Musnad Ahmad: 501-600

Musnad Ahmad 501: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Abu Yahya Al Bazzaz Muhammad Bin Abdurrahim Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Bin Bisyr Bin Salm Al Kufi Telah menceritakan kepada kami Al Abbas Bin Al Fadlal Al Anshari dari Hisyam Bin Ziyad Al Qurasyi dari bapaknya dari Mihjan mantan budak Utsman, dari Utsman dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah akan menaungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya seorang hamba yang menangguhkan kepada orang yang kesusahan atau meninggalkan orang yang berhutang.”

 

Musnad Ahmad 502: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Yahya Bin Utsman Al Harbi Abu Zakaria Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin ‘Ayyasy dari seorang lelaki yang telah dinamainya, dari Muhammad Bin Yusuf dari ‘Amru Bin Utsman Bin Affan dari bapaknya dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidur pagi dapat menolak rizki.”

 

Musnad Ahmad 503: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dari Malik, telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Nubaih Bin Wahab dari Aban Bin Utsman dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang sedang Ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan tidak boleh melamar.”

 

Musnad Ahmad 504: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Muhammad Bin Abu Bakar Al Muqaddami Telah menceritakan kepada kami Hammad Bin Zaid dari Ayyub dari Nafi’, telah menceritakan kepadaku Nubaih Bin Wahab, dia berkata; “Umar Bin Ubaidillah Bin Ma’mar mengutusku karena dia sedang melamar putri Syaibah Bin Utsman untuk putranya, kemudian diutuslah kepada Aban Bin Utsman, sementara dia (Aban) masih di musim haji, maka dia berkata; “Ketahuilah, aku menganggapnya dia seorang badui, sesungguhnya orang yang sedang Ihram tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan, sebagaimana Utsman telah menceritakannya kepadaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Dan Nubaih telah menceritakan kepadaku dari bapaknya dengan hadits yang semakna.

 

Musnad Ahmad 505: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Muhammad Bin Abu Bakar Telah menceritakan kepada kami Zuhair Bin Ishaq Telah menceritakan kepada kami Daud Bin Abu Hind dari Ziyad Bin Abdullah dari Ummu Hilal putri Waki’ dari Na`ilah Binti Al Farafishah istri Utsman Bin Affan, dia berkata; Amirul Mukminin Utsman mengantuk lalu tertidur nyenyak kemudian terjaga dan berkata; “Suatu kaum benar benar akan membunuhku.” Aku berkata; “Sekali kali tidak, jika Allah mengizinkan hal itu tidak akan terjadi, sesungguhnya rakyatmu telah meminta dengan kerelaanmu, ” kemudian Utsman berkata; “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tidurku bersama Abu Bakar dan Umar, kemudian mereka berkata; “Malam ini kamu makan bersama kami.”

 

Musnad Ahmad 506: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Ziyad Bin Ayyub Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dia berkata; Abu Al Miqdam menganggapnya dari Al Hasan Bin Abu Al Hasan dia berkata; aku masuk masjid, dan ternyata Utsman Bin Affan sedang bersandar di kain selendangnya, kemudian datanglah dua orang pemberi minum berselisih di hadapannya, maka dia memutuskan perkara keduanya, lalu aku mendatangi dan melihatnya, ternyata dia adalah seorang yang bagus wajahnya dengan bintik-bintik cacar di pipinya dan rambutnya menutupi kedua lengannya.”

 

Musnad Ahmad 507: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Ummu ghurab dari Bunanah, dia berkata; ” Utsman tidak pernah sama sekali memakai khidlob (pewarna rambut).”

 

Musnad Ahmad 508: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah Bin Umar Al Qawariri Telah menceritakan kepada kami Abu Al Qasim Bin Abu Az Zinad telah menceritakan kepadaku Waqid Bin Abdullah At Tamimi dari orang yang melihat Utsman Bin Affan, bahwa dia menambal gigi giginya dengan emas.”

 

Musnad Ahmad 509: Telah menceritakan kepada kami Husyaim Bin Basyir secara imla’ (dengan cara mendiktekan), dia berkata; telah memberitakan kepada kami Muhammad Bin Qais Al Asadi dari Musa Bin Thalhah dia berkata; aku mendengar Utsman Bin Affan ketika berada di atas mimbar, sementara mu’adzin mengumandangkan Iqamat untuk Shalat, dan dia mencari orang-orang menanyakan kepada mereka tentang berita mereka dan tentang harga (barang dagangan) mereka.”

 

Musnad Ahmad 510: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Suwaid Bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari As Sa`ib Bin Yazid bahwa Utsman sujud ketika membaca surat Shaad.

 

Musnad Ahmad 511: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Suraij Bin Yunus Telah menceritakan kepada kami Mahbub Bin Muhrij penjual botol dan seorang penduduk Kufah yang tsiqah, demikianlah Suraij mengatakannya, dari Ibrahim Bin Abdullah Ibnu Farrukh dari bapaknya dia berkata; “Aku melaksanakan Shalat Aid di belakang Utsman, dan dia bertakbir tujuh kali dan lima kali.”

 

Musnad Ahmad 512: Telah menceritakan kepada kami Abdus Shamad Telah menceritakan kepada kami Salim Abu Jumai’ Telah menceritakan kepada kami Al Hasan dia menceritakan tentang Utsman dan sifat malunya yang tinggi, kemudian dia berkata; “Ketika dia sedang berada di dalam rumah, walaupun pintu rumahnya tertutup, dia tidak melepaskan pakaiannya untuk mengguyurkan air pada (tubuh) nya, karena dia tertahan oleh malunya jika tulang punggungnya terlihat.”

 

Musnad Ahmad 513: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Khalid Ash Shan’ani telah menceritakan kepadaku Umaiyah Bin Syibl dan yang lainnya, mereka berkata; ” Utsman menjabat (kekhilafahan) selama dua belas tahun sementara fitnah bercokol selama lima tahun.”

 

Musnad Ahmad 514: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Bin Isa Bin Ath Thabba’ dari Abu Ma’syar dia berkata; ” Utsman terbunuh pada hari Jum’at tanggal delapan belas bulan Dzulhijah tahun ke tiga puluh lima Hijriyah, dan kekhilafahan (kepemimpinan) beliau selama dua belas tahun kurang dua belas hari.”

 

Musnad Ahmad 515: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah Bin Mu’adz Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir Bin Sulaiman dia berkata; bapakku berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Utsman bahwa Utsman terbunuh pada pertengahan hari-hari tasyrik.”

 

Musnad Ahmad 516: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa Telah menceritakan kepada kami Abu Hilal Telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa Utsman terbunuh pada usia sembilan puluh atau delapan puluh delapan tahun.”

 

Musnad Ahmad 517: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Ja’far Bin Muhammad Bin Fudlail Telah menceritakan kepada kami Abul Nu’aim dari Abu Khaldah dari Abul ‘Aliyah dia berkata; “Kami berada di pintu rumah Utsman pada tanggal sepuluh bulan Dzulhijah.”

 

Musnad Ahmad 518: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Qatadah dia berkata; ” Zubair menshalati Utsman kemudian memakamkannya, dan dia pernah berwasiat kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 519: Telah menceritakan kepada kami Zakaria Bin ‘Adi dari Ubaidullah Bin ‘Amru dari Abdullah Bin Muhammad Bin Aqil dia berkata; “Utsman terbunuh pada tahun ke tiga puluh lima, dan fitnah terjadi selama lima tahun, diantaranya empat bulan pada waktu Hasan radliallahu ‘anhu.”

 

Musnad Ahmad 520: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Abu Khaldah dari Abul ‘Aliyah dia berkata; “Kami berada di pintu rumah Utsman pada tanggal sepuluh bulan Dzulhijah.”

 

Musnad Ahmad 521: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah Bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepadaku Al Qasim Bin Al Hakam Bin Aus Al Anshari telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ubadah Az Zuraqi Al Anshari salah seorang penduduk Madinah, dari Zaid Bin Aslam dari bapaknya dia berkata; “Aku hadir Utsman pada hari ketika dia dikepung berada di tempat jenazah, seandainya sebuah batu dijatuhkan pasti tidak akan terjatuh kecuali mengenai kepala seseorang, aku melihat Utsman muncul dari pintu yang berada di sisi pintu maqam Jibril kemudian berkata; “Wahai manusia apakah ada Thalhah diantara kalian?” Mereka diam, Utsman bertanya lagi; “Wahai manusia apakah ada Thalhah diantara kalian?” Mereka diam lagi, kemudian Utsman bertanya lagi; “Wahai manusia apakah ada Thalhah diantara kalian?” Maka berdirilah Thalhah Bin Ubaidillah, lalu Utsman berkata kepadanya; “Ketahuilah aku melihatmu ada di sini, aku tidak menyangka jika kamu berada dalam kerumunan ini dan mendengar panggilanku di akhir ketiga kalinya kemudian tidak menjawabku, aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, wahai Thalhah ingatkah kamu suatu hari ketika aku dan kamu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tempat ini dan ini yang tidak ada seorangpun dari sahabatnya bersamanya kecuali aku dan kamu?” Thalhah menjawab; “Ya.” (Utsman melanjutkan;) “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadamu; “Wahai Thalhah sesungguhnya tidaklah ada seorang Nabi kecuali pasti bersamanya ada seorang pengawal dari sahabatnya dari kalangan umatnya di Syurga, dan sesungguhnya Utsman Bin Affan ini -bermaksud kepadaku- adalah pengawal bersamaku di Syurga.” Thalhah berkata; “Demi Allah subhanahu wata’ala, ya benar.” Kemudian dia berlalu.

 

Musnad Ahmad 522: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Al Abbas Bin Al Walid An Narsi Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Zurai’ Telah menceritakan kepada kami Sa’id Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Muslim Bin Yasar dari Humran Bin Aban bahwa pada suatu hari dia melihat Utsman berwudlu, dia berkumur-kumur dan beristinsyaq, kemudian membasuh mukanya tiga kali. Dan dia menceritakan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang semakna dengan Ibnu ja’far dari Sa’id.”

 

Musnad Ahmad 523: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Wahab Bin Baqiyyah Al Wasithi telah memberitakan kepada kami Khalid yaitu Ibnu Abdullah, dari Al Jurairi dari Urwah Bin Qabishah dari seorang lelaki Anshar dari bapaknya dia berkata; ketika aku berdiri di samping Utsman Bin Affan, dia berkata; “Maukah aku beritahukan kepada kalian (tata cara) bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu?” Kami menjawab; “Tentu mau, ” kemudian dia meminta air dan membasuh wajahnya tiga kali, lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq tiga kali, lalu membasuh kedua tangannya hingga kedua sikutnya tiga kali, lalu mengusap kepalanya dan kedua telinganya, lalu membasuh kedua kakinya tiga kali, kemudian dia berkata; “Demikianlah tatacara wudlu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 524: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Muhammad Bin Abu Bakar Bin Ali Al Muqaddami Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abdullah Al Anshari Telah menceritakan kepada kami Hilal Bin Haq dari Al Jurairi dari Tsumamah Bin Hazn Al Qusyairi dia berkata; aku hadir ditempat kejadian hari terbunuhnya Utsman, dia mengintip ke arah orang-orang, seraya berkata; “Panggilkan ke hadapanku dua sahabat kalian yang mengobarkan (perlawanan) kepadaku!” Kemudian keduanya dipanggil, dan Utsman berkata; “Aku bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apakah kalian berdua tahu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah dan kondisi masjid sempit (tidak mampu lagi menampung) orang, kemudian beliau bertanya: “Siapakah yang mau membeli tanah ini dengan uangnya sendiri kemudian diserahkan menjadi milik kaum muslimin, maka baginya lebih baik darinya di Syurga?” Dan aku membelinya dengan murni uangku sendiri, lalu aku berikan kepada kaum muslimin, kemudian kalian melarangku melaksanakan Shalat dua raka’at di dalamnya, ” kemudian Utsman berkata “Aku bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apakah kalian tahu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah dan di sana belum ada sumur yang air tawarnya bisa diambil kecuali sumur rumah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah yang mau membelinya dengan uang murni miliknya sendiri, kemudian ember miliknya sama seperti ember yang dimiliki kaum muslimin, maka baginya lebih baik darinya berupa Syurga?” Dan aku membelinya dengan murni uangku sendiri, kemudian kalian melarangku meminum air darinya.” Kemudian dia berkata lagi; “Apakah kalian tahu bahwa aku adalah termasuk salah satu pasukan Jaisyul Usroh?” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 525: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku bapakku dan Abu Khaitsamah keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah Bin ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Zaidah dari ‘Ashim dari Syaqiq dia berkata; “Abdurrahman Bin Auf bertemu dengan Al Walid Bin ‘Uqbah, kemudian Al Walid berkata kepadanya; “Ada apa gerangan, aku melihat kamu bersikap kasar kepada Amirul Mukminin Utsman?” Abdurrahman menjawab; “Sampaikan kepadanya, ” kemudian dia menyebutkan hadits, “Adapun perkataannya, sesungguhnya aku tertinggal dari perang Badar, karena aku merawat Ruqayyah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang sakit sampai dia meninggal, dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membidikkan panahku untukku padahal barangsiapa panahnya dibidikkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuknya berarti beliau telah bersaksi.” Kemudian dia menyebutkan hadits yang panjang sampai selesai.

 

Musnad Ahmad 526: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Sufyan Bin Waki’ telah menceritakan kepadaku Qabishah dari Abu Bakar Bin ‘Ayyasy dari ‘Ashim dari Abu Wa’il dia berkata; aku bertanya kepada Abdurrahman Bin Auf; “Bagaimana kamu membai’at utsman dan meninggalkan Ali?” Dia menjawab; “Apa dosaku, aku telah memulainya kepada Ali dan aku katakan; ‘aku berbai’at kepadamu berdasarkan Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, jejak Abu Bakar dan Umar, ‘” Abdurrahman berkata; “tetapi Ali menjawab; “Dalam hal yang aku mampu” Abdurrahman berkata; “Kemudian Aku tawarkan kepada Utsman dan dia menerimanya.”

 

Musnad Ahmad 527: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Bin Al Qasim Telah menceritakan kepada kami Laits Telah menceritakan kepada kami Zuhrah Bin Ma’bad Al Qurasyi dari Abu Shalih mantan budak Utsman, dia berkata; aku mendengar Utsman berkata ketika di atas mimbar; “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menyembunyikan dari kalian sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena aku khawatir kalian akan berpisah dariku, namun kemudian tampaklah bagiku untuk menceritakannya kepada kalian. Hendaknya setiap orang memilih sendiri yang sesuai baginya, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ribath sehari fi sabilillah lebih baik dari pada seribu hari di tempat lain.” Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, Telah menceritakan kepada kami Ikrimah Bin Ibrahim Bahili Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Abdurrahman Bin Abu Dzubab, dan dia menyebutkan haditsnya.

 

Musnad Ahmad 528: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah mengabarkan kepada kami Musa Bin Wardan dia berkata; aku mendengar Sa’id Bin Al Musayyib berkata; aku mendengar Utsman berkhutbah di atas mimbar seraya berkata; “aku membeli kurma dari satu kabilah orang-orang Yahudi yaitu Banu Qainuqa’, kemudian aku menjualnya dengan keuntungan satu Sha’, hal tersebut sampai (beritanya) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Wahai Utsman, apabila kamu membeli maka takarlah dan jika kamu menjual maka takarlah.”

 

Musnad Ahmad 529: Telah menceritakan kepada kami Bisyr Bin Syu’aib Bin Abu Hamzah telah menceritakan kepadaku bapakku dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku ‘Urwah Bin Az Zubair bahwa Ubaidullah Bin ‘Adi Bin Al Khiyar telah mengabarkan kepadanya, bahwa Utsman berkata kepadanya; sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Al Haq, ” dan aku adalah termasuk orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya serta beriman dengan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berhijrah dua kali, dan aku memperoleh kekerabatan (tali persaudaraan melalui jalur pernikahan), kemudian aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka demi Allah, aku tidak pernah bermaksiat kepadanya dan tidak pula menipu beliau sampai Allah mewafatkan beliau.”

 

Musnad Ahmad 530: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Muhammad Bin Abdullah Bin Az Zubair Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman Bin Al Harits Bin ‘Ayyasy Bin Abu Rabi’ah dari Zaid Bin Ali dari bapaknya dari Ubaidullah Bin Abu Rafi’ dari Ali Bin Abu Thalib, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan wuquf di Arafah lalu bersabda: “Ini adalah tempat wuquf, dan semua Arafah adalah tempat wuquf.” Lalu beliau bertolak (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam, kemudian beliau membonceng Usamah dan menjalankan untanya dengan perlahan sementara orang-orang berdesak desakan ke kanan dan ke kiri, lalu beliau menoleh ke arah orang-orang seraya bersabda: “Wahai orang-orang, tenanglah, ” kemudian beliau tiba di jam’un (Muzdalifah) dan melaksanakan dua Shalat bersama mereka yaitu Maghrib dan Isya, lalu beliau bermalam hingga shubuh, kemudian beliau pergi ke arah Quzah dan berdiri di atasnya seraya bersabda: “Ini adalah tempat berhenti dan semua muzdalifah adalah tempat berhenti.” Lalu beliau melanjutkan perjalanannya hingga sampai di lembah Muhassir dan berhenti di sana, kemudian beliau menarik (tali kekang untanya) secara perlahan dan untanyapun menurut hingga melewati lembah lalu beliau mengikatnya, kemudian beliau membonceng Al Fadlal dan berjalan hingga sampai di jamarat (lokasi lempar jumrah), kemudian beliau melempar. Lalu beliau pergi ke manhar (tempat penyembelihan hewan) dan beliau bersabda: “Ini adalah manhar (tempat penyembelihan hewan) dan mina semuanya adalah manhar.” Ali berkata kemudian ada seorang gadis dari Khats’am datang meminta fatwa kepada beliau dan bekata; “Sesungguhnya bapakku sudah lanjut usia sementara kewajiban dari Allah berupa haji telah wajib baginya, maka apakah sah baginya jika aku yang menggantikan hajinya?” Beliau menjawab: “Ya, maka kerjakanlah untuk bapakmu.” Ali berkata; dan beliau memalingkan leher Al Fadlal, sehingga Al Abbas berkata kepada beliau; “Wahai Rasulullah, engkau telah palingkan leher anak pamanmu.” Beliau menjawab: “Karena aku melihat ada pemuda dan pemudi, maka keduanya tidak akan selamat dari Setan.” Ali berkata; kemudian datanglah seorang lelaki dan bertanya; “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah mencukur sebelum menyembelih hewan?” Beliau menjawab: “Sembelihlah dan tidak mengapa.” Kemudian datang yang lain dan bertanya; “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku melakukan Thawaf Ifadlah sebelum mencukur?” Beliau menjawab; “Cukurlah atau pendekkanlah dan tidak mengapa.” Kemudian beliau menuju Ka’bah dan melaksanakan thawaf, lalu menuju air Zamzam kemudian beliau bersabda: “Wahai Bani Abdul MuThalib, kalaulah bukan karena aku khawatir orang-orang akan mengalahkan kalian (berebut untuk memberikan minum dengan air zamzam), niscaya aku akan mengambilnya (sendiri).”

 

Musnad Ahmad 531: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Bin Abdul Warits Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Abu Harb Bin Abul Aswad dari bapaknya dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air kencing bayi laki-laki (cara membersihkannya) cukup diperciki air, sedangkan air kencing bayi perempuan di cuci.” Qatadah berkata; “Cara seperti ini apabila keduanya (bayi laki-laki dan perempuan) belum makan makanan (selain Asi), akan tetapi apabila telah makan, maka air kencing keduanya harus dicuci.”

 

Musnad Ahmad 532: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Ahmad, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ahmad Bin ‘Abdah Al Bashri Telah menceritakan kepada kami Al Mughirah Bin Abdurrahman Bin Al Harits Al Makhzumi telah menceritakan kepadaku bapakku Abdurrahman Bin Al Harits dari Zaid Bin Ali Bin Husain Bin Ali dari bapaknya Ali Bin Husain dari Ubaidullah Bin Abu Rafi’ mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Ali Bin Abu Thalib, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan wuquf di Arafah sambil membonceng Usamah Bin Zaid, lalu beliau bersabda: ” Ini adalah tempat wuquf, dan semua Arafah adalah tempat wuquf.” Lalu beliau bertolak (meninggalkan Arafah) menjalankan untanya dengan perlahan sementara orang-orang berdesak desakan ke kanan dan ke kiri, lalu beliau menoleh ke arah orang-orang seraya bersabda: “Wahai orang-orang tenanglah, wahai orang-orang tenanglah, ” sehingga beliau tiba di Muzdalifah dan menjama’ dua Shalat, lalu beliau bermalam di Muzdalifah, dan beliau berdiri di atas Quzah sambil membonceng Al Fadlal Bin Abbas seraya bersabda: “Ini adalah tempat berhenti dan semua muzdalifah adalah tempat berhenti”, lalu beliau melanjutkan perjalanannya secara perlahan sementara orang-orang berdesak desakan ke kanan dan ke kiri, lalu beliau menoleh ke arah orang-orang seraya bersabda: “Wahai orang-orang tenanglah, ” hingga sampai di lembah Muhassir dan berhenti di sana, kemudian beliau menarik (tali kekang untanya) secara perlahan dan untanyapun menurut hingga melewati lembah, lalu beliau kembali berjalan seperti semula, hingga beliau melempar jumrah. Lalu beliau pergi ke manhar (tempat penyembelihan hewan) dan beliau bersabda: “Ini adalah manhar (tempat penyembelihan hewan) dan mina semuanya adalah manhar.” Kemudian datanglah seorang gadis dari Khats’am dan bekata; “Sesungguhnya bapakku sudah lanjut usia sementara kewajiban dari Allah berupa haji telah wajib baginya dan dia tidak mampu melaksanakannya, maka apakah sah baginya jika aku yang menggantikan hajinya?” beliau menjawab: “Ya.” Dan beliau memalingkan muka Al Fadlal Bin Al Abbas dari gadis tersebut. Kemudian datanglah seorang lelaki kepada beliau dan berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melempar jumrah dan menyelesaikan thawaf ifadlah kemudian memakai pakaian, akan tetapi aku belum mencukur rambut.” Beliau menjawab; “Tidak mengapa cukurlah.” Kemudian datanglah laki-laki lain dan berkata; “Sesungguhnya aku telah melempar jumrah dan mencukur, kemudian memakai pakaian akan tetapi belum menyembelih (hewan).” Maka beliau menjawab: “Tidak mengapa sembelihlah.” Kemudian beliau melaksanakan thawaf ifadlah, lalu meminta segayung air Zamzam dan beliau meminumnya kemudian berwudlu dan bersabda: “Ciduklah wahai Bani Abdul MuThalib, kalaulah bukan karena aku khawatir orang-orang akan mengalahkan kalian (berebut untuk memberikan minum dengan air zamzam), niscaya aku akan mengambilnya (sendiri).” Kemudian Al Abbas bertanya; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat engkau memalingkan muka anak saudaramu?” Beliau menjawab: “Karena aku melihat ada pemuda dan pemudi, maka aku khawatir Setan akan menggoda keduanya.”

 

Musnad Ahmad 533: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, Telah menceritakan kepada kami Israil Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali, dia berkata; apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohonkan perlindungan untuk orang yang sedang sakit, beliau membaca: “ADZHIBIL BA’SA RABBAN NAAS, ISYFI ANTASY SYAAFI LAA SYIFAA’A ILLAA SYIFAA`UKA SYIFAA`AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAA (hilangkanlah rasa sakit wahai Rabb manusia, sembuhkanlah, Engkau maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.”

 

Musnad Ahmad 534: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Israil Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku mengangkat seseorang tanpa musyawarah dari kaum mukminin, niscaya aku telah mengangkat Ibnu Ummi ‘Abd.”

 

Musnad Ahmad 535: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Sa’id Bin Salamah Bin Abu Al Husam seorang penduduk Madinah mantan budak keluarga Umar, Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Abdullah dari Abdullah Bin Abu Salamah dari ‘Amru Bin Sulaim dari ibunya dia berkata; ketika kami sedang berada di Mina, tiba tiba Ali Bin Abu Thalib berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada saat ini adalah hari-hari makan dan minum, maka tidak boleh seorangpun berpuasa.” Kemudian dia mengikuti orang-orang dengan menunggang untanya sambil mengucapkan hal tersebut.

 

Musnad Ahmad 536: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Israil Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Abu Abdurrahman dari Ali -dan dia memarfu’kannya (sampai kepada Nabi) – dia berkata; “Barangsiapa berbohong dengan mimpinya, maka akan dibebankan untuk menghitung biji gandum pada hari Kiamat.”

 

Musnad Ahmad 537: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id dan Husain Bin Muhammad keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan Shalat sunnah dua rakaat fajar ketika Iqamah (hendak dikumandangkan).”

 

Musnad Ahmad 538: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid Bin Ziyad Ats Tsaqafi Telah menceritakan kepada kami Umarah Bin Al Qa’qa’ dari Al Harits Bin Yazid Al ‘Ukli dari Abu Zur’ah dari Abdullah Bin Nujai dia berkata; Ali berkata; “Aku mempunyai waktu pada saat sahur untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila beliau sedang berdiri melakukan Shalat beliau bertasbih (membaca Subanallah) kepadaku, maka itu pertanda beliau mengizinkanku, dan apabila tidak sedang Shalat beliau langsung mengizinkanku.”

 

Musnad Ahmad 539: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Ubaid Bin Abu Karimah Al Harrani Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Salamah dari Abu Abdurrahim dari Zaid Bin Abi Unaisah dari Az Zuhri dari Ali Bin Husain dari bapaknya dia berkata; aku mendengar Ali berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku sementara aku dan Fatimah sedang tertidur, di waktu sahur, sampai beliau berdiri di depan pintu, kemudian beliau berkata; “Tidak Shalatkah kalian?” Maka aku menjawabnya; “Wahai Rasulullah, hanyasannya jiwa kami berada di tangan Allah, jika Dia menghendaki niscaya akan membangunkan kami.” Ali berkata; kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dan tidak mengulangi perkataannya, namun ketika pergi aku mendengar beliau membaca sambil menepukkan tangannya ke pahanya: (Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.) (QS Al Kahfi: 54)

 

Musnad Ahmad 540: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Israil Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mandi dengan istrinya dalam satu bejana.”

 

Musnad Ahmad 541: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Telah menceritakan kepada kami Israil Telah menceritakan kepada kami Simak dari Hanasy dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku ke Yaman, setelah kami sampai pada suatu kaum yang sedang membuat lubang perlindung dari singa, ketika sedang demikian mereka saling mendorong, maka terjatuhlah salah seorang dan menggantung kepada yang lain dan yang lain menggantung kepada yang lainnya juga, hingga mereka menjadi empat yang bergelantungan, dan singa melukai mereka, kemudian seorang melempar singa dengan tombaknya hingga mati, sedangkan empat orang itu meninggal semuanya karena terluka, kemudian wali orang pertama datang kepada wali yang lain dan mengeluarkan senjata untuk saling bunuh, maka pada waktu itu datanglah Ali kepada mereka dan berkata; “Apakah kalian akan berperang sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup? Sesungguhnya aku akan memutuskan perkara diantara kalian jika kalian ridla, dan itu merupakan sebaik baik keputusan, dan jika tidak maka persiapkanlah oleh sebagian kalian dengan sebagian yang lain, lalu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia yang akan memutuskan perkara kalian, dan barangsiapa melampau batas setelah itu maka tidak ada hak baginya, kumpulkanlah seperempat diyat, sepertiga diyat, setengah diyat dan diyat penuh dari kabilah kabilah orang yang menggali lubang.” Maka orang pertama mendapatkan bagian seperempat diyat karena dia yang menyebabkan binasanya orang yang ada di atasnya, orang kedua mendapatkan bagian sepertiga diyat, dan orang ketiga mendapatkan bagian setengah diyat, namun mereka menolak tidak ridla, dan mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di Maqam Ibrahim, kemudian mereka menceritakan kepadanya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Aku akan memutuskan perkaranya diantara kalian.” Dan beliau duduk mendekap lututnya, maka salah seorang dari mereka berkata; “Sesungguhnya Ali telah memutuskan perkara kami, ” dan dia menceritakan kisahnya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujuinya.Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammad telah mencertikan kepada kami simak dari Hanasy bahwa Ali berkata; “Dan untuk orang keempat mendapatkan bagian diyah penuh.”

 

Musnad Ahmad 542: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, dia berkata; Qutaibah Bin Sa’id menulis surat kepadaku yang berisi; aku tulis surat kepadamu dengan tulisanku sendiri, dan aku setempel suratnya dengan setempelku sendiri. Dia menyebutkan bahwa Laits Bin Sa’d telah bercerita kepada mereka dari Uqail dari Az Zuhri dari Ali Bin Al Husain bahwa Al Husain Bin Ali bercerita kepadanya dari Ali Bin Abu Thalib, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetuk pintu (membangunkan) dia dan Fatimah radliallahu ‘anhuma, kemudian beliau bersabda: “Tidakkah kalian Shalat?” Maka aku menjawab; “Wahai Rasulullah hanyasannya jiwa kami berada di tangan Allah, jika Dia menghehendaki membangunkan kami pasti akan membangunkan kami.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ketika aku katakan demikian kepada beliau, namun aku mendengar beliau memukul pahanya ketika berlalu sambil membaca: (Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.) (QS Al Kahfi: 54)

 

Musnad Ahmad 543: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Nashr Bin Ali Al Azdi telah mengabarkan kepadaku Ali Bin Ja’far Bin Muhammad Bin Ali Bin Al Husain Bin Ali telah menceritakan kepadaku saudaraku Musa Bin Ja’far dari bapaknya Ja’far Bin Muhammad dari bapaknya dari Ali Bin Husain dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangan Hasan dan Husain kemudian bersabda: “Barangsiapa mencintaiku dan mencintai kedua anak ini dan bapaknya serta ibunya, maka dia akan bersamaku di tingkatanku pada hari Kiamat.”

 

Musnad Ahmad 544: Telah menceritakan kepada kami Hasan Bin Musa Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Hubairah As Saba`i dari Abdullah Bin Zurair Al Ghafiqi dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah menikahi wanita bersama dengan bibinya (dari bapak) dan juga bibi (dari ibu).”

 

Musnad Ahmad 545: Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Hubairah dari Abdullah Bin Zurair bahwa dia berkata; aku menemui Ali Bin Abu Thalib, – Hasan berkata; – pada hari Aidul Adlha, kemudian daging disuguhkan kepada kami, lalu aku berkata; “Semoga Allah memperbaikimu, seandainya yang kamu suguhkan kepada kami dari daging bebek ini yaitu Al Wazz, karena sesungguhnya Allah Azza Wa jalla telah memperbanyak kebaikan (telah membuat makmur).” Kemudian dia berkata; “Wahai Ibnu Zurair, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak dihalalkan bagi seorang khalifah dari harta Allah kecuali hanya dua piring, satu piring untuk dia makan bersama keluarganya dan satu piring lagi diberikan kepada orang lain.”

 

Musnad Ahmad 546: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir Bin Sulaiman dari bapaknya dari Mughirah dari Ummu Musa dari Ali, dia berkata; “Aku tidak pernah lagi terkena sakit mata sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meludahi kepada ke dua mataku.”

 

Musnad Ahmad 547: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail Telah menceritakan kepada kami Mutharrif dari Abu Ishaq dari ‘Ashim dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan Shalat witir di permulaan malam, di pertengahan malam dan di akhir malam, kemudian ditetapkanlah bahwa beliau witir di akhir malam.”

 

Musnad Ahmad 548: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Ibrahim At Turjumani Telah menceritakan kepada kami Al Faraj Bin Fadlalah dari Muhammad Bin Abdullah Bin ‘Amru Bin Utsman, dari ibunya Fatimah Bin Husain dari Husain dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian berlama-lama memandang orang yang yang terkena penyakit kusta, dan jika berbicara dengan mereka maka hendaknya ada jarak antara kalian dengan mereka seukuran tombak.”

 

Musnad Ahmad 549: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Muhammad Bin Abu Bakar Al Muqaddami Telah menceritakan kepada kami Harun Bin Muslim Telah menceritakan kepada kami Al Qasim Bin Abdurrahman dari Muhammad Bin Ali dari bapaknya dari Ali dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Ali sempurnakanlah wudlu sekalipun berat bagimu, janganlah memakan dari sedekah (zakat), janganlah mengawinkan keledai dengan kuda dan janganlah duduk-duduk dengan para ahli nujum.”

 

Musnad Ahmad 550: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail dari Al A’masy dari Abdul Malik Bin Maisarah dari An Nazal Bin Sabrah dia berkata; Ali diberi segayung air dan ketika itu dia sedang berada di teras, kemudian dia mengambil air dengan tangannya lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq, kemudian mengusap wajahnya, kedua lengannya dan kepalanya, lalu dia minum sambil berdiri, setelah itu berkata; “Inilah (tata cara) wudlunya orang yang belum berhadats (batal), demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan.”

 

Musnad Ahmad 551: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail dari Al A’masy dari Habib dari Tsa’labah dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dengan sengaja berdusta kepadaku, maka bersiap-siaplah tempat duduknya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 552: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail Telah menceritakan kepada kami Al Mughirah dari Ummu Musa dari Ali, dia berkata; kata-kata terakhir (wasiat) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah “Shalat Shalat, bertakwalah kepada Allah dalam hal budak-budak yang kalian miliki.”

 

Musnad Ahmad 553: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Fudlail dari ‘Ashim Bin Kulaib dari Abu Burdah Bin Abu Musa dari Abu Musa dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai cincinku di jari telunjuk atau sebelahnya.”

 

Musnad Ahmad 554: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah memberitakan kepada kami Az Zuhri dari Abu ‘Ubaid mantan budak Abdurrahman Bin Auf, dia berkata; “kemudian aku melihat Ali Bin Abu Thalib setelah itu pada hari Aid, dia memulai dengan Shalat sebelum berkhutbah, dan Shalat tanpa adzan dan Iqamat kemudian dia berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menyimpan daging hewan kurbannya melebihi tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 555: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Suraij Bin Yunus Telah menceritakan kepada kami Ali Bin Hasyim yaitu Ibnu Al Barid, dari Muhammad Bin Ubaidillah Bin Abu Rafi’ dari Umar Bin Ali Bin Husain dari bapaknya dari Ali, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pilihan kepada para istrinya dengan dunia dan akhirat dan tidak memberikan pilihan Talak (cerai) kepada mereka.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah, dia berkata; dan telah menceritakannya kepada kami Yahya Bin Ayyub Telah menceritakan kepada kami Ali Bin Hasyim Bin Al Barid kemudian dia menyebutkan hadits yang semisalnya, dan berkata; “Beliau memberikan pilihan kepada para istrinya antara dunia dan akhirat dan tidak memberikan pilihan talak kepada mereka.”

 

Musnad Ahmad 556: Telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Al Mu’addib Ya’qub tetangga kami, Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Sa’d dari Abdul Aziz Bin Al Muthallib dari Abdurrahman Bin Al Harits dari Zaid Bin Ali Bin Al Husain dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 557: Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Abu ‘Adi dari Sa’id dari Qatadah dari Abu Hassan dari ‘Abidah dari Ali bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari perang Ahzab (khandak): “Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kuburan-kuburan mereka (orang-orang kafir) dengan api, sebagaimana mereka telah menyibukkan kami dari melaksanakan Shalat sampai matahari terbenam.”

 

Musnad Ahmad 558: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah, keduanya putra Muhammad Bin Ali, dari salah satu dari keduanya, sedangkan Hasan adalah yang paling kami sukai dalam hati kami, bahwa Ali berkata kepada Ibnu Abbas; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nikah mut’ah dan daging keledai jinak pada perang Khaibar.”

 

Musnad Ahmad 559: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Karim dari Mujahid dari Ibnu Abu Laila dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadaku untuk membagi-bagikan daging untanya, kulitnya dan pelananya dengan rata. Dan memerintahkan kepadaku agar tidak memberi penjagalnya sedikitpun dan beliau berkata: “Kita memberinya dari kita sendiri.”

 

Musnad Ahmad 560: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Zaid Bin Utsai’ seorang lelaki berasal dari Hamdan, kami bertanya kepada Ali berkaitan dengan penugasannya, yaitu pada hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya bersama Abu Bakar pada musim haji? dia menjawab; “Aku diutus dengan membawa empat hal; tidak akan masuk Syurga kecuali jiwa yang mukmin, tidak boleh melakukan thawaf tanpa busana (telanjang), barangsiapa ada perjanjian antara dia dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka batasnya sampai waktu yang dijanjikan, dan orang-orang musyrik tidak boleh mengerjakan haji bersama kaum muslimin setelah tahun ini.”

 

Musnad Ahmad 561: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan bahwa hutang (dilunasi) sebelum (melaksanakan) wasiat, sedangkan kalian membaca wasiat sebelum hutang, dan (beliau memutuskan) bahwa a’yan satu ibu (saudara laki-laki dan perempuan sekandung) adalah saling mewaritsi, sedangkan saudara bani ‘Allat (saudara sebapak) tidak saling mewaritsi.”

 

Musnad Ahmad 562: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Atho’ Bin As Sa`ib dari bapaknya dari Ali, dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak akan memberi kalian, sedangkan ahli suffah aku biarkan perut mereka bungkuk karena lapar, ” dan dalam riwayat lain beliau bersabda: “Aku tidak akan melayani kalian berdua sementara aku membiarkan ahli suffah kelaparan.”

 

Musnad Ahmad 563: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Abdullah Bin Abu Ziyad Al Quthwani Telah menceritakan kepada kami Zaid Bin Al Hubab telah mengabarkan kepadaku Harb Abu Sufyan Al Minqari Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ali Abu Ja’far telah menceritakan kepadaku pamanku dari bapaknya bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sa’i antara shafwa dan marwa, di tempat sa’i beliau menyingsingkan pakaiannya hingga sampai pada kedua lututnya.”

 

Musnad Ahmad 564: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad Bin Al ‘Atho’ Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Yahya Bin Ayyub dari Ubaidullah Bin Zahr dari Ali Bin Yazid dari Al Qasim dari Abu Umamah dia berkata; Ali berkata; “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian aku meminta izin, apabila beliau sedang dalam Shalat beliau bertasbih (membaca subhanallah) dan jika sedang tidak Shalat beliau langsung mengizinkanku.”

 

Musnad Ahmad 565: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Mutharrif dari Asy Sya’bi dari Abu Juhaifah dia berkata; kami bertanya kepada Ali; “Apakah kamu memiliki sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Al Qur’an?” Dia menjawab; “Tidak, demi Dzat yang membelah biji dan menghidupkan jiwa, kecuali pemahaman yang Allah Azza Wa Jalla berikan kepada seorang lelaki dalam Al Qur’an atau apa yang ada dalam Shahifah ini.” Aku bertanya; “Lalu apa yang terdapat di dalam shahifah ini?” Dia menjawab; “Denda, pemerdekaan tawanan dan seorang muslim tidak dibunuh karena orang kafir.”

 

Musnad Ahmad 566: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Hasan Bin Muhammad Bin Ali, telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah Bin Abu Rafi’, dan dalam riwayat lain mengatakan; sesungguhnya Ubaidullah Bin Abu Rafi’ telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia mendengar Ali berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus aku, Zubair dan Miqdad, kemudian beliau bersabda: “Berangkatlah kalian hingga sampai di Raudlah khah, kalian akan menjumpai seorang wanita (musafir) yang membawa surat, maka ambillah surat tersebut darinya.” Kemudian kamipun berangkat dan kuda kami semakin menjauh sehingga kami sampai di Raudlah, dan kami menjumpai seorang wanita, lalu kami berkata kepadanya; “Keluarkan suratnya!” Akan tetapi dia menjawab; “aku tidak membawa surat.” Lalu kami berkata; “Kamu keluarkan suratnya atau jika tidak kami akan memeriksa bajumu!” Ali berkata; “Kemudian dia mengeluarkan suratnya dari kondenya, dan kami mengambil surat tersebut lalu kami bawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ternyata isi tulisannya; dari Hatib Bin Abi Al Bata’ah kepada orang-orang musyrik di Makkah, memberitakan kepada mereka tentang beberapa rencana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Wahai Hatib, apa-apaan ini?” Dia menjawab; “Jangan tergesa gesa (menuduh) kepada saya, sesungguhnya aku adalah seseorang yang mempunyai tetangga dari Quraisy dan aku bukan termasuk dari kerabatnya, sedangkan orang-orang Muhajirin yang berhijrah bersama engkau mereka memiliki kerabat yang dapat melindungi keluarganya di Makkah, maka aku ingin walaupun aku bukan kerabat denganya, agar kerabatku bisa melindunginya, dan aku tidak melakukan hal demikian karena kekafiran atau karena murtad dari agamaku, demikian juga bukan karena ridla dengan kekafiran setelah berIslam.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dia telah berkata jujur kepada kalian”, namun Umar berkata; “Biarkan aku yang menebas leher munafiq ini!” Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya dia telah turut serta dalam perang Badar, siapa yang bisa menyangka bahwa Allah telah melihat ahli badar, kemudian Allah berfirman: “Berbuatlah kalian sekehendak kalian, karena aku telah mengampuni kalian.”

 

Musnad Ahmad 567: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Hajjaj Bin Yusuf seorang penyair, Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Hammad Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari ‘Atho’ Bin As Sa`ib dari Musa Bin Salim Abu Jahdlam bahwa Abu Ja’far telah bercerita kepadanya, dari bapaknya, bahwa Ali telah bercerita kepada mereka; “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarangku dari tiga hal” -dia berkata; dan aku tidak tahu apakah itu khusus baginya atau untuk semua orang secara umum, – “Beliau melarangku dari Al Qasiy (pakaian terbuat dari bahan campuran antara katun dan sutra), Al Mitaroh (kain penutup pelana terbuat dari sutra) dan melarang aku membaca (ayat) ketika sedang ruku’.”

 

Musnad Ahmad 568: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Wahab Bin Baqiyyah Al Wasithi Telah menceritakan kepada kami Umar Bin Yunus yaitu Al Yamami, dari Abdullah Bin Umar Al Yamami dari Al Hasan Bin Zaid Bin Hasan telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dari Ali, dia berkata; ketika aku berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian muncullah Abu Bakar dan Umar, lalu beliau bersabda: “Wahai Ali, dua orang ini adalah pemimpin penduduk syurga yang sebaya (berumur tiga puluh sampai lima puluh) setelah para Nabi dan para Rasul.”

 

Musnad Ahmad 569: Telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abi Najih dari bapaknya dari seorang lelaki yang mendengar Ali, dia berkata; aku hendak melamar putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata; “Aku tidak memiliki sesuatu apapun maka bagimana?” Kemudian aku menyebutkan hubungan beliau dan kebaikan beliau hingga aku melamarnya, maka beliau bertanya; “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Aku menjawab; “Tidak”, beliau bertanya: “Lalu di mana lembing Al Huthamiyah milikmu yang aku berikan kepadamu pada hari begini dan begini?” Dia menjawab; “Ada padaku.” Kemudian beliau berkata: “Kalau begitu berikan padanya.”

 

Musnad Ahmad 570: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ubaidillah Bin Abu Yazid dari Mujahid dari Ibnu Abi Laila dari Ali, bahwa Fatimah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta budak kepada beliau, kemudian beliau berkata: “Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik dari itu? Yaitu kamu bertasbih (membaca subhanallah) tiga puluh tiga kali, bertakbir (membaca Allahu Akbar) tiga puluh tiga kali dan bertahmid (membaca Al Hamdulillah) tiga puluh tiga kali, salah satunya (dari bacaan tersebut) tiga puluh empat.”

 

Musnad Ahmad 571: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abdul A’la Bin Hammad An Narsi Telah menceritakan kepada kami Daud Bin Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Maslamah Ar Razi dari Abu ‘Amru Al Bajali dari Abdul Malik Bin Sufyan Ats Tsaqafi dari Abu Ja’far Muhammad Bin Ali dari Muhammad Bin Al Hanafiyah dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang mukmin yang terfitnah dan selalu bertaubat.”

 

Musnad Ahmad 572: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Muhammad Bin Abdullah Bin Numair Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Al Mundzir dari Muhammad Bin Ali dari Ali, dia berkata; “Aku adalah seorang lelaki yang sering keluar air madzi, maka aku malu untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena posisi putrinya, kemudian aku perintahkan Miqdad, dan dia menanyakan kepada beliau, kemudian beliau menjawab: “Mencuci dzakarnya kemudian berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 573: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Uqbah Bin Mukarram Al Kufi Telah menceritakan kepada kami Yunus Bin Bukair Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ishaq dari Sa’id Bin Abu Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah, dan dari Ubaidullah Bin Abu Rafi’ dari bapaknya dari Ali, keduanya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya tidak akan memberatkan pada ummatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka agar bersiwak setiap kali melaksanakan Shalat.”

 

Musnad Ahmad 574: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Bin ‘Ayyasy Telah menceritakan kepada kami Mughirah Bin Miqsam Telah menceritakan kepada kami Al Harits Al ‘Ukli dari Abdullah Bin Nujai, dia berkata; Ali berkata; “Dahulu aku punya dua waktu dalam sehari semalam untuk bertemu dengan Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam, apabila aku menemuinya dan beliau sedang Shalat, maka beliau berdehem. Pada suatu malam aku menemui beliau, lalu beliau berkata: “Apakah kamu tahu apa yang dilakukan oleh para Malaikat pada malam ini? Aku melaksanakan Shalat kemudian mendengar suara orang berjalan di rumah, maka aku keluar dan ternyata Malaikat Jibril, dan dia berkata; “Malam ini aku masih menunggumu, sesungguhnya di rumahmu ada seekor anjing sehingga aku tidak bisa masuk, dan sesungguhnya kami tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjingnya, ada orang junub dan juga patung.”

 

Musnad Ahmad 575: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Bin ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Syuraih Bin An Nu’man Al Hamdani dari Ali Bin Abu Thalib, dia berkata; “Rasulullah melarangku berkurban dengan hewan yang terpotong bagian depan dan belakang telinganya, telinganya sobek, telinganya bolong, yang terpotong salah satu anggota tubuhnya.”

 

Musnad Ahmad 576: Telah menceritakan kepada kami Jarir Bin Abdul Hamid dari Manshur dari Hilal dari Wahab Bin Al Ajda’ dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh Shalat setelah Ashar kecuali apabila matahari masih berwarna putih di atas.”

 

Musnad Ahmad 577: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku Ibrahim Bin Abdullah Bin Hunain dari bapaknya dari Ibnu Abbas dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku membaca (surat) ketika sedang ruku’, dan melarangku dari (memakai) cincin dari emas dan dari Al Qoshi (pakaian yang terbuat dari bahan sutera) serta Al Mu’ashfar (pakaian yang dilebur warna kuning).”

 

Musnad Ahmad 578: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Al Hakam Bin ‘Utaibah dari Abdurrahman Bin Abu Laila dia berkata; Abu Musa datang kepada Al Hasan Bin Ali dalam rangka menjenguknya, kemudian Ali bertanya kepadanya; “Apakah kamu datang dalam rangka menjenguk atau dalam rangka bahagia?” Dia menjawab; “Tidak, akan tetapi dalam rangka menjenguk”, dia berkata; kemudian Ali berkata kepadanya; jika kamu datang dalam rangka menjenguk, maka sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang menjenguk saudaranya sesama muslim, maka dia berjalan di tepi syurga sampai dia duduk, apabila telah duduk maka dia diliputi oleh rahmat, apabila di waktu pagi hari, maka tujuh puluh ribu Malaikat memberikan shalawat kepadanya hingga tiba waktu sore, dan jika di waktu sore maka tujuh puluh ribu Malaikat memberikan shalawat kepadanya sampai tiba waktu pagi.”

 

Musnad Ahmad 579: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Suwaid Bin Sa’id pada tahun dua ratus dua puluh enam, Telah menceritakan kepada kami Muslim Bin Khalid Az Zanji, -Abu Abdurrahman berkata; aku bertanya kepada Suwaid; “Kenapa dinamakan Az Zanji?” Dia menjawab; “Karena terlalu hitam”- dari Abdurrahman Bin Al Harits dari Zaid Bin Ali Bin Al Husain dari bapaknya dari Ubaidullah Bin Rafi’ dari Ali Bin Abu Thalib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan wuquf di Arafah dengan membonceng Usamah Bin Zaid, lalu beliau bersabda: “Ini adalah tempat wuquf dan semua Arafah adalah tempat wuquf.” Kemudian beliau bertolak dan berjalan secara perlahan sementara orang-orang berdesakan ke kanan dan ke kiri, maka beliau menoleh seraya berkata: “Tenanglah wahai manusia tenanglah wahai manusia.” Sampai tiba di Muzdalifah, beliau menjama’ dua Shalat, kemudian berdiam di Muzdalifah dan membonceng Al Fadlal Bin Abbas, lalu beliau berdiri di Quzah seraya berkata: “Ini adalah tempat berhenti dan semua muzdalifah adalah tempat berhenti, ” kemudian beliau bertolak dan berjalan secara perlahan sementara orang-orang berdesakan ke kanan dan ke kiri, maka beliau menoleh dan bersabda: ” Tenanglah wahai orang-orang tenanglah wahai orang-orang.” Maka ketika berhenti di lembah muhassir beliau menarik kekang untanya dan untanya menurut sampai keluar dari lembah, kemudian beliau melanjutkan perjalanannya sampai tiba di jamarat (tempat melempar), lalu beliau mendatangi Al manhar (tempat penyembelihan hewan) dan beliau bersabda: “Ini adalah manhar dan semua mina adalah manhar.” Kemudian dia menyebutkan hadits yang semisal dengan hadits Ahmad Bin ‘Abdah dari Al Mughirah Bin Abdurrahman baik yang semakna atau yang semisal.

 

Musnad Ahmad 580: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Isma’il Abu Ma’mar Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin ‘Ayyasy dari Zaid Bin Jabirah dari Daud Bin Al Husain dari Ubaidillah Bin Abu Rafi’ dari Ali, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada orang yang membenci orang arab kecuali seorang munafiq.”

 

Musnad Ahmad 581: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim At Taimi dari bapaknya dia berkata; Ali berkhutbah kepada kami kemudian berkata; “Barangsiapa menyangka bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca kecuali kitabullah dan shahifah ini, yang di dalamnya ada gigi gigi unta dan sesuatu dari luka-luka, maka dia telah berbohong, di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kota Madinah itu adalah tanah haram antara bukit ‘Air dan gunung Tsaur, maka barangsiapa berbuat kerusakan di dalamnya atau melindungi orang yang berbuat kerusakan maka baginya laknat Allah, Malaikat dan Manusia seluruhnya, dan Allah tidak akan menerima darinya pada hari Kiamat amal ibadah wajib dan sunnahnya, perlindungan kaum muslimin itu satu, dan berlaku bagi orang yang paling rendah dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 582: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Khaitsamah dari Suwaid Bin Ghafalah dia berkata; Ali berkata; “Apabila aku menceritakan kepada kalian sebuah hadits dari Rasulullah, maka lebih baik aku dijatuhkan dari langit dari pada aku berdusta kepada beliau, namun apabila aku menceritakan kepada kalian dari selain beliau, maka sesungguhnya aku adalah seorang ahli perang dan perang adalah tipu daya, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di akhir zaman nanti akan keluar suatu kaum yang usianya masih muda, pemikiran mereka sangat dangkal, mereka berkata dengan perkataan sebaik-baik makhluq dan iman mereka tidak melebihi tenggorokan mereka, maka di manapun kalian jumpai mereka maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka adalah berpahala bagi orang yang dapat membunuhnya kelak pada hari Kiamat.”

 

Musnad Ahmad 583: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Muslim dari Syutair Bin Syakl dari Ali, dia berkata; ketika terjadi perang Ahzab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka telah menyibukkan kita dari Shalat Wustha yaitu Shalat Ashar, semoga Allah menjadikan kuburan dan rumah mereka penuh dengan api.” Kemudian beliau melakukannya diantara dua Isya yaitu Maghrib dan Isya.

 

Musnad Ahmad 584: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Al MundZirr Abu Ya’la dari Muhammad Bin Al Hanafiyah dari Ali, dan dia adalah seorang lelaki yang sering keluar air madzi, kemudian dia malu untuk bertanya tentang madzi kepada Nabi Salallahu Alaihi Wasallam, Ali berkata; maka dia berkata kepada Al Miqdad; “Tanyakan untukku tentang madzi kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam” Ali berkata; kemudian dia bertanya kepada beliau, Ali berkata; lalu Rasulullah Sallallahu ALaihi Wasallam menjawab: “Dalam hal ini harus berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 585: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Bin Numair Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali, dia berkata; “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang seseorang membaca (ayat Al Qur’an) ketika sedang ruku’ atau sujud.”

 

Musnad Ahmad 586: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Sa’d Bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali, dia berkata; aku bertanya; “Wahai Rasulullah mengapa engkau terlalu cendrung kepada Quraisy dan mengabaikan kami?” Beliau menjawab: “Apakah kalian punya sesuatu?” Ali berkata; aku menjawab; “Ya, putrinya Hamzah.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya dia tidak halal bagiku, karena dia putri saudaraku sepersusuan.”

 

Musnad Ahmad 587: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Sa’d Bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali, dia berkata; “Pada suatu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah duduk sambil memegang kayu yang beliau pukul pukulkan, ” Ali berkata; kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Tidaklah setiap jiwa dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya di Syurga dan di Neraka.” Ali berkata; lalu para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah lantas untuk apa kita beramal?” beliau menjawab: “Beramalah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya.” -Kemudian beliau membaca: – (Adapun orang-orang yang suka memberi dan bertaqwa serta membenarkan kebaikan, maka akan kami mudahkan kepada kebaikan, dan adapun orang-orang yang kikir dan sombong serta mendustakan kebenaran, maka akan kami mudahkan kepada keburukan.)

 

Musnad Ahmad 588: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Sa’d Bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali, dia berkata; Rasulullah mengutus sekompi pasukan dan mengangkat seorang lelaki Anshar sebagai komandan mereka, ketika mereka keluar, dia menemukan sesuatu pada diri mereka dan ia bertanya kepada mereka; “Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kalian supaya taat kepadaku?” Mereka menjawab; “Ya benar.” Kemudian dia berkata; “Kumpulkanlah kayu bakar kemudian cari api dan nyalakan kayunya.” Kemudian berkata; “Aku haruskan kepada kalian supaya masuk kedalamnya.” Maka para anggota pasukan hampir saja memasukinya, kemudian salah seorang pemuda dari mereka berkata; “Bahwasanya kalian lari kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghindar dari api, maka janganlah kalian tergesa-gesa sampai bertemu dengan Nabi Salallahu Alaihi Wasallam, jika dia memerintahkan kalian untuk memasukinya maka masuklah.” Maka mereka pulang menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kejadiannya, kemudian beliau bersabda: “Jika kalian memasukinya niscaya kalian tidak akan keluar darinya untuk selamanya, bahwasanya keta’atan itu hanya dalam hal yang ma’ruf (benar).”

 

Musnad Ahmad 589: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Bin Ibrahim dari Muhammad Bin ‘Amru dia berkata; telah menceritakan kepadaku Waqid Bin ‘Amru Bin Sa’d Bin Mu’adz dia berkata; aku melihat jenazah di Bani salamah kemudian aku berdiri, maka Nafi’ Bin Jubair berkata kepadaku; “duduklah! karena akan aku beritakan kepadamu tentang hal ini dengan yakin, telah menceritakan kepadaku Mas’ud Bin Al Hakam Az Zuraqi bahwa dia mendengar Ali Bin Abu Thalib ketika berada di rahabah Kufah berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami agar berdiri ketika melihat jenazah, akan tetapi kemudian setelah itu beliau duduk dan memerintahkan kami agar duduk.”

 

Musnad Ahmad 590: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Sa’id Bin Abu Arubah dari Abdullah Ad Danaj dari Hudlain Abu Sasan Ar Raqqasyi bahwa sekelompok orang dari penduduk Kufah datang kepada Utsman, mereka menceritakan apa yang terjadi pada Al Walid, yaitu dia meminum Khamer, kemudian Ali menasehati perbuatannya, lalu Utsman berkata kepadanya (Ali); “Tangkaplah anak pamanmu, tegakkan hukum had baginya!” Kemudian Ali berkata; “Wahai Hasan, berdirilah dan jilid dia!” Utsman berkata; “Kamu tidak mampu melakukannya, serahkan saja kepada selainmu”, Utsman berkata; “Bahkan kamu lemah, rendah dan tidak mampu, bangunlah wahai Abdullah Bin Ja’far!” Maka Abdullah menjilidnya sedangkan Ali yang menghitungnya hingga hitungan ke empat puluh, lalu dia (Utsman) berkata; “Tahan, ” atau dia berkata; “Cukuplah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjilid sebanyak empat puluh kali, dan Abu Bakar menjilid sebanyak empat puluh kemudian Umar menggenapkannya menjadi delapan puluh, dan semuanya adalah sunnah.”

 

Musnad Ahmad 591: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad Bin Thalhah Bin Yazid Bin Rukanah dari Ubaidillah Al Khaulani dari Ibnu Abbas, dia berkata; Ali masuk ke dalam rumahku dan meminta air untuk berwudlu, kemudian aku membawakan satu bejana untuknya. Ali mengambil (airnya) satu mud atau kurang lebih dari itu, sampai kemudian di letakkan diantara kedua tangannya sementara dia selesai buang air kecil. Kemudian dia berkata; “Wahai Ibnu Abbas, maukah aku berwudlu untuk mengajarimu (tata cara) wudlu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Aku menjawab; “Ya, bapak dan ibuku sebagai tebusannya.” Ibnu Abbas berkata; “Kemudian bejana di letakkan kepadanya (Ali) dan dia membasuh kedua tangannya, kemudian berkumur-kumur, ber-istinsyaq dan ber-istintsar, kemudian mengambil air dengan kedua tangannya dan membasuh wajahnya, lalu meletakkan ibu jarinya dibelakang daun telinganya, dan dia mengulanginya tiga kali. Lalu mengambil segenggam air dengan tangan kanannya dan menuangkannya diatas ubun-ubunnya dan membiarkannya mengalir diatas mukanya, kemudian membasuh tangan kanannya sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian tangan kirinya seperti itu, kemudian mengusap kepalanya dan kedua telinganya dari luarnya, kemudian mengambil air dengan kedua tangannya dan menuangkannya kepada kedua kakinya yang masih mengenakan sandal, kemudian membalikkan kaki kanannya, dan begitu juga dengan kaki yang lain seperti itu, ” dia berkata; maka aku berkata; “Dengan memakai sandal?” Ali menjawab; “Ya, dengan memakai sandal.” Aku bertanya lagi; “Dengan memakai sandal?” Dia menjawab; “Ya dengan memakai sandal.” Aku bertanya lagi; “Dengan memakai sandal?” Dia menjawab; “Dengan memakai sandal.”

 

Musnad Ahmad 592: Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali, dia berkata; ketika disebut khawarij maka Ali berkata; “Diantara mereka ada seorang yang hilang atau kecil atau besar tangannya, seandainya bukan karena nanti kalian akan melampaui batas, pasti aku ceritakan kepada kalian apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang memerangi mereka atas dasar sabda Muhammad, ” aku bertanya; “Apakah kamu mendengarnya langsung dari Muhammad?” Dia menjawab; “Ya demi Rabb pemilik ka’bah, ya demi Rabb pemilik Ka’bah, ya demi Rabb pemilik Ka’bah.”

 

Musnad Ahmad 593: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru Bin Murrah dari Abdullah Bin Salamah dari Ali dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan Al Qur’an kepada kami selama tidak junub.”

 

Musnad Ahmad 594: Telah menceritakan kepada kami Yahya Bin Sa’id dari Sufyan Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Umar Bin Ali Bin Abu Thalib dari Ali dia berkata; aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apabila engkau mengutusku, apakah aku seperti kepingan uang dirham yang dipanaskan atau seperti orang yang hadir yang menyaksikan apa yang tidak disaksikan oleh orang yang ghaib (tidak hadir)?” Beliau menjawab: “Seperti orang yang hadir yang menyaksikan apa yang tidak disaksikan oleh orang yang tidak hadir.”

 

Musnad Ahmad 595: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah Telah menceritakan kepada kami Manshur dia berkata; aku mendengar Rib’i berkata; aku mendengar Ali berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena barangsiapa berdusta atas namaku dia akan masuk Neraka.”

 

Musnad Ahmad 596: Telah menceritakan kepada kami Husain Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dari Rib’i Bin Hirasy, dia berkata; aku mendengar Ali berkata; Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena barangsiapa berdusta atas namaku maka ia akan masuk Neraka.”

 

Musnad Ahmad 597: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Al Munkadir dari Mas’ud Bin Al Hakam dari Ali, dia berkata; “Kami melihat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berdiri dan kamipun berdiri kemudian beliau duduk maka kamipun duduk.”

 

Musnad Ahmad 598: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Ali Bin Mudrik dari Abu Zur’ah dari Ibnu Nujai dari bapaknya dari Ali, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat orang yang junub, gambar dan anjing.”

 

Musnad Ahmad 599: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Jurai Bin Kulaib dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berkurban dengan hewan yang tanduknya pecah dan telinganya sobek.”

 

Musnad Ahmad 600: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan, telah menceritakan kepadaku Sulaiman dari Ibrahim At Taimi dari Al Harits Bin Suwaid dari Ali, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari Ad Dubba’ dan Al muzaffat.” Abu Abdurrahman berkata; aku mendengar bapakku berkata; “Tidak ada hadits dari Ali yang lebih shahih di Kufah dari pada hadits ini.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: