Musnad Ahmad: 2001-3000

Musnad Ahmad 2001: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin As Sari Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah tidak pernah memerangi suatu kaum pun kecuali beliau menyeru mereka (kepada Islam).”

 

Musnad Ahmad 2002: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dan Rauh berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Qasim bin ‘Abbas dari Abdullah bin Umair mantan budak Ibnu ‘Abbas dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku masih hidup.” Rauh berkata; “Seandainya aku selamat sampai tahun depan niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” Maksudnya adalah puasa ‘Asyura`.

 

Musnad Ahmad 2003: Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: “Al Hanifiyyah As Samhah (yang lurus lagi toleran) ”

 

Musnad Ahmad 2004: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dan Ibnu Ja’far berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam di kepalanya saat beliau sedang ihram.” Yazid berkata; “Karena penyakit yang ada pada beliau.”

 

Musnad Ahmad 2005: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia sedang baju perangnya digadaikan kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sho’ gandum. Beliau mengambil gandum itu untuk menafkahi keluarganya.”

 

Musnad Ahmad 2006: Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam. Dan Ibnu Ja’far berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus atau Al Qur`an diturunkan kepada beliau saat beliau berusia empat puluh tahun. Beliau menetap di Makkah tiga belas tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun.” Ibnu ‘Abbas berkata; “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal saat beliau berusia enampuluh tiga tahun.”

 

Musnad Ahmad 2007: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memerdekakan budak yang datang kepadanya sebelum (hal itu dilakukan) oleh tuan tuan mereka, jika mereka telah masuk Islam. Beliau pernah memerdekakan dua orang budak pada hari penaklukan kota Tha`if.”

 

Musnad Ahmad 2008: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Al Minhal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan berdoa: “Aku memintakan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari segala mata yang jahat/hasad.” Beliau juga mengatakan, “Bahwa Ibrahim adalah bapakku dia mendoakan perlindungan untuk Isma’il dan Ishaq.”

 

Musnad Ahmad 2009: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Husain dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Seseorang telah bermimpi maka ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Sesungguhnya aku telah bermimpi seakan akan ada gumpalan awan mengalirkan madu dan minyak samin, lalu manusia ada yang mengambilnya banyak, ada yang sedikit dan ada yang tengah-tengah saja. Dan seakan akan ada tali yang menghubungkan ke langit.” Yazid berkata lagi; “Seakan akan ada tali yang memberi petunjuk kepadaku dari langit, maka engkau datang mengambilnya dan naik lalu Allah mengangkatmu. Kemudian datang seseorang setelahmu mengambilnya dan naik maka Allah mengangkatnya, datang lagi seseorang setelah kalian berdua lalu ia mengambilnya dan naik maka Allah mengangkatnya, kemudian datang seseorang setelah kalian lalu mengambilnya dan diputus lalu disambungkan kepadanya dan ia naik maka Allah menaikkannya.” Abu Bakar berkata; “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, izinkan aku untuk mentakwilkannya.” Maka beliau mengizinkannya, kemudian ia berkata; “Adapun gumpalan awan itu adalah Islam sedangkan madu dan minyak samin itu adalah kelezatan Al Qur`an, maka ada yang merasakan banyak, sedikit dan di antara itu. Adapun tali yang engkau dengannya naik maka Allah mengangkatmu kemudian seseorang setelahmu, berada di atas manhaj (jalan hidup) mu, ia naik maka Allah mengangkatnya. Lalu datang seseorang setelah kalian berdua mengambil seperti yang engkau ambil maka ia naik dan Allah mengangkatnya. Kemudian setelah kalian datang seseorang yang diputuskan (talinya) lalu disambung lagi, maka ia naik dan Allah mengangkatnya.” Abu Bakar berkata; “Ya Rasulullah apakah (takwil) ku benar?” beliau menjawab: “Engkau benar dan engkau juga salah.” Ia berkata; “Ya Rasulullah aku bersumpah agar engkau mengabarkannya kepadaku.” beliau menjawab: “Janganlah kamu bersumpah.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian menyebutkan (yang sama) maknanya.”

 

Musnad Ahmad 2010: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dan Muhammad berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ini adalah umrah tamattu’ bagi kami, maka barangsiapa yang tidak memiliki hewan untuk disembelih hendaklah bertahallul, umrah ini telah masuk ke dalam ritual haji sampai hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 2011: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Sa’id bin Khalid dari Isma’il bin Abdurrahman bin Dzu`aib dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada para sahabat yang sedang duduk. Beliau bersabda: “Maukah aku ceritakan kepada kalian orang yang paling baik tempat tinggalnya?” Mereka menjawab; “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Seseorang yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah sampai ia mati atau terbunuh. Maukah aku kabarkan orang yang memiliki kedudukan berikutnya?” Mereka menjawab; “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Seseorang yang mengasingkan diri di atas lembah, terus mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan memisahkan diri dari kejahatan manusia. Maukah aku kabarkan kepada kalian orang yang paling buruk tempat tinggalnya?” Mereka menjawab; “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu orang yang diminta dengan (menyebut nama) Allah tetapi ia tidak memberikannya.”

 

Musnad Ahmad 2012: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Mis’ar bin Kidam dari ‘Amru bin Murrah dari Salim bin Abu Al Ja’d dari saudaranya dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kulit bangkai. Beliau bersabda: “Sesungguhnya penyamakan telah menghilangkan busuk, kotor dan najisnya.”

 

Musnad Ahmad 2013: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Mis’ar bin Kidam dari ‘Amru bin Murrah dari Salim bin Abu Al Ja’d dari saudaranya dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; sesungguhnya beliau melakukan thawaf di Ka’bah dengan mengendarai untanya, mencium hajar aswad dengan tongkatnya, dan (tawaf) antara Shafaa dan Marwah. Yazid berkata lagi, “Beliau di atas kendaraan (unta) nya mencium Hajar Aswad.”

 

Musnad Ahmad 2014: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Husain bin Dzakwan dari ‘Amru bin Syu’aib dari Thawus bahwa Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah halal bagi seseorang memberi pemberian kemudian menariknya kembali kecuali orang tua yang memberi sesuatu kepada anaknya. Permisalan orang yang memberikan sesuatu kemudian menarik kembali seperti anjing yang makan sampai kenyang lalu muntah kemudian anjing itu kembali memakan muntahannya.” Perawi berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari Thawus dari Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda seperti yang telah disebutkan di atas.

 

Musnad Ahmad 2015: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Sa’id dari Qotadah dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kepada orang yang mendatangi isterinya dalam keadaan haidl dengan bersedekah satu dinar atau setengahnya.” Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab dari Sa’id dari Qotadah dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas, dan diriwayatkan oleh Abdul Karim Abu Umayyah seperti itu dengan sanadnya.

 

Musnad Ahmad 2016: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang meniru wanita (banci) dan wanita yang meniru laki-laki (tomboy), beliau bersabda: “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan fulan, dan Umar juga mengeluarkan fulan.

 

Musnad Ahmad 2017: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Awanah Telah menceritakan kepada kami Bukair bin Al Akhnas dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas; “Allah ‘azza wajalla mewajibkan shalat lewat lisan Nabi kalian kepada orang yang menetap dengan empat raka’at dan musafir dua raka’at dan kepada orang yang takut satu raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2018: Telah menceritakan kepada kami Yazid yakni Ibnu Harun telah mengabarkan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk bersiwak sehingga aku menyangka atau mengira akan diturunkan ayat Al Qur`an tentangnya.”

 

Musnad Ahmad 2019: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammam bin Yahya Telah menceritakan kepada kami ‘Atho` dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Ka’bah dan di dalamnya terdapat enam tiang, maka beliau berdiri pada setiap tiang namun tidak melaksanakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 2020: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ketika Utsman bin Mazh’un meninggal dunia, isterinya berkata; Selamat bagimu wahai Ibnu Mazh’un di surga. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya dengan pandangan benci seraya bersabda; “Apa yang membuatmu tahu?” Ia berkata; “Ya Rasulullah dia adalah penunggang kudamu dan sahabatmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah, namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.” Maka orang-orang merasa kasihan terhadap Utsman. Ketika Zainab anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bertemulah engkau dengan pendahulu kami yang shalih, yaitu Utsman bin Mazh’un.” Maka para wanitapun menangis, sehingga Umar memukul mereka dengan cambuknya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahannya dan bersabda: “Tahanlah hai Umar.” Kemudian beliau melanjutkan: “Menangislah kalian, hindarilah teriakan setan.” Kemudian beliau bersabda: “Apa yang terlahir dari hati dan mata, maka itu dari Allah dan kasih sayang, adapun yang terlahir dari tangan dan lisan, maka itu dari setan.”

 

Musnad Ahmad 2021: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah. Al Juhfah sebagai miqat bagi penduduk Syam, Qarn sebagai miqat bagi penduduk Najed dan Yalamlam sebagai miqat bagi penduduk Yaman.” Dia (Ibnu ‘Abbas) berkata; “Semua itu adalah (miqat) bagi penduduknya dan orang-orang yang melewati (tempat tersebut) dari selain penduduknya, yaitu orang-orang yang hendak mengerjakan haji dan umrah. Adapun jika tempat tinggalnya di luar miqat-miqat tersebut maka memulainya dari tempatnya, hingga penduduk Makkah (memulainya) dari tempat tinggalnya.”

 

Musnad Ahmad 2022: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dari Ya’la bin Hakim dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ma’iz bin Malik ketika dia datang dan menyatakan bahwa ia telah berzina: “Mungkin engkau hanya mencium atau menyentuhnya saja.” Ia berkata; “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah engkau telah memasukkannya?” ia menjawab; “Ya.” Maka beliau menyuruh untuk merajamnya.

 

Musnad Ahmad 2023: Telah menceritakan kepada kami Yazid Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Rustum Abu Amir dari Abdullah bin Abu Mulaikah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Shalat subuh telah didirikan, lalu seseorang melaksanakan shalat dua raka’at, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menarik bajunya dan bertanya: “Apakah kamu melaksanakan shalat subuh empat raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2024: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami ‘Abbad bin Manshur dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ketika turun ayat: (Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya) ” Sa’d bin Ubadah, -dia adalah pemimpin orang-orang Anshar berkata; “Apakah demikian ayat itu diturunkan ya Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Wahai sekalian kaum Anshar, apakah kalian tidak mendengar apa yang pemimpin kalian katakan?” Mereka menjawab; “Ya Rasulullah, janganlah engkau mencela dia, (karena) sesungguhnya dia itu adalah lelaki pencemburu. Demi Allah, dia tidak pernah menikah kecuali dengan seorang gadis, dan dia pun tidak pernah menceraikan isterinya, karena dia itu sangat pencemburu.” Sa’d berkata; “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tahu bahwa ayat itu benar, dan bahwa ia bersumber dari Allah. Namun aku benar benar merasa heran jika aku (sampai) menemukan wanita yang terkutuk itu digauli seorang lelaki, (tapi) aku tidak berhak marah dan mengusir lelaki itu, hingga aku bisa menghadirkan empat orang saksi. Demi Allah, aku tidak akan bisa menghadirkan mereka hingga lelaki itu telah menyelesaikan hajatnya.” Ia (Ibnu ‘Abbas) berkata; Tidak lama kemudian Hilal bin Umayyah datang. Dia adalah salah satu dari tiga orang yang diperintahkan untuk bertaubat. Dia datang (ke keluarganya) dari kampung halamannya pada sore hari, lalu dia menemukan seorang lelaki sedang berada di dekat keluarganya. Dia melihat dengan kedua matanya dan mendengar dengan kedua telinganya. Namun dia tidak berhak marah kepada lelaki itu sampai keesokan harinya. Maka dia berangkat pagi-pagi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kemarin sore aku mendatangi keluargaku, lalu aku menemukan seorang lelaki sedang berada di dekat isteriku. Aku melihat dengan mataku dan aku (juga) mendengar dengan telingaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak senang dengan berita yang dibawa oleh Hilal dan berita itu pun terasa berat bagi beliau. Sementara itu, orang-orang Anshar telah berkumpul, lalu mereka berkata; “Sesungguhnya kita telah mendapat cobaan dengan sesuatu yang telah dikatakan oleh Sa’d bin Ubadah. Sekarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memukul Hilal bin Umayyah dan membatalkan kesaksiannya di hadapan kaum Muslimin.” Hilal berkata; “Demi Allah, aku berharap Allah akan memberikan jalan keluar bagiku dari istriku.” Hilal berkata lagi; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar benar melihat Sesutu yang terasa berat bagimu (itu), (yaitu) berupa berita yang aku bawa. Allah Maha Mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah orang yang jujur.” Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memerintahkan untuk memukul Hilal, sebab Allah pasti akan menurunkan wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal jika wahyu sedang turun kepada beliau, mereka mengetahui hal itu melalui perubahan kulit beliau yang menjadi abu-abu/gelap. Maksudnya mereka tidak mengganggu beliau hingga selesai dari (menerima) wahyu. Maka turunlah ayat: ” (Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah) ” sampai akhir ayat. Maka terbukalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda: “Berbahagialah wahai Hilal, (karena) sesungguhnya Allah telah menjadikan kelapangan dan jalan keluar bagimu.” Hilal menjawab; “Sesungguhnya aku memang mengharapkan itu dari Tuhanku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kirimlah surat (oleh kalian) kepada wanita itu (istri Hilal).” Para sahabat kemudian mengirimkan surat kepada wanita itu dan wanita itu pun datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian membacakan ayat di atas kepada Hilal bin Umayyah dan istrinya. Beliau juga mengingatkan dan mengabarkan kepada keduanya, bahwa siksa akhirat itu lebih keras daripada siksa dunia. Hilal berkata; “Demi Allah, ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah jujur atas hal itu.” Istri Hilal menjawab; “Dia berdusta.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” (Bacakanlah kalimat) li’an oleh kalian kepada keduanya.” Dikatakan kepada Hilal, “Bersaksilah.” Lalu Hilal bersaksi dengan empat kesaksian dengan menyebut nama Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Ketika sampai yang kelima dikatakan (kepada Hilal); “Wahai Hilal, takutlah engkau kepada Allah, karena sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat. Dan sesungguhnya ini adalah (salah satu) faktor yang mewajibkan (adanya) siksaan bagimu.” Hilal menjawab; “Demi Allah, Allah tidak akan menyiksaku karena dia (istrinya), sebagaimana Dia pun tidak akan menderaku (karena) wanita ini.” Hilal kemudian bersaksi untuk yang kelima, bahwa laknat Allah akan menimpa dirinya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Setelah itu dikatakan kepada istri Hilal; “Bersaksilah empat kali dengan menyebut nama Allah, bahwa sesungguhnya dia (Hilal) termasuk orang-orang yang berdusta. Dan bahwa ini merupakan faktor yang mewajibkan adanya siksaan bagimu.” Istri Hilal terdiam sejenak kemudian dia berkata; “Demi Allah, aku tidak akan menghancurkan kaumku.” Istri Hilal kemudian bersaksi yang kelima bahwa siksa Allah akan menimpa dirinya jika Hilal termasuk orang-orang yang benar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan mereka berdua dan memutuskan bahwa anaknya tidak boleh dipanggil dengan menyertakan nama bapaknya, istrinya tidak lagi dituduh dan tidak menuduh anaknya. Siapa yang menuduh wanita itu atau anaknya dengan zina, maka ia akan mendapatkan hukuman. Beliau juga memutuskan bahwa Hilal tidak wajib memberikan tempat tinggal dan makanan kepada istrinya karena mereka berpisah bukan atas jalan cerai atau ditinggal mati. Rasulullah bersabda: “Jika wanita itu melahirkan anak yang (berkulit) merah kekuning-kuningan, pantatnya kecil dan kedua betisnya kecil, maka dia adalah anak dari Hilal. Namun jika ia melahirkan anak yang (berkulit) coklat, keriting, anggota tubuhnya besar dan kedua betisnya besar, maka dia adalah anak orang yang tertuduh itu.” Lalu istri Hilal melahirkan (anak) yang (berkulit) coklat, keriting, anggota tubuhnya besar, kedua betisnya besar dan kedua pantatnya besar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya tidak karena sumpah, niscaya antara aku dan wanita itu akan ada sesuatu.” Ikrimah berkata; “Maka setelah itu anak tersebut menjadi pemimpin di daerah Mesir, dia dipanggil dengan menyertakan nama ibunya bukan nama bapaknya.”

 

Musnad Ahmad 2025: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam Ad-Dustuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Sallam dari Al Hakam bin Mina` dari Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas, bahwa keduanya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; bahwa beliau bersabda saat beliau berada di atas mimbar: “Hendaklah suatu kaum meninggalkan kebiasaan meninggalkan Jum’at atau Allah ‘azza wajalla akan mengunci mati hati mereka dan akan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang lalai.”

 

Musnad Ahmad 2026: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Farqad As Sabakhi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas; bahwa seorang perempuan datang dengan anaknya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Ya Rasulullah sesungguhnya ia memiliki penyakit gila dan (penyakit) itu menyerangnya saat dia makan, sehingga dia merusak makanan kami.” Ibnu ‘Abbas berkata; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap dadanya dan berdoa. Maka anak itu pun muntah lalu keluar dari tubuhnya seperti anak anjing berwarna hitam lalu ia sembuh.”

 

Musnad Ahmad 2027: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah mengabarkan kepada kami Hammam Telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas sesungguhnya ‘Uqbah bin ‘Amir bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; bahwa saudarinya pernah bernazar (untuk berhaji) ke Ka’bah dengan berjalan. Kemudian (Uqbah) mengadu kepada beliau tentang kondisinya yang lemah.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan nazar saudaramu, maka hendaklah ia berkendaraan dan menyembelih seekor unta.”

 

Musnad Ahmad 2028: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz Telah menceritakan kepada kami Hajib bin Umar Telah menceritakan kepada kami pamanku Al Hakam bin Al A’raj berkata; aku datang kepada Ibnu ‘Abbas saat ia bersandar di dekat sumur zamzam, lalu aku duduk dekatnya, dan dia adalah teman duduk yang paling baik. Aku berkata kepadanya; “Beritahukanlah kepadaku tentang hari ‘Asyura`.” Dia berkata; “Tentang hal apakah engkau bertanya?” aku menjawab; “Tentang puasanya.” Dia berkata; “Jika kamu melihat hilal pada bulan Muharram maka hitunglah, jika engkau memasuki pagi hari tanggal sembilan, maka masuklah dalam keadaan berpuasa.” Aku bertanya; “Seperti itukah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa?” ia menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 2029: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; “Aku mendengar Laits berkata; aku mendengar Thawus bercerita dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Ajarilah (orang lain) dan mudahkanlah serta jangan mempersulit, jika salah seorang di antara kalian marah maka hendaklah dia diam.”

 

Musnad Ahmad 2030: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yazid Abu Khalid berkata, aku mendengar Al Minhal bin ‘Amru bercerita dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba muslim menjenguk orang sakit sebelum datang kematiannya, kemudian mengatakan; AS`ALULLAH AL ‘ADLIM RABBI AL ‘ARSYI AL ‘AZHIM AN YASYFIYAKA (aku memohon kepada Allah yang Maha Agung Penguasa ‘Arsy Yang Mulia, agar Dia menyembuhkanmu), sebanyak tujuh kali kecuali ia akan disembuhkan.”

 

Musnad Ahmad 2031: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Al Minhal bin ‘Amru dari Abdullah bin Al Harits dari Ibnu ‘Abbas, Abu Mu’awiyah berkata; Aku memperkirakannya ia memarfu’kan hadits ini, lalu berkata; “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit kemudian berdoa; AS`ALULLAH AL ‘AZHIM RABBI AL ‘ARSYI AL ‘ADLIM AN YASYFIYAKA (aku memohon kepada Allah yang Maha Agung Penguasa ‘Arsy Yang Agung, agar menyembuhkan penyakitmu) sebanyak tujuh kali, niscaya Allah akan menyembuhkannya jika ia ditangguhkan yakni ajalnya.” Dan telah bercerita kepadaku Yazid ia tidak ragu mengenai status ma’ruf hadits ini dan ia sepakat terhadap sanadnya.

 

Musnad Ahmad 2032: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammam dari Qotadah dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Uqbah bin Amir datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu menyebutkan bahwa saudarinya telah bernazar menuju Ka’bah dengan berjalan, maka beliau bersabda: “Perintahkan saudarimu untuk berkendaraan dan menyembelih seekor unta.”

 

Musnad Ahmad 2033: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr berkata; Aku mendengar Sa’id bin Jubair bercerita dari Ibnu ‘Abbas; bahwa ada seorang perempuan bernazar untuk berhaji lalu ia meninggal, maka datanglah saudaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya masalah tersebut. Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu seandainya saudarimu berhutang, apakah kamu akan melunasinya?” ia menjawab; “Benar.” Beliau bersabda: “Lunasilah (hutang) kepada Allah ‘azza wajalla karena itu lebih berhak untuk ditepati.”

 

Musnad Ahmad 2034: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Rauh mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah, Rauh berkata; Aku mendengar Muslim Al Qurri. Muhammad berkata; dari Muslim Al Qurri, ia berkata; Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berniat menunaikan umrah dan sahabatnya berniat untuk haji.” Rauh berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya berniat menunaikan haji, maka orang yang tidak membawa hewan sembelihan diharuskan bertahallul (mencukur rambut).” Dan di antara orang yang tidak membawa hewan sembelihan adalah Thalhah dan seseorang, kemudian mereka berdua bertahallul.”

 

Musnad Ahmad 2035: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Yahya bin Al Mujabbir At Taimi bercerita dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Ibnu ‘Abbas; bahwa seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata; “Bagaimana pendapatmu tentang seorang yang membunuh orang lain dengan sengaja.” Dia berkata; “Balasannya adalah Neraka Jahannam, kekal di dalamnya, ia akan mendapatkan kemurkaan dan laknat dari Allah, serta akan disediakan baginya adzab yang besar.” Dia berkata; “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan pada bagian akhir ayat yang diturunkan. Tidak ada sesuatu pun yang menghapus ayat ini sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal. Dan tidak diturunkan wahyu setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ia berkata; “Bagaimana pendapatmu jika ia bertaubat dan beriman serta beramal shalih kemudian ia mendapatkan petunjuk.” Ibnu ‘Abbas berkata; “Bagaimana mungkin orang itu akan bertaubat, sementara aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celakalah dia, yaitu seorang yang membunuh orang lain secara sengaja. Orang yang dibunuh itu akan datang pada hari kiamat sambil membawa pembunuhnya dengan tangan kanan atau tangan kirinya, dan seraya membawa kepalanya dengan tangan kanan atau tangan kirinya, sedang urat di sekitar lehernya mengalirkan darah. Di depan ‘Arsy, dia berkata; “Ya Tuhan, tanyakan kepada hamba-Mu ini mengapa dia membunuhku?”

 

Musnad Ahmad 2036: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yahya Abu Umar berkata; mereka menyebutkan tentang Nabidz dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dituangkan nabidz (minuman fermentasi dari kurma) dalam sebuah cangkir.” Syu’bah berkata; “Seperti dibuatkan malam senin, maka beliau meminumnya pada hari senin dan selasa sampai waktu ashar. Jika minuman itu lebih, beliau memberikannya kepada pembantu atau membuangnya.” Syu’bah berkata; “Aku tidak menduga Ibnu ‘Abbas kecuali mengatakan; “Dan hari rabu sampai waktu Ashar. Jika minuman itu lebih, maka beliau memberikannya kepada para pembantu atau membuangnya.”

 

Musnad Ahmad 2037: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Adi bin Tsabit dan ‘Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. (Syu’bah) berkata; “Salah satu dari keduanya memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Jibril memasukkan tanah ke dalam mulut Fir’aun karena khawatir ia akan mengucapkan kalimat Lailaaha Illallah.”

 

Musnad Ahmad 2038: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesungguhnya beliau bersabda: “Sesungguhnya pemesanan janin unta yang ada dalam kandungan adalah riba.”

 

Musnad Ahmad 2039: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Habib yakni Ibnu Syahid dari Abdullah bin Abu Mulaikah berkata; Aku menyaksikan Ibnu Zubair dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Zubair berkata kepada Ibnu ‘Abbas; “Apakah kamu ingat saat kita menjemput Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau kembali dari bepergian.” Ia menjawab; “Ya, dan beliau menggendongku dan si fulan yang masih kecil dari Bani Hasyim dan beliau meninggalkanmu.”

 

Musnad Ahmad 2040: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan masuk kepada kalian seseorang yang melihat dengan mata setan atau dua mata setan.” Ibnu ‘Abbas berkata; “Maka masuklah seorang (bermata) biru dan ia berkata; “Ya Muhammad, apa yang mendasarimu mencela, mencaciku atau semisalnya?” ia (Ibnu ‘Abbas) berkata; “Dia lalu bersumpah. Kemudian turunlah ayat ini dalam surat Al Mujaadilah: (Mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka Mengetahui.) dan ayat yang lain.”

 

Musnad Ahmad 2041: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda tentang Dajjal: ” (Dajjal) buta sebelah, putih dan berkilau, seolah kepalanya adalah (kepala) ular, dan (dia) adalah orang yang paling mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Jika dia itu celaka dan sesat, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” Syu’bah berkata; “Maka aku menceritakan hadits ini kepada Qotadah dan dia pun menceritakan hadits seperti ini kepadaku.”

 

Musnad Ahmad 2042: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah bercerita kepadaku bapakku dari Qotadah dari Ikrimah dari Abdullah bin ‘Abbas; bahwa seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Nabi Allah, saya adalah orang yang sudah tua renta yang sakit sakitan, sulit bagiku untuk berdiri, maka perintahkan kepadaku dengan satu malam semoga Allah menetapkanku bertemu dengan malam lailatul qodar.” Beliau bersabda: ” (Beribadahlah) pada malam ketujuh.”

 

Musnad Ahmad 2043: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah; aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di depanku dan saat itu aku sedang bermain dengan dua anak kecil, kemudian aku bersembunyi di balik pintu, maka beliau memanggilku dan memukulku dengan telapak tangannya lalu beliau mengutusku kepada Mu’awiyah.”

 

Musnad Ahmad 2044: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berpuasa, hingga kami berkata beliau tidak ingin berbuka. Dan ketika berbuka, hingga kami berkata beliau tidak ingin berpuasa. Namun beliau tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain puasa Ramadlan sejak berada di Madinah.”

 

Musnad Ahmad 2045: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas; bahwa ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berniat untuk pergi haji, tatkala datang, beliau berthawaf di Ka’bah dan antara Shafaa dan Marwah, namun beliau tidak memendekkan rambut dan juga tahallul karena memiliki hewan kurban. Dan beliau menyuruh kepada siapa yang tidak membawa hewan kurban untuk melakukan thawaf, sa’i, memendekkan atau memotong rambut kemudian bertahallul.

 

Musnad Ahmad 2046: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Jabir Al Ju’fi Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ali dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kuali (berisi daging), lalu beliau mengambil tulang dan bahu dan memakannya, lalu beliau shalat tanpa berwudlu lagi.

 

Musnad Ahmad 2047: Berkata Husyaim telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Laila dari Dawud bin Ali dari bapaknya dari kakeknya yaitu Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura` dan selisihilah kaum Yahudi, maka berpuasalah satu hari sebelum atau sesudahnya.”

 

Musnad Ahmad 2048: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabir dari Asy Sya’bi dari Ibnu ‘Abbas; bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, beliau berbekam pada bagian dua urat di samping leher. Ia (Ibnu ‘Abbas) berkata; “Beliau memanggil seorang budak milik bani Bayadlah, lalu (budak itu) membekamnya dan memberi upah untuk tukang bekam sebanyak satu setengah mud.” Ia (Ibnu ‘Abbas) berkata; “Budak itu berbicara kepada tuan tuannya sehingga mereka pun mengurangi upahnya setengah mud, padahal sebelumnya dia memperoleh bagian dua mud.”

 

Musnad Ahmad 2049: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabir berkata; aku mendengar Asy Sya’bi bercerita dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Umar, mereka berdua berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mensunahkan shalat dua raka’at saat bepergian, (shalat seperti itu) di anggap sempurna, sedangkan shalat witir ketika bepergian adalah sunnah.”

 

Musnad Ahmad 2050: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Jabir dari ‘Ammar dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa membangun masjid karena Allah sekalipun sebesar sangkar burung untuk tempat telurnya, niscaya Allah akan membangun rumah baginya di surga.”

 

Musnad Ahmad 2051: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; aku mendengar Abu Hamzah Adl Dluba’i berkata; Aku pernah melakukan haji tamattu’, namun orang-orang melarangku untuk melakukannya, maka aku mendatangi Ibnu ‘Abbas dan menanyakan hal itu kepadanya, maka dia menyuruhku untuk melakukannya. Kemudian aku kembali ke rumah dan tidur. Dalam mimpiku ada seseorang mendatangiku, orang itu berkata; “Umrah yang diterima dan haji yang mabrur.” Maka aku mendatangi Ibnu ‘Abbas dan memberitahukan padanya tentang mimpiku.” Dan dia berseru; “Allahu Akbar, Allahu Akbar, itu adalah sunnah Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau pernah bersabda mengenai hewan sembelihan: “Berupa unta, sapi, kambing atau persekutuan (beberapa orang dalam menyembelih) hewan sembelihan.” Abdullah berkata; ” Syu’bah tidak mengambil sanad dari Abu Jamrah kecuali satu hadits ini, dan Abu Jamrah lebih tsiqah daripada Abu Hamzah.”

 

Musnad Ahmad 2052: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Abu As Safar dari Sa’id bin Syufay dari Ibnu ‘Abbas, ia mengatakan; bahwa orang-orang bertanya kepadanya tentang shalat di perjalanan, maka ia berkata; “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan keluarganya, maka beliau tidak shalat kecuali dua raka’at sampai beliau kembali kepada keluarganya.” Telah menceritakan kepada kami Aswad Telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Syufay berkata; Aku berada di sisi Ibnu ‘Abbas, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 2053: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qotadah dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan Al Mujatstsamah (hewan yang diburu untuk dibunuh) dan Al Jalalah (hewan pemakan kotoran) dan (melarang) minum dari mulut kendi.

 

Musnad Ahmad 2054: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari An Nadlr bin Anas berkata; Aku berada di sisi Ibnu ‘Abbas, saat itu dia sedang memberi fatwa kepada orang-orang, dia tidak menyandarkan sedikit pun dari fatwa-fatwanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga seorang dari penduduk Iraq mendatanginya dan berkata; “Aku adalah seorang penduduk Iraq dan akulah yang membuat gambar gambar itu, maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya; “Mendekatlah.” Dia mengatakan dua atau tiga kali lalu dia pun mendekat. Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menggambar suatu gambar di dunia maka pada hari kiamat akan dibebankan kepadanya untuk meniupkan ruh ke dalamnya sedangkan ia tidak akan sanggup meniupkan ruh.”

 

Musnad Ahmad 2055: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Abdullah bin Al Fadhl dari Nafi’ bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Sedangkan seorang gadis dimintakan izin untuk (menikahkan) dirinya dan izinnya adalah diamnya.”

 

Musnad Ahmad 2056: Perawi berkata; Aku telah membaca tulisan Abdurrahman, dari Malik dari Makhramah bin Sulaiman dari Kuraib mantan budak Ibnu ‘Abbas, bahwa Abdullah bin ‘Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia menginap di rumah Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bibinya, ia berkata; Aku berbaring di bantal yang berukuran sedang, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya tidur di bantal yang panjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur hingga pertengahan malam, mendekati atau melewati sedikit, kemudian bangun dan duduk seraya mengusap kantuk dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran, lalu bangun menuju ke geriba yang tergantung, beliau berwudlu darinya dan menyempurnakan wudlunya kemudian beliau shalat. Ibnu ‘Abbas berkata; Aku pun bangun dan melaksanakan seperti apa yang beliau kerjakan, kemudian aku berdiri di sampingnya, maka beliau meletakkan tangannya di kepalaku dan memegang telinga kananku lalu memilinnya. Beliau shalat dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at kemudian beliau melakukan witir, setelah selesai beliau tidur kembali hingga datang seruan mu`adzin. Kemudian beliau shalat dua raka’at ringan dan keluar untuk melakukan shalat Subuh.”

 

Musnad Ahmad 2057: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Aku bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada pertengahan siang, kusut rambutnya dan berdebu, bersamanya sebuah botol berisi darah yang beliau temukan, atau mencermati sesuatu di dalam botol itu.” Ibnu ‘Abbas berkata; Aku pun bertanya; “Ya Rasulullah, apa ini?” Beliau menjawab; “Ini adalah darah Al Husain dan para sahabatnya, aku selalu mengawasi dia sejak hari ini.” Ammar berkata; “Kami mengingatnya hari itu, ternyata kami dapati bahwa dia (Al Husain) terbunuh hari itu pula.”

 

Musnad Ahmad 2058: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Imran Abu Al Hakam dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, agar merubah bukit Shafaa menjadi emas maka kami akan beriman kepadamu.” Beliau bersabda: “Sungguh kalian akan melakukannya (beriman).” Mereka menjawab; “Ya.” Maka beliau berdoa lalu datanglah Jibril dan berkata; “Sesungguhnya Tuhanmu ‘azza wajalla menyampaikan salam untukmu.” Jibril melanjutkan; “Jika engkau menghendaki maka bukit Shafaa akan berubah emas untuk mereka. Siapa saja di antara mereka kafir setelah itu, Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang belum pernah Aku siksakan kepada seorangpun di alam semesta ini. Dan jika engkau menghendaki Aku akan membukakan pintu taubat dan rahmat untuk mereka.” Beliau bersabda: “Bahkan pintu taubat dan rahmat (yang aku kehendaki).”

 

Musnad Ahmad 2059: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qotadah berkata; Aku mendengar Abu Al ‘Aliyah berkata; telah bercerita kepadaku anak paman Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sepantasnya seseorang mengatakan aku lebih baik dari Yunus bin Matta.” Beliau menisbahkan (Yunus) kepada bapaknya.

 

Musnad Ahmad 2060: (Perawi) berkata; aku membaca tulisan Abdurrahman; dari Malik dari Abu Az Zubair Al Makki dari Thawus Al Yamani dari Abdullah bin ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengajarkan doa kepada mereka sebagaimana beliau selalu mengajarkan surat dari Al Qur`an, beliau bersabda: “Ucapkanlah: ‘ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABI JAHANNAM WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QABRI WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MASIHID DAJJAL WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYA WAL MAMATI (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masih Ad-Dajjal dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian) ”

 

Musnad Ahmad 2061: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid dari Dawud yakni Ibnu Abu Al Furat, dari Ibrahim dari ‘Atho` dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami orang-orang pada hari raya Fithri dua raka’at tanpa adzan dan iqamah, kemudian berkhutbah setelah shalat, lalu mengajak Bilal menuju ke tempat wanita dan berkhutbah. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mendatangi mereka dan memerintahkan mereka untuk bersedekah.”

 

Musnad Ahmad 2062: Telah bercerita kepadaku bapakku Ahmad bin Muhammad bin Hambal dari tulisannya; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Umawi, Al A’masy berkata; Telah menceritakan kepada kami dari Thariq dari Sa’id bin Jubair berkata; Ibnu ‘Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah Engkau telah menimpakan siksaan kepada kaum Quraisy generasi pertama, maka limpahkanlah anugerah kepada generasi yang terakhir dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 2063: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rabi’ah Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Al Hasan bin Muslim dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Aku melakukan shalat Id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka mengerjakan shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan iqamah.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rabi’ah Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Atho` dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas.”

 

Musnad Ahmad 2064: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Juraij dari Al Hasan bin Muslim dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Ied (terlebih dahulu) baru kemudian berkhutbah, Abu Bakar (juga) shalat (terlebih dahulu) lalu berkhutbah, Umar (juga demikian) kemudian berkhutbah, dan Utsman (juga shalat terlebih dahulu) lalu berkhutbah dengan tanpa adzan dan iqamah.”

 

Musnad Ahmad 2065: Telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Malik Abu Ja’far dari Hanzhalah As Sadusi dari Syahr bin Hausyab dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ied dua raka’at tidak membaca apapun kecuali Al Fatihah, dan tidak menambah sesuatupun.”

 

Musnad Ahmad 2066: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Hakim Telah menceritakan kepada kami Al Hakam yakni Ibnu Aban berkata; aku mendengar Ikrimah berkata; Ibnu ‘Abbas berkata; “Al ‘Anzah (tongkat kecil) ditancapkan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Arafah. Beliau shalat dengan menghadap ke arah tongkat sementara keledai melintas di belakang tongkat tersebut.”

 

Musnad Ahmad 2067: Telah menceritakan kepada kami Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais Telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengepung penduduk Tha`if, maka dua orang budak keluar kepada beliau, kemudian beliau memerdekakan keduanya, salah satunya adalah Abu Bakrah. Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memerdekakan para budak bila mereka keluar menemui beliau.”

 

Musnad Ahmad 2068: Telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Malik Al Muzani Abu Ja’far dari Ayyub bin ‘A`idz dari Bukair bin Al Akhnas dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam, empat raka’at ketika muqim, dua raka’at ketika safar (bepergian) serta satu raka’at ketika dalam keadaan takut.”

 

Musnad Ahmad 2069: Telah menceritakan kepada kami Ammar bin Muhammad saudara perempuan Ats Tsauri, dari Manshur dari Salim dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah di antara kalian apabila mendatangi isterinya tidak mampu mengatakan: ‘BISMILLAHI ALLAHUMMA JANNIBNI ASY SYAITHANA WA JANNIB ASY SYAITHANA MA RAZAQANI (dengan nama Allah, Ya Allah, Jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepadaku.” Karena apabila Allah menetapkan anak bagi keduanya, niscaya anak itu tidak akan dicelakakan oleh setan selamanya.”

 

Musnad Ahmad 2070: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari ‘Atho` dari Sa’id berkata; Ibnu ‘Abbas berkata kepadaku; “Hai Sa’id, apakah engkau sudah punya isteri?” ia berkata; Aku menjawab; “Belum.” Beliau berkata; “Pulanglah lalu menikahlah!” ia berkata; Setelah itu aku kembali kepadanya. Dan dia bertanya lagi; “Hai Sa’id, apakah engkau sudah menikah?” ia berkata; Aku menjawab; “Belum.” Maka dia berkata; “Menikahlah, sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya.”

 

Musnad Ahmad 2071: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ashim Telah menceritakan kepada kami Abu Ali Ar Rahabi dari Ikrimah telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, ketika keluar beliau melihat pada bagian bahu kirinya ada yang belum terkena air. Maka beliau mengambil air dari rambutnya lalu mengusapnya kemudian beliau melaksanakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 2072: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Tsa’labah bin Muslim Al Khats’ami dari Abu Ka’b mantan budak Ibnu ‘Abbas, dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ada yang bertanya kepada beliau; “Ya Rasulullah Jibril ‘Alaihissalam telah melambatkan diri darimu.” Beliau bersabda: “Bagaimana tidak melambatkan diri dariku, sementara kalian di sekitarku tidak membersihkan gigi, tidak memotong kuku, tidak memotong kumis dan tidak membersihkan sela-sela jari kalian.”

 

Musnad Ahmad 2073: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Khalid Yazid dari Al Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit yang ajalnya belum tiba, lalu mengucapkan tujuh kali; AS`ALULLAH AL AZHIM RABB AL ‘ARSYI AL KARIM AN YASYFIYAHU (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘Arsy yang Mulia agar menyembuhkannya) melainkan ia akan disembuhkan.”

 

Musnad Ahmad 2074: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim dari Asy Sya’bi dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaku lewat dekat sumur zamzam lalu beliau meminta diambilkan air zamzam untuk diminum. Maka aku membawakannya segayung air zamzam kemudian beliau minum sambil berdiri.”

 

Musnad Ahmad 2075: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d berkata; telah bercerita kepadaku Shalih bin Kaisaini dan anak saudaraku Ibnu Syihab, keduanya dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu ‘Abbas. Sedang Ya’qub berkata; telah bercerita kepadaku bapakku dari Shalih, Ibnu Syihab berkata; telah bercerita kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bahwa Ibnu ‘Abbas telah mengabarkan kepadanya, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abdullah bin Hudzafah untuk mengantar suratnya kepada Kisra.” Ia berkata; “Maka dia menyerahkannya kepada pembesar Bahrain, lalu pembesar Bahrain menyerahkannya kepada Kisra.” Ya’qub berkata; “Maka pembesar Bahrain menyerahkannya kepada Kisra, setelah membacanya ia merobek-robeknya.” Ibnu Syihab berkata; “Lalu aku mengira Ibnu Al Musayyab mengatakan; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan agar mereka dihancur leburkan.”

 

Musnad Ahmad 2076: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada saat penaklukan Makkah hingga Qudaid, lalu beliau diberi secangkir susu, kemudian beliau berbuka dan memerintahkan orang-orang untuk berbuka.”

 

Musnad Ahmad 2077: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas; “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam di Qahah sementara beliau sedang berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 2078: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna dan Yunus yakni Ibnu Muhammad, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz yakni Ibnu Abu Salamah, dari Ibrahim bin ‘Uqbah dari Kuraib mantan budak Abdullah bin ‘Abbas, dari Abdullah bin ‘Abbas ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seorang wanita yang sedang membawa anak kecil di dalam sekedup, lalu wanita itu memegang lengan atasnya sambil berkata; “Ya Rasulullah apakah anak ini (mendapat pahala) haji?” beliau bersabda: “Ya dan bagimu pahala.”

 

Musnad Ahmad 2079: Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, dari Ayyub dari Muhammad bin Sirin bahwa Ibnu ‘Abbas telah bercerita kepadanya, ia berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan paha (kambing), kemudian bangun dan mengerjakan shalat dengan tidak berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 2080: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, dari Abu At Tayyah dari Musa bin Salamah berkata; Aku dan Sinan bin Salamah keluar dengan membawa dua ekor unta, lalu kedua unta itu mogok ketika kami di tengah jalan, Sinan berkata kepadaku; “Apakah kamu tahu tempat tinggal Ibnu ‘Abbas?” Maka kami mendatanginya dan Sinan bertanya kepadanya lalu ia menyebutkan hadits ini. Ia berkata; Ibnu ‘Abbas berkata; “Al Juhani bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Ya Rasulullah sesungguhnya ayahku telah lanjut usia namun ia belum mengerjakan haji?” Beliau bersabda: “Berhajilah atas nama ayahmu.”

 

Musnad Ahmad 2081: Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Zaid bin Aslam dari Abdurrahman bin Wa’lah berkata; Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas; “Sesungguhnya kami hidup di tanah yang banyak kebun anggurnya dan kebanyakan hasil produksinya adalah khamer.” Ia pun berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawakan sewadah khamer yang akan dihadiahkan kepada beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau tahu bahwa Allah telah mengharamkannya setelahmu?” maka pemilik khamer itu menghampiri seseorang yang bersamanya, kemudian menyuruhnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Kamu suruh apa dia?” ia menjawab; “Menjualnya.” Beliau bersabda: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa Dzat yang telah mengharamkan meminumnya juga telah mengharamkan menjualnya dan memakan hasil penjualannya?” Lalu dia menyuruh untuk mengambil yang tersisa kemudian menumpahkannya.”

 

Musnad Ahmad 2082: Telah menceritakan kepada kami Yunus dan Hasan bin Musa Al Ma’na keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Ibnu ‘Abbas, -ia berkata; Aku tidak mengetahuinya kecuali ia telah memarfu’kannya seraya berkata; – “Apabila beliau singgah di suatu tempat yang disukainya, maka beliau menangguhkan Zhuhur hingga menjama’ Zhuhur dengan Ashar, dan bila melanjutkan perjalanan dan tidak menemukan tempat singgah, beliau menangguhkan Zhuhur hingga menemukan tempat singgah, lalu menjama’ Zhuhur hingga menemukan tempat singgah kemudian menjama’ Zhuhur dengan Ashar.” Hasan berkata; “Apabila bepergian beliau singgah di suatu tempat.”

 

Musnad Ahmad 2083: Telah menceritakan kepada kami Ayyub Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Bisyr dari Maimunah bin Mahran dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan binatang buas yang bertaring dan semua burung yang bercakar.”

 

Musnad Ahmad 2084: Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, dari Katsir bin Syinzhir dari Atha’ dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Sesungguhnya permulaan menggiring unta dengan cepat berasal dari warga pedalaman. Mereka berdiri di samping orang-orang hingga mengalungkan tongkat, tabung anak panah dan tempayan besar. Bila mereka telah berlarian, dibunyikanlah suaranya, kemudian mereka berlari bersama orang-orang.” Ia melanjutkan, “Pernah diperlihatkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga ujung telinga untanya menyentuh tengkuknya, maka beliau berkata disertai isyarat tangannya: “Wahai manusia, tenanglah kalian, wahai manusia tenanglah kalian.”

 

Musnad Ahmad 2085: Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Humaid dan Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur hingga terdengar suara tarikan nafas beliau, kemudian bangun untuk shalat tanpa berwudlu.” Ikrimah berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang terpelihara.”

 

Musnad Ahmad 2086: Telah menceritakan kepada kami Yunus dan ‘Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ayyub, Affan berkata; Hammad berkata; Telah menceritakan kepada kami Ayyub dan Qais dari ‘Atho` bin Abu Rabah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengakhirkan shalat Isya` suatu malam sampai orang-orang tertidur, kemudian mereka bangun lalu tidur lagi dan bangun lagi. Qais berkata; Maka Umar bin Khaththab datang dan berkata; “Ya Rasulullah dirikanlah shalat.” Ia berkata; Maka beliau keluar dan shalat mengimami mereka namun tidak disebutkan bahwa mereka berwudlu lagi.”

 

Musnad Ahmad 2087: Telah menceritakan kepada kami Yunus dan Hasan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Amru bin Dinar dari Kuraib bin Abu Muslim dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah berada di rumah Maimunah binti Al Harits, maka beliau bangun untuk melaksanakan shalat malam. Ibnu ‘Abbas berkata; “Maka aku pun bangun di sebelah kirinya, lalu beliau memegang tanganku dan memindahkannya di sebelah kanannya kemudian shalat, lalu beliau tidur sampai terdengar tarikan nafasnya. Kemudian datanglah Bilal mengumandangkan adzan, maka beliau shalat tanpa berwudlu lagi.” Sedang menurut Hasan, ia berkata Yakni dalam haditsnya; “Aku bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah Maimunah, maka setelah selesai shalat beliau tidur sampai terdengar tarikan nafasnya.”

 

Musnad Ahmad 2088: Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Syaiban Telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Abu Al ‘Aliyah, Telah menceritakan kepada kami anak paman Nabi kalian yaitu Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam aku diisra`kan, aku melihat Musa bin Imran sebagai seorang laki-laki berkulit kecoklatan, berambut ikal dan berpostur tinggi kekar, sepertinya dia berasal dari banu Syanu`ah, dan aku melihat Isa bin Maryam ‘Alaihimassalam, dia berperawakan sedang, berkulit agak merah dan putih serta berambut lurus.” Telah menceritakan kepada kami Husain dalam tafsir Syaiban dari Qotadah, berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Al ‘Aliyah telah menceritakan kepada kami anak paman Nabi kalian Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Lalu disebutkan hadits seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2089: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rabi’ah telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Manshur dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan tentang anak dari orang yang saling melakukan li’an (menuduh isteri berzina), bahwa ia tidak dinasabkan kepada ayahnya, dan barangsiapa yang menuduhnya (yakni si wanita) atau menuduh anaknya, maka si penuduh itu dihukum cambuk. Dan beliau pun memutuskan bahwa ia (si wanita) tidak berhak mendapat makan dan tidak pula tempat tinggal, karena keduanya berpisah bukan karena talak dan bukan karena ditinggal mati.”

 

Musnad Ahmad 2090: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Humaid dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah binti Al Harits saat itu mereka berdua sedang melaksanakan ihram.

 

Musnad Ahmad 2091: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atha` Al ‘Aththar dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” (Hendaklah seseorang) bersedekah sebanyak satu dinar, jika tidak mendapatkannya maka dengan setengah dinar yakni bagi siapa yang telah mendatangi isterinya ketika haidl.”

 

Musnad Ahmad 2092: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu Ma’iz bin Malik lalu bersabda: “Apakah benar kabar tentangmu yang sampai kepadaku?” ia berkata; “Kabar apa yang telah sampai kepadamu tentang diriku?.” Beliau bersabda: “Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah berbuat mesum dengan budak perempuan milik keluarga fulan.” Ia berkata; “Ya.” Maka beliau mengulanginya hingga ia bersaksi empat kali, kemudian beliau memerintahkan untuk merajamnya.

 

Musnad Ahmad 2093: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Jibril ‘Alaihissalam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Seandainya engkau melihatku ketika aku mengambil lumpur laut lalu aku memasukkannya ke mulut Fir’aun.”

 

Musnad Ahmad 2094: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku untuk membawa perbekalan perjalanan dari Jam’un (Muzdalifah) di malam hari.”

 

Musnad Ahmad 2095: Telah menceritakan kepada kami Yunus dari Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril ‘Alaihissalam berkata kepadaku; ‘Sesungguhnya telah dijadikan kecintaanmu pada shalat, maka ambillah darinya sekehendakmu.'”

 

Musnad Ahmad 2096: Telah menceritakan kepada kami Yunus dan ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Ali bin Zaid, ‘Affan berkata; telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas; bahwa seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata; Seorang perempuan datang membai’atnya, kemudian memasukkannya ke dalam ruangan kecil sehingga aku mendapatkan darinya (dapat melakukan apapun) kecuali persetubuhan. Umar berkata; “Celaka engkau. Mungkin ia ditinggal pergi suaminya fi sabilillah?” Ia menjawab; “Benar.” Umar berkata lagi, “Temuilah Abu Bakar lalu tanyakan padanya.” Maka ia pun mendatanginya lalu menanyakan hal tersebut, Abu Bakar berkata; “Mungkin ia ditinggal pergi suaminya fi sabilillah.” Lalu ia mengatakan sebagaimana yang dikatakan Umar, kemudian laki-laki itu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengatakan seperti yang telah dikatakannya itu, beliau pun bersabda: “Mungkin ia ditinggal suaminya fi sabilillah.” Dan turunlah ayat: (Dan Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan yang buruk.) sampai akhir ayat. Lalu laki-laki itu berkata; “Ya Rasulullah apakah ayat ini khusus bagiku atau untuk semua manusia?” Maka Umar menepuk dada laki-laki itu dengan tangannya seraya berkata; “Tidak, tidak ada kesenangan pribadi, akan tetapi untuk semua orang.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umar benar.”

 

Musnad Ahmad 2097: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membonceng Usamah bin Zaid lalu kami memberinya minum dari air minum ini, maka beliau bersabda: “Bagus, begitulah semestinya yang kalian kerjakan.”

 

Musnad Ahmad 2098: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Syuja’ berkata; Aku tidak menghafalnya kecuali Salim Al Afthas Al Jazari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kesembuhan ada pada tiga hal; minum madu, urat darah yang dibekam dan kay dengan api, namun aku melarang umatku menggunakan kay.”

 

Musnad Ahmad 2099: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Isa telah menceritakan kepadaku Ibrahim yakni Ibnu Sa’d, dari Az Zuhri. Dan Ya’qub berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Orang-orang Musyrik biasa membelah rambut mereka, sedangkan Ahli Kitab mengurai -Ya’qub berkata; – rambut mereka. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senang dan suka menyamai Ahli Kitab -Ya’qub melanjutkan; – di sebagian perkara yang tidak diperintahkan.” Sedang Ishaq menyebutkan; “Pada perkara yang tidak diperintahkan.” Ishaq melanjutkan; “Pada perkara yang tidak diperintahkan. Lalu beliau mengurai rambut bagian depannya, dan beliau membelahnya.”

 

Musnad Ahmad 2100: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsumah dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Abu Thufail berkata; Aku melihat Mu’awiyah mengelilingi Ka’bah di sebelah kiri Abdullah bin ‘Abbas, sementara aku menirukan keduanya di belakang mereka berdua sambil mendengarkan ucapan mereka berdua, lalu Mu’awiyah hendak beristilam (menyentuh, mencium atau memberi isyarat) pada sudut Hajar Aswad, maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah beristilam pada kedua sudut ini.” Mu’awiyah pun berkata; “Biarkan aku wahai Ibnu ‘Abbas. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun darinya yang layak ditinggalkan.” Maka Ibnu ‘Abbas pun tidak menambahkan (perkataan) nya. Setiap kali ia menempelkan tangannya pada sesuatu dari kedua sudut tersebut, ia (Ibnu ‘Abbas) mengatakan hal itu.”

 

Musnad Ahmad 2101: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abdurrahman dari ‘Amru bin Dinar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan umrah empat kali; umrah pertama dari Hudabiyah, umrah Qadla` pada bulan dzulqa’dah di tahun berikutnya, Umrah ketiga dari Ji’ranah dan umrah keempat beliau laksanakan bersama hajinya.”

 

Musnad Ahmad 2102: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abu Al Abbas telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari bapaknya dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah menurunkan ayat: (Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.) dan (Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.) lalu (Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.) serta (Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik). ia berkata; Ibnu Abbas berkata; “Allah menurunkannya berkenaan dengan dua golongan kaum Yahudi, yang mana salah satunya telah menekan yang lainnya di masa jahiliyah, hingga mereka rela atau sepakat bahwa setiap orang yang terbunuh, apabila pembunuhannya dilakukan oleh golongan yang terhormat terhadap yang rendah, maka diyatnya (tebusannya) sebanyak lima puluh wasaq (satu wasaq enam puluh sha’ kurma). Dan setiap pembunuhan yang dilakukan oleh golongan rendah terhadap golongan terhormat maka diyatnya adalah seratus wasaq. Mereka memberlakukan ketentuan itu hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu kedua golongan itu menjadi hina karena kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun saat itu belum tampak dan belum mengakui keduanya karena beliau dalam status berdamai. Lalu terjadilah pembunuhan yang dilakukan oleh golongan rendah terhadap golongan terhormat, lalu gologan terhormat mengirim utusan kepada golongan rendah agar dikirimkan kepada mereka seratus wasaq (diyat), maka golongan yang rendah berkata; “Apakah hanya karena berada di dua desa yang berbeda sedangkan agamanya sama, nasabnya sama dan negerinya sama, namun diyat sebagian mereka hanya setengah dari diyat yang lainnya? Sesungguhnya kami menyerahkan ini kepada kalian hanyalah sebagai sikap merendahkan dan membeda-bedakan dari kalian terhadap kami. Namun setelah Muhammad datang, kami tidak lagi memberikan itu kepada kalian.” Hampir saja terjadi peperangan di antara kedua golongan itu, lalu mereka sepakat untuk menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penentu di antara mereka. Selanjutnya golongan yang terhormat berkata; “Demi Allah, Muhammad tidak akan memberikan kepada kalian dari mereka dengan melipatgandakan apa yang diberikan kepada mereka dari kalian, dan mereka telah membenarkan, bahwa mereka tidak memberikan ini kepada kita keculai karena direndahkan oleh kita dan pemaksaan terhadap mereka. Maka selipkanlah orang kepada Muhammad untuk nantinya memberitahukan pendapatnya kepada kalian. Jika dia memberikan kepada kalian sesuai dengan yang kalian kehendaki, maka jadikanlah ia sebagai penentu (hakim) namun jika tidak, waspadalah terhadapnya dan janganlah kalian jadikan ia sebagai penentu.” Lalu mereka pun menyelipkan orang di antara golongan munafik untuk mendapatkan informasi tentang pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah memberitahu RasulNya tentang perkara mereka dan apa yang mereka kehendaki, lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Hari rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‘Kami Telah beriman’,) hingga ayat (barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik). Selanjutnya Ibnu Abbas berkata; “Demi Allah berkenaan dengan kedua golongan itulah ayat ini diturunkan dan kedua golongan itulah yang dimaksud oleh Allah ‘azza wajalla.”

 

Musnad Ahmad 2103: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepada kami Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedangkan mereka tidak suka kepadanya, maka akan dituangkan cairan besi (yang panas) pada telinganya, dan barangsiapa pura-pura bermimpi (yakni mengaku mimpi padahal bohong) maka dia akan disiksa hingga menganyam rambut namun dia tidak akan mampu menganyamnya, dan barangsiapa membuat gambar maka ia akan dibebani untuk meniupkan (ruh) padanya, namun ia tidak akan mampu meniupkannya.”

 

Musnad Ahmad 2104: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru bin Ghalab dari Al Hakam bin Abdullah bin Al A’raj berkata; Ketika aku sedang bersama Ibnu Abbas di tempat pemberian air minum, ia (sedang duduk) beralaskan kain sorbannya, lalu aku katakan, “Wahai Ibnu Abbas, beritahukan aku tentang ‘Asyura`.” Ia bertanya; “Tentang masalah apa.” Aku menjawab; “Tentang puasanya.” Ia menjawab; “Bila engkau telah memasuki bulan Haram, maka hitunglah sembilan (hari), lalu berpuasa pada hari kesembilan.” Aku bertanya lagi, “Begitukah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa?” Ia menjawab; “Benar.”

 

Musnad Ahmad 2105: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat hajar -aswad- ini akan datang dengan memiliki dua mata yang bisa melihat, lidah yang bisa berbicara yang akan bersaksi kepada siapapun yang telah beristilam (mencium atau menyentuh atau berisyarat).”

 

Musnad Ahmad 2106: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim berkata; Dawud berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “apabila seorang tawanan pada perang Badar tidak bisa menebus dirinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan tebusan mereka untuk mengajarkan kepada anak-anak Anshar menulis.” Ia berkata; Pada hari itu datang seorang anak menangis kepada bapaknya, maka bapaknya bertanya; “Apa yang terjadi padamu?” Ia menjawab; pengajarku memukulku.” Sang bapak berkata; “Si buruk itu. Ia telah menuntut (balas) dengan bekas perang Badar. Demi Allah jangan lagi engkau mendatanginya.”

 

Musnad Ahmad 2107: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari ‘Atho` bin As Sa`Ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Pada perang Uhud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar para syuhada` dilucuti besi dan kulit (senjata dan perisai), lalu beliau bersabda: “Kuburkanlah mereka beserta darah dan pakaian mereka.”

 

Musnad Ahmad 2108: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari Dawud bin Abu Hind dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa seseorang dari Anshar murtad dari Islam dan berkumpul bersama orang-orang Musyrik. Maka Allah menurunkan ayat: (Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman.) hingga akhir ayat. Maka kaumnya menyampaikan ayat ini kepadanya, maka ia pun kembali bertaubat dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menerima serta membebaskannya.

 

Musnad Ahmad 2109: Telah menceritakan kepada kami Ali berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenakanlah pakaian kalian yang berwarna putih karena ia adalah sebaik-baik pakaian, kafanilah orang yang mati di antara kalian. dan sesungguhnya sebaik-baik celak kalian adalah yang Al Itsmid yang bisa membuat mata menjadi lebih cerah dan menumbuhkan rambut.”

 

Musnad Ahmad 2110: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari Al Jurairi dari Abu Ath Thufail, dan Abdullah bin Utsman bin Khulaim dari Abu Ath Thufail mereka berdua dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran di Baitullah (mengitari Ka’bah). Bila sampai pada rukun Yamani beliau berjalan biasa hingga mencapai hajar (aswad), kemudian berlari kecil lagi, dan beliau berjalan biasa sebanyak empat putaran.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Itu adalah sunnah.”

 

Musnad Ahmad 2111: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepada kami Al Hadzdza` dari Barakah Abu Al Walid, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abbas, ia berkata; “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di dalam masjid menghadap hajar aswad.” Ia berkata; “Maka beliau memandang ke langit dan tertawa kemudian bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi yang telah diharamkan lemak atas mereka namun mereka menjualnya dan memakan hasilnya. Dan sesungguhnya Allah apabila mengharamkan kepada kaum untuk memakan sesuatu maka Dia akan mengharamkan hasil (penjualannya).”

 

Musnad Ahmad 2112: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mu’ali Al ‘Athar telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Urani berkata; disebutkan dari Ibnu Abbas; bahwa shalat akan terputus dengan lewatnya anjing, keledai dan wanita. Ia berkata; “Alangkah buruknya kalian menyamakan perempuan muslimah dengan anjing dan keledai. Aku telah mengambil kesimpulan; bahwa aku datang dengan naik keledai sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat bersama orang-orang, sehingga ketika aku berada dekat tempat kiblatnya aku turun dan berjalan mamasuki shaf shalat lalu aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang apa yang aku perbuat. Pernah pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama orang-orang, ketika itu datang seorang budak wanita masuk melewati shaf shalat sampai di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak pula melarang tindakannya itu. Serta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah shalat di masjid lalu keluarlah anak kambing dari salah satu kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pergi melewati depan beliau maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencegahnya.” Ibnu Abbas berkata; “Mengapa kalian tidak mengatakan anak kambing itu memutus shalat?.”

 

Musnad Ahmad 2113: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maimun Abu abdurrahman Ar Riqqu berkata telah mengabarkan kepada kami Al Hasan yakni Abu Al Malih, dari Hubaib yakni Ibnu Abu Marzuq, dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Barangispa berhaji kemudian thawaf di Ka’bah dan (Sa’i) antara Shafa dan Marwa, maka telah terlaksana haji, dan demikian pula dengan umrahnya. Yang demikian itu adalah sunnah Allah ‘azza wajalla dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2114: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab telah mengabarkan kepada kami Saif telah mengabarkan kepada kami Qais bin Sa’d Al Makki dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan harus ada saksi dan sumpah.

 

Musnad Ahmad 2115: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Yazid Ar Raqqi Abu Yazid telah menceritakan kepada kami Furat dari Abdul Karim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Abu Jahal berkata; jika aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Ka’bah sungguh aku akan mendatanginya hingga aku injak lehernya.” Ia berkata; Ibnu Abbas berkata; “Jika ia melakukannya sungguh Malaikat akan menyambar penglihatannya, seandainya Yahudi mengharap kematian maka pasti mereka akan mati dan melihat tempat duduknya di Neraka. Jika keluar orang-orang yang melaknati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya mereka akan pulang tanpa mendapatkan harta maupun keluarga.” Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Abdul Karim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Abu Jahal berkata…” maka ia menyebutkan sesuai dengan maknanya.

 

Musnad Ahmad 2116: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab Abu Sahal pada bulan Syawal tahun 181, dari Al Hajjaj dari Al Hakim dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf (mengelilingi) Ka’bah dan memberi isyarat kepada hajar aswad dengan tongkatnya kemudian setelah selesai beliau mendatangi tempat minum, lalu para putra pamannya hendak menurunkan beliau darinya (tunggangannya). Beliau pun bersabda: “Berikan padaku.” Maka mereka pun mengangkat ember kepada beliau, lalu beliau pun minum kemudian bersabda: “Seandainya orang-orang (para jama’ah haji) yang sedang melaksanakan haji dan merepotkan kalian (karena banyak), niscaya aku turun bersama kalian.” Selanjutnya beliau keluar lalu thawaf di antara Shafa dan Marwa.”

 

Musnad Ahmad 2117: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab dari Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam saat berpuasa dan ihram. Lalu beliau pingsan karenanya,. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata; “Karena itulah beliau memakruhkan berbekam bagi yang sedang berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 2118: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab dari Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata; Pada saat pengepungan Thaif Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar kepada kami dari golongan budak, maka ia merdeka.” Maka keluarlah seorang budak dari beberapa budak, di antaranya terdapat Abu Bakrah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan mereka.

 

Musnad Ahmad 2119: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata; “Ketika perang Khandaq, kaum Muslimin membunuh seorang dari kaum Musrik, lalu mereka (kaum Musyrik) memberikan harta untuk menebus jasadnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Serahkan kepada mereka jasad itu, sesungguhnya itu jasad yang buruk, maka itupun adalah tebusan yang buruk.” Maka tidak ada sesuatu tebusan pun yang diterima dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 2120: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melempar jumrah ketika tergelincir matahari atau setelah tergelincirnya matahari.”

 

Musnad Ahmad 2121: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab dari Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata; “Sesungguhnya Ahlu Badar berjumlah tiga ratus tiga belas orang, kaum Muhajirin sebanyak tujuh puluh enam orang. Dan perang Badar terjadi pada hari Jum’at tanggal tujuh belas bulan Ramadlan.”

 

Musnad Ahmad 2122: Abdullah bin Ahmad berkata, aku temukan pada kitab ayahku dengan tulisan tangannya; Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Ja’far Ar Ramli telah menceritakan kepada kami Al Walid yakni Ibnu Muslim, dari Ibnu Juraij dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “bermurah hatilah, niscaya akan dimurah hatikan bagimu.”

 

Musnad Ahmad 2123: Telah menceritakan kepada kami Abdullah berkata; aku temukan pada kitab ayahku dengan tulisan tangannya; Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Ja’far Ar Ramli telah menceritakan kepada kami Al Walid yakni Ibnu Muslim, dari Al Hakam bin Mush’ab dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari bapaknya dari kakeknya yaitu Abdullah bin Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar pada setiap kesulitan, dan kelapangan untuk setiap kesempitan serta memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

 

Musnad Ahmad 2124: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim telah mengabarkan kepada kami Qais bin Sa’d dari Yazid bin Hurmuz, berkata; Najdah bin Amir menulis surat kepada Ibnu Abbas menanyakan suatu perkara, maka aku saksikan ketika Ibnu Abbas membaca kitabnya dan ketika ia menulis jawabannya, Ibnu Abbas berkata; “Demi Allah seandainya surat ini tidak kubalas dan tidak menimbulkan keburukan, tentu aku tidak akan membalasnya, namun (ini bukan demi) kesenangan pribadi.” Lalu ia mengirim surat kepadanya (yang isinya); “Engkau menanyakan kepadaku tentang bagian untuk kerabat yang disebutkan Allah ‘azza wajalla, siapakah mereka? Dulu kami pernah beranggap bahwa mereka itu adalah kerabat Rasulullah, namun kaum kami menolak hal itu kepada kami.” Ia (Najdah) juga menanyakan tentang anak yatim, kapan berakhir status yatimnya? Ibnu Abbas menjawab; “Apabila telah menikah, telah besar dan dewasa, hartanya diserahkan kepadanya dan berakhirlah status yatimnya.” Ia (Najdah) juga menanyakan, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membunuh seseorang di antara anak-anak kaum Musyrik?” ia menjawab; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membunuh seorang pun dari mereka, maka engkau pun jangan membunuh mereka, kecuali jika engkau mengetahui sebagaimana apa yang diketahui oleh Khadlir (Nabi Khidlir), yaitu tentang anak yang dibunuhnya.” Ia (Najdah) juga menanyakan tentang wanita dan budak, apakah keduanya mendapatkan bagian tertentu (dari harta rampasan perang) bila mereka ikut menghadiri peperangan?” ia menjawab; “Tidak ada bagian tertentu untuk mereka, kecuali diberikan sekedarnya dari harta rampasan perang (yang diperoleh) kaum Muslimin.”

 

Musnad Ahmad 2125: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah mengabarkan kepada kami Hammad dari Ammar bin Abu Ammar dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dengan bersandar pada batang kurma sebelum beliau membuat mimbar, setelah membuat mimbar beliau berpindah kepadanya, tetapi (batang kurma) itu merintih, maka beliau menghampirinya dan menenangkannya. Beliau pun bersabda: “Seandainya aku tidak menenangkannya tentulah ia akan terus merintih hingga hari kiamat.” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (dengan redaksi) seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2126: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Musa bin Salim Abu Jahdlam telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas, berkata; Aku dan beberapa pemuda Quraisy menemui Ibnu Abbas. Abdullah berkata; maka mereka bertanya kepadanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ketika shalat Zhuhur dan Ashar?” ia menjawab; “Tidak.” Maka mereka bertanya lagi, “Mungkinkah beliau membaca di dalam hatinya (tidak dikeraskan)?” ia menjawab; “celaka kalian, ini buruk sekali. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang mendapat perintah. Beliau menyampaikan apa yang diembankan kepadanya dan beliau tidak mengkhususkan kami dari manusia lainnya kecuali tiga hal; Beliau memerintahkan kami agar menyempurnakan wudlu, agar kami tidak memakan sedekah dan agar kami tidak mengawinkan keledai (jantan) dengan kuda (betina).”

 

Musnad Ahmad 2127: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberangkatkan orang-orang dari Bani Hasyim malam hari. Syu’bah berkata; Aku mengira ia (Ibnu Abbas) berkata; “Golongan lemah mereka. Dan memerintahkan mereka agar tidak melempar jumrah hingga terbitnya matahari.” Syu’bah ragu tentang (redaksi) “Golongan lemah mereka.”

 

Musnad Ahmad 2128: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah. Al Juhfah sebagai miqat bagi penduduk Syam, Qarn sebagai miqat bagi penduduk Najed, dan Yalamlam sebagai miqat bagi penduduk Yaman. Ibnu Abbas berkata; “Semua itu adalah (miqat) bagi mereka dan orang-orang yang datang dari arah sana selain penduduknya, yaitu orang-orang yang hendak mengerjakan haji dan umrah, dari mana pun tempat memulainya, hingga penduduk Makkah (memulainya) dari Makkah.”

 

Musnad Ahmad 2129: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Ayyub dari Abdullah bin Syaqiq dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium padahal beliau sedang berpuasa.

 

Musnad Ahmad 2130: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Diturunkan (perintah) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau berumur empat puluh tahun. Beliau tinggal di Makkah tiga belas tahun dan di Madinah sepuluh tahun. Beliau meninggal ketika berumur enam puluh tiga tahun.”

 

Musnad Ahmad 2131: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam di kepalanya padahal beliau sedang berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 2132: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim Al Ahwal dari Sya’bi dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin minum, maka aku membawakan segayung air zamzam kemudian beliau meminumnya sambil berdiri.

 

Musnad Ahmad 2133: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas; bahwa ia datang ke rumah bibinya yaitu Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata; “Maka pada malam hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun ke tempat air lalu berwudlu, kemudian beliau mendirikan shalat.” Ia melanjutkan, “Dan akupun ikut bangun dan berwudlu kemudian shalat di samping kirinya.” Ia berkata; “Maka beliau meraih tanganku dan menggeserku dari belakang beliau hingga memberdirikanku di samping kanan beliau.”

 

Musnad Ahmad 2134: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku ingat semua sunnah, hanya saja aku tidak tahu apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (dengan keras) pada shalat Zhuhur dan Ashar atau tidak. Aku juga tidak tahu bagaimana beliau membaca huruf ini: “WAQAD BALAGHTU MIN AL KIBARI ‘UTIYYAN atau ‘USIYYAN.”

 

Musnad Ahmad 2135: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Dinar bahwa Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Buah-buahan tidak boleh dijual hingga layak makan.”

 

Musnad Ahmad 2136: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Abu Nahik dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa memohon perlindungan atas nama Allah maka lindungilah ia, barangsiapa meminta kepada kalian atas nama Allah maka berilah dia.”

 

Musnad Ahmad 2137: Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud dari Zam’ah dari Ibnu Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi upah kepada pembekamnya.

 

Musnad Ahmad 2138: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “‘Umra (hibah/pemberian) bagi yang diserahi ‘umra, dan Ruqba bagi siapa yang meruqbanya. Adapun orang yang mengambil kembali pemberiannya adalah seperti orang yang memakan kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2139: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengumrakan suatu umra maka ia bagi yang diserahi umra itu berlaku, dan barangsiapa memberi ruqba maka bagi yang di beri ruqba itu berlaku. Barangsiapa yang memberikan suatu pemberian kemudian menarik kembali pemberiannya maka ia seperti orang yang memakan kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2140: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Zaidah dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis bersama para sahabatnya selama enam belas bulan, kemudian terjadi peralihan arah kiblat setelah itu.”

 

Musnad Ahmad 2141: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthah dari Al Hakam dari Abu Al Qashim dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melempar jumrah ‘Aqabah lalu menyembelih (hewan kurban) kemudian beliau bercukur.”

 

Musnad Ahmad 2142: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah mengabarkan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Walid bin Nuwaifi’ mantan budak keluarga Az Zubair, dari Kuraib mantan budak Abdullah bin Abbas, dari Abdullah bin Abbas; bahwa Dlimam bin Tsa’labah saudara bani Sa’d bin Bakar ketika masuk Islam ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kewajiban-kewajiban di dalam Islam dari masalah shalat dan lainnya. Lalu beliau menyebutkan kewajiban shalat yang lima dan tidak menambahinya, kemudian zakat, puasa Ramadlan dan melaksanakan haji ke Baitullah. Beliau kemudian mengajarkan tentang apa yang telah diharamkan Allah. Setelah itu ia mengucapkan; “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Dan sungguh aku akan melaksanakan apa yang engkau perintahkan kepadaku, tidak aku tambahi dan tidak aku kurangi.” Kemudian ia berlalu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Dzu Al Aqishatain benar, maka ia akan masuk surga.”

 

Musnad Ahmad 2143: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan lahan Khaibar dan kebun kurmanya dengan ketentuan pembagian (bagi hasil) setengah-setengah.

 

Musnad Ahmad 2144: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari Yazid bin Abu Ziyad dari Miqsam dan Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku dan aku mengatakannya bukan karena bangga. (yaitu) Aku diutus kepada semua manusia yang berkulit merah dan kulit hitam, maka tidak ada seorangpun yang berkulit merah maupun hitam yang masuk ke dalam umatku, kecuali termasuk di antara mereka, dan bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud.”

 

Musnad Ahmad 2145: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz yakni Ad Dabagh dari Abdullah Ad Danaj telah menceritakan kepada kami Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, berkata; aku shalat di belakang Abu Hurairah, ia berkata; jika ruku’ dan sujud ia bertakbir. Lalu aku menceritakannya kepada Ibnu Abbas, maka ia berkata; “Semoga engkau kehilangan ibumu! Bukankah itu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

 

Musnad Ahmad 2146: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Yahya bin Al Jazzar berkata; Ibnu Abbas berkata; “Dua anak perempuan dari bani Hasyim lewat, lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu beliau sedang shalat, kemudian mereka meraih lutut beliau, namun beliau tidak berpindah.” Ibnu Abbas berkata; “Aku beserta seorang pemuda dari Anshar melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara itu beliau sedang shalat. Saat itu kami menunggang keledai, lalu kami datang dan ikut shalat.”

 

Musnad Ahmad 2147: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Khalid Al Hadzdza` dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membawa sebagian anak-anak bani Abdul Muththalib, satu di belakangnya dan satu lagi di depannya.”

 

Musnad Ahmad 2148: Telah menceritakan kepada kami Mu’ammar bin Sulaiman Ar Raqi dari Al Hajjaj dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak (sah) pernikahan kecuali dengan wali. Sultan adalah wali bagi siapa yang tidak memiliki wali.” Abu Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Az Zuhri dari ‘Urwah bin Az Zubair dari Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas.

 

Musnad Ahmad 2149: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah Al Fazari telah menceritakan kepada kami Humaid bin Ali Al ‘Uqaili telah menceritakan kepada kami Adl Dlahak bin Muzahim dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Ketika safar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat dua raka’at dan ketika menetap shalat empat raka’at.” (Adl Dlahhak) berkata; Ibnu Abbas berkata; “Maka barangsiapa yang shalat empat raka’at ketika safar adalah seperti orang yang shalat dua raka’at ketika muqim.” Ibnu Abbas juga berkata; “Shalat tidakpernah diqashar kecuali satu kali, yaitu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua raka’at sementara orang-orang shalat satu raka’at-satu raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2150: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Al Aswad dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung (rambut) dan orang yang minta disambungkan (rambutnya), kaum laki-laki yang bertingkah seperti kaum wanita dan wanita yang bertingkah seperti laki-laki.

 

Musnad Ahmad 2151: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak dari Arafah, orang-orang bergerak dengan tergesa-gesa, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: “Wahai manusia, bukanlah kebaikan itu dengan tergesa-gesa dalam berkuda atau tunggangan lainnya.” (Ibnu Abbas) berkata; “lalu aku tidak lagi melihat satu pun yang mengangkat tinggi kaki depannya (tergesa-gesa jalannya) hingga mencapai Jam’un (Muzdalifah).”

 

Musnad Ahmad 2152: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah dari Ibnu Abbas; bahwa Usamah bin Zaid dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Arafah, lalu beliau memasuki padang rumput dan turun untuk buang air, kemudian beliau berwudlu dan naik lagi tanpa melaksanakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 2153: Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab; bahwa Sulaiman bin Yasar telah mengabarkan kepadanya; bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya; bahwa seorang wanita dari suku Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu haji wada’, saat itu Al Fadlal bin Abbas tengah dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, wanita itu bertanya; “Ya Rasulullah sesungguhnya kewajiban Allah berupa haji telah berlaku pada ayahku yang telah tua renta sehingga tidak mampu menegakkan tulang punggungnya di atas tunggangan, apakah bisa terpenuhi kewajiban itu darinya jika aku berhaji atas namanya?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya.” Lalu Al Fadlal bin Abbas menoleh kepada wanita itu, ia memang cantik, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan wajah Al Fadlal ke arah lain.

 

Musnad Ahmad 2154: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan Al Asyqar telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari ‘Atho` dari Abu Adl Dluha dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang duduk, lalu berkata; “Wahai Abul Qasim bagaimana menurutmu ketika Allah menciptakan langit seperti itu.” Seraya menunjuk dengan telunjuknya.”Bumi seperti ini, air seperti ini, gunung-gunung seperti ini dan semua makhluk seperti itu?” semuanya ditunjuk dengan jari telunjuknya. Maka Allah menurunkan ayat: (Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.)

 

Musnad Ahmad 2155: Telah menceritakan kepada kami Husain AL Asyqar telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari ‘Atho` dari Abu Adl Dluha dari Ibnu Abbas, ia berkata; Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun sementara pasukan tidak mempunyai air, maka datanglah seorang lelaki kepada beliau dan berkata; “wahai Rasulullah, di pasukan tidak ada air” Beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu.” Dia menjawab; “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bawakan kepadaku.” Ibnu Abbas berkata; “Lalu ia membawa bejana dengan sedikit air.” Ia berkata lagi; kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan jari-jarinya ke mulut bejana dan membuka jari-jari beliau. Ia berkata lagi; maka terpancarlah beberapa mata air dari sela-sela jari-jari beliau dan beliau menyuruh Bilal: “Serukan kepada orang-orang; wudlu yang diberkahi.”

 

Musnad Ahmad 2156: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit, dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata; Pada suatu hari Ibnu Abbas menyampaikan ceramahnya kepada kami selepas Ashar hingga terbenam matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru; “Shalat!, shalat!” (Abdullah) berkata; Maka Ibnu Abbas pun marah, ia berkata; “Apakah kalian mengajariku sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’.” Abdullah berkata; “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, dan ternyata ia pun menyepakatinya.”

 

Musnad Ahmad 2157: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa ketika turun ayat tentang hutang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali menyangkal adalah Adam ‘alaihis salam.” Atau beliau mengatakan: “yang pertama kali menyangkal adalah Adam. Sesungguhnya ketika Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya apa yang menjadi keturunan hingga hari kiamat. Lalu ditampakkan keturunannya itu kepadanya, di antara mereka ada yang wajahnya memancar indah berseri-seri. Adam pun bertanya; “Wahai Rabbku, siapa ini?” Allah menjawab; “Ini anakmu, Dawud.” Adam bertanya lagi, “Wahai Rabbku, berapa umurnya?” Allah menjawab; “Enam puluh tahun.” Adam berkata; “Wahai Rabbku, tambahkan umurnya.” Allah menjawab; “Tidak, kecuali aku menambahkan dari umurmu.” Umur Adam adalah seribu tahun, maka ditambahkan padanya empat puluh tahun. Maka Allah ‘azza wajalla menetapkan dengan suatu ketetapan dan disaksikan oleh para malaikat. Ketika menjelang wafatnya dan malaikat (maut) pun telah datang untuk mencabut nyawanya, Adam berkata; “Sesungguhnya masih tersisa umurku empat puluh tahun lagi.” Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau telah memberikannya kepada anakmu, Dawud.” Adam berkata; “Aku tidak melakukannya.” Maka Allah ‘azza wajalla menunjukkan catatan kepadanya dan disaksikan oleh seluruh malaikat.”

 

Musnad Ahmad 2158: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membacakan (Al Qur`an) kepada golongan jin dan tidak pula melihat mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sejumlah sahabatnya berangkat menuju pasar ‘Ukazh, dan saat itu antara para setan dan berita dari langit telah terhalang, dan mereka dilempari dengan bola api. Ibnu Abbas berkata lagi; Maka setan-setan itu kembali kepada kaumnya dan bertanya; “ada apa dengan kalian?” mereka menjawab; “Ada penghalang antara kami dan berita langit lalu kami dilempari dengan bola api.” Ibnu Abbas berkata lagi; Mereka berkata; “Tidaklah yang menghalangi antara kalian dengan berita langit kecuali karena terjadinya sesuatu. Sisirlah belahan timur bumi dan belahan baratnya. Carilah apa yang menjadi penghalang antara kalian dengan kabar langit.” Ibnu Abbas berkata; Maka mereka pun menyisir belahan timur bumi dan belahan baratnya untuk mencari-cari penghalang yang menghalangi antara mereka dengan kabar langit. Ia berkata lagi; Maka sebagian golongan jin yang menuju ke arah Tihamah berbalik mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu beliau berada di Nakhlah menuju pasar Ukazh, ketika itu beliau dan sahabatnya sedang mengerjakan shalat subuh. Ia berkata lagi; Tatkala rombongan jin mendengarkan Al Qur`an, mereka memperhatikannya dan berkata; “Demi Allah inilah yang menjadi penghalang antara kalian dengan kabar langit.” Ibnu Abbas berkata; “Dari situlah ketika mereka kembali kepada kaumnya mereka berkata; “Wahai kaum kami, (Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Al Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.) ” Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam” (Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya) ‘” jadi yang diwahyukan kepada beliau itu (di antaranya) adalah dari pernyataan jin.”

 

Musnad Ahmad 2159: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas; “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan Dzulhulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, Juhafah sebagai miqat bagi penduduk Syam, Qarn Al Manazil sebagai miqat bagi penduduk Najed, dan Yalamlam sebagai miqat bagi penduduk Yaman. Semua itu adalah (miqat) bagi mereka dan orang-orang yang datang dari arah sana selain penduduknya, yaitu orang-orang yang hendak mengerjakan haji dan umrah. Adapun yang lebih dekat dari itu maka memulainya dari tempatnya, hingga penduduk Makkah (memulainya) dari Makkah.”

 

Musnad Ahmad 2160: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah saat itu beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2161: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Mereka menganggap bahwa melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji merupakan kejahatan terbesar di muka bumi. Mereka pun menjadikan (bulan) Muharram sebagai (bulan) Shafar dan mereka mengatakan; “Bila luka telah sembuh dan bekasnya telah sirna berarti telah berlalu Shafar, maka telah halal umrah bagi yang (hendak) melaksanakan umrah.” Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tiba pada pagi hari keempat dengan berniat untuk haji, beliau pun memerintahkan mereka untuk melaksanakan umrah. Lalu hal ini terasa berat oleh mereka, maka mereka berkata; “Wahai Rasulullah. Kehalalan (tentang) apa ini?” beliau menjawab: “Semuanya halal.” Di dalam kitabnya (dicantumkan): “Pada subuh.”

 

Musnad Ahmad 2162: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang membeli makanan kecuali setelah memenuhi syaratnya. berkata; Lalu aku tanyakan kepadanya; “Bagaimana itu?” dia menjawab: “Itu adalah dirham (dijual) dengan dirham sedangkan makanannya belakangan.”

 

Musnad Ahmad 2163: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Abbas; “bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun pada malam hari lalu mendirikan shalat, maka akupun bangun dan berwudlu lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau menarikku dan menggeserku serta memberdirikanku di sebelah kanan beliau. Beliau shalat tiga belas raka’at yang sama lamanya.”

 

Musnad Ahmad 2164: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ibnu Abu Mulaikah berkata; ‘Urwah berkata kepada Ibnu Abbas, “Wahai Ibnu Abbas, sampai kapan engkau menyesatkan manusia?” Ibnu Abbas berkata; “Apa itu wahai Urayyah?” ‘Urwah menjawab; “Engkau menyuruh kami melakukan umrah pada bulan-bulan haji sementara Abu Bakar dan Umar melarangnya.” Ibnu Abbas berkata; “Namun itu telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” ‘Urwah berkata; “Mereka berdua juga mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan lebih mengetahui daripada engkau.”

 

Musnad Ahmad 2165: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah mengabarkan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Uqbah bin Amir datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengatakan bahwa saudarinya telah bernazar untuk berjalan kaki menuju Baitullah. Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak membutuhkan nadzar saudarimu itu. Hendaklah ia melaksanakan haji dengan berkendaraan dan berkurban unta.”

 

Musnad Ahmad 2166: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mengharamkan Makkah, maka tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku dan tidak pula dihalalkan bagi seorang pun sesudahku, namun telah dihalakan bagiku sesaat pada suatu siang hari. Rerumputannya tidak boleh dicabuti, pepohonannya tidak boleh ditebangi, binatang buruannya tidak boleh diburu dan barang temuannya tidak boleh diambil kecuali bagi yang hendak mengumumkannya.” Lalu Al Abbas berkata; “Kecuali idzkhir untuk atap tempat tinggal kami dan untuk kuburan kami?” beliau pun menjawab: “Kecuali idzkhir.”

 

Musnad Ahmad 2167: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Abu Yahya dari Ibnu Abbas; bahwa dua orang laki-laki mengadukan perkara kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta bukti dari pendakwa (pengklaim) namun dia tidak memiliki bukti, maka beliaupun meminta terdakwa (tertuduh) untuk bersumpah, lalu dia bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya engkau telah melakukannya akan tetapi engkau telah diampuni karena keikhlasanmu mengucapkan Laa Ilaaha Illallah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah).”

 

Musnad Ahmad 2168: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin An Nu’man seorang syaikh dari An Nakha’, dia berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair bercerita; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan nasihat di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan tak beralas kaki, bertelanjang dan tidak berkhitan. ‘ (Sebagaimana kami Telah memulai penciptaan pertama begitulah kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.) ‘ Ketahuilah bahwa manusia pertama yang akan dikenakan pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim, dan sungguh ia akan didatangi oleh orang-orang dari umatku, lalu ia membawa mereka ke sebelah kiri. Kemudian sungguh aku akan menguacapkan: ‘Sahabatku, sahabatku! ‘ Lalu akan dikatakan kepadaku; ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada adakan setelah ketiadaanmu.’ Lalu sungguh aku akan mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang shalih: ‘ (Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, ‘ dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.) ‘ Lalu dikatakan; “Sesungguhnya mereka telah murtad kembali kepada kepercayaan lama mereka semenjak engkau meninggalkan mereka.” Syu’bah berkata; Dia mendiktekannya kepada Sufyan, kemudian Sufyan mendiktekannya kepadaku.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Mughirah bin An Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan nasehat di tengah-tengah kami.” Lalu dikemukakan haditsnya.

 

Musnad Ahmad 2169: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya yang kalian sebut dengan Al Mufashshal (surat yang terdapat di antara surat Qaf atau Al Hujuraat) itu adalah Al Muhkam (jelas tidak samar). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, aku berusia sepuluh tahun dan aku telah membaca Al Muhkam.”

 

Musnad Ahmad 2170: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Arthah telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ali. Berkata; yang dimaksud adalah Hajjaj, dan telah menceritakan kepadaku Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikafani dengan dua pakaian putih dan satu selimut merah.”

 

Musnad Ahmad 2171: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Ibrahim datang beserta Isma’il dan Hajar, lalu ia menempatkan keduanya di Makkah di tempat (memancarnya) zam-zam. Kemudian dia menyebutkan hadits, “Kemudian ia (Hajar) datang dari (bukit) Marwa kepada Isma’il, sementara mata air telah memancar. Maka ia pun menutup mata air itu dengan tangannya seperti ini, hingga berkumpullah air dari sampingnya. Kemudian ia mengambil dengan cangkirnya ke dalam tempat airnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati keduanya. Seandainya ia (Hajar) membiarkannya, tentulah itu akan menjadi mata air meluas yang akan terus mengalir hingga hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 2172: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho` bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam makan lengan atau bahu (kambing) kemudian beliau shalat tanpa berwudlu (lagi) dan tidak menyentuh air.”

 

Musnad Ahmad 2173: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Khalid telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Kami datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melaksanakan haji, lalu beliau memerintahkan mereka agar menjadikannya umrah, kemudian beliau bersabda: “Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi padaku, niscaya aku melakukan sebagaimana yang mereka lakukan, namun aku memasukkan umrah di dalam haji hingga hari kiamat.” Kemudian beliau menyilangkan sebagian jari-jari tangannya pada sebagian lainnya, maka orang-orang pun bertahallul kecuali yang membawa hewan kurban. Kemudian Ali tiba dari Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Bagaimana kamu berniat memulai ihram?” Ali menjawab; “Aku berniat memulai ihram dengan apa yang engkau niatkan untuk berihram.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu membawa hewan kurban?” Ali menjawab; “Tidak.” Beliau bersabda: “kalau begitu aku bagi sebagaimana engkau kehendaki, dan bagimu sepertiga hewan kurbanku.” Ibnu Abbas berkata; “Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membawa seratus ekor unta.”

 

Musnad Ahmad 2174: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Farqad As Sabakhi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa anaknya, lalu ia berkata; “Ya Rasulullah, anakku ini mengidap ayan, ia sering kambuh saat makan siang dan makan malam kami, sehingga menggangu kami.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap dadanya dan mendoakannya, maka anak itu pun muntah. ‘Affan berkata; “Aku tanyakan kepada seorang badui, lalu ia menjawab; “Sebagiannya merupakan bekas sebagian yang lain.” Lalu keluar dari mulutnya seperti benda hitam yang kecil, dan ia pun sembuh.

 

Musnad Ahmad 2175: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan tulang (berdaging) dari periuk (lalu beliau memakannya), kemudian beliau shalat dan tidak berwudlu (lagi).

 

Musnad Ahmad 2176: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Aban Al ‘Aththar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Zaid dari Abu Sallam dari Al Hakam bin Mina` dari Ibnu Abbas dan dari Ibnu Umar keduanya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat jum’at, atau Allah akan menutup (mati) hati mereka, kemudian mereka akan ditetapkan termasuk golongan orang-orang yang lalai.”

 

Musnad Ahmad 2177: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Khalid dari Yazid bin Abu Ziyad dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat kaum laki-laki yang bertingkah seperti wanita dan kaum wanita yang bertingkah seperti laki-laki. Lalu aku tanyakan; “Apa yang disebut kaum wanita bertingkah seperti laki-laki?” dia pun menjawab: “Yaitu kaum wanita yang menyerupai laki-laki.”

 

Musnad Ahmad 2178: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari seseorang dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalati An Najasyi.

 

Musnad Ahmad 2179: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Bukair bin Al Akhnas dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Allah mewajibkan shalat lewat lisan Nabi kalian empat raka’at ketika muqim dan dua raka’at ketika safar dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut.”

 

Musnad Ahmad 2180: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah berkata; telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mahran dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun dari anak Adam keculai ia telah melakukan salah, atau hendak melakukan kesalahan, selain Yahya bin Zakaria dan tidak selayaknya seseorang mengatakan, “Aku lebih baik dari Yunus bin Matta ‘Alaihissalam.”

 

Musnad Ahmad 2181: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Yahya bin Al Jazzar bahwa Ibnu Abbas berkata; “Aku dan seorang anak dari Bani Hasyim berjalan dengan menunggang keledai, lalu kami membiarkan memakan rerumputan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (yang sedang shalat), namun beliau tidak berpaling. Dan datang pula dua anak perempuan sambil berlari hingga berpegangan pada lutut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun beliau tidak juga berpaling.”

 

Musnad Ahmad 2182: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; Qatadah telah mengabarkan kepadaku, ia berkata; aku mendengar Abu Hassan menceritakan dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zhuhur di Dzulhulaifah, lalu beliau meminta diambilkan hewan kurbannya, maka dibawakanlah hewan kurbannya kepada beliau, lalu beliau menggores punuk bagian kanannya sehingga keluar darah, kemudian mengalunginya dengan dua sandal, lalu beliau menaiki tunggangannya. Setelah beliau duduk di atasnya dan sejajar dengan Baida’, beliau berihlal (memulai ihram dengan niatnya) untuk haji.”

 

Musnad Ahmad 2183: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Aban bin Yazid telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah Ar Riyahi, dari anak paman Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam yakni Ibnu Abbas bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dengan doa ini ketika berduka: “LA ILAHA ILLALLAH AL ‘ALIM AL ‘AZHIM LA ILAHA ILLALLAH RABBU AL ‘ARSYI AL ‘AZHIM LA ILAHA ILLALLAH RABBU AS SAMAWATI AS SAB’I WA RABBU AL ‘ARSYI AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Agung. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan Arsy yang agung. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Arsy yang mulia).”

 

Musnad Ahmad 2184: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah berkata; aku mendengar Abu Al ‘Aliyah berkata; aku mendengar anak paman Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Bahz berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah berkata; telah menceritakan kepadaku anak paman Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak selayaknya seorang hamba.” ‘Affan menyebutkan, “Seorang hamba untuk mengatakan; ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.'” Ia menisbatkannya kepada ayahnya.

 

Musnad Ahmad 2185: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Abu Bisyr berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas; bahwa bibinya yaitu Umu Hufaid memberi hadiah lemak, daging dlabb (sejenis biawak) dan keju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Abbas berkata; “Maka beliau memakan lemak dan keju namun meninggalkan (daging) dlabb, karena merasa jijik. Lalu (daging itu) ada yang memakan dari atas tempat hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya itu haram, tentu tidak akan di makan dari atas tempat hidangan. Aku bertanya; “Siapa yang mengatakan; “Seandainya itu haram: ” dia menjawab; “Ibnu Abbas.”

 

Musnad Ahmad 2186: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ‘Amru bin Dinar berkata; telah memberitakan kepadaku Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku diperintah untuk melakukan sujud di atas tujuh (anggota), serta tidak boleh melipat rambut dan tidak pula pakaian. Kemudian dia mengatakan sekali lagi, “Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam telah diperintahkan untuk sujud di atas tujuh (anggota), serta tidak boleh melipat rambut dan tidak pula pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2187: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah berkata; telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa Jibril berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Sesungguhnya engkau telah dijadikan mencintai shalat, maka ambillah darinya sesukamu.”

 

Musnad Ahmad 2188: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash berkata; telah mengabarkan kepada kami Simak dari Ikrimah berkata; Ibnu Abbas berkata; Aku didatangi ketika sedang tidur pada bulan Ramadlan, lalu dikatakan kepadaku; “Sesungguhnya malam ini adalah malam qadar (lailatul qadar).” Maka aku pun bangun, namun aku masih mengantuk, lalu aku berpegangan pada tali tenda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata beliau sedang shalat, lalu aku memperhatikan malam tersebut, ternyata itu adalah malam kedua puluh tiga.”

 

Musnad Ahmad 2189: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Tsabit yakni Ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Hilal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengalami beberapa malam berturut-turut dalam keadaan lapar, sementara keluarganya tidak menemukan makan malam. Sedangkan mayoritas roti mereka adalah roti gandum.

 

Musnad Ahmad 2190: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Katsir Abu Dawud Al Wasithi berkata; aku mendengar Ibnu Syihab menceritakan dari Abu Sinan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Beliau, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berceramah di hadapan kami, beliau bersabda: “Wahai manusia, telah diwajibkan haji atas kalian.” Ia berkata; Lalu Al Aqra’ bin Habis berdiri dan berkata; “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Seandainya aku katakan itu, tentulah wajib (seperti itu) dan bila diwajibkan (seperti itu), kalian tidak akan melaksanakannya atau tidak mampu melaksanakannya. Barangsiapa yang menambah, maka itu adalah tathawwu’ (sunnah).”

 

Musnad Ahmad 2191: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf tujuh kali dan beliau thawaf sambil berlari kecil. Beliau berlari kecil karena ingin menunjukkan kekuatannya kepada orang-orang.

 

Musnad Ahmad 2192: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi telah mengabarkan kepada kami Abu Zubaid dari Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Zhuhur di Mina pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah).”

 

Musnad Ahmad 2193: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Al Aswad dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kalian melarang saudaranya untuk menyandarkan perabotannya pada dindingnya.”

 

Musnad Ahmad 2194: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Ibnu Hubairah dari Maimun Al Makki; bahwa dia melihat Ibnu Az Zubair Abdullah shalat mengimami mereka, dia berisyarat dengan kedua telapak tangannya ketika berdiri, ketika ruku’, ketika sujud dan ketika bangkit untuk berdiri, lalu berdiri kemudian berisyarat dengan kedua tangannya. Ia berkata, “Kemudian aku pergi menemui Ibnu Abbas, aku katakan kepadanya; “Sungguh aku telah melihat Ibnu Az Zubair melaksanakan suatu shalat yang aku belum pernah melihat seorang pun melakukannya.” Kemudian dirincikan isyarat itu kepadanya, Ibnu Abbas pun berkata; “Bila engkau ingin melihat shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ikutilah shalat Ibnu Az Zubair.”

 

Musnad Ahmad 2195: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria dari Dawud dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi; “Berilah kami sesuatu yang akan kami tanyakan kepada orang itu (yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” Maka mereka pun menanyakannya kepada beliau, lalu turunlah ayat: ” (Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’).” Mereka (orang-orang Yahudi) berkata; “Kami telah diberi ilmu yang banyak, kami telah diberi Taurat, dan barangsiapa yang diberi Taurat maka dia telah diberi kebaikan yang banyak.” Lalu Allah menurunkan ayat: ” (Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu.) ”

 

Musnad Ahmad 2196: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah dan aku mendengarnya memberitakan kepada kami dari Ibnu Abu Syaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak dari Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al Aslami: “Mungkin engkau hanya mencium atau menyentuh atau melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 2197: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah berkata; dan aku mendengarnya memberitakan kepada kami dari Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak bepergian beliau mengucapkan: “ALLAHUMMA ANTA ASH SHAHIBU FI AS SAFARI WA AL KHALIFATU FI AL AHLI, ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ADL DLUBNAH FI AS SAFARI WA AL KAABBATI FI AL MUNQALABI, ALLAHUMMA ITHWILANA AL ARDLA WA HAWWIN ‘ALAINA AS SAFARA (Ya Allah Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari beban perjalanan (kelelahan dan kesulitan perjalanan) dan kedukaan ketika kembali. Ya Allah lipatkanlah (pendekkanlah jarak) bumi bagi kami dan mudahkanlah perjalanan kami) ” dan apabila telah kembali beliau mengucapkan: “AAYIBUNA TA`IBUNA ‘ABIDUNA LIRABBINA HAMIDUNA (Kami kembali, kami kembali, kepada Rabb kamilah kami kembali. Tidak ada dosa yang ditinggalkan pada kami).”

 

Musnad Ahmad 2198: (Dan masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Ibnu Abbas -) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh akan ada orang-orang dari umatku yang membaca Al Qur`an namun mereka meluncur dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.”

 

Musnad Ahmad 2199: (Dan masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Ibnu Abbas -) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencegat (rombongan pedagang), janganlah kalian menahan air susu ternak dan janganlah pula sebagian kalian meneriaki sebagian lainnya.”

 

Musnad Ahmad 2200: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin Ishaq dari Ya’qub bin ‘Utbah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan Umayyah pada sesuatu dari sya’irnya, ia bersya’ir, “Orang dan sapi berada di bawah kaki kanannya. Sedangkan Nasr untuk yang lainnya dan Laits diincar.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Benar.” Dia juga mengatakan; “Matahari di setiap akhir malam, dengan (memancarkan) warna merah, lalu warnanya menjadi jingga. Dia enggan terbit lagi kepada kami dengan santun, kecuali sebagai penyiksa. Jika tidak mau (terbit lagi) maka dia dicambuk.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Benar.”

 

Musnad Ahmad 2201: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Harb dari Yazid bin Abdurrahman dari Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kewajiban berwudhlu atas orang yang tidur sambil sujud, kecuali dia berbaring. karena bila dia berbaring, maka akan merengganglah persendian-persendiannya.”

 

Musnad Ahmad 2202: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengarnya darinya. Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa seorang laki-laki menangkap wanita atau menawannya, lalu wanita itu mencabut gagang pedangnya, maka laki-laki itu pun membunuhnya. lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewatinya, kemudian diberitahukan tentang perihalnya, maka beliaupun melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak.

 

Musnad Ahmad 2203: (Dan masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Ibnu Abbas -) bahwa Rasulullah mengutus pasukan ke Mut’ah dengan menunjuk Zaid sebagai pemimpinnya. bila Zaid terbunuh digantikan oleh Ja’far, bila Ja’far terbunuh digantikan oleh Ibnu Rawahah. namun Ibnu Rawahah berangkat belakangan, kemudian ia melaksanakan shalat Jum’at bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau melihatnya, beliau bertanya; “Apa yang menyebabkanmu terlambat (berangkat)?” Dia menjawab; “Aku shalat Jum’at bersamamu.” beliau pun bersabda: “Sungguh berangkat di pagi hari atau sore hari (untuk berjihad) adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

 

Musnad Ahmad 2204: (Dan masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Ibnu Abbas -) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang menggauli wanita hamil.”

 

Musnad Ahmad 2205: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad. Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengarnya darinya, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika perang Khandaq, seorang laki-laki dari golongan Musyrikin terbunuh, lalu mereka (kaum Musyrikin) meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar menguburnya, maka beliau bersabda, “Tidak, dan tidak ada penghormatan bagi kalian.” mereka berkata; “Kami akan memberikan upah kepadamu atas itu.” beliau menjawab; “Itu lebih buruk dan lebih buruk.”

 

Musnad Ahmad 2206: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengar darinya, dari Syarik dari Husain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan mengenakan satu pakaian yang menyelimutinya, beliau menggunakan kelebihannya untuk melindungi dari panas dan dinginnya tanah.

 

Musnad Ahmad 2207: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengar darinya, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Dawud dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Abu Jahal melintas lalu berkata; “Bukankan aku telah melarangmu?” lalu dia didebat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Jahal pun berkata; “Mengapa engkau mendebatku wahai Muhammad? Demi Allah, engkau telah mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang lebih banyak golongannya daripada aku.” maka Jibril ‘alaihis salam berkata; ” (Maka Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)), ” selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan; “Demi Allah seandainya ia memanggil para pengikutnya, niscaya malaikat Zabaniyah menyambarnya dengan adzab.”

 

Musnad Ahmad 2208: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, Abdullah bin ahmad berkata; aku mendengarnya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al Muharibi dari Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau berkhutbah pada hari Jum’at dengan berdiri kemudian duduk lalu berdiri lagi dan berkhutbah.

 

Musnad Ahmad 2209: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengarnya dari Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Qabus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali telah disertai dengan qarinnya (pendampingnya) dari setan.” mereka bertanya; “Bagaimana denganmu wahai Rasulullah?” beliau menjawab; “Ya (begitu pula aku). namun Allah telah menolongku terhadapnya sehingga dia memeluk Islam.”

 

Musnad Ahmad 2210: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku mendengarnya darinya, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Qabus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Pada malam ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam diisra`kan, beliau masuk ke dalam Surga, lalu beliau mendengar suara lirih di sampingnya, beliau pun bertanya: “Wahai Jibril, apa ini?” Jibril menjawab; “Ini Bilal, seorang muadzdzin.” Lalu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui orang-orang, beliau bersabda: “Beruntunglah Bilal, aku telah melihat untuknya demikian dan demikian.” Ibnu Abbas berkata; Lalu beliau ditemui Musa ‘Alaihis salam dan menyambut beliau, dia berkata; “Selamat datang wahai Nabi yang ummi.” Nabi bersabda: “Dia itu orang yang (berkulit) kecoklatan, berpostur tinggi dan berambut tebal terurai sebatas telinganya atau di atasnya.” Beliau pun bertanya; “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab; “Ini adalah Musa.” beliau pun berlalu, kemudian ditemui oleh Isa dan menyambutnya, beliau pun bertanya; “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab; “Ini Isa.” Kemudian beliau pun berlalu, lalu ditemui oleh seorang syaikh yang berwibawa, orang itu pun menyambutnya dan mengucapkan salam kepadanya, dan semuanya mengucapkan salam kepadanya. Beliau pun bertanya; “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab; “Ini bapakmu, Ibrahim.” Kemudian beliau melihat ke Neraka ternyata di dalamnya terdapat orang yang tengah memakan bangkai, beliau pun bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab; “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia.” Lalu beliau melihat seorang laki-laki (berkulit) merah kebiruan dengan rambut gimbal, beliau pun bertanya: “Siapa ini wahai Jibril?” Jibril menjawab; “Ini adalah penggorok unta (pada masa Nabi Shalih).” Kemudian ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Masjidil Aqsha, beliau melaksanakan shalat, beliau menoleh, ternyata para Nabi semuanya shalat bersama beliau. Setelah selesai, didatangkan dua cangkir, satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri, salah satunya berisi susu dan satu lagi berisi madu, maka beliau mengambil susu dan meminumnya, lalu yang membawa cangkir itu berkata, “Engkau telah sesuai dengan fithrah (yakni Islam dan tauhid).”

 

Musnad Ahmad 2211: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengar darinya berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku berdiri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat malam di sebelah kirinya, lalu beliau memberdirikanku di sebelah kanannya.” Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Sumai’ dari Ibnu Abbas hadits yang semisal.

 

Musnad Ahmad 2212: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Jarir dari Laits bin Abu Sulaim dari Abdul Malik bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku yang mendahului kalian ke telaga, barangsiapa mendatanginya maka ia beruntung. Dan didatangkan orang-orang lalu diletakkan di sebelah kiri, maka aku berkata; ‘Wahai Rabbku.’ Lalu dikatakan; “Mereka murtad, kembali kepada (kepercayaan) lama mereka setelah ketiadaanmu.”

 

Musnad Ahmad 2213: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya darinya berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits bin Abu Sulaim dari Abdul Malik bin Sa’id bin Jubair dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertafa`ul (pengharapan nasib baik) dan tidak bertathayyur (menganggap sial atau bernasib buruk bila melihat burung atau kejadian lainnya) dan beliau senang dengan nama yang bagus.”

 

Musnad Ahmad 2214: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Abdul Malik bin Sa’id bin Jubair dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan dia merafa’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar.”

 

Musnad Ahmad 2215: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Lima (binatang) yang merusak (berbahaya), boleh dibunuh oleh orang yang sedang ihram dan boleh dibunuh di tanah haram; Tikus, kalajengking, ular, anjing penggigit dan burung gagak.” Telah menceritakan kepada kami Utsman telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hushain bin Abdurrahman dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Lima (binatang) semuanya perusak (berbahaya), boleh dibunuh oleh orang yang sedang ihram dan boleh dibunuh di tanah haram.” Dengan redaksi yang sepertinya.

 

Musnad Ahmad 2216: Telah menceritakan kepada kami Utsman telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hushain bin Abdurrahman dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan suatu sunnah kecuali aku mengetahuinya selain tiga hal; Aku tidak tahu apakah beliau membaca ketika shalat Zhuhur dan Ashar atau tidak; Aku tidak tahu bagaimana beliau membaca ayat: WAQAD BALAGHTU MIN AL KIBARI ‘UTIYYAN atau ‘USUYYAN (Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan Aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.) Hushain berkata; “Dan aku lupa yang ketiga.” Abdullah berkata; “Aku telah mendengar semuanya dari Utsman bin Muhammad ‘UTIYYAN.

 

Musnad Ahmad 2217: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya darinya; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Ja’far bin Iyas dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk merubah bukit Shafa menjadi emas dan agar gunung-gunung diratakan bagi mereka sehingga mereka bisa bercocok tanam, bila mereka kufur, maka mereka akan dibinasakan sebagaimana umat-umat sebelum mereka yang telah dibinasakan. Beliau bersabda: “Tidak, akan tetapi aku menangguhkan mereka.” Lalu Allah Subhanahu Wa ta’ala menurunkan ayat: ” (Berkata Musa: ‘Waktu untuk pertemuan (Kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalan naik.’) ”

 

Musnad Ahmad 2218: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin Abdurrahman dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata; Dulunya nama Juwairiyah adalah Barrah, seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyukai itu, lalu beliau menamainya Juwairiyah, karena beliau tidak suka bila dikatakan; “Telah keluar dari Barrah.” Beliau keluar setelah shalat, lalu mendatanginya, ia pun berkata; “Aku masih tetap tekun beribadah setelahmu wahai Rasulullah.” (Yakni setelah engkau keluar). Maka beliau pun berkata kepadanya: “Aku telah mengucapkan beberapa kalimat setelahmu yang seandainya ditimbang tentu akan lebih unggul dari apa yang telah aku ucapkan (yaitu) SUBHANALLAH ‘ADADA MA KHALAQALLAHU, SUBHANALLAHI RIDLA`A NAFSIHI SUBHANALLAHI ZINATA ‘ARSYIHI SUBHANALLAHI MIDADA KALIMATIHI (Maha Suci Allah sebanyak apa yang diciptakan Allah Maha Suci Allah sebanyak keridlaan diriNya Maha Suci Alalh seberat ‘ArsyNya Maha Suci Allah sebanyak berlipat-lipat kalimat-kalimatNya).”

 

Musnad Ahmad 2219: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasalah kalian dengan melihatnya (hilal Ramadlan) berbukalah kalian karena melihatnya (hilal Syawal). Bila terhalang oleh awan, maka genapkanlah hitungannya. Satu bulan itu adalah dua puluh Sembilan (hari).” Maksudnya adalah kurang.

 

Musnad Ahmad 2220: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Al A’masy dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, Ibuku telah meninggal dunia dan ia mempunyai hutang puasa satu bulan, apa boleh aku mengqadla`kan atas namanya?” beliau menjawab: “Seandainya ibumu mempunyai hutang, apakah engkau akan melunasinya?” ia menjawab; “Ya.” Beliau pun bersabda: “Maka hutang Allah lebih berhak untuk ditunaikan.” Sulaiman berkata; Lalu Al Hakam dan Salamah bin Kuhail berkata; Saat itu kami sedang duduk ketika Muslim menceritakan hadits ini, keduanya berkata; “Kami mendengar Mujahid menyebutkan ini dari Ibnu Abbas.”

 

Musnad Ahmad 2221: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepadaku Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ibnu Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi upah kepada si pembekam dan beliau mengobati (menetesi) hidungnya.

 

Musnad Ahmad 2222: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Wuhaib telah mengabarkan kepada kami Ibnu Thawus dari bapakku dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau ditanya tentang penyembelihan, melempat (jumrah) dan bercukur, yaitu tentang mendahulukan dan mengakhirkannya. Beliau pun menjawab: “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 2223: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Al Khaffaf berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Az Zubair dari Ali bin Abdullah bin Abbas dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diberi lengan (kambing) bakar, lalu beliau memakannya dengan menggunakan ujung-ujung gigi, kemudian beliau shalat dan tidak berwudlu.

 

Musnad Ahmad 2224: Telah menceritakan kepadaku Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind bahwa ia telah mendengar bapaknya menceitakan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat dari nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia.”

 

Musnad Ahmad 2225: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Abdullah yakni Ibnu Mubarak, berkata; telah mengabarkan kepada kami Musa bin Uqbah dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho` bahwa ia telah menceritakannya; bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan dari bahu atau lengan (kambing), kemudian beliau berdiri lalu melaksanakan shalat dan tidak berwudlu lagi.”

 

Musnad Ahmad 2226: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Amru berkata; telah menceritakan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa kepada mereka sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al Qur`an. ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN ‘ADZABI JAHANNAM WA A’UDZUBIKA MIN ‘ADZABI AL QABRI WA A’UDZUBIKA MIN SYARRI AL MASIH AD DAJJAL WA A’UDZUBIK MIN FITNATI AL MAHYA WA AL MAMAT (Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadaMu dari adzab Neraka Jahannam, aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan Al Masih Ad Dajjal, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah hidup dan (setelah) mati.” Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Malik dari Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas seperti itu, hanya saja ia menyebutkan, “MIN FITNATI AL MASIH AD DAJJAL”

 

Musnad Ahmad 2227: Abdul Wahab berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika beliau berduka: LAILAHA ILLALLAH AL ‘AZHIM AL HALIM LAILAHA ILLA ANTA RABBU AS SAMAWATI WA RABBU AL ARDLI DAN RABBU AL ‘ARSYI AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang haq selain Engkau Tuhan ‘Arsy yang agung, tidak ada sesembahan yang haq selain Engkau Tuhan semua langit, Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab telah mengabarkan kepada kami Sa’id dari Qotadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hadits semisal. Musnad Ahmad 2227: Abdul Wahab berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika beliau berduka: LAILAHA ILLALLAH AL ‘AZHIM AL HALIM LAILAHA ILLA ANTA RABBU AS SAMAWATI WA RABBU AL ARDLI DAN RABBU AL ‘ARSYI AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang haq selain Engkau Tuhan ‘Arsy yang agung, tidak ada sesembahan yang haq selain Engkau Tuhan semua langit, Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab telah mengabarkan kepada kami Sa’id dari Qotadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hadits semisal.

 

Musnad Ahmad 2228: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Za`idah bin Abu Ar Ruqad dari Ziyad An Numairi dari Anas bin Malik, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memasuki bulan Rajab, maka beliau mengatakan: “ALLAHUMMA BARIK LANA FI RAJABI WA SYA’BAN WA BARIK LANA FI RAMADLAN (ya Allah, berkahilah kami di rajab dan sya’ban dan berkahilah kami di ramadhan) ” beliau bersabda: “Malam jum’at adalah mulia dan harinya terang benderang.”

 

Musnad Ahmad 2229: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab dari Sa’id dari Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah Ar Riyahi telah menceritakan kepada kami anak paman nabi kalian yakni Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pada malam aku diisra`kan, aku melihat Musa bin Imran sebagai seorang laki-laki yang (berkulit) kecoklatan dan berambut lebat, seolah-olah dia dari orang-orang Syanu`ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam bertubuh sedang, berkulit merah campur putih dan berambut ikal.”

 

Musnad Ahmad 2230: Telah menceritakan kepada kami Abidah bin Humaid dari Yazid bin Abu Ziyad dari Mujahid dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: “Jadikanlah ia sebagai umrah. Sesungguhnya jika aku tahu yang akan datang, tentulah aku akan memerintahkannya kepada kalian, dan hendaklah orang yang tidak membawa hewan kurban bertahallul.” Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membawa hewan kurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Aku memasukkan umrah ke dalam haji hingga hari kiamat.” Seraya beliau menyilangkan jari-jarinya.

 

Musnad Ahmad 2231: (Dan masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Ibnu Abbas -) Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umrah telah masuk ke dalam ritual haji sampai hari kiamat.” Beliau menyilangkan jari-jarinya.

 

Musnad Ahmad 2232: Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Humaid telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Seseorang dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dalam perjalanan, beliau bermalam, lalu beliau tidur dan tidak terjaga kecuali karena (panas) matahari. Kemudian beliau memerintahkan Bilal untuk adzan, dan beliau shalat dua raka’at.” Ibnu Abbas berkata; “Dunia dan seisinya tidaklah membahagiakanku dibanding ini.” Yakni rukhshah ini.

 

Musnad Ahmad 2233: Telah menceritakan kepada kami Abidah telah menceritakan kepadaku Manshur dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah menuju ke Makkah. Saat itu beliau berpuasa hingga mencapai Usfan. Lalu beliau minta diambilkan bejana (cangkir) dan beliau meletakkan di tangannya hingga orang-orang melihat kepadanya, kemudian beliau berbuka.” Ibnu Abbas berkata; “Siapa yang mau berpuasa maka berpuasa dan siapa yang mau berbuka maka berbuka.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad telah menceritakan kepadaku bapakku telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut dengan sanadnya atau dengan maknanya.

 

Musnad Ahmad 2234: Telah menceritakan kepada kami Abidah telah menceritakan kepadaku Qabus dari Abu Zhabyan dari Ibnu Abbas; bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada mereka dengan tergesa-gesa, sehingga mengejutkan kami karena ketergesa-gesaan beliau. Begitu beliau sampai kepada kami, beliau bersabda: “Aku datang dengan tergesa-gesa untuk memberitahu kepada kalian tentang lailatul qadar, kemudian aku dijadikan lupa tentangnya antara aku dan kalian. Namun demikian, carilah di sepuluh (malam) terakhir dari bulan Ramadlan.”

 

Musnad Ahmad 2235: Telah menceritakan kepada kami Abidah telah menceritakan kepadaku Manshur dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada waktu penaklukan Makkah: “Sesungguhnya negeri ini adalah negeri haram (tanah suci), Allah telah mengharamkannya ketika menciptakan langit dan bumi, maka negeri ini haram karena telah diharamkan Allah hingga hari kiamat. Tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun untuk berperang di dalamnya selain aku, dan tidak dihalalkan pula bagi seorang pun (untuk berperang) di dalamnya setelahku hingga terjadinya kiamat. Dan tidak dihalalkan bagiku (berperang) di dalamnya kecuali hanya sesaat dari suatu siang hari. Maka negeri ini haram karena telah diharamkan Allah ‘azza wajalla hingga terjadinya kiamat. Pepohonannya tidak boleh ditebangi, rerumputannya tidak boleh dicabut, hewan buruannya tidak boleh diburu dan barang temuannya tidak boleh ambil kecuali bagi yang hendak mengumumkan.” Lalu Al Abbas, salah seorang warga setempat yang telah mengetahui apa yang biasa mereka lakukan di sana berkata; “Kecuali idzkir wahai Rasulullah, karena hal itu pasti dibutuhkan oleh mereka. Hal itu untuk kuburan dan untuk (keperluan) rumah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Kecuali idzkir.”

 

Musnad Ahmad 2236: Telah menceritakan kepada kami Abidah berkata; telah menceritakan kepadaku Waqid Abu Abdullah Al Khayyath dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Dihadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa lemak, keju dan daging dlabb (semacam biawak), lalu beliau memakan lemak dan keju, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya (daging) ini, aku tidak memakannya sama sekali, barangsiapa yang ingin memakannya silakan memakannya.” Ibnu Abbas berkata; “Lalu (daging) itu pun di makan (oleh orang lain) dari nampan beliau.”

 

Musnad Ahmad 2237: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari telah menceritakan kepada kami Hisyam yakni Ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam saat beliau sedang ihram, beliau berbekam di kepalanya karena pusing yang dideritanya, atau karena sesuatu yang dialaminya, hal itu beliau lakukan di suatu tempat yang bernama Lahyu Jamal.”

 

Musnad Ahmad 2238: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abu Abdullah telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tebusan budak mukatab adalah senilai orang merdeka untuk kadar yang telah dicicilnya, sedangkan untuk kadar yang masih berstatus budak ditebus senilai dengan diyat budak.”

 

Musnad Ahmad 2239: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Husain bin Abdullah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika orang-orang berkumpul untuk memandikan (jenazah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu di dalam rumah hanya ada keluarga, (yaitu) pamannya, Al Abbas bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib, Al Fadl bin Abbas, Qutsam bin Al Abbas, Usamah bin Zaid bin Haritsah dan Shalih maulanya (mantan budaknya). Setelah mereka berkumpul untuk memandikannya, Aus bin Khauli Al Anshari, salah seorang Bani Auf bin Al Khazraj yang ikut serta perang Badar, menyeru Ali bin Abu Thalib dari balik pintu, dia berkata: “Wahai Ali, aku persaksikan engkau kepada Allah dan kedudukan kami terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas berkata; “Maka Ali berkata; “Masuklah.” Maka ia pun masuk lalu menghadiri pemandian (jasad) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ia tidak ikut memandikan sama sekali. Ibnu Abbas berkata; “Lalu beliau disandarkan ke dadanya dan masih mengenakan gamisnya. Al Abbas, Al Fadlal dan Qutsam membalikkannya bersama Ali bin Abu Thalib, sementara Usamah bin Zaid dan Shalih, menyiramkan air, lalu Ali memandikannya. Tidak ada yang terlihat dari Rasulullah sebagaimana yang biasa terlihat dari mayit.” Ia (Ibnu Abbas) berkata; “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, engkau sungguh mempesona, baik dalam keadaan hidup maupun setelah meninggal.” Setelah selesai memandikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan air dan daun sidr (bidara), mereka mengeringkannya, kemudian dilakukan apa yang biasa dilakukan terhadap mayit. Kemudian dikenakan pada beliau tiga pakaian, (yaitu) dua pakaian putih dan sehelai pakaian luar (Yang terbuat dari kapas dan wol). Selanjutnya Al Abbas memanggil dua orang laki-laki seraya mengatakan, “Salah seorang kalian pergi menemui Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Abu Ubaidah biasa membuatkan lubang kubur bagi penduduk Makkah. Dan, seorang lagi pergi menemui Abu Thalhah bin Sahl Al Anshari. Abu Thalhah biasa membuatkan lahad untuk penduduk Madinah.” Ibnu Abbas berkata; Kemudian Al Abbas berkata kepada keduanya saat melepas kepergian mereka, “Ya Allah, berilah pilihan bagi Rasul-Mu.” Ibnu Abbas berkata; Lalu keduanya pun berangkat, ternyata orang yang bertugas menemui Abu Ubaidah tidak menemukan Abu Ubaidah, sementara orang yang bertugas menemui Abu Thalhah dapat menemui Abu Thalhah. Lalu ia pun datang, kemudian membuatkan lahad untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2240: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kami Khushaif bin Abdurrahman Al Jazari dari Sa’id bin Jubair berkata; Aku berkata kepada Ibnu Abbas; “Wahai Ibnu Abbas, sungguh mengherankan perselisihan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai ihlal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (memulai ihram dengan niat) ketika beliau mewajibkannya.” Ia berkata; “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengetahui tentang hal itu. Sesungguhnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya satu haji, lalu dari situ mereka berbeda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat untuk menunaikan haji, ketika beliau shalat dua raka’at di masjidnya di Dzulhulaifah, beliau mewajibkan di majelisnya, begitu selesai melakukan dua raka’atnya beliau berihlal untuk haji. Hal ini didengar oleh orang-orang langsung dari beliau dan mereka mengingat itu dari beliau, kemudian beliau naik (ke tunggangannya). Setelah untanya bertolak beliau berihlal (berniat), dan hal itu diketahui oleh beberapa orang, demikian ini karena orang-orang datang secara bertahap, sehingga mereka pun mendengar beliau berihlal (berniat) ketika unta beliau bertolak, maka mereka berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berihlal (berniat) ketika untanya bertolak.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, dan ketika sejajar dengan baida` beliau berihlal (berniat) dan hal itu pun diketahui oleh beberapa orang. Lalu mereka berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berihlal (berniat) ketika untanya sejajar dengan Baida`.” Demi Allah, sebenarnya beliau telah mewajibkan di tempat shalatnya, dan beliau berihlal (berniat) ketika untanya bertolak, beliau juga berihlal (berniat) ketika mencapai sejajar dengan Baida`.” Barangsiapa berpatokan pada ucapan Abdullah bin Abbas dia berihlal (berniat) di tempat shalatnya begitu selesai melaksanakan dua raka’atnya.

 

Musnad Ahmad 2241: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku seseorang dari Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid bin Jabr dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan seratus ekor unta ketika haji wada’, beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri sebanyak tiga puluh ekor unta, kemudian beliau menyuruh Ali, maka dia menyembelih unta yang tersisa. Beliau bersabda: “Bagikan dagingnya, jeroan dan kulitnya kepada orang-orang dan jangan engkau memberikan sedikit pun untuk tukang potongnya. Ambilkan untuk kami sepotong daging dari setiap ekor itu, kemudian masukkan ke dalam satu periuk sehingga kami memakan dari dagingnya dan minum dari kuahnya.” Maka Ali pun melaksanakannya.

 

Musnad Ahmad 2242: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim Az Zuhri dari Kuraib mantan budak Abdullah bin Abbas, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Al Abbas, apa maksud ucapanmu, ‘Tidaklah seseorang mengerjakan haji dengan tidak menggiring hewan kurban, kemudian thawaf di Baitullah, kecuali ihlal (berniat) dengan umrah. Dan tidaklah seorang berhaji yang menggiring hewan kurban, kecuali telah berpadu padanya umrah dan haji.’ Padahal orang-orang tidak mengatakan demikian?” ia menjawab; “celaka kamu! Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat bersama sejumlah sahabatnya, tidak ada yang mereka rencanakan kecuali haji, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang yang tidak membawa hewan kurban agar berthawaf di Baitullah dan ihlal (berniat) dengan berumrah. Kemudian seseorang di antara mereka berkata; “Wahai Rasulullah, bukankan ini haji?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ini bukanlah haji akan tetapi umrah.”

 

Musnad Ahmad 2243: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan Aisyah untuk umrah pada malam hashbah kecuali karena membantah para pelaku syirik, yaitu karena mereka biasa mengatakan; “Bila luka telah sembuh dan bekasnya telah sirna kemudian berlalu Shafar, maka telah halal umrah bagi yang (hendak) melaksanakan umrah.”

 

Musnad Ahmad 2244: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid bin Jabr dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan unta Abu Jahal, yaitu yang beliau peroleh saat perang Badar dan unta tersebut di kepalanya terdapat cincin perak, beliau lakukan pada tahun Hudaibiyah ketika beliau berkurban. Di kesempatan lain Ibnu Abbas berkata; ” (Demikian ini) untuk menimbulkan kemarahan kaum Musyrikin.”

 

Musnad Ahmad 2245: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Busyair bin Yasar mantan budak bani Haritsah, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; “Pada waktu penaklukan (Makkah), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat di bulan Ramadlan. Saat itu beliau berpuasa Ramadlan dan kaum Muslimin pun berpuasa bersamanya, hingga ketika telah mencapai Kadid, beliau meminta diambilkan air dalam sebuah cangkir (terbuat dari kayu yang dilubangi), saat itu beliau di atas tunggangannya, lalu beliau pun minum dan orang-orang melihatnya, beliau (melakukan itu) untuk memberitahukan kepada mereka bahwa beliau berbuka, lalu kaum Muslimin pun berbuka.”

 

Musnad Ahmad 2246: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepadaku bapakku dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata; “Dahulu Ahli Kitab biasa menguraikan rambut mereka, sementara kaum Muslimin membelah rambut mereka. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senang menyamai Ahli Kitab pada sebagian perkara yang tidak ada perintahnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurai (rambutnya), tapi kemudian beliau membelahnya.”

 

Musnad Ahmad 2247: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Shalih bin Kaisan dari Abdullah bin Al Fadlal bin Abbas bin Rabi’ah dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “janda lebih berhak terhadap perkara dirinya, sedangkan gadis yatim dimintai persetujuan mengenai dirinya, dan izinnya adalah diamnya.”

 

Musnad Ahmad 2248: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan putrinya, yakni Zainab, kepada Abu Al ‘Ash bin Ar Rabi’. KeIslaman Zainab adalah enam tahun sebelum keIslamannya (Abu Al ‘Ash). (Pengembalian ini) berdasarkan pernikahan pertama, dan beliau tidak memperbaharui persaksian dan tidak pula mahar.”

 

Musnad Ahmad 2249: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; Thalhah bin Nafi’ menyebutkan dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Seorang laki-laki menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar dari suku Bal’ajlan, lalu laki-laki itu masuk ke tempatnya dan tinggal bersamanya. Pagi harinya, laki-laki itu berkata; “Aku mendapatinya sudah tidak perawan!” Lalu perkara mereka diadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memanggil wanita tersebut dan menanyainya. Wanita itu pun menjawab; “Tentu. Aku tadinya masih perawan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan keduanya untuk li’an, maka keduanya pun melakukan li’an, lalu maharnya diberikan kembali.

 

Musnad Ahmad 2250: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dan Sa’d keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah dari Isma’il bin Ibrahim Asy Syaibani dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk merajam laki-laki dan wanita Yahudi di depan pintu masjidnya. Ketika laki-laki yahudi itu merasakan lemparan bebatuan, dia berdiri ke arah teman wanitanya lalu memiringkan tubuhnya kepadanya untuk melindunginya dari lemparan bebatuan, hingga keduanya mati. Hal ini merupakan keputusan Allah ‘azza wajalla bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam penetapan zina dari kedua orang tersebut.

 

Musnad Ahmad 2251: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih berkata; Ibnu Syihab menceritakan bahwa Ubaidullah bin Abdullah telah mengabarkannya, bahwa Ibnu Abbas mengabarkannya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seekor kambing yang telah mati, lalu beliau bertanya: “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?”, mereka menjawab; “Itu sudah menjadi bangkai wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya yang diharamkan (dari bangkai) adalah memakannya.”

 

Musnad Ahmad 2252: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan kepada kami putera saudaraku Ibnu Syihab dari pamannya yakni Muhammad bin Muslim, berkata; telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkannya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Kaisar Romawi (yang isinya) mengajak kepada Islam, dan mengirimnya bersama Dihyah Al Kalbi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya agar menyerahkan kepada pembesar Bushra, untuk kemudian diserahkan kepada Kaisar Romawi. Adapun Kaisar Romawi saat Allah membuat pasukan Persia kalah, ia berjalan dari Himsh ke Iliya` diatas permadani yang dibentangkan untuknya. Abdullah bin Abbas berkata; “Sesampainya surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke tangannya, segera membacanya dan mengatakan; “Carilah seseorang dari kaumnya yang bisa aku tanyai tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas berkata; Abu Sufyan bin Harb memberitahukan kepadaku bahwa dahulu ia berada di Syam bersama orang-orang Quraisy yang datang dalam rangka berdagang, dan itu terjadi saat masih ada permusuhan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang kafir Quraisy. Abu Sufyan berkata; Utusan Kaisar Romawi mendatangiku, lalu ia bersama diriku dan teman-temanku pergi hingga sampai di Iliya’, lalu kami dibawa menemui Kaisar, saat itu ia sedang duduk di atas singgasananya, di atas kepalanya bertengger mahkota, dan di sampingnya terdapat para pembesar Romawi. Lalu ia berkata pada juru bahasanya, “Tanyakan pada mereka, siapakah di antara mereka yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang menganggap dirinya Nabi ini.” Abu Sufyan menjawab; “Aku adalah orang yang paling dekat nasabnya dengannya.” Kaisar bertanya lagi, “Apa hubunganmu dengannya?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Dia adalah anak pamanku.” Abu Sufyan berkata; Dan tidak ada seorang pun yang ikut dalam kafilah saat itu, yang berasal dari Bani Abdu Manaf selain diriku. Ia berkata; Lalu Kaisar berkata; “Dekatkanlah ia padaku.” Lalu ia menyuruh teman-temanku agar berada di belakangku. Kemudian ia berkata pada juru bahasanya; “Katakan pada teman-temannya, sesungguhnya aku akan menanyai orang ini tentang laki-laki yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Jika ia berdusta, maka dustakanlah dia.” Abu Sufyan berkata; Dan demi Allah, kalaulah bukan karena rasa maluku saat itu, dan mereka akan mengatakan bahwa aku berdusta, sungguh aku akan berdusta ketika ia bertanya padaku. Namun aku malu jika teman-temanku mengatakan aku telah berdusta, maka aku berkata jujur. Kaisar berkata pada juru bahasanya; “Katakan padanya, bagaimana kedudukan nasab orang ini di antara kalian?” Abu Sufyan menjawab; “Bagi kami ia adalah orang yang mulia nasabnya.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah ada orang yang mengatakan seperti apa yang ia katakan sebelumnya?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Tidak.” Kaisar bertanya lagi; “Apakah kalian pernah menemukannya berdusta sebelum ia mengatakan apa yang ia katakan?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Tidak.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang menjadi raja?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Tidak.” Kaisar bertanya lagi, “Lalu apakah para pembesar atau rakyat jelata yang mengikutinya?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Bahkan sebagian besar adalah rakyat jelata.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Bahkan terus bertambah.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah ada yang murtad karena benci kepada agamanya setelah memeluknya?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Tidak.” Kaisar bertanya lagi, “Apakah ia pernah berkhianat.” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab, “Tidak. Dan kami saat ini sedang dalam perdamaian, dan itulah yang kami takuti.” Abu Sufyan berkata; Dan tidak memungkinkan bagiku untuk menyisipkan sesuatu dan menghilangkan sesuatu yang lain dari jawabanku, sungguh aku khawatir jika mereka mengecapku sebagai pendusta. Kaisar bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya atau ia pernah memerangi kalian?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Ya.” Kaisar bertanya; “Bagaimanakah peperangan antara kalian dengannya?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Kedudukannya silih berganti, kami pernah menang atasnya sekali, Lalu dia menang atas kami pada kesempatan selanjutnya.” Kaisar bertanya; “Dia menyuruh kalian untuk apa?” Abu Sufyan berkata; Aku menjawab; “Dia menyuruh kami agar menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dia juga melarang kami dari menyembah sesembahan nenek moyang kami. Serta menyuruh kami untuk shalat, berkata jujur, menjaga kehormatan, menepati janji dan menunaikan amanah.” Abu Sufyan berkata; Lalu Kaisar berkata pada juru bahasanya ketika aku telah mengatakan semuanya; “Katakan padanya, Sesungguhnya aku tanyakan padamu tentang nasab keturunannya, lalu kau sebutkan bahwa ia memunyai nasab yang terhormat, memang begitulah para rasul, mereka diutus (dari keluarga) yang mempunyai nasab luhur di antara kaumnya. Aku tanyakan padamu apakah ada seseorang dari kalian yang menyerukan kepada hal ini sebelumnya, engkau jawab belum pernah, menurutku, Bila ada orang yang pernah menyeru kepada hal ini sebelumnya, niscaya aku akan berkata; ‘Dia Cuma mengikuti perkataan yang pernah diucapkan sebelumnya.’ Aku tanyakan apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengatakan ini (mengaku menjadi Nabi), kau jawab belum pernah. Aku tahu tidaklah mungkin ia meninggalkan perkataan dusta kepada manusia kemudian dia berani berbohong kepada Allah ‘azza wajalla. Aku tanyakan apakah kakek-kakeknya ada yang pernah menjadi raja, kau jawab tidak ada. Menurutku, Bila ada di antara kakek-kakeknya menjadi raja, pasti aku katakan; ‘Dia hanya ingin mengembalikan kekuasaan leluhurnya.’ Aku tanyakan kepadamu, apakah pemuka-pemuka masyarakat yang menjadi pengikutnya ataukah orang-orang lemah di antara mereka, kau jawab, orang-orang lemahlah yang mengikutinya. (Aku tahu), memang orang-orang lemahlah pengikut para rasul. Aku tanyakan kepadamu, apakah mereka bertambah atau berkurang, kau jawab bahwa mereka selalu bertambah. Begitulah halnya perkara iman sampai ia sempurna. Aku tanyakan kepadamu, apakah ada seseorang yang murtad karena benci kepada agamanya setelah memeluknya, kau jawab, tidak ada. Begitulah halnya perkara iman ketika telah bercampur pesonanya dengan hati, tidak seorang pun membencinya. Aku tanyakan kepadamu, apakah ia pernah berkhianat, kau jawab, belum pernah. Begitulah para rasul, mereka tidak pernah berkhianat. Aku tanyakan kepadamu, apakah kalian memeranginya dan dia pun memerangi kalian, kau jawab, bahwa itu memang terjadi, dan peperangan kalian dengannya seimbang. Kadang kalian menang dan kadang kalah. Demikian juga para rasul, mereka mendapati berbagai ujian lalu memperoleh hasil yang baik. Aku tanyakan kepadamu, apa yang dia perintahkan kepada kalian, kau jawab bahwa dia memerintah agar kalian menyembah Allah ‘azza wajalla semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, memerintahkan kepada kalian berkata jujur, melakukan shalat, menjaga kehormatan, memenuhi janji dan melaksanakan amanat. Ini adalah sifat nabi. Aku tahu bahwa dia akan diutus, tapi aku tidak menyangka bahwa dia dari (bangsa) kalian. Jika apa yang telah kau katakan adalah benar, maka ia akan dapat memiliki tempat kedua kakiku berdiri ini. Demi Allah, jika saja aku dapat memastikan bahwa aku akan bertemu dengannya niscaya aku memilih bertemu dengannya. Jika ada di sisinya, pasti aku cuci kedua kakinya (sebagai bentuk penghormatan).” Abu Sufyan berkata; Kemudian ia meminta Surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyuruh agar dibacakan. Isi surat itu; BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM (dengan nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang). Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Heraclius penguasa Romawi, semoga keselamatan menyertai siapa saja yang mengikuti petunjuk (kebenaran). Amma Ba’du. Sesungguhnya aku menyerumu untuk memenuhi panggilan Islam, masuk Islamlah niscaya engkau selamat. Dan masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberikan pahalaNya padamu dua kali lipat. Tapi jika engkau berpaling (menolak), maka engkau akan menanggung seluruh dosa orang-orang Romawi, seperti pembajak sawah. Dan “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) ‘”. Abu Sufyan berkata; Setelah ia selesai dengan perkataannya, terjadilah kegaduhan di antara para pembesar Romawi yang ada di sekitarnya, dan menjadi semakin ribut, sehingga aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Lalu keluarlah perintah, dan kami dibawa keluar. Abu Sufyan berkata; Ketika aku dan kawan-kawanku telah keluar dan menyelesaikan urusanku dengan mereka, aku berkata pada mereka; “Urusan Ibnu Abu Kabsyah telah menjadikan ia ditakuti oleh raja-raja Bani Al Ashfar (kulit kuning).” Abu Sufyan berkata; Demi Allah. Aku senantiasa meyakini bahwa dia akan meraih kejayaan, hingga akhirnya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku ketika aku membencinya.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih bin Kaisan, ia berkata; Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat, dan ia menyebutkan hadits di atas. Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar, lalu menyebutkan hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 2253: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih berkata; Ubaidullah berkata; Aku pernah bertanya pada Abdullah bin Abbas tentang mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sebutkan. Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita padaku, beliau bersabda: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat dua buah gelang dari emas dikenakkan pada kedua tanganku, lalu aku menjatuhkannya dan aku membencinya. Lalu diizinkan bagiku, dan aku meniup keduanya, maka kedua gelang itu terbang. Aku menakwilkan bahwa itu adalah dua pendusta yang akan keluar.” Ubaidullah berkata; “Salah satunya adalah Al ‘Ansi yang dibunuh oleh Fairuz di Yaman, dan yang lainnya adalah Musailamah.”

 

Musnad Ahmad 2254: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih berkata; Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Ka’ab bin Malik bahwa Ibnu Abbas mengabarkannya, bahwa Ali bin Abu Thalib keluar dari menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau, orang-orang bertanya; “Wahai Abu Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; “Alhamdulillah beliau sudah sembuh.” Ibnu Abbas berkata; Abbas bin Abdul Muththalib memegang tangannya dan berkata; “Demi Allah, tidakkah engkau lihat? Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan wafat karena sakitnya ini. Sesungguhnya aku mengetahui wajah bani Abdul Muththalib ketika menghadapi kematiannya. Mari kita menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kita tanyakan kepada siapa perkara (kepemimpinan) ini akan diserahkan? Jika kepada (orang) kita, maka kita mengetahuinya dan jika pada selain kita maka kita akan berbicara dengannya, sehingga ia bisa mewasiatkannya pada kita.” Lalu Ali radliallahu ‘anhu berkata; “Demi Allah. Bila kita memintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau menolak, maka selamanya orang-orang tidak akan memberikannya kepada kita. Karena itu, demi Allah, aku tidak akan pernah menanyakan selamanya.”

 

Musnad Ahmad 2255: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibnu Akhi Ibnu Syihab dari pamannya telah menceritakan kepadaku ‘Urwah bin Az Zubair bahwa Al Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin ‘Abd Al Qari telah menceritakannya, bahwa keduanya mendengar Umar bin Khaththab berkata; “Aku telah mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca (Al Qur`an) kemudian dia mengemukakan hadits. Muhammad berkata; dan telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Ibnu Abbas pernah menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril ‘Alaihis Salam membacakan padaku dalam satu huruf, maka aku terus memeriksakan bacaanku padanya, dan aku masih tetap memintanya lagi dan ia menambahkannya hingga selesai tujuh huruf.”

 

Musnad Ahmad 2256: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami keponakan Ibnu Syihab dari pamannya berkata; telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Ibnu Abbas berkata; “Aku datang ketika aku telah baligh, aku berjalan mengendarai keledai betina, sementara (saat itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat mengimami orang-orang, hingga aku melintas di depan sebagian shaf pertama, kemudian aku turun dan membiarkan keledai itu merumput, dan aku masuk ke dalam shaf bersama orang-orang di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2257: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho` bin ‘Ayyasy bin ‘Alqamah saudara bani Amir bin Lu`ay, berkata; Aku menemui Ibnu Abbas di rumah Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana esok harinya adalah hari Jum’at. Dan Maimunah telah berpesan kepadanya tentang itu, bila selesai shalat jum’at agar dihamparkan untuknya, kemudian ia bergegas menuju kepadanya dan orang-orang pun duduk di sekelilingnya. Kemudian seorang laki-laki bertanya tentang berwudlu setelah memakan makanan yang disentuh api (di masak dengan api), dan aku mendengarkan. Ibnu Abbas mengangkat tangannya ke matanya, saat itu penglihatannya sudah kabur, ia berkata; “Kedua mataku ini dulu dapat melihat, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu untuk shalat Zhuhur di salah satu kamarnya, kemudian Bilal menyeru untuk shalat, maka berdiri menuju pintu kamar dan menjumpai hadiah berupa roti dan daging yang dikirimkan oleh sebagian sahabatnya untuk beliau, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bersama orang-orang yang bersamanya dan (hadiah) tersebut diletakkan di dalam kamar beliau. Maka beliau memakannya dan sahabatpun ikut makan bersama beliau, selanjutnya Rasulullah berdiri bersama orang-orang yang bersamanya menuju shalat, tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersama beliau yang menyentuh air. Kemudian beliau shalat mengimami mereka.” Ibnu Abbas memang masih ingat di masa akhirnya tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2258: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman telah menceritakan kepadaku Khalid Al Hadzdza` dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf di atas untanya, maka setiap mendatangi salah satu rukun, beliau memberi isyarat dan bertakbir.”

 

Musnad Ahmad 2259: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Al Hajjaj bin Arthah dari ‘Atho` bin Abu Rabah berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, sedang aku baru dikhitan.”

 

Musnad Ahmad 2260: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Walid bin Nuwaifi’ dari Kuraib budak Abdullah bin Abbas, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; Bani Sa’d bin Bakar mengutus Dlimam bin Tsa’labah sebagai utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia pun datang kepada beliau. Dia menderumkan untanya di pintu masjid lalu mengikatnya, kemudian ia pun masuk masjid, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk bersama para sahabatnya. Dlimam adalah seorang laki-laki berambut lebat yang dikepang dua. Dia menghampiri hingga berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, lalu berkata; “Siapa di antara kalian putra Abdul Muththalib?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Akulah putra Abdul Muththalib.” Dia berkata lagi; “Muhammad.” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata lagi; “wahai Putra Abdul Muththalib! Aku akan bertanya kepadamu, dan aku serius dalam bertanya, maka janganlah engkau merasa tersinggung.” Beliau menjawab,: “Aku tidak akan tersinggung, silakan tanyakan apa yang engkau kehendaki.” Dia berkata lagi; “Aku persaksikan engkau kepada Allah Tuhanmu, Tuhan orang-orang sebelummu dan Tuhan siapa pun setelahmu. Benarkah Allah telah mengutusmu kepada kami sebagai rasul?” beliau menjawab: “Allahumma, ya.” Dia berkata lagi; “Aku persaksikan engkau kepada Allah Tuhanmu, Tuhan orang-orang sebelummu dan Tuhan siapa pun setelahmu. Apakah Allah telah memerintahkanmu agar engkau memerintahkan kami menyembah-Nya semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan agar kami meninggalkan sekutu-sekutu yang biasa disembah oleh para leluhur kita bersama-Nya?” Beliau menjawab: “Allahumma, ya.” Dia berkata lagi; “Aku persaksikan engkau kepada Allah Tuhanmu, Tuhan orang-orang sebelummu dan Tuhan siapa pun setelahmu. Apakah Allah telah memerintahkanmu agar kami melaksanakan shalat yang lima ini?” Beliau menjawab: “Allahumma, ya.” Kemudian ia menanyakan tentang kewajiban-kewajiban Islam satu persatu, yaitu zakat, puasa, haji dan syari’at-syari’at Islam semuanya, dia mempersaksikan beliau kepada Allah pada setiap kewajiban itu sebagaimana yang sebelumnya, hingga setelah selesai dari pertanyaannya ia berkata; “Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku akan melaksanakan kewajiban-kewajiban ini dan menjauhi apa yang dilarang. Kemudian aku tidak akan menambahi dan tidak pula mengurangi.” Ibnu Abbas berkata; Setelah itu ia berbalik menuju untanya, setelah ia beranjak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila si kepang dua ini benar, niscaya ia akan masuk surga.” Ibnu Abbas berkata; Kemudian laki-laki itu menghampiri untanya, lalu melepaskan ikatannya, kemudian ia berangkat hingga sampai kepada kaumnya, lalu mereka pun mengerumuninya. Yang pertama kali diucapkannya adalah; “Sialan Latta dan Uzza!” Kaumnya berkata; “Huss Dlimam! Hati-hati terhadap si sopak dan si buntung! Hati-hati terhadap si gila!” Dlimam berkata; “Celakalah kalian!. Demi Allah, sungguh keduanya itu tidak dapat mendatangkan madlarat dan tidak pula manfaat. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengutus seorang rasul dan menurunkan kitab kepadanya untuk menyelamatkan kalian dari apa yang kalian berada di dalamnya. Dan sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Sungguh aku datang kepada kalian dari sisinya dengan membawa apa yang diperintahkan kepada kalian dan apa yang dilarang pada kalian.” Ibnu Abbas melanjutkan; “Demi Allah, sejak hari itu, tidak ada seorang pun yang mendatanginya, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali dia telah memeluk Islam.” Selanjutnya Ibnu Abbas berkata; “Kami pernah mendengar utusan suatu kaum yang lebih utama daripada Dlimam bin Tsa’labah.”

 

Musnad Ahmad 2261: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Dawud bin Al Hushain mantan budak ‘Amru bin Utsman, dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Tidaklah shalat Khauf itu kecuali seperti shalat para penjaga hari ini di belakang para imam kalian, hanya saja dilakukan secara bergantian. Satu kelompok berdiri, mereka berjama’ah bersama beliau, dan satu kelompok lagi sujud bersama Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam. kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri maka kelompok yang tadinya berdiri melakukan sujud sendiri-sendiri. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan mereka semua ikut berdiri bersama beliau, lalu beliau ruku’ dan mereka semua pun ruku’ bersama beliau, kemudian beliau sujud, maka mereka yang tadi (pada raka’at pertama) berdiri ikut sujud bersama beliau, sementara kelompok lainnya yang tadi (pada raka’at pertama) sujud bersama beliau tetap berdiri, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk bersama mereka yang sujud di akhir shalat mereka, maka kelompok yang tadinya berdiri pun sujud sendiri-sendiri, kemudian mereka semua duduk, lalu mereka salam bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2262: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Thawus Al Yamani, ia berkata; Aku pernah berkata pada Abdullah bin Abbas; Orang-orang menganggap bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandilah kalian pada hari jum’at, dan basuhlah kepala-kepala kalian walaupun kalian tidak dalam keadaan junub. Dan pakailah wewangian.” Thawus berkata; Ibnu Abbas menjawab; “Kalau tentang wewangian aku tidak tahu, adapun tentang mandi maka memang betul.”’

 

Musnad Ahmad 2263: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Salamah bin Kuhail Al Hadlrami dan Muhammad bin Al Walid mantan budak keluarga Az Zubair mereka berkata telah mengabarkan kepadaku dari Kuraib mantan budak Abdullah bin Abbas, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat pada malam hari dengan mengenakan baju Hadlrami yang diselimutkan (yang membungkusnya), tidak ada pakaian lainnya (selain yang beliau gunakan).”

 

Musnad Ahmad 2264: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; Telah menceritakan kepada kami Husain bin Abdullah bin Ubaidullah bin Ayyasy dari Ikrimah mantan budak Abdullah bin Abbas, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; “Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat turun hujan, beliau menghindari tanah ketika sujud. Beliau menggunakan pakaian sebagai alas untuk menghalangi kedua tangannya menyentuh tanah jika beliau sujud.”

 

Musnad Ahmad 2265: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Al Abbas bin Abdullah bin Ma’bad bin Abbas dari sebagian keluarganya dari Abdullah bin Abbas bahwasanya ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada dua raka’at sebelum shubuh membaca Al Fatihah dan dua ayat terakhir surat Al Baqarah pada raka’at pertama, sedang raka’at kedua beliau membaca Al Fatihah dan satu ayat dari surat Ali Imran: ” (Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu) ” sampai akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 2266: Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rukanah bin Abdu Yazid, saudara Al Muththalib, menceraikan istrinya tiga kali talak dalam satu waktu. Maka ia merasa sedih terhadap isterinya itu. Ibnu Abbas berkata; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya padanya: “Bagaimana engkau mentalaknya?” Ia menjawab; “Aku mentalaknya tiga kali.” Ibnu Abbas berkata; “Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah dalam satu waktu (majlis)?” Ia menjawab; “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya itu terhitung sekali, bila engkau mau maka rujuklah dia.” Ibnu Abbas berkata; “Maka ia merujuknya.” Lalu Ibnu Abbas berpendapat bahwasannya Talak itu setiap kali dalam keadaan suci.

 

Musnad Ahmad 2267: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Umayyah bin ‘Amru bin Sa’id dari Abi Az Zubair Al Makki dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika sahabat-sahabat kalian meninggal pada perang Uhud, Allah azza wa jalla menjadikan ruh-ruh mereka di dalam rongga burung-burung hijau, yang berterbangan di sepanjang sungai-sungai surga, makan dari buah-buahannya dan kembali ke lampu-lampu dari emas di bawah bayangan ‘Arsy. Ketika mendapatkan lezatnya makanan dan minuman serta tempat tinggalnya yang baik, mereka berkata: ‘Duhai sekiranya saudara-saudara kami mengetahui apa yang diperbuat Allah bagi kami, tentulah mereka tidak akan zuhud (menolak) terhadap jihad dan tidak menjadi pengecut dalam peperangan.’ Maka Allah azza wa jalla berfirman; ‘Aku akan menyampaikan perkataan kalian pada mereka.’ Lalu Allah azza wa jalla menurunkan ayat-ayat tersebut kepada Rasul-Nya: ” (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.) ” Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Muhammad bin Ishaq dari Isma’il bin Umayyah dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2268: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Al Harits bin Fudlail Al Anshari dari Mahmud bin Labid Al Anshari dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang mati syahid itu berada di tepian sungai yang berkilauan di depan pintu surga, mereka bernaung di dalam kubah hijau, rizki mereka keluar kepada mereka dari surga pada pagi dan sore hari.”

 

Musnad Ahmad 2269: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Zaid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjalan bersama para Sahabat ke Baqi’ Al Gharqad, lalu beliau memberikan pengarahan kepada mereka dan bersabda: “Berangkatlah atas nama Allah, Ya Allah tolonglah mereka” yaitu orang-orang yang berangkat menghadapi Ka’ab bin Al Asyraf.”

 

Musnad Ahmad 2270: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq, berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Muslim Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menempuh perjalanannya, dan beliau mengangkat Abu Ruhm Kultsum bin Hushain bin ‘Utbah bin Khalaf Al Ghifari sebagai pengganti beliau mengurus Madinah. Beliau berangkat pada hari kesepuluh Ramadlan, dan beliau tetap menjalankan puasa dan para sahabat pun berpuasa bersama beliau hingga ketika sampai di Al Kadid, yaitu sumber air antara Usfan dan Amj, beliau berbuka, kemudian beliau melanjutkan hingga singgah di Marr Azh Zhahran bersama sepuluh ribu kaum Muslimin.”

 

Musnad Ahmad 2271: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih dan Abdullah bin Abu Najij dari ‘Atho` bin Abu Rabah dan Mujahid Abu Al Hajjaj dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah binti Al Harits dalam safarnya saat beliau ihram.

 

Musnad Ahmad 2272: Telah menceritakan kepada kami Husain yakni Ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Al Hakam dari Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang (meninggal karena) terjungkal dari tunggangannya ketika sedang ihram, maka beliau bersabda: “Kafanilah ia dan jangan engkau menutup kepalanya, serta jangan mengenakan wewangian, karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan sedang bertalbiyah.” Atau beliau mengatakan: “Dalam keadaan berihlal (berniat).” Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Israil dengan isnadnya, hanya saja ia mengatakan (dalam redaksinya, bahwa beliau bersabda); “Namun janganlah kalian menutup wajahnya.”

 

Musnad Ahmad 2273: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada waktu penaklukan Makkah: “Tidak ada hijrah (lagi).” Beliau mengatakan (ini): “Setelah penaklukan, akan tetapi (yang masih ada adalah) jihad dan niat. Bila kalian diminta untuk berangkat (perang), maka berangkatlah.”

 

Musnad Ahmad 2274: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair Abu Khaitsamah dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya di atas bahuku atau di atas pundaku, -Sa’id merasa ragu, – kemudian beliau berdoa; “ALLAHUMMA FAQQIHHU FI AD DIN WA ‘ALLIMHU AT TA`WIL (Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta`wil).”

 

Musnad Ahmad 2275: (Ahmad) berkata; Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Yazid dari Abdullah bin Utsman bin Khaitsam dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya batu ini (hajar aswad) memiliki lisan dan dua bibir, ia akan bersaksi pada hari kiamat kepada siapa saja yang telah beristilam padanya dengan haq.”

 

Musnad Ahmad 2276: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ammar bin Abu Ammar dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah selama lima belas tahun, selama delapan atau tujuh tahun beliau melihat sinar dan mendengar suara. Dan selama delapan atau tujuh tahun diturunkan wahyu kepada beliau. Beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.

 

Musnad Ahmad 2277: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ammar bin Abu Ammar dari Ibnu Abbas dan Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dengan bersandar kepada batang kurma, setelah dibuatkan mimbar, beliau beralih ke mimbar, lalu batang kurma itu merintih sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghampiri lalu menenangkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku tidak menenangkannya, niscaya ia akan terus merintih hingga hari kiamat.” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ammar dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dari Tsabit dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti makna hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 2278: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi dua malaikat dalam mimpinya, salah satunya duduk di dekat kedua kaki beliau, dan yang lain di dekat kepala beliau. Malaikat yang duduk di dekat kaki beliau berkata kepada yang duduk di dekat kepala beliau; “Ungkapkan perumpamaan orang ini dengan umatnya.” Dia menjawab; “Sesungguhnya perumpamaan dirinya dengan umatnya adalah laksana suatu kaum yang sedang dalam perjalanan yang sampai pada pangkal kemenangan, mereka tidak lagi mempunyai bekal yang cukup untuk menggapai kemenangan dan tidak (cukup) pula untuk kembali. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba mereka di datangi oleh seorang yang mengenakan pakain kebesaran, lalu orang itu berkata; “Bagaimana menurut kalian bila aku membawa kalian ke suatu taman yang penuh dengan pepohonan dan telaga yang melimpah airnya dan indah dipandang, apakah kalian akan mengikutiku?” Mereka menjawab; “Ya.” Ia berkata; “Lalu orang itu pun bertolak bersama mereka hingga sampai di taman yang penuh dengan pepohonan dan telaga yang melimpah airnya serta indah dipandang, mereka minum dan makan hingga gemuk. Lalu orang itu berkata pada mereka, “Bukankah aku telah mengantarkan kalian kepada kondisi itu, dan kalian telah berjanji kepadaku, bahwa bila aku membawa kalian ke taman yang penuh dengan pepohonan dan telaga yang melimpah airnya serta indah dipandang kalian akan mengikutiku?” Mereka menjawab; “Benar.” Orang itu berkata lagi; “Sesungguhnya di depan kalian ada taman yang lebih lebat dan rindang dari pada ini serta ada telaga yang lebih indah daripada ini, maka ikutlah denganku.” Malaikat itu melanjutkan: “Salah satu kelompok dari mereka berkata; ‘Dia benar, demi Allah kami akan mengikutinya.’ Dan kelompok yang lain berkata; ‘Kami telah merasa cukup untuk tetap tinggal di sini.'”

 

Musnad Ahmad 2279: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yaman dari Hasan bin Shalih dari Ja’far bin Muhammad, ia berkata; “Air ini dulu sebagai air untuk memandikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka memandikan beliau setelah wafat, untuk membersihkan tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Ali pernah meminumnya.”

 

Musnad Ahmad 2280: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Abu Ishaq dari Adl Dlahak bin Muzahim, ia berkata; Ibnu Abbas jika bertalbiyah, ia mengucapkan; “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKA LAA SYARIIKA LAKA (Kami memenuhi panggilanMu yaa Allah, kami memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, kami memenuhi panggilanMu, sesungguhnya segala puji adalah hanya milikMu, begitu juga semua kenikmatan dan kekuasaan adalah milikMu, tiada sekutu bagiMu) ” Adl Dlahak berkata; Ibnu Abbas berkata; “Cukup seperti itu, karena sesungguhnya itu adalah talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2281: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Abu Ishaq dari At Tamimi yang menceritakan tafsir, dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari arah belakangnya, lalu aku melihat putih ketiak beliau ketika beliau meregangkan kedua tangannya.”

 

Musnad Ahmad 2282: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakan bahu kambing, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudlu.

 

Musnad Ahmad 2283: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Simak telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Jubair bahwa Ibnu Abbas telah menceritakan kepadanya, ia berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di bawah bayangan salah satu kamarnya, di sana ada beberapa kaum Muslimin yang turut (berteduh) pada bayangan itu. Ibnu Abbas berkata; Lalu beliau bersabda: “Sungguh akan datang kepada kalian seseorang yang akan memandang kalian dengan dua mata setan. Jika ia datang kepada kalian, maka janganlah kalian berbicara dengannya.” Ibnu Abbas berkata; muncullah seorang laki-laki (bermata) biru, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan berbicara dengannya, beliau bertanya: “Mengapa kamu, fulan dan fulan mencelaku?” yaitu beberapa orang yang beliau sebutkan namanya. (Ibnu Abbas) berkata; orang itu pun beranjak dan memanggil mereka, lalu mereka bersumpah atas nama Allah dan meminta maaf kepada beliau. kemudian Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Mereka bersumpah kepadaNya sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka) al ayat.” Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Israil telah menceritakan kepada kami Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di bawah bayangan sebuah kamar, hampir saja bayangan itu tidak mengenainya lagi.” Lalu ia menyebutkan haditsnya.

 

Musnad Ahmad 2284: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Qabus bahwa Bapaknya telah menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Dua orang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan maksud yang sama. Lalu salah satunya berbicara, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencium bau yang tidak sedap dari mulutnya, maka beliau bertanya padanya: “Apakah engkau tidak pernah bersiwak?” Laki-laki itu menjawab; “Sungguh aku selalu melakukannya, akan tetapi aku tidak makan sesuatu pun sejak tiga hari.” Lalu beliau menyuruh seseorang untuk menanggungnya dan memenuhi kebutuhannya.

 

Musnad Ahmad 2285: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Qabus bin Abu Zhabyan bahwa Bapaknya telah menceritakan kepadanya, Ia berkata; Kami bertanya pada Ibnu Abbas; “Apa pendapatmu tentang firman Allah ‘azza wajalla: (Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya..) apa maksud dari ayat tersebut?” Ia menjawab; Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri untuk melakukan shalat, lalu terbersit sesuatu dalam hati beliau, maka orang-orang munafik yang ikut shalat di belakang beliau berkata; “Apakah kalian tidak melihat bahwa ia memiliki dua hati.” Ia berkata; “Satu hati bersama kalian dan hati yang lain bersama mereka.” Maka Allah azza wa jalla menurunkan ayat: (Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya …)

 

Musnad Ahmad 2286: Telah menceritakan kepada kami Hasan yakni Ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yusuf bin Abdullah bin Al Harits dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tertekan oleh suatu perkara (bersedih), beliau mengucapkan: “LAILAHA ILLALLAH AL HALIM AL ‘AZHIM LAILAHA ILLALLAH RABB AL ‘ARSY AL KARIM LAILAHA ILLALLAH RABB AL ‘ARSY AL ‘AZHIM. LAILAHA ILLALLAH RABB AS SAMAWATI WA RABB AL ARDLI WA RABB AL ARSY AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah yang Maha Penyantun lagi Maha Agung. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan ‘Arsy yang mulia. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan ‘Arsy yang agung. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).”

 

Musnad Ahmad 2287: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui salah seorang putrinya ketika sedang sekaratul maut, beliau mengangkatnya dan meletakkannya di pangkuan beliau hingga meninggal dunia. Maka mengalirlah air mata dari kedua matanya, dan Ummu Aiman pun ikut menangis. Lalu dikatakan pada Ummu Aiman; “Apakah engkau menangis di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka ia menjawab; “Tidak bolehkah aku menangis sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menangis?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menangis, adapun ini adalah kasih sayang. Sesungguhnya orang mukmin itu jiwanya keluar dari kedua tulang rusuknya, sedang ia dalam keadaan memuji Allah azza wa jalla.”

 

Musnad Ahmad 2288: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim dan Abdushshamad Al Ma’na mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Asy Sya’bi dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku berdiri melaksanakan shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku bediri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya dari belakangnya, hingga beliau meraih lenganku atau tanganku sampai memberdirikanku di sebelah kanannya.”

 

Musnad Ahmad 2289: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Risydin telah menceritakan kepada kami Hasan bin Tsauban dari Amir bin Yahya Al Ma’afiri telah menceritakan kepadaku Hanasy dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ayat ini: (Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam) diturunkan kepada beberapa orang Anshar yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya pada beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Gaulilah ia (yakni istri) dengan cara bagaimana pun, bila itu dilakukan pada kemaluan.”

 

Musnad Ahmad 2290: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Qaza’ah yakni Ibnu Suwaid, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak akan meminta upah kepada kalian atas penjelasan dan petunjuk yang aku bawa kepada kalian kecuali agar kalian mencintai dan mendekatkan diri pada Allah dengan mentaatiNya.”

 

Musnad Ahmad 2291: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza’i berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Bilal dari Zaid bin Aslam dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu Abbas; bahwa ia berwudlu lalu berkumur dengannya dan beristintsar (menghirup air dari hidung), kemudian mengambil satu cidukan lalu seperti ini, yakni menuangkannya ke tangan satunya lagi, kemudian membasuh wajahnya, lalu menciduk satu cidukan air kemudian membasuh tangan kanannya, lalu menciduk satu cidukan air dan membasuh tangan kirinya, kemudian mengusap kepalanya, lalu mengambil satu cidukan air kemudian menyiramkannya ke kaki kanannya hingga membasuhnya. Kemudian mengambil satu cidukan lagi lalu membasuh kaki kirinya, Lalu dia mengatakan; “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (berwudlu).” Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Ibnu Bilal dari Yahya bin Sa’id berkata; telah mengabarkan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim dari Ibnu Abbas seperti itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2292: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Farqad As Sabkhi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa anaknya, lalu wanita itu berkata; “Sesungguhnya anakku ini menderita kegilaan, ia sering kambuh saat makan siang dan makan malam kami, sehingga ia melakukan hal buruk terhadap kami.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap dadanya dan berdoa, maka anak itu pun muntah, yakni batuk, lalu keluarlah dari mulutnya seperti anak anjing yang berwarna hitam.

 

Musnad Ahmad 2293: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari ‘Amru yakni Ibnu Abu ‘Amru, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; Seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang mandi pada hari Jum’at, apakah itu wajib? Ibnu Abbas menjawab; “Tidak, barangsiapa yang mau silakan mandi, aku akan menyampaikan kepada kalian tentang permulaan mandi. Dulu orang-orang membutuhkan, dan mereka biasa mengenakan (baju) wol. Mereka bekerja menyirami kebun kurma (dengan memanggul beban) di punggung mereka, sementara masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sempit dan atapnya rendah, maka orang-orang (seperti) terkurung di dalam wol sehingga mereka berkeringat, sementara itu mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pendek hanya tiga tangga, maka orang-orang pun berkeringat di dalam wol, sehingga merebaklah aroma mereka dan aroma wol, akibatnya, hal ini saling mengganggu satu sama lain, sehingga aroma mereka pun sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang di atas mimbar, lalu beliau bersabda: “Wahai manusia, apabila kalian (hendak) mendatangi (shalat) Jum’at, maka mandilah kalian dan hendaklah seseorang dari kalian mengenakan pewangi terbaik bila ia memilikinya.”

 

Musnad Ahmad 2294: Telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menyetubuhi binatang, maka bunuhlah dia dan juga binatangnya.”

 

Musnad Ahmad 2295: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ibnu Thawus dari Bapaknya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai mendahulukan dan mengakhirkan melempar jumrah, menyembelih (hewan kurban) dan bercukur: “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 2296: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal berkata; Telah menceritakan kepada kami Husain bin Abdullah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, anugerahilah Ibnu Abbas hikmah dan ajarilah ia ta`wil.”

 

Musnad Ahmad 2297: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Rabi’ah bin Hisyam bin Ishaq bin Abdullah bin Kinanah, ia berkata; aku mendengar Kakekku Hisyam bin Ishaq bin Abdullah menceritakan dari bapaknya, berkata; Al Walid mengirim utusan untuk bertanya kepada Ibnu Abbas; “Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam istisqa` (meminta hujan)?” Ibnu Abbas menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dengan merendahkan hati dan berpakaian sederhana, lalu mendatangi tempat shalat, kemudian melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana yang dilakukan pada hari Iedul Fithri dan Iedul Adlha.”

 

Musnad Ahmad 2298: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dalam syair itu ada kebijakan, dan dalam kefasihan itu ada sihir.”

Musnad Ahmad 2299: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘adwa (penyakit menular), tidak ada tathayyur (berfirasat buruk karena melihat burung atau kejadian tertentu), tidak ada shafar (yang menjadi penyebab kematian seseorang) dan tidak ada haam (orang yang meninggal itu berubah menjadi burung).” Simak menyebutkan bahwa Shafar adalah suatu hewan yang terdapat di dalam perut manusia. Lalu seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah, pada kawanan unta yang berjumlah seratus ekor ada seekor yang berpenyakit kudis lalu menulari semuanya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lalu siapa yang pertama kali menularinya?”

 

Musnad Ahmad 2300: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dan Abu Sa’id mereka berdua berkata; Telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Simak berkata Abdurrahman dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas tikar.”

 

Musnad Ahmad 2301: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak dari Arafah dan menyuruh mereka untuk tenang, saat itu beliau membonceng Usamah bin Zaid, beliau bersabda: “Wahai manusia, hendaklah kalian tenang dan bersahaja, karena sesungguhnya kebaikan itu bukan dengan memacu unta dan kuda.” Maka aku pun tidak lagi melihat unta yang mengangkat tangannya hingga mencapai Jam’un. Selanjutnya beliau memboncengkan Al Fadhl bin Abbas dari Jam’un hingga Mina, dan beliau bersabda: “Wahai manusia, hendaklah kalian tenang dan bersahaja, karena sesungguhnya kebaikan itu bukan dengan memacu unta dan kuda.” Maka aku pun tidak lagi melihat unta yang mengangkat kakinya tinggi-tinggi (tergesa-gesa) hingga mencapai Mina.”

 

Musnad Ahmad 2302: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan seratus ekor unta, di antaranya terdapat unta merah yang dulunya milik Abu Jahal, yang di hidungnya terdapat cincin dari perak.”

 

Musnad Ahmad 2303: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul A’la dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbicara tentang Al Qur`an tanpa berdasarkan ilmu maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 2304: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwasannya seorang wanita yang sedang ditinggal suaminya menemui seorang laki-laki untuk membeli sesuatu darinya. Laki-laki itu berkata; “Masuklah ke kamar itu hingga aku memberikannya padamu.” Wanita tersebut pun masuk, dan laki-laki itu menciuminya dan meraba-rabanya, maka wanita itu berkata; “Celaka kamu! Aku sudah menikah.” Lalu laki-laki itupun meninggalkannya dan menyesali atas apa yang baru saja dilakukannya. Maka iapun mendatangi Umar dan memberitahukan kepadanya tentang apa yang telah diperbuatnya, mala Umar berkata; “celaka kamu! Bisa jadi ia sudah menikah, ” laki-laki itu berkata; “Sesungguhnya ia sedang ditinggal oleh suaminya.” Umar berkata; “Datanglah pada Abu Bakar dan tanyakan padanya.” Maka laki-laki itu pun menemui Abu Bakar dan menceritakan kepadanya apa yang telah ia lakukan, maka Abu Bakar berkata; “Celaka kamu! Bisa jadi ia sudah menikah.” Laki-laki itu menjawab; “Sesungguhnya ia sedang ditinggal oleh suaminya.” Abu Bakar berkata lagi; “Kalau begitu temui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ceritakan padanya.” Maka laki-laki itupun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan padanya apa yang telah ia perbuat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bisa jadi ia sudah punya suami.” Laki-laki itu menjawab; “Sesungguhnya ia sedang ditinggal oleh suaminya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam dan turunlah ayat: (Dan Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam…) hingga firmanNya yang berbunyi: (bagi orang-orang yang ingat).” Ibnu Abbas berkata; Lalu laki-laki itu berkata; “Wahai Rasulullah, apakah ayat ini diturunkan khusus untuk saya, atau untuk manusia pada umumnya?” Ibnu Abbas berkata; Maka Umar berkata; “Tidak, dan sekali-kali tidak untukmu saja. Tapi untuk manusia seluruhnya.” Ibnu Abbas berkata; Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa dan berkata “Umar radliallahu ‘anhu benar.”

 

Musnad Ahmad 2305: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal, Abu ‘Awanah berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang perkataan jin: (Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.) dia berkata; Tatkala mereka melihat beliau sedang shalat bersama para sahabatnya, mereka (para sahabat) shalat mengikuti shalat beliau, mereka ruku’ bersama ruku’ beliau, mereka sujud bersama sujud beliau, para jin tersebut merasa kagum dengan kepatuhan para sahabat terhadap beliau. Ketika mereka kembali pada kaum mereka, mereka berkata; (Dan bahwasanya tatkala hamba Allah berdiri) maksudnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu berdesakan mengerumuninya.)

 

Musnad Ahmad 2306: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ya’la bin Hakim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar di waktu beliau sedang sakit yang menyebabkan beliau meninggal, saat itu beliau mengikat kepalanya dengan sehelai kain, lalu beliau duduk di atas mimbar. Kemudian beliau memuji Allah dan mengagungkanNya, dan bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang lebih amanah terhadapku mengenai jiwa dan hartanya daripada Abu Bakar bin Abu Quhafah. Seandainya aku dibolehkan menjadikan seorang kekasih dari kalangan manusia, tentulah aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, akan tetapi persaudaraan Islam itu lebih utama. Tutupkan untukku setiap pintu kecil di masjid ini kecuali pintu kecil Abu Bakar.”

 

Musnad Ahmad 2307: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ya’la bin Hakim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika didatangi Ma’iz bin Malik beliau bersabda: “Mungkin engkau hanya menciumnya atau merabanya atau memandanginya?” Ia menjawab; “Tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: “Apakah engkau menggaulinya tanpa ada penghalang?” ia menjawab; “Ya.” Setelah itu beliau memerintahkan untuk merajamnya.

 

Musnad Ahmad 2308: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Al Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan untuk Al Hasan dan Al Husain, seraya mengucapkan: “U’IDZUKUMA BI KALIMATILLAH AT TAAMMAH MIN KULLI SYAITHANIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN (Aku memintakan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari segala mata yang jahat/hasad), ” Kemudian beliau mengatakan; “Bahwa Ibrahim ‘alaihis salam adalah bapakku dia mendoakan perlindungan untuk Isma’il dan Ishaq ‘alainimas salam.”

 

Musnad Ahmad 2309: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Wa’lah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku bertanya kepadanya; “Sesungguhnya kami berperang lalu kami memperoleh kulit dan tembikar?” Ibnu abbas menjawab; Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadamu, hanya saja aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kulit manapun yang telah disamak maka telah suci.”

 

Musnad Ahmad 2310: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperintah untuk sujud di atas tujuh anggota (badan) dan tidak menahan (menyibukkan diri dengan) rambut dan tidak pula pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2311: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikah saat itu beliau sedang ihram.”

 

Musnad Ahmad 2312: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membeli makanan, maka janganlah ia langsung menjualnya hingga menerimanya dengan sempurna (dengan menakarnya lagi).” Ibnu Abbas berkata; “Aku mengira segala sesuatu (diperlakukan) sama dengan makanan.”

 

Musnad Ahmad 2313: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair Dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Makanlah pada nampan dari pinggirnya dan jangan memakannya dari tengahnya. Karena sesungguhnya keberkahan itu turun di tengahnya.”

 

Musnad Ahmad 2314: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Qais bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, aku mengira bahwa ia memarfu’kannya, ia berkata; Jika dia bangun dari ruku’ ia mengatakan; “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU MIL`AS SAMAA`I WA MIL`AL ARDlI WA MIL`A MAA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU (Allah Maha Mendengar siapa saja yang memujiNya, Wahai Tuhan kami, milikMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa pun setelah itu yang Engkau kehendaki).

 

Musnad Ahmad 2315: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami ‘Abbad yakni Ibnu Al ‘Awwam, dari Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melamar Maimunah binti Al Harits, maka Maimunah menyerahkan urusan dirinya kepada Al Abbas, lalu ia pun menikahkannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2316: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika perang Khandaq, kaum Muslimin membunuh seorang laki-laki dari golongan kaum Musyrikin, lalu mereka mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberi tebusan jasadnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ini buruk, diyat (tebusan) yang buruk dan jasad yang buruk.” Maka beliau pun membiarkan mereka (mengambilnya).

 

Musnad Ahmad 2317: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat perjanjian antara kaum Muhajirin dan Anshar, agar mereka saling membantu membayar diyat-diyat mereka (kaum Anshar) dan menebus tawanan mereka dengan cara yang baik serta melakukan perbaikan di antara kaum Muslimin. Telah menceritakan kepadaku Suraij telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2318: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad dari Bapaknya dari Al A’ma Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperoleh pedangnya Dzul Faqar ketika perang Badar, yang ketika perang Uhud beliau di dalam mimpi melihatnya. Beliau bersabda: “Aku melihat keretakan pada pedangku Dzul Faqar, maka aku tafsirkan adanya keretakan pada kalian. Dan aku melihat bahwa diriku diikuti oleh sekelompok kambing (gibas), maka aku tafsirkan serombongan pasukan. Aku juga melihat diriku berada di dalam benteng yang kokoh, lalu aku tafsirkan itu adalah Madinah. Aku juga melihat seekor sapi yang disembelih, Demi Allah sapi itu berarti baik, demi Allah sapi itu berarti baik.” Itulah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2319: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Bacaan (shalat) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari adalah sekadar dapat didengar oleh orang yang berada di dalam kamar ketika beliau sedang berada di rumah.”

 

Musnad Ahmad 2320: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kabar itu tidak seperti yang disaksikan. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengabarkan kepada Musa tentang apa yang diperbuat oleh kaumnya terhadap patung anak sapi. Saat itu Musa tidak melemparkan lembaran-lembaran bertulisan, namun ketika menyaksikan sendiri apa yang mereka perbuat, serta merta Musa melemparkan lembaran-lembaran bertulisan hingga pecah.”

 

Musnad Ahmad 2321: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Hushain bin Abdurrahman, ia berkata; Aku pernah bersama Sa’id bin Jubair, ia bertanya; “Siapakah di antara kalian yang melihat bintang yang jatuh tadi malam?” Aku menjawab; “Aku.” Kemudian aku berkata; “Saat itu aku tidak sedang mengerjakan shalat karena aku tersengat.” Ia bertanya; “Lalu apa yang engkau lakukan?” Aku menjawab; “Aku meminta agar diruqyah.” Ia bertanya lagi, “Apa yang mendorongmu melakukan itu?” Aku menjawab; “Telah menceritakan kepadaku Asy Sya’bi sebuah hadits dari Buraidah Al Aslami bahwa ia berkata; “Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain (pandangan jahat/hasad) atau bisa (sengatan hewan berbisa).” Maka Sa’id, maksudnya Ibnu Jubair berkata; “Bagus sekali orang yang telah melakukan apa yang didengar.” Kemudian ia berkata; “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Telah dinampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama satu orang saja dan seorang Nabi tanpa seorang pun bersamanya. Lalu tiba-tiba dinampakkan kepadaku kumpulan hitam yang besar, lalu aku bertanya: ‘Apakah ini umatku? ‘ dikatakan padaku; ‘Ini adalah Musa dan kaumnya, tapi lihatlah di ujung sebelah sana.’ Ternyata aku melihat ada kumpulan hitam yang besar, kemudian dikatakan lagi padaku; ‘Lihat juga yang sebelah sana.’ Ternyata aku juga melihat ada kumpulan hitam yang besar, lalu dikatakan padaku; ‘Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab juga tanpa adzab.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan masuk (ke rumahnya). Maka orang-orang pun membicarakan hal tersebut, mereka bertanya; “Siapakah mereka yang akan masuk surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab?” Sebagian mereka berkata; “Mungkin mereka adalah orang-orang yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Sebagian lagi berkata; “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah sedikit pun.” Dan mereka pun menyebutkan berbagai macam hal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui mereka dan bertanya: “Apa yang sedang kalian perbincangkan?” mereka pun menyampaikan pendapat-pendapat mereka, maka beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menggunakan Kay (pengobatan dengan besi panas), tidak pernah meminta untuk diruqyah, tidak pernah bertathayyur, dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal.” Lalu Ukasyah bin Mihshan Al Asadi berdiri dan berkata; “Apakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Engkau termasuk di antara mereka.” Kemudian yang lainnya berdiri lalu bertanya; “Apakah aku juga termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ukasyah telah mendahuluimu dalam hal ini.” Telah menceritakan kepada kami Syuja’ telah menceritakan kepada kami Husyaim, seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2322: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadlan. Dan bila beliau berpuasa, maka beliau berpuasa terus, hingga orang mengatakan; “Demi Allah, beliau tidak pernah berbuka.” Dan bila beliau berbuka, beliau terus berbuka, hingga orang mengatakan; “Demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 2323: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mu`ammal dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas; “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melintasi lembah-lembah dan datang dengan membawa hewan sembelihan, sehingga tidak ada alasan bagi beliau untuk berthawaf di Baitullah dan melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa sebelum melakukan wukuf di Arafah. Sedangkan kalian wahai penduduk Makkah, tangguhkanlah thawaf kalian hingga kalian kembali.”

 

Musnad Ahmad 2324: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah mengabarkan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika khamar diharamkan, mereka berkata; “Ya Rasulullah, bagaimana dengan para sahabat kami yang telah meninggal sedangkan mereka pernah meminumnya?” maka Allah menurunkan ayat: (Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh Karena memakan makanan yang Telah mereka makan dahulu)

 

Musnad Ahmad 2325: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Al Hasan yakni Ibnu Shalih, dari Muhammad bin Al Munkadir, ia berkata; Aku telah diceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pecandu khamar apabila mati, maka ia akan berjumpa dengan Allah seperti penyembah berhala.”

 

Musnad Ahmad 2326: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Isa bin Ali dari Bapaknya dari Kakeknya, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya keberkahan seekor kuda terletak pada warna blondenya (merah kekuning-kuningan).”

 

Musnad Ahmad 2327: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir yakni Ibnu Hazim, dari Kultsum bin Jabr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah telah mengambil perjanjian (kesaksian) dari punggung Adam di Na’man, yakni Arafah. Lalu Dia mengeluarkan keturunannya dari tulang rusuknya, lalu menebarkan mereka di hadapanNya seperti benih. Kemudian Dia berkata kepada mereka secara langsung, (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku Ini Tuhanmu? ‘ mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami Telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? ‘).”

 

Musnad Ahmad 2328: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali shalat Subuh pada hari Jum’at membaca: ALIF LAM MIM, TANZIL dan HAL ATA ‘ALA AL INSAN HINUM MINA AD DAHRI. Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2329: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syarik dari Khushaif dari Miqsam dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang laki-laki yang menggauli istrinya yang sedang haid. Beliau bersabda: “Dia bersedekah setengah dinar.”

 

Musnad Ahmad 2330: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syarik dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami bersegera, atau beliau menyuruh Ummu Salamah untuk bersegera, sementara aku bersama mereka, yaitu berangkat dari Muzdalifah ke Jumrah Aqabah, lalu beliau menyuruh kami agar melemparnya ketika matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 2331: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Dawud yakni Al ‘Aththar, dari ‘Amru berkata; Telah menceritakan kepadaku ‘Atho` bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku bersama barang-barangnya dan orang-orang yang lemah dari anggota keluarganya pada malam Muzdalifah, lalu kami shalat Subuh di Mina dan melempar jumrah.”

 

Musnad Ahmad 2332: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad dari Bapaknya dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho` bin Alqamah Al Qurasyi berkata; kami masuk ke rumah Maimunah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kami dapati Abdullah bin Abbas sedang di dalamnya, kemudian kami menyebutkan tentang wudlu (setelah makan makanan) yang disentuh api, maka Abdullah pun berkata; “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakan (makanan) yang disentuh api, kemudian beliau shalat dan tidak berwudlu lagi.” Lalu sebagian kami berkata kepadanya; “Apakah engkau melihat beliau?” Ibnu Abbas menunjuk kepada kedua matanya seraya mengatakan; “Kedua mataku ini telah melihat.”

 

Musnad Ahmad 2333: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad dan Khalaf bin Al Walid mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Seorang laki-laki dari bani Sulaim melewati sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu ia menggiring kambingnya, lalu ia pun mengucapkan salam kepada mereka, mereka berkata; “Tidaklah ia mengucapkan salam kepada kalian kecuali untuk melindungi diri dari kalian.” Lalu mereka pun menghampiri, membunuhnya dan merampas kambingnya, kemudian mereka menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin’ (lalu kamu membunuhnya)). hingga akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 2334: Telah menceritakan kepada kami Husain dan Abu Nu’aim mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah azza wa jalla: (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar). ia berkata; “Mereka adalah orang-orang yang berhijrah bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah.” Sedangkan menurut Abu Nu’aim berkata; “Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2335: Telah menceritakan kepada kami Husain dan Abu Nu’aim mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari Abdul Aziz bin Rufai’ berkata; telah menceritakan kepadaku seseorang yang mendengar Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak turun di antara Arafah dan Jam’un kecuali untuk menumpahkan air (buang air).”

 

Musnad Ahmad 2336: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar berkata; aku mendengar Jabir bin Zaid berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat delapan raka’at secara langsung dan tujuh raka’at secara langsung.”

 

Musnad Ahmad 2337: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban, di antara hewan kurbannya (terdapat) unta (yang dulunya) milik Abu Jahal, pada hidungnya terdapat cincin perak.

 

Musnad Ahmad 2338: (Ahmad) berkata; Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakan (dengan ujung-ujung giginya) daging (yang menempel pada tulang), kemudian beliau shalat dan tidak berwudlu lagi.

 

Musnad Ahmad 2339: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika Hilal bin Umayyah menuduh istrinya (berzina), maka dikatakan kepadanya; “Demi Allah, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menderamu delapan puluh kali deraan.” Ia berkata; “Allah Maha Adil untuk membiarkan beliau menderaku delapan puluh kali dera. Dan Dia (Allah) mengetahui bahwa aku telah melihat sampai aku yakin dan mendengarnya sampai aku yakin. Tidak mungkin, demi Allah, beliau tidak akan memukulku.” Ibnu Abbas berkata; “Maka turunlah ayat tentang li’an.”

 

Musnad Ahmad 2340: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih.

 

Musnad Ahmad 2341: Telah menceritakan kepada kami Husain dan Ahmad bin Abdul Malik mereka berdua berkata; Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah yakni Ibnu ‘Amru, dari Abdul Karim dari Ibnu Jubair, Ahmad berkata; dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan muncul suatu kaum pada akhir zaman yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam.” Husain berkata; “Seperti kotoran burung merpati, mereka tidak akan mencium baunya surga.”

 

Musnad Ahmad 2342: (Ahmad) berkata; Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Bahram dari Syahr bin Hausyab berkata; Abdullah bin Abbas berkata; Sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka berkata; “Wahai Abul Qasim, Sampaikan kepada kami tentang perkara-perkara yang akan kami tanyakan kepadamu, tidak ada yang mengetahui seorang pun kecuali seorang Nabi.” Dan di antara yang mereka tanyakan adalah; “Makanan apa yang diharamkan oleh Israil terhadap dirinya sendiri sebelum diturunkannya Taurat.” Beliau menjawab: “Aku persumpahkan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kalian tahu bahwa Israil Ya’qub ‘Alaihis Salam menderita sakit yang parah, dan sakitnya itu berlangsung cukup lama. Lalu ia bernadzar kepada Allah dengan suatu nadzar, jika Allah menyembuhkannya dari penyakitnya, maka ia akan mengharamkan minuman dan makanan yang paling disukainya. Makanan yang paling disukainya adalah daging unta, sedang minuman yang paling disukainya adalah susunya.” Mereka pun berkata: “demi Allah, benar.”

 

Musnad Ahmad 2343: Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Dukain telah menceritakan kepada kami Zam’ah dari Salamah bin Wahram dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas hamparan (karpet).

 

Musnad Ahmad 2344: Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl berkata; Telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara syair ada (yang mengandung) hikmah dan di antara susunan kata yang indah terdapat (apa yang disebut) sihir.”

 

Musnad Ahmad 2345: Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak dari Ikrimah berkata; Ibnu Abbas melewati orang-orang yang menempatkan burung merpati lalu mereka melemparinya, maka Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran.”

 

Musnad Ahmad 2346: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil putrinya yang sedang naza’ (sakaratul maut), lalu memeluknya dan meletakkannya di dadanya, kemudian putrinya meninggal di dada beliau, maka Ummu Aiman berteriak, lalu dikatakan, apakah engkau menangis di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ummu Aiman menjawab; “Bukankah aku melihatmu menangis wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Aku tidak menangis, akan tetapi ini adalah kasih sayang. Sesungguhnya orang Mukmin itu dalam kebaikan pada setiap kondisi. Sesungguhnya nyawanya bila keluar dari antara dua rusuknya dia memuji Allah ‘azza wajalla.”

 

Musnad Ahmad 2347: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ali bin Badzimah telah menceritakan kepadaku Qais bin Habtar berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang guci putih, guci hijau dan guci merah, maka dia menjawab; “Sesungguhnya yang pertama kali menanyakannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan dari Abdul Qais, mereka berkata; “Sesungguhnya kami memperoleh peralatan, tempat-tempat air mana (yang boleh digunakan)?” beliau menjawab: “Janganlah kalian minum dari Ad Dubbaa`, Al Muzaffat, An Naqir dan Al Hantam, tapi minumlah dari tempat-tempat air yang terbuat dari kulit.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadaku” atau beliau mengatakan: “Mengharamkan khamar, judi dan gendang (musik), dan setiap yang memabukkan adalah haram.” Sufyan mengatakan; Lalu aku katakan kepada Ali bin Badzimah; “Apakah Al Kubah itu?” dia menjawab; “Thabl (gendang).”

 

Musnad Ahmad 2348: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Seseorang dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “‘Ain adalah haq, ia bisa meluluhkan gunung yang besar.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid Al Adaniy berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Duwaid dari Isma’il bin Tsauban dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2349: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Utsman dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik celak kalian adalah Al Itsmid (dipakai) menjelang tidur, berfungsi menumbuhkan bulu mata dan menjernihkan penglihatan. Dan sebaik-baik pakaian kalian adalah (yang berwarna) putih maka kenakanlah pakaian itu dan kafankanlah orang yang meninggal dari kalian dengan (dengan warna itu).”

 

Musnad Ahmad 2350: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala` bin Shalih telah menceritakan kepada kami ‘Adi bin Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran.”

 

Musnad Ahmad 2351: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Abdullah bin Mauhah berkata; telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Janda itu lebih berhak dengan urusan dirinya daripada walinya sedangkan gadis perawan diminta pendapat tentang perkara dirinya dan diamnya adalah persetujuannya.”

 

Musnad Ahmad 2352: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Bangsa jin bisa mendengarkan wahyu, mereka bisa mendengar satu kalimat kemudian menambahkan sepuluh, maka yang mereka dengar adalah hak sedangkan apa yang mereka tambahkan adalah batil. Sebelum itu bintang-bintang tidak pernah digunakan untuk melempar, namun ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, salah satu dari mereka tidak kembali ke tempatnya kecuali dilempari dengan bola api yang bisa membakar apa saja yang dikenainya, lalu mereka mengadukan hal itu kepada Iblis, maka Iblis pun berkata; “Hal ini memang perkara yang harus terjadi.” Lalu dia mengirim bala tentaranya, ternyata mereka mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan shalat di antara dua bukit kurma, maka mereka pun mendatangi Iblis dan mengabarkannya, dia pun berkata; “Kejadian ini (dipicu) oleh kejadian yang di bumi itu.”

 

Musnad Ahmad 2353: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid Al ‘Ijli dulu dia pernah mempunyai perkumpulan, kami pernah melihatnya di dekat Hassan, dari Bukair bin Syihab dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya; “Wahai Abul Qasim, kami akan menanyakan kepadamu tentang lima hal, bila engkau memberitahu kami tentang itu, maka kami tahu bahwa engkau adalah seorang Nabi dan kami akan mengikutimu.” Lalu beliau mengambil sumpah atas mereka sebagaimana Israil terhadap anak-anaknya, yaitu mereka mengatakan: (Allah adalah saksi terhadap yang kita ucapkan (ini)). Beliau pun berkata: “Sampaikanlah.” Mereka berkata; “Beritahu kami tentang tanda seorang Nabi.” Beliau menjawab: “Kedua matanya (bisa) tertidur namun hatinya tidak tidur.” Mereka berkata lagi; “Beritahu kami, bagaimana (proses bayi) menjadi perempuan dan bagaimana menjadi laki-laki?” Beliau menjawab: “Saat bertemunya dua air (yakni sperma laki-laki dan sel telur perempuan), bila sperma laki-laki lebih dominan terhadap sel telur perempuan, maka (anaknya) menjadi laki-laki, dan bila sel telur perempuan lebih dominan terhadap sperma laki-laki maka (anaknya) menjadi perempuan.” Mereka bertanya lagi, “Beritahu kami, apa yang diharamkan Israil atas dirinya sendiri.” Beliau menjawab: “Beliau pernah menderita penyakit kulit dan tidak menemukan sesuatu (makanan) yang cocok kecuali susu anu dan anu.” Abdullah bin Ahmad berkata; Ayahku berkata; Sebagian mereka mengatakan; “Yakni unta.” Beliau melanjutkan: “Maka ia mengharamkan dagingnya (atas dirinya).” Mereka berkata; “Engkau benar.” Lalu mereka bertanya lagi, “Beritahu kami, apa (hakikat) petir itu?” Beliau menjawab: “Salah satu dari malaikat Allah ‘azza wajalla yang ditugasi mengurusi awan, pada tangannya, atau di tangannya, terdapat cemeti yang terbuat dari api, dia mencambuki awan untuk menggiringnya ke arah yang diperintahkan Allah.” Mereka berkata lagi; “Lalu suara apa yang terdengar itu?” Beliau menjawab: “Itu suaranya.” Mereka berkata; “Engkau benar. Kini tinggal satu (pertanyaan), inilah (penentu) yang kami jadikan alasan untuk berbai’at kepadamu bila engkau memberitahu kami tentang ini. Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun kecuali ada satu malaikat yang mendatanginya dengan membawa berita, beritahu kami siapa temanmu itu?” Beliau menjawab: “Jibril ‘alaihis salam.” Mereka berkata; “Jibril, dia yang menurunkan peperangan, pembunuhan dan siksaan, dia adalah musuh kami! Seandainya engkau mengatakan Mika`il, yang menurunkan rahmat, menumbuhkan tanaman dan menurunkan hujan, pasti (kami mengikutimu).” Maka Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril) hingga akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 2354: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Yahya telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Musa dari Husain bin Waqid dari ‘Ilba` bin Ahmar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, tibalah waktu berkurban, maka kami menyembelih seekor sapi atas nama tujuh orang dan seekor unta atas nama sepuluh orang.”

 

Musnad Ahmad 2355: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Yahya Ath Thalaqani mereka berdua berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Musa telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind dari Tsaur bin Zaid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sambil menoleh kiri dan kanan, namun beliau tidak memutar lehernya hingga menengok ke belakang.” Ath Thalaqani berkata; Telah menceritakan kepadaku Tsaur dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah, ” seperti di atas.

 

Musnad Ahmad 2356: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind dari Seseorang dari sahabat Ikrimah berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melirik di dalam shalatnya tanpa menengokkan kepalanya.”

 

Musnad Ahmad 2357: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ar Rabi’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Al Ja’d Abu Utsman dari Abu Raja` dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihat sesuatu yang dia benci dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang menyelisihi jama’ah walau hanya sejengkal, lalu ia mati, maka ia mati seperti kematian jahiliyah.”

 

Musnad Ahmad 2358: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Al Fadhl bin Dukain telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muslim Al ‘Abdi berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mutawakkil bahwa Ibnu Abbas telah menceritakan; bahwa suatu malam dia menginap di rumah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu di malam itu Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun kemudian keluar dan melihat ke langit, lalu beliau membaca ayat ini yang terdapat dalam surat Ali Imran: (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang) sampai ayat (Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.) Kemudian beliau kembali ke rumah, lalu bersiwak dan berwudlu, selanjutnya beliau melaksanakan shalat, kemudian kembali berbaring, lalu beliau kembali (bangun dan keluar) lalu melihat ke langit, kemudian membaca ayat tadi dan beliau kembali, kemudian bersiwak dan berwudlu, lalu melaksanakan shalat, kemudian kembali berbaring. Beliau kembali (bangun dan keluar) lagi serta melihat ke langit dan membaca ayat tadi. Lalu kembali (ke dalam rumah) lalu bersiwak dan berwudlu, kemudian melaksanakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 2359: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru berkata; Telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Manshur dari Abu Hasyim dari Yahya bin ‘Abbad atau dari Abu Hasyim dari Hajjaj, -Manshur ragu- dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengucapkan: SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah Maha Mendengar bagi siapa saja yang memujiNya), beliau mengucapkan: ALLAHUMMA RABBANA LAKA AL HAMDU MIL`AS SAMAWATI WA MIL`AL ARDLI WA MIL`A MA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU (Wahai Tuhan kami, milikMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa pun setelah itu yang Engkau kehendaki). Ahmad berkata; Manshur berkata; dan telah menceritakan kepadaku ‘Aun dari saudaranya yaitu Ubaidullah seperti ini.

 

Musnad Ahmad 2360: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr dan Muhammad bin Ja’far mereka berdua berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak dinikahkan dengan anak perempuan Hamzah, lalu beliau bersabda: “Dia putri saudara sesusuanku, sesungguhnya diharamkan karena faktor sebagaimana apa yang diharamkan karena faktor nasab (garis keturunan).”

 

Musnad Ahmad 2361: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Ali bin Zaid dari Sa’id bin Al Musayyab dari Ibnu Abbas; bahwa Ali berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang anak perempuan Hamzah dan dia menyebutkan tentang kecantikannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia adalah putri saudara sesusuanku.” Kemudian Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukankah engkau tahu, bahwa Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan karena faktor sesusuan apa yang diharamkan karena faktor nasab (garis keturunan).”

 

Musnad Ahmad 2362: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr dan Muhammad bin Ja’far mereka berdua berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Ya’la bin Hakim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa ia berpendapat; “tidak apa-apa orang yang sedang ihram melakukan pernikahan, ” dan ia mengatakan; “Sesungguhnya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah binti Al Harits di suatu sumber air yang bernama Saraf, saat itu beliau sedang ihram. Setelah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan hajinya, beliau datang, lalu ketika berada di sumber air itu, beliau tinggal bersamanya.”

 

Musnad Ahmad 2363: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Yahya Al Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang terlihat pahanya, maka beliau bersabda, “Tutuplah pahamu, karena sesungguhnya paha laki-laki itu termasuk aurat.”

 

Musnad Ahmad 2364: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq telah menceritakan kepada kami Israil dari Ibrahim bin Muhajir dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Bacaan siapa yang terakhir, bacaan Abdullah atau bacaan Zaid?” kami menjawab; “Bacaan Zaid.” Ia berkata; “Bukan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap setahun sekali membacakan Al Qur`an kepada Jibra`il, namun pada tahun beliau wafat, beliau membacakannya dua kali, dan bacaan yang terakhir adalah bacaan Abdullah.”

 

Musnad Ahmad 2365: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Sufyan dari Habib bin Abu Amrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang firmanNya (Alif laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi), ia berkata; “Bangsa Romawi dikalahkan dan akhirnya kalah.” Ia berkata; “Orang-orang Musyrik senang (berharap) jika bangsa Persia dapat mengalahkan bangsa Romawi, karena mereka adalah penyembah berhala, sedang kaum Muslimin senang (berharap) jika Romawi dapat mengalahkan Persia, karena mereka adalah Ahli Kitab. Maka orang-orang menceritakannya pada Abu Bakar, maka Abu Bakar menceritakannya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh nantinya mereka akan menang.” Ibnu Abbas berkata; Lalu Abu Bakar memberitahukan kepada mereka, dan mereka berkata; “Tentukan waktunya antara kami dan engkau; bila kami menang, maka bagi kami anu dan anu, dan bila kalian menang, maka bagi kalian anu dan anu.” Lalu ditetapkanlah waktu lima tahun, namun mereka (bangsa Romawi) belum juga menang, akhirnya Abu Bakar menyampaikan hal itu pada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, maka beliau bersabda: “Sebaiknya engkau tetapkan lebih dari itu.” Ia berkata; Menurutku beliau mengatakan: “Sepuluh tahun.” Abdullah berkata; Sa’id bin Jubair berkata; Al Bidl’u adalah di bawah sepuluh, maka setelah itu bangsa Romawi memperoleh kemenangan. Ia melanjutkan, “Itulah (makna) firmanNya: (Alif laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi) hingga firmanNya (dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman). Ia berkata; “Mereka bergembira dengan pertolongan Allah.”

 

Musnad Ahmad 2366: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru berkata; Telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khutsaim berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Mulaikah bahwasanya telah menceritakan kepadanya Dzakwan sebagai tabir Aisyah bahwasanya Abdullah bin Abbas datang meminta izin kepada Aisyah, lalu aku datang, sementara di dekat kepala Aisyah ada putra saudaranya (keponakannya), yakni Abdullah bin Abdurrahman, lalu aku berkata; “Ada Ibnu Abbas meminta izin.” Abdullah, keponakannya, membisikkan kepadanya, ia berkata; “Ada Abdullah bin Abbas meminta izin.” Saat itu Aisyah hampir meninggal, lalu ia berkata; “Biarkan aku dari Ibnu Abbas.” Abdullah (keponakannya) berkata; “Wahai Bunda, sesungguhnya Ibnu Abbas termasuk anak-anakmu yang shalih, biarkanlah dia mengucapkan salam kepadamu dan melepasmu.” Aisyah berkata: “Berilah dia izin bila engkau mau.” Maka aku pun memasukkannya, tatkala Ibnu Abbas duduk, dia berkata; “Bergembiralah.” Aisyah pun berkata; “Engkau juga.” Ibnu Abbas berkata lagi; “Tidak ada (perbedaan) antara engkau dan perjumpaanmu kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para kerabat, kecuali keluarnya ruh dari jasad. Engkaulah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencintai kecuali yang baik. Ketika kalungmu terjatuh di malam hari di Abwa`, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bertahan (di sana) hingga pagi hari masih di tempat, sedangkan orang-orang tidak mempunyai air, maka Allah menurunkan ayat: (Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih)), itu adalah karena sebabmu. Dan tidaklah Allah ‘azza wajalla menurunkan rukhshah (keringanan) bagi umat ini (kecuali karena itu). Allah pun telah menurunkan kebebasanmu (dari tuduhan) dari atas tujuh langit, yang dibawakan oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril), sehingga tidak ada satu pun dari masjid-masjid Allah yang (di dalamnya) disebut nama Allah, kecuali (ayat itu) senantiasa dibaca di waktu malam dan di waktu siang.” Lalu Aisyah berkata; “Biarkan aku darimu wahai Ibnu Abbas, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, aku ingin menjadi seseorang yang dilupakan.”

 

Musnad Ahmad 2367: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Laits dari Seorang laki-laki berkata; Ibnu Abbas mengatakan kepada Aisyah; “Sesungguhnya engkau disebut ummul mukminin adalah agar engkau bahagia, karena sesungguhnya itu bukanlah namamu sebelum engkau dilahirkan.”

 

Musnad Ahmad 2368: Telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah berkata; Telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Hisyam dari Qais bin Sa’d telah menceritakan kepadaku ‘Atho` bahwa Ibnu Abbas menceritakan kepadanya; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ mengatakan: “ALLAHUMMA RABBANA LAKA AL HAMDU MIL`AS SAMAWATI WA MIL`AL ARDLI WA MIL`A MA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU” (Wahai Tuhan kami, milikMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa pun setelah itu yang Engkau kehendaki).”

 

Musnad Ahmad 2369: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Za`idah telah menceritakan kepada kami Habib bin Abu Amrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (menggunakan) Ad Dubbaa`, Al Hantam, Al Muzaffat dan An Naqir serta mencampur (rendaman) kurma mentah dengan kurma matang.”

 

Musnad Ahmad 2370: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Muhammad bin Abu Hafshah dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Penaklukan kota Makkah terjadi pada hari ketiga belas Ramadlan.”

 

Musnad Ahmad 2371: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Adi dari Ibnu ‘Aun dari Mujahid, ia berkata; Kami pernah bersama Ibnu Abbas, lalu mereka menyebutkan tentang Dajjal, mereka berkata; “Sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis Kaaf Faa’ Raa’.” Dia berkata; “Apa yang kalian katakan?” Mujahid berkata; “Mereka mengatakan bahwa di antara kedua matanya tertulis Kaaf faa’ Raa’.” Mujahid berkata; Maka Ibnu Abbas berkata; “Aku tidak pernah mendengar beliau mengatakan itu, tetapi beliau mengatakan: “Adapun Ibrahim ‘Alaihis Salam, maka lihatlah pada teman kalian, sedangkan Musa ‘Alaihis Salam, ia adalah seorang laki-laki (berkulit) kecoklatan dan bertubuh kekar yang sedang (menunggang) unta merah yang kendalinya terbuat dari sabut kurma, seolah-olah aku melihat kepadanya ketika menuruni lembah sambil bertalbiyah.”

 

Musnad Ahmad 2372: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Mujahid berkata; Mereka membicarakannya yakni tentang Dajjal. Ia mengatakan; “Tertulis di antara kedua matanya Kaaf fa` Ra`.” Lalu Ibnu Abbas berkata; Aku belum pernah mendengar beliau mengatakan itu, akan tetapi beliau mengatakan: “Adapun Ibrahim ‘alaihis salam, maka lihatlah kepada teman kalian.” Yazid mengatakan; Maksudnya adalah diri beliau Salallahu ‘Alaihi wa sallam.”Sedangkan Musa ‘alaihis salam adalah seorang laki-laki (berkulit) kecoklatan dan bertubuh tinggi serta kekar yang sedang (menunggang) unta merah yang tali kendalinya terbuat dari sabut kurma, seolah-olah aku melihat kepadanya ketika menuruni lembah sambil bertalbiyah.” (Abdullah bin Ahmad) berkata; Ayahku berkata; Husyaim berkata; “Tali yang terbuat dari sabut kurma.”

 

Musnad Ahmad 2373: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Adi dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad bahwa Ibnu Abbas -Ibnu ‘Aun berkata; Aku kira ia memarfu’kannya, – berkata; Beliau memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan ketika hari turun hujan; “Agar kalian melaksanakan shalat kalian di tempat kalian.”

 

Musnad Ahmad 2374: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Ibrahim yakni Ibnu Nafi’, dari ‘Amru bin Dinar dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas; bahwa seekor kambing mati di rumah salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?”

 

Musnad Ahmad 2375: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Bukair yaitu Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibrahim yakni Ibnu Nafi’, dari Wahab bin Minas Al ‘Adani dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak sujud setelah ruku’, beliau mengucapkan: “ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU MIL`AS SAMAA`I WA MIL`AL ARDlI WA MIL`A MAA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU (Allah Maha Mendengar siapa saja yang memujiNya, Wahai Tuhan kami, milikMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa pun setelah itu yang Engkau kehendaki).”

 

Musnad Ahmad 2376: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Khalid bin Abu ‘Imran dari Hanasy bin Ash Shan’ani dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi Nabi pada hari Senin, meninggal dunia pada hari Senin, keluar untuk hijrah ke Madinah pada hari Senin, sampai di Madinah pada hari Senin, dan mengangkat Hajar Aswad pada hari Senin.”

 

Musnad Ahmad 2377: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di Arafah dengan membonceng Al Fadhl, lalu seorang badui datang dan berdiri di dekatnya, sementara seorang gadis berada di belakangnya hingga Al Fadhl dapat melihat gadis tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui hal itu lalu beliau pun memalingkan wajah Fadhl. Ibnu Abbas berkata; Kemudian beliau bersabda: “Wahai manusia, kebaikan itu bukanlah dengan mempercepat kuda dan tidak pula unta. Maka dari itu, hendaklah kalian tenang.” Kemudian beliau bertolak. Maka aku tidak melihat (unta dan kuda) mengangkat kakinya tinggi-tinggi (bergerak cepat) hingga mencapai Jam’un. Ketika sampai di Jam’un, beliau membonceng Usamah, lalu bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya kebaikan itu bukan dengan mempercepat kuda dan tidak pula unta. Maka dari itu, hendaklah kalian tenang.” Kemudian beliau bertolak. Maka aku tidak melihat (unta dan kuda) mengangkat kakinya tinggi-tinggi (bergerak cepat) hingga mencapai Mina. Lalu kami didatangi oleh sekelompok orang lemah dari bani Hasyim yang menunggangi unta merah mereka, lalu beliau menepuk paha kami dan bersabda: “Wahai anakku, bertolaklah tapi janganlah kalian melempar jumrah hingga terbit matahari.”

 

Musnad Ahmad 2378: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Al Harits bahwa Bukair menceritakan kepadanya dari Kuraib mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas; bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika masuk Ka’bah, beliau menemukan gambar Ibrahim dan gambar Maryam, maka beliau bersabda: “Tidakkah mereka telah mendengar bahwa malaikat itu tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar. Sedang ini Ibrahim dalam bentuk gambar, lalu apa bedanya dengan gambar yang lain?!”

 

Musnad Ahmad 2379: Telah menceritakan kepada kami Harun, Abdurrahman berkata; dan aku mendengarnya dari Harun berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Abu Shakhr dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namr dari Kuraib mantan budak Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Abbas, bahwasannya anaknya meninggal dunia di Qudaid atau di Usfan, lalu dia berkata; “Wahai Kuraib, lihatlah orang-orang yang berkumpul padanya?” Kuraib berkata; Lalu aku keluar, dan ternyata orang-orang telah berkumpul, dan aku memberitahukannya pada Ibnu Abbas. Ia berkata; Ibnu Abbas bertanya; “Apakah jumlah mereka empat puluh orang?” Ia berkata; “Ya.” Ibnu Abbas berkata; “Bawa dia (jenazah) keluar, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim pun yang meninggal dunia, lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun kecuali Allah akan menerima syafa’at mereka baginya (jenazah).”

 

Musnad Ahmad 2380: Telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Muhammad yakni Al Khaththabi, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin ‘Amru dari Abdul Karim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwasannya seorang laki-laki keluar dari rumahnya, lalu diikuti oleh dua orang lainnya, dan seorang lagi memanggil mereka berdua dan berkata; “Pulanglah kalian berdua.” maka mereka berdua pulang. Lalu ia berkata kepadanya; “Sesungguhnya kedua orang ini adalah dua setan, dan aku masih selalu bersama mereka berdua hingga aku mengusir mereka. Jika engkau menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka ucapkanlah salam padanya, dan beritahukan padanya bahwa kami dalam mengumpulkan sedekah kami, bila berguna baginya, maka kami akan mengirimkannya kepada beliau.” Ia berkata; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah itu melarang menyendiri.”

 

Musnad Ahmad 2381: Telah menceritakan kepada kami Abu Qathn dari Al Mas’udi, ia berkata; “Kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih lurus perkataannya tentang syi’ah selain dari ‘Adi bin Tsabit.”

 

Musnad Ahmad 2382: Telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Muhammad yakni Al Khaththabi telah menceritakan kepada kami Ubaidullah yakni Ibnu ‘Amru, dari Abdul Karim dari Qais bin Habtar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Harga (hasil penjualan) anjing adalah buruk.” Beliau juga bersabda: “Jika ada orang yang meminta harga (penjualan) anjing, maka penuhilah tangannya dengan tanah.”

 

Musnad Ahmad 2383: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abu Hassan berkata; Seseorang dari Balhujaim berkata; “Wahai Abul Abbas, fatwa apakah ini yang menyebar pada orang-orang bahwa barangsiapa yang telah melakukan thawaf maka ia telah halal.” Ia menjawab; ” (ini adalah) Sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun kalian merasa kecewa.”

 

Musnad Ahmad 2384: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Syahr, Ibnu Abbas berkata; “Suatu hari, sekelompok orang Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka bertanya; “Wahai Abul Qasim, ceritakanlah kepada kami tentang beberapa hal yang akan kami tanyakan kepadamu. Beberapa hal itu tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi. Beliau bersabda: “Tanyakanlah kepadaku apa yang kalian suka, akan tetapi jadikanlah bagiku jaminan Allah dan apa yang telah di angkat oleh Ya’kub ‘alaihis salam terhadap anak-anaknya. Bila aku menceritakan sesuatu kepada kalian, lalu kalian mengakuinya, maka kalian harus mengikutiku atas dasar Islam.” Mereka menjawab; “Baiklah, itu bagianmu.” Beliau bersabda lagi: “Silahkan kalian bertanya sesuka kalian.” Mereka berkata; “Beritahukanlah kepada kami tentang empat perkara yang akan kami tanyakan kepadamu, beritahukan kami makanan apa yang di haramkan Isra’il terhadap dirinya sendiri sebelum diturunkannya Taurat? Beritahukanlah kepada kami bagaimana proses ovum perempuan dan sperma laki-laki, bagaimana ia bisa menjadi seorang laki-laki? Beritahukanlah kepada kami, bagaimana Nabi yang Ummi ini tidur? Dan siapa penolongnya dari Malaikat? Beliau menjawab: “Perjanjian Allah dan ikatan-Nya atas kalian, bila aku memberitahu kalian, maka kalian akan mengikutiku.” Ibnu Abbas melanjutkan; Mereka akhirnya menyanggupi perjanjian dan ikatan tersebut, beliau lalu bersabda: “Aku persaksikan kalian kepada Dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Musa Shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah kalian tahu bahwa Isra’il yaitu Ya’kub ‘alaihi salam pernah menderita sakit parah dan derita yang berkepanjangan, lalu dia bernadzar kepada Allah, bila Allah Ta’ala menyembuhkan penyakitnya, dia akan mengharamkan minuman dan makanan yang paling disukainya, sementara makanan yang paling disukainya adalah daging unta sedangkan minuman yang paling disukainya adalah susunya?” Mereka menjawab; “Ya Allah, benar.” Beliau bersabda lagi: “Ya Allah, saksikanlah mereka. Aku persaksikan kalian kepada dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, tahukah kalian bahwa sperma laki-laki berwarna putih kental dan ovum wanita berwarna kuning ringan, yang mana diantara keduanya yang paling mendominasi, maka ia akan menjadi anak dan keserupaan dengan izin Allah, bila sperma laki-laki labih dominan daripada ovum wanita, maka anaknya akan menjadi laki-laki dengan izin Allah, dan bila ovum wanita lebih dominan daripada sperma laki-laki, maka anaknya akan menjadi perempuan dengan izin Allah.” Mereka berkata; “Ya Allah, benar.” Beliau bersabda: “Ya Allah, saksikanlah mereka. Aku persaksikan kalian kepada Dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, tahukah kalian bahwa Nabi yang Ummi ini kedua matanya dapat tertidur tapi hatinya tidak?” Mereka menjawab; “Ya Allah, benar.” Beliau bersabda lagi: “Ya Allah, saksikanlah.” Mereka berkata lagi; “Kini kamu akan memberitahukan kepada kami tentang siapa penolongmu dari kalangan Malaikat?” saat itulah, kami akan bersamamu ataukah kami akan meninggalkanmu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya penolongku adalah Jibril ‘alaihis salam, dan Allah tidak pernah mengutus seorang Nabipun kecuali dialah penolongnya.” Mereka kemudian berkata; “Karena hal itu, kami berpisah denganmu, seandainya penolongmu selain dia dari kalangan Malaikat, pasti kami akan mengikutimu dan membenarkanmu.” Beliau bertanya: “Lalu apa yang menghalangi kalian untuk membenarkannya?” Mereka menjawab; “Dia (Jibril) adalah musuh kami.” Ibnu Abbas melanjutkan; “Maka pada saat itulah Allah menurunkan ayat; “Katakanlah, barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril telah menurunkan (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah…-hingga ayat- …melemparkan kitabullah ke belekang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitabullah).” QS Al Baqarah; 97-101. pada saat itulah “Karena itu mereka mendapat murka setelah (mendapat) kemurkaan.” QS Al Baqarah; 90. Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Bahram telah menceritakan kepada kami Syahr dari Ibnu Abbas dengan redaksi serupa.

 

Musnad Ahmad 2385: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Seorang laki-laki dari Sa’id bin Jubair berkata; aku mendatangi Ibnu Abbas yang sedang makan buah delima di Arafah. Ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka di Arafah, saat itu, Ummu Al Fadhl mengirimkan susu kepada beliau, lalu beliau pun meminumnya.”

 

Musnad Ahmad 2386: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka di ‘Arafah, ia berkata; “Ummu Al Fadhl mengirimkan susu kepada beliau, lalu beliau pun meminumnya.”

 

Musnad Ahmad 2387: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Abu At Tayyah dari Musa bin Salamah berkata; aku berhaji bersama Sinan bin Salamah, saat itu Sinan membawa hewan kurban, lalu hewan itu membebaninya (karena kelelahan) sehingga ia bingung karena kondisinya, maka kukatakan; “Bila aku telah sampai di Makkah, aku akan mencari tahu mengenai hal ini.” sesampainya di Makkah, aku katakan; “Mari kita temui Ibnu Abbas.” kami pun menemuinya, dan saat itu ada seorang budak perempuan disampingnya. Aku mempunyai dua keperluan, dan temanku mempunyai satu keperluan. Ia berkata; “Boleh aku duluan?.” Aku jawab; “Tidak.” maka aku berkata; Aku membawa hewan kurban, dan ternyata hewan tersebut membebani kami, aku pun berkata; “Bila telah sampai, aku akan mencari tahu tentang hal ini.” Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan hewan kurbannya bersama si fulan, beliau menyuruhnya untuk mengurusinya. Setelah berangkat, ia kembali lagi, lalu berkata; “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan bila di antara hewan kurban itu ada yang membebaniku?” Beliau menjawab: “Sembelihlah ia, lalu celupkan sandalnya pada darahnya, kemudian tepukkan pada pundaknya. Dan jangan sampai engkau dan seseseorang dari teman seperjalananmu ikut makan darinya.” Lalu aku berkata lagi; “Aku pernah ikut dalam beberapa peperangan, dan aku memperoleh harta rampasan perang, kemudian aku memerdekakan (budak) atas nama ibuku. Apa boleh aku memerdekakan (budak) atas namanya?” Ibnu Abbas menjawab; Istri Salman bin Abdullah Al Juhani menyuruh (seseorang) untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ibunya yang telah meninggal dan dia belum melaksanakan haji, apa boleh ia menghajikan atas namanya? Nabi Salallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “Bagaimana menurutmu bila ibunya mempunyai hutang lalu ia melunasinya, apakah itu mencukupi atas nama ibunya?” utusan itu menjawab; “Ya.” Beliau pun bersabda: “Maka hendaklah ia berhaji atas nama ibunya.” Lalu beliau bersabda: “Air laut adalah suci lagi menyucikan.”

 

Musnad Ahmad 2388: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Al Ja’d Abu Utsman dari Abu Raja` Al ‘Utharidi dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang meriwayatkan dari rabbnya. (Ibnu Abbas) berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kalian yang maha Suci lagi Maha Tinggi adalah Maha Penyayang. Barangsiapa hendak melakukan suatu kebaikan namun belum melaksanakannya, maka dituliskan baginya satu kebaikan, kemudian bila ia melakukannya, maka dituliskan baginya sepuluh hingga tujuh ratus hingga berlipat-lipat yang sangat banyak. Dan barangsiapa hendak melakukan suatu keburukan namun tidak melaksanakannya, maka dituliskan baginya satu kebaikan, dan bila ia melakukannya maka dituliskan baginya satu keburukan atau Allah ‘azza wajalla menghapuskannya. Tidak ada yang Allah ‘azza wajalla binasakan kecuali ia binasa.”

 

Musnad Ahmad 2389: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Carilah itu (lailatul qadar) pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan, sembilan tersisa, tujuh tersisa atau lima tersisa.”

 

Musnad Ahmad 2390: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Sulaim bin Hayyan telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud ketika (membaca surat) Shaad.”

 

Musnad Ahmad 2391: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Zaid bin Aslam dari Abdurrahman bin Wa’lah berkata; aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya kita memerangi penduduk Al Maghrib, dan kebanyakan tempat minum mereka.” Dan kemungkinan Hammad berkata; “Dan mayoritas tempat minum mereka adalah (dari kulit) bangkai?” maka ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyamaknya adalah menyucikannya.”

 

Musnad Ahmad 2392: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah selama lima belas tahun. Selama tujuh tahun beliau melihat sinar dan mendengar suara. Dan delapan tahun diwahyukan kepada beliau. Dan beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.”

 

Musnad Ahmad 2393: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya dari Qatadah dari Yahya bin Ya’mar dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyantap bahu (kambing) kemudian beliau mendirikan shalat dan tidak berwudlu lagi.

 

Musnad Ahmad 2394: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Jabir dari ‘Ammar dari Sa’id bin Jubair, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdullah, -Affan belum pernah menyandarkannya lebih banyak daripada kepada Abdullah, – ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka ia benar-benar melihatku. Karena sesungguhnya Setan itu tidak bisa menyerupai diriku.” Dan Affan mengatakan sesekali waktu; ” (karena setan) tidak pernah bisa menyerupai diriku.”

 

Musnad Ahmad 2395: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar, ia berkata; Aku mendengar Jabir bin Zaid mengabarkan, bahwa dia mendengar Abdullah bin Abbas, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah: “Barangsiapa tidak mendapatkan sepasang sandal hendaklah dia memakai khuff, dan yang tidak mendapatkan kain hendaklah dia memakai celana.”

 

Musnad Ahmad 2396: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Dinar, ia berkata; aku mendengar Thawus menceritakan dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintah untuk sujud di atas tujuh anggota (badan), juga tidak menahan (menyibukkan diri dengan) rambut dan tidak pula pakaian.” Sesekali Ibnu Abbas berkata; “Nabi kalian Shallallahu ‘Alaihi Wasallah diperintah untuk sujud di atas tujuh anggota (badan), juga tidak menahan (menyibukkan diri dengan) rambut dan tidak pula pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2397: Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; Qatadah telah mengabarkan kepadaku, ia berkata; aku telah mendengar Abu Hassan menceritakan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat zhuhur di Dzulhulaifah, kemudian dibawakan hewan kurbannya, lalu beliau menandai punggung sebelah kanannya sehingga darah mengalir dari hewan kurban tersebut, setelah itu beliau mengalungkan sepasang sandal padanya. Kemudian didatangkan hewan tunggangan kepada beliau, dan ketika beliau telah duduk di atasnya dan sejajar dengan Al Baida`, beliau berniat untuk haji.”

 

Musnad Ahmad 2398: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Qatadah berkata; aku mendengar Sa’id bin Al Musayyab menceritakan; bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mengambil kembali pemberiannya adalah seperti orang yang menjilat kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2399: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam diberi hadiah pinggul keledai.” Atau dia berkata; “Kaki keledai, saat itu beliau sedang ihram, lalu beliau pun menolaknya.”

 

Musnad Ahmad 2400: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah mengabarkan kepada kami Yusuf bin Abdullah bin Al Harits dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tertekan oleh suatu perkara (atau berduka), beliau mengucapkan: LA ILAHA ILLALLAH AL ‘AZHIM AL HALIM LA ILAHA ILLALLAH RABB AS SAMAWATI WA RABB AL ARDLI WA RABB AL ‘ARSY AL ‘AZHIM LA ILAHA ILLALLAH RABB AL ‘ARSY AL KARIM LA ILAHA ILLALLAH RABB AS SAMAWATI WA RABB AL ARDLI WA RABB AL ‘ARSY AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang agung. Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan ‘Arsy yang mulia Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).”

 

Musnad Ahmad 2401: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku ‘Adi bin Tsabit berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran.” Syu’bah berkata; aku bertanya kepadanya; ” (Apakah ini) dari Nabi Salallahu ‘Alaihi wa sallam.” Ia menjawab; ” (ya) dari Nabi Salallahu ‘Alaihi wa sallam.”

 

Musnad Ahmad 2402: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; Telah mengabarkan kepadaku ‘Adi bin Tsabit berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada (hari raya) Fithri, beliau tidak shalat sebelum dan sesudahnya, kemudian beliau bersama Bilal menghampiri kaum wanita lantas bersabda: “Bersedekahlah kalian.” Maka ada seorang wanita memberikan gelang dan kalungnya.

 

Musnad Ahmad 2403: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; Telah mengabarkan kepadaku Al Hakam, ia berkata; ” Sa’id bin Jubair pernah shalat bersama kami di Muzdalifah shalat Maghrib tiga raka’at dengan satu iqamat.” Ia melanjutkan; “Kemudian salam, setelah itu ia shalat Isya’ dua raka’at. Dia menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar melakukan hal itu, dan (Abdullah bin Umar) menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu juga.”

 

Musnad Ahmad 2404: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Sha’b bin Jatstsamah pernah menghadiahkan kaki keledai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang ihram, beliau pun menolaknya dan kaki itu masih meneteskan darah.”

 

Musnad Ahmad 2405: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam padahal saat itu beliau sedang berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 2406: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Aban bin Yazid Al ‘Aththar telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah Ar Riyahi dari anak paman Nabi kalian yakni Ibnu Abbas bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa dengan doa ini ketika beliau sedang kesulitan: LA ILAHA ILLALLAH AL ‘AZHIM AL HALIM LA ILAHA ILLALLAH RABB AL ‘ARSY AL ‘AZHIM LA ILAHA ILLALLAH RABB AS SAMAWATI WA AL ARDLI RABB AL ‘ARSY AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan ‘Arsy yang agung.Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).”

 

Musnad Ahmad 2407: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Abdurrahman bin Wa’lah berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas kataku, “Sesungguhnya kita memerangi penduduk Maghrib ini, dan kebanyakan tempat minum mereka adalah kulit bangkai?” maka dia menjawa; aku mendengar Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “menyamaknya adalah mensucikannya.”

 

Musnad Ahmad 2408: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Hassan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Abbas, “Sesungguhnya apa yang engkau katakan telah membuat gelisah orang-orang.” Hammam berkata; Yakni setiap orang yang telah thawaf di Baitullah berarti dia telah halal. Maka Ibnu Abbas berkata; “Ini adalah sunnah dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun kalian benci.” Hammam berkata; Yakni siapa saja yang tidak memiliki hewan kurban.

 

Musnad Ahmad 2409: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hajib bin Umar Abu Khusyaibah saudara Isa An Nahwi berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Al A’raj berkata; Aku duduk dekat Ibnu Abbas, saat itu dia beralaskan selendangnya di dekat sumur zam-zam. Aku duduk di dekatnya, dan dia adalah teman duduk yang paling baik, lalu aku bertanya tentang ‘Asyura`, dan balik bertanya; “Tentang apa yang engkau tanyakan.” Aku menjawab; “Tentang puasanya.” Dia menjawab; “Jika kamu melihat hilal bulan Muharram, maka hitunglah hingga apabila kamu masuk pagi hari tanggal sembilan, berpuasalah pada hari itu.” Aku bertanya; “Apakah demikian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa.” Dia menjawab; “Ya.”

 

Musnad Ahmad 2410: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah mengabarkan kepada kami ‘Amru bin Dinar bahwa Thawus berkata; Telah menceritakan kepadaku orang yang lebih mengetahui dari mereka yakni Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda: “sekiranya seseorang menyerahkan tanahnya kepada saudaranya lebih baik baginya daripada dia mengambil harga sewaan.”

 

Musnad Ahmad 2411: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammam ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwasanya suami Barirah adalah seorang budak hitam yang bernama Mughits. Aku pernah melihatnya menguntit Barirah di jalanan gang Madinah dengan mata berurai karena menangisi Barirah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberi empat putusan berkenaan dengan kasus Barirah tersebut, namun majikan Barirah mensyaratkan perwaliannya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menetapkan bahwa perwalian itu hak bagi orang yang telah memerdekakannya. Kemudian beliau memberi pilihan kepada Barirah dan ia pun memilih untuk bercerai, maka beliau pun menyuruhnya untuk beriddah.” Ikrimah melanjutkan, “Ketika Barirah mendapatkan sedekah, maka sebagian dari sedekah itu ia berikan kepada Aisyah radhiallahu ‘anhuma. Aisyah kemudian melaporkan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda: ‘Bagi Barirah itu sedekah, namun bagi kita itu adalah hadiah’.”

 

Musnad Ahmad 2412: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Lahiq bin Humaid dan Ikrimah mereka berdua berkata; Umar bertanya; “Siapa yang tahu kapan terjadinya lailatul qadar?” Mereka menjawab; Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaitu pada kesepuluh di ketujuh yang berlalu atau ketujuh tersisa.”

 

Musnad Ahmad 2413: Telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al A’masy dari Amru bin Murrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke Shofa dan berkata: Wahai orang-orang …! Wahai orang-orang …! Ia berkata: Lalu orang-orang Quraisy pun berkumpul mendekati beliau. Mereka bertanya: Ada apa? Beliau menjawab: Apa pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa ada musuh yang akan menyerang kalian dipagi hari atau di sore hari, apakah kalian akan membenarkanku (mempercayaiku)? Mereka menjawab: Tentu. Lalu beliau berkata: Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan adzab yang berat di depan. Ibnu Abbas berkata; Maka Abu Lahab berkata: Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?! Celakalah kamu! ia berkata: Maka Allah azza wa jalla menurunkan “Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa.” QS. Al Lahab: 1 hingga akhir surat.

 

Musnad Ahmad 2414: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari Wahab bin Kaisan dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atho dari Abdullah bin ‘Abbas dia berkata; Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan daging (yang masih tersisa di tulang) kambing, kemudian beliau mengerjakan shalat tanpa berkumur dan menyentuh air.”

 

Musnad Ahmad 2415: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ali bin Zaid dari Abu Nadhroh, ia berkata: Ibnu Abbas pernah berkhutbah kepada kami diatas mimbar di Bashroh. Ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya tidak seorang nabi pun kecuali ia mempunyai sebuah do’a yang telah ia gunakan di dunia. Dan sesungguhnya aku telah menyimpan do’aku, agar aku bisa memberikan syafa’at untuk umatku. Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, bukannya sombong. Aku juga orang yang pertama kali dibukakan kuburnya, bukannya sombong. Ditangankulah diletakkan bendera pujian, bukannya sombong. Adam dan yang lainnya berada di bawah benderaku, bukannya sombong. Bagi manusia hari kiamat menjadi sangat panjang, maka sebagian mereka berkata pada sebagian yang lain: Mari kita pergi menemui Adam, bapak manusia, agar dia memohonkan syafa’at kepada Allah azza wa jalla untuk kita dan memutuskan urusan diantara kita. Maka mereka mendatangi Adam ‘Alaihis Salam, dan mereka mengatakan: Wahai Adam, engkaulah yang Allah ciptakan dengan tanganNya, dan menjadikanmu dalam surgaNya, serta membuat para malaikat sujud padamu. Maka mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan memutuskan urusan diantara kami. Lalu Adam menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tepat untuk kalian, dan aku telah dikeluarkan dari surga karena kesalahan-kesalahanku. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagiku pada hari ini selain diriku sendiri. Akan tetapi datanglah kepada Nuh, pemimpin para nabi. Maka mereka mendatangi Nuh, dan mereka berkata: Wahai Nuh, mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan memutuskan urusan diantara kami. Lalu Nuh menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tepat untuk kalian, sesungguhnya aku telah menggunakan do’aku yang dengannya aku menenggelamkan penduduk bumi. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagiku selain diriku sendiri. Akan tetapi datanglah pada Ibrahim, kekasih Allah. Maka mereka mendatangi Ibrahim ‘Alaihis Salam, dan mereka mengatakan: Wahai Ibrahim, mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan memutuskan urusan diantara kami. Lalu ia menjawab: Sesungguhnya aku bukan orang yang tepat bagi kalian, sesungguhnya aku telah melakukan dusta tiga kali. Dan demi Allah, dia tidak melakukan hal itu kecuali untuk menegakkan dien Allah, yaitu perkataannya “Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya Aku sakit”.” (QS. Ash Shoffaat: 89) dan perkataannya “… Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. (QS. Al Anbiya’: 63) juga perkataannya kepada istrinya ketika ia mendatangi seorang raja bahwa ia adalah saudara perempuanku. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi diriku pada hari ini kecuali diriku sendiri. Akan tetapi datangilah Musa ‘Alaihis Salam yang telah Allah muliakan dengan risalah dan kalamNya. Maka mereka pun mendatanginya, dan mereka berkata: Wahai Musa, engkau adalah orang yang telah dimuliakan Allah dengan risalahNya dan mengajakmu bicara, mohonkanlah syafa’at kepada Rabbmu dan memutuskan urusan diantara kami. Lalu ia menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tepat bagi kalian, sesungguhnya aku pernah membunuh jiwa yang tidak boleh dibunuh. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi diriku pada hari ini selain diriku sendiri. Akan tetapi datanglah pada Isa, ruh Allah dan kalimatNya. Maka mereka mendatangi Isa dan berkata; Wahai Isa, mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan memutuskan urusan diantara kami. Lalu Isa pun menjawab; Sesungguhnya aku bukan orang yang tepat bagi kalian, sesungguhnya aku telah dijadikan sesembahan selain Allah. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi diriku pada hari ini selain diriku sendiri. Akan tetapi apa pendapat kalian jika suatu perhiasan diletakkan didalam sebuah bejana yang tertutup, apakah kita bisa mengetahui nilai benda yang ada didalamnya hingga dibuka tutupnya? Ia berkata: Mereka menjawab: Tidak. Ia berkata: Lalu Isa berkata: Sesungguhnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi, dan ia juga hadir pada hari ini, dan telah diampuni baginya semua dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Lalu mereka mendatangiku dan berkata: Wahai Muhammad, mohonkanlah syafa’at pada Rabb kami untuk kami dan memutuskan urusan diantara kami. Maka aku menjawab: Aku memang berhak untuk itu hingga Allah ‘azza wajalla mengizinkannya bagi siapa saja yang ia kehendaki dan ia ridhoi. Dan jika Allah ‘azza wajalla hendak menyampaikan sesuatu diantara para makhlukNya, ada seruan yang memanggil “Dimanakah Ahmad dan kaumnya?”. Kamilah yang terakhir dan kami pulalah yang pertama, kami adalah umat yang terakhir dan kami adalah umat yang pertama kali dihisab. Lalu umat-umat lain disingkirkan dari jalan kami, dan kami berlalu dengan wajah dan anggota badan yang bercahaya karena bekas wudhu’. Maka umat-umat tersebut berkata; Hampir saja umat ini menjadi nabi seluruhnya. Lalu kami mendatangi pintu surga, lalu aku memegang daun pintu dan mengetuknya, lalu ada yang bertanya: Siapa engkau? Aku menjawab: Aku Muhammad. Maka dibukalah pintu tersebut, lalu aku menemui Rabbku ‘azza wajalla yang sedang berada di atas kursi atau singgasananya – Hammad ragu-ragu – maka aku tersungkur dan sujud, lalu aku memujinya dengan pujian yang tidak pernah diucapkan oleh orang-orang sebelumku maupun orang-orang setelahku. Lalu dikatakan padaku: Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah maka engkau akan diberi, katakanlah maka akan didengar perkataanmu, dan mohonlah syafa’at maka akan dikabulkan! Lalu aku mengangkat kepalaku dan berkata; Wahai Rabbku, umatku… umatku… Maka Dia pun berfirman: Keluarkanlah siapa saja yang didalam hatinya ada seukuran ini dan itu, Hammad tidak hafal. Kemudian aku mengulanginya, aku sujud dan mengatakan seperti apa yang telah aku katakan. Maka dikatakan padaku: Angkatlah kepalamu, dan katakanlah maka akan didengar, mintalah maka akan diberi serta mohonlah syafa’at maka akan dikabulkan. Lalu aku berkata: Wahai Rabbku, umatku… umatku… Maka Dia pun berfirman: Keluarkanlah siapa saja yang didalam hatinya ada seukuran ini dan itu, selain yang telah disebutkan sebelumnya. Kemudian aku mengulanginya lagi, aku bersujud dan mmengatakan seperti sebelumnya. Maka dikatakan kepadaku: Angkatlah kepalamu, katakanlah maka akan didengar dan mintalah maka akan diberi serta mohonlah syafa’at maka akan dikabulkan. Lalu aku berkata: Wahai Rabbku, umatku… umatku… Maka Dia berfirman: Keluarkanlah siapa saja yang di dalam hatinya ada seukuran ini dan itu selain yang pertama dan kedua.

 

Musnad Ahmad 2416: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash berkata; telah mengabarkan kepada kami Simak dari Ikrimah berkata; Ibnu Abbas berkata; “Ibnu ‘Abbas berkata; aku didatangi ketika aku sedang tidur pada malam ramadhan, kemudian di sampaikan kepadaku; bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar, maka aku pun bangun dengan rasa kantuk yang masih menyelimuti. Aku bergelayutan kepada tali tenda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan ternyata beliau sedang melakukan shalat. kemudian aku perhatikan malam itu, dan ternyata malam itu adalah tanggal dua puluh tiga.

 

Musnad Ahmad 2417: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul warits telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Najih dari Abdullah bin Katsir dari Abu Al Minhal dari Ibnu Abbas dia menuturkan; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistim salaf. Maka beliau bersabda: “barang siapa jual beli dengan salaf, maka janganlah dia melakukan salaf kecuali dengan takaran yang maklum dan timbangan yang maklum.”

 

Musnad Ahmad 2418: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ibnu Abu Mulaikah dari Ibnu Abbas bahwa seusai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari WC, beliau diberi makanan, lalu beliau ditanya; “Apakah engkau tidak berwudlu’ terlebih dahulu? Beliau menjawab: “Aku hanya diperintahkan berwudlu’ bila hendak mengerjakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 2419: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Hanzhalah bin Ubaidillah telah menceritakan kepada kami Hanzhalah As Sadusi, dia berkata; aku berkata kepada ‘Ikrimah; “aku didalam shalat maghrib membaca; QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ dan QUL A’UDZU BIRABBINNAAS. Tetapi orang-orang menghina aku karena hal tersebut.” Maka ‘Ikrimah berkata; “apa celanya dengan hal itu, bacalah kedua surat tersebut, karena sesungguhnya dua surat tersebut bagian dari al qur`an.” kemudian dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian beliau shalat dua raka’at, dan beliau dalam dua rak’at tersebut tidak membaca kecuali ummul kitab.”

 

Musnad Ahmad 2420: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah; bahwa pernah didatangkan kepada Ali suatu kaum dari kalangan orang-orang zindiq saat itu mereka membawa kitab-kitab mereka. Maka ali memerintahkan untuk menyalakan api dan membakar mereka dan buku-buku mereka. Ikrimah melanjutkan; hal itu sampai kepada Ibnu Abbas, maka ia pun berkata; “Seandainya itu adalah aku, maka aku tidak akan membakar mereka karena adanya larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tentu aku akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah ‘azza wajalla.”

 

Musnad Ahmad 2421: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayyub dari Ikrimah bahwa Ali menangkap orang-orang yang murtad dari Islam lalu membakar mereka dengan api. Kemudian hal itu sampai kepada Ibnu Abbas, maka ia berkata; Jika itu adalah aku, maka aku tidak akan membakar mereka karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kalian menyiksa seseorang dengan siksaan Allah ‘azza wajalla.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda: “Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” Lalu apa yang diucapkan Ibnu Abbas itu sampai kepada Ali, maka Ali pun berkata; “celaka Ibnu Ummi Ibnu Abbas.”

 

Musnad Ahmad 2422: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dia adalah Ibnu Salamah, telah mengabarkan kepada kami Ammar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang dilihat orang dalam mimpi di siang hari, beliau berdiri dengan rambut kusut dan berdebu, beliau membawa sebuah botol yang berisi darah. Aku berkata; “Ayahku dan ibuku sebagai tebusannya, wahai Rasulullah, apakah ini?” Beliau menjawab: “Ini adalah darah Husain dan para sahabatnya, yang aku temukan sejak hari ini.” Maka kami mengingat hari itu, kemudian mereka mendapatinya terbunuh pada hari itu.

 

Musnad Ahmad 2423: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Sulaiman Asy Syaibani dari Asy Sya’bi dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan jenazah setelah dikuburkan. Waki’ berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan seperti di atas.

 

Musnad Ahmad 2424: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Kuraib mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya salah seorang dari mereka ketika hendak menggauli istri mengucapkan: BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNI ASY SYAITHAN WA JANNIB ASY SYAITHAN MA RAZAQTANI (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepadaku) lalu terlahir anak dari keduanya, niscaya setan tidak dapat mencelakakannya selamanya.”

 

Musnad Ahmad 2425: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “hendaklah kalian Mengajar, mempermudah dan jangan mempersulit. Bila engkau marah maka diamlah. Dan Bila engkau marah maka diamlah. Bila engkau marah maka diamlah.”

 

Musnad Ahmad 2426: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ antara Zhuhur dan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir).” Sa’id bin Jubair berkata; “Wahai Ibnu Abbas, mengapa beliau melakukan yang demikian?” dia menjawab; “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorang pun dari umatnya.”

 

Musnad Ahmad 2427: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar dari Sa’id bin Al Huwairits dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi untuk buang hajat, setelah menyelesaikan hajatnya dihidangkan makanan kepada beliau, lalu mereka berkata; “Apakah perlu kami membawakan air wudlu untukmu?” Beliau menjawab: “Sebab apakah aku harus berwudlu, apakah aku hendak shalat sehingga aku berwudlu atau setelah aku shalat harus berwudlu?”

 

Musnad Ahmad 2428: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku tidur di dekat bibiku Maimunah binti Al Harits, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun pada malam hari dan menunaikan hajatnya, kemudian beliau datang dan membasuh wajah dan kedua tangannya lalu tidur, kemudian beliau bangun malam, lalu beliau mendatangi tempat air dan melepaskan tali penutupnya. Lalu beliau berwudlu satu kali di antara dua wudlu namun tidak berlebihan tapi sempurna, kemudian beliau melaksanakan shalat. Aku berjalan cepat, karena khawatir beliau melihat diriku yang sedang memperhatikannya, yakni mengamatinya. Kemudian aku berdiri serta melakukan apa yang beliau lakukan, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau meraih bagian di bawah telingaku hingga menggeserku di sebelah kanannya, saat itu beliau sedang shalat. Lalu beliau menyempurnakan shalatnya hingga tiga belas raka’at, dan di antaranya adalah dua raka’at Fajar. Kemudian beliau berbaring dan tertidur hingga mendengkur. Lalu Bilal datang memberitahukan untuk shalat, maka beliau berdiri untuk shalat tanpa berwudlu lagi.”

 

Musnad Ahmad 2429: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Utsman dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikah, saat itu beliau sedang ihram. Dan beliau berbekam ketika sedang ihram.”

 

Musnad Ahmad 2430: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al Ajlah dari Yazid bin Al Asham dari Ibnu Abbas; bahwa seorang laki-laki berkata; “Wahai Rasulullah, MA SYA`ALLAHU WA SYI`TA (Sesuai dengan kehendak Allah dan kehendakmu).” Maka beliau bersabda: “Apakah engkau akan menjadikanku sekutu Allah ‘azza wajalla? Tetapi katakanlah: MASYA`ALLAH WAHDAH (Sesuai dengan kehendak Allah saja).”

 

Musnad Ahmad 2431: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar telah mengabarkan kepadaku Utsman Al Jazari bahwa dia mendengar Miqsam mantan budak Ibnu Abbas, menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Baitullah, lalu berdoa di sudut-sudutnya, kemudian keluar lalu shalat dua raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2432: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Israil, Abdul Aziz yakni Ibnu Rufai’ berkata; telah mengabarkan kepadaku Orang yang mendengar Ibnu Abbas berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak singgah di antara Arafah dan Jam’un kecuali untuk membuang air.”

 

Musnad Ahmad 2433: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertalbiyah hingga melempar jumrah Al Aqabah.

 

Musnad Ahmad 2434: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah di perjalanan, saat itu beliau sedang ihram.”

 

Musnad Ahmad 2435: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa salah seorang dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi janabah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu dari sisa air mandinya, kemudian ia berkata; “Tadi aku mandi dari air itu.” Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu pun.”

 

Musnad Ahmad 2436: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku pernah menginap di rumah bibiku Maimunah, sehingga aku dapat mengamati tatacara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat. Beliau buang air kecil, kemudian membasuh kedua wajah dan tangannya lalu tidur lagi. Kemudian beliau bangun dan menuju tempat air dan membuka talinya, beliau menuangkan ke dalam bejana atau nampan lalu memasukkan tangannya dan berwudlu dengan baik di antara dua wudlu (tidak sedikit dan tidak berlebihan), setelah itu mendirikan shalat. aku segera datang dan berdiri di sebelah kiri beliau, tetapi beliau meraihku dan memberdirikanku di sebelah kanannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebanyak tiga belas raka’at.” Ia Ibnu Abbas berkata; “Kemudian beliau tidur hingga mendengkur, dan kami mengetahui tidur beliau adalah dengan dengkurannya, kemudian beliau keluar untuk shalat, lalu beliau shalat, dan dalam shalatnya atau sujudnya beliau membaca: “ALLAHUMMAJ’AL FI QALBI NURAN WA FI SAM’I NURAN WA FI BASHARI NURAN WA ‘AN YAMINI NURAN WA ‘AN YASARI NURAN WA AMAMI NURAN WA KHALFI NURAN WA FAUQI NURAN WA TAHTI NURAN WAJ’ALNI NURAN (Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku dan jadikan diriku cahaya).” Syu’bah berkata; Atau beliau mengucapkan; “IJ’AL LI NURAN (jadikanlah cahaya untukku).” Kemudian ia berkata; dan telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Dinar dari Kuraib dari Ibnu Abbas; bahwasanya beliau tidur sambil berbaring.

 

Musnad Ahmad 2437: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Sa’id Hisyam bin Abu Abdullah dari Qatadah dari Abu Al ‘Aliyah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan ketika sedang berduka: “LA ILAHA ILLALLAH AL ‘AZHIM AL HALIM LA ILAHA ILLALLAH RABB AL ‘ARSY AL AZHIM. LA ILAHA ILLALLAH RABB AS SAMAWATI WA RABB AL ARDLI WA RABB AL ARSY AL KARIM (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan ‘Arsy yang agung. Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).”

 

Musnad Ahmad 2438: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; aku mendengar Ali bin Zaid berkata; aku mendengar Umar bin Harmalah berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Bibiku, Ummu Hufaid, menghadiahkan lemak, susu dan (daging) Al Adlabb (sejenis biawak) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun tentang (daging) Al Adlabb, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuang ludah padanya, lalu Khalid bin Al Walid berkata kepadanya; “Wahai Rasulullah, apakah engkau merasa jijik?” beliau menjawab: “Ya.” atau “Benar.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil susu dan meminumnya. Kemudian beliau bersabda kepada Ibnu Abbas, saat itu ia ada di sebelah kanannya: “Sebenarnya minuman ini hakmu, tapi apakah engkau mengizinkanku untuk kuberikan (lebih dulu) kepada pamanmu?” Ibnu Abbas berkata; Aku menjawab; “Tidak demi Allah, aku tidak mau ada seorang pun yang mendahuluiku mendapatkan bekas minummu.” Selanjutnya Ibnu Abbas berkata; Lalu aku mengambilnya dan meminumnya kemudian aku memberikan kepada beliau. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak mengetahui suatu minuman yang dapat menggantikan makanan selain susu. Barangsiapa di antara kalian meminumnya, maka hendaklah ia mengucapkan: ALLAHUMMA BARIK LANA FIHI WA ZIDNA MINHU (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah bagi kami darinya), dan barangsiapa yang menyantap makanan, hendaklah ia mengucapkan: ALLAHUMMA BARIK LANA FIHI WA AT’IMNA KHAIRAN MINHU (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makanan yang lebih baik darinya).”

 

Musnad Ahmad 2439: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Al Huwairits dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat, kemudian kembali, lalu dibawakan hidangan (makanan) kepadanya, namun beliau tidak berwudlu lalu memakan hidangan itu.” Dan ‘Amru menambahkan kepadaku hadits ini dari Sa’id bin Al Huwairits, ia berkata; Dikatakan; “Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau belum berwudlu.” Beliau menjawab: “Aku sedang tidak hendak melaksanakan shalat sehingga (tidak) harus berwudlu.”

 

Musnad Ahmad 2440: Abu Abdurrahman berkata; aku mendapatkan hadits ini dalam kitab Ayahku dengan tulisan tangannya; Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Muhammad Al Warraq berkata; telah menceritakan kepada kami Risydin bin Kuraib dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak minum, beliau bernafas dua kali di saat minum (yakni di antara dua tegukan).” Dan ayahku menuliskan setelah hadits ini; “Menurutku Abdullah tidak mendengar hadits ini.”

 

Musnad Ahmad 2441: Abdullah telah menceritakan kepada kami, ia berkata; Aku mendapati dalam kitab bapakku dengan tulisan tangannya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Muhammad telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Tsabit al ‘Abdi al ‘Ashri ia berkata; telah menceritakan kepada kami Jabalah bin Athiyah dari Ishaq bin Abdullah dari Abdullah bin Abbas ia berkata, “Aku pernah bertamu ke rumah Maimunah, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan ia adalah bibiku. Malam itu ia tidak shalat (haid), kemudian ia mengambil kain dan membentangkannya seraya memasang numruqah (semacam bantal untuk duduk) di atasnya, baru kemudian ia lapisi lagi dengan selembar kain. Kemudian ia masuk dan membentangkan tikar untukku di sisinya, lalu akupun berbaring dengan satu bantal bersamanya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang dan telah melaksanakan shalat isya` yang akhir. Beliau kemudian mengambil baju tidur dan mengenakannya seraya meletakkan kainnya, lalu beliau tidur satu selimut dengan Maimunah. Hingga ketika di penghujung malam beliau bangkit menuju geriba air yang tergantung seraya menggerak-gerakkannya. Ingin sekali aku bangkit untuk menuangkan (air tersebut) untuk beliau, namun aku tidak ingin beliau melihat aku bangun.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Kemudian beliau wudlu dan mendatangi kasurnya lagi, beliau mengenakan dua kain seraya meletakkan baju tidurnya untuk kemudian datang menuju masjid. Beliau berdiri shalat. Maka aku pun berdiri menuju geriba air dan berwudlu, setelah itu aku menuju masjid dan shalat di sisi kiri beliau, namun beliau meraihku dan menggeser ke sisi kanannya. Beliau shalat sebanyak tiga belas rakaat dan aku pun mengikutinya. Setelah itu beliau duduk dan aku pun duduk di sisinya. Beliau kemudian meletakkan siku ke samping dan mendekatkan pipinya pada pipiku hingga aku dapat mendengar nafas beliau (tidur). Ketika aku dalam keadaan seperti itu Bilal datang seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, shalat telah tiba!’ Beliau kemudian berjalan menuju masjid dan aku mengikutinya. Beliau lalu mengerjakan dua rakaat fajar dan Bilal yang mengumandangkan iqamahnya.”

 

Musnad Ahmad 2442: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Sufyan dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkan sesuatu, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering bersiwak.” Ia melanjutkan, “Sehingga kami menduga, atau kami melihat, bahwa akan diturunkan kepada beliau (perintah wajib tentang itu).”

 

Musnad Ahmad 2443: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Juraij dari Al Hasan bin Muslim dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat kemudian berkhutbah pada hari raya, (demikian pula) Abu Bakar, Umar dan Utsman, tanpa mengumandangkan adzan dan tidak pula iqamah.” (Abdullah bin Ahmad berkata), Ayahku berkata; “Abdullah telah mendengarnya.”

 

Musnad Ahmad 2444: Telah menceritakan kepadaku Abdullah berkata; aku mendapatkan hadits ini di dalam kitab ayahku; Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Abu As Safar dari Sa’id bin Syufay dari Ibnu Abbas; bahwa mereka bertanya kepadanya tentang shalat ketika bepergian. Maka Ibnu Abbas berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila meninggalkan keluarganya, beliau tidak pernah (melaksanakan shalat) lebih dari dua raka’at hingga beliau kembali.”

 

Musnad Ahmad 2445: Telah menceritakan kepada kami Abdullah berkata; aku mendapatkan hadits ini dari kitab ayahku dengan tulisannya; telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Ja’far Al Ahmar dari Qabus dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak dibenarkan adanya dua kiblat di satu tempat, dan (tidak dibenarkan pula) jizyah (upeti) atas kaum Muslimin.”

 

Musnad Ahmad 2446: Telah menceritakan kepada kami Jarir, ia memarfu’kannya juga; beliau bersabda: “Tidak dibenarkan adanya dua kiblat di satu tempat, dan tidak ada jizyah (upeti) terhadap seorang Muslim.”

 

Musnad Ahmad 2447: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Risydin dari ayahnya dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bernafas di dalam tempat minum dua kali.

 

Musnad Ahmad 2448: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Harb dari Khushaif dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan talbiyah di akhir shalat.

 

Musnad Ahmad 2449: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku pernah melihat Rabbku Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.” Abdullah bin Ahmad berkata; “Dan aku pun telah mendengar hadits ini dari ayahku, ia mendiktekannya padaku di tempat lain.”

 

Musnad Ahmad 2450: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikah ketika beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2451: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; bahwa beliau shalat tujuh (raka’at) berturut-turut dan delapan (raka’at) berturut-turut.”

 

Musnad Ahmad 2452: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid ia menceritakan dari Ibnu Abbas; bahwasanya dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah, beliau bersabda: “Barangsiapa tidak mendapatkan kain, maka hendaklah mengenakan celana dan barangsiapa yang tidak mendapatkan sepasang sandal, maka hendaklah ia mengenakan sepasang khuf.”

 

Musnad Ahmad 2453: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus ia menceritakan dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota dan tidak menahan (menyibukkan diri) rambut dan tidak pula pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2454: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus ia menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjual makanan sehingga menerimanya dengan sempurna atau diterimakan dengan sempurna.” Dan Ibnu Abbas berkata; “Aku kira semua perdagangan seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 2455: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Adi bin Tsabit berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran.”

 

Musnad Ahmad 2456: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hajjaj bin Arthah dan Ibnu ‘Atho` bahwa mereka berdua mendengar ‘Atho` menceritakan dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah saat beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2457: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan, dan menahan (tidak menyibukkan diri dengan) rambut dan pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2458: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Yazid Ibnu Abu Ziyad dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam ketika beliau sedang ihram dan berpuasa”

 

Musnad Ahmad 2459: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus ia menceritakan dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak menahan (menyibukkan diri dengan) rambut dan (tidak pula) pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2460: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dan Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa seorang laki-laki terpelanting dari tunggangannya lalu meninggal, saat itu ia sedang ihram. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memandikannya dengan air dan daun bidara, dan mengkafaninya dengan dua pakaiannya (pakaian ihram), serta agar mereka tidak menutup kepalanya, karena ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah. Ayyub berkata; “Mulabbidan (rambutnya direkatkan).”

 

Musnad Ahmad 2461: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Ya’la bin Hakim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa ia tidak menganggap berdosa jika seseorang yang sedang ihram melakukan pernikahan, ia pun berkata; “Sesungguhnya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah binti Al Harits di suatu sumber air yang disebut Saraf, saat itu beliau sedang ihram. Setelah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan hajinya, beliau kembali, lalu ketika sampai di sumber air tersebut, beliau menginap bersamanya (yakni Maimunah).”

 

Musnad Ahmad 2462: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ayyub dari ‘Atho`; bahwasanya ia menyaksikan Ibnu Abbas, dan Ibnu Abbas menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; bahwasanya beliau shalat pada hari raya kemudian berkhutbah, lalu beliau menemui kaum wanita dan memerintahkan kepada mereka untuk bersedekah, maka mereka pun menyerahkan (sedekah mereka).

 

Musnad Ahmad 2463: (Abdullah) berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam ketika beliau sedang berpuasa.

 

Musnad Ahmad 2464: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Al Hakam dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Miqsam dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda tentang orang yang menggauli istrinya yang sedang haidl: “Ia harus bersedakah satu dinar atau setengah dinar.”

 

Musnad Ahmad 2465: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak menahan (menyibukkan diri dengan) rambut dan (tidak pula) pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2466: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Kuraib dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Seandainya salah seorang dari kalian.” Atau “Seandainya salah seorang dari mereka ketika hendak menggauli istri mengucapkan: BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNI ASY SYAITHAN WA JANNIB ASY SYAITHAN MA RAZAQTANI (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepadaku), lalu terlahir anak dari keduanya, niscaya setan tidak dapat menguasainya atau setan tidak dapat mencelakakannya selamanya.”

 

Musnad Ahmad 2467: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin Maisarah dari Thawus dan ‘Atho` dan Mujahid dari Rafi’ bin Khadij, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami, maka beliau melarang kami suatu perkara yang kami rasa bermanfaat, dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu lebih baik bagi kami daripada yang beliau larang. Beliau bersabda: “Barangsiapa mempunyai tanah maka hendaklah menanamnya atau membiarkannya (ditanami orang lain) atau menyerahkannya (kepada orang lain).” Abdul Malik bin Maisarah berkata; Lalu aku ceritakan itu kepada Thawus, maka ia berpendapat bahwa Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengerti di antara mereka, ia berkata; Ibnu Abbas berkata; Sebenarnya yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Barangsiapa memiliki tanah, kemudian ia menyerahkannya kepada saudaranya, itu lebih baik baginya.” Syu’bah berkata; “Abdul Malik mengumpulkan (hadits) dari mereka yaitu Thawus, ‘Atho` dan Mujahid. Sedangkan yang menceritakan hadits darinya adalah Mujahid. Syu’bah berkata; “seolah-olah dialah penyampai hadits ini.”

 

Musnad Ahmad 2468: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin Maisarah berkata; aku mendengar Thawus berkata; Ibnu Abbas ditanya tentang ayat ini: (Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’.) (Thawus) berkata; Sa’id bin Jubair berkata; “Kerabat (di sini) adalah keluarga Muhammad.” Maka Ibnu Abbas berkata; “Engkau tergesa-gesa. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada marga pun dari marga-marga Quraisy, kecuali hanya mempunyai hubungan kekerabatan dengan beliau, maka beliau mengatakan; “Kecuali kalian menyambung tali kekerabatan antara aku dan kalian.”

 

Musnad Ahmad 2469: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; aku mendengar Abu Basyir menceritakan; bahwa dia mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan; bahwa ia mendengar Ibnu Abbas menceritakan; bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang ihram, lalu orang itu terjatuh dari untanya sehingga meninggal dunia, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memandikan dengan air dan daun bidara, serta mengkafani di dalam dua pakaiannya (pakaian ihram), dan beliau bersabda: “Janganlah kalian menyentuhkannya dengan wewangian di luar kepalanya.” Syu’bah berkata; kemudian setelah itu dia menceritakan kepadaku, lalu menyebutkan; “Di luar kepalanya atau wajahnya, karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan rambutnya dieratkan.”

 

Musnad Ahmad 2470: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia ketika aku berusia sepuluh tahun dan aku telah khitan, serta aku dapat membaca al muhkam dari Al Qur`an.” Ia berkata; aku tanyakan kepada Abu Bisyr; “Apa yang dimaksud dengan al muhkam?” dia menjawab; “Yaitu al mufashshal.”

 

Musnad Ahmad 2471: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwasanya dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang shalat; “aku berdiri di sebelah kiri, lalu beliau meraihku dan memberdirikanku di sebelah kanannya.”

 

Musnad Ahmad 2472: Abdullah berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Juhadah dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para wanita peziarah kubur dan orang-orang yang membangun masjid-masjid diatasnya serta menempatkan lentera-lentera di atasnya.”

 

Musnad Ahmad 2473: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari Musa bin Uqbah dari Shalih mantan budak At Tau`amah, berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Seorang laki-laki pernah menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan perkara shalat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “hendaknya kamu menyela-nyela jari-jari kedua tangan dan kakimu.” Maksudnya, menyempurnakan wudlu`, dan di antara yang beliau sabdakan kepadanya; “Jika engkau ruku’ maka letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu hingga engkau tuma`ninah.” Di lain kesempatan Al Hasyimi berkata; “Hingga tuma`ninah keduanya, dan jika engkau sujud maka letakkanlah dahimu di atas tanah, hingga engkau merasakan kerasnya tanah itu.”

 

Musnad Ahmad 2474: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah dan ‘Attab, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ubaidullah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurai rambutnya sedangkan orang-orang Musyrik membelah rambut kepala mereka, sementara orang-orang Ahlu Kitab menguraikan rambut mereka. Dulu beliau suka menyamai Ahlu Kitab dalam hal-hal yang tidak diperintahkan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membelah rambut kepalanya.”

 

Musnad Ahmad 2475: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Husain bin Abdullah dari Ikrimah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas tentang nabidz (perasan sari buah) (yang diminum) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia berkata; “Beliau minum pada siang hari apa yang dibuatkan untuknya pada malam hari, dan beliau minum pada malam hari apa yang dibuatkan untuknya pada siang hari.”

 

Musnad Ahmad 2476: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Husain bin Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nabidz (perasan sari buah) di dalam an naqir, ad dubbaa` dan al muzaffat, dan beliau bersabda: “Janganlah kalian meminumnya kecuali dari tempat yang bertutup.” Lalu mereka pun menggunakan kulit unta (untuk membuat tempat air) lalu dibuatkan lehernya dari kulit kambing, kemudian hal ini sampai kepada beliau, beliau pun bersabda: “Janganlah kalian minum kecuali dari yang lebih tinggi dari itu.”

 

Musnad Ahmad 2477: (Abdullah) berkata; telah menceritakan kepadaku Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah dan ‘Attab, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim dari Asy Sya’bi bahwa Ibnu Abbas menceritakan kepadanya, ia berkata; “Aku menuangkan minuman dari air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau minum sambil berdiri.”

 

Musnad Ahmad 2478: Telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Dawud telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari ayahnya dari Ubaidullah dari Ibnu Abbas; bahwasannya ia berkata; “Allah tidak memberikan pertolonganNya dalam suatu peristiwa seperti apa yang telah diberikanNya pada perang Uhud.” Ubaidullah berkata; tetapi kami mengingkarinya, maka Ibnu Abbas berkata; “Antara diriku dan orang yang mengingkarinya ada kitabullah tabaaraka wa ta’ala. Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah berfirman pada perang Uhud: (Dan Sesungguhnya Allah Telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin Nya). Ibnu Abbas berkata; “Arti dari al hassu itu adalah al qatlu (membunuh). (Sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih) hingga firmanNya (Dan Sesunguhnya Allah Telah mema’afkan kamu. dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman). Dan sesungguhnya yang dimaksud di sini adalah pasukan pemanah, yaitu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan mereka di sebuah tempat dan bersabda pada mereka: “Lindungilah kami, dan jika kalian melihat kami terbunuh, jangan kalian tolong, dan jika kalian melihat kami telah mengumpulkan ghanimah, maka jangan menyertai kami.” Namun ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengumpulkan ghanimah dan memukul mundur pasukan musyrikin, tiba-tiba pasukan pemanah menyerbu turun semua dan bergabung dengan pasukan yang lain. Mereka bergabung dengan barisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu. -dia sambil menjalin jari-jari kedua tangannya, – maka merekapun bercampur satu sama lain. Ketika terjadi keributan seperti itu dan pasukan pemanah berbaur didalamnya, sekelompok pasukan berkuda (dari pasukan musyrikin) masuk dari tempat (para pemanah) dan mendekati para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu terjadilah pertempuran yang sengit di antara mereka dan keadaan semakin kacau, sehingga banyak di antara kaum muslimin yang terbunuh. Kemenangan pada mulanya di raih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya di awal siang, hingga pembawa bendera kaum musyrikin terbunuh tujuh atau sembilan orang. kemudian kaum muslimin jalan menyusuri gunung dan mereka tidak menemukan apa yang dikatakan orang-orang sebagai gua, namun mereka berada di bawah cekungan batu besar. Lalu setan berteriak; “Muhammad telah terbunuh” dan tidak ada yang meragukan kebenaran akan hal itu. Dan kami masih tetap yakin dengan hal itu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah terbunuh, hingga beliau muncul diantara dua batang pohon dari cara beliau berjalan. Ia berkata: Maka kami pun gembira, hingga seakan-akan kami tidak mengalami apa yang telah kami alami. Ia berkata; Lalu beliau naik mendekati kami sambil bersabda: “Murka Allah sangat besar terhadap kaum yang melukai wajah RasulNya.” Ia berkata: Dan beliau bersabda lagi: “Yaa Allah, sesungguhnya mereka tidak akan menguasai kami walau mereka menghabisi kami, ” kemudian beliau berhenti sejenak, tiba-tiba Abu Sufyan berteriak dibawah gunung; “Hubal Maha Tinggi” sebanyak dua kali, yaitu nama tuhannya, “dimana Ibnu Kabsyah, dimana Ibn Quhafah dimana Ibn Khaththab, ” lalu berkatalah Umar: “ya Rasulullah bolehkah aku menjawabnya?” beliau bersabda: “iya, ” ketika ia mengatakan Hubal Maha Tinggi, maka Umar berkata; “Allah lebih Tinggi dan lebih Mulia”, ia berkata; lalu Abu Sufyan berkata; hai Ibnu Khaththab, sungguh matanya telah memberi kenikmatan, maka kembalilah padanya dan mintalah padanya, ” lalu ia berkata; “dimana Ibnu Kabsyah, dimana Ibn Quhafah, dimana Ibnu Khaththab?” lalu Umar menjawab; “ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ini Abu Bakar dan ini aku Umar, ” ia berkata; lalu Abu sufyan berkata; “satu hari dengan satu hari pada perang Badar, hari-hari itu selalu berganti dan peperangan itu menang dan kalah, ” Umar berkata; “tidak sama antara kami dengan kalian, yang mati diantara kami akan masuk surga dan yang mati diantara kalian di neraka, ” ia berkata; “sesungguhnya kalian telah menganggap hal yang demikian, maka berarti kami kalah dan merugi, ” Abu Sufyan berkata; “sesungguhnya kalian akan mendapati orang-orang yang meninggal diantara kalian tercabik-cabik yang tidak dirasakan tentara kami, ” ia berkata; lalu ia pun timbul fanatik jahiliyyahnya dan berkata; sesungguhnya hal itu terjadi padanya dan kami tidak membencinya.

 

Musnad Ahmad 2479: Telah menceritakan kepada kami Nuh bin Maimun, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah yakni Al Umari, dari Muhammad bin Uqbah dari saudaranya Ibrahim bin Uqbah dari Kuraib dari Ibnu Abbas; bahwa seorang wanita mengeluarkan anak kecilnya dan berkata; “Wahai Rasulullah, apakah bagi (anak) ini pahala haji?” Beliau bersabda: “ya dan bagimu pahala.”

 

Musnad Ahmad 2480: Telah menceritakan kepada kami Nuh bin Maimun telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Ibnu Abbas dan ‘Aisyah, mereka berdua berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak dari Mina pada malam hari.”

 

Musnad Ahmad 2481: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari ‘Aisyah dan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengakhirkan thawaf pada hari penyembelihan hingga malam hari.

 

Musnad Ahmad 2482: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Abu Yahya dari Ibnu Abbas; bahwa ada dua orang laki-laki mengadukan perkara mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan bukti kepada pendakwa (penuduh), namun ia tidak mempunyai bukti, lalu beliau meminta sumpah kepada si terdakwa (tertuduh), lalu ia pun bersumpah dengan; “LA ILAHA ILLALLAH ALLADZI LA ILAHA ILLA HUWA (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia) ” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebenarnya engkau telah bersumpah, akan tetapi Allah telah mengampunimu karena keikhlasanmu mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH.”

 

Musnad Ahmad 2483: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah bin Hubairah dari Hanasy dari Ibnu Abbas; bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar lalu buang air, lalu beliau mengusap dengan tanah, maka aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada air di dekatmu.” Beliau bersabda: “AKu tidak tahu, mungkin saja aku tidak dapat menjangkaunya.”

 

Musnad Ahmad 2484: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berpuasa hanya pada hari jum’at saja.”

 

Musnad Ahmad 2485: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadlan ketika berjumpa dengan Jibril, dan Jibril senantiasa menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadlan dan mengajarkan Al Qur’an kepada beliau.” Ia (Ibnu Abbas) juga berkata; “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih lembut dari angin yang berhembus.”

 

Musnad Ahmad 2486: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Al Aslami datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengaku telah berzina, beliau pun bertanya: “Mungkin engkau hanya menciumnya, atau merabanya atau menatapnya.”

 

Musnad Ahmad 2487: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari ‘Amru bin Abdullah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah engkau memakan hewan yang penyembelihannya tidak sempurna, karena sesungguhnya itu adalah sembelihan setan.”

 

Musnad Ahmad 2488: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Maimun bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwasanya dia melarang (memakan) setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar (tajam). Abdullah berkata; dan Al Hakam memarfu’kannya. Syu’bah berkata; dan aku tidak suka menceritakan hadits ini dengan memarfu’kannya. Ia berkata; dan telah menceritakan kepadaku Ghailan dan Al Hajjaj, dari Maimun bin Mihran dari Ibnu Abbas; tidak memarfu’kannya.

 

Musnad Ahmad 2489: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati Abu Qatadah yang sedang berada di dekat seseorang yang telah dibunuhnya, beliau bersabda: “Biarkanlah ia dan barang bawaannya.”

 

Musnad Ahmad 2490: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Hamzah dari Yazid An Nahwi dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyamakan diyat antara gigi dan jari-jari.

 

Musnad Ahmad 2491: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik telah menceritakan kepada kami Musa bin A’yan telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al Harits dari Bukair bin Abdullah dari Sa’id bin Al Musayyab berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan orang yang bersedekah lalu mengambil kembali sedekahnya adalah seperti orang muntah lalu memakan kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2492: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik Al Harani berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Amru bin Malik An Nukri berkata; aku telah mendengar ayahku menceritakan dari Abu Al Jauza` dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tebusan dosa adalah penyesalan.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah ‘azza wajalla akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, untuk Dia ampuni.”

 

Musnad Ahmad 2493: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Hasan yakni Ibnu Syaqiq, berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Hamzah berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid An Nahwi dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Gigi-gigi adalah sama, dan jari-jari adalah sama.”

 

Musnad Ahmad 2494: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik dan Abdul Jabbar bin Muhammad mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah yakni Ibnu Umar, dari Abdul Karim dari Qais bin Habtar dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamar, judi dan gendang bagi kalian.” Beliau juga bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 2495: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Abdul Karim dari Qais bin Habtar bahwa Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (menerima) harga (hasil penjualan) khamar, upah pelacuran dan harga anjing. Dan beliau bersabda: “Apabila pemiliknya datang meminta harganya, maka penuhilah tangannya dengan tanah.”

 

Musnad Ahmad 2496: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Ibnu Hubairah bahwa Maimun Al Makki mengabarkan; bahwa dia melihat Abdullah bin Az Zubair shalat mengimami mereka, ia berisyarat dengan kedua tangannya ketika berdiri, ketika ruku’, ketika sujud, ketika bangkit untuk berdiri, lalu berdiri dan berisyarat dengan kedua tangannya. Ia berkata; aku pergi menemui Ibnu Abbas, dan aku berkata; “Sesungguhnya aku melihat Ibnu Az Zubair melakukan suatu shalat yang aku belum pernah melihat seorang pun melakukannya.” Lalu aku rincikan isyarat-isyarat tersebut. Maka Ibnu Abbas berkata; ” (Justru) jika engkau ingin melihat tatacara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ikutilah shalat Ibnu Az Zubair.”

 

Musnad Ahmad 2497: Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Mihran telah menceritakan kepada kami Dawud yakni Al ‘Aththar, dari Ibnu Juraij dari Ubaidullah bin Abu Yazid dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Seorang laki-laki pernah bertanya; “Berapa banyakkah (air) yang cukup digunakan untuk berwudlu’?” Ia menjawab; “Satu Mud.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Lalu berapa banyakkah (air) yang cukup digunakan untuk mandi?” Ia menjawab; “Satu sha’.” Lalu orang tersebut berkata; “Itu tidak cukup bagiku.” Ia menjawab; “Semoga kau kehilangan ibumu, sungguh itu sudah cukup bagi orang yang lebih baik darimu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2498: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al Ghasil dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dengan menyelimutkan pakaiannya dan bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya manusia bertambah banyak, dan kaum Anshar semakin sedikit. Maka barangsiapa di antara kalian memegang urusan yang dapat memberi manfaat kepada seseorang, hendaklah ia menerima dari orang yang baik di antara mereka serta melewatkan orang yang buruk di antara mereka.”

 

Musnad Ahmad 2499: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Al Hakam bin ‘Utaibah berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas; bahwa As Sha’b bin Jatstsamah Al Laitsi memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang ihram, ketika itu beliau sedang berada di Qudaid, yaitu berupa pinggul keledai, tetapi beliau menolaknya, dan pinggul itu masih meneteskan darah. Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, Syu’bah berkata dari Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menolaknya.

 

Musnad Ahmad 2500: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata; Qatadah telah memberitakan kepadaku, ia berkata; aku mendengar Musa bin Salamah berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas; “Aku sedang berada di Makkah, lalu bagaimana aku shalat?” Ibnu Abbas menjawab; “Dua raka’at. (Itu) sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2501: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan ‘Affan, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah. ‘Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak dinikahkan dengan putri Hamzah, lalu beliau bersabda: “Ia putri saudara sesusuanku. Telah diharamkan karena faktor susuan apa yang diharamkan karena nasab (garis keturunan).” ‘Affan berkata; “Dan ia tidak halal bagiku.”

 

Musnad Ahmad 2502: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdusshamad bin Hassan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Rabbku Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.”

 

Musnad Ahmad 2503: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin ‘Utbah dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melempar jumrah ketika matahari tergelincir.”

 

Musnad Ahmad 2504: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Abu Utsman An Nahdi dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penduduk Neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib, ia mengenakan sepasang sandal yang terbuat dari api, sehingga dengan itu otaknya mendidih.”

 

Musnad Ahmad 2505: (Ahmad) berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam berkata; telah mengabarkan kepada kami Qatadah dari Musa bin Salamah bahwasanya dia bertanya kepada Ibnu Abbas tentang shalat di Bathha` apabila tidak sempat melaksanakan shalat bersama imam. Ibnu Abbas menjawab; “Dua raka’at. (Itu) merupakan sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2506: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Al Hakam bin ‘Utbah dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih kemudian bercukur.

 

Musnad Ahmad 2507: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tiba dan telah dibuat lemah oleh demam Yatsrib.” Ibnu Abbas berkata; Lalu kaum musyrikin berkata; “Telah datang kepada kalian kaum yang telah dibuat lemah oleh demam.” Ia berkata lagi; Lalu Allah memberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, maka beliau pun memerintahkan para sahabatnya untuk berlari-lari kecil, sementara kaum musyrikin duduk-duduk di pinggiran hijir sambil memperhatikan mereka, lalu mereka (para sahabat) berlari-lari kecil dan berjalan biasa di antara dua sudut (Ka’bah). Ibnu Abbas berkata lagi; Kaum musyrikin pun berkata; “Mereka yang kalian sangka bahwa demam telah melemahkan mereka? Mereka lebih kuat dari anu dan anu.” Mereka mengemukakan pandangan. Ibnu Abbas berkata; Hal itu tidak menghalangi beliau untuk memerintahkan mereka (para sahabat) untuk berlari-lari kecil pada semua putaran, akan tetapi karena beliau kasihan terhadap mereka.” (‘Affan berkata); Dan aku telah mendengar Hammad menceritakannya dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas atau dari Abdullah dari Sa’id bin Jubair tidak ada keraguan darinya mengenai hal ini.

 

Musnad Ahmad 2508: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ammar mantan budak bani Hasyim, berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas, “Berapa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau meninggal dunia?” Ibnu Abbas berkata; “Aku tidak melihat orang sepertimu di kaummu yang tidak mengetahui hal itu.” Ia (Ammar) berkata; Aku berkata lagi; “Sesungguhnya aku telah menanyakan, namun (jawabannya) berbeda-beda. Maka aku ingin tahu pendapatmu tentang itu.” Ia berkata; “Bisakah engkau menghitung?” aku berkata; “Ya.” Ia berkata; “Hitunglah. Umur empat puluh tahun diangkat menjadi rasul, lima belas tahun tinggal di Makkah, dalam kondisi aman dan takut, dan sepuluh tahun hijrah di Madinah.”

 

Musnad Ahmad 2509: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari seorang laki-laki berkata; aku mendengar dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tiba pada pagi keempat dengan berihlal (berniat ihram) untuk haji. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka agar menjadikannya sebagai umrah, kecuali bagi mereka yang membawa hewan kurban.” Ia melanjutkan; “Maka gamis-gamis pun dikenakan, pedupaan bearoma semerbak dan banyak wanita yang dinikahi.”

 

Musnad Ahmad 2510: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Katsir Abu Dawud Al Wasithi berkata; aku telah mendengar Ibnu Syihab menceritakan dari Abu Sinan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami, beliau bersabda: “Wahai manusia, telah diwajibkan haji atas kalian.” Ia Ibnu Abbas berkata; Lalu Al Aqra’ bin Habis berdiri dan berkata; “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Seandainya aku katakan (ya), niscaya akan menjadi wajib (setiap tahun), dan bila itu diwajibkan, kalian tidak akan melakukannya dan tidak mampu melaksanakannya. Haji itu hanya sekali, barangsiapa yang menambah, maka itu adalah tathawwu’ (amalan sunnah).”

 

Musnad Ahmad 2511: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan hajar (aswad) pada hari kiamat nanti, ia memiliki dua mata yang dapat melihat dan lisan yang dapat berbicara, ia akan bersaksi bagi siapa saja yang telah beristilam (menyentuh, mencium atau isyarat) padanya dengan benar.”

 

Musnad Ahmad 2512: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abdullah bin Sa’id bin Jubair dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura`, lalu beliau bertanya; “Hari apa ini, sehingga kalian berpuasa?” mereka menjawab; “Ini hari yang baik, hari ini Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, lalu Musa berpuasa padanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpuasa (pada hari tersebut) dan memerintahkan untuk berpuasa.

 

Musnad Ahmad 2513: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid hafalanku dari Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli janin binatang yang belum ada.”

 

Musnad Ahmad 2514: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Sa’id bin Al Musayyab dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mengambil kembali pemberiannya adalah seperti orang yang memakan kembali muntahannya.” Qatadah berkata; “Yang aku tahu bahwa muntahan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 2515: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari ayahnya berkata; Kami pernah mengatakan ketika masih kanak-kanak; “Orang yang mengambil kembali pemberiannya adalah seperti anjing muntah lalu memakan kembali muntahannya.” Kami belum tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membuat perumpamaan dengan itu sampai Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Orang yang mengambil kembali pemberiannya adalah seperti anjing yang muntah lalu memakan kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2516: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub telah menceritakan kepada kami Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ketika haji wada’, (orang laki-laki) bertanya; “Wahai Rasulullah, aku telah bercukur sebelum menyembelih?” Beliau memberi isyarat dengan tangannya sambil bersabda: “Tidak apa-apa.” Seorang laki-laki (lainnya) berkata; “Wahai Rasulullah, aku menyembelih sebelum melempar jumrah?” Beliau memberi isyarat dengan tangannya dan bersabda: “Tidak apa-apa.” Ibnu Abbas berkata; “Saat itu, setiap beliau ditanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan mendahulukan dan mengakhirkan (suatu amalan haji), maka beliau hanya berisyarat dengan tangannya sambil bersabda: “Tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 2517: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah mengabarkan kepada kami Abu Jamrah berkata; aku melindungi Ibnu Abbas dari orang-orang, lalu aku tertahan selama beberapa hari. Maka ia bertanya; “Apa yang menahanmu?” Aku menjawab; “Demam.” Maka ia berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demam merupakan hembusan Jahannam, maka dinginkanlah dengan air zamzam.”

 

Musnad Ahmad 2518: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan ad Dubbaa`, al Hantam dan al Muzaffat.”

 

Musnad Ahmad 2519: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu Awanah berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Hamzah berkata; aku telah mendengar Ibnu Abbas berkata; Ketika masih kanak-kanak, aku bermain-main bersama anak-anak lainnya, ketika menoleh ternyata Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang di belakangku, lalu aku berkata; “Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak datang kecuali hanya kepadaku.” Ibnu Abbas berkata; Maka aku berlari hingga bersembunyi di balik pintu sebuah rumah. Ia berkata lagi; Aku tidak sadar sampai beliau meraihku. Ia melanjutkan; beliau meraih pundakku, lalu menepukku dan bersabda: “Pergi dan panggilkan Mu’awiyah menghadapku.” Dan Mu’awiyah adalah juru tulis beliau. Ia berkata; Lalu aku pun beranjak pergi, maka aku katakan (kepada Mu’awiyah), “Penuhilah (panggilan) Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau sedang ada perlu.”

 

Musnad Ahmad 2520: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Manshur dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah menuju Makkah, beliau berpuasa hingga mencapai Usfan, lalu beliau meminta air, kemudian mengangkatkannya ke tangannya agar terlihat oleh orang-orang, lalu beliau berbuka hingga sampai di Makkah, saat itu pada bulan Ramadlan.” Ibnu Abbas juga berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa lalu berbuka, maka barangsiapa yang berkehendak dia berpuasa, dan barangsiapa berkehendak dia berbuka.”

 

Musnad Ahmad 2521: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Amru berkata; aku mendengar Yahya bin Al Jazzar dari Ibnu Abbas; bahwa seekor anak kambing hendak melintas di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang shalat, maka beliau mencegahnya.

 

Musnad Ahmad 2522: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun dari keturunan Adam kecuali telah melakukan kesalahan atau mereka berbuat salah, selain Yahya dan Zakaria. Dan tidak selayaknya seseorang mengatakan; ‘Aku lebih baik dari Yunus bin Matta.'”

 

Musnad Ahmad 2523: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada kami dengan membonceng Usamah, lalu kami memberinya minum dari nabidz (rendaman sari buah), lalu beliau minum darinya dan bersabda: “Kalian telah berbuat baik seperti ini, maka silakan dilakukan.”

 

Musnad Ahmad 2524: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Ikrimah, ia berkata; “Aku shalat di belakang seorang syaikh di Makkah, ia bertakbir dalam shalat Zhuhur sebanyak dua puluh dua kali, lalu aku menemui Ibnu Abbas dan menyampaikan hal tersebut; “Sesungguhnya aku telah shalat Zhuhur di belakang seorang syaikh yang dungu. Ia bertakbir dalam shalat Zhuhur sebanyak dua puluh dua kali.” Maka Ibnu Abbas menjawab; “Semoga kamu kehilangan ibumu. Itu adalah sunnah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2525: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas; bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Berikanlah bagian warisan pada ahli warisnya, sedang sisanya adalah untuk kerabat laki-laki yang paling berhak.”

 

Musnad Ahmad 2526: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abbas dan dengan sanad seperti hadits sebelumnya, demikian yang dikatakan ayahku; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan; dahi, -kemudian beliau menunjuk dengan tangannya ke arah hidungnya, kedua tangan, kedua lutut dan ujung-ujung kaki.- Dan agar kita tidak menahan (menyibukkan diri) dengan pakaian dan rambut.”

 

Musnad Ahmad 2527: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; dan dengan sanad seperti hadits sebelumnya ia berkata; Seperti inilah yang dikatakan ayahku; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi upah kepada pembekamnya serta bergurah.

 

Musnad Ahmad 2528: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Aban Al ‘Athar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Budak mukatab dibayar diyatnya untuk bagian yang telah dimerdekakan senilai orang merdeka, sedangkan (bagian) yang masih berstatus budak senilai budak.”

 

Musnad Ahmad 2529: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Muhammad yakni Ibnu Ishaq, dari Husain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Di Madinah ada dua orang penggali kubur, Abu Ubaidah bin Al Jarrah yang menggali kubur bagi orang Makkah dan Abu Thalhah yang menggali kubur bagi kaum Anshar serta membuat lahad untuk mereka. Ibnu Abbas berkata; Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, Al Abbas mengutus dua orang kepada mereka berdua sambil berkata; “Ya Allah, pilihlah yang terbaik untuk nabi-Mu.” Ternyata mereka mendapatkan Abu Thalhah serta tidak mendapatkan Abu Ubaidah. Lalu digalikanlah kuburan dan liang lahat untuk beliau.

 

Musnad Ahmad 2530: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Abu Waki’ dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku mengamati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang sujud, sehingga aku melihat putihnya ketiak beliau.”

 

Musnad Ahmad 2531: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap muslim berkewajiban menunaikan haji, seandainya aku katakan setiap tahun, niscaya akan diwajibkannya.”

 

Musnad Ahmad 2532: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yakni Ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan haji tamattu’ hingga beliau meninggal, begitu juga Abu Bakar sampai wafat dan Umar sampai wafat, serta Utsman sampai wafat (radliallahu ‘anhum). Orang yang pertama kali melarangnya adalah Mu’awiyah.” Ibnu Abbas berkata; “Maka aku merasa heran dengannya, padahal dia telah berkata padaku bahwasannya dirinya mencukur rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan anak panah bermata lebar.”

 

Musnad Ahmad 2533: Telah menceritakan kepada kami Yunus dan Hujain keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dan Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami tasyahhud sebagaimana mengajari kami Al Qur`an. Beliau mengucapkan: “ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUS SHALAWAATU LILLAH ASSALAAMU ‘ALAIKA, – Hujain berkata; – “SALAAMUN ‘ALAIKA, AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH ASSALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA IBAADILLAHIS SHALIHIIN, WA ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAN RASUULULLAH (Salam sejahtera, shalawat dan kebaikan milik Allah. Salam, rahmat dan keberkahan-Nya atasmu, wahai Nabi. Juga salam atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwasanya tiada ilah (sesembahan) yang hak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah Rasul Allah).”

 

Musnad Ahmad 2534: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Laits dari Abu Az Zubair dari ‘Atho` bin Abu Rabah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, saat itu beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2535: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Al Barra` yakni Ibnu Abdullah Al Ghanawi, dari Abu Nadlrah berkata; Ibnu Abbas pernah berdiri di atas mimbar penduduk Bashrah, aku mendengar dia mengatakan; “Sesungguhnya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu meminta perlindungan dari empat perkara di akhir shalat, beliau bersabda: “A’UDZU BILLAHI MIN ‘ADZABIL QABRI WA A’UDZU BILLAHI MIN ‘ADZABIN NARI WA A’UDZU BILLAHI MINAL FITANI MA ZHAHARA MINHA WAMA BATHANA WA A’UDZU BILLAHI MIN FITNATI A’WAR AL KADZAB (Aku berlindung kepada Allah dari adzab kubur, aku berlindung kepada Allah dari adzab Neraka, aku berlindung kepada Allah dari seluruh fitnah yang nampak dan tersembunyi dan aku berlindung kepada Allah dari fitnah yang buta lagi pendusta (Dajjal)).”

 

Musnad Ahmad 2536: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Al Furat dari ‘Ilba` dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat empat garis di atas tanah, kemudian bersabda: “Tahukah kalian apa ini?” Para sahabat menjawab; “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penghuni surga yang paling utama dari kalangan wanita adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Asiyah binti Muzahim istri fir’aun, serta Maryam putri Imran semoga Allah meridhai mereka semuanya.”

 

Musnad Ahmad 2537: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Laits dari Qais bin Al Hajjaj dari Hanasy Ash Shan’ani dari Abdullah bin Abbas bahwa ia menceritakan kepadanya; pada suatu hari ia menunggang di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai anakku, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”

 

Musnad Ahmad 2538: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi upah kepada si tukang bekam dan beliau juga bergurah.”

 

Musnad Ahmad 2539: Telah menceritakan kepadaku Mu’adz bin Hisyam berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum dari (mulut) tempat air (secara langsung), (memakan) hewan yang dijadikan target sasaran dan (minum) susu hewan jalalah (pemakan kotoran).”

 

Musnad Ahmad 2540: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits dari Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Atho` bahwasanya ia mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian makan makanan, maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatnya atau dijilatkan.” Abu Az Zubair berkata; Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata; Aku mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan tidak mengangkat piringnya hingga ia menjilatnya atau dijilatkan, karena sesungguhnya bagian akhir makanan mengandung berkah.”

 

Musnad Ahmad 2541: Telah menceritakan kepada kami Hasan yakni Ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku pernah shalat kusuf (gerhana matahari) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku tidak mendengar satu huruf (Al Qur`an) pun dari beliau.”

 

Musnad Ahmad 2542: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdullah berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu Habib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku pernah shalat kusuf di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun aku tidak mendengar satu huruf (Al Qur`an) pun dari beliau.”

 

Musnad Ahmad 2543: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah memberitakan kepada kami Abu ‘Awanah Al Wadldlah dari Abdullah Al A’la Ats Tsa’labi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bertakwalah dalam menyampaikan hadits dariku kecuali yang kalian ketahui, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari Neraka.”

 

Musnad Ahmad 2544: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas; bahwasanya ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hampir meninggal dunia, beliau bersabda: “Berilah aku (tulang) bahu, aku akan menuliskan suatu pesan di dalamnya sehingga tidak ada dua orang di antara kalian yang saling berselisih setelah ketiadaanku.” Ibnu Abbas berkata; Lalu orang-orang mulai berdebat, maka seorang wanita berkata; “Celaka kalian, (Ini masih) masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (kalian telah seperti itu).”

 

Musnad Ahmad 2545: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Hubairah dari Hanasy bin Abdullah bahwa Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dalam air kencing unta dan susunya mengandung obat bagi penyakit di dalam perut mereka.”

 

Musnad Ahmad 2546: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Khalid Al Hadzdza` dari Barakah bin Al ‘Uryan Al Mujasyi’i berkata; aku mendengar Ibnu Abbas menceritakan, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah melaknat kaum Yahudi. Telah diharamkan lemak atas mereka, namun mereka menjualnya dan memakan harganya (hasil penjualan). Dan sesungguhnya Allah ‘azza wajalla apabila mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia pun mengharamkan juga harganya (hasil penjualannya).”

 

Musnad Ahmad 2547: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar bahwa Ibnu Abbas berkata; Aku bersama ayahku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saat itu ada seseorang yang sedang berbicara dengan beliau. Dan seakan-akan beliau tidak suka dengan kedatangan ayahku, maka kami keluar. Dan ayahku berkata padaku: “Wahai anakku, tidakkah engkau tahu bahwa anak pamanmu tidak suka dengan kedatanganku.” Maka aku berkata: “Wahai ayah, sesungguhnya ada seseorang yang sedang berbicara dengan beliau.” Lalu kami kembali menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ayahku berkata: “Wahai Rasulullah, aku mengatakan pada Abdullah begini dan begitu, lalu ia memberitahuku bahwa saat itu engkau bersama dengan seseorang yang sedang berbicara denganmu. Apakah engkau sedang bersama seseorang?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah engkau melihatnya, wahai Abdullah?” Ibnu Abbas berkata; Aku menjawab: “Ya, ” Beliau berkata lagi: “Sesungguhnya itu adalah jibril, dan dialah yang membuat diriku tidak memperdulikanmu.”

 

Musnad Ahmad 2548: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah selama lima belas tahun, selama delapan atau tujuh tahun beliau melihat sinar dan mendengar suara. Dan selama delapan atau tujuh tahun diturunkan wahyu kepada beliau, dan beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.

 

Musnad Ahmad 2549: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Duwaid telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Tsauban dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “‘Ain adalah haq, ‘ain adalah haq. Ia bisa meluluhkan gunung besar yang kokoh.”

 

Musnad Ahmad 2550: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami ayahku berkata; aku telah mendengar Yunus menceritakan dari Az Zuhri dari Ubaidullah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik teman (seperjalanan) adalah empat, sebaik-baik brigade adalah empat ratus (personil), sebaik-baik pasukan adalah empat ribu (personil). Dan tidaklah dua belas ribu (personil) dapat dikalahkan karena dianggap sedikit.”

 

Musnad Ahmad 2551: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Salim bin Abu Al Ja’d, ia berkata; seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas lalu berkata; “Wahai Ibnu Abbas, Bagaimana pendapatmu seorang yang membunuh seorang mukmin.” Ia berkata; “Bagaimana pendapatmu tentang seorang yang membunuh orang lain dengan sengaja.” Dia berkata; ” (Balasannya adalah Neraka Jahannam, kekal di dalamnya), (hingga akhir ayat).” Dia berkata; Orang itu bertanya; “Wahai Ibnu Abbas, Bagaimana pendapatmu jika ia bertaubat dan beriman serta beramal shalih?” Ibnu Abbas berkata; “Semoga ibumu kehilanganmu, Bagaimana mungkin orang itu akan bertaubat, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya orang yang dibunuh itu akan datang pada hari kiamat dengan membawa kepalanya di tangan kanannya.” Atau beliau bersabda: “Atau tangan kirinya, sementara tangan yang lainnya membawa pelakunya (pembunuhnya), sedang urat di sekitar lehernya terus meneteskan darah. Di depan ‘Arsy, dia berkata; ‘Ya Rabb, tanyakan kepada hambaMu ini mengapa dia membunuhku? ‘”

 

Musnad Ahmad 2552: Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Sulaiman Asy Syaibani berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Al Asham berkata; seorang laki-laki mengundang kami, lalu dia muncul dengan membawa nampan yang terisi tiga belas (daging) dlabb (sejenis biawak), saat itu adalah waktu Isya`. Maka di antara kami ada yang memakannya dan ada yang tidak. Keesokan harinya, kami menemui Ibnu Abbas lalu menanyakannya, saat itu banyak orang di majlisnya, hingga sebagian orang mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak memakannya namun aku tidak mengharamkannya.” Ia berkata; Ibnu Abbas berkata; “Buruk sekali yang kalian katakan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menghalalkan dan mengharamkan.” Kemudian Ibnu Abbas melanjutkan; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bersama Maimunah dan di sampingnya Al Fadhl bin Abbas, Khalid bin Walid dan seorang perempuan, dihidangkan sebuah nampan berisi roti dan daging dlabb (sejenis biawak).” Ia berkata lagi; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak makan, maka Maimunah berkata kepada beliau; “Wahai Rasulullah, itu adalah daging dlabb.” Maka beliau menahan tangannya dan bersabda: “Sesungguhnya daging itu aku tidak memakannya, namun silakan, makanlah kalian.” Ibnu Abbas berkata; “Lalu Al Fadhl bin Abbas, Khalid bin Walid dan seorang wanita memakannya.” Ia berkata; Maimunah berkata; “Aku tidak akan makan sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mau memakannya.”

 

Musnad Ahmad 2553: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin ‘Atho` telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dari Qais bin Sa’d dari Yazid bin Hurmuz bahwasanya Najdah menulis (surat) kepada Ibnu Abbas menanyakan tentang bagian untuk kerabat, siapa yang dimaksud? Tentang anak yatim, kapan berakhir status yatimnya? Tentang wanita dan budak yang menyaksikan pembagian harta rampasan perang? dan tentang membunuh anak-anak kaum musyrikin?” maka Ibnu Abbas berkata; “Seandainya jika aku tidak membalasnya dan tidak menimbulkan sesuatu, tentu aku tidak akan menjawabnya.” Lalu ia mengirim surat kepadanya; “Engkau telah mengirim surat kepadaku untuk menanyakan tentang bagian kerabat, siapa yang dimaksud. Sesungguhnya kami menganggapnya untuk kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun kaum kami menolak hal itu pada kami. Tentang anak yatim, kapan berakhir (status) yatimnya. Bila telah bermimpi (basah) atau telah tumbuh bulu kemaluannya. Tentang wanita dan budak yang menyaksikan pembagian harta rampasan perang. Tidak ada bagian untuk keduanya akan tetapi keduanya diberi bagian sekedarnya. Dan tentang membunuh anak kaum musyrikin, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membunuh mereka, maka engkau pun jangan membunuhnya kecuali engkau mengetahui (apa yang akan terjadi) pada mereka seperti apa yang diketahui oleh Khaidlir terhadap seorang anak yang dibunuhnya.”

 

Musnad Ahmad 2554: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tiba di Makkah dan dibuat lemah oleh demam Yatsrib. Lalu kaum musyrikin berkata; “Telah datang kepada kalian kaum yang telah dilemahkan oleh demam dan mengalami keburukan darinya.” kemudian orang-orang musyrik itu duduk-duduk di sudut yang searah dengan Hijr, maka Allah ‘azza wajalla memberitahukan kepada Nabi-Nya, sehigga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berlari-lari kecil pada tiga putaran (pertama), agar kaum musyrikin melihat kesungguhan mereka. Ibnu Abbas berkata; “Lalu para sahabat pun berlari-lari kecil tiga kali putaran, kemudian beliau memerintahkan mereka agar berjalan di antara dua sudut yang tidak terlihat oleh kaum musyrikin.” Selanjutnya Ibnu Abbas berkata; “Tidak ada yang menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memerintahkan mereka berlari-lari kecil pada semua putaran, akan tetapi karena beliau merasa kasihan terhadap mereka. Lalu kaum musyrikin berkata; “Mereka itu yang kalian sangka bahwa demam telah melemahkan mereka? Mereka ternyata lebih kuat daripada anu dan anu.”

 

Musnad Ahmad 2555: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas; bahwa seorang badui memberi sesuatu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau membalasnya, kemudian beliau bersabda: “Engkau rela?” ia menjawab.”Tidak.” Beliau menambahinya lalu bersabda: “Engkau rela?” ia menjawab; “Tidak.” Beliau menambahinya lagi lalu bersabda: “Engkau rela?” ia menjawab; “Ya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku sangat ingin untuk tidak menerima suatu pemberian kecuali dari orang Quraisy, Anshar atau Tsaqif.”

 

Musnad Ahmad 2556: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Abu Thufail dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya berumrah dari Ji’ranah, lalu mereka berlari-lari kecil di Baitullah tiga kali dan berjalan biasa empat kali.”

 

Musnad Ahmad 2557: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang manusia pun kecuali pernah melakukan kesalahan, atau hendak melakukan kesalahan, selain Yahya bin Zakaria.”

 

Musnad Ahmad 2558: Telah menceritakan kepada kami Hasan dan ‘Affan Al Ma’na keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Abu Utsman An Nahdi dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib, pada kedua kakinya terdapat sepasang sandal dari api, sementara otaknya mendidih karena keduanya.”

 

Musnad Ahmad 2559: Telah menceritakan kepada kami Syadzan telah mengabarkan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika diharamkan khamar, orang-orang berkata; “Wahai Rasulullah, (bagaimana) sahabat kami yang telah meninggal, padahal mereka dulu pernah meminumnya?” Lalu turunlah ayat: (Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh Karena memakan makanan yang Telah mereka makan dahulu). Ibnu Abbas berkata; Ketika kiblat dipindahkan, orang-orang berkata; “Wahai Rasulullah, (bagaimana) dengan para sahabat kami yang telah meninggal dunia, padahal mereka melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis?” Lalu turunlah ayat: (Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu).”

 

Musnad Ahmad 2560: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Abu Nadlrah ia berkata; Ibnu Abbas pernah berkhutbah diatas mimbar ini -yaitu mimbar Bashrah- katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak seorang nabi pun kecuali ia mempunyai sebuah do’a mustajab yang telah ia pergunakan di dunia. Dan sesungguhnya aku menyimpan do’aku, agar aku bisa memberikan syafa’at untuk umatku. Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, bukannya sombong. Aku juga orang yang pertama kali dibukakan bumi (kuburnya), bukannya sombong. Ditangankulah diletakkan bendera pujian, bukannya sombong. Adam dan yang lainnya berada di bawah benderaku, bukannya sombong. Bagi manusia hari kiamat menjadi sangat panjang, maka sebagian mereka berkata pada sebagian yang lain; ‘Mari kita pergi menemui Adam, moyangnya manusia, agar dia memohonkan syafa’at kepada Allah Azza wa Jalla untuk kita dan memutuskan urusan diantara kita.’ Maka mereka mendatangi Adam ‘Alaihis Salam, dan mengatakan; ‘Wahai Adam, engkaulah manusia yang Allah ciptakan dengan tanganNya, dan menempatkanmu di dalam surgaNya, serta memerintahkan para malaikat sujud padamu. Maka mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan supaya memutuskan urusan diantara kami.’ Adam menjawab; ‘Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tepat untuk kalian, dan aku telah dikeluarkan dari surga karena kesalahan-kesalahanku. Sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagiku pada hari ini selain diriku sendiri. Akan tetapi datanglah kepada Nuh, pemimpin para Nabi. Maka mereka mendatangi Nuh, dan mereka berkata; ‘Wahai Nuh, mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan supaya memutuskan urusan diantara kami.’ Nuh menjawab; ‘Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tepat untuk kalian, sesungguhnya aku telah menggunakan do’aku yang dengannya aku menenggelamkan penduduk bumi. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagiku selain diriku sendiri. Akan tetapi datanglah pada Ibrahim, kekasih Allah. Maka mereka mendatangi Ibrahim ‘Alaihis Salam, dan mereka mengatakan; “Wahai Ibrahim, mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, dan supaya memutuskan urusan diantara kami.’ Ibrahim menjawab; ‘Sesungguhnya aku bukan orang yang tepat bagi kalian, sesungguhnya aku telah melakukan dusta tiga kali, dan tidak ada yang lebih penting bagiku selain diriku sendiri.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan tidaklah Ibrahim melakukan hal itu kecuali untuk menegakkan dien Allah, yaitu perkataannya “Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya Aku sakit.” QS Ash Shoffaat: 89 dan perkataannya “…Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, ” QS. Al Anbiya’ 63, juga perkataannya kepada istrinya ia adalah saudara perempuanku.’ Akan tetapi datanglah kepada Musa ‘Alaihis Salam yang telah Allah muliakan dengan risalah dan kalamNya.’ Maka mereka pun mendatanginya, dan mereka berkata; ‘Wahai Musa, engkau adalah orang yang telah dimuliakan Allah dengan risalahNya dan mengajakmu bicara, mohonkanlah syafa’at kepada Rabbmu, supaya Dia memutuskan urusan diantara kami.’ Musa menjawab; ‘Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tepat bagi kalian, sesungguhnya aku pernah membunuh jiwa yang tidak boleh dibunuh. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi diriku pada hari ini selain diriku sendiri. Akan tetapi datanglah pada Isa, ruh Allah dan kalimatNya.’ Maka mereka mendatangi Isa dan berkata; ‘ Wahai Isa, mohonkanlah syafa’at kepada Rabb kami untuk kami, supaya Dia memutuskan urusan diantara kami.’ Isa pun menjawab; ‘Sesungguhnya aku bukan orang yang tepat bagi kalian, sesungguhnya aku telah dijadikan sesembahan selain Allah. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi diriku pada hari ini selain diriku sendiri. Akan tetapi apa pendapat kalian jika suatu perhiasan diletakkan didalam sebuah bejana yang tertutup, apakah kita bisa mengetahui nilai benda yang ada didalamnya hingga dibuka tutupnya? ‘ Mereka menjawab; ‘Tidak.’ Isa berkata; ‘Sesungguhnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi, dan ia juga hadir pada hari ini, dan telah diampuni baginya semua dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan; ‘Lalu mereka mendatangiku dan berkata; ‘Wahai Muhammad, mohonkanlah syafa’at pada Rabb kami untuk kami, supaya Dia memutuskan urusan diantara kami.’ Maka aku menjawab: ‘Aku memang berhak untuk itu hingga Allah ‘azza wajalla mengizinkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan di ridloi. Jika Allah ‘azza wajalla hendak memutuskan sesuatu diantara para makhlukNya, maka akan ada seruan yang memanggil; “Dimanakah Ahmad dan kaumnya?”. Kamilah yang terakhir dan kami pulalah yang pertama, kami adalah umat yang terakhir dan kami adalah umat yang pertama kali dihisab. Lalu umat-umat lain disingkirkan dari jalan kami, dan kami berlalu dengan wajah dan anggota badan yang bercahaya karena bekas wudhu’. Maka umat-umat tersebut berkata; ‘Hampir saja umat ini menjadi nabi seluruhnya.’ Beliau melanjutkan; ‘Lalu kami mendatangi pintu surga, aku memegang daun pintu dan mengetuknya, lalu ada yang bertanya; ‘Siapa engkau? ‘ Aku menjawab: ‘Aku Muhammad.’ Maka dibukalah pintu tersebut, lalu aku menemui Rabbku ‘azza wajalla yang sedang berada di atas kursi atau singgasananya, lalu aku tersungkur dan sujud, aku lalu memujinya dengan pujian yang tidak pernah diucapkan oleh orang-orang sebelumku maupun orang-orang setelahku. Lalu dikatakan padaku: ‘Angkatlah kepalamu! Katakanlah maka engkau akan didengar (perkataanmu), mintalah maka engkau akan diberi, dan mohonlah syafa’at maka akan dikabulkan! ‘ Lalu aku mengangkat kepalaku dan berkata: ‘Wahai Rabbku, umatku… umatku…’ Maka Dia pun berfirman: ‘Keluarkanlah dari neraka siapa saja yang didalam hatinya ada seukuran ini dan itu.’ Kemudian mereka dikeluarkan, aku lalu mengulanginya, aku sujud dan mengatakan seperti apa yang telah aku katakan. Maka dikatakan padaku: ‘Angkatlah kepalamu, dan katakanlah maka akan didengar, mintalah maka akan diberi serta mohonlah syafa’at maka akan dikabulkan.’ Lalu aku berkata: ‘Wahai Rabbku, umatku… umatku…’ Maka Dia pun berfirman: ‘Keluarkanlah dari neraka siapa saja yang didalam hatinya ada seukuran ini dan itu.’ Mereka pun dikelurkan, dan beliau mengatakan yang ketiga kalinya seperti sebelumnya.” Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas, namun dikali yang pertama beliau bersabda: “Siapa saja yang didalam hatinya terdapat keimanan walau seberat biji Sya’ir (gandum), dan di kedua kali berkata dengan redaksi; “Burrah (gandum) ” dan yang ketiga kali menggunakan redaksi “Dzarrah (jagung).”

 

Musnad Ahmad 2561: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril ‘alaihis salam berkata kepadaku; ‘Sesungguhnya engkau telah dibuat mencintai shalat, maka ambillah darinya sesukamu.”

 

Musnad Ahmad 2562: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Abu Yahya Al A’raj dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Dua orang laki-laki berseteru dan mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu salah satunya diminta untuk bersumpah, ia pun bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, bahwa tidak ada apa pun miliknya (milik seterunya) padanya.” Lalu Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Dia telah berdusta, sesungguhnya padanya ada hak orang tersebut (seterunya).” Maka beliau memerintahkannya untuk menyerahkan hak orang tersebut, sedangkan tebusan sumpahnya adalah LA ILAHA ILLALLAH yakni syahadatnya.”

 

Musnad Ahmad 2563: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya berkata; dan telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dari Aisyah dan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah selama sepuluh tahun dan diturunkan Al Qur`an kepadanya, dan di Madinah selama sepuluh tahun.

 

Musnad Ahmad 2564: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Israil dari Utsman yakni Ibnu Al Mughirah, dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Isa bin Maryam, Musa dan Ibrahim. Adapun Isa berkulit merah, rambut terurai dan berdada bidang, sedangkan Musa bertubuh kekar.” Para sahabat berkata; “Lalu Ibrahim?” Beliau menjawab: “Lihatlah kepada teman kalian (ini).” Maksudnya adalah diri beliau sendiri.

 

Musnad Ahmad 2565: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata; telah menceritakan kepada kami Qabus bin Abu Thaiban bahwa ayahnya menceritakannya dari Ibnu Abbas dari Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam. -Zuhair berkata; tidak ada keraguan di dalamnya.- Beliau bersabda: “Sesungguhnya bimbingan yang baik, sikap yang baik dan kesederhanaan adalah bagian dari dua puluh lima bagian kenabian.” Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Zuhair dan Ja’far yakni al Ahmar, dari Qabus dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata; Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: ” sikap yang baik.” Kemudian dia menyebutkan seperti diatas.

 

Musnad Ahmad 2566: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Abu Kudaibah Yahya bin Al Muhallab dari Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat lima waktu di Mina.”

 

Musnad Ahmad 2567: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Abu Al Muhayyah Yahya bin Ya’la At Taimi dari Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Zhuhur pada hari Tarwiyah di Mina dan shalat Subuh pada hari Arafah di sana.”

 

Musnad Ahmad 2568: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Al Ja’d Abu Utsman, ia berkata; aku telah mendengar Abu Raja` Al Utharidi menceritakan dari Ibnu Abbas, yang telah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya tidak seorang pun yang memisahkan dari Jama’ah walau sejengkal lalu mati, kecuali ia akan mati seperti kematian jahiliah.”

 

Musnad Ahmad 2569: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ya’qub yakni Al Qummi dari Ja’far dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Umar bin Khaththab datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Beliau bertanya: “Apa yang membinasakanmu?” Umar menjawab; “Aku membalik tungganganku (yakni istriku) tadi malam.” Ibnu Abbas berkata; Beliau tidak mengatakan apa-apa mengenai itu. Ibnu Abbas melanjutkan; Lalu Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya ayat ini: (Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki) (lalu beliau mengatakan): “Bagaimana saja kamu kehendaki, dari depan atau belakang tapi hindarilah dubur dan haidl.”

 

Musnad Ahmad 2570: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi salah seorang putrinya yang hampir meninggal, lalu beliau memeluknya, beliau tidak mengangkat kepalanya hingga putrinya itu meninggal. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan mengatakan: “Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah, orang beriman dalam kebaikan. Nyawanya dicabut dari antara dua punggungnya.” Saat itu beliau memuji Allah ‘azza wajalla.

 

Musnad Ahmad 2571: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir dan Khalaf bin Al Walid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sejumlah orang Anshar yang telah mengikat seekor burung merpati yang sedang mereka lempari, maka beliau pun bersabda: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (melempar).”

 

Musnad Ahmad 2572: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Israil dari Jabir dari Muslim bin Shubaih dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengku di belakang beliau dan Qutsam di depan beliau.”

 

Musnad Ahmad 2573: Telah menceritakan kepada kami Suraij dan Yunus keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah dari Abu ‘Ashim Al Ghanawi dari Abu Ath Thufail, ia berkata; “Aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Kaummu menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan cepat di Baitullah sebagai sunnah.” Ibnu Abbas berkata; “Mereka benar dan mereka juga dusta.” Aku berkata; “Apa yang benar? Ibnu Abbas berkata; “Mereka benar bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jalan cepat ketika di Ka’bah, mereka berdusta bila hal itu termasuk sunnah, Sesungguhnya orang-orang Quraisy berkata pada zaman terjadinya perjanjian Hudaibiyah; “Biarkanlah Muhammad dan para sahabatnya hingga mereka mati seperti matinya ulat. Tatkala mereka berdamai dengan beliau agar mereka datang pada tahun yang akan datang dan bermukim di Makkah selama tiga hari. Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam datang sementara orang-orang musyrik dari arah Qu’aiqi’an. Lalu Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: “Percepatlah langkah kalian di Ka’bah sebanyak tiga kali, dan bukanlah sesuatu yang sunah.” Aku berkata; kaummu mengaku bahwa Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam thawaf antara Shafa dan Marwa di atas untanya, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang sunah.” Ibnu Abbas menjawab; “Mereka telah benar dan berdusta.” Aku berkata; “Kebenaran apakah yang mereka katakan? Dan kedustaan apakah yang mereka ucapkan? Ibnu Abbas berkata; “Mereka benar, Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam telah melakukan thawaf antara Shafa dan Marwa di atas untanya, dan mereka berdusta, karena hal tersebut bukanlah sunah. Dahulu orang-orang tidak ditolak dari Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam dan tidak dipalingkan dari beliau, beliau melakukan thawaf di atas untanya agar mereka mendengar perkataannya dan melihat tempatnya, serta tidak bisa dicapai tangan mereka.” Aku berkata; “Kaummu juga mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sa’I antara shafa dan marwa dan hal itu merupakan suatu hal yang sunnah.” Ibnu Abbas menjawab; “Mereka benar, sesungguhnya ketika Ibrahim diperintahkan untuk melaksanakan manasik haji, tiba-tiba muncullah syaitan ditempat sa’I, lalu setan mendahuluinya, Ibrahim pun mendahuluinya, kemudian ia bersama Jibril pergi menuju Jumrah Aqabah, ternyata setan menampakkan dirinya di tempat tersebut, Yunus mengatakan; “As Syaitan” lantas keduanya melempari setan dengan tujuh kerikil hingga ia pergi, kemudian ia menampakkan dirinya di Jumrah wustha, lalu keduanya melempari dengan tujuh kerikil, setelah itu Ibrahim telah membaringkannya -anaknya- di atas pelipisnya, saat itu Isma’il tengah mengenakan baju putih, Isma’il berkata; “Wahai ayahku, sesungguhnya aku tidak memiliki baju yang lain untuk mengkafaniku selain ini, maka tanggalkanlah agar engkau dapat mengkafaniku dengannya, lalu Ibrahim pun berusaha menanggalkannya, lalu diseru dari belakangnya; “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” QS Ash Shafat; 104-105, maka Ibrahim menoleh ke belakang, ternyata ada seekor domba putih dan bertanduk. Ibnu Abbas melanjutkan; “Kami telah melihat kami telah menjual domba tersebut, dia melanjutkan; “Kemudian Ibrahim membawanya ke Jumrah Al Qushwa, lalu setan menampakkan dirinya, maka Ibrahim melemparinya dengan tujuh kerikil hingga pergi, kemudian Jibril membawanya menuju Mina, Jibril mengatakan; “Ini adalah Mina.” – Yunus mengatakan; “Ini adalah tempat singgahnya manusia- setelah itu Jibril membawanya menuju Jam’un (Muzdalifah) lalu ia berkata; “Ini adalah masy’aril haram.” Kemudian Jibril membawanya menuju ‘Arafah.” Ibnu Abbas mengatakan; “Tahukah kamu, kenapa dinamakan ‘Arafah?” aku menjawab; “Tidak.” Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya Jibril pernah berkata kepada Ibrahim ‘arafta (tahukah kamu)? ‘ – Yunus mengatakan; “hal ‘arafta (apakah kamu tahu)? – Ibrahim menjawab; “Ya, ” Ibnu Abbas berkata; “Oleh karena itu, ia dinamakan ‘Arafah, kemudian Ibnu Abbas berkata; “Tahukah kamu bagaimana awal mulanya talbiyah itu? Aku balik bertanya; “Bagaimana itu? Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya katika Ibrahim diperintahkan untuk menyerukan haji kepada manusia, gunung-gunung menundukkan kepadanya dan di angkatlah desa-desa kepadanya, lalu Ibrahim menyerukan haji kepada manusia.” Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim Al Ghanawi dia berkata; aku mendenga Abu Ath Thufail, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut, hanya saja ia menyebutkan; “Tidak diraih oleh tangan mereka.” Disanalah Ibrahim membaringkan Isma’il pada pelipisnya.”

 

Musnad Ahmad 2574: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa berkata; telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka doa sebagaimana mengajari mereka surat dari Al Qur`an, yaitu mengucapkan: “ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABI JAHANNAM WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QABRI WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MASIHID DAJJAL WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYA WAL MAMATI (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari siksa Neraka Jahannam, aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Al Masih Ad Dajjal dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan kematian).”

 

Musnad Ahmad 2575: (Ahmad) berkata; telah mengabarkan kepada kami Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun untuk shalat di tengah malam, beliau mengucapkan: “ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA NURUS SAMAWATI WAL ARDLI WAMAN FI HINNA WA LAKAL HAMDU ANTA QAYYAMUS SAMAWATI WAL ARDLI WAMAN FI HINNA WA LAKAL HAMDU ANTA RABBUS SAMAWATI WAL ARDLI WAMAN FI HINNA WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQ WA QAULUKAL HAQQ WA WA’DUKAL HAQ WA LIQA`UKA HAQQ WAL JANNATU HAQQ WAN NARU HAQQ WAS SA’ATU HAQQ ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHASHAMTU WA ILAIKA HAKAMTU FAGHFIR LI MA QADDAMTU WA AKHARTU WA ASRARTU WA A’LANTU ANTALLADZI LA ILAHA ILLA ANTA (Ya Allah, milikMu segala pujian. Engkaulah cahaya semua langit dan bumi. MilikMu segala pujian, Engkaulah pengatur semua langit dan bumi. MilikMu segala pujian, Engkaulah Rabb semua langit dan bumi serta siapa pun yang ada di dalamnya. Engkaulah yang Maha Benar. firmanMu adalah benar, janjiMu adalah benar, pertemuan denganmu adalah benar. Surga adalah benar (adanya). Neraka adalah benar (adanya), kiamat adalah benar (adanya). Ya Allah kepadaMu aku berserah diri kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku bertaubat, denganMu aku bertikai (dengan lawan), kepadaMu aku berhukum, maka ampunilah dosaku baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang aku sembunyikan maupun yang terang-terangan. Engkaulah Dzat yang tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau).”

 

Musnad Ahmad 2576: Telah menceritakan kepada kami Ishaq yakni Ibnu Isa berkata; telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid yakni Ibnu Aslam dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu Abbas, ia berkata; “ketika terjadi gerhana matahai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat bersama orang-orang. Beliau berdiri lama sekali sekitar (bacaan) surat Al Baqarah. Kemudian beliau ruku’ lama, lalu bangkit (dari ruku) kemudian berdiri, lama namun tidak lebih lama daripada berdiri yang pertama, kemudian sujud. Setelah itu beliau berdiri lama namun lebih pendek daripada ruku’ yang pertama.” Abdullah bin Ahmad berkata, Ayahku berkata; Yang aku bacakan kepada Abdurrahman adalah; Ibnu Abbas berkata; “Lalu beliau berdiri lama.” Ia berkata; “Namun lebih pendek daripada berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lama tapi lebih pendek daripada berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lama namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, lalu selesai.” Kemudian kembali kepada hadits Ishaq. ketika selesai matahari sudah terang kembali, dan beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula Karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat hal itu (yakni gerhana), maka berdzikirlah kepada Allah.” Orang-orang berkata; “Wahai Rasulullah, kami melihatmu menerima sesuatu di tempatmu itu, lalu kami melihatmu mundur.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku menerima buah darinya, seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian bisa memakan darinya selama dunia masih ada. Dan aku melihat Neraka, sungguh aku belum pernah melihat pemandangan seperti (yang aku lihat) hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” Mereka berkata lagi; “Mengapa demikian wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Karena keingkaran mereka.” Kemudian ditanyakan; “Apakah mereka ingkar kepada Allah?” beliau menjawab: “Mereka ingkar terhadap suami, dan mengingkari kebaikan. Yaitu bila engkau berbuat baik kepada seseorang di antara mereka sepanjang masa, lalu ia melihat sesuatu (yang buruk) padamu, maka ia mengatakan; ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun padamu.'”

 

Musnad Ahmad 2577: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah bahwa Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf telah mengabarkan kepadanya, bahwa Marwan berkata; “Wahai Rafi’, katakan kepada penjaga pintu agar dia pergi menemui Ibnu Abbas, tanyakan kepadanya; ‘Apabila setiap orang dari kita merasa senang dengan apa yang dia kerjakan dan lebih menyukai untuk dipuji terhadap apa yang belum dia kerjakan akan di adzab, dengan demikian berarti kita semua akan di adzab? Ibnu Abbas berkata; ‘Ada apa dengan ayat ini? ‘ Ayat ini hanya di turunkan mengenai Ahlu kitab. Lalu Ibnu Abbas membaca ayat; “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” QS Ali Imran; 187. Dan Ibnu Abbas membaca ayat; “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan.” QS Ali Imran; 188. Ibnu Abbas berkata; Yaitu ketika nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, namun mereka menyembunyikannya dan mengabarkan hal yang lain. Lalu mereka keluar. Sungguh aku melihat beliau diberitahu tentang yang beliau tanyakan kepada mereka hingga mereka ingin dipuji dengan apa yang telah mereka kabarkan itu, oleh karena itu mereka senang dengan apa yang telah mereka kerjakan dari menyembunyikan sesuatu yang beliau tanyakan.’

 

Musnad Ahmad 2578: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali menyangkal adalah Adam ‘alaihis salam.” Beliau mengatakannya hingga tiga kali, Sesungguhnya ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya apa yang akan menjadi keturunannya. Lalu ditampakkan keturunannya itu kepadanya, di antara mereka ada yang wajahnya memancar indah berseri-seri. Adam bertanya; “Wahai Rabbku, siapa ini?” Allah menjawab; “Ini anakmu, Dawud.” Adam bertanya lagi, “Wahai Rabbku, berapa umurnya?” Allah menjawab; “Enam puluh tahun.” Adam berkata; “Wahai Rabbku, tambahkan umurnya.” Allah menjawab; “Tidak, kecuali aku menambahkan dari umurmu.” Lalu ditambahkan padanya empat puluh tahun dari umurnya. Allah menetapkan dengan suatu ketetapan dan disaksikan oleh para malaikat. Ketika malaikat (maut) datang untuk mencabut nyawanya, Adam berkata; “Sesungguhnya umurku masih tersisa empat puluh tahun lagi.” Maka dikatakan kepadanya; “Sesungguhnya engkau telah memberikannya kepada anakmu, Dawud ‘alaihi salam.” Namun Adam mengingkarinya, Maka Allah ‘azza wajalla mengeluarkan catatan dan menunjukkan bukti kepadanya, akhirnya usia Daud ‘alaihis salam di genapkan menjadi seratus tahun dan usia Adam digenapkan menjadi seribu tahun.”

 

Musnad Ahmad 2579: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yakni An Nasyali dari Habib bin Abu Tsabit dari Yahya bin Al Jazzar dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di malam hari sebanyak delapan raka’at, dan witir tiga raka’at dan shalat dua raka’at. Setelah tua beliau shalat menjadi sembilan dan enam dan tiga raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2580: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Abdullah berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Hubairah berkata; telah mengabarkan kepada kami orang yang mendengar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waspadalah terhadap tiga hal yang terlaknat.” Maka ditanyakanlah kepada beliau; “Apa saja hal-hal yang terlaknat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Seseorang di antara kalian duduk (buang hajat) di tempat yang biasa digunakan untuk berteduh, di jalanan atau pada sumber air.”

 

Musnad Ahmad 2581: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza’i berkata; telah mengabarkan kepada kami Laits dari Abu Az Zubair dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas; “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, saat itu beliau sedang berpuasa.”

 

Musnad Ahmad 2582: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami anak saudaraku Ibnu Syihab dari pamannya berkata; telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bahwa Ibnu Abbas menceritakan kepadanya; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril ‘alaihis salam membacakan kepadaku satu huruf, lalu aku mengulanginya dan aku terus meminta ditambah dan ia pun menambahiku hingga mencapai tujuh huruf.”

 

Musnad Ahmad 2583: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah mengabarkan kepada kami Hibban bin Ali telah mengabarkan kepada kami Uqail bin Khalid dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik teman (seperjalanan) adalah empat orang, sebaik-baik brigade adalah empat ratus (personil), sebaik-baik pasukan adalah empat ribu (personil).” Ibnu Abbas melanjutkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda: “Dan tidaklah dua belas ribu (personil) dapat dikalahkan karena dianggap sedikit.”

 

Musnad Ahmad 2584: Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Adi telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Abdul Karim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Seorang laki-laki keluar dari Khaibar, lalu dua orang mengikutinya dan yang lain memanggil kedua orang tersebut dengan mengatakan; “Kembali, kembali.” Sampai kedua orang itu kembali, kemudian berjumpa dengan yang pertama, lalu mengatakan; “Sesungguhnya kedua orang ini adalah setan, dan aku masih tetap bersama keduanya sampai mengembalikan keduanya. Bila engkau bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sampaikan salam kepada beliau, dan beritahukan kepada beliau, bahwa kami di sini sedang mengumpulkan zakat kami. Bila berguna baginya, maka kami akan mengirimkannya kepada beliau.” Kemudian ketika orang itu tiba di Madinah dan memberitahu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka saat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menyendiri.”

 

Musnad Ahmad 2585: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat witir dengan membaca tiga (surat): “SABBIHISMA RABBIKAL A’LA, QUL YA AYYUHAL KAFIRUN dan QUL HUWALLAHU AHAD.”

 

Musnad Ahmad 2586: Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari Muhammad keluarga ‘Amru bin Utsman dari Fatimah binti Husain, ia berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami melamakan pandangan terhadap para penderita kusta.”

 

Musnad Ahmad 2587: Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Tsabit Al ‘Abdi dari Jabalah bin ‘Athiyyah dari Ishaq bin Abdullah bin Al Harits dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang di rumah salah seorang istrinya, beliau meletakkan kepalanya lalu tidur, kemudian beliau tertawa di dalam tidurnya. Ketika beliau bangun, salah seorang istrinya bertanya kepada beliau; “Engkau tertawa dalam tidurmu, apa yang membuatmu tertawa?” Beliau menjawab: “Aku kagum kepada orang-orang dari umatku, mereka mengarungi lautan ini untuk menyongsong musuh dalam rangka berjihad fi sabilillah.” Lalu beliau menyebutkan banyak kebaikan pada mereka.

 

Musnad Ahmad 2588: Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak keluar bepergian beliau mengucapkan: “ALLAHUMMA ANTA SHAAHIBU FIS SAFARI WAL KHALIIFATU FIL AHLI, ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MINAD DZUBNATI FIS SAFARI WAL KAABATI FIL MUNQALABI ALLAHUMMAGHBIDL LANAL ARDLA WAHAWWIN ‘ALAINAS SAFARA” (Ya Allah Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari beban perjalanan (kelelahan dan kesulitan perjalanan) dan kedukaan ketika kembali. Ya Allah genggamlah (pendekkanlah jarak) bumi bagi kami dan mudahkanlah perjalanan kami).”

 

Musnad Ahmad 2589: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dan Abu Sa’id Al Ma’na keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit telah menceritakan kepada kami Hilal bin Khabbab dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh ke arah (bukit) Uhud lalu bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah menggembirakanku bahwa Uhud berubah menjadi emas untuk keluarga Muhammad yang aku infakkan fi sabilillah, sehingga ketika di hari aku meninggal hanya meninggalkan dua dinar saja darinya, kecuali dua dinar yang aku persiapkan untuk melunasi hutang bila ada.” Lalu ketika beliau meninggal dunia, tidak meninggalkan dinar pun dan tidak pula dirham, tidak budak laki-laki dan tidak pula budak perempuan, beliau hanya meninggalkan baju besinya yang digadaikan kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’ gandum.

 

Musnad Ahmad 2590: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad dan Abu Ahmad Az Zubairi keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dan Hajjaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat witir dengan membaca tiga (surat); SABBIHISMA RABBIKAL A’LA, QUL YA AYYUHAL KAFIRUN dan QUL HUWALLAHU AHAD.” Ia berkata; telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Al Walid berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian menyebutkan seperti diatas.

 

Musnad Ahmad 2591: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Qasim bin Abu Az Zinad berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Habibah dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah pelaku homosex dan yang diperlakukannya, juga binatang (yang disetubuhi manusia) dan manusia yang menyetubuhi binatang. Dan barangsiapa yang menyetubuhi wanita yang mahramnya maka bunuhlah.”

 

Musnad Ahmad 2592: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Qasim bin Abu Az Zinad berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Habibah dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengutus pasukannya beliau bersabda: “Berangkatlah kalian dengan menyebut nama Allah, kalian berperang fi sabilillah melawan orang-orang yang yang kafir kepada Allah, janganlah kalian mengkhianati perjanjian, janganlah kalian curang (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan), janganlah kalian merusak jasad, janganlah kalian membunuh anak-anak dan orang-orang yang mendiami tempat-tempat ibadah.”

 

Musnad Ahmad 2593: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Qasim berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Habibah dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami (doa) untuk meredakan demam dan sakit: “BISMILLAHIL KABIR, A’UDZU BILLAHIL ‘AZHIM MIN SYARRI ‘IRQIN NA’ARIN WA MIN SYARRI HARRINNARI (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Besar. Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dari keburukan darah yang mengalir deras, dari keburukan panasnya Neraka).”

 

Musnad Ahmad 2594: Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman bin Mahdiy telah menceritakan kepada kami Syu`bah dari ‘Atho` dari Sai’d dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihidangkan senampan bubur, maka beliau pun bersabda: “Makanlah kalian dari pinggirannya dan janganlah kalian memakan dari tengahnya, karena sesungguhnya keberkahan itu turun di tengahnya.”

 

Musnad Ahmad 2595: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya pada hari Nahr tentang seseorang yang mencukur sebelum melempar (jumrah), berkurban atau menyembelih atau yang lain-lain yang didahulukan atau diakhirkan pelaksanaannya?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 2596: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza’i berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth (homosex), maka bunuhlah pelaku dan yang diperlakukannya.”

 

Musnad Ahmad 2597: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab berkata; telah mengabarkan kepada kami ‘Abbad bin Manshur dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwasanya dia mengatakan tentang orang yang menyetubuhi binatang: “Bunuhlah pelaku dan yang diperlakukannya (yakni binatangnya).”

 

Musnad Ahmad 2598: Telah menceritakan kepadaku Hujain bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Israil dari Abdul A’la dari Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar mencela leluhur Al Abbas pada masa Jahiliyah, lalu Al ‘Abbas menamparnya, maka dia mendatangi kaumnya sehingga mereka berkata; “Demi Allah, sungguh kami akan menamparnya sebagaimana dia telah menamparnya.” Lalu mereka menghunus pedang mereka, kemudian hal ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun naik ke atas mimbar dan bersabda: “Wahai manusia, siapakah penduduk bumi yang paling mulia di sisi Allah?” Mereka menyawab, “Engkau.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Al Abbas adalah bagian dariku dan aku bagian darinya, maka janganlah kalian mencela orang-orang kami yang telah meninggal, karena itu akan menyakiti orang-orang kami yang masih hidup.” Maka kaum itu datang dan berkata; “Wahai Rasulullah, kami berlindung kepada Allah dari kemarahanmu.”

 

Musnad Ahmad 2599: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; aku mendengar Sulaiman dari Mujahid bahwa orang-orang melakukan thawaf sementara Ibnu Abbas sedang duduk bersama Mihjan, maka ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” (firman Allah): (Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam), “Seandainya setetes zaqqum diteteskan, niscaya akan membuat pahit (mencemarkan) makanan (kehidupan) penduduk bumi, lalu bagaimana orang yang tidak memiliki makanan kecuali zaqqum.”

 

Musnad Ahmad 2600: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun dari manusia kecuali telah melakukan kesalahan atau hendak melakukan kesalahan, selain Yahya bin Zakaria.”

 

Musnad Ahmad 2601: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Dan bila berpuasa, beliau akan terus berpuasa hingga orang mengatakan; ‘Demi Allah, beliau tidak pernah berbuka.’ Dan bila beliau berbuka, beliau terus berbuka hingga orang mengatakan; ‘Demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa.'”

 

Musnad Ahmad 2602: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Hasan bin Shalih dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memotong kumisnya. (Demikian) pula dengan bapak kalian, Ibrahim, ia memotong kumisnya.”

 

Musnad Ahmad 2603: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Hisyam yakni Ad Dastuwa`i dari Ayyub dari Ikrimah darii Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian saling membanggakan leluhur kalian yang telah mati pada masa jahiliyah. Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh serangga yang menggelincirkan kotoran dengan hidungnya adalah lebih baik daripada leluhur kalian yang telah mati pada masa jahiliyah.”

 

Musnad Ahmad 2604: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar An Nahsyali dari Habib bin Abu Tsabit dari Yahya bin Al Jazzar dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat witir dengan tiga.

 

Musnad Ahmad 2605: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Abu Dawud berkata; telah mengabarkan kepada kami Syuraik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa seorang laki-laki berkata; “Wahai Rasulullah, apakah haji itu setiap tahun?” Beliau menjawab: “Satu kali haji atas setiap orang, jika aku katakan; ‘ya’ setiap tahun, tentu itu (akan wajib) setiap tahun.”

 

Musnad Ahmad 2606: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muslim telah menceritakan kepada kami Yazid dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku, dan aku mengatakannya bukan karena membanggakan: Aku diutus kepada semua manusia, yang (berkulit) merah dan hitam; Aku ditolong dengan rasa takut (pada musuh) dari jarak perjalanan satu bulan; Dihalalkan harta rampasan perang bagiku, yang tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku; Bumi (tanah) dijadikan sebagai masjid (tempat sujud) dan alat bersuci bagiku; Dan aku diberi hak untuk memberi syafa’at, lalu aku menangguhkannya untuk umatku, syafa’at itu bagi orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

 

Musnad Ahmad 2607: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Tsabit telah menceritakan kepada kami Hilal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ke arah (bukit) Uhud, lalu bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah menggembirakanku bahwa Uhud berubah menjadi emas untuk keluarga Muhammad yang aku infakkan fi sabilillah, sehingga ketika aku meninggal pada hari meninggalku hanya meninggalkan dua dinar saja darinya, kecuali dua dinar yang aku persiapkan untuk melunasi hutang bila ada.” Lalu ketika beliau meninggal dunia, tidak meninggalkan dinar pun dan tidak pula dirham, tidak budak laki-laki dan tidak pula budak perempuan, beliau hanya meninggalkan baju besinya yang digadaikan kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’ gandum.

 

Musnad Ahmad 2608: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan Abu Sa’id dan ‘Affan mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit telah menceritakan kepada kami Hilal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi Umar, saat itu beliau sedang berada di atas tikar yang membekas pada tubuh beliau, maka Umar berkata; “Wahai Nabiyullah, mengapa engkau tidak menggunakan kasur yang lebih baik dari ini?” beliau menjawab: “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dan dunia hanya seperti seorang penunggang yang berjalan pada hari yang panas, lalu ia berteduh sesaat di siang hari di bawah sebuah pohon, kemudian bertolak lagi meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 2609: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Tsabit telah menceritakan kepada kami Hilal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi musuh dan belum tuntas hingga menangguhkan Ashar dari waktunya. Maka ketika beliau menyadari hal itu, berliau berdoa: “Ya, Allah, orang-orang yang menahan kami dari melaksanakan shalat wustha, maka penuhilah rumah-rumah mereka dengan api dan penuhilah kubur-kubur mereka dengan api pula dan yang serupa itu.”

 

Musnad Ahmad 2610: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan ‘Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Hilal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Subuh, yaitu di akhir shalat setelah mengucapkan, SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH pada raka’at terakhir. Beliau mendoakan keburukan atas mereka, yakni (beberapa) kabilah dari bani Sulaim, yaitu Ri’l, Dzakwan dan Ushayyah, orang-orang yang ada di belakang beliau mengamini. Beliau pernah mengirim utusan kepada mereka untuk mengajak memeluk Islam, namun mereka justru membunuh utusan tersebut.” ‘Affan berkata dalam haditsnya, ia berkata; Ikrimah berkata; “Ini adalah permulaan qunut.”

 

Musnad Ahmad 2611: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Al Hakam dan Abu Bisyr dari Maimun bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan) setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar.

 

Musnad Ahmad 2612: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Ibnu Buraidah berkata; telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ya’mar dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan: “ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHASAMTU A’UDZU BI’IZZATIKA LA ILAHA ILLA ANTA AN TUDLILLANI ANTA AL HAYYU ALLADZI LA TAMUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUTUNA (Ya Allah, kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku bertaubat, denganMu aku bertikai (dengan lawan). Aku berlindung kepadaMu dengan kemuliaanMu, tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkanku, Engkau Maha Hidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia semuanya mati).”

 

Musnad Ahmad 2613: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hind dari ‘Amru bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Dlimad Al Azdi tiba di Makkah lalu ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara anak-anak tengah membuntutinya, lalu ia berkata; “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bisa mengobati kegilaan.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan: “Sesungguhnya segala puji milik Allah, kami memohon pertolongan kepadaNya dan memohon ampunan kepadaNya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami. Barangsiapa yang ditunjuki Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat menunjukkinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya.” Ia Ibnu Abbas berkata; Kemudian beliau bersabda: “Coba ucapkan kepadaku kalimat-kalimat ini.” Ibnu Abbas berkata; Ia berkata; “Aku pernah mendengar syair, mantra dan perdukunan (jampi), namun aku belum pernah mendengar seperti kalimat-kalimat ini, sungguh itu telah mencapai kamus lautan, dan sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya.” Lalu ia pun memeluk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Atas namamu dan kaummu?” Ibnu Abbas berkata; Ia menjawab; “Ya, atas namaku dan kaumku.” Ia berkata; Lalu setelah itu, sepasukan yang terdiri dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpapasan dengan kaum Dlimad, sehingga sebagian mereka memperoleh dari mereka barang-barang perabotan dan yang selainnya, maka mereka berkata; “mereka dalah kaumnya Dlimad, kembalikanlah (barang-barang itu).” Ibnu Abbas berkata; Maka mereka mengembalikannya.

 

Musnad Ahmad 2614: Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Al Mada`ini berkata; telah mengabarkan kepada kami ‘Abbad bin Al ‘Awam dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Husain bin Abdullah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Umu Al Fadhl, putri Al Harits datang membawa Umu Habibah binti Abbas, lalu meletakkannya di pangkuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bayi itu kemudian kencing, maka Umu Al Fadhl segera mengambilnya, kemudian mendekapnya di antara kedua bahunya, lalu menggendongnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambilkan aku secangkir air.” Kemudian beliau menyiramkan ke bekas kencingnya dan bersabda: “Siramkan air pada bekas kencing itu.”

 

Musnad Ahmad 2615: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Ziyad bahwa Qaza’ah mantan budak Abdul Qais telah mengabarkan kepadanya; bahwasanya ia mendengar Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas berkata; Ibnu Abbas berkata; “Aku melakukan shalat di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan Aisyah di belakang kami yang juga shalat bersama kamidan aku sendiri di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, shalat bersama beliau.”

 

Musnad Ahmad 2616: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Ayyub bin ‘Utbah dari Yahya bin Abu Katsir dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli gharar.” Ayyub berkata; bahwasanya Yahya menafsirkan jual beli gharar, dia berkata; “Di antara bentuk (jual beli) gharar adalah (menjual sesuatu) yang diperoleh dengan menyelam terlebih dahulu, menjual budak yang kabur, menjual unta yang tersesat, (jual beli) gharar adalah janin yang masih dalam perut binatang, (jual beli) gharar adalah jual beli hasil tambang yang masih terpendam, (jual beli) gharar adalah susu yang masih di dalam ambing binatang, kecuali dengan ditakar.”

 

Musnad Ahmad 2617: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud dengan merenggang, sehingga aku melihat putih ketiak beliau.”

 

Musnad Ahmad 2618: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Adh Dhahak dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LA SYARIKA LAKA LABBAIKA INAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULKI LA SYARIKA LAKA (Aku penuhi panggilanMu. Aku penuhi panggilanMu ya Allah. Tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan serta kerajaan hanyalah milikMu. Tidak ada sekutu bagiMu.”

 

Musnad Ahmad 2619: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Dibawakan keju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wadah, lalu beliau bertanya; “Di mana dibuat?” mereka menjawab; “Persia, kami melihat bahwa itu dibuat dengan bahan dari bangkai.” Beliau bersabda: “Tusukkan pisau padanya dan sebutlah nama Allah, lalu makanlah.” Sesekali Syarik menyebutkan dengan adanya penambahan di dalamnya; “Lalu mereka memukulinya dengan tongkat.”

 

Musnad Ahmad 2620: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Al Hasan yakni Ibnu Shalih dari ayahnya dari Salamah bin Kuhail dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu beliau sedang berada di gudangnya (ruang atas), lalu Umar berkata; “Assalamu’alaika ya Rasulullah, assalamu’alaika. Bolehkah Umar masuk?”

 

Musnad Ahmad 2621: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila kalian berselisih tentang jalanan, maka sisakan sebesar tujuh hasta, kemudian bangunlah. Dan barangsiapa yang tetangganya meminta (izin) untuk menyandarkan (kayu) pada dindingnya, hendaklah ia membiarkannya.”

 

Musnad Ahmad 2622: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Ibnu Al Ashbahani dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan Makkah, lalu beliau tinggal di sana selama tujuh belas hari dengan melaksanakan shalat dua raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2623: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Husain bin Abdullah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Barangsiapa yang budak perempuannya melahirkan anak darinya, maka budaknya itu menjadi merdeka setelah kematiannya.” Atau ia berkata; “Setelah ketiadaannya.”

 

Musnad Ahmad 2624: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Husain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan mengenakan satu pakaian yang menyelimutinya, beliau menghindari dingin dan panasnya tanah dengan sisa pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2625: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa seorang badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berbicara dengan susunan kata yang indah, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah terdapat sihir, dan sesungguhnya di antara sya’ir ada (yang mengandung) hukum.”

 

Musnad Ahmad 2626: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim dari Abdullah bin Utsman dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Sesungguhnya beberapa pembesar Quraisy berkumpul di Hijr, lalu mereka bersumpah setia pada Latta, ‘Uzza, dan yang tiga lainnya, Nailah dan Isaf; “Bila kita telah melihat Muhammad, maka kita harus menghampirinya bersamaan, kemudian kita tidak akan meninggalkannya hingga kita membunuhnya.” Maka Fatimah, putri beliau, radliallahu ‘anha kembali sambil menangis hingga masuk ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Para pembesar Quraisy itu telah mengintaimu, bila mereka telah melihatmu, niscaya mereka akan menyergapmu lalu membunuhmu, dan tidak ada seorang pun dari mereka kecuali telah mengetahui bagiannya dari darahmu.” Beliau bersabda: “Wahai putriku, tunjukkan tempat wudlu kepadaku.” Lalu beliau pun berwudlu dan masuk ke masjid dengan melewati mereka, tatkala mereka melihatnya, mereka pun berkata; “Ini dia.” Namun pandangan mereka menjadi tertunduk, dagu mereka pun terkulai ke dada mereka dan mereka terpaku di tempat duduk semula, mereka tidak mengangkat pandangan kepada beliau, dan tidak seorang pun dari mereka yang bangun menghampiri beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali hingga berdiri di dekat kepala mereka, lalu beliau mengambil segenggam pasir, kemudian bersabda: “Memburuklah wajah-wajah (ini).” Lalu beliau menaburi mereka dengan pasir itu. Ternyata, tidak seorang pun dari mereka yang terkena taburan pasir itu, kecuali ia tewas pada perang Badar sebagai orang kafir.”

 

Musnad Ahmad 2627: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Nafi’ bin Yazid bahwa Qais bin Al Hajjaj telah menceritakan kepadanya; bahwa Hanasy telah menceritakan kepadanya; bahwa Ibnu Abbas telah menceritakan kepadanya, ia berkata; Aku dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda kepadaku: “Wahai anakku, aku akan menceritakan kepadamu satu hadits; Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering. Maka, seandainya umat ini hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah ‘azza wajalla tetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan bisa. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu, dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan bisa.”

 

Musnad Ahmad 2628: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq dan Musa bin Dawud keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah bin Hubair, Yahya menyebutkan dari Al A’raj sedangkan Musa tidak menyebutkan dari Al A’raj, dari Hanasy dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk buang air, kemudian beliau mengusap dengan pasir, maka aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau dekat dengan air.” Beliau bersabda: “Aku tidak tahu, mungkin aku tidak dapat menjangkaunya.” (Ahmad bin Hambal berkata); di kesempatan lain Yahya menyebutkan; Aku sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau keluar untuk buang air, kemudian beliau mengusap pasir dan bertayammum. Maka dikatakan kepada beliau; “Sesungguhnya air dekat dengan kita.”

 

Musnad Ahmad 2629: telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Kudainah dari Al A’masy dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat lima waktu di Mina.

 

Musnad Ahmad 2630: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Huraim dari Laits dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa optimis dan tidak pernah bertathayyur (berfirasat buruk) dan beliau menyukai nama yang baik.”

 

Musnad Ahmad 2631: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Risydin telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al Harits dari Bukair bin Al Asyajj dari Kuraib dari Ibnu Abbas; bahwasanya ia melihat Abdullah bin Al Harits shalat sementara (rambut) kepalanya disanggul di belakang kepalanya. Lalu Ibnu Abbas berdiri di belakangnya dan melepaskannya, dan hal itu disetujui oleh yang lainnya. Kemudian (selesai shalat), Abdullah bin Al Harts menghadap Ibnu Abbas dan berkata; “Apa urusanmu dengan (rambut) kepalaku?” Ibnu Abbas menjawab; Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan seperti ini seperti orang yang shalat sementara kedua tangannya diikat ke belakang.”

 

Musnad Ahmad 2632: telah menceritakan kepadaku Mua’wiyah bin ‘Amru, Za`idah berkata; telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian meminum dengan menggunakan al hantam, ad dubba` dan al muzaffat. Dan minumlah kalian dari tempat air yang terbuat dari kulit.”

 

Musnad Ahmad 2633: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Sufyan dari Habib bin Abu Amrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Kaum muslimin berharap agar bangsa Romawi dapat mengalahkan bangsa Persia, karena mereka adalah ahlu kitab. Sementara kaum musyrikin berharap agar bangsa Persia dapat mengalahkan bangsa Romawi, karena mereka adalah penyembah berhala. Lalu mereka menyatakan hal itu kepada Abu Bakar, lalu Abu Bakar menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya; “Ketahuilah bahwa mereka akan mendapat kemenangan.” Lalu Abu Bakar menyampaikan hal itu kepada mereka, mereka pun berkata; “Tentukan waktunya antara kami dan engkau. Bila mereka menang, maka bagimu anu dan anu. Dan bila mereka menang, maka bagi kami anu dan anu.” Lalu ditetapkanlah waktu lima tahun, namun mereka (bangsa Romawi) belum juga memperoleh kemenangan. Maka Abu Bakar menyampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Mengapa engkau tidak menjadikannya – (tampaknya) beliau mengatakan: – Kurang dari sepuluh tahun.” -Sa’id bin Jubair menerangkan; “Al Bidl’u adalah di bawah sepuluh.”- Ibnu Abbas melanjutkan; “Kemudian setelah itu bangsa Romawi memperoleh kemenangan. Itulah (makna) dari firman Allah Ta’ala: (Alif laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi). Ibnu Abbas berkata; lalu bangsa Romawi dapat dikalahkan, kemudian memperoleh kemenangan setelah itu. ia berkata lagi; (Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang), dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah) kaum mukminin pun bergembira karena pertolongan Allah.

 

Musnad Ahmad 2634: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Duwaid dari Salm bin Basyir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua orang mukmin akan berjumpa di depan pintu surga, keduanya adalah seorang mukmin yang kaya dan seorang mukmin yang fakir saat di dunia. Lalu si fakir dimasukkan ke dalam surga, sementara si kaya tertahan selama yang dikehendaki Allah untuk tertahan, kemudian dimasukkan ke dalam surga, lalu ia ditemui oleh si fakir tadi dan bertanya; ‘Wahai saudaraku, apa yang menahanmu? Demi Allah, engkau telah tertahan sehingga aku mengkhawatirkanmu.’ Ia pun menjawab; ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tertahan setelahmu dengan penahanan yang berat dan tidak menyenangkan, dan aku tidak juga sampai kepadamu hingga keringat mengucur dariku yang jika diminum oleh seribu unta yang kesemuanya sedang kehausan, niscaya semuanya akan merasa kenyang karenanya.'”

 

Musnad Ahmad 2635: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Yazid bin ‘Atho` dari Habib Ibnu Abu Amrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (menggunakan) Ad Dubba`, Al Hantam, Al Muzaffat dan An Naqir serta mencampur (rendaman) Al Balah (kurma mentah) dengan Az Zahwu (kurma mateng).”

 

Musnad Ahmad 2636: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Yazid yakni Ibnu ‘Atho` dari Yazid yakni Ibnu Abu Ziyad dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang, saat itu beliau sedang sakit, lalu beliau thawaf di atas untanya dengan membawa tongkat. Setiap kali melewatinya (hajar aswad) beliau beristilam kepadanya. Ketika telah selesai dari thawafnya beliau menderumkan untanya lalu mengerjakan shalat dua raka’at.”

 

Musnad Ahmad 2637: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah laki-laki bercumbu dengan sesama laki-laki dan wanita bercumbu dengan sesama wanita.”

 

Musnad Ahmad 2638: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika turun larangan khamar, mereka berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang telah mati sementara mereka pernah meminum khamar?” maka turunlah ayat: (Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh Karena memakan makanan yang Telah mereka makan dahulu) sampai akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 2639: Telah menceritakan kepada kami Khalaf telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika (arah) kiblat dipindahkan, maka ditanyakanlah kepada Nabi; “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang orang-orang yang telah mati sedangkan mereka shalat menghadap ke Baitul Maqdis?” Maka turun lah ayat: (Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu).

 

Musnad Ahmad 2640: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abu Al Abbas telah menceritakan kepada kami Syarik dari Mukhawwal dari Muslim bin Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat witir dengan membaca tiga (surat): “SABBIHISMA RABBIKAL A’LA, QUL YA AYYUHAL KAFIRUN dan QUL HUWALLAHU AHAD.”

 

Musnad Ahmad 2641: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Wuhaib bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan; dahi, -kemudian beliau menunjuk dengan tangannya ke arah hidungnya, kedua tangan, kedua lutut dan ujung-ujung kaki.- Dan agar kita tidak menahan (menyibukkan diri) dengan pakaian dan rambut.”

 

Musnad Ahmad 2642: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Al Barra` bin Abdullah Al Ghanawi dari kalangan mereka, ia berkata; aku mendengar Abu Nadhrah menceritakan; ia berkata; Ibnu Abbas pernah berdiri di atas mimbar ini, dia mengatakan; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu meminta perlindungan dari empat perkara di setiap akhir shalat, beliau bersabda: “ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QABRI ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIN NARI ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL FITANI MA ZHAHARA MINHA WAMA BATHANA ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN FITNATI AL A’WAR AL KADZAB (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur, Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab Neraka, Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari seluruh fitnah yang nampak dan tersembunyi, Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari fitnah yang buta lagi pendusta (Dajjal)).”

 

Musnad Ahmad 2643: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari ayahnya dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang dibunuh karena terdzalimi maka ia syahid.”

 

Musnad Ahmad 2644: Telah menceritakan kepada kami Musa telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab bahwa Ubaidullah bin Abdullah telah mengabarkan kepadanya, bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan suratnya kepada Kisra yang diantar oleh seorang laki-laki, beliau menyuruhnya agar menyerahkannya kepada pembesar Bahrain, lalu ia menyerahkannya kepada pembesar Bahrain agar disampaikan ke Kisra. Setelah membacanya, ia merobeknya. Shalih bin Kaisan berkata; Saya mengira Ibnu Musayyab berkata; “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan untuk mereka agar mereka cabik-cabik dengan sehancur-hancurnya.”

 

Musnad Ahmad 2645: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Az Zubair telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku mengamati shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku melihat beliau merenggangkan (tubuh dan tangan) hingga aku melihat putih ketiak beliau.”

 

Musnad Ahmad 2646: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabah telah menceritakan kepada kami Isma’il yakni Ibnu Zakaria, dari Abdullah yakni Ibnu Utsman, dari Abu Ath Thufail dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika singgah di Marr Azh Zhahran saat melaksanakan umrahnya, sampailah berita kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kaum Quraisy mengatakan; “Mereka tidak akan kuat berjalan cepat karena lemah dan kurus.” Maka para sahabat beliau berkata; “Bagaimana kalau kita sembelih tunggangan kita lalu kita makan daging dan meminum kuahnya, sehingga besok ketika kita masuk pada kaum mereka, kita tampak segar dan fit.” Beliau bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, akan tetapi kumpulkan perbekalan kalian padaku.” Maka mereka mengumpulkan kepada beliau dan mereka menghamparkan tikar, kemudian mereka makan sampai kenyang, lalu masing-masing mereka meminum kuahnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang hingga masuk masjidil haram, sementara itu kaum Quraisy sedang duduk di arah Hijr. Maka beliau melipat sorbannya (dari ketiak kanan ke pundak kiri), lalu beliau bersabda: “Orang-orang itu tidak melihat cela pada kalian.” Kemudian beliau beristilam (menyentuh, mencium atau isyarat) pada rukun, kemudian masuk sampai ketika telah melalui rukun Yamani beliau berjalan ke rukun aswad, lalu kaum Quraisy mengatakan; “Mereka tidak rela berjalan, mereka meloncat seperti kijang betina.” Beliau melakukan itu tiga kali putaran, kemudian hal itu menjadi sunnah. Abu Thufail berkata; “Dan telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan demikian pada haji wada’.”

 

Musnad Ahmad 2647: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais dari ‘Amru bin Malik An Nukri dari Abu Al Jauza` dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Seorang wanita cantik shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ia melanjutkan, “Sementara itu sebagian orang berusaha menempati shaf pertama agar tidak melihatnya, sebagian lainnya mengakhirkan diri hingga menempati shaf terakhir. Maka ketika ruku’ beliau melihat dari bawah kedua ketiaknya. Lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Dan Sesungguhnya kami Telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan Sesungguhnya kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu)).”

 

Musnad Ahmad 2648: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Hilal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa seorang wanita dari kaum Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa (daging) kambing yang telah diracun. Lalu beliau mengirim utusan kepadanya, untuk menanyakan kepadanya; “Apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah engkau perbuat ini?” ia menjawab; “Aku mau.” Atau ia berkata; “Aku ingin, bila engkau seorang nabi, maka Allah akan memberitahumu tentang itu, namun bila engkau bukan nabi, aku akan menentramkan manusia darimu.”

 

Musnad Ahmad 2649: Melalui perwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika merasakan pengaruh (daging beracun) itu, maka beliau berbekam.” Ia Ibnu Abbas berkata; “Suatu kali beliau bepergian, maka ketika ihram, beliau merasakan pengaruh (daging beracun) itu, lalu beliau pun berbekam.”

 

Musnad Ahmad 2650: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Abu Uwais telah menceritakan kepada kami Katsir bin Abdullah bin ‘Amru bin Auf Al Muzani dari ayahnya dari kakeknya; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan untuk Bilal bin Al Harits Al Muzani lahan penambangan di wilayah Qabaliyah, dataran tingginya dan dataran rendahnya, yang mana dataran tingginya bisa ditanami, dan beliau tidak memberinya hak muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menuliskan (keputusan ini) untuknya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini yang diberikan oleh Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Bilal bin Al Harts Al Muzani. Dia memberinya lahan penambangan Qabaliyyah; dataran tingginya dan dataran rendahnya, yang bisa ditanami dataran tingginya, dan dia tidak memberinya hak muslim.” Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Abu Uwais berkata; telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Zaid mantan budak bani Ad Dil bin Bakr bin Kinanah, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2651: Telah menceritakan kepada kami Suraij dan Yunus keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Abdullah bin Utsman dari Abu Thufail dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukan umrah dari Ji’ranah, dan mereka berlari-lari kecil di Baitullah tiga (putaran) dan berjalan empat (putaran).

 

Musnad Ahmad 2652: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari ‘Atho` Al Aththar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersedekah dengan satu dinar, bila tidak mendapatkannya, maka dengan setengah dinar.”

 

Musnad Ahmad 2653: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi telah menceritakan kepada kami Isma’il yakni Ibnu Ja’far, berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad yakni Ibnu Abu Harmalah, dari Kuraib bahwa Ummu Al Fadhl binti Al Harits mengutusnya menghadap Mu’awiyah di Syam, ia menuturkan; aku pun pergi ke Syam dan menyelesaikan tugas darinya. Sementara hilal Ramadlan sudah terlihat olehku, saat itu aku masih berada di Syam, kami melihat hilal pada malam jum’at. Kemudian aku kembali menuju Madinah pada akhir bulan. Sesampainya disana Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku sambil menyebut hilal, dia berkata; “Kapan kalian melihatnya (hilal)?” maka aku menjawab; “Kami melihatnya pada malam jum’at.” Ia bertanya; “Apakah engkau melihatnya sendiri?” aku berkata; “Ya dan juga dilihat oleh orang-orang, sehingga mereka berpuasa, demikian juga Mu’wiyah.” Ia berkata; “Akan tetapi kami di sini melihatnya pada malam sabtu, sehingga kami masih akan berpuasa sampai genap tiga puluh atau kami melihatnya (hilal) lagi.” Aku berkata; “Tidak cukupkah ru`yahnya Mu’awiyah dan puasanya?” ia menjawab; “Tidak, demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan.”

 

Musnad Ahmad 2654: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman berkata; telah mengabarkan kepada kami Isma’il berkata; telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind dari ayahnya dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Dia akan memahamkan dalam agama.”

 

Musnad Ahmad 2655: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Musa dari Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind berkata; telah menceritakan kepadaku Tsaur dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh ke kanan dan ke kiri dalam shalatnya namun beliau tidak memutar lehernya.”

 

Musnad Ahmad 2656: Telah menceritakan kepada kami Suraij dan Yunus keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Abdullah bin Utsman dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukan umrah dari Ji’ranah, mereka melipatkan sorbannya (dari ketiak kanan ke bahu kiri) di bawah ketiak mereka. Telah menceritakan kepada kami Yunus; “Mereka menjadikan sorban-sorban mereka.” Yunus berkata; “kemudian menyilangkannya ke atas bahu kiri mereka.”

 

Musnad Ahmad 2657: Telah menceritakan kepada kami Suraij dan Yunus keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, dari Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa kaum Quraisy berkata; “Sesungguhnya Muhammad dan para sahabatnya telah dibuat lemah oleh demam Yatsrib.” Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang pada tahun dimana beliau melakukan umrah, beliau bersabda kepada para sahabatnya: “Berlari-lari kecillah kalian tiga kali (putaran) di Baitullah agar kaum musyrikin melihat kekuatan kalian.” Tatkala mereka berlari-lari kecil, kaum Quraisy berkata; ” (Demam) itu tidak melemahkan mereka.”

 

Musnad Ahmad 2658: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah mengabarkan kepada kami Hammad dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril pergi bersama Ibrahim menuju Jamrah ‘Aqabah, lalu setan menampakkan diri kepadanya (Ibrahim). Kemudian dia (Ibrahim) melemparinya dengan tujuh kerikil, setan itupun hilang. Kemudian ia menghampiri jumrah wustha, setan itu pun menampakkan lagi, lalu Ibrahim pun melemparinya dengan tujuh kerikil, lalu setan itu pun menghilang. Kemudian ia (Ibrahim) mendatangi Jumrah qushwa, setan itu pun menampakkan kembali, lalu Ibrahim melemparinya dengan tujuh kerikil, lalu setan itu pun menghilang. Kemudian, ketika Ibrahim hendak menyembelih putranya Ishaq, ia berkata kepada ayahnya; ‘Wahai ayah, ikatlah aku agar tidak berontak sehingga darahku mengenaimu ketika engkau menyembelihku.’ Maka Ibrahim pun mengikatnya, ketika Ibrahim mengambil pisau dan hendak menyembelih, diserukan dari belakangnya; (Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu).”

 

Musnad Ahmad 2659: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hajar Aswad berasal dari surga, dahulu dia berwarna sangat putih melebihi (putihnya) salju, hingga akhirnya hitam karena kesalahan-kesalahan para pelaku syirik.”

 

Musnad Ahmad 2660: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lisan yang dapat berbicara, dan sungguh ia akan bersaksi terhadap siapa pun yang telah beristilam kepadanya dengan benar.” Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim

 

Musnad Ahmad 2661: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Aku telah diperintahkan untuk bersiwak hingga aku mengira bahwa akan diturunkan Al Qur`an kepadaku atau wahyu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamlah yang telah mengatakan ini.

 

Musnad Ahmad 2662: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat Fajar (Subuh) hari Jum’at, beliau membaca: ALIF LAAM MIM TANZIL (surat As Sajdah) dan HAL ATA ‘ALAL INSAN HINUM MINAD DAHRI (surat Al Insan).

 

Musnad Ahmad 2663: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah mantan budak Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas apabila mandi janabah, ia menuangkan air dengan telapak kanannya ke tangan kirinya lalu mencucinya sebanyak tujuh kali sebelum memasukkannya ke dalam bejana. Pernah suatu ketika ia lupa, sudah berapa kali dia menuangkan air ke tangannya, sehingga dia bertanya kepadaku, “Berapa kalikah yang telah aku tuangkan?” aku menjawab; “Aku tidak tahu.” Dia berkata; “Semoga kamu kehilangan ibumu. Mengapa engkau tidak tahu?” kemudian dia berwudlu seperti wudlu untuk shalat lalu menyiramkan air pada kepala dan tubuhnya. Ia pun berkata; “Beginilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersuci yakni mandi.”

 

Musnad Ahmad 2664: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Al A’masy dari ‘Amru bin Murrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ketika Allah menurunkan ayat: (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat) ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke bukit Shafa lalu menaikinya kemudian berseru: “wahai kerabatku, ” maka berkumpullah orang-orang kepada beliau, ada yang datang sendiri dan ada pula yang mengirim utusan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai bani Abdul Muththalib, wahai bani Fahr, wahai bani Lu`ai, apa pendapat kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian bahwa pasukan berkuda ada di balik bukit ini yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” mereka menjawab; “Ya.” Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian tentang adzab yang sangat pedih.” Maka Abu Lahab berkata; “Binasalah engkau sepanjang masa, apakah untuk ini engkau memanggil kami?” lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: (Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa)

 

Musnad Ahmad 2665: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, ia mangaku bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membagikan kambing pada hari Nahr kepada para sahabatnya, dan bersabda: “Sembelihlah ia (kambing itu) untuk umrah kalian, karena sesungguhnya ia mencukupi dari kalian.” Saat itu Sa’d bin Abu Waqas mendapat kambing jantan.

 

Musnad Ahmad 2666: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Kahmasy bin Al Hasan dari Al Hajjaj bin Al Furafishah, Abu Abdurrahman yaitu Abdullah bin Yazid, berkata; dan aku telah melihatnya di jalan lalu ia memberi salam kepadaku, saat itu aku masih kecil, ia merafa’kan (riwayat) kepada Ibnu Abbas atau menyandarkannya kepada Ibnu Abbas. Ahmad bin Hambal berkata; dan telah menceritakan kepadaku Hammam bin Yahya Abu Abdullah sahabat Al Bashri, ia menyandarkannya kepada Ibnu Abbas. Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Lahi’ah dan Nafi’ bin Yazid Al Misriyyan dari Qais bin Al Hajjaj dari Hanasy Ash Shan’ani dari Ibnu Abbas, dan aku tidak hafal (detail) hadits sebagian mereka dari sebagian lainnya, bahwa ia berkata; Aku dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda: “Wahai anak.” Atau beliau mengatakan: “Wahai anak kecil, maukah kamu aku ajari beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat.” Aku menjawab; “Ya.” Lalu beliau bersabda: “Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Telah kering pena dengan apa yang telah terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu. Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.”

 

Musnad Ahmad 2667: Telah menceritakan kepada kami Al Asyja’i dari Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Al Hasan Al ‘Urani dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku bersama seorang anak kecil dari bani Abdul Muththalib datang menunggang keledai sementara itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat.” Ia berkata; “Lalu kami melepaskannya di depan kami untuk merumput dan beliau tidak memutus (shalatnya).” Ia berkata lagi; “Dan datang pula dua anak perempuan dari bani Abdul Muththalib saling berkejaran, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah mereka berdua namun beliau tidak memutus (shalatnya), demikian pula ketika seekor anak kambing terjatuh, beliau tidak memutus (shalatnya).”

 

Musnad Ahmad 2668: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Al Walid berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi janabah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan mandi dari sisa air darinya, lalu istri Nabi itu berkata; “Sesungguhnya aku tadi mandi dari (air) itu.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya air tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”

 

Musnad Ahmad 2669: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.” Abdullah berkata; ayahku berkata dalam haditsnya; telah menceritakannya kepada kami dan Waki’ dalam Al Mushannaf, dari Sufyan dari Simak dari Ikrimah kemudian setelah itu menyebutkan dari Ibnu Abbas.

 

Musnad Ahmad 2670: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Laila dari ‘Atha` dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Umrah pada bulan Ramadlan menyamai (pahala) haji.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair berkata; telah mengabarkan kepada kami Hajjaj dari ‘Atha` dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2671: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Abdul A’la dari Yahya yakni Ibnu Abu Ishaq, dari Sa’id bin Abu Al Hasan berkata; seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas lalu berkata; “Wahai Abu Al Abbas, sesungguhnya aku adalah orang yang menggambar gambar-gambar ini dan aku yang membuat gambar-gambar ini.” Ibnu Abbas berkata; “Dekatkan ia padaku.” Lalu orang itu mendekat kepadanya sampai meletakkan tangannya di atas kepalanya. Ibnu Abbas berkata; “Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap penggambar di Neraka. Akan dibuatkan jiwa untuknya pada setiap gambar yang digambarnya, yang akan menyiksanya di dalam Jahannam.” Jika engkau harus melakukannya maka gambarlah pepohonan atau sesuatu yang tidak memiliki nyawa.”

 

Musnad Ahmad 2672: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Maimun Az Za’farani berkata; telah menceritakan kepadaku Ja’far dari ayahnya dari Yazid bin Hurmuz berkata; Najdah menulis surat kepada Ibnu Abbas menanyakan tentang lima perkara, lalu Ibnu Abbas berkata; “Orang-orang mengira bahwa Ibnu Abbas berkomunikasi dengan kalangan Haruriyyah, seandainya aku tidak khawatir menyembunyikan ilmu niscaya aku tidak akan membalas surat kepadanya.” Najdah menulis surat kepadanya (yang isinya), “Amma ba’du, beritahukan kepadaku apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berperang yang disertai oleh wanita mereka? Dan apakah beliau memberikan bagian kepada mereka? Apakah beliau membunuh anak-anak? Kapan berakhirnya (status) anak yatim? Dan beritahukan kepadaku tentang bagian yang seperlima, untuk siapakah itu?” maka Ibnu Abbas pun mengirim surat kepadanya (yang isinya); “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berperang yang disertai kaum wanita, mereka mengobati orang-orang sakit (terluka), tapi beliau tidak menetapkan bagian untuk mereka, hanya beliau memberikan sekedarnya kepada mereka dari harta rampasan perang. Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membunuh anak-anak, maka janganlah kalian membunuh anak-anak kecuali engkau mengetahui seperti apa yang diketahui oleh Al Khaidlir dari anak yang dibunuhnya itu. Maka hendaklah engkau membunuh orang kafir dan membiarkan orang mukmin. Engkau menulis bertanya kepadaku tentang anak yatim, kapan berakhir (status yatimnya)? Sungguh ada laki-laki yang telah tumbuh janggutnya namun ia lemah dalam mengurus dirinya, maka apabila ia telah mampu mengurus dirinya dengan baik seperti orang-orang mengurus diri mereka, maka telah hilang (status) yatimnya. Adapun bagian seperlima maka kami berpendapat adalah untuk kami (kerabat Nabi), namun kaum kami menolaknya.”

 

Musnad Ahmad 2673: Ia berkata; aku membacakan kepada Abdurrahman dari Malik dari Abu Az Zubair Al Makki dari Thawus dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melakukan shalat pada pertengahan malam beliau mengatakan: ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA NURUS SAMAWATI WAL ARDLI WAMAN FI HINNA WA LAKAL HAMDU ANTA QAYYAMUS SAMAWATI WAL ARDLI WAMAN FI HINNA WA LAKAL HAMDU ANTA RABBUS SAMAWATI WAL ARDLI WAMAN FI HINNA WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQ WA QAULUKAL HAQQ WA WA’DUKAL HAQ WA LIQA`UKA HAQQ WAL JANNATU HAQQ WAN NARU HAQQ WAS SA’ATU HAQQ ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHASHAMTU WA ILAIKA HAKAMTU FAGHFIR LI MA QADDAMTU WA AKHARTU WA ASRARTU WA A’LANTU ANTA ILAHI LA ILAHA ILLA ANTA (Ya Allah, milikMu segala pujian. Engkaulah cahaya semua langit dan bumi. MilikMu segala pujian, Engkaulah pengatur semua langit dan bumi. MilikMu segala pujian, Engkaulah Rabb semua langit dan bumi serta siapa pun yang ada di dalamnya. Engkaulah yang Maha Benar. firmanMu adalah benar, janjiMu adalah benar, pertemuan denganmu adalah benar. Surga adalah benar (adanya). Neraka adalah benar (adanya), kiamat adalah benar (adanya). Ya Allah kepadaMu aku berserah diri kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku bertaubat, denganMu aku bertikai (dengan lawan), kepadaMu aku berhukum, maka ampunilah dosaku baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang aku sembunyikan maupun yang terang-terangan. Engkaulah Rabbku tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau).”

 

Musnad Ahmad 2674: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Za`idah. Dan Abdush Shamad berkata; telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat di atas tikar kecil.

 

Musnad Ahmad 2675: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara sya’ir ada (yang mengandung) hukum, dan di dalam susunan kata yang indah terdapat sihir.”

 

Musnad Ahmad 2676: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Az Zubair dari Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan thawaf sampai malam hari pada hari Nahr.

 

Musnad Ahmad 2677: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Zuhair dari ‘Amru yakni Ibnu Abu ‘Amru, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat orang yang menyembelih bukan karena Allah, Allah melaknat orang yang mengubah batas-batas tanah, Allah melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalanan, Allah melaknat orang yang mencela orang tuanya, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Dan Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.

 

Musnad Ahmad 2678: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Israil dari Abdul Karim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang meniup ke dalam makanan dan minuman.”

 

Musnad Ahmad 2679: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Habib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Seorang yang beriman kepada Allah dan RasulNya tidak akan marah kepada kaum Anshar.” Atau “Kecuali ia dimurkai Allah dan RasulNya.”

 

Musnad Ahmad 2680: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Rauh Al Ma’na keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Auf dari Zurarah bin Aufa dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam aku diisra`kan, keesokan paginya aku berada di Makkah, lalu aku merasa tertekan dengan perkaraku, dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku.” Lalu beliau duduk menyendiri dengan kesedihan. Ibnu Abbas berkata; lewatlah Abu Jahal, musuh Allah, datang hingga duduk di dekat beliau, kemudian ia bertanya kepada beliau dengan nada mengejek; “Ada sesuatu yang terjadi?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya.” Ia bertanya; “Apa itu?” beliau menjawab: “aku telah diisra`kan tadi malam.” Ia bertanya; “kemana?” beliau menjawab: “Ke Baitul Maqdis.” Ia bertanya lagi; “Kemudian pagi ini engkau telah berada di tengah-tengah kami?” beliau menjawab: “Ya.” Ibnu Abbas berkata; Abu Jahal tidak memperlihatkan bahwa dirinya mendustakan beliau khawatir beliau menolak menceritakannya, bila ia memanggil kaumnya kepada beliau. Abu Jahal berkata; “Bagaimana menurutmu jika aku memanggil kaummu lalu engkau ceritakan kepada mereka apa yang telah engkau ceritakan kepadaku?” beliau menjawab: “Ya.” Maka Abu Jahal berseru; “wahai sekalian Bani Ka’b bin Lu`ai!” maka majlis menjadi membludak dan mereka pada datang dan berkerumun di sekeliling dua orang tersebut, kemudian Abu Jahal berkata; “ceritakan kepada kaummu seperti apa yang telah engkau ceritakan kepadaku.” Maka Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “sesungguhnya aku di isra`kan tadi malam.” Mereka bertanya; “kemana?” beliau menjawab; “ke Baitul Maqdis, ” mereka berkata: “kemudian kamu pagi-pagi sudah berada di tengah-tengah kami?” beliau menjawab; “ya” Ibnu Abbas berkata; diantara mereka ada yang bertepuk tangan dan ada juga meletakkan tangannya di kepala karena terkesima dan sebagai bentuk pendustaan mereka terhadap apa yang di klaim (Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam), kemudian mereka berkata; “apakah kamu bisa memberikan Gambaran kepada kami tentang kondisi masjid?” dan diantara kaum ada yang telah mengadakan perjalanan ke negri tersebut dan telah melihat masjid. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam menuturkan; “maka akupun mensifati masjid, dan aku masih tetap memberikan Gambaran sampai akhirnya beberapa Gambaran menjadi samar bagiku, ” beliau melanjutkan; “kemudian di datangkan pemandangan masjid (dihadapanku), sehingga aku dapat melihatnya, sampai-sampai tempat sebelum dar ‘Iqal atau ‘Uqail dapat aku gambarkan dan aku dapat melihatnya.” Beliau melanjutkan; “dan aku meski dapat menggambarkan kondisi masjid, tetapi aku tidak dapat menghafalnya.” Ibnu Abbas berkata; “maka kaum itu akhirnya berkata; “demi Allah, penggambaran dia (terhadap masjid) sangatlah tepat.”

 

Musnad Ahmad 2681: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Fir’aun mengucapkan; ‘Aku percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil.'” beliau melanjutkan: “Jibril berkata kepadaku; ‘Wahai Muhammad, kalau saja engkau melihatku ketika aku mengangkat tanah dari tanah lautan, lalu aku memasukkannya ke mulutnya, karena khawatir ia memperoleh rahmat.”

 

Musnad Ahmad 2682: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar Adl Dhariri telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dimalam aku di Isra’kan, aku mencium aroma yang sangat harum, aku lalu bertanya kepada Jibril; “Wahai Jibril, aroma wangi apakah ini?” Jibril menjawab; “Ini adalah aroma wanginya tukang sisirnya putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Aku berkata; “Ada apa dengannya? Jibril menjawab; “Suatu hari, ia menyisir rambutnya putri Fir’aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh dari tangannya, lalu ia mengucapkan; “Bismillah, maka putrinya Fir’aun berkata; ” (maksudnya) Ayahku.” Ia menjawab; “Tidak, akan tetapi Tuhanku dan Tuhan Ayahmu adalah Allah.” Putrinya Fir’aun mengancam; “Aku akan memberitahukannya tentang itu!.” Ia menjawab; “Silahkan.” Maka putrinya Fir’uan memberitahukannya, lalu Fir’aun memanggil tukang sisirnya seraya berkata; “Wahai Fulanah, apa benar engkau memiliki Tuhan selain diriku?” ia menjawab; “Ya, tuhanmu dan tuhanku adalah Allah.” Maka Fir’aun memerintahkan untuk di ambilkan patung sapi yang terbuat dari tembaga lalu di panaskan, kemudian memerintahkannya besarta ana-anaknya agar melompat ke dalamnya. Tukang sihir itu berkata; “Aku punya satu keperluan kepadamu.” Fir’aun berkata; “Apa keperluanmu?” ia menjawab; “Aku meminta agar engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anak-anakku di dalam satu kain lalu menguburnya.” Fir’aun berkata; “Itu hakmu atas kami.” Lalu Fir’aun memerintahkannya agar melemparkan anak-anaknya di hadapannya satu per satu, hingga tinggal anaknya yang masih menyusu, ia tampak terpukul karena anaknya tersebut, tapi anak tersebut berkata; “Wahai ibuku, tabahkanlah, sesungguhnya adzab dunia lebih ringan daripada azab Akhirat.” Maka ia pun tabah. Ibnu Abbas mengatakan; “Ada empat orang yang dapat bicara diwaktu masih bayi, yaitu; Isa bin Maryam, temannya Juraij, saksinya Yusuf dan putra tukang sisir putri Fir’aun.” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Isra’kan, beliau mencium aroma yang sangat wangi, kemudian dia meneruskan hadits seperti di atas. Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Isra’kan, beliau mencium aroma yang sangat wangi, kemudian dia menyebutkan makna hadits tersebut, hanya saja dia berkata; “Siapakah Tuhanmu?” Ia menjawab; “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Dzat yang ada di langit..’ tanpa menyebutkan perkataannya Ibnu Abbas yaitu kalimat “Empat orang yang dapat berbicara (ketika bayi).” Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 2683: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid telah menceritakan kepada kami Al Ja’d Abu Utsman telah menceritakan kepadaku Abu Raja` Al ‘Atharidi, dia meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia meriwayatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Laki-laki manapun yang membenci suatu perkara dari pemimpinnya hendaklah bersabar, karena sesungguhnya tidak seorang manusia pun yang keluar dari sultan (penguasa) walau hanya sejengkal, lalu ia mati maka matinya seperti mati jahiliyah.” Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Al Ja’d Abu Utsman telah menceritakan kepada kami Abu Raja` berkata; Aku mendengar Ibnu Abbas meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang ia benci.” Kemudian menyebutkan seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2684: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid telah mengabarkan kepada kami Al Ja’d Abu Utsman berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Raja` Al ‘Atharidi dari Ibnu Abbas, dia meriwayatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan belia meriwayatkan dari Rabbnya ‘azza wajalla, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, barangsiapa yang hendak melakukan kebaikan namun tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat baginya di sisiNya satu kebaikan yang sempurna, dan jika ia melakukannya maka Allah mencatat baginya sepuluh hingga tujuh ratus hingga berlipat-lipat yang sangat banyak atau hingga yang dikehendaki Allah untuk dilipat gandakan. Dan barangsiapa yang hendak melakukan keburukan, namun tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatatnya baginya di sisiNya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Namun bila ia melakukannya, maka Allah mencatatnya satu keburukan.”

 

Musnad Ahmad 2685: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Syarik dari Muhammad bin Abdurrahman mantan budak keluarga Thalhah, dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata; Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saudariku bernadzar untuk berhaji dengan berjalan.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan membuat sedikit pun dengan penderitaan saudarimu. Maka hendaklah ia berangkat dengan berkendaraan dan menebus sumpahnya.”

 

Musnad Ahmad 2686: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam berkata; telah mengabarkan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf di Baitullah sebanyak tujuh (putaran) dan sa’i sebanyak tujuh (kali). Beliau melakukan sa’i ingin menampakkan kekuatannya kepada orang-orang.

 

Musnad Ahmad 2687: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam telah mengabarkan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa ia tidak suka (sari buah) dari busr (permulaan kurma) saja, dan ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang utusan Abdul Qais (meminum) khamar (terasa masam), dan aku takut dia berasal dari busr.”

 

Musnad Ahmad 2688: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abdullah bin Sa’id bin Jubair dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah lalu beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura`, maka beliau bertanya kepada mereka: “Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?” mereka menjawab; “Ini adalah hari baik, hari ini Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa ‘alaihis salam berpuasa.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa (pada hari itu).

 

Musnad Ahmad 2689: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepadaku Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hari Nahr; “Wahai Rasulullah, seorang menyembelih sebelum melempar (jumrah) atau mencukur sebelum menyembelih.” Beliau bersabda: “Tidak apa-apa.” Ibnu Abbas berkata; Saat itu, tidaklah beliau ditanya tentang sesuatu kecuali beliau menggenggam kedua tangannya seperti melempar dengannya sambil bersabda: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

 

Musnad Ahmad 2690: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami ‘Atho` dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam Ka’bah dan di dalamnya terdapat enam tiang, lalu beliau berdiri pada setiap tiang kemudian berdoa namun beliau tidak melakukan shalat di dalamnya.”

 

Musnad Ahmad 2691: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan ‘Affan Al Ma’na keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa saudari ‘Uqbah bin Amir pernah bernadzar untuk melakukan haji dengan berjalan kaki. Maka Uqbah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak membutuhkan nadzar saudarimu itu, hendaklah ia menunggang tunggangan dan menyembelih seekor unta.”

 

Musnad Ahmad 2692: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan ‘Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf sebanyak tujuh (kali) demikian pula dengan sa’i. Sesungguhnya beliau thawaf untuk memperlihatkan kekuatannya kepada orang-orang Musyrik.” ‘Affan berkata; “Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai untuk memperlihatkan kekuatannya kepada orang-orang.”

 

Musnad Ahmad 2693: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Mijlaz berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang shalat witir, dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu raka’at di akhir malam.” Dan aku bertanya kepada Ibnu Umar, dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu raka’at di akhir malam.”

 

Musnad Ahmad 2694: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Habib bin Syihab Al Anbari berkata; Aku mendengar ayahku berkata; Aku dan seorang temanku mendatangi Ibnu Abbas, lalu kami bertemu Abu Hurairah di pintu Ibnu Abbas, ia berkata; “Siapa kalian berdua?” maka kami pun memberitahukan kepadanya, Abu Hurairah berkata lagi; “Pergilah kalian kepada orang-orang yang mempunyai kurma dan air, sesungguhnya air itu mengalir di setiap lembah sesuai takdirnya.” Ia berkata; Kami berkata; “Semoga bertambah banyak kebaikanmu, berilah izin kepada kami untuk menemui Ibnu Abbas.” Ia melanjutkan, Maka dia mengizinkan kami, lalu kami mendengar Ibnu Abbas menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada hari perang Tabuk, beliau bersabda: “Tidak ada bandingan di tengah-tengah manusia seperti seseorang yang memegang tali kekang kudanya, lalu berjihad fi sabilillah dan menjauhi keburukan-keburukan manusia, dan seperti seseorang yang berada di antara kambing-kambingnya, menghormati tamunya dan menunaikan haknya.” Ia berkata; Aku bertanya; “Apakah beliau mengatakan itu, ” ia menjawab; “Ya, beliau mengatakan itu.” Ia berkata; Aku bertanya; “Apakah beliau mengatakan itu, ” ia menjawab; “Ya, beliau mengatakan itu.” Ia berkata; Aku bertanya; “Apakah beliau mengatakan itu, ” ia menjawab; “Ya, beliau mengatakan itu.” Maka aku bertakbir kepada Allah dan memuji Allah serta bersyukur.

 

Musnad Ahmad 2695: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Malik dari Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka doa ini seperti beliau mengajari mereka surat dari Al Qur`an, beliau bersabda: “Ucapkanlah; ‘ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABI JAHANNAM WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QABRI WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MASIHID DAJJAL WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYA WA FITNATIL MAMATI’ (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari siksa Neraka Jahannam, aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Al Masih Ad Dajjal dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian).”

 

Musnad Ahmad 2696: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij berkata; ‘Atho` Al Khurasani berkata; dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki lalu berkata; “Sesungguhnya kewajibanku satu ekor unta dan aku punya cukup (uang) namun aku tidak mendapatkannya untuk aku beli.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk membeli tujuh ekor kambing lalu ia menyembelihnya.

 

Musnad Ahmad 2697: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Abu Malik Ubaidullah bin Al Akhnas dari Al Walid bin Abdullah bin Abu Mughits dari Yusuf bin Mahak dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum, maka sesungguhnya ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, semakin bertambah (ilmunya) semakin bertambah pula (dosanya), semakin bertambah (ilmunya) semakin bertambah pula (dosanya).”

 

Musnad Ahmad 2698: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ats Tsauri telah menceritakan kepada kami Salamah bin Kuhail dari Al Hasan Al ‘Urani dari Ibnu Abbas, ia berkata; Kami, anak-anak Bani Abdul Muththalib datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam Muzdalifah dengan menunggang unta-unta kami, lalu beliau menepuk-nepuk paha-paha kami dan mengatakan: “Wahai anakku, janganlah kalian melempar jumrah hingga terbit matahari.” Ibnu Abbas berkata; “Aku pun tidak membiarkan seorang pun melempar jumrah hingga terbit matahari.”

 

Musnad Ahmad 2699: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ashim Al Ghanawi dari Abu Thufail. – seperti ini Rauh berkata; ‘Ashim, sedangkan orang-orang mengatakan Abu ‘Ashim, – ia berkata; “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas; “Kaummu menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf antara Shafa dan Marwa dengan menunggang unta dan bahwa itu adalah sunnah?” Ibnu Abbas berkata; “Mereka benar dan mereka dusta.” Aku berkata; “Dalam masalah apa mereka benar dan mereka dusta?” ia menjawab; “Beliau pernah thawaf antara Shafa dan Marwa dengan menunggang unta, namun itu bukan sunnah. Saat itu orang-orang tidak menjauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak berdesakkan. Maka beliau berthawaf di atas unta agar orang-orang mendengar dan melihat tempatnya dan agar tangan mereka tidak meraihnya.”

 

Musnad Ahmad 2700: Telah menceritakan kepadaku Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kepada orang yang menyetubuhi istrinya ketika haidl untuk bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.”

 

Musnad Ahmad 2701: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami Umar bin ‘Atho` dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidak boleh membujang di dalam Islam.”

 

Musnad Ahmad 2702: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil dan Hasan bin Musa keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad berkata; telah mengabarkan kepada kami ‘Ammar bin Abu ‘Ammar. Hasan berkata; dari ‘Ammar, -Hammad berkata; dan aku kira itu dari Ibnu Abbas, sedang Hasan tidak merasa ragu, – ia berkata; Ibnu Abbas berkata;. ayahku berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar secara mursal, – (dalam sanadnya) tidak disebut Ibnu Abbas, – bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Khadijah. Kemudian ‘Affan menyebutkan hadits, sedangkan Abu Kamil dan Hasan berkata di dalam haditsnya; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Khadijah: “Sesungguhnya aku melihat sinar dan mendengar suara, dan aku khawatir bahwa aku menderita kegilaan (didatangi jin).” Khadijah berkata; “Allah tidak akan melakukan itu padamu wahai putra Abdullah.” Kemudian Khadijah menemui Waraqah bin Naufal dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Waraqah berkata; “Jika (kejadian) itu benar, maka sesungguhnya itu adalah Namus seperti Namusnya Musa. Bila ia diutus (diangkat sebagai Rasul) dan aku masih hidup, niscaya aku akan memuliakan, menolong dan mempercayainya.”

 

Musnad Ahmad 2703: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah selama lima belas tahun, tujuh tahun beliau melihat sinar dan cahaya serta mendengar suara, delapan tahun beliau mendapatkan sesuatu yang diwahyukan kepada beliau. Beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.”

 

Musnad Ahmad 2704: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil dan ‘Affan Al Ma’na, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku bersama ayahku di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau sedang menerima seorang laki-laki yang sedang berbicara kepada beliau.” ‘Affan berkata; “Beliau seperti berpaling dari Al Abbas, maka kami pun keluar dari sisi beliau, lalu dia berkata; “Tidakkah engkau lihat kepada anak pamanmu sepertinya dia berpaling dariku.” Maka aku berkata; “Sesungguhnya beliau sedang menerima seorang laki-laki yang sedang berbicara kepada beliau.” Ibnu Abbas berkata; Al Abbas berkata; “Apakah di dekat beliau ada seseorang?” aku menjawab; “Ya.” Ibnu Abbas berkata; Lalu dia kembali kepada beliau dan bertanya; “Wahai Rasulullah adakah seseorang di sisi engkau, karena sesungguhnya Abdullah mengabarkan kepadaku bahwa ada seseorang yang sedang berbicara dengan engkau di sisi engkau.” Beliau bersabda: “Wahai Abdullah, apakah engkau melihatnya?” Ibnu Abbas menjawab; “Ya.” Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang sedang menyibukkanku dari engkau.” Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, berkaitan dengan lafazh; “Apakah di sisi engkau ada seseorang yang berbicara kepadamu?” telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ammar dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2705: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diklaim Hammad, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut tentang Khadijah, yang ayahnya enggan menikahkan dia. Maka Khadijah membuat makanan dan minuman, kemudian mengundang ayahnya dan beberapa orang Quraisy, setelah itu mereka pun makan dan minum sampai mabuk, kemudian Khadijah berkata kepada ayahnya; “Sesungguhnya Muhammad bin Abdullah telah melamarku, maka nikahkanlah aku dengannya.” Maka ayahnya pun menikahkan Khadijah dengan beliau. Lalu Khadijah melepaskan pakaian ayahnya dan mengenakan pakaian resmi, maka ia pun berkata; “Ada apa denganku? Apa ini?” Khadijah berkata; “engkau telah menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah.” Ia berkata; “Aku menikahkan anak yatim Abu Thalib? Tidak, sumpah.” Khadijah berkata; “Apa engkau tidak malu? Apa engkau ingin mempermalukan dirimu sediri di hadapan orang-orang Quraisy? Engkau akan memberitahu kepada orang-orang bahwa engkau sedang mabuk?” (Khadijah) terus seperti itu hingga ayahnya rela. Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad berkata telah mengabarkan kepada kami Ammar bin Abi Ammar dari Ibnu Abbas dari sesuatu yang pernah di klaim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut tentang Khadijah binti Khuwailid, kemudian ia menyebutkan hadits yang semakna.

 

Musnad Ahmad 2706: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr berkata; telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij berkata; ‘Atho` Al Khurasani berkata; dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki lalu berkata; Sesungguhnya aku berkewajiban berkurban seekor unta dan aku memiliki cukup (uang) namun aku tidak mendapatkan seekor pun untuk aku beli. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk membeli tujuh ekor kambing, lalu ia menyembelihnya.

 

Musnad Ahmad 2707: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir berkata; telah mengabarkan kepadaku Syu’bah dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau menyebutkan tentang Dajjal, beliau bersabda: “Dia itu buta sebelah matanya dan putih, kepalanya seperti butir kurma. Lelaki di antara kalian yang mirip dengannya adalah Al ‘Uzza bin Qathan. Adapun orang binasa itu (Dajjal) akan binasa, maka sesungguhnya Rabb kalian ‘azza wajalla tidaklah buta sebelah.”

 

Musnad Ahmad 2708: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr dan Abdurrazzaq keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa dia mendengar Thawus berkata; kami bertanya kepada Ibnu Abbas dalam masalah iq’a` di atas dua kaki, maka ia menjawab; “itu adalah sunnah.” Ia berkata; maka kami berkata; “sesungguhnya kami menganggapnya bahwa itu sikap tidak sopan pada kaki.” Maka Ibnu Abbas berkata; “itu adalah sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2709: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr berkata; telah mengabarkan kepada kami ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abu Yazid bahwasanya dia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Aku tidak mengetahui satu hari yang sangat di perhatikan Rasulullah untuk mengharapkan keutamaannya melebihi hari lainnya selain hari ini, yaitu hari ‘Asyura` atau bulan Ramadlan.

 

Musnad Ahmad 2710: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Az Zubair dari Thawus, ia berkata; aku melihat Ibnu Abbas bertumpu (duduk) di atas kedua telapak kakinya, maka aku berkata; “ini yang dinyatakan oleh orang-orang bahwa itu sikap orang yang tidak sopan.” Ia berkata; “itu adalah sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 2711: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ikrimah bin Khalid dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (mengenakan) pakaian yang terbuat dari sutera murni.”

 

Musnad Ahmad 2712: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Khushaif dari Sa’id bin Jubair dan Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (mengenakan) pakaian yang terbuat dari sutera murni.”

 

Musnad Ahmad 2713: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril membacakan kepadaku satu huruf, lalu aku mengulanginya dan aku terus meminta ditambah dan ia pun menambahiku hingga mencapai tujuh huruf.” Az Zuhri berkata; sesungguhnya ketujuh huruf ini dalam perihal yang sama, dan tidak ada perbedaan dalam hal halal dan tidak pula haram.

 

Musnad Ahmad 2714: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara sya’ir ada (yang mengandung) hukum, dan sesungguhnya di antara susunan kata yang indah terdapat sihir.”

 

Musnad Ahmad 2715: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagikanlah harta di antara para ahli waris sesuai Kitabullah tabaraka wata’ala. Adapun sisa darinya, maka ahli waris laki-laki yang paling berhak.”

 

Musnad Ahmad 2716: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikafani dengan dua pakaian putih dan satu pakaian merah.

 

Musnad Ahmad 2717: ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; hendaklah Seseorang di antara kalian menyerahkan tanahnya kepada saudaranya itu lebih baik daripada ia memungut sekian dan sekian atasnya, untuk sesuatu yang diketahui.” Thawus berkata; Ibnu Abbas berkata; yaitu Al Haql (ladang) menurut istilah Anshar adalah muhaqalah.

 

Musnad Ahmad 2718: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan (haji) tamattu’, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dan orang yang pertama kali melarangnya adalah Mu’awiyah. Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir maknanya dan sanadnya sama dengan diatas.

 

Musnad Ahmad 2719: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya. Seseorang boleh menyandarkan kayunya pada dinding tentangganya. Dan jalanan untuk umum adalah selebar tujuh hasta.”

 

Musnad Ahmad 2720: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah memberitakan kepada kami ‘Atho`, bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata; “Jika kalian bisa agar salah seorang dari kalian tidak keluar pada hari Idul Fithri hingga makan, maka lakukanlah.” ‘Atho` berkata; “aku tidak pernah meninggalkan makan sebelum berangkat sejak aku mendengar keterangan itu dari Ibnu Abbas. Maka aku makan dari secuil roti kering, atau minum susu atau air.” Aku bertanya; “berdasarkan dengan apa ditakwilkannya?” Atho` menjawab; “Aku kira ia mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ” ia berkata; “mereka tidak keluar hingga waktu dluha meninggi, dan mereka mengatakan; ‘kami makan agar tidak tergesa-gesa terhadap shalat kami.'”

 

Musnad Ahmad 2721: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Isma’il, -ia berkata; ayahku menerangkan; dia adalah Abu Israil Al Mula`i.- dari Fudlail yakni Ibnu ‘Amru, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Segeralah kalian melaksanakan haji yakni kewajiban haji, karena salah seorang dari kalian tidak mengetahui apa yang akan terjadi padanya.”

 

Musnad Ahmad 2722: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Khutsaim dari Abu Thufail dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka ingin masuk ke Makkah untuk umrah setelah Hudaibiyah: “Sesungguhnya besok kaum kalian akan melihat kalian, maka perlihatkanlah kekuatan kalian kepada mereka.” Ketika mereka masuk masjid (masjidil haram), mereka beristilam (menyentuh, mencium atau berisyarat) kepada rukun, lalu berlari-lari kecil, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama mereka hingga ketika sampai pada rukun Yamani mereka berjalan biasa hingga rukun Aswad. Mereka melakukan itu tiga kali, kemudian berjalan biasa empat kali.

 

Musnad Ahmad 2723: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Israil dan Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan (zakat) pada rikaz (harta temuan yang terpendam) sebesar seperlima. ayahku berkata; telah menceritakan tentangnya kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Israil, ia berkata; dan beliau menetapkan. Abu Nu’aim berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan (zakat) pada rikaz sebesar seperlima.

 

Musnad Ahmad 2724: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Khalaf bin Al Walid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah laki-laki menggauli sesama laki-laki, dan wanita menggauli sesama wanita.”

 

Musnad Ahmad 2725: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika selesai perang Badar; “engkau hanya mendapatkan kafilah dagang, sedang selain itu tidak dapat.” maka Al Abbas berseru yang saat itu ia sebagai tahanan yang terikat; “itu tidak layak.” Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Mengapa?” ia menjawab; “Karena Allah menjanjikan salah satu dari dua kelompok, dan Dia telah memberikan kepadamu apa yang Dia janjikan kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 2726: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Israil dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Ma’iz dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia mengaku di hadapan beliau dua kali, beliau pun bersabda: “Bawalah ia.” Kemudian beliau bersabda: “Kembalikan ia.” Lalu Ma’iz mengaku lagi dua kali, sehingga ia telah mengaku empat kali, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bawalah ia lalu rajamlah.”

 

Musnad Ahmad 2727: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Talak pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan dua tahun pertama masa khilafah Umar adalah bahwa talak tiga berarti satu, kemudian Umar berkata; “Sesungguhnya orang-orang telah tergesa-gesa dalam perkara yang dulunya mereka selalu tidak tergesa-gesa dalam hal tersebut. Bagaimana kalau sekiranya kami berlakukan hal itu pada mereka?” maka Umar pun memberlakukan kepada mereka.

 

Musnad Ahmad 2728: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhar berkata; telah menceritakan kepada kami Al Faraj bin Fadhalah dari Abu Harim dari Shadaqah Ad Dimasyqi berkata; seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas menanyakan kepadanya tentang puasa, lalu ia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasa sadaraku Dawud, ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.”

 

Musnad Ahmad 2729: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman melakukan haji tamattu’. Dan orang yang pertama kali melarangnya adalah Mu’awiyah.

 

Musnad Ahmad 2730: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari ‘Amru bin Murrah dari Salim bin Abu Al Ja’d dari saudaranya dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak berwudlu dari tempat air (yang terbuat dari kulit), lalu dikatakan kepada beliau; “tempat itu terbuat dari (kulit) bangkai.” Beliau pun bersabda: “Penyamakannya telah menghilangkan kebusukan, kotoran dan najisnya.”

 

Musnad Ahmad 2731: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Jubair bahwasanya ia mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya di kedua pundakku, -atau ia berkata; di atas kedua bahuku, – lalu beliau mengucapkan: “Ya Allah, pahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta’wil.”

 

Musnad Ahmad 2732: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban seratus ekor unta ketika haji, beliau menyembelih darinya dengan tangannya sebanyak enam puluh dan beliau menyuruh untuk menyembelihkan sisanya. Beliau mengambil sepotong dari tiap unta, lalu dikumpulkan di dalam satu periuk, kemudian memakannya dan meminum kuahnya. Beliau menyembelih pada hari Hudaibiyah tujuh puluh ekor, di antaranya terdapat unta Abu Jahal, dan ketika beliau tertahan dari (mengunjungi) Baitullah, unta itu meringkik seperti saat meringkik kepada anak-anaknya.” Telah menceritakan kepada kami Abu Al Jawab telah menceritakan kepada kami ‘Ammar yakni Ibnu Ruzaiq, dari Muhammad bin Abdurrahman dari Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggiring seratus ekor unta. Lalu ia menyebutkan seperti hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 2733: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Ibnu Idris dari Muhammad bin Ishaq dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada tahun penaklukan (Makkah) pada tanggal sepuluh Ramadlan. Ketika singgah di Marr Adz Dzahran beliau berbuka.

 

Musnad Ahmad 2734: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dan Abu An Nadhr keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Ibnu Al Ashbahani dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Makkah pada tahun penaklukan (Makkah) selama tujuh belas (hari), saat itu beliau melakukan shalat dua raka’at. Menurut Abu An Nadlr (Ibnu Abbas) berkata; beliau mengqashar shalat (menjadi) dua raka’at. Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Aun Al Kharraz termasuk dari kalangan tsiqah. Telah menceritakan kepada kami Syarik telah mengabarkan kepadaku Nashr bin Ali berkata; telah mengabarkan kepadaku ayahku dari Syarik dari Ibnu Al Ashbahani dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2735: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Syarik dari Muhammad bin Abdurrahman mantan budak keluarga Thalhah, dari Kuraib dari Ibnu Abbas -dan ia merafa’kan kepada Nabi Salallahu ‘Alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda: “Hendaklah ia (wanita yang bernadzar) menunggang (kendaraan) dan menebus sumpahnya.”

 

Musnad Ahmad 2736: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab telah mengabarkan kepada kami Saif bin Sulaiman Al Makki telah menceritakan kepada kami Qais bin Sa’d dari ‘Amru bin Dinar dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan dengan saksi dan sumpah.

 

Musnad Ahmad 2737: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim dari Ibnu Abu Dzi`b dari Qarizh bin Syaibah dari Abu Ghathafan berkata; aku masuk ke tempat Ibnu Abbas lalu aku mendapatkan dia sedang berwudlu. Maka dia berkumur lalu beristinsyaq (menghirup air ke hidung) kemudian ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kali-dua kali, atau dua kali dengan sempurna, atau tiga kali.”

 

Musnad Ahmad 2738: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari berkata; telah menceritakan kepadaku Habib bin Asy Syahid telah menceritakan kepadaku Maimun bin Mihran bahwasanya dia mendengar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, saat beliau sedang ihram.’

 

Musnad Ahmad 2739: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu ‘Ulwan berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Diwajibkan atas Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam lima puluh shalat, lalu beliau memohon kepada Rabbnya ‘azza wajalla, sehingga Dia menjadikannya lima shalat.

 

Musnad Ahmad 2740: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abdullah bin ‘Ushm dari Ibnu Abbas, ia berkata; Diperintahkan kepada Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam lima puluh shalat, lalu beliau memohon kepada Rabbnya, sehingga Dia menjadikannya lima shalat.

 

Musnad Ahmad 2741: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abdullah bin ‘Ushm dari Ibnu Abbas, ia berkata; Allah ‘azza wajalla mewajibkan atas NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam shalat lima puluh kali, lalu beliau memohon kepada Allah sehingga Dia menjadikannya lima shalat.

 

Musnad Ahmad 2742: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Humaid telah menceritakan kepada kami Abu Az Zubair dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami tasyahhud sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al Qur`an.

 

Musnad Ahmad 2743: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk bersiwak sehingga aku khawatir akan diwahyukan kepadaku tentang (perintah) itu.”

 

Musnad Ahmad 2744: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dan Khalaf bin Al Walid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mimpi yang benar adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian kenabian.”

 

Musnad Ahmad 2745: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Kamil bin Al ‘Ala` dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibnu Abbas, atau dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan di antara dua sujud pada shalat malam; ‘RABBIGHFIRLI WAR HAMNI WAR FA’NI WAR ZUQNI WAH DINI’ (Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, angkatlah (derajat) ku, anugerahilah aku rezeki dan tunjukilah aku) kemudian beliau sujud.

 

Musnad Ahmad 2746: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Mufadldlal dari Manshur dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari penaklukan Makkah: “Sesungguhnya negeri ini adalah haram, Allah telah mengharamkannya. Dia tidak pernah menghalalkan perang di dalamnya bagi seorang pun sebelumku, dan dihalalkan bagiku sesaat. Jadi negeri ini haram dengan pengharam Allah hingga hari kiamat. Binatang buruannya tidak boleh diburu, pepohonannya tidak boleh ditebang, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali bagi yang hendak mengumumkannya dan rerumputannya tidak boleh dicabut.” Lalu Al Abbas berkata; “Kecuali idzkir, itu karena untuk (keperluan) rumah-rumah mereka dan menghiasinya.” Maka beliau bersabda: “Kecuali idzkir, dan tidak ada hijrah, akan tetapi jihad dan niat. Dan apabila kalian diminta berangkat (berperang), maka berangkatlah kalian.”

 

Musnad Ahmad 2747: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengabarkan kepadaku Malik bin Khair Az Ziyadi bahwa Malik bin Sa’d An Nujibi menceritakan kepadanya; bahwasanya dia mendengar Ibnu Abbas berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku didatangi Jibril lalu berkata; ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah melaknat khamer, pemerasnya, yang menyuruh memerasnya, peminumnya, penyuguhnya, yang disuguhinya, penjualnya, pembelinya, penuangnya dan yang minta dituangkan.'”

 

Musnad Ahmad 2748: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Lahi’ah bin Uqbah Al Hadlrami Abu Abdurrahman dari Abdullah bin Hubairah As Saba`i dari Abdurrahman bin Wa’lah berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba`, apakah itu, apakah dia laki-laki atau perempuan, atau bumi (nama negeri)?. Beliau bersabda: “Bahkan dia itu seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak, enam orang di antaranya tinggal di Yaman, dan empat lainnya tinggal di Syam. Mereka yang tinggal di Yaman adalah Madzhij, Kindah, Al Azd, Al Asy’ariyyun, Anmar dan Himyar, semuanya bangsa Arab. Adapun mereka yang berada di Syam adalah Lakhm, Judzam, ‘Amilah dan Ghassan.”

 

Musnad Ahmad 2749: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat, lalu datanglah dua anak perempuan hingga keduanya berdiri di hadapan beliau, di dekat kepalanya, lalu beliau menggeser keduanya dan berisyarat dengan kedua tangannya ke sebelah kanan dan ke sebelah kirinya.

 

Musnad Ahmad 2750: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman mantan budak keluarga Thalhah, dari Kuraib dari Ibnu Abbas; “dulu nama Juwairiyah binti Al Harits, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Barrah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah namanya, kemudian memberinya nama Juwairiyah.”

 

Musnad Ahmad 2751: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Dawud dari ‘Ilba` dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis di atas tanah empat garis, beliau bersabda: “Tahukah kalian apa ini?” mereka menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran dan Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.”

 

Musnad Ahmad 2752: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al Harits dari Bukair bin Abdullah dari Syu’bah mantan budak Ibnu Abbas, atau Kuraib mantan budak Ibnu Abbas; bahwa Abdullah bin Abbas melewati Abdullah bin Al Harits bin Abu Rabi’ah yang sedang shalat dengan (rambut) kepalanya tersanggul di belakang, maka Ibnu Abbas berdiri di belakangnya dan melepaskannya kemudian dia duduk. Ketika ibnu Al Harits telah selesai shalat, ia mendatanginya lalu berkata; “Apa maksud yang engkau perbuat terhadap kepalaku, apa yang engkau perbuat dengan kepalaku tadi?” Dia menjawab; Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang shalat sementara kepalanya disanggul di belakang adalah seperti orang yang shalat sementara kedua tangannya diikat ke belakang pundaknya.”

 

Musnad Ahmad 2753: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Bukair dari Kuraib mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang shalat sambil (rambut) kepalanya disanggul adalah seperti orang yang shalat sementara kedua tangannya diikat ke belakang pundaknya.”

 

Musnad Ahmad 2754: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Jabir dari Amir dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam tiga kali, yaitu di dua urat sisi leher antara kedua bahunya. Dan beliau memberi upah kepada pembekam. Seandainya itu haram, tentu beliau tidak akan memberikan upah kepadanya.

 

Musnad Ahmad 2755: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan witir tiga (raka’at) dengan (membaca); ” (SABBIHISMA RABBIKAL A’LA), (QUL YA AYYUHAL KAFIRUN) dan (QUL HUWALLAHU AHAD).”

 

Musnad Ahmad 2756: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat Fajar (subuh) pada hari Jum’at membaca; ” (ALIF LAM MIM TANZIL) surat As Sajdah dan (HAL ATA ‘ALAL INSAN).”

 

Musnad Ahmad 2757: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sujud dengan meregangkan (perut dan lengan) hingga terlihat putih ketiaknya.

 

Musnad Ahmad 2758: Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas, ia berkata; aku memperhatikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku melihat beliau ketika sujud dengan meregangkan (perut dan lengan) dan aku lihat putih ketiaknya.

 

Musnad Ahmad 2759: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, -dan ia merafa’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, – beliau bersabda: “Setiap perjanjian di masa jahiliyah, Islam tidak akan menambah kecuali semakin menguatkannya dan mempererat.”

 

Musnad Ahmad 2760: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syarik dari Husain bin Abdullah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Budak wanita manapun yang melahirkan anak dari tuannya, maka ia (wanita itu) menjadi merdeka setelah kematiannya (tuannya).” Atau beliau bersabda: “Setelah ketiadaannya.” Atau bisa jadi beliau mengatakan keduanya.

 

Musnad Ahmad 2761: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau menyuruh Ali, lalu Ali pun meletakkan air mandi untuk beliau, kemudian beliau menyerahkan pakaian, lalu bersabda: “Tutupi aku, dan palingkan punggungmu dariku.”

 

Musnad Ahmad 2762: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, -ia merafa’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, – beliau bersabda: “Jika kalian berselisih mengenai jalan, maka jadikanlah (lebarnya) tujuh hasta. Dan barangsiapa yang diminta oleh tetangganya untuk menyangga sesuatu pada dindingnya, maka hendaklah melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 2763: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat orang yang mengubah batas-batas tanah, Allah melaknat orang yang mencaci orang tuanya, Allah melaknat orang yang menguasai orang yang bukan budaknya, Allah melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalanan, Allah melaknat orang yang menyetubuhi binatang, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth dan Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” Sebanyak tiga kali.

 

Musnad Ahmad 2764: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abu ‘Amru mantan budak Al Muththalib, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Terlaknatlah orang yang mencaci ayahnya, terlaknatlah orang yang mencaci ibunya, terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah, terlaknatlah orang yang merubah batas-batas tanah, terlaknatlah orang yang menyesatkan orang buta dari jalan, terlaknatlah orang yang menyetubuhi binatang dan terlaknatlah orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” Beliau mengucapkan berulang kali, tiga kali tentang liwat (perbuatan kaum Luth (homosex).

 

Musnad Ahmad 2765: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari ‘Amru bin Abu ‘Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat orang yang mengubah batas-batas tanah, Allah melaknat orang yang menguasai orang yang bukan budaknya, Allah melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalanan, Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang menyetubuhi binatang, Allah melaknat orang yang durhaka terhadap orang tuanya dan Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” Beliau mengucapkannya tiga kali.

 

Musnad Ahmad 2766: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Israil dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan melakukan dua raka’at Dluha namun tidak diperintahkan kepada kalian. Aku pun diperintahkan berkurban namun tidak diwajibkan.”

 

Musnad Ahmad 2767: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan melakukan dua raka’at Dluha namun tidak diperintahkan kepada kalian. Aku pun diperintahkan berkurban namun tidak diwajibkan.”

 

Musnad Ahmad 2768: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Jabir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Diwajibkan berkurban atasku namun tidak diwajibkan atas kalian, aku diperintahkan melakukan dua rakaat Dluha namun kalian tidak diperintahkan (melaksanakannya).”

 

Musnad Ahmad 2769: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qosim telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Ashim dari Abu Razin dari Abu Yahya maula Ibnu Aqil Al Anshari berkata; Ibnu Abbas berkata; “Aku mengetahui suatu ayat dalam Al Qur’an yang tidak pernah ditanyakan seorangpun kepadaku, aku tidak tahu apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga mereka tidak menanyakannya atau mereka memahaminya lalu menanyakannya nanti.” Kemudian dia mulai menyampaikan hadits kepada kami, setelah selesai, kami saling menyalahkan karena tidak menanyakan hal itu kepadanya. Lalu aku berkata (dalam hati); “Bila besok datang, maka aku akan menanyakan kepadanya.” Keesokan harinya, ketika ia datang, aku bertanya; “Wahai Ibnu Abbas, kemarIn engkau menyebutkan bahwa ada suatu ayat dalam Al Qur’an yang belum pernah di tanyakan seorangpun kepadamu, dan engkau tidak tahu apakah orang-orang telah mengetahuinya sehingga mereka tidak menanyakannya atau justeru mereka tidak memahaminya.” Selanjutnya aku berkata; Beritahukanlah kepadaku mengenai ayat-ayat yang engkau bacakan sebelumnya.”Ibnu Abbas berkata; Baiklah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada kaum Quraisy: “Wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang di sembah selain Allah yang akan mendatangkan kebaikan.” Sementara orang-orang Quraisy telah mengetahui bila orang-orang Nashrani menyembah Isa bin Maryam dan apa yang mereka katakan mengenai diri Muhammad, mereka berkata; “Wahai Muhammad, apakah engkau menganggap bahwa Isa adalah seorang Nabi dan salah seorang hamba Allah yang shalih?, jika engkau benar, bukankah tuhan-tuhan mereka seperti yang engkau katakan?” Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat; Dan tatkala putra Maryam di jadian perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.” QS Az Zukhruf; 57, aku berkata; “Apa itu bersorak sorai?” ia menjawab; “Membuat gaduh.” Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat.” QS Az Zukhruf; 61. Isa bin Maryam ‘alaihis salam muncul sebelum tibanya hari Kiamat.

 

Musnad Ahmad 2770: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Syahr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abbas dia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah duduk-duduk di serambi depan rumahnya di Makkah, tiba-tiba Utsman bin Mazh’un melewatinya, ia tersenyum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Maukah kamu duduk?” dia menjawab; “Tentu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk menghadap ke arahnya, ketika beliau sedang berbincang-bincang dengannya, tiba- tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat pandangannya ke langit, beliau memandang sesaat ke arah langit, lalu menurunkan pandangannya hingga mengarahkannya ke tanah di sebelah kanannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan teman duduknya yaitu Utsman. Lalu beliau mulai mengangguk-angukkan kepalanya seolah-olah menyatakan mengerti apa yang di katakana kepadanya, sementara Ibnu Mazh’un melihatnya. Setelah menyelesaikan keperluannya dan memahami apa yang di katakannnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat pandangannya ke arah langit seperti pertama kali, lalu pandangannya mengikuti (yakni bergerak) hingga siran di langit, lalu beliau kembali kepada Utsman di tempat duduknya semula. Utsman berkata; “Wahai Muhammad, semenjak aku duduk bersamamu dan datang kepadamu, aku belum pernah melihatmu melakukan seperti yang engkau lakukan tadi pagi.” Beliau menjawab: “Memang kamu melihatku melakukan seperti apa?” dia menjawab; “Aku melihatmu mengangkat pandanganmu ke langit, kemudian menempatkannya ke sebelah kananmu, lalu angkau menghampirinya dan meninggalkanku, lalu engkau mulai mengangguk-anggukkan kepalamu seolah-olah engkau memahami sesuatu yang di katakana kepadamu.” Beliau bersabda: “Engkau ingat itu?” Utsman menjawab; “Ya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tadi di datangi oleh utusan Allah ketika engkau sedang duduk.” Utsman berkata; “Utusan Allah?” beliau menjawab; “Benar.” Ia bertanya; “Lalu apa yang di katakannya kepadamu?” beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” QS An Nahl; 90. Utsman mengatakan; “Itulah saat iman bersemayam di hatiku dan aku mencintai Muhammad.”

 

Musnad Ahmad 2771: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Syahr, Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap Nabi memiliki wilayah yang diharamkan, dan wilayahku yang diharamkan adalah Madinah. Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkannya dengan pengharamanMu, agar tidak ditempatkan padanya orang yang membuat kerusakan, pepohonannya tidak boleh ditebang, rerumputannya tidak boleh dicabut, dan barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali bagi yang hendak mengumumkannya.”

 

Musnad Ahmad 2772: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Syahr berkata; Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Laki-laki manapun yang mengaku (nasab) kepada selain bapaknya, atau menguasai selain budak-budaknya yang telah dimerdekakannya, maka telah menimpa kepadanya laknat Allah, para malaikat dan semua manusia hingga hari kiamat. Tidak diterima amalan wajibnya dan dan tidak pula amalan sunnahnya.”

 

Musnad Ahmad 2773: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepadaku Syahr dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (untuk menikahi) golongan-golongan wanita kecuali yang termasuk kaum mukminat yang berhijrah. (Allah) berfirman; “Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki.” dan Allah ‘azza wajalla telah menghalalkan pada budak-budak perempuan yang beriman; “Dan perempuan mukminah yang menyerahkan dirinya kepada Nabi.” (Allah juga telah) mengharamkan setiap wanita yang memeluk agama selain Islam, (Allah) berfirman; “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (Allah juga) berfirman; “Hai nabi, Sesungguhnya kami Telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang Telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki, ” hingga “Sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” Allah juga mengharamkan (menikahi) golongan wanita yang selain itu.

 

Musnad Ahmad 2774: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Syahr telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melamar seorang wanita dari kaumnya yang biasa dipanggil Saudah, ia seorang yang mempunyai banyak anak, ia mempunyai lima atau enam anak dari suaminya yang telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apa yang menghalangimu dariku?” ia menjawab; “Demi Allah wahai Nabiyullah, tidak ada yang menghalangiku darimu sebagai manusia yang paling aku cintai. Akan tetapi aku memuliakanmu, agar anak-anak kecil itu (tidak) berteriak dan menangis di dekat kepalamu siang dan malam.” Beliau berkata lagi: “Ada hal lainnya yang menghalangimu dariku?” ia menjawab; “Tidak ada, demi Allah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya, sebaik-baik wanita yang menunggang punggung unta adalah yang terbaik di antara wanita Quraisy, yang paling sayang kepada anak-anaknya yang masih kecil dan paling setia kepada suami.”

 

Musnad Ahmad 2775: Masih melalui periwayatan yang sama dari Ibnu Abbas; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di tempatnya, lalu Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya dan duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menempatkan kedua tangannya di atas kedua lutut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Jibril berkata; “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku apakah Islam itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Islam adalah engkau menyerahkan wajahmu hanya untuk Allah, engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan (engaku bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Jibril berkata; “Jika aku melaksanakan hal itu, apakah aku telah menjadi seorang muslim?” Beliau menjawab: “Jika kamu melaksanakan hal itu, maka kamu menjadi seorang muslim.” Jibril bertanya lagi; “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku apakah iman itu?” beliau menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, hari Akhir, para Malaikat, kitab-kitab, para Nabi dan engkau percaya kematian dan kehidupan setelah kematian, engkau juga percaya adanya Surga, Neraka, Hisab, Mizan (timbangan) dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Jibril berkata; “Jika aku melaksanakan hal itu, apakah aku telah beriman?” Beliau menjawab; “Jika kamu melaksanakan hal itu, berarti kamu telah beriman.” Jibril berkata; “Wahai Rasulullah, jelaskanlah padaku apakah Ihsan itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ihsan adalah engkau beramal karena Allah seolah-olah engkau melihatnya, bila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Jibril berkata; “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku kapankah terjadi hari Kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Subhanallah, ada lima perkara ghaib yang tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah, Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal QS Luqman; 34. tapi bila engkau mau, aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya.” Jibril berkata; “Tentu wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku!.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila engkau telah melihat seorang budak melahirkan tuannya -atau beliau mengatakan (dengan redaksi) ‘Rabbataha (tuannya) ‘- engkau melihat para penggembala kambing saling berlomba-lomba meninggikan bangunan, dan engkau telah melihat seorang yang serba kekurangan berpakaian dan makanan menjadi para pemimpin manusia, maka itulah diantara tanda-tanda kiamat dan gejala-gejalanya.” Jibril berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan para penggembala dan orang yang serba kekurangan pakaian dan makanan?” beliau menjawab: “Yaitu bangsa Arab.”

 

Musnad Ahmad 2776: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yakni Syaiban, dari Laits dari Abdul Malik dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa optimis dan tidak bertathayyur, dan beliau menyukai setiap nama yang baik.

 

Musnad Ahmad 2777: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas mengenai fimranNya; “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Ia berkata; “yaitu orang-orang yang hijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah.”

 

Musnad Ahmad 2778: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr dari Ibnu Abu Dzi`b dari Sa’id bin Khalid dari Isma’il bin Abdurrahman bin Abu Dzu`aib dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang atau keluar kepada mereka yang sedang duduk. Lalu beliau bersabda: “Maukah kalian aku ceritakan kepada kalian tentang manusia yang paling baik tempatnya?” kami menjawab; “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang memegang (tali kekang) kuda fi sabilillah sampai ia mati atau terbunuh.” Kemudian beliau berkata: “Maukah kalian aku beritahu yang berikutnya?” kami menjawab; “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Seseorang yang menyendiri di tempat terpencil dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menjauhi keburukan-keburukan manusia.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan tentang manusia yang paling buruk tempatnya?” kami menjawab; “tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu orang yang diminta dengan nama Allah tapi tidak mau memberi.” Telah menceritakan kepada kami Husain telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Sa’id dari Isma’il bin Abdurrahman bin Abu Dzu`aib dari ‘Atho` bin Yasar dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau keluar kepada mereka, saat itu mereka sedang duduk, lalu beliau bersabda: “Maukah kalian aku ceritakan kepada kalian tentang manusia yang paling baik tempatnya?” maka disebutkan seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2779: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr dari Ibnu Abu Dzi`b dari Al Qasim bin Abbas dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi (bagian) ghanimah (rampasan perang) kepada wanita dan budak seperti yang diterima tentara.

 

Musnad Ahmad 2780: Telah menceritakannya kepada kami Husain berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari seorang laki-laki dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi (bagian) kepada budak dan wanita dari harta rampasan perang. Telah menceritakannya kepada kami Yazid berkata; dari orang yang mendengar Ibnu Abbas, dan ia berkata; Lebih sedikit dari yang diterima oleh tentara.

 

Musnad Ahmad 2781: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr dari Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah bahwa Al Miswar bin Makhramah masuk ke tempat Ibnu Abbas untuk menjenguk karena sedang sakit, saat itu Ibnu Abbas mengenakan kain sutera kasar, lalu ia berkata; “Wahai Ibnu Abbas, pakaian apa ini?” Ibnu Abbas balik bertanya; “Memangnya apa ini?” Ia berkata; “ini adalah sutera kasar.” Ibnu Abbas berkata; “Demi Allah aku tidak mengetahuinya, aku tidak menyangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengenakan ini ketika beliau melarangnya kecuali bila untuk kebanggaan dan kesombongan, dan alhamdulillah kami tidak seperti itu.” Ia berkata; “Lalu patung-patung yang ada di perapian?” Ibnu Abbas berkata; “Tidakkah engkau melihat bahwa kami telah membakarnya dengan api?” Ketika Al Miswar keluar, ia berkata; “Lepaskanlah pakaian ini dariku dan potonglah kepala patung-patung ini.” Mereka berkata; “Wahai Abu Abbas, bila engkau membawanya ke pasar, maka itu akan lebih bernilai bila dengan (membiarkan) kepalanya.” Ibnu Abbas menjawab; “Tidak.” Lalu ia memerintahkan untuk memotong kepala-kepalanya.

 

Musnad Ahmad 2782: Telah menceritakan kepada kami Hasyim dari Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah berkata; dan datang seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas lalu berkata; “sesungguhnya budakmu, bila sujud, ia meletakkan dahinya, kedua lengannya dan dadanya di tanah.” Ibnu Abbas berkata; “Apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang engkau perbuat itu?” ia menjawab; “Merendahkan hati.” Ibnu Abbas berkata; “Yang demikian itu adalah cara menderumnya anjing, aku telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila sujud, terlihat putih kedua ketiaknya.” ayahku berkata; dan telah menceritakannya kepada kami Husain telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b lalu menyebutkan seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2783: ia berkata; telah menceritakan kepada kami Hasyim dari Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya bersama keluarganya ke Mina pada hari Nahr, agar mereka bisa melempar jumrah pada saat fajar.

 

Musnad Ahmad 2784: ia berkata; telah menceritakannya kepada kami Husain, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya bersama keluarganya ke Mina pada hari Nahr agar mereka bisa melempar jumrah pada saat fajar.

 

Musnad Ahmad 2785: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr telah menceritakan kepada kami Syarik dari Husain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menggauli budak perempuannya lalu melahirkan anaknya, maka ia (budak perempuan itu) merdeka setelah kematiannya.”

 

Musnad Ahmad 2786: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr telah menceritakan kepada kami Syarik dari Husain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan mengenakan pakaian yang membungkus dirinya, beliau menghindari panasnya tanah dengan kelebihan (pakaian) nya dan juga dinginnya (tanah).

 

Musnad Ahmad 2787: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dihidangkan bahu (kambing) di dalam periuk, lalu beliau makan darinya, kemudian beliau keluar untuk shalat, beliau shalat tanpa berwudlu dan tanpa menyentuh air.

 

Musnad Ahmad 2788: Telah menceritakan kepada kami Husain dari Za`idah dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas tikar kecil.

 

Musnad Ahmad 2789: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepadaku Yunus dari Az Zuhri dari Yazid bin Hurmuz; bahwa Najdah Al Haruri ketika keluar dari fitnah Ibnu Az Zubair, ia mengirim surat kepada Ibnu Abbas untuk menanyakan tentang bagian untuk kerabat; “siapa menurutmu?” Ibnu Abbas berkata; “itu adalah bagian kami, karena kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagikannya kepada mereka. Kemudian Umar pernah menawarkannya kepada kami yang kami pandang bukan hak kami, maka kami pun mengembalikannya dan menolak menerimanya. Yang pernah ditawarkannya kepada mereka adalah membantu orang-orang yang telah menikah, melunasi orang-orang mereka yang mempunyai hutang, memberi kepada orang-orang miskin mereka dan tidak memberi lebih dari itu.”

 

Musnad Ahmad 2790: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengurai rambutnya sedangkan kaum musyrikin membelah rambut kepala mereka. Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senang menyamai ahli kitab dalam hal-hal yang tidak ada perintahnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membelah (rambut) kepalanya.

 

Musnad Ahmad 2791: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang manusia pun kecuali pernah melakukan kesalahan atau hendak melakukan kesalahan selain Yahya bin Zakaria.”

 

Musnad Ahmad 2792: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Husain bin Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas dan Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas, salah satunya menambahkan kepada yang lain, bahwa seorang laki-laki memanggil Ibnu Abbas sementara banyak orang-orang di sekitarnya, lalu ia bertanya; “Apakah sunnah yang kalian maksudkan dengan rendaman sari buah ini, atau karena ia lebih mudah bagi kalian dari susu dan madu?” Ibnu Abbas menjawab; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Abbas lalu bersabda: “Berilah kami minum.” Maka ia berkata; “Sesungguhnya minuman rendaman/sari buah ini telah terkena tangan, maukah jika kami memberimu minum susu atau madu.” Beliau bersabda: “Berilah kami minum dari yang engkau beri minum kepada orang-orang.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar diberi minum sebanyak dua tempat air minum yang berisi rendaman/sari kurma. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minum, beliau berhenti sebelum kenyang, lalu mengangkat kepalanya kemudian bersabda: “Kalian telah berbuat baik seperti ini. Maka silakan kalian kerjakan.” Ibnu Abbas mengatakan; Maka keridlaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan itu lebih aku sukai daripada mengalir susu dan madu di lembah-lembah kami.

 

Musnad Ahmad 2793: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dari Al A’masy dari Abdullah bin Abdullah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian mendengar dan kalian akan didengarkan, serta akan didengar orang yang mendengar dari kalian.”

 

Musnad Ahmad 2794: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Zakaria bin Umar bahwa ‘Atho` telah mengabarkan kepadanya, bahwa Abdullah bin Abbas mengajak Al Fadhl makan pada hari Arafah, lalu Al Fadhl berkata; “Aku sedang berpuasa.” Maka Abdullah berkata; “Jangan berpuasa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didekatkan kepadanya tempat perahan susu, lalu beliau minum darinya pada hari ini, dan sesungguhnya orang-orang mengikuti jejak kalian.”

 

Musnad Ahmad 2795: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadlan. Dan bila beliau berpuasa, beliau akan berpuasa hingga orang mengatakan; ‘Demi Allah, beliau tidak pernah berbuka.’ Dan bila berbuka ketika beliau akan berbuka hingga orang-orang mengatakan; ‘Demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa.'”

 

Musnad Ahmad 2796: Haditsnya terdapat catatan; Telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata; di dalam kitab ayahku dari Abdush Shamad dari ayahnya dari Al Hasan yakni Ibnu Dzakwan, dari Habib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang berjalan dengan mengenakan satu khuf atau satu sandal. Dan dalam hadits terdapat banyak perkataan selain ini, namun ia tidak membicarakannya kepada kami karena ada catatan dalam kitabnya. Maka aku menduga ia meninggalkan haditsnya, karena ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Khalid yang menceritakan dari Zaid bin Ali. Sedang ‘Amru bin Khalid tidak sepadan sedikitpun periwayatannya.

 

Musnad Ahmad 2797: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan) hewan yang dijadikan target sasaran dan (minum) susu hewan jalalah (pemakan kotoran) dan melarang minum dari (mulut) tempat air (secara langsung).

 

Musnad Ahmad 2798: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Abdurrahman yakni Ibnu Abdullah bin Dinar, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim dari Ja’far dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan menyuruhku untuk mengeraskan talbiyah.”

 

Musnad Ahmad 2799: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Khushaif dari Sa’id bin Jubair dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas; bahwasanya ia berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera murni. Adapun pakaian yang berornament sutera bukanlah sutera murni, sehingga menurut kami itu tidak apa-apa. Dan sebenarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang minum dari bejana perak.

 

Musnad Ahmad 2800: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; aku mendengar Hushain berkata; Ketika aku di tempat Sa’id bin Jubair, ia berkata; dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan masuk ke dalam surga tanpa hisab dari umatku sebanyak tujuh puluh ribu.” Maka aku bertanya; “Siapakah mereka itu?” beliau menjawab; “Mereka yang tidak minta diruqyah, tidak pernah bertathayyur, tidak ber’iyafah (meramal alamat baik) dan kepada Rabb merekalah, mereka bertawakal”

 

Musnad Ahmad 2801: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah mengkabarkan kepadaku Ziyad bahwa Shalih budak At Tau`amah telah mengkabarkan kepadanya bahwasanya dia mendengar Ibnu Abbas menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ” Rahim (kekerabatan) sedemikian terikat erat dengan pinggang Allah yang Maha Rahman, Allah akan menghubungkan siapa saja yang mau menghubungkannya dan memutus siapa saja yang memutusnya.”

 

Musnad Ahmad 2802: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr telah menceritakan kepada kami Dawud yakni Al ‘Athar dari Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berumrah sebanyak empat umrah, Umrah Hudaibiyah, umrah Qadla`, umrah ketiga dari Ji’ranah dan keempat, yang beliau ilaksanakan bersama hajinya.

 

Musnad Ahmad 2803: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr dan Husain keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Asy’ats telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Allah tidak sudi melihat kepada musbil (orang yang memanjangkan kainnya menutupi mata kaki).”

 

Musnad Ahmad 2804: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Syarik dari ‘Atha` bin As Sa`ib dari Abu Yahya Al A’raj dari Ibnu Abbas ia berkata; Ada dua orang berseteru, lalu salah seorang dari mereka bersumpah atas nama Allah yang tidak ada sesembahan selin Dia, bahwa orang itu (seterunya) tidak memiliki hak atasnya. Lalu Jibril turun kemudian mengatakan; Tolong agar lawan sengketamu diberi haknya, karena kebenaran ada pada orang itu, sedangkan ia (yang bersumpah) telah berbohong, dan tebusan sumpahnya adalah pengetahuannya terhadap Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, atau persaksiannya bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Dia.

 

Musnad Ahmad 2805: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Dawud telah menceritakan kepada kami ‘Ilba` bin Ahmar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat empat garis kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tahu mengapa aku membuat garis-garis ini?” mereka menjawab; tidak, beliau bersabda: “Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah empat orang; Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Asiyah binti Muzahim.”

 

Musnad Ahmad 2806: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar ia berkata; telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Sa’id bin Khalid dari Isma’il bin Abdurrahman dari ‘Atha` bin Yasar dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada mereka yang sedang duduk di majlis mereka, lalu beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan kepada kalian tentang manusia yang paling baik?” kami menjawab; Tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang memegang (tali kekang) kuda fi sabilillah sampai ia mati atau terbunuh.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu yang berikutnya?” kami menjawab; Tentu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: “Seseorang yang mengisolir diri di tempat terpencil dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menjauhi keburukan-keburukan manusia.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah kalian kuberitahu tentang manusia yang paling buruk?” kami menjawab; Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu orang yang diminta dengan nama Allah tapi tidak mau memberi.”

 

Musnad Ahmad 2807: telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; telah mengkabarkan kepadaku Ja’far bin Iyas berkata aku telah mendengar Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Ummu Hufaid, bibi Ibnu Abbas memberi hadiah lemak, keju dan (daging) biawak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau makan lemak, keju namun beliau tinggalkan daging biawak karena beliau merasa jijik. Lalu (daging itu) ada yang memakan dari atas tempat hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya itu haram, tentu tidak akan dimakan diatas hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2808: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah mengkabarkan kepada kami Malik bin Mighwal dari Sulaiman Asy Syaibani dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat cincin lalu memakainya kemudian beliau bersabda: “Rupanya aku disibukkan oleh cincin ini sesingga tidak perhatian terhadap kalian sejak hari ini, hingga aku selalu memperhatikannya dan kalian pun selalu melihatnya.” Beliau pun selanjutnya membuangnya.

 

Musnad Ahmad 2809: Telah menceritakan kepada kami Mahbub bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Khalid dari Barakah Abu Al Khalid dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat kaum Yahudi, ketika diharamkan lemak atas mereka, mereka menyiasatinya dengan menjualnya dan memakan hasil penjualannya. Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu untuk suatu kaum, maka Dia pun mengharamkan hasil penjualannya.”

 

Musnad Ahmad 2810: Telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah telah menceritakan kepada kami Zakariya telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menetapkan hukuman tertentu pada khamer. Ibnu Abbas berkata; Pernah seorang laki-laki minum (khamer) hingga mabuk, kemudian didapati ia sempoyongan di sbeuah lorong. Laki-laki itupun dibawa ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kata Ibn Abbas, ketika laki-laki itu dibawa ke rumah Ibn Abbas, ia melarikan diri, lalu ia temui Ibn Abbas dan terus mengikutinya dari belakangnya. Para sahabat kemudian melaporkan laki-laki ini ke Rasulullah. Nabi hanya tertawa dan berujar “Memang dia mengerjakan.” Namun beliau tidak perintahkan apa-apa.

 

Musnad Ahmad 2811: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kiblat dipindahkan, lalu bagaimana dengan mereka yang telah meninggal sedangkan mereka shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis? Maka Allah tabaraka wata’ala menurunkan ayat ‘Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.’ (QS. Albaqarah 143).

 

Musnad Ahmad 2812: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy dari Idris bin Sinan Al Yamani dari ayahnya, Wahb bin Munabbih dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Jibril agar bisa melihat dalam wujud aslinya. Maka dia mengatakan; memohonlah kepada Tuhanmu. Maka beliau pun memohon kepada Tuhannya, lalu muncullah warna hitam dari arah timur, kemudian naik dan menyebar. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau pingsan, lalu Jibril menghampirinya, kemudian membangkitkannya dan mengusapkan ludahnya pada bagian dalam kedua rahangnya.

 

Musnad Ahmad 2813: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abu Abdullah dari Qatadah dari Anas, beberapa orang dari Az Zuth yang menyembah berhala diringkus dan dihadapkan ke Ali Radhiyallahu’anhu, lalu Ali membakar mereka, maka Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah.”

 

Musnad Ahmad 2814: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab telah mengkabarkan kepadaku Saif bin Sulaiman Al Makki dari Qais bin Sa’ad Al Makki dari Amru bin Dinar dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan dengan sumpah dan saksi. Zaid bin Al Hubab berkata; aku bertanya Malik bin Anas tentang sumpah dan saksi, apakah boleh dalam perkara thalaq dan memerdekakan (budak)? Ia menjawab; Tidak. Ini hanya pada (kasus) membeli, menjual dan yang serupa.

 

Musnad Ahmad 2815: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits dari Saif bin Sulaiman dari Qais bin Sa’ad dari Amru bin Dinar dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan dengan sumpah yang disertai saksi. Amru berkata; Yang seperti itu adalah dalam masalah harta.

 

Musnad Ahmad 2816: Telah menceritakan kepada kami Az Zubairi Muhammad bin Abdullah bin Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Haji diwajibkan kepada setiap Muslim, seandainya aku katakan setiap tahun, tentu akan (diwajibkan).”

 

Musnad Ahmad 2817: Telah menceritakan kepada kami Az Zubairi dan Aswad Al Ma’na keduanya berkata; telah mengkabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berniaga dari kafilah yang datang, lalu beliau memperoleh keuntungan beberapa uqiyah, kemudian beliau membagi-bagikannya kepada janda-janda Abdul Muththalib, lalu beliau bersabda: “Aku tidak akan membeli suatu perniagaan yang aku tidak mendapatkan harganya (keuntungannya).” Dan telah menceritakannya kepada kami Waki’ juga, lalu ia mensanadkannya.

 

Musnad Ahmad 2818: Telah menceritakan kepada kami Az Zubairi dan Aswad bin Amir keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Seorang wanita masuk Islam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia menikah, kemudian suami yang pertamanya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; Wahai Rasulullah, Sesungguhnya aku telah masuk Islam dan ia juga telah mengetahui keIslamanku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melepaskannya dari suami (kedua) lalu mengembalikannya kepada suami pertamanya.

 

Musnad Ahmad 2819: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Isra`il dari Fudlail bin Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas atau dari Al Fadlal bin Abbas atau salah satunya dari salah satu keduanya, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang hendak melaksanakan haji, maka bersegeralah. Karena seseorang terkadang tersesat, sakit dan ada keperluan lain.”

 

Musnad Ahmad 2820: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abdul A’la dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berhati-hatilah terhadap hadits dariku, kecuali yang betul-betul kalian ketahui, karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di Neraka. Dan barangsiap yang berdusta atas nama Al Qur’an tanpa berdasarkan ilmu, hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di Neraka.”

 

Musnad Ahmad 2821: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Atha` dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusap pada khuff, maka tanyakanlah kepada mereka yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap (khuff), (apakah) sebelum turunnya Al Ma`idah atau setelah Al Ma`idah? Demi Allah beliau tidak mengusap setelah turunnya Al Ma`idah, sungguh aku mengusap punggung pengembara di tanah lapang lebih aku sukai daripada mengusap keduanya.

 

Musnad Ahmad 2822: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Abdul Jabbar bin Ward dari Ibnu Abu Mulaikah berkata; Ibnu Abbas berkata kepada Urwah bin Az Zubair; Wahai Urayyah tanyakan kepada ibumu, bukankah ayahmu datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertahallul (bercukur).

 

Musnad Ahmad 2823: Telah menceritakan kepada kami Waki dari Isra`il dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Setan-setan mempunyai tempat-tempat duduk di langit, mereka biasa mendengarkan wahyu, dan dulunya bintang-bintang itu tidak bergerak, dan para setan pun tidak dilempari. Bila mereka mendengar wahyu, mereka turun ke bumi lalu menambahkan sembilan kedustaan pada setiap kalimat yang didengarnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, bila setan menempati duduknya, ia langsung dilempari suluh api, dan lemparan suluh api tersebut tidak pernah meleset hingga membakarnya. Kontan mereka laporkan kejadiannya kepada Iblis (raja setan), Iblis pun berujar “Ini tidak akan terjadi kecuali karena ada kejadian baru. Iblis langsung menyebarkan para tentaranya, tak tahunya Rasulullah sedang mendirikan shalat diantara dua gunung kurma. Maka mereka pulang dan mengabarkan kemunculan Rasulullah. Maka Iblis menjawab “Kemunculan dialah (muhammad) yang menyebabkan kita dilempari suluh api seperti ini.”

 

Musnad Ahmad 2824: Telah menceritakan kepada kami Rib’i bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Ibnu Wa’lah dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki keluar ketika Khamer masih halal, lalu ia menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sewadah khamer, ia membawanya dengan digantung di unta, hingga ia mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk, lalu beliau bersabda: “Apa yang engkau bawa ini?” ia menjawab: sewadah khamer untuk aku hadiahkan kepadamu. Beliau bersabda: “Bukankah engkau telah tahu bahwa Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi telah mengharamkannya?” ia menjawab; Tidak. Maka laki-laki itu menoleh kepada penuntun unta dan mengatakan sesuatu kepadanya dan ia berbicara berdua. Lalu beliau bertanya lagi: “Apa yang engkau katakan kepadanya?” ia menjawab; Aku menyuruhnya untuk menjualnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya yang diharamkan untuk meminumnya diharamkan pula menjualnya.” Ia Ibnu Abbas berkata; Maka laki-laki itu menyuruh untuk melepas tutupnya, maka terbukalah ia dan tumpah ke tanah. Lalu aku melihat kepadanya (wadah tersebut) di Bathha` tidak berisi lagi.

 

Musnad Ahmad 2825: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Jabir dari Amir dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi upah kepada si tukang bekam, seandainya bekam haram, tentu beliau tidak memberinya. Beliau berbekam pada kedua sisi lehernya dan di antara kedua bahu beliau. Sedangkan pembekamnya adalah seorang budak dari bani Bayadlah, yang ketika itu ia harus menyetorkan uang sebanyak satu setengah mudd untuk majikannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta tuannya untuk meringankannya, maka ditetapkan satu mud.

 

Musnad Ahmad 2826: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikah, saat itu beliau sedang ihram. Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ibnu ‘Atha` dari Atha’ dari Ibnu Abbas seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2827: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku ditolong melalui angin yang berhembus dari timur, sementara kaum ‘Ad dihancurkan dengan angin yang berhembus dari barat.”

 

Musnad Ahmad 2828: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Dinar berkata; aku mendengar Thawus menceritakan dari Ibnu Abbas ia berkata; Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diperintah untuk sujud di atas tujuh anggota (badan). Syu’bah berkata; dan dia menceritakannya sekali lagi, beliau berdabda: “Aku diperintah untuk sujud di atas tujuh (anggota) dan agar tidak menahan (menyibukkan diri) dengan rambut dan tidak pula pakaian.”

 

Musnad Ahmad 2829: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Juhadah dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat peziarah kubur dari kalangan wanita dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid serta menyediakan lentera-lentera di tempat itu.

 

Musnad Ahmad 2830: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah ia berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat.

 

Musnad Ahmad 2831: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seorang laki-laki dari bani Sulaim bersama kambingnya, lalu ia memberi salam kepada mereka. Maka mereka berkata; Tidaklah ia mengucapkan salam kepada kalian kecuali untuk meminta perlindungan terhadap kalian. Lalu mereka menghampirinya dan membunuhnya serta merampas kambingnya. Kemudian mereka membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi menurunkan ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, ‘ (QS. Annisa’; 94), sampai akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 2832: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang firmanNya, ‘Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.’ (QS. Ali’Imran 110), Ia berkata; (Mereka adalah) para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang hijrah bersama beliau ke madinah.

 

Musnad Ahmad 2833: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan Al Asyqar telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari ‘Atha` dari Abu Adl Dluha dari Ibnu Abbas ia berkata; Seorang yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu beliau sedang duduk, lalu ia berkata; Wahai Abu Al Qosim, bagaimana menurutmu ketika Allah menciptakan langit seperti ini, sambil menunjuk dengan telunjuknya, bumi seperti ini, air seperti ini, gunung-gunung seperti ini, dan semua makhluk seperti ini? —Semuanya ia isyaratkan dengan jari-jarinya—, ia Ibnu Abbas berkata; maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat, ‘Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.’ (QS. Azzumar; 67).

 

Musnad Ahmad 2834: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Abu Kudainah dari ‘Atha` dari Abu Adl Dluha dari Ibnu Abbas ia berkata; Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pagi hari sementara pasukan tidak memiliki air, maka seorang laki-laki datang kepada beliau lalu berkata; Wahai Rasulullah, pasukan tidak memiliki air. Beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” ia menjawab; Ya. Beliau bersabda lagi: “Bawakanlah kepadaku.” Lalu didatangkan kepadanya bejana yang berisi sedikit air. Ia Ibnu Abbas berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan jari-jarinya ke mulut bejana lalu meregangkan jari-jarinya, maka memancarlah beberapa mata air di antara jari-jarinya dan beliau menyuruh Bilal lalu beliau bersabda: “Serukanlah pada orang-orang; Ayo kita lakukan wudlu yang sarat keberkahan.”

 

Musnad Ahmad 2835: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Harir telah menceritakan kepada kami ayahku berkata; aku mendengar Yunus menceritakan dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ia berkata; Ketika menjelang ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kemarilah, aku akan menulis sebuah tulisan (pesan) kepada kalian, sehingga kalian tidak akan tersesat setelahnya.” Di dalam rumah itu ada beberapa orang di antaranya adalah Umar bin Al Khaththab. Umar menyampaikan usulan; sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam rupanya telah sedemikian parah, dan kalian telah memiliki Al Qur`an, maka cukuplah Kitabullah bagi kita. Namun orang-orang yang di rumah itu berselisih, lalu berdebatlah mereka, di antara mereka ada yang berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menuliskan sesuatu kepada kalian. Atau mengatakan; mendekatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menuliskan sesuatu kepada kalian. Dan di antara mereka ada yang mengatakan apa yang dikatakan Umar. Akhirnya terjadi keributan dan perselisihan, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikerumuni, beliau lantas bersabda: “Pergilah kalian dariku.” Ibnu Abbas berkata; Sungguh ini musibah segala musibah, tidak ada kesempatan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis pesan bagi mereka karena perselisihan dan keributan mereka.

 

Musnad Ahmad 2836: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Al A’masy dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ketika di Makkah dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis, sedangkan Ka’bah ada di depannya. Kemudian setelah enam belas bulan beliau hijrah ke Madinah, lalu kiblat dialihkan ke Ka’bah.

 

Musnad Ahmad 2837: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Hasan dari ayahnya dari Salamah bin Kuhail dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Umar datang, lalu ia mengucapkan; Assalamu ‘ala Rasulillah, assalamu ‘alaikum, bolehkah umar masuk?

 

Musnad Ahmad 2838: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Wuhaib bin Khalid dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagikan harta (warisan) kepada para ahli waris yang berhak, adapun sisa darinya maka untuk ahli waris laki-laki yang paling berhak.”

 

Musnad Ahmad 2839: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Mufadlal dari Manshur dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat pada tahun penaklukan (Makkah) dalam bulan Ramadlan. Beliau berpuasa hingga mencapai ‘Usfan kemudian beliau minta bejana lalu meminumnya siang hari agar dilihat oleh orang-orang, kemudian beliau berbuka hingga masuk Makkah. Beliau menaklukkan Makkah pada bulan Ramadlan. Ibnu Abbas berkata; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ketika bepergian dan juga berbuka, maka siapa yang ingin silakan berpuasa dan siapa yang ingin silakan berbuka.

 

Musnad Ahmad 2840: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Khushaif dari Miqsam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang laki-laki yang menggauli istrinya ketika haidl, beliau bersabda: “Ia berkewajiban membayar (sedekah) setengah dinar.” Ia (Abdullah) berkata; Syarik berkata dari Ibnu Abbas.

 

Musnad Ahmad 2841: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang haji, (apakah) setiap tahun? Maka beliau bersabda: “Haji diwajibkan kepada setiap muslim, seandainya aku katakan setiap tahun, tentu akan (wajib) demikian.”

 

Musnad Ahmad 2842: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Ibnu Al Mubarak dari Yunus dari Az Zuhri dari Abdullah bin Ka’ab dari Ibnu Abbas ia berkata; Ali keluar dari tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakitnya, lalu orang-orang bertanya; Bagaimana kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wahai Abu Hasan? Ia menjawab; Alhamdulillah beliau telah sembuh. Maka Al Abbas berkata; Apakah engkau tidak menerka, aku terka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan wafat karena sakitnya ini. Dan sungguh, aku tahu betul roman muka anak cucu keturunan Abdul Muththalib ketika menjelang kematiannya. Mari kita menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kita berbicara dengannya. Jika perkara (wewenang kepemerintahan) ini (diserahkan) kepada kita, beliau akan menjelaskannya, dan bila selain kita, maka kita bicara dengannya sehingga beliau mewasiatkan kepada kita. Maka Ali berkata; Jika beliau mengatakan, perkara ini kepada selain kita, maka orang-orang tidak akan menyerahkan kepada kita selamanya. Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah ini selamanya.

 

Musnad Ahmad 2843: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ma’iz ketika ia mengatakan; aku telah berzina: “Mungkin engkau hanya merabanya, atau menciumnya atau menatap kepadanya?” ia (perawi) berkata; Sepertinya beliau khawatir agar ia tidak mengetahui apa zina itu.

 

Musnad Ahmad 2844: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Ibrahim bin Muhajir dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyetorkan bacaan Al Qur`an kepada Jibril setiap tahun sekali, namun pada tahun beliau wafat, beliau menyetor hapalannya dua kali, dan bacaan terakhir adalah bacaan Abdullah.

 

Musnad Ahmad 2845: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Isra`il dari ‘Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; ketika turun ayat, ‘Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat. (QS. Al-an’am 152), ‘ Orang-orang menghindari harta anak-anak yatim, sehingga makanan pun menjadi rusak dan daging membusuk. Lalu hal itu disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah ayat, ‘Dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan.’ (QS. Albaqarah 220), Lalu mereka pun berbaur dengan mereka (para yatim).

 

Musnad Ahmad 2846: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika selesai perang Badar; Engkau juga harus membawa unta dan muatannya, jangan ada yang ketinggalan sedikit pun. Lalu Al Abbas memanggilnya; Sesungguhnya itu tidak layak bagimu. Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu salah satu dari dua kelompok, dan Dia telah memberikan kepadamu apa yang Dia janjikan kepadamu.

 

Musnad Ahmad 2847: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Syarik dari Al A’masy dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan) setiap binatang buas yang bertaring.

 

Musnad Ahmad 2848: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Al A’masy dari dari Al Hakam bin Utaibah dari Miqsam dari Ibnu Abbas ia berkata; Pada malam hari Nahr (idul kurban) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kami, saat itu kami diliputi gelapnya malam, lalu beliau menepuk paha-paha kami dan bersabda: “Wahai anakku, berangkatlah namun jangan melempar jumrah hingga matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 2849: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Bakar An Nahsyali dari Habib bin Abu Tsabit dari Yahya bin Al Jazzar dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat malam sebanyak delapan rakaat dan witir tiga rakaat serta shalat dua rakaat fajar.

 

Musnad Ahmad 2850: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Muhammad bin Abdurrahman budak Abu Thalhah dari Kuraib dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu nama Juwairiyah binti Al Harits adalah Barrah lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merubah namanya dan menyebutnya Juwairiyah.

 

Musnad Ahmad 2851: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan keluarganya yang lemah (untuk berangkat) dari Muzdalifah pada malam hari, lalu beliau berwasiat kepada mereka agar tidak melempar Jumrah aqabah hingga matahari terbit.

 

Musnad Ahmad 2852: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq yakni Asy Syaibani dari Yazid bin Al Asham berkata; aku menemui Ibnu Abbas lalu aku katakan; seorang laki-laki menikah lalu ia menghidangkan makanan kepada kami dan kami memakannya, kemudian ia menghidangkan kepada kami tiga belas (daging) dlabb (sejenis biawak). Diantara kami ada yang memakannya dan ada yang tidak. Lalu sebagian orang yang ada di dekat Ibnu Abbas berkata; Aku tidak memakannya namun aku tidak mengharamkannya, aku juga tidak menyuruhnya dan tidak pula melarangnya. Maka Ibnu Abbas berkata; Buruk sekali yang kalian katakan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak diutus kecuali untuk menghalalkan dan mengharamkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dihidangkan (makanan) lalu beliau mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka Maimunah berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, itu adalah daging dlabb (sejenis biawak).” Maka beliau menahan tangannya dan bersabda: “Aku belum pernah makan daging ini sama sekali, tapi makanlah.” Lalu Al Fadlal bin Abbas, Khalid bin Walid dan seorang wanita yang bersama mereka juga menyantapnya.”Hanya Maimunah berkata; Aku tidak akan makan sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mau memakannya.

 

Musnad Ahmad 2853: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Mutharrif dari ‘Athiyyah dari Ibnu Abbas mengenai firmanNya, ‘Apabila ditiup sangkakala.’ (QS. ALmudatstsir 8), Ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana aku merasa tenang sementara sang pemegang tanduk (sangkakala) telah menelan tanduk (sangkakala) dan memiringkan dahinya, ia akan mendengar kapan pun diperintahkan?” maka para sahabat Muhammad berkata; Bagaimana kami mengucapkan? Beliau menjawab: “Ucapkanlah, ‘HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIL ‘ALALLAHI TAWAKKALNA’ (Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dialah sebaik-baik penolong dan kepada Allahlah kami bertawakal.”

 

Musnad Ahmad 2854: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim berkata; aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, bagaimana menurutmu tentang itu? Ia menjawab; telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali berpuasa hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka, dan bila beliau juga sering tidak berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa.

 

Musnad Ahmad 2855: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menyetorkan hapalan bacaan Al Qur`an setiap Ramadlan kepada Jibril. Ketika beliau setorkan hapalannya, bacaan beliau lebih lembut dari angin yang berhembus, tidaklah beliau diminta sesuatu kecuali beliau memberinya, hingga ketika beliau meninggal setelah Ramadhan, beliau mengajukan bacaan dua kali.

 

Musnad Ahmad 2856: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid dan Mu`ammal Al Ma’na keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Laila dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwa kaum muslimin berhasil melukai seorang laki-laki dari pembesar kaum musrikin, lalu mereka membunuhnya, kemudian mereka (musyrikin) meminta agar bisa membeli jasadnya.

 

Musnad Ahmad 2857: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu untuk shalat, lalu salah seorang istrinya berkata kepadanya; Duduklah, karena periuk telah matang. Maka istrinya memberikan bahu (kambing), kemudian beliau pun memakannya, lalu mengusap tangannya, kemudian beliau shalat tanpa berwudlu.

 

Musnad Ahmad 2858: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id budak bani Hasyim telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah seperti anjing yang muntah, lalu menjilat kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2859: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Umar yakni Ibnu Farrukh telah menceritakan kepada kami Habib yakni Ibnu Az Zubair dari Ikrimah ia berkata; aku melihat seorang laki-laki masuk masjid lalu berdiri mendirikan shalat, ternyata ketika mengangkat kepalanya ia bertakbir, ketika meletakkan kepalanya ia bertakbir dan ketika bangkit dari dua rakaat ia bertakbir. Maka aku mengingkari hal itu, lalu aku temui Ibnu Abbas kemudian ia mengabarkan tentang hal itu, ia pun berkata; “Huss kamu. Bukankah itu shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?.

 

Musnad Ahmad 2860: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Nuh bin Ja’wanah As Sulami Khurasani dari Muqatil bin Hayyan dari ‘Atha` dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ke masjid dan beliau mengatakan dengan tangannya seperti ini. Maka Abu Abdurrahman memberi isyarat dengan tangannya ke tanah: “Barangsiapa memberi tangguh kepada orang yang kesulitan, atau menggugurkannya, Allah akan memeliharanya dari uap (panas) Jahannam. Ketahuilah bahwa amalan surga adalah kesulitan yang berada di jalan mendaki.” (Beliau ucapkan tiga kali), “Sebaliknya ketahuilah bahwa amalan neraka adalah kemudahan di emperan rumah. Orang yang bahagia adalah yang dipelihara dari fitnah. Tidak ada tegukan yang lebih aku sukai daripada tegukan kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba. Tidaklah seorang hamba menahannya (yakni menahan kemarahan) karena Allah, kecuali Allah akan memenuhi hatinya dengan keimanan.”

 

Musnad Ahmad 2861: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid dari Malik dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati bangkai kambing, lalu beliau bersabda: “Milik siapa kambing ini?” mereka menjawab; Milik Maimunah. Beliau pun bersabda: “Mengapa kalian tidak memanfaatkannya dengan cara mengelola kulitnya?”

 

Musnad Ahmad 2862: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Syu’bah dari Ibnu Abbas ia berkata; aku bersama Al Fadlal berjalan dengan menunggang keledai betina, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat mengimami orang-orang di tanah lapang, kami pun singgah dan mengikuti shalat bersamanya, namun beliau tidak mengatakan apa-apa kepada kami mengenai hal itu.

 

Musnad Ahmad 2863: telah menceritakan kepada kami Abu Dawud telah menceritakan kepada kami Zam’ah dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi upah kepada pembekamnya.

 

Musnad Ahmad 2864: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Abbad bin Manshur dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wuquf di Jam’ (muzdalifah), maka ketika cahaya mulai menerangi segala sesuatu sebelum terbit matahari, beliau berangkat.

 

Musnad Ahmad 2865: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hasyim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah berkata; aku mendengar Abu Al Bakhtari berkata; Kami melihat hilal Ramadlan, saat itu kami berada di Dzat ‘Irq. Lalu kami mengirim seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya. Hasyim berkata; maka ia menanyakannya, lalu Ibnu Abbas menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah memanjangkan masa rukyatnya.” Hasyim mengatakan; “Untuk rukyatnya, bila kalian terhalang (dalam melihatnya), maka genapkanlah hitungannya.”

 

Musnad Ahmad 2866: telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Warqa` aku mendengar Ubaidullah bin Abu Yazid dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi tempat buang air, lalu kuletakkan air wudlu untuk beliau. Setelah selesai beliau bertanya: “Siapa yang meletakkan ini?” ia menjawab; Ibnu Abbas. Beliau pun bersabda: “Ya Allah, fahamkanlah ia mengenal agama.”

 

Musnad Ahmad 2867: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Abu Wahsyiyyah Abu Bisyr dari Maimun bin Mihran dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan) semua binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar tajam.

 

Musnad Ahmad 2868: telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abdul A’la Ats Tsa’labi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Berhati-hatilah membicarakan tentangku kecuali yang kalian ketahui.” Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas nama Al Qur`an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 2869: telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; seorang badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berbicara dengan pembicaraan yang jelas. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh di antara lafadh yang indah terdapat apa yang disebut sihir, dan di antara sya’ir ada (yang mengandung) hukum.”

 

Musnad Ahmad 2870: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dai Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; seekor kambing milik Saudah binti Zam’ah mati, lalu ia berkata; Ya Rasulullah, si fulanah telah mati, maksudnya kambing. Beliau pun bersabda: “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya?” ia berkata; Kami mengambil kulit kambing yang telah mati? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Allah AzzaWaJalla berfirman, ‘Katakanlah: “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi.’ (QS. Al’an’am 145), Sedangkan kalian tidak memakannya. Bila kalian menyamaknya maka kalian bisa memanfaatkannya.” Maka Saudah pun menyuruh orang untuk mengambilnya dan mengelola kulitnya kemudian menyamaknya, lalu dijadikan tempat air, dan kulit tersebut digunakan sampai usang. Telah menceritakan kepada kami Aswad telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Saudah binti Zam’ah lalu menyebutkannya.

 

Musnad Ahmad 2871: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Sa’id bin Jubair dari Abdullah bin Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ma’iz bin Malik: “Apakah benar kabar yang sampai kepadaku tentangmu, sesungguhnya engkau telah menggauli budak perempuan bani Fulan?” maka ia bersaksi empat kali, ia Ibnu Abbas berkata; lalu beliau merajamnya.

 

Musnad Ahmad 2872: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair ia berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi bibiku Maimunah Al Hilaliyah, saat itu beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2873: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas sesungguhnya mereka pergi bersama Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam melaksanakan umrah, lalu ada seorang laki-laki dari mereka diserang untanya lalu dia meninggal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara serta kafanilah dengan dua pakaian, namun janganlah kalian menyentuhkan wewangian padanya serta jangan kalian tutupi kepalanya, karena ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan rambutnya direkatkan.”

 

Musnad Ahmad 2874: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada Thiyarah, ‘adwa, Hamah serta tidak ada Shafar.” Ibnu Abbas berkata; Seorang laki-laki bertanya; Kami pernah memasukkan seekor kambing berpenyakit kudis ke dalam kawanan kambing lalu menularinya. Beliau bersabda: “Lalu siapa yang menulari pertama kali?”

 

Musnad Ahmad 2875: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginap di rumah Maimunah, pada malam hari aku menyediakan air wudlu untuknya. Ibnu Abbas melanjutkan: lalu Maimunah berkata: Wahai Rasulullah, Abdullah bin Abbas telah meletakkan ini untukmu, Maka beliau bersabda: “Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agamanya dan ajarilah ta`wil.”

 

Musnad Ahmad 2876: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Dawud bin Abu Hind berkata; telah menceritakan kepadaku fulan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berjalan, beliau berjalan dengan semangat, tidak mencerminkan kemalasan.

 

Musnad Ahmad 2877: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai anak-anak kaum musyrikin. Beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat ketika Dia menciptakan mereka.”

 

Musnad Ahmad 2878: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenakanlah pakaian kalian yang berwarna putih karena ia adalah sebaik-baik pakaian kalian, serta kafanilah orang-orang mati kalian dengannya, dan sebaik-baik celak kalian ialah Itsmid karena dia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.”

 

Musnad Ahmad 2879: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki-laki, lalu ia berkata; Wahai Rasulullah, aku telah bertahallul namun aku tidak berkurban. Beliau bersabda: “Ah nggak masalah.” Dan datang yang lainnya lalu berkata; Wahai Rasulullah aku telah berkurban sebelum melempar (jumrah). Beliau bersabda: “Lemparlah jumrah dan nggak masalah.”

 

Musnad Ahmad 2880: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengarnya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengaku (bernasab) kepada selain ayahnya atau seorang budak berwala’ bukan kepada selain majikannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan semua manusia.”

 

Musnad Ahmad 2881: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Al Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melempar jumrah setelah matahari tergelincir.

 

Musnad Ahmad 2882: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Mukhawwal bin Rasyid dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat Shubuh hari Jum’at membaca surat ‘Tanzil’ (surat As sajdah) dan ‘Hal ata ‘alal insan’. (QS. Al-Insan).

 

Musnad Ahmad 2883: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwasanya Ummu Hufaid binti Al Harits bin Hazn, bibinya Ibnu Abbas, memberikan hadiah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa lemak, keju dan (daging) dlabb (sejenis biawak). Ia Ibnu Abbas berkata; lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak (untuk menyantapnya), lalu makanan itu di makan dari atas tempat hidangan beliau, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyantapnya karena merasa jijik. Seandainya makanan itu haram tentu tidak akan dimakan di tempat hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau juga tidak menyuruhnya.

 

Musnad Ahmad 2884: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepadaku Sukain bin Abdul Aziz berkata; telah menceritakan kepadaku ayahku berkata; aku mendengar Ibnu Abbas ia berkata; Fulan dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Arafah, dia berkata; Laki-laki itu memperhatikan para wanita dan memandangi mereka. Ia (Ibnu Abbas) berkata; lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan wajahnya dengan tangannya dari belakangnya berkali-kali namun pemuda itu kembali memperhatikan mereka, ia melanjutkan; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya pada hari ini, barangsiapa yang mampu menahan pendengaran, pandangan dan lisannya, niscaya ia diampuni.”

 

Musnad Ahmad 2885: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau berada di Quba pada hari Badar: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu terhadap sumpah dan janjiMu, ya Allah, jika Engkau mau, maka Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini.” Lalu Abu Bakar meraih tangan beliau dan berkata; Cukuplah wahai Rasulullah, engkau telah memaksa atas Tuhanmu. Lalu beliau pun mengenakan baju perangnya, kemudian beliau keluar dan mengucapkan (firman Allah): “‘Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.'”

 

Musnad Ahmad 2886: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak dinikahkan dengan anak Hamzah, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya dia adalah anak saudara sesusuanku dan dia tidak halal untuk aku nikahi. Sesungguhnya segala yang haram karena keturunan, haram pula karena sepersusuan.”

 

Musnad Ahmad 2887: . Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Dawud dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Abu Jahal menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang sholat, lalu Abu Jahal melarangnya, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengancamnya, ia pun berkata; Apakah engkau mengancamku? Demi Allah, sesungguhnya aku ini orang yang paling banyak kerabat dan pendukungnya di lembah ini. Maka Allah menurunkan (ayat), ‘Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? ‘ (QS. Al’alaq 9-13). (Ibnu Abbas) berkata; Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNYa, seandainya ia memanggil para pendukungnya, niscaya ia akan disambar oleh malaikat Zabaniyah.

 

Musnad Ahmad 2888: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dan dia merafa’nya, beliau bersabda: “Seluruh kemitraan (koalisi, ikrar kesepakatan) semasa jahiliyah, Islam tidak menambahnya semakin kuat dan kokoh.”’

 

Musnad Ahmad 2889: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengkabarkan kepada kami ‘Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hajar aswad itu berasal dari surga, warnanya lebih putih dari salju hingga (akhirnya) dihitamkan oleh dosa-dosa para pelaku syirik”

 

Musnad Ahmad 2890: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Az Zuhri dari Ubaidullah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seekor bangkai kambing yang dibuang oleh pemiliknya, lalu beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh dunia itu lebih hina disisi Allah dari bangkai ini bagi pemiliknya.”

 

Musnad Ahmad 2891: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai nadzar yang pernah diucapkan ibunya yang telah meninggal sebelum melaksanakannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beresi nadzarnya atas namanya.”

 

Musnad Ahmad 2892: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Az Zuhri dari Sulaiman bin Yasar dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita dari Khats’am bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada haji wada’ sementara Al Fadlal bin Abbas sedang dibonceng oleh beliau, lalu ia berkata; Wahai Rasulullah, kewajiban haji yang Allah tetapkan bagi hambaNya menemui ayahku ketika telah tua renta, yang ia nyaris tak lagi bisa berkendaraan dengan baik, bolehkah aku menghajikannya? Beliau menjawab: “Ya, sana berhaji atas nama ayahmu!.”

 

Musnad Ahmad 2893: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminum susu kemudian beliau meminta air lalu berkumur, dan beliau bersabda: “Sungguh (susu) itu ada lemaknya.”

 

Musnad Ahmad 2894: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Az Zuhri dari Ubaidullah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seekor bangkai kambing, lalu beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?” mereka berkata; Wahai Rasulullah, itu telah mati. Lalu beliau bersabda: “Yang diharamkan adalah memakannya.”

 

Musnad Ahmad 2895: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami ‘Atha` bin Abu Rabah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah, saat itu beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2896: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Abdul Karim berkata; telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Dluba’ah untuk mensyaratkan dalam ihramnya.

 

Musnad Ahmad 2897: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari sebagian saudaranya dari Muhammad bin Ubaid Al Makki dari Abdullah bin Abbas berkata; dikatakan kepada Ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki datang kepada kami dengan mendustakan takdir. Lalu ia Ibnu Abbas berkata; Tunjukkan aku kepadanya. Saat itu Ibnu Abbas telah buta. Mereka bertanya; apa yang akan engkau perbuat kepadanya wahai Abu Abbas? Ia menjawab; Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, jika aku bisa meringkusnya, niscaya aku gigit hidungnya sampai putus. Dan bila berlutut di tanganku, niscaya aku akan menghantamnya. Karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seolah-olah aku berada di wanita bani Fihr yang berjoget di kabilah Khazraj, yang mereka lenggak-lenggokkan pantat mereka, Ini adalah syirik pertama umat ini, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh keyakinan buruk mereka sudah sedemikian melampaui batas hingga mereka singkirkan Allah dari kemampuan-Nya menakdirkan kebaikan sebagaimana mereka singkirkan Allah dari kemampuan-Nya menadirkan kejahatan. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Al ‘Ala` bin Al Hajjaj dari Muhammad bin Ubaid Al Makki dari Ibnu Abbas dengan hadits ini aku berkata; Muhammad pernah berjumpa dengan Ibnu Abbas?. Ia menjawab; Ya.

 

Musnad Ahmad 2898: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i berkata; telah sampai kepadaku bahwa ‘Atha` bin Abu Rabah berkata bahwasanya ia mendengar Ibnu Abbas mengkabarkan bahwa ada seorang laki-laki terluka pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian ia mengalami mimpi basah, kemudian ia disuruh mandi janabah, lalu ia mati. Berita ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau sabdakan: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka, Bukankah obat ketidaktahuan adalah bertanya.?” (ungkapan kejengkelan beliau, mengapa mereka tidak mengambil rukhsah dengan cara tayammum).

 

Musnad Ahmad 2899: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abdullah dan Ali bin Abu Thalhah dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengnya di atas tunggangannya, setelah menungganginya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir tiga kali dan tahmid tiga kali dan tashbih tiga kali dan bertahlil satu kali. Kemudian merunduk lalu tertawa, lalu beliau menghadap kepadanya dan bersabda: “Tidaklah seseorang menunggangi tunggangannya lalu ia melakukan seperti yang kulakukan, kecuali Allah tabaraka wata’ala akan menoleh kepadanya lalu tertawa, sebagaimana tadi aku tertawa kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 2900: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yamani telah menceritakan kepada kami Syu’aib berkata; Az Zuhri ditanya; apakah pada hari jum’at ada mandi wajib? Ia menjawab; telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya ia mendengar Abdullah bin Umar berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian mendatangi (shalat) Jum’at, hendaklah ia mandi.” Dan Thawus berkata; Aku katakan kepada Ibnu Abbas; mereka menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandilah kalian pada hari jumat dan cucilah kepala kalian serta pakailah wewangian.” Ibnu Abbas menjawab; tentang mandi memang benar, adapun tentang minyak wangi, aku tidak tahu.

 

Musnad Ahmad 2901: Abdullah berkata; aku mendapati hadits ini di dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abu Al Aswad dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya, serta laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.

 

Musnad Ahmad 2902: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakar telah menceritakan kepada kami Hatim bin Abu Shaghirah Abu Yunus dari Amru bin Dinar bahwa Kuraib telah mengkabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas berkata; aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada akhir malam, lalu aku shalat di belakang beliau, kemudian beliau meraih tanganku hingga menempatkanku sejajar dengan beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali pada shalatnya, aku mundur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan shalatnya. Selesai shalat beliau bertanya kepadaku: “Aku telah menempatkanmu sejajar denganku, namun mengapa engkau mundur? Aku menjawab; Wahai Rasulullah, apakah pantas bagi seseorang shalat sejajar dengan engkau, padahal engkau adalah Rasulullah yang telah Allah anugerahkan kepadamu? Rupanya Beliau kagum kepadaku karena ucapanku, lalu beliau berdoa untukku agar Allah menambahkan ilmu dan pemahaman kepadaku. Ia Ibnu Abbas berkata; Kemudian aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur hingga aku mendengar dari beliau tarikan suara nafasnya, kemudian Bilal datang dan berkata; Wahai Rasulullah, ayo dirikan shalat. Maka beliau berdiri lalu shalat tanpa mengulangi wudlu.

 

Musnad Ahmad 2903: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Balj telah menceritakan kepada kami Amru bin Maimun berkata; aku duduk di samping Ibnu Abbas, ketika itu datang Sembilan orang kepadanya, lalu mereka berkata; Wahai Abu Abbas Dari Amr bin Maimun berkata: Ketika aku duduk-duduk dekat Ibnu Abbas tiba-tiba datang sembilan orang sambil berkata: “Wahai Ibnu Abbas, pilihlah, apakah engkau yang ikut bersama kami ataukah mereka yang akan terus bersama kami di sini!”, Ibnu Abbas berkata: baiklah aku akan ikut kalian, Amr bin Maimun berkata: ketika itu Ibnu Abbas masih sehat sebelum dia kehilangan penglihatannya, Amr berkata: lalu mereka mulai berbincang namun aku tidak tahu apa yang mereka ucapkan, kemudian Ibnu Abbas merekatkan bajunya sambil berkata: cukup, cukup, mereka telah mencela seorang lelaki yang memiliki sepuluh keutamaan, mereka telah mencela seorang lelaki yang Nabi berkata kepadanya: Aku akan memberikan bendera (pada perang Khaibar) kepada seorang lelaki yang tidak akan Allah hinakan selamanya, dia mencintai Allah dan Rasulnya, dan semuanya ingin mendapatkan kemuliaan tersebut. Nabi bertanya: dimanakah Ali? Para shahabat menjawab: dia sedang membuat tepung di sebuah rumah. Nabi berkata: tidakkah salah seorang dari kalian yang melakukannya! Ibnu Abbas berkata: lalu Ali datang dengan mata kesakitan dan hampir tidak dapat melihat, Berkata Ibnu Abbas: Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam meniup kedua matanya dan menggoyangkan bendera tiga kali lalu memberikannya kepada Ali, kemudian beliau datang dengan membawa Shofiyyah binti Huyay. Ketika itu Nabi telah mengutus seseorang untuk menyampaikan surat Taubah lalu beliau mengutus Ali dibelakangnya untuk mengambil alih tugas tersebut darinya, dan beliau berkata: tidak ada yang menyampaikan surat tersebut kecuali seorang lelaki dari keluargaku, Ibnu Abbas berkata: Nabi pernah berkata kepada anak-anak pamannya: siapakah yang bersedia menjadi pembelaku di dunia dan akherat? Ketika itu Ali sedang bersamanya, Namun para sahabat engga namun Ali berkata: Saya bersedia menjadi pembelamu di dunia dan akherat. Lalu Nabi berkata: “Engkau adalah pembelaku di dunia dan akherat.” berkata Ibnu Abbas: Ali juga orang yang pertama masuk Islam setelah Khodijah. Ibnu Abbas melanjutkan: Nabi juga mengambil bajunya dan memberikannya kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab: 33). Berkata Ibnu Abbas: Ali Juga pernah mengorbankan nyawanya dengan memakai baju Rasulullah dan tidur di tempat beliau untuk menggantikannya padahal ketika itu orang-orang musyrikin melempari Nabi, kemudian Abu Bakar datang ketika Ali sedang tidur, Abu Bakar mengira yang tidur adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar memanggilnya: Wahai Rasulullah, Ali Menjawab: Sesungguhnya Rasulullah telah pergi ke sumur Maimun maka cepatlah engkau menyusul beliau.” Lalu Abu Bakar pun menyusulnya. Kemudian Ali lah yang dilempari dengan batu sebagaimana Rasulullah dilempari dan Ali tidak tahan hingga melindungi kepalanya dengan bajunya sampai pagi baru kemudian membukanya, lantas kaum musyrikin berkata: “Celakalah engkau, temanmu kami lempari namun dia bertahan sedang kamu kami lempari namun tidak tahan dan kami telah mencurigai akan hal ini.” Ibnu Abbas juga berkata: Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berangkat untuk perang Tabuk, Ali berkata kepada Nabi: Aku akan ikut bersama engkau, Nabi berkata: “Tidak”, lantas Ali pun menangis. Lalu Nabi berkata: Tidakkah engkau rela berada disisiku seperti kedudukannya Harun disisi Musa? Hanya saja engkau bukan seorang Nabi?, tidak sepatutnya Aku pergi kecuali engkau sebagai penggantiku di Madinah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga berkata kepadanya: Engkau adalah waliku atas setiap mukmin sepeninggalku. Nabi juga berkata: Tutuplah semua pintu masjid (bagi yang junub) kecuali pintunya Ali, berkata Ibnu Abbas: lalu Ali masuk masjid dalam keadaan junub dan itu adalah jalannya tidak ada jalan untuknya kecuali jalan tersebut. Nabi juga bersabda: Barang siapa yang Aku adalah walinya maka Ali juga menjadi walinya. Beliau juga bersabda: Allah mengabarkan kepada kami di dalam Alquran bahwa Dia ridho atas orang-orang yang berbai’at di bawah pohon serta Dia juga mengetahui isi hati mereka, lantas apakah pernah Dia mengabarkan bahwa Dia membenci mereka setelah itu?. Berkata Ibnu Abbas: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Umar tatkala dia meminta izin untuk memenggal lehernya: Jika engkau lakukan, tahukah engkau siapa tahu Allah telah melihat isi hati Ahli Badar lalu berfirman: Berbuatlah sekehendak hati kalian. Bercerita kepada kami Abu Malik yaitu Katsir bin Yahya dia berkata: Telah bercerita kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Balh dari Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas seperti hadits di atas.

 

Musnad Ahmad 2904: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dan Abu Bakar keduanya berkata; telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengkabarkan kepadaku Hasan bin Muslim dari Thawus dari Ibnu Abbas ia berkata; aku menyaksikan shalat pada hari Idul Fithri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka semua melakukan shalat sebelum khutbah kemudian berkhutbah setelah itu. ia berkata; Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam turun, seolah-olah aku melihatnya ketika beliau memerintahkan orang-orang dengan tangannya supaya duduk, kemudian beliau berjalan menembus mereka hingga beliau tiba di tempat kaum wanita, saat itu beliau bersama Bilal, lalu beliau bersabda (membacakan ayat): “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan sesuatu pun dengan Allah.’ (QS. Almumtahanah 12), Lalu beliau membacakan ayat ini hingga selesai, setelah selesai beliau bersabda: “Apakah kalian siap demikian?” Lalu seorang wanita berkata, –Dan tidak ada dari mereka yang menjawabnya selain dia–, ia berkata; Ya, wahai Nabi Allah. Hasan tidak tahu siapa nama wanita itu. Beliau bersabda: “Kalau begitu, bersedekahlah kalian.” Ia Ibnu Abbas berkata; maka Bilal membentangkan pakaiannya sambil berkata; Kemarikanlah milik kalian, dan ayah-ibuku saya korbankan untuk kalian. Lalu mereka pun melemparkan cincin-cincin mereka yang besar dan kecil ke dalam pakaian Bilal. Ibnu Bakar berkata; cincin-cincin kecil (dengan tanpa menyebut nama cincin besar).

 

Musnad Ahmad 2905: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat pada hari raya, kemudian beliau berkhutbah, lalu beliau mengira bahwa kaum wanita tidak dapat mendengar (khutbah beliau), maka beliau menghampiri mereka, lalu beliau menasehati mereka dan bersabda: “Bersedekahlah kalian.” Maka ada seorang wanita yang memberikan cincin, anting-anting dan yang lain. Kemudian beliau menyuruh Bilal, lalu dia mengumpulkannya dengan pakaiannya hingga selesai.

 

Musnad Ahmad 2906: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya ia berkata lagi dari Ibnu Abbas lalu aku katakan; tidak melalui Thawus? Ia menjawab; Ya, ini dari Ibnu Abbas ia berkata, kemudian ia mendengarnya menyebutkan setelah itu namun tidak menyebutkan Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penduduk Madinah berihlal (berniat memulai ihram) dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam berihlal dari Juhfah, penduduk Yaman berihlal dari Yalamlam dan penduduk Najd berihlal dari Qarnul manazil. Semua itu (adalah miqat) bagi mereka dan orang-orang selain mereka yang datang ke tempat-tempat itu bagi yang hendak melaksanakan haji dan umrah. Adapun orang yang rumahnya lebih dekat dari miqat-miqat itu, maka ia berihlal dari rumahnya, hingga sampai penduduk Makkah. (Perawi berkata); Aku pernah berihram dari Yalamlam ketika datang dari tempat Abdurrazaq.

 

Musnad Ahmad 2907: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk membunuh empat binatang; semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.

 

Musnad Ahmad 2908: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dihidangkan dua daging biawak panggang yang ketika itu Khalid bin Al Walid di dekatnya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tangannya untuk memakannya, kemudian beliau diberitahu; itu adalah daging dlabb. Maka beliau menahan tangannya, lalu Khalid berkata kepadanya; Apakah itu haram wahai Rasulullah?. Beliau bersabda: “Tidak, tetapi tidak terdapat di negeri kaumku, sehingga aku merasa jijik.” Maka Khalid memakannya, sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekedar menonton.

 

Musnad Ahmad 2909: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia memuji beliau, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah terdapat apa yang disebut sihir dan sesungguhnya di antara sya’ir ada (yang mengandung) hukum.”

 

Musnad Ahmad 2910: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Qatadah dari seorang laki-laki dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan melarang setiap burung yang bercakar (tajam).

 

Musnad Ahmad 2911: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Humaid Al A’raj dari Mujahid berkata; aku masuk ke tempat Ibnu Abbas, lalu aku katakan; wahai Ibnu Abbas, ketika aku di dekat Ibnu Umar, ia membaca ayat ini lalu menangis. Ia bertanya; ayat apa itu? aku menjawab; ‘Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.’ (QS. Albaqarah 284). Ibnu Abbas berkata; Ayat ini ketika diturunkan, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan kesedihan yang sangat, dan mereka diliputi kekecewaan yang sangat, yakni mereka mengatakan; Wahai Rasulullah, binasalah kami, bila kami dihukum karena apa yang kami katakan dan kami lakukan. Adapun hati kami, itu kan tidak di tangan kami. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “Katakanlah kami mendengar dan kami taat.” Ia Ibnu Abbas berkata; Lalu ayat ini dinaskh (hapus) dengan ayat ini, ‘Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya’ hingga ayat, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya’ (QS. Albaqarah 285-286), maka Allah memaafkan bagi mereka tentang apa yang terbersit di dalam jiwa, dan diperhitungkan karena perbuatan.

 

Musnad Ahmad 2912: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Isra`il dan Al Aswad berkata; telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa, Dahulu orang-orang Quraisy mendatangi seorang perempuan dukun, lalu mereka berkata kepadanya; Kabarkanlah kepada kami tentang orang-orang yang paling menyerupai orang yang menghuni makam ini! Lalu ia berkata; Jika kalian mau membentangkan kain ini di atas dataran ini, lalu kalian berjalan di atasnya, aku akan memberitahu kalian. Maka mereka pun membentangkan, lalu orang-orang berjalan di atasnya, kemudian perempuan itu melihat jejak Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu wanita berkata; inilah orang di antara kalian yang paling menyerupai dengannya. Setelah itu berlalulah waktu selama dua puluh tahun atau hampir dua puluh tahun, atau selama yang dikehendaki Allah, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun diutus.

 

Musnad Ahmad 2913: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Dawud bin Qais dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha` bin Yasar dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudlu satu kali-satu kali.

 

Musnad Ahmad 2914: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dan Ats Tsauri dari Ibnu Khutsaim dari Abu Thufail berkata; Aku bersama Ibnu Abbas dan Mu’awiyah, namun Mu’awiyah tidaklah melewati rukun yamani kecuali beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) padanya. Maka Ibnu Abbas berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah beristilam kecuali hajar dan Al Yamani. Mu’awiyah pun berkata; Tidak ada sesuatu pun dari bait ini (Baitullah) yang ditinggalkan.

 

Musnad Ahmad 2915: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Ibnu Khutsaim dan Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Utsman dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikah ketika beliau sedang ihram, dan beliau berbekam, saat beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2916: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki tersungkur dari untanya ketika sedang ihram lalu terinjak atau diinjak, Ayyub ragu, lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Mandikanlah dengan air bersama daun bidara dan kafanilah dengan pakaiannya, tapi janganlah kalian menutup kepalanya dan jangan pula mengenakan wewangian padanya, karena Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan berihram.” Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, Ma’mar berkata; telah mengkabarkan kepadaku Abdul Karim Al Jazari dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; bahwa seorang laki-laki tersungkur dari untanya yang mengamuk ketika sedang ihram, lalu ia terinjak-injak dengan keras kemudian ia menyebutkan seperti hadits Ayyub.

 

Musnad Ahmad 2917: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam pada kedua sisi lehernya dan di antara kedua bahunya. Beliau dibekam oleh seorang budak dari bani Bayadlah, upahnya sebesar satu setengah mud, lalu beliau berbicara kepada keluarganya sehingga mereka menggugurkan (kewajiban pajaknya) sebesar setengah mud. Ibnu Abbas berkata; Dan beliau memberi upah, seandainya itu haram, tentu beliau tidak akan memberinya.

 

Musnad Ahmad 2918: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Al Mundzir bin An Nu’man Al Aqthas berkata; aku mendengar Wahb menceritakan dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul dari Aden Abyan dua belas ribu (personil), mereka akan menolong Allah dan RasulNya, mereka adalah sebaik-baik umat diantara aku dan mereka.” Ma’mar mengatakan kepadaku; Pergilah lalu tanyakan kepadanya tentang hadits ini.

 

Musnad Ahmad 2919: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dan Ibnu Bakar keduanya berkata; telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah mengkabarkan kepadaku Ya’la bahwa ia mendengar Ikrimah budak dari Ibnu Abbas berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata; Ibnu Bakar, saudara bani Sa’idah, ibunya meninggal ketika ia tidak bersamanya, lalu ia berkata; Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia ketika aku tidak bersamanya, apakah bermanfaat untuknya jika aku bersedekah sesuatu atas namanya? Beliau menjawab: “Ya.” Ia berkata lagi; Maka aku persaksikan padamu, bahwa kebun yang hampir panen adalah sedekah atas namanya. Ibnu Bakar berkata; yang telah dipanen.

 

Musnad Ahmad 2920: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman bin Al Harits telah menceritakan kepadaku Hakim bin Hakim dari Nafi’ bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Jibril mengimamiku di Baitullah, ia shalat Zhuhur mengimamiku ketika tergelincirnya matahari sekitar tali sandal, kemudian shalat Ashar bersamaku ketika bayangan sesuatu sama dengan dua kali aslinya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa boleh berbuka. Kemudian shalat Shubuh bersamaku ketika makan dan minum telah diharamkan bagi yang berpuasa, lalu keesokan harinya, ia shalat Zhuhur bersamaku ketika bayangan sesuatu sama dengan aslinya, kemudian shalat Ashar bersamaku ketika bayangan sesuatu sama dengan dua kali aslinya. Setelah itu shalat Maghrib bersamaku ketika orang berpuasa boleh berbuka, kemudian shalat Isya bersamaku pada sepertiga malam yang pertama, lalu shalat Shubuh bersamaku setelah cahaya menguning. Setelah itu ia menoleh ke arahku, lalu berkata, Wahai Muhammad, ini adalah waktu para Nabi sebelummu. Waktunya adalah di antara kisaran kedua waktu tersebut.” Telah menceritakan kepadaku Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman bin Al Harits bin Ayyasy bin Abu Rabi’ah dari Hakim bin Hakim bin ‘Abbad bin Hunaif, lalu ia menyebutkan sanad dan maknanya, hanya saja ia mengatakan pada shalat Subuh hari kedua; Aku tidak tahu apa yang dikatakannya, dan pada waktu shalat Isya ia berkata; “Ia (Jibril) shalat bersamaku ketika sepertiga malam pertama telah berlalu.”

 

Musnad Ahmad 2921: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Umar Ash Shan’ani telah mengkabarkan kepadaku Wahb bin Manus Al ‘Adani ia berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau mengucapkan, ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH.’ (Allah Maha Mendengar siapa saja yang memujiNya) Kemudian beliau mengucapkan, ‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU MIL`AS SAMAAWATI WA MIL`AL ARDlI WA MIL`A MAA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU’ (Wahai Tuhan kami, milikMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa pun setelah itu yang Engkau kehendaki). Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ibrahim bin Umar bin Kaisan telah menceritakan kepadaku ayahku dari Wahab bin Manus selain hadits ini.

 

Musnad Ahmad 2922: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam dan memberi upah kepada pembekamnya. Seandainya itu diharamkan tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberinya.

 

Musnad Ahmad 2923: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Abu Hamzah Adl dluba’i berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (minum) dari dubba`, naqir, muzaffat dan hantam.

 

Musnad Ahmad 2924: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Shalih bin Kaisan dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kuasa bagi wali terhadap wanita janda, sedangkan gadis yatim diminta pendapatnya, dan diamnya adalah tanda keputusannya (persetujuannya).”

 

Musnad Ahmad 2925: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Umar bin Mu’ttib dari budak bani Naufal yakni Abu Al Hasan berkata; Ibnu Abbas ditanya mengenai budak yang mentalak istrinya dengan dua kali talak, kemudian mereka berdua merdeka, apakah boleh ia menikahinya lagi? Ia (Ibnu Abbas) berkata; Ya. Lalu dikatakan; dari siapa (pendapat) ini? Ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menfatwakan itu. Dikatakan kepada Ma’mar; wahai Abu Urwah, siapa Abu Hasan ini, ia pernah menggendong batu besar.

 

Musnad Ahmad 2926: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar berkata; Az Zuhri lalu ia mengkabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari Madinah pada bulan Ramadlan, beliau bersama sepuluh ribu kaum muslimin, waktu itu adalah di permulaan tahun ke delapan setelah kedatangan beliau ke Madinah. Beliau berjalan bersama kaum muslimin berpuasa, hingga ketika mencapai Al Kadid, yaitu sebuah lokasi antara Usfan dan Qudaid, beliau berbuka dan kaum muslimin pun berbuka, sehingga beliau tidak berpuasa.

 

Musnad Ahmad 2927: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; Ibnu Abbas menceritakan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq masuk masjid sementara Umar berbicara kepada orang-orang, ia terus berlalu hingga mencapai rumah tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, yaitu di rumah Aisyah. Lalu Abu Bakar menyingkap kain dari wajah beliau yang membungkusnya, lalu menatap wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian merangkulnya untuk menciumnya, lalu ia berkata; demi Allah, Allah tidak memadukan dua kematian padanya. Engkau telah mengalami kematian yang tidak ada kematian setelahnya. Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami anak saudaraku Ibnu Syihab dari pamannya berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman ia mendengar Abu Hurairah berkata; Abu Bakar masuk masjid sementara Umar berbicara kepada orang-orang, lalu dia menyebutkan hadits ini.

 

Musnad Ahmad 2928: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah berkata; Ibnu Abbas tidak pernah (terdengar) membaca pada shalat Zhuhur dan Ashar. Ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca pada waktu yang diperintahkan kepada beliau untuk membaca, dan berdiam di waktu beliau diperintah untuk diam. (Firman Allah), (Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.) (QS. Ahzab 21). (Dan tidaklah Tuhanmu lupa.) (QS. Maryam; 64).

 

Musnad Ahmad 2929: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepadaku ayahku telah mengkabarkan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Makkah, beliau enggan masuk ke Baitullah, karena di dalamnya banyak tuhan-tuhan (berhala). Lalu beliau memerintahkan sehingga dikeluarkan. Lalu beliau mengeluarkan gambar Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam, di tangan keduanya terdapat panah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah membunuh mereka, demi Allah, sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah mengundi dengan itu sama sekali.” Kemudian beliau masuk Baitullah (Ka’bah) lalu bertakbir pada setiap sudutnya, lalu beliau keluar, dan beliau tidak melakukan shalat dalam Ka’bah.

 

Musnad Ahmad 2930: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusnya bersama barang-barang dari Jam’ (Muzdalifah) di malam hari.

 

Musnad Ahmad 2931: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa dia membenci rendaman/sari buah busr (permulaan kurma) saja dan ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang Abdul Qais mengendapkan sari buah, maka aku tidak suka (rendaman) busr saja.

 

Musnad Ahmad 2932: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan ‘Affan keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari ‘Azrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat Shubuh hari Jum’at, beliau membaca (TANZIL), atau surat As Sajdah dan (HAL ATA ‘ALAL INSAN), atau surat al-insan. ‘Affan berkata; Dengan ALIF LAAM MIIM TANZIL, atau surat Assajdah.

 

Musnad Ahmad 2933: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir telah mengkabarkan kepada kami Bukair bin Abu As Samith, Qatadah berkata dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat pagi hari Jum’at, beliau membaca (tanzil), alias surat As Sajdah dan (Hal ata ‘alal insan), alias surat al-insan.

 

Musnad Ahmad 2934: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Abdu Rabbihi bin Bariq Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Simak Abu Zumail Al Hanafi berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dari umatku mempunyai dua farath (kematian anak kecil), maka ia akan masuk surga.” Maka ‘A`isyah berkata; Aku rela berkorban dengan ayahku, bagaimana nasib yang hanya mempunyai satu anak kecil yang mati? Beliau bersabda: “Begitu pula yang mempunyai satu farath, wahai wanita yang menyepakati (kebaikan).” ‘A`isyah berkata lagi; Bagaimana umatmu yang tidak mempunyai farath? Beliau bersabda: “Maka akulah farath bagi umatku, mereka tidak pernah mendapat musibah seperti (kematian) ku.”

 

Musnad Ahmad 2935: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hisyam Ad Dastuwai`i dari Yahya berkata; telah menceritakan Abu Sallam dari Al Hakam bin Mina` bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas tangga-tangga mimbarnya: “Orang-orang itu akan menghentikan kebiasaan meninggalkan shalat Jum’at, atau Allah akan mengunci mati hati mereka kemudian mereka akan ditetapkan termasuk orang-orang yang lalai?.” Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid telah menceritakan kepada kami Aban bin Yazid Al ‘Athar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abi Sallam dari Hakam bin Mina` dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

 

Musnad Ahmad 2936: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Umar bin Farrukh telah menceritakan kepadaku Habib yakni Ibnu Az Zubair dari Ikrimah berkata; aku melihat seorang laki-laki shalat di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia bertakbir ketika sujud, ketika bangkit dan ketika turun (untuk sujud). Lalu aku mengingkarinya, kemudian aku sampaikan hal itu kepada Ibnu Abbas, maka ia pun berkata; “Huss, kamu, itu adalah shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2937: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abdullah bin Utsman bin Kutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah Maimunah, aku meletakkan air wudlu untuk beliau di malam hari, lalu Maimunah berkata kepada beliau; Abdullah bin Abbas telah meletakkan (air wudlu) ini untukmu. Maka beliau bersabda: “Ya Allah, fahamkanlah ia terhadap agamanya dan ajarilah ta`wil.”

 

Musnad Ahmad 2938: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan Hasan bin Musa keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ali bin Zaid ayahku berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Ibnu Salamah telah mengkabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas ia berkata; ketika Utsman bin Mazh’un meninggal dunia, istrinya berkata; Selamat bagimu wahai Ibnu Mazh’un di surga. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya dengan pandangan marah, lalu beliau bersabda; “Apa yang membuatmu tahu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.” ‘Affan berkata; “Dan tidak pula dengannya.” Ia berkata; Ya Rasulullah dia adalah penunggang kudamu dan sahabatmu.” Lalu hal itu terasa berat oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengatakan itu kepada Utsman, karena Utsman adalah orang terbaik mereka, hingga ketika Ruqayyah, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, beliau bersabda: “Bertemulah engkau dengan pendahulu kami yang shalih, Utsman bin Mazh’un.” Maka para wanita pun menangis, lalu Umar memukuli mereka dengan cambuknya, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Umar: “Biarkan mereka menangis, tapi jangan sampai mereka menjerit seperti jeritan setan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang terlahir dari hati dan mata, maka itu dari Allah dan kasih sayang, adapun yang terlahir dari tangan dan lisan, maka itu dari setan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di tepi kuburan, sementara Fathimah menangis di sebelahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap air mata Fathimah dengan bajunya karena sayang kepadanya.

 

Musnad Ahmad 2939: Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Isa Abu Bisyr Ar Rasibi telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Hamzah berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Ketika masih kanak-kanak, aku bermain-main bersama anak-anak. Ketika menoleh, ternyata Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang di belakangku, lalu aku berkata; Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak datang kecuali hanya kepadaku. Ia Ibnu Abbas berkata; Maka aku berlari hingga bersembunyi di balik pintu sebuah rumah. Ia berkata lagi; Aku tidak sadar sampai beliau meraih pundakku, lalu menepukku, beliau bersabda: “Pergilah panggillah Mu’awiyah kepadaku.” Ia berkata; Ia (Mu’awiyah) adalah juru tulis beliau. Lalu aku pun berlari menemui Mu’awiyah, maka aku katakan (kepada Mu’awiyah); Penuhilah (panggilan) Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau sedang perlu.

 

Musnad Ahmad 2940: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Dawud yaitu Ibnu Abu Furat, dan Abu Abdurrahman dari Daud berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari ‘Atha` dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Idul Fithri bersama orang-orang sebanyak dua rakaat tanpa adzan kemudian beliau berkhutbah setelah shalat, lalu beliau mengajak Bilal menemui kaum wanita, beliau pun menasehati mereka. Kemudian setelah beliau selesai (menasehati) mereka, beliau menyuruh Bilal menghampiri dan menyuruh mereka agar bersedekah.

 

Musnad Ahmad 2941: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amru telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin Abdurrahman dari Abu Az Zinad dari Al Qasim bin Muhammad bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberlakukan li’an antara Al ‘Ajlani dan istrinya. Ia (Ibnu Abbas) berkata; Saat itu istrinya telah hamil, lalu ia berkata; Demi Allah, aku tidak pernah mendekatinya semenjak ‘afr. ‘Afr adalah kebun kurma yang disirami setelah dibiarkan selama dua bulan semenjak diserbuki (dikawinkan). Ia (Ibnu Abbas) berkata; Suaminya itu betis dan lengannya kecil serta rambutnya tebal, sedangkan yang dituduhnya adalah Ibnu As Samha`. Ia melanjutkan; Maka wanita itu melahirkan anak (berkulit) hitam, berambut tipis dan berlengan gemuk. (Al Qasim) berkata; Maka Ibnu Syadad bin Al Hadi berkata kepada Ibnu Abbas; wanita itukah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘seandainya aku boleh merajam tanpa bukti, niscaya aku akan merajamnya?.” Ibnu Abbas berkata; Oh, Bukan, wanita yang boleh dirajam tanpa bukti maksudnya adalah wanita yang mengaku terus terang (melakukan perzinahan) dalam Islam. Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad lalu disebutkan maknanya, dan ia katakan dalam redaksinya, ‘Kedua lengannya gemuk, kedua betisnya gemuk.’ Al Hasyimi berkata; Gemuk. Ia juga mengatakan; Setelah diserbuki.

 

Musnad Ahmad 2942: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amru telah menceritakan kepada kami Fulaih telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya bahwa ia pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakan bahu (kambing), kemudian shalat dan tidak berwudlu lagi.

 

Musnad Ahmad 2943: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengkabarkan kepada kami Sa’id dan Abdul Wahhab dari Sa’id dari Qatadah dan Ya’la bin Hakim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah binti Al Harits, saat itu beliau sedang ihram. perawi berkata; dan di dalam hadits Ya’la bin Hakim; Beliau tinggal bersamanya di tempat sumber air yang bernama Sarif. Setelah selesai dari ibadahnya, beliau melewati malam pengantin bersamanya di tempat sumber air tersebut.

 

Musnad Ahmad 2944: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani dari Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mencampurkan busr (permulaan kurma) dengan dengan kurma (direndam) bersamaan. Dan beliau melarang (rendaman) anggur kering kurma dan kurma. Ia berkata; Dan dia mengirim surat kepada penduduk Jurasy agar mereka tidak mencampurkan (rendaman) anggur kering dan kurma.

 

Musnad Ahmad 2945: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang wafat, di dalam rumah terdapat sejumlah laki-laki, di antaranya adalah Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemarilah, aku akan menuliskan kepada kalian suatu tulisan (pesan) sehingga kalian tidak akan tersesat setelah itu selamanya.” Maka Umar berkata; Rupanya rasa sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin parah dan kita memiliki Al Qur`an, maka cukuplah Kitabullah bagi kita. Orang-orang yang berada di rumah berselisih, lalu berdebatlah mereka, di antara mereka ada yang berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menuliskan sesuatu kepada kalian. Atau mengatakan; mendekatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menuliskan sesuatu kepada kalian. Dan di antara mereka ada yang mengatakan apa yang telah dikatakan Umar. Ketika terjadi banyaknya keributan dan perselisihan di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menjauhlah kalian.” Ubaidullah berkata; Ibnu Abbas berkata; Sungguh ini musibah segala musibah, tidak ada kesempatan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis pesan untuk mereka karena perselisihan dan keributan mereka.

 

Musnad Ahmad 2946: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Ibnu Sa’id bin Jubair dari ayahnya dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura`. Lalu beliau bertanya: “Apa ini?” mereka menjawab; Ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan para pengikut Fir’aun, lalu Musa berpuasa padanya sebagai bentuk syukur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak terhadap puasanya.” Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa.

 

Musnad Ahmad 2947: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha` bin Yasar dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berwudlu, lalu membasuh setiap anggotanya masing-masing satu kali basuhan, kemudian menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.

 

Musnad Ahmad 2948: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah menceritakan kepadaku Husain bin Abdullah bin Ubaidullah bin Abbas dan Dawud bin Ali bahwa seorang laki-laki memanggil Ibnu Abbas sementara banyak orang-orang di sekitarnya, lalu ia bertanya; Apakah kalian bermaksud mencari sunnah dengan rendaman/sari buah ini, ataukah karena ia lebih mudah bagi kalian dari susu dan madu? Ibnu Abbas pun menjawab; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Abbas (maksudnya dirinya sendiri) lalu bersabda: “Berilah kami minum.” Maka ia berkata; minuman rendaman/sari buah ini telah terkena tangan, maukah kami memberimu minum susu dan madu?. Beliau bersabda: “Berilah kami minum dari yang engkau berikan kepada orang-orang.” Ia berkata; Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar diberi minum sebanyak dua bejana yang berisi rendaman/sari kurma. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minum, beliau berhenti sebelum kenyang, lalu mengangkat kepalanya kemudian bersabda: “Baik sekali yang kau lakukan ini. Maka silakan kalian kerjakan.” Ibnu Abbas mengatakan; Maka keridlaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan itu lebih aku sukai daripada mengalir susu dan madu di lembah-lembah kami.

 

Musnad Ahmad 2949: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij dan Rauh berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah mengkabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa Abu Asy Sya’tsa` telah mengkabarkan kepadanya, berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berkhutbah, beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak mendapatkan kain, dan ia menemukan celana, maka hendaklah ia mengenakannya. Dan barangsiapa yang tidak menemukan sepasang sandal dan menemukan sepasang khuff, maka hendaklah ia mengenakannya.”

 

Musnad Ahmad 2950: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Juraij dan Hajjaj bin Ibnu Juraij berkata; telah mengkabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa Abu Asy Sya’tsa` telah mengkabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas telah mengkabarkan kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah ketika beliau sedang ihram.

 

Musnad Ahmad 2951: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengkabarkan kepada kami Abu Zubair bahwa ia mendengar Thawus dan Ikrimah budak Ibnu Abbas keduanya mengabarkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; Dluba’ah binti Az Zubair bin Abdul Muththalib datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata; aku wanita yang gemuk, sementara aku ingin melaksanakan haji, apa yang engkau perintahkan kepadaku, bagaimana aku berihlal (niat berihram dan talbiyah)? Beliau menjawab: “Berihlallah engkau dan syaratkanlah bahwa tempat tahallulku adalah di tempat aku tertahan.” Ibnu Abbas; Maka dia mendapatkannya.

 

Musnad Ahmad 2952: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Juhadah dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para wanita peziarah kubur, serta orang-orang yang mendirikan masjid-masjid dan menempatkan lampu-lampu di atasnya. Hajjaj berkata; Syu’bah berkata; Menurutku, yakni kaum Yahudi.

 

Musnad Ahmad 2953: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Qatadah dari Musa bin Salamah berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abbas; Bagaimana aku shalat bila aku berada di Makkah, jika aku belum shalat bersama imam (tidak berjama’ah)? Ia menjawab; Dua rakaat, (itu) sunnah Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2954: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah mengkabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Maimunah junub, lalu Maimunah mandi dari suatu tempayan (tempat air) dan masih tersisa air (di dalamnya), kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mandi dari tempat itu, lalu ia berkata; Wahai Rasulullah, aku telah mandi dari tempat itu. Maka beliau bersabda yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya air tidak ada junub atasnya.” Atau beliau bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak menajiskan.”

 

Musnad Ahmad 2955: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syarik dari Al A’masy dari Al Fudlail bin Umar berkata; menurutku dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah haji tamattu’. Lalu Urwah bin Az Zubair mengatakan; Abu Bakar dan Umar telah melarang haji tamattu’. Maka Ibnu Abbas berkata; Apa yang dikatakan Urayyah? Ia menjawab; ia berkata; Abu Bakar dan Umar telah melarang haji tamattu’. Ibnu Abbas berkata; Tampaknya mereka akan binasa. Aku katakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ia justru berkata; Abu Bakar dan Umar melarang.

 

Musnad Ahmad 2956: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari At Tamimi dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah diperintahkan bersiwak, hingga aku menduga bahwa akan diturunkan ayat Al Qur`an kepadaku mengenainya.” Atau “Wahyu.”

 

Musnad Ahmad 2957: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepada kami Uqail dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam minum susu kemudian beliau minta air, lalu berkumur, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya (susu) itu mengandung lemak.”

 

Musnad Ahmad 2958: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij berkata; telah mengkabarkan kepadaku Ya’la bin Muslim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; (ayat), (Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.) (QS. Annisa’; 59) diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin ‘Adi bin As Sahmi, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya dalam suatu pasukan kecil.

 

Musnad Ahmad 2959: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkabarkan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Aku telah menghimpun al muhkam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, saat itu aku berumur sepuluh tahun. Lalu aku tanyakan kepadanya. Kata (Sa’id bin Jubair, aku tanyakan; Apa maksud al muhkam? Ibnu Abbas menjawab; Yaitu al mufashshal, yaitu kumpulan surat dari Al Hujurat atau surat Qaf hingga akhir Alquran.

 

Musnad Ahmad 2960: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkabarkan kepada kami Manshur dari Ibnu Sirin bahwa ada jenazah lewat depan Al Hasan dan Ibnu Abbas, lalu Al Hasan berdiri namun Ibnu Abbas tidak berdiri, lalu Al Hasan berkata kepada Ibnu Abbas; Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri untuknya? Ia menjawab; beliau pernah berdiri dan pernah duduk.

 

Musnad Ahmad 2961: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkabarkan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Umar bin Al Khaththab pernah memberi izin kepada ahlu Badar, dan ia juga memberiku izin bersama mereka, lalu sebagian mereka berkata; Ia memberi izin kepada pemuda ini bersama kami. Siapa di antara anak-anak kami yang sepertinya? Umar pun berkata; ia termasuk orang yang telah kalian ketahui kualitasnya. Kemudian pada suatu hari Umar memberiku izin bersama mereka, lalu Umar bertanya kepada mereka tentang surat ini, (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) (QS. ALfath 1), mereka menjawab; Surat ini memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah diberi kemenangan agar beliau memohon ampun dan bertaubat kepadaNya. Umar berkata kepadaku; Bagaimana menurutmu wahai Ibnu Abbas? Aku menjawab; Bukan begitu, akan tetapi Allah mengabarkan kepada NabiNya ‘Alaihisshalatu wassalam, tentang kedatangan ajalnya. Lalu ia berkata; (ayat) (Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan), yaitu penaklukan Makkah, (Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong), itulah tanda dekatnya kematianmu, (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.) Maka Umar berkata kepada mereka; Bagaimana kalian mencelaku dengan pandangan kalian?.

 

Musnad Ahmad 2962: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berihlal (berniat ihram) untuk haji, maka ketika tiba, beliau thawaf di Baitullah dan diantara Shafa dan Marwa, namun beliau belum memendekkan (rambut) dan belum bertahallul karena hewan kurban, dan beliau memerintahkan orang yang tidak membawa hewan kurban agar berthawaf dan sa’i serta memendekkan (rambut) atau bercukur, kemudian bertahallul.

 

Musnad Ahmad 2963: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij berkata; telah mengkabarkan kepadaku Isma’il bin Umayyah dari seseorang dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; minuman apakah yang paling baik. Beliau menjawab: “Yang manis lagi dingin.”

 

Musnad Ahmad 2964: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj berkata; telah mengkabarkan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat pada malam hari sebanyak tiga belas rakaat.

 

Musnad Ahmad 2965: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghampiriku ketika aku sedang bermain-main dengan anak-anak, lalu aku bersembunyi darinya di balik sebuah pintu, lalu beliau memanggilku kemudian menepukku, kemudian beliau mengutusku kepada Mu’awiyah, lalu aku kembali kepada beliau, kemudian aku katakan; ia sedang makan.

 

Musnad Ahmad 2966: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Bahz keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Habib Bahz berkata; telah menceritakan kepada kami Habib bin Abu Tsabit berkata; Aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas ia berkata; Ash Sha’b memberi hadiah. Dan Ibnu Ja’far berkata; Ibnu Jatstsamah, kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa iga keledai, saat itu beliau sedang ihram, lalu beliau menolaknya. Bahz berkata; Lengan keledai, atau ia berkata; Kaki keledai.

 

Musnad Ahmad 2967: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Minhal bin Amru berkata; aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata; Aku berjalan bersama Ibnu Umar dan Ibnu Abbas di salah satu jalan Madinah, tiba-tiba (kami mendapati) sejumlah pemuda telah mengikat seekor ayam yang mereka lempari. Mereka (pemilik ayam) mendapat bonus (uang) setiap kali lemparannya meleset. Ia (Sa’id bin Jubair) berkata; Maka ia marah dan berkata; Siapa yang melakukan ini? Ia berkata; Mereka pun bubar. Kemudian Ibnu Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang merusak tubuh binatang, baik masih hidup maupun sesudahnya.

 

Musnad Ahmad 2968: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata; Aku mendengar Sulaiman Asy Syaibani berkata; Aku mendengar Asy Sya’bi berkata; telah mengabarkan kepadaku orang yang berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Katanya, Beliau melewati kuburan yang terpencil, lalu beliau mengimami mereka dan mereka berbaris di belakang beliau. Aku pun berkata; Wahai Abu Amru, siapa yang menceritakan kepadamu? Ia berkata; Ibnu Abbas.

 

Musnad Ahmad 2969: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Malik bin Maisarah dari Thawus berkata; Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memiliki tanah, lalu memberikannya kepada saudaranya, itu lebih baik baginya.”

 

Musnad Ahmad 2970: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ketika itu ia berada di dekat batu dan ia memiliki tongkat untuk memukul batu itu dan ia menciumnya. Lalu ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar mengenai ayat: (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam), (QS. Ali’Imran 102), seandainya setetes dari Zaqqum yang menetes ke bumi, tentulah akan memahitkan kehidupan penghuni bumi, maka bagaimana orang-orang yang memakannya dan tidak makanan selainnya.”

 

Musnad Ahmad 2971: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah ia berkata; Aku mendengar Sulaiman menceritakan dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; Seorang wanita mengarungi lautan, ia bernadzar akan berpuasa selama satu bulan, namun ia meninggal sebelum berpuasa, lalu saudarinya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan hal itu kepada beliau, beliau pun menyuruhnya untuk berpuasa atas namanya. Telah menceritakan kepada kami Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Fudlail bin ‘Iyadl dari Sulaiman yakni Al A’masy dari Abu Yahya dari Mujahid dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Seandainya setetes Zaqqum.” Lalu ia menyebutkannya.

 

Musnad Ahmad 2972: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Muslim Al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada amalan yang lebih utama daripada kurban pada hari-hari ini yakni hari-hari yang sepuluh (bulan Dzulhijjah).” Ia Ibnu Abbas berkata; Ditanyakan; Tidak pula jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: “Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu pun dari itu.”

 

Musnad Ahmad 2973: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah ia berkata; Aku berkata kepada Ibnu Abbas; Aku pernah shalat Zhuhur di belakang seorang syaikh yang dungu, ia bertakbir sebanyak dua puluh dua kali, ia bertakbir ketika hendak sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Maka Ibnu Abbas berkata; Huss kamu! Itu adalah sunnah Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2974: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Rauh keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Ali bin Al Hakam dari Maimun bin Mihran dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ketika perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan) binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar (tajam).

 

Musnad Ahmad 2975: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Abu Abdush Shamad keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan) Al Mujatstsamah (hewan yang dibunuh dengan cara dijadikan sasaran lempar) dan Al Jallalah (hewan pemakan kotoran). Abu Abdush Shamad berkata; Beliau melarang (minum) susu Al Jallalah (hewan pemakan kotoran) dan minum dari mulut tempat air.

 

Musnad Ahmad 2976: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (minum) susu Al Jallalah (hewan pemakan kotoran), (memakan) Al Mujatstsamah (hewan yang dibunuh dengan cara dijadikan sasaran panah) dan minum dari (mulut) tempat air.

 

Musnad Ahmad 2977: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Ibnu Bakar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak dinikahkan dengan putri Hamzah, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya ia putri saudara sesusuanku, (ketahuilah), yang haram karena katurunan, haram pula karena sepersusuan”

 

Musnad Ahmad 2978: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki menggauli istrinya yang sedang haidl, lalu ia menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menyuruhnya untuk bersedekah satu dinar atau setengah dinar.

 

Musnad Ahmad 2979: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Sa’id bin Al Musayyab dari Ibnu Abbas bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah seperti orang yang memakan kembali muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 2980: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dan Yazid bin Harun ia berkata; telah mengkabarkan kepada kami Sa’id dari Qatadah ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Al ‘Aliyah Ar Riyahi dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ketika berduka beliau mengucapkan: ‘LA ILAHA ILLALLAH AL-‘AZHIIM AL-HALIIM LA ILAAHA ILLALLAAH RABBUL AL-‘ARSY AL-‘AZHIIM LA ILAAHA ILLALLAH RABB AS-SAMAAWAATI WA RABB AL-ARDLI WA RABB AL-‘ARSY AL-KARIM’ (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan ‘Arsy yang agung. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).” Ibnu Abbas berkata; Beliau menambahkan: (RABB AS-SAMAWATI WA RABB AL-ARDLI WA RABB AL-‘ARSY AL-KARIM) (Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan ‘Arsy yang mulia).”

 

Musnad Ahmad 2981: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar ia berkata; telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah dari Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dari Juhfah, bagi penduduk Najd dari Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Beliau bersabda: ” (Miqat-miqat itu adalah bagi mereka dan selain mereka yang melewatinya yang hendak mengerjakan haji dan umrah, kemudian dari mana saja ia mulai hingga penduduk Makkah pun (dari Makkah).”

 

Musnad Ahmad 2982: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah ia berkata; Aku mendengar Abu Hassan Al A’raj menceritakan Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Zhuhur di Dzul Hulaifah lalu dibawakan hewan kurbannya, kemudian beliau menandai pundak sebelah kanannya, beliau bersihkan darah yang ada padanya dan dikalungkan sepasang sandal padanya, kemudian beliau minta diambilkan tunggangannya lalu beliau naiki. Ketika beliau telah duduk dengan tenang diatas hewannya di Baida`, beliau berihlal (niat ihram) untuk haji.

 

Musnad Ahmad 2983: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj ia berkata; telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini dan ini sama.” Yakni jari kelingking dan ibu jari.

 

Musnad Ahmad 2984: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; telah mengkabarkan kepadaku Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat. Hajjaj mengatakan; Allah melaknat, laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.

 

Musnad Ahmad 2985: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah ia berkata; Aku mendengar Abu Ishaq menceritakan bahwa ia mendengar seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang ucapan seseorang dengan isyarat jarinya, yakni begini (maksudnya mengacungkan jari telunjuk) di dalam sholat, maka Ibn Abbas menjawab; Itu keikhlasan (memurnikan Allah dengan isyarat jari telunjuk bahwa Allah itu Esa, atau Tunggal).

 

Musnad Ahmad 2986: MAsih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan bersiwak kepada kami, hingga kami mengira akan turun Al Quran (wahyu) kepada beliau mengenai itu.

 

Musnad Ahmad 2987: MAsih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya; Ibnu Abbas berkata; Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud hingga terlihat putih ketiak beliau.

 

Musnad Ahmad 2988: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Bahz keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Adi bin Tsabit ia berkata; Aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat pada hari Idul Adlha dan Idul Fithri. Ia berkata; Kuat dugaanku bahwa ia berkata; Pada hari Idul Fithri beliau shalat dua rakaat, beliau tidak shalat sebelum dan sesudah kedua hari itu. Kemudian beliau menemui kaum wanita bersama Bilal, lalu beliau suruh mereka bersedekah. Maka ada seorang wanita yang menyerahkan anting-anting dan kalungnya. Bahz tidak ragu, ia berkata; Hari Idul Fithri. Dan ia berkata sekedar dengan redaksi ‘Menyerahkan kalung (tidak ada redaksi anting-anting).

 

Musnad Ahmad 2989: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Adi bin Tsabit dan ‘Atha` bin As Sa`ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Salah satunya merafa’kan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa: “Jibril menyumbatkan tanah ke mulut Fir’aun karena khawatir ia mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH.”

 

Musnad Ahmad 2990: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Adi bin Tsabit ia berkata; Aku mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang bernyawa (diikat atau dikurung) sebagai target sasaran.” Telah menceritakan kepada kami Hasyim seperti itu. Ia, yakni Syu’bah berkata; Aku katakan; Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia menjawab; Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2991: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail ia berkata; Aku mendengar Abu Al Hakam berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai rendaman/sari buah (menggunakan) jarr (guci), dubba` dan hantam. Maka ia menjawab; Barangsiapa yang senang mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan RasulNya, hendaklah ia mengharamkan rendaman sari buah itu.

 

Musnad Ahmad 2992: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail ia berkata; Aku mendengar Abu Al Hakam menceritakan dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu Bulan telah sempurna dengan dua puluh sembilan hari.”

 

Musnad Ahmad 2993: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Musyasy ia berkata; Aku bertanya kepada ‘Atha` bin Abu Rabah, lalu ia menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh anak kecil bani Hasyim dan orang-orang lemah mereka untuk berangkat dari Jam’ (muzdalifah) malam hari.

 

Musnad Ahmad 2994: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Makhul ia berkata; Aku mendengar Muslim Al Bathin menceritakan dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau membaca (ALIF LAAM MIIM TANZIL) (QS. Assajdah) dan (HAL ATA ‘ALAL INSAN) (QS. Al-insan) pada waktu Shubuh, dan pada shalat Jum’at (membaca) surat Al Jumu’ah dan Al Munafiqun.

 

Musnad Ahmad 2995: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dan Manshur dari Dzarr dari Abdullah bin Syaddad dari Ibnu Abbas bahwa mereka berkata; Wahai Rasulullah, kami sering membisiki nurani kami ‘Diam adalah lebih baik daripada menyatakan terus terang.” Beliau sabdakan kepada laki-laki pertama: “Segala puji bagi Allah, yang tidak mentaqdirkan dari kalian selain sekedar bisikan.” Dan beliau sabdakan kepada laki-laki kedua; “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah membalikkan perkaranya kepada bisikan.”

 

Musnad Ahmad 2996: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah ketika penaklukan Makkah pada bulan Ramadlan, lalu beliau berpuasa hingga mencapai ‘Usfan, kemudian beliau minta secangkir atau bejana berisi air, lalu beliau meminumnya. Ibnu Abbas berkata; Barangsiapa yang ingin berpuasa, silahkan dan yang tidak, juga silahkan.

 

Musnad Ahmad 2997: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair ia berkata; Aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Bibiku, Ummu Hufaid, memberikan hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa lemak, keju dan (daging) dlabb (sejenis biawak), lalu beliau memakan lemak dan keju dan meninggalkan (daging) dlabb karena merasa jijik. Lalu (daging) itu dimakan oleh orang lain dari tempat hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya itu haram, tentu tidak akan dimakan diatas tempat hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 2998: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, ternyata kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura`, lalu beliau menanyakan hal itu kepada mereka. Mereka jawab; Ini adalah hari ketika Musa memperoleh kemenangan terhadap Fir’aun. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: “Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka, maka berpuasalah kalian.”

 

Musnad Ahmad 2999: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau ditanya mengenai anak kaum Musyrikin. Maka beliau menjawab: “Ketika Allah menciptakan mereka, Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan.”

 

Musnad Ahmad 3000: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Yahya Abu Umar dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (menggunakan) dubba`, muzaffat dan naqir.

 

Sumber: http://www.lidwa.com

 

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: