Musnad Ahmad: 6001-7000

Musnad Ahmad 6001: Telah menceritakan kepada kami Abu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ beginilah bapakku berkata, “Para wanita dan laki-laki pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, semuanya berwudlu’ dari satu bejana dan menghadap kearahnya.”

 

Musnad Ahmad 6002: Telah menceritakan kepada kami Ibu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dan Hammad yakni Abu Usamah dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, jika beliau berangkat, beliau berangkat melalui Thariq Asy Syajarah (jalan yang dikelilingi pepohonan) dan jika pulang melalui Thariq Al Mu’arras (jalan yang sekelilingnya pemukiman penduduk). Ibnu Numair berkata, “Jika beliau hendak memasuki Makkah, beliau masuk melalui bukit yang tinggi kemudian beliau keluar melalui bukit yang rendah.”

 

Musnad Ahmad 6003: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Pernah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menunaikan shalat dengan membaca surat Sajadah di luar waktu shalat wajib, kemudian beliau sujud, lalu kami semua ikut sujud sampai salah seorang dari kami tidak mendapatkan tempat untuk bersujud.

 

Musnad Ahmad 6004: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika berangkat untuk menunaikan shalat pada hari raya, beliau memerintahkan agar diambilkan sebuah tongkat dan diletakkan di hadapannya. Lalu beliau shalat menghadap ke arahnya, dan para sahabat di belakangnya mengikuti beliau. Hal itu juga beliau lakukan ketika dalam perjalanan. Dan seperti ini, dilestarikan para khalifah sepeninggalnya.

 

Musnad Ahmad 6005: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Saya pernah melihat Rasululllah Shallallahu’alaihi wasallam shalat sunnah menghadap ke arah mana saja untanya menghadap.

 

Musnad Ahmad 6006: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendapati Umar bin Khaththab diatas kendaraannya bersumpah dengan nama bapaknya, kontan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak kalian. Siapa bersumpah, bersumpah dengan nama Allah, atau (lebih baik) dia diam.”

 

Musnad Ahmad 6007: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jangan seorang wanita melakukan perjalanan -beliau mengulanginya sampai tiga kali- kecuali ia bersama mahramnya.”

 

Musnad Ahmad 6008: Telah berkata Yahya bin Sa’id; Saya tidak pernah mengingkari (hadis) atas Ubaidullah bin Umar kecuali satu hadis yakni hadis Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam “Jangan seorang wanita melakukan perjalanan -beliau ucapkan tiga kali– kecuali bersama mahramnya.” Telah berkata bapakku, dan telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dan dia tidak memarfu’kannya.

 

Musnad Ahmad 6009: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang pada hari Khaibar untuk memakan daging keledai jinak yang terdapat dirumah-rumah.

 

Musnad Ahmad 6010: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Umar, orang-orang jahiliyah berpuasa pada hari ‘Asyura`, yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kaum muslimin berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkan puasa Ramadlan. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” ‘Asyura` termasuk hari Allah, siapa yang ingin berpuasa pada hari itu, berpuasalah dan siapa yang ingin, tinggallah.”

 

Musnad Ahmad 6011: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, ia mengabarkan kepadanya, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memastikan harga Mijan (sejenis perisai untuk melindungi diri dari senjata musuh) seharga tiga Dirham.

 

Musnad Ahmad 6012: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang Qaza’ (mencukur sebagian rambut dengan membiarkan sebagian lain).

 

Musnad Ahmad 6013: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah mengabarkan kepada kami Al A’masy dari Mujahid dia berkata, Urwah bin Zubair bertanya kepada Ibnu Umar, “Di bulan apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melakukan Umrah?” Dia menjawab, “Yaitu bulan Rajab.” Maka Aisyah pun mendengar percakapan kami lalu Ibnu Zubair bertanya kepadanya dan juga mengabarkannya mengenai ungkapan Ibnu Umar. Aisyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman. Tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melakukan umrah kecuali ia menyaksikannya dan beliau tidak pernah melakukan umrah sekalipun kecuali pada bulan Dzul Hijjah.”

 

Musnad Ahmad 6014: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Mujahid dia berkata, Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Izinkanlah para wanita untuk mendatangi masjid pada malam hari.” Lalu seorang anak berkata kepada Ibnu Umar, “Demi Allah, kami benar-benar akan melarang mereka, karena sama halnya memberi kesempatan mereka melakukan yang tidak-tidak.” Ibnu Umar lantas menjawab, “Semoga Allah menindakmu dan menegur perbuatanmu, saya berkata ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda’ sementara kamu malah mengatakan ‘Kami tidak membiarkan mereka.’

 

Musnad Ahmad 6015: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberi nafl untuk kavaleri (pasukan berkuda) dua bagian sementara untuk infantry (pasukan pejalan kaki) satu bagian.

 

Musnad Ahmad 6016: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Muhammad bin Ubaid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor domba yang bingung di antara dua kambing. Terkadang mendatangi satunya dan terkadang meninggalkan, ia tidak tahu mana yang harus ia ikuti.”

 

Musnad Ahmad 6017: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berpuasa wishal pada bulan Ramadlan maka para sahabat pun melihatnya, lalu beliau melarang mereka melakukannya. Beliau ditanya, “Tuan melakukan Wishal?.” Beliau bersabda: ” Saya tidaklah seperti kalian. Saya diberi makan dan juga diberi minum.”

 

Musnad Ahmad 6018: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Muhammad bin Ubaid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Pungkasilah shalat malam dengan witir.”

 

Musnad Ahmad 6019: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hanzhalah saya telah mendengar Ikrimah bin Khalid menceritakan (hadis) kepada Thawus dia berkata; “Seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar, “Tidakkah kamu turut berperang?” dia menjawab, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Islam dibangun di atas lima hal. Yaitu, Syahadah (bersaksi) bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadlan dan menunaikan haji di Baitullah.”

 

Musnad Ahmad 6020: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hanzhalah dari Salim bin Abdillah bin Umar dari Ibnu Umar dia berkata; saya melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangannya hingga menempati posisi Irak, “Di sinilah, fitnah akan muncul, fitnah akan muncul dari sini, beliau mengatakannya sampai tiga kali, yakni tempat tanduk setan muncul.”

 

Musnad Ahmad 6021: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hanzhalah saya mendengar Salim berkata, saya mendengar Ibnu Umar berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam besabda: “Jika isteri-isteri kalian meminta izin ke Masjid, izinkanlah.”

 

Musnad Ahmad 6022: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Salim dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika isteri-isteri kalian meminta izin ke Masjid, izinkanlah.”

 

Musnad Ahmad 6023: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Ismail dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mennyalati jenazah, baginya ganjaran satu Qirath.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seperti Qirath yang kita kenal sekarang?” beliau menjawab, “Tidak, bahkan seperti gunung Uhud atau bahkan lebih besar daripadanya.”

 

Musnad Ahmad 6024: Telah menceritakan kepada kami Ya’la dan Muhammad yang keduanya anak dari Ubaid, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad yakni Ibnu Ishaq berkata Muhammad di dalam hadis nya, telah berkata Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Saya melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan tangan beliau membawa batu kerikil yang beliau gunakan untuk menggosok dahak yang dilihatnya di arah kiblat. Beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian shalat, jangan sekali-kali ia berdahak kearah depannya karena jika seorang hamba shalat, ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya Ta’ala.” Muhammad berkata, “Wijaahu maknanya (di hadapannya).”

 

Musnad Ahmad 6025: Telah menceritakan kepada kami Ya’la dan Muhammad keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad yakni Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang Bai’ Gharar. Ibnu Umar berkata; orang-orang jahiliyah berjual-beli dengan cara Bai’ Gharar (jual beli yang terdapat unsur penipuan) itu, misalnya seseorang membeli Habalal Habalah (janin yang masih di perut Unta) dengan Syarif (Unta yang cukup umur), Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang. Sedang telah berkata Muhammad bin Ubaid di dalam hadis nya dengan redaksi, “Habalal Habalah, dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang jual beli seperti itu.”

 

Musnad Ahmad 6026: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Fudlail yakni Ibnu Ghazwan dari Abu Dihqanah dari Ibnu Umar dia berkata; Suatu saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersama para sahabatnya. Lalu beliau meminta Bilal untuk mengambilkan kurma yang berada disisinya, lalu datanglah ia dengan membawa kurma (namun) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengingkarinya seraya bersabda: “Kurma apakah ini?” maka Bilal menjawab, “Kurma milik kita kemudian kita menggantinya dua Sha’ dengan satu Sha’.” Beliau berkata: “Kembalikanlah kurma kita.”

 

Musnad Ahmad 6027: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullahi bin Umar bin Hafsh dari Abu Bakar bin Salim dari bapaknya dari kakeknya, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang berdusta atas namaku, akan dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam neraka.”

 

Musnad Ahmad 6028: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dan Salim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah melarang memakan daging keledai jinak yang berada di rumah-rumah.

 

Musnad Ahmad 6029: Telah menceritakan kepada kami Abu Kami telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah dari Abu Zubair dari Ali bin Abdillah Al Bariqi dari Abdullah bin Umar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, jika beliau mengendarai kendaraannya beliau bertakbir tiga kali kemudian berdo’a: “SUBHANALLADZI SAKHKHARA LANA HADZA WAMA KUNNA LAHU MUQRINIIN WA INNAA ILAA RABBINAA LAMUNQALIBUUN (Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan kami akan kembali kepada Rabb kami).” Kemudian beliau berdo’a lagi: “ALLAHUMMA INNII ASALUKA FI SAFARI HAADZAA AL BIRRA WAT TAQWAA WA MIAL ‘AMALI MAA TARDLO ALLAHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA AS SAFARA WATHWI LANAAL BA’IID ALLAHUMMA ANTASH SHAAHIBU FIS SAFARI WAL KHALIIFATU FIL AHLI ALLAHUMMASH HABNAA FI SAFARINAA WAKHLUFNAA FI AHLINAA (Ya Allah, kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami memohon perbuatan yang Engkau ridloi. Ya Allah permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan Yang mengurusi keluarga (-ku). Ya Allah, dampingilah kami dalam perjalanan kami ini dan urusilah keluarga kami).” Dan apabila beliau kembali kepada keluarganya beliau membaca: “AAYIBUUN TAA`IBUUNA INSYAA`ALLAHU LIRABBINAA HAAMIDUUN (Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan memuji Rabb kami insya Allah).”

 

Musnad Ahmad 6030: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’dari telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Salim bahwa Abdullah bin Umar berkata; Demi Allah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah mengatakan kepada Isa alaihissalam, “Merah (kulitnya).” Sekalipun. Tetapi beliau bersabda: “”Di saat Saya sedang tidur, saya melihat diriku sedang bertawaf di Ka’bah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berkulit sawo matang dan berambut lurus, dipapah dua orang laki-laki dan rambutnya meneteskan air, Saya bertanya, ‘Siapa orang ini? ‘ mereka menjawab, ‘Ibnu Maryam.’ Lalu saya pergi dan berpaling tiba-tiba ada seorang lelaki berkulit merah, berambut keriting, dan buta mata kanannya, dan seolah-olah matanya seperti buah anggur yang menjorok. Lalu Saya bertanya, ‘Siapakah orang ini? ‘ mereka menjawab, ‘Ad Dajjal.’ Orang yang paling mirip dengannya adalah Ibnu Qathn.” Ibnu Syihab berkata, ” (Yaitu) seorang laki-laki dari Bani Mushthaliq.”

 

Musnad Ahmad 6031: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah berkata, Sulaiman bin Musa telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menetapkan bahwa perwalian budak adalah bagi yang membebaskannya.

 

Musnad Ahmad 6032: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Abi Labid dari Abu Salamah dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Itu katakan shalat Isyak, jangan orang-orang Arab badwi itu menguasai (ikut intervensi dalam hal) nama-nama shalat kalian, karena mereka selalu meng-i’tam (menangguhkan) isyak karena memeras susu Unta.”

 

Musnad Ahmad 6033: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Ismail bin Umayyah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Pernah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengutus kami ke penjuru-penjuru Madinah, dan beliau memberi instruksi kepada kami agar tidak membiarkan Anjing selain membunuhnya, hingga kami membunuh Anjing penjaga unta perahan penduduk Badwi.

 

Musnad Ahmad 6034: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari An Najrani dari Ibnu Umar dia berkata; Pernah Seseorang si “A” membeli pohon kurma dari seorang si B” namun tahun itu tak berbuah sama sekali. Keduanya bertemu dan mengadukan perkaranya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Kontan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dengan alasan apa engkau menghalalkan dirhamnya?, Kembalikanlah Dirhamnya, dan janganlah sekali-kali kamu menjual pohon kurma hingga buahnya mampak jelas bisa sampai masak.” Maka saya bertanya kepada Masruq, “Apa maksud jelas bisa sampai masak?” dia menjawab, ” (Warnanya sangat kemerah-merahan atau kekuning-kuningan.”

 

Musnad Ahmad 6035: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ismail bin Umayyah bahwa Nafi’ (budaknya Abdullah) telah menceritakan kepadanya bahwa, Abdullah bin Umar menceritakan kepada mereka, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah memotong tangan pencuri sebuah tameng (perisai) dari tempat Shuffah wanita yang harganya mencapai tiga Dirham.

 

Musnad Ahmad 6036: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dan Laits dari Mujahid dari Ibnu Umar dia berkata; Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Izinkanlah para wanita untuk keluar ke Masjid pada malam hari.” Lalu anaknya berkata kepada Ibnu Umar, “Demi Allah, kami tidak akan mengizinkan mereka, (karena) akan mereka gunakan untuk yang tidak-tidak.” Maka dia (Ibnu Umar) berkata, “Semoga Allah menindakmu, dan semoga itu terjadi padamu, karena kamu mendengar saya berkata ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda’ sementara kamu malah berkata ‘Tidak.'” Hanya Laits mengatakan, “Tetapi, hendaknya mereka ke masjid tanpa menggunakan minyak wangi.”

 

Musnad Ahmad 6037: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pada saat hari raya fitri dan Adlha mengikutsertakan tombak, beliau tancapkan, dan beliau shalat menghadap ke arahnya.

 

Musnad Ahmad 6038: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang ketinggalan dari shalat Ashar maka seolah-olah ia kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 6039: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Seorang mukmin makan dengan satu usus dan orang kafir makan dengan tujuh usus.”

 

Musnad Ahmad 6040: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah telah mengabarkan kepada kami Farqad As Sabakhi dari Sa’d bin Jubair dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memakai minyak yang tidak berbau saat beliau ihram.

 

Musnad Ahmad 6041: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Salim dari Abdullah bin Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian melihat bulan sabit (bulan Ramadlan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (bulan Syawal) maka berbukalah. Dan jika langit mendung, maka genapkan (jumlahnya tiga puluh hari).”

 

Musnad Ahmad 6042: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dan Ya’qub dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Ibnu Syihab dari Salim dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda. Ya’qub berkata; Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tertinggal dari shalat Ashar maka seolah-oleh ia telah kehilangan keluarga dan hartanya.”

 

Musnad Ahmad 6043: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Abu Abdurrahim, dari Al jahm bin Al Jarud, dari Salim, dari bapaknya, ia berkata; Umar bin Khaththab pernah memberi hadiah cuma-cuma berupa Bukhtiyah hasil pemberian seseorang seharga tiga ratus dinar. Maka dia pun mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku memberi hadiah cuma-cuma berupa Bukhtiyah hasil pemberian seseorang seharga tiga ratus dinar. Apakah aku menyembelihnya atau menukarnya dengan membeli budn? Beliau berkata: “Tidak, akan tetapi sembelihlah dia saja.”

 

Musnad Ahmad 6044: Telah menceritakan kepada kami Hafshah bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Laits dia berkata, saya memasuki (kediaman) Salim bin Abddillah saat dia sedang bersandar di atas bantal yang padanya terdapat gambar burung dan sejenis binatang liar. Saya berkata, “Bukankah hal ini dibenci?” dia menjawab, ” Yang dibenci hanyalah jika binatang itu dipasang dipajang. Telah menceritakan kepadaku bapakku Abdullah bin Umar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menggambar lukisan, dia akan diadzab.” Hafshah berkata, “Dia dipaksa untuk memberi roh dan tidak akan mampu.”

 

Musnad Ahmad 6045: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dia berkata; saya mendengar Nafi’ berkata, Abdullah bin Umar berkata; Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda di atas mimbar: “Barangsiapa yang (hendak) mendatangi shalat Jumat, mandilah.”

 

Musnad Ahmad 6046: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudloil dari Ashim bin Kulaib dari Muharib bin Ditsar dia berkata; Saya melihat Ibnu Umar mengangkat kedua tangannya setiap kali ia ruku’, dan setiap kali mengangkat kepalanya dari ruku’. Muharib bin Ditsar berkata; Saya berkata kepadanya, “Apa ini?” Ibnu Umar menjawab, ” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, jika beliau berdiri dari dua raka’at maka beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya.”

 

Musnad Ahmad 6047: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dan Rauh dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ibnu Thawus dari bapaknya, bahwa dia mendengar Ibnu Umar ditanya mengenai seseorang yang menthalak isterinya dalam keadaan haid dia pun berkata, “Apakah kamu tahu Abdullah bin Umar?” orang yang bertanya menjawab, “Ya.” (Ibnu Umar) berkata, ” dia telah mentalak isterinya dalam keadaan haid, maka Umar Radliyallah’anhu menemui Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan mengabarkan hal itu, dan beliau memerintahkan untuk meruju’nya.” (Thawus) berkata; Dan saya belum mendengarnya menambah atas (kalimat) itu. Rauh berkata; “Perintahkanlah ia untuk meruju’nya.”

 

Musnad Ahmad 6048: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Ada seorang laki-laki pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika ia bermimpi, ia mengisahkannya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. (Ibnu Umar) berkata; Maka saya pun berangan agar bisa berimpi lalu mengkisahkannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam (Ibnu Umar) berkata lagi; “Ketika saya menginjak masa remaja dan masih lajang, saya tidur di Masjid pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. (Ibnu Umar) melanjutkan; Saya bermimpi dua Malaikat menculikku dan membawaku ke neraka. Neraka itu sangat dalam. Memiliki dua buah tiang. Disana terdapat orang-orang yang saya kenali. Saya pun berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Neraka, Aku berlindung kepada Allah dari Neraka.” Kemudian kedua (malaikat itu) didatangi oleh Malaikat lain, dan malaikat itu berkata kepadaku, “Nggak usah takut.” Hafshah lantas mengisahkan mimpiku kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Laki-laki yang paling beruntung adalah Abdullah, jikalau dia mau shalat malam.” Salim berkata; Maka Abdullah tidak lagi tidur malam kecuali sebentar.

 

Musnad Ahmad 6049: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memakai cincin emas dan meletakkan batu mata cincinnya berada dalam (telapak tangannya). Suatu hari ketika beliau berkhuthbah, beliau bersabda: ” Memang kemaren saya telah mempunyai cincin dan memakainya, dan kuletakkan batu matanya dalam telapak tangan, Saya demi Allah, tidak memakai lagi selama-lamanya.” Maka beliau kemudian menanggalkannya, lalu orang-orang pun mengikutinya.

 

Musnad Ahmad 6050: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dan Adul A’la dari Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian makan, pergunakanlah tangan kanannya, dan jika minum, pergunakan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan begitu juga minum.” Sedang telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid telah menceritakan kepada kami Rabbah dari Ma’mar dari Zuhri dari Salim bin Abdillah ia me-marfu’-kan hadis itu, ia berkata: “Jika salah seorang dari kalian makan…” dia pun menuturkan hadis. Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq saya telah mendengar Malik bin Anas dan Ubaidullah bin Umar keduanya menceritakan (hadis) dari Ibnu Syihab dari Abu Bakar bin Ubaidillah dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam semisalnyal.

 

Musnad Ahmad 6051: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh Anjing di Madinah. Lalu dikabarkan kepada beliau seorang wanita di pinggir Madinah memiliki Anjing. Bergegas beliau mengutus (para sahabat) untuk membunuhnya.

 

Musnad Ahmad 6052: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang untuk membunuh janin.

 

Musnad Ahmad 6053: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mengundang saudaranya, maka hendaknya ia memenuhinya. Baik walimahan atau pun semisal.”

 

Musnad Ahmad 6054: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertiga, janganlah dua orang saling berbisik-bisik tanpa mengajak ketiganya kecuali seizinnya karena hal itu menyedihkannya.”

 

Musnad Ahmad 6055: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Pernah Umar bin Khathab melihat Utharid menjual pakaian berkain sutera. Dia pun mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya melihat Utharid menjual pakaian dari sutera, Oh,,, Aduhai,,, sekiranya tuan mau membelinya untuk tuan pakai saat utusan datang, atau untuk berhari raya, atau untuk shalat jum’at?” maka beliau bersabda: ” Yang memakainya hanyalah mereka yang tidak mendapat ganjaran -seingat saya beliau mengatakan- kelak di akhirat.” (Ibnu Umar) berkata; Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diberi hadiah beberapa pakaian sutera, diantaranya beliau berikan kepada Ali bin Abi Thalib, kepada Usamah bin Zaid, dan juga kepada Umar bin Khathab. Kepada Ali beliau katakan, “Robeklah kain itu untuk para wanita sebagaikerudung” Lalu Umar menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, kemaren saya mendengar tuan berkata yang isinya larangan-larangan, lalu mengapa tuan kirimkan sehelai pakaian sutera kepadaku?!” Beliau menjawab: ” Saya tidak mengirimkan kepadamu dengan maksud kamu pakai, tetapi juallah!.” Adapun Usamah, ia memakainya dan dipergunakannya untuk beristirahat, hanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melihatnya. Ketika Usamah melihat beliau memandang tajam kepadanya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, tuan telah memberikannya untukku.” Beliau bersabda: “Robeklah kain itu untuk para wanita sebagai kerudung”. Atau sebagaimana apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

 

Musnad Ahmad 6056: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zaid bin Aslam saya mendengar Ibnu Umar berkata, “Siapa yang menjulurkan kainnya melebihi mata kaki karena sombong, Allah tidak melihatnya pada hari kiamat.” Telah berkata Zaid, Ibnu Umar menceritakan kisah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah melihatnya memakai kain baru dan terdengar suara gemerisik kainnya. Kontan beliau berkata, “Siapakah ini?” Ibnu Umar menjawab, “Saya Abdullah bin Umar.” Beliau berkata, “Jika kamu benar-benar Abdullah bin Umar, angkatlah kainmu.” Ibnu Umar berkata, “Saya pun mengangkatnya.” Beliau berkata, “Tambah (angkat lagi).” Ibnu Umar berkata, “Saya pun mengangkatnya lagi hingga pertengahan betis.” Kemudian dia menoleh kepada Abu Bakar dan berkata, “Barangsiapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, Allah tidak melihatnya kelak pada hari kiamat.” Lalu Abu Bakar berkata, “, kainku terkadang merosot.” Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Kamu tidaklah termasuk dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6057: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melewati seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang sedang menasehati saudaranya daripada rasa malu, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Biarkan dia, karena malu bagian daripada Iman.”

 

Musnad Ahmad 6058: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dan Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara Anjing kecuali anjing penjaga atau pemburu, berkurang pahalanya setiap hari sebanyak dua Qirath.

 

Musnad Ahmad 6059: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menceritakan seraya bersabda: “Ketika saya tidur, Saya melihat diriku diberi segelas susu lalu. Saya meminumnya hingga saya melihat sesuatu yang indah keluar dari kuku-kukuku. Kemudian sisa minumku kuberikan kepada Umar bin Khathab.” Para sahabat bertanya, “Apa yang tuan takwilkan dari mimpi itu wahai Rasulullah!” beliau bersabda: “Ilmu.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dari bapakku, dari Shalih telah berkata Ibnu Syihab telah menceritakan kepadaku Hamzah bin Abdillah bin Umar lalu ia menyebutkannya.

 

Musnad Ahmad 6060: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika beliau bertakbir hingga sejajar dengan kedua bahunya atau lebih pendek. Dan jika ruku’, beliau mengangkat keduanya dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ juga mengangkat keduanya, sedang beliau tidak melakukan hal itu dalam sujud.”

 

Musnad Ahmad 6061: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saat mengangkat kepalanya dari ruku’ membaca: “RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mulah segala pujian).”

 

Musnad Ahmad 6062: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ismail bin Umayyah dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang seseorang duduk saat shalat dengan bertumpuan pada kedua tangan.

 

Musnad Ahmad 6063: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian mengangkat jari tulunjuk kanannya yaitu jari yang berdekatan dengan ibu jari, lalu beliau berdo’a. Sementara tangan kirinya beliau letakkan di atas lututnya dan dibentangkan kemuka (tidak digenggam).

 

Musnad Ahmad 6064: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membaca dalam shalat fajar saat mengangkat kepalanya dari ruku’ pada raka’at terakhir, beliau membaca: “RABBANAA LAKAL HAMDU.” Kemudian beliau berkata, “Ya Allah, laknatilah si Fulan dan si Fulan.” Yakni beliau berdo’a (agar ditimpakan laknat) atas orang-orang munafik. Maka Allah Shallallahu’alaihi wasallam menurunkan ayat: “Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena mereka itu orang-orang yang zhalim.”

 

Musnad Ahmad 6065: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mubarak telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri telah menceritakan kepadaku Salim dari bapaknya, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ pada raka’at yang terakhir dari shalat fajar yakni beliau membaca, “Ya Allah laknatilah orang-orang munafik si ‘A’, si ‘B’ dan si ‘C’.” Yaitu setelah beliau membaca, “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA WA LAKAL HAMDU.” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: “Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena mereka itu orang-orang yang zhalim.”

 

Musnad Ahmad 6066: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat khauf satu raka’at dengan salah satu dari dua kelompok, sementara kelompok yang lain bersiaga menghadap musuh. Kemudian kelompok pertama ini beranjak dan berdiri menggantikan tempat para sahabatnya (yakni kelompok kedua) menghadap ke arah musuh. Kelompok kedua lantas datang dan shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam satu raka’at. Lalu beliau salam. Kemudian masing-masing kelompok menambah satu raka’at lagi.

 

Musnad Ahmad 6067: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata, “Saya pernah shalat dua raka’at bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di Mina, bersama Abu Bakar dua raka’at, bersama Umar juga dua raka’at dan bersama Usman diawal-awal kekhilafahannya kemudian dia shalat empat raka’at.

 

Musnad Ahmad 6068: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Abdullah bin Abi Bakar bin Abdirrahman dari Umayyah bin Abdillah bahwa dia berkata kepada Ibnu Umar, “Kami mendapati shalat khauf dan shalat Hadlar di dalam Al Qur`an sementara kami tidak mendapatkan shalat musafir.” Maka Ibnu Umar pun berkata, “Allah mengutus Nabi-Nya Shallallahu’alaihi wasallam sementara kita adalah manusia yang paling tidak tahu apa-apa. Maka (seharusnyalah) kita berbuat sebagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.”

 

Musnad Ahmad 6069: Telah menceritakan kepada kami Aburrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika melakukan perjalanan kencang (tergesa), beliau menjama’ antara shalat Maghrib dan Isya.

 

Musnad Ahmad 6070: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at, dan jika kamu khawatir kedatangan waktu subuh, witirlah satu raka’at.”

 

Musnad Ahmad 6071: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakar keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar. Ibnu Umar mengabarkan Nafi’ dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, atau dari Umar. –Nafi’ berkata: Aku yakin yang mengatakan itu adalah salah satu dari keduanya, dan menurutku tidak berasal selain dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, Beliau bersabda–: “Janganlah salah seorang diantara kamu ber-isytimal dalam shalat sebagaimana orang-orang yahudi melakukan isytimal. Dan hendaklah orang mempunyai dua baju, ia mengenakannya. Hendaklah ia memakai sarungnya dan pakaiannya. Dan barangsiapa yang tidak mempunyai dua helai kain, hendaklah ia memakai kain sarungnya lalu ia melaksanakan shalat.”

 

Musnad Ahmad 6072: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakar Al Ma’na keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar berkata: Kaum muslimin dulu ketika awal-awal datang ke Madinah, mereka berkumpul ketika waktu shalat telah datang dan tidak ada seorangpun yang mengumandangkan seruan shalat. Kemudian suatu hari mereka membicarakan hal itu, dan ada sebagian orang yang berpendapa, “Pakailah lonceng sebagaimana orang-orang nasrani memakai lonceng.” Dan sebagian yang lain berpendapat, “Tidak, tapi pakailah tanduk yang ditiup (terompet) sebagaimana milik orang yahudi.” Maka Umar pun berkata, “Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk mengumandangkan seruan shalat saja?” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Wahai Bilal, berdirilah dan serulah manusia untuk shalat.”

 

Musnad Ahmad 6073: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakar keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Orang yang tertinggal dari shalat Ashar maka seolah-olah ia telah kehilangan oleh keluarga dan hartanya.” Saya bertanya kepada Nafi’, “Apakah sampai matahari terbenam?” dia menjawab, “Ya.”

 

Musnad Ahmad 6074: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar terkadang mengutusnya (Nafi’) sementara dia (Ibnu Umar) sedang berpuasa. Lalu disajikan hidangan makan malamnya sementara adzan Shalat Maghrib telah dikumandangkan dan iqamah sudah diserukan, sedangkan dia mendengarnya. Dia tidak meninggalkan makan malamnya dan tidak pula terburu-buru sampai dia selesai makan malam. Kemudian dia berangkat dan shalat, dan dia berkata; Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian terburu menghabiskan makan malam kalian jika memang telah dihidangkan kepada kalian.”

 

Musnad Ahmad 6075: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim, dari Ibnu Umar, suatu ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melewati Ibnu Shayyad bersama sebuah rombongan sahabat beliau, yang dalam rombongan itu terdapat Umar bin Khaththab. Dia (Ibnu Shayyad) ketika itu sedang bermain bersama anak-anak kecil di sebuah benteng Bani Maghalah. Saat itu ia masih kecil, sehingga tidak sadar sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memukulkan tangan beliau ke punggungnya lalu bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Maka Ibnu Shayyad pun memandang beliau dan berkata: “Aku bersaksi bahwa kamu adalah utusan orang-orang yang ummiy (buta huruf).” Kemudian Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, “Apakah kamu juga bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Aku beriman (percaya) kepada Allah dan Rasul-RasulNya.” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Berita apa yang sampai kepadamu?” Ibnu Shayyad menjawab: “Sampai kepadaku berita yang benar maupun berita bohong.” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Telah dicampur adukkan perkara untuk kamu.” Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata: ” telah kusembunyikan sebuah ayat bagimu. —-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyembunyikan ayat yang berbunyi “Hingga hari dimana langit akan datang dengan kabut yang nampak jelas (QS. Addukhan (10) —.” Lalu Ibnu Shayyad berkata: “Itu adalah awan hitam.” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Diamlah dengan hina, kamu tidak akan dapat melampaui batas kemampuanmu sebagai dukun.” Lalu Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk menebas lehernya.” Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Kalau memang benar dia orangnya, maka kamu tidak akan bisa dikalahkan. Tapi jika bukan dia orangnya, maka tidak ada kebaikan membunuhnya.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Shalih, bahwa Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdillah bahwa, Abdullah bin Umar pernah berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah berjalan menuju Ibnu Shayyad, kemudian ia menyebutkannya. Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Shalih telah berkata Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdillah bahwa Abdullah bin Umar berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah berjalan bersama sekelompok sahabat beliau yang diantara mereka adalah Umar bin Khaththab hingga beliau bertemu dengan Ibnu Shayyad; seorang anak kecil yang beranjak dewasa sedang bermain-main dengan anak kecil yang lain di sebuah benteng milik bani Maghalah. Kemudian menyebutkan makna hadis itu.

 

Musnad Ahmad 6076: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Zuhri dari Salim atau dari bukan hanya dari satu orang, dia berkata; Ibnu Umar berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan Ubay bin Ka’ab pergi, keduanya mendatangi kebun kurma yang Ibnu Shayyad tengah berada disana. Ketika mereka berdua memasuki kebun kurma, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berjalan menyembunyikan diri di belantara pohon. Beliau berjalan pelan-pelan, dengan maksud agar Ibnu Shayyad tidak mendengar kedatangannya sebelum ia melihat beliau. Saat itu Ibnu Shayyad sedang berbaring dan berselimut di atas kasurnya lagi mendengkur pelan. (Ibnu Umar) berkata; Lalu Ibunya melihat kedatangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang bersembunyi dibalik bebatangan kurma. Kontan Ibunya berkata, “Wahai Shaf -nama panggilan Ibnu Shayyad–, itu Muhammad datang.” Ia pun kontan beranjak. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ibunya membiarkannya, niscaya jelaslah, Ia Ibnu Shayyad betulan atau tidak.” Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Zuhri telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdillah saya mendengar Abdullah bin Umar berkata; Maka setelah itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan Ubay bin Ka’ab pergi menuju pohon kurma. Lantas Ibnu Umar pun menyebutkan hadis.

 

Musnad Ahmad 6077: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berdiri di hadapan manusia, kemudian beliau memuji Allah Ta’ala dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Lalu beliau menyebutkan Dajjal seraya bersabda: ” Saya benar-benar mengingatkan kalian dari Dajjal. Dan tidaklah seorang Nabi (diutus) kecuali ia mengingatkan kaumnya, Nuh Shallallahu’alaihi wasallam telah mengingatkan kaumnya dari Dajjal. Akan tetapi, saya beritakan kepada kalian sebuah berita yang belum pernah diberitakan oleh seorang Nabi pun kepada kaumnya. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala tidaklah buta sebelah.”

 

Musnad Ahmad 6078: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang Yahudi akan memerangi kalian, dan kalian mengalahkan mereka hingga batu berkata, ‘Wahai Muslim, ini orang Yahudi di belakangku, bunuhlah ia.'”

 

Musnad Ahmad 6079: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Musa bin Uqbah dari Nafi’, dari Ibnu Umar, Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidlah pernah memerangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pun mengusir Bani Nadlir dan membiarkan bani Quraidlah, beliau juga berbuat baik kepada Quraidlah hingga akhirnya mereka juga memerangi beliau. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membunuh lelaki mereka, dan membagi-bagikan para wanita, anak-anak, serta harta mereka kepada kaum muslimin, kecuali sebagian mereka yang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meminta perlindungan dan menyatakan masuk Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga mengusir Yahudi Madinah yang semuanya adalah Bani Qainuqa’ -mereka adalah kaum Abdullah bin Salam- dan Yahudi Bani Haritsah, serta setiap orang Yahudi yang ada di Madinah.’

 

Musnad Ahmad 6080: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Musa bin Uqbah dari Nafi’, dari Ibnu Umar, Umar bin Khaththab pernah mengusir kaum Yahudi dan Nasrani dari bumi Hijaz. Dan ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dapat mengalahkan Khaibar, beliau ingin mengusir orang-orang Yahudi dari sana. Dan bumi manapun saat dakwah memihak Allah Ta’ala, RasulNya dan juga kaum muslimin, beliau menginginkan agar para Yahudi diusir total. Kemudian orang-orang Yahudi meminta Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam agar diberi kesempatan mendiami tanah-tanah yang ditaklukkan nabi dengan imbalan mau serius menunaikan pekerjaan mereka sebagai buruh, dan menyerahkan setengah harta (hasil panen) mereka. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata kepada mereka: “Saya akan membiarkan kalian dengan imbalan itu sesuai dengan kehendak kami.” Mereka pun dibiarkan hingga Umar Radliyallahu’anhu mengusir mereka ke Taima’ dan Ariha’.

 

Musnad Ahmad 6081: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakar keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa di antara kalian hendak mendatangi shalat jumat, mandilah.”

 

Musnad Ahmad 6082: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ibnu Juraij dan Ibnu Bakar dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab dari Abdullah bin Abdillah dari Abdullah bin Umar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda sedang beliau berada di atas mimbar: “Barangsiapa di antara kalian hendak mendatangi shalat jumat, mandilah.”

 

Musnad Ahmad 6083: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij saya mendengar Nafi’ berkata, bahwa Ibnu Umar berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jangan salah seorang dari kalian menyuruh saudaranya berdiri dari tempat duduknya, kemudian dijadikan tempat duduknya.” Saya bertanya kepadanya, yakni Ibnu Juraij, “Maksudnya hari Jum’at?” dia menjawab, “Baik hari jum’at, maupun lainnya.”

 

Musnad Ahmad 6084: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakar keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Musa telah menceritakan kepada kami Nafi’ bahwa Ibnu Umar berkata; Barangsiapa shalat malam hari, akhirilah dengan witir, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat witir pergi, karenanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Shalat witirlah kalian sebelum fajar.”

 

Musnad Ahmad 6085: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakar keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ Ibnu Umar berkata; Barangsiapa yang shalat malam hari, akhirilah dengan witir sebelum subuh. Seperti itulah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan mereka.

 

Musnad Ahmad 6086: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa Ali Al Azdi mengabarkan kepadanya, bahwa Ibnu Umar telah mengajarkan kepadanya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika menaiki kendaraannya hendak bepergian, beliau bertakbir tiga kali kemudian membaca: “SUBHAANALLADZI SAKHKHARA LANAA HAADZA WAMAA KUNNAA LAHU MUQRINIIN WA INAA ILAA RABBINAA LAMUNQALIBUUN. ALLAHUMMA INNAA NASALUKA FI SAFARINAA HADZAL BIRRA WAT TAQWA WA MINAL ‘AMALI MAA TARDLO ALLAHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA SAFARANAA HADZA WATHWI ‘ANNAA BU’DAHU ALLAHUMMA ANTASH SHAAHIBU FIS SAFARI WAL KHALIIFATU FIL AHLI ALLAHUMMA INNI `A’UUDZU BIKA MIN WA’TSAA`IS SAFAR WAKA`AABATIL MUNQALIB WA SUU`UL MANZHAR FIL AHLI WAL MAAL (Ya Allah, kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridloi. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, kepulangan yang buruk dan pemandangan yang menyedihkan dalam harta dan keluarga). Dan jika beliau kembali pulang, beliau membaca do’a itu lagi dan beliau menambahkan di dalamnya, “AAYIBUUNA TAA`IBNUUNA ‘AABIDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUNA (Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami).”

 

Musnad Ahmad 6087: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dia berkata; Pernah Ibnu Umar menjama’ dua shalat sekali. Itu terjadi saat ia mendapat berita dari Shafiyah binti Abi Ubaid bahwa ia sakit. Maka Ibnu Umar pun pergi setelah menunaikan shalat Ashar, ia tinggalkan muatan dagangannya dan mempercepat perjalanannya hingga datanglah waktu shalat Maghrib. Kemudian seorang laki-laki kalangan sahabatnya berkata kepadanya, “As Shalaah (waktu shalat telah tiba).” Ia tidak berpaling kepadanya sedikit pun. Kemudian yang lain berkata lagi kepadanya, namun ia tetap tidak berpaling sedikit pun, dan yang lain lagi berkata kepadanya, maka Ibnu Umar pun bekata, ” Saya melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, jika beliau terburu-buru dalam bepergian, beliau mengakhirkan shalat ini sehingga beliau menjama’ antara dua shalat.”

 

Musnad Ahmad 6088: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang menjual Tsamarah (kurma muda yang masih dipohon) dengan Tamr (kurma yang telah masak) dan beliau juga melarang untuk menjual Tsamarah sampai ia matang (yakni kelihatan warna kemerah-merahan).

 

Musnad Ahmad 6089: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab tentang shalat khauf dan bagaimana sunnahnya. Dari Salim bin Abdillah bahwa Abdullah bin Umar menceritakan bahwa ia pernah menunaikannya (shalat khauf) bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, Dia (Ibnu Umar) berkata; “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertakbir lalu satu kelompok dari kami berdiri dibelakang beliau membentuk satu shaf sementara satu kelompok lain bersiaga ke arah musuh. Kemudian mereka (kelompok yang pertama) ruku’ bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam satu raka’at dan dua sujud seperti setengah dari shalat subuh. Lalu mereka beranjak dan bersiaga ke arah pasukan musuh, kemudian datanglah kelompok kedua lalu mereka membentuk shaf bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan melakukan seperti yang dilakukan kelompok pertama. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi wasallam salam. Lalu setiap orang dari kedua kelompok berdiri menyempurnakan shalat satu raka’at dan dua sujud.” Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib saya bertanya kepada Zuhri dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Salim bahwa Abdullah bin Umar berkata; Saya berperang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam sebuah peperangan di Najed, lalu kami tepat berhadapan dengan arah pasukan musuh dan kamipun membentuk shaf (untuk shalat). Maka (Ibnu Umar) menyebutkan hadis itu.

 

Musnad Ahmad 6090: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; “Saya melihat orang-orang pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dilarang (yakni) jika seorang laki-laki membeli makanan dengan tanpa ditakar lalu menjualnya, sampai ia memindahkannya ke rumah atau tempat tinggal miliknya.”

 

Musnad Ahmad 6091: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjual seorang hamba sahaya maka hartanya adalah milik si penjual kecuali si pembeli mengajukan syarat. Dan barangsiapa menjual pohon kurma yang berbuah dan dipelihara, buahnya adalah milik si penjual kecuali si pembeli mengajukan syarat.”

 

Musnad Ahmad 6092: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghunus pedang ke arah kami, dia bukan golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 6093: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar, dia berkata; Suatu ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah mengutus Khalid bin Walid ke Bani -seingatku- Jadzimah, lalu ia menyeru mereka masuk Islam. Tapi untuk mengatakan “kami mau masuk Islam” pun mereka enggan, bahkan mereka mengatakan “kami keluar dari Islam, kami keluar dari Islam.” Maka Khalid pun menjadikan mereka tawanan, juga ada yang dibunuhnya. Ibnu Umar berkata; Dan ia juga memberikan kepada setiap orang diantara kami seorang tawanan hingga di suatu pagi Khalid memerintahkan kepada setiap orang yang diserahi tawanan untuk membunuhnya. Ibnu Umar berkata: “Demi Allah, aku tidak membunuh tawanan yang ada padaku begitupun sahabatku, ia juga tidak membunuh tawanan yang ada padanya.” Ia berkata: lalu mereka mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan mengadukan perbuatan Kholid kepada beliau. Maka Nabipun berdo’a sambil mengangkat kedua tangan beliau: “Ya Allah, aku berlepas diri kepadamu dari perbuatan Khalid.” (beliau mengatakannya dua kali).

 

Musnad Ahmad 6094: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata, “Wanita Bani makhzum pernah meminjam suatu harta tapi dia mengingkarinya, maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memerintah untuk memotong tangannya.”

 

Musnad Ahmad 6095: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berdo’a pada hari Hudaibiyah: “Ya Allah ampunilah mereka yang mencukur rambutnya.” Lalu seorang laki-laki berkata, “Dan juga bagi mereka yang memendekkan rambutnya.” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Ya Allah ampunilah mereka yang mencukur rambutnya.” Sampai beliau mengucapkannya tiga kali atau empat kali. Kemudian beliau berkata, “Dan juga bagi yang memendekkan rambutnya.”

 

Musnad Ahmad 6096: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; Saya menyaksikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika beliau memerintahkan untuk merajam keduanya. Ketika keduanya dirajam, saya melihatnya ia menelengkupinya dengan kedua tangannya untuk melindunginya (dari lemparan) batu.

 

Musnad Ahmad 6097: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Kami berada dalam sebuah ekspedisi penyerangan. Kemudian bagian kami mencapai sebelas Unta untuk setiap orangnya. Kemudian setelah itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberi bagian tambahan (nafl) kepada kami masing-masing satu Unta satu Unta.

 

Musnad Ahmad 6098: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dan Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian melarang para hamba sahaya wanita untuk menunaikan shalat di Masjid.”

 

Musnad Ahmad 6099: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; “Sebuah tombak diikutsertakan bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pada hari raya fitri, kemudian beliau tancapkan, dan beliau shalat menghadap ke arahnya.”

 

Musnad Ahmad 6100: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Musa bin Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan agar Zakat Fithri dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat ke tempat shalat. Dan sesekali dia berkata; “Sebelum menuju shalat.”

 

Musnad Ahmad 6101: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar dia berkata; “Seorang laki-laki berdiri di Masjid seraya bertanya, “Dari mana kita mulai membaca talbiyah wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Untuk penduduk Madinah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Nejed dari Qarn.” Para sahabat beranggapan atau berkata bahwa beliau bersabda: “Dan penduduk Yaman dari Yalamlam.”

 

Musnad Ahmad 6102: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq saya mendengar Ubaidullah bin Umar dan Abdul Aziz bin Abi Rawwad keduanya menceritakan (hadis) dari Nafi’ dia berkata; Ibnu Umar berangkat hendak melaksanakan haji pada saat Hajjaj menggantikan Ibnu Zubair memegang pemerintahan. Dikatakan kepadanya, “Diantara manusia tengah terjadi peperangan, kami khawatir mereka menghalangimu.” Ibnu Umar menjawab, “Telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suri tauladan yang baik. Saya akan berbuat sebagaimana yang diperbuat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, saya saksikan kepada kalian bahwa saya memastikan untuk umrah.” Ia pun berangkat. Sampai ketika ia berada di Baida`, ia berkata, “Tidaklah umrah dan haji melainkan satu kesatuan, dan saya saksikan kepada kalian bahwa saya telah mengikutsertakan haji bersama umrahku.” Ia pun mengantarkan Hadyu (hewan kurban) yang dibelinya di Qudaid kemudian berangkat hingga tiba di Makkah. Dia melakukan thawaf di Baitullah dan antara Shafa dan Marwah dan tidak lagi menambah (berbuat sesuatu) atasnya, tidak menyembelih, tidak mencukur rambut dan tidak pula memendekkannya, dan tidak pula bertahallul dari sesuatu pun sejak ia mulai melakukan ihram sampai hari Nahr. Dia akhirnya menyembelih (hewan kurban) dan mencukur rambutnya. Ibnu Umar kemudian berpendapat bahwa ia telah memenuhi thawafnya untuk haji dan umrah juga thawafnya yang pertama. Kemudian ia berkata, “Beginilah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berbuat.”

 

Musnad Ahmad 6103: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim dia berkata, Ibnu Umar pernah ditanya mengenai Hajji tamattu’, ia pun memerintahkannya seraya berkata, “Allah Ta’ala memerintahkannya dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, juga memerintahkannya.

 

Musnad Ahmad 6104: (Masih dari perawi yang sama dengan hadits sebelumnya -yakni dari Abdurrazzaq dari Ma’mar -). Telah berkata Zuhri telah mengabarkan kepadaku Salim bahwa Ibnu Umar berkata; Umrah di bulan-bulan haji dilakukan dengan sempurna. Hal itu telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan Kitab Allah juga menurunkannya.

 

Musnad Ahmad 6105: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ats Tsauri dari Abdul Karim Al Jazari dari Sa’id bin Jubair dia berkata; Saya melihat Ibnu Umar berjalan di antara Shafa dan Marwa kemudian dia pun berkata, “Jika saya berjalan, saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berjalan dan jika saya berlari-lari kecil, saya juga pernah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berlari-lari kecil.”

 

Musnad Ahmad 6106: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberi bagian untuk invantri (pasukan berkuda) dua bagian sedangkan untuk kavaleri (pasukan pejalan kaki) satu bagian.

 

Musnad Ahmad 6107: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abi Rawwad telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengusap (mencium) kedua rukun yamani ini setiap kali beliau melewatinya, sedang beliau tidak mengusap (mencium) yang lainnya.

 

Musnad Ahmad 6108: Telah menceritakan kepada kami Rauh dan Hasan bin Musa keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Zubair bin Arabi dia berkata, saya mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar mengenai Hajar Aswad. Ibnu Umar menjawab, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengusap dan menciumnya.” Laki-laki itu pun berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu jika saya berdesak-desakan?” Ibnu Umar menjawab, “Jadikan (seperti itu) jika kamu melihat (rukun) Yamani, karena saya melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengusap dan menciumnya.”

 

Musnad Ahmad 6109: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Amru bin Yahya dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari pamannya Wasi’ bahwa ia bertanya kepada Abdullah bin Umar mengenai shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ibnu Umar berkata, ” (Beliau membaca) Allahu Akbar, pada setiap kali beliau meletakkan (tangan) dan mengangkatnya, kemudian beliau membaca, ‘ASSALAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAHI’ ke arah kanannya dan, ‘ASSALAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAHI’ ke arah kirinya.”

 

Musnad Ahmad 6110: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa dia mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin Umar, “Bolehkah seorang laki-laki mencampuri isterinya sebelum ia melakukan thawaf fi Shafa dan Marwa?” Ibnu Umar hanya menjawab, ” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, setelah beliau tiba maka beliau melakukan thawaf di Baitullah, kemudian beliau ruku’ (shalat) dua raka’at, lalu beliau thawaf antara Shafa dan Marwa.” Kemudian Ibnu Umar menyitir ayat: (telah ada untuk kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik).”

 

Musnad Ahmad 6111: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdillah dari bapaknya, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah (dengan menjama’) semuanya.

 

Musnad Ahmad 6112: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah saya mendengar Abu Ishaq saya mendengar Abdullah bin Malik dia berkata; Saya pernah shalat jama’ bersama Ibnu Umar, dia pun berdiri dan shalat Maghrib tiga raka’at kemudian shalat Isya dua raka’at dengan satu Iqamah. (Abdullah bin Malik) berkata; Maka Khalid bin Malik bertanya kepadanya, lalu Ibnu Umar pun menjawab, ” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berbuat seperti ini dan di tempat ini.”

 

Musnad Ahmad 6113: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dia berkata; telah sampai (sebuah hadis -dari seseorang -) kepadaku, dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menyembelih (Unta) pada hari (raya) Adlha di Madinah. (Ibnu Umar) berkata; Dan jika beliau tidak menyembelih (Unta), maka beliau menyembelih (Sapi).

 

Musnad Ahmad 6114: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas’adah dari Ibnu Ajlan dan Shafwan dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Ajlan Al Ma’na dan Al Qa’qa’ bin Hakim bahwa Abdul Aziz bin Marwan menulis kepada Abdullah bin Umar; “Ungkapkanlah hajatmu kepadaku.” (Qa’qa’ bin Hakim) berkata; maka Abdullah bin Umar pun menulis kepadanya, saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Mulakanlah sedekahmu dari kerabat yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas adalah lebih baik dari tangan yang di bawah.” Dan sungguh, saya mempunyai taksiran bahwa tangan yang di atas adalah tangan yang memberi, sedang tangan yang dibawah tangan peminta-minta. Dan saya tidak meminta kepadamu sesuatu pun, tidak pula menolak rezeki yang Allah berikan kepadaku melalui perantaraanmu.

 

Musnad Ahmad 6115: Telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Zuhri dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal. Yaitu seorang laki-laki yang telah Allah beri alquran, lalu ia pergunakan untuk shalat di pertengahan malam dan siang hari. Kemudian seseorang yang Allah beri harta, lalu ia menginfakkannya pada malam dan siang hari.”

 

Musnad Ahmad 6116: Telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy, ia berkata: Telah sampai kepada kami bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam jika melempar jumrah yang pertama, yang letaknya disamping masjid, beliau melemparkan tujuh buah batu sambil bertakbir pada setiap kali lemparan. Kemudian beliau berdiri di depannya lalu berdo’a menghadap ke Baitullah dengan mengangkat kedua tangannya, dan beliau memanjangkan wuquf (berdiri) kemudian beliau melemparkan jumrah yang kedua dengan tujuh buah batu sambil bertakbir pada setiap kali lemparan. Kemudian bergerak ke arah kiri menuju tengah-tengah bukit, lalu beliau berdiri dan berdo’a sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan. Kemudian beliau berjalan hingga sampai di tempat pelemparan jumrah aqabah. Lalu beliau melempar tujuh buah batu sambil bertakbir pada tiap lemparan, kemudian beliau pergi meninggalkannya dan tidak berhenti lagi. Az Zuhriy berkata: saya mendengar Salim menceritakan (hadis) dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang isinya seperti ini, dan Ibnu Umar juga mengerjakan amalan seperti ini pula.

 

Musnad Ahmad 6117: Telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada penyakit menular dan tidak ada pula ramalan (burung). Dan kesialan itu terdapat pada tiga hal yaitu, pada wanita, rumah dan hewan tunggangan.”

 

Musnad Ahmad 6118: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Abu Ya’qub berkata, aku mendengar Ibnu Abu Nu’m berkata, “Aku pernah menyaksikan Ibnu Umar ditanya oleh penduduk Irak tentang seseorang yang melakukan ihram kemudian membunuh lalat. Lalu ia pun berkata, “Wahai penduduk Irak! Kalian bertanya kepadaku tentang seseorang yang melakukan ihram kemudian membunuh lalat, sedangkan kalian sendiri telah membunuh anak dari puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: ‘Keduanya adalah kesayanganku dunia’.”

 

Musnad Ahmad 6119: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepada kami ‘Aid bin Nushoib. Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pernah melakukan shalat dalam Ka’bah.

 

Musnad Ahmad 6120: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Tsabit telah menceritakan kepadaku bapakku dari Makhul dari Jubair bin Nufair dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Allah Ta’ala menerima taubat sorang hamba sebelum sekarat.”

 

Musnad Ahmad 6121: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Dinar telah mendengar Ibnu Umar dia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka, dan Aslam semoga Allah menyelamatkan mereka.”

 

Musnad Ahmad 6122: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sa’id Al Qurasyi dari bapaknya, dia berkata; Saya berada di sisi Abdullah bin Umar, tiba-tiba datang seorang laki-laki, maka Ibnu Umar pun berkata, “Dari mana kamu?” lelaki itu menjawab, “Dari Aslam.” Ibnu Umar berkata, “Maukah kamu saya beritakan kabar gembira wahai saudara Aslam? Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Ghifar (yakni Bani Ghifar bin Sulaim) semoga Allah mengampuni mereka, dan Aslam (salah satu kabilah yang bersegera memeluk Islam) semoga Allah menyelamatkan mereka.'”

 

Musnad Ahmad 6123: Telah menceritakan kepada kami Arim telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jangan seseorang berjual beli yang masih dalam proses jual beli saudaranya, dan jangan pula meminang wanita yang masih dalam proses pinangan saudaranya, kecuali dengan seijinnya.” Dan sepertinya beliau mengatakan, “Kecuali saudaranya mengizinkan.”

 

Musnad Ahmad 6124: Telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Isa telah mengabarkan kepada kami Usamah bin Zaid dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, Pernah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengambil sebuah cincin emas lalu beliau letakkan di tangan kanannya. Beliau jadikan batu mata cincinnya berada dalam telapak tangannya. Lalu orang-orang pun mengambil cincin emas mereka. Ibnu Umar berkata; Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam naik mimbar, dan beliau buang cincinnya, dan beliau larang cincin emas dipakai.

 

Musnad Ahmad 6125: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melakukan puasa wishal. Orang-orang pun ikut berpuasa wishal, maka beliau melarang mereka. Mereka pun mengajukan protes, “Wahai Rasulullah, tuan berpuasa wishal.” Beliau menjawab, ” Saya tidak sebagaimana kalian. Saya diberi makan dan juga minum.”

 

Musnad Ahmad 6126: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepada kami Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah kemudian ia mengucapkan insya allah, jika ia mau hendaklah menepatinya dan jika tidak, boleh mengurungkannya dan tidak dosa.”

 

Musnad Ahmad 6127: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar, Dahulu Aisyah menawar Barirah. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pulang dari menunaikan shalat. Lalu Aisyah menyatakan uneg-unegnya; “Mereka enggan menjualnya kecuali mereka mensyaratkan Wala` tetap bagi mereka. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Al Wala` adalah bagi yang memerdekakan.”

 

Musnad Ahmad 6128: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Hakim dari Sa’id bin Jubair saya mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang Nabidz Al Jarr.” (Ibnu Jubair) berkata; Maka saya datangi Ibnu Abbas dan saya tuturkan hal itu kepadanya. Dia pun berkata, ” (Ibnu Umar) berkata benar.” (Ibnu Abbas) berkata, ” Jarr adalah segala sesuatu yang terbuat dari tanah liat.”

 

Musnad Ahmad 6129: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Shakhr dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang orang kota menjual milik orang desa.” Dan beliau juga bersabda: “Jangan kalian mencegat para pedagang padahal belum sampai pasar, dan jangan pula sebagian kalian menjual di atas jual beli sebagian lainnya, serta jangan salah seorang di antara kalian meminang di atas pinanngan saudaranya, sampai yang meminang meninggalkan pinangannya atau ia mengizinkannya, maka barulah ia boleh meminangnya.”

 

Musnad Ahmad 6130: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan Affan keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Umar Radliyallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di Ji’ranah. Ia berkata, ” Pernah saya bernadzar pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf di Masjidil Haram.” Abdush Shamad berkata; Saat itu Umar mempunyai seorang anak dari tawanan Hawazin, dia pun mengingatkan Umar, “Pergilah dan beri’tikaflah.” Maka Umar pun pergi dan beri’tikaf. Ketika ia shalat, ia mendengar orang-orang berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membebaskan tawanan Hawazin.” Maka beliau pun memanggil anak itu dan membebaskannya.”

 

Musnad Ahmad 6131: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abdillah bin Muhammad bin Aqil dari Ibnu Umar, Pernah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memberinya pakaian, dan ia pun memakainya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melihat pakaiannya melewati kedua mata kaki. Maka beliau menyebut-nyebut neraka sampai beliau menggunakan peringatan sangat keras berkenaan dengan kain yang melewati kedua mata kaki.

 

Musnad Ahmad 6132: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dan Abu Sa’id keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dia berkata; Rasululah Shallallahu’alaihi wasallam melarang Al Qaza’. Abdush Shamad berkata; “Al Qaza’ adalah rambut yang disisakan di kepala, sementara yang lain dicukur.”

 

Musnad Ahmad 6133: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Harun bin Ibrahim Al Ahwazi telah menceritakan kepada kami Muhammad dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Shalat Maghrib adalah witir bagi shalat siang hari, maka laksanakanlah shalat witir untuk shalat malam. Dan shalat malam itu adalah dua raka’at dua raka’at, sedangkan shalat witir itu adalah satu raka’at di akhir malam.”

 

Musnad Ahmad 6134: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh telah mengabarkan kepada kami Warqa` dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang Al Qaza’ (mencukur sebagian rambut dan meninggalkan sebagian yang lain) di kepala.

 

Musnad Ahmad 6135: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amr telah menceritakan kepada kami Hisyam yakni Ibnu Sa’ad dari Zaid bin Aslam dari bapaknya, dia berkata, saya bersama Ibnu Umar menemui Abdullah bin Muthi’, dia berkata, “Selamat datang Abu Abdurrahman, hai pembantuku…..hamparkan baginya sebuah bantal.” Maka Ibnu Umar berkata, ‘Saya mendatangimu hanya untuk menceritakan sebuah hadis yang saya dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang menarik tangannya dari ketaatan, ia datang pada hari kiamat sedang ia tidak memiliki hujjah. Dan barangsiapa mati sementara ia memisahkan diri dari jama’ah, ia mati dalam keadaan jahiliyah.'”

 

Musnad Ahmad 6136: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Qais Al Ma`ribi telah menceritakan kepada kami Tsumamah bin Syarahil dia berkata; Saya menemui Ibnu Umar lalu saya berkata, “Bagaimanakah shalat musafir?” dia berkata, “Yaitu dua raka’at dua raka’at, kecuali shalat maghrib tetap tiga raka’at.” Saya berkata, “Meskipun kita berada di Dzul Majaz?” ia (Ibnu Umar) berkata, “Apa itu Dzul Majaz?” saya berkata, “Sebuah tempat yang kami pergunakan untuk berkumpul, berjual beli dan bermalam selama dua puluh malam atau lima belas hari.” Maka Ibnu Umar berkata, “Wahai orang laki-laki, saya pernah berada di Azerbaijan dan saya tidak tahu pasti apakah empat atau dua bulan. Saya melihat mereka shalat dua raka’at dua raka’at, dan saya juga melihat Nabi Allah Shallallahu’alaihi wasallam dengan pandangan mataku sendiri, beliau shalat dua raka’at.” Kemudian ia pun menyitir ayat ini: (Dan telah ada pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi kalian).

 

Musnad Ahmad 6137: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abi Sufyan saya mendengar Salim berkata, dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Saya melihat di sisi Ka’bah dekat Maqam Ibrahim yakni, seorang laki-laki berkulit sawo matang berambut lurus. Ia meletakkan tangannya di atas pundak dua orang laki-laki sedang kepalanya meneteskan air. Saya bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Tiba-tiba ada jawaban, ‘Isa bin Maryam atau Al Masih bin Maryam.’ Saya tidak ingat persis redaksinya. Kemudian di belakangnya saya melihat seorang laki-laki yang berkulit kemerah-merahan, keriting rambutnya dan buta mata kanannya. Yakni menyerupai orang yang pernah kulihat yaitu Ibnu Qathan. Maka saya bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Tiba-tiba ada jawaban, ‘Ini adalah Al Masih Ad Dajjal.'”

 

Musnad Ahmad 6138: Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir telah menceritakan kepadaku bapakku, saya mendengar Yunus dari Zuhri dari Hamzah bin Abdillah bin Umar dari bapaknya, dia bekata; Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ketika saya tidur, saya didatangi seseorang membawa segelas susu, lalu saya meminumnya dan susu itu keluar dari jari-jariku. Sisa minumku saya berikan kepada Umar bin Khaththab.” Dia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang tuan takwilkan (dari mimpi itu)?” beliau menjawab: ” (Yaitu) Ilmu.”

 

Musnad Ahmad 6139: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Israil dari Simak dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Umar dia berkata; “Saya biasa melakukan jual beli unta di Baqi’. Adakalanya saya menjual dengan mata uang dinar namun saya menerimanya dengan mata uang Dirham (seukuran dinar yang saya tetapkan). Namun terkadang saya jual dengan mata uang Dirham, dan saya menerimanya dengan mata uang Dinar (seukuran dirham yang saya tetapkan). Kemudian saya mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wasallam saat beliau hendak memasuki rumahnya. Maka saya tarik pakaiannya dan bertanya kepadanya. Beliau pun menjawab, “Jika kamu menerimanya dengan mata uang yang berbeda, jangan ia berpisah denganmu sebelum persoalan beres.”

 

Musnad Ahmad 6140: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Musa bin Uqbah telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdillah dari Abdullah bin Umar dia berkata; Al-Baida` (Dzul Hulaifah, dekat Madinah), yang disana kalian mendustakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, Tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mulai membaca talbiyah melainkan dari Masjid Dzul Hulaifah itu.

 

Musnad Ahmad 6141: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dan Humaid bin Abdirrahman Ar Rasi keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Abdullah bin Umar menceritakan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan agar zakat fithri ditunaikan sebelum manusia berangkat melaksanakan shalat.

 

Musnad Ahmad 6142: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Mufadlol dari Manshur dari Mujahid dia berkata; Saya masuk Masjid bersama Urwah bin Zubair, ternyata (kami dapati) Ibnu Umar sedang bersandar ke kamar Aisyah dan orang-orang melaksanakan shalat Dluha. ‘Urwah bertanya kepada Ibnu Umar, “Hai Abu Abdurrahman, shalat apakah ini?” dia menjawab, “Ini adalah bid’ah.” Lalu Urwah bertanya lagi, “Hai Abu Abdurrahman, berapa kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melakukan umrah?.” Dia menjawab, “Empat kali, sekali diantaranya pada bulan Rajab.” Mujahid berkata; Lalu kami mendengar Aisyah membersihkan giginya di rumah, maka Urwah pun berkata kepadanya, ” Abu Abdirrahman beranggapan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukan Umrah empat kali, dan satu di antaranya pada bulan Rajab.” Maka Aisyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman, tidaklah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukan umrah kecuali ia menyertai beliau, namun beliau tidak pernah sekalipun umrah di bulan Rajab.”

 

Musnad Ahmad 6143: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Musa bin Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata, Pada suatu kesempatan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaksanakan shalat khauf. Maka berdirilah satu kelompok (untuk shalat) bersama beliau, sementara kelompok lain berjaga-jaga ke arah musuh. Maka shalatlah kelompok yang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam satu raka’at, dan beranjak pergi. Lalu datanglah kelompok yang lain dan beliau pun shalat bersama mereka satu raka’at. Setelah itu masing-masing kelompok meng-qadlo` satu raka’at satu raka’at.

 

Musnad Ahmad 6144: Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ajlan dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendatangi Masjid Quba` dengan memakai kendaraan dan juga berjalan kaki.

 

Musnad Ahmad 6145: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar; Dia berlari kecil tiga kali (putaran) dari Hajar Aswad ke Hajar Aswad, kemudian dia berjalan empat kali putaran. Dia (Ibnu Umar) berkata; Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melakukan seperti itu.

 

Musnad Ahmad 6146: Telah menceritakan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Hasan bin Amr Al Fuqaimi dari Abu Umamah At Taimiy, ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Umar, ” kami menyewakan (barang) ketika haji, apakah kami mendapat pahala haji?” Ia menjawab, “Bukankah kalian juga mengerjakan thawaf di Baitullah, wuquf di ‘Arafah, melempar jumrah, dan mencukur rambut kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” Maka Ibnu Umar berkata, “Ada seorang lelaki menemui Nabi Shallallahu’alaihi wasallam lalu dia menanyakan seperti yang kamu tanyakan, tapi beliau tidak menjawabnya hingga Jibril turun dengan membawa ayat: ‘Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.’ Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam segera memanggil orang itu dan berkata: ‘Kalian adalah orang-orang yang menunaikan ibadah haji.'” Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid yakni Al Adani telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al ‘Ala bin Musayyab dari seorang laki-laki dari Bani Taimillah, dia berkata: Ada seorang lelaki menemui Ibnu Umar dan berkata, ” kami adalah satu kaum yang (biasa) menyewakan barang (ketika haji).” lalu dia menyebutkan makna hadis seperti diatas.

 

Musnad Ahmad 6147: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari Atha` dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Shalat di Masjidku ini lebih utama daripada shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 6148: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad yakni Ibnu Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang jual beli gharar. Adalah kebiasaan orang Arab jahiliyah, mereka berjual beli Habal Habalah (janin yang masih di perut Unta) ditukar dengan Syarif (Unta yang tua), dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarangnya.

 

Musnad Ahmad 6149: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid dari Abdillah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam membawa bekal sari anggur untuk kuda. Hammad berkata; saya bertanya Ibnu Umar, apakah itu untuk kudanya?. ia menjawab, “Tidak, akan tetapi untuk kuda kaum Muslimin.”

 

Musnad Ahmad 6150: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Athiyah bin Sa’dari dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Shalat malam itu adalah dua raka’at-dua raka’at, dan jika kamu khawatir kedatangan waktu subuh, shalatlah satu raka’at. Sesungguhnya Allah ta’ala itu ganjil dan Dia menyukai yang ganjil.”

 

Musnad Ahmad 6151: Telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah menceritakan kepada kami Isa bin Hafsh bin Ashim bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bersabar atas kesusahan dan kesulitannya, Saya akan memberi syafa’at atau sebagai saksi baginya kelak hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6152: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits dari Hanzhalah bahwa dia mendengar Thawus berkata, saya pernah mendengar Abdullah bin Umar (ketika) seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang Al Jarr dan Ad Duba`?” Ibnu Umar menjawab, “Iya.”

 

Musnad Ahmad 6153: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits dari Hanzhalah bin Abi Sufyan dari Salim bin Abdillah dari Abdullah bin Umar bahwasanya, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyeret (menjulurkan) kainnya (hingga melebihi mata kaki) karena sombong, Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6154: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits telah menceritakan kepadaku Hanzhalah bahwa dia mendengar Salim bin Abdillah berkata; Saya mendengar Abdullah bin Umar berkata; Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangisapa yang memelihara anjing kecuali Anjing pemburu atau penjaga, maka berkurang pahalanya setiap hari dua Qirath.”

 

Musnad Ahmad 6155: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits telah menceritakan kepadaku Hanzhalah telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdillah dari Abdullah bin Umar bahwa dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika isteri-isteri kalian meminta izin untuk menuju Masjid, izinkanlah mereka.”

 

Musnad Ahmad 6156: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Walid telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepadaku Jahdlam dari Abdullah bin Badr dari Ibnu Umar dia berkata; Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam namum beliau tidak bertahallul. Kemudian (kami juga) berangkat bersama Abu Bakar, Umar dan Usman radliallahu ‘anhum, namun mereka semuanya tidak bertahallul.

 

Musnad Ahmad 6157: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Kezhaliman mendatangkan kegelapan kelak pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6158: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Seorang pengkhianat, diberi bendera kelak pada hari kiamat, lalu dikatakan, ‘Inilah pengkhianat si Fulan.'”

 

Musnad Ahmad 6159: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Orang yang tidak menunaikan zakat hartanya, kelak pada hari kiamat Allah mengubah hartanya dalam bentuk ular besar yang mempunyai dua taring di mulutnya. Ular itu melilit dan memerasnya.” Beliau bersabda: ” (Si ular berkata, ‘Akulah harta simpananmu, akulah harta simpananmu.'”

 

Musnad Ahmad 6160: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits telah meceritakan kepadaku Dawud bin Qais dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwasanya, suatu ketika ia dalam perjalanan. Lalu salah seorang temannya turun untuk mengerjakan shalat witir. Maka Ibnu Umar berkata: “Kenapa kamu tidak naik?” ia menjawab, “Saya mau mengerjakan shalat witir.” Ibnu Umar berkata, “Bukankah pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam itu terdapat contoh yang baik buat kamu?”

 

Musnad Ahmad 6161: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits dari Ibnu Juraij dia berkata; telah berkata kepadaku Sulaiman bin Musa telah menceritakan kepada kami Nafi’ bahwa Ibnu Umar berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sebarkanlah salam, berilah makan, dan jadilah kalian saling bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kepada kalian.”

 

Musnad Ahmad 6162: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menghadang (dengan maksud membeli) (kafilah dagang) di jalan dan belum sampai rumahnya.” Dan beliau juga melarang jual beli Najasy.

 

Musnad Ahmad 6163: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Al Wala` (hak waris budak) itu adalah bagi yang membebaskan.”

 

Musnad Ahmad 6164: Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memerdekakan bagiannya dalam budak yang dimiliki secara berserikat, ia berkewajiban memerdekakan bagian yang lain. Dan jika ia tidak memiliki harta, berarti ia telah memerdekakan bagiannya.”

 

Musnad Ahmad 6165: Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus sariyah (ekspedisi perang) ke arah Nejed dan saya turut serta. Lalu kami mendapatkan harta ghanimah berupa Unta yang banyak. Bagian masing-masing kami ketika itu sebelas ekor Unta. Lalu kami diberi tambahan lagi masing-masing satu ekor Unta.

 

Musnad Ahmad 6166: Telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dilipatgandakan dua puluh tujuh (derajat), yakni keutamaan shalat Jama’ah (dibanding dengan shalat sendirian).”

 

Musnad Ahmad 6167: Telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Panjangkanlah jenggot dan cukurlah kumis.”

 

Musnad Ahmad 6168: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abdullah dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar melempar Jumrah setelah hari Nahr dengan berjalan dan dia beranggapan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukan hal itu.

 

Musnad Ahmad 6169: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid Al Khayyath dari Abdullah yakni Al Umariy dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memutuskan Az Zubair dengan lari kudanya suatu wilayah yang di sebut dengan Tsurair. Maka dia melarikan kudanya sampai berhenti, kemudian dia melemparkan cambuknya dan berkata: “berikanlah kepadanya sesuai tempat cambuk jatuh.

 

Musnad Ahmad 6170: Telah menceritakan kepada kami Hammad telah berkata Abdullah telah menceritakan kepada kami Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau membenci Al Qaza’ (yaitu mencukur sebagian rambut anak kemudian menyisakan sebagiannya).

 

Musnad Ahmad 6171: Telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami Abdullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; sedekah yang pertama kali dalam Islam adalah sedekah yang dilakukan oleh Umar. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Tahanlah modalnya dan infaqkanlah di jalan Allah hasilnya.”

 

Musnad Ahmad 6172: Telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Abdullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan Al Qur`an kepada kami, dan ketika beliau (dalam pembelajarannya) melewati Sujudul Qur`an (ayat sajadah), beliau sujud, kami pun sujud bersamanya.

 

Musnad Ahmad 6173: Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abdullah dari Nafi’ dia berkata; Ibnu Umar bermalam di Dzu Thuwa, dan ketika pagi hari dia mandi dan menyuruh siapa saja bersamanya. Kemudian dia masuk melewati dataran tinggi dan jika hendak keluar maka ia keluar dari dataran rendah. Dan Ibnu Umar beranggapan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukan hal itu.

 

Musnad Ahmad 6174: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abdullah dari Nafi’ dia berkata; Bahwa Ibnu Umar berjalan cepat-cepat (lari kecil) dari Hajar Aswad ke Hajar Aswad dan ia beranggapan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukannya.

 

Musnad Ahmad 6175: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abdullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membatasi minuman anggur untuk kuda. Maka aku bertanya kepadanya; wahai Abu Abdirrahman -Al ‘Umari- apakah kuda-kuda beliau? Maka dia menjawab; kuda-kuda kaum muslimin.

 

Musnad Ahmad 6176: Telah menceritakan kepada kami Abu Qathn telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Abi Safar dari Sya’bi dia berkata; Pernah saya bermajelis bersama Ibnu Umar selama dua tahun, dan sekalipun saya tidak pernah mendengarnya menceritakan (hadis) dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkaitan dengan Adl Dlob (biawak) atau Al Adlub (bentuk jama’ dari biawak).

 

Musnad Ahmad 6177: Telah menceritakan kepada kami Uqbah Abu Mas’ud Al Mujaddar telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah melombakan antar kuda dan beliau berhasil mendahulukan Al Qurrah (kuda yang terdapat warna putih pada kepalanya) untuk mencapai batasan akhir.

 

Musnad Ahmad 6178: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail bin Abi Fudaik telah menceritakan kepada kami Adl Dlohhak yakni Ibnu Usman dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau memerintahkan agar Zakat fithri r ditunaikan sebelum manusia berangkat melaksanakan shalat.

 

Musnad Ahmad 6179: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Sa’ad dia adalah Abu Dawud Al Hafari telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dia berkata; Pernah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dari sekian pohon terdapat satu pohon yang tidak jatuh dahan-dahannya, dan perumpamaan pohon itu seperti seorang muslim.” Orang-orang pun menduga bahwa pohon itu adalah pohon Bawadi. Saya saat itu paling muda usianya di antara mereka, dan terbersit dalam hatiku bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Pohon itu adalah pohon kurma.” Ibnu Umar berkata; Lalu saya menceritakan hal itu kepada bapakku, lalu ia pun berkata, “Sekiranya kamu mengatakannya maka hal itu lebih aku sukai daripada ini dan itu.”

 

Musnad Ahmad 6180: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid dari Abdullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberi setengah bagian dari hasil panen kepada penduduk Khaibar, kemudian dari bagian itu beliau memberikan jatah kepada isteri-isterinya sebanyak seratus dekapan puluh wasaq kurma dan dua puluh wasaq gandum.”

+ ket; satu wasaq sama dengan enam puluh sha’ (gantang).

 

Musnad Ahmad 6181: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata; dan saya telah membacakan kepada bapakku; Telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Al Khayyath telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Harits bin Abdirrahman dari Hamzah bin Abdillah Umar bin Khaththab dari bapaknya, dia berkata; Saya memiliki seorang isteri sedangkan Umar membencinya maka dia pun berkata kepadaku, “Ceraikanlah dia.” Saya menjawab, “Tidak.” Maka dia mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan dia pun mengabarkannya. Lalu beliau memanggilku dan berkata, “Abdullah, ceraikanlah isterimu.” Ibnu Umar berkata; Maka saya pun menceraikan isteriku.

 

Musnad Ahmad 6182: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata; saya telah membacakan kepada bapakku; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid Al Khayyath dari Abu Dzib dari Harits bin Abdirrahman dari Salim dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kami untuk meringankan (memendekkan shalat) meski beliau mengimami kami dengan surat Ash Shaffaat.

 

Musnad Ahmad 6183: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata, saya telah membacakan kepada bapakku: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid Al Khayyath telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Zuhri dari Salim dari bapaknya, dia berkata; Jika kami membeli makanan pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan tanpa ditakar, maka kami dilarang untuk menjualnya sampai kami membawanya ke rumah atau tempat tinggal kami.

 

Musnad Ahmad 6184: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata, saya telah membacakan kepada bapakku: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid dari Ibnu Abi Dzi`b dari Zuhri dari Salim dari bapaknya, dia pernah shalat Maghrib dan Isya dengan satu Iqamah, menjama’ keduanya bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di Muzdalifah.

 

Musnad Ahmad 6185: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata, saya telah membacakan kepada bapakku hadis ini dan saya juga telah mendengarnya, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin Amir telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah berkata Abdullah bin Dinar telah mengabarkan kepadaku, dia berkata; saya mendengar Ibnu Umar menceritakan (hadis) dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam terkait dengan malam lailatul Qadr. Dia berkata, “Barangsiapa ingin menggapainya, hendaknya ia mencari pada malam ke dua puluh tujuh bulan Ramadlan).” Syu’bah berkata; Seorang laki-laki Terpercaya menuturkan kepadaku, dari Sufyan dia berkata; dia hanya mengatakan, “Barangsiapa ingin mencarinya, hendaknya ia mencari pada tujuh hari terakhir yang tersisa.” Syu’bah berkata; saya tidak tahu apakah ia mengatakan yang itu atau yang ini. Syu’bah ragu-ragu, seorang laki-laki Tsiqqah maksudnya Yahya bin Sa’id Al Qaththan.

 

Musnad Ahmad 6186: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata, saya membaca kepada bapakku; telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Khalid bin Ash Al Makhzumi dia berkata, saya mendatangi Madinah bersama beberapa orang dari penduduk Makkah hendak melakukan umrah. Lalu saya bertemu dengan Abdulah bin Umar dan berkata, “Kami adalah kaum penduduk Makkah, kami mendatangi Madinah sementara kami belum menunaikan haji sekalipun, apakah kami boleh melakukan umrah darinya?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak masalah, apa yang menghalangi kalian untuk melakukan umrah, sedang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah melakukan umrah dan semuanya (beliau lakukan) sebelum haji?” Maka kami pun melakukan umrah.”

 

Musnad Ahmad 6187: Telah menceritakan kepada kami Abdullah dia berkata, saya mendapatkan hadis ini di dalam kitab bapakku dengan tulisan tangannya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Warqa` dari Atha` yakni Ibnu Sa`ib dari Ibnu Jubair: “INNAA A’THAINAAKAL KAUTSAR” maknanya adalah kebaikan yang banyak. Sedang telah berkata Atha` dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada kami: “Al Kautsar adalah sungai di Surga, kedua tepinya terbuat dari emas sedangkan airnya mengalir di atas mutiara dan airnya lebih putih dari susu, lebih manis daripada madu.” Ini adalah akhir dari Musnad Abdullah bin Umar Radliyallahu’anhuma.

 

Musnad Ahmad 6188: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dan Hushain bin Abdirrahman dan Mughirah Adl Dlabbiy dari Mujahid dari Abdullah bin Amru dia berkata; “Ayahku menikahkanku dengan seorang wanita suku Quraisy. Ketika ia menemuiku, aku tidak mau (melayaninya) dan tidak selera terhadapnya. Yang demikian karena aku begitu kuat beribadah berupa puasa dan shalat. Lalu Amru bin Al Ash datang kepada menantu perempuannya dan menanyainya, “Bagaimana suamimu?” Ia menjawab, “Dia sebaik-baik suami, atau seperti suami yang paling baik. Sayangnya, ia tidak pernah melucuti pakaian kami (untuk bersetubuh) dan tidak pernah mengenal tidur bersamaku sekasur.” Kemudian dia pun menemuiku, mencaci maki dan mencercaku seraya berkata, “Aku telah menikahkanmu dengan seorang wanita Quraisy yang mempunyai kedudukan akan tetapi kamu malah menyusahkannya dan tidak memperlakukannya sebagai layaknya suami isteri.” Kemudian Amr bin Al Ash menghadap Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan melaporkan kasusku kepada beliau. Lalu beliau mengutus utusan untuk memanggilku. Aku pun akhirnya menghadap beliau. Beliau menanyaiku: “Apakah kamu selalu berpuasa di siang hari?” saya menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu juga selalu melaksanakan shalat malam?” saya menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Saya berpuasa tapi juga berbuka (tidak berpuasa), saya melaksanakan shalat malam tapi juga tidur, dan aku juga mengumpuli para isteriku, barangsiapa tidak menyukai sunnahku berarti ia bukan golonganku.” Beliau berkata: “Bacalah (sampai khatam) Al Qur’an dalam waktu satu bulan!” Saya menjawab, “Aku lebih kuat dari itu.” Beliau berkata, “Kalau begitu khatamkanlah dalam jangka waktu sepuluh hari.” Aku berkata: “Aku lebih kuat dari itu.” Salah satu dari keduanya, kalau tidak salah Hushain atau Al Mughiroh berkata; Beliau berkata “Kalau begitu khatamkanlah dalam jangka waktu tiga hari.” Ia berkata; Kemudian beliau bersabda lagi: “Berpuasalah tiga hari pada setiap bulan.” Aku berkata, “Aku masih mampu jika lebih dari itu.” Dan dia masih merasa mampu hingga Nabi berkata: “Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbukalah (tidak berpuasa) sehari sebab seutama-utama puasa ialah puasa saudaraku, Nabi Daud.” Hushain berkata dalam hadis (yang diriwayatkannya); Kemudian beliau bersabda: ” setiap hamba itu mempunyai rasa semangat, dan setiap rasa semangat itu pasti ada masa kebosanan, dan kebosanan mengalihkan kepada sunnah atau kepada bid’ah. Barangsiapa kebosanan mengalihkan kepada sunnah, berarti ia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa kebosanan dipergunakan selain itu, berarti ia binasa.” Mujahid berkata; Dan seiring dengan badan Abdullah bin Umar yang semakin lemah dan tua, ia masih melaksanakan puasa pada hari-hari itu, dan ia juga menyambung antara sebagian dengan sebagian yang lain agar kuat melaksanakan lalu ia berbuka pada hari itu juga.” Mujahid berkata lagi; Ia juga membaca Al Qur’an pada setiap hizbnya dan terkadang ia menambahi juga menguranginya tapi ia selalu mengkhatamkannya dalam jangka waktu kalau tidak tujuh hari, ia mengkhatamkannya dalam jangka waktu tiga hari. Setelah itu ia berkata; “Aku lebih suka menerima rukhshah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam daripada berpaling atau dipalingkan daripadanya. Akan tetapi aku berpisah dengan beliau, sedang aku telah melakukan ajaran yang aku benci jika kuselisihi dan justru beralih ke yang lain.

 

Musnad Ahmad 6189: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abi Habib dari Amru bin Walid dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berkata atas namaku apa yang tidak aku katakan, hendaklah ia mengambil tempatnya dari api neraka.”

 

Musnad Ahmad 6190: (Masih dari jalan perawi yang sama dengan hadits sebelumnya) Dan beliau telah melarang khamer, judi, main catur dan ghubaira’ (minuman yang terbuat dari jagung untuk dibuat khamer). Beliau bersabda: “Dan setiap yang memabukkan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 6191: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakar telah menceritakan kepadaku Hatim bin Abi Shaghirah dari Abu Balj dari Amru bin Maimun dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang di muka bumi ini mengucapkan, ‘LAA ILAAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR WASUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH, kecuali dosanya pasti dihapus darinya meski lebih banyak daripada buih lautan.'”

 

Musnad Ahmad 6192: Telah menceritakan kepada kami Arim telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman telah berkata bapakku, telah menceritakan kepada kami Hadlromi dari Qasim bin Muhammad dari Abdullah bin ‘Amru, ada seorang lelaki muslim meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Mahzul, ia pernah berzina. Maka wanita itu memberinya syarat untuk memberi nafkah kepadanya (si lelaki). Ia berkata: lalu lelaki itupun meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan ia menceritakan perihal wanita tersebut kepada beliau. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pun membacakan kepadanya ayat: “Perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki berzina atau laki-laki musyrik.”

 

Musnad Ahmad 6193: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Amru dari Abu Abdirrahman Al Hubali dari Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa diam, ia selamat.”

 

Musnad Ahmad 6194: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al Azraq telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Alqamah bin Martsad dari Qasim yakni Ibnu Mukhaimirah dari Abdullah bin Amr dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang manusia ditimpa cobaan pada badannya kecuali Allah Azza wa Jalla akan menyuruh para malaikat yang menjaganya seraya berkata: ‘Catatlah bagi hambaku ini kebajikan yang dikerjakannya selama dalam kepercayaan kepadaku sepanjang siang dan malam.'”

 

Musnad Ahmad 6195: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudloil telah menceritakan kepada kami Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah terjadi gerhana matahari. Lalu beliau berdiri (shalat) bersama kami untuk (melaksanakan shalat gerhana). Beliau berdiri lama sekali sampai-sampai kami mengira kalau beliau tidak akan ruku’. Kemudian beliau ruku’, kemudian beliau beri’tidal, kemudian beliau sujud, kemudian beliau duduk, kemudian beliau sujud lagi, dan beliau melakukan hal yang sama pada raka’at kedua. Kemudian pada raka’at kedua beliau meniup tanah dan menangis dalam keadaan masih sujud, lalu beliau berkata: “Duhai Rabb, mengapa Engkau mengazab mereka sedang aku berada di tengah-tengah mereka, Duhai Rabb, kenapa Engkau mengazab kami sedang kami masih memohon ampun kepadaMu.” Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan ternyata matahari telah nampak kembali, kemudian beliau menuntaskan shalatnya, lalu memuji kebesaran Allah dan memuliakanNya kemudian berkata: “Wahai sekalian manusia, matahari dan bulan itu adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla, oleh karena itu jika terjadi gerhana pada salah satu keduanya maka bersegeralah kalian ke masjid untuk melaksanakan shalat (gerhana). Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, telah diperlihatkan kepadaku surga hingga jikalau aku mau, niscaya akan kuambil sebahagian dahan-dahannya. Dan telah diperlihatkan pula kepadaku api neraka hingga aku benar-benar ingin memadamkannya karena khawatir ia membakar kalian, dan di dalamnya aku melihat seorang wanita jangkung dan berkulit hitam dari suku Himyar yang diazab karena seekor kucing. Ia telah mengikatnya dengan tidak memberinya makan atau minum, atau membiarkannya mencari serangga-serangga bumi. Setiap kali ia mendekatinya ia menggigitnya dan setiap kali ia meninggalkannya iapun menggigitnya pula. Di dalamnya aku juga melihat saudara bani Da’da’ dan sang pemilik mihjan (ialah; sebuah tongkat yang ujungnya melengkung) sedang bersandar pada tongkatnya di dalam api neraka. Dulu ia selalu mencuri barang milik orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, dan jika orang-orang memergokinya sedang mencuri ia berkata: bukan aku yang mencuri barang kalian, akan tetapi ia tersangkut sendiri oleh tongkatku ini.”

 

Musnad Ahmad 6196: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah mengabarkan kepada kami Ma’mar telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Isa bin Thalhah, dari Abdullah bin ‘Amru bin Al Ash, dia berkata; Saya melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berdiri diatas kendaraan beliau di Mina. Lalu ada seorang lelaki datang menghampiri beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, dulu aku mengira kalau mencukur rambut itu dilakukan sebelum menyembelih sembelihan maka akupun mencukur rambut sebelum menyembelih binatang.” Beliau menjawab: “Sembelihlah dan tidak ada dosa atasmu.” Kemudian ada lelaki lain yang menghampiri beliau dan bertanya, “Dulu aku mengira kalau menyembelih sembelihan itu dilakukan sebelum melempar (jumrah) maka akupun menyembelihnya sebelum mengerjakan lempar jumrah.” Beliau menjawab: “Lemparlah (jumrah) dan tidak ada dosa atasmu.” Dia (Ibnu Umar) berkata: Dan tidaklah beliau ditanya seseorang mengenai sesuatu yang didahulukannya kecuali beliau menjawab: “Lakukanlah dan tidak ada dosa atasmu.”

 

Musnad Ahmad 6197: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab, dari Abdullah bin Amru bin Al Ash bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” orang-orang yang berlaku adil di dunia, kelak di hari kiamat berada diatas mimbar yang terbuat dari batu mutiara yang terletak di dekat Ar Rahman (Allah,) sebagai pahala keadilan mereka ketika dunia.”

 

Musnad Ahmad 6198: Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah mengabarkan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hassan bin Athiyyah telah menceritakan kepadaku Abu Kasybah As Saluli bahwa Abdullah bin Amru bin Ash telah menceritakan kepadanya, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat, dan ceritakanlah oleh kalian tentang Bani Israil dan hal itu tidaklah mengapa. Dan barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap-siap menempati tempatnya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 6199: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Adi dari Syu’bah dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Al Harits, dari Abu Katsir, dari Abdullah bin ‘Amru bin al Ash, dia berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Kezaliman akan mendatangkan kegelapan pada hari kiamat, dan janganlah kalian berbuat keji karena Allah tidak menyukai kekejian dan perbuatan keji, dan janganlah kalian bakhil karena kebakhilan menghancurkan kaum sebelum kalian, dia menyuruh mereka untuk memutuskan (silaturrahim) maka merekapun memutuskannya, ia menyuruh mereka untuk bersikap bakhil maka merekapun berlaku bakhil, ia menyuruh mereka untuk melakukan dosa maka merekapun berbuat dosa.” Ibnu Umar berkata; Kemudian ada seorang lelaki yang berdiri dan bertanya, “Wahai Rasulullah, perbuatan apakah yang paling utama dalam Islam?” Beliau menjawab, “Jika kaum muslimin selamat dari lisanmu dan tanganmu.” Lalu lelaki itu berdiri lagi atau ada lelaki lain yang berdiri dan bartanya, “Wahai Rasulullah, hijrah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Hendaklah kamu meninggalkan apa yang dibenci oleh Rabbmu. Dan hijrah itu ada dua; hijrahnya orang kota dan orang badui, adapun hijrahnya orang badui adalah memenuhi undangan jika dipanggil dan taat jika diperintahkan. Adapun hijrahnya orang kota adalah yang paling besar musibahnya dan paling utama pahalanya.”

 

Musnad Ahmad 6200: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hassan bin Athiyah telah menceritakan kepada kami Abu Kasybah As Saluli bahwa Abdullah bin Amru bin Ash telah menceritakan kepadanya, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ada empat puluh kebaikan yang tertingginya ialah minhatul ‘anzi. Tidaklah seorang hamba atau seorang lelaki melakukan salah satu dari sifat itu demi hanya mengharap pahalanya atau membenarkan yang dijanjikannya kecuali Allah memasukkannya ke surga.”

 

Musnad Ahmad 6201: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zuhri dari Isa bin Thalhah dari Abdullah bin Amru bin Ash dia berkata, seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, saya mencukur rambut sebelum melempar jumrah.” Ibnu Umar berkata, “Lemparlah dan tidak ada dosa atasmu.” Dan (laki-laki itu) berkata sekali lagi, ” (Saya mencukur) sebelum saya menyembelih.” Maka (Ibnu Umar) berkata, “Menyembelihlah dan tidak ada dosa atasmu.” (Laki-laki itu) berkata lagi, “Saya menyembelih (hewan kurban) sebelum saya melempat (jumrah).” Ibnu Umar berkata, “Melemparlah dan tidak ada dosa atasmu.”

 

Musnad Ahmad 6202: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM untuk membaiatnya seraya berkata, “Aku berbai’at kepada engkau untuk berhijrah, dan aku telah meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Beliau berkata: “Kembalilah kamu kepada mereka berdua dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.”

 

Musnad Ahmad 6203: Telah menceritakan kepada kami Sufyan saya mendengar Amr telah mengkabarkan kepadaku Amru bin Aus dia mendengarnya dari Abdulah bin Amru bin Ash dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya puasa yang dicintai di sisi Allah adalah puasa Dawud. Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud, diama beliau tidur pada seperdua malam kemudian sepertiganya digunakan berdiri (untuk shalat) dan seperenamnya lagi beliau tidur. Dan adalah beliau berpuasa sehari dan berpuka sehari.”

 

Musnad Ahmad 6204: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru bin Dinar dari Amru bin Aus dari Abdullah bin Amr bin Ash sampai kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bahwa: “Sesungguhnya orang yang berlaku adil, kelak pada hari kiamat akan berada di atas mimbar dari cahaya dari sebelah kanan-Nya Ar Rahman ‘azza wajalla, diamana kedua tangan-Nya adalah kanan. Orang-orang yang belaku adil dalam hukum dan keluarga mereka serta terhadap apa yang mereka tangani, “

 

Musnad Ahmad 6205: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Salim bin Abi Ja’dari dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ketika ia berada diatas pelana Unta atau barang bawaan milik Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, ada seorang lelaki yang biasaadipanggil dengan nama Kirkiroh meninggal dunia, lalu beliau berkata: “Dia (kelak) akan masuk dalam api neraka.” Maka para sahabatpun melihatnya, dan ternyata dia memakai mantel yang didapat dari hasil berkhianat. Dan suatu kali dia (Abdullah) berkata; Ternyata dia memakai pakaian yang didapat dari hasil berkhianat.

 

Musnad Ahmad 6206: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru, dari Abu Qabus, dari Abdullah bin Amru bin al Ash dan sampai kepada Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: “Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh ar Rahman, oleh karena itu kasihilah penduduk bumi maka niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian. Dan rasa kasihan adalah sebuah jalan dari ar Rahman, barangsiapa yang menyambungnya maka ia akan tersambung untuknya, dan barangsiapa memutuskannya maka ia akan terputus untuknya.”

 

Musnad Ahmad 6207: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Abu Ishaq dari Wahab bin Jabir dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Aku mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Cukuplah seseorang itu mendapat dosa jika ia menyia-nyiakan orang yang memberinya makan.”

 

Musnad Ahmad 6208: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Dawud yakni Ibnu Syabur dan Basyir Abu Ismail dari Mujahid dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Jibril selalu mengingatkanku (untuk berbuat baik) kepada tetangga hingga aku mengira kalau-kalau dia akan mewarisinya.”

 

Musnad Ahmad 6209: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sulaiman Al Ahwali dari Mujahid dari Abi Iyadl dari Abdullah bin Amr bin Ash, dia berkata; Ketika Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM melarang mempergunakan beberapa jenis bejana, orang-orang pun berkata, “Kalau begitu manusia tidak mempunyai lagi alat untuk minum air.” Maka beliaupun akhirnya memberi keringanan dengan memperbolehkan minum dengan menggunakan guji yang tidak dicat.

 

Musnad Ahmad 6210: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Ada dua hal, barangsiapa yang selalu menjaganya maka ia akan memasukkannya ke dalam surga, ia mudah untuk dikerjakan tapi hanya sedikit orang yang mau melakukannya.” Para sahabat bertanya: “Apa dua hal itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Hendaklah kamu mengucap Alhamdulillah, Allahu Akbar dan Subhanallah masing-masing sebanyak sepuluh kali setiap habis shalat, dan jika kamu ingin berbaring (tidur) hendaklah kamu mengucap Subhanallah, Allahu Akbar, dan Alhamdulillah sebanyak seratus kali hingga jumlahnya menjadi lima puluh dan dua ratus dalam ucapan lisan tapi dalam timbangan berlipat menjadi dua ribu dan lima ratus. Maka adakah diantara kamu yang melakukan dua ribu dan lima ratus kejahatan dalam sehari semalam?” Para sahabat bertanya, “Lalu kenapa orang yang mau mengerjakannya hanya sedikit?” Beliau bersabda: “Syetan datang dan masuk ke dalam shalat salah seorang diantara kamu lalu ia mengingatkannya dengan perkara ini dan ini sehingga iapun akhirnya lupa mengucapkannya dan ia juga datang kepadanya pada waktu tidurnya lalu ia menidurkannya hingga ia lupa tidak mengucapkannya.” Ia (Abdullah) berkata; Dan aku melihat Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM menghitung bacaan tersebut dengan tangan beliau.

 

Musnad Ahmad 6211: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Al Harits, dia berkata; Aku dulu pernah menjadi tawanan bersama Mu’awiyah dalam tempat kepergiannya dari perang Shiffin yang terjadi antara dia dan Amru bin Al ‘Ash. Ia (Abdullah bin Harits) berkata; Lalu Abdullah bin Amru bin Ash berkata, “Wahai bapakku, apakah kamu tidak mendengar ucapan Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM terhadap Ammar, ‘Celakalah kamu wahai Ibnu Sumayyah, kamu akan dibunuh oleh sebuah kelompok yang dhalim?! ‘” Ia (Abdullah bin Al Harits) berkata; Lalu Amru berkata kepada Muawiyah, “Apakah kamu tadi tidak mendengar ucapan orang ini?” Lalu Mu’awiyah menjawab, “Kamu masih datang kepada kami dengan suatu keperluan, apakah kami akan membunuhnya? Sesungguhnya ia akan dibunuh oleh orang-orang yang datang kepadanya.” Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim dari Sufyan dari Al A’masy dari Abdurrahman bin Abi Ziyad seperti hadits di atas atau semisalnya.

 

Musnad Ahmad 6212: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Zaid bin Wahab dari Abdur Rohman bin’Abdi Robb Ka’bah dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Barangsiapa membai’at seorang imam lalu ia menyodorkan telapak tangannya dengan sepenuh hati maka hendaklah ia mentaatinya sebisa mungkin, lalu jika ada orang lain hendak memberontaknya maka hendaklah kalian menebas lehernya.”

 

Musnad Ahmad 6213: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Safar dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah melewati kami dan pada saat itu kami sedang memperbaiki rumah kami yang terbuat dari kayu dan bambu yang telah roboh, lalu beliau bertanya: “Apa ini?” Kami menjawab: “Rumah kami yang roboh sehingga kami harus memperbaikinya”. Ia berkata: kemudian Rasulullah bersabda: “Adapun perkara itu lebih cepat daripada kejadian ini.”

 

Musnad Ahmad 6214: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin Abdu Rabbil Ka’bah dia berkata; “Aku menemui Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash ketika ia berada di bawah naungan Ka’bah, lalu aku mendengar dia berkata; “Kami pernah mengadakan suatu perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu di suatu tempat pemberhentian, kami berhenti. Sebagian kami ada yang mendirikan tenda, sebagian lagi berlatih memanah, sebagian lagi memberi makan hewan dan sebagainya. Tiba-tiba terdengar utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru, memanggil kami untuk shalat berjama’ah, lalu kami berkumpul, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkhutbah di hadapan kami. Beliau bersabda: “Tidaklah para Nabi sebelumku di utus, kecuali untuk menuntun umatnya menuju kebaikan diri mereka dan memingatkan bahaya yang mengancam mereka. Ummatku yang sempurna dan selamat ialah angkatan yang pertama-tama. Dan yang terakhir akan di timpa berbagai cobaan berupa hal-hal yang tidak di senanginya, seperti timbulnya fitnah. Di mana-mana sebagian mereka menghina sebagian yang lain, oleh karena itu timbullah bencana. Orang-orang mukmin berkata; “Inilah kiranya yang membinasakanku.” Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula bencana yang lain. Dan orang mukmin berkata; “Ini …! Ini!.” Siapa yang ingin bebas dari neraka dan ingin masuk ke surga, hendaklah dia menemui kematiannya dalam keimanan kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah dia berjasa kepada ummat manusia sesuai dengan yang di inginkan oleh masyarakat itu. Siapa yang berbai’at kepada seorang pemimpin (penguasa) lalu dia memenuhi bai’atnya dengan sepenuh hati, hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika yang lain datang memberontak, penggallah lehernya.” Abdurrahman berkata; “Aku lebih mendekat lagi kepada ‘Amru, lalu saya berkata; “Dengan nama Allah, saya bertanya kepada anda; “Apakah anda mendengar sendiri hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Amru menunjuk tangannya ketelinga dan hatinya seraya berkata; “Saya mendengarnya dengan kedua telingaku dan kusimpan kedalam hatiku.” Lalu kukatakan kepadanya; “Ini anak pamanmu yaitu Mu’awiyah. Dia menyuruh kita memakan harta sesama kita dengan cara yang haram serta saling membunuh sesama kita, padahal Allah telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang haram, kecuali berjual beli dengan cara suka sama suka sesamamu, dan janganlah kamu membunuh saudaramu (sesama muslim). Sesungguhnya Allah Maha penyayang kepadamu.” ‘Amru kemudian menyela-nyela kedua tangannya dan meletakkan di keningnya, dia diam sesaat. Setelah itu ia mengangkat kepalanya seraya berkata; “Patuhilah perintahnya bila sesuai dengan perintah Allah dan langgarlah perintahnya bila melanggar perintah Allah Azza wa Jalla!.”

 

Musnad Ahmad 6215: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq dari Masruq dari Abdullah bin Amru bin Ash Sesungguhnya, Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM tidaklah keji dan tidak pula pernah berkata-kata keji, dan beliau bersabda: “Orang-orang yang paling baik diantara kalian adalah mereka yang akhlaknya paling bagus.”

 

Musnad Ahmad 6216: Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdah bin Abi Lubabah dari Habib bin Abi Tsabit telah menceritakan kepadaku Abu Abdilah (budak Abdullah bin Amru) telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru bin Ash menyampaikan hadits kepada kami ketika kami sedang melaksanakan thawaf di Baitullah. Ia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Tidak ada hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk beramal di dalamnya selain daripada hari-hari ini.” Dikatakan kepadanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar sendirian dengan berbekal hartanya kemudian ia tidak kembali sampai darahnya yang segar ditumpahkan.” Dia (Abu Abdillah) berkata; Lalu aku bertemu dengan Habib bin Abi Tsabit kemudian aku menanyakan kepada mengenai hadits ini maka diapun menyampaikan hadits seperti hadits ini pula. Ia berkata; Kemudian Abdah berkata, “Ia (hari-hati itu) adalah sepuluh hari ini.”

 

Musnad Ahmad 6217: Telah menceritakan kepada kami Ismail telah mengkabarkan kepada kami Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amru, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur`an dalam jangkawa waktu satu bulan.” Kemudian beliau menguranginya lagi untukku dan saya pun (meminta untuk) menguranginya hingga menjadi tujuh hari.

 

Musnad Ahmad 6218: Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepada kami Sulaiman At Taimi dari Aslam Al Ijliy dari Bisyr bin Syaghaf dari Abdullah bin Amru, dia berkata; Seorang Arab badui bertanya, “Wahai Rasulullah, apa terompet itu?” Beliau menjawab: “Ia adalah sebuah tanduk yang ditiup.”

 

Musnad Ahmad 6219: Telah menceritakan kepada kami Ismail dari Yunus dari Hasan bahwa Abdullah bin Amru berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berkata kepada: “Jika kamu tinggal bersama segolongan manusia yang buruk, apa yang kamu lakukan?” Ia (Abdullah bin Amru) berkata; Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah itu?” Beliau menjawab: “Jika antara perjanjian dan amanah mereka telah bercampur, dan keadaan mereka adalah seperti ini.” Yunus membelitkan antara jari-jemari menggambarkan keruwetan yang terjadi pada saat itu. Abdullah berkata, “Lalu apa yang mesti aku perbuat pada saat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bertaqwalah kamu kepada Allah ‘azza wajalla, laksanakan kebaikan yang kamu ketahui dan jauhilah kemungkaran, dekatilah para pemuka agama dan jauhilah orang-orang yang awam dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6220: Telah menceritakan kepada kami Yahya yakni Ibnu Sa’id dari Syu’bah telah menceritakan kepadaku Amru bin Murrah saya mendengar seorang laki-laki di rumah Abu Ubaidah, bahwasanya ia mendengar Abdullah bin Amru menceritakan (hadits) kepada Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya kepada manusia maka Allah akan memperdengarkannya kepada makhluknya yang mendengar, dan dia akan menganggapnya remeh dan menghinanya.” Ia berkata: (mendengar itu) kedua mata Abdullah berlinang air mata.

 

Musnad Ahmad 6221: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidullah bin Akhnas telah mengkabarkan kepada kami Al Walid bin Abdillah dari Yusuf bin Mahaq dari Abdullah bin Amru, dia berkata; Aku dulu selalu menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan aku ingin menghafalkannya, maka orang-orang quraisy menghalangi dan mereka berkata, “Kamu hendak menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM padahal dia juga manusia biasa yang berbicara di waktu marah dan tidak marah.” Maka akupun tidak jadi menulisnya. Kemudian hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan beliaupun bersabda: “Tulislah, dan demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar ucapanku kecuali kebenaran.”

 

Musnad Ahmad 6222: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam telah mendektekan kepada kami, telah menceritakan kepadaku bapakku, saya telah mendengar Abdudllah bin Amru dari bibirnya ke bibirku, dia berkata; Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menghilangkan ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, akan tetapi Dia menghilangkannya dengan mengambili (mewafatkan) para ulama’ sehingga jika orang ‘alim telah tiada maka manusiapun mengambil pemimpin dari golongan orang-orang yang pandir, yang mana jika mereka ditanyai (suatu perkara) mereka berfatwa tanpa didasari dengan ilmu sehingga mereka pun tersesat dan menyesatkan.”

 

Musnad Ahmad 6223: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan telah menceritakan kepada kami Manshur dari Hilal bin Yasaf dari Abu Yahya dari Abdullah bin Amru, dia berkata; Aku pernah melihat Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM shalat dengan duduk, maka akupun berkata kepada beliau, “Pernah disampaikan sebuah hadits kepadaku bahwasanya tuan pernah bersabda: ‘Shalat dengan duduk itu pahalanya setengah dari pahala shalat dengan berdiri.'” Beliau berkata: “Seungguhnya aku tidaklah sama seperti kalian.”

 

Musnad Ahmad 6224: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam Ad Dastuwa`i telah menceritakan kepada kami Yahya dari Muhammad bin Ibrahim dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair dari Abdullah bin Amru bahwasanya Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah melihatnya memakai baju yang berwarna kuning (polos), maka beliau berkata: “Ini adalah pakaian orang-orang kafir, janganlah kamu memakainya.”

 

Musnad Ahmad 6225: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari Abu Sabrah dia berkata, bahwa Abdullah bin Ziyad bertanya mengenai Haudl (telaga) Muhammad SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan Abdullah telah didustakan berkenaan dengannya setelah ia bertanya kepada Abu Barzah dan Barra` bin Azib dan ‘Aidz bin Amr serta laki-laki lain dimana ia juga telah didustakan berkenaan dengannya. Maka Abu Sabrah berkata, “Saya menceritakan kepadamu sebuah hadits yang di dalamnya terdapat Syifa’ (kesembuhan) untuk ini. Sesungguhnya bapakmu telah mengutusku dengan membawa harta kepada Mu’awiah, lalu saya berjumpa dengan Abdullah bin Amr maka ia pun menceritakan kepadaku dari apa yang telah ia dengar dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, kemudian ia juga mendiktekan kepadaku dan aku pun menulisnya dengan tanganku sendiri dan saya tidak menambah atau menguranginya satu hurup pun. Abdullah menceritakan kepadaku bahwasanya, Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuatan keji.” Atau, ” (Sesungguhnya Allah) membenci seorang yang berperangai buruk dan orang yang mengatai dengan kata-kata kotor.”

 

Musnad Ahmad 6226: (Masih dari jalan/perawi yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Abdullah bin ‘Amr -), Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga nampak kekejian dan perbuatan keji, putusnya shillaturrahim, buruknya hubungan bertetangga, dan hingga seorang pengkhianat dipercaya sementara orang yang jujur dituduh berkhianat.”

 

Musnad Ahmad 6227: (Masih dari jalan/perawi yang sama dengan hadits sebelumnya -dari Abdullah bin ‘Amr -), dan beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telagaku yang luas dan panjangnya sama; yakni sejauh jarak antara Ailah dengan Makkah yang biasa ditempuh sebulan perjalanan, di dalamnya terdapat teko-teko (yang banyaknya) sebagaimana bintang-bintang, minumannya lebih putih daripada perak, barangsiapa meminumnya maka setelah itu ia tidak akan pernah haus lagi.” Kemudian Ubaidullah berkata, “Aku belum pernah mendengar satu hadits pun mengenai haudl (telaga) yang dapat dipercaya melebihi hadits ini. Maka diapun membenarkannya, lalu mengambil lembaran itu dan menyimpannya.

 

Musnad Ahmad 6228: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ismail telah menceritakan kepada kami Amir dia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Abdullah bin Amr maka dia pun berkata; Saya telah mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya orang muslim itu adalah siapa yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah siapa yang meninggalkan apa yang telah dilarang Allah.”

 

Musnad Ahmad 6229: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari Yahya bin Hakim bin Shafwan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash dia berkata; Saya mengumpulkan Al Qur`an lalu saya membacanya (sampai khatam) pada setiap malamnya. Lalu hal itu sampai kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya saya khawatir, setelah kamu melewati waktu yang panjang kamu akan merasa bosan. Karena itu bacalah (khatamkanlah) Al Qur`an itu (sekali) pada setiap bulannya.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, biarkanlah saya untuk memanfaatkan kekuatanku dan masa mudaku.” Beliau berkata: “Bacalah (khatamkanlah) ia pada setiap dua puluh hari.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, biarkanlah saya untuk memanfaatkan kekuatanku dan masa mudaku.” Beliau berkata, “Bacalah (khatamkanlah) ia pada setiap sepuluh hari.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, biarkanlah saya untuk memanfaatkan kekuatanku dan masa mudaku.” Beliau berkata lagi, “Bacalah (khatamkanlah) ia pada setiap tujuh hari sekali.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, biarkanlah saya untuk memanfaatkan kekuatanku dan masa mudaku.” Maka beliau pun enggan (untuk menguranginya lagi).

 

Musnad Ahmad 6230: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr bahwasanya Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM melaksanakan shalat dua raka’at pada saat gerhana matahari.

 

Musnad Ahmad 6231: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Ajlan dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasanya Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah melihat sebagian sahabatnya sedang memakai cincin dari emas maka beliau pun berpaling darinya lalu beliau membuangnya dan mengambil cincin dari besi kemudian beliau bersabda: “Ini adalah keburukan, ini adalah perhiasannya penghuni neraka.” Maka dia membuangnya lalu mengambil cincin yang terbuat dari mata uang logam.

 

Musnad Ahmad 6232: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Utsman bin Umair Abi Yaqzhan dari Abu harb bin Abul Aswad, dia berkata, saya mendengar Abdullah bin Amr berkata; Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Tidak ada seorang lelakipun yang berada di hamparan bumi ini dan di bawah naungan langit ini yang lebih jujur daripada Abu Dzar.”

 

Musnad Ahmad 6233: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Dulu saat kami sedang duduk-duduk di tempat Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM -dan ketika itu dengan mengenakan baju Amr bin Al ‘Ash pergi untuk menemuiku-, beliau berkata sementara kami berada di sisinya: “Sungguh akan datang kepada kalian seorang lelaki yang dilaknat.” Dan demi Allah, sejak beliau mengatakan itu aku selalu melihat-lihat ke dalam dan ke luar hingga datanglah si fulan; yakni Al Hakam.

 

Musnad Ahmad 6234: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Amr dari Abu Zubair dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Apabila kalian melihat umatku takut kepada seorang yang zhalim, maka katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang zhalim’, karena dengan demikian berarti kamu telah memisahkannya dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6235: (Masih dari perawi yang sama dengan hadits sebelumnya -yakni dari Ibnu Numair dari Al Hasan dari Abu Zubair dari Abdullah bin Amru -). Dan Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Di dalam umatku akan ada orang yang hina, yang suka merubah-rubah bentuk ciptaan dan yang suka melemparkan tuduhan zina tanpa adanya saksi.”

 

Musnad Ahmad 6236: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Qatadah dari Abi Qilabah dari Abdullah bin Amru, dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena (mempertahankan) hartanya maka berarti ia mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 6237: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Wa`il dari Masruq dia berkata; Saya pernah duduk bersama Abdullah bin Amru, lalu disebutkanlah nama Abdullah bin Mas’ud maka diapun berkata, “Dia adalah seorang lelaki yang senantiasa akan aku cintai untuk selamanya. Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Ambillah Al Qur’an dari Ibnu Ummi ‘Abdin -diapun memulai dengannya-, dan dari Mu’adz, dan dari Salim -budak Abu Hanifah-, ” Ya’la berkata, “Dan aku lupa yang keempat.”

 

Musnad Ahmad 6238: Telah menceritakan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami fithr dari Mujahid dari Abdullah bin Amr dia berkata, Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya kasih sayang (hubungan silaturahim) itu bergantungan dengan Arsy. Dan Al Washil (orang yang menyambungnya) bukanlah mereka yang memenuhi (kebutuhan) akan tetapi Al Washil itu ialah siapa yang menyambungnya ketika (hubungan silaturahim itu) terputus.”

 

Musnad Ahmad 6239: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abi Habib dari Na’im -budak Ummu Salamah- dari Abdullah bin Amr ia berkata; Saya melaksanakan haji bersamanya hingga ketika kami sampai di sebagian jalan dari jalan-jalan yang berada di Makkah, saya melihatnya bertayammum kemudian ia memandang (pepohon) sampai (pohon yang di tuju) terlihat jelas lalu ia pun duduk di bawahnya kemudian ia berkata, “Saya melihat Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berada di bawah pohon ini, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari jalan ini lalu dia mengucapkan salam kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan berkata, ‘Wahai Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, sesungguhnya saya telah berkeinginan untuk berjihad bersamamu dan dengan itu saya mengharap wajah Allah dan (pahala di negeri) akhirat kelak.'” Beliau berkata, “Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu pun berkata, “Ia wahai Rasulullah, keduanya masih hidup.” Beliau bersabda: “Kembalilah dan berbaktilah kepada kedua orangtuamu.” (Abdullah) berkata; Maka lelaki itu pun kembali pulang dari tempat ia datang.

 

Musnad Ahmad 6240: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Abu Hayyan dari bapaknya, dia berkata; Abdullah bin Amru pernah bertemu dengan Abdullah bin Umar, setelah itu Abdullah bin Umar berbalik/berpaling darinya dan ia menangis, maka orang-orangpun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Abdirrahman?” Dia menjawab, “Yang membuatku menangis adalah orang ini telah menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata; aku mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: ‘Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebiji sawi dari sifat sombong.'”

 

Musnad Ahmad 6241: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis’ar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abul Abbas Al Makki dari Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Tidak ada puasa bagi siapa yang berpuasa Abad (selama-lamanya).”

 

Musnad Ahmad 6242: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Hilal bin Yasaf dari Abi Yahya dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah bersabda: “Sempurnakanlah wudhu kalian.”

 

Musnad Ahmad 6243: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Mis’ar dan Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari Humaid bin Abdirrahman bin Auf dari Abdullah bin Amru. Hadits ini di-marfu’-kan oleh Sufyan dan dimauqufkan oleh Mis’ar. Beliau bersabda: “Termasuk dari dosa-dosa besar jika seseorang mencaci maki kedua orang tuanya.” Orang-orang pun bertanya, “Bagaimana mungkin seseorang mencaci maki kedua orang tuanya sendiri?” Beliau berkata: “Jika ia mencaci maki bapak orang lain lalu kemudian orang tersebut membalas mencaci maki bapaknya, dan kemudian ia mencaci maki ibunya dan orang itupun membalas mencaci maki ibunya.”

 

Musnad Ahmad 6244: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari Raihan bin Yazid Al Amir dari Abdullah bin Amr dia berkata; Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Shadaqah itu tidak halal diberikan kepada orang yang kaya dan tidak pula kepada orang yang masih mempunyai kekuatan yang utuh.”

 

Musnad Ahmad 6245: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Hayyan dari Abu Zur’ah dari Abdullah bin Amr, ia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Nanti matahari akan terbit dari barat, dan binatang melata akan keluar kepada manusia pada waktu dhuha. Jika salah satu dari keduanya telah keluar mendahului yang lain, maka yang lain dalam waktu dekat juga pasti akan segera terjadi. Dan aku tidak menduga kecuali terbitnya matahari dari ufuk barat itulah yang lebih awal terjadi.”

 

Musnad Ahmad 6246: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari pamannya Al Harits bin Abdirrahman dari Abu Salamah bin Abdirrahman dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.

 

Musnad Ahmad 6247: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ayub saya mendengar Al Qasim bin Rabi’ah menceritakan (hadits) dari Abdullah bin Amru bahwasanya, Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya orang yang terbunuh karena keliru (sasaran) adalah semi sengaja (seperti) karena cambuk atau tongkat maka keluarganya berhak mendapatkan seratus onta yang empat puluh diantaranya sedang bunting dan di perutnya terdapat anaknya.”

 

Musnad Ahmad 6248: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis’ar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abul Abbas dari Abullah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Puasa yang paling utama adalah puasanya saudaraku Dawud AS dimana dia berpuasa sehari kemudian berbuka sehari. Dan dia tidaklah melarikan diri ketika bertemu musuh.”

 

Musnad Ahmad 6249: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepadaku Hammam dari Qatadah dari Yazid bin Abdillah dari Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Siapa yang membaca (mengkhatamkan) Al Qur`an kurang dari tiga hari, maka ia tidak akan mampu memahaminya.”

 

Musnad Ahmad 6250: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ali bin Mubarak dari Yahya bin Abi Katsir dari Muhammad bin Ibrahim dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair dari Abdullah bin Amar dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah melihatku sedangkan saya memakai pakaian yang berwarna kuning (polos), maka beliau berkata: “Tanggalkanlah, karena sesungguhnya ia adalah pakaian orang-orang kafir.”

 

Musnad Ahmad 6251: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Hammam dari Manshur dari Salim bin Abil Ja’d dari Jaban dari Abdullah bin Amru, dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau berkata: “Tidak akan masuk surga orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang kecanduan minuman khomer.”

 

Musnad Ahmad 6252: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkabarkan kepada kami Al Awwam telah menceritakan kepadaku Aswad bin Mas’ud dari Hanzhalah bin Khuwailid Al Anzi dia berkata; Ketika saya sedang berada di sisi Mu’wiyah tiba-tiba dua orang laki-laki menghadap kepadanya dimana keduanya saling bertikai mengenai kepala Ammar. Keduanya sama-sama berkata, “Sayalah yang membunuhnya.” Maka Abdullah bin Amr berkata, “Hendaklah salah seorang di antara kalian berbaik hati kepada temannya karena sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: ‘ (Yang akan) membunuhnya (Ammar) adalah Al Fi`atu Al Baghiyah (kelompok pemberontak).'” Mu’awiyah berkata, “Lalu apa perhatianmu terhadap kami?” Abdullah berkata, “Sesungguhnya bapakku telah mengadukanku kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, maka beliau pun bersabda: ‘Taatilah bapakmu selama ia masih hidup dan janganlah kamu mendurhakainya.’ Maka saya bersamamu dan saya tidak membunuh.”

 

Musnad Ahmad 6253: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Abu Zubair dari Abul Abbas -budak Bani Dalil- dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Pernah disebutkan kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM orang-orang yang sangat bersemangat sekali dalam beribadah maka beliaupun bersabda: “Itu adalah kebiasaan dan rasa semangat dalam Islam. Dan setiap kegemaran itu ada kesemangatannya, dan setiap rasa semangat itu ada masa futurnya. Maka barangsiapa masa futurnya ia pergunakan untuk kesederhanaan dan melaksanakan sunnahku maka ia berada pada jalan yang benar, dan barangsiapa yang mempergunakannya untuk kemaksiatan maka sungguh itu adalah sebuah kebinasaan baginya.”

 

Musnad Ahmad 6254: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Ibnu Ishaq telah menceritakan Abu Zubair Al Makki dari Abul Abbas (budak Bani Dail) dari Abdullah bin Amr dia berkata; Pernah disebutkan kepada Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM orang yang sangat bersemangat sekali dalam beribadah maka beliaupun bersabda: “Itu adalah kebiasaan dan rasa semangat dalam Islam. Dan setiap kegemaran itu ada kesemangatannya, dan setiap rasa semangat itu ada masa futurnya. Maka barangsiapa masa futurnya ia tetap berada di atas Al Kitab dan As Sunnah maka ia berada pada jalan yang benar, dan barangsiapa yang mempergunakannya untuk kemaksiatan maka sungguh itu adalah sebuah kebinasaan baginya.”

 

Musnad Ahmad 6255: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkabarkan kepada kami Hariz telah menceritakan kepada kami Hibban Asy Syar’abi dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, bahwasanya beliau bersabda sedang beliau berada di atas mimbar: “Kasihilah niscaya kalian akan dikasihi, maafkanlah niscaya Allah akan mengampuni kalian. Kecelakaanlah bagi Al Aqma’ Al Qaul (yakni mereka yang memiliki telinga seperti corong, mereka mendengarkan perkataan yang hak dari lubang yang satu kemudian keluar lewat lubang yang lain). Dan Kecelakaanlah bagi para penggambar atas apa yang mereka perbuat, padahal mereka mengetahuinya.” Telah menceritakan kepada kami Hasyim yakni Ibnul Qasim telah menceritakan kepada kami Hariz telah menceritakan kepada kami Hibban bin Zaid dari Abdullah bin Amr bin Ash dia berkata; Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda di atas mambar. Maka ia pun menyebutkan maknanya.

 

Musnad Ahmad 6256: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar dari Bisyr bin Ashim bin Sufyan dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM (menurut pengakuan Nafi’) bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla membenci seorang lelaki pencela yang selalu mencela seperti seekor sapi yang mengunyah makanan dalam mulutnya.”

 

Musnad Ahmad 6257: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Mis’ar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dia berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM meminta izin untuk turut ikut dalam jihad, maka beliau bertanya: “Apakah kedua orangtuamu masih hidup.” Maka laki-laki itu pun menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Maka bersungguh-sungguhlah berbakti kepada keduanya.”

 

Musnad Ahmad 6258: Telah menceritakan kepada kami Yazid dan Affan, Yazid berkata, telah mengabarkan kepada kami, dan Affan berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Syu’aib bin Abdillah bin Amr dari bapaknya, Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah telah berkata kepadaku: “berpuasalah satu hari, maka bagimu sepuluh.” Aku berkata; tambahkanlah untukku. Beliau bersabda: “berpuasalah dua hari, maka bagimu sembilan” aku berkata lagi; tambahkanlah untukku. Maka beliau bersabda: “berpuasalah selama tiga hari, maka bagimu delapan.”

 

Musnad Ahmad 6259: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Yazid bin Abdillah bin Asy Syikhkhir dari Abdullah bin Amr dia berkata; Saya berkata, “Wahai Rasulullah, berapa lama saya harus membaca (mengkhatamkan) Al Qur`an?” beliau bersabda: ” (Sekali) pada setiap bulannya.” (Abdullah) berkata; Saya berkata, “Saya masih lebih kuat dari itu.” Beliau berkata, “Bacalah (khatamkanlah) ia pada setiap dua puluh lima hari sekali.” Saya berkata, “Saya masih lebih kuat dari itu.” Beliau berkata, “Bacalah (khatamkanlah) ia pada setiap lima belas hari sekali.” Saya berkata, “Saya masih lebih kuat dari itu.” Beliau berkata lagi, “Bacalah (khatamkanlah) ia pada setiap tujuh hari sekali.” Abdullah berkata; Saya berkata, “Saya masih lebih kuat dari itu.” Beliau kemudian bersabda: “Tidak akan memahaminya, siapa yang membacanya (mengkhatamkannya) kurang dari tiga hari sekali.”

 

Musnad Ahmad 6260: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Farj bin Fadlolah dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Rafi’ dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku khamer, berjudi, minuman arak dari gandum, main catur, dan al qinnin (jenis permainan bangsa romawi), dan Dia menambahkan untuk shalat witir.” Yazid berkata: Al Qinnin ialah Al Barabit (yaitu sejenis alat musik).

 

Musnad Ahmad 6261: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Ibnu Sirin dan Muhammad bin Ubaid dari Abdullah bin Amru, dia berkata: Saya pernah bersama Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM lalu Abu Bakar datang untuk meminta izin, beliau berkata: “Izinkanlah ia dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” kemudian datanglah Umar untuk meminta izin juga maka beliau berkata: “Izinkanlah ia dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” kemudian datanglah Utsman juga untuk meminta izin maka beliau berkata: “Izinkanlah ia dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” Ia (Abdullah bin Amr) berkata: Saya berkata, “Lalu dimanakah aku?” beliau pun menjawab, “Kamu ada bersama bapakmu.”

 

Musnad Ahmad 6262: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Syu’aib bin Abdullah bin Amru, dari bapaknya, ia berkata:; “Aku sama sekali belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan sambil bersandar, dan tidak pernah dua orang menginjak kedua tumitnya (Nabi tidak pernah berjalan di depan hingga tumitnya terinjak orang lain dari belakang, -pent).” Affan mengatakan (dengan redaksi); “‘Aqibaihi (kedua tumitnya).”

 

Musnad Ahmad 6263: Telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amr bin Dinar dari Syuhaib -budak Ibnu Amir- ia menceritakan dari Abdullah bin Amru bahwasanya, Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah bersabda: “Barangsiapa menyembelih burung atau membunuhnya tanpa suatu keperluan, -‘Amru berkata: Saya menduga sangat beliau berkata: “Kecuali dengan jalan yang benar- maka Allah akan mempertanyakannya kepadanya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6264: Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Affan keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah berkata Affan telah mengabarkan kepada kami Amru bin Dinar dari Shuhaib Al Hadzdzaa`i dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwasanya, Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Barangsiapa yang membunuh burung pipit, maka Allah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM akan menanyainya kelak pada hari kiamat.” Lalu dikatakanlah, “Wahai Rasulullah! Apa haknya?” beliau bersabda: “Ia menyembelihnya, namun ia tidak mengambil lehernya lalu memotongnya.”

 

Musnad Ahmad 6265: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ayub saya mendengar Al Qasim bin Rabi’ah ia menceritakan (hadits) dari Abdullah bin Amr bahwasanya, Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya orang yang terbunuh karena keliru (sasaran) adalah semi sengaja (seperti) karena cambuk atau tongkat maka keluarganya berhak mendapatkan seratus onta yang empat puluh diantaranya sedang bunting dan di perutnya terdapat anaknya.”

 

Musnad Ahmad 6266: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku bapakku, dari Qatadah dan Abdush Shamad dia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Syahr bin Hausyab dari Abdullah bin Amr bahwasanya, Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Minuman khomer itu, jika orang-orang meminumnya maka jilidlah mereka, kemudian jika mereka meminumnya (lagi) maka jilidlah mereka, kemudian jika mereka meminumnya (lagi) maka jilidlah mereka, (dan pada kali keempat beliau mengatakan); kemudian jika mereka meminumnya (lagi) maka bunuhlah mereka.”

 

Musnad Ahmad 6267: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bahwasanya, beliau menyuruh Fatimah dan Ali jika ingin merebahkan badannya (untuk tidur) agar membaca tasbih, tahmid dan takbir. Atha` tidak mengetahui mana diantara ketiga bacaan itu yang dibaca tiga puluh empat kali sehingga genap seratus kali. Ia (As Sa`ib) berkata; Lalu Abdullah bin Amru berkata, “Setelah itu aku tidak pernah lagi meninggalkannya.” Ia berkata; Lalu Ibnu al Kawwa’ bertanya kepada Ali, “Tidak pula pada malam perang shiffiin?” Ali menjawab, “Ya, aku juga tidak meninggalkannya pada malam perang shiffin.”

 

Musnad Ahmad 6268: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Nu’man bin Salim saya mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Ma’ud, saya mendengar seorang lelaki berkata kepada Abdullah bin Amr, “Sesungguhnya kamu pernah mengatakan bahwa hari kiamat akan terjadi bila telah begini dan begini.” Ia (Abdullah bin Amr) berkata, “Sungguh aku telah berniat untuk tidak menyampaikan sesuatupun kepada kalian, akan tetapi aku hanya ingin mengatakan bahwa kalian sebentar lagi akan menyaksikan sebuah kejadian yang amat besar; yakni terbakarnya Baitullah.” Syu’bah mengatakan demikian atau yang semisal dengan ini. Abdullah bin ‘Amr berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Dajjal akan muncul di tengah-tengah umatku lalu ia akan tinggal bersama mereka selama empat puluh.” Aku tidak tahu apakah itu empat puluh hari, empat puluh tahun, empat puluh malam, atau empat puluh bulan.”Lalu Allah ‘azza wajalla membangkitkan Isa bin Maryam SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan wajahnya seperti Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi. Ia akan muncul dan membinasakan Dajjal. Setelah itu manusia hidup dalam keadaan damai dan (hampir) tidak ada pertikaian antara dua anak manusia, kemudian Allah Ta’ala menghembuskan angin dingin yang datang dari arah negeri Syam. Tidak ada seorangpun yang di dalam hatinya terdapat sebiji sawi keimanan kecuali Dia pasti akan mengambil nyawanya (mewafatkannya) hingga jika ada diantara mereka yang bersembunyi di perut gunung niscaya angin itu akan mendatanginya.” Ia (Abdullah) berkata: Aku mendengarnya dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, “Kemudian tinggallah manusia-manusia yang jahat, yang selalu bersegera dalam melakukan kejahatan. Mereka tidak mengenal kebajikan dan tidak mengingkari kemungkaran.” Beliau berkata (melanjutkan sabdanya): “Kemudian syetan menampakkan dirinya dan menyeru, ‘Maukah kalian menerima ajakanku? ‘ Kemudian ia menyuruh mereka, hingga merekapun menyembah berhala-berhala padahal mereka telah diberikan rezeki yang banyak dan kehidupan yang nyaman. Kemudian ditiuplah sangkakala, dan tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali pasti ia akan memiringkan kepalanya. Dan manusia yang paling pertama mendengarnya ialah seorang lelaki yang sedang memperbaiki kolamnya, kemudian ia terkejut hingga menemui ajalnya. Lalu tidak tersisa seorangpun kecuali ia pasti binasa. Kemudian Allah menurunkan hujan rintik-rintik lalu dengan jasad manusia tumbuh kembali dan bermunculan dari dalam kubur. Kemudian ditiuplah sangkakala untuk kedua kalinya dan tiba-tiba manusia berdiri (untuk menunggu keputusan).” Beliau berkata: “Kemudian dikatakan, ‘Wahai manusia, mendekatlah kalian kepada Rabb kalian! ‘ (Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya).'” Beliau berkata: “Kemudian dikatakan, ‘Keluarkanlah penghuni neraka! ‘”. Beliau berkata: “Lalu ditanyakan, ‘Berapa? ‘ Dia menjawab, ‘Setiap seribu orang keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari mereka.’ Maka pada hari itu anak-anak dibangkitkan dalam keadaan telah beruban dan pada hari itu pula betis disingkapkan.” Muhammad bin Ja’far berkata: Syu’bah meceritakan hadits ini kepadaku berkali-kali, dan akupun memaparkannya kepadanya.

 

Musnad Ahmad 6269: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Auf dari Maimun bin Astadz Al Hizani dari Abdullah bin Amru, dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa yang memakai perhiasan emas dari ummatku lalu ia mati dalam keadaan masih memakainya maka Allah akan mengharamkan bagi emas di surga. Dan barangsiapa yang memakai kain sutera dari ummatku lalu ia mati dalam keadaan masih memakainya maka Allah akan mengharamkan baginya kain sutera di surga.”

 

Musnad Ahmad 6270: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Sinan dari Abdullah bin Abil Hudzail dari Abdullah bin Amru, dia berkata, bahwasanya Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari do’a yang tidak didengar, dan dari hati yang tidak khusyu’, dan dari nafsu yang tidak pernah puas.

 

Musnad Ahmad 6271: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar Al Umari dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr bahwasanya Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: “Sesuatu yang jika dalam jumlah banyak dapat memabukkan maka sedikitnya juga haram.”

 

Musnad Ahmad 6272: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhajir dari Abdullah bin Babah dari Abdullah bin Amr dia berkata; Saya sedang berada di sisi Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, lalu disebutkanlah tentang amalan-amalan maka beliau pun bersabda: “Tidaklah satu hari dari hari-hari yang lebih utama dari sepuluh hari ini.” Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, yaitu jihad di jalan Allah.” (Abdullah) berkata; lalu mereka pun membesarkannya.” Maka Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah kemudian hingga tertumpah darahnya (mati syahid).” Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr dan Yahya Adam keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Ibrahim bin Muhajir dari Abdullah bin Babah dari Abdullah bin Amr dia berkata; Saya sedang berada di sisi Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, lalu disebutkanlah amalan-amalan. Maka dia pun menyebutkan semisalnya.

 

Musnad Ahmad 6273: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Yazid bin Atha` dari Abu Sinan dari Abdullah bin Abi Al Hudzail telah menceritakan kepada kami seorang Syaikh, dia berkata; Saya masuk ke dalam salat satu Masjid di Syam lalu saya pun shalat dua raka’at kemudian saya duduk maka datanglah seorang Syaikh dan shalat dengan menghadap dinding. Setelah ia selesai shalat orang-orang kemudian berkumpul kepadanya, maka saya berkata, “Siapakah orang ini.” Maka mereka menjawab, “Abdullah bin Amr.” Kemudian datanglah seorang utusan Yazid bin Mu’awiyah, lalu (Abdullah bin Amr) berkata, “Sesungguhnya orang ini menghalangiku untuk menceritakan kepada kalian, padahal Nabi kalian SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berdo’a: “ALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN NAFSIN LAA TASYBA’ WA QALBIN LAA YAKHSYA’ WA MIN ‘ILMIN LAA YANFA’ WA MIN DU’AA`IN LAA YUSMA’ ALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN HA`ULAA`IL ARBA’ (Ya Allah, Sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari nafsu yang tidak pernah puas, dari kalbu yang tidak pernah khusyu’, dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari do’a yang tidak didengar. Ya Allah, aku berlindung dari empat hal itu).”

 

Musnad Ahmad 6274: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Syu’aib bin Abdillah bin Amr dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM tidak pernah sama sekali makan sambil berbaring dan tidak pula kedua bahunya di injak oleh dua orang lelaki.

 

Musnad Ahmad 6275: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Qasim telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku Abu Qabil Al Ma’afiri dari Sufay Al Ashbahi dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dia berkata: Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah keluar menemui kami dengan membawa dua buah kitab di tangannya seraya berkata: “Tahukah kalian apa isi kedua kitab ini?” Ia (Abdullah) berkata: Kamipun menjawab, “Tidak, kami tidak mengetahuinya kecuali jika engkau memberitahukannya kepada kami wahai Rasulullah.” Beliau berkata mengenai kitab yang berada di tangan kanannya: “Ini adalah kitab dari Rabb semesta alam yang berisi nama-nama para penghuni surga, nama-nama nenek moyang mereka dan kabilah-kabilah mereka, kemudian seterusnya -beliau menyebutkannya secara umum saja- dari mereka tidak akan ditambahi dan tidak akan dikurangi untuk selama-lamanya.” Kemudian mengenai kitab yang berada di tangan kiri, beliau berkata: “Ini adalah daftar nama-nama para penghuni neraka, daftar nama nenek moyang mereka dan kabilah-kabilah mereka, (lalu beliau menyebutkannya secara umum), dan dari mereka tidak akan ditambahi atau dikurangi untuk selamanya.” Maka para sahabatpun berkata, “Jika demikian adanya apa gunanya kita beramal bila ternyata semuanya telah ditentukan?” Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berkata: “Tempuhlah jalan yang lurus dan mendekat kalian kepadaNya karena sesungguhnya penghuni surga amalannya akan ditutup dengan amalan penghuni surga meski sebelumnya banyak melakukan kesalahan. Dan sesungguhnya penghuni neraka amalannya akan ditutup dengan amalan penghuni neraka meski sebelumnya ia banyak melakukan kebajikan.” Kemudian beliau menggenggam tangannya dan bersabda: “Rabb kalian telah menentukan segalanya untuk para hambaNya.” Kemudian beliau melemparkan catatan yang ada di tangan kanannya seraya berkata; “Sebahagian manusia ada yang menjadi penghuni surga.” dan melemparkan catatan yang ada di tangan kirinya seraya berkata: “Dan sebahagian yang lainnya menjadi penghuni neraka.”

 

Musnad Ahmad 6276: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr telah menceritakan kepada kami Al Faraj telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdirrahman bin Rafi’ dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku yaitu, khamer, judi, Mizr (sejenis minuman keras dari jelai), Qinniin (sejenis permainan judi bangsa Romawi) dan Kubah (permainan dadu).”

 

Musnad Ahmad 6277: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengkabarkan kepada kami Syurahbil bin Syarik Al Ma’afiri bahwa dia mendengar Abdurrahman bin Rafi’ At Tanukhi bahwa dia mendengar Abdullah bin Amr bin Ash berkata: bahwasanya ia mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Saya tidak peduli lagi dengan tempat yang aku datangi atau dengan kendaraan yang aku tunggangi jika aku telah meminum obat penawar racun, atau mengalungkan jimat, atau melantunkan bait syair yang muncul dari diriku sendiri.” Al Ma’afiri agak ragu mengenai; “Aku tidak peduli lagi dengan kendaraan yang aku tunggangi, atau dengan tempat yang aku datangi.”

 

Musnad Ahmad 6278: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Haiwah dan Ibnu Lahi’ah dia berkata, telah mengkabarkan kepada kami Syurahbil bin Syarik bahwa dia mendengar Abu Abdirrahman Al Hubuli menceritakan dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sebaik-baik teman di sisi Allah ialah yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya.”

 

Musnad Ahmad 6279: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah dan Ibnu Lahi’ah keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syurahbil bin Syarik bahwa dia mendengar Abu Abdiarrahman menceritakan (hadits) dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya dunia itu, semua isinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”

 

Musnad Ahmad 6280: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengkabarkan kepada kami Ka’ab bin Alqamah bahwa dia mendengar Abdurrahman bin Jubair berkata; bahwa dia mendengar Abdullah bin Amr bin Ash berkata, bahwa dia mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah bersabda: “Jika kalian mendengar suara muadzin maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya lalu ucapkanlah shalawat kepadaku karena sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku sekali saja maka Allah akan mendo’akannya sepuluh kali, kemudian mohonkanlah untukku wasilah karena sesungguhnya ia adalah sebuah kedudukan di surga yang dipantas diberikan kecuali kepada salah satu dari hamba-hambanya dan aku mengharap semoga akulah orangnya. Dan barangsiapa memohonkan untukku wasilah, maka halal baginya mendapat syafa’atku.”

 

Musnad Ahmad 6281: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengkabarkan kepadaku Abu Hani` bahwa dia mendengar Abu Abdirrahman Al Hubuli bahwa dia mendengar Abdullah bin Amr bahwa dia mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya hati-hati anak cucu Adam semuanya berada diantara jari-jari Ar Rahman ‘azza wajalla seperti hati seseorang yang dipalingkannya sesuai kehendakNya.” Kemudian Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berdo’a: “ALLAHUMMA MUSHARRIFAL QULUUB ISHRIF QULUUBANAA ILAA THAA’ATIK (Ya Allah, Dzat Yang Maha Memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami untuk ta’at kepadaMu).”

 

Musnad Ahmad 6282: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Abi Ayub telah menceiritakan kepadaku Ma’ruf bin Suwaid Al Judzami dari Abi Usyanah Al Ma’afiri dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: “Tahukah kalian diantara makhluk Allah yang paling pertama masuk surga?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Diantara makhluk Allah yang paling pertama kali masuk surga adalah golongan orang-orang fakir dan orang-orang yang berhijrah untuk mengisi tapal-tapal perbatasan antara kaum muslimin dan kafir, yang dengan perantara mereka malapetaka dapat dihindarkan, dan salah seorang diantara mereka wafat sedang keinginan yang masih berada di dadanya tidak dapat terlaksana, maka Allah berkata kepada salah satu dari malaikat yang dikehendakiNya: ‘Datangilah mereka dan ucapkanlah selamat kepada mereka! ‘ Maka malaikat itu berkata: ‘Kami adalah para penghuni langit dan semulia-mulianya makhlukMu, kenapa Engkau menyuruh kami untuk mendatangi mereka dan memberi salam kepada mereka? ‘ Allah berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah para hamba yang beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan yang lain, mereka menjaga tapal batas antara kaum muslimin dan orang kafir, dan dengan mereka pula dapat dihindarkan malapetaka, ada salah seorang dari mereka yang mati sedang dalam dadanya masih keinginannya yang tidak bisa ia penuhi.'” Beliau berkata: “Maka para malaikat itupun mendatangi mereka dan masuk dari setiap pintu yang ada (seraya mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (Keselamatan atas kalian oleh karena kesabaran kalian).’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

 

Musnad Ahmad 6283: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abu Usysyanah bahwa dia mendengar Abdullah bin Amr berkata; Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya kelompok manusia yang pertaman kali memasuki surga adalah kelompok Muhajirin yang sangat berhati-hati terhadap perkara makruh. Jika mereka diperintah, mereka akan mendengar dan mentaatinya. Dan jika salah seorang dari mereka memiliki hajat kepada penguasa, maka hajat itu tidak akan terpenuhi hingga sampai ia menginggal dan (hajat itu) pun masih tersimpan dalam dadanya. Dan sungguh, Allah ‘azza wajalla akan memanggil surga pada hari kiamat lalu ia pun datang dengan keindahan dan segala perhiasannya dan Allah pun berseru: ‘Wahai pada hamba-hambaKu yang telah berperang di jalan-Ku, dan telah dibunuh, disakiti, dan telah berjihad di jalan-Ku, masuklah kalian ke dalam surga dengan tanpa hisab, tanpa adzab.'” Maka ia pun menyebutkan hadits.

 

Musnad Ahmad 6284: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri` dari kitabnya, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Ayub telah menceritakan kepadaku Syurahbil bin Syarik dari Abi Abdurrahman Al-Hubuliy dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan ia diberikan kecukupan, serta Allah memberinya rasa qona’ah terhadap apa yang telah diberikan kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6285: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdrirrahman telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepada kami Rabi’ah bin Saif Al Ma’afir dari Abu Abdirrahman Al Hubuliy dari Abdullah bin Amru bahwasanya, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ada jenazah orang kafir melewati kami, apakah kami mesti berdiri?” Beliau menjawab: “Ya, berdirilah kalian untuknya karena sesungguhnya kalian bukan berdiri untuk menghormatinya tapi sebenarnya kalian berdiri untuk mengagungkan Dzat yang telah mengambil jiwa-jiwa (dari jasadnya).”

 

Musnad Ahmad 6286: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepada kami Rabi’ah bin Saif Al Ma’afiry dari Abu Abdirrahman Al Hubuliy dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, tiba-tiba beliau melihat seorang wanita yang kami kira beliau tidak mengenalnya, akan tetapi tatkala kami semua telah menghadap ke jalan, beliau berhenti hingga wanita itu pun sampai ke tempat beliau, dan ternyata wanita itu adalah Fatimah binti Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM (semoga Allah Ta’ala meridhoinya). Maka beliaupun bertanya: “Wahai Fatimah, apa yang menyebabkanmu keluar dari rumah?” Fatimah menjawab, “Aku mendatangi rumah ini untuk mendo’akan agar si mayit mendapat rahmat dari Allah Ta’ala dan mendo’akan keluarganya agar diberi ketabahan.” Beliau bertanya lagi: “Apa kamu mengantar jenazahnya bersama mereka sampai ke pemakamannya?” Fatimah menjawab, “Aku berlindung kepada Allah bila sampai mengantar ke kuburannya bersama mereka padahal aku telah mendengar sabdamu (yang melarang hal itu).” Beliau berkata: “Jika kamu sampai mengantarnya ke kuburan bersama mereka, maka kamu tidak akan melihat surga hingga kakek bapakmu ini melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 6287: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepadaku Ayyasy bin Abbas dari Isya bin Hilal Ash Shadafi dari Abdullah bin Amru, dia berkata; Seorang lelaki mendatangi Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan berkata, “Wahai Rasulullah, koreksilah bacaanku!” Maka beliau pun berkata kepadanya, “Bacalah tiga surat yang didahului Alif Laam Ra’.” Lelaki itu berkata, “Umurku sudah tua, dan hatiku sudah mengeras, serta lidahku juga sudah kalut.” Beliau berkata: “Kalau begitu bacalah surat yang didahului Haa’ Mim.” Maka lelaki itupun mengatakan seperti perkataannya yang tadi. Beliau berkata: “Bacalah tiga surat yang diawali dengan sabbaha.” Dan lelaki itupun mengatakan seperti perkataannya yang pertama, lalu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, yang aku mau engkau membacakan kepadaku satu surat yang mencakup keseluruhan.” Maka beliau menyuruhnya membaca surat Az Zalzalah, hingga sa’at ia selesai membacanya, dia berkata, “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahinya untuk selamanya.” Lalu orang itupun berpaling dan pergi meninggalkan beliau, dan Rasulullah pun berkata: “Sungguh beruntuk Ruwaihil, sungguh beruntuk Ruwaihil, lalu beliapun mengatakan hal itu kepadaku, kemudian lelaki itu pun datang kepadanya dan belaiu pun berkata: “Saya telah diperintahkan menyembelih kurban pada hari Adlha yang telah dijadikan oleh Allah sebagai hari raya bagi umat ini.” Lalu lelaki itu berkata, “Jika aku tidak mendapati kecuali kambing gemuk milik anakku, apakah aku juga harus menyembelihnya?” Beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi cukurlah rambutmu, potonglah kuku-kuku tanganmu, pendekkanlah kumismu, cukurlah bulu kemaluanmu, dan itulah kesempurnaan berkurbanmu di sisi Allah.”

 

Musnad Ahmad 6288: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepadaku Ka’ab bin Alqamah dari Isa bin Hilal Ash Shadafi dari Abdullah bin Amru, dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM; bahwasanya suatu hari beliau pernah menyebutkan mengenai shalat seraya bersabda: “Barangsiapa yang menjaganya, ia akan mempunyai cahaya, bukti dan keselamatan kelak di hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mempunyai cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat dan ia akan tinggal bersama Qorun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.”

 

Musnad Ahmad 6289: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah dan Ibnu Lahi’ah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Hani`Al Khaulani bahwa dia mendengar Abu Abdirrahman Al Hubuli berkata, saya mendengar Abdullah bin Amr bin Ash berkata; Saya mendengar Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Tidaklah seorang prajurit berperang di jalan Allah kemudian mendapatkan ghonimah kecuali telah disegerakan bagi mereka dua pertiga dari pahala mereka di akherat dan masih tersisa bagi mereka sepertiga lagi, namun jika mereka tidak mendapatkan ghonimah maka mereka akan mendapatkan pahala mereka secara penuh.”

 

Musnad Ahmad 6290: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengkabarkan kepadaku Abu Hani` bahwa dia mendengar Abu Abdirrahman Al Hubali dia berkata, saya mendengar Abdullah bin Amr bin Ash berkata; Saya mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Sesungguhnya orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin akan mendahului para Aghniya` kelak pada hari kiamat sejauh empat puluh tahun perjalanan.” Abdullah berkata, “Jika kalian mau, kami akan memberi kalian apa yang ada pada kami dan jika kalian pingin, kami akan mengungkapkan hajat kalian kepada penguasa.” Mereka menjawab, “Kami lebih memilih bersabar, dan kami tidak meminta sesuatu pun.’

 

Musnad Ahmad 6291: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Haiwah dan Ibnu Lahi’ah keduanya berkata, telah mengkabarkan kepada kami Abu Hani` Al Khaulani bahwa dia mendengar Abu Abdirrahman Al Hubuliy bahwa dia telah mendengar Abdullah bin Amr, saya telah mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan (takdir bagi setiap makhluk) lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”

 

Musnad Ahmad 6292: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepada kami Musa yakni Ibnu Ali saya mendengar bapakku menceritakan (hadits) dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Para penghuni neraka itu setiap orang yang keras dan kasar, sombong, suka mengumpulkan harta dan suka menghalangi manusia (dari jalan Allah).”

 

Musnad Ahmad 6293: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Abu Nadlr keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib dari Abul Khair dari Abdullah bin Amru, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, “Amalan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab: “Memberikan makan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”

 

Musnad Ahmad 6294: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir telah menceritakan kepada kami Hisyam yakni Ibnu Sa’d dari Sa’id bin Abi Hilal dari Rabi’ah bin Saif dari Abdullah bin Amr dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jum’at atau pada malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”

 

Musnad Ahmad 6295: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Shaq’ab bin Zuhair dari Zaid bin Aslam, telah berkata Hammad (saya mendunganya) dari Atha’ bin Yasar dari Abdullah bin Amr dia berkata; Dulu kami pernah sedang bersama-sama Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, lalu datanglah seorang lelaki badui dengan memakai jubah yang terbuat dari sutera. Lalu ada seorang lelaki berkata, “Sesungguhnya teman kalian ini ingin menghinakan setiap penunggang kuda dan mengangkat (memuliakan) setiap penggembala.” Dia berkata: maka Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM memegang kerah jubahnya dan berkata: “Tapi kenapa aku melihatmu memakai pakaian orang yang tidak berakal seperti ini?” kemudian beliau bersabda lagi: “Sesungguhnya Nabi Allah Nuh SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM ketika maut hendak menjemputnya ia berkata anaknya, ‘Aku akan mengkisahkan kepadamu sebuah wasiat, aku memerintahkan kepadamu dua hal dan melarangmu dari dua hal; Aku memerintahkanmu mengucap LAA ILAAHA ILLALLAH karena sesungguhnya jika langit yang tujuh serta bumi yang tujuh itu diletakkan pada satu neraca lalu kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH diletakkan pada neraca yang lainnya niscaya akan condong kepada neraca yang diletakkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH padanya. Dan kalau seandainya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh itu bersatu membentuk satu lingkaran niscaya akan dipatahkan oleh kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH WA SUBHAANALLAH WABIHAMDIH. Sesungguhnya ia adalah cara shalatnya segala sesuatu, dan dengannya para makhluk diberi rezeki. Dan aku melarangmu dari dua hal; dari syirik dan takabbur (sombong).'” Ia (Abdullah) berkata; Saya berkata atau dikatakan kepada Rasulullah, “Kalau Syirik kami telah mengetahuinya, lalu apa yang dimaksud dengan takabbur itu?” Seseorang berkata: “Apakah takabbur itu bila salah seorang diantara kami mempunyai sepasang sandal bagus dengan sandat yang bagus?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu ada yang berkata: “Lalu apakah jika seseorang mempunyai baju bagus kemudian ia memakainya itu juga dianggap sombong?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu ada yang berkata lagi: “Ataukah jika seseorang mempunyai kendaraan (bagus) lalu ia mengendarainya itu dianggap takabbur?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu ada yang berkata lagi: “Ataukah jika ada seseorang mempunyai teman banyak lalu mereka selalu berkumpul padanya itu dianggap takabbur?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu dikatakan kepada beliau: kalau begitu apakah takabbur itu sebenarnya? Beliau menjawab: “Bodoh terhadap kebenaran dan meremehkan manusia.”

 

Musnad Ahmad 6296: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Ibnu Mubarak dari Al Auza’i dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah bin Abdirrahman dari Abdullah bin Amru dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Jangan sampai kamu seperti si fulan, ia dulu selalu mengerjakan qiyamullail (shalat malam) tapi kemudian ia meninggalkan shalat malam.” Telah menceritakan kepada kami Ibnu Zubair yakni Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak telah menceritakan kepadaku Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Yahya bin Katsir telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda kepadaku, lalu ia pun menuturkan hadits semisalnya.

 

Musnad Ahmad 6297: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad dan Abu Nu’aim keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir dari bapaknya, (hadits) ini terdapat dalam kitab Abu Ahmad Az Zubairi, dia berkata, Ada seorang lelaki mampir ke tempat Masruq lalu ia (Masruq) berkata; Aku mendengar Abdullah bin Amru bin Ash berkata; Aku mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Barangsiapa yang bertemu dengan Allah sedang ia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia akan masuk surga dan tidak ada lagi kesalahannya yang akan membahayakan dirinya sebagaimana jika ia bertemu dengan-Nya sedang ia menyekutukan-Nya dengan yang lain, maka ia akan masuk neraka dan tidak ada gunanya lagi kebaikan yang dia lakukan.” Abu Nu’aim berkata dalam hadits yang diriwayatkan olehnya; Ada seorang pemuda atau seorang kakek datang mampir ke tempat Masruq lalu ia (Masruq) berkata, Aku mendengar Abdullah bin Amru berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM: “Barangsiapa yang bertemu dengan Allah sedang ia tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, maka tidak ada lagi kejelekan yang dapat membahayakannya. Dan barangsiapa yang bertemu dengan Allah sedang ia telah menyekutukannya dengan yang lain, maka tiada gunanya lagi kebaikan yang dia lakukan.” Abdullah berkata, “Dan yang benar adalah yang dikatakan Abu Nu’aim.”

 

Musnad Ahmad 6298: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dan Abdush Shamad dia berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku, dari Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdillah bin Amr dia berkata; Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda: “Beribadahlah kepada Ar Rahman, sebarkanlah salam, dan suguhkanlah makanan, maka niscaya kalian akan memasuki Al Jinan.” Abdush Shamad berkata; ” (Maka) kalian akan masuk surga.”

 

Musnad Ahmad 6299: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amr bahwa dia telah menceritakan kepada mereka, dari Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berkata: “Ada seorang tamu bertamu di tempat seorang lelaki dari Bani Israel, dan di rumahnya itu terdapat seekor anjing betina yang sedang hamil tua. Maka anjing betina itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menggonggongi tamu keluargaku.'” Beliau berkata, “Lalu anaknya kecil yang menggonggong di dekat perutnya.” Beliau melanjutkan berkata; “Maka dikatakanlah, ‘Ada apa ini? ‘” Beliau berkata: “Maka ‘azza wajalla mewahyukan kepada seorang lelaki diantara mereka, ‘Ini adalah perumpamaan umat setelah kalian, orang-orang bodoh dari mereka menguasai orang-orang yang berakal.'”

 

Musnad Ahmad 6300: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammad dari Atha` bin Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin Amru, bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM: “SAAMUN ‘ALAIKA (Semoga kehancuran menimpa atasmu), ” kemudian mereka mengatakan dalam diri mereka masing, “Kenapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?.” Maka turunlah ayat ini: ” (Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu).” Sampai akhir ayat.

 

Musnad Ahmad 6301: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad dan ‘Affan mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Atho` Ibnu As saa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa ada seorang lelaki datang dan berkata: “Ya Allah, ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau masukkan seorangpun bersama kami dalam rahmat-Mu.” Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bertanya: “Siapa orang yang mengatakan demikian?” Maka lelaki itupun menjawab: “Aku.” Kemudian Nabi bersabda: “Kamu telah menahan (rahmat-Nya) atas orang banyak.”

 

Musnad Ahmad 6302: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim telah mengkhabarkan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari ‘Amru Ibnul Walid dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barang siapa mengatakan sesuatu atas namaku sedangkan aku sendiri tidak mengatakannya, maka hendaklah ia bersiap-siap tempat duduknya dari jahannam.”

 

Musnad Ahmad 6303: (Masih dari jalan yang sama dengan hadits sebelumnya) Abdullah bin ‘Amru berkata; aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamer, judi, permainan catur, al ghubairo` (minuman yang terbuat dari jagung), dan segala sesuatu yang memabukkan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 6304: Telah menceritakan kepada kami Wahb -yaitu Ibnu Jarir- telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid ia berkata; seorang laki-laki ingin agar ia dipanggil dengan sebutan Junaadah bin Abu Umayyah. Maka Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bersabda: “Barangsiapa mengaku keturunan dari orang lain yang bukan ayahnya sendiri tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga telah tercium pada jarak tujuh puluh tahun, atau tujuh puluh tahun perjalanan.” Beliau bersabda; “barangsiapa berdusta mengatas namakan diriku, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 6305: Telah menceritakan kepada kami Husain -yaitu Ibnu Muhammad- telah menceritakan kepada kami Jarir -yaitu Ibnu Hazim- dari Muhammad -yaitu Ibnu Ishaq- dari Abu Sufyan dari Muslim bin Jubair dari ‘Amru bin Al Harisy, dia berkata; “aku bertanya kepada Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash; “kami pernah hidup dalam sebuah kawasan yang di dalamnya tidak terdapat dinar dan tidak pula dirham, dan kami berjual beli dengan unta dan kambing dengan ditangguhkan. Apa pendapatmu mengenai hal ini?” maka dia berkata kepada orang yang mengkhabarkan kepadanya itu; “kamu telah salah. Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pernah mempersiapkan sebuah pasukan lalu beliau memberikan kepada setiap orang satu ekor unta dari hasil zakat hingga persediaan unta itupun habis dan masih tersisa beberapa orang (yang belum menerimanya), maka Rasulullah pun bersabda: “tolong belikan unta yang masih muda dengan unta hasil zakat yang akan datang hingga kami bisa segera memberikannya kepada mereka.” Maka akupun membeli satu unta dengan dua ekor atau tiga ekor unta dari hasil zakat hingga aku selesai membagikannya kepada mereka. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam membayar unta-unta itu dengan unta dari hasil zakat.”

 

Musnad Ahmad 6306: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah mengkhabarkan kepada kami Abu Qabil dari Malik bin Abdullah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, bahwasan Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam berlindung kepada Allah dari tujuh kematian: mati secara mendadak, mati karena dipatok ular, mati karena diterkam binatang buas, mati karena terbakar, mati karena tenggelam, mati saat bersujud pada sesuatu atau sesuatu bersujud kepadanya, dan mati saat lari dari medan perang.”

 

Musnad Ahmad 6307: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf dan Mu’awiyah bin ‘Amru mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku ‘Amru bahwa Bakr bin Sawadah telah menceritakan kepadanya, bahwa Abdurrahman bin Jubair telah menceritakan kepadanya, bahwa Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash menceritakan kepadanya; bahwa ada beberapa orang lelaki dari Bani Hasyim masuk ke rumah Asma’ binti ‘Umaisy yang ketika itu menjadi isteri Abu Bakar, kemudian Abu Bakar masuk ke rumah, dia melihat mereka dan merasa tidak suka (terhadap tindakan mereka), maka diapun mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam seraya berkata: “aku hanya menginginkan kebaikan.” Maka Rasulullah pun bersabda; “Sesungguhnya Allah telah menyelamatkannya perzinaan” kemudian beliau berdiri di atas mimbar dan bersabda: “Setelah hari ini janganlah sekali-kali seorang lelaki masuk ke dalam rumah seorang wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya kecuali ia bersama seorang lelaki atau lebih.”

 

Musnad Ahmad 6308: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai Ibnu Abdullah Al Ma’arifi bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa ada seorang lelaki mendatangi Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam dan berkata: “Sesungguhnya bapakku telah memotong sembelihannya sebelum ia melaksanakan shalat ‘Aid.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pun bersabda kepadanya: “Katakan kepada bapakmu; hendaknya ia shalat terlebih dahulu, baru kemudian memotong sembelihan.”

 

Musnad Ahmad 6309: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai Ibnu Abdullah bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli telah menceritakan kepadanya, dia berkata; Abdullah bin ‘Amru mengeluarkan selembar kertas dan berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam dulu mengajarkan kepada kami do’a: ALLAHUMMA FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘AALIMAL GHAIBI WAS SYAHADAH ANTA RABBU KULLI SYAI’ WA ILAAHU KULLI SYAI’ ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASULUKA WAL MALAAIKATU YASYHADUN A’UDZUBIKA MINAS SETANI WASYIRKIH WA A’UDZU BIKA AN AQTARIFA ‘ALA NAFSII ITSMAN AW AJURRUHU ‘ALA MUSLIM (Ya Allah, Dzat Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang Ghaib dan yang nyata, Engkau Rabb segala sesuatu, dan Ilah segala sesuatu, Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Engkau dan tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu, dan para malaikat juga menyaksikan hal itu. Aku berlindung kepada-Mu dari setan dan sekutunya, dan aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa yang kutimpakan pada diriku sendiri atau kepada muslim yang lain.” Abu Abdurrahman berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam mengajarkannya kepada Abdullah bin ‘Amru, dan menyuruhnya untuk membacanya ketika hendak tidur.”

 

Musnad Ahmad 6310: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai Ibnu Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Nikahilah ibu-ibu dari anak-anak (yaitu wanita-wanita yang bisa melahirkan) karena sesungguhnya aku akan membanggakan mereka pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6311: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai Ibnu Abdullah bahwa Abu Abdurrahman telah menceritakan kepadanya, bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Barangsiapa pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah, maka setiap langkah pulang dan perginya akan menghapus satu kejelekan dan setiap langkah pulang dan perginya akan dicatat sebagai kebaikan baginya.”

 

Musnad Ahmad 6312: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai Ibnu Abdullah bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Jika seorang lelaki datang menjenguk orang sakit hendaklah ia mengatakan: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang telah banyak melukai musuh-musuh-Mu dan berjalan untuk melaksanakan shalat untuk-Mu.”

 

Musnad Ahmad 6313: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai Ibnu Abdullah bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli berkata, telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para mu`adzin lebih utama daripada kami karena suara adzan yang mereka kumandangkan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pun bersabda kepadanya: “Ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh mereka, dan jika kamu telah selesai maka bermohonlah kepada Allah niscaya permohonanmu bakal dikabulkan.”

 

Musnad Ahmad 6314: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai Ibnu Abdullah bahwa Abu Abdurrahman telah menceritakan kepadanya, bahwa Sesungguhnya Abdullah bin ‘Amru berkata: “seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam seraya bertanya kepada beliau tentang amala-amalan yang paling utama, maka Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam menjawab: “Shalat.” Ia berkata; “kemudian apa lagi?” Rasulullah menjawab: “Shalat.” Ia berkata; “kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Shalat.” Beliau mengatakannya hingga tiga kali. Kemudian ketika ia masih mendesak beliau, Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Jihad di jalan Allah.” Kemudian lelaki itu berkata: “Aku masih mempunyai ibu dan bapak.” Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Aku menganjurkan kepadamu untuk berbakti kepada keduanya.” Ia berkata; “Demi Dzat yang telah mengutusmu sebagai seorang Nabi dengan membawa kebenaran, sungguh aku akan berjihad dan aku akan meninggalkan kedua orang tuaku.” Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam menjawab: “kamu lebih tahu mengenai hal itu.”

 

Musnad Ahmad 6315: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai Ibni Abdullah bahwa Abu Abdurrahman telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pernah menyebutkan tentang fitnah di alam kubur. Maka Umar pun bertanya; “Apakah akal akal kami juga akan dikembalikan kepada kami wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam menjawab: “Ya, sama sebagaimana keadaan kalian hari ini.” Maka Umar berucap dengan mulutnya: “Celakalah aku!”

 

Musnad Ahmad 6316: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai Ibnu Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam dan berkata: Aku membaca Al Qur’an tapi hatiku tidak dapat menjaga dan menghafalnya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pun berkata: “Sesungguhnya hatimu telah dijauhkan dari keimanan, dan sungguh keimanan itu diberikan kepada seorang hamba sebelum Al Qur’an.”

 

Musnad Ahmad 6317: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah bin Hubairah dari Abdurrahman bin Muroih Al khaulani dia berkata; aku telah mendengar Abu Qois pelayan ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata: “Barangsiapa bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sekali, maka Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat baginya tujuh puluh kali. Maka hendaknya seorang hamba dapat meminimalkan shalawat atau memaksimalkannya.”

 

Musnad Ahmad 6318: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya) Aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata: suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam keluar kepada para sahabat layaknya orang yang hendak berpisah, lalu beliau bersabda: “Aku adalah Muhammad, seorang Nabi yang ummi (buta huruf) -beliau mengatakannya tiga kali-, dan tidak ada Nabi lagi setelahku. Telah diberikan kepadaku kunci-kunci kalimat, penutup kalimat dan kata-kata singkat tapi padat, dan telah diberitahukan kepadaku jumlah penjaga neraka dan para pembawa ‘Arsy, dan telah diringankan bagiku serta diampunkan juga bagi umatku, oleh karenanya dengarkanlah dan taatilah selama aku masih berada di tengah-tengah kalian, dan jika aku telah pergi (meninggal) maka hendaklah kalian (berpedoman) dengan kitab Allah, halalkanlah apa yang telah dihalalkan-Nya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan-Nya.” Telah mengkhabarkan kepada kami, Yahya bin Ishaq telah mengkhabarkan kepada kami, Abu Lahi’ah telah menyampaikan kepada kami, dari Abdullah. Dan di lain waktu dia juga berkata; Abdullah bin Hubairah mengkhabarkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jubair, dia berkata; Aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; “suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam keluar kepada kami dan bersabda laiknya orang yang hendak berpisah.” Kemudian ia menyebutkan hadits ini.

 

Musnad Ahmad 6319: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kala’i dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam keluar menemui kami pada suatu hari seraya bersabda: “Sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan atasku khamer, judi, minuman arak dari gandum, permainan catur dan al Qittiin (jenis permainan bangsa romawi).”

 

Musnad Ahmad 6320: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Syurahbil bin Syarik dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Telah beruntung seorang hamba yang beriman kepada Allah, diberi rizki yang cukup dan ia bisa merasa puas (qona`ah) atas pemberian tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6321: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghoilan telah menceritakan kepada kami Risydin telah menceritakan kepadaku Abu Hani` Al Khaulani dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Hati anak Adam itu berada di antara dua jari dari jari-jari Allah subhanahu wata’ala, jika Ia berkehendak untuk membalikkannya maka Ia balikkan.” Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam selalu membaca: ” Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati.”

 

Musnad Ahmad 6322: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad. Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal; dan aku mendengarkannya dari Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari As saa`ib bin Malik dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Aku mengamati isi surga dan ternyata kebanyakkan dari penghuninya adalah orang-orang yang fakir, kemudian aku mengamati isi neraka dan ternyata kebanyakkan dari penghuninya adalah orang-orang kaya dan kaum wanita.”

 

Musnad Ahmad 6323: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; “seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam dan berkata: “Izinkanlah aku untuk mengebiri (menghilangkan syahwat).” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam berkata: “Cara meredam syahwat bagi ummatku adalah dengan berpuasa dan shalat malam.”

 

Musnad Ahmad 6324: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa dalam suatu majelis Abu Ayyub Al Anshari berkata: “Tidak bisakah salah seorang di antara kalian membaca sepertiga Al Qur’an pada setiap malam?” Mereka berkata: “Apa mungkin kami dapat melakukannya?” Dia berkata; “Sesungguhnya QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlash) itu sepertiga dari Al Qur’an.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam datang dan mendengar ucapan Abu Ayyub, maka beliaupun berkata: “Abu Ayyub benar.”

 

Musnad Ahmad 6325: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersama anaknya seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini selalu membaca mushaf (Al Qur’an) di siang hari dan tidur di malam hari. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Kenapa kamu membenci anakmu yang selalu berdzikir di siang hari dan berserah diri di malam hari?.”

 

Musnad Ahmad 6326: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli bahwa telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah kamar yang bagian luarnya dapat terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Lalu Abu Musa Al Asy’ari bertanya: “Wahai Rasulullah, ia diperuntukkan untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk orang yang lemah lembut tutur katanya, yang memberikan makanan, dan yang melaksanakan qiyamullail (shalat malam) saat manusia tertidur lelap.”

 

Musnad Ahmad 6327: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghoilan telah menceritakan kepada kami Risydin telah menceritakan kepadaku ‘Amru Ibnul Harits bahwa Taubah bin Namr telah menceritakan kepadanya, bahwa Abu ‘Ufair bin Sari’ telah menceritakan kepadanya, bahwa Seorang lelaki bertanya kepada Ibnu ‘Amru bin Al ‘Ash seraya berkata: “seorang anak yatim berada dalam asuhanku lalu aku sedekahkan kepadanya seorang budak wanita, lalu anak yatim itu meninggal dunia dan aku adalah pewarisnya.” Maka Abdullah bin ‘Amru berkata: “aku akan mengkhabarkan kepadamu sesuatu yang pernah kudengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, Umar bin Khaththab pernah memberikan kuda di jalan Allah kemudian ia mendapati sahabat yang diwakafi kuda tersebut menjual kudanya, lalu Umar berkeinginan untuk membelinya kembali maka dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, dan Rasulpun melarangnya seraya bersabda: “Jika kamu telah mensedekahkan suatu sedekah maka biarkan dia berlalu.”

 

Musnad Ahmad 6328: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam berdo’a: ” Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kezholiman, senda gurau kami, sungguh-sungguh kami, kesengajaan kami dan semua itu ada pada kami.”

 

Musnad Ahmad 6329: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah memanjatkan do’a ini: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari hutang, dan dari kemenangan musuh (atasku), serta dari kegembiraan musuh (yang senang melihat kami susah).”

 

Musnad Ahmad 6330: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam jika selesai dari melaksanakan shalat sunnah dua raka’at fajar, beliau berbaring pada rusuk sebelah kanan.”

 

Musnad Ahmad 6331: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bila hendak merebahkan badannya untuk tidur, beliau berdo’a: “Dengan nama-Mu wahai Rabbku, aku letakkan tulang rusukku ini, maka ampunkanlah dosaku.”

 

Musnad Ahmad 6332: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia menjaga tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.”

 

Musnad Ahmad 6333: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud dan Yunus bin Muhammad mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari Hilal bin Ali dari `Atho’ bin Yasar, dia berkata; aku bertemu dengan Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, lalu aku berkata kepadany a; “Beritahukanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam yang terdapat dalam kitab Taurot.” Ia berkata; “Baiklah, sesungguhnya sifat-sifat dalam taurot sama dengan sifat-sifatnya dalam Al Qur’an; “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang `Arab, kamu adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku, dan Aku menamaimu Al Mutawakkil (orang yang bertawakkal tinggi). Engkau bukan orang yang berperangai buruk, juga bukan berwatak keras, dan bukan sakhkhob -dengan sin- (orang yang cerewet) di pasar.” Yunus berkata; dan bukan shokhkhob -dengan shod- (orang yang cerewet) di pasar. Dan beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan serupa akan tetapi beliau mema’afkan dan mengampuninya, dan Dia Ta’ala tidak akan mewafatkan beliau sampai beliau meluruskan Millah (dien) Nya yang bengkok, hingga manusia mengucapkan Laa Ilaaha illAllah, sehingga dengannya beliau dapat membukakan mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang lalai.” `Atho’ berkata: Aku bertemu Ka’ab, lalu aku bertanya kepadanya. Dan tidaklah keduanya berselisih satu hurufpun, melainkan ucapan Ka’ab dengan logatnya; “A’YUNAN ‘UMUUMA WA AADZANAN SHUMUUMA WA QULUUBAN GHULUFAA (mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang lalai). Yunus berkata: GHULFA (yang lalai).”

 

Musnad Ahmad 6334: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Khalaf -yaitu Ibnu Khalifah- dari Abu Janaab dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Aku pernah menemui Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam yang ketika itu sedang berwudhu dengan pelan lalu beliau mengangkat kepalanya dan melihat kepadaku seraya berkata: “Wahai ummatku, ada enam hal yang akan terjadi pada kalian (pedihnya) seperti kematian Nabi kalian, seakan-akan hatiku dicabut dari tempatnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melanjutkan: “yang pertama; harta benda akan melimpah ruah di tengah-tengah kalian hingga ada seseorang yang diberi sepuluh ribu tapi dia masih saja menggerutu dan merasa tidak puas.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melanjutkan: “kedua; adanya sebuah fitnah yang akan masuk ke rumah setiap orang dari kalian.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melanjutkan: “ketiga; dan kematian seperti matinya seekor kambing secara tiba-tiba.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melanjutkan: “keempat; akan ada sebuah perdamaian yang akan mengumpulkan kalian dengan bani Al Asfar selama sembilan bulan seperti lamanya masa seorang wanita yang mengandung, kemudian mereka mengingkari perdamaian itu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melanjutkan: “kelima; adanya penaklukan sebuah kota.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melanjutkan: “keenam” tapi aku terus menyelanya; “kota apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “kota Kostantinopel.”

 

Musnad Ahmad 6335: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Laits telah menceritakan kepadaku Haiwah -yaitu Ibnu Syuraih- dari Ibnu Syufay Al Ashbahi dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Mujahid yang berperang, baginya pahalanya sendiri, dan bagi orang yang memberikan bekal (untuk berperang), baginya pahalanya dan pahala orang yang berperang.”

 

Musnad Ahmad 6336: Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepadaku Laits bin Sa’d telah menceritakan kepadaku Haiwah bin Syuraih dari Ibnu Syufay Al Ashbahi dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pulangnya (seorang mujahid) keutamaannya sama seperti pada saat dia berangkat berperang.”

 

Musnad Ahmad 6337: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Puasa dan Al Qur’an kelak pada hari kiamat akan memberi syafa’at kepada seorang hamba. Puasa berkata: Duhai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkahlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al Qur’an berkata: aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Beliau melanjutkan sabdanya: maka mereka berdua (puasa dan Al Qur’an) pun akhirnya memberi syafa’at kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6338: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Husain Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya dia berkata; “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan shalat dan beliau bergeser ke kanan dan ke kiri, dan aku juga melihat beliau melaksanakan shalat tanpa memakai alas kaki dan dengan memakai sandal, dan aku juga melihat beliau minum dengan berdiri dan duduk.” Muhammad -yakni Ghundar- berkata: Al Husain telah memberitahukannya kepada kami dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya.

 

Musnad Ahmad 6339: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Adl-dlahhak bin Utsman dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang dua penjualan dalam satu transaksi, dan dari menjual dengan meminjamkan, dan dari keuntungan dari barang yang tidak dapat dijamin, dan dari menjual yang tidak ada padamu.”

 

Musnad Ahmad 6340: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah mengkhabarkan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kekeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Perumpamaan orang yang meminta kembali apa yang telah dihibahkannya adalah seperti seekor anjing yang muntah lalu ia jilat kembali. Dan jika orang yang telah menghibahkan meminta kembali barang yang telah dihibahkannya, maka hendaklah ia menghentikan tindakan tersebut, lalu mengembalikan apa yang telah dihibahkannya.”

 

Musnad Ahmad 6341: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammaad telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Al A’masy telah menceritakan kepada kami Utsman dari Abu Harb Ad-diili dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “langit tidak pernah menaungi dan bumi tidak pernah dipijak oleh seorang laki-laki yang paling jujur lisannya selain Abu Dzar.”

 

Musnad Ahmad 6342: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yakni Syaiban dari Yahya bin Abi Katsir dari Abi Salamah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah terjadi gerhana matahari, maka diserulah untuk melakukan shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun rukuk dua kali dalam satu sujud, kemudian berdiri dan rukuk dua kali dalam satu sujud. Kemudian matahari pun muncul dan bercahaya. Ia berkata; Aisyah berkata: “Sungguh aku tidak pernah melakukan rukuk dan sujud yang lebih panjang dari itu.”

 

Musnad Ahmad 6343: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad telah menceritakan kepada kami Hammaad dari ‘Atho` dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa pada suatu hari ketika telah masuk waktu shalat ada seorang lelaki mengucapkan; segala puji bagi Allah dengan seisi langit, ia juga mengucap tasbih dan berdo’a. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bertanya: “Siapa orang yang mengucapkannya tadi?” Maka lelaki itu menjawab “Aku wahai Rasulullah.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “Sungguh dengannya aku telah melihat para malaikat saling bertemu sebagian mereka dengan sebagian yang lain.”

 

Musnad Ahmad 6344: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubbaab -dari bukunya- telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Syuraih aku mendengar Syurahbil bin Yazid Al Ma’arifi berkata; bahwa dia mendengar Muhammad bin huddayyah Ash Shadafi berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya golongan munafik dari umatku paling banyak terdapat dari para pembacanya (Ahli Qur’an).”

 

Musnad Ahmad 6345: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Darroj dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya golongan munafik dari umatku paling banyak terdapat dari para pembacanya (Ahli Qur’an).”

 

Musnad Ahmad 6346: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Darroj dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin ‘Amru, ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam: “Apa yang dapat menjauhkanku dari murka Allah Azza wa Jalla?” Beliau menjawab: “Janganlah kamu marah.”

 

Musnad Ahmad 6347: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Darroj dari Isa bin Hilal Ash Shadafi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya arwah orang-orang mukmin itu baru akan saling bertemu setelah perjalanan selama sehari, tidak ada salah satu dari mereka yang melihat temannya sama sekali.”

 

Musnad Ahmad 6348: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah yaitu Ibnul Mubarak telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Syuraih Al Ma’arifi telah menceritakan kepada kami Syurahbil bin Yazid dari Muhammad bin huddayyah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya golongan munafik dari umatku paling banyak terdapat dari para pembacanya (Ahli Qur’an).”

 

Musnad Ahmad 6349: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengutus satu pasukan lalu mereka pulang dengan cepat dan membawa ghanimah (harta rampasan). Maka orang-orangpun ribut membicarakan dekatnya medan perang mereka, banyaknya ghonimah yang mereka bawa, serta cepatnya mereka pulang (dari perang), sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan medan perang yang dekat, banyak ghonimahnya dan dapat pulang dengan cepat? Barangsiapa yang berwudhu lalu ia pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat sunnah dhuha, maka dialah yang telah mendapat tempat perang yang dekat, ghonimah yang banyak dan pulang dengan cepat?”

 

Musnad Ahmad 6350: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Hamzah bin Abdul Muththolib datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sesuatu yang dapat kujadikan untuk hidup!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Wahai Hamzah, apakah jiwa yang kau hidupkan lebih kamu cintai ataukah jiwa yang kau matikan?”Tentu jiwa yang aku hidupkan”, jawabnya. Beliau berkata: “kalau begitu jagalah jiwamu.”

 

Musnad Ahmad 6351: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada yang aku khawatirkan atas ummatku kecuali susu, karena sesungguhnya setan ada di antara buih susu dan susu murni.”

 

Musnad Ahmad 6352: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwasanya ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, apa amalan penghuni surga itu?” Beliau menjawab: “Kejujuran; jika seorang hamba jujur maka ia akan berbuat baik, jika ia telah berbuat baik maka ia akan beriman, dan jika ia beriman maka ia akan masuk surga.” Lelaki itu bertanya lagi; “Wahai Rasulullah, apa amalan penghuni neraka?” Beliau menjawab: “Dusta; jika seorang hamba telah berdusta maka ia akan durhaka, jika durhaka berarti dia telah kafir, dan jika ia kafir maka ia akan masuk neraka.”

 

Musnad Ahmad 6353: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah Ta’ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan sya’ban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja; orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang.”

 

Musnad Ahmad 6354: Hasan telah menceritakan kepada kami, Ibnu Luhai’ah telah menceritakan kepada kami, Huyai bin Abdullah telah menceritakan kepadaku, bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuliy telah menceritakan kepadanya, dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; “Telah diturunkan surat Al Maidah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika beliau sedang berada di atas tunggangannya, sehingga tunggangannya tersebut tidak kuasa menanggung beratnya hingga beliaupun turun darinya.”

 

Musnad Ahmad 6355: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad Abu Ishaq Al Fazari telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Rabi’ah bin Yazid dari Abdullah bin Ad-Dailamiy, dia berkata; aku menemui Abdullah bin ‘Amru sedang dia berada di kebun miliknya di kota tho`if, dan sering disebut dengan ‘al wahthu’ (dataran tanah yang rendah), tempat ini digunakan untuk mengurung para pemuda Quraisy karena mabuk minuman khamer. Aku berkata; telah sampai kepadaku berita darimu, bahwa orang yang meminum khamer satu teguk tidak akan diterima taubatnya oleh Allah selama empat puluh hari. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditetapkan kesengsaraannya sejak dalam kandungan ibunya. Kemudian orang yang mendatangi baitul maqdis karena semata-mata untuk shalat di dalamnya akan diampuni semuan kesalahannya sebagaimana ketika ia lahir dari kandungan ibunya. Maka ketika ia mendengar seorang pemuda menyebut minuman khamer ia menarik tangannya dan pergi. Maka berkatalah Abdullah bin ‘Amru: Sungguhn aku tidak akan membiarkan seseorang untuk berbicara sesuatu atas namaku sesuatu yang daku tidak mengatakannya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menimun khamer satu teguk maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari, jika ia bertaubat maka Allah akan menerimanya. Jika ia mengulanginya lagi maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari, jika ia bertaubat maka Allah akan menerimanya. Jika ia mengulangi lagi, maka aku tidak ingat apa hukumannya untuk kali ketiga dan keempat. Maka jika ia tetap mengulanginya lagi, hak Allah-lah untuk memberinya minuman dari nanah (cairan kotor) ahli neraka pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6356: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya dari Abdullah bin ‘Amru) ia berkata; aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk-Nya dalam keadaan gelap gulita, kemudian pada hari itu juga Dia memberikan cahaya-Nya kepada mereka. Maka barangsiapa terkena cahaya-Nya, ia akan mendapat petunjuk dan barangsiapa tidak mendapat cahaya-Nya maka ia akan tersesat. Oleh sebab itu aku katakan: Pena telah kering atas ilmu Allah Azza wa Jalla.”

 

Musnad Ahmad 6357: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya dari Abdullah bin ‘Amru) dan aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Sulaiman bin Daud -‘alaihis salam- meminta tiga permintaan kepada Allah dan baru dikabulkan dua saja, dan kami berharap semoga ia akan mendapatkan yang ketiga. Ia meminta hukum yang cocok dengan hukumnya, maka Allah telah mengabulkannya untuknya. Ia meminta satu kekuasaan yang tidak akan diberikan kepada seorangpun setelahnya, maka Diapun mengabulkannya untuknya. Lalu ia juga meminta agar orang yang keluar rumah menuju masjid ini hanya bertujuan untuk shalat saja, supaya dikeluarkan dari dosa-dosanya seperti pada sa’at ibunya melahirkannya; kami berharap semoga Allah Azza wa Jalla telah mengabulkannya untuknya.”

 

Musnad Ahmad 6358: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Qabil berkata; kami sedang berada bersama-sama Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia ditanya: di antara dua kota manakah yang terlebih dahulu dibuka; Qostantinopel atau Rum? Maka dia meminta sebuah kotak dan mengeluarkan dari dalam kotak tersebut sebuah kitab. Dia (Abu Qabil) berkata; maka Abdullah berkata; suatu ketika kami berada bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang menulis, yaitu di saat beliau ditanya tentang dua kota, manakah yang lebih dahulu dibuka; Qostantinopel atau Rum? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab: “Kota yang lebih dahulu dibuka adalah kota Hiroclus (Qostantinopel) “

 

Musnad Ahmad 6359: Telah menceritakan kepada kami Suraij berkata; telah menceritakan kepada kami Baqiyah dari Mu’awiyah bin Sa’id dari Abu Qabil dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa meninggal di hari jumat atau pada malam jumatnya, maka akan terjaga dari fitnah kubur.”

 

Musnad Ahmad 6360: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abddullah bin Hubairah dari Abu Salim Al Jaisyani dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak halal bagi seorang lelaki menikahi seorang wanita dengan menceraikan (isterinya) yang lain, dan tidak halal bagi seorang lelaki menjual di atas penjualan temannya sampai ia meninggalkannya, dan tidak halal bagi tiga orang yang berada di padang sahara kecuali jika mereka mengangkat salah satu dari mereka untuk menjadi pemimpin, dan tidak halal bagi tiga orang yang sedang berada di padang sahara dua orang di antara mereka berbicara tanpa melibatkan teman mereka (yang ketiga).”

 

Musnad Ahmad 6361: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Yazid dari Ali bin Robah ia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sungguh orang muslim yang baik akan dapat mencapai derajat orang yang selalu berpuasa dan menjalankan ayat-ayat Allah dengan kebagusan akhlaknya dan perwatakannya yang dermawan.” Telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami dari Al Harits bin Yazid, dari Ibnu Hujairoh, dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sungguh seorang muslim yang baik…”, lalu dia menyebutkan kelengkapan hadits itu.

 

Musnad Ahmad 6362: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Yazid dari Jundub bin Abdullah, bahwa ia mendengar Sufyan bin ‘Auf berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; suatu hari ketika kami sedang berada bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Maka dikatakan kepada beliau; “Siapakah orang-orang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang shalih yang berada di tengah-tengah orang-orang jahat yang banyak, yang mengingkari mereka jumlahnya lebih banyak daripada yang menta’ati mereka.”

 

Musnad Ahmad 6363: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya dari Abdullah bin Amr) Dia berkata; kami sedang berada bersama-sama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada suatu hari yang lain, yaitu ketika matahari sedang terbit, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat akan datang sekelompok manusia dari umatku cahaya mereka seperti cahaya matahari.” Kami berkata: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang fakir yang berhijrah, dan orang-orang yang dijadikan pelindung dari kesusahan, salah seorang dari mereka meninggal dunia sedang dalam dadanya masih ada hajat yang belum terlaksana, mereka dibangkitkan dari segala penjuru bumi.”

 

Musnad Ahmad 6364: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Rasyid bin Yahya Al Ma’arifi bahwa dia mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuli menceritakan Dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apa ghonimah majelis-majelis dzikir? Beliau menjawab: “Ghonimah majelis-majelis dzikir adalah surga.”

 

Musnad Ahmad 6365: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Al Harits bin Yazid Al hadlromi dari Ibnu Hujairoh dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada empat hal, yang mana jika dia ada pada dirimu maka kamu tidak akan susah dan tidak akan ditinggalkan dunia: menjaga amanat, bicara jujur, berakhlaq mulia, dan kesucian diri.”

 

Musnad Ahmad 6366: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari Suwaid bin Qois dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ribath sehari lebih baik daripada puasa dan shalat malam satu bulan penuh.”

 

Musnad Ahmad 6367: Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Ishaq bin Isa dan Yaha bin Ishaq mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Yazid bin ‘Amru Al Ma’arifi dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dan Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa diam maka dia selamat.”

 

Musnad Ahmad 6368: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Bakr bin ‘Amru dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Hati adalah sebuah bejana, dan sebagiannya diletakkan pada sebagian yang lain. Wahai manusia, jika kalian memohon kepada Allah ‘azza wajalla maka mohonlah kepada-Nya dengan keyakinan bahwa permohonan itu bakal diijabahi karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengabulkan do’a seorang hamba yang dipanjatkan dari hati yang lalai.”

 

Musnad Ahmad 6369: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; “Di Madinah pernah ada seorang lelaki meninggal dunia kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menshalatinya, lalu beliau bersabda: “Andai saja ia meninggal dunia bukan bertepatan dengan hari kelahirannya.” Lalu ada seorang lelaki bertanya: “Memangnya kenapa wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Sesungguhnya seseorang jika ia meninggal dunia bukan bertepatan dengan hari kelahirannya maka di surga akan diukur baginya jarak antara hari kelahirannya hingga kematiannya.”

 

Musnad Ahmad 6370: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli bahwa telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ada seorang wanita yang mencuri, kemudian orang-orang yang dicuri olehnya membawanya menghadap Rasulullah, dan mereka berkata: “Wahai Rasulullah, wanita ini telah mencuri harta milik kami.” Lalu keluarga wanita itu berkata: “Kami akan menebusnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Potonglah tangannya.” Keluarga wanita itu berkata lagi; “Kami akan menebusnya dengan lima ratus dinar.” Rasulullah berkata: “Potonglah tangannya.” Ia berkata; lalu dipotonglah tangan kanan wanita itu, kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah, apakah dosaku telah diampunkan?” Beliau menjawab: “Ya, hari ini kamu telah suci dari kesalahanmu seperti pada hari kamu dilahirkan oleh ibumu.” Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat dalam surat Al Ma-idah: “Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Musnad Ahmad 6371: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Huyai bin Abdullah bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan shalat di tempat penambatan kambing dan beliau tidak melakukan shalat di tempat penambatan unta dan sapi.”

 

Musnad Ahmad 6372: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku ‘Amru -yaitu Ibnu Al harits- dari ‘Amru Ibnu Syu’aib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena mabuk sekali saja, maka ia seperti orang yang menguasai dunia beserta isinya lalu ia dirampas darinya. Dan barangsiapa yang meninggalkan shalat empat kali karena mabuk maka Allah ‘azza wajalla berhak memberinya minum dari Thinatul Khobal.” Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa itu Thinatul Khobal?” “Darah dan nanah dari penduduk neraka”, jawab beliau.

 

Musnad Ahmad 6373: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far -yaitu A Rozi- dari Mathor Al Warroqi dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa ia berkata; “aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat dengan menggunaan sandal, aku juga melihat beliau shalat dengan tanpa alas kaki, minum sambil berdiri, minum sambil duduk, bergeser ke kanan dan ke kiri.”

 

Musnad Ahmad 6374: Telah menceritakan kepada kami Haitsam bin Khorijah berkata; telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisaroh dari Ibnu Harmalah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Hendaklah tidak berbicara kepada manusia kecuali seorang pemimpin, atau orang yang disuruh (untuk berbicara), atau orang yang pandai berdebat.”

 

Musnad Ahmad 6375: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad dan Hasyim -yaitu Ibnul Qosim- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid Al Khuza’i dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memutuskan untuk tidak membunuh seorang muslim karena seorang kafir.”

 

Musnad Ahmad 6376: Telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid dari Sulaiman dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya; Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah memutuskan bahwa barangsipa terbunuh karena tidak sengaja maka dendanya adalah seratus unta, yang terdiri dari tiga puluh Bintu Makhodl (unta yang berumur dua tahun), tiga puluh Bintu Labun (unta yang berumur tiga tahun), tiga puluh Hiqqoh (unta yang berumur empat tahun) dan sepuluh Banu Labun (unta yang berumur tiga tahun) laki-laki.”

 

Musnad Ahmad 6377: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ya’qub bin ‘Atho` dan selainnya dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sungguh, orang yang berbeda agama tidak bisa saling mewarisi”

 

Musnad Ahmad 6378: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang lelaki menikahi seorang gadis hendaklah ia tinggal di rumahnya selama tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 6379: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Budak mana saja yang bermukatabah (menebus dirinya sendiri) dengan seratus uqiyah, lalu ia telah membayarnya kecuali sepuluh uqiyah yang tersisa, maka ia masih berstatus budak.”

 

Musnad Ahmad 6380: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah didatangi dua orang wanita yang pada tangan mereka berdua terdapat gelang dari emas, lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Apakah kalian mau jika pada hari kiamat kelak Allah memakaikan gelang dari api untuk kalian berdua?” “Tidak”, jawab mereka. Beliau berkata: ” (Kalau begitu) tunaikanlah hak dari barang yang ada pada tangan kalian berdua.”

 

Musnad Ahmad 6381: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hind dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah keluar rumah dan orang-orang saat itu sedang membicarakan masalah qodar. Dia berkata; dan seakan-akan pada wajah beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam terdapat merahnya buah delima karena marah. Lalu beliau berkata kepada mereka: “Kenapa kalian membenturkan sebagian ketentuan Allah dengan sebagian yang lain? Dengan permasalahan inilah orang-orang sebelum menemui kebinasaan.” …

 

Musnad Ahmad 6382: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berdiri lebih lama pada saat melempar jumrah yang kedua daripada saat melempar jumrah yang pertama, kemudian beliau mendekati tempat pelemparan jumrah aqobah lalu beliau melemparnya dan tidak berdiri lama padanya.”

 

Musnad Ahmad 6383: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila dua khitan telah bertemu dan ujung kelamin laki-laki telah tersembunyi (masuk), berarti telah wajib mandi.”

 

Musnad Ahmad 6384: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ayub telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Abdullah bin ‘Amru menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak halal menjual dengan jalan meminjam, dua persyaratan dalam satu transaksi, mengambil keuntungan dari barang yang tidak bisa dijamin (keberadaannya), dan dari menjual sesuatu yang tidak ada di tempatmu.”

 

Musnad Ahmad 6385: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Laits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian mencabut uban karena sesungguhnya ia adalah cahaya seorang muslim. Tidaklah seorang muslim beruban di dalam Islam kecuali dengannya akan dituliskan baginya satu kebaikan, dan dengannya ia akan diangkat satu derajat, serta dengannya pula akan dihapuskan darinya satu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 6386: Telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Laits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa melarang manusia dari kelebihan air yang dia miliki atau dari sisa tanaman rumput liar miliknya, maka Allah akan melarang (menghalanginya) dari anugerah-Nya di hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6387: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ubaidillah telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesuatu yang jika dalam jumlah banyak dapat memabukkan maka sedikitnya juga haram.”

 

Musnad Ahmad 6388: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian mencabut rambut uban, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba dalam Islam yang tumbuh padanya rambut uban kecuali Allah akan menuliskan baginya pahala satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan.”

 

Musnad Ahmad 6389: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang berjual beli di dalam masjid, melarang membacakan sya’ir dan melantunkan (lagu) yang menyesatkan, serta melarang mencukur rambut pada hari Jum’at sebelum shalat Jum’at.

 

Musnad Ahmad 6390: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ijlan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda: “Orang-orang yang takabbur kelak di hari kiamat akan dibangkitkan dalam bentuk seperti semut kecil berwujud manusia. Dihadapan mereka segala sesuatu tampak tinggi karena sangat kecilnya mereka, hingga mereka dimasukkan ke dalam penjara neraka jahannam yang bernama Bulas dan merekapun dilahap api Al An-yar, mereka juga diberi minum dari Thinatul Khobal (darah dan nanah) para penghuni neraka.”

 

Musnad Ahmad 6391: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Al Akhnas telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; seorang arab badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan berkata: “Sesungguhnya bapakku ingin merampas hartaku.” Beliau menjawab: “Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu. Sesungguhnya sebaik-baik makanan yang kalian makan ialah yang kalian dapat dari hasil usaha kalian, dan sesungguhnya harta anak-anak kalian termasuk dari harta yang kalian usahakan oleh sebab itu makanlah dengan tenang.”

 

Musnad Ahmad 6392: Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa dia berkata; “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat dengan bersandal dan kadang tanpa alas kaki, kadang melakukan puasa dan kadang berbuka disaat bepergian, minum sambil berdiri dan kadang sambil duduk, bergeser ke kiri dan ke kanan.”

 

Musnad Ahmad 6393: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu ‘Ajlan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat pada sebagian sahabatnya memakai cincin dari emas, maka beliau mengingkarinya dan membuangnya, lalu diambillah cincin dari besi.” Ia berkata; Rasulullah bersabda: “ini lebih buruk, sebab ini adalah perhiasan penduduk neraka, ” lalu beliau membuangnya dan mengambil cincin dari perak dan beliau diam dan tidak berkomentar”

 

Musnad Ahmad 6394: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Husain dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; Ketika kota Makkah ditaklukkan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau berseru: “Tahanlah senjata-senjata kalian kecuali kepada kabilah Khuza’ah dari bani Bakr!.” Maka beliaupun mengizinkan mereka hingga waktu shalat ‘asar. Kemudian beliau berkata: “Tahanlah senjata kalian”! Lalu besoknya ada seorang lelaki dari Khuza’ah bertemu dengan seorang lelaki dari bani Bakr di wilayah Muzdalifah, lalu iapun membunuhnya. Kemudian hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka dengan menyandarkan punggung beliau ke Ka’bah beliau berkata: “Sesungguhnya orang yang paling memusuhi Allah ialah orang yang membunuh di wilayah haram (suci), atau yang membunuh orang yang tidak membunuhnya, atau membunuh dengan perasaan dendam kesumat.” Lalu ada seorang lelaki berdiri dan berkata: “Sesungguhnya si fulan adalah anakku.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Tidak ada pengaku-akuan dalam Islam, dan hal hal yang berbau Jahiliyah telah lenyap. Seorang anak adalah milik ayahnya, adapun pezina baginya adalah Al Atslab.” Orang-orang bertanya: “Apakah Atslab itu?” Beliau menjawab: “Al Hajar (hukuman rajam).” Beliau bersabda: “Pada sepuluh jari (yang hilang) itu terdapat diyat sepuluh unta, dan pada luka parah hingga menyebabkan tulang terlihat terdapat diyat lima unta.” Beliau bersabda: “Tidak ada shalat (sunnah) setelah shalat shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat (sunnah) setelah shalat ‘asar hingga matahari terbenam, dan tidak boleh menikahkan (mengumpulkan) seorang wanita dengan pernikahan bibinya dari pihak ibu ataupun dari pihak ayah, dan seorang isteri tidak boleh memberikan suatu pemberian kecuali dengan izin suaminya.”

 

Musnad Ahmad 6395: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’ai dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; “Pada saat memerangi Bani Musthaliq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjamak dua shalat.”

 

Musnad Ahmad 6396: Telah menceritakan kepada kami ya’la telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar seorang lelaki dari Muzainah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya kepadamu mengenai seekor unta yang tersesat (dan tidak bisa pulang sendiri)?” Beliau menjawab: “Jangan khawatir, ia masih memakai sepatunya (kakinya) dan masih menggembol kantong air dalam perutnya, ia masih dapat memakan pepohonan dan masih dapat minum air dengan puas, tinggalkanlah ia sampai pemiliknya datang mencarinya.” Lelaki itu bertanya lagi; “Lalu bagaimana dengan kambing yang tersesat (dan tidak pulang sendiri)?” Beliau menjawab: “Dia bisa menjadi milikmu, atau milik saudaramu, atau akan diterkam serigala. Kumpulkanlah ia hingga pemiliknya mencarinya.” Lelaki itu bertanya lagi; “Lalu bagaimana dengan binatang yang dijaga dan berada di dalam tempat penggembalaan?” Beliau menjawab: “Ia harus mengganti dua kali lipat harganya dan harus dihukum, dan hewan yang diambil (dicuri) dari kandangnya jika harganya senilai harga tameng seorang prajurit (seperempat dinar) maka pencurinya harus dipotong tangannya.” Lelaki itu bertanya lagi; “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan harta yang kami temukan di tempat berpenghuni?” Beliau menjawab: “Umumkanlah ia selama setahun, jika ada orang yang mencarinya maka berikanlah kepadanya, namun jika tidak ada orang yang mencarinya maka berarti ia adalah milikmu.” Lelaki itu bertanya lagi; “Dan bagaimana dengan harta yang ditemukan di bawah bangunan yang telah roboh?” Beliau menjawab: “Padanya dan pada harta yang ditemukan dalam keadaan terpendam terdapat kewajiban mengeluarkan (zakat) sebanyak seperlima.”

 

Musnad Ahmad 6397: Telah menceritakan kepada kami ya’la telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Musa bin Abu `Aisyah dari ‘Amr bin Syu’ai dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; ada seorang arab badui datang kepada Nabi untuk menanyakan kepada beliau perihal tatacara wudhu, maka beliaupun memperlihatkan kepadanya tiga kali-tiga kali seraya berkata: “Beginilah wudhu yang benar, maka barangsiapa yang menambahinya maka sungguh ia telah berbuat kejelekan, melampaui batas dan berbuat zholim.”

 

Musnad Ahmad 6398: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria bin Abu Za`idah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melaksanakan umrah sebanyak tiga kali, semuanya beliau lakukan pada bulan Dzulqo’dah, beliau mengucapkan talbiyah hingga menyentuh hajar aswad.”

 

Musnad Ahmad 6399: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkhabarkan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melaksanakan umrah sebanyak tiga kali, semuanya beliau lakukan pada bulan Dzulqo’dah, beliau mengucapkan talbiyah hingga menyentuh hajar aswad.”

 

Musnad Ahmad 6400: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Sesungguhnya nilai tameng pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah sepuluh dirham.”

 

Musnad Ahmad 6401: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman bahwa ia mendengar dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bertakbir sebanyak dua belas kali dalam shalat ‘Aid, tujuh kali di rakaat pertama, dan lima kali di rakaat terakhir, dan beliau tidak melaksanakan shalat sunnah sebelumnya juga sesudahnya.” Bapakku berkata: “Dan aku lebih memilih madzhab ini.”

 

Musnad Ahmad 6402: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Sawwar bin Dawud dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Suruhlah anak-anak kecil kalian untuk melaksanakan shalat pada sa’at mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (karena meninggalkannya) pada saat berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” Ayahku berkata; dan At Thufawi Muhammad bin Abdurrahman berkomentar; dalam hadits ini terdapat Sawwar Abu Hamzah dan ia telah keliru di dalamnya.

 

Musnad Ahmad 6403: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Khalifah bin Khayyat dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda dalam khutbahnya, sedang beliau menyandarkan punggungnya ke Ka’bah: “Janganlah seorang muslim dibunuh karena sebab orang kafir, dan jangan kalian bunuh seorang kafir yang ada ikatan perjanjian.”

 

Musnad Ahmad 6404: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi pernah mendapatkan sebuah kurma di rumahnya di bawah samping beliau, lalu beliaupun memakannya.

 

Musnad Ahmad 6405: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Amr bin Syu’bah dari bapaknya dari kakeknya Abdullah bin ‘Amr dia berkata; ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam masuk Makkah di tahun penaklukan, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia: “wahai manusia sesungguhnya perjanjian yang terjadi pada masa Jahililliyah tidaklah, maka tidaklah datang Islam kecuali telah mengukuhkannya, dan tidak ada perjanjian dalam Islam. Kaum muslimin adalah tangan (penolong) bagi yang lainnya, darah mereka sama, orang-orang lemahnya melindungi mereka, orang-orang pinggirannya telah memulangkan mereka, mengembalikan tawanan-tawanan mereka,

 

Musnad Ahmad 6406: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah menambahkan bagi kalian satu shalat; yaitu shalat witir.”

 

Musnad Ahmad 6407: Telah menceritakan kepada kami Yazid dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menggabungan antara dua shalat dalam bepergian.”

 

Musnad Ahmad 6408: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Hammam dari Qotadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan.” Kesempatan lain Yazid berkata: “dengan tidak isrof (berlebihan), dan tidak sombong.”

 

Musnad Ahmad 6409: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengajari kami beberapa kalimat untuk kami baca ketika hendak tidur: ” Dengan Asma Allah, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya dan adzab-Nya, serta dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan dan kedatangannya.” Dia berkata; Abdullah bin ‘Amru mengajarkan kalimat ini pada anaknya yang telah baligh untuk dibacanya ketika hendak tidur, dan terhadap anaknya yang masih kecil, ia menyuruhnya untuk mulai menghafalnya, ia menuliskan untuknya lalu dikalungkan di lehernya.

 

Musnad Ahmad 6410: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Hajjaj dari ‘Atho` dari Jabir dan dari Abu Az Zubair dari Jabir dan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menentukan miqoth bagi penduduk Madinah dari Dzulhulaifah, dan bagi penduduk Syam dari Juhfah, dan bagi penduduk Yaman dan Tihamah dari Yalamlam, dan bagi penduduk Tho`if yakni; Najed dari Qornul Manazil, dan bagi penduduk Irak dari Dzatu ‘Irq.”

 

Musnad Ahmad 6411: Telah menceritakan kepada kami Yazid dari Muhammad bin Rasyid dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak boleh diterima persaksian seorang lelaki pengkhianat dan seorang wanita pengkhianat.” Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga menolak (tidak menerima) persaksian seorang peminta, pembantu dan orang yang menjadi tanggungan oleh sebuah keluarga, dan beliau memperbolehkannya atas orang-orang selain mereka.”

 

Musnad Ahmad 6412: Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata, telah mengkabarkan kepada kami Muhammad bin Rasyid dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu`aib dari Bapaknya, dari Kakeknya, ia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan bahwa seseorang setelah kematian bapaknya (tuan yang menggauli ibunya sehingga ia lahir), yang oleh para ahli warisnya (anak-anak sang tuan) ia diikutkan sebagai atau termasuk ahli waris, (beliau memutuskan); jika ia lahir dari seorang wanita yang merdeka, atau dari seorang budak yang dimilikinya (tuan), maka anak tersebut bisa diikutkan oleh ahli waris termasuk ahli waris, dan jika anak yang lahir itu dari seorang wanita yang merdeka atau budak yang telah dizinainya, maka anak tersebut tidak bisa diikutkan untuk menjadi ahli waris. Dan meskipun bapaknya (tuan dari ibunya) tersebut tetap mengakuinya sebagai anak, ia tetap sebagai anak ibunya sendiri, baik ia lahir dari seorang wanita merdeka atau seorang budak”.

 

Musnad Ahmad 6413: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Artho`ah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai keluarga yang mana apabila aku bermaksud menyambung tali silaturrahim dengan mereka, mereka malah memutuskannya, dan jika aku ingin mema’afkan, mereka malah berbuat zholim, dan jika aku ingin bermaksud baik, mereka malah berbuat jahat kepadaku. Apakah aku boleh membalas perbuatan mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, karena kalian semua akan ditinggalkan. Akan tetapi berbuatlah yang lebih utama dari itu dan sambunglah terus tali silaturrahim dengan mereka sebab sesungguhnya pertolongan akan senantiasa menyertaimu selama kamu masih berbuat demikian.”

 

Musnad Ahmad 6414: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Yusuf dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Orang yang menghadiri shalat Jum’at itu ada tiga (macam): orang yang menghadirinya dengan memanjatkan do’a dan dengan melaksanakan shalat, maka itulah orang yang benar-benar memanjatkan do’a kepada Rabbnya, jika Dia menghendakinya Dia akan mengabulkan do’anya dan jika Dia menghendakinya Dia akan menahannya. Dan orang yang menghadiri shalat Jum’at dengan sikap diam, maka memang demikian yang mesti dilakukannya. Dan terakhir orang yang menghadiri shalat Jum’at dengan percakapan, maka hanya itulah yang ia dapatkan.”

 

Musnad Ahmad 6415: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Iyadh telah menceritakan kepada kami Abu Hazim dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Aku bersama saudaraku duduk dalam sebuah majlis yang aku berharap dari kebaikan yang banyak, aku dan saudaraku berpaling ketika ada seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam duduk di salah satu sisi pintu. Maka aku dan saudaraku tidak ingin memisahkan mereka, maka kamipun duduk

 

Musnad Ahmad 6416: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Iyadh telah menceritakan kepada kami Abu Hazim dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seseorang tidak dikatakan beriman sehingga ia beriman dengan taqdir, yang baik maupun yang buruk.” Abu Hazim berkata: Allah melaknat agama yang aku lebih besar darinya, yaitu; mendustai taqdir.

 

Musnad Ahmad 6417: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkhabarkan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; bahwa pada masa Jahiliyah Al ‘Ash bin Wa`il bernadzar untuk menyembelih seratus ekor unta, dan Hisyam bin Al ‘Ash menyembelih bagiannya sebanyak lima puluh ekor unta, dan sesungguhnya ‘Amru bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengenai hal itu, lalu beliau pun bersabda: “Adapun bapakmu, seandainya dia mau mengikrarkan tauhid lalu kamu berpuasa dan bersedekah untuknya, niscaya itu akan bermanfa’at baginya.”

 

Musnad Ahmad 6418: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dari Sa’id dari ‘Amir Al Ahwal dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak boleh mengambil sesuatu yang telah diberikannya kecuali seorang bapak dari anaknya, dan orang yang mengambil sesuatu yang telah dihibahkannya seperti seorang yang menjilat muntahannya.”

 

Musnad Ahmad 6419: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah mengkhabarkan kepada kami Hammam dari Qotadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Itu adalah luthiyah (nisbah ke perbuatan kaum Luth) yang kecil.” yakni seorang lelaki yang menyetubuhi isterinya dari dubur.

 

Musnad Ahmad 6420: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu perutku adalah tempat baginya, pangkuanku adalah rumah baginya, dan payudaraku adalah tempat minum baginya, tapi bapaknya ingin merebutnya dariku?” Beliau menjawab: “Kamu lebih berhak atasnya (anakmu) selama kamu belum menikah (lagi).”

 

Musnad Ahmad 6421: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qotadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa seseungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah bangga bila nikmat-Nya ada pada hamba-Nya diperlihatkan.”

 

Musnad Ahmad 6422: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dia berkata; ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Wanita mana saja yang menikah dengan suatu mahar, hiba’ (hadiah), atau janji untuk diberi sesuatu dan hal itu dilakukan sebelum akad nikah maka berarti itu semua adalah miliknya. Adapun pemberian yang diberikan setelah akad nikah maka berarti itu semua adalah milik orang yang diberi. Dan seorang lelaki (bapak) lebih berhak menerima pemberian atas anak perempuannya dan saudara perempuannya.”

 

Musnad Ahmad 6423: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepadaku Ma’mar bahwa Ibnu Juraij telah mengkhabarkan kepadanya dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, ia berkata; Bahwa Zinba’ Abu Rauh mendapatkan budak lelaki dan budak perempuannya (berzina), lalu ia memotong hidungnya. Maka budak itupun mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan beliau bertanya kepadanya: “Siapa yang melakukan ini atasmu?” Dia menjawab; “Zinba’.” Maka Nabipun segera memanggilnya dan bertanya kepadanya: “Kenapa kamu melakukan hal ini?” Dia menjawab; “Sudah sewajarnya dia begini dan begini.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepada budak itu: “Pergilah sebab sesungguhnya kamu telah merdeka.” Budak itu bertanya: “Wahai Rasulullah, aku sekarang menjadi budak milik siapa?” Beliau menjawab: “Kamu menjadi budak Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah mewasiatkan hal itu kepada seluruh kaum muslimin. Dia berkata; dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meninggal dunia, dia mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Mana wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam?” Abu Bakar menjawab; “Ya, Kami akan memberikan nafkah kepadamu dan keluargamu.” Maka iapun diberi nafkah sampai akhirnya Abu Bakar meninggal dunia. Kemudian ketika Umar diangkat menjadi Khalifah, budak itu mendatanginya dan berkata: “Mana wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam?” Umar menjawab: “Ya, daerah mana yang kamu mau?” Ia menjawab: “Mesir.” Kemudian Umar menulis surat kepada gubernur Mesir agar ia memberinya satu bagian tanah yang dapat dipergunakan untuk mencari makanan.”

 

Musnad Ahmad 6424: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Muhammad yakni Ibnu Rasyid dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada setiap jari adalah denda sepuluh ekor unta, pada setiap gigi adalah denda lima ekor unta, semua jari adalah sama, dan semua gigi adalah sama.” Muhammad berkata: aku mendengar Mahkul berkata: dia tidak ingat apakah hal itu adalah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Abdurrazzaq berkata: aku tidak pernah melihat orang yang lebih hati-hati dalam hadits selain Muhammad bin Rasyid.

 

Musnad Ahmad 6425: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Abdul Karim Al Jazari, bahwa ‘Amru bin Syu’aib telah mengkhabarkan kepadanya dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah bersandar di rumahnya lalu beliau menasehati manusia dan mengingatkan mereka seraya berkata: “Janganlah seseorang melakukan shalat setelah shalat ‘Asar hingga malam (tiba), juga setelah subuh hingga matahari terbit, dan hendaklah seorang wanita tidak mengadakan perjalanan selama tiga malam kecuali bersama mahromnya, dan hendaklah seorang wanita tidak maju (untuk nikah) bersama bibinya baik bibi dari ibu ataupun bibi dari pihak bapak.”

 

Musnad Ahmad 6426: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Dawud bin Quwais dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya tentang aqiqah, maka beliau bersabda: “sesungguhnya Allah tidak menyukai kedurhakaan dan seakan-akan Dia tidak suka dengan nama.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya menanyakan tentang seorang di antara kami yang mendapatkan kelahiran anak?” Beliau menjawab: “siapa di antara kalian yang ingin menyembelih untuk anaknya, hendaknya ia kerjakan; dua ekor kambing yang pantas untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.” Dia berkata; beliau juga ditanya tentang Al Faro’ (anak unta yang baru lahir). Beliau menjawab: “Al Faro` adalah haq (boleh untuk disembelih), namun jika kalian membiarkannya sehingga dagingnya keras, atau seperti unta yang berumur dua atau tiga tahun, kemudian kalian bawa ke jalan Allah, atau kalian berikan kepada seorang janda adalah lebih baik daripada kalian sembelih sehingga dagingnya masih menempel dengan kulit, bejanamu jadi penuh dan induk unta tersebut menjadi sedih karenanya.” Dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga ditanya tentang Al Atiroh (kambing yang disembelih pada bulan Rajab). Maka beliau menjawab: “Al `Atiroh adalah haq.” Sebagian kaum bertanya kepada ‘Amru bin Syu’aib; “apa yang dimaksud dengan Al `Atiroh?” “Mereka pada bulan Rojab menyembelih seekor kambing, kemudian mereka masak dan memakannya, juga diberikan kepada orang lain.” Jawabnya.

 

Musnad Ahmad 6427: Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Muhammad dan Suraij mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad dari Abdurrahman bin Al Harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah mendapati dua orang lelaki sedang berjalan bersama menuju Baitullah, lalu beliaupun berkata kepadanya: “Kenapa kalian hanya berdua saja?” Mereka berdua menjawab: “Wahai Rasulullah, kami telah bernadzar untuk berjalan berdua menuju Baitullah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Yang demikian ini bukanlah sebuah nadzar.” Maka merekapun membatalkannya. Suraij berkata dalam hadits yang diriwayatkannya: Nadzar itu hanya pada sesuatu yang ditujukan untuk mencari ridla Allah ‘azza wajalla.

 

Musnad Ahmad 6428: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr telah menceritakan kepada kami Al Faroj dari Abdullah bin ‘Amir dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak boleh berbicara (khutbah) dihadapan orang banyak kecuali seorang pemimpin, atau wakilnya, atau orang yang bisa debat.” Maka aku berkata kepadanya: “dia menyampaikan kepada kita atau justru memperberat diri sendiri.” Dia berkata; “demikian yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”

 

Musnad Ahmad 6429: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr dan Abdush Shomad mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Rasyid-, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya akal dua ahli kitab adalah setengah dari akal kaum muslimin, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani.”

 

Musnad Ahmad 6430: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr dan Abdush Shomad mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman -yaitu ibnu Musa- dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa membunuh dengan sengaja, maka perkaranya dikembalikan kepada pihak wali si terbunuh, jika mereka berkehendak maka mereka boleh balas membunuh, jika mereka mau mereka boleh meminta tebusan, yaitu; tiga puluh hiqqoh (unta yang telah berumur empat tahun), dan tiga puluh jadza`ah (unta perempuan yang telah berumur lima tahun), serta empat puluh Khalifah (unta yang sedang hamil). Itulah denda sebuah pembunuhan yang disengaja. Jika mereka damai maka itu adalah hak mereka. Dan itulah denda.

 

Musnad Ahmad 6431: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr dan Abdush Shamad, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari ‘Amru bin Syu’bah dari bapaknya dari kakeknya; Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tebusan bagi pembunuhan semi sengaja adalah diperberat sebagaimana pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, dan pelakunya tidak boleh dibunuh, karena dengan begitu setan akan menguasakan (permusuhan) antar manusia”. Abu Nadlr berkata, “Ia seperti seorang yang memanah dalam kondisi gelap gulita, bukan lantaran adanya fitnah dan bukan seperti orang yang menenteng senjata”.

 

Musnad Ahmad 6432: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr telah menceritakan kepada kami Muhammad dari Sulaiman dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menetapkan bahwa barangsipa terbunuh karena kesalahan maka tebusannya adalah seratus unta.”

 

Musnad Ahmad 6433: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang tidur, lalu beliau menemukan kurma di bawah rusuknya, maka beliaupun mengambil dan memakannya. Namun setelah itu beliau terperanjat dan ketakutan di akhir malam, sehingga hal tersebut sempat menjadikan sebagian istri-istri beliau takut. Kemudian beliau bersabda: “sesungguhnya aku telah menemukan kurma di bawah rusukku, kemudian aku makan. Maka aku takut kalau-kalau kurma itu adalah kurma sedekah.”

 

Musnad Ahmad 6434: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas’adah dari Ibnu ‘Ajlan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Penjual dan pembeli berhak memilih hingga mereka berdua berpisah kecuali jika ada kesepakatan untuk memperpanjang masa memilih, dan dia tidak halal berpisah dengannya karena dikhawatirkan akan membatalkannya.”

 

Musnad Ahmad 6435: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu ibnu Rasyid- dari Sulaiman bin Musa dia berkata; bahwa Abdullah bin ‘Amru menulis surat kepada pekerja yang bekerja di kebun miliknya: janganlah engkau menahan kelebihan air yang kau punya. Karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” barangsiapa menahan kelebihan airnya yang dengannya ia bisa menahan kelebihan kala` (rumput liar yang tumbuh disekitar mata air), maka Allah akan menahan kelebihan-Nya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6436: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Musa telah mengkhabarkan kepadaku Malik telah mengkhabarkan kepadaku Ats-Tsiqoh dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam melarang membeli dengan uang panjer.

 

Musnad Ahmad 6437: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr telah menceritakan kepada kami Muhammad dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Bukan dari golonganku orang yang membawa (mengacungkan) senjata kapada kami, dan orang yang memata-matai di jalan.”

 

Musnad Ahmad 6438: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad Abdul Waris telah menceritakan kepadaku bapakku, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Habib dari ‘Amru dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru; bahwa Abu Tsa’labah Al Khusyani datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan berkata; “Wahai Rasulullah, aku mempunyai anjing yang telah dijinakkan, maka berikanlah fatwa kepadaku mengenai hasil buruannya?” Beliau menjawab: “Jika kamu mempunyai anjing yang telah dijinakkan maka kamu boleh memakan hasil buruannya.” Ia bertanya lagi: “Walaupun telah disembelih ataupun belum wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, walaupun ia telah disembelih terlebih dahulu ataupun belum.” Ia bertanya lagi: “Walaupun ia juga telah memakannya?” Beliau menjawab: “Ya, meski ia telah memakannya.” Dia bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, fatwakanlah kepadaku mengenai binatang yang terkena busur panahku!” Beliau menjawab: “Kamu boleh memakannya.” Ia bertanya lagi: “Telah disembelih ataupun belum?” Beliau menjawab: “Ya, meski telah disembelih ataupun belum?” Ia bertanya lagi: “lalu bagaimana jika sebelumnya ia hilang?” Beliau menjawab: “Jika ia hilang terlebih dahulu, kamu masih boleh memakannya selama ia belum berubah dan tidak ada bekas panah lain selain panahmu.” Ia bertanya: “Wahai Rasulullah, berilah kami fatwa mengenai bejana orang majusi yang kami pakai dalam keadaan terpaksa!” Beliau menjawab: “Jika kalian terpaksa memakai bejana-bejana itu maka cucilah ia terlebih dahulu dengan menggunakan air kemudian kalian boleh memasak dengannya.”

 

Musnad Ahmad 6439: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Abbas Al Jazari telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Budak mana saja yang bermukatabah (membebaskan dirinya dengan membayar sejumlah uang) dengan seratus Auqiyah, dia bayar semua kecuali sepuluh Auqiyah, maka ia masih bersetatus budak. Dan budak mana saja yang bermukatabah dengan seratus dinar, dia bayar semua kecuali sepuluh dinar, maka setatusnya masih sebagai budak.” Abdullah bin Ahmad berkata: “demikian yang dikatakan oleh Abdush Shomad Abbas Al Jazari, dahulu terdapat dalam buku Abbas Al Juwairi yang kemudian diperbaiki oleh bapakku sebagaimana yang dikatakan oleh Abdush Shomad Al Jazari.

 

Musnad Ahmad 6440: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Dawud bin Abu Hind dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada hari penaklukan kota makkah: “Seorang wanita (isteri) tidak boleh memberikan pemberian kecuali dengan izin suaminya.” Telah menceritakan kepada kami, Abdus Shomad telah menceritakan kepada kami, bapakku menceritakan kepada kami, Daud menceritakan kepada kami, dari ‘Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata seperti itu.

 

Musnad Ahmad 6441: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad, telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; Aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada hari perang Hunain, lalu datanglah utusan dari Negeri Hawazin kepada beliau seraya berkata; “Wahai Muhammad, sesungguhnya kita satu bangsa dan satu kabilah, apa yang Allah berikan kepada kami, Allah berikan pula untuk kamu, sesungguhnya kami telah tertimpa musibah dan malapetaka yang engkau telah melihatnya sendiri.” Maka belaiu bersabda: “Pilihlah antara istri-istri kalian atau harta kalian atau anak-anak kalian? Mereka menjawab, “Engkau telah membuat pilihan untuk kami antara nasab dan harta kami, maka kami memilih anak-anak kami”. Lalu beliau bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian untuk Bani Abdul Muthallib adalah untuk kalian, maka jika aku shalat zhuhur ucapkanlah: ‘Sesungguhnya kami meminta perlindungan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari kaum muslimin dan kepada kaum muslimin dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam atas persoalan anak-anak dan istri-istri kami”. Perawi berkata; maka merekapun mengerjakannya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian untuk bani Abdul Muthallib adalah untuk kalian”. Kaum Muhajirin berkata; “Dan apa-apa yang telah menjadi bagian kami maka itu adalah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kaum Anshar juga mengatakan sebagaimana yang diucapkan oleh kaum muhajirin. ‘Uyainah bin Badar berkata; “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Fazarah tidak.” Al Aqra` bin Habis berkata: “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Tamim tidak.” Abbas bin Mirdas berkata; “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Sulaim tidak.” Al Hayyan berkata; “Engkau telah berdusta, bahkan semua itu adalah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kembalikanlah istri-istri dan anak-anak mereka kepada mereka, maka barangsiapa telah mengambil sesuatu dari harta fai` kewajiban yang harus ia berikan kepadaku, ada enam kewajiban, yaitu; pertama kalinya Allah memberikan harta fai` tersebut kepada kita”. Lalu beliau menaiki kendaraannya sedang orang-orang masih menggantungkan persoalannya tersebut, mereka mengatakan; “Bagikanlah jatah harta fai` kami kepada kami semua, ” Dan mereka tetap saja mengejar beliau sampai di suatu tempat yang bernama samurah seraya menarik paksa selendang beliau. Beliau kemudian bersabda: “Wahai sekalian manusia, kembalikanlah selendangku, demi Allah sekiranya jumlah kalian sejumlah pohon yang ada di Tihamah ini, sungguh akan aku bagikan kepada kalian semua, dan jangan engkau sebut aku dengan seorang yang bakhil, atau seorang yang pengecut, atau seorang pendusta.” Lalu beliau turun dari untanya dan mengambil bulu yang ada di punuk untanya seraya menjepitnya antara jari tengan dan jari telunjukknya, lalu beliau angkat dan bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku tidak memiliki bagian sedikitpun dari harta fai` ini kecuali hanya seperlima dan seperlimanya akan dikembalikan kepada kalian. Maka kembalikanlah meskipun hanya sebiji jarum, sesungguhnya bagi seorang penghianatan yang mengambil harta ghonimah, pada hari kiamat kelak akan terlihat hina dan noda.” Maka berdirilah seorang laki-laki dengan membawa kubbah (semacam gulungan benang) dari rambut, seraya berkata; “Sesungguhnya aku mengambil ini untuk memperbaiki pelana untaku yang mati.” Beliau bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian untuk Bani Abdul Muthallib adalah untuk engkau.” Maka berkatalah seorang laki-laki; “Wahai Rasulullah, sesungghuhnya apa yang telah aku punya, maka aku tidak membutuhkannya lagi.” Kemudian ia membuangnya.

 

Musnad Ahmad 6442: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad dari Abdullah Ibnul Mubarak telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Zakat (ternak) kaum muslimin diambil sa’at (binatang ternak mereka) sedang minum.”

 

Musnad Ahmad 6443: Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin ‘Adiy telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Abdul Karim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, aku dulu pernah memberikan sebidang kebun kepada ibuku sewaktu ia masih hidup, lalu ia meninggal dunia dan tidak mempunyai ahli waris selain aku?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Sedekahmu telah sah, dan kebun itu kembali lagi kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 6444: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari Abdurrahman Ibnul Harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada nadzar kecuali pada sesuatu yang dimaksudkan untuk mencari ridla Allah ‘azza wajalla, dan tidak boleh bersumpah dalam rangka untuk memutuskan hubungan silaturrahim.”

 

Musnad Ahmad 6445: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad dari Abdurrahman Ibnul Harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dari golongan kami, dan tidak mengetahui hak orang yang lebih besar dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 6446: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid -yaitu Ibnul Hadi dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, dan dari keadaan tua renta, dan dari hutang yang tidak terbayar, dan dari dosa dan kesalahan. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al masih ad dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab api neraka.”

 

Musnad Ahmad 6447: Telah menceritakan kepada kami Yunus dan Abu Salamah Al Khuza’i mereka berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid yaitu ibnul Hadi, dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Maukah kalian aku kabarkan tentang orang yang paling aku suka dari kalian, dan pada hari kiamat tempat duduknya paling dekat dengan aku?” Orang-orang semuanya diam, maka beliau mengulangi kata-katanya tersebut sampai dua atau tiga kali. Akhirnya mereka pun menjawab; “Mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu orang yang akhlaqnya paling baik di antara kalian.”

 

Musnad Ahmad 6448: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id pelayan Bani Hasyim telah menceritakan kepada kami Khalifah bin Khayyath telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa bersumpah atas sebuah janji lalu ia melihat ada hal lain yang lebih baik daripadanya, maka kaffarohnya adalah dengan meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 6449: Telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Harits Al Makki telah menceritakan kepadaku Al Aslami -yaitu Abdullah bin ‘Amir- dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengadakan aqiqah untuk anak lelaki dengan dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan dengan satu kambing.”

 

Musnad Ahmad 6450: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin AzZubair telah menceritakan kepada kami Abaan -yaitu Ibnu Abdullah- dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Segala yang memabukkan adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 6451: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari yazid bin Abu Habib dari Qaishar At Tujibi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; Ketika kami sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam datanglah seorang pemuda seraya bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku mencium (isteriku) padahal aku sedang berpuasa?” “Tidak”, jawab beliau. Lalu ada seorang kakek-kakek datang dan bertanya; “Apakah aku boleh mencium (isteriku) padahal aku sedang berpuasa?”Ya”, jawab beliau. Ia berkata; lalu kamipun saling memandang satu sama lain, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku tahu kenapa kalian saling berpandangan satu sama lain; sesungguhnya orang yang sudah tua itu dapat menahan nafsu syahwatnya.”

 

Musnad Ahmad 6452: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunaniy dan Daud bin Abu Hind dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: Laa Ilaaha illAllahu Wahdahuu Laa Syariikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa `Alaa kulli Syai`in Qodiir (tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, baginyalah segala kekuasaan dan pujian. Dan Dia mampu atas segala sesuatu), sebanyak seratus kali dalam sehari, tidak ada yang bisa mendahuluinya baik orang sebelum atau sesudahnya kecuali orang yang bisa melakukan yang lebih banyak dari yang ia lakukan.”

 

Musnad Ahmad 6453: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mendengar satu kaum saling membenturkan ayat Allah. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena hal yang demikian, mereka membenturkan kitab Allah yang satu dengan yang lainnya, sesungguhnya kitab Allah turun saling membenarkan antara sebagian dengan sebagian yang lainnya, maka janganlah kalian dustai sebagian dengan sebagian yang lain, apa-apa yang kalian ketahui darinya maka katakanlah, dan apa-apa yang kalian tidak ketahui maka kembalikanlah kepada yang tahu.”

 

Musnad Ahmad 6454: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami maka bukan dari golongan kami, dan tidak juga orang yang memata-matai di jalan, maka barangsiapa terbunuh bukan atas dasar tersebut maka pembunuhan itu adalah semi sengaja, diyatnya adalah diperberat dan pelakunya tidak dibunuh, dia haram dan terjaga sebagaimana haramnya bulan haram.”

 

Musnad Ahmad 6455: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad dan Husain bin Muhammad mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid dari Sulaiman bin Musa, Husain berkata dalam haditsnya; telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena tidak sengaja, maka tebusan dendanya adalah seratus ekor unta, terdiri dari; tiga puluh Banat Makhodl (unta yang berumur dua tahun), tiga puluh Banat Labun (unta yang berumur tiga tahun), tiga puluh Hiqqoh (unta yang berumur empat tahun), dan sepuluh Banu Labun (unta yang berumur tiga tahun) laki-laki.”

 

Musnad Ahmad 6456: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Darroj dari Abdurrahman bin Jubair berkata; bahwa Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash menceritakan kepadanya, bahwa ada beberapa orang lelaki dari Bani Hasyim masuk ke rumah Asma’ binti ‘Umaisy yang ketika itu menjadi isteri Abu Bakar, ketika kemudian Abu Bakar masuk ke rumah, dia melihat mereka dan merasa tidak suka (terhadap tindakan mereka), maka diapun mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam seraya berkata; “aku hanya menginginkan kebaikan.” Maka Rasulullah pun bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menyelamatkannya perzinaan”, kemudian beliau berdiri di atas mimbar dan bersabda: “Setelah hari ini janganlah sekali-kali seorang lelaki masuk ke dalam rumah seorang wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya kecuali ia bersama seorang lelaki atau lebih.”

 

Musnad Ahmad 6457: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad -yaitu Abu Ibrahim Al Mu`aqqob telah menceritakan kepada kami Marwan telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Amru Al Fuqaimi telah menceritakan kepada kami Mujahid dari Junadah bin Abu Umayyah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa membunuh ahli dzimmah (orang kafir yang berada dalam perlindungan pemerintahan Islam) maka ia tidak akan mencium bau wanginya surga, padahal bau wanginya tersebut dapat tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan.”

 

Musnad Ahmad 6458: Telah menceritakan kepada kami Al Husain telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Az Zinad dari Abdurrahman -yaitu Ibnul Harits- telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa dia mendengar seorang lai-laki dari Bani Muzainah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang seekor unta yang tersesat? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apa urusanmu dengannya, padahal ia masih mempunyai sepatu (kakinya) dan masih membawa air (dalam perutnya)?” Dia bertanya lagi; “Bagaimana dengan kambing yang tersesat?” beliau menjawab: “Maka ia menjadi milikmu, atau saudaramu atau srigala.” Dia bertanya lagi; “Lalu bagaimana jika ada yang mengambilnya dari tempat gembalaannya?” Beliau menjawab: “Maka dia harus dihukum dan mengganti dengan harga yang sepadan, dan barangsiapa melepaskan dari tali ikatan atau mengeluarkan dari kandangnya maka ia harus dipotong tangannya.” Dia bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kurma yang ada di dalam keranjang?” Beliau menjawab: “Tidak ada alasan untuk mengambilnya bagi orang yang memakannya, maka barangsiapa mengambil dengan secara sembunyi-sembunyi ia wajib menggantinya dengan harga yang sepadan dan dihukum. Dan barangsiapa mengambil sesuatu darinya setelah disimpan dalam tempat penyimpanan (gudang), atau memecahkan pintunya, kemudian ia mengambil senilai dengan harga sebuah tameng, maka tanganya wajib untuk dipotong.” Dia bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan harta yang kami temukan dalam bangunan yang roboh atau bebatuan (seperti di gurun)? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab: “Padanya dan pada harta yang ditemukan dalam keadaan terpendam terdapat kewajiban mengeluarkan (zakat) sebanyak seperlima.”

 

Musnad Ahmad 6459: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Al Khaffaf telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dia berkata; “Aku tidak mempunyai harta dan aku mengasuh seorang anak yatim.” Maka Beliau bersabda: “Makanlah dari harta anak yatim yang berada dalam asuhanmu itu dengan tidak berlebih-lebihan.” Atau beliau mengatakan: “Janganlah kau tebus hartamu dengan hartanya.” (Pada bagian ini) Husain agak ragu.

 

Musnad Ahmad 6460: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Muslim -yaitu Ibnu Khalid- dari Abdurrahman -yaitu Ibnu harmalah- dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Satu orang pengendara adalah satu setan, dua orang pengendara adalah dua setan, dan tiga orang pengendara adalah sebuah kafilah.”

 

Musnad Ahmad 6461: Telah menceritakan kepada kami Al Khuza’i -yaitu Abu Salamah- ia berkata; telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid -yaitu Ibnul Hadi- dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, dari berbuat dosa, dan dari hutang yang tidak terbayar. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari fitnah al masih Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka”

 

Musnad Ahmad 6462: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad – yaitu Ibnu Salamah- dari Tsabit dari Abu Ayyub berkata; bahwa Nauf dan Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash sedang berkumpul, lalu Nauf berkata: “Kalau seandainya langit dan bumi beserta isinya diletakkan pada satu neraca timbangan kemudian LAA ILAAHA ILLALLAAH diletakkan pada satu sisi yang lain maka niscaya akan lebih condong (berat) neraca yang diletakkan padanya LAA ILAAHA ILLALLAAH. Dan kalau seandainya langit dan bumi beserta isinya berbentuk satu piring yang terbuat dari besi kemudian ada seorang lelaki yang mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH maka niscaya ia akan melobanginya hingga sampai kepada Allah ‘azza wajalla. Lalu Abdullah bin ‘Amru berkata; kami melaksanakan shalat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan orang-orang ada yang masih menunggu dan ada yang sudah pulang, kemudian datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan hampir-hampir lututnya tersingkap, lalu beliau bersabda: “Wahai kaum muslimin, bergembiralah kalian sebab Rabb kalian telah membuka satu pintu dari pintu-pintu langit dengan membanggakan kalian kepada para malaikat-Nya seraya berkata: “Mereka adalah hamba-hamba-Ku, mereka melaksanakan kewajiban kemudian menunggu kewajiban yang lain.”

 

Musnad Ahmad 6463: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Muthorrif bin Abdullah bin Asy- Syikhir dia berkata; bahwa Nauf dan Abdullah bin ‘Amru sedang berkumpul, maka Nauf berkata; maka disebutlah hadits tersebut. Maka Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; “akan aku sebutkan kepadamu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ” dia berkata; kami shalat bersama dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada suatu malam, maka orang-orang datang silih berganti, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam datang sebelum manusia siap (berdiri) untuk menunaikan shalat isya`. Beliau datang dengan hati yang penuh semangat seraya mengangkat jarinya sepeti ini; beliau menggenggam dua puluh sembilan jarinya dan mengacungkan jari telunjuknya ke langit lalu berkata: “Wahai kaum muslimin, bergembiralah kalian sebab Rabb kalian telah membuka satu pintu dari pintu-pintu langit dengan membanggakan kalian kepada para malaikat-Nya seraya berkata: “Wahai para malaikat-Ku, lihatlah, mereka adalah hamba-hamba-Ku, mereka melaksanakan kewajiban kemudian menunggu kewajiban yang lain.” Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammmad bin Salamah dari Tsabit Al Bunnani dari Abu Ayub Al Azdi dan dari Nauf dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seperti di atas, dan ditambahkan padanya “dan hampir-hampir lututnya tersingkap” dan “dengan hati yang khusyu'”.

 

Musnad Ahmad 6464: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Yazid Ibnu Abu Habib berkata; bahwa dia mendengar Abu Al Khair berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata: bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “Wahai Rasulullah, Islam yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang yang orang lain selamat dari keburukkan lisan dan tangannya.”

 

Musnad Ahmad 6465: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Hubairah dari Ibnu Muraih pembantu Abdullah bin ‘Amru, bahwa ia mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata: “Barangsiapa bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam satu kali, maka Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat baginya tujuh puluh kali.”

 

Musnad Ahmad 6466: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Al Harits bin Yazid dari Salamah bin Uksum, dia berkata; aku mendengar Ibnu Hujairoh bertanya kepada Al Qosim bin Al Barhi; bagaimana kamu mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash mengkhabarkan? Dia berkata; aku mendengarnya berkata: “Sesungguhnya ada dua orang yang saling berselisih mengadu kepada ‘Amru bin Al ‘Ash, lalu dia memutuskan perkara mereka berdua. Tetapi orang yang diputuskan perkaranya itu marah seraya mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan mengadukan masalahnya kepada beliau, maka beliaupun bersabda: “Jika seorang qodhi (hakim) memutuskan suatu perkara, lalu ia berijtihad dan ijtihadnya tersebut benar maka ia mendapat sepuluh pahala, dan jika ijtihadnya salah maka ia mendapatkan satu atau dua pahala.”

 

Musnad Ahmad 6467: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman Ath Thofawi dan Abdullah bin bakr As Sahmi dan maknanya satu, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sawwar Abu Hamzah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Perintahlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika menolak sedang umur mereka masuk sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka. Jika di antara kalian menikahkan budak atau pelayannya, maka jangang sekali-kali melihat sesuatu dari auratnya. Karena sesungguhnya, apa-apa yang berada antara pusar sampai lututnya adalah aurat baginya.”

 

Musnad Ahmad 6468: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Hammad -yaitu Ibnu Salamah- telah mengkhabarkan kepada kami Habib Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling angkuh dan semena-mena di hadapan Allah Azza Wa Jalla adalah orang yang membunuh di tanah haram, atau membunuh orang yang tidak bersalah, atau membunuh karena dendam Jahilliyah.”

 

Musnad Ahmad 6469: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil dan Yunus mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin ‘Amru dari Bisyr bin ‘Ashim Ats Tsaqafi dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru. -Nafi’ berkata: dan aku tidak mengetahuinya kecuali dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.- Bapakku berkata: -Dan Yunus tidak ragu-ragu, – dia berkata dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla membenci seorang lelaki pencela yang selalu mencela seperti seekor sapi yang mengunyah makanan dalam mulutnya.”

 

Musnad Ahmad 6470: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Dawud bin Qois aku mendengar ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya tentang Al Faro` (anak unta yang baru lahir). Maka beliau menjawab: “Al Faro` adalah haq (boleh untuk disembelih), namun jika kalian membiarkannya sehingga dagingnya keras, atau seperti unta yang berumur dua atau tiga tahun, kemudian kalian bisa membawanya ke jalan Allah, atau kalian berikan kepada seorang janda adalah lebih baik daripada kalian sembelih padahal dagingnya masih menempel dengan kulit, bejanamu jadi penuh dan induk unta tersebut menjadi sedih karenanya.”

 

Musnad Ahmad 6471: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibnul Musaiyab dan Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menemui aku dan bertanya: “Apakah benar bahwa engkau bangun malam, ” atau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apakah engkau yang berkata; sungguh aku benar-benar akan bangun di malam hari dan puasa di siang hari?” dia berkata; aku mengira bahwa itu benar. Dia menjawab: “Benar wahai Rasulullah, aku telah mengatakan hal tersebut.” Beliau berkata: “Hendaklah kamu bangun dan tidur, puasa dan berbuka. Puasalah kamu tiga hari dalam setiap bulannya maka engkau akan mendapatkan pahala seperti puasa dahr (satu tahun penuh).” Aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mampu lebih dari itu.” Beliau menjawab; “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling seimbang, dan itu adalah puasa dawud.” Aku berkata; “Sesungguhnya aku mampu yang lebih afdlol dari itu” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada yang lebih utama dari itu.” Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Hafshah telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Sa’id Ibnul Musaiyyab dan Abu Salamah Ibnu Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; telah disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwa aku berkata; “sungguh aku akan berpuasa terus menerus dan akan bangun malam terus menerus selama aku masih hidup” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kamukah orang yang telah berkata; ” atau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “engkau katakan; sungguh aku akan puasa terus menerus dan akan bangun malam selama aku masih hidup.” Dia berkata; aku menjawab; “Ya.” Beliau berkata: “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu untuk itu.” Beliau berkata lagi: “Hendaklah kamu bangun dan tidur, puasa dan berbuka. Puasalah kamu tiga hari dalam setiap bulannya, sesungguhnya satu kebaikkan akan berbuah sepuluh yang semisal.” Maka dia menyebutkan makna hadits tersebut. Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad dari Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata; telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam masuk menemui aku kemudian dia sebutkan sebagaimana hadits Az Zuhri.

 

Musnad Ahmad 6472: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Atho` Ibnu As Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru, ia berkata; “telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat dan memanjangkan waktu berdirinya, kemudian beliau rukuk dan memanjangkan rukunya, kemudian beliau bangun dan memanjangkannya pula.” -Syu’bah berkata; dan aku mengira bahwa ia mengatakan kalau sujud Rasulullah juga semisal itu.- “Beliau menangis dalam sujudnya, lalu beliau meniup seraya berkata; “Wahai Rabb, kenapa Engkau janjikan ini padahal aku meminta ampun kepada-Mu, kenapa Engkau janjikan ini padahal aku masih bersama mereka.” Maka ketika beliau selesai shalat beliau bersabda: “Aku diperlihatkan surga, sampai-sampai andai aku bentangkan tanganku sungguh aku akan dapat menggapai buah-buahan darinya. Dan aku juga diperlihatkan neraka, sehingga aku meniup karena kawatir panas apinya akan mengenai kalian, aku melihat di dalamnya orang yang telah mencuri dua unta milikku -Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, – aku juga melihat di dalamnya saudara Bani Da`da` pencuri (harta) jama’ah haji. Maka ketika dipahamkan kepadanya ia berkata; ini adalah perbuatan yang buruk.” Aku juga melihat seorang wanita panjang dan hitam dari suku Himyar sedang di siksa karena sebab seekor kucing yang ia ikat, tidak diberi makan, tidak diberi minum, dan tidak pula dilepas untuk makan hewan-hewan serangga bumi sehingga kucing itu mati. Sesungguhnya matahari dan rembulan tidaklah menjadi gerhana karena adanya kematian atau lahirnya seseorang, tetapi keduanya adalah ayat dari ayat-ayat Allah, maka jika terjadi gerhana pada salah satunya, ” atau dia berkata; “telah terjadi sesuatu dari keduanya maka bersegeralah berdzikir kepada Allah.” Bapakku berkata: Ibnu Fudlail meriwayatkan: “Kenapa Engkau siksa mereka padahal aku bersama mereka, kenapa engkau siksa mereka padahal kami meminta ampun kepada-Mu.” Dan Syu’bah sejutu dengan penambahan tersebut. Dia berkata; “dari serangga bumi.” Demikian Mu’awiyah menceritakan kepada kami.

 

Musnad Ahmad 6473: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Mujahid dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa ia menikah dengan wanita Quraisy, tetapi dia tidak pernah mendatanginya (tidur), dia telah disibukkan oleh puasanya. Maka diceritakanlah hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan beliaupun bersabda: “Puasalah tiga hari dalam satu bulannya.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu.” Dan dia selalu berkata begitu, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata kepadanya: “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari.” Beliau juga bersabda kepadanya: “Bacalah (katamkan) Al Qur`an dalam sebulan.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Bacalah Al Qur`an dalam lima belas hari.” Dia berkata; “Aku mampu lebih dari itu.” Beliau berkata: “Bacalah ia dalam tujuh hari.” Sehingga Nabi bersabda pula: “Bacalah ia dalam tiga hari.” Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan itu ada waktu semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa jenuhnya, maka barangsiapa semangatnya cenderung kepada sunahku dia beruntung, dan barangsiapa masa jenuhnya cenderung kepada selain itu maka ia celaka.”

 

Musnad Ahmad 6474: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Habib dia berkata; aku mendengar Abbul ‘Abbas berkata: aku mendengar Abdullah bin ‘Amru menceritakan: bahwa seorang laki-laki datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk izin berjihad, maka beliau bersabda: “apakah kedua orang tuamu masih ada?” Ia menjawab: “Iya.” Maka Beliau bersabda: “Hendaklah kepada keduanya kamu berjihad.”

 

Musnad Ahmad 6475: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Habib dari Abul Abbas dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda. Bapakku berkata; telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Habib bin Abu Tsabit berkata; aku mendengar Abul Abbas Asy Sya’ir – dia derajatnya shaduq- menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Wahai Abdullah bin ‘Amru sesungguhnya engkau telah berpuasa terus-menerus, jika engkau selalu berpuasa tanpa henti dan juga shalat malam, maka hal itu dapat merusak mata dan melemahkan jiwa. Tidak dikatakan berpuasa seseorang yang berpuasa terus menerus tanpa henti, puasalah selama tiga hari dalam sebulan, maka itu adalah puasa sepanjang masa secara sempurna.” Dia berkata; Aku berkata; “sesungguhnya aku mampu lebih dari itu.” Beliau menjawab: “Kalau begitu puasalah sebagaimana puasanya dawud, sesungguhnya ia berpuasa sehari dan berbuka sehari, dan dia tidak pernah lari jika telah bertemu dengan musuh.” Rauh berkata: “melemahkan jiwa.”

 

Musnad Ahmad 6476: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman ia berkata; aku mendengar Abu Wa`il menceritakan kepada Masruq dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Kalian belajarlah Al Qur`an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas’ud, dari Salim pelayan Abu Hudzaifah, dari Mu`adz bin Jabbal dan dari Ubai bin Ka’ab.”

 

Musnad Ahmad 6477: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya), Abdullah bin Ahmad berkata: dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam itu bukan seorang yang keji dan suka berkata-kata keji.”

 

Musnad Ahmad 6478: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya), dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.”

 

Musnad Ahmad 6479: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dan Ibnu Numair dia berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Al A’masy dari Abdullah bin Murroh dari Masruq dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Ada empat perkara barangsiapa yang keempat perkara itu ada pada dirinya maka berarti ia adalah seorang munafiq, atau barangsiapa salah satu dari empat sifat itu ada pada dirinya berarti dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya: Jika berbicara bohong, jika berjanji mengingkari, jika membuat perjanjian berkhianat, dan jika bertengkar berlaku curang.”

 

Musnad Ahmad 6480: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Abdullah bin Bakr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Mathor dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidak berlaku seorang lelaki menceraikan (wanita) yang bukan isterinya, memerdekakan budak yang bukan miliknya, dan menjual barang dagangan yang bukan miliknya.”

 

Musnad Ahmad 6481: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika ditaklukkannya kota Makkah bersabda: “Seorang wanita tidak boleh dinikahi bersama bibinya baik dari garis ibu ataupun bapak.”

 

Musnad Ahmad 6482: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Sa’id Dari Qotadah dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah mengunjungi Juwairiyyah binti Al Harits yang saat itu sedang berpuasa pada hari Jum’at, maka beliaupun bertanya kepadanya: “Apakah kamu kemarin juga berpuasa?” “Tidak”, jawabnya. Beliau bertanya: “Apakah besok kamu juga akan berpuasa lagi?” “Tidak”, jawabnya. Beliau berkata: “Kalau begitu batalkanlah puasamu.” Berkata Sa’id; ” dalam lafazh ini telah menyepakatiku Mathor dari Sa’id bin al Musayyab.”

 

Musnad Ahmad 6483: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata di dalam khutbahnya ketika penaklukan kota Makkah “pada sepuluh jari, satu jari darinya denda sepuluh ekor unta, dan pada lima al Mawadlih (luka dalam sehingga terlihat tulangnya) setiap darinya adalah denda lima ekor unta.”

 

Musnad Ahmad 6484: Telah menceritakan kepada kami Bahz dari Hammad bin Salamah dari Ya’la bin ‘Atho` dari Nafi’ bin ‘Ashim dari Abdullah bin ‘amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: “Barangsiapa meminum khamer sehingga ia mabuk tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari, maka jika ia meminumnya lagi sehingga mabuk tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari, maka jika ia meminumnya lagi sehingga mabuk tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari, dan untuk kali ketiga dan keempat jika ia meminumnya tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari, jika ia bertaubat maka Allah tidak akan menerima taubatnya. Dan sudah menjadi hak bagi Allah untu memberinya minum dari Ainun Khobal.” Ditanya: “apa yang dimaksud dengan Ainun Khobal?” Beliau menjawab: “Nanah yang bercampur darah dari penghuni neraka.”

 

Musnad Ahmad 6485: Telah menceritakan kepada kami Bahz dan ‘Affan mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qotadah dari Abu Tsumamah Ats Tsaqofi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya rahim (hubungan kekerabatan) pada hari kiamat akan diwujudkan laksana hujnah (semisal alat untuk memintal benang), dia akan berbicara dengan lisan secara fasih dan jelas, dia akan menyambung bagi orang yang menyambungnya dan akan memutus bagi orang yang memutuskannya.” Affan berkata: Al Mi`zal (semacam tongkat untuk memintal kapas) dan berbicara dengan lisannya.

 

Musnad Ahmad 6486: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qotadah dari Yazid saudara Muthorrif dari Abdullah bin ‘Amru bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam; “dalam berapa hari aku boleh mengkatamkan bacaan Al Qur`an?” maka dia menyebutkan hadits. Yahya berkata: dia berkata dalam tujuh hari tidak akan bisa memahami isi al Quran bagi mereka yang mengkatamkannya kurang dari tiga hari. Dia berkata; “lalu bagaimana aku dalam berpuasa?” Beliau menjawab: “Berpuasalah kamu tiga hari dalam sebulannya, dan satu hari dalam sepuluh harinya, dan akan dituliskan bagimu pahala puasa sembilan hari sisanya.” Dia berkata; “sesungguhnya aku masih mampu untuk lebih dari itu.” Beliau menjawab: “berpuasalah dua hari pada setiap sepuluh hari, maka akan dituliskan bagimu pahala puasa delapan hari sampai dengan lima hari.”

 

Musnad Ahmad 6487: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al Hasan bin ‘Amru dari Ibnu Muslim. -Abdullah bin Ahmad berkata: riwayat ini ada dalam buku bapakku dari Al Hasan bin Muslim dengan mencoret Al Hasan. Sehingga dia berkata; dari Ibnu Muslim namanya adalah Muhamamd bin Muslim Abu Az Zubair, Al Azroq telah keliru-, dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Jika engkau lihat umatku tidak berani mengucapan kepada orang yang zhalim di antara mereka; ‘kamu zhalim! ‘ maka ia adalah bagian dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6488: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Rasyid bin Yahya dia berkata; bapakku berkata: Hasan Al Asyyab Rasyid Abu Yahya Al Ma’arifi berkata; bahwa ia mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Aku berkata; “Wahai Rasulullah, apa ghonimah dari majlis dzikir?” Beliau menjawab: “Ghonimah majlis dzikir adalah surga.”

 

Musnad Ahmad 6489: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam malaknat pemberi suap dan penerima suap.” Dan Yazid berkata: “Laknat Allah bagi pemberi dan panerima suap.”

 

Musnad Ahmad 6490: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya) telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melaknat pemberi dan penerima suap.”

 

Musnad Ahmad 6491: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkhabarkan kepada kami ‘Amir Al Ahwal dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Anak turun Adam tidak dibolehkan mengucapkan nadzar dengan sesuatu yang ia tidak sanggupi, tidak boleh membebaskan budak yang bukan miliknya, tidak boleh mencerai wanita yang bukan istrinya dan tidak boleh bersumpah dengan sesuatu yang ia tidak miliki.”

 

Musnad Ahmad 6492: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Mathor Al Warroq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidak dibolehkan mencerai istri, menjual barang, membebaskan budak, atau memenuhi nadzar yang tidak ia miliki.”

 

Musnad Ahmad 6493: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lebih lama berhenti di Jamroh Ats-Tsaniah daripada di Jamroh Al Ula, kemudian beliau mendatangi Jamroh Al Aqobah lalu melampar dan tidak berhenti di sana.”

 

Musnad Ahmad 6494: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Muhammad bin Hujadah telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berpaling ke kanan dan terkadang ke kiri di waktu shalat, minum sambil berdiri dan terkadang sambil duduk, shalat dengan memakai sandal dan terkadang tanpa alas kaki, puasa di waktu safar dan terkadang berbuka.”

 

Musnad Ahmad 6495: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al Muharibi telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Amru dari Abu Az Zubair dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika engkau lihat umatku tidak berani mengucapkan kepada orang yang zhalim, ‘engkau zhalim’ maka dia adalah bagian dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6496: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari Al Hasan bin ‘Amru Ats Tsaqofi dari Mujahid dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bukanlah yang disebut sebagai penyambung tali kekerabatan itu al Mukafi` (jika orang berbuat baik ia baik, jika orang berbuat jahat ia membalas jahat), tetapi yang disebut sebagai penyambung tali kekerabatan adalah seseorang yang jika ia diputuskan ia menyambungnya kembali.”

 

Musnad Ahmad 6497: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq dari Masruq dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ambillah Al Qur`an dari empat orang; dari Ibnu Mas’ud, Ubai bin Ka’ab, Mu`adz bin Jabl dan Salim pelayan Abu Hudzaifah.” Dia berkata: Abdullah berkata; “dia adalah laki-laki yang selalu aku sukai semenjak aku lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebutnya lebih dahulu.”

 

Musnad Ahmad 6498: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah mengkhabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu serta merta dengan mengangkatnya langsung dari manusia, akan tetapi Ia mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama`, sehingga jika orang-orang alim telah habis, manusia akan mengambil pemimpin-pemimpin yang bodoh, jika ditanya mereka memberi fatwa dengan tanpa ilmu, jadilah mereka sesat menyesatkan.” Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, ia berkata; Hisyam bin Urwah telah mendektekan untuk aku; telah menceritakan kepadaku bapakku Dia berkata; aku telah mendengar langsung dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash mulut ke mulut, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda. Kemudian disebutkanlah hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 6499: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis’ar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abul ‘Abbas Al Makki dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “sebaik-baik puasa adalah puasa yang dilakukan saudaraku Dawud, dia berpuasa sehari dan berbuka sehari, dan tidak pernah lari jika telah berjumpa dengan musuh.” Dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak disebut puasa orang yang berpuasa terus menerus tanpa berbuka.”

 

Musnad Ahmad 6500: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abi Wa`il dari Masruq dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah sawa: “Ambillah Al Qur`an dari empat orang; dari Ibnu Ummi `Abd (beliau menyebutnya lebih dahulu), dari Mu`adz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab dan Salim pelayan Abi Hudzaifah.”

 

Musnad Ahmad 6501: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepadaku Qurrah dan Rauh mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Asy’ats dan Qurrah bin Khalid Al Ma’na dari Al Hasan dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa meminum khamer maka cambuklah dia, jika mengulangi maka cambuklah dia, jika mengulangi maka cambuklah dia, jika mengulangi maka bunuhlah dia.” Waqi’ berkata dalam haditsnya: Abdullah berkata; datangkalah kepadaku seorang lelaki yang telah meminum khamer pada kali keempat, maka kewajibanku kepada kalian adalah dengan membunuhnya.

 

Musnad Ahmad 6502: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi. Dan Yazid berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Al Mas’udi dari ‘Amru bin Murroh dari Abdullah bin Al Harits Al Muktibi dari Abu Katsir Az Zubaidi dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “berhati-hatilah kalian dari sifat bakhil, sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, jika sifat itu menyuruh mereka berbuat zhalim, mereka pun berbuat zhalim, jika menyuruh mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan mereka pun memutuskannya, jika menyuruh berbuat dosa mereka pun berbuat dosa. maka berhati-hatilah kalian dari berbuat zhalim, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan kekejian dan perkataan keji.” Dia berkata; maka berdirilah seorang laki-laki seraya berkata: “Wahai Rasulullah, muslim yang bagaimanakah yang paling utama?” Beliau menjwab: “Yaitu seorang muslim yang kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya.” Dai berkata: maka berdirilah laki-laki tersebut, atau laki-laki lainnya seraya bertanya: “wahai Rasulullah, jihad yang bagaimanakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang kudanya terluka dan darahnya bersimbah.” Bapakku berkata; dan Yazid bin Harun berkata dalam haditsnya, kemudian ini atau yang lainnya berseru dan berkata: “Wahai Rasulullah, hijrah yang bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Engkau jauhi sesuatu yang telah dibenci oleh Rabbmu, sedangkan hijrah itu sendiri ada dua; Hijrah Al Hadlir dan Hijrah Al Badiy. Hijrah Al Badiy adalah taat apabila diperintah, dan selalu siap jika diseru. Adapun Hijrah Al Hadlir adalah hijrah yang lebih berat ujian dan pahalanya di antara kedua hijrah tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6503: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin `Abd Rabbul Ka’bah dari Abdullah bin ‘Amru berkata; aku duduk bersamanya di bawah naungan Ka’bah sedang dia ketika itu sedang berbicara dengan orang banyak. Dia berkata; kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam safar, maka kami pun singgah di suatu tempat, di antara kami ada yang memasang tenda, ada yang tidur di rerumputan dan ada yang bermain panahan ketika ada panggilan yang menyeru: ‘Ash Shalaatu Jami’ah’. Dia berkata; maka aku menuju kepadanya dan beliau waktu itu sedang berkhutbah di hadapan manusia seraya bersabda: “Wahai manusia sekalian, tidaklah ada seorang Nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya menunjukkan kepada umatnya sesuatu yang ia anggap baik untuk mereka, serta mengingatkan mereka apa-apa yang ia anggap buruk atas mereka. Sesungguhnya keselamatan umat ini adalah pada masa permulaannya, dan pada penghujungnya akan tertimpa musibah dan fitnah yang bisa menjadikan lemah sebagian dengan sebagian yang lain. Ketika fitnah itu datang maka seorang mukmin akan berkata; ini adalah kebinasaannku lalu fitnah itu hilang. Kemudian fitnah itu datang lagi, maka ia berkata; ini dan ini. Kemudian fitnah itu datang lagi, maka ia berkata; ini dan ini. kemudian fitnah itu hilang.” Beliau bersabda: “Maka barangsiapa ingin terhindar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, ketika datang kematiannya hendaknya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir. Berbuat baik kepada manusia sebagaimana ia suka bila mereka berbuat baik kepadanya. Maka barangsiapa berbaiat kepada seorang Imam, dan dia telah menyerahkan uluran tangan dan keteguhan hatinya, hendaklah ia taat kepadanya jika mampu.” Dan bersabda pada kesempatan lain: “semampunya.” Maka ketika aku telah mendengarnya akupun menyelipkan kepalaku di antara dua orang laki-laki. Dan Aku berkata; “sesungguhnya putra pamanmu -Mu’awiyah- telah menyuruh kita.” Lalu ia pun meletakkan kedua telapak tangannya di mukanya seraya menunduk kemudian mengangkat kepalanya ke atas. Dia berkata; “Taatilah ia dalam ketaatan kepada Allah dan ingkarilah ia ketika bermaksiat kepada Allah.” Aku berkata; “apakah hal ini kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam?” Dia menjawab: “Benar, telingaku sendiri yang mendengarnya dan juga hatiku.” Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar Abul Mundzir telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abu Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi As Safar dari Asy Sya’bi dari Abdurrahman bin Abdu Rabbul Ka’bah Ash Sha’idi berkata; “aku melihat sekelompok orang di Ka’bah, maka aku pun ikut duduk bersama mereka, dan ternyata ada seseorang yang sedang berbicara kepada mereka. Dan ternyata orang itu adalah Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; “kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kemudian singgah di suatu tempat.” Kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 6504: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abi Wa`il dari Masruq berkata; kami mendatangi Abdullah bin ‘Amru, lalu kami bercakap-cakap di sisinya, maka ketika kami menyebut-nyebut Abdullah bin Mas’ud pada suatu hari ia langsung berkata: “kalian telah menyebut seorang laki-laki yang selalu aku sukai semenjak aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ambillah Al Qur`an dari empat orang; dari Ibnu Ummi `Abd (beliau menyebutnya lebih dahulu), dari Mu`adz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab dan Salim pelayan Abi Hudzaifah.”

 

Musnad Ahmad 6505: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepadaku Khalifah bin Khayyath dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim tidak boleh dibunuh sebagai tebusan seorang kafir, dan juga tidak boleh dibunuh seorang kafir yang mempunyai ikatan perajanjian.”

 

Musnad Ahmad 6506: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepadaku Khalifah bin Khayyath dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda dalam khutbahnya dan beliau ketika itu menyandarkan punggungnya ke ka’bah; “Darah orang-orang muslim adalah sama antara satu dengan yang lain, dengan perlindungannya akan tertolong orang yang berada di bawah mereka, dan mereka adalah pelindung bagi kaum selain mereka.”

 

Musnad Ahmad 6507: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ dan Abdurrahman dari Sufyan dari Sa’d bin Ibrahim dari Raihan bin Yazid Al ‘Amiri dari Abdullah bin ‘Amru berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sedekah tidak halal bagi orang kaya dan juga orang yang sehat nan kuat.” Abdurrahman berkata: yakni orang yang kuat. Dan Abdurrahman bin Mahdi berkata: hadits itu tidak dimarfu’kan oleh Sa’d atau anaknya -Ibrahim bin Sa’d-.

 

Musnad Ahmad 6508: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Akan dikatakan kepada ahli Qur’an; bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil sewaktu di dunia karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang kau baca.”

 

Musnad Ahmad 6509: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Az Zuhri dari Isa bin Tholhah dari Abdullah bin ‘Amru berkata; bahwa seorang lelaki berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak sadar, aku telah menyembelih kurban sebelum melempar.” “Kalau begitu lemparlah jumrah dan kamu tidak ada dosa.” Jawab Nabi. Sahabat yang lain berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah berthallul padahal belum menyembelih kurban.” “Kalau begitu berkurbanlah dan kamu tidak ada dosa.” Jawab Nabi. Maka setiap Nabi ditanya tentang sesuatu baik yang telah dikerjakan ataupun belum, beliau selalu menjawab; “kerjakanlah dan kamu tidak ada dosa.”

 

Musnad Ahmad 6510: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Abi ‘Imron Al jauni berkata: Abdullah bin Rabbah telah menulis untukku, dia menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa dia berkata; pada suatu hari yang panas aku berjalan menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ketika kami sedang duduk-duduk ada dua orang sahabat yang berselisih tentang ayat Allah, suara merekas angat keras. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian dahulu celaka karena mereka berselisih tentang isi kitab.”

 

Musnad Ahmad 6511: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abu Malik yakni ‘Ubaid bin Al Akhnas telah menceritakan kepada kami Alwalid bin Abdullah dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin ‘Amru, ia berkata; aku selalu menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam agar aku bisa menghafalkanya, namun hal itu dihalang-halangi oleh orang-orang Quraisy. Mereka berkata; “kenapa engkau tulis padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata sedang ia dalam kondisi marah dan ridla? Maka akupun vakum dari tulis-menulis sehingga hal itu aku sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Maka beliau pun bersabda: “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidaklah keluar darinya kecuali sesuatu yang haq.”

 

Musnad Ahmad 6512: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, Syu’bah berkata telah menceritakan kepada kami Manshur dari Hilal bin Yasaaf dari Abi Yahya dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: “Shalatnya orang yang duduk nilainya adalah setengah dari orang yang shalat dengan berdiri.”

 

Musnad Ahmad 6513: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari At Tamimi dari Aslam dari Abu Murayyah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, atau dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Dua Malaikat peniup sangkakala yang berada di langit kedua, kepala dari salah satu malaikat itu ada di timur sedang kedua kakinya di barat, ” atau beliau bersabda: “kepala dari salah satu malaikat itu ada di barat sedang kedua kakinya di timur, mereka sedang menunggu kapan diperintahkan untuk meniup sangkakala, ketika (perintah datang) maka mereka akan segera meniupnya.”

 

Musnad Ahmad 6514: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami At Taimi dari Aslam dari Bisyr bin Syaghaf dari Abdullah bin ‘Amru bahwa seorang arab badui bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang sangkakala, maka beliau bersabda: “Yaitu tanduk yang ditiup”

 

Musnad Ahmad 6515: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Isma’il dia berkata; telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amir dia berkata; seorang lelaki datang kepada Abdullah bin ‘Amru sedang disampingnya banyak para sahabat, lelaki tersebut nekat melangkahi orang-orang untuk sampai kepadanya, sehingga mereka pun berusaha menghalang-halanginya. Maka Abdullah pun berkata: “Biarkan dia.” Lalu lelaki itu mendekat dan duduk disampingnya seraya berkata: “Kabarkanlah kepadaku sesuatu yang telah engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Abdullah menjawab; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim adalah jika kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang telah dilarang oleh Allah.”

 

Musnad Ahmad 6516: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin Abdul Ka’bah dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa ingin dijauhkan dari api neraka, dan ingin dimasukkan ke dalam surga maka hendaklah ia menemui kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memberikan kepada manusia sesuatu yang ingin diberikannya kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6517: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ dari Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari seorang Syaikh yang dikenal dengan sebutan Abu Musa dari Abdullah bin ‘Amru. Sufyan berkata: aku memperkirakan riwayat ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Shalat dengan duduk itu nilainya setengah dari shalat yang dikerjakan dengan berdiri.”

 

Musnad Ahmad 6518: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Abdurrahman dari Sufyan dari Manshur dari Hilal bin Yasaf dari Abu Yahya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat suatu kaum, mereka berwudlu sedang tumit-tumit mereka kering dari air. Maka beliau pun bersabda: “Sempurnakanlah wudlu kalian, karena tumit-tumit yang tidak terbasuh adalah bagiannya neraka.”

 

Musnad Ahmad 6519: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qotadah dari seorang lelaki, -dia masih ragu- apakah Yazid atau Abu Ayub, dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsipa mengkatamkan Al Qur`an kurang dari tiga hari, maka dia tidak akan bisa memahami isinya.”

 

Musnad Ahmad 6520: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Mis’ar dan Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari Abbul ‘Abbas Al Makki dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam minta izin untuk pergi jihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “Apakah kedua orang tuamu masih ada?” “Masih” jawabnya. Beliau bersabda: “kepada keduanyalah hendaknya kamu berjihad.” Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengkhabarkan kepadku Habib bin Abu Tsabit dari Abbil ‘Abbas, ia berkata; aku bertanya kepada Abdullah bin ‘Amru tentang jihad. Maka ia pun menjawab: telah datang seorang lelaki kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 6521: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al Mas’udiy dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Al Harits Al Maktab, dari Abu Katsir Az Zubaidiy dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dia berkata; “Hijrah yang bagaimana yang paling utama?” beliau menjawab: “Yaitu engkau jauhi apa yang telah dibenci oleh Rabbmu, dan itu ada dua hijrah; Hijrah Al Hadlir dan Hijrah Al Badiy. Hijrah Al Badiy adalah engkau selalu taat jika diperintah, dan selalu siap jika diseru. Adapun Hijrah Al Hadlir adalah hijrah yang lebih berat ujian dan pahalanya di antara kedua hijrah tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6522: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir dari Abdullah, dia berkata; seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud muhajir itu?” beliau menjawab: “Yaitu orang yang menjauhi sesuatu yang telah dilarang oleh Allah.”

 

Musnad Ahmad 6523: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin Abdu Rabbil Ka’bah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa telah membai’at seorang Imam, sehingga ia serahkan kemantapan hati dan uluran tangannya, maka hendaklah ia taati Imam tersebut semampunya.”

 

Musnad Ahmad 6524: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ dari Sufyan dari Abdullah bin Al Hasan dari pamannya Ibrahim bin Muhammad bin Tholhah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang hartanya dirampas dengan tanpa hak, sehingga ia mati, maka ia mati sebagai syahid.”

 

Musnad Ahmad 6525: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Fithr. Dan Yazid bin Harun ia berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Fithr dari Mujahid dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya tali silaturahim itu bergantung di `Arsy, bukan disebut sebagai penyambung tali silaturahim orang yang menyambungnya, tetapi yang disebut sebagai penyambung tali silaturahim adalah orang yang jika diputus silaturahimnya ia selalu memperbaikinya.” Yazid berkata: yaitu orang yang menyambung.

 

Musnad Ahmad 6526: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq dan Ibnu Numair dia berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq dari Masruq dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam itu orang yang keji atau orang yang suka berkata keji. Beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya.” Sedangkan menurut Ibnu Numair, beliau berkata: “sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.”

 

Musnad Ahmad 6527: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Ishaq dari Wahb bin Jabir dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi makan olehnya.”

 

Musnad Ahmad 6528: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada suatu malam menemukan kurma di bawah rusuknya, kemudian beliau memakannya dan tidak tidur pada malam itu. Sehingga sebagian dari istri-istrinya berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tadi malam tidak tidur?” maka Beliau menjawab: “sesungguhnya aku telah menemukan kurma di bawah tulang rusukku dan aku memakannya, padahal di rumah kita ada kurma sedekah, maka aku kawatir jika apa yang aku makan itu adalah dari kurma sedekah.”

 

Musnad Ahmad 6529: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mubarak dari Yahya bin Abu Katsir dari Muhammad bin Ibrahim dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat aku sedang mengenakan baju yang telah dicelup dengan warna kuning, maka beliau pun bersabda, “Buanglah baju itu, sebab baju itu adalah baju untuk orang kafir.”

 

Musnad Ahmad 6530: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Dawud bin Qois Al Farro` dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya tentang Aqiqoh, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak suka dengan kedurhakaan, barangsiapa mendapatkan kelahiran anak kecil dan ingin menyembelih atas anak tersebut hendaknya ia laksanakan, dua ekor kambing yang pantas untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.”

 

Musnad Ahmad 6531: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ dari Sufyan dari Abdullah bin Hasan dari pamannya Ibrahim bin Muhammad bin Tholhah dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang hartanya dirampas dengan tanpa hak, sehingga ia mati, maka ia mati sebagai syahid”. Telah menceritakan kepada kami Waqi’ dari Khalifah bin Khayyath dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkhutbah sedang punggungnya disandarkan pada Ka’bah, kemudian ia menyebutkan hadits ini.

 

Musnad Ahmad 6532: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ dan Ishaq yakni Al Azroq, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Alqomah bin Mirtsad dari Alqasim bin Mukhaimirah dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah seorang dari kaum muslimin yang tertimpa musibah berupa sakit pada badannya, kecuali Allah Azza Wa Jalla akan memerintahkan malaikat penjaga yang selalu menjaganya, Allah berfirman: “Tulislah untuk hamba-Ku sebagaimana apa yang telah ia kerjakan, dan itu benar (tidak ada kebohongan) selama ia terpenjara oleh sakit dari-Ku.” Ishaq berkata: (Allah berfirman) “Tulislah untuk hamba-Ku pada setiap siang dan malam.” Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Abi Hushin dari Al Qosim bin Mukhaimirah dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebagaimana dalam riwayat tersebut.

 

Musnad Ahmad 6533: Telah menceritakan kepada kami Waqi’ telah menceritakan kepada kami Khalifah bin Khayyath dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim tidak boleh dibunuh karena (membunuh) orang kafir, dan tidak boleh dibunuh seorang kafir mu`ahad (kafir yang mempunyai ikatan perjanjian dengan kaum muslimin) selama perjanjiannya (berlaku).”

 

Musnad Ahmad 6534: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Wahb bin Jabir dari Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhuma, dia berkata; aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi makan olehnya”

 

Musnad Ahmad 6535: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abdullah bin Al Hasan dari Ibrahim bin Muhammad bin Tholhah dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang hartanya dirampas dengan tanpa hak, sehingga ia melawan dan mati, maka ia mati sebagai syahid.” Dan aku mengira Al A’raj telah menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah sebagaimana hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 6536: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Al harits dari Abu Salamah dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melaknat pemberi suap dan penerima suap.”

 

Musnad Ahmad 6537: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Hassan bin ‘Athiyah dari Abu Kabsyah As Saluli dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada empat puluh cabang kebaikkan, yang paling baik dari semuanya adalah Manihatul ‘Anz (binatang ternak yang dipinjamkan untuk diambil susunya), tidaklah seorang hamba beramal dari salah satu cabang kebaikkan tersebut dengan hanya mengharapkan pahala dan janji Allah, kecuali Allah akan memasukkannya ke surga.”

 

Musnad Ahmad 6538: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Salim -yaitu Ibnu Haiyyan- dari Sa’id bin Miina` Aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya engkau.” Ayahku berkata; Affan telah menceritakannya kepada kami, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Salim bin Haiyyan berkata; telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Miina` berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata kepadaku: “Telah sampai kabar kepadaku bahwa engaku berpuasa di siang hari dan shalat di malam harinya, jangan engkau lakukan hal itu sebab jasadmu punya hak atas dirimu, matamu punya hak atas dirimu, dan istrimu juga punya atas dirimu. Maka berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulannya, dan itu adalah puasa sepanjanng masa.” Aku berkata; “sesungguhnya aku mempunyai kemampuan.” Beliau menjawab: “Kalau begitu berpuasalah seperti puasanya Dawud; engkau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Dia berkata; Ibnu ‘Amru berkata: “sekiranya aku mengambil keringanan.” Affan dan Bahz berkata: “aku mendapatkan pada diriku kekuatan.”

 

Musnad Ahmad 6539: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami ‘Atho` Ibnu As Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata: “Aku datang untuk berbai’at kepadamu, dan aku telah tinggalkan kedua orang tuaku dalam kondisi menangis.” Beliau bersabda: “Kembalilah kamu kepada mereka, buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.” Dan dia menolak untuk membai’atnya.

 

Musnad Ahmad 6540: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengaku-ngaku bernasab kepada orang yang bukan ayahnya sendiri, maka dia tidak akan mendapatkan baunya surga, padahal bau surga telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.”

 

Musnad Ahmad 6541: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al hakam dia berkata; aku mendengar Saif menceritakan dari Rusyd Al Hajari dari bapaknya, dia berkata; bahwa seorang lelaki berkata kepada Abdullah bin ‘Amru; “Ceritakanlah kepadaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan tinggalkanlah untukku apa yang engkau dapat dari perang yarmuk.” Dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim adalah jika kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya.” Telah menceritakan kepada kami, Husain telah menceritakan kepada kami, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, Al Hakam aku mendengar Saif bercerita dari Rusyaid Al Hajari kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Kecuali lafazh yang dia katakan; “dan tinggalkanlah untuk kami dan apa-apa yang engkau dapat dari perang yarmuk.”

 

Musnad Ahmad 6542: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murroh dari Abdullah bin Al Harits dari Abu Katsir dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Hati-hatilah kalian dari berbuat zhalim karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat, dan hati-hatilah kalian dari perkara keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan perkara keji dan perbuatan yang keji, dan hati-hatilah kalian dari sifat bakhil, karena sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang terdahulu, karena jika sifat bakhil itu memerintahkan untuk memutuskan hubungan kekerabatan mereka pun memutuskan hubungan, dan jika memerintahkan untuk bakhil mereka pun bakhil, dan jika memerintahkan untuk berbuat jahat mereka pun berbuat jahat.” Dia berkata; lelaki itu berdiri dan bertanya: “Wahai Rasulullah, lalu Islam yang bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yaitu jika kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tanganmu.” Lelaki itu berkata: atau yang lain berkata: “Wahai Rasulullah hijrah yang bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yaitu engkau jauhi apa-apa yang telah Allah larang, sedangkan hijrah itu sendiri ada dua; hijrah al hadlir dan al badiy. Hijrah al badiy adalah selalu taat jika diperintah dan selalu memenuhi jika diseru. Dan hijrah al Hadlir adalah yang paling banyak ujian dan pahalanya di antara keduanya.”

 

Musnad Ahmad 6543: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hasyim Ibnul Qosim mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murroh dari Ibrahim dari Masruq dia berkata: Mereka menyebut-nyebut Ibnu Mas’ud dihadapan Abdullah bin ‘Amru, maka Abdullah bin ‘Amru pun berkata: “Dia adalah seorang laki-laki yang selalu aku sukai semenjak aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “belajarlah Kalian Al Quran dari empat orang; dari Ibnu Mas’ud, dari Salim pelayan Abi Hanifah, dari Ubai bin Ka’ab dan dari Mu`adz bin Jabal.”

 

Musnad Ahmad 6544: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murroh telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki yang berada di rumah Abu ‘Ubaidah, bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Amru bercerita kepada Abdullah bin Umar, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang dengan amalannya ia ingin didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkannya kepada para pendengar dari hamba-Nya, dan Dia akan mengkerdilkan dan meremehkannya.” Dia berkata; maka berlinanganlah air mata Abdullah bin Umar.

 

Musnad Ahmad 6545: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dan Hajjaj mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’id bin Ibrahim dari Humaid, Hajjaj berkata; aku mendengar Humaid bin Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk dosa yang paling besar adalah bila seseorang mencela kedua orangtuanya.” Para sahabat bertanya: bagaimana mungkin seseorang berani mencela kedua orangtuanya?” Beliau menjawab: “yaitu dia mencela bapak orang lain, kemudian orang tersebut balas mencela bapaknya, dan ia mencela ibu orang lain, kemudian orang itu balas mencela ibunya.”

 

Musnad Ahmad 6546: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qotadah dari Yazid bin Abdullah dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda: “Tidak akan bisa memahami isi Al Qur`an orang yang mengkatamkannya kurang dari tiga hari”.

 

Musnad Ahmad 6547: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq aku mendengar Wahb bin Jabir berkata; sesungguhnya pelayan Abdullah bin ‘Amru telah berkata kepadanya; “Sesungguhnya aku ingin menghabiskan bulan ini di sini (Baitul Maqdis).” Maka Abdullah bin ‘Amru berkata kepadanya: “apakah engkau telah meninggalkan makanan buat keluargamu di bulan ini?”Tidak” jawabnya. Abdullah berkata; “kalau begitu pulanglah ke keluargamu, tinggalkan buat mereka sesuatu yang bisa mereka makan, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Cukuplah seseorang itu sebagai pendosa jika ia telah menyia-nyiakan orang yang harus diberi makan olehnya.”

 

Musnad Ahmad 6548: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar dari Abbil ‘Abbas bahwa dia menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bersabda kepadaku: “Bacalah Al Qur`an dalam satu bulan.” Aku berkata; “sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Dan aku terus meminta tambah kepada beliau sehingga beliau bersabda: “Bacalah Al Qur`an dalam lima hari, dan berpuasalah selama tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata; “sesungguhnya aku mampu untuk lebih banyak dari itu.” Beliau bersabda: “kalau begitu berpuasalah dengan puasa yang paling disukai oleh Allah, yaitu puasa dawud ‘Alaihis Salam, dia puasa satu hari dan berbuka satu hari.”

 

Musnad Ahmad 6549: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Amir Al Ahwal dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sungguh, tidak akan bisa untuk saling mewarisi dua orang yang berbeda agama.”

 

Musnad Ahmad 6550: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hind dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa ada beberapa orang sedang duduk-duduk di pintu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Sebagian dari mereka berkata; “bukankah Allah telah berfirman begini dan begini?” Dan yang lain juga berkata: “bukankan Allah telah berfirman begini dan begini?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun mendengar perdebatan tersebut, Lalu beliau keluar dengan wajah yang merah padam seperti buah anggur seraya bersabda: “apakah untuk seperti ini kalian diperintahkan dan dihidupkan, kalian benturkan Kitab Allah sebagian dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian dahulu sesat juga karena seperi ini, padahal kalian tidak ada sangkutannya dengan persoalan ini. Maka perhatikanlah oleh kalian semua; jika kalian diperintahkan hendaknya dilaksanakan dan jika kalian dilarang maka jauhilah.” Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad -yaitu Ibnu Salamah- dari Humaid dan Mathor Al Warroq dan Dawud bin Abu Hind dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam keluar menemui para sahabatnya yang sedang berselisih tentang masalah taqdir, sebagian mensitir ayat dan sebagian lain mensitir ayat, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut.

 

Musnad Ahmad 6551: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Sa`ib bin ‘Amru dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Al haram (kota Suci Makkah) akan ditempati oleh seorang lelaki dari quraisy dan menghalalkannya, yang mana jika dosa-dosanya ditimbang dan dibandingkan dengan dosa-dosa tsaqolain (semua manusia dan jin) niscaya dosanya lebih berat.

 

Musnad Ahmad 6552: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sembahlah Ar Rahman (Allah), sebarkanlah salam, berilah makan kepada orang miskin, maka engkau akan masuk surga.”

 

Musnad Ahmad 6553: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa ada seorang lelaki berdoa: “Ya Allah, ampunilah aku dan Muhammad saja.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “sungguh engkau telah menghalangi doa tersebut untuk orang banyak”

 

Musnad Ahmad 6554: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Walid telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ayyasy dari Sulaiman bin Sulaim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Umaimah bin Ruqoiqoh datang kepada Rasulullah untuk berbai’at kepada Islam, maka Rasul pun bersabda: “Aku membai’atmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan yang lain, untuk tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak berbuat dusta yang kau ada-adakan antara tangan dan kakimu, untuk tidak meratapi (mait), dan untuk tidak berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu.”

 

Musnad Ahmad 6555: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Walid telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ayyasy dari Muhammad bin Ziyad Al Alhani dari Abu Rasyid Al Hubrani dia berkata; aku mendatangi Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, aku katakan kepadanya: “ceritakan kepada kami apa yang telah engkau dengar dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Maka dia menyodorkan ke tanganku sebuah lembaran shahifah seraya berkata: “Ini yang dituliskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam untukku.” Maka akupun melihat lembaran shahifah tersebut, dan aku dapatkan dalam lembaran tersebut bahwa Abu Bakar Ash Shidiq pernah bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, ajarilah aku, apa yang harus aku ucapkan ketika berada pada waktu pagi dan sore hari?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab: “wahai Abu Bakar, ucapkalah: ALLAHUMMA FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDLI, `AALIMAL GHAIBI WASY SYAHAADAH, LAA ILLAHA ILLA ANTA, RABBA KULLI SYAI` WA MALIIKAHU, A`UUDZU BIKA MIN SYARRI NAFSII WA MIN SYARRI ASY SYAITHAANI WA SYIRKIHI, WA AN AQTARIFA `ALAA NAFSII SUU`AN AU AJURROHU ILA MUSLIM (Ya Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan yang mengetahui yang Ghaib dan yang nyata, tiada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, Tuhan yang menguasai segala sesuatu dan merajainya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekkan pada diriku atau aku mendorongnya pada seorang muslim).”

 

Musnad Ahmad 6556: Telah menceritakan kepada kami Abu Mughirah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Ghoz telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam turun dari suatu tempat yang bernama Tsaniyah Adzakhir.” Dia berkata; “maka beliau melihat ke arahku, sedang aku waktu itu menggunakan kain tipis nan lembut yang sudah dicelup dengan warna kuning. Maka beliau pun berkata: “apa-apaan ini”! aku tahu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan tidak suka. Lalu aku pulang dan menemui keluargaku, waktu itu mereka sedang menghidupkan tungku masak, maka akupun segera melepas kainku dan aku lemparkan ke dalam tungku masak tersebut. Kemudian aku kembali menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan kain itu?” dia berkata; aku berkata; “aku tahu bahwa engkau tidak suka dengan kain tersebut, maka aku pun pulang ke rumahku menemui mereka, dan aku dapati mereka sedang menyalakan tungku masak sehingga aku masukkan kain tersebut ke dalam tungku.” Maka beliau pun bersabda: “kenapa tidak kamu pakaikan saja untuk sebagian keluargamu.” Dan dia menyebutkan bahwa ketika turun dari Tsaniyah Adzakhir, Rasulullah shalat bersama dengan mereka dan menghadap ke arah tembok yang dijadikan sebagai kiblat. Lalu muncullah seekor anak kambing lewat di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka Nabi pun berusaha mencegah anak kambing tersebut sambil terus mendekat ke arah tembok. Sehingga aku lihat perut Nabi menempel tembok dan anak kambing itu lewat di belakang beliau.”

 

Musnad Ahmad 6557: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Hassan bin ‘Athiyyah dia berkata; aku mendengar Abu Kabsyah As Saluli berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada empat puluh cabang kebaikkan, yang paling baik dari semuanya adalah Manihatul ‘Anz (binatang ternak yang dipinjamkan untuk diambil susunya), tidaklah seorang hamba beramal dari salah satu cabang kebaikkan tersebut dengan hanya mengharapkan pahala dan janji Allah, kecuali Allah akan memasukkannya ke surga”

 

Musnad Ahmad 6558: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhajir telah mengkhabarkan kepadaku `Urwah bin Ruwaim dari Ibnu Ad Dailami yang tinggal di Baitul maqdis, dia berkata; “kemudian aku bertanya kepadanya; wahai Abdullah bin ‘Amru apakah engkau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah menyebutkan bahwa peminum khamer akan mendapatkan hukuman tertentu?” Dia menjawab; “Ya, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah seseorang dari umatku meminum khamer kecuali Allah akan menolak ibadah shalatnya selama empat puluh hari.”

 

Musnad Ahmad 6559: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya), dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “sesungguhnya Allah menciptakan makhluq-Nya kemudian dijadikanlah mereka dalam kondisi kegelapan, lalu Dia mengambil cahaya-Nya dengan sekehendak-Nya kemudian dilemparkan kepada mereka, cahaya itu akan mengenai bagi yang dikehendaki-Nya, dan tidak akan mengenai bagi yang tidak dikehendaki-Nya. Bagi yang mendapatkan cahaya pada hari itu ia akan mendapatkan petunjuk, dan bagi yang tidak mendapatkan cahaya pada hari itu ia akan tersesat. Maka itu yang aku katakan bahwa pena Allah telah kering dengan apa yang telah ditentukan.”

 

Musnad Ahmad 6560: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abu Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengkhabarkan kepada kami Yahya bin Ayub telah mengkhabarkan kepadaku Abdullah bin junadah Al Ma’arifi dia berkata; bahwa Abu Abdurrahman Al Hubuli telah menceritakan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru bahwa dia telah menceritakan kepadanya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Dunia adalah penjara orang mukmin, maka apabila dia berpisah dengan dunia (meninggal dunia) berarti ia telah berpisah dengan penjaranya.”

 

Musnad Ahmad 6561: Telah bercerita kepada kami ‘Ali bin Ishaq berkata, telah mengkabarkan kepada kami Abdullah berkata, telah mengkabarkan kepada kami Sa`id bin Yazid dari As Samh dari `Isa bin Hilal Ash Shodafiy dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Sekiranya sebuah peluru -beliau mengisyaratkan dengan sesuatu mirip dengan lingkaran- dilempar dari langit menuju bumi -yaitu perjalanan lima ratus tahun-maka sungguh akan sampai di bumi sebelum datangnya waktu malam. Dan sekiranya peluru tersebut dilemparkan dari kepada rantai (ujungnya) pastilah ia akan memakan waktu empat puluh tahun perjalanan siang dan malam sebelum ia sampai pada dasarnya (jahannam) “. Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin ‘Isa berkata, telah mengkabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak berkata, telah mengkabarkan kepada kami Sa`id bin Yazid Abu Syuja` dari Abu As Samh dari `Isa bin Hilal dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebagaimana dalam hadits.

 

Musnad Ahmad 6562: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan dan Bahz mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Habib bin Abu Tsabit dia berkata; aku mendengar Abul Abbas -dia adalah seorang lelaki yang pandai bersya’ir- berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meminta izin kepadanya untuk pergi berjihad. Maka beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Masih” jawabnya. Beliau bersabda: “Kepada keduanya hendaknya kamu berjihad.” Bahz berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Tsabit dari Abul Abbas dia berkata: “aku bertanya Abdullah bin ‘Amru.”

 

Musnad Ahmad 6563: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengkhabarkan kepadaku Ya’la bin Atho` dari bapaknya, dia berkata; aku mengira bahwa hadits itu berasal dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; -Syu’bah masih meragukan- Seorang laki-laki berdiri kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan meminta izin kepadanya untuk pergi jihad. Maka beliau bersabda: “Apakah engkau masih mempunyai kedua orang tua?” Dia berkata; “Ya, ibuku” Beliau bersabda: “Pergi dan berbuat baiklah kepada ibumu.” Dia berkata; maka lelaki itu pun pergi di antara orang-orang.

 

Musnad Ahmad 6564: Telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Sulaiman -yaitu Ibnul Mughirah- dari Tsabit telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki dari Syam, dia adalah seorang yang selalu mengikuti dan mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, ia berkata; aku sedang bersama Abdullah bin ‘Amru, lalu dia bertemu dengan Nauf, maka Nauf pun berkata: telah disebutkan kepadaku bahwa Allah Ta`ala berfirman kepada para Malaikat-Nya: “Panggilkanlah hamba-hamba-Ku.” Mereka menjawab: “Wahai Rabb, bagaimana mungkin, langit yang tujuh lapis ada di atas mereka, dan Arsy ada di atasnya lagi?” Allah menjawab: “Sesungguhnya jika mereka mengucapkan LAA ILAAHA ILLAH maka doa mereka akan dikabulkan.” (Lelaki dari Syam) berkata: Abdullah bin ‘Amru berkata kepada Nauf; “kami shalat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam atau shalat selainnya, maka orang-orang duduk sedang aku juga di antara mereka sedang menunggu shalat yang lain, kemudian beliau membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat, seakan-akan aku melihat sarungnya diangkat lebih tinggi agar bisa berjalan dengan cepat, lalu beliau berhenti di hadapan kami dan bersabda: “maukah kalian aku beri kabar gembira, Rabb kalian memerintahkan pintu langit yang tengah, ” atau beliau berkata: “pintu langit agar dibuka. Kemudian Dia membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Dia berkata; “Lihatlah hamba-hamba Ku, mereka melaksanakan hak kewajiban dari-Ku, kemudian mereka juga sedang menunggu untuk mengerjakan hak untuk-Ku yang lainnya.”

 

Musnad Ahmad 6565: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengkhabarkan kepada kami Amru bin Dinar dari Shuhaib Al Hadza`i dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menyembelih burung tanpa memenuhi haknya maka Allah akan bertanya kepadanya pada hari kiamat.” Beliau ditanya: ‘lalu apa haknya?” “Hendaknya dia menyembelihnya dalam satu sembelihan, dan jangan memutuskan lehernya.” Jawab Nabi.

 

Musnad Ahmad 6566: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan telah menceritakan kepada kami Said bin Mina` aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai Abdullah bin ‘Amru, telah sampai kepadaku berita bahwa engkau selalu berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari, jangan engkau lakukan, sekali-kali engkau jangan melakukannya, sebab badanmu punya hak yang harus engkau penuhi, istrimu punya hak yang harus engkau penuhi, dan matamu juga punya hak harus engkau penuhi. Berbukalah, dan lakukan saja puasa tiga hari dalam satu bulannya, maka itu adalah puasa sepanjang masa.” Dia berkata; aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masih mampu.” Beliau bersabda: “berpuasalah dengan puasa Dawud, puasa sehari dan berbuka sehari.” Dia berkata; Abdullah berkata; “Duahi, sekiranya aku mengambil kemudahan saja.”

 

Musnad Ahmad 6567: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mughirah, aku mendengar Mujahid menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Puasalah tiga hari dalam sebulannya.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku masih mampu untuk lebih banyak lagi.” Dan dia selalu meminta lebih sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari.” kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya: “Bacalah (khatamkan) Al Qur`an dalam satu bulan.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku masih mampu untuk lebih banyak lagi.” Dan dia selalu meminta lebih sehingga Nabi bersabda: “Bacalah Al Qur`an dalam tiga hari.”

 

Musnad Ahmad 6568: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Abdullah bin Murroh dari Masruq dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Ada empat hal yang jika ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq, ” atau beliau bersabda: “jika pada seseorang ada satu kebiasaan dari empat kebiasaan, maka pada orang tersebut ada satu kebiasaan seorang munafiq sehingga ia meninggalkannya; jika berbicara berdusata, jika berjanji ingkar, jika bersepakat khianat dan jika berselisih berbuat licik.”

 

Musnad Ahmad 6569: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami khalid -yaitu Al Wasithi Ath Thohan- berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Sinan Dlirar bin Murroh dari Abdullah bin Abi Al Hudzail dari seorang Syaikh dari daerah An Nakho`, dia berkata: aku masuk ke dalam masjid Iliya` kemudian aku shalat dua rakaat menghadap pada sebuah tiang, lalu datanglah seorang laki-laki dan shalat didekatku. Banyak Orang-orang berkerumun kepadanya, dan ternyata orang itu adalah Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash. Kemudian datanglah utusan Yazid bin Mu’awiyah kepadanya untuk datang memenuhi panggilannya. Kemudian dia berkata; “Ini adalah orang yang menghalangiku sehingga aku bisa berbicara dengan kalian, sebagaimana dahulu bapaknya juga menghalangiku. Dan sesungguhnya aku telah mendengar Nabi kalian bersabda: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dari hati yang tidak bisa takut, dari doa yang tidak didengar dan dari ilmu yang tidak bermanfaat.” Aku berlindung dari empat perkara tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6570: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari ‘Atho` dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa puasa secara terus menerus maka tidak ada puasa baginya.”

 

Musnad Ahmad 6571: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab berkata; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Yahya dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadaku: “Aku telah mendapatkan kabar bahwa engkau shalat di malam hari dan puasa di siang harinya.” Dia berkata; aku berkata; “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Hendaklah kamu berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, karena sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas kamu, istrimu mempunyai hak atas kamu, dan sesungguhnya cukup bagimu itu jika engkau puasa tiga hari dalam satu bulannya.” Dia berkata; “Aku memperberat diri sehingga semakin berat bagiku.” Dia berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masih mampu lagi.” Beliau bersabda: “Puasalah tiga hari dalam satu minggu.” Dia berkata; ” Aku memperberat diri sehingga semakin berat bagiku.” Dia berkata; aku berata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masih mampu lagi.” Beliau bersabda: “Puasalah kamu sebagaimana puasanya Nabi Allah Dawud dan jangan engkau tambah lagi.” Aku berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana puasanya Nabi Dawud?” Beliau bersabda: “Dia puasa satu hari dan berbuka satu hari.”

 

Musnad Ahmad 6572: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam Shalat bersama para sahabat ketika terjadi gerhana matahari, yaitu hari dimana putranya yang bernama Ibrahim wafat. Maka orang-orang pun berdiri (shalat). Dikatakan; “Rasulullah tidak rukuk (karena sangat lama) maka beliaupun rukuk, ” dikatakan; “Rasulullah tidak bangun untuk i`tidal setelah rukuk (karena sangat lama) ” maka beliaupun mengangkat kepala dari rukuk, dikatakan; “Rasulullah tidak sujud (karena sangat lama), ” maka beliaupun sujud, dikatakan; “Rasulullah tidak bangun (karena sangat lama), ” maka beliaupun bangun untuk rakaat kedua. Lalu beliau juga melakukan hal yang sama sebagaimana pada rakaat pertama. Kemudian setelah itu matahari mulai terang kembali.

 

Musnad Ahmad 6573: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata: “Sesungguhnya aku datang untuk berbai’at kepadamu, dan aku telah tinggalkan bapak-ibuku dalam keadaan menangis.” Beliau bersabda: “Pulanglah kamu kepada mereka dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.”

 

Musnad Ahmad 6574: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Alqomah bin Martsad dari Al Qosim bin Mukhaimirah dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah salah seorang dari kaum muslimin yang terkena musibah pada tubuhnya kecuali Allah akan menyuruh kepada para Malaikat yang selalu menjaganya, Allah berfirman: “Tulislah untuk hamba-Ku di setiap siang dan malam dengan amal kebaikkan sebagaimana amal kebaikkan yang biasa ia lakukan, yaitu selama ia terpenjara oleh sakit yang Aku berikan.”

 

Musnad Ahmad 6575: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Qatadah dari Syahr bin Hausyab dia berkata; Pada waktu pembai’atan Yazid bin Mu’awiyah, aku datang ke Syam lalu aku diberitahu tempat Nauf bermukim, maka akupun mendatanginya. Namun tiba-tiba ada seorang lelaki datang dengan memakai khamishah (baju yang dijahit dengan sutera) dan ternyata ia adalah Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash. Ketika Nauf melihatnya, dia berhenti dari berbicara. Lalu Abdullah berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Nanti akan ada hijrah setelah hijrah, manusia mendekati mahjar (tempat hijrah) Nabi Ibrahim hingga di bumi ini tidak tersisa kecuali orang-orang yang jahat saja, mereka dimuntahkan oleh bumi, dan dibenci oleh Allah, mereka digiring oleh luapan api bersama dengan kera-kera dan babi-babi. Binatang-binatang itu bermalam bersama mereka apabila mereka bermalam, dan tidur siang bersama mereka apabila mereka tidur siang dan siap menerkam orang yang tertinggal dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6576: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya) Abdullah bin ‘Amru berkata; dan aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Akan keluar suatu kelompok dari umatku dari arah timur yang membaca Al Qur’an tapi bacaan mereka tidak dapat melebihi kerongkongan mereka, setiap kali muncul sebuah tanduk pada mereka maka ia segera dipotong, setiap kali muncul sebuah tanduk pada mereka maka ia segera dipotong, -beliau mengulangnya hingga lebih dari sepuluh kali- setiap kali muncul sebuah tanduk pada mereka maka ia segera dipotong, hingga keluarlah dajjal pada orang-orang yang tersisa dari mereka.”

 

Musnad Ahmad 6577: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Mathor dari Abdullah bin Buraidah berkata; -Ubaidullah bin Ziyad masih ragu tentang persoalan telaga.- Maka Abu Sabrah berkata kepadanya (seorang lelaki dari sahabat Ubaidullah bin Ziyad): sesungguhnya bapakmu ketika berangkat kepada Mu’awiyah sebagai seorang utusan aku juga berangkat bersamanya, kemudian aku bertemu dengan Abdullah bin ‘Amru, maka dia menceritakan kepadaku dari mulut ke mulut sebuah hadits yang ia dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Dia membacakan kepadaku dan aku menulisnya. Dia berkata; “sesungguhnya aku ingin berbagi denganmu ketika engkau telah menjadikan Birdzaun (hewan tunggangan sejenis kuda) ini berkeringat sehingga engkau bisa datang kepadaku dengan membawa buku.” Dia berkata; maka akupun memacu birdzaun tersebut sehingga berkeringat dan aku datang kepadanya dengan membawa kitab. Maka Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci perbuatan keji dan orang yang berbuat keji, Demi yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, tidak akan datang hari kiamat sehingga orang yang amanah dikhianati dan orang yang khianat diberi kepercayaan. Sehingga muncul kekejian dan perbuatan keji, putusnya hubungan kekerabatan dan buruknya muamalah antar tetangga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti potongan emas yang ditiup oleh pemiliknya yang tidak kurang dan tidak berubah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak.” Dia berkata; Rasulullah bersabda: “ketahuilah bahwa aku mempunyai sebuah telaga, yang jarak antara dua ujungnya adalah seperti jarak antara Ailah dan Makkah, ” atau beliau bersabda; “yaitu antara Shon’a` hingga Madinah, di dalamnya terdapat ceret sebagaimana bintang-bintang, lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa meminum darinya maka dia tida akan pernah merasa haus selamanya.” Abu Sabrah berkata: maka Ubaidullah pun mengambil kitab tersebut dan aku merasa takut dan kawatir terhadapnya, maka Yahya bin Ya’mar bertemu denganku, dan aku sampaikan prihal tersebut kepadanya. Maka dia menjawab: “Demi Allah, sungguh aku telah menghafalnya sebagaimana aku menghafal surat dari Al Quran, ” maka dia menceritakan kepadaku apa yang terdapat dalam kitab tersebut.

 

Musnad Ahmad 6578: Berkata Ahmad bin Hambal; telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij dia berkata; aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah menceritakan dari Yahya bin Hakim bin Shafwan, bahwa Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; “Aku telah mengumpulkan Al Qur`an kemudian aku membacanya dalam satu malam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku kawatir ketika umurmu bertambah engkau akan merasa bosan, tapi hendaklah engkau baca dalam satu bulan.” Aku berkata; “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku bersenang-senang dengan kemampuan yang aku miliki dan dengan umurku yang masih muda.” Beliau bersabda: “Bacalah dalam dua puluh hari.” Aku berkata; “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku bersenang-senang dengan kemampuan yang aku miliki dan dengan umurku yang masih muda.” Beliau berkata; “Bacalah dalam sepuluh hari.” Aku berkata; “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku bersenang-senang dengan kemampuan yang aku miliki dan dengan umurku yang masih muda.” Beliau bersabda: “Bacalah dalam tujuh hari.” Aku berkata; “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku bersenang-senang dengan kemampuan yang aku miliki dan dengan umurku yang masih muda.” Tetapi beliau menolak.

 

Musnad Ahmad 6579: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dan Ibnu Bakr mereka berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij dan Rauh telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dia berkata; aku mendengar Atho` mengira bahwa Abbul ‘Abbas Asy-Sya’ir telah mengkhabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; telah sampai berita kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwa aku berpuasa terus menerus dan shalat di malam hari. Dia berkata; “Aku tidak tahu apakah beliau mengutus seseorang kepadaku atau aku telah berjumpa dengannya, ” beliau berkata: “Telah ada pemberitaan bahwa engkau berpuasa terus menerus dan tidak berbuka, engkau juga shalat di waktu malam, maka janganlah engkau lakukan itu, sebab matamu punya hak, badanmu punya hak, dan istrimu juga punya hak, Maka hendaklah engkau puasa dan berbuka, shalat dn tidur, puasalah satu hari dalam dalam sepuluh hari, maka engaku akan mendapatkan sembilan pahala yang tersisa.” Dia berkata; “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku mendapati diriku lebih kuat dari itu.” Beliau berkata: “Puasalah Sebagaimana puasanya Dawud.” Dia berkata; “Wahai Nabi Allah, bagaimana puasa yang biasa dilakukan oleh Dawud?” Beliau berkata: “Dia puasa sehari dan berbuka sehari, dan tidak pernah lari jika bertemu musuh.” Dia berkata; “puasaku ini seperti puasanya siapa wahai Nabi Allah?” -Atho` berkata: aku tidak tahu bagaimana dia menyebut Shiyam al abd (puasa terus menerus)? – Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak dikatakan puasa orang yang berpuasa terus menerus.” Menurut Abdurrazzaq dan Rauh, beliau bersabda: “tidak dikatakan puasa orang yang berpuasa terus menerus” dua kali.

 

Musnad Ahmad 6580: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Umar bin Hausyab seorang lelaki shalih, ia berkata; telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar dari ‘Atho` dari seorang lelaki dari daerah Hudzail, dia berkata; Aku melihat Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, rumahnya berada di luar wilayah haram sedangkan masjidnya berada di wilayah Haram, dia berkata; “Ketika aku sedang berada di sisinya, ia melihat Ummu Sa’id -anak perempuan Abu Jahal sedang menenteng busur, ia berjalan seperti jalannya lelaki, maka Abdullah bertanya: “Siapakah dia?” Al Hudzali menjawab: “Dia adalah Ummu Sa’id -anak perempuan Abu Jahal.” Dia (Abdullah) berkata; “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bukan dari golongan kami wanita yang menyerupai kaum laki-laki dan lelaki yang menyerupai kaum wanita.”

 

Musnad Ahmad 6581: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dia berkata; aku masuk menemui Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, maka dia bertanya kepadaku, dia mengira bahwa aku adalah anak dari ummu Kultsum binti Uqbah. Aku berkata; sesungguhnya aku adalah dari suku Kalbiyah. Abdullah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam masuk ke dalam rumahku untuk menemui aku, beliau berkata: “telah sampai kabar berita bahwa engkau membaca Al Qur`an dalam sehari semalam, bacalah ia dalam satu bulan.” Aku berkata; “sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Beliau berkata: “bacalah dalam lima belas hari.” Aku berkata; “sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Beliau berkata: “bacalah dalam tujuh hari dan sekali-kali jangan engkau tambah lagi. Dan telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau berpuasa dahr?” Dia berkata; Aku berkata; “sungguh aku akan melaksanakan puasa itu wahai Rasulullah.” Beliau berkata: “puasalah tiga hari dalam setiap bulannya.” Ia berkata; Aku berkata; “Sesungguhnya aku masih mampu yang lebih dari itu.” Beliau berkata: “puasalah dua hari dalam satu minggu.” Dia berkata; Aku berkata; “Sesungguhnya aku masih mampu yang lebih dari itu.” beliau berkata; “puasalah sebagaimana puasa yang dilakukan Dawud, ia puasa sehari dan berbuka sehari, maka itu adalah sebaik-baik puasa di hadapan Allah, Dawud tidak pernah ingkar jika berjanji dan tidak pernah lari jika bertemu musuh.”

 

Musnad Ahmad 6582: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Atho` telah mengkhabarkan kepadaku Al Jurairi dari Abi Al Ala` dari Muthorrif bin Abdullah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata: aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku untuk berpuasa.” Beliau bersabda: “Puasalah satu hari maka engkau akan mendapatkan pahala sembilan hari yang tersisa.” Berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masih kuat maka tambahkanlah untukku.” Beliau bersabda: “Puasalah dua hari maka engkau akan mendapatkan pahala delapan hari yang tersisa.” Berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku masih kuat maka tambahkanlah untukku.” Beliau bersabda: “Puasalah tiga hari maka engkau akan mendapatkan pahala tujuh hari yang tersisa.” Dia berkata; beliau terus menurunkan jumlah tersebut sehingga beliau bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik puasa adalah puasa yang dilakuakan oleh saudaraku Dawud, ” atau beliau berkata: “Nabi Allah Dawud, ” -Al Jurairi masaih ragu- “puasalah sehari dan berbukalah sehari.” Maka Abdullah ketika kondisinya sudah lemah berkata: Sekiranya aku bersikap nerima dengan apa yang telah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam untukku.

 

Musnad Ahmad 6583: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Atho` telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Amru dari Abu Salamah dari Abdullah bin ‘Amru berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam masuk ke rumahnya seraya bersabda: “Telah ada kabar bahwa engkau terlalu memaksakan diri untuk shalat di malam hari dan puasa di siang hari?” dia berkata; “Sungguh aku aku akan mengerjakannya.” Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya cukup bagimu dan aku tidak mengatakan kerjakanlah puasa tiga hari dalam setiap bulannya, dan setiap satu kebaikkan adalah sepuluh kebaikkan yang semisal, dengan begitu engkau telah melakukan puasa sepanjang masa dengan sempurna.” Dia berkata; aku merasa kuat maka ditambahlah untukku. Dia berkata; Aku berkata; “Sesungguhnya aku mendapakan kekuatan untuk melakukan itu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya cukup bagimu untuk puasa tiga hari dalam satu minggunya.” Dia berkata; aku merasa kuat maka ditambahlah untukku, maka Aku berkata; “Sesungguhnya aku mendapatkan kekuatan untuk melakukan itu.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda; “Puasa yang paling pas dan seimbang dihadapan Allah adalah puasa yang dilakukan oleh dawud, yaitu setengah masa.” Kemudian beliau bersabda lagi: “Badanmu punya hak atas dirimu, dan istrimu juga punya hak atas dirimu.” Dia berkata; dan Abdullah tetap melakukan puasa tersebut sehingga datang masa kelemahannya (tua), dia berkata; “Sekiranya aku menerima kemudahan yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepadaku, maka hal itu lebih aku sukai ketimbang harta dan keluargaku.”

 

Musnad Ahmad 6584: Telah menceritakan kepada kami Al Walid Ibnul Qosim Ibnul Walid berkata; aku mendengar bapakku menceritakannya dari Abi Al Hajjaj dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada tiga perkara jika terdapat pada seseorang maka ia adalah seorang munafiq sejati; jika berkata dusta, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat. Dan barangsiapa ada satu kebiasaannya darinya, maka padanya satu kebiasaan orang munafiq sehingga ia meninggalkannya.”

 

Musnad Ahmad 6585: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami, bapakku dari Muhammad bin Ibrahim Ibnul Harits dari Abu Salamah Ibnu Abdurrahman bin Auf, dia berkata: aku masuk menemui Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash di dalam rumahnya, kemudian dia bertanya kepadaku, dia mengira kalau aku berasal dari Bani Ummu Kultsum binti Uqbah, maka aku katakan kepadanya bahwa, “aku berasal dari Bani Kalbiyah binti Al Ashbagh. Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk menanyakan apa yang telah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sampaikan kepadamu, ” atau dia berkata; “untukmu.” Dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; “Sesungguhnya pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam aku pernah berkata bahwa aku ingin membaca (mengkatamkan) Al Qur`an dalam sehari semalam dan berpuasa terus menerus, maka hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, sehingga beliau datang menemui aku di rumahku. Lalu beliau bersabda; “Telah sampai kepadaku wahai Abdullah, bahwa engkau berkata: “sungguh aku akan berpuasa terus menerus dan akan membaca Al Qur`an dalam sehari semalam.” Dia berkata; Aku berkata; “Benar, aku telah mengatakan hal itu wahai Nabi Allah.” Beliau berkata: “Jangan engkau lakukan itu, berpuasalah tiga hari dalam setiap bulannya.” Dia berkata; maka aku berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk melakukan yang lebih banyak dari itu.” Beliau berkata; “Puasalah pada hari senin dan kamis.” Dia berkata; maka aku berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk melakukan yang lebih banyak dari itu wahai Nabi Allah.” Beliau berkata: “kalau begitu berpuasalah sehari dan berbuka sehari, itu adalah puasa yang paling pas dan seimbang di hadapan Allah, dan itulah puasanya Dawud `Alaihis Salam, dia tidak pernah ingkar jika berjanji serta tidak pernah lari jika bertemu musuh. Dan bacalah (katamkan) Al Qur`an sekali dalam sebulan.” Dia berkata; maka aku berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk melakukan yang lebih banyak dari itu wahai Nabi Allah.” Beliau berkata: “Bacalah Al Qur`an dalam lima belas hari.” Dia berkata; maka aku berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk melakukan yang lebih banyak dari itu wahai Nabi Allah.” Beliau berkata: “Bacalah dalam tujuh hari dan jangan engkau tambah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun pergi.

 

Musnad Ahmad 6586: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim -yaitu Ibnu Ulayyah- berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Abu Hayyan dari Abu Zur`ah bin ‘Amru bin Jarir dia berkata; ada tiga orang laki-laki dari kaum muslimin duduk bermajlis di hadapan Marwan di kota Madinah, mereka bertiga mendengarkannya menceritakan tentang tanda-tanda (kiamat), bahwa yang pertama kali muncul adalah keluarnya Dajjal. Dia berkata; maka mereka keluar menuju Abdullah bin ‘Amru, dan menceritakan kepadanya tentang tanda-tanda kiamat tersebut yang telah mereka dengar dari Marwan. Maka Abdullah berkata; Sesungguhnya Marwan belum mengatakan sesuatu yang pernah aku hafalkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang tanda-tanda kiamat. Yaitu sebuah hadits yang tidak pernah aku lupakan semenjak aku menghafalnya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya tanda pertama yang akan muncul adalah terbitnya matahari dari arah barat, dan dajjal keluar diwaktu dluha, maka manapun dari keduanya yang keluar sebelum yang lainya maka ia pasti akan menyusul keluar setelahnya.” Kemudian Abdullah berkata; dan ketika itu ia sedang membaca kitab: aku menyangka bahwa pertama kali yang akan keluar adalah munculnya matahari dari sebelah barat, sebab setiap kali ia terbenam, ia datang di bawah `Arsy, kemudian sujud dan meminta izin untuk kembali lagi, kemudian ia diberi izin untuk kembali. Sehingga jika Allah telah memandang saatnya terbit dari arah terbenamnya, maka ia akan melakukan sebagaimana yang telah ia lakukan. Dia datang di bawah ‘Arys kemudian sujud dan meminta izin untuk kembali, namun ia tidak mendapatkan jawaban apapun. Kemudian ia meminta izin lagi untuk kembali, namun tidak ada jawaban apapun. Kemudian ia meminta izin lagi dan tidak ada jawaban apapun. Maka ketika malam telah berlalu dan atas kehendak Allah malam berlalu, dan dia paham bahwa seandainya Allah memberinya izin untuk kembali, ia tidak akan mendapatkan. Dia berkata; Wahai Rabb, …..maka dikatakan kepadanya: dari tempatmu itu maka terbitlah. Maka matahari pun terbit kepada manusia dari arah barat. Lalu Abdullah pun membaca ayat: “Pada hari datangnya tanda dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”

 

Musnad Ahmad 6587: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Manshur dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Nubaith bin Syarith, -menurut Ghundar Nubaith bin Sumaith, menurut Hajjaj Nubaith bin Syarid- dari Jabban dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang Mannan (orang yang mengungkit pemberian), orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan pecandu khamer.”

 

Musnad Ahmad 6588: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dari Hilal bin Yasaf dari Abu Yahya Al A’raj dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata: aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang shalatnya seorang laki-laki yang dilakukan dengan duduk. Maka beliau pun bersabda: “Nilainya adalah setengah dari shalat yang dikerjakan dengan berdiri.”

 

Musnad Ahmad 6589: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash) dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memperhatikan orang-orang yang sedang berwudlu dan tidak menyempurnakan wudlu mereka, maka beliau pun bersabda; “Sempurnakanlah wudlu, neraka adalah tempat bagi tumit-tumit yang kering dari air, ” atau beliau berkata: “Tumit.”

 

Musnad Ahmad 6590: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Firos dari Asy Sya’bi dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Dosa-dosa besar itu adalah menyekutukan Allah ‘azza wajalla, durhaka kepada kedua orang tua”, atau beliau bersabda: “Membunuh dan sumpah palsu.”

 

Musnad Ahmad 6591: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhamamd bin Abi Bakr Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar Al Barra` telah menceritakan kepadaku Shodaqoh bin Thaisalah telah menceritakan kepadaku Ma`nu bin Tsa`labah Al Mazini dan Al Hayyu Ba’d dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al A’sya Al Mazini dia berkata; aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya memujinya: “Wahai pemimpin manusia, penguasa bangsa Arab, sesungguhnya aku mengadukan kepadamu benalu ganas, aku keluar dari rumah mencari makanan untuknya di bulan Rojab, namun ia meninggalkan aku dalam pertikaian dan pelarian, ia telah ingkari janji dan berbuat dosa, dan itu adalah kemenangan yang buruk bagi orang yang menang.” Dia berkata; kemudian setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda; “Itu adalah kemenangan yang buruk bagi orang yang menang.”

 

Musnad Ahmad 6592: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Al Abbas Ibnu Abdul Azhim Al ‘Anbari telah menceritakan kepada kami Abu Salamah ‘Ubaid Ibnu Abdurrahman Al Hanafi telah menceritakan kepadaku Al Junaid bin Amin bin Dzirwah bin Nadllah bin Tharif bin Buhshul Al Hirmazi telah menceritakan kepadaku bapakku Amin bin Dzirwah dari bapaknya Dzirwah bin Nadllah dari bapaknya Nadllah bin Tharif bahwa seorang laki-laki dari mereka yang disebut Al A’masy, dan namanya adalah Abdullah bin Al A’war, dia mempunyai istri yang bernama Mu`adzah. Dia keluar rumah untuk mencari makanan buat keluarganya di bulan Rajab. Setelah kepergiannya, istrinya pergi melarikan diri sebagai seorang istri yang durhaka. Kemudian ia (istrinya) minta perlindungan kepada seorang laki-laki dari mereka yang biasa disebut dengan Mutharrif bin Buhshul bin Ka’ab bin Qamaisya` bin Dulaf bin Ahdlam bin Abdullah. Lalu laki-laki itu pun melindunginya. Maka ketika Abdullah bin Al A’war pulang dan tidak mendapati istrinya di rumah, dia diberi kabar bahwa istrinya telah durhaka kepadanya dan pergi berlindung kepada Mutharrif bin Buhshul. Dia pun mendatanginya lalu berkata; “Wahai putra saudaraku, apakah istriku Mu`adzah bersamamu, kembalikanlah ia padaku” Dia berkata; “Dia tidak bersamaku, dan seandainya ia ada bersamaku maka akupun tidak akan menyerahkannya kepadamu.” Perawi berkata; “Sesungguhnya Mutharrif lebih tinggi setatus sosialnya. Maka ia pun datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam minta perlindungan sambil memujinya: “Wahai penghulu manusia, penguasa bangsa Arab, sesungguhnya aku mengadukan kepadamu benalu ganas sebagaimana srigala abu-abu yang buas di dalam sarangnya, sesungguhnya aku keluar dari rumah mencari makanan untuknya di bulan Rajab, namun ia meninggalkan aku dalam pertikaian dan pelarian, ia ingkari janji dan berbuat dosa, dan dia telah melemparkanku di antara pohon biadara yang terlipat, dan itu adalah kemenangan yang buruk bagi orang yang menang.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai hal itu: “Dan itu adalah kemenangan yang buruk bagi orang yang menang.” Setelah itu dia mengadukan istrinya dan semua yang telah duperbuatnya kepada Nabi, bahwa ia sekarang berada dalam perlindungan seorang laki-laki dari kaumnya yang bernama Mutharrif bin Buhshul, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menuliskan surat untuknya kepada Mutharrif: “Lihatlah istri lelaki ini yaitu Mu`adzah, dan kembalikanlah kepadanya.” Maka dibacakanlah surat itu kepada Muttharif, lalu Muttharif berkata kepada Mu`adzah; “Wahai Mu`adzah ini adalah surat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang kamu, maka aku akan mengembalikan engkau kepadanya. Dia berkata; “Kalau begitu, bantulah aku atas perjanjianku dengannya dan jaminan dari Nabinya, sehingga dia tidak menghukum atas semua perbuatan yang telah aku lakukan. Maka diapun membantunya, dan Mutharrif pun mengembalikannya kepada Abdullah Ibnul A’war, kemudian ia bersenandung; “Demi umurmu, aku tidak mencintai Mu’adzah yang di cemburui oleh tukang fitnah.

 

Musnad Ahmad 6593: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Syihab dan Abdurrazzaq dia berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Syihab dari Isa bin Tholhah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berhenti di atas kendaraannya di Mina, kemudian datanglah seorang laki-laki kepadanya lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memahami bahwa mencukur rambut itu dilakukan sebelum menyembelih kurban, maka akupun mencukur rambutku sebelum aku menyembelih kurban.” Maka beliau bersabda: “Sembelihlah kurbanmu dan engkau tidak berdosa.” kemudian datanglah laki-laki lain seraya bertanya; “Sesungguhnya aku memahami bahwa menyembelih itu dilaksanakan sebelum melempar jumrah, maka akupun menyembelih sebelum aku melempar jumrah.” Maka beliau bersabda: “Lemparlah dan engkau tidak berdosa.” Dia berkata; Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya tentang sesuatu yang telah dilakukan oleh seseorang sebelum melakukan yang lainnya kecuali beliau akan menjawab; “Kerjakanlah dan engkau tidak berdosa.” Abdurrazzaq berkata: maka lelaki yang lain datang seraya berkata: “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya aku mengira bahwa mencukur itu dilaksanakan sebelum melempar, maka akupun mencukur rambutku sebelum aku melempar jumrah.” Beliau menjawab: “Lemparlah dan engkau tidak berdosa.”

 

Musnad Ahmad 6594: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dan Abdurrazzaq berkata; aku mendengar Al Auza’i dari Hasaan bin Athiyah dari Abu Kabsyah berkata -dalam hadits Ibnu Numair-; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sampaikahlah dariku meskipun hanya satu ayat, dan ceritakan pula dari Bani Isra`il dan engkau tidak berdosa, maka barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaknya ia bersiap-siap untuk menempati tempatnya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 6595: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abi Sa’d, dia berkata; seorang lelaki datang kepada Abdullah bin ‘Amru lalu dia berkata; Aku hendak bertanya kepadamu perihal yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan aku tidak bertanya kepadamu tentang taurat. Maka dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim ialah yang jika kaum muslimin selamat dari lisannya dan tangannya.”

 

Musnad Ahmad 6596: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah bin Ulatsah Al Qodli Abu Sahl berkata; telah menceritakan kepada kami Al Ala` bin Rofi’ dari Al Farozdaq bin Hanan Al Qosh, dia berkata; “Maukah kalian aku beritahukan sebuah hadits yang kudengar dengan kedua telingaku ini dan dicerna dengan baik oleh hatiku, hingga aku tidak akan pernah melupakannya? Aku pernah keluar di jalanan Syam dengan Ubaidillah bin Haidah lalu kami melewati Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash lalu ia menyebutkan sebuah hadits seraya berkata: “Ada seorang lelaki badui pemberani dari kaum kalian berdua datang seraya berkata: “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat berhijrah itu? Di tempat engkau berada ataukah di suatu tempat yang memang telah diketahui atau hanya terkhusus untuk suatu kaum tertentu saja? Dan apakah jika engkau telah wafat, kewajiban hijrah juga gugur?” dia berkata: sesa’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam terdiam, kemudian beliau berkata: “Dimanakah si penanya mengenai hijrah tadi?” Lelaki itu berkata: “Aku wahai Rasulullah.” Beliau berkata: “Apabila kamu mendirikan shalat dan menunaikan kewajiban zakat maka kamu sungguh telah berhijrah, meskipun kamu mati di Hadhromah” yakni; suatu dataran di negeri Yamamah.” Dia berkata; lalu lelaki itu berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pakaian penghuni surga? Apakah ia ditenun atau disobekkan dari dedaunan surga?” Mendengar pertanyaan badui itu orang-orang terlihat terheran-heran hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “kenapa kalian merasa heran mendengar pertanyaan orang yang tidak tahu bertanya kepada orang yang lebih tahu?” Kemudian beliau terdiam sesa’at, lalu berkata: “Dimanakah orang yang menanyakan tentang pakaian penduduk surga?” Lelaki itu menjawab: “Aku wahai Rasulullah. Beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi ia disobekkan dari dedaunan surga.”

 

Musnad Ahmad 6597: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris aku mendengar Ibnu Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan seorang laki-laki dari Muzainah bertanya kepadanya tentang seekor unta yang hilang tersesat. Maka beliaupun menjawab: “Unta itu memiliki sepatu (kaki) dan airnya (dalam perutnya), ia bisa makan dari pepohonan dan meminum air, maka biarkanlah unta itu sehingga datang pemilik yang mencarinya.” Dia berkata; dan dia bertanya kepada Nabi tentang kambing yang hilang tersesat. Maka beliau menjawab: “Ia bisa menjadi milikmu, atau milik saudaramu atau milik srigala yang memakannya, maka simpanlah kambing itu sehingga datang orang yang memilikinya.” Dan dia bertanya kepada Nabi tentang kambing gembalaan yang ada penjaganya. Maka beliaupun menjawab; “Padanya ada harga dua kali lipat dan hukuman jika (dicuri).” Beliau bersabda: “Dan jika ia mengambilnya dari kandang penyimpanannnya maka hukumannya adalah dipotong tangannya, yaitu jika yang diambil itu senilai dengan harga sebuah perisai.” Maka dia bertanya kepada Nabi, dia berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan barang temuan yang kami temukan di jalan-jalan pemukiman?” Maka beliau menjawab: “Umumkanlah selama satu tahun, jika pemiliknya datang engkau berikan dan jika tidak maka ia menjadi milikmu.” Dia bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan sesuatu yang kami temukan di bawah bangunan yang roboh? Beliau menjawab; “Padanya dan pada barang yang terdapat dalam perut bumi adalah seperlima (sebagai zakatnya).”

 

Musnad Ahmad 6598: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Jabbaan dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” Tidak akan masuk surga seorang pendurhaka kepada orang tua, pecandu khamer, orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan anak zina.”

 

Musnad Ahmad 6599: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq aku mendengar Al Mutsanna Ibnu Ash Shabah telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memutuskan, bahwa seorang wanita itu lebih berhak atas anaknya selama ia belum menikah.”

 

Musnad Ahmad 6600: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Hilal bin Yasaf dari Abu Yahya dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata: aku menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedangkan waktu itu beliau melakukan shalat sambil duduk, maka aku bertanya; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah mendapat cerita, bahwa engkau mengatakan bahwa shalat sambil duduk itu nilai pahalanya adalah setengah dari shalat yang dikerjakan sambil berdiri, dan engkau sekarang melakukannya sambil duduk?” Beliau menjawab: “Benar, cuma aku tidaklah seperti salah seorang dari kalian.”

 

Musnad Ahmad 6601: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari ‘Ashim bin Abi An Nujud dari Khoitsamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba jika ia berada pada jalan yang benar dalam ibadahnya kemudian ia sakit, maka akan dikatakan kepada malaikat yang menjadi wakilnya: catatlah untuknya seperti amalan yang dikerjakannya sewaktu masih sehat hingga ia jatuh sakit atau Aku ambil (ruhnya) kepada-Ku.”

 

Musnad Ahmad 6602: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Urwah dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dari manusia setelah Ia berikan kepada mereka. Akan tetapi Allah akan mengambil (mewafatkan) para ulama`, maka setiap seorang Alim pergi, akan pergi pula ilmu yang ia miliki. Sehingga di dunia ini hanya tersisa orang-orang bodoh, dan manusia akan mengambil pemimpin yang bodoh, jika mereka dimintai fatwa maka mereka akan menjawab tanpa dengan ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”

 

Musnad Ahmad 6603: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ibnul Musayyab dari Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berlaku adil waktu di dunia akan berada di menara-menara yang terbuat dari intan permata pada hari kiamat dan dekat dengan Allah Azza Wa Jalla karena sikap adil mereka di dunia.”

 

Musnad Ahmad 6604: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; Suatu saat ketika kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam di atas sebuah bukit, kami hendak melaksanakan shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah berdiri begitu pula dengan kami, namun mendadak muncul seekor keledai yang keluar dari lembah Abi Dub, yaitu lembah Abi Musa, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menangkapnya dan beliau belum juga bertakbir, dan beliau mempercayakannya kepada Ya’qub bin Zam’ah hingga ia mengembalikannya lagi kepada beliau.

 

Musnad Ahmad 6605: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda; “Tidak berlaku persaksian seorang penghianat baik laki-laki maupun perempuan, tidak pula persaksian orang yang bermusuhan dengan saudaranya, tidak juga persaksian seorang Qoni` untuk keluarga yang menyantuninya, namun dibolehkan untuk selain keluarga tersebut. Qoni` adalah orang yang ditanggung penghidupannya oleh keluarga tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6606: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada potong (tangan) jika (yang dicuri) kurang dari sepuluh dirham.”

 

Musnad Ahmad 6607: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Sesungguhnya ada dua orang wanita dari negeri Yaman datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, keduanya mengenakan gelang emas. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “Apakah kalian suka bila Allah memakaikan untuk kalian berdua sebuah gelang yang terbuat dari api?” Mereka menjawab: “Demi Allah, tidak wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalau begitu tunaikanlah hak Allah atas kalian pada gelang tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6608: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengadukan bapaknya. Dia berkata; “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya ia telah mengambil hartaku.” Maka Rasulullah pun bersabda; “Sesungguhnya kamu dan juga hartamu adalah milik bapakmu.”

 

Musnad Ahmad 6609: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, berkata; Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Setiap shalat yang tidak dibacakan (bacaan) di dalamnya maka ia kurang, kemudian kurang dan kurang, kemudian kurang dan kurang.”

 

Musnad Ahmad 6610: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, berkata; Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menulis kitab antara kaum Muhajirin dan Anshor agar mereka membayar tebusan mereka (diyat), dan menebus tawanan mereka dengan baik dan dengan kedamaian antara kaum muslimin.”

 

Musnad Ahmad 6611: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Isma’il dari Qois dari Jarir bin Abdullah Al Bajalli dia berkata; “Kami menganggap bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mait dan membuat makanan setelah penguburannya sebagai bentuk niyahah (ratapan).”

 

Musnad Ahmad 6612: Telah menceritakan kepada kami Nashr Ibnu Bab dari Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjama’ antara dua shalat ketika memerangi Bani Mushtholiq.”

 

Musnad Ahmad 6613: Telah menceritakan kepada kami Al hakam bin Musa, Abdullah bin Ahmad berkata; dan aku mendengarnya dari Al Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami Muslim bin Khalid dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa melakukan sumpah, kemudian ia melihat ada yang lebih baik, maka hendaknya ia mengambil yang baik dan membayar kafarah dari sumpahnya.”

 

Musnad Ahmad 6614: Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata; telah menceritakan kepadaku Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At Taimi telah menceritakan kepadaku Urwah bin Az Zubair, ia berkata: aku berkata kepada Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash; kabarkanlah kepadaku perbuatan paling kejam yang dilakukan kaum musyrikin terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Dia berkata; “Ketika Rasulullah sedang shalat di halaman Ka’bah tiba-tiba `Uqbah bin Abi Mu’aith menghampiri beliau dan menarik bahunya Shallallahu ‘alaihi wa Salam serta melilitkan bajunya ke leher beliau dan mencekiknya kuat-kuat. Kemudian Abu Bakar mendekatinya, lalu dia menarik bahunya dan mendorongnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Rabbku adalah Allah, padahal telah datang kepadamu keterangan-keterangan dari Rabbmu.”

 

Musnad Ahmad 6615: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk berbaiat kepadanya atas hijrah dan dengan sedikit memaksa beliau. Dia berkata; “Aku tidak datang kepadamu kecuali dengan membuat kedua orang tuaku menangis.” Beliau bersabda: “Pulanglah dan buat mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.”

 

Musnad Ahmad 6616: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Dua hal yang tidaklah seorang muslim selalu menjaga kecuali ia akan masuk surga, keduanya mudah untuk dikerjakan, namun sedikit orang yang mengamalannya; engkau bertasbih kepada Allah sepuluh kali, bertahmid kepada Allah sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali pada setiap penghujung shalat. Maka genaplah seratus lima puluh dengan amalan lisan, dan seribu lima ratus dalam timbangan amal. Dan hendaklah bertasbih sebanyak tiga puluh tiga, bertahmid tiga puluh tiga, dan bertakbir tiga puluh empat” -Atho` tidak tahu manakah yang harus dibaca sebanyak tiga puluh empat-, “jika dendak merebahkan badannya untuk tidur, maka genaplah seratus dengan amalan lisan, dan seribu dalam hitungan mizan (timbangan pahala). Maka siapakah di antara kalian yang melakukan dosa sebanyak dua ribu lima ratus dalam sehari?” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana keduanya mudah untuk dikerjakan, namun sedikit orang yang mengamalannya.” Beliau bersabda, “Setan mendatangi kalian pada setiap habis shalat seraya mengingatkan dengan keperluan ini dan ini, kemudian salah seorang dari kalian berdiri dan tidak sempat membacanya lagi. Jika ia ingin tidur Setan akan menidurkannya dan dia tidak sempat lagi untuk membacanya.” Dan sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menggenggam erat di tangannya (selalu mengamalkan).” Abdullah berkata; aku mendengar (Ubaidullah Al Qowaririy) berkata; aku mendengar Hammad bin Zaid berkata; ‘Atho` Ibnu As Sa`ib datang mengunjungi kami di Bashroh, maka berkata Ayub kepada kami; “datanglah kepadanya dan tanyakan tentang hadits tasbih, ” yaitu hadits ini.

 

Musnad Ahmad 6617: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu bisyr dari seorang laki-laki penduduk Makkah, dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau melihat orang-orang yang sedang berwudlu, namun mereka tidak sempurna dalam wudlunya. Maka beliau bersabda; “Sesungguhnya tumit yang tidak terbasuh air wudlu akan terkena api neraka.”

 

Musnad Ahmad 6618: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Isma’il -yaitu Ibnu Abi Khalid- dari Asy Sya’bi dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: ” Sesungguhnya yang disebut Muhajir adalah orang yang berhijrah dari sesuatu yang telah dilarang oleh Allah, dan seorang muslim adalah jika orang lain selamat dari bahaya lisan dan tangannya.”

 

Musnad Ahmad 6619: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d bin Ibrahim bahwa ia mendengar seorang laki-laki dari Bani Makhzum menceritakan dari pamannya, bahwa Mu’awiyah ingin mengambil tanah milik Abdullah bin ‘Amru yang disebut dengan al Wahthu, maka diperintahkanlah semua pengikutnya, kemudian mereka mengenakan alat-alat perangnya dan ingin segera melakukan perang. Maka akupun mendatanginya, dan berkata: “ada apa?” Maka Abdullah bin ‘Amru berkata; “sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang dizholimi dengan sebuah kezholiman lalu ia diperangi dan dibunuh kecuali ia mati dalam keadaan syahid.”

 

Musnad Ahmad 6620: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d bin Ibrahim dari Hilal bin Tholhah atau, Tholhah bin Hilal berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata kepadaku; “wahai Abdullah bin ‘Amru hendaklah kamu puasa dahr, yaitu engkau puasa tiga hari dalam setiap bulannya.” Dia berkata; kemudian Nabi membaca ayat, “Barangsiapa beramal dengan satu kebaikkan maka baginya sepuluh yang semisal” dia berkata; Aku berkata; sesungguhnya aku mampu untuk melakukan yang lebih banyak dari itu. Beliau bersabda; “Berpuasalah kamu sebagaimana puasa yang dilakukan Dawud, dia puasa sehari dan berbuka sehari.”

 

Musnad Ahmad 6621: Telah menceritakan kepada kami Rauh berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ziyad bin Fayyadl dari Abu Iyadh dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadaku: “Puasalah sehari, maka engkau akan mendapatkan pahala dari hari yang tersisa, sehingga Ia menghitung empat hari atau lima hari, ” Syu’bah masih ragu. beliau bersabda: “Puasalah dengan seutama-utama puasa, yaitu puasa yang dilakukan oleh Dawud Alaihis Salam, dia puasa sehari dan berbuka sehari.”

 

Musnad Ahmad 6622: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakr -yaitu Ibnu ‘Ayyasy- berkata; kami masuk menemui Abu Hashin untuk mengunjunginya sedangkan ‘Ashim bersama kami, dia berkata; Abu Hashin berkata kepada ‘Ashim; “apakah engkau ingat dengan hadits yang diceritakan kepada kami oleh Al Qosim bin Mukhaimirah?” dia berkata; “Iya, sesungguhnya pada suatu hari ia pernah menceritakan kepada kami dari Abdullah bin ‘Amru, ia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika seorang hamba muslim mengeluh, maka akan dikatakan kepada Katib yang selalu menulis amalannya: “Tulislah untuknya pahala sebagaimana amal yang ia kerjakan diwaktu sehat sehingga Aku genggam, atau Allah mengatakan; sehingga Aku bebaskan dia.” Abu Bakr berkata: ‘Ashim dan Abi Hashin keduanya menceritakan kepada kami seperti ini.

 

Musnad Ahmad 6623: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Az Zinad dari Abdurrahman Ibnul Harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata pada waktu fathu Makkah; “Setiap perjanjian pada masa jahiliyah tidaklah Islam datang kecuali mengukuhkannya, dan tidak ada lagi perjanjian dalam Islam”

 

Musnad Ahmad 6624: Telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang dari menjual dengan jalan meminjamkan, dua perdagangan dalam satu transaksi, menjual sesuatu yang tidak ada di sisimu, dan mengambil keuntungan dari barang yang tidak bisa dijamin (keberadaannya).

 

Musnad Ahmad 6625: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sawa` Abu Al Khaththab As Sadusi berkata; aku bertanya kepada Al Mutsanna bin Ash Shabah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menambah shalat untuk kalian maka jagalah ia, yaitu shalat witir.” ‘Amru bin Syu’aib berpendapat, bahwa shalat witir yang dinggalkan hendaklah dikerjakan meskipun telah lewat satu bulan.

 

Musnad Ahmad 6626: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata; Ibrahim bin Maimun telah mengkhabarkan kepada kami, dia berkata; aku mendengar seorang lelaki dari Bani Al Harits berkata; aku mendengar seorang lelaki yang biasa dipanggil Ayub dari suku kami berkata: aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata: “Barangsiapa bertaubat setahun sebelum kematiannya maka taubatnya akan diterima, dan barangsiapa bertaubat sebulan sebelum kematiannya maka taubatnya akan diterima, hingga ia mengatakan; sehari sebelum kematiannya, hingga ia mengatakan satu jam sebelum kematiannya, dan hingga ia mengatakan fuwaqon (yakni jarak waktu dari perahan pertama ke perahan kedua). Dia berkata; ada seorang lelaki bertanya: “Bagaimana dengan seorang musyrik yang kemudian menyatakan masuk Islam?” Ia menjawab: “Aku hanya berbicara kepada kalian apa yang kudengar dari ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”

 

Musnad Ahmad 6627: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr dan Abdurrazzaq mereka berkata; telah menceritakan kepada kami ibnu Juraij. Dan Rauh berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar berkata; bahwa Amru bin Aus mengabarkan kepadanya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Daud, dia puasa setengah tahun, dan shalat yang disukai oleh Allah adalah shalatnya Dawud, dia tidur separoh malam, kemudian bagun, kemudian tidur, kemudian bangun di sepertiga malam akhir.”

 

Musnad Ahmad 6628: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr dan Abdurrazzaq mereka berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengkhabarkan kepadaku Sulaiman Al Ahwal bahwa Tsabit Pelayan Umar bin Abdurrahman menceritakan kepadanya, bahwa ketika Abdullah bin ‘Amru dan Anbasah bin Abi Sufyan bersiap-siap untuk perang, Khalid Ibnul `Ash menaiki kendaraannya menuju Abdullah bin ‘Amru seraya menasihatinya. Maka Abdullah bin ‘Amru pun berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bersabda: “Barangsiapa dibunuh karena membela hartanya maka dia mati Syahid.” Dan menurut Abdurrazzaq, dia berkata: “barangsiapa dibunuh karena membela hartanya maka ia mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 6629: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria bin Abi Za`idah berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Budak mana saja yang menebus dirinya dengan membayar seratus Auqiyah, kemudian ia membayarnya kecuali kurang sepuluh saja, lalu ia tidak sanggup lagi maka ia tetap sebagai seorang budak.”

 

Musnad Ahmad 6630: Telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang dari mencabut uban.”

 

Musnad Ahmad 6631: Telah menceritakan kepada kami Zaid Ibnul Hubbab telah mengkhabarkan kepadaku Musa bin Aliy aku mendengar bapakku berkata; Aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tahukah kalian siapa itu muslim?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Seorang muslim adalah jika kaum muslimin merasa aman dari bahaya lisan dan tangganya.” Beliau bersabda: “Tahukah kalian siapa itu mukmin?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Seorang mukmin adalah jika orang-orang mukmin merasa aman darinya terhadap jiwa dan harta mereka. Dan seorang Muhajir adalah orang yang menjauhi keburukkan.”

 

Musnad Ahmad 6632: Telah menceritakan kepada kami Al fadl bin Dukain telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abdurrahman bin Abi Ziyad dari Abdullah bin Al Harits berkata; sesungguhnya aku ingin pergi menemui Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dan Mu’awiyah. Maka Abdullah bin ‘Amru berkata kepada ‘Amru: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya ia telah dibunuh oleh kelompok pemberontak -yaitu Ammar-“, maka ‘Amru berkata kepada Mu’awiyah: “dengarkanlah apa yang ia katakan ini, ” lalu ia pun menceritakannya, maka ia berkata; “apakah kami yang membunuhnya, sesungguhnya yang telah membunuhnya adalah orang yang datang bersamanya.” Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah -yaitu Adl dlarir- berkata; telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abdurrahman bin Abi Ziyad kemudian ia menyebutkan sebagaimana dalam hadits.

 

Musnad Ahmad 6633: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid Al haddad telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim dan Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Husain dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika dalam safar kadang berpuasa dan kadang tidak, dan aku melihat beliau kadang minum sambil berdiri dan kadang tidak, dan aku melihat beliau kadang shalat dengan tanpa alas kaki dan kadang dengan memakai sandal, dan aku melihat beliau kadang bergeser ke kanan dan kadang ke kiri.”

 

Musnad Ahmad 6634: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Awwam telah menceritakan kepadaku Aswab bin Mas’ud dari Hanzhalah bin Khuwailid Al ‘Anbari dia berkata: ketika aku sedang bersama dengan Mu’awiyah, datanglah kepadanya dua orang laki-laki yang saling cekcok tentang (kematian) `Ammar, setiap dari mereka mengaku bahwa dirinyalah yang telah membunuhnya. Maka berkatalah Abdullah bin ‘Amru: “hendaknya setiap kalian tidak menyalahkan dirinya masing-masing atas kematian `Ammar. Maka sesungguhnya aku mendengar -yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ” -Abdullah bin Ahmad berkata; “beginilah yang dikatakan oleh bapakku, – yaitu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dia telah dibunuh oleh kelompok pemberontak.” Lalu Mu’awiyah berkata; “Tidakkah cukup leluconmu wahai ‘Amru, apa urusanmu dengan aku?” Dia menjawab: “sesungguhnya bapakku telah mengadukan aku ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan beliau berkata kepadaku: “Taatilah bapakmu selama ia masih hidup, dan jangan kau berbuat salah kepadanya. Sesungguhnya aku bersama kalian dan aku tidak akan memerangi”

 

Musnad Ahmad 6635: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dan Muhammad bin Yazid mereka berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam; “Wahai Rasulullah, bolehkan aku menulis apa yang aku dengar darimu?” Beliu berkata; “Ya.” Aku berkata; “Walaupun engkau dalam keadaan ridla atau marah?” Beliau menajwab, “Ya, karena sesungguhnya tidak pantas bagiku kecuali berkata yang benar dalam perkara itu (agama).” Berkata Muhammad bin Yazid dalam haditsnya; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar darimu sesuatu maka bolehkah aku menulisnya?” Beliau bersabda: “Ya, silahkan.”

 

Musnad Ahmad 6636: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Hisyam dan Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Mauhammad bin Ibrahim ibnul Harits bahwa Khalid bin Ma’dan menceritakan kepadanya, bahwa Jubair bin Nufair menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin ‘Amru mengkhabarkan kepadanya, dia berkata; Abdush Shomad bin Al ‘Ash menceritakan kepadanya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat dua lembar kain yang telah dicelup dengan warna kuning yang ia kenakan, maka beliau pun bersabda, “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir maka janganlah engkau memakainya.”

 

Musnad Ahmad 6637: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Tidak ada cerai untuk istri yang tidak kalian miliki, tidak ada pembebasan budak yang tidak kalian miliki, tidak ada nadzar yang tidak kalian miliki dan tidak ada nadzar dalam beramaksiat kepada Allah.”

 

Musnad Ahmad 6638: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Husain Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Ketika Makkah ditaklukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau berasbda, “Tahanlah senjata kalian kecuali kepada Khuza’ah dari Bani Bakr”, maka Rasulullah memberi izin kepda mereka sehingga mereka shalat asar. Kemudian beliau bersabda: “Tahanlah senjata kalian.” Maka pada keesokan harinya, seorang laki-laki dari Khuza’ah bertemu dengan seorang lelaki dari Bani Bakr di Muzdalifah lalu membunuhnya. Lalu sampailah kejadian tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Maka beliau berdiri dan berkhutbah: “Sesungguhnya manusia yang paling sombong dihadapan Allah adalah orang yang membunuh di wilayah haram, membunuh orang yang tidak bersalah, dan orang yang membunuh karena dendam Jahilliyah.” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulan itu ibunya pernah berzina dengan aku ketika masa Jahilliyah.” Maka Rasulullah pun bersabda, “Tidak ada pengakuan dalam Islam, perkara Jahilliyah telah usai, seorang anak adalah untuk suami dan seorang pezina baginya adalah Al Atslab.” Ditanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Al Atslab?” Beliau menjawab: “Yaitu hukuman rajam, dan pada sepuluh jari setiap jarinya adalah denda sepuluh ekor unta, dan pada lima al Mawadlih (luka yang hingga terlihat tulangnya) setiap darinya adalah lima ekor unta. Tidak ada shalat setelah subuh sehingga matahari terbit, dan tidak ada shalat setelah asar sehingga matahari terbenam, dan tidak boleh menggabungkan seorang wanita bersama bibinya baik dari pihak ayah ataupun ibu dalam sebuah pernikahan, tidak boleh seorang istri memberikan sesuatu kepada orang lain kecuali dengan izin suami, dan tepatilah perjanjian dimasa Jahilliyah, sesungguhnya Islam tidaklah datang kecuali mengukuhkannya, dan jangan engkau menambah-nambah perjanjian dalam Isalam.”

 

Musnad Ahmad 6639: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Awwam telah menceritakan kepadaku pembantu Abdullah bin ‘Amru dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dia berkata; suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyaksikan matahari yang sedang terbenam kemudian beliau berkomentar mengenai api neraka milik Allah yang sangat panas; “Kalau seandainya ia tidak dicegah dengan perintah-Nya maka niscaya ia akan membinasakan seluruh yang ada di muka bumi ini.”

 

Musnad Ahmad 6640: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengetahui hak orang yang lebih besar dan tidak sayang kepada yang lebih muda di antara kami.”

 

Musnad Ahmad 6641: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar seorang laki-laki dari Muzainah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam., lalu ia menyebutkan sebagaimana hadits Ibnu Idris. Dia berkata: Ia bertanya tentang buah-buahan yang ada dalam keranjang, maka beliau bersabda: “Barangsiapa memakan dengan mulutnya dan ia tidak mengambilnya dengan cara sembunyi-sembunyi maka baginya tidak ada sanksi. Dan barangsiapa kedapatan sedang ia telah memikulnya maka ia harus mengganti dengan dua kali lipat dari harga barang tersebut, dan dia juga harus dihukum. Maka barangsiapa mengambil dengan mengelabui penjaganya, dan telah sampai dari harga sebuah tameng maka tangannya wajib dipotong.” Dia berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan barang yang kami temukan di jalan yang ramai penduduk?” Beliau menjawab: “Umumkanlah selama satu tahun, jika pemiliknya datang hendaknya engkau berikan dan jika tidak maka ia jadi milikmu.” Dia berkata; ” Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami temukan di reruntuhan bangunan yang roboh?” Beliau menjawab: “Padanya dan pada harta yang ditemukan dalam keadaan terpendam terdapat kewajiban mengeluarkan (zakat) sebanyak seperlima.”

 

Musnad Ahmad 6642: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah melarang untuk mencabut uban, dan beliau bersabda: “Dia adalah cahaya bagi seorang mu`min.” beliau bersabda lagi, “Tidaklah seseorang dalam Islam yang tumbuh padanya satu helai uban kecuali dengannya Allah akan mengangkat derajatnya, dihapuskan darinya kesalahannya dan ditulis baginya kebaikkan.”

 

Musnad Ahmad 6643: (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya dari Abdullah bin ‘Amru) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih besar dari golongan kami, dan menyayangi anak kecil dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 6644: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthoh, dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengembalikan anak perempuannya kepada Abu Al ‘Ash dengan mahar baru dan akad nikah baru. Bapakku berkata dalam hadits yang diriwayatkan Hajjaj; “beliau mengembalikan Zaenab (anak perempuannya).” Dia berkata; ini hadits dho’if, atau dia berkata; Waahin (lemah), dan Al Hajjaj tidak pernah mendengarnya dari ‘Amru bin Syu’aib, akan tetapi sebenarnya ia mendengarnya dari Muhammad bin Ubaidillah Al ‘Arzamiy, dan hadits yang diriwayatkan Al ‘Arzamiy tidak dianggap (tidak diakui). Dan hadits dengan riwayat shahihlah yang meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam menyetujui akad nikah mereka yang pertama.

 

Musnad Ahmad 6645: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Artho`ah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa ada dua orang wanita dari Yaman datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada tangan mereka berdua terdapat gelang dari emas, maka Rasulullah berkata; “Apakah kalian mau jika Allah memakaikan gelang dari api untuk kalian berdua?”Tidak”, jawab mereka. Maka Beliau bersabda: ” (Kalau begitu) tunaikanlah hak dari barang ini.”

 

Musnad Ahmad 6646: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj dan Mu’amar bin Sulaiman Ar raqqi dari Al Hajjaj bin Arthoh dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak berlaku persaksian seorang pengkhianat, orang yang terancam hukuman hudud didalam Islam serta orang yang punya rasa dendam kepada saudaranya.”

 

Musnad Ahmad 6647: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthoh dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah menambahkan untuk kalian shalat, yaitu shalat witir.”

 

Musnad Ahmad 6648: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthoh dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunya sanak kerabat, aku sambung silaturahim tetapi mereka memutuskan, aku memaafkan tetapi mereka berbuat zhalim, aku berbuat baik tetapi mereka berbuat jahat, apakah aku harus membalas perbuatan mereka?” maka Beliau menjawab: “Jangan engkau lakukan, dengan begitu berarti engkau tinggalkan mereka semua, tetapi ambillah kebaikannya dan sambunglah hubungan dengan mereka, karena sesungguhnya Allah akan senantiasa memberimu pertolongan selama engkau bisa konsisten begitu.”

 

Musnad Ahmad 6649: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Orang yang meminta pemberiannya kembali seperti seekor anjing menjilat muntahannya kembali.”

 

Musnad Ahmad 6650: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkhabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthoh dari Ibrahim bin ‘Amir dari Sa’id Ibnul Musayyab dan dari Az Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dia berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tiba-tiba ada seorang lelaki datang dengan menjambak-jambak rambutnya seraya berkata: “Celakalah aku!” maka Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “ada apa dengan kamu?” Ia menjawab: “Aku telah menyetubuhi isteriku pada siang hari bulan ramadhan.” Beliau berkata: “Merdekakanlah hamba sahaya”! Ia menjawab: “Aku tidak mempunyainya.” Beliau berkata: “Kalau begitu puasalah dua bulan berturut-turut.” Dia menjawab: “Aku tidak mampu.” Beliau berkata: “Kalau begitu berilah makan kepada enam puluh fakir miskin.” Dia menjawab: “Aku tidak mampu.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberikan sebuah wadah berisi lima sho’ kurma, dan berkata: “Ambillah ini dan berikanlah kepada enam puluh orang fakir miskin.” Dia berkata; “Wahai Rasulullah, di antara dua dataran bebatuan ini tidak ada satu keluarga yang lebih miskin daripada keluarga kami.” Beliau berkata: “Kalau begitu makanlah kurma itu dan berilah makan kepada anggota keluargamu.” Yazid berkata kepada kami, bahwa Al Hajjaj mengkhabarkan kepada kami, dari ‘Atho`, dan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, seperti hadits tersebut di atas, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan ia menambahkan: “seekor sapi.” ‘Amru berkata; dan beliau menyuruhnya untuk berpuasa menggantikan puasanya yang telah batal.

 

Musnad Ahmad 6651: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Muthorrif bin Abdullah bin Asy Syikhir bahwa Nauf dan Abdullah bin ‘Amru berkumpul. Nauf berkata; seraya menyebutkan sebuah hadits. Maka Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; “Aku akan ceritakan kepadamu bahwa pada suatu malam kami pernah shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka ada yang masih menunggu dan ada yang sudah pulang. ketika itu datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebelum orang-orang berdiri untuk melaksanaan shalat Isya`. Beliau datang dengan hati yang penuh semangat mengangkat jarinya seperti ini; beliau menggenggam dua puluh sembilan jarinya dan mengacungkan jari telunjuknya ke langit lalu berkata: “Wahai kaum muslimin, Ini Rabb kalian Azza Wa Jalla telah membuka satu pintu dari pintu-pintu langit dengan membanggakan kalian kepada para malaikat-Nya seraya berkata: “Wahai para malaikat-Ku, lihatlah, mereka adalah hamba-hamba-Ku, mereka melaksanakan kewajiban kemudian menunggu kewajiban yang lain.”

 

Musnad Ahmad 6652: Telah di tandai, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al Azroq dan Haudzah bin Khalifah mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Auf dari Maimun bin Astadz. Haudzah Al Hizani berkata; Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa dari umatku memakai emas dan mati dalam keadaan tetap memakainya, maka Allah akan mengharamkan baginya emas surga. Dan barangsiapa dari umatku memakai kain sutera dan mati dalam keadaan tetap memakainya, maka Allah akan mengharamkan baginya kain sutera surga.” Abdullah berkata; bapakku menandai hadits ini, dan aku mengira bahwa dia menandai pada hadits itu karena periwayatannya keliru. Padahal yang benar adalah dari Maimun bin Astadz dari Abdullah bin ‘Amru, dan tidak disebutkan di dalamnya dari Ash Shadafi. Dan dikatakan: Sesungguhnya yang disebut Maimun itu adalah Ash Shadafi itu sendiri, karena Yazid bin Harun mendengar dari Al Juhari pada akhir-akhir dari hidupnya. WaAllahu A’lam.

 

Musnad Ahmad 6653: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Al Jurairi dari Maimun bin Astadz dari Ash Shadafi dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: “Barangsiapa meninggal dari umatku sedang dia meminum khamer, maka Allah akan mengharamkan baginya untuk meminumnya di surga, dan barangsiapa meninggal dari umatku sedang dia menggenakan emas, maka Allah akan mengharamkan baginya untuk mengenakannya di surga.”

 

Musnad Ahmad 6654: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Budak manasaja yang menebus dirinya dengan seratus uqiyah, dia bayar semua kecuali (kurang) sepuluh uqiyah, maka ia tetap sebagai seorang budak.”

 

Musnad Ahmad 6655: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengkhabarkan kepada kami Qotadah dari Abu Tsumamah Ats Tsaqofi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sesungguhnya rahim pada hari kiamat akan diwujudkan laksana hujnah (semisal alat untuk memintal benang), dia akan berbicara dengan lisan secara fasih dan jelas, dia akan menyambung bagi orang yang menyambungnya dan akan memutus bagi orang yang memutuskannya.”

 

Musnad Ahmad 6656: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Syu’aib bin Abdullah bin ‘Amru dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya: “Puasalah sehari maka engkau akan mendapatkan pahala sepuluh hari puasa.” dia berkata; “Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku karena aku mempunyai kemampuan.” Beliau bersabda: “Puasalah dua hari dan engkan akan mendapatkan pahala sembilan hari puasa.” Dia berkata; “Tambahkanlah untukku karena aku masih mampu.” Beliau bersabda: “Puasalah tiga hari dan engkau akan mendapatkan pahala delapan hari puasa.”

 

Musnad Ahmad 6657: Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud dan Abdu Ash Shomad Al Ma’na mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qotadah dari Syahr, dia berkata; Abdullah bin ‘Amru datang menemui Nauf Al Bikaliy sedang ia lagi menceritakan hadits. Maka Abdullah berkata; “ceritakanlah, karena sesungguhnya kami dilarang untuk menceritakan hadits.” Dia berkata; “bagaimana mungkin aku akan menceritakan sedang disampingku ada seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan dia dari bangsa Quraisy.” Maka Abdullah bin ‘Amru pun berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Akan ada hijrah setelah hijrah, maka orang-orang terbaik dari penduduk bumi, ” menurut riwayat Abdush Shomad, dia berkata: “maka orang-orang pilihan dari penduduk bumi akan pindah ke tempat hijrahnya Nabi Ibrahim (Syam), dan akan tersisa di bumi ini orang-orang yang buruk, bumi pun melempar mereka, Allah Azza Wa Jalla benci mereka, dan mereka akan digiring oleh api bersama-sama dengan kera-kera dan babi-babi.”

 

Musnad Ahmad 6658: (masih menurut jalur/sanad hadits yang sebelumnya) kemudian ia berkata; “ceritakanlah, sesungguhnya kami dilarang untuk menceritakan hadits.” Lalu dia berkata; “Bagaimana aku menceritakan sedang disampingku ada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan dia dari bangsa Quraisy.” Maka Abdullah bin ‘Amru berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur`an tetapi tidak pernah melewati kerongkongan mereka, setiap tanduk mereka dipotong maka akan tumbuh tanduk yang baru, sehingga di sisa-sisa mereka itu akan muncul Dajjal.”

 

Musnad Ahmad 6659: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Jawab telah menceritakan kepada kami ‘Ammar bin Ruzaiq dari Al A’masy dari Abi Sa’id berkata; aku mendatangi Abdullah bin ‘Amru dan aku berkata padanya, “Ceritakanlah kepadaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan jangan engkau ceritakan dari taurot dan Injil kepadaku.” Maka dia pun berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim adalah jika kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya, dan muhajir adalah orang yang menjauhi apa yang telah Allah larang.”

 

Musnad Ahmad 6660: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Zaid dari Utsman Asy Syami bahwa ia mendengar Abu Al Asy`ats Ash Shan’ani dari Aus bin Aus Ats Tsaqofi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa mandi (pada hari Jum’at), pergi di awal waktu, lalu mendekat kemudian mendengarkan (khutbah) dan diam, maka setiap langkah yang dilangkahkannya akan mendapat pahala seperti qiyamullail dan berpuasa selama setahun.”

 

Musnad Ahmad 6661: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Abu Isra`il dari Al Hakam dari Hilal Al Hajari dia berkata; aku berkata kepada Abdullah bin ‘Amru; ceritakanlah kepadaku satu hadits yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” Seorang muslim adalah jika kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya, dan muhajir adalah orang yang menjauhi apa yang telah Allah larang.” Abu Abdurrahman berkata: “ini salah, tetapi yang benar adalah bahwa riwayat itu dari Al Hakam dari Saif dari Rusyaid Al Hajari dari bapaknya.”

 

Musnad Ahmad 6662: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qotadah dari Syahr bin Hausyab dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Orang yang terbunuh karena membela hartanya adalah syahid.”

 

Musnad Ahmad 6663: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Hafshah telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Isa bin Tholhah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan telah datang kepada beliau seorang laki-laki pada hari nahr sedang beliau berdiri di dekat Jamroh, dia berkata; “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mencukur rambut sebelum aku melempar?” Maka beliau bersabda: “Lemparlah dan engkau tidak berdosa.” Kemudian seorang laki-laki lain datang kepada beliau seraya berkata; “Sesungguhnya aku telah menyembelih padahal aku belum melempar?” Beliau bersabda: “Lemparlah dan engkau tidak berdosa.” Kemudian seorang laki-laki lain datang kepada beliau seraya berkata: “Sesunguhnya aku telah melakukan thowaf ifadloh sebelum melempar? Beliau bersabda: “Lemparlah dan engaku tidak berdosa.” Dia berkata; tidaklah aku melihat beliau setiap ditanya kecuali selalu berkata; “kerjakanlah dan engaku tidak berdosa.”

 

Musnad Ahmad 6664: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengkhabarkan kepadaku Hushain dia berkata; aku mendengar Mujahid menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan itu ada waktu semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa jenuhnya, maka barangsiapa semangatnya cenderung kepada sunahku dia beruntung, dan barangsiapa masa jenuhnya cenderung kepada selain itu maka ia celaka.”

 

Musnad Ahmad 6665: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hatim bin Abi Shaghirah telah menceritakan kepada kami Abu Balj dari Amru bin maimun dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “barangsiapa mengucapkan; LAA ILAAHA ILLAH WALLAHU AKBAR WAL HAMDULILLAH WA SUBHANALLAH WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH (Tidak ada Ilah yang hak kecuali Allah, Allah maha Besar, segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, tidak daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih dai lautan.”

 

Musnad Ahmad 6666: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Dinar berkata; aku mendengar Shuhaib Pelayan Abdullah bin ‘Amir dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa membunuh burung tanpa dengan memberikan haknya maka Allah Azza Wa Jalla akan bertanya tentangnya pada hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6667: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Humaid telah mengkhabarkan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Do’a yang paling sering dibaca Rasulullah pada hari ‘Arafah ialah: “LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL HAMDU BIYADIHIL KHAIR WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR (Tiada Ilah selain Allah semata, dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya segala puji-pujian, ditangan-Nya ada kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).”

 

Musnad Ahmad 6668: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jangalah kalian mencabut uban, karena sesungguhnya ia adalah cahaya bagi seorang muslim, barangsiapa tumbuh padanya sehelai uban di dalam Islam maka dengannya Allah akan menuliskan untuknya satu kebaikan, menghapus darinya satu kesalahan dan mengangkatnya dengan satu derajat.”

 

Musnad Ahmad 6669: Telah menceritakan kepada kami Abdu Ash Shomad, telah menceritakan kepadaku, bapakku telah menceritakan kepada kami Habib -yaitu Al Mu’allim- dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang lelaki akan masuk surga karena kelapangan hatinya baik ia sebagai hakim atau yang dihakimi.”

 

Musnad Ahmad 6670: Telah menceritakan kepada kami Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Hamam telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Al Hasan dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga Allah Ta’ala mengambil orang-orang yang baik dari penduduk bumi hingga di dalamnya hanya tersisa orang-orang yang hina yang sama sekali tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.” ‘Affan berbicara kepada kami, Hammam berbicara kepada kami, dari Qotadah, dari Al Hasan, dari Abdullah bin ‘Amru, ia tidak memarfu’kannya dan dia berkata; “Hingga Allah Ta’ala mengambil orang-orang yang baik dari penduduk bumi.”

 

Musnad Ahmad 6671: Telah menceritakan kepada kami Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Hamam telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Abu Ayub dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Waktu zhuhur itu jika matahari telah tergelincir dan bayangan seseorang sama seperti panjangnya selama belum datang waktu ‘Asar, dan waktu ‘Asar itu selama cahaya matahari belum menguning, dan waktu shalat maghrib itu selama cahaya merah belum menghilang, dan waktu shalat ‘Isya` itu hingga pertengahan malam, dan waktu shalat shubuh itu dari terbit fajar sampai sebelum matahari terbit, jika matahari telah terbit maka berhentilah melakukan shalat sebab ia terbit di antara dua tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 6672: Telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad telah menceritakan kepada kami Hamam telah menceritakan kepada kami Qotadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda; “bahwa orang yang menyetubuhi istrinya lewat dubur adalah Luthiyah Shughro (Liwath kecil).”

 

Musnad Ahmad 6673: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Hudbah telah menceritakan kepada kami Hammam, Qotadah ditanya tentang orang yang menyetubuhi istrinya melalui duburnya, maka ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Itu adalah Luthiyah Shughro (liwat kecil).” Qotadah berkata telah menceritakan kepada kami ‘Uqbah bin Wassaj dari Abu Darda ia berkata; ” Tidak ada yang melakukannya kecuali orang kafir.”

 

Musnad Ahmad 6674: Telah menceritakan kepada kami Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Khalifah bin Khayyath Al laits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah atas sebuah janji lalu ia melihat selainnya ada yang lebih baik daripadanya maka ia (yang lebih baik) itu adaah kaffarohnya.”

 

Musnad Ahmad 6675: Telah menceritakan kepada kami Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Khalifah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkhutbah kepada mereka sedang beliau menyandarkan punggungnya ke dinding Ka’bah, lalu beliau bersabda: “Tidak ada shalat setelah `Asar hingga matahari terbenam, dan tidak ada shalat setelah subuh hingga matahari terbit. Kaum muslimin darahnya sama, seorang rendahan dari mereka bisa menjadi penjamin, mereka adalah penolong bagi yang lain, tidak halal seorang mukmin dibunuh dengan (sebab membunuh) seorang kafir, juga tidak halal dibunuh seorang kafir yang ada ikatan perjanjian.”

 

Musnad Ahmad 6676: Telah menceritakan kepada kami Abdu Ash Shomad telah menceritakan kepada kami Imron Al Qaththani telah menceritakan kepada kami Amir Al Ahwal dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa ada seorang lelaki berkata: “si fulan adalah anakku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada pengaku-akuan dalam Islam.”

 

Musnad Ahmad 6677: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Muhammad bin Ibrahim dari Khalid bin mi’dan dari Jubair bin Nufair dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihatnya sedang mengenakan dua kain yang telah dicelup dengan warna kuning, maka beliau pun bersabda, “Ini adalah pakaiannya orang-orang kafir maka janganlah engkau mengenakannya.”

 

Musnad Ahmad 6678: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr yaitu As Sahmi telah menceritakan kepada kami Hatim dari Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun bahwa ia telah mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Abdullah bin ‘Amru menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang lai-laki di bumi ini yang mengucapkan: LAA ILAAHA ILLAH WAALLAHU AKBAR WAL HAMDULILLAH WA SUBHAANAALLAH WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH (Tidak ada Ilah yang hak kecuali Allah, Allah maha Besar, segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, tidak daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) kecuali dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosanya meskipun sebanyak buih dilaut.”

 

Musnad Ahmad 6679: Ahmad bin Hambal berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Qurrah dari Al Hasan ia berkata; Demi Allah, mereka telah beranggapan bahwa Abdullah bin ‘Amru telah menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam benar bersabda: “Jika dia meminum khamer maka cambuklah, kemudian jika dia meminum lagi cambuklah, kemudian jika dia meminum lagi maka cambuklah, maka jika dia meminumnya pada kali keempat penggallah lehernya.” Dia berkata; Abdullah bin ‘Amru berkata: “Datangkanlah kepadaku seorang yang telah dicambuk sebanyak empat kali setelah minum khamer, maka hak kalian yang harus aku kerjakan adalah dengan memenggal lehernya.”

 

Musnad Ahmad 6680: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad dari Abdurrahman Ibnul harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah melihat seorang arab badui yang sedang berdiri menghadap matahari dan beliau sa’at itu sedang berkhutbah lalu beliau berkata: “Sedang apa kamu?” Dia berkata; “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar untuk berdiri menghadap matahari hingga ia menghilang.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Itu bukanlah sebuah nadzar, hanyasanya nadzar itu yang ditujukan untuk mencari wajah (ridla) Allah ‘azza wajalla.”

 

Musnad Ahmad 6681: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertinggal oleh kami dalam sebuah safar yang kami laksanakan, kemudian beliau bisa menyusul kami sedang kewajiban shalat `Asar telah datang membebani kami. Maka mulailah kami basuh kaki kami, lalu beliau menyeru dengan suara yang sangat keras: “Sesungguhnya tumit yang tidak terbasuh air wudlu akan terkena api neraka” Hal itu dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.

 

Musnad Ahmad 6682: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mu`ammal dari Ibnu Abi Mulaikah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, bahwa ia pernah memakai cincin yang terbuat dari emas, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihatnya dan seakan-akan beliau benci dengan hal itu. Maka Abdullah pun membuangnya dan memakai cincin yang terbuat dari besi, lalu beliau pun berkata; “Ini lebih buruk, ini lebih buruk.” Maka Abdullah pun memakai cincin yang terbuat dari perak, dan beliau mendiamkannya.

 

Musnad Ahmad 6683: Telah menceritakan kepada kami Suraij telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mu`ammal dari ‘Atho` bin Abi Rabbah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat nanti akan datang rukun (sudut ka’bah) lebih besar daripada Abu Qubais, ia mempunyai satu lisan dan dua bibir.”

 

Musnad Ahmad 6684: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Ziyad bin Fayyadl dari Abu ‘Iyadl dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Jauhilah bejana-bejana ad Dubbaa` (kendi yang terbuat dari kulit buah labu), Al Muzaffat (bejana yang dicat dengan ter), dan Al Hantam (bejana yang terbuat dari campuran tanah liat, rambut dan darah).” Syarik berkata: dan beliau menyebutkan beberapa jenis bejana yang lain, maka seorang lelaki badui berkata kepada beliau: “Kalau begitu kami tidak mempunyai lagi bejana (untuk minum)?”!. Beliau bersabda: “Minumlah minuman yang halal dan janganlah kalian bermabuk-mabukan.” Aku mengulanginya untuk Syarik; maka beliau bersabda: “Minumlah dan janganlah kalian meminum minuman yang dapat memabukkan dan janganlah kalian bermabuk-mabukan.”

 

Musnad Ahmad 6684: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari Ziyad bin Fayyadl dari Abu ‘Iyadl dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Jauhilah bejana-bejana ad Dubbaa` (kendi yang terbuat dari kulit buah labu), Al Muzaffat (bejana yang dicat dengan ter), dan Al Hantam (bejana yang terbuat dari campuran tanah liat, rambut dan darah).” Syarik berkata: dan beliau menyebutkan beberapa jenis bejana yang lain, maka seorang lelaki badui berkata kepada beliau: “Kalau begitu kami tidak mempunyai lagi bejana (untuk minum)?”!. Beliau bersabda: “Minumlah minuman yang halal dan janganlah kalian bermabuk-mabukan.” Aku mengulanginya untuk Syarik; maka beliau bersabda: “Minumlah dan janganlah kalian meminum minuman yang dapat memabukkan dan janganlah kalian bermabuk-mabukan.”

 

Musnad Ahmad 6686: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah bin Hubairah dari Abdurrahman bin Jubair, dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah keluar menemui kami dan berpesan laiknya orang yang hendak berpisah; “Aku adalah Muhammad, seorang Nabi yang ummi (buta huruf). Aku adalah Muhammad, seorang Nabi yang ummi (buta huruf).” Beliau mengucapkannya hingga tiga kali. Lalu melanjutkannya; “Dan tidak ada Nabi sesudahku. Telah diberikan kepadaku pembuka kalam, kalam yang jami` (yang simpel tapi mengandung arti yang luas), dan juga penutupnya. Aku juga mengetahui jumlah malaikat yang menjaga neraka dan yang membawa ‘Arsy. Telah dihapuskan dariku dosaku dan aku telah diampuni begitupun juga dengan umatku oleh karenanya dengarkanlah dan ta’atlah selama aku masih berada di tengah-tengah kalian. Dan jika aku telah diambil (meninggal dunia) maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada Kitabullah (Al Qur’an), halalkanlah apa yang telah dihalalkan di dalamnya, dan haramkanlah apa yang telah diharamkan di dalamnya.”

 

Musnad Ahmad 6687: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Isma’il dan Abdullah bin Abi As Safar dari Asy Sya’bi dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Seorang muslim adalah bila kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang telah larang oleh Allah.”

 

Musnad Ahmad 6688: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Zakaria dari Asy Sya’bi dia berkata: aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim adalah bila kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang telah larang oleh Allah.”

 

Musnad Ahmad 6689: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “laknat Allah itu berlaku bagi pemberi suap dan penerima suap.”

 

Musnad Ahmad 6690: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Hazm dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman kepada taqdir yang baik maupun yang buruk.”

 

Musnad Ahmad 6691: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Amru bin Murroh dia berkata; aku sedang duduk-duduk didekat Abi Ubaidah, lalu orang-orang menyebut-nyebut tentang riya`. Maka berkatalah seorang laki-laki yang biasa di panggil dengan nama Abu Yazid, ia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda “Barangsiapa yang dengan amalannya ia ingin didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkannya kepada para pendengar dari hamba-Nya, dan Dia akan mengkerdilkan dan meremehkannya.”

 

Musnad Ahmad 6692: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Yunus yaitu Ibnu Abu Ishaq dari Hilal bin Khabbab Abul Ala` telah menceritakan kepada Ikrimah telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ‘Amru dia berkata; ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam orang-orang menyebut-nyebut tentang fitnah, atau disebutlah tentang fitnah didekat beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Maka beliau bersabda: “Jika engkau telah melihat manusia, perjanjian mereka telah rusak dan kacau, amanah mereka lemah, dan mereka seperti ini” -beliau menganyam antara jari-jarinya, dia berkata; aku pun berdiri ke arah Rasulullah lalu Aku berkata; “aku harus melakukan apa ketika kondisinya begitu, semoga Allah jadikan aku sebagai tebusanmu?” Beliau bersabda: “Berdiam dirilah di rumahmu, pelihara lisanmu, amalkan apa yang engkau ketahui, jauhi apa yang engkau ingkari, dan beramallah engkau dengan amal amalmu sendiri serta jauhilah urusan manusia.”

 

Musnad Ahmad 6693: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Habib dari Abul Abbas dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidak dikatakan berpuasa seseorang yang berpuasa terus menerus”

 

Musnad Ahmad 6694: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Az Zinad dari Abdurrahman Ibnul Harits dari ‘Amru bin Syu’aib -insya Allah- dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang dari mencabut uban, beliau bersabda: “sesungguhnya ia adalah cahaya Islam.”

 

Musnad Ahmad 6695: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Bakr telah menceritakan kepada kami Ubaidullah Ibnul Akhnas Abu Malik Al Azdi dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berabda, “Tidak ada nadzar dan tidak ada sumpah pada sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak Adam, dan tidak pada bermaksiat kepada Allah, atau memutuskan hubungan silarturahim, maka barangsiapa meniatkan dirinya untuk melakukan sumpah, kemudian ia melihat sesuatu yang lebih baik darinya, hendaklah ia tinggalkan dan mengambil sesuatu yang lebih baik, sebab meninggalkannya adalah kafarahnya.”

 

Musnad Ahmad 6696: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah yaitu Ibnul mubarak telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang dari transaksi jual beli yang dilakukan di dalam masjid.”

 

Musnad Ahmad 6697: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab bin ‘Atho`, dia berkata; dan telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; ketika kota Makkah di taklukkan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: “Tahanlah senjata kalian, ” kemudian dia menyebutkan sebagaimana hadits Yahya dan Yazid dan beliau bersabda dalam riwayat tersebut; “dan tepatilah perjanjian Jahilliyah, tidaklah Islam datang kecuali mengukuhkannya, dan janganlah kalian ciptakan perjanjian baru di dalam Islam.”

 

Musnad Ahmad 6698: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bukair telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qotadah dia berkata; aku mendengar Abu Ayub Al Azdi menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru, -dia berkata; dia tidak memarfu`kannya sampai dua kali-. Dia berkata; lalu aku bertanya kepadanya yang ketiga kalinya. Maka ia pun berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Waktu shalat zhuhur adalah sebelum datangnya waktu shalat `asar, waktu shalat `ashar adalah sebelum matahari menguning, waktu shalat maghrib adalah sebelum cahaya syafaq hilang, waktu shalat isya` adalah sampai pertengahan malam dan waktu shalat subuh adalah sebelum matahari terbit.”

 

Musnad Ahmad 6699: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath Thalqani telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak dari Laits bin Sa’d telah menceritakan kepadaku dari ‘Amir bin Yahya dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya nanti di hari kiamat Allah akan memilih salah seorang dari umatku di depan semua makhluk, lalu dibukakan kepadanya sembilan puluh sembilan buku (catatan) besar, setiap satu catatan ukurannya sejauh mata memandang. Kemudian Dia bertanya kepadanya: “Apakah kamu mengingkari apa yang ada dalam catatan ini?” “Apakah para malaikat pencatat amal telah berlaku lalim terhadapmu?” Ia menjawab: “Tidak, duhai Rabb.” Dia SUBHANAHU WATA’ALA bertanya: “Apakah kamu mempunyai sebuah udzur (alasan) atau mempunyai sebuah amal kebajikan?” Maka orang itupun tercengang dan berkata: “Tidak, duhai Rabb.” Lalu Allah berkata: “Ya, bahkan kamu mempunyai sebuah amal kebajikan pada kami, dan pada hari ini tidak ada kezholiman atas kamu.” Lalu dikeluarkanlah sebuah kartu yang bertuliskan; ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah berkata: “Perlihatkanlah kepadanya”! Lalu lelaki itu berkata: “wahai Rabb, Kartu apa ini dan apa kaitannya dengan catatan-catatan ini?” Lalu dikatakan kepadanya: “Sungguh kamu tidak akan dizholimi.” Kemudian catatan-catatan itu diletakkan pada neraca mizan (timbangan). Dia berkata; “Dan ternyata catatan-catatan itu sangat ringan, dan kartu itu sangat berat timbangannya. Dan tidak ada sesuatu yang bisa mengalahkan dengan BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) “

 

Musnad Ahmad 6700: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak dari Laits bin Sa’d telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Rabi’ah dari Bakr bin Sawadah dari Abdurrahman bin Jubair bahwa Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash menceritakan kepadanya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berdiri dan bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki masuk kerumah seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya kecuali ia bersama dengan orang lain.” Abdullah bin ‘Amru berkata: “Setelah pertemuan itu aku tidak pernah masuk lagi kepada seorang istri yang ditinggal oleh suaminya kecuali aku bersama satu atau dua orang.”

 

Musnad Ahmad 6701: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Abdullah -yaitu Ibnul Mubarak- telah mengkabarkan kepada kami Abdullah bin Syaudzab telah menceritakan kepadaku ‘Amir bin Abdul Wahid dari Abdullah bin Buraidah dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dia berkata; bahwa jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ingin membagikan ghonimah, beliau menyuruh bilal untuk mengumandangkan seruan tiga kali hingga orang-orang berdatangan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan memegang tali kekang. Setelah beliau membagikan ghonimah, ternyata ada salah seorang yang baru datang dan berkata; “Wahai Rasulullah, ini ada sebuah ghonimah yang telah kudapatkan.” Beliau berkata: “Tidakkah kamu mendengar seruan bilal yang memanggil-manggil hingga tiga kali?” Ia menjawab: “Ya, aku mendengarnya.” Beliau bertanya lagi: “lalu apa yang menghalangimu untuk segera datang menyerahkannya padaku?” Lelaki itupun mengajukan beberapa alasan kepada beliau. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sungguh aku tidak akan menerimanya hingga kamu sendiri yang menyerahkannya dengan penuh pada hari kiamat kelak.”

 

Musnad Ahmad 6702: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengkabarkan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada waktu fathu Makkah dan beliau ketika berada di Makkah: “Sesungguhnya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah mengharamkan berjualan khamer, bangkai dan babi.” Lalu ditanyakanlah kepada beliau: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai yang digunakan untuk mengecat kapal dan meminyaki kulit serta dipakai manusia untuk penerangan?” Beliau menjawab: “Tidak, dia (hukumnya) tetap haram.” Kemudian beliau berkata: “Allah membinasakan kaum yahudi, sesungguhnya ketika Allah mengharamkan lemak atas mereka, mereka malah mengumpulkannya, mencairkannya kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya.”

 

Musnad Ahmad 6703: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab bin Ziyad telah mengkabarkan kepada kami Abdullah telah mengkabarkan kepada kami Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak menjabat tangan wanita ketika membai’at.”

 

Musnad Ahmad 6704: Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengkabarkan kepada kami Usamah bin Zaid dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak halal bagi seorang lelaki untuk memisahkan antara dua orang kecuali dengan izin keduanya.”

 

Musnad Ahmad 6705: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Roja` Abu Yahya telah menceritakan kepada kami Musafi’ bin Syaibah dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; “Aku bersumpah dengan nama Allah, ” tiga kali dan dia meletakkan jarinya pada dua telinganya; “sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya rukun Yamani dan Maqom Ibrahim adalah dua mutiara dari mutiara surga yang telah Allah ‘azza wajalla redupkan cahaya keduanya, dan kalau seandainya Allah tidak meredupkannya maka cahayanya akan menerangi antara timur dan barat.”

 

Musnad Ahmad 6706: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Habib Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: bahwa seorang Arab badui datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata; “Sesungguhnya aku mempunyai uang dan juga seorang ayah, dan ayahku ingin mengambil harta milikku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kamu dan juga hartamu adalah milik bapakmu, sesungguhnya anak-anak kalian adalah sebaik-baik hasil usaha kalian, maka makanlah dari usaha anak-anak kalian.” Abu Abdurrahman berkata: sesungguhnya Habib Al Mu’allim biasa disebut dengan nama Habib bin Abi Baqiyyah.”

 

Musnad Ahmad 6707: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Habib berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Ada tiga golongan orang Yang menghadiri shalat jum’at itu; seorang laki-laki menghadiri shalat jum’at dengan main-main maka itulah bagiannya. Dan seorang laki-laki menghadiri shalat jum’at dengan berdoa kepada Allah, maka dia adalah seorang lelaki yang berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla jika Allah berkehendak akan mengabulkannya dan jika berkehendak akan menolaknya. Serta seorang laki-laki yang menghadiri shalat jum’at dengan rasa tenang dan khusyu’, tidak melangkahi punggung seorang muslim dan tidak menyakiti hati orang lain, maka itu adalah sebagai kafarah baginya untuk seminggu yang akan datang dan ditambah tiga hari lagi. Karena sesungguhnya Allah berfirman; barangsiapa berbuat satu kebaikan maka baginya sepuluh kebaikkan yang semisal.”

 

Musnad Ahmad 6708: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Syahr dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa meminum khamer maka cambuklah dia, dan barangsiapa meminumnya yang kedua kalinya maka cambuklah, dan barangsiapa meminumnya pada yang ketiga kalinya maka cambuklah, dan barangsiapa meminumnya pada yang keempat kalinya maka bunuhlah.”

 

Musnad Ahmad 6709: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibrahim dari Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “sesungguhnya dosa besar yang paling besar adalah durhaka kepada kedua orang tua.” Maka beliau ditanya; “Apa yang dimaksud dengan durhaka kepada kedua orang tua?” beliau bersabda: “Seorang lelaki mencela orang lain kemudian orang tersebut mencela bapaknya, dan dia mencela ibunya kemudian dia balas mencela ibunya.”

 

Musnad Ahmad 6710: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dan Dawud bin Hind dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa dalam sehari membaca dua ratus kali “LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya segala kekuasaan, dan kepunyaan-Nya segala puji-pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) ia tidak akan didahului oleh seorangpun dari kaum sebelumnya dan tidak akan dicapai oleh seorangpun dari kaum sesudahnya kecuali dengan amalan yang lebih utama daripadanya; yakni kecuali oleh orang yang beramal dengan amalan yang lebih utama lagi daripadanya.”

 

Musnad Ahmad 6711: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hasan bin ‘Athiyah, dia berkata; Abu Kabsyah As Saluli datang sedang kami berada di masjid, maka Makhul dan Ibnu Abi Zakaria dan Abu Bahriyah berdiri untuk menyambutnya, maka ia pun berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sampaikahlah dariku meskipun hanya satu ayat, dan ceritakan pula dari Bani Isra`il dan engkau tidak berdosa, maka barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaknya ia bersiap-siap untuk menempati tempatnya di neraka.”

 

Musnad Ahmad 6712: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Abdurrahman bin Harmalah dari ‘Amru bin Syu’aib, dia berkata; aku mendengar bapakku menceritakan dari bapaknya, ia berkata bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Satu orang pengendara adalah satu setan, dua orang pengendara adalah dua setan, dan tiga orang pengendara adalah sebuah kafilah.”

 

Musnad Ahmad 6713: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Roja` bin Yahya telah menceritakan kepada kami Musafi’ bin Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Amru dan dia memasukan jari-jarinya ke dalam telinganya seraya berkata; sungguh aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya rukun Yamani dan Maqom Ibrahim adalah dua mutiara dari mutiara surga yang telah Allah ‘azza wajalla redupkan cahaya keduanya, dan kalau seandainya Allah tidak meredupkannya maka cahayanya akan menerangi antara langit dan bumi, ” atau beliau bersabda; “antara timur dan barat.” Demikian Yunus berkata (tentang nama Roja` yaitu:) Roja` bin Yahya. Sedang ‘Affan berkata; Roja` Abu Yahya. Abdullah bin Ahmad berkata; Hudbah bin Khalid telah menceritakan kepada kami tentangnya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Roja` bin Shubaih Abu Yahya Al Harasyi. Dan yang benar adalah dari Abu Yahya sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Affan dan Hudbah bin Khalid. Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Al Qowaririy Ubaidullah bin Umar telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Roja` Abu Yahya, kemudian dia menyebutkan sebagaimana hadits tersebut diatas.

 

Musnad Ahmad 6714: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengkabarkan kepada kami Abdullah telah mengkabarkan kepada kami Musa bin Ali bin Rabbah dia berkata; aku mendengar bapakku menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Para penghuni neraka itu adalah orang-orang yang keras dan kasar, sombong, suka mengumpulkan harta dan suka menghalangi manusia (dari jalan Allah), sedangkan penghuni surga adalah orang-orang yang lemah dan selalu dikalahkan.”

 

Musnad Ahmad 6715: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Yunus Ibnul Harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; hanyasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan haji qiron karena khawatir kalau-kalau beliau akan dihalang-halangi dari Baitullah, dan beliau berkata: “Jika bukan haji maka umrah.”

 

Musnad Ahmad 6716: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abul Abbas dan Husain bin Muhammad mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Az Zinad dari Abdurrahman Ibnul Harits bin Abdullah bin Ayyass bin Abi Rabi’ah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkhutbah dihadapan manusia pada saat penaklukan Makkah di atas tangga Ka’bah. Pertama yang beliau ucapkan adalah kata-kata pujian untuk Allah Ta`ala kemudian bersabda: “Wahai manusia, setiap perjanjian yang terjadi pada masa Jahilliyah tidaklah Islam datang kecuali mengukuhkannya, dan tidak ada perjanjian dalam Islam, tidak ada hijrah setelah dibukanya kota Makkah, seorang muslim adalah penolong bagi yang lainnya, darah mereka sama, seorang mukmin tidak boleh dibunuh sebagai tebusan seorang kafir, diat untuk orang kafir adalah setengah dari seorang muslim. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada syighor (nikah dengan sistem saling tukar dan tanpa mahar) di dalam Islam, harta zakat tidak dihindarkan dan tidak dihantar, harta sedekah mereka diambil dari rumah-rumah mereka, orang yang paling rendah dari mereka sebagai penjamin, ————–kemudian beliau turun.” Husain berkata; bahwa ia telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

 

Musnad Ahmad 6717: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab dari Sa’id dari Mathor dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Pada lima al Mawadlih (luka yang hingga terlihat tulangnya) setiap darinya adalah lima ekor unta, dan semua jari adalah sama, pada sepuluh jari setiap jarinya adalah denda sepuluh ekor unta.”

 

Musnad Ahmad 6718: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qotadah dari Syahr dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi waSalam bersabda: “Orang yang terbunuh karena membela hartanya adalah mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 6719: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Syuja’ Abu ‘Amru Al Jazari telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibnu Abi ‘Ablah Al `Uqaili dari kalangan penduduk Baitul Maqdis dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dia berkata; Abdullah bin Umar pernah bertemu dengan Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash di bukit Marwah kemudian keduanya saling berbicara, lalu Abdullah bin ‘Amru berlalu dan tinggallah Abdullah bin Umar dengan menangis terisak-isak. Maka seorang lelaki bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdurrahman, apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab: “lelaki ini – (yakni Abdullah bin ‘Amru) – ia mengaku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi, maka Allah akan membanting mukanya dalam api neraka.”

 

Musnad Ahmad 6720: Telah menceritakan kepada kami Abdul Qudus bin Bakr bin Khunais Abul Jahm telah mengkabarkan kepada kami Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Setiap shalat yang tidak dibacakan (bacaan) di dalamnya maka ia kurang, kemudian kurang kemudian kurang.”

 

Musnad Ahmad 6721: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab berkata; telah mengkabarkan kepadaku Musa bin Ali dia berkata; aku mendengar bapakku berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang muslim itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Orang muslim ialah yang jika kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” Beliau bertanya lagi: “Tahukah kalian siapakah orang mukmin itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul lebih tahu.” Beliau bersabda: “Yaitu orang yang jika orang-orang mukmin lainnya merasa aman terhadap jiwa dan harta mereka. Dan orang yang berhijrah ialah yang menjauhi perbuatan buruk dan menghindarinya.”

 

Musnad Ahmad 6722: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim telah mengkabarkan kepada kami Duwaid Al Khurasani, dan Az Zubair bin ‘Adi duduk bersama dengannya, ia berkata; telah mengkabarkan kepada kami ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya kami telah mendengar darimu beberapa hadits, dan kami tidak bisa menghafalkannya, bolehkan jika kami menulisnya?” “Silahkan, maka tulislah.” Jawab beliau.

 

Musnad Ahmad 6723: Telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim dari Al Mutsanna bin Ash Shabah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” (termasuk) kekufuran kepada Allah adalah berlepas diri dari nasab walaupun hanya kecil atau mengaku terhubung dengan nasab yang tidak diketahui.”

 

Musnad Ahmad 6724: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid Al Wasithi telah mengkabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, ia berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mendengar sesuatu (hadits) darimu, bolehkah jika aku menulisnya? Beliau menjawab: “Silahkan.” Aku berkata; “Baik engkau dalam keadaan marah atau ridla?” Beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar meskipun aku dalam kondisi tersebut.”

 

Musnad Ahmad 6725: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Husain Al Mu’allim, -berkata Abdul Wahab – dan aku telah mendengarkannya dari Husain, dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; “aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berpaling ke kanan dan ke kiri, Shalat dengan memakai sandal dan tanpa alas kaki, puasa dalam perjalan dan kadang tidak, serta aku lihat dia minum sambil berdiri dan terkadang dengan duduk.”

 

Musnad Ahmad 6726: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab telah menceritakan kepada kami Husain dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dia berkata; “Sesungguhnya aku tidak mempunyai harta, sedangkan bersamaku ada anak yatim.” Maka beliau bersabda: “Makanlah dari harta anak yatimmu dan jangan berlebihan, jangan berlaku mubadzir dan jangan engku ambil hartanya untuk kamu miliki serta jangan engkau gunakan hartanya agar hartamu tak berkurang, atau engkau tukar hartamu dengan hartanya.” Husain masih meragukannya.

 

Musnad Ahmad 6727: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidah bin Humaid Abu Abdurrahman berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Atho` As Sa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Wahai Abdullah bin ‘Amru, dalam berapa hari engkau rampungkan bacaan Al Qur`an?” Dia berkata; Aku berkata; “Dalam dua hari dua malam.” Dia berkata; ” Maka beliau pun berkata kepadaku: “Tidur dan bangunlah, tidur dan bacalah dalam satu bulan.” Dia berkata; “Setiap aku menguranginya maka beliau juga menguranginya untukku sehingga berliau berkata; “Bacalah ia dalam tujuh hari.” Bapakku berkata; dan aku tidak paham sehingga hilang dariku satu kata. Berkata; kemudian dia berkata; Aku berkata; “Sesungguhnya aku selalu berpuasa dan tidak berbuka.” Dia berkata; maka Rasulullah berkata kepadaku, “Puasa dan berbukalah, puasalah tiga hari dalam setiap bulannya.” Setiap aku menguranginya maka beliau juga menguranginya untukku sehingga berliau berkata; “Puaslah dengan puasa yang paling disukai oleh Allah Azza Wa Jallaa, yaitu puasa dawud, puasalah sehari dan berbukalah sehari.” Lalu Abdullah bin ‘Amru berkata: “Sekiranya aku menerima kemudahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah lebih aku sukai daripada aku mendapatkan unta merah.” Aku mengira bahwa ‘Ubaidah ragu.

 

Musnad Ahmad 6728: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d, bapakku telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Amru bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak dihantar dan tidak pula dihindarkan; tidaklah sedekah-sedekah (zakat-zakat) itu diambil kecuali dari dalam rumah-rumah mereka.”

 

Musnad Ahmad 6729: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Abu Sufyan Al Harasi -dia adalah seorang yang dapat dipercaya sebagaimana keterangan penduduk negerinya- dari Muslim bin Jubair mantan budak Tsaqif, muslim adalah seorang lelaki yang haditsnya bisa diambil, dia telah bertemu dan meriwayatkan dari ‘Amru bin Huraisy Az Zubaidi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; aku berkata; “wahai Abu Muhammad sesungguhnya kami berada di wilayah yang tidak ada dinar dan dirham, harta-harta kami hanyalah binatang ternak, sesungguhnya kami melakukan transaksi jual beli dengan menukar antara sapi dengan kambing secara bertempo, satu unta dengan beberapa sapi dan satu kuda dengan beberapa unta. Semuanya itu kami lakukan dengan tempo, apakah dengan begitu kami berdosa?” Maka dia berkata; “Sungguh engkau telah bertanya kepada ahlinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan kepadaku untuk membawa pasukan guna mencari seekor unta milikku.” Dia berkata; “Maka aku pun bawa pasukan itu untuk mencari unta tersebut namun tidak ketemu, cuma para pasukan merasa lelah dan capek.” Dia berkata; “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun berkata kepadaku: “Juallah kepadaku satu ekor unta dengan beberapa ekor unta muda dari unta zakat sesuai dengan hitungannya sampai kita bisa melakukan pencarian ini.” Dia berkata; “Maka akupun menjual dua ekor unta jantan dengan beberapa ekor unta muda dan tiga ekor unta betina dari unta zakat sesuai dengan perhitungannya sehingga aku bisa melanjutkan pencarian tersebut. Dia berkata; “maka ketika telah sampai waktunya untuk zakat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun membayarannya.”

 

Musnad Ahmad 6730: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memutuskan bahwa tebusan bagi janin yang terbunuh masih dalam perut ibunya adalah dengan membayar diyat seorang budak lelaki atau budak wanita. Beliau menerapkan hukum itu pada isteri Hamal bin Malik bin An Nabighah Al Hudzali.

 

Musnad Ahmad 6731: (Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya. Dari Abdullah bin ‘Amru) Dan Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada Syighor (Menikah dengan sistem silang dan tanpa membayar mahar) dalam Islam.”

 

Musnad Ahmad 6732: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub dan Sa’d mereka berkata; bapakku menceritakan kepaku dari Ibnu Ishaq -yaitu Muhammad- telah menceritakan kepadaku Abdurrahman Ibnul Harits dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menetapkan hukum, beliau berkata: “Tidak ada nikah syighor (nikah dengan sistem silang tanpa mahar) dalam Islam.”

 

Musnad Ahmad 6733: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq dia berkata; ‘Amru bin Syu’aib menyebutkan dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menetapkan bahwa anak dari suami istri yang saling li’an (melaknat), maka anak tersebut akan mewarisi harta ibunya dan juga sebalikknya, dan barangsiapa menuduh ibunya berzina maka ia harus dijilid sebanyak delapan puluh kali, dan barangsiapa memanggil anaknya dengan anak zina maka ia juga harus dijilid delapan puluh kali.”

 

Musnad Ahmad 6734: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari bapaknya, dari Humaid bin Abdurrahman aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya di antara dosa besar yang paling besar adalah jika seorang lelaki melaknat kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana ia melakanat keduanya?” Beliau bersabda: “Dia mencela orang lain sehingga orang tersebut mencela bapaknya, dia mencela ibu orang lain sehingga ia balas mencela ibunya.”

 

Musnad Ahmad 6735: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz – yaitu Ibnul Muthallib Al Makhzumi- dari Abdul Aziz dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa dibunuh karena membela hartanya maka ia mati syahid.” Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz Ibnul Muththalib dari Abdullah bin Husain dari Ibrahim bin Muhammad bin Tholhah At Taimi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash sebagaimana hadits diatas.

 

Musnad Ahmad 6736: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepadaku dari Shalih, berkata; Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepadaku Isa bin Tholhah bin Ubaidullah bahwa ia mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berhenti pada hari Nahr di atas kendaraannya. Maka orang-orang pun langsung bertanya kepadanya, salah seorang dari mereka berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku tidak tahu bahwa melempar itu lebih dahulu ketimbang menyembelih sehingga aku menyembelih sebelum aku melempar.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda, “lemparlah dan engkau tidak berdosa.” Sahabat yang lain bertanya: “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku tidak tahu bahwa menyembelih itu lebih dahulu ketimbang mencukur rambut, maka aku mencukur rambutku sebelum aku menyembelih.” Maka beliaupun bersabda: “sembelihlah dan engkau tidak dosa.” Dia berkata; “aku tidak mendengar beliau ketika ditanya suatu permasalahan yang seseorang lupa darinya atau karena ketidak tahuan mereka, seperti mendahulukan sesuatu pekerjaan sebelum yang lain kecuali beliau berkata: “kerjakanlah dan engkau tidak berdosa.”

 

Musnad Ahmad 6737: Telah menceritakan kepada kami Ya`qub berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku daru Muhammad bin Ishaq lalu ia menyebutkan sebuah hadits, Ibnu Ishaq berkata; ‘Amru bin Syu`aib bin Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru bin Al Ash menyebutkan dari Bapaknya dari Kakeknya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka permasalah itu diserahkan kepada wali kurban, jika mereka berkehendak mereka boleh meminta qishas (balas bunuh), dan jika mereka berkehendak mereka boleh meminta tebusan, yaitu tiga puluh ekor hiqah (unta yang telah berumur empat tahun), dan tiga puluh jadza`ah (unta perempuan yang telah berumur lima tahun), serta empat puluh khaliqah unta yang sedang hamil). Adapun jika mereka mengajak damai dengan sesuatu maka itu menjadi hak mereka, dan itulah denda. Tebusan bagi pembunuhan semi sengaja adalah diperberat sebagaimana pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, dan pelakunya tidak boleh dibunuh, karena dengan begitu setan akan menguasakan (permusuhan) antar manusia. Sehingga keluarnya darah tersebut bukan karena permusuhan, bukan lantaran adanya fitnah dan bukan seperti orang yang menenteng senjata.” (Perawi) berkata, “Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mengacungkan senjata kepada kami dan mengintai di jalan bukanlah dari golongan kami. Barangsiapa terbunuh bukan dalam kondisi seperi itu, maka itu adalah pembunuhan semi sengaja, tebusannya diperberat sedangkan pembunuhnya tidak boleh dibalas bunuh, dia haram sebagaimana haramnya bulan haram. Barangsiapa terbunuh karena kesalahan maka tebusannya adalah seratus ekor unta; yaitu tiga puluh ibnatu makhadl (unta yang berumur dua tahun), tiga puluh ibnatu labun (unta yang berumur tiga tahun), tiga puluh hiqqah (unta yang berumur empat tahun) dan sepuluh banu labun (unta yang berumur tiga tahun) laki-laki yang belum kawin.” Ia (perawi) berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tebusan kepada penduduk kampung dengan empat ratus dinar, atau dari perak dengan jumlah yang sebanding. Dan kadang beliau memberikan dengan tebusan unta yang senilai. Jika harganya melambung maka beliau naikkan nilai tebusannya dan jika harganya turun maka beliau turunkan nilai tebusannya sesuai dengan perkembangan zaman. Pada masa Rasulullah standar nilai itu antara empat ratus sampai delapan ratus dinar. Atau jika dalam bentuk perak maka ia sebanding dengan delapan ribu uang perak. Beliau telah memutuskan bahwa jika tebusan itu untuk penduduk (pengembala sapi), maka tebusannya adalah berupa sapi juga, yaitu sejumlah dua ratus ekor sapi. Sedangkan jika tebusan itu untuk penduduk (pengembala kambing) maka tebusannya adalah setara dengan dua ribu ekor kambing. Beliau juga memutuskan bahwa tebusan hidung yang dirusak secara utuh maka tebusannya adalah utuh, jika yang dirusak hanya sebagiannya saja maka tebusannya adalah setengahnya. Beliau juga memutuskan bahwa tebusan pada mata adalah setengah dari nilai tebusan, yaitu senilai dengan lima puluh ekor unta, atau berupa emas atau perak yang sebanding, atau seratus ekor sapi, atau seribu kambing. Sedangkan pada kaki atau tangan maka tebusannya adalah setengah dari nilai tebusan. Sedang pada luka ma`mumah (luka yang tembus hingga otak) tebusannya adalah sepertiga dari nilai tebusan, yaitu tiga puluh tiga ekor unta, atau dengan nilai yang setara baik itu dengan emas, perak, sapi atau pun kambing. Sedangkan pada luka ja`ifah (luka yang tembus hingga rongga perut ataupun kepala) maka tebusnnya adalah sepertiga dari nilai tebusan. Sedangkan pada luka munaqilah (luka yang menyebabkan tulang retak) tebusannya adalah lima belas ekor unta. Sedangkan pada luka mudlihah (luka yang tembus hingga tulang) tebusannya adalah lima ekor unta. Dan tebusan pada gigi adalah lima ekor unta.” Perawi berkata, “‘Amru bin Syu`aib menyebutkan dari bapaknya dari kakeknya, bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan atas seorang laki-laki yang menikam laki-laki lain dengan tanduk pada kakinya, laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, berikan hak qishasku atasnya, ” beliau lalu bersabda: “Janganlah engkau tergesa-gesa, hingga lukamu sembuh dahulu, ” perawi berkata, “Laki-laki tersebut enggan dan tetap meminta untuk dilaksanakan qishas hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun melaksanakannya. Perawi berkata, “Maka orang yang meminta untuk segera ditegakkan qishas tersebut masih dalam keadaan pincang, sedangkan orang yang diqishas telah sembuh dari lukanya. Maka orang yang meminta ditegakkan qishah tersebut mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku masih pincang, sedang temanku sudah sembuh!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda kepadanya: “Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu agar kamu jangan tergesa-gesa minta untuk ditegakkan qishas hingga lukamu sembuh, tapi kamu menyelisihiku, maka Allah pun menjauhkamu (dari rahmat) sedang lukamu juga belum sembuh.” Kemudian setelah kejadian laki-laki itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar siapa saja yang mempunyai luka hendaklah ia tidak meminta agar segera ditegakkan qishas hingga lukanya sembuh. Maka jika telah sembuh qishas boleh untuk ditegakkan.”

 

Musnad Ahmad 6738: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub aku mendengar dia menceritakan -yaitu bapaknya – dari Yazid Ibnul Had dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari Muhammad bin Abdullah bin ‘Amru, dari Abdullah bin ‘Amru bahwa dia berkata; sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam sebuah majlis bersabda: “Maukah kalian jika aku sampaikan orang yang paling aku sukai dari kalian, pada hari kiamat Ia paling dekat dengan aku majlisnya?” Beliau ulangi sampai tiga kali. Dia berkata; kami berkata; “Mau wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda: “Orang yang paling baik akhlaq di antara kalian.”

 

Musnad Ahmad 6739: Ya’qub berkata; bapakku telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Yahya bin urwah bin Az Zubair dari bapaknya (‘Urwah), dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; betapa banyak engkau lihat orang-orang Quraisy menimpakan kepada siksa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam karena ia menampakkan permusuhannya. Dia berkata; aku pernah hadir dalam majelis mereka, pada suatu hari pembesar-pembesar mereka berkumpul di Hijir Isma’il. Mereka memperbincangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, mereka berkata: kami tidak pernah melihat kesabaran kami dalam menghadapi sesuatu yang lebih besar kecuali terhadap orang ini (Rasulullah). menganggap gila orang-orang pintar kami, menghina bapak-bapak kami, mencela agama kami, memecah belah persatuan kami dan mencela sesembahan kami. Sungguh kami telah berbuat sabah kepadanya atas suatu perkara yang besar. Atau, sebagaimana yang mereka katakan. Maka ketika mereka sedang berbincang-bincang seperti itu muncullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berjalan sehingga beliau mengusap rukun Yamani kemudian meliau melewati mereka ketika sedang mengelilingi Baitullah, dan ketika mereka melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lewat mereka menghinanya dengan kata-kata mereka. Dia berkata; aku tahu hal itu dari wajah beliau. Kemudian berlalu, dan ketika beliau melewati mereka untuk kali keduanya mereka kembali mencela seperti semula. Dan aku bisa mengetahui hal itu dari wajahnya. Kemudian berlalu, dan ketika beliau melewati mereka untuk kali ketiganya mereka kembali mencela seperti semula. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dengarlah wahai orang-orang Quraisy, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggamannya, sungguh aku datang untuk menyembelih kalian.” Maka kata-kata itu menjadikan mereka ngeri. Sehingga, tidak ada seorang dari mereka kecuali seakan-akan di atas kepalanya ada seekor burung yang hinggap.

 

Musnad Ahmad 6740: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya (Abdullah bin ‘Amru) dia berkata: bahwa utusan dari Negeri Hawazin datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedangkan beliau waktu itu sedang berada di Ji’ronah, para utusan itu telah masuk Islam, mereka berkata: “Sesungguhnya kita satu bangsa dan satu kabilah, sesungguhnya kami telah tertimpa musibah dan malapetaka yang engkau telah melihatnya, bantulah kami maka Allah akan membantumu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “Anak-anak dan istri-istri kalian atau harta kalian yang lebih kalian cintai?” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan pilihan kepada kami antara nasab dan harta kami, tetapi jika engkau kembalikan anak-anak dan istri-istri kami maka itu lebih kami sukai.” Maka beliau bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian Bani Abdul Muththalib adalah untuk kalian. Maka jika aku shalat zhuhur mengimami manusia kalian bangunlah, dan ucapkanlah: “Sesungguhnya kami meminta syafa’at dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk kaum muslimin dan dengan kaum muslimin untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam terhadap anak-anak dan istri-istri kami, maka pada saat itu aku akan memberikan kepada kalian dan memintakan untuk kalian.” Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat zhuhur bersama-sama dengan para sahabat, mereka berdiri dan mengucapkan sebagaimana yang telah diajarkan kepada mereka. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian Bani Abdul Muththalib adalah untuk kalian.” Kaum muhajirin berkata: “Dan apa-apa yang telah menjadi bagian kami maka itu adalah untuk Rasulullah.” Kaum Anshor juga berkata; “Dan apa-apa yang telah menjadi bagian kami maka itu adalah untuk Rasulullah.” Al Aqro` bin Habis berkata: “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Tamim tidak.” `Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr berkata; “Adapun bagian untuku dan juga untuk Bani Fazaroh tidak.” ‘Abbas bin Mirdas berkata: “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Sulaim tidak.” Bani Sulaim berkata; “Tidak, apa-apa yang telah menjadi hak kami adalah untuk Rasulullah.” Dia berkata; ‘Abbas berkata: “Wahai Bani ‘Abbas kalian telah menghinaku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda, “Adapun dari kalian yang tetap mempertahanan haknya dari tawanan perempuan dan anak-anak, maka kewajibannya dari setiap tawanan adalah enam kewajiban sejak pertama kali kita mendapatkannya, ” maka mereka mengembalikan kepada anak-anak dan istri-istri mereka.

 

Musnad Ahmad 6740: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya (Abdullah bin ‘Amru) dia berkata: bahwa utusan dari Negeri Hawazin datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedangkan beliau waktu itu sedang berada di Ji’ronah, para utusan itu telah masuk Islam, mereka berkata: “Sesungguhnya kita satu bangsa dan satu kabilah, sesungguhnya kami telah tertimpa musibah dan malapetaka yang engkau telah melihatnya, bantulah kami maka Allah akan membantumu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda: “Anak-anak dan istri-istri kalian atau harta kalian yang lebih kalian cintai?” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan pilihan kepada kami antara nasab dan harta kami, tetapi jika engkau kembalikan anak-anak dan istri-istri kami maka itu lebih kami sukai.” Maka beliau bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian Bani Abdul Muththalib adalah untuk kalian. Maka jika aku shalat zhuhur mengimami manusia kalian bangunlah, dan ucapkanlah: “Sesungguhnya kami meminta syafa’at dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk kaum muslimin dan dengan kaum muslimin untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam terhadap anak-anak dan istri-istri kami, maka pada saat itu aku akan memberikan kepada kalian dan memintakan untuk kalian.” Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat zhuhur bersama-sama dengan para sahabat, mereka berdiri dan mengucapkan sebagaimana yang telah diajarkan kepada mereka. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Adapun bagian untukku dan juga bagian Bani Abdul Muththalib adalah untuk kalian.” Kaum muhajirin berkata: “Dan apa-apa yang telah menjadi bagian kami maka itu adalah untuk Rasulullah.” Kaum Anshor juga berkata; “Dan apa-apa yang telah menjadi bagian kami maka itu adalah untuk Rasulullah.” Al Aqro` bin Habis berkata: “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Tamim tidak.” `Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr berkata; “Adapun bagian untuku dan juga untuk Bani Fazaroh tidak.” ‘Abbas bin Mirdas berkata: “Adapun bagian untukku dan juga untuk Bani Sulaim tidak.” Bani Sulaim berkata; “Tidak, apa-apa yang telah menjadi hak kami adalah untuk Rasulullah.” Dia berkata; ‘Abbas berkata: “Wahai Bani ‘Abbas kalian telah menghinaku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda, “Adapun dari kalian yang tetap mempertahanan haknya dari tawanan perempuan dan anak-anak, maka kewajibannya dari setiap tawanan adalah enam kewajiban sejak pertama kali kita mendapatkannya, ” maka mereka mengembalikan kepada anak-anak dan istri-istri mereka.

 

Musnad Ahmad 6741: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Miqsam Abul Qosim budak Abdullah bin Al Harits bin Naufal, dia berkata; aku keluar bersama Talid bin Kilab Al Laitsi hingga kami mendatangi Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash yang ketika itu sedang thawaf di Baitullah dengan menenteng kedua sandal di tangannya, lalu kami berkata kepadanya: “apakah kamu hadir saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam diajak bicara oleh At Tamimi pada perang Hunain?” Ia menjawab: “Ya, ada seorang lelaki dari bani Tamim yang biasa dipanggil Dzul Khuwaishirah datang dan berdiri di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang saat itu sedang memberikan sesuatu kepada orang-orang, kemudian dia berkata; “Wahai Muhammad, apa kamu melihat apa yang telah kamu perbuat pada hari ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Ya, lalu apa yang kamu lihat?” Ia menjawab: “Aku tidak melihatmu berlaku adil.” Dia berkata; maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun marah mendengar pernyataannya itu seraya berkata: “Celakalah kamu, jika keadilan tidak ada pada diriku, lalu ada pada siapa?” Kemudian Umar bin Khaththab berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah lebih baik kita membunuhnya saja?” Beliau menjawab: “Tidak, biarkanlah ia, sebab sungguh ia akan mempunyai sebuah kelompok yang terlalu mendalam dalam urusan dien hingga mereka keluar daripadanya sebagaimana anak panah keluar dari busurnya, ia dicari-cari di bagian depannya tidak ada, di bagian tengahnya juga tidak ada, dan di bagian belakangnya juga tidak ada, dan ternyata ia telah meluncur menembus ulu hati dan mengucurkan darah segar.”

 

Musnad Ahmad 6742: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ibnu Thawus dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang memakan daging keledai dan daging Jalaalah (binatang yang suka memakan kotoran), beliau melarang menungganginya dan memakan dagingnya.

 

Musnad Ahmad 6743: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dari Khalid Ibnul Khuwairis dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ayat-ayat itu bagaikan mahkota-mahkota yang tertata rapi ditali dengan sebuah kawat, jika kawat itu dipotong maka sebagiannya akan mengikuti sebagian yang lain.”

 

Musnad Ahmad 6744: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa Al Asyyab telah menceritakan kepada kami Hariz -yaitu Ibnu Utsman Ar Rahabi dari Hibban bin Zaid dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda di atas mimbar: “Sayangilah maka kalian akan disayangi, dan ampunilah (kesalahan manusia) maka Allah akan mengampuni kesalahan kalian. Celakalah orang yang mendengarkan nasehat tapi tidak mau melaksanakannya. Celakalah orang-orang yang bersikukuh dalam kemaksiatan padahal mereka mengetahuinya.”

 

Musnad Ahmad 6745: Telah bercerita kepada kami Hasyim Ibnul Qosim berkata, telah bercerita kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Rasyid- dari Sulaiman -yaitu Ibnu Musa- dari `Amru bin Syu`aib dari Bapaknya, dari Kakeknya, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan, bahwa seseorang setelah kematian bapaknya (tuan yang menggauli ibunya sehingga ia lahir), yang oleh para ahli warisnya (anak-anak sang tuan) ia diikutkan sebagai atau termasuk ahli waris, (beliau memutuskan); jika ia lahir dari seorang budak yang masih dimilikinya ketika ia (tuan) gauli, maka anak tersebut bisa diikutkan oleh ahli warisnya termasuk ahli waris, namun ia tidak mendapatkan harta waris yang telah dibagikan sebelumnya, adapun harta waris yang belum dibagikan ia akan mendapatkannya. Dan anak tersebut tidak bisa diikutkan untuk menjadi ahli waris jika bapak (tuan) yang ia diikutsertakan sebagai ahli warisnya mengingkari dia; Jika anak tersebut lahir dari seorang budak yang tidak dimilikinya atau dari seorang wanita merdeka yang telah ia zinai, maka anak tersebut tidak bisa diikutkan sebagai ahli waris dan tidak akan bisa mewarisi. Dan meskipun bapaknya (tuan dari ibunya) tersebut tetap mengakuinya sebagai anak, ia tetap sebagai anak ibunya sendiri, baik ia lahir dari seorang wanita merdeka atau seorang budak”.

 

Musnad Ahmad 6746: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Ishaq -yaitu Ibnu Sa’id- telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Amru dia berkata; Abdullah bin ‘Amru datang kepada Ibnu Az Zubair yang ketika itu sedang duduk di Hijir Isma’il, kemudian Dia berkata; “Wahai Ibnu Az Zubair, hendaklah engkau jaga niatmu dan janganlah engkau condong kepada keburukkan di wilayah haram, aku bersaksi bahwa aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “dia menghalakannya kemudian dihalalkan oleh seorang lelaki dari quraisy yang mana jika dosa-dosanya ditimbang dan dibandingkan dengan dosa-dosa tsaqolain (semua manusia dan jin) niscaya dosanya lebih berat” dia berkata; “maka lihatlah, semoga itu bukan engkau wahai Ibnu ‘Amru, sesungguhnya engkau telah membaca kitab-kitab dan telah menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Dia (Abdullah bin ‘Amru) berkata; Sungguh aku persaksikan kepadamu bahwa aku hadapkan wajahku ke Syam sebagai seorang mujahid.”

 

Musnad Ahmad 6747: Telah menceritakan kepada kami Hasan -yaitu Al Asyyab- berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Darraj dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin ‘Amru dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau berkata: “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia.” Beliau bersabda: “Mimpi yang benar yang diberikan kepada seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh sembilan bagian kenabian, barangsiapa memimpikannya hendaklah ia mengkhabarkannya, dan barangsiapa yang memimpikan selainnya maka sesungguhnya itu adalah dari setan, dan hendaknya ia menyimpannya dan hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan hendaklah ia diam dan tidak memberitahukannya kepada seorangpun.”

 

Musnad Ahmad 6748: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Hubairah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa tidak melanjutkan aktifitas kebutuhannyanya karena thaiyarah (tahayul, beranggapan sial karena melihat burung atau yang lainnya) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya; “Lalu apakah yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “hendaklah ia berdo’a; ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WALAA THOIRO ILLA THOIRUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, dan tidak ada nasib baik kecuali nasib baik yang datang dari-Mu, dan tidak ada Ilah selain-Mu.”

 

Musnad Ahmad 6749: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’id telah mengkabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Salam dari Yahya bin Abu Katsir, Abu Salamah bin Abdurrahman mengkabarkan kepadaku mengenai hadits Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwasanya ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam diserukanlah; “AS SHALAATU JAAMI’AH (Marilah kita shalat berjama’ah) ” lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ruku’ dua kali dalam satu sujud kemudian matahari tampak bersinar kembali dan ‘Aisyah pun berkata: “Aku belum pernah sujud sepanjang sujud pada waktu itu dan aku belum pernah ruku’ sepanjang ruku’ pada waktu itu.”

 

Musnad Ahmad 6750: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’id telah mengkabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Salam dari Yahya bin Abu Katsir telah mengkabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman tentang kabar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka diserulah untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ruku’ dua kali dalam satu kali sujud, kemudian matahari kembali terang. ‘Aisyah Ummul Mukminin berkata: “Aku tidak pernah melakukan sujud yang lebih lama dari itu, aku juga tidak pernah ruku’ yang lebih lama dari itu.”

 

Musnad Ahmad 6751: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Darraj Abi As Samh dari Isa bin Hilal dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya arwah orang-orang yang beriman akan saling bertemu dalam perjalanan sejauh sehari semalam, dan salah satu dari keduanya tidak melihat temannya yang lain.”

 

Musnad Ahmad 6752: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muthorrif dari Abu Hazim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa, diamana akan pergi orang-orang yang baik dari manusia, sehingga tersisalah orang-orang yang buruk dari mereka, perjanjian-perjanjian dan amanah-manah mereka rusak, dan kondisi mereka seperti ini -beliau menganyam antara jari-jarinya-.” Para sahabat bertanya; “Jika demikian lalu bagaimana jalan keluarnya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Kalian ambillah apa yang kalian ketahui dari kebenaran, dan jauhilah apa yang kalian ingkari, bersamalah dengan orang-orang pilihan dan jauhilah kebanyakkan manusia.”

 

Musnad Ahmad 6753: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abul Abbas telah menceritakan kepada kami Baqiyyah telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Sa’id At Tujibi berkata; aku mendengar Abu Qabil Al Mishri berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsipa meninggal di hari jum’at atau malam jum’at maka akan dihindarkan dari fitnah kubur.”

 

Musnad Ahmad 6754: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan telah menceritakan kepadaku Al Mufadldlal telah menceritakan kepadaku ‘Ayyasy bin Abbas dari Abdullah bin Yazid Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Akan dihapuskan bagi orang yang mati syahid semua dosanya kecuali hutang.”

 

Musnad Ahmad 6755: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah mengkabarkan kepadaku Al Harits bin Yazid dari Ibnu Hujairoh Al Akbar dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu berpuasa dan shalat di malam hari dengan membaca ayat-ayat Allah ‘azza wajalla karena tabi’atnya yang mulia dan akhlaqnya yang bagus.”

 

Musnad Ahmad 6756: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik -yaitu Al Harrani telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid dari Abdullah bin ‘Amru berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dzu As Suwaiqotain (orang lelaki yang mempunyai betis kecil) dari Habasyah akan merobohkan ka’bah, ia akan merampas perhiasan-perhiasannya, melepas kiswahnya (kain penutupnya), dan seakan-akan aku melihatnya orang yang botak, kakinya pengkor, dan ia memukulnya dengan menggunakan sekop dan kapak.”

 

Musnad Ahmad 6757: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abi Habib dari Qaishar At tujibi dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; kami sedang di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, tiba-taba datanglah seorang pemuda seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium istriku padahal aku puasa?” Beliau berkata; “Jangan engkau ulangi.” Lalu datang pula seorang lelaki tua seraya berkata; “Wahai Rasulullah, aku telah mencium istriku padahal aku puasa?” Beliau bersabda: “Tidak apa-apa.” Maka sebagian kami memandang sebagian yang lainnya, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda, “Aku bisa memahami kenapa kalian saling pandang, sesungguhnya orang yang sudah berumur bisa mengendalikan nafsunya.”

 

Musnad Ahmad 6758: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayub dari Abu Qilabah dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa terbunuh dengan terzdolimi karena membela hartanya maka ia mati syahid.”

 

Musnad Ahmad 6759: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad dari Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah yang lebih luas darinya di surga.”

 

Musnad Ahmad 6760: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Laits bin Abu Sulaim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menahan kelebihan air atau rumputnya, maka Allah akan menahan kelebihan-Nya dari dirinya.”

 

Musnad Ahmad 6761: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari dawud bin Abu Hind dan Habib Al Mu’allim dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Dan dari (jalur periwayatan) Qois dari Mujahid dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Seorang isteri tidak boleh memakai hartanya jika suaminya menguasai perlindungannya.”

 

Musnad Ahmad 6762: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bahwa seorang laki-laki berkata: “Ya Allah, ampunilah aku dan Muhamamad semata”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sungguhnya engkau telah menghala-halanginya (ampunan) dari orang banyak.”

 

Musnad Ahmad 6763: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengkabarkan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa seorang laki-laki (hendak) melaksanakan shalat kemudian mengucapkan, “Segala puji milik Allah” dan dia bertasbih kepada Allah SUBHANAHU WATA’ALA, Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Siapa yang mengatakannya tadi?” Dia berkata; “Saya.” Beliau bersabda: “Sungguh aku telah melihat para malaikat saling bertemu antara satu dengan yang lainnya dengannya.”

 

Musnad Ahmad 6764: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hamamd telah mengkabarkan kepada kami ‘Atho` bin As Sa`ib dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata: bahwa seorang wanita Yahudi datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata; “ASSAAMU ALAIKA (kecelakaan atas kamu), ” sedang mereka berkata didalam hati-hati mereka; “jangan sampai Allah menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu” Maka Allah pun menurunkan: “Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.” Beliau membacanya sehingga sampai pada ayat: “Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

 

Musnad Ahmad 6765: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Habib bin Abu Tsabit, dia berkata; aku mendengar Abu Al Abbas -dia adalah seorang penya’ir- berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meminta izin untuk pergi berjihad. Maka beliau pun bersabda, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab; “Ya, masih.” “kepada kedua hendaknya kamu berjihad.” Jawab beliau.

 

Musnad Ahmad 6766: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Abdurrahman dari Abu Hazim dari Umaroh bin ‘Amru bin Hazm dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dikuatirkan akan pergi orang-orang yang baik dari manusia, sehingga tersisalah orang-orang yang buruk dari mereka, perjanjian-perjanjian dan amanah-amanah mereka rusak, dan kondisi mereka seperti ini -beliau menganyam antara jari-jarinya-.” Para sahabat bertanya; “Jika demikian, lalu apa yang harus kami kerjakan wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kalian ambil apa yang kalian ketahui dari kebenaran, dan jauhilah apa yang kalian ingkari, bersamalah dengan orang-orang pilihan dan jauhilah kebanyakkan manusia.” Qutaibah bin Sa’id meriwayatkannya kepada kami dengan sanadnya, kecuali bahwa ia berata; “dan tersisa orang-orang yang buruk dari mereka dan hendaklan kalian tinggalkan perkara kebanyakkan orang.”

 

Musnad Ahmad 6767: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Al Qosim bin Abdullah Al ma’arifi dari Abu Abdurrahman Al Hubili dari Al Qosim Ibnul Barhi dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa mengeluarkan sedekah kemudian ia tidak mendapati kecuali orang-orang Barbar maka hendaklah ia menunaikannya.”

 

Musnad Ahmad 6768: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam pernah melewati Sa’d yang sedang berwudhu, maka beliau bertanya: “Wahai Sa’d, kenapa kamu berbuat isrof (berlebih-lebihan)?” Dia berkata; “Apa dalam wudlu juga ada isrof?” Beliau menjawab: “Ya, meskipun kamu berada pada sungai yang mengalir.”

 

Musnad Ahmad 6769: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari ‘Amir bin Yahya dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat akan diletakkan timbangan-timbangan, kemudian didatangkanlah seorang laki-laki dan diletakkan pada satu sisi dan pada sisi lainnya amalannya sehingga timbangan tersebut menjadi miring kepadanya.” Beliau berkata: “kemudian laki-laki tersebut dikirim ke neraka.” Beliau berkata: “Ketika laki-laki hendak dibawa pergi maka terdengar suara yang menyeru dari sisi Ar Rahman, Dia berkata; “Janganlah kalian terburu-buru, janganlah kalian terburu-buru, sesungguhnya laki-laki tersebut masih mempunyai amalan yang tersisa.” Maka didatangkanlah sebuah kartu yang di dalamnya tertulis “LAA ILAAHA ILLALLAH” (Tidak ada Ilah selain Allah), kemudian kartu itu diletakkan bersama laki-laki tersebut dalam satu sisi, sehingga timbangan itupun lebih berat kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6770: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Wahib bin Abdullah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwasanya dia berkata; Aku pernah bermimpi seakan-akan di salah satu jemariku terdapat minyak dan pada jemari yang lain terdapat madu lalu akupun menjilatinya. Kemudian di waktu pagi aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, dan beliaupun berkata: “Kamu akan dapat membaca dua kitab; taurat dan Al Furqon (Al Qur’an) ” kemudian setelah itu diapun dapat membaca keduanya.

 

Musnad Ahmad 6771: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Bakr bin Mudlar dari Ibnul Had dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwasanya pada sa’at perang Tabuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan shalat malam, lalu para sahabat berkumpul di belakang beliau untuk berjaga-jaga hingga beliau selesai shalat dan bergabung bersama mereka, lalu beliau bersabda kepada mereka: “Telah diberikan kepadaku lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Rasulpun sebelumku; Aku diutus kepada semua manusia secara keseluruhan, sedangkan para Rasul sebelumku diutus hanya kepada kaumnya saja. Dan aku dimenangkan atas musuhku dengan rasa takut (yang menyelimuti mereka), dan kalau seandainya jarak antara aku dan mereka sejauh perjalanan sebulan niscaya semuanya akan dipenuhi dengan ketakutan. Dan telah dihalalkan bagiku memakan ghonimah, sedang bagi orang-orang sebelumku memakannya adalah sebuah dosa besar, sehingga mereka duluselalu membakarnya. Dan telah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid dan tempat yang suci, dimanapun waktu shalat datang kepadaku aku boleh membasuh kemudian melaksanakan shalat, dan kaum sebelumku menganggap itu sebagai sebuah perkara besar, mereka hanya melaksanakan ibadah di gereja-gereja dan di biara-biara mereka. Dan yang kelima ialah apa yang telah dikatakan kepadaku; “mintalah!.” Sesungguhnya setiap Nabi telah mengajukan permintaannya dan aku lebih memilih untuk menyimpan permintaanku hingga hari kiamat kelak, untuk kalian dan untuk orang-orang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.”

 

Musnad Ahmad 6772: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah mengkabarkan kepada kami Risydin dari Al Hajjaj bin Syaddad dari Abu Shalih Al Ghifari dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata: bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Yang pertama kali masuk dari pintu ini adalah seorang lelaki dari penghuni surga.” lalu masuklah Sa’d bin Abi Waqqosh.

 

Musnad Ahmad 6773: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Risydin bin Sa’d dari Al Hasan bin Tsauban dari Hisyam bin Abi Ruqayyah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada ‘adwa (penularan wabah penyakit), tidak ada thayarah (tahayul, menganggap sial karena melihat burung atau yang lainnya), tidak hamah (keyakinan jahiliyah bahwa tulang belulang mayat akan menjelma menjadi burung) dan tidak ada hasad, dan penyakit `Ain itu benar adanya.”

 

Musnad Ahmad 6774: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Yazib bin Abi Habib dari ‘Amru bin Al Walid dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam; “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau rasakan ketika wahyu turun?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Ya, aku mendengar gemrincing lonceng, kemudian aku diam, dan tidaklah diturunkan wahyu kepadaku kecuali aku merasa seakan-akan jiwaku melayang.”

 

Musnad Ahmad 6775: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Al Harits bin Yazid dari Jundub bin Abdullah dari Sufyan bin ‘Auf dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; aku berada di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan matahari sedang terbit, maka beliau bersabda: “Pada hari kiamat nanti akan datang suatu kaum kepada Allah, cahaya mereka seperti cahaya matahari.” Maka Abu Bakar berkata: “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bukan, bagi kalian ada banyak kebaikkan, mereka adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah, mereka dikumpulkan dari penjuru dunia.” kemudian beliau berkata; “keberuntungan bagi orang-orang yang terasing, keberuntungan bagi orang-orang yang terasing, keberuntungan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanya; “Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang shalih hidup di tengah-tengah orang-orang buruk yang banyak, orang-orang yang menentangnya lebih banyak daripada orang-orang yang mentaatinya.”

 

Musnad Ahmad 6776: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Najih dari Abdullah bin Amir dari Abdullah bin ‘Amru Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil dari golongan kami, dan tidak mengerti hak orang tua dari golongan kami maka ia bukan dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 6777: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad. Abdullah berkata; dan aku mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad bin abi Syaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail dari ‘Atho` bin As Sa`ib dari ayahnya dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ketika seorang lelaki sedang berjalan dengan lenggak-lenggok dengan memakai sebuah pakaian tiba-tiba Allah ‘azza wajalla menyuruh bumi untuk menelannya hingga iapun berteriak dengan keras di dalamnya sampai hari kiamat datang.”

 

Musnad Ahmad 6778: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb, Usamah telah mengkabarkan kepadaku bahwa ‘Amru bin Syu’aib telah menceritakan kepadanya dari bapaknya dari kakeknya, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan berkata: “Sesungguhnya ketika aku mengangkat tanganku dari sebuah penampungan air lalu meminumkannya kepada keluargaku tiba-tiba ada seekor unta milik salah seorang datang mendekatiku dan akupun memberinya minum, apakah untuk itu aku mendapatkan pahala?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Memberi minum pada setiap makhluk yang mempunyai ruh, terdapat pahala di dalamnya.”

 

Musnad Ahmad 6779: Telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Muhammad -yaitu al Khaththabi- telah menceritakan kepadaku Baqiyyah dari Muhammad bin Al Walid Az Zubair dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah berkata kepadaku: “Barangsiapa menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwudhu. Dan wanita mana saja yang menyentuh alat kelaminnya, maka hendaklah ia juga berwudhu.”

 

Musnad Ahmad 6780: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Abu Ayub dari Abdullah bin ‘Amru berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Waktu shalat zhuhur adalah ketika matahari telah tergelincir yaitu ketika bayangan seseorang sama dengan badan aslinya, sampai sebelum datangnya waktu `asar. Dan waktu shalat `ashar adalah sebelum matahari menjadi kekuning-kuningan, dan waktu shalat maghrib adalah sebelum hilangnya warna merah di ufuq, dan waktu shalat isya` adalah hingga pertengahan malam, dan waktu shalat subuh adalah dari terbitnya fajar hingga sebelum matahari terbit. Jika matahari telah terbit maka tahanlah, sebab matahari terbit di antara dua tanduk setan atau bersamaan dengan dua tanduk setan.”

 

Musnad Ahmad 6781: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengkabarkan kepada kami Abu Awanah dari Al A’masy telah menceritakan kepada kami Utsman bin Qois dari Abi Harb Ad Daili berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” langit tidak pernah menaungi dan bumi tidak pernah dipijak oleh seorang laki-laki yang paling jujur lisannya selain Abu Dzar”

 

Musnad Ahmad 6782: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dan Abu An Nadlr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Ibrahim bin Muhajir dari Abdullah bin Babah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; aku berada di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu disebutlah tentang amalan-amalan, maka beliau pun bersabda, “Tidak ada hari yang amalnya lebih utama ketimbang amalan yang terdapat dalam sepuluh hari ini.” Para sahabat berkata: “Meskipun itu jihad?” Berkata: dan itu adalah malan yang paling besar. Beliau bersabda: “Meskipun jihad, kecuali seorang laki-laki yang keluar di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya kemudian itu menjadi ruh dalam jiwanya ketika beramal.”

 

Musnad Ahmad 6783: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari Abu Ishaq dari As Sa`ib bin Malik dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; ketika Ibrahim putra Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meninggal, terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berdiri dan shalat dua rakaat, beliau memanjangkan waktu berdiri, kemudian ruku’ sebagaimana panjang waktu berdirinya, kemudian sujud sebagaimana panjang waktu ruku’nya, dan beliau shalat dua rakaat seperti itu kemudian salam.”

 

Musnad Ahmad 6784: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Ayub telah menceritakan kepadaku Syurahbil bin Syarik Al Ma’arifi dari Abdurrahman bin Nafi’ At tanukhi, dia berkata: aku mendengar Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku tidak peduli lagi dengan tempat yang aku datangi atau dengan kendaraan yang aku tunggangi jika aku telah meminum obat penawar racun, atau mengalungkan jimat, atau melantunkan bait syair yang muncul dari diriku sendiri.”

 

Musnad Ahmad 6785: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Haiwah telah menceritakan kepadaku Rabi’ah bin Saif Al Ma’arifi dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau melihat fatimah putrinya, maka beliau berkata kepadanya: “Dari makanakah engkau?” Fatimah menjawab; “Aku dari belakang jenazah laki-laki ini.” Beliau berkata; “Apakah engkau ikut mereka sampai kuburan? Fatimah menjawab: “Bagaimana mungin aku sampai kuburan, padahal aku pernah mendengar darimu apa yang aku dengar.” “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, jika kamu ikut mereka sampai kuburan, engkau tidak akan bisa melihat surga sehingga kakek bapakmu melihatnya.”

 

Musnad Ahmad 6786: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Ayyasy Al Qitbani dia berkata; aku mendengar bapakku berkata; aku mendengar Isa bin Hilal ash Shadafi dan Abu Abdurrahman Al Hubuliy berkata; kami mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Di akhir zaman nanti pada ummatku akan terdapat orang-orang yang naik di atas pelana seperti orang-orang yang turun di depan pintu-pintu masjid, kaum wanita dari golongan mereka berpakaian tapi telanjang, di atas kepala mereka seperti punuk unta yang panjang lehernya dan kurus badannya. Laknatlah mereka (wanita-wanita itu) karena sesungguhnya mereka adalah para wanita yang terlaknat. Dan kalau seandainya setelah kalian ada segolongan umat maka niscaya wanita-wanita kalian akan menjadi budak/pembantu bagi wanita-wanita mereka sebagaimana kaum wanita dari kaum sebelum kalian menjadi budak bagi kalian.”

 

Musnad Ahmad 6787: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Ayub telah menceritakan kepadaku Abul Aswad dari Ikrimah pelayan Ibnu Abbas dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa dibunuh dengan zhalim karena membela hartanya maka ia mati syahid”

 

Musnad Ahmad 6788: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Amru bin Murroh dari Abi Yazid dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang dengan amalannya ia ingin didengar manusia, maka Allah akan memperdengarkannya kepada para pendengar dari hamba-Nya, dan Dia akan mengkerdilkan dan meremehkannya.”

 

Musnad Ahmad 6789: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir, dia berkata; aku mendengar Abdullah bin ‘Amru berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang muslim adalah jika manusia selamat dari kejahatan lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang menjauhi apa yang Allah larang.”

 

Musnad Ahmad 6790: Telah menceritakan kepada kami ‘Arim telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari bapaknya telah menceritakan kepada kami Abul Ala` dari Muthorrif dari Ibnu Abi Rabi’ah dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; aku menyebutkan tentang puasa di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka beliau pun bersabda, “Puasalah satu hari dalam sepuluh hari, maka engkau akan mendapatkan pahala dari sembilan hari sisanya.” Berkata; Aku berkata; “Sesungguhnya aku masih kuat dari itu.” Beliau bersaba: “puasalah dua hari pada setiap delapan hari, engkau akan mendapatkan pahala tujuh hari yang tersisa.” Berkata; Aku berkata; “Sesungguhnya aku masih mampu dari itu.” Dia berkata: beliau selalu menguranginya sehingga beliau bersabda: “Hendaklah engkau puasa sehari dan berbuka sehari.”

 

Musnad Ahmad 6791: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Pelayan Bani Hasyim berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tebusan untuk pembunuhan semi sengaja adalah diperberat seperti pembunuhan yang disengaja, namun pelakunya tidak boleh dibunuh. Dan barangsiapa mengacungkan senjata kepada kami maka dia bukan dari golongan kami, atau memata-matai di jalanan.”

 

Musnad Ahmad 6792: Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Al Qosim telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna -yaitu Ibnu Sa’id- dari Qotadah dari Abdullah bin Babah dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya pada malam ‘Arafah Allah membanggakan orang-orang (yang sedang wukuf) di ‘Arofah kepada para malaikat-Nya seraya berkata: “Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka mendatangi dengan rambut yang kusut dan badan penuh dengan debu.”

 

Musnad Ahmad 6793: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena kesalahan maka diatnya adalah seratus ekor unta; tiga puluh bintu makhodl (unta yang masuk umur dua tahun), tiga puluh bintu labun (unta yang masuk umur tiga tahun), tiga puluh jadza`ah (unta yang masuk umur lima tahun) dan sepuluh bani labun (unta yang masuk umur dua tahun) laki-laki”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam menstandarkan dengan harga unta, jika harganya murah maka nilai tebusan juga murah, dan jika mahal maka nilai tebusan juga mahal sesuai dengan perkembangan zaman. Pada masa Rasulullah standar nilai itu antara empat ratus sampai delapan ratus dinar. Atau jika dalam bentuk perak maka ia sebanding dengan delapan ribu uang perak.”

 

Musnad Ahmad 6794: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menetapkan bahwa diyat adalah harta peninggalan bagi para pewaris yang telah ditentukan bagiannya (dalam Al Qur’an-pent) dari orang yang dibunuh.”

 

Musnad Ahmad 6795: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menentukan bahwa pada hidung yang dipotong semuanya maka diyatnya adalah penuh, jika dipotong bagian depannya saja maka diyatnya adalah setengah, dan pada mata ada setengah diyat, pada tangan ada setengah diyat, pada kaki ada setengah diyat, beliau juga memutuskan bahwa bagi seorang wanita maka yang menebus adalah ashobahnya, siapapun dia, yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan harta warisan kecuali sisa dari ahli waris wanita tersebut, dan jika wanita itu dibunuh maka tebusannya adalah untuk ahli warisnya, mereka berhak mengqishash orang yang telah membunuhnya. Beliau juga memutuskan bahwa tebusan untuk ahli kitab adalah setengah dari tebusan kaum muslimin, mereka itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.”

 

Musnad Ahmad 6796: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Pelayan bani Hasyim telah menceritakan kepada kami Syaddad Abu Tholhah Ar rasibi dia berkata; aku mendengar Abu Al Wazi’ Jabir bin ‘Amru menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah suatu kaum yang duduk-duduk dalam sebuah majelis yang di dalamnya tidak diingat nama Allah kecuali mereka akan melihatnya kelak di hari kiamat sebagai sebuah penyesalan.”

 

Musnad Ahmad 6797: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya – Abdullah bin ‘Amru -, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya mengenai seorang lelaki yang memasuki sebuah kebun (yang bukan miliknya-pent), maka beliau menjawab: “Ia sedang memakan sesuatu yang tidak diambilkannya dengan sembunyi-sembunyi.”

 

Musnad Ahmad 6798: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Al Wadlah telah menceritakan kepadaku Al Ala` bin Abdullah bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Hanan bin Kharijah dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Seorang laki-laki badui pemberani datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami tentang hijrah? Di tempat engkau berada atau hanya terkhusus untuk suatu kaum tertentu saja ataukah di suatu tempat yang memang telah diketahui? Dan apakah jika engkau telah wafat, kewajiban hijrah juga gugur?” Beliau terdiam sesaat lalu beliau berkata: “Dimana orang yang bertanya tadi?” Dia berkata; “Saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Hijrah itu adalah engkau jauhi perbuatan keji baik yang nampak maupun yang tidak, engkau tunaikan shalat dan zakat, dan engkau disebut seorang muhajir meskipun engkau meninggal di tempat.”

 

Musnad Ahmad 6799: kemudian Abdullah bin ‘Amru berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami tentang pakaian penghuni surga, apakah ia makhluq yang tercipta atau kain yang ditenun?” Mendengar pertanyaan tersebut sebagian dari para sahabat pun tertawa. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “kenapa kalian tertawa mendengar pertanyaan orang yang tidak tahu, dan dia bertanya kepada orang yang lebih tahu” Kemudian beliau menundukkan kepala dan berkata; “Dimana orang yang bertanya tadi?” Dia berkata; “orang itu saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Tidak, tetapi ia dibuat dari buah-buahan surga.” Beliau ulangi sampai tiga kali.

 

Musnad Ahmad 6800: Telah menceritakan kepada kami Ma’mar Ibnu Sulaiman Ar Raqqi telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang dicincang atau dibakar dengan api maka ia merdeka, dia adalah pelayan Allah dan rasul-Nya.” Dia berkata; maka dihadapkanlah seorang lelaki yang telah dikebiri -disebut dengan nama sandar- maka beliaupun memerdekakannya. Kemudian ketika Abu Bakar memerintah setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dia juga berbuat baik kepada lelaki tersebut. Dan ketika Umar memerintah setelah wafat Abu Bakar, ia juga berbuat baik kepada lelaki tersebut. Dan ketika lelaki itu ingin pergi ke Mesir maka Umar menulis sebuah pesan kepada ‘Amru Bin Al ‘Ash untuk berbuat baik kepadanya, atau dia berkata; “jagalah wasiat Rasulullah atas orang itu.”

 

Musnad Ahmad 6801: Telah menceritakan kepada kami Ma’mar bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu ia bertanya: “Wahai Rasulullah, jika seorang lelaki sedang pergi dan ia tidak bisa mendapatkan air, apakah ia boleh menyetubuhi isterinya?” Rasul menjawab: “Boleh.”

 

Musnad Ahmad 6802: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ziyad bin Fayyadl, dia berkata; aku mendengar Abu `Iyadl menceritakan dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya: “Puasalah satu hari maka engkau akan mendapatkan pahala dari hari yang tersisa.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Puasalah dua hari maka engkau akan mendapatkan pahala dari hari yang tersisa.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Puasalah tiga hari maka engkau akan mendapatkan pahala dari hari yang tersisa.” Dia berkata; “Sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Puasalah empat hari maka engkau akan mendapatkan pahala dari hari yang tersisa.” Dia berata: “Sesungguhnya aku mampu untuk lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Puasalah dengan puasa yang paling utama di hadapan Allah, puasalah sebagaimana puasanya Dawud, dia puasa sehari dan berbuka sehari.”

 

Musnad Ahmad 6803: Telah menceritakan kepada kami ‘Arim telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dia berkata; bapakku berkata; telah menceritakan kepada kami Hadlrami dari Al Qosim bin Muhammad dari Abdullah bin ‘Amru bahwa seorang laki-laki dari kaum muslimin datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam meminta izin untuk menikahi seorang wanita yang biasa dipanggil Ummu Mahzul, wanita tersebut selalu berbuat zina dan ia mensyaratkan kepadanya agar dia yang memberinya nafkah. Laki-laki itu meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk menikahinya, atau dia menyebutkan kepada beliau tentang persoalan wanita itu. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membaca ayat: “dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Dia berkata; maka diturunkan: “dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Bapakku berkata; ‘Arim berkata; aku bertanya kepada Mu’tamir tentang Al Hadlromi, maka ia berkata; “dia adalah orang yang suka berkisah, dan sungguh aku telah melihatnya.” Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami Al Mu’tamir dari bapaknya dari Al Hadlrami dari Al Qosim bin Muhammad dari Abdullah bin ‘Amru kemudian disebutkan hadits tersebut diatas.

 

Musnad Ahmad 6804: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, bapakku telah menceritakan kepada kami, ia berkata; aku mendengar Ash Shoq’ab bin Zuhair menceritakan dari Zaid bin Aslam dari ‘Atho` bin Yasar dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata: telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam seorang laki-laki badui, ia memakai jubah tebal yang terbuat dari sulaman sutera dan kancingnya juga dari sutera. Kemudian dia berkata; “Sesungguhnya sahabat kalian ini ingin memuliakan setiap penggembala anak penggembala dan menghinakan para penunggang kuda anak penunggang kuda.” Maka Nabi pun bangun dengan marah seraya mencengkeram kerah bajunya dan menariknya. Lalu beliu berkata: “Tapi kenapa aku melihatmu memakai pakaian orang yang tidak berakal seperti ini?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pulang dan duduk, beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya Nuh Alaihis Salam ketika akan meninggal ia memanggil putranya dan berkata; ‘Aku akan mengkisahkan kepada kalian sebuah wasiat, aku perintahkan kepada kalian dua hal dan melarang dari dua hal; aku larang kalian berdua dari berbuat syirik dan berlaku sombong, dan aku perintahkan kepada kalian berdua mengucap LAA ILAAHA ILLALLAH karena sesungguhnya jika langit yang tujuh serta bumi dan apa yang ada di antara keduanya diletakkan pada satu sisi neraca, kemudian LAA ILAAHA ILLALLAH ditelakkan pada sisi yang lain, niscaya akan condong kepada neraca yang diletakkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH padanya. Dan sekiranya langit yang tujuh dan bumi tersebut adalah sebuah lingkaran kemudian diletakkan padanya LAA ILAAHA ILLALLAH niscaya akan terbelah. Dan aku perintahkan kalian berdua untuk mengucapkan SUBHAANALLAH WABIHAMDIH, sesungguhnya ia adalah cara shalatnya segala sesuatu, dan dengannya para makhluk diberi rezeki.”

 

Musnad Ahmad 6805: Telah menceritakan kepada kami Hasyim dan Husain mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rasyid dari Sulaiman bin Musa dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata; “bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak menerima persaksian dari seorang penghianat laki-laki dan permpuan, orang yang mempunyai dendam kepada saudaranya, pembantu untuk tuannya dan dibolehkan kepada selain tuannya.”

 

Musnad Ahmad 6806: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Abu Awanah telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertinggal oleh kami dalam sebuah perjalanan yang kami lakukan.” Dia berkata; “kemudian beliau menyusul kami, sedang kami telah terbebani untuk melaksanakan shalat, yaitu shalat ‘ashar. Lalu kami berwudlu dan membasuh kaki kami, maka beliau berseru dengan suara yang keras, mungkin dua atau tiga kali, “Sesungguhnya tumit-tumit yang tidak terkena air akan masuk neraka.”

 

Musnad Ahmad 6807: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Iyad bin Laqith As Sadusi dari Abu Rimtsah, dia berkata; Aku pernah keluar rumah bersama bapakku hingga kami mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu kami melihat bekas celak (inai) di kepala beliau”

 

Musnad Ahmad 6808: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al Haitsam Abu Qaththan dan Abu An Nadlr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Iyad bin laqith dari Abu Rimtsah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: “Yang paling berhak memberi adalah ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, dan saudara lelakimu, kemudian orang yang ada di bawahmu kebawah.” Seorang laki-laki berkata; ” Wahai Rasulullah, mereka itu adalah Bani Yarbu` orang yang telah membunuh si Fulan.” Beliau berkata: “Ketahuilah, janganlah seseorang membuat kecelakaan bagi orang lain.” Bapakku berkata; Abu An Nadlr berkata dalam haditsnya; aku masuk ke dalam masjid ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang berkhutbah, beliau berkata; “orang yang paling berhak memberi”

 

Musnad Ahmad 6809: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad -yaitu Ibnu Salamah- dari Abdul Malik bin Umair, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Iyad bin laqith dari Abu Rimtsah, dia berkata: aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang di sisi beliau orang-orang dari suku Rabi’ah, mereka memperdebatkan tentang dam (denda), maka beliau bersabda: “Yang paling berhak memberi adalah ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara lelakimu, dan orang yang ada di bawahmu kebawah.” Kemudian beliau melihat lalu bersabda, “Siapa orang yang bersama kamu ini?” Dia berkata; aku menjawab: “Ini anakku.” Beliau bersabda: “Adapun dia tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.” Kemudian disebutlah hadits tersebut diatas.

 

Musnad Ahmad 6810: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Iyad bin laqith As Sadusi, dia berkata: Aku mendengar Abu Rimtsah At Taimi berkata: Aku datang bersama dengan bapakku kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka beliau bersabda: “Apakah ini anakmu?” ‘Iya” jawabku. Beliau bersabda: “Apakah engkau menyayanginya?” “Iya” jawabku. Beliau bersabda: “Adapun dia (anak tersebut) tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6811: Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad -yaitu Ibnu Salamah- dari ‘Ashim dari Abu Rimtsah, dia berkata; aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang di sisi beliau orang-orang dari suku Rabi’ah, mereka memperdebatkan tentang dam (denda) pembunuhan dengan sengaja, maka aku mendengar beliau bersabda: ” (Yang menanggung) Ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, dan saudara lelakimu, kemudian orang yang ada di bawahmu ke bawah.” Kemudian dia berkata; lalu Nabi melihat dan bersabda: “Siapa ini yang sedang bersamamu wahai Abu Rimtsah?” “Putraku” jawabku. Beliau bersabda: “Adapun dia (anak tersebut) tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.” Dia berkata; lalu aku melihat bahwa pada pundak beliau ada semacam Ba’ratul Ba’ir (kotoran unta), atau telur merpati, maka akupun berkata kepada beliau; “Bolehkah jika aku mengobatinya wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sekeluarga adalah ahli pengobatan?” maka Beliau menjawab: “Yang akan mengobatinya adalah yang telah memberikannya (Allah).”

 

Musnad Ahmad 6812: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abdul Malik dan ‘Affan mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Iyadl telah menceritakan kepada kami Iyadl dari Abu Rimtsah, dia berkata: aku bersama bapakku bertolak menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka ketika aku melihatnya, bapakku berkata kepadaku; “Tahukah engkau siapa orang ini?”Tidak” jawabku. Bapakku berkata: “Dia adalah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Dia berkata; “maka aku pun bergetar ketika bapakku mengatakan begitu, aku mengira bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah seorang laki-laki yang tidak sama dengan kebanyakkan manusia, ternyata dia adalah seorang laki-laki yang rambutnya menyentuh daun telinganya.” Affan berkata di dalam haditsnya; “Mempunyai rambut yang menyentuh daun telinga, rambutnya ada inai, dan mengenakan dua lembar selendang berwarna biru. Kemudian bapakku mengucapkan salam kepadanya, kemudian kamu duduk dan berbicang-bincang selama satu jam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata kepada bapakku: “Apakah ini anakmu? ‘ Dia menjawab, “Ya, demi Rabbul Ka’bah.” Dia berkata; “Ini benar.” Lalu berkata lagi, “Aku berani bersaksi atasnya.” Maka tersenyumlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada bapakku yang menguatkan kemiripanku dengannya dan juga karena sumpahnya kepada Allah atas diriku. Kemudian beliau bersabda: “Adapun dia, sungguh tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat padanya.” Lalu beliau membaca ayat: “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Kemudian bapakku melihat semisal luka yang ada pada pundak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan berkata; “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling paham tentang kedokteran di antara orang-orang, maka bolehkan aku mengobati lukamu?” “Tidak, dokternya adalah yang telah menciptakannya (Allah).” Jawab beliau.

 

Musnad Ahmad 6813: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Ibnu Abjar dari Iyad bin Laqith dari Abu Rimtsah, dia berkata: aku bersama dengan ayahku pergi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang aku masih seorang bocah. Dia berkata; maka ayahku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam; “sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang paham ilmu kedokteran, maka perlihatkanlah kepadaku luka yang ada di punggungmu.” Beliau bersabda: “Apa yang akan kamu lakukan?” “Aku akan membelahnya.” Jawabnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau bukan seorang dokter, engkau hanya bisa membantu memberinkan manfaat, dokternya adalah Dzat yang telah menjadikannya terluka.” Yang lain berkata: “yang menciptakannya.”

 

Musnad Ahmad 6814: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Rabi’ As Saman telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Iyad bin Laqith Al ‘ijli dari Abu Rimtsah At Taimi Taima Ar Ribab, dia berkata: Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang aku bersama dengan putraku, aku perlihatkan Rasulullah kepada putraku dan aku katakan kepadanya; “Ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Maka diapun bergetar karena terkesima dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Lalu aku berkata kepada beliau; “Wahai Nabi Allah, Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang pandai ilmu kedokteran dari keluarga dokter, maka perlihatkanlah punggungmu kepadaku, jika di sana ada luka maka aku akan membedahnya, namun jika tidak aku akan memberimu sebuah analisa, sebab tidak ada seorang pun yang lebih paham tentang ilmu luka atau bisul kecuali aku.” Beliau bersabda: “Dokternya adalah Allah.” Beliau mengenakan dua selendang biru, rambutnya telah banyak ditumbuhi uban yang berwana kemerahan, lalu beliau bersabda: “Apakah ini putramu?” “Iya, demi Rabbul Ka’bah.” Jawabku. Beliau bersabda: “Putra kandungmu?” “Iya, aku berani bersaksi atasnya.” Jawabku. Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6815: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dari Ali bin Shalih telah menceritakan kepadaku Iyad bin Laqith dari Abi Rimtsah, dia berkata; “aku pernah melakukan ibadah haji dan aku lihat seorang laki-laki duduk di bawah bayang-bayang Ka’bah, lalu bapakku berkata; ‘Tahukah kamu siapa orang ini, ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.’ Maka ketika kami sampai dihadapannya, aku lihat bahwa dia adalah seorang laki-laki yang mempunyai rambut yang menyentuh daun telinga, berbau harum, dan mengenakan dua selendang berwana biru.”

 

Musnad Ahmad 6816: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Amru bin Muhammad bin Bukair An Naqid telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkabarkan kepadaku Abdul Malik bin Umair dari Iyad bin Laqith dari Abu Rimtsah At Taimi, dia berkata; aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang aku bersama dengan anakku, maka beliaupun berkata; “Apakah ini putramu?” Aku menjawab: “Aku bersaksi dengannya.” Beliau berkata; “Dia tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.” Dia berkata; “dan aku melihat uban (beliau) berwarna merah.”

 

Musnad Ahmad 6817: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid -yaitu Ibnu Ibrahim At Tustari telah menceritakan kepada kami Shodaqoh bin Abi Imron dari seorang lelaki yaitu Tsabit bin Munqidz dari Abu Rimtsah, dia berkata: “aku bersama dengan bapakku pergi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka ketika kami sedang berada pada salah satu jalan kami bertemu dengannya (Shallallahu ‘alaihi wa Salam), lalu bapakku berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.'” Dia berkata; “aku mengira bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah seseorang yang tidak mirip dengan kebanyakkan manusia, padahal beliau adalah seorang laki-laki yang mempunyai rambut yang menyentuh daun telinga, mengenakan inai, dan mengenakan dua selendang berwana biru.” Dia berkata; “seakan aku melihat pada kedua betisnya.” Dia berkata; Rasulullah berkata kepada bapakku: “Siapa yang bersamamu ini?” Dia menjawab, “Demi Allah ini adalah putraku.” Dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertawa karena bapakku bersumpah kepada Allah atas aku. Kemudian beliau bersabda: “Engkau telah berkata benar, adapun dia, sungguh tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.” Dia berkata; kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam membaca ayat; “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.

 

Musnad Ahmad 6818: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah menceritakan kepada kami Qois Ibnu Ar Rabi’ Al Asadi dari Iyad bin laqith dari Abu Rimtsah, dia berkata; aku bersama bapakku pergi mendatangi seorang laki-laki yang sedang duduk di bawah Ka’bah pada siang yang sangat panas, sedang aku pada waktu itu masih seorang bocah. Lelaki itu mengenakan dua selendang berwarna biru, rambutnya menyentuh daun telinganya, dan pada kepalanya mengenakan inai. Dia berkata; bapakku berkata kepadaku; “Tahukah kamu siapa laki-laki itu?” Aku menjawab; “Tidak.” “Itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Jawab bapakku. Dia berkata; kemudian kami berbicara panjang lebar. Dia berkata; lalu bapakku berkata kepada beliau; “Sesungguhnya aku adalah seorang laki laki dari keluarga dokter, maka perlihatkanlah kepadaku apa yang ada dibalik pundakmu, jika di sana ada luka maka akan aku belah, dan jika tidak maka akan aku beritahukan analisaku kepadamu.” Beliau berkata: “Dokternya adalah yang telah memberinya (Allah).” Dia berkata; kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat kearahku lalu berkata kepada bapakku, “Apakah ini putramu?” Dia berkata; “Iya, aku bersaki atasnya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya: “Perhatikan apa yang engkau ucapkan.” Dia berkata; “Dan demi Rabbul Ka’bah.” Dia berkata; maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertawa karena sumpah yang ia lakukan kepada Allah atasku.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dia tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat kepadanya.”

 

Musnad Ahmad 6819: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Humaid Al Kufi telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Iyad bin laqith dari bapaknya dari Abu Rimtsah, dia berkata: aku bersama bapakku bertolak menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka ketika aku melihatnya, bapakku berkata kepadaku; “Tahukah kamu siapa orang ini?” “Tidak” jawabku. Bapakku berkata; “Dia adalah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Dia berkata; maka aku pun bergetar ketika bapakku mengatakan kepadaku begitu, aku mengira bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah seorang laki-laki yang tidak sama dengan kebanyakkan manusia, ternyata dia adalah seorang laki-laki yang rambutnya menyentuh daun telinganya, pada rambutnya terdapat inai dan mengenakan dua lembar selendang berwarna biru. Lalu bapakku mengucapkan salam kepadanya. Kemudian kami duduk dan berbincang selama satu jam. kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata kepada bapakku, “Apakah ini anakmu?” dia menjawab, “Ya, demi Rabbul Ka’bah.” Dia berkata; “Ini benar.” Lalu berkata lagi, “Aku berani bersaksi atasnya.” Maka tersenyumlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada bapakku yang menguatkan kemiripanku dengannya dan juga karena sumpahnya kepada Allah atas diriku. Kemudian beliau bersabda: “Adapun dia, sungguh tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat padanya.” Lalu beliau membaca ayat: “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Kemudian bapakku melihat semisal luka yang ada pada pundak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan berkata; “wahai Rasulullah, sesungguihnya aku adalah orang yang paling paham tentang kedokteran di antara orang-orang, maka bolehkan aku mengobati lukamu?” “Tidak, dokternya adalah yang telah menciptakannya (Allah).” Jawab beliau.

 

Musnad Ahmad 6820: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku bapakku dan Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Iyad bin laqith dari bapaknya, dari Abu Rimtsah, dia berkata; “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang beliau mengenakan dua selendang hijau.”

 

Musnad Ahmad 6821: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Syaiban bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir -yaitu Ibnu Hazim- berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair dari Iyad bin Laqith dari Abu Rimtsah, dia berkata; aku datang ke kota Madinah sedang aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Maka beliau keluar dengan memakai dua selendang biru, maka akupun berkata kepada anakku: “Demi Allah, inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ” maka anakku gemetar karena kagum dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang pandai ilmu kedokteran, bapakku seorang dokter, dan keluarga kami adalah keluarga dokter. Demi Allah pada anatomi tubuh tidak ada yang tidak kami pahami, walau itu keringat ataupun tulang. Perlihatkanlah kepadaku luka yang ada pada pundakmu, jika ia luka maka akan aku belah dan aku obati.” Beliau menjawab: “Tidak, dokternya adalah Allah.” Kemudian beliau berkata; “Siapa yang bersama kamu ini?” Aku menjawab: “Putraku, demi Rabbul Ka’bah.” Beliau bertanya lagi, “Putramu?” Dia berkata; “Ini putraku, aku berani bersaksi.” Beliau berkata; “Putramu ini ia tidak akan berbuat jahat padamu dan kamu tidak akan berbuat jahat padanya.”

 

Musnad Ahmad 6822: Telah mengkabarkan kepada kami Husyaim bin Basyir telah mengkabarkan kepada kami Abdullah bin Abu Shalih Dzakwan dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sumpahmu itu tergantung pada pembenaran yang dilakukan oleh temanmu kepadamu.”

 

Musnad Ahmad 6823: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Manshur dan Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Mati karena tercebur ke dalam sumur adalah sia-sia, mati karena kecelakaan dalam penambangan adalah sia-sia, binatang yang mati tertanduk adalah sia-sia, dan pada harta terpendam yang ditemukan terdapat kewajiban mengeluarkan zakat seperlimanya.”

 

Musnad Ahmad 6824: Telah mengkabarkan kepada kami Husyaim dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata; ‘Uyainah bin Hishn pernah mengunjungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu ia melihat beliau mencium Hasan dan Husain, maka iapun berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, jangan engkau menciumnya, sesungguhnya aku telah dikaruniai anak sebanyak sepuluh orang, dan satupun dari mereka tidak ada yang pernah aku cium.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencintai maka ia tidak berhak untuk dicintai.”

 

Musnad Ahmad 6825: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Syu’bah dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah, dia berkata; dia pernah melewati suatu kaum yang sedang berwudhu maka diapun berkata: “Sempurnakanlah wudhu kalian sebab aku telah mendengar Abu Qosim Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Celakalah Al A’qob (tumit-tumit yang tidak terbasuh wudlu) bagian dari neraka.”

 

Musnad Ahmad 6826: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Abdullah bin Syaqiq dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sebaik-baik ummatku ialah orang-orang yang aku diutus ditengah-tengah mereka, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” Allahu a’lam, apakah beliau mengatakannya hingga tiga kali ataukah tidak?” “Kemudian setelah itu datang satu generasi yang suka menggemukkan badan, dan mereka akan memberi kesaksian sebelum mereka diminta untuk memberi kesaksian.”

 

Musnad Ahmad 6827: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abu Bakar bin Muhammad -yaitu Ibnu ‘Amru bin Hazm dari Umar bin Abdul Aziz dari Abu Bakr bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa mendapati harta bendanya ada pada seseorang yang sedang pailit, maka ia lebih berhak atasnya daripada selainnya.”

 

Musnad Ahmad 6828: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Zakaria dari Asy Sya’bi dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika binatang ternak menjadi jaminan, maka hendaklah orang yang mengambil jaminan itu memberinya makan, dan susunya boleh diminum dan hendaklah orang yang meminum susunya mencarikan makan untuknya dan ia juga boleh menungganginya.”

 

Musnad Ahmad 6829: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkabarkan kepada kami Khalid dari Yusuf atau dari bapaknya dari Abdullah bin Al Harits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika orang-orang bertengkar mengenai (tanah) yang ada di jalanan maka ambillah dari setiap mereka tujuh hasta.”

 

Musnad Ahmad 6830: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Abul Juhaim Al Wasithiy dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Umru-u Al Qois adalah pembawa bendera para penyair menuju ke neraka.”

 

Musnad Ahmad 6831: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Sayyar dari Jabr bin Abidah dari Abu Hurairah, dia berkata; “Pada perang Al hind Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjanjikan kepada kami, jika aku mati syahid maka aku adalah sebaik-baik para syuhada’, dan jika aku pulang kembali maka aku adalah Abu Hurairah yang merdeka.”

 

Musnad Ahmad 6832: Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberi khabar kepada kami Al ‘Awwam bin Hawsyib dari Abdullah bin As Sa`ib dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi Wasallam bersabda: “Shalat maktubah (wajib) hingga shalat wajib setelahnya adalah penghapus dosa antara keduanya”, beliau juga bersabda: “dan dari Jum’at hingga Jum’at, Ramadhan hingga Ramadhan adalah penghapus dosa antara keduanya.” Dia berkata; setelah itu beliau melanjutkan sabdanya: “Kecuali dari tiga dosa.” Dia berkata; “maka akupun mengetahui bahwa hal itu berlaku kecuali dari dosa menyekutukan Allah, melepaskan jabatan tangan, dan meninggalkan sunnah.” Dia berkata; “Adapun melepaskan jabatan tangan ialah jika kamu membai’at seseorang kemudian kamu menyelisihinya dan membunuhnya dengan pedangmu. Dan adapun meninggalkan sunnah ialah keluar dari Jama’ah.”

 

Musnad Ahmad 6833: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Panas yang terik datang dari jilatan api neraka jahannam, maka dinginkanlah ia dengan shalat.”

 

Musnad Ahmad 6834: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang gadis itu dimintai izinnya (untuk dinikahi) dan seorang janda itu diajak bermusyawarah.” Dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis itu merasa malu.” Beliau berkata: “Diamnya adalah tanda setujunya.”

 

Musnad Ahmad 6835: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya, dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Cukurlah kumis-kumis kalian dan biarkanlah jenggot-jenggot kalian (memanjang).”

 

Musnad Ahmad 6836: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya dari Abu Hurairah yaitu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam; “bahwa beliau melarang seorang wanita dinikahi dengan dimadu bersama bibinya baik dari pihak ibu ataupun dari pihak bapak.”

 

Musnad Ahmad 6836: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Umar bin Abu Salamah dari bapaknya dari Abu Hurairah yaitu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam; “bahwa beliau melarang seorang wanita dinikahi dengan dimadu bersama bibinya baik dari pihak ibu ataupun dari pihak bapak.”

 

Musnad Ahmad 6838: Telah menceritakan kepada kami Husyaim jika aku tidak mendengarnya dari dia -yaitu Az Zuhri- maka telah menceritakan kepadaku Sufyan bin Husain dari Az Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada ‘Atiroh dalam Islam, dan tidak pula Faro’.

 

Musnad Ahmad 6839: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Sayyar dari Abu Hazim dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menunaikan ibadah haji lalu ia tidak mengucapkan kata-kata kotor serta tidak berbuat kefasikan maka ia pulang dalam keadaan suci seperti pada sa’at dilahirkan oleh ibunya.”

 

Musnad Ahmad 6840: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah, dia berkata; “Sulaiman bin Daud pernah berkata: “Dalam satu malam aku akan menggilir seratus isteri yang tiap-tiap orang dari mereka dapat melahirkan seorang yang nantinya akan berperang di jalan Allah.” Dan saat mengatakan itu, ia tidak mengucapkan Insya Allah (jika Allah menghendaki), hingga akhirnya isteri-isteri itu tidak ada yang melahirkan kecuali hanya satu saja, dan itupun melahirkan setengah manusia (cacat).” Dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kalau seandainya ia mengatakan Insya Allah niscaya dianugerahkan kepadanya anak-anak yang semuanya akan berperang di jalan Allah.”

 

Musnad Ahmad 6841: Telah menceritakan kepada kami Husyaim dan Isma’il bin Ibrahim dari Yunus dari Al Hasan dari Abu Hurairah, dia berkata; “Kekasihku berwasiat tiga hal kepadaku yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia; dia mewasiatkan kepadaku untuk melakukan shalat witir sebelum tidur, puasa tiga hari pada setiap bulan, dan mandi di hari Jum’at.”

 

Musnad Ahmad 6842: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada lima perkara yang termasuk dari fitrah; memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, memotong bulu kemaluan, dan berkhitan.”

 

Musnad Ahmad 6843: Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Bakr dari Abu Rofi’, dia berkata; Aku pernah shalat isya` bersama Abu Hurairah dan ia membaca surat Al Insyiqoq, lalu ia sujud (tilawah) di dalamnya. Maka akupun bertanya kepadanya: “Wahai Abu Hurairah?” Dan ia menjawab: “Di saat membacanya aku pernah sujud di belakang Abu Qosim (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan aku akan selalu sujud jika membacanya hingga aku menghadap kepadaNya (meninggal dunia).”

 

Musnad Ahmad 6844: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadldlal dari Ibnu ‘Ajlan dari Sa’id bin Al Maqburiy dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika ada seekor lalat jatuh ke dalam satu bejana salah seorang di antara kamu, maka sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lainnya terdapat obat penawar, maka hendaklah ia mencelupkan semua sayapnya.”

 

Musnad Ahmad 6845: Telah menceritakan kepada kami Bisyr dari Ibnu ‘Ajlan dari Sa’id Al Maqburiy dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki sebuah majelis hendaklah ia mengucapkan salam, dan bila ia ingin meninggalkan majelis itu hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena sesungguhnya orang yang pertama itu tidak lebih berhak daripada orang yang terakhir.”

 

Musnad Ahmad 6845: Telah menceritakan kepada kami Bisyr dari Ibnu ‘Ajlan dari Sa’id Al Maqburiy dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki sebuah majelis hendaklah ia mengucapkan salam, dan bila ia ingin meninggalkan majelis itu hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena sesungguhnya orang yang pertama itu tidak lebih berhak daripada orang yang terakhir.”

 

Musnad Ahmad 6846: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Suhail bin Abu Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa bapaknya kecuali jika ia mendapati bapaknya sebagai seorang budak lalu ia membelinya dan memerdekakannya.”

 

Musnad Ahmad 6847: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin ‘Abbad Al Muhallabiy dari Muhammad bin ‘Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwasanya beliau bersabda: “Tidaklah dijadikan imam kecuali untuk diikuti. Oleh karena itu jika ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian, dan jika ia mengucap; SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH maka ucapkanlah; RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, segala puji hanya milik-Mu semata), dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semua dengan duduk.”

 

Musnad Ahmad 6848: Telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Isa berkata; telah mengkabarkan kepada kami Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind dari Sa’id Al Maqburiy dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang dijadikan hakim di antara manusia maka pada hakekatnya ia telah disembelih tanpa menggunakan pisau.”

 

Musnad Ahmad 6849: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Al Ala` meceritakan dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat berkata; “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau berkata: “Kamu menyebutkan sesuatu (perbuatan) yang sebenarnya tidak ada padanya.” Seseorang bertanya; “Lalu bagaimana jika yang aku sebutkan itu benar adanya? Beliau menjawab: “Jika yang kamu sebutkan itu benar adanya maka berarti kamu telah mengghibahnya, dan jika yang kamu sebutkan itu tidak ada padanya maka berarti kamu telah berbohong atasnya.”

 

Musnad Ahmad 6850: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah menshalati raja Najasyi dan beliau bertakbir empat kali.”

 

Musnad Ahmad 6851: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayub dari Abu Qilabah dari Abu Hurairah, dia berkata; Ketika datang bulan Ramadhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, di dalamnya Allah mewajibkan kalian berpuasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka ia telah kehilangan pahala seribu bulan.”

 

Musnad Ahmad 6852: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari Abu Hurairah, dia berkata; ada seorang lelaki memanggil Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam seraya berkata: “Apakah salah seorang di antara kami boleh shalat dengan hanya memakai sehelai baju? Beliau berkata: “Apakah setiap kalian bisa mendapatkan dua helai baju?.”

 

Musnad Ahmad 6853: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari Abu Hurairah, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah berkata kepada Aslam dan Ghifar; “Sesuatu dari Muzainah dan Juhainah atau sesuatu dari Juhainah dan Muzainah lebih baik di sisi Allah.” Dia berkata; kalau tidak salah terusannya ialah; “pada hari kiamat daripada suku Asad, Ghothofan, Hawazin dan Tamim.”

 

Musnad Ahmad 6854: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari Abu Hurairah, dia berkata; Abu Qosim Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jum’at itu ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri untuk shalat lalu ia memohon kepada Allah suatu kebaikan kecuali Dia pasti akan memberikan kepadanya.” Dan beliau memberi isyarat dengan tangannya. Kami mengatakan: beliau menyedikitkannya, beliau mengecilkannya.

 

Musnad Ahmad 6855: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dia berkata; Berbanggalah kalian dan ingat-ingatlah, jumlah kaum lelaki (di surga) lebih banyak daripada jumlah kaum wanita. Lalu Abu Hurairah berkata: bukankah Abul Qosim (Muhammad Shallallahu ‘Aliahi Wasallam) pernah bersabda: “Sesungguhnya rombongan yang paling pertama masuk surga itu seperti bulan di malam purnama, dan rombongan setelah itu seperti bintang yang paling terang di langit. Bagi tiap orang dari mereka dua orang isteri yang tulang sumsum betisnya terlihat dari balik daging. Dan di surga itu tidak ada bujangan.”

 

Musnad Ahmad 6856: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah mengkabarkan kepada kami Ayub dari Ikrimah dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang meminum air langsung dari mulut kendil.” Ayub berkata: pernah diberitakan kepadaku bahwa ada seorang lelaki yang meminum air langsung dari mulut kendil, dan tiba-tiba ada ular keluar dari dalamnya.

 

Musnad Ahmad 6857: Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah seseorang melarang tetangganya untuk menyandarkan sebuah kayu pada dinding rumahnya.”

 

Musnad Ahmad 6858: Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari ‘Atho` dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada sedekah kecuali dari orang yang mampu, dan tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah, dan mulailah dari orang yang kamu nafkahi.”

 

Musnad Ahmad 6859: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Umaroh dari Abi Zur’ah dia berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata: Jibril pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu dia berkata; “Wahai Rasulullah, ini ada Khodijah, ia datang kepadamu dengan membawa sebuah bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah datang kepadamu, sampaikanlah kepadanya salam dari Rabbnya dan salam dariku, dan berikanlah kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah luas di surga yang terbuat dari mutiara, yang di dalamnya sama sekali tidak ada keributan dan kesusahan.”

 

Musnad Ahmad 6860: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah ‘azza wajalla menjamin bagi orang yang keluar di jalan-Nya, ‘yang mana ia tidak keluar kecuali hanya untuk berjihad di jalan-Ku, dan karena beriman kepada-Ku serta percaya kepada utusan-Ku, maka Aku menjaminnya untuk Aku masukkan ke dalam surga atau Aku mengembalikannya ke rumahnya dengan membawa pahala atau ghonimah.’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang terluka di jalan Allah kecuali ia akan datang di hari kiamat sedang lukanya masih sama seperti semula (ketika pertama kali terluka), warnanya merah darah dan baunya seharum misik. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalaulah bukan karena aku tidak ingin sebagian kaum muslimin merasa susah, aku tidak akan pernah tertinggal dari satu peperangan di jalan Allah untuk selamanya, akan tetapi aku tidak mendapati kelapangan untuk bisa membuat mereka ikut serta denganku, dan untuk tidak ikut berperang denganku hati mereka juga tidak rela. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh aku sangat ingin berperang di jalan Allah kemudian aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi hingga terbunuh lagi, kemudian aku berperang lagi hingga terbunuh lagi.”

 

Musnad Ahmad 6861: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah berdo’a: “ALLAHUMMAGHFIR LILMUHALLIQIN (Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang yang mau mencukur rambut mereka).” Para sahabat berkata; “Wahai Rasulullah, dan dosa orang-orang yang memendekkan rambut mereka.” Beliau berdo’a lagi: “ALLAHUMMAGHFIR LILMUHALLIQIN (Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang yang mau mencukur rambut mereka).” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, dan dosa orang-orang yang memendekkan rambut mereka.” Beliau berdo’a lagi: “ALLAHUMMAGHFIR LILMUHALLIQIN (Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang yang mau mencukur rambut mereka).” Para sahabat berkata; “Wahai Rasulullah, dan dosa orang-orang yang memendekkan rambut mereka.” Beliau melanjutkan: “dan dosa orang-orang yang memendekkan rambut mereka.”

 

Musnad Ahmad 6862: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, dia berkata; ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sedekah bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab: “Bila kamu bersedekah sedang kamu masih dalam keadaan sehat, takut miskin dan sangat menginginkan kelanggengan. Dan janganlah kamu menundanya hingga jika (ruh) telah sampai di tenggorokan sehingga kamu berkata; ini untuk si fulan, ini untuk si fulan, dan ia memang untuk si fulan.”

 

Musnad Ahmad 6863: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Umaroh dari Abu Zur’ah ia berkata; aku tidak mengetahuinya kecuali dari Abu Hurairah, dia berkata; Jibril pernah duduk di samping Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu ia melihat ke langit dan mendadak ada malaikat yang turun dari langit. Maka Jibrilpun berkata: “Sesungguhnya malaikat ini belum pernah turun sejak diciptakan beberapa sa’at yang lalu”, kemudian ketika ia turun, dia berkata; “Wahai Muhammad, Rabbmu telah mengutusku kepadamu.” Dia berkata; “Apakah kamu ingin Rabbmu menjadikanmu seorang raja dan seorang Nabi ataukah seorang hamba dan seorang utusan.” Lalu Jibril menyela: “Bertawadhu’lah kamu kepada Rabbmu wahai Muhammad.” Beliau berkata: “Seorang hamba dan seorang utusan.”

 

Musnad Ahmad 6864: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga matahari terbit dari barat. Dan jika matahari telah terbit dari barat dan semua manusia yang berada di atas bumi melihatnya, merekapun akan beriman. Dan pada saat itu “Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”

 

Musnad Ahmad 6865: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abi Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian melakukan puasa wishal -beliau mengatakannya hingga tiga kali-.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tapi engkau juga melakukan puasa wishal?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kalian dalam hal ini bukanlah seperti aku, sebab sesungguhnya di waktu malam Rabbku memberi makan dan minum kepadaku, maka gemarilah oleh kalian amalan-amalan yang mampu kalian kerjakan.”

 

Musnad Ahmad 6866: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abi Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang meminta harta kepada manusia karena ingin lebih memperbanyak (hartanya) maka pada hakekatnya ia sedang meminta bara api neraka. Maka hendaklah ia mempersedikit atau memperbanyak.”

 

Musnad Ahmad 6867: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Umaroh dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwasanya bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bertakbiratul ihram dalam shalat, beliau diam antara takbir dan bacaan. Maka aku katakan: “Demi anda bapak dan ibuku sebagai tebusannya, kenapa engkau diam antara takbir dan bacaan? Kabarkanlah kepadaku sebenarnya apa yang engkau baca di dalamnya?” Beliau menjawab: “Aku membaca; ALLAAHUMMA BAA’ID BAINII WABAINA KHATHAYAAYA KAMAA BA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KATSTSAUBIL ABYADH MINAD DANAS. Jarir berkata: KAMAA YUNAQQATSTSAUBU. ALLAHUMMAGHSILNI MIN KHATHAAYAAYA BITSTSALJI WAL MAA-I WAL BARODI. (Ya Allah, jauhkanlah jarak antara diriku dan kesalahan-kesalahanku seperti Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih (yang bersih) dari noda.” Menurut (riwayat) Jarir, beliau berkata: “Sebagaimana baju putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan es, air, dan embun).” Bapakku berkata: Semuanya berasal dari riwayat Abu Zur’ah, kecuali ini berasal dari Abu Shalih.”

 

Musnad Ahmad 6868: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Umaroh dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya jama’ah yang pertama kali masuk surga adalah seperti rembulan di malam purnama, kemudian setelah mereka seperti cahaya bintang yang cahayanya paling terang di langit. Mereka tidak buang air kecil dan juga tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak mengeluarkan ingus. Sisir mereka terbuat dari emas, keringat mereka seperti wangi misik, wewangian mereka dari kayu cendana, istri-istri mereka bidadari surga, ukuran tubuh mereka sama yakni seperti ukuran bapak mereka Adam Alaihis Salam, enam puluh hasta.”

 

Musnad Ahmad 6869: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin fudlail dari Umaroh dari Abu Zur’ah, dia berkata; aku masuk ke rumah Marwan bin Al Hakam bersama dengan Abu Hurairah, lalu ia melihat lukisan-lukisan yang dibuat patung. Lalu dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang pergi untuk membuat ciptaan seperti halnya ciptaan-Ku. Maka hendaklah mereka menciptakan jagung, atau biji-bijian atau biji gandum'”!. Kemudian beliau meminta air wudlu dan beliaupun berwudlu, mencuci kedua tangannya hingga sikunya, dan ketika mencuci kedua kakinya, beliau mencucinya dari dua mata kaki hingga betis. Akupun bertanya: “apakah ini?” Beliau menjawab: “inilah yang akan menjadi cahaya di hari kiamat.”

 

Musnad Ahmad 6870: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Umaraoh dari Abu Zur’ah dari Abi Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan dengan lisan, berat di timbangan dan amat dicintai oleh Ar Rahman (Allah): SUBHAANALLAH WABIHAMDIH SUBHAANALLAHIL ‘ADZIM.”

 

Musnad Ahmad 6871: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa melihatku di dalam mimpi sungguh dia telah melihatku (yang sebenarnya), karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai aku” -Ibnu fidloil berkata: “menghayalkan aku-, Sesungguhnya mimpi seorang mukmin yang benar adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian kenabian.”

 

Musnad Ahmad 6872: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari seorang laki-laki dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab, dan seorang mu’adzin adalah orang yang dipercaya. Ya Allah, tunjukilah para imam-imam itu dan ampunkanlah dosa-dosa para mu’adzin.”

 

Musnad Ahmad 6873: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepadaku Yahya -yaitu Ibnu Sa’id- dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa melaksanakan puasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridla Allah, maka akan diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.”

 

Musnad Ahmad 6874: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Abu Hazim dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “biji gandum dengan biji gandum, tepung gandum dengan tepung gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, takaran dengan takaran (dengan sama-sama ditakar), timbangan dengan timbangan (dengan sama-sama ditimbang). Dan barangsiapa menambah atau minta ditambah, maka sungguh ia telah berbuat riba kecuali jika warna-warnanya telah berbeda.”

 

Musnad Ahmad 6875: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya shalat itu mempunyai batas awal waktu dan akhir waktu, dan sesungguhnya awal waktu shalat zhuhur ialah apabila matahari telah condong dan akhir waktunya ialah bila telah masuk waktu shalat ‘ashar, dan sesungguhnya awal waktu shalat ‘ashar ialah bila telah masuk waktunya dan waktu akhir waktunya ialah bila cahaya matahari telah menguning, dan sesungguhnya awal waktu shalat maghrib ialah bila matahari terbenam dan akhir waktunya ialah bila cahaya di ufuk telah menghilang, dan sesungguhnya awal waktu shalat ‘isya` ialah bila ufuk telah tenggelam dan akhir waktunya ialah hingga pertengahan malam, dan sesungguhnya awal waktu shalat fajar (shubuh) ialah bila fajar telah terbit dan akhir waktunya ialah bila matahari mulai terbit.”

 

Musnad Ahmad 6876: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, bapakku telah menceritakan kepada kami dari Umaroh bin Al Qa’q’ dari Abu Zur`ah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rezeki anggota keluargaku berupa makanan pokok.”

 

Musnad Ahmad 6877: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Dlirar -yaitu Abu Sinan- dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id, keduanya berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri kelak yang akan membalasnya.’ Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, Jika berbuka ia akan gembira, dan jika ia bertemu dengan Allah lalu Dia membalas ibadah puasanya maka ia akan merasa gembira. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi daripada bau minyak misik.”

 

Musnad Ahmad 6878: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Hisyam dari Ibnu Sirin dia berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang ikhtishar dalam shalat.” (iktishor ialah; meletakkan kedua tangan di lambung).

 

Musnad Ahmad 6879: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bi Salamah dari Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat malam maka hendaklah ia memulainya dengan dua raka’at pendek.”

 

Musnad Ahmad 6880: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Shihab dari Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah ditanya mengenai seekor tikus yang jatuh di minyak dan mati di dalamnya. Beliau menjawab: “Jika minyak itu beku maka buanglah tikus tersebut berikut minyak yang ada di sekitarnya lalu kamu boleh memakan minyak yang masih tersisa, dan jika minyak itu cair maka janganlah kalian memakannya.”

 

Musnad Ahmad 6881: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah mengkabarkan kepada kami Ma’mar berkata; telah mengkabarkan kepadaku Yahya bin Abu Katsir dari Dlamdlam dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan untuk membunuh Al Aswadain dalam shalat.” Lalu aku berkata kepada Yahya: “Apa yang dimaksud dengan Al Aswadain? Ia menjawab: “Ular dan kalajengking.”

 

Musnad Ahmad 6882: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memakai sandal maka hendaklah ia memulainya dari kaki kanan, dan jika ia melepaskannya maka hendaklah ia memulainya dari kaki kiri.” Dan beliau berkata; “pakailah keduanya.”

 

Musnad Ahmad 6883: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Yunus dari Al Hasan dari Abu Hurairah, dia berkata; kekasihku (Shallallahu ‘alaihi wa Salam) memberiku tiga nasihat; puasa tiga hari dalam satu bulan, shalat witir sebelum tidur dan mandi di hari jum’at.”

 

Musnad Ahmad 6884: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang yahudi, nasrani dan majusi (penyembah api). Sebagaimana seekor binatang ternak yang melahirkan anak, apakah kalian merasa jika anak yang dilahirkannya cacat hidung atau telinganya?.”

 

Musnad Ahmad 6885: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali setan pasti menikamnya hingga ia menangis keras karena tikaman tersebut, kecuali Ibnu Maryam (Isa) dan ibunya.” Kemudian Abu Hurairah berkata: Jika kalian mau bacalah ayat ini: “INNII U’IIDZUHAA BIKA WA DZURRIYYATAHAA MINAS SYAITHOONIR ROJIM (Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk).”

 

Musnad Ahmad 6886: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, beliau bersabda: “Mimpi seorang mukmin itu satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”

 

Musnad Ahmad 6887: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika kekaisaran Persi telah runtuh maka tidak akan ada lagi kekaisaran Persi setelahnya, dan jika kekaisaran di Romawi telah runtuh maka tidak akan ada lagi kekaisaran Romawi setelahnya, dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh harta simpanan mereka akan diinfaqkan di jalan Allah.”

 

Musnad Ahmad 6888: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh lima derajat daripada shalat seseorang yang dilakukan sendirian, dan para malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari akan berkumpul pada waktu shalat fajr (shubuh).” Kemudian Abu Hurairah berkata: Jika kalian mau maka bacalah ayat ini: “dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

 

Musnad Ahmad 6889: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jarak antara waktu akan semakin dekat, kebakhilan akan dihamparkan, bencana akan nampak dimana-mana, dan akan banyak terjadi harj.” Ia berkata: lalu para sahabat bertanya: “apa itu harj wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “pembunuhan, pembunuhan.”

 

Musnad Ahmad 6890: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dan dari Abu Salamah bin Abdurrahman, mereka berdua menyampaikan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila imam membaca: ‘GHAIRIL MAGHDHUBI ‘ALAIHIM WALADH DHAALLIIN, ‘ maka bacalah AAMMIIN!, karena sesungguhnya malaikat juga membaca AAMMIIN, dan imam juga membacanya. Dan barangsiapa bacaan AAMMIIN nya bersamaan dengan bacaan AAMMIIN para malaikat maka dosa-dosanya yang telah lalu akan dihapuskan untuknya.”

 

Musnad Ahmad 6891: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menshalati jenazah maka ia akan mendapat pahala satu qirath, dan barangsiapa menunggu hingga selesai (dikuburkan) maka ia akan mendapatkan pahala dua qirath.” Para sahabat bertanya: “Dua qirath itu seberapa?” Beliau menjawab: “Seperti dua buah gunung yang besar.”

 

Musnad Ahmad 6892: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang lelaki dari Bani Fazaroh mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dia mengadu kepada beliau bahwa isterinya melahirkan seorang bayi berkulit hitam, dan ia bermaksud untuk berlepas diri daripadanya, maka Nabipun berkata kepadanya: “Apakah kamu mempunyai unta?”Ya”, jawabnya. Beliau bertanya: “Apa warnanya?” “Merah”, jawabnya. Beliau bertanya lagi: “Apakah diantaranya juga ada yang tidak berwarna hitam pekat, atau bahkan malah berwarna abu-abu?” Ia menjawab: “Ya, ada beberapa ekor yang berwarna abu-abu.” Beliau bertanya: “Lalu dari mana warna itu datang?”Mungkin hasil warisan dari nenek moyang mereka”, jawabnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Demikian pula anakmu ini, mungkin ia mewarisi warna kulit nenek moyang.” Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Abi Dzi’d dari Az Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang arab badui berteriak kepada Nabi seraya berkata: “Sesungguhnya isteriku melahirkan seorang anak lelaki berkulit hitam, ” lalu ia menyebutkan makna hadits tersebut di atas.

 

Musnad Ahmad 6893: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jangan bersi keras dalam melakukan safar kecuali pada tiga Masjid; Masjidil Haram, masjidku ini (masjid Nabawi), dan masjidl Aqsho.”

 

Musnad Ahmad 6894: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Perumpamaan orang mukmin ialah seperti sebuah tanaman. Ia selalu bergoyang-goyang oleh terpaan angin yang kencang, dan seorang mukmin juga selalu diterjang oleh bencana dan cobaan. Dan perumpamaan orang munafik ialah seperti sebuah pohon besar, ia tidak pernah bergoyang hingga ia dipanen.”

 

Musnad Ahmad 6895: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Orang-orang akan meninggalkan kota Madinah dalam keadaan baik sebagaimana keadaan sebelumnya, tidak ada yang memasukinya lagi kecuali al ‘awafi” Yazid berkata; “burung-burung dan binatang buas”, dan orang yang terakhir kali dibangkitkan ialah dua orang penggembala dari Muzainah yang meneriaki kambing gembalanya dan ternyata keduanya mendapatinya telah berubah menjadi binatang liar hingga jika keduanya telah sampai di Tsaniyyatul Wada’ keduanya dibangkitkan setelah dibinasakan.”

 

Musnad Ahmad 6896: (Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya dari Abu Hurairah). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda; “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah sebuah kebaikan maka Dia akan memahamkannya terhadap dien (agama), dan hanyasanya aku bersumpah, Allah ‘azza wajalla benar-benar akan memberikannya.”

 

Musnad Ahmad 6897: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Hasan Al Qurdusiy dan Yazid bin Harun telah mengkabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Satu kebaikkan akan dibalas dengan sepuluh kebaikkan, puasa itu untuk Aku, maka Aku yang akan memberinya balasan, mereka meninggalkan makan dan minum untuk mendapatkan pahala dari-Ku.” Menurut Yazid, beliau berkata: “karena Aku puasa itu dilakukan, maka Aku yang akan membalasnya, dan bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum ketimbang minyak kesturi.”

 

Musnad Ahmad 6898: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa berkeinginan untuk melakukan sebuah amal kebajikan lalu ia belum sampai melakukannya, maka akan dicatat baginya satu kebaikan, dan jika ia mengamalkannya maka akan dicatat pahala baginya sepuluh hingga tujuh ratus tujuh kali lipat, dan jika ia belum mengerjakannya maka akan dicatat baginya pahala satu kebaikan. Dan barangsiapa berkeinginan untuk melakukan suatu kemaksiatan lalu ia belum melakukannya maka belum akan dicatat atasnya suatu dosa, dan jika telah melakukannya maka akan dicatat atasnya satu dosa kemaksiatan, dan jika ia belum melakukannya maka belum akan dicatat atasnya satu dosa.”

 

Musnad Ahmad 6899: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Ats Tsaqofi telah menceritakan kepada kami Khalid dari Muhammad dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ada suatu kaum dari bani isra`il lenyap dan tidak diketahui apa gerangan yang mereka perbuat, Dan mereka tidak diperlihatkan kepadaku melainkan layaknya tikus-tikus, apa yang kalian lihat, jika diberikan kepada mereka susu unta mereka tidak mau meminumnya, namun jika diberikan kepada mereka susu kambing mereka mau meminumnya.” Abu Hurairah berkata: “Aku menyampaikan hadits ini kepada Ka’ab, lalu ia bertanya: “Apa benar kamu telah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam?” “Ya, benar”, jawabku. Lalu ia terus menanyakan hal itu kepadaku hingga kukatakan kepadanya: “Apa kamu pernah membaca taurat?.”

 

Musnad Ahmad 6900: Telah menceritakan kepada kami Amru bin Al Haitsami bin Qaththan – yaitu Abu Qaththan- berkata; telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qotadah dari Al Hasan dari Abu Rofi’ dari Abu Hurairah dia berkata; Abu Qaththan berkata dalam kitab secara marfu`: “Jika seorang suami telah duduk pada empat anggota badan isterinya lalu ia menyetubuhinya, maka hal itu telah mewajibkannya untuk mandi (janabat).”

 

Musnad Ahmad 6901: Telah menceritakan kepada kami Amru bin Al Haitsam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari ‘Ajlan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku melihat, ” atau beliau mengatakan: “sesungguhnya aku benar-benar melihat orang yang berada di belakangku sebagaimana aku melihat yang ada di depanku, maka luruskanlah shaf-shaf kalian, dan perbaikilah cara ruku’ dan sujud kalian.”

 

Musnad Ahmad 6902: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al Haitsam telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang memang sebelumnya telah melakukan puasa maka ia boleh melakukannya.”

 

Musnad Ahmad 6903: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Adiy dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Abu Hurairah, dia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melaksanakan salah satu shalat petang (antara shalat maghrib atau isya`), ” dia berkata; Abu Hurairah menyebutkannya tetapi Muhammad lupa (apa yang diaktakan Abu Hurairah), “beliau shalat hanya dengan dua rakaat saja kemudian salam, Lalu beliau mendekat ke sebatang kayu yang tersandar di masjid lalu berkata dengan mengisyaratkan tangannya seakan-akan beliau marah, kemudian keluar dari pintu masjid dengan cepat. Para sahabat bertanya; ‘apakah shalatnya di ringkas? ‘” dia melanjutkan; “dan di antara para sahabat ada Abu Bakar dan Umar, keduanya takut untuk menegur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan di antara mereka juga ada seorang laki-laki yang tangannya panjang yang disebut Dzul yadain, ia berkata; “wahai Rasulullah, apakah engkau telah lupa atau memang shalatnya diringkas?” Beliau menjawab: “Aku tidak lupa dan shalatnya tidak diringkas.” Berkata; “sebagaimana yang dikatakan oleh Dzul yadain” para sahabat berkata; ‘Ya.” Maka Rasulullah bersegera shalat meneruskan yang tertinggal lalu salam, kemudian takbir dan sujud sebagaimana sujudnya (dishalat), atau bahkan lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan bertakbir. Dia berkata; Muhammad ditanya; “apakah beliau mengucapkan salam?” maka dia menjawab; “aku diberitahu bahwa Imron bin Hushain berkata; ‘kemudian salam’.”

 

Musnad Ahmad 6904: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Adiy dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Penduduk Yaman telah mendatangi kalian, mereka adalah orang-orang yang hatinya lembut. Iman itu dari Yaman, hikmah itu ada di Yaman, dan fiqh itu ada di Yaman.”

 

Musnad Ahmad 6905: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, beliau bersabda: “Tidak seorangpun dari kalian dapat diselamatkan oleh amal amalnya.” Para sahabat bertanya: “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, begitupun denganku, akan tetapi Rabbku telah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Ya, begitupun juga denganku, akan tetapi Rabbku telah melimpah ampunan dan rahmatNya kepadaku.” Beliau mengulanginya hingga dua atau tiga kali.

 

Musnad Ahmad 6906: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dan Muhammad bin Ja’far, dia berkata: aku mendengar Al Ala` menceritakan dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat kelak masing-masing hak akan dikembalikan kepada yang berhak menerimanya, hingga seekor kambing yang bertanduk akan diqishash atas perbuatannya menanduk kambing yang tidak mempunyai tanduk.” Ibnu Ja’far berkata dalam hadits yang diriwayatkannya: “diberikan hak qishash bagi kambing yang tidak mempunyai tanduk.”

 

Musnad Ahmad 6907: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dan Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata: aku mendengar Al Ala` menceritakan dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua orang yang saling mencela, maka dosanya atas orang yang memulainya terlebih dahulu selama yang dizhalimi tidak membalasnya.”

 

Musnad Ahmad 6908: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda. Bapakku dan Muhammad bin Ja’far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata; aku mendengar Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah seseorang yang memaafkan kezhaliman orang lain kecuali Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan ia tidak akan dirugikan.”

 

Musnad Ahmad 6909: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dan Ibnu Ja’far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah, aku mendengar Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sumpah palsu dapat melariskan barang dagangan tapi dapat melenyapkan pencaharian.”

 

Musnad Ahmad 6910: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang bernadzar seraya berkata: “Sesungguhnya ia tidaklah dapat menyegerakan sesuatu akan tetapi ia keluar dari orang yang bakhil.” Ibnu Ja’far berkata: “Ia dikeluarkan dari orang yang bakhil.”

 

Musnad Ahmad 6911: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu hal yang dengannya Allah akan mengangkat derajat dan menghapuskan dosa daripadanya?; Tetap menyempurnakan wudlu meski pada saat yang susah, memperbanyak langkah menuju ke masjid, dan menunggu waktu shalat hingga datang waktu shalat berikutnya.”

 

Musnad Ahmad 6912: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Seorang mukmin itu pencemburu, seorang mukmin itu pencemburu, seorang mukmin itu pencemburu, dan Allah itu lebih pencemburu lagi.”

 

Musnad Ahmad 6913: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Humaid dari bakr dari Abu Rofi’ dari Abu Hurairah dia berkata; Aku pernah bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan ketika itu aku sedang junub, lalu aku berjalan bersama beliau hingga beliau duduk, kemudian aku datang ke rumah (pulang) lalu mandi besar kemudian balik mendatangi beliau dan ternyata beliau masih dalam keadaan duduk seperti semula. Kemudian beliau bertanya: “Dari mana kamu?” Aku menjawab: “Sebenarnya saat pertama kali engkau bertemu denganku tadi aku dalam keadaan junub, dan aku merasa segan bila duduk di dekatmu dalam keadaan junub, hingga aku memaksakan pulang untuk mandi janabat.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata: “Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis.”

 

Musnad Ahmad 6914: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan orang yang paling baik di antara kalian?” Para sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau berkata: “Orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling panjang umurnya dan paling bagus amalannya.” Abu Abdurrahman berkata: Aku bertanya kepada bapakku mengenai Al ‘Ala` bin Abdurrahman dari bapaknya dan Suhail dari bapaknya dia berkata; Aku tidak pernah mendengar seorangpun yang menyebutkan Ala’ kecuali dengan kebaikan. Dan ia lebih mengutamakan Abu Shalih daripada Al ‘Ala`.

 

Musnad Ahmad 6915: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Sulaiman -yaitu At Taimi dari barokah dari Basyir bin Nahik dari Abu Hurairah, dia berkata; “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengangkat tangannya hingga aku dapat melihat ketiaknya yang putih.” Sulaiman berkata: “Yakni dalam shalat istisqo’ (meminta hujan).”

 

Musnad Ahmad 6916: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Qotadah dari Abdurrahman bin Adam dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan shalat jum’at kepada orang-orang sebelum kita, namun mereka berselisih di dalamnya. Dan Allah telah memberikan petunjuk kepada kita, lalu manusia mengikuti kita dalam hal ini, besok adalah hari bagi Yahudi dan hari bagi Nasrani adalah hari setelahnya.”

 

Musnad Ahmad 6917: Telah menceritakan kepada kami Ibnu abi ‘Adiy dari Muhammad bin Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim dari Isa bin thalhah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya bisa jadi seseorang mengucapkan suatu perkataan yang disangkanya tidak apa-apa, tapi dengannya justru tergelincir dalam api neraka selama tujuh puluh musim.”

 

Musnad Ahmad 6918: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy dari Syu’bah dari Qotadah dari Khilas dari Abu Rofi’ dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika kamu masih mendapati satu rakaat dari shalat shubuh sebelum terbit matahari maka lanjutkanlah shalat dengan rakaat berikutnya.”

 

Musnad Ahmad 6919: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa ada dua orang wanita dari bani Hudzail yang salah satu diantara keduanya menuduh yang lain berzina dan telah menggugurkan janinnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberi keputusan kepadanya untuk membebaskan budak lelaki atau budak wanita.

 

Musnad Ahmad 6920: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Az Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah dia berkata; Kalau seandainya aku melihat kijang di Madinah maka aku tidak akan menakut-nakutinya sebab sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah bersabda: ” (hewan buruan) yang ada di antara kedua sisinya adalah haram (untuk diburu).”

 

Musnad Ahmad 6921: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam, beliau bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu ditunjukkan dengan (kemenangan dalam) pertarungan akan tetapi orang yang kuat ialah yang dapat menguasai dirinya saat marah.”

 

Musnad Ahmad 6922: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik dari Az Zuhri dari Abu Salamah berkata; bahwa setiap kali Abu Hurairah ruku’ dan bangun dari ruku’, dia selalu bertakbir. Dan dia berkata; “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

 

Musnad Ahmad 6923: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik dari Az Zuhri dari Abu Idris dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa berwudlu maka hendaklah ia beristintsar (mengeluarkan air dari hidung), dan barangsiapa beristijmar (bersuci dari hadats besar dengan batu atau sejenisnya) maka hendaklah ia melakukannya dengan bilangan ganjil.”

 

Musnad Ahmad 6924: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Sa’id bin Abi Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk bepergian selama sehari semalam kecuali bila ditemani mahramnya dari keluarganya.”

 

Musnad Ahmad 6925: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Antara rumahku dengan mimbarku terdapat sebuah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku terletak di atas telagaku.”

 

Musnad Ahmad 6926: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Isma’il bin Abi Hakim dari ‘Abidah bin Sufyan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Setiap binatang buas yang mempunyai taring, maka memakannya adalah haram.”

 

Musnad Ahmad 6927: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Summay dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Bepergian itu merupakan bagian dari adzab yang dapat menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum dan tidur. Oleh sebab itu jika salah seorang di antara kamu melakukan safar maka hendaklah ia mengusahakan untuk segera sampai di rumah keluarganya.”

 

Musnad Ahmad 6928: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Summay dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kalau seandainya manusia mengetahui keutamaan yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali hanya dengan cara undian niscaya mereka akan mengadakan undian untuk mendapatkannya. Dan kalau seandainya mereka mengetahui keutamaan yang terdapat dalam tahjir (bersegera menuju masjid di awal waktu) niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan kalau seandainya mereka mengetahui keutamaan yang terdapat dalam shalat isya` dan shalat Shubuh maka niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”

 

Musnad Ahmad 6929: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Abu Az Zinad, Al A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ada seorang lelaki yang berlalu di depan sebuah kuburan seseorang lalu ia mengatakan: ‘Alangkah baiknya jika aku berada di tempatmu.'”

 

Musnad Ahmad 6930: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga dibangkitkan para dajjal dajjal si tukang pembohong yang berjumlah mencapai tiga puluh, masing-masing dari mereka mengaku bahwa ia adalah utusan Allah’.

 

Musnad Ahmad 6931: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian melakukan puasa wishal, demikian yang aku ketahui.” Mereka berkata: “Tapi engkau juga melakukan puasa wishal?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kalian dalam hal ini bukanlah seperti aku, sebab sesungguhnya di waktu malam Rabbku memberi makan dan minum kepadaku.”

 

Musnad Ahmad 6932: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy dari Malik dari Al Ala` bin Abdurrahman dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendatangi shalat sedang kalian dalam keadaan tergesa-gesa akan tetapi datangilah dengan tenang, lalu ikutlah shalat pada bagian yang masih kalian dapati, dan adapun yang telah terlewat, maka sempurnakanlah ia.”

 

Musnad Ahmad 6933: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dan Rauh dari Malik dari Abdullah bin Abdurrahman. Rauh bin Ma’mar berkata dari Sa’id bin Yasar. Rauh, Abu Al Hubab dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman” -Rauh berkata: “pada hari kiamat: ‘Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku naungi mereka dengan naungan-Ku, dimana tidak ada naungan selain naungan-Ku.'”

 

Musnad Ahmad 6934: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Malik dari Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Yasar dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku diperintahkan (untuk hijrah) ke sebuah daerah yang akan melahap (menaklukkan) daerah-daerah yang lain. Orang-orang menyebutnya dengan kota Yatsrib; yakni kota Madinah. Dia membersihkan orang-orang (yang jahat) sebagaimana alat peniup membersihkan kotoran-kotoran besi.”

 

Musnad Ahmad 6935: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Shafwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah -dari keluarga Ibnul Azroq- dari Al Mughirah bin Abi Burdah dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda tentang air laut: “Lautan itu airnya suci dan bangkainya halal (untuk dimakan).”

 

Musnad Ahmad 6936: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Nu’aim bin Abdullah, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada jalan-jalan perbukitan di Madinah terdapat para malaikat sehingga Dajjal dan penyakit tho’un tidak akan bisa memasukinya.”

 

Musnad Ahmad 6937: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Muhammad bin Abi Sha`sha`ah dari Sa’id bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki pada dirinya kebaikan maka Dia akan mengujinya.”

 

Musnad Ahmad 6938: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Malik dari Dawud bin Al Hushain dari Abi Sufyan dari Abu Hurairah berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberi keringanan dengan memperbolehkan menjual kurma dengan borongan selama hanya lima wasaq saja atau kurang dari lima wasaq.

 

Musnad Ahmad 6939: Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim Abul ‘Abbas telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hasan bin ‘Athiyah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Aisyah bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai (membaca) dalam tasyahhud akhir maka hendaklah ia memohon perlindungan dari empat hal: dari adzab neraka jahannam, dari adzab kubur, dari kesusahan di masa hidup dan mati, dan dari kejahatan al masih ad dajjal.”

 

Musnad Ahmad 6940: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia menuturkan; “Iqomat untuk shalat telah dikumandangkan dan manusia pun sudah berbaris pada shaf-shaf mereka, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga sudah keluar dan berdiri di tempat beliau (sebagai imam), kemudian beliau memberi isyarat kepada para sahabat untuk tetap berada pada tempat mereka, lalu beliau keluar dan mandi besar. Kemudian beliau mengimami para sahabat sedang rambutnya masih basah oleh air bekas mandi besar.”

 

Musnad Ahmad 6941: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada seorang Nabi atau seorang penguasa pun kecuali ia pasti mempunyai dua golongan orang terdekat; satu golongan menyuruhnya untuk berbuat kebajikan dan satu golongan lagi menyuruhnya untuk berbuat kerusakan. Barangsiapa yang terjaga dari kejahatan keduanya berarti ia telah terjaga dari kejahatan, dan ia akan bersama dengan golongan yang dapat menguasainya.”

Musnad Ahmad 6942: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, berkata: sehari sebelum hari Nahr (qurban), ketika beliau sedang berada di Mina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah berkata; “Besok kita akan beristirahat pada tempat peristirahatan bani Kinanah yang mana mereka sedang mengadakan perjanjian di atas kekufuran di tempat itu. Yang demikian itu disebabkan karena orang-orang Quraisy dan bani Kinanah bersumpah untuk tidak menikahi dan mengadakan jual beli dengan bani Hasyim dan bani Al Muththalib sampai mereka mau menyerahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada mereka.”

 

Musnad Ahmad 6943: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Qurrah dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Sesungguhnya hamba-Ku yang paling Aku cintai ialah yang menyegerakan berbuka puasa.'”

 

Musnad Ahmad 6944: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Bapakku berkata, dan Abu Dawud berkata: telah menceritakan kepada kami Harb dari Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadaku Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah yang secara makna sebagai berikut: “Ketika Allah Ta’ala menaklukkan kota Makkah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau berdiri di tengah-tengah sahabat kemudian beliau memuji Allah Ta’ala dan memuliakan-Nya lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah telah merintangi tentara gajah dari kota Makkah dan Dia telah menjadikan utusan-Nya serta kaum muslimin berkuasa atasnya. Makkah hanya dihalalkan untukku sesaat di waktu siang kemudian setelah itu diharamkan hingga hari kiamat. Pohon-pohonnya tidak boleh ditebangi, binatang buruannya tidak boleh ditakut-takuti, dan barang temuan di dalamnya tidak halal diambil kecuali bagi orang yang bermaksud mengumumkannya.”

 

Musnad Ahmad 6945: Telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hassan bin ‘Athiyah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi `Aisyah dari Abu Hurairah bahwasanya ia menyampaikan hadits kepada mereka; bahwa Abu Dzar pernah berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala yang banyak. Mereka melakukan shalat sebagaimana kami juga melakukannya, mereka berpuasa sebagaimana kami juga melakukannya, dan mereka mempunyai harta yang lebih yang dapat mereka gunakan untuk bersedekah sedangkan kami tidak mempunyai harta yang lebih yang dapat kami gunakan untuk bersedekah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu bacaan yang jika kalian mengucapkannya maka kalian akan dapat menyamai orang yang telah mendahului kalian dan (pahala) kalian tidak akan terjangkau kecuali oleh orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan?” Ia menjawab: “Mau, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bacalah takbir, tasbih dan tahmid masing-masing tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, kemudian akhirilah dengan membaca: LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI`IN QODIIR (Tiada Ilah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan puji-pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).”

 

Musnad Ahmad 6946: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dia berkata; kami telah menghafalnya dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dan sanad hadits ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Jika Imam membaca AMIIN maka hendaklah kalian juga membacanya, karena sesungguhnya para malaikat juga membaca AMIIN, maka barangsiapa bacaan AMIINnya bersamaan dengan bacaan para malaikat dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni.”

 

Musnad Ahmad 6947: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Anak cucu adam telah menyakiti-Ku, dia mencerca masa padahal Aku adalah masa ditangan-Ku terdapat semua urusan, dan Aku-lah Yang Membolak-balikkan malam dan siang.”

 

Musnad Ahmad 6948: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika panas nampak menyengat maka tunggu sampai dingin untuk melaksanakan shalat, karena sesungguhnya panas yang menyengat itu dari hembusan neraka Jahannam.”

 

Musnad Ahmad 6949: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Api neraka mengadu kepada Rabbnya seraya berkata: ‘Sebagianku melahap sebahagian yang lain.’ Kemudian Dia mengizinkannya dengan dua nafas; nafas di waktu musim dingin dan nafas di waktu musim panas, dan hawa yang paling panas adalah merupakan semburan dari neraka jahannam.”

 

Musnad Ahmad 6950: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang orang kota menjual kepada orang pedalaman, berjualan dengan najasy (menaikkan harga bukan dengan maksud untuk membelinya tapi agar orang lain terpedaya-pent), seorang lelaki yang melamar di atas lamaran saudaranya, menjual di atas penjualan saudaranya, dan seorang wanita tidak boleh meminta agar saudaranya (seiman) diceraikan dan keluarganya cerai-berai, sehingga ia dapat menikahi suaminya, dan hendaklah ia hanya menerima rezeki (suami) yang diberikan Allah kepadanya.

 

Musnad Ahmad 6951: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Dibolehkan mengadakan perjalanan ke tiga masjid berikut ini; Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsho.” Sufyan berkata: “Dan boleh bersi keras dalam melakukan safar kecuali pada tiga Masjid; Masjidil Haram, masjidku ini (masjid Nabawi), dan masjidl Aqsho.”

 

Musnad Ahmad 6952: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dikatakan kepadanya dari kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Ia berkata; “ya, jika kalian mendatangi shalat maka janganlah kalian mendatanginya dengan terburu-buru, datangilah dengan tenang, apa yang kalian dapati dari shalat maka ikutilah dan apa yang kalian tidak dapati maka sempurnakanlah.”

 

Musnad Ahmad 6953: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; seorang laki-laki bertanya; “Wahai Rasulullah, bolehkan salah seorang dari kami shalat dengan hanya menggunakan satu kain?” Beliau menjawab: “Apakah setiap kalian mempunyai dua kain?” Abu Hurairah berkata; “Tidakkah kalian tahu bahwa Abu Hurairah shalat hanya dengan satu kain, dan pakaiannya ada di atas gantungan baju.”

 

Musnad Ahmad 6954: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah mengkabarkan kepada kami Abdullah -yaitu Ibnul Mubarak- berkata; telah mengkabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Hafshah dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian datangi shalat dengan tergesa-gesa, akan tetapi datangilah ia dengan berjalan dan tenang, apa yang kalian dapati maka ikutlah shalat, dan apa yang kalian tidak dapati maka sempurnakanlah.”

 

Musnad Ahmad 6955: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Shalat sekali di masjidku ini (Masjid Nabawi) adalah lebih utama daripada shalat seribu kali di masjid-masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram.”

 

Musnad Ahmad 6956: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dan Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Binatang yang mati tertanduk adalah sia-sia, mati karena kecelakaan dalam penambangan adalah sia-sia, mati karena tercebur ke dalam sumur adalah sia-sia, dan pada harta terpendam yang ditemukan terdapat kewajiban mengeluarkan zakat seperlimanya.”

 

Musnad Ahmad 6957: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwa ada seorang badui memasuki masjid lalu ia melaksanakan shalat dua raka’at kemudian ia berdoa; “Ya Allah, kasihanilah aku dan juga Muhammad, dan jangan Engkau mengasihani orang lain selain kami.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menoleh kepadanya dan berkata: “Engkau telah mempersempit sesuatu yang luas.” Lalu beberapa saat kemudian si badui itu kencing di dalam masjid hingga orang-orang segera berlarian menghampirinya, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam justru berkata kepada mereka: “Sesungguhnya kalian itu diutus untuk mempermudah (urusan) dan kalian tidak diutus untuk mempersulit (perkara), siramkanlah satu ember air padanya.”

 

Musnad Ahmad 6958: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada faro`ah (acara menyembelih anak unta yang baru lahir untuk persembahan) dan tidak ada ‘atiroh (acara menyembelih ambing di bulan rojab).”

 

Musnad Ahmad 6959: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah bersabda. Dan pernah ditanyakan kepada Abu Hurairah; “apakah hadits ini marfu` sampai kepada Rasulullah?” Ia menjawab: “Ya.” Dalam kesempatan lain dia berkata; ” (riwayat itu) sampai kepada beliau.” Orang-orang menyebut (anggur) dengan karom, Dan hanyasanya karom (kemuliaan) itu ada dalam hati seorang mukmin.”

 

Musnad Ahmad 6960: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; hadits ini sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Aliahi Wasallam: “Jika pada hari Jum’at, para malaikat berada pada setiap pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang datang di awal waktu, dan apabila imam telah keluar maka ditutuplah catatan itu.”

 

Musnad Ahmad 6961: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Orang yang bersegera mendatangi shalat jum’at seperti orang yang berinfaq seekor unta, dan orang yang setelahnya seperti orang yang berinfaq seekor sapi, dan orang yang setelahnya seperti orang yang berinfaq seeor kambing, ” sehingga beliau menyebutkan seperti berinfaq ayam dan telur.”

 

Musnad Ahmad 6962: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengangkat kepala beliau dari ruku’ pada raka’at terakhir dari shalat shubuh beliau berdo’a: “Ya Allah, selamatkanlah Al Walid bin Al Walid, Salamah bin Hisyam, dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah serta orang-orang lemah yang ada di Makkah. Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas Mudlar dan timpakan kepada mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun paceklik pada masa Yusuf.”

 

Musnad Ahmad 6963: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan Sufyan dalam riwayat lain menyebutkan; “Lima hal dari fitrah adalah; berkhitan, mencabut bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

 

Musnad Ahmad 6964: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah atau dari Abu Salamah dari salah satu dari keduanya atau dari mereka berdua, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Anak itu bagi suami, adapun bagi orang yang berzina maka ia berhak menerima lemparan batu (rajam).”

 

Musnad Ahmad 6965: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari AZ Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dan sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang mempunyai wajah keras seperti tameng yang dipukul dan sandal mereka dari rambut.”

 

Musnad Ahmad 6966: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari AZ Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah; Seorang laki-laki badui dari Bani Fazaroh datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata; “Sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak yang berkulit hitam.” Beliau bersabda: “Apakah kamu mempunyai unta?” Dia menjawab, “ya.” Beliau bersabda: “Lalu bagaimana warna bulunya?” “Merah’. Jawabnya. Beliau bersabda: “apakah ada di antaranya yang berwana hitam?” dia menjawab, ‘Ya, hitam pekat.” Beliau bersabda: “Lalu dari mana datangnya warna itu?” Dia menjawab, “Mungkin dari keturunan moyangnya dulu.” Beliau bersabda: “demikian dengan anakmu mungkin warisan dari moyangnya dulu.”

 

Musnad Ahmad 6967: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dan sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang ditinggal mati ketiga anaknya lalu ia masuk neraka kecuali ia hanya sebagai pembuktian sumpah (akan melewatinya saja).”

 

Musnad Ahmad 6968: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Hurairah dan sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Dijadikan bumi bagiku sebagai masjid (tempat sujud) dan tempat yang suci.” Sufyan berkata; diriwayatkan dari Sa’id dari Abu Hurairah

 

Musnad Ahmad 6969: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah -secara riwayat- beliau bersabda: “Bersegeralah kalian ketika membawa jenazah, jika dia orang yang baik maka kalian telah mensegerakannya pada kebaikkan, dan jika ia bukan orang yang baik maka kalian telah meletakan keburukkan dari pundak kalian.” Dia berkata dalam lain kesempatan: riwayat ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “Bersegeralah kalian ketika membawa jenazah, jika dia orang yang baik maka kalian telah mensegerakannya pada kebaikkan.”

 

Musnad Ahmad 6970: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Jika kekaisaran Persi telah runtuh maka tidak akan ada lagi kekaisaran Persi setelahnya, dan jika kekaisaran di Romawi telah runtuh maka tidak akan ada lagi kekaisaran Romawi setelahnya, dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh harta simpanan mereka akan diinfaqkan di jalan Allah.”

 

Musnad Ahmad 6971: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dan sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Hampir-hampir Ibnu Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil. Ia menghancurkan salib-salib, membunuh babi-babi, dan menetapkan jizyah hingga harta benda melimpah ruah sampai-sampai tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.”

 

Musnad Ahmad 6972: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri ia mendengar Ibnu Ukaimah menceritakan (kepada) Sa’id bin Al Musayyab, dia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam shalat bersama kami -ia mengira bahwa shalat itu adalah shalat shubuh-. Kemudian ketika beliau telah selesai melaksanakannya, beliau berkata; “Siapakah di antara kalian yang membaca (bacaan dengan keras)?” Seorang lelaki menjawab: “Aku.” Beliau berkata; “Aku tidak ingin ada yang menyelisihi aku dalam membaca Al Qur`an.” Ma’mar berkata; dari Az Zuhri; sejak saat itu orang-orang tidak lagi membaca (bacaan) di saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengeraskan suara (bacaannya). Sufyan berkata: aku tidak mengetahui ungkapan ini.

 

Musnad Ahmad 6973: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah -yaitu Ibnul Mubarak- berkata; telah mengkabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Umamah bin Sahl bahwa Abu Hurairah berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Cepatkanlah jalan kalian saat membawa jenazah, karena jika ia adalah orang yang shalih maka berarti kalian telah mendekatkannya kepada kebaikan, namun jika sebaliknya maka berarti kalian telah meletakkan keburukan dari pundak kalian.” Bapakku berkata; Ma’mar dan Ibnu Abi Hafshah setuju dengan riwayat Sufyan. Ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq dari Ibnul Mubarak dari ibnu Abi Hafshah.

 

Musnad Ahmad 6974: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Hanzhalah Al Aslami ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh Ibnu Maryam (Isa) kelak akan bertalbiyah untuk haji atau umrah di lembah Rauha’, atau ia akan menggabungkan keduanya.”

 

Musnad Ahmad 6975: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dan Sulaiman bin Yasar, bahwa mereka berdua mendengar Abu Hurairah berkata, dan sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasrani itu tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka.”

 

Musnad Ahmad 6976: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abdurrahman Al A’roj, dia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata: “Kalian mengira bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan Allahlah Dzat yang Maha menepati janji, dulu aku adalah orang yang miskin yang selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan perut kenyang, dan orang-orang muhajirindisibukkan dengan perniagaan di pasar-pasar, sedangkan orang-orang anshar disibukkan dengan harta benda mereka, maka aku selalu mendatangi majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan beliau berkata: “Siapa yang mau menghamparkan selendangnya hingga aku mengucapkan sabda-sabdaku kemudian ia mengambilnya kembali, sehingga ia tidak akan pernah lupa terhadap apa yang ia dengar dariku?” Maka akupun menghamparkan selendangku hingga beliau selesai mengucapkan sabda-sabdanya lalu aku mengambilnya kembali. Dan Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setelah itu aku tidak pernah lupa akan hadits-hadits yang aku dengar dari beliau.” Ishaq bin Isa berkata kepada kami, Malik mengkabarkan kepada kami, dari Az Zuhri dari Al A’roj dari Abu Hurairah, dia berkata; “Orang-orang berkata; ‘Abu Hurairah telah meriwayatkan banyak hadits dari Rasul, ‘ dan demi Allah kalaulah bukan karena dua ayat yang terdapat dalam kitab Allah ini aku tidak akan menyampaikan satu haditspun. Lalu ia membaca ayat; “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk..” kemudian ia menyebutkan hadits diatas. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman, Syu’aib mengkabarkan kepada kami dari Az Zuhri telah memberitahukan kepada kami Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah, dia berkata: “Kalian telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits, ” Lalu ia menyebutkan hadits ini.

 

Musnad Ahmad 6977: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Al A’raj dari Abu Hurairah dan telah dibacakan kepadanya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian dimintai izin oleh tetangganya untuk menyandarkan sebatang kayu didindingnya maka janganlah dilarang.” ketika Abu Hurairah menceritakan hadits tersebut kepada mereka, mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Maka berkatalah Abu Hurairah: “Kenapa aku melihat kalian menolak dan enggan, sungguh aku akan melemparnya di antara pundak kalian.”

 

Musnad Ahmad 6978: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Al A’raj dari Abu Hurairah. Sufyan berkata: aku bertanya kepadanya mengenai makanan orang-orang kaya. Dia berkata; Al A’roj mengkabarkan kepadaku dari Abu Hurairah dia berkata; “Seburuk-buruk makanan ialah makanan walimah yang di dalamnya hanya diundang orang-orang kaya tanpa orang-orang miskin, dan barangsiapa yang tidak menghadiri undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”

 

Musnad Ahmad 6979: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan puasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” Bapakku berkata; aku mendengarnya empat kali dari Sufyan, kadang ia berkata; “barangsiapa puasa ramadhan, ” dan kadang berkata: “barangsiapa menegakkan, ” dan kadang berkata; “barangsiapa menegakkan malam lailatul qodar atas dasar iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

 

Musnad Ahmad 6980: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberikan motivasi untuk menghidupkan ramadhan.”

 

Musnad Ahmad 6981: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; “Barangsiapa bangun dari tidurnya maka hendaklah ia tidak langsung memasukkan tangannya ke dalam bejananya sebelum mencucinya tiga kali sebab ia tidak tahu dimanakah tangannya bermalam.”

 

Musnad Ahmad 6982: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika raja Najasyi meninggal, beliau mengkabarkan kepada para sahabat bahwa ia telah meninggal, beliau bersabda: “mintakanlah ampun untuknya.”

 

Musnad Ahmad 6983: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dan riwayat ini sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat maka ia telah mendapatkan (nilai shalat jama’ah).”

 

Musnad Ahmad 6984: Telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; aku mendengar Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: “Dengan mengucapkan tasbih untuk kaum lelaki dan bertepuk tangan bagi kaum wanita (dalam mengingatkan imam yang salah-pent).”

 

Musnad Ahmad 6985: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu salamah dari Abu Hurairah dan sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Setan datang kepada salah seorang di antara kalian pada waktu sedang shalat lalu ia mengacaukan pikirannya sehingga tidak tahu lagi berapa raka’at yang telah dikerjakan. Maka barangsiapa mendapati yang demikian hendaklah ia sujud dua kali ketika ia masih dalam keadaan duduk.”

 

Musnad Ahmad 6986: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah -InsyaAllah- dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Hendaklah kalian menggunakan habbatus sauda’ (biji hitam) ini, sebab di dalamnya terdapat obat bagi seluruh penyakit kecuali As Saam.” Sufyan berkata: As Saam adalah kematian, dan maksud biji itu adalah jinten hitam (latin: Nigella Sativa -ed).

 

Musnad Ahmad 6987: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah atau Sa’id, dia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang ad Dubba` (kendi yang terbuat dari kulit), Al Muzaffat (bejana yang dicat dengan ter) untuk dipakai membuat arak.” Dan Abu Hurairah mengatakan: “dan jauhilah oleh kalian Al hantam (bejana yang terbuat dari campuran tanah liat, rambut dan darah).”

 

Musnad Ahmad 6988: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwa Al Aqra’ melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mencium Hasan lalu ia berkomentar: “Aku mempunyai sepuluh anak, dan aku tidak pernah mencium seorangpun dari mereka.” Maka beliau berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencintai maka ia tidak akan dicintai.”

 

Musnad Ahmad 6989: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata; “Celaka aku.” Beliau bersabda: “Apa yang menjadikan engkau celaka?” dia berkata; “Aku telah bersetubuh dengan istriku di siang hari ramadlan.” Beliau bersabda: “Apakah engkau mempunyai seorang budak?” “Tidak.” Jawabnya. Beliau bersabda: “Mampukah engkau jika harus puasa selama dua bulan berturut-turut?” “Tidak”, Jawabnya. Beliau bersabda: “Mampukah engkau jika harus memberi makan enam puluh fakir miskin?” “Tidak”, jawabnya. Beliau bersabda: “Duduklah.” Maka didatangkanlah kepada beliau sekeranjang besar berisi kurma. Beliau bersabda: “Bersedekahlah dengan ini.” Dia berkata; “Tidak ada orang yang paling miskin di antara dua lembah ini kecuali aku.” Dia berkata; maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertawa, lalu beliau bersabda: “Berikanlah ini kepada keluargamu.” Dalam kesempatan lain dia berkata; maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tersenyum sehingga nampak gigi taringnya, lalu bersabda: “berilah makan keluargamu dengan kurma ini.”

 

Musnad Ahmad 6990: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah mengkabarkan kepadaku Al ‘Ala` bin Abdurrahman bin Ya’qub Al Huroqi -sedang ia berada di rumahnya di atas ranjangnya-, dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; “Shalat yang tidak dibacakan Al Fatihah di dalamnya maka ia adalah kurang, ia adalah kurang, dan ia adalah kurang.” Dia berkata; Abu Hurairah berkata: “sebelumnya kekasihku berkata” dia berkata; Abu Hurairah berkata; “Wahai orang persia, bacalah Al Fatihah karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku.” Dikesempatan lain dia mengatakan; “dan bagi Hamba-Ku apa yang diminta.” Maka jika ia membaca; ‘ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN, ‘ Allah berfirman: ‘hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Lalu jika ia membaca; ‘ARRAHMAANIRRAHIM, ‘ Allah berfirman: ‘hamba-Ku telah mengagungkan-Ku atau hamba-Ku telah memuliakan-Ku.’ Dan jika ia membaca; ‘MAALIKI YAUMIDDIIN, ‘ Allah berfirman: ‘hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.’ Dan jika ia membaca; ‘IYYAAKANA’BUDU WAIYYAAKANASTA’IN, ‘ Allah berfirman: ‘ini antara Aku dengan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’ Dan di lain waktu beliau mengatakan: ‘Apa yang diminta oleh hamba-Ku’ Maka hamba-Nya meminta; IHDINAS SHIRAATHAL MUSTAQIM, SHIRAATHALLADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUBI ‘ALAIHIM WALADH DHAALLIIIN.’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagimu apa yang kamu minta.’ Kesempatan lain dia mengatakan ‘Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

 

Musnad Ahmad 6991: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al ‘Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah melewati seorang lelaki yang sedang menjual makanan, lalu beliau menanyainya: “Bagaimana cara kamu menjualnya?” Maka lelaki itupun memberitahukannya kepada beliau. Kemudian turunlah wahyu kepada beliau; “masukkan tanganmu ke dalam dagangannya!” Maka beliaupun memasukkan tangannya ke dalam dagangannya, dan ternyata ia basah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang menipu kami maka ia bukan dari golongan kami.”

 

Musnad Ahmad 6992: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al ‘Ala`bin Abdurrahman dari bapaknya dari Abu Hurairah, dan sanad hadits ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Sumpah palsu dapat melariskan barang dagangan tapi dapat melenyapkan pencaharian.”

 

Musnad Ahmad 6993: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al ‘Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, dan dia memarfu’kan hadits ini: “Jika salah seorang diantara kalian menguap maka hendaklah ia meletakkan (menutupkan) tangannya pada mulutnya.”

 

Musnad Ahmad 6994: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Sulaiman bin Yasar dari ‘Irok dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Seorang muslim tidak wajib mengeluarkan sedekah (zakat) atas kudanya dan juga hamba sahayanya.”

 

Musnad Ahmad 6995: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Allah Azza Wa Jalla berfirman: Jika hamba-Ku meniatkan untuk melakukan suatu kebaikan maka tulislah, jika ia kerjakan tulislah dengan sepuluh kebaikkan yang semisal. Dan jika ia meniatkan untuk melakukan amal keburukkan maka janganlah kalian tulis, jika ia kerjakan tulislah dengan satu kejahatan dan jika ia tinggalkan maka tulislah dengan satu kebaikkan.”

 

Musnad Ahmad 6996: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Allah Azza Wa Jalla berfirman: Tidaklah nadzar datang kepada anak cucu Adam dengan sesuatu yang belum Aku taqdirkan, namun sesuatu yang dengannya Aku keluarkan dari seorang bakhil sehingga ia berikan, yang sebelumnya tidak dikeluarkan olehnya.”

 

Musnad Ahmad 6997: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah, dan sanad hadits ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai bani Adam, berinfaklah niscaya Aku akan memberi nafkah kepadamu.” Dan beliau bersabda: “anugerah Allah itu melimpah dan tidak akan habis. Ia tidak akan berkurang sedikitpun sepanjang malam dan siang.”

 

Musnad Ahmad 6998: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah, ia meriwayatkan: Allah ‘azza wajalla berfirman: “Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku.”

 

Musnad Ahmad 6999: Telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian berwudlu hendaknya ia memasukkan air ke dalam hidungnya lalu mengeluarkannya.” Dan bersabda dalam riwayat lain: “hendaknya ia keluarkan.”

 

Musnad Ahmad 7000: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Ketahuilah, ada seorang lelaki yang memberikan kepada Ahlul bait seekor unta yang pergi di waktu pagi dengan membawa satu bejana besar dan pulang di waktu sore juga dengan membawa satu bejana yang besar, sungguh pahalanya amat besar sekali.

 

 

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: