Musnad Ahmad: 1-100

MUSNAD AHMAD

 

Musnad Ahmad 1: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Numair dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma’il dari Qais dia berkata; Abu Bakar berdiri lalu memuji Allah dan mensucikan-Nya kemudian berkata; Wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al Maidah ayat 105). Dan sesungguhnya kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran kemudian mereka tidak mengingkarinya, maka hampir saja Allah akan menimpakan siksa kepada mereka semua.”

 

Musnad Ahmad 2: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Mis’ar dan Sufyan dari Utsman Bin Al Mughirah Ats Tsaqafi dari Ali Bin Rabi’ah Al Walibi dari Asma’Bin Al Hakam Al Fazari dari Ali, dia berkata; Jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah memberiku manfaat dari padanya menurut yang dikehendak-Nya dan jika ada orang lain yang menceritakannya kepadaku, maka aku memintanya untuk bersumpah, apabila dia telah bersumpah kepadaku maka aku membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah menceritakan kepadaku, dan benarlah bahwa Abu Bakar telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang lelaki berbuat dosa kemudian dia berwudlu dan membaguskan wudlunya, -Mis’ar berkata; -” kemudian dia shalat, sedangkan Sufyan berkata” kemudian dia shalat dua rakaat dan memohon ampun kepada Allah kecuali pasti Allah akan mengampuni dosanya“.

 

Musnad Ahmad 3: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Muhammad Abu Sa’id yaitu Al ‘Anqazi dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Al Barra’ Bin ‘Azib, dia berkata; Abu bakar membeli sebuah pelana dari ‘Azib seharga tiga belas dirham, Al Barra’ berkata; kemudian Abu Bakar berkata kepada Azib; “Suruhlah Al Barro’ membawanya ke rumahku.” Maka ‘Azib menjawab; “Tidak, kecuali jika kamu mau menceritakan kepada kami, tentang apa yang kamu lakukan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar bersamamu.” dia berkata; maka Abu Bakar berkata; “Kami keluar berjalan di malam hari dan mempercepat jalan diwaktu siang dan malam yang kami lalui, ketika kami tiba di waktu dzuhur dan matahari tepat berada di atas, aku memperhatikan sekitar kami apakah ada tempat berteduh untuk kami, sesaat kemudian aku melihat sebuah batu besar dan aku pun mendekatinya dan ternyata ada sedikit rongga (menjorok ke dalam) yang tertutupi bayangan batu tersebut, maka aku rapikan tempat itu dan membentangkan jubah dari kulit untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata; “Berbaringlah wahai Rasulullah” lalu beliau berbaring, kemudian aku keluar melihat lihat apakah ada orang yang mencari, tiba tiba aku melihat seorang penggembala kambing, aku bertanya; “Milik siapa kamu wahai pemuda?” dia menjawab; “Milik seorang lelaki dari Quraisy, ” lalu dia menyebutkan namanya dan akupun mengenalnya, aku bertanya lagi; “Apakah kambingmu mengeluarkan air susu? ‘dia menjawab; ‘Ya ‘aku bertanya lagi; ‘Apakah kamu mau memerahkan susu untukku? ‘ dia menjawab; “Ya” maka aku perintahkan kepadanya untuk memegang salah satu dari kambingnya dan membersihkan susu kambing tersebut serta kedua telapak tangannya dari debu, aku membawa geriba dari kulit yang di bagian mulutnya ada penutup dari kain, kemudian dia memerahkan sedikit susu untukku dan aku siramkan air ke geriba supaya bawahnya tidak terlalu panas, kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberinya minum, dan ternyata beliau sudah terjaga dari tidurnya, aku berkata; “Wahai Rasulullah minumlah” Beliaupun meminumnya hingga aku merasa lega, kemudian aku berkata; “Apakah sudah saatnya kita berangkat?” maka kami berangkat sementara orang-orang mencari dan tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat menemukan kami kecuali Suraqah Bin Malik Bin Ju’syum dengan berkuda, aku berkata; “Wahai Rasulullah orang yang memburu (kita ini) akan menyusul kita” maka Nabi menjawab: “Jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita” sampai ketika Suraqah telah dekat dengan kami kira kira jarak satu tombak atau dua tombak atau tiga tombak aku berkata; “Wahai Rasulullah orang yang memburu (kita ini) akan menyusul kita” dan aku (saat itu) menangis, Nabi bertanya: “Kenapa kamu menangis?” aku menjawab; “Demi Allah, aku bukan menangis karena khawatir terhadap diriku akan tetapi aku menangis karena khawatir kepada tuan” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Kami serahkan dia (Suraqah) kepada kehendakMu “maka kaki sampai perut kuda Suraqah tergelincir masuk ke tanah yang keras dan dia melompat darinya dan berkata; “Wahai Muhammad aku sudah tahu ini adalah perbuatanmu maka doakanlah kepada Allah agar menyelamatkanku dari apa yang menimpaku, demi Allah aku akan rahasiakan beritamu kepada orang-orang yang mencarimu yang ada di belakangku, dan ini wadah panah dari kulit milikku ambillah sebagian anak panahnya, sesungguhnya kamu akan melalui unta dan kambing milikku di tempat ini dan ini maka ambillah darinya untuk keperluanmu.” Abu Bakar melanjutkan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Aku tidak membutuhkannya” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya maka lepaslah Suraqah (dari bencana yang menimpanya) dan kembali kepada teman temannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan perjalanannya bersamaku, sesampainya kami tiba di Madinah, orang-orang menyambut dan keluar ke jalan-jalan dan di atas atap rumah, para pelayan dan anak anak keluar bersegera sambil berkata; “Allah Maha Besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang, Muhammad telah datang.” Orang-orang berselisih, siapakah diantara mereka yang berhak untuk ditempati rumahnya oleh beliau, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Malam ini aku akan menginap di rumah Bani Najar paman Abdul MuThalib untuk menghormati mereka, ” maka ketika pagi esok harinya beliau berangkat sebagaimana yang diperintahkan. Barra’ Bin Azib berkata; “Orang muhajirin pertama yang datang kepada kami adalah Mush’ab Bin Umair saudara Bani Abdud Dar kemudian Ibnu Ummi Maktum yang buta saudara Bani Fihri, kemudian Umar Bin Al Khaththab bersama dua puluh orang berkendaraan, maka kami bertanya; “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” ia menjawab; “Beliau berada di belakangku”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba bersama Abu Bakar, Barro’ berkata; “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba (di Madinah) kecuali pada saat itu aku telah hafal beberapa surat dari Al Mufashal.” Israil berkata; ” Barro’ adalah sahabat Anshar dari Bani Haritsah.”

 

Musnad Ahmad 4: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dia berkata; telah berkata Israil; telah berkata Abu Ishaq; dari Zaid Bin Yutsai’ dari Abu Bakar bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya dengan pernyataan berlepas diri dari penduduk Makkah; “Agar tidak seorang musyrik pun pergi menunaikan haji setelah tahun ini, tidak ada yang melakukan thawaf dalam keadaan telanjang dan tidak akan masuk syurga kecuali orang muslim, barangsiapa diantara dirinya dan Rasulullah ada perjanjian maka batasnya sampai selesai perjanjian tersebut, dan Allah beserta Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.” Yazid berkata; maka ia berangkat dengan tiga orang. Kemudian Beliau berkata kepada Ali; “Susul dia dan kembalikan Abu Bakar padaku dan sampaikan pernyataan itu olehmu.” maka diapun melakukannya, dia berkata; ketika Abu Bakar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia menangis dan bertanya; “Wahai Rasulullah apakah telah terjadi sesuatu pada diriku?” beliau menjawab; “Tidak ada yang terjadi padamu kecuali kebaikan, akan tetapi aku diperintahkan agar perkara itu tidak disampaikan kecuali olehku atau salah seorang dariku”.

 

Musnad Ahmad 5: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yazid Bin Khumair dari Sulaim Bin ‘Amir dari Ausath, dia berkata; Abu Bakar berkhutbah kepada kami dan berkata; Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ditempatku ini pada tahun pertama. Lalu Abu Bakar menangis, kemudian berkata; Mohonlah kepada Allah Al mu’afaat (ampunan) atau ia berkata Al ‘Aa’fiyah (keselamatan), karena tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih utama dari Al ‘Aa’fiyah atau Al mu’afaat setelah keyakinan, berlaku jujurlah kalian karena kejujuran bersama kebajikan dan keduanya berada di surga, dan jauhilah dusta karena dusta bersama kejahatan dan keduanya berada di neraka, dan janganlah kalian saling dengki, bermusuhan, dan jangan pula saling memutus tali silaturrahim dan saling berpaling, akan tetapi jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan.”

 

Musnad Ahmad 6: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Bin Mahdi dan Abu ‘Amir keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Zuhair yaitu Ibnu Muhammad dari Abdullah yaitu Ibnu Muhammad Bin ‘Aqil dari Mu’adz Bin Rifa’ah Bin Rafi’ Al Anshari dari bapaknya yaitu Rifa’ah Bin Rafi’ dia berkata; Aku mendengar Abu Bakar Ash Shiddiq berkhutbah di atas mimbar Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian berkata; “Aku mendengar Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” dan Abu Bakar menangis ketika menyebut nama Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia terdiam dari tangisnya dan berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata di hari yang terik panas seperti ini pada tahun pertama: “Mohonlah kepada Allah ampunan, keselamatan dan keyakinan di akherat dan dunia”.

 

Musnad Ahmad 7: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah dari Ibnu Abu ‘Atiq dari bapaknya dari Abu Bakar, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siwak adalah pembersih mulut dan diridhai oleh Allah”.

 

Musnad Ahmad 8: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Yazid Bin Abu Habib dari Abul Khair dari Abdullah Bin ‘Amru dari Abu Bakar Ash Shiddiq bahwasanya dia berkata kepada Rasulllah; “Ajarilah aku do’a yang dengannya aku berdoa didalam shalatku, ” Beliau menjawab: “Bacalah, Allahumma Innii Zhalamtu Nafsii Zhulman Katsiiro, Walaa Yaghfirudz Dzunuuba Illaa Anta, Faghfirlii Maghfiratan Min ‘Indika Warhamnii Innaka Antal Ghofuurur Rahiim “(Ya Allah aku telah banyak menzhalimi diriku sendiri, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah dosaku dengan ampunan dari sisimu dan rahmatilah aku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” Yunus berkata; “kabiiraa (besar), ” telah menceritakannya kepada kami Hasan Al Asy yab dari Ibnu Lahi’ah dia berkata; beliau bersabda: “kabiiraa (besar).”

 

Musnad Ahmad 9: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Aisyah, bahwasanya Fatimah dan Al Abbas mendatangi Abu Bakar, keduanya menuntut bagian harta warisan mereka dari Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu keduanya meminta tanah beliau pada perang Fadak dan saham beliau dari perang Khaibar, maka Abu Bakar berkata kepada mereka; sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kami tidak diwarisi, harta yang kami tinggalkan menjadi sedekah, keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini.” Maka demi Allah, aku tidak akan meninggalkan suatu perkara yang aku lihat Rasulullah mengerjakannya kecuali aku pasti mengerjakanya.”

 

Musnad Ahmad 10: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Al Muqri’ dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Haiwah Bin Syuraih dia berkata; aku mendengar Abdul Malik Bin Al Harits berkata; Sesungguhnya Abu Hurairah berkata; aku mendengar Abu Bakar Ash Shiddiq berkata diatas mimbar ini; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari ini ditahun pertama, kemudian Abu Bakar hanyut dalam nasehat sehingga menangis kemudian berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah kalian diberi sesuatu (yang kedudukannya lebih tinggi) setelah kalimat ikhlas seperti Al Afiyah (keselamatan), maka mohonlah Al Afiyah kepada Allah”.

 

Musnad Ahmad 11: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammam, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Anas bahwasannya Abu Bakar telah bercerita kepadanya, dia (Abu Bakar) berkata; aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di dalam goa, -dalam riwayat lain ia berkata; “dan kami berada didalam goa, – dan seandainya salah seorang dari mereka melihat kedua kaki beliau, pasti mereka akan melihat kami dari bawah kedua kakinya”, maka Beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, apa persangkaanmu terhadap dua orang, bukankah Allah adalah yang ketiga dari keduanya.”

 

Musnad Ahmad 12: Telah menceritakan kepada kami Rauh dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Arubah dari Abu At Taiyyah dari Al Mughirah Bin Subai’ dari ‘Amru Bin Huraits dari Abu Bakar Ash Shiddiq, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita kepada kami bahwasannya Dajjal akan keluar dari bumi bagian timur yang disebut Khurasan, banyak orang yang mengikutinya, seakan akan wajah mereka seperti tameng yang dipalu.”

 

Musnad Ahmad 13: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Shadaqah Bin Musa sahabat Ad Daqiq, dari Farqad dari Murrah Bin Syarahil dari Abu Bakar Ash Shiddiq, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang berperangai kasar, dan orang yang pertama kali mengetuk pintu syurga adalah para hamba sahaya yang bagus dalam menjalankan apa yang ada diantara mereka dan Allah Azza wa Jalla serta apa yang ada diantara mereka dan tuannya.”

 

Musnad Ahmad 14: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Muhammad Bin Abu Syaibah. Abdullah berkata; dan aku telah mendengarnya dari Abdullah Bin Abu Syaibah, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail dari Al Walid Bin Jumai’ dari Abu Ath Thufail dia berkata; ketika Rasulullah wafat, Fathimah menulis surat kepada Abu Bakar yang berisi; “Apakah kamu atau keluarganya yang mewarisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia menjawab; “Aku tidak mewarisinya, tetapi keluarganyalah yang mewarisinya, ” Fathimah berkata; “Lalu dimanakah saham Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka Abu Bakar berkata; “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya apabila Allah memberi makan seorang Nabi, kemudian mewafatkannya, maka Dia (Allah) menjadikannya untuk orang yang datang setelahnya”, maka aku berniat mengembalikannya kepada kaum Muslimin.” kemudian Fathimah berkata; “Kalau demikian, kamu lebih tahu atas apa yang telah kamu dengar dari Rasulullah.”

 

Musnad Ahmad 15: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Ishaq Ath Thalaqani dia berkata; Telah menceritakan kepadaku An Nadlar Bin Syumail Al Mazini dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abu Na’amah dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abu Hunaidah Al Barra’ Bin Naufal dari Walan Al ‘Adawi dari Hudzaifah dari Abu Bakar Ash Shiddiq dia berkata; “Disuatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat shubuh Kemudian duduk, hingga ketika tiba waktu dhuha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa, kemudian duduk di tempat semula hingga beliau shalat Dzuhur, Ashar dan Maghrib, beliau tidak berbicara hingga shalat isya di akhir malam, kemudian pulang ke keluarganya, maka orang-orang berkata kepada Abu Bakar; “Mengapa tidak kamu tanyakan kepada Rasulullah atas apa yang beliau lakukan hari ini, padahal sebelumnya belum pernah melakukannya sama sekali?” ia berkata; kemudian dia bertanya kepada beliau, maka beliau menjawab: “Ya, telah diperlihatkan kepadaku apa yang akan terjadi dari urusan dunia dan akhirat, maka dikumpulkanlah orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang datang di satu tempat, maka manusia ketakutan dengan hal itu, sehingga mereka datang kepada Adam sementara keringat hampir hampir menutupi mereka, mereka berkata; ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia dan Allah ‘azza wajalla telah memilihmu, maka mintalah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu, ‘Adam menjawab; ‘Aku pun sedang menghadapi seperti apa yang sedang kalian hadapi, pergilah kepada bapak kalian setelah bapak kalian, yaitu Nuh, ‘sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran atas segala umat.” maka mereka datang kepada Nuh kemudian berkata; ‘Berilah kami syafa’at di hadapan Rabb-Mu, karena Allah telah memilih engkau dan mengabulkan doa-Mu dan Dia tidak menyisakan orang-orang kafir satu rumahpun diatas permukaan bumi.’ maka Nuh berkata; ‘Aku tidak bisa memberi kalian syafa’at, maka pergilah menghadap Ibrahim karena sesungguhnya Allah menjadikan dia sebagai kekasihnya.’ Kemudian merekapun menghadap Ibrahim, dan Ibrahim berkata; ‘Aku tidak bisa memberi kalian syafa’at, pergilah menghadap Musa, karena Allah pernah berbicara kepadanya secara langsung.’ kemudian Musapun menjawab; ‘Aku tidak memiliki apa yang kalian minta, maka pergilah menghadap Isa bin Maryam, sesungguhnya dia bisa menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan menghidupkan orang mati.’ kemudian Isa menjawab; ‘Aku tidak memiliki apa yang kalian minta, akan tetapi pergilah menghadap tuannya anak Adam, karena kuburannya yang pertama kali terbuka pada hari kiamat, pergilah menghadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pasti dia akan memberi kalian syafa’at di hadapan Rabb kalian.’ Dia berkata; ‘Maka dia pergi, kemudian Jibril menghadap kepada Rabbnya, maka Allah berfirman: ‘Izinkan dia (memberi syafa’at) dan berilah kabar gembira berupa syurga.’ dia berkata; kemudian jibril pergi dengan berita gembira tersebut, maka Muhammad pun tunduk bersujud selama satu jum’at, kemudian Allah berfirman: ‘Angkat kepalamu wahai Muhammad, katakanlah kamu akan didengar dan berilah syafa’at kamu diberi izin memberi syafa’at.’ dia berkata; maka dia mengangkat kepalanya dan ketika memandang Rabbnya diapun bersujud tunduk selama satu jum’at yang lain, dan Allah berfirman lagi: ‘Angkatlah kepalamu dan katakanlah kamu akan didengar, berilah syafa’at kamu diizinkan memberi syafa’at.’ dia berkata; dia pun pergi untuk bersujud, dan jibril memegang kedua tangannya, maka membuka doa-doa yang belum pernah dibukakan sebelumnya kepada manusia sama sekali, maka beliau berkata; ‘Wahai Rabbku engkau telah ciptakan aku menjadi tuan anak Adam dan tidak ada kesombongan, Engkau jadikan aku orang yang pertama kali terbuka kuburannya pada hari Kiamat dan tidak ada kesombongan, sampai Engkau jadikan orang yang datang ke telagaku sebanyak apa yang ada diantara shon’a dan Ailah, ‘ kemudian dikatakan; ‘Panggillah para Shiddiqin agar mereka memberi syafa’at’, kemudian dikatakan; ‘Panggillah para Nabi.’ Ia berkata; maka datanglah Nabi bersama sekelompok orang pengikutnya, dan ada Nabi yang bersama lima dan enam orang pengikut, dan ada Nabi yang tidak bersama seorangpun pengikut, kemudian dikatakan; ‘Panggillah para syuhada agar mereka memberi syafa’at untuk orang-orang yang mereka inginkan.’dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan; maka ketika para syuhada telah melakukannya, Nabi berkata: Allah berfirman ‘Aku adalah yang paling pengasih dari para pengasih, masukkanlah kedalam syurgaku orang yang tidak menyekutukanku dengan suatu apapun.’ ia berkata; Maka merekapun masuk kedalam syurga. Dia berkata: Kemudian Allah berfirman: ‘Lihatlah kedalam neraka, apakah kalian menjumpai seseorang yang pernah berbuat satu kebajikkan? ‘Dia berkata; Maka mereka mendapatkan seorang laki-laki, kemudian Allah bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu pernah berbuat satu kebajikkan? ‘ laki-laki itu menjawab; ‘Tidak, kecuali dulu aku pernah memberikan kemudahan kepada manusia dalam masalah jual beli.’ Maka Allah berfirman: ‘Mudahkanlah kepada hambaku sebagaimana dia telah memberi kemudahan kepada hamba-hambaku yang lain. ‘Kemudian mereka mengeluarkan seorang laki-laki dari neraka, dan Allah bertanya kepadanya; ‘Apakah kamu pernah melakukan satu amal kebaikan? ‘ ia menjawab; ‘Tidak, kecuali aku pernah menyuruh anakku jika aku mati, bakarlah aku dengan api kemudian tumbuklah aku hingga seperti tepung, kemudian bawalah ke laut lalu tebarkanlah di udara, Maka demi Allah Rabb seluruh alam, tidaklah akan mampu mengembalikanku selama-lamanya.’ Maka Allah berfirman: ‘Kenapa kamu lakukan hal itu? ‘ dia menjawab; ‘Karena takut kepadaMu.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan: Maka Allah berfirman: ‘Lihatlah kerajaan yang paling agung kerajaannya, maka sesungguhnya bagimulah seperti itu bahkan sepuluh kali lipat sepertinya.’ Nabi melanjutkan: Hamba tersebut berkata; ‘Mengapa Engkau menghinaku sedangkan Engkau adalah raja?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah yang membuatku tertawa di waktu dluha.”

 

Musnad Ahmad 16: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Zuhair yaitu Ibnu Mu’awiyah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Abu Khalid dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Qais, dia berkata; ” Abu Bakar berdiri lalu memuji Allah dan mensucikan-Nya, kemudian dia berkata; “Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, kalian bertanggung jawab atas diri kalian masing-masing, tidak akan membahayakan kalian sedikitpun orang yang tersesat.. (sampai akhir ayat), dan kalian menempatkannya tidak pada tempatnya, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran, kemud ian tidak merubahnya, maka dikhawatirkan Allah akan meluaskan adzab kepada mereka semua.” Dia berkata; “Dan aku mendengar Abu Bakar berkata; “Wahai manusia jauhilah dusta karena sesungguhnya dusta itu menjauhkan kalian dari iman.”

 

Musnad Ahmad 17: Telah menceritakan kepada kami Hasyim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Yazid Bin Khumair dia berkata; saya mendengar Sulaim Bin ‘Amir lelaki dari Himyar, bercerita dari Ausath Bin Isma’il Bin Ausath Al Bajali yang bercerita dari Abu Bakar, bahwasannya dia mendengarnya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, dia berkata; Rasulullah berdiri ditahun pertama pada tempatku ini kemudian menangis lalu bersabda: “Berlaku jujurlah, karena kejujuran bersama kebaikkan dan keduanya berada disyurga, dan jauhilah dusta, karena dia bersama dosa dan keduanya berada di neraka, dan mohonlah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah dia beriman yang lebih baik dari keselamatan.” Kemudian beliau melanjutkan “Janganlah kalian saling memutus tali silaturahim, saling menghindar, saling membenci, dan jangan pula saling dengki, akan tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.”

Musnad Ahmad 18: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Daud Bin Abdullah Al Audiy dari Humaid Bin Abdurrahman dia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Abu Bakar sedang berada di pinggiran Madinah, dia (Humaid Bin Abdurrahman) berkata; Kemudian dia datang dan membuka kain yang menutupi wajah beliau lalu menciumnya seraya berkata; “Aku rela bapak dan ibuku sebagai tebusanmu, alangkah indahnya hidup dan matimu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal, dan demi Rabb pemilik Ka’bah.” lalu dia menyebutkan hadits. Dia berkata; “Kemudian Abu Bakar dan Umar berangkat (kepada kaum Anshar) yang sedang saling berbantahan masalah kepemimpinan, sehingga mereka menemui mereka (kaum Anshar), kemudian Abu Bakar berbicara dan tidak meninggalkan sesuatupun yang telah diturunkan kepada kaum Anshar dan tidak juga yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka kecuali dia sebutkan semua, dan dia berkata; “Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Seandainya manusia meniti sebuah lembah dan kaum Anshar melewati lembah yang lain, maka aku akan melewati lembah kaum Anshar” dan kamu telah mengetahui wahai Sa’d bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda sementara kamu duduk (tidak melakukan apa-apa), “Kaum Quraisy adalah pemegang urusan ini, maka orang yang berbakti dari manusia itu mengikuti orang yang berbakti dari mereka (Quraisy) dan orang yang durhaka mereka mengikuti orang yang durhaka mereka.” dia berkata; kemudian Sa’d menjawab Abu Bakar; “Kamu benar, kami adalah para menteri sedangkan kalian adalah para pemimpin.”

 

Musnad Ahmad 19: Telah menceritakan kepada kami Ali Bin ‘Ayyasy dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al ‘Aththaf Bin Khalid dia berkata; Telah menceritakan kepadaku lelaki dari penduduk Bashroh, dari Thalhah Bin Abdullah Bin Abdurrahman Bin Abu Bakar Ash Shiddiq dia berkata; Aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata; aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah apakah amalan berdasarkan perkara yang telah ditetapkan atau dengan hal hal yang baru?” Beliau menjawab: “Akan tetapi berdasarkan perkara yang telah ditetapkan.” dia berkata, aku bertanya; “Maka untuk apa amalan itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Setiap orang dimudahkan beramal sesuai dengan tujuan diciptakannya.”

 

Musnad Ahmad 20: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku seorang lelaki ahli fikih dari kaum Anshar, bahwa dia mendengar Utsman Bin ‘Affan bercerita; bahwa ada beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersedih hati ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, sehingga hampir hampir sebagian dari mereka menjadi was-was, Utsman berkata; “Dan aku termasuk dari mereka, ketika aku sedang duduk di bawah bayangan salah satu tembok, lewatlah Umar dihadapanku kemudian mengucapkan salam kepadaku, akan tetapi aku tidak merasa kalau dia lewat dan memberi salam, maka diapun berlalu hingga menemui Abu Bakar, kemudian dia berkata kepadanya; “Ada sesuatu yang akan mengejutkanmu, sesungguhnya aku lewat di hadapan Utsman dan memberi salam kepadanya, akan tetapi dia tidak menjawab salamku.” Maka pada masa pemerintahan Abu Bakar datanglah Umar dan Abu Bakar dan keduanya mengucapkan salam kepadaku, kemudian Abu Bakar berkata; “Saudaramu Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa dia lewat dihadapanmu kemudian mengucapkan salam, akan tetapi kamu tidak menjawabnya, maka apa yang menyebabkan kamu melakukan demikian?” dia berkata, aku menjawab; “Aku tidak melakukannya”. Maka Umar berkata; “Ya, demi Allah, kamu telah melakukannya, akan tetapi itu karena kesombongan kalian wahai bani Umayyah.” Dia berkata, aku menjawab; “demi Allah, aku tidak pernah merasa jika kamu lewat dan memberi salam kepadaku, ” Abu Bakar berkata; “Utsman benar, sungguh kamu telah disibukkan suatu urusan darinya, ” maka aku berkata; “ya” Umar bertanya; “Urusan apakah itu?” maka Utsman berkata; “Allah mewafatkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum kita menanyakannya tentang keselamatan urusan ini, ” Abu Bakar berkata; “Aku telah menanyakannya tentang urusan itu, ” dia berkata; maka aku berdiri mendekatinya dan berkata kepadanya “Demi ayah dan ibuku engkau lebih berhak terhadapnya, ” Abu Bakar berkata; aku bertanya; Wahai Rasulullah bagaimana keselamatan urusan ini? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menerima sebuah kalimat dariku yang pernah aku tawarkan kepada pamanku kemudian dia mengembalikannya kepadaku, maka kalimat itu menjadi keselamatan baginya.”

 

Musnad Ahmad 21: Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Abdurrabbih dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Baqiyah Bin Al Walid dia berkata; Telah menceritakan kepadaku seorang syaikh dari Quraisy dari Raja’ Bin Haiwah dari Junadah Bin Abu Umaiyah dari Yazid bin Abu Sufyan dia berkata; Abu Bakar berkata ketika mengutusku ke syam; “Wahai Yazid sesungguhnya kamu memiliki kerabat, semoga kamu tidak mengedepankan mereka dalam kepemimpinan, dan hal itulah yang paling aku takutkan darimu, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ” Barangsiapa memimpin suatu urusan kaum muslimin, kemudian mengangkat seseorang untuk mereka atas dasar kecintaan, maka baginya laknat dari Allah, dan Allah tidak akan menerima amal perbuatan wajibnya dan juga amal perbuatan Nafilah darinya, sampai Dia memasukkannya kedalam neraka jahannam, dan barangsiapa memberikan kepada seseorang batasan Allah, kemudian melanggar sesuatu di dalam batasan Allah tanpa haknya, maka baginya laknat dari Allah, ” atau dia berkata: “Terlepaslah darinya jaminan Allah.”

 

Musnad Ahmad 22: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Bukair Bin Al Akhnas dari seorang lelaki dari Abu Bakar Ash Shiddiq dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi tujuh puluh ribu orang, mereka semua masuk syurga tanpa hisab, wajah mereka bagaikan rembulan dimalam bulan purnama dan hati mereka di atas hati satu orang, kemudian aku memohon tambahan dari Rabbku, maka Dia menambahkan, pada setiap seorang tujuh puluh ribu orang.” Abu Bakar berkata; “Lalu aku melihat bahwa itu datang pada penduduk desa dan mengenai pinggiran lembah-lembah.”

 

Musnad Ahmad 23: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Bin ‘Atho` dari Ziyad Al Jashshas dari Ali Bin Zaid dari Mujahid dari Ibnu Umar dia berkata; aku mendengar Abu Bakar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa berbuat suatu kejahatan, maka Allah akan membalasnya didunia.”

Musnad Ahmad 24: Telah bercerita kapada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dia berkata, Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku seorang lelaki dari kalangan Anshar yang tidak tertuduh, bahwa dia mendengar Utsman Bin ‘Affan bercerita, bahwa ada beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersedih hati ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, sehingga hampir hampir sebagian dari mereka menjadi was-was, ” Utsman berkata; “Akupun termasuk diantara mereka “kemudian dia menyebutkan makna hadits Abul Yaman dari Syu’aib.

 

Musnad Ahmad 25: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dia berkata; Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih, telah berkata Ibnu Syihab; telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah Bin Az Zubair bahwa Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkannya, bahwa Fathimah anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar membagikan harta warisannya yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya berupa harta fai` yang Allah berikan kepada beliau, maka Abu Bakar berkata kepadanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami tidak diwarisi dan harta yang kami tinggalkan menjadi harta sedekah”, kemudian Fathimah marah dan tidak mengajak bicara Abu Bakar, dia tetap melakukan perbuatannya itu hingga dia wafat, Urwah berkata; Fatimah hidup selama enam bulan sepeninggal Nabi, dan Fathimah meminta kepada Abu Bakar bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari perang Khaibar dan Fadak dan sedekahnya ketika di Madinah, akan tetapi Abu Bakar menolak untuk memberikannya, dan dia berkata; “Aku bukan orang yang meninggalkan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semua yang beliau lakukan pasti akan aku lakukan, dan aku khawatir jika meninggalkan sedikit saja saja perintah beliau, aku akan menyimpang.” adapun sedekah beliau yang terdapat di Madinah, Umar telah memberikannya kepada Ali dan Abbas, kemudian Ali yang menguasai peninggalan tersebut, sedangkan peninggalan yang berada di Khaibar dan Fadak telah ditangani oleh Umar dan dia berkata; “Keduanya adalah sedekah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menjadi hak-haknya, yang telah kalian berikan kepadanya dan wakil-wakilnya, dan urusan keduanya ditangani oleh orang yang memimpin urusan” dan dia berkata; “dan keduanya terjadi pada hari itu juga.”

 

Musnad Ahmad 26: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa dan ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dari Ali Bin Zaid dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah, bahwasannya dia membaca bait Sya’ir ini ketika Abu Bakar sedang memutuskan perkara; “Dan awan putih membasahi wajahnya, menyayangi para anak yatim dan melindungi para janda”, maka Abu Bakar berkata; “Demi Allah, itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 27: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij dia berkata; telah mengabarkan kepadaku bapakku, bahwa para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tahu dimana mereka akan memakamkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Abu Bakar berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Nabi tidak dimakamkan kecuali di tempat meninggalnya, ” maka mereka menyingkirkan ranjangnya dan menggali kuburan untuk beliau di bawah ranjang beliau.

 

Musnad Ahmad 28: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dia berkata; telah bercerita kapada kami Laits dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Yazid Bin Abu Habib dari Abul Khair dari dari Abdullah Bin ‘Amru Bin Al Ash dari Abu Bakar Ash Shiddiq, bahwa dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Ajarilah aku satu doa yang dapat aku baca didalam shalatku!” Beliau menjawab: “Bacalah!, Allahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiraa walaa yaghfirudz dzunuuba illaa anta faghfirlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghofuurur rahiim (ya Allah sesungguhnya aku telah berbuat banyak kedzaliman pada diriku sendiri, dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau, maka berilah aku ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).”

 

Musnad Ahmad 29: Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Usamah dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma’il dari Dari Qais dia berkata; Abu Bakar berdiri dan memuji kepada Allah dan mensucikannya kemudian berkata; “Wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (sampai akhir ayat), ketahuilah, sesungguhnya jika manusia melihat seorang zhalim, akan tetapi mereka tidak mencegah kedua tangannya, maka dikhawatirkan Allah akan menyiksa mereka semua secara merata, ketahuilah sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia,” di kesempatan lain dia berkata; “Sesungguhnya kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 30: Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Harun dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma’il Bin Abu Khalid dari Qais Bin Abu Hazim dari Abu Bakar Ash Shiddiq dia berkata; “Wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”) (QS Al Maidah ayat 105), dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya apabila manusia melihat seorang zhalim, akan tetapi mereka tidak mencegah kedua tangannya, maka dikhawatirkan Allah akan menyiksa mereka semua.”

 

Musnad Ahmad 31: Telah menceritakan kepada kami Yazid dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammam dari Farqad As Sabakhi dan ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Murrah Ath Thayyib dari Abu Bakar Ash Shiddiq dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk syurga orang yang berperangai jelek.”

 

Musnad Ahmad 32: Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Harun telah mengabarkan kepada kami Shadaqah Bin Musa dari Farqad As Sabakhi dari Murrah Ath Thayyib dari Abu Bakar Ash Shiddiq dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk syurga seorang penipu, orang yang pelit, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan orang yang berperangai jelek, dan yang pertama kali akan masuk syurga adalah budak yang taat kepada Rabbnya dan kepada tuannya.”

 

Musnad Ahmad 33: Telah menceritakan kepada kami Rauh dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id Bin Abu Arubah dari Abu At Tayyah dari Al Mughirah Bin Subai’ dari ‘Amru Bin Huraits bahwa Abu Bakar sembuh dari sakitnya, kemudian dia pergi menemui orang-orang dan meminta maaf karena sesuatu dan berkata; “Kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”, lalu berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami, bahwa Dajjal akan muncul dari bumi bagian timur, yang disebut khurosan, banyak manusia yang mengikutinya, wajah mereka bagaikan tameng yang ditempa.”

 

Musnad Ahmad 34: Telah menceritakan kepada kami Rauh dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yazid Bin Khumair dia berkata; aku mendengar Sulaim Bin ‘Amir lelaki penduduk Himsha dan dia bertemu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata, dan dalam riwayat lain dia berkata; aku mendengar Ausath Al Bajali dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Ausath berkata; aku mendengarnya berkhutbah dihadapan manusia, ” dan dalam kesempatan lain dia berkata; ketika dia diangkat menjadi khalifah, dia berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di tempatku ini pada tahun pertama, ” kemudian Abu Bakar menangis, lalu berkata; “Aku memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya manusia tidak diberi yang lebih baik dari keselamatan setelah beriman, berlaku jujurlah kalian karena dia berada di Syurga, dan jauhilah perbuatan dusta karena dusta itu bersama dengan kejahatan, dan keduanya berada di Neraka, janganlah kalian saling memutus tali silaturrahim, saling membenci, saling mendengki, dan jangan pula saling menghindar, akan tetapi jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kalian.”

 

Musnad Ahmad 35: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Adam dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yaitu Ibnu ‘Ayyasy dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah, bahwa Abu Bakar dan Umar menyampaikan kabar gembira kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa suka untuk membaca Al Qur’an dengan benar sebagaimana diturunkan, maka hendaknya dia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abd.” Dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dan Yazid bin Abdul Aziz dari Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Umar Bin Al Khoththab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits diatas, dia berkata “lembut atau lunak.”

 

Musnad Ahmad 36: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, Telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz Bin Muhammad dan Sa’id Bin Salamah Bin Abul Husam dari ‘Amru Bin Abu ‘Amru dari Abul Huwairits dari Muhammad Bin Jubair Bin Muth’im bahwa Utsman berkata; aku berangan-angan bisa bertanya kepada Rasulullah tentang sesuatu yang bisa menyelamatkan kami dari bisikan setan kepada diri kami, maka Abu Bakar berkata; aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Yang bisa menyelamatkan kalian dari itu adalah, kalian mengucapkan kalimat yang aku perintahkan kepada pamanku untuk mengucapkannya tetapi dia tidak mau mengucapkannya.”

 

Musnad Ahmad 37: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Ibrahim dari Yunus dari Al Hasan bahwa Abu Bakar berkhutbah dihadapan manusia, kemudian dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya di dunia ini manusia tidak diberi sesuatu yang lebih baik dari keyakinan dan keselamatan, maka mohonlah keduanya kepada Allah.”

 

Musnad Ahmad 38: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq. Dia berkata; dan Telah menceritakan kepada kami Husain Bin Abdullah dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas dari Ibnu Abbas, dia berkata; Ketika para sahabat hendak menggali liang lahat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (mereka mempunyai dua pilihan antara;) Abu Ubaidah Bin Al Jarrah (kalau membuat kuburan) yang menggali seperti galian penduduk Makkah, dan Abu Thalhah Zaid Bin Sahl yang menggali seperti galian penduduk Madinah yaitu membuat liang lahat, lalu Al Abbas memanggil dua orang lelaki dan berkata kepada salah satunya; “Pergilah kepada Abu Ubaidah!” Dan berkata kepada yang lain; “Pergilah ke Abu Thalhah! Ya Allah pilihkanlah Untuk Rasul-Mu.” Dan ternyata orang yang pergi ke Abu Thalhah mendapatinya dan segera membawanya, kemudian dia membuat lahat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 39: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abdullah Bin Az Zubair Telah menceritakan kepada kami Umar Bin Sa’id dari Ibnu Abi Mulaikah telah mengabarkan kepadaku Uqbah Bin Al Harits dia berkata; aku keluar bersama Abu Bakar Ash Shiddiq selesai shalat Ashar beberapa malam setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, tiba-tiba Ali berjalan lewat disampingnya, kemudian dia melewati Hasan Bin Ali yang sedang bermain bersama anak anak, maka menggendongnya di atas pundaknya, seraya berkata; “Wahai demi bapakku, dia mirip dengan Nabi dan tidak mirip dengan Ali.” Uqbah berkata “dan Ali tertawa.”

 

Musnad Ahmad 40: Telah menceritakan kepada kami Aswad Bin ‘Amir Telah menceritakan kepada kami Israil dari Jabir dari ‘Amir dari Abdurrahman Bin Abza dari Abu Bakar dia berkata; aku duduk disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba tiba datanglah Ma’iz Bin Malik dan mengaku dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (telah berzina) untuk yang pertama kalinya namun beliau menolak pengakuannya, kemudian dia datang kepada beliau dan mengaku dihadapan beliau yang kedua kalinya namun beliau menolaknya, kemudian datang kepada beliau dan mengaku yang ketiga kalinya dan beliau pun menolaknya, maka aku berkata kepadanya; “Jika kamu mengaku yang keempat kalinya niscaya beliau akan merajammu, ” Abu Bakar berkata; “Kemudian dia mengaku yang keempat kalinya maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahannya, kemudian beliau bertanya tentang dia, maka mereka menjawab; “Kami tidak tahu tentang dia kecuali kebaikan.” Maka Rasulullah memerintahkan untuk merajamnya.”

 

Musnad Ahmad 41: Telah menceritakan kepada kami Ali Bin ‘Ayyasy Telah menceritakan kepada kami Al Walid Bin Muslim dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Yazid Bin Sa’id Bin Dzi ‘Ashwan Al ‘Ansi dari Abdul Malik Bin Umair Al Lakhmi dari Rafi’ Ath Tha’i orang yang mendampingi Abu Bakar pada peperangan As Sulasil, dia berkata; aku bertanya kepadanya tentang ucapan yang mereka katakan pada saat mereka Bai’at, maka dia berkata sambil bercerita kepada Rafi’ tentang apa yang di katakan oleh orang Anshar, dan apa yang dikatakannya kepada mereka, serta apa yang dikatakan Umar Bin Al Khaththab kepada orang Anshar dan apa yang dia sampaikan kepada mereka tentang kepemimpinanku kepada mereka atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sakit, kemudian mereka membai’atku untuk itu dan akupun menerimanya dari mereka, dan aku khawatir akan terjadi fitnah yang menyebabkan setelahnya terjadi kemurtadan.

 

Musnad Ahmad 42: Telah menceritakan kepada kami Ali Bin ‘Ayyasy Telah menceritakan kepada kami Al Walid Bin Muslim Telah menceritakan kepadaku Wahsyi Bin Harb dari bapaknya dari kakeknya Wahsyi Bin Harb, bahwa Abu Bakar menunjuk Khalid Bin Walid untuk memerangi orang-orang yang murtad, kemudian berkata; sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik baik hamba Allah dan saudara untuk bergaul adalah Khalid Bin Al Walid dan salah satu dari pedang-pedang Allah, yang Allah hunuskan kepada orang-orang kafir dan munafiq.”

 

Musnad Ahmad 43: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah yaitu Ibnu Shalih dari Sulaim Bin ‘Amir Al Kula’i dari Ausath Bin ‘Amru dia berkata; aku tiba di Madinah satu tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku mendapati Abu Bakar sedang berkhutbah di hadapan orang-orang lalu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan kami pada tahun pertama, beliau merasa tercekik oleh ungkapan tersebut sebanyak tiga kali, kemudian beliau bersabda “wahai manusia mohonlah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah seseorang diberi seperti keyakinan setelah keselamatan, dan tidak ada yang lebih dahsyat dari keraguan setelah kekufuran. berlaku jujurlah kalian karena dia membawa kepada kebaikan dan keduanya membawa kepada Syurga, dan jauhilah perbuatan dusta karena dia membawa kepada perbuatan dosa dan keduanya akan membawa ke Neraka.”

 

Musnad Ahmad 44: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Muyassar Abu Sa’d Ash Shaghani Al Makfuf Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin ‘Urwah dari bapaknya dari Aisyah dia berkata; sesungguhnya ketika ajal Abu Bakar tiba, dia bertanya; “Hari apakah ini?” orang-orang menjawab; “Hari senin” dia berkata; “Apabila aku meninggal pada malamku ini, maka janganlah kalian menungguku sampai besok, karena sebaik-baik hari dan malam bagiku adalah yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 45: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan, Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Murrah dari Abu ‘Ubaidah dia berkata; setelah satu tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Bakar berdiri dan berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di tempatku ini pada tahun pertama kemudian bersabda; “mohonlah keselamatan kepada Allah karena tidak ada pemberian yang lebih baik bagi hamba melebihi keselamatan, dan berlaku jujurlah kalian karena dia membawa kepada kebajikan dan keduanya menghantarkan ke Syurga, dan jauhilah perbuatan dusta dan kejahatan karena keduanya akan menghantarkan ke Neraka.”

 

Musnad Ahmad 46: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Utsman Bin Al Mughirah dia berkata; aku mendengar Ali Bin Rabi’ah dari kalangan Bani Asad bercerita dari Asma’ atau Ibnu Asma’ dari kalangan Bani Fazarah dia berkata, Ali berkata; apabila aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah jadikan ia bermanfaat bagiku menurut kehendak-Nya, dan Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar dan benarlah Abu Bakar, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “tidaklah seorang muslim berbuat dosa kemudian dia berwudlu dan melaksanakan shalat dua rakaat kemudian memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas dosa dosanya, melainkan Allah pasti mengampuninya, ” lalu dia membaca dua ayat ini “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzlalimi diri meraka sendiri….) (QS An Nisa’ayat 110 – 111). Telah bercerita kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; aku mendengar Utsman dari keluarga Abu Uqail Ats Tsaqafi berkata; Syu’bah berkata; dan dia membaca dua ayat ini “Barangsiapa berbuat kejelekan maka ia akan dibalas dengannya, ” dan ayat “Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji.”

 

Musnad Ahmad 47: Telah menceritakan kepada kami Bahz Bin Asad Telah menceritakan kepada kami Salim Bin Hayyan dia berkata; aku mendengar Qatadah bercerita dari Humaid Bin Abdurrahman bahwa Umar berkata; sesungguhnya Abu Bakar berkhutbah kepada kami kemudian berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan kami pada tahun pertama kemudian bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya tidak dibagikan di antara manusia sesuatu yang lebih utama dari keselamatan setelah keyakinan, ketahuilah sesungguhnya kejujuran dan kebaikan keduanya menghantarkan ke Syurga, ketahuilah sesungguhnya dusta dan perbuatan keji akan menghantarkan ke Neraka.”

 

Musnad Ahmad 48: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; aku mendengar Abu Ishaq berkata; aku mendengar Al Barra’ berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan dari Makkah menuju Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kehausan, kemudian mereka melewati seorang penggembala kambing, Abu Bakar Ash Shiddiq berkata; aku ambil sebuah kendi kemudian memerah sedikit susu kedalamnya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berikan kepada beliau dan beliau meminumnya sampai aku merasa lega.”

 

Musnad Ahmad 49: Telah menceritakan kepada kami Bahz Telah menceritakan kepada kami Ya’la Bin ‘Atho’ dia berkata; aku mendengar ‘Amru Bin ‘Ashim berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, ajarilah aku do’a yang dapat aku baca setiap pagiku, soreku dan sebelum aku tidur”. Beliau menjawab; “Bacalah; ‘ALLAHUMMA FAATHIRAS SAMAAWAATI WAL ‘ARDL ‘AALIMAL GHAIBI WASY SYAHAADAH’ (ya Allah pencipta langit langit dan bumi, yang maha mengetahui hal yang gaib dan yang tampak) ” atau beliau bersabda: “ALLAHUMMA ‘AALIMAL GHAIBI WASY SYAHAADAH FAATHIRAS SAMAAWAATI WAL’ARDL RABBA KULLA SYAI’IN WAMALIIKAHU, ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLA ANTA ‘A’UUDZUBIKA MIN SYARRI NAFSII WA SYARRIS SYAITHON WASYIRKIHI (Ya Allah pencipta langit dan bumi yang maha mengetahui hal yang gaib dan yang tampak, Rabb segala sesuatu dan pemiliknya, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku dan keburukan setan beserta sekutunya).” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ya’la Bin Atho’ dia berkata; aku mendengar ‘Amru Bin ‘Ashim Bin Abdullah, kemudian menyebutkan hadits yang semakna.

 

Musnad Ahmad 50: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Isma’il dia berkata; aku mendengar Qais Bin Abu Hazim bercerita dari Abu Bakar Ash Shiddiq, bahwa dia berkhutbah kemudian berkata; wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini, akan tetapi kalian tidak menempatkannya sebagaimana yang Allah maksudkan; “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al Maidah ayat 105), aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran diantara mereka kemudian tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksanya secara merata kepada mereka semua.”

 

Musnad Ahmad 51: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Taubah Al ‘Anbari dia berkata; aku mendengar Abu Sawwar Al Qadli berkata; dari Abu Barzah Al Aslami dia berkata; seorang lelaki bersikap kasar kepada Abu Bakar As Siddiq, Abu Sawwar berkata, maka Abu Barzah berkata; “bolehkah aku memenggal lehernya?” Maka Abu Bakar menghardiknya dan dia menjawab; “itu tidak boleh dilakukan untuk seseorang setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 52: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj Bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Laits Telah menceritakan kepadaku Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah Bin Zubair dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia mengabarkan kepadanya, bahwa Fatimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim surat kepada Abu Bakar Ash Shiddiq meminta bagian harta warisnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang Allah jadikan harta Fai` bagi beliau di Madinah, Fadaq dan sisa seperlima dari perang Khaibar, maka Abu Bakar menjawab; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “kami tidak diwarisi, harta yang kami tinggalkan adalah sebagai sedekah, hanya saja keluarga Muhammad memakan dari harta ini”, dan sungguhnyademi Allah, aku tidak akan merubah sesuatu yang menjadi sedekah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sudah ada sejak awal pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku akan melaksanakannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” kemudian Abu Bakar menolak untuk memberikan sedikitpun darinya kepada Fatimah, sehingga timbul pada diri Fatimah perasaan tidak enak kepada Abu Bakar dalam hal ini, maka Abu Bakar berkata; “demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku cintai dari pada menyambung keluarga dekatku, adapun apa yang terjadi diantara aku dengan kalian tentang harta ini maka aku tidak akan berpaling dari Al Haq dalam hal ini, dan aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat dilakukan oleh Rasulullah melainkan aku akan mengerjakannya.”

 

Musnad Ahmad 53: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah Telah menceritakan kepada kami Utsman Bin Abu Zur’ah dari Ali Bin Rabi’ah dari Asma’ Bin Al Hakam Al Fazari dia berkata; aku mendengar Ali berkata; jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah memberiku manfaat dari padanya menurut yang dikehendak-Nya. Dan jika ada orang lain yang menceritakannya kepadaku, maka aku memintanya untuk bersumpah, apabila dia telah bersumpah kepadaku maka aku membenarkannya. sesungguhnya Abu Bakar Telah menceritakan kepadaku dan benarlah Abu Bakar bahwa dia telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “tidaklah seorang lelaki berbuat dosa kemudian dia berwudlu dan membaguskan wudlunya, kemudian dia melaksanakan shalat dua rakaat dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan mengampuni dosanya.” Kemudian beliau membaca “dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri mereka sendiri.”

 

Musnad Ahmad 54: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Sa’d Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari ‘Ubaid Bin As Sabbaq dari Zaid Bin Tsabit dia berkata; Abu Bakar mengutusku ketempat peperangan penduduk Yamamah, kemudian Abu Bakar berkata; “wahai Zaid Bin Tsabit, kamu adalah pemuda yang cerdas yang tidak kami sangsikan, karena kamu menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka telusurilah Al Qur’an dan kumpulkan.”

 

Musnad Ahmad 55: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Aisyah, bahwa Fatimah dan Al Abbas datang kepada Abu Bakar meminta bagian harta warisnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada waktu itu keduanya meminta bagian tanah Rasulullah dari perang Fadaq dan bagian beliau dari perang Khaibar, maka Abu Bakar berkata kepada keduanya; sesunguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah, hanya saja keluarga Muhammad makan dari harta ini.” dan demi Allah, aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan pasti aku akan melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 56: Telah menceritakan kepada kami Musa Bin Daud Telah menceritakan kepada kami Nafi’ yaitu Ibnu Umar dari Ibnu Abi Mulaikah dia berkata; dikatakan kepada Abu Bakar; “wahai Khalifatullah” maka Abu Bakar berkata; “saya adalah khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saya ridla dengan sebutan ini, dan saya ridla dengan sebutan ini, dan saya ridla dengan sebutan ini.”

 

Musnad Ahmad 57: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dari Muhammad Bin ‘Amru dari Abu Salamah bahwa Fatimah berkata kepada Abu Bakar; “Siapa orang yang akan mewarisimu jika kamu meninggal?” Abu Bakar menjawab; “Anakku dan keluargaku” Fatimah bertanya lagi; “Kenapa kami tidak mewarisi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Abu Bakar menjawab; “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Nabi tidak diwarisi, ” akan tetapi aku menanggung orang yang menjadi tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menafkahi orang yang dinafkahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 58: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Zurai’ Telah menceritakan kepada kami Yunus Bin ‘Ubaid dari Humaid Bin Hilal dari Abdullah Bin Mutharrif Bin Asy Syikhkhir, bahwa dia bercerita kepada mereka dari Abu Barzah Al Aslami, dia berkata; ketika kami berada di sisi Abu Bakar Ash Shiddiq dalam kerjanya, dia marah kepada seorang lelaki muslim, kemudian semakin bertambah marahnya, setelah aku melihat keadaanitu aku berkata kepadanya; “wahai khalifah Rasulullah, apakah perlu aku tebas lehernya?” maka ketika aku sebutkan kata bunuh dia mengalihkan pembicaraan itu kepada pembicaraan lain yang semisalnya, namun setelah kami berpisah Abu bakar memanggilku dan bertanya; “wahai Abu Barzah apa yang telah kamu katakan?” Abu Barzah berkata; dan aku lupa apa yang telah aku katakan, maka aku menjawab; “ingatkanlah kepadaku” Abu bakar bertanya lagi; “tidakkah kamu ingat apa yang telah kamu katakan?” aku menjawab; “tidak, demi Allah” maka Abu Bakar berkata; “bukankah kamu melihat aku sedang marah kepada seorang lelaki kemudian kamu mengatakan; ‘apakah perlu aku tebas lehernya wahai khalifah Rasulullah? ‘ tidakkah kamu ingat hal itu atau bukankah kamu yang melakukan demikian?” aku menjawab; “ya benar, demi Allah dan sekarang jika engkau perintahkan kepadaku maka akan aku lakukan, ” maka Abu Bakar berkata; “celaka kamu, sesungguhnya yang demikian itu, demi Allah tidak ada yang berhak seorangpun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 59: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Athiq dari bapaknya dia berkata; Abu Bakar Ash Shiddiq berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siwak adalah pembersih mulut dan diridlai oleh Allah.”

 

Musnad Ahmad 60: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ya’la Bin ‘Atho` dia berkata; aku mendengar ‘Amru Bin ‘Ashim Bin Abdullah berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata, Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku sesuatu yang dapat aku ucapkan setiap aku memasuki waktu pagi dan sore!” beliau menjawab: “Bacalah; Allahumma ‘Aalimil Ghaibi Wasy Syahadah Faathiras Samaawaati Wal ‘Ardli Rabba Kulla Syai`in Wa Maliikuhu, Asyhadu Anlaa Ilaaha Illa Anta A’uudzubika Min Syarri Nafsii Wamin Syarri asy Syaithooni Wa Syirkihi (Ya Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan pemiliknya, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan jiwaku dan dari kejahatan setan serta sekutunya.” dan Rasulullah memerintahkan kepadanya agar mengucapkannya setiap pagi, sore dan apabila hendak tidur.”

 

Musnad Ahmad 61: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Yazid Telah menceritakan kepada kami Nafi’ Bin Umar Al Jumahi dari Abdullah Bin Abu Mulaikah dia berkata; Abu Bakar di panggil denagan sebutan; “Wahai khalifatullah” maka dia menjawab; “Akan tapi khalifah muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya rela dengan panggilan ini.”

 

Musnad Ahmad 62: Telah menceritakan kepada kami Musa Bin Daud Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Al Mu`ammal dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata; suatu ketika tali kekang kuda terjatuh dari tangan Abu Bakar Ash Shiddiq, kemudian dia memukul lengan depan untanya agar untanya menderum kemudian mengambilnya, maka para sahabat berkata; “Tidakkah kamu perintahkan kepada kami untuk mengambilkannya?” Abu Bakar berkata; “Sesungguhnya kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadaku agar tidak meminta minta apapun kepada manusia.”

 

Musnad Ahmad 63: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Amru Bin Murrah dari Abu ‘Ubaidah dari Abu Bakar, dia berkata; setelah satu tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar berdiri kemudian berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dihadapan kami pada tahun pertama lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya anak cucu Adam tidak diberi sesuatu yang lebih utama dari keselamatan, maka mohonlah keselamatan kepada Allah, berlaku jujur dan baiklah kalian karena keduanya berada di Syurga, dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta dan kejahatan karena keduanya berada di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 64: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Yazid dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan Bin Husain dari Az Zuhri dari Ubaidullah Bin Abdullah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), apabila mereka mengucapkannya, maka darah dan harta mereka akan dilindungi, kecuali atas dasar haq dan perhitungannya kepada Allah Ta’la.” Abu Hurairah berkata; maka ketika terjadi kemurtadan, Umar berkata kepada Abu Bakar; “Apakah kamu memerangi mereka padahal kamu telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda begini dan begini?” Maka Abu Bakar menjawab; “Demi Allah aku tidak akan membedakan antara perintah shalat dan zakat, dan saya akan perangi siapa saja yang membedakan keduanya.” Abu Hurairah berkata; “Maka kami ikut berperang bersamanya dan kami melihat yang demikian itulah yang benar.”

 

Musnad Ahmad 65: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Numair dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma’il dari Abu Bakar Bin Abu Zuhair dia berkata; aku telah mendapat berita bahwa Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana akan ada kebaikan setelah ayat ini: “Bukanlah angan-anganmu dan bukan pula angan-angan ahli kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu” (QS An Nisa’ayat 23), apakah setiap kejahatan yang kita lakukan akan dibalas?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar, bukankah kamu mengalami sakit, letih, sedih, ditimpa cobaan?” Abu Bakar menjawab; “Ya” kemudian beliau bersabda: “Maka itu semua adalah balasan bagi kalian.”

 

Musnad Ahmad 66: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Khalid dari Abu Bakar Bin Abu Zuhair aku mengira sepertinya Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah bagaimana akan ada kebaikan setelah ayat ini.” Beliau menjawab: “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Bakar, bukankah kamu mengalami sakit, sedih, ditimpa ujian?” Abu Bakar menjawab; “Ya” kemudian Nabi bersabda: “Maka sesungguhnya itu semua adalah balasannya.” Telah bercerita kepada kami Ya’la Bin ‘Ubaid Telah menceritakan kepada kami Ismail dari Abu Bakar Ats Tsaqafi dia berkata; Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah bagaimana akan ada kebaikan setelah ayat ini: “Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu.” (QS An Nisa’ayat 123) kemudian menyebutkan hadits.

 

Musnad Ahmad 67: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Khalid dari Abu Bakar Bin Abu Zuhair Ats Tsaqafi dia berkata; ketika turun ayat” “Bukanlah angan-anganmu dan bukan pula angan angan ahli kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu) ” (QS An Nisa’ayat 123), dia berkata, Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, akankah kita dibalas atas setiap kejahatan yang kita lakukan?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Bakar, bukankah kamu mengalami sakit, sedih, ditimpa ujian? Maka itulah balasan kalian.”

 

Musnad Ahmad 68: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dia berkata; aku mengambil surat ini dari Tsumamah Bin Abdullah Bin Anas dari Anas Bin Malik, bahwa Abu Bakar menulis surat kepada mereka; “Sesungguhnya ini adalah pembagian zakat yang telah Rasulullah tetapkan kepada kaum muslimin dan yang telah Allah perintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka barangsiapa diantara kaum muslimin yang diminta sesuai dengan ketentuannya, hendaklah dia memberikannya, dan barangsiapa diminta melebihi dari ketentuannya maka janganlah memberikannya; untuk unta yang kurang dari dua puluh lima ekor, dari tiap lima sampai sepuluh unta zakatnya satu kambing, dan jika mencapai dua puluh lima ekor maka zakatnya satu ekor anak unta betina yang umurnya masuk dua tahun, sampai tiga puluh lima ekor, jika tidak ada anak betina unta yang berumur dua tahun maka anak unta laki-laki yang masuk umur tiga tahun, dan jika mencapai jumlah tiga puluh enam maka zakatnya satu ekor anak unta laki-laki yang berumur tiga tahun sampai berjumlah empat puluh lima, dan jika mencapai jumlah empat puluh enam maka zakatnya satu ekor anak unta betina yang masuk umur empat tahun yang sudah seperti unta jantan sampai berjumlah enam puluh ekor, dan jika mencapai jumlah enam puluh satu maka zakatnya satu ekor anak unta betina yang masuk umur lima tahun sampai berjumlah tujuh puluh lima, dan jika mencapai jumlah tujuh puluh enam maka zakatnya dua ekor anak unta betina yang masuk umur tiga tahun sampai berjumlah sembilan puluh, dan jika mencapai jumlah sembilan puluh satu maka zakatnya dua ekor anak unta yang masuk umur empat tahun seperti dua ekor unta jantan sampai berjumlah seratus dua puluh, dan jika lebih dari seratus dua puluh maka setiap empat puluh ekor zakatnya satu ekor anak unta masuk umur tiga tahun, dan setiap lima puluh ekor zakatnya satu ekor anak unta betina masuk umur empat tahun, dan apabila umur unta berbeda beda dalam kewajiban berzakat maka barangsiapa sudah mencapai wajib zakat anak unta betina yang berumur lima tahun sementara tidak mempunyai anak unta betina yang berumur lima tahun, tetapi mempunyai anak unta betina yang berumur empat tahun, maka itu sudah cukup untuk diterima, akan tetapi ditambah dengan dua ekor kambing jika mudah mendapatkannya atau dua puluh dirham, dan barangsiapa sudah sampai wajib zakat satu ekor anak unta betina yang berumur empat tahun dan dia tidak memiliki kecuali yang berumur lima tahun, maka itu sudah cukup untuk diterima dan diberikan kepada orang yang berzakat dua puluh dirham atau dua ekor kambing. dan barangsiapa sudah mencapai wajib zakat seekor anak unta betina berumur empat tahun sementara dia tidak memilikinya akan tetapi memiliki satu ekor anak unta betina yang berumur tiga tahun, maka itu sudah cukup untuk diterima darinya dan ditambah dengan dua ekor kambing jika mudah mendapatkannya atau dua puluh dirham, dan barangsiapa sudah mencapai wajib zakat satu ekor anak unta betina berumur tiga tahun, akan tetapi tidak memiliki kecuali seekor anak unta betina yang berumur empat tahun, maka itu sudah cukup untuk diterima dan diberikan kepada orang yang berzakat dua puluh dirham atau dua ekor kambing, dan barangsiapa sudah mencapai wajib berzakat satu ekor anak unta betina berumur tiga tahun, akan tetapi tidak memiliki dan memiliki yang berumur dua tahun maka itu sudah cukup untuk diterima darinya dan ditambah dengan dua kambing jika mudah mendapatkannya atau dua puluh dirham, dan barangsiapa sudah mencapai wajib zakat seekor anak unta betina berumur dua tahun, akan tetapi tidak memiliki kecuali seekor anak unta jantan yang berumur tiga tahun, maka itu sudah cukup untuk diterima darinya dan tidak ditambah sesuatu apapun lagi, dan barangsiapa tidak memiliki kecuali empat ekor unta, maka tidak ada zakat baginya kecuali jika pemiliknya menghendaki. Dan dalam zakat kambing yang digembalakan jika jumlahnya mencapai empat puluh ekor, maka zakatnya satu ekor kambing sampai jumlah seratus dua puluh, dan jika lebih dari itu maka zakatnya dua ekor kambing sampai jumlah dua ratus, dan jika lebih satu maka zakatnya tiga ekor kambing sampai jumlah tiga ratus, dan jika lebih maka pada setiap seratus zakatnya satu ekor kambing, dan tidak diambil dalam zakat dari kambing yang belum cukup umur, lemah, ada cacat dan kambing kacang, kecuali jika orang yang berzakat menghendaki, dan tidak boleh dikumpulkan harta yang terpisah (untuk diambil zakatnya) dan juga tidak boleh dipisahkan harta yang berkumpul karena takut dari zakat, dan harta yang bercampur dari dua bagian maka keduanya dikembalikan ke masing masing secara merata, dan jika kambing gembalaan seseorang kurang satu kambing dari empat puluh maka tidak ada zakatnya kecuali jika pemiliknya menghendaki. Dan pada budak zakatnya empat persepuluh dan jika hartanya tidak mencapai kecuali seratus sembilan puluh dirham maka tidak ada zakat kecuali jika pemiliknya menghendaki.”

 

Musnad Ahmad 69: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dia berkata; orang-orang Makkah berkata; ” Ibnu Juraij mengambil tata cara shalat dari ‘Atho’, Atho’ mengambilnya dari Ibnu Az Zubair, Ibnu Zubair dari Abu Bakar dan Abu Bakar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Aku tidak melihat orang yang lebih baik shalatnya dari Ibnu Juraij.”

 

Musnad Ahmad 70: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dari Umar dia berkata; Hafshoh Binti Umar menjanda ditinggal oleh Hunais atau Hudzaifah Bin Hudzafah -Abdurrazzaq ragu- dan dia adalah salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyaksikan peristiwa perang Badar dan meninggal di Madinah, ‘Umar berkata; maka aku temui Utsman Bin Affan dan aku tawarkan Hafshah kepadanya, aku berkata; “Jika kamu mau maka aku akan menikahkan kamu dengan Hafshah, ” Utsman menjawab; “aku akan pikirkan dahulu hal itu”. Berlalu beberapa malam kemudian Utsman menemuiku dan berkata; “aku belum mempunyai keinginan menikah di hari hariku ini.” Umar berkata; kemudian aku temui Abu Bakar dan aku katakan kepadanya; “Jika kamu mau aku akan nikahkan kamu dengan Hafshah Binti Umar.” Namun dia tidak memberikan kepadaku jawaban apapun, maka dalam hatiku ada perasaan yang melebihi perasaan ketika dengan Utsman, dan berlalu beberapa hari sampai akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadaku dan meminang Hafshah, kemudian aku nikahkan Hafshah dengan beliau, Abu Bakar datang menemuiku dan berkata; “Mungkin dalam hatimu ada suatu perasaan kepadaku ketika kamu menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak memberikan jawaban apapun kepadamu?” Umar berkata, aku menjawab; “Ya” Abu Bakar berkata; “Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk kembali kepadamu dengan satu jawaban ketika kamu menawarkan Hafshah kepadaku, akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutnya, dan aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seandainya beliau meninggalkannya pasti aku akan menikahinya.”

 

Musnad Ahmad 71: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Sulaiman dia berkata; aku mendengar Al Mughirah Bin Muslim Abu Salamah dari Farqad As Subakhi dari Murrah Ath Thayyib dari Abu Bakar Ash Shiddiq, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk Syurga orang yang jelek perangainya”, maka seorang lalaki bertanya; “Wahai Rasulullah bukankah Engkau telah memberitakan bahwa Ummat ini adalah ummat yang paling banyak budak dan yatimnya?” Maka Rasulullah menjawab: “Ya, maka muliakanlah mereka seperti kalian memuliakan anak anak kalian, berilah mereka makan dari makanan yang kamu makan.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah yang dapat bermanfaat bagi kami di dunia?” Beliau menjawab: “Kendaraan yang baik yang kalian tambat untuk berperang di jalan Allah dan budak yang mencukupimu, dan apabila dia shalat maka dia adalah saudaramu.”

 

Musnad Ahmad 72: Telah menceritakan kepada kami Utsman Bin Umar dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu As Sabbaq dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Zaid Bin Tsabit, bahwa Abu Bakar mengutus kepadanya ke tempat perang penduduk yamamah sementara Umar berada di sisinya, maka Abu Bakar berkata; “Sesungguhnya Umar telah menemuiku dan dia berkata; ‘sesungguhnya korban perang yamamah banyak berjatuhan, mereka dari para Qori’ kaum muslimin, dan saya khawatir akan bertambah banyak para qori’ yang terbunuh di medan perang lain sehingga akan hilang sejumlah banyak dari Al Qur’an karena tidak di ketahui, dan sesungguhnya aku berpendapat agar kamu memberikan mandat untuk mengumpulkan Al Qur’an.’ maka aku berkata kepada Umar; ‘Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? ‘ Maka Umar menjawab; ‘demi Allah, itu adalah baik.’ Kemudian tidak henti hentinya Umar mendatangiku dan menanyakan tanggapan hal itu, sehingga Allah melapangkan dadaku dan aku sependapat dengan pemikiran Umar.” Dia berkata; sementara Zaid dan Umar duduk di sampingnya tidak mengeluarkan sepatah katapun, maka berkatalah Abu Bakar; “Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak menyangsikan kemampuanmu karena kamu telah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka bukukanlah Al Qur’an” Zaid berkata; “Demi Allah, seandainya mereka membebaniku untuk memindahkan salah satu gunung, hal itu tidak seberat apa yang dia mandatkan kepadaku untuk mengumpulkan Al Qur’an, kemudian aku berkata; “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

 

Musnad Ahmad 73: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Hammad Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Al A’masy dari Isma’il Bin Raja’ dari Umair mantan budak Al Abbas dari Ibnu Abbas dia berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan Abu Bakar di angkat menjadi khalifah, Abbas memperkarakan Ali tentang peninggalan yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Abu Bakar berkata; “Sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tidak menggerakkannya, aku tidak akan menggerakkannya.” Ketika Umar di angkat menjadi khalifah, keduanya mengadukan perkaranya kepada Umar, maka Umar berkata; “Sesuatu yang tidak digerakkan oleh Abu Bakar maka aku tidak akan menggerakkannya.” Dan ketika Utsman diangkat menjadi khalifah keduanya mengadukan perkaranya kepada Utsman, maka Utsman terdiam dan menundukkan kepalanya, Ibnu Abbas berkata; “Aku khawatir dia akan mengambilnya, maka aku tepukkan tanganku di tengah-tengah pundak Abbas dan aku katakan; ‘Wahai bapakku aku bersumpah kepadamu, hendaknya kamu menyerahkannya kepada Ali.” Ibnu Abbas berkata; “Maka dia menyerahkannya kepada Ali.”

 

Musnad Ahmad 74: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Hammad dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Ashim Bin Kulaib dia berkata; Telah menceritakan kepadaku seorang syaikh Quraisy dari Bani Taim dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Fulan dan Fulan dan dia berkata; maka dia menyebutkan enam atau tujuh orang semuanya dari Quraisy termasuk di antara mereka adalah Abdullah Bin Az Zubair, dia berkata; ketika kami sedang duduk duduk di sisi Umar, tiba tiba Ali dan Abbas datang dengan nada meninggi, maka Umar berkata; “Diam wahai Abbas! Aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan, kamu mengatakan anak saudaraku dan aku mendapat separoh harta. Dan aku juga sudah tahu apa yang akan kamu katakan wahai Ali, kamu akan mengatakan anak perempuannya berada di bawah asuhanku, maka baginya separoh harta, dan ini yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami telah melihat bagaimana beliau memutuskan dalam hal ini, kemudian Abu Bakar melanjutkan setelah Rasulullah dan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah, kemudian aku lanjutkan sepeninggal Abu Bakar, maka aku bersumpah dengan nama Allah untuk bersungguh sungguh memutuskan hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar.” Kemudian dia berkata; “Dan Abu Bakar Telah menceritakan kepadaku dan bersumpah bahwa dia jujur telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya nabi itu tidak diwarisi hanya saja harta warisnya dibagikan kepada orang-orang fakir dan miskin dari kaum muslimin.” dan Abu Bakar Telah menceritakan kepadaku dan bersumpah dengan nama Allah bahwa dia jujur, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang Nabi tidak akan meninggal sampai sebagian umatnya menjadikannya imam.” Dan (harta) ini pernah ada di kedua tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami telah melihatnya bagaimana beliau melakukannya dalam hal ini, jika kalian kehendaki aku akan berikan kepada kalian berdua supaya kalian memperlakukannya sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar, sehingga aku berikan kepada kalian berdua.” Abdullah bin Zubair berkata; maka keduanya beranjak pergi, kemudian keduanya datang kembali, Abbas berkata; “Berikanlah kepada Ali karena sesungguhnya jiwa menjadi tentram untuk diberikan kepada Ali.”

 

Musnad Ahmad 75: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Bin ‘Atho` dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad Bin ‘Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Fatimah datang kepada Abu Bakar dan Umar, meminta bagian harta warisnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Abu Bakar dan Umar berkata; “Sesungguhnya kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak diwarisi.”

 

Musnad Ahmad 76: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Isa yaitu Ibnu Al Musayyab dari Qais Bin Abu Hazim dia berkata; ketika aku duduk di samping Abu Bakar Ash Shiddiq khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebulan setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar kemudian menceritakan suatu kisah; tiba-tiba dikumandangkan kepada orang-orang; “Sesungguhnya shalat itu berjama’ah.” Dan itu merupakan shalat yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin dengan cara dikumandangkan; “Sesungguhnya shalat itu berjama’ah.” Maka berkumpullah orang-orang, kemudian Abu Bakar naik ke atas mimbar, tempat yang dibuatkan baginya untuk berkhutbah diatasnya, dan itu merupakan khutbah pertama kali yang dia alami didalam Islam.” Qais berkata; maka Abu Bakar memuji dan mengagungkan Allah seraya berkata; “Wahai manusia, aku sangat senang apabila orang selainku menggantikan aku dalam masalah ini, dan jika kalian menuntutku dengan sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku tidak akan menyanggupinya, karena beliau adalah terjaga dari setan dan wahyu turun dari langit kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 77: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim Telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Laits dari Mujahid dia berkata, Abu Bakar Ash Shiddiq berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadaku agar membaca setiap pagi, sore dan hendak tidur di malam hari: “Allahumma Faathiras Samaawaati Wal Ardli ‘Aalimal Ghaibi Wasy Syahaadah Anta Rabba Kulli Syai’in Wa Maalikuhu, Asyhadu Anlaa Ilaaha Illa Anta Wahdaka Laa Syariikalaka Wa Anna Muhammadan ‘Abduka Wa Rasuuluka A’uudzubika Min Syarri Nafsii Wa Syarrisy Syaithaani Wa Syirkihi Wa An Aqtarifa ‘Ala Nafsii Suu’an Aw Ajurruhu Ilaa Muslimin Aakhar (Ya Allah pencipta langit dan bumi, yang maha tahu terhadap yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya, Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau satu satunya tidak ada sekutu bagiMu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan jiwaku dan setan beserta sekutunya, dan dari berbuat kejahatan terhadap jiwaku atau mengalihkannya kepada orang muslim yang lain.”

 

Musnad Ahmad 78: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Bin Mahdi dari Sufyan dari Abu Ishaq dari Haritsah dia berkata; sekelompok orang dari syam datang kepada Umar, kemudian mereka berkata; “Sesungguhnya kami mempunyai harta, kuda dan budak, dan kami ingin mengeluarkan zakat dan pensucinya.” Umar menjawab; “Sebagaimana yang dilakukan oleh kedua sahabatku sebelumku maka aku akan melakukan seperti yang dilakukan mereka berdua.” Kemudian dia bermusyawarah dengan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan diantara mereka ada Ali, maka Ali berkata; “Itu adalah baik jika itu bukan pajak rutin yang diambil dari mereka setelah kamu.”

 

Musnad Ahmad 79: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Abu Wa`il bahwa Shubay Bin Ma’bad dahulu adalah seorang Nasrani dari kabilah Taghlib arab, kemudian masuk Islam, lalu dia bertanya; “Amalan apa yang paling utama?” Maka dikatakan padanya; “Jihad di jalan Allah” kemudian dia ingin berjihad namun dia ditanya; “Apakah kamu sudah haji?” Dia menjawab; “Belum” maka dikatakan padanya; “Laksanakan haji dan berumrah kemudian berjihad.” Maka dia berjalan hingga sampai di suatu tempat yang kering, kemudian dia hendak berniat untuk haji dan umrah, dan ketika itu dilihat oleh Zaid Bin Shuhan dan salman Bin Rabi’ah, keduanya berkata; “Dia lebih sesat ketimbang untanya, ” atau; “Dia tidak lebih mendapat petunjuk ketimbang untanya.” Maka dia datang menemui Umar dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Zaid dan Salman, maka Umar berkata; “Kamu telah sesuai dengan Sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam.” Al Hakam berkata; maka aku bertanya kepada Abu Wa`il; “Apakah Shubay menceritakan kepadamu?” Dia menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 80: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dia berkata; aku mendengar ‘Amru Bin Maimun berkata; Umar shalat shubuh bersama kami di Muzdalifah kemudian berdiri dan berkata; “Sesungguhnya orang-orang musyrik tidak meninggalkan Muzdalifah sampai matahari terbit dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyelisihi mereka, sehingga beliau meninggalkan Muzdalifah sebelum matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 81: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid Bin Ziyad dia berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Bin Kulaib dia berkata; bapakku telah berkata; telah menceritakan kepada kami dengan hadits itu Ibnu Abbas dia berkata; “Sesuatu yang akan sangat mengherankan kalian adalalah, bahwa Umar apabila mengundang tetua-tetua dari kalangan sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dia juga mengundangku bersama mereka, dan berkata; “Kamu jangan berkata sehingga mereka telah mereka berkata.” Maka pada suatu hari atau malam dia mengundang kami dan berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang lailatul Qadar sebagaimana kalian telah mengetahuinya, maka intailah dia pada malam malam sepuluh hari terakhir yang ganjil dan di waktu waktu yang kamu anggap ganjil.”

 

Musnad Ahmad 82: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; aku mendengar ‘Ashim Bin ‘Amru Al Bajali bercerita dari seorang lelaki di antara sekelompok kaum yang bertanya kepada Umar Bin Al Khaththab; “Kami datang kepadamu hanya untuk menanyakan kepadamu tentang tiga hal; tentang shalat sunnahnya seorang lelaki di rumah, tentang mandi dari junub dan tentang apa yang diperbolehkan bagi laki-laki dari istrinya yang sedang haid.” Maka Umar menjawab; “Apakah kalian tukang sihir, kalian telah menanyakan kepadaku sesuatu yang tidak pernah ditanyakan oleh seorangpun sejak aku menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Daka dia berkata; “Shalat sunnahnya seorang lelaki di rumahnya adalah cahaya, maka barang siapa yang berkehendak terangilah rumahnya.” Dan dia menerangkan tentang mandi dari junub; “Hendaknya mencuci kemaluannya kemudian berwudlu kemudian menyiram ke kepalanya sebanyak tiga kali” dan dia menerangkan tentang istri yang sedang haid; “Baginya adalah apa yang ada di atas kain (selain farji).”

 

Musnad Ahmad 83: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu An Nadlar dari Abu Salamah dari Ibnu Umar bahwa dia berkata; aku melihat Sa’d Bin Abi Waqqas mengusap kedua khuf-nya di irak ketika berwudlu, kemudian aku mengingkarinya, maka ketika kami berkumpul di sisi Umar Bin Al Khaththab dia berkata; “Tanyakan kepada bapakmu tentang apa yang kamu ingkari dariku tentang mengusap khuf.” Maka aku ceritakan kepadanya tentang hal itu, dan dia menjawab; “Jika Sa’d menceritakan sesuatu kepadamu maka jangan kamu bantah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kedua khuf-nya.”

 

Musnad Ahmad 84: Telah menceritakan kepada kami Harun Bin Ma’ruf dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari ‘Amru Bin Al Harits dari Abu An Nadlar dari Abu Salamah Bin Abdurrahman dari Abdullah Bin Umar dari Sa’d Bin Abi Waqqas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengusap kedua khuf, dan Abdullah Bin Umar bertanya kepada Umar tentang hal itu kemudian dia menjawab; “Ya, jika Sa’d menceritakan sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadamu maka jangan bertanya hal itu kepada selainnya.”

 

Musnad Ahmad 85: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammam Bin Yahya dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Salim Bin Abul Ja’d Al Ghatafani dari Ma’dan Bin Abu Thalhah Al Ya’mari bahwa Umar Bin Al Khaththab berdiri di atas mimbar pada hari Jum’at, kemudian memuji dan mengagungkan Allah lalu menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu bakar, kemudian berkata; “Aku bermimpi dan aku menganggapnya itu adalah pertanda akan tibanya ajalku, aku bermimpi seakan akan seekor ayam jantan mematukku dua kali.” Ma’dan berkata; dia (Umar) menyebutkan bahwa ayamnya berwarna merah, kemudian aku ceritakan kepada Asma’ Binti Umais istri Abu Bakar, maka dia berkata; “Seorang lelaki asing/selain arab akan membunuhmu.” Umar berkata; “Sesungguhnya orang-orang menyuruhku untuk mengangkat seorang pengganti, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan agama dan kekhilafahanNya, yang telah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengusungnya, dan jika ajal menjemputku maka urusan ini diserahkan didalam Syuraa (musyawarah) diantara enam orang yang ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal beliau ridla kepada mereka, maka siapa saja diantara mereka yang kalian bai’at hendaklah kalian dengar dan taati, dan sesungguhnya aku mengetahui akan ada orang-orang yang akan mengacaukan urusan ini, dan aku adalah yang akan memerangi mereka dengan tanganku atas dasar Islam, mereka itulah musuh musuh Allah, orang-orang kafir lagi sesat, demi Allah, aku tidak akan meninggalkan dari apa-apa yang telah Rabbku janjikan kepadaku kemudian menggantikanku dengan sesuatu yang lebih penting bagiku ketimbang Al Kalalah (seseorang yang meninggal dan tidak meninggalkan bapak serta anak), dan demi Allah, tidak pernah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan sesuatu kepadaku tentang sesuatu sejak aku menemani beliau melebihi ketegasannya kepadaku dalam masalah kalalah sampai beliau menusukkan jarinya ke dadaku dan berkata: “Cukup bagimu ayat tentang shaif yang ada di akhir surat An Nisa’, sesungguhnya jika aku hidup maka aku akan putuskan masalah itu dengan keputusan yang dapat diketahui oleh orang yang membaca dan orang yang tidak membaca, dan aku bersaksi kepada Allah atas pemimpin pemimpin negri, bahwasannya aku mengutus mereka supaya mereka mengajarkan kepada manusia perihal urusan agama mereka dan agar supaya mereka menjelaskan tentang sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan kepadaku apa yang tidak mereka tidak ketahui, kemudian sesungguhnya kalian wahai manusia, kalian memakan dua pohon yang tidak aku anggap kecuali keduanya adalah menjijikan, yaitu bawang putih dan bawang merah ini, demi Allah aku telah melihat Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mencium bau keduanya dari seorang lelaki, beliau menyuruhnya sambil memegang tangannya untuk keluar dari masjid sehingga diletakkan di Baqi’, maka barangsiapa memakan keduanya hendaklah memasaknya hingga tidak ada baunya.” Ma’dan berkata; “Umar berkhutbah di hadapan manusia pada hari jum’at dan terbunuh pada hari Rabu.”

 

Musnad Ahmad 86: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Nafi’ mantan budak Abdullah Bin Umar Dari Abdullah Bin Umar, dia berkata; aku berangkat bersama Zubair dan Miqdad Bin Aswad melihat harta-harta kami di khaibar untuk mengeceknya, ketika kami sampai di sana, kami berpencar ke tanah milik kami masing masing, ditengah malam ketika sedang tertidur diatas kasurku aku diserang, pergelangan tanganku di bengkokkan dari sikunya, ketika menjelang pagi hari kedua sahabatku berteriak memanggilku, mereka mendatangiku dan bertanya; “Siapa yang telah berbuat demikian kepadamu.” Aku menjawab; “Tidak tahu.” Dia melanjutkan; maka Zubair dan Miqdad memperbaiki (kembali posisi) tanganku kemudian membawaku ke hadapan Umar, dan Umar berkata; “Ini perbuatan orang yahudi.” Kemudian dia berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia; “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperkerjakan orang-orang yahudi khaibar, dengan perjanjian kita mengusir mereka jika kita menghendaki, dan mereka telah berbuat aniaya kepada Abdullah Bin Umar dengan membelokkan pergelangan tangannya sebagaimana yang telah sampai kepada kalian ditambah dengan permusuhan kepada terhadap orang-orang Anshar sebelumnya, kita tidak ragu lagi bahwa mereka adalah teman teman mereka (yahudi), karena di sana kita tidak mempunyai musuh selain mereka, maka barangsiapa mempunyai harta di khaibar hendaklah diambillah karena aku akan mengeluarkan yahudi.” Kemudian Umar mengusir mereka.

 

Musnad Ahmad 87: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa dan Husain Bin Muhammad keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa ketika Umar Bin Al Khaththab sedang berkhutbah pada hari Jum’at, tiba tiba datang seorang lelaki, maka Umar bertanya; “Kenapa kalian menunda-nunda dari shalat?” maka laki-laki tersebut menjawab; “Tidak lain kecuali ketika aku mendangar adzan maka aku langsung berwudlu.” Umar bertanya lagi; “Bukankah kalian telah mengengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Jika kalian berangkat untuk shalat Jum’at maka mandilah.”

 

Musnad Ahmad 88: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Zuhair dia berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Abu Utsman dia berkata; telah datang kepada kami surat dari Umar, dan kami pada saat itu berada di Azerbaijan, yang isinya; “Wahai Utbah Bin Farqad, janganlah kalian bersenang-senang dan mengenakan perhiasan orang-orang musyrik, serta memakai pakaian sutra, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kami memakai sutra, kemudian beliau bersabda: “Kecuali begini “dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua jarinya kepada kami.”

 

Musnad Ahmad 89: Telah menceritakan kepada kami Hasan dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Abu Al Aswad bahwa dia mendengar Muhammad Bin Abdurrahman Bin Labibah bercerita dari Abu Sinan Ad Dauli, bahwa dia datang menemui Umar Bin Al Khaththab, dan di sisinya ada orang-orang muhajirin pendahulu, kemudian Umar mengeluarkan keranjang yang didatangkan dari sebuah benteng di Irak yang di dalamnya ada cincin, kemudian cincin itu diambil oleh salah seorang anaknya dan dimasukkan ke dalam mulutnya, maka Umar mengeluarkan dari mulutnya kemudian Umar menangis, orang-orang yang ada di sampingnya bertanya; “Kenapa kamu menangis, bukankah Allah telah menaklukkan bagimu dan memenangkanmu dari musuh musuhmu serta membuat tentram pandanganmu?” Umar menjawab; “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dunia dibukakan kepada seorang hamba, kecuali Allah akan menjadikan kebencian dan permusuhan diantara mereka pada hari Kiamat.” dan saya takut yang demikian itu.”

 

Musnad Ahmad 90: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq Telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Abdullah Bin Umar dari bapaknya dia berkata; aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang junub kemudian ingin tidur sebelum mandi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Hendaknya dia berwudlu seperti wudlu untuk shalat kemudian tidur.”

 

Musnad Ahmad 91: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq Telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Ubaidullah Bin Abdullah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud dari Abdullah bin Abbas, dia berkata; aku mendengar Umar Bin Khattab berkata; ketika Abdullah Bin Ubai meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipanggil untuk menshalatinya, maka beliau bergegas mendatanginya, tatkala beliau berdiri dihadapannya untuk menshalatinya aku menghalanginya sehingga aku berdiri dihadapan beliau dan berkata; “Wahai Rasulullah, Abdullah Bin Ubai adalah dedengkot musuh Allah yang mengatakan pada hari ini dan ini, ” dia menyebutkan nama nama harinya, kemudian Umar melanjutkan; akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya tersenyum sampai ketika aku mengulang-ngulang perkataanku beliau berkata: “Minggirlah dariku wahai Umar, sesungguhnya aku di beri pilihan maka aku memilih, dan sudah di sebutkan: “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja) kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka.'” (QS Al Anfal ayat 80) seandainya aku tahu apabila aku menambah permohonanku sampai tujuh puluh kali dia akan mendapat ampunan niscaya aku akan tambah” Umar berkata; kemudian beliau menshalatinya dan mengantarkan jenazahnya lalu berdiri di atas kuburannya sampai selesai dimakamkan, ” Umar berkata; “Aku heran dengan diriku atas lancangnya diriku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” Umar berkata lagi; “Maka demi Allah tidak lama kemudian turunlah dua ayat ini (QS At Taubah ayat 80, 84).”Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah itu tidak pernah lagi menshalati orang munafiq dan tidak juga berdiri di atas quburannya.

 

Musnad Ahmad 92: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Nafi’ mantan budak Abdullah dari Abdullah, Nafi’ berkata; Abdullah Bin Umar berkata; Jika seorang lelaki tidak memiliki pakaian kecuali satu maka hendaklah menggunakan pakaian tersebut seperti mengenakan sarung kemudian laksanakan shalat, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata demikian, dan dia berkata; “Janganlah kalian berselimut dengan pakaian jika hanya ada satu pakaian saja, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yahudi.” Nafi’ berkata; “Seandainya aku katakan kepada kalian bahwa Abdullah Bin Umar telah menyandarkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku berharap bahwa aku tidak dusta.”

 

Musnad Ahmad 93: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal Telah menceritakan kepada kami Hammad dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ziyad Bin Mikhraq dari Syahr dari Uqbah Bin ‘Amir dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Umar, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka akan dikatakan padanya; ‘masuklah ke dalam syurga dari salah satu delapan pintu mana saja yang kamu sukai. ‘”

 

Musnad Ahmad 94: Telah menceritakan kepada kami Aswad Bin ‘Amir dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ja’far yaitu Al Ahmar dari Mutharrif dari Al Hakam dari Mujahid dia berkata; seorang lelaki menebas anaknya dengan pedang sehingga membunuhnya, kemudian perihal tersebut diangkat kepada Umar, maka Umar berkata; seandainya aku tidak mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Seorang bapak tidak diqishash karena membunuh anaknya “Niscaya aku akan membunuhmu sebelum kamu bermalam.”

 

Musnad Ahmad 95: Telah menceritakan kepada kami Aswad Bin ‘Amir dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Sulaiman Al A’masy Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari ‘Abis Bin Rabi’ah dia; aku melihat Umar memandang ke arah hajar Aswad seraya berkata; “Demi Allah seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu pasti aku tidak akan menciummu “kemudian dia menciumnya.

 

Musnad Ahmad 96: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepada kami As Sa`ib Bin Yazid anak saudara perempuan Namir, bahwa Huwaithib Bin Abdul ‘Uzza telah mengabarkan kepadanya, bahwa Abdullah Bin Sa’di telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia datang kepada Umar Bin Al Khaththab pada saat kekhilafahannya, maka Umar berkata kepadanya; “Belum diceritakan kepadaku (tentang satu perihal), bahwa kamu bertugas mengurusi pekerjaan orang-orang, kemudian apabila kamu diberi upah kamu tidak menyukainya?” Abdullah Bin Sa’di berkata; maka aku menjawab; “Betul” Umar berkata; “Apa yang kamu kehendaki dari itu?” Dia menjawab; maka aku menjawab; “Sesungguhnya aku punya beberapa kuda dan budak, dan saya dalam keadaan berkecukupan, aku ingin upahku disedekahkan kepada kaum muslimin.” Umar berkata; “Jangan kamu lakukan demikian, karena sesungguhnya akupun menghendaki seperti yang kamu kehendaki, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku pemberian dan aku katakan; ‘Berikanlah itu kepada orang yang lebih fakir dari saya, ‘ sampai pada suatu ketika beliau memberiku harta dan aku katakan; ‘Berikanlah kepada orang yang lebih fakir dariku’ maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegurku dan berkata: “Ambillah dan kembangkanlah (investasikan) harta itu kemudian berinfaqlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari harta ini sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka ambillah, dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu mengklaimnya menjadi milikmu.”

 

Musnad Ahmad 97: Telah menceritakan kepada kami Sakan Bin Nafi’ Al Bahili dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Shalih dari Az Zuhri dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Rabi’ah Bin Darraj bahwa Ali Bin Abu Thalib melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah Ashar dalam perjalanan menuju Makkah, kemudian hal tersebut terlihat oleh Umar dan dia marah kepadanya, kemudian berkata; “Demi Allah, bukankah kamu telah mengetahuinya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang darinya.”

 

Musnad Ahmad 98: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Yazid Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ishaq dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala` Bin Abdurrahman Bin Ya’qub dari seorang lelaki Quraisy dari Bani Sahm dari seorang lelaki di antara mereka yang disebut Majidah dia berkata; aku bertengkar dengan seorang budak lelaki di Makkah, kemudian dia menggigit dan memutuskan telingaku -atau- aku menggigit dan memutuskan telinga, maka ketika Abu Bakar datang kepada kami untuk melaksanakan haji, kami mengajukan perkara itu kepadanya, maka dia menjawab; “Bawalah keduanya kepada Umar Bin Al Khaththab, jika orang yang melukai mencapai untuk dilaksanakan qishash, maka hendaklah dia mengqishashnya.” Dia berkata; maka ketika kami sudah tiba dihadapan Umar Bin Al Khaththab, dia memandang kami dan berkata; “Ya, sudah sampai batas untuk dilakukan qishash, panggilkanlah untukku tukang bekam.” Maka ketika dia menyebut tukang bekam dia berkata; “Adapun aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah memberikan seorang hamba sahaya kepada bibiku dari pihak ibu dengan harapan semoga Allah memberkahinya dengannya, dan aku telah melarangnya agar jangan sampai menjadikannya sebagai tukang bekam, tukang jagal hewan atau tukang emas.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq dia berkata; dan telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala` Bin Abdurrahman dari seorang lelaki dari Bani Sahm dari Ibnu Majidah As Sahmi bahwa dia berkata; “Abu Bakar berangkat haji kepada kami pada masa kekhilafahannya, ” kemudian dia menyebutkan hadits.

 

Musnad Ahmad 99: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidah Bin Humaid dari Daud Bin Abu Hind dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id dia berkata; Umar berkhutbah di hadapan manusia dan berkata; “Sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan kepada Nabi-Nya terhadap apa yang dikehendakinya, dan sesungguhnya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlalu kepada jalannya, maka sempurnakanlah haji dan Umrah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan jagalah kemaluan kaum wanita ini.”

 

Musnad Ahmad 100: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidah Bin Humaid Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah Bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; Apakah boleh seseorang tidur apabila dia junub? beliau menjawab: “Ya kalau telah berwudlu.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: