Pendekar Budiman: Bagian 01

Pendekar Budiman: Bagian 01
Oleh Gu Long

Hujan salju hampir berhenti, tapi deru angin belum lagi mereda.

Sebuah kereta kuda muncul dari utara, roda-roda kereta yang menggelinding cepat itu menggilas hancur batu es yang berserakan di tengah jalan, tapi tidak dapat memecahkan kesunyian yang meliputi jagat raya ini.

Li Sun-hoan, penumpang di dalam kereta, menggeliat kemalas-malasan sambil menguap, kedua kakinya yang diselonjorkan di atas jok kereta yang berlapiskan kulit berbulu halus diluruskan sebisanya.

Meski, di dalam kabin kereta terasa sangat hangat dan santai, tapi perjalanan ini sesungguhnya teramat panjang dan terlalu kesepian, dia sudah merasa penat lelah, bahkan juga bosan dan benci. Selama hidupnya dia paling benci kepada kesepian, tapi dia justru selalu berkawan dengan kesepian.

Hidup manusia ini memang serba kontradiksi, penuh pertentangan. Setiap orang pasti pernah mengalami apa boleh buat.

Li Sun-hoan menarik napas, dari pojok dikeluarkannya sebotol arak. Ia menenggak arak itu langsung dari botol, lalu berbatuk-batuk dengan keras. Batuk yang terus-menerus membuat wajahnya yang pucat itu menampilkan semu merah semacam gejala penyakit, seperti api neraka yang membakar jiwa dan raganya.

Setelah botol arak sudah kosong, ia mengambil sebilah pisau kecil dan mulai mengukir sebuah patung. Pisau kecil itu sangat tipis dan tajam, jari tangannya panjang dan kuat.

Patung yang diukirnya berbentuk kepala orang perempuan. Di bawah pisaunya yang tajam dan tangan yang terampil, profil patung dan garis-garisnya tertampak menjadi begitu indah, begitu serasi, dan seperti hidup.

Bukan saja si “dia” telah diberinya garis-garis yang menarik, juga diberikan jiwa dan sukma, sebab jiwa dan sukmanya sendiri tanpa terasa telah mengeluyur pergi di bawah goresan pisaunya.

Dia tidak tenang lagi. Sudut matanya penuh keriput, setiap garis keriput itu penuh mengandung kedukaan dan kemalangan hidupnya. Hanya matanya saja masih tetap menunjukkan kemudaannya.

Inilah sepasang mata yang aneh, berwarna seperti kehijau-hijauan, mata siwer, mata yang indah bagai tangkai pohon Liu di bawah embusan angin musim semi, hangat dan lincah. Tapi juga seperti air laut di bawah terik sinar matahari di musim panas. Mata yang penuh gairah hidup.

Bisa jadi lantaran sepasang matanya inilah sehingga dia dapat hidup sampai sekarang.

Akhirnya patung itu selesai diukirnya. Ia pandang patung itu dengan termangu-mangu, entah sudah berapa lama ia pandang patung itu, mendadak ia membuka pintu kereta dan melompat turun.

Segera kusir kereta, seorang lelaki kekar, membentak dan menahan lari kudanya.

Muka lelaki kekar ini bercambang lebat, sinar matanya setajam mata elang. Tapi ketika sorot matanya beralih ke arah Li Sun-hoan, seketika sinar matanya berubah menjadi lembut, bahkan penuh rasa simpati, jujur dan setia.

*****

Li Sun-hoan menggali sebuah lubang pada tanah bersalju itu, ditanamnya patung yang baru saja diukirnya itu. Kemudian ia berdiri termangu-mangu pula di depan gundukan salju.

Jarinya seakan-akan beku, mukanya juga tambah merah oleh hawa yang semakin dingin itu. Tubuhnya juga penuh ditaburi bunga salju, namun dia tidak merasakan dingin sedikit pun. Yang tertanam di bawah gundukan salju itu seolah-olah seorang yang paling karib dengan dia, ketika ia menanam si “dia” di situ, jiwanya sendiri seakan-akan berubah tiada artinya lagi.

Melihat kelakuan Li Sun-hoan ini, jika orang lain tentu akan terheran-heran, namun bagi si kusir, lelaki kekar bercambang lebat itu, agaknya sudah terbiasa. Ia cuma berkata dengan suara lembut, “Hari sudah hampir gelap, perjalanan masih jauh, silakan Siauya lekas naik ke atas kereta!”

Meski usia Li Sun-hoan sekarang tidak dapat dikatakan muda lagi, namun sebutan “Siauya” atau tuan muda masih tetap digunakan oleh lelaki bercambang atau berewok itu.

Perlahan Li Sun-hoan membalik tubuh, dilihatnya di samping kereta ternyata ada bekas kaki orang berlalu.

Dari bekas kaki itu dapat diketahui bahwa pejalan kaki ini datang jauh dari utara sana, sendirian, lalu menuju ke depan sana dengan sendirian pula.

Bekas kaki itu sangat dalam, jelas sudah sangat jauh orang ini berjalan, sudah lelah dan kehabisan tenaga. Tapi dia masih terus berjalan tanpa berhenti.

Li Sun-hoan menghela napas panjang, gumamnya, “Dalam keadaan begini, di bawah cuaca sedingin ini, tak tersangka masih juga ada orang menempuh perjalanan di tanah penuh bersalju ini. Kuyakin dia pasti seorang yang sebatang kara dan seorang yang harus dikasihani.”

Lelaki bercambang itu tidak menanggapi, tapi di dalam hati diam-diam berpikir dengan menyesal. “Tidakkah kau sendiri pun sebatang kara dan perlu dikasihani? Mengapa engkau selalu bersimpati terhadap orang lain dan melupakan dirinya sendiri ….”

*****

Di bawah jok masih banyak potongan kayu cemara yang keras, Li Sun-hoan mulai memahat lagi. Gerak tangannya sangat terampil, pisaunya juga sangat tajam, hasil kerjanya menjadi cepat pula, sebab patung yang diukirnya selalu orang itu-itu saja, patung orang perempuan yang sama.

Perempuan yang diukirnya itu tidak saja telah menduduki hati sanubarinya, juga telah menguasai raganya.

Hujan salju akhirnya berhenti, hawa bertambah dingin, suasana juga semakin sunyi. Untunglah di tengah desir angin dingin itu sayup-sayup mulai terdengar serentetan suara orang berjalan.

Meski suara langkah kaki orang itu jauh lebih ringan daripada telapak kaki kuda, tapi suara inilah yang sedang dinanti-nantikan oleh Li Sun-hoan, maka biarpun betapa ringan suara itu tetap tak terlepas dari telinganya.

Ia menyingkap tabir yang terbuat dari kulit berbulu halus dan membuka jendela, segera dilihatnya sesosok bayangan manusia yang berjalan sendirian di depan sana.

Sangat lambat orang itu berjalan, tapi tidak pernah berhenti. Meski terdengar suara gemertak roda kereta dan ringkik kuda, tetap tidak menoleh.

Orang ini tidak membawa payung, juga tidak bertopi, bunga salju yang cair mengalir ke mukanya dan menyusup ke lehernya, padahal dia hanya memakai selapis baju yang sangat tipis.

Namun dia tetap berjalan dengan tegak, orang ini seperti gemblengan dari baja, salju, dingin, lelah, penat, lapar, semuanya tak dapat menundukkan dia.

Sesudah keretanya melampaui ke depan barulah Li Sun-hoan dapat melihat wajahnya.

Alisnya sangat tebal, matanya besar, bibirnya yang tipis terkatup rapat, hidungnya yang mancung itu membuat wajahnya kelihatan lebih lonjong dan kurus.

Raut wajah ini mudah mengingatkan orang kepada batu karang yang keras, kukuh dan dingin, tidak menaruh perhatian terhadap urusan apa pun, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Tapi wajah ini pun wajah yang paling cakap yang pernah dilihat Li Sun-hoan seumur hidup, meski tampaknya masih terlalu muda, belum cukup masak, tapi sudah mempunyai semacam daya tarik yang kuat.

Sinar mata Li Sun-hoan seperti menampilkan senyuman, dia membuka pintu kereta dan berucap, “Naiklah, boleh kau menumpang keretaku!”

Cara bicara Li Sun-hoan biasanya selalu cekak aos, ringkas singkat, tidak suka bertele-tele.

Menghadapi tanah bersalju yang luas seakan-akan tak berkutub ini, maksud baik Li Sun-hoan ini sebenarnya sukar ditolak oleh siapa pun jua.

Tak terduga, jangankan menerima undangannya, bahkan melirik sekejap padanya saja tidak, anak muda itu masih terus melangkah ke depan tanpa menggubrisnya, seperti tidak pernah mendengar orang mengajak bicara padanya.

“Apakah kau tuli?” Li Sun-hoan berkata pula.

Mendadak tangan anak muda itu meraba tangkai pedang yang terselip di pinggangnya, tangannya yang kedinginan itu tampak putih pucat seperti warna ikan mati, namun gerak-geriknya masih tetap sangat gesit.

Li Sun-hoan tertawa, katanya pula, “Ah, kiranya kau tidak tuli! Jika begitu, naiklah kemari dan minum seceguk arak. Seceguk arak kukira tidak bakalan membikin susah siapa pun.”

“Aku tidak mau minum,” kata anak muda itu tiba-tiba.

Bahwa anak muda itu mau juga bersuara, tambah cerahlah air muka Li Sun-hoan, tapi dia tidak tertawa, tetap berkata dengan suara lembut, “Kujamu kau minum arak, gratis, tidak pakai uang.”

Tapi anak muda itu menjawab, “Bukan barang yang kubeli sendiri, diberi pun aku tidak mau. Bukan arak yang kubeli sendiri aku pun tidak mau minum …. Nah, ucapanku cukup jelas tidak?”

“Cukup jelas!” ujar Li Sun-hoan.

“Baik, berangkatlah kau!” kata anak muda itu.

Agak lama juga Li Sun-hoan termenung, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Baik, kuberangkat! Kelak jika kau mampu membeli arak, maukah kau jamu aku minum satu cawan?”

Anak muda itu melototinya sekejap, katanya, “Baik, akan kujamu kau!”

Li Sun-hoan tertawa keras dan kereta pun dilarikan dengan cepat, perlahan bayangan anak muda itu tertinggal jauh di belakang dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Tetapi Li Sun-hoan masih tertawa, katanya, “Pernahkah kau lihat pemuda seaneh itu? Semula kukira dia pasti sudah kenyang asam-garam kehidupan ini, siapa tahu kata-katanya ternyata kekanak-kanakan, polos dan lugas.”

“Dia tidak lebih hanya seorang anak yang kepala batu,” ujar si kusir, lelaki bercambang itu.

“Apakah kau lihat pedang yang terselip di ikat pinggangnya?”

“Masakah barang itu pun dapat dianggap sebagai pedang?” kata lelaki godek dengan senyuman geli.

Bicara secara benar sesungguhnya senjata anak muda itu memang tak dapat dianggap sebagai pedang, tapi lebih tepat dikatakan lempengan besi sepanjang tiga-empat kaki. Tidak ada mata pedang, juga tidak ada pelindung pegangan, bahkan tangkai pedang juga tidak ada, hanya dua potong kayu mengapit pangkal lempengan besi, dan itulah yang dianggap sebagai tangkai pedang.

Dengan mengulum senyum lelaki godek itu berkata pula, “Menurut pandanganku, barang itu tidak lebih hanya mainan anak kecil belaka.”

Sekali ini Li Sun-hoan tidak tertawa lagi, sebaliknya malah menghela napas, gumamnya, “Menurut pandanganku, mainan ini justru sangat berbahaya dan lebih baik janganlah dibuat main-main”.

*****

Hotel yang berada di kota kecil ini dengan sendirinya juga tidak besar, kini hotel ini sudah penuh dihuni tetamu yang teralang oleh badai salju. Karena itulah hotel yang memang kecil ini tampaknya menjadi semakin berjubel, ramai luar biasa.

Di halaman berderet belasan kereta barang yang ditutup dengan tikar meski kereta-kereta itu sudah kosong. Di atas tikar juga penuh tertimbun salju. Di serambi timur sana tertancap sehelai panji warna cokelat bertepi warna emas. Panji berkibar tertiup angin sehingga menerbitkan suara gedebur, membuat orang sukar membedakan tanda pengenal yang tersulam di atas panji itu gambar harimau atau singa?

Rumah makan di bagian depan hotel itu silih berganti tetamu yang masuk-keluar, semuanya lelaki kekar berjaket kulit tebal, ada yang habis minum beberapa cawan arak lantas sengaja membuka dada bajunya, sengaja pamer simbar dadanya (bulu yang tumbuh lebat pada dada) sebagai pertanda mereka tidak takut dingin.

Setiba di hotel ini, Li Sun-hoan tidak mendapatkan kamar satu pun. Tapi dia tidak gelisah dan juga tidak khawatir, sebab ia cukup membawa uang, ia tahu sedikit sekali barang di dunia ini yang tak dapat dibeli dengan duit, makanya ia tidak tergesa-gesa, lebih dulu ia mencari suatu tempat duduk di ruangan makan, ia pesan sepoci arak dan diminumnya dengan alon-alon.

Cara minum Li Sun-hoan memang tidak cepat, akan tetapi dia sanggup minum selama beberapa hari terus-menerus tanpa berhenti.

Begitulah, dia terus minum arak tanpa berhenti, dan juga terus terbatuk-batuk tanpa berhenti.

Sementara itu hari sudah mulai gelap.

Lelaki bercambang itu masuk ke ruangan makan dan berdiri di belakang Li Sun-hoan, katanya dengan suara tertahan, “Kamar besar di ujung timur sana sudah dikosongkan dan juga sudah dibersihkan, setiap saat Siauya boleh istirahat.”

Li Sun-hoan seperti sudah tahu pekerjaan ini pasti akan diselesaikan olehnya dengan baik, maka dia hanya mengangguk saja.

Sejenak kemudian, tiba-tiba si godek berkata pula, “Orang Kim-say-piaukiok (perusahaan ekspedisi Singa Emas) juga tinggal di hotel ini, seperti habis pulang mengawal barang dari Kwan-gwa (di luar benteng tembok besar yang merupakan perbatasan antarnegeri).”

“Oo! Siapakah yang memimpin pengawalan ini?” tanya Li Sun-hoan.

“Ialah Cukat Lui yang berjuluk Kip-hong-kiam (si pedang angin lesus) itu,” tutur si godek.

Li Sun-hoan berkerut kening, katanya dengan tertawa, “Tidak mudah juga pembual ini dapat hidup sampai sekarang.”

Meski mulutnya bicara dengan orang yang berdiri di belakangnya, tapi matanya senantiasa mengincar ke luar pintu yang bertabir kain itu seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.

“Cara berjalan anak itu tidak cepat, mungkin menjelang tengah malam baru bisa sampai di sini,” kata si godek.

“Kulihat bukan cara berjalannya kurang cepat, tapi dia justru sengaja tidak mau membuang-buang tenaga,” ujar Li Sun-hoan dengan tertawa. “Pernah kau lihat seekor serigala berlari di tanah bersalju? Mana kala di depan tidak ada sasaran yang hendak diburunya, di belakang juga tidak ada pengejar, maka dia pasti tidak mau berlari cepat. Sebab dia merasa sayang apabila tenaganya dihabiskan untuk berlari percuma.”

Si godek juga tertawa, katanya, “Tapi anak itu bukanlah serigala.”

Li Sun-hoan tidak bicara pula, sebab dia terbatuk-batuk lagi.

Kemudian dilihatnya tiga orang masuk ke ruangan makan ini dari pintu sebelah belakang. Suara bicara ketiga orang ini sangat keras, mereka asyik mengobrol tentang macam-macam kejadian di dunia Kangouw, seolah-olah khawatir orang lain tidak tahu mereka ini adalah jago-jago pengawal dari Kim-say-piaukiok.

Sekilas pandang Li Sun-hoan lantas kenal si gemuk dan berwajah merah di antara ketiga orang itu ialah Kip-hong-kiam Cukat Lui. Tapi ia tidak suka dikenali pihak lawan, maka dia lantas menunduk pula dan mengukir patungnya.

Untunglah setiba di kota kecil ini, hakikatnya Cukat Lui tidak pernah memperhatikan siapa pun. Dengan cepat santapan yang mereka pesan sudah dihidangkan, mulailah mereka makan-minum.

Akan tetapi hidangan lezat toh tetap tidak dapat menyumbat mulut mereka, setelah menenggak beberapa cawan arak, semangat bicara Cukat Lui semakin menyala, dengan suara keras ia berkata, “Loji (saudara kedua), masih ingatkah ketika kita bertemu dengan Thay-heng-ngo-hou (kelima harimau dari Thay-heng-san) tempo hari?”

“Kenapa tidak ingat” jawab seorang kawannya dengan tertawa. “Waktu itu Thay-heng-ngo-hou berani mengincar barang kawalan Toako (kakak), lagak keempat orang itu petentang-petenteng, malahan berani sesumbar, katanya Cukat Lui harus merangkak satu lingkaran di depan mereka jika ingin jiwa selamat, kalau tidak, bukan saja barang kawalan akan dirampas, bahkan kepala Toako juga akan ….”

“Siapa tahu, belum lagi senjata mereka bergerak, tahu-tahu pedang Toako sudah menembus leher mereka,” tukas si orang ketiga dengan tertawa.

“Memang,” sambung orang kedua tadi, “bukannya aku Tio-loji sok membual, kalau bicara tentang kekuatan pukulan jaman ini, tentu saja Kim-say-ciang (pukulan singa emas) Congpiauthau (pemimpin umum) kita yang nomor satu. Tapi kalau bicara tentang kecepatan pedang, di dunia sekarang mungkin tidak ada orang lain yang bisa lebih cepat daripada Toako kita.”

Cukat Lui bergelak tertawa sambil mengangkat cawan araknya, tapi suara tertawanya mendadak berhenti ketika dilihatnya tabir pintu yang tebal itu mendadak tersingkap tertiup angin.

Berbareng dengan itu, dua sosok bayangan melayang masuk seperti bunga salju yang melayang turun dari langit.

Kedua orang ini sama mengenakan mantel merah, kepala memakai tudung atau caping yang bertepi lebar. Bentuk wajah keduanya serupa benar, tingginya juga sama.

Meski semua orang tidak dapat melihat jelas wajah mereka, tapi dari Ginkang (ilmu mengentengkan tubuh) yang hebat ketika melayang masuk tadi, dan juga dandanan mereka yang lain dari pada yang lain, seketika semua orang sama melongo.

Hanya pandangan Li Sun-hoan saja yang masih tetap menatap ke luar pintu, sebab ketika tabir pintu tersingkap tadi, sekilas dilihatnya si anak muda yang menyendiri itu juga berdiri di luar.

Bahwa anak muda itu sudah berdiri di luar hotel itu, bahkan seperti sudah cukup lama berdiri di situ, serupa seekor serigala yang terpencil sendirian, meski tertarik oleh kehangatan di dalam ruangan, tapi juga jeri terhadap cahaya api yang menyilaukan mata. Sebab itulah dia merasa berat untuk tinggal pergi, tapi juga tidak berani menerobos masuk ke dunianya manusia ini.

Li Sun-hoan menghela napas perlahan, kemudian sinar matanya baru beralih ke arah kedua pendatang tadi.

Dilihatnya kedua orang itu sedang menanggalkan tudung kepala mereka sehingga tertampaklah dua raut wajah yang pucat kurus dan juga jelek, kelihatannya seperti buah kepala yang terbuat dari lilin.

Daun telinga mereka sangat kecil, sedangkan hidung sangat besar, hampir menempati sepertiga bagian dari wajah mereka sehingga kedua mata mereka seakan-akan terdesak mundur mendekati kuping.

Namun sorot mata mereka kelihatan jahat dan juga tajam, seperti mata ular kobra.

Setelah membuka tudung kepala, lalu mereka mulai menanggalkan mantel sehingga terlihat baju warna hitam yang ketat.

Ternyata tubuh mereka pun serupa badan ular, panjang, lurus, ulet dan elastik, di mana dan kapan pun juga selalu merayap-rayap, bahkan agak liat dan basah, membuat orang yang memandangnya akan merasa takut dan jijik.

Bentuk kedua orang ini hampir sama, cuma orang yang sebelah kiri berwajah putih pucat, sedangkan yang sebelah kanan bermuka hitam seperti pantat kuali.

Gerak-gerik mereka sangat lamban, menanggalkan mantel dengan perlahan, lalu dilipat dengan perlahan, dan ditaruh di atas meja, kemudian dengan langkah perlahan mereka mendekati Cukat Lui.

Sunyi sekali di rumah makan ini, sampai suara mengukir Li Sun-hoan terdengar dengan jelas. Meski Cukat Lui berlagak tidak tahu kedatangan kedua orang itu, jelas hal ini tidak mungkin.

Tanpa berkedip kedua orang itu menatap Cukat Lui, sinar mata mereka seperti sikat berminyak yang sedang mengusap tubuh Cukat Lui sehingga membuatnya risi

Terpaksa Cukat Lui berbangkit, dengan menyengir ia menyapa, “Siapakah nama Anda yang mulia? Rasanya belum ….”

Mendadak manusia ular yang bermuka putih pucat itu berkata, “Apakah kau ini Kip-hong-kiam Cukat Lui?”

Suaranya tajam melengking dan terasa bergetar sehingga membuat pendengarnya berdiri bulu romanya.

Terpaksa Cukat Lui menjawab, “Iy … iya ….”

“Hm, orang macam kau juga pakai julukan Kip-hong-kiam segala?” jengek si manusia ular bermuka hitam itu. “Sret”, sekali tangannya bergerak, tahu-tahu ia sudah memegang sebatang pedang lemas berwarna hitam, “sret”, kembali ia menyendal pedangnya, seketika pedang lemas itu menjadi lurus lempeng.

Dengan pedangnya ia tuding Cukat Lui dan berucap sekata demi sekata, “Tinggalkan bungkusan barang yang kau bawa pulang dari Kwan-gwa itu dan akan kuampuni jiwamu.”

Mendadak orang yang bernama Tio-loji tadi melompat maju dan berseru dengan tertawa, “Ah, mungkin kalian salah wesel, barang antaran kami ini justru sudah kami serahkan kepada pemiliknya di Kwan-gwa sana, sekarang kereta barang kami pun sudah kosong, masa Anda ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong pedang orang yang mirip ular hitam itu telah melilit leher Tio-loji, dengan perlahan orang bermuka hitam itu menarik pedangnya, kontan kepala Tio-loji berpisah dengan tuannya dan mencelat ke udara. Menyusul darah segar lantas menyembur dari lehernya yang putus itu sehingga kepalanya terdorong lebih tinggi ke atas dan berputar beberapa kali di udara, habis itu barulah darah bertebaran seperti hujan dan membasahi tubuh Cukat Lui.

Semua orang sama terperanjat, kaki pun terasa gemetar. Tapi Cukat Lui dapat hidup sampai sekarang, tentu dia memang mempunyai caranya yang khas. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning dan dilemparkan ke atas meja, katanya, “Pandangan kalian sungguh sangat awas, sekali ini kami memang membawa pulang sebungkus barang. Tapi kalau barang ini hendak kalian ambil begitu saja, kukira tidak boleh jadi.”

“Hm, memangnya kau mau apa?” dengus si ular.

“Betapa pun kalian kudu memperlihatkan sejurus dua Kungfu sejati, agar sepulangnya di rumah dapat kupertanggungjawabkan kepada pimpinan kami,” jawab Cukat Lui.

Sambil bicara, berbareng ia menyurut mundur beberapa langkah, “creng”, pedang segera dilolos. Tentu saja orang lain mengira dia siap tempur.

Benarlah, menyusul pedangnya lantas menyabet, tapi bukan lawan yang diserang melainkan seporsi Cah-heh-kiu (udang goreng) yang terletak di atas meja itu yang dicungkil ke atas. Terdengar suara angin mendesir disertai kemilau sinar pedang, belasan biji Cah-heh-kiu telah ditabasnya menjadi potongan kecil dan berserakan di lantai.

Dengan rasa bangga Cukat Lui berkata pula, “Nah, asalkan kalian juga pertunjukkan permainan yang sama ini, segera kupersembahkan bungkusan barang yang kalian minta, kalau tidak, silakan kalian angkat kaki saja dari sini.”

Ilmu pedang yang diperlihatkannya memang tidak lemah, cara bicaranya juga berbobot, diam-diam Li Sun-hoan merasa geli, ia tahu dengan perbuatan Cukat Lui itu, orang telah dipojokkan dan terpaksa hanya dapat menabas udang goreng dan tak dapat menabas kepalanya. Jadi baik kalah atau menang, sedikitnya dia sudah menyelamatkan kepalanya sendiri.

Terdengar si muka hitam tertawa, terkekeh, katanya, “Hehe, Kungfumu ini adalah Kungfu kaum koki, masa kau pamerkan di sini?”

Bicara sampai di sini, mendadak ia menarik napas dalam-dalam, udang goreng yang berjatuhan di lantai tadi seketika melayang-layang lagi ke atas, berbareng itu cahaya hitam gilap berkelebat kian kemari, udang goreng yang memenuhi udara itu mendadak lenyap seluruhnya. Ternyata semua udang goreng telah tersunduk pada pedang hitam yang istimewa itu.

Melihat ini, sekalipun orang yang tidak paham ilmu silat juga dapat menarik kesimpulan bahwa memang tidak gampang menggunakan pedang menabas udang goreng, tapi untuk menyunduk udang goreng yang terapung di udara sehingga berbentuk sujen satai, hal ini jauh lebih sulit.

Seketika air muka Cukat Lui berubah menjadi pucat, sebab setelah menyaksikan ilmu pedang orang, segera teringat olehnya akan dua orang. Tanpa terasa ia menyurut mundur dua-tiga langkah, lalu bertanya dengan suara parau, “Apakah … apakah Anda inilah Pek-hiat-siang-coa?”

Mendengar nama “Pek-hiat-siang-coa” atau dua ular berdarah hijau, seorang Piausu atau jago pengawal, anak buah Cukat Lui, menjadi ketakutan setengah mati, tanpa terasa ia memberosot dan sembunyi di kolong meja.

Bahkan lelaki bercambang, kusir kereta Li Sun-hoan, juga berkerut kening. Sebab ia tahu akhir-akhir ini di sekitar lembah Hoang-ho (Sungai Kuning), di kalangan Hek-to atau golongan hitam, golongan penjahat, konon tidak ada orang lain yang lebih keji dan kejam daripada “Pek-hiat-siang-coa” ini, kabarnya mantel merah yang mereka pakai itu bukan terbuat dari kain merah asli melainkan merah karena dicelup dengan darah.

Namun cerita tentang Pek-hiat-siang-coa yang didengarnya tetap tidak banyak, sebab orang yang benar-benar tahu apa yang pernah diperbuat oleh kedua manusia ular itu, sembilan di antara sepuluh orang sudah lama kepalanya berpisah dengan tuannya alias binasa.

Terdengar si ular hitam mengekek tawa dan berkata, “Hehe, akhirnya kau kenali kami juga, mendingan matamu belum lagi buta.”

Mau tak mau Cukat Lui menabahkan hati dan menjawab, “Jika Anda berdua sudah penujui bungkusan barang ini, apa pula yang perlu kukatakan, silakan … silakan kalian ambil saja.”

Mendadak si ular putih berkata, “Jika kau mau merangkak satu putaran di ruangan ini, segera kami mengampuni kau, kalau tidak, bukan saja bungkusan ini kami ambil, juga kepalamu harus ditinggalkan di sini.”

Kata-kata ini persis seperti apa yang diucapkan Cukat Lui dan begundalnya tadi, sekarang kata-kata ini keluar dari mulut si ular putih, setiap kata itu seolah-olah berubah menjadi sebilah pisau yang tajam.

Keruan muka Cukat Lui sebentar pucat sebentar hijau, sejenak ia melenggong, tapi mendadak ia lantas merangkak di lantai dan benar-benar merangkak satu putaran mengitari meja.

Tanpa terasa Li Sun-hoan menghela napas gegetun, gumamnya, “Kiranya watak orang ini sudah berubah, pantaslah dia dapat hidup sampai sekarang.”

Meski suara gumaman Li Sun-hoan sangat lirih, tapi sorot mata kedua ular hitam-putih itu serentak melotot ke arahnya. Namun Li Sun-hoan seperti tidak tahu, ia masih asyik mengukir patungnya.

“Hehehe,” si ular putih terkekeh-kekeh, “kiranya di sini masih ada orang kosen, hampir saja kami bersaudara salah mata.”

Si ular hitam menimpali dengan menyeringai, “Dengan sukarela orang memberikan bungkusan ini kepada kami, asalkan ada ilmu pedang seseorang lebih cepat daripada kami, maka dengan sukarela pula kami akan mempersembahkan bungkusan ini kepadanya.”

Tangan si ular putih menyentak, ia pun mengeluarkan pedangnya yang lemas dan sempit seperti ular, sinar pedangnya juga putih kemilau, sambil menyabetkan pedangnya ke udara dua-tiga kali, dengan pongahnya ia berkata, “Asalkan ada pedang yang terlebih cepat daripada pedang kami, bukan saja bungkusan ini akan kami persembahkan kepadanya, juga kepala kami akan diberikan padanya.”

Sinar matanya yang tajam seperti mata ular berbisa itu menatap Li Sun-hoan, sebaliknya Li Sun-hoan tetap asyik mengukir patungnya seakan-akan tidak paham apa yang dibicarakan kedua orang itu.

Pada saat itulah, tiba-tiba seorang berteriak di luar pintu, “Memangnya kepala kalian berharga berapa duit?!”

Mendengar suara ini, tampaknya Li Sun-hoan tidak kaget atau heran, malahan dia sangat senang. Waktu ia angkat kepalanya, pemuda yang ditemuinya di tengah jalan itu sudah melangkah masuk.

Baju anak muda itu masih basah, bahkan masih ada sisa butiran salju, namun tubuhnya tetap tegak lurus seperti tonggak.

Wajahnya masih kelihatan kaku dan suka menyendiri, masih tetap segar, dan keras kepala.

Sinar matanya selalu membawa semacam sifat jalang yang sukar ditundukkan, seperti setiap saat selalu siap tempur, ingin berkelahi, memberontak sehingga sukar untuk didekati.

Tapi yang paling menarik adalah pedang yang terselip pada ikat pinggangnya itu.

Melihat pedang orang, sinar mata si ular putih yang tadinya terperanjat dan gusar itu berubah menjadi geli, ia tertawa dan bertanya, “Kau yang mengucapkan kata-kata tadi?”

“Betul,” jawab anak muda itu.

“Kau ingin membeli kepalaku?” tanya pula si ular putih.

“Aku hanya ingin tahu berapa harganya, sebab hendak kujual kepadamu sendiri.”

Si ular putih melengak. “Dijual kepadaku sendiri?” ia menegas.

“Betul,” kata anak muda itu, “sebab aku tidak menginginkan bungkusan ini, juga tidak menghendaki kepalamu.”

“Jika demikian, jadi tujuanmu hendak bertanding pedang denganku?” tanya si ular putih.

“Betul,” jawab si anak muda.

Ular putih memandangnya beberapa kejap, lalu memandang pula pedangnya, mendadak ia bergelak tertawa, tertawa latah, sungguh selama hidupnya belum pernah menemui hal yang menggelikan seperti sekarang ini.

Sebaliknya anak muda itu hanya berdiri tenang di situ, sama sekali ia tidak paham apa yang ditertawakan orang ini? Padahal ia merasa apa yang diucapkannya tidak berharga untuk ditertawai.

Diam-diam si lelaki godek tadi menghela napas menyesal, ia merasa anak ini mungkin telah gila karena rudinnya. Cukat Lui juga merasa pemuda ini mungkin kurang waras.

Terdengar si ular putih lagi terbahak-bahak, lalu berkata, “Kepalaku ini sukar dibeli meski dengan seribu tahil emas ….”

“Seribu tahil terlalu banyak, hanya kujual lima puluh tahil saja,” tukas si anak muda.

Seketika si ular putih berhenti tertawa, sebab diketahuinya pemuda ini ternyata bukan orang gila, juga bukan anak dungu, lebih-lebih bukan lagi bergurau, cara bicaranya ternyata sungguh-sungguh serius.

Tapi bila ia pandang pula pedang orang, ia tidak tahan lagi akan rasa gelinya, kembali ia bergelak tertawa dan berkata, “Baik, apabila kau pun dapat berbuat sama seperti ini, segera kuberi lima puluh tahil emas kepadamu!”

Di tengah gelak tertawanya, sinar pedangnya berkelebat, tampaknya lilin besar yang berada di atas meja kasir itu akan ditabasnya, tapi begitu lenyap sinar pedangnya, lilin itu masih tetap tegak di tempatnya tanpa bergerak.

Semua orang sama merasa heran. Tapi si ular putih lantas meniup, sekali tertolak oleh hawa tiupannya, mendadak batang lilin itu putus menjadi tujuh bagian. Sekali lagi sinar pedang berkelebat dan ketujuh potong lilin itu tersunduk pula pada pedangnya. Malahan bagian ujung lilin yang menyala itu belum lagi padam.

Kiranya sekali tabas tadi pedangnya telah membuat lilin itu putus menjadi tujuh bagian.

“Nah, terhitung cepat tidak tebasan pedangku ini?” tanya si ular putih dengan bangga.

Wajah anak muda itu tidak memperlihatkan sesuatu emosi, jawabnya, “Ya, sangat cepat.”

“Bagaimana? Kau sanggup?” tanya si ular putih sambil menyeringai.

“Pedangku tidak kugunakan untuk menabas lilin,” kata anak muda itu.

“Memangnya besi rongsokanmu itu digunakan untuk apa?” ejek si ular putih.

Tangan anak muda itu sudah meraba tangkai pedangnya, jawabnya sekata demi sekata, “Untuk membunuh orang!”

“Membunuh orang?” si ular putih menegas dengan terkekeh-kekeh, “Memangnya siapa yang dapat kau bunuh?”

“Kau!” baru sepatah kata itu diucapkan, pedang anak muda itu pun sudah menyambar ke depan.

Padahal pedang itu masih terselip pada ikat pinggangnya dan setiap orang melihat jelas pedang itu. Tapi mendadak pedang itu sudah menembus leher si ular putih. Setiap orang juga menyaksikan dengan jelas ujung pedang sepanjang tiga kaki itu menembus leher, tapi tiada seorang pun yang melihat jelas cara bagaimana pedangnya menusuk dan menembus leher si ular putih.

Darah tidak mengalir, sebab darah belum sempat menetes.

“Nah, pedangmu lebih cepat atau pedangku yang lebih cepat?” tanya anak muda itu sambil melotot.

Tenggorokan si ular putih berbunyi “krak-krok”, kulit daging mukanya juga berkejang, lubang hidungnya berkembang-kempis, mulut ternganga dan lidah terjulur.

Maka darah pun merembes keluar melalui ujung lidahnya.

Pedang si ular hitam sudah terangkat, tapi tidak berani menusuk, sebaliknya keringat dingin membasahi dahinya, pedang yang dipegangnya juga bergemetar.

Mendadak anak muda tadi menarik pedangnya, darah segar lantas menyembur keluar dari tenggorokan si ular putih bagai air mancur, ia sempat meraung, “Kau ….” hanya satu kata saja ia bersuara, lalu roboh tersungkur dan jiwa melayang

Anak muda itu lantas berpaling dan tanya si ular hitam, “Nah, dia sudah mengaku kalah, mana ke-50 tahil emas?”

Dia bicara dengan serius sekali ini tidak ada orang yang berani menertawakan dia.

Bibir si ular hitam pun tampak gemetar, ucapnya dengan tergegap, “Benar … benar-benar demi 50 tahil emas, maka kau bunuh dia?”

“Betul,” jawab anak muda itu tak acuh.

Muka si ular hitam tampak berkerut-kerut, entah mau menangis atau ingin tertawa, mendadak ia membuang pedangnya, lalu menjambak rambut sendiri sekuatnya, baju pun ditariknya hingga robek, maka meloncat keluarlah beberapa potong emas dari bajunya, sekuatnya ia lemparkan uang emas itu ke depan si anak muda, teriaknya dengan lesu, “Untukmu, semuanya untukmu ….”

Lalu ia berlari pergi seperti orang gila.

Anak muda itu tidak mengejar, juga tidak marah. Dipungutnya dua potong emas itu dan disodorkan ke depan kasir hotel, katanya, “Bagaimana, cukup 50 tahil atau tidak?”

Si kasir itu ketakutan sehingga setengah berjongkok di belakang mejanya, gigi pun gemertuk sehingga tidak sanggup bicara, ia hanya manggut-manggut sebisanya.

Sampai di sini barulah Li Sun-hoan berpaling dan berkata kepada si lelaki godek dengan tertawa, “Bagaimana, aku tidak keliru, bukan?”

Lelaki bergodek itu menarik napas panjang, jawabnya sambil menyengir, “Ya, sedikit pun tidak keliru, mainan itu sungguh sangat berbahaya.”

Dilihatnya anak muda tadi sedang mendekati mereka. Tapi tak dilihatnya tindakan Cukat Lui waktu itu.

Sejak tadi Cukat Lui tidak merangkak keluar dari kolong meja, tapi sekarang mendadak ia melompat maju, pedangnya lantas menusuk punggung anak muda itu.

Gerak pedang Cukat Lui memang tidak lambat, apalagi si anak muda tidak pernah menyangka akan disergap orang, padahal setelah dia membunuh si ular putih, seharusnya Cukat Lui berterima kasih padanya, mengapa dia malah menyerang anak muda itu?

Tampaknya pedang Cukat Lui pasti akan menembus tubuh anak muda itu. Siapa tahu, pada saat itu juga, mendadak Cukat Lui meraung keras dan mencelat beberapa kaki tingginya, pedang yang dipegangnya juga terlepas dan menancap di belandar rumah.

Kain hiasan tangkai pedang masih bergoyang-goyang, sedangkan kedua tangan Cukat Lui lantas mendekap leher sendiri, dengan mendelik ia tatap Li Sun-hoan, biji matanya seolah-olah hendak meloncat keluar, dari rongga matanya.

Kini Li Sun-hoan tidak mengukir lagi, sebab pisau kecil yang dipegangnya tadi sudah lenyap.

Darah segar tampak merembes keluar melalui celah-celah jari Cukat Lui. Ia melototi Li Sun-hoan, tenggorokannya juga mengeluarkan suara “krak-krok”.

Baru sekarang ada orang menemukan pisau kecil yang digunakan Li Sun-hoan untuk mengukir itu, kini telah hinggap di leher Cukat Lui. Tapi juga tiada seorang pun yang melihat jelas cara bagaimana pisau kecil itu bersarang di lehernya.

Tertampak keringat memenuhi kepala Cukat Lui, kulit mukanya telah berubah bentuk saking sakitnya. Mendadak ia mengertak gigi, dengan menahan sakit ia cabut pisau kecil itu, teriaknya sambil melototi Li Sun-hoan, “Kiranya … kiranya kau …. Seharusnya kukenali kau sejak tadi!”

Li Sun-hoan menghela napas panjang, katanya, “Sayang baru sekarang kau kenal diriku, kalau tidak, mungkin takkan kau lakukan tindakan pengecut seperti ini.”

Apa yang diucapkan Li Sun-hoan ini tidak didengar oleh Cukat Lui, takkan didengarnya untuk selama-lamanya.

Anak muda tadi menoleh dan memandang sekejap Cukat Lui yang sudah terkapar itu, sekilas air mukanya menampilkan rasa heran dan kejut, seakan-akan tidak habis mengerti mengapa orang ini hendak membunuhnya?

Tapi dia hanya memandangnya sekejap saja, lalu menuju ke depan Li Sun-hoan, sinar matanya yang jalang itu menampilkan senyuman hangat. Dengan singkat ia hanya berucap. “Akan kutraktir kau minum arak.”

*****

Di dalam kereta bertumpuk beberapa guci arak. Arak yang dibeli anak muda itu. Sebab itulah semangkuk demi semangkuk diminumnya arak itu, sangat cepat cara minumnya.

Li Sun-hoan memandangi anak muda itu dengan sorot mata gembira. Jarang ditemuinya orang yang menyenangkan seperti anak muda ini.

Salju yang bertimbun di tengah jalan telah mengeras menjadi lapisan es.

Tidak mudah untuk menjalankan kereta di atas lapisan es, biarpun kuda terlatih juga sukar dikendarai. Tapi lelaki bercambang itu telah menambahkan rantai pada roda belakang agar keretanya tidak tergelincir.

Rantai bergesekan dengan tanah salju dan menimbulkan suara gerantang.

Tiba-tiba anak muda itu menaruh mangkuk araknya dan bertanya, “Sebab apa engkau mengajak minum arak di atas keretamu ini?”

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Sebab hotel itu bukan tempat yang baik untuk ditinggali lagi.”

“Memangnya kenapa?”

“Siapa pun bila sudah membunuh orang, sedikit banyak tentu akan menimbulkan kesulitan. Meski aku tidak gentar membunuh orang, tapi selama hidup aku paling takut kepada kesulitan.”

Anak muda itu berdiam sejenak, lalu ia menceduk lagi semangkuk arak dan ditenggaknya.

Dengan tersenyum Li Sun-hoan memandangnya, dia merasa senang dengan cara minum anak muda itu.

Sejenak lagi, tiba-tiba anak muda itu pun menghela napas, katanya, “Membunuh orang memang bukan sesuatu kejadian yang menyenangkan, tapi ada sementara orang memang pantas dibunuh, dan mau tidak mau harus kubunuh dia.”

“Apakah benar lantaran 50 tahil perak, maka kau bunuh si ular putih tadi?” tanya Li Sun-hoan dengan tersenyum.

“Tanpa 50 tahil perak juga akan kubunuh dia, ditambah 50 tahil perak tentu kebetulan bagiku.”

“Mengapa kau hanya minta 50 tahil?”

“Sebab dia hanya berharga 50 tahil.”

Li Sun-hoan tertawa, “Di dunia Kangouw memang banyak orang yang pantas dibunuh, ada di antaranya bernilai lebih dari 50 tahil, sebab itulah bukan mustahil kelak kau akan menjadi kaya, dan aku pun akan sering-sering minum arak gratis.”

“Tapi sayang aku terlalu miskin,” kata anak muda itu, “kalau tidak, tentu akan kuberi 50 tahil perak padamu.”

“Sebab apa?”

“Sebab telah kau bunuh orang tadi bagiku.”

Li Sun-hoan bergelak tertawa, “Haha, kau salah. Orang tadi sama sekali tidak berharga 50 tahil, bahkan sepeser pun tidak laku.” Lalu ia pun bertanya, “Kau tahu sebab apa dia hendak membunuh kau?”

“Tidak tahu?”

“Soalnya meski si ular putih tidak jadi membunuhnya, tapi pamornya boleh dikatakan sudah rontok dan sukar tancap kaki lagi di dunia Kangouw, kemudian kau bunuh si ular putih, maka dia perlu membunuhmu agar kelak dia dapat menepuk dada dan membual lagi di depan umum, tentunya tidak pernah kau bayangkan betapa keji dan palsunya orang Kangouw.”

Agak lama si anak muda termenung, gumamnya kemudian, “Ya, terkadang hati manusia memang jauh lebih keji daripada serigala atau harimau. Bila serigala atau harimau hendak menerkam dirimu, sedikitnya mereka akan memberitahu lebih dulu.”

Dia menenggak lagi semangkuk arak, lalu menyambung, “Tapi yang selalu kudengar adalah manusia tidak sekeji binatang. Padahal binatang buas itu membunuh manusia demi mempertahankan hidup, sebaliknya manusia membunuh sesamanya lebih sering tidak demi apa-apa. Setahuku, manusia yang mati dibunuh manusia jauh lebih banyak daripada manusia yang dibunuh binatang buas.”

Li Sun-hoan memandangnya lekat-lekat, katanya kemudian, “Makanya kau lebih suka bersahabat dengan binatang buas?”

Anak muda itu termenung lagi sekian lamanya, tiba-tiba ia tertawa dan menjawab, “Cuma sayang mereka tidak dapat minum arak”.

Untuk pertama kali ini Li Sun-hoan melihat anak muda itu tertawa. Tak pernah terpikir olehnya bahwa tertawa seorang dapat menimbulkan perubahan sebesar itu pada mimik wajah seseorang.

Muka anak muda itu tadinya sedemikian menyendiri, sedemikian keras sehingga mengingatkan orang kepada serigala yang bergelandangan di tanah bersalju.

Tapi ketika tersembul senyuman pada wajahnya, seketika orangnya seperti berubah, berubah menjadi begitu lembut, begitu simpatik, begitu menyenangkan.

Belum pernah Li Sun-hoan melihat senyuman seorang yang sedemikian menarik.

Anak muda itu pun lagi menatap Li Sun-hoan, tiba-tiba ia bertanya pula, “Apakah engkau seorang yang sangat ternama?”

Li Sun-hoan juga tertawa, jawabnya, “Ternama bukanlah sesuatu yang baik.”

“Tapi aku justru berharap akan menjadi orang ternama, orang yang paling terkenal di dunia ini.”

Waktu berucap demikian, tiba-tiba ia berubah lagi seperti seorang anak kecil yang polos.

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Setiap orang tentu berharap akan terkenal, sedikitnya kau jauh lebih jujur daripada orang lain.”

“Aku tidak sama dengan orang lain. Tidak boleh tidak aku harus ternama, kalau tidak ternama, hanya ada kematian bagiku”.

Li Sun-hoan mulai rada terkejut, ia tanya, “Sebab apa?”

Anak muda itu tidak menjawab, tapi sorot matanya menampilkan semacam perasaan duka dan murka, pedih dan penasaran.

Baru sekarang Li Sun-hoan merasakan anak muda ini terkadang serupa anak kecil yang polos, tapi terkadang juga seperti menyimpan banyak rahasia yang sukar diraba, asal-usulnya masih menjadi teka-teki, tapi jelas penuh kepedihan dan kemalangan.

Dengan suara lembut lalu Li Sun-hoan berkata, “Jika kau ingin terkenal, paling tidak kan harus kau katakan dulu siapa namamu.”

Sekali ini anak muda itu termenung sangat lama, habis itu barulah menjawab dengan perlahan, “Orang yang kenal diriku sama memanggilku A Fei.”

“A Fei?” Li Sun-hoan mengulang nama itu. “Masakah kau she A? Rasanya di dunia tidak ada orang she A”.

“Aku tidak punya she!” kata si anak muda. Sinar matanya tiba-tiba mencorong terang seperti api yang mulai berkobar.

Li Sun-hoan tahu sekalipun air mata pun sukar memadamkan bara api semacam ini. Ia tidak sampai hati untuk bertanya lagi.

Siapa tahu anak muda itu lantas menyambung malah, “Nanti kalau aku sudah terkenal, mungkin akan kukatakan nama keluargaku, tapi sekarang ….”

“Sekarang biarlah kupanggil kau A Fei saja”, tukas Li Sun-hoan.

“Bagus sekali, bolehlah kau panggil A Fei padaku,” ujar anak muda itu. “Padahal, nama apa pun tidak menjadi soal bagiku.”

“Baik, A Fei, marilah kita habiskan secawan!” kata Li Sun-hoan.

Tapi baru saja dia menghabiskan setengah mangkuk arak, kembali dia terbatuk-batuk lagi dengan hebat, wajahnya yang pucat itu timbul lagi warna merah gejala penyakit yang diidapnya, namun sisa setengah mangkuk arak tetap ditenggaknya hingga habis.

A Fei memandangnya dengan tercengang, seperti tidak menyangka pendekar yang terkenal ini bisa mempunyai kesehatan seburuk ini. Namun dia tidak bicara apa pun, dengan cepat ia pun menghabiskan semangkuk arak.

“Kau tahu sebab apakah aku menyukai sahabat seperti kau?” tiba-tiba Li Sun-hoan bertanya.

A Fei hanya diam saja.

“Sebab di antara sahabatku yang pernah melihat aku terbatuk-batuk, kaulah satu-satunya yang tidak membujuk agar jangan kuminum arak lagi.”

“Apakah batuk tidak boleh minum arak?”

“Ya, mestinya menyentuhnya saja tidak boleh.”

“Jika demikian, mengapa engkau tetap minum? Apakah engkau banyak menanggung hal-hal yang menyedihkan?”

Sinar mata Li Sun-hoan yang terang itu mendadak guram, ia tatap A Fei dan berkata, “Pernahkah kutanya padamu hal yang tidak suka kau jawab? Pernahkah kutanya siapa ayah-bundamu? Siapa gurumu? Datang dari mana dan hendak ke mana?”

“Tidak pernah.”

“Nah, jika begitu, mengapa kau tanya padaku?”

Dengan tenang A Fei menatapnya sejenak, tiba-tiba ia tertawa cerah dan berucap, “Baik, aku takkan tanya.”

Tertawalah Li Sun-hoan, tampaknya ia hendak menghormati A Fei semangkuk arak lagi, tapi baru saja mangkuk arak diangkatnya, segera ia terbatuk-batuk pula sehingga menungging dan hampir saja tak dapat bernapas.

Baru saja A Fei membukakan jendela kereta agar mendapat udara segar, mendadak kereta itu berhenti.

“Ada apa?” tanya Li Sun-hoan sambil melongok ke luar.

“Ada orang mengadang di tengah jalan,” sahut si kusir bercambang itu.

“Orang macam apa?” Li Sun-hoan mengernyitkan dahi.

Kedengarannya si cambang tertawa dan berkata, “Orang-orangan salju.”

Memang betul, entah perbuatan anak nakal siapa, di tengah jalan sana tersusun seorang orang-orangan salju dengan perutnya yang gendut dan muka yang bulat, malahan di bagian muka ditanam dua potong arang sebagai biji mata.

Mereka turun dari kereta, Li Sun-hoan menarik napas panjang-panjang, sedangkan A Fei lagi mengamat-amati orang-orangan salju itu seperti selamanya tidak pernah melihat mainan lucu ini.

Li Sun-hoan memandangnya dengan tersenyum dan bertanya, “Pernahkah kau susun orang-orangan salju seperti ini?”

“Yang kuketahui adalah salju sangat menjemukan, dia membuat orang kedinginan, bahkan membuat tetumbuhan sama layu dan membikin burung terbang jauh, membuat orang kelaparan dan kesepian.”

Dia lantas mengepal sebuah bola salju terus dilemparkan ke sana. Bola salju itu jatuh di kejauhan, pecah dan buyar.

Sambil memandang tempat jauh, ia berkata pula dengan perlahan, “Bagi mereka yang dapat makan kenyang dan berbaju tebal, salju memang menyenangkan, sebab mereka selain dapat membuat orang-orangan salju, juga dapat menikmati pemandangan alam yang diliputi salju ini, tapi bagi orang-orang seperti kita ini ….”

Mendadak ia melototi Li Sun-hoan dan menyambung pula, “Kau tahu, aku dibesarkan di tengah hutan belukar, angin, salju, air hujan, semuanya adalah musuhku yang terbesar.”

Rada rawan juga perasaan Li Sun-hoan, ia pun mengepal sepotong bola salju, katanya, “Aku tidak jemu terhadap salju, tapi aku benci kepada orang yang merintangi jalanku.”

Ia pun melemparkan bola saljunya ke sana, “bluk”, dengan tepat lemparannya mengenai orang-orangan salju, bunga salju muncrat ke mana-mana, orang salju itu ternyata tidak roboh. Hanya lapisan salju sama rontok, arang yang digunakan sebagai biji mata jatuh, mukanya yang bundar itu pun pecah, tapi sebagai gantinya lantas menongol sebuah wajah yang pucat kelabu.

Di dalam orang-orangan salju ternyata ada manusia tulen.

Manusia mati!

Muka orang mati tentu saja tidak sedap dipandang, lebih-lebih sekarang, muka orang mati ini kelihatan menyeringai seram, matanya melotot seperti mata ikan.

“Hah, si ular hitam!” seru A Fei.

Sungguh aneh, mengapa “ular hitam” bisa mati di sini? Mengapa pembunuhnya menjadikan dia orang-orangan salju dan mengadang di tengah jalan.

Kusir bercambang itu mengangkat mayat itu dari onggokan salju, lalu berjongkok dan memeriksanya dengan teliti, tampaknya hendak mencari tahu luka apa yang menyebabkan kematiannya.

Li Sun-hoan asyik peras otak, tiba-tiba ia berkata, “Tahukah kau siapa yang membunuhnya?”

“Tidak tahu,” jawab A Fei.

“Ialah bungkusan itu,” kata Li Sun-hoan.

“Bungkusan?”

“Ya, bungkusan yang ditanyakan mereka itu tertaruh di atas meja dan tidak kuperhatikan. Sesudah ular hitam pergi, bungkusan ini pun lenyap. Sebab itulah kupikir dia sengaja berlagak seperti orang gila dan berlari pergi, maksud tujuannya jelas hendak memencarkan perhatian orang, kesempatan itu lantas digunakannya untuk menyerobot lagi bungkusan yang diincarnya.”

“Oo!” A Fei manggut-manggut.

“Tapi tidak pernah terduga olehnya bahwa bungkusan ini justru mendatangkan malapetaka baginya. Orang yang membunuhnya itu tentu juga ingin memperoleh bungkusan yang dibawa lari si ular hitam.”

Entah sejak kapan Li Sun-hoan sudah memegang pisaunya dan membelainya dengan perlahan, lalu bergumam pula, “Sesungguhnya apakah isi bungkusan itu? Mengapa menjadi incaran orang sebanyak ini. Rasanya semakin perlu kuambil dan memeriksanya.”

Tiba-tiba A Fei berkata, “Jika orang yang membunuhnya juga mengincar bungkusan itu, mengapa setelah merampas bungkusannva, si ular hitam diuruk menjadi orang salju perintang jalan?”

Li Sun-hoan tampak tercengang. Ia merasa anak muda ini meski sangat hijau terhadap seluk beluk kehidupan ini, terkadang bahkan kekanak-kanakan, tapi kecerdasannya, ketelitiannya berpikir, kecepatan reaksinya, ternyata bisa melebihi tokoh Kangouw ulung seperti dirinya ini.

“Jadi jelas pembunuh itu sudah memperhitungkan orang lain takkan lalu di jalan ini, hanya keretamu yang akan lewat di sini, makanya hendak mencegat dirimu di sini.”

Li Sun-hoan tidak menanggapi uraian A Fei, tapi ia tanya si godek, “Kau temukan lukanya yang fatal tidak?”

Belum lagi si godek menjawab, tiba-tiba Li Sun-hoan berkata pula, “Sudahlah, tidak perlu kau cari lagi.”

“Betul, orangnya sudah datang, untuk apa mencarinya?” tukas A Fei.

Padahal, indera pendengaran dan penglihatan Li Sun-hoan boleh dikatakan tiada bandingannya selama ini, sungguh tak terpikir olehnya bahwa mata-telinga anak muda ini pun sama tajamnya seperti dia.

Agaknya anak muda ini memang mempunyai semacam keahlian pembawaan seperti binatang liar, dapat merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan orang lain.

Li Sun-hoan tersenyum memuji padanya, lalu ia berseru, “Jika kalian sudah datang, kenapa tidak kemari untuk minum barang secawan?”

Bunga salju di atas ranting pohon di tepi jalan mendadak sama rontok, seorang berseru sambil bergelak tertawa, “Hahaha, sepuluh tahun tidak bertemu, tak tersangka Li-tamhoa tetap awet muda dan tetap tangkas, selamat, selamat!”

Tamhoa adalah gelar kesusastraan ujian negara. Turun-temurun keluarga Li Sun-hoan memang selalu memenangkan gelar kebesaran tersebut.

Begitulah, di tengah gelak tertawa itu, dari sebelah hutan sana muncul seorang kakek berlengan satu, tulang pelipis kakek ini menonjol tinggi, sorot matanya tajam seperti elang.

Dari sisi hutan yang lain berbareng juga muncul seorang lagi, perawakan orang ini kurus kecil, mukanya hampir tak berdaging, kalau angin meniup keras bisa jadi akan membawanya kabur ke udara.

Sekilas pandang saja A Fei lantas melihat kemunculan orang ini sama sekali tidak meninggalkan bekas tapak kaki di tanah bersalju, meski lapisan salju sudah membeku, tapi di atas salju beku masih ada bunga salju lagi.

Nyata orang ini dapat menginjak salju tanpa meninggalkan bekas, meski berkat perawakannya yang kurus kecil, tapi betapa tinggi Ginkangnya cukup mengejutkan juga.

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Belum ada setengah bulan kumasuk daerah Tionggoan, tak nyana lantas dipapak oleh para kawan lama seperti Cah-congpiauthau dari Kim-say-piaukiok dan Sin-heng-bu-eng Ki-jisiansing, sungguh suatu kehormatan besar bagiku.”

“Hehe, Li-tamhoa benar-benar tidak bernama kosong,” ucap si kakek kurus kecil sambil terkekeh, “sekali lihat tidak pernah lupa, padahal kita cuma pernah bertemu satu kali pada belasan tahun yang lalu, tak terduga Li-tamhoa masih juga ingat kepada tua bangka cacat macam diriku ini.”

Bahwa orang menyebut dirinya orang cacat, baru sekarang A Fei melihat sebelah kaki orang tua itu memang pincang. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa seorang cacat kaki bisa memiliki Ginkang setinggi ini.

Ia tidak tahu bahwa Ki-jikoaycu atau si Ki pincang ini justru lantaran cacat kaki kanan sejak lahir, maka sejak kecil dia giat berlatih Ginkang, hendak digunakannya Ginkang yang melampaui orang lain untuk menambal kekurangan fisiknya.

Mau tak mau timbul rasa kagum A Fei terhadap orang tua ini.

Li Sun-hoan tersenyum, katanya, “Jika kalian masih membawa beberapa teman lain, mengapa tidak sekalian diperkenalkan kepadaku?”

Dengan dingin Ki-jikoaycu berkata, “Betul, mereka pun sudah lama mendengar Li-tamhoa yang termasyhur dan ingin belajar kenal.”

Tengah bicara, dari hutan sana muncul empat orang, meski di siang hari, demi melihat keempat orang ini, tanpa terasa Li Sun-hoan menarik napas dingin.

Usia keempat orang ini rata-rata tidak terbilang muda lagi, tapi dandanan mereka mirip anak kecil, baju mereka berwarna-warni, sepatu mereka pun bersulam gambar harimau seperti layaknya sepatu anak kecil, meski wajah pembawaan mereka beralis tebal dan bermata besar, tampaknya buas, tapi lagak-lagu mereka justru sengaja bertingkah seperti anak nakal, cengar-cengir dan lirak-lirik sehingga membikin orang merasa muak.

Yang paling lucu adalah kaki dan tangan mereka memakai gelang perak yang gemilapan sehingga kalau berjalan menimbulkan suara gemerantang.

Melihat keempat orang aneh ini air muka si kusir godek seketika berubah, tiba-tiba ia berseru dengan suara parau, “Si ular hitam tidak mati terbunuh oleh orang.”

“Oo?” Li Sun-hoan bersuara ingin tahu.

“Dia mati oleh gigitan kalajengking dan kelabang,” kata pula si godek.

Air muka Li Sun-hoan rada berubah juga, ucapnya dengan perlahan, “Jika demikian, jangan-jangan kalian berempat adalah anak murid Ngo-tok-tongcu dari Kik-lok-tong di daerah Miau?”

Salah seorang “anak” yang berbaju kuning menjawab dengan terkekeh, “Hehe, orang-orangan salju yang kami susun dengan susah payah telah kau hancurkan, kuminta ganti rugi padamu.”

Begitu kata terakhir diucapkan, serentak ia melayang maju, menubruk ke arah Li Sun-hoan, gelang perak pada kaki dan tangannya lantas berbunyi gemerantang mengacaukan pikiran orang.

Tapi Li Sun-hoan hanya memandangnya dengan tersenyum tanpa bergerak.

Namun Ki-jikoaycu segera juga melompat ke atas, dipapaknya Ui-ih-tongcu atau si anak berbaju kuning itu, ditariknya tangan orang dan turun ke samping sana.

Pemimpin Kim-say-piaukiok, si singa emas Cah Bing juga lantas berseru dengan tertawa, “Li-tamhoa terkenal kaya raya, jangankan cuma orang-orangan salju, sekalipun orang-orangan emas juga sanggup digantinya. Tapi hendaklah kalian berempat jangan terburu nafsu, biarlah kuperkenalkan lebih dulu antara kalian.”

Ang-ih-tongcu, salah seorang “anak” yang berbaju merah, menanggapi dengan tertawa “Kutahu dia she Li bernama Sun-hoan.”

“Ya, kutahu juga dia serba royal, ya makan ya minum, ya berjudi ya main perempuan, segalanya serba ahli, sebab itulah sudah lama kami ingin mencari dia untuk Sun-hoan (mencari kesenangan),” demikian tukas kawannya, Hek-ih-tongcu, si anak berbaju hitam.

Sisa seorang lagi si anak berbaju hijau lantas menimpali, “Malahan kutahu dia seorang terpelajar dan pernah mendapat gelar Tamhoa, konon bapaknya dan kakeknya juga pernah mendapat pangkat yang sama.”

“Cuma sayang, Li-tamhoa kecil ini tidak suka menjadi pembesar, tapi lebih suka menjadi bandit,” kata si baju merah dengan tertawa.

Mereka asyik bicara, orang lain tidak merasakan sesuatu, tapi A Fei tampak kesima mendengarkan percakapan mereka itu. Sungguh tak terduga olehnya bahwa sahabat barunya ini mempunyai sejarah hidup sedemikian banyak gaya dan ragamnya.

Ia tidak tahu bahwa yang dipercakapkan orang-orang itu tidak lebih hanya sebagian kecil saja ragam kehidupan Li Sun-hoan. Padahal, kisah hidup Li Sun-hoan selengkapnya, sekalipun bercerita tiga hari tiga malam juga takkan selesai.

A Fei belum lagi mengetahui senyuman yang menghiasi wajah Li Sun-hoan, ia malah kelihatan berduka, seolah-olah remuk redam hatinya apabila orang menyinggung masa lampaunya.

Mendadak terdengar Ki-jikoaycu menarik muka dan berkata, “Tidak sedikit pengetahuan kalian terhadap kisah hidup Li-tamhoa, tapi apakah kalian tahu, Siau Li Sin To, pisau sakti tidak ada bandingannya, sekali pisau tertimpuk tidak pernah meleset?”

Ui-ih-tongcu tertawa terkekeh-kekeh, “Hehe, tidak pernah meleset … rupanya kau khawatir aku akan mati di bawah pisaunya dan tidak dapat mempertanggungjawabkan tugasku kepada guruku, makanya kau cegah tindakanku.”

Li Sun-hoan tersenyum, katanya, “Tapi kalian tidak perlu khawatir, sekali timpuk pisauku mungkin mahasakti, tapi timpukan kedua tentunya tidak lagi selihai itu. Kalian kan tahu, satu pisau tidak dapat membunuh enam orang sekaligus.”

Mendadak sikapnya berubah kereng, sambil melototi Cah Bing ia berkata pula, “Sebab itu, jika kalian bermaksud menuntut balas bagi Cukat Lui, silakan saja turun tangan sekarang juga!”

Kim-say Cah Bing, si Singa Emas, tertawa ngekek, ucapnya, “Cukat Lui memang pantas mampus, mana boleh menyalahkan Li-heng.”

“Jika kedatangan kalian bukan untuk menuntut balas, memangnya hendak minum arak bersamaku?” kata Li Sun-hoan pula.

Cah Bing tampak termenung, seperti tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.

Tapi Ki-jikoaycu lantas menanggapi, “Kami hanya minta kau serahkan bungkusan itu!”

“Bungkusan?” Li Sun-hoan menegas sambil berkerut kening.

“Betul,” tukas Cah Bing, “bungkusan itu adalah barang kiriman orang, jika hilang, nama Kim-say-piaukiok kami pasti akan runtuh habis-habisan.”

Li Sun-hoan memandang jenazah si ular hitam sekejap, lalu berkata, “Masa bungkusan itu tidak berada padanya?”

“Haha, janganlah Li-heng bergurau,” seru Cah Bing dengan tertawa. “Li-heng hadir di sini, hanya orang macam dia masakah mampu melarikan bungkusan tersebut.”

Kembali Li Sun-hoan mengernyitkan kening, gumamnya dengan menyesal, “Ai, selama hidupku paling takut menghadapi kesulitan, mengapa kesulitan senantiasa mencari diriku ….”

Cah Bing tidak tahu jelas apa yang digumamkan orang, ia berkata pula, “Asalkan Li-heng mau mengembalikan bungkusan itu, maka sekarang juga kami akan pergi, bahkan sedikit banyak tersedia imbalan untuk minum arak Li-heng.”

Perlahan Li Sun-hoan merabai pisau yang dipegangnya itu, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Betul, bungkusan itu memang berada padaku. Tapi saat ini belum dapat kuputuskan apakah harus kukembalikan kepadamu atau tidak. Sebaiknya kalian memberikan waktu berpikir bagiku.”

Air muka Cah Bing tampak berubah, tapi Ki-jikoaycu lantas menyela, “Tapi berapa lama Anda akan berpikir?”

“Kukira cukup satu jam saja, satu jam kemudian kita tetap bertemu lagi di sini,” jawab Sun-hoan.

Tanpa pikir lagi Ki-jikoaycu lantas menyatakan setuju, ia tidak bicara lagi, setelah memberi tanda kepada kawannya, segera ia angkat kaki.

Tiba-tiba Ui-ih-tongcu mengekek dan berkata, “Cukup setengah jam saja bisa kabur dengan sangat jauh, untuk apa satu jam?”

“Memangnya kau anggap Li-tamhoa orang macam apa?” jengek Ki-jikoaycu dengan kurang senang, “Sejak muncul di Kangouw sampai mengundurkan diri, selama tujuh tahun sudah beratus kali pertempuran dihadapinya dan selama itu belum pernah dia melarikan diri.”

Kedatangan mereka tadi sangat cepat, cara pergi mereka terlebih cepat. Hanya sekejap saja rombongan Cah Bing sudah menghilang, suara gemerantang gelang tangan sudah berada berpuluh tombak jauhnya.

Mendadak A Fei berkata, “Kutahu bungkusan itu tidak berada padamu.”

“Ehm, memang,” sahut Sun-hoan.

“Jika begitu, mengapa kau mau mengakuinya?”

Li Sun-hoan tertawa, katanya, “Umpama kusangkal tidak ambil bungkusan itu, tentu juga mereka tidak percaya, cepat atau lambat pasti akan terjadi pertarungan. Sebab itulah sekalian kuakui tuduhan mereka agar tidak banyak rewel dan menambah kesulitan.”

“Jika cepat atau lambat harus bertempur, untuk apa pula kau minta waktu dan berpikir segala?”

“Sebab dalam waktu satu jam ini hendak kutemukan dulu satu orang.”

“Oo, siapa?”

“Si pencuri bungkusan itu.”

“Kau tahu siapa orangnya?”

“Yang berada di rumah makan kemarin ada tiga orang Piauthau dari Kim-say-piaukiok, kecuali Cukat Lui dan Tio-loji kan masih ada seorang lagi. Dan dia itulah yang hendak kutemukan.”

A Fei termenung sejenak, katanya kemudian. “Apakah orang yang kau maksudkan itu berbaju sutera ungu, bersenjata ruyung, berperawakan pendek dan pada daun telinganya ada andeng-andeng besar berbulu?”

“Hanya sekilas pandang saja ternyata dapat kau lihat sejelas ini,” ujar Li Sun-hoan dengan tersenyum.

“Bagiku cukup hanya memandangnya sekejap saja.”

“Memang betul, dialah yang kumaksudkan. Orang yang berada di rumah makan kemarin hanya dia yang tahu nilai barang dalam bungkusan itu, sejauh itu dia hanya menonton saja di samping, tidak ada orang yang memperhatikan dia, maka hanya dia yang mempunyai peluang paling banyak untuk membawa lari bungkusan itu.”

A Fei termenung dan mengangguk.

“Justru lantaran dia tahu nilai isi bungkusan itu, maka dia berniat mencaploknya sendiri. Tapi dia juga khawatir dicurigai Cah Bing, maka dia alihkan tanggung-jawabnya kepada diriku,” Sun-hoan tersenyum hambar, sambungnya lagi, “Bagiku urusan demikian sudah tidak asing lagi, bukan untuk pertama kali ini kutanggung dosa orang lain.”

“Dan jejakmu dapat diketahui rombongan Cah Bing, tentunya juga dia yang menyampaikan informasi ini”

“Betul.”

“Tapi supaya tidak dicurigai Cah Bing, sementara ini orang itu pasti tidak berani kabur. Maka saat ini dia pasti juga berada bersama rombongan Cah Bing. Asalkan Cah Bing diketemukan tentu juga dapat menemukan dia.”

Li Sun-hoan menepuk pundak anak muda itu, ucapnya dengan tertawa, “Cukup dua-tiga tahun saja kau berkecimpung di dunia Kangouw dan tidak ada yang perlu kau pelajari lagi. Kelak jika kita masih dapat bertemu lagi, semoga kita tetap berkawan.”

Lalu ia bergelak tertawa dan menyambung lagi, “Sebab, sesungguhnya aku tidak ingin mempunyai musuh semacam dirimu.”

A Fei memandangnya dengan tenang, katanya, “Kau minta kupergi sekarang?”

“Ini kan urusanku dan tiada sangkut-pautnya denganmu,” ujar Sun-hoan. “Orang lain juga tidak mencari dirimu, mengapa kau tidak pergi saja?”

“Kau khawatir membikin susah padaku, atau tidak sudi berjalan bersamaku?” tanya A Fei.

Sorot mata Li Sun-hoan menampilkan setitik perasaan pedih, tapi dia tetap tersenyum dan berkata, “Di dunia ini tidak ada perjamuan yang tidak selesai, lambat atau cepat kita toh harus berpisah. Jadi apa bedanya lebih cepat atau lebih lambat beberapa hari?”

A Fei terdiam, tiba-tiba ia menuang dua mangkuk arak dan berkata, “Ini, kuhormati kau secawan!”

Tanpa ragu Sun-hoan menerimanya dan dihabiskannya dengan sekali tenggak, lalu ia ingin tertawa, tapi mendadak ia menungging dan terbatuk-batuk.

Dengan tenang A Fei memandangnya hingga lama, mendadak ia putar badan terus melangkah pergi.

Bunga salju bertebaran pula, sunyi senyap alam ini, sampai suara jatuhnya bunga salju pun terdengar.

Li Sun-hoan memandangi bayangan tubuh anak muda yang tegap itu perlahan menghilang di tengah badai salju, memandangi tapak kaki yang tertinggal di atas tanah salju yang memanjang ke sana ….

Segera Li Sun-hoan menuang arak pula semangkuk penuh, ia angkat arak itu dan bergumam, “Mari, anak muda, kusuguhi kau secawan lagi. Kau tahu aku tidak sungguh-sungguh menyuruh kau pergi. Hanya saja, hari depanmu masih jauh dan cemerlang, ikut bersamaku rasanya takkan mendapatkan faedah apa pun. Kawanku agaknya cuma kesulitan, kesialan, kemalangan belaka, aku tidak dapat menambah kawan lain lagi.”

Sudah barang tentu A Fei tidak mendengar ucapannya itu.

Si kusir bergodek itu hanya berdiri seperti patung di samping sana, tidak bicara apa pun, sekujur badan sudah penuh bunga salju, dan tetap tidak bergerak.

Li Sun-hoan menghabiskan arak dalam mangkuknya, lalu membalik tubuh dan memandang si godek, katanya, “Kau tunggu saja di sini, sebaiknya kau kubur mayat si ular hitam ini, satu … satu jam lagi aku akan kembali ke sini.”

Si godek menundukkan kepala, tiba-tiba ia berkata, “Kutahu Kim-say Cah Bing terkenal kuat tenaga pukulannya, tapi sebenarnya cuma bernama kosong belaka, dalam sepuluh jurus Siauya pasti dapat membinasakan dia.”

“Mungkin cukup lima jurus saja,” ujar Sun-hoan dengan tak acuh.

“Dan bagaimana dengan Ki-jikoaycu?” tanya si godek.

“Ginkangnya cukup hebat, konon senjata rahasianya juga keji, tapi ia pun tidak menjadi soal bagiku.”

“Konon anak murid Kek-lok-tong sama menguasai beberapa jenis Kungfu yang aneh, melihat cara mereka turun tangan tadi tampaknya Kungfu mereka memang berbeda dengan Kungfu daerah Tionggoan ….”

“Jangan khawatir,” sela Sun-hoan dengan tersenyum, “kalau cuma orang-orang begitu saja belum lagi kupikirkan.”

Tapi air muka si godek tampak sangat prihatin, katanya perlahan, “Tidak perlu Siauya membohongi hamba, kutahu kepergian Siauya ini cukup gawat, kalau tidak, tentunya Siauya takkan menyuruh pergi Fei … Fei-siauya itu.”

Mendadak Li Sun-hoan menarik muka, omelnya, “Eh, mulai kapan kau pun suka banyak omong?”

Si godek tidak berani bicara lagi, kepalanya tertunduk lebih rendah. Waktu ia menengadah, Li Sun-hoan sudah menghilang di balik hutan sana, sayup-sayup terdengar lagi suara batuknya.

Suara batuk yang terputus-putus itu kedengaran sangat mengharukan di tengah badai salju. Tapi akhirnya suara batuknya tenggelam di tengah badai salju yang bertambah lebat.

Basah mata si godek, ia menggeleng dan bergumam, “Siauya, baik-baik kita tinggal di Kwan-gwa, untuk apa lagi kita pulang ke sini mencari susah sendiri. Sudah sepuluh tahun, masakah engkau belum lagi melupakan dia? Masihkah kau ingin melihatnya lagi? Tapi setelah bertemu, tetap tak dapat kau bicara dengan dia. Ai, Siauya, untuk apa?”

Begitu masuk ke dalam hutan, seketika sikap Li Sun-hoan yang lesu dan kesepian itu berubah sama sekali, mendadak ia berubah sangat gesit, lincah dan cekatan seperti seekor anjing pemburu.

Telinganya, hidungnya, matanya, setiap bagian otot dagingnya, semuanya dimanfaatkan secara efektif. Baik di tanah bersalju, di tengah runtuhan daun kering, bahkan di tengah hawa udara, asalkan ada bekas-bekas yang ditinggalkan musuh, meski hanya setitik tanda atau bau aneh saja, pasti tidak dilewatinya dengan percuma. Selama 20 tahun ini hampir tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat lolos dari ada

Dia bergerak dengan sangat cepat dan lincah, tapi tidak kelihatan terburu-buru, serupa seorang penari top, berada di bawah irama yang betapa cepatnya tetap dapat mempertahankan gerakannya yang indah.

Sepuluh tahun yang lalu, ketika ia meninggalkan segalanya dan pergi dengan perasaan hancur, pernah dia lalu di tempat ini. Tatkala mana tengah musim semi, hawa sejuk dan bunga mekar semerbak.

Ia masih ingat, di sekitar sini ada sebuah rumah minum kecil, dari jauh akan tertampak panji hijau, yang terpancang tinggi di wuwungan, sebab itulah ia pernah singgah di situ untuk minum arak.

Tidak jelek araknya, tapi pemandangan tempat itu cukup menyenangkan, gunung menghijau permai, air sungai mengalir tenang, orang yang pesiar di musim semi itu sangat banyak, dipandangnya muda-mudi yang lalu dengan gembira ria sambil minum araknya yang rada pahit, suasana demikian memberinya kesan yang sukar dilupakan.

Tak terduga sekarang ia kembali berada lagi di tempat ini. Sepuluh tahun sudah lalu, keadaan tempat dan orangnya sudah berganti tentunya. Tapi dia berharap kedai arak yang kecil itu masih berdiri di tempat semula.

Dia berharap demikian bukan lantaran dia hanya ingin minum arak, tapi dia pikir rombongan Cah Bing bisa jadi berada di kedai minum itu.

Suasana di bawah badai salju sama sekali berbeda daripada sepoi angin di musim semi, tapi ketika melalui jalan yang sudah dikenalnya ini, mau tak mau hati terasa pedih.

Harta benda, kekuasaan, nama dan kedudukan, semua ini dapat ditinggalkannya dengan mudah, tapi kenangan lama, kenangan lama yang lebih banyak pahit getir daripada manis itu masih tetap membelenggunya dan sukar dilepaskan.

Li Sun-hoan mengeluarkan sebuah botol arak yang berbentuk pipih, sisa isi botol itu dituangnya semua ke dalam kerongkongan, setelah berhenti berbatuk, lalu ia melanjutkan perjalanan.

Benarlah, dilihatnya kedai arak kecil itu.

Itulah beberapa rumah yang dibangun di kaki bukit, di sekitar rumah ada serambi yang cukup luas dengan lankan atau pagar kayu bercat merah dan diberi kerai warna hijau.

Ia masih ingat musim semi dahulu di sekitar sini penuh mekar semacam bunga hutan yang tidak dikenal namanya.

Ia berduduk di serambi berlankan merah, minum arak dan menikmati pemandangan yang permai. Tapi cat merah lankan rumah minum itu kelihatan sudah banyak yang luntur, bunga yang mekar semarak kini telah digantikan oleh salju belaka. Di atas tanah salju kelihatan garis-garis bekas roda kereta malang melintang, sayup-sayup terdengar di belakang rumah sana ada suara ringkik kuda.

Li Sun-hoan tahu perkiraan sendiri tidak keliru, rombongan Cah Bing memang betul ngendon di sini. Sebab dalam cuaca demikian, tempat yang terpencil ini tidak nanti didatangi kaum pelancong.

Gerakan Li Sun-hoan bertambah cepat, tambah gesit dan juga tambah hati-hati. Ia pasang telinga, mendengarkan dengan cermat, tiada suara manusia di kedai minum itu. ia berkerut kening, heran dan curiga, lalu secepat panah ia melompat ke sana.

Sesudah dekat, segera dirasakannya kedai arak ini sangat sunyi, luar biasa sunyinya, kecuali ringkik kuda perlahan yang terdengar terkadang, suara lain sama sekali tidak ada.

Papan lantai serambi kedai itu sudah tua, baru saja kaki Li Sun-hoan menginjaknya segera menimbulkan suara berkeriut, cepat ia melompat mundur.

Namun tetap tiada sesuatu suara dan gerak-gerik dalam kedai arak itu.

Setelah berpikir sejenak, dengan gesit Li Sun-hoan memutar ke belakang rumah. Menurut dugaannya, bisa jadi rombongan Cah Bing tidak kembali ke sini.

Akan tetapi dia salah duga, sebab dengan segera Cah Bing dilihatnya berada di situ, bahkan lagi mendelik padanya.

Begitu besar mata Cah Bing mendelik sehingga biji matanya seakan-akan melompat keluar, mukanya yang pucat kelihatan sangat menyeramkan, dia berdiri di samping tiang kandang kuda.

Kuda di dalam istal sedang meringkik perlahan dan sedang mendepak-depak, tapi Cah Bing hanya berdiri kaku di situ, tidak bersuara juga tidak bergerak, tiada ubahnya seperti patung.

“Tak tersangka ….” baru sekian ucapannya, seketika ia tutup mulut, sebab diketahuinya sekarang bahwa Cah Bing sudah tidak dapat mendengar lagi perkataan siapa pun.

Tenggorokan Cah Bing sudah berlubang. Orang yang membunuhnya jelas tidak suka baju sendiri terciprat darah, maka ketika pedangnya menembus tenggorokan Cah Bing, segera pula ia jejalkan segumpal salju ke lubang luka itu, ketika salju cair oleh karena darah yang panas, pada saat yang sama darah pun beku oleh salju yang dingin.

Mayat Cah Bing tetap berdiri tegak kaku, setengah bersandar pada tiang kandang kuda dan tidak sampai ambruk. Dari sini dapat diketahui orang yang membunuhnya pasti sangat gesit dan cepat. Begitu pedangnya menembus tenggorokan Cah Bing, segera pedang dicabut lagi, sedikit pun tidak menggunakan tenaga lebih, makanya mayat Cah Bing juga tidak tersentuh.

Dengan sendirinya Cah Bing berusaha melawan, tapi ketika pedang menembus tenggorokannya, jelas dia belum sempat bergerak, makanya dia masih tegak berdiri di situ.

Cepat benar serangan pedang itu!

Mau tak mau terunjuk juga rasa kejut pada wajah Li Sun-hoan. Ia tahu si Singa Emas Cah Bing sudah terkenal selama 20 thn lebih dan selama itu jarang kecundang. Merek Kim-say-piaukiok juga cukup disegani, semua ini menandakan Cah Bing bukanlah orang lemah. Tapi sekali ini menangkis saja tidak sempat dan tenggorokannya sudah ditembus pedang lawan.

Mendadak Li Sun-hoan berputar dan menerobos ke dalam kedai minum itu. Pintu kedai itu tidak berkerai, di dalam juga tiada meja kursi, hal ini menandakan kedai minum ini tidak menerima tamu dalam cuaca demikian ini.

Ruangan yang cukup luas, hanya pada meja di dekat jendela sana ada beberapa cangkir teh, tapi kebanyakan cangkir teh itu belum pernah dijamah.

Keempat “anak” yang berasal dari Kek-lok-tong itu juga sudah berubah menjadi empat sosok mayat.

Mayat itu sama telentang dengan kepala menghadap keluar dan kaki ke dalam, semuanya tampak menyeringai, kematian mereka juga akibat tenggorokan tertembus pedang.

Ia coba periksa lagi Ki-jikoaycu, orang ini pun rebah di pojok sana, kedua tangannya tampak tergenggam, agaknya menggenggam senjata rahasia, tapi sebelum senjata rahasia andalannya sempat dihamburkan, lebih dulu lehernya sudah ditembus pedang lawan.

Sungguh Li Sun-hoan tidak tahu dirinya terkejut, heran atau harus bergirang, berulang-ulang ia hanya tersenyum, “Cepat amat! Sungguh pedang yang amat cepat!”

Jika kejadian ini dilihatnya satu-tiga haari yang lalu, mungkin sukar baginya untuk menerka siapakah gerangannya yang memiliki ilmu pedang secepat ini, sebab diketahuinya jago pedang nomor satu dari Thian-san yang pernah terkenal dengan julukan “Soat-eng-cu” atau si elang salju, meski ilmu pedangnya juga mengutamakan kecepatan, tapi cara turun tangannya tidak nanti sekeji ini. Apa lagi sudah lama jago pedang nomor satu itu diketahui sudah mengasingkan diri, sampai sekarang mungkin sudah wafat dan terkubur di bawah salju yang tidak pernah cair di puncak Thian-san sana.

Ada lagi tokoh-tokoh sakti yang pernah malang melintang di dunia Kangouw dahulu seperti pendekar besar Sim Long, Him Mau-ji, Ong Lian-hoa dan lain-lain, konon sudah lama mereka berlayar mengarungi samudera dan entah tirakat di mana, mungkin juga sudah lama meninggalkan dunia fana ini. Apa lagi di antara tokoh-tokoh tersebut juga tiada satu pun yang menggunakan pedang.

Tapi selain tokoh-tokoh tersebut, sungguh Li Sun-hoan tidak ingat lagi ilmu pedang siapa yang bisa sedemikian cepat. Dan baru akhir-akhir ini, baru dua hari yang lalu, baru sekarang diketahuinya memang ada seorang yang memiliki kemahiran demikian.

Dia tak lain tak bukan ialah si pemuda A Fei yang misterius, suka menyendiri dan senantiasa kelihatan murung itu.

Li Sun-hoan memejamkan mata dan seakan-akan dapat membayangkan waktu A Fei masuk kedai minum ini, serentak ia disambut oleh para Tongcu dari Kek-lok-tong dan terkepung di tengah.

Tapi baru saja mereka hendak menyerang, belum lagi lenyap seringai mereka, tahu-tahu leher mereka sudah tertembus oleh pedang si A Fei yang secepat kilat.

Ki-jikoaycu bermaksud menghamburkan senjata rahasianya, dia terkenal karena Ginkang dan senjata rahasianya, dengan sendirinya gerakannya sangat cepat, tapi baru saja tangannya memegang senjata rahasia dan belum sempat dihamburkan, tiba-tiba pedang lawan sudah menyambar dan menembus lehernya.

Li Sun-hoan menghela napas gegetun, gumamnya, “Mainan anak kecil … Hah, bahkan ada orang bilang pedangnya seperti mainan anak kecil ….”

Saat lain, tiba-tiba dilihatnya pada tiang sana ada tulisan yang diukir dengan ujung pedang, bunyinya: “Kau membunuhkan Cukat Lui bagiku maka kubunuhkan orang-orang ini bagimu. Tidak lagi kutang padamu, kutahu, seorang tidak boleh berutang! ….”

Habis membaca, Li Sun-hoan menggeleng sambil tersenyum, “Hanya seorang saja yang kubunuh bagimu, tapi kau telah membunuh enam orang bagiku. Kau tahu orang tidak boleh utang, tapi mengapa kau bikin kutang padamu?”

Ia baca lebih lanjut tulisan tadi: “Meski orang yang kubunuh bagimu lebih banyak, tapi keadaannya tidak sama, orang yang kau bunuh dapat disamakan dengan keenam orang ini. Sebab itulah selanjutnya kita pun lunas, kau tidak utang padaku, aku pun tidak utang padamu!”

“Tapi ilmu hitung dagangmu terasa kurang cerdik, tampaknya kau tidak dapat menjadi pedagang,” ujar Li Sun-hoan dengan tertawa.

Selain tulisan tersebut, pada tiang itu terlukis pula ujung panah.

Dengan sendirinya Li Sun-hoan menuju ke arah yang ditunjuk ujung panah itu. Dan baru saja ia masuki sebuah pintu, segera ia mendengar suara jeritan kaget dan sebuah ujung pedang mengkilat telah mengancam dadanya.

Sinar pedang gemerdep, tampak rada gemetar. Yang memegang pedang adalah seorang kakek gemuk, meski blmm putih kumis jenggotnya, tapi kerut mukanya menandakan usianya sudah cukup lanjut.

“Siapa kau?” hardik orang tua itu terhadap Li Sun-hoan dengan kedua tangan memegang pedangnya.

Meski sedapatnya ia menghardik sekerasnya, tapi suaranya justru rada gemetar.

Tiba-tiba Li Sun-hoan dapat mengenalnya, tegurnya dengan tersenyum, “Kau sudah pangling padaku?”

Kakek itu menggeleng.

“Tapi kukenal kau ialah pemilik rumah minum ini, sepuluh tahun yang lalu pernah kau minum beberapa cawan bersamaku.”

Sinar mata si kakek yang waswas tadi agak berkurang, tapi pedang tetap digenggamnya erat-erat, katanya, “Anda she apa?”

“Li,” jawab Sun-hoan.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: