Musnad Ahmad: 101-200

Musnad Ahmad 101: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Bin Yahya dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnul Mubarak dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Rabi’ah Bin Darraj bahwa Ali shalat dua rakaat setelah Ashar sehingga membuat marah Umar dan berkata; “Tidakkah kamu tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami mengerjakannya.”

Musnad Ahmad 102: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah Telah menceritakan kepada kami Shafwan Telah menceritakan kepada kami Syuraih Bin ‘Ubaid dia berkata; Umar Bin Al Khaththab berkata; aku keluar menghadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum aku masuk Islam, tapi aku dapati beliau telah mendahuluiku di masjid dan aku berdiri di belakangnya, kemudian beliau membuka shalatnya dengan membaca surat Al Haaqqah sehingga aku terkagum-kagum dengan susunan Al Qur’an, ” Umar melanjutkan; maka aku berkata; “Demi Allah, orang ini adalah seorang penya’ir sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy, ” Umar melanjutkan; kemudian beliau mambaca ayat: “Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya” (QS Al Haaqah ayat 40-41), Umar berkata; maka aku berkata; “penyair” kemudian beliau membaca: “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu, ” sampai akhir surat, maka Umar berkata; “Maka Islam benar-benar membenam didalam hatiku.”

Musnad Ahmad 103: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah dan ‘Isham Bin Khalid keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Shafwan dari Syuraih Bin ‘Ubaid dan Rasyid Bin Sa’d dan yang lainnya, mereka berkata; ketika Umar sampai di Saragh, dia mendapat berita bahwa di Syam telah terjadi wabah yang parah, maka dia berkata; “Telah sampai berita kepadaku bahwa telah terjadi wabah yang parah di Syam, maka aku katakan; ‘Jika ajal menjemputku sedang Abu Ubaidah Bin Jarrah masih hidup, niscaya aku akan mengangkatnya menjadi penggantiku, dan jika aku ditanya oleh Allah; ‘Kenapa kamu mengangkatnya sebagai penggantimu untuk ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? ‘ aku akan menjawab; ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada setiap Nabi itu ada seorang amin (orang yang dipercaya) sedangkan aminku adalah Abu ‘Ubaidah Bin Jarrah.” maka orang-orang mengingkarinya dan mengatakan; “Ada apa dengan petinggi Quraisy?” Yang mereka maksud adalah Bani Fihri, kemudian Umar berkata; “Jika ajal menjemputku sedangkan Abu ‘Ubaidah telah wafat, maka aku akan mengangkat Mu’adz Bin Jabal, dan jika aku ditanya oleh Allah; ‘Kenapa kamu mengangkatnya? ‘ aku akan menjawab; “Aku mendengar Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dia akan dikumpulkan pada hari Kiamat bersama para ulama dalam keadaan sendirian.”

Musnad Ahmad 104: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ayyasy dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Al Auza’i dan yang lainnya, dari Az Zuhri dari Sa’id Bin Al Musayyib dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; “Telah lahir seorang anak dari saudara laki-laki Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian diberi nama Al Walid, maka Nabi bersabda: “Kalian memberi nama dia dengan nama-nama fir’aun kalian, sungguh akan ada pada ummat ini seorang lelaki yang diberi nama Al Walid, sungguh dia lebih buruk bagi ummat ini ketimbang fir’aun kepada kaumnya.”

Musnad Ahmad 105: Telah menceritakan kepada kami Bahz Telah menceritakan kepada kami Aban dari Qatadah dari Abul ‘Aliyah dari Ibnu Abbas dia berkata; telah bersaksi di sisiku para sahabat yang diridlai, diantara mereka adalah Umar, dan yang paling aku ridla di sisiku adalah Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidak ada shalat setelah shalat ashar sampai tenggelam matahari, dan tidak ada shalat setelah shalat shubuh sampai terbit matahari.”

Musnad Ahmad 106: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah Telah menceritakan kepada kami Shafwan Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Bin Jubair Bin Nufair dari Al Harits Bin Mu’awiyah Al Kindi bahwa dia mengendarai kendaraan menuju Umar untuk bertanya kepadanya tentang tiga perkara, dia berkata; maka sampailah di Madinah kemudian Umar bertanya kepadanya; “Apa yang membuatmu datang ke sini?” Dia menjawab; “Untuk menanyakan tiga perkara kepadamu, ” Umar bertanya; “Apa tiga perkara itu?” Dia menjawab; “Bisa saja aku dan seorang wanita berada di suatu bangunan yang sempit, kemudian datang waktu shalat, jika aku dan dia shalat bersama maka dia berada sejajar denganku, dan jika dia shalat di belakangku maka dia keluar dari bangunan?” Maka Umar menjawab; “Buatlah pembatas antara kamu dan dia dengan kain, kemudian dia shalat di sampingmu jika kamu menghendaki.” (Dan yang kedua adalah) tentang shalat dua rakaat setelah shalat ashar?” Maka Umar menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarangku dari melaksanakannya.” (Dan yang ketiga adalah) tantang kisah (dongeng), mereka menginginkan aku untuk mendongeng, ” maka Umar menjawab; “Terserah kamu.” Seakan akan dia tidak suka melarangnya, Al Harits berkata; “Aku hanya menginginkan menuntaskan kepada pendapatmu, ” Umar berkata; “Aku khawatir kamu mendongeng kemudian kamu menjadi tinggi hati atas mereka, kemudian mendongeng dan kamu menjadi tinggi hati, sehingga kamu terbuai bahwa kamu berada di atas mereka seperti kedudukan orang kaya, kemudian Allah meletakkan kamu di bawah telapak kaki mereka pada hari Kiamat sesuai dengan khayalanmu itu.”

Musnad Ahmad 107: Telah menceritakan kepada kami Bisyr Bin Syu’aib Bin Abu Hamzah dia berkata; Telah menceritakan kepadaku bapakku dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Salim Bin Abdullah bahwa Abddullah Bin Umar telah mengabarkan kepadanya, bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melarang kalian dari bersumpah atas nama bapak bapak kalian.” Umar berkata; “Maka demi Allah, aku tidak bersumpah dengan sumpah ini sejak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang darinya, baik dalam keadaan ingat atau tidak ingat.”

Musnad Ahmad 108: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Bin Abdullah dari Rasyid Bin Sa’d dari Umar Bin Al Khaththab dan Hudzaifah Bin Al Yaman, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambil zakat dari kuda dan budak.”

Musnad Ahmad 109: Telah menceritakan kepada kami Ali Bin Ishaq telah memberitakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnul Mubarak telah memberitakan kepada kami Muhammad Bin Suqah dari Abdullah Bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Umar Bin Al Khaththab berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus) dan berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan kami seperti aku berdiri di hadapan kalian, kemudian beliau bersabda: “pujilah para sahabatku dengan kebaikan, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, kemudian setelah itu akan menyebar kedustaan, sehingga seorang lelaki memulai bersaksi sebelum dia ditanya, maka barangsiapa ingin mencium baunya syurga, hendaknya dia berpegang teguh kepada Jama’ah karena sesungguhnya setan beserta orang yang sendirian, sedangkan dari dua orang dia akan menjauh, janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.”

Musnad Ahmad 110: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dari Hakim Bin ‘Umair dan Dlamrah Bin Habib keduanya berkata; Umar Bin Al Khaththab berkata; “Barangsiapa ingin melihat petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka lihatlah petunjuk ‘Amru Bin Aswad.”

Musnad Ahmad 111: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Za`idah Telah menceritakan kepada kami Simak dari Ikrimah dari Ibu ‘Abbas dia berkata; Umar berkata; kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah rombongan, kemudian ada seorang lelaki berkata; “Tidak, demi bapakku.” Kemudian ada lelaki lain yang menyahut: “Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak kalian!”Ketika aku menoleh ternyata lelaki yang menyahut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Musnad Ahmad 112: Telah menceritakan kepada kami ‘Isham Bin Khalid dan Abul Yaman keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’aib Bin Abu Hamzah dari Az Zuhri dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah Bin Abdullah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud, bahwa Abu Hurairah berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan digantikan setelahnya oleh Abu Bakar, banyak orang arab yang menjadi kafir, Umar berkata; “Wahai Abu Bakar bagaimana engkau memerangi mereka padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), maka barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah berarti telah melindungi harta dan jiwanya dariku, kecuali dengan haqnya dan perhitungannya diserahkan kepada Allah Ta’ala.” Abu Bakar menjawab; “Demi Allah, aku pasti akan memerangi.” Abul yaman berkata; “Pasti akan aku bunuh orang yang membedakan antara perintah shalat dan zakat, karena zakat adalah haqnya harta, demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan zakat kepadaku walau seutas tali yang pernah mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pasti mereka akan aku perangi dikarenakan penolakan mereka.” Umar berkata; “maka demi Allah, tidaklah aku melihat kecuali bahwa Allah telah membuka hati Abu bakar untuk memerangi, dan akupun mengetahui bahwa itulah yang haq.”

Musnad Ahmad 113: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah Telah menceritakan kepada kami Al Auza’i Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Syu’aib dari Abdullah Bin ‘Amru Bin Al Ash dari Umar Bin Al Khaththab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit, dan tidak ada shalat setelah shalat ashar hingga matahari terbenam.”

Musnad Ahmad 114: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam Bin Nafi’ Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ayyasy dari Abu Saba’ ‘Utbah Bin Tamim dari Al Walid Bin ‘Amir Al Yazani dari ‘Urwah Bin Mughits Al Anshari dari Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan bahwa pemilik hewan lebih berhaq atas dadanya.”

Musnad Ahmad 115: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Al Hakam Bin Nafi’ Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Bin Abdullah dari Rasyid Bin Sa’d dari Hamzah Bin Abdi Kulal dia berkata; Umar Bin Al Khaththab berjalan menuju Syam setelah perjalanan pertamanya menuju ke sana, ketika dia hampir mendekat, sampailah berita kepadanya dan orang-orang yang bersamanya bahwa penyakit Tha’un sedang mewabah di sana, maka para sahabatnya berkata kepadanya; “Kembalilah dan jangan masuk ke sana, apabila kamu singgah di sana padahal wabah masih ada, maka kami tidak melihat bagimu tempat untuk berlindung darinya.” Maka Umar kembali pulang ke Madinah kemudian malam itu beristirahat, dan saya adalah orang yang paling dekat dengannya, ketika dia bangkit aku pun bangkit berjalan dibelakangnya, kemudian aku mendengar dia berkata; “Mereka mengembalikan aku dari Syam setelah aku dekat darinya, karena wabah Tha’un terjadi di sana, ketahuilah bahwa aku kembali dari sana bukan berarti dapat mengakhirkan ajalku dan bukan pula kedatanganku kesana berarti mempercepat ajalku, ketahuilah kalau aku telah tiba di Madinah dan aku telah menyelesaikan kebutuhanku yang harus aku penuhi, aku pasti akan berjalan sehingga masuk ke negri Syam kemudian singgah di Himsha, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari Kiamat Allah akan membangkitkan tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan tanpa siksa, tempat dibangkitkan mereka adalah diantara pohon Zaitun dan kebunnya di tanah datar yang merah.”

Musnad Ahmad 116: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Haiwah telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Aqil dari anak pamannya dari Uqbah Bin Amir bahwa dia keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Tabuk, kemudian pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk bercerita kepada para sahabatnya, beliau bersabda: “Barangsiapa bangun berdiri ketika matahari naik kemudian berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni sebagaimana ketika ibunya melahirkannya.” Uqbah Bin Amir berkata; “Al hamdulillah (segala puji hanya milik Allah) yang telah memberikan rizqi kepadaku sehingga aku bisa mendengar hal ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Umar Bin Al Khaththab berkata kepadaku dan dia duduk di hadapanku; “Apakah kamu kagum dengan hal ini, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda dengan sesuatu yang lebih mengagumkan dari ini sebelum kamu datang, ” aku bertanya; “Apa itu, demi bapak dan ibuku aku rela sebagai tebusan?” Maka Umar menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, kemudian mengangkat pandangannya ke langit sambil membaca; “Asyhadu Anlaa Ilaaha Illallaahu Wahdahulaa Syariikalahu Wa asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu Warasuuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhaq disembah selain Allah yang maha Esa, yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), maka akan dibukakan baginya delapa pintu Syurga dan dia akan masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.”

Musnad Ahmad 117: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Bin Daud yaitu Abu Daud Ath Thayalisi dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Daud Al ‘Audi dari Abdurrahman As Sulami Dari Asy’ats Bin Qais dia berkata; aku bertamu kepada Umar kemudian dia memegang istrinya dan memukulnya dan dia berkata; “Wahai Asy’ats jaga dariku tiga hal yang telah aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Jangan kamu tanyakan kepada seseorang tentang hal kenapa dia memukul istrinya, jangan kamu tidur kecuali setelah melakukan shalat witir” dan aku lupa hal yang ke tiga.”

Musnad Ahmad 118: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Ar Risyk dari Mu’adzah dari Ummu ‘Amru anak perempuan Abdullah bahwa dia pernah mendengar Abdullah Bin Zubair berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata dalam khutbahnya; bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memakai kain sutra di dunia maka tidak akan dikenakan pakaian sutra kepadanya di akhirat.”

Musnad Ahmad 119: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Ishaq Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Az Zubair dari Jabir dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh akan ada seorang pengendara yang berjalan di pinggiran Madinah kemudian berkata; ‘dulu pernah ada di sini banyak penghuni dari kalangan orang-orang mukmin.” Abdullah bekata; Bapakku Ahmad Bin Hambal berkata; “dan Hasan Al Asy-yab tidak memberikan ijazah dengan hadits ini kepada Jabir.”

Musnad Ahmad 120: Telah menceritakan kepada kami Harun Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab Telah menceritakan kepadaku ‘Amru Bin Al Harits bahwa Umar Bin As Sa`ib telah bercerita kepadanya, bahwa Al Qasim Bin Abul Qasim As Saba`i telah bercerita kepadanya dari Qaas Al Ajnad di Kostantinopel (Turki), bahwa dia telah mendengarnya bercerita, bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; wahai manusia, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah dia duduk di suatu jamuan yang dikelilingi oleh miras, dan barangsiapa seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari Akhir janganlah dia masuk ke dalam kamar mandi (umum) kecuali dengan memakai kain sarung (pakaian), dan barangsiapa perempuan yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah masuk ke dalam kamar mandi (umum).”

Musnad Ahmad 121: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza’i telah memberitakan kepada kami Laits dari Yazid Bin Abdullah Bin Usamah Bin Al Had dari Al Walid Bin Abul Walid dari Utsman Bin Abdullah yaitu Ibnu Suraqah dari Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menaungi kepala seorang pejuang maka Allah akan menaunginya pada hari Kiamat, barangsiapa menyiapkan perlengkapan seorang pejuang sehingga dia bisa tercukupi, maka baginya seperti pahala pejuang hingga dia meninggal.” Yunus berkata; “Atau hingga dia kembali, dan barangsiapa membangun sebuah masjid karena Allah yang disebut-sebut di dalamnya nama Allah Ta’ala, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Syurga.”

Musnad Ahmad 122: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Sulaiman Al A’masy dari Syaqiq dari Salman Bin Rabi’ah dia berkata; aku mendengar Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi pembagian, maka aku berkata; “Wahai Rasulullah, sungguh orang-orang selain mereka itu lebih berhak, yaitu Ahlush Shuffah!” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya kalian memberikan kepadaku dua pilihan; antara kalian meminta kepadaku dengan memaksa dan antara kalian menganggapku kikir, dan aku bukanlah orang kikir.”

Musnad Ahmad 123: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Khalid dari Yazid Bin Abu Ziyad dari ‘Ashim Bin ‘Ubaidillah dari bapaknya dari kakeknya dari Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah berhadats, beliau berwudlu dan mengusap kedua khuf.”

Musnad Ahmad 124: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dari Ali Bin Zaid dari Abu Rafi’ bahwa Umar bersandar kepada Ibnu Abbas sementara di sisinya ada Ibnu Umar dan Sa’id Bin Zaid, kemudian dia berkata; “Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya aku tidak mengatakan suatu pendapat dalam masalah kalalah, dan aku tidak mengangkat seorang khalifah setelahku, sesungguhnya barangsiapa dari budak arab yang mendapati waktu wafatku maka dia dibebaskan dari harta Allah.” Maka Sa’id Bin Zaid berkata; “Seandainya kamu tidak menunjuk salah seorang dari kaum muslimin niscaya orang-orang akan percaya kepadamu, sebagaimana Abu Bakar telah melakukan demikian dan manusia percaya kepadanya?” Maka Umar menjawab; “Aku telah melihat ambisi buruk dari para sahabatku, maka aku serahkan urusan ini kepada mereka enam orang yang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat beliau ridla kepada mereka.” Kemudian Umar berkata; “Jika salah seorang dari dua lelaki ini menemuiku kemudian aku serahkan perkara ini kepadanya maka aku percayakan kepadanya; Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah dan Abu Ubaidah Bin Jarrah.”

Musnad Ahmad 125: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammam Telah menceritakan kepada kami Qatadah Telah menceritakan kepadaku Abul ‘Aliyah dari Ibnu Abbas dia berkata; “Telah bersaksi dihadapanku para lelaki yang diridlai, diantara mereka adalah Umar, dan yang paling aku ridlai di sisiku adalah Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah shalat shubuh sampai terbit matahari, dan tidak ada shalat setelah shalat ashar sampai tenggelam matahari.”

Musnad Ahmad 126: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Wuhaib Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Utsman Bin Khutsaim dari Sa’id Bin Jubair dari Ibu Abbas bahwa Umar Bin Al Khaththab mencium hajar Aswad kemudian berkata; “Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah batu, seandainya aku tidak melihat kekasihku shallallahu ‘alaihi wasallam mencium dan mengusapmu pasti aku tidak akan mengusap dan menciummu, dan sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik.”

Musnad Ahmad 127: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad telah memberitakan kepada kami ‘Ammar Bin Abu ‘Ammar bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat cincin dari emas ditangan seorang laki laki, kemudian beliau berkata: “Buang (benda) itu!” maka dia membuangnya, kemudian dia memakai cincin yang terbuat dari besi, maka beliau bersabda: “Ini lebih buruk dari yang itu” kemudian dia memakai cincin yang terbuat dari perak maka beliau mendiamkannya.

Musnad Ahmad 128: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah Bin ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Za`idah Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dan Husain Bin Ali, dari Za`idah dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah dia berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, orang-orang Anshar berkata; “Dari kalangan kami ada pemimpin dan dari kalangan kalian ada pemimpin.” Maka Umar mendatangi mereka dan berkata; “Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami orang-orang, maka siapakah yang tenang jiwanya untuk mendahului Abu Bakar?” Maka orang-orang Anshar menjawab; “Kami berlindung kepada Allah dari mendahului Abu Bakar.”

Musnad Ahmad 129: Telah menceritakan kepada kami Musa Bin Daud Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Az Zubair dari Jabir bahwa Umar Bin Al Khaththab mengabarkan kepadanya, bahwa dia melihat seorang lelaki berwudlu untuk shalat, kemudian meninggalkan sebesar kuku di atas telapak kakinya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau bersabda: “Kembalilah dan sempurnakan wudlumu.” maka dia kembali dan berwudlu kemudian shalat.

Musnad Ahmad 130: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id budak Bani Hasyim Telah menceritakan kepada kami Al Haitsam Bin Rafi’ Ath Thathari orang Bashrah Telah menceritakan kepadaku Abu Yahya seorang lelaki penduduk Makkah dari Farrukh hamba sahaya Utsman, bahwa Umar pada saat menjadi Amirul Mukminin, dia keluar menuju masjid kemudian melihat makanan berserakan, maka dia bertanya; “Makanan apa ini?” Mereka menjawab; “Makanan yang di datangkan kepada kami, ” maka dia berkata; “Semoga Allah memberkahi makanan ini dan orang yang mendatangkannya, ” kemudian ada yang berkata; “Wahai Amirul Mukminin, makanan itu telah ditimbun, ” Umar bertanya; “Siapa yanga telah menimbunnya?” Mereka menjawab; “Farrukh hamba sahaya Utsman dan Fulan hamba sahaya Umar, ” maka Umar mengutus utusan untuk memanggil keduanya, kemudian dia berkata; “Apa yang mendorong kalian berdua untuk menimbun makanan kaum muslimin?” Keduanya menjawab; “Wahai Amirul Mukminin, kami membeli dengan harta kami dan menjual.” Maka Umar menjawab; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menimbun harta kaum muslimin maka Allah akan menimpakan kepadanya kebangkrutan atau penyakit kusta, ” maka Farrukh ketika itu berkata; “Wahai Amirul Mukminin, aku berjanji kepada Allah dan kepadamu untuk tidak akan mengulangi menimbun makanan selamanya.” Adapun hamba sahaya Umar dia berkata; “Hanyasannya kami membeli dengan harta kami dan menjual.” Abu yahya berkata; “Maka sungguh aku melihat hamba sahaya Umar terkena penyakit kusta.”

Musnad Ahmad 131: Telah menceritakan kepada kami Abu Yaman telah memberitakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri Telah menceritakan kepada kami Salim Bin Abdullah bahwa Abdullah Bin Umar berkata; aku mendengar Umar berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku sebuah pemberian, maka aku berkata; “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan ketimbang aku.” Sampai suatu ketika beliau memberiku harta dan aku berkata; “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan ketimbang aku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambillah dan kembangkanlah (infestasikan) harta itu kemudian berinfaqlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari harta ini sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka ambillah, dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu mengklaimnya menjadi milikmu.” Telah menceritakan kepada kami Harun Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab Telah menceritakan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim dari Bapaknya dia berkata; aku mendengar Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku sebuah pemberian, ” kemudian dia menyebutkan makna hadits.

Musnad Ahmad 132: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj Telah menceritakan kepada kami Laits Telah menceritakan kepadaku Bukair dari Abdul Malik Bin Sa’id Al Anshari dari Jabir Bin Abdullah dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; pada suatu hari aku rindu dan hasratku muncul kemudian aku mencium padahal sedang berpuasa, maka aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku berkata; “Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium padahal sedang berpuasa” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?” Aku menjawab; “Tidak apa-apa hal itu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka dimana masalahnya?”

Musnad Ahmad 133: Telah menceritakan kepada kami Yunus Bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Daud yaitu Ibnu Abil Furath dari Abdullah Bin Buraidah dari Abul Aswad bahwa dia berkata; aku datang ke Madinah, setibanya aku di sana rupanya sedang terjadi wabah penyakit, orang-orang meninggal dalam keadaan menyedihkan, maka ketika aku duduk di sisi Umar Bin Al Khaththab, lewatlah jenazah kemudian si mayit dipuji dengan kebaikan, maka Umar berkata; “wajib” kemudian jenazah lain lewat dan mayit dipuji dengan kebaikan, maka Umar berkata; “wajib” kemudian jenazah ketiga lewat dan mayit tersebut dibeberkan keburukannya, maka Umar berkata; “wajib” akhirnya Abul Aswad bertanya; “Apa artinya wajib wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab; “Aku berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Orang muslim siapa saja yang disaksikan oleh empat orang dengan kebaikan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Syurga” aku bertanya; “Bagaiman jika tiga orang?” Beliau menjawab: “Juga tiga orang” aku bertanya lagi; “Bagaiman jika dua orang?” Beliau menjawab; “Juga dua orang.” Kemudian kami tidak menanyakannya bagaimana jika satu orang.”

Musnad Ahmad 134: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Bukair dari Sa’id Bin Al Musayyib dari Umar dia berkata; “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadlan, dan pada penaklukan kota Makkah di bulan Ramadlan, dan kami berbuka pada kedua kejadian itu.”

Musnad Ahmad 135: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id budak Bani Hasyim Telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna Bin ‘Auf Al ‘Anazi orang Bashrah dia berkata; telah memberitakan kepada kami Al Ghadlban Bin Hanzhalah bahwa bapaknya yaitu Hanzhalah Bin Nu’aim menjadi utusan menghadap kepada Umar, dan Umar apabila dikunjungi oleh seorang utusan dia bertanya kepada orang tersebut; “Dari utusan mana dia” sampai akhirnya tibalah giliran bapakku dan dia bertanya kepadanya; “Dari utusan mana kamu?” Maka dia menjawab; “Dari ‘Anazah” maka dia berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kampung dari daerah ini selalu ditolong jika dizhalimi.”

Musnad Ahmad 136: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Abu Habib dari Ma’mar bahwa dia bertanya kepada Sa’id Bin Musayyib tentang berpuasa ketika bepergian, maka dia menceritakan kepadanya dari Umar Bin Al Khaththab, bahwa dia berkata; “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak dua kali pada bulan Ramadlan, yaitu perang Badar dan penaklukan kota Makkah, kemudian kami berbuka pada perang tersebut.”

Musnad Ahmad 137: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Dailam Bin Ghazwan seorang abd, Telah menceritakan kepada kami Maimun Al Kurdi Telah menceritakan kepadaku Abu Utsman An Nahdi dari Umar Bin Al Khaththab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti dari ummatku adalah setiap munafiq yang pandai bersilat lidah.”

Musnad Ahmad 138: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Shalih Bin Muhammad Bin Za`idah dari Salim Bin Abdullah bahwa dia bersama Maslamah Bin Abdul Malik di bumi Romawi, kemudian ditemukan pada harta seorang lelaki ghulul (barang curian dari harta rampasan perang), maka Maslamah Bin Abdul Malik bertanya kepada Salim Bin Abdullah, Salim Bin Abdullah menjawab; Telah menceritakan kepadaku Abdullah dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa kalian dapati dalam hartanya ada barang Ghulul maka bakarlah.” Umar berkata; “Aku mengira beliau berkata: “Dan pukullah” Shalih berkata; “Kemudian Maslamah mengeluarkan harta lelaki tersebut ke pasar.” Shalih berkata; “Dan dia menemukan Mushaf ada didalamnya, kemudian dia bertanya kepada Salim, dan dia menjawab; “Juallah dan sedekahkan hasilnya.”

Musnad Ahmad 139: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id dan Husain Bin Muhammad keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dari Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari lima hal; “dari sifat bakhil, pengecut, fitnatush shadr (meninggal sebelum tobat), siksa qubur dan umur yang buruk.”

Musnad Ahmad 140: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dia berkata; aku mendengar ‘Atho` Bin Dinar dari Abu Yazid Al Khaulani bahwa dia mendengar Fadlalah Bin ‘Ubaid berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mati syahid itu ada tiga orang; seorang lelaki mukmin yang bagus keimanannya bertemu dengan musuh kemudian dia berlaku jujur kepada Allah hingga terbunuh, maka pada hari Kiamat orang-orang akan melongokkan lehernya untuk melihat kepadanya, ” dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga melongokkan lehernya, sampai kopyah beliau terjatuh atau kopyah Umar terjatuh, “Dan seorang lelaki mukmin yang bagus keimanannya bertemu dengan musuh seakan akan kulitnya dipukul dengan duri pohon, dia tertembus oleh panah yang nyasar kemudian terbunuh, maka dia di syurga berada di tingkat ke dua. Dan seorang lelaki mukmin yang bagus keimanannya yang amal shalihnya bercampur dengan amal keburukan dia bertemu dengan musuh kemudian berlaku jujur kepada Allah sampai tebunuh maka dia di syurga berada di tingkat ke tiga.”

Musnad Ahmad 141: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang bapak tidak di qishash dari anaknya.”

Musnad Ahmad 142: (Masih dari jalur periwayatan yang sama dari Umar bin Khattab). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersbada: “Orang yang mewarisi harta dia juga mewarisi wala` (hamba sahaya).”

Musnad Ahmad 143: Telah menceritakan kepada kami Hasan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah Bin ‘Amru, dia berkata; Umar Bin Al Khaththab berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Anak tidak diqishash dari bapaknya.”

Musnad Ahmad 144: Telah menceritakan kepada kami Hasan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Adl Dlahhak Bin Syurahbil dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar Bin Al Khaththab bahwa dia berkata; “Aku melihat Rasulullah berwudlu satu kali satu kali.”

Musnad Ahmad 145: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Ishaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari ‘Atho` Bin Dinar dari Abu Yazid Al Khaulani dia berkata; aku mendengar Fadlalah Bin ‘Ubaid berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Para Syuhada itu ada empat orang; seorang lelaki mukmin yang bagus keimananannya bertemu dengan musuh dan ia berlaku jujur kepada Allah kemudian terbunuh, itulah orang yang dilihat oleh manusia begini, ” dan Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas hingga kopyah Rasulullah terjatuh atau kopyahnya Umar; “Yang kedua adalah seorang lelaki mukmin bertemu dengan musuh seakan akan punggungnya dipukul dengan duri pohon, dia tertembus panah yang nyasar kemudian ia terbunuh, itulah orang yang berada di tingkatan kedua, dan yang ketiga seorang lelaki mukmin yang mencampur amal perbuatan shalihnya dengan amal kejelekannya kemudian bertemu dengan musuh dan ia berlaku jujur kepada Allah ‘azza wajalla hingga terbunuh, ” Rasulullah berkata: “Itulah orang yang berada di tingkatan ketiga, dan yang keempat seorang lelaki mukmin yang telah banyak berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri kemudian bertemu dengan musuh dan ia berlaku jujur kepada Allah hingga terbunuh maka itulah orang yang berada di tingkatan keempat.”

Musnad Ahmad 146: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Ghailan Telah menceritakan kepada kami Risydin Bin Sa’d Telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah Al Ghafiqi dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar Bin Al Khaththab dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau berwudlu pada perang Tabuk satu kali satu kali.”

Musnad Ahmad 147: Telah bercerita kepada kami Hasan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir bahwa Umar Bin Al Khaththab mengabarkan kepadanya, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penduduk Makkah akan keluar kemudian tidak melewatinya atau tidak mengetahuinya kecuali hanya orang sedikit, kemudian akan penuh dan di bangun kemudian mereka akan keluar darinya dan tidak akan kembali selamanya.”

Musnad Ahmad 148: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir bahwa Umar Bin Al Khaththab telah memberitakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang lelaki berwudlu untuk shalat dzuhur, kemudian meninggalkan (tidak membasuh) di bagian kakinya sebesar kuku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya dan berkata: “Ulangi! Dan sempurnakan wudlumu” kemudian orang tersebut mengulangi wudlunya kemudian shalat.”

Musnad Ahmad 149: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dia berkata; Az Zuhri telah menganggap (meriwayatkan) dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud dari Ibnu Abbas dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Bin Maryam, aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Musnad Ahmad 150: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id Bin Jubair Dari Ibnu Abbas dia berkata; ayat ini turun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersembunyi di Makkah; “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, ” (QS Al Isro’ ayat 110), Ibnu Abbas berkata; sebelumnya, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami para sahabatnya beliau mengeraskan bacaan Al Qur’an, maka ketika orang-orang musyrik mendengar bacaan itu, mereka mencaci Al Qur’an, Dzat yang menurunkannya dan Nabi yang membawanya, maka Allah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu.” Maksudnya bacaanmu sehingga terdengar oleh orang-orang musyrik; “Dan janganlah pula merendahkannya, ” dari para sahabatmu sehingga Al Qur’an tidak terdengar oleh mereka supaya mereka mengambilnya darimu, dan lakukanlah diantara keduanya.”

Musnad Ahmad 151: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Ali Bin Zaid dari Yusuf Bin Mihran dari Ibnu Abbas dia berkata; Umar berkhutbah, -Husyaim berkata; suatu ketika Umar berkhutbah kepada kami- lalu memuji dan mensucikan Allah Ta’ala kemudian menyebutkan hukum rajam, dan berkata; “Janganlah kalian tertipu olehnya, karena sesungguhnya itu adalah salah satu dari hukum Allah Ta’ala, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakan hukum rajam, maka kamipun melaksanakan hukum rajam setelahnya, seandainya (aku tidak khawatir) orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah di dalam kitabullah apa yang bukan darinya, pasti aku akan tulis di bagian sudut mushaf, Umar Bin Khaththab telah bersaksi.” Di lain kesempatan Husyaim berkata; Abdurrahman Bin Auf, fulan dan fulan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan hukum rajam dan kami melaksanakan hukum rajam setelah Rasulullah, ketahuilah bahwa akan ada setelah kalian suatu kaum yang mengingkari adanya hukum rajam, adanya Dajjal, Syafa’at, adzab Qubur dan adanya kaum yang dikeluarkan dari api neraka setelah mereka menjadi gosong.”

Musnad Ahmad 152: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Humaid dari Anas dia berkata; Umar berkata; aku telah menepati Rabbku dalam tiga hal; aku berkata; “Wahai Rasulullah seandainya kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, ” maka turunlah ayat; “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat” (Q S Al Baqarah: 125). aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri istrimu didatangi oleh orang-orang baik dan jahat, seandainya Engkau perintahkan kepada mereka supaya memakai hijab.” Maka turunlah ayat hijab. Dan terakhir istri-istri Rasulullah serempak bersikap cemburu kepada beliau maka aku katakan kepada mereka; “Jika nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kalian” dia berkata; “Maka turunlah ayat seperti itu (QS At Tahrim: 5).”

Musnad Ahmad 153: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la Bin Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah Bin Az Zubair dari Al Miswar Bin Makhramah bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; aku mendengar Hisyam Bin Hakim Bin Hizam membaca surat Al Furqan, kemudian dia membaca dengan bacaan yang tidak pernah dibacakan kepadanya oleh Nabiyullah, maka aku ingin menarik kepalanya sementara dia dalam shalat, maka ketika selesai shalat aku bertanya; “Siapa yang membacakan kepadamu bacaan seperti ini?” Dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Aku berkata; “Kamu berdusta, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membacakan seperti ini kepadamu.” Kemudian aku memegang tangannya dan aku bawa dia menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku katakan kepada beliau; “Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau bacakan kepada kami surat Al Furqon dan aku mendengar dia membaca surat Al Furqon dengan bacaan yang tidak engkau bacakan kepada kami.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah wahai Hisyam.” Maka dia membaca sebagaimana dia membaca, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seperti ini dia diturunkan.” Kemudian beliau bersabda: “Bacalah wahai Umar.” Maka aku membaca, lalu beliau bersabda: “Seperti ini dia diturunkan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf.”

Musnad Ahmad 154: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Al Haitsam Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak Bin Harb dari An Nu’man Bin Basyir dari Umar dia berkata; aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perutnya melilit karena tidak mendapatkan sesuatu yang dapat mengisi perutnya meski berupa kurma kering.”

Musnad Ahmad 155: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Adi dari Humaid dari Anas dia berkata; Umar berkata; aku telah menepati Rabbku atau Rabbku menyepakatiku dalam tiga hal; aku berkata; “Wahai Rasulullah, seandainya engkau menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, maka Allah menurunkan ayat; “Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”, (QS Al Baqoroh ayat 125). Aku berkata; “Wahai Rasulullah seandainya engkau pakaikan hijab kepada para Ummahatul mukminin (istri istri Rasulullah), karena orang yang datang kepadamu ada yang baik dan ada yang jahat.’maka turunlah ayat hijab. Dia berkata; “Dan terakhir telah sampai kepadaku berita dari Ummahatul Mukminin bahwa istri-istri Rasulullah serempak bersikap cemburu kepada beliau, maka aku katakan kepada mereka; “Berhentilah kalian dari cemburu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau Allah benar benar akan mengganti kalian dengan para istri muslimah yang lebih baik dari kalian.” Sehingga aku menemui salah seorang ummahatul Mukminin, lalu dia berkata; “Wahai Umar, tidak adakah nasehat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk para istrinya sampai kamu menasehati mereka?” Maka akupun berhenti, kemudian Allah menurunkan ayat: “Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat.” (QS At Tahrim ayat 5).

Musnad Ahmad 156: Telah menceritakan kepada kami Al Walid Bin Muslim Telah menceritakan kepada kami Al Auza’i bahwa Yahya Bin Abi Katsir telah bercerita kepadanya dari Ikrimah budak Ibnu Abbas dia berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika berada di lembah Aqiq: “Tadi malam aku didatangi seseorang yang datang dari Rabbku dan berkata; ‘shalatlah di lembah yang diberkahi ini, dan ucapkanlah; Umrah untuk haji'” Walid berkata; “Yaitu Dzulhulaifah.”

Musnad Ahmad 157: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dia mendengar Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan telah mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: -di kesempatan lain Sufyan berkata; “Umar mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: – “Emas (ditukar) dengan perak itu riba kecuali dengan tunai (kontan), gandum (ditukar) dengan gandum adalah riba kecuali dengan tunai, kurma (ditukar) dengan kurma adalah riba kecuali dengan tunai.”

Musnad Ahmad 158: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dia mendengar Abu Ubaid berkata; aku menghadiri shalat ‘Aid bersama Umar, kemudian dia memulai dengan shalat sebelum khutbah dan berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berpuasa pada dua hari ini, adapun hari Aidul fitri adalah hari berbukanya kalian dari berpuasa, adapun hari Aidul Adlha makanlah daging kurban kalian.”

Musnad Ahmad 159: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Ubaidullah Bin Abdullah Bin ‘Utbah dari Ibnu Abbas dari Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba dan Rasul-Nya”.

Musnad Ahmad 160: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah Bin Dinar dari Ibnu Umar dari Umar bahwa dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah salah seorang diantara kami boleh tidur padahal dia junub?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Berwudlu kemudian tidur jika dia menghendaki.” Dikesempatan lain Sufyan berkata; “Supaya berwudlu kemudian tidur.”

Musnad Ahmad 161: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya bahwa Umar menggunakan kuda di jalan Allah, kemudian dia melihatnya atau sebagian hasilnya, maka dia ingin membelinya, kemudian dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, namun Nabi menjawab: “Tinggalkan kuda tersebut, niscaya akan cukup bagimu atau kamu serahkan semuanya” Umar bertanya dua kali dan Nabi melarangnya dan beliau berkata: “Janganlah kamu membelinya dan jangan kamu ambil kembali sedekahmu.”

Musnad Ahmad 162: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim Bin ‘Ubaidillah dari Abdullah Bin ‘Amir Bin Rabi’ah dia bercerita dari Umar yang di sandarkan kepada Nabi, dan Sufyan dalam kesempatan lain mengatakan; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iringilah antara haji dan Umrah, karena mengikuti keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana pandi besi membersihkan kotoran dari besi.”

Musnad Ahmad 163: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Yahya dari Muhammad Bin Ibrahim At Taimi dari ‘Alqamah Bin Waqqash dia berkata; aku mendengar Umar berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbuatan itu hanya tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan, barangsiapa Hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya akan menuju kepada Allah dan RasulullahNya, dan barangsiapa Hijrahnya untuk mendapatkan keduniaan atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka Hijrahnya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.”

Musnad Ahmad 164: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdah Bin Abu Lubabah dari Abu Wa`il dia berkata; Shubay Bin Ma’bad berkata; dulu aku adalah seorang Nasrani kemudian masuk Islam, lalu aku berniat melaksanakan haji dan Umrah, maka Zaid Bin Shuhan dan Salman Bin Rabi’ah mendengarku ketika aku sedang berniat untuk Haji dan Umrah, keduanya berkata; “Orang ini lebih sesat dari unta keluarganya.” Maka seakan-akan aku memikul gunung akibat perkataan keduanya, kemudian aku datang kepada Umar dan menceritakan hal itu, lalu Umar mendatangi keduanya dan memarahi mereka, kemudian menemuiku dan berkata; “Kamu telah mendapat petunjuk terhadap Sunah Nabi, kamu telah mendapat petunjuk terhadap Sunah Nabimu.” Abdah berkata, Abu Wa`il berkata; “Aku dan Masruq sering datang kepada Shubay menanyakan tentang hal itu.”

Musnad Ahmad 165: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Thawus dari Ibnu Abbas disebutkan kepada Umar bahwa Samurah -dalam kesempatan lain di berkata; – telah sampai kepada Umar bahwa Samurah menjual khamer, maka Umar berkata; “Semoga Allah membinasakan Samurah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Allah melaknat Yahudi, karena Allah telah mengharamkan lemak babi kepada mereka, kemudian mereka menjadikannya minyak dan menjualnya.”

Musnad Ahmad 166: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dan Ma’mar dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; “Harta-harta Bani Nadlir yang Allah jadikan Harta Fai` bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ditaklukkan oleh kaum Muslimin dengan kuda dan unta, maka menjadi milik murni bagian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau nafkahkan untuk keluarganya selama satu tahun, ” dalam kesempatan lain berkata; “Untuk kebutuhan pokok setahun dan sisanya beliau gunakan untuk (membeli) kuda dan persenjataan sebagai persiapan jihad di jalan Allah.”

Musnad Ahmad 167: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus dia berkata; aku mendengar Umar berkata kepada Abdurrahman Bin Auf, Thalhah, Zubair dan Sa’ad; “Aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah yang telah menegakkan langit dan bumi, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi dan harta yang kami tinggalkan menjadi sedekah.” Mereka menjawab; “Demi Allah, benar.”

Musnad Ahmad 168: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Yazid dari bapaknya dari Umar Bin Al Khaththab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Anak adalah milik orang yang memiliki tempat tidur (suami).”

Musnad Ahmad 169: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Abi ‘Ammar dari Abdullah Bin Babaih dari Ya’la Bin Umaiyah dia berkata; aku bertanya kepada Umar Bin Al Khaththab, aku bacakan firman Allah: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar shalat (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS An Nisa’ayat 101). Bukankah Allah telah menjadikan manusia dalam keadaan aman?” Umar berkata kepadaku; “Aku pun merasa heran sebgaimana kamu merasa heran, maka aku tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, kemudian beliau bersabda: “Itu adalah sedekah dari Allah untuk kalian maka terimalah sedekah-Nya.”

Musnad Ahmad 170: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dia berkata; “Seorang lelaki datang menemui Umar ketika berada di Arafah, ” Abu Mu’awiyah berkata; dan Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Khaitsamah dari Qais Bin Marwan bahwa dia datang menemui Umar kemudian berkata; “Wahai Amirul Mukminin, aku datang dari Kufah dan aku tinggalkan di sana seorang lelaki yang mendiktekan Mushaf (dengan hafalan), ” kemudian Umar marah dengan nada tinggi sehingga seakan-akan memuncak disemua wajahnya, kemudian dia bertanya; “Celaka kamu, siapakah dia?” Dia (Qais) menjawab; “Abdullah Bin Mas’ud.” Maka sepontanitas marahnya reda dan merasa senang sehingga keadaannya kembali seperti semula, lalu dia berkata; “Celaka kamu, demi Allah aku tidak tahu ada orang (dari sahabat) yang masih hidup yang lebih berhak dalam hal itu dari pada dia, saya akan ceritakan kepadamu tentang hal itu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berjaga (tidak tidur) di malam hari di sisi Abu Bakar membicarakan urusan kaum muslimin, dan pernah pada suatu malam beliau berjaga di sisinya dan aku bersamanya, kemudian Rasulullah keluar dan kami pun keluar bersamanya, tiba tiba ada seorang lelaki yang berdiri melaksanakan shalat di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dan mendengarkan bacaannya, dan ketika kami hampir mengetahuinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa senang membaca Al Qur`an dengan lembut sebagaimana diturunkannya, maka hendaknya dia membacanya sebagaimana bacaan Ibnu Ummi ‘Abd.” Umar melanjutkan; “Kemudian laki-laki tersebut duduk dan berdo’a, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; “Memohonlah pasti di diberi, memohonlah pasti diberi.” Umar berkata; aku berkata; “Demi Allah, pasti aku akan datang pagi pagi kepadanya dan memberikan kabar gembira kepadanya, ” dia berkata; kemudian aku pergi pagi pagi kepadanya untuk memberikan kabar gembira kepadanya, akan tetapi aku mendapati Abu Bakar telah mendahuluiku datang kepadanya dan memberitakan kabar gembira kepadanya, demi Allah tidaklah aku berlomba dengannya kepada kebaikan sama sekali kecuali pasti dia mendahuluiku.”

Musnad Ahmad 171: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Abis Bin Rabi’ah dia berkata; aku melihat Umar mencium hajar aswad seraya berkata; “Sesungguhnya aku menciummu, dan aku tahu sesungguhnya kamu hanyalah sebuah batu, seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Musnad Ahmad 172: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Abdul Malik Bin ‘Umair dari Jabir Bin Samurah dia berkata; Umar berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus) dan berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di tempat seperti tempatku ini kemudian beliau bersabda: “Pujilah oleh kalian para sahabatku dengan kebaikan, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, kemudian akan datang suatu kaum, salah seorang diantara mereka bersumpah sebelum diminta bersumpah dan bersaksi di atas persaksian sebelum diminta untuk bersaksi, barangsiapa diantara kalian yang ingin mendapatkan baunya syurga hendaklah dia berpegang teguh kepada Jama’ah, karena setan bersama orang yang sendirian sedangkan kepada dua orang akan menjauh, dan janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan wanita (yang bukan muhram) karena sesungguhnya orang yang ketiga darinya adalah setan, barangsiapa kebaikannya membuatnya senang dan kesalahannya membuat dia bersedih maka dia adalah seorang mukmin.”

Musnad Ahmad 173: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Umar, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah semalaman dengan Abu Bakar tentang urusan kaum muslimin, dan aku bersamanya.”

Musnad Ahmad 174: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Sa’id Bin Abu ‘Arubah dari Qatadah dari Salim Bin Abul Ja’d dari Ma’dan Bin Abu Thalhah dia berkata; Umar berkata; “Aku tidak pernah bertanya banyak tentang sesuatu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi ketika bertanya tentang Kalalah, sehingga beliau menusukkan jemarinya ke arah dadaku seraya beliau bersabda: “Cukup bagimu ayat Ash Shaif yang terdapat pada akhir surat An Nisa`.”

Musnad Ahmad 175: Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Syu’bah Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa’id Bin Al Musayyib dari Ibnu Umar dari Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Seorang mayit akan disiksa di kuburnya akibat dari niyahah (ratapan) kepadanya.”

Musnad Ahmad 176: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abdul Malik Telah menceritakan kepada kami Abdullah budak Asma’ dia berkata; ‘Asma’ mengutusku kepada Ibnu Umar (untuk menyampaikan) bahwa telah sampai kepadanya, “Bahwa kamu mengharamkan tiga hal; gambar pada pakaian, pelana dari sutera berwarna merah dan puasa di seluruh bulan Rajab.” Maka Ibnu Umar berkata; “Adapun yang kamu sebutkan tentang puasa Rajab, maka bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang masa, dan adapun yang kamu sebutkan tentang gambar pada pakaian, maka aku mendengar Umar berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memakai sutra di dunia, maka tidak akan memakainya di akhirat nanti.”

Musnad Ahmad 177: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dan aku telah bertanya kepadanya, Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Bin Al Mughirah Telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas dia berkata; kami bersama Umar berada diantara Makkah dan Madinah kemudian kami berdua saling melihat hilal (bulan sabit), dan penglihatanku lebih tajam sehingga aku dapat melihat Hilal, maka aku katakan kepada Umar; “Tidakkah kamu mau melihatnya?” Dia menjawab; “Saya akan melihatnya ketika saya berbaring di tempat tidurku, ” kemudian dia mulai menceritakan kepada kami tentang Ahli Badar, dia berkata; “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperlihatkan kepada kami tempat tempat mereka (orang-orang kafir) yang terbunuh kemarin (sebelum berperang), lalu beliau bersabda: “Ini tempatnya fulan besok insya`Allah Ta’ala, dan ini tempatnya fulan besok insya’allah Ta’ala” Umar berkata; “kemudian mereka terbunuh di tempat tempat tersebut, aku bertanya; “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa agama yang haq, mereka tidak salah dalam hal itu, mereka terbunuh di sana, ” kemudian di perintahkan untuk melemparkan mayat-mayat mereka ke dalam sumur, kemudian beliau berjalan ke arah mereka (mayat orang-orang kafir) dan bertanya: “Wahai fulan dan fulan bukankah kalian telah mendapatkan apa yang Allah janjikan itu pasti benar? Maka aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadaku itu benar.” Umar berkata; “Wahai Rasulullah apakah engkau berbicara kepada suatu kaum padahal mereka telah menjadi bangkai?” Beliau menjawab: “Kalian tidak lebih mendengar dari pada mereka terhadap apa yang aku katakan, akan tetapi mereka tidak dapat menjawab.”

Musnad Ahmad 178: Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim Telah menceritakan kepada kami ‘Amru Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; ketika ‘Amru pulang maka datanglah anak-anak Ma’mar Bin Habib memperkarakan dirinya tentang wala’ (nasab dan warits) saudara perempuan mereka kepada Umar Bin Al Khaththab, maka Umar berkata; “Aku putuskan perkara diantara kalian dengan apa yang telah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apa yang diperoleh anak atau bapak maka itu milik Ashabahnya siapapun dia.” Maka dia memutuskan untuk kami dengannya.”

Musnad Ahmad 179: Ahmad Bin Hambal berkata; aku membacakan kepada Yahya Bin Sa’id dari ‘Utsman Bin Ghiyats Telah menceritakan kepadaku Abdullah Bin Buraidah dari Yahya Bin Ya’mar dan Humaid Bin Abdurrahman Al Himyari keduanya berkata; kami bertemu Abdullah Bin Umar kemudian kami sebutkan tentang taqdir dan apa yang mereka katakan tentang taqdir, maka dia menjawab; “Jika kalian kembali kepada mereka, maka sampaikanlah; ‘Bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari kalian dan kalian berlepas diri darinya (sebanyak tiga kali) ‘.” Kemudian dia berkata; “Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Al Khaththab, bahwa ketika mereka sedang duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba tiba beliau didatangi oleh seorang lelaki yang berjalan kaki, yang berwajah tampan, berambut indah dan berpakaian serba putih, maka orang-orang saling pandang, kami tidak mengetahui kalau dia adalah seorang musafir, kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah saya datang kepadamu, ” Nabi menjawab: “Ya” maka dia datang dan meletakkan kedua lututnya menempel di kedua lutut beliau dan kedua tangannya di atas kedua paha beliau, kemudian dia bertanya; “Apa Islam itu?” Nabi menjawab: “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhaq disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan kamu menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melaksanakan haji, ” dia bertanya lagi; “Apa itu Iman?” Nabi menjawab: “Hendaknya kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Syurga dan Neraka, kebangkitan setelah mati dan kepada semua Taqdir.” Dia bertanya; “Apa itu Ihsan?” Nabi menjawab: “Hendaknya kamu beramal karena Allah seakan akan kamu melihat Allah, dan jika kamu tidak dapat melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Dia bertanya; “Dan kapan terjadi kiamat?” Nabi menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari penanya.” Dia bertanya; “Maka apa tanda tandanya?” Nabi menjawab: “Apabila orang yang tidak memiliki pakaian, tidak memiliki alas kaki dan orang yang miskin mereka berlomba lomba meninggikan bangunan, dan para budak wanita melahirkan tuannya.” Umar berkata; kemudian beliau bersbda: “Hadapkanlah lelaki tadi kepadaku!” Kemudian mereka mencarinya, namun mereka tidak melihatnya sama sekali, maka setelah berselang dua atau tiga hari kemudian beliau berkata: “Wahai Ibnul Khaththab tahukah kamu siapa yang bertanya tentang ini dan ini?” Umar menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi berkata: “Itu adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang perkara Dien (agama) kalian.” Umar berkata; “Dan beliau ditanya oleh seorang lelaki dari Juhainah atau Muzainah dia berkata; “Wahai Rasulullah yang mana yang kami lakukan, apakah sesuatu yang sudah selesai atau berlalu atau apakah sesuatu yang baru sekarang?” Nabi menjawab; “Sesuatu yang sudah berlalu (sudah ada), ” maka berkatalah seorang lelaki atau sebagian orang; “Wahai Rasulullah lalu untuk apa kami beramal?” Maka Nabi menjawab: “Calon penghuni Syurga mereka dimudahkan untuk berbuat amalan penghuni Syurga, dan calon penghuni Neraka dimudahkan berbuat amalan penghuni Neraka.” Yahya berkata; “Demikianlah sebagaimana kamu membacakannya kepada saya.”

Musnad Ahmad 180: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah Telah menceritakan kepadaku Salamah Bin Kuhail dia berkata; aku mendengar Abul Hakam berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang air anggur yang terdapat di al Jarr (kendi yang terbuat dari tanah liat) dan ad Dubbaa` (kendi yang terbuat dari kulit buah labu). Maka dia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari air anggur dalam al Jarr dan ad Dubbaa` dan beliau bersabda: “Barangsiapa ingin mengharamkan apa yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan, maka haramkanlah air anggur yang sudah menjadi khamer.” Abul Hakam berkata; dan aku bertanya kepada Ibnu Zubair, maka dia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari al Jarr dan ad Dubbaa`.” Abul Hakam berkata; dan aku bertanya kepada Ibnu Umar, maka dia menceritakan dari Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang al Jarr dan al Muzaffaat (kendi yang dicet dengan ter). Abul Hakam berkata; dan telah menceritakan kepadaku saudaraku dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari al Jarr, ad Dubbaa` dan al Muzaffaat serta kurma mentah dan kurma matang (dimaksudkan untuk membuat tuak).”

Musnad Ahmad 181: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id saya bertanya kepadanya, Telah menceritakan kepada kami Hisyam Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Salim Bin Abul Ja’d dari Ma’dan Bin Abu Thalhah Al Ya’mari bahwa Umar Bin Al Khaththab berdiri di atas mimbar pada hari Jum’at, kemudian memuji dan mengagungkan Allah lalu menyebutkan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu bakar kemudian berkata; “Aku bermimpi dan aku menganggapnya itu adalah pertanda akan tibanya ajalku, aku bermimpi seakan akan seekor ayam jantan mematukku dua kali” -Ma’dan berkata; dia (Umar) menyebutkan bahwa ayamnya berwarna merah, – kemudian aku ceritakan kepada Asma’ binti Umais istri Abu Bakar maka dia berkata; “Seorang lelaki Ajam (asing/selain arab) akan membunuhmu”. Umar berkata; “Dan sesungguhnya manusia menyuruhku untuk mengangkat seorang pengganti, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan agama dan kepemimpinanNya, yang dengannya Dia telah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, jika ajal mendahuluiku maka urusan ini kuserahkan untuk dimusyawarahkan diantara enam orang yang ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal beliau ridha kepada mereka, maka siapa saja diantara mereka yang kalian bai’at hendaklah kalian dengar dan taati, dan sesungguhnya aku mengetahui ada orang-orang yang akan mengacaukan urusan ini dan aku akan memerangi mereka dengan tanganku atas dasar Islam, mereka itulah musuh musuh Allah, orang-orang kafir lagi sesat, demi Allah aku tidak akan meninggalkan dari apa yang telah Rabbku janjikan kepadaku, kemudian menggantikanku dengan sesuatu yang lebih penting bagiku ketimbang Al kalalah (seseorang yang meninggal dan tidak meninggalkan bapak dan anak), dan demi Allah tidak pernah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan tentang sesuatu kepadaku sejak dahulu melebihi ketegasannya kepadaku dalam masalah Al kalalah, sampai beliau menusukkan jemarinya ke dadaku dan berkata: “Cukup bagimu ayat ash Shoif yang ada di akhir surat An Nisa`”, dan sesungguhnya jika aku hidup maka aku akan putuskan masalah itu dengan keputusan yang dapat diketahui oleh orang yang membaca dan orang yang tidak membaca, dan aku bersaksi kepada Allah atas pemimpin-pemimpin negri, aku mengutus mereka hanya supaya mereka mengajarkan kepada manusia perihal urusan agama mereka dan agar supaya mereka menjelaskan tentang sunah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mengadukan kepadaku apa yang mereka tidak tahu, sesungguhnya kalian wahai manusia memakan dua pohon yang tidak aku anggap kecuali keduanya adalah kotor yaitu bawang putih dan bawang merah ini, demi Allah aku telah melihat Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium baunya dari seorang lelaki, kemudian beliau menyuruhnya dan memegang tangannya kemudian dikeluar dari masjid sehingga sampai ke Baqi’, maka barangsiapa memakan keduanya hendaklah memasaknya hingga tidak ada baunya.”

Musnad Ahmad 182: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Numair dari Mujalid dari ‘Amir dari Jabir Bin Abdullah dia berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata kepada Thalhah Bin Ubaidillah; “Kenapa aku melihat rambutmu acak-acakan dan kumal berdebu sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mungkin kepemimpinan anak pamanmu telah membuat kamu sengsara wahai Thalhah?” Dia menjawab; “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya aku lebih patut dari kalian untuk tidak melakukan demikian, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya aku tahu satu kalimat yang apabila seseorang mengucapkannya ketika sedang menghadapi kematian pasti akan mendapati ruhnya dalam keadaan mudah ketika keluar dari jasadnya dan pada hari Kiamat mempunyai cahaya, ” akan tetapi aku belum sempat menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau belum memberitahukannya kepadaku, itulah yang membuat aku seperti ini, ” Umar berkata; “Aku mengetahuinya, maka segala puji hanya milik Allah tidak lain yang beliau katakan adalah kalimat yang beliau katakan kepada pamannya, yaitu “Laa Ilaaha Illallaah.” Thalhah berkata; “Kamu benar.”

Musnad Ahmad 183: Telah menceritakan kepada kami Ja’far Bin ‘Aun telah memberitakan kepada kami Abu ‘Umais dari Qais Bin Muslim dari Thariq Bin Syihab dia berkata; seorang lelaki Yahudi datang kepada Umar dan berkata; “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian telah membaca sebuah ayat dalam kitab kalian, yang seandainya diturunkan kepada kami orang-orang Yahudi pasti hari itu akan kami jadikan hari raya.” Umar bertanya; “Ayat apa itu?” Dia menjawab; “firman Allah: “Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah aku sempurnakan untuk kalian nikmatKu.” (QS Al Ma’idah ayat 3) Maka Umar berkata; “Sesungguhnya aku tentu mengetahui hari apa dan kapan ayat ini diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu pada hari Arafah Jum’at sore.”

Musnad Ahmad 184: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman Bin Al Harits Bin ‘Ayyasy Bin Abu Rabi’ah dari Hakim Bin Hakim Bin ‘Abbad Bin Hunaif dari Abu Umamah Bin Sahl Bin Hunaif bahwa seorang lelaki membidik lelaki lain dengan panah sampai mati, sementara dia (mayit) tidak punya ahli waris kecuali paman dari ibunya, maka dalam hal itu Abu Ubaidah Bin Jarrah menulis surat kepada Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Allah dan Rasul-Nya adalah wali bagi orang yang tidak punya wali dan paman dari ibu adalah wali bagi orang yang tidak punya wali.”

Musnad Ahmad 185: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ya’fur Al ‘Abdi dia berkata; aku mendengar seorang syaikh di Makkah pada masa pemerintahan Al Hajjaj bercerita dari Umar Bin Al Khaththab bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Umar kamu adalah lelaki yang kuat, maka janganlah berdesakan di Hajar Aswad, karena akan menyakiti orang yang lemah, jika kamu mendapatkan (hajar aswad) kosong maka ciumlah dia, dan jika tidak maka menghadaplah kearahnya sambil bertahlil dan bertakbir.”

Musnad Ahmad 186: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Kahmas dari Ibnu Buraidah dari Yahya Bin Ya’mar dari Ibnu Umar bahwa Jibril bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah iman itu?” Maka beliau menjawab: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir dan kepada Taqdir yang baik dan yang buruk.” Kemudian Jibril berkata kepada beliau; “Kamu benar.” Dia (Ibnu Umar) berkata; “Maka kami merasa heran kepadanya karena dia bertanya kemudian membenarkannya, ” dia berkata; kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajari kalian perkara Dien kalian.”

Musnad Ahmad 187: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin ‘Urwah dari bapaknya ‘Urwah dari ‘Ashim Bin Umar dari bapaknya dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika malam tiba” dalam kesempatan lain di berkata; “Malam datang dari sini dan siang pergi dari sini, maka orang yang berpuasa sudah waktunya untuk berbuka.” Yang beliau maksud adalah timur dan barat.

Musnad Ahmad 188: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Israil Bin Yunus dari Abdul A’la Ats Tsa`labi dari Abdurrahman Bin Abu Laila dia berkata; aku sedang bersama Umar, tiba tiba datanglah seseorang kepadanya lalu berkata; “Sesungguhnya aku telah melihat bulan sabit pertanda bulan Syawal, ” maka Umar berkata; “Wahai orang-orang berbukalah kalian.” Lalu dia berdiri menuju sebuah cawan yang berisi air, kemudian berwudlu dan mengusap kedua khuf-nya, maka laki-laki tersebut berkata; “Demi Allah, ya Amirul Mukminin, tidaklah aku datang kepadamu kecuali untuk menanyakan kepadamu tentang hal ini, apakah kamu melihat ada selain kamu yang melakukan hal ini?” Umar menjawab; “Ya ada, yaitu orang yang lebih baik dariku dan dia sebaik baik ummat, aku melihat Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan seperti yang aku lakukan, dan beliau mengenakan Jubah Syamiyah yang sempit dua lubang tangannya, kemudian beliau mengeluarkan tangannya dari bawah jubah.” Lalu Umar melaksanakan shalat Maghrib.”

Musnad Ahmad 189: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Sulaiman dari Jabir Bin Abdullah bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; “Sesungguhnya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharamkan biawak akan tetapi beliau merasa jijik darinya.” Dan selain Muhammad berkata; dari Sulaiman Al Yasykuri.

Musnad Ahmad 190: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim Bin ‘Ubaidillah dari Salim dari Abdullah Bin Umar dari Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia meminta izin kepada beliau untuk melaksanakan Umrah, kemudian beliau mengizinkannya, beliau berkata: “Wahai saudaraku jangan lupakan kami dalam doamu, ” dan berkata ketika di Madinah: “Wahai saudaraku sertakan kami dalam do’amu.” Maka Umar berkata; “Alangkah aku sangat menyukainya selagi matahari terbit karena perkataan beliau; “Wahai saudaraku.”

Musnad Ahmad 191: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj dia berkata; aku mendengar Syu’bah dari ‘Ashim Bin ‘Ubaidillah dari Salim dari Ibnu Umar dari Umar bahwa dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana pendapatmu apakah yang kami lakukan adalah perkara yang sudah ditetapkan atau perkara yang baru atau diadakan?” Beliau menjawab; “Perkara yang telah ditetapkan, ” kemudian Umar bertanya; “Tidakkah kami nanti akan bergantung dengannya?” maka beliau menjawab: “Berbuatlah wahai Ibnul Khaththab, karena setiap orang akan dimudahkan, adapun orang yang termasuk dari pemilik kebahagiaan maka dia akan berbuat untuk kebahagiaan, sedangkan orang yang termasuk dari pemilik kesengsaraan maka dia akan berbuat untuk kesengsaraan.”

Musnad Ahmad 192: Telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari ‘Ubaidillah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud telah mengabarkan kepadaku Abdullah Bin Abbas Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman Bin ‘Auf bahwa Umar Bin Al Khaththab berkhutbah di hadapan orang-orang dan dia (Abdurrahman) mendengarnya berkata; “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang mengatakan apakah ada hukum rajam? Padahal di dalam kitabullah hanya ada hukum dera. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan hukum rajam dan kami pun melakukan hukum rajam setelah beliau, seandainya orang-orang tidak akan mengatakan atau berbicara, bahwa Umar menambah sesuatu dalam kitabullah yang bukan darinya, niscaya aku akan menetapkannya sebagaimana diturunkannya.”

Musnad Ahmad 193: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; aku mendengar Yazid Bin Khumair bercerita dari Habib Bin ‘Ubaid dari Jubair Bin Nufair dari Ibnu Simthi bahwa dia datang di sebuah tempat bernama Daumain di Himsha jaraknya delapan belas mil, kemudian dia shalat dua rakaat, maka aku bertanya padanya; “Apakah kamu shalat dua rakaat?” Kemudian dia menjawab; “Aku melihat Umar Bin Al Khaththab di Dzul Khulaifah (bir Ali) melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian aku menanyakannya, dia menjawab; “Hanyasannya aku melakukan seperti apa yang aku lihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” atau dia berkata; “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Musnad Ahmad 194: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Ahmad Bin Hanbal; aku membacakan kepada Abdurrahman Bin Mahdi yang berbunyi, Malik dari Ibnu Syihab dari Salim Bin Abdullah dari Ibnu Umar dia berkata; “Salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid pada hari jum’at, sementara Umar Bin Al Khaththab sedang berkhutbah di hadapan manusia, maka Umar bertanya; “Jam berapa ini?” Maka dia menjawab; “Wahai Amirul Mukminin aku kembali dari pasar kemudian aku mendengar suara adzan dan aku tidak melakukan apa-apa kecuali aku langsung berwudlu.” Maka Umar bertanya; “Dan Cuma hanya berwudlu? Padahal kamu telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar mandi.”

Musnad Ahmad 195: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; “Orang-orang musyrik tidak meninggalkan Mudzdalifah sampai terbit matahari dari Tsabir, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi mereka dan meninggalkan Mudzdalifah sebelum matahari tenggelam.”

Musnad Ahmad 196: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij Telah menceritakan kepadaku Abu Az Zubair bahwa dia mendengar Jabir Bin Abdullah berkata; Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Al Khaththab, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, sehingga aku tidak tinggalkan di dalamnya kecuali orang muslim.”

Musnad Ahmad 197: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari bapaknya bahwa ketika Umar Bin Al Khaththab berdiri untuk berkhutbah pada hari Jum’at, tiba tiba masuklah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Umar memanggilnya; “Jam berapa ini?” Maka dia menjawab; “Hari ini aku sibuk dan aku tidak kembali kepada keluargaku sampai aku mendengar adzan, kemudian aku tidak menambah kecuali aku langsung berwudlu, ” maka Umar bertanya; “Berwudlu juga? Bukankah kalian telah mengetahui, ” dalam riwayat lain “Bukankah kamu telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyuruh untuk mandi.”

Musnad Ahmad 198: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim Telah menceritakan kepada kami Ikrimah yaitu Ibnu ‘Ammar Telah menceritakan kepadaku Simak Al Hanafi Abu Zamil dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdullah Bin Abbas Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Al Khaththab dia berkata; ketika terjadi perang Khaibar sekelompok dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada beliau sambil berkata; si fulan syahid si fulan syahid, sehingga mereka melewati seorang lelaki dan mereka berkata; fulan syahid, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, sesungguhnya aku melihatnya masuk nereka karena kain atau mantel yang dia curi.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ibnul Khaththab pergilah dan sampaikan kepada orang-orang bahwa tidak akan masuk syurga kecuali orang-orang beriman.” Umar berkata; maka aku keluar dan menyeru kepada orang-orang; “Ketahuilah bahwa tidak akan masuk Syurga kecuali orang-orang beriman.”

Musnad Ahmad 199: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Yazid Telah menceritakan kepada kami Daud yaitu Ibnu Abil Furath Telah menceritakan kepadaku Abdullah Bin Buraidah dari Abul Aswad Ad Daili dia berkata; ketika aku datang ke Madinah, di sana sedang terjadi wabah penyakit, banyak dari mereka meninggal dengan mengenaskan, kemudian aku duduk di sisi Umar, tiba tiba lewatlah jenazah di hadapannya, dan mayit tersebut dipuji dengan kebaikan, Umar berkata; “Wajib” kemudian lewatlah jenazah yang lain dan mayit tersebut dipuji dengan kebaikan dan dia berkata; “Wajib” kemudian lewat jenazah yang ketiga dan mayit tersebut dibeberkan keburukannya, Umar berkata; “Wajib” maka aku bertanya; “Apa artinya wajib wahai Amirul Mukminin?” Dia menjawab; aku berkata sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bahwasannya seorang muslim apabila disaksikan oleh empat orang dengan kebaikan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Syurga.” Kami bertanya; “Bagaimana jika tiga?” Beliau menjawab: “Atau tiga?” Kami bertanya lagi; “Bagaimana jika dua?” Beliau menjawab: “Atau dua.” Kemudian kami tidak menanyakan jika satu.”

Musnad Ahmad 200: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengabarkan kepadaku Bakar Bin ‘Amru bahwa dia mendengar Abdullah Bin Hubairah berkata; bahwa dia mendengar Abu Tamim Al Jaisyani berkata; bahwa dia mendengar Umar Bin Al Khaththab menerangkan bahwa dia mendengar Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rizqi kepada kalian, sebagimana Dia telah memberikan rizqi kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: