Musnad Ahmad: 901-1000

Musnad Ahmad 901: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Al Qasim Al Jarmi dari Sufyan dari Khalid bin ‘Alqamah dari Abdu Khair dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan tiga kali-tiga kali.

 

Musnad Ahmad 902: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Umawi dari Ibnu Juraij dari Shalih bin Sua’id bin Sa’id dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang tidak pendek dan tidak tinggi, kepalanya besar dan bergelombang rambutnya. Jenggotnya lebat, mukanya agak kemerah-merahan, bulu dadanya lebat, tulang pamgkalnya besar, jari-jari tangan dan kakinya kasar. Jika berjalan seolah-olah seperti sedang turun ketempat yang rendah. Saya belum pernah menjumpai orang seperti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum dan sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 903: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Sya’tsa` Ali bin Al Hasan bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar, Sulaiman bin Hayyan dari Hajjaj dari Utsman dari Abu Abdullah Al Maki dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im berkata; Ali Radhiallah ‘anhu ditanya tentang ciri-ciri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia menjawab; “Tidak pendek dan tidak terlalu tinggi, warna kulitnya putih kemerah-merahan, rambutnya bagus dan bergelombang, tulang pngkalnya besar, Jari-jari tangannya kasar, kepalanya besar dan rambut dadanya panjang. Jika beliau berjalan tegak seolah-olah sedang turun ketempat yang rendah. Saya belum pernah menjumpai orang seperti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum dan sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 904: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Haritsah bin Mudhar dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Ketika kami sampai di Madinah, kami mendapatkan buah buahan, namun kami tidak betah tinggal di sana karena penyakit panas yang menimpa kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu sedang mencari-cari berita tentang Badar. Ketika sampai kepada kami berita tentang kedatangan orang orang musyrik, beliau berjalan menuju Badar. Badar adalah nama sebuah sumur. Orang-orang musyrik sampai di sana terlebih dahulu. Kami bertemu dengan dua orang laki-laki dari kalangan mereka, salah satunya dari Quraisy dan yang lain adalah budak Uqbah bin Abu Mu’aith. Ternyata orang yang dari Quraisy kabur lebih dahulu sedangkan mantan budak Uqbah kami tangkap lalu kami menanyakan kepadanya tentang jumlah rombongan mereka. Dia menjawab; “Demi Allah, jumlah mereka banyak dan kekuatan mereka tangguh.” Orang-orang muslim ketika mendengar orang itu berkata demikian, mereka memukulnya, kemudian membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya: “Berapa jumlah mereka?” dia menjawab; “Demi Allah, jumlah mereka banyak dan kekuatan mereka tangguh.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha memaksanya namun dia tetap tidak mau menjawabnya, dan terakhir beliau bertanya: “Berapa hewan yang mereka potong?” Dia menjawab; “Setiap hari sepuluh ekor unta.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpulkan; “mereka berjumlah seribu orang, karena setiap ekor unta untuk seratus orang, dan begitu juga seterusnya.” Pada malam harinya, hujan turun sehingga kami berteduh di bawah pohon dan tameng untuk menghindari air hujan, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Rabbnya ‘azza wajalla seraya berdoa: “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok kecil ini, niscaya Engkau tidak akan disembah.” Ali berkata; Ketika terbit fajar, beliau berseru; “shalat wahai hamba-hamba Allah” maka mereka berdatangan dari bawah pohon dan tameng. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami kami, setelah selesai beliau memberikan semangat untuk berperang, beliau berkata: “Sesungguhnya pasukan Quraisy ada di bawah padang sahara merah dari gunung ini.” Ketika mereka mendekati kami, kami membuat barisan untuk menghadapi mereka. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari mereka dengan menunggang unta merah berjalan di hadapan pasukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ali! panggil Hamzah ke hadapanku, dia adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan orang-orang musyrik, siapa yang sedang menunggang unta merahnya dan apa yang dikatakannya kepada pasukannya?” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Jika dalam rombongan mereka ada seseorang yang memerintahkan kepada yang baik maka mudah-mudahan dialah orangnya yang menunggang unta merah tersebut.” Hamzah datang dan berkata; “Dia adalah ‘Utbah bin Rabi’ah, dia melarang mereka berperang dan mengatakan kepada mereka; ‘Wahai kaum! Saya melihat suatu kaum yang mencari mati yang kalian tidak akan sampai kepada mereka sementara di antara kalian terdapat kebaikan. Wahai kaum, urungkan! biarkanlah mereka hari ini dengan jaminan kepalaku dan katakanlah; ‘Utbah bin Rabi’ah pengecut’ walau kalian tahu bahwa saya bukanlah seorang pengecut.’ Ketika Abu Jahal mendengar hal itu, dia berkata; ‘Kamu berkata seperti ini! Demi Allah, jika selain kamu yang berkata seperti ini pasti akan aku kunyah dia, jantung dan perutmu sudah di penuhi rasa ketakutan!? ‘ Utbah berkata; ‘Kamu mengejekku wahai orang yang mengecat kuning pantatnya? hari ini kamu akan tahu siapa di antara kita yang pengecut’.” Ali berkata; Maka Utbah dan Syaibah saudaranya, serta Al Walid anaknya menantang Perang tanding dengan penuh keberanian dan berkata; “Siapa yang berani kepada kami?” maka keluarlah enam orang pemuda dari Anshar, akan tetapi Utbah menolaknya; “Kami tidak menginginkan mereka, tapi yang dikehendaki adalah dari anak-anak paman kami dari anak-anak Abdul Muthallib.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Bangun wahai Ali, bangun wahai Hamzah dan bangun wahai Ubaidah bin Al Harits bin Abdul Muthallib.” kemudian Allah Ta’ala membinasakan Utbah dan Syaibah kedua anak Rabi’ah dan juga Al Walid bin Utbah, sedangkan Ubaidah terluka, lantas kami dapat membunuh tujuh puluh orang dan menawan tujuh puluh orang dari mereka. Datanglah seorang laki-laki Anshar yang pendek bersama Al Abbas bin Abdul Muthallib sebagai tawanan, maka Al Abbas berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya dia ini, demi Allah bukan yang menawanku, akan tetapi yang telah menawanku adalah seorang laki-laki berambut terbelah, wajahnya paling tampan menunggang di atas kuda berwarna hitam dan putih dan aku tidak melihatnya dia berada dalam pasukan.” Orang Ashar tersebut berkata; “Aku yang menawannya, Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Diam kamu, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menolongmu dengan Malaikat yang mulia.” Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Kami mendapatkan tawanan, di antara tawanan kami adalah tawanan dari Bani Abdul Muthallib yaitu Al Abbas, ‘Aqil dan Naufal bin Al Harits.”

 

Musnad Ahmad 905: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syarik dari Al Miqdam bin Syuraih dari bapaknya berkata; saya bertanya kepada Aisyah; “Kabarkan kepadaku seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saya dapat menanyakan kepadanya tentang membasuh khuff.” Dia menjawab; “Temuilah Ali Radhiallah ‘anhu dan tanyakan kepadanya, dia yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka saya menemui Ali Radhiallah ‘anhu dan menanyakannya tentang hal itu. Dia menjawab bahwa; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk mengusap kedua khuff kami jika kami dalam perjalanan.”

 

Musnad Ahmad 906: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hakim Al Audi telah memberitakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Wahab dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata; Ali meminta orang-orang untuk bersaksi pada saat di Rahabah; “Siapa yang pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Ghadir Khum bersabda untuk berdiri?” maka dari arah Sa’id berdiri enam orang, dari arah Zaid enam orang. Mereka bersaksi bahwa mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali Radhiallah ‘anhu pada hari Ghadir Khum; “Bukankah Allah lebih dekat kepada orang-orang mukmin.” Mereka menjawab; “Ya.” beliau bersabda: “Ya Allah, siapa yang telah menjadikanku walinya maka Ali-lah walinya. Ya Allah lindungilah orang berwali kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hakim telah memberitakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari ‘Amru Dzi Murrin sebagaimana hadits Abu Ishaq yaitu dari Sa’id dan Zaid, dan tambahan redaksi di dalamnya; “Tolonglah orang yang menolongnya, hinakan orang yang menghinakannya.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ali telah memberitakan kepada kami Syarik dari Al A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 907: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Hani` bin Hani` dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; tatkala Hasan dilahirkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan berkata; “Perlihatkan kepadaku anakku. Nama apa yang kalian berikan kepadanya?” Saya menjawab; “Saya telah memberi namanya Harb.” Beliau bersabda: “Berilah nama Hasan.” Tatkala dilahirkan Husain, beliau berkata; “Perlihatkan kepadaku anakku, nama apa yang kalian berikan padanya?” Saya menjawab; “Saya telah memberi namanya Harb.” Beliau bersabda: “Berilah nama Husain.” Tatkala saya melahirkan anak yang ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga datang dan berkata; “Perlihatkan kepadaku anakku. Nama apa yang kalian berikan padanya?” Saya menjawab; “Saya telah memberi namanya Harb.” Beliau bersabda: “Berilah nama Muhassin.” Kemudian beliau bersabda: “Saya telah memberi nama mereka dengan nama-nama anak Harun, yaitu Syabbar, Syabbir dan Musyabbar.”

 

Musnad Ahmad 908: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah saya mendengar Al Qasim bin Abu Bazzah menceritakan dari Abu Thufail berkata; Ali Radhiallah ‘anhu ditanya; “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan kalian dengan sesuatu hal?” dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan kami dengan apapun yang tidak diberikan kepada manusia secara umum, kecuali apa yang diberikan pada sarung pedangku ini.” Abu Thufail berkata; Dia mengeluarkan sebuah lembaran yang tertulis di dalamnya; Allah melaknat orang yang menyembelih karena selain Allah, Allah melaknat orang yang mencuri tanda batas tanah, Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, dan Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kerusakan.”

 

Musnad Ahmad 909: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ya’la bin ‘Atho`, Affan berkata; telah memberitakan kepada kami Ya’la bin ‘Atho` dari Abdullah bin Yassar dari ‘Amru bin Huraits bahwa dia menjenguk Hasan dan di sisinya ada Ali Radhiallah ‘anhu. Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Apakah kamu menejenguk Hasan dan di dalam jiwanya terdapat sesuatu?” dia menjawab; “Ya. Kamu bukanlah orang yang memelihara hatiku sehingga kamu bisa merubahnya sekehendakmu.” Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Hal itu tidak akan menghalangiku untuk menyampaikan nasehat kepadamu. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya kecuali Allah akan mengirimkan tujuh puluh ribu Malaikat yang mendoakan pada waktu kapan saja di siang itu sampai sorenya dan waktu kapan saja di malam itu sampai pagi.”

 

Musnad Ahmad 910: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Al Hasan Al bashri dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diangkat pena dari tiga: orang yang tidur hingga bangun, orang yang tertimpa ayan -atau beliau bersabda: – orang yang gila sampai sadar dan anak kecil sampai baligh.”

 

Musnad Ahmad 911: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan Abu Kamil berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad, Bahz berkata; telah memberitakan kepada kami Hisyam bin ‘Amru Al Fazari dari Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam Al Makhzumi dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca doa pada akhir shalat witir: “ALLAHHUMMA INNI A’UDZUBIRIDLAKA MIN SAKHATHIKA WA A’UDZUBIMU’AFATIKA MIN ‘UQUBATIKA WA A’UDZUBIKA MINKA WA LA UHSHI TSANAAN ‘ALAIKA KAMA ATSNAITA ‘ALA NAFSIKA (ya allah aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu. Aku berlindung dari-Mu dan aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana engkau memuji diri-Mu) ”

 

Musnad Ahmad 912: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Al Abbas Al Bahili telah menceritakan kepada kami Abu Daud telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Abu Bisyr saya mendengar Mujahid menceritakan dari Abu Ibnu Laila, saya mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pakaian sutra, lalu beliau mengirimkannya kepadaku. Aku memakainya dan ternyata aku melihat ketidak sukaan pada wajah beliau. Beliau menyuruhku merobeknya dan dijadikan sebagai kerudung para wanita.”

 

Musnad Ahmad 913: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam telah memberitakan kepada kami Qatadah dari Abu Hassan bahwa suatu ketika Ali Radhiallah ‘anhu menyuruh suatu urusan maka dijalankan, kemudian disampaikan kepadanya; “bahwa kami telah melakukan ini dan itu, ” maka dia berkata; “Maha Benar Allah dan RasulNya.” Al Asytar berkata; “Sesuatu yang kamu katakan ini telah tersebar di tengah-tengah masyarakat. Adakah sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam janjikan kepadamu?” dia berkata; “Tidak ada sesuatu yang diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku secara khusus, kecuali yang saya dengar yang juga terdapat pada satu lembaran pada sarung pedangku.” Mereka memintanya sampai dia mengeluarkan lembaran tersebut. Dia berkata; “Di dalamnya terdapat tulisan: “Barangsiapa melakukan dosa atau melindungi orang yang berbuat kerusakan maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan manusia semuanya. Tidak diterima darinya amalan wajib dan amalan sunnah.” Di dalamnya juga tulisan: “Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah, maka saya akan mengharamkan Madinah, haram antara kedua gunungnya dan sekitarnya, Tidak boleh dipotong tanamannya dan diusir binatang buruannya. Tidak boleh diambil barang temuannya kecuali karena hendak mengumumankannya. Pohonnya tidak boleh dipotong kecuali seseorang yang hendak memberi makan untanya dan tidak boleh dibawa ke dalamnya senjata untuk berperang.’ Di dalamnya juga tulisan: ‘Orang-orang mukmin darah mereka adalah sama, akan dijaga dari perlindungan mereka walau dari kalangan rendah mereka. Mereka adalah sebagai tangan atas selain mereka. Ketahuilah! Tidak akan dibunuh orang Islam yang membunuh orang kafir atau orang yang berada dalam perjanjiannya’.”

 

Musnad Ahmad 914: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Musa bin ‘Uqbah dari Abdullah bin Al Fadhl dari Abdurrahman Al A’raj dari ‘Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika ruku’, beliau membaca: ALLAHUMMA LAKA RAKAKTU WA BIKA AMANTU WA LAKA ASLAMTU. ANTA RABBI KHASYA’A SAM’I WA BASHARI WA MUKHI DAN AZHMI WA ‘ASHABI WAMASTAQALTU BIHI QADAMI LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN (Ya Allah, saya ruku’ karena-Mu, beriman kepadaMu, tunduk kepadaMu. Engkau adalah rabku, tunduk pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan sarafku dan apa yang saya angkat dari kakiku, hanya bagi Allah Rab semesta alam segala pujian”

 

Musnad Ahmad 915: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Yunus bin Arqam telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Laila berkata; saya menyaksikan Ali Radhiallah ‘anhu meminta orang-orang untuk bersaksi di Rahabah; “Demi Allah, siapa yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Barangsiapa saya menjadi walinya maka Ali juga menjadi walinya, ” tatkala belau berdiri dan bersaksi, ” Abdurrahman berkata; dua belas orang ahli Badar berdiri, sampai aku dapat melihat salah seorang dari mereka. Mereka berkata; kami bersaksi bahwa kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Bukankah Saya lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka, dan istri-istriku adalah ibu mereka.” Kami menjawab; “Ya. Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Barangsiapa saya menjadi walinya maka Ali juga menjadi walinya. Ya Allah lindungilah orang yang berwali kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

 

Musnad Ahmad 916: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Syarik dari Mukhariq dari Thariq bin Syihab berkata; saya melihat Ali Radhiallah ‘anhu di atas mimbar berkhutbah dengan membawa pedang yang hiasannya dari besi. Dia berkata; “Demi Allah, kami tidak memiliki tulisan yang bisa kami bacakan kepada kalian kecuali kitab Allah ini dan lembaran ini yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikan kepadaku, didalamnya terkandung kewajiban-kewajiban zakat.” Dia mengatakannya dengan menujukkan lembaran yang tergantung pada pedangnya.

 

Musnad Ahmad 917: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah memberitakan kepada kami Isma’il bin Sumai’ dari Malik bin ‘Umair berkata; saya duduk di dekat Ali Radhiallah ‘anhu lantas datanglah Sha’sha’ah bin Shuhan mengucapkan salam kemudian bangkit dan berkata; “Wahai Amirul Mukminin! laranglah kami terhadap perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kamu.” Ali Radhiallah ‘anhu menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ad Dubbaa`, Al Hantam, al Muzaffaat dan an Naqir. Beliau juga melarang al qasi, pelana merah yang terbuat dari sutra, sutra kalung emas.” Lalu dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberiku perhiasan dari sutra kemudian aku memakainya keluar rumah agar orang-orang melihat perhiasan beliau yang saya kenakan, tatkala beliau melihatku, beliau menyuruhku melepasnya dan beliau mengirimkan sakah satunya kepada Fathimah dan membagi yang lainnya kepada para istrinya.

 

Musnad Ahmad 918: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Umar Al Waqi’i telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab telah menceritakan kepada kami Al Walid bin ‘Uqbah bin Nizar Al ‘Ansi telah menceritakan kepadaku Simak bin ‘Ubaid bin Al Walid Al ‘Absi berkata; saya menemui Abdurrahman bin Abu Laila kemudian dia menceritakan kepadaku bahwa dia menyaksikan Ali Radhiallah ‘anhu di Rahabah berkata; “Demi Allah, saya meminta kepada orang yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyaksikan hari Ghadir Khum untuk berdiri, dan jangan berdiri kecuali orang yang melihat beliau.” Maka berdirilah dua belas orang laki-laki, mereka berkata; “Kami melihatnya dan mendengarnya, saat beliau mengambil tangannya dan bersabda: “Ya Allah lindungilah orang berwali kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Tolonglah orang yang menolongnya dan hinakan orang yang menghinakannya.” Maka berdirilah kecuali tiga orang. Lantas dia mendoakan kebinasaan bagi mereka, sehingga mereka tertimpa musibah dengan doa tersebut.

 

Musnad Ahmad 919: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Minhal saudara Hajjaj bin Minhal, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad dari Abdurrahman bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id dari Abdurrahman bin Abu Laila berkata; Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu jika mendengar mu’adzin mengumandangkan adzan, dia membaca seperti yang dibaca mu’adzin, dan jika mu’adzin mengucapkan; ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH, dia membaca; ‘ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WA ‘ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, dan sesungguhnya orang-orang yang menentang Muhammad, mereka itu para pendusta.”

 

Musnad Ahmad 920: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Syu’bah berkata; telah menceritakan kepadaku Al Hakam dari Al Qasim bin Mukhamirah dari Syuraih bin Hani` berkata; saya bertanya kepada Aisyah tentang mengusap khuff, maka dia berkata; “Tanyakanlah kepada Ali bin Abu Thalib Radlia Allahu ‘anhu karena dia selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bepergian.” Maka saya menanyakan kepadanya dan dia menjawab; “Bagi orang yang dalam perjalanan adalah tiga hari tiga malam, sedang bagi orang yang mukim adalah sehari semalam.” Yahya berkata; “pada mulanya Syu’bah memarfu’kannya kemudian tidak.”

 

Musnad Ahmad 921: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi dari ‘Atho` mantan budak Umu Shubayyah, dari Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya akan perintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap kali shalat dan saya akan mengakhirkan shalat isya’ sampai pada sepertiga malam yang pertama. Karena jika telah masuk pada sepertiga malam yang pertama, Allah Ta’ala turun ke langit dunia, dan akan berada di sana sampai terbitnya fajar, Allah menyeru: “tidaklah ada orang yang meminta kecuali pasti diberi, tidaklah ada orang yang berdoa melainkan pasti dikabulkan, tidaklah ada orang yang sakit yang meminta kesembuhan kecualia pasti disembuhkan dan tidaklah orang yang berdosa yang meminta ampun kecuali akan diampuni.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku pamanku, Abdurrahman bin Yasar dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari bapaknya dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana hadits Abu Hurairah.

 

Musnad Ahmad 922: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Abu Ishaq dari ‘Ashim bin Dhamrah dari Ali Radhiallah ‘anhu, menuturkan; bahwa dia ditanya tentang shalat witir, apakah hukumnya wajib, maka dia menjawab; “Dia tidak sebagaiman shalat wajib, namun itu hanyalah sunnah yang telah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sampai mereka terbiasa melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 923: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Asyja’i telah menceritakan kepada kami bapakku dari Sufyan dari As Sudi dari Abdu Khair dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa dia meminta satu tempa air dan bertanya; “Di mana orang-orang menyatakan bahwa mereka membenci minum dengan berdiri.” Lantas dia mengambilnya dan meminumnya dengan berdiri, kemudian dia berwudhu dengan ringkas dan mengusap kedua sandalnya dan berkata; “Demikianlah wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagi orang yang masih suci selama dia belum berhadats.”

 

Musnad Ahmad 924: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Abu Hayyah bin Qais dari Ali Radhiallah ‘anhu; bahwa dia berwudhu tiga kali-tiga kali lantas meminum sisa air wudhunya dan berkata; “Demikianlah saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 925: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Ibnu Abu Laila dari Isa dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian bersin maka ucapkanlah; ‘ALHAMDU LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN’ (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam) dan orang yang ada di sekitarnya menjawab; ‘YARHAMUKALLAAH’ (Semoga Allah memberi rahmat kepadau) kemudian dia membalas; ‘YAHDIKUMULLAAH WAYUSHLIH BALAKUM” (Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian).”

 

Musnad Ahmad 926: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Daud bin ‘Amru Adh Dhabbi telah menceritakan kepada kami Manshur bin Abu Al Aswad dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam atau Isa, -Manshur ragu, – dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bersin, maka bacalah: ALHAMDU LILLAHI ‘ALA KULLI HAL (Segala puji bagi Allah pada semua keadaan) sedang orang yang di sisinya hendaknya membaca: YARHAMUKA ALLAHU (Semoga Allah merahmatimu) dan dia membalasnya dengan: YAHDIKUMULLAH WA YUSLIHU BALAKUM (Semoga Allah memberi petunjuk kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian) ”

 

Musnad Ahmad 927: Telah menceritakan kepada kami Ghassan bin Rabi’ telah menceritakan kepada kami Abu Israil dari As Sudi dari Abdu Khair berkata; Ali bin Abu Thalib Radlia Allahu ‘anhu menemui kami saat kami di masjid. Dia bertanya; “Di mana orang yang menanyakan tentang shalat witir. Jika dari kita sudah dalam keadaan satu raka’at maka hendaklah dia menggenapkannya dengan raka’at yang lainnya, sehingga kita bergabung dengannya (belum melakukan witir).” Ali mengatakan; “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat witir pada awal malam, juga pada pertengahan malam. Kemudian beliau menetapkannya pada saat seperti ini.” Abdu Khair berkata; “saat itu ketika munculnya fajar.”

 

Musnad Ahmad 928: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Abdullah bin Nafi’ berkata; Abu Musa Al Asy’ari menengok Al Hasan bin Ali, Ali Radhiallah ‘anhu bertanya kepadanya; “Apakah kamu dalam rangka menjenguk atau berkunjung.” Abu Musa menjawab; “Saya datang dalam rangka menjenguk.” Ali Radhiallah ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit pada pagi hari, maka tujuh puluh ribu Malaikat akan keluar bersamanya, semuanya memintakan ampunan untuknya sampai sore, dan baginya akan mendapatkan sebuah kebun di syurga. Dan jika dia menengoknya pada waktu sore, maka tujuh ribu Malaikat akan keluar bersamanya dan semuanya memintakan ampun untuknya sampai pagi, dan baginya akan mendapatkan kebun di syurga.”

 

Musnad Ahmad 929: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Abdullah bin Nafi’ berkata; Abu Musa Al Asy’ari mengunjungi Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib Radlia Allahu ‘anhu. Ali Radhiallah ‘anhu bertanya kepadanya; “Apakah kamu dalam rangka menjenguk atau berkunjung.” Dai menjawab; “saya datang dalam rangka menjenguk.” Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “adapun bahwasanya tidaklah seorang muslim yang menjenguk orang sakit pada pagi hari, maka tujuh puluh ribu Malaikat akan keluar bersamanya, semuanya memintakan ampunan untuknya sampai sore, dan baginya akan mendapatkan sebuah kebun di syurga. Dan jika dia menengoknya pada waktu sore, maka tujuh ribu Malaikat akan keluar bersamanya dan semuanya memintakan ampun untuknya sampai pagi, dan baginya akan mendapatkan kebun di syurga.”

 

Musnad Ahmad 930: Telah menceritakan kepada kami Syaiban, Abu Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muslim yaitu Abu Zaid Al Qasmali, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Saya adalah lelaki yang sering mengeluarkan madzi, maka saya menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu. Beliau menjawab: “Berwudhu jika mendapati madzi dan mandi jika mendapati mani.”

 

Musnad Ahmad 931: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Mujalid dari ‘Amir berkata; Syarahah memiliki seorang suami yang pergi ke Syam, dan dia kemudian hamil, lalu walinya datang kepada Ali bin Abu Thalib Radli Allahu ‘anhu dan berkata; “orang ini telah berzina, ” dia pun mengakuinya. Maka Ali Radhiallah ‘anhu menjilidnya pada hari Kamis seratus jilid dan merajamnya pada hari Jum’at, dan digalikan untuknya sampai sebatas pusarnya, saya saat itu menyaksikannya. Kemudian Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Sesungguhnya rajam adalah sunah yang telah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. jika ada seorang yang menyaksikan hal ini maka yang pertama kali harus melemparnya adalah saksi tersebut, kemudian dia bersakski terlebih dahulu, lantas mengikutkan persaksiannya dengan melemparkan batunya. Tetapi waniti ini telah mengakuinya, maka sayalah orang pertama yang akan melemparinya.” Kemudian dia melemparinya dengan batu, dan orang-orang melemparinya juga dan saya termasuk di dalamnya. ‘Amir berkata; “Demi Allah, saya termasuk orang yang ikut membunuh Syarahah.”

 

Musnad Ahmad 932: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah memberitakan kepada kami Israil dari Muhammad bin Ubaidullah dari bapaknya dari pamannya berkata; Ali Radhiallah ‘anhu berkata ketika ditanya tentang seseorang yang menaiki binatang sembelihannya. Dia menjawab; “tidak mengapa, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati beberapa orang yang sedang berjalan, lantas menyuruh mereka untuk menaiki hewan sembelihannya dan hewan sembelihan beliau. kalian tidak akan mengikuti sesuatupun yang lebih utama dari sunah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam!”

 

Musnad Ahmad 933: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Isma’il telah menceritakan kepada kami ‘Amir dari Al Harits dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya, kedua saksinya, orang yang tidak membayar zakat, orang yang bertato dan orang yang meminta ditato, al muhalill dan al muhallal lah.” Ali Radhiallah ‘anhu juga berkata; “Beliau juga melarang meratapi mayat.”

 

Musnad Ahmad 934: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Dilarang memakai pelana sutra yang dicelup dengan warna merah, memakai pakaian yang dihiasi dengan sutra, dan cincin emas.” Muhammad berkata; Saya sampaikan hal itu kepada saudaraku Yahya bin Sirrin, maka dia berkata; “apakah kamu belum mendengar hal itu. Ya, dan ujung baju yang terbuat dari bahan sutra tebal.”

 

Musnad Ahmad 935: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah memberitakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari ‘Abidah berkata; Ali Radhiallah ‘anhu menerangkan tentang penduduk Nahrawan. Dia berkata; “Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat atau tangannya kecil atau pendek. Jikalau bukan karena kalian akan menjadi berlebihan niscaya akan saya beritakan kalian tentang apa yang telah Allah Azza Wa Jalla janjikan kepada orang yang membunuh mereka menurut lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Saya bertanya kepada Ali Radhiallah ‘anhudli Allahu ‘anhu; “Apakah benar kau telah mendengar dari beliau.” Dia menjawab; “Ya. Demi Rabb Ka’bah.”

 

Musnad Ahmad 936: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami Hammad bin Yahya Al Abah telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun dari Muhammad dari ‘Abidah berkata; tatkala Ali Radhiallah ‘anhu membunuh penduduk Nahrawan, dia berkata; “Carilah dia!” mereka akhirnya menemukannya di sebuah lubang di bawah para korban yang tewas, kemudian mereka mengeluarkannya dan Ali Radhiallah ‘anhu menemui para sahabatnya dan berkata; “Jikalau bukan karena kalian akan menjadi melampaui batas niscaya akan saya kabarkan tentang apa yang telah Allah janjikan kepada orang yang membunuh mereka menurut lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Saya bertanya; “Apakah benar anda mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” Dia menjawab; “Ya. Demi Rab Ka’bah.”

 

Musnad Ahmad 937: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Abu Ishaq dari Al Harits dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya memberi keringanan kalian mengenai zakat kuda dan budak. Sedangkan uang dirham yang terbuat dari perak zakatnya adalah sepersepuluhnya.”

 

Musnad Ahmad 938: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari ‘Amru bin Murrah dari Abu Al Bakhtari dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Jika diceritakan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kalian, maka yakinilah bahwa beliau itu lebih mendapat petunjuk, yang paling menggembirakan dan yang paling taqwa.”

 

Musnad Ahmad 939: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Mis’ar telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Murrah dari Abu Al Bakhtari dari Abu Abdurrahman dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Jika sebuah hadits diceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kalian, yakinilah bahwa beliau itu yang paling menggembirakan, paling mendapat petunjuk dan yang paling taqwa.”

 

Musnad Ahmad 940: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abu Al Bakhtari dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Jika diceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kalian sebuah hadits, yakinilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu yang paling menggembirakan, paling mendapat petunjuk dan yang paling taqwa.” Ali Radhiallah ‘anhu menemui kami ketika diserukan lafad; “Marilah shalat dan marilah menuju kemenangan.” Lantas bertanya; “Di mana orang yang menanyakan tentang witir. Ini adalah saat witir yang bagus.”

 

Musnad Ahmad 941: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakar bin Ali Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid, dari Ayyub dan Hisyam dari Muhammad dari ‘Abidah bahwa Ali Radhiallah ‘anhu menerangkan tentang penduduk Nahrawan. Dia berkata; “Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat atau tangannya kecil atau pendek.”Jikalau bukan karena kalian akan menjadi melampaui batas niscaya akan saya kabarkan tentang apa yang telah Allah janjikan kepada orang yang membunuh mereka menurut lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Saya bertanya; “Apakah benar anda mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” Dia menjawab; “Ya. Demi Rab Ka’bah.”

 

Musnad Ahmad 942: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Malik bin ‘Urfithah saya mendengar Abdu Khair berkata; “Saya berada di sisi Ali, lalu dibawakan kepadanya kursi dan bejana kecil dari batu.” Abdu Khair berkata; “Lantas dia membasuh ke dua tangannya tiga kali, wajahnya tiga kali, kedua lengannnya tiga kali dan mengusap kepalanya.” -Yahya mempraktekkan dengan memulai dari depannya ke belakangnya dan berkata; “Saya tidak tahu, apakah dia mengulangi tangannya atau tidak.”- kemudian dia membasuh kedua kakinya dan berkata; “Barangsiapa hendak melihat tatacara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beginilah wudhu beliau.” Abu Bakar Al Quthai’i berkata; Abu Abdurrahman berkata kepada kami; “di dalam hadits ini Syu’bah salah, yang benar adalah dari Khalid bin ‘Alqamah dari Abdu Khair.”

 

Musnad Ahmad 943: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq At Tirmidzi telah menceritakan kepada kami Al Asyja’i dari Sufyan dari ‘Ashim dari Zirr bin Hubaisy dari ‘Abidah As Sulami dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; kami mengiranya itu adalah shalat fajar, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah shalat ashar.” berkaitan dengan shalat wustha.

 

Musnad Ahmad 944: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Wahid bin Abu Hazm telah menceritakan kepada kami Umar bin ‘Amir dari Qatadah dari Abu Hassan dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang mukmin adalah sama darah mereka. Mereka adalah tangan atas yang lainnya, akan dijaga perlindungan mereka walau dari kalangan rendah mereka. Ketahuilah, tidak boleh dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir atau orang yang dalam perjanjian.”

 

Musnad Ahmad 945: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Yahya bin Sa’id dari Yusuf bin Mas’ud dari neneknya bahwa seorang laki-laki lewat di hadapan mereka di atas untanya yang mengantarkannya ke Mina pada hari tasyrik; “bahwa hari-hari ini adalah hari-hari makan dan minum.” Saya bertanya siapa dia? Mereka menjawab; “Itu adalah Ali bin Abu Thalib Radlia Allahu ‘anhu.”

 

Musnad Ahmad 946: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Qatadah dari Al Hasan dari Qais bin ‘Ubad berkata; saya dan Al Asytar berangkat menuju Ali Radhiallah ‘anhu. Kami bertanya; “Apakah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada kalian dengan sesuatu yang tidak beliau wasiatkan kepada manusia secara umum?” dia menjawab; “Tidak, kecuali apa yang ada pada kitabku ini.” Dia menerangkan; pada tulisan yang tergantung pada sarung pedangnya, yang berbunyi; “Orang-orang mukmin adalah sama darah mereka. Mereka adalah tangan atas yang lainnya, akan dijaga perlindungan mereka walau dari kalangan rendah mereka. Ketahuilah, tidak akan dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir atau orang yang dalam perjanjian. Barangsiapa berbuat maksiat atau melindungi orang yang berdosa maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan manusia semuanya.”

 

Musnad Ahmad 947: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada Perang Khandak: “Mereka telah menyibukan kita dari shalat wustha sampai matahari terbenam atau matahari hampir tenggelam, semoga Allah memenuhi perut-pertu atau kuburan-kuburan mereka dengan api.”

 

Musnad Ahmad 948: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Abu Laila telah menceritakan kepadaku saudaraku dari bapakku dari Ali Radhiallah ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian bersin maka ucapkanlah; ‘ALHAMDU LILLAHI ‘ALA KULLI HAL’ (Segala puji bagi Allah Rabb pada setiap keadaan) dan dibalas untuknya; ‘YARHAMUKUMULLAH’ (Semoga Allah memberi rahmat kepada kalian) kemudian dia membalas; ‘YAHDIKUMULLAAH WAYUSHLIH BALAKUM’ (Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian).”

 

Musnad Ahmad 949: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah menceritakan kepada kami Azhar bin Sa’ad dari Ibnu Aun dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Fathimah mengadu kepadaku mengenai tangannya yang bengkak karena menggiling tepung, maka kami menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, Fathimah mengadukan kepadamu tentang tangannya yang bengkak karena menggiling tepung dan dia meminta pelayan.” Beliau menjawab; “Maukah saya tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan.” Beliau menyuruh kami menjelang tidur untuk membaca tiga puluh tiga kali, tiga puluh tiga kali dan tiga puluh empat kali tasbih, tahmid dan takbir’.”

 

Musnad Ahmad 950: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, berkata; saya mendapati pada kitab bapakku, berkata; saya mendapat kabar dari Sinan bin Harun telah menceritakan kepada kami Bayan dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sedang ruku’ kemudian diletakkan bejana air di punggungnya niscaya tidak akan tumpah.”

 

Musnad Ahmad 951: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Syarik dari Khalid bin ‘Alqamah dari Abdu Khair dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Ali Radhiallah ‘anhu berwudhu dengan berkumur-kumur tiga kali, beristinsyaq tiga kali dengan satu tangan, lantas dia membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya kedalam bejana dari kulit lalu mengusap kepalanya dan membasuh kedua kakinya. Kemudian dia berkata; “Demikianlah tatacara wudhu Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 952: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq dari Hani` bin Hani` dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa ‘Ammar meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi berkata; “Orang yang baik dan yang harus diperlakukan dengan baik”

 

Musnad Ahmad 953: Telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Ibnu Sa’id, dari Syu’bah, dan menurut jalur periwayatan yang lain; telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari Manshur, Yahya berkata; telah menceritakan kepadaku Manshur dari Rib’i berkata; saya mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku. Barangsiapa berdusta atas namaku, niscaya akan masuk neraka.” Hajjaj berkata; saya bertanya kepada Syu’bah; apakah dia bertemu dengan Ali?, dia menjawab; Ya. Telah menceritakan kepadaku dari Ali tanpa menyebutkan kata mendengar. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dari Rib’I bin Hirasy bahwa dia mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkhutbah; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, lantas menyebutkan sebagaimana hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 954: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Hasan bin Muslim dan Abdul Karim bahwa Mujahid mengabari keduanya, bahwa Abdurrahman bin Abu Laila mengabarinya, bahwa Ali Radhiallah ‘anhu mengabarinya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk mengurus unta sembelihannya dan menyuruh juga untuk membagi sembelihannya semua, baik daging dan kulitnya dan pakaiannya dengan tanpa memberikan kepada orang yang menyembelihnya sedikitpun. Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah meberitakan kepada kami Ma’mar dari Abdu Karim lantas menyebutkan hadits dan berkata; “Kami memberinya upah dari harta kami.”

 

Musnad Ahmad 955: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Abdullah bin Hunain dari bapaknya dari Ibnu Abbas dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai cincin emas, membaca ketika dalam keadaan ruku’ dan memakai pakaian yang dlapisi dengan bahan dari sutra dan pakaian yang dicelup dengan warna kuning.

 

Musnad Ahmad 956: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Abdul Malik bin Maisarah dari An Nazzal bin Sabrah bahwa tatkala Ali Radhiallah ‘anhu hendak shalat dluhur, dia meminta satu tempa air di daerah Rahabah lantas dia minum dengan berdiri dan berkata; “Ada beberapa orang yang membenci hal ini padahal saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya sebagaimana yang telah kalian lihat padaku.” Lantas dia mengusap-usap dengan sisa air wudhu tersebut dan berkata; “Demikianlah wudhu bagi orang yang tidak berhadats.”

 

Musnad Ahmad 957: telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil dari Muhammad bin Al Hanafiyah dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pembuka shalat adalah bersuci, mulai diharamkannya (dari selain shalat) dengan takbiratul ihram dan dihalalkannya (selain shalat) dengan salam.”

 

Musnad Ahmad 958: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Uqbah Abu Kibran Al Muradiy aku mendengar Abd Khoir mengatakan; Ali berkata; “Maukah aku perlihatkan kepada kalian tata cara wudlu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” kemudian Ali berwudlu tiga kali-tiga kali.”

 

Musnad Ahmad 959: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Mushir bin Abdul Malik bin sal’ telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Malik bin sal’ berkata; Abdu Khair mengimami kami pada shalat subuh. Dia berkata; Suatu ketika, kami pernah shalat di belakang Ali Radhiallah ‘anhu. Tatkala dia selesai salam, dia bangkit dan kami ikut bangkit bersamanya, lantas dia berjalan sampai di daerah Rahabah, kemudian dia duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sebuah dinding. Dia mengangkat kepalanya dan berkata; “Wahai Qanbar, bawakan kepadaku bejana kulit yang berisi air dan bejana dari tembaga.” Kemudian dia menyuruhnya; “tuangkan!” maka dituangkanlah kepadanya, lalu dia membasuh tangannya tiga kali, kemudian memasukkan tangan kanannya, terus berkumur-kumur dan bistinsyaq tiga kali. Kemudian memasukkan kedua tangannya dan membasuh wajahnya tiga kali. kemudian memasukkan tangan kanannya dan membasuh lengan kanannya sampai siku tiga kali, juga lengan kirinya sampai siku tiga kali. Setelah itu berkata; “Demikianlah tatacara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 960: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya berkata; Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Saya adalah lelaki yang sering mengeluarkan madzi, namun saya malu untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena anak perempuan beliau. Maka saya menyuruh Al Miqdad menanyakannya kepada beliau. Beliau bersabda: “Cucilah kemaluannya dan buah pelirnya lalu berwudhu.”

 

Musnad Ahmad 961: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Mundzir Abu Ya’la dari Ibnu Al Hanafiyah bahwa Ali Radhiallah ‘anhu menyuruh Al Miqdad menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang madzi. Beliau menjawab: “Cukup dengan berwudhu.”

 

Musnad Ahmad 962: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Ali Radhiallah ‘anhu, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuang hajatnya, setelah selesai beliau memakan daging bersama kami dan membaca Al Qur’an. Tidak ada yang membatasi atau menghalanginya (dari membaca Al Qur’an) kecuali karena junub.”

 

Musnad Ahmad 963: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Ishaq dari ‘Ashim bin Dhamrah dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu melaksanakan shalat dua raka’at setiap selesai shalat fardlu kecuali setelah shalat shubuh dan Ashar.” Abdurrahman berkata; “Setiap akhir shalat fardlu.”

 

Musnad Ahmad 964: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il dan Abu Khaitsamah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Ishaq dari Abdu Khair dari Ali berkata; “awalnya saya berpendapat bawah telapak kaki lebih layak untuk diusap daripada bagian atasnya, sampai akhirnya saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap bagian atasnya.”

 

Musnad Ahmad 965: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu As Sauda` dari Ibnu Abdu Khair dari bapaknya berkata; saya melihat Ali berwudhu dengan mengusap bagian atas kakinya, kemudian dia berkata; “kalau seandainya Saya tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap bagian atas kakinya sungguh saya berpendapat bawah telapak kaki lebih layak untuk diusap.”

 

Musnad Ahmad 966: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Sufyan pada tempat lain, berkata; “Saya melihat Ali Radhiallah ‘anhu berwudhu dan mengusap bagian atas kakinya.”

 

Musnad Ahmad 967: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Uqbah Abu Kibran dari Abdu Khair dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Beginilah tatacara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lantas dia berwudhu tiga kali.

 

Musnad Ahmad 968: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari Abdullah bin Syaddad dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; saya tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (mengucapkan kata-kata) tebusan kepada seseorang dengan kedua orang tuanya kecuali kepada Sa’d bin Malik. Saya benar-benar mendengar beliau mengatakan kepadanya pada Perang Uhud: ‘Panahlah Sa’d, tebusanmu adalah bapakku dan ibuku’.”

 

Musnad Ahmad 969: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Sa’d bin ‘Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sekelompok pasukan dengan mengangkat salah seorang dari Anshar sebagai komandan. Beliau memerintahkan mereka untuk ta’at dan mendengar. Ternyata mereka membuat komandan tersebut marah karena suatu hal, maka dia berkata; “Kumpulkan kayu bakar!” lantas mereka mengumpulkannya, lalu komandan itu berkata; “Nyalakan api.” Merekapun menyalakan api, Kemudian dia berkata; “Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk mendengarku dan menaati.” Mereka menjawab; “Ya.” Dia berkata; “Masuklah ke dalam api!” maka sebagian orang melihat ke yang lainnya, mereka berkata; “Kita lari kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena api tersebut.” Mereka dalam keadaan demikian sanpai hilang rasa marahnya sampai api itu padam. Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Tatkala mereka sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan hal itu, beliau bersabda: “Kalau saja mereka memasukinya niscaya mereka tidak akan keluar darinya. Sesungguhnya ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf’.”

 

Musnad Ahmad 970: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim Ibnu Kulaib, dari Abu Burdah dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai cincin pada jari ini dan ini.” Abdurrazzaq berkata; pada kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah.

 

Musnad Ahmad 971: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Hasyim bin Katsir dari Qais Al Kharifi berkata; saya mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dahulu, kemudian Abu Bakar shalat (menyusul) dan Umar Radlia Allahu ‘anhu yang ketiga menyusul juga, kemudian kita tertimpa atau terkena fitnah. Dan Allah yang menghedaki itu terjadi.” Abu Abdurrahman berkata; bapakku berkata; “Maksud perkataannya (tertimpa fitnah) adalah dia ingin bertawadlu dengan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 972: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Syu’bah dan Hammad bin Salamah dari Salamah bin Kuhail, dari Hujayyah bin ‘Adi bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Ali Radhiallah ‘anhu tentang sapi. Dia menjawab; “Itu untuk tujuh orang.” Dia bertanya lagi; “Bagaimana dengan tanduknya (yang rusak) ” Ali menjawab; “Itu tidak ada masalah bagimu.” Dia bertanya; “Bagaimana dengan yang cacat?” Ali menjawab; “Jika telah mendekati tempat penyembelihan, maka sembelihlah.” Ali menambahkan; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami untuk mengecek mata dan telinga.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail berkata; saya mendengar Hujayyah bin ‘Adiy berkata; saya mendengar Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu pernah ditanya seorang laki-laki…” kemudian ia meneruskan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 973: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Syu’bah dari Abu Ishaq dari Haritsah bin Mudhar dari Ali Radhiallah ‘anhu, ia berkata; “Pada Perang Badar, di antara kami tidak ada yang menunggang kuda kecuali Miqdad. Tidak ada di antara kami kecuali tertidur kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada di bawah pohon melaksanakan shalat dan menangis sampai shubuh.”

 

Musnad Ahmad 974: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Hushain dari Umair bin Sa’id dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Tidaklah seorang lelaki yang aku tegakkan hukum had atasnya kemudian meninggal dan membekas dalam jiwaku kecuali masalah khamer, Jika dia meninggal pasti aku membayar diyatnya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum mencontohkannya.”

 

Musnad Ahmad 975: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Hayyah dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan wudhu tiga kali tiga kali.

 

Musnad Ahmad 976: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Za`idah bin Qudamah dari Abu Hushain Al Asadi dan Ibnu Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za`idah telah memberitakan kepada kami Abu Hushain Al Asadi dari Abu Abdurrahman dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Saya adalah lelaki yang sering mengeluarkan madzi. Anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi istriku, maka saya menyuruh seseorang menanyakannya. Beliau menjawab: ‘Berwudhulah dan cucilah! ‘”

 

Musnad Ahmad 977: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al Warakani telah memberitakan kepada kami Syarik dari Khalid bin ‘Alqamah dari Abdu Khair berkata; Kami melaksanakan shalat subuh, lalu kami mendatangi Ali Radhiallah ‘anhu dan duduk bersamanya. Dia meminta air wudhu, maka diberikan kepadanya bejana kulit yang berisi air dan bejana dari tembaga. Abdu Khair berkata; Dia menuangkan bejana ke tangan kanannya lalu membasuh kedua tangannya tiga kali, berkumur-kumur tiga kali, beristinsyaq tiga kali dengan satu tangan, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua lengannya sampai sikunya tiga kali tiga kali, dia memasukkan tangannya kedalam bejana kemudian mengusap rambutnya dengan kedua tangannya sekali, membasuh kedua kakinya tiga kali dan berkata; “Demikianlah tatacara wudhu Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah!”

 

Musnad Ahmad 978: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Ar Rukain bin Ar Rabi’ dari Hushain bin Qabishah dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Saya adalah lelaki yang sering mengeluarkan madzi, maka saya menanyakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau menjawab: “Jika melihat madzi berwudhulah dan cucilah kemaluanmu, namun jika melihat bekas pancaran mani maka mandilah.” Saya sampaikan hal itu kepada Sufyan, dia berkata; Saya mendengarnya dari Rukain, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dan Ibnu Abu Bukair berkata; telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Ar Rukain bin Ar Rabi’ bin ‘Amilah Al Fazari lalu menyebutkan seperti di atas. Dia berkata; “Bekas pancaran mani” dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za`idah dan berkata; “Bekas pancaran” juga.

 

Musnad Ahmad 979: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Wahb bin Baqiyyah telah memberitakan kepada kami Khalid dari ‘Atho` yaitu Ibnu As Sa`ib, dari Abdu Khair dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Maukah saya kabarkan kepada kalian manusia terbaik dari umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? dia adalah Abu Bakar, kemudian orang terbaik setelahnya adalah Umar Radlia Allahu ‘anhu, kemudian Allah menjadikan kebaikan sesuai yang dia kehendaki.”

 

Musnad Ahmad 980: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Bahr Abdul Wahid Al Bashri telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Khalid bin ‘Alqamah dari Abdu Khair berkata; Ali Radhiallah ‘anhu berkata tatkala sampai dari Bashrah; “Manusia terbaik umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar dan setelahnya Umar. Dan kita telah membuat banyak peristiwa setelah mereka, yang mana Allah memberi putusan atas perisitwa-peristiwa itu sesuai dengan kehendakNya.”

 

Musnad Ahmad 981: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Wahab bin Baqiyyah Al Wasithi telah memberitakan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Hushain dari Al Musayyab bin Abdu Khair dari bapaknya berkata; Ali Radhiallah ‘anhu berdiri lalu berkata; “Manusia terbaik dari umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar dan Umar. Dan kita telah membuat banyak peristiwa setelah mereka, yang mana Allah memberi putusan atas perisitwa-peristiwa itu sesuai dengan kehendakNya.”

 

Musnad Ahmad 982: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Hani` bin Hani` dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; ‘Ammar datang untuk meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Izinkanlah dia, selamat datang orang yang baik dan harus diperlakukan dengan baik”

 

Musnad Ahmad 983: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Dzi Huddan telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa perang adalah tipu daya.

 

Musnad Ahmad 984: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Hisyam telah mengabarkan kepadaku bapakku bahwa Ali Radhiallah ‘anhu berkata kepada Al Miqdad; “Tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang mendekati seorang wanita lalu dia mengeluarkan madzi. Saya malu karena anak beliau adalah istriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia harus mencuci kemaluan dan kedua pelirnya, kemudian berwudhu.”

 

Musnad Ahmad 985: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Al A’masy dari Abu Ad Dhuha dari Syutair bin Syakal dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Mereka telah menyibukan kami pada Perang Ahzab dari shalat ashar, sampai saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka telah menyibukan kita dari shalat wustha yaitu shalat asar, semoga Allah memenuhi kuburan dan rumah mereka atau perut mereka mereka dengan api.”

 

Musnad Ahmad 986: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Al A’masy dari Ibrahim At Tamimi dari bapaknya dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Kami tidak memiliki sesuatupun kecuali kitab Allah Ta’ala, dan lembaran ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (yang berisi;) Madinah adalah haram antara ‘Air sampai ke Tsaur. Barangsiapa melakukan dosa atau melindungi orang yang berbuat dosa maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan manusia semuanya. Tidak diterima darinya amalan wajib dan amalan sunnahnya.” Dan lembaran itu berbunyi: “Perlindungan kaum muslimin itu satu, Barangsiapa melanggar perjanjian pada seorang muslim, maka dia mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan manusia semuanya, Tidak diterima darinya amalan wajib dan amalan sunnahnya. Barangsiapa mengangkat wali selain walinya yang sah maka dia mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan manusia semuanya, Tidak diterima darinya amalan wajib dan amalan sunnahnya.”

 

Musnad Ahmad 987: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Al A’masy dari Sa’d bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Wahai Rasulullah, kenapa saya melihat anda cenderung kepada orang Quraish dan meninggalkan kami (Bani Hasyim) untuk menikah dengan kalangan kami?” Beliau bertanya; “Apakah ada sesuatu?” Ali Radhiallah ‘anhu menjawab; “Anak perempuan Hamzah.” Beliau bersabda: “Itu adalah putri saudaraku sesusuan.”

 

Musnad Ahmad 988: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abu Al Bakhtari dari Abu Abdurrahman As Sulami berkata; Ali berkata; “Jika saya menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kalian, anggaplah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling menggembirakan, yang paling mendapat petunjuk dan yang paling taqwa.”

 

Musnad Ahmad 989: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dan Syu’bah dari Habib bin Abu Tsabit dari Abdu Khair dari Ali berkata; “Maukah saya beritakan kepada kalian manusia terbaik dari umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? dia adalah Abu Bakar, kemudian Umar.”

 

Musnad Ahmad 990: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Utsman bin Abu Tsaibah telah menceritakan kepada kami Muththalib bin Ziyad dari As Sudi dari Abdu Khair dari Ali berkaitan dengan tafsir firman Allah: (Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Al Mundzir dan Al Had) adalah seorang lelaki dari Bani Hasyim.”

 

Musnad Ahmad 991: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Israil dari Abu Ishaq dari Haritsah bin Mudharrib dari Ali berkata; “pada saat datang kesulitan pada Perang Badar, kami berlindung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau adalah orang yang paling menghadapi kesulitan (pada saat itu) atau tidak ada orang yang lebih dekat dari orang-orang musyrik selain beliau.”

 

Musnad Ahmad 992: Ahmad bin Hanbal berkata; saya membaca di hadapan Abdurrahman dari Malik dari Nafi’, dan telah menceritakan kepada kami Ishaq yaitu Ibnu Isa, telah mengabarkan kepadaku Malik dari Nafi’ dari Ibrahim bin Abdullah bin Hunain -Ishaq berkata; – dari bapaknya dari Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakai pakaian yang dihiasi dengan sutra dan pakaian yang dicelup dengan warna kuning, juga melarang bercincin emas dan membaca al Qur`an pada saat ruku’.

 

Musnad Ahmad 993: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku bapakku dan Abu Khaitsamah berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il telah memberitakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibrahim bin Fulan bin Hunain dari Kakeknya, Abdullah bin Hunain berkata; Ali berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai pakaian yang dicelup sehingga berwarna kuning, memakai pakaian yang dihiasi dengan sutra, cincin emas dan membaca al Qur`an pada saat ruku’.” Ayyub berkata; atau Ali berkata; ” (malarangku) membaca (al Qur’an) saat saya sedang ruku’.” Abu Khaitsamah menuturkan dalam haditsnya, diceritakan kepadaku bahwa Isma’il mengklarifikkasi lafazh ‘dari kakeknya, ‘ yaitu Hunian.”

 

Musnad Ahmad 994: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab dari Sa’id dari seorang laki-laki dari Al Hakam bin ‘Utaibah dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku untuk menjual dua orang budak laki-laki bersaudara. Saya menjualnya dengan memisahkan keduanya, kemudian hal itu saya sebutkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Cari mereka berdua, dan tarik kembali. Jangan kau jual kecuali semuanya dan jangan kau pisahkan keduanya.”

 

Musnad Ahmad 995: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Hisyam Al Bazar telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq dari Abu Hayyah berkata; saya melihat Ali Radhiallah ‘anhu berwudhu. Dia membasuh ke dua tangannya sampai bersih kemudian berkumur tiga kali, berisitinsyaq tiga kali, membasuh wajahnya tiga kali, kedua lengannya tiga kali, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kedua kakinya sampai matakakinya. Lalu dia mengambil sisa air wudhunya dan meminumnya sambil berdiri seraya berkata; “Saya hendak memperlihatkan kepada kalian bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Hisyam Al Bazar telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq berkata; Abdu Khair meriwayatkan dari Ali Radhiallah ‘anhu sebagaiamana hadits Abu Hayyah, kecuali dia berkata; “Jika telah selesai dari wudhunya, dia mengambil sisa air wudhu dengan kedua tangannya lalu meminumnya.”

 

Musnad Ahmad 996: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab berkata; Sa’id ditanya tentang hewan yang tanduknya rusak apakah bisa digunakan untuk berkurban. Maka dia mengabarkan kepada kami dari Qatadah dari Jurai bin Kulaib seorang laki-laki dari kaumnya, bahwa dia mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berkurban dengan hewan yang tanduknya dan telinganya rusak.” Qatadah berkata; saya bertanya mengenai hal itu kepada Sa’id bin Musayyab, dia menjawab; “Yang masuk kategori rusak adalah setengah atau lebih dari itu.”

 

Musnad Ahmad 997: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari Abu Ishaq dari Hubairah dari Ali berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai cincin emas, memakai pakaian yang bercampur dengan sutra dan pelana merah yang terbuat dari sutra juga.”

 

Musnad Ahmad 998: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil, dan Abdurrazzaq berkata; telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Abu Hayyah Al Wadi’i Abdurrazzaq berkata; Abu Hayyah berkata; saya melihat Ali kencing di Rahabah lantas meminta air dan berwudhu. Dia membasuh ke dua tangannya tiga kali, berkumur-kumur dan istinsyaq tiga kali. Kemudian mengusap wajahnya tiga kali dan membasuh kedua lengannya tiga kali. dia mengusap kepalanya dan membasuh kedua kakinya tiga kali-tiga kali. Setelah itu dia bangkit dan meminum sisa air wudhunya. Kemudian dia berkata; “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana kalian telah melihatku melakukannya. Saya hendak memperlihatkan kepada kalian.”

 

Musnad Ahmad 999: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Shalih Al Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami Syihab bin Khirasy telah menceritakan kepadaku Al Hajjaj bin Dinar dari Abu Ma’syar dari Ibrahim An Nakha’i berkata; ‘Alqamah bin Qais memegang mimbar ini dan berkata; Ali Radhiallah ‘anhu berkhutbah kepada kami pada mimbar ini, dia memuji Allah dan mengucapkan beberapa perkataan, dia berkata; “Orang yang paling baik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar kemudian Umar Radlia Allahu ‘anhuma, kemudian kita membuat banyak peristiwa setelah mereka, yang Allah berikan putusan atas perisitwa-peristiwa itu.”

 

Musnad Ahmad 1000: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Shalih Al Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami Syihab bin Khirasy telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Khabbab dari Al Musayyab bin Abdu Khair dari Abdu Khair berkata; saya mendengar Ali Radhiallah ‘anhu berkata; “Orang yang paling baik dari kalangan umat ini setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar Radlia Allahu ‘anhuma.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: