Archive for December, 2011

Toleransi Umar

Toleransi Umar

Senin, 12 Desember 2011
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
JIKA barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk. Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan
tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al- Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre ( Kanisat al-Qiyamah ). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.
Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh. Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, ” I come here to kill Muslims”. Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al- Aqsa!
Selamatkan masjid al- Aqsa!
Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim
memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte
berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa
lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.
Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.
Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak
dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat
disitu”.
Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar
kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap
terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.
Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘ Uhda al-Umariyyah itu mirip
dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non- Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka. Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al- mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama. Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.
Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami;. .Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”. (lihat al-Tabari , Tarikh al- Umam wa al-Muluk ; juga History of al-Tabari : The Caliphate of Umar b. al- Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191)
Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun
Umar meminta ini dihapus dan Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.
Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari satu khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga- jaga di dalam gereja.
Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat
dimana Umar dulu shalat. Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.
Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi
seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab
menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan
mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.*
Penulis adalah Direktur Program PKU ISID

http://www.hidayatullah.com/dev/read/20181/12/12/2011/toleransi%20umar.html

Advertisements

,

Leave a comment

Ucapan Selamat Natal dan Akidah

Ucapan Natal dan Syubhat Akidah

Kamis, 22 Desember 2011
Oleh: Muhammad Rifqi Arriza

SELAMA ini, posisi dan sikap para sahabat Nabi dan ulama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah akidah adalah jelas dan tegas, begitu pun kaitannya terhadap perayaan hari-hari besar agama lain, termasuk Natal. Mengenai hal ini, ada dua pendapat; ada ulama  yang memperbolehkan umat Islam untuk mengucapkan “Selamat Natal”, dan ada sebagian ulama yang melarangnya. Setiap
pendapat berlandaskan dalil-dalil yg kuat, baik itu al-Quran maupun Sunah.
Secara umum, perbedaan pendapat para ulama ini mengerucut kepada satu hal saja; apakah ucapan selamat bagi kaum kristiani yg
merayakan Natal ini masuk ke dalam kategori akidah ataukah masih dalam koridor muamalah?
Pendapat yang melarang Sebagian ulama, klasik maupun kontemporer, melarang umat Islam untuk ‘ikut campur’ dengan perayaan agama lain, tak terkecuali Kristen, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Syeikh al- Utsaimin, dan lainnya, dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Pertama , mau tidak mau permasalahan ini akan masuk ke dalam ranah akidah, karena perayaan natal bukanlah hal yg sembarangan dalam keyakinan kaum kristen. 25 Desember dalam keyakinan nasrani adalah hari ‘lahirnya tuhan’ atau ‘lahirnya anak tuhan’. Maka tidak ada toleransi dalam akidah, bahkan Allah Subhanahu wata’ala . sudah secara jelas dan tegas meluruskan klaim ini (lihat surat al- Ikhlas: 3 atau al-Maidah : 72 & 116, dll).
Ibnu Taimiyah dalam kitab “ Iqtidhâ’ Shirâti’l Mustaqîm, Mukhâlafatu Ashâbi’l Jahîm, ” (Dar el-Manar, Kairo, cet I, 2003, hal 200) juga
melarang untuk ber- tasyabbuh dengan hari besar kaum kafir, karena hal itu akan memberikan efek ‘lega ‘, bahwa umat Islam ‘membenarkan’ kesesatan yang mereka lakukan. Beda lagi dengan hari- hari kenegaraan, atau hari ibu dan sebagainya, tidak ada unsur akidah di dalamnya, maka dari itu masih dapat ditolerir.
Kedua , Qiyas awla dari firman Allah; ” ﻦﻣ ﻻﺇ ﻩﺮﻛﺃ ﻭ ﻪﺒﻠﻗ ﻥﺎﻤﻳﻹﺎﺑ ﻦﺌﻤﻄﻣ ” “kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman” (al- Nahl: 106) . Apakah jika kita tidak mengucapkan selamat, kita akan dibunuh? .
Ketiga , toleransi antar umat beragama tidak harus dengan mengucapkan ” Merry Christmas “, dengan berakhlakul karimah dan memperhatikan hak mereka sebagai manusia, tetangga, masyarakat, dan lainnya sudah cukup mewakili itikad baik kita untuk hidup damai, bersama mereka.
Apalagi dalam Islam, masih banyak momentum yg lebih ‘bersahabat ‘ untuk mengungkapkan pengakuan kita terhadap keberagaman ini. Sebut saja hadits Nabi yang menganjurkan kita agar melebihkan ‘kuah sayuran’ untuk diberikan kepada tetangga, atau hadits lainnya yang menunjukkan amarah Nabi kepada seseorang yang mendapati tetangganya kelaparan, tapi tidak mengulurkan bantuan. Kebetulan hadits-hadits tersebut tidak mengkhususkan bagi sesama Muslim saja, tapi umum bagi sesama manusia, baik Muslim maupun non Muslim. Bagi yang tidak punya tetangga Nasrani, saya kira dengan menghormati hari raya mereka, tanpa mengganggu apalagi merusak, adalah lebih dari cukup. Cukup dengan kata ‘silahkan’ , bukan dengan kata ‘selamat’.
Keempat, Saddu al-Dzarî ‘ah , mencegah diri agar tidak terjerumus kepada hal yang dilarang. Pendapat yang membolehkan. Beberapa ulama kontemporer seperti Dr Yusuf Qaradhawi dan Musthafa Zarqa membolehkan hal ini dengan beberapa pertimbangan;
1) Firman Allah Swt.:
” ﻻ ﻢﻛﺎﻬﻨﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﻋ ﻢﻟ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﻰﻓ ﻢﻛﻮﻠﺗﺎﻘﻳ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﻢﻟ ﻭ ﻢﻛﻮﺟﺮﺨﻳ
ﻦﻣ ﻥﺃ ﻢﻛﺭﺎﻳﺩ ﻢﻫﻭﺮﺒﺗ ﻭ ﻢﻬﻴﻟﺇ ﺍﻮﻄﺴﻘﺗ ﻥﺇ ﺐﺤﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﻴﻄﺴﻘﻤﻟﺍ ”
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil .” (al- Mumtahanah: 8).
2) Sikap Islam terhadap Ahlul Kitab lebih lunak daripada kepada kaum musyrikin; para penyembah berhala. Bahkan al-Quran menghalalkan makanan serta perempuan (untuk dinikahi) dari Ahli Kitab (al- Maidah: 5). Dan salah satu konsekuensi pernikahan adalah menjaga perasaan pasangan, berikut keluarganya. (Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al- Muslimah, Dar el- Syuruq, cet II,
2005, hal 147- 148). Apalagi hanya dengan bertukar ucapan “Selamat” .
3) Firman Allah Subhanahu Wata’ ala:
” ﺍﺫﺇ ﻭ ﺔﻴﺤﺘﺑ ﻢﺘﻴﻴﺣ ﺍﻮﻴﺤﻓ ﻦﺴﺣﺄﺑ ﺎﻬﻨﻣ ﻭﺃ ﺎﻫﻭﺩﺭ ”
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari
padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa ).” (al- Nisa: 86).
4) Pada satu riwayat, seorang Majusi mengucapkan salam kepada Ibnu Abbas ” assalamualaikum “, maka Ibnu Abbas menjawab “waalaikumussalam wa rahmatullah”. Kemudian sebagian sahabatnya bertanya “dan rahmat Allah?”, beliau menjawab: Apakah
dengan mereka hidup bukan bukti rahmat Allah. [ Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah , Dar el-Syuruq , cet II, 2005, hal
147- 148]
5) Pada masa kini, perayaan natal tak ubahnya adat- istiadat, perayaan masyarakat atau kenegaraan.[ Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh
Aqalliyyât al- Muslimah, Dar el- Syuruq, cet II, 2005, hal 147- 148]
6) Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan
dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.
Pendapat Pertengahan Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang Tafsir dan Ulumul Quran di Universitas Al-Azhar , Mesir. Dalam masalah tahniah (ucapan selamat) ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahniah (ucapan selamat) yang halal dan ada yang haram:
Tahniah (ucapan selamat) yang halal adalah tahniah (ucapan selamat) kepada orang kafir tanpa kandungan hal- hal yang bertentangan
dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.
Sedangkan tahniah (ucapan selamat) yang haram adalah tahni’ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan
masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah (ucapan selamat) itu berbunyi, “Semoga Tuhan memberkati diri anda
sekeluarga.” Sedangkan ucapan yang halal seperti, “Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda.”
Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada non Muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar (minuman keras), gambar
maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.
Yang menjadi pertanyaan adalah; bukankah ucapan tahniah (ucapan selamat) yg berbunyi, “Semoga Tuhan memberkati diri anda
sekeluarga” lebih bersifat sindiran daripada ucapan selamat?. Menurut penulis, Prof Dr Abdussatar, secara tidak langsung telah
melarang kita untuk mengucapkan ‘Selamat Natal’, karena ada konsekuensi akidah dibelakangnya.
Sikap Umat Islam
Hal ini pernah dipermasalahkan, saat beberapa kelompok menggaungkan PNB (Perayaan Natal Bersama) sebagai wujud toleransi antar umat beragama, seakan-akan seperti ingin menunjukkan bahwa umat Islam yang tidak merayakan natal bersama berarti tidak tolerir,
tidak menghormati umat Nasrani.
Dalam masalah ini, semua ulama sepakat bahwa menghadiri perayaan hari besar agama lain adalah HARAM hukumnya. Kemudian
bagaimana seharusnya sikap kita kepada presiden Indonesia ke- 4 dan ke-6 yang menghadiri perayaan Natal, bahkan kyai
presiden kita yang sempat ‘didoakan’ oleh umat Nasrani?.
Muhammadiyah selaku salah satu ormas di Indonesia juga telah membahas masalah ini; dalam buku “Tanya Jawab Agama Jilid II”, oleh
Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991) , hal. 238- 240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram.
Untuk saat ini, penulis lebih condong pada pendapat pertama. Yakni pelarangan. Bukan berarti sikap ini dianggap tidak menghargai umat Nasrani, apalagi ingin merusak suasana gembira, karena penulis meyakini kata “silahkan” sudah dapat mewakili kata “selamat”.
Apalagi melihat kondisi tauhid umat yang sedang goyah saat ini, oleh arus pluralisme maupun liberalisme. Maka sudah selayaknya kita
membentengi dulu akidah umat, dengan menjauhi hal-hal yang syubhat . Hal ini juga dipegang oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah,
bahwa ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.
Selain itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diketuai K. H.M. Syukri Ghozali dan Sekretarisnya Drs. H. Masudi pada 1
Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981 telah menyatakan; perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari aqidah.
Selain itu, MUI juga menfatwakan, mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. MUI juga mengatakan, agar
ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhanahu wata’ala dan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. Wallahu a’lam bi al- Shawab.*
Penulis sedang menyelesaikan studi di Al Azhar, Mesir
Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/dev/read/20321/22/12/2011/ucapan%20selamat%20natal%20dan%20syubhat%20akidah.html

,

Leave a comment

Manusia dan Manual Book

Manusia dan “Manual Book”
Desember 22nd , 2011 by bhintoro shati aji
dakwatuna.com – Setiap produk buatan baik elektronik ataupun teknologi pasti memiliki “ Manual Book/User Guide“, fungsinya tentu sebagi pedoman menggunakan benda tersebut agar digunakan secara semestinya. Content-nya mulai dari fungsi produk tersebut, cara
pemakaian, cara perawatan hingga larangan-larangan yang harus di patuhi dalam penggunaannya.
Sebagai contoh sebuah produk Handphone fungsinya untuk telekomunikasi dan lain-lain , tak boleh terkena air dan tercebur ke air dalam penggunaannya, karena jika terkena air maka akan mengurangi kemampuan kerjanya atau bahkan rusak. Setiap produk yang digunakan sesuai dengan anjuran dari buku tersebut pasti lebih awet dan terjaga kinerjanya sehingga akhirnya menguntungkan bagi pemakainya.
Sebaliknya, jika penggunaannya melenceng dari buku tersebut maka yang terjadi adalah kemunduran manfaat produk atau bahkan kerusakan dan akhirnya merugikan pemakainya. Seluruh produsen produk yang mengeluarkan buku tersebut pasti menganjurkan kita untuk membaca buku itu sebelum menggunakan produknya, agar pemakainya dapat selamat dalam menggunakannya. Tak sedikit orang yang akhirnya merugi dan celaka akibat salah dalam menggunakan suatu produk karena tak mengikuti atau bahkan tak membaca
buku manualnya.
Ketahuilah Saudaraku! Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang juga diberikan “MANUAL BOOK/USER GUIDE”, sebuah pedoman untuk manusia untuk menjalani kehidupannya. Buku tersebut dibuat langsung oleh pencipta manusia yang pasti tahu tujuan penciptaan kita (manusia) , cara dalam menjalani hidup dan larangan-larangan yang harus dipatuhi. Buku itu bernama “AL QUR’AN” sebuah pedoman yang harus kita ikuti dan patuhi agar kita tahu untuk apa sebenarnya kita diciptakan, sehingga kita tahu bagaimana cara menjalani kehidupan semestinya, serta larangan-larangan yang tak boleh kita lakukan.
Allah SWT menghendaki kita membaca dan memahaminya lalu mengamalkan dan mengikuti Al Qur’an secara sempurna agar kita selamat dalam menjalani kehidupan kita yang tidak hanya di dunia ini tapi juga di akhirat.
Jadi mari sekarang juga kita membaca, memahami dan mengamalkan Al Qur’an agar kita tak merugi dan celaka dalam hidup kita yang sementara ini. Sungguh Allah SWT tak ingin manusia hidup di belantara dunia dalam kebingungan dan kesesatan, oleh karena itu Allah
menurunkan Al Qur’an untuk kita melalui lisan Rasul yang Mulia Nabi Muhammad SAW, terlebih kita juga memiliki sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang menjadi model aplikatif sempurna dalam menjalankan isi Al Qur’an. Jadi jangan bingung lagi dalam menjalani hidup ini cukup saja kita membaca dan memahami Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 2, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa.” Dilanjutkan dengan firman Allah di surah An Nahl ayat 89, yakni, “…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
Rasulullah SAW bersabda, “Jangan jadikan rumah kalian kuburan. Sungguh, rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al-Baqarah tidak dimasuki setan.” (HR. At-Tarmidzi)
“Pelajari, baca, dan amalkan Al-Qur’ an. Perumpamaan Al-Qur’ an pada orang yang mempelajari, membaca, dan mengamalkannya seperti belalang yang berlumur kesturi. Ia dapat mengharumkan semua tempat yang dihinggapinya.
Sedangkan perumpamaan Al-Qur’ an pada orang yang mempelajarinya saja, lalu diam tidak mengamalkan laksana belalang yang
hinggap di atas kesturi.” (HR. At-Tarmidzi)
Wallahu A’lam Bis Shawab

http://www.dakwatuna.com

,

Leave a comment