Hidup Bahagia

HIDUP BAHAGIA

Ibnu Abbas ra adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Suatu hari, ia ditanya oleh para tabiin tentang kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab, ada tujuh indikator kebahagiaan dunia.
Pertama, qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qanaah) sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan. Inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang bersyukur sangat memahami sifat-sifat Allah SWT sehingga apa pun yang diberikan Allah, ia menerimanya. Rasul SAW bersabda,”Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita.”
Kedua, al-azwaju shalihah yaitu pasangan hidup yang shaleh. Pasangan yang demikian akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula.
Ketiga, al-auladun abrar yaitu anak yang saleh. Saat Rasulullah SAW sedang tawaf, beliau bertemu seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Selesai tawaf, Rasulullah SAW bertanya,”Kenapa pundakmu?” “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya punya ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencitai beliau dan tidak pernah melepaskannya. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, saat shalat, atau ketika istirahat. Selain itu sisanya selalu menggendongnya,”jawab anak muda tadi. Anak muda itu bertanya,”Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk orang yang sudah berbakti kepada orang tua?”. Sambil memeluk anak muda itu, Rasul berkata,”Sungguh Allah rida kepadamu, kamu anak yang saleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah cinta orang tuamu tidak akan terbalas olehmu.”
Keempat, albiatu shalihah, yaitu lingkungan yang kondusif. Rasul menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang saleh.
Kelima, al-malul halal atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta, melainkan halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab Sedekah, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan,”Kamu berdoa sudah bagus, namun makanan, minuman dan pakaian serta tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya terkabul?”
Keenam, tafaquh fi ad-din atau semangat untuk memahami agama. Hal ini diwujudkan dalam memahami ilmu-ilmu agama Islam. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu. Ketujuh, umur yang berkah.
Selain berusaha keras, juga berdoa kepada Allah untuk dapat menggapai ketujuh indikator itu. “Rabbana aatina fid dunyaa hasanah” (Ya Allah karunikanlah aku kebahagiaan di dunia), juga “wa fil akhirati hasanah” (serta kebahagiaan di akhirat). Kebahagiaan akhirat bukanlah surga, melainkan rahmat Allah. “Amal saleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga.” Lalu, para sahabat bertanya,”Bagaimana dengan engkau ya Rasulullah?” Jawab Rasul,”Amal saleh sayapun tidak cukup.” Lalu, para sahabat bertanya,”Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Nabi SAW menjawab,”Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata.”

Oleh. Hery Sucipto
Republika, 11 Juli 2011

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: