Musnad Ahmad: 1501-1600

Musnad Ahmad 1501: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Abu Sufyan bin Al ‘Ala` bin Jariyah dari Yusuf bin Al Hakam Abu Al Hajjaj dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghinakan orang Quraisy niscaya Allah Azza Wa Jalla akan menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1502: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil pada kesempatan lain, telah menceritakan kepadaku Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Abu Sufyan bin Al ‘Ala` bin Jariyah dari Muhammad bin Sa’d dari Bapaknya, Sa’d berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginginkan kehinaan orang Quraisy niscaya Allah akan menghinakannya.”

 

Musnad Ahmad 1503: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayyab berkata; saya mendengar Sa’d bin Abu Waqash berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak ‘Utsman bin Mazh’un untuk membujang. Jika saja dia diizinkan niscaya kami akan mengebiri diri kami.”

 

Musnad Ahmad 1504: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Muhammad bin Sa’d bin Malik dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi dari tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 1505: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya berkata; Aku pernah bersumpah demi Lata dan Uzza, maka para sahabatku berkata; “Kamu telah berkata buruk.” Lantas saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya; “Aku baru masuk Islam, lalu aku bersumpah dengan nama Lata dan Uzza?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bacalah: ‘LA ILAHA ILLA ALLAHU WAHDAHU (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah) ‘ tiga kali, kemudian tiuplah ke sebelah kirimu tiga kali sambil berlindung dan jangan kamu ulangi!”

 

Musnad Ahmad 1506: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Mu`ammal bin Isma’il dan ‘Affan secara makna berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya bahwa dibawakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semangkok besar bubur. Kemudian beliau memakannya dan ternyata masih tersisa, kemudian beliau bersabda: “Akan datang seorang lelaki dari jalan ini, (dia adalah) salah seorang penghuni Syurga, dan dia memakan sisa makanan ini.” Sa’d berkata; “Aku tinggalkan saudaraku, Umair bin Abu Waqqash mempersiapkan tempat untuk menyambut kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku sangat berharap bahwa orang yang masuk tersebut (adalah dia), tetapi tiba-tiba Abdullah bin Salam datang dan memakannya.” Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dia menyebutkan secara makna kecuali lafazh: “Saya melewati ‘Uwaimir bin Malik.

 

Musnad Ahmad 1507: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Usamah yaitu Ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al Qarrazh bahwa dia mendengar Sa’d bin Malik dan Abu Hurairah keduanya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah berikanlah keberkahan kepada penduduk Madinah di kota mereka dan berkahilah mereka dalam setiap sha’ mereka dan berkahilah dalam setiap Mud mereka. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hambaMu dan kekasihMu dan aku juga hamba dan utusanMu. Ibrahim telah memohon kepadaMu untuk penduduk Makkah dan aku memohon kepadaMu untuk penduduk Madinah sebagaimana Ibrahim memohon kepadaMU untuk penduduk Makkah dan semisalnya bersamanya. Sesungguhnya Madinah itu dijaga oleh para Malaikat, yang di setiap jalannya ada dua Malaikat yang menjaganya, tidak akan dimasuki oleh wabah lepra dan Dajjal. Barangsiapa hendak melakukan keburukan di dalamnya, maka Allah akan menjadikannya meleleh sebagaimana melelehnya garam di dalam air.”

 

Musnad Ahmad 1508: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Khalid dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya, Sa’d berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dengan mengisyaratkan salah satu tangannya pada tangan lainnya sambil bersabda: “Satu bulan itu begini dan begini.” kemudian beliau mengurangi satu jarinya pada yang ketiga kalinya.

 

Musnad Ahmad 1509: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Isma’il dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu segini dan segini, sepuluh, sepuluh dan sembilan satu kali.”

 

Musnad Ahmad 1510: Telah menceritakan kepada kami Ath Thalaqani telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak dari Isma’il dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu bulan itu segini, segini dan segini.” Yaitu dua puluh sembilan.

 

Musnad Ahmad 1511: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz yaitu Ad Darawardi, dari Zaid bin Aslam dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga muncul suatu kaum yang makan dengan lidah-lidah mereka sebagaimana sapi makan dengan lidahnya.”

 

Musnad Ahmad 1512: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Hasan dari Ibrahim bin Al Muhajir dari Abu Bakar yaitu Ibnu Hafs, kemudian dia menceritakan satu kisah; Sa’d berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kematian adalah seseorang yang meninggal karena mempertahankan haqnya.”

 

Musnad Ahmad 1513: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir yaitu Ibnu Hazm, dari pamannya, Jarir yaitu Ibnu Zaid, dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari Bapaknya, Sa’d berkata; saya berkata; “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mewasiatkan hartaku semuanya?” Beliau menjawab; “Jangan” Saya bertanya lagi; “Bagaimana kalau dua pertiga?” Beliau menjawab; “Jangan” Saya bertanya lagi; “Bagaimana jika setengahnya?” beliau menjawab; “Jangan” saya bertanya; “Bagaimana jika sepertiga?” beliau menjawab; “Sepertiga. Ya sepertiga, (tapi) itu besar. Sesungguhnya salah seorang kalian meninggalkan keluarganya dalam sejahtera itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan menjadi beban bagi manusia.”

 

Musnad Ahmad 1514: Telah menceritakan kepada kami Abu Humaid Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Habib bin Abu Tsabit, dari Hamzah bin Abdullah dari Bapaknya dari Sa’d berkata; Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju Perang Tabuk, beliau mengangkat Ali (untuk menggantikan beliau di Madinah). Kemudian Ali RAdhiallah ‘anhu bertanya; “Apakah anda meninggalkanku?” beliau bersabda: “Tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku?”

 

Musnad Ahmad 1515: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad dari ‘Amir bin Sa’d bahwa Sa’d ketika dia sedang sakit berkata; “Jika saya meninggal, buatkanlah liang lahat untukku dan perlakukan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperlakukan.”

 

Musnad Ahmad 1516: Telah menceritakan kepada kami Manshur bin Salamah Al Khuza’i telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far dari Isma’il bin Muhammad dari ‘Amir bin Sa’d dari Sa’d berkata; ” Buatkanlah liang lahat untukku dan letakkanlah batu bata sebagaimana telah dibuatkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1517: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Abu Syihab dari Al Hajjaj dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid dari Sa’d bin Malik berkata; “Kami melakukan thawaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diantara kami ada yang thawaf tujuh putaran, diantara kami ada yang thawaf delapan putaran dan diantara kami ada yang thawaf lebih banyak dari itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 1518: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Abu Shakhr, Abu Abdurrahman, Abdullah bin Ahmad berkata; dan saya mendengarnya dari Harun bahwa Abu Hazin menceritakan kepadanya, dari putra Sa’d bin Abu Waqqash berkata; saya mendengar bapakku berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti semula, maka berbahagialah orang-orang yang asing pada hari itu, ketika manusia sudah rusak. Demi Dzat yang jiwa Abul Qasim ada di tanganNya, sungguh iman itu akan bersarang pada dua masjid ini sebagaimana seekor ular bersarang pada sarangnya.”

 

Musnad Ahmad 1519: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud telah memberitakan kepada kami Abdurrahman yaitu Ibnu Abu Az Zinad, dari Musa bin ‘Uqbah dari Abu Abdullah Al Qarrazh dari Sa’d bin Abu Waqqash bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lain kecuali masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 1520: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah memberitakan kepada kami ‘Utsman bin Hukaim telah menceritakan kepadaku ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengharamkan antara kedua sisi Madinah, sebagaimana Ibrahim mengharamkan tanah haramnya (Makkah), tidak boleh dipotong pohon berdurinya atau dibunuh binatang buruannya. Tidaklah seseorang yang meninggalkannya karena benci kecuali Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik darinya. Madinah lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahuinya. Tidaklah seseorang menginginkan keburukan pada penduduknya kecuali Allah akan melelehkannya sebagaimana timah yang meleleh pada api atau melelehnya garam di air.”

 

Musnad Ahmad 1521: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang yang semisal mereka dan orang-orang yang semisal mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka ujiannya akan berat. Jika agamanya lemah maka diuji dengan sesuai kadar agamanya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa mempunyai kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1522: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il dari Bukair bin Mismar dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali, beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah) dalam beberapa peperangan beliau. Ali bertanya; “Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak!” beliau menjawab: “Wahai Ali, tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? hanya saja tidak ada Nabi setelahku” Dan saya juga mendengar beliau bersabda pada Perang Khaibar; “Sungguh, saya akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya.” Maka kami semuanya saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda: “Panggilllah Ali!” kemudian dia dihadirkan dalam keadaan sakit matanya. Lantas beliau meludahi matanya dan menyerahkan bendera tersebut kepadanya, kemudian Allah memberi kemenangan kepadanya. Tatkala turun ayat: (Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu.) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda: “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

 

Musnad Ahmad 1523: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d dari ‘Ayyash bin Abbas dari Bukair bin Abdullah dari Busr bin Sa’id bahwa Sa’d bin Abu Waqqash berkata ketika ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh; Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi suatu fitnah dimana orang yang duduk ketika itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri ketika itu lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan ketika itu lebih baik dari orang yang berlari.” Sa’d bertanya; “Bagaimana pendapat anda jika ada yang masuk ke rumahku dan mengulurkan tangannya untuk membunuhku?” beliau bersabda: “Jadilah kamu seperti putera Adam!”

 

Musnad Ahmad 1524: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Thalhah At Taimi penduduk Madinah, telah menceritakan kepadaku Abu Suhail, Nafi’ bin Malik dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Abu Waqqash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Al ‘Abbas: “Inilah Al Abbas bin Abdulmuththalib orang Quraisy yang paling dermawan dan paling menjaga hubungan.”

 

Musnad Ahmad 1525: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Ya’la berkata; telah menceritakan kepada kami Musa yaitu Al Juhani, dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; Ada seorang arab Badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Nabiyullah, ajarilah aku sebuah kalimat yang dapat aku ucapkan (setiap saat)!” Beliau bersabda: “Bacalah: LA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIKA LAHU, ALLAHU AKBAR KABIRA, WALHAMDU LILLAHI KATSIRA WA SUBHANALLAHI RABBIL ‘ALAMIN, LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘AZIZIL HAKIIM (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagiNya, Allah Maha Besar dan Agung. Segala puji yang banyak hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah Rabb semesta alam. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) lima kali.” Orang badui tadi berkata; “Itu semua untuk Rabbku Azza Wa Jalla, mana untukku?” Beliau menjawab; “Bacalah: ALLAHUMMAGHFIRLI WARHAMNI WAHDINI WARZUQNI (Ya Allah! Ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku hidayah dan berilah aku rizqi.) ” Ibnu Numair berkata; Musa berkata; lafazh “WA’AFINI (berilah aku kesehatan).” saya masih ragu dan saya tidak tahu pasti.

 

Musnad Ahmad 1526: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Musa dari Mush’ab bin Sa’d telah menceritakan kepadaku bapakku berkata; kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” Sa’d berkata; ada salah seorang teman duduknya bertanya; “Wahai Nabiyullah, bagaimana mampu salah seorang dari kami mendapatkan seribu kebaikan?” beliau menjawab; “Bertasbih seratus kali (membaca SUBHANALLAAH-Maha Suci Allah) akan ditulis baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1527: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Musa dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya berkata; kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” kemudian ada seorang teman duduknya bertanya; “Bagaimana mampu salah seorang dari kami, Wahai Rasulullah untuk mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” beliau menjawab; “Bertasbih seratus kali (membaca SUBHANALLAAH-Maha Suci Allah) akan ditulis baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 1528: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak dari Mush’ab bin Sa’d dari Bapaknya berkata; “Telah turun kepadaku empat ayat. Pada Perang Badar saya mendapatkan pedang, lalu saya membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku pedang ini?” beliau bersabda: “Taruhlah!” kemudian dia bangun dan berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku pedang ini!” beliau bersabda: “Letakkan!” kemudian dia bangkit dan berkata; “Wahai Rasulullah, berikan kepadaku, saya pantas dianggap sebagai orang yang membutuhkan pedang itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berkata; “Letakkan di tempat kamu mengambilnya!” maka turunlah ayat: (Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah bahwa rampasan Perang itu untuk Allah dan RasulNya.) Sa’d melanjutkan; “Ada seorang sahabat Anshar yang membuat makanan, dan dia mengundang kami, kemudian kami meminum khamer hingga kami mabuk. (Dalam kondisi seperti itu) orang Anshari dan Quraisy saling membanggakan diri. Orang Anshar berkata; “Kami lebih utama daripada kalian.” Orang Quraisy berkata; “Kami lebih utama daripada kalian.” Tiba-tiba seorang laki-laki Anshar mengambil tulang unta dan memukulkannya ke hidung Sa’d hingga pecah, maka hidung Sa’d menjadi pecah, pada saat itu turunlah ayat: (Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.) ” Sa’d melanjutkan; Ibuku berkata; “Bukankah Allah telah menyuruh mereka untuk berbakti, Demi Allah, saya tidak akan memakan makanan dan meminum minuman sampai mati atau kamu mengingkari Muhammad.” Maka jika mereka hendak memberi ibuku makan, mereka membuka paksa mulutnya dengan tongkat, dengan demikian mereka bisa menyuapinya makanan ke mulutnya. Maka turunlah ayat: (Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya,). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Sa’d untuk menjenguknya karena sakit, kemudian Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mewasiatkan semua hartaku?” Beliau menjawab: “Jangan.” Sa’d bertanya; “Bagaimana kalau duapertiga?” Beliau menjawab; “Jangan” dia bertanya lagi; “Bagaimana jika sepertiga?” beliau diam.

 

Musnad Ahmad 1529: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin ‘Amru Al Kalbi telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al Hadhrami bin Lahiq dari Sa’id bin Musayyab dari Sa’d bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika penyakit lepra sedang mewabah di suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya, dan jika ada di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian kabur dari tempat itu.”

 

Musnad Ahmad 1530: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Ats Tsaqafi dari Khalid dari ‘Ikrimah dari Sa’d bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada Perang Uhud: “Panahlah, tebusanmu adalah bapakku dan ibuku”

 

Musnad Ahmad 1531: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Al Hajjaj bin ‘Arthah dari Yahya bin ‘Ubaid Al Bahrani dari Muhammad bin Sa’d, Al Bahrani menuturkan; bahwa Muhammad bin Sa’d sering berwudhu di pojokan, pada suatu hari dia buang air besar kemudian berwudhu dan mengusap kedua khufnya, maka kami merasa heran dan bertanya; “Apa-apaan ini?” dia menjawab; “Telah menceritakan kepadaku bapakku bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana yang aku lakukan.”

 

Musnad Ahmad 1532: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Isma’il dari Qais berkata; saya mendengar Sa’id bin Malik berkata; “Demi Allah, saya adalah orang Arab pertama yang melempar panah di jalan Allah. Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada makanan sama sekali yang bisa kami makan kecuali daun Hublah dan daun pohon samur, sampai-sampai salah seorang kami mengeluarkan kotoran seperti kotoran kambing karena tidak adanya campuran (makanan yang bisa kami makan). Kemudian Bani Asad merendahkanku dan menghinaku karena agamaku. Kalau begitu sungguh aku telah rugi dan telah sesat jalanku.”

 

Musnad Ahmad 1533: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Abu Ma’syar dari Musa bin ‘Uqbah dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya berkata; saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca salam ke sebelah kanannya dan ke sebelah kirinya.”’

 

Musnad Ahmad 1534: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Muhammad bin Al Aswad dari Amir bin Sa’d dari bapaknya berkata; “Ketika Perang Khandaq, ada seorang lelaki (musuh) yang berlindung dengan tamengnya, dia berkata (menghina) sambil memegang tamengnya seperti, meletakkan tamengnya di atas hidungnya, kemudian berkata (menghina) seperti ini, meletakkan tamengnya ke bawah. Maka aku mengambil wadah panahku kemudian aku keluarkan panah yang sudah berlumuran darah, lalu aku letakkan di tengah busur. Ketika dia berkata begini, menurunkan tamengnya, aku segera membidiknya. Aku tidak lupa anak panah itu mengenai ini dan itu dari bagian tameng tersebut, kemudian lelaki tersebut tersungkur.” Sa’d sambil memperagakannya dengan kakinya. Maka Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. -saya mengira Sa’d berkata; “Sampai tampak gigi geraham beliau.”- Rauh bertanya; “Kenapa beliau tertawa?” Ibnu Aun menjawab; “Karena melihat tingkah laku Sa’d.”

 

Musnad Ahmad 1535: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin ‘Umair berkata; saya mendengar Mush’ab bin Sa’d menceritakan dari bapaknya, Sa’d bin Abu Waqash bahwa dia menyuruh untuk membaca doa, sebuah do’a yang dia ceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu; “ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL BUKHLI WA A’UDZUBIKA MINAL JUBNI WA A’UDZUBIKA AN URADDA ILA ARDZALIL ‘UMURI WA A’UDZUBIKA MIN FITNATID DUNYA WA A’UDZUBIKA MIN ‘ADZABIL QABRI (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat bakhil, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut, dan aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan kepada umur yang hina, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur).”

 

Musnad Ahmad 1536: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna dan Abu Sa’id berkata; telah memberitakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq, Abu Sa’id berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Mush’ab bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya, bahwa dia bersumpah dengan nama Lata dan Uzza, maka para sahabatnya berkata; “Kamu telah berkata buruk.” Lantas dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepada beliau; “Aku baru masuk Islam, lalu aku bersumpah dengan nama Lata dan Uzza?” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bacalah: ‘LA ILAHA ILLA ALLAHU WAHDAH (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah) ‘ tiga kali, kemudian tiuplah ke sebelah kirimu tiga kali sambil berlindung kepada Allah dari godaan setan dan jangan kamu ulangi!”

 

Musnad Ahmad 1537: Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Usamah dari Muhammad bin Abdurrahman bin Labibah bahwa Sa’d bin Malik berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rizqi adalah yang sekedar mencukupi.”

 

Musnad Ahmad 1538: Telah bercerita kepada kami Abu Daud Sulaiman telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih bin Kaisan telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Muhammad bin Sa’d dari bapaknya berkata; “Umar meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu di dekat beliau ada beberapa wanita, yang suara mereka lebih tinggi dari pada suara beliau. Ketika beliau mengizinkan Umar mereka segera pergi, lalu Umar masuk dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. Umar berkata; “Semoga Allah membahagiakanmu Wahai Rasulullah, bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku heran kepada mereka yang ada di dekatku, ketika mendengar langkahmu mereka segera pegi.” Umar berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih berhak untuk kalian segani daripada aku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkan mereka Wahai Umar! Demi Allah, tidaklah setan bertemu denganmu pada suatu jalan kecuali dia akan melewati jalan selain jalanmu.” INI ADALAH HADITS TERAKHIR SA’D BIN ABU WAQQASH radliallahu ‘anhu.

 

Musnad Ahmad 1539: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman berkata; saya mendengar Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cendawan berasal al Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1540: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Cendawan berasal alManna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1541: Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepadaku bapakku telah menceritakan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari ‘Amru bin Huraits berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Cendawan berasal Salwa, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1542: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; hadits ini kami hafal dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia (mati) syahid. Barangsiapa berbuat aniaya (dengan mengambil) sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1543: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Shadaqah bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku kakekku, Riyah bin Al Harits bahwa ketika Al Mughirah bin Syu’bah berada di sebuah masjid besar dan di sebelah kanan kirinya duduk penduduk Kufah, tiba-tiba datang seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Zaid, maka Al Mughirah menyambutnya dan mendudukkannya di sisi kedua kakinya di atas kasur, kemudian datanglah seseorang lelaki dari penduduk Kufah, dia menghadap Al Mughirah lalu mencaci dan mencaci. Maka Sa’id bertanya; “Siapa yang dicela orang ini wahai Al Mughirah?” dia menjawab; “Dia mencaci Ali bin Abu Thalib.” Sa’id berkata; “Wahai Mughirah bin Syu’bah, wahai Mughirah bin Syu’bah.” -tiga kali.-“Kenapa saya mendengar para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka cela di hadapanmu sedang kamu tidak mengingkari dan merubahnya. Sungguh aku bersaksi (telah mendengar) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kedua telingaku dan diingat oleh hatiku (satu hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits dengan dusta, karena pasti beliau akan meminta pertanggung jawabanku ketika aku bertemu beliau nanti, beliau bersabda: “Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Ali di Syurga, Utsman di Syurga, Thalhah di Syurga, Zubair di Syurga, Abdurrahman di Syurga, Sa’d di Syurga.” dan yang kesembilan adalah seorang mukmin di Syurga juga, jika aku ingin menyebutkannya, pasti aku menyebutkan namanya.” Maka orang-orang yang ada di masjid ribut dan mendesak Sa’id untuk menyebutkannya; “Wahai sahabat Rasulullah, siapakah orang yang kesembilan itu?” maka Sa’id berkata; “kalian mendesakku (untuk menyebutkannya) dengan nama Allah, demi Allah Yang Maha Agung, akulah orang yang kesembilan tersebut. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang kesepuluhnya.” Kemudian dia mengiringinya dengan bersumpah dan berkata; “Demi Allah, satu peperangan yang diikuti seorang laki-laki yang mengakibatkan wajahnya dipenuhi debu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah lebih utama daripada amalan salah seorang kalian, sekalipun dia diberi umur seperti umur Nabi Nuh ‘Alaihissalam.”

 

Musnad Ahmad 1544: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hushain bin Manshur dari Hilal bin Yisaf dari Sa’id bin Zaid, di kesempatan lain Waki’ berkata: Manshur berkata; dari Sa’id bin Zaid, dan di kesempatan yang lainnya berkata; Hushain dari Ibnu Zhalim dari Sa’id bin Zaid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira`, yang sedang berada di atasmu adalah seorang Nabi atau orang yang shiddiq atau orang yang syahid!” Sa’id menerangkan; “Di atasnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’id bin Zaid radliallahu ‘anhum.”

 

Musnad Ahmad 1545: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hur bin Asy Shayyah dari Abdurrahman bin Al Akhnas berkata; Al Mughirah bin Syu’bah berkhutbah di hadapan kami, kemudian dia mencela Ali radliallahu ‘anhu, maka Sa’id bin Zaid bangun dan berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nabi di Syurga, Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Utsman di Syurga, Ali di Syurga, Thalhah di Syurga, Zubair di Syurga, Abdurrahman bin ‘Auf di Syurga dan Sa’d di Syurga.” Jika saya mau saya akan sebutkan yang kesepuluh.”

 

Musnad Ahmad 1546: Telah menceritakan kepada kami Umar bin ‘Ubaid dari Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cendawan berasal Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1547: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam, dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepadaku bapakku dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Numair, Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan zhalim niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya sampai tujuh lapis tanah pada Hari Kiamat.” Sedang Ibnu Numair berkata; “..dari tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1548: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami dan beliau membawa cendawan di tangannya dan bersabda: “Apakah kalian tahu apa ini? ini berasal al Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.”

 

Musnad Ahmad 1549: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin ‘Umair berkata; saya mendengar ‘Amru bin Huraits berkata; saya mendengar Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cendawan berasal Manna, dan airnya merupakan obat untuk mata.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Al Hakam bin ‘Utaibah dari Hasan Al ‘Arani dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Syu’bah berkata; “Tatkala Al Hakam menceritakannya kepadaku, saya tidak mengingkari bahwa ini adalah hadits Abdul Malik.”

 

Musnad Ahmad 1550: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Al Hur bin Asy Shayyah dari Abdurrahman bin Al Akhnas bahwa Al Mughirah bin Syu’bah berkhutbah dan mencela Ali radliallahu ‘anhu, maka Sa’id bin Zaid berkata; saya bersaksi bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rasulullah di Syurga, Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Ali di Syurga, Utsman di Syurga, Abdullah di Syurga, Abdullah di Syurga, Zubair di Syurga dan Sa’d di Syurga.” Kemudian dia berkata; “Jika kalian mau saya akan sebutkan yang ke sepuluh.” Kemudian Sa’d menyebutkannya.

 

Musnad Ahmad 1551: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim berkata; Al Mughirah bin Syu’bah berkhutbah dan mencela Ali radliallahu ‘anhu, maka Sa’id bin Zaid berdiri dan berkata; Tidak kamu heran terhadap orang ini? dia mencela Ali Radhiallah ‘anhu padahal saya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kami berada di Hira` atau Uhud. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira` atau Uhud, yang sedang berada di atasmu adalah seorang yang shiddiq atau orang yang syahid!” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan sepuluh orang.” Kemudian Sa’id menyebutkan: Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d, Abdurrahman bin ‘Auf, dan dia menyebutkan dirinya sendiri Sa’id.

 

Musnad Ahmad 1552: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Abdurrahman bin Sahl dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencuri sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.” Ma’mar berkata; telah sampai kepadaku dari Az Zuhri, namun saya tidak mendengar dia memberikan tambahan dalam hadits ini lafazh: “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia adalah syahid.”

 

Musnad Ahmad 1553: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah bahwa Marwan berkata; “Pergilah dan damaikan antara Sa’id bin Zaid dan Arwa`.” Maka Sa’id berkata; “Apakah menurut kalian saya mengambil haknya, Saya bersaksi bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah nukan dengan haknya, niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi. Barangsiapa menyuruh budak suatu kaum tanpa izin dari mereka, maka dia mendapatkan laknat Allah. Barangsiapa merampas harta seorang muslim dengan sumpahnya maka Allah tidak akan memberkahi dalam harta tersebut.”

 

Musnad Ahmad 1554: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf bahwa Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl mengabarinya, bahwa Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuat aniaya dengan mengambil sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1555: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf berkata; “Arwa binti Uwais bersama dengan beberapa orang Quraisy yang diantara mereka terdapat Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl menemuiku, Arwa berkata; “Sesungguhnya Sa’id bin Zaid mengambil sebagian tanahku (dan memasukkannya) kedalam kepemilikannya, saya ingin kalian menemuinya dan berbicara dengannya.” Maka kamipun berangkat menemui Sa’id yang saat itu sedang berada di ladangnya di ‘Aqiq. Tatkala dia melihat kami, dia berkata; “Saya tahu kenapa kalian kemari, akan aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengambil tanah yang bukan miliknya, niscaya akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi pada Hari Kiamat. Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 1556: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbih telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Az Zubaidi dari Az Zuhri dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf bahwa Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl mengabarinya, bahwa Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuat aniaya dengan mengambil sejengkal tanah niscaya akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1557: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim, dia berkata; Hushain telah mengabarkan kepada kami dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim Al Mazini berkata; tatkala Mu’awiyah berangkat dari Kufah, dia mengangkat Al Mughirah bin Syu’bah sebagai pejabat sementara, dan ternyata dia mempersilahkan para khatib untuk mencela Ali, saya pada saat itu berada di samping Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail. Dia marah dan bangkit sambil memegang tanganku sehingga saya mengikutinya, kemudian berkata; “Tidakkah kamu lihat orang yang telah menganiaya dirinya sendiri ini, dia menyuruh untuk melaknat penghuni syurga. Sungguh saya bersaksi bahwa ada sembilan orang yang mereka akan masuk syurga, dan sekiranya aku bersaksi tentang orang yang kesepuluh niscaya saya tidak berdosa.” Maka aku bertanya; “Apakah itu?” dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira`, yang sedang berada di atasmu adalah Nabi, atau orang shiddiq atau orang yang syahid!” saya bertanya; “Siapakah mereka?” dia menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’d bin Malik.” Kemudian dia terdiam, saya bertanya: “Siapakah orang yang ke sepuluh?” dia menjawab; “Saya.”

 

Musnad Ahmad 1558: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Hushain bin Abdurrahman dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim At Taimi dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail berkata; “Saya bersaksi bahwa Ali termasuk dari ahli syurga.” Abdullah bertanya; “Apa alasannya?” dia menjawab; “Dia termasuk dari salah satu dari sembilan orang. Kalau saya mau, saya bisa sebutkan orang kesepuluh.” Dia berkata; “Gunung Hira` pernah bergoyang, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah Wahai Hira`, yang sedang berada di atasmu adalah Nabi, atau orang shiddiq atau orang yang syahid” lalu Sa’id menyebutkan; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Ali, ‘Utsman, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d dan saya.” Yaitu Sa’id sendiri.

 

Musnad Ahmad 1559: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abu Al Abbas telah menceritakan kepada kami Yunus atau Abu Uwais, berkata; Az Zuhri berkata; telah mengabarkan kepadaku Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf bahwa Abdurrahman bin ‘Amru bin Sahl mengabarinya, bahwa Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuat aniaya dengan mengambil sejengkal tanah niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.”

 

Musnad Ahmad 1560: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah telah mengabarkan kepadaku Mis’ar dari Abdul Malik bin Maisarah dari Hilal bin Yisaf dari Abdullah bin Zhalim dari Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan beberapa fitnah (yang muncul) seperti bagian-bagian malam yang gelap gulita. Menurutku beliau bersabda: “Terkadang manusia mendatanginya dengan cepat.” Sa’d berkata; maka ada yang bertanya: “Apakah mereka semuanya binasa atau hanya sebagian mereka?” beliau menjawab; “Cukup mereka atau cukup bagi mereka menghindari pembunuhan.”

 

Musnad Ahmad 1561: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Nufail bin Hisyam bin Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail dari bapaknya dari kakeknya berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Zaid bin Haritsah di Makkah, lewatlah di hadapan keduanya Zaid bin ‘Amru bin Nufail, kemudian Nabi dan Zaid mengajaknya (ikut bergabung) menyantap hidangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak makan sembelihan yang disembelih untuk berhala, ” Sa’id berkata; ” Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan makanan yang disembelih atas nama berhala. Saya berkata; “Wahai Rasulullah, anda tahu keadaan bapakku sebagaimana yang anda lihat, seandainya dia mendapati anda niscaya dia beriman dan mengikuti anda, maka mintakanlah ampunan untuknya!” beliau menjawab; “Ya. Aku mohonkan ampunan untuknya dan dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat sebagai umat yang satu.”

 

Musnad Ahmad 1562: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah berkata; Marwan berkata; “Berangkatlah dan damaikan antara Sa’id bin Zaid dan Arwa binti Uwais.” Kami pun mendatangi Sa’id bin Zaid, dan dia berkata; “Apakah menurut kalian saya mengambil haknya. Saya bersaksi, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah bukan dengan haknya, niscaya akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi. Barangsiapa menyuruh budak suatu kaum tanpa izin dari mereka, maka dia mendapatkan laknat Allah. Barangsiapa merampas harta saudaranya dengan sumpahnya maka Allah tidak akan memberi berkah padanya.”

 

Musnad Ahmad 1563: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Qais bin Ar Rabi’ telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Amru bin Huraits berkata; Saya datang ke Madinah, tujuanku adalah untuk berbagi dengan saudara laki-lakiku, tetapi Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan mendapat berkah hasil penjualan tanah dan rumah yang tidak dijadikan pada tanah atau rumah.”

 

Musnad Ahmad 1564: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah memberitakan kepada kami Syu’aib dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Husain berkata; telah disampaikan kepadaku bahwa Luqman berkata; “wahai anakku, janganlah kamu belajar ilmu untuk berbangga diri kepada para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh dan untuk diperlihatkan di majlis-majlis.” Lalu Abdullah menyebutkan secara lengkap, kemudian berkata; telah menceritakan kepada kami Naufal bin Musahiq dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya riba yang paling buruk adalah merusak kehormatan seorang muslim tanpa hak, dan sesungguhnya rahim dijalinkan oleh Ar Rahman, barangsiapa yang memutuskannya niscaya Allah mengharamkan baginya syurga.”

 

Musnad Ahmad 1565: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka dia mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena melindungi keluarganya maka dia mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka dia mati syahid.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Abu ‘Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf dari Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: kemudian dia menyebutkan hadits yang sama di atas.

 

Musnad Ahmad 1566: Telah menceritakan kepada kami Al FAdhl bin Dukain telah menceritakan kepada kami Israil dari Ibrahim bin Muhajir telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengar ‘Amru bin Huraits bercerita dari Sa’id bin Zaid berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai orang-orang Arab, pujilah Allah yang telah mengangkat (kewajiban) pajak hasil perdagangan dari kalian.”

 

Musnad Ahmad 1567: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad dari Abdurrahman bin Ishaq dari Az Zuhri dari Muhammad bin jubair bin Muth’im dari Bapaknya dari Abdurrahman bin Auf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Saya menyaksikan peristiwa perjanjian Mutthayyabin bersama paman-pamanku ketika saya masih kecil. Saya tidak suka walaupun saya mendapat unta merah, jika saya harus membatalkan perjanjian tersebut.” Az Zuhri menambahkan; Rasulullah bersabda: “Tidaklah Islam menjumpai satu perjanjian kecuali Islam akan menguatkannya, namun tidak ada lagi perjanjian (yang seperti itu) dalam Islam (karena Islam telah menghapusnya).” dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatukan antara orang-orang Quraisy dengan Anshar.”

 

Musnad Ahmad 1568: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari Makhul dari Kuraib dari Ibnu Abbas bahwa Umar bertanya kepadanya; “Wahai anak muda! apakah kamu mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dari salah seorang sahabat beliau, bahwa jika salah seorang ragu dalam shalatnya, apa yang harus dia lakukan?” Kuraib berkata; Ketika itu datang Abdurrahman bin Auf dan bertanya; “apa yang sedang kalian bicarakan?” Umar menjawab; “Saya bertanya kepada anak muda ini, apakah dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau salah seorang dari sahabat beliau, mengenai seseorang yang ragu dalam shalatnya, apa yang harus dia lakukan?” Abdurrahman berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya dan dia tidak tahu apakah sudah shalat satu raka’at atau dua raka’at maka anggaplah shalat satu raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat dua raka’at atau tiga raka’at maka anggaplah dia shalat dua raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat tiga raka’at atau empat raka’at maka anggaplah tiga raka’at, kemudian sujud dua kali jika selesai shalat ketika masih duduk sebelum salam.”

 

Musnad Ahmad 1569: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dia mendengar Bajalah berkata; Aku seorang juru tulis Jaza’ bin Mu’awiyah, paman Ahnaf bin Qais, kemudian datanglah surat Umar kepada kami setahun sebelum dia wafat, yang berisi: “Bunuhlah setiap tukang sihir laki laki..” -dan terkadang Sufyan menyebutkan; “Dan tukang sihir perempuan.”- “dan pisahkan setiap orang (suami istri) yang semahram dari kalangan Majusi, serta larang mereka mengucapkan zamzamah” Maka kami membunuh tiga orang tukang sihir dan kami memisahkan antara laki-laki (yang beristrikan) mahramnya dengan kitabullah. Jaza’ juga membuat makanan dalam jumlah besar, kemudian dia menghunuskan pedang di pahanya lalu memanggil orang Majusi, mereka menyerahkan bawaan sepenuh keledai atau dua keledai dari perak, dan mereka makan tanpa mengucapkan zamzamah. Umar tidak mengambilnya. -Sufyan berkata; “…memungut jizyah dari orang Majusi sampai Abdurrahman bin Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memungut dari orang-orang Majusi hajar.” Bapakku berkata; Sufyan menerangkan; “Bajalah berhaji bersama Mush’ab pada tahun ke tujuh puluh hijriyah.”

 

Musnad Ahmad 1570: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Az Zuhri dari Malik bin Aus saya mendengar Umar radliallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman, Thalhah, Az Zuhair, dan Sa’d; “Demi Allah, yang dengan-Nya langit dan bumi tegak.-Sufyan berkata; “Demi yang dengan izinnya (langit dan bumi) tegak”- Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Mereka menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 1571: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam Ad Dastuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Ibrahim bin Abdullah bin Farizh bahwa bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa dia menemui Abdurrahman bin Auf ketika sedang sakit. Abdurrahman berkata kepadanya; “ar rahim telah menyambungmu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku adalah Ar Rahman yang telah menciptakan rahim dan Aku jadikan kata itu pecahan dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya dan memotongnya.” atau dalam riwayat lain Allah berfirman: “Barangsiapa memotongnya maka aku akan memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 1572: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Al FAdhl telah menceritakan kepada kami An Nadhr bin Syaiban berkata; aku bertemu dengan Abu Salamah bin Abdurrahman kemudian aku berkata; “Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu yang telah kamu dengar dari bapakmu, yang dia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (satu hadits) berkaitan dengan bulan Ramadhan!” Dia menjawab; “Ya, telah menceritakan kepadaku bapakku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah ‘azza wajalla telah mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan, dan aku telah membuat sunnah untuk shalat malamnya. Barangsiapa berpuasa dan melaksanakan shalat malamnya dengan mengharap pahala dari Allah, niscaya akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

 

Musnad Ahmad 1573: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari ‘Ubaidullah bin Abu Ja’far bahwa Ibnu Qarizh mengabarinya dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.”

 

Musnad Ahmad 1574: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Manshur bin Salamah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid bin Al Had dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Abu Al Huwairits dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari Abdurrahman bin Auf berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kemudian aku mengikuti beliau, ketika beliau masuk ke kebun kurma, beliau bersujud dengan memanjangkannya sehingga membuatku takut atau khawatir jika Allah mewafatkan atau mencabut ruhnya. Maka aku mendekati beliau dan memperhatikannya, tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya, lalu bertanya: “ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” saya pun menerangkan hal itu kepada beliau, dan beliau menjawab; “Jibril ‘Alaihiis salam berkata kepadaku: ‘Apakah kamu mau aku sampaikan kabar gembira kepadamu, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman kepadamu: ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu, niscaya Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu niscaya aku akan mengucapkan salam kepadanya.” Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid dari ‘Amru dari Abdurrahman Abu Al Huwairits dari Muhammad bin Jubair dari Abdurrahman bin Auf berkata; “Aku masuk masjid dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari masjid, kemudian aku mengikutinya.., ” kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap.

 

Musnad Ahmad 1575: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Abdul Wahid bin Muhammad bin Abdurrahman bin Auf dari Abdurrahman bin Auf berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju ke arah tempat shalatnya, setelah beliau masuk, beliau menghadap kiblat dan tersungkur sujud. Beliau memanjangkan sujudnya sampai saya mengira bahwa Allah Azza Wa Jalla telah mencabut nyawa beliau pada saat itu. Maka aku pun mendekati beliau dan duduk, tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya dan bertanya: “Siapa kamu?” aku menjawab; “Abdurrahman bin Auf.” Beliau bertanya; “Ada apa?” aku menjawab; “Wahai Rasulullah, anda melakukan sujud yang saya khawatir bahwa Allah telah mencabut nyawa anda pada saat itu.” Beliau bersabda: “Jibril ‘Alaihis salam mendatangiku dan menyampaikan kabar gembira kepadaku, dia berkata bahwa Allah telah berfirman; ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu niscaya Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu niscaya aku akan mengucapkan salam kepadanya.’ Maka saya bersujud kepada Allah Azza Wa Jalla.”

 

Musnad Ahmad 1576: Telah menceritakan kepada kami Haitsam bin Kharijah, Abu Abdurrahman yaitu Abdullah berkata; dan saya mendengarnya dari Al Hutsaim bin Kharijah, telah menceritakan kepada kami Risydin dari Abdullah bin Al Walid bahwa dia mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman menceritakan dari bapaknya, bahwa dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, kemudian beliau pergi untuk menunaikan hajatnya. Mereka mendapati waktu shalat dan akhirnya mereka melaksanakan shalat, Abdurrahman maju (mengimami) mereka, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan shalat bersama orang-orang di belakang Abdurrahman satu raka’at. setelah salam beliau bersabda: “Kalian telah melakukan hal yang benar atau bagus.”

 

Musnad Ahmad 1577: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Hafshah telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas berkata; saya mendengar Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila wabah penyakit sedang menyebar di suatu tempat dan kamu tidak berada di dalamnya, janganlah kalian memasukinya, dan jika kamu di dalamnya maka janganlah kamu keluar darinya.”

 

Musnad Ahmad 1578: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Salamah dari Yazid bin Abdullah bin Qusaith dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf dari Abddurrahman bin Auf; bahwa Suatu kaum dari bangsa Arab menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah dan masuk Islam, kemudian mereka tertimpa wabah penyakit di Madinah berupa sakit panas. Lalu mereka berbalik murtad dan keluar dari Madinah, maka sekelompok orang dari sahabat beliau, yaitu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyusul mereka dan bertanya; “Kenapa kalian kembali menjadi murtad?” mereka menjawab; “Kami terkena wabah penyakit Madinah, Madinah tidak cocok bagi kami.” Para sahabat berkata; “Bukankah sudah ada contoh dari Rasulullah bagi kalian?” maka sebagian sahabat berpendapat bahwa mereka munafiq, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka bukan munafiq tetapi mereka adalah orang-orang muslim. maka turunlah firman Allah ‘azza wajalla: (Maka Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka kepada kekafiran).

 

Musnad Ahmad 1579: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Syarik dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah berkata; “Umar bin Khaththab radliallahu ‘anhu mendengar suara Ibnul Mughtarif atau Ibnul Gharifi yang menggiring untanya di tengah malam saat kami sedang berangkat menuju Makkah. Kemudian Umar mempercepat kendaraannya sehingga dia bisa bersama kaum, dan ternyata dia sedang bersama Abdurrahman bin Auf. Ketika terbit fajar Umar berkata; “bersiap-siaplah sekarang, diam kamu, Fajar telah menyingsing, berdzikirlah kepada Allah.” Abdullah berkata; Umar memperlihatkan dua khuff kepada Abdurrahman dan berkata; “dua khuff?” maka Abdurrahman berkata; “Aku telah memakainya bersama dengan orang yang lebih baik darimu atau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” maka Umar berkata; “Aku sudah bersumpah untukmu, supaya kamu tidak melepaskan keduanya karena aku khawatir orang-orang akan melihatmu kemudian mereka mengikutimu.” Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata; dan telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Syarik kemudian dia menyebutkan dengan sanadnya dan berkata; “Aku telah memakainya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 1580: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari ‘Urwah bahwa Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan bagian untukku dan untuk Umar bin Khaththab tanah ini dan ini, maka Zubair pergi kepada keluarga Umar dan membeli bagian Umar dari mereka. Setelah itu dia pergi kepada Utsman bin Affan dan berkata; “Abdurrahman bin Auf mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan untuknya dan untuk Umar bin Khaththab bagian tanah ini dan ini, dan aku membeli bagian keluarga Umar.” Maka Utsman berkata; “Abdurrahman boleh memberikan persaksiannya yang menguntungkan dirinya ataupun merugikannya.”

 

Musnad Ahmad 1581: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Dhamdham bin Zur’ah dari Syuraih bin ‘Ubaid yang dia sandarkan kepada Malik bin Yukhamir dari Ibnu As Sa’di bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “kewajiban Hijrah tidak akan terputus selama musuh masih memerangi.” maka Mu’awiyah, Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hijrah itu dua macam: yang pertama adalah kamu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Yang kedua adalah kamu berhijrah kepada Allah dan RasulNya. Kewajiban Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan senantiasa diterima sampai matahari terbit dari barat. Jika matahari sudah terbit dari barat maka setiap hati akan distempel dengan apa yang ada di dalamnya, dan manusia sudah tertutup dari amalan.”

 

Musnad Ahmad 1582: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Musa dari Abdurrahman bin Auf berkata; Ketika seorang Majusi keluar dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku bertanya kepada beliau, kemudian beliau mengabariku bahwa beliau memberikan pilihan kepadanya antara membayar Jizyah dan perang, dan ternyata dia memilih membayar Jizyah.”

 

Musnad Ahmad 1583: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, Yusuf bin Ya’qub Al Majisyun dari Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf dari bapaknya dari kakeknya, Abdurrahman bin Auf berkata; Aku berdiri dalam barisan pasukan pada saat Perang Badar, aku melihat ke arah kiri dan ke kanan, ternyata aku berada diantara dua anak Anshar yang masih muda umurnya. Aku membayangkan bahwa diriku lebih kuat dari keduanya. Tiba-tiba salah seorang dari keduanya memberi isyarat kepadaku dan bertanya; “Wahai paman, apakah kamu tahu Abu Jahal?” saya menjawab; “Ya, apa keperluanmu wahai anak saudaraku?” Dia menjawab; “telah sampai kepadaku bahwa dia telah menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya aku melihatnya, niscaya diriku tidak akan meninggalkan dirinya sampai salah seorang di antara kami yang lebih cepat mati.” Kemudian yang lain memberi isyarat kepadaku dan bertanya hal yang sama kepadaku, sehingga aku terheran dengan hal itu.Tidak lama kemudian aku melihat Abu Jahal, dia berputar putar di tengah-tengah kerumunan manusia, maka aku sampaikan kepada keduanya; “Tidakkah kamu lihat, dialah orang yang kalian berdua tanyakan?” Maka keduanya berebutan menghampirinya dan Abu Jahal menyambut keduanya, akan tetapi kedua pemuda tersebut memukulnya sampai keduanya dapat membunuhnya. Lantas keduanya menuju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kepada beliau. Beliau bertanya: “Siapa yang telah membunuhnya.” Masing-masing menjawab; “Saya yang telah membunuhnya.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian telah membersihkan kedua pedang kalian?” Keduanya menjawab; “Belum.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kedua pedang dan berkata; “Keduanya telah membunuhnya.” Kemudian beliau memutuskan bahwa barang-barang milik Abu Jahal untuk Mu’adz bin ‘Amru bin Al Jamuh, dan kedua orang itu adalah Muadz bin ‘Amru bin Jamuh dan Mu’adz bin Afra`.”

 

Musnad Ahmad 1584: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya berkata; telah menceritakan kepadaku seorang pendongeng dari palestina, dia berkata; saya mendengar Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga hal, demi dzat yang jiwa Muhammad ada di tangannya, jika memang aku terpaksa untuk bersumpah; Tidak akan berkurang harta karena sedekah maka bersedekahlah. Tidaklah seorang hamba memaafkan perbuatan kezhaliman karena mengaharap ridha Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya. – Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim berkata; “Kecuali Allah akan menambah kewibawaannya pada Hari Kiamat.-Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kepada orang lain kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran.”

 

Musnad Ahmad 1585: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad Ad Darawardi dari Abdullah bin Humaid dari Bapaknya dari Abdurrahman bin Auf bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar di Syurga, Umar di Syurga, Ali di Syurga, Utsman di Syurga, Thalhah di Syurga, Zubair di Syurga, Abdurrahman bin Auf di Syurga, Sa’d bin Abu Waqqsh di Syurga, Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail di Syurga dan Abu ‘Ubaidah di Syurga.”

 

Musnad Ahmad 1586: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq yaitu Abdurrahman, dari Az Zuhri dari Muhammad bin Jubair dari Bapaknya dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya menyaksikan peristiwa perjanjian Mutthayyabin bersama paman-pamanku ketika masih kecil. Maka saya tidak suka walau saya mendapat unta merah, jika saya harus membatalkan perjanjian tersebut.”

 

Musnad Ahmad 1587: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari Makhul; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya dan dia tidak tahu apakah sudah shalat satu raka’at atau dua raka’at maka anggaplah shalat satu raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat dua raka’at atau tiga raka’at maka anggaplah dia shalat dua raka’at. Jika tidak tahu apakah dia sudah shalat tiga raka’at atau empat raka’at maka anggaplah tiga raka’at, sehingga keraguan terfkus kepada penambahan, kemudian sujud dua kali sebelum salam, kemudian salam.” Muhammad berkata; Husain bin Abdullah bertanya kepadaku; apakah Makhul (menerangkan kepadamu) bahwa menyandarkan kepadanya? Maka aku menjawab; tidak, akan tetapi dia menceritakan kepadaku bahwa Kuraib mantan budak Ibnu Abbas menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas, bahwa berkata; aku duduk di samping Umar bin Al Khaththab, kemudian dia bertanya kepadaku; “Wahai Ibnu Abbas! (apakah kamu pernah mendengar) Apabila seorang lelaki merasa ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu apakah dia lebih atau kurang (dalam hitungan shalatnya)?” Aku menjawab; “wahai amirul mu’minin, saya demi Allah tidak tahu, aku tidak pernah mendengar sedikitpun dalam masalah tersebut.” Ketika kami dalam kondisi itu, datanglah Abdurrahman bin Auf kemudian dan bertanya; “apa yang sedang kalian bicarakan?” Umar menjawab; “kami membicarakan tentang seorang lelaki yang merasa ragu di dalam shalatnya, apa yang harus dia kerjakan?” maka Abdurrahman berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: yaitu hadits ini.

 

Musnad Ahmad 1588: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Yazid secara makna, keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Az Zuhri dari Salim dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah bahwa Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepada Umar bin Khaththab ketika dia dalam perjalanan menuju kota Syam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “sesungguhnya penyakit ini adalah adzab dari Allah terhadap umat umat sebelum kalian. Jika kalian mendengarnya menimpa suatu negeri, janganlah kalian memasukinya. Jika menimpa suatu negri sedangkan kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar lari darinya.” Abdullah bin ‘Amir berkata; “Maka Umar bin Khaththab meninggalkan Syam.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abdul Humaid bin Abdurrahman bin Zaid bin Khaththab dari Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abdullah bin Abbas berkata; “Umar bin Khaththab keluar menuju Syam…” kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap. Ibnu Abbas berkata; Ketika itu Abdurrahman bin Auf tidak ada di tempat, kemudian dia datang dan berkata; “Saya mengetahui Ilmu dalam masalah ini, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengarnya menimpa suatu negri, jangan kalian memasukinya dan jika menimpa suatu negri sedangkan kalian berada di dalamnya, janganlah kalian pergi lari darinya.”

 

Musnad Ahmad 1589: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Ar Raddad Al Laitsi mengabarinya dari Abdurrahman bin Auf bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku adalah Ar Rahman, Aku telah menciptakan ar rahim dan Aku jadikan ar rahim merupakan pecahan dari namaKu. Barangsiapa menyambungnya Aku akan menyambungkannya, dan barangsiapa memutusnya maka Aku akan memutuskannya.”

 

Musnad Ahmad 1590: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abu Hamzah telah menceritakan kepadaku bapakku dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Ar Radad Al Laitsi mengabarinya, dari Abdurrahman bin Auf bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku adalah Ar Rahman, Aku telah menciptakan rahim dan Aku jadikan rahim sebagai pecahan dari namaKu. Barangsiapa menyambungnya Aku akan menyambungkannya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutuskannya.”

 

Musnad Ahmad 1591: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah mengabarkan kepadaku Malik dari Az Zuhri dari Abdullah ‘Amir bin Rabi’ah bahwa Umar bin Khaththab keluar menuju Syam dan ketika sampai di Sargha, sampailah berita bahwa wabah penyakit sedang menyebar di Syam. Maka Abdurrahman bin Auf memberikan kabar kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengarnya sedang menyebar di suatu negri maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan jika sedang menyebar di suatu negri dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar lari darinya.” Maka Umar bin Khaththab meninggalkan Sargha. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah mengabarkan kepadaku Malik dari Az Zuhri dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Umar bin Khaththab dari Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abdullah bin Abbas bahwa Umar bin Khaththab keluar menuju Syam. Ketika dia sampai di Sargha, dia bertemu dengan para komandan pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan para sahabatnya. Kemudian mereka mengabarkan kepadanya bahwa di Syam sedang terjangkit wabah..” lalu dia menyebutkan hadits secara lengkap. Ibnu Abbas berkata; kemudian Abdurrahman bin Auf datang, yang sebelumnya tidak ada di tempat karena melaksanakan keperluannya. Dia berkata; Aku mempunyai pengetahuan mengenai hal itu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika penyakit itu sedang menjangkiti di suatu negri dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar lari darinya, dan jika kalian mendengarnya menjangkiti di suatu negri maka janganlah kalian memasukinya.” Umar bertahmid lalu meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 1592: Telah menceritakan kepada kami Abu Al ‘Ala` Al Hasan bin Sawwar telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d dari Az Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf dari Abdurrahman bin Auf berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengar wabah sedang menjangkiti di suatu negri sedangkan kalian tidak berada di dalamnya maka jangan memasukinya, dan jika wabah sedang menjangkiti dan kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya.”

 

Musnad Ahmad 1593: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar dari Bajalah At Tamimi berkata; Umar tidak ingin memungut jizyah dari orang-orang Majusi sampai Abdurrahman bin ‘Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar.

 

Musnad Ahmad 1594: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah berkata; Abu Ar Raddad mengeluhkan sakit, kemudian Abdurrahman bin Auf menjenguknya. Abu Raddad berkata; sepanjang sepengetahuanku orang yang paling baik dan paling menyambung silaturrahim adalah Abu Muhammad, maka Abdurrahman bin Auf berkata; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Aku adalah Allah, dan aku adalah Ar Rahman, aku telah menciptakan rahim, aku jadikan rahim pecahan kata dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya dan memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 1595: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abu Katsir dari Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh bahwa bapaknya menceritakan kepadanya, bahwa dia menemui Abdurrahman bin Auf ketika dia sedang sakit. Lalu Abdurrahman berkata; rahim telah menyambungmu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Aku adalah Ar Rahman (Maha PeMurrah), dan Aku telah menciptakan rahim. Aku jadikan rahim pecahan dari namaKu. Barangsiapa menyambungnya maka aku akan menyambungnya. Barangsiapa memutusnya maka aku akan memutuskannya.” Atau dalam riwayat lain; “Allah berfirman: “Barangsiapa memotongnya niscaya Aku akan memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 1596: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais dari Nashr bin ‘Ali Al jahdlami dari An Nadhr bin Syaibhan Al Hudani dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; “Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu yang telah kamu dengar dari bapakmu, yang dia dengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” Dia menjawab; jika Ramadhan datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah ‘azza wajalla mewajibkan puasa, dan aku aku telah membuat sunnah untuk shalat malamnya bagi kaum muslimin. Barangsiapa berpuasa karena mengharap pahala dari Allah, niscaya dosa-dosa akan keluar seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

 

Musnad Ahmad 1597: Abu bakar Ahmad bin Ja’far bin Himdan bin Malik berkata; Abu Abdurrahman berkata; Saya mendapatkan hadits ini pada kitab bapakku dengan tulisan dia sendiri; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid dari Isma’il bin Muslim dari Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa dia bermudzakarah (saling tukar ilmu) dengan Umar berkaitan dengan masalah shalat, kemudian Abdurrahman bin Auf mereka mereka dan menjelaskan masalah tersebut, dia berkata; “Maukah aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” mereka menjawab; “Ya ” maka dia berkata; Aku bersaksi bahwa aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat kemudian dia ragu apakah dia kurang dalam shalatnya, maka laksanakanlah shalat sampai dia ragu bahwa shalatnya lebih.” Hadits terakhir Abdurrahman bin Auf

 

Musnad Ahmad 1598: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ar Rabi’ Abu Khidasy telah menceritakan kepada kami Washil mantan budak Abu ‘Uyainah, dari Basysyar bin Saif Al Jarmi dari ‘Iyadh bin Ghuthaif berkata; Kami menemui Abu Ubaidah bin Al Jarrah untuk menjenguknya karena sakit yang menimpanya, sedangkan istrinya Tuhaifah duduk di dekat kepalanya. Aku bertanya; “Bagaimana kondisi Abu Ubaidah tadi malam?” istrinya menjawab; “Demi Allah! dia melewati malamnya dengan mendapatkan pahala.” Abu Ubaidah berkata; “Aku melewati malam dengan tidak mendapatkan pahala.” sebelumnya dia menghadapkan wajahnya ke tembok, lalu menghadap kepada orang-orang. Dia berkata lagi; “Tidakkah kalian menanyakan tentang apa yang baru aku katakan?” Mereka menjawab; “sungguh sangat menggelitik kami perkataanmu tadi sehingga kami harus menanyakannya kepadamu.” Dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menginfaqkan hartanya yang utama di jalan Allah, maka baginya tujuh ratus pahala, dan barangsiapa memberikan nafkah untuk dirinya dan keluarganya atau menjenguk orang yang sakit atau menyingkirkan duri maka satu kebaikan baginya dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat yang semisalnya. Puasa adalah benteng selama tidak merusaknya (dengan maksiat), dan barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu ujian di tubuhnya maka baginya dihapuskan dosanya”.”

 

Musnad Ahmad 1599: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Samurah bin Jundub dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah berkata; Akhir perkataan yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Keluarkan orang Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah Arab, dan ketahuilah bahwa orang yang paling buruk diantara manusia adalah mereka yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.”

 

Musnad Ahmad 1600: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khalid dari Abdullah bin Syaqiq dari Abdullah bin Suraqah dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau menyebutkan tentang Dajjal, lalu beliau merincikan dengan ciri cirinya yang aku tidak dapat mengingatnya.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah bagaimana hati kami ketika itu, apakah seperti hari ini?” beliau menjawab; “Atau (bisa jadi) lebih baik.”

Sumber: http://www.lidwa.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: