Pendekar Budiman: Bagian 18

Pendekar Budiman: Bagian 18
Oleh Gu Long

Di dalam rumah berduduk belasan orang perempuan, mereka sama duduk di lantai, sebab kursi betapa besar pun tidak muat tubuh mereka, seumpama dapat diduduki juga kursinya pasti akan runtuh, maklum, tubuh mereka terlalu gemuk.

Namun siapa pun tidak dapat membandingkan mereka sebagai segemuk babi, sebab babi segemuk mereka pun jarang terlihat di dunia ini, apalagi babi juga tidak makan serakus dan sebanyak mereka.

Baru saja Sun-hoan sampai di depan pintu, kebetulan satu porsi besar ayam goreng baru saja disuguhkan dan belasan perempuan gemuk itu serentak berebut mengganyang ayam goreng yang berbau sedap itu.

Cara makan mereka sungguh teramat rakus sehingga menerbitkan suara yang menakutkan, siapa pun sukar membayangkan suara demikianlah suara orang sedang makan. Jika anak kecil mendengar suara ini, malamnya pasti akan mimpi buruk.

Di samping meja panjang yang penuh makanan terbentang beberapa kasur, perempuan yang paling gemuk duduk di situ dikelilingi oleh lima-enam orang lelaki.

Beberapa lelaki ini sama mengenakan baju yang berwarna-warni, rata-rata juga berusia sangat muda, wajahnya juga tidak jelek, malahan ada yang pakai pupur segala.

Perawakan beberapa lelaki itu rata-rata juga cukup besar, tapi kalau dibandingkan perempuan itu, mereka menjadi mirip kera belaka.

Perempuan ini tidak cuma gemuk luar biasa dan kekar, bahkan juga tinggi besar, pahanya sebesar kaki gajah, sepatu yang dipakainya berukuran dua kali sepatu orang biasa.

Lima-enam lelaki itu lagi sibuk mengerumuni dia, ada yang memijat pahanya, ada yang lagi mengetuki punggungnya, ada yang mengipas baginya, ada yang membawa piala emas dan lagi menyuapinya minum arak.

Ada lagi dua lelaki dengan muka berbedak meringkuk manja di samping kakinya, si perempuan gemuk sibuk makan ayam goreng, bilamana dia iseng, dia menyobek secuil daging ayam dan disuapkan ke mulut kedua lelaki itu.

Untung perut Sun-hoan lagi kosong, kalau tidak tentu isi perutnya bisa tertumpah keluar, selama hidupnya tidak pernah melihat kejadian memuakkan seperti ini. Tapi dia tidak putar balik, sebaliknya malah masuk dengan langkah lebar.

Segala suara serentak berhenti, setiap mata sama tertuju kepadanya.

Ditatap oleh berpuluh orang perempuan sekaligus bukanlah kejadian yang enak, terlebih orang-orang perempuan ini seakan-akan memandang Li Sun-hoan sebagai ayam goreng dan ingin mengganyangnya bulat-bulat.

Berada dalam keadaan demikian, siapa pun pasti akan merasa canggung dan serbasusah. Tapi Li Sun-hoan tidak, sekalipun dalam batin ada perasaan demikian, di luarnya sama sekali tidak kelihatan.

Dia masih terus melangkah dengan santai, biarpun masuk istana raja dia tetap bersikap demikian dan sukar menyuruhnya berubah.

Mata perempuan yang paling gemuk itu terpicing.

Sebenarnya matanya tidak kecil, tapi sekarang matanya terdesak oleh daging lebih pada mukanya hingga menyipit. Lehernya sebenarnya juga tidak pendek, tapi sekarang telah dipenuhi oleh gumpalan daging. Dia duduk di situ serupa sebuah bukit daging.

Dengan tenang Li Sun-hoan berdiri di depan si gemuk, ucapnya dengan tersenyum hambar, “Buddha Perempuan Mahagembira!”

“Oo, kau tahu siapa diriku!” terbeliak juga mata perempuan mahagemuk itu.

“Ya, sudah lama kukagumimu,” jawab Sun-hoan.

“Tapi engkau tidak lari?” kata si gemuk alias Si Buddha Mahagembira.

“Mengapa aku harus lari?” Sun-hoan tertawa.

Si Mahagembira juga tertawa.

Pada permulaan tertawanya tidak terjadi sesuatu yang istimewa, tapi mendadak daging sekujur badannya berguncang hebat, bumi serasa gempa.

Semua orang yang berada di dalam rumah juga ikut tergetar, lelaki berbaju kembang yang mendekap di asas punggungnya kontan terpental oleh getaran bukit daging itu.

Untung tertawanya segera berhenti, ia menatap tajam Li Sun-hoan dan berkata, “Meski belum lagi kuketahui siapa, kau tapi maksud kedatanganmu sudah kuketahui.”

“Oo?!” heran juga Sun-hoan.

“Kau datang untuk Na Kiat-cu, bukan?” tanya Si Mahagembira.

Sun-hoan membenarkan.

“Dia membunuh murid kesayanganku karena membela dirimu?”

Kembali Sun-hoan mengiakan.

“Maka kau datang kemari untuk menolongnya?”

“Ya,” jawab Sun-hoan.

Mata Si Buddha Mahagembira kembali terpicing, ucapnya dengan tersenyum, “Tak tersangka lelaki semacam kau masih mempunyai perasaan baik, tidaklah penasaran dia membunuh orang bagimu.”

Sambil mengacungkan ibu jarinya dia menyambung pula, “Tapi Na Kiat-cu juga terhitung perempuan yang hebat, setia kawan, berbudi luhur, teguh pendirian. Dia membunuh muridku, tapi dia tidak lari, sebaliknya berani menemuiku. Sebelum ini tidak kusangka dia seorang baik semacam ini, kalian boleh dikatakan suatu pasangan yang setimpal.”

Sun-hoan tidak menyangkal, ia malah tersenyum dan berkata, “Jika Buddha perempuan sudi memenuhi harapan kami, sungguh aku sangat berterima kasih.”

“Hendak kau bawa dia pergi?” tanya Si Mahagembira.

Sun-hoan mengiakan.

“Jika sudah kubunuh dia, lantas bagaimana!”

“Jika … jika begitu, mungkin aku akan menuntut balas baginya,” jawab Sun-hoan tak acuh.

Si Mahagembira bergelak tertawa, “Haha, bagus! Selain berperasaan, kau pun bernyali, aku menjadi tidak sampai hati membunuhmu.”

Mendadak ia selonjorkan sebelah kakinya sehingga salah seorang lelaki yang mendekap di atas pahanya itu terpental, serunya, “Tuangkan arak bagi tamu kita ini!”

Lelaki itu memakai baju merah dengan tepian diberi kain kembang, perawakannya tidak pendek, tapi sekarang tubuhnya seakan-akan menyurut lebih ringkas, malahan mukanya memakai pupur yang tebal.

Dilihat dari bentuk wajahnya dan matanya, dahulu dia pasti seorang lelaki yang cakap, orang yang pernah mengenalnya mungkin mimpi pun takkan menyangka sekarang dia telah berubah menjadi begini.

Dia menuangkan arak, piala emas lantas dibawa ke depan Sun-hoan, ucapnya dengan cengar-cengir, “Silakan minum, Tuan!”

Dalam keadaan begini dia masih dapat tertawa juga.

Diam-diam Sun-hoan merasa gegetun, ia sambut piala emas dengan kedua tangan dan mengucapkan terima kasih. Dia memang ramah tamah terhadap siapa pun. Ia pikir “manusia” tetap “manusia”, selamanya ia tak suka merendahkan harkat orang lain sekalipun orang itu pernah membikin susah padanya.

Piala emas itu cukup besar, isinya sangat banyak, tapi sekali tenggak Sun-hoan menghabiskan araknya.

“Ehm, bagus, hebat sekali takaranmu minum!” seru Si Mahagembira. “Lelaki yang kuat minum barulah lelaki sejati, semua lelakiku di sini tidak ada yang dapat dibandingkan dirimu.”

Lelaki berbaju kembang merah tadi kembali membawakan secawan arak dan menyapa dengan tertawa, “Seribu cawan pun tak bisa bikin mabuk Li-tamhoa, silakan minum lagi secawan ini!”

Sun-hoan melengak. Lelaki ini ternyata kenal dia.

Bekernyit kening Si Mahagembira, “Kau panggil dia Li-tamhoa? Li-tamhoa yang mana?”

“Li-tamhoa cuma ada satu,” tutur lelaki itu dengan tertawa, “Ialah Li ‘Si Pisau Kilat’ yang termasyhur, Li Sun-hoan.”

Seketika Si Mahagembira juga melenggong. Setiap orang yang berada di situ sama terkesiap.

Li Si Pisau Kilat! Selama belasan tahun ini hampir tidak ada nama orang lain yang lebih gemilang daripada namanya.

Mendadak Si Buddha Mahagembira bergelak tertawa lagi, katanya, “Haha, bagus! Sudah lama kudengar nama kebesaran Li-tamhoa, setelah bertemu sekarang tampaknya memang tidak bernama kosong. Kecuali dirimu, orang lain pasti juga tidak berani datang ke sini.”

Lelaki tadi menukas dengan tertawa, “Pisau kilat si Li, sekali timpuk tidak pernah meleset. Ini namanya Kungfu tinggi nyali pun besar.”

Sejak tadi Li Sun-hoan mengawasi orang ini, ia coba tanya, “Anda ini ….”

“Tampaknya Li-tamhoa terlalu sibuk sehingga pelupa, sampai sahabat lama pun pangling,” ujar lelaki itu dengan tertawa.

Gemerdep sinar mata Si Mahagembira, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “Pangling pada orangnya masakah tidak kenal lagi kepada ilmu pedangnya?”

Lelaki itu tertawa kenes dan berucap, “Tapi ilmu pedangku sampai … sampai aku sendiri pun sudah lupa.”

“Tidak, engkau tidak lupa, lekas ambil pedangmu,” kata Si Mahagembira.

Lelaki itu sungguh penurut, ia lantas menuju ke belakang.

Di belakang terdengar suara bunyi serok mengetuk wajan dan tercium bau sedap, santapan yang sedang disiapkan sekali ini adalah goreng ifu mi diberi ham, inilah makanan yang sedap.

Meski perawakan lelaki tadi tampaknya sudah mulai terbungkuk-bungkuk, namun cara berjalannya tidaklah lambat, hanya sebentar saja ia sudah muncul kembali dengan membawa sebilah pedang bersarung hitam.

“Nah, boleh coba kau perlihatkan sejurus padanya,” kata Si Mahagembira dengan tertawa.

Di tengah tertawanya ia lantas melemparkan setengah ekor ayam goreng yang belum habis dilahapnya ke arah lelaki itu.

Terdengarlah suara “tring” sekali disertai berkelebatnya sinar pedang. Lelaki itu tampak menggeser tubuh, melolos pedang, lalu sinar pedang berhamburan.

Ternyata setengah ekor ayam goreng itu telah menjadi empat dan tersunduk di pedangnya.

“Ilmu pedang yang hebat!” seru Sun-hoan.

Tak tersangka olehnya lelaki yang kelihatan kurang sehat itu memiliki ilmu pedang sebagus ini dan dapat bergerak sedemikian cepatnya. Yang paling aneh adalah jurus yang digunakannya ini seperti sudah dikenal oleh Li Sun-hoan, rasanya sudah pernah dilihatnya entah di mana, malahan seperti sudah pernah bergebrak dengan dia.

Dengan tertawa orang itu lantas mendekati Sun-hoan dan berkata, “Lumayan juga ayam goreng ini, silakan Li-tamhoa mencicipinya sepotong.”

Ayam goreng yang kekuningan itu tersunduk di atas pedang yang bersinar hijau mengilat sehingga kelihatan sangat memikat. Tapi lebih menarik adalah sinar pedang yang hijau bening.

Terkesiap Sun-hoan, hampir saja ia berteriak, “Toat-ceng-kiam!”

Pedang yang dipegang lelaki itu ternyata Toat-ceng-kiam atau pedang perampas cinta.

Sekujur badan Sun-hoan terasa dingin sambil memandangi lelaki itu, ucapnya dengan parau, “Yu Liong-sing, kiranya Anda ini Yu-siaucengcu dari Cong-kiam-san-ceng?!”

“Hihi, sahabat lama tetap sahabat lama, engkau belum lagi melupakan diriku,” kata orang itu dengan tertawa.

Karena terlalu lebar tertawanya sehingga pupur yang menempel pada mukanya sama rontok.

“Benarkah orang ini Yu Liong-sing? Pemuda yang ganteng dan perkasa pada dua tahun yang lalu itu?”

Sun-hoan merinding, sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya pemuda she Yu ini bisa berubah menjadi begini, dia bukan cuma sedih baginya, juga sayang baginya.

Akan tetapi Yu Liong-sing sendiri seperti sudah kaku seluruhnya, sudah mati rasa, dia tetap cengar-cengir, perlahan ia ambil sepotong ayam goreng dari ujung pedangnya, dipilihnya sepotong yang gemuk dan dimasukkan ke mulut, gumamnya, “Ehm, rasanya memang lain daripada yang lain, bisa makan ayam goreng selezat ini, sungguh sangat beruntung.”

“Apakah koki di Cong-kiam-san-ceng tidak mampu mengolah ayam goreng selezat ini?” tanya Si Buddha Mahagembira.

Yu Liong-sing menghela napas, “Ayam goreng buatan mereka kaku seperti kayu.”

“Jika tidak ada aku, dapatkah kau makan ayam goreng seperti ini?” tanya pula Si Mahagembira.

“Tidak dapat,” jawab Yu Liong-sing.

“Selama kau tinggal bersamaku, hidupmu senang atau tidak?”

“Senang sekali!”

“Antara Na Kiat-cu dan diriku, jika engkau disuruh memilih, siapa yang kau pilih?”

Rasanya Yu Liong-sing seperti mau merayap lagi ke selangkangan si gemuk, sahutnya dengan tertawa, “Tentu saja kupilih Buddha kita.”

Si Mahagembira memeluk perutnya yang gendut sambil terkekeh-kekeh, “Hehe, bagus! Betapa pun pandanganmu masih boleh juga, tidak percuma kusayang padamu.”

Mendadak ia tuding tenggorokan sendiri dan berkata pula, “Ayo, gunakan pedangmu dan tusuk sini, perlihatkan kepada Li-tamhoa.”

“Wah, mana boleh,” kata Yu Liong-sing, “Kalau Buddha kita terluka, kan runyam?!”

Si Mahagembira mengomel dengan tertawa, “Setan cilik, hanya sedikit kepandaianmu saja mampu melukaiku? Ayolah lekas tusuk saja!”

Ia terus mengangkat lehernya dan menunggu pedang orang.

Yu Liong-sing masih ragu juga, sejenak kemudian mendadak ia berkata, “Baik!”

Begitu kata “baik” terucapkan, serentak pedangnya juga bergerak. Sinar pedang berkelebat secepat kilat menyambar ke leher si gemuk.

Kecepatan pedang Yu Liong-sing memang tidak secepat pedang A Fei, tapi sudah terhitung kelas tinggi juga, Li Sun-hoan pernah bergebrak dengan dia, dengan sendirinya dia cukup kenal kelihaiannya.

Akan tetapi Si Mahagembira masih tetap duduk tenang di tempatnya, bahkan tidak bergerak sama sekali. Jika dia seorang lelaki, mirip juga patung Buddha gendut yang selalu tertawa itu.

Sinar pedang tampak menyambar masuk ke lehernya.

Selain gerak pedangnya cepat, Toat-ceng-kiam yang digunakan Yu Liong-sing juga pedang pusaka yang sangat tajam, hal ini cukup diketahui Li Sun-hoan juga, ia percaya tubuh manusia tidak nanti sanggup menahan tusukan pedang ini.

Terdengarlah jeritan kaget, Yu Liong-sing tampak terpental dan jatuh di pangkuan seorang perempuan gemuk yang duduk di sebelah Li Sun-hoan.

Perempuan gemuk ini tertawa mengikik, Yu Liong-sing terus dirangkulnya.

Waktu memandang lagi ke sana, terlihat pedangnya masih menancap di leher Si Mahagembira.

Namun perempuan mahagendut itu juga masih tetap duduk di tempatnya dan memandang Li Sun-hoan dengan tersenyum simpul.

Sungguh Li Sun-hoan tidak sanggup bicara lagi.

Ternyata Si Mahagembira telah menggunakan gumpalan daging di lehernya untuk menjepit ujung pedang Yu Liong-sing, Kungfu demikian jangankan melihatnya, mendengarnya saja tidak pernah sebelum ini.

Terdengar perempuan mahagendut itu tertawa mengikik dan berkata, “Perempuan gemuk juga ada untungnya, ucapan ini sekarang tentu kau percaya bukan?”

Batang pedang masih bergetar dan baru sekarang berhenti.

Li Sun-hoan menghela napas dan menyengir, “Ai, Kungfu Buddha Perempuan memang sukar ditandingi orang biasa.”

Hal ini mau tak mau harus diakuinya, sebab siapa pun tidak mempunyai gumpalan daging sebanyak itu.

Si Mahagembira tertawa, “Aku pun sering mendengar cerita tentang pisaumu yang lihai, katanya seratus kali timpuk seratus kali kena, sampai murid kesayanganku itu pun tidak mampu menghindari pisaumu. Dengan sendirinya engkau sendiri juga merasa bangga, begitu bukan?”

Sun-hoan tidak menjawab.

“Dan berdasarkan pisau kilat andalanmu itu, maka kau berani datang ke sini, begitu bukan?” si gendut tanya pula. Perlahan ia lantas pegang pedang yang terjepit di lehernya itu, lalu menyambung dengan tertawa, “Tapi dengan pisaumu itu dapatkah kau bunuh diriku?”

Sun-hoan menghela napas dan menjawab dengan tersenyum getir, “Tidak dapat.”

“Dan sekarang apakah tetap hendak kau bawa pergi Na Kiat-cu?”

“Tetap ingin,” jawab Sun-hoan.

Berubah juga air muka si gendut, tapi segera ia berkata pula dengan tertawa, “Haha, lucu, sungguh lucu! Lantas dengan cara bagaimana akan kau bawa pergi Na Kiat-cu?”

Sun-hoan juga tertawa, jawabnya, “Akan kupikirkan dulu, tentu akan mendapatkan akal.”

Mata Si Mahagembira terpicing pula, “Baiklah, jika begitu boleh kau tinggal di sini dan pikirkan dengan perlahan.”

“Di sini ada arak, tinggal beberapa hari lebih lama juga tidak beralangan bagiku,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

“Tapi arakku ini tidak untuk diminum secara percuma,” ujar si gendut.

“Habis apa yang kau minta dariku?” tanya Sun-hoan.

“Mestinya kuanggap engkau ini agak lebih tua sedikit, makin kupandang makin cocok rasanya. Sebab itulah, tidak perlu lagi kau cari akal, asalkan kau tinggal dan menemani aku beberapa hari di sini, segera akan kuserahkan Na Kiat-cu kepadamu.”

Sun-hoan tertawa, ucapnya dengan santai, “Engkau tidak mencela aku agak tua, aku justru mencela engkau terlalu gemuk, jika gumpalan daging di tubuhmu dapat dihilangkan satu-dua kuintal mungkin aku dapat menemani sebulan atau dua bulan, tapi sekarang ….” ia menggeleng kepala dan menyambung pula dengan hambar, “Sekarang sungguh aku tidak mempunyai selera.”

Seketika berubah air mula Si Mahagembira, jengeknya, “Hm, jadi kau tolak secara halus dan minta dipaksa? Baik!”

Mendadak ia memberi tanda, serentak beberapa perempuan gemuk yang duduk di sekeliling Sun-hoan itu sama berdiri.

Biarpun tubuh mereka gemuk, tapi gerak-gerik mereka tidak lambat, sekali melangkah, kontan Li Sun-hoan terkepung rapat.

Perempuan yang paling kurus di antara mereka juga jauh lebih gemuk daripada orang gemuk biasa, lebar bahunya hampir semeter, tebalnya lebih setengah meter, dengan berdiri berjajar begitu menjadi serupa sebuah dinding daging, setitik peluang saja tidak ada.

Atap rumah sangat rendah, Sun-hoan tidak dapat meloncat ke atas, juga tidak mampu menerjang keluar. Padahal melihat gumpalan daging kawanan perempuan gemuk itu membuatnya mual.

Barisan perempuan gemuk itu mendesak semakin dekat sehingga Sun-hoan hampir terimpit di tengah, jika dia sambitkan pisaunya, umpama seorang dapat dirobohkan toh yang lain tetap akan menerjang maju.

Jika sampai terimpit benar-benar, sungguh rasanya tak berani dibayangkan oleh Li Sun-hoan.

Didengarnya Si Mahagembira lagi bergelak tertawa dan berkata, “Li Sun-hoan, kutahu barisan Lo-han-tin di Siau-lim-si pun tidak mampu mengurung dirimu, tapi bila engkau mampu membobol ‘barisan gumpalan daging’-ku ini barulah kupercaya akan kelihaianmu.”

Suara tertawanya makin lama makin keras sehingga seluruh vila itu serasa terjadi gempa bumi, tangga kecil juga berbunyi berkeriang-keriut.

Mendadak mata Li Sun-hoan terbeliak, teringat olehnya akan Ling-ling.

Pada hakikatnya nona itu tidak ikut masuk ke situ. Dengan sendirinya dia takkan menyaksikan Li Sun-hoan mati konyol begitu saja tanpa berbuat sesuatu, dia pasti lagi berusaha ….

Benar juga, pada saat itulah lantas terdengar suara “blang” yang amat keras, di tengah suara gemuruh seluruh loteng ambruk ke bawah, terdengar suara jeritan disertai suara benda berat jatuh, seluruh isi rumah ikut kejeblos ke bawah.

Pada saat yang sama atap rumah juga berlubang. Tanpa ayal Sun-hoan terus meloncat ke atas, segesit burung walet ia menerobos keluar melalui lubang atap.

Ia mengira Si Mahagembira pasti juga kejeblos ke bawah, andaikan masih mampu merangkak bangun juga akan makan waktu cukup lama.

Siapa tahu bukan cuma reaksinya sangat cepat, bahkan ginkang Si Mahagembira juga tidak kalah lihainya dibandingkan orang lain. Baru saja Sun-hoan menerobos keluar, segera terdengar pula suara gemuruh.

Rupanya atap rumah kembali dijebol menjadi sebuah lubang besar pula oleh Si Mahagembira, dia melayang keluar serupa balon raksasa, sampai cahaya bulan dan bintang juga guram teraling oleh bayangan tubuhnya.

Dalam pada itu vila itu masih terus runtuh ke bawah sehingga menerbitkan debu pasir yang bertebaran.

Tanpa menoleh Sun-hoan melayang ke permukaan tanah dengan enteng.

Terdengar Si Mahagembira tertawa mengekek dan berseru, “Li Sun-hoan, sekali kulihat dirimu, jangan harap akan kabur lagi.”

Di tengah suara tertawanya ia terus menubruk tiba. Sun-hoan merasakan angin menderu santer, serupa sebuah bukit yang menindihnya.

Mendadak tangannya berayun ke belakang, terlihat sinar tajam berkelebat, pisau kilat si Li akhirnya bekerja juga.

Seperti biasa, pisau kilat si Li sekali timpuk tidak pernah meleset, darah lantas mengucur keluar dari muka Si Mahagembira serupa sumber air.

Sekali ini pisau Li Sun-hoan tidak mengarah lehernya melainkan mata kanannya, sekali turun tangan ia yakin pasti tidak meleset. Ia cukup yakin akan kemampuan sendiri.

Namun suara tertawa Si Mahagembira masih belum berhenti, sampai Sun-hoan pun mengirik dan tanpa terasa berpaling.

Dilihatnya perempuan gembrot itu masih melangkah ke arahnya setindak demi setindak dengan darah mengucur tidak hentinya dan pisau masih bersarang di tengah matanya. Namun dia seperti tidak merasakan sakit sedikit pun, ia masih tertawa terkekeh dan berkata, “Li Sun-hoan, sekali kupenujui dirimu, betapa pun engkau tak bisa kabur. Masih ada berapa buah pisaumu, keluarkan saja seluruhnya. Pisau sebesar ini, biarpun seratus buah ditancapkan seluruhnya di atas tubuhku juga tak menjadi soal bagiku.”

Mendadak ia cabut pisau yang menancap di matanya itu terus dikunyah. Pisau buatan baja itu dikunyahnya serupa orang makan kacang goreng.

Sun-hoan jadi melenggong.

Perempuan gembrot ini sungguh bukan manusia, akan tetapi lebih mirip binatang purba, jika ingin merobohkannya tampaknya memang benar harus menggunakan beberapa ratus batang pisau.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar si gembrot meraung dahsyat sehingga membuat bumi seakan-akan bergetar dan pepohonan juga berguncang.

Segera terlihat oleh Sun-hoan setitik ujung pedang hijau menongol keluar dari dada Si Mahagembira, menyusul darah lantas muncrat juga.

Habis itu barulah dilihatnya Yu Liong-sing memegang tangkai pedang dengan kedua tangan, Toat-ceng-kiam sepanjang lebih satu meter itu hampir seluruhnya menembus tubuh Si Mahagembira, ujung pedang masuk dari punggung dan muncul di dada.

Sekali Si Mahagembira meraung pula, Yu Liong-sing terpental dan “bluk”, jatuh tepat di bawah kakinya. Menyusul si gembrot sendiri juga roboh dan kebetulan menindih di atas tubuh Yu Liong-sing.

Terdengarlah serentetan suara “krak-krek”, tulang sekujur badan Yu Liong-sing seolah-olah tertindih remuk oleh tubuh Si Mahagembira yang gede itu dan tidak dapat bersuara.

Napas Si Mahagembira ngos-ngosan serupa kerbau, ucapnya, “Kau … kiranya kau ….”

Yu Liong-sing juga hampir tidak dapat bernapas, katanya, “Tak … tak terduga bukan?”

“Tidak … tidak jelek kuperlakukan dirimu, mengapa … mengapa kau sergap diriku?”

Butiran keringat menghiasi dahi Yu Liong-sing, jawabnya dengan mengertak gigi, “Aku bertahan hidup, tujuanku justru menanti satu hari seperti sekarang ini ….”

Dia tertindih sehingga bernapas saja sulit, mata mulai gelap, dirasakannya tubuh Si Mahagembira berkejang hebat, mendadak terus menggelinding ke sana.

Kemudian dilihatnya mata Li Sun-hoan yang sayu, juga dirasakan tangan Sun-hoan lagi mengusap keringatnya. Tangan ini meski setiap saat dapat mencabut nyawa orang tapi juga setiap saat siap menolong orang lain. Meski kedua tangan ini terkadang memegang pisau perenggut nyawa, tapi sering juga memegang peranan yang penuh simpatik.

Sekuatnya Yu Liong-sing berusaha menampilkan secercah senyuman, tapi gagal, ia cuma meronta dan berucap dengan suara lirih, “Aku bukan Yu Liong-sing.”

“Ya, bukan,” Sun-hoan mengangguk dengan perasaan berat setelah berpikir.

“Yu Liong-sing sudah … sudah lama mati,” kata Yu Liong-sing pula.

“Ya, kutahu,” ujar Sun-hoan dengan rawan.

“Pada hakikatnya engkau tidak pernah bertemu dengan Yu Liong-sing.”

“Ya, aku cuma tahu dia adalah sahabatku, urusan lain aku tidak tahu.”

Akhirnya tertampil juga setitik senyuman pedih pada ujung mulut Yu Liong-sing, ucapnya dengan parau, “Barang siapa mempunyai sahabat seperti dirimu, sungguh dia sangat beruntung, sayang aku ….”

Ia merasa tidak tahan lagi, tapi sekuatnya ia menyerukan kata terakhir, “Sayang aku tidak mati di tanganmu!”

*****

Subuh sudah tiba.

Di luar hutan trembesi telah bertambah tiga kuburan baru, yaitu kuburan Yu Liong-sing, Na Kiat-cu dan Si Buddha Perempuan Mahagembira. Yang menggali liang kubur adalah anak murid si gembrot sendiri.

Terhadap kematian Si Mahagembira tampaknya kawanan perempuan gemuk ini tidak merasa sedih dan gusar sedikit pun, hal ini membuktikan si Buddha gembrot ini sesungguhnya tidaklah berhati Buddha, pada waktu hidupnya tidak disukai orang.

Yang membikin ambruk rumah kecil itu ternyata benar Ling-ling adanya.

Nona cilik itu sangat senang, katanya, “Aku cuma melonggarkan salah sebuah tiang penyanggah, sekali dorong loteng kecil itu lantas roboh, untung aku sempat menghindar, hampir saja aku ikut tertindih hidup-hidup.”

Waktu diketahuinya pengikut Si Mahagembira telah pergi semua, ia menjadi heran, “Mengapa mereka tidak berusaha menuntut balas bagi guru mereka?”

“Bisa jadi waktu hidupnya si gembrot cuma berusaha mengisi perut mereka melulu, tapi lupa mengisi pikiran mereka,” kata Sun-hoan.

Ling-ling tertawa, “Betul, bilamana isi perut orang terlalu kenyang, biasanya lantas malas menggunakan pikiran. Dan mengapa kau lepaskan mereka pergi begitu saja?”

Sun-hoan tersenyum hambar, “Sebab aku tidak mampu memberi makan kepada mereka.”

Ling-ling menggigit bibir dan termenung sejenak, ia melirik Sun-hoan sekejap, lalu bertanya, “Jika cuma memberi makan satu orang, apakah engkau sanggup?”

Ia mengerling penuh arti, lalu menyambung, “Makan orang itu tidak banyak, tidak minum arak, juga jarang makan daging, setiap hari asalkan makan sayur dan tahu sudah cukup baginya. Malahan ia sendiri dapat menanak nasi, dapat membuat sayur yang lezat, bila malam tiba, dia akan merapikan tempat tidurmu, bila bangun pagi, dia akan menyisir rambutmu.”

“Orang semacam ini hidupnya tentu sangat gembira, tidak perlu ikut menderita bersamaku,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

Seketika mulut Ling-ling menjengkit, ucapnya dengan mendongkol, “Kutahu dalam hatimu cuma ada Na Kiat-cu, pinggangnya lebih ramping daripadaku.”

“Kau anggap dalam hatiku cuma ada Na Kiat-cu?”

“Tentu saja. Demi dia, engkau rela menyerempet bahaya dan mau mengadu jiwa baginya. Padahal dia sudah mati, mestinya engkau tidak perlu risau baginya.”

“Jika waktu hidupnya adalah sahabatku, sesudah mati tetap sahabatku.”

“Kalau begitu … apakah aku ini bukan sahabatmu?”

“Sudah tentu sahabatku.”

“Bila engkau rela mengadu jiwa bagi sahabat yang sudah mati, mengapa engkau tidak memikirkan kepentingan sahabat yang masih hidup?”

Bicara sampai di sini matanya lantas merah dan basah lagi, katanya pula sambil mengusap air mata, “Aku memang tidak punya sanak kadang, sekarang rumah pun tidak punya. Apakah engkau tega melihat kuhidup bergelandangan dan setiap hari mengemis belas kasihan orang?”

Sun-hoan menggeleng kepala. Ia merasa anak perempuan sekarang makin lama makin pintar bicara.

Dari sela-sela jari Ling-ling mengintipnya sekejap, lalu menyambung pula, “Apalagi, jika engkau tidak membawaku pergi, cara bagaimana engkau dapat menemukan Siocia kami? Jika tidak menemukan Siocia kami, cara bagaimana dapat menemukan sahabatmu si A Fei?”

Sun-hoan tidak dapat bicara lagi ….

*****

Saat itu A Fei sedang minum sup, sup daging yang sedap.

A Fei memegangi mangkuk dan perlahan menghirup sup yang masih panas, matanya memandang tepian mangkuk tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, seolah-olah memang tidak dapat membedakan bagaimana rasanya sup ini.

Lim Sian-ji duduk di depannya dan sedang memandangnya lembut dengan bertopang dagu.

“Akhir-akhir ini cahaya mukamu kurang segar, hendaknya minum lebih banyak sup daging ini,” kata Sian-ji dengan lembut. “Sup ini penuh gizi, lekas diminum mumpung masih hangat, kalau dingin tidak enak.”

A Fei terus mendongak, sup semangkuk ditenggaknya hingga habis.

Perlahan Sian-ji mengusapkan mulut A Fei dan bertanya, “Enak tidak?”

“Enak!” jawab A Fei.

“Apakah mau tambah lagi semangkuk?”

“Mau!”

“Nah, seharusnya begini, akhir-akhir ini seleramu makan nasi sangat berkurang, maka perlu minum sup agak banyak.”

Rumah ini sangat sederhana, tapi baru saja dikapur, sampai dinding dapur juga belum ada bekas hangus, maklum, baru dua hari mereka pindah ke sini.

Sian-ji menambah semangkuk sup lagi dan disodorkan kepada A Fei dengan tersenyum manis, “Meski tempat ini tidak besar, tapi pasar sayurnya sangat ramai. Cuma si penjual daging agak kejam, kubeli sekati daging kemahalan tiga puluh duit.”

Setelah minum dua ceguk sup itu, tiba-tiba A Fei berkata, “Besok kita tidak perlu minum sup daging lagi.”

“Sebab apa? Engkau bosan?” tanya Sian-ji.

“Bukan bosan, tapi kita tidak mampu makan-minum daging yang mahal.”

“Jangan kau khawatirkan urusan duit,” ujar Sian-ji dengan tertawa lembut. “Belakangan ini pasaran kulit rase cukup bagus, rase buruan kita bulan yang lalu telah kujual 30 tahil perak dan sampai sekarang belum habis terpakai.”

“Akhirnya toh akan habis terpakai, di sini pun sukar memburu rase,” ujar A Fei.

“Biarlah kita bicarakan lagi kalau sudah habis, apalagi aku pun masih punya uang celengan.”

“Tidak boleh kugunakan uangmu.”

Mata Sian-ji menjadi basah, katanya dengan menunduk, “Mengapa tidak boleh? Uang ini bukan hasil curian atau rampokan, tapi hasil jerih payahku bekerja sambilan jahit-menjahit. Kau tahu, uang yang dahulu itu sudah kukembalikan kepada yang berhak sesuai kehendakmu, masakah engkau tidak percaya.”

A Fei menghela napas, “Bukan aku tidak percaya, soalnya … akulah yang harus memiaramu, aku tidak ingin engkau hidup susah.”

Sian-ji merangkulnya erat dari belakang ucapnya sambil mencucurkan air mata, “Kutahu engkau sangat baik padaku, selamanya tidak ada orang begini baik terhadapku. Akan tetapi, di antara kita seharusnya tidak boleh ada perbedaan antara punyamu dan punyaku, bahkan … bahkan hatiku pun sudah milikmu, masakah engkau tidak tahu?”

A Fei memejamkan mata sambil menggenggam kencang tangan si dia, asalkan dapat selalu menggenggam tangannya, rasanya ia tidak menghendaki apa-apa lagi.

Akhirnya A Fei tertidur. Perlahan Sian-ji menarik kembali tangannya yang masih digenggamnya itu.

Ia berdiri di depan tempat tidur dan memandang anak muda itu sejenak, tersembul secercah senyuman pada ujung mulutnya. Senyum yang manis, juga senyum yang kejam.

Lalu dia tinggal keluar dan perlahan merapatkan pintu, ia kembali ke kamarnya sendiri. Dari sebuah peti kecil dikeluarkannya sebuah botol kecil. Ia menuang secangkir air teh, lalu menuang sedikit bubuk gemerdep dari botol kecil dan diminum bersama air teh. Bubuk gemerdep itu pasti diminumnya setiap hari tanpa prei.

Maklumlah, bubuk gemerdep adalah bubuk mutiara, konon bila diminum oleh orang perempuan akan dapat awet muda.

Semakin cantik seorang perempuan umumnya semakin takut tua, maka selalu berdaya upaya agar dapat awet muda. Tak diketahuinya bahwa dengan cara apa pun masa muda tetap tak dapat ditunda.

Memandangi botol kecil yang dipegangnya, Sian-ji tertawa sendiri, pikirnya, “Jika A Fei tahu berapa harga bubuk mutiara ini, tentu dia akan berjingkat kaget.”

Ia merasa orang lelaki sangat gampang ditipu, terlebih gampang lagi ditipu oleh perempuan yang dicintainya. Sebab itu sejauh ini ia merasa kaum lelaki sangat lucu dan harus dikasihani. Belum pernah ditemuinya seorang lelaki yang tidak dapat ditipu.

Mungkin cuma ada satu orang saja, yaitu Li Sun-hoan.

Teringat kepada Li Sun-hoan, seketika perasaan Sian-ji tertekan.

Hari ini kan sudah tanggal lima? Apakah Li Sun-hoan sudah mati? Mengapa sampai sekarang belum ada kabar beritanya?

Di luar adalah sebuah jalan kecil yang sunyi. Langit kelam, hanya kerlip bintang tanpa rembulan. Cahaya api di kejauhan sudah jarang-jarang.

Tiba-tiba berkumandang suara langkah kaki orang, dua pemuda kekar berbaju hijau menggotong sebuah tandu kecil berlari datang secepat terbang dan berhenti tepat di depan pintu rumah ini.

Sejenak kemudian Sian-ji muncul, pintu dirapatkan dan naik ke atas tandu, tirai sekeliling tandu diturunkan, tirai bambu yang renggang, dari luar orang lain tidak dapat melihatnya, sebaliknya dia dapat melihat orang di luar.

Tandu segera diangkut pula dan dilarikan ke arah datangnya tadi.

Yang mereka tempuh bukan jalan raya, setelah melintasi tiga gang kecil, cahaya lampu yang jarang pun tidak kelihatan lagi. Langkah penggotong tandu lantas mulai diperlambat.

Sekeliling sunyi senyap, hening tanpa sesuatu suara.

Lebih ke depan lagi ada sebuah kelenteng kecil, di sebelah kanan adalah pekuburan.

Di sinilah tandu berhenti. Penggotong tandu bagian depan mengeluarkan sebuah pelita kerudung dari bawah tandu, lilin dinyalakan dan diangkat ke atas, kerudung lampu berwarna merah muda, malahan terlukis bunga bwe yang indah.

Begitu lampu dinyalakan, serentak dari arah hutan, kuburan dan kelenteng muncul empat sosok bayangan orang seperti hantu dan berlari ke arah tandu sini. Langkah keempat orang ini tidak lambat, semuanya tampak bersemangat, tapi ketika mereka mengetahui selain dirinya masih ada orang lain juga menuju ke arah yang sama, seketika langkah diperlambat, keempat orang saling melotot sekejap dengan sikap waspada dan mengandung rasa permusuhan.

Orang yang muncul dari hutan berwajah bulat, seorang lelaki setengah umur, pakaiannya perlente, tampaknya seorang saudagar kaya. Namun gerak-geriknya tampak gesit dan cekatan, jelas kungfunya tidak lemah.

Yang muncul dari tanah pekuburan ada dua orang, yang sebelah kanan pendek kecil, berbaju hitam mulus, kelihatan seperti setan iblis, ginkangnya sangat tinggi.

Yang, sebelah kini bertubuh sedang, tidak tinggi juga tidak pendek, tidak gemuk dan tidak kurus, pakaiannya juga biasa saja, sedikit pun tidak menarik. Akan tetapi ginkangnya seperti jauh lebih tinggi daripada si pendek kecil.

Orang yang muncul dari kelenteng sana berusia paling muda, lagaknya juga paling sok. Ginkangnya juga kelihatan hebat, namun langkahnya tetap mantap, sorot matanya tajam, tidak perlu disangsikan lagi kungfunya pasti lebih tinggi daripada yang lain.

Dia memakai jubah panjang berwarna biru safir, tinggi tegap, pedang bersarung kulit hiu bergantung di pinggangnya, tangkai pedang bersepuh emas, jelas seorang putra keluarga hartawan.

Agaknya Lim Sian-ji sudah tahu akan kedatangan keempat orang ini, ia tidak menyingkap kerai untuk memandang barang sekejap pun, juga tidak turun dari tandu, ia cuma tertawa nyaring dan menegur, “Kalian berempat datang dari jauh, tentu lelah dan haus, maaf jika di sini tidak tersedia sesuatu sekadar menyambut kedatangan kalian.”

Mendengar suara Sian-ji, tanpa terasa wajah keempat orang itu sama berseri gembira, agaknya seperti ingin berebut bicara, tapi setelah saling pandang sekejap, lalu semuanya bungkam.

“Kutahu kalian sama ingin bicara denganku, tapi siapakah yang akan bicara lebih dulu?” kata Sian-ji pula dengan suara merdu.

Orang yang berbaju kelabu dan berpotongan tidak menarik itu tetap berdiri diam saja di tempatnya, seperti tidak berani berebut duluan dengan orang lain.

Sedangkan si pemuda berjubah biru berkerut kening sambil melengos dengan sikap angkuh, jelas dia tidak sudi dicampurbaurkan dengan orang-orang ini, maka ia pun tidak sudi berebut dulu mendahului.

Si muka bulat setengah umur itu tersenyum dan memberi hormat kepada si baju hitam yang pendek kecil itu, katanya, “Silakan saudara bicara dulu!”

Si baju hitam juga tidak sungkan-sungkan, segera ia melompat ke depan tandu.

Dengan tertawa Sian-ji menyambutnya, “Baru dua bulan tidak bertemu, tampaknya ginkangmu sudah bertambah tinggi, selamat dan bahagialah!”

Wajah si baju hitam yang kelam itu menampilkan rasa bangga, sahutnya sambil menghormat, “Terima kasih atas pujian Nona.”

“Kuminta kau kerjakan dua hal, kuyakin pasti sudah terlaksana dengan baik, kutahu engkau tidak pernah membikin kecewa padaku,” kata Sian-ji pula.

Si baju hitam lantas mengeluarkan segebung ginbio atau uang kertas sebangsa cek dan disodorkan, katanya, “Piutang di sekitar Po-ging sudah bayar semua, di sini seluruhnya berjumlah sembilan ribu delapan ratus tahil perak, yang digunakan adalah ginbio Tong-hok-ho dari Soasay.”

Sian-ji mengangsurkan sebelah tangannya yang putih halus dan menerima segebung ginbio itu, agaknya dihitung dulu jumlahnya, lalu berkata, “Sekali ini sungguh telah membikin capek padamu, entah cara bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu.”

Pandangan si baju hitam masih termangu-mangu ke tempat tangan Sian-ji terjulur tadi, cepat ia menjawab dengan menyengir, “Ali, masa terima kasih segala, asalkan nona selalu ingat padaku saja sudah cukup.”

“Dan bagaimana dengan si tukang dongeng tua bangka she Sun dan cucu perempuannya itu? Tentu sudah dapat kau selidiki asal usul mereka?”

Si baju hitam menunduk, jawabnya dengan gelagapan, “Semula aku menguntit di belakang mereka, tapi setiba di Kwantiong, sekonyong-konyong kehilangan jejak mereka. Kutanya kawan di daerah itu juga tiada seorang pun yang melihat mereka. Sungguh mereka seperti … seperti mendadak lenyap dari permukaan bumi ini.”

Sian-ji tidak bicara lagi.

Si baju hitam lantas berkata pula, “Jejak kedua orang itu sungguh sangat misterius, di luar meski mereka berlagak tidak mahir ilmu silat, tapi aku tidak percaya. Asalkan nona memberi waktu sedikit hari lagi pasti dapat kuusut asal usul mereka.”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Sian-ji berkata, “Sudahlah, tidak perlu lagi. Kutahu mereka memang sulit dikuntit, meski gagal urusan ini juga tidak kusalahkan dirimu. Sebentar lagi ada urusan lain akan kuminta bantuanmu.”

Baru sekarang si baju hitam merasa lega, ia lantas mundur ke samping dan tidak berani banyak omong lagi.

Segera si muka bulat setengah baya berucap maaf kepada kedua orang lain, lalu ia menuju ke arah tandu dengan munduk-munduk.

Sian-ji tertawa dan berkata, “Orang dagang memang mengutamakan rendah hati dan tambah rezeki, caramu ini memang serupa benar seorang juragan besar.”

Orang ini menjura rendah-rendah dengan tertawa, katanya, “Ah, tidak lebih aku ini kan cuma seorang pegawai rendahan nona, jika nona tidak memberi jalan padaku, seketika juga aku harus gulung tikar. Mana berani kuterima sebutan juragan besar apa segala.”

“Untuk apa membedakan juragan dan pegawai segala, bisnisku kan juga bisnismu, asalkan dikerjakan dengan baik, usaha ini akhirnya toh akan menjadi milikmu?” ujar Sian-ji dengan suara lembut.

Wajah bulat lelaki setengah baya ini seketika merah bercahaya, katanya sambil membungkuk rendah, “Terima kasih, terima kasih ….”

Sampai beberapa kali ia mengucapkan terima kasih, habis itu baru dikeluarkannya segebung ginbio dan disodorkan, katanya, “Inilah keuntungan bersih setahun yang lalu, juga dibuka dengan ginbio Tong-hok-ho, silakan nona memeriksa seperlunya.”

Dengan tertawa Sian-ji berucap, “Sungguh bikin susah padamu, memang sudah kukatakan engkau ini jujur dan dapat dipercaya, pintar bekerja pula ….”

Sembari bicara ia pun menerima gebung ginbio itu dan menghitungnya, sampai di sini mendadak nadanya berubah dan menegur, “He, kenapa cuma enam ribu tahil saja?”

“Enam ribu tiga ratus tahil,” si muka bulat menukas dengan mengiring tawa.

“Tahun sebelumnya berapa?”

“Sembilan ribu empat ratus tahil.”

“Setahun lagi sebelumnya?”

“Tahun itu seperti … seperti selaksa tahil lebih ….” si muka bulat menjadi gelagapan dan mengusap keringat yang memenuhi dahinya.

“Hm, cara kerjamu sungguh hebat, bukannya tambah maju tapi malah tambah mundur,” jengek Sian-ji. “Jika begini, dua tahun lagi bukankah kita akan makan modal?”

Berulang-ulang si muka bulat mengusap keringat, “Soalnya … soalnya pasaran akhir-akhir ini sangat sepi, untung tipis dan biaya besar, tapi … tapi tahun depan, bila pasaran berubah ….”

Sian-ji tidak menghiraukan ocehannya, tiba-tiba ia berkata dengan suara lembut pula, “Ya, selama dua-tiga tahun ini engkau sudah terlalu capek, sudah waktunya kau perlu diberi cuti panjang ….”

“Akan … akan tetapi perusahaan di sana ….” orang itu menjadi gemetar.

“Perusahaan di sana akan kusuruh orang mengurusnya, engkau tidak perlu khawatir,” kata Sian-ji.

“O, apakah … apakah Nona ….” tergegap orang itu, wajahnya penuh rasa takut, belum habis bicara mendadak ia membalik tubuh terus berlari ke hutan sana secepat terbang.

Tapi baru saja ia lari beberapa langkah, sekonyong-konyong sinar perak berkelebat, di tengah jeritan ngeri dan darah muncrat, kontan si muka bulat roboh terkapar.

Tahu-tahu si pemuda berbaju biru sudah memegang pedangnya, ujung pedang tampak menitikkan darah.

Si baju kelabu memandangnya sekejap, dengusnya, “Hm, ilmu pedang hebat!”

Pemuda baju biru itu tidak menghiraukannya, ia menggosok ujung pedang berdarah pada sol sepatunya, sekali pedang berputar, “creng”, pedang dimasukkan lagi ke sarungnya.

Si baju kelabu berdiri dengan tenang tanpa bicara lagi. Sesudah ditunggu sekian lama dan tampaknya si pemuda baju biru tidak mau berebut duluan dengan dia barulah perlahan ia mendekati tandu.

Agaknya Sian-ji juga sudah kenal watak orang ini tidak dapat dipikat dengan sekata dua patah saja, maka ia pun tidak main bujuk rayu, tapi langsung bertanya, “Bagaimana dengan Liong Siau-hun, dia sudah pulang Hin-hun-ceng?”

“Sudah pulang hampir setengah bulan,” tutur si baju kelabu. “Yang mendampingi dia selain si gila Oh Put-kui, ada lagi seorang she Lu bersenjata sepasang tombak pandak, tampaknya juga tidak lemah kungfunya.”

“Dan bagaimana dengan si bungkuk penjual arak itu?”

“Tetap masih membuka warungnya,” tutur si baju kelabu. “Orang ini sungguh sangat pandai menyembunyikan asal usulnya. Liong Siau-hun sudah berkunjung dua-tiga kali ke warungnya, agaknya tetap tidak menghasilkan sesuatu.”

“Tapi kupercaya kepadamu ….” Sian-ji tertawa. “Engkau pasti sudah mendapatkan info yang bersangkutan, betapa pun asal usul orang itu pasti sukar mengelabui matamu.”

Si baju kelabu tertawa, ucapnya kemudian, “Jika tidak keliru dugaanku, si bungkuk pasti ada hubungan erat dengan si Sun tua tukang dongeng, bisa jadi dia adalah Sun-loji yang dahulu terkenal sebagai ‘sebuah bukit di punggung, ditindih gunung pun tidak roboh’.”

Sian-ji kelihatan tercencang, setelah berpikir sejenak, kemudian berkata perlahan, “Coba kau cari tahu lagi, besok ….”

Makin rendah suaranya sehingga si baju kelabu terpaksa mendekatkan telinganya, setelah mendengar sebentar, air mukanya yang kaku tertampil rasa girang, katanya sambil mengangguk, “Baik, kutahu … kuingat … ya, kupergi dulu.”

Waktu dia pergi, langkahnya kelihatan jauh lebih ringan dan cepat.

Lim Sian-ji memang benar mempunyai caranya sendiri untuk membikin lelaki tunduk kepadanya.

Si baju hitam menatap kepergian si baju kelabu dengan melotot, rasanya gemas dan ingin memberinya sekali tikaman.

Tangan yang putih halus masih terbayang olehnya, dengan linglung ia mendekati tandu.

“Coba kemari, ada yang ingin kukatakan padamu, esok malam ….” lalu Sian-ji membisiki beberapa kata di telinga orang.

Si baju hitam tampak sangat senang dan berulang-ulang mengangguk, “Ya, ya, kutahu … mana bisa kulupa ….”

Dan waktu dia pergi, rasanya tubuhnya bertambah tinggi tiga kaki.

Sesudah itu barulah si pemuda berbaju biru mendekati tandu dan menegur, “Nona Lim, engkau sungguh sibuk benar.”

Sian-ji menghela napas, katanya, “Apa dayaku? Mereka kan tidak sama seperti dirimu …. Betapa pun harus kulayani mereka sekadarnya.”

Lalu dia menjulurkan tangannya yang halus untuk memegang tangan si pemuda dan berucap dengan lembut, “Eh, apakah engkau marah?”

“Hm,” pemuda itu menjengek dengan muka masam.

“Ai, coba lihat, seperti anak kecil saja,” kata Sian-ji dengan tertawa. “Eh, lekas naik kemari, biar kuhibur dirimu.”

Mestinya si pemuda hendak menarik muka lagi, tapi lantas tertawa.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar jeritan ngeri ….

Suara berkumandang dari dalam hutan. Mestinya si baju kelabu sudah melangkah ke dalam hutan, sekarang tampak mundur kembali selangkah demi selangkah, darah pun mengucur dari mukanya.

Sesudah mundur sampai di luar hutan barulah dia putar tubuh dan bermaksud lari ke arah tandu.

Di tengah remang malam kelihatan mukanya berlumuran darah, jelas bagian keningnya terluka.

Si baju hitam juga baru mau masuk ke hutan, demi melihat keadaan si baju kelabu, seketika air mukanya berubah. Baru saja dia berhenti, si baju kelabu lantas roboh di samping kakinya.

Jangan-jangan dia kepergok setan di dalam hutan? Setan iblis yang merenggut nyawa manusia?

Tanpa terasa si baju hitam menyurut mundur dua-tiga tindak, serentak ia mencabut belati yang terselip pada ikat kakinya, dengan beringas ia tatap kegelapan hutan sambil membentak parau, “Siapa itu?”

Dalam hutan sunyi senyap, selang sejenak barulah muncul satu orang.

Seorang berperawakan jangkung, memakai baju panjang warna merah jingga sebatas lutut, kepala bertudung bertepian lebar yang hampir menutupi seluruh mata-alisnya.

Bukan cuma gaya berjalannya sangat spesial, caranya menyandang pedang juga berbeda dengan orang lain, hanya diselipkan pada ikat pinggang begitu saja.

Pedangnya tidak panjang, belum terlolos dari sarungnya.

Tampaknya orang ini tidak terlalu buas, tapi begitu si baju hitam melihat dia, entah mengapa, sekujur badan lantas menggigil, telapak tangan pun berkeringat dingin.

Pada orang ini seperti membawa semacam hawa membunuh yang mengerikan.

Hing Bu-bing! Orang ini memang Hing Bu-bing!

Jika Hing Bu-bing masih hidup, yang mati tentulah Li Sun-hoan. Demikian kesimpulan Lim Sian-ji, maka tertawalah dia.

Tapi dia cuma tertawa di dalam batin, lahirnya seperti ketakutan setengah mati, ia pegang tangan si pemuda baju biru dengan erat, ucapnya dengan menggigil, “O, alangkah menakutkan orang ini! Apakah kau tahu siapa dia?”

Pemuda itu tersenyum sebisanya, jawabnya, “Peduli siapa dia, asalkan aku berada di sini, apa yang perlu kau takuti?”

Sian-ji menghela napas lega, ucapnya mantap, “Ya, aku tidak takut, kuyakin engkau pasti akan melindungiku, asalkan engkau berada di sampingku, pasti tidak ada seorang pun berani menyentuh seujung rambutku.”

“Tepat,” pemuda itu membusungkan dada. “Peduli siapa dia, asalkan dia berani mendekat kemari segera akan kucabut nyawanya.”

Padahal ia pun terpengaruh oleh hawa pembunuhan Hing Bu-bing yang seram itu, tangannya sudah berkeringat dingin. Cuma dia masih muda, berada di depan perempuan yang dicintainya betapa pun dia pantang menyerah dan unjuk kelemahan.

Sementara itu Hing Bu-bing sudah berada di depan si baju hitam.

Si baju hitam memegang belati, entah sudah berapa banyak orang yang terbunuh oleh belatinya itu, tapi entah mengapa sekarang dia justru tidak berani memainkan belatinya. Telah dilihatnya warna mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu itu.

Sama sekali Hing Bu-bing tidak menghiraukan orang, jengeknya, “Apakah belatimu ini dapat membunuh orang?”

Si baju hitam jadi melengak.

Pertanyaan ini membuat orang serbakonyol. Tapi pertanyaan sudah diajukan, mau tak mau harus menjawab, terpaksa ia berkata, “Dengan sendirinya dapat.”

“Baik, boleh coba bunuh diriku,” kata Hing Bu-bing pula.

Kembali si baju hitam melenggong, sampai sekian lama barulah ia menjawab dengan menyengir, “Antara kita tiada permusuhan apa pun, untuk apa kubunuhmu?”

“Sebab kalau tidak kau bunuh diriku, akulah yang akan membunuhmu,” kata Hing Bu-bing.

Tanpa terasa si baju hitam menyurut mundur dua tindak, keringat dingin tampak mengucur dari mukanya, mendadak ia mengertak gigi, secepat kilat belatinya menikam dengan nekat.

Pada umumnya semakin pendek senjata yang digunakan semakin berbahaya pula, jika dia berani menggunakan senjata pandak begini, tentu dia mempunyai Kungfu andalan yang istimewa.

Tapi baru saja belatinya bergerak, serentak sinar pedang juga menyambar. Menyusul lantas terdengar jeritan ngeri yang singkat, tahu-tahu si baju hitam sudah roboh.

Segera pedang Hing Bu-bing masuk lagi ke sarungnya seakan-akan sama sekali tidak melolos pedang. Sungguh serangan yang cepat.

Si pemuda baju biru juga ahli pedang, biasanya dia menganggap gerak pedang sendiri sangat cepat dan tidak percaya di dunia ini ada orang lain dapat lebih cepat daripada dia. Tapi sekarang dia harus percaya.

Melihat kulit muka pemuda itu berkerut-kerut, Sian-ji melepaskan tangannya dan berkata, “Sungguh cepat amat serangan orang ini, lebih baik … lebih baik engkau lari saja dan jangan menghiraukan diriku.”

Bilamana usia pemuda itu agak lanjut tentu dia akan menurut, sebab seorang yang berusia 40 atau 50 tahun akan lebih mengerti betapa berharganya nyawa.

Jika ada orang bilang: Sungguhpun jiwa sangat berharga, cinta justru terlebih berharga.

Yang bicara demikian pasti anak muda, dan anak muda yang bicara demikian pasti takkan hidup lebih dari 50 tahun.

Dengan mengertak gigi pemuda itu berucap dengan parau, “Jangan takut, biar kulabrak dia.”

Nadanya tidak pasti, juga tidak ada maksud hendak menerjang ke sana.

Maka Sian-ji berkata pula, “Tidak …. Engkau tidak boleh mati, engkau masih punya ayah-bunda dan anak istri, lebih baik engkau lari pulang saja, biar kurintangi dia, aku kan sebatang kara, mati juga tidak menjadi soal.”

Akhirnya pemuda itu tidak tahan, mendadak ia membentak terus menerjang ke sana dengan nekat.

Maka tertawalah Lim Sian-ji.

Seorang perempuan kalau menghendaki kaum lelaki mengadu jiwa baginya, maka jalan yang palang baik adalah berusaha membikinnya tahu si dia mencintainya dan tidak sayang mati baginya.

Cara ini entah sudah dipergunakan berapa kali oleh Lim Sian-ji dan tidak pernah gagal.

Sekali ini tidak cuma batinnya saja tertawa, mukanya juga tertawa. Sebab ia tahu pemuda berbaju biru itu tak dapat melihatnya lagi untuk selamanya.

Sinar pedang sudah berhamburan di sana, ilmu pedang pemuda baju biru menang hebat, pedang yang digunakan juga pedang bagus.

Dalam sekejap dia sudah menyerang Hing Bu-bing lima-enam jurus, tapi tidak berucap sepatah kata pun, rupanya ia tahu tiada gunanya bicara apa pun.

Dan Hing Bu-bing ternyata tidak balas menyerang. Jelas setiap serangan anak muda itu selalu mengincar bagian mematikan, tapi selalu mengenai tempat kosong.

“Engkau ini murid Tiam-jong-pay?” tanya Hing Bu-bing tiba-tiba.

Seketika pemuda baju biru berhenti menyerang, sebaliknya mata orang yang pucat kelabu itu seolah-olah tidak pernah melihatnya. Sungguh dia tidak mengerti cara bagaimana orang mengenali ilmu pedang perguruannya.

“Cia Thian-leng ada hubungan apa denganmu?” tanya Hing Bu-bing.

“Beliau … beliau guruku,” jawab pemuda baju biru.

“Kwe Ko-yang telah mati di bawah pedangku,” kata Bu-bing pula.

Dia mengucapkan kata-kata yang tidak keruan juntrungannya, seperti tiada sangkut pautnya dengan urusan sekarang. Tapi pemuda berbaju biru cukup paham apa maksudnya.

Kiranya Cia Thian-leng adalah ketua Tiam-jong-pay, terkenal sebagai jago pedang nomor satu di wilayah selatan, selama hidupnya malang melintang tanpa tandingan tapi akhirnya dikalahkan oleh Kwe Ko-yang, kalah secara lahir batin.

Sekarang Kwe Ko-yang saja mati di bawah pedangnya, dengan sendirinya Cia Thian-leng pasti juga bukan tandingannya, apalagi cuma muridnya.

Seketika air muka pemuda baju biru berubah pucat.

Siapa pun dapat melihat Hing Bu-bing pasti bukan seorang yang suka membual.

“Sekali turun tangan segera kurenggut nyawamu, kau percaya tidak?” tanya Bu-bing.

Pemuda itu mengertak gigi tanpa menjawab.

Tiba-tiba sinar pedang berkelebat, entah kapan pedang Hing Bu-bing sudah terlolos dan tahu-tahu ujung pedang sudah mengancam di leher orang.

“Sekali kuturun tangan segera dapat kurenggut nyawamu, kau percaya tidak?” Bu-bing mengulangi pertanyaannya.

Butiran keringat bercucuran dari dahi pemuda itu, bibir pun tergigit hingga berdarah, sahutnya dengan parau, “Kenapa tidak kau bunuhku saja?”

“Kau ingin mati?” tanya Bu-bing.

“Seorang lelaki sejati, hidup boleh gembira, mati pun tidak perlu gentar. Silakan turun tangan saja?” seru pemuda itu.

Meski sedapatnya dia berlagak tidak takut mati, tapi lagaknya kurang sepadan.

“Jika tidak kubunuhmu, apakah kau pun ingin mati?” tanya Bu-bing pula.

Pemuda itu jadi melengak.

Kalau dapat hidup dengan baik, siapa yang ingin mati?

“Kutahu engkau ingin mati bagi si dia, supaya dia menganggap engkau seorang pahlawan, tapi jika benar kau mati, apakah dia masih tetap suka padamu?” tiba-tiba Hing Bu-bing mendengus, “Hm, kalau dia yang mati, apakah engkau akan tetap suka padanya?”

Pemuda itu tidak mampu bicara lagi. Ia merasa ujung pedang yang dingin sudah meninggalkan tenggorokannya. Ia merasa dirinya seperti orang dungu.

“Dalam pandangan orang perempuan, seratus pahlawan yang mati tetap tidak lebih baik daripada seorang pengecut yang hidup, hal ini serupa dalam pandanganmu, seratus orang perempuan cantik mati tetap tidak lebih baik daripada seorang perempuan jelek yang hidup …. Masakah dalil ini tidak kau pahami?”

Pemuda itu mengusap keringat, jawabnya sambil menyengir, “Ya, kupaham.”

“Dan sekarang engkau masih ingin mati?”

“Tetap hidup juga tidak jelek,” ujar si pemuda dengan muka merah.

“Bagus, akhirnya tertembus juga jalan pikiranmu,” kata Bu-bing. “Biasanya aku tidak banyak bicara, tapi sekarang aku telah bicara sebanyak ini, sebabnya hanya supaya kau paham dalil ini. Bilamana engkau sudah paham barulah dapat kubunuhmu.”

“Engkau akan membunuhku juga?” tanya si pemuda dengan kaget.

“Selama ini aku cuma bertanya dan tidak pernah menjawab, hanya dikecualikan terhadap orang yang hampir mati.”

“Tapi … jika engkau akan membunuhku, mengapa bicara pula sebanyak ini?”

“Sebab aku tidak suka membunuh orang yang sengaja ingin mati. Jika engkau memang ingin mati, rasanya kan tidak menarik jika kubunuhmu.”

Mendadak pemuda baju biru itu meraung, pedangnya terus menebas.

Suara raungnya sangat singkat, sebab baru saja tangannya bergerak, tahu-tahu ujung pedang Hing Bu-bing sudah menyambar ke dalam mulutnya.

Akhirnya dia merasakan juga rasanya mati.

Pedang Hing Bu-bing masuk kembali lagi ke sarungnya. Dia mempunyai suatu kebiasaan yang aneh, yaitu setiap kali habis membunuh orang, dengan cepat ia masukkan kembali pedang ke sarungnya seperti tidak ingin menggunakannya lagi.

Ia tahu bila orang lain melihat pedangnya masih berada di dalam sarungnya, tentu orang akan lengah. Dia suka orang yang lengah, sebab orang semacam ini biasanya akan mati terlebih cepat.

Sian-ji terus-menerus memandangnya, mengamati setiap gerak-geriknya dengan cermat, sorot matanya senantiasa membawa senyuman yang lembut, serupa seorang gadis lagi memandangi kekasihnya pada waktu jatuh cinta pertama.

Sebaliknya sama sekali Hing Bu-bing tidak memandang ke arah sini.

Sian-ji telah memasang gaya yang paling menggiurkan untuk menyambut kedatangannya. Bu-bing mendekatinya, tapi tetap tidak memandangnya sekejap pun.

Meski tetap tersenyum, namun teleng mata Sian-ji mulai menciut. Diam-diam ia merasakan gelagat tidak enak.

Biasanya, setiap lelaki yang pernah bergaul intim dengan dia, bilamana melihatnya lagi pasti akan serupa kucing rakus melihat ikan asin. Akan tetapi lelaki ini tetap kaku dingin, melirik pun tidak kepadanya, seperti pada tubuhnya penuh racun.

Pinggang Sian-ji meliuk-liuk, kedua penggotong tandu yang masih muda itu sampai terkesima sehingga sama sekali tidak mengetahui maut mengancam mereka. Begitu sinar pedang berkelebat, baru saja mereka menjerit, pedang Hing Bu-bing lantas masuk kembali lagi ke sarungnya.

Dia sudah berada di depan Lim Sian-ji, tapi matanya yang pucat kelabu itu tetap memandang jauh ke depan dengan hampa.

Hanya kegelapan belaka di kejauhan.

Sian-ji menghela napas, katanya, “Mengapa engkau tidak berani memandang diriku? Apakah kau takut bila memandangku lantas tidak tega membunuhku lagi?”

Kulit muka Hing Bu-bing tampak berkerut-kerut, selang sekian lama baru berkata dengan bengis, “Kau tahu kedatanganku hendak membunuhmu?”

Sian-ji mengangguk perlahan, “Ya kutahu …. Betapa pun kejamnya seorang, bilamana dia disuruh membunuh orang yang dicintainya, sikapnya pasti kelihatan berbeda daripada biasanya.”

Ia tersenyum pedih, lalu menyambung, “Aku cuma ingin tanya satu hal padamu, jika aku sudah hampir mati, seharusnya kau jawab pertanyaanku.”

Bu-bing termenung sejenak, kemudian mendengus, “Tanya saja, terhadap orang yang hampir mati tidak pernah kudusta.”

Sian-ji menatapnya lekat-lekat. “Aku cuma ingin tanya, siapa yang menyuruhmu membunuh diriku dan apa sebabnya?”

Bu-bing mengepal tinjunya erat-erat, teriaknya, “Tidak ada yang suruh, juga tidak ada sebabnya.”

“Pasti ada ….” ujar Sian-ji. “Orang yang ingin membunuhku pasti bukan dirimu sendiri.”

Ia tertawa, tertawa yang pedih dan menambah kecantikannya, lalu menyambung lagi dengan sayu, “Kutahu engkau cinta padaku dan pasti tidak tega membunuhku.”

Bilamana orang lain yang menyebut kata “cinta” pasti akan membuat orang merinding, tapi tercetus dari mulut Lim Sian-ji, kata ini kedengarannya seperti nyanyian yang merdu.

Sebab pada saat dia mengucapkan kata ini, bukan cuma mulutnya saja yang digunakan, tapi juga menggunakan lidahnya, juga tangannya, kakinya, pinggangnya dan matanya ….

Untuk mengucapkan kata “cinta” ini bukanlah pekerjaan gampang, ada orang tidak suka menyebutnya, ada yang tidak berani mengatakannya, malahan ada sementara orang telah belajar selama hidup juga tetap tidak tahu cara bagaimana mengucapkannya.

Di dunia ini mungkin tidak ada orang lain yang lebih mahir mengucapkan “cinta” daripada Lim Sian-ji.

Tangan Bu-bing terkepal erat sehingga ruas tulangnya berbunyi keriang-keriut. Namun wajahnya tetap tidak menampilkan emosi apa pun, dia berbalik menjengek, “Hm, apa benar kau tahu? Kau yakin?”

“Jika aku tidak yakin, bila engkau tidak cinta padaku, tentu engkau takkan membunuh orang-orang ini ….”

Bu-bing tidak memotong ucapannya, sebaliknya malah menanti ucapannya lebih lanjut.

“Kau bunuh mereka hanya lantaran kau cemburu,” sambung Sian-ji.

“Cemburu?” Bu-bing menegas.

“Ya, asalkan orang yang pernah menyentuh diriku, bahkan orang yang cuma memandangku, semuanya akan kau bunuh, dan inilah cemburu alias minum cuka. Jika engkau tidak cinta padaku mana bisa cemburu, mana bisa minum cuka?”

Muka Bu-bing tampak pucat, jengeknya, “Hm, aku cuma tahu akan kubunuh dirimu, orang yang hendak kubunuh jangan lagi berharap akan hidup lagi.”

“Jika benar kau ingin membunuhku mengapa engkau sama sekali tidak memandang diriku? Engkau tidak berani?” tanya Sian-ji.

Tangan Bu-bing menggenggam tangkai pedang, di tengah remang cahaya pelita dapat juga terlihat butiran keringat yang menghias dahinya. Keringat dingin.

Sian-ji menatapnya tajam, katanya pula, “Jika sama sekali engkau tidak berani memandang diriku, umpama jadi kau bunuh diriku tentu juga engkau akan menyesal.”

Untuk mencoba pikiran orang, perlahan ia menjulurkan tangannya.

Hing Bu-bing tidak bergerak.

Akhirnya tangan Sian-ji memegang tangan Bu-bing, lalu tubuhnya juga menggelendot di bahunya, tangan pun mulai meraba dadanya, ucapnya dengan lembut, “Jika engkau tak dapat mengambil keputusan, boleh kau bawa diriku untuk menemui dia.”

Jari-jemari Sian-ji bergerak dengan lincah bahkan ia tahu harus berhenti di bagian mana.

Napas dan otot daging sekujur badan Hing Bu-bing sama menegang, ucapnya dengan parau, “Kau … kau ingin menemui siapa?”

“Menemui orang yang menyuruhmu membunuh diriku itu,” kata Sian-ji. “Pasti dapat kubikin dia mengubah pendiriannya ….”

Perlahan ia gigit ujung telinga Hing Bu-bing dan membisikinya pula, “Engkau jangan khawatir, pasti takkan kukecewakan dirimu.”

Hing Bu-bing tetap tidak memandangnya, tapi perlahan berpaling dan memandang ke hutan yang gelap sana.

Bola mata Sian-ji berputar, tanyanya lirih, “Apakah dia … dia berada di dalam hutan?”

Hing Bu-bing tidak menjawab, memang tidak perlu lagi jawabannya.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: