Musnad Ahmad: 301-400

Musnad Ahmad 301: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Daud Bin Abul Furath Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Buraidah telah berkata ‘Affan dari Ibnu Buraidah dari Abul Aswad Ad Dili dia berkata; ketika aku tiba di Madinah, di sana sedang terjadi wabah penyakit, ” -Abdush Shamad berkata; “Mereka mati secara mengerikan, – kemudian aku duduk di sisi Umar Bin Al Khaththab, tiba tiba lewatlah (usungan) jenazah, dan mayit tersebut disanjung dengan kebaikan seraya Umar berkata; “Wajib.” Kemudian jenazah kedua lewat dan mayit tersebut disanjung dengan kebaikan seraya dia berkata; “Wajib.” Kemudian lewatlah jenazah ketiga, namun mayit tersebut dibeberkan keburukannya, maka seraya Umar berkata; “Wajib, ” Abul Aswad berkata; aku bertanya kepadanya; “Wahai Amirul Mukminin, apa maksudnya wajib?” Umar menjawab; “Aku mengatakan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa: “Seorang muslim siapa saja yang disaksikan dengan kebaikan oleh empat orang, maka Allah akan memasukkannya ke syurga.” Umar berkata; kami bertanya; “Jika (disaksikan) oleh tiga orang?” Beliau menjawab: “Juga oleh tiga orang.” Kami bertanya lagi; “Jika dua orang?” Beliau menjawab: “Juga oleh dua orang.” Umar berkata; “Kemudian kami tidak menanyakannya jika satu orang.”

 

Musnad Ahmad 302: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Telah menceritakan kepada kami Harb maksudnya Ibnu Syaddad Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah dia berkata; ketika Umar Bin Al Khaththab sedang berkhutbah, tiba tiba datanglah seorang lelaki lalu duduk, kemudian Umar bertanya; “Kenapa kalian terlambat dari menghadiri shalat Jum’at?” maka lelaki tersebut menjawab; “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak lain ketika mendengar Adzan dikumandangkan langsung berwudlu kemudian menuju masjid, ” lalu Umar berkata; “Dan juga (hanya berwudlu), apakah kalian belum pernah mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian hendak berangkat menuju shalat Jum’at, maka hendaklah mandi.” Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Telah menceritakan kepadaku bapakku Telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Mu’allim Telah menceritakan kepada kami Yahya telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bahwa Abu Hurairah telah mengabarkan kepadanya, bahwa ketika Umar sedang berkhutbah. Kemudian dia menyebutkan hadits diatas.”

 

Musnad Ahmad 303: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Telah menceritakan kepada kami Harb Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Imran Bin Hiththan menurut perkiraan Harb bahwa dia bertanya kepada Ibnu Abbas tentang memakai sutra, dia menjawab; “Tanyakan hal itu kepada Aisyah!, ” lalu dia bertanya kepada Aisyah, dan Aisyah menjawab; “Tanyakanlah kepada Ibnu Umar!” lalu dia betanya kepada Ibnu Umar, dan dia menjawab; Telah menceritakan kepadaku Abu Hafsh bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa memakai kain sutera di dunia, maka tidak akan mendapat bagian darinya pada hari akhir.”

 

Musnad Ahmad 304: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Hammad dan ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Daud Bin Abdullah Al Audi dari Humaid Bin Abdurrahman Al Himyari Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas di Bashrah dia berkata; aku adalah orang yang pertama datang menemui Umar ketika dia terkena tusuk, lalu dia berkata; “Ingatlah tiga hal dariku, sebab aku khawatir orang-orang tidak menemuiku, sebenarnya aku tidak memutuskan suatu keputusan tentang Kalalah, dan aku tidak mengangkat seorang khalifah (pengganti) untuk orang-orang (setelahku), dan setiap budak ada orang yang memerdekakannya.” Kemudian orang-orang berkata kepadanya; “Angkatlah seorang khalifah!” Umar menjawab; “Apapun yang aku kerjakan dari hal itu, maka sesungguhnya orang yang lebih baik dariku telah mengerjakannya; jika aku tinggalkan urusan mereka (kekhalifahan) kepada orang-orang (setelahku), maka sesungguhnya Nabiyullah ‘Alahish Shalatu Wassalam telah meninggalkannya. Dan jika aku mengangkat seorang khalifah, maka sesungguhnya orang yang lebih baik dariku, yaitu Abu Bakar telah mengangkat (seorang khalifah).” Kemudian aku berkata kepadanya; “Berbahagialah kamu dengan syurga, kamu telah menyertai Rasulullah dalam waktu yang cukup lama, kamu telah mengemban urusan kaum mukminin dan kamu sanggup serta kamu telah melaksanakan amanah.” Dia berkata; “Adapun kabar gembiramu terhadapku dengan syurga, demi Allah andai saja Syurga itu untukku, ” – Affan berkata; – “Maka sekali-kali tidak, demi Allah yang tidak ada tuhan kecuali Dia, seandainya dunia dan seisinya diperuntukkan bagiku, niscaya aku akan menebus bencana yang ada di hadapanku dengannya, sebelum aku mengetahui apa yang terjadi, adapun perkataanmu tentang urusan kaum mukminin, demi Allah, sesungguhnya aku menginginkan bahwa hal itu merupakan sekedarnya yang tidak menguntungkan dan merugikanku. Adapun yang kamu sebutkan tentang menyertai Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam memang itu (benar adanya).”

 

Musnad Ahmad 305: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Adam Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman Bin ‘Ayyasy dari Hakim Bin Hakim dari Abu Umamah Bin Sahal dia berkata; Umar menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah Bin Al Jarrah (yang berisi); “Ajarkanlah kepada anak anak kalian berenang dan cara berperang kalian dengan menggunakan panah, sebab mereka akan melaksanakan berbagai tujuan.” Lalu ada panah nyasar mengenai seorang anak hingga membunuhnya, akan tetapi tidak ditemukan orang tuanya, sementara dia berada dalam asuhan pamannya (dari pihak ibu), kemudian Abu ‘Ubaidah menulis surat kepada Umar tentang hal itu (yang berisi); “Kepada siapa aku memberikan diyatnya?” Lalu Umar menulis surat kepadanya; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Allah dan Rasul-Nya adalah wali bagi orang yang tidak ada walinya, dan paman (dari pihak ibu) adalah pewaris bagi orang yang tidak memiliki ahli waris.”

 

Musnad Ahmad 306: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Zaid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari ‘Amru Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Umar Bin Khaththab dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “yang mewarisi wala’adalah orang yang mewarisi harta baik dari bapak maupun anak.”

 

Musnad Ahmad 307: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin ‘Ubaid Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari ‘Abis Bin Rabi’ah dia berkata; aku melihat Umar mendekati Hajar (Aswad) kemudian berkata; “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa kamu hanyalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya dan tidak juga manfaat, seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.” Lalu dia mendekatinya dan menciumnya.

 

Musnad Ahmad 308: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Dujain Abul Ghushni orang Bashrah dia berkata; aku datang ke Madinah kemudian bertemu dengan Aslam hamba sahaya Umar Bin Al Khaththab, aku berkata kepadanya; “Ceritakan kepadaku sebuah hadits dari Umar, ” Dia menjawab; “Aku tidak bisa, aku takut akan menambah atau mengurangi, kami apabila berkata kepada Umar, ceritakanlah kepada kami hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menjawab; “Aku takut akan menambah atau mengurangi satu kalimat, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa berdusta kepadaku maka masuk neraka.”

 

Musnad Ahmad 309: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Zaid dari ‘Amru Bin Dinar mantan budak keluarga Az Zubair dari Salim dari bapaknya dari Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca ketika berada di pasar; ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walhul hamdu biyadihil khairu yuhyii wayumiitu whuwa ‘alaa kulli sya’in qodiir (tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah yang maha Esa tidak ada sekutu bagiNya, milikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, di tanganNyalah segala kebaikan, Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dia maha berkuasa atas segala sesuatu) ‘maka Allah akan mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan membangunkan baginya sebuah rumah di Syurga.”

 

Musnad Ahmad 310: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ikrimah Bin ‘Ammar Telah menceritakan kepada kami Abu Zumail Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Al Khaththab dia berkata; ketika terjadi perangan Khaibar, datanglah sekelompok orang dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengatakan; “Si fulan mati syahid dan si fulan mati syahid, ” sampai mereka melewati seorang lelaki, mereka mengatakan; “si fulan mati syahid.” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekali kali tidak, sesungguhnya aku melihat dia diseret ke dalam api neraka karena sebuah jubah yang dia ambil, wahai Umar, pergilah, dan serukan kepada orang-orang bahwa tidak akan masuk ke dalam syurga kecuali orang-orang yang beriman.”

 

Musnad Ahmad 311: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Israil Telah menceritakan kepada kami Sa’id Bin Masruq dari Sa’d Bin ‘Ubaidah dari Ibnu Umar dari Umar bahwa dia berkata; “Tidak, demi bapakku, ” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diamlah kamu, sesungguhnya barangsiapa bersumpah dengan sesuatu selain Allah, maka dia telah musyrik.”

 

Musnad Ahmad 312: Telah menceritakan kepada kami Hammad Al Khayyat Telah menceritakan kepada kami Abdullah dari Nafi’ dia berkata; bahwa Umar memperluas ruangan masjid dari tiang tiang hingga ke kamar-kamar kecil dan Utsman juga menambah, kemudian Umar berkata; seandainya aku tidak mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami ingin memperluas ruangan dalam masjid, ” niscaya aku tidak akan menambah.

 

Musnad Ahmad 313: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud dari Ibnu Abbas dari Umar bahwa dia berkata; “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa kebenaran, dan menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadanya, diantara ayat yang diturunkan kepadanya adalah ayat tentang hukum rajam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan hukum rajam, dan kamipun melaksanakan hukum rajam sepeninggal beliau, ” kemudian dia berkata; “sungguh kita telah membaca; “Janganlah kalian membenci bapak bapak kalian, karena bisa menjadikan kalian kafir, ” atau; “Sesungguhnya kalian bisa menjadi kafir karena membenci bapak bapak kalian, ” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana Ibnu Isa telah dikultuskan, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah; ‘Hamba-Nya dan Rasul-Nya’.” Bisa saja Ma’mar berkata; “Sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Ibnu Maryam.”

 

Musnad Ahmad 314: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, bahwa dia berkata kepada Umar; “Sesungguhnya aku mendengar orang-orang mengatakan suatu perkataan, akan tetapi aku enggan mengatakannya kepadamu, mereka mengira kamu tidak mengangkat seorang khalifah.” Lalu Umar menundukkan kepalanya sejenak kemudian mengangkatnya seraya berkata; “Sesungguhnya Allah akan memelihara Agama-Nya, jika aku tidak mengangkat seorang khalifah, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak mengangkat seorang khalifah, dan jika aku mengangkat seorang khalifah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah mengangkat seorang khalifah.” Ibnu Umar berkata; “Demi Allah, tidak lain hal itu kecuali dia (Umar) mengingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar, maka aku tahu bahwa tidak ada seorangpun yang menyamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak mengangkat seorang khalifah.”

 

Musnad Ahmad 315: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan dia berkata; Umar mengirim surat kepadaku, -kemudian dia menyebutkan sebuah hadits, – maka aku berkata kepada kalian berdua, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi, harta yang kami tinggalkan adalah menjadi sedekah.”

 

Musnad Ahmad 316: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibnul Musayyib dia berkata; “Ketika Abu Bakar wafat dia ditangisi, maka Umar berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya seorang mayit akan disiksa karena ditangisi oleh orang yang masih hidup.”

 

Musnad Ahmad 317: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Khalid Telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin ‘Utbah dari Abu Hurairah, dia berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sebagian orang menjadi kafir, -Abu Hurairah melanjutkan ceritanya; – “maka Umar Bin Al Khaththab berkata; “Wahai Abu Bakar, bagaimana mungkin kamu bisa memerangi manusia, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan “laa ilaaha illallah, ” dan barangsiapa telah mengucapkan “laa ilaaha illallah, ” maka mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku, sedangkan perhitungannya diserahkan kepada Allah.” Abu Bakar menjawab; “Aku akan memerangi orang yang membedakan antara (kewajiban) shalat dan zakat, karena sesungguhnya zakat adalah haknya harta, demi Allah seandainya mereka menolak memberikan seekor unta yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakannya.” Kemudian Umar berkata; “Demi Allah, tidak lain kecuali aku melihat bahwa Allah telah membukakan hati Abu Bakar untuk memerangi, dan aku tahu bahwa itulah yang benar.”

 

Musnad Ahmad 318: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus dari Umar, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi, dan harta yang kami tinggalkan adalah menjadi sedekah.”

 

Musnad Ahmad 319: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus dia berkata; Umar mengirim surat kepadaku, -kemudian dia menyebutkan hadits, – dan dia berkata; “Sesungguhnya harta Bani Nadlir adalah diantara harta yang Allah jadikan harta Fai` untuk Rasulullah yang diperoleh tanpa jerih payah dari kaum muslimin dengan kuda atau kendaraan lainnya, beliau membelanjakan harta tersebut untuk keluarganya selama satu tahun, dan sisanya beliau jadikan untuk membeli hewan tunggangan dan senjata sebagai persiapan (untuk perang) di jalan Allah.”

 

Musnad Ahmad 320: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Ashim Bin Umar dari bapaknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Apabila malam tiba, siang menghilang dan matahari terbenam, maka orang yang berpuasa telah tiba saatnya berbuka.”

 

Musnad Ahmad 321: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Yahya maksudnya Ibnu Sa’id dari ‘Ubaid Bin Hunain dari Ibnu Abbas dia berkata; aku ingin bertanya kepada Umar, namun aku tidak mendapatkan kesempatan, maka aku menunggu sampai dua tahun, ketika kami sampai di Marr Azh Zhahran dan Umar pergi untuk membuang hajat, setelah dia selesai membuang hajatnya, aku menghampirinya untuk memberikan air kepadanya, lalu aku berkata; “Wahai Amirul Mukminin, siapakah dua orang wanita yang telah melakukan keburukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Umar menjawab; “Aisyah dan Hafshah.”

 

Musnad Ahmad 322: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Ibnu Sirin dia telah mendengarnya dari Abul ‘Ajfa’ aku mendengar Umar berkata; “Janganlah kalian berlebihan (dalam memberikan) mahar kepada wanita. karena jika mahar itu merupakan penghormatan di dunia, atau ketakwaan kepada hari akhir, niscaya orang yang lebih baik dari kalian yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya, beliau tidak pernah menikahkan seorangpun dari putri-putrinya dan juga tidak pernah (menikahi) istri-istrinya (dengan mahar) di atas dua belas uqiyah. dan yang lain (janganlah kalian berlebih lebihan) mengatakan dalam medan tempur kalian; ‘si fulan mati syahid, si fulan mati syahid, ‘ padahal bisa jadi dia telah membebankan suatu beban berat di belakang kendaraannya atau pelana kendaraannya yaitu berupa emas atau perak, yang dimaksudkan untuk perniagaan. janganlah kalian mengatakan demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa terbunuh (karena berperang) di jalan Allah, maka dia masuk Syurga.”

 

Musnad Ahmad 323: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id Bin Abi Arubah dia mendiktekannya kepadaku dari Qatadah dari Salim Bin Abil Ja’d Al Ghathafani dari Ma’dan Bin Abu Thalhah Al Ya’mari bahwa Umar menyampaikan khutbah, dia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian dia teringat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar, lalu berkata; “Sesungguhnya aku bermimpi seolah olah ayam jantan mematukku dua kali. aku tidak memahami hal itu kecuali (tanda) akan datangnya ajalku. sesungguhnya ada beberapa orang yang memerintahkanku untuk mencari pengganti khalifah, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan Agama dan kekhilafahan-Nya, yang telah mengutus kepada Nabi-Nya untuk membawanya. jika ajalku segera menjemputku, maka kekhilafahan akan dimusyawarahkan oleh enam orang yang diridlai Nabiyullah saat beliau wafat. siapapun dari kalian yang kalian bai’at, maka kalian harus mendengar dan mentaatinya, sesungguhnya aku tahu ada beberapa orang yang akan menghujatku dalam hal ini, dan aku akan memerangi mereka dengan kedua tanganku ini atas nama Islam. jika mereka melakukannya, maka mereka adalah musuh musuh Allah yang kafir dan sesat. sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan meninggalkan sesuatu yang lebih penting bagiku dari pada persoalan kalalah. sesungguhnya aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, dan beliau tidak pernah menekankan sesutu kepadaku seperti yang beliau tekankan dalam hal ini, sehingga beliau menusukkan kedua jarinya ke dadaku atau lambungku. Kemudian beliau bersabda: “Wahai Umar, cukup bagimu ayat shaif yang termaktub di akhir surat An Nisa`.” sesungguhnya aku, jika masih dapat hidup, maka aku akan memutuskan dalam persoalan itu dengan keputusan yang akan diputuskan oleh orang yang dapat membaca (Al Qur’an) atau yang tidak bisa membaca Al Qur’an.” Kemudian Umar berkata “Ya Allah, sesungguhnya aku mempersaksikan para pemimpin negri itu kepada Engkau, sesungguhnya aku mengutus mereka agar mereka mengajarkan kepada manusia tentang agama dan Sunah Nabi mereka. membagikan harta Fai`nya kepada mereka, berbuat adil kepada mereka, dan mengadukan kepadaku sesuatu yang tidak jelas bagi mereka dari persoalan orang-orang itu.” Kemudian Umar berkata; “Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah memakan dari dua pohon yang menurutku keduanya adalah menjijikkan, pohon itu adalah bawang putih dan bawang merah. aku pernah melihat seorang lelaki pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tercium baun pohon itu darinya, maka tangannya di pegang, hingga dia dikeluarkan ke Baqi’. Barangsiapa yang hendak memakan keduanya, maka hendaknya dia memasak keduanya sampai hilang (bau) keduanya.” Ma’dan berkata; “Umar berkhutbah pada hari Jum’at, dan dia terbunuh pada hari Rabu, empat hari menjelang bulan Dzul Hijjah berakhir.”

 

Musnad Ahmad 324: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dia berkata; dan telah mengabarkan kepadaku Husyaim dari Al Hajjaj Bin Arthah dari Al Hakam Bin ‘Utaibah dari ‘Umarah dari Abu Burdah dari Abu Musa bahwa Umar berkata; “Itu adalah Sunah Rasulullah, -yaitu Mut’ah (haji), – akan tetapi aku khawatir mereka akan singgah untuk beristirahat dengan istri-istri mereka di bawah pohon Arak, kemudia mereka pergi dengan membawa istri-istri mereka untuk melaksanakan haji.”

 

Musnad Ahmad 325: Telah menceritakan kepada kami ‘Ali Bin ‘Ashim telah memberitakan kepada kami Yazid Bin Abu Ziyad dari ‘Ashim Bin ‘Ubaidillah dari bapaknya atau kakeknya -keraguan berasal dari Yazid- dari Umar dia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu setelah berhadats, kemudian mengusap kedua khuf-nya lalu beliau melaksanakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 326: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak dia berkata; aku mendengar ‘Iyadl Al Asy’ari berkata; aku menyaksikan perang Yarmuk dan bersama kami lima komandan pasukan; Abu Ubaidah Bin Al Jarrah, Yazid Bin Abu Sufyan, Ibnu Hasanah, Khalid Bin Al Walid dan ‘Iyadl, -namun ‘Iyadl yang ini adalah bukan ‘Iyadl yang menceritakan kepada Simak-.” ‘Iyadl berkata; Umar berkata; “Apabila terjadi perang maka hendaknya kalian bersama Abu Ubaidah” ‘Iyadl berkata; “Maka kami menulis surat kepadanya bahwasannya telah berguguran korban dipihak kami, maka kami meminta bala bantuan pasukan kepadanya, kemudian dia menulis surat balasan kepada kami bahwa; telah sampai kepadaku surat kalian yang berisi permintaan bala bantuan dan sesungguhnya aku tunjukkan kalian kepada yang lebih perkasa dalam kemenangan dan lebih siap pasukannya, yaitu Allah, maka mohonlah kemenangan kepadaNya, karena sesungguhnya Muhammad telah dimenangkan pada peperangan Badar padahal perlengkapan mereka lebih sedikit dari kalian, dan jika suratku ini sampai kepada kalian maka perangilah mereka dan jangan kalian kembali kepadaku.” ‘Iyadl berkata; “Maka kami memerangi mereka, menghancurkan mereka dan membunuh mereka sampai jarak empat farsakh, ” ‘Iyadl berkata; “Kami mendapatkan harta ghanimah kemudian bermusyawarah, maka ‘Iyadl mengusulkan kepada kami agar kami memberikan bagian sepuluh kepada tiap pemimpin” ‘Iyadl berkata; dan berkatalah Abu Ubaidah; “Siapa yang akan menggadaikan kepadaku?” maka berkatalah seorang pemuda; “Saya, jika kamu tidak marah ” ‘Iyadl berkata; “Maka pemuda tersebut mendahuluinya dan aku melihat kedua ikatan rambut Abu Ubaidah terjurai dan dia dibelakang pemuda itu di atas kuda arab.”

 

Musnad Ahmad 327: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Bakar telah memberitakan kepada kami ‘Uyainah dari Ali Bin Zaid dia berkata; aku tiba di Madinah, kemudian aku menemui Salim Bin Abdullah, dan aku memakai jubah yang terbuat dari bahan katun dan sutera, kemudian Salim berkata kepadaku; bahan apa yang kamu buat untuk baju ini? aku pernah mendengar bapakku bercerita dari Umar Bin Al Khaththab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahwasannya yang memakai kain sutera adalah orang yang tidak akan mendapatkan bagiannya (kelak di akhirat).”

 

Musnad Ahmad 328: Telah menceritakan kepada kami Abul MundZirr yaitu Isma’il Bin Umar, menurutku hadits itu bersumber dari Hajjaj dari ‘Amru Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; seorang lelaki membunuh anaknya dengan sengaja, kemudian hal itu diadukan kepada Umar Bin Al Khaththab, lalu Umar membebankan denda seratus ekor unta; tiga puluh ekor unta Hiqqoh (yang memasuki usia empat tahun), tiga puluh ekor unta Jadza’ah (unta betina yang memasuki usia lima tahun) dan empat puluh unta Tsaniyah (yang memasuki usia enam tahun). Umar berkata “pembunuh tidak dapat mewarisi. seandainya aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang ayah tidak dibunuh (diqishas) karena (membunuh) anaknya.” Niscaya aku akan membunuhmu.”

 

Musnad Ahmad 329: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dan Yazid dari Yahya Bin Sa’id dari ‘Amru Bin Syu’aib dia berkata; Umar berkata; “Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang membunuh tidak mendapatkan apa apa, ” pasti aku akan mewariskanmu.”‘ Amru berkata; kemudian Umar memanggil paman orang yang terbunuh dari jalur bapaknya dan memberinya seekor unta.” Telah menceritakan kepada kami Ya’Qub dia berkata; Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq dia berkata; telah bercerita kepadaku Abdullah Bin Abi Najih dan ‘Amru Bin Syu’aib keduanya dari Mujahid Bin Jabr kemudian dia menyebutkan hadits, dan dia berkata; “Umar mengambil unta betina yang berumur empat tahun sebanyak tiga puluh ekor, yang berumur lima tahun sebanyak tiga puluh ekor, dan yang berumur enam sampai sembilan tahun sebanyak empat puluh ekor dan kesemuanya adalah masih mengandung, ” ‘Amru berkata; “Kemudian Umar memanggil saudara laki-laki orang yang terbunuh dan memberikan kepadanya tanpa bapaknya dan Umar berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang membunuh tidak mendapatkan apa apa.”

 

Musnad Ahmad 330: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah Bin Khalid dari Malik Bin Aus Bin Al Hadatsan dia berkata; Al Abbas dan Ali datang kepada Umar dengan saling memperkarakan, Abbas berkata; “Putuskanlah antara aku dan orang ini dengan ini dan ini.” Kemudian orang-orang berkata; “Lerailah di antara keduanya, lerailah di antara keduanya, sebab keduanya telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Kami tidak diwarisi, harta yang kami tinggalkan adalah menjadi sedekah.”

 

Musnad Ahmad 331: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Ibnu Abi Arubah dari Qatadah dari Ibnul Musayyib bahwa Umar berkata; “Sesungguhnya di antara ayat yang terakhir kali diturunkan adalah tentang Riba, dan sesungguhnya Rasulullah telah wafat akan tetapi beliau tidak menafsirkan ayat tersebut, maka tinggalkanlah oleh kalian riba dan keraguan.”

 

Musnad Ahmad 332: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah yaitu Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari ‘Umarah Bin ‘Umair dari Ibrahim Bin Abu Musa dari Abu Musa bahwa dia pernah berfatwa dengan Mut’ah (melaksanakan ibadah haji dengan Tamatu’). seorang lelaki berkata kepadanya; “Hati hati dengan sebagian fatwamu, sebab kamu tidak tahu hadits yang diceritakan oleh Amirul Mukminin tentang Ibadah haji dan Umrah setelahmu.” Maka Abu Musa bertemu dengan Amirul Mukminin setelah itu, kemudian dia bertanya kepadanya, Umar menjawab; “Sesungguhnya aku tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya pernah mengerjakan itu (melaksanakan haji dengan Tamatu’). Akan tetapi aku tidak suka bila mereka bersama dengan istri-istri mereka singgah untuk beristirahat di bawah pohon Arak, kemudian mereka pergi untuk melaksanakan ibadah haji sedang kepala mereka menitikkan air.”

 

Musnad Ahmad 333: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d Bin Ibrahim dia berkata; aku mendengar ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin ‘Utbah bercerita dari Ibnu Abbas dari Abdurrahman Bin ‘Auf dia berkata; Umar Bin Al Khaththab melaksanakan ibadah haji kemudian dia ingin berkhutbah di hadapan orang-orang, kemudian Abdurrahman Bin Auf berkata; “Sesungguhnya telah berkumpul di sisimu orang-orang dari kalangan bawah, maka tangguhkanlah hal itu hingga kamu tiba di Madinah.” Ketika Umar tiba di Madinah, aku mendekatinya di dekat mimbar. lalu aku mendengar dia berkata; “Sesungguhnya orang-orang mengatakan; ‘kenapa ada hukuman rajam, sedangkan di dalam kitab Allah (Al Qur’an) itu hanya ada hukuman dera? ‘ Padahal Rasulullah pernah merajam, dan kamipun melaksanakan hukum rajam sepeninggal beliau, seandainya aku tidak khawatir mereka akan mengatakan; ‘Umar menetapkan di dalam Kitab Allah sesuatu yang bukan darinya.’ Niscaya aku akan menetapkan hukuman rajam itu sebagaimana hukuman dera diturunkan.”

 

Musnad Ahmad 334: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak Bin Harb dia berkata; aku mendengar An Nu’man yaitu Ibnu Basyir berkhutbah, dia berkata; Umar menyebutkan kenikmatan dunia yang dialami orang-orang, maka dia berkata; “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seharian penuh perutnya memlilit kosong karena tidak menemukan sebiji kurma buruk pun yang dapat mengisi perut beliau.”

 

Musnad Ahmad 335: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Syu’bah dia berkata; aku mendengar Qatadah bercerita dari Sa’id Bin Al Musayyib dari Ibnu Umar dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mayit akan di siksa di dalam kuburnya karena diratapi.” dan Hajjaj berkata; “Karena niyahah kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 336: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Qatadah dia berkata; aku mendengar Rufai’Abul ‘Aliyah bercerita dari Ibnu Abbas Telah menceritakan kepadaku para lelaki, -Syu’bah berkata; aku mengiranya dia mengatakan; dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- dia berkata; “Dan yang paling mengagumkan dari mereka adalah Umar Bin Al Khaththab, adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari melaksanakan shalat pada dua waktu, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam dan setelah shalat Shubuh sampai matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 337: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Qatadah dia berkata; aku mendengar Abu Utsman An Nahdi berkata; telah sampai surat Umar kepada kami, ketika itu kami sedang berada di Azerbaijan bersama ‘Utbah Bin Farqad, atau kami sedang berada di Syam, (yang berisi); “Amma ba’du, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang sutera, kecuali hanya (sebesar) ini, dua jari, ” Abu Utsman berkata; “Kami tidak lamban memahami apa yang Umar maksud dan kehendaki, bahwa dia bermaksud gambar gambar yang ada di baju.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, Hajjaj dan Abu Daud dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dia berkata; aku mendengar Abu Utsman An Nahdi berkata; “Telah sampai kepada kami surat Umar.”

 

Musnad Ahmad 338: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Abu Daud dari Syu’bah dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dia berkata; Umar melaksanakan shalat Shubuh ketika berada di Jam’un (Muzdalifah).” Abu Daud berkata; “Ketika kami bersama Umar di Jam’un, Umar berkata; “Sesungguhnya orang-orang Musyrik tidak meninggalkan Jam’un sehingga matahari terbit, dan mereka mengatakan; “Terbitlah (diatas) Tsabir.” Dan sesungguhnya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi mereka lalu beliau meninggalkan Jam’un sebelum matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 339: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah Bin Dinar dia berkata; aku mendengar Ibnu Umar berkata; Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Tadi malam aku junub lalu apa yang harus aku lakukan?” Beliau menjawab: “Cucilah kemaluanmu kemudian berwudlulah lalu tidur.”

 

Musnad Ahmad 340: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah Bin Kuhail dia berkata; aku mendengar Abul Hakam berkata; aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang al Jarr, maka dia bercerita kepada kami dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari (perasan anggur yang terdapat di) al Jarr, ad Dubbaa`) dan al Muzaffaat.”

 

Musnad Ahmad 341: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim Al Ahwal dari Abdullah Bin Sirjis dia berkata; aku melihat Al Ushaili’ maksudnya Umar Bin Al Khaththab mencium Hajar (Aswad) seraya berkata; “Sesungguhnya aku mengetahui kamu hanyalah sebuah batu, akan tetapi aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu.”

 

Musnad Ahmad 342: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata; aku mendengar Abu Hamzah Adl Dluba’i bercerita dari Juwairiyah Bin Qudamah dia berkata; “Aku melaksanakan ibadah haji, kemudian pada tahun Umar mendapat musibah aku datang ke Madinah, ” Juwairiyah berkata; “Umar berkhutbah dan berkata; “Sesungguhnya aku bermimpi seakan akan ayam jantan merah mematukku dengan satu atau dua patukan” -Syu’bah seakan ragu- dan ternyata perkaranya adalah dia ditikam, kemudian dia mengizinkan kepada orang-orang untuk menemuinya, dan orang yang pertama kali menemuinya adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian penduduk Madinah, penduduk Syam, dan memberikan izin juga kepada penduduk Irak untuk menemuinya, dan aku menemuinya bersama orang-orang yang menemuinya, ” dia melanjutkan ceritanya; “Setiap orang yang datang menemuinya, mereka memujinya dan menangis.” Dia berkata; ketika kami menemuinya, dia membalut perutnya dengan surban hitam akan tetapi darahnya tetap mengalir.” juwairiyah berkata; kemudian kami berkata; “Berilah kami wasiat!” dan tidak ada seorangpun yang meminta wasiat kepadanya selain kami, lalu dia berkata; “Berpegang teguhlah kepada kitab Allah (Al Qur’an), sebab kalian tidak akan tersesat selama kalian mengikutinya.” Lalu kami berkata; “Berilah kami wasiat!” Dia berkata; “Aku wasiatkan kepada kalian kaum Muhajirin, karena manusia akan semakin banyak dan mereka akan menjadi sedikit, dan aku wasiatkan kepada kalian kaum Anshar, karena mereka adalah masyarakat Islam tempat kembalinya Islam, dan aku wasiatkan kepada kalian bangsa Arab, karena mereka adalah asal usul dan bagian dari kalian, kemudian aku wasiatkan kepada kalian Ahlu Dzimmah, karena mereka memiliki perjanjian dengan Nabi Kalian dan menjadi sumber rizqi keluarga kalian, bangkitlah kalian dariku!” Juwairiyah berkata; “Dan dia tidak menambahkan kepada kami selain kalimat wasiat tersebut.” Muhammad Bin Ja’far berkata; Syu’bah berkata; “Kemudian aku menanyakannya setelah itu, maka dia berkata tentang orang-orang Arab; “Aku juga mewasiatkan bangsa Arab kepada kalian, karena mereka adalah saudara saudara kalian dan musuh mereka adalah musuh kalian juga.” Telah menceritakan kepada kami Hajjaj Telah memberitakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Abu Hamzah Adl Dluba’i bercerita dari Juwairiyah Bin Qudamah dia berkata; “Aku melaksanakan ibadah haji, kemudian pada tahun Umar mendapat musibah aku datang ke Madinah, ” dia melanjutkan; Umar berkhutbah dan berkata; “Sesungguhnya aku bermimpi seakan akan ayam jantan merah mematukku dengan satu atau dua patukan” -Syu’bah seakan-akan ragu-, dan tidaklah selang beberapa waktu kecuali jum’at dia ditusuk. Kemudian dia menyebutkan hadits seperti diatas, kecuali bahwasanya Umar berkata; “Aku wasiatkan kepada kalian ahlu dzimmah kalian, sesungguhnya mereka mendapat jaminan dari Nabi kalian.” Syu’bah berkata; kemudian aku tanyakan kepadanya setelah itu, maka dia menjawab tentang orang-orang arab; “Dan aku wasiyatkan kepada kalian orang-orang arab, mereka adalah saudara kalian dan musuhnya adalah musuh kalian.”

 

Musnad Ahmad 343: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dan Abdul Wahab dari Sa’id dari Qatadah dari Abul ‘Aliyah dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata; “Telah bersaksi di sisiku para lelaki yang diridlai, di antara mereka adalah Umar, dan menurutku yang paling diridlai di antara mereka adalah Umar, (mereka bersaksi) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari melaksanakan shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari terbit dan setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam.”

 

Musnad Ahmad 344: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Asy Sya’bi dari Suwaid Bin Ghafalah bahwa Umar menyampaikan khutbah kepada orang-orang di Jabiyah lalu dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari memakai kain sutera kecuali hanya sebesar ukuran dua jari atau tiga jari atau empat jari, dan dia menunjukkan ke arah telapak tangannya.”

 

Musnad Ahmad 345: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Sa’id Bin Al Musayyib dari Ibnu Umar dari Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Seorang mayit akan disiksa di dalam kuburnya karena niyahah (ratapan) kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 346: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Kahmas dari Ibnu Buraidah. Dan telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Harun Telah menceritakan kepada kami Kahmas dari Ibnu Buraidah dari Yahya Bin Ya’mar yang telah mendengar Ibnu Umar berkata; Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Khaththab, dia berkata; “Suatu hari ketika kami sedang berada di samping Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba tiba muncul seorang lelaki di hadapan kami, pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam, ” – Yazid berkata; – “kami tidak melihatnya ada tanda tanda pernah bepergian dan tidak ada seorangpun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk dihadapan Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menempelkan kedua lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, kemudian dia berkata; “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku apakah Islam itu!” Beliau menjawab: “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian menegakkan shalat, membayar zakat, puasa di Bulan Ramadlan dan melaksanakan ibadah Haji jika kamu mampu.” Dia (lelaki) berkata; “Benar kamu”. Dia (Umar) berkata; “Maka kami merasa heran dengannya, dia bertanya tapi kemudian membenarkannya”. Umar berkata; kemudian dia berkata; “Beritahukanlah kepadaku apakah Iman itu?” Beliau menjawab: “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari akhir dan kepada Taqdir yang baik dan yang buruk.” Dia berkata; “Benar kamu”, dia berkata; “Lalu beritahukanlah kepadaku apakah Ihsan itu?” Yazid berkata; beliau menjawab: “Kamu beribadah kepada Allah seakan akan melihat-Nya dan jika tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Dia berkata; “Lalu beritahukanlah kepadaku tentang kiamat!” Beliau menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari penanya”, dia berkata; “Kalau begitu beritahukanlah kepadaku tentang tanda tandanya!” Beliau menjawab: “Apabila budak budak perempuan melahirkan tuannya, apabila kamu melihat orang-orang yang telanjang kakinya (tidak bersandal atau sepatu) dan tidak berpakaian dan para penggembala kambing saling berlomba lomba meninggikan gedung (bermegah megahan) “. Umar berkata; “Kemudian lelaki tersebut pergi.” Umar berkata; “Tidak berselang lama.” Yazid berkata; “Tiga hari “kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah penanya tersebut?” Umar menjawab; aku berkata; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata: “Itu adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang Dien (agama) kalian.”

 

Musnad Ahmad 347: Telah menceritakan kepada kami Bahz dia berkata; dan Telah menceritakan kepada kami ‘Affan keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammam Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Nadlrah dia berkata; aku berkata kepada Jabir Bin Abdullah; bahwa Ibnu Az Zubair melarang menikah muth’ah sedangkan Ibnu Abbas memerintahkannya, dia (Abu Nadlrah) berkata; kemudian Jabir Bin Abdullah berkata kepadaku sesuai dengan alur pembicaraanku; “Kami pernah melakukan nikah Mut’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” ‘Affan berkata; “Dan bersama Abu Bakar.” Kemudian ketika Umar diangkat menjadi Khalifah, dia berkhutbah di hadapan orang-orang seraya berkata; “Sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an, dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul, dan sesungguhnya kedua Mut’ah telah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang satu adalah Mut’ah Haji (haji Tamattu’) yang kedua adalah Mut’ah wanita (nikah Mut’ah).”

 

Musnad Ahmad 348: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah memberitakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah Bin Hubairah dari Abu Tamim bahwa dia mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebaik baiknya, niscaya kalian akan diberi rizqi, sebagaimana seekor burung diberi rizqi, dia terbang di pagi hari dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.”

 

Musnad Ahmad 349: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj Telah menceritakan kepada kami Laits Telah menceritakan kepadaku Bukair Bin Abdullah dari Busr Bin Sa’id dari Ibnu As Sa’idi Al Maliki bahwa dia berkata; Umar Bin Al Khaththab menugaskanku sebagai pemungut zakat, setelah aku selesai melaksanakannya aku serahkan (Zakat) kepadanya, lalu Umar memerintahkanku untuk mengambil uang (upah), maka aku berkata kepadanya; “Aku bekerja hanya untuk Allah dan balasanku hanya dari Allah.” Umar menjawab; “Ambillah apa yang diberikan kepadamu, karena aku pernah mengalaminya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menugaskanku (untuk memungut zakat) lalu aku mengatakan seperti perkataanmu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Apabila kamu diberi sesuatu tanpa kamu memintanya, maka makanlah dan bersedekahlah.”

 

Musnad Ahmad 350: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj Telah menceritakan kepada kami Laits Telah menceritakan kepadaku Bukair dari Abdul Malik Bin Sa’id Al Anshari dari Jabir Bin Abdullah dari Umar Bin Al Khaththab bahwa dia berkata; “Pada suatu hari hasyratku (syahwatku) bergejolak, kemudian mencium (istri) padahal aku sedang berpuasa, maka aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan; “Hari ini aku melakukan suatu perbuatan (kesalahan) yang besar, aku mencium (istri) padahal sedang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apa pendapatmu apabila kamu berkumur-kumur dengan air padahal kamu sedang berpuasa?” Aku menjawab; “Hal itu tidak mengapa (tidak membatalkan puasa).” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lalu dimana masalahnya?”

 

Musnad Ahmad 351: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Ishaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Hubairah dia berkata; aku mendengar Abu Tamim Al Jaisyani berkata; aku mendengar Umar Bin Al Khaththab berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebaik baiknya, niscaya kalian akan diberi rizqi, sebagaimana seekor burung diberi rizqi, tidakkah kalian melihat bahwa dia terbang di pagi hari dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.”

 

Musnad Ahmad 352: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah Bin Martsad dari Sulaiman Bin Buraidah dari Ibnu Ya’mar dia berkata; aku berkata kepada Ibnu Umar; “Kami bepergian keseluruh penjuru bumi, kemudian kami bertemu dengan suatu kaum yang mengatakan tidak ada takdir.” Ibnu Umar berkata; “Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka beritahukan kepada mereka bahwa Abdullah Bin Umar berlepas diri dari mereka, dan merekapun berlepas diri darinya, ” sebanyak tiga kali. Lalu dia menceritakan sebuah hadits; Ketika kami sedang berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba tiba seorang lelaki datang – Ibnu Umar menyebutkan ciri cirinya – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Mendekatlah!” lalu lelaki tersebut mendekat, kemudian Rasulullah bersabda lagi: “Mendekatlah!” Maka lelaki tersebut semakin mendekat, sehingga kedua lutunya hampir saling bersentuhan. Lalu dia berkata; “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku apakah Iman itu?” Atau, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?” Beliau menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir dan beriman kepada Taqdir”. Sufyan berkata; saya mengiranya beliau menyebutkan: “Yang baik dan yang buruk.” Lelaki tersebut bertanya; “Apakah Islam Itu?” Beliau menjawab: “Menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, puasa di bulan Ramadlan dan mandi dari Junub”, semua jawaban beliau dikomentari; “Benar kamu, benar kamu.” Para sahabat berkata; “Kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi lelaki ini, sepertinya dia mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan!” Beliau menjawab: “Kamu beribadah kepada Allah atau beribadah kepada-Nya seakan akan kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Kami semuanya mengatakannya; kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi lelaki ini, lalu dia berkata; “Benar kamu, benar kamu.” Dia berkata; “Beritahukanlah kepadaku tentang Kiamat!” Beliau menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahuinya dari penanya”. Dia berkata; lalu lelaki tersebut berkata; “Benar kamu.” Dia selalu mengatakan demikian, dan kami tidak pernah melihat seorang lelaki yang memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi lelaki ini, lalu lelaki tersebut pergi. -Sufyan berkata; – “Kemudian sampai berita kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah dia!” Akan tetapi mereka tidak menemukannya, beliau berkata: “Lelaki ini adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang dien kalian, tidak pernah dia menemuiku dengan menyerupai sesuatu kecuali aku mengenalnya selain kali ini.” Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah Bin Martsad dari Sulaiman Bin Buraidah dari Ibnu Ya’mar dia berkata; aku bertanya kepada Ibnu Umar atau dia (Ibnu Umar) ditanya oleh seorang lelaki; “Sesungguhnya kami pernah mengembara di muka bumi ini dan bertemu dengan suatu kaum yang mengatakan tidak ada takdir, ” kemudian Ibnu Umar menjawab; “Jika kamu bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar”, dia mengatakannya tiga kali, kemudian dia menceritakan kepada kami dan berkata; ketika kami sedang berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba tiba seorang lelaki datang dan berkata “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mendekat?” Beliau menjawab: “Mendekatlah!” Kemudian dia mendekat selangkah, lalu dia berkata; “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mendekat?” Beliau menjawab: “Mendekatlah!” Kemudian dia mendekat selangkah dan berkata lagi; “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mendekat?” Beliau menjawab: “Mendekatlah!” Kemudian dia mendekat selangkah sehingga kedua lututnya hampir menyentuh lutut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah apakah Iman itu?” Kemudian Ibnu Umar menyebutkan hadits di atas secara makna.

 

Musnad Ahmad 353: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa Al Asy-yab Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Al Walid Bin Abul Walid dari Utsman Bin Abdullah Bin Suraqah Al ‘Adawi dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menaungi kepala seorang pejuang maka Allah akan menaunginya pada hari Kiamat, barangsiapa menyiapkan perlengkapan seorang pejuang sehingga dia bisa tercukupi, maka baginya seperti pahala pejuang. Dan barangsiapa membangun sebuah masjid yang di dalamnya disebut sebut nama Allah, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Syurga.”

 

Musnad Ahmad 354: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab yaitu Ibnu Ziyad Telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnul Mubarak telah memberitakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari As Sa`ib Bin Yazid dan Ubaidullah Bin Abdullah Bin ‘Utbah dari Abdurrahman Bin ‘Abd dari Umar Bin Al Khaththab, -Abdullah berkata; bapakku telah menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa tertinggal sesuatu dari wiridnya, ” atau beliau bersabda: “Dari sebagiannya pada malam hari kemudian dia membacanya diantara shalat fajar sampai Dzuhur, maka seakan akan dia membacanya di malam harinya.”

 

Musnad Ahmad 355: Telah menceritakan kepada kami Khalaf Bin Al Walid Telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Abu Maisarah dari Umar Bin Al Khaththab dia berkata; ketika turun pengharaman khamer Umar berkata; “Ya Allah jelaskan kepada kami dalam masalah khamer dengan penjelasan yang memuaskan, ” maka turunlah ayat ini, yang terdapat dalam surat Al Baqarah; ” (Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar), ” (QS Al Baqarah ayat 219). Abu Maisarah berkata; maka dipangillah Umar kemudian dibacakan kepadanya dan dia berkata; “Ya Allah jelaskan kepada kami dalam masalah khamer dengan penjelasan yang memuaskan, ” maka turunlah ayat yang ada dalam surat An Nisa (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk), (QS An Nisa’ayat 43) penyeru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ditegakkan shalat, maka dia berseru; “Supaya orang-orang yang mabuk tidak mendatangi shalat.” Maka dipanggillah Umar dan dibacakan kepadanya, kemudian dia berkata; “Ya Allah jelaskan kepada kami dalam masalah ini dengan penjelasan yang memuaskan.” Maka turunlah ayat yang ada dalam surat Al Ma’idah, kemudian Umar dipanggil dan dibacakanlah kepadanya, maka ketika sampai ayat (Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (QS Al Ma’idah ayat 91) Abu Maisarah berkata; maka Umar berkata; “Kami berhenti, kami berhenti.”

 

Musnad Ahmad 356: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Abu Wa`il dari Shubay Bin Ma’bad bahwa dahulu dia adalah seorang Nasrani dari Taghlib, kemudian dia memeluk agama Islam, lalu bertanya; “Amalan apakah yang lebih utama?” Maka dijawab; “Jihad di jalan Allah.” Kemudian dia hendak berangkat berjihad, lalu dikatakan kepadanya; “Apakah kamu sudah pernah melaksanakan haji?” Dia menjawab; “Belum, ” lalu dikatakan kepadanya; “Berhaji dan berumrah dahulu kemudian berjihad.” Lalu dia berniat untuk masuk melaksanakan Haji dan Umrah secara bersamaan, kemudian bertemu dengan Zaid Bin Shuhan dan Salman Bin Rabi’ah, maka keduanya berkata; “Dia lebih sesat dari untanya, ” atau; “Dia tidaklah lebih mendapat petunjuk ketimbang untanya.” Maka dia pergi menemui Umar dan menceritakan perkataan mereka berdua, maka Umar berkata; “Kamu telah mendapat petunjuk terhadap Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam -atau- telah mendapat terhadap sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 357: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dari Hisyam dia berkata; telah mengabarkan kepadaku bapakku bahwa Umar berkata kepada Hajar (aswad); “Kamu hanyalah sebuah batu, dan seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.” Kemudian dia (Umar) menciumnya.”

 

Musnad Ahmad 358: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hisyam dari bapaknya bahwa Umar mendekati Hajar (Aswad) kemudian berkata; “Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu yang tidak dapat mendatangkan bahaya dan tidak juga manfaat, seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” Dia berkata; “Kemudian Umar menciumnya (Hajar Aswad).”

 

Musnad Ahmad 359: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibrahim Bin Abdul A’la dari Suwaid Bin Ghafalah bahwa Umar mencium dan memegangnya (Hajar Aswad), kemudian berkata; “Aku melihat Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam (mencium) mu dengan lembut.” Yaitu Hajar (Aswad).”

 

Musnad Ahmad 360: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Ashim Bin Umar dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila malam tiba dari sini dan siang hilang dari sini, maka tiba saatnya berbuka bagi orang yang berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 361: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Hisyam Bin Sa’d dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dari Umar, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang menarik kembali sedekahnya adalah seperti orang yang menelan kembali muntahnya.”

 

Musnad Ahmad 362: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dari Umar, dia berkata; “dahulu orang-orang Jahiliyah tidak bertolak meninggalkan Jam’un (Muzdalifah) sehingga mereka mengatakan; ‘terbitlah (diatas) Tsabiir, sehingga kami segera bertolak berangkat.’ ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, beliau menyelisihi mereka dan bertolak meniggalkan jam’un kira kira waktu shalatnya orang-orang yang musfir (orang yang shalat ketika langit timur sudah terang) pada waktu shalat shubuh sebelum matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 363: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Rabah Bin Abu Ma’ruf dari Ibnu Abi Mulaikah dia telah mendengar Ibnu Abbas berkata; Umar berkata kepadaku; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya terhadapnya.”

 

Musnad Ahmad 364: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hasan Bin Shalih dari ‘Ashim Bin ‘Ubaidillah dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Umar berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kedua khuf-nya ketika safar (bepergian).”

 

Musnad Ahmad 365: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari Abu Ishaq dari ‘Amru Bin Maimun dari Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari sifat bakhil, pengecut, dari siksa Qubur, dari umur yang hina dan fitnah hati.” Waki’ berkata; “Fitnah hati yaitu seseorang yang meninggal, ” dan Waki’menyebutkan maksud Al fitnah yaitu sebelum bertobat.

 

Musnad Ahmad 366: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Umar Bin Walid Asy Syanni dari Abdullah Bin Buraidah dia berkata; suatu ketika Umar duduk ditempat yang dahulu pernah diduduki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dilewatkan iring iringan jenazah, Abdullah berkata; maka ketika iring iringan jenazah lewat merekapun memujinya dengan kebaikan, maka Umar berujar; “Wajib” kemudian lewatlah iring iringan jenazah kedua dan mereka memujinya dengan kebaikan, maka seraya Umar berkata; “Wajib” kemudian lewatlah jenazah yang ketiga dan mereka berkata; “Orang ini adalah manusia yang paling pembohong, ” maka Umar seraya berkata; “Wajib.” Lalu Umar berkata; “Sesungguhnya orang yang paling dusta adalah orang yang paling dusta kepada Allah, kemudian berikutnya setelah mereka adalah orang yang berdusta terhadap ruh dalam jasadnya.” Abdullah berkata; mereka bertanya; “Bagaimana pendapatmu apabila yang bersaksi jumlahnya empat orang?” Dia menjawab; “Wajib.” Mereka bertanya lagi; “Atau jumlahnya tiga orang?” Dia menjawab; “Tiga orang juga wajib.” Mereka bertanya lagi; “Dan jika dua orang?” Dia menjawab; “Wajib, dan seandainya aku mengatakan satu orang, itu lebih aku sukai dari pada unta merah.” Dia berkata; kemudian ditanyakan kepada Umar; “Apakah yang kamu katakan ini berasal dari pendapatmu atau sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia menjawab; “Tidak, akan tetapi aku mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 367: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari bapaknya dari ‘Abayah Bin Rifa’ah dia berkata; telah sampai berita kepada Umar bahwa ketika Sa’d membangun istana, dia berkata; “Terputuslah suara (komunikasi) “. Maka diutuslah Muhammad Bin Maslamah kepadanya, ketika dia datang dia mengeluarkan lengan tangannya dan menyalakan api kemudian membeli kayu bakar dengan dirham, kemudian dikatakanlah kepada Sa’d; “Sesungguhnya seseorang telah melakukan begini dan begini, ” lalu dia menjawab; “Dia adalah Muhammad Bin Maslamah.” Kemudian dia keluar menemuinya dan bersumpah kepada Allah bahwa dia tidak mengatakannya, lalu dia berkata; “Kami akan melaksanakan -darimu- apa yang kamu katakan, dan kami melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kami, ” maka dia membakar pintu, kemudian dia menghadap kepadanya kemudian Sa’d menawarkan memberi bekal namun dia menolak. Kemudian Muhammad Bin Maslamah berangkat kembali kepada Umar, dan dia berjalan pulang menuju kepadanya selama sembilan belas hari, kemudian Umar berkata; “Seandainya bukan karena baik sangka kepadamu maka kami akan berkesimpulan bahwa kamu belum melaksanakan keinginan kami, ” dia menjawab; “Ya, dia mengirim salam dan meminta maaf serta bersumpah kepada Allah bahwa dia tidak mengucapkannya.” Kemudian Umar bertanya; “Apakah dia membekalimu?” Dia menjawab; “Tidak” Umar berkata; “Apa yang menghalangimu untuk membekaliku?” Dia menjawab; “Aku tidak suka menyuruh kepadamu, kamu menjadi dingin sementara aku menjadi panas, dan di sekitarku adalah orang-orang Madinah yang mati kelaparan, padahal aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang menjadi kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Hadits terakhir dari musnad Umar Bin Al Khaththab adalah hadits tentang Saqifah

 

Musnad Ahmad 368: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa Ath Thabba’ Telah menceritakan kepada kami Malik Bin Anas Telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab dari ‘Ubaidillah Bin Abdullah Bin ‘Utbah Bin Mas’ud bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Abdurrahman Bin Auf kembali ke kendaraannya. Ibnu Abbas berkata; “Aku akan bertamu kepada Abdurrahman Bin Auf, dan dia menjumpaiku ketika aku menunggunya. Peristiwa itu terjadi di Mina pada musim haji terakhir yang dilaksanakan oleh Umar Bin Al Khaththab. Abdurrahman berkata; “Sesungguhnya seorang lelaki mendatangi Umar Bin Al Khaththab kemudian berkata; “Seandaianya Umar telah meniggal dunia, maka aku akan membai’at si fulan”. Umar menjawab; “Aku masih hidup di tengah orang-orang, maka aku peringatkan mereka yang hendak merebut kepemimpinan orang-orang.” Abdurrahman Bin Auf berkata; aku berkata; “Wahai Amirul Mukminin, jangan kamu lakukan hal itu! karena musim haji ini telah berkumpul kalangan bawah dan kaum bodoh dari mereka, dan sesungguhnya merekalah yang mendominasi di majlismu, jika kamu berdiri di tengah orang-orang, aku khawatir kamu akan mengatakan suatu perkataan yang karenanya mereka akan lalai, sehingga mereka tidak dapat memahaminya dan tidak pula menempatkannya pada tempatnya, akan tetapi (tangguhkanlah apa yang hendak kamu katakan) itu sampai tiba di Madinah, sesungguhnya Madinah adalah tempat Hijrah dan Sunnah, dan kamu dapat menyelesaikan (masalah ini) dengan para ulama dan orang-orang terhormat mereka, sehingga kamu dapat mengatakan apa yang akan kamu katakan dengan tenang, kemudian mereka memahami perkataanmu dan menempatkannya sesuai pada tempatnya.” Kemudian Umar berkata; “Apabila aku tiba di Madinah dalam keadaan selamat dan sehat, pasti akan aku sampaikan hal itu kepada orang-orang di tempat pertama kali aku menginjakkan kakiku.” Maka ketika kami sampai di Madinah menjelang bulan Dzul Hijah dan bertepatan dengan hari Jum’at, aku (Abdurrahman) segera pergi Shakkatul A’ma”, -aku bertanya kepada Malik; “Apa maksudnya Shakkatul A’ma?” Dia menjawab; “Maksudnya dia tidak perduli pada waktu apa pergi, tidak perduli waktu panas atau dingin dan yang semisalnya”.- kemudian aku mendapati Sa’id Bin Zaid telah mendahuluiku berada di sisi kanan mimbar, lalu aku duduk dihadapannya sambil menempelkan lututku kepada lututnya, tidak lama kemudian Umar muncul, ketika aku melihatnya aku berkata; “Sore ini pasti akan disampaikan di atas mimbar ini suatu perkataan yang belum pernah sebelumnya seorangpun mengatakannya.” Abdurrahman Bin Auf berkata; “Sa’id Bin Zaid mengingkari (perkataanku) itu, lalu dia berkata; “Apa? Kamu berharap dia mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh seorangpun?” Kemudian Umar duduk di atas mimbar, dan setelah Mu’adzin diam (selesai mengumandangkan adzan), dia (Umar) berdiri lalu memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian berkata; “Amma ba’du, wahai manusia, sesungguhnya aku akan mengatakan suatu perkataan yang aku telah ditakdirkan untuk mengatakannya, aku tidak tahu, boleh jadi itu karena ajalku telah berada di hadapanku, barangsiapa memahami dan mengerti perkataan itu, hendaknya dia menceritakannya ke tempat manapun kendaraanya sampai. Barangsiapa yang tidak memahaminya, maka aku tidak menghalalkannya untuk berdusta kepadaku, sesungguhnya Allah Tabaraka Wata’ala telah mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran, dan Dia telah menurunkan Al Kitab kepada beliau, diantara ayat yang diturunkan kepada beliau adalah ayat tentang hukum rajam, kemudian kami membacanya dan memahaminya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerapkan hukum rajam dan kamipun menerapkannya sepeninggal beliau. Aku khawatir dalam waktu yang lama nanti manusia akan mengatakan; ‘Sesungguhnya kami tidak menemukan ayat (tentang hukum) rajam.’ Lalu sebuah kewajiban yang telah Allah turunkan akan ditinggalkan. Sesungguhnya hukum rajam adalah hak dalam Kitab Allah bagi siapa saja yang melakukan perbuatan zina jika dia telah Muhshon (pernah menikah) baik laki-laki maupun perempuan, apabila ada bukti, hamil atau ada pengakuan. Ketahuilah sesungguhnya kita pernah membaca: “Janganlah kalian membenci bapak bapak kalian, karena hal tersebut dapat membuat kalian kafir”, katahuilah sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana dikultuskannya Isa Bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah; ‘hambaNya dan utusanNya.” Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa ada seseorang diantara kalian yang mengatakan; ‘seandainya umar meninggal, maka aku akan membai’at si fulan.’ Janganlah seseorang menjadi tertipu dengan mengatakan; ‘sesungguhnya pembai’atan Abu Bakar itu terjadi dengan sekonyong konyong.’ Ketahuilah bahwa pembai’atan itu memang terjadi demikian. Ketahuilah bahwa Allah telah menjaga keburukan pembai’atan itu, dan hari ini tidak ada diantara kalian orang yang telah lebih dahulu dari kalian, yang keutamaannya tidak dapat disaingi oleh seseorangpun yang seperti Abu Bakar, ketahuilah bahwa diantara berita yang (sampai kepada) kami ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat adalah bahwa Ali, Zubair dan orang-orang yang bersama keduanya, berselisih di rumah Fatimah Binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga semua kaum Anshar berselisih dengan kami di Tsaqifah Bani Sa’idah, kemudian kaum Muhajirin berkumpul dengan Abu Bakar dan aku berkata kepadanya; “Wahai Abu Bakar, berangkatlah bersama kami menuju saudara saudara kita, yaitu kaum Anshar.” Kemudian kami pergi hingga bertemu dengan dua orang lelaki Shalih, dan keduanya menceritakan kepada kami tentang apa yang orang-orang (kaum Anshar) lakukan. Kedua orang tersebut bertanya; “Hendak kemana kalian wahai kaum Muhajirin?” Aku menjawab; “Kami hendak pergi kepada saudara saudara kami yaitu kaum Anshar”. Keduanya berkata; “Janganlah kalian mendekati mereka, putuskanlah urusan kalian wahai kaum Muhajirin.” Aku berkata; “Demi Allah, sesungguhnya kami akan mendatangi mereka.” Kemudian kami pergi hingga berjumpa dengan mereka di Tsaqifah Bani Sa’idah dan mereka sedang berkumpul, di tengah tengah mereka ada seorang lelaki yang sedang berselimut, aku bertanya; “Siapakah orang ini?” mereka (kaum Anshar) menjawab; “Sa’d Bin Ubadah.” Aku bertanya; “Kenapa dia?” Mereka menjawab; “Sakit.” Setelah kami duduk, penceramah mereka (kaum Anshar) berdiri lalu memuji Allah dengan pujian yang layak untuk Allah, dan berkata; “Amma ba’du, kami adalah Ansharullah (penolong agama Allah) dan pasukan Islam, sedangkan kalian wahai kaum Muhajirin adalah kelompok dari kami, sesungguhnya telah datang sekelompok orang dari kalian -yang berjalan dengan perlahan- yang akan memotong kami dari pangkal kami, dan akan mengusir kami dari wilayah kami.” Ketika penceramah tersebut diam aku hendak angkat bicara dan telah menyiapkan suatu perkataan yang mengagetkan, aku hendak mengatakan perkataan itu dihadapan Abu Bakar, dan menghindari kemarahan terhadapnya, dan dia orangnya lebih lembut dan lebih tenang dari pada aku, kemudian Abu Bakar berkata; “Pelan pelan!” Aku benci bila harus marah kepadanya, karena dia orangnya lebih lembut dan lebih tenang dari pada aku. Demi Allah, jika dia tidak meninggalkan satu kalimatpun yang mengagumkanku dalam perkataan yang telah aku persiapkan itu kecuali dia mengucapkannya secara spontan dengan lebih baik, sehingga akhirnya dia diam. Kemudian dia berkata “amma ba’du, apa yang telah kalian sebutkan tentang kebaikan, kalian adalah ahlinya. Akan tetapi bangsa Arab tidak mengenal hal ini kecuali untuk penduduk Quraisy. Mereka adalah bangsa arab yang paling pertengahan garis keturunan dan dan tempat tinggalnya. Sesungguhnya aku telah meridlai salah satu dari kedua orang ini untuk kalian, mana diantara keduanya yang akan kalian kehendaki, ” Abu Bakar memegang tanganku dan tangan Abu Ubaidah Bin Al Jarrah, sehingga aku tidak dapat memaksa dia mengatakan selain itu. Demi Allah, seharusnya aku maju kemudian leherku dipenggal, itu adalah lebih aku sukai, sebab hal itu tidak dapat mendekatkan aku kepada dosa, dari pada aku menjadi pemimpin suatu kaum sementara diantara mereka ada Abu Bakar, kecuali jika itu merubah diriku saat (aku) mati. Kemudian salah seorang dari kaum Anshar berkata; “anaa judzailuha al muhakkak (aku adalah kayu unta yang berkudis itu agar dia dapat berjalan dengan cepat) ” wa ‘udzaikuha al murojjab (pohon kurma yang ditopang oleh pohon atau kayu karena dikhawatirkan roboh karena sangat tinggi dan buahnya lebat), dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada pemimpin wahai sekalian kaum Quraisy.” -aku (Ishaq Bin Musa At Thbba’) berkata kepada Malik; “Apa makna “anaa judzailuha al muhakkak wa ‘udzaikuha al murojjab?” Malik menjawab; “Seolah dia mengatakan akulah malapetakanya.”- Umar berkata; “Suara suara yang tidak dapat difahami semakin banyak dan semakin meninggi, sehingga aku khawatir terjadi perselisihan, kemudian aku berkata; “Bukalah tanganmu wahai Abu Bakar!” Lalu dia membuka tangannya dan aku membai’atnya, kaum Muhajirin membai’atnya lalu kaum Ansharpun membai’atnya. Kemudian kami melompat kepada Sa’d Bin Ubadah, dan salah seorang dari mereka (kaum Anshar) berkata “Kalian telah membunuh Sa’d”, aku menjawab; “Allah yang telah membunuh Sa’d”, Umar berkata; “Demi Allah, kami tidak menemukan hal yang lebih kuat dari pada membai’at Abu Bakar dalam pertemuan kami, kami khawatir jika orang-orang itu telah terpisah dari kami, sementara bai’at belum ada, maka mereka akan membuat sebuah pembai’atan setelah kami. Dengan demikian, boleh jadi kami akan mengikuti mereka pada sesuatu yang tidak kami ridlai atau berseberangan dengan mereka, sehingga akan terjadi kehancuran. Maka barangsiapa membai’at seorang pemimpin tanpa musyawarah kaum muslimin, sesungguhnya bai’atnya tidak sah, dan tidak ada hak membai’at bagi orang yang membai’atnya, dikhawatirkan keduanya (orang yang membai’at dan dibai’at) akan dibunuh.” Malik berkata; dan telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Urwah Bin Az Zubair; bahwa kedua orang lelaki yang ditemuinya adalah Uwaimir Bin Sa’idah dan Ma’n Bin Adi. Ibnu Syihab berkata; “Sa’id Bin Al Musayyib telah mengabarkan kepadaku bahwa orang yang mengatakan; “anaa judzailuha al muhakkak wa ‘udzaikuha al murojjab” adalah Al Hubab Bin Al Mundzir.”

 

Musnad Ahmad 369: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa telah mengkhabarka kepadaku Malik dari Yahya Bin Sa’id bahwa dia mendengar Anas Bin Malik berkata; Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, aku beritahukan kepada kalian sebaik baik rumah kaum Anshar adalah Bani Najjar, kemudian Bani Abdul Asyhal, kemudian Balharits Bin Khazraj kemudian Bani Sa’idah”, dan beliau bersabda; “Setiap rumah kaum Anshar adalah baik.”

 

Musnad Ahmad 370: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa Telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Penjual dan pembeli masing masing punya hak pilih, selama mereka belum berpisah, atau jual beli adalah pilihan.”

 

Musnad Ahmad 371: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa telah memberitakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari jual beli Habalul Habalah (jual beli janin unta yang diperkirakan betina).”

 

Musnad Ahmad 372: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa telah memberitakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; “Kami melakukan transaksi jual beli makanan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau mengutus orang kepada kami agar kami memindahkan barang yang kami beli dari tempatnya ke tempat lain sebelum menjualnya lagi.”

 

Musnad Ahmad 373: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa membeli makanan, maka janganlah dia menjualnya sehingga dia menerimanya dengan utuh.”

 

Musnad Ahmad 374: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa telah memberitakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memerdekakan budak yang menjadi hak milik bersama, maka dia memiliki tanggungan sesuai dengan seberapa besar harga budak, kemudian dia membagi dengan rata, lalu memberikan kepada sekutu yang lain hak mereka, setelah itu baru dia memerdekakan budaknya, jika tidak maka dia sudah memerdekakan budak yang telah dia merdekakan.”

 

Musnad Ahmad 375: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Sa’id dia berkata; aku berkata kepada Ibnu Umar, bahwa ada seorang suami yang meli’an istrinya, maka dia berkata; “Rasulullah memisahkan keduanya (suami istri), ” kemudian dia menyebutkan hadits.

 

Musnad Ahmad 376: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami ‘Auf Telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Al Farisi. Telah berkata bapakku Ahmad Bin Hanbal; dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin ja’far Telah menceritakan kepada kami ‘Auf dari Yazid dia berkata Ibnu Abbas berkata kepada kami; aku bertanya kepada Utsman Bin Affan; “Apa yang menyebabkan kalian sengaja meletakkan surat Al Anfal padahal dia termasuk dari al matsani (surat yang ayatnya kurang dari seratus) dan surat Bara’ah (At Taubah) padahal dia termasuk dari mi`in (surat yang ayatnya sampai seratus) kemudian kalian gabungkan antara keduanya dan tidak kalian tulis” -Ibnu ja’far berkata- “dan belum kalian tulis antara keduanya dengan batas “bismillaahir rahmaanir rahiim” dan kalian letakkan pada surat surat yang termasuk tujuh surat panjang, apa yang menyebabkan kalian melakukan hal itu?” Utsman berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika suatu masa datang kepada beliau dan turunlah kepadanya surat surat yang mempunyai jumlah ayat banyak, dan apabila diturunkan kepadanya wahyu beliau memanggil beberapa orang yang menuliskan di sisinya, kemudian beliau berkata: “Letakkan oleh kalian ini dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini, ” dan ketika turun beberapa ayat kepadanya, beliau berkata: “Letakkanlah ayat ini dan ayat ini ke dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini, ” dan ketika turun suatu ayat kepadanya, beliau berkata: “Letakkanlah ayat ini ke dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini, ” dan surat Al Anfal adalah termasuk surat yang pertama diturunkan di Madinah, sedangkan Bara’ah (At Taubah) adalah termasuk surat yang terakhir diturunkan di Madinah, dan kandungannya adalah mirip dengan kandungan yang ada dalam surat Al Anfal, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, sementara belum menjelaskan kepada kami bahwa dia (Bara’ah) termasuk surat dari surat Al Anfal, maka aku menganggapnya dia termasuk darinya sehingga aku menggabungkan antara keduanya dan tidak menulis pembatas antara keduanya dengan” Bismillaahir rahmaanir rahiim” – Ibnu ja’far berkata; – “dan aku letakkan pada kelompok tujuh surat panjang.”

 

Musnad Ahmad 377: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dari Hisyam Bin ‘Urwah telah mengabarkan kepadaku bapakku bahwa Humran telah mengabarkan kepadanya, dia berkata; ‘Utsman berwudlu di atas lantai kemudian dia berkata; “Sungguh aku akan ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seandainya bukan karena sebuah ayat dalam Kitabullah, tentu aku tidak akan menceritakannya kepada kalian, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berwudlu dan membaguskan wudlunya kemudian dia masuk masjid dan melaksanakan shalat, niscaya akan diampuni dosanya antara wudlunya dengan shalat yang lain yang dia laksanakan.”

 

Musnad Ahmad 378: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dari Malik Telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Nubaih Bin Wahab dari Aban Bin Utsman dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang sedang melaksanakan ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan tidak boleh mengkhitbah.”

 

Musnad Ahmad 379: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Harmalah dia berkata; aku mendengar Sa’id yaitu Ibnul Musayyib berkata; ” Utsman Bin Affan keluar untuk melaksanakan haji dan ketika sampai di tengah perjalanan, dikatakan kepada Ali bahwa dia (Utsman) telah melarang dari tamattu’ dalam Umrah sampai haji, maka Ali berkata kepada para sahabatnya; “Jika dia berjalan maka berjalanlah kalian.” Kemudian Ali dan para sahabatnya memulai niat Umrah, dan Utsman tidak menyampaikan kepadanya, maka Ali berkata kepadanya; “Aku tidak diberitahu bahwa kamu telah melarang dari Tamattu’ dalam Umrah” -Said Bin Al Musayyib berkata- maka Utsman menjawab; “Ya.” Ali berkata; “Tidakkah kamu mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan tamattu’?” Utsman menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 380: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari ‘Amir Bin Syaqiq dari Abu Wa`il dari Utsman Bin Affan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu tiga kali tiga kali.

 

Musnad Ahmad 381: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu An Nadlar dari Abu Anas bahwa Utsman berwudlu sambil duduk dibangku tiga kali tiga kali, sementara di sampingnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia (Utsman) bertanya; “Bukankah kalian melihat Rasulullah berwudlu seperti ini?” Para sahabat menjawab; “ya.”

 

Musnad Ahmad 382: Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrahman dari Sufyan dari ‘Alqamah Bin Martsad dari Abu Abdurrahman dari Utsman, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling utama diantara kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.”

 

Musnad Ahmad 383: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jami’ Bin Syaddad dia berkata; aku mendengar Humran Bin Aban bercerita dari Utsman, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudlu sebagaimana yang Allah perintahkan, maka shalat wajib dengan shalat wajib yang lain adalah sebagai penghapus dosa.”

 

Musnad Ahmad 384: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isma’il Bin Abu Khalid dia berkata; Qais berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Sahlah bahwa Utsman berkata pada saat dikepung di rumahnya; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan kepadaku sebuah wasiat maka aku bersabar dengannya.” Qais berkata; “Kemudian mereka melihatnya hari itu.”

 

Musnad Ahmad 385: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrazzaq keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Utsman Bin Hakim dari Abdurrahman Bin Abu ‘Amrah dari Utsman Bin Affan dia berkata; -Abdurrazzaq berkata; “Utsman berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, – bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa melaksanakan shalat Isya dan shubuh dengan berjama’ah maka baginya seperti shalat malam.” -Dan Abdurrahman berkata; – “Barangsiapa shalat Isya dengan berjamaah maka baginya seperti shalat separuh malam, dan barangsiapa shalat shubuh dengan berjama’ah maka baginya seperti shalat satu malam.”

 

Musnad Ahmad 386: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik Bin ‘Amru Telah menceritakan kepada kami ‘Ali Bin Al Mubarak dari Yahya yaitu Ibnu Abi Katsir dari Muhammad Bin Ibrahim dari Utsman Bin Affan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melaksanakan shalat Isya berjama’ah, maka pahalanya sebagaimana dia melaksanakan shalat separuh malam, dan barangsiapa melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah, maka pahalanya sebagaimana dia melaksanakan shalat sepanjang malam.”

 

Musnad Ahmad 387: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Yunus yaitu Ibnu ‘Ubaid Telah menceritakan kepadaku ‘Atho` Bin Farrukh mantan budak orang-orang Quraisy, dia berkata; bahwa Utsman telah membeli tanah dari seorang lelaki, kemudian pembayarannya terlambat, maka utsman menemuinya dan bertanya kepadanya; “Apa yang menghalangimu dari menerima uangmu?” Dia menjawab; “Sungguh kamu telah menipuku, maka tidaklah aku bertemu seseorang kecuali dia pasti mencelaku.” Utsman berkata; “Apakah sebab itu yang menghalangimu (dari menerima uang)?” Dia menjawab; “Ya” kemudian Utsman berkata; “Silahkan kamu pilih antara tanahmu atau uangmu.” Kemudian Utsman berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah akan memasukkan ke dalam Syurga seseorang yang mempermudah ketika membeli maupun menjual, dan ketika harus membayar hutang maupun menagih hutang.”

 

Musnad Ahmad 388: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Yunus Bin ‘Ubaid dari Abu Ma’syar dari Ibrahim dari ‘Alqamah dia berkata; aku bersama Ibnu Mas’ud di sisi Utsman, kemudian Utsman bertanya kepadanya; “apa yang kamu sisakan untuk istrimu?” ‘Alqamah berkata; maka ketika disebut istri, Ibnu Mas’ud berkata; “Mendekatlah wahai ‘Alqamah” dia berkata; dan saya ketika itu masih bujang. maka Utsman berkata kepadanya; “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui sekelompok pemuda muhajirin dan berkata: “Barangsiapa diantara kalian memiliki kemampuan maka menikahlah, karena dengan menikah dapat lebih menjaga pandangan dan dapat lebih menjaga kemaluan (menahan gejolak syahwat), dan barangsiapa belum mampu maka puasa adalah sebagai benteng baginya.”

 

Musnad Ahmad 389: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far, Bahz dan Hajjaj mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata; aku mendengar ‘Alqamah Bin Martsad bercerita dari Sa’d Bin ‘Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman Bin Affan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya sebaik baik kalian adalah orang yang mengajarkan Al Qur’an atau mempelajarinya.” Muhammad Bin Ja’far dan Hajjaj Berkata; Abu Abdurrahman berkata; “Itulah yang membuat aku duduk ditempat duduk ini.” Hajjaj berkata; Syu’bah berkata; “Abu Abdurrahman tidak mendengar dari Utsman dan juga tidak dari Abdullah, akan tetapi dia mendengar dari Ali.” Bapakku berkata; dan Bahz berkata, dari Syu’bah, dia berkata; ‘Alqamah Bin Martsad telah mengabarkan kepadaku; Dan beliau bersabda berkata: “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepada kami ‘Alqamah Bin Martsad dan dihadits ini, dia berkata; “Orang yang belajar Al Qur`an atau mengajarkannya.”

 

Musnad Ahmad 390: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru Bin Dinar dia berkata; aku mendengar seorang lelaki yang bercerita dari Utsman Bin Affan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Seorang lelaki yang bersikap pemurah (mudah) ketika menjadi penjual, pembeli, seorang penagih hutang dan seorang yang berhutang, maka dia masuk syurga.”

 

Musnad Ahmad 391: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Muslim Bin Yasar dari Humran Bin Aban dari Utsman Bin Affan, bahwa dia meminta diambilkan air, kemudian dia berwudlu, berkumur-kumur dan Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya), kemudian dia membasuh wajahnya tiga kali dan kedua lengannya tiga kali, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kedua kakinya, lalu dia tertawa, kemudian dia berkata kepada para sahabatnya; “Tidakkah kalian menanyakan tentang sesuatu yang membuatku tertawa?” lalu mereka bertanya; “Apakah yang membuatmu tertawa wahai Amirul Mukminin?” Dia menjawab; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta air wudlu di dekat tempat ini, kemudian beliau berwudlu sebagaimana wudluku, kemudin beliau tertawa, lalu beliau berkata: “Tidakkah kalian bertanya kepadaku tentang apa yang membuatku tertawa?” Lalu mereka menjawab; “Apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya apabila seorang hamba meminta air wudlu, kemudian membasuh wajahnya, maka Allah akan menghapuskan setiap kesalahannya dengan air wudlu yang mengenai wajahnya, apabila membasuh kedua tangannya maka akan seperti demikian juga, dan jika mengusap kepalanya maka akan seperti demikian juga dan apabila mensucikan kedua telapak kakinya maka akan seperti demikian juga.”

 

Musnad Ahmad 392: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah mengabarkan kepada kami Mahdi Bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abdullah Bin Abi Ya’qub dari Al Hasan Bin Sa’d mantan budak Hasan Bin Ali, dari Rabah dia berkata; “Keluargaku menikahkan aku dengan seorang budak perempuan Romawi milik mereka, kemudian aku menggaulinya dan dia melahirkan seorang anak lelaki hitam sepertiku, aku memberinya nama Abdullah, kemudian aku menggaulinya lagi dan lahirlah seorang anak lelaki hitam sepertiku, aku memberinya nama Ubaidullah, kemudian dia dirusak (digauli) oleh seorang budak lelaki Romawi milik keluargaku yang bernama Yohannas dan berbicara dengannya dengan bahasanya (Romawi), ” berkata; “Kemudian dia (budak wanita) melahirkan seorang anak laki-laki seperti seekor tokek, kemudian aku bertanya kepadanya; “Apa ini?” Dia (budak wanita) menjawab; “Ini hasil dari Yohannas.” Rabah berkata; “Maka hal ini kami ajukan kepada Amirul Mukminin Utsman.” -Mahdi berkata; aku mengiranya dia (Muhammad Bin Abdullah) berkata; – Utsman bertanya kepada keduanya dan keduanya mengakui kemudian Utsman bertanya; “Apakah kalian berdua rela aku putuskan perkaranya dengan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Utsman berkata; “sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan bahwa anak bagi pemilik tempat tidur dan bagi pezina adalah batu (hukum rajam).” -Mahdi berkata; dan aku mengiranya dia (Muhammad Bin Abdullah) berkata; – kemudian Utsman mendera keduanya (budak wanita dan budak romawi) dan keduanya adalah budak.” Telah menceritakan kepada kami Syaiban Abu Muhammad Telah menceritakan kepada kami Mahdi Bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abdullah Bin Abu Ya’qub dari Al Hasan bin Sa’d dari Rabah, kemudian dia menyebutkan hadits diatas, dan Rabah berkata; “Kemudian keduanya (budak wanita dan budak lelaki romawi) kami ajukan kepada Amirul Mukminin Utsman Bin Affan, lalu Utsman berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan bahwa anak bagi pemilik kasur dan bagi pezina adalah batu (hukuman rajam).” Kemudian dia menyebutkan hadits yang serupa.

 

Musnad Ahmad 393: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Telah menceritakan kepada kami Ibrahim yaitu Ibnu Sa’d Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari ‘Atho` Bin Yazid dari Humran dia berkata; Utsman meminta air sementara dia berada di atas tempat duduk, kemudian dia menuangkan air tersebut ke tangan kanannya dan membasuhnya, kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana dan membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu membasuh mukanya tiga kali, dan berkumur-kumur serta istintsar (mengeluarkan air dari dalam hidung), lalu membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali, lalu mengusap kepalanya, lalu membasuh kedua kakinya sampai mata kaki sebanyak tiga kali, kemudian dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat dan tidak berhadats selama dua rakaat tersebut, melainkan akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu.” Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari ‘Atho` Bin Yazid dari Humran mantan budak Utsman bahwa dia melihat Utsman meminta air satu bejana, lalu dia menyebutkan hadits yang semakna.

 

Musnad Ahmad 394: Telah menceritakan kepada kami Abu Qhatan Telah menceritakan kepada kami Yunus yaitu Ibnu Abu Ishaq dari bapaknya dari Abu Salamah Bin Abdurrahman dia berkata; Utsman keluar dari rumahnya ketika dikepung, dan berkata; “Aku bersumpah kepada Allah terhadap orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari saat di atas gunung, ketika gunung bergetar kemudian beliau menjejakkan telapak kakinya sambil berkata: “Tenanglah wahai gunung, tidak ada diatasmu kecuali seorang Nabi atau Ash Shiddiq, atau Asy Syahid, ” ketika itu aku bersamanya, ” maka orang-orang bersumpah kepadanya. Utsman berkata lagi; “Aku bersumpah kepada Allah terhadap orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Bai’atur Ridlwan, ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku kepada orang-orang musyrik yang ada di Makkah dan beliau berkata: “Ini tanganku dan tangannya Utsman, ” kemudian orang-orang membai’atku, maka orang-orang bersumpah kepadanya. Utsman berkata lagi; “Aku bersumpah kepada Allah terhadap orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Barangsiapa memperluas rumah kami di masjid ini maka Allah akan menggantinya dengan sebidang rumah di Syurga?” Maka aku membeli tanahnya dengan hartaku sehingga masjid menjadi luas, ” kemudian orang-orang bersumpah kepadanya. Dan Utsman berkata; “Aku besumpah kepada Allah terhadap orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari pasukan Usrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya; “Siapakah hari ini yang ingin berinfaq dengan infaq yang langsung diterima oleh Allah?” Maka aku persiapkan separuh pasukan dengan hartaku.” Dan orang-orang bersumpah kepadanya, Utsman bertanya lagi; “Aku bersumpah kepada Allah terhadap orang yang melihat sumur “ruumah “airnya dijual kepada Ibnu Sabil (musafir), maka aku membelinya dengan hartaku dan aku persilahkan kepada Ibnu Sabil (musafir) ” dan orang-orang bersumpah kepadanya.

 

Musnad Ahmad 395: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Atho` Bin Yazid Al Laitsi dari Humran Bin Aban dia berkata; aku melihat Utsman Bin Affan berwudlu, kemudian dia menuangkan (air) ke atas kedua tangannya sebanyak tiga kali dan membasuhnya, kemudian dia berkumur-kumur dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung), lalu dia membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya sampai siku sebanyak tiga kali dan tangan kirinya seperti tangan kanannya, kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya sebanyak tiga kali dan kaki kirinya seperti kaki kanannya, lalu dia berkata; aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu seperti wudluku ini kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini kemudian melaksanakan shalat dua rakaat dan tidak berhadats di antara keduanya, melainkan akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu.”

 

Musnad Ahmad 396: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Nubaih Bin Wahab dia berkata; Umar Bin Ubaidullah mengirim surat kepada Aban Bin Utsman menanyakan; “Apakah boleh orang yang sedang ihram kedua matanya diberi celak, atau dengan apa kedua mata orang yang muhrim boleh diberi celak?” Maka Aban membalas suratnya; agar mengolesi kedua matanya dengan Shabiri (perasan air pohon yang pahit), karena aku mendengar Utsman Bin Affan menceritakan demikian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 397: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah Bin Umar Telah menceritakan kepada kami Utsman Bin Umar Telah menceritakan kepada kami Imran Bin Hudair dari Abdul Malik Bin ‘Ubaid dari Humran Bin Aban dari Utsman Bin Affan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengetahui bahwa shalat itu haq dan wajib maka dia masuk Syurga.”

 

Musnad Ahmad 398: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abu Bakar Al Muqaddami Telah menceritakan kepadaku Abu Ma’syar yaitu Al Barra’ dan namanya Yusuf Bin Yazid, Telah menceritakan kepada kami Ibnu Harmalah dari Sa’id Bin Al Musayyib dia berkata; Utsman berangkat melaksanakan haji, ketika sampai di pertengahan jalan, sampailah berita kepada Ali bahwa Utsman melarang para sahabatnya dari melaksanakan haji Tamattu’ dengan Umrah dan Haji, maka Ali berkata kepada para sahabatnya; “Apabila dia berangkat, maka berangkatlah kalian, ” kemudian Ali dan para sahabatnya berniat dengan Umrah, maka Utsman tidak berbicara dengan mereka, lalu Ali berkata; “Bukankah telah diberitakan bahwa kamu melarang dari melaksanakan haji tamattu’? Bukankah Rasulullah melaksanakan haji tamattu’?” Sa’id Bin Al Musayyib berkata; “Dan aku tidak tahu apa jawaban Utsman.”

 

Musnad Ahmad 399: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Malik Bin Aus Al Hadatsan dia berkata; “Umar mengutusku, dan ketika aku dalam keadaan demikian, tiba tiba budaknya datang memanggilnya. Budak tersebut berkata; “Ini Utsman, Abdurrahman, Sa’d dan Zubair Bin Al Awwam, – aku tidak tahu apakah dia menyebut Thalhah atau tidak, – mereka meminta izin untuk menghadap kepadamu.” Umar berkata; “Izinkan mereka masuk, ” kemudian diam sejenak, dan setelah itu dia datang dan berkata; “Ini Al Abbas dan Ali meminta izin kepada kepadamu.” Umar berkata; “izinkan keduanya.” Ketika Abbas masuk, dia berkata; “Wahai Amirul Mukminin, putuskanlah diantara aku dan orang ini (Ali).” Saat itu keduanya saling menuntut mengenai harta yang Allah berikan (harta Fai`) kepada Rasul-Nya, yaitu harta Bani Nadzir, kemudian orang-orang berkata; “Putuskanlah diantara keduanya wahai Amirul Mukminin, dan tenangkanlah masing masing pihak dari sahabatnya, sesungguhnya persengketaan mereka telah berlangsung dalam waktu yang lama!” Umar berkata; “Aku sumpah kalian atas nama Allah yang atas izin-Nya tegaklah langit dan bumi, apakah kalian tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah”. Mereka menjawab; “Beliau mengatakan demikian.” Kemudian Umar mengatakan demikian kepada keduanya, lalu keduanya berkata; “Ya.” Umar berkata; “Sesungguhnya aku akan mengabarkan kepada kalian tentang pemberian (harta fai`) ini, sesungguhnya Allah telah mengkhususkan sesuatu kepada Nabi-Nya yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Allah berfirman: “Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan tidak pula seekor untapun, ” (QS Al Hasyr: 6). Harta ini khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah tidak memberikannya kepada yang lain, juga tidak pula mengutamakannya untuk kalian. Sesungguhnya Allah telah membagikan harta ini diantara kalian dan juga menyebarkannya untuk kalian, sehingga masih tersisa dari harta ini. Dahulu beliau membelanjakan harta itu untuk keluarganya selama satu tahun, kemudian menjadikan sisanya sebagai harta Allah, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Abu Bakar berkata; “Aku adalah penerus Rasulullah sepeninggal beliau, aku akan menggunakan harta tersebut dengan cara yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 400: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Isma’il Abu Ma’mar Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sulaim Ath Tha`ifi dari Isma’il Bin Umaiyah dari Musa Bin Imran Bin Mannah dari Aban Bin Utsman dari Utsman, bahwa dia melihat jenazah, lalu berdiri seraya berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melihat jenazah beliau berdiri.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: