Abdurrahman bin Abi Hatim

Abdurrahman bin Abi Hatim
(240 H/854 M – Rayy, Irak, 326 H/938 M)

Abdurrahman bin Abi Hatim adalah seorang tokoh hadis yang hafiz dan ahli di bidang usul fikih, fikih dan tafsir. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Muhammad Abi Hatim bin Idris bin Munzir bin Dawud bin Mihran Abu Muhammad at-Tamimi al-Hanzali ar-Razi. Karena ia tinggal di Hanzala, Rayy, namanya dinisbahkan dengan keduanya: al-Hanzali dan ar-Razi.

Abdurrahman bin Abi Hatim berasal dari keluarga yang cinta ilmu. Ayahnya, Muhammad Abi Hatim, adalah juga seorang ulama yang menguasai banyak cabang ilmu keagamaan: hadis, tafsir, fikih, sejarah dan sebagainya. Oleh karena itu, ia mulai belajar agama pada ayahnya sendiri. Ia banyak meriwayatkan hadis dari ayahnya. Setelah itu, ia belajar dan meriwayatkan hadis dari Ibnu Warah, Abu Zur’ah, al-Hasan bin Arafah, Abu Sa’id al-Asaj, dan Yunus bin Abd al-A’la. Ia kemudian mencari hadis ke berbagai pusat ilmu keislaman dan belajar serta meriwayatkan hadis dari ulama besar. Ia mengadakan pengembaraan ilmiah ke Hijaz, Suriah, Mesir, Irak, al-Jibal dan al-Jazirah. Kawasan tersebut sudah berkembang pesat sebagai pusat kajian ilmu keislaman.

Setelah ia diakui sebagai ulama besar, banyak penuntut ilmu datang kepadanya untuk belajar dan meriwayatkan hadis. Diantara ulama hadis darinya adalah Abu asy-Syaikh a-Hayyan dan Yusuf al-Mayanaji, seorang ulama yang berasal dari Mayanaj, suatu daerah di Suriah.

Muridnya, Yusuf al-Mayanaji, mengatakan,”Ia adalah ulama besar yang saleh, sama sekali tidak pernah berbuat dosa, baik karena lalai apalagi karena disengaja.” Ia dikenal sebagai seorang ulama yang banyak beribadah, seorang zahid, wara’, dan hafiz. Diriwayatkan bahwa ketika selesai menunaikan shalat, salah seorang anggota jemaah yang berimam kepadanya berkata,”Mengapa engkau begitu lama sujud? Aku, dalam sujud itu, membaca tasbih sebanyak tujuh puluh kali.” Ia menjawab dengan berkata,”Demi Allah, aku hanya membaca tasbih sebanyak tiga kali.” Riwayat ini dapat dijadikan indikasi betapa khusyuknya ia dalam beribadah.

Ia juga termasuk ulama yang produktif, yang mengarang buku yang bernilai tinggi tentang berbagai bidang ilmu. Karyanya, yang berjudul al-Jarh wa at-Ta’dil (Cacat Tidaknya Perawi Hadis) terdiri atas delapan jilid, dapat dikatakan sebagai salah satu karya yang paling baik dan besar tentang hadis. Berkenaan dengan kitab ini ada satu riwayat. Abu ar-Rabi’ Muhammad bin Fadl al-Balakhi meriwayatkan dari Ibnu Mihrawaih ar-Razi dari Ali bin Husain a-Junaid bahwa Yahya bin Ma’in, seorang ahli yang terkenal ketat dalam ilmu al-jarh wa at-ta’dil, berkata,

“Kami telah mencela beberapa golongan (maksudnya tentu celaan yang berhubungan dengan kepentingan periwayatan hadis), semoga mereka sudah berada di dalam surga 200 tahun yang lalu.”

Riwayat ini disampaikan kepada Abdurrahman bin Abi Hatim oleh Ibnu Mihrawaih ketika Ibnu Abi Hatim sedang membaca kitabnya al-Jarh wa at-Ta’dil. Mendengar riwayat itu, ia kemudian menangis, tangannya gemetar sehingga buku yang ada ditangannya terjatuh. Ia kemudian meminta Ibnu Mihrawaih mengulangi riwayat itu kepadanya dan setelah mendengarnya, ia kembali menangis. Riwayat ini menunjukkan bahwa kalau bukan untuk kepentingan periwayatan hadis, tentu ia akan merasa berdosa mengungkap cacat orang lain. Dengan demikian, ia akan sangat berhati-hati dalam melakukan penilaian terhada perawi hadis.

Dalam bidang hadis ini, ia juga menulis sebuah buku besar berjudul al-Musnad (Kitab Sandaran) sebanyak 12 jilid dan dua jilid buku yang berjudul ‘Ilal al-Hadis (Kelemahan Hadis). Karena menggunakan sistrmatika (bab) fikih, kitab hadis terakhir ini juga dapat dikatakan sebagai kitab fikih. Dalam bidang fikih sendiri, menurut al-Hafiz Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Ahmad ad-Dawuri (w. 945 H/1538 M) dalam kitabnya Tabaqat al-Mufassirin (kitab yang membahas tokoh tafsir), Abdurrahman bin Abi Hatim juga menulis kitab fikih dan kitab yang membahas perbedaan pendapat di kalangan sahabat, tabiin dan ulama di beberapa kota.

Bukunya dalam bidang tafsir yang berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim (empat jilid, dua diantaranya ditemukan sebagai manuskrip) menghimpun banyak sekali hadis dan informasi (penafsiran) dari kitab tafsir sebelumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa kitab ini menghimpun kitab tafsir sebelumnya secara sempurna. Sebagian ulama bahkan menilai bahwa kualitas kitab tafsirnya ini tidak kalah, malah lebih baik daripada kitab tafsir Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari. Oleh karena itu, kitab ini menjadi rujukan bagi mufasir yang datang kemudian.

Ia juga dikenal sebagai seorang mutakalimin (teolog) dan menulis sebuah buku besar yang berjudul ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah (Penolakan terhadap Aliran Jahmiyyah). Di dalam buku ini ia berusaha membuktikan bahwa ajaran yang dipelopori Jahm bin Sofwan tidak mempunyai dasar yang kuat dalam Islam. Jahm bin Sofwan membawa paham Jabariyyah dan fatalistik, yang mengajarkan bahwa manusia serba terpaksa dalam perbuatannya. Artinya perbuatan manusia itu pada dasarnya adalah perbuatan Allah SWT.

Sebagaimana biasanya pada ahli hadis pada masa itu, ia juga seorang sejarawan. Karyanya al-Jarh wa at-Ta’dil tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai buku sejarah karena menghimpun data biografis tokoh perawi hadis. Di samping buku ini, dalam bidang sejarah ia juga menulis buku yang berjudul Manaqib asy-Syafi’i dan Manaqib Ahmad. Karyanya yang lain adalah al-Kunya (Julukan), al-Fawaid al-Kubra (Faedah Besar) dan al-Marasil (Hadis Mursal). Bahkan ia juga menulis tema yang berbau tasawuf seperti kitab az-Zuhd (Kitab Zuhud).

Sumber: Ensiklopedia Islam hal. 45-46

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: