Archive for January, 2013

Abdurrahman bin Abi Hatim

Abdurrahman bin Abi Hatim
(240 H/854 M – Rayy, Irak, 326 H/938 M)

Abdurrahman bin Abi Hatim adalah seorang tokoh hadis yang hafiz dan ahli di bidang usul fikih, fikih dan tafsir. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Muhammad Abi Hatim bin Idris bin Munzir bin Dawud bin Mihran Abu Muhammad at-Tamimi al-Hanzali ar-Razi. Karena ia tinggal di Hanzala, Rayy, namanya dinisbahkan dengan keduanya: al-Hanzali dan ar-Razi.

Abdurrahman bin Abi Hatim berasal dari keluarga yang cinta ilmu. Ayahnya, Muhammad Abi Hatim, adalah juga seorang ulama yang menguasai banyak cabang ilmu keagamaan: hadis, tafsir, fikih, sejarah dan sebagainya. Oleh karena itu, ia mulai belajar agama pada ayahnya sendiri. Ia banyak meriwayatkan hadis dari ayahnya. Setelah itu, ia belajar dan meriwayatkan hadis dari Ibnu Warah, Abu Zur’ah, al-Hasan bin Arafah, Abu Sa’id al-Asaj, dan Yunus bin Abd al-A’la. Ia kemudian mencari hadis ke berbagai pusat ilmu keislaman dan belajar serta meriwayatkan hadis dari ulama besar. Ia mengadakan pengembaraan ilmiah ke Hijaz, Suriah, Mesir, Irak, al-Jibal dan al-Jazirah. Kawasan tersebut sudah berkembang pesat sebagai pusat kajian ilmu keislaman.

Setelah ia diakui sebagai ulama besar, banyak penuntut ilmu datang kepadanya untuk belajar dan meriwayatkan hadis. Diantara ulama hadis darinya adalah Abu asy-Syaikh a-Hayyan dan Yusuf al-Mayanaji, seorang ulama yang berasal dari Mayanaj, suatu daerah di Suriah.

Muridnya, Yusuf al-Mayanaji, mengatakan,”Ia adalah ulama besar yang saleh, sama sekali tidak pernah berbuat dosa, baik karena lalai apalagi karena disengaja.” Ia dikenal sebagai seorang ulama yang banyak beribadah, seorang zahid, wara’, dan hafiz. Diriwayatkan bahwa ketika selesai menunaikan shalat, salah seorang anggota jemaah yang berimam kepadanya berkata,”Mengapa engkau begitu lama sujud? Aku, dalam sujud itu, membaca tasbih sebanyak tujuh puluh kali.” Ia menjawab dengan berkata,”Demi Allah, aku hanya membaca tasbih sebanyak tiga kali.” Riwayat ini dapat dijadikan indikasi betapa khusyuknya ia dalam beribadah.

Ia juga termasuk ulama yang produktif, yang mengarang buku yang bernilai tinggi tentang berbagai bidang ilmu. Karyanya, yang berjudul al-Jarh wa at-Ta’dil (Cacat Tidaknya Perawi Hadis) terdiri atas delapan jilid, dapat dikatakan sebagai salah satu karya yang paling baik dan besar tentang hadis. Berkenaan dengan kitab ini ada satu riwayat. Abu ar-Rabi’ Muhammad bin Fadl al-Balakhi meriwayatkan dari Ibnu Mihrawaih ar-Razi dari Ali bin Husain a-Junaid bahwa Yahya bin Ma’in, seorang ahli yang terkenal ketat dalam ilmu al-jarh wa at-ta’dil, berkata,

“Kami telah mencela beberapa golongan (maksudnya tentu celaan yang berhubungan dengan kepentingan periwayatan hadis), semoga mereka sudah berada di dalam surga 200 tahun yang lalu.”

Riwayat ini disampaikan kepada Abdurrahman bin Abi Hatim oleh Ibnu Mihrawaih ketika Ibnu Abi Hatim sedang membaca kitabnya al-Jarh wa at-Ta’dil. Mendengar riwayat itu, ia kemudian menangis, tangannya gemetar sehingga buku yang ada ditangannya terjatuh. Ia kemudian meminta Ibnu Mihrawaih mengulangi riwayat itu kepadanya dan setelah mendengarnya, ia kembali menangis. Riwayat ini menunjukkan bahwa kalau bukan untuk kepentingan periwayatan hadis, tentu ia akan merasa berdosa mengungkap cacat orang lain. Dengan demikian, ia akan sangat berhati-hati dalam melakukan penilaian terhada perawi hadis.

Dalam bidang hadis ini, ia juga menulis sebuah buku besar berjudul al-Musnad (Kitab Sandaran) sebanyak 12 jilid dan dua jilid buku yang berjudul ‘Ilal al-Hadis (Kelemahan Hadis). Karena menggunakan sistrmatika (bab) fikih, kitab hadis terakhir ini juga dapat dikatakan sebagai kitab fikih. Dalam bidang fikih sendiri, menurut al-Hafiz Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Ahmad ad-Dawuri (w. 945 H/1538 M) dalam kitabnya Tabaqat al-Mufassirin (kitab yang membahas tokoh tafsir), Abdurrahman bin Abi Hatim juga menulis kitab fikih dan kitab yang membahas perbedaan pendapat di kalangan sahabat, tabiin dan ulama di beberapa kota.

Bukunya dalam bidang tafsir yang berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim (empat jilid, dua diantaranya ditemukan sebagai manuskrip) menghimpun banyak sekali hadis dan informasi (penafsiran) dari kitab tafsir sebelumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa kitab ini menghimpun kitab tafsir sebelumnya secara sempurna. Sebagian ulama bahkan menilai bahwa kualitas kitab tafsirnya ini tidak kalah, malah lebih baik daripada kitab tafsir Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari. Oleh karena itu, kitab ini menjadi rujukan bagi mufasir yang datang kemudian.

Ia juga dikenal sebagai seorang mutakalimin (teolog) dan menulis sebuah buku besar yang berjudul ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah (Penolakan terhadap Aliran Jahmiyyah). Di dalam buku ini ia berusaha membuktikan bahwa ajaran yang dipelopori Jahm bin Sofwan tidak mempunyai dasar yang kuat dalam Islam. Jahm bin Sofwan membawa paham Jabariyyah dan fatalistik, yang mengajarkan bahwa manusia serba terpaksa dalam perbuatannya. Artinya perbuatan manusia itu pada dasarnya adalah perbuatan Allah SWT.

Sebagaimana biasanya pada ahli hadis pada masa itu, ia juga seorang sejarawan. Karyanya al-Jarh wa at-Ta’dil tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai buku sejarah karena menghimpun data biografis tokoh perawi hadis. Di samping buku ini, dalam bidang sejarah ia juga menulis buku yang berjudul Manaqib asy-Syafi’i dan Manaqib Ahmad. Karyanya yang lain adalah al-Kunya (Julukan), al-Fawaid al-Kubra (Faedah Besar) dan al-Marasil (Hadis Mursal). Bahkan ia juga menulis tema yang berbau tasawuf seperti kitab az-Zuhd (Kitab Zuhud).

Sumber: Ensiklopedia Islam hal. 45-46

Advertisements

Leave a comment

Abu Daud (202-275 H)

ABU DAWUD

 

1.
(202 H/817 M – Basrah, 275 H/888 M)

Abu Dawud terkenal sebagai seorang ulama, hafiz, ahli fikih dan ahli hadis. Karyanya Sunan Abi Dawud dianggap sebagai salah satu kitab standar di bidang hadis.

Riwayat Hidupnya

Nama lengkapnya ialah Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats bin Ishaq (Basyir) bin Syadad bin Amr bin Imran al-Azdi as-Sijistani. Dia seorang pelanglang buana untuk kepentingan menuntut ilmu hadis, penghimpun dan penulis kitab hadis yang meriwayatkan hadis dari ulama Irak, Khurasan, Syam dan Mesir. Di dilahirkan pada tahun 202 H dan meninggal dunia pada 14 Syawal 275 H dalam usia 73 tahun.

Abu Dawud mengawali pendidikannya dengan belajar bahasa arab, Al-Qur’an dan pengetahuan agama lain. Sampai usia 21 tahun ia bermukim di Baghdad kemudian ia melakukan perjalanan panjang untuk mempelajari hadis ke berbagai tempat seperti Hijaz, Syam (Suriah), Mesir, Khurasan, Rayy (Teheran), Harat, Kufah, Tarsus, Basrah dab Baghdad. Dalam perjalanan ia beejumpa dan berguru kepada para pakar hadis.
Abu Dawud mengambil hadis dari Muslim bin Ibrahim, Sulaiman bin Harb, Utsman bin Ali Syaibah, Abu al-Walid al-Thayalisi, Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi, Musaddad bin Musarhad, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Qutaibah bin Sa’id, Ahmad bin Yunus, Ibnu Amr ad-Darir, Musa bin Ismail, Hasan bin Amr as-Sudusi, Amr bin Marzuq, Abdullah bin Muhammad an-Nafili, Muhammad bin Basyar, Zuhair bin Harb, Ubaidillah bin Umar bin Maisarah, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Musanna dan Muhammad bin al-Ala.

Adapun orang-orang yang mengambil hadis darinya ialah putranya (Abdullah), Abu Abdu al-Rahman al-Kisa’i, Ahmad bin Muhammad al-Khallal, Abu Ali Muhammad bin Amr al-Lu’lu’i dan Muhammad Alawi al-Maliki.

Abu Daud bertempat kediaman di Bashrah dan pernah mengunjungi Baghdad. Dan di negeri inilah dia meriwayatkan kitab sunannya dan orang-orang dari negeri ini telah meriwayatkan kitab sunan tersebut darinya. Kitab sunan itu telah disusunnya jauh sebelum dia mengunjungi Baghdad dan kitabnya itu pernah ditunjukkan di depan Ahmad bin Hanbal yang menilainya sebagai kitab yang baik dan bagus.

Abu Daud berkata,”Aku telah menulis hadis-hadis dari Rasulullah saw sebanyak 500.000 hadis dan dari jumlah itu aku memilih apa yang aku sebutkan dalam kitabku ini, yakni kitab Sunan. Aku menghimpun di dalam kitab itu 4.800 hadis yang aku sebutkan mana-mana yang shahih dan yang mendekati shahih. Dan dalam urusan agama bagi seseorang, kiranya cukup dengan berpegang 4 hadis saja dari sekian banyak hadis yang aku sebutkan yaitu:

1. “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya.”

2. “Termasuk tanda kesempurnaan keislaman seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tiada berguna baginya.”

3. “Seorang mukmin tidak akan sempurna keimanannya sampai dia rela terhadap saudaranya sebagaimana dia merelakan terhadap dirinya sendiri.”

4. “Sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, sedang di antara keduanya merupakan sesuatu yang syubhat.”

 

 

Kitab Sunan Abu Dawud merupakan yang paling populer diantara karangan Abu Dawud yang berjumlah 20 judul. Tidak kurang 13 judul kitab telah mengulas karya tersebut dalam bentuk syarh (komentar), mukhtasar (ringkasan), tahzib (revisi) dan lain-lain.

Ibnu Salah (w. 642H/1246 M), Ibnu Mundih dan Ibnu Abd al-Bar (ketiganya ahli hadis) menilai karya tersebut sebagai bermutu standar untuk berhujah. Seiring dengan itu, Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah mengkritik karya Abu Dawud tersebut. Kritik tersebut meliputi:
1. Tidak adany penjelasan tentang kualitas suatu hadis dan kualitas sanad (sumber, silsilah dalam hadis)-nya, sementara yang lainnya disertai penjelasan.
2. Adanya hadis yang dhaif (lemah) menurut penilaian para ahli, tetapi tanpa penjelasan kedhaifannya oleh Abu Dawud.
3. Adanya kemiripan Abu Dawud dengan Imam Hanbali dalam hal mentoleransi hadis yang oleh sementara kalangan dinilai dhaif.

Ketenaran Abu Dawud di bidang hadis bukan hanya karena Sunan Abu Dawud termasuk dalam kelompok al-Kutub as-Sittah dan kaya dengan hadis hukum sebagai ciri khasnya, melainkan juga karena kitab itu menjelaskan hadis yang shahih dan tidak shahih menurut penilaiannya.
Bahkan kitab ini juga memuat rumus tentang hadis “shahih”, sebuah istilah yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal dan pada masa selanjutnya menjadi istilah ilmu hadis yang diperdebatkan para ahli, karena kesamaran tentang apa yang dimaksud Abu Dawud.
Di samping kepakarannya di bidang hadis, perjalanan Abu Dawud untuk mencari ilmu dari satu tempat ke tempat lain telah membentuknya menjadi pakar hukum dan kritikus pada masanya.

Abu Bakar al-Khalal berkata,”Abu Daud, seorang yang bernama Sulaiman bin Asy’ats, itu seorang imam yang terkemuka pada masanya, tidak ada seorangpun pada masanya yang lebih unggul daripadanya dalam hal pengetahuan dan ilmu yang dikeluarkannya dan kecakapan akademiknya dalam mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya. Dia adalah seorang tokoh terkemuka yang wara’

2. Kitab Sunannya

Di dalam pendahuluan kitab Mu’aalimu al-Sunani, al-Hafidz Abu Sulaiman al-Khahthabi berkata,”Ketahuilah oleh kamu sekalian, semoga Allah SWT merahmatimu, bahwa kitab Sunan karya Abu Daud adalah kitab yang mulia, tidak ada kitab lain dalam ilmu-ilmu agama yang seperti itu, kitab itu telah diterima oleh semua orang karenanya ia menjadi hakim antara kelompok-kelompok ulama dari lapisan ahli fiqih terhadap perbedaan madzhabnya. Semua ulama telah datang mengambil dari kitab Abu Daud. Kitab ini menjadi pegangan orang-orang Irak, Mesir dan orang-orang dari Maghribi dan dari segala penjuru dunia.

Ibnu al-Arabi, seorang perawi kitab Sunan, berkata,”Sekiranya seseorang tidak memiliki satupun kitab agama kecuali mushaf dan Sunan Abu Daud, maka dia sudah tidak membutuhkan yang lainnya.”

Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata,”Bahwasanya mengenai hadis-hadis hukum dalam Sunan Abu Daud itu sudah cukup bagi seorang mujtahid dalam disipilin ilmu agama.”

Ibnu al-Qayyim berkata,”Oleh karena itu, kitab Sunan karya Abu Daud Sulaiman bin Asy’ats al-Sijistani (semoga Allah merahmatinya) diberi kekhususan oleh Allah SWT menempati posisi tersendiri dalam dunia Islam. Kitab itu menjadi hukum di antara orang-orang Islam dan menjadi hakim bagi mereka yang berselisih pendapat. Orang-orang suci telah mengambil hukum darinya dan mereka yang kritispun menerima hukumnya, karena ia merupakan kitab himpunan yang mencakup semua hadis hukum yang disusun secara sistematis, selektif dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang cacat dan dhaif dihilangkan sehingga menjadi sebuah kitab yang layak dijadikan bekal yang utama.”

Kompilasi dari buku “Ilmu Ushul Hadis” karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki terbitan Pustaka Pelajar hal. 277-280 dan Ensiklopedi Islam hal. 55-56.

,

Leave a comment

Fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Ditinjau dari segi fungsinya, sunnah mempunyai hubungan yang sangat kuat dan erat sekali dengan Al-Qur’an. Sunnah an-Nabawiyah mempunyai fungsi sebagai penafsir Al-Qur’an yang membuka rahasia-rahasia Al-Qur’an dan menjelaskan kehendak-kehendak Allah SWT dalam perintah dan hukum-hukum-Nya. Dan jika ditinjau dari segi dilalahnya (indeksial)nya terhadap hukum-hukum yang dikandung Al-Qur’an, baik secara global maupun rinci, status sunnah dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) macam yaitu:

1. Sebagai pengukuh (ta’kid) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an

Sunnah dikaitkan sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an apabila makna yang terkandung didalamnya cocok dengan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Nabi saw bersabda:

Sesungguhnya Allah SWT memanjangkan kesempatan kepada orang-orang zalim, apabila Allah menghukumnya maka Allah tidak akan melepaskannya.”

Hadis tersebut cocok dengan firman Allah SWT:

Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat zalim.” (Huud: 102)

Hadis yang berfungsi sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an jumlahnya banyak sekali, seperti hadis-hadis yang menunjukkan atas wajibnya shalat, zakat, haji, amal, berbuat baik, memberi maaf dan sebagainya.

2. Sebagai penjelas terhadap maksud ayat-ayat Al-Qur’an

Hadis dalam fungsi ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

a. Menjelaskan ayat-ayat mujmal

Hadis dalam fungsi ini diantaranya ialah hadis yang menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan hukum-hukumnya, dari segi praktiknya, syarat waktu dan tatacaranya, seperti masalah shalat dimana di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara rinci tentang bilangan rakaat, waktu, syarat dan sebagainya. Tetapi semua itu dijelaskan oleh sunnah.

b. Membatasi lafadz yang masih muthlaq dari ayat-ayat Al-Qur’an

Hadis yang membatasi kemutlakan lafadz dari ayat Al-Qur’an ini ialah seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang lafadz al-Yad (tangan) yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah kedua tangannya.” (al-Maidah: 38)

Bahwa yang dimaksud memotong tangan dalam ayat tersebut adalah tangan kanan dan pemotongannya adalah sampai pergelangan tangan, tidak sampai siku.

c. Mengkhususkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum

Hadis dalam kategori ini ialah seperti hadis yang mengkhususkan makna zalim dalam firman Allah SWT:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.” (al-An’am: 82)

Bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut adalah menyekutukan Tuhan. Peristiwanya ialah sewaktu ayat tersebut turun, sebagian sahabat mengira bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut ialah zalim dalam arti umum, sehingga dia berucap,”Siapakah di antara kita yang tidak zalim? Kemudian Nabi saw menjawab,”Bukan itu yang dimaksud, tetapi yang dimaksud zalim pada ayat itu ialah menyekutukan Tuhan (syirik).”

d. Menjelaskan makna lafadz yang masih kabur

Diantaranya ialah seperti hadis yang menjelaskan makna dua lafadz “al-Khaithu” dalam firman Alah SWT:

Dan makan minumlah kamu hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (al-Baqarah: 187)

Peristiwanya ialah sebagian sahabat ada yang mengira bahwa yang dimaksud benang dalam ayat itu ialah tali yang berwarna hitam dan putih. Kemudian Nabi saw bersabda bahwa yang dimaksud ialah terangnya siang dan gelapnya malam.

3. Menetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an

Contoh sunnah semacam ini banyak sekali seperti hadis-hadis yang menetapkan hukum haram mengawini seorang perempuan beserta bibinya, riba fadhal dan makan daging himar piaraan.

4. Menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an, diantaranya ialah seperti hadis:

Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris.”

Hadis tersebut menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an tentang diperbolehkannya wasiat kepada ahli waris, baik kepada kedua orang tua atau kerabat-kerabat waris lainnya, sebagaimana firman Allah SWT:

Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 180)

Dari buku “Ilmu Ushul Hadis” (al-Manhalu al-Lathiifuu fi Ushuuli al-Hadisi al-Syarifi) karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki terbitan Pustaka Pelajar hal. 8-13

Leave a comment

Kesempurnaan Tawakal Ibunda Musa a.s.

Kesempurnaan Tawakal Ibunda Musa a.s.

Percaya secara total dengan keyakinan yang penuh kepada Allah adalah intisari ketawakalan, seperti bola mata yang hitam sebagai salah satu bagian mata yang terindah dan terelok.
Kita dapat mengilustrasikan keyakinan dan ketawakalan sebagai berikut, jika ketawakaan adalah hati, keyakinan adalah pusat hatinya. Jika ketawakalan adalah mata, keyakinan adalah pupilnya. Penyerahan diri adalah inti ketawakalan. Penisbatan penyerahan diri terhadap tawakal sama dengan penisbatan ihsan kepada iman.
Keyakinan merupakan kerelaan seseorang untuk kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah swt sekaligus modal untuk meraih keridhaan Allah. Jika dia tidak mampu menggunakan keyakinan ini, dia masih berkesempatan mendapatkan ridha-Nya dengan cara ‘ainul-yaqin atau dengan bersabar.
Oleh karena itu, kita harus melakukan apapun karena Allah dan disertai keyakinan kepada-Nya. Jika kita belum bisa mendapatkannya, kita harus bersabar karena dengan bersabar kita akan memperoleh lebih banyak kebaikan.
Kisah tentang keercayaan penuh ibunda Musa kepada Allah adalah contoh sempurna keyakinan dan ketawakalan seorang hamba kepada Allah. Allah swt berfirman,

Dan Kami ilhamkan kepada ibunda Musa,’Susuilah dia (Musa) dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.'” (al-Qashash: 7)

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa tindakan ibu Musa adalah bukti nyata keteguhan dan keyakinannya kepada Allah swt. Jika bukan karena keteguhan keyakinannya, dia tidak mungkin menghanyutkan Musa di sungai Nil yang deras arusnya dan entah kemana akan membawa Musa pergi.
Allah swt telah mengilhamkan kepada ibunda Musa untuk menghanyutkan anaknya ke dalam sebuah peti di sungai Nil. Dengan kepercayaan penuh kepada perintah Allah, ibunda Musa melaksanakan perintah tersebut. Peti yang ditempati Musa a.s terbawa arus sungai Nil hingga sampai di kerajaab Fir’aun.
Sebelumnya pada saat kelahiran Musa, Fir’aun bermimpi ada seorang bayi laki-laki akan menghancurkan kerajaannya. Khawatir mimpinya menjadi kenyataan, segera saja Fir’aun memerintahkan pasukannya untuk membunuh semua bayi dan anak laki-laki. Sayangnya Allah berkehendak lain, bayi lelaki yang akan menjadi musuh besarnya justru besar dihadapan matanya karena Aisyah–istri Fir’aun–sendiri yang telah memungutnya dari sungai Nil. Aisyah terpikat keelokan bayi Musa a.s yang dikisahkan Allah swt,

“…  Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (Thaha: 39)

Allah juga menanamkan rasa kasih sayang di dalam hati Aisyah. Karena kasih Aisyah kepada Musa, ia berkata kepada Fir’aun sebagaimana yang dikisahkan Allah di dalam firman-Nya,

Dan istri Fir’aun berkata,'(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya …'” (al-Qashash: 9)

Allah menjaga Musa dengan cinta yang menyelimuti kalbu Aisyah karena itu Fir’aun tidak bisa menolak permintaan istrinya. Selain itu, Allah swt juga telah mengharamkan bagi Musa untuk dapat meminum ASI dari wanita lain sehingga ibu Musa dapat menyusui anak kandungnya sendiri. Allah memenuhi janji-Nya kepada ibunda Musa untuk menjaga anaknya dan mengembalikan Musa ke pelukannya secara genap dan sempurna, Allah swt berfirman,

“…. Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu…” (al-Qashash: 7)

Keyakinan ibunda Musa dibayar tunai oleh Allah dengan cara mengembalikan Musa kepadanya. Bahkan Allah juga menganugerahkan risalah kenabian pada anak wanita tangguh ini (Nabi Musa a.s.)

Dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” hal. 282-284

Leave a comment

Akhlak dan Sifat Imam Nawawi

Akhlak dan Sifat Imam Nawawi

Para penulis biografi sepakat bahwa Imam Nawawi adalah seorang pemimpin dalam bidang zuhud, panutan dalam hal wara‘, orang yang selalu memberikan pandangan bijak di bidang hukum, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran. Beberapa sifat Imam Nawawi:

1. Zuhud
Imam Nawawi tidak pernah terlena dengan kenikmatan makanan, pakaian dan perkawinan. Puncak kenikmatannya adalah melalui ilmu pengetahuan yang ditemukannya, seolah sudah dapat menggantikan semua kenikmatan duniawi. Yang menarik perhatian adalah dia pindah dari sebuah perkampungan sederhana menuju kota Damaskus yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, sementara beliau sendiri masih berusia muda dan dalam kondisi fisik yang masih kuat. Walau begitu beliau tidak pernah berpaling untuk memperhatikan semua kesenangan dan syahwat tersebut. Beliau justru membenamkan diri dalam kesungguhan dan kehidupan yang sederhana.

2. Wara
Dalam kehidupannya beliau tidak mau memakan sayuran yang berasal dari Damaskus karena menurut beliau banyak tanah wakaf dan kepemilikannya dikelola oleh orang yang seharusnya dilarang melakukan pengelolaan.
Beliau juga lebih memilih Madrasah ar-Rawahiah ketimbang madrasah lainnya karena madrasah ini dibangun oleh para pedagang.
Dari Madrasah Darul Hadits, beliau mendapatkan gaji yang sangat besar namun beliau tidak pernah mengambilnya. Beliau mengumpulkannya kepada kepala madrasah dan apabila sudah setahun uang tersebut untuk membeli aset dan mewakafkannya untuk Darul Hadits atau membeli kitab dan mewakafkannya untuk perpustakaan madrasah.
Beliau pun tidak mengambil sedikitpun pemberian atau hadiah dari siapapun kecuali pemberian itu sesuai kebutuhannya dan pemberinya juga orang yang memiliki agama yang baik.
Beliau hanya menerima pemberian dari orang tuanya dan kerabatnya. Ibunya sering mengirimkan baju dan sejenisnya untuk dipakainya dan bapaknya sering mengirimkan makanan untuknya.
Imam Nawawi selalu tidur di kamar tempat beliau pertama kali tinggal di Damaskus dalam komplek Madrasah Rawahiah tanpa pernah menuntut apapun di luar semua itu.

Dari buku “Syarah Riyadhush Shalihin” pensyarah Dr. Musthafa Dib al-Bugha terbitan Gema Insani

Leave a comment

Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam Segala Perbuatan, Ucapan dan Kondisi

Ikhlas dan Menghadirkan Niat

Allah SWT berfirman,

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (al-Bayyinah: 5)

“Daging (hewan korban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu …” (al-Hajj: 37)

“Katakanlah,’Jika kamu sembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya …'” (Ali Imran: 29)

Hadis 1

“Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,’Semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya …'” (Muttafaq ‘alaih)

Mutiara-mutiara hadis:

1. Para ulama sepakat bahwa niat itu menjadi suatu keharusan dalam sebuah amal agar mendapat pahala ketika amal tersebut dikerjakannya. Tetapi para ulama juga menjelaskan bahwa niat merupakan syarat bagi sahnya sebuah amal.

2. Tempat niat itu di dalam hati dan tidak disyaratkan untuk mengucapkanya.

3. Ikhlas karena Allah SWT adalah salah satu dari sekian banyak syarat diterimanya sebuah amal karena Allah SWT tidak akan menerima suatu amal kecuali amal yang tulus dan murni yang dilakukan hanya untuk-Nya.

Hadis 2

“Rasulullah bersabda,’Ada satu pasukan yang hendak menghancurkan Ka’bah. Setelah mereka berada di suatu padang pasir maka mereka dibenamkan ke tanah dari yang pertama sampai yang terakhir dari mereka.” Aisyah bertanya,”Aku berkata,’Ya Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedang diantara mereka itu ada para pedagang dan juga orang yang bukan termasuk golongan mereka?’ Rasulullah menjawab,’Ya semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir kemudian nantinya mereka itu akan dibangkitkan dari kuburnya masing-masing sesuai niat-niatnya sendiri.'”

Mutiara-mutiara hadis:

1. Manusia akan dinilai amalnya sesuai dengan maksud tujuannya, baik atau buruk.

2. Peringatan agar tidak bergaul bersama orang-orang yang suka berbuat zalim atau jahat.

3. Anjuran untuk berteman dengan orang-orang yang selalu melakukan kebaikan.

4. Informasi yang disampaikan Rasulullah saw tentang hal-hal yang ghaib wajib diimani sebagaimana adanya.

Hadis 3

“Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Maka dari itu apabila kalian diminta untuk berperang maka berangkatlah untuk perang.” (Muttafaq ‘alaih).

Mutiara-mutiara hadis:

1. Apabila suatu negara telah menjadi negara Islam maka tidak diwajibkan untuk berhijrah dari negara tersebut ke negara lain.

2. Kewajiban hijrah berlaku apabila seorang muslim tidak lagi mendapatkan kebebasan dalam menjalankan agamanya dan jika negara tersebut adalah negara kafir.

3. Diwajibkan untuk meniatkan dan mempersiapkan jihad.

4. Apabila meninggalkan negara Islam menuju negara kafir karena kecintaannya dan menjalin hubungan yang baik dengan penduduknya maka dilarang secara syariat.

Hadis 4

“Kami berada bersama Nabi saw dalam suatu perang kemudian beliau bersabda,’Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang laki-laki yang kalian tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah melainkan orang-orang tersebut ada bersama kalian. Mereka itu terhalang oleh sakit.”(HR Muslim)

Mutiara-mutiara hadis:

1. Bagi mereka yang berhalangan sehingga tidak bisa ikut berjihad maka dia berhak mendapatkan pahala seperti mujahid yang berangkat ke medan jihad selama niatnya benar dan memiliki semangat yang tinggi untuk bwrjihad.

2. Setiap muslim tidak terlepas dari tanggung jawab jihad, paling tidak dia telah mempunyai niat dan keinginan untuk berjihad.

Hadis 7

“Sesungguhnya Allah SWT itu tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian, dan tidak pula kepada bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim)

Mutiara-mutiara hadis

1. Pemberian pahala terhadap amal manusia itu tergantung pada keikhlasan dan ketulusan niat yang ada dalam hatinya.

2. Keharusan seorang muslim untuk selalu memperhatikan kondisi hatinya, memperbaiki niatnya dan membersihkannya dari segala sifat yang buruk dan dibenci oleh Allah SWT.

3. Memperbaiki hati harus lebih diutamakan dibandingkan anggota tubuh karena amal hati akan meluruskan amal-amal syari’ah.

4. Terkadang manusia melakukan amal baik tetapi niatnya buruk, maka kita hukumi itu dengan sesuatu yang tampak, sedangkan niatnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Hadis 8

“Rasulullah saw ditanya tentang seseorang yang berperang dengan tujuan menunjukkan keberanian, berperang dengan tujuan kesombongan dan berperang dengan tujuan pamer,’Manakah di antara semua itu yang termasuk jihad di jalan Allah?’ Rasulullah saw menjawab,’Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi luhur, maka ia disebut jihad di jalan Allah.'” (Muttafaq ‘alaih)

Mutiara-mutiara hadis

Semua amal manusia akan diperhitungkan di sisi Allah SWT berdasarkan niat baik. Sementara keutamaan dalam berjuang di jalan Allah SWT, hanya akan diberikan kepada orang yang motivasi perjuangannya untuk menegakkan kalimat Allah SWT.

Tetapi hal ini tidak mengubah perlakuan terhadap mereka yang terbunuh di medan perang, seperti halnya orang-orang yang mati syahid. Jadi mereka tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak dishalatkan, tetapi langsung dikuburkan. Sementara urusan niat dan motivasi di balik perjuangannya diserahkan kepada Allah SWT.

Hadis 9

“Apabila dua orang muslim berhadap-hadapan dengan membawa masing-masing pedangnya, maka yang membunuh dan yang terbunuh itu semua masuk neraka.” Aku bertanya, “Ini yang membunuh patut masuk neraka. Tetapi bagaimana halnya orang yang terbunuh?” Rasulullah saw menjawab, “Karena sesungguhnya yang terbunuh itu juga ingin sekali membunuh kawannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Mutiara-mutiara hadis

1. Siksaan diberikan kepada orang yang memiliki tekad yang kuat dalam hati untuk bermaksiat serta jiwa dan raganya ikut mendukung niat tersebut, baik niat itu terwujud atau tidak. Sedangkan jika Allah SWT mengampuninya maka pikiran dan getaran hati seseorang untuk melakukan maksiat tidak masuk dalam perhitungan hisab kecuali jika hal itu diwujudkan dalam sikap.

2. Peringatan keras agar tidak melakukan peperangan sesama muslim sebab hal itu dapat melemahkan kaum muslim dan menyebabkan kemurkaan Allah SWT terhadap mereka.

3. Ancaman yang telah disebutkan dalam hadis ini dipahami jika kedua orang yang saling membunuh itu motivasinya untuk kesukuan atau fanatisme golongan, bukan untuk membela syariat.

Dari kitab “Syarah Riyadhush Shalihin” jilid I terbitan Gema Insani 2010

Leave a comment