Archive for September, 2011

Musnad Ahmad: 1901-2000

Musnad Ahmad 1901: Telah menceritakan kepada kami Yahya aku mendengar Al A’masy telah menceritakan kepadaku Muslim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita berkata; “Wahai Rasulullah, ibuku memiliki tanggungan puasa selama sebulan, namun dia meninggal (sebelum menunaikan puasa tersebut), apakah aku boleh berpuasa untuknya?” beliau menjawab: “Sekiranya ibumu memiliki hutang, apakah kamu akan melunasinya?” Wanita itu menjawab; “Ya.” Beliau bersabda: “Dan hutang kepada Allah Azza wa Jalla lebih berhak untuk dipenuhi.”

 

Musnad Ahmad 1902: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum laki-laki, beliau bersabda: “Keluarkanlah mereka dari rumah kalian.” Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mengeluarkan fulan begitu juga Umar pernah mengeluarkan si fulan.

 

Musnad Ahmad 1903: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al Auza’i dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminum susu, lalu beliau berkumur-kumur. Beliau bersabda: “Sesungguhnya susu itu mengandung lemak.”

 

Musnad Ahmad 1904: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan Telah menceritakan kepadaku Sulaiman yaitu Al A’masy dari Yahya bin Umarah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dia berkata; Abu Thalib menderita sakit, lalu orang-orang Quraisy menjenguknya. Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan didekat kepalanya ada satu tempat duduk, lalu duduklah Abu Jahal disitu. Kemudian mereka berkata; Sesungguhnya anak saudaramu mencela tuhan-tuhan kami. Abu Thalib berkata; Kenapa kaummu mengadukanmu? Rasulullah menjawab: “Wahai pamanku, aku menginginkan mereka berada pada satu kalimat yang orang-orang arab nanti berpegang padanya. Dan orang-orang non arab nanti akan membayar jizyah kepada mereka. Abu Thalib bertanya: Kalimat apakah itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’ (Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah). Maka orang-orang Quraisy pun berdiri seraya berkata; ‘Apakah engkau hendak menjadikan tuhan-tuhan yang banyak itu jadi satu saja? ‘ Ibnu Abbas berkata: maka turunlah ayat: “Shaad, Wal Qur’ani Dzidz Dzikr”. lalu beliaupun membacakannya hingga sampai pada ayat; “Inna Hadza lasyai’un Ujaab” (QS. Shaad: 1-5). Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy Telah menceritakan kepada kami Abbad -lalu ia menyebutkan redaksi yang serupa.- Dan Bapakku berkata; Al Asyja’i berkata Yahya bin Abbad.

 

Musnad Ahmad 1905: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Uyainah bin Abdurrahman Telah menceritakan kepadaku Bapakku dia berkata; Seseorang mendatangi Ibnu Abbas dan berkata; “Sesungguhnya aku adalah seseorang dari penduduk Khurasan, dan sesungguhnya negeri kami adalah negeri yang dingin. Lalu ia menceritakan tentang minuman yang ia buat. Maka Ibnu Abbas berkata; Jauhilah segala sesuatu yang memabukkan baik itu berasal dari anggur, kurma atau yang lainnya. Orang tersebut bertanya; Lalu bagaimana dengan Nabidzul Jarr (minuman manis, yang sebagian besar berupa sari kurma biasa disimpan didalam bejana yang terbuat dari tanah liat)? Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang Nabidzul Jarr.

 

Musnad Ahmad 1906: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah bin Al Akhnas dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah bahwa Ibnu Abbas memberitakan kepadanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Seakan-akan aku melihatnya hitam dan terpisah-pisah, ia merusaknya batu demi batu. Maksudnya adalah Ka’bah.

 

Musnad Ahmad 1907: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Dzi’ib Telah menceritakan kepadaku Qarizh dari Abu Ghathafan, ia berkata; Aku melihat Ibnu Abbas berwudlu dan berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beristintsarlah (membersihkan hidung dengan air dalam wudlu) dua kali secara sempurna atau tiga kali.”

 

Musnad Ahmad 1908: Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Hisyam Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan jika dalam kesusahan (musibah); “LAA ILAAHA ILLALLAHUL ADHIMUL HALIM LAA ILAAHA ILLALLAH RABBUL ‘ARSYIL ‘ADHIM LAA ILAAHA ILLALLAHU RABBUS SAMAAWAATI WAL ARDLI RABBUL ‘ARSYIL KARIIM” (Tiada ilah (sesembahan) yang Haq selain Allah yang Maha Besar lagi Maha Bijaksana, tiada ilah yang haq selain Allah Rabb pemilik ‘Arsy yang Agung, tiada ilah yang haq kecuali Allah Rabb langit dan bumi Rabb pemilik Arsy yang mulia).

 

Musnad Ahmad 1909: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah Telah menceritakan kepadaku Al Hakam dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Aku ditolong oleh As shaba’ (angin yang bertiup dari timur), sedangkan kaum ‘Aad dihancurkan oleh Ad Dubur (angin yang bertiup dari barat).”

 

Musnad Ahmad 1910: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij Telah mengabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa Abu Asya’tsaa mengabarkan kepadanya dari Ibnu Abbas ia mengabarkan, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dalam keadaan berihram.

 

Musnad Ahmad 1911: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij Telah mengabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa Abu As Sya’tsaa`i mengabarkan kepadanya, dari Ibnu Abbas bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhuthbah seraya bersabda: “Barang siapa yang tidak medapatkan kain dan ia hanya mendapatkan celana, maka hendaklah ia memakainya. Barang siapa yang tidak mendapatkan sandal dan ia hanya mendapatkan khuf, maka hendaklah ia memakainya.” Aku bertanya; apakah beliau tidak menyebutkan untuk dipotong saja khufnya, Ibnu Abbas menjawab; ‘Tidak.’

 

Musnad Ahmad 1912: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij dia berkata Telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Al Huwairits dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah setelah buang hajat (dan berwudlu) beliau makan, (setelah itu) tidak menyentuh air lagi (berwudlu).

 

Musnad Ahmad 1913: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa wahyu diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau berumur empat puluh tiga tahun. Beliau tinggal di Makkah selama sepuluh tahun, dan di Madinah selama sepuluh tahun. Beliau wafat ketika berumur enam puluh tiga tahun.

 

Musnad Ahmad 1914: Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Humaid dari Al Hasan dari Ibnu Abbas dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat ini sekian dan sekian, dan beliau menetapkan setengah sha’ gandum.

 

Musnad Ahmad 1915: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Abu Jamrah dia berkata; Aku mendengar Ibnu Abbas berkata; sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat malam sebanyak tiga belas raka’at.

 

Musnad Ahmad 1916: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Abu Jamrah dan Ibnu Ja’far dia berkata; Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata; “Ketika delegasi ‘Abdul Qais datang ke Madinah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya: “Dari delegasi siapa?” atau beliau bertanya, “Dari delegasi kaum siapa?” Mereka menjawab; “Rabi’ah.” Beliau bersabda: “Selamat datang kaum, tanpa kehinaan dan penyesalan.” Mereka bertanya; “Wahai Rasulullah, kami datang menemui engkau dari tempat yang sangat jauh. Antara kampung kami dan kampung engkau terdapat perkampungan orang-orang kafir Mudhar. Kami tidak dapat menemuimu selain pada bulan Haram. Oleh karena itu, beritahukanlah kepada kami sesuatu yang dapat membuat kami masuk surga, dan yang dapat kami beritahukan kepada orang-orang di belakang kami (di kampung kami).” Lalu mereka bertanya kepada beliau mengenai minuman. Selanjutnya beliau memerintahkan empat hal dan melarang empat hal kepada mereka. Beliau memerintahkan kepada mereka untuk beriman kepada Allah ‘azza wajalla. Beliau bertanya: “Tahukah kalian apakah iman kepada Allah itu?” mereka menjawab; “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan memberikan seperlima dari harta rampasan perang.” Dan beliau melarang mereka dari bejana ad dubbaa`, al hantam, an naqir dan al muzaffat. Beliau melanjutkan: “Perhatikanlah itu semua dan beritahukanlah kepada orang-orang di belakang kalian?”

 

Musnad Ahmad 1917: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah. Dan Ibnu Ja’far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Abu Jamrah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditutup dengan kain beludru tebal yang berwarna merah.”

 

Musnad Ahmad 1918: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bakrah telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dia berkata; “Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika telah selesai dari perang Badar; “Hendaknya engkau menghadang kafilah dagang saja, bukan yang lainnya” Ibnu ‘Abbas berkata; Maka ‘Abbas bin Abdul Muththalib berseru; “Sesungguhnya demikian itu tidak layak bagimu.” Ia berkata; “Mengapa demikian.” Dia menjawab; “Karena Allah ‘azza wajalla hanya menjanjikan kepadamu salah satu dari dua golongan ini dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu apa yang dijanjikannya itu.”

 

Musnad Ahmad 1919: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Seorang laki-laki dari Bani Sulaim lewat di depan beberapa Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menggembala kambingnya. Maka orang tersebut mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka berkata; “Tidaklah ia mengucapkan salam kepada kita kecuali karena sengaja ingin berlindung dari kita.” Lalu mereka mendatanginya dan membunuhnya, setelah itu mereka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa kambing-kambingnya. Maka turunlah ayat: (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah).

 

Musnad Ahmad 1920: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Maisarah dari Thawus berkata; “Seorang laki-laki mendatangi Ibnu ‘Abbas lalu bertanya padanya. Dan Sulaiman bin Daud berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah memberitakan kepadaku Abdul Malik, ia berkata; Aku mendengar Thawus berkata; Seseorang bertanya pada Ibnu ‘Abbas tentang maksud dari firman Allah ‘azza wajalla: (Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan …) maka Sa’id bin Jubair berkata; ” (Maksudnya adalah) Keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Abbas berkata; “Engkau terlalu terburu-buru, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada hubungan dengan orang-orang Quraisy kecuali bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam punya hubungan keluarga dengan mereka. Maka turunlah (Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan), maksudnya kecuali kalian bisa menyambung hubungan kekeluargaan antara diriku dengan kalian.”

 

Musnad Ahmad 1921: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami ‘Atha` berkata; Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada seorang wanita Anshar -yang namanya disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas tapi aku lupa-: “Apa yang menghalangimu pergi berhaji bersama kami pada tahun ini?” Wanita tersebut menjawab; “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami mempunyai dua ekor unta. Salah satunya dinaiki oleh Abu Fulan, anaknya dari istrinya dan anak istrinya, sedang yang satu lagi dibiarkan lepas begitu saja.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Ramadlan telah tiba, maka laksanakanlah umrah. Karena sesungguhnya umrah pada bulan itu (pahalanya) menyamai haji.”

 

Musnad Ahmad 1922: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Musa bin Abu Aisyah dari Ubaidullah bin Abdullah dari Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, bahwasannya Abu Bakar pernah mencium Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau meninggal dunia.

 

Musnad Ahmad 1923: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan, berkata; telah menceritakan kepadaku Mughirah bin An Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki dan dada dan tidak disunat, orang pertama yang akan dikenakan pakaian adalah Ibrahim ‘Alaihisshalatu wassalam” kemudian beliau membaca: ” (sebagaimana kami Telah memulai panciptaan pertama begitulah kami akan mengulanginya.) ”

 

Musnad Ahmad 1924: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Salamah bin Kuhail berkata, aku telah mendengar Abu Al Hakam berkata, aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang perasan kurma (yang mengalami fermentasi). Maka ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minuman keras dari nabidz (perasan anggur) dan labu. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang senang mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan RasulNya maka hendaklah mengharamkan Nabidz.”

 

Musnad Ahmad 1925: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Fithr telah menceritakan kepada kami Abu Thufail berkata, aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas sesungguhnya kaummu mengira bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan cepat (ketika manasik haji) di Ka’bah dan itu merupakah sunnah.” Ibnu Abbas menjawab; “Mereka benar dan mereka juga berdusta.” Aku berkata; “Bagaimana bisa mereka benar dan mereka berdusta? Ibnu Abbas menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memang berjalan cepat ketika di Ka’bah namun hal itu tidak merupakah sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan cepat, begitu juga para sahabatnya, Ketika orang-orang Musyrik berada diatas gunung Qu’aiqi’an, dan sampai kepada beliau bahwa mereka tengah memperbincangkan bila mereka (kaum muslimin) lemah, maka beliau menyuruh para sahabat berjalan cepat untuk memperlihatkan kekuatan kepada mereka.”

 

Musnad Ahmad 1926: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhadah dari Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas. dan Waki’ berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Juhadah berkata, aku mendengar Abu Shalih berbicara setelah ia besar, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para wanita peziarah kubur dan mereka yang menjadikan kuburan sebagai masjid serta menyalakan lampu didalamnya.”

 

Musnad Ahmad 1927: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ali bin Al Mubarak berkata telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Katsir bahwa Umar bin Mu’annib telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Hasan budak Abu Naufal, telah mengabarkan, bahwa ia telah meminta fatwa kepada Ibnu ‘Abbas tentang seorang budak laki-laki yang beristeri budak perempuan, lalu ia mentalaknya dua kali. Kemudian mereka berdua dibebaskan. Apakah masih boleh bagi bekas budak laki-laki itu melamar budak perempuan tersebut? Ia menjawab: “Ya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menghukumi seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 1928: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah. Dan Muhammad bin Ja’far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang mendatangi istrinya saat haidh, maka ia mensedekahkan satu dinar atau setengah dinar. Abdurrahman dan Bahz tidak memarfu’kannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 1929: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Mujalid dari Sya’bi dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berbicara pada hari jum’at saat khatib sedang khutbah, maka ia seperti seekor keledai yang membawa kitab. Dan orang yang berkata kepadanya “Diamlah”, maka ia telah kehilangan (shalat) jum’atnya.”

 

Musnad Ahmad 1930: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Andai orang-orang mengurangi (jatah wasiat) dari sepertiga menjadi seperempat, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sepertiga itu banyak.”

 

Musnad Ahmad 1931: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala` bin Shalih telah menceritakan kepada kami Minhal bin Amru dari Sa’id bin Jubair, sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Ibnu ‘Abbas dan berkata; diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sepuluh di Makkah dan sepuluh di Madinah. Maka ia berkata; “Siapa yang berkata demikian, sungguh telah diturunkan kepada beliau di Makkah sepuluh, enam puluh lima bahkan lebih banyak dari itu.”

 

Musnad Ahmad 1932: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Fudhail yakni Ibnu Ghazwan, dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat haji Wada’: “Wahai manusia, hari apakah ini?” Orang-orang menjawab; “Ini adalah hari yang mulia (sakral).” Beliau bertanya: “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab; “Ini adalah negeri Al Haram (yang mulia/sakral).” Nabi bertanya lagi: “Dan bulan apakah ini?” Mereka menjawab; “Bulan yang mulia (sakral).” Nabi berkata: “Sesungguhnya harta, darah dan kehormatan kalian adalah haram bagi kalian (tidak boleh sembarangan diambil/dirampas) sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini pada bulan kalian ini.” Kemudian Nabi mengulanginya dan terus mengulanginya, kemudian ia mengangkat kepalanya ke atas dan berkata: “Ya Allah, telah aku sampaikan, ” berulang kali. Ia berkata; Ibnu ‘Abbas berkata; “Demi Allah, sesungguhnya itu adalah wasiat untuk kembali kepada Rabbnya ‘azza wajalla.” Kemudian beliau bersabda: “Maka hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran setelahku dimana kalian saling membunuh.”

 

Musnad Ahmad 1933: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Musa bin Muslim Ath Thahhan Ash Shaghir berkata, aku mendengar Ikrimah memarfu’kan hadits yang aku perkirakan kepada Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan ular karena takut diserangnya maka bukan dari golongan kami, kami tidak akan berdamai dengan mereka sejak kami memeranginya.”

 

Musnad Ahmad 1934: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Yasir dari Ibnu ‘Abbas; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca pada raka’at pertama dalam shalat fajar: (Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim…) hingga ayat yang terakhir. Dan pada raka’at kedua beliau membaca: (kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.) ”

 

Musnad Ahmad 1935: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Ishaq bin Abdullah bin Kinanah dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas; bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dengan khusyu’, tenang, tunduk, (dengan pakaian yang) sederhana dan berjalan perlahan tapi pasti. Beliau shalat bersama orang-orang sebanyak dua raka’at sebagaimana beliau shalat ied, dan tidak berkhutbah sebagaimana khutbah kalian ini.

 

Musnad Ahmad 1936: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Makkah, Ali keluar bersama anak perempuan Hamzah. Maka terjadilah perselisihan antara Ali, Ja’far dan Zaid, dan mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ali berkata; “Ia adalah anak perempuan pamanku, dan akulah yang membawanya keluar.” Ja’far berkata; “Ia adalah anak perempuan pamanku dan ibuku adalah bibi (dari ibu) nya.” Zaid berkata; “Ia adalah anak dari saudaraku.” -Zaid adalah saudara bagi Hamzah, yang keduanya telah dipersaudarakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Zaid: “Engkau adalah wali bagiku dan baginya.” Dan berkata kepada Ali: “Engkau adalah saudaraku dan sahabatku.” Serta berkata pada Ja’far: “Engkau adalah orang yang paling mirip denganku bentuk fisik dan akhlaknya. Sedang ia, biarkan ia bersama bibi (dari ibu) nya.”

 

Musnad Ahmad 1937: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abdurrahman bin Wa’lah, ia berkata; Aku bertanya pada Ibnu ‘Abbas tentang hukum menjual khamer. Lalu ia berkata; “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai seorang teman dari Tsaqif atau dari Daus. Dan beliau bertemu dengannya di Makkah saat Fathu Makkah dengan membawa geriba yang berisi khamer yang ia tunjukkan pada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Wahai Abu Fulan, Apakah engkau tahu bahwa Allah telah mengharamkannya?!” Maka laki-laki itu menemui budaknya dan berkata; “Pergilah dan juallah khamer ini.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Wahai Abu Fulan, Apa yang engkau perintahkan padanya?” Ia menjawab; “Aku memerintahkannya untuk menjualnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang diharamkan untuk diminum itu diharamkan juga untuk dijual.” Maka orang tersebut serta merta membuangnya di saluran air.

 

Musnad Ahmad 1938: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan (mengecekkan) hafalan Qur`annya kepada Jibril ‘Alaihis Salam setiap bulan Ramadlan. Maka saat pagi harinya -setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengecekkan hafalannya- beliau menjadi orang yang lebih lembut dari angin yang bertiup, tidaklah beliau diminta sesuatu kecuali memberinya. Maka ketika datang bulan Ramadlan menjelang ajalnya beliau mengecekkan hafalannya sebanyak dua kali.”

 

Musnad Ahmad 1939: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Umar bin Dzar dari bapaknya dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Jibril: “Apa yang menghalangimu untuk mengunjungiku lebih sering daripada sebelumnya?” Lalu turunlah: (Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu) hingga akhir ayat.”

 

Musnad Ahmad 1940: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin ‘Aun telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Atho` berkata; Aku dan Ibnu ‘Abbas turut hadir dalam mengiringkan jenazah Maimunah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Sarifa. Atho’ berkata; Lalu Ibnu ‘Abbas berkata; “Ini adalah jenazah Maimunah. Jika kalian mengangkat kerandanya, janganlah didorong-dorong dan digoncang-goncangkan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sembilan orang istri, dan beliau memberikan bagian kepada yang delapan dan tidak memberikan bagian kepada satu orang lagi.” Atho’ berkata; “Yang tidak mendapatkan bagian adalah Shafiyyah.”

 

Musnad Ahmad 1941: Telah menceritakan kepada kami Ya’la, telah menceritakan kepada kami Utsman dari Sa’id dari Ibnu ‘Abbas berkata; Shalat yang paling banyak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dua raka’at sebelum fajar (dengan membaca): (Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim) sampai akhir ayat, dan yang lain (kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.) ”

 

Musnad Ahmad 1942: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Hakim berkata; aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang puasa bulan Rajab, “Bagaimana pendapatmu tentangnya.” Ia berkata; Telah bercerita kepadaku Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan puasa sehingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka, dan jika berbuka sehingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa.

 

Musnad Ahmad 1943: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Utsman dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik celak kalian adalah yang Al Itsmid yang bisa membuat mata menjadi lebih cerah, dan menumbuhkan rambut.”

 

Musnad Ahmad 1944: Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad telah menceritakan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair berkata; Ibnu ‘Abbas menemuiku dan bertanya; “Apakah engkau sudah menikah?” Sa’id berkata; Aku menjawab; “Belum.” Ibnu ‘Abbas berkata; “Menikahlah, lalu temuilah aku setelah itu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Apakah engkau sudah menikah?” Sa’id berkata; “Aku menjawab; “Belum.” Ibnu ‘Abbas berkata; “Menikahlah, sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya.”

 

Musnad Ahmad 1945: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy Syaibani dari Hammad dari Ibrahim dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika engkau berburu dengan menggunakan anjing, lalu ia memakan sebagian dari buruannya, maka jangan engkau makan dagingnya. Karena itu berarti ia berburu untuk dirinya sendiri. Dan jika engkau lepas dia, dan dia membunuh buruannya dan tidak memakan sedikitpun dari buruannya, maka makanlah. Sesungguhnya ia menangkapnya untuk pemilik (tuan) nya.” Abdullah berkata; Dan dalam tulisan Ayahku dari Ibrahim ia berkata; “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas, lalu ayahku menghapusnya. Beginilah perkataan Asbath.”

 

Musnad Ahmad 1946: Telah menceritakan kepada kami Syuja’ bin Al Walid dari Abu Janab Al Kalbi dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga hal yang ketiganya wajib bagiku dan sunnah bagi kalian, (yaitu) shalat witir, berkurban (menyembelih), dan shalat dhuha.”

 

Musnad Ahmad 1947: Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Sulaiman bin Hayyan berkata; aku mendengar Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Muzdalifah sebelum terbit matahari.”

 

Musnad Ahmad 1948: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah oleh kalian (lailatul qadar) pada sepuluh terakhir, pada kesembilan akhir atau kelima akhir atau ketujuh akhir.”

 

Musnad Ahmad 1949: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Arthah dari Ibnu Abu Najih dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi suatu kaum sehingga beliau mendakwahinya terlebih dahulu.”

 

Musnad Ahmad 1950: Telah menceritakan kepada kami Hafsh telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Abdurrahman bin ‘Abis dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan putri-putrinya dan isteri-isterinya untuk keluar pada dua hari raya.”

 

Musnad Ahmad 1951: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria bin Abu Za`idah telah menceritakan kepadaku bapakku dari Abu Ishaq dari Al Arqam bin Syurahbil dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, beliau memerintah Abu Bakar untuk shalat mengimami kaum muslimin, kemudian beliau merasakan badannya agak membaik, maka beliau keluar untuk shalat. Ketika Abu Bakar merasakan kehadiran beliau, ia bermaksud untuk mundur, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya dan beliau duduk di sisi sebelah kiri Abu Bakar serta beliau meminta untuk membaca ayat yang diselesaikan oleh Abu Bakar.”

 

Musnad Ahmad 1952: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Al Hakam dari Abu Al Qasim dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melempar Jumrah di jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr dengan berkendaraan.

 

Musnad Ahmad 1953: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abdul Karim Al Jazari dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Janganlah kamu mencela orang yang berpuasa dan yang berbuka ketika safar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dan berbuka ketika safar.”

 

Musnad Ahmad 1954: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra`il atau lainnya, dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang ke sebuah desa kira-kira empat farsakh -atau ia berkata, – dua farsakh pada hari ‘Asyura`, beliau menyuruh kepada yang telah makan untuk tidak makan pada hari yang tersisa dan yang belum makan untuk menyempurnakan puasanya.”

 

Musnad Ahmad 1955: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa ada seorang laki-laki masuk Islam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian datang isterinya masuk Islam sesudah itu, maka ia berkata; “Ya Rasulullah sesungguhnya dia telah masuk Islam bersamaku.” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan kepadanya.

 

Musnad Ahmad 1956: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Jahdham dari Abdullah bin Ubaidullah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menyempurnakan wudhu.”

 

Musnad Ahmad 1957: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Zam’ah bin Shalih dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu ‘Abbas. Dan menurut Salamah bin Wahram dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat di atas karpet. Musnad Ahmad 1957: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Zam’ah bin Shalih dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu ‘Abbas. Dan menurut Salamah bin Wahram dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat di atas karpet.

 

Musnad Ahmad 1958: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abdurrahman bin ‘Abis berkata; aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas; “Apakah engkau pernah menyaksikan ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” ia menjawab; “Ya dan seandainya bukan karena kedudukanku maka aku tidak bisa menyaksikannya karena (waktu itu) aku masih kecil.” Ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan shalat di samping rumah Katsir bin Ash Shalt dua raka’at, kemudian beliau berkhutbah yang tidak dikumandangkan adzan maupun iqamah.”

 

Musnad Ahmad 1959: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Bakar bin Abu Al Jahm bin Shukhair dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Khauf di Dzi Qarad satu wilayah dari daerah Bani Sulaim, orang-orang membuat barisan di belakang beliau dua baris, barisan pertama menghadapi musuh dan barisan lain di belakangnya, maka beliau melaksanakan shalat dengan barisan di belakangnya kemudian mereka mundur ke tempat barisan mereka dan mereka yang lain menempati barisannya maka beliau shalat bersama mereka dengan raka’at yang lain.”

 

Musnad Ahmad 1960: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid berkata; aku bertanya kepada Thawus tentang subhah (shalat tathawwu’) ketika safar, ia berkata; Al Hasan bin Muslim bin Yannaq sedang duduk, kemudian berkata sedangkan Thawus mendengar; Telah menceritakan kepada kami Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan shalat ketika muqim dan safar, sebagaimana kamu ketika muqim melaksanakan shalat sunnah sebelum dan sesudahnya maka shalatlah ketika safar sebelum dan sesudahnya.” Suatu ketika Waki’ berkata; “shalatlah (shalat Sunnah) ketika safar.”

 

Musnad Ahmad 1961: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra`il dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diperintahkan kepadaku dua shalat dhuha dan witir namun tidak diwajibkan.”

 

Musnad Ahmad 1962: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas; bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: (SABBIHISMA RABBIKAL A’LA) beliau membaca: (SUBHANA RABBIAL A’LA).

 

Musnad Ahmad 1963: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Zam’ah bin Shalih dari Salamah bin Wahram dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati bukit Ghusfan saat melaksanakan haji, beliau bersabda: “Hai Abu Bakar bukit apakah ini?” ia menjawab; “Bukit Ghusfan.” Beliau bersabda: “Sungguh Hud dan Shalih telah melewati bukit ini dengan anak unta berwarna merah, tali kekangnya dari sabut, kain sarung mereka dengan Al ‘Aba` (sejenis mantel), pakaian mereka dari kain wol bergaris yang dikenakan ketika mereka berhaji ke Al Baitul ‘Atiq (Ka’bah).”

 

Musnad Ahmad 1964: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yahya bin Ubaid dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibuatkan nabidz (perasan kurma yang difermentasi) pada malam Kamis dan meminumnya pada hari Kamis dan hari Jum’at. (Perawi) berkata; dan aku perkirakan ia berkata; “Dan hari Sabtu, jika telah masuk waktu ashar terdapat sisa darinya maka beliau memberikannya kepada pelayannya atau menyuruhnya untuk dibuang.”

 

Musnad Ahmad 1965: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul A’la Ats Tsa’labi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berkata tentang Al Qur`an tanpa ilmu maka bersiaplah menempati tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 1966: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Adam bin Sulaiman mantan budak Khalid bin Khalid, berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ketika turun ayat: (Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu). ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Katakanlah kami mendengar dan kami ta’at dan kami menyerahkan diri, ” maka Allah memelihara iman di dalam hati mereka. Kemudian Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul rasul Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”) Abu Abdurrahman berkata; “Adam di sini adalah Abu Yahya bin Adam.”

 

Musnad Ahmad 1967: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Ishaq Al Makki dari Yahya bin Abdullah bin Shaifi dari Abu Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka serulah mereka kepada syahadah tiada Ilah selain Allah dan aku adalah utusan Allah, jika mereka mentaatimu dalam masalah ini, pahamkanlah mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada mereka lima kali shalat setiap hari dan malam. Jika mereka telah mentaatimu maka pahamkanlah mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah dalam harta mereka, engkau ambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin mereka. Jika mereka mentaatimu dalam masalah itu maka jauhilah kemuliaan harta mereka dan takutlah terhadap doa orang teraniaya karena doa antara dia dengan Allah tidak ada penghalang apapun.”

 

Musnad Ahmad 1968: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu satu kali satu kali.

 

Musnad Ahmad 1969: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah mantan budak Ibnu ‘Abbas dari Ibnu ‘Abbas; bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud terlihat putih kedua ketiaknya.

 

Musnad Ahmad 1970: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Sulaiman bin Al Ghasil dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam.

 

Musnad Ahmad 1971: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Sa’id bin Abu Hindi dari Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru bin Utsman dari ibunya, Fatimah binti Husain dari Ibnu ‘Abbas. Sedang Shafwan berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa’id bin Abu Hindi dari Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru bin Utsman dari ibunya Fatimah binti Husain bahwasanya ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Janganlah terus-menerus melihat orang yang berpenyakit kusta.”

 

Musnad Ahmad 1972: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Aku menyukai jika orang-orang mengurangi (jatah wasiat) dari sepertiga menjadi seperempat dalam wasiatnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sepertiga itu banyak atau besar.”

 

Musnad Ahmad 1973: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Fithr dari ‘Amir bin Watsilah berkata; aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya kaummu mengira bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan cepat dan itu merupakan sunnah, ” Ibnu Abbas menjawab; “Kaumku benar dan mereka juga berdusta, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan cepat, namun hal itu bukanlah sunnah, akan tetapi ketika beliau tiba sementara orang-orang Musyrik berada di atas gunung Qaiqu’an, mereka memperbincangkan bahwa beliau dan para sahabatnya ditimpa kelemahan, kepayahan dan kesulitan, maka beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berjalan cepat, lantas mereka (para sahabat) berjalan cepat di Ka’bah untuk memperlihatkan kepada mereka bila mereka (kaum Muslimin) tidak merasa kepayahan.”

 

Musnad Ahmad 1974: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Dzar dari bapaknya dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Jibril ‘Alaihissalam: “Mengapa engkau tidak mengunjungiku lebih banyak dari kunjunganmu sekarang ini?” Lalu turunlah (Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita) hingga akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 1975: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban, di antara hewan kurbannya terdapat unta (yang dahulu) milik Abu Jahal, pada hidungnya terdapat cincin perak.

 

Musnad Ahmad 1976: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi jubnah (keju), ia berkata; Maka para sahabat memukulnya dengan tongkat, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Letakkanlah pisau-pisau kalian, sebutlah nama Allah dan makanlah.”

 

Musnad Ahmad 1977: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Jabir dari Abu Ja’far dan ‘Atho` mereka berdua berkata; “Berkurban adalah sunnah.” Ikrimah berkata dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk berkurban dan witir tetapi tidak diwajibkan.”

 

Musnad Ahmad 1978: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis’ar dari Salamah bin Kuhail dari Al Hasan Al Arabi dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan kami anak-anak kecil Bani Abdul Muththalib di atas keledai kami dari Muzdalifah.” Sufyan berkata; “Ketika malam hari. kemudian beliau menepuk paha-paha kami dan bersabda: “Hai anak-anakku jangan melempar jumrah sampai terbit matahari.” Sufyan menambah; Ibnu ‘Abbas berkata; “Tidak ada seorangpun kecuali mengerti tentang melempar jumrah sampai terbit matahari.”

 

Musnad Ahmad 1979: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Kuhail dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam lalu beliau buang hajat, kemudian beliau membasuh wajah dan kedua tangannya setelah itu beliau tidur.

 

Musnad Ahmad 1980: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur sampai terdengar tarikan nafasnya, kemudian beliau bangun dan mendirikan shalat dan tanpa mengambil air wudhu.

 

Musnad Ahmad 1981: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Salamah dari Al Hasan yakni Al ‘Urani berkata; Ibnu ‘Abbas berkata; “Kami tidak mengetahui apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (surat) pada waktu zhuhur dan ashar, akan tetapi kami membacanya.”

 

Musnad Ahmad 1982: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Najih, ia mendengarnya dari Abu Raja` dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku mendatangi Surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya dari kalangan orang-orang fakir. Dan aku mendatangi Neraka maka aku melihat kebanyakan penghuninya dari kalangan wanita.”

 

Musnad Ahmad 1983: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar berkata; aku mendengar Ibnu Umar berkata; “Kami melakukan mukhabarah (menanami tanah orang lain dan meminta upah) sedangkan kami tidak melihatnya sebagai dosa. Sehingga Rafi’ bin Khadij mengira bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya.” ‘Amru berkata; “Aku menyebutkannya kepada Thawus ia berkata; Ibnu ‘Abbas berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang di antara kalian memberikan tanahnya kepada saudaranya itu lebih baik daripada ia menarik pajak yang telah ditentukan.”

 

Musnad Ahmad 1984: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Ketika turun larangan meminum khamer, mereka berkata; “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara-saudara kami yang meninggal sedangkan mereka meminumnya.” Maka turunlah ayat: (Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh Karena memakan makanan yang Telah mereka makan dahulu) sampai akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 1985: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah dari Al Hasan Al ‘Urani dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan kami anak-anak kecil Bani Muththalib dari Muzdalifah pada malam hari di atas keledai kami, maka beliau menepuk paha-paha kami dan bersabda: “Hai anak-anakku, janganlah kalian melempar jumrah sampai terbit matahari.”

 

Musnad Ahmad 1986: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah dari Al Hasan Al ‘Urani dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian telah melempar jumrah maka telah halal bagi kalian semuanya kecuali wanita.” Seseorang bertanya; “Wewangian juga?” Ibnu ‘Abbas berkata; “aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminyaki rambutnya dengan misik, tapi apakah itu termasuk wewangian atau tidak.”

 

Musnad Ahmad 1987: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Jabir dari Amir dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam di bagian lehernya di antara dua pundaknya.”

 

Musnad Ahmad 1988: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Jahdham dari Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengawinkan himar dengan kuda”

 

Musnad Ahmad 1989: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Ketika kafilah mendatangi Madinah, beliau membelinya dan mendapat keuntungan beberapa uqiyah dan dibagikan kepada para janda bani Abdul Muththalib dan bersabda: “Aku tidak membeli sesuatu yang tidak aku miliki harganya.”

 

Musnad Ahmad 1990: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abdul Karim Al Jazari dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mahar pezina (uang penghasilan zina), harga (penjualan) anjing dan harga khamar.”

 

Musnad Ahmad 1991: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Yahya bin Al Jazzar dari Shuhaib dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan shalat, datanglah dua anak wanita dari bani Abdul Muththalib sehingga berdua menyentuh kedua lutut beliau, maka beliau mencegah keduanya.”

 

Musnad Ahmad 1992: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Ibnu Ja’far Al Ma’na mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mughirah bin An-Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi nasehat kepada kami, beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan telanjang kaki dan dada serta tidak dikhitan ” (sebagaimana kami Telah memulai panciptaan pertama begitulah kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.) ” maka makhluk yang pertama kali akan dikenakan pakaian adalah Ibrahim kekasih Allah ‘azza wajalla.” Beliau bersabda: “Kemudian akan disiksa kaum di antara kalian, maka aku berkata; ‘ya Tuhanku, itu adalah sahabatku.’ maka disampaikanlah kepadaku; ‘sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang terjadi pada mereka setelah kepergianmu. Mereka kembali kepada kekafiran mereka sejak engkau meninggalkannya.’ Maka aku berkata sebagaimana perkataan seorang hamba shalih; ” (Dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka.) ” sampai ayat ” (Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.) ”

 

Musnad Ahmad 1993: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Manshur dari Dzar bin Abdullah Al Hamdani dari Abdullah bin Syaddad dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Ya Rasulullah sesungguhnya terbersit di dalam hatiku sesuatu, sungguh aku terjatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku mengatakannya.” Ibnu ‘Abbas berkata; Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALHAMDULILLAH yang dapat menolak tipu dayanya dari perasaan was-was.”

 

Musnad Ahmad 1994: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian berselisih masalah jalan, maka ukurlah tujuh hasta, dan barangsiapa membangun bangunan maka hendaknya dia memberi bantuan untuk membangun pagar tetangganya”

 

Musnad Ahmad 1995: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al Mas’udi dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari Arafah, maka orang-orang saling mendahului, lalu beliau bersabda: “Tenang dan berlaku luruslah kalian, sesungguhnya kebaikan itu bukan karena dapat menundukkan kuda dan hewan tunggangan.” Ibnu Abbas berkata; “Maka aku tidak melihat beliau mengangkat tangannya sambil bertolak hingga kami tiba di Jama’ (Muzdalifah).”

 

Musnad Ahmad 1996: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air tidak dapat dinajiskan oleh sesuatupun.”

 

Musnad Ahmad 1997: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa seorang isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi janabah, maka Nabi mandi atau wudhu dengan sisa air darinya.

 

Musnad Ahmad 1998: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwasanya sebagian isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi janabah lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan sisa airnya. Maka mereka memberitahukan kepadanya, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya air tidak dapat dinajiskan oleh sesuatupun.”

 

Musnad Ahmad 1999: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Muhammad atau Sa’id Al ‘Anqazi telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Imran dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghajr (memboikot) isteri-isterinya selama sebulan. Maka ketika berlalu hari kedua puluh Sembilan, Jibril datang kepadanya dan berkata; ‘Sungguh benar janjimu dan telah sempurna satu bulan’.”

 

Musnad Ahmad 2000: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Fithr. Sedang Muhammad bin Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Fithr dari Syurahbil Abu Sa’id dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa memiliki dua saudara perempuan kemudian berlaku baik dalam memelihara mereka selama mereka berdua bergaul dengannya, maka dia akan masuk surga bersama keduanya.” Sedang Muhammad bin Ubaid berkata; “dia dikaruniai dua orang puteri, kemudian berlaku baik dalam memeliharanya selama keduanya masih dalam pengawasannya, kecuali Allah akan memasukkannya kedalam surga.”

Sumber: http://www.lidwa.com

Advertisements

, ,

Leave a comment

Musnad Ahmad: 1801-1900

Musnad Ahmad 1801: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Suhaim, Sufyan berkata; aku tidak hafal darinya selain hadits ini, dia berkata; saya mendengarnya dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad bin Abbas dari Bapaknya dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyingkap tirai, sedangkan orang-orang berbaris di belakang Abu Bakar. Beliau bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya tidak ada yang tersisa dari tanda-tanda keNabian kecuali mimpi yang benar, yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan padanya.” Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, aku dilarang membaca (surat) pada saat ruku’ dan sujud. Kalau kalian melakukan ruku’, maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Sedang jika kalian bersujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa karena (doa pada saat itu) berhak untuk dikabulkan.”

 

Musnad Ahmad 1802: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menyiksa dengan siksa Allah Azza Wa Jalla!”

 

Musnad Ahmad 1803: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas, Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebelum khutbah pada waktu ied, lalu beliau berkhutbah. Beliau mengira bahwa para wanita tidak dapat mendengarnya, lalu beliau mendekati mereka dan mengingatkan serta menasihati mereka. Beliau juga menghimbau mereka agar bersedekah. Maka (setiap) seorang wanita melemparkan antingnya, cincinnya, juga yang lainnya.

 

Musnad Ahmad 1804: Telah menceritakan kepada kam Sufyan dari ‘Ashim dari Asy Sya’bi dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminum air Zamzam dari sebuah gayung dengan berdiri. Sufyan berkata; demikian yang saya yakini.

 

Musnad Ahmad 1805: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Jud’an dari ‘Amru bin Harmalah dari Ibnu Abbas: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minum, sedang Ibnu Abbas berada di sebelah kanannya dan Khalid bin Walid di sebelah kirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Minuman ini hanya untukmu, namun jika engkau mau, berikan kepada Khalid.” Ibnu Abbas berkata; “Saya tidak akan mendahulukan seorangpun atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1806: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ma’mar dari Abdullah bin ‘Utsman bin Khats’am dari Ibnu Abu Mulaikah -insya Allah, – yaitu; Ibnu Abbas meminta izin kepada Aisyah, dan dia masih termasuk anak saudara laki-laki Aisyah. Aisyah berkata; “Saya khawatir dia akan mensucikanku.” Tatkala Aisyah mengizinkannya, Ibnu Abbas berkata; “Tidak ada yang menyatukan antara dirimu dengan (saat-saat) bertemu dengan kekasih kecuali saat ruh meninggalkan jasad. Kamu adalah istri yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mencintai kecuali yang baik. Bahkan ketika kalungmu jatuh pada peristiwa Abwa` turun ayat al Qur`an mengenaimu. Dan tidak ada satu masjid pun yang dimiliki kaum muslimin kecuali dibaca (ayat yang berkaitan dengan) pembelaan terhadap dirimu sepanjang malam dan sepanjang siang.” Aisyah menjawab; “Tinggalkan aku dari pujian itu Wahai Ibnu Abbas, demi Allah, meskipun saya senang (turunnya ayat itu).”

 

Musnad Ahmad 1807: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Laits dari seorang laki-laki dari Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya engkau disebut Ummul Mukminin agar engkau senang dan itu adalah namamu sebelum engkau dilahirkan.”

 

Musnad Ahmad 1808: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Karim dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas Insya’ Allah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bernafas dalam bejana (tempat minum) atau meniupnya.

 

Musnad Ahmad 1809: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Salim dari Kuraib dari Ibnu Abbas, dan sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa; “Andai salah seorang dari mereka ketika hendak mendatangi istrinya mengucapkan: ‘BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNI ASY SYAITHANA WA JANNIBBIS SYAITHAN MA RAZAQTANA (Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah aku dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari apa yang telah engkau rizkikan pada kami), maka jika mereka berdua ditakdirkan mempunyai anak setelah itu, maka setan tidak akan mampu memberikan bahaya kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 1810: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Rufai’ berkata; saya dan Syadad bin Ma’qil menemui Ibnu Abbas, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan selain apa yang ada diantara kedua sampul kitab ini.” Kami menemui Muhammad bin Ali, dan ia mengatakan seperti itu juga. Abdullah berkata; Al Mukhtar berkata; “Wahyu.”

 

Musnad Ahmad 1811: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; dan Musa bin Abu Aisyah berkata; saya mendengar Said bin Jubair berkata; Ibnu Abbas berkata; Jika turun Al Qur`an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau ingin segera bisa menghafalnya, maka Allah ‘azza wajalla berfirman: (Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.)

 

Musnad Ahmad 1812: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru berkata; telah mengabarkan kepadaku Kuraib dari Ibnu Abbas berkata; “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat fajar dua raka’at, beliau berbaring hingga terdengar suara nafas beliau.” Kami berkata kepada ‘Amru; sesungguhnya beliau bersabda: “Mataku tidur akan tetapi hatiku tidak.”

 

Musnad Ahmad 1813: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Kuraib dari Ibnu Abbas; “Saya menginap di rumah bibiku Maimunah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sisinya pada malam itu, beliau berwudhu dengan ringkas kemudian berdiri. Ibnu Abbas mengikuti apa yang beliau lakukan, dia mendatangi beliau, berdiri dan shalat, kemudian beliau memindahkannya ke sebelah kanannya, dan dia shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian beliau berbaring sehingga terdengar suara nafas beliau. Ketika muadzin mengumandangkan adzan beliau bangkit untuk shalat tanpa berwudhu lagi.”

 

Musnad Ahmad 1814: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah: “Sesungguhnya kalian akan menemui Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, berjalan kaki dan tidak dikhitan.”

 

Musnad Ahmad 1815: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang lelaki jatuh terpelanting dari untanya dan terinjak unta tersebut hingga meninggal, dan pada saat itu dia dalam keadaan ihram. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, lalu kafanilah dengan dua kain yang dipakainya, jangan ditutup kepalanya, sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.” Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibrahim bin Abu Hurrah dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas; “Janganlah kalian memberinya wangi-wangian.”

 

Musnad Ahmad 1816: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah Azza Wa Jalla; (Dan kami tidak menjadikan mimpi yang telah kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.) dia berkata; (maksudnya) adalah kenyataan yang dilihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam beliau di isra`kan.

 

Musnad Ahmad 1817: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, pada kesempatan lain Ibnu Abbas berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah: “Barangsiapa tidak mendapati sandal, hendaklah mengenakan khuff. Dan barangsiapa tidak mendapatkan kain sarung, maka hendaklah mengenakan sirwal (semacam celana).”

 

Musnad Ahmad 1818: Telah menceritakan kepada kami Sufyan; ‘Amru berkata; telah mengabarkan kepadaku Jabir bin Zaid bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata; Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam delapan raka’at jamak dan tujuh raka’at jamak.” ‘Amru berkata kepada Said bin Jubair; “Wahai Abu Asy Sya’tsa`, saya mengira dia mengakhirkan shalat zhuhur dan mendahulukan ashar dan mengakhirkan maghrib dan menyegerakan isya’.” Dia menjawab; “Saya mengira juga demikian.”

 

Musnad Ahmad 1819: Telah menceritakan kepada kami Sufyan; ‘Amru berkata; Abu Asy Sya’tsa` bertanya; “Siapa perempuan itu?” saya menjawab; mereka mengatakan Maimunah, Abu Asy Sya’tsa berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah padahal beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 1820: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas; “Saya termasuk orang-orang yang didahulukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam Muzdalifah bersama-sama orang yang lemah dari kalangan keluarganya.” Pada kesempatan lainnya dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan orang-orang yang lemah dari kalangan keluarganya.”

 

Musnad Ahmad 1821: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlari-lari kecil di sekitar Ka’bah untuk memperlihatkan kekuatan beliau kepada kaum musyrikin.

 

Musnad Ahmad 1822: Telah menceritakan kepada kami Sufyan; pada awalnya ‘Amru berkata; menghapalnya dari Thawus, dan pada kesempatan lain ‘Amru berkata; telah mengabarkan kepadaku Thawus dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam pada saat beliau sedang ihram. Bapakku berkata; sungguh Sufyan menceritakannya kepada kami, dan ‘Amru berkata; dari ‘Atho` dan Thawus dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam padahal beliau sedang berihram.

 

Musnad Ahmad 1823: Bapakku berkata; dan Sufyan berkata; dari ‘Amru dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian makan janganlah ia membersihkan tangannya hingga ia menjilatinya atau membersihkannya dengan lidahnya.”

 

Musnad Ahmad 1824: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; “Al Muhasshab bukan termasuk Mina, melainkan itu hanyalah sebuah tempat yang pernah disinggahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1825: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Atho`, sedang Ibnu Juraij berkata; dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengakhirkan shalat hingga larut malam sesuai kehendak Allah. Lalu Umar berkata; “Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur.” Beliau keluar seraya bersabda: “kalau seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk shalat pada saat seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 1826: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Thawus dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperintah untuk bersujud dengan tujuh anggota tubuhnya dan dilarang menahan rambut dan bajunya.”

 

Musnad Ahmad 1827: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Thawus berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual makanan sehingga diterima dengan secara langsung. Ibnu Abbas berkata menurut pendapatnya sendiri; “dan saya mengira semuanya seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 1828: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman bin Shafwan bin Umayyah Al Jumahi berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Aban dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat ketika berada di Madinah bukan dalam keadaan safar sebanyak tujuh raka’at dan delapan raka’at.”

 

Musnad Ahmad 1829: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari ‘Ausajah dari Ibnu Abbas; seorang laki-laki meninggal dunia pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia tidak meninggalkan satu ahli warispun kecuali seorang budak yang telah dia bebaskan. Maka beliau memberikan harta warisannya kepada budak tersebut.

 

Musnad Ahmad 1830: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Muhammad bin Hunain dari Ibnu Abbas; Aku heran dengan orang yang mengedepankan (hitungan) bulan (berpuasa dengan tidak melihat hilal), padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya (hilal) ” atau beliau bersabda: “Berpuasalah setelah kalian melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 1831: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Sa’id bin Al Huwairits, dia mendengar Ibnu Abbas berkata; Ketika kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau pergi untuk buang air, kemudian beliau keluar dan meminta diambilkan makanan. Ibnu Abbas berkata; maka makanan diberikan pada beliau. Kemudian ada yang bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah anda tidak berwudhu dahulu?” Beliau menjawab: “Aku tidak hendak melaksanakan shalat, maka apakah aku harus berwudhu?!”

 

Musnad Ahmad 1832: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas berkata; “Aku tidak mengetahui rampungnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dengan takbir.” ‘Amru berkata; Aku berkata kepada Abu Ma’bad; “apakah anda pernah menceritakannya kepadaku?” Dia berkata; “tidak, Aku tidak pernah menceritakan itu kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 1833: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya.” seorang laki-laki datang dan bertanya; “Sesungguhnya istriku hendak keluar untuk berhaji, sedang aku ikut serta dalam perang ini dan itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pulanglah dan temanilah istrimu berhaji.”

 

Musnad Ahmad 1834: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sulaiman bin Abu Muslim paman Ibnu Abu Najih, dia mendengar Said bin Jubair berkata; Ibnu Abbas berkata: “Hari kamis, dan apakah hari kamis itu?” Kemudian ia menangis hingga air matanya mengalir. -Dalam kesempatan lain Said bin Jubair berkata; sampai butiran air matanya mengalir.- maka kami bertanya; “Wahai Abu Al Abbas, kenapa dengan hari kamis?” Dia berkata; “Pada hari tersebut sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin parah, lalu beliau berkata: “Kemarilah, aku tuliskan untuk kalian sebuah surat, sehingga kalian tidak akan tersesat setelahnya selamanya.” Namun mereka berselisih, padahal tidak pantas ada yang berselisih di dekat seorang Nabi. Mereka berkata; “Bagaimana keadaan beliau, apakah beliau mengigau? -Sufyan berkata; yaitu melantur, – hendaknya kalian tanyakan kembali kepada beliau.” lalu mereka pergi dan menyakannya kembali. Maka beliau bersabda: “Tinggalkan aku, keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian kira.” Beliau menyuruh tiga hal -Sufyan berkata; Beliau mewasiatkan tiga hal.- beliau bersabda: “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan perlakukan utusan sebagaimana saya memperlakukan mereka.” Tetapi Sa’id tidak menyebutkan wasiat yang ketiga, saya tidak tahu apakah dia sengaja mendiamkannya atau karena dia lupa. Dalam riwayat lain Sufyan berkata; Bisa jadi dia sengaja tidak menyebutkannya atau melupakannya.

 

Musnad Ahmad 1835: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sulaiman dari Thawus dari Ibnu Abbas; orang-orang pergi (berpencar) dari berbagai arah (ketika selesai melaksanakan manasik haji), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorangpun pergi (pulang) hingga akhir persinggahannya adalah Ka’bah.”

 

Musnad Ahmad 1836: Telah menceritakan kepadaku Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari Abdullah bin Abu Katsir dari Abu Al Minhal dari Ibnu Abbas; “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah orang-orang melakukan salaf (menyerahkan uang terlebih dahulu sebelum menerima barang) pada kurma untuk dua dan tiga tahun. Maka beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan salaf maka hendaklah dia melakukannya dengan timbangan yang jelas dan takaran yang pasti serta waktu yang jelas.”

 

Musnad Ahmad 1837: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin Abu Yazid sejak tujuh puluh tahun lalu, berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari tertentu dengan mengkhususkan keutamaannya dari hari-hari yang lain selain hari Asyura`.” Sufyan pada lain kesempatan berkata; “Kecuali hari ini, yaitu hari Asyura` dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.”

 

Musnad Ahmad 1838: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Saya termasuk orang-orang yang didahulukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam Muzdalifah bersama-sama orang yang lemah dari kalangan keluarganya.”

 

Musnad Ahmad 1839: Ahmad bin Hanbal berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Thawus dari Bapaknya dari Ibnu Abbas; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperintah untuk sujud dengan tujuh anggota tubuhnya dan dilarang menahan rambut dan bajunya.”

 

Musnad Ahmad 1840: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ammar dari Salim; Ibnu Abbas ditanya tentang seseorang yang membunuh seorang mukmin kemudian ia bertaubat, beriman dan beramal shalih dan ia berjalan di atas jalan yang lurus. Maka Ibnu Abbas berkata; “Celaka kamu! Bagaimana mungkin dia mendapatkan petunjuk! Aku mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang dibunuh akan didatangkan bersama dengan orang yang membunuh. Orang tersebut berkata; ‘Wahai Rabbku, tanyalah padanya, kenapa dulu ia membunuhku.” Demi Allah, sungguh Allah Azza Wa Jalla telah mewahyukan pada Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pernah menghapusnya setelah menurunkannya.” Ibnu Abbas berkata; “Bagaimana mungkin dia bisa mendapat hidayah?”

 

Musnad Ahmad 1841: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris berkata; telah mengabarkan kepada kami Yazid dari Ibnu Miqsam dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikafani dengan tiga lembar kain, berupa baju yang beliau pakai saat beliau meninggal dan dua lembar kain dari Najran.

 

Musnad Ahmad 1842: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah memberitakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Miqsam dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam ketika sedang dalam perjalanan antara Makkah dan Madinah, dan beliau saat itu dalam keadaan puasa dan sedang berihram.”

 

Musnad Ahmad 1843: Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abu Katsir dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai budak Mukatab: “Dibebaskan sesuai dengan diyat (denda) kebebasan yang ia bayarkan dan sesuai dengan lamanya ia menjadi budak.”

 

Musnad Ahmad 1844: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Khalid Al Hadzdza` telah menceritakan kepadaku ‘Ammar mantan budak Bani Hasyim, berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat pada usia enam puluh lima tahun.”

 

Musnad Ahmad 1845: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Qabus dari Bapaknya dari Ibnu Abbas berkata; Kesulitan yang terakhir kali dirasakan oleh seorang mukmin adalah kematian.” Dan tentang firman Allah; (Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak) ia berkata: “Seperti endapan minyak.” Dan tentang firmanNya; (..beribadat di waktu-waktu malam..) ia berkata; “Di sepertiga malam terakhir.” Dia berkata; “Apakah kalian tahu bagaimana hilangnya ilmu? Yaitu saat para ulama’ telah dihilangkan (dicabut nyawanya) dari dunia ini.”

 

Musnad Ahmad 1846: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Qabus dari Bapaknya dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang yang pada hatinya tidak ada sedikitpun dari al Qur`an seperti rumah yang roboh.”

 

Musnad Ahmad 1847: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Qabus dari Bapaknya dari Ibnu Abbas; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah, kemudian beliau diperintahkan untuk berhijrah, dan turunlah kepadanya ayat: (Dan Katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah Aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah Aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang menolong.”

 

Musnad Ahmad 1848: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Qabus dari Bapaknya dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak benar ada dua kiblat di satu wilayah, dan tidak ada jizyah bagi seorang muslim.”

 

Musnad Ahmad 1849: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sufyan berkata; telah menceritakan kepadaku Al Mughirah bin An Nu’man dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang dan tidak dikhitan. Yang pertama kali mendapatkan pakaian adalah Ibrahim ‘alaihi sallam.” Kemudian beliau membaca: (Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama begitulah kami akan mengulanginya.)

 

Musnad Ahmad 1850: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminum susu kemudian berkumur-kumur dan bersabda: “Sesungguhnya susu mengandung lemak.”

 

Musnad Ahmad 1851: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah berkata; saya mendengar Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas berkata; Ada yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang anak perempuan Hamzah. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya dia adalah putri saudaraku sepersusuan.”

 

Musnad Ahmad 1852: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah berkata; saya mendengar Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak shalat zhuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya’ ketika berada di Madinah bukan karena ketakutan dan bukan karena hujan.” Maka ditanyakanlah kepada Ibnu Abbas; “Apakah yang beliau inginkan dengan hal itu?” dia menjawab; “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya.”

 

Musnad Ahmad 1853: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Zhabyan dari Ibnu Abbas berkata; Seorang laki-laki dari Bani Amir menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, perlihatkanlah kepadaku tanda yang ada diantara kedua bahumu, karena aku adalah orang yang paling ahli dalam bidang kedokteran.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana jika aku perlihatkan satu ayat (keajaiban)?” Orang itu menjawab; “Baiklah.” Ibnu Abbas berkata; Beliau melihat ke sebatang pohon kurma dan bersabda: “Panggillah pohon itu.” Orang tersebut memanggilnya dan tiba-tiba pohon itu melompat dan mendekatinya hingga berada di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada pohon tersebut: “Kembalilah.” Pohon itu kembali ke tempatnya semula. Maka orang dari Bani Amir tersebut berkata; “Wahai keluarga Bani Amir, aku tidak pernah melihat seseorang yang paling pandai sihir seperti (lelaki yang kulihat) hari ini’.”

 

Musnad Ahmad 1854: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Mas’ud bin Malik dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku ditolong dengan bantuan angin (yang bertiup dari timur) sedangkan kaum ‘Aad dihancurkan dengan angin (yang bertiup dari barat).”

 

Musnad Ahmad 1855: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ziyad bin Al Hushain dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Azza Wa Jalla; (Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya) dia berkata; Muhammad melihat Rabbnya Azza Wa Jalla dengan hatinya dua kali.

 

Musnad Ahmad 1856: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu Malik Al Asyja’i dari Ibnu Hudair dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dikaruniai anak perempuan, dan ia tidak menguburnya hidup-hidup, tidak menyia-nyiakannya, juga tidak membedakan anak atas anak perempuan tersebut, maksudnya anak laki-laki, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam syurga.”

 

Musnad Ahmad 1857: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan perjalanan, kemudian beliau tinggal disana selama sembilan belas hari dengan shalat dua raka’at-dua raka’at. Oleh karena itu, jika kami bersafar dan tinggal selama sembilan belas hari maka kami shalat dua raka’at dua raka’at. Jika kami tinggal lebih dari itu, maka kami shalat empat raka’at.”

 

Musnad Ahmad 1858: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membebaskan budak-budak orang musyrik yang keluar menemui beliau pada saat peristiwa penaklukkan Tha’if.”

 

Musnad Ahmad 1859: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang Muhaqalah dan Muzabanah. Sedang Ikrimah memakruhkan jual beli fashil.”

 

Musnad Ahmad 1860: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq yaitu Asy Syaibani, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada penduduk Jurasy, yang isinya melarang mereka mencampur antara kismis dengan kurma kering.

 

Musnad Ahmad 1861: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani dari Asy Sya’bi dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalati orang yang sudah meninggal setelah dikuburkan.

 

Musnad Ahmad 1862: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Umar dari Ibnu Abbas berkata; “Kurma kering direndam di dalam air untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, hari esoknya, dan lusa sampai pada sore hari ketiga, lalu beliau memerintahkan untuk menuangkannya atau menumpahkannya.”

 

Musnad Ahmad 1863: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ajlah dari Yazid bin Al Asham dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki yang berkata; “masyaa`allah wa syi`ta (Sesuai kehendak Allah dan kehendakmu).” Maka Beliau berkata: “akan tetapi katakanlah: MASYAA`ALLAH (sesuai kehendak Allah) saja.”

 

Musnad Ahmad 1864: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Yahya bin Al Jazzar dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di tanah lapang dan di depannya tidak ada sesuatupun (yang dijadikan sebagai satir/pembatas).

 

Musnad Ahmad 1865: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abdullah bin Rawahah untuk mempin sepasukan Perang, yang saat itu bertepatan dengan Hari Jum’at. Dia memerintahkan para sahabatnya untuk berangkat lebih dahulu dan berkata; “aku akan menunda keberangkatan sehingga aku dapat shalat Jum’at bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian menyusul mereka.” Ibnu Abbas berkata; Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau bertanya: “Apa yang menghalangimu berangkat bersama para sahabatmu?” dia menjawab: “Aku ingin Shalat Jum’at bersama anda, setelah itu aku menyusul mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Andai saja engkau menginfaqkan semua yang ada di bumi, niscaya tidak akan menyamai (pahala) keberangkatan mereka.”

 

Musnad Ahmad 1866: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; “Najdah al Haruri menulis surat kepada Ibnu Abbas yang isinya menanyakan kepadanya tentang hukum membunuh anak kecil, (menanyakan) bagian seperlima (dari ghanimah) dibagikan kepada siapa, seorang anak kapan dia tidak dianggap sebagai yatim, para wanita: apakah mereka boleh pergi atau mengikuti Perang, dan apakah seorang budak itu mendapatkan bagian dari ghanimah. ‘Atho` berkata; maka Ibnu Abbas menulis balasan surat tersebut yang isinya: “Tentang anak kecil, jika kamu seperti Nabi Khaidir, mampu membedakan yang kafir dan yang mukmin, maka bunuhlah anak-anak yang akan menjadi kafir. Masalah bagian yang seperlima, menurut kami itu adalah bagian kami, namun sebagian kaum mengakui bahwa itu bukan bagian kami. Tentang masalah para wanita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu keluar bersama para wanita, mereka bisa mengobati orang yang sakit, dan merawat orang yang terluka, tetapi mereka tidak ikut berperang. Tentang masalah anak kecil, maka ia tidak dianggap sebagai anak yatim jika sudah mimpi (baligh). Sedangkan masalah budak, tidak mendapatkan bagian apapun dari harta ghanimah, tetapi dahulu ada diantara mereka yang diberi sedikit dari harta ghanimah.”

 

Musnad Ahmad 1867: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Muslim Al Bathin dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada satu haripun yang amalan shalih di dalamnya lebih disukai Allah Azza Wa Jalla daripada hari-hari ini.” yaitu sepuluh hari pertama dari bulan Dzul Hijjah. Ibnu Abbas berkata; Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, begitu juga dengan Jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Termasuk jihad fi Sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi setelah itu.” Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Shalih berkata, dan telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Mujahid tanpa mengikut sertakan Ibnu Abbas di dalamnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas, yaitu; “Tidak ada hari yang amalan di dalamnya.”

 

Musnad Ahmad 1868: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Muslim Al Bathin dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Seorang wanita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia, sedang ia masih mempunyai tanggungan puasa satu bulan. Apakah aku boleh mengerjakannya untuknya?” Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika ibumu mempunyai hutang, apakah engkau harus melunasinya?” Wanita itu menjawab; “Tentu.” Beliau bersabda: “Maka hutang kepada Allah Azza Wa Jalla lebih berhak untuk dilunasi.”

 

Musnad Ahmad 1869: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Qasim bin Abbas dari Abdullah bin Umair mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika aku masih diberi kesempatan hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal sembilan bulan Muharram.”

 

Musnad Ahmad 1870: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlari-lari dalam (melaksanakan manasik) haji beliau dan dalam beberapa umrah yang beliau lakukan, hal itu juga dilakukan Abu Bakar, Umar, ‘Utsman dan para khalifah yang lainnya.”

 

Musnad Ahmad 1871: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Amru Al Fuqaimi dari Mihran, Abu Shafwan dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa hendak berhaji maka segerakanlah.”

 

Musnad Ahmad 1872: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad yaitu Al Muharibi, telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Amru dari Mihran, Abu Shafwan berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa hendak berhaji maka segerakanlah.”

 

Musnad Ahmad 1873: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Habib bin Abu Tsabit dari Thawus dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ketika terjadi gerhana matahari delapan kali ruku’ dan empat kali sujud.

 

Musnad Ahmad 1874: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Hisyam berkata; Yahya bin Abu Katsir menulis surat kepadaku, menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa ‘Umar pernah mengatakan; “Pada tanah haram ada sumpah yang dapat menghapuskan dosa.” Hisyam berkata; Yahya menulis surat kepadaku bahwa ia mengatakan dari Ya’la bin Hakim dari Sa’id bin Jubair bahwa Ibnu Abbas mengatakan; “Di tanah Haram ini ada sumpah yang dapat menghapuskan dosa.” Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.”

 

Musnad Ahmad 1875: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Musa bin Salim, Abu Jahdlam telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Ubaidullah bin Abbas, dia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang diperintah, beliau telah menyampaikan -demi Allah- apa yang beliau diutus dengannya. Beliau tidak mengkhususkan kami sedikitpun dari kaum yang lain, beliau memerintahkan kepada kami dengan tiga hal: Memerintahkan kepada kami agar kami menyempurnakan dan memperbagus wudhu, tidak memakan harta sedekah dan tidak mengawinkan keledai dengan kuda.” Musa berkata; Aku menemui Abdullah bin Hasan dan berkata; “Sesungguhnya Abdullah bin Ubaidillah mengatakan kepadaku begini dan begitu.” Dia berkata; “kuda milik Bani Hasyim jumlahnya sedikit, sehingga mereka lebih suka jika kuda mereka bertambah banyak.”

 

Musnad Ahmad 1876: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid berkata; telah menceritakan kepadaku Umar bin abu Harmalah dari Ibnu Abbas, dia menuturkan; Aku dan Khalid bin Al Walid masuk ke rumah Maimunah binti Al Harits bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Maimunah binti Al Harits bertanya; “maukah kalian kami hidangkan makanan yang telah dihadiahkan Ummu Hufaid kepada kami?” kemudian di hidangkanlah dua biawak panggang, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuang ludah, maka Walid bertanya kepada beliau; “sepertinya engkau merasa jijik kepadanya?” beliau menjawab; “betul”, Maimunah bertanya kembali; “apakah kalian mau kami hidangkan minum yang telah di hadiahkan Ummu Hufaid kepada kami?” beliau menjawab; “ya” di datangkanlah sebejana susu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminum (susu tersebut) dan pada saat itu aku berada di samping kanan beliau dan Khalid berada di samping kiri beliau, kemudian beliau berkata kepadaku; “minuman ini untukmu, dan jika kamu mau, kamu bisa memberikannya kepada Khalid?” maka aku menjawab; “aku tidak akan memberikan sisa minuman bekas engkau kepada seorangpun, ” beliau bersabda: “Barangsiapa di beri makanan oleh Allah maka hendaklah dia mengucapkan; ‘ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di dalam makanan ini, dan berikanlah makanan yang lebih baik dari ini kepada kami.’ Dan barangsiapa di beri minuman susu oleh Allah, maka hendaknya dia mengucapkan; ‘ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami dalam minuman ini dan tambahkanlah kepada kami.’ Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikan (memenuhi) kedudukan makanan dan minuman selain susu.” Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Umar bin Abi Harmalah dari Ibnu ‘Abbas dari Ummu Hufaid bahwa dia pernah memberi hadiah dua ekor biawak kepada saudaranya yaitu Maimunah…” lalu ia meneruskan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 1877: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’ secara makna berkata; telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Mujahid, Waki’ berkata; saya mendengar Mujahid menceritakan dari Thawus dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua buah kuburan, kemudian bersabda: “Sesungguhnya mereka berdua sedang diadzab, dan mereka diadzab bukan karena dosa yang besar. Salah satunya diadzab karena tidak menjaga diri dari air kencing.’ – Waki’ berkata; dari kencingnya.- Sedang yang lainnya karena suka menyebarkan perkataan buruk untuk merusak kondisi manusia di manapun ia berada.” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma dan membelahnya menjadi dua bagian, lalu menancapkan setiap belahan tersebut masing-masing kuburan. Maka para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kenapa anda melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Semoga saja bisa meringankan siksa mereka berdua selama kedua pelepah tersebut belum kering.” -sedang menurut Waki’ berkata; keduanya (pelepah) belum kering.- Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Mansur dari Mujahid dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati salah satu pekuburan dari pekuburan yang ada di Madinah, kemudian beliau mendengar suara dua orang yang sedang diadzab di kuburan mereka. Lalu menyebutkan hadits tersebut dengan tambahan; “Hingga kedua pelepah mengering atau selama keduanya belum mengering.”

 

Musnad Ahmad 1878: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Hisyam Ad Dustuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. Beliau juga bersabda: “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan fulan, dan Umar juga mengeluarkan fulan.

 

Musnad Ahmad 1879: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; “Saya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebelum menyampaikan khutbah, kemudian beliau berkhutbah. Ketika beliau merasa bahwa hal itu tidak didengar para kaum wanita, beliau menemui mereka dengan didampingi Bilal. Bilal membentangkan kainnya, sementara beliau memberi nasihat kepada mereka dan memerintahkan agar mereka bersedekah, maka (satiap) wanita menyerahkan..-Ayyub memberi isyarat ke telinga dan lehernya, seolah-olah yang dimaksud adalah anting dan kalung.-

 

Musnad Ahmad 1880: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Hisyam Ad Dustuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai budak Mukatab: ” (Budak) bisa merdeka dengan membayar diyat orang merdeka dan dengan membayar diyat seorang budak.”

 

Musnad Ahmad 1881: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Hatim bin Abu Shaghirah dari Simak bin Harb dari ‘Ikrimah berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah jika kalian melihat hilal dan berbukalah jika kalian melihatnya juga! Jika antara kalian dan Hilal terdapat awan maka sempurnakanlah bilangan menjadi tiga puluh, janganlah kalian mendahului berpuasa sebelum datangnya bulan.” Hatim berkata; “Yaitu hitungan bulan Sya’ban.”

 

Musnad Ahmad 1882: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abdul Malik telah menceritakan kepada kami ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari Arafah dengan membonceng Usamah bin Zaid di belakang beliau. Unta (yang dikendarai beliau) berputar-putar sedang beliau mengangkat tangannya dengan tidak sampai melewati kepalanya. Kemudian beliau berjalan dengan perlahan sampai tiba di Muzdalifah. Esok harinya beliau bertolak dengan membonceng Al Fadhl bin Abbas. Beliau tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah Aqabah.

 

Musnad Ahmad 1883: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Habib bin Syihab telah menceritakan kepadaku bapakku berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan orang-orang saat berada di Tabuk: “Tidak ada seorangpun yang menyamai seorang laki-laki yang menaiki kudanya untuk berperang di jalan Allah Azza Wa Jalla dan menjauhi keburukan manusia. Juga tidak ada yang menyamai seseorang yang hidup di pedalaman yang diberi kenikmatan, ia menyambut dan memuliakan tamunya serta memberikan haknya.”

 

Musnad Ahmad 1884: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Malik telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam makan lengan bagian depan kambing lalu shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.

 

Musnad Ahmad 1885: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang meminum susu kambing Jalalah (yang memakan kotoran), memakan daging hewan yang dibunuh dengan cara dipanah sebagai sasaran panah, dan minum dari mulut tempat air minum.

 

Musnad Ahmad 1886: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Muslim dari Thawus berkata; Aku sedang bersama Ibnu Abbas, kemudian Zaid bin Tsabit bertanya kepada Ibnu Abbas: “Apakah kamu yang memberi fatwa, bahwa wanita yang haidl boleh pulang padahal dia belum thawaf di Ka’bah.” Dia menjawab; “Ya.” Zaid berkata; “Kalau begitu, janganlah kamu berfatwa seperti itu.” Ibnu Abbas berkata; “Kenapa tidak, tanyalah fulanah dari kalangan Anshar, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya seperti itu?” Maka Zaid pun kembali menemui Ibnu Abbas sambil tertawa dan berkata; “Aku tidak menganggapmu kecuali engkau benar.”

 

Musnad Ahmad 1887: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Manshur dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, akan tetapi jihad dan niat. Jika kalian diperintahkan untuk berangkat berperang, maka berangkatlah.”

 

Musnad Ahmad 1888: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Sulaim dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Ibnu Abbas, -Sufyan berkata; Aku tidak tahu kecuali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, – mengenai (..Atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu)..) Ibnu Abbas menafsirkan; ” (maksudnya adalah) Tulisan.”

 

Musnad Ahmad 1889: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Mukhawwal dari Muslim Al Bathin dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: ALIF LAM MIM. TANZIIL.. dan HAL ATA..pada shalat shubuh Hari Jum’at. Dan ketika shalat Jum’at, beliau membaca surat Jum’at dan IDZA JA`AKALMUNAFIQUN.

 

Musnad Ahmad 1890: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Umar bin ‘Atho` bin Abu Al Khuwar berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakan makanan yang dimasak dengan api, lalu beliau shalat tanpa berwudhu.”

 

Musnad Ahmad 1891: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Ibnu Abbas berkata; “Saya mengadakan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam antara Makkah dan Madinah. Beliau shalat dua raka’at, padahal beliau tidak dalam keadaan takut kecuali karena Allah Azza Wa Jalla.”

 

Musnad Ahmad 1892: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Musa bin Salamah berkata; saya bertanya kepada Ibnu Abbas; “Jika kamu tidak sempat mendapati shalat di masjid, berapa raka’at kamu shalat di Bathha`?” dia menjawab; “Dua raka’at, dan itulah sunnah Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1893: Telah menceritakan kepada kami Yahya berkata; Sufyan mendektekan kepadaku, untuk dikirim kepada Syu’bah berkata; saya mendengar ‘Amru bin Murrah telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Al Harits Al Mu’allim telah menceritakan kepadaku Thaliq bin Qais Al Hanafi saudara Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “RABBI A’INNI WALAA TU’IN ‘ALAYYA WANSHURNI WALAA TANSHUR ‘ALAYYA WAMKUR LI WALAA TAMKUR ‘ALAYYA WAHDINI WA YASSIRILHUDA ILAYYA WANSHURNI ‘ALA MAN BAGHAA ‘ALAYYA RABBIJ’ALNI LAKA SYAKKARAN LAKA DZAKKARAN LAKA RAHHABAN LAKA MITHWA’AN ILAIKA MUKHBITAN LAKA AWWAHAN MUNIBAN RABBI TAQABBAL TAUBATI WAGHSIL HAUBATI WA AJIB DA’WATI WA TSABBIT HUJJATI WAHDI QALBI WA SADDID LISANI WASLUL SAKHIMATA QALBI” (Ya Rabbku! Bantulah aku dan jangan Engkau memberi bantuan mereka untuk mengalahkanku. Tolonglah aku dan jangan Engkau menolong mereka untuk mengalahkanku. Buatlah makar untukku dan jangan Engkau buatkan mereka makar untuk mengalahkanku. Tunjukilah aku dan mudahkanlah petunjuk-Mu untukku. Tolonglah aku atas orang-orang yang menzhalimi aku. Ya Rabbku! Jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur kepadaMu, selalu ingat kepadaMu, selalu takut kepadaMu selalu patuh padaMu, selalu tunduk dan pasrah terhadapMu, selalu kembali dan taubat kepadaMu. Ya Rabbku! terimalah taubatku, bersihkanlah kesalahanku, kabulkanlah do’aku, tetapkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, teguhkanlah lisanku dan cabutlah segala penyakit hatiku) ”

 

Musnad Ahmad 1894: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa, hingga kami berkata; ‘Beliau tidak pernah berbuka.’ Beliau juga berbuka hingga kami berkata; ‘Beliau tidak berpuasa.’ Beliau tidak pernah puasa satu bulan penuh sejak tiba di Madinah, kecuali bulan Ramadhan.”

 

Musnad Ahmad 1895: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” (Diyat) ini dan ini sama yaitu jari kelingking dan ibu jari.”

 

Musnad Ahmad 1896: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah bin Al Akhnas berkata; telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Abdullah dari Yusuf bin Mahak dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang meramal ilmu perbintangan kecuali ia telah menggeluti satu cabang dari sihir. Makin bertambah ilmu yang dipelajari maka bertambah pula sihir yang dipelajari.”

 

Musnad Ahmad 1897: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Dzakwan dari Abu Raja` telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang berniat melakukan suatu kebaikan kemudian ia melakukannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan. Tapi jika ia tidak melakukannya, maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia berniat melakukan kejelekan kemudian ia melakukannya, maka ditulis baginya satu kejelekan saja. Tapi jika ia tidak melakukannya, maka ditulis baginya satu kebaikan.”

 

Musnad Ahmad 1898: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam bin ‘Urwah telah menceritakan kepadaku Wahb bin Kaisan dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata. Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari Bapaknya dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu berkata. Dan telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Ali bin Abdullah bin Abbas dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakan daging atau tulang yang sebagian besar dagingnya sudah diambil, kemudian beliau shalat tanpa menyentuh air.

 

Musnad Ahmad 1899: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepada kami ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa binatang peliharaan Maimunah mati, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah kalian memanfaatkan kulitnya, tidakkah kalian menyamaknya, karena itulah penyembelihannya secara syar’i.”

 

Musnad Ahmad 1900: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Muslim dari Thawus dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ied tanpa adzan dan iqamat.

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

Leave a comment

Musnad Ahmad: 1701-1800

Musnad Ahmad 1701: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Umar bin Ali dari Abbas bin ‘Ubaidullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi Abbas pada saat berada di kampung kami. Kami mempunyai seekor anjing dan keledai yang sedang memakan rumput. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat ashar sementara kedua binatang itu berada di depan beliau, dan keduanya tidak disingkirkan dan juga tidak diusir.

 

Musnad Ahmad 1702: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Utsman bin Khutsaim dari Abu Thufail dari Al Fadhl bin Abbas bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Muzdalifah menuju Mina, dan beliau tetap bertalbiyah hingga beliau melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1703: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak telah memberitakan kepada kami Laits bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Abdu Rabbih bin Sa’id dari ‘Imran bin Abu Anas dari Abdullah bin Nafi’ bin Al ‘Amya` dari Rabi’ah bin Al Harits dari Al Fadhl bin Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat itu dua raka’at dua raka’at, setiap dua raka’at hendaknya kamu bertasyahud, merendahkan diri, khusyu’ dan tuma’ninah, kemudian engkau arahkan kedua tanganmu, -beliau berkata: – angkat keduanya memohon kepada Rabbmu dengan telapak tangan menghadap ke wajahmu, dan engkau ucapkan; ‘Ya Rabbku, Ya Rabku..’ dan barangsiapa yang tidak melakukan hal itu dan berdoa di dalamnya, ” -beliau mengucapkan perkataan yang tegas mengenai hal itu-.

 

Musnad Ahmad 1704: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Hakim Al ‘Adani telah menceritakan kepadaku Al Hakam yaitu Ibnu Aban berkata; saya mendengar ‘Ikrimah berkata; Al Fadhl bin Abbas berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bergegas meninggalkan (Arafah) yang pada saat itu aku bersama beliau. Ketika kami sampai di sebuah lembah, beliau singgah dan berwudhu, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali hingga tiba di Muzdalifah.”

 

Musnad Ahmad 1705: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Nujaih dari ‘Atho` bin Abu Rabah atau dari Mujahid bin Jubair dari Abdullah bin Abbas telah menceritakan kepadaku saudaraku, Al Fadhl bin Abbas dan dia bersamanya ketika memasuki Ka’bah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak shalat di dalam Ka’bah tapi beliau ketika memasukinya bersujud di antara kedua tiangnya lalu duduk berdoa.

 

Musnad Ahmad 1706: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Laila dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; telah mengabarkan kepadaku Al Fadhl bin Abbas, bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berangkat meninggalkan Muzdalifah. Beliau meninggalkan Muzdalifah dengan tenang sambil mengucapkan talbiyah sampai melempar jumrah ‘Aqabah. Husyaim berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Laila dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas telah memberitakan kepada kami Al Fadhl bin Abbas berkata; saya dua kali ikut keberangkatan meninggalkan (Muzdalifah) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berangkat meninggalkan (Muzdalifah) dengan tenang sambil menarik tali kekang untanya, dan beliau bertalbiyah sampai melempar jumrah ‘Aqabah beberapa kali.

 

Musnad Ahmad 1707: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Laila dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa dia membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berangkat dari Arafah lalu dia melihat orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa, maka beliau menyuruh seorang penyerunya menyerukan; “Tidaklah termasuk kebaikan memaksa kuda dan unta untuk berlari, tapi berangkatlah dengan tenang!”

 

Musnad Ahmad 1708: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami anak saudara Ibnu Syihab dari pamannya berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam berkata; Aisyah dan Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, keduanya mengatakan; “pada suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan junub karena jima’, kemudian beliau mandi sebelum beliau mengerjakan shalat fajar, dan pada hari itu beliau melanjutkan berpuasa.” Kemudian (hadits tersebut) saya ceritakan kepada Abu Hurairah, maka dia mengatakan; “Aku tidak tahu, tetapi Al Fadhl bin Abbas radhia Allahu ta’ala ‘anhu yang memberitahukan kepadaku.”

 

Musnad Ahmad 1709: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ayyub dari Al Hakam bin ‘Utbah dari Ibnu Abbas dari saudaranya, Al Fadhl berkata; “Saya dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Muzdalifah ke Mina. Tatkala beliau berjalan, seorang Badui yang membonceng anak gadisnya yang cantik menghadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian saya memandang anak gadis tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperhatikan diriku dan memalingkan wajahku dari wajah gadis tersebut, tetapi saya mengulangi memandang gadis tersebut, dan beliau memalingkan lagi, hal itu terjadi sampai tiga kali, namun saya masih tetap memandanginya lagi, dan beliau tetap melantunkan talbiyah sehingga melempar jumrah Aqabah.”

 

Musnad Ahmad 1710: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah memberitakan kepada kami Qais dari ‘Atho` bin Abu Rabah dari Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertalbiyah pada Hari Nahr sampai beliau melempar jumrah Aqabah.

 

Musnad Ahmad 1711: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amir Al Ahwal dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1712: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid berkata; saya mendengar Yusuf bin Mahak, dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas berkata; saya dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tetap bertalbiyah dalam ritual ibadah Haji sehingga selesai melempar jumrah pada hari Nahr.

 

Musnad Ahmad 1713: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amir Al Ahwal dan Jabir bin Al Ja’fi dan Ibnu ‘Atho` dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa dia dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah pada hari Nahar.

 

Musnad Ahmad 1714: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabir, ‘Amir Al Ahwal Ibnu ‘Atho` dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa dia dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tetap bertalbiyah pada hari Nahr sampai melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1715: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Musyasy dari ‘Atho` bin Abu Rabah dari Ibnu Abbas dari al Fadhl bin Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang-orang lemah Bani Hasyim agar bersegera meninggalkan Muzdalifah di saat malam.”

 

Musnad Ahmad 1716: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq dari Sulaiman bin Yasar dari Abdullah bin Abbas atau dari Al Fadhl bin Abbas bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah, ayahku seorang muslim, akan tetapi ia telah lanjut usia dan tidak sanggup lagi duduk di atas kendaraannya. Apakah aku boleh melakukan haji untuknya?” Beliau menjawab: “Apa pendapatmu jika ia mempunyai hutang lalu engkau melunasinya, apakah itu bisa menggantikan hutang ayahmu?” Laki-laki itu menjawab; “Ya.” beliau bersabda: “Berhajilah untuk ayahmu!” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Sulaiman bin Yasar telah menceritakan kepada kami Al Fadhl berkata; Aku dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ada seorang laki-laki yang bertanya: “Ayahku atau ibuku telah lanjut usia, sehingga tidak mampu untuk menunaikan ibadah haji.” Lalu ia menyebutkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 1717: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Al Ahwal dan Jabir Al Ju’fi dan Ibnu ‘Atho` dari Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tetap bertalbiyah sehingga selesai melempar jumrah pada hari Nahr.

 

Musnad Ahmad 1718: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah berkata; dan saya mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Ja’far dari Bapaknya dari Ali bin Husain dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah ‘Aqabah. Beliau melemparnya dengan tujuh kerikil dan bertakbir untuk setiap kerikil.

 

Musnad Ahmad 1719: Telah menceritakan kepada kami Ya’la dan Muhammad keduanya anak ‘Ubaid, berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari ‘Atho` dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari Arafah dengan membonceng Usamah bin Zaid, dan unta yang beliau kendarai membawa beliau berkeliling ketika sedang wuquf di Arafah sebelum berangkat (meninggalkan Arafah) dengan mengangkat kedua tangannya namun tidak melampui kepalanya. Tatkala bertolak (meninggalkan Arafah), beliau berjalan dengan tenang sampai di Muzdalifah, kemudian beliau bertolak dari Muzdalifah dengan membonceng Al Fadhl. Al Fadhl berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah.”

 

Musnad Ahmad 1720: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Umar bin Ali dari Al Fadhl bin Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi Abbas dan pada saat itu kami sedang berada kebun kami, kemudian beliau mengerjakan shalat. -Muhammad bin Umar berkata; Al Fadhl berkata; “Shalat ashar”- dan di depan beliau terdapat anjing kecil dan seekor keledai yang sedang merumput, sedangkan antara beliau dan dua hewan tersebut tidak ada sesuatupun yang memisahkannya”

 

Musnad Ahmad 1721: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Sulaiman bin Yasar dari Ibnu Abbas telah menceritakan kepadaku Al Fadhl bin Abbas, dia berkata; seorang wanita dari Khatsam datang dan berkata; “Wahai Rasulullah, ayahku terkena kewajiban dari Allah Azza Wa Jalla berupa haji. Padahal ia telah lanjut usia dan tidak sanggup lagi duduk di atas kendaraannya.” Beliau menjawab: “Berhajilah untuk ayahmu!”

 

Musnad Ahmad 1722: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar bahwa Ibnu Abbas mengabari bahwa Al Fadhl bin Abbas mengabarinya, bahwa dia masuk ke Ka’bah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tidak shalat di dalamnya ketika memasukinya, dan ketika keluar beliau shalat dua raka’at di depan pintunya.

 

Musnad Ahmad 1723: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria yaitu Ibnu Abu Za`idah, telah menceritakan kepadaku Abdul Malik dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membonceng Usamah bin Zaid dari Arafah sampai di Muzdalifah, dan beliau membonceng Al Fadhl bin Abbas dari Muzdalifah sampai di Mina. Ibnu Abbas berkata; dan telah mengabarkan kepadaku Al Fadhl bin Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah hingga beliau melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1724: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dan Ibnu Bakr berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwasanya tealah mengabarkan kepadanya Abu Ma’bad mantan budak Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda pada sore hari di Arafah dan pagi hari di Muzdalifah kepada orang-orang ketika hendak bertolak: “Hendaklah kalian bertolak dengan tenang.” Saat itu beliau menahan laju untanya sampai mulai memasuki Mina ketika menuruni lembah Muhassir. Beliau bersabda: “Hendaklah kalian (mengumpulkan) kerikil untuk melempar jumrah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangan beliau sebagaimana orang yang hendak melempar sesuatu.

 

Musnad Ahmad 1725: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Yasar dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa seorang wanita dari Khats’am berkata; “Wahai Rasulullah, ayahku telah terkena kewajiban Allah yang berupa haji, padahal dia telah lanjut usia yang sudah tidak sanggup lagi duduk di atas kendaraannya?” Beliau bersabda: “Berhajilah untuknya!”

 

Musnad Ahmad 1726: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna dan Abu Ahmad yaitu Az Zubairi secara makna, telah menceritakan kepada kami Isra’il dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas, menurut Abu Ahmad, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Fadhl bin Abbas, dia berkata; “Saya pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau meninggalkan Muzdalifah, lalu seorang Badui yang memboncengkan putrinya yang cantik menghadang beliau.” Al Fadhl melanjutkan ceritanya; “kemudian saya memandang putri orang badui tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera memegang wajahku dan memalingkannya darinya, beliau tetap bertalbiyah hingga beliau melempar jumrah.”

 

Musnad Ahmad 1727: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulatsah dari Maslamah Al Juhani berkata; saya mendengarnya menceritakannya dari Al Fadhl bin Abbas berkata; Suatu hari aku keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian kami mendapatkan seekor kijang yang lewat di sebelah kanan ke kiri beliau. Tiba-tiba beliau memiringkan tubuhnya ke samping (karena hendak turun), maka saya pun bersegera merangkulnya dan bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah anda meramalkan akan terjadi hal-hal yang buruk?” beliau menjawab: “Sesungguhnya meramalkan hal-hal yang buruk yaitu sesuatu yang akan membuatmu terus maju atau yang membuatmu membatalkannya.”

 

Musnad Ahmad 1728: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah sampai beliau melempar jumrah Aqabah.

 

Musnad Ahmad 1729: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Ibnu Aun dari Raja’ bin Haiwah berkata; Pada malam hari bulan Ramadhan Ya’la bin ‘Uqbah berhubungan intim (dengan istrinya), ketika menjelang pagi hari dia masih dalam keadaan junub. Kemudian dia bertemu Abu Hurairah dan menanyakan kepadanya, dan Abu Hurairah menjawab; “Berbukalah!” Ya’la bertanya lagi; “Apakah bisa aku berpuasa pada hari ini dan dapat saya ganti dengan hari lainnya.” Abu Hurairah menjawab; “Berbukalah” lalu Ya’la menemui Marwan dan menceritakan kepadanya, maka Marwan segera mengirim Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits kepada Ummul Mukminin untuk menanyakan kepadanya. Maka Ummul Mukminin menjawab; “Beliau pada pagi hari dalam keadaan junub bukan karena mimpi, kemudian beliau berpuasa.” Kemudian Abu Bakar pulang menemui Marwan dan menceritakannya, lalu Marwan berkata; “Temuilah Abu Hurairah.” Ya’la berkata; “Dia adalah tetangga, dia adalah tetangga.” Marwan berkata; “Saya sangat berharap, agar kamu dapat menemuinya.” Ya’la berkata; “Lalu saya menemuinya dan saya ceritakan perkataan Aisyah.” Maka dia menjawab; “Saya tidak mendengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun saya diberitahu oleh Al Fadhl bin Abbas.” Ibnu Aun berkata; Setelah itu saya menemui Raja’ dan saya tanyakan tentang hadits Ya’la, siapa yang menceritakannya kepadamu. Maka dia menjawab; “Ya’la sendiri yang menceritakannya kepadaku.”

 

Musnad Ahmad 1730: Telah menceritakan kepada kami Muhammad yaitu Ibnu Ja’far, dan Rauh berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ali bin Zaid dari Yusuf dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Hari Nahr. Beliau tetap bertalbiyah sehingga melempar jumrah. Rauh berkata; dalam (menjalankan ritual) Haji, berkata juga dalam haditsnya; telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid berkata; saya mendengar Yusuf bin Mahak, keduanya mengatakan Ibnu Mahak.

 

Musnad Ahmad 1731: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepada kami Katsir bin Syinzhir dari ‘Atho` bin Abu Rabah dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Hari Nahr, kemudian (datang) seorang gadis di belakang bapaknya, maka saya memandang ke wanita tersebut tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan wajahku darinya. Selama dalam perjalanan antara Muzdalifah ke Mina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu bertalbiyah sampai melempar jumrah Aqabah pada Hari Nahr.

 

Musnad Ahmad 1732: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Qatadah telah menceritakan kepadaku ‘Azrah dari Asy Sya’bi bahwa Al Fadhl menceritakan kepadanya, bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Arafah, dan unta beliau tidak mengangkat kakinya dengan tergesa-gesa sampai tiba di Muzdalifah. ‘Azrah berkata; dan telah menceritakan kepadaku Asy Sya’bi bahwa Usamah menceritakan kepadanya, bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Muzdalifah dan unta beliau tidak mengangkat kakinya dengan tergesa-gesa sampai beliau melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1733: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah, dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di dalam Ka’bah, lalu membaca tasbih, bertakbir, berdo’a kepada Allah dan meminta ampunanNya. Beliau tidak ruku’ dan sujud.

 

Musnad Ahmad 1734: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Syuja’ dari Khusaif dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengkan Usamah dari Arafah menuju Muzdalifah (dan membonceng) Al Fadhl dari Muzdalifah sampai Mina dan dia juga mengabarinya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah ‘Aqabah.

 

Musnad Ahmad 1735: Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Syuja’ berkata; telah menceritakan kepada kami Furat telah menceritakan kepada kami Abdul Karim dari Sa’d bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa dia dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah ‘Aqabah.

 

Musnad Ahmad 1736: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi, Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Israil dari Fudhail bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas atau dari Al Fadhl bin Abbas atau salah satu dari mereka berdua dari yang lainnya berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin menunaikan haji maka hendaklah ia menyegerakannya, karena bisa jadi jika ditunda hartanya akan hilang, atau tubuhnya tertimpa sakit dan muncul keperluan lainnya.”

 

Musnad Ahmad 1737: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abu Israil Al ‘Absi dari Fudhail bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl atau salah satu dari mereka dari yang lainnya, berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin menunaikan haji, maka hendaklah ia menyegerakannya, karena bisa jadi dia tertimpa sakit dan perbekalannya akan hilang dan muncul keperluan lainnya.”

 

Musnad Ahmad 1738: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Amru, Abu Al Mundzir berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ali Az Zarad berkata; telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Tammam dari Bapaknya berkata; Para sahabat menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau ada yang datang pada beliau. Maka beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian menemuiku dengan gigi yang kuning. Bersiwaklah kalian, seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku akan wajibkan bagi mereka untuk bersiwak sebagaimana aku wajibkan atas mereka berwudhu.”

 

Musnad Ahmad 1739: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin al Harits berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membariskan Abdullah, Ubaidullah dan banyak lagi sahabat dari kalangan Bani Al Abbas, seraya bersabda: “Barangsiapa paling dahulu sampai kepadaku, maka ia akan mendapatkan ini dan itu.” Abdullah berkata; Lalu mereka saling berlomba untuk sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga diantara mereka ada yang menyentuh dada beliau dan ada juga yang menyentuh punggung beliau. Kemudian beliau menciumi mereka dan memeluk mereka.”

 

Musnad Ahmad 1740: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq dari Sulaiman bin Yasar dari Ubaidullah bin Abbas berkata; Al Ghumaisha’ atau Ar Rumaisha’ menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan suaminya, dan perempuan itu menyatakan bahwa suaminya tidak mau menggaulinya. Tidak lama kemudian datanglah suaminya dan menyatakan bahwa istrinya berdusta, namun dia melakukannya hanya karena ingin kembali kepada suami pertamanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada perempuan itu: “Engkau tidak akan bisa melakukannya hingga suami kedua merasakan madumu.”

 

Musnad Ahmad 1741: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali Al Hasan bin Ali bin Muhammad bin Al Mudzhib Al Wa’izh berkata; telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Hasan bin Ja’far bin Himdan bin Malik secara qira’ah di hadapannya, telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku bapakku dari kitabnya, telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dan Mughirah dari Asy Sya’bi dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam minum air zam-zam dengan berdiri.

 

Musnad Ahmad 1742: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami ‘Ajlah dari Yazid bin Al Asham dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “MASYAA`ALLAHU WA SYI`TA (Apa yang Allah kehendaki dan apa yang anda kehendaki.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang tersebut: “Apakah engkau hendak menyamakan diriku dengan Allah! cukup kau ucapkan; ‘Sesuai kehendak Allah semata”

 

Musnad Ahmad 1743: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Khalid dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kepalaku dan mendoakan agar aku mendapatkan hikmah.

 

Musnad Ahmad 1744: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan thawaf di Ka’bah di atas kendaraannya. Beliau menyentuh dan mencium Hajar Aswad dengan isyarat tongkat yang beliau bawa. Ibnu Abbas berkata; Lalu datang ketempat penampungan air minum, dan beliau berkata: “Berilah aku minum.” Maka para sahabat berkata; “Sesungguhnya itu adalah air yang diminum oleh orang-orang, dan kalau engkau mau kami akan bawakan untukmu dari rumah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Aku tidak membutuhkannya, berilah aku minum dari apa yang diminum oleh orang-orang.”

 

Musnad Ahmad 1745: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berita itu tidak sama dengan menyaksikan secara langsung.”

 

Musnad Ahmad 1746: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; “Saya menginap suatu malam di rumah bibiku Maimunah binti Al Harits, dan pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dekatnya karena jatah gilirannya, lalu beliau berdiri dan shalat malam, maka saya pun ikut berdiri di sebelah kirinya untuk mengikuti shalat beliau. Tetapi beliau memegang jambangku atau kepalaku kemudian menempatkanku di sebelah kanan beliau.”

 

Musnad Ahmad 1747: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Khalid bin ‘Ikrimah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Tatkala Barirah disuruh memilih, saya melihat suaminya mengikutinya di jalan-jalan Madinah dengan berurai air mata yang membasahi jenggotnya, kemudian dia menyuruh Abbas untuk berbicara kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membujuk beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Barirah; “Dia adalah suamimu.” Barirah berkata; “Anda menyuruhku untuk menerimanya Wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya saya hanyalah seorang penolong.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Barirah memilih, namun Barirah memilih dirinya (tidak kembali kepada suaminya). Suami Barirah adalah budak keluarga Al Mughirah yang bernama Mughits.

 

Musnad Ahmad 1748: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrik, maka beliau menjawab: “Allah lebih tahu dengan apa yang mereka perbuat.”

 

Musnad Ahmad 1749: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia saat beliau berumur enam puluh lima tahun.

 

Musnad Ahmad 1750: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual makanan hingga diterima dengan secara langsung. Ibnu Abbas berkata; “Aku mengira semua (jual beli) seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 1751: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah; “Jika orang yang sedang ihram tidak mendapati kain (untuk menutup tubuhnya), maka hendaklah mengenakan sirwal (semacam celana). Dan jika tidak mendapati sandal, hendaklah mengenakan khuff.”

 

Musnad Ahmad 1752: Telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata; telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam pada saat beliau ihram dan puasa.

 

Musnad Ahmad 1753: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki (ikut berihram) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu orang tersebut jatuh terpelanting dari untanya padahal ia dalam keadaan ihram, sehingga akhirnya dia meninggal dunia. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, lalu kafanilah ia dengan baju yang dipakainya, jangan diberi wangi-wangian, juga jangan ditutup bagian kepalanya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.”

 

Musnad Ahmad 1754: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami ‘Auf dari Ziyad bin Hushain dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku pada pagi Hari ketika di Muzdalifah; “Tolong ambilkan beberapa kerikil untukku!” Maka saya pun mencarikan untuk beliau beberapa kerikil yang berukuran sedang untuk dilempar. Saat meletakkan kerikil-kerikil di tangan beliau, beliau bersabda: “Ya, seperti batu-batu ini. Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah dien, sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena sikap berlebih-lebihan mereka dalam masalah dien.”

 

Musnad Ahmad 1755: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Manshur dari Ibnu Sirrin dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perjalanan dari Madinah yang beliau tidak takut kecuali kepada Allah ‘azza wajalla. Dan beliau shalat dua raka’at-dua raka’at hingga beliau kembali (ke Madinah).

 

Musnad Ahmad 1756: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Ayat berikut turun saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah: (Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.) Ibnu Abbas berkata; “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat para sahabatnya, beliau mengeraskannya saat membaca al Qur`an. Tatkala orang-orang musyrik mendengarkan hal itu, mereka mencela al Qur`an, mencela yang menurunkannya dan yang membawakannya. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada NabiNya: (Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu) maksudnya adalah dalam bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya dan mereka mencela al Qu`ran dan: (Dan janganlah pula merendahkannya.) dari para sahabatmu sehingga mereka tidak dapat mendengarkan dan mengambil al Qu`ran darimu dan: (Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu).

 

Musnad Ahmad 1757: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Daud bin Abu Hind dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati lembah al Azraq, lalu beliau bertanya: “Lembah apakah ini?” Para sahabat menjawab; “Ini adalah lembah al Arzaq.” Beliau berkata; “Aku seakan-akan melihat Musa ‘Alaihis Salam turun dari atas bukit dan ia mengeraskan suaranya dengan bertalbiyah kepada Allah ‘azza wajalla, hingga ia tiba di bukit Harsya”. Lalu beliau bertanya: “Bukit apakah ini?” Para sahabat menjawab: “Ini adalah bukit Harsya’.” Beliau berkata; “Aku seakan-akan melihat Yunus bin Matta berada di atas seekor unta merah, rambutnya keriting, mengenakan pakaian dari bulu, dan tali kekang untanya indah.” Husyaim berkata; ” (tali kekangnya terbuat dari) sabut. Dia dalam keadaan bertalbiyah.”

 

Musnad Ahmad 1758: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami beberapa sahabat kami, di antaranya adalah Syu’bah dari Qatadah dari Abu Hassan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggores untanya di bagian sebelah kanan sampai berdarah, kemudian membersihkan darahnya dan menggantungkan kedua sandal dileher unta tersebut.

 

Musnad Ahmad 1759: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwa Ash Sha’b bin Jatsamah Al Asadi memberikan hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa sepotong kaki keledai liar saat beliau sedang ihram, tetapi beliau menolak dan mengatakan: “Sesungguhnya kami sedang ihram.”

 

Musnad Ahmad 1760: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Manshur dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang orang yang mencukur kepalanya sebelum ia menyembelih atau semacamnya. Maka beliau menjawab: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 1761: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Khalid dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ditanya tentang orang yang mendahulukan suatu perkara sebelum yang lainnya (dalam manasik haji ketika di mina) maka beliau menjawab: “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 1762: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah ampunilah orang-orang yang menggundul kepalanya.” Ada seseorang yang bertanya: “Bagaimana dengan orang yang memendekkan rambutnya?” Beliau menjawab; “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang menggundul kepalanya.” Lalu orang tersebut bertanya lagi: “Bagaimana dengan orang yang memendekkan rambutnya?” Beliau menjawab pada pertanyaan yang ketiga atau keempat kalinya: “dan juga bagi orang-orang yang memendekkan rambutnya.”

 

Musnad Ahmad 1763: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abdul Malik dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak dari Arafah dengan membonceng Usamah, dan beliau bertolak dari Muzdalifah dengan membonceng Al Fadhl bin Abbas. Ibnu Abbas berkata; “Beliau tetap bertalbiyah hingga beliau melempar jumrah Aqabah.”

 

Musnad Ahmad 1764: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita pergi berlayar, dan ia bernadzar, jika Allah Tabaraka Wa Ta’ala menyelamatkannya (hingga mencapai daratan) maka ia akan berpuasa selama satu bulan penuh. Kemudian Allah Azza Wa Jalla menyelamatkannya, tetapi ia tidak berpuasa hingga ia meninggal dunia. Maka salah seorang kerabatnya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Beliau berkata; “Berpuasalah engkau untuknya!”

 

Musnad Ahmad 1765: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman Ath Thufawi telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Qatadah dari Musa bin Salamah berkata; Kami bersama Ibnu Abbas di Makkah, lalu aku berkata; “Jika kami bersamamu, kami shalat empat raka’at. Dan jika kembali ke tempat tinggal kami, kami shalat dua raka’at” Ibnu Abbas berkata; “Itu adalah sunnah yang diajarkan Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1766: Telah menceritakan kepada kami Ishaq yaitu Ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak bin Harb dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjadikan makhluk yang bernyawa sebagai sasaran (dalam latihan memanah dan yang lainnya).

 

Musnad Ahmad 1767: Telah menceritakan kepada kami Ishaq yaitu Ibnu Yusuf, dari Syarik dari Khushaif dari Miqsam dari Ibnu Abbas berkata; “Suatu ketika terjadi gerhana matahari, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri (untuk shalat) bersama para sahabatnya. Beliau membaca surat yang panjang, lalu beliau ruku’ kemudian mengangkat kepalanya dan membaca surat lagi. Kemudian beliau ruku’ dan sujud dua kali. Kemudian berdiri kembali dan membaca surat, lalu ruku’ kemudian sujud dua kali. Dengan demikian beliau melakukannya empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam setiap dua raka’at.”

 

Musnad Ahmad 1768: Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diusir dari Makkah, Abu Bakar berkata; “Mereka telah mengusir Nabi mereka, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya.’ Sungguh mereka akan binasa.” Lalu turunlah ayat: (Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.) Sejak turunya ayat tersebut diketahui bahwa akan terjadi peperangan.” Ibnu Abbas berkata; “Itu adalah ayat perang yang pertama kali turun.”

 

Musnad Ahmad 1769: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin ‘Abbad dari Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menggambar suatu gambar (makhluk hidup), niscaya dia akan disiksa pada Hari Kiamat untuk meniupkan ruh padanya padahal dia tidak mampu melakukannya. Barangsiapa mengaku telah bermimpi padahal dia tidak bermimpi, niscaya akan disiksa pada Hari Kiamat untuk mengikat dua biji gandum padahal dia tidak akan mampu. Barangsiapa mendengar pembicaraan suatu kaum yang mereka tidak ingin pembicaran itu didengarnya, niscaya akan disiksa dengan dituangkan pada kedua telinganya pada Hari Kiamat.”

 

Musnad Ahmad 1770: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdushshamad dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d Al Ghathafani dari Kuraib dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Andai salah satu dari mereka apabila hendak mendatangi istrinya mengucapkan: ‘BISMILLAHI ALLAHUMMA JANNIBNI ASY SYAITHANA WA JANNIBBIS SYAITHAN MA RAZAQTANA (Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah aku dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari apa yang telah engkau rizkikan pada kami,) kemudian jika mereka berdua ditakdirkan mempunyai anak setelah itu, maka syetan tidak akan mampu memberikan bahaya kepada anak tersebut selamanya.”

 

Musnad Ahmad 1771: Telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Najih dari Abdullah bin Katsir dari Abu Al Minhal dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, dan orang-orang melakukan salaf (menyerahkan uang terlebih dahulu sebelum menerima barang) pada kurma untuk satu dan dua tahun. -Atau dia berkata; Untuk dua atau tiga tahun.- Maka beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan salaf pada kurma, maka hendaklah dia melakukannya dengan timbangan yang jelas dan takaran yang pasti.”

 

Musnad Ahmad 1772: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Abu At Tayyah dari Musa bin Salamah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim seseorang untuk membawa delapan belas ekor unta, dan beliau memerintahkan kepada orang tersebut dengan perintah tertentu. Orang tersebut berangkat akan tetapi kembali lagi kepada beliau dan bertanya; “Apa pendapat anda jika salah satu dari unta-unta tersebut letih (dan hampir mati, sehingga membuat lambat) kami?” Beliau menjawab: “Sembelihlah, lalu celupkan kakinya ke darahnya. Kemudian letakkan di samping unta-unta yang lain. Janganlah kamu atau salah seorang dari kerabatmu memakan sesuatupun darinya.” Isma’il bin Ulayyah tidak pernah mendengar dari Abu At Tayyah selain hadits ini.

 

Musnad Ahmad 1773: Ahmad bin Hanbal berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub berkata; Saya tidak tahu apakah saya mendengarnya dari Sa’id bin Jubair atau saya diberitahu hadits itu darinya, berkata; aku menemui Ibnu Abbas saat ia di Arafah yang sedang makan buah delima. Lalu dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka di Arafah, lalu Ummul Fadhl mengirimkan kepada beliau susu dan beliau meminumnya.”

 

Musnad Ahmad 1774: Masih melalui jalur periwayatn yang sama seperti hadits sebelumnya dari Ibnu Abbas berkata; “Semoga Allah melaknat Fulan. Mereka sengaja pergi pada musim haji yang mulia lalu menghilangkan hiasannya. Hiasan haji adalah talbiyah.”

 

Musnad Ahmad 1775: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari ‘Ikrimah bahwa Ali membakar orang-orang yang keluar dari Islam, dan sampailah kabar ini kepada Ibnu Abbas, maka dia berkata; (Andai itu aku) niscaya aku tidak akan membakar mereka dengan api, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengadzab dengan adzab Allah, ” tetapi aku akan memerangi mereka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mengganti diennya, maka bunuhlah ia.” Lalu sampailah perkataan Ibnu Abbas ini kepada Ali -semoga Allah memuliakannya- maka ia berkata; “Celakalah putra Ibu Ibnu Abbas.”

 

Musnad Ahmad 1776: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak mempunyai permisalan yang lebih jelek bagi orang yang menarik kembali pemberiannya sebagaimana anjing yang menjilat kembali muntahnya.”

 

Musnad Ahmad 1777: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail telah menceritakan kepada kami ‘Atho` dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Tatkala turun ayat: (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi tahu bahwa aku akan meninggal dunia pada tahun ini.”

 

Musnad Ahmad 1778: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Yazid dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ dua shalat saat sedang dalam perjalanan, antara maghrib dengan isya’ dan zhuhur dengan ashar.

 

Musnad Ahmad 1779: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Terlaknatlah orang yang mencela ayahnya, terlaknatlah orang yang mencela ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih bukan karena Allah, terlaknatlah orang yang merubah batas tanah, terlaknatlah orang yang membisu (tidak mau memberi petunjuk) terhadap orang yang buta yang mencari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi binatang dan terlaknatlah orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth.”

 

Musnad Ahmad 1780: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Ibnu Ishaq dari Daud bin Hushain dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan Zainab, putrinya kepada Abu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ dengan nikah yang pertama. Beliau tidak memintanya untuk melakukan nikah baru.”

 

Musnad Ahmad 1781: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Syuja’ telah menceritakan kepadaku Khusaif dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ia thawaf di Ka’bah bersama Mu’awiyah, tiba-tiba Mu’awiyah mencium semua rukun, maka Ibnu Abbas bertanya kepadanya; “Kenapa engkau mencium kedua rukun ini, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukannya?” Mu’awiyah menjawab; “Tidak ada satu bagian Ka’bah pun yang dilarang (untuk dicium).” Ibnu Abbas berkata; “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik.” Mu’awiyah berkata; “Engkau benar.”

 

Musnad Ahmad 1782: Telah menceritakan kepada kami Marwan telah menceritakan kepadaku Khusaif dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengumpulkan antara bibi dari ayah dengan bibi dari ibu, juga dua bibi dari pihak ayah atau dua bibi dari pihak ibu.

 

Musnad Ahmad 1783: Telah menceritakan kepada kami Marwan telah menceritakan kepadaku Khusaif dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas dari berkata; “Sesungguhnya yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengenakan baju yang terbuat dari sutra.” Ibnu Abbas berkata; “Sedang pakaian yang dijahit dengan benang (sutra) dan pakaian yang bergambar (dari bahan sutra), maka itu tidak mengapa.” Telah menceritakan kepada kami Ma’mar yaitu Ibnu Sulaiman Ar Raqi, berkata; Khusaif berkata; telah menceritakan kepadaku lebih dari seorang dari Ibnu Abbas berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pakaian yang terbuat dari sutra, sedang yang terdapat gambar (dari bahan sutra) maka tidak dilarang.”

 

Musnad Ahmad 1784: Telah menceritakan kepada kami ‘Atsam bin Ali Al ‘Amiri telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika malam selalu shalat dua raka’at, setelah selesai beliau pergi dan sikat gigi.”

 

Musnad Ahmad 1785: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dan Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepada kami Az Zuhri dari Ali bin Husain dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk bersama para sahabatnya. -Abdurrazzaq menerangkan; dari kalangan Anshar- Tiba-tiba ada bintang besar yang jatuh dan menyala-nyala, maka beliau bertanya: “Apa yang kalian katakan jika terjadi seperti itu pada masa Jahiliyah?” Ibnu Abbas berkata: Kami menjawab; “Akan lahir orang besar atau orang besar akan mati.” Ma’mar bertanya kepada Az Zuhri; “Benarkah bintang pernah jatuh pada masa Jahiliyyah?” dia menjawab; “Ya. Tapi lebih dinampakkan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus.” Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bintang itu tidak jatuh karena matinya atau lahirnya seseorang, tetapi Rabb kita Yang Maha Suci namaNya, jika memutuskan suatu perkara maka para Malaikat pemikul ‘Arsy bertasbih dan penduduk langit yang berada di bawahnya juga bertasbih sehingga tasbih mereka sampai ke langit dunia. Kemudian penduduk langit yang berada di bawah pembawa Arsy itu mencari berita, mereka bertanya kepada yang membawa ‘Arsy; ‘Apa yang telah difirmankan Rabb kalian? ‘ Mereka mengabarinya dan setiap penduduk langit mengabari penduduk langit yang lainnya sampai kabar itu kepada langit ini. Lalu jin mencuri berita dan mereka menyebarkannya. Jika dia menyampaikan apa adanya maka itu adalah benar tapi mereka (kebanyakan) menguranginya dan menambahinya.” Menurut Abdurrazzaq, beliau bersabda; “Jin menyambarnya dan menyebarkannya.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Az Zuhri dari Ali bin Husain dari Ibnu Abbas, telah menceritakan kepadaku beberapa sahabat dari kalangan Anshar dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam, kemudian sebuah bintang jatuh. Lalu dia menyebutkan kelanjutan hadits, kecuali lafazh; “Jika Rabb kita memutuskan suatu perkara, maka para Malaikat pemikul ‘Arsy bertasbih dan juga penduduk langit yang berada di bawahnya sehingga tasbih tersebut sampai ke langit dunia. Kemudian penduduk langit yang berada di bawah pembawa Arsy berkata kepada pemikul ‘Arsy; ‘Apa yang telah difirmankan Rabb kalian? ‘ Mereka menjawab; ‘ (Dia mengatakan) Al Haq dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Mereka berkata ini dan itu. Lalu para penduduk langit-langit saling mengabarkan kepada yang lainnya sehingga kabar tersebut sampai ke pada langit dunia. Kemudian setan-setan datang dan mendengarkan kabar itu, lalu mereka membisikkan kabar tersebut kepada para wali mereka. Jika mereka membawa sesuai apa adanya maka itu adalah benar namun kebanyakan mereka menambahi, memotong dan menguranginya.”

 

Musnad Ahmad 1786: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Abdullah bin Abbas dan dari Aisyah bahwa keduanya berkata; Saat turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menutupkan secarik kain ke wajahnya, dan saat beliau mulai gelisah kami mengangkatnya, lalu beliau bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” Aisyah berkata; “Beliau memperingatkan siapa saja yang berbuat seperti mereka.”

 

Musnad Ahmad 1787: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al Haitsam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abu Al Hakam dari Ibnu Abbas bahwa Jibril ‘Alaihis Salam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Bulan ini sempurna dengan dua puluh sembilan hari.”

 

Musnad Ahmad 1788: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Adi dari Sa’id dari Qatadah dari ‘Ikrimah berkata; Aku berkata kepada Ibnu Abbas; “Aku shalat zhuhur di Al Bathha` di belakang seorang kakek yang bodoh. Dia bertakbir sebanyak dua puluh dua kali, dia bertakbir jika hendak sujud dan jika bangun.” Ikrimah berkata; maka Ibnu Abbas berkata; “itu adalah tatacara shalat Abu Al Qasim (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1789: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Adi dari Sa’id dan Ibnu Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id secara makna, dan Ibnu Abu ‘Adi dari Sa’id dari Abu Yazid dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca pada sebagian shalat dan diam pada sebagian yang lain. Kami pun membaca pada bagian yang Nabi Allah membaca di dalamnya, dan kami diam pada bagian yang beliau diam di dalamnya.” Ada yang berkata kepada Ibnu Abbas; “Mungkin beliau membaca yang hanya bisa di dengar dirinya saja.” Ibnu Abbas marah dan berkata; “Apakah pantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di buruk sangkai?” Ibnu Ja’far dan Abdurrazzaq berkata; “Apakah engkau menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!”

 

Musnad Ahmad 1790: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Abdullah bin Al Fadhl dari Nafi’ bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedang perawan itu harus diminta pendapatnya, dan tanda setujunya adalah diamnya.”

 

Musnad Ahmad 1791: Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Al Muththalib bin Abdullah bin Hanthab bahwa Ibnu Abbas berwudhu sekali-sekali, dan dia menyandarkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 1792: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, bahwa dia mendengar Sulaiman bin Yasar dari Ibnu Abbas; bahwa seorang wanita dari Khats’am bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Muzdalifah, dan al Fadhl bin Abbas berada di belakang beliau. Wanita tersebut berkata; “Sesungguhnya kewajiban dari Allah atas hamba-hamba-Nya yang berupa haji telah mengenai bapakku yang sudah lanjut usia, sedang dia tidak mampu lagi berkendaraan. Apakah menurut anda aku boleh melakukan haji untuknya?” Beliau menjawab: “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1793: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah dari Ibnu Abbas; Aku datang bersama Al Fadhl dengan menaiki keledai betina saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami orang-orang shalat di Arafah. Lalu kami lewat di salah satu shaf dan turun dari tunggangan kami serta kami biarkan ia mencari makan sendiri. Kemudian kami masuk dalam shaf dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan sesuatupun kepadaku.

 

Musnad Ahmad 1794: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas; “bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat pada saat Fathu Makkah dalam keadaan berpuasa. Ketika sampai di Al Kadid beliau berbuka. Sesungguhnya perbuatan yang terakhir itu diambil dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian ditanyakan kepada Sufyan; “Sesungguhnya perbuatan yang terakhir itu diambil…itu dari perkataan Az Zuhri atau perkataan Ibnu Abbas?” Sufyan menjawab; “Begitulah yang disebutkan dalam hadits.”

 

Musnad Ahmad 1795: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari ‘Ubaidullah dari Ibnu Abbas bahwa Sa’d bin Ubadah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nadzar yang diucapkan ibunya yang telah meninggal dan sebelum sempat menunaikannya. Maka beliau bersabda: “Tunaikanlah nadzarnya.”

 

Musnad Ahmad 1796: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah dari dari Ibnu Abbas bahwa Abu Bakar bersumpah atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Jangan bersumpah.”

 

Musnad Ahmad 1797: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Wa’lah dari Ibnu Abbas berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kulit yang telah disamak, maka ia sudah suci.”

 

Musnad Ahmad 1798: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ziyad yaitu Ibnu Sa’d, dari Abu Zubair dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berangkatlah dari lembah Muhassir dan hendaklah kalian membawa kerikil.”

 

Musnad Ahmad 1799: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ziyad bin Sa’d dari Abdullah bin Al Fadhl dari Nafi’ bin Jubair dari Ibnu Abbas yang riwayatnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedang gadis itu bapaknya harus meminta pendapatnya, dan tanda setujunya adalah diamnya.”

 

Musnad Ahmad 1800: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibrahim bin ‘Uqbah dari Kuraib dari Ibnu Abbas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di Rauha` lalu bertemu dengan sekelompok orang yang sedang mengendarai tunggangan mereka, beliau mengucapkan salam kepada mereka, dan bertanya: “Siapakah kalian?” Mereka menjawab; “Kami adalah kaum muslimin.” Ada seseorang bertanya; “Siapakah engkau?” Beliau menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka salah seorang perempuan terkejut lalu ia mengambil lengan anak kecil dan mengeluarkannya dari sekedupnya, seraya berkata; “Wahai Rasulullah, apakah anak kecil ini boleh berhaji?” Beliau menjawab; “Ya, dan engkau mendapatkan pahala.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Ibrahim bin Uqbah dari Kuraib mantan budak Ibnu Abbas, secara makna.

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

Leave a comment

Musnad Ahmad: 1601-1700

Musnad Ahmad 1601: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dan Abdushshamad berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah memberitakan kepada kami Khalid Al Hadza` dari Abdullah bin Syaqiq dari Abdullah bin Suraqah dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun setelah Nabi Nuh kecuali dia memperingatkan tentang Dajjal kepada umatnya, dan aku pasti memperingatkannya kepada kalian.” Abu Ubaidah berkata; “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ciri-cirinya dan berkata; “Barangkali ada sebagian orang yang sempat melihatku atau mendengar perkataanku akan menemuinya.” para shahabat bertanya; “Apakah kondisi hati kami pada saat itu sebagaimana keadaan hati sekarang ini?” beliau menjawab; “Bisa jadi lebih baik.”

 

Musnad Ahmad 1602: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Maimun dari Sa’d bin Samurah dari Samurah bin Jundub dari Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah berkata; Akhir perkataan yang diucapkan Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Keluarkan orang Yahudi Hijaz di jazirah Arab, dan ketahuilah bahwa orang yang paling buruk diantara manusia adalah mereka yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.”

 

Musnad Ahmad 1603: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah menceritakan kepada kami Abu Israil dari Al Hajjaj bin Arthah dari Al Walid bin Abu Malik dari Al Qasim dari Abu Umamah berkata; Seorang Muslim melindungi seseorang, ketika itu komandan pasukan adalah Abu Ubaidah bin Jarrah. Kemudian Khalid bin Al Walid dan ‘Amru bin Ash berkata; “Kami tidak melindunginya.” Maka Abu Ubaidah berkata; Kami melindunginya, karena saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kaum muslim memiliki hak perlindungan.”

 

Musnad Ahmad 1604: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Abu Hisbah, Muslim bin Ukais mantan budak Abdullah bin ‘Amir, dari Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Hisbah berkata; telah menceritakan orang yang menemuinya ketika dia sedang menangis. Orang itu bertanya; “Apa yang menyebabkanmu menangis wahai Abu Ubaidah?” Dia menjawab; “Kami menangis karena pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan, bahwa Allah akan memenangkan kaum muslimin dan memberi mereka rampasan Perang sampai beliau menyebut negeri Syam. Beliau bersabda: “Jika ajalmu di akhirkan wahai Abu Ubaidah, maka cukuplah bagimu tiga pelayan; satu pelayan melayanimu, satu pelayan lagi yang melayani perjalananmu dan terakhir yang melayani keluargamu dan membantu mereka. Cukuplah bagimu tiga kendaraan; satu kendaraan untuk kamu naiki, satunya untuk membawa barang-barangmu dan satunya lagi untuk budakmu.” kemudian saya melihat ke rumahku, ternyata telah penuh dengan budak laki-laki dan aku melihat ke kandang untaku, telah penuh dengan kendaraan unta dan kuda, bagaimana aku bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah ini, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat kepada kami: “Orang yang paling aku cintai dan paling dekat kepadaku diantara kalian adalah orang yang berjumpa denganku dalam kondisi sebagaimana ketika dia berpisah denganku.”

 

Musnad Ahmad 1605: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih dari Syahr bin Hausyab Al Asy’ari dari suami ibunya, seorang lelaki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal, dia termasuk yang menyaksikan peristiwa menjangkitnya penyakit lepra yang merajalela, dia berkata; Ketika wabah merajalela, berdirilah Abu Ubaidah bin Jarrah berkhutbah di hadapan orang-orang dan berkata; “Wahai manusia! sesungguhnya penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doa para Nabi kalian, dan sebab kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Abu Ubaidah memohon kepada Allah untuk mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Lalu dia terjangkit penyakit lepra tersebut sehingga meninggal dunia -semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.- kemudian Mu’adz bin Jabal menggantikan dia untuk memimpin orang-orang, kemudian dia dia berdiri menyampaikan khutbah setelah wafatnya Abu Ubaidah; “Wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doanya para Nabi kalian dan sebab kematiannya para orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Mu’adz memohon kepada Allah agar keluarga Mu’adz mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Kemudian Abdurrahman bin Mu’adz, anaknya terjangkit penyakit lepra sampai meninggal. Dia pun bangkit memohon kepada Rabbnya untuk dirinya, dan akhirnya dia juga terjangkit lepra di telapak tangannya. Sungguh saya melihatnya memperhatikan penyakit lepra tersebut kemudian mencium bagian atas tangannya sambil berkata; “Aku tidak senang mempunyaimu dan (aku pergunakan untuk meletakkan perhiasan) dunia ada padamu.” Ketika dia wafat, ‘Amru bin Al Ash menggantikan kedudukannya untuk memimpin orang-orang. Kemudian dia berdiri menyampaikan khutbah di hadapan kami; “Wahai manusia! sesungguhnya jika wabah ini menjangkiti (di suatu negri) maka dia akan melahap sebagaimana menyalanya api, maka menghindarlah kalian ke gunung-gunung.” Tetapi Abu Watsilah Al Hudzali berkata kepadanya; “Demi Allah, kamu telah berdusta, saya pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kamu lebih buruk daripada keledaiku ini.” ‘Amru berkata; “Demi Allah aku tidak akan membalas perkataanmu, demi Allah saya tidak akan memperkarakan perkataanmu itu.” dia pun keluar dan orang-orangpun keluar berpencar darinya, kemudian Allah melenyapkan wabah tersebut dari mereka. Ketika pendapat ‘Amru tersebut sampai kepada Umar bin Khaththab, demi Allah dia tidak membencinya.” Abu Abdullah, Abdurrahman bin Ahmad bin Hanbal berkata; “Aban bin Shalih adalah kakek Abdurrahman Musykudanah.”

 

Musnad Ahmad 1606: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Adi dari Daud dari ‘Amir berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sekelompok pasukan ke Dzatu Salasil. Beliau menjadikan Abu Ubaidah sebagai komandan bagi kaum Muhajirin dan Amru bin al Ash sebagai komandan bagi orang-orang Badui. Beliau berpesan kepada mereka berdua: “Lakukanlah dengan sukarela!” ketika itu mereka mendapat misi untuk menyerang Bani Bakr, tetapi ‘Amru berangkat dan menyerang Bani Qudlz’ah karena Bani Bakr adalah paman dari Bani Qudla’ah. Maka Al Mughirah bin Syu’bah berangkat menemui Abu ‘Ubaidah. Dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengangkat anda untuk menjadi pemimpin kami, sedangkan anak fulan telah berangkat memimpin kaumnya, sehingga kamu sudah tidak ada lagi wewenang untuk mereka.” Abu ‘Ubaidah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami agar kami melakukannya dengan sukarela sedangkan saya akan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walau ‘Amru membantahnya.”

 

Musnad Ahmad 1607: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Maimun mantan budak keluarga Samurah, dari Ishaq bin Sa’d bin Samurah dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah berkata; Akhir perkataan yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Keluarkan orang Yahudi Hijaz dan Yahudi Najran dari Jazirah Arab.”

 

Musnad Ahmad 1608: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Washil dari Al Walid bin Abdurrahman dari ‘Iyadh bin Ghuthaif berkata; Kami menemui Abu ‘Ubaidah untuk menjenguknya. Dia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berinfak harta yang utamanya di jalan Allah maka dia akan mendapatkan tujuh ratus kali lipat. Barangsiapa berifak untuk dirinya, atau untuk keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri di jalanan maka setiap kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipatnya. Puasa adalah tameng selama dia tidak merusaknya. Barangsiapa diuji Allah dengan suatu ujian pada tubuhnya maka itu menjadi penghapus (dsa) baginya.” Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Jarir bin Hazim telah menceritakan kepada kami Basyar bin Abu Saif dari Al Walid bin Abdurrahman dari ‘Iyadh bin Ghuthaif berkata; “Kami menemui Abu ‘Ubaidah..” lalu menyebutkan hadits secara lengkap.

 

Musnad Ahmad 1609: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Adi dari Sulaiman yaitu At Taimi, dari Abu ‘Utsman dari Abdurrahman bin Abu Bakar berkata; Abu Bakar datang bersama seseorang atau beberapa orang tamunya. Kemudian Abu Bakar menghabiskan waktu sore di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat pulang, ibuku berkata kepadanya; “Kamu terlambat untuk menjamu tamu atau para tamumu pada malam ini.” dia bertanya; “Apakah kamu telah memberi makan malam kepada mereka?” ibuku menjawab; “Belum.” Ibuku berkata lagi; “Saya sudah tawarkan kepadanya atau kepada mereka, namun mereka menolaknya.” Abu Bakar marah dan bersumpah untuk tidak memakannya, dan tamu tersebut atau para tamu tersebut juga bersumpah untuk tidak memakannya sampai Abu Bakar memakannya. Kemudian Abu Bakar berkata; “perbuatan ini dari syetan.” Lalu dia meminta makanan tersebut dan memakannya dan mereka juga memakannya, setiap kali mereka mengangkat suapan muncul dari bawahnya makanan yang lebih banyak, maka dia pun bertanya; “Wahai saudari Bani Firasy, apa ini?” Ibuku menjawab; “Wahai penyejuk hatiku, sekarang makanan ini malah lebih banyak daripada sebelum kita makan.” Kemudian mereka menyantapnya dan mengirimkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdurrahman menceritakan bahwa beliau juga memakannya.

 

Musnad Ahmad 1610: Telah menceritakan kepada kami ‘Arim telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman dari Bapaknya dari Abu ‘Utsman dari Abdurrahman bin Abu Bakar bahwa dia berkata; Kami pernah menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan jumlah kami saat itu seratus tiga puluh orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada kami; “Apakah diantara kalian ada yang membawa makanan?” ternyata seorang laki-laki mempunyai satu sha’ makanan atau yang semisalnya, kemudian makanan tersebut dibuat adonan. Lalu datang seorang musyrik berambut kusut dan berperawakan jangkung membawa beberapa ekor kambing. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah ini dagangan atau pemberian?” Atau beliau berkata: “Atau hadiah?” Laki-laki itu menjawab; “Bukan, ini adalah dagangan.” lalu beliau membeli seekor kambing dan kambing tersebut dimasak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar jantung kambing itu dipanggang. Abdurrahman berkata; Demi Allah! tidak seorangpun dari seratus tiga puluh orang itu kecuali beliau beri satu potongan dari jantung kambing tersebut. Bagi yang hadir beliau berikan kepadanya, dan jika tidak hadir maka beliau simpankan baginya, lalu beliau letakkan potongan-potongan jantung dan adonan tersebut kedalam dua nampan, kami semua makan hingga kenyang bahkan masih tersisa. Kemudian sisa makanan itu kami taruh diatas tunggangan kami.” Atau dengan lafazh yang semisalnya.

 

Musnad Ahmad 1611: Telah menceritakan kepada kami ‘Arim dan ‘Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman, sedang ‘Affan berkata dalam haditsnya; Mu’tamir berkata; saya mendengar bapakku berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Utsman, bahwa Abdurrahman bin Abu Bakar menceritakan kepadanya, bahwa para ahli Shuffah adalah orang-orang fakir, dan suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memiliki makanan yang cukup untuk dua orang maka ajaklah orang ketiga.” -‘Affan berkata; “Untuk tiga orang”- Barangsiapa memiliki makanan yang cukup untuk empat orang maka ajaklah orang kelima, atau keenam.” Atau sebagaimana yang beliau sabdakan, Abu Bakar datang bersama tiga orang, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama dengan sepuluh orang sedang Abu Bakar dengan tiga orang.-‘Affan berkata; dengan enam orang.-

 

Musnad Ahmad 1612: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru yaitu Ibnu Dinar, bahwa ‘Amru bin Aus Ats Tsaqafi mengabarinya, bahwa Abdurrahman bin Abu Bakar telah menceritakan kepadaku, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku untuk menemani Aisyah ke at Tan’im dalam rangka umrah.”

 

Musnad Ahmad 1613: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Bakar As Sahmi telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Al Qasim bin Mihran dari Musa bin ‘Ubaid dari Maimun bin Mihran dari Abdurrahman bin Abu Bakar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabbku memberikan padaku tujuhpuluh ribu orang dari umatku yang masuk syurga tanpa hisab.” Lalu Umar bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah anda tidak meminta tambahan?” Beliau berkata: “Aku meminta agar ditambah, lalu Dia memberiku setiap satu orang dari itu membawa tujuh puluh ribu orang.” Umar bertanya lagi: “Apakah anda tidak meminta tambahan lagi?” beliau menjawab: “Aku telah meminta-Nya, dan Dia memberiku sama seperti itu juga.” Abdullah bin Bakar membentangkan kedua tangannya, kemudian berkata; “Beliau membentangkan kedua tangannya” dan Abdullah mempraktekannya. Dan Hisyam berkata; “Ini merupakan karunia dari Allah yang tidak diketahui berapa jumlahnya.”

 

Musnad Ahmad 1614: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Shadaqah bin Musa dari Abu ‘Imran Al Jauni dari Qais bin Zaid dari seorang hakim di dua kota, yaitu Bashrah dan Kufah dari Abdurrahman bin Abu Bakar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan memanggil orang yang berhutang pada hari kiamat, dan menempatkannya di depan-Nya. Lalu Dia bertanya: ‘Wahai hambaKu, dimanakah engkau hilangkan harta manusia? ‘ Hamba itu menjawab; ‘Wahai Rabbku, sungguh Engkau telah mengetahui bahwasannya aku tidak menelantarkannya. Akan tetapi harta itu hilang karena tenggelam, terbakar, kecurian atau hilang.’ Lalu Allah memanggil sesuatu (hutang tersebut), Kemudian Allah meletakkannya di timbangan, ternyata amal kebaikannya lebih berat.”

 

Musnad Ahmad 1615: Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Shadaqah telah menceritakan kepada kami Abu ‘Imran telah menceritakan kepadaku Qais bin Zaid dari seorang hakim di dua kota dari Abdurrahman bin Abu Bakar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah akan memanggil orang yang berhutang pada Hari Kiamat, sehingga dia menempatkannya di depanNya. Lalu ditanyakan: ‘Wahai Ibnu Adam, untuk apa hutang kamu ini, dan kenapa kamu menghilangkan hak orang lain? ‘ Hamba itu menjawab; ‘Wahai Rabbku, sungguh Engkau telah mengetahui bahwasannya aku mengambilnya namun saya tidak memakan dan tidak meminumnya bahkan tidak memakainya, namun yang ada di hadapanku ada yang terbakar, ada yang dicuri dan ada yang hilang.’ Lalu Allah Azza Wa Jalla berkata; ‘HambaKu benar, dan Aku yang paling berhak untuk menunaikannya untukmu saat ini.’ Maka Allah ‘azza wajalla memanggil seuatu (hutang rang tersebut). Kemudian meletakkannya di timbangan, dan ternyata amal kebaikannya lebih berat daripada kejelekannya dan dia masuk syurga karena rahmatNya.”

 

Musnad Ahmad 1616: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah memberitakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Mubarak, telah memberitakan kepada kami Zakaria bin Ishaq dari Ibnu Abu Nujaih bahwa Bapaknya menceritakannya, seseorang yang mendengar Abdurrahman bin Abu Bakar mengabarinya, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Naiklah pada unta ini dan boncengkan saudarimu. Jika kalian telah sampai pada bukit Tan’im maka berihramlah dan berjalanlah menuju Makkah.” Dan saat itu adalah pada lailatus shadar.

 

Musnad Ahmad 1617: Telah menceritakan kepada kami Daud bin Mihran Ad Dabbagh telah menceritakan kepada kami Daud yaitu Al ‘Athar, dari Ibnu Khutsaim dari Yusuf bin Mahik dari Hafshah binti Abdurrahman bin Abu Bakar dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abdurrahman: “Boncengkan saudarimu. Yaitu Aisyah, dan bantulah dia dalam melaksanakan umrah dari Tan’im. Jika kamu telah sampai di bukitnya maka lewatilah dan berihramlah, karena itu merupakan ihram yang akan diterima.”

 

Musnad Ahmad 1618: Telah menceritakan kepada kami ‘Arim telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman dari Bapaknya dari Abu ‘Utsman dari Abdurrahman bin Abu Bakar bahwa dia berkata; ” Kami pernah menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan jumlah kami saat itu seratus tiga puluh orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada kami; “Apakah diantara kalian ada yang membawa makanan?” ternyata seorang laki-laki mempunyai satu sha’ makanan atau yang semisalnya, kemudian makanan tersebut dibuat adonan. Lalu datang seorang musyrik berambut kusut dan berperawakan jangkung membawa beberapa ekor kambing. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah ini dagangan atau pemberian?” Atau beliau berkata: “Atau hibah?” Laki-laki itu menjawab; “Bukan, tapi ini dagangan.” lalu beliau membeli seekor kambing dan kambing tersebut dimasak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar jantung kambing itu dipanggang. Abdurrahman berkata; Demi Allah! tidak seorangpun dari seratus tiga puluh orang itu kecuali beliau beri satu potongan dari jantung kambing tersebut. Bagi yang hadir beliau berikan kepadanya, dan jika tidak hadir maka beliau simpankan baginya, lalu beliau letakkan potongan-potongan jantung dan adonan tersebut kedalam dua nampan, kami semua makan hingga kenyang bahkan masih tersisa. Kemudian sisa makanan itu kami taruh diatas tunggangan kami.” Atau dengan lafazh yang semisalnya.

 

Musnad Ahmad 1619: Telah menceritakan kepada kami ‘Arim telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman dari bapaknya telah menceritakan kepada kami Abu ‘Utsman bahwa Abdurrahman bin Abu Bakar menceritakannya, bahwa para ahli Shuffah adalah orang-orang fakir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu kali bersabda: “Barangsiapa memiliki makanan yang cukup untuk dua orang maka ajaklah orang ketiga (untuk ikut serta makan). Barangsiapa memiliki makanan yang cukup untuk empat orang maka ajaklah orang kelima, atau keenam.” Abu Bakar datang bersama tiga orang dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama dengan sepuluh orang, dan Abu Bakar dengan tiga orang, yaitu saya bapakku dan ibuku. -Abu ‘Utsman berkata; Saya tidak tahu apakah Abdurrahman mengatakan; Istriku, pelayan yang berada di rumah kami dan rumah Abu Bakar. Abu Bakar makan malam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian tetap di sana sampai saya selesai melaksanakan shalat isya’, kemudian dia kembali lagi ke tempat tersebut sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengantuk. Setelah berlalu waktu mendekati perengahan malam dia datang, dan istrinya bertanya; “Apa yang menyebabkan kamu terlambat untuk melayani para tamumu, atau seorang tamumu?” Abu Bakar berkata; “Apakah kamu telah memberi makan malam kepada mereka?” dia menjawab; “Mereka menolaknya sampai kamu datang, padahal sudah saya tawarkan kepada mereka.” Kemudian saya pergi bersembunyi mengawasi. Abu Bakar berkata; “Wahai Ghuntsar atau ‘Antar (kata hinaan kepada mereka)!” Abu Bakar merendahkannya dan mencelanya, lalu dia berkata; “Makanlah kalian seadanya. Demi Allah! Saya tidak akan makan selamanya.” Abdurrahman berkata; Tamu tersebut juga bersumpah, bahwa dia tidak akan memakannya sampai Abu Bakar memakannya. Abu Bakar berkata; “Perbuatan ini dari syetan.” Lalu dia meminta makanan tersebut dan memakannya dan mereka juga memakannya. Maka tidaklah kami mengangkat satu suapan kecuali muncul dari bawahnya makanan yang lebih banyak. Sampai akhirnya mereka kenyang dan jumlahnya semakin bertambah banyak dari sebelumnya. Kemudian Abu Bakar melihat makanan itu, dan rupanya makanan tersebut seperti semula atau bahkan lebih banyak. Lalu Abu Bakar bertanya kepada istrinya; “Wahai saudari Bani Firasy, apa ini?” Dia menjawab; “Wahai penyejuk hatiku, sekarang makanan ini malah lebih banyak daripada sebelum kita makan.” (dia ucapkan) tiga kali. Kemudian Abu Bakar menyantapnya dan berkata; “sesungguhnya hal itu (sumpahnya) dari syetan, ” setelah memakan satu suapan dia membawanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan akhirnya makanan tersebut berada di tempat beliau. Ketika itu antara kami dan suatu kaum ada sebuah perjanjian yang masa berlakunya telah selesai. Kemudian kami mengangkat dua belas orang sebagai pemimpin dan setiap orang memimpin beberapa orang. Allah yang tahu berapa jumlah mereka yang bersama setiap pemimpin, dan Abu Bakar mengirim makanan tersebut kepada mereka dan mereka semuanya memakan makanan tersebut.

 

Musnad Ahmad 1620: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman berkata; saya mendengar Bapakku berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Utsman bahwa Abdurrahman bin Abu Bakar menceritakan kepadanya, bahwa para ahli Shuffah, adalah orang-orang fakir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika bersabda: “Barangsiapa memiliki makanan yang cukup untuk dua orang maka ajaklah orang ketiga (untuk diajak makan bersama). Barangsiapa memiliki makanan yang cukup untuk empat orang maka ajaklah orang kelima dan keenam.” Abu Bakar datang bersama tiga orang dan Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama dengan sepuluh orang. Abdurrahman berkata; “Yaitu saya, bapakku dan ibuku.” Abu ‘Utsman berkata; Saya tidak tahu apakah dia mengatakan: “Dan istriku serta seorang pelayan di rumah kami dan rumah Abu Bakar RAdhi Allahu ‘anhu.”

 

Musnad Ahmad 1621: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Hakim telah menceritakan kepada kami Khalid bin Salamah bahwa Abdul Hamid bin Abdurrahman mengundang Musa bin Thalhah ketika sedang mengadakan walimah putranya. Dia berkata; “Wahai Abu Isa, apa yang engkau ketahui tentang shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka Musa menjawab; Aku bertanya pada Zaid bin Kharijah tentang shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Zaid menjawab: Saya bertanya sendiri kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimanakah cara shalawat kepada anda?” Beliau menjawab: “Shalatlah kalian dan bersungguh-sungguhlah, kemudian ucapkanlah: ALLAHUMMA BARIK ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALA ALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA ‘ALA IBRAHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID. (Ya, Allah berilah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji dan Maha Perkasa).”

 

Musnad Ahmad 1622: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Yahya bin ‘Abbad dari Bapaknya, ‘Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata; Al Harts bin Khazmah menemui Umar bin Al Khatthab dengan membawa dua ayat terakhir surat al Bara`ah: (Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari golongan kalian …) Maka Umar bertanya; “Siapa yang menjadi saksimu atas hal ini?”dia menjawab; “Aku tidak tahu, demi Allah! namun Aku bersumpah sungguh aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku memahaminya dan menghafalnya.” Maka Umar berkata; “Aku juga bersaksi bahwa aku juga benar-benar mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian dia mengatakan; “Andaikan jumlah ayat-ayat itu tiga ayat, niscaya akan aku jadikan satu surat tersendiri. Maka carilah salah satu surat dari Al Qur`an (yang sesuai dengannya), lalu letakkanlah keduanya di dalamnya. Aku pun meletakkannya pada akhir surat al Bara`ah.

 

Musnad Ahmad 1623: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud yaitu Abu Daud Ath Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al Khazzaz dari Al Hasan dari Sa’d mantan budak Abu Bakar berkata; Aku pernah menyerahkan kurma ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian para sahabat menggabungkan dua kurma ketika makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menggabungkan dua kurma ketika makan!”

 

Musnad Ahmad 1624: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir dari Al Hasan dari Sa’d mantan budak Abu Bakar, bahwa dia melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliaupun menyukai pelayanannya, lalu beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, Bebaskanlah Sa’d.” Abu bakar menjawab; “Wahai Rasulullah, kami tidak punya lagi selain dia.” Sa’d berkata; maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi: “Bebaskanlah Sa’d, niscaya akan datang kepadamu beberapa lelaki.” Abu Daud berkata; maksudnya adalah para tawanan.

Musnad Ahmad 1625: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam As Saluli dari Abu Al Haura` dari Al Hasan bin Ali berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajariku beberapa kalimat yang aku ucapkan ketika dalam qunut shalat witir: “ALLAHUMMAHDINI FI MAN HADAIT WA ‘AFINI FI MAN ‘AFAIT WA TAWALLANI FIMAN TAWALLAIT WA BAARIK LI FI MAA A’THAIT WAQINI SYARRA MA QADHAIT, FA INNAKA TAQDLI WA LA YUQDLA ‘ALAIK, INNAHU LA YADZILLU MAN WAALAITA TABARAKTA RABBANA WA TA’ALAIT (Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan sebagaimana orang yang Engkau beri perlindungan, sayangilah aku sebagaimana orang yang Engkau sayangi dan berilah berkah padaku pada apa yang Engkau berikan, dan jauhkanlah aku dari kejelekan taqdir yang Engkau tentukan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan putusan dan tidak ada orang yang memutuskan putusan kepada-Mu. Sesungguhnya tidak akan terhina orang yang Engkau bela. Maha Suci Engkau Wahai tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau.) ”

 

Musnad Ahmad 1626: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Syarik dari Abu Ishaq dari Hubairah bahwa Al Hasan bin Ali berkhutbah di hadapan kami: “Sesungguhnya seorang lelaki telah meninggalkan kalian kemarin, yang mana orang-orang terdahulu tidak dapat menandinginya dalam hal ilmu dan orang-orang setelahnya tidak dapat menyainginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya untuk memegang bendera pasukan. Jibril di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya, dan dia tidak akan bergegas pergi (meninggalakan medan perang) hingga musuh dapat ditaklukkan.”

 

Musnad Ahmad 1627: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari Abu Ishaq dari ‘Amru bin Hubaisy berkata; Al Hasan bin Ali menyampaikan khutbah kepada kami setelah terbunuhnya Ali; Sesungguhnya seorang lelaki telah meninggalkan kalian kemarin, yang mana orang-orang terdahulu tidak dapat menandinginya dalam hal ilmu dan orang-orang setelahnya tidak dapat menyainginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya dan memberinya bendera pasukan, dan dia tidak akan bergegas pergi (meninggalakan medan perang) hingga musuh dapat ditaklukkan. Dan tidaklah dia meninggalkan Dinar ataupun Dirham kecuali hanya tujuh ratus dirham saja dari pemberiannya yang dia persiapkan untuk menggaji pelayan keluarganya.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` dari Al Hasan bin Ali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarinya agar dia membaca pada shalat witir. lalu dia menyebutkan sebagaimana hadits Yunus.

 

Musnad Ahmad 1628: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah memberitakan kepada kami Hammad dari Al Hajjaj bin Arthah dari Muhammad bin Ali dari Al Hasan bin Ali bahwa suatu ketika jenazah lewat di dekatnya, orang-orang pun berdiri sedang Al Hasan bin Ali tidak berdiri. Al Hasan bertanya; “Apa yang kalian lakukan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri karena merasa terganggu dengan bau badan seorang Yahudi.”

 

Musnad Ahmad 1629: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Buraidah bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa’idi berkata; Aku bertanya pada Al Hasan bin Ali; “Masalah apakah yang paling engkau ingat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Al Hasan menjawab; “yang aku ingat adalah bahwa aku pernah mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah dan aku memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan kurma tersebut yang sudah bercampur dengan air liur, kemudian beliau membuangnya ke gundukan kurma lainnya.” Ada seseorang yang bertanya; “Memangnya kenapa jika engkau memakan kurma tersebut?” Al Hasan menjawab; “Sesungguhnya kami (ahlul bait) tidak memakan sedekah.”

 

Musnad Ahmad 1630: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, Al Hasan juga berkata; Beliau bersabda: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, sesungguhnya kejujuran itu membawa pada ketenangan dan kebohongan itu membawa pada keraguan.”

 

Musnad Ahmad 1631: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, Al Hasan juga berkata; Beliau mengajari kami doa: “ALLAHUMMAHDINI FI MAN HADAIT WA ‘AFANI FI MAN ‘AFAIT WA TAWALLANI FIMAN TAWALLAIT WA BARIK LI FI MA A’THAIT WAQINI SYARRA MA QADHAIT, INNAHU LA YADZILLU MAN WALAIT (Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan sebagaimana orang yang Engkau beri perlindungan, sayangilah aku sebagaimana orang yang Engkau sayangi dan berilah berkah terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadaku dan jauhkan aku dari kejelekan taqdir yang kau tentukan. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina).” Terkadang beliau juga membaca: “..TABAARAKTA RABBANA WA TA’ALAIT (Maha Suci Engkau Wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau.) ”

 

Musnad Ahmad 1632: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bukair telah menceritakan kepada kami Tsabit bin ‘Umarah telah menceritakan kepada kami Rabi’ah bin Syaiban, dia berkata kepada Al Hasan bin Ali radliallahu ‘anhu; “Apakah yang paling engkau ingat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Al Hasan menjawab; “Beliau membawaku masuk ke dalam ruang penapungan sedekah lalu saya mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Buanglah, sesungguhnya itu tidak halal bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahli baitnya.”

 

Musnad Ahmad 1633: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad yaitu Az Zubair, telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala` bin Shalih telah menceritakan kepadaku Buraidah bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` berkata; ketika aku sedang bersama Hasan bin Ali, dia ditanya; “Apakah yang paling engkau ingat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Pada suatu hari saya berjalan bersama beliau, kemudian lewatlah di tempat pengumpulan dan pengeringan kurma sedekah. Lalu saya mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan jarinya ke mulutku dan mengeluarkan kuma tersebut yang sudah bercampur dengan air liurku. Kemudian ada sebagian sahabat bertanya; “Memangnya kenapa jika engkau membiarkannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sesungguhnya kami keluarga Muhammad, tidak halal sedekah bagi kami”. Dan saya hapal dari beliau shalat lima waktu.”

 

Musnad Ahmad 1634: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Ibnu Ibrahim At Tustari, telah memberitakan kepada kami Muhammad berkata; diberitakan kepadaku bahwa jenazah lewat pada Al Hasan bin Ali dan Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma. Al Hasan berdiri sedangkan Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma duduk, maka Al Hasan bertanya kepadanya; “Tidakkah kau lihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dilewati jenazah?” maka Ibnu Abbas berdiri dan berkata; “Ya, namun beliau juga pernah duduk.” Al Hasan tidak mengingkari apa yang dikatakan Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma.

 

Musnad Ahmad 1635: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; saya mendengar Buraidah bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` berkata; Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali; “Apakah yang paling engkau ingat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Aku ingat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa saya mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah dan memasukkannya ke dalam mulutku.” Al Hasan berkata; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuangnya beserta dengan air ludah yang ada. Hal itu ditanyakan; “Wahai Rasulullah, memangnya kenapa dengan kurma ini pada anak kecil ini?” beliau menjawab; “Sesungguhnya kami keluarga Muhammad, tidak halal sedekah bagi kami.”

 

Musnad Ahmad 1636: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, Al Hasan juga berkata; Beliau bersabda: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, menuju sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan kebohongan itu keraguan.”

 

Musnad Ahmad 1637: Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, Al Hasan berkata; beliau mengajari kami do’a ini; “ALLAHUMMAHDINI FI MAN HADAIT WA ‘AFANI FI MAN ‘AFAIT WA TAWALLANI FIMAN TAWALLAIT WA BARIK LI FI MA A’THAIT WAQINI SYARRA MA QADHAIT, INNAHU LA YADZILLU MAN WALAIT (Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan sebagaimana orang yang Engkau beri perlindungan, sayangilah aku sebagaimana orang yang Engkau sayangi dan berilah berkah terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadaku dan jauhkan aku dari kejelekan taqdir yang kau tentukan. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina).” Syu’bah berkata; dan menurutku beliau juga berkata; “TABAARAKTA RABBANA WA TA’ALAIT (Maha Suci Engkau, Wahai tuhan kami Maha Tinggi Engkau.) ” Dan Syu’bah berkata; dan telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengarnya dari Al Hasan, dan saya mendengar dia meriwayatkan hadits ini pada saat dia keluar untuk menemui Al Mahdi setelah wafat ayahnya, dan Syu’bah tidak merasa ragu dengan lafazh hadits; “TABAARAKTA RABBANA WA TA’ALAIT (Maha Suci Engkau, Wahai tuhan kami Maha Tinggi Engkau.) “. Muhammad bin Ja’far bertanya kepada Syu’bah; “Apakah kamu ragu mengenai hal itu?” dia menjawab; “Tidak.”

 

Musnad Ahmad 1638: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ibnu Sirin; bahwa ada jenazah yang lewat di hadapan Ibnu Abbas dan Al Hasan, kemudian salah seorang dari mereka berdiri sedang yang lainnya duduk. Maka rang yang berdiri bertanya; “Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri?” sedangkan yang duduk menjawab; “Ya. dan beliau juga duduk.”

 

Musnad Ahmad 1639: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Ats Tsaqafi dari Ayyub dari Muhammad bahwa Al Hasan bin Ali dan Ibnu Abbas melihat jenazah (lewat), lalu salah satu dari mereka berdiri sedang yang lainnya tetap duduk, maka orang yang berdiri bertanya; “Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri?” sedangkan yang duduk menjawab; “Ya. dan beliau juga duduk.”

 

Musnad Ahmad 1640: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Mush’ab bin Muhammad dari Ya’la bin Abu Yahya dari Fathimah binti Husain dari Bapaknya, sedangkan Abdurrahman berkata; Husain bin Ali berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang meminta itu mempunyai hak meskipun ia datang dengan mengendarai kuda.”

 

Musnad Ahmad 1641: Telah memberitakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Tsabit bin ‘Umarah dari Rabi’ah bin Syaiban berkata; Aku bertanya pada Al Husain bin Ali radliallahu ‘anhu; “Apa yang paling berkesan bagimu tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; Aku pernah masuk ke ruang sedekah bersama beliau, lalu aku mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke dalam mulutku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Buang kurma itu, sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi kita (ahlul bait).”

 

Musnad Ahmad 1642: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Ya’La, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj yaitu Ibnu Dinar Al Wasithi, dari Syua’ib bin Khalid dari Husain bin Ali berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya diantara tanda baiknya keIslaman seseorang adalah sedikit berkata dalam hal yang tidak berguna baginya.”

 

Musnad Ahmad 1643: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij berkata; saya mendengar Muhammad bin Ali menyatakan dari Husain dan Ibnu Abbas atau salah satu dari keduanya, berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri karena jenazah seorang yahudi yang lewat, lalu beliau berkata; “Baunya sangat menggangguku.”

 

Musnad Ahmad 1644: Telah menceritakan kepada kami Yazid dan ‘Abbad bin ‘Abbad berkata; telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Abu Hisyam, ‘Abbad berkata; Ibnu Ziyad dari ibunya dari Fathimah binti Al Husain dari Bapaknya, Al Husain bin Ali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak seorang muslimpun baik laki-laki maupun perempuan yang tertimpa musibah dan ia mengingat (kembali musibah tersebut) walaupun sudah lama berlalu” -‘Abbad berkata; “Walau sudah berlangsung lama.” – kemudian dia menceritakannya dalam rangka beristirja’, kecuali Allah menggantinya pada saat itu dan memberinya pahala sebagaimana yang diberikan saat ia tertimpa musibah.” Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` dari Al Husain bin Ali berkata; Kakekku pernah mengajariku – atau ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajariku- beberapa kalimat yang selalu aku ucapkan pada shalat witir…” kemudian ia memaparkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 1645: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru dan Abu Sa’id, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari ‘Umarah bin Ghaziyyah dari Abdullah bin Ali bin Husain dari Bapaknya, Ali bin Husain dari Bapaknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang bakhil itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak bershalawat kepadaku.” Yaitu bacaan; SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.

 

Musnad Ahmad 1646: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Daud telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Umar dari Ibnu Syihab dari Ali bin Husain dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diantara tanda baiknya keIslaman seseorang adalah (sikapnya untuk) meninggalkan apa yang tidak ada manfaat baginya.”

 

Musnad Ahmad 1647: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil menerangkan; ‘Aqail bin Abu Thalib menikah kemudian dia keluar menemui kami, maka kami mengucapkan; “Semoga mendapat kecocokan dan banyak keturunan.” Maka dia berkata; “Diam! Jangan kalian mengatakan hal itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami mengucapkan hal itu, beliau bersabda: “Ucapkanlah; ‘BAARAKALLAHU LAHA FIIKA WA BAARAKA LAKA FIIHA (semoga Allah memberkahimu dengannya dan semoga Allah memberkahinya denganmu) ‘.”

 

Musnad Ahmad 1648: Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu ‘Ulayyah, telah memberitakan kepada kami Yunus dari Al Hasan bahwa ‘Aqil bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu menikahi seorang wanita dari Bani Jusyaim, kemudian anggota kaum menemuinya dan berkata; “Semoga kamu mendapatkan kecocokan dan keturunan” maka ‘Aqil berkata; “Janganlah kalian mengucapkan hal seperti itu!” mereka bertanya; “Apa yang harus kami baca Wahai Abu Yazid?” dia berkata; “Bacalah: BARAKA ALLAH LAKUM WA BARAKA ‘ALAIKUM (semoga Allah memberi berkah kepada kalian dan juga memberi berkah atas kalian), demikianlah kami diperintahkan.”

 

Musnad Ahmad 1649: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidullah bin Syihab dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam Al Makhzumi dari Ummu Salamah, putri Abu Umayyah bin Al Mughirah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menuturkan; Tatkala kami berada di negeri Habasyah, kami bertetangga dengan tetangga yang sangat baik, yaitu raja Najasyi. Kami merasa aman dalam menjalankan agama kami, kami beribadah kepada Allah dengan tidak diganggu dan kami tidak mendengar sesuatu yang tidak kami sukai. Tatkala hal itu sampai kepada orang Quraisy, mereka bersepakat untuk mengirim utusan kepada Raja Najasyi dengan mengirim dua orang laki-laki yang kuat untuk memberikan sejumlah hadiah kepada Raja Najasyi berupa barang-barang yang dianggap langka dari Makkah. Di antara barang yang sangat menakjubkan yang diberikankan kepada mereka adalah kulit yang samak. Mereka banyak mengumpulkan barang tersebut. Mereka tidak meninggalkan satu komandan pasukan pun kecuali memberinya satu hadiah. Mereka menugaskan Abdullah bin Rabi’ah bin Al Mughirah dan Al Makhzumi dan ‘Amru bin Al ‘Ash bin Wa`il As Sahmi untuk mengirim barang-barang tersebut dan memerintahkan keduanya menyampaikan misi mereka. Mereka berkata kepada keduanya; “Serahkan setiap hadiah kepada masing-masing komandan sebelum kalian berbicara dengan Najasyi. Setelah itu berikan hadiah kepada Raja Najasyi, dan mintalah agar dia menyerahkan mereka kepada kalian sebelum raja tersebut berbicara dengan mereka.” Ummu Salamah kembali menuturkan; Kedua orang itu bergegas keluar (meninggalkan Makkah) untuk menemui Raja Najasyi. Keadaan kami pada saat itu berada di rumah yang paling bagus dan tetangga yang paling baik. Tidak ada satu komandanpun kecuali mereka berdua menyerahkan hadiahnya sebelum berbicara kepada Raja Najasyi. Mereka berdua berkata kepada setiap komandan dari mereka; “sesungguhnya beberapa anak-anak bangsa kami yang bodoh keluar dari kami dan pergi kepada negri kerajaan kalian, mereka telah meninggalkan agama kaum mereka dan tidak akan masuk pada agama kalian. Mereka membawa agama baru yang kami tidak mengetahuinya dan juga kalian. Para pembesar kaum mereka mengutus kami untuk mengembalikan mereka ke kaum mereka. Maka Jika kami sedang berbicara kepada Raja mengenai mereka, hendaknya kalian memberi masukan kepadanya agar menyerahkan mereka kepada kami dan tidak perlu berbicara kepada mereka. Karena kaum mereka lebih memperhatikan dan mengetahui keadaan mereka dan kekurangan-kekurangan mereka.” Mereka menjawab kepada keduanya; “Ya.” Setelah itu keduanya menyerahkan hadiah kepada Raja Najasyi, dan raja Najasyi menerimanya, kemudaian mereka berdua mengajak bicara Raja dan berkata; “Wahai sang raja. sesungguhnya beberapa anak-anak bangsa kami yang bodoh keluar dari kami dan pergi kepada negri kerajaan tuan, mereka telah meninggalkan agama kaum mereka dan tidak akan masuk ke agama tuan. Mereka membawa agama baru yang kami tidak mengetahuinya dan juga tuan. Para pembesar kaum mereka yang terdiri dari bapak-bapak mereka, paman-paman mereka dan keluarga mereka mengutus kami untuk menghadap tuan, agar kiranya tuan mengembalikan mereka kepada kaum kami. Karena kaum kami lebih memperhatikan mereka dan mengetahui kekurangan mereka, tetapi mereka mencela mereka.” Sungguh tidak ada yang lebih membuat marah Abdullah bin Abu Rabi’ah dan ‘Amru bin ash kecuali keinginan Raja Najasyi untuk mendengar pembelaan mereka. Kemudian para komandan yang berada di sekelilingnya berkata; “Mereka benar wahai Raja, kaum mereka lebih memperhatikan mereka dan mengetahui kekurangan-kekurangan mereka, maka serahkanlah kepada mereka agar mereka berdua bisa membawa kembali ke negeri dan kaum mereka.” Maka Raja Najasyi marah dan berkata; “Tidak! demi Allah, demi Allah saya tidak akan menyerahkan mereka kepada mereka berdua, dan tidaklah ada seorangpun yang dapat menyuruhku memerangi suatu kaum yang bertetangga denganku, dan mereka tinggal di dalam negeriku, serta mereka memilihku dari selainku, sampai aku memanggil mereka dan menanyakan mereka apa yang dikatakan oleh kedua orang ini. Jika memang sebagaimana yang disebutkan, maka saya akan menyerahkan mereka kepada mereka berdua dan akan saya kembalikan kepada kaum mereka. Jika tidak demikian, maka saya tidak akan menyerahkan mereka dan saya akan tetap melindungi mereka selama mereka memintanya.” Umu Salamah berkata; Kemudian diutuslah utusan kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil mereka, ketika utusanNya menemui mereka, mereka berkumpul lalu sebagian berkata kepada yang lainnya; “Apa yang akan kalian katakan kepada sang Raja jika kamu berada di hadapannya?” Mereka menjawab; “Demi Allah, kami akan mengatakan sebagaimana yang telah di ajarkan dan diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, apapun yang terjadi.” Tatkala mereka menemui Raja, rupanya sang raja juga memanggil para pemuka agamanya, dan mereka telah menyebarkan lembaran-lembaran mereka di sekitar raja. Kemudian raja bertanya kepada mereka; “Agama apa yang menyebabkan kalian meninggalkan kaum kalian dan kalian juga tidak masuk pada agamaku atau agama umat lainnya?” Umu Salamah berkata; Yang menjawab sang raja adalah Ja’far bin Abu Thalib, dia berkata; “Wahai sang raja! Kami adalah suatu kaum yang bodoh, kami menyembah berhala dan memakan bangkai, melakukan berbagai keburukan dan memutus tali kekerabatan, berbuat jahat terhadap tetangga, orang yang kuat di antara kami memangsa yang lemah, dan kami masih dalam keadaan seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, kami mengetahui nasabnya dan kejujurannya, amanahnya dan kehati-hatiannya dalam menjaga kehormatannya. Dia mengajak kami kepada Allah agar kami mengesakanNya dan hanya menyembahNya, meninggalkan apa yang kami sembah dan nenek moyang kami yang berupa batu dan patung. Dia menyuruh kami agar kami berbuat jujur dalam berbicara, menunaikan amanah dan menyambung sillaturrahim, berbuat baik terhadap tetangga dan menahan dari hal-hal yang haram dan (menumpahkan) darah. Dia melarang melakukan kekejian-kekejian dan perkataan dusta, memakan harta anak yatim dan menuduh orang yang baik dengan tuduhan berzina. Dia menyuruh kami agar kami menyembah Allah saja, tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, dia menyuruh kami shalat, zakat dan puasa.” dia menyebutkan berbagai hal yang berkaitan dengan perkara-perkara dalam Islam “Kami membenarkannya, beriman kepadanya dan mengikuti apa yang beliau bawa. Kami menyembah Allah saja, tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, kami mengharamkan apa yang diharamkan untuk kami dan kami menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kami. Namun, kaum kami memusuhi kami dan menyiksa kami. Mereka memfitnah kami dalam menjalankan agama kami agar kami kembali kepada menyembah patung dari ibadah kepada Allah, dan menghalalkan apa yang dulu telah kami halalkan yang berbentuk berbagai ragam kekejian. Tatkala mereka memaksa dan menganiaya kami, membuat kami susah, menghalangi kami dengan agama kami, maka kami keluar ke negeri tuan dan kami memilih tuan daripada yang lainnya karena kami senang bertetangga dengan tuan, dan kami berharap kami tidak di zhalimi di dekat tuan, Wahai raja.” Umu Salamah menuturkan kembali; Maka Raja Najasyi bertanya kepadanya; “Apakah ada sesutu yang kau bawa dari apa yang datang dari Allah?” Ja’far menjawab; “Ya.” Raja Najasy berkata; “Bacakan kepadaku!” Maka Ja’far membacanya dengan memulai dari; KA HA YA ‘AIN SHAD.” Umu Salamah berkata; Maka Raja Najasyi, demi Allah, menangis sampai basah jenggotnya dan begitu juga para tokoh agamanya ikut menangis sampai mushaf-mushaf mereka basah ketika mendengar apa yang dibacakan di hadapan mereka, Najasyi berkata; “Demi Allah, kitab ini dan kitab yang dibawa Musa keluar dari satu sumber. Pergilah kalian berdua, demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya dan saya tidak akan terpedaya.” Umu Salamah berkata; Tatkala kedua orang itu keluar dari hadapan sang raja, ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; “Demi Allah, sungguh saya akan bongkar aib mereka besok, kemudian saya akan kupas kejelekan-kejelekan mereka.” Abdullah bin Abu Rabi’ah, dia orang yang paling takut di antara mereka berdua, berkata kepadanya; “Jangan kau lakukan, mereka memiliki kerabat walaupun mereka telah menyelisihi kita.” Dia menjawab; “Demi Allah, saya akan tetap kabarkan kepada mereka bahwa Isa bin Maryam menurut mereka adalah seorang hamba.” Umu Salamah berkata; Esok harinya, dia menemui raja dan berkata kepadanya; “Wahai raja, sesungguhnya mereka berkata kepada Isa bin Maryam dengan perkataan yang berbahaya. Kirimlah kepada mereka dan tanyakan kepada mereka tentang pendapat mereka.” Umu Salamah berkata; Maka raja mengirim utusan kepada mereka untuk menanyakannya. Sebelum utusan itu sampai, orang-orang muslim sudah berkumpul, sebagian berkata pada yang lain; “Apa yang akan kalian katakan mengenai Isa jika dia menanyakanya kepada kalian?” Mereka menjawab; “Demi Allah, kami akan menjawab sebagaimana yang telah Allah sebutkan dan yang telah dibawa oleh Nabi kita, apapun yang terjadi.” Tatkala mereka menemui Raja, maka dia berkata kepada mereka; “Apa pendapat kalian mengenai Isa bin Maryam?” Ja’far bin Abu Thalib menjawab; “Pendapat kami adalah sebagaimana yang dibawa oleh agama kami, yaitu dia adalah hamba Allah dan RasulNya, ruhNya dan kalimatNya yang ditiupkan kepada Maryam, seorang wanita yang tidak menikah.” Kemudian Raja Najasyi memukulkan tangannya ke tanah dan mengambil sebatang kayu, lalu berkata; “Itulah Isa putra Maryam, sama seperti saya mengatakan bahwa ini adalah kayu.” Maka para komandan perang yang berada di sekitarnya mengucapkan perkataan yang menunjukan kemarahan, Raja berkata; “Demi Allah, walau kalian tidak suka, saya akan mengatakannya. Pergilah kalian (kaum muslimin), kalian akan aman di negeriku, barangsiapa mencela kalian, maka akan dikenai denda, barangsiapa yang mencela kalian, maka akan dikenai denda. Saya tidak suka memiliki satu gunung emas jika saya harus menyakiti salah seorang dari kalian. Dan (raja berkata kepada para komandannya;) kembalikan kepada mereka berdua hadiah-hadiah yang telah mereka berikan, kami tidak membutuhkannya. Demi Allah, Allah tidak mengambil suap dariku ketika mengembalikan kerajaanku, hingga saya harus mengambil suap dalam kekuasaanku, dan Allah pun tidak memaksa orang-orang untuk menaatiku sehingga saya menaati mereka dalam masalah itu.” Kemudian dua orang tersebut keluar dari hadapannya dalam keadaan kalah dan hadiah-hadiah mereka dikembalikan lagi. Maka kami tinggal di dekat raja dengan sebaik-baik rumah dan bertetangga dengan tetangga yang baik. Demi Allah! kami dalam keadaan demikian sampai suatu saat datang seseorang yang mengkudeta kekuasannya. Demi Allah, kami tidak merasakan kesedihan yang melebihi kesedihan pada saat itu, kami khawatir jika orang itu mengalahkan Raja Najasyiy maka akan datang orang yang tidak mengakui hak kami sebagaimana yang telah dilakukan Raja Najasyi. Maka Raja Najasyi menuju orang tersebut, sedang diantara keduanya terdapat sungai Nil. Kemudian para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Siapa di antara kita yang akan menuju ke tempat berkumpulnya kaum tersebut, kemudian memperoleh kabar untuk kita.” Maka Zubair bin Awwam berkata; “Saya.” Zubair bin Awwam adalah orang paling muda umurnya. Mereka meniupkan kirbah untuknya, kemudian meletakannya di dadanya, sehingga dia dapat berenang dengan menggunakan kirbah tersebut sampai di tepi sungai Nil yang menjadi tempat bertemunya kaum. Kami berdoa kepada Allah untuk Raja Najasyi agar dia dapat mengalahkan musuhnya dan dia tetap berdiri kokoh diatas kerajaanya dan mendapatkan kepercayaan dalam memimpin negerinya Habasyah. (Semua itu kami lakukan) karena ketika kami berada di dekatnya kami mendapatkan tempat tinggal yang baik sampai kami menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada di Makkah.”

 

Musnad Ahmad 1650: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepadaku bapakku dari Abdullah bin Ja’far berkata; saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam makan mentimun dengan kurma basah.

 

Musnad Ahmad 1651: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Habib bin Asy Syahid dari Abdullah bin Abu Mulaikah berkata; Abdullah bin Ja’far berkata pada Ibnu Az Zubair; “Apakah kamu ingat saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui saya, kamu dan Ibnu Abbas?” Ibnu Az Zubair menjawab; “Ya.” Ibnu Az Zubair berkata; “Beliau membawa kami dan meninggalkanmu.” -Ismail juga berkata: “Apakah engkau ingat saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui saya, kamu dan Ibnu Abbas.” dia menjawab; “Ya.” beliau membawa kami dan meninggalkanmu.

 

Musnad Ahmad 1652: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Muwarriq Al ‘Ijli dari Abdullah bin Ja’far berkata; “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dari suatu perjalanan maka beliau akan disambut oleh anak-anak kecil dari Ahli Bait beliau. Pada suatu ketika, beliau datang dari sebuah perjalanan, dan saya dibawa lebih dahulu ke hadapan beliau, maka beliau pun membawaku di depan beliau. Kemudian salah seorang anak Fathimah, Hasan atau Husain di datangkan, kemudian beliau memboncengkannya di belakang beliau.” Abdullah berkata; ” maka kami bertiga memasuki kota Madinah dengan menaiki satu kendaraan.”

 

Musnad Ahmad 1653: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Mis’ar telah menceritakan kepadaku seorang syaikh dari Fahm, Mis’ar menerangkan; menurutku namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman, dan aku kira dia berasal dari Hijjaz, bahwa dia mendengar Abdullah bin Ja’far menceritakan kepada Ibnu Zubair, bahwa disembelihkan seekor kambing atau seekor unta untuk suatu kaum disembelih, dan dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada saat kaum tersebut hendak memberi daging kepada beliau: “Daging yang paling baik adalah bagian punggung.”

 

Musnad Ahmad 1654: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Mahdi bin Maimun dari Muhammad bin Ya’qub dari Al Hasan bin Sa’d dari Abdullah bin Ja’far, (menurut jalur yang lain) telah menceritakan kepada kami Bahz dan ‘Affan, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Mahdi telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Ya’qub dari Al Hasan bin Sa’d mantan budak Al Hasan bin Ali, dari Abdullah bin Ja’far, berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajakku naik kendaraan di belakang beliau, kemudian beliau membisiki suatu pembicaraan yang tidak akan aku beritahukan kepada seseorang selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika hendak membuang hajatnya, beliau menyukai untuk menutupi dirinya yaitu melindungi dirinya dengan bangunan yang tinggi atau dengan kebun kurma. Pada suatu hari beliau masuk ke dalam salah satu kebun milik orang Anshar yang ternyata di dalamnya ada seekor unta yang mendatangi beliau dalam keadaan menangis dan matanya meneteskan air mata, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap telinganya dan pangkal lehernya, maka unta tersebut menjadi tenang. Lalu beliau bertanya; “Siapa orang yang punya unta ini?” Datanglah seorang pemuda dari Anshar, dia menjawab; “Itu milikku Wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah di dalam memelihara unta yang telah Allah kuasakan kepadamu. Unta ini mengadu kepadaku, bahwasanya kamu membiarkan dia lapar dan lelah.”

 

Musnad Ahmad 1655: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Hammad bin Salamah berkata; saya melihat Ibnu Abu Rafi’ memakai cincin di jari kanannya, saya pun menanyakan hal itu kepadanya, maka dia menjawab; bahwa dia melihat Abdullah bin Ja’far memakai cincin di jari tangan kanannya, dan Abdullah bin Ja’far berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai cincinnya di jari tangan kanannya.”

 

Musnad Ahmad 1656: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Musafi’ bahwa Mush’ab bin Syaibah mengabarinya dari ‘Uqbah bin Muhammad bin Al Harits dari Abdullah bin Ja’far dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa ragu-ragu dalam shalatnya, hendaklah ia sujud dua kali pada saat duduk (tasyahud).”

 

Musnad Ahmad 1657: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa dan Yahya bin Ishaq, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Al Aswad berkata; saya mendengar ‘Ubaid bin Ummu Kilab menceritakan dari Abdullah bin Ja’far, menurut Yahya bin Ishaq, dia berkata; saya mendengar Abdullah bin Ja’far, sedangkan salah satu dari keduanya berkata; Dzul Janahain, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersin, beliau membaca hamdalah, lalu ada yang menyahut: “YARHAMUKA ALLAH (semoga Allah merahmatimu) ” maka beliau menimpali; “YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIHU BALAKUM (semoga Allah memberimu hidayah dan memperbaiki urusanmu) “.

 

Musnad Ahmad 1658: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab dari Hajjaj sesungguhnya Qatadah dari Abdullah bin Ja’far berkata; Sesungguhnya hal terakhir yang kulihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pada salah satu tangannya ada beberapa kurma dan di tangan yang lainnya ada buah sejenis timun, beliau memakan yang satu, dan menggigit yang lainnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya daging kambing yang paling baik adalah bagian punggungnya.”

 

Musnad Ahmad 1659: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami bapakku berkata; saya mendengar Muhammad bin Abu Ya’qub menceritakan dari Al Hasan bin Sa’d dari Abdullah bin Ja’far berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sepasukan tentara dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah, lalu beliau bersabda: “Jika Zaid terbunuh atau syahid, maka pemimpin kalian adalah Ja’far. Jika ia terbunuh atau syahid, maka pemimpin kalian adalah Abdullah bin Rawahah.” Ketika mereka berhadapa dengan musuh, Zaid mengambil bendera dan bertempur hingga terbunuh. Lalu Ja’far mengambil alih bendera dan bertempur hingga terbunuh. Bendera kembali dipegang oleh Abdullah bin Rawahah, dan dia bertempur hingga terbunuh. Kemudian bendera diambil oleh Khalid bin Walid, dan Allah memenangkannya. Maka sampailah kabar ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau keluar menemui orang-orang, beliau bertahmid kepada Allah dan memujinya, lalu bersabda: “Sesungguhnya saudara-saudara kalian bertempur melawan musuh. Yang (pertama kali) memegang bendera adalah Zaid bin Haritsah, dia bertempur hingga terbunuh atau syahid, kemudian bendera diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib, dan ia bertempur hingga terbunuh atau syahid, kemudian bendera dipegang Abdullah bin Rawahah, dan ia bertempur hingga ia terbunuh atau syahid. Setelah itu bendera diambil alih oleh salah satu pedang Allah, Khalid bin Walid, dan Allah pun memenangkannya.” Beliau menunda (untuk datang kepada keluarga korban), dan beliau menunda untuk datang kepada keluarga Ja’far selama tiga hari. Kemudian beliau mendatangi mereka dan berkata; “Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini atau besok, dan panggilkanlah kedua putra saudaraku.” Abdullah berkata; Kemudian kami dibawa ke hadapan beliau, seakan-akan kami anak ayam (yang kehilangan induknya). Beliau berkata; “Panggilkanlah tukang cukur untukku.” Lalu didatangkanlah tukang cukur, dan dia pun mencukur rambut kami. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Muhammad (bin Ja’far) itu mirip dengan paman kami, Abu Thalib, sedang Abdullah itu mirip dengan fisikku dan kelakuanku.” Lalu beliau memegang tanganku dan menengadahkannya, lalu berdoa: “Ya Allah gantikanlah Ja’far bagi keluarganya, serta berkahilah Abdullah atas janji setianya.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. Abdullah berkata; Lalu ibu kami datang dan mengatakan kepada beliau tentang keyatiman kami, sehingga membuat beliau bersedih, kemudian beliau bersabda: “Janganlah engkau khawatir dengan kehidupan mereka, sesungguhnya aku adalah wali bagi mereka di dunia dan di akhirat.”

 

Musnad Ahmad 1660: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Khalid dari Bapaknya dari Abdullah bin Ja’far berkata; Saat datang kabar tentang kematian Ja’far, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, sungguh mereka telah tertimpa suatu hal yang menyita waktu mereka atau sesuatu yang menyibukkan mereka.”

 

Musnad Ahmad 1661: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Musafi’ bahwa Mush’ab bin Syaibah mengabarinya dari ‘Uqbah bin Muhammad bin Al Harits dari Abdullah bin Ja’far, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ragu-ragu dalam shalatnya, hendaklah ia sujud dua kali setelah salam.” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah memberitakan kepada kami Abdullah telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musafi’ dari ‘Uqbah bin Muhammad bin Al Harits, lalu menyebutkan seperti hadits di atas dengan sanadnya.

 

Musnad Ahmad 1662: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami bapakku berkata; saya mendengar Muhammad bin Abu Ya’qub menceritakan dari Al Hasan bin Sa’d dari Abdullah bin Ja’far berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki bighal betina dan memboncengku di belakangnya. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuang hajatnya, beliau menyukai untuk menutupi dirinya yaitu melindungi dirinya dengan bangunan yang tinggi atau di kebun kurma. Pada suatu ketika beliau masuk ke dalam sebuah kebun milik orang Anshar yang ternyata di di dalamnya ada seekor unta milik orang Anshar tersebut. Tatkala melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam unta tersebut menangis dan meneteskan air matanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun mengusap telinganya dan pangkal lehernya, maka unta tersebut menjadi tenang. Lalu beliau bertanya; “Siapa pemilik unta ini?” Datanglah seorang pemuda dari Anshar dan menjawab; “Saya.” Beliau bertanya: “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam mengurus unta ini yang telah Allah kuasakan kepadamu. Dia mengadukanmu kepadaku dan dia menyatakan bahwa kamu membiarkan dia lapar dan lelah.” Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke dalam kebun dan melaksanakan hajatnya kemudian berwudhu. Ketika beliau datang, air masih menetes dari jenggot ke dada beliau, dan beliau membisikkan sesuatu kepadaku yang tidak akan saya ceritakan kepada seorang pun, bahkan kami merasa berat ketika beliau menceritakannya kepada kami. Abdullah bin Ja’far berkata; “Saya tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga aku bertemu Allah.”

 

Musnad Ahmad 1663: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ibnu Abu Rafi’ mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Abdullah bin Ja’far memakai cincin di jari kanannya dan meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai cincin di jari tangan kanannya.

 

Musnad Ahmad 1664: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi telah menceritakan kepada kami seorang syaikh yang datang dari Hijaz berkata; saya menyaksikan Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Ja’far di Muzdalifah, saat itu Ibnu Zubair sedang memotong daging untuk Abdullah bin Ja’far. Abdullah bin Ja’far berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya daging yang paling baik adalah bagian punggungnya.”

 

Musnad Ahmad 1665: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Isma’il bin Abu hakim dari Al Qasim dari Abdullah bin Ja’far berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak pantas bagi seorang Nabi untuk mengatakan ‘Sungguh aku lebih baik dari Yunus bin Matta’.” Abu Abdurrahman berkata; dan Harun bin Ma’ruf juga menceritakan hadits yang sama kepada kami.

 

Musnad Ahmad 1666: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; dan telah menceritakan kepadaku Hisyam bin ‘Urwah bin Zubair dari Bapaknya, ‘Urwah dari Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah, bahwa ia berada di sebuah rumah dari mutiara yang cekung, tidak ada suara gaduh di dalamnya dan tidak ada rasa letih.”

 

Musnad Ahmad 1667: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Mis’ar dari seorang laki-laki tua dari penduduk Fahm, dia berkata; aku mendengar Abdullah bin Ja’far berkata; Sesungguhnya hal terakhir yang kulihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pada salah satu tangannya ada beberapa kurma dan di tangan yang lainnya ada buah sejenis timun, beliau memakan yang satu, dan menggigit yang lainnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya daging kambing yang paling baik adalah bagian punggungnya.”

 

Musnad Ahmad 1668: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ja’far bin Khalid bin Sarrah bahwa bapaknya mengabarinya, bahwa Abdullah bin Ja’far berkata; seandainya engkau melihat diriku, Qutsam bin Abbas dan Ubaidullah bin Abbas, saat kami masih kecil suka bermain-main, tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lewat dengan tunggangannya. Beliau berkata padaku: “Naikkan anak itu bersamaku!” lalu beliau mendudukkanku di hadapannya, kemudian beliau berkata pada Qutsam; “Naikkan anak itu bersamaku.” lalu beliau mendudukkannya di belakangnya. ‘Ubaidullah adalah anak yang lebih disukai Abbas daripada Qutsam, meskipun demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak malu kepada pamannya untuk membawa Qutsam dan meninggalkan ‘Ubaidullah. Kemudian beliau mengusap kepalaku tiga kali, dan setiap mengusap beliau menguccapkan: “Ya Allah, jadikanlah pengganti Ja’far (untuk mengurus) anaknya.” Khalid bin Sarrah berkata; Saya bertanya kepada Abdullah; “Apa yang terjadi dengan Qutsam?” dia menjawab; “Dia syahid.” Saya berkata; “Allah dan RasulNya lebih mengetahui tentang hal yang baik.” Abdullah berkata; “Tentu.”

 

Musnad Ahmad 1669: Telah menceritakan kepada kami Rauh berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Musafi’ bahwa Mush’ab bin Syaibah mengabarinya dari ‘Uqbah bin Muhammad bin Al Harits dari Abdullah bin Ja’far, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ragu-ragu dalam shalatnya, hendaklah ia sujud dua kali setelah salam.”

 

Musnad Ahmad 1670: Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ibnu Abu Rafi’ dari Abdullah bin Ja’far bahwa dia menikahkan putrinya dengan Al Hajjaj bin Yusuf. Dia berkata kepada putrinya: “Jika ia masuk menemuimu maka ucapkanlah: ‘LA ILAHA ILLA ALLAH AL HALIM AL KARIM SUBHANALLAH RABBIL ARSY AL ADZIM ALHAMDU LILLAHI RABBIL ALAMIN (Tiada ilah yang haq selain Allah yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Segalah puji bagi Allah Rabb ‘Arsy yang Maha Mulia. Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam).'” Dan menyatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika tertimpa musibah membaca kalimat itu. Hammad berkata; Menurutku Abdullah bin Ja’far berkata; “sehingga Hajjaj tidak bisa menggaulinya.”

 

Musnad Ahmad 1671: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Abdullah bin Al Harits dari Al Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia berkata; “Wahai Rasulullah, pamanmu Abu Thalib telah mengasuhmu dan membantumu.” Beliau menjawab; “Sesungguhnya ia berada di neraka yang dangkal, dan kalaulah bukan karenaku niscaya ia berada di dasar neraka.”

 

Musnad Ahmad 1672: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari ‘Amru bin Sa’d dari Al Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang sedang bersujud, maka ada tujuh anggota yang ikut bersujud bersamanya. Yaitu: wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Yazid bin Abdullah bin Al Hadi dari Muhammad bin Ibrahim dari Amir bin Sa’d dari Al Abbas bin Abdul Muththalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti lafazh hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 1673: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr telah menceritakan kepada kami Hatim yaitu Ibnu Abu Shaghirah, telah menceritakan kepadaku beberapa orang dari kalangan Bani Abdul Muththalib berkata; Ali bin Abdullah bin Abbas menemui kami di beberapa musim haji. saya mendengarnya berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku Abdullah bin Abbas dari bapakku, Al Abbas bahwa dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, aku adalah pamanmu dan usiaku sudah lanjut serta ajalku telah dekat. Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat bermanfaat bagiku.” Beliau bersabda: “Wahai Abbas, engkau adalah pamanku dan aku tidak punya kuasa apapun atasmu di sisi Allah. Tetapi mintalah kepada Rabbmu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. Lalu Abbas menemui beliau lagi pada penghujung tahun dan beliau mengatakan sebagaimana yang dikatakan sebelumnya. Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Abu Yunus Al Qusyairi, Hatim bin Abu Shaghirah telah menceritakan kepadaku seseorang keturunan Abdul Muththalib berkata; Ali bin Abdullah bin Abbas menemui kami,, aka anak-anak Abdul Muththalib menemuinya. Dia berkata; saya mendengar Abdullah bin Abbas menceritakan dari Bapaknya, Abbas bin Abdul Muththalib berkata; Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, aku adalah pamanmu dan usiaku telah lanjut” lalu dia menyebutkan riwayat secara makna.

 

Musnad Ahmad 1674: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Umair dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abbas bin Abdul Muththalib berkata; “Wahai Rasulullah, apakah anda dapat memberi manfaat kepada Abu Thalib karena dia telah mengasuhmu dan marah untuk (memberikan pembelaan) kepadamu?” Beliau menjawab; “Ya. ia berada di bagian neraka yang dangkal, dan kalaulah bukan karena hal tersebut niscaya berada di dasar neraka.”

 

Musnad Ahmad 1675: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abdullah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi dari ‘Amru bin Sa’d dari Al Abbas bin Abdul Muththalib berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika anak Adam bersujud maka ada tujuh anggota badan yang ikut bersujud bersamanya. Yaitu: wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya.”

 

Musnad Ahmad 1676: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Yahya bin Al ‘Ala` dari pamannya, Syu’aib bin Khalid telah menceritakan kepadaku Simak bin Harb dari Abdullah bin ‘Amirah dari Abbas bin Abdul Muththalib berkata; Kami bermajlis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Al Bathha`, tiba-tiba sekumpulan awan melintas, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Tahukah kalian apakah itu?” Kami menjawab; “Itu adalah kumpulan awan.” Beliau berkata; “Dan mega.” kami mengikuti; “Dan mega.” Lalu beliau bersabda: “Dan mendung.” Maka kamipun diam. Beliau bertanya lagi; “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” Kami menjawab; “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau berkata; “Jaraknya adalah sejauh perjalanan lima ratus tahun. Jarak antara langit yang satu dengan langit berikutnya adalah sejauh perjalanan lima ratus tahun juga. Tebal langit adalah sejauh perjalanan lima ratus tahun. Di atas langit ke tujuh ada lautan yang jarak antara dasar dengan permukaannya adalah sebagaimana jarak bumi dan langit. Lalu di atasnya lagi ada delapan penyangga yang jarak antara ujung dengan pangkalnya seperti jarak antara langit dan bumi. Di atasnya lagi ada Arsy yang jarak antara dasar dan permukaannya adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berada di atasnya. Tidak ada satu amalan pun yang dilakukan oleh keturunan Adam yang tersembunyi dari-Nya.” Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah Al Bazzar dan Muhammad bin Bakkar berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Abu Tsaur dari Simak bin Harb dari Abdullah bin ‘Amirah dari Al Ahnaf bin Qais dari Al Abbas bin Abdul Muththalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas.

 

Musnad Ahmad 1677: Telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Ibnu Harun, telah memberitakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Abu Khalid, dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin Al Harits dari Al Abbas bin Abdul Muththalib berkata; Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah, jika orang-orang Quraisy bertemu satu sama lain, mereka selalu berseri-seri dan berwajah manis. Sedang jika bertemu dengan kami, maka mereka memasang tampang yang kami tidak mengerti.” Al Abbas berkata; Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat marah dan bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, iman tidak akan masuk kedalam hati seseorang sampai ia mencintai kalian karena Allah dan RasulNya.” Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin Al Harits dari Abdul Muththalib bin Rabi’ah berkata; Al Abbas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengatakan: “Ketika kami keluar, kami melihat orang-orang Quraisy saling berbincang..” lalu dia menyebutkan hadits itu.

 

Musnad Ahmad 1678: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sufyan telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin ‘Umair telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits dari Al Abbas berkata; Aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Engkau tidak akan merasa cukup dari pamanmu, karena dia telah mengasuhmu dan terkadang marah (memberikan pembelaan) kepadamu.” Beliau menjawab; “Ya. ia berada di bagian (neraka) yang dangkal, dan kalaulah bukan karena aku niscaya berada di dasar neraka.”

 

Musnad Ahmad 1679: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Katsir bin Abbas bin Abdul Muththalib dari Bapaknya, Al Abbas berkata; Saya menyaksikan perang Hunain bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak di kawal oleh seorangpun kecuali aku dan Abu Sufyan bin Al Harits bin Abdul Muththalib, maka kami memutuskan untuk tetap mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak meninggalkan beliau. Pada saat itu, beliau berada di atas keledai putih kehitam-hitaman -Ma’mar berkata; berwarna putih- pemberian Farwah bin Nu’amah Al Judzami. Tatkala pasukan kaum muslim dan pasukan kafir bertemu, orang-orang muslim kabur sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan bighalnya ke arah orang kafir. Al Abbas berkata; Saya memegang kekang bighal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya menahannya agar kuda tersebut tidak berjalan cepat menuju orang-orang musyrik, sedangkan Abu Sufyan bin Al Harits memegang pijkan kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau bersabda: “Wahai Abbas panggillah orang-orang yang mengikuti Bai’atur Ridlwan.” Aku adalah orang yang sangat tinggi suaranya, maka aku pun mengangkat suaraku dengan tinggi; “Dimanakah ashhab as samurrah (orang yang mengikuti Bai’atur Ridlwan)?” Demi Allah, rasa sayang mereka (kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam) ketika mendengar suaraku (memanggil mereka) seperti rasa sayang seekor induk sapi terhadap anak-anaknya. Mereka menjawab; “Kami datang memenuhi panggilanmu, kami datang memenuhi panggilanmu.” Maka kaum muslimin pun datang, kemudian terjadilah pertempuran antara kaum muslimin dan orang-orang kafir. Orang-orang Anshar pun (tak ketinggalan) menyeru; “Wahai segenap kaum Anshar!” Kemudian panggilan semakin menyempit kepada Bani Al Harits bin Al Khazraj, mereka memanggil; “Wahai Bani Al Harits bin Al Khazraj.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pada saat di atas bighalnya, seakan-akan beliau berdiri di atasnya, memandangi peperangan yang sedang terjadi, dan bersabda: “Inilah yang terjadi ketika peperangan sangat sengit sedang terjadi.” Kemudian beliau mengambil (segenggam) kerikil dan melemparkannya kepada arah orang-orang kafir, lalu bersabda: “Mereka akan kalah, Demi Rabb Ka’bah, mereka akan kalah, Demi Rabb Ka’bah.” Al Abbas melanjutkan ceritanya; Aku bergegas melihat peperangan, dan ternyata peperangan masih dalam keadaan seperti yang kulihat. Demi Allah, tidak ada yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali melempar kerikil-kerikil tersebut kepada arah mereka, dan saya dapat melihat kekuatan mereka melemah dan akhirnya mundur sehingga Allah mengalahkan mereka. Saya tetap memperhatikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang mengejar di belakang mereka di atas bighalnya.”

 

Musnad Ahmad 1680: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; saya mendengar Az Zuhri sekali atau dua kali, namun saya tidak dapat mengingatnya, dari Katsir bin Abbas berkata; Abbas dan Abu Sufyan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkhutbah di hadapan mereka: “Sekarang peperangan sudah semakin sengit!” lalu beliau bersabda (kepada Abbas dan Abu Sufyan): “serulah; ‘Wahai orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al Baqarah.”

 

Musnad Ahmad 1681: Telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid, Abu Abdullah dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin Al Harits dari Abdul Muththalib bin Rabi’ah berkata; Al Abbas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Kami keluar kemudian kami melihat orang-orang Quraisy sedang berbincang-bincang, tatkala mereka melihat kami mereka terdiam.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan keringatnya keluar antara kedua matanya kemudian bersabda: “Demi Allah, iman tidak akan masuk ke dalam hati seseorang sehingga dia mencintai kalian karena Allah dan karena hubungan kekerabatan kalian denganku.”

 

Musnad Ahmad 1682: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris yaitu Asy Syafi’i, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Yazid yaitu Ibnu Al Had, dari Muhammad bin Ibrahim dari ‘Amir bin Sa’d dari Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang bisa merasakan manisnya iman adalah orang yang rela Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai diennya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.”

 

Musnad Ahmad 1683: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’id dari Ibnu Al Had dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits dari ‘Amir bin Sa’d dari Al Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang bisa merasakan manisnya iman adalah orang yang rela Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai diennya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.”

 

Musnad Ahmad 1684: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Bakr bin Mudlar Al Qurasyi dari Ibnu Al Had dari Muhammad bin Ibrahim Al Harits dari ‘Amru bin Sa’d dari Al Abbas bin Abdul Muththalib berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang hamba bersujud maka ada tujuh anggota badan yang ikut bersujud bersamanya. Yaitu: wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya.”

 

Musnad Ahmad 1685: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah memberitakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Malik bin ‘Uwais bin Al Hadatsan An Nashri bahwa Umar memanggilnya. Lalu Malik menyebutkan hadits. Malik berkata; Tatkala saya sedang duduk di dekat Umar, tiba-tiba datang pembantunya memanggilnya, dan berkata kepada Umar; “Utsman, Abdurrahman, Zubair dan Sa’id meminta izin.” Dia menjawab; “Ya, izinkan mereka.” Maka dia pun mempersilahkan masuk. Kemudian tidak lama setelahnya berkata kepada Umar; “Apakah kamu mengizinkan Ali dan Abbas?” Maka dia menjawab; “Ya. persilahkan mereka masuk.” Setelah mereka masuk, Abbas berkata; “Wahai Amirul Mukminin! Putuskanlah perkara antara aku dan orang ini” kepada Ali radliallahu ‘anhu, keduanya sedang berselisih dalam masalah Shawwaf yang Allah berikan kepada RasulNya yang berupa harta Bani Nadhr. Sekelompok orang berkata; “Wahai Amirul Mukminin, putuskanlah permasalahan diantara keduanya, dan buatlah masing-masing merasa tenang terhadap yang lainnya.” Maka Umar berkata; “Dengan nama Allah, yang dengan izinNya langit dan bumi tegak, bukankah kalian mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak diwarisi. Harta yang kami tinggalkan adalah sebagai sedekah.” Yang beliau maksudkan adalah beliau sendiri?” Mereka menjawab; “Memang beliau pernah mengatakan hal itu.” Kemudian Umar menghampiri Ali dan Abbas, seraya berkata; “Demi Allah, apakah kalian berdua tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan hal itu?” mereka berdua menjawab; “Ya.” Lalu Umar berkata; “Saya akan menceritakan kepada kalian tentang urusan ini. Allah Azza Wa Jalla telah mengkhususkan bagi RasulNya dalam masalah harta rampasan perang ini, yang tidak pernah diberikan kepada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman: (Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun..) sampai pada kalimat; (Yang Maha Menentukan) Ayat ini khusus bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambilnya seorang diri tanpa memberikannya kepada orang lain, beliau telah memberikannya kepada kalian dan tidak mengutamakan dirinya sehingga harta itu tersisa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nafkah kepada keluarganya dalam waktu satu tahun dari harta ini, lalu beliau mengambil yang tersisa dan menjadikannya sebagai harta Allah. Hal itu beliau lakukan selama hidupnya, kemudian beliau meninggal, maka Abu Bakar berkata; “Saya (wali) pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” dia menahan harta itu, dan dia juga memperlakukan harta itu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperlakukannya.”

 

Musnad Ahmad 1686: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami anak saudara Ibnu Syihab dari pamannya, Muhammad bin Muslim berkata; telah mengabarkan kepadaku Malik bin ‘Uwais Al Hadatsan An Nashri, kemudian dia menyebutkan hadits. Dia berkata; Tatkala saya sedang duduk di dekat Umar, tiba-tiba datang pembantunya memanggil dan berkata kepada Umar; ” Utsman, Abdurrahman, Sa’d dan Zubair meminta izin.” Dia menjawab; “Ya, izinkan mereka.” Kemudian mereka masuk dan mengucapkan salam dan duduk. Tidak lama setelah itu dia berkata kepada Umar; “Apakah kamu mengizinkan Ali dan Abbas?” Maka dia menjawab; “Ya. persilahkan mereka masuk.” mereka berdua masuk dan duduk. Kemudian Abbas berkata; “Wahai Amirul Mukminin! Putuskanlah perkara antara aku dan Ali radliallahu ‘anhu!” Sekelompok orang, yaitu ‘Utsman dan para sahabatnya berkata; “Putuskanlah (permasalahan yang terjadi diantara) keduanya dan buatlah masing-masing tenang terhadap yang lainnya.” Maka Umar berkata; “Dengan nama Allah, yang dengan izinNya langit dan bumi tegak. Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak diwarisi. Harta yang kami tinggalkan adalah sebagai sedekah.” Yang beliau maksudkan adalah beliau sendiri?” Mereka menjawab; “Memang beliau pernah mengatakan hal itu.” Kemudian Umar menghampiri Ali dan Abbas radliallahu ‘anhuma, seraya berkata; “Demi Allah, apakah kalian berdua tahu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan hal itu?” mereka berdua menjawab; “Ya, beliau pernah mengatakan hal itu.” Kemudian Umar berkata; “Saya akan menceritakan kepada kalian tentang urusan ini. Allah Azza Wa Jalla telah mengkhususkan bagi RasulNya harta rampasan Perang ini yang tidak pernah diberikan kepada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman: (Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun..) Ayat ini khusus bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambilnya seorang diri tanpa memberikannya kepada orang lain, beliau telah memberikannya kepada kalian dan membagi-bagikannya di tengah-tengah kalian, sehingga harta itu tersisa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nafkah kepada keluarganya dalam waktu satu tahun dari harta ini, lalu beliau mengambil yang tersisa dan menjadikannya sebagai harta Allah. Hal itu beliau lakukan selama hidupnya. Demi Allah, apakah kalian telah mengetahui hal itu?” Mereka menjawab; “Ya.” Umar bertanya kepada Ali dan Abbas: “Demi Allah, apakah kalian berdua tahu hal itu?” Mereka berdua menjawab; “Ya.” (Umar melanjutkan) kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, maka Abu Bakar berkata; “Saya adalah (wali) pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” dia menahan harta itu, dan dia juga memperlakukan harta itu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperlakukannya dan kalian pada saat itu -saat itu Umar menghadap ke arah Ali dan Abbas- menyangkan bahwa Abu Bakar orangnya begini dan begitu. Allah Maha Tahu bahwa dia adalah orang yang jujur, baik, cerdas dan mengikuti kebenaran.”

 

Musnad Ahmad 1687: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin Al Harits dari Al Abbas berkata; saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yang bisa aku pergunakan dalam berdoa!” beliau bersabda: “Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan” Al Abbas berkata; Kemudian aku menemui beliau di kesempata yang lain dan saya katakan; “Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yang bisa aku pergunakan dalam berdoa!” beliau bertanya: “Wahai Abbas, Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mintalah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat.”

 

Musnad Ahmad 1688: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Qais bin Ar Rabi’ telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu As Safar dari Ibnu Syurahbil dari Ibnu Abbas dari Al Abbas berkata; Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saat itu di dekat beliau ada beberapa istrinya. Kemudian mereka mengenakan satir dariku kecuali Maimunah. Beliau bersabda: “Tidak ada seorangpun di rumahku yang menyaksikan pemberian obat (ke mulutku) melainkan dia menyetujui hal itu kecuali Abbas.” Lantas beliau bersabda: “Perintahkan kepada Abu Bakar untuk mengimami orang-orang!” Aisyah berkata kepada Hafshah; “Katakan kepada beliau; sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang jika menggantikan posisi anda, dia akan menangis.” Beliau tetap bersabda: “Perintahkan kepada Abu Bakar untuk mengimami orang-orang!” maka Abu Bakar berdiri dan shalat, Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati sakitnya agak membaik, maka beliau datang (ke masjid), kemudian Abu Bakar mundur untuk ke belakang, tetapi beliau duduk di sampingnya, lalu melanjutkan bacaan (surat yang dibaca Abu Bakar radliallahu ‘anhu.)

 

Musnad Ahmad 1689: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Qais telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu As Safar dari Arqam bin Syurahbil dari Ibnu Abbas dari Al Abbas bin Abdul Muththalib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada saat sakitnya: “Perintahkan kepada Abu Bakar untuk mengimami orang-orang!” kemudian Abu Bakar keluar dan bertakbir. Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati sakitnya agak membaik, maka beliau berusaha keluar dengan dipapah oleh dua orang. Tatkala Abu Bakar melihat beliau, dia mundur, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat agar dia tetap berada di tempatnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di samping Abu Bakar, lalu beliau melanjutkan bacaan surat yang dibaca Abu Bakar RAdhi Allahu ‘anhu.

 

Musnad Ahmad 1690: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Abu Qurrah telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’id dari Abu Qubail dari Abu Maisarah dari Al Abbas berkata; Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam, lalu beliau bertanya: “perhatikanlah, apakah kamu melihat adanya bintang di langit?” Maka aku menjawab; “Ya.” beliau bertanya: “Apa yang kamu lihat?” saya menjawab; “Aku melihat gugusan bintang.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya akan memimpin ummat ini dengan jumlah sebanyak bintang-bintang itu yang berasal dari keturunanmu, dua diantaranya berada di dalam fitnah.”

 

Musnad Ahmad 1691: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Asy’ats dari Isma’il bin Iyas bin ‘Afif Al Kindi dari Bapaknya dari kakeknya berkata; Saya adalah seorang pedagang. Saya datang untuk menjalankan ibadah haji, lalu saya mendatangi Al Abbas bin Abdul Muththalib untuk membeli dagangan darinya, yang dia juga seorang pedagang. Demi Allah, pada saat saya di Mina, ada seorang laki-laki yang keluar dari dalam tenda yang tidak jauh darinya, dia melihat ke arah matahari, ketika matahari telah condong, orang itu berdiri dan shalat. Kemudian keluarlah seorang wanita dari tenda itu juga dan berdiri di belakang orang tadi dan ikut shalat. Lalu seorang anak kecil yang menginjak usia baligh keluar dari tenda tersebut dan ikut shalat bersama kedua orang tadi. Maka saya pun bertanya kepada Al Abbas; “Siapa orang itu Wahai Abbas?” dia menjawab; “Itu adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib anak saudaraku.” Saya bertanya lagi; “Siapakah wanita itu?” dia menjawab; “Itu adalah istrinya Khadijah binti khuwalaid.” Saya bertanya lagi; “Siapa pemuda itu?” dia menjawab; “Itu adalah Ali bin Abu Thalib anak pamannya.” Saya bertanya lagi; “Apa yang mereka lakukan?” dia menjawab; “Dia sedang shalat, dia mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi, dan tidak ada yang mengikuti perintahnya kecuali istrinya dan anak pamannya, pemuda tersebut. Dia juga mengaku bahwasanya akan ditaklukkan untuknya perbendaraan-perbendaraan Raja Kisra dan Kaisar.” Kemudian ‘Affif, yaitu anak paman Al Ays’Ats bin Qais berkata; -dan dia masuk Islam setelah itu serta keIslamannya baik- “Seandainya Allah memberiku rizki Islam pada hari itu, maka aku adalah orang yang ketiga bersama Ali bin Abu Thalib RAdhi Allahu ‘anhu.”

 

Musnad Ahmad 1692: Telah menceritakan kepada kami Abu Nua’im dari Sufyan dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Al Muththalib bin Abu Wada’ah berkata; Al Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar sebagian yang dibicarakan orang-orang, maka beliau naik mimbar dan berkata; “Siapakah aku?” Orang-orang menjawab; “Engkau adalah Rasulullah.” Lalu beliau berkata lagi: “Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu, dan menjadikanku makhluk terbaikNya. Dia menjadikan makhluk-makhluk-Nya dalam dua kelompok. Dia menjadikanku dalam kelompok yang terbaik. Dia menjadikan mereka dalam berbagai kabilah, dan menjadikanku dalam kabilah yang terbaik. Dia menjadikan mereka dalam berbagai rumah (bait), dan menjadikanku dalam rumah (bait) yang terbaik. Dan aku adalah orang yang terbaik rumahnya, serta terbaik jiwanya.”

 

Musnad Ahmad 1693: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Umair dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abbas bin Abdul Muththalib berkata; “Wahai Rasulullah, apakah anda dapat memberi manfa’at kepada Abu Thalib, karena dia telah mengasuhmu dan terkadang marah (untuk memberikan pembelaan) kepadamu.” Beliau menjawab; “Ya. ia berada di bagian neraka yang dangkal, dan kalaulah bukan karena hal itu niscaya berada di dasar neraka.”

 

Musnad Ahmad 1694: Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d dari ‘Ubaidullah bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib saudara Abdullah, berkata; Al Abbas memiliki pancuran yang biasa dilewati Umar bin Khaththab. Pada hari Jum’at, Umar memakai pakaiannya, saat itu dua burung milik Al Abbas telah disembelih. Tatkala Umar melewati pancuran itu, darah kedua ekor burung itu disiram dengan air dan mengenai baju Umar, padahal air itu sudah tercampur dengan darah, maka Umar menyuruh agar menutup pancuran tersebut. Umar pulang dan melepas pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian lainnya, kemudian dia pergi dan shalat mengimami orang-orang. Al Abbas datang dan berkata; “Demi Allah, di situ adalah tempat di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan pancuran tersebut.” Umar pun berkata kepada Al Abbas; “Saya berniat agar kamu naik di atas punggungku sampai kamu bisa meletakkannya pada tempat dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkannya.” Kemudian Al Abbas melakukannya.

 

Musnad Ahmad 1695: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin ‘Abbad dari Ibnu Juraij dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas, bahwa dia membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Muzdalifah, beliau tetap bertalbiyah hingga beliau melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1696: Perawi berkata; dibacakan di hadapan Sufyan aku mendengar Muhammad bin Abu Harmalah dari Kuraib dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertalbiyah hingga melempar Jumrah.”

 

Musnad Ahmad 1697: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku ‘Atho` dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengkan Al Fadhl bin Abbas dari Muzdalifah. ‘Atho` berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas bahwa Al Fadhl mengabarinya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah sampai melempar jumrah.

 

Musnad Ahmad 1698: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair telah menceritakan kepadaku Abu Ma’bad berkata; saya mendengar Ibnu Abbas mengabari dari Al Fadhl, berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada Sore Hari di ‘Arafah dan Pagi Hari di Muzdalifah kepada orang-orang ketika kami mulai berangkat: “Hendaklah berjalan dengan tenang!” sambil menarik tali kekang unta beliau. Ketika beliau masuk di Mina, tepatnya ketika menuruni lembah Muhassir, beliau bersabda: “Hendaklah kalian (mempersiapkan) batu kerikil untuk melempar jumrah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangan beliau sebagaimana orang yang melempar. Rauh dan Al Bursani berkata; “Pada Sore Hari di ‘Arafah dan Pagi Hari di Muzdalifah..” dan “Ketika mereka mulai berangkat.”

 

Musnad Ahmad 1699: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah, dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu Abbas dari Al Fadhl bin Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di depan Ka’bah, lalu beliau bertasbih dan bertakbir. Kemudian beliau berdoa kepada Allah ‘azza wajalla dan beristighfar. Beliau tidak ruku’ juga tidak sujud.

 

Musnad Ahmad 1700: Telah menceritakan kepada kami Hujain dan Yunus, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’id dari Abu Zubair dari Abu Ma’bad mantan budak Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Abbas dari Al Fadhl bin Abbas, dia berkata; bahwa dia dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bersabda pada Sore Hari ‘Arafah dan Pagi Hari Muzdalifah kepada orang-orang ketika kami mulai berangkat: “Hendaklah kalian berjalan dengan tenang!” sambil menarik tali kekang unta beliau, sehingga ketika beliau masuk lembah Muhassir di Mina, beliau bersabda: “Hendaklah kalian (mempersiapkan) batu kerikil untuk melempar jumrah.” Al Fadhl berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertalbiyah sampai beliau melempar jumrah.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

1 Comment

Musnad Ahmad: 1501-1600

Musnad Ahmad 1501: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Abu Sufyan bin Al ‘Ala` bin Jariyah dari Yusuf bin Al Hakam Abu Al Hajjaj dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghinakan orang Quraisy niscaya Allah Azza Wa Jalla akan menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1502: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil pada kesempatan lain, telah menceritakan kepadaku Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Abu Sufyan bin Al ‘Ala` bin Jariyah dari Muhammad bin Sa’d dari Bapaknya, Sa’d berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginginkan kehinaan orang Quraisy niscaya Allah akan menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1503: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayyab berkata; saya mendengar Sa’d bin Abu Waqash berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak ‘Utsman bin Mazh’un untuk membujang. Jika saja dia diizinkan niscaya kami akan mengebiri diri kami.”

 

Musnad Ahmad 1504: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Muhammad bin Sa’d bin Malik dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi dari tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 1505: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya berkata; Aku pernah bersumpah demi Lata dan Uzza, maka para sahabatku berkata; “Kamu telah berkata buruk.” Lantas saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya; “Aku baru masuk Islam, lalu aku bersumpah dengan nama Lata dan Uzza?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bacalah: ‘LA ILAHA ILLA ALLAHU WAHDAHU (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah) ‘ tiga kali, kemudian tiuplah ke sebelah kirimu tiga kali sambil berlindung dan jangan kamu ulangi!”

 

Musnad Ahmad 1506: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Mu`ammal bin Isma’il dan ‘Affan secara makna berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya bahwa dibawakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semangkok besar bubur. Kemudian beliau memakannya dan ternyata masih tersisa, kemudian beliau bersabda: “Akan datang seorang lelaki dari jalan ini, (dia adalah) salah seorang penghuni Syurga, dan dia memakan sisa makanan ini.” Sa’d berkata; “Aku tinggalkan saudaraku, Umair bin Abu Waqqash mempersiapkan tempat untuk menyambut kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku sangat berharap bahwa orang yang masuk tersebut (adalah dia), tetapi tiba-tiba Abdullah bin Salam datang dan memakannya.” Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dia menyebutkan secara makna kecuali lafazh: “Saya melewati ‘Uwaimir bin Malik.

 

Musnad Ahmad 1507: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Usamah yaitu Ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al Qarrazh bahwa dia mendengar Sa’d bin Malik dan Abu Hurairah keduanya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah berikanlah keberkahan kepada penduduk Madinah di kota mereka dan berkahilah mereka dalam setiap sha’ mereka dan berkahilah dalam setiap Mud mereka. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hambaMu dan kekasihMu dan aku juga hamba dan utusanMu. Ibrahim telah memohon kepadaMu untuk penduduk Makkah dan aku memohon kepadaMu untuk penduduk Madinah sebagaimana Ibrahim memohon kepadaMU untuk penduduk Makkah dan semisalnya bersamanya. Sesungguhnya Madinah itu dijaga oleh para Malaikat, yang di setiap jalannya ada dua Malaikat yang menjaganya, tidak akan dimasuki oleh wabah lepra dan Dajjal. Barangsiapa hendak melakukan keburukan di dalamnya, maka Allah akan menjadikannya meleleh sebagaimana melelehnya garam di dalam air.”

 

Musnad Ahmad 1508: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Khalid dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya, Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dengan mengisyaratkan salah satu tangannya pada tangan lainnya sambil bersabda: “Satu bulan itu begini dan begini.” kemudian beliau mengurangi satu jarinya pada yang ketiga kalinya.

 

Musnad Ahmad 1509: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Isma’il dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu segini dan segini, sepuluh, sepuluh dan sembilan satu kali.”

 

Musnad Ahmad 1510: Telah menceritakan kepada kami Ath Thalaqani telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak dari Isma’il dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu segini, segini dan segini.” Yaitu dua puluh sembilan.

 

Musnad Ahmad 1511: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz yaitu Ad Darawardi, dari Zaid bin Aslam dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga muncul suatu kaum yang makan dengan lidah-lidah mereka sebagaimana sapi makan dengan lidahnya.”

 

Musnad Ahmad 1512: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Hasan dari Ibrahim bin Al Muhajir dari Abu Bakar yaitu Ibnu Hafs, kemudian dia menceritakan satu kisah; Sa’d berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kematian adalah seseorang yang meninggal karena mempertahankan haqnya.”

 

Musnad Ahmad 1513: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir yaitu Ibnu Hazm, dari pamannya, Jarir yaitu Ibnu Zaid, dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari Bapaknya, Sa’d berkata; saya berkata; “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mewasiatkan hartaku semuanya?” Beliau menjawab; “Jangan” Saya bertanya lagi; “Bagaimana kalau dua pertiga?” Beliau menjawab; “Jangan” Saya bertanya lagi; “Bagaimana jika setengahnya?” beliau menjawab; “Jangan” saya bertanya; “Bagaimana jika sepertiga?” beliau menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, (tapi) itu besar. Sesungguhnya salah seorang kalian meninggalkan keluarganya dalam sejahtera itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan menjadi beban bagi manusia.”

 

Musnad Ahmad 1514: Telah menceritakan kepada kami Abu Humaid Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Habib bin Abu Tsabit, dari Hamzah bin Abdullah dari Bapaknya dari Sa’d berkata; Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju Perang Tabuk, beliau mengangkat Ali (untuk menggantikan beliau di Madinah). Kemudian Ali RAdhiallah ‘anhu bertanya; “Apakah anda meninggalkanku?” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku?”

 

Musnad Ahmad 1515: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad dari ‘Amir bin Sa’d bahwa Sa’d ketika dia sedang sakit berkata; “Jika saya meninggal, buatkanlah liang lahat untukku dan perlakukan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperlakukan.”

 

Musnad Ahmad 1516: Telah menceritakan kepada kami Manshur bin Salamah Al Khuza’i telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari ‘Amir bin Sa’d dari Sa’d berkata; ” Buatkanlah liang lahat untukku dan letakkanlah batu bata sebagaimana telah dibuatkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1517: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Abu Syihab dari Al Hajjaj dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid dari Sa’d bin Malik berkata; “Kami melakukan thawaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diantara kami ada yang thawaf tujuh putaran, diantara kami ada yang thawaf delapan putaran dan diantara kami ada yang thawaf lebih banyak dari itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 1518: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Abu Shakhr, Abu Abdurrahman, Abdullah bin Ahmad berkata; dan saya mendengarnya dari Harun bahwa Abu Hazin menceritakan kepadanya, dari putra Sa’d bin Abu Waqqash berkata; saya mendengar bapakku berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti semula, maka berbahagialah orang-orang yang asing pada hari itu, ketika manusia sudah rusak. Demi Dzat yang jiwa Abul Qasim ada di tanganNya, sungguh iman itu akan bersarang pada dua masjid ini sebagaimana seekor ular bersarang pada sarangnya.”

 

Musnad Ahmad 1519: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud telah memberitakan kepada kami Abdurrahman yaitu Ibnu Abu Az Zinad, dari Musa bin ‘Uqbah dari Abu Abdullah Al Qarrazh dari Sa’d bin Abu Waqqash bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lain kecuali masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 1520: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah memberitakan kepada kami ‘Utsman bin Hukaim telah menceritakan kepadaku ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengharamkan antara kedua sisi Madinah, sebagaimana Ibrahim mengharamkan tanah haramnya (Makkah), tidak boleh dipotong pohon berdurinya atau dibunuh binatang buruannya. Tidaklah seseorang yang meninggalkannya karena benci kecuali Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik darinya. Madinah lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahuinya. Tidaklah seseorang menginginkan keburukan pada penduduknya kecuali Allah akan melelehkannya sebagaimana timah yang meleleh pada api atau melelehnya garam di air.”

 

Musnad Ahmad 1521: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang yang semisal mereka dan orang-orang yang semisal mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka ujiannya akan berat. Jika agamanya lemah maka diuji dengan sesuai kadar agamanya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa mempunyai kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1522: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il dari Bukair bin Mismar dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali, beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah) dalam beberapa peperangan beliau. Ali bertanya; “Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak!” beliau menjawab: “Wahai Ali, tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? hanya saja tidak ada Nabi setelahku” Dan saya juga mendengar beliau bersabda pada Perang Khaibar; “Sungguh, saya akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya.” Maka kami semuanya saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda: “Panggilllah Ali!” kemudian dia dihadirkan dalam keadaan sakit matanya. Lantas beliau meludahi matanya dan menyerahkan bendera tersebut kepadanya, kemudian Allah memberi kemenangan kepadanya. Tatkala turun ayat: (Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu.) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda: “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

 

Musnad Ahmad 1523: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d dari ‘Ayyash bin Abbas dari Bukair bin Abdullah dari Busr bin Sa’id bahwa Sa’d bin Abu Waqqash berkata ketika ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh; Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi suatu fitnah dimana orang yang duduk ketika itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri ketika itu lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik dari orang yang berlari.” Sa’d bertanya; “Bagaimana pendapat anda jika ada yang masuk ke rumahku dan mengulurkan tangannya untuk membunuhku?” beliau bersabda: “Jadilah kamu seperti putera Adam!”

 

Musnad Ahmad 1524: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Thalhah At Taimi penduduk Madinah, telah menceritakan kepadaku Abu Suhail, Nafi’ bin Malik dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Al ‘Abbas: “Inilah Al Abbas bin Abdulmuththalib orang Quraisy yang paling dermawan dan paling menjaga hubungan.”

 

Musnad Ahmad 1525: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Ya’la berkata; telah menceritakan kepada kami Musa yaitu Al Juhani, dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Ada seorang arab Badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Nabiyullah, ajarilah aku sebuah kalimat yang dapat aku ucapkan (setiap saat)!” Beliau bersabda: “Bacalah: LA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIKA LAHU, ALLAHU AKBAR KABIRA, WALHAMDU LILLAHI KATSIRA WA SUBHANALLAHI RABBIL ‘ALAMIN, LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘AZIZIL HAKIIM (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagiNya, Allah Maha Besar dan Agung. Segala puji yang banyak hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah Rabb semesta alam. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) lima kali.” Orang badui tadi berkata; “Itu semua untuk Rabbku Azza Wa Jalla, mana untukku?” Beliau menjawab; “Bacalah: ALLAHUMMAGHFIRLI WARHAMNI WAHDINI WARZUQNI (Ya Allah! Ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku hidayah dan berilah aku rizqi.) ” Ibnu Numair berkata; Musa berkata; lafazh “WA’AFINI (berilah aku kesehatan).” saya masih ragu dan saya tidak tahu pasti.

 

Musnad Ahmad 1526: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Musa dari Mush’ab bin Sa’d telah menceritakan kepadaku bapakku berkata; kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” Sa’d berkata; ada salah seorang teman duduknya bertanya; “Wahai Nabiyullah, bagaimana mampu salah seorang dari kami mendapatkan seribu kebaikan?” beliau menjawab; “Bertasbih seratus kali (membaca SUBHANALLAAH-Maha Suci Allah) akan ditulis baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1527: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Musa dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya berkata; kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” kemudian ada seorang teman duduknya bertanya; “Bagaimana mampu salah seorang dari kami, Wahai Rasulullah untuk mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” beliau menjawab; “Bertasbih seratus kali (membaca SUBHANALLAAH-Maha Suci Allah) akan ditulis baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1528: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; “Telah turun kepadaku empat ayat. Pada Perang Badar saya mendapatkan pedang, lalu saya membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku pedang ini?” beliau bersabda: “Taruhlah!” kemudian dia bangun dan berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku pedang ini!” beliau bersabda: “Letakkan!” kemudian dia bangkit dan berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku, saya pantas dianggap sebagai orang yang membutuhkan pedang itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berkata; “Letakkan di tempat kamu mengambilnya!” maka turunlah ayat: (Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah bahwa rampasan Perang itu untuk Allah dan RasulNya.) Sa’d melanjutkan; “Ada seorang sahabat Anshar yang membuat makanan, dan dia mengundang kami, kemudian kami meminum khamer hingga kami mabuk. (Dalam kondisi seperti itu) orang Anshari dan Quraisy saling membanggakan diri. Orang Anshar berkata; “Kami lebih utama daripada kalian.” Orang Quraisy berkata; “Kami lebih utama daripada kalian.” Tiba-tiba seorang laki-laki Anshar mengambil tulang unta dan memukulkannya ke hidung Sa’d hingga pecah, maka hidung Sa’d menjadi pecah, pada saat itu turunlah ayat: (Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.) ” Sa’d melanjutkan; Ibuku berkata; “Bukankah Allah telah menyuruh mereka untuk berbakti, Demi Allah, saya tidak akan memakan makanan dan meminum minuman sampai mati atau kamu mengingkari Muhammad.” Maka jika mereka hendak memberi ibuku makan, mereka membuka paksa mulutnya dengan tongkat, dengan demikian mereka bisa menyuapinya makanan ke mulutnya. Maka turunlah ayat: (Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya,). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Sa’d untuk menjenguknya karena sakit, kemudian Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mewasiatkan semua hartaku?” Beliau menjawab: “Jangan.” Sa’d bertanya; “Bagaimana kalau duapertiga?” Beliau menjawab; “Jangan” dia bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” beliau diam.

 

Musnad Ahmad 1529: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin ‘Amru Al Kalbi telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al Hadhrami bin Lahiq dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika penyakit lepra sedang mewabah di suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya, dan jika ada di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian kabur dari tempat itu.”

 

Musnad Ahmad 1530: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Ats Tsaqafi dari Khalid dari ‘Ikrimah dari Sa’d bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada Perang Uhud: “Panahlah, tebusanmu adalah bapakku dan ibuku”

 

Musnad Ahmad 1531: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Al Hajjaj bin ‘Arthah dari Yahya bin ‘Ubaid Al Bahrani dari Muhammad bin Sa’d, Al Bahrani menuturkan; bahwa Muhammad bin Sa’d sering berwudhu di pojokan, pada suatu hari dia buang air besar kemudian berwudhu dan mengusap kedua khufnya, maka kami merasa heran dan bertanya; “Apa-apaan ini?” dia menjawab; “Telah menceritakan kepadaku bapakku bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana yang aku lakukan.”

 

Musnad Ahmad 1532: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Isma’il dari Qais berkata; saya mendengar Sa’id bin Malik berkata; “Demi Allah, saya adalah orang Arab pertama yang melempar panah di jalan Allah. Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada makanan sama sekali yang bisa kami makan kecuali daun Hublah dan daun pohon samur, sampai-sampai salah seorang kami mengeluarkan kotoran seperti kotoran kambing karena tidak adanya campuran (makanan yang bisa kami makan). Kemudian Bani Asad merendahkanku dan menghinaku karena agamaku. Kalau begitu sungguh aku telah rugi dan telah sesat jalanku.”

 

Musnad Ahmad 1533: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Abu Ma’syar dari Musa bin ‘Uqbah dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya berkata; saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca salam ke sebelah kanannya dan ke sebelah kirinya.”’

 

Musnad Ahmad 1534: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Muhammad bin Al Aswad dari Amir bin Sa’d dari bapaknya berkata; “Ketika Perang Khandaq, ada seorang lelaki (musuh) yang berlindung dengan tamengnya, dia berkata (menghina) sambil memegang tamengnya seperti, meletakkan tamengnya di atas hidungnya, kemudian berkata (menghina) seperti ini, meletakkan tamengnya ke bawah. Maka aku mengambil wadah panahku kemudian aku keluarkan panah yang sudah berlumuran darah, lalu aku letakkan di tengah busur. Ketika dia berkata begini, menurunkan tamengnya, aku segera membidiknya. Aku tidak lupa anak panah itu mengenai ini dan itu dari bagian tameng tersebut, kemudian lelaki tersebut tersungkur.” Sa’d sambil memperagakannya dengan kakinya. Maka Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. -saya mengira Sa’d berkata; “Sampai tampak gigi geraham beliau.”- Rauh bertanya; “Kenapa beliau tertawa?” Ibnu Aun menjawab; “Karena melihat tingkah laku Sa’d.”

 

Musnad Ahmad 1535: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin ‘Umair berkata; saya mendengar Mush’ab bin Sa’d menceritakan dari bapaknya, Sa’d bin Abu Waqash bahwa dia menyuruh untuk membaca doa, sebuah do’a yang dia ceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu; “ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL BUKHLI WA A’UDZUBIKA MINAL JUBNI WA A’UDZUBIKA AN URADDA ILA ARDZALIL ‘UMURI WA A’UDZUBIKA MIN FITNATID DUNYA WA A’UDZUBIKA MIN ‘ADZABIL QABRI (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat bakhil, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut, dan aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan kepada umur yang hina, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur).”

 

Musnad Ahmad 1536: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna dan Abu Sa’id berkata; telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq, Abu Sa’id berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Mush’ab bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya, bahwa dia bersumpah dengan nama Lata dan Uzza, maka para sahabatnya berkata; “Kamu telah berkata buruk.” Lantas dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepada beliau; “Aku baru masuk Islam, lalu aku bersumpah dengan nama Lata dan Uzza?” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bacalah: ‘LA ILAHA ILLA ALLAHU WAHDAH (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah) ‘ tiga kali, kemudian tiuplah ke sebelah kirimu tiga kali sambil berlindung kepada Allah dari godaan setan dan jangan kamu ulangi!”

 

Musnad Ahmad 1537: Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Usamah dari Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah bahwa Sa’d bin Malik berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rizqi adalah yang sekedar mencukupi.”

 

Musnad Ahmad 1538: Telah bercerita kepada kami Abu Daud Sulaiman telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih bin Kaisan telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya berkata; “Umar meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu di dekat beliau ada beberapa wanita, yang suara mereka lebih tinggi dari pada suara beliau. Ketika beliau mengizinkan Umar mereka segera pergi, lalu Umar masuk dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. Umar berkata; “Semoga Allah membahagiakanmu Wahai Rasulullah, bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku heran kepada mereka yang ada di dekatku, ketika mendengar langkahmu mereka segera pegi.” Umar berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih berhak untuk kalian segani daripada aku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkan mereka Wahai Umar! Demi Allah, tidaklah setan bertemu denganmu pada suatu jalan kecuali dia akan melewati jalan selain jalanmu.” INI ADALAH HADITS TERAKHIR SA’D BIN ABU WAQQASH radliallahu ‘anhu.

 

Musnad Ahmad 1539: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman berkata; saya mendengar Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cendawan berasal al Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1540: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Cendawan berasal alManna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1541: Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepadaku bapakku telah menceritakan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari ‘Amru bin Huraits berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Cendawan berasal Salwa, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1542: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; hadits ini kami hafal dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia (mati) syahid. Barangsiapa berbuat aniaya (dengan mengambil) sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1543: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Shadaqah bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku kakekku, Riyah bin Al Harits bahwa ketika Al Mughirah bin Syu’bah berada di sebuah masjid besar dan di sebelah kanan kirinya duduk penduduk Kufah, tiba-tiba datang seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Zaid, maka Al Mughirah menyambutnya dan mendudukkannya di sisi kedua kakinya di atas kasur, kemudian datanglah seseorang lelaki dari penduduk Kufah, dia menghadap Al Mughirah lalu mencaci dan mencaci. Maka Sa’id bertanya; “Siapa yang dicela orang ini wahai Al Mughirah?” dia menjawab; “Dia mencaci Ali bin Abu Thalib.” Sa’id berkata; “Wahai Mughirah bin Syu’bah, wahai Mughirah bin Syu’bah.” -tiga kali.-“Kenapa saya mendengar para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka cela di hadapanmu sedang kamu tidak mengingkari dan merubahnya. Sungguh aku bersaksi (telah mendengar) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kedua telingaku dan diingat oleh hatiku (satu hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits dengan dusta, karena pasti beliau akan meminta pertanggung jawabanku ketika aku bertemu beliau nanti, beliau bersabda: “Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Ali di Syurga, Utsman di Syurga, Thalhah di Syurga, Zubair di Syurga, Abdurrahman di Syurga, Sa’d di Syurga.” dan yang kesembilan adalah seorang mukmin di Syurga juga, jika aku ingin menyebutkannya, pasti aku menyebutkan namanya.” Maka orang-orang yang ada di masjid ribut dan mendesak Sa’id untuk menyebutkannya; “Wahai sahabat Rasulullah, siapakah orang yang kesembilan itu?” maka Sa’id berkata; “kalian mendesakku (untuk menyebutkannya) dengan nama Allah, demi Allah Yang Maha Agung, akulah orang yang kesembilan tersebut. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang kesepuluhnya.” Kemudian dia mengiringinya dengan bersumpah dan berkata; “Demi Allah, satu peperangan yang diikuti seorang laki-laki yang mengakibatkan wajahnya dipenuhi debu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah lebih utama daripada amalan salah seorang kalian, sekalipun dia diberi umur seperti umur Nabi Nuh ‘Alaihissalam.”

 

Musnad Ahmad 1544: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hushain bin Manshur dari Hilal bin Yisaf dari Sa’id bin Zaid, di kesempatan lain Waki’ berkata: Manshur berkata; dari Sa’id bin Zaid, dan di kesempatan yang lainnya berkata; Hushain dari Ibnu Zhalim dari Sa’id bin Zaid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira`, yang sedang berada di atasmu adalah seorang Nabi atau orang yang shiddiq atau orang yang syahid!” Sa’id menerangkan; “Di atasnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’id bin Zaid radliallahu ‘anhum.”

 

Musnad Ahmad 1545: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hur bin Asy Shayyah dari Abdurrahman bin Al Akhnas berkata; Al Mughirah bin Syu’bah berkhutbah di hadapan kami, kemudian dia mencela Ali radliallahu ‘anhu, maka Sa’id bin Zaid bangun dan berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nabi di Syurga, Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Utsman di Syurga, Ali di Syurga, Thalhah di Syurga, Zubair di Syurga, Abdurrahman bin ‘Auf di Syurga dan Sa’d di Syurga.” Jika saya mau saya akan sebutkan yang kesepuluh.”

 

Musnad Ahmad 1546: Telah menceritakan kepada kami Umar bin ‘Ubaid dari Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cendawan berasal Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1547: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam, dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepadaku bapakku dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Numair, Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan zhalim niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya sampai tujuh lapis tanah pada Hari Kiamat.” Sedang Ibnu Numair berkata; “..dari tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1548: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami dan beliau membawa cendawan di tangannya dan bersabda: “Apakah kalian tahu apa ini? ini berasal al Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1549: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin ‘Umair berkata; saya mendengar ‘Amru bin Huraits berkata; saya mendengar Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cendawan berasal Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Al Hakam bin ‘Utaibah dari Hasan Al ‘Arani dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Syu’bah berkata; “Tatkala Al Hakam menceritakannya kepadaku, saya tidak mengingkari bahwa ini adalah hadits Abdul Malik.”

 

Musnad Ahmad 1550: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Al Hur bin Asy Shayyah dari Abdurrahman bin Al Akhnas bahwa Al Mughirah bin Syu’bah berkhutbah dan mencela Ali radliallahu ‘anhu, maka Sa’id bin Zaid berkata; saya bersaksi bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rasulullah di Syurga, Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Ali di Syurga, Utsman di Syurga, Abdullah di Syurga, Abdullah di Syurga, Zubair di Syurga dan Sa’d di Syurga.” Kemudian dia berkata; “Jika kalian mau saya akan sebutkan yang ke sepuluh.” Kemudian Sa’d menyebutkannya.

 

Musnad Ahmad 1551: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim berkata; Al Mughirah bin Syu’bah berkhutbah dan mencela Ali radliallahu ‘anhu, maka Sa’id bin Zaid berdiri dan berkata; Tidak kamu heran terhadap orang ini? dia mencela Ali Radhiallah ‘anhu padahal saya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kami berada di Hira` atau Uhud. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira` atau Uhud, yang sedang berada di atasmu adalah seorang yang shiddiq atau orang yang syahid!” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan sepuluh orang.” Kemudian Sa’id menyebutkan: Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d, Abdurrahman bin ‘Auf, dan dia menyebutkan dirinya sendiri Sa’id.

 

Musnad Ahmad 1552: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Abdurrahman bin Sahl dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencuri sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.” Ma’mar berkata; telah sampai kepadaku dari Az Zuhri, namun saya tidak mendengar dia memberikan tambahan dalam hadits ini lafazh: “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia adalah syahid.”

 

Musnad Ahmad 1553: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah bahwa Marwan berkata; “Pergilah dan damaikan antara Sa’id bin Zaid dan Arwa`.” Maka Sa’id berkata; “Apakah menurut kalian saya mengambil haknya, Saya bersaksi bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah nukan dengan haknya, niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi. Barangsiapa menyuruh budak suatu kaum tanpa izin dari mereka, maka dia mendapatkan laknat Allah. Barangsiapa merampas harta seorang muslim dengan sumpahnya maka Allah tidak akan memberkahi dalam harta tersebut.”

 

Musnad Ahmad 1554: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf bahwa Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl mengabarinya, bahwa Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuat aniaya dengan mengambil sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1555: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf berkata; “Arwa binti Uwais bersama dengan beberapa orang Quraisy yang diantara mereka terdapat Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl menemuiku, Arwa berkata; “Sesungguhnya Sa’id bin Zaid mengambil sebagian tanahku (dan memasukkannya) kedalam kepemilikannya, saya ingin kalian menemuinya dan berbicara dengannya.” Maka kamipun berangkat menemui Sa’id yang saat itu sedang berada di ladangnya di ‘Aqiq. Tatkala dia melihat kami, dia berkata; “Saya tahu kenapa kalian kemari, akan aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengambil tanah yang bukan miliknya, niscaya akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi pada Hari Kiamat. Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 1556: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbih telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Az Zubaidi dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf bahwa Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl mengabarinya, bahwa Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuat aniaya dengan mengambil sejengkal tanah niscaya akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1557: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim, dia berkata; Hushain telah mengabarkan kepada kami dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim Al Mazini berkata; tatkala Mu’awiyah berangkat dari Kufah, dia mengangkat Al Mughirah bin Syu’bah sebagai pejabat sementara, dan ternyata dia mempersilahkan para khatib untuk mencela Ali, saya pada saat itu berada di samping Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail. Dia marah dan bangkit sambil memegang tanganku sehingga saya mengikutinya, kemudian berkata; “Tidakkah kamu lihat orang yang telah menganiaya dirinya sendiri ini, dia menyuruh untuk melaknat penghuni syurga. Sungguh saya bersaksi bahwa ada sembilan orang yang mereka akan masuk syurga, dan sekiranya aku bersaksi tentang orang yang kesepuluh niscaya saya tidak berdosa.” Maka aku bertanya; “Apakah itu?” dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira`, yang sedang berada di atasmu adalah Nabi, atau orang shiddiq atau orang yang syahid!” saya bertanya; “Siapakah mereka?” dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’d bin Malik.” Kemudian dia terdiam, saya bertanya: “Siapakah orang yang ke sepuluh?” dia menjawab; “Saya.”

 

Musnad Ahmad 1558: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Hushain bin Abdurrahman dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim At Taimi dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail berkata; “Saya bersaksi bahwa Ali termasuk dari ahli syurga.” Abdullah bertanya; “Apa alasannya?” dia menjawab; “Dia termasuk dari salah satu dari sembilan orang. Kalau saya mau, saya bisa sebutkan orang kesepuluh.” Dia berkata; “Gunung Hira` pernah bergoyang, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira`, yang sedang berada di atasmu adalah Nabi, atau orang shiddiq atau orang yang syahid” lalu Sa’id menyebutkan; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Ali, ‘Utsman, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d dan saya.” Yaitu Sa’id sendiri.

 

Musnad Ahmad 1559: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abu Al Abbas telah menceritakan kepada kami Yunus atau Abu Uwais, berkata; Az Zuhri berkata; telah mengabarkan kepadaku Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf bahwa Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl mengabarinya, bahwa Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuat aniaya dengan mengambil sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1560: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah telah mengabarkan kepadaku Mis’ar dari Abdul Malik bin Maisarah dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim dari Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan beberapa fitnah (yang muncul) seperti bagian-bagian malam yang gelap gulita. Menurutku beliau bersabda: “Terkadang manusia mendatanginya dengan cepat.” Sa’d berkata; maka ada yang bertanya: “Apakah mereka semuanya binasa atau hanya sebagian mereka?” beliau menjawab; “Cukup mereka atau cukup bagi mereka menghindari pembunuhan.”

 

Musnad Ahmad 1561: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Nufail bin Hisyam bin Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail dari bapaknya dari kakeknya berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Zaid bin Haritsah di Makkah, lewatlah di hadapan keduanya Zaid bin ‘Amru bin Nufail, kemudian Nabi dan Zaid mengajaknya (ikut bergabung) menyantap hidangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak makan sembelihan yang disembelih untuk berhala, ” Sa’id berkata; ” Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan makanan yang disembelih atas nama berhala. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, anda tahu keadaan bapakku sebagaimana yang anda lihat, seandainya dia mendapati anda niscaya dia beriman dan mengikuti anda, maka mintakanlah ampunan untuknya!” beliau menjawab; “Ya. Aku mohonkan ampunan untuknya dan dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat sebagai umat yang satu.”

 

Musnad Ahmad 1562: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah berkata; Marwan berkata; “Berangkatlah dan damaikan antara Sa’id bin Zaid dan Arwa binti Uwais.” Kami pun mendatangi Sa’id bin Zaid, dan dia berkata; “Apakah menurut kalian saya mengambil haknya. Saya bersaksi, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah bukan dengan haknya, niscaya akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi. Barangsiapa menyuruh budak suatu kaum tanpa izin dari mereka, maka dia mendapatkan laknat Allah. Barangsiapa merampas harta saudaranya dengan sumpahnya maka Allah tidak akan memberi berkah padanya.”

 

Musnad Ahmad 1563: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Qais bin Ar Rabi’ telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits berkata; Saya datang ke Madinah, tujuanku adalah untuk berbagi dengan saudara laki-lakiku, tetapi Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan mendapat berkah hasil penjualan tanah dan rumah yang tidak dijadikan pada tanah atau rumah.”

 

Musnad Ahmad 1564: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah memberitakan kepada kami Syu’aib dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Husain berkata; telah disampaikan kepadaku bahwa Luqman berkata; “wahai anakku, janganlah kamu belajar ilmu untuk berbangga diri kepada para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh dan untuk diperlihatkan di majlis-majlis.” Lalu Abdullah menyebutkan secara lengkap, kemudian berkata; telah menceritakan kepada kami Naufal bin Musahiq dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya riba yang paling buruk adalah merusak kehormatan seorang muslim tanpa hak, dan sesungguhnya rahim dijalinkan oleh Ar Rahman, barangsiapa yang memutuskannya niscaya Allah mengharamkan baginya syurga.”

 

Musnad Ahmad 1565: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena melindungi keluarganya maka dia mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka dia mati syahid.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Abu ‘Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: kemudian dia menyebutkan hadits yang sama di atas.

 

Musnad Ahmad 1566: Telah menceritakan kepada kami Al FAdhl bin Dukain telah menceritakan kepada kami Israil dari Ibrahim bin Muhajir telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengar ‘Amru bin Huraits bercerita dari Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai orang-orang Arab, pujilah Allah yang telah mengangkat (kewajiban) pajak hasil perdagangan dari kalian.”

 

Musnad Ahmad 1567: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad dari Abdurrahman bin Ishaq dari Az Zuhri dari Muhammad bin jubair bin Muth’im dari Bapaknya dari Abdurrahman bin Auf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Saya menyaksikan peristiwa perjanjian Mutthayyabin bersama paman-pamanku ketika saya masih kecil. Saya tidak suka walaupun saya mendapat unta merah, jika saya harus membatalkan perjanjian tersebut.” Az Zuhri menambahkan; Rasulullah bersabda: “Tidaklah Islam menjumpai satu perjanjian kecuali Islam akan menguatkannya, namun tidak ada lagi perjanjian (yang seperti itu) dalam Islam (karena Islam telah menghapusnya).” dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatukan antara orang-orang Quraisy dengan Anshar.”

 

Musnad Ahmad 1568: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari Makhul dari Kuraib dari Ibnu Abbas bahwa Umar bertanya kepadanya; “Wahai anak muda! apakah kamu mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dari salah seorang sahabat beliau, bahwa jika salah seorang ragu dalam shalatnya, apa yang harus dia lakukan?” Kuraib berkata; Ketika itu datang Abdurrahman bin Auf dan bertanya; “apa yang sedang kalian bicarakan?” Umar menjawab; “Saya bertanya kepada anak muda ini, apakah dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau salah seorang dari sahabat beliau, mengenai seseorang yang ragu dalam shalatnya, apa yang harus dia lakukan?” Abdurrahman berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya dan dia tidak tahu apakah sudah shalat satu raka’at atau dua raka’at maka anggaplah shalat satu raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat dua raka’at atau tiga raka’at maka anggaplah dia shalat dua raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat tiga raka’at atau empat raka’at maka anggaplah tiga raka’at, kemudian sujud dua kali jika selesai shalat ketika masih duduk sebelum salam.”

 

Musnad Ahmad 1569: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dia mendengar Bajalah berkata; Aku seorang juru tulis Jaza’ bin Mu’awiyah, paman Ahnaf bin Qais, kemudian datanglah surat Umar kepada kami setahun sebelum dia wafat, yang berisi: “Bunuhlah setiap tukang sihir laki laki..” -dan terkadang Sufyan menyebutkan; “Dan tukang sihir perempuan.”- “dan pisahkan setiap orang (suami istri) yang semahram dari kalangan Majusi, serta larang mereka mengucapkan zamzamah” Maka kami membunuh tiga orang tukang sihir dan kami memisahkan antara laki-laki (yang beristrikan) mahramnya dengan kitabullah. Jaza’ juga membuat makanan dalam jumlah besar, kemudian dia menghunuskan pedang di pahanya lalu memanggil orang Majusi, mereka menyerahkan bawaan sepenuh keledai atau dua keledai dari perak, dan mereka makan tanpa mengucapkan zamzamah. Umar tidak mengambilnya. -Sufyan berkata; “…memungut jizyah dari orang Majusi sampai Abdurrahman bin Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memungut dari orang-orang Majusi hajar.” Bapakku berkata; Sufyan menerangkan; “Bajalah berhaji bersama Mush’ab pada tahun ke tujuh puluh hijriyah.”

 

Musnad Ahmad 1570: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar radliallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman, Thalhah, Az Zuhair, dan Sa’d; “Demi Allah, yang dengan-Nya langit dan bumi tegak.-Sufyan berkata; “Demi yang dengan izinnya (langit dan bumi) tegak”- Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1571: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam Ad Dastuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Ibrahim bin Abdullah bin Farizh bahwa bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa dia menemui Abdurrahman bin Auf ketika sedang sakit. Abdurrahman berkata kepadanya; “ar rahim telah menyambungmu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku adalah Ar Rahman yang telah menciptakan rahim dan Aku jadikan kata itu pecahan dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya dan memotongnya.” atau dalam riwayat lain Allah berfirman: “Barangsiapa memotongnya maka aku akan memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 1572: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Al FAdhl telah menceritakan kepada kami An Nadhr bin Syaiban berkata; aku bertemu dengan Abu Salamah bin Abdurrahman kemudian aku berkata; “Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu yang telah kamu dengar dari bapakmu, yang dia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (satu hadits) berkaitan dengan bulan Ramadhan!” Dia menjawab; “Ya, telah menceritakan kepadaku bapakku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah ‘azza wajalla telah mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan, dan aku telah membuat sunnah untuk shalat malamnya. Barangsiapa berpuasa dan melaksanakan shalat malamnya dengan mengharap pahala dari Allah, niscaya akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

 

Musnad Ahmad 1573: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari ‘Ubaidullah bin Abu Ja’far bahwa Ibnu Qarizh mengabarinya dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.”

 

Musnad Ahmad 1574: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Manshur bin Salamah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid bin Al Had dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Abu Al Huwairits dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari Abdurrahman bin Auf berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kemudian aku mengikuti beliau, ketika beliau masuk ke kebun kurma, beliau bersujud dengan memanjangkannya sehingga membuatku takut atau khawatir jika Allah mewafatkan atau mencabut ruhnya. Maka aku mendekati beliau dan memperhatikannya, tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya, lalu bertanya: “ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” saya pun menerangkan hal itu kepada beliau, dan beliau menjawab; “Jibril ‘Alaihiis salam berkata kepadaku: ‘Apakah kamu mau aku sampaikan kabar gembira kepadamu, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman kepadamu: ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu, niscaya Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu niscaya aku akan mengucapkan salam kepadanya.” Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid dari ‘Amru dari Abdurrahman Abu Al Huwairits dari Muhammad bin Jubair dari Abdurrahman bin Auf berkata; “Aku masuk masjid dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari masjid, kemudian aku mengikutinya.., ” kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap.

 

Musnad Ahmad 1575: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Abdul Wahid bin Muhammad bin Abdurrahman bin Auf dari Abdurrahman bin Auf berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju ke arah tempat shalatnya, setelah beliau masuk, beliau menghadap kiblat dan tersungkur sujud. Beliau memanjangkan sujudnya sampai saya mengira bahwa Allah Azza Wa Jalla telah mencabut nyawa beliau pada saat itu. Maka aku pun mendekati beliau dan duduk, tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya dan bertanya: “Siapa kamu?” aku menjawab; “Abdurrahman bin Auf.” Beliau bertanya; “Ada apa?” aku menjawab; “Wahai Rasulullah, anda melakukan sujud yang saya khawatir bahwa Allah telah mencabut nyawa anda pada saat itu.” Beliau bersabda: “Jibril ‘Alaihis salam mendatangiku dan menyampaikan kabar gembira kepadaku, dia berkata bahwa Allah telah berfirman; ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu niscaya Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu niscaya aku akan mengucapkan salam kepadanya.’ Maka saya bersujud kepada Allah Azza Wa Jalla.”

 

Musnad Ahmad 1576: Telah menceritakan kepada kami Haitsam bin Kharijah, Abu Abdurrahman yaitu Abdullah berkata; dan saya mendengarnya dari Al Hutsaim bin Kharijah, telah menceritakan kepada kami Risydin dari Abdullah bin Al Walid bahwa dia mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman menceritakan dari bapaknya, bahwa dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, kemudian beliau pergi untuk menunaikan hajatnya. Mereka mendapati waktu shalat dan akhirnya mereka melaksanakan shalat, Abdurrahman maju (mengimami) mereka, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan shalat bersama orang-orang di belakang Abdurrahman satu raka’at. setelah salam beliau bersabda: “Kalian telah melakukan hal yang benar atau bagus.”

 

Musnad Ahmad 1577: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Hafshah telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas berkata; saya mendengar Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila wabah penyakit sedang menyebar di suatu tempat dan kamu tidak berada di dalamnya, janganlah kalian memasukinya, dan jika kamu di dalamnya maka janganlah kamu keluar darinya.”

 

Musnad Ahmad 1578: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Salamah dari Yazid bin Abdullah bin Qusaith dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf dari Abddurrahman bin Auf; bahwa Suatu kaum dari bangsa Arab menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah dan masuk Islam, kemudian mereka tertimpa wabah penyakit di Madinah berupa sakit panas. Lalu mereka berbalik murtad dan keluar dari Madinah, maka sekelompok orang dari sahabat beliau, yaitu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyusul mereka dan bertanya; “Kenapa kalian kembali menjadi murtad?” mereka menjawab; “Kami terkena wabah penyakit Madinah, Madinah tidak cocok bagi kami.” Para sahabat berkata; “Bukankah sudah ada contoh dari Rasulullah bagi kalian?” maka sebagian sahabat berpendapat bahwa mereka munafiq, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka bukan munafiq tetapi mereka adalah orang-orang muslim. maka turunlah firman Allah ‘azza wajalla: (Maka Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka kepada kekafiran).

 

Musnad Ahmad 1579: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Syarik dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah berkata; “Umar bin Khaththab radliallahu ‘anhu mendengar suara Ibnul Mughtarif atau Ibnul Gharifi yang menggiring untanya di tengah malam saat kami sedang berangkat menuju Makkah. Kemudian Umar mempercepat kendaraannya sehingga dia bisa bersama kaum, dan ternyata dia sedang bersama Abdurrahman bin Auf. Ketika terbit fajar Umar berkata; “bersiap-siaplah sekarang, diam kamu, Fajar telah menyingsing, berdzikirlah kepada Allah.” Abdullah berkata; Umar memperlihatkan dua khuff kepada Abdurrahman dan berkata; “dua khuff?” maka Abdurrahman berkata; “Aku telah memakainya bersama dengan orang yang lebih baik darimu atau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” maka Umar berkata; “Aku sudah bersumpah untukmu, supaya kamu tidak melepaskan keduanya karena aku khawatir orang-orang akan melihatmu kemudian mereka mengikutimu.” Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata; dan telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Syarik kemudian dia menyebutkan dengan sanadnya dan berkata; “Aku telah memakainya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1580: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari ‘Urwah bahwa Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan bagian untukku dan untuk Umar bin Khaththab tanah ini dan ini, maka Zubair pergi kepada keluarga Umar dan membeli bagian Umar dari mereka. Setelah itu dia pergi kepada Utsman bin Affan dan berkata; “Abdurrahman bin Auf mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan untuknya dan untuk Umar bin Khaththab bagian tanah ini dan ini, dan aku membeli bagian keluarga Umar.” Maka Utsman berkata; “Abdurrahman boleh memberikan persaksiannya yang menguntungkan dirinya ataupun merugikannya.”

 

Musnad Ahmad 1581: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Dhamdham bin Zur’ah dari Syuraih bin ‘Ubaid yang dia sandarkan kepada Malik bin Yukhamir dari Ibnu As Sa’di bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “kewajiban Hijrah tidak akan terputus selama musuh masih memerangi.” maka Mu’awiyah, Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hijrah itu dua macam: yang pertama adalah kamu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Yang kedua adalah kamu berhijrah kepada Allah dan RasulNya. Kewajiban Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan senantiasa diterima sampai matahari terbit dari barat. Jika matahari sudah terbit dari barat maka setiap hati akan distempel dengan apa yang ada di dalamnya, dan manusia sudah tertutup dari amalan.”

 

Musnad Ahmad 1582: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Musa dari Abdurrahman bin Auf berkata; Ketika seorang Majusi keluar dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku bertanya kepada beliau, kemudian beliau mengabariku bahwa beliau memberikan pilihan kepadanya antara membayar Jizyah dan perang, dan ternyata dia memilih membayar Jizyah.”

 

Musnad Ahmad 1583: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, Yusuf bin Ya’qub Al Majisyun dari Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf dari bapaknya dari kakeknya, Abdurrahman bin Auf berkata; Aku berdiri dalam barisan pasukan pada saat Perang Badar, aku melihat ke arah kiri dan ke kanan, ternyata aku berada diantara dua anak Anshar yang masih muda umurnya. Aku membayangkan bahwa diriku lebih kuat dari keduanya. Tiba-tiba salah seorang dari keduanya memberi isyarat kepadaku dan bertanya; “Wahai paman, apakah kamu tahu Abu Jahal?” saya menjawab; “Ya, apa keperluanmu wahai anak saudaraku?” Dia menjawab; “telah sampai kepadaku bahwa dia telah menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya aku melihatnya, niscaya diriku tidak akan meninggalkan dirinya sampai salah seorang di antara kami yang lebih cepat mati.” Kemudian yang lain memberi isyarat kepadaku dan bertanya hal yang sama kepadaku, sehingga aku terheran dengan hal itu.Tidak lama kemudian aku melihat Abu Jahal, dia berputar putar di tengah-tengah kerumunan manusia, maka aku sampaikan kepada keduanya; “Tidakkah kamu lihat, dialah orang yang kalian berdua tanyakan?” Maka keduanya berebutan menghampirinya dan Abu Jahal menyambut keduanya, akan tetapi kedua pemuda tersebut memukulnya sampai keduanya dapat membunuhnya. Lantas keduanya menuju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kepada beliau. Beliau bertanya: “Siapa yang telah membunuhnya.” Masing-masing menjawab; “Saya yang telah membunuhnya.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian telah membersihkan kedua pedang kalian?” Keduanya menjawab; “Belum.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kedua pedang dan berkata; “Keduanya telah membunuhnya.” Kemudian beliau memutuskan bahwa barang-barang milik Abu Jahal untuk Mu’adz bin ‘Amru bin Al Jamuh, dan kedua orang itu adalah Muadz bin ‘Amru bin Jamuh dan Mu’adz bin Afra`.”

 

Musnad Ahmad 1584: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya berkata; telah menceritakan kepadaku seorang pendongeng dari palestina, dia berkata; saya mendengar Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga hal, demi dzat yang jiwa Muhammad ada di tangannya, jika memang aku terpaksa untuk bersumpah; Tidak akan berkurang harta karena sedekah maka bersedekahlah. Tidaklah seorang hamba memaafkan perbuatan kezhaliman karena mengaharap ridha Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya. – Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim berkata; “Kecuali Allah akan menambah kewibawaannya pada Hari Kiamat.-Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kepada orang lain kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran.”

 

Musnad Ahmad 1585: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad Ad Darawardi dari Abdullah bin Humaid dari Bapaknya dari Abdurrahman bin Auf bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Ali di Syurga, Utsman di Syurga, Thalhah di Syurga, Zubair di Syurga, Abdurrahman bin Auf di Syurga, Sa’d bin Abu Waqqsh di Syurga, Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail di Syurga dan Abu ‘Ubaidah di Syurga.”

 

Musnad Ahmad 1586: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq yaitu Abdurrahman, dari Az Zuhri dari Muhammad bin Jubair dari Bapaknya dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya menyaksikan peristiwa perjanjian Mutthayyabin bersama paman-pamanku ketika masih kecil. Maka saya tidak suka walau saya mendapat unta merah, jika saya harus membatalkan perjanjian tersebut.”

 

Musnad Ahmad 1587: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari Makhul; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya dan dia tidak tahu apakah sudah shalat satu raka’at atau dua raka’at maka anggaplah shalat satu raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat dua raka’at atau tiga raka’at maka anggaplah dia shalat dua raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat tiga raka’at atau empat raka’at maka anggaplah tiga raka’at, sehingga keraguan terfkus kepada penambahan, kemudian sujud dua kali sebelum salam, kemudian salam.” Muhammad berkata; Husain bin Abdullah bertanya kepadaku; apakah Makhul (menerangkan kepadamu) bahwa menyandarkan kepadanya? Maka aku menjawab; tidak, akan tetapi dia menceritakan kepadaku bahwa Kuraib mantan budak Ibnu Abbas menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas, bahwa berkata; aku duduk di samping Umar bin Al Khaththab, kemudian dia bertanya kepadaku; “Wahai Ibnu Abbas! (apakah kamu pernah mendengar) Apabila seorang lelaki merasa ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu apakah dia lebih atau kurang (dalam hitungan shalatnya)?” Aku menjawab; “wahai amirul mu’minin, saya demi Allah tidak tahu, aku tidak pernah mendengar sedikitpun dalam masalah tersebut.” Ketika kami dalam kondisi itu, datanglah Abdurrahman bin Auf kemudian dan bertanya; “apa yang sedang kalian bicarakan?” Umar menjawab; “kami membicarakan tentang seorang lelaki yang merasa ragu di dalam shalatnya, apa yang harus dia kerjakan?” maka Abdurrahman berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: yaitu hadits ini.

 

Musnad Ahmad 1588: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Yazid secara makna, keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Az Zuhri dari Salim dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah bahwa Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepada Umar bin Khaththab ketika dia dalam perjalanan menuju kota Syam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “sesungguhnya penyakit ini adalah adzab dari Allah terhadap umat umat sebelum kalian. Jika kalian mendengarnya menimpa suatu negeri, janganlah kalian memasukinya. Jika menimpa suatu negri sedangkan kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar lari darinya.” Abdullah bin ‘Amir berkata; “Maka Umar bin Khaththab meninggalkan Syam.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abdul Humaid bin Abdurrahman bin Zaid bin Khaththab dari Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abdullah bin Abbas berkata; “Umar bin Khaththab keluar menuju Syam…” kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap. Ibnu Abbas berkata; Ketika itu Abdurrahman bin Auf tidak ada di tempat, kemudian dia datang dan berkata; “Saya mengetahui Ilmu dalam masalah ini, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengarnya menimpa suatu negri, jangan kalian memasukinya dan jika menimpa suatu negri sedangkan kalian berada di dalamnya, janganlah kalian pergi lari darinya.”

 

Musnad Ahmad 1589: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Ar Raddad Al Laitsi mengabarinya dari Abdurrahman bin Auf bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku adalah Ar Rahman, Aku telah menciptakan ar rahim dan Aku jadikan ar rahim merupakan pecahan dari namaKu. Barangsiapa menyambungnya Aku akan menyambungkannya, dan barangsiapa memutusnya maka Aku akan memutuskannya.”

 

Musnad Ahmad 1590: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abu Hamzah telah menceritakan kepadaku bapakku dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Ar Radad Al Laitsi mengabarinya, dari Abdurrahman bin Auf bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku adalah Ar Rahman, Aku telah menciptakan rahim dan Aku jadikan rahim sebagai pecahan dari namaKu. Barangsiapa menyambungnya Aku akan menyambungkannya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutuskannya.”

 

Musnad Ahmad 1591: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah mengabarkan kepadaku Malik dari Az Zuhri dari Abdullah ‘Amir bin Rabi’ah bahwa Umar bin Khaththab keluar menuju Syam dan ketika sampai di Sargha, sampailah berita bahwa wabah penyakit sedang menyebar di Syam. Maka Abdurrahman bin Auf memberikan kabar kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengarnya sedang menyebar di suatu negri maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan jika sedang menyebar di suatu negri dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar lari darinya.” Maka Umar bin Khaththab meninggalkan Sargha. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah mengabarkan kepadaku Malik dari Az Zuhri dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Umar bin Khaththab dari Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abdullah bin Abbas bahwa Umar bin Khaththab keluar menuju Syam. Ketika dia sampai di Sargha, dia bertemu dengan para komandan pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan para sahabatnya. Kemudian mereka mengabarkan kepadanya bahwa di Syam sedang terjangkit wabah..” lalu dia menyebutkan hadits secara lengkap. Ibnu Abbas berkata; kemudian Abdurrahman bin Auf datang, yang sebelumnya tidak ada di tempat karena melaksanakan keperluannya. Dia berkata; Aku mempunyai pengetahuan mengenai hal itu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika penyakit itu sedang menjangkiti di suatu negri dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar lari darinya, dan jika kalian mendengarnya menjangkiti di suatu negri maka janganlah kalian memasukinya.” Umar bertahmid lalu meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 1592: Telah menceritakan kepada kami Abu Al ‘Ala` Al Hasan bin Sawwar telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d dari Az Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf dari Abdurrahman bin Auf berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengar wabah sedang menjangkiti di suatu negri sedangkan kalian tidak berada di dalamnya maka jangan memasukinya, dan jika wabah sedang menjangkiti dan kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya.”

 

Musnad Ahmad 1593: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar dari Bajalah At Tamimi berkata; Umar tidak ingin memungut jizyah dari orang-orang Majusi sampai Abdurrahman bin ‘Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar.

 

Musnad Ahmad 1594: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah berkata; Abu Ar Raddad mengeluhkan sakit, kemudian Abdurrahman bin Auf menjenguknya. Abu Raddad berkata; sepanjang sepengetahuanku orang yang paling baik dan paling menyambung silaturrahim adalah Abu Muhammad, maka Abdurrahman bin Auf berkata; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Aku adalah Allah, dan aku adalah Ar Rahman, aku telah menciptakan rahim, aku jadikan rahim pecahan kata dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya dan memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 1595: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abu Katsir dari Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh bahwa bapaknya menceritakan kepadanya, bahwa dia menemui Abdurrahman bin Auf ketika dia sedang sakit. Lalu Abdurrahman berkata; rahim telah menyambungmu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Aku adalah Ar Rahman (Maha PeMurrah), dan Aku telah menciptakan rahim. Aku jadikan rahim pecahan dari namaKu. Barangsiapa menyambungnya maka aku akan menyambungnya. Barangsiapa memutusnya maka aku akan memutuskannya.” Atau dalam riwayat lain; “Allah berfirman: “Barangsiapa memotongnya niscaya Aku akan memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 1596: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais dari Nashr bin ‘Ali Al jahdlami dari An Nadhr bin Syaibhan Al Hudani dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; “Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu yang telah kamu dengar dari bapakmu, yang dia dengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” Dia menjawab; jika Ramadhan datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah ‘azza wajalla mewajibkan puasa, dan aku aku telah membuat sunnah untuk shalat malamnya bagi kaum muslimin. Barangsiapa berpuasa karena mengharap pahala dari Allah, niscaya dosa-dosa akan keluar seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

 

Musnad Ahmad 1597: Abu bakar Ahmad bin Ja’far bin Himdan bin Malik berkata; Abu Abdurrahman berkata; Saya mendapatkan hadits ini pada kitab bapakku dengan tulisan dia sendiri; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid dari Isma’il bin Muslim dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa dia bermudzakarah (saling tukar ilmu) dengan Umar berkaitan dengan masalah shalat, kemudian Abdurrahman bin Auf mereka mereka dan menjelaskan masalah tersebut, dia berkata; “Maukah aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” mereka menjawab; “Ya ” maka dia berkata; Aku bersaksi bahwa aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat kemudian dia ragu apakah dia kurang dalam shalatnya, maka laksanakanlah shalat sampai dia ragu bahwa shalatnya lebih.” Hadits terakhir Abdurrahman bin Auf

 

Musnad Ahmad 1598: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ar Rabi’ Abu Khidasy telah menceritakan kepada kami Washil mantan budak Abu ‘Uyainah, dari Basysyar bin Saif Al Jarmi dari ‘Iyadh bin Ghuthaif berkata; Kami menemui Abu Ubaidah bin Al Jarrah untuk menjenguknya karena sakit yang menimpanya, sedangkan istrinya Tuhaifah duduk di dekat kepalanya. Aku bertanya; “Bagaimana kondisi Abu Ubaidah tadi malam?” istrinya menjawab; “Demi Allah! dia melewati malamnya dengan mendapatkan pahala.” Abu Ubaidah berkata; “Aku melewati malam dengan tidak mendapatkan pahala.” sebelumnya dia menghadapkan wajahnya ke tembok, lalu menghadap kepada orang-orang. Dia berkata lagi; “Tidakkah kalian menanyakan tentang apa yang baru aku katakan?” Mereka menjawab; “sungguh sangat menggelitik kami perkataanmu tadi sehingga kami harus menanyakannya kepadamu.” Dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginfaqkan hartanya yang utama di jalan Allah, maka baginya tujuh ratus pahala, dan barangsiapa memberikan nafkah untuk dirinya dan keluarganya atau menjenguk orang yang sakit atau menyingkirkan duri maka satu kebaikan baginya dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat yang semisalnya. Puasa adalah benteng selama tidak merusaknya (dengan maksiat), dan barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu ujian di tubuhnya maka baginya dihapuskan dosanya”.”

 

Musnad Ahmad 1599: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Samurah bin Jundub dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah berkata; Akhir perkataan yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Keluarkan orang Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah Arab, dan ketahuilah bahwa orang yang paling buruk diantara manusia adalah mereka yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.”

 

Musnad Ahmad 1600: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khalid dari Abdullah bin Syaqiq dari Abdullah bin Suraqah dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau menyebutkan tentang Dajjal, lalu beliau merincikan dengan ciri cirinya yang aku tidak dapat mengingatnya.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah bagaimana hati kami ketika itu, apakah seperti hari ini?” beliau menjawab; “Atau (bisa jadi) lebih baik.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

Leave a comment

Musnad Ahmad: 1401-1500

Musnad Ahmad 1401: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Mis’ar dan Sufyan dari Sa’id bin Ibrahim, sedangkan menurut Sufyan, dia berkata; dari ‘Amir bin Sa’d dan Mis’ar dari sebagian keluarga Sa’d dari Sa’d, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya untuk menjenguknya saat dia tertimpa sakit di Makkah. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mewasiatkan hartaku semuanya?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengah?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu banyak atau besar. Sesungguhnya (jika) kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan fakir, dengan menengadahkan tangannya kepada manusia. Sesungguhnya walaupun kamu hanya memberi nafkah kepada keluargamu, itu akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu.” Sebagian keluarga Sa’d menerangkan; “Pada waktu itu, dia tidak mempunyai kecuali satu anak perempuan saja. Kemudian Sa’d menceritakan hijrah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Ibnu ‘Afran, semoga Allah memperpanjang usiamu sehingga ada kaum yang mengambil manfaat darimu dan yang lainnya mendapat mudharat karenamu.”

 

Musnad Ahmad 1402: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ziyad bin Mihraq berkata; saya mendengar Abu ‘Abayah dari mantan budak Sa’d bahwa Sa’d mendengar anaknya berdoa; “ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA AL JANNATA WANA’IMAHA WA`ISTABRAQAHA WANAHWAN MIN HADZA, WA`A’UDZUBIKA MINANNARI WASALASILAHA WA AGHLAALAHA (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu syurga dan kenikmatannya, kain sutranya dan yang serupa dengannya, dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka, dari rantainya dan belenggunya) ” maka Sa’d berkata; “Kamu telah memohon kepada Allah kebaikan yang sangat banyak dan berlindung kepada Allah dari keburukan yang sangat banyak. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan ada suatu kaum yang berbuat aniaya dalam berdoa.” Kemudian beliau membaca ayat: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhnya cukup bagimu untuk membaca: “ALLAHUMMA INNI AS`ALUKAL JANNATA WAMAA QARRABA ILAIHA MIN QAULIN AU ‘AMAL, WA A’UDZUBIKA MINANNARI WAMA QARRABA ILAIHA MIN QAULIN AU ‘AMAL (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu syurga dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik perkataan serta perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik perkataan atau perbuatan).”

 

Musnad Ahmad 1403: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Sa’id keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad, Abu Sa’id berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad dari Amir bin Sa’d dari bapaknya berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …” Abu Sa’id berkata; “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca salam ke sebelah kanannya sampai terlihat pipinya yang putih dan ke sebelah kirinya sampai terlihat pipinya yang putih.”

 

Musnad Ahmad 1404: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Hammam dari Qatadah dari Yunus bin Jubair dari Muhammad bin Sa’d dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya saat di Makkah, ketika itu dia sedang tertimpa sakit. Dia berkata; “Aku tidak memiliki anak kecuali seorang anak perempuan saja, bolehkah aku mewasiatkan hartaku semuanya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengahnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiganya?” beliau menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu besar.” Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Ghallab dari Muhammad bin Sa’d bin Malik dari Bapaknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya.. lalu menyebutkan hadits sama dengan yang di atas. Dan Abdushshamad berkata; “..Banyak.” yaitu sepertiga.

 

Musnad Ahmad 1405: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dan Abdurrazzaq secara makna, keduanya berkata; telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Al ‘Aizar bin Huraits dari Umar bin Sa’d dari bapaknya, berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku kagum dengan ketetapan Allah ‘azza wajalla terhadap orang-orang mukmin. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji Rabbnya dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia memuji kepada Rabbnya dan bersabar. Orang mukmin akan diberi pahala pada setiap urusannya sampai suapan makanan yang dia angkat kepada mulut istrinya.”

 

Musnad Ahmad 1406: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Sa’d dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya dalam rangka menjenguknya saat di Makkah. Dan dia tidak suka jika dia harus meninggal di tempat yang telah dia tinggalkan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Ibnu ‘Afran, semoga Allah merahmati Ibnu ‘Afran.” Saat itu dia hanya memiliki seorang anak perempuan, lalu dia berkata; “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mewasiatkan semua hartaku?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengah?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” beliau menjawab: “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu besar. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan fakir, menengadahkan tangan mereka kepada manusia (meminta-minta) apa yang dimiliki mereka. Sesungguhnya walaupun kamu hanya memberi nafkah, itu adalah sedekah, bahkan suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu. Semoga Allah memperpanjang usiamu sehingga ada kaum yang mengambil manfaat darimu sedangkan yang lainnya mendapat mudharat karenamu.”

 

Musnad Ahmad 1407: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari Bapaknya dari Sa’d berkata; “Buatkanlah liang lahat untukku dan letakkanlah batu bata sebagaimana telah dibuatkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1408: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah, telah memberitakan kepada kami Ali bin Zaid dari Sa’id bin Musayyab berkata; saya berkata kepada Sa’d bin Malik; “saya hendak bertanya kepadamu tentang hadits namun saya segan untuk menanyakannya.” Maka Sa’d menjawab; “Jangan begitu wahai anak saudaraku! Jika kamu tahu aku memiliki ilmu, tanyakanlah! Tidak perlu segan” Sa’id berkata; maka aku berkata; “sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (yang di tujukan) kepada Ali, ketika beliau meninggalkannya (untuk menggantikan beliau) di Madinah pada saat perang Tabuk.” Sa’d menjawab; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan Ali (untuk menggantikan beliau) di Madinah pada saat Perang Tabuk. Lalu Ali RAdhiallah ‘anhu berkata; “Wahai Rasulullah, apakah anda meninggalkanku bersama orang-orang yang tertinggal, yaitu kaum wanita dan anak-anak!” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa?” Ali RAdhiallah ‘anhu berkata; “Ya. Wahai Rasulullah.” Sa’d berkata; “Kemudian Ali segera berbalik kebelakang dengan cepat, seakan-akan saya melihat debu yang berterbangan dari kakinya.” Hammad berkata; “Kemudian Ali segera kembali.”

 

Musnad Ahmad 1409: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Khalid telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sa’d dari bapaknya berkata; suatu ketika diperbincangkan penyakit lepra di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “penyakit itu adalah siksaan yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum kalian. Jika penyakit tha’un sedang mewabah di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya, dan jika sedang mewabah di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar dari tempat itu.”

 

Musnad Ahmad 1410: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari Al ‘Aizar bin Huraits dari Umar bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku kagum dengan seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia memuji Allah dan bersabar. Orang mukmin akan diberi pahala pada setiap urusannya sampai suapan makanan yang dia angkat ke mulut istrinya.”

 

Musnad Ahmad 1411: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid dari Makhul dari Sa’d bin Malik berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki yang menjadi pelindung bagi suatu kaum, apakah bagiannya sama dengan bagian yang lainnya?” Nabi menjawab; “Celaka kamu ini wahai Ibnu Ummi Sa’d, tidaklah kalian diberi rizqi dan dimenangkan kecuali karena adanya orang-orang lemah dari kalian.”

 

Musnad Ahmad 1412: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim bin Bahdalah berkata; saya mendengar Mush’ab bin Sa’d menceritakan dari Sa’d berkata; saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang yang semisal mereka dan orang-orang yang semisal mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai dengan kondisinya, dan jika agamanya kuat maka akan diuji dengan kondisinya juga.” Beliau menambahkan: “Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1413: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Musayyab berkata; Sa’d bin Malik berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kedua orang tuanya (sebagai tebusan) untukku pada Perang Uhud.”

 

Musnad Ahmad 1414: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Abdullah mantan budak Juhainah, berkata; saya mendengar Mush’ab bin Sa’d menceritakan dari Sa’d dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apakah kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan dalam sehari?” sahabat bertanya; “Siapakah yang mampu melakukannya?” beliau menjawab; “Bertasbih seratus kali (membaca SUBHANALLAAH-Maha Suci Allah) akan ditulis baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1415: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim Al Ahwal berkata; saya mendengar Abu ‘Utsman berkata; saya mendengar Sa’d -dia adalah orang yang pertama kali memanah di jalan Allah- dan Abu Bakrah -dia adalah orang yang pernah mengepung benteng Tha`if bersama kaum muslimin, lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.- mereka berdua berkata; kami mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengakui seseorang (sebagai) bapak padahal bukan bapaknya dan dia tahu bahwa dia bukan bapaknya maka Syurga haram baginya.”

 

Musnad Ahmad 1416: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Isma’il berkata; saya mendengar Qais bin Abu Hazim berkata; Sa’d berkata; “sesungguhnya aku adalah orang ketujuh dari tujuh orang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, (yang pada saat itu kami mengalami) ketiadaan makanan sama sekali kecuali daun Hublah, sampai-sampai salah seorang dari kami mengeluarkan kotoran layaknya kotoran kambing, karena tidak ada campuran makanan (yang dapat kami makan). Kemudian Bani Asad merendahkanku dan menghinaku karena keIslamanku. Sungguh kalau begitu aku telah rugi dan telah sesat jalanku.”

 

Musnad Ahmad 1417: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim telah menceritakan kepadaku Abu ‘Utsman An Nahdi berkata; saya mendengar Ibnu Malik berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengakui seseorang (sebagai) bapak kepada selain bapaknya dan dia tahu bahwa dia bukan bapaknya maka Syurga haram baginya.”

 

Musnad Ahmad 1418: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Sa’d, bangunlah dan kumandangkan di Mina bahwa sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari makan dan minum, tidak ada puasa pada hari-hari ini.”

 

Musnad Ahmad 1419: Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Ali dari Za`idah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Abu Abdurrahman As Sulami berkata; Sa’d berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan bagian sepertiga kepadaku. Beliau pernah menjengukku, bertanya; “Apakah kamu telah berwasiat? ‘ Saya menjawab; “Ya. Saya menjadikan semua hartaku untuk orang-orang fakir, miskin dan Ibnu Sabil.” Beliau bersabda: “Jangan kamu lakukan!” tetapi saya memberi penjelasan kepada beliau; “Ahli warisku adalah kaya, maka bagaimana kalau duapertiga?” Beliau menjawab; “Jangan!” “Bagaimna kalau setengah” aku mendesak, beliau menjawab; “Jangan!” saya bertanya lagi; “Bagaimana kalau sepertiga?” Beliau bersabda: “Sepertiga, ya sepertiga, tapi itu sudah cukup banyak.”

 

Musnad Ahmad 1420: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al Hadhrami bin Lahiq dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hamah, ‘adwa dan tiyarah. Jika memang ada maka itu ada pada wanita, kendaraan atau tempat tinggal.”

 

Musnad Ahmad 1421: Abdulllah berkata; saya membaca di hadapan Abdurrahman dari Malik, sedangkan Bapakku berkata; dan telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal bin Abdul Muththalib bahwasanya dia telah menceritakan kepadanya, bahwa dia mendengar Sa’d bin Abi Waqqash dan Al Dhahak bin Qais ketika Mu’awiyah bin Abu Sufyan melaksanakan haji. Keduanya berbincang-bincang tentang haji tamattu’, (mendahulukan) umrah kemudian haji. Dhahak berkata; “Tidak akan melakukan hal itu kecuali orang yang jahil terhadap perintah Allah.” Maka Sa’d menyela; “Alangkah buruk perkataanmu Wahai anak saudaraku.” Adh Dhahak berkata; “Umar bin Khaththab melarang hal itu.” Maka Sa’d menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya dan kamipun telah melakukannya bersama beliau.”

 

Musnad Ahmad 1422: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah memberitakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Abu ‘Utsman An Nahdi berkata; Sa’d berkata; -dalam riwayat lain, saya mendengar Sa’d berkata; – dan saya, kedua telingaku mendengar dan hatiku memahaminya, dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengakui seseorang (sebagai) bapak kepada selain bapaknya dan dia tahu bahwa dia bukan bapaknya maka Syurga haram baginya.” Abu ‘Utsman An Nahdi berkata; Saya bertemu dengan Abu Bakrah dan saya menceritakan kepadanya, maka dia juga berkata; “dan saya, kedua telingaku mendengar dan hatiku memahaminya, dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1423: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d bin Ibrahim berkata; saya mendengar Ibrahim bin Sa’d menceritakan dari Sa’d, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda kepada Ali: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa?”

 

Musnad Ahmad 1424: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Qatadah dari Yunus bin Jubair dari Muhammad bin Sa’d dari Sa’d dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Penuhnya mulut salah seorang diantara kalian dengan nanah kemudian merusaknya itu lebih baik baginya dari pada penuh dengan Sya’ir.” Hajjaj berkata; “Saya mendengar yunus bin Jubair.”

 

Musnad Ahmad 1425: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Umar bin Sa’d bin Malik dari Sa’d dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Penuhnya mulut salah seorang diantara kalian dengan nanah kemudian merusaknya itu lebih baik baginya dari pada penuh dengan Sya’ir.”

 

Musnad Ahmad 1426: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Sa’ad dari Sa’d dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda mengenai penyakit lepra: “Jika penyakit itu sedang mewabah di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya, dan jika sedang mewabah di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar dari tempat itu.” Syu’bah berkata; dan telah menceritakan kepadaku Hisyam, bahwa Abu Bakar adalah ‘Ikrimah bin Khalid.

 

Musnad Ahmad 1427: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ali bin Zaid berkata; saya mendengar Sa’id bin Musayyab berkata; saya berkata kepada Sa’d bin Malik; “anda adalah orang yang memiliki ketajaman pikiran, dan saya hendak bertanya kepada anda.” Dia bertanya; “Apa itu?” saya berkata; “Hadits Ali?” dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Ali: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa?” Ali RAdhiallah ‘anhu menjawab; “Saya rela, ” kemudian berkata; “ya, ya.”

 

Musnad Ahmad 1428: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu ‘Aun dari Jabir bin Samurah. Bahz dan ‘Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Aun, menurut redaksi Bahz, dia berkata; saya mendengar Jabir bin Samurah berkata; Umar berkata kepada Sa’d; “Orang-orang mengadukanmu dalam setiap masalah sampai dalam masalah shalat.” Sa’d menjawab; “Saya memanjangkan dua (raka’at) pertama dan memendekkan dua (raka’at) terakhir. Saya tidak mengurangi apa yang aku ikuti dari shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedikitpun.” Umar berkata; “Itulah yang menjadi perkiraanku.” Atau “Prasangkaku kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 1429: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Fithr dari Abdullah bin Syarik dari Abdullah bin Ar Raqim Al Kinani berkata; Kami berangkat ke Madinah pada Perang Jamal, kemudian kami bertemu dengan Sa’d bin Malik di sana, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk menutup pintu-pintu akses ke masjid dan membiarkan pintu Ali.”

 

Musnad Ahmad 1430: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah memberitakan kepada kami Laits, dan Abu Nadhr berkata; telah menceritakan kepada kami Laits, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Mulaikah Al Qurasyi At Taimi dari Abdullah bin Abu Nahik dari Sa’d bin Abu Waqqash, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bukan dari golonganku orang yang tidak melagukan Al Qur`an.”

 

Musnad Ahmad 1431: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah memberitakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang mendatangi keluarganya secara tiba-tiba setelah shalat Isya.”

 

Musnad Ahmad 1432: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah memberitakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab dia mendengar Sa’d bin Abu Waqash berkata; “Utsman bin Mazh’un hendak membujang tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya. Seandainya hal itu dibolehkan kepadanya pasti kami akan mengebiri diri kami.”

 

Musnad Ahmad 1433: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Yazid mantan budak Al Aswad bin Sufyan, dari Abu ‘Ayyash dari Sa’d bin Abu Waqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang menukar (jual beli) kurma basah dengan kurma kering, maka beliau menjawab; “Bukankah kurma basah berkurang jika mengering?” para sahabat menjawab; “Ya.” maka Nabi memakruhkannya.

 

Musnad Ahmad 1434: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim telah menceritakan kepada kami Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari bapaknya berkata; Kami datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika kami melewati sebuah masjid Bani Mu’awiyah, beliau masuk dan melaksanakan shalat dua raka’at, kami juga shalat bersama beliau. Beliau memohon kepada Rabbnya ‘azza wajalla dengan lama, kemudian bersabda: “Saya memohon kepada Rabbku ‘azza wajalla tiga hal: aku memohon kepadaNya agar tidak membinasakan ummatku dengan ditenggelamkan, dan Dia mengabulkan. Aku memohon kepadaNya agar tidak membinasakan ummatku dengan kelaparan dan Dia mengabulkannya. Dan aku memohon kepadaNya agar tidak menjadikan kehancuran mereka dari diri mereka sendiri namun Dia menolakku.”

 

Musnad Ahmad 1435: Telah menceritakan kepada kami Ya’la dan Yahya bin Sa’id, Yahya berkata; telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki yang sebelumnya saya tahu namanya namun saya lupa lagi, dari Umar bin Sa’d berkata; Aku mempunyai keperluan dengan bapakku, Sa’d. (Imam Ahmad) berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Hayyan dari Mujammi’ berkata; Umar bin Sa’d mempunyai keperluan dengan bapaknya. Sebelum mengemukakan keperluannya, dia mengucapkan suatu perkataan yang menjadi perbincangan orang-orang secara terus menerus, yang belum pernah dia dengar sendiri. Ketika dia selesai bicara, bapaknya bertanya; “Wahai anakku, kamu sudah selesai dari ucaapanmu?” dia menjawab; “Ya.” bapaknya berkata; “Kamu tidaklah jauh dari kebutuhanmu dan kamu tidak lebih zuhud daripada aku semenjak aku mendengar perkataanmu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan ada suatu kaum yang makan dengan lisan-lisan mereka seperti sapi makan dari apa yang ada di bumi.”

 

Musnad Ahmad 1436: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Jabir bin Samurah, berkata; Penduduk kufah mengadukan Sa’d kepada Umar, mereka berkata; “Dia tidak baik dalam shalatnya.” Lalu Umar menanyakan kepadanya, maka Sa’d menjawab; “Saya mengimami mereka sebagaimana shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya memanjangkan dua (raka’at) pertama dan meringankan dua (raka’at) terakhir.” Umar berkata; “Itulah yang menjadi perkiraanku. Wahai Abu Ishaq”

 

Musnad Ahmad 1437: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari Umar bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Abu Waqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Membunuh seorang mukmin adalah kekufuran dan mencelanya adalah perbuatan fasik, dan tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi dari tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 1438: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kaum muslim yang paling besar kesalahannya kepada kaum muslim yang lainnya adalah seseorang yang bertanya tentang sesuatu kemudian dia bersikukuh dengan pertanyaannya sehingga diturunkan pengharamannya disebabkan pertanyaannya itu.”

 

Musnad Ahmad 1439: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Umar bin Sa’d atau yang lainnya, bahwa Sa’d bin Malik berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghinakan orang Quraisy niscaya Allah Azza Wa Jalla akan menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1440: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari bapaknya berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan sesuatu kepada beberapa orang lelaki namun tidak memberi kepada seorang lelaki sedikitpun.” Sa’d bertanya; “Wahai Rasulullah, anda memberi fulan dan fulan sementara tidak memberi fulan sedikitpun padahal dia adalah seorang mukmin?” Maka Nabi balik bertanya; “Apakah dia seorang muslim.” Sa’d mengulanginya tiga kali dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menjawab; “Apakah dia seorang muslim.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan memberi beberapa lelaki dan membiarkan orang yang lebih aku cintai diantara mereka, maka aku tidak akan memberinya sedikitpun karena khawatir mereka akan di telungkupkan di neraka diatas wajah-wajah mereka.”

 

Musnad Ahmad 1441: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari bapaknya berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar membunuh Al Wazagh dan beliau memberi nama Fuwaisiq.”

 

Musnad Ahmad 1442: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari Bapaknya berkata; Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Haji Wada’, kemudian saya menderita sakit yang hampir mengantarkanku kepada kematian, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjengukku. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang melimpah dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuan. Maka apakah aku boleh mewasiatkan duapertiga hartaku?” Beliau menjawab; “Jangan” saya bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengah hartaku?” Beliau menjawab; “Jangan” saya bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu (masih tetap) banyak. Wahai Sa’d, sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan kekurangan dengan menengadahkan tangannya kepada manusia. Wahai Sa’d tidaklah kamu memberi nafkah, dengan (nafkah tersebut) kamu mengharap ridha Allah Ta’ala kecuali akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu.” Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah, apakah saya akan dikembalikan lagi (ketempat asal hijrahku) setelah meninggalnya para sahabatku?” Beliau bersabda: “sekali-kali kamu tidak akan dikembalikan (ketempat asal hijrahmu) kemudian kamu beramal dengan niat mencari wajah Allah, kecuali akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Bisa jadi kamu dikembalikan lagi sehingga Allah memberikan manfaat denganmu bagi suatu kaum dan memberi mudharat kepada kaum yang lainnya. Ya Allah, teruskanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan jangan Engkau kembalikan lagi ke belakang. akan tetapi Sa’d bin Khaulah adalah orang yang malang, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meratapi Sa’d, dan dia meninggal di Makkah.

 

Musnad Ahmad 1443: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab dari Sa’d bin Abu Waqash berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak Utsman untuk membujang. Seandainya beliau menghalalkannya pasti kami akan mengebiri diri kami.”

 

Musnad Ahmad 1444: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Daud bin ‘Amir bin Sa’d bin Malik dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun kecuali dia menerangkan Dajjal kepada ummatnya, dan aku pasti akan menerangkannya dengan sifat yang belum disifatkan oleh seorang Nabipun sebelumku. Dia itu matanya buta sebelah, dan Allah ‘azza wajalla tidaklah buta sebelah.”

 

Musnad Ahmad 1445: Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad dan Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Sulaim bin Hayyan telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Khalid ‘Affan berkata; telah menceritakan kepadaku dari Yahya bin Sa’id dari Sa’d bahwa penyakit lepra diperbincangkan di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Itu adalah siksaan yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum kalian. Jika penyakit itu sedang mewabah di suatu negri janganlah kalian memasukinya, dan jika ada di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya, janganlah kalian keluar dari tempat itu.”

 

Musnad Ahmad 1446: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar berkata; ‘Amir bin Sa’d menceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz ketika dia menjabat gubernur Madinah, bahwa Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan tujuh biji kurma ‘Ajwah dari antara dua gunung Madinah ketika pagi hari maka tidak akan ada sesuatu yang membahayakannya pada hari itu sampai sore harinya.” Fulaih berkata; Aku mengiranya beliau bersabda: “Dan jika memakannya pada waktu sore hari maka tidak ada sesuatu yang membahayakannya sampai pagi hari.” Maka Umar berkata; “perhatikanlah Wahai ‘Amir apa yang kamu ceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” maka ‘Amir menjawab; “Demi Allah, aku tidak berdusta atas nama Sa’d dan Sa’d tidak berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1447: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Katsir bin Zaid Al Aslami dari Muththalib dari Umar bin Sa’d dari Bapaknya, Umar bin Sa’d berkata; Anaknya yang bernama ‘Amir datang, lalu Sa’d berkata; “Wahai anakku, apakah kamu menyuruhku untuk menjadi pemimpin dalam masa yang banyak fitnah ini. Tidak, demi Allah, sehingga saya diberi pedang yang jika saya pukulkan kepada orang mukmin maka akan mental, dan jika saya pukulkan kepada orang kafir maka akan membunuhnya. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza Wa Jalla mencintai hambaNya yang berkecukupan, menyembunyikan (sedekahnya) dan bertaqwa.”

 

Musnad Ahmad 1448: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Sa’d bin Ibrahim dari Bapakku dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Saya melihat di samping kanan dan kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang laki-laki yang memakai pakaian putih, saya tidak pernah melihatnya sebelum atau sesudah peristiwa tersebut.”

 

Musnad Ahmad 1449: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Al ‘Aizar dari Umar bin Sa’d dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Aku kagum terhadap seorang muslim jika dia mendapatkan kebaikan dia memuji Rabbnya dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia mengharap pahala dari Rabbnya dan bersabar. Orang muslim akan diberi pahala pada setiap sesuatu sampai suapan makanan yang dia suapkan ke mulutnya.”

 

Musnad Ahmad 1450: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Qatadah dan Ali bin Zaid bin Jud’an berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Musayyab telah menceritakan kepadaku putra Sa’d bin Malik suatu hadits dari Bapaknya, Ibnu Musayyab berkata; Saya menemui Sa’d dan berkata; “sebuah hadits yang telah diceritakan kepadaku darimu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat Ali RAdhiallah ‘anhu (untuk menggantikan beliau) di Madinah.” Sa’d marah dan berkata; “Siapa yang menceritakan kepadamu hadits itu?” saya tidak suka untuk memberitahukan kepadanya bahwa anaknya yang telah menceritakannya kepadaku sehingga dia akan memarahinya. Kemudian dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berangkat menuju perang Tabuk, beliau mengangkat Ali RAdhiallah ‘anhu (untuk menggantikan beliau) di Madinah, tetapi Ali RAdhiallah ‘anhu berkata; “Wahai Rasulullah, saya tidak suka jika anda berangkat kecuali saya bersama anda?” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? Hanyasaja tidak ada Nabi setelahku”

 

Musnad Ahmad 1451: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Malik yaitu Ibnu Anas, telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr dari ‘Amir bin Sa’d berkata; Aku mendengar bapakku berkata; “Saya tidak pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada manusia yang hidup lagi masih berjalan bahwa dia akan berada di syurga kecuali kepada Abdullah bin Salam.”

 

Musnad Ahmad 1452: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf, Abdullah berkata; dan saya mendengar dari Harun, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepadaku Makhramah dari Bapaknya dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash berkata; saya mendengar Sa’d dan beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; Ada dua orang laki-laki bersaudara di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, salah satu dari keduanya adalah lebih baik dari yang lainnya, kemudian yang lebih baik meninggal dunia dan yang lainnya mempunyai umurnya yang lebih panjang sampai empat puluh malam, setelah itu dia meninggal dunia. Maka diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keutamaan orang pertama dibanding orang kedua. Beliau berkata: “Bukankah orang yang meninggal (yang kedua) selalu shalat?” mereka menjawab; “Ya, Wahai Rasulullah dan dia juga tidak melakukan dosa besar.” Beliau bertanya: “Apakah kalian tahu sampai seberapa pengaruh shalat?” kemudian saat itu juga beliau bersabda: “Perumpamaan shalat itu seperti sungai yang mengalir di depan pintu seseorang dengan deras dan sangat menyegarkan, dia menyelam di dalamnya setiap hari lima kali, apakah kalian melihat akan tersisa kotoran padanya? ‘”

 

Musnad Ahmad 1453: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Qatadah dari Yunus bin Jubair dari Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penuhnya mulut salah seorang diantara kalian dengan nanah dan darah lebih baik baginya dari pada penuh dengan Sya’ir.”

 

Musnad Ahmad 1454: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Habib bin Abu Tsabit berkata; “Saya tiba di Madinah, kemudian kami mendengar kabar bahwa penyakit lepra menjangkiti Kufah. Maka saya bertanya; “Siapa yang meriwayatkan hadits ini?” ada yang menjawab; “‘Amir bin Sa’d.” Pada saat itu dia tidak ada, kemudian saya bertemu dengan Ibrahim bin Sa’d, dan dia menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Usamah bin Zaid menceritakan kepada Sa’d bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika penyakit itu sedang mewabah di suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya, dan jika sedang mewabah pada suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar dari tempat itu.” Habib berkata; saya bertanya; “Apakah kamu mendengarnya dari ‘Usamah?” dia menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1455: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr telah memberitakan kepada kami Isa bin Yunus dari Zakaria dari Abu Ishaq dari Muhammad bin Sa’d bin Malik dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Membunuh seorang mukmin adalah kekufuran dan mencelanya adalah perbuatan fasik.”

 

Musnad Ahmad 1456: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah memberitakan kepada kami Abu Bakar dari ‘Ashim bin Abu An Nujud dari Mush’ab bin Sa’d dari Sa’d bin Malik berkata; “Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menyelamatkanku dari orang-orang musyrik, berikanlah pedang ini untukku!” Beliau menjawab; “Sesungguhnya pedang ini bukan milikmu dan bukan pula milikku, letakkan!” Lalu aku meletakkanya kembali, seraya berkata; “Mungkin pedang ini akan diberikan hari ini kepada orang yang tidak dicoba seperti cobaan yang menimpaku.” Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakangku, maka aku bertanya; “apakah telah turun sesuatu tentang aku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Kamu telah meminta pedang (ini) kepadaku dan (aku jawab;) pedang ini bukan milikku, namun sekarang telah diberikan kepadaku, maka sekarang juga telah menjadi milikmu.” Sa’d berkata; Maka turunlah ayat: (Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan RasulNya.)

 

Musnad Ahmad 1457: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, berkata; saya mendapatkan hadits ini pada kitab bapakku, dengan tulisan dia sendiri; Telah menceritakan kepadaku Abdul Muta’al bin Abdul Wahhab telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sa’id Al Umawi, Abu Abdurrahman berkata; dan telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Yahya telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Al Mujalid dari Ziyad bin ‘Ilaqah dari Sa’d bin Abu Waqash berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau didatangi oleh orang-orang Juhainah, mereka berkata; “Anda telah berada di tengah-tengah kami, maka buatlah perjanjian kepada kami sehingga kami datang kepada anda dan anda percaya kepada kami.” Akhirnya beliau percaya kepada mereka dan mereka masuk Islam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim kami pada bulan Rajab, jumlah kami tidak sampai seratus orang, beliau memerintahkan kami untuk menyerang sebuah perkampungan dari Bani Kinanah yang berada di sebelah Bani Juhainah. Akhirnya kami menyerbu mereka, namun jumlah mereka begitu banyak sehingga kami meminta perlindungan ke Bani Juhainah, tetapi mereka menolak kami dan bertanya; “Kenapa kalian berperang di bulan Haram?” Kami menjawab; “Kami memerangi orang-orang yang mengeluarkan kami dari negeri Haram di bulan Haram.” Sebagian dari kami bertanya kepada sebagian yang lain; “Bagaimana pendapat kalian?” Sebagian berkata; “Kita menemui Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukannya.” Sebagian yang lain berkata; “Tidak, bahkan kita harus tinggal di sini.” Aku berkata kepada orang-orang yang bersamaku; “Tidak, tapi kita datangi rombongan kafilah dagang Quraisy dan kita cegat mereka.” Kami berangkat menuju rombongan kafilah dagang dan ketika itu harta Fai` diambil oleh siapa saja yang mengambilnya. Kami berangkat ke kafilah dagang sedangkan sahabat kami yang lain kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kejadian tersebut. Maka bangkitlah beliau dengan marah dan merah wajahnya kemudian berkata; “Apakah kalian berangkat dari sisiku bersama-sama kemudian kembali dengan berpecah-belah? Yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena perpecahan. Sungguh aku akan mengangkat salah seorang untuk kalian, dia bukanlah orang terbaik diantara kalian namun dia orang yang paling sabar terhadap lapar dan haus.” kemudian beliau mengangkat Abdullah bin Jahsy Al Asadi untuk (memimpin) kami, dan dialah orang yang pertama kali diangkat sebagai pemimpin dalam Islam.

 

Musnad Ahmad 1458: Telah menceritakan kepada kami Husain dari Za`idah dari Abdul Malik bin Umair dan Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair dari Jabir bin Samurah dan dari Nafi’ bin Utbah bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian akan memerangi Jazirah Arab kemudian Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Persia dan Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Romawi dan Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Dajjal dan Allah menaklukkannya untuk kalian.” Nafi’ berkata; Jabir berkata; “Dajjal tidak akan keluar sampai Romawi ditaklukkan.”

 

Musnad Ahmad 1459: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair dari Jabir bin Samurah dari Nafi’ bin Utbah bin Abu Waqqash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian akan memerangi Jazirah Arab lalu Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Persia dan Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Romawi dan Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Dajjal dan Allah menaklukkannya untuk kalian.”

 

Musnad Ahmad 1460: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; saya mendengar Bapakku menceritakan dari Muhammad bin ‘Ikrimah dari Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Abu Waqqash, bahwa para pemilik kebun pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyewakan kebun-kebun mereka dengan tanaman yang ada di pinggir sungai dan sesuatu yang terbawa air di sekitar tumbuhan. Kemudian mereka menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berselisih pendapat mengenai permasalahan tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka untuk menyewakan tanah mereka dengan cara seperti itu dan beliau bersabda; “Sewakanlah dengan emas dan perak!”

 

Musnad Ahmad 1461: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Adi dari Ibnu Ishaq, dan telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin Abu ‘Atiq, Ya’qub berkata; Ibnu Abu ‘Atiq, dari Amir bin Sa’d, bahwa dia telah menceritakan kepadanya dari bapaknya, Sa’d berkata; aku mendengar Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian mengeluarkan dahak di dalam masjid maka hapuslah dahak tersebut supaya jangan sampai terkena kulit seorang mukmin atau mengenai pakaiannya sehingga mengganggunya.”

 

Musnad Ahmad 1462: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Abdullah bin Yazid dari Zaid bin ‘Ayyash berkata; Sa’d ditanya tentang menukar gandum dengan gandum putih yang sudah tidak berkulit, maka dia melarangnya, dan berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang menukar kurma basah dengan kurma kering, maka beliau menjawab; “Bukankah kurma basah berkurang jika mengering?” para sahabat menjawab; “Ya.” maka beliau bersabda; “Kalau begitu jangan.”

 

Musnad Ahmad 1463: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Amir bin Sa’d dari bapaknya yang sampai dengan sanad tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (beliau bersabda): “Sesungguhnya kaum muslim yang paling besar kesalahannya kepada kaum muslim yang lainnya adalah seseorang yang bertanya tentang suatu perkara yang tidak diharamkan, kemudian perkara tersebut diharamkan kepada orang-orang disebabkan pertanyaannya tersebut.”

 

Musnad Ahmad 1464: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Saya mengalami sakit yang sangat berat sekali ketika sedang berada di Makkah pada peristiwa penaklukan kota Makkah, yang hampir sakit tersebut mengantarkanku kepada ajalku. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjengukku, maka saya berkata; “Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang melimpah dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuanku. Maka apakah boleh aku mewasiatkan duapertiga hartaku?” -menurut redaksi yang dibawakan Sufyan, berkata; “bolehkah saya mensedekahkan semua hartaku.”- Beliau menjawab; “Jangan” saya bertanya lagi; “Apakah boleh aku sedekahkan duapertiga hartaku.” Beliau menjawab; “Jangan.” – Saya bertanya; “Bagaimana dengan setengah?” Beliau menjawab; “Jangan” saya bertanya lagi; “Sepertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu (masih tetap) besar. Sesungguhnya Kamu jika meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dengan menengadahkan tangannya kepada manusia. Sesungguhnya tidaklah sekali-kali kamu memberi nafkah kecuali pasti akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu.” Saya berkata; “Wahai Rasulullah, apakah saya akan dikembalikan lagi (ke Madinah)?”‘ Beliau bersabda: “Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan dikembalikan lagi (ketempat asal) hijrahmu setelah sepeninggalku kemudian kamu beramal dengan amalan yang hanya mencari wajah Allah, kecuali akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan bisa jadi kamu dikembalikan (ke asal hijrahmu) sehingga Allah memberikan manfaat denganmu suatu kaum dan memberi mudharat bagi kaum yang lainnya. Ya Allah, teruskanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan jangan Engkau kembalikan lagi ke belakang. Tapi yang sangat malang adalah Sa’d bin Khaulah” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meratapinya, dan dia meninggal di Makkah.

 

Musnad Ahmad 1465: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Ali bin Zaid dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali: ” (kedudukan) mu bagiku adalah sebagaimana kedudukan Harun dengan Musa?” kemudian dikatakan kepada Sufyan; “Hanya saja tidak Nabi lagi setelahku?” Dia menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1466: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik, yang dia mendengar dari Jabir bin Samurah, pengaduan orang-orang Kufah tentang Sa’d kepada Umar, mereka mengatakan; “Dia tidak baik dalam shalatnya.” Maka Sa’d balik bertanya; “Apakah kalian orang-orang arab? Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan bagi mereka (tatacara) shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat zhuhur dan ashar, saya memanjangkan dua (raka’at) pertama dan meringankan dua (raka’at) terakhir.” Saya mendengar Umar berkata; “Itulah yang menjadi perkiraanku, wahai Abu Ishaq”

 

Musnad Ahmad 1467: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru saya mendengar Ibnu Abu Mulaikah dari ‘Ubaidullah bin Abu Nahik dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golonganku orang yang tidak melagukan Al Qur`an.”

 

Musnad Ahmad 1468: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair dan Sa’d; “Demi Allah, yang karena-Nya langit dan bumi tegak.” -Sufyan berkata; “Demi yang dengan izinnya (langit dan bumi) tegak”- apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1469: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al ‘Ala’ yaitu Ibnu Abu Al ‘Abbas, dari Abu Thufail dari Bakar bin Qirwasy dari Sa’d, -ada seseorang bertanya kepada Sufyan; “Apakah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia menjawab; “Ya.”- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ular (yang hidup di) lubang pegunungan yang akan membunuhnya.” Yang dimaksud (dengan orang yang akan dibunuh di sini) adalah seorang lelaki dari Bajilah.”

 

Musnad Ahmad 1470: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma’il bin Umayyah dari Abdullah bin Yazid dari Abu ‘Ayyash berkata; Sa’d ditanya tentang jual beli gandum putih yang sudah tidak berkulit dengan gandum yang belum di giling atau semisalnya, maka dia menjawab; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang jual beli kurma kering dengan kurma basah, maka beliau menjawab; “Bukankah kurma basah berkurang jika mengering?” mereka menjawab; “Ya.” maka beliau menetapkan; “Kalau begitu jangan.”

 

Musnad Ahmad 1471: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Abu ‘Utsman An Nahdi berkata; saya mendengar Sa’d berkata; “Kedua telingaku mendengar dan hatiku memahaminya dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam; “bahwa barangsiapa yang mengaku seseorang (sebagai) bapak dan dia tahu bahwa dia bukan bapaknya maka Syurga haram baginya.” Abu ‘Utsman berkata; kemudian saya bertemu dengan Abu Bakrah dan menceritakan kepadanya, maka dia berkata; “Kedua telingaku mendengar dan hatiku memahaminya dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1472: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepada kami Hisyam Ad Dustuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Al Hadhrami bin Lahiq dari Sa’id bin Musayyab berkata; saya bertanya kepada Sa’d bin Abu Waqqash tentang tiyarah, maka dia membentakku dan bertanya; “Siapa yang telah menceritakan kepadamu?” namun saya tidak suka memberitahukan kepadanya orang yang telah menceritakan kepadaku. Kemudian Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘adwa, tiyarah dan hamah. Jika memang ada tiyarah pada sesuatu, maka itu ada pada kuda, wanita dan tempat tinggal. Jika kalian mendengar ada penyakit lepra sedang mewabah di suatu negri maka janganlah kalian memasukinya, dan jika sedang mewabah di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian kabur dari tempat itu.”

 

Musnad Ahmad 1473: Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ibrahim, telah memberitakan kepada kami Hisyam Ad Dastuwa`i dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Mush’ab bin Sa’d berkata; Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang yang semisal mereka dan orang-orang yang semisal mereka, sehingga seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan diuji sesuai dengan kekuatannya.” -dalam kesempatan lain beliau bersabda: “yang paling berat cobaanya, jika agamanya lemah maka akan diuji dengan sebatas itu.” – dalam kesempatan lain beliau bersabda: “Sesuai kadar agamanya.” – Beliau menambahkan: “Tidaklah ujian itu meninggalkan seorang hamba sehingga hamba tersebut berjalan di muka bumi dengan tidak memikul beban kesalahan.” Abdullah berkata; Bapakku berkata; dalam kesempatan lain dia berkata; dari Sa’d, berkata; saya berkata; “Wahai Rasulullah…”

 

Musnad Ahmad 1474: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq As Syaibani dari Muhammad bin ‘Ubaidullah Ats Tsaqafi dari Sa’d bin Abu Waqash berkata; Tatkala terjadi perang Badar, saudaraku ‘Umair terbunuh dan saya dapat membunuh Sa’id bin Al ‘Ash, sehingga dapat merampas pedangnya yang bernama Dzal Katifah. Kemudian saya membawanya kepada Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Pergilah dan taruhlah di tempat pengumpulan rampasan.” Sa’d berkata; saya pun kembali dengan perasaan yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, (baik perasaan yang berkaitan dengan) kematian saudaraku dan perbuatanku mengambil rampasanku, tidak lama kemudian turunlah surat Al Anfal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pergilah dan ambillah pedangmu!”

 

Musnad Ahmad 1475: Telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Jabir bin Samurah berkata; “Penduduk Kufah mengadukan Sa’d kepada Umar, mereka berkata; “Dia tidak baik dalam shalatnya.” Lalu Umar menanyakan kepadanya, dan Sa’d menjawab; “Sungguh seperti shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saya (lakukan ketika) mengimami mereka, dengan memanjangkan dua (raka’at) pertama dan meringankan dua (raka’at) terakhir.” Maka Umar berkata; “Itulah yang menjadi perkiraanku, Wahai Abu Ishaq”

 

Musnad Ahmad 1476: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Umar bin Nubaih telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah Al Qurazh berkata; saya mendengar Sa’d bin Malik berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginginkan kehancuran atau kejahatan terhadap penduduk Madinah niscaya Allah akan melelehkannya sebagaimana larutnya garam di air.”

 

Musnad Ahmad 1477: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah dari Sa’d bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sebaik baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rizqi adalah yang sekedar mencukupi.” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq dari Ibnu Mubarak dari Usamah berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Amru bin ‘Utsman bahwa Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah mengabarinya, kemudian menyebutkan lafazh hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 1478: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Musa Al Juhani telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya, bahwa seorang badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata; “Ajarkan kepadaku sebuah kalimat yang dapat aku ucapkan (setiap saat)!” Beliau bersabda: “Bacalah: LA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIKA LAHU, ALLAHU AKBAR KABIRA, WALHAMDU LILLAHI KATSIRA WA SUBHANALLAHI RABBIL ‘ALAMIN, WA LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘AZIZIL HAKIIM (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagiNya, Allah Maha Besar dan Agung. Segala puji yang banyak hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah Rabb semesta alam. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) sebanyak lima kali.” Orang badui tadi berkata; “Itu semua untuk Rabbku, mana untukku?” Beliau menjawab; “Bacalah: ALLAHUMMAGHFIRLI WARHAMNI WARZUQNI WAHDINI WA’AFINI (Ya Allah! Ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku rizqi, berilah aku hidayah dan berilah aku kesehatan).”

 

Musnad Ahmad 1479: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Ibnu Sa’id Al Anshari, berkata; saya mendengar Sa’id bin Musayyab berkata; saya mendengar Sa’d berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kedua orangtuanya untukku pada Perang Uhud.”

 

Musnad Ahmad 1480: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Musa yaitu Al Juhani, telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Sa’d telah menceritakan kepadaku bapakku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” salah seorang teman duduknya bertanya; “Bagaimana mungkin mampu salah seorang dari kami mendapatkan seribu kebaikan?” beliau menjawab; “Bertasbih seratus kali (membaca SUBHANALLAAH-Maha Suci Allah) akan ditulis baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu kesalahan.” bapakku berkata; dan Ibnu Numair berkata; “Atau dihapuskan.” dan Ya’la juga demikian (berkata;) “Atau dihapuskan”.

 

Musnad Ahmad 1481: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Tsabit dari Isma’il bin Muhammad bin Sa’d dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya, Sa’d bin Malik berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca salam ke sebelah kanannya dan ke kirinya sampai terlihat kedua pipinya yang putih.”

 

Musnad Ahmad 1482: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Laits dari Al Hukaim bin Abdullah bin Qais dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari bapaknya, Sa’d bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ketika mendengar Muadzin membaca: ‘WA ANA ASYHADU ALLA ILA HA ILLALLAAHU WAHDAHU LA SYARIKA LAHU WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUHU, RADHINA BILLAHI RABBA WA BI MUHAMMADIN RASULA WA BIL ISLAMI DINA (Dan saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhaq disembah kecuali Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwasannya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Muhammad sebagai Rasul kami dan Islam sebagai agama kami) ‘ niscaya dosanya akan diampuni.” Telah menceritakannya kepada kami Qutaibah dari Laits dari Al Hukaim bin Abdullah bin Qais.

 

Musnad Ahmad 1483: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Qais berkata; saya mendengar Sa’d bin Malik berkata; saya adalah orang Arab pertama yang melempar panah di jalan Allah. Aku menyaksikan saat kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada makanan sama sekali kecuali daun Hublah dan daun pohon samur, sampai-sampai salah seorang dari kami mengeluarkan kotoran layaknya kotoran kambing, (karena) tidak campuran (makanan yang dapat kami makan). Kemudian Bani Asad merendahkanku dan menghinaku karena agamaku. Sungguh aku telah rugi dan telah sesat jalanku.”

 

Musnad Ahmad 1484: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Simak bin Harb dari Mush’ab bin Sa’d berkata; Telah turun kepada ayahku empat ayat. Ayahku menuturkan; “Saya memperoleh pedang, lalu saya berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku pedang itu?” tetapi beliau bersabda: “Taruhlah!” maka saya berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku, bukankah saya pantas dianggap sebagai orang yang membutuhkan pedang itu.” Beliau tetap berkata; “Letakkan di tempat kamu mengambilnya!” maka turunlah ayat: (Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.) Bacaan Ibnu Mas’ud juga demikian. (Katakanlah harta rampasan Perang itu..). Dan Ibuku berkata; “Bukankah Allah telah menyuruhmu menyambung silaturrahim dan berbuat baik pada kedua orang tua. Demi Allah, saya tidak akan memakan makanan dan meminum minuman sehingga kamu mengingkari Muhammad.” Kemudian dia tidak makan sehingga mereka memaksanya dengan membuka mulutnya dengan tongkat, dan akhirnya mereka dapat menuangkan minuman ke mulutnya. -Syu’bah berkata; kukira dia berkata; “Makanan.”- Maka turunlah ayat: (Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua ibu-bapaknya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,) sampai pada ayat: (..Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku pada saat saya sakit. Kemudian saya berkata; “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mewasiatkan semua hartaku?” Beliau melarangku. Saya bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengah?” Beliau menjawab; “Jangan” Saya bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” beliau diam, sehingga orang-orang (menyimpulkan) untuk memakai ketentuan tersebut. Ada seorang Anshar membuat makanan, kemudian mereka memakannya dan meminumnya sehingga mereka mulai teler karena khamer, dan waktu itu belum di haramkan. Kemudian kami berkumpul di sekelilingnya, mereka saling membanggakan diri. Orang Anshar berkata; “Orang Ansharlah yang terbaik.” Orang Muhajirin berkata; “Orang Muhajirinlah yang terbaik.” Maka ada seorang laki-laki yang menyerang Sa’d dengan tulang unta dan mematahkan hidungnya, sehingga hidung Sa’d patah, maka turunlah ayat: (Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi..) sampai pada ayat (Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)).

 

Musnad Ahmad 1485: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah memberitakan kepada kami Sulaiman yaitu At Taimi, telah menceritakan kepadaku Ghunaim berkata; saya bertanya kepada Sa’d bin Abu Waqash tentang haji tamattu’, dia menjawab; “Kami melakukannya dan orang ini mengingkari rumah-rumah di Makkah.” Yang dia maksud adalah Mu’awiyah.

 

Musnad Ahmad 1486: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qatadah dari Yunus bin Jubair dari Muhammad bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penuhnya mulut salah seorang diantara kalian dengan nanah lebih baik baginya dari pada penuh dengan Sya’ir.”

 

Musnad Ahmad 1487: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il dari Zubair bin ‘Adi dari dari Mush’ab bin Sa’d berkata; Aku shalat bersama Sa’d, kemudian (ketika ruku’) aku mengisyaratkan kedua tanganku seperti ini, -Yahya mempraktekkan dengan menyatukan kedua tangannya dan meletakkannya di antara paha-, tiba-tiba Sa’d memukul kedua tanganku dan berkata (setelah usai shalat); “Kami pernah melakukan seperti ini, kemudian kami diperintahkan untuk mengangkat (dan meletakkannya) ke lutut.”

 

Musnad Ahmad 1488: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Hasyim dari Aisyah binti Sa’d dari Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa sarapan pagi dengan tujuh biji kurma ‘Ajwah maka tidak akan ada racun dan sihir yang membahayakannya pada hari itu.” Telah menceritakan kepada kami Maki telah menceritakan kepada kami Hasyim dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari Sa’d, kemudian menyebutkan hadits seperti di atas. Telah menceritakannya kepada kami Abu Badar dari Hasyim dari ‘Amru bin Sa’d bin Abu Waqash.

 

Musnad Ahmad 1489: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari ‘Utsman yaitu Ibnu Hakim, telah mengabarkan kepadaku ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengharamkan antara kedua sisi Madinah, tidak boleh dipotong pohon berdurinya atau dibunuh binatang buruannya.” Dan beliau bersabda: “Madinah adalah baik bagi mereka jika mereka mengetahuinya. Tidaklah seseorang yang meninggalkannya karena benci kecuali Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik darinya. Tidak ada seorangpun yang tabah terhadap kesusahan dan kesulitan hidup di dalamnya kecuali aku akan menjadi saksi baginya atau pemberi syafa’at pada Hari Kiamat.”

 

Musnad Ahmad 1490: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Utsman berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dari Al ‘Aliyah, ketika beliau melewati sebuah masjid Bani Mu’awiyah, beliau masuk dan melaksanakan shalat dua raka’at. Kami juga shalat bersama beliau. Beliau memohon kepada Rabbnya ‘azza wajalla dengan memakan waktu lama, kemudian bersabda: “Saya memohon kepada Rabbku ‘azza wajalla tiga hal kemudian Dia mengabulkan dua hal dan menolak satu hal: aku memohon kepadaNya agar tidak membinasakan ummatku dengan kelaparan, dan Dia mengabulkan. Aku memohon kepadaNya agar tidak membinasakan ummatku dengan ditenggelamkan dan Dia mengabulkannya. Dan aku memohon kepadaNya agar tidak menjadikan kehancuran mereka di antara mereka sendiri namun Dia menolakku.”

 

Musnad Ahmad 1491: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Al ‘Aizar bin Huraits Al ‘Abdi dari Umar bin Sa’d dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku kagum terhadap seorang mukmin jika dia mendapatkan kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia mengharap pahala dari Allah dan bersabar. Orang mukmin akan diberi pahala pada setiap sesuatu sampai suapan makanan yang dia suapkan kedalam mulutnya.”

 

Musnad Ahmad 1492: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Khalid dari Az Zubair bin ‘Adi dari Mush’ab bin Sa’d berkata; “Jika saya melakukan ruku’, maka saya meletakkan kedua tanganku diantara kedua lututku. Kemudian bapakku, Sa’d bin Malik melihatku dan melarangku, dan berkata; “Kami dulu melakukannya kemudian kami dilarang.”

 

Musnad Ahmad 1493: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibrahim bin Sa’d dari Sa’d bin Malik, Khuzaimah bin Tsabit dan Usamah bin Zaid, mereka berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penyakit lepra ini adalah siksaan atau sisa azab yang ditimpakan kepada suatu kaum sebelum kalian. Jika penyakit itu sedang mewabah di suatu negeri dan kalian sedang berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya karena menghindarinya, dan jika kalian mendengar ada di suatu tempat maka janganlah kalian memasukinya.”

 

Musnad Ahmad 1494: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Daud bin ‘Amir bin Sa’d bin Malik dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku menjelaskan ciri-ciri Dajjal dengan sifat yang belum disifatkan oleh seorang (nabi) pun sebelumku. Dia itu matanya buta sebelah, dan Allah ‘azza wajalla tidaklah buta sebelah.”

 

Musnad Ahmad 1495: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Az Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d bin Malik dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; bahwa ada beberapa orang yang menemui beliau dan meminta sesuatu, lantas beliau memberikan kepada mereka, kecuali seseorang dari mereka. Maka Sa’d bertanya; “Wahai Rasulullah, anda telah memberikan kepada mereka namun anda meninggalkan seseorang. Demi Allah, sungguh aku melihatnya sebagai seorang mukmin.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Atau muslim?” Sa’d mengulanginya sampai tiga kali kata-kata: “Mukmin, ” dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya dengan; “Atau muslim?” Kemudian beliau bersabda di ketiga kalinya; “Demi Allah, sesungguhnya aku memberikan sesuatu kepada seseorang, namun yang lainnya lebih aku cintai, karena khawatir Allah akan melemparkannya ke neraka di wajahnya.” Abu Nu’aim berkata; “Saya bertemu Sufyan di Makkah, dan orang yang pertama kali dia tanyakan adalah, dia berkata; ‘bagaimana (kabar) Syuja’ yaitu Ibnu Badar.”

 

Musnad Ahmad 1496: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d. Dan telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih bin Kaisan, Hasyim berkata dalam haditsnya, telah menceritakan kepadaku Shalih bin Kaisan, sedang Yazid berkata; dari Shalih dari Az Zuhri dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Muhammad bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Umar bin Khaththab menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu di dekat beliau ada beberapa wanita Quraisy yang sedang bertanya dan mereka memperbanyak pertanyaan serta mengangkat suara mereka. Tatkala mereka mendengar suara Umar, mereka tertunduk dan diam. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sehingga Umar berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, apakah kalian segan denganku sementara kalian tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Mereka menjawab; “Karena kamu lebih kasar dan lebih kaku dari Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Wahai Umar! tidaklah syetan bertemu denganmu pada suatu jalan, kecuali dia akan melewati jalan selain jalanmu.”

 

Musnad Ahmad 1497: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Muhammad bin ‘Ikrimah bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Labibah dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Malik berkata; “Kami menyewakan tanah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan bayaran hasil panen dari tanaman yang ada di sekitar aliran air dan juga dengan apa yang terbawa air. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dan mengizinkan atau memberi keringanan untuk menyewa dengan emas atau perak.”

 

Musnad Ahmad 1498: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat Ali bin Abu Thalib (sebagai pengganti beliau) pada saat Perang Tabuk, kemudian Ali RAdhiallah ‘anhu berkata; “Wahai Rasulullah, apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak!” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku”

 

Musnad Ahmad 1499: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; Ziyad bin Mikhraq telah mengabarkan kepadaku, dia berkata; saya mendengar Qais bin ‘Abayah menceritakan dari mantan budak Sa’d. menurut jalur yang lainnya; Bapakku berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ziyad bin Mikhraq berkata; saya mendengar Qais bin ‘Abayah Al Qaisi menceritakan dari mantan budak Sa’d bin Abu Waqash dari putra Sa’d bahwa dia shalat dengan membaca pada salah satu doanya: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu Syurga dan aku meminta kenikmatannya dan keindahannya, dan dari ini, dan dari ini, dan dari ini, dan dari ini. Aku berlindung dari neraka, dari rantainya dari belenggunya dan dari ini dan itu.” Pada saat itu Sa’d mendiamkannya, tatkala selesai shalat, Sa’d berkata; “Kamu telah berindung dari sesuatu yang sangat besar dan kamu juga meminta suatu nikmat yang sangat besar, ” atau dia berbicara panjang lebar, -Syu’bah ragu.- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan ada suatu kaum yang berlebihan dalam berdoa.” Kemudian beliau membaca ayat: (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.) -Syu’bah berkata; Saya tidak tahu siapa yang membaca ayat: (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.) apakah dari perkatan Sa’d atau perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.- Kemudian Sa’d berkata kepada putranya; “Bacalah: ALLAHUMMA AS`ALUKAL JANNATA WAMAA QARRABA ILAIHA MIN QAULIN AU ‘AMAL, WA A’UDZUBIKA MINANNARI WAMAA QARRABA ILAIHA MIN QAULIN AU ‘AMAL (Ya Allah, aku memohon syurga kepadaMu dan apa apa yang mendekatkan kepadanya, baik berupa perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka dan apa apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa perkataan atau perbuatan).”

 

Musnad Ahmad 1500: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Mush’ab dari Sa’d bin Abu Waqash bahwa dia menyuruh untuk memohon perlindungan dari lima hal, dan dia menceritakan kepadanya bahwa hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu; “ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL BUKHLI WA A’UDZUBIKA MINAL JUBNI WA ‘AUDZUBIKA AN URADDA ILA ARDZALIL ‘UMURI WA A’UDZUBIKA MIN FITNATID DUNYA WA ‘AUDZUBIKA MIN ‘ADZABIL QABRI (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat bakhil, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut, dan aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan kepada umur yang hina, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur).”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

Leave a comment

Musnad Ahmad: 1301-1400

Musnad Ahmad 1301: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Al A’masy dari Abdul Malik bin Maisarah dari An Nazal bin Sabrah dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa dia minum dengan berdiri kemudian berkata; “Beginilah saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1302: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi dari Salamah bin Abu Thufail dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu bahw Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ali, sesungguhnya kamu memiliki harta simpanan dari syurga dan kamu memiliki dua tanduknya, maka janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena bagimu yang pertama dan yang berikutnya tidak boleh bagimu.”

 

Musnad Ahmad 1303: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih untanya, beliau menyembelih dengan tangannya tiga puluh ekor, lalu beliau menyuruhku untuk menyembelih semuanya, dan beliau bersabda: “Bagikanlah kepada orang-orang dagingnya, kulitnya dan penutup punggungnya, dan jangan kamu beri orang yang menyembelih (penjagal) sedikitpun.”

 

Musnad Ahmad 1304: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq berkata; saya mendengar ‘Ashim bin Dhamrah berkata; saya bertanya kepada Ali Radhiallah ‘anhu tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada siang hari, dia berkata; “Kalian tidak akan mampu mengerjakannya” kami berkata; “Siapa di antara kita yang kami untuk mengerjakan semua itu.” Dia berkata; “Jika matahari berada di sana (arah timur dengan ketinggian) sama seperti saat berada di sini waktu shalat asar, beliau shalat dua raka’at. Jika matahari berada di sana, ketinggiannya sama seperti saat berada di sini waktu zhuhur, beliau shalat empat raka’at, kemudian beliau shalat sebelum zhuhur empat raka’at dan setelah zhuhur dua raka’at, sebelum ashar empat raka’at dengan memisah setiap dua raka’at dengan salam atas para Malaikat Al Muqarrabin, para Nabi, dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan orang mukmin dan orang muslim.”

 

Musnad Ahmad 1305: Abu Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus Abu Al Harits telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Al Abbar dari Al Hakam bin Abdul Malik dari Al Harits bin Hashirah dari Abu Shadiq dari Rabi’ah bin Najid dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat kemiripan dengan Isa, orang-orang Yahudi marah kepadanya sehingga mereka membuat kebohongan kepada Ibunya, sedangkan orang-orang Nasrani mencintainya sehingga mereka menempatkannya pada derajat yang tidak sepantasnya.” Kemudian Ali berkata; “ada dua orang yang akan binasa karena aku; orang yang cinta tapi berlebihan dalam menyanjungku sampai pada hal-hal yang tidak aku miliki, dan orang yang membenciku yang kebenciannya membawanya berbuat dusta terhadapku.”

 

Musnad Ahmad 1306: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Sufyan bin Waki’ bin Al Jarrah bin Malih telah menceritakan kepada kami Khalid bin Mukhalid telah menceritakan kepada kami Abu Ghailan Asy Syaibani dari Al Hakam bin Abdul Malik dari Al Harits bin Hashirah dari Abu Shadiq dari Rabi’ah bin Najid dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku dan berkata: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat kemiripan dengan Isa, orang-orang Yahudi marah kepadanya sehingga mereka membuat kebohongan kepada Ibunya, sedangkan orang-orang Nasrani mencintainya sehingga mereka menempatkannya pada derajat yang tidak sepantasnya.” Kemudian Ali berkata; “ada dua orang yang akan binasa karena aku; orang yang cinta tapi berlebihan dalam menyanjungku sampai pada hal-hal yang tidak aku miliki, dan orang yang membenciku yang kebenciannya membawanya berbuat dusta terhadapku, ketahuilah aku bukan seorang Nabi dan aku tidak mendapat wahyu, tapi aku melaksanakan apa yang ada di Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam semampuku. Maka ketika aku perintahkan kepada kalian dalam rangka ketaatan kepada Allah wajib bagi kalian untuk mentaatiku baik dalam kondisi senang maupun benci.”

 

Musnad Ahmad 1307: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Khaistamah, Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Malik Al Muzani dari ‘Ashim bin Kulaib dari Bapaknya berkata; saya duduk di samping Ali Radhiallah ‘anhu, kemudian dia berkata; Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu tidak ada seorangpun di sisi beliau kecuali Aisyah. Beliau berkata; “Wahai Ibnu Abu Thalib, bagaimana hubunganmu dengan kaum ini dan itu?” Ali Radhiallah ‘anhu menjawab; “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Akan datang suatu kaum yang keluar dari arah timur, mereka membaca al Qur`an namun tidak sampai pada tenggorokan mereka, mereka telah lepas dari agama sebagaimana anak panah yang meleset dari sasarannya. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat, seolah-olah tangan tersebut seperti payudara wanita Habasyah.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib dari Bapaknya berkata; saya duduk bersama Ali Radhiallah ‘anhu, lalu datang seorang laki-laki yang memakai pakaian safar. Dia meminta izin kepada Ali yang sedang berbicara dengan orang-orang, sehingga dia mengabaikan lelaki tersebut. Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Saya pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di samping beliau Cuma ada Aisyah, beliau bertanya kepadaku: ‘Bagaimana hubunganmu dengan kaum ini dan itu? ‘ saya menjawab; “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Kemudian beliau mengulanginya lagi, dan saya tetap menjawab; “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Beliau bersabda: “Akan datang suatu kaum yang keluar dari arah timur, mereka membaca al Qur`an namun tidak sampai pada tenggorokan mereka, mereka telah lepas dari agama sebagaimana anak panah yang meleset dari sasarannya. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat, seolah-olah tangan tersebut payudara wanita Habasyah.” Aku menyumpah kalian dengan nama Allah, apakah saya mengabarkan kepada kalian bahwa di antara mereka ada…” lalu dia menyebutkan hadits secara lengkap.

 

Musnad Ahmad 1308: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Sufyan bin Waki’ bin Al Jarrah telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Bapaknya dari Abu Ishaq dari Abu Hayyah Al Wadi’i dari ‘Amru Dzi Murrin berkata; Kami melihat Ali Radhiallah ‘anhu sedang berwudhu, dia membasuh kedua tangannya, berkumur-kumur dan beristinsyaq. -Abdullah bin Ahmad ragu dalam lafazh; “berkumur-kumur dan beristinsyaq.” apakah disebutkan tiga kali atau tidak- Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kedua tangannya tiga kali, masing-masing (dari kedua tangannya di basuh) tiga kali, mengusap rambutnya dan kedua telinganya.” Salah seorang dari keduanya berkata; Kemudian dia mengambil satu ciduk dan mengusap kepalanya dan berdiri meminum sisa air wudhunya, kemudian Ali berkata; “Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu.” ket; istinsyaq; memasukkan air kedalam hidung.

 

Musnad Ahmad 1309: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin ‘Amru dan Abdul Jabbar bin Al Ward dari Ibnu Abu Mulaikah berkata; Thalhah bin Ubaidullah radliallahu ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik Ahlul Bait adalah Abdullah, Abu Abdullah dan Ummu Abdullah.”

 

Musnad Ahmad 1310: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin ‘Amru dan Abdul Jabbar bin Al Ward dari Ibnu Abu Mulaikah berkata; Thalhah bin Ubaidullah berkata; saya tidak akan menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali saya mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhu termasuk orang yang shalih dari kalangan Quraisy” Abdul Jabbar bin Al Ward menambahkan, dari Ibnu Abu Mulaikah dari Thalhah berkata; “Sebaik-baik Ahlul Bait adalah Abdullah, Abu Abdullah dan Ummu Abdullah.”

 

Musnad Ahmad 1311: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Munkadir dari Mu’adz bin Abdurrahman bin Utsman At Taimi dari bapaknya, Abdurrahman bin Utsman berkata; kami bersama Thalhah bin Ubaidullah radliallahu ‘anhu dalam keadaan berihram, kemudian dihadiahkan kepadanya daging burung. Saat itu dia sedang tidur. Maka di antara kami ada yang memakan dan ada yang menolak memakannya. Ketika Thalhah terjaga, dia sepakat dengan orang-orang yang memakannya dan berkata; “Kami pernah memakannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1312: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Mutharrif dari ‘Amir dari Yahya bin Thalhah dari bapaknya berkata; Umar melihat Thalhah bin Ubaidullah merasa risau dan murung, maka dia bertanya; “ada apa denganmu Wahai Abu fulan! sepertinya kepemimpinan anak pamanmu tidak menyenangkanmu Wahai Abu Fulan.” Dia menjawab; “Tidak, tapi aku mendengar sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada yang menghalangiku untuk menanyakannya kecuali taqdir sehingga beliau meninggal, aku mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang tidaklah dibaca oleh seorang hamba ketika menjelang ajalnya kecuali dia akan memancarkan warna yang cerah dan Allah akan menghilangkan kesusahan darinya.” Umar radliallahu ‘anhu berkata; “Aku tahu kalimat itu.” Thalhah bertanya; “Apa itu?” Umar menjawab; “Kamu tahu sebuah kalimat yang lebih agung dari kalimat yang beliau perintahkan kepada pamannya ketika menjelang meninggal dunia: “LA ILAHA ILLA ALLAH (tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah).” Thalhah berkata; “Benar kamu, itu yang dimaksud. Demi Allah itu dia.”

 

Musnad Ahmad 1313: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isma’il berkata; Qais berkata; “Aku melihat tangan Thalhah lumpuh, karena menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Perang Uhud.”

 

Musnad Ahmad 1314: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Shalih bin ‘Amru dari Mutharrif dari Asy Sya’bi dari Yahya bin Thalhah dari bapaknya; bahwa Umar radliallahu ‘anhu melihat Abu Yahya dalam keadaan sedih, maka dia bertanya; “Kenapa kamu bersedih Wahai Abu Muhammad! sepertinya kepemimpinan anak pamanmu tidak menyenangkanmu?” -yang dimaksud adalah Abu Bakar.- Dia menjawab; “Tidak, -Bahkan menyanjung Abu Bakar radliallahu ‘anhu, – tapi aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan satu kalimat yang tidaklah dibaca oleh seorang hamba ketika menjelang ajalnya kecuali Allah akan menghilangkan kesusahannya dan akan memancarkan warna. Tidak ada yang menghalangiku untuk menanyakannya kecuali taqdir, sehingga beliau wafat.” Maka Umar radliallahu ‘anhu menjawab; “Aku tahu apa itu.” Thalhah bertanya; “Apa itu?” Umar menjawab; “Kamu tahu sebuah kalimat yang lebih agung dari kalimat yang beliau perintahkan kepada pamannya: “LA ILAHA ILLA ALLAH (tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah).” Maka Thalhah berkata; “Benar kamu, itu yang dimaksud. Demi Allah, itu dia.”

 

Musnad Ahmad 1315: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ma’n Al Ghifari telah menghabarkan kepadaku Daud bin Khalid bin Dinar bahwa dia dan seorang lelaki yang bernama Abu Yusuf dari Bani Taim lewat di depan Rabi’ah bin Abu Abdurrahman. Abu Yusuf berkata kepada Rabi’ah bin Abu Abdurrahman; “Sesungguhnya kami mendapatkan beberapa hadits dari selainmu yang tidak kami dapatkan pada dirimu” Maka dia menjawab; “Sebetulnya hadits yang ada padaku banyak, tetapi Rabi’ah bin Al Hudair berkata dan dia selalu menemani Thalhah bin Ubaidullah; bahwasanya dia tidak pernah mendengar Thalhah menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali satu hadits saja.” Rabi’ah bin Abu Abdurrahman berkata; aku bertanya kepadanya; “Hadits apa itu?” dia menjawab; Thalhah berkata kepadaku; Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika kami hampir sampai di Harrah Waqim, -Thalhah melanjutkan; – Kamipun semakin mendekati tempat itu, dan ternyata tempat itu adalah kuburan di daerah Mahniyyah. Kami bertanya; “Wahai Rasulullah! apakah ini kuburan saudara-saudara kita?” beliau menjawab; “Ini kuburan sahabat-sahabat kita.” kemudian kami keluar, dan ketika sudah dekat dengan kuburan para syuhada, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah kuburan saudara-saudara kita.”

 

Musnad Ahmad 1316: Telah menceritakan kepada kami Umar bin ‘Ubaid dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari bapaknya berkata; “Ketika Kami sedang shalat, binatang tunggangan lewat di hadapan kami, maka kami sampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Seperti kayu sandaran penunggang unta yang diletakkan di hadapan salah seorang dari kalian, hal itu tidak akan berbahaya terhadap apa yang lewat di depannya.” Umar berkata dalam riwayat lain; “Di hadapannya.”

 

Musnad Ahmad 1317: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah berkata; Dua orang laki-laki dari penduduk Yaman singgah ke tempat Thalhah bin Ubaidullah, salah seorang dari keduanya terbunuh bersama Rasulullah sementara yang lainnya tetap tinggal setelah itu satu tahun, kemudian dia meninggal di tempat tidurnya. Thalhah bin Ubaidullah bermimpi bahwa orang yang meninggal di tempat tidurnya masuk Syurga beberapa saat lebih dahulu sebelum yang lainnya. Kemudian Thalhah menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bertanya; “Berapa lama dia tinggal di dunia setelahnya?” Thalhah menjawab; “Satu tahun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” (Dia telah mengerjakan) seribu delapan ratus shalat dan puasa di bulan Ramadlan.”

 

Musnad Ahmad 1318: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Malik dari pamannya dari Bapaknya bahwa dia mendengar Thalhah bin Ubaidullah berkata; Seorang Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya; “Wahai Rasulullah apa itu Islam?” beliau menjawab; “Shalat lima waktu sehari semalam.” Dia bertanya lagi; “Apakah ada kewajiban yang lainnya bagiku?” beliau menjawab; “Tidak ada.” Lalu dia bertanya tentang puasa, maka Nabi menjawab; “Puasa di bulan Ramadlan.” Dia bertanya lagi; “Apakah ada kewajiban yang lainnya bagiku?” beliau menjawab; “Tidak ada.” Thalhah berkata; kemudian dia menyebutkan zakat; “Apakah ada kewajiban yang lainnya bagiku?” beliau menjawab; “Tidak ada.” dia berkata; “Demi Allah, saya tidak menambah atau menguranginya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia akan beruntung jika dia benar-benar jujur.”

 

Musnad Ahmad 1319: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar radliallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman, Thalhah, Az Zubair, dan Sa’d; “aku menyumpah kalian dengan nama Allah yang dengannya langit dan bumi tegak.”-dalam kesempatan lain Sufyan berkata; “yang dengan izin-Nya (langit dan bumi) tegak- Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.'” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1320: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Munkadir dari Mu’adz bin Abdurrahman bin ‘Utsman At Taimi dari Bapaknya berkata; ketika kami sedang bersama Thalhah bin ‘Ubaidullah dalam keadaan ihram, dihadiahkan kepadanya daging burung. Saat itu dia sedang tidur. Maka di antara kami ada yang memakan dan ada yang menolak memakannya. Ketika Thalhah terjaga, dia sepakat dengan orang-orang yang memakannya dan berkata; “Kami pernah memakannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1321: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang apa yang dapat menjadi satir/pembatas bagi orang yang shalat. Beliau menjawab; “Seperti kayu yang digunakan untuk bersandar oleh penunggang unta.” Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 1322: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan ‘Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Simak dari Musa bin Thalhah dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati suatu kaum yang sedang berada diatas pohon kurma, kemudian beliau bertanya; “Apa yang sedang mereka lakukan?” mereka menjawab; “Mereka sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina.” Beliau berkata; “Aku mengira hal itu tidak bermanfaat” kemudian mereka diberitahu ucapan Nabi tersebut dan mereka pun meninggalkannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat berita (tentang kegagalan panen mereka karena tidak dikawinkan), maka beliau berkata; “Jika hal itu memberi manfaat, maka lakukanlah! hanyasannya aku cuma mengira dengan perkiraan, maka jangan kalian salahkan aku karena perkiraan ini, namun jika aku beritakan sesuatu yang datang dari Allah ‘azza wajalla, maka ambillah! Karena aku sekali-kali tidak mungkin sedikitpun berdusta kepada Allah.”

 

Musnad Ahmad 1323: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Mujamma’ bin Yahya Al Anshari telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Mauhab dari Musa bin Thalhah dari bapaknya berkata; aku bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepadamu?” beliau menjawab: “Bacalah: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALA `ALI MUHAMMAD, KAMA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIID WA BAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA `ALI MUHAMMAD, KAMA BARAKTA ‘ALA `ALI IBRAHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID (Ya Allah berikanlah salam kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada Keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan salam kesejahteraan kepada Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluaga Muhammad sebagaimana Engkau telah berikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”.

 

Musnad Ahmad 1324: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Sufyan Al Madani telah menceritakan kepadaku Bilal bin Yahya bin Thalhah bin Ubaidullah dari bapaknya dari kakeknya, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat bulan sabit, beliau membaca; “Ya Allah, tampakkanlah dia kepada kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan dan Islam, (ya Hilal) Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.”

 

Musnad Ahmad 1325: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Zaidah dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian memasang seperti kayu yang digunakan untuk bersandar penunggang unta di depannya kemudian shalat.”

 

Musnad Ahmad 1326: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Israil dari Simak bahwa dia mendengar Musa bin Thalhah menceritakan dari Bapaknya, dia berkata; Saya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kebun Madinah lalu beliau melihat beberapa orang yang sedang berada di atas pohon kurma, mereka sedang mengawinkan pohon kurma. Beliau bertanya; “Apa yang sedang mereka lakukan?” saya menjawab; “Mereka sedang mengambil yang jantan dan menempelkannya pada yang betina, mereka sedang mengawinkannya.” Maka beliau bersabda: “Aku mengira hal itu tidak bermanfaat” maka kabar itu sampai kepada mereka dan akhirnya mereka meninggalkannya. Mereka membiarkannya akan tetapi pohon tersebut pada tahun itu tidak berbuah sedikitpun. Hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata; “Itu hanya persangkaanku, jika hal itu memberi manfaat, maka lakukanlah! hanyasannya aku adalah manusia sebagaimana kalian. Perkiraan itu bisa benar dan salah. Namun apa yang saya sampaikan kepada kalian, bahwa Allah ‘azza wajalla telah berfirman, maka saya tidak akan berdusta kepada Allah.” Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr telah menceritakan kepada kami Israil telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah lalu dia menyebutkannya dengan lengkap.

 

Musnad Ahmad 1327: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Thalhah bin Yahya bin Thalhah dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah dari Abdullah bin Syaddad bahwa beberapa orang dari Bani ‘Udzrah -yaitu sekitar tiga orang- menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka masuk Islam. Abdullah bin Syaddad berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa yang akan menanggung biaya hidup mereka?” Thalhah menjawab; “Saya.” Maka mereka menetap di (tempat) Thalhah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus satu pasukan, salah seorang dari mereka ikut keluar bersama mereka dan mati syahid. Kemudian beliau mengutus satu pasukan lagi dan yang lainnya ada yang ikut berangkat dan mati syahid juga, sedang orang yang ketiga meninggal di atas tempat tidurnya. Thalhah berkata; “Saya bermimpi bahwa mereka bertiga yang menetap (ditempat) ku berada di syurga. Saya melihat bahwa yang meninggal di atas tempat tidurnya berada di paling depan mereka, sedangkan orang yang mati syahid paling akhir di belakangnya, dan saya melihat orang yang mati syahid pertama kali berada di paling terakhir dari mereka bertiga. Hal itu menggangguku, kemudian saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang kamu ingkari dari hal itu? tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Allah daripada seorang mukmin yang dipanjangkan umurnya dalam keadaan Islam karena bacaan tasbihnya, takbirnya dan tahlilnya.”

 

Musnad Ahmad 1328: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbih telah menceritakan kepada kami Al Harits bin ‘Abidah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Mujabbar dari Bapaknya dari kakeknya bahwa ‘Utsman radliallahu ‘anhu mendekati orang-orang yang mengepungnya dan mengucapkan salam kepada mereka, namun mereka tidak menjawabnya, maka ‘Utsman radliallahu ‘anhu bertanya; “Apakah di antara kaum ada Thalhah?” Thalhah menjawab; “Ya.” Dia berkata; “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN! saya mengucapkan salam pada suatu kaum yang kamu berada di dalamnya, namun kalian tidak menjawabnya?” Thalhah berkata; “Saya telah menjawabnya.” ‘Utsman radliallahu ‘anhu berkata; “Tidak demikiain cara menjawabnya. salamku terdengar oleh kamu dan kamu menjawab dengan jawaban yang tidak terdengar. Wahai Thalhah! demi Allah, bukankah kamu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim kecuali jika ada salah satu dari tiga hal; Kembali kufur setelah beriman, berzina setelah menikah dan membunuh orang maka orang itu dibunuh.” Dia menjawab; “Ya.” ‘Utsman bertakbir dan berkata; “Demi Allah, saya tidak mengingkari Allah sejak saya mengetahuinya. Pada masa jahiliyah dan masa Islam saya tidak pernah berzina, saya telah meninggalkannya pada masa jahiliiyyah karena saya membenci hal itu, dan pada masa Islam karena saya menjaga kehormatan, dan saya juga tidak pernah membunuh seorangpun yang bisa menyebabkan halal untuk membunuhku.”

 

Musnad Ahmad 1329: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Bakar bin Mudhar dari Ibnu Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Thalhah bin ‘Ubaidullah bahwa ada dua orang yang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka masuk Islam bersama. Salah seorang dari mereka sangat bersunguh-sungguh daripada temannya, kemudian dia berperang dan mati syahid. Kemudian yang lain tetap hidup setelahnya selama satu tahun baru kemudian meninggal. Thalhah berkata; “Saya bermimpi sebagaimana yang dilihat oleh orang yang tidur, seolah-olah saya berada di gerbang syurga dan saya bersama keduanya. Lalu ada seorang yang keluar dari syurga dan memberi izin kepada orang yang meninggal terakhir dari keduanya. Kemudian orang itu keluar lagi dan mengizinkan kepada orang yang syahid. Keduanya kembali kepadaku dan berkata; “Kembalilah, belum tiba saatnya bagimu!” Thalhah menceritakan hal itu kepada orang-orang dan mereka merasa heran. Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau bersabda: “Apa yang kalian herankan?” mereka menjawab; “Wahai Rasulullah, Orang itu sangat bersungguh-sungguh kemudian mati syahid di jalan Allah, namun orang ini yang masuk syurga lebih dulu?” beliau menjelaskan: “Bukankah dia telah tinggal di dunia selama setahun?” mereka menjawab; “Ya.” “Dia telah menjumpai Ramadlan dan dia berpuasa di dalamnya?” mereka menjawab; “Ya.” “Dia melakukan shalat ini dan itu, dan bersujud selama satu tahun?” mereka menjawab; “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbedaan antara keduanya lebih jauh daripada langit dan bumi.”

 

Musnad Ahmad 1330: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kami Salim bin Abu Umayyah, Abu Nadhr berkata; Seorang kakek dari Bani Tamim duduk di sampingku di masjid Bashrah dengan membawa sepucuk surat di tangannya -Salim berkata; ketika itu periode Hajjaj- kemudian dia berkata kepadaku; “Wahai hamba Allah, apakah menurutmu surat ini sudah cukup untukku menghadap penguasa? ‘” Salim berkata; saya bertanya; “Surat apa itu?” dia menjawab; “Ini adalah surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tulis untuk kami agar kami tidak dianiaya dalam masalah zakat.” Salim berkata; saya berkata; “Tidak, demi Allah aku mengira surat itu tidak akan bermanfaat bagimu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan surat ini?” Dia menjawab; “Aku datang bersama bapakku di Madinah dengan menaiki unta kami yang akan kami jual. Ketika itu aku masih anak kecil, dan bapakku adalah teman Thalhah bin Ubaidullah At Taimi, kemudian kami singgah di tempatnya, maka bapakku berkata kepadanya; ‘Keluarlah kamu bersamaku dan jualkan untaku ini! ‘ dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang kota menjual kepada orang desa, tetapi aku akan keluar bersamamu dan aku duduk dan kamu tawarkan untamu. Jika aku ridla dengan seseorang karena kejujuran dan dapat dipercaya pada orang yang menawarmu, maka aku akan perintahkan kepadamu untuk menjualnya. Kami keluar ke pasar, kemudian kami duduk sampai zhuhur sementara Thalhah duduk dekat dengan kami. Orang-orang menawar barang kami sampai suatu ketika ada seorang lelaki yang kami sukai, memberikan (harga) kami yang kami senangi. Bapakku berkata kepadanya; ‘Apakah aku boleh melakukan jual beli dengannya? ‘ Dia menjawab; ‘Ya. Aku ridla dengan kejujurannya, lakukanlah jual beli! ‘ Kami akhirnya melakukan jual beli. Setelah kami dapatkan apa yang menjadi keperluan kami dan telah selesai dari kebutuhan kami, bapakku berkata kepada Thalhah; “Ambilkan untukku surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berisi agar supaya kami tidak dianiaya dalam masalah zakat.” Kakek itu berkata; Thalhah berkata; “Ini berlaku untuk kalian dan untuk seluruh kaum muslimin” dia berkata; “Untuk itu aku ingin supaya aku mendapat surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” kemudian dia pergi membawa kami kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya laki-laki ini berasal dari penduduk kampung dan teman kami, dia ingin anda menulis surat untuknya yang berisi agar dia tidak dianiaya dalam masalah zakatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah untuknya dan untuk setiap kaum muslim.” Dia berkata; “Wahai Rasulullah saya ingin ada surat darimu untukku dalam masalah itu.” Kakek itu berkata; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat ini untuk kami.” Hadits terakhir Thalhah bin Ubaidullah Radhia Allah ‘anhu.

 

Musnad Ahmad 1331: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Amru dari Yahya bin Abdurrahman bin Hatib dari Ibnu Zubair dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; ketika turun ayat: “Kemudian Sesungguhnya kalian pada Hari Kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhan kalian” Zubair bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan berbantah-bantahan dengan lawan-lawan kita di dunia?” beliau menjawab; “Ya.” Lalu ketika turun ayat: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” Zubair bertanya; “Wahai Rasulullah! Apakah nikmat yang akan dtanyakan kepada kita yaitu dua hal, maksudnya kurma dan air?” beliau menjawab: “Hal itu juga akan ditanyakan.”

 

Musnad Ahmad 1332: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar radliallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman, Thalhah, Az Zuhair, dan Sa’d; “aku menyumpah kalian dengan nama Allah yang dengan-Nya langit dan bumi tegak.”-dalam kesempatan lain Sufyan berkata; “yang dengan izin-Nya (langit dan bumi) tegak- Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.'” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1333: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam dari Bapaknya dari Zubair bin Al Awwam berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang lelaki yang membawa seutas tali kemudian dia mencari kayu bakar dan membawa ke pasar untuk menjualnya sehingga dia merasa cukup untuk menafkahi dirinya adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau menolaknya.”

 

Musnad Ahmad 1334: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair dari Zubair berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama kedua orang tuanya (ketika meminta sesuatu kepadaku) pada Perang Uhud.”

 

Musnad Ahmad 1335: Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair berkata; saya dan Umar bin Abu Salamah pada Perang Khandaq berada pada banguan tinggi (seperti benteng), yang di dalamnya para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bangunan tinggi itu milik Hassan. Umar bin Abu Salamah mengangkatku dan saya mengangkatnya, secara bergantian. Ketika dia mengangkatku, aku dapat melihat bapakku lewat menuju Bani Quraizhah. Dia ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Perang Khandaq. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa yang mau mendatangi Bani Quraizhah untuk memerangi mereka?” saya mengatakan kepada bapakku ketika dia pulang; “Wahai bapakku, demi Allah, saya tahu ketika engkau lewat menuju ke Bani Quraizah.” Dia menjawab; “Wahai anakku, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama kedua orang tuanya (ketika meminta sesuatu kepadaku), beliau menjadikan keduanya sebagai tebusan bagiku. Beliau bersabda: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.”

 

Musnad Ahmad 1336: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Sulaiman yaitu At Taimi, dari Abu ‘Utsman dari Abdullah bin ‘Amru dari Az Zubair bin Al Awwam bahwa seorang lelaki mensedekahkan seekor kuda yang dinamakan ghamrah atau ghamra`. Zubair berkata; Kemudian dia mendapatkan kuda atau anak kuda yang dijual, lalu dinisbatkan kepada kudanya, maka hal itu dilarang.

 

Musnad Ahmad 1337: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Muslim bin Jundub dari Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berkata; kami shalat Jum’at bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian kami meninggalkan beliau dan berlomba menuju Al Ajam (tembok tinggi), ternyata kami tidak mendapatkan tempat kecuali tempat yang cukup untuk telapak kaki kami saja.” Yazid berkata; “Al Ajam yaitu tembok tinggi seperti benteng.”

 

Musnad Ahmad 1338: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bin Hisyam, dan Abu Mu’awiyah Syaiban dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bin Hisyam dari Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian penyakit orang-orang sebelum kalian yaitu dengki dan marah. Marah itulah pemangkas yang akan memangkas agama bukan memangkas rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan pasti kalian akan saling mencintai, yaitu sebarkanlah salam diantara kalian.”

 

Musnad Ahmad 1339: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jami’ bin Syaddad dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya berkata; Aku bertanya kepada Zubair; “Kenapa aku tidak mendengarmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti aku mendengar dari Ibnu Mas’ud, dari fulan dan fulan?” dia menjawab; “Aku belum pernah berpisah darinya sejak aku masuk Islam, tetapi aku mendengar dari beliau satu kalimat: “Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 1340: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Syaddad yaitu Ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dari Mutharrif berkata; kami bertanya kepada Zubair radliallahu ‘anhu “Wahai Abu Abdullah, apa yang kamu terima, padahal kamu telah menyia-nyiakan khalifah sehingga dia terbunuh, kemudian kalian datang menuntut darahnya?” Zubair radliallahu ‘anhu menjawab; “Sesungguhnya kami telah membacanya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman: (Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.) sebelumnya kami tidak menyangka bahwa kamilah orang yang tertimpa siksaan itu sehingga siksaan itu benar-benar terjadi kami.

 

Musnad Ahmad 1341: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Kunasah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari ‘Utsman bin ‘Urwah dari Bapaknya dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rubahlah uban dan jangan kalian menyerupai orang-orang Yahudi!”

 

Musnad Ahmad 1342: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits dari penduduk Makkah, suku Makhzumi, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Insan -Ahmad bin Hanbal berkata; Abdullah bin Harits menyanjung kepada Muhammad bin Abdullah, – dari Bapaknya dari Urwah bin Zubair dari Zubair radliallahu ‘anhu dia berkata; “kami datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika kami berada di daerah Sidrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di ujung Qarnul Aswad, yaitu sejajar disampingnya, kemudian beliau mengarahkan pandangannya ke Nakhib -yaitu ke arah lembah-, beliau berdiri sampai orang-orang berkumpul semua. beliau bersabda: “Sesungguhnya buruan dari Tha`if dan pohon besarnya yang berduri adalah haram yang telah di haramkan Allah” dan peristiwa ini terjadi sebelum beliau singgah di Thaif dan pengepungan Tsaqif.

 

Musnad Ahmad 1343: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Yahya bin ‘Abbad bin Abdullah bin Zubair dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Perang Uhud: “Telah wajib bagi Thalhah”, ketika dia melakukan tindakan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dia merunduk kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam naik di atas punggungnya.”

 

Musnad Ahmad 1344: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah memberitakan kepada kami Abdurrahman yaitu Ibnu Abu Ziyad, dari Hisyam dari dari ‘Urwah berkata; telah mengabarkan kepadaku bapakku, Zubair radliallahu ‘anhu ketika perang Uhud telah usai seorang wanita datang sambil berjalan, sehingga ketika dia hampir mendekat kepada para korban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka jika wanita itu sampai melihat mereka, maka beliau berkata; “Hentikan wanita itu, hentikan wanita itu!” Zubair radliallahu ‘anhu berkata; “Maka aku menjelaskan bahwa itu adalah ibuku, Shafiyyah. Aku pergi berlari ke arahnya, dan aku dapat menemuinya sebelum dia mendekati kepada para korban yang gugur. Tetapi dia mendorong dan memukul dadaku, dan memang dia adalah seorang wanita yang kuat lagi penyabar, kemudian dia berkata; “Menjauhlah kamu, Aku tidak rela kepadamu.” Saya katakan kepadanya; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersikeras untuk melarangmu” Maka ibuku pun berhenti dan mengeluarkan dua kain yang dibawanya, kemudian berkata; “Dua kain ini aku bawa untuk saudaraku Hamzah, karena telah sampai kepadaku berita kegugurannya, maka kafanilah dia dengan dua kain ini.” Maka kami membawa dua kain itu untuk mengafani Hamzah, tetapi di samping Hamzah ada seorang lelaki Anshar yang terbunuh juga, yang telah diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan kepada Hamzah. Kami merasa tidak pantas dan malu jika mengafani Hamzah dengan dua kain sementara tidak ada kafan untuk lelaki Anshar. Maka Kami katakan: “Satu kain untuk Hamzah dan satu lagi untuk lelaki Anshar, ” kemudian kami mengukur keduanya, ternyata salah satunya lebih besar dari yang lain sehingga kami lakukan undian diantara keduanya dan masing masing kami kafani dengan kain yang menjadi bagiannya.”

 

Musnad Ahmad 1345: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata; telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Zubair radliallahu ‘anhu menceritakan, bahwa dia mengadukan seorang lelaki Anshar yang telah ikut serta dalam perang Badar ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkaitan irigasi air yang datang dari dataran tinggi yang mereka gunakan untuk mengairi kebun masing-masing. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Zubair radliallahu ‘anhu; “Alirilah untukmu kemudian alirkan untuk tetanggamu!” namun orang Anshar marah dan berkata; “Wahai Rasulullah! apakah karena dia itu anak bibimu?” merahlah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata kepada Zubair radliallahu ‘anhu; “Airilah (kebunmu), setelah itu tahan airnya agar ia kembali ke asalnya.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bagian semuanya kepada Zubair, padahal sebelumnya beliau menunjuk kepada Zubair dengan satu pendapat, dengan harapan ada kemudahan untuk Zubair dan orang Anshar, tapi ketika orang Anshar marah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya beliau memberikan semua bagian kepada Zubair dengan keputusan yang tegas. Urwah berkata; Zubair radliallahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, aku yakin bahwa ayat ini tidak turun kecuali berkaitan dengan masalah itu: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS; an Nisaa`; 65) ”

 

Musnad Ahmad 1346: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbihi telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Jubair bin ‘Amru Al Qarsyi telah menceritakan kepadaku Abu Sa’d Al Anshari dari Abu Yahya mantan budak keluarga Zubair bin Awwam, dari Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bumi ini adalah bumi milik Allah, semua hamba adalah hamba Allah, maka di manapun kalian mendapatkan kebaikan tegakkanlah.”

 

Musnad Ahmad 1347: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Jubair bin ‘Amru dari Abu Sa’d Al Anshari dari Abu Yahya mantan budak keluarga Zubair bin Awwam, dari Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat di Arafah membaca ayat ini: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah) yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.) (QS, Ali Imran; 18) “dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas yang demikian itu Wahai Rabbku.”

 

Musnad Ahmad 1348: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ‘Atho` bin Ibrahim mantan budak Zubair, dari ibunya dan neneknya, Ummu ‘Atho` keduanya berkata; “Demi Allah, seakan-akan kami melihat kepada Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu ketika datang kepada kami dengan membawa keledainya yang berwarna putih kemudian dia berkata; “Wahai Ummu ‘Atho`, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kaum muslimin memakan daging hewan sembelihan mereka melebihi tiga hari” Abdullah berkata; Aku bertanya; demi bapakku sebagai tebusanmu, apa yang harus kami lakukan dengan daging yang dihadiahkan kepada kami?” maka dia menjawab; “Adapun daging yang dihadiahkan kepada kalian maka itu urusan kalian.”

 

Musnad Ahmad 1349: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Mubarak, telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Umar dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair radliallahu ‘anhu berkata; pada Perang ahzab saya dan Umar bin Abu Salamah bersama kaum wanita. Lalu saya memeriksa, ternyata saya melihat Zubair berada di atas kudanya berangkat ke Bani Quraizhah dua kali atau tiga kali. Tatkala pulang, saya berkata; “Saya melihat engkau pulang pergi ke suatu tempat.” Dia bertanya; “Apakah kamu melihatku Wahai anakku.” Saya menjawab; “Ya.” Zubair berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang hendak mendatangi Bani Quraizhah untuk mencari khabar tentang mereka?” maka saya pun berangkat, dan ketika saya kembali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama kedua orang tuanya (ketika meminta sesuatu) kepadaku. Beliau bersabda: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu”.

 

Musnad Ahmad 1350: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin ‘Uqbah yaitu Abdullah bin Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib dari orang yang telah mendengar Abdullah bin Al Mughirah bin Abu Burdah berkata; saya mendengar Sufyan bin Wahab Al Khaulani berkata; Ketika kami menaklukkan kota Mesir tanpa perjanjian, Az Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berdiri dan berkata; “Wahai Amru bin Al ‘Ash bagikanlah!” maka ‘Amru berkata; “Aku tidak akan membaginya” maka Zubair radliallahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, kamu harus membaginya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi pada saat perang Khaibar” ‘Amru berkata; “Demi Allah, aku tidak akan membaginya sampai aku menulis surat kepada Amirul Mukminin.” kemudian dia menulis surat kepada Umar radliallahu ‘anhu, dan dia membalas surat tersebut (yang berisi); “supaya kamu menyimpannya sampai anak cucu (kaum muslimin) bisa berperang dengan (perbekalan) harta itu.”

 

Musnad Ahmad 1351: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Muhammad dari Al Mundzir bin Zubair radliallahu ‘anhu dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi Zubair satu bagian, ibunya satu bagian dan memberikan kepada kudanya dua bagian.

 

Musnad Ahmad 1352: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Mubarak telah menceritakan kepada kami Al Hasan berkata; Seorang lelaki menemui Zubair bin Awwam kemudian berkata; “Saya akan membunuh Ali untukmu?” Zubair menjawab; “Jangan! bagaimana kamu akan membunuhnya, padahal bersamanya banyak tentara?” dia menjawab; “Aku akan menyusup kemudian menyerangnya dengan sadis” Zubair berkata; Jangan! sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu adalah kendali dari tindakan pembunuhan secara sadis, dan seorang mu’min tidak akan membunuh dengan sadis.” Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Mubarak bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Al Hasan berkata; seorang lelaki menemui Zubair bin Al Awwam kemudian berkata; “Ketahuilah, aku akan membunuh Ali untukmu” Zubair bertanya; “Bagaimana kamu dapat membunuhnya padahal dia bersama orang banyak?” kemudian dia menyebutkan hadits secara makna.

 

Musnad Ahmad 1353: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jami’ bin Syaddad dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya berkata; Aku bertanya kepada Zubair bin Al Awwam Radhia Allah ‘anhu; “Kenapa kamu tidak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Aku tidak berpisah dari beliau sejak aku masuk Islam, tetapi aku mendengar dari beliau satu kalimat yang telah saya dengar secara langsung: “Barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 1354: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Ibnu Numair, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari kakeknya. Ibnu Numair berkata; dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang lelaki yang membawa seutas tali, dia pergi ke gunung, kemudian (kembali) dengan membawa seikat kayu bakar dan menjualnya sehingga dia merasa cukup dengan hasil tersebut adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau menolaknya.”

 

Musnad Ahmad 1355: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakannya kepada kami Harb bin Syaddad dari Yahya bin Abu Katsir bahwa Ya’isy bin Al Walid menceritakan kepadanya, bahwa mantan budak keluarga Zubair menceritakan kepadanya, bahwa Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian penyakit umat sebelum kalian yaitu dengki dan marah. Marah merupakan pemangkas, aku tidak mengatakan (bahwa dia) memangkas rambut akan tetapi dia memangkas agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya.” Atau “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, kalian tidak akan masuk syurga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang bisa merealitakan (keimanan dan saling cinta) diantara kalian?, sebarkanlah salam diantara kalian.” Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Ali bin Mubarak dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bahwa mantan budak keluarga Zubair menceritakan kepadanya, bahwa Zubair radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian..” lalu dia menyebutkan hadits diatas. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bin Hisyam dari mantan budak keluarga Zubair bahwa Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian..” lalu dia menyebutkan hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 1356: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Al Hasan berkata; Seorang lelaki berkata kepada Zubair; “Saya akan membunuh Ali untukmu?” dia menjawab; “Bagaimana kamu akan membunuhnya?” laki-laki itu menjawab; “Aku akan membunuhnya dengan sadis” Zubair berkata; “Jangan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu adalah kendali dari tindakan pembunuhan secara sadis, dan seorang mukmin tidak akan melakukan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 1357: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibnu ‘Amru dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib dari Abdullah bin Zubair dari Zubair bin Al Awwam berkata; Tatkala surat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian Sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu.” (Az Zumar; 30) Zubair berkata; “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang pernah terjadi pada kami berikut dosa-dosa pribadi kami di dunia akan di ulang kembali?” beliau menjawab; “Ya. Akan diulang kembali sampai semua orang yang punya hak ditunaikan haknya.” Zubair berkata; “Demi Allah, urusan ini sangatlah berat sekali.”

 

Musnad Ahmad 1358: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ‘Amru berkata; dan saya mendengar ‘Ikrimah membaca: (Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan kepadamu.) dan dibacakan kepada Sufyan dari Zubair: (Serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an.) Zubair berkata; Di pohon kurma, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan shalat Isya: (Hampir saja jin-jin itu berdesak-desakan mengerumuninya.” Sufyan berkata; “Mereka satu sama lain tumpuk menumpuk seperti susunan yang tersusun satu diatas yang lainnya.”

 

Musnad Ahmad 1359: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b telah menceritakan kepada kami Muslim bin Jundub telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengar Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berkata; kami shalat Jum’at bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami bersegera pergi, dan kami tidak mendapati bayangan kecuali seluas kaki-kaki kami. Atau berkata; kami tidak mendapati bayangan kecuali tempat meletakkan kaki kami.

 

Musnad Ahmad 1360: Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Zubair dari Abdullah bin Salamah atau Maslamah, Katsir menerangkan; menurut hafalanku Salimah, dari Ali atau dari Zubair berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami, kemudian beliau mengingatkan tentang hari-hari Allah sampai kami mengetahuinya dari wajah beliau. (Saat itu) seakan-akan beliau sedang memberi peringatan kepada suatu kaum yang tertimpa suatu perkara diwaktu paginya. Dan beliau ketika mendapat wahyu dari Jibril, beliau tidak tersenyum dan tidak tertawa sampai Jibril pergi meninggalkan beliau.”

 

Musnad Ahmad 1361: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Jarir, dia berkata; saya mendengar Al Hasan berkata; Zubair bin Al Awwam berkata; Pada saat kami sedang berdesak-desakkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, turunlah ayat: (Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.) Maka kami berkata; “Apa yang dimaksud siksa ini?” kami tidak menyadari bahwa siksaan itu terjadi di mana saja tempatnya.”

 

Musnad Ahmad 1362: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritkan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Najih berkata; saya bertanya kepada Thawus tentang seorang lelaki yang melempar jumrah dengan enam kerikil. Dia menjawab; “Hendaknya dia memberi makan dengan segenggam makanan.” Ibnu Abu Najih berkata; Kemudian aku bertemu Mujahid, maka aku pun menanyakan kepadanya dan menyebutkan pendapat Thawus, maka dia menjawab; “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Abdurrahman, tidakkah sampai kepadanya perkataan Sa’d bin Malik bahwa dia berkata; Kami melempar beberapa jumrah atau satu jumrah dalam ritual haji kami (yang kami jalani) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami duduk saling berdiskusi, di antara kami ada yang berkata; ‘Aku telah melempar enam kerikil, ‘ diantara kami ada yang berkata; ‘Aku melempar tujuh kerikil, ‘ diantara kami ada yang berkata; ‘Aku telah melempar delapan kerikil, ‘ dan diantara kami ada yang berkata; ‘Aku melempar sembilan kerikil, ‘ dan mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan satu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1363: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari ‘Amru bin Sa’id dari Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dari tiga orang anak Sa’d dari Sa’d, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguknya ketika dia sedang sakit di Makkah. Kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah, aku khawatir meninggal dunia di bumi yang telah aku tinggalkan, sebagaimana Sa’d bin Khaulah meninggal dunia. Maka Berdo’alah kepada Allah supaya menyembuhkan aku.” Beliau berdoa: “ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN, ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN, ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN (Ya Allah sembuhkanlah Sa’d, ya Allah sembuhkanlah Sa’d, ya Allah sembuhkanlah Sa’d) ” kemudian Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang banyak dan tidak ada orang yang akan mewarisiku kecuali seorang anak perempuan, maka apakah aku boleh mewaisatkan seluruh hartaku untuknya?” beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan dua pertiganya?” Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan setengahnya?” Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan sepertiganya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya nafkah untuk pribadimu dari hartamu adalah sedekah, sesungguhnya nafkahmu (yang kamu berikan) kepada keluargamu adalah sedekah bagimu, sesungguhnya nafkahmu (yang kamu berikan) kepada istrimu adalah sedekah bagimu. Dan sesungguhnya jika kamu meninggalkan keluargamu dengan penghidupan” atau dalam riwayat lain beliau berkata; “Dengan kecukupan adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan meminta-minta kepada manusia.”

 

Musnad Ahmad 1364: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al Hanafi, Abdul Kabir bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Bukair bin Mismar dari ‘Amir bin Sa’d, mengatakan bahwa saudaranya, Umar berangkat menemui Sa’d di tempat penggembalaan kambingnya di luar Madinah. Ketika Sa’d melihatnya, dia berkata; “Aku berlindung kepada Allah dari keburukan pengendara ini” dan ketika Umar menemuinya, dia berkata; “Wahai bapakku, apakah engkau rela menjadi seorang badui yang mengurusi kambingmu sementara orang-orang berselisih dalam masalah kepemimpinan di Madinah?” maka Sa’d memukul dada Umar dan berkata; “Diam kamu, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mencintai hambaNya yang bertaqwa, berkecukupan dan sembunyi-sembunyi (mengeluarkan sedekahnya).”

 

Musnad Ahmad 1365: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Abdullah bin Abdurrahman yaitu Ibnu Ma’mar, dia berkata; bahwa Amir bin Sa’d menceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz ketika dia sedang menjabat Gubernur kota Madinah, bahwa Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan tujuh biji kurma ‘Ajwah dari antara dua sisi Madinah sebelum sarapan pagi maka tidak akan ada sesuatu yang membahayakannya pada hari itu sampai sore harinya.” Fulaih berkata; Aku mengiranya beliau bersabda: “Dan jika memakannya pada waktu sore hari maka tidak ada sesuatu yang membahayakannya sampai pagi hari.” Maka Umar berkata; “perhatikanlah Wahai ‘Amir apa yang kamu ceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” maka ‘Amir menjawab; “Aku bersaksi, dan aku tidak berbohong atas nama Sa’d dan Sa’d tidak berbohong atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1366: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad bin Sa’d dari ‘Amir bin Sa’d bahwa Sa’d mengendarai kendaraannya menuju istananya di Aqiq, kemudian dia menjumpai seorang budak laki-laki yang sedang memangkas daun atau memotong pepohonan, maka Sa’d merampas (peralatan) budak tersebut. Ketika Sa’d pulang, dia didatangi oleh pemilik budak tersebut dan mereka meminta untuk mengembalikan apa yang dia ambil dari budak mereka. Sa’d berkata; “Aku berlindung kepada Allah untuk mengembalikan sesuatu yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikan kepadaku.” Dia tetap menolak mengembalikan kepada mereka.

 

Musnad Ahmad 1367: Telah menceritakan kepada kami Rauh -dia mendekte kepada kami ketika di Baghdad, – telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid dari Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya, Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan dengan meminta petunjuk kepada Allah) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam adalah kerelaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah.”

 

Musnad Ahmad 1368: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga indikasi kebahagiaan anak Adam, dan tiga indikasi kesengsaraan anak Adam; indikasi kebahagiaan anak cucu adam adalah istri yang shalehah, tempat tinggal yang baik dan kendaraan yang baik. Sedangkan indikasi kesengsaraan anak Adam adalah istri yang berakhlak buruk, tempat tinggal yang buruk dan kendaraan yang buruk.”

 

Musnad Ahmad 1369: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Bukair bin Abdullah bin Al Asyaj bahwa dia mendengar Husain bin Abdurrahman menceritakan, bahwa dia mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi suatu fitnah, dimana orang yang duduk ketika itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri ketika itu lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik dari orang yang berlari.” Husain bin Abdurrahman berkata; Aku mengira Sa’d juga berkata: “Dan orang yang berbaring ketika itu lebih baik dari orang yang duduk.”

 

Musnad Ahmad 1370: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dari anak laki-laki saudara Sa’d dari Sa’d, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bani Najiyah: “Saya adalah bagian dari mereka dan mereka adalah bagian dariku.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far kemudian dia menyebutkan redaksi hadits dengan kisah yang di dalamnya dia berkata; anak saudara Sa’d bin Malik berkata; bahwa mereka menyebut-nyebut Bani Najiyah di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Mereka satu perkampungan yang merupakan bagian dariku.” dan dalam redaksi ini dia tidak menyebutkan Sa’d.”

 

Musnad Ahmad 1371: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari Daud bin ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seandainya secuil kuku saja dari keindahan yang ada di Syurga muncul, niscaya akan menghiasi ruang yang ada antara langit dan bumi. Seandainya seorang lelaki dari ahli syurga muncul kemudian tampak gelangnya, niscaya cahayanya akan menghapus cahaya matahari sebagaimana cahaya matahari menghapus cahaya bintang.”

 

Musnad Ahmad 1372: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza’i telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari ‘Amir bin Sa’d dari Sa’d berkata; “Buatkanlah liang lahat untukku dan letakkanlah batu bata sebagaimana telah dibuatkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari bapaknya dari Sa’d kemudian dia menyebutkan hadits yang serupa dengannya, dan Abu Sa’id menyepakati Amir bin Sa’d dalam hal ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Khuza’i.”

 

Musnad Ahmad 1373: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far, telah mengabarkan kepadaku Musa bin ‘Uqbah dari Abu Nadhr mantan budak Umar bin ‘Ubaidullah bin Ma’mar, dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Sa’d bin Abu Waqqash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai mengusap kedua khuff; “bahwa hal itu tidak mengapa.”

 

Musnad Ahmad 1374: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Malik yaitu Ibnu Anas, dari Salim Abu Nadhr dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Aku mendengar bapakku berkata; “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada manusia yang masih hidup lagi masih berjalan bahwa dia berada di syurga kecuali kepada Abdullah bin Salam.”

 

Musnad Ahmad 1375: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Khalid dari Abu ‘Utsman berkata; Ketika Ziyad diaku (sebagai ayah oleh orang yang bukan anaknya), maka aku bertemu Abu Bakrah dan berkata; “Apa yang kalian lakukan ini? sesungguhnya aku mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; telingaku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengaku seorang bapak dalam Islam padahal bukan bapaknya dan dia tahu bahwa dia bukan bapaknya maka Syurga haram baginya.” Kemudian Abu Bakrah berkata; “Aku juga telah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1376: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Wuhaib dari Abu Waqid Al Laitsi dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tangan dipotong karena mencuri seharga tameng (seperempat dinar).”

 

Musnad Ahmad 1377: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid Al Madani telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku untuk menyerukan pada Hari Mina; “bahwa hari-hari (ini) adalah hari makan dan minum, dan tidak boleh berpuasa pada hari-hari (ini).” yaitu hari-hari Tasyriq.

 

Musnad Ahmad 1378: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Al Fudhail bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Yahya dari Abu Ishaq bin Salim dari ‘Amir bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Diantara dua sisi Madinah adalah haram, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkannya sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah; “Ya Allah jadikanlah keberkahan di dalamnya dengan dua keberkahan, dan berkahilah dalam setiap Sha’ setiap Mud mereka.”

 

Musnad Ahmad 1379: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah memberitakan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah dari Mus’ab bin Sa’d dari bapaknya bahwa sebuah piring besar berisi makanan diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memakannya dan masih tersisa. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang seorang lelaki dari jalan ini, salah seorang penghuni Syurga, dia memakan sisa makanan ini.” Sa’d berkata; “dan ketika itu aku tinggalkan saudaraku yaitu Umair sedang berwudhu, maka aku berkata (dalam hatiku); ‘lelaki itu pasti Umair, ‘ akan tetapi datanglah Abdullah bin Salam kemudian memakan sisa makanan Rasulullah.”

 

Musnad Ahmad 1380: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah berkata; saya mendengar Abu Nadhr menceritakan dari Abu Salamah dari Sa’d bin Abu Waqqash, satu hadits yang dia marfu’kan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang berwudhu dengan tetap memakai kedua khuff; “bahwa hal itu tidak mengapa.”

 

Musnad Ahmad 1381: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim telah menceritakan kepadaku Ya’la bin Hakim dari Sulaiman bin Abu Abdullah berkata; saya melihat Sa’d bin Abu Waqqash menangkap seorang budak lelaki yang sedang berburu pada tanah Haram Madinah yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam haramkan, lalu dia merampas pakaiannya. Tetapi tuannya mendatangi Sa’d. maka Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkan tanah ini dan bersabda: “Barangsiapa melihat seseorang sedang berburu di dalamnya, maka dia boleh merampas harta orang itu.” Saya tidak akan mengembalikan kepada kalian makanan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikan kepadaku, namun jika kalian mau, saya akan mengganti harganya.” Dalam kesempatan lain ‘Affan berkata; “Jika kalian mau, saya akan mengganti harganya.”

 

Musnad Ahmad 1382: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Al Hushain, bahwa dia menceritakan dari Sa’d bin Abu Waqqash, bahwa dia melaksanakan shalat isya di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian melakukan shalat witir satu raka’at dengan tidak menambahinya. Muhammad bin Abdurrahman berkata; maka ditanyakanlah kepadanya; “Apakah kamu melakukan hanya witir satu raka’at dan tidak menambahinya, Wahai Abu Ishaq?” Dia menjawab; Ya, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaitu orang yang tidak tidur, sampai orang yang berikat pinggang melakukan shalat witir’.”

 

Musnad Ahmad 1383: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah menceritakan kepada kami Yunus bin Ishaq Al Hamdani dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Sa’d telah menceritakan kepada kami bapakku, Muhammad dari bapaknya, Sa’d berkata; Aku melewati Utsman bin ‘Affan di sebuah masjid lalu aku mengucapkan salam kepadanya, kedua matanya menatap namun dia tidak menjawab salamku. Maka aku menemui Umar bin Khaththab dan bertanya kepadanya; “Wahai Amirul Mukminin, apa yang sedang terjadi dalam Islam?” (saya ucapkan dua kali). Maka Umar menjawab; “Tidak, memang ada apa?” Aku berkata; “Tidak ada apa-apa, tetapi aku tadi melewati Utsman di masjid, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, kedua matanya menatap tapi tidak menjawab salamku?” Maka Umar mengutus seseorang kepada Utsman dan memanggilnya, (setelah Ustman berada dihadapannya) Umar bertanya; “Apa yang menghalangimu untuk menjawab salam saudaramu?” Utsman menjawab; “Aku tidak melakukannya.” Sa’d berkata; aku berkata; “Ya, (kamu melakukannya).” Akhirnya dia bersumpah dan akupun bersumpah. Kemudian Utsman teringat dan berkata; “Ya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya, kamu tadi lewat di depanku dan ketika itu aku sedang berbicara pada diriku sendiri tentang suatu kalimat yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak, demi Allah aku sama sekali tidak mengingatnya karena penglihatan dan hati sedang tertutup.” Sa’d berkata; “akan saya beritahukan kalimat itu kepadamu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan kepada kami doa yang pertama kali, kemudian datanglah seorang badui yang membuat beliau sibuk sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak (pergi) dan aku mengikuti beliau, ketika aku merasa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendahuluiku dan beliau belum masuk ke dalam rumahnya, maka aku menjejakkan kedua telapak kakiku ke tanah sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh ke arahku dan bertanya; “Siapa itu? Apakah Abu Ishaq?” Sa’d menjawab; “Benar Wahai Rasulullah.” Kemudian beliau berkata; “pergilah!” saya menjawab; “Tidak, demi Allah, karena anda tadi hendak menyebutkan kepada kami doa yang pertama kali, namun anda kedatangan seorang badui yang menyibukkan anda.” Beliau menjawab; “Ya, yaitu doa Dzun Nun ketika dia berada di dalam perut seekor ikan Hiu; LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINAZHZHALIMIN (Tidak ada Ilah yang berhaq disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat aniya.) ” Maka sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a tersebut dalam suatu permasalahan kecuali pasti akan dikabulkan.”

 

Musnad Ahmad 1384: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepada kami Al Ju’aid bin Abdurrahman dari Aisyah binti Sa’d dari bapaknya, bahwa Ali keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai tiba di Tsaniyyatul Wada’. Kemudian Ali menangis dan berkata; “Engkau tinggalkan aku bersama orang-orang yang tertinggal (di Madinah)!” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali kenabian.”

 

Musnad Ahmad 1385: Telah menceritakan kepada kami ‘Isham bin Khalid telah menceritakan kepadaku Abu Bakar yaitu Ibnu Abu Maryam, dari Rasyid bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqqash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Umatku tidak akan menjadi lemah di sisi Rabbku ketika Allah menangguhkan mereka setengah hari.” Aku bertanya kepada Rasyid; “Apakah telah sampai kepadamu berapa setengah hari itu?” dia menjawab; “Lima ratus tahun.”

 

Musnad Ahmad 1386: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abdullah dari Rasyid bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Saya sangat berharap agar umatku tidak lemah di sisi Rabbku ketika Dia menangguhkan mereka setengah hari.” Maka ditanyakan kepada Sa’d; “Berapa setengah hari itu?” dia menjawab; “Lima ratus tahun.”

 

Musnad Ahmad 1387: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abdullah dari Rasyid bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang ayat: (Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu.) Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Hal itu pasti terjadi, tetapi penjelasannya belum datang hingga sekarang.”

 

Musnad Ahmad 1388: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu Habib dari Daud bin ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari Bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seandainya sesuatu yang lebih kecil dari kuku dari keindahan yang ada di Syurga tampak, niscaya akan menghiasi apa yang ada di sisi-sisi langit dan bumi. Seandainya seorang lelaki dari penduduk syurga muncul kemudian tampak gelangnya, niscaya cahayanya akan menghapus cahaya matahari seperti cahaya matahari menghapus cahaya bintang.”

 

Musnad Ahmad 1389: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Bapaknya dari Bapaknya dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Saya melihat di samping kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan samping kiri beliau pada Perang Uhud, ada dua orang laki-laki yang memakai pakaian putih berperang dengan penuh semangat, yang aku tidak pernah melihatnya sebelum atau sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 1390: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Ibrahim yaitu Ibnu Sa’d, dari bapaknya dari Mu’adz At Taimi berkata; saya mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua shalat yang tidak boleh shalat setelahnya, yaitu shalat shubuh sampai matahari terbit dan Ashar sampai Matahari terbenam.” Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari bapaknya dari seorang lelaki Bani Taim yang bernama Mu’adz, dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” kemudian dia menyebutkan hadits seperti di atas.

 

Musnad Ahmad 1391: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dan Sa’d keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Bapakku dari bapaknya dari kakeknya, Sa’d berkata; dari Ibrahim bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Saya melihat di samping kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan samping kiri beliau pada Perang Uhud ada dua orang laki-laki yang memakai pakaian putih berperang dengan penuh semangat, saya tidak pernah melihatnya sebelum atau sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 1392: Telah bercerita kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih, Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bahwa Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash telah mengabarkan kepadanya, bahwa bapaknya, Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Umar meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, (saat itu) di dekat beliau ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara dan banyak (bertanya) kepada beliau dengan suara yang keras. Ketika Umar meminta izin kepada beliau, mereka bangun dan segera berhijab, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan Umar untuk masuk. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sehingga Umar berkata; “Semoga Allah membahagiakanmu Wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku heran dengan mereka yang ada di sisiku, ketika mendengar suaramu mereka segera berhijab.” Umar berkata; “Anda Wahai Rasulullah adalah orang yang lebih patut untuk disegani. Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, apakah kalian segan denganku sementara kalian tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Mereka menjawab; “Karena kamu adalah lebih keras dan lebih saklek dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, selamanya setan tidak akan bertemu denganmu di satu jalan yang kamu lewati melainkan setan akan melewati jalan selain jalanmu.” Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata; ayahku berkata; dan Ya’qub berkata; “Aku tidak dapat menghitung berapa kali aku mendengarnya berkata; ‘telah menceritakan kepada kami Shalih dari Ibnu Syihab’.”

 

Musnad Ahmad 1393: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dan Sa’d keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Sufyan bin Jariyah bahwa Yusuf bin Al Hakam Abul Al Hajjaj mengabarinya, bahwa Sa’d bin Abu Waqqash berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginginkan orang-orang Quraisy hina niscaya Allah ‘azza wajalla menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1394: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Al Ja’d bin Aus berkata; telah menceritakan kepadaku Aisyah binti Sa’d berkata; Sa’d berkata; Saya sakit saat saya berada di Makkah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dalam rangka menjengukku. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, aku meninggalkan harta yang banyak dan aku hanya memiliki seorang anak perempuan, apakah aku boleh mewasiatkan dua pertiga hartaku dan memberinya sepertiga saja? ‘ Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Apakah bleh aku wasiatkan setengahnya dan saya tinggalkan untuknya setengahnya?” Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan sepertiganya dan saya tinggalkan untuknya dua pertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga Ya, tapi sepertiga itu banyak.” Beliau ucapkan tiga kali. Sa’d berkata; Kemudian beliau meletakkan tangannya pada dahinya lalu mengusap wajahku dan dadaku serta perutku dan berdoa: “ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN WA ATIMMA LAHU HIJRATAHU (Ya Allah sembuhkanlah Sa’d dan sempurnakanlah hijrahnya” Sejak saat itu saya masih tetap terbayang bahwa aku senantiasa merasakan dingin tangan beliau pada dadaku sampai saat ini.”

 

Musnad Ahmad 1395: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan dari Abdullah bin Abu Salamah bahwa Sa’d mendengar seorang lelaki berkata; “LABBAIKA DZAL MA’AARIJI (Aku penuhi panggilanMu, Wahai Dzul Ma’arij (Dzat yang para Malaikat naik kepadaNya)).” Maka Sa’d berkata; “Yang benar adalah; ‘LADZUL MA’AARIJ’, tetapi kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengucapkan demikian.”

 

Musnad Ahmad 1396: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Hassan Al Makhzumi dari Ibnu Abu Mulaikah dari ‘Ubaidullah bin Abu Nuhaik dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golonganku orang yang tidak melagukan Al Qur`an.” Waki’ berkata; “Yaitu menyenandungkannya.”

 

Musnad Ahmad 1397: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Labibah dari Sa’d bin Malik berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rizqi adalah yang mencukupi.” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq dari Ibnul Mubarak dari Usamah berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru bin Utsman bahwa Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Labibah mengabarinya. Abdullah berkata; bapakku menerangkan; dan Yahya yaitu Al Qathan berkata; Ibnu Abu Labibah juga, akan tetapi dia berkata; dari Usamah, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah.”’

 

Musnad Ahmad 1398: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Sa’d, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguknya pada saat dia sakit. Dia bertanya; “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mewasiatkan hartaku semuanya?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengah?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu banyak.” Atau “Besar.”

 

Musnad Ahmad 1399: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Meskipun kamu hanya memberi nafkah kepada keluargamu itu akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat (suapkan) kepada mulut istrimu.”

 

Musnad Ahmad 1400: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim bin Abu An Najud dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; saya bertanya; “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang shaleh, kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

Leave a comment