Pendekar Budiman: Bagian 19

Pendekar Budiman: Bagian 19

Oleh Gu Long

 

“Baik, akan kutemui dia,” ucap Sian-ji lambat. “Jika dia berkeras tidak dapat melepaskan diriku, kan masih keburu kau bunuhku nanti.” Sesudah Sian-ji membalik ke sana barulah sorot mata Hing Bu-bing hinggap pada bayangan punggungnya, matanya yang pucat kelabu itu baru untuk pertama kalinya timbul perasaan. Perasaan apa? Gembira atau duka? Menyesal atau gemas? Mungkin dia sendiri tidak tahu. Di tengah hutan yang gelap sana tiada setitik cahaya apa pun. Meski Lim Sian-ji berjalan dengan sangat lambat tetap hampir menumbuk pada tubuh seorang. Orang ini berdiri di situ dengan tegak kuat serupa sebuah bukit, bukit es. Padahal perawakannya tidak terhitung terlalu tinggi besar, tapi tampaknya seperti sedemikian tingginya dan sukar dicapai. Mestinya Lim Sian-ji dapat menghindarinya dan lalu di sebelah orang, tapi hal ini tidak dilakukannya, sebaliknya ia terus menubruk ke dalam pangkuan orang. Tapi orang ini juga tidak memegangnya, ia tetap berdiri diam saja. Napas Sian-ji mendesah, ia berdiri tegak lagi, lalu berkata, “O, di sini sangat gelap …. Maaf ….” Jarak berdirinya dengan orang ini sedemikian dekat, ia yakin orang pasti dapat mencium bau napasnya, ia percaya bau napasnya pasti akan menggetar sukma setiap lelaki. Tapi orang ini lantas berkata dengan tenang, “Dapat kau bikin Hing Bu-bing tidak jadi membunuhmu, yang kau gunakan adalah cara ini?” Sian-ji berkedip, “Jadi engkaulah yang menyuruhnya membunuhku? Engkau ini Siangkoan-pangcu?” “Betul, dan dapat kuberi tahukan padamu, dengan caramu ini takkan mempan terhadap diriku,” kata orang ini. Dia bicara dengan hambar, tidak ketus, juga tidak seram, tanpa membawa sesuatu emosi, bicara apa pun dia serupa orang yang lagi membaca. Bola mata Sian-ji berputar, katanya kemudian, “Lantas dengan cara bagaimana supaya dapat kurayu dirimu?” “Engkau mempunyai cara apa saja boleh coba kau keluarkan seluruhnya,” kata orang itu, Siangkoan Kim-hong. “Ya, aku pun tahu engkau sangat sulit dibujuk rayu oleh orang perempuan, tapi mengapa engkau menyuruh Hing Bu-bing membunuhku?” “Orang yang setiap saat siap membunuh tidak boleh mempunyai perasaan, untuk melatih seorang yang sama sekali tak berperasaan tidaklah mudah, tidak boleh kubiarkan dia rusak di tanganmu.” Sian-ji tertawa, “Tapi jika engkau menyuruh dia membunuhku, engkau akan kehilangan terlebih besar.” “Oo?!” melengak juga Siangkoan Kim-hong. “Sebab aku pasti jauh lebih berguna daripada Hing Bu-bing.” “Oo?!” kembali Siangkoan Kim-hong bersuara heran. “Hing Bu-bing hanya dapat membunuh orang, aku pun dapat membunuh orang, dia membunuh dengan pedang, bahkan harus mengalirkan darah, cara ini sudah ketinggalan zaman, caraku membunuh orang bukan cuma tidak mengalirkan darah, bahkan juga tidak perlu menggunakan tenaga.” “Tapi paling sedikit caranya membunuh orang terlebih cepat daripadamu.” “Cepat memang bagus, tapi lambat juga ada kebaikannya, betul tidak?” Siangkoan Kim-hong termenung sejenak, “Kecuali dapat membunuh orang, engkau masih ada kebaikan apa lagi?” “Aku punya uang, harta kekayaanku hampir sukar dihitung jumlahnya dan dapat membuat gila orang.” “Ehm, kebaikan ini memang tidak kecil,” suara Siangkoan Kim-hong seperti merasa senang, sebab ia cukup mafhum manfaatnya uang. “Dengan sendirinya aku pun sangat pintar, dapat membantumu bekerja apa pun.” “Betul, engkau pasti sangat pintar, orang bodoh tidak mungkin mampu menguasai uang sebanyak itu.” “Selain itu, tentu saja aku masih mempunyai kebaikan lain ….” mendadak suaranya berubah lirih, “Asalkan engkau seorang lelaki, selekasnya engkau akan tahu apa yang kukatakan pasti tidak dusta. Asalkan kau mau, semua kebaikanku ini akan menjadi milikmu.” Siangkoan Kim-hong termenung lagi sejenak, akhirnya berucap sekata demi sekata, “Aku lelaki!” Di tengah hutan sudah mulai berkabut. Tubuh Hing Bu-bing sudah basah oleh air embun, tapi dia tetap berdiri di sana tanpa bergerak serupa patung. Kabut makin tebal sehingga apa pun tidak terlihat. Hanya suara yang terdengar. Tapi suara apakah itu? Keluhan? Atau desah napas. Terdengar pula suara tertawa Lim Sian-ji, katanya, “Engkau memang benar lelaki, tidak banyak lelaki serupa dirimu di dunia ini, sungguh aku tidak … tidak menyangka engkau lelaki demikian.” “Lantaran engkau seorang perempuan demikian, maka aku pun lelaki demikian,” kata Siangkoan Kim-hong. Suaranya tetap tenang dan datar, sungguh langka orang lelaki seperti dia. “Tapi fajar sudah hampir menyingsing, aku harus pulang.” “Sebab apa?” “Ada orang sedang menungguku.” “Siapa?” “A Fei,” sahut Sian-ji. “Tentu pernah kau dengar namanya.” “Aku cuma heran mengapa tidak kau bunuh dia, caramu membunuh orang sungguh lambat benar.” “Aku tidak boleh membunuh dia, juga tidak berani.” “Sebab apa?” tanya Siangkoan Kim-hong. “Sebab kalau kubunuh dia, tentu aku akan dibunuh Li Sun-hoan.” Mendadak Siangkoan Kim-hong tidak bicara lagi. Sian-ji menghela napas, “Kutahu engkau juga belum dapat membunuh Li Sun-hoan, kalau tidak tentu takkan kau suruh Hing Bu-bing untuk menghadapi Li Sun-hoan membunuhku. Kutahu akan kau gunakan Hing Bu-bing untuk menghadapi Li Sun-hoan, maka kau khawatir dia berubah menjadi lemah.” Siangkoan Kim-hong termenung agak lama, katanya kemudian, “Engkau sangat takut kepada Li Sun-hoan?” “Takut setengah mati.” “Bagaimana dia dibandingkan diriku?” “Dia jauh menakutkan daripadamu, sebab engkau masih dapat kurayu, tapi aku sama sekali tak berdaya terhadap dia.” Setelah menghela napas gegetun, Sian-ji menyambung pula, “Orang ini tidak menghendaki apa pun, inilah yang paling menakutkan.” “Dia juga manusia, kukira dia pasti juga ada titik lemah.” “Titik kelemahannya ialah Lim Si-im, tapi aku tidak berani menggunakan Lim Si-im untuk mengancamnya.” “Sebab apa?” “Sebab aku tidak yakin akan berhasil. Selama pisau masih terpegang di tangannya, berbuat apa pun aku ragu,” Sian-ji menghela napas panjang, “Maka, selama dia masih hidup, selama itu pula aku tidak berani bertindak.” “Jangan khawatir, hidupnya takkan lama lagi,” kata Siangkoan Kim-hong sesudah berpikir. ***** Kabut sudah mulai buyar. Hing Bu-bing masih berdiri tanpa bergerak di tempatnya, sorot matanya yang buram itu sedang memandang setitik air embun yang akan menetes dari tepi tudungnya yang lebar itu. Dia seperti tidak melihat Siangkoan Kim-hong muncul sendirian dari dalam hutan. Siangkoan Kim-hong juga tidak memandangnya, dengan langkah tidak lambat juga tidak cepat ia lalu di depannya, ucapnya dengan tak acuh, “Hari ini berkabut, sebentar lagi cuaca pasti cerah.” Hing Bu-bing terdiam sejenak, lalu berucap juga, “Ya, pasti cerah.” Akhirnya ia membalik tubuh dan mengikut di belakang Siangkoan Kim-hong dengan langkah tidak cepat juga tidak lambat, keduanya seperti berbaris dan akhirnya lenyap di tengah kabut pagi. ***** Jalan di kota ini sangat ramai, serupa pasar. Segala permainan dan barang terdapat di sini. Meski hari belum lagi tengah hari, namun di kedua tepi jalan sudah banyak terpasang tenda penjual macam-macam makanan, juga berbagai tontonan sedang menunggu penjaja dan langganannya. Berada di tempat begini, hati Ling-ling sungguh gembira sekali, betapa pun dia memang masih anak-anak. Bahwa Li Sun-hoan dapat membawanya pesiar ke tempat ramai seperti ini, sungguh sama sekali tak tersangka olehnya. “Kiranya dia juga masih berpikiran seperti anak-anak,” demikian ia membatin. Hampir ia tertawa geli ketika dilihatnya tangan Li Sun-hoan masih memegang setangkai permen yang baru dibelinya bersama beberapa macam jajanan lain. Anak perempuan umumnya memang suka jajan, banyak yang ingin dibelinya, terpaksa Li Sun-hoan membawakan baginya. Sun-hoan tidak memikirkan apa yang dilakukannya saat itu, sebab dia sedang memerhatikan satu orang. Sudah sekian lama orang ini diperhatikannya. Orang ini berjalan di depannya, punggungnya menyandang sebuah karung goni butut, kaki memakai kasut tua terbuat dari anyaman rumput, kepala memakai topi kain laken yang dekil, orang ini berjalan dengan menunduk seperti malu dilihat orang. Cara jalannya juga terbungkuk-bungkuk sampai leher pun seakan-akan tersembunyi, namun bahunya lebar, kalau dia berdiri tegak mungkin seorang lelaki yang kekar. Apa pun juga orang ini tidak istimewa, paling banyak dia cuma seorang pengelana Kangouw, bisa jadi cuma seorang pengemis. Tapi sekali melihat dia Li Sun-hoan lantas menaruh perhatian. Ke mana pun dia pergi, ke situ pula Sun-hoan menuju dan akhirnya sampai di jalan ramai ini. Anehnya, yang mengintil orang ini ternyata tidak cuma Li Sun-hoan saja. Semula Sun-hoan ingin melampaui orang itu untuk melihat mukanya, tapi tiba-tiba diketahuinya di belakangnya ada lagi yang diam-diam membuntuti si pengemis ini. Penguntit ini bertubuh sangat tinggi, langkahnya gesit, meski bajunya terbuat dari kain kasar biasa, namun sinar matanya gemerdep terang. Sekali pandang saja Sun-hoan lantas tahu penguntit ini pasti bukan orang biasa. Orang ini tidak memerhatikan Li Sun-hoan, sebab seluruh perhatiannya tertuju kepada si pengemis di depan. Bila pengemis itu berjalan cepat, ia pun melangkah dengan cepat. Kalau pengemis itu berhenti, segera ia pun berhenti dan berlagak berbuat sesuatu, namun matanya tidak pernah kendur mengawasi tingkah laku si pengemis. Tampaknya si jangkung ini memang seorang ahli pengintai. Orang semacam ini mengapa mengintai seorang pengemis? Sedapatnya Sun-hoan bersabar, entah untuk apa, tampaknya dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi nanti. Memangnya ada sangkut paut apa antara dia dengan pengemis di depan itu? Sebaliknya si pengemis seperti sama sekali tidak tahu ada orang lagi membuntuti dia, ia tetap berjalan dengan terbungkuk-bungkuk dengan perlahan dan tidak pernah menoleh. Jika di tengah jalan ada orang memberi sedekah akan diterimanya, jika tidak ada ia pun tidak meminta. Bola mata Ling-ling terus berputar, mendadak ia menarik ujung baju Sun-hoan dan bertanya, “Apakah kita lagi mengikuti tukang minta-minta itu?” Nona cilik ini memang setan cerdik. Terpaksa Sun-hoan mengangguk, bisiknya, “Sst, kalau bicara jangan terlalu keras.” Ling-ling berkedip-kedip, katanya, “Siapa dia? Mengapa kau perlu membuntuti dia?” “Kukatakan juga kau tidak paham,” kata Sun-hoan. “Justru lantaran aku tidak paham, maka kutanya,” ujar Ling-ling. “Ayolah katakan, kalau tidak terpaksa kutanya dengan suara keras.” Sun-hoan menggeleng dengan menyengir, ucapnya, “Soalnya dia mirip seorang kawanku yang sudah sama berpisah.” “Kawanmu?” Ling-ling tambah heran. “Masakah kawanmu orang dari Kay-pang?” “Bukan,” kata Sun-hoan. “Habis siapa dia?” tanya si nona pula. “Biarpun kukatakan namanya juga tidak kau kenal,” ujar Sun-hoan dengan menarik muka. Mulut Ling-ling menjengkit, jelas ia kurang senang, setelah terdiam sejenak, akhirnya ia berkata lagi, “Di depan kita juga ada seorang lain sedang mengikuti pengemis itu, apakah kau tahu?” Sun-hoan tertawa, “Matamu cukup tajam juga.” Ling-ling juga tertawa, “Lantas siapakah orang itu? Apakah juga kawannya sahabatmu?” “Bukan,” jawab Sun-hoan. Bola mata Ling-ling berputar-putar lagi, “Bukan sahabatnya? Habis apakah musuhnya?” “Bisa jadi,” kata Sun-hoan. “Mengapa tidak kau beri tahukan padanya?” Sun-hoan menghela napas, “Watak kawanku sangat aneh, tidak suka menerima bantuan orang lain.” “Akan tetapi dia ….” belum lanjut ucapan Ling-ling, akhirnya ia tutup mulut, sebab dia harus sibuk menggunakan matanya untuk memandang ke sana, tampaknya dia menjadi terkesima. Jalan raya ini cukup panjang, mereka sudah berjalan sekian lamanya baru mencapai setengahnya. Saat itu si pengemis berada di depan tenda penjual pangsit. Tidak jauh dari tukang pangsit itu ada seorang membawa pikulan arak dan beberapa pembeli sedang berjongkok minum arak di depan penjualnya, satu di antaranya adalah seorang tukang nujum buta dengan wajah yang pucat. Pada seberang jalan sana berdiri seorang lelaki kekar berbaju hijau. Dan seorang penjual tahu goreng dengan pikulannya sedang menuju ke sini dari depan sana. Selain itu ada lagi seorang perempuan tinggi besar berdiri dengan menunduk lagi membeli benang di depan tukang kelontong, kebetulan sekarang dia mendongak sehingga kelihatan matanya yang buta sebelah. Si pengemis tadi baru sampai di sini, mendadak si penjual arak meninggalkan pikulannya dan si buta yang asyik minum arak juga lantas berdiri. Lelaki berbaju hijau tinggi besar juga lantas melompat maju, serentak perempuan bermata satu juga membalik tubuh sehingga pikulan si tukang kelontong tersaruk roboh. Ketambahan lagi si jangkung yang sejak tadi mengintil di belakangnya, beberapa orang ini serentak merubung ke arah si pengemis dari berbaju penjuru. Kebetulan tempat taruh pikulan si penjual tahu goreng juga mengadang di depan jalan pergi si pengemis. Meski di jalan banyak orang lain yang berlalu-lalang, tapi perbuatan beberapa orang ini tentu saja menarik perhatian khalayak ramai. Sampai Ling-ling juga dapat melihat gelagat yang tidak beres ini, tentu saja air muka Li Sun-hoan juga berubah. Sejak mula ia merasa si pengemis ini sangat mirip si berewok Thi Toan-kah, sekarang dia tidak sangsi lagi. Tapi dia tidak berani sembarangan bertindak, sebab ia tahu antara beberapa orang ini ada permusuhan mendalam dengan Thi Toan-kah, apa yang mereka lakukan ini pasti sudah lama direncanakan dengan rapi dan pasti takkan memberi kesempatan melarikan diri bagi Thi Toan-kah. Bilamana ada orang bermaksud menolong Thi Toan-kah bukan mustahil serentak mereka akan membunuhnya lebih dulu tanpa menghiraukan apa yang bakal terjadi. Bagi Li Sun-hoan akan lebih baik ia sendiri yang mati daripada membikin susah Thi Toan-kah. Selama hidup Sun-hoan hanya utang budi kepada beberapa orang saja, dan satu di antaranya ialah si berewok Thi Toan-kah. Betapa pun dia tidak mau kehilangan seorang sahabat seperti Thi Toan-kah. Dalam sekejap itulah si pengemis alias Thi Toan-kah sudah terkepung oleh beberapa orang itu. Sinar tajam berkelebat, senjata telah mengancam di depan dan di belakang tubuhnya. Baru sekarang khalayak ramai menyadari apa yang terjadi, mereka menjadi panik dan sama menyingkir. Siapa pun tidak ingin terlibat dalam permusuhan dan bunuh-membunuh orang Kangouw ini. Terdengar si buta tukang nujum berkata dengan ketus, “Perlahan ikut bersama kami, satu kata pun tidak perlu bicara, tahu!” Si lelaki berbaju hijau membentak dengan beringas, “Jika ingin hidup agak lama sedikit harus kau tunduk kepada perintah kami, jika berani bertingkah, segera kami binasakan dirimu.” Reaksi pengemis itu tampak lamban sekali, baru sekarang kelihatan dia mengangguk. Si perempuan buta sebelah lantas mendorong pundaknya dan membentak, “Lekas jalan, tunggu apa lagi?” Mendingan dia tidak mendorong, sekali dorong, beberapa orang ini seketika melenggong. Topi laken yang dipakai si pengemis terguncang jatuh ke tanah sehingga kelihatan wajahnya. Wajah yang pucat kuning serupa orang yang baru sakit parah, di tengah wajah yang kuning itu sebuah hidung besar merah dengan mulut tertawa lebar terhadap beberapa orang itu. Mana bisa Thi Toan-kah berbentuk seperti ini, orang ini lebih tepat adalah seorang sinting. Hampir saja Sun-hoan tertawa geli. Tubuh si perempuan buta sebelah sampai gemetar saking gemasnya, teriaknya, “Longo (kelima), bagai … bagaimana bisa jadi begini?” Si jangkung tadi tampak pucat, sahutnya gemetar, “Jelas-jelas dia Thi Toan-kah dari kukuntit terus-menerus, mana bisa … mana bisa berubah.” Dengan mendongkol si lelaki baju hijau mengentak kaki, mendadak telapak tangannya membalik, muka si pengemis digamparnya sekali dengan keras sambil meraung, “Keparat, siapa kau? Sesungguhnya siapa kau?” Pengemis itu meraba mukanya yang kesakitan, tapi tetap cengar-cengir, jawabnya, “Aku ialah aku, engkau ialah engkau, kenapa kau pukul aku?” Si penjual arak berkata, “Mungkin keparat ini samaran Thi Toan-kah, coba kupas dulu kulit mukanya.” Tiba-tiba si buta tukang nujum menukas, “Tidak perlu, orang ini pasti bukan Thi Toan-kah.” Sampai sekarang air mukanya yang tetap dingin tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan. “Jiko dapat mengenali suaranya?” tanya si lelaki baju hijau. “Jika Thi Toan-kah, mati pun dia tidak sudi kau pukul tanpa membalas,” kata si buta. Lalu ia tanya si jangkung dengan menarik muka, “Longo, coba renung lagi, sesungguhnya apa yang terjadi?” Wajah si jangkung sebentar pucat sebentar merah, katanya kemudian, “Orang ini pasti sekomplotan dengan Thi Toan-kah dan sengaja mengelabui penguntitanku, kita terpancing menguntitnya ke sini, tapi diam-diam orang she Thi itu sudah kabur.” “Cara bagaimana kau bekerja, masakah sampai kena dikibuli?” omel si perempuan buta sebelah itu. Si jangkung menunduk, jawabnya tergegap, “Mungkin … mungkin pada waktu dia masuk kakus dan aku … aku tidak dapat ….” Seketika si lelaki baju hijau meraung murka, “Kiranya kau ini sekomplotan dengan orang she Thi, biar kubinasakan kau!” Segera ia sambar bambu pikulan tahu terus mengemplang kepala si pengemis. Keadaan sudah mendesak, mau tak mau Sun-hoan harus turun tangan. Apakah pengemis itu sinting benar atau tidak dan sahabat Thi Toan-kah atau bukan, paling tidak dia memang sudah membantu Thi Toan-kah, tidak boleh Sun-hoan menyaksikan dia dipukul mati orang. Apalagi untuk mencari berita tentang Thi Toan-kah juga memerlukan jasa orang ini. Segera tubuh Sun-hoan meluncur ke depan. Tapi baru bergerak satu langkah serentak ia tarik kembali lagi. Gerak meluncur dan menarik kembali ini boleh dikatakan dilakukan dalam sekejap dan secepat kilat sehingga sama sekali tidak dilihat orang lain. Soalnya dia tidak perlu turun tangan lagi. Terdengar suara “krek” sekali, pikulan yang dihantamkan si baju hitam itu mendadak patah menjadi dua, dan karena pukulannya mengenai tempat kosong, si baju hijau sendiri hampir terjerembap ke depan malah. Siapa pun tidak tahu jelas barang apakah yang telah mematahkan pikulan bambu itu, air muka orang-orang itu sama berubah dan tanpa terasa sama menyurut mundur satu langkah, beramai-ramai juga lantas membentak, “Siapa yang berani turut campur urusan?” “Aku!” jawab seorang dengan tak acuh di bawah emper rumah sana. Waktu semua orang memandang ke arah suara itu baru diketahui yang bicara ialah seorang berbaju putih dan berperawakan tinggi tegap, lagi berdiri di sana dengan menggendong tangan di punggung dan sedang menikmati sebarisan sangkar burung yang bergantungan di bawah emper. Burung di dalam sangkar asyik berkicau merdu, agaknya si baju putih merasa burung di dalam sangkar terlebih menyenangkan daripada manusia sehingga sama sekali dia tidak melirik ke arah orang Kangouw yang saling bermusuhan ini. Ujung matanya tampak sudah berkerut, namun mata alisnya indah, mukanya putih, dipandang dari jauh serupa seorang kongcu (putra hartawan atau bangsawan) yang ganteng, siapa pun sukar menerka usianya. “Kiranya kau keparat ini yang mematahkan pikulanku?” si baju hijau tadi meraung gusar. Sekali ini si baju putih sama sekali tidak bersuara. Serentak si baju hijau, si perempuan buta sebelah, dan si penjual arak sama membentak gusar dan seperti bermaksud menerjang ke sana. Tapi mendadak si buta tukang nujum membentak perlahan, “Jangan!” Lalu ia jemput sepotong perak dari tanah dan menjengek, “Kongcu ini memang telah mematahkan pikulanmu, tapi dengan sepotong uang perak ini, mau beli seratus buah pikulan juga jauh daripada cukup. Seharusnya engkau berterima kasih kepadanya, mengapa malah bersikap kasar?” Si baju hijau memandang pikulan patah yang masih dipegangnya dan memandang pula lantakan perak yang dipegang si buta, dia seperti tidak percaya si baju putih yang kelihatan lemah dan halus itu dapat mematahkan pikulannya dengan sepotong perak itu. Mendadak si baju putih menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, bagus! Tak tersangka matamu yang buta ini terlebih awas daripada mata orang lain. Maka sepotong perak itu boleh untukmu.” Si buta tukang nujum tetap tenang saja, jengeknya, “Biarpun mataku buta tapi hatiku tidak buta dan tidak berani berbuat sesuatu yang melanggar hati nurani.” Ia meremas-remas lantakan perak itu sambil bergumam, “Harga pikulan paling mahal cuma satu duit saja, sedangkan sepotong perak ini sedikitnya ada 10 tahil beratnya, umpama Kongcu ingin memberi ganti rugi juga tidak perlu membayar sebanyak ini.” Sembari bicara, lantakan perak yang diremasnya telah dipelintir menjadi sebatang toya perak, waktu ditekuknya, patahlah sepotong kecil, lalu katanya pula, “Nah, kuterima dengan baik sekadar ganti rugi ini, selebihnya kukembalikan kepada pemiliknya.” Segera tangannya bergerak, sinar perak berkelebat, toya pandak itu menyambar si baju putih, sekaligus mengarah beberapa hiat-to di depan dada si baju putih. Jurus yang digunakannya ternyata ilmu pedang Bu-tong-pay yang lihai, yaitu Liang-gi-kiam-hoat. Ketika toya perak itu menyambar tiba barulah si baju putih mendadak menjulurkan dua jari, sekali ujung toya terjepit, serupa buatan baja saja jarinya, hanya digunting begitu saja toya perak itu lantas terpotong sebagian. Lalu katanya dengan hambar, “Ilmu pedangmu lumayan juga, cuma sayang terlalu lambat.” Sembari bicara jari tangannya terus bekerja juga, setiap kali omong satu kata, setiap kali pula toya perak itu tergunting sepotong dan terbitlah suara gemerencing, dalam sekejap belasan potong gundu perak telah berserakan di tanah. Ling-ling menyaksikan kejadian itu dari jauh, tanpa terasa ia pun menarik napas dingin, ucapnya, “Tangan orang ini mustahil terdiri dari darah dan daging!” Muka semua orang sama pucat melihat toya yang dipegang si buta tersisa sepotong kecil saja, semuanya tak sanggup bicara lagi. Tangan si baju putih tergendong lagi di punggung, katanya dingin, “Uang sudah kuberikan dan itu berarti sudah milikmu, kenapa tidak lekas kau jemput?” Muka si buta berubah pucat pasi, mendadak ia berjongkok dan memunguti biji perak itu satu per satu, tanpa bicara lalu tinggal pergi. Dengan kepala tertunduk si baju hijau, si perempuan buta sebelah, dan lain-lain sama ikut pergi di belakang si tukang nujum. “Huh, waktu datang garangnya bukan main, ketika pergi seperti jago sudah keok, namun orang-orang ini masih harus dipuji juga sebagai kesatria yang dapat melihat gelagat,” demikian diam-diam Ling-ling menertawakan orang. Sun-hoan berpikir sejenak, katanya tiba-tiba, “Kau lihat di depan sana ada tenda penjual pangsit, bukan?” “Ya, sudah kulihat sejak tadi dan ingin kuisi perut ke sana,” jawab Ling-ling dengan tertawa. “Baik, boleh kau tunggu saja di sana,” kata Sun-hoan. Ling-ling tercengang, “Hendak kau susul tukang minta-minta itu?” Sementara itu si pengemis telah merangkak bangun dan sedang menuju ke depan sana dengan menyengir, tidak berterima kasih kepada si baju putih, juga tidak menghiraukan orang lain lagi. Apa yang baru terjadi seperti tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Sun-hoan mengangguk, “Ya, ada urusan hendak kutanyai dia.” Mata Ling-ling menjadi merah, ucapnya dengan menunduk, “Tidak dapat kuikut bersamamu?” “Tidak,” kata Sun-hoan. Ling-ling seperti mau menangis, “Kutahu, sengaja hendak kau tinggalkan diriku.” “Tidak, jangan khawatir, aku pun ingin makan pangsit, masa tidak kembali lagi?” ujar Sun-hoan. “Baik, kupercaya padamu,” kata Ling-ling sambil menggigit bibir. “Bila engkau dusta padaku, akan kutunggu dirimu di situ selama hidup.” Cara berjalan si pengemis tadi tidak cepat, Sun-hoan juga tidak terburu-buru menyusulnya, maklumlah, orang yang berlalu-lalang di jalan ini sangat ramai. Di tengah keramaian tentu tidak leluasa untuk bicara, apalagi diketahui Sun-hoan bahwa si baju putih juga sedang memerhatikan padanya, seperti mendadak dirasakan dia terlebih menarik daripada burung. Sebenarnya Sun-hoan juga sangat ingin melihat jelas muka si baju putih, kungfunya menggunting “toya perak” dengan tenaga jari itu sungguh sangat menarik baginya. Maklumlah, tokoh kelas tinggi seperti dia tidak banyak lagi di dunia persilatan. Padahal Sun-hoan memang tidak tahu siapa pula di dunia ini yang mempunyai tenaga jari sakti seperti si baju putih, rasanya pujian Ling-ling kepadanya tadi tidak berlebihan, yaitu jarinya tidak terbuat dari darah dan daging. Setiap orang yang berlatih ilmu silat, bila bertemu dengan jago yang menguasai semacam kungfu hebat, biasanya kalau tidak berusaha menantangnya untuk bertanding tentu juga ingin bersahabat dengan dia. Pada hari-hari biasa Li Sun-hoan tentu juga tidak terkecuali, tapi sekarang dia tidak punya hasrat demikian, sebab sudah sekian lama dia mencari Thi Toan-kah dan tidak pernah mendapat kabar beritanya, kesempatan sekarang tidak boleh disia-siakannya. Dalam pada itu si baju putih lantas mendekati Sun-hoan malah dan tampaknya hendak merintangi jalan perginya. Untung khalayak ramai yang menyingkir tadi sekarang lantas berkerumun pula karena sama ingin melihat kegagahan si baju putih. Kesempatan ini segera digunakan Li Sun-hoan untuk menyelinap lewat di tengah orang banyak. Tapi waktu ia memandang ke depan, si pengemis tadi sudah sampai di ujung jalan sana dan membelok ke kiri. Jalan di sebelah kiri tidak panjang, juga sepi. Waktu Sun-hoan memburu ke sana, si pengemis telah menghilang, meski jalan ini sudah dilalui dan membelok lagi ke jalan lain, bayangan si pengemis tetap tidak terlihat. Sedapatnya Sun-hoan bersabar dan mencarinya. Perlahan ia menuju ke depan menyusur kaki dinding. Jalan ini sangat sepi, kedua tepi hampir seluruhnya adalah pinta belakang rumah penduduk. Di dalam salah sebuah pintu kecil sana tiba-tiba terlihat berjongkok seorang, entah barang apa yang dipegangnya, barang itu sedang digosok-gosok dengan ujung bajunya yang dekil. Belum lihat jelas orangnya Sun-hoan sudah dapat melihat topi laken orang. Kiranya si pengemis tadi bersembunyi di sini, memangnya apa yang sedang dilakukannya? Sun-hoan tidak ingin mengejutkan orang, perlahan ia mendekatinya. Walaupun begitu si pengemis tetap terkejut, cepat ia menyembunyikan barang yang dipegangnya ke belakang punggung. Akan tetapi mata Li Sun-hoan terlebih cepat daripada tangan orang, sekilas pandang sudah dapat dilihatnya barang yang dipegang orang adalah sepotong perak, jelas serupa potongan perak yang digunting oleh jari si baju putih tadi, cuma sekarang tampak mengilat karena habis digosok. “Sahabat ini she apa?” Sun-hoan coba menyapa dengan tertawa. Si pengemis memandangnya dengan melenggong, jawabnya kemudian, “Aku bukan sahabatmu, kau pun bukan sahabatku, aku tidak kenal padamu, kau pun tidak kenal diriku.” Sun-hoan tetap tersenyum, “Ingin kucari kabar seorang padamu, engkau pasti kenal orang itu.” “Aku tidak kenal siapa pun, orang lain juga tidak kenal diriku, tidak kenal, tidak kenal!” kata pengemis itu sambil menggeleng. Orang ini memang benar kurang waras, jelas cuma satu kalimat yang sederhana selalu diucapkannya secara berulang dan bolak-balik, bahkan waktu bicara mulutnya serupa tersumbat sebiji telur sehingga kata-katanya kurang terang. Selagi Sun-hoan hendak bertanya lagi dengan cara lain, mendadak pengemis itu menerobos lewat di bawah ketiak Sun-hoan terus kabur. Larinya cukup cepat, tapi kelihatan bukan orang yang menguasai ginkang. Setiap pengemis di dunia ini umumnya dapat lari dengan cepat, agaknya hal ini sudah merupakan satu-satunya kepandaian khas kaum pengemis. Namun lari Li Sun-hoan tentu saja terlebih cepat daripada dia. Sembari berlari pengemis itu berseru dengan napas terengah, “Hei, kau mau apa? Hendak merampas uangku?” Sun-hoan tertawa, mendadak tangan terjulur, benar-benar ia merampas perak yang dipegang orang. Kontan pengemis itu berteriak, “Tolong, tolong! Uangku dirampok! Tolong!” Untung jalan ini sangat sepi dan tiada bayangan orang lain, kalau tidak, tentu Sun-hoan bisa runyam. Coba, jika uang seorang pengemis saja dirampasnya, lantas terhitung rampok macam apa, bukankah akan dianggap sebagai rampok kelas kambing? Si pengemis berteriak terlebih keras, “Kembalikan uangku, kembalikan! Kalau tidak biar kuadu jiwa denganmu!” “Asalkan kau jawab beberapa kata pertanyaanku segera kukembalikan uangmu, bahkan kutambahi jumlah lebih banyak,” kata Sun-hoan. Pengemis itu berkedip-kedip dengan sangsi, setelah menimbang dan mengingat, akhirnya memutuskan, “Baiklah, kau ingin tanya apa?” “Apakah engkau ini kawan Thi Toan-kah?” tanya Sun-hoan. Si pengemis menggeleng. “Aku tidak punya kawan …. Tukang minta-minta tidak ada yang punya kawan.” “Jika begitu, mengapa kau bantu dia?” Makin gencar si pengemis menggeleng kepala, “Tidak, aku tidak membantu siapa-siapa, siapa pun tidak membantuku.” Sun-hoan berpikir sejenak, lalu bertanya pula, “Masa hari ini tidak kau lihat seorang lelaki tinggi besar, berkulit badan hitam, dan muka penuh berewok?” Pengemis itu mengingat-ingat sekian lama, katanya kemudian, “Ya, rasanya seperti melihat satu.” “Di mana kau lihat dia?” “Di kakus?” “Benar di kakus?” “Ya, waktu aku lagi berak di sebuah kakus umum, mendadak bocah itu menerobos masuk dan tanya padaku apakah mau diberi uang untuk minum arak.” “Setiap orang tentu ingin minum arak,” ujar Sun-hoan dengan tertawa. “Tapi kulihat baju bocah itu sendiri compang-camping, mana mungkin dia punya duit.” “Semakin kaya seorang semakin suka berlagak miskin, masa dalil ini tidak kau ketahui?” “Ya, betul juga,” si pengemis tertawa. “Bocah itu ternyata membawa uang perak dan diperlihatkan kepadaku. Segera kutanya cara bagaimana supaya dapat kuperoleh uang peraknya.” “Apa yang dikatakannya?” tanya Sun-hoan. “Semula kusangka dia minta kukerjakan sesuatu yang sulit, siapa tahu dia cuma minta bertukar baju denganku, habis itu menyuruhku lari keluar dengan kepala menunduk.” “Wah, gampang sekali caramu mendapatkan uang perak itu,” ucap Sun-hoan dengan tertawa. Sekali ini ia tertawa gembira, orang berwatak keras serupa Thi Toan-kah sekarang juga mampu menggunakan akal melepaskan diri dari intaian musuh, sungguh hal ini patut dibuat gembira. Tertawa si pengemis juga tidak kurang gembiranya, katanya, “Ya, kukira bocah itu pasti sinting.” “Aku juga akan meniru penyakit orang itu, uangku juga cukup banyak untuk kuberikan padamu,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Oo, betul?” si pengemis melotot. Segera Sun-hoan mengeluarkan segenap uang perak yang berada padanya, inilah sisa perbekalannya ketika dia berpisah dengan Thi Toan-kah dahulu. Terkesima juga si pengemis memandangi perak yang dipegang Sun-hoan. Dengan tersenyum Sun-hoan berkata, “Asalkan kau bawa diriku menemui bocah sinting itu, segera kuberikan seluruh uang perak ini kepadamu.” Tanpa ayal pengemis itu menjawab, “Baik, tapi harus kau serahkan dulu uangmu padaku.” Segera Sun-hoan menyodorkan uang peraknya dengan kedua tangan. Asalkan dapat menemukan Thi Toan-kah, biarpun hatinya harus dikorek juga dia rela. Si pengemis tertawa senang hingga air liurnya hampir menitik, dengan sibuk ia memasukkan uang perak ke dalam baju dan berkata dengan tertawa, “Kukira uangmu ini pasti hasil curian, kalau tidak masakah begitu gampang saja kau berikan kepada orang?” Pada waktu dia menerima uang perak itu, dengan sendirinya tangan harus menyentuh tangan. Maka begitu tangannya menyentuh tangan Li Sun-hoan, mendadak ia terus mencengkeram dan menelikung …. Seketika Li Sun-hoan merasakan pergelangan tangannya seperti kena dibelenggu, menyusul tubuhnya lantas terangkat. Gerak tangan si pengemis sungguh cepat luar biasa, sekali cengkeram dan sekali menelikung itu, dalam dua gerakan itu ternyata mengandung empat macam kungfu yang paling menakutkan, meliputi kungfu mencengkeram dan menangkap dari Bu-tong-pay dan Siau-lim-pay, juga pakai gaya membanting cara orang Mongol serta daya lengket dari ahli lwekang yang ampuh, sekali tersentuh jangan harap akan mampu terlepas lagi. Keempat jenis kungfu ini tidak mudah dipelajari, untuk belajar salah semacam kungfu itu juga diperlukan latihan belasan tahun lamanya. Tapi pengemis ini justru sekaligus menguasai keempat macam kungfu itu dengan lihai dan sempurna. Biarpun Sun-hoan dapat mengetahui orang pasti bukan orang biasa juga tak terduga dia adalah tokoh selihai ini dan juga tidak mengira orang akan menyergapnya. Sungguh selama hidup Li Sun-hoan tidak pernah kecundang seperti sekarang. Begitulah Sun-hoan terbanting di tanah serupa ikan mampus, begitu keras bantingan orang sehingga membuat matanya berkunang-kunang dan hampir kelengar. Ketika kunang-kunang matanya sudah mulai buyar, dilihatnya wajah si pengemis berada di depan matanya, orang sedang berjongkok di sampingnya dengan sebelah tangan mencekik lehernya sambil memandangnya dengan tertawa. “Sesungguhnya siapakah orang ini? Mengapa aku disergapnya? Memangnya sebelumnya dia sudah mengenali diriku? Ada hubungan apa antara dia dengan Thi Toan-kah?” Begitulah serentetan tanda tanya timbul dalam benak Li Sun-hoan, tapi tiada satu pasal pun ditanyakannya. Dalam keadaan begitu ia merasa akan lebih baik bila dirinya tutup mulut saja. Sebaliknya si pengemis lantas buka mulut dengan cengar-cengir ia tanya, “Kenapa engkau tidak bicara?” Sun-hoan meringis, “Jika lehermu dicekik orang, apa yang dapat kau katakan padanya?” “Jika ada orang menyergap dan mencekik leherku, pasti akan kucaci maki nenek moyangnya 18 keturunan!” kata si pengemis. “Mataku tidak buta, tapi tidak dapat kuketahui Anda ini seorang jago kelas tinggi dengan kungfu mahalihai, jika mau memaki, tentu diriku sendiri yang harus dimaki,” ujar Sun-hoan. Pengemis itu tertawa, katanya sambil menggeleng, “Engkau ini ternyata benar seorang aneh, orang aneh semacam dirimu belum pernah kulihat ….” Sampai di sini mendadak ia berteriak, “Orang ini bukan saja seorang kuncu (gentleman), bahkan juga seorang baik, mana kutahan terhadap orang semacam ini, ayolah lekas kalian keluar, kalau tidak terpaksa aku angkat tangan saja.” Rupanya pengemis ini masih mempunyai begundal lain. Sungguh Sun-hoan tidak dapat menerka siapakah begundalnya. Terdengarlah suara keriut pintu dibuka, dari balik sebuah pintu kecil di samping sana segera muncul enam-tujuh orang. Melihat beberapa orang ini Li Sun-hoan benar-benar terkejut. Betapa pun tak terpikir olehnya bahwa beberapa orang ini adalah komplotan si pengemis. Kiranya dari awal hingga akhir apa yang terjadi ini cuma sebuah perangkap yang teratur dengan rapi. Orang pertama yang muncul dari balik pintu kecil itu adalah si buta tukang nujum. Menyusul lantas si perempuan buta sebelah, lalu si lelaki berbaju hijau, si penjual tahu goreng, dan seterusnya. Sun-hoan menghela napas, katanya sambil menyengir, “Sungguh akal bagus, kagum, kagum sekali!” Air muka si buta tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan dingin, “Ah, mana, biasa!” “Kiranya kejadian ini pada hakikatnya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Thi Toan-kah,” kata Sun-hoan pula. “Sangkut pautnya sih ada, cuma ….” Belum lanjut ucapan si buta, segera si pengemis memotong, “Cuma aku tidak pernah melihat Thi Toan-kah, juga tidak tahu dia orang macam apa. Sandiwara yang kumainkan bersama mereka tadi seluruhnya hanya untuk diperlihatkan padamu.” “Ehm, memang permainan sandiwara yang bagus,” kata Sun-hoan. “Jika permainannya tidak bagus, mana bisa Li-tamhoa sampai terjebak,” tukas si buta. “O, kiranya bukan saja kalian sudah mengetahui siapa diriku, bahkan jauh sebelumnya jejakku sudah kalian lihat,” ucap Sun-hoan. “Ya, sebelum Anda masuk kota ini sudah ada orang yang melihat dirimu,” tutur si buta. “Dari mana kalian kenal diriku?” tanya Sun-hoan. “Meski kami tidak kenal padamu, tapi ada orang yang mengenalimu.” “Jika kalian tidak kenal diriku, mengapa kalian bertindak demikian padaku?” “Semua ini justru lantaran Thi Toan-kah,” kata si buta. Mukanya yang kaku dingin itu tiba-tiba menampilkan perasaan dendam dan benci, sambungnya, “Kami sudah rindu kepadanya, cuma sayang sukar menemukan dia, tapi bilamana ia tahu Li-tamhoa sekarang berada bersama kami, tentu dari tempat jauh mana pun dia akan datang kemari untuk menemui kami.” Sun-hoan tertawa, “Jika dia tidak datang, bukankah sia-sia belaka usaha kalian?” “Urusannya tidak bisa tidak Li-tamhoa harus ikut campur, urusanmu juga dia tidak dapat tinggal diam. Hubungan baik antara kalian sudah kami selidiki dengan jelas, kalau tidak untuk apa kami mengatur tipu daya ini!” “Bahwa Anda dapat memikirkan akal bagus ini, sungguh hebat juga,” ujar Sun-hoan tak acuh. Si buta diam sejenak, lalu berkata pula, “Jika mempunyai tipu daya sebagus ini, tentu mataku takkan buta seperti ini.” “O, yang mengatur tipu ini bukan dirimu?” tanya Sun-hoan. “Bukan,” jawab si buta. “Juga bukan aku,” tukas si pengemis sambil menyengir. “Benakku selama ini kurang beres, bila teringat akan membikin celaka orang lain, kepalaku lantas sakit.” “Oo, kiranya di belakang kalian masih ada dalangnya,” kata Sun-hoan kemudian setelah termenung sejenak. “Ya, kau pun tidak perlu tanya dia, toh selekasnya engkau akan bertemu dengan dia,” ujar si buta, berbareng tongkat bambu yang dipegangnya lantas bekerja, sekaligus ia tutuk hiat-to kelumpuhan kaki Li Sun-hoan, lalu menyambung dengan dingin, “Bila kau temui dia, bisa jadi engkau akan merasakan hidupmu di dunia ini sesungguhnya berlebihan dan lebih baik lekas mati saja.” Begitulah Sun-hoan lantas diangkat masuk ke pintu kecil sana, dinding sekelilingnya tinggi, halaman dalam luas dan sunyi. Setelah menyusuri serambi panjang dan berliku sekian lama barulah sampai di ruang depan. Segera terdengar seorang berseru lantang di balik pintu angin, “Aha, apakah kalian sudah berhasil mengundang saudaraku ke sini?” Mendengar suaranya, jari Sun-hoan pun terasa dingin. Itulah suara Liong Siau-hun. Kiranya dalang dari urusan ini ialah Liong Siau-hun. Si buta berhenti di depan pintu angin dan menjawab dengan suara kaku, “Syukurlah kami telah memenuhi harapanmu dan akhirnya dapat membawa Li-tamhoa ke sini.” Belum habis ucapannya dari balik pintu angin lantas muncul satu orang dengan pakaian mentereng dan wajah bercahaya, siapa lagi dia kalau bukan Liong Siau-hun yang telah berpisah sekian lamanya. Begitu dia memburu maju segera ia genggam erat tangan Li Sun-hoan sambil menyapa dengan tertawa, “Aha, sekali berpisah sudah dua tahun lamanya, sungguh aku sangat merindukan Adik.” Sun-hoan juga tertawa, katanya, “Jika Toako ingin menemuiku, cukup kau beri kabar dan segera aku akan datang kemari, buat apa mesti mengerahkan tenaga kawan sebanyak ini?” Mendadak si pengemis bergelak tertawa, serunya sambil berkeplok, “Haha, ucapan bagus, sambutan bagus! Sampai mukaku juga merah mendengar ucapanmu ini. Sungguh aku sangat kagum terhadap orang yang mukanya takkan merah mendengar perkataanmu ini.” Namun Liong Siau-hun seperti berubah menjadi orang tuli, apa yang dikatakan mereka seakan-akan sama sekali tidak terdengar olehnya, dia tetap menggenggam tangan Li Sun-hoan dan berkata, “Memang sudah kuperhitungkan Adik pasti akan datang, maka sudah kusediakan perjamuan sekadarnya, sudah dua tahun kita berpisah, sekali ini kita harus makan minum sepuasnya.” Segera ia memapah Li Sun-hoan sembari memberi tanda kepada yang lain, “Silakan, semuanya silakan ambil tempat duduk masing-masing!” Namun si buta tetap berdiri tegak di tempatnya. Karena dia tidak bergerak, beberapa saudaranya dengan sendirinya juga tidak bergerak. “He, apakah kalian tidak sudi akan perjamuanku ini?” tanya Siau-hun dengan tertawa. Perlahan si buta menjawab, “Pada waktu kami menyanggupi Liong-toaya untuk melakukan pekerjaan ini tujuan kami hanya Thi Toan-kah melulu, sekarang tugas kami sudah terlaksana, kami cuma berharap bilamana orang she Thi sudah datang, hendaknya jangan lupa Liong-toaya memberi kabar kepada kami.” Sampai di sini ia lantas menarik muka dan menyambung pula, “Mengenai perjamuan Liong-toaya ini, sungguh kami tidak berani mengganggu, sahabat semacam Liong-toaya sama sekali kami tidak berani mengharapkannya.” Sekali tongkat bambunya mengetuk lantai tanpa menoleh lagi segera ia melangkahi pergi diikuti saudara-saudaranya. Liong Siau-hun tidak menghiraukan kepergian mereka. Di tengah ruangan segera disiapkan meja perjamuan. Hidangannya tentu saja kelas satu, araknya juga berkualitas tinggi. Perjamuan di rumah Liong-siya memang sudah terkenal royal di dunia Kangouw. Si pengemis juga tidak sungkan-sungkan, segera ia mendahului berduduk di tempat utama, gumamnya, “Terus terang, sebenarnya aku pun mau pergi, tapi melihat hidangan dan arak sebaik ini, jika tidak kumakan kan terlalu sayang.” Mendadak ia angkat cawan terhadap Li Sun-hoan dan berkata pula, “Ayolah kau pun minum secawan. Arak suguhan orang semacam dia ini, tidak kau minum tersia-sia, setelah kau minum juga percuma.” Liong Siau-hun hanya menyengir sambil menggeleng kepala, katanya, “Mungkin adik belum lagi kenal Oh-tayhiap ini ….” “Oh-tayhiap?” Sun-hoan menegas. “Apakah nama tanda ialah Put-kui?” “Betul, sedikit pun tidak salah,” jawab si pengemis dengan tertawa. “Aku inilah Oh Put-kui dan Oh Put-kui ialah diriku. Meski di mulut kau sebut diriku Oh-tayhiap, tapi di dalam hati engkau pasti berpikir kiranya orang inilah si Oh gila, pantas cara bicara dan tindak tanduknya rada gila-gilaan, begitu bukan?” “Ya,” jawab Sun-hoan dengan tertawa. “Hah, bagus,” Oh Put-kui terbahak pula. “Engkau juga menarik, tampaknya kau pun seorang gila, jika engkau tidak gila, tentu engkau takkan bersahabat dengan orang semacam Liong Siau-hun ini, betul tidak?” Sun-hoan cuma tersenyum tanpa menjawab. “Tapi jangan sekali-kali kau sangka aku pun sahabatnya,” kata Oh gila pula, “kubantu dia sekali ini adalah lantaran aku pernah utang budi kepadanya, selesai urusan ini, antara dia dan aku pun tidak ada sangkut paut lagi.” Mendadak ia menggebrak meja dan berteriak, “Cuma apa yang kulakukan ini sesungguhnya kurang gilang-gemilang, sungguh memalukan, sungguh konyol, sungguh berengsek ….” Sembari bicara mendadak ia gampar muka sendiri hingga belasan kali, lalu mendekap di atas meja dan menangis tergerung-gerung. Agaknya Liong Siau-hun sudah biasa melihat kelakuan si gila, maka dia tetap duduk tenang saja, seperti tidak mendengar dan tidak melihat. Sebaliknya Sun-hoan merasa rikuh malah, katanya dengan tertawa, “Apa pun juga, serangan terakhir Oh-heng tadi sungguh tak dapat kuhindarkan biarpun aku berjaga-jaga sebelumnya.” Mendadak Oh Put-kui menggebrak meja dan berteriak lagi dengan gusar, “Kentut busuk! Jika aku tidak pakai akal licik, mana bisa kutempel dirimu. Kubikin celaka padamu, engkau berbalik menghiburku, memangnya apa maksudmu?” Terpaksa Sun-hoan tidak bicara lagi. Oh Put-kui lantas bergumam, “Aku ini memang linglung, senang dan marah tidak menentu, hitam dan putih tak bisa membedakan, bicara tidak keruan, sebentar menangis sebentar tertawa, sungguh berengsek.” Mendadak ia melototi Liong Siau-hun dan berkata pula, “Tapi engkau terlebih berengsek daripadaku, putramu juga terlebih berengsek daripadamu, jelas-jelas dia punya kaki, tapi suka merangkak seperti anjing, memangnya dia lagi mencari tulang di kolong meja?” Muka Liong Siau-hun menjadi merah, waktu ia menunduk, benar juga dilihatnya anaknya, Liong Siau-in, diam-diam menyusup di bawah meja dengan tangan memegang pisau, saat itu sudah merangkak sampai di depan Li Sun-hoan. Segera Liong Siau-hun menyeretnya keluar sambil membentak, “Kau mau apa?” Anak itu ternyata tenang-tenang saja, jawabnya, “Seorang lelaki sejati harus tegas membedakan budi dan benci, betul tidak ucapan ini menurut pendapat ayah?” “Tentu saja betul,” kata Siau-hun. “Kesatria Kangouw umumnya juga mengutamakan bila ada dendam harus dituntut, bila utang budi harus dibalas,” kata Liong Siau-in pula. “Bahwasanya dia telah memusnahkan seluruh kepandaianku sehingga membuat Anak menanggung cacat badan selama hidup, bila Anak bermaksud memotong kedua kakinya, hal ini kan juga pantas dan adil?” Muka Liong Siau-hun rada masam, bentaknya, “Jadi maksudmu kau mau membalas dendam?” “Betul,” jawab Siau-in. “Tapi apakah kau tahu dia siapa?” teriak Siau-hun dengan bengis. “Anak cuma tahu dia adalah musuhku ….” Belum lanjut ucapannya, “plok”, tahu-tahu muka Siau-in telah digampar sang ayah. “Masa tidak kau ketahui dia adalah saudara angkat ayahmu?” bentak Siau-hun dengan gusar. “Betapa pun cara dia menghajar dirimu duga pantas, masakah kau berani membalas dendam padanya? Kau berani berbuat tidak sopan padanya?” Liong Siau-in melenggong sejenak oleh tamparan sang ayah, bola matanya berputar-putar, tiba-tiba ia berlutut dan menyembah kepada Li Sun-hoan, katanya, “Ya, Keponakan mengaku salah, usiaku masih kecil, hendaknya Paman Li jangan marah padaku dan sudilah mengampuni kesalahanku.” Kecut hati Li Sun-hoan dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Mendadak Oh Put-kui melompat bangun sambil berteriak, “Wah, sungguh aku tidak tahan terhadap kedua ayah beranak ini, aku mual, ingin tumpah ….” Sembari berteriak-teriak ia terus menerjang keluar. Liong Siau-hun tertawa, katanya, “Nama seorang mungkin bisa salah ambil, tapi julukan seorang pasti takkan salah. Ada orang yang jelas-jelas sebodoh kerbau, tapi mungkin memakai nama yang berarti pintar. Namun seorang bila berjuluk si gila, maka dia pasti benar orang gila.” Mestinya Sun-hoan tidak mau bicara, sekarang ia tidak tahan dan berkata, “Tapi seorang kalau terlalu pintar dan tahu terlalu banyak, bisa jadi lambat laun dia akan berubah menjadi gila. Sebab pada waktu begitu dia akan merasa menjadi orang gila akan lebih menyenangkan. Sebab itulah ada sementara orang dengan susah payah sengaja ingin menjadi orang gila, tapi tidak terkabul.” Liong Siau-hun tertawa, “Syukur selama ini aku cukup pintar dan juga tidak pernah susah payah.” Dia memang tidak pernah susah payah, sebab susah payahnya telah diberikan kepada orang lain seluruhnya. Sun-hoan termenung sekian lama, menunduk dan minum arak perlahan. Liong Siau-hun juga memandangnya dengan diam dan menunggu. Sebab ia tahu bilamana Li Sun-hoan minum arak dengan sangat perlahan, maka pasti ada urusan penting yang hendak dibicarakannya. Selang agak lama barulah Sun-hoan mengangkat kepalanya dan berucap, “Toako ….” “Ehmm,” jawab Siau-hun. “Dalam hatiku ada sesuatu urusan? Entah harus kukatakan atau tidak?” “Katakan saja,” ujar Siau-hun. “Apa pun juga kita adalah sahabat lama.” “Bukan sahabat lama, tapi saudara.” “Orang macam apakah diriku ini tentu Toako pun cukup jelas.” “Ya ….” meski cuma satu kata saja diucapkan Liong Siau-hun, namun diucapkan dengan sangat lambat, tampaknya sorot matanya juga menanggung rasa malu. Betapa pun dia tetap manusia. Dan manusia macam apa pun sedikit banyak tetap mempunyai sifat manusia. “Jika begitu,” kata Sun-hoan pula, “apa pun yang Toako minta kulakukan, seharusnya kau bicarakan terus terang padaku, asalkan mampu kulakukan, pasti akan kulaksanakan dengan baik.” Perlahan Liong Siau-hun mengangkat cawan arak, seperti hendak mengalingi mukanya dengan cawan arak itu. Apa yang dilakukan Li Sun-hoan baginya memang sudah terlalu banyak. Sampai lama barulah Liong Siau-hun menghela napas, ucapnya perlahan, “Kupaham maksudmu, namun … sang waktu terkadang dapat mengubah berbagai persoalan.” Makin berat rasa kepedihan Li Sun-hoan, “Kutahu Toako ada sedikit salah paham padaku ….” “Salah paham?” “Ya, salah paham, sama sekali salah paham. Tapi ada sesuatu urusan seharusnya Toako tidak boleh salah paham padaku.” Sorot mata Liong Siau-hun juga menampilkan rasa pedih, ia terdiam agak lama, kemudian berucap sekata demi sekata, “Tapi ada juga suatu urusan aku pasti tidak salah paham.” “Urusan apa?” begitu pertanyaan ini diajukan, seketika Sun-hoan merasa menyesal, sebab segera disadari urusan apa yang dimaksudkan Liong Siau-hun tentu urusan yang juga diketahuinya. Yang paling menakutkan, anak kecil baru berusia belasan serupa Liong Siau-in ternyata juga dapat menerka apa yang akan diuraikan sang ayah, maka dengan terbungkuk-bungkuk diam-diam ia pun mengeluyur keluar. Liong Siau-hun berdiam lagi sekian lama, kemudian berkata, “Kutahu selama ini engkau sangat menderita.” Sun-hoan tersenyum kecut, “Kebanyakan orang tentu pernah menderita.” “Tapi penderitaanmu jauh lebih dalam dan lebih berat daripada orang lain,” kata Siau-hun. “Oo?!” Sun-hoan melengak. “Sebab engkau telah menyerahkan orang yang kau cintai untuk menjadi istri orang lain.” Arak dalam cawan Li Sun-hoan tercecer keluar, sebab tangannya gemetar keras. “Namun penderitaanmu masih belum cukup mendalam, sebab kalau seorang rela berkorban bagi orang lain, maka dia sendiri akan merasakan kebesarannya, perasaan ini akan mengurangi penderitaan batinnya.” Ucapan Liong Siau-hun ini sangat tajam, tapi juga masuk di akal. Cuma dalil ini pun tidak mutlak benar. Tangan Siau-hun juga gemetar, katanya pula, “Tapi penderitaan yang sesungguhnya mungkin engkau sendiri tidak tahu.” “Mungkin ….” “Yaitu bilamana seorang mengetahui istrinya ternyata berasal dari kebaikan hati orang lain yang mengalah padanya, bahkan istrinya masih senantiasa mencintai orang itu, inilah baru penderitaan batin yang paling hebat.” Memang benar, inilah penderitaan yang paling besar. Bukan cuma penderitaan batin saja, bahkan juga semacam penghinaan. Kata-kata ini biar mati pun tidak sudi diucapkan oleh lelaki mana pun, sebab hal ini memang sangat merugikan dia, menyinggung kehormatannya dengan sangat besar dan sangat berat. Tidak ada lelaki yang sampai hati menghina dan menyinggung lahir batinnya sendiri cara begini. Namun Liong Siau-hun toh menguraikan juga hal ini di depan Li Sun-hoan. Seketika hati Li Sun-hoan serasa tenggelam. Dari ucapan Liong Siau-hun ini dapat diketahuinya dua hal. Pertama, Liong Siau-hun memang juga sangat tersiksa, bahkan sangat berat siksaan batinnya, makanya wataknya berubah sehebat ini. Jika lelaki lain, mungkin juga akan berubah menjadi begini. Mendadak Sun-hoan merasa Liong Siau-hun juga orang yang sangat pantas dikasihani, berbalik ia merasa dirinya sendiri tidak terlalu kasihan. Kedua, jika sekarang Liong Siau-hun bicara blakblakan kepadanya, maka sangat mungkin dirinya takkan dilepaskannya lagi. Mati dan hidup bagi Li Sun-hoan sebenarnya tidak menjadi soal, tapi mana boleh dia mati sekarang? Tidak banyak yang dibicarakan mereka. Tapi setiap kata yang dipercakapkan berlangsung dengan sangat lambat, bahkan sebelum diucapkan harus mengalami pertimbangan yang cukup lama. Langit mendung, maka meski belum lagi magrib cuaca sudah terasa gelap. Air muka Liong Siau-hun terlebih kelam daripada cuaca mendung itu. Ia angkat cawan arak, ditaruh, diangkat lagi, dan ditaruh kembali. Bukan lantaran dia tidak kuat minum arak, tapi dia tidak mau minum, sebab ia merasa minum arak dapat merangsang emosi seorang. Selang sejenak baru Liong Siau-hun berucap pula, “Apa yang kukatakan ini seharusnya tidak pantas kukemukakan.” Sun-hoan cuma tertawa hambar saja, katanya, “Setiap orang terkadang dapat mengucapkan kata-kata yang mestinya tidak perlu dikemukakannya, kalau tidak dia bukan manusia lagi.” “Hari ini sengaja kuundang kedatanganmu juga bukan untuk membicarakan hal ini,” kata Siau-hun pula. “Kutahu,” jawab Sun-hoan. “Kau tahu apa maksudku mengundangmu ke sini?” “Kutahu.” Untuk pertama kalinya Liong Siau-hun memperlihatkan rasa terkejut. “Kau tahu?” ia menegas. “Ya, kutahu,” Sun-hoan mengulang pula, sebelum Liong Siau-hun bertanya ia lantas menyambung, “Kau kira di Hin-hun-ceng ini benar ada harta karun?” Sekali ini Liong Siau-hun berpikir cukup lama, akhirnya menjawab, “Ya.” “Kau pikir aku mengetahui tempat simpanan harta karun itu?” “Seharusnya kau tahu,” kata Siau-hun. Sun-hoan tertawa, katanya, “Aku ini memang mempunyai penyakit ….” “Penyakit? Penyakit apa?” Dengan prihatin Sun-hoan menjawab, “Penyakitku adalah urusan yang tidak seharusnya kuketahui justru kuketahui seluruhnya, urusan yang mesti kuketahui berbalik tidak kuketahui.” Liong Siau-hun terdiam. “Padahal seharusnya kau tahu juga bahwa urusan ini dari awal hingga akhir pada hakikatnya cuma suatu tipuan belaka ….” “Kupercaya padamu,” potong Siau-hun mendadak. “Sebab kuyakin engkau pasti tidak berdusta.” Ia menatap Sun-hoan lekat-lekat, lalu menyambung pula, “Jika di dunia ini ada seorang yang kupercayai, maka orang itu ialah engkau. Bila di dunia ini masih ada seorang sahabatku, orang itu juga engkau. Segala apa yang pernah kukatakan mungkin tidak benar, tapi apa yang kukatakan sekarang ini pasti tidak dusta padamu.” Sun-hoan juga menatapnya tajam-tajam ia menghela napas dan berkata, “Aku pun percaya padamu, sebab ….” Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya sebab dia lantas terbatuk-batuk lagi. Setelah dia berhenti batuk barulah Liong Siau-hun menyambung lagi ucapannya, “Kau percaya padaku, sebab kau tahu dirimu sudah tidak ada nilainya untuk kuperalat lagi, aku tidak perlu berdusta lagi padamu, begitu bukan?” Sun-hoan menjawab pertanyaan orang dengan diam saja. Liong Siau-hun lantas berbangkit, perlahan ia mengitar ruangan dua kali. Di dalam ruangan sangat sunyi, tapi langkahnya makin lama makin berat, jelas pikirannya tidak tenteram. Bisa jadi dia cuma sengaja membuat Li Sun-hoan mengetahui pikirannya yang tidak tenteram itu. Kemudian, mendadak ia berhenti mondar-mandir, berhenti di depan Li Sun-hoan, lalu berkata, “Tentu kau anggap aku akan membunuhmu?” Sikap Sun-hoan kelihatan sangat tenang, ucapnya hambar, “Apa pun yang akan kau lakukan takkan kusalahkan dirimu.” “Tapi pasti takkan kubunuh dirimu.” “Kutahu.” “Ya, tentu saja kau tahu, biasanya engkau sangat mengerti akan diriku.” Mendadak suara Liong Siau-hun berubah emosional lagi, ucapnya pula dengan suara gemetar, “Sebab biarpun kubunuhmu juga tetap takkan memperoleh kembali hatinya, sebaliknya malah akan menambah bencinya padaku.” Sun-hoan menghela napas panjang, katanya, “Orang hidup memang sering juga menghadapi hal-hal yang apa boleh buat.” “Apa boleh buat” tampaknya cuma kata-kata yang sederhana, padahal sering membikin orang berduka dan tersiksa. Liong Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, ucapnya dengan suara parau, “Meski tidak kubunuhmu, tapi juga tidak kulepaskanmu.” Sun-hoan mengangguk perlahan, “Ya, sebab aku masih ada harganya untuk kau peralat.” Cuma kata-kata ini tidak diucapkannya. Betapa pun Liong Siau-hun mengkhianati dia dan bertindak mencelakai dia, sejauh ini Sun-hoan tetap belum pernah mengucapkan satu kata pun yang menusuk perasaan Liong Siau-hun. Tapi tinju Liong Siau-hun berbalik terkepal terlebih kencang, sebab di depan Li Sun-hoan ia merasakan dirinya sebegitu kecil, merasa dirinya begitu rendah, begitu hina. Maka kebesaran rasa persahabatan Li Sun-hoan itu tidak mengharukan dia, sebaliknya, malah membuatnya tambah murka. Ia melototi Li Sun-hoan dengan gemas dan berkata, “Akan kubawamu menemui seorang yang sudah lama ingin menjumpaimu, mungkin … mungkin kau pun sangat ingin menemui dia.” Dan begitulah Li Sun-hoan dibawa Liong Siau-hun ke suatu tempat. Rumah itu sangat besar. Tapi rumah sebesar ini hanya mempunyai sebuah jendela yang kecil dan sangat tinggi dari permukaan tanah. Jendela itu tertutup rapat. Pintu rumah juga sangat kecil, orang yang berbahu lebar terpaksa mesti memiringkan tubuh supaya dapat masuk. Daun pintu juga tertutup rapat. Dindingnya bercat putih tebal seperti pemilik rumah tidak suka orang lain mengetahui dinding rumahnya ini terbuat dari dinding batu atau lapisan baja. Di pojok ruang rumah ada dua tempat tidur, tempat tidur kayu. Selimut bantal sangat resik, namun sangat sederhana. Selain itu di dalam rumah hanya ada lagi sebuah meja besar. Di atas meja terdapat berbagai bentuk buku dan macam-macam berkas. Seorang berdiri di depan meja dan sedang membalik-balik halaman buku, terkadang menggunakan pensil untuk mencoret dan memberi tanda pada catatan di dalam buku, lalu terkadang tersimpul secercah senyuman puas. Dia bekerja dengan berdiri, sebab di dalam rumah tidak ada tempat duduk, sebuah bangku saja tidak ada. Ia anggap seorang kalau sudah berduduk tentu akan membuat kendur sarafnya. Bilamana saraf seorang dalam keadaan kendur, maka akan sangat mudah berbuat kesalahan. Pada setitik kesalahan kecil saja dapat mengakibatkan gagalnya beberapa urusan besar. Hal ini sama halnya setitik lubang kebocoran pada sebuah tanggul yang dapat mengakibatkan dadalnya tanggul. Maka saraf orang ini tidak pernah kendur, selamanya dia tidak salah bekerja, dia tidak pernah gagal. Di belakangnya berdiri lagi satu orang. Orang ini berdiri terlebih tegak, seperti tonggak. Entah sudah berapa lama dia berdiri tegak begitu, sebuah jari pun tidak pernah bergerak. Entah dari mana datangnya seekor nyamuk dan terbang berputar-putar di depan matanya, namun sama sekali dia tidak berkedip. Nyamuk hinggap di ujung hidungnya dan mulai mengisap darahnya. Namun dia tetap tidak bergerak. Orang ini seolah-olah sudah kaku seluruhnya, sudah mati rasa, tidak tahu sakit, gatal, juga tidak merasakan suka dan duka. Malahan ia tidak tahu untuk apakah dirinya hidup. Kedua orang ini ialah Hing Bu-bing dan Siangkoan Kim-hong. Orang semacam mereka mungkin sukar dicari di dunia ini. Tokoh dunia Kangouw yang gilang-gemilang, berpengaruh paling besar, kekayaannya juga sukar diukur, tempat tinggal pangcu atau ketua Kim-ci-pang ternyata sedemikian kasar dan buruk, kehidupannya ternyata begini sederhana. Sungguh hal ini sukar dibayangkan oleh siapa pun, sukar untuk dipercaya. Soalnya dalam pandangannya kekayaan tidak lain hanya semacam alat saja, perempuan baginya juga cuma semacam alat. Setiap kenikmatan duniawi bagi pandangannya hanya semacam alat saja dan tidak terpandang olehnya. Satu-satunya kesukaannya adalah kekuasaan. Ya, kekuasaan, kecuali kekuasaan tidak ada lain lagi. Dia hidup demi kekuasaan, bahkan rela mati bagi kekuasaan. Suasana sunyi senyap. Kecuali suara keresak-keresek halaman buku yang dibalik hampir tidak ada suara lain. Lampu sudah dinyalakan. Entah sudah berapa lama mereka bekerja dan berdiri di sini, yang jelas cuaca di luar dari gelap berubah menjadi terang dan dari terang kembali gelap lagi. Mereka seperti tidak pernah kenal apa artinya lelah, juga tidak merasakan lapar segala. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Hanya terketuk satu kali, sangat perlahan. Siangkoan Kim-hong tidak pernah berhenti bekerja, juga tidak mengangkat kepala. Hing Bu-bing yang bersuara, “Siapa?” “It-jit-kiu (179),” sahut suara di luar. “Ada apa?” tanya Bu-bing pula

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: