Pendekar Budiman: Bagian 21

Pendekar Budiman: Bagian 21

“Sebenarnya tidak ingin kuperlakukan dia cara begini,” tukas Siau-hun dengan menghela napas menyesal, “Namun… manusia tidak bermaksud mencelakai harimau, sebaliknya harimau yang akan bikin susah manusia. Setelah pengalaman yang sudah lalu, aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi di luar dugaan.”
“Dan di mana pisaunya?” tiba-tiba Bu-bing bertanya lagi.
“Apakah… apakah Hing-siansing ingin melihat pisaunya?” tanya Siau-hun dengan ragu.
Hing Bu-bing tidak menjawab, sebab ia merasakan pertanyaan itu mestinya tidak perlu ditanyakan.
Akhirnya Liong Siau-hun mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya.
Pisau yang sangat enteng, sangat pendek, sangat tipis, hampir serupa sehelai daun liu.
Perlahan Hing Bu-bing meraba pisau yang tipis ringan itu seperti orang yang sangat tertarik dan merasa sayang untuk melepaskannya lagi.
Dengan tertawa Siau-hun berkata, “Padahal, ini hanya sebilah pisau yang sangat umum dan tidak dapat dianggap sebagai senjata.”
“Senjata?….” jengek Bu-bing. “Orang semacam kau setimpal untuk bicara tentang senjata?”
Mendadak sorot matanya beralih ke arah Liong Siau-hun, tanyanya dengan ketus, “Apakah kau tahu apa artinya senjata?”
Meski sorot matanya buram, namun tetap membawa semacam daya pengaruh yang aneh, serupa mata hantu yang menakutkan.
Seketika Liong Siau-hun merasa napas pun sesak, jawabnya sambil menyengir, “Mohon petunjuk.”
Pandangan Hing Bu-bing beralih kembali pada mata pisau, katanya, “Alat yang dapat membunuh orang itulah disebut senjata, kalau tidak, sekalipun pedang pusaka atau golok wasiat, berada di tangan orang semacam dirimu tetap serupa besi tua belaka.”
“Ya, pandangan Hing-siansing memang tepat, sungguh sangat….”
Hing Bu-bing tidak menghiraukan apa yang diucapkan Liong Siau-hun, katanya pula mendadak, “Apakah kau tahu sampai saat ini berapa banyak orang yang mati di bawah pisau semacam ini?”
“Wah, mungkin su… sukar dihitung?” jawab Siau-hun.
“Kenapa tidak dapat dihitung?” jengek Hing Bu-bing.
Padahal Kim-ci-pang baru berdiri dua tahun terakhir ini, sebabnya Kim-ci-pang dapat menjagoi dunia Kangouw dalam waktu sesingkat ini tentu saja bukan karena nasib mujur belaka melainkan karena organisasinya yang rapi dan pimpinannya yang lihai.
Liong Siau-hun juga pernah mendengar sebelum Kim-ci-pang berdiri lebih dulu mereka telah menyelidiki seluk-beluk setiap orang Kangouw yang sedikit punya nama, untuk itu jelas diperlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Namun Liong Siau-hun masih sangsi juga, ia menegas, “Benar dapat dihitung dengan jelas? Memangnya berjumlah berapa?”
“Tujuh puluh enam,” kata Bu-bing. “Di antara ke-76 orang ini, tiada seorang pun lebih lemah kungfunya daripadamu.”
Siau-hun hanya menyengir saja, ia memandang Li Sun-hoan, seperti ingin kesaksiannya apakah betul jumlah yang disebut Hing Bu-bing itu.
Tapi tampaknya tenaga untuk mengangguk saja tidak dimiliki Li Sun-hoan lagi.
Liong Siau-in berkedip-kedip, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “Apabila Li Sun-hoan sendiri juga mati di bawah pisau semacam ini baru benar-benar menyenangkan….”
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu sinar pisau berkelebat, pisau menyambar ke arah Li Sun-hoan.
Tapi pisau tidak langsung menyerang tenggorokan Li Sun-hoan melainkan membelok di tengah jalan dan “trang”, pisau jatuh di samping Sun-hoan.
Ternyata kepandaian menggunakan senjata rahasia Hing Bu-bing juga tidak rendah.
“Buka hiat-tonya,” kata Hing Bu-bing mendadak.
Liong Siau-hun melengak, “Akan tetapi….”
Hing Bu-bing tidak memberi kesempatan bicara baginya, dengan suara bengis ia membentak, “Kubilang buka hiat-tonya.”
Siau-hun saling pandang sekejap dengan anaknya, segera ia pun paham maksudnya.
“Yang dikehendaki Siangkoan-pangcu hanyalah Li Sun-hoan tanpa peduli dia mati atau hidup, begitu tentunya?”
“Ya, Siangkoan-lopek sendiri tidak minum arak setetes pun, dengan sendirinya beliau sangat benci kepada setan arak,” ujar Siau-in dengan tertawa. “Setan arak sejati bilamana sudah mati baru takkan minum arak dan tidak menjemukan.”
“Apalagi, membawa pulang seorang mati akan jauh lebih leluasa daripada membawa seorang hidup,” sambung Liong Siau-hun. “Juga tidak perlu khawatir akan terjadi sesuatu di luar dugaan.”
“Tapi Hing-siansing tentu takkan turun tangan terhadap seorang yang tidak mampu melawan, maka….”
“Apakah ocehan kalian tidak terlalu banyak?!” bentak Hing Bu-bing.
“Ya, ya, segera kubuka hiat-tonya,” kata Siau-hun.
Yang menutuk Li Sun-hoan ialah Siau-hun sendiri, untuk membuka hiat-tonya tentu juga sangat mudah.
Siau-hun tepuk-tepuk pundak Li Sun-hoan katanya, “Saudaraku, tampaknya Hing-siansing bermaksud bertanding denganmu, ilmu pedang Hing-siansing sangat tinggi, caramu menghadapi beliau janganlah ceroboh.”
Dalam keadaan begitu dia masih dapat memanggil “saudaraku” dengan mesranya, bahkan kelihatan sangat memerhatikannya. Sungguh manusia munafik yang sukar dicari bandingannya.
Sun-hoan tidak bersuara, memangnya apa yang dapat dikatakannya? Ia cuma tersenyum hambar saja, perlahan ia jemput pisau di sebelahnya.
Dipandangnya pisau itu lekat-lekat, hampir saja air mata menitik.
Memang inilah pisau kilat si Li yang sekali timpuk tidak pernah meleset. Sekarang pisau sudah berada kembali dalam tangannya. Akan tetapi apakah dia masih mampu menyambitkannya?
Wanita cantik pada umur lanjut, kesatria menghadapi jalan buntu, semua ini adalah kedukaan yang apa boleh buat, kedukaan yang menimbulkan simpati dan juga membuat orang merasa gegetun.
Tapi di sini tidak ada seorang pun bersimpati padanya, terlebih tidak ada seorang pun yang gegetun.
Sorot mata Liong Siau-in menampilkan cahaya yang licik, ucapnya, “Pisau kilat si Li, sekali timpuk tidak pernah meleset. Sekali ini entah masih manjur atau tidak?”
Sun-hoan mengangkat kepala dan memandangnya sejenak, lalu menunduk pula.
“Apabila aku hendak membunuh orang, tentu kuberi kesempatan lebih dulu kepada orang itu,” kata Hing Bu-bing. “Nah, sekarang inilah kesempatanmu yang terakhir, kau paham tidak?”
Sun-hoan tersenyum, senyuman pedih.
“Baik, berdirilah!” kata Bu-bing pula.
Napas Sun-hoan tampak tersengal, kembali ia terbatuk-batuk lagi.
“Wah, tampaknya Paman Li tidak sanggup berdiri lagi, biarlah kupayang dirimu,” kata Siau-in sambil berkedip-kedip, lalu sambungnya lagi dengan tertawa, “Tapi, tampaknya bantuanku tidak diperlukan. Konon pisau terbang Paman Li bukan saja dapat disambitkan dalam keadaan berduduk, bahkan selagi berbaring pun sanggup menyambitkannya dengan sama jitunya.”
Sun-hoan menghela napas, seperti mau bicara. Tapi sebelum dia bersuara, mendadak seorang menerjang masuk.
A Fei!
Wajah A Fei tampak pucat pasi serupa mayat, ujung mulut berdarah. Dalam sekejap ini dia kelihatan sudah banyak lebih tua.
Ia berlari masuk dan serentak berhenti, dan begitu berhenti lantas tegak kuat serupa batu karang.
“Engkau belum kapok?” kata Hing Bu-bing.
Sun-hoan mengangkat kepala lagi menatap A Fei, air mata terharu hampir saja menitik.
A Fei memandangnya sekejap, lalu berpaling ke arah Hing Bu-bing dan menjawab sekata demi sekata, “Jika kau mau bunuh dia, lebih dulu harus bunuh diriku!”
Ia bicara dengan tenang, mantap, tanpa emosi. Hal ini lebih membuktikan betapa teguh tekadnya.
Mata Hing Bu-bing yang buram itu kembali terjadi perubahan aneh, katanya, “Engkau tidak memikirkan si dia lagi?”
“Jika kumati, dia tetap dapat hidup terus,” kata A Fei.
Meski tetap tenang pada waktu berucap demikian, namun tidak urung sinar matanya menampilkan semacam rasa pedih, napas pun terasa agak sesak.
Hal ini tentu saja tidak dapat mengelabui pandangan Hing Bu-bing, dalam hatinya seketika seperti mendapatkan semacam hiburan dan rasa bebas yang aneh, ucapnya hambar, “Engkau tidak khawatir dia akan berduka?”
“Daripada hidup tidak tenteram kan lebih baik mati, jika aku tidak tenteram, tentu dia tambah berduka,” kata A Fei.
“Kau yakin dia orang semacam ini?”
“Tentu saja.”
Dalam pandangan A Fei, Lim Sian-ji bukan saja dewi, bahkan juga perawan suci.
Mendadak ujung mulut Hing Bu-bing menampilkan secercah senyuman. Siapa pun tidak pernah melihat dia tertawa, sampai ia sendiri pun tidak ingat bilakah dia pernah tertawa.
Senyumnya sangat aneh, otot daging pada wajahnya sudah tidak terbiasa untuk tertawa, sudah kaku.
Dia tidak suka tertawa, sebab tertawa dapat melunakkan orang, tapi tertawanya sekarang tidak sama, tertawa ini serupa pedang. Cuma yang dicelakai pedang adalah jiwa manusia, sedangkan tertawa ini melukai hati.
Sama sekali A Fei tidak mengerti untuk apakah Hing Bu-bing tertawa, jengeknya, “Tidak perlu kau tertawa, meski engkau ada delapan bagian kesempatan untuk membunuhku, tapi juga ada dua bagian kemungkinan kau akan mati di bawah pedangku.”
Mendadak lenyap senyuman Hing Bu-bing, katanya, “Sudah kukatakan takkan kubunuh dirimu, maka tetap akan kuberi hidup padamu.”
“Tidak perlu,” kata A Fei.
“Tetap kuberikan hidup padamu, lihat….” belum habis ucapan Hing Bu-bing segera sinar pedang beterbangan.
Di tengah kelebat sinar pedang terdapat pula selarik sinar yang jauh lebih cepat daripada sinar pedang. Dalam sekejap itu segala cahaya lantas lenyap dan segala gerakan juga berhenti.
Pedang Hing Bu-bing tepat menusuk bahu A Fei, tapi cuma dua-tiga senti dalamnya. Sebaliknya jarak ujung pedang A Fei dengan tenggorokan lawan masih ada lima-enam senti.
Darah mulai merembes keluar dari bahu A Fei, membasahi baju dan menjadi merah.
Pada bahu Hing Bu-bing tahu-tahu juga tertancap sebilah pisau, pisau kilat si Li.
Kekuatan gaib apakah yang mendorong Li Sun-hoan menyambitkan pisaunya?
Wajah Liong Siau-hun dan anaknya sama pucat dan tangan bergemetar, keduanya sama menyurut mundur ke kaki dinding, kedua orang sama terheran dari mana timbulnya tenaga Li Sun-hoan untuk menyambitkan pisaunya?
Sementara itu Li Sun-hoan sudah berdiri.
Perlahan Hing Bu-bing menoleh, memandang Sun-hoan lekat-lekat, sorot matanya yang buram tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan.
Entah selang berapa lama, mendadak ia berkata, “Pisau hebat!”
Sun-hoan tertawa, “Tidak terlalu hebat, soalnya engkau telah meremehkan diriku lebih dulu, sama sekali memandangku dengan sebelah mata, kalau tidak belum tentu dapat kulukaimu.”
“Hm, dapat kau tipu diriku, inilah kepintaranmu, engkau tetap lebih kuat daripadaku,” jengek Bu-bing.
“Aku tidak menipumu, juga tidak kukatakan aku tidak bertenaga lagi, semua ini adalah buah pikiranmu sendiri, matamu yang menipu dirimu sendiri,” ucap Sun-hoan tak acuh.
Hing Bu-bing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul, aku yang salah dan bukan kau.”
Sun-hoan menghela napas, “Bagus, engkau meski seorang pembunuh, tapi bukan siaujin (orang kecil, pengecut).”
Hing Bu-bing melirik sekejap Liong Siau-hun berdua, lalu mendengus, “Siaujin pun tidak setimpal untuk menjadi pembunuh.”
“Baik, pergilah kau,” kata Sun-hoan.
“Mengapa tidak kau bunuh diriku?” tanya Bu-bing mendadak dengan bengis. “Sebab engkau juga tidak membunuh kawanku,” jawab Sun-hoan.
Bu-bing menunduk, memandang pisau yang menancap pada bahunya, katanya perlahan, “Tapi pedangku tadi mestinya bermaksud menebas sebelah lengannya.”
“Kutahu,” kata Sun-hoan.
“Dan sambitan pisaumu ini sangat ringan,” ucap Bu-bing.
“Bagiku, seorang memberikan satu padaku akan kubalas dia tiga,” jawab Sun-hoan.
Mendadak Hing Bu-bing mengangkat kepala dan memandang Sun-hoan dengan tajam, meski tidak berucap satu kata pun, tapi sorot matanya terjadi perubahan aneh lagi, sama halnya pada waktu dia menatap Siangkoan Kim-hong.
Perlahan Sun-hoan berkata pula, “Ingin kukatakan dua hal padamu.”
“Katakan,” sahut Bu-bing.
“Meski sudah kucederai 76 orang, tapi 28 orang di antaranya tidak mati, yang mati semuanya adalah orang yang memang pantas mati,” tutur Sun-hoan.
Bu-bing diam saja.
Sun-hoan berbatuk lagi beberapa kali, lalu menyambung, “Selama hidupku tidak pernah salah membunuh orang. Sebab itulah… kuharap seterusnya engkau harus lebih banyak berpikir dan menimbang sebelum membunuh orang.”
Hing Bu-bing termenung agak lama, katanya kemudian, “Aku pun ingin memberitahukan sesuatu padamu.”
“Katakan,” jawab Sun-hoan.
“Selama hidupku tidak sudi menerima budi kebaikan orang, terlebih tidak suka diberi petunjuk orang.”
Bicara sampai di sini, mendadak Bu-bing menepuk tangkai pisau yang menancap di bahunya, seketika pisau itu ambles hingga pangkal tangkainya.
Darah segar lantas mengucur. “Trang”, pedang juga jatuh ke lantai.
Tubuh Hing Bu-bing terhuyung, namun wajahnya tetap kaku dan dingin serupa batu karang, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa kesakitan, bahkan otot daging pun tidak bergerak sama sekali.
Tanpa bicara lagi, juga tidak memandang siapa pun, segera ia melangkah pergi.
A Fei kelihatan lesu, ia menghela napas dan berkata, “Selama hidupnya mungkin tidak dapat menggunakan pedang lagi.”
“Dia kan masih punya tangan kanan,” kata Sun-hoan.
“Tapi dia biasa menggunakan tangan kiri, bila menggunakan tangan kanan tentu akan jauh lebih lambat,” ucap A Fei dengan menyesal. “Kau tahu, bagi seorang ahli pedang, lambat berarti mati.”
Biasanya dia jarang menghela napas. Sekarang tidak cuma untuk Hing Bu-bing saja ia menghela napas, tapi juga bagi dirinya sendiri.
Sun-hoan menatapnya dengan sinar mata gemerdep, katanya kemudian, “Seorang asalkan mempunyai kemauan, sekalipun kedua tangannya buntung seluruhnya, dengan mulut menggigit pedang juga dapat dimainkan dengan sama cepatnya. Soalnya sekarang dia sudah patah semangat, biarpun dia menggunakan kedua tangan sekaligus juga tidak berguna.”
Ia tertawa, lalu menyambung, “Di dunia ini hampir semua orang mempunyai dua tangan, tapi berapa orang yang sanggup turun tangan dengan cepat?”
A Fei mendengarkan dengan diam, sinar matanya yang guram akhirnya memancarkan pula cahaya yang tajam.
Mendadak ia berlari maju dan memegang lengan Sun-hoan dengan erat, ucapnya dengan parau, “Ya, kupaham maksudmu.”
“Kupercaya engkau pasti akan paham,” ujar Sun-hoan.
Habis berucap demikian, air mata kedua orang sama bercucuran. Bilamana ada orang ketiga di situ pasti juga menangis terharu.
Cuma sayang, Liong Siau-hun ayah beranak bukan manusia yang berperasaan demikian, diam-diam mereka justru sedang mengeluyur pergi.
Sun-hoan berdiri membelakangi mereka seperti sama sekali tidak mengetahui perbuatan mereka. A Fei juga seperti cuma memandang sekejap dan tidak berucap apa pun.
Setelah kedua ayah dan anak itu mengeluyur ke luar pintu baru A Fei menghela napas dan berkata, “Aku pun tahu engkau tetap akan melepaskan mereka pergi.”
Sun-hoan tertawa, katanya, “Dia pernah menolong jiwaku.”
“Dia cuma menolongmu satu kali, sebaliknya membikin celaka dirimu beberapa kali.”
Pedih sekali senyum Sun-hoan, “Ada sementara urusan sangat sulit teringat, tapi ada juga sementara urusan sukar untuk dilupakan selama hidup.”
A Fei menghela napas, “Hal itu disebabkan ada urusan yang pada hakikatnya tidak mau kau pikirkan.”
Dia mungkin seorang pemuda yang masih hijau, belum berpengalaman akan kehidupan manusia ini, tapi pandangannya terhadap sesuatu segi orang hidup ternyata jauh lebih mendalam dan lebih tajam daripada kebanyakan orang.
Sun-hoan merasa terharu, katanya pula, “Tapi ada sementara urusan meski engkau tidak mau memikirkannya toh justru selalu teringat olehmu. Manusia memang selamanya tidak mampu mengatasi pikiran sendiri, ini pun salah satu di antara sekian macam penderitaan orang hidup.”
“Dan bagaimana dengan dirimu? Apakah engkau cuma teringat kepada kebaikannya karena dia pernah menolongmu dan melupakan urusan lain?”
“Mungkin bukan lupa melainkan tidak terpikir olehku akan dendam padanya, sebab dia juga mempunyai kemasygulannya sendiri,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum hambar.
A Fei termenung agak lama, mendadak ia tertawa pula, katanya, “Baru sekarang kutahu memang banyak kejadian orang hidup ini sama sekali tidak adil.”
“Tidak adil?” Sun-hoan menegas.
“Ya, tidak adil,” kata A Fei. “Misalnya, ada sementara orang selamanya sangat bajik, sayang dia berbuat sesuatu yang membuatnya menyesal selama hidup, untuk ini orang lain tidak dapat memaafkan dia. ia sendiri juga tidak mampu memaafkan dirinya sendiri.”
Sun-hoan termenung.
Ia paham arti pepatah “sekali kejeblos akan menyesal selamanya”. A Fei menyambung pula, “Tapi orang semacam Liong Siau-hun, selama hidupnya mungkin cuma berbuat sesuatu kebaikan, hanya karena dia pernah menolongmu, maka selamanya pula engkau merasa dia bukanlah manusia yang terlalu busuk.”
Nada ucapan A Fei jelas mengandung rasa penasaran. Tiba-tiba Sun-hoan paham maksudnya.
Nyata dia merasa tidak adil bagi Lim Sian-ji.
A Fei tetap menganggap selama hidup Lim Sian-ji hanya berbuat sekali kesalahan dan Sun-hoan dapat memaafkan dia.
“Cinta” memang ajaib, terkadang sangat manis, terkadang juga sangat pahit, malahan sering pula sangat menakutkan. Dia dapat membuat buta.
Ketika Liong Siau-hun dan anaknya mengeluyur ke luar, hati mereka bukan saja sangat senang, juga sangat puas.
Dengan tertawa Siau-hun berkata kepada anaknya, “Harus kau ingat, kelemahan orang lain adalah kesempatan baik bagi kita. Orang yang mampu menggunakan setiap kesempatan, selama hidupnya pasti takkan gagal.”
“Kelemahan Li Sun-hoan kini sudah kuketahui seluruhnya,” ujar Siau-in.
“Sebab itulah cepat atau lambat dia akan mati di tangan kita,” tukas Liong Siau-hun. Pada saat itulah mendadak terdengar orang bergelak tertawa. Suara tertawa berkumandang dari emper rumah seberang sana.
Ternyata ada seorang menongkrong di emper rumah dan asyik menggerogoti sepotong paha ayam, ternyata Oh Put-kui alias Oh si gila adanya.
Dia lagi melahap paha ayamnya tanpa menghiraukan kedua ayah beranak ini, seperti paha ayamnya jauh lebih menarik daripada kedua orang ini.
Terdengar dia menjengek, “Hm, kalian tidak perlu kabur secepat ini, Li Sun-hoan pasti takkan mengejar, kalau tidak, mustahil kalian mampu lolos ke luar rumah ini.”
Muka Liong Siau-hun tampak pucat hijau, ia tahu kekuatan Li Sun-hoan, tapi Oh Put-kui juga tidak boleh direcoki.
Mendadak Liong Siau-hun tertawa, katanya sambil menghormat, “Beberapa hari ini engkau telah banyak mengeluarkan biaya untuk meladeni saudaraku itu, sungguh aku harus berterima kasih.”
“Ah, tidak apa, makan Li Sun-hoan tidak banyak, setiap hari hanya sepotong paha ayam dan dua-tiga biji bakpao pun sudah cukup,” ujar si Oh gila dengan adem ayem. “Penjaga pintumu itu juga seorang dungu, setiap kali kututuk hiat-to tidurnya disangkanya dia benar-benar tidur pulas.”
Tidak kepalang gemas Liong Siau-hun, sungguh ia ingin membikin si penjaga pintu tidur untuk selamanya dan tidak perlu mendusin lagi.
Terdengar Oh Put-kui berkata pula, “Engkau pernah menolongku, aku juga telah balas membantumu. Kini utang piutang kita sudah lunas. Terhadap orang semacam dirimu sebenarnya kumalas bicara.”
Siau-hun hanya mendengarkan saja dengan tertawa.
“Tapi ada sesuatu rasanya harus kukatakan padamu, perkataan terakhir.”
“Kusiap mendengarkan,” kata Siau-hun.
“Biarpun engkau ini manusia busuk, Siangkoan Kim-hong terlebih busuk, jika benar engkau hendak mengangkat saudara dengan dia, akan lebih baik bila kau gantung diri saja.”
Habis bicara ia terus melompat ke balik wuwungan rumah sana, hanya sekejap saja lantas menghilang. Liong Siau-hun menggeleng dengan tersenyum, gumamnya, “Tak tersangka soal persaudaraanku dengan Siangkoan Kim-hong telah tersiar secepat ini.”
Saat itu A Fei dan Li Sun-hoan sedang berjalan menyusur kaki dinding. Keduanya tidak ada yang bersuara.
Mereka tahu diam akan terasa lebih akrab dan lebih berharga daripada banyak bicara.
Hari sudah magrib. Di balik dinding tinggi sana ada suara seruling. Suara musik sering membuat orang terkenang pada peristiwa lalu, juga mudah menimbulkan rasa rindu.
Tiba-tiba A Fei berkata, “Aku harus pulang sekarang.”
“Dia sedang menunggumu?” tanya Sun-hoan.
“Ehm,” A Fei mengangguk.
Sun-hoan berpikir sejenak, akhirnya berkata pula, “Kau yakin dia sedang menunggumu?”
Air muka A Fei berubah pucat pula, ucapnya kemudian, “Sekali ini dia yang minta kutolong dirimu.”
Sun-hoan tidak dapat bersuara lagi. Biasanya ia cukup paham akan pribadi Lim Sian-ji, tapi sekali ini sukar baginya untuk menerka maksudnya.
“Selama hidupku ini hanya ada dua orang yang paling karib denganku, kuharap… kuharap kalian juga… juga dapat berkawan.”
Kalimat terakhir ini terputus-putus beberapa bagian baru dapat diucapkan A Fei, suaranya terasa getir juga, jelas hatinya juga sangat pedih.
Sun-hoan memandangi sorot matanya yang pedih itu, timbul juga rasa kasihan dan terharu.
Hanya orang yang pernah jatuh cinta dapat memahami betapa menakutkan kekuatan cinta.
Suara seruling tadi semakin jauh, tapi kedengarannya bertambah memilukan.
Tiba-tiba Sun-hoan berkata, “Aku juga ingin bertemu dengan dia.”
A Fei diam saja.
Sun-hoan tertawa, “Jika tidak leluasa, harap saja sampaikan terima kasihku kepadanya.”
Akhirnya A Fei buka mulut juga, katanya, “Aku cuma… cuma berharap engkau tidak mencelakai dia.”
Mestinya A Fei takkan bicara demikian, sebab ia tahu Li Sun-hoan tidak pernah membikin susah siapa pun. Li Sun-hoan hanya membikin susah dirinya sendiri.
Demi Lim Sian-ji saja A Fei sampai bicara demikian.
Ketika mereka memandang ke depan, tanpa terasa mereka telah berada lagi di jalan raya yang ramai itu.
Jalan ini lebih ramai pada waktu malam daripada siang, di depan setiap penjaja terpasang lampu berkerudung yang terang, setiap penjual sama berteriak-teriak membual tentang barang dagangannya.
Mendadak Sun-hoan berhenti melangkah, terbayang olehnya wajah seorang nona cilik berbaju merah dengan mata yang besar dan dekik pada pipinya bila tertawa.
Segera terlihat olehnya si penjual pangsit di depan sana.
“Apakah Ling-ling masih menunggu di sana?”
Sun-hoan merasa malu, nyata dia telah sama sekali melupakan hal ini.
A Fei juga berhenti melangkah, sorot matanya seperti juga bercahaya. Serupa sorot mata Ling-ling pada waktu pertama kali datang ke sini. Rupanya A Fei juga tidak pernah melihat keramaian tempat ini.
Sun-hoan tertawa. Senang hatinya melihat teman sendiri masih bersifat kekanak-kanakan.
“Sudah lama sekali kita tidak minum bersama,” kata A Fei tiba-tiba.
“Kau ingin minum?” Sun-hoan tertawa.
“Entah mengapa, hanya bila berada bersamamu barulah kuingin minum arak,” ujar A Fei dengan tersenyum.
Melihat temannya tersenyum, hati Sun-hoan tambah gembira, “Baiklah, mari kita minum saja ke warung pangsit mi sana.”
“Bagus, aku memang tidak mampu mentraktir ke rumah makan yang mahal,” kata A Fei.
Di dunia ini memang banyak urusan aneh dan lucu. Misalnya, semakin jelek wajah seorang perempuan semakin suka beraksi. Semakin miskin seorang semakin suka menjamu makan tetamu.
Rumah makan pangsit mi itu tidak terlalu baik, mungkin karena sebagian besar pembeli telah diserobot oleh penjaja di tepi jalan. Meski sekarang adalah waktunya bersantap malam, tapi hanya tiga-empat meja saja yang terisi tamu.
Di meja pojok sana berduduk seorang berbaju putih. Begitu masuk segera Li Sun-hoan dapat melihatnya.
Orang pertama yang dilihat A Fei juga orang berbaju putih ini. Siapa pun kalau masuk ke rumah makan ini, pandangannya pasti akan tertarik oleh orang ini.
Meski berduduk di dalam warung makan yang kecil dan kurang resik, namun tubuh orang ini tetap putih bersih, sedikit pun tidak merasa terganggu.
Ujung mata orang ini sudah ada kerutan, tapi siapa pun takkan bilang dia sudah tua. Bajunya sangat sederhana, tapi mentereng juga.
Semua ini bukan hal yang menimbulkan daya tariknya, yang menarik adalah sikapnya. Semacam keangkuhan yang sukar dilukiskan.
Beberapa meja di sebelahnya sama kosong sebab siapa pun akan merasa rendah diri bilamana duduk berdekatan dengan dia. Dengan kehadirannya, suara tamu lain menjadi lirih juga.
Orang ini tak-lain-tak-bukan adalah orang yang mematahkan pikulan bambu dengan timpukan sepotong uang perak kecil itu, juga orang yang telah pamer tenaga jarinya yang tajam serupa gunting itu.
Entah mengapa dia juga berada di sini? Apakah juga sedang menunggu orang?
Mestinya dia asyik angkat cawan dan minum arak, begitu Sun-hoan masuk ke situ, seketika dia berhenti minum, tanpa berkedip ia pandang Li Sun-hoan.
Di depannya berduduk lagi seorang, yaitu seorang nona cilik berbaju merah dan berkucir.
Nona itu ikut menoleh mengikuti pandangan si baju putih dan segera dilihatnya kedatangan Li Sun-hoan, kontan ia berjingkrak kegirangan dan berlari menyongsong Li Sun-hoan, dipegangnya tangan Sun-hoan erat-erat sambil berseru dengan tertawa, “Kutahu engkau pasti akan datang, kutahu engkau pasti takkan melupakan diriku.”
Ling-ling ternyata benar masih menunggu di sini.
Sun-hoan menjadi terharu juga, ia pun balas menggenggam tangan si nona, katanya, “Sejak tadi kau tunggu di sini?”
Ling-ling mengangguk, matanya tampak merah, ucapnya sambil menggigit bibir, “Mengapa engkau datang terlambat? Sungguh cemas kutunggumu.”
“Apakah benar kau tunggu dia?” tiba-tiba A Fei bertanya.
Baru sekarang Ling-ling melihat A Fei, sikapnya segera berubah menjadi agak aneh. Dengan sendirinya ia kenal A Fei, sebaliknya A Fei tidak kenal dia.
Tentu saja A Fei tidak pernah berkunjung ke vila itu.
Ling-ling berkedip-kedip, katanya kemudian, “Memangnya apa kerjaku di sini jika bukan menunggu dia?”
Dengan dingin A Fei berkata pula, “Kalau tidak menunggu tentu banyak urusan yang dapat dikerjakan. Jika menunggu orang, seharusnya mata menatap ke arah pintu, siapa pun bila sedang menunggu kedatangan seorang tidak mungkin berduduk membelakangi pintu.”
Sama sekali tak terpikir oleh Li Sun-hoan bahwa A Fei dapat bicara demikian.
Biasanya A Fei tidak suka menyinggung perasaan orang, sekarang mendadak sikapnya berubah ketus, bicaranya berubah tajam. Sebab ia tidak tahan melihat orang lain menipu dan berdusta kepada kawannya.
Diam-diam Sun-hoan merasa gegetun.
Di sini pandangan A Fei ternyata sangat tajam, bahkan jauh berbeda daripada orang lain, terhadap kebanyakan urusan dia dapat menilai dengan tepat dan memandang dengan terlebih jelas daripada siapa pun.
Anehnya mengapa di depan Lim Sian-ji dia bisa berubah menjadi buta?
Mata Ling-ling berubah merah dan basah lagi, ucapnya sedih, “Bilamana kau tunggu kedatangan seorang selama sepuluh hari di suatu tempat yang sama, tentu engkau akan tahu mengapa kutunggu dengan duduk membelakangi pintu.”
Perlahan ia mengusap air mata, lalu menyambung dengan sedih, “Pada waktu permulaan, setiap orang yang masuk selalu kuperhatikan, hatiku berdetak, sebab mengira si dia datang. Kemudian baru kusadari, apabila orang yang kau tunggu tidak datang, biarpun matamu memandang ke pintu juga tidak ada gunanya. Bila kau pandang ke arah pintu, hal ini cuma akan menambah gelisahmu, bahkan bisa membuatmu gila.”
A Fei tidak bicara lagi, ia merasa sudah terlalu banyak yang diucapkannya.
Kepala Ling-ling tertunduk lebih rendah, ucapnya pula, “Kalau… kalau saja aku tidak ditemani Lu… Lu-toako ini, mungkin aku pun sudah gila menunggumu.”
Waktu Sun-hoan memandang ke sana, seketika sinar mata kedua orang kebentrok.
Dengan tersenyum Sun-hoan mendekat ke sana dan berucap, “Terima kasih….”
Mendadak si baju putih memotong dengan tak acuh, “Tidak perlu engkau berterima kasih baginya, sebabnya aku berada di sini bukan untuk menemani dia melainkan menunggu kedatanganmu.”
“Kau pun menunggu diriku?” Sun-hoan menegas.
“Ya, menunggumu,” kata si baju putih. Ia tertawa angkuh, lalu menyambung, “Di dunia ini hanya sejumlah kecil saja orang yang berharga kutunggu, dan Li-tamhoa adalah satu di antaranya.”
Belum lagi Sun-hoan memperlihatkan rasa herannya segera Ling-ling mendahului bicara, “Kan tidak kukatakan padamu siapa yang kutunggu, cara bagaimana kau kenal dia?”
Dengan hambar si baju putih berkata, “Selama masih berkelana di dunia Kangouw dan bila engkau ingin hidup lebih lama, maka ada beberapa orang perlu kau kenali, seorang di antaranya ialah Li-tamhoa.”
“Dan siapa lagi beberapa orang lainnya?” tanya A Fei tiba-tiba.
Si baju putih menatapnya tajam, jawabnya, “Yang lain tidak perlu kukatakan, paling sedikit masih ada diriku dan dirimu.”
A Fei memandang tangan sendiri, mendadak sorot matanya menampilkan semacam perasaan rawan dan pedih, perlahan ia membalik tubuh dan berduduk di meja sebelah, lalu berseru minta dibawakan arak.
Cepat pelayan mendekat dan bertanya, “Tuan tamu ingin makan apa?”
“Arak, hanya arak saja!” jawab A Fei.
Kebanyakan peminum tentu tahu bilamana ingin cepat mabuk, maka cara terbaik adalah minum arak melulu tanpa selingan lain. Cuma cara ini jarang digunakan orang meski tahu, sebab seorang kalau tidak lagi tercekam kesedihan tentu berharap dapat mabuk dengan lambat.
Sejak tadi si baju putih selalu memerhatikan A Fei dengan cermat, sorot matanya yang tajam mulai mengendur, bahkan menampilkan semacam perasaan kecewa. Tapi ketika ia berpaling ke arah Li Sun-hoan, teleng matanya serentak mengkeret kecil lagi.
Sun-hoan juga lagi memandang padanya, katanya, “Nama Anda yang mulia….”
“Lu Hong-sian,” si baju putih mendahului menjawab.
Nyata inilah nama yang cukup menggetarkan, nama yang gemilang.
Namun Sun-hoan tidak terkejut, ia cuma tersenyum saja, katanya, “Ternyata benar Si Tombak Sakti Lu-tayhiap.”
“Tombak Sakti sudah mati sepuluh tahun yang lalu,” ucap Lu Hong-sian dengan dingin.
Sekali ini baru dirasakan Li Sun-hoan agak di luar dugaan. Tapi ia tidak bertanya, sebab ia tahu keterangan Lu Hong-sian ini pasti masih bersambung.
Benar juga, segera Lu Hong-sian melanjutkan, “Tombak Sakti sudah mati, tapi Lu Hong-sian belum lagi mati.”
Sun-hoan diam saja seperti lagi menyelami makna ucapan ini. Lu Hong-sian adalah seorang angkuh.
Menurut daftar senjata susunan Pek-hiau-sing, tombaknya mendapat nomor urut kelima, bagi orang lain nomor ini pasti dirasakan suatu kehormatan besar, tapi bagi orang semacam Lu Hong-sian justru dianggapnya suatu hinaan besar.
Betapa pun ia tidak sudi berada di bawah orang lain, tapi ia juga tahu penilaian Pek-hiau-sing pasti tidak keliru.
Sun-hoan pikir tentu dia sudah merusak tombak perak sendiri dan telah meyakinkan sejenis kungfu lain yang lebih hebat.
Maka ia mengangguk perlahan dan berkata, “Ya, betul, seharusnya kuingat Si Tombak Sakti sudah lama mati.”
“Lu Hong-sian juga sudah mati sepuluh tahun dan baru sekarang hidup kembali,” ucap Lu Hong-sian pula sambil menatap Sun-hoan dengan tajam.
Gemerdep sinar mata Li Sun-hoan, “Urusan apa yang membuat Lu-tayhiap hidup kembali?”
Perlahan Lu Hong-sian mengangkat sebelah tangannya, tangan kanan.
Ia taruh tangan ini lurus di atas meja, lalu berucap sekata demi sekata, “Tangan inilah yang membuatku hidup kembali!”
Bagi pandangan orang lain, tangan ini tidaklah terlalu istimewa.
Jarinya sangat panjang, kukunya terpotong rapi, kulit badannya juga halus licin. Semua ini sangat cocok dengan pribadi Lu Hong-sian.
Tapi bila dipandang dengan cermat barulah akan menemukan di mana letak keistimewaan tangannya itu.
Ternyata warna ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah berbeda daripada warna bagian lain.
Kulit ketiga jari ini juga sangat halus dan putih, tapi membawa semacam cahaya yang khas, tidak menyerupai bentuk ruas tulang dengan darah dan daging, tapi lebih mirip terbuat dari semacam logam yang aneh. Namun ketiga jari ini jelas-jelas tumbuh di atas tangannya.
Sungguh aneh, sebuah tangan yang terdiri dari darah dan daging mengapa bisa tumbuh tiga buah jari buatan logam?
Lu Hong-sian memandang tangan sendiri sekian lama, mendadak ia menghela napas panjang, katanya, “Sungguh sialan, Pek-hiau-sing sudah mampus.”
“Kalau tidak mati ada apa?” tanya Sun-hoan.
“Jika dia belum mati tentu ingin kutanya dia apakah tangan boleh dianggap sebagai senjata atau tidak?”
Sun-hoan tertawa, “Baru hari ini kudengar orang mengucapkan kata-kata yang lucu.”
“Oo, kata apa?” tanya Hong-sian.
“Dia bilang hanya alat yang dapat membunuh orang baru dapat dianggap sebagai senjata,” jawab Sun-hoan. “Tangan sebenarnya bukan senjata, tapi tangan yang dapat membunuh orang bukan saja senjata, bahkan juga senjata tajam.”
Lu Hong-sian termenung seperti tidak bergerak sesuatu. Tapi ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah mendadak ambles ke dalam meja.
Tidak menerbitkan sesuatu suara, bahkan arak di dalam cawan yang penuh pun tidak tercecer setitik pun. Begitu gampang jarinya ambles ke dalam meja serupa pisau memotong tahu saja.
“Bilamana tangan ini dapat dianggap sebagai senjata, entah mendapatkan nomor urut keberapa dalam daftar senjata?” ucap Lu Hong-sian.
“Sekarang masih sulit untuk dinilai,” ujar Sun-hoan tak acuh.
“Sebab apa?” tanya Hong-sian. “Sebab yang akan dihadapi senjata adalah manusia dan bukan meja,” kata Sun-hoan.
Tiba-tiba Hong-sian tertawa, tertawa yang sangat angkuh, katanya, “Dalam pandanganku, orang di dunia ini tidak banyak berbeda daripada meja ini.”
“Oo?!” Sun-hoan bersuara ragu.
“Sudah barang tentu ada beberapa orang harus dikecualikan,” sambung Hong-sian perlahan.
“Berapa orang?” tanya Sun-hoan. “Semula kukira ada enam, sekarang baru tahu cuma ada empat orang saja,” dia sengaja melirik A Fei sekejap, lalu menyambung, “Sebab Kwe Ko-yang sudah mati, masih ada lagi satu, meski masih hidup, tapi tiada ubahnya seperti sudah mati.”
A Fei berdiri membelakangi Lu Hong-sian sehingga dia tidak tahu lirikannya dari air mukanya. Tapi pada saat itu juga air muka A Fei berubah hijau pula, nyata ia pun dapat menangkap arti ucapan Lu Hong-sian itu.
Tiba-tiba Sun-hoan tertawa dan berkata, “Orang itu juga dapat hidup kembali, bahkan kuyakin tidak perlu sampai sepuluh tahun.”
“Ah, kukira belum tentu,” ujar Hong-sian.
“Jika Anda dapat hidup kembali, mengapa orang lain tidak?”
“Kan tidak sama.”
“Apa yang tidak sama?”
“Sebab kematianku kan tidak mati di tangan orang perempuan, juga hatiku tidak pernah mati.”
“Krak”, cawan arak yang dipegang A Fei terpencet remuk. Namun dia tetap duduk diam saja tanpa bergerak.
Lu Hong-sian tidak memandangnya, dia tetap menatap Li Sun-hoan, katanya, “Kedatanganku kali ini justru ingin mencari keempat orang ini untuk membuktikan tanganku apakah dapat dianggap sebagai senjata atau tidak, makanya kutunggumu di sini.”
Lama juga Sun-hoan termenung, katanya kemudian, “Engkau berkeras akan membuktikannya?”
“Ya, harus,” jawab Hong-sian.
“Akan kau buktikan untuk siapa?”
“Untuk diriku sendiri.”
Mendadak Sun-hoan tertawa pula, katanya, “Betul juga, setiap orang dapat ditipu, hanya dirinya sendiri selamanya takkan tertipu….”
Serentak Lu Hong-sian berbangkit, ucapnya tegas, “Akan kutunggumu di luar!”
Entah sejak kapan tetamu warung makan ini sudah pergi seluruhnya. Ling-ling tampak pucat ketakutan.
Perlahan Sun-hoan berdiri.
Tiba-tiba Ling-ling memegang lengan bajunya dan berkata khawatir, “Engkau akan… akan keluar?”
Sun-hoan tersenyum kecut, katanya, “Ada sementara urusan, selama engkau masih hidup, betapa pun kau hindari tetap tidak bisa.”
Pandangannya beralih ke arah A Fei. Namun A Fei tidak menoleh.
Sementara itu Lu Hong-sian sudah hampir melangkah keluar pintu.
“Nanti dulu!” sekonyong-konyong A Fei berseru.
Serentak Hong-sian berhenti, tapi juga tidak berpaling, ia cuma mendengus, “Kau pun ingin bicara?”
“Betul, aku pun ingin membuktikan sesuatu,” ujar A Fei.
“Kau ingin membuktikan apa?” tanya Hong-sian.
Tangan A Fei tergenggam erat, dia masih menggenggam remukan cawan. Darah tampak merembes dan menitik. Sekata demi sekata ia menjawab, “Aku cuma ingin membuktikan sesungguhnya aku masih hidup atau sudah mati?!”
Serentak Hong-sian berpaling. Dia memandangnya seperti baru pertama kali ini melihat si A Fei.
Kemudian teleng matanya mulai mengkeret kecil lagi, tapi ujung mulutnya menampilkan senyuman mengejek, “Baik, kau pun kutunggu di luar.”
Di dunia Kangouw hampir setiap hari terjadi duel, pertarungan maut. Berbagai macam orang dengan berbagai alasan dan cara yang tidak sama melakukan duel. Tapi tempat berlangsungnya duel hanya terdiri dari beberapa macam saja. Di hutan belukar, di tanah pegunungan, di tempat kuburan…. Bila terjadi duel sampai mati, kebanyakan pasti berlangsung di tempat-tempat tersebut. Tempat-tempat itu sendiri seperti sudah membawa suasana “kematian”.
Malam tambah larut dan berkabut.
Baju Lu Hong-sian putih bersih laksana salju, dia berdiri diam di depan batu nisan, di tengah remang kabut malam dia serupa utusan dari akhirat yang membawakan berita kematian bagi orang di dunia.
Ling-ling setengah menggelendot di samping Li Sun-hoan, seperti rada gemetar. Entah karena kedinginan atau karena takut.
“Engkau menyingkir saja,” kata A Fei tiba-tiba.
“Aku….” Ling-ling tergegap.
“Pergi, lekas!” kata A Fei pula.
Ling-ling menggigit bibir, ia menengadah dan memandang Li Sun-hoan. Sorot mata Li Sun-hoan seperti tertuju ke tempat jauh sana.
Apakah hatinya memang sudah jauh? Atau kabut terlalu tebal?
Ling-ling menunduk, ucapnya dengan lirih, “Apa… apa yang akan kalian bicarakan tidak boleh kudengar?”
“Tidak boleh, siapa pun tidak boleh ikut mendengarkan,” kata A Fei.
Perlahan Sun-hoan menghela napas, ucapnya lembut, “Orang telah menemanimu sekian hari, sedikitnya harus kau temani dia juga.”
Mendadak Ling-ling mengentak kaki dan berteriak, “Pada hakikatnya aku tidak ingin tinggal di sini dan tidak ingin kemari. Orang-orang semacam kalian ini hanya tahu bunuh-membunuh dan tidak tahu urusan lain, sesungguhnya untuk apa kalian saling bunuh, mungkin kalian sendiri pun tidak tahu. Jika hanya cara demikian baru terhitung pahlawan atau kesatria, maka lebih baik segenap kesatria dan pahlawan di dunia ini mati ludes saja.”
Sun-hoan, A Fei dan Lu Hong-sian hanya mendengarkan dengan tenang. Lalu menyaksikan nona cilik itu berlari pergi secepat terbang.
Malahan A Fei tidak memandangnya lagi, sejenak kemudian barulah ia menatap Li Sun-hoan dan berkata, “Selamanya tidak pernah kuminta sesuatu padamu, bukan?”
“Selamanya engkau memang tidak pernah memohon kepada orang lain,” ujar Sun-hoan. “Tapi sekarang justru ada sesuatu ingin kumohon kepadamu,” kata A Fei.
“Silakan bicara,” jawab Sun-hoan.
A Fei menggereget, lalu berkata, “Sekali ini apa pun juga jangan kau rintangiku, harus membiarkan kumaju sendiri. Jika engkau berebut turun tangan denganku, biarlah aku… aku mati saja.”
“Akan… akan tetapi engkau tidak perlu berbuat demikian,” ujar Sun-hoan dengan pedih.
“Tidak, ini harus kulakukan, sebab… sebab ucapan Lu Hong-sian memang tidak salah, bila keadaanku terus berlangsung cara begini kan tidak banyak bedanya daripada mati. Maka tidak boleh kulepaskan kesempatan baik ini.”
“Kesempatan baik?” Sun-hoan menegas.
“Ya, jika aku ingin hidup kembali, bila kuingin hidup baru, inilah kesempatanku yang terakhir.”
“Masa selanjutnya tidak ada kesempatan lagi?”
A Fei menggeleng, “Biarpun selanjutnya masih ada kesempatan, namun bila… bila aku kehilangan keberanian ini selanjutnya tentu takkan ada keberanian lagi.”
Agak lama Sun-hoan termenung, ucapnya kemudian dengan menyesal, “Ya, kutahu maksudmu, cuma….”
“Kutahu gerak tanganku sudah sangat lamban,” sela A Fei. “Sebab selama dua tahun ini aku pun merasakan gerak refleksiku telah banyak lebih lamban, bahkan terasa sudah kaku.”
“Tapi asalkan tekadmu masih ada, segalanya pasti akan pulih kembali,” ujar Sun-hoan dengan suara lembut. “Hanya saja sekarang belum waktunya.”
“Tidak, justru sekaranglah waktunya,” kata A Fei.
“Sekarang? Kenapa?” tanya Sun-hoan.
Perlahan A Fei membuka telapak tangannya, darah sudah berlumuran, remukan cawan masih menancap dalam dagingnya, katanya, “Sebab sekarang tiba-tiba kurasakan penderitaan fisik selain dapat mengurangi kemasygulan dalam hati, bahkan juga dapat membuat orang sadar dan bangkit kembali, juga dapat membuat orang terlebih peka.”
Apa yang diucapkannya memang tidak salah.
Siksa derita dapat merangsang saraf orang membuat reaksi orang terlebih cepat, lebih peka, juga dapat menimbulkan daya gerak seorang yang tersimpan. Umpama seekor kuda, tatkala kau cambuk dia dan membuatnya kesakitan, tentu juga dia akan lari terlebih cepat.
Binatang buas yang terluka sering kali juga lebih menakutkan daripada keadaan biasa.
Sun-hoan termenung sejenak, lalu ia bertanya, “Engkau yakin benar?”
“Engkau sendiri tidak yakin akan kesanggupanku?” A Fei balas bertanya.
Sun-hoan tertawa, ditepuknya pundak A Fei dengan kuat, katanya, “Baik, majulah!”
Tapi A Fei lantas termenung malah, akhirnya ia berkata, “Nona kecil tadi… siapakah dia?”
“Namanya Ling-ling, nasibnya juga pantas dikasihani,” tutur Sun-hoan.
“Aku cuma tahu dia sangat pintar berdusta,” ujar A Fei.
“Oo?!”
“Jika benar dia lagi menunggu dirimu, dengan sendirinya dia akan sangat memerhatikan dirimu.”
“Mungkin….”
“Keadaanmu sekarang jelas kelihatan pernah mengalami banyak siksaan, tapi sama sekali dia tidak bertanya mengapa engkau berubah menjadi begini.”
“Bisa jadi dia belum sempat bertanya,” ujar Sun-hoan tak acuh.
“Seorang anak perempuan jika benar-benar memerhatikan seorang lelaki tentu dia tidak perlu menunggu kesempatan apa segala.”
Kembali Sun-hoan termenung, mendadak ia tertawa, “Memangnya kau takut aku tertipu olehnya?”
“Aku cuma tahu ucapannya tidak benar.”
“Bilamana kau ingin hidup gembira, maka janganlah sekali-kali kau harapkan orang perempuan akan bicara sebenarnya kepadamu,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.
“Masa kau anggap setiap orang perempuan pasti berdusta?” tanya A Fei.
Jelas Sun-hoan tidak mau menjawabnya secara langsung, katanya pula, “Jika engkau seorang cerdik, hendaknya selanjutnya jangan secara terang-terangan kau bongkar kebohongan seorang perempuan, sebab sekalipun sudah kau bongkar kebohongannya toh dia tetap dapat memberi alasan dan tetap tidak mau mengaku telah berdusta.”
Ia tertawa dan menyambung, “Maka, bila engkau berhadapan dengan seorang perempuan pembohong, jalan paling baik adalah sengaja berlagak percaya penuh kepada ucapannya, kalau tidak, engkaulah yang mencari susah sendiri.”
Sampai lama A Fei menatap Sun-hoan.
“Apakah engkau ingin omong apa-apa lagi?” tanya Sun-hoan.
A Fei tertawa, jawabnya, “Umpama ada rasanya juga tidak perlu kukatakan lagi, sebab apa yang ingin kukatakan seluruhnya sudah kau ketahui.”
Memandangi bayangan punggung A Fei, tiba-tiba timbul rasa senang tak terhingga dalam hati Li Sun-hoan.
Anak muda yang keras ternyata tidak jadi ambruk. Bahkan sekali ini dia telah banyak bicara, dan sama sekali tidak menyebut Lim Sian-ji.
Betapa pun cinta tetap tidak dapat mengangkangi seluruh kehidupan seorang lelaki.
Betapa pun A Fei masih tetap seorang lelaki sejati.
Bilamana seorang lelaki merasa hidup sendiri adalah semacam penghinaan, maka dia akan lebih suka tidak bertemu lagi selamanya dengan perempuan yang dicintainya, lebih suka mengembara menjelajah jagat raya ini, lebih suka mati saja. Sebab ia merasa malu untuk bertemu lagi dengan dia.
Akan tetapi dapatkah A Fei mengalahkan Lu Hong-sian?
Apabila sekali ini dia kalah lagi, biarpun Lu Hong-sian tidak membunuhnya, dapatkah dia hidup terus?
Sun-hoan terbatuk-batuk keras lagi, batuk berdarah.
Lu Hong-sian sudah menunggu di sana tanpa bicara. Orang ini benar-benar sangat sabar.
Hanya musuh yang sabar adalah lawan yang menakutkan.
Mendadak A Fei menarik bajunya hingga terlepas, tangannya yang berdarah itu berusap pada tubuhnya sehingga remukan cawan menusuk daging tangannya lagi.
Darah tetap kelihatan merah segar di tengah remang malam berkabut.
Hanya darah saja yang dapat merangsang sifat kebinatangan manusia. Cinta berahi dan dendam kesumat, barang lain mungkin juga bisa, tapi pasti tidak secepat rangsangan darah segar.
A Fei seperti berada kembali di tengah ladang belukar dengan hukum rimbanya: “Bilamana engkau ingin mempertahankan hidup, maka lawanmu harus kau matikan!”
Lu Hong-sian menyaksikan A Fei semakin mendekat, mendadak dirasakan semacam daya tekan yang sukar dilukiskan.
Tiba-tiba dirasakannya yang mendekat ini pada hakikatnya bukanlah manusia melainkan seekor binatang buas. Binatang buas yang terluka.
“Beda antara kawan dan lawan serupa juga beda antara hidup dan mati.”
“Jika ada orang menghendaki kematianmu, maka kau pun harus menghendaki kematiannya. Sama sekali tidak ada pilihan lain di luar keduanya.”
Itulah prinsip hukum rimba, prinsip untuk hidup. “Mengampuni” di tempat-tempat tertentu sama sekali tidak berlaku.
Darah mengalir, terus mengalir. Setiap urat daging di tubuh A Fei mulai gemetar karena menahan derita, tapi juga semakin membuatnya teguh dan kuat. Sorot matanya pun semakin dingin dan kejam.
Betapa pun Lu Hong-sian tidak paham mengapa anak muda ini mendadak bisa berubah. Namun dia sangat memahami ilmu pedang A Fei.
Letak permainan pedang A Fei yang menakutkan bukan pada “kecepatan” dan “keganasannya” melainkan pada “kejituan” dan “kemantapan”nya.
Sekali A Fei turun tangan harus mematikan lawan, untuk ini sedikitnya harus tujuh bagian akan berhasil barulah ia mau turun tangan. Sebab itulah ia perlu menunggu, menunggu setelah lawan memperlihatkan titik lemah menunggu lawan memberi kesempatan padanya.
A Fei dapat menunggu terlebih lama dan sabar daripada kebanyakan orang.
Tapi sekarang Lu Hong-sian seperti bertekad takkan memberi kesempatan padanya.
Tampaknya Lu Hong-sian hanya berdiri dengan santai di tempatnya, seluruh tubuhnya seperti penuh titik luang, pedang A Fei seakan-akan dapat menusuk setiap bagian tubuhnya itu.
Tapi terlalu banyak titik luang berbalik menjadi tidak ada titik luang. Seluruh orangnya seakan-akan berubah menjadi kosong belaka tak terjaga.
Sun-hoan menyaksikan semua itu dari jauh, sorot matanya menunjukkan rasa khawatir.
Lu Hong-sian memang pantas merasa bangga.
Sungguh Sun-hoan tidak menyangka kungfu orang bisa begini tinggi, ia merasa A Fei tidak ada harapan akan dapat mengalahkan Lu Hong-sian, sebab sama sekali tidak punya kesempatan untuk turun tangan.
Malam tambah larut.
Di tanah pekuburan ini tiba-tiba tampak api hijau gemerdep. Api setan!
Angin meniup dari barat, wajah Lu Hong-sian justru menghadap barat. Ketika angin meniup, setitik api setan itu melayang ke depan Lu Hong-sian.
Hong-sian berkedip dengan tenang, tangan kirinya juga bergerak sedikit, seperti mau mengebas titik api setan ini, tapi segera urung.
Di tengah duel maut, setiap gerakan yang tidak perlu ada kemungkinan mendatangkan bahaya yang fatal.
Cuma meski tangannya tidak jadi bergerak, namun otot daging bagian bahu kiri menjadi tegang karena maksud bergerak yang urung itu, hal ini menimbulkan gangguan pada “kekosongan” yang dipertahankan tadi.
Dengan sendirinya hal ini tidak termasuk kesempatan yang bagus, tapi kesempatan yang paling buruk toh lebih baik daripada sama sekali tidak ada kesempatan. Dan asal ada kesempatan, A Fei pasti tidak mau mengesampingkannya.
Serentak pedangnya bergerak.
Gerak pedang ini sangat besar risikonya. Nasib A Fei selanjutnya bergantung pada berhasil atau tidaknya serangan ini.
Apabila serangannya berhasil, sejak kini A Fei akan bangkit kembali dan mencuci bersih hinaan kekalahannya yang dahulu.
Bilamana serangannya gagal, tentu dia akan tambah tenggelam, umpama tetap hidup juga tiada ubahnya seperti apa yang dikatakan Lu Hong-sian, lebih baik mati daripada hidup.
Tapi serangannya apakah akan berhasil?
Sinar pedang berkelebat dan berhenti mendadak. “Trang”, pedang pun patah.
A Fei menyurut mundur, yang terpegang olehnya adalah pedang patah. Batang pedang yang patah terjepit oleh jari Lu Hong-sian, tapi ujung pedang menancap pada pundaknya.
Nyata meski dia berhasil menjepit pedang A Fei, tapi gerak tangannya jelas agak terlambat.
Darah tampak mengucur dari pundaknya.
Serangan A Fei ternyata berhasil. Wajah anak muda ini seperti mendadak memancarkan semacam cahaya aneh, cahaya kemenangan.
Wajah Lu Hong-sian tidak mengunjuk sesuatu perasaan, ia cuma memandang A Fei dengan dingin, ia tidak mencabut ujung pedang yang menancap di pundaknya.
A Fei juga cuma berdiri diam saja dan tiada maksud untuk menyerang lagi. Rasa kesal dan tekanan batinnya seperti terlampias oleh serangan ini.
Yang diharapkannya hanya “kemenangan” dan bukan nyawa orang.
Agaknya Lu Hong-sian masih menunggu, sampai sekian lama mendadak ia berkata, “Bagus, bagus sekali!”
Makna ucapannya ini sangat jelas, dapat tercetus ucapan ini dari mulut orang semacam Lu Hong-sian, sungguh membuat pendengarnya merasa bersemangat dan merasa bangga.
Pada waktu hendak melangkah pergi mendadak ia menambahkan ucapan, “Apa yang dikatakan Li Sun-hoan memang tidak salah, dia juga tidak keliru menilai dirimu.”
Apa artinya ucapan ini? Apa yang pernah dikatakan Li Sun-hoan kepadanya? Bayangan Lu Hong-sian akhirnya menghilang dalam kegelapan malam.
Wajah Li Sun-hoan yang berseri-seri muncul di hadapan A Fei, ia tepuk pundak anak muda itu dan berkata, “Engkau tetap engkau, kan sudah kukatakan hanya setitik pukulan ini pasti tidak dapat meruntuhkan dirimu. Di dunia ini memang tidak ada panglima yang selalu menang, malaikat pun adakalanya kalah, apalagi manusia?”
Dia tertawa cerah, lalu menyambung pula, “Mulai sekarang tambah kuat rasa kepercayaanku kepadamu….” “Kau anggap selanjutnya aku takkan kalah?” mendadak A Fei memotong ucapannya.
“Ilmu silat Lu Hong-sian pasti tidak di bawah siapa pun, jika dia juga tidak mampu mengelakkan pedangmu, di dunia ini mungkin tiada orang lain lagi yang mampu menghindar.”
“Akan tetapi kurasakan kemenangan ini agak… agak dipaksakan,” ujar A Fei.
“Dipaksakan bagaimana?”
“Cara turun tanganku tidak secepat dulu lagi.”
“Siapa bilang?”
“Tidak perlu dibilang orang lain, dapat kurasakan sendiri….” pandangannya masih terhenti pada arah menghilangnya bayangan Lu Hong-sian tadi, lalu sambungnya perlahan, “Kurasakan seharusnya dia dapat mengalahkan diriku, cara turun tangannya pasti tidak lebih lamban daripadaku.”
“Dia memang sangat hebat, bisa jadi lebih tinggi kungfunya daripadamu, tapi engkau dapat menggunakan kesempatan yang paling baik, di sinilah letak kehebatanmu yang tidak dapat dibandingi orang lain, maka engkau menang,” setelah tertawa, lalu Sun-hoan menyambung, “Sebab itulah meski Lu Hong-sian sudah kalah, tapi dia juga tidak penasaran, bilamana orang semacam Lu Hong-sian saja merasa ikhlas dikalahkan olehmu, masakah engkau tetap tidak percaya pada kekuatan sendiri?”
Akhirnya A Fei tertawa.
Bagi seorang yang pernah mengalami pukulan, rasanya tiada yang lebih berharga daripada sokongan moril sahabat.
Sun-hoan tertawa, “Apa pun juga peristiwa ini pantas dirayakan, kau suka merayakannya dengan cara bagaimana?”
“Arak, tentu saja dengan arak,” kata A Fei dengan tertawa.
“Betul, tentu saja arak,” Sun-hoan terbahak. “Perayaan yang tanpa arak adalah serupa sayur tanpa garam….”
A Fei sudah tidur.
Arak memang sangat ajaib, terkadang dapat membangkitkan gairah orang, terkadang juga dapat menidurkan orang.
Selama beberapa hari ini hampir tidak pernah A Fei tidur. Sekalipun tidur juga mendusin dengan sangat cepat, sungguh sukar dimengertinya mengapa di rumah sendiri begitu dia berbaring segera akan tertidur nyenyak seperti orang mati.
Setelah A Fei tidur, Sun-hoan lantas meninggalkan hotel ini.
Di pengkolan jalan sana masih ada sebuah rumah penginapan lain, mendadak Sun-hoan melompat masuk ke halaman belakang hotel ini.
Di tengah malam buta untuk apa dia mendatangi hotel ini?
Sudah dekat subuh, di sebuah kamar halaman belakang masih ada cahaya lampu. Perlahan Sun-hoan mengetuk pintu.
Segera di dalam ada jawaban orang, “Apakah Li-tamhoa?”
Sun-hoan mengiakan.
Pintu terbuka. Yang membuka pintu ternyata Lu Hong-sian.
Mengapa dia berada di sini? Dari mana Sun-hoan mengetahui tempat tinggalnya dan untuk apa mencarinya? Apakah di antara mereka ada perjanjian rahasia?
Ujung mulut Lu Hong-sian menampilkan semacam senyuman aneh, ucapnya ketus, “Li-tamhoa memang seorang yang pegang janji dan datang tepat waktunya.”
Tiba-tiba suara seorang anak perempuan menyambung, “Kan sudah kukatakan, asalkan dia sudah berjanji, tentu akan ditepati.”
Yang berdiri di belakang Lu Hong-sian ternyata Ling-ling.
Mengapa Ling-ling berada bersama Lu Hong-sian di hotel ini? Sesungguhnya Li Sun-hoan berjanji urusan apa dengan mereka?
Cahaya lampu remang-remang, wajah Sun-hoan kelihatan pucat, ia masuk ke dalam kamar dengan diam, mendadak ia menjura kepada Lu Hong-sian dan berkata, “Terima kasih.”
“Tidak perlu kau terima kasih padaku, sebab pada hakikatnya ini kan suatu bisnis, siapa pun tidak perlu berterima kasih kepada yang lain,” ujar Lu Hong-sian dengan tak acuh.
Sun-hoan tersenyum hambar, “Bisnis semacam ini tidak dapat dilaksanakan setiap orang, dengan sendirinya aku harus berterima kasih padamu.”
“Ya, bisnis ini memang sangat istimewa, sebelum Ling-ling menjelaskan duduknya perkara aku memang terkejut,” ujar Hong-sian.
“Sebab itulah kuminta dia memberi keterangan sejelasnya,” kata Sun-hoan.
“Sebenarnya tidak perlu penjelasan juga dapat kupahami,” kata Hong-sian. “Kau minta aku sengaja mengalah pada A Fei hanya karena engkau menghendaki dia akan bangkit kembali semangatnya dan jangan tenggelam lagi.”
“Memang begitulah maksudku, sebab dia memang berharga bagiku untuk bertindak demikian.” “Hal ini disebabkan engkau adalah sahabatnya, tapi aku bukan, semula aku tidak habis mengerti ada orang dapat mengajukan permintaan janggal ini kepadaku.”
“Tapi akhirnya engkau menyanggupi juga.”
Hong-sian menatapnya dengan tajam, “Apakah sudah kau perhitungkan dengan tepat aku pasti akan menyanggupi permintaanmu?”
Sun-hoan tertawa, “Sedikit banyak aku yakin akan berhasil, sebab kulihat engkau bukanlah orang biasa, hanya orang yang luar biasa sebagai dirimu saja mau menerima urusan yang luar biasa ini.”
Lu Hong-sian masih menatapnya, namun sorot matanya sudah berubah lembut, ucapnya perlahan, “Apakah juga sudah kau perhitungkan dia pasti takkan membunuhku?”
“Kutahu bilamana dia menang sedikit pasti takkan turun tangan lagi,” kata Sun-hoan.
Mendadak Hong-sian menghela napas, “Engkau ternyata tidak salah menilai dia, juga tidak keliru menilai diriku.”
Ia mendengus, lalu menyambung lagi, “Aku cuma berjanji padamu akan mengalah satu jurus kepadanya, artinya, bilamana dia turun tangan lagi, maka jiwanya pasti akan melayang.”
“Kau yakin sanggup?” gemerdep sinar mata Li Sun-hoan.
“Engkau tidak percaya?” tanya Hong-sian bengis.
Sinar mata kedua orang saling tatap, sampai lama barulah Sun-hoan tertawa pula dan berkata, “Sekarang mungkin betul, tapi kelak belum tentu bisa.”
“Sebab itulah seharusnya tidak kuterima permintaanmu. Selama dia masih hidup akan merupakan semacam ancaman bagiku.”
“Tapi ada sementara orang justru suka terancam orang, sebab ancaman juga semacam perangsang, ada perangsang baru ada kemajuan. Seorang kalau benar sudah mencapai puncaknya tanpa ada orang di sekelilingnya, kan terasa hampa dan mengesalkan.”
Lu Hong-sian termenung sekian lama, katanya kemudian, “Bisa jadi betul, tapi kuterima permintaanmu bukanlah lantaran alasan ini.”
Sun-hoan mengangguk, “Tentu saja bukan.”
“Kuterima permintaanmu karena syarat imbalannya cukup menarik,” kata Hong-sian pula.
“Tanpa syarat yang baik mana dapat bicara bisnis dengan orang?”
“Kau bilang asalkan kuterima permintaanmu, engkau juga akan menerima sesuatu permintaanku.”
“Betul,” jawab Sun-hoan.
“Tapi tidak kau tegaskan suatu urusan apa.”
“Ya.”
“Maka dapat kusuruh kau berbuat apa pun.”
“Betul.”
Sekonyong-konyong sinar mata Lu Hong-sian berubah dingin, ucapnya sekata demi sekata, “Dan bila kuminta kau mati, bagaimana?”
Sun-hoan tetap tenang saja, ucapnya tak acuh, “Dengan jiwaku sebagai ganti jiwanya, kan adil juga.”
Ia bicara dengan hambar, bahkan tetap bersenyum serupa jiwa sendiri bukan miliknya lagi, maka tidak perlu dipikirkannya.
Ling-ling yang tidak tahan, tubuhnya gemetar, mendadak ia memburu ke depan Lu Hong-sian sambil berseru dengan parau, “Tidak, kutahu engkau takkan berbuat demikian, kutahu engkau orang baik… betul tidak?”
Mulut Lu Hong-sian terkancing rapat tanpa memandangnya sekejap pun. Ia hanya menatap Sun-hoan dengan dingin, sikapnya kejam dan angkuh.
Orang semacam ini memang tidak pernah memikirkan mati-hidup orang lain.
Ling-ling memandangnya dengan muka pucat, gemetarnya tambah hebat.
Ia sangat memahami pribadi Li Sun-hoan, ia tahu bilamana mulut Lu Hong-sian mengucapkan sepatah kata saja, segera juga Li Sun-hoan akan mati sesuai kehendaknya.
Jika dia dapat hidup bagi orang lain dengan sendirinya juga dapat mati bagi orang lain.
Mati terkadang jauh lebih gampang daripada hidup.
Ia pun sangat memahami pribadi Lu Hong-sian. Jiwa orang lain baginya tidak berharga sepeser pun.
Mendadak Ling-ling jatuh pingsan, sebab ia tidak mau, juga tidak berani mendengar apa yang akan terucap oleh mulut Lu Hong-sian itu.
Pingsan sebenarnya juga semacam karunia Tuhan bagi manusia. Bilamana manusia menghadapi sesuatu yang tidak dapat dilakukannya, tidak dapat dibicarakan atau tidak mau mendengarkannya, sering menggunakan cara “pingsan” ini untuk menghindarnya.
Li Sun-hoan sendiri tidak pernah menghindar. Dia tetap menghadapi Lu Hong-sian, menghadapi kematian.
Entah selang berapa lama, tiba-tiba Lu Hong-sian menghela napas panjang, katanya, “Tak tersangka di dunia ini ada orang semacam dirimu, A Fei dapat bersahabat denganmu, sungguh sangat beruntung.”
Sun-hoan tertawa, “Jika engkau lebih banyak memahami dia, tentu kau tahu akulah yang beruntung mendapatkan sahabat seperti dia.”
Sungguh persahabatan yang luhur, betapa besar rasa persahabatan mereka.
Sinar mata Lu Hong-sian yang dingin itu mendadak menampilkan semacam rasa kesepian. Bilamana seorang merasakan kesepian ini menandakan dia haus akan persahabatan.
Cuma sayang, persahabatan yang luhur ini tidak dapat diperoleh setiap orang.
Dengan dingin Hong-sian berkata lagi, “Jadi maksudmu hendak mengatakan, jika engkau dapat mati baginya, dia juga dapat mati bagimu, begitu?”
“Ya,” jawab Sun-hoan.
“Tapi juga telah kau perhitungkan aku takkan membunuhmu, sedikitnya takkan membunuhmu dalam keadaan demikian, begitu?”
Sun-hoan diam saja. Diam biasanya mengandung dua arti: Membenarkan atau menyangkal.
Hong-sian melototinya, teleng matanya mulai membesar, mendadak ia menghela napas dan berkata, “Ya, aku memang takkan membunuhmu… Apakah kau tahu apa sebabnya?”
Sebelum Sun-hoan menjawab Lu Hong-sian sudah menyambung lagi, “Sebab aku ingin engkau selalu utang padaku, selamanya merasa utang budi padaku….”
Ia tertawa, lalu melanjutkan, “Sebab kalau aku mau membunuhmu, selanjutnya masih ada kesempatan. Sebaliknya kesempatan memberi utang padamu mungkin selamanya takkan kudapatkan lagi.”
Apakah maksudnya dengan hal ini supaya bisa mendapatkan persahabatan dengan Li Sun-hoan?
Sampai lama Sun-hoan termenung, mendadak ia pun tertawa, “Tapi engkau masih ada kesempatan lagi.”
“Oo?!” melengak juga Hong-sian.
“Aku ingin minta sesuatu lagi padamu,” kata Sun-hoan.
Lu Hong-sian terbelalak serupa belum pernah melihat orang semacam Li Sun-hoan, sampai sekian lama baru mendengus, “Bisnis pertama saja belum kau bayar harganya, sekarang kau minta kulakukan pekerjaan lagi. Huh, terhitung bisnis macam apa ini?”
“Ini bukan bisnis, tapi kumohon padamu,” kata Sun-hoan.
Air muka Hong-sian berubah masam, tapi matanya bersinar, katanya, “Jika bukan bisnis, kenapa harus kuterima?”
Sun-hoan tersenyum, sinar matanya bening, cerah dan jujur. Ia tatap Lu Hong-sian, lalu berkata pula, “Sebab inilah permohonanku padamu.”
Jawaban yang aneh, sama sekali berbeda daripada apa yang biasa diucapkan Li Sun-hoan.
Tapi Hong-sian tidak marah, sebaliknya timbul semacam rasa hangat dalam hatinya, sebab dari teleng mata Li Sun-hoan dapat dilihatnya secercah cahaya persahabatan. Cahaya yang abadi, selama sifat manusia tidak punah, selama itu pula tetap ada persahabatan.
Lu Hong-sian bergumam, “Orang lain sama bilang Li Sun-hoan tidak pernah memohon kepada orang, sekarang engkau ternyata mau memohon padaku, tampaknya suatu kehormatan besar bagiku.”
“Aku kan sudah ada utang padamu, apa alangannya jika utangku bertambah lagi sedikit,” ujar Sun-hoan tertawa.
Hong-sian juga tertawa, sekali ini baru benar-benar tertawa. Katanya, “Ada orang bilang belajar cara dagang adalah supaya paham cara bagaimana berutang. Caramu berutang ini tampaknya dapat dinyatakan lulus untuk menjadi pedagang.”
“Engkau terima permohonanku?” tanya Sun-hoan.
Hong-sian menghela napas, “Sedikitnya saat ini belum terpikir olehku untuk menolak, maka lekas kau katakan saja mumpung ada kesempatan.”
Sun-hoan berbatuk beberapa kali, sikapnya berubah prihatin lagi, lalu berucap, “Jika engkau bertemu dengan A Fei pada dua tahun yang lalu, biarpun tidak ada permintaanku mungkin engkau tetap akan dikalahkan olehnya.”
Lu Hong-sian diam saja, entah mengakui secara diam atau berarti menyangkalnya.
“Bila dua tahun yang lalu engkau bertemu dengan dia, tentu akan kau rasakan dia pada waktu itu sama sekali bukan lagi dia yang sekarang.”
“Hanya dalam waktu dua tahun mengapa dia bisa berubah sebanyak ini?” “Soalnya karena pengaruh seorang,” ujar Sun-hoan dengan menyesal.
“Seorang perempuan?” tanya Hong-sian.
“Dengan sendirinya perempuan, mungkin di dunia cuma orang perempuan saja yang dapat mengubah watak seorang lelaki.”
“Dia bukan berubah melainkan dekaden. Seorang kalau dekaden lantaran orang perempuan, maka orang semacam ini tidak pantas mendapatkan simpati, tapi menertawakan karena kebodohannya.”
“Ucapanmu mungkin tidak salah, sebab engkau sendiri belum pernah bertemu dengan perempuan semacam ini.”
“Memangnya bagaimana kalau kutemukan?” “Jika kau temukan dia, bisa jadi engkau pun akan berubah serupa A Fei.”
Hong-sian tertawa, “Kau kira aku ini seorang anak muda yang bodoh dan masih hijau pelonco?”
“Mungkin sudah berbagai macam dan bentuk orang perempuan pernah kau lihat, tapi dia… dia tidak sama dengan perempuan lain.”
“Oo?!” Hong-sian melengak.
“Pernah ada seorang melukiskan dia dengan sangat tepat… Dia serupa bidadari yang suka menyeret lelaki ke neraka.”
Sinar mata Hong-sian gemerdep, katanya tiba-tiba, “Ah, kutahu siapa yang kau maksudkan.”
“Memang seharusnya dapat kau terka siapa dia, sebab di dunia cuma ada seorang perempuan semacam dia, untung juga cuma satu saja, kalau terlalu banyak, tentu kaum lelaki tidak dapat hidup aman.”
“Hal-hal yang menyangkut ‘perempuan cantik nomor satu’ ini sudah banyak kudengar,” kata Hong-sian.
“Sekarang A Fei sudah bangkit kembali, tidak dapat kulihat dia kejeblos lagi, sebab itulah….”
“Sebab itu kau minta kubunuh si dia?” tanya Hong-sian.
Sun-hoan menjawab dengan sedih, “Aku cuma berharap selamanya A Fei jangan melihat dia lagi, sebab bila A Fei melihat dia, maka A Fei sulit untuk menarik diri pula.”
“Mestinya dapat kau laksanakan sendiri,” ujar Hong-sian.
“Namun aku tidak dapat.”
“Sebab apa?”
Pedih senyum Sun-hoan, “Sebab bila diketahui A Fei tentu dia akan membenciku selama hidup.”
“Seharusnya dia tahu tujuanmu adalah untuk kebaikannya.”
Sun-hoan tersenyum getir, “Betapa pintar seorang kalau sudah terpengaruh oleh cinta dan tak bisa menguasai diri, maka berubahlah dia menjadi bodoh.”
“Mengapa tidak kau cari orang lain untuk melakukannya dan mengapa aku yang kau cari?”
“Sebab sekalipun orang lain mampu membunuh dia, tapi setelah bertemu dia mungkin tidak tega turun tangan, sebab…” Sun-hoan menatap Hong-sian dengan tajam, lalu meneruskan, “memang sulit bagiku menemukan seorang yang boleh kumohon bantuannya.”
Sinar mata kedua orang kembali kebentrok, hati Lu Hong-sian tiba-tiba penuh perasaan hangat.
Dari sorot mata Sun-hoan dapat dirasakan kesepian dan kepedihannya. Itulah kesepian dan kepedihan yang cuma dipunyai seorang kesatria. Juga cuma kesatria saja yang dapat memahami betapa pedihnya kesepian semacam ini.
“Dia berada di mana sekarang?” tanya Hong-sian mendadak.
“Ling-ling tahu dia berada di mana,” kata Sun-hoan. “Cuma….”
Sudah cukup lama Ling-ling pingsan dan sampai sekarang belum lagi siuman.
Sun-hoan memandangnya sekejap, katanya pula, “Jika kau ingin dia membawamu ke sana, kukira tidak mudah.”
Hong-sian tertawa, ucapnya mantap, “Untuk ini tidak perlu kau khawatir, aku tentu mempunyai akal.”
Waktu A Fei mendusin, Li Sun-hoan justru masih tidur.
Dalam tidurnya dia masih juga batuk, pada waktu batuknya keras, sekujur badan tampak mengejang saking menderitanya.
Cahaya sang surya menembus masuk melalui jendela.
Baru sekarang dilihat A Fei rambut Sun-hoan sudah banyak yang ubanan, sama banyaknya dengan kerutan pada wajahnya. Hanya sepasang matanya saja yang tetap muda.
Tatkala dia memejamkan mata akan kelihatan pucat dan kurus tua, bahkan sangat lemah. Bajunya tetap yang sudah rombeng, bahkan jarang dicuci.
Siapakah yang nyana di dalam kerangka tubuh yang lemah itu tersimpan iman yang teguh, terkandung moral yang luhur, jiwa yang besar?
A Fei memandangnya dengan air mata berlinang.
Hidup Sun-hoan hanya untuk menahan penggodokan, siksaan dan pukulan yang beraneka macam ragamnya. Tapi dia tetap tidak ambruk, dia tidak merasa kehidupan ini dingin dan kejam serta gelap. Sebab di mana dia berada, di situ lantas ada kehangatan, ada cahaya terang.
Yang dia bawa untuk orang lain selalu kegembiraan, tapi meninggalkan siksa derita bagi diri sendiri.
Air mata A Fei sudah menitik, membasahi wajahnya….
Li Sun-hoan masih tidur nyenyak. Tidur baginya seakan-akan juga berubah menjadi semacam urusan yang langka.
Meski A Fei ingin cepat pulang, ingin lekas melihat wajah yang tersenyum bagai bunga itu, tapi dia tidak sampai hati mengejutkan tidur Sun-hoan, perlahan ia merapatkan daun pintu dan diam-diam melangkah keluar.
Hari masih sangat pagi, cahaya sang surya baru menyinari pucuk pohon, orang yang bepergian sudah berangkat, maka halaman hotel sangat sepi, hanya sebatang pohon waru masih berdiri tegak di tengah tiupan angin dingin yang santer.
Sun-hoan sendiri bukankah serupa pohon waru itu, musim dingin sudah hampir tiba, tapi sebelum tiba saat terakhir mereka takkan menyerah.
A Fei menghela napas, perlahan ia meninggalkan hotel itu.
Ia mampir di rumah penjual kembang tahu. Ia memegangi mangkuk yang berisi kembang tahu yang serupa susu itu dan perlahan menghirupnya.
Cara makannya memang tidak cepat, perlahan kembang tahu mengalir masuk perutnya. Bila perut seorang sudah penuh terisi, seluruh orangnya seakan-akan juga padat.
Dilihatnya dua orang berlalu di depan pintu.
Langkah kedua orang itu tidak cepat, tapi kelihatan agak tergesa, mereka berjalan dengan menunduk, bau sedap kembang tahu pun tidak menarik bagi mereka untuk menoleh barang sekejap saja.
Yang berjalan di depan adalah seorang kakek beruban dengan tubuh agak bungkuk, tangan memegang cangklong tembakau, baju biru yang dipakainya sudah luntur sehingga hampir berubah putih seluruhnya.
Yang ikut di belakangnya adalah seorang nona cilik bermata besar, kucirnya panjang.
A Fei mengenali kedua orang ini adalah si tukang dongeng dan cucu perempuan yang pernah dilihatnya dua tahun yang tahu, ia masih ingat mereka she Sun.
Tapi mereka tidak melihat A Fei, dengan cepat mereka lalu di depan pintu.
Apabila mereka melihat A Fei, segala urusan besar kemungkinan akan berubah sama sekali.
Setelah habis minum semangkuk kembang tahu, waktu A Fei memandang keluar lagi, kembali dilihatnya seorang lewat di depan pintu.
Perawakan orang ini sangat tinggi, berjubah kuning, bertopi serupa caping yang bertepian lebar sehingga mukanya hampir teraling seluruhnya, gaya berjalannya sangat aneh, ia pun tidak berpaling, cara berjalannya juga kelihatan sangat terburu-buru.
Detak jantung A Fei seketika bertambah cepat.
Hing Bu-bing!
Orang itu memang Hing Bu-bing adanya. Pandangannya menatap ke depan, agaknya dia sedang menguntit jejak kakek dan cucu perempuan she Sun itu sehingga tidak diketahuinya A Fei lagi minum kembang tahu di warung tepi jalan.
Tapi A Fei dapat melihatnya, terutama takkan lupa pada pedang yang terselip pada ikat pinggangnya itu. Tapi tak terlihat olehnya lengannya yang buntung. Melulu melihat pedang ini sudah membuat mata A Fei beringas. Pedang inilah yang membuatnya merasakan kekalahan dan penghinaan pertama kalinya. Pedang inilah yang membuatnya hampir runtuh selamanya.
Ia mengepal erat tinjunya sehingga luka pada telapak tangannya pecah lagi serta mengalirkan darah. Tapi rasa sakit mengalir dari tangan ke hati, seketika otot daging sekujur badannya berubah tegang.
Sudah dilupakannya lengan buntung Hing Bu-bing. Yang diharapkan hanya pertandingan ulangan dengan Hing Bu-bing dan tiada lain yang terpikir olehnya.
Dengan cepat Hing Bu-bing juga telah lalu ke sana.
Perlahan A Fei berbangkit, tambah erat genggaman tinjunya, rasa sakitnya juga tambah keras. Makin keras menderita, makin tajam dan peka pula daya perasanya.
Seorang pelayan sedang minum teh di samping pintu, ketika melihat sorot mata A Fei yang beringas itu, saking ngeri cangkirnya jatuh terlepas. Tapi sebelum cangkir jatuh pecah A Fei sempat meraupnya. Tidak ada yang melihat jelas cara bagaimana dia menangkap cangkir itu.
Keruan pelayan melongo kaget.
Mendadak A Fei penuh diliputi rasa kepercayaan pada diri sendiri.
Pada saat itulah kembali seorang berlalu di depan pintu.
Orang ini pun berbaju kuning, topinya juga menutupi setengah mukanya, gaya berjalannya juga sangat aneh, muka pucat sehingga di bawah bayang capingnya kelihatan serupa ukiran batu.
Dia Siangkoan Hui!
A Fei tidak kenal Siangkoan Hui, tapi sekali pandang segera diketahuinya orang ini pasti erat hubungannya dengan Hing Bu-bing, bahkan jelas sedang menguntit jejak orang she Hing itu.
Perawakan Siangkoan Hui lebih pendek sedikit daripada Hing Bu-bing, usianya juga lebih muda, tapi sikapnya yang dingin dan gaya berjalannya serupa saudara kembar dengan Hing Bu-bing. Mengapa diam-diam ia membuntutinya?
Tempat ini memang sangat sepi, bila membelok lagi ke jalan sana tentu tak terlihat lagi bayangannya.
A Fei segera membayangi mereka, dia mempertahankan jarak tertentu di belakang Siangkoan Hui.
Kakek si tukang dongeng bersama cucu perempuannya sudah sejak tadi tak kelihatan lagi, Hing Bu-bing juga cuma kelihatan bayangan kuning dari kejauhan, namun cara berjalan Siangkoan Hui tetap sangat lambat, seperti tidak terburu-buru.
A Fei merasa orang ini sangat pintar dalam hal melacak.
Untuk menguntit jejak seorang tanpa diketahui memang harus dilakukan dengan sabar dan tidak boleh terburu nafsu.
Di depan ada sebuah bukit, Hing Bu-bing sudah melintas ke lereng sana.
Mendadak Siangkoan Hui mempercepat langkahnya, seperti ingin menyusul Hing Bu-bing di balik bukit sana.
Ketika dia juga menghilang di balik bukit, dengan kecepatan penuh A Fei juga menerjang ke atas bukit.
Ia tahu di atas bukit pasti akan dapat menyaksikan hal-hal yang, menarik. Dan dirinya memang tidak kecewa.
Hing Bu-bing tidak pernah merasa takut. Seorang kalau mati saja tidak gentar, apa pula yang ditakutinya?
Tapi sekarang, entah mengapa, sorot matanya membawa semacam rasa keder. Memangnya apa yang ditakutinya?
Suasana di balik bukit semakin sunyi, angin meniup kencang.
Tangan Hing Bu-bing mendadak memegang tangkai pedang. Dengan sendirinya tangan kanan dan bukan tangan yang biasa menggunakan pedang. Pedang pada tangan kanannya bukan lagi senjata tajam pembunuh.
Segera ia menarik kembali tangannya. Langkahnya juga berhenti, seperti menyadari jalannya sudah buntu atau berakhir.
Pada saat itulah didengarnya suara tertawa dingin Siangkoan Hui.
Nyata anak muda itu kini sudah berada di belakang Hing Bu-bing, jengeknya, “Tidak perlu kau main sandiwara lagi.”
Perlahan Bu-bing membalik tubuh, matanya yang pucat kelabu tiada menunjukkan sesuatu perasaan, ia tatap Siangkoan Hui dengan tidak mengerti, sampai sekian lama baru terucap olehnya, “Kau bilang aku lagi main sandiwara?”
“Ya, kubilang engkau lagi main sandiwara,” kata Siangkoan Hui. “Kau sengaja menguntit si Sun tua, padahal engkau tiada perlunya menguntit mereka.”
“Habis untuk apa kubuntuti mereka?”
“Lantaran aku,” kata Siangkoan Hui.
“Kau?” Bu-bing menegas.
“Ya, karena kau tahu aku sedang mengikuti dirimu.”
“Itu disebabkan caramu menguntit kurang pandai,” jengek Bu-bing.
“Meski kurang pandai, tapi sekarang dapat kubunuhmu, tentu kau pun tahu akan kubunuhmu.”
Hing Bu-bing memang tahu, sebab itulah dia tidak terkejut.
Yang terkejut ialah A Fei. Kedua orang ini kan dari seperguruan, mengapa hendak saling membunuh?
“Sudah lama ingin kubunuhmu, apakah kau tahu apa sebabnya?” tanya Siangkoan Hui.
Hing Bu-bing tidak mau menjawab. Biasanya ia cuma bertanya dan tidak menjawab.
Sikap Siangkoan Hui mendadak terangsang, sorot matanya penuh rasa benci, katanya dengan suara bengis, “Di dunia ini bila tidak terdapat dirimu tentu aku dapat hidup lebih baik, engkau tidak cuma merampas kedudukanku, juga merampas ayahku. Sejak kedatanganmu.”
“Itu kan salahmu sendiri, engkau memang tidak dapat membandingi diriku,” jawab Hing Bu-bing ketus.
Siangkoan Hui menggereget, “Kutahu kau sendiri cukup jelas bukanlah lantaran alasan ini, tapi lantaran….”
Meski sedapatnya ia mengekang gejolak perasaan sendiri, namun tetap meledak juga, mendadak ia meraung gusar, “… lantaran engkau adalah anak haram ayahku, ibuku justru mati keki karena ibumu.”
Bola mata Hing Bu-bing yang buram itu berubah merah seperti dua titik darah. A Fei yang mengintip dari atas bukit juga menampilkan rasa derita yang tak terhingga, bahkan lebih menderita daripada Hing Bu-bing sendiri.
“Urusan kalian selalu mengelabui diriku dan menyangka aku tidak tahu,” kata Siangkoan Hui pula.
Kalian yang dimaksudkannya jelas ialah Hing Bu-bing dan ayahnya sendiri. Ucapannya ini tidak melukai orang lain, tapi hati sendiri yang terluka.
Tentu saja ia tambah pedih, tapi sikapnya berbalik lebih tenang, jengeknya, “Padahal sejak hari kedatanganmu itu aku sudah tahu, sejak hari itu aku lantas mencari kesempatan untuk membunuhmu.”
“Kesempatanmu memang tidak banyak,” jengek Bu-bing.
“Sekalipun waktu itu ada kesempatan bagiku juga belum tentu aku mau turun tangan, sebab waktu itu engkau masih berharga untuk diperalat, tapi keadaanmu sekarang sudah berbeda. Dalam pandangan ayahku waktu itu engkau serupa sebilah pisau, pisau pembunuh, jika kurusak pisaunya tentu aku takkan diampuninya. Tapi sekarang engkau tidak lebih cuma sepotong besi tua, mati-hidupmu tidak terpikir lagi olehnya.”
Hing Bu-bing termenung agak lama, akhirnya mengangguk perlahan dan berkata, “Betul, aku sendiri pun tidak menghiraukan mati-hidupku, apalagi dia?”
“Ucapanmu ini mungkin dapat menipu orang lain dan menipu dirimu sendiri, tapi tidak dapat menipu aku,” kata Siangkoan Hui.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: