Musnad Ahmad: 201-300

Musnad Ahmad 201: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Telah menceritakan kepadaku Sa’id Bin Abu Ayyub Telah menceritakan kepadaku ‘Atho` Bin Dinar dari Hakim Bin Syarik Al Hudzali dari Yahya Bin Maimun Al Khadrami dari Rabi’ah Al Jurasyi dari Abu Hurairah, dari Umar Bin Al Khaththab, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian duduk dengan orang yang tidak percaya dengan taqdir, dan janganlah kalian membuka pembicaraan dengan mereka.” Abu Abdurrahman dalam riwayat lain berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 202: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yazid Bin Khumair Al Hamdani Abu Umar dia berkata; aku mendengar Habib Bin ‘Ubaid bercerita dari Jubair Bin Nufair dari Ibnu As Simth bahwa dia keluar bersama Umar menuju Dzul Hulaifah kemudian shalat dua rakaat, maka aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dia menjawab; “Aku melakukannya sebagaimana aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 203: Telah menceritakan kepada kami Abu Nuh Quradl telah memberitakan kepada kami Ikrimah Bin ‘Ammar Telah menceritakan kepada kami Simak Al Hanafi Abu Zumail Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; “Ketika terjadi perang Badar” Umar berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memandang kepada para sahabatnya dan mereka berjumlah tiga ratus lima puluh orang, kemudian melihat kepada orang-orang Musyrik dan jumlah mereka seribu lebih, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap Qiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan beliau mengenakan kain selendang dan sarungnya kemudian beliau berdoa: “Ya Allah manakah yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah tunjukkan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah sesungguhnya jika Engkau binasakan kelompok kecil dari orang-orang Islam ini, maka Engkau tidak akan disembah di bumi ini untuk selamanya.” Umar berkata; “Maka Nabi tidak henti hentinya memohon pertolongan kepada Rabbnya dan berdoa kepada-Nya hingga selendangnya terjatuh, maka Abu Bakar mendatanginya dan mengambil selendang beliau dan mengembalikannya kemudian mendampinginya dari belakangnya dan berkata; “Wahai Nabiyullah sudah cukup pengaduanmu kepada Rabbmu, karena Dia akan mengabulkan apa yang dijanjikan kepadamu, ” maka Allah menurunkan; ” (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal ayat 9). Maka ketika terjadi hari itu dan bertemulah dua pasukan, Allah menghancurkan orang-orang musyrik sehingga terbunuhlah dari mereka tujuh puluh orang tentara dan tertawan tujuh puluh orang tentra, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan Abu Bakar, Ali dan Umar. Abu Bakar berkata; “Wahai Nabiyullah mereka adalah anak anak paman, kerabat dekat dan masih saudara, maka saya berpendapat hendaknya Engkau mengambil dari mereka harta tebusan, dan apa yang kita ambil dari mereka menjadi kekuatan kita mengahadapi orang-orang kafir, semoga Allah akan memberikan hidayah kepada mereka sehingga mereka menjadi pendukung kita.” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa pendapat kamu wahai Ibnul Khaththab?” Umar menjawab; “Aku berkata; ‘demi Allah aku tidak berpendapat seperti pendapat Abu Bakar, akan tetapi aku berpendapat Engkau serahkan fulan kerabat Umar kepadaku untuk aku penggal lehernya, dan Engkau serahkan Aqil kepada Ali untuk dia penggal lehernya, dan Engkau serahkan fulan saudara Hamzah kepada Hamzah untuk dia penggal lehernya, sehingga Allah mengetahui bahwa tidak ada kasih sayang dalam hati kita kepada orang-orang musyrik, mereka adalah para pembesar, para tetua dan para pemimpin mereka.’ Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam condong kepada pendapat Abu Bakar dan tidak kepada pendapatku.” Kemudian beliau mengambil tebusan dari mereka, maka pada hari esoknya Umar berkata; “pagi pagi aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba tiba beliau dan Abu Bakar duduk dan keduanya menangis, maka aku bertanya; “wahai Rasulullah beritahukan kepadaku apa yang membuat Engkau dan sahabatmu menangis, jika aku bisa menangis, aku akan menangis dan jika aku tidak bisa menangis aku akan menangis nangiskan diri karena kalian berdua menangis”. Umar berkata; “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Pendapat yang diajukan sahabatmu berupa tebusan, sungguh telah ditampakkan kepadaku sisksa kalian lebih dekat ketimbang pohon yang paling dekat “dan Allah menurunkan firman-Nya “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi” (QS Al Anfal ayat 67), sampai firman-Nya; “Niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil” (QS Al Anfal ayat 68). yaitu tebusan, kemudian dihalalkan bagi mereka harta ghanimah (rampasan perang), maka ketika terjadi perang Uhud di tahun berikutnya mereka dihukum akibat apa yang mereka lakukan pada perang Badar berupa mengambil tebusan, sehingga diantara mereka gugur tujuh puluh orang, dan pada saat peperangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lari dari beliau, sehingga kedua gigi geraham beliau pecah, kening kepala beliau sobek dan mengalir darah di muka beliau, kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar ” (QS Ali Imran ayat 165) sampai firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran ayat 165) disebabkan kalian mengambil tebusan.

 

Musnad Ahmad 204: Telah menceritakan kepada kami Abu Nuh Telah menceritakan kepada kami Malik Bin Anas dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, kemudian aku bertanya kepadanya tentang sesuatu sebanyak tiga kali dan beliau tidak menjawabku, maka aku berkata dalam hatiku; “Alangkah malangnya kamu wahai Ibnul Khaththab, kamu berusaha keras kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak tiga kali tapi dia tidak menjawabmu.” Umar berkata; maka aku naiki kendaraanku dan aku maju karena khawatir akan turun sesuatu tentangku. Umar berkata; tiba tiba ada orang yang memanggilku; “Wahai Umar, di mana Umar?” Umar berkata; “Maka aku datangi karena saya mengira telah turun sesuatu tentang aku, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda: “Tadi malam telah turun kepadaku sebuah surat yang lebih aku sukai ketimbang dunia beserta isinya, “Sungguh kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan apunan kepadamu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang” (QS Al Fath ayat 1 – 2).”

 

Musnad Ahmad 205: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlar Telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Hakim Bin Jubair dari Musa Bin Thalhah dari Ibnul Hautakiyah dia berkata; Umar Bin Al Khaththab diberi makanan kemudian dia memanggil seorang lelaki akan tetapi dia berkata; “Aku sedang berpuasa.” Umar bertanya; “Puasa apa yang kamu lakukan? Seandainya tidak khawatir akan menambah atau mengurangi pasti aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika datang kepadanya seorang Arab badui dengan membawa seekor kelinci, akan tetapi susullah Ammar.” Maka ketika Ammar datang, Umar berkata; “Apakah kamu melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari beliau kedatangan seorang arab badui dengan membawa seekor kelinci?” Ammar menjawab; “Ya.” Ammar melanjutkan; aku melihat ada darahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Makanlah oleh kalian” Ammar berkata; “Aku sedang puasa.” Nabi bertanya: “Puasa apa yang kamu kerjakan?” Ammar menjawab; “Puasa di awal dan akhir bulan.” Kemudian Nabi bersabda: “Jika kamu ingin berpuasa maka puasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas.”

 

Musnad Ahmad 206: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlar Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aqil Telah menceritakan kepada kami Mujalid Bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami ‘Amir dari Masruq Bin Al Ajda’ dia berkata; aku bertemu dengan Umar Bin Al Khaththab kemudian dia berkata kepadaku; “Siapa kamu?” Aku menjawab; “Masruq Bin Ajda.” Maka Umar berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ajda’ itu nama setan, ” akan tetapi kamu adalah Masruq Bin Abdurrahman. Amir berkata; “Maka aku melihatnya di dalam catatan dokumen tertulis Masruq Bin Abdurrahman, aku bertanya; “Apa ini?” Maka dia menjawab; “Demikian Umar menamakanku.”

 

Musnad Ahmad 207: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Ja’far Bin Rabi’ah dari Az Zuhri dari Muharrar Bin Abu Hurairah dari bapaknya dari Umar Bin Al Khaththab bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari perbuatan ‘Azl (menumpahkan air mani di luar liang vagina istri) dari seorang istri kecuali atas izin darinya.”

 

Musnad Ahmad 208: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Abdul Malik Bin ‘Amru dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Hisyam maksudnya Ibnu Sa’d dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dia berkata; aku mendengar Umar berkata; “Jika aku hidup sampai tahun depan maka tidak ada satu kampung yang ditaklukkan, kecuali aku akan membaginya diantara mereka sebagaimana Rasulullah telah membaginya pada perang Khaibar.”

 

Musnad Ahmad 209: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abdullah Az Zabiri Telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Umar dia berkata; aku bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan kemudian aku bersumpah; “Tidak, demi bapakku.” Maka seseorang menegurku dari belakang dan berkata: “Jangan kalian bersumpah dengan bapak bapak kalian.” Ternyata dia adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 210: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir dari Umar dia berkata; “Jika aku hidup aku pasti akan mengeluarkan orang-orang yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab.”

 

Musnad Ahmad 211: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Bin Daud Abu Daud Telah menceritakan kepada kami Syarik dari ‘Ashim dari bapaknya dari Umar dia berkata; “Aku melihat Rasulullah mengusap kedua khuf.”

 

Musnad Ahmad 212: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Bin Daud Abu Daud Telah menceritakan kepada kami Sallam yaitu Abul Ahwas dari Simak Bin Harb dari Sayyar Bin Al Ma’rur dia berkata; aku mendengar Umar berkhutbah dan berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangun masjid ini, dan kami dari muhajirin maupun anshar bersama beliau, ketika masjid menjadi penuh sesak sampai-sampai seseorang dari kalian sujud di atas punggung saudaranya dan beliau melihat orang-orang shalat di jalanan, maka beliau bersabda: “Shalatlah kalian di dalam masjid.”

 

Musnad Ahmad 213: Dia (Ahmd Bin Hambal) berkata; aku membacakan kepada Yahya Bin Sa’id dari Zuhair dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Haritsah Bin Mudlarrab bahwa dia melaksanakan haji bersama Umar Bin Al Khaththab, kemudian pemuka-pemuka penduduk Syam mendatanginya dan berkata; “Wahai Amirul Mukminin, kami memiliki harta, budak dan hewan ternak, maka ambillah dari harta kami sebagai zakat yang dapat mensucikan kami, ” kemudian Umar menjawab; “Ini adalah sesuatu yang belum dilakukan oleh dua orang sebelumku akan tetapi tunggulah sampai aku bertanya kepada kaum muslimin.”

 

Musnad Ahmad 214: Telah menceritakan kepada kami Rauh dan Mu`ammal keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Abu Az Zubair dari Jabir Bin Abdullah bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jka aku hidup, pasti aku akan mengeluarkan orang-orangYahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab sampai tidak aku tinggalkan di dalamnya kecuali muslim.”

 

Musnad Ahmad 215: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab Bin Ziyad Telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnul Mubarak telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari As Sa`ib Bin Yazid dan Ubaidullah Bin Abdullah Bin ‘Utbah dari Abdurrahman Bin ‘Abd dari Umar Bin Al Khaththab, Abdullah berkata; “Bapakku telah menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa tertinggal sesuatu dari wiridnya, ” atau beliau bersabda: “Dari sebagiannya pada malam hari kemudian dia membacanya diantara shalat fajar sampai Dzuhur, maka seakan akan dia membacanya di malam harinya.”

 

Musnad Ahmad 216: Telah menceritakan kepada kami Abu Nuh Qurad Telah menceritakan kepada kami Ikrimah Bin ‘Ammar Telah menceritakan kepada kami Simak Al Hanafi Abu Zumail Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas Telah menceritakan kepadaku Umar dia berkata; ketika hari perang Badar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada sahabat sahabatnya yang berjumlah tiga ratus lima puluh dan beliau melihat kepada orang-orang musyrik yang berjumlah seribu lebih, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah Qiblat dan menengadahkan tangan sedang beliau mengenakan selendang dan sarung, kemudian beliau berdoa: “Ya Allah manakah yang telah Engkau janjikan kepadaku, tunjukkan apa yang telah Engaku janjikan kepadaku, ya Allah jika Engkau binasakan kelompok kecil dari ummat Islam ini, niscaya Engkau tidak akan disembah di bumi ini untuk selamanya.” Umar berkata; “Maka beliau tidak henti hentinya memohon pertolongan dan berdoa kepada Rabbnya sampai sampai selendangnya terjatuh, kemudian Abu Bakar mendatanginya dan mengembalikan selendang beliau dan mendampinginya dari belakang kemudian berkata; “Wahai Nabiyullah’sudah cukup pengaduanmu kepada Rabbmu karena Dia pasti akan memenuhi janji-Nya kepadamu.” Maka Allah Ta’ala menurunkan ” (ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal ayat 9) maka pada hari itu bertemulah dua pasukan dan Allah menghancurkan orang-orang musyrik, diantara mereka yang terbunuh berjumlah tujuh puluh orang dan tertawan tujuh puluh orang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan Abu Bakar, Ali dan Umar, Abu Bakar berkata; “Wahai Nabiyullah mereka adalah anak paman, keluarga dekat dan saudara saudara kita, maka saya berpendapat engkau ambil dari mereka uang tebusan, sehingga apa yang kita ambil dari mereka menjadi kekuatan bagi kita atas orang-orang kafir, dan mudah mudahan Allah akan memberi hidayah kepada mereka, sehingga mereka bisa menjadi penguat bagi kita.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa pendapatmu wahai Ibnul Khaththab?” Maka Umar berkata; “aku berkata; ‘Demi Allah, aku tidak berpendapat seperti pendapat Abu Bakar, akan tetapi aku berpendapat Engkau serahkan kepadaku fulan saudara Umar utuk aku penggal lehernya, dan Engkau serahkan ‘Aqil kepada Ali kemudian dia penggal lehernya, dan Engkau serahkan fulan saudara hamzah kepadanya kamudian dia penggal lehernya, sehingga Allah mengetahui bahwa tidak ada kasih sayang dalam hati kita kepada orang-orang musyrik, mereka adalah para pembesar, para tetua dan para pemimpin mereka.” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam condong kepada pendapat Abu Bakar dan tidak kepada pendapatku, ” Kemudian beliau mengambil tebusan dari mereka, maka pada esok harinya Umar berkata; “pagi pagi aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba tiba beliau dan Abu Bakar duduk dan keduanya menangis, maka aku bertanya; “Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku apa yang membuat engkau dan sahabatmu menangis? Jika aku bisa menangis, aku akan menangis dan jika aku tidak bisa menangis aku akan menangis nangiskan diri karena kalian berdua menangis.” Umar berkata; “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “” Pendapat yang diajukan sahabatmu berupa tebusan, sungguh telah ditampakkan kepadaku sisksa kalian lebih dekat ketimbang pohon yang paling dekat “dan Allah menurunkan firman-Nya “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi ” (QS Al Anfal ayat 67) sampai firman-Nya “niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil” (QS Al Anfal ayat 68). yaitu tebusan, kemudian dihalalkan bagi mereka harta ghanimah (rampasan perang), maka ketika terjadi perang Uhud di tahun berikutnya mereka dihukum akibat apa yang mereka lakukan pada perang Badar berupa mengambil tebusan, sehingga diantara mereka gugur tujuh puluh orang, dan pada saat peperangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lari dari beliau, sehingga kedua gigi geraham beliau pecah, kening kepala beliau sobek dan mengalir darah di muka beliau, kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar ” (QS Ali Imran ayat 165) sampai firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran ayat 165) disebabkan kalian mengambil tebusan.”

 

Musnad Ahmad 217: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin Abu Tsaur dari Ibnu Abbas dia berkata; tak henti hentinya aku bertanya kepada Umar Bin Al Khaththab tentang dua orang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala: “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan), ” (QS At Tahrim ayat 4), sampai sampai ketika Umar melaksanakan haji akupun melaksanakan haji bersamanya, ketika di tengah perjalanan, Umar menenpi dengan membawa bejana dan akupun menepei bersamanya, kemudian dia membuang hajat besar dan setelah itu dia mendatangiku lalu aku tuangkan ke atas kedua tangannya kemudian dia berwudlu, aku bertanya; “Wahai Amirul Mukminin siapakah dua orang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang dimaksud dalam firman Allah: “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan) ” (QS At Tahrim ayat 4)?” Maka Umar menjawab: “Sungguh mengherankan kamu ini wahai Ibnu Abbas, ” -Az Zuhri berkata; demi Allah, Umar tidak suka terhadap apa yang ditanyakan Ibnu Abbas kepadanya dan dia tidak merahasiakannya- Umar menjawab; “Dia adalah Hafshah dan Aisyah.” Ibnu Abbas berkata; “Kemudian Umar mulai menyebutkan hadits, dia berkata; “Kita wahai orang-orang Quraisy adalah suatu kaum yang berkuasa terhadap istri, kemudian ketika kita sampai di Madinah, kita mendapati suatu kaum yang para istrinya berkuasa terhadap suaminya, dan hampir hampir saja istri-istri kita meniru istri-istri mereka, ” Umar berkata; “Ketika itu rumahku di daerah Awali perkampungan Bani Umaiyah Bin Zaid, pada suatu hari aku marah kepada istriku, namun ternyata dia melawanku, maka aku mengingkari perlawanannya sehingga dia bertanya; “Kenapa kamu mengingkari perlawananku kepadamu, demi Allah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja melakukan perlawanan kepadanya, bahkan salah seorang dari mereka pada suatu hari menjauhinya sampai malam hari.” Umar berkata; kemudian aku pergi dan mendatangi Hafshah dan bertanya; “Apakah kamu melakukan perlawanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia menjawab; “Ya” aku bertanya lagi; “Dan salah seorang dari kalian menjauhinya dari siang hari sampai malam hari?” Dia menjawab; “Ya” aku berkata; “Sungguh telah sia-sia dan merugi siapa saja diantara kalian yang melakukan demikian, apakah salah seorang dari kalian akan merasa aman dari kemurkaan Allah disebabkan kemarahan RasulNya kepada kalian, maka sebenarnya dia telah binasa, janganlah melawan Rasulullah dan jangan pula menuntut sedikitpun kepadanya, dan mintalah kepadaku apa yang kamu butuhkan, janganlah kamu cemburu jika tetanggamu lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Yang dia maksudkan Aisyah, Umar berkata; “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum anshar dan kami biasa saling bergantian mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, satu hari dia hadir dan satu hari saya yang hadir, kemudian datang kepadaku dengan membawa khabar turunnya wahyu dan masalah yang lain, dan aku mendatanginya seperti itu juga.” Umar berkata; “Dan kami memperbincangkan tentang Ghassan bahwa mereka sudah mempersiapkan pasukan berkuda untuk memerangi kami. Suatu hari sahabatku yang mengunjungi (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) datang kepadaku di waktu Isya dan mengetuk pintuku, lalu dia memanggilku akupun keluar menemuinya, kemudian dia berkata; “Telah terjadi peristiwa yang sangat besar.” Aku bertanya; “Apa yang kamu bawa, tentang berita Ghassan?” Dia menjawab; “Tidak, bahkan beritanya lebih besar dan lebih panjang dari itu, yaitu berita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mentalak istri istrinya.” Maka aku berkata; “Telah sia-sia dan merugi Hafshah dan sebelumnya saya sudah menduga hal ini akan terjadi, ” setelah selesai shalat shubuh aku kencangkan bajuku kemudian pergi menemui Hafshah dan ternyata dia sedang menangis, maka aku bertanya; “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mentalak kalian?” Dia menjawab; “Aku tidak tahu, beliau sekarang sedang menyendiri di tempat minum.” Maka aku temui pelayan Rasulullah yang berkulit hitam dan aku berkata; “Mintakan izin untuk Umar, ” maka masuklah pelayan kemudian keluar kembali dan berkata; “Aku telah melaporkan kamu kepada beliau namun dia diam saja.” Kemudian aku pergi menuju mimbar dan ternyata di sekelilingnya banyak orang yang sedang duduk dan sebagian mereka menangis, maka aku duduk sebentar, namun apa yang sedang aku alami mengalahkanku sehingga aku menemui pelayan Rasulullah dan aku berkata; “Mintakan izin untuk Umar, ” kemudian dia masuk dan keluar kembali menemuiku dan berkata; “Aku telah melaporkan kamu kepadanya namun dia diam saja.” Lalu aku keluar dan duduk di mimbar namun apa yang aku alami mengalahkanku sehingga aku menemui pelayan lagi dan aku berkata; “Mintakan izin untuk Umar.” Kemudian dia masuk dan keluar kembali kepadaku dan berkata; “Aku telah laporkan kamu kepada beliau namun dia diam saja.” Akhirnya aku pergi meninggalkannya, akan tetapi tiba tiba pelayan memanggilku dan berkata; “Masuklah beliau telah mengizinkanmu.” Maka aku masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang bersandar di sebuah tikar sulaman.” Dan telah menceritakan kepada kami Ya’qub dari hadits Shalih dia berkata; “Bahwa Nabi bersandar di tikar anyaman sehingga membekas di bagian samping tubuh beliau, ” maka aku (Umar) bertanya; “Wahai Rasulullah apakah engkau telah menceraikan istri istrimu?” Beliau mengangkat kepalanya kepadaku dan berkata; “Tidak, ” maka aku mengucapkan takbir “Allahu Akbar (Allah maha besar), jika engkau wahai Rasulullah melihat kami, dan kami orang-orang Quraisy adalah kaum berkuasa terhadap para istri, akan tetapi setelah kami datang ke Madinah kami dapatkan suatu kaum yang istri-istri mereka berkuasa terhadap suami mereka, dan hampir-hampir istri-istri kita meniru istri-istri mereka, maka pada suatu hari aku marah kepada istriku, namun ternyata dia melawanku, aku ingkari perlawanannya kepadaku sehingga dia bertanya; “Kenapa kamu mengingkari perlawananku kepadamu, demi Allah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja melakukan perlawanan kepadanya, bahkan salah seorang dari mereka pada suatu hari menjauhinya sampai malam hari. Maka aku berkata; ‘Sungguh telah sia sia dan merugi siapa saja diantara mereka yang melakukan demikian, apakah salah seorang dari mereka akan merasa aman dari kemurkaan Allah disebabkan kemarahan RasulNya, maka sebenarnya dia telah binasa, ‘” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum, aku berkata; “Wahai Rasulullah aku telah menemui Hafshah dan aku katakan; ‘Jangan kamu cemburu jika tetanggamu lebih cantik dari kamu dan lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘” Beliau tersenyum lagi, dan aku berkata; “Izinkan aku wahai Rasulullah.” Nabi menjawab: “Ya.” Kemudian aku duduk dan mengangkat kepalaku ke atas rumah, maka demi Allah, aku tidak melihat sesuatu yang dapat mengalihkan pandangan kecuali tiga buah kulit, maka aku berkata; “Berdoalah wahai Rasulullah untuk kelapangan ummatmu karena orang-orang persia dan Romawi telah dilapangkan bagi mereka, padahal mereka tidak menyembah kepada Allah.” Beliau meluruskan duduknya dan bersabda: “Apakah ada keraguan pada dirimu wahai Ibnul Khaththab, mereka itu adalah kaum yang disegerakan kesenangan mereka dalam kehidupan dunia.” Aku berkata; “Mohonkanlah ampun untukku wahai Rasulullah, ” dan beliau telah bersumpah untuk tidak mendatangi istrinya selama sebulan karena dia sangat marah kepada mereka sehingga Allah menegurnya.”

 

Musnad Ahmad 218: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepadaku Yunus Bin Sulaim dia berkata; telah mendiktekan kepadaku Yunus Bin Yazid Al Aili dari Ibnu syihab dari ‘Urwah Bin Az Zubair dari Abdurrahman Bin Abdul Qari dia berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; apabila turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka terdengar di sisi wajahnya suara gemuruh seperti suara gemuruh tawon, maka kami berhenti menunggu sesaat, kemudian beliau menghadap Qiblat dan mengangkat kedua tangannya sambil berdoa “ALLAHUMMA ZIDNAA WALAA TANQUSHNAA WA AKRIMNAA WALAA TUHINNAA WA TUHINAA WALAA TAHRIMNAA WA AATSIRNAA WALAA TU’TSIR ‘ALAINAA WARDLA ‘ANNAA WA ARDLINAA (ya Allah tambahkan kepada kami dan jangan Engkau kurangi, muliakanlah kami dan jangan Engkau hinakan, berilah kami dan jangan Engkau tahan, menangkanlah kami dan jangan Engkau menangkan musuh musuh atas kami, ridlailah dari kami dan jadikan kami ridla) kemudian beliau bersabda: “Telah turun kepadaku sepuluh ayat, barangsiapa melaksanakannya maka dia akan masuk Syurga.” Kemudian beliau membacakan kepada kami: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS Al Mukminun: 1-10).”

 

Musnad Ahmad 219: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu ‘Ubaid budak Abdurrahman Bin Auf bahwa dia menyaksikan shalat Aid bersama Umar Bin Al Khaththab, lalu Umar melaksanakan shalat sebelum berkhutbah dengan tanpa adzan dan iqamat, kemudian dia berkhutbah dan berkata; “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari berpuasa pada dua hari ini, adapun salah satunya adalah karena dia hari berbukanya kalian dari berpuasa dan hari raya kalian, sedangkan yang lain adalah karena hari kalian memakan (daging) sembelihan kalian.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad Bin Ishaq Telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Sa’d Bin Abu ‘Ubaid budak Abdurrahman Bin Azhar dia berkata; “Aku menyaksikan hari raya ‘Aid bersama Umar Bin Al Khaththab, ” kemudian dia menyebutkan hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 220: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Umar mencium Hajar Aswad, kemudian berkata; “Sungguh aku mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu, seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu pasti aku tidak akan menciummu.”

 

Musnad Ahmad 221: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Sayyar dari Abu Wa`il bahwa seorang lelaki Nasrani yang bernama Ash shubay Bin Ma’bad masuk Islam, lalu dia hendak berangkat berjihad, maka dikatakan padanya; “Mulailah dahulu dengan melaksanakan haji, ” kemudian datang Al Asy’ari dan memerintahkannya untuk berniat haji dan Umrah sekaligus, lalu dia melakukannya, ketika dia sedang bertalbiyah (membaca lafadz “labbaika) tiba tiba datanglah Yazid Bin Shuhan dan Salman Bin Rabi’ah, lalu salah satu dari keduanya berkata kepada temannya; “Sungguh orang ini lebih sesat dari unta piaraannya.” terdengarlah oleh Shubay sehingga menjadi masalah baginya, kemudian dia datang menemui Umar dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya, lalu Umar berkata kepadanya; “Kamu telah ditunjukkan kepada Sunah Nabimu, ” Abu Wa`il berkata; dan dalam kesempatan lain saya mendengar dia berkata; “Kamu telah sesuai dengan Sunah Nabimu.”

 

Musnad Ahmad 222: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Umar dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu tidak tidur malam hari (bermusyawarah) bersama Abu Bakar tentang urusan kaum Muslimin, dan saya bersama beliau.”

 

Musnad Ahmad 223: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Abdullah Bin Sirjis dia berkata; aku melihat Al Ushaili’ -maksudnya Umar – mencium hajar Aswad sambil berkata; “Sesungguhnya aku menciummu, dan aku tahu kamu hanya sebuah batu yang tidak memberikan manfaat dan bahaya, seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu pasti aku tidak akan menciummu.”

 

Musnad Ahmad 224: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Numair Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Umar, aku bertanya; “Wahai Rasulullah apakah seseorang boleh tidur, sementara dia dalam keadaan junub?” Beliau menjawab: “Ya, apabila sudah berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 225: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari ‘Ashim dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila malam tiba, dan siang telah berlalu dan Matahari terbenam, maka tiba saatnya kamu berbuka.”

 

Musnad Ahmad 226: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Sa’d Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dan Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri secara makna dari Abu Ath Thufail ‘Amir Bin Watsilah bahwa Nafi’ Bin Abdul Harits bertemu dengan Umar Bin Al Khaththab di Usfan, dan Umar mengangkatnya sebagai gubernur Makkah, kemudian Umar berkata kepadanya; “Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin untuk penduduk lembah?” Dia menjawab; “Aku angkat untuk mereka Ibnu Abza.” Umar bertanya; “Siapa Ibnu Abza?” Dia menjawab; “Dia adalah salah seorang dari hamba sahaya kami.” Umar berkata; “Kamu angkat untuk mereka seorang budak?” Dia menjawab; “Sesungguhnya dia seorang yang hafal terhadap Kitabullah, paham dalam masalah pembagian fara`idl dan seorang Qadli.” Maka Umar berkata; “adapun sesungguhnya Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum dengan Kitab ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.”

 

Musnad Ahmad 227: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Sumai’ dari Muslim Al Bathin dari Abul Bakhtari dia berkata; Umar berkata kepada ‘Ubaidah Bin Al Jarrah; “Bentangkan tanganmu sehingga aku dapat membai’atmu, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu Amiin (kepercayaan) Ummat ini.” Abu ‘Ubaidah menjawab; “Aku tidak akan maju (mendahului) dihadapan seorang lelaki yang telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memimpin kami, kemudian memimpin kami sehingga wafat.”

 

Musnad Ahmad 228: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Syaqiq Bin Salamah dari Salman Bin Rabi’ah dari Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagikan pembagian (harta ghanimah), kemudian aku berkata; “Wahai Rasulullah, selain mereka ada yang lebih berhak dari mereka.” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya mereka memaksaku menentukan dua pilihan, antara mereka memaksaku dengan keji atau mereka akan menganggapku kikir, padahal aku bukanlah orang yang kikir.”

 

Musnad Ahmad 229: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ubaidullah Bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah salah seorang dari kami boleh tidur sementara dia dalam keadaan junub?” Beliau menjawab: “Ya, dan berwudlu dulu seperti wudlu untuk shalat.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pertanyaan yang semisalnya.”

 

Musnad Ahmad 230: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ubaidullah Bin Umar dari Nafi’ dia berkata; bahwa Ibnu Umar melihat Sa’d Bin Malik mengusap kedua khuf (sepatu dari kulit), Ibnu Umar berkata; “Apakah kalian biasa melakukan hal ini?” Sa’d menjawab; “Ya, ” lalu keduanya bertemu di sisi Umar, dan Sa’d berkata; “Wahai Amirul Mukminin, berilah fatwa anak saudaraku tentang mengusap kedua khuf!” Ibnu Umar bertanya; “Dan jika datang sehabis buang air besar dan buang air kecil?” Umar menjawab; “Ya, walaupun sehabis buang air besar atau buang air kecil.” Nafi’ berkata; “setelah itu Ibnu Umar selalu mengusap kedua khuf-nya, selama dia tidak melepaskannya, dan masih dalam batas waktu yang ditentukan untuk mengusapnya. Maka telah bercerita kepadaku Ma’mar, dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ayyub dari Nafi’ dengan hadits yang semisalnya.”

 

Musnad Ahmad 231: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan dia berkata; aku menukarkan perak dengan emas kepada Thalhah Bin ‘Ubaidillah, Thalhah berkata; “Tunggu saya, sehingga bendahara kami datang dari hutan, ” malik berkata; kemudian peristiwa itu terdengar oleh Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; “Tidak, demi Allah, kamu jangan berpisah darinya sehingga kamu terima pertukaran darinya dengan sempurna, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “(Menukar) emas dengan perak adalah riba kecuali dengan cara kontan.”

 

Musnad Ahmad 232: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin ‘Utbah dia berkata; ketika orang-orang banyak yang murtad pada masa kepemimpinan Abu Bakar, Umar bertanya; “Bagaimana mungkin kamu memerangi manusia wahai Abu bakar, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan; ‘laa ilaaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) ‘ apabila mereka telah mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ maka mereka telah menjaga diri dan harta mereka dariku, kecuali dengan haknya, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah.” Maka Abu Bakar menjawab; “Demi Allah, aku akan memerangi siapa saja yang membedakan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah haknya harta, demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan seekor anak kambing yang dahulu mereka bayarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya aku akan perangi mereka.” Umar berkata; “Demi Allah, tidak lain yang disampaikan Abu Bakar melainkan aku melihatnya bahwa Allah telah membukakan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, dan aku mengakui bahwa itu adalah yang benar.”

 

Musnad Ahmad 233: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dia berkata; Umar berkata; “Ketika aku bersama rombongan berjalan menuju suatu peperangan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku bersumpah dengan mengatakan; “Tidak, demi bapakku, ” tiba tiba ada seseorang yang menegurku dari belakang dan berkata: “Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak bapak kalian!” Maka aku menoleh, dan ternyata saya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 234: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari bapaknya dari Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar saya ketika saya mengucapkan sumpah dengan bapakku, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak bapak kalian!” Umar berkata; “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi bersumpah dengannya, baik dalam keadaan ingat atau tidak ingat.”

 

Musnad Ahmad 235: Telah menceritakan kepada kami Khalaf Bin Al Walid Telah menceritakan kepada kami Khalid dari Khalid dari Abu Utsman dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan dalam masalah sutera seukuran dua jari.”

 

Musnad Ahmad 236: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami At Taimi dari Abu Utsman dia berkata; ketika kami bersama ‘Utbah Bin Farqad, Umar menulis surat kepadanya yang berisikan sesuatu yang dia ceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan diantara yang dia tulis kepadanya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak memakai sutera di dunia, kecuali orang yang tidak akan memakainya sedikitpun di akhirat kecuali hanya segini.” Dan dia berkata; “Beliau menunjukkan dengan kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan tengah.” Abu Utsman berkata; “Aku melihat bahwa itu adalah pakaian kasar yang bergaris garis ketika kami melihat pakaian kasar yang bergaris garis.”

 

Musnad Ahmad 237: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman Bin Abdullah Bin Abu ‘Ammar dari Abdullah Bin Babaih dari Ya’la Bin Umaiyah dia berkata; aku berkata kepada Umar Bin Al Khaththab; “Bolehkah orang-orang mengqhashar shalatnya saat ini, padahal Allah hanya berfirman: “Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar shalat (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir” (QS An Nisa’ayat: 101), sementara sekarang hal itu sudah tidak ada lagi?” Umar menjawab; “Aku pernah merasa heran seperti apa yang kamu herankan, dan aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Itu adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian, maka terimalah oleh kalian sedekah-Nya.” Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Rozaq memberitakan kepada kami Ibnu Juraij aku mendengar Abdur Rahman bin ‘Abdullaoh bin Abi ‘Amar menceritakan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 238: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abi ‘Arubah Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa’id Bin Al Musayyib dia berkata; Umar berkata; “Sesungguhnya ayat dari Al Qur’an yang terakhir turun adalah ayat riba dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat dan beliau tidak menafsirkannya maka tinggalkanlah riba oleh kalian.”

 

Musnad Ahmad 239: Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Syu’bah Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa’id Bin Al Musayyib dari Ibnu Umar dari Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mayit akan disiksa di dalam kuburnya karena niyahah (ratapan) kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 240: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidillah telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar dari Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mayit akan disiksa karena ditangisi oleh keluarganya.”

 

Musnad Ahmad 241: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Yahya dia berkata; aku mendengar Sa’id Bin Al Musayyib, bahwa Umar berkata; “Janganlah kalian binasa disebabkan ayat yang menerangkan tentang hukum rajam, dengan mengatakan; ‘Kami tidak dapatkan dua hukum (rajam dan dera) dalam Kitabullah.” Maka aku pernah melihat Nabi melaksanakan hukum rajam, dan kamipun melaksanakan hukum rajam.”

 

Musnad Ahmad 242: Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas dia berkata; bahwa Umar berkata; “Aku menepati Rabbku dalam tiga hal dan Rabbku menyepakati aku dalam tiga hal; aku berkata; ‘wahai Rasulullah seandainya engkau menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, ‘ maka Allah menurunkan ayat; “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat, ” aku berkata; ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya orang yang datang kepadamu ada yang baik dan ada yang jahat, seandainya para Ummahatul mukminin (istri istri Rasulullah) engkau perintahkan supaya memakai hijab, ‘maka turunlah ayat tentang hijab. dan telah sampai berita kepadaku tentang kemarahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada beberapa orang istri beliau, ” dia berkata; “Maka aku mengusut Ummahatul Mukminin, aku mengunjungi mereka dan aku mengusut mereka satu persatu; “Demi Allah, berhentilah kalian (dari tindakan kalian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), atau jika tidak, maka Allah pasti akan mengganti kalian untuk Rasul-Nya dengan yang lebih baik dari kalian.” Dia berkata; “Sehingga aku menemui salah seorang istri beliau, lalu dia berkata; “Wahai Umar, tidak adakah nasehat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk para istrinya sampai kamu menasehati mereka?” Kemudian Allah menurunkan ayat: “Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat” (QS At Tahrim ayat 5).

 

Musnad Ahmad 243: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah Telah menceritakan kepadaku Abu Dzibyan aku mendengar Abdullah Bin Az Zubair berkata; janganlah kalian memakaikan kain sutera kepada istri-istri kalian, karena aku pernah mendengar Umar bercerita, dia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa memakai sutera di dunia, maka tidak akan memakainya di akhirat, ” dan Abdullah Bin Az Zubair berkata menurut dirinya; “Dan barangsiapa tidak memakainya di akhirat, maka tidak akan masuk syurga, sebab Allah Ta’ala berfirman: “Dan pakaian mereka di sana (akhirat) adalah sutera.” (QS Al Hajj ayat: 23)

 

Musnad Ahmad 244: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il Telah menceritakan kepada kami ‘Amir dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin ‘Ubaid Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Abu Khalid dari seorang lelaki dari Asy Sya’bi dia berkata; Umar melewati Thalhah. Kemudian Sya’bi menyebutkan makna hadits ini, Sya’bi berkata; Umar melewati Thalhah kemudian dia melihatnya dengan penuh perhatian, maka Umar berkata; “Bisa jadi kepemimpinan anak pamannu telah berbuat aniaya kepadamu?” Dia berkata maksudnya Abu Bakar, lalu dia (Thalhah) menjawab; “Tidak, akan tetapi aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat, yang tidaklah seseorang mengucapkannya menjelang wafatnya, kecuali akan ada baginya cahaya dalam lembarannya, atau akan mendapatkan kemudahan menjelang wafat.” Umar berkata; “Aku akan memberitahukan kalimat itu kepadamu, yaitu kalimat yang beliau kehendaki pada pamannya, persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Thalhah berkata; “Seakan akan sebuah penutup disingkap dariku, ” Umar berkata; “Kamu benar, seandainya beliau mengetahui sebuah kalimat yang lebih baik darinya, niscaya beliau akan memerintahkan (mengucapkan) kalimat itu.”

 

Musnad Ahmad 245: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij Telah menceritakan kepadaku Sulaiman Bin ‘Atiq dari Abdullah Bin Babaih dari Ya’la Bin Umaiyah dia berkata; aku thawaf bersama Umar Bin Al Khaththab, dan ketika aku berada di rukun (sudut) yang menyambung ke pintu (Ka’bah), yang menyambung ke Hajar (Aswad), aku menarik tangannya untuk menyentuhnya, akan tetapi dia berkata; “Tidak pernahkah kamu thawaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Aku menjawab; “Ya (pernah), ” Umar berkata; “Lalu apakah kamu melihat beliau menyentuhnya (sudut)?” Aku menjawab; “Tidak, ” Umar berkata; “Maka praktekkan olehmu, karena sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.”

 

Musnad Ahmad 246: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al A’masy Telah menceritakan kepada kami Syaqiq Telah menceritakan kepadaku Ash Shubay Bin Ma’bad dia adalah seorang lelaki yang berasal dari Bani Taghlib, dia berkata; dahulu aku adalah seorang yang beragama Nasrani kemudian masuk Islam, kemudian aku berijtihad dan aku tidak menyimpang, lalu aku berniat melaksanakan Umrah dan haji, aku melewati Salman Bin Rabi’ah dan Zaid Bin Shuhan di Udzaib, salah seorang dari keduanya berkata; “Apakah dia mengerjakan keduanya (Umrah dan Haji) secara sekaligus?” Temannya kemudian menjawab; “Biarkan dia, karena sesungguhnya dia lebih sesat dari untanya.” Shubay berkata; “Seolah-olah untaku berada di atas tengkukku, maka aku datang menemui Umar dan menceritakan peristiwa tersebut kepadanya, ” Umar kemudian berkata kepadaku; “Sesungguhnya mereka berdua tidak mengatakan apapun, engkau telah ditunjukkan kepada Sunah Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 247: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidillah Telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dari Umar bahwa dia berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernadzar pada waktu jahiliyah untuk beri’tikaf di masjidil haram satu malam, ” beliau menjawab; “Penuhilah nadzarmu.” Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq dia berkata; telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Mansur dari Abu Wa`il dari Shubay Bin Ma’bad At Taghlibi dia berkata; “Aku baru berpindah dari nasrani ke Islam, kemudian aku ingin berjihad atau melaksanakan haji, maka aku mendatangi salah seorang dari kaumku yang di dipanggil dengan nama Hudaim, aku bertanya kepadanya dan dia menyuruhku untuk melaksanakan haji, aku gabungkan antara haji dan Umrah.” Kemudian dia menyebutkannya.

 

Musnad Ahmad 248: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrahman dari Sufyan dari Zubaid Al Iyami dari Abdurrahman Bin Abul Laila dari Umar dia berkata; “Shalat dalam bepergian itu dua rakaat, shalat Aidul Adha itu dua rakaat, shalat Aidul Fitri itu dua rakaat dan shalat Jum’at itu dua rakaat genap tanpa qashar (diringkas) berdasarkan lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Sufyan berkata; dan suatu ketika Zubaid berkata; aku melihatnya dari Umar. Abdurrahman berkata; “Tanpa ada keraguan, ” dan Yazid Bin Harun berkata; Ibnu Abu laila berkata; “Aku mendengar Umar.”

 

Musnad Ahmad 249: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin Sa’d dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar bahwa dia mendapatkan kuda yang pernah digunakan berperang di jalan Allah dijual di pasar, kemudian Umar berkeinginan untuk membelinya, dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau melarangnya seraya bersabda: “Janganlah kamu mengambil kembali sedekahmu.”

 

Musnad Ahmad 250: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abu Khalid dari Qais dia berkata; aku melihat Umar yang sedang memegang pelepah kurma, dia mengumpulkan orang-orang dan berkata; “Dengarkanlah kepada perkataan khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” maka datanglah budak Abu Bakar yang dipanggil Syadid dengan membawa surat dan dia membacakannya kepada orang-orang, dia berkata; Abu Bakar berkata; “Dengarkan dan taatilah apa yang ada dalam surat ini, maka demi Allah tidaklah aku menyesatkan kalian.” Qais berkata; “Aku melihat Umar setelah itu berada di atas mimbar.”

 

Musnad Ahmad 251: Telah menceritakan kepada kami Al Mu`ammal Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah dari Imran As Sulami dia berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang perasan anggur, lalu dia menjawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari perasaan anggur (yang disimpan) di al Jarr dan ad Dubbaa`, kemudian aku menemui Ibnu Umar dan bertanya kepadanya maka dia menceritakan kepadaku, seingat saya dia menceritakannya dari Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari perasan anggur dalam al Jarr dan ad Dubbaa`, – Sufyan ragu – lalu dia (Imran) berkata; “Kemudian aku bertemu dengan Ibnu Az Zubair dan bertanya kepadanya maka dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari perasan anggur dalam al Jarr dan ad Dubbaa`.”

 

Musnad Ahmad 252: Telah menceritakan kepada kami Aswad Bin ‘Amir Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dari Abu Sinan dari ‘Ubaid Bin Adam dan Abu Maryam dan Abu Syu’aib bahwa ketika Umar Bin Khaththab di Jabiyah, dia menyebutkan pembebasan kota Baitul Maqdis. Aswad berkata; Abu Salamah berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sinan dari ‘Ubaid Bin Adam dia berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab bertanya kepada Ka’ab; “Di mana menurutmu aku melaksanakan shalat?” Ka’ab menjawab; “Jika kamu menerima pendapatku shalatlah kamu di belakang batu besar, maka Al Quds semuanya akan berada di hadapanmu, ” Umar berkata; “Kamu menyerupai orang-orang Yahudi, tidak, akan tetapi aku akan shalat seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat.” Dia maju dan menghadap ke arah Qiblat dan melaksanakan shalat, dia bentangkan selendangnya dan menyapu dengan selendangnya, kemudian orang-orang pun mengikuti menyapu juga.”

 

Musnad Ahmad 253: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Malik -Ibnu Mighwal- dia berkata; aku mendengar Al Fudlail Bin ‘Amru dari Ibrahim An Nakha`i dari Umar, dia berkata; aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Kalalah, lalu beliau menjawab: “Cukup bagimu ayat Ash Shaif.” Kemudian Umar berkata; “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Kalalah itu lebih baik bagiku dari pada aku memiliki seribu unta.”

 

Musnad Ahmad 254: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Muhammad Bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah Bin Dinar dari Ibnu Umar dari Umar, bahwa dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Sungguh aku mengalami junub.” Maka beliau menyuruhnya agar mencuci kemaluannya dan berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat.”

 

Musnad Ahmad 255: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Qaza’ah dia berkata; aku bertanya kepada Ibnu Umar; “Apakah Allah mengazab mayit ini karena tangisan keluarganya yang masih hidup?” Maka dia menjawab; Telah menceritakan kepadaku Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak berdusta kepada Umar demikian juga Umar tidak berdusta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 256: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid Bin Ziyad Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Bin ‘Ubaidillah Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari ‘Alqamah dari Al Qartsa’ dari Qais atau Ibnu Qais seorang lelaki berasal dari Ju’fi, dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; Rasulullah dan Abu Bakar sedang bersamaku, kemudian kami melewati Abdullah Ibnu Mas’ud yang sedang membaca (Al Qur’an), lalu beliau berdiri dan mendengarkan bacaannya, kemudian Abdullah ruku’ dan sujud, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mintalah niscaya kamu akan diberi, mintalah niscaya kamu akan diberi.” Umar berkata; kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlalu seraya bersabda: “Barangsiapa ingin membaca Al Qur’an dengan segar sebagaimana diturunkannya, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi ‘Abd.” Umar berkata; “Kemudian aku bermaksud menemui Abdullah Bin Mas’ud untuk memberikan kabar gembira kepadanya atas apa yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam katakan, Umar berkata; “Ketika aku mengetuk pintu, ” atau Umar berkata; “Ketika dia mendengar suaraku, dia bertanya; “Apa gerangan yang membuatmu datang pada waktu begini?” Aku menjawab; “Aku datang untuk memberikan kabar gembira kepadamu atas apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” dia berkata; “Kamu telah didahului oleh Abu Bakar.” Aku berkata; “Jika dia melakukannya maka pantas, karena dia adalah orang yang selalu terdepan dalam kebaikan, tidaklah kami berlomba dalam kebaikan dengannya melainkan pasti Abu Bakar telah mendahului kami.”

 

Musnad Ahmad 257: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah dari Sa’id Al jurairi dari Abu Nadlrah dari Usair Bin Jabir dia berkata; ketika orang-orang Yaman datang, Umar menyelidiki rombongan dan bertanya, apakah ada diantara kalian yang berasal dari Qaran (salah satu dari kabilah Murad)?” Kemudian dia mendatangi orang-orang yang berasal dari Qaran dan bertanya; “Siapa kalian?” Mereka menjawab; “Orang-orang Qaran.” Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Umar atau Uwais) mengambilkan untuk yang lainnya sehingga dia mengenalnya, Umar bertanya; “Siapa namamu?” Dia menjawab; “Saya Uwais.” Umar bertanya; “Apakah kamu mempunyai seorang ibu?” Dia menjawab; “Ya.” Umar bertanya lagi; “Apakah kamu pernah mengalami penyakit belang?” Dia menjawab; “Ya, dan aku memohon kepada Allah ‘azza wajalla, kemudian Allah menghilangkannya dariku, kecuali masih tersisa sebesar uang dirham di bagian pusarku sebagai pengingat kepada Rabbku.” Kemudian Umar berkata kepadanya; “Mohonkan ampun untukku.” Namun dia menjawab; “Kamu orang yang lebih patut memohonkan ampun untukku karena kamu telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka Umar berkata; “Sesungguhya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling baik dari generasi tabi’in adalah seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Uwais, mempunyai seorang ibu dan pernah mengalami penyakit belang kemudian dia memohon kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya kecuali masih tersisa sebesar uang dirham di bagian pusarnya.” Akhirnya dia memohonkan ampun untuk Umar, kemudian masuk ke dalam kerumunan orang sehingga tidak terlihat lagi di mana posisinya.” Usair berkata; “kemudian dia tiba di Kufah, ketika kami sedang berkumpul dan berdzikir kepada Allah dia duduk bersama kami, dan apabila dia berbicara maka kata-katanya mengena pada hati kami yang tidak seperti bicaranya orang lain.” Kemudian Usair menyebutkan hadits. Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik Bin Abu Asy Syawarib dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid Bin Ziyad dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Bin ‘Ubaidillah dari Ibrahim dari Qartsa’ dari Qais atau Ibnu Qais seorang lelaki dari Ju’fi dari Umar Bin Al Khaththab, kemudian dia menyebutkan hadits yang semakna dengan hadits Affan.

 

Musnad Ahmad 258: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Salamah Telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata kepada Hafshah ketika Hafshah menangisinya dengan tersedu-sedu; “Wahai Hafshah, tidakkah kamu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang yang diratapi itu akan disiksa.” Dia berkata; dan Shuhaib juga meratap, maka Umar berkata; “Wahai Shuhaib, tidakkah kamu tahu bahwa orang yang diratapi akan disiksa?”

 

Musnad Ahmad 259: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid Telah menceritakan kepada kami Yazid Ar Risyk dari Mu’adzah dari Ummu ‘Amru anak perempuan Abdullah, bahwa dia mendengar Abdullah Bin Az Zubair bercerita, bahwa dia mendengar Umar berkhutbah dan berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa memakai kain sutera di dunia, tidak akan dikenakan pakaian sutra kepadanya di akhirat.”

 

Musnad Ahmad 260: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Hammam Telah menceritakan kepada kami Qatadah Telah menceritakan kepada kami Abul ‘Aliyah dari Ibnu Abbas, Telah menceritakan kepadaku beberapa orang sahabat yang diridlai, diantara mereka adalah Umar. Di kesempatan lain ‘Affan berkata; telah bersaksi dihadapanku beberapa orang yang diridlai, dan yang paling aku ridlai adalah Umar, dia bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda; “Tidak ada shalat setelah dua shalat, yaitu setelah shalat Shubuh sampai matahari terbit dan setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam.” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Aban Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abul ‘Aliyah dari Ibnu Abbas dengan hadits seperti ini; “Telah bersaksi di hadapanku beberapa orang yang diridlai.”

 

Musnad Ahmad 261: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Qais Bin Muslim dari Thariq Bin Syihab bahwa orang-orang Yahudi mengatakan kepada Umar; “Sesungguhnya kalian membaca satu ayat, seandainya ayat itu diturunkan kepada kami, maka hari turunnya ayat tersebut pasti akan kami jadikan hari raya.” Lalu Umar menjawab; “Sesungguhnya aku sangat tahu dimana ayat tersebut diturunkan, pada hari apa diturunkan, dan tahu di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada ketika ayat tersebut diturunkan, bahwa ayat tersebut diturunkan pada hari Arafah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu sedang melaksanakan wukuf di Arafah.” Sufyan berkata; aku ragu tentang; “hari Jum’at atau bukan.” Yaitu ayat; “Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Ma’idah ayat: 3).

 

Musnad Ahmad 262: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Qais Bin Muslim dari Thariq Bin Syihab dari Abu Musa dia berkata; aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau berada di Bathha’ kemudian beliau bertanya: “Dengan apa kamu berihlal (berniat memulai haji/Umrah)?” Aku menjawab; “Dengan niat sebagaimana Nabi berniat.” Beliau bertanya: “Apakah kamu membawa hewan sembelihan?” Aku menjawab; “Tidak, ” beliau berkata: “Lakukanlah thawaf di Ka’bah, shafa dan Marwah kemudian kamu tahallul (menyudahi umrah/haji).” Maka aku melakukan thawaf di Ka’bah dan sa’i antara shafa dan Marwah, kemudian aku datang kepada isteriku dari kaumku dan dia menyisirkan rambutku dan membasuh kepalaku. Maka aku memfatwakan kepada orang-orang seperti itu atas perintah dari Abu Bakar dan Umar, dan ketika aku sedang bertugas pada musim haji datanglah seorang lelaki kemudian berkata; “Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang dilakukan Amirul Mukminin dalam masalah manasik Haji.” Aku menjawab; “Wahai orang-orang, barangsiapa telah kami beri fatwa maka inilah Amirul Mukminin datang kepada kalian dan ikutilah dia oleh kalian.” Maka ketika dia datang aku bertanya kepadanya; “Apa yang telah kamu perbuat dalam masalah manasik haji ini?” Dia menjawab; “Tidak lain kami hanya mengambil dari Kitabullah Ta’ala, karena Allah Ta’ala telah berfirman; “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah Karena Allah” (QS Al Baqarah; 196) dan jika kita mengambil Sunah Nabi kita, maka beliau tidak bertahallul kecuali setelah memotong hewan sembelihan.”

 

Musnad Ahmad 263: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Ibrahim Bin Abdul A’la dari Suwaid Bin Ghafalah dia berkata; aku melihat Umar mencium hajar (Aswad) seraya berkata; “Sesungguhnya aku tahu kamu hanyalah batu, yang tidak bisa mendatangkan bahaya dan tidak juga manfaat, akan tetapi karena aku melihat Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam (mencium) mu secara hati hati.”

 

Musnad Ahmad 264: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dan Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dia berkata; Umar berkata; -Abdurrazzaq berkata aku mendengar Umar berkata; – “Bahwa orang-orang Musyrik tidak meninggalkan mudzalifah sampai matahari terbit di atas Tsabiir, ” Abdurrazzaq berkata; dan mereka mengatakan; “Terbitlah (Matahari di atas) Tsabiir agar kami dapat segera pergi, ” maksudnya; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menyelisihi mereka dan beliau bertolak meninggalkan muzdalifah sebelum matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 265: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Malik dari Az Zuhri dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah dari Ibnu Abbas dia berkata; Umar berkata; “sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadanya. dan diantara ayat yang diturunkan kepadanya adalah ayat tentang hukum rajam. Kita telah membacanya, mengerti dan memahami ayat tersebut, maka aku khawatir jika dalam waktu yang lama manusia akan mengatakan; “Sesungguhnya kami tidak menemukan ayat tentang hukum rajam.” Kemudian sebuah kewajiban yang telah Allah Ta’ala turunkan ditinggalkan. Sesungguhnya hukum rajam adalah hak (benar adanya) dalam Kitabullah Ta’ala kepada siapa saja yang berbuat zina, jika dia telah Muhshon apabila ada bukti, atau hamil atau dengan pengakuan.”

 

Musnad Ahmad 266: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Abdurrahman Bin ‘Abd dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; “Aku mendengar Hisyam Bin Hakim membaca surat Al Furqon di dalam shalat tidak seperti yang aku baca, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membacakannya kepadaku, maka aku menarik bajunya dan membawanya kehadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mendengar dia membaca surat Al Furqon tidak seperti yang aku baca.” Maka beliau bersabda: “Bacalah (wahai Hisyam)!” Hisyam kemudian membaca bacaan yang tadi aku dengar darinya, kemudian beliau bersabda: “Demikianlah surat itu diturunkan.” Lalu beliau berkata lagi: “Bacalah (wahai Umar)!” Dan aku membacanya, kemudian beliau bersabda; “Demikianlah surat itu diturunkan, sesungguhnya Al Qur’an ini diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh dialek), maka bacalah dengan bacaan yang mudah.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Al Miswar Bin Makhramah dan Abdurrahman Bin Abdul Qori bahwa keduanya mendengar Umar berkata; “Aku melewati Hisyam Bin Hakim Bin Hizam dan dia sedang membaca surat Al Furqon, ” kemudian dia menyebutkan makna hadits.

 

Musnad Ahmad 267: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Al Mubarak dari Ma’mar dari Az Zuhri dari As Sa`ib Bin Yazid dari Abdullah Bin As Sa’di dia berkata; Umar berkata kepadaku; “Belum diceritakan kepadaku (tentang satu perihal) bahwa kamu bertugas mengurusi pekerjaan orang-orang, kemudian apabila kamu diberi upah kamu tidak menerimanya?” Abdullah Bin Sa’di menjawab; “Ya” Umar bertanya; “Lalu apa yang kamu inginkan dari itu?” Dia menjawab; “Aku sudah berkecukupan, aku mempunyai beberapa budak dan beberapa kuda, maka aku ingin pekerjaanku ini menjadi sedekah bagi kaum muslimin”, Umar berkata; “Jangan kamu lakukan, karena aku telah melakukan seperti yang kamu lakukan, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan (upah kerja) kepadaku, lalu aku berkata; “Berikanlah upah itu kepada orang yang lebih fakir dariku” kemudian beliau bersabda: “Ambillah, bisa kamu kembangkan (infestasikan) atau mensedekahkannya, apa yang Allah berikan kepadamu dari harta ini, sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta mintanya maka ambillah, dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu mengklaimnya menjadi milikmu.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari As Sa`ib Bin Yazid dia berkata; Umar bertemu dengan Abdullah Bin As Sa’di. kemudian As Sa`ib menyebutkan makna hadits, akan tetapi dia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersedekahlah dengannya, ” dan beliau mengatakan; “Maka janganlah kamu mengklaimnya menjadi milikmu.”

 

Musnad Ahmad 268: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; aku pernah menggunakan seekor kuda untuk (berjihad) di jalan Allah, kemudian pemilik kuda tersebut menelantarkannya, maka aku ingin membeli kuda tersebut, dan aku mengira dia akan menjualnya dengan harga yang murah, aku berkata; “Tunggu sampai aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” maka beliau bersabda: “Jangan membelinya sekalipun dia memberikan dirham kepadamu, karena perumpamaan orang yang mengambil kembali sedekah (pemberiannya) adalah seperti seekor anjing yang menelan kembali muntahnya.”

 

Musnad Ahmad 269: (Ahmad Bin Hambal) berkata; aku membacakan kepada Abdurrahman dari Malik dari Ibnu Syihab dari Abu ‘Ubaid mantan budak Ibnu Azhar bahwa dia berkata; “Aku menghadiri shalat Aid bersama Umar Bin Al Khaththab, kemudian dia melaksanakan shalat, selesai shalat dia bergegas berkhutbah kepada orang-orang seraya berkata; “Sesungguhnya pada kedua hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk berpuasa, karena (Aidul Fithri) adalah hari berbukanya kalian dari puasa kalian, dan yang kedua (Aidul Adlha) adalah karena hari kalian memakan (daging sembelihan) kurban kalian.”

 

Musnad Ahmad 270: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Ibrahim dari Yahya Bin Abu Ishaq dari Salim Bin Abdullah dia berkata; Umar adalah seorang yang cemburuan, apabila dia keluar untuk melaksanakan shalat ‘Atikah anak perempuan Zaid mengikutinya, padahal dia tidak suka kalau ‘Atikah keluar dan tidak suka juga untuk melarangnya, dan dia bercerita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Apabila istri-istri kalian meminta izin kepada kalian untuk melaksanakan shalat maka janganlah kalian melarang mereka.”

 

Musnad Ahmad 271: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar dia berkata; “Seandainya bukan karena kaum muslimin yang terakhir, sungguh tidaklah ditaklukkan sebuah kampung kecuali aku akan membagikannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan tanah Khaibar.”

 

Musnad Ahmad 272: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Salamah Bin ‘Alqamah dari Muhammad Bin Sirin dia berkata; telah diberitakan kepadaku dari Abul Ajfa’ As Sulami dia berkata; aku mendengar Umar berkata; “Ketahuilah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah mahar wanita, ketahuilah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah mahar wanita, karena jika perbuatan itu terhormat di dunia atau merupakan ketaqwaan kepada Allah, maka orang yang lebih patut dalam hal itu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan mahar kepada istri-istrinya dan juga tidak meminta mahar untuk anak-anak perempuannya melebihi dari dua belas uqiyah, sesungguhnya seorang lelaki pasti akan diuji dengan mahar istrinya.” dalam kesempatan lain dia berkata; “Sesungguhnya seorang lelaki pasti akan memberikan mahar yang tinggi kepada istrinya sampai menjadi musuh bagi dirinya dan sampai berkata; ‘aku terbebani untuk mengalungi qirbah (bejana dari kulit) ini karena kamu.” Abul ‘Auja` berkata; “Saat itu aku seorang anak badui yang masih bau kencur, dan tidak tahu apa itu mengalungi bejana.” Umar berkata; “Dan yang lain adalah ketika ada orang yang terbunuh dalam peperangan kemudian dia meninggal, lalu kalian mengatakan; ‘Si fulan syahid, ‘ padahal mungkin dia telah membawa hewan tunggangannya atau pelana kudanya dengan berisi emas atau perak dengan tujuan berdagang, maka janganlah kalian mengatakan demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa terbunuh dalam berperang di jalan Allah maka dia masuk syurga.”

 

Musnad Ahmad 273: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Al Jurairi Sa’id dari Abu Nadlrah dari Abu Firos dia berkata; Umar Bin Khaththab berkhutbah, dia berkata; “Wahai orang-orang, ketahuilah, bahwasanya kami mengetahui kalian ketika di tengah-tengah kita ada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan turun wahyu dan Allah memberitahukan kepada kita perihal kalian, ketahuilah sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlalu dan wahyu telah terputus, dan bahwasannya kami mengetahui kalian dengan apa yang kami katakan kepada kalian. Barangsiapa diantara kalian yang zhahirnya tampak baik maka kami menganggapnya orang baik dan kami mencintainya, dan barangsiapa diantara kalian yang zhahirnya tampak jahat maka kami menganggapnya jahat dan kami akan membencinya, urusan rahasia kalian adalah antara kalian dengan Rabb kalian, ketahuilah, pernah suatu ketika datang kepadaku kesempatan dan aku mengira bahwa barangsiapa membaca Al Qur’an dengan mengharap ridla dari Allah dan apa yang ada di sisiNya, sehingga aku berkhayal tentang akhirat, ketahuilah, sungguh orang-orang telah membacanya dengan mengharap apa yang ada pada manusia, maka berharaplah kalian kepada Allah dengan bacaan bacaan kalian, dan berharaplah kepada Allah dengan amal perbuatan kalian, ketahuilah sesungguhnya aku, demi Allah, tidaklah mengutus pegawai pegawaiku kepada kalian untuk memukuli kulit kulit kalian dan tidak juga untuk mengambil harta harta kalian, akan tetapi aku mengutus mereka kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian persoalan agama dan sunah kalian, maka barangsiapa di perlakukan selain dari tujuan itu hendaklah dia mengadukannya kepadaku, maka demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, pasti aku akan mengqishasnya.” maka bangkitlah ‘Amru Bin Al ‘Ash seraya berkata; “wahai Amirul Mukminin, bagaimana jika salah seorang lelaki dari kaum muslimin memimpin rakyatnya, kemudian dia menyiksa sebagian rakyatnya, apakah kamu akan mengqishasnya?” Umar menjawab; “ya, demi Dzat yang jiwa Umar ada di tangannya, pasti aku akan mengqishasnya, dan aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan qishas kepada dirinya, maka janganlah kalian memukul kaum muslimin sampai merendahkan mereka, janganlah kalian memaksa mereka sehingga membuat mereka tersiksa, janganlah kalian menahan hak hak mereka sehingga membuat mereka kafir dan janganlah kalian membiarkan mereka dalam kekurangan sehingga mereka tersia siakan.” Telah menceritakan kepada kami Isma’il dalam kesempatan lain dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Salamah Bin ‘Alqamah dari Muhammad Bin Sirin dia berkata; telah diberitakan kepadaku dari Abul ‘Auja’ dia berkata; aku mendengar Umar berkata; “ketahuilah, janganlah kalian berlebih lebihan dalam masalah mahar wanita.” kemudian dia menyebutkan hadits, Isma’il berkata; dan dia menyebutkan Ayyub, Hisyam dan Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Abul ‘Ajfa’ dari Umar semakna dengan hadits Salamah, mereka berkata; “tetapi Muhammad tidak berkata; telah diberitakan kepadaku dari Abul ‘Ajfa’.

 

Musnad Ahmad 274: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abdullah Bin Abi Mulaikah dia berkata; “Ketika aku berada di sisi Abdullah Bin Umar sedang menunggu datangnya jenazah Ummu Aban putri Utsman Bin Affan, dan di dekat Abdullah Bin Umar ada ‘Amru Bin Utsman, kemudian Ibnu Abbas datang dengan dituntun oleh seorang penuntun, ” Abdullah Bin Abi Mulaikah berkata; “Aku melihat orang yang menuntun Ibnu Abbas memberitahukan kepadanya akan posisi Ibnu Umar, kemudian Ibnu Abbas datang dan duduk di sampingku, maka aku berada diantara mereka berdua, tiba-tiba ada suara dari dalam rumah, Ibnu Umar kemudian berkata; “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya si mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya terhadap dirinya.” Kemudian Abdullah Bin Umar menyebutkan lafadz hadits tersebut secara umum (tanpa ada perincian). Kemudian Ibnu Abbas berkata; “Kami pernah bersama Amirul Mukminin Umar, hingga ketika kami berada di tanah lapang, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang lelaki yang mampir di bawah naungan sebatang pohon, Umar berkata kepadaku; “Pergilah, dan cari tahu siapa dia itu!” Kemudian aku pergi, dan ternyata lelaki tersebut adalah Shuhaib. kemudian aku kembali kepada Umar dan mengatakan; “Sesungguhnya kamu telah memerintahku untuk mencari tahu tentang orang itu dan dia adalah Shuhaib, ” Umar berkata; “Suruhlah dia agar menyusul bersama kita!” Aku berkata; “Sesungguhnya dia bersama keluarganya, ” Umar berkata; “Walaupun dia bersama keluarganya.” Dalam kesempatan lain, barangkali Ayyub menyebutkan; “Maka hendaklah dia menyusul kita.” Ketika kami telah sampai di Madinah, tidak lama kemudian Amirul Mukminin mendapat musibah. Kemudian Shuhaib datang dan berkata; “Aduhai saudaraku, aduhai sahabatku.” Maka Umar berkata; “Belum tahukah kamu, atau belum pernahkah kamu mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya si mayit akan disiksa karena sebagian tangisan keluarganya terhadap dirinya.” Adapun Abdullah Bin Umar, dia menyebutkan lafadz hadits tersebut secara umum, sedangkan Umar menyebutkan lafadz; “Karena sebagian tangisan.” Aku (Ibnu Abbas) kemudian menemui Aisyah dan menyebutkan perkataan Umar kepadanya, lalu Aisyah menjawab; “Tidak, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengatakan bahwa si mayit akan disiksa karena tangisan seseorang, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menambahkan siksaan kepada orang kafir karena tangisan keluarganya, dan sesungguhnya Allahlah yang menjadikan orang tertawa dan menangis; “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS An Najm ayat: 38).” Ayyub berkata; Ibnu Abi Mulaikah berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Qasim; dia berkata; ketika perkataan Umar dan Ibnu Umar sampai kepada Aisyah, Aisyah berkata; “sesungguhnya kalian telah menceritakan kepadaku dari dua orang yang bukan pendusta dan bukan pula didustakan, akan tetapi pendengaranlah yang (terkadang) salah.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdullah Bin Abi Mulaikah maka dia menyebutkan makna hadits Ayyub, tetapi dia berkata; maka berkata Ibnu Umar kepada ‘Amru Bin Utsman sambil menghadap kepadanya; kenapa kamu tidak berhenti menangis, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya kepadanya.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdullah Bin Abi Mulaikah, dia berkata; “meninggal anak perempuan Utsman Bin ‘Affan di Makkah, maka Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menghadiri pemakamannya, dan sesungguhnya aku duduk diantara keduanya, berkatalah Ibnu Umar kepada ‘Amru Bin Utsman sambil menghadap kepadanya; “kenapa kamu tidak berhenti menangis?, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya kepadanya.” Maka dia menyebutkan hadits Isma’il dari Ayyub dari Ibnu Abi Mulaikah.

 

Musnad Ahmad 275: Telah menceritakan kepada kami Husain Bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dia berkata; Umar berkata; aku bersama rombongan yang sedang berjalan menuju peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku bersumpah dengan mengucapkan; “Tidak, demi bapakku.” Tiba tiba ada seseorang yang membisikiku dari belakang: “Janganlah kalian bersumpah dengan (nama) bapak bapak kalian.” Kemudian aku menoleh dan ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 276: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Muyassar Abu Sa’id Ash Shaghani Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ishaq dari Muhammad Bin ‘Amru Bin ‘Atho` dari Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan dia berkata; Umar pernah bersumpah dengan tiga sumpah, dia berkata; “Demi Allah, tidak ada seorangpun yang berhaq dari yang lain termasuk aku terhadap harta ini. Demi Allah, tidaklah seorang muslim melainkan dia memiliki bagian dari harta ini kecuali hamba sahaya, akan tetapi di rumah kita ada Kitabullah Ta’ala dan pembagian kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka seorang lelaki berdasarkan pengorbanannya terhadap Islam, seorang lelaki berdasarkan terdahulunya dalam memasuki Islam, seorang lelaki berdasarkan kekayaannya dalam Islam dan seorang lelaki berdasarkan kebutuhannya, dan demi Allah, jika aku sisakan untuk mereka, pasti akan datang kepada seorang penggembala dari gunung Shan’a` bagiannya sementara dia sedang menggembala di tempatnya.”

 

Musnad Ahmad 277: Telah menceritakan kepada kami Abdul Quddus Bin Al Hajjaj Telah menceritakan kepada kami Shafwan Telah menceritakan kepadaku Abul Mukharik Zuhair Bin Salim bahwa Umair Bin Sa’d Al Anshari diangkat oleh Umar untuk memimpin daerah Himsha, kemudian dia menyebutkan hadits. Umar berkata kepada Ka’ab; “Sesungguhnya aku bertanya kepadamu tentang suatu perkara maka janganlah kamu sembunyikan kepadaku.” Ka’ab menjawab; “Demi Allah aku tidak akan menyembunyikan sesuatu yang aku ketahui.” Umar bertanya; “Apakah yang paling kamu takuti dari ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ka’ab menjawab; “Para pemimpin yang menyesatkan” Umar berkata; “Tepat kamu, hal itu telah aku sembunyikan pada diri saya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukannya kepadaku.”

 

Musnad Ahmad 278: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih telah berkata Ibnu Syihab; Salim berkata; aku mendengar Abdullah Bin Umar berkata; Umar berkata; “Kirimlah aku kepada seorang dokter agar dia dapat memeriksa lukaku ini.” Abdullah Bin Umar berkata; kemudian mereka mengirim Umar kepada seorang tabib dari kalangan Arab, dan tabib itu memberikan minum dengan perasan air anggur kepadanya, kemudian perasan anggur itu menyerupai darah saat keluar dari (lubang) tusukan yang ada di bawah pusar.” Abdullah Bin Umar berkata; kemudian aku memanggil tabib yang lain dari kaum Anshar dari Bani Mu’awiyah. lalu tabib itu meminumkan air susu kepada Umar, dan susu itu keluar dari (lubang) tusukan berwarna putih bening. tabib itu berkata kepada Umar; “Wahai Amirul Mukminin berjanjilah!” Umar menjawab; “Saudaraku Bani Umaiyah telah membenarkanku, seandainya kamu mengatakan selain itu, maka sesungguhnya aku telah berdusta kepadamu.” Abdullah Bin Umar berkata; “Kemudian ketika mereka mendengar perkataan itu orang-orang menangisi Umar.” Maka Umar berkata; “Janganlah kalian menangisiku, barangsiapa menangis maka keluarlah! tidakkah kalian mendengar apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya terhadapnya.” Oleh karena itulah Abdullah tidak membenarkan adanya ratapan di sampingnya terhadap seseorang yang telah meninggal dunia, baik dari anak anaknya maupun yang lainnya.”

 

Musnad Ahmad 279: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ats Tsauri dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dia berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; dahulu orang-orang Jahiliyah tidak meninggalkan Jam’un (Muzdalifah) sampai mereka melihat matahari berada di atas Tsabiir dan mereka mengatakan; ‘Terbitlah matahari di atas Tsabiir agar kami dapat segera pergi.’ kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak meninggalkan Jam’un (Muzdalifah) sebelum matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 280: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Al Miswar Bin Makhramah dan Abdurrahman Bin Abdul Qari bahwa keduanya mendengar Umar berkata; aku melewati Hisyam Bin Hakim yang sedang membaca surat Al Furqon pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, kemudian aku mendengarkan bacaannya, dan ternyata dia membaca dengan banyak huruf (dialek) yang belum pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bacakan kepadaku, aku hampir hampir saja menegur (membenarkan bacaannya) saat sedang shalat, kemudian aku menunggu sampai dia salam, setelah dia mengucapkap salam, aku menarik selendangnya sambil aku mengatakan; “Siapa yang membacakan surat yang kamu baca itu?” Dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membacakannya kepadaku.” Aku berkata kepadanya; “Dusta kamu, demi Allah, sesungguhnya Nabi pernah membacakan surat yang kamu baca itu kepadaku.” Kemudian aku membawanya menghadap kepada Nabi, aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar orang ini membaca surat Al Furqon dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau pernah membacakan surat Al Furqon kepadaku.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lepaskan dia wahai Umar! Bacalah wahai Hisyam! Kemudian Hisyam membacakan kepada beliau dengan bacaan yang tadi aku dengar darinya. kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demikianlah surat itu diturunkan, ” lalu beliau bersabda: “Bacalah (wahai Umar)!” Kemudian aku membaca dengan bacaan yang pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bacakan kepadaku, beliau kemudian bersabda: “Demikianlah surat itu diturunkan.” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan bacaan yang mudah.” Telah menceritakan kepada kami Al Hakam Bin Nafi’ telah memberitakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah bercerita kepadaku ‘Urwah tentang hadits Al Miswar Bin Makhramah dan Abdurrahman Bin Abdul Qori bahwa keduanya telah mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; “Aku mendengar Hisyam bin Hakim Bin Hizam membaca surat Al Furqon pada masa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka aku mengamati bacaannya, dan ternyata dia membaca dengan banyak huruf (dialek) yang belum pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bacakan kepada saya, maka hampir hampir saja saya menyela (bacaannya) ketika dalam shalat, namun aku memperhatikannya sampai dia selesai dari shalat, setelah dia salam, ” lalu dia menyebutkan hadits yang semakna.

 

Musnad Ahmad 281: Telah menceritakan kepada kami Husain Bin Ali dari Zaidah dari ‘Ashim dari bapaknya dari Ibnu Abbas dia berkata; Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang mencari malam Lailatul Qodar, maka hendaklah dia mencarinya pada sepuluh malam terakhir (bulan Ramadlan), yaitu pada malam yang ganjil.”

 

Musnad Ahmad 282: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Bisyr Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin ‘Urwah dari bapaknya dari Ibnu Umar bahwa Umar ditanya; “Apakah kamu tidak akan mengangkat khalifah (pengganti)?” Umar menjawab; “Jika aku meninggalkannya, maka sesungguhnya orang yang lebih baik dariku telah meninggalkannya, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. dan jika aku mengangkat seorang khalifah (pengganti), maka sesungguhnya orang yang lebih baik dariku, yaitu Abu Bakar telah mengangkat seorang khalifah.”

 

Musnad Ahmad 283: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Yahya Bin Sa’id bahwa Muhammad Bin Ibrahim telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia mendengar ‘Alqamah Bin Waqqas Al Laitsi berkata; bahwa dia mendengar Umar Bin Al Khaththab berkhutbah di hadapan manusia dan berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbuatan itu hanya tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan, barangsiapa Hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya akan menuju kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa Hijrahnya untuk mendapatkan keduniaan atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka Hijrahnya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.”

 

Musnad Ahmad 284: Telah menceritakan kepada kami Yazid Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Abu Utsman An Nahdi dari Umar Bin Al Khaththab bahwa dia berkata; “Pakailah sarung, selendang dan sandal, dan buanglah sepatu kulit dan celana panjang, janganlah meminta tolong kepada pengendara kuda, melompatlah kalian (ke atas kuda) dengan sekali hentakan, jauhilah pakaian dan penghidupan yang kasar, dan buanglah target, tinggalkanlah bersenang senang, pakaian bangsa asing, dan janganlah kalian memakai sutera, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang hal itu, dan beliau bersabda: “Janganlah kalian memakai sutera, kecuali hanya sebesar ini.” dan beliau memberi isyarat dengan kedua jarinya.”

 

Musnad Ahmad 285: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Yahya dari Sa’id Bin Al Musayyib bahwa Umar Bin Al Khaththab berkata; “Janganlah kalian binasa karena ayat tentang rajam, sehingga seseorang mengatakan; ‘Kami tidak menemukan dua hukuman dalam kitabullah Ta’ala, ‘ karena sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merajam, dan kamipun melaksanakan hukum rajam setelah beliau.”

 

Musnad Ahmad 286: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Al ‘Awwam Telah menceritakan kepadaku Syeikh yang ribath (menjaga perbatasan di daerah pantai) dia berkata; aku telah bertemu dengan Abu Shalih mantan hamba sahaya Umar Bin Al Khaththab, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Umar Bin Khaththab dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau telah bersabda: “Tiada satu malam kecuali laut pasang ke daratan sampai tiga kali, memohon kepada Allah untuk menampakkan kekuatannya kepada mereka (manusia), akan tetapi mencegahnya.”

 

Musnad Ahmad 287: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik dari Anas Bin Sirin dia berkata; aku berkata kepada Ibnu Umar; ceritakanlah kepadaku tentang talakmu kepada istrimu!. Ibnu Umar berkata; aku mentalaknya dalam keadaan haid, kemudian aku menceritakan hal itu kepada Umar Bin Al Khaththab, lalu Umar menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah kepadanya agar dia merujuknya, jika dia telah suci, maka hendaklah dia mentalaknya pada masa sucinya.” Anas berkata; aku berkata kepada Ibnu Umar; “Apakah kamu melaksanakan masa ‘iddah kepada istrimu yang kamu talak pada saat haid?” Ibnu Umar menjawab: “Kenapa aku dulu tidak melaksanakan masa ‘iddah yah? meskipun aku tidak mampu dan tidak mendekatinya.”

 

Musnad Ahmad 288: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Ashbagh dari Abul ‘Ala` Asy Syami dia berkata; Abu Umamah mengenakan pakaian baru, ketika sampai ke tengkuknya dia membaca; “Alhamdulillaahilladzii kasaanii maa uwaarii bihi ‘auratii wa atajammalu bihii fi hayaatii (segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian kepadaku yang dapat menutup auratku dan dapat berhias dengannya dalam hidupku), ” kemudian dia berkata; aku mendengar Umar Bin Khaththab berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memiliki pakain baru kemudian mengenakannya dan ketika sampai di tengkuknya dia membaca; ‘Alhamdulillaahil ladzii kasaanii maa uwaarii bihi ‘aurotii wa atajammalu bihii fi hayaatii (segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian kepadaku yang dapat menutup aurotku dan dapat berhias dengannya dalam hidupku) ‘ kemudian dia berniat dengan pakaian yang sudah usang atau yang sudah tidak dikenakan untuk diinfaqkan, maka dia berada dalam jaminan Allah Ta’ala dan berada di sisi Allah serta berada dalam lindungan Allah baik hidup maupun mati, baik hidup maupun mati dan baik hidup maupun mati.”

 

Musnad Ahmad 289: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Muhammad Bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah, apabila salah seorang dari kami hendak tidur sementara dia dalam keadaan junub, apa yang harus dilakukan sebelum mandi?” Beliau menjawab: “Hendaknya berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat kemudian tidur.”

 

Musnad Ahmad 290: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Warqa` bin ‘Umar dan Abu An Nadlar dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Warqa` dari Abdul A’la Ats Tsa`labi dari Abdurrahman Bin Abu Laila dia berkata; aku pernah bersama Al Barra’ bin ‘Azib dan Umar Bin Al Khaththab di pemakaman Baqi’ untuk melihat hilal (bulan sabit), kemudian seorang pengendara datang, Umar menemuinya dan bertanya; “Darimana kamu datang?” Pengendara itu menjawab; “Dari orang Arab badui”, Umar bertanya; “Apakah kamu telah melihat hilal?” Dia menjawab; “Ya.” Umar berkata; “Allah maha besar, sesungguhnya seorang cukup untuk kaum muslimin”, kemudian Umar berdiri, berwudlu dan mengusap kedua khuf-nya, kemudian shalat Maghrib, lalu dia berkata; “Demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan.” Abu An Nadlar berkata; “Dia memakai jubah yang kedua lengannya sempit, dan dia mengeluarkan tangannya dari bagian bawah jubah itu lalu mengusap khuf-nya.”

 

Musnad Ahmad 291: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Jarir telah memberitakan kepada kami Az Zubair Bin Al Khirrit dari Abu Lubaid dia berkata; seorang lelaki keluar dari Thahiyah untuk berhijrah, namanya Bairah Bin Asad, kemudian dia datang ke Madinah beberapa hari setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dilihat oleh Umar, lalu Umar mengetahui bahwa dia adalah orang asing, maka Umar bertanya kepadanya; “Siapa anda?” Dia menjawab; “Aku berasal dari penduduk Oman.” Umar berkata; “Ya.” Abu Lubaid berkata; Umar menggandeng tangannya dan membawanya menemui Abu Bakar, Umar berkata; “Dia berasal dari penduduk suatu negri yang aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui suatu negeri yang dinamakan Oman, yang di tepi-tepinya mengalir air laut, disana ada perkampungan dari kalangan arab, jika utusanku datang kepada mereka niscaya mereka tidak akan melemparnya baik dengan panah maupun batu.”

 

Musnad Ahmad 292: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami ‘Ashim Bin Muhammad dari bapaknya dari Ibnu Umar dari Umar, -dia berkata; aku tidak mengetahuinya kecuali dimarfu’kan (sampai kepada Nabi), – Umar berkata: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa merendah kepadaKu begini”, Umar merendahkan telapak tangannya ke tanah hingga hampir menyentuh ke tanah, ” maka aku akan mengangkatnya begini”, dan Umar menjadikan telapak tangannya menghadap ke langit kemudian mengangkatnya ke arah langit.”

 

Musnad Ahmad 293: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Dailam Bin Ghazwan Al ‘Abdi Telah menceritakan kepada kami Maimun Al Kurdi dari Abu Utsman An Nahdi dia berkata; aku sedang duduk di bawah mimbar Umar dan dia sedang menyampaikan khutbah kepada orang-orang, dia berkata dalam khutbahnya; aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti dari ummatku adalah setiap munafiq yang pandai bersilat lidah.”

 

Musnad Ahmad 294: Telah menceritakan kepada kami Rauh Telah menceritakan kepada kami Malik. Dan Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepadaku Malik telah berkata Abu Abdurrahman Abdullah Bin Ahmad; Telah menceritakan kepada kami Mush’ab Az Zubairi Telah menceritakan kepadaku Malik dari Zaid Bin Abi Unaisah bahwa Abdul Hamid Bin Abdurrahman Bin Zaid Bin Al Khaththab telah mengabarkan kepadanya dari Muslim Bin Yasar Al Juhani bahwa Umar Bin Al Khaththab ditanya tentang ayat ini: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka” (QS Al A’rof ayat: 172). Maka Umar menjawab; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang ayat tersebut, kemudian beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, kemudian mengusap sulbinya, lalu dari sulbinya (Adam) Allah mengelurkan keturunan Adam seraya berfirman: “Aku ciptakan mereka untuk masuk ke dalam syurga dan mereka beramal dengan amalan penghuni syurga.” Kemudian Allah mengusap sulbi Adam dan darinya Allah mengelurkan keturunannya, seraya berfirman; ‘Aku ciptakan mereka untuk masuk ke dalam neraka dan mereka beramal dengan amalan penghuni neraka.” Maka bertanyalah seorang sahabat; “Wahai Rasulullah lalu untuk apa beramal?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah apabila menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam syurga, maka akan menjadikannya beramal dengan amalan penghuni syurga, sehingga ketika dia meninggal berada di atas amalan penghuni syurga, kemudian memasukkannya ke dalam syurga. Dan apabila menciptakan hamba untuk masuk ke dalam neraka, maka akan menjadikannya beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga ketika dia meninggal berada di atas amalan penghuni neraka, kemudian memasukkannya ke dalam neraka.”

 

Musnad Ahmad 295: Telah menceritakan kepada kami Rauh Telah menceritakan kepada kami Malik Bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim Bin Abdullah Bin Umar dari bapaknya, bahwa salah seorang lelaki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki masjid pada hari Jum’at, sementara Umar Bin Al Khaththab dalam keadaan berdiri sedang berkhutbah, maka Umar bertanya; “Jam berapa sekarang?” Lelaki tersebut menjawab; “Wahai Amirul Mukminin, aku kembali dari pasar dan mendengar panggilan suara adzan, kemudian aku tidak lebih kecuali langsung berwudlu dan menuju (masjid).” Lalu Umar berkata; “Berwudlu juga, padahal kamu telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita untuk mandi.”

 

Musnad Ahmad 296: Telah menceritakan kepada kami Rauh Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Sulaiman Bin ‘Athiq dari Abdullah Bin Babaih dari beberapa orang keturunan Bani Ya’la dari Ya’la Bin Umaiyah dia berkata; aku melakukan thawaf dengan Umar Bin Al Khaththab kemudian dia mengusap rukun, Ya’la berkata; dan aku berada persis di sisi Ka’bah, maka ketika aku sampai di rukun barat yang bersebelahan dengan Hajar Aswad aku menjulurkan tangan untuk mengusapnya, maka umar bertanya; “Apa yang kamu lakukan?” Aku menjawab; “Tidakkah kamu mengusapnya?” Dia berkata; “Apakah kamu belum pernah melakukan thawaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka aku menjawab; “Ya.” Umar bertanya lagi; “Apakah kamu melihatnya mengusap kedua rukun di bagian barat ini?” Aku menjawab; “Tidak.” Umar berkata; “Bukankah kamu mempunyai suritauladan yang baik pada diri beliau dalam hal ini?” Aku menjawab; “Ya, ” kemudian Umar berkata; “Maka laksanakanlah untukmu (yang ada contohnya).”

 

Musnad Ahmad 297: Telah menceritakan kepada kami Utsman Bin Umar dan Abu ‘Amir dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Malik dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan dia berkata; aku datang dengan membawa beberapa uang dinarku yang hendak aku bagi bagikan, kemudian aku bertemu dengan Thalhah Bin ‘Ubaidillah, lalu dia menukar dan mengambil dinar-dinar itu, dia berkata; “Sampai datang Salmun bendaharaku, ” Abu ‘Amir berkata; “Dari hutan, ” Thalhah mengatakan semua itu secara tunai, Malik Bin Aus berkata; kemudian aku bertanya kepada Umar Bin Al Khaththab tentang hal itu, Umar menjawab; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Emas (ditukar) dengan perak adalah riba kecuali dengan tunai, gandum (ditukar) dengan gandum adalah riba keculai dengan tunai, jejawat (ditukar) dengan jejawat adalah riba kecuali dengan tunai dan kurma (ditukar) dengan kurma adalah riba kecuali dengan tunai.”

 

Musnad Ahmad 298: Telah menceritakan kepada kami Utsman Bin Umar telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Sa’id Bin Al Musayyib bahwa Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 299: Telah menceritakan kepada kami Bakar Bin Isa Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Al Mughirah dari Asy Sya’bi dari ‘Adi Bin Hatim dia berkata; “Aku datang kepada Umar Bin Al Khaththab ketika dia berada di tengah-tengah sekelompok orang dari kaumku, kemudian dia memberikan bagian dua puluh ribu kepada seseorang dari Bani Thayyi’ dan berpaling dariku, ” ‘Adi berkata; “Maka aku mendatanginya namun dia berpaling dariku, kemudian aku menemuinya dari arah wajahnya namun dia tetap berpaling dariku, ” ‘Adi melanjutkan; maka aku bertanya kepadnya; “Wahai Amirul Mukminin bukankah kamu mengenaliku?” ‘Adi berkata; “Kemudian dia tertawa sampai mendongak kemudian berkata; “Ya, demi Allah, sungguh aku mengenalimu, kamu adalah orang yang beriman pada saat orang-orang menjadi kafir, kamu adalah orang yang maju kegaris depan pada saat orang-orang mundur kebelakang, dan kamu adalah orang yang menepati janji ketika semua orang berkhianat, dan sesungguhnya sedekah yang pertama kali membuat wajah Rasulullah dan wajah para sahabatnya berseri adalah sedekahnya Bani Thayyi’ yang kamu bawa kepada hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian dia meminta maaf dan berkata; “Bahwasannya sedekah itu diberikan kepada kaum yang sedang dilanda kekurangan dan mereka adalah pemimpin pemimpin keluarga mereka, karena yang mereka tanggung adalah hak.”

 

Musnad Ahmad 300: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik Bin ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin Sa’d dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dia berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata: “Untuk apa Raml (lari lari kecil ketika thawaf dan Sa’i) pada saat ini dan membuka pundak, padahal Allah telah mengokohkan Islam dan menghilangkan kekufuran beserta pemeluknya, namun meski demikian kami tidak akan meninggalkan sesuatu yang pernah kami lakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: