Pendekar Budiman: Bagian 22

Pendekar Budiman: Bagian 22

Oleh Gu Long

“Menipumu?”

“Jika engkau tidak takut mati, mengapa engkau mengulur waktu dan kabur?”

“Mengulur waktu? Kabur?”

“Kau sengaja berlagak menguntit Sun tua itu, bukankah untuk mengulur waktu dan sekaligus kabur?”

“Dan bila yang kau kuntit bukan Si Sun tua, pasti akan kuberi kesempatan bagimu untuk mengetahui hasil kerjamu, habis itu baru kuturun tangan padamu,” kata Siangkoan Hui pula. “Cuma sayang, kau salah pilih orang, sebab pada hakikatnya engkau tidak dapat menemukan jejaknya, terlebih tidak dapat membunuhnya, sebab engkau memang bukan tandingannya.”

Mendadak Hing Bu-bing bergelak tertawa katanya, “Ya, bisa jadi….”

Cara tertawanya sangat aneh, seperti membawa semacam ejekan.

Hal ini tidak terlihat oleh Siangkoan Hui, ia berkata pula, “Maka penguntitanmu ini tidak lain cuma semacam tabir asap saja untuk mengelabuiku agar aku tidak turun tangan padamu.”

Ia tatap Bu-bing dengan tajam, lalu menambahkan dengan suara bengis, “Sebab sekarang engkau pun takut mati.”

“Takut mati?” Bu-bing menegas.

“Ya, dahulu engkau memang tidak takut mati, tapi itu adalah karena waktu itu tidak ada yang mampu mengancam jiwamu, sebab itulah engkau tidak kenal apa artinya takut.”

“Tring”, serentak Siangkoan Hui mengeluarkan senjatanya Liong-hong-siang-goan, dua buah gelang baja, lalu mendengus, “Tapi sekarang setiap saat dapat kubunuhmu.”

Lama juga Hing Bu-bing terdiam, katanya kemudian, “Tampaknya engkau seperti tidak tahu urusan apa pun.”

“Sedikitnya aku lebih pandai daripada sangkaanmu,” jawab Siangkoan Hui.

Mendadak Bu-bing tertawa pula, “Cuma sayang ada satu hal tidak kau ketahui.”

“Hal apa?”

“Tak menjadi soal bila hal lain tidak kau ketahui, tapi bila hal ini juga tidak kau ketahui, maka akibatnya bagimu adalah mati.”

“Hm, jika urusan ini sedemikian penting, mustahil aku tidak tahu,” jengek Siangkoan Hui.

“Tidak, engkau pasti tidak tahu, sebab hal ini adalah rahasiaku dan belum pernah kuberi tahukan kepada orang lain….”

“Dan sekarang hendak kau beri tahukan padaku?” gemerdep sinar mata Siangkoan Hui.

“Betul, sekarang akan kuberi tahukan padamu, untuk itu diperlukan syarat pertukaran?”

“Apa syaratnya?”

Mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu kembali mengkeret kecil, “Jika kuberi tahukan padamu, engkau harus mati.”

“Kau minta aku mati?”

“Kuminta kematianmu, sebab orang yang hidup tidak ada yang tahu rahasiaku ini.”

Siangkoan Hui melotot, mendadak ia terbahak-bahak. Memang menggelikan, masakah seorang yang sudah cacat menghendaki jiwa orang lain?

“Akan kau bunuhku dengan apa?” ejek Siangkoan Hui. “Dengan serudukan kepalamu, dengan gigitan mulutmu?”

Jawaban Hing Bu-bing juga aneh dan singkat, “Bukan!”

Suara tertawa Siangkoan Hui mulai mereda.

“Dengan tangan inilah akan kubunuhmu,” kata Bu-bing perlahan sambil mengangkat sebelah tangannya, tangan kanan.

Meski tertawanya sangat dipaksakan, tapi Siangkoan Hui tetap tertawa, katanya, “Tanganmu ini… haha, untuk membunuh anjing saja tak bisa mematikannya.”

“Aku hanya membunuh manusia dan tidak membunuh anjing.”

Tertawa Siangkoan Hui mendadak berhenti, serentak kedua gelang baja juga menyambar ke depan.

Semakin pendek sesuatu senjata semakin berbahaya, gelang baja ini memang senjata yang ampuh, apalagi kini disambitkan sekaligus, kalau tidak nekat dan ingin mengadu jiwa atau sudah jelas pihak lawan sudah kepepet dan tidak bisa berkutik lagi, mestinya tidak boleh melancarkan serangan cara begini.

Dan bila jurus serangan demikian sudah dilancarkan, biasanya pihak lawan akan sulit menghindar.

Tapi pada saat itu juga sinar pedang pun berkelebat, tahu-tahu ujung pedang sudah masuk tenggorokan Siangkoan Hui, hanya masuk beberapa senti dan tidak sampai tembus. Napas Siangkoan Hui tidak putus, urat hijau pada dahinya sama menonjol, matanya juga mendelik dan menatap Hing Bu-bing serupa ikan mampus.

Nyata sampai mati pun dia tidak mengerti cara bagaimana Hing Bu-bing menusukkan pedangnya.

Bu-bing memandangnya dengan dingin, lalu berucap sekata demi sekata, “Tangan kananku terlebih cepat daripada tangan kiriku, inilah rahasia pribadiku.”

Mendadak tubuh Siangkoan Hui berkejang, kerongkongannya bersuara “krak-krok”. Waktu Hing Bu-bing menarik pedangnya, seketika darah segar berhamburan.

Mata Siangkoan Hui yang mendelik seperti ikan mampus masih menatap Hing Bu-bing penuh rasa sangsi, kejut dan juga sedih…. Ia tetap tidak percaya, mati pun tidak percaya.

Gelang baja yang disambitkan Siangkoan Hui juga mengenai lengan kiri Hing Bu-bing, lengan yang buntung.

Dengan mengorbankan lengan yang memang sudah cacat Hing Bu-bing sambut serangan Siangkoan Hui itu, berbareng pedang di tangan kanan juga menusuk ke depan dan tepat mengenai tenggorokan lawan.

Sungguh jurus serangan yang aneh dan lihai. Serangan yang jitu, keji dan sangat cepat.

“Tangan kananku terlebih cepat daripada tangan kiriku, inilah rahasia pribadiku!”

Dia memang tidak berdusta. Tapi kenyataan ini membuat orang sukar membayangkannya, sukar untuk dipercaya.

Sepuluh tahun Siangkoan Hui belajar bersama dia dan belum pernah melihat ia berlatih dengan tangan kanan, sebab itulah mati pun dia tidak mengerti cara bagaimana Hing Bu-bing menusukkan pedangnya dengan tangan kanan.

Namun dia harus percaya, ia tidak dapat mengingkari fakta.

Bu-bing menunduk memandangi mayatnya dengan sikap seperti rada kecewa dan bimbang.

Sampai lama mendadak ia menghela napas, gumamnya, “Mengapa hendak kau bunuh diriku? Kenapa mesti kubunuh dirimu?….”

Ia membalik tubuh dan melangkah pergi. Cara berjalannya bergaya khas, seperti menyesuaikan dengan semacam irama. Kedua gelang baja masih menancap pada lengan kirinya yang buntung.

Kaget, sangsi, tidak percaya. Ini pun perasaan A Fei.

Ilmu pedang Hing Bu-bing memang menakutkan, mungkin tidak lebih cepat daripadanya, tapi lebih ganas, lebih keji, juga lebih misterius.

“Apa betul aku tidak mampu mengalahkan dia?”

Biarpun tahu hal ini adalah fakta, tapi orang semacam A Fei justru tidak tahan.

Memandangi bayangan punggung Hing Bu-bing yang makin menjauh, A Fei merasa darah panas bergolak dalam rongga dadanya, hampir saja memburu ke sana.

Syukurlah pada saat itu juga sebuah tangan terjulur dari belakang dan menariknya. Sebuah tangan yang kurus tapi kuat, sebuah tangan yang mantap. Waktu A Fei berpaling, dilihatnya mata Li Sun-hoan yang penuh mengandung rasa persahabatan dan cinta akan kehidupan.

Yang mampu menahan A Fei bukanlah tangannya, tapi matanya ini.

Akhirnya A Fei menunduk dan menghela napas panjang, katanya rawan, “Bisa jadi aku memang tidak dapat membandingi dia.”

“Hanya satu hal engkau tidak dapat membandingi dia,” kata Sun-hoan.

“Satu hal?” A Fei menegas.

“Ya, demi membunuh orang, Hing Bu-bing dapat melakukannya tanpa memilih cara, bahkan tidak sayang mengorbankan diri sendiri. Engkau tidak dapat berbuat demikian.”

A Fei termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, aku memang tidak dapat.”

“Engkau tidak dapat karena engkau masih berperasaan, meski pedangmu tidak berperasaan, tapi orangnya berperasaan.”

“Sebab itulah… selamanya sukar bagiku untuk mengalahkan dia?”

Sun-hoan menggeleng, “Salah, engkau pasti dapat mengalahkan dia.”

A Fei tidak tanya lagi melainkan cuma mendengarkan saja.

Maka Sun-hoan menyambung pula, “Punya perasaan baru punya kehidupan, punya kehidupan baru bergairah, baru bergerak.”

Kembali A Fei terdiam agak lama, lalu mengangguk perlahan, “Ya, kupaham sekarang.”

“Tapi ini pun bukan yang paling penting.”

“Apa yang paling penting?”

“Yang paling pokok adalah engkau pada hakikatnya tidak perlu membunuh dia, juga tidak boleh membunuh dia.”

“Sebab apa tidak perlu?”

“Sebab dia memang sudah mati, untuk apa membunuhnya?”

“Betul, sesungguhnya hatinya sudah mati….” kata A Fei sesudah berpikir. “Tapi kenapa tidak boleh pula?”

Sun-hoan tidak menjawab, sebaliknya balas bertanya, “Apakah kau tahu mengapa secara diam-diam ia berlatih dengan tangan kanan?”

“Menurut pendapatmu apa sebabnya?”

“Jika tidak salah dugaanku, tujuannya adalah Siangkoan Kim-hong.”

“Kau anggap Siangkoan Kim-hong juga tidak tahu rahasianya?”

“Pasti tidak.”

“Apa dasarnya?”

“Jika tangan kanannya jelas lebih cepat daripada tangan kiri, mestinya sekali serang dapat ia cabut nyawa Siangkoan Hui dan sama sekali tidak ada kesempatan balas menyerang baginya.”

“Betul,” kata A Fei.

“Tapi dia justru sengaja menunggu Siangkoan Hui menyerang lebih dulu, lalu ia menahan serangan lawan dengan lengan kiri yang cacat itu, untuk apa dia berbuat demikian yang mestinya tidak perlu ini?”

“Jika lengan kiri sudah cacat, terluka lagi kan juga tidak menjadi soal.”

“Ini bukan alasan yang paling penting,” ujar Sun-hoan. “Ia berbuat demikian juga lantaran Siangkoan Kim-hong.”

“Aku tidak paham,” kata A Fei.

“Dengan sendirinya dia sangat kenal pribadi Siangkoan Kim-hong,” tutur Sun-hoan. “Ia tahu Siangkoan Kim-hong menganggap siapa pun sebagai alat belaka, bilamana seorang sudah kehilangan nilainya untuk diperalat, maka Siangkoan Kim-hong akan membunuhnya.”

“Hal ini juga telah disinggung oleh Siangkoan Hui tadi,” ujar A Fei.

“Dan Hing Bu-bing juga khawatir akan diperlakukan cara demikian oleh Siangkoan Kim-hong.”

“Apakah Siangkoan Kim-hong akan membunuhnya bila mengetahui tangan kanannya terlebih cepat daripada tangan kiri?”

“Tapi Siangkoan Kim-hong tidak tahu.”

“Mengapa dia tidak memberitahukan hal ini kepada Siangkoan Kim-hong?”

Sun-hoan tertawa, “Sebab antara dia dan Siangkoan Kim-hong seperti terdapat semacam hubungan batin yang aneh, ia berharap Siangkoan Kim-hong memperlakukan dia dengan baik juga bukan lantaran pedangnya melainkan karena pribadinya.”

A Fei diam saja.

Maka Sun-hoan berkata lagi, “Sekarang juga tentu dia akan menguji reaksi Siangkoan Kim-hong, ingin diketahuinya setelah lengan kirinya buntung, apakah Siangkoan Kim-hong masih tetap baik padanya?”

Akhirnya A Fei mengangguk, “Ah, rasanya aku pun paham sekarang.”

“Apa yang dikatakan Siangkoan Hui juga betul, Hing Bu-bing memang mempunyai rasa takut, tapi yang ditakutinya bukan mati melainkan sikap dingin dan meremehkan dia.”

“Jika demikian, dia kan juga seorang yang punya perasaan?” tanya A Fei.

“Meski terhadap orang lain dia tidak berperasaan, tapi terhadap Siangkoan Kim-hong harus dikecualikan, sebab hidupnya ini memang demi Siangkoan Kim-hong.”

A Fei menghela napas menyesal, “Ada berapa orang di dunia ini yang hidupnya hanya untuk dirinya sendiri?”

“Dan dia dapat mati bagi Siangkoan Kim-hong,” sambung Sun-hoan lagi.

“Sebab itulah diam-diam dia berlatih ilmu pedang tangan kanan.”

“Betul,” kata Sun-hoan.

“O, jadi dia sengaja diserang oleh gelang Siangkoan Hui, maksudnya untuk latihan cara menghadapi serangan gelang baja?”

“Ya, begitulah pendapatku.”

“Dan kalau sikap Siangkoan Kim-hong berubah terhadap dia, dengan cara begitu pula dia akan membunuh Siangkoan Kim-hong.”

“Mungkin sukar terlaksana, tapi sedikitnya dia akan mencobanya.”

A Fei tidak bicara lagi, sorot matanya mulai guram pula. Dia seperti tersentuh lagi sesuatu yang menyakitkan.

“Sebabnya kedua gelang Siangkoan Kim-hong mendapatkan nomor urut dua dalam daftar senjata bukanlah lantaran jurus serangannya keji dan berbahaya melainkan karena kemantapannya.”

“Kemantapannya?” A Fei mengulang istilah ini.

“Senjata yang paling berbahaya dapat dilatihnya sehingga sedemikian mantap penggunaannya, di sinilah letak kehebatan Siangkoan Kim-hong yang tak dapat dibandingi siapa pun. Kepandaian Siangkoan Hui pada hakikatnya tidak ada seperseribu ayahnya.”

“Oo?!”

“Sebabnya Siangkoan Hui membenci Hing Bu-bing adalah karena dia menganggap intisari kungfu ayahnya tidak diajarkan kepadanya melainkan diajarkan kepada Hing Bu-bing,” tutur Sun-hoan pula. “Padahal kalau Siangkoan Kim-hong tidak menggunakan jurus serangan menyambitkan kedua gelangnya seperti apa yang diperbuat Siangkoan Hui, kesempatan menang bagi Hing Bu-bing juga sangat sedikit.”

“Ya, betul,” kata A Fei.

“Tapi bisa jadi Siangkoan Kim-hong akan menyerang juga dengan cara begitu, sebab dilihatnya lengan kiri Hing Bu-bing sudah buntung sehingga ada juga peluang bagi Hing Bu-bing untuk menang.”

Mendadak A Fei seperti tersadar dari mimpi, serunya, “He, apa pun juga Siangkoan Kim-hong kan ayah Hing Bu-bing.”

“Pasti bukan,” ujar Sun-hoan.

“Bukankah jelas-jelas dikatakan Siangkoan Hui tadi….”

“Itu cuma dugaan Siangkoan Hui saja, dugaan yang keliru,” potong Sun-hoan.

“Jika begitu, apa yang diucapkannya tadi juga tidak benar?”

“Hal-hal itu dengan sendirinya benar, hanya pandangannya yang keliru.”

“Keliru pandang?”

“Ya, dia bilang sejak kedatangan Hing Bu-bing ayahnya lantas dingin dan menjauhi dia, ini memang nyata, tapi ia tidak paham apa yang dilakukan Siangkoan Kim-hong justru demi kasih sayangnya.”

“Jika sayang, mengapa menjauhinya?”

“Sebab Siangkoan Kim-hong bertekad akan menggembleng Hing Bu-bing menjadi alat pembunuh, maka hidup Hing Bu-bing juga lantas hancur di tangannya.”

A Fei termenung, katanya kemudian, “Betul, seorang kalau hidup hanya untuk membunuh memang pantas dikasihani dan mengharukan.”

“Sebab itulah kubilang sejak Hing Bu-bing bertemu dengan Siangkoan Kim-hong dia lantas mati.”

A Fei terdiam pula.

“Tapi Siangkoan Kim-hong juga manusia dan setiap manusia tentu mempunyai rasa kasih sayang terhadap anak sendiri, dengan sendirinya ia tidak tega menyuruh anaknya berbuat begitu, lantaran itulah dia tidak menurunkan kungfu tertinggi kepada Siangkoan Hui.”

Sun-hoan menghela napas, lalu menyambung, “Cuma sayang, Siangkoan Hui tidak dapat memahami maksud baik ayahnya.”

“Sebab itulah sebenarnya Siangkoan Hui sama juga mati di tangan ayahnya,” kata A Fei tiba-tiba.

Sun-hoan menghela napas gegetun, “Seorang kalau terlalu besar angkara murkanya, sering kali akan banyak berbuat kesalahan pula….”

Sebuah hutan, hutan yang kering. Setelah menembus hutan kering ini ada sebuah jalan kecil yang sangat sepi.

A Fei menunjuk setitik cahaya api di kejauhan sana, “Itulah rumahku.”

Rumah. Bagi pendengaran Sun-hoan kata rumah dirasakan sedemikian jauh, sedemikian asing.

“Lampu masih menyala, mungkin dia belum tidur,” kata A Fei pula sambil memandang jauh ke sana.

Di dalam rumah kecil itu menyala sebuah pelita, seorang perempuan cantik dengan pakaian sederhana sedang menambal baju di bawah cahaya lentera, sedang menunggu pulangnya kekasih.

Inilah sebuah lukisan yang sangat indah.

Bila berpikir sampai di sini, hati A Fei lantas penuh rasa manis dan hangat, sorot matanya yang tajam seketika berubah menjadi lembut.

Dia memang seorang yang menyendiri dan kesepian, tapi sekarang diketahuinya ada seorang lagi menunggunya, orang yang dicintainya sedang menunggu.

Perasaan memang bahagia, tiada urusan lain di dunia dapat membandingi kebahagiaan demikian, tidak ada kejadian lain dapat menggantikannya.

Sebaliknya hati Sun-hoan terasa tenggelam.

Melihat wajah A Fei yang bercahaya dan penuh bahagia itu, tiba-tiba ia merasa berdosa.

Sebenarnya ia tidak tega membuat kecewa A Fei. Ia lebih suka memikul sendiri segala penderitaan daripada membikin kecewa A Fei. Tapi sekarang dia harus membikin A Fei kecewa. Sukar dibayangkannya akan berubah bagaimana bila A Fei mengetahui Lim Sian-ji tidak berada lagi di rumah ini.

Walau apa yang diperbuatnya ini demi kebaikan A Fei, supaya dapat hidup lebih baik, hidup secara gemilang, hidup sebagai jantan. Tapi lamat-lamat tetap dirasakan tidak enak terhadap A Fei.

“Menderita panjang kan lebih baik sakit pendek”. Ia berharap selekasnya A Fei terbebas dari penderitaan, selekasnya melupakan si dia. Perempuan itu tidak ada harganya untuk dikenang. Malangnya, seorang sering mencintai orang yang tidak pantas dicintai, sebab perasaan cinta sendiri laksana seekor kuda binal yang terlepas dari tali pengekang, sukar untuk diatasi, siapa pun tak berdaya.

Lantaran itu juga, maka di dunia ini terus-menerus terjadi tragedi.

Lampu menyala, pintu rumah hanya dirapatkan begitu saja tanpa dipalang.

Cahaya lampu menembus keluar melalui celah dinding, menyinari jalan kecil itu.

Agaknya semalam ada hujan, jalan masih basah, di bawah cahaya lampu terlihat bekas kaki yang banyak dan sangat kacau. Bekas kaki lelaki.

“Siapa yang datang kemari?”

Kening A Fei berkernyit, lalu cerah pula.

Selama ini dia sangat percaya kepada Lim Sian-ji, ia yakin si dia takkan berbuat sesuatu yang tidak baik.

Sun-hoan mengikut agak jauh di belakang, ia seperti tidak berani masuk ke rumah gubuk itu.

A Fei menoleh, katanya dengan tertawa, “Kuharap hari ini dia membuat sup bening, supaya engkau dapat ikut minum sedikit, nanti baru kau tahu kepandaiannya memasak jauh lebih mahir daripada menggunakan senjata.”

Sun-hoan tertawa. Tidak ada yang tahu tertawanya sedemikian pedih.

Sungguh sukar dibayangkannya mengapa seorang perempuan dapat menggunakan cara sekeji itu untuk menipu lelaki yang mencintainya sedemikian mendalam.

“Tapi aku kan juga berdusta padanya? Mengapa aku tidak berani mengatakan padanya bahwa Lim Sian-ji tidak berada lagi di sini, bahkan hal ini adalah kehendakku.”

Sun-hoan terbatuk-batuk lagi hingga menungging.

“Bila engkau mau tinggal lebih lama sini, penyakit batukmu mungkin akan cepat sembuh, sebab di sini cuma ada sup dan tidak ada arak,” ujar A Fei.

Selamanya takkan diketahuinya bahwa “sup” lebih banyak membuatnya celaka daripada arak.

Di dalam rumah tidak ada suara orang.

“Dia tentu di dapur sehingga tidak mendengar suara percakapan kita, kalau tidak tentu dia sudah memburu keluar untuk menyambut kedatangan kita.”

Sun-hoan diam saja, sebab ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Akhirnya pintu didorong A Fei. Suasana ruang tamu yang kecil masih teratur resik dan rapi.

Pelita minyak di atas meja tidak terlalu terang, tapi membawa semacam rasa hangat dan tenang.

A Fei menarik napas panjang. Akhirnya dia pulang sampai di rumah dengan selamat. Betapa pun dia tidak mengecewakan harapan Lim Sian-ji.

Tapi di manakah si dia?

Di dapur jelas tidak ada cahaya lampu, bahkan tidak ada bau sedap masakan.

A Fei menoleh dan tertawa terhadap Sun-hoan yang berdiri di ambang pintu, katanya, “Bisa jadi dia sudah tidur… Biasanya dia memang tidur sangat dini.”

Selagi Sun-hoan hendak memperlihatkan senyuman, tiba-tiba didengarnya suara rintihan suara orang perempuan. Rintihan orang yang mendekati ajal.

Suara rintihan jelas berkumandang dari kamar Lim Sian-ji sana.

Air muka A Fei berubah, cepat ia memburu ke sana dan mengetuk pintu dengan keras sambil berseru, “Hei, ada apa? Lekas buka pintu!”

Tapi tidak ada jawaban, bahkan suara rintihan tadi pun berhenti. Jelas karena dia mau menjawab, ingin berteriak, tapi sukar mengeluarkan suara.

Dahi A Fei dipenuhi butiran keringat dingin, sekuatnya ia mendobrak pintu.

Sun-hoan memejamkan mata, ia tidak berani menyaksikan sikap A Fei bila melihat orang yang dicintainya sedang bergulat dengan maut. Bukan saja tidak berani memandang, bahkan membayangkan pun tidak berani.

Tapi setelah pintu terpentang, lalu tidak ada suara lain lagi. Apakah A Fei tidak tahan oleh pukulan adegan yang dilihatnya dan jatuh kelengar?

Perlahan Sun-hoan membuka mata, dilihatnya A Fei berdiri di depan pintu dengan tercengang.

Anehnya, air mukanya cuma memperlihatkan rasa kejut dan heran tanpa rasa duka.

Memangnya apa yang terjadi di situ? Mungkin selamanya sukar dibayangkan oleh Li Sun-hoan.

Darah! Yang pertama terlihat oleh Sun-hoan adalah darah. Lalu terlihat orang yang rebah di tengah genangan darah.

Tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa orang yang bergulat dengan ajal di tengah genangan darah itu ialah Ling-ling.

Darah Sun-hoan serasa beku, hati pun tenggelam.

A Fei memandangnya dengan tenang, air mukanya sangat aneh.

Apakah dia telah menduga apa yang terjadi? Tapi dia tidak tanya mengapa nona cilik ini bisa datang ke sini, ia cuma tanya dengan dingin, “Apakah dia menunggumu di sini?”

Hati Sun-hoan serasa dirobek-robek, ia menubruk maju dan mengangkat Ling-ling yang berlumuran darah itu, ia coba periksa denyut nadi dan napasnya. Ia berharap akan dapat menyelamatkan jiwanya.

Tapi dia putus asa.

Akhirnya Ling-ling dapat membuka mata dan melihat Sun-hoan. Seketika air matanya merembes keluar, air mata duka, juga air mata gembira. Betapa pun sebelum ajalnya dapatlah dia melihat Li Sun-hoan.

Air mata Sun-hoan juga bercucuran, ucapnya dengan suara lembut, “Tahan, kuatkan dirimu, engkau masih muda, engkau takkan mati.”

Pada hakikatnya Ling-ling tidak mendengarkan ucapannya, ia berkata dengan terputus-putus, “Dalam urusan… urusan ini engkau… engkau salah tindak.”

“Ya, aku salah,” ucap Sun-hoan dengan pedih.

“Seharusnya kau tahu di dunia ini tiada seorang lelaki yang tega membunuh dia,” kata Ling-ling.

Parau suara Sun-hoan, ucapnya, “Akulah yang membikin celaka dirimu, aku berdosa padamu.”

Mendadak Ling-ling mencengkeram tangan Sun-hoan dengan kuat, “Tidak, engkau selalu sangat baik padaku, yang membikin celaka diriku bukan dirimu, tapi dia!”

“Dia?” Sun-hoan menegas.

“Ya, dia, orang she Lu itu menipuku, tapi… aku menipumu,” air mata Ling-ling berderai.

“Ti… tidak, engkau tidak….”

“Aku menipumu,” kata Ling-ling pula. “Sebenarnya aku telah kehilangan kehormatan padanya, pada waktu menunggumu itulah… Aku… aku benci mengapa tidak berani kuberi tahukan hal ini padamu.”

Suaranya mendadak berubah jelas, seperti ada harapan untuk hidup.

Tapi Sun-hoan tahu itu cuma refleksi seorang sebelum ajal saja. Jika usianya tidak semuda ini, tentu sukar Ling-ling bertahan sampai sekarang.

“Aku meronta dan bertahan sampai sekarang, tujuanku adalah ingin memberitahukan padamu, asalkan engkau mengerti, mati pun aku rela,” tutur Ling-ling dengan pilu.

“Akulah yang salah,” ucap Sun-hoan dengan sedih. “Mestinya harus kujaga dirimu dengan baik.”

Mendadak Ling-ling mengangguk, katanya, “Meski dia menipuku, tapi aku tidak benci padanya, sebab kutahu dia pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, ganjaran sepuluh kali lipat lebih mengenaskan daripadaku.”

“Ya, dia….”

Belum lanjut ucapan Sun-hoan, sekonyong-konyong A Fei mendorongnya pergi. Ditatapnya Ling-ling, tanyanya sekata demi sekata, “Engkau yang membawa Lu Hong-sian ke sini?”

Ling-ling menggigit bibir dengan erat.

“Dia yang menyuruhmu membawa Lu Hong-sian ke sini?” tanya A Fei pula.

Mendadak Ling-ling menggunakan sisa tenaga yang masih ada untuk berteriak, “Betul dia yang suruh! Tapi apakah kau tahu untuk apa dia bertindak demikian? Apakah kau tahu apa yang pernah dilakukannya bagimu? Bagimu dia tidak sayang….”

Sampai di sini suaranya lantas putus, napasnya juga berhenti. Sunyi, tiada sesuatu gerakan, tiada sesuatu suara. Bumi ini seolah-olah berubah menjadi sebuah kuburan yang akan membenamkan segala kehidupan.

Hanya angin mendesir, tapi desir angin juga memilukan, membuat perasaan orang remuk redam.

Entah selang berapa lama baru perlahan A Fei berdiri tegak. Tapi dia tidak berdiri berhadapan dengan Li Sun-hoan.

Ia seperti tidak sudi memandangnya lagi, jengeknya, “Mengapa engkau bertindak demikian?”

Mestinya dengan sangat gampang Sun-hoan dapat menjawab pertanyaan ini, namun satu kata pun dia tidak bicara.

Ia tahu ada sementara urusan bila dibicarakan tidak saja akan membikin hati sendiri berduka, juga akan menyinggung perasaan orang lain.

A Fei tetap tidak berpaling, katanya pula, “Kau sangka dia yang mengakibatkan aku tenggelam? Kau kira bila dia meninggalkanku segera aku akan bangkit kembali? Tapi apakah kau tahu, tanpa dia pada hakikatnya aku tidak sanggup hidup lagi.”

Sun-hoan menjawab dengan sedih, “Aku hanya berharap engkau tidak tertipu, kuharap engkau akan menemukan seorang yang pantas kau cintai, dengan begitu… dengan begitu engkau akan melupakan semua kejadian yang malang ini.”

Dada A Fei tampak bergerak keras, suaranya juga parau, “Kau anggap dia menipuku, kau anggap dia tidak berharga untuk kucintai?”

“Aku cuma tahu, sejak mula dia selalu membawa kemalangan bagimu,” jawab Sun-hoan.

“Dari mana kau tahu aku beruntung atau malang?” serentak ia membalik dan melototi Li Sun-hoan, “Memangnya kau kira siapa dirimu? Kenapa engkau perlu memengaruhi jalan pikiranku, ingin menentukan nasibku? Engkau tidak lebih hanya seorang tolol yang suka membohongi dirinya sendiri, tidak sayang mengantar orang yang kau cintai ke liang api, untuk itu engkau berbalik merasa telah bertindak bijaksana dan berbuat luhur.”

Setiap kata ucapan ini serupa jarum yang melukai hati Li Sun-hoan.

Dengan menggereget A Fei menyambung lagi, “Seumpama dia membawa kemalangan bagiku, lantas bagaimana dengan kau? Apa yang kau bawa bagi orang? Kebahagiaan Lim Si-im kan sudah amblas di tanganmu, dan engkau belum lagi puas dan masih ingin menghancurkan kehidupanku?”

Tangan Sun-hoan bergemetar, ia terbatuk-batuk lagi, belum berjongkok sudah menumpahkan darah.

A Fei hanya memandangnya dengan dingin, sampai sekian lama baru ia membalik tubuh dan melangkah keluar.

Sun-hoan terbatuk-batuk terus, ia memburu ke sana dan mengadang di pintu.

“Kau mau apa lagi?” tanya A Fei.

Sun-hoan mengusap darah pada ujung mulut dengan lengan baju, dengan napas terengah ia berkata, “Kau ingin… ingin mencari dia?”

“Ya,” jawab A Fei.

“Engkau tidak boleh mencarinya.”

“Siapa bilang?”

“Aku. Sebab seumpama dapat kau temukan dia kembali hanya akan menambah kesusahanmu. Lambat atau cepat dia pasti akan menghancurkan kau, tidak dapat kusaksikan dirimu hancur di tangan perempuan semacam ini.”

Tangan A Fei tergenggam erat, matanya merah membara.

“Sekarang kalian terpisah, dapatlah engkau terhindar dari penderitaan untuk sementara, tapi bilamana kalian berada bersama, engkau akan sengsara selama hidup. Dalam urusan lain engkau dapat melihat dengan jelas, mengapa urusan ini tidak….”

Mendadak A Fei memotong ucapannya, “Sejauh ini engkau kan sahabatku?”

“Betul,” jawab Sun-hoan.

“Sampai saat ini engkau tetap sahabatku.”

“Ya.”

“Tapi selanjutnya bukan lagi.”

Air muka Sun-hoan berubah, “Sebab apa?”

“Sebab aku tahan penghinaanmu, tapi tidak tahan kau hina dia.” “Kau anggap aku lagi menghina dia?”

“Aku dapat bertahan sampai sekarang, sebab sejauh ini kita adalah sahabat. Tapi selanjutnya bila kau hina dia satu kata saja, penghinaan ini harus dicuci dengan darah.”

Karena emosinya, tubuh A Fei sampai gemetar, lalu ia menegaskan dengan sekata demi sekata, “Aku tidak tahu apakah darahmu atau darahku, pokoknya harus dicuci dengan darah.”

Sun-hoan seperti mendadak dikemplang orang satu kali, ia menyurut mundur dan bersandar di samping pintu.

Ia terbatuk-batuk lagi, tapi tidak mengeluarkan suara, sebab giginya tergigit erat, mulut pun tertutup rapat.

Hanya darah segar saja yang merembes keluar.

A Fei juga tidak memandangnya lagi, katanya dengan parau, “Sekarang juga akan kucari dia, apa pun akan kutemukan dia. Kuharap engkau jangan ikut kemari, sekali-kali jangan ikut, kalau tidak, engkau akan menyesal selama hidup.”

Habis bicara demikian ia lantas melangkah pergi tanpa menoleh.

Air mata mestinya asin. Tapi bila air mata mengalir ke dalam perut, itu bukan lagi asin, tapi pahit.

Darah juga asin, tapi bila hati seorang sudah hancur, darah yang menetes keluar dari hati akan lebih pahit daripada air mata.

Entah berapa lama Sun-hoan terbatuk-batuk, lengan bajunya sudah merah. Pinggangnya serasa sukar untuk diluruskan.

Di atas tanah ada sebuah bekas kaki, bekas kaki yang berlepotan darah.

Tiba-tiba teringat oleh Sun-hoan bekas kaki yang acak-acakan di luar sana, seketika tangan terasa dingin.

A Fei pasti dapat menemukan si dia. Sebab Lim Sian-ji pasti sengaja meninggalkan sedikit petunjuk baginya agar anak muda itu dapat menemukannya.

Padahal A Fei juga tidak memerlukan banyak petunjuk, dalam darah A Fei memang ada semacam kemampuan pembawaan dalam hal melacak, bahkan lebih peka dan lebih gesit daripada binatang.

Tapi lantas bagaimana bila si dia dapat ditemukannya?

Tentu akan terjadi duel antara A Fei dan Lu Hong-sian. Lim Sian-ji memang suka melihat kaum lelaki mengadu jiwa baginya.

Berpikir sampai di sini, keringat dingin pun terembes keluar pada telapak tangan Sun-hoan.

Saat ini A Fei bukan tandingan Lu Hong-sian. Orang yang mampu menolongnya hanya Sun-hoan sendiri. Akan tetapi… “Jangan sekali-kali engkau mengikuti diriku, kalau tidak, engkau akan menyesal selama hidup!”

Apa yang telah diucapkan A Fei biasanya tidak pernah berubah.

Apalagi sekarang malam sudah tambah larut, Sun-hoan juga tidak memiliki kemampuan melacak serupa A Fei, seumpama ingin menyusulnya juga sangat sulit.

Sun-hoan meronta bangun, ia angkat jenazah Ling-ling ke atas dipan, ditutup dengan kain seprai.

Apa pun juga dia harus menyusul ke sana, tekadnya sudah bulat.

Umpama A Fei tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi, namun dia tetap sahabat A Fei, persahabatannya takkan berubah oleh urusan apa pun.

Hal ini serupa dengan cintanya, biarpun lautan akan kering dan batu akan busuk, cintanya tetap takkan berubah. “O, Si-im, bagaimana keadaanmu sekarang?”

Teringat kepada Lim Si-im, hati Sun-hoan terasa pedih lagi.

Tapi dia tidak ingin pergi mencarinya, sebab ia tahu Liong Siau-hun pasti akan menjaganya dengan baik. Biarpun Liong Siau-hun suka berubah menghadapi urusan lain, tapi hatinya terhadap Lim Si-im belum lagi berubah.

Karena hatinya terhadap Lim Si-im tidak berubah, maka urusan lain dapatlah dimaafkan.

Saat itu, perasaan Liong Siau-hun sungguh tidak kepalang gembiranya.

Maklumlah, dua-tiga hari lagi dia akan menduduki kursi nomor dua dalam Kim-ci-pang, akan menjadi saudara angkat dengan orang yang paling berkuasa di kolong langit ini sekarang. Sampai air muka anaknya, Liong Siau-in, yang biasanya pucat pasi juga rada kemerahan.

Satu-satunya hal yang membuatnya gegetun adalah istrinya.

“Mengapa dia tidak mau ikut datang bersamaku? Mengapa tidak ikut menikmati kejayaan bersamaku?”

Ia tidak mau berpikir lagi.

Ada sementara orang angkara murkanya adalah duit, ada pula yang tamak dan haus akan kekuasaan. Bilamana kedua macam angkara murka ini dapat terpenuhi, maka penderitaan dalam hal cinta dapat berkurang.

Saat itu Liong Siau-in sedang termangu memandang keluar jendela, entah apa yang lagi dipikirkannya.

Perlahan Siau-hun menepuk pundak anaknya itu dan berkata, “Kau kira sekali ini Siangkoan Kim-hong akan datang sendiri untuk menyambutku atau tidak?”

Siau-in menoleh, “Tentu, bahkan upacaranya pasti sangat meriah.”

“Ya, aku pun berpendapat demikian,” Siau-hun mengangguk-angguk. “Jika aku adalah saudaranya, kehormatan yang dia berikan padaku kan sama juga kehormatan bagi dirinya sendiri.”

Ia termenung sejenak, tiba-tiba berkata pula, “Pada waktu dia memapak diriku, kau pikir aku harus menyebut dia pangcu atau memanggil toako padanya?”

“Dengan sendirinya harus memanggil toako,” ujar Siau-in. “Selanjutnya anak juga mesti memanggil paman padanya.”

Liong Siau-hun menengadah dan terbahak, “Hahaha, sungguh beruntung bagimu mempunyai paman semacam ini…” mendadak ia berhenti tertawa dan berucap pula dengan kening bekernyit, “Tapi Li Sun-hoan belum lagi mati, apakah dia takkan ingkar janji?”

“Setiap kesatria di seluruh dunia sudah sama tahu peristiwa ini, kartu undangan juga sudah disebarkan, bila dia ingkar janji, selanjutnya siapa pula yang mau percaya dan menghormati dia lagi?”

“Betul,” Siau-hun tertawa. “Sebabnya orang bu-lim tunduk dan percaya padanya adalah karena ucapannya tegas dan dapat dipercaya. Umpama sekarang dia menyesal dan mau ingkar janji juga tidak keburu lagi.”

Kertas kerja di atas meja tidak pernah berkurang, sebaliknya sehari-hari bertambah banyak.

Wilayah kekuasaan Kim-ci-pang sudah semakin luas. Tugas Siangkoan Kim-hong juga makin berat, sebab setiap urusan harus diputuskan olehnya sendiri.

Maklum, dia tidak percaya kepada siapa pun.

Sudah lima jam dia bekerja, sedetik pun hampir tidak pernah berhenti. Tapi dia tidak merasa lelah, bahkan dirasakannya sebagai sesuatu yang menggembirakan.

Pintu terbuka, seorang masuk ke situ, sama sekali Siangkoan Kim-hong tidak menoleh, sebab hanya ada satu orang saja yang boleh langsung masuk ke ruangan ini.

Ialah Hing Bu-bing.

Tetap seperti biasanya, begitu masuk Hing Bu-bing lantas berdiri di belakangnya.

“Bagaimana Li Sun-hoan?” tanya Siangkoan Kim-hong.

“Sudah pergi,” jawab Bu-bing.

Seketika Siangkoan Kim-hong berpaling dan memandangnya sekejap. Hanya memandang sekejap, lalu sorot matanya menaruh ke lengannya yang buntung itu, lalu menunduk dan bekerja kembali, ia tidak bicara lagi, bahkan tidak memperlihatkan sesuatu perasaan apa pun.

Wajah Hing Bu-bing juga tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, matanya yang pucat kelabu menatap jauh ke sana.

Segala apa seperti tidak terjadi. Tidak ada teguran, juga tidak ada hiburan.

Apakah yang buntung tangan Hing Bu-bing atau kakinya yang putus, semua ini seakan-akan tidak ada sangkut paut dengan Siangkoan Kim-hong.

Entah selang berapa lama lagi, ada orang mengetuk pintu minta bertemu. Setumpuk berkas diantar masuk lagi. Di antara tumpukan berkas itu terdapat sepucuk surat berwarna merah muda.

Lebih dulu Siangkoan Kim-hong mengambil surat itu, ia cuma membaca sekejap saja, sebab surat itu sangat ringkas, hanya beberapa huruf saja, “Kutunggu di tempat biasa, Lu Hong-sian juga menunggumu.”

Siangkoan Kim-hong termenung sejenak, seperti lagi berpikir, habis itu ia ambil keputusan dan perlahan melangkah keluar.

Hing Bu-bing juga tetap seperti bayangannya dan mengintil di belakangnya.

Kedua orang melangkah keluar pintu, menembus jalan rahasia, sampai di halaman luas, melalui seorang penjaga yang berdiri tegak, akhirnya berada di bawah cahaya yang surya.

Cahaya matahari di musim rontok serupa orang perempuan yang sudah lanjut usia, tidak ada daya panas yang menarik lagi.

Kedua orang tetap berjalan, satu di depan dan satu di belakang, jarak kedua orang makin lama makin jauh dan makin jauh…. Akhirnya Hing Bu-bing berhenti.

Siangkoan Kim-hong tidak menoleh.

Memandangi bayangan punggung yang semakin jauh itu, sorot mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu itu menampilkan semacam perasaan pedih yang sukar dilukiskan….

Hutan lebat, hutan cemara yang hampir sepanjang tahun tidak pernah ditembus sinar matahari.

Meski kelam suasana di dalam hutan, tapi tidak terasa lembap, di tengah desir angin membawa semacam bau harum kayu cemara.

Lim Sian-ji berdiri bersandar pohon sambil menggenggam erat tangan Lu Hong-sian, sejauh ini tidak pernah terlepas, kerlingan matanya yang hangat dan lembut juga tidak pernah meninggalkan wajah Lu Hong-sian.

Air muka Lu Hong-sian semakin pucat, kerutan pada ujung matanya tampaknya juga tambah banyak.

“Engkau tidak menyesal?” terdengar Sian-ji bertanya dengan suara lembut.

Hong-sian mengangguk, “Menyesal? Kenapa aku mesti menyesal? Memiliki dirimu, lelaki mana pun takkan merasa menyesal.”

Sian-ji terus menjatuhkan diri ke pangkuan orang, bisiknya, “Masa benar aku begitu baik?”

Hong-sian merangkul pinggangnya yang ramping, katanya dengan tertawa, “Tentu saja engkau sangat baik, jauh lebih baik daripada perkiraanku….”

Tangannya mulai menggerayang dari bawah ke atas, lalu ke bawah lagi….

Napas Sian-ji mulai mendesah, “Jang… jangan sekarang….”

“Mengapa?” tanya Hong-sian.

“Engkau harus simpan tenaga untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong,” desis Sian-ji dengan tubuh menggeliat secara ajaib, seperti menghindar, tapi juga serupa menerima….

Tangan Lu Hong-sian berhenti sejenak lalu mulai beraksi lagi, ucapnya dengan tertawa, “Setelah kulayanimu, masih mampu kulayani dia.”

“Jangan sekali-kali kau remehkan dia,” kata Sian-ji. “Dia pasti tidak mudah dihadapi seperti perkiraanmu.”

“Kau anggap aku tidak lebih kuat daripada dia?” jengek Hong-sian.

“Bukan begitu maksudku, cuma…” ia gigit perlahan ujung telinga Hong-sian dan mendesis pula, “asalkan Siangkoan Kim-hong kau bunuh, maka dunia ini pun milik kita. Hari selanjutnya kan masih panjang, kenapa perlu terburu-buru sekarang?”

Suara bisikan berubah menjadi nyanyian di tengah desir angin lembut.

Hati Lu Hong-sian menjadi lunak, tapi rangkulannya tambah kencang, katanya, “Tak tersangka engkau sedemikian memerhatikan urusan ini, aku….”

Ucapannya terhenti mendadak. Serentak Sian-ji juga meronta melepaskan diri dari rangkulannya.

Dari sana berkumandang suara langkah orang yang khas. Lalu suara langkah itu pun berhenti.

Siangkoan Kim-hong berhenti di bawah bayang sebatang pohon cemara besar sana dan berdiri diam saja tanpa bergerak.

Napas Lu Hong-sian serasa berhenti, tegurnya, “Siangkoan Kim-hong?”

Siangkoan Kim-hong tetap memakai tuding yang bertepian lebar sehingga mata alisnya hampir tertutup semua, ia pun berkata, “Lu Hong-sian?”

Ia tidak menjawab, tapi berbalik bertanya.

“Ya,” jawab Hong-sian.

Segera ia merasa menyesal, sebab dengan jawabannya ini dirasakannya dalam hal perbawa sudah kalah lebih dulu.

“Bagus, betapa pun Lu Hong-sian masih berharga bagiku untuk turun tangan,” jengek Siangkoan Kim-hong.

Lu Hong-sian juga mendengus, “Jika engkau bukan Siangkoan Kim-hong, tentu aku pun tidak sudi membunuhmu.”

Sampai lama Siangkoan Kim-hong termenung, mendadak sorot matanya terpancar dari bawah tudungnya dan menyapu ke arah Lim Sian-ji.

Sian-ji masih berdiri bersandar pohon, sorot matanya yang lembut mulai berubah panas.

Ia tahu selekasnya dapat melihat darah. Dia memang suka menyaksikan orang lelaki mengalirkan arah baginya. Tiba-tiba terdengar Siangkoan Kim-hong berkata kepadanya,

“Kemari kau!” Sian-ji seperti melenggong, dengan ragu ia pandang Lu Hong-sian sekejap, lalu sinar matanya beralih lagi ke arah Siangkoan Kim-hong.

“Dia pasti takkan pergi ke situ!” jengek Hong-sian.

Kembali Lim Sian-ji memandangnya sekejap, kemudian berpindah lagi ke sana.

Rupanya ia tahu sekarang dia harus memilih satu di antara kedua orang itu.

Keadaan demikian serupa orang main dadu saja, sekali taruh harus tepat pada pihak yang menang.

Tapi siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

Siangkoan Kim-hong masih tetap berdiri dengan tenang, seperti penuh yakin akan kemampuan sendiri.

Sebaliknya napas Lu Hong-sian mulai agak sesak, seperti tidak tenteram.

Mendadak Lim Sian-ji menghadap kepadanya.

Selagi Lu Hong-sian merasa lega oleh sikap Sian-ji itu, tahu-tahu si nona terus melangkah ke arah Siangkoan Kim-hong malah.

Akhirnya dia telah menjatuhkan pilihannya. Ia yakin pilihannya pasti tidak keliru!

Teleng mata Lu Hong-sian mengkeret kecil, hatinya juga ciut.

Untuk pertama kalinya selama hidup ia merasakan penghinaan, merasakan kekalahan. Inilah rasa sakit berganda. Juga pukulan berganda. Harga diri dan kepercayaan diri telah terpukul hancur. Tangannya mulai gemetar.

Siangkoan Kim-hong memandangnya dengan dingin, katanya tiba-tiba, “Engkau sudah kalah!”

Gemetar tangan Lu Hong-sian bertambah keras.

“Tidak kubunuhmu, sebab engkau tidak berharga lagi bagiku untuk turun tangan,” kata Siangkoan Kim-hong.

Mendadak ia membalik tubuh dan meninggalkan hutan.

Sian-ji mengikut di belakangnya, baru beberapa langkah ia berpaling dan tertawa terhadap Lu Hong-sian, ucapnya lembut, “Kukira lebih baik engkau mati saja.”

Pertarungan ini belum dimulai dan Lu Hong-sian sudah kalah lebih dulu. Dalam hati dia sudah mengaku kalah.

Meski dia tidak mencucurkan darah dalam pertarungan ini, tapi jiwanya, kehidupannya, sudah hancur seluruhnya. Ia menyaksikan Siangkoan Kim-hong melangkah pergi dan tiada keberanian untuk mengejarnya.

Meski tidak turun tangan, tapi tiada ubahnya Siangkoan Kim-hong sudah merampas kehidupannya. “Kukira lebih baik engkau mati saja!”

Memang betul ucapan Sian-ji, hidup baginya memang tidak menarik lagi.

Mendadak Lu Hong-sian menjatuhkan diri ke tanah dan menangis tersedu.

Lim Sian-ji telah menyusul ke sana dan menarik tangan Siangkoan Kim-hong, ucapnya dengan lembut, “Baru sekarang aku benar-benar takluk padamu.”

“Oo?!” Siangkoan Kim-hong bersuara tak acuh.

“Betapa cepat cara Hing Bu-bing membunuh orang tetap tidak secepat dirimu, sebab pada hakikatnya engkau membunuh orang tanpa perlu turun tangan sendiri.”

“Hal itu lantaran sampai saat ini belum kutemukan seorang pun yang pantas kuturun tangan,” ujar Siangkoan Kim-hong dengan hambar.

Bola mata Sian-ji berputar, katanya pula, “Di dunia ini memang tidak banyak orang yang pantas membuat kau turun tangan… mungkin cuma satu orang.”

“Li Sun-hoan?”

Sian-ji menghela napas, “Orang ini kelihatan seperti setiap saat dapat roboh, tapi seperti juga tak bisa roboh untuk selamanya. Terkadang sukar bagiku untuk mengerti, sesungguhnya dia seorang Kuncu? Seorang tolol atau seorang kesatria sejati?”

“Tampaknya engkau senantiasa berminat terhadapnya,” jengek Siangkoan Kim-hong.

Sian-ji tertawa, “Aku harus selalu berminat padanya, sebab aku tidak mau mati di tangannya. Seorang betapa besar cintanya kepada kekasih sendiri, lama-lama tentu juga akan berubah hambar. Tapi terhadap musuh sendiri tentu tidak demikian halnya.”

Mendadak ia menengadah dan menatap Siangkoan Kim-hong lekat-lekat, “Dalil ini kukira engkau jauh lebih paham daripada siapa pun.”

“Minat juga ada beberapa macam,” ujar Kim-hong. “Kau benci dia, takut padanya atau cinta padanya?”

Sian-ji tertawa pula, “Agaknya sekarang engkau pun mulai suka minum cuka.”

Siangkoan Kim-hong termenung sejenak, katanya kemudian, “Bagaimana dengan A Fei?”

“Tentu saja dia juga bisa cemburu.”

“Aku cuma tanya padamu, mengapa tidak kau bunuh dia?”

“Aku pun ingin tanya padamu, mengapa Hing Bu-bing tidak membunuhnya?”

“Aku menghendaki kau turun tangan sendiri, masa engkau tidak tega?”

Sian-ji berkedip-kedip, “Adalah sangat mudah untuk membunuh orang, tapi bila menghendaki seorang menuruti setiap perkataanmu, itulah yang sulit. Sampai saat ini belum pernah kudapatkan seorang penurut seperti dia.”

Mendadak ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Siangkoan Kim-hong, “Kucari dirimu bukan untuk ribut mulut denganmu. Jika benar kau minta kubunuh dia, kesempatan selanjutnya kan masih banyak, pasti kuturut kehendakmu.”

Tiada orang yang sanggup marah kepadanya. Sian-ji serupa seekor anak kucing yang jinak, umpama terkadang engkau tercakar oleh kukunya, tapi sebelum engkau merasakan sakit lebih dulu dia sudah menjilati lukamu dengan lidahnya.

Siangkoan Kim-hong menatap mukanya dengan tajam. Di bawah cahaya senja wajahnya kelihatan begitu halus, seperti tersentuh jari saja bisa pecah. Kepala Kim-hong pun mulai menunduk.

Ketika bibir hampir menempel bibir, mendadak Sian-ji terlepas dari rangkulan Kim-hong dan jatuh ke tanah.

Teleng mata Kim-hong pada saat itu juga menciut, tapi posisinya tetap tidak berubah, bahkan ujung jari saja tidak bergerak.

Ia pun tidak memandang lagi kepada Lim Sian-ji, hanya menatap dingin ke tanah rumput yang sudah kuning kering di depan sana.

Tanah rumput juga tidak terdapat sesuatu. Selang agak lama, perlahan baru muncul sesosok bayangan.

Seorang telah datang. Cahaya senja mencetak bayangan orang ini hingga memanjang ke depan.

Tidak ada suara langkah kaki, suara melangkah orang ini serupa seekor rase yang sedang mencari mangsanya.

Siangkoan Kim-hong tetap tidak berpaling, tapi Sian-ji yang rebah di tanah mulai berkeluh.

Bayangan orang itu semakin dekat, baru berhenti di belakang Siangkoan Kim-hong, terdengar ucapannya, “Selamanya aku tidak membunuh orang dari belakang, tapi sekali ini harus dikecualikan.”

Suara orang ini mestinya dingin, ketus dan tegas, tapi sekarang lantaran tegang dan gusar suaranya menjadi agak gemetar.

Inilah suara orang yang siap membunuh.

Tapi Siangkoan Kim-hong tetap tenang saja, bahkan tidak bersuara.

Dari bayangan yang tersorot tanah terlihat tangan pendatang itu sudah terangkat. Tangan memegang pedang, tapi pedang tidak segera ditusukkan, mendadak ia membentak bengis, “Engkau tidak lagi berpaling?”

“Membunuh orang dari belakang kan juga bisa mematikannya, untuk apa mesti berpaling?” jawab Kim-hong tak acuh.

Baru habis ucapannya, suara keluhan tadi pun berhenti, Sian-ji telah membuka matanya, mendadak ia menjerit, “A Fei!”

Sembari bersuara ia terus memburu ke sana, lewat samping Siangkoan Kim-hong, bayangannya lantas bertumpuk tindih dengan bayangan pendatang yang tercetak di atas tanah tadi.

Kim-hong memandang kedua bayangan di atas tanah, lalu ia melangkah ke depan, perlahan ia menginjak bayangan itu.

Pedang yang terpegang di tangan A Fei jatuh ke tanah. Sian-ji lagi memegangi tangannya dan berulang-ulang membisikinya, “Kutahu engkau pasti akan datang, dan engkau ternyata benar datang….”

Entah berapa kali ia ulangi kedua kalimat tersebut, setiap kali suaranya bertambah lembut, bertambah merdu, bertambah manis.

Bisikan ini mampu mencairkan gunung es.

Hati A Fei juga mulai cair, segenap ketegangan, rasa gusar, rasa benci, semuanya cair.

“Kutahu bilamana kau pulang dan tidak melihatku, tentu akan gelisah dan pasti akan mencari diriku,” kata Sian-ji pula, ia pandang wajah A Fei yang pucat, matanya menjadi merah basah, ucapnya pula, “Tentu engkau telah mengalami berbagai kesulitan karena mencariku.”

Suara A Fei rada tersendat juga, “Asalkan kutemukan dirimu kan sudah cukup.”

Memang, baginya asalkan dapat menemukan si dia, betapa besar harga yang harus dibayarnya tidak menjadi soal baginya. Asal dapat menemukan si dia, apa pun dia tahan.

Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat. Pedang yang jatuh ke tanah telah dicukit ke atas, secepat kilat pedang jatuh ke tangan seorang.

Entah sejak kapan Siangkoan Kim-hong sudah berada di depan mereka.

Dengan sinar mata dingin ia menatap mata pedang, dilihatnya cuma sebatang pedang biasa, pedang “pinjaman” A Fei dari salah seorang pengawal di tengah jalan.

Namun tampaknya pedang ini sangat menarik bagi Siangkoan Kim-hong.

Selama Lim Sian-ji berada di sisinya, tiada urusan lain lagi yang lebih menarik bagi A Fei.

Baru sekarang teringat olehnya masih ada seorang lain, orang yang mestinya akan dibunuhnya. Namun sekarang pedangnya sudah berada di tangan orang ini, sebuah tangan yang kelihatan sangat mantap, asalkan tangan ini memegang tangkai pedang, setiap saat ujung pedang dapat dikirim ke hulu hati orang lain. Berada di tangan orang ini, pedang yang sepele mendadak berubah menjadi pedang berhawa membunuh.

“Siapa kau?” tanya A Fei bengis.

Kim-hong tidak menjawab, juga tidak memandangnya lagi, sorot matanya yang dingin tetap melengket pada ujung pedang, ujung mulut seperti menampilkan secercah senyuman mengejek.

“Dengan pedang ini hendak kau bunuh aku?” tanyanya dengan hambar.

“Memangnya kenapa dengan pedang ini?” jawab A Fei.

“Pedang ini tidak mampu membunuh orang.” “Pedang apa pun dapat digunakan membunuh orang.”

“Tapi pedang ini bukan pedang yang biasa kau pakai,” ujar Kim-hong dengan tertawa. “Jika kau gunakan pedang ini, yang dapat kau bunuh ialah dirimu sendiri.”

Sinar pedang berkelebat pula, pedang itu terputar balik, Siangkoan Kim-hong memegang ujung pedang, tangkai pedang disodorkan kepada A Fei, lalu katanya dengan tersenyum, “Jika engkau tidak percaya, boleh dicoba.”

Belum lagi tangan A Fei bergerak, otot daging lengannya sudah mulai tegang. Tiba-tiba ia merasakan dirinya selalu berada di pihak pasif bila berhadapan dengan orang ini. Padahal berhadapan dengan orang lain belum pernah timbul perasaan semacam ini.

Tapi mana boleh dia tidak menerima pedang ini?

Akhirnya tangannya terjulur juga, tapi baru bergerak tahu-tahu pedang sudah dirampas oleh sebuah tangan yang lain. Sebuah tangan yang halus dan indah. Tangan Lim Sian-ji.

Mata Sian-ji mengembeng air mata, katanya, “Kau mau membunuh dia? Apakah kau tahu siapa dia?”

Dengan air mata mulai berlinang ia tatap Siangkoan Kim-hong, lalu menyambung, “Dia adalah tuan penolongku.”

“Penolongmu?” A Fei menegas.

“Ya, terus-menerus Lu Hong-sian memaksa dan menyiksa diriku, ingin membunuh diri pun aku tidak bisa, kalau tidak ditolong olehnya, mungkin aku sudah….” sampai di sini bercucuranlah air matanya.

A Fei jadi melengak.

“Semula kukira engkau akan membalaskan budiku kepadanya, tapi sekarang….”

“Membunuh kan juga semacam cara membalas budi?” kata Kim-hong mendadak.

Sian-ji berpaling ke sana, “Maksudmu… kau minta dia membunuh orang bagimu?”

“Dia utang sebuah jiwa bagiku, mengapa tidak membayar padaku dengan jiwa seorang lain?” kata Kim-hong.

“Tapi yang kau selamatkan ialah jiwaku, bukan dia,” kata Sian-ji.

“Utangmu kan sama dengan utangnya, bukan?” tanya Kim-hong. Sian-ji tidak menjawab, ia berpaling kembali dan menatap A Fei.

Dengan sekata demi sekata A Fei berucap, “Betul, utangnya biar aku yang bayar.”

“Engkau sendiri tidak ada utang?”

“Tidak ada!” jawab A Fei.

Tersembul senyuman puas di ujung mulut Siangkoan Kim-hong. “Hendak kau gunakan nyawa siapa untuk membayar utang padaku?”

“Kecuali seorang, siapa pun jadi.”

“Kecuali siapa?” tanya Kim-hong.

“Li Sun-hoan!” jawab A Fei.

“Hm, engkau tidak berani membunuhnya?” jengek Kim-hong.

“Ya, aku tidak berani, sebab utangku kepadanya teramat banyak,” jawab A Fei dengan hati pedih.

Tertawa juga Siangkoan Kim-hong, “Bagus, jika engkau tidak mau utang padanya, tentu juga takkan utang padaku.”

“Kau minta kubunuh siapa?” tanya A Fei.

“Coba ikut padaku,” kata Kim-hong sambil membalik tubuh.

Malam sudah tiba, A Fei tidak menggandeng tangan Lim Sian-ji, sebab di dalam hati tiba-tiba timbul semacam perasaan aneh, perasaan tidak tenteram, entah sebab apa sukar dijelaskan.

Siangkoan Kim-hong berjalan di depannya dan tidak berpaling lagi. Namun bagi A Fei, di bawah sorot mata orang, dirasakannya seperti ada semacam daya tekan yang sukar dilukiskan.

Makin jauh berjalan, makin berat daya tekan itu.

Bintang sudah mulai menghias langit, udara lengang, angin pun berhenti meniup. Tiada terdengar suara apa pun, suara serangga pun sama lenyap.

Di jagat raya ini seakan-akan tertinggal suara langkah mereka saja.

Tiba-tiba A Fei merasa langkah sendiri pun bersuara dan seperti berpadu dengan suara langkah Siangkoan Kim-hong, perpaduan suara langkah kaki yang menjadikan semacam irama yang khas.

Seekor jangkrik melompat keluar dari semak-semak, mendadak melompat kembali ke tengah semak rumput seperti terkejut oleh irama langkah kaki yang aneh itu. Agaknya suara langkah kaki ini pun membawa hawa membunuh.

Sungguh aneh, memangnya sebab apa?

Cara berjalan A Fei biasanya tidak bersuara, mengapa langkah kakinya sekarang bisa bertambah berat. Sebab apa?

A Fei menunduk, mendadak ditemukannya sebab musababnya. Kiranya setiap kali dia melangkah selalu jatuh di tengah antara langkah pertama dan langkah kedua Siangkoan Kim-hong. Dia menjatuhkan langkah pertama baru Siangkoan Kim-hong menjatuhkan langkah kedua, dia menjatuhkan langkah ketiga, segera Kim-hong menjatuhkan keempat, setiap langkah teratur dan tidak kacau. Bila dia melangkah cepat, Kim-hong juga cepat, bila dia lambat, Kim-hong juga lambat.

Semula dengan sendirinya langkah Kim-hong yang menyesuaikan dengan langkahnya. Tapi sekarang bila Kim-hong berjalan cepat, tanpa kuasa ia pun ikut cepat, bila Kim-hong lambat, mau-tak-mau ia pun ikut lambat. Langkahnya seperti sudah dikuasai oleh Siangkoan Kim-hong dan sukar melepaskan diri.

Telapak tangan A Fei berkeringat dingin. Tapi entah mengapa, dalam hati justru merasakan cara berjalan ini sangat enak, setiap otot daging terasa sama melonggar. Lahir batinnya seolah-olah telah dihipnotis oleh irama langkah yang aneh ini.

Agaknya Sian-ji juga merasakan ketidakberesan ini, matanya yang jeli itu mendadak menampilkan semacam rasa waspada, takut dan juga benci.

A Fei adalah miliknya, hanya dia sendiri yang boleh mengendalikan anak muda. Ia tidak memperkenankan siapa pun merampasnya.

Hing Bu-bing masih berdiri di sana, berdiri di tempat berhentinya tadi. Sejak sang surya serong ke barat, terbenam, lalu malam tiba dan bintang bertaburan di langit, dia tetap berdiri di situ tanpa bergerak, sorot matanya juga tetap tertuju ke ujung jalan sana, ke situlah bayangan Siangkoan Kim-hong menghilang tadi.

Dan sekarang bayangan Kim-hong muncul kembali dari situ.

Lebih dulu Hing Bu-bing melihat tudungnya yang lebar itu dan jubah kuning yang longgar, lalu tertampak pedang yang dipegangnya dengan cahaya gemerdep. Kemudian terlihat pula A Fei olehnya.

Bila orang lain yang melihatnya dari jauh tentu akan mengira yang berjalan di belakang Siangkoan Kim-hong sekarang ialah Hing Bu-bing, sebab langkah kaki kedua orang ternyata sangat istimewa.

Siapa pun tidak menyangka kini A Fei yang telah menggantikan tempat Hing Bu-bing itu.

Sorot mata Hing Bu-bing tambah kelabu dan guram, serupa kesuraman langit tanpa bintang dan rembulan, seperti udara sebelum fajar, kosong, hampa, tiada kehidupan, bahkan tiada berbau “kematian”. Tiada segalanya.

Air muka Bu-bing terlebih hambar daripada sorot matanya, terlebih kaku.

Perlahan Siangkoan Kim-hong sudah mendekat dan mendadak berhenti di depannya. Dengan sendirinya A Fei pun ikut berhenti.

Siangkoan Kim-hong menatap jauh ke depan sana tanpa memandang sekejap pun terhadap Hing Bu-bing, mendadak ia menjulurkan tangan dan melolos pedang yang terselip di ikat pinggang Hing Bu-bing, katanya hambar, “Pedang ini tidak perlu kau gunakan lagi.”

Bu-bing mengiakan. Suaranya juga hampa, sampai ia sendiri pun ragu apakah suara itu keluar dari mulutnya.

Kim-hong tetap memegang ujung pedang hijau dari A Fei itu dan menyodorkan tangkai pedang, katanya, “Pedang ini untukmu.”

Perlahan Bu-bing menerima pedang itu.

“Bagimu sekarang tiada bedanya lagi pedang apa pun yang kau gunakan,” kata Kim-hong pula, ia lantas melangkah lewat ke sana, sejak awal hingga akhir tidak memandang Bu-bing barang sekejap pun.

A Fei juga lalu ke sana, juga tidak memandang Bu-bing.

Sebaliknya Sian-ji tersenyum padanya dan berucap dengan lembut, “Mati, apakah benar sangat sulit?”

Awan mendung tambah tebal, sekonyong-konyong guntur menggelegar, hujan pun turun dengan lebatnya.

Hing Bu-bing tetap berdiri tidak bergerak di bawah hujan. Basah kuyup sekujur badan Hing Bu-bing, namun dia tetap tidak bergerak.

Ujung mata menitikkan butiran air, entah air hujan, atau air mata?

Tapi mana bisa Hing Bu-bing menitikkan air mata?

Orang yang tidak menitikkan air mata biasanya cuma mengalirkan darah.

Siangkoan Kim-hong membawa A Fei pulang ke rumah, di bawah sinar lampu A Fei sedang menatap pedang yang gemerdep.

Di luar hujan lebat seperti di tuang, jendela tertutup rapat, hawa di dalam rumah terasa pengap.

Siangkoan Kim-hong lagi menatap wajah A Fei, katanya, “Bagaimana pedang ini menurut pendapatmu?”

“Baik, sangat baik,” kata A Fei.

“Bagaimana dibandingkan pedang yang pernah kau gunakan dulu?” “Agak lebih ringan yang ini,” jawab A Fei.

Mendadak Siangkoan Kim-hong mengambil pedang yang dipegang A Fei, dengan dua jari ia menekuk ujung pedang, seketika batang pedang berubah melengkung, ketika dilepaskan, “cring”, batang pedang melenting dan mengeluarkan suara nyaring.

Sorot mata A Fei yang dingin tampak mulai membara.

“Bagaimana pula dibandingkan pedangmu yang dulu?” tanya Kim-hong lagi dengan tersenyum.

“Pedangku yang dulu tentu patah bila ditekuk begitu,” sahut A Fei.

Ketika Kim-hong mengayun pedang itu, kontan cawan di atas meja tertebas putus serupa menebas bambu lapuk saja.

“Pedang bagus!” seru A Fei tanpa terasa.

Kim-hong memandang lekat pedang itu, katanya kemudian, “Ya, memang pedang bagus, ringan tapi tidak puntul, tipis tapi tidak getas, keras mengandung lemas, lemas membawa ulet, sebab pedang ini meski kelihatan jelek dan sederhana, padahal inilah pedang pusaka gemblengan seorang ahli dan khusus dibuat untuk Hing Bu-bing.”

Mendadak ia tertawa terhadap A Fei dan menambahkan, “Tampaknya gaya ilmu pedangmu seperti mirip dengan Hing Bu-bing, betul tidak?”

“Ya, rada mirip,” sahut A Fei.

“Meski cara turun tangannya terlebih keji dan lebih ganas daripadamu, tapi kau pun lebih mantap dan lebih jitu daripada dia, sebab engkau bisa menunggu dengan sabar, sebab itulah pedang ini akan lebih cocok digunakan olehmu daripada dipakai dia.”

A Fei termenung agak lama, katanya kemudian, “Tapi pedang ini bukan punyaku.”

“Pedang memang tiada pemilik, yang mampu menggunakannya dia itulah yang mendapatkannya,” kata Kim-hong.

Perlahan ia menyodorkan pedang itu, sinar matanya gemerdep membawa semacam senyuman aneh, lalu berkata pula, “Sekarang pedang ini sudah milikmu.”

Kembali A Fei termenung agak lama, akhirnya dia tetap berucap, “Pedang ini bukan punyaku.”

“Hanya pedang inilah pedangmu, sebab hanya dengan menggunakan pedang ini dapat kau bunuh orang lain,” kata Kim-hong. Tiba-tiba ia tertawa dan menambahkan, “Bisa jadi hanya dengan pedang ini juga dapat kau bunuh diriku.”

Sekali ini A Fei termenung terlebih lama.

“Kau utang padaku, maka perlu kau bunuh orang bagiku, maka kuberi pedang pembunuh padamu, ini kan sangat adil?” kata Kim-hong.

Akhirnya A Fei menjulurkan tangan dan menerima pedang itu. “Bagus, bagus sekali! Dengan memegang pedang ini, besok juga utangmu dapat kau bayar lunas.”

“Kau minta kubunuh siapa?” tanya A Fei.

“Orang yang kusuruh kau bunuh pasti bukan sahabatmu….” sebelum lanjut ucapannya ia lantas melangkah pergi dan merapatkan pintu.

Di luar terdengar dia memberi pesan kepada penjaga, “Kedua orang ini adalah tamuku, sebelum tengah hari besok siapa pun dilarang mengganggu mereka.”

Di dalam rumah sekarang tertinggal A Fei dan Sian-ji berdua saja.

Sian-ji duduk di sana dengan kepala menunduk. Sekian lama Siangkoan Kim-hong berada di sini, selama itu tidak memandangnya sekejap pun. Ia juga tidak bersuara, hanya ketika A Fei menerima pedang itu, bibirnya bergerak, seperti mau bicara apa-apa, tapi urung.

Sekarang di dalam rumah tinggal mereka berdua saja, tiba-tiba Sian-ji berkata, “Apakah benar akan kau bunuh orang baginya?”

“Aku utang padanya, bahkan aku sudah berjanji,” ujar A Fei sambil menghela napas.

“Apakah kau tahu siapa yang ingin dibunuhnya?” tanya Sian-ji.

“Entah, belum lagi dikatakan olehnya.”

“Tak dapat kau terka?” tanya Sian-ji.

“Memangnya sudah dapat kau terka?”

“Ya, jika tidak keliru dugaanku, orang yang hendak dibunuhnya pasti Liong Siau-hun.”

“Liong Siau-hun?” A Fei menegas. “Memangnya sebab apa?”

“Sebab Liong Siau-hun hendak memperalat dia, padahal biasanya dia yang memperalat orang lain,” tutur Sian-ji dengan tertawa.

A Fei berpikir sejenak, ucapnya kemudian sekata demi sekata, “Liong Siau-hun sudah lama memang pantas mati!”

“Tapi engkau sekali-kali tidak boleh turun tangan,” ujar Sian-ji.

“Sebab apa?”

Sian-ji tidak menjawab, sebaliknya balas bertanya, “Apakah kau tahu mengapa Siangkoan Kim-hong menyuruhmu turun tangan baginya?”

Setelah berpikir A Fei menjawab, “Menyuruh orang lain membunuh kan lebih gampang daripada turun tangan sendiri.”

“Tapi bagi Siangkoan Kim-hong, membunuh Liong Siau-hun hanya pekerjaan yang sangat gampang sekali,” kata Sian-ji. “Apalagi Kim-ci-pang tidak kekurangan jago kelas tinggi, jangankan cuma seorang Liong Siau-hun, biarpun seratus atau seribu juga dapat dibunuh seluruhnya oleh orang Kim ci-pang. Umpama Siangkoan Kim-hong sendiri tidak mau turun tangan, mengapa dia tidak menugaskan pada anak buahnya saja?”

“Kau tahu sebab musababnya?” tanya A Fei.

“Tentu saja kutahu,” Sian-ji tertawa. “Selang dua hari lagi kan tanggal satu?” “Memangnya ada apa kalau tanggal satu?”

“Setiap orang Kangouw sama tahu pada tanggal satu bulan yang akan datang, antara Siangkoan Kim-hong dan Liong Siau-hun akan mengadakan ikatan sebagai saudara angkat.”

“Oo, barangkali Siangkoan Kim-hong sudah buta?” kening A Fei bekernyit.

“Dengan sendirinya ia tidak sudi mengangkat saudara dengan Liong Siau-hun, tapi dia juga tidak mau menerima tuduhan sebagai orang yang ingkar janji. Sebab itulah jalan yang baik adalah membunuh Liong Siau-hun.”

Ia tersenyum, lalu melanjutkan, “Orang hidup dengan sendirinya tidak dapat mengangkat saudara dengan orang mati, bukan?”

A Fei tidak bicara lagi.

“Tapi bila di antara kedua orang sudah berjanji mengangkat saudara, dengan sendirinya Siangkoan Kim-hong tidak dapat turun tangan sendiri, dan juga tidak dapat menggunakan tenaga orang Kim-ci-pang, sebab itulah dia memperalat dirimu.”

Ia menghela napas dan menyambung pula, “Untuk membunuh Liong Siau-hun, engkau memang jauh lebih cocok daripada siapa pun.”

“Sebab apa?” tanya A Fei.

“Sebab… engkau bukan orang Kim-ci-pang, tapi sahabat Li Sun-hoan. Orang Kangouw sama tahu Liong Siau-hun berdosa terhadap Li Sun-hoan,” setelah menghela napas, Sian-ji melanjutkan, “Sebab itulah bila kau bunuh Liong Siau-hun, orang lain tentu menganggap engkau lagi melampiaskan dendam bagi Li Sun-hoan dan tiada yang curiga terhadap Siangkoan Kim-hong.”

“Hm, sekalipun tidak membela siapa-siapa, tidak nanti kubiarkan manusia semacam dia hidup di dunia ini,” jengek A Fei.

“Akan tetapi bila kau bunuh Liong Siau-hun, Siangkoan Kim-hong juga akan membunuhmu.”

A Fei terdiam.

“Dia membunuhmu bukan melulu untuk menghilangkan saksi hidup, tapi juga supaya dianggap orang lain bahwa dia menuntut balas bagi Liong Siau-hun, agar dia dipandang sebagai seorang yang setia kawan.”

Sorot mata A Fei beralih pada pedang yang dipegangnya.

Bola mata Sian-ji berputar, katanya pula, “Kungfu Siangkoan Kim-hong tak terukur tingginya, engkau… engkau pasti bukan….”

Ia tidak menghabiskan ucapannya dan mendadak menjatuhkan diri dalam pelukan A Fei, lalu menyambung dengan suara lembut, “Mumpung dia tidak berada di sini, marilah kita lari saja.”

“Lari?” A Fei menegas.

“Kutahu engkau tidak kenal lari, tapi demi diriku, sudilah engkau melakukannya satu kali saja?”

“Satu kali saja?” kembali A Fei menegas. “Tidak, tidak bisa!”

Sian-ji menggigit bibir. “Masa demi diriku juga engkau tidak mau?”

Suaranya mulai gemetar, air mata pun berlinang.

Kembali dia mengeluarkan senjatanya, senjata orang perempuan yang paling ampuh.

Namun A Fei tidak memandangnya, ia menatap ke jauh sana, ucapnya perlahan, “Justru lantaran dirimu, makanya tidak dapat kulakukan.”

“Sebab apa?” tanya Sian-ji.

“Demi dirimu, betapa pun tidak boleh kujadi pengecut yang ingkar janji sendiri.”

“Namun… namun….” akhirnya Sian-ji mendekap di dada A Fei dan menangis tersedu-sedan, “Aku tidak peduli engkau kesatria atau pengecut, yang kucintai hanya kau, aku cuma menghendaki engkau tetap hidup dan selalu mendampingiku.”

Sorot mata A Fei yang dingin dan teguh itu seakan-akan mencair lagi, perlahan ia membelai rambutnya dan berkata, “Sekarang bukankah aku berada di sampingmu?”

“Akan tetapi bagaimana besok? Dan selanjutnya?….” Sian-ji merangkulnya dengan erat dan menciumi dadanya yang bidang, ucapnya lembut, “Asalkan kau turut permintaanku sekali ini, selanjutnya aku pun akan menuruti segala kehendakmu.”

Tangan A Fei mendadak ditarik, sorot matanya tiba-tiba kembali berubah tegas lagi, “Segala apa pun dapat kuturuti permintaanmu, hanya urusan ini tidak.”

“Sebab… sebab apa?

“Hidup juga ada macam-macam cara, jika engkau benar-benar menghendaki kebaikanku, harus kau biarkan kuhidup sebaik-baiknya, hidup secara gemilang.”

“Hidup tetap hidup dan lebih baik daripada mati.”

“Dulu aku pun berpendapat demikian, tapi kutahu, hidup terkadang tidak lebih baik daripada mati saja.”

Sian-ji menggigit bibir, “Kata-kata ini seperti bukan ucapanmu, tapi serupa ucapan Li Sun-hoan. Hanya orang yang menyendiri seperti dia dapat mengucapkan kata-kata menertawakan ini.”

“Kau anggap kata-kata demikian menertawakan?” tanya A Fei, sorot matanya kembali menampilkan perasaan pedih.

“Dengan sendirinya menertawakan. Jika jalan pikiran setiap orang serupa dia, entah berapa banyak orang di dunia ini sudah lama mati, jika orang lain tidak….”

“Tapi aku bukan orang lain, aku tetap aku,” potong A Fei mendadak.

Sian-ji menatapnya lekat-lekat, “Kurasakan engkau terlebih baik kepadanya daripada terhadap diriku.”

A Fei tutup mulut tanpa menanggapi.

Dengan sedih Sian-ji berucap pula, “Kenapa tidak kau pikirkan, dia selalu menghendaki kau mati baginya, sedangkan aku, engkau hidup demi diriku, masa caraku terhadapmu tidak lebih baik daripada dia?”

Akhirnya A Fei menghela napas, “Namun tidak boleh kubikin dia menganggap aku akan runtuh bila berada bersamamu, aku ingin dia tahu, hanya berada bersamamu barulah aku dapat bangkit.”

Sian-ji mencucurkan air mata lagi, “Sungguh aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

“Yang kupikir sangat sederhana, sebab itulah takkan berubah,” kata A Fei.

“Selamanya takkan berubah?” Sian-ji menegas.

“Ya, selamanya,” jawab A Fei tegas dan juga sederhana. Sian-ji berbangkit, perlahan menuju ke jendela. Di luar sunyi senyap, sampai suara serangga pun tidak terdengar. Di sini perasaan yang sangat nyata ialah “kematian”, baik berduduk atau berdiri, di luar maupun di dalam rumah, setiap saat dapat merasakan intaian kematian.

Sampai lama baru Sian-ji menghela napas, katanya, “Tiba-tiba kurasakan hubunganmu dengan Li Sun-hoan sangat mirip dengan hubungan antara Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing.”

“Oo, apa betul?”

“Ya, hidup Hing Bu-bing seolah-olah hanya untuk Siangkoan Kim-hong, dengan sendirinya Siangkoan Kim-hong juga sangat baik kepadanya, sampai sekarang….”

Ia tersenyum getir, lalu menyambung, “Sekarang Hing Bu-bing sudah kehilangan daya guna dan segera akan diusir Siangkoan Kim-hong serupa anjing buduk, mungkin mimpi pun dia tidak menyangka akan berakhir secara demikian.”

“Mungkin sudah terpikir olehnya jauh sebelum ini.”

“Jika dia tahu akan berakibat demikian, mana dia mau berbuat begitu?”

“Dia terpaksa, sebab dia memang tiada pilihan lain.”

“Dan engkau?”

A Fei tidak bicara lagi.

“Li Sun-hoan baik terhadapmu, sebab di dunia ini hanya engkau saja yang dapat membantu dia, kecuali dirimu, hampir seluruhnya dia terpencil sendiri. Tapi nanti bila engkau pun tiada harganya untuk diperalat olehnya, dia juga akan mencampakkan dirimu serupa tindakan Siangkoan Kim-hong terhadap Hing Bu-bing.”

A Fei termenung hingga lama, mendadak ia berkata, “Coba engkau berpaling kemari!”

Dia bicara dengan sangat lambat, tapi tegas dan kereng. Belum pernah dia bicara sekeras ini terhadap Lim Sian-ji.

Sian-ji memegang erat kosen jendela, jawabnya, “Berpaling? Untuk apa?”

“Sebab ingin kukatakan dua hal kepadamu.”

“Tanpa berpaling pun dapat kudengar.”

“Tapi kuminta kau pandang diriku, ada sementara ucapan selain perlu didengar dengan telinga juga harus dilihat dengan mata, kalau tidak selamanya engkau takkan paham artinya.”

Akhirnya Sian-ji menoleh juga, dan dapatlah dilihatnya sinar mata A Fei, ia pun mengerti akan maksudnya.

Sorot mata A Fei mendadak berubah serupa Siangkoan Kim-hong.

Bilamana sinar mata seorang berubah menjadi begini, maka hal ini menandakan apa yang dikatakannya harus kau dengarkan dan sekali-kali tidak boleh membantah. Kalau tidak, engkau pasti akan menyesal.

Dalam sekejap itu baru disadari oleh Lim Sian-ji bahwa dugaannya keliru.

Tadinya dia menyangka selama ini sudah dapat mengendalikan A Fei, baru sekarang diketahuinya hal itu salah besar.

A Fei memang mencintai dia, cinta yang sangat mendalam. Tapi bagi kehidupan seorang lelaki, masih banyak urusan lain yang jauh lebih penting daripada “cinta”, bahkan jauh lebih penting daripada hidupnya sendiri.

Dahulu A Fei selalu tunduk dan menurut padanya, semua itu lantaran Sian-ji belum pernah menyinggung urusan ini. Ia boleh mati baginya tapi sekali-kali tidak boleh menyuruhnya membuang urusan ini.

Selang agak lama, Sian-ji tertawa dan berkata, “Kau mau omong apa padaku? Aku kan sedang mendengarkan!”

Tertawanya tetap sangat manis, tapi sudah rada dipaksakan. “Kuminta kau mengerti, Li Sun-hoan adalah sahabatku, aku tidak mengizinkan siapa pun menista sahabatku, siapa pun tidak boleh.”

Sian-ji menunduk, “Lalu, apa lagi?”

“Apa yang kau katakan tadi selain menilai rendah diriku, juga menilai rendah Hing Bu-bing.”

Mendadak Sian-ji mengangkat kepala, sorot matanya penuh rasa tanda tanya, “Memangnya dia….”

“Dia pergi, sebab dia mau pergi dan bukan diusir orang,” kata A Fei.

“Akan tetapi, aku… aku tidak paham….”

“Engkau tidak perlu paham, cukup asalkan selalu ingat.”

Kembali Sian-ji menunduk, ucapnya hampa, “Setiap perkataanmu akan selalu kuingat dengan baik, aku pun berharap engkau juga jangan lupa, pernah kau katakan… hatimu takkan berubah selamanya terhadapku.”

A Fei menatapnya hingga lama, seumpama hatinya adalah gunung es, saat ini tentu juga sudah cair.

Perlahan ia melangkah maju mendekatinya, tubuh si dia seperti ada semacam daya tarik yang sangat kuat dan membuat A Fei sama sekali tidak mampu melawan.

Tapi Sian-ji mengelak malah, seperti khawatir tersentuh olehnya, ucapnya dengan suara agak gemetar, “Ti… tidak, hari ini tidak….”

Tubuh A Fei seakan-akan beku mendadak.

Sian-ji lantas tertawa malah, ucapnya lembut, “Hari ini engkau harus istirahat dengan baik. Lekas tidur, akan kujaga di sampingmu.”

Saat itu Siangkoan Kim-hong berdiri di sana, pandangannya tertuju ke arah pintu, seperti sedang menanti, entah apa yang ditunggunya?

Penjaga di luar sudah dienyahkan, sebab Siangkoan Kim-hong telah memberi pesan kepada mereka bahwa malam ini ada orang akan datang dan siapa pun dilarang mengganggunya.

Setiap tindakan Siangkoan Kim-hong selalu ada tujuan tertentu, dan sekali ini entah apa maksud tujuannya?

Malam tambah larut dan semakin sunyi.

A Fei memejamkan mata, napasnya teratur, seperti sudah terpulas.

Padahal dia sama sekali dalam keadaan sadar, hampir tidak pernah dia sadar seperti sekarang ini.

Biasanya sangat jarang dia sukar tidur, sebab kalau tidak teramat lelah dia takkan tidur. Akhir-akhir ini bilamana dia berbaring, begitu kepala menempel bantal, segera juga dia tertidur.

Tapi sekarang dia sukar tidur. Sian-ji juga tidur di sebelahnya, napasnya juga teratur. Asalkan A Fei membalik tubuh segera dapat dirangkulnya tubuh yang hangat dan kenyal itu.

Tapi sedapatnya ia mengekang diri, memandang saja tidak berani, ia khawatir apabila dirinya memandangnya sekejap, seketika imannya bisa runtuh.

Jika Lim Sian-ji sedemikian percaya kepadanya, mana dia boleh berbuat hal begituan?

Tapi dia tetap dapat merasakan napasnya yang harum itu, terpaksa dia haus mengerahkan segenap tenaga dan pikiran agar dapat mengendalikan perasaannya.

Dan hal ini tentu saja bukan sesuatu pekerjaan yang enak.

Nafsu berahi serupa gelombang, setelah tenang sejenak segera bergulung-gulung lagi.

Dan begitulah terus-menerus A Fei menahan gejolak perasaannya. Dengan sendirinya, mana dia dapat tidur?

Napas Sian-ji terasa berat, serupa orang mendengkur, tapi matanya justru terpentang perlahan. Dalam kegelapan diam-diam ia pandang A Fei, dilihatnya rambut yang hampir menutupi dahinya, dilihatnya bulu matanya yang sangat panjang, sungguh rasanya ingin dirabanya….

Dalam sekejap itu bilamana benar dia menjulurkan tangannya, seterusnya mungkin A Fei akan menjadi miliknya untuk selamanya, bisa jadi A Fei akan meninggalkan segalanya, membuang segalanya demi dia.

Saat itu sorot matanya sedemikian lembut, tapi semua itu hanya terjadi dalam sekejap saja, ia urung menjulurkan tangannya, sorot mata yang lembut juga membeku, perlahan ia memanggil. “Fei cilik, engkau sudah tidur?!”

A Fei tidak menjawab, juga tidak membuka mata.

Ia tidak berani, ia takut kepada diri sendiri….

Sian-ji menunggu lagi sejenak, tiba-tiba ia bangun perlahan, memberosot turun dengan hati-hati dan diam-diam menjemput sepatunya, lalu dengan langkah berjingkat ia membuka pintu.

Sudah jauh malam begini, akan ke manakah dia?

Hati A Fei mendadak serasa ditusuk jarum, sakit dan perih.

Mata tidak memandang, hati tidak kesal. Ada sementara urusan akan lebih baik bila selamanya tidak kau lihat.

A Fei juga paham, fakta terkadang sangat kejam. Cuma sayang, ia tidak sanggup mengendalikan diri.

Pintu di sana terbuka, sorot mata Siangkoan Kim-hong mendadak terkilas secercah senyuman.

Perlahan Sian-ji merapatkan daun pintu lagi dan bersandar pada pintu sambil memandang Kim-hong, “bluk”, sebelah sepatunya jatuh ke lantai, lalu yang sebelah jatuh pula.

Ia menghela napas panjang dan berucap, “Memang sudah kau perhitungkan aku akan datang, bukan?”

Siangkoan Kim-hong mengiakan.

“Tapi aku sendiri tidak… tidak tahu mengapa aku datang kemari,” ujar Sian-ji sambil menggigit bibir.

“Kutahu.”

“Kau tahu?”

“Ya, sebab kini telah kau rasakan A Fei tidak lagi dapat diandalkan sebagaimana pernah kau bayangkan. Jika engkau masih ingin hidup terpaksa engkau harus lari padaku.”

“Eng… engkau dapat diandalkan?” tanya Sian-ji.

“Itu harus ditanyakan kepada dirimu sendiri,” jawab Kim-hong dengan tertawa.

Di dunia ini memang tidak ada seorang lelaki yang mutlak dapat diandalkan.

Apakah seorang lelaki dapat diandalkan atau tidak, semua itu bergantung kepada cara bagaimana perlakuan si perempuan terhadapnya apakah cukup efektif atau tidak.

Dalil ini tentu saja cukup dimengerti oleh Sian-ji, ia pun tertawa, katanya, “Engkau pasti sangat dapat diandalkan, sebab aku takkan pernah membuat kecewa padamu.”

Mula-mula ia tertawa dengan matanya. Kemudian menggunakan tangannya, dengan pinggangnya, dengan kakinya….

Agaknya dia sudah bertekad akan menggodai lelaki ini tanpa sayang menggunakan cara apa pun.

Dengan gerak yang paling cepat, dikeluarkannya senjatanya yang paling ampuh.

Dalam pandangan orang lelaki, di dunia ini tidak ada sesuatu yang terlebih menarik daripada perempuan yang telanjang bulat, apalagi perempuan cantik serupa Lim Sian-ji.

Anehnya, pandangan Siangkoan Kim-hong justru tetap menatap ke arah pintu seakan-akan pintu itu terlebih indah daripada tubuh Sian-ji.

Dengan napas agak terengah Sian-ji berkata, “Gendong diriku, aku… aku tidak sanggup berjalan lagi.”

Siangkoan Kim-hong menggendongnya, tapi matanya tetap menatap pintu.

“Blang”, tahu-tahu pintu telah didobrak terpentang. Seorang menerjang masuk serupa segumpal bara. Bara murka!

A Fei, siapa lagi kalau bukan A Fei!

Tidak ada yang dapat melukiskan kemurkaan A Fei sekarang, juga tiada yang dapat membayangkannya.

Terkilas lagi senyuman pada sorot mata Siangkoan Kim-hong. Memangnya dia sudah memperhitungkan akan kedatangan A Fei ini?

A Fei seperti sama sekali tidak melihat dia, pada hakikatnya dia tidak melihat siapa pun, yang terlihat olehnya cuma mimpi buruk saja. Sekujur badannya tampak gemetar.

Tapi Lim Sian-ji juga tidak meliriknya, ia merangkul leher Siangkoan Kim-hong, katanya, “Orang yang datang ke tempatmu ini apakah tidak perlu mengetuk pintu?”

“Blang”, mendadak kepalan A Fei menghantam daun pintu.

Daun pintu itu terbuat dari besi, kepalan A Fei sampai berdarah, kesakitan hingga bibir pun pucat.

Tapi tidak ada rasa sakit di dunia yang lebih sakit daripada rasa sakit hatinya sekarang.

Sian-ji tertawa pula, katanya, “Kiranya orang ini gila.”

Akhirnya A Fei meledak, ia meraung, “Kiranya engkau perempuan semacam ini!?”

“Tak tersangka olehmu, bukan?” ucap Sian-ji tak acuh. “Padahal sejak mula aku adalah perempuan semacam ini dan tidak pernah berubah. Engkau tidak menyangka hanya karena engkau sendiri yang terlalu goblok.”

Ia tertawa dingin, lalu menyambung pula, “Padahal kalau engkau rada pintar sedikit, seharusnya engkau tidak datang kemari.”

“Dan aku sudah datang!” teriak A Fei.

“Apa manfaatnya kau datang kemari? Memangnya akan kau gigit diriku? Apa pun yang kulakukan, engkau hanya dapat melihat saja.”

Mata A Fei semula seperti mengembeng air mata, tapi saat ini air mata itu mendadak beku menjadi es. Sinar matanya telah berubah menjadi pucat kelabu.

Kelabu putus asa, serupa warna mata Hing Bu-bing.

Air mata berdarahnya seakan-akan sudah habis tercucur dalam sekejap ini, kehidupannya seolah-olah juga telah berakhir dalam sekejap ini.

Mendadak dia seperti berubah menjadi orang mati.

“Mestinya tidak datang, memang seharusnya tidak datang kemari….”

Sudah jelas tidak, kenapa datang juga?

Mengapa manusia selalu berbuat hal-hal yang mestinya tidak perlu dilakukannya untuk membikin susah diri sendiri?

Entah cara bagaimana, kemudian A Fei melangkah keluar. Siangkoan Kim-hong hanya memandang kepergiannya dengan dingin.

Sian-ji mengembus napas lega, ucapnya lembut, “Dengan sepenuh hati kulakukan bagimu, sekarang tentu kau percaya bukan?”

“Kupercaya,” kata Kim-hong.

Habis berucap, mendadak ia membanting Sian-ji ke tempat tidur dan ditinggal pergi.

Tubuh Sian-ji kesakitan. Tapi dia tidak merasa sedih, juga tidak gusar melainkan takut.

Pada waktu dia mengetahui A Fei tidak seluruhnya ditaklukkan juga pernah timbul rasa takut seperti ini, cuma rasa takutnya tidak sehebat sekarang.

Untuk sejenak ia termenung, kemudian ia berbangkit perlahan, dijemputnya bajunya sepotong demi sepotong, dilipat dengan rajin. Ketika ia merasa hatinya sudah tenang kembali, ia lantas berbaring lagi, ia mulai pasang aksi lagi dengan senyum yang paling manis, dengan gaya yang paling memesona.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: