Archive for February, 2013

Ibnu Khuzaimah (223-311 H)

Ibnu Khuzaimah Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburi. Ia lahir pada bulan Safar 223 H/838 M di Naisabur, sebuah kota di Khurasan yang sekarang terletak di bagian timur laut negara Iran.

Semenjak kecil, Ibnu Khuzaimah mendapatkan pendidikan Al-Qur’an dari ayahnya. Suatu ketika, ia ingin sekali menemui Ibnu Qutaibah (w. 240 H/854 M) untuk mempelajari hadis. Sayang, dia tak beroleh restu dari ayahnya. Sebab ayahnya ingin agar putranya terlebih dahulu mempelajari Al-Qur’an secara mendalam hingga benar-benar menguasai kandungannya. Bila dirasa pengetahuannya tentang Al-Qur’an telah matang, maka sang ayah tak keberatan memberi izin untuknya.

Waktu berjalan begitu cepat. Ibnu Khuzaimah kecil pun kemudian beranjak dewasa. Selama itu, ia tak henti-hentinya mengisi waktu dengan belajar Al-Qur’an sebagaimana harapan ayahnya. Setelah benar-benar menguasai Al-Qur’an, barulah sang ayah memberinya izin untuk pergi mencari guru-guru yang mengajarkan hadis.

Begitulah, Ibnu Khuzaimah pun merantau ke Marwa dan berguru kepada Ibnu Qutaibah dan Muhammad bin Hisyam. Ketika berusia 17 tahun, Ibnu Khuzaimah giat mengadakan lawatan intelektual ke berbagai kawasan Islam, di antaranya ke Ray, Mesir dan Jazirah Arab. Perjalanan yang jauh dan melelahkan diarunginya dengan senang hati. Berkat kesabarannya, sejumlah guru yang ahli di bidang hadis pun berhasil ia temui. Misalnya, Muhammad bin Humaid, Ishaq bin Rahawaih, Ali bin Muhammad, Muhammad bin Maran, Musa bin Sahl, Abdul Jabbar bin al-A’la.

Kemampuan Ibnu Khuzaimah dalam menghafal, mencatat, menganalisis dan menyeleksi hadis mengalami perkembangan yang pesat. Ketekunan, kegigihan dan kerajinannya untuk belajar hadis membuahkan hasil. Namanya pun mulai diakui dalam jagat hadis dan ia diangkat sebagai salah seorang guru besar di bidang hadis.

Banyak penuntut ilmu yang mendatangi majelisnya untuk menimba ilmu. Mereka berdatangan tak hanya dari kota tempat Ibnu Khuzaimah tinggal, tetapi dari seluruh penjuru negeri. Bahkan sejumlah guru yang pernah memberinya ilmu kini menjadi muridnya.

Beberapa guru hadis yang belajar kepada Ibnu Khuzaimah adalah Imam Bukhari, Muslim dan Imam al-Hakim. Hal ini menunjukkan secara jelas mengenai keahlian Ibnu Khuzaimah yang mumpuni di bidang hadis. Di samping itu hadis-hadisnya pun banyak diriwayatkan oleh para ulama terkemuka pada zamannya. Misalnya Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub at-Tabra’i, Abu Hatim, Muhammad bin Hibban al-Busyti, Abu Ahmad dan Abdullah al-Jurjani.

Melalui fase yang sangat panjang dalam pencarian dan pengajaran hadis, akhirnya kaum muslim di Khurasan mendaulat Ibnu Khuzaimah sebagai imam besar di bidang hadis. Ia pun mendapat julukan imam al-a’immah (imamnya para imam) . Julukan ini tampaknya tidak berlebihan jika kita melihat daftar karya yang telah dihasilkan oleh Ibnu Khuzaimah. Jumlah karyanya tidak kurang 140 buah. Sayangnya sebagian besar karyanya tidak sampai ke tangan kita. Karyanya yang hingga kini masih bisa kita jumpai adalah kitab at-Tauhid dan kitab Sahih-nya.

Setelah menebarkan manfaat kepada umat Islam dengan khazanah hadisnya, tiba saatnya bagi Ibnu Khuzaimah untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Ia menghadap Tuhannya pada Jum’at malam 2 Zulkaidah 311 H/924 M dalam usia kurang lebih 89 tahun. Jenazahnya disemayamkan di bekas kamarnya, tempat ia mendalami ilmu-ilmu agama terutama ilmu hadis.

Sumber:

Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” pengarang Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani 2008 hal. 69-71.

Leave a comment

Tiga Penyakit yang Harus Dihindari

1. Ekstrem dalam beragama

Penyimpangan dan distorsi (tahrif), datang dari arah sikap esktrem dan sok tahu, menjauh dari jalan tengah (moderasi) yang merupakan salah satu ciri agama Islam dan dari kelapangan yang merupakan identitasnya, yakni al-hanifiyyah as-samhah atau jalan lurus yang lapang dan juga dari kemudahan yang menjadi sifat pelbagai kewajiban syariat ini.

Itulah ghuluw (sikap berlebih-lebihan) yang telah membinasakan Ahl al-Kitab sebelum kita, yakni mereka yang berlebih-lebihan dalam akidah, dalam beribadah dan perilakunya. Hal itu telah dinyatakan oleh al-Qur’an ketika berbicara tentang mereka:

Hai Ahl al-Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang dahulu yang telah sesat dan menyesatkan kebanyakan manusia dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Ma’idah: 77)

Telah diriwayatkan dari Ibn Abbas, dari Nabi saw.:

Jangan sekali-kali kamu sekalian bersikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sebab sikap seperti itulah yang telah membinasakan orang-orang dahulu sebelum kamu.”

Ibn Mas’ud juga merawikan dari beliau:

Sungguh telah binasa orang-orang yang suka berlebih-lebihan.”

2. Manipulasi Orang-orang Sesat

Ada lagi manipulasi atau pemalsuan yang dilakukan oleh orang-orang sesat untuk dimasukkan ke dalam manhaj nabawi atau melekatkan padanya pelbagai bid’ah yang diada-adakan dan yang pada hakikatnya bertentangan dengan watak aslinya, tak dapat diterima oleh akidah maupun syariatnya dan bahkan tak dikehendaki sama sekali oleh ushul (pokok-pokok ajaran) dan furu‘ (cabang-cabang)-nya.

Dan manakala orang-orang sesat ini menyadari bahwa mereka tak mungkin berhasil menambah-nambahkan sesuatu dalam al-Qur’an yang terpelihara dalam hafalan para penghafal, tercatat dalam mushaf-mushaf dan dibaca oleh para pembacanya, mereka pun mengira akan berhasil dengan pemalsuan mereka melalui jalur as-Sunnah. Dan bahwa dengan mudah mereka akan berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw. ….” walaupun tanpa bukti.

Namun para pakar umat dan para penghafal hadis dengan sigapnya telah siap menangkal dan menutup setiap celah yang mungkin akan dimasuki oleh para pemalsu itu. Mereka tak mau menerima sebuah hadis tanpa sanad dan tidak mau menerima sanad tanpa menguraikan para perawinya satu demi satu. Sedemikian sehingga dikenal jati dirinya serta riwayat hidupnya, sejak kelahiran sampai wafatnya, dan dari kelompok mana? Siapa guru-gurunya? Siapa kawan-kawannya? Siapa murid-muridnya? Bagaimana kejujuran dan ketakwaannya, seberapa kuat hafalan dan ketelitiannya, sampai mana kebersesuaiannya dengan para perawi terkenal dan tepercaya lainnya atau apakah ia lebih banyak merawikan hadis-hadis gharib.

Itulah sebabnya mereka berkata: “Isnad (periwayatan hadis dengan menyebut rangkaian perawiny) adalah bagian dari agama. Dan seandainya tidak ada isnad, niscaya setiap orang dapat berkata apa saja yang dikehendakinya.”

Ujar mereka lagi: “Seorang penuntut ilmu (hadis) tanpa isnad sama seperti seorang pencari kayu di malam yang gelap.”

Mereka juga tidak mau menerima suatu hadis kecuali yang sanadnya bersambung, dari awal sampai akhir, melalui para perawi yang tepercaya (tsiqah), jujur (‘adil) dan cermat (dhabit), tanpa kekosongan nama, baik yang jelas ataupun yang samar-samar. Demikian pula hadis tersebut tidak boleh bersifat syadz (yakni salah satu rawinya bertentangan dalam periwayatannya dengan perawi lain yang dianggap lebih akurat dan lebih dipercaya) dan harus bersih dari ‘illah qadihah (yakni bersih dari cacat yang menyebabkannya ditolak oleh para ahli hadis).

Ketelitian yang sangat dalam masalah isnad ini, dengan pelbagai persyaratan dan batasan-batasannya, adalah di antara ciri khas umat Islam, yang dengannya mereka mendahului bangsa-bangsa yang berperadaban modern masa kini, dalam hal meletakkan dasar-dasar metodologi ilmiah yang dikenal sekarang.

3. Penafsiran Orang-orang Jahil

Selanjutnya ada lagi penafsiran yang buruk, yang merusak hakikat agama Islam, menyelewengkan konsep-konsepnya dan mencoba mengurangi integritasnya. Yaitu dengan cara menghilangkan berbagai hukum dan ajaran dari batang tubuhnya, sebagaimana orang-orang sesat tertentu berusaha memasukkan kedalamnya hal-hal yang asing darinya atau mengundurkan apa yang seharusnya dimajukan dan memajukan apa yang seharusnya diundurkan.

Penafsiran yang buruk dan pemahaman yang lemah dan keliru ini, merupakan ciri orang-orang yang jahil yang tidak mengerti Islam dan tidak mampu meresapi jiwa atau semangatnya. Mereka ini juga tidak mampu melihat hakikat-hakikatnya dengan mata hati mereka. Sebabnya ialah mereka tidak memiliki pijakan yang kuat dalam ilmu atau dalam upaya mencari kebenaran, sehingga mampu mencegah mereka dari kesesatan atau penyelewengan dalam pemahaman. Atau menghalangi mereka dari tindakan meninggalkan hal-hal yang muhkamat seraya mengikuti yang mutasyabihat, yang mereka lakukan demi menimbulkan fitnah (kekacauan) dan mencari-cari ta’wil-nya, serta demi mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Itulah ta’wil (penafsiran) orang-orang yang meskipun mengenakan pakaian ulama serta menampilkan diri dengan pelbagai gelar orang-orang bijak, sebenarnya adalah orang-orang jahil.

Keadaan seperti inilah yang harus dihadapi dengan sikap waspada dan hati-hati, serta dengan meletakkan aturan-aturan yang ketat guna pencegahannya.

Kebanyakan dari kelompok-kelompok sesat dan sekte-sekte yang menyempal dari umat, dari akidah dan syariatnya; semua mereka itu menjadi tersesat dari jalan yang benar, disebabkan ta’wil atau penafsiran yang buruk dan keliru.

Mengenai hal itu, Iman Ibn al-Qayyim mempunyai pendapat yang sangat bagus tentang keharusan adanya pemahaman yang benar berkenaan dengan apa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Hal itu disebutkan dalam bukunya, Ar-Ruh, yang kami kutip di bawah ini:

“Diperlukan pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksud oleh Rasulullah saw.; tanpa berlebihan ataupun kekurangan. Maka janganlah ucapan beliau diperluas artinya lebih daripada yang dimaksud atau dipersempit sehingga tidak memenuhi tujuannya dalam memberikan petunjuk dan penjelasan. Penyimpangan mengenai hal tersebut telah mengakibatkan penyesatan yang sedemikian luasnya sehingga tak ada yang mampu memperkirakannya kecuali Allah SWT. Dapatlah dikatakan bahwa pemahaman yang buruk berkenaan dengan apa yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya, adalah asal muasal dari setiap bid’ah serta kesesatan yang timbul dalam Islam. Bahkan hal itu adalah asal mula dari setiap kekeliruan dalam ushul dan furu‘. Lebih-lebih lagi apabila pemahaman seperti itu disertai dengan niat yang buruk. Sehingga bertemulah pemahaman yang buruk dalam beberapa hal dari tokoh yang diikuti, walaupun ia bermaksud baik, dengan niat yang buruk dari si pengikut. Maka dapatlah dipastikan, bencanalah yang akan menimpa agama beserta pemeluknya! Dan hanya dari Allah-lah diharapkan datangnya pertolongan!

“Bukankah pemahaman yang buruk tentang Allah dan Rasul-Nya pula yang telah menjerumuskan kelompok-kelompok Qadariyah, Murjiyah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Rafidhah serta berbagai kelompok bid’ah lainnya? Sedemikian sehingga agama dimengerti oleh kebanyakan manusia sejalan dengan pemahaman kelompok-kelompok tersebut.

“Sedangkan apa yang dipahami tentang Allah dan Rasul-Nya oleh para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka, menjadi sesuatu yang ditinggalkan, tidak dipandang kecuali dengan sebelah mata! Sedemikian sehingga adakalanya anda membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, sementara tak seorangpun dari mereka mempunyai pemahaman yang selayaknya tentang Allah dan Rasul-Nya walaupun dalam satu permasalahan saja?!”

“Hal-hal seperti ini hanya dapat diketahui oleh seseorang yang mengerti apa yang ada di tangan orang banyak, kemudian mencocokkannya dengan apa yang dibawa Rasulullah saw.

“Adapun orang yang memperlakukan agama secara terbalik, lalu mencocokkan apa yang dibawa Rasulullah saw. dengan apa yang diyakini dan dianut olehnya, yakni sesuatu yang ia menirunya dari orang lain yang dipercaya olehnya, maka takkan berguna omongan apapun bersamanya. Lebih baik anda tinggalkan saja ia bersama apa yang telah dipilihnya untuk dirinya sendiri. Biarkanlah ia berbuat apa yang dianggapnya paling benar, lalu tujukan puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anda dari cobaan yang ditimpakan oleh-Nya atas diri teman anda itu!”

Sumber:
Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW” karangan Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Kharisma, 1993 hal. 22-26.

Leave a comment

Ketercelaan Pangkat dan Popularitas

Ketahuilah bahwa dasar pangkat adalah kepopuleran reputasi dan kemasyhuran nama baik dan ini tercela. Allah berfirman,

Negeri akherat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Allah menghimpun antara keinginan merusak, kehendak meraih keluhuran dan bahwa kebahagiaan akhirat hanya bagi orang yang terbebas dari dua kehendak tersebut di dalam satu ayat. Allah berfirman,

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

Dengan keumuman ayat ini juga menjangkau cinta pangkat, karena pangkat merupakan salah satu kesenangan hidup duniawi terbesar dan paling banyak hiasannya.

Rasulullah saw bersabda, “Cinta harta dan pangkat menumbuhkan kemunafikan seperti air menumbuhkan jamur.”

Rasulullah saw bersabda, “Dua serigala buas yang dilepas di kandang ternak tidak lebih banyak daya rusaknya daripada cinta pangkat dan harta di dalam keberagamaan seorang muslim.”

Rasulullah saw bersabda, “Manusia menjadi binasa karena mengikuti hawa nafsu dan cinta pujian.”

Jabir mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang akan menunjuk seseorang dengan jemari sesuai kadar kejahatannya, di dalam agama dan dunianya, kecuali orang yang dijaga Allah dari kejahatan. Sesungguhnya Allah tidak melihat (memperhitungkan) rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal-amal kalian.”

Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan satu takwil yang baik tentang hadis ini — ketika dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, orang-orang akan menunjuk anda dengan jemari mereka bila mereka melihat anda“, — “Hadis tersebut tidak bermakna seperti itu, hanya orang yang ahli bid’ah dalam agamanya dan fasik dalam dunianya yang memaknai seperti itu.”

Amir al-Mu’minin Mawlana al-Imam al-Muayyad Billah as berkata, “Beliau benar dalam keterangannya, karena sesungguhnya Rasulullah dan para imam setelah beliau memang ditunjuk dengan jemari, tetapi itu setelah mereka menjadi imam kebenaran, pembimbing dalam agama dan menjadi penempuh jalan akhirat.”

Ali k.w. berkata, “Berkorbanlah (berdermalah) tetapi jangan menjadi populer, jangan kau angkat pribadimu agar disebut-sebut dengan satu nama baik. Rahasiakanlah dan diamlah agar engkau selamat, engkau menyenangkan orang-orang shaleh dan membuat marah orang-orang jahat.”

Ibrahim ibn Adham berkata, “Orang yang cinta popularitas berarti tidak mempercayai Allah dengan benar.”

Ayyub berkata, “Seseorang tidak dianggap memercayai Allah dengan benar kecuali jika hatinya tidak merasa memiliki kedudukan.”

Ada seorang zahid yang jika halaqahnya semakin banyak, dia segera pergi karena takut mashyur. Demikian pula Abu al-Aliyah, jika duduk bersama lebih dari tiga orang, dia segera bangkit dan pergi.

Suatu hari Thalhah melihat sekelompok orang berjalan mengiringinya, sekitar sepuluh orang. Kemudian dia berkata, “Riya, tamak dan tempat tidur adalah neraka.”

Sumber:
Buku “Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs” karya Syekh Yahya ibn Hamzah al-Yamani penerbit Zaman, 2012 hal. 362-364.

Leave a comment

Sunnah

Sunnah arti asalnya dalam bahasa adalah jalan, metode dan tradisi yang mencakup tradisi yang baik dan yang tidak baik. Dengan pengertian ini pula kata sunnah digunakan dalam berbagai ayat dan hadis. Sebagai misal dalam sebuah ayat disebutkan:

“…. dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (Al-Ahzab: 62)

Sunnah dalam ayat ini juga bisa berarti undang-undang atau sistem. Dalam hadis Nabi saw disebutkan:

Siapa yang mentradisikan sebuah tradisi yang baik dalam Islam sehingga setelah wafatnya sunnah tersebut dilakukan oleh masyarakat, maka baginya akan dituliskan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…. ” (Shahih Muslim)

Adapun kata sunnah telah digunakan dalam berbagai cabang ilmu agama dan dalam beragam makna. Sebagai contoh, dalam istilah muhadditsin, sunnah diartikan sama dengan hadis, yang dapat digunakan untuk perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat seorang maksum. Makna sunnah seperti ini juga diterima oleh ulama ushul fikih. Mereka menjadikan sunnah sebagai sumber rujukan kedua setelah Al-Qur’an untuk mendapatkan hukum-hukum Islam.

Sementara dalam istilah fukaha, kata sunnah kadang diposisikan berlawanan dengan bid’ah, dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang mempunyai akar dalam agama dan kadang diposisikan berhadapan dengan faridhah dan dipakai untuk menunjukkan hal-hal yang mustahab.

Sepertinya kata “sunnah” meski digunakan untuk menunjukkan perkataan dan perbuatan maksum, namun dalam penggunaannya kata ini lebih sering dipakai untuk menujukkan perbuatan dan taqrir maksum (daripada untuk menunjukkan perkataan). Sebagaimana yang digunakan oleh Imam Ali dalam masalah khilafah, ketika beliau berkata, “Aku akan berbuat (menjalankan pemerintahan ini) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.” Maksud beliau adalah mengikuti sirah amali Rasulullah dalam segala urusan, termasuk didalamnya bagaimana Rasul saw melakukan pembagian baitul mal. Makna sunnah ini lebih sedikit cakupannya daripada hadis.
Dengan memperhatikan sumber-sumber dalam sebagian riwayat, makna yang lebih khusus ini diterima dikalangan ulama Islam. Perlu disebutkan, sebagian peneliti memperluas pengertian sunnah sehingga mencakup juga sirah para sahabat nabi, meski pandangan ini tidak benar menurut ulama Syi’ah.

Sumber:
Buku “Sejarah Hadis” hal. 32-34 karangan Dr. Majid Ma’arif penerbit Nurul al-Huda 2012

Leave a comment

Tafsir Surat Al-Baqarah : 23-24

Tafsir Surat Al-Baqarah : 23-24

“Dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Tafsir:

Allah telah menetapkan keshahihan risalah Muhammad saw dengan sarana mukjizat Al-Qur’an yang Allah turunkan kepadanya. Bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat (sesuatu yang luar biasa, menakjubkan dan bersifat menundukkan). Bahwa Al-Qur’an berasal dari sisi Allah. Dalil kemukjizatan Al-Qur’an ialah bahwasanya Allah menantang bangsa Arab, yang Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka, agar mereka membuat satu surat yang serupa dengan surat Al-Qur’an dalam hal keindahan bahasa dan kefasihannya. Dalam hal orisinalitas syariatnya yang layak berlaku pada setiap tempat dan waktu, dalam kesesuaiannya dengan berbagai temuan ilmu pengetahuan, dalam hal informasi tentang hal-hal yang ghaib menyangkut masa lalu dan masa mendatang. Apabila seseorang merasa ragu bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah, hendaklah ia membuat yang serupa dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan kalam dalam bahasa Arab, sama seperti bahasa yang dipergunakan bangsa Arab di dalam khotbah, puisi dan percakapan mereka sehari-hari. Mereka adalah pakar dalam hal keindahan bahasa, kefasihan dan kepiawaian menjelaskan. Apabila mereka tidak mampu membuat satu surah yang serupa dengan surah Al-Qur’an dan mereka tidak mampu selamanya, hendaklah mereka kembali kepada kebenaran, hendaklah mereka beriman kepada Muhammad dan kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, yang demikian itu menjaga mereka dari api neraka.

Sumber:
Buku “Tafsir Al-Wasith” jilid 1 hal 14 karangan Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili penerbit Gema Insani

Leave a comment

Nasihat Imam Nawawi kepada Raja

Nasihat Imam Nawawi kepada Raja

Imam Nawawi memiliki sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang alim. Seorang penasihat di jalan Allah SWT dengan lisannya dan melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Beliau menyampaikan nasihat dengan ikhlas, tanpa ada maksud tertentu atau demi mengejar ambisi pribadi. Beliau sosok pemberani yang tidak pernah takut terhadap kecaman siapapun. Beliau juga menguasai masalah dan memiliki argumen yang kuat untuk menguatkan pendapatnya.

Semua orang merujuk kepadanya dan meminta fatwanya tentang berbagai macam kasus. Beliau selalu menerima mereka dan berusaha untuk memberikan solusi dari setiap persoalan yang mereka hadapi seperti halnya keputusan yang berkaitan dengan perkebunan kota Damaskus.

Ketika Raja Zhahir Baibars tiba di kota Damaskus setelah memerangi bangsa Tartar dan mengusir mereka dari negerinya, salah seorang petugas bendahara negara melaporkan mengenai banyaknya perkebunan milik negara di kota Damaskus. Kemudian sang Raja memberikan perintah dan berusaha untuk menguasai semua perkebunan itu untuk kerajaan.  Maka orang-orang berlari menuju Imam Nawawi di Darul Hadis untuk melaporkan hal tersebut. Beliau segera menuliskan surat kepada sang Raja:

“Sungguh kaum muslimin telah mendapat kerugian disebabkan oleh penguasaan terhadap beragam tanah milik mereka yang tidak mungkin dapat diungkapkan semuanya. Mereka dituntut untuk memberikan bukti kepemilikan yang sebenarnya tidak wajib bagi mereka. Penguasaan ini tidak dibenarkan oleh ulama manapun. Barangsiapa yang menguasai sesuatu maka dialah pemiliknya. Tidaklah halal merampas dan menuntut untuk memberikan bukti kepemilikannya.”

Surat itu membuat sang Raja marah besar. Maka ia memerintahkan supaya gajinya dihapus dan ia dipecat dari jabatannya. Masyarakat menjawab, “Tuan Guru ini tidak pernah mendapatkan gaji dan dia tidak memiliki jabatan apapun.” Ketika Imam Nawawi melihat bahwa suratnya itu tidak memberikan pengaruh sedikitpun maka beliau berjalan sendiri menghadap sang  Raja seraya menyampaikan kata-kata yang sangat keras. Sang Raja hendak menghukumnya, tetapi Allah SWT mengubah hatinya sehingga Imam Nawawi selamat dari hukuman sang Raja dan penguasaan itupun dibatalkan Sang Raja. Allah SWT telah menyelamatkan manusia dari kejahatannya.

Sumber:
Buku “Syarah Riyadhush Shalihin” Imam Nawawi pensyarah Dr. Musthafa Dib al-Bugha dkk hal. xxiii penerbit Gema Insani, 2010.

Leave a comment

Hadis Shahih

Hadis Shahih

Shahih menurut bahasa berarti sehat, kebalikan dari sakit. Sedang menurut istilah ialah hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat illat (cacat) yang merusak.

Implementasi definisi tersebut ialah, bahwa suatu hadis dikatakan shahih apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Mutassil sanadnya

Sanad dari matan hadis itu rawi-rawinya tidak terputus melainkan bersambung dari permulaannya sampai pada akhir sanad. Oleh karena itu, hadis mursal, munqathi’, mu’dhal, dan muallaq tidak termasuk dalam kategori hadis yang muttasil sanadnya.

2. Rawi-rawinya adil

Adil adalah perangai yang senantiasa menunjukkan pribadi yang taqwa dan muru’ah (menjauhkan diri dari sifat atau tingkah laku yang tidak pantas untuk dilakukan). Yang dimaksud adil disini adalah adil dalam hal meriwayatkan hadis yaitu orang Islam yang mukallaf (cakap bertindak hukum) yang selamat dari fasiq dan sifat-sifat yang rendah.
Oleh karena itu, orang kafir, fasiq, gila dan orang yang tidak pernah dikenal, tidak termasuk orang yang adil. Sedangkan orang perempuan,  budak dan anak yang sudah mumayyiz bisa digolongkan orang yang adil apabila memenuhi kriteria tersebut.

3. Rawi-rawinya sempurna kedhabitannya

Yang dimaksud sempurna kedhabitannya ialah kedhabitannya pada tingkat yang tinggi. Dalam hal ini, dhabit ada 2 macam yaitu:

A. Dhabit hati
Seseorang dikatakan dhabit hati apabila dia mampu menghafal setiap hadis yang didengarnya dan sewaktu-waktu dia bisa mengutarakan atau menyampaikannya.

B. Dhabit kitab
Seseorang dikatakan dhabit kitab apabila setiap hadis yang dia riwayatkan tertulis dalam kitabnya yang sudah ditashih (dicek kebenarannya) dan selalu dijaga.

4. Tidak syadz

Yang dimaksud syadz disini ialah hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang terpercaya itu tidak bertentangan denga hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi.

5. Tidak terdapat illat

Illat disini ialah cacat yang samar yang mengakibatkan hadis tersebut tidak dapat diterima.

Sumber:
Buku “Ilmu Ushul Hadis” karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki hal. 52-53 penerbit Pustaka Pelajar

Leave a comment