Abu Daud (202-275 H)

ABU DAWUD

 

1.
(202 H/817 M – Basrah, 275 H/888 M)

Abu Dawud terkenal sebagai seorang ulama, hafiz, ahli fikih dan ahli hadis. Karyanya Sunan Abi Dawud dianggap sebagai salah satu kitab standar di bidang hadis.

Riwayat Hidupnya

Nama lengkapnya ialah Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats bin Ishaq (Basyir) bin Syadad bin Amr bin Imran al-Azdi as-Sijistani. Dia seorang pelanglang buana untuk kepentingan menuntut ilmu hadis, penghimpun dan penulis kitab hadis yang meriwayatkan hadis dari ulama Irak, Khurasan, Syam dan Mesir. Di dilahirkan pada tahun 202 H dan meninggal dunia pada 14 Syawal 275 H dalam usia 73 tahun.

Abu Dawud mengawali pendidikannya dengan belajar bahasa arab, Al-Qur’an dan pengetahuan agama lain. Sampai usia 21 tahun ia bermukim di Baghdad kemudian ia melakukan perjalanan panjang untuk mempelajari hadis ke berbagai tempat seperti Hijaz, Syam (Suriah), Mesir, Khurasan, Rayy (Teheran), Harat, Kufah, Tarsus, Basrah dab Baghdad. Dalam perjalanan ia beejumpa dan berguru kepada para pakar hadis.
Abu Dawud mengambil hadis dari Muslim bin Ibrahim, Sulaiman bin Harb, Utsman bin Ali Syaibah, Abu al-Walid al-Thayalisi, Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi, Musaddad bin Musarhad, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Qutaibah bin Sa’id, Ahmad bin Yunus, Ibnu Amr ad-Darir, Musa bin Ismail, Hasan bin Amr as-Sudusi, Amr bin Marzuq, Abdullah bin Muhammad an-Nafili, Muhammad bin Basyar, Zuhair bin Harb, Ubaidillah bin Umar bin Maisarah, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Musanna dan Muhammad bin al-Ala.

Adapun orang-orang yang mengambil hadis darinya ialah putranya (Abdullah), Abu Abdu al-Rahman al-Kisa’i, Ahmad bin Muhammad al-Khallal, Abu Ali Muhammad bin Amr al-Lu’lu’i dan Muhammad Alawi al-Maliki.

Abu Daud bertempat kediaman di Bashrah dan pernah mengunjungi Baghdad. Dan di negeri inilah dia meriwayatkan kitab sunannya dan orang-orang dari negeri ini telah meriwayatkan kitab sunan tersebut darinya. Kitab sunan itu telah disusunnya jauh sebelum dia mengunjungi Baghdad dan kitabnya itu pernah ditunjukkan di depan Ahmad bin Hanbal yang menilainya sebagai kitab yang baik dan bagus.

Abu Daud berkata,”Aku telah menulis hadis-hadis dari Rasulullah saw sebanyak 500.000 hadis dan dari jumlah itu aku memilih apa yang aku sebutkan dalam kitabku ini, yakni kitab Sunan. Aku menghimpun di dalam kitab itu 4.800 hadis yang aku sebutkan mana-mana yang shahih dan yang mendekati shahih. Dan dalam urusan agama bagi seseorang, kiranya cukup dengan berpegang 4 hadis saja dari sekian banyak hadis yang aku sebutkan yaitu:

1. “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya.”

2. “Termasuk tanda kesempurnaan keislaman seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tiada berguna baginya.”

3. “Seorang mukmin tidak akan sempurna keimanannya sampai dia rela terhadap saudaranya sebagaimana dia merelakan terhadap dirinya sendiri.”

4. “Sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, sedang di antara keduanya merupakan sesuatu yang syubhat.”

 

 

Kitab Sunan Abu Dawud merupakan yang paling populer diantara karangan Abu Dawud yang berjumlah 20 judul. Tidak kurang 13 judul kitab telah mengulas karya tersebut dalam bentuk syarh (komentar), mukhtasar (ringkasan), tahzib (revisi) dan lain-lain.

Ibnu Salah (w. 642H/1246 M), Ibnu Mundih dan Ibnu Abd al-Bar (ketiganya ahli hadis) menilai karya tersebut sebagai bermutu standar untuk berhujah. Seiring dengan itu, Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah mengkritik karya Abu Dawud tersebut. Kritik tersebut meliputi:
1. Tidak adany penjelasan tentang kualitas suatu hadis dan kualitas sanad (sumber, silsilah dalam hadis)-nya, sementara yang lainnya disertai penjelasan.
2. Adanya hadis yang dhaif (lemah) menurut penilaian para ahli, tetapi tanpa penjelasan kedhaifannya oleh Abu Dawud.
3. Adanya kemiripan Abu Dawud dengan Imam Hanbali dalam hal mentoleransi hadis yang oleh sementara kalangan dinilai dhaif.

Ketenaran Abu Dawud di bidang hadis bukan hanya karena Sunan Abu Dawud termasuk dalam kelompok al-Kutub as-Sittah dan kaya dengan hadis hukum sebagai ciri khasnya, melainkan juga karena kitab itu menjelaskan hadis yang shahih dan tidak shahih menurut penilaiannya.
Bahkan kitab ini juga memuat rumus tentang hadis “shahih”, sebuah istilah yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal dan pada masa selanjutnya menjadi istilah ilmu hadis yang diperdebatkan para ahli, karena kesamaran tentang apa yang dimaksud Abu Dawud.
Di samping kepakarannya di bidang hadis, perjalanan Abu Dawud untuk mencari ilmu dari satu tempat ke tempat lain telah membentuknya menjadi pakar hukum dan kritikus pada masanya.

Abu Bakar al-Khalal berkata,”Abu Daud, seorang yang bernama Sulaiman bin Asy’ats, itu seorang imam yang terkemuka pada masanya, tidak ada seorangpun pada masanya yang lebih unggul daripadanya dalam hal pengetahuan dan ilmu yang dikeluarkannya dan kecakapan akademiknya dalam mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya. Dia adalah seorang tokoh terkemuka yang wara’

2. Kitab Sunannya

Di dalam pendahuluan kitab Mu’aalimu al-Sunani, al-Hafidz Abu Sulaiman al-Khahthabi berkata,”Ketahuilah oleh kamu sekalian, semoga Allah SWT merahmatimu, bahwa kitab Sunan karya Abu Daud adalah kitab yang mulia, tidak ada kitab lain dalam ilmu-ilmu agama yang seperti itu, kitab itu telah diterima oleh semua orang karenanya ia menjadi hakim antara kelompok-kelompok ulama dari lapisan ahli fiqih terhadap perbedaan madzhabnya. Semua ulama telah datang mengambil dari kitab Abu Daud. Kitab ini menjadi pegangan orang-orang Irak, Mesir dan orang-orang dari Maghribi dan dari segala penjuru dunia.

Ibnu al-Arabi, seorang perawi kitab Sunan, berkata,”Sekiranya seseorang tidak memiliki satupun kitab agama kecuali mushaf dan Sunan Abu Daud, maka dia sudah tidak membutuhkan yang lainnya.”

Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata,”Bahwasanya mengenai hadis-hadis hukum dalam Sunan Abu Daud itu sudah cukup bagi seorang mujtahid dalam disipilin ilmu agama.”

Ibnu al-Qayyim berkata,”Oleh karena itu, kitab Sunan karya Abu Daud Sulaiman bin Asy’ats al-Sijistani (semoga Allah merahmatinya) diberi kekhususan oleh Allah SWT menempati posisi tersendiri dalam dunia Islam. Kitab itu menjadi hukum di antara orang-orang Islam dan menjadi hakim bagi mereka yang berselisih pendapat. Orang-orang suci telah mengambil hukum darinya dan mereka yang kritispun menerima hukumnya, karena ia merupakan kitab himpunan yang mencakup semua hadis hukum yang disusun secara sistematis, selektif dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang cacat dan dhaif dihilangkan sehingga menjadi sebuah kitab yang layak dijadikan bekal yang utama.”

Kompilasi dari buku “Ilmu Ushul Hadis” karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki terbitan Pustaka Pelajar hal. 277-280 dan Ensiklopedi Islam hal. 55-56.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: