.”

Ling-ling melenggong, “Apa … apa yang hendak diberitahukannya kepadamu? Apakah sekarang engkau sudah tahu? Dia telah memberitahukan padamu?”

“Ya, betul.”

“Tapi … tapi waktu kau tiba di sini dia kan sudah mati?”

Sun-hoan memandang jenazah Kwe Ko-yang sambil menghela napas panjang, “Memang betul, betapa pun kedatanganku tetap terlambat.”

“Jika dia sudah mati lebih dulu, masa dapat memberitahukan sesuatu padamu? Masa orang mati dapat bicara?”

“Ada sementara urusan tidak perlu dibicarakan juga dapat kudengar,” ujar Sun-hoan.

Ling-ling tambah bingung, juga makin takut. Biasanya manusia memang suka merasa ngeri terhadap hal-hal yang sukar dipahami.

Setelah termenung sejenak Sun-hoan berkata pula, “Apakah kau pun ingin tahu apa yang telah dikatakannya kepadaku!”

Ling-ling menggigit bibir dan mengangguk.

“Sebenarnya apa yang diberitahukannya juga dilihat olehmu, soalnya tidak kau perhatikan,” tutur Sun-hoan. “Ketahuilah, sesuatu yang kau terima dari orang mati sering kali sangat berharga, sebab hal ini adalah hasil pengalamannya yang diperoleh dengan jiwanya, bilamana kau dapat belajar cara mendengarkan ucapan orang mati, tentu akan tambah banyak urusan yang kau pahami.”

Bibir Ling-ling tampak pucat, “Namun cara bagaimana dapat kudengar perkataan orang mati?”

“Untuk belajar mendengar perkataan orang mati tentu saja bukan pekerjaan gampang,” kata Sun-hoan. “Tapi jika kau ingin hidup lebih lama, hendaknya berusaha mempelajarinya.”

Dia bicara dengan serius, sedikit pun tidak ada tanda bercanda.

Dengan suara rada gemetar Ling-ling berkata, “Tapi cara … cara bagaimana mempelajarinya? Maukah engkau mengajariku?”

“Coba dengarkan lagi dengan cermat,” kata Sun-hoan.

Nona cilik itu lantas memejamkan mata, dia benar-benar mendengarkan dengan cermat, akan tetapi tiada sesuatu yang terdengar.

“Bukan cuma mendengarkan dengan telinga, juga harus pakai mata,” kata Sun-hoan pula.

Ling-ling lantas membuka mata. Dilihatnya pakaian Kwe Ko-yang yang memang sudah robek tersayat oleh pedang, setelah digerujuk oleh air terjun, sekarang tubuhnya sudah hampir telanjang bulat.

Warna kulit tubuhnya sudah berubah kelabu, sebab darahnya sudah habis, setelah dicuci lagi oleh air terjun, kulit daging pada luka yang tersayat pedang lantas menyingkap ke atas, tapi tidak tertampak noda darah lagi.

Selang sekian lama barulah Sun-hoan bertanya, “Nah, apa yang telah kau dengar? Dan apa pula yang kau lihat?”

“Kulihat … kulihat banyak bekas luka pada tubuhnya, seluruhnya ada … ada 19 tempat.”

“Betul,” kata Sun-hoan.

“Luka ini tampaknya bekas luka pedang seluruhnya, malahan jelas dilukai oleh sejenis pedang yang sangat tipis dan sangat tajam.”

“Apa dasarnya?” tanya Sun-hoan.

“Sebab lukanya sangat ciut, juga tidak terlalu dalam, jelas hanya dirobek oleh ujung sejenis senjata tajam.”

“Dan mengapa kau yakin pasti ujung pedang?”

“Sebab ujung tombak atau ujung golok tentu tidak setajam ini,” setelah tertawa, lalu Ling-ling melanjutkan, “Dari sini terbuktilah orang yang melukai dia ialah Hing Bu-bing, sebab senjata andalan Siangkoan Kim-hong adalah Liong-hong-goan (gelang baja naga dan hong) dan bukan pedang, bisa jadi Siangkoan Kim-hong tidak hadir di sini.”

“Mungkin juga hadir, cuma tidak ikut turun tangan,” sambung Sun-hoan.

Ling-ling mengangguk, tiba-tiba katanya pula, “Luka ini semuanya agak serong, bagian bawah lebih dalam dan bagian atas lebih dangkal.”

“Betul juga,” kata Sun-hoan.

“Ini menandakan setiap pedang lawan dicukit dari bawah ke atas,” kata Ling-ling, “Ilmu pedang begini pasti sangat aneh, sudah sering kudengar orang bilang ilmu pedang Hing Bu-bing sangat aneh dan cepat luar biasa, jarang ada bandingannya di dunia persilatan, tampaknya memang betul.”

“Ya, ilmu pedangnya selain sangat aneh juga selalu mengincar bagian yang sama sekali tak terpikir oleh lawan,” tukas Sun-hoan dengan menghela napas. Lalu ia tuding satu tempat luka di bagian lutut Kwe Ko-yang, “Coba kau lihat luka ini … jelas luka ini pun bagian bawah lebih dalam daripada bagian atas, hal ini menandakan pedangnya juga dicukitkan dari bawah ke atas.”

“Betul,” Ling-ling mengangguk.

“Dari sini dapat diketahui gerak tangan Hing Bu-bing pasti dilakukan dari bawah lutut, dengan mempergunakan tenaga pergelangan tangan,” ujar Sun-hoan. “Jika aku tidak melihat luka demikian, tentu takkan terpikir olehku ada orang mampu menyerang dengan cara begini.”

Ling-ling cuma mengangguk saja.

“Yang kau lihat hanya bagian depannya, padahal pada punggungnya masih ada tujuh tempat luka, dengan kelihaian Kwe Ko-yang, tidak nanti ia pun menyerahkan punggungnya untuk diserang musuh.”

“Ya, sekalipun diriku juga takkan kuhadapi lawan dengan berdiri mungkur,” kata Ling-ling.

“Dari sini pun terbukti luka-luka yang diderita Kwe Ko-yang ini pasti terjadi pada waktu kedua orang pedang bergeser menyilang, dengan begitu terpaksa pedang Hing Bu-bing harus menusuk dari bawah ketiak supaya dapat mencapai sasarannya.”

“Ya, hal ini memang rada aneh,” ucap Ling-ling.

“Ada lagi, jika ilmu pedang Hing Bu-bing seganas itu, mengapa ke-26 luka Kwe Ko-yang ini cuma luka ringan saja, mengapa dalam serangan 26 kali itu Hing Bu-bing tidak membinasakan Kwe Ko-yang saja?”

Ia menghela napas menyesal dan menyambung pula, “Menyerang dari bawah ketiak adalah ilmu pedang yang jarang terlihat, yang paling aneh adalah gerak serangan beberapa kali ini juga mencukit dari bawah ke atas, dari sini dapat diketahui pasti Hing Bu-bing telah berubah gaya memegang pedang pada saat kedua orang bersimpang tempat, waktu berubah cara memegang pedang dan waktu menyerang pasti dilakukan dalam satu rangkaian gerakan yang sama, sebab itulah kecepatannya pasti juga sangat menakutkan.”

Ling-ling tampak terkesima mendengar uraian Li Sun-hoan. Selang agak lama barulah ia menghela napas dan berucap, “Kiranya hal-hal inilah yang ingin diberitahukannya kepadamu.”

“Ya, kalau tidak, dengan kepandaiannya tidak nanti dia menderita luka sebanyak itu,” ucap Sun-hoan dengan sedih. “Coba kau pikir, Ko-yang-thi-kiam sudah termasyhur selama lebih 20 tahun, melulu soal ilmu pedangnya sudah terhitung jago kelas satu atau dua di zaman ini, mana mungkin dalam pertandingan ini dia memperlihatkan titik lemahnya sampai 26 tempat dan berturut-turut kena dilukai lawan 26 kali.”

“Betul, apa sebabnya?”

Sun-hoan menghela napas dengan sedih, lalu berkata, “Sebabnya adalah karena ke-26 titik kelemahan itu memang sengaja diperlihatkan oleh Kwe Ko-yang untuk memancing serangan Hing Bu-bing.”

“Sengaja? ….” Ling-ling jadi melengak. “Masa dia sengaja membiarkan dirinya dilukai Hing Bu-bing?”

“Betul, justru lantaran dia sengaja memperlihatkan titik lemahnya, makanya setiap kali juga dia sempat mengelak sehingga luka yang dideritanya tidak parah.”

Ling-ling tambah tidak mengerti, “Memangnya untuk apakah dia berbuat demikian?”

Kembali Sun-hoan menghela napas menyesal, “Dia berbuat demikian adalah karena dia ingin memberitahukan kepadaku cara bagaimana Hing Bu-bing melancarkan serangannya.”

Ling-ling tidak dapat bicara lagi. Selang sekian lama kembali ia mencucurkan air mata pula, ucapnya dengan menunduk. “Tadinya kusangka di dunia ini tidak terdapat seorang pun orang baik, manusia bersahabat juga cuma untuk saling peralat saja, sebab itulah seorang kalau ingin hidup dengan baik harus belajar dulu cara bagaimana memperalat orang lain, cara bagaimana menipu dan berdusta, sama sekali tidak boleh bicara tentang moral. Kalau tidak, yang rugi pasti dirimu sendiri.”

“Apakah kata-kata ini juga ajaran Lim Sian-ji?” tanya Sun-hoan.

Ling-ling mengangguk, “Ya, tapi sekarang kutahu di dunia ini toh ada juga orang baik, di dunia Kangouw juga terdapat sahabat yang lebih mengutamakan setia kawan daripada mati-hidup sendiri.”

Mendadak ia berlutut di depan mayat Kwe Ko-yang, katanya dengan menangis, “O, Kwe-siansing, meski tidak beruntung engkau telah meninggal, tapi engkau selain telah membantu sahabatmu, engkau juga telah membikin kutahu dalil orang hidup. Semoga di alam baka engkau dapat tidur dengan tenang.”

*****

Menjelang senja di jalan setapak lereng gunung sana dua orang sedang melangkah, cahaya senja menyinari pakaian mereka dan memantulkan semacam cahaya emas yang aneh.

Kedua orang ini sama mengenakan caping yang bertepian lebar sehingga wajah mereka tersembunyi di bawah bayang-bayang caping. Seorang berjalan di depan dan yang lain mengikut kencang di belakangnya.

Langkah mereka tidak cepat juga tidak lambat, kelihatan adem ayem saja, kecuali kakinya yang bergerak, keduanya tidak bicara, juga tidak memperlihatkan gerakan lain.

Tapi dari tubuh mereka seakan-akan timbul semacam hawa membunuh tak berwujud, sebelum mereka memasuki hutan, kawanan gagak sudah terkejut oleh hawa seram sehingga berbunyi dan terbang.

Ada beberapa ekor burung gagak yang kebetulan terbang melintasi kepala mereka, orang yang berjalan di belakang itu mendadak mengangkat tangannya, tertampaklah sinar tajam gemerdep, menyusul terdengar bunyi gagak jatuh terjungkal.

Sama sekali orang itu tidak memandang ke atas, dia tetap melangkah ke depan seperti biasa, tetap mengikut kencang di belakang.

Nyawa, baginya seakan-akan bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

Betapa pun dia tidak mengizinkan sesuatu makhluk berjiwa mengancam di atas kepalanya.

Di dalam hutan sangat gelap. Sampai di sini, orang yang berjalan di depan mendadak berhenti, hampir pada saat yang sama orang yang mengikut di belakang juga lantas berhenti.

Angin mendesir, daun rontok beterbangan.

Orang yang di depan itu ialah Siangkoan Kim-hong, mendadak ia bertanya, “Bagaimana dengan ilmu pedang Kwe Ko-yang?”

“Bagus!” jawab orang di belakang, ialah Hing Bu-bing.

“Sangat bagus?” Siangkoan Kim-hong menegas.

“Ya, sangat bagus, pasti di atas para pemimpin Jit-toa-kiam-pay (tujuh perguruan besar).”

“Tapi pada waktu kau tempur dia, titik lemah yang diperlihatkannya sampai 26 kali.”

“Malah 29 kali, ada tiga kali tidak kuserang dia,” kata Hing Bu-bing.

Perlahan Siangkoan Kim-hong mengangguk. “Ya, betul, ada tiga kali engkau tidak menyerang. Sebab apa?”

“Sebab kalau kuturun tangan pada ketiga kali itu, seketika dapat kucabut nyawanya. Aku tidak menghendaki dia mati terlalu cepat, sebab perlu kugunakan dia untuk berlatih.”

“Apakah kau tahu sebab apa dia sengaja memperlihatkan titik kelemahannya kepadamu?”

“Tidak tahu, tidak kupikirkan,” kata Bu-bing.

Kecuali ilmu pedang yang harus membunuh itu, apa pun tidak ingin dipikirnya.

“Dia sengaja memperlihatkan ciri kelemahannya, tujuannya adalah hendak mencederaimu,” kata Siangkoan Kim-hong.

“Oo?!” melengak juga Hing Bu-bing.

“Dia menyadari bukan tandingan kita, maka dia berbuat demikian,” kata Siangkoan Kim-hong pula. “Dia sengaja membiarkan Li Sun-hoan melihat luka yang dideritanya, agar Li Sun-hoan dapat mempelajari gerak seranganmu.”

Ia menengadah dan memandang ke balik gunung sana, lalu berkata lagi, “Dari ini dapat diketahui dia pasti sudah tahu Li Sun-hoan tentu akan menyusulnya ke sana, apabila sekarang kita balik lagi ke sana pasti dapat menemukan dia di sana.”

*****

Di tempat A Fei sana Li Sun-hoan mendapatkan sebuah cangkul dan sedang menggali liang Jahat. Mati di situ segera dikubur di situ, inilah tempat berpulang kebanyakan orang Kangouw.

Ling-ling hanya menonton saja di samping, sebab Sun-hoan tidak mau anak dara itu membantunya, ia ingin menggali kuburan itu sendirian, apa yang harus dilakukannya biasanya tidak suka dicampuri orang lain.

“Apakah engkau benar-benar hendak mengubur Kwe-siansing di sini?” tiba-tiba Ling-ling bertanya.

Sun-hoan mengangguk tanpa bersuara.

“Seorang asalkan dapat mati dengan gemilang, dikubur di mana pun sama saja, begitu bukan?” kata Ling-ling pula.

“Ya,” ucap Sun-hoan singkat.

“Jika begitu, tidaklah layak kau kubur dia di sini.”

“Habis dikubur di mana kalau tidak di sini?”

“Mestinya kau gantung dia lagi di tengah air terjun sana.”

Sun-hoan diam saja tanpa menanggapi.

Perlahan Ling-ling menyambung pula, “Tokoh besar semacam Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing itu cepat atau lambat pasti juga dapat mengetahui jalan pikiran Kwe-siansing, betul tidak?”

“Ya,” jawab Sun-hoan.

“Dengan sendirinya Hing Bu-bing tidak ingin ciri gerak serangannya diketahui olehmu, maka bila mereka teringat kepada hal ini, mereka pasti akan segera memutar balik lagi kemari.”

“Betul,” kata Sun-hoan.

“Bila mereka putar balik dan melihat jenazah Kwe-siansing sudah tidak berada di tempat semula, mereka pasti akan menduga engkau sudah mendatangi tempat itu.”

Sun-hoan mengangguk.

“Dan bilamana mereka bergebrak denganmu, tentu mereka akan mengubah gerak serangan yang telah kau ketahui, dan jika terjadi demikian, bukankah usaha Kwe-siansing menjadi sia-sia?”

Sun-hoan masih terus mengayun cangkulnya, liang kubur sudah hampir selesai digalinya.

Ling-ling berkata pula, “Jika engkau adalah sahabat baik Kwe-siansing, maka engkau harus menjadikan kematiannya cukup berharga, maka kau pun tidak boleh menguburnya di sini.”

Perlahan Sun-hoan menjawab, “Apa yang kau katakan juga sudah kupikirkan seluruhnya.”

“Jika begitu mengapa tidak kau pindahkan kembali jenazah Kwe-siansing ke tempat semula?”

“Aku tidak dapat berbuat demikian,” ucap Sun-hoan sekata demi sekata, “Dia mati bagiku, aku ….”

Ling-ling memotong ucapannya, “Justru dia mati lantaran dirimu, maka engkau harus bertindak demikian, kalau tidak, kan sia-sia kematiannya? Dapatkah dia tenteram di alam baka?”

Agak lama juga Sun-hoan termenung, katanya kemudian, “Aku berani bertaruh, Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing pasti tidak akan kembali lagi ke sini. Apakah kau berani bertaruh denganku?”

*****

Waktu itu Hing Bu-bing sudah memutar badan.

“Kau mau kembali ke sana mencarinya?” tanya Siangkoan Kim-hong.

Hing Bu-bing mengiakan.

“Kutahu sudah lama kau ingin berperang tanding dengan Li si pisau kilat, akan tetapi engkau tidak boleh pergi sekarang.”

“Sebab apa?” tanya Bu-bing.

“Jika kau pergi sekarang, kau pasti kalah!”

“Dari … dari mana kau tahu aku pasti akan kalah?” ucap Bu-bing dengan tangan meraba tangkai pedang, suara pun rada parau.

“Kwe Ko-yang sudah kau bunuh, semangatmu sudah berkurang, sebaliknya saat ini Li Sun-hoan lagi dirangsang kemurkaan, bila kau tempur dia, dalam hal semangat dan nekat engkau sudah kalah tiga bagian.”

Hing Bu-bing bersuara tidak setuju.

“Setelah bertempur, ditambah lagi menempuh perjalanan pergi-datang, betapa tenagamu pasti berkurang, sebaliknya Li Sun-hoan menanti di sana dengan adem ayem, dalam hal tenaga kembali dia menang tiga bagian.”

“Tapi engkau ….”

“Jika kita bergabung tentu saja dapat membinasakan dia,” tukas Siangkoan Kim-hong. “Tapi dari mana kau tahu Li Sun-hoan cuma datang sendirian? Jika dia datang bersama Sun-loji, lantas bagaimana jadinya?”

“Cuma mereka berdua saja juga belum tentu ….”

Kembali Siangkoan Kim-hong memotong ucapannya, “Kan sudah kukatakan kepadamu, setelah tampil kembali di dunia Kangouw, bagiku cuma ada menang dan tidak boleh kalah, kalau tidak mutlak akan menang tidak mau turun tangan.”

Hing Bu-bing diam saja.

“Apalagi,” sambung Siangkoan Kim-hong, “engkau sekarang sudah bukan engkau yang dulu lagi.”

“Aku tetap aku,” jawab Bu-bing.

“Tapi sekarang engkau sudah berperasaan.”

“Berperasaan?” melengak juga Hing Bu-bing.

“Engkau bisa menangkan setiap pertarungan adalah karena engkau tidak berperasaan, sekarang engkau sudah ada perasaan, orang dan pedangnya pasti akan kian hari kian lemah ….”

Tangan Hing Bu-bing yang menggenggam pedang menjadi kendur, agaknya karena isi hatinya kena dibongkar orang.

“Selamanya engkau berkeras hati, mengapa sekarang timbul perasaanmu, siapakah yang menggodakan hatimu?”

Mendadak Hing Bu-bing membalik tubuh dan berucap, “Tidak ada!”

“Bukan maksudku ingin tahu siapa orang itu, aku cuma ingin memberi nasihat, jika kau ingin mengalahkan Li Sun-hoan, maka engkau harus kembali kepada sediakala, dan jika engkau ingin kembali seperti sediakala, lebih dulu harus kau bunuh perempuan yang mengguncangkan perasaanmu itu.”

Bicara sampai di sini dia lantas melangkah masuk ke hutan sana.

Bu-bing termenung sejenak, akhirnya ikut juga ke sana sambil meraba tangkai pedang pula.

*****

Malam sudah larut.

Perasaan Li Sun-hoan sama beratnya seperti langkahnya.

Akhirnya Kwe Ko-yang sudah dikuburnya, pendekar pedang yang termasyhur ini telah berpulang serupa kebanyakan orang, akhirnya cuma berwujud segundukan tanah belaka.

Apakah kematiannya jauh lebih berharga daripada orang lain?

Sun-hoan tampak rawan, ia pun tidak tahu bagaimana jawabnya? Ia cuma tahu mestinya Kwe Ko-yang tidak perlu mati, orang yang mestinya tidak perlu mati ternyata mati, bukankah konyol? Padahal Sun-hoan sendiri bukankah juga konyol?

Ling-ling mengintil di belakangnya, tiba-tiba ia bertanya, “Dari mana kau tahu Siangkoan Kim-hong berdua pasti takkan datang lagi.”

“Biasanya bilamana mereka sudah menggempur sesuatu, berhasil atau tidak mereka segera mengundurkan diri, lalu menunggu lagi kesempatan lain yang lebih menguntungkan, mereka pasti tidak mau melakukan sesuatu yang tidak meyakinkan.”

Ling-ling menunduk dan menghela napas, katanya kemudian, “Berada bersamamu aku telah tambah banyak macam-macam pengetahuan. Cuma sayang, engkau segera akan pergi dan pasti … pasti takkan membawa serta diriku.”

“Tapi paling tidak akan kubawa kau pulang dulu,” ujar Sun-hoan.

“Jika begitu, kenapa kita tidak mengambil jalan di bawah tanah itu, kan jalan itu lebih dekat?”

“Aku bukan tikus, kenapa mesti main terobos di bawah tanah?” Sun-hoan tertawa, lalu menyambung, “Hanya manusia yang suka main sembunyi-sembunyi saja suka berjalan di tempat begitu, seorang kalau tidak dalam keadaan terpaksa sebaiknya jangan memakai jalan di bawah tanah.”

Meski pikiran sendiri tertekan, tapi dia selalu berusaha membuat orang bergembira.

Benarlah, Ling-ling lantas tertawa, katanya, “Baik, kuturut nasihatmu, selanjutnya aku pasti takkan menjadi tikus.”

Lalu dia menyambung. “Terus terang, perutku sekarang terasa lapar sekali, setiba di rumah pekerjaan pertama adalah mengolah beberapa macam santapan enak untuk tangsel perut.”

Belum habis ucapannya, mendadak ia merandek, sebab tiba-tiba tercium olehnya bau sedap santapan dan harum arak, di tanah pegunungan, bau demikian jauh lebih menusuk hidung daripada di tempat lain.

“Ehmm, bau ayam goreng, Ang-sio-bak dan … arak simpanan,” gumam Sun-hoan.

“Kau pun dapat mencium bau sedap itu?” tanya Ling-ling dengan tertawa.

“Orang yang sudah mulai lanjut usia, mungkin telinganya akan berubah agak tuli dan mata pun mulai lamur, tapi hidung akan tetap tajam seperti biasa.”

“Dapatkah kau cium bau sedap ini tersiar dari mana?”

Sun-hoan menggeleng, “Kutahu rumah makan di kota kecil itu tidak tersedia arak sebagus ini, juga tidak mampu mengolah santapan sebaik ini.”

“Apalagi rumah makan itu pasti sudah tutup pintu,” tukas Ling-ling.

“Ya, mungkin ada keluarga suka makan sedang mengadakan jamuan malam.”

Ling-ling menggeleng, “Tidak mungkin, beberapa puluh keluarga penduduk tempat ini kukenal seluruhnya, mereka hidup hemat dan jarang makan enak, umpama ada perjamuan paling-paling juga cuma masak beberapa mangkuk bakmi saja. Apalagi kutahu jelas tiada seorang pun di antara mereka mampu mengolah hidangan sesedap ini, sebab yang mahir masak di sini cuma ada satu orang saja.”

“Siapa?” tanya Sun-hoan.

“Aku,” jawab Ling-ling sambil menuding hidungnya sendiri. Lalu ia menyambung dengan kening bekernyit, “Sebab itulah aku jadi heran, belum lagi aku masuk dapur, dari mana datangnya bau sedap hidangan ini?”

Dalam pada itu mereka sudah keluar dari mulut lembah.

Tiba-tiba Sun-hoan berkata, “Eh, bau sedap makanan ini ternyata teruar dari villa tempat tinggalmu.”

Pada umumnya orang pegunungan tidur sangat dini dan bangun juga sangat dini, kini sudah larut malam, hampir tidak ada pelita yang menyala di rumah penduduk. Tapi dari jauh terlihat villa tempat tinggal Ling-ling itu terang benderang. Bukan saja tercium bau sedap santapan, lamat-lamat terdengar juga suara senda gurau laki perempuan yang ramai.

Ling-ling jadi melenggong.

“Jangan-jangan Siociamu sudah pulang,” ucap Sun-hoan.

“Tidak mungkin,” kata Ling-ling. “Dia bilang sedikitnya tiga atau lima bulan lagi baru akan pulang.”

“Tamu tempatmu memang tidak sedikit, mungkin ada tamu datang dari jauh, karena tuan rumah tidak ada, mereka lantas makan minum sendiri.”

“Biar kunaik dulu untuk melihatnya, engkau ….”

“Tidak, aku saja naik dulu ke sana,” kata Sun-hoan.

“Kenapa? Jika orang-orang ini makan-minum dengan riangnya di situ, jelas mereka tidak berniat jahat, masakah engkau khawatir aku akan menemui bahaya?”

Sun-hoan tertawa, katanya, “Soalnya aku juga sangat lapar.”

Dia lantas mendahului menaiki tangga kecil itu, sangat hati-hati jalannya, seakan-akan sudah dirasakan ada orang telah memasang perangkap di situ dan lagi menanti kedatangannya.

Bau sedap makanan dan harum arak itu memang sengaja hendak memancingnya.

Pintu loteng terbuka, begitu Sun-hoan sampai di depan pintu seketika ia melengak. Selama hidupnya belum pernah melihat perempuan gemuk sebanyak dan sebesar ini.

Perempuan gemuk yang pernah dilihatnya selama hidup kalau ditotal jenderal juga tidak ada setengahnya dari jumlah perempuan gemuk yang berada di villa ini sekarang.

Meski tidak terhitung besar villa ini, tapi juga tidak terlalu kecil, untuk memuat lelaki sebesar Li Sun-hoan, seratus orang saja rasanya takkan berjubel.

Tapi sekarang yang ada di sini cuma likuran orang saja namun seluruh ruangan loteng itu seakan-akan penuh, ingin masuk ke situ saja rasanya sulit bagi Sun-hoan.

Ruangan loteng itu tadinya dipisahkan dengan papan menjadi beberapa kamar, sekarang papan pemisah itu sudah dibongkar semua, semula setiap ruangan ada satu-dua buah meja, sekarang seluruh meja telah dijajarkan menjadi satu dan di atas meja penuh tersedia macam-macam hidangan dan arak.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: