Akhlak dan Sifat Imam Nawawi

Akhlak dan Sifat Imam Nawawi

Para penulis biografi sepakat bahwa Imam Nawawi adalah seorang pemimpin dalam bidang zuhud, panutan dalam hal wara‘, orang yang selalu memberikan pandangan bijak di bidang hukum, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran. Beberapa sifat Imam Nawawi:

1. Zuhud
Imam Nawawi tidak pernah terlena dengan kenikmatan makanan, pakaian dan perkawinan. Puncak kenikmatannya adalah melalui ilmu pengetahuan yang ditemukannya, seolah sudah dapat menggantikan semua kenikmatan duniawi. Yang menarik perhatian adalah dia pindah dari sebuah perkampungan sederhana menuju kota Damaskus yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, sementara beliau sendiri masih berusia muda dan dalam kondisi fisik yang masih kuat. Walau begitu beliau tidak pernah berpaling untuk memperhatikan semua kesenangan dan syahwat tersebut. Beliau justru membenamkan diri dalam kesungguhan dan kehidupan yang sederhana.

2. Wara
Dalam kehidupannya beliau tidak mau memakan sayuran yang berasal dari Damaskus karena menurut beliau banyak tanah wakaf dan kepemilikannya dikelola oleh orang yang seharusnya dilarang melakukan pengelolaan.
Beliau juga lebih memilih Madrasah ar-Rawahiah ketimbang madrasah lainnya karena madrasah ini dibangun oleh para pedagang.
Dari Madrasah Darul Hadits, beliau mendapatkan gaji yang sangat besar namun beliau tidak pernah mengambilnya. Beliau mengumpulkannya kepada kepala madrasah dan apabila sudah setahun uang tersebut untuk membeli aset dan mewakafkannya untuk Darul Hadits atau membeli kitab dan mewakafkannya untuk perpustakaan madrasah.
Beliau pun tidak mengambil sedikitpun pemberian atau hadiah dari siapapun kecuali pemberian itu sesuai kebutuhannya dan pemberinya juga orang yang memiliki agama yang baik.
Beliau hanya menerima pemberian dari orang tuanya dan kerabatnya. Ibunya sering mengirimkan baju dan sejenisnya untuk dipakainya dan bapaknya sering mengirimkan makanan untuknya.
Imam Nawawi selalu tidur di kamar tempat beliau pertama kali tinggal di Damaskus dalam komplek Madrasah Rawahiah tanpa pernah menuntut apapun di luar semua itu.

Dari buku “Syarah Riyadhush Shalihin” pensyarah Dr. Musthafa Dib al-Bugha terbitan Gema Insani

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: