Musnad Ahmad: 1301-1400

Musnad Ahmad 1301: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Al A’masy dari Abdul Malik bin Maisarah dari An Nazal bin Sabrah dari Ali Radhiallah ‘anhu bahwa dia minum dengan berdiri kemudian berkata; “Beginilah saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1302: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi dari Salamah bin Abu Thufail dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu bahw Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ali, sesungguhnya kamu memiliki harta simpanan dari syurga dan kamu memiliki dua tanduknya, maka janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena bagimu yang pertama dan yang berikutnya tidak boleh bagimu.”

 

Musnad Ahmad 1303: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih untanya, beliau menyembelih dengan tangannya tiga puluh ekor, lalu beliau menyuruhku untuk menyembelih semuanya, dan beliau bersabda: “Bagikanlah kepada orang-orang dagingnya, kulitnya dan penutup punggungnya, dan jangan kamu beri orang yang menyembelih (penjagal) sedikitpun.”

 

Musnad Ahmad 1304: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq berkata; saya mendengar ‘Ashim bin Dhamrah berkata; saya bertanya kepada Ali Radhiallah ‘anhu tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada siang hari, dia berkata; “Kalian tidak akan mampu mengerjakannya” kami berkata; “Siapa di antara kita yang kami untuk mengerjakan semua itu.” Dia berkata; “Jika matahari berada di sana (arah timur dengan ketinggian) sama seperti saat berada di sini waktu shalat asar, beliau shalat dua raka’at. Jika matahari berada di sana, ketinggiannya sama seperti saat berada di sini waktu zhuhur, beliau shalat empat raka’at, kemudian beliau shalat sebelum zhuhur empat raka’at dan setelah zhuhur dua raka’at, sebelum ashar empat raka’at dengan memisah setiap dua raka’at dengan salam atas para Malaikat Al Muqarrabin, para Nabi, dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan orang mukmin dan orang muslim.”

 

Musnad Ahmad 1305: Abu Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus Abu Al Harits telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Al Abbar dari Al Hakam bin Abdul Malik dari Al Harits bin Hashirah dari Abu Shadiq dari Rabi’ah bin Najid dari Ali Radhiallah ‘anhu, dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat kemiripan dengan Isa, orang-orang Yahudi marah kepadanya sehingga mereka membuat kebohongan kepada Ibunya, sedangkan orang-orang Nasrani mencintainya sehingga mereka menempatkannya pada derajat yang tidak sepantasnya.” Kemudian Ali berkata; “ada dua orang yang akan binasa karena aku; orang yang cinta tapi berlebihan dalam menyanjungku sampai pada hal-hal yang tidak aku miliki, dan orang yang membenciku yang kebenciannya membawanya berbuat dusta terhadapku.”

 

Musnad Ahmad 1306: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Sufyan bin Waki’ bin Al Jarrah bin Malih telah menceritakan kepada kami Khalid bin Mukhalid telah menceritakan kepada kami Abu Ghailan Asy Syaibani dari Al Hakam bin Abdul Malik dari Al Harits bin Hashirah dari Abu Shadiq dari Rabi’ah bin Najid dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku dan berkata: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat kemiripan dengan Isa, orang-orang Yahudi marah kepadanya sehingga mereka membuat kebohongan kepada Ibunya, sedangkan orang-orang Nasrani mencintainya sehingga mereka menempatkannya pada derajat yang tidak sepantasnya.” Kemudian Ali berkata; “ada dua orang yang akan binasa karena aku; orang yang cinta tapi berlebihan dalam menyanjungku sampai pada hal-hal yang tidak aku miliki, dan orang yang membenciku yang kebenciannya membawanya berbuat dusta terhadapku, ketahuilah aku bukan seorang Nabi dan aku tidak mendapat wahyu, tapi aku melaksanakan apa yang ada di Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam semampuku. Maka ketika aku perintahkan kepada kalian dalam rangka ketaatan kepada Allah wajib bagi kalian untuk mentaatiku baik dalam kondisi senang maupun benci.”

 

Musnad Ahmad 1307: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Khaistamah, Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Malik Al Muzani dari ‘Ashim bin Kulaib dari Bapaknya berkata; saya duduk di samping Ali Radhiallah ‘anhu, kemudian dia berkata; Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu tidak ada seorangpun di sisi beliau kecuali Aisyah. Beliau berkata; “Wahai Ibnu Abu Thalib, bagaimana hubunganmu dengan kaum ini dan itu?” Ali Radhiallah ‘anhu menjawab; “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Akan datang suatu kaum yang keluar dari arah timur, mereka membaca al Qur`an namun tidak sampai pada tenggorokan mereka, mereka telah lepas dari agama sebagaimana anak panah yang meleset dari sasarannya. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat, seolah-olah tangan tersebut seperti payudara wanita Habasyah.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib dari Bapaknya berkata; saya duduk bersama Ali Radhiallah ‘anhu, lalu datang seorang laki-laki yang memakai pakaian safar. Dia meminta izin kepada Ali yang sedang berbicara dengan orang-orang, sehingga dia mengabaikan lelaki tersebut. Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Saya pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di samping beliau Cuma ada Aisyah, beliau bertanya kepadaku: ‘Bagaimana hubunganmu dengan kaum ini dan itu? ‘ saya menjawab; “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Kemudian beliau mengulanginya lagi, dan saya tetap menjawab; “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Ali Radhiallah ‘anhu berkata; Beliau bersabda: “Akan datang suatu kaum yang keluar dari arah timur, mereka membaca al Qur`an namun tidak sampai pada tenggorokan mereka, mereka telah lepas dari agama sebagaimana anak panah yang meleset dari sasarannya. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat, seolah-olah tangan tersebut payudara wanita Habasyah.” Aku menyumpah kalian dengan nama Allah, apakah saya mengabarkan kepada kalian bahwa di antara mereka ada…” lalu dia menyebutkan hadits secara lengkap.

 

Musnad Ahmad 1308: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Sufyan bin Waki’ bin Al Jarrah telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Bapaknya dari Abu Ishaq dari Abu Hayyah Al Wadi’i dari ‘Amru Dzi Murrin berkata; Kami melihat Ali Radhiallah ‘anhu sedang berwudhu, dia membasuh kedua tangannya, berkumur-kumur dan beristinsyaq. -Abdullah bin Ahmad ragu dalam lafazh; “berkumur-kumur dan beristinsyaq.” apakah disebutkan tiga kali atau tidak- Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kedua tangannya tiga kali, masing-masing (dari kedua tangannya di basuh) tiga kali, mengusap rambutnya dan kedua telinganya.” Salah seorang dari keduanya berkata; Kemudian dia mengambil satu ciduk dan mengusap kepalanya dan berdiri meminum sisa air wudhunya, kemudian Ali berkata; “Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu.” ket; istinsyaq; memasukkan air kedalam hidung.

 

Musnad Ahmad 1309: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin ‘Amru dan Abdul Jabbar bin Al Ward dari Ibnu Abu Mulaikah berkata; Thalhah bin Ubaidullah radliallahu ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik Ahlul Bait adalah Abdullah, Abu Abdullah dan Ummu Abdullah.”

 

Musnad Ahmad 1310: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin ‘Amru dan Abdul Jabbar bin Al Ward dari Ibnu Abu Mulaikah berkata; Thalhah bin Ubaidullah berkata; saya tidak akan menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali saya mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhu termasuk orang yang shalih dari kalangan Quraisy” Abdul Jabbar bin Al Ward menambahkan, dari Ibnu Abu Mulaikah dari Thalhah berkata; “Sebaik-baik Ahlul Bait adalah Abdullah, Abu Abdullah dan Ummu Abdullah.”

 

Musnad Ahmad 1311: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Munkadir dari Mu’adz bin Abdurrahman bin Utsman At Taimi dari bapaknya, Abdurrahman bin Utsman berkata; kami bersama Thalhah bin Ubaidullah radliallahu ‘anhu dalam keadaan berihram, kemudian dihadiahkan kepadanya daging burung. Saat itu dia sedang tidur. Maka di antara kami ada yang memakan dan ada yang menolak memakannya. Ketika Thalhah terjaga, dia sepakat dengan orang-orang yang memakannya dan berkata; “Kami pernah memakannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1312: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Mutharrif dari ‘Amir dari Yahya bin Thalhah dari bapaknya berkata; Umar melihat Thalhah bin Ubaidullah merasa risau dan murung, maka dia bertanya; “ada apa denganmu Wahai Abu fulan! sepertinya kepemimpinan anak pamanmu tidak menyenangkanmu Wahai Abu Fulan.” Dia menjawab; “Tidak, tapi aku mendengar sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada yang menghalangiku untuk menanyakannya kecuali taqdir sehingga beliau meninggal, aku mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang tidaklah dibaca oleh seorang hamba ketika menjelang ajalnya kecuali dia akan memancarkan warna yang cerah dan Allah akan menghilangkan kesusahan darinya.” Umar radliallahu ‘anhu berkata; “Aku tahu kalimat itu.” Thalhah bertanya; “Apa itu?” Umar menjawab; “Kamu tahu sebuah kalimat yang lebih agung dari kalimat yang beliau perintahkan kepada pamannya ketika menjelang meninggal dunia: “LA ILAHA ILLA ALLAH (tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah).” Thalhah berkata; “Benar kamu, itu yang dimaksud. Demi Allah itu dia.”

 

Musnad Ahmad 1313: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isma’il berkata; Qais berkata; “Aku melihat tangan Thalhah lumpuh, karena menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Perang Uhud.”

 

Musnad Ahmad 1314: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Shalih bin ‘Amru dari Mutharrif dari Asy Sya’bi dari Yahya bin Thalhah dari bapaknya; bahwa Umar radliallahu ‘anhu melihat Abu Yahya dalam keadaan sedih, maka dia bertanya; “Kenapa kamu bersedih Wahai Abu Muhammad! sepertinya kepemimpinan anak pamanmu tidak menyenangkanmu?” -yang dimaksud adalah Abu Bakar.- Dia menjawab; “Tidak, -Bahkan menyanjung Abu Bakar radliallahu ‘anhu, – tapi aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan satu kalimat yang tidaklah dibaca oleh seorang hamba ketika menjelang ajalnya kecuali Allah akan menghilangkan kesusahannya dan akan memancarkan warna. Tidak ada yang menghalangiku untuk menanyakannya kecuali taqdir, sehingga beliau wafat.” Maka Umar radliallahu ‘anhu menjawab; “Aku tahu apa itu.” Thalhah bertanya; “Apa itu?” Umar menjawab; “Kamu tahu sebuah kalimat yang lebih agung dari kalimat yang beliau perintahkan kepada pamannya: “LA ILAHA ILLA ALLAH (tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah).” Maka Thalhah berkata; “Benar kamu, itu yang dimaksud. Demi Allah, itu dia.”

 

Musnad Ahmad 1315: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ma’n Al Ghifari telah menghabarkan kepadaku Daud bin Khalid bin Dinar bahwa dia dan seorang lelaki yang bernama Abu Yusuf dari Bani Taim lewat di depan Rabi’ah bin Abu Abdurrahman. Abu Yusuf berkata kepada Rabi’ah bin Abu Abdurrahman; “Sesungguhnya kami mendapatkan beberapa hadits dari selainmu yang tidak kami dapatkan pada dirimu” Maka dia menjawab; “Sebetulnya hadits yang ada padaku banyak, tetapi Rabi’ah bin Al Hudair berkata dan dia selalu menemani Thalhah bin Ubaidullah; bahwasanya dia tidak pernah mendengar Thalhah menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali satu hadits saja.” Rabi’ah bin Abu Abdurrahman berkata; aku bertanya kepadanya; “Hadits apa itu?” dia menjawab; Thalhah berkata kepadaku; Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika kami hampir sampai di Harrah Waqim, -Thalhah melanjutkan; – Kamipun semakin mendekati tempat itu, dan ternyata tempat itu adalah kuburan di daerah Mahniyyah. Kami bertanya; “Wahai Rasulullah! apakah ini kuburan saudara-saudara kita?” beliau menjawab; “Ini kuburan sahabat-sahabat kita.” kemudian kami keluar, dan ketika sudah dekat dengan kuburan para syuhada, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah kuburan saudara-saudara kita.”

 

Musnad Ahmad 1316: Telah menceritakan kepada kami Umar bin ‘Ubaid dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari bapaknya berkata; “Ketika Kami sedang shalat, binatang tunggangan lewat di hadapan kami, maka kami sampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Seperti kayu sandaran penunggang unta yang diletakkan di hadapan salah seorang dari kalian, hal itu tidak akan berbahaya terhadap apa yang lewat di depannya.” Umar berkata dalam riwayat lain; “Di hadapannya.”

 

Musnad Ahmad 1317: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah berkata; Dua orang laki-laki dari penduduk Yaman singgah ke tempat Thalhah bin Ubaidullah, salah seorang dari keduanya terbunuh bersama Rasulullah sementara yang lainnya tetap tinggal setelah itu satu tahun, kemudian dia meninggal di tempat tidurnya. Thalhah bin Ubaidullah bermimpi bahwa orang yang meninggal di tempat tidurnya masuk Syurga beberapa saat lebih dahulu sebelum yang lainnya. Kemudian Thalhah menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bertanya; “Berapa lama dia tinggal di dunia setelahnya?” Thalhah menjawab; “Satu tahun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” (Dia telah mengerjakan) seribu delapan ratus shalat dan puasa di bulan Ramadlan.”

 

Musnad Ahmad 1318: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Malik dari pamannya dari Bapaknya bahwa dia mendengar Thalhah bin Ubaidullah berkata; Seorang Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya; “Wahai Rasulullah apa itu Islam?” beliau menjawab; “Shalat lima waktu sehari semalam.” Dia bertanya lagi; “Apakah ada kewajiban yang lainnya bagiku?” beliau menjawab; “Tidak ada.” Lalu dia bertanya tentang puasa, maka Nabi menjawab; “Puasa di bulan Ramadlan.” Dia bertanya lagi; “Apakah ada kewajiban yang lainnya bagiku?” beliau menjawab; “Tidak ada.” Thalhah berkata; kemudian dia menyebutkan zakat; “Apakah ada kewajiban yang lainnya bagiku?” beliau menjawab; “Tidak ada.” dia berkata; “Demi Allah, saya tidak menambah atau menguranginya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia akan beruntung jika dia benar-benar jujur.”

 

Musnad Ahmad 1319: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar radliallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman, Thalhah, Az Zubair, dan Sa’d; “aku menyumpah kalian dengan nama Allah yang dengannya langit dan bumi tegak.”-dalam kesempatan lain Sufyan berkata; “yang dengan izin-Nya (langit dan bumi) tegak- Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.'” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1320: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Munkadir dari Mu’adz bin Abdurrahman bin ‘Utsman At Taimi dari Bapaknya berkata; ketika kami sedang bersama Thalhah bin ‘Ubaidullah dalam keadaan ihram, dihadiahkan kepadanya daging burung. Saat itu dia sedang tidur. Maka di antara kami ada yang memakan dan ada yang menolak memakannya. Ketika Thalhah terjaga, dia sepakat dengan orang-orang yang memakannya dan berkata; “Kami pernah memakannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1321: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang apa yang dapat menjadi satir/pembatas bagi orang yang shalat. Beliau menjawab; “Seperti kayu yang digunakan untuk bersandar oleh penunggang unta.” Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 1322: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan ‘Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Simak dari Musa bin Thalhah dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati suatu kaum yang sedang berada diatas pohon kurma, kemudian beliau bertanya; “Apa yang sedang mereka lakukan?” mereka menjawab; “Mereka sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina.” Beliau berkata; “Aku mengira hal itu tidak bermanfaat” kemudian mereka diberitahu ucapan Nabi tersebut dan mereka pun meninggalkannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat berita (tentang kegagalan panen mereka karena tidak dikawinkan), maka beliau berkata; “Jika hal itu memberi manfaat, maka lakukanlah! hanyasannya aku cuma mengira dengan perkiraan, maka jangan kalian salahkan aku karena perkiraan ini, namun jika aku beritakan sesuatu yang datang dari Allah ‘azza wajalla, maka ambillah! Karena aku sekali-kali tidak mungkin sedikitpun berdusta kepada Allah.”

 

Musnad Ahmad 1323: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Mujamma’ bin Yahya Al Anshari telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Mauhab dari Musa bin Thalhah dari bapaknya berkata; aku bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepadamu?” beliau menjawab: “Bacalah: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALA `ALI MUHAMMAD, KAMA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIID WA BAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA `ALI MUHAMMAD, KAMA BARAKTA ‘ALA `ALI IBRAHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID (Ya Allah berikanlah salam kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada Keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan salam kesejahteraan kepada Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluaga Muhammad sebagaimana Engkau telah berikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”.

 

Musnad Ahmad 1324: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Sufyan Al Madani telah menceritakan kepadaku Bilal bin Yahya bin Thalhah bin Ubaidullah dari bapaknya dari kakeknya, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat bulan sabit, beliau membaca; “Ya Allah, tampakkanlah dia kepada kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan dan Islam, (ya Hilal) Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.”

 

Musnad Ahmad 1325: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Zaidah dari Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian memasang seperti kayu yang digunakan untuk bersandar penunggang unta di depannya kemudian shalat.”

 

Musnad Ahmad 1326: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Israil dari Simak bahwa dia mendengar Musa bin Thalhah menceritakan dari Bapaknya, dia berkata; Saya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kebun Madinah lalu beliau melihat beberapa orang yang sedang berada di atas pohon kurma, mereka sedang mengawinkan pohon kurma. Beliau bertanya; “Apa yang sedang mereka lakukan?” saya menjawab; “Mereka sedang mengambil yang jantan dan menempelkannya pada yang betina, mereka sedang mengawinkannya.” Maka beliau bersabda: “Aku mengira hal itu tidak bermanfaat” maka kabar itu sampai kepada mereka dan akhirnya mereka meninggalkannya. Mereka membiarkannya akan tetapi pohon tersebut pada tahun itu tidak berbuah sedikitpun. Hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata; “Itu hanya persangkaanku, jika hal itu memberi manfaat, maka lakukanlah! hanyasannya aku adalah manusia sebagaimana kalian. Perkiraan itu bisa benar dan salah. Namun apa yang saya sampaikan kepada kalian, bahwa Allah ‘azza wajalla telah berfirman, maka saya tidak akan berdusta kepada Allah.” Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr telah menceritakan kepada kami Israil telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Musa bin Thalhah lalu dia menyebutkannya dengan lengkap.

 

Musnad Ahmad 1327: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Thalhah bin Yahya bin Thalhah dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah dari Abdullah bin Syaddad bahwa beberapa orang dari Bani ‘Udzrah -yaitu sekitar tiga orang- menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka masuk Islam. Abdullah bin Syaddad berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa yang akan menanggung biaya hidup mereka?” Thalhah menjawab; “Saya.” Maka mereka menetap di (tempat) Thalhah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus satu pasukan, salah seorang dari mereka ikut keluar bersama mereka dan mati syahid. Kemudian beliau mengutus satu pasukan lagi dan yang lainnya ada yang ikut berangkat dan mati syahid juga, sedang orang yang ketiga meninggal di atas tempat tidurnya. Thalhah berkata; “Saya bermimpi bahwa mereka bertiga yang menetap (ditempat) ku berada di syurga. Saya melihat bahwa yang meninggal di atas tempat tidurnya berada di paling depan mereka, sedangkan orang yang mati syahid paling akhir di belakangnya, dan saya melihat orang yang mati syahid pertama kali berada di paling terakhir dari mereka bertiga. Hal itu menggangguku, kemudian saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang kamu ingkari dari hal itu? tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Allah daripada seorang mukmin yang dipanjangkan umurnya dalam keadaan Islam karena bacaan tasbihnya, takbirnya dan tahlilnya.”

 

Musnad Ahmad 1328: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbih telah menceritakan kepada kami Al Harits bin ‘Abidah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Mujabbar dari Bapaknya dari kakeknya bahwa ‘Utsman radliallahu ‘anhu mendekati orang-orang yang mengepungnya dan mengucapkan salam kepada mereka, namun mereka tidak menjawabnya, maka ‘Utsman radliallahu ‘anhu bertanya; “Apakah di antara kaum ada Thalhah?” Thalhah menjawab; “Ya.” Dia berkata; “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN! saya mengucapkan salam pada suatu kaum yang kamu berada di dalamnya, namun kalian tidak menjawabnya?” Thalhah berkata; “Saya telah menjawabnya.” ‘Utsman radliallahu ‘anhu berkata; “Tidak demikiain cara menjawabnya. salamku terdengar oleh kamu dan kamu menjawab dengan jawaban yang tidak terdengar. Wahai Thalhah! demi Allah, bukankah kamu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim kecuali jika ada salah satu dari tiga hal; Kembali kufur setelah beriman, berzina setelah menikah dan membunuh orang maka orang itu dibunuh.” Dia menjawab; “Ya.” ‘Utsman bertakbir dan berkata; “Demi Allah, saya tidak mengingkari Allah sejak saya mengetahuinya. Pada masa jahiliyah dan masa Islam saya tidak pernah berzina, saya telah meninggalkannya pada masa jahiliiyyah karena saya membenci hal itu, dan pada masa Islam karena saya menjaga kehormatan, dan saya juga tidak pernah membunuh seorangpun yang bisa menyebabkan halal untuk membunuhku.”

 

Musnad Ahmad 1329: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Bakar bin Mudhar dari Ibnu Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Thalhah bin ‘Ubaidullah bahwa ada dua orang yang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka masuk Islam bersama. Salah seorang dari mereka sangat bersunguh-sungguh daripada temannya, kemudian dia berperang dan mati syahid. Kemudian yang lain tetap hidup setelahnya selama satu tahun baru kemudian meninggal. Thalhah berkata; “Saya bermimpi sebagaimana yang dilihat oleh orang yang tidur, seolah-olah saya berada di gerbang syurga dan saya bersama keduanya. Lalu ada seorang yang keluar dari syurga dan memberi izin kepada orang yang meninggal terakhir dari keduanya. Kemudian orang itu keluar lagi dan mengizinkan kepada orang yang syahid. Keduanya kembali kepadaku dan berkata; “Kembalilah, belum tiba saatnya bagimu!” Thalhah menceritakan hal itu kepada orang-orang dan mereka merasa heran. Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau bersabda: “Apa yang kalian herankan?” mereka menjawab; “Wahai Rasulullah, Orang itu sangat bersungguh-sungguh kemudian mati syahid di jalan Allah, namun orang ini yang masuk syurga lebih dulu?” beliau menjelaskan: “Bukankah dia telah tinggal di dunia selama setahun?” mereka menjawab; “Ya.” “Dia telah menjumpai Ramadlan dan dia berpuasa di dalamnya?” mereka menjawab; “Ya.” “Dia melakukan shalat ini dan itu, dan bersujud selama satu tahun?” mereka menjawab; “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbedaan antara keduanya lebih jauh daripada langit dan bumi.”

 

Musnad Ahmad 1330: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kami Salim bin Abu Umayyah, Abu Nadhr berkata; Seorang kakek dari Bani Tamim duduk di sampingku di masjid Bashrah dengan membawa sepucuk surat di tangannya -Salim berkata; ketika itu periode Hajjaj- kemudian dia berkata kepadaku; “Wahai hamba Allah, apakah menurutmu surat ini sudah cukup untukku menghadap penguasa? ‘” Salim berkata; saya bertanya; “Surat apa itu?” dia menjawab; “Ini adalah surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tulis untuk kami agar kami tidak dianiaya dalam masalah zakat.” Salim berkata; saya berkata; “Tidak, demi Allah aku mengira surat itu tidak akan bermanfaat bagimu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan surat ini?” Dia menjawab; “Aku datang bersama bapakku di Madinah dengan menaiki unta kami yang akan kami jual. Ketika itu aku masih anak kecil, dan bapakku adalah teman Thalhah bin Ubaidullah At Taimi, kemudian kami singgah di tempatnya, maka bapakku berkata kepadanya; ‘Keluarlah kamu bersamaku dan jualkan untaku ini! ‘ dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang kota menjual kepada orang desa, tetapi aku akan keluar bersamamu dan aku duduk dan kamu tawarkan untamu. Jika aku ridla dengan seseorang karena kejujuran dan dapat dipercaya pada orang yang menawarmu, maka aku akan perintahkan kepadamu untuk menjualnya. Kami keluar ke pasar, kemudian kami duduk sampai zhuhur sementara Thalhah duduk dekat dengan kami. Orang-orang menawar barang kami sampai suatu ketika ada seorang lelaki yang kami sukai, memberikan (harga) kami yang kami senangi. Bapakku berkata kepadanya; ‘Apakah aku boleh melakukan jual beli dengannya? ‘ Dia menjawab; ‘Ya. Aku ridla dengan kejujurannya, lakukanlah jual beli! ‘ Kami akhirnya melakukan jual beli. Setelah kami dapatkan apa yang menjadi keperluan kami dan telah selesai dari kebutuhan kami, bapakku berkata kepada Thalhah; “Ambilkan untukku surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berisi agar supaya kami tidak dianiaya dalam masalah zakat.” Kakek itu berkata; Thalhah berkata; “Ini berlaku untuk kalian dan untuk seluruh kaum muslimin” dia berkata; “Untuk itu aku ingin supaya aku mendapat surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” kemudian dia pergi membawa kami kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya laki-laki ini berasal dari penduduk kampung dan teman kami, dia ingin anda menulis surat untuknya yang berisi agar dia tidak dianiaya dalam masalah zakatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah untuknya dan untuk setiap kaum muslim.” Dia berkata; “Wahai Rasulullah saya ingin ada surat darimu untukku dalam masalah itu.” Kakek itu berkata; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat ini untuk kami.” Hadits terakhir Thalhah bin Ubaidullah Radhia Allah ‘anhu.

 

Musnad Ahmad 1331: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Amru dari Yahya bin Abdurrahman bin Hatib dari Ibnu Zubair dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; ketika turun ayat: “Kemudian Sesungguhnya kalian pada Hari Kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhan kalian” Zubair bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan berbantah-bantahan dengan lawan-lawan kita di dunia?” beliau menjawab; “Ya.” Lalu ketika turun ayat: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” Zubair bertanya; “Wahai Rasulullah! Apakah nikmat yang akan dtanyakan kepada kita yaitu dua hal, maksudnya kurma dan air?” beliau menjawab: “Hal itu juga akan ditanyakan.”

 

Musnad Ahmad 1332: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar radliallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman, Thalhah, Az Zuhair, dan Sa’d; “aku menyumpah kalian dengan nama Allah yang dengan-Nya langit dan bumi tegak.”-dalam kesempatan lain Sufyan berkata; “yang dengan izin-Nya (langit dan bumi) tegak- Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.'” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1333: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam dari Bapaknya dari Zubair bin Al Awwam berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang lelaki yang membawa seutas tali kemudian dia mencari kayu bakar dan membawa ke pasar untuk menjualnya sehingga dia merasa cukup untuk menafkahi dirinya adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau menolaknya.”

 

Musnad Ahmad 1334: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair dari Zubair berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama kedua orang tuanya (ketika meminta sesuatu kepadaku) pada Perang Uhud.”

 

Musnad Ahmad 1335: Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair berkata; saya dan Umar bin Abu Salamah pada Perang Khandaq berada pada banguan tinggi (seperti benteng), yang di dalamnya para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bangunan tinggi itu milik Hassan. Umar bin Abu Salamah mengangkatku dan saya mengangkatnya, secara bergantian. Ketika dia mengangkatku, aku dapat melihat bapakku lewat menuju Bani Quraizhah. Dia ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Perang Khandaq. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa yang mau mendatangi Bani Quraizhah untuk memerangi mereka?” saya mengatakan kepada bapakku ketika dia pulang; “Wahai bapakku, demi Allah, saya tahu ketika engkau lewat menuju ke Bani Quraizah.” Dia menjawab; “Wahai anakku, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama kedua orang tuanya (ketika meminta sesuatu kepadaku), beliau menjadikan keduanya sebagai tebusan bagiku. Beliau bersabda: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.”

 

Musnad Ahmad 1336: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Sulaiman yaitu At Taimi, dari Abu ‘Utsman dari Abdullah bin ‘Amru dari Az Zubair bin Al Awwam bahwa seorang lelaki mensedekahkan seekor kuda yang dinamakan ghamrah atau ghamra`. Zubair berkata; Kemudian dia mendapatkan kuda atau anak kuda yang dijual, lalu dinisbatkan kepada kudanya, maka hal itu dilarang.

 

Musnad Ahmad 1337: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Muslim bin Jundub dari Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berkata; kami shalat Jum’at bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian kami meninggalkan beliau dan berlomba menuju Al Ajam (tembok tinggi), ternyata kami tidak mendapatkan tempat kecuali tempat yang cukup untuk telapak kaki kami saja.” Yazid berkata; “Al Ajam yaitu tembok tinggi seperti benteng.”

 

Musnad Ahmad 1338: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bin Hisyam, dan Abu Mu’awiyah Syaiban dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bin Hisyam dari Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian penyakit orang-orang sebelum kalian yaitu dengki dan marah. Marah itulah pemangkas yang akan memangkas agama bukan memangkas rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan pasti kalian akan saling mencintai, yaitu sebarkanlah salam diantara kalian.”

 

Musnad Ahmad 1339: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jami’ bin Syaddad dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya berkata; Aku bertanya kepada Zubair; “Kenapa aku tidak mendengarmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti aku mendengar dari Ibnu Mas’ud, dari fulan dan fulan?” dia menjawab; “Aku belum pernah berpisah darinya sejak aku masuk Islam, tetapi aku mendengar dari beliau satu kalimat: “Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 1340: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Syaddad yaitu Ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dari Mutharrif berkata; kami bertanya kepada Zubair radliallahu ‘anhu “Wahai Abu Abdullah, apa yang kamu terima, padahal kamu telah menyia-nyiakan khalifah sehingga dia terbunuh, kemudian kalian datang menuntut darahnya?” Zubair radliallahu ‘anhu menjawab; “Sesungguhnya kami telah membacanya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman: (Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.) sebelumnya kami tidak menyangka bahwa kamilah orang yang tertimpa siksaan itu sehingga siksaan itu benar-benar terjadi kami.

 

Musnad Ahmad 1341: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Kunasah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari ‘Utsman bin ‘Urwah dari Bapaknya dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rubahlah uban dan jangan kalian menyerupai orang-orang Yahudi!”

 

Musnad Ahmad 1342: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits dari penduduk Makkah, suku Makhzumi, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Insan -Ahmad bin Hanbal berkata; Abdullah bin Harits menyanjung kepada Muhammad bin Abdullah, – dari Bapaknya dari Urwah bin Zubair dari Zubair radliallahu ‘anhu dia berkata; “kami datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika kami berada di daerah Sidrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di ujung Qarnul Aswad, yaitu sejajar disampingnya, kemudian beliau mengarahkan pandangannya ke Nakhib -yaitu ke arah lembah-, beliau berdiri sampai orang-orang berkumpul semua. beliau bersabda: “Sesungguhnya buruan dari Tha`if dan pohon besarnya yang berduri adalah haram yang telah di haramkan Allah” dan peristiwa ini terjadi sebelum beliau singgah di Thaif dan pengepungan Tsaqif.

 

Musnad Ahmad 1343: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Yahya bin ‘Abbad bin Abdullah bin Zubair dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Perang Uhud: “Telah wajib bagi Thalhah”, ketika dia melakukan tindakan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dia merunduk kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam naik di atas punggungnya.”

 

Musnad Ahmad 1344: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah memberitakan kepada kami Abdurrahman yaitu Ibnu Abu Ziyad, dari Hisyam dari dari ‘Urwah berkata; telah mengabarkan kepadaku bapakku, Zubair radliallahu ‘anhu ketika perang Uhud telah usai seorang wanita datang sambil berjalan, sehingga ketika dia hampir mendekat kepada para korban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka jika wanita itu sampai melihat mereka, maka beliau berkata; “Hentikan wanita itu, hentikan wanita itu!” Zubair radliallahu ‘anhu berkata; “Maka aku menjelaskan bahwa itu adalah ibuku, Shafiyyah. Aku pergi berlari ke arahnya, dan aku dapat menemuinya sebelum dia mendekati kepada para korban yang gugur. Tetapi dia mendorong dan memukul dadaku, dan memang dia adalah seorang wanita yang kuat lagi penyabar, kemudian dia berkata; “Menjauhlah kamu, Aku tidak rela kepadamu.” Saya katakan kepadanya; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersikeras untuk melarangmu” Maka ibuku pun berhenti dan mengeluarkan dua kain yang dibawanya, kemudian berkata; “Dua kain ini aku bawa untuk saudaraku Hamzah, karena telah sampai kepadaku berita kegugurannya, maka kafanilah dia dengan dua kain ini.” Maka kami membawa dua kain itu untuk mengafani Hamzah, tetapi di samping Hamzah ada seorang lelaki Anshar yang terbunuh juga, yang telah diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan kepada Hamzah. Kami merasa tidak pantas dan malu jika mengafani Hamzah dengan dua kain sementara tidak ada kafan untuk lelaki Anshar. Maka Kami katakan: “Satu kain untuk Hamzah dan satu lagi untuk lelaki Anshar, ” kemudian kami mengukur keduanya, ternyata salah satunya lebih besar dari yang lain sehingga kami lakukan undian diantara keduanya dan masing masing kami kafani dengan kain yang menjadi bagiannya.”

 

Musnad Ahmad 1345: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata; telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Zubair radliallahu ‘anhu menceritakan, bahwa dia mengadukan seorang lelaki Anshar yang telah ikut serta dalam perang Badar ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berkaitan irigasi air yang datang dari dataran tinggi yang mereka gunakan untuk mengairi kebun masing-masing. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Zubair radliallahu ‘anhu; “Alirilah untukmu kemudian alirkan untuk tetanggamu!” namun orang Anshar marah dan berkata; “Wahai Rasulullah! apakah karena dia itu anak bibimu?” merahlah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata kepada Zubair radliallahu ‘anhu; “Airilah (kebunmu), setelah itu tahan airnya agar ia kembali ke asalnya.”” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bagian semuanya kepada Zubair, padahal sebelumnya beliau menunjuk kepada Zubair dengan satu pendapat, dengan harapan ada kemudahan untuk Zubair dan orang Anshar, tapi ketika orang Anshar marah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya beliau memberikan semua bagian kepada Zubair dengan keputusan yang tegas. Urwah berkata; Zubair radliallahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, aku yakin bahwa ayat ini tidak turun kecuali berkaitan dengan masalah itu: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS; an Nisaa`; 65) ”

 

Musnad Ahmad 1346: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbihi telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Jubair bin ‘Amru Al Qarsyi telah menceritakan kepadaku Abu Sa’d Al Anshari dari Abu Yahya mantan budak keluarga Zubair bin Awwam, dari Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bumi ini adalah bumi milik Allah, semua hamba adalah hamba Allah, maka di manapun kalian mendapatkan kebaikan tegakkanlah.”

 

Musnad Ahmad 1347: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Jubair bin ‘Amru dari Abu Sa’d Al Anshari dari Abu Yahya mantan budak keluarga Zubair bin Awwam, dari Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat di Arafah membaca ayat ini: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah) yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.) (QS, Ali Imran; 18) “dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas yang demikian itu Wahai Rabbku.”

 

Musnad Ahmad 1348: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ‘Atho` bin Ibrahim mantan budak Zubair, dari ibunya dan neneknya, Ummu ‘Atho` keduanya berkata; “Demi Allah, seakan-akan kami melihat kepada Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu ketika datang kepada kami dengan membawa keledainya yang berwarna putih kemudian dia berkata; “Wahai Ummu ‘Atho`, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kaum muslimin memakan daging hewan sembelihan mereka melebihi tiga hari” Abdullah berkata; Aku bertanya; demi bapakku sebagai tebusanmu, apa yang harus kami lakukan dengan daging yang dihadiahkan kepada kami?” maka dia menjawab; “Adapun daging yang dihadiahkan kepada kalian maka itu urusan kalian.”

 

Musnad Ahmad 1349: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Mubarak, telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Umar dari Bapaknya dari Abdullah bin Zubair radliallahu ‘anhu berkata; pada Perang ahzab saya dan Umar bin Abu Salamah bersama kaum wanita. Lalu saya memeriksa, ternyata saya melihat Zubair berada di atas kudanya berangkat ke Bani Quraizhah dua kali atau tiga kali. Tatkala pulang, saya berkata; “Saya melihat engkau pulang pergi ke suatu tempat.” Dia bertanya; “Apakah kamu melihatku Wahai anakku.” Saya menjawab; “Ya.” Zubair berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang hendak mendatangi Bani Quraizhah untuk mencari khabar tentang mereka?” maka saya pun berangkat, dan ketika saya kembali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama kedua orang tuanya (ketika meminta sesuatu) kepadaku. Beliau bersabda: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu”.

 

Musnad Ahmad 1350: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin ‘Uqbah yaitu Abdullah bin Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib dari orang yang telah mendengar Abdullah bin Al Mughirah bin Abu Burdah berkata; saya mendengar Sufyan bin Wahab Al Khaulani berkata; Ketika kami menaklukkan kota Mesir tanpa perjanjian, Az Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berdiri dan berkata; “Wahai Amru bin Al ‘Ash bagikanlah!” maka ‘Amru berkata; “Aku tidak akan membaginya” maka Zubair radliallahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, kamu harus membaginya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi pada saat perang Khaibar” ‘Amru berkata; “Demi Allah, aku tidak akan membaginya sampai aku menulis surat kepada Amirul Mukminin.” kemudian dia menulis surat kepada Umar radliallahu ‘anhu, dan dia membalas surat tersebut (yang berisi); “supaya kamu menyimpannya sampai anak cucu (kaum muslimin) bisa berperang dengan (perbekalan) harta itu.”

 

Musnad Ahmad 1351: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Muhammad dari Al Mundzir bin Zubair radliallahu ‘anhu dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi Zubair satu bagian, ibunya satu bagian dan memberikan kepada kudanya dua bagian.

 

Musnad Ahmad 1352: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Mubarak telah menceritakan kepada kami Al Hasan berkata; Seorang lelaki menemui Zubair bin Awwam kemudian berkata; “Saya akan membunuh Ali untukmu?” Zubair menjawab; “Jangan! bagaimana kamu akan membunuhnya, padahal bersamanya banyak tentara?” dia menjawab; “Aku akan menyusup kemudian menyerangnya dengan sadis” Zubair berkata; Jangan! sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu adalah kendali dari tindakan pembunuhan secara sadis, dan seorang mu’min tidak akan membunuh dengan sadis.” Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Mubarak bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Al Hasan berkata; seorang lelaki menemui Zubair bin Al Awwam kemudian berkata; “Ketahuilah, aku akan membunuh Ali untukmu” Zubair bertanya; “Bagaimana kamu dapat membunuhnya padahal dia bersama orang banyak?” kemudian dia menyebutkan hadits secara makna.

 

Musnad Ahmad 1353: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jami’ bin Syaddad dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya berkata; Aku bertanya kepada Zubair bin Al Awwam Radhia Allah ‘anhu; “Kenapa kamu tidak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Aku tidak berpisah dari beliau sejak aku masuk Islam, tetapi aku mendengar dari beliau satu kalimat yang telah saya dengar secara langsung: “Barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 1354: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Ibnu Numair, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari kakeknya. Ibnu Numair berkata; dari Zubair radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang lelaki yang membawa seutas tali, dia pergi ke gunung, kemudian (kembali) dengan membawa seikat kayu bakar dan menjualnya sehingga dia merasa cukup dengan hasil tersebut adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau menolaknya.”

 

Musnad Ahmad 1355: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakannya kepada kami Harb bin Syaddad dari Yahya bin Abu Katsir bahwa Ya’isy bin Al Walid menceritakan kepadanya, bahwa mantan budak keluarga Zubair menceritakan kepadanya, bahwa Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian penyakit umat sebelum kalian yaitu dengki dan marah. Marah merupakan pemangkas, aku tidak mengatakan (bahwa dia) memangkas rambut akan tetapi dia memangkas agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya.” Atau “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, kalian tidak akan masuk syurga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang bisa merealitakan (keimanan dan saling cinta) diantara kalian?, sebarkanlah salam diantara kalian.” Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Ali bin Mubarak dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bahwa mantan budak keluarga Zubair menceritakan kepadanya, bahwa Zubair radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian..” lalu dia menyebutkan hadits diatas. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabah dari Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya’isy bin Al Walid bin Hisyam dari mantan budak keluarga Zubair bahwa Zubair bin Al Awwam radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah menyebar diantara kalian..” lalu dia menyebutkan hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 1356: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Al Hasan berkata; Seorang lelaki berkata kepada Zubair; “Saya akan membunuh Ali untukmu?” dia menjawab; “Bagaimana kamu akan membunuhnya?” laki-laki itu menjawab; “Aku akan membunuhnya dengan sadis” Zubair berkata; “Jangan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu adalah kendali dari tindakan pembunuhan secara sadis, dan seorang mukmin tidak akan melakukan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 1357: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibnu ‘Amru dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib dari Abdullah bin Zubair dari Zubair bin Al Awwam berkata; Tatkala surat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian Sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu.” (Az Zumar; 30) Zubair berkata; “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang pernah terjadi pada kami berikut dosa-dosa pribadi kami di dunia akan di ulang kembali?” beliau menjawab; “Ya. Akan diulang kembali sampai semua orang yang punya hak ditunaikan haknya.” Zubair berkata; “Demi Allah, urusan ini sangatlah berat sekali.”

 

Musnad Ahmad 1358: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ‘Amru berkata; dan saya mendengar ‘Ikrimah membaca: (Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan kepadamu.) dan dibacakan kepada Sufyan dari Zubair: (Serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an.) Zubair berkata; Di pohon kurma, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan shalat Isya: (Hampir saja jin-jin itu berdesak-desakan mengerumuninya.” Sufyan berkata; “Mereka satu sama lain tumpuk menumpuk seperti susunan yang tersusun satu diatas yang lainnya.”

 

Musnad Ahmad 1359: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b telah menceritakan kepada kami Muslim bin Jundub telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengar Zubair bin Awwam radliallahu ‘anhu berkata; kami shalat Jum’at bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami bersegera pergi, dan kami tidak mendapati bayangan kecuali seluas kaki-kaki kami. Atau berkata; kami tidak mendapati bayangan kecuali tempat meletakkan kaki kami.

 

Musnad Ahmad 1360: Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Zubair dari Abdullah bin Salamah atau Maslamah, Katsir menerangkan; menurut hafalanku Salimah, dari Ali atau dari Zubair berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami, kemudian beliau mengingatkan tentang hari-hari Allah sampai kami mengetahuinya dari wajah beliau. (Saat itu) seakan-akan beliau sedang memberi peringatan kepada suatu kaum yang tertimpa suatu perkara diwaktu paginya. Dan beliau ketika mendapat wahyu dari Jibril, beliau tidak tersenyum dan tidak tertawa sampai Jibril pergi meninggalkan beliau.”

 

Musnad Ahmad 1361: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Jarir, dia berkata; saya mendengar Al Hasan berkata; Zubair bin Al Awwam berkata; Pada saat kami sedang berdesak-desakkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, turunlah ayat: (Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.) Maka kami berkata; “Apa yang dimaksud siksa ini?” kami tidak menyadari bahwa siksaan itu terjadi di mana saja tempatnya.”

 

Musnad Ahmad 1362: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritkan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Najih berkata; saya bertanya kepada Thawus tentang seorang lelaki yang melempar jumrah dengan enam kerikil. Dia menjawab; “Hendaknya dia memberi makan dengan segenggam makanan.” Ibnu Abu Najih berkata; Kemudian aku bertemu Mujahid, maka aku pun menanyakan kepadanya dan menyebutkan pendapat Thawus, maka dia menjawab; “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Abdurrahman, tidakkah sampai kepadanya perkataan Sa’d bin Malik bahwa dia berkata; Kami melempar beberapa jumrah atau satu jumrah dalam ritual haji kami (yang kami jalani) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami duduk saling berdiskusi, di antara kami ada yang berkata; ‘Aku telah melempar enam kerikil, ‘ diantara kami ada yang berkata; ‘Aku melempar tujuh kerikil, ‘ diantara kami ada yang berkata; ‘Aku telah melempar delapan kerikil, ‘ dan diantara kami ada yang berkata; ‘Aku melempar sembilan kerikil, ‘ dan mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan satu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1363: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari ‘Amru bin Sa’id dari Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dari tiga orang anak Sa’d dari Sa’d, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguknya ketika dia sedang sakit di Makkah. Kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah, aku khawatir meninggal dunia di bumi yang telah aku tinggalkan, sebagaimana Sa’d bin Khaulah meninggal dunia. Maka Berdo’alah kepada Allah supaya menyembuhkan aku.” Beliau berdoa: “ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN, ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN, ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN (Ya Allah sembuhkanlah Sa’d, ya Allah sembuhkanlah Sa’d, ya Allah sembuhkanlah Sa’d) ” kemudian Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang banyak dan tidak ada orang yang akan mewarisiku kecuali seorang anak perempuan, maka apakah aku boleh mewaisatkan seluruh hartaku untuknya?” beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan dua pertiganya?” Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan setengahnya?” Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan sepertiganya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya nafkah untuk pribadimu dari hartamu adalah sedekah, sesungguhnya nafkahmu (yang kamu berikan) kepada keluargamu adalah sedekah bagimu, sesungguhnya nafkahmu (yang kamu berikan) kepada istrimu adalah sedekah bagimu. Dan sesungguhnya jika kamu meninggalkan keluargamu dengan penghidupan” atau dalam riwayat lain beliau berkata; “Dengan kecukupan adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan meminta-minta kepada manusia.”

 

Musnad Ahmad 1364: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al Hanafi, Abdul Kabir bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Bukair bin Mismar dari ‘Amir bin Sa’d, mengatakan bahwa saudaranya, Umar berangkat menemui Sa’d di tempat penggembalaan kambingnya di luar Madinah. Ketika Sa’d melihatnya, dia berkata; “Aku berlindung kepada Allah dari keburukan pengendara ini” dan ketika Umar menemuinya, dia berkata; “Wahai bapakku, apakah engkau rela menjadi seorang badui yang mengurusi kambingmu sementara orang-orang berselisih dalam masalah kepemimpinan di Madinah?” maka Sa’d memukul dada Umar dan berkata; “Diam kamu, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mencintai hambaNya yang bertaqwa, berkecukupan dan sembunyi-sembunyi (mengeluarkan sedekahnya).”

 

Musnad Ahmad 1365: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Abdullah bin Abdurrahman yaitu Ibnu Ma’mar, dia berkata; bahwa Amir bin Sa’d menceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz ketika dia sedang menjabat Gubernur kota Madinah, bahwa Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan tujuh biji kurma ‘Ajwah dari antara dua sisi Madinah sebelum sarapan pagi maka tidak akan ada sesuatu yang membahayakannya pada hari itu sampai sore harinya.” Fulaih berkata; Aku mengiranya beliau bersabda: “Dan jika memakannya pada waktu sore hari maka tidak ada sesuatu yang membahayakannya sampai pagi hari.” Maka Umar berkata; “perhatikanlah Wahai ‘Amir apa yang kamu ceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” maka ‘Amir menjawab; “Aku bersaksi, dan aku tidak berbohong atas nama Sa’d dan Sa’d tidak berbohong atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1366: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad bin Sa’d dari ‘Amir bin Sa’d bahwa Sa’d mengendarai kendaraannya menuju istananya di Aqiq, kemudian dia menjumpai seorang budak laki-laki yang sedang memangkas daun atau memotong pepohonan, maka Sa’d merampas (peralatan) budak tersebut. Ketika Sa’d pulang, dia didatangi oleh pemilik budak tersebut dan mereka meminta untuk mengembalikan apa yang dia ambil dari budak mereka. Sa’d berkata; “Aku berlindung kepada Allah untuk mengembalikan sesuatu yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikan kepadaku.” Dia tetap menolak mengembalikan kepada mereka.

 

Musnad Ahmad 1367: Telah menceritakan kepada kami Rauh -dia mendekte kepada kami ketika di Baghdad, – telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid dari Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya, Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan dengan meminta petunjuk kepada Allah) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam adalah kerelaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah.”

 

Musnad Ahmad 1368: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga indikasi kebahagiaan anak Adam, dan tiga indikasi kesengsaraan anak Adam; indikasi kebahagiaan anak cucu adam adalah istri yang shalehah, tempat tinggal yang baik dan kendaraan yang baik. Sedangkan indikasi kesengsaraan anak Adam adalah istri yang berakhlak buruk, tempat tinggal yang buruk dan kendaraan yang buruk.”

 

Musnad Ahmad 1369: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Bukair bin Abdullah bin Al Asyaj bahwa dia mendengar Husain bin Abdurrahman menceritakan, bahwa dia mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi suatu fitnah, dimana orang yang duduk ketika itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri ketika itu lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik dari orang yang berlari.” Husain bin Abdurrahman berkata; Aku mengira Sa’d juga berkata: “Dan orang yang berbaring ketika itu lebih baik dari orang yang duduk.”

 

Musnad Ahmad 1370: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dari anak laki-laki saudara Sa’d dari Sa’d, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bani Najiyah: “Saya adalah bagian dari mereka dan mereka adalah bagian dariku.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far kemudian dia menyebutkan redaksi hadits dengan kisah yang di dalamnya dia berkata; anak saudara Sa’d bin Malik berkata; bahwa mereka menyebut-nyebut Bani Najiyah di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Mereka satu perkampungan yang merupakan bagian dariku.” dan dalam redaksi ini dia tidak menyebutkan Sa’d.”

 

Musnad Ahmad 1371: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari Daud bin ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seandainya secuil kuku saja dari keindahan yang ada di Syurga muncul, niscaya akan menghiasi ruang yang ada antara langit dan bumi. Seandainya seorang lelaki dari ahli syurga muncul kemudian tampak gelangnya, niscaya cahayanya akan menghapus cahaya matahari sebagaimana cahaya matahari menghapus cahaya bintang.”

 

Musnad Ahmad 1372: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza’i telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari ‘Amir bin Sa’d dari Sa’d berkata; “Buatkanlah liang lahat untukku dan letakkanlah batu bata sebagaimana telah dibuatkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari bapaknya dari Sa’d kemudian dia menyebutkan hadits yang serupa dengannya, dan Abu Sa’id menyepakati Amir bin Sa’d dalam hal ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Khuza’i.”

 

Musnad Ahmad 1373: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far, telah mengabarkan kepadaku Musa bin ‘Uqbah dari Abu Nadhr mantan budak Umar bin ‘Ubaidullah bin Ma’mar, dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Sa’d bin Abu Waqqash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai mengusap kedua khuff; “bahwa hal itu tidak mengapa.”

 

Musnad Ahmad 1374: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Malik yaitu Ibnu Anas, dari Salim Abu Nadhr dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Aku mendengar bapakku berkata; “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada manusia yang masih hidup lagi masih berjalan bahwa dia berada di syurga kecuali kepada Abdullah bin Salam.”

 

Musnad Ahmad 1375: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Khalid dari Abu ‘Utsman berkata; Ketika Ziyad diaku (sebagai ayah oleh orang yang bukan anaknya), maka aku bertemu Abu Bakrah dan berkata; “Apa yang kalian lakukan ini? sesungguhnya aku mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; telingaku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengaku seorang bapak dalam Islam padahal bukan bapaknya dan dia tahu bahwa dia bukan bapaknya maka Syurga haram baginya.” Kemudian Abu Bakrah berkata; “Aku juga telah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1376: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Wuhaib dari Abu Waqid Al Laitsi dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tangan dipotong karena mencuri seharga tameng (seperempat dinar).”

 

Musnad Ahmad 1377: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid Al Madani telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dari kakeknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku untuk menyerukan pada Hari Mina; “bahwa hari-hari (ini) adalah hari makan dan minum, dan tidak boleh berpuasa pada hari-hari (ini).” yaitu hari-hari Tasyriq.

 

Musnad Ahmad 1378: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Al Fudhail bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Yahya dari Abu Ishaq bin Salim dari ‘Amir bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Diantara dua sisi Madinah adalah haram, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkannya sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah; “Ya Allah jadikanlah keberkahan di dalamnya dengan dua keberkahan, dan berkahilah dalam setiap Sha’ setiap Mud mereka.”

 

Musnad Ahmad 1379: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah memberitakan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah dari Mus’ab bin Sa’d dari bapaknya bahwa sebuah piring besar berisi makanan diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memakannya dan masih tersisa. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang seorang lelaki dari jalan ini, salah seorang penghuni Syurga, dia memakan sisa makanan ini.” Sa’d berkata; “dan ketika itu aku tinggalkan saudaraku yaitu Umair sedang berwudhu, maka aku berkata (dalam hatiku); ‘lelaki itu pasti Umair, ‘ akan tetapi datanglah Abdullah bin Salam kemudian memakan sisa makanan Rasulullah.”

 

Musnad Ahmad 1380: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah berkata; saya mendengar Abu Nadhr menceritakan dari Abu Salamah dari Sa’d bin Abu Waqqash, satu hadits yang dia marfu’kan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang berwudhu dengan tetap memakai kedua khuff; “bahwa hal itu tidak mengapa.”

 

Musnad Ahmad 1381: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim telah menceritakan kepadaku Ya’la bin Hakim dari Sulaiman bin Abu Abdullah berkata; saya melihat Sa’d bin Abu Waqqash menangkap seorang budak lelaki yang sedang berburu pada tanah Haram Madinah yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam haramkan, lalu dia merampas pakaiannya. Tetapi tuannya mendatangi Sa’d. maka Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkan tanah ini dan bersabda: “Barangsiapa melihat seseorang sedang berburu di dalamnya, maka dia boleh merampas harta orang itu.” Saya tidak akan mengembalikan kepada kalian makanan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikan kepadaku, namun jika kalian mau, saya akan mengganti harganya.” Dalam kesempatan lain ‘Affan berkata; “Jika kalian mau, saya akan mengganti harganya.”

 

Musnad Ahmad 1382: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Al Hushain, bahwa dia menceritakan dari Sa’d bin Abu Waqqash, bahwa dia melaksanakan shalat isya di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian melakukan shalat witir satu raka’at dengan tidak menambahinya. Muhammad bin Abdurrahman berkata; maka ditanyakanlah kepadanya; “Apakah kamu melakukan hanya witir satu raka’at dan tidak menambahinya, Wahai Abu Ishaq?” Dia menjawab; Ya, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaitu orang yang tidak tidur, sampai orang yang berikat pinggang melakukan shalat witir’.”

 

Musnad Ahmad 1383: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah menceritakan kepada kami Yunus bin Ishaq Al Hamdani dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Sa’d telah menceritakan kepada kami bapakku, Muhammad dari bapaknya, Sa’d berkata; Aku melewati Utsman bin ‘Affan di sebuah masjid lalu aku mengucapkan salam kepadanya, kedua matanya menatap namun dia tidak menjawab salamku. Maka aku menemui Umar bin Khaththab dan bertanya kepadanya; “Wahai Amirul Mukminin, apa yang sedang terjadi dalam Islam?” (saya ucapkan dua kali). Maka Umar menjawab; “Tidak, memang ada apa?” Aku berkata; “Tidak ada apa-apa, tetapi aku tadi melewati Utsman di masjid, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, kedua matanya menatap tapi tidak menjawab salamku?” Maka Umar mengutus seseorang kepada Utsman dan memanggilnya, (setelah Ustman berada dihadapannya) Umar bertanya; “Apa yang menghalangimu untuk menjawab salam saudaramu?” Utsman menjawab; “Aku tidak melakukannya.” Sa’d berkata; aku berkata; “Ya, (kamu melakukannya).” Akhirnya dia bersumpah dan akupun bersumpah. Kemudian Utsman teringat dan berkata; “Ya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya, kamu tadi lewat di depanku dan ketika itu aku sedang berbicara pada diriku sendiri tentang suatu kalimat yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak, demi Allah aku sama sekali tidak mengingatnya karena penglihatan dan hati sedang tertutup.” Sa’d berkata; “akan saya beritahukan kalimat itu kepadamu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan kepada kami doa yang pertama kali, kemudian datanglah seorang badui yang membuat beliau sibuk sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak (pergi) dan aku mengikuti beliau, ketika aku merasa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendahuluiku dan beliau belum masuk ke dalam rumahnya, maka aku menjejakkan kedua telapak kakiku ke tanah sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh ke arahku dan bertanya; “Siapa itu? Apakah Abu Ishaq?” Sa’d menjawab; “Benar Wahai Rasulullah.” Kemudian beliau berkata; “pergilah!” saya menjawab; “Tidak, demi Allah, karena anda tadi hendak menyebutkan kepada kami doa yang pertama kali, namun anda kedatangan seorang badui yang menyibukkan anda.” Beliau menjawab; “Ya, yaitu doa Dzun Nun ketika dia berada di dalam perut seekor ikan Hiu; LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINAZHZHALIMIN (Tidak ada Ilah yang berhaq disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat aniya.) ” Maka sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a tersebut dalam suatu permasalahan kecuali pasti akan dikabulkan.”

 

Musnad Ahmad 1384: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepada kami Al Ju’aid bin Abdurrahman dari Aisyah binti Sa’d dari bapaknya, bahwa Ali keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai tiba di Tsaniyyatul Wada’. Kemudian Ali menangis dan berkata; “Engkau tinggalkan aku bersama orang-orang yang tertinggal (di Madinah)!” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali kenabian.”

 

Musnad Ahmad 1385: Telah menceritakan kepada kami ‘Isham bin Khalid telah menceritakan kepadaku Abu Bakar yaitu Ibnu Abu Maryam, dari Rasyid bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqqash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Umatku tidak akan menjadi lemah di sisi Rabbku ketika Allah menangguhkan mereka setengah hari.” Aku bertanya kepada Rasyid; “Apakah telah sampai kepadamu berapa setengah hari itu?” dia menjawab; “Lima ratus tahun.”

 

Musnad Ahmad 1386: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abdullah dari Rasyid bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Saya sangat berharap agar umatku tidak lemah di sisi Rabbku ketika Dia menangguhkan mereka setengah hari.” Maka ditanyakan kepada Sa’d; “Berapa setengah hari itu?” dia menjawab; “Lima ratus tahun.”

 

Musnad Ahmad 1387: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abdullah dari Rasyid bin Sa’d dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang ayat: (Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu.) Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Hal itu pasti terjadi, tetapi penjelasannya belum datang hingga sekarang.”

 

Musnad Ahmad 1388: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu Habib dari Daud bin ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari Bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seandainya sesuatu yang lebih kecil dari kuku dari keindahan yang ada di Syurga tampak, niscaya akan menghiasi apa yang ada di sisi-sisi langit dan bumi. Seandainya seorang lelaki dari penduduk syurga muncul kemudian tampak gelangnya, niscaya cahayanya akan menghapus cahaya matahari seperti cahaya matahari menghapus cahaya bintang.”

 

Musnad Ahmad 1389: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Bapaknya dari Bapaknya dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Saya melihat di samping kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan samping kiri beliau pada Perang Uhud, ada dua orang laki-laki yang memakai pakaian putih berperang dengan penuh semangat, yang aku tidak pernah melihatnya sebelum atau sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 1390: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Ibrahim yaitu Ibnu Sa’d, dari bapaknya dari Mu’adz At Taimi berkata; saya mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua shalat yang tidak boleh shalat setelahnya, yaitu shalat shubuh sampai matahari terbit dan Ashar sampai Matahari terbenam.” Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari bapaknya dari seorang lelaki Bani Taim yang bernama Mu’adz, dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” kemudian dia menyebutkan hadits seperti di atas.

 

Musnad Ahmad 1391: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dan Sa’d keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Bapakku dari bapaknya dari kakeknya, Sa’d berkata; dari Ibrahim bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Sa’d bin Abu Waqqash berkata; “Saya melihat di samping kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan samping kiri beliau pada Perang Uhud ada dua orang laki-laki yang memakai pakaian putih berperang dengan penuh semangat, saya tidak pernah melihatnya sebelum atau sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 1392: Telah bercerita kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih, Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bahwa Muhammad bin Sa’d bin Abu Waqqash telah mengabarkan kepadanya, bahwa bapaknya, Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Umar meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, (saat itu) di dekat beliau ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara dan banyak (bertanya) kepada beliau dengan suara yang keras. Ketika Umar meminta izin kepada beliau, mereka bangun dan segera berhijab, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan Umar untuk masuk. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sehingga Umar berkata; “Semoga Allah membahagiakanmu Wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku heran dengan mereka yang ada di sisiku, ketika mendengar suaramu mereka segera berhijab.” Umar berkata; “Anda Wahai Rasulullah adalah orang yang lebih patut untuk disegani. Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, apakah kalian segan denganku sementara kalian tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Mereka menjawab; “Karena kamu adalah lebih keras dan lebih saklek dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, selamanya setan tidak akan bertemu denganmu di satu jalan yang kamu lewati melainkan setan akan melewati jalan selain jalanmu.” Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata; ayahku berkata; dan Ya’qub berkata; “Aku tidak dapat menghitung berapa kali aku mendengarnya berkata; ‘telah menceritakan kepada kami Shalih dari Ibnu Syihab’.”

 

Musnad Ahmad 1393: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dan Sa’d keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Sufyan bin Jariyah bahwa Yusuf bin Al Hakam Abul Al Hajjaj mengabarinya, bahwa Sa’d bin Abu Waqqash berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginginkan orang-orang Quraisy hina niscaya Allah ‘azza wajalla menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1394: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Al Ja’d bin Aus berkata; telah menceritakan kepadaku Aisyah binti Sa’d berkata; Sa’d berkata; Saya sakit saat saya berada di Makkah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dalam rangka menjengukku. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, aku meninggalkan harta yang banyak dan aku hanya memiliki seorang anak perempuan, apakah aku boleh mewasiatkan dua pertiga hartaku dan memberinya sepertiga saja? ‘ Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Apakah bleh aku wasiatkan setengahnya dan saya tinggalkan untuknya setengahnya?” Beliau menjawab; “Tidak” Sa’d bertanya lagi; “Atau aku wasiatkan sepertiganya dan saya tinggalkan untuknya dua pertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga Ya, tapi sepertiga itu banyak.” Beliau ucapkan tiga kali. Sa’d berkata; Kemudian beliau meletakkan tangannya pada dahinya lalu mengusap wajahku dan dadaku serta perutku dan berdoa: “ALLAHUMMA ASYFI SA’DAN WA ATIMMA LAHU HIJRATAHU (Ya Allah sembuhkanlah Sa’d dan sempurnakanlah hijrahnya” Sejak saat itu saya masih tetap terbayang bahwa aku senantiasa merasakan dingin tangan beliau pada dadaku sampai saat ini.”

 

Musnad Ahmad 1395: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan dari Abdullah bin Abu Salamah bahwa Sa’d mendengar seorang lelaki berkata; “LABBAIKA DZAL MA’AARIJI (Aku penuhi panggilanMu, Wahai Dzul Ma’arij (Dzat yang para Malaikat naik kepadaNya)).” Maka Sa’d berkata; “Yang benar adalah; ‘LADZUL MA’AARIJ’, tetapi kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengucapkan demikian.”

 

Musnad Ahmad 1396: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Hassan Al Makhzumi dari Ibnu Abu Mulaikah dari ‘Ubaidullah bin Abu Nuhaik dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golonganku orang yang tidak melagukan Al Qur`an.” Waki’ berkata; “Yaitu menyenandungkannya.”

 

Musnad Ahmad 1397: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Labibah dari Sa’d bin Malik berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rizqi adalah yang mencukupi.” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq dari Ibnul Mubarak dari Usamah berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru bin Utsman bahwa Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Labibah mengabarinya. Abdullah berkata; bapakku menerangkan; dan Yahya yaitu Al Qathan berkata; Ibnu Abu Labibah juga, akan tetapi dia berkata; dari Usamah, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah.”’

 

Musnad Ahmad 1398: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Sa’d, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguknya pada saat dia sakit. Dia bertanya; “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mewasiatkan hartaku semuanya?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana kalau setengah?” Beliau menjawab; “Jangan” Sa’d bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu banyak.” Atau “Besar.”

 

Musnad Ahmad 1399: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Meskipun kamu hanya memberi nafkah kepada keluargamu itu akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat (suapkan) kepada mulut istrimu.”

 

Musnad Ahmad 1400: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim bin Abu An Najud dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; saya bertanya; “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang shaleh, kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: