Perdebatan Imam Syafi’i dengan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani

Perdebatan Imam Syafi’i dengan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani

Asy-Syafi’i belajar pada Muhammad bin Hasan dengan membaca buku-bukunya dan mempelajarinya serta mengapresiasinya sebagai bentuk apresiasi seorang murid kepada syaikhnya. Akan tetapi itu tidak menjadi halangan bagi asy-Syafi’i untuk berdebat dengan syaikhnya lebih dari sekali terkait masalah-masalah yang menurut asy-Syafi’i harus ada penjelasan terkait sisi kebenarannya. Barangkali debat yang paling populer antara asy-Syafi’i dan Muhammad bin Hasan adalah perdebatan diantara mereka berdua seputar Abu Hanifah dan Malik. Akan tetapi ada perdebatan lain lebih dari satu perdebatan hingga pada tingkat sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh asy-Syafi’i, yaitu dia mengatakan, “Pada suatu hari aku berdebat dengan Muhammad bin Hasan. Perdebatanku dengannya semakin sengit, hingga urat-urat lehernya membengkak dan kancing-kancing bajunya terlepas satu persatu.”

Berikut ini salah satu perdebatannya dengan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani.

Asy-Syafi’i mengatakan, “Aku menulis buku-buku Muhammad bin Hasan dan aku mengetahui pendapat mereka. Jika ia bergegas maka aku berdebat dengan sahabat-sahabatnya. Pada suatu hari dengan perasaan marah dia berkata kepadaku, “Aku diberitahu bahwa engkau tidak sependapat dengan kami.” Aku menjawab, “Itu hanya sesuatu yang aku katakan dalam perdebatan.” Dia berkata, “Namun yang sampai kepadaku tidak demikian.” Diapun menyanggahku hingga aku berkata, “Aku menghargaimu dan aku menghindarkanmu dari perdebatan. Dia berkata, “Itu harus disampaikan.” Begitu dia tetap bersikukuh maka aku katakan, “Sampaikanlah.”

Dia berkata, “Apa pendapatmu tentang orang yang melakukan ghasab (mengambil tanpa izin) pohon Sajah dari orang lain. Kemudian dia mendirikan bangunan diatasnya dengan biaya 1000 dinar. Pemilik pohon Sajah mendatangkan dua orang saksi adil untuk menguatkan klaimnya bahwa orang itu mengambil alih pohon Sajah tanpa seizinnya dan mendirikan bangunan ini diatasnya. Apa ketentuan hukumnya menurutmu?”

Aku menjawab, “Aku katakan kepada pemilik pohon Sajah: engkau harus mengambil ganti senilai pohon Sajah. Jika dia rela maka aku tetapkan nilainya. Namun jika dia enggan dan hanya menghendaki Sajahnya, maka aku bongkar bangunan itu dan aku kembalikan Sajah kepadanya.”

Muhammad bin Hasan berkata, “Apa pendapatmu tentang orang yang melakukan ghasab benang ibrism dari orang lain. Dia menggunakan benang itu untuk menjahit perutnya, apakah engkau mencabut benang dari perutnya?”

“Tidak,” jawabku.

Dia berkata, “Allah Maha Besar, engkau tinggalkan pendapatmu sendiri.” Sahabat-sahabatnya berkata, “Engkau meninggalkan pendapatmu sendiri.”

Aku berkata, “Jangan terburu-buru. Bagaimana pendapat kalian seandainya dia tidak mengambil Sajah tanpa izin dari seorangpun dan dia hendak membongkar bangunan ini darinya lantas membangun yang lain, apakah itu mubah baginya? Atau haram baginya?”

Mereka menjawab, “Itu mubah baginya.”

Aku berkata, “Bagaimana menurutmu jika benang itu adalah benangnya sendiri, lantas dia hendak mencabut benang ini dari perutnya, apakah itu mubah baginya? Ataukah itu haram baginya?”

Mereka menjawab, “Itu haram baginya.”

Aku berkata, “Lantas bagaimana engkau mengqiyaskan yang mubah dengan yang haram?!”

Kemudian dia bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika ada orang yang melakukan ghasab satu papan Sajah dari orang lain yang dimasukkannya ke dalam perahunya dan berlayar di laut, lantas pemilik papan menguatkan klaimnya dengan dua orang saksi adil bahwa orang ini telah mengambil tanpa izin papan tersebut dan memasukkannya ke dalam perahunya, apakah engkau hendak mencabut papan dari perahu?!”

“Tidak,” jawabku.

Dia berkata, “Allah Mahabesar, engkau meninggalkan pendapatmu.”

Aku berkata, “Bagaimana menurutmu jika papan itu miliknya sendiri kemudian dia hendak mencabut papan itu dari perahu — saat berlayar di laut — apakah itu mubah baginya? Ataukah itu haram baginya?”

Dia menjawab, “Haram baginya.”

Dia lantas bertanya, “Bagaimana yang dilakukan pemilik perahu?”

Aku menjawab, “Aku menyuruhnya agar melabuhkan perahunya ke pelabuhan terdekat dengannya — pelabuhan yang tidak mengakibatkan dia dan sahabat-sahabatnya celaka — kemudian mencabut papan dan menyerahkannya kepada pemiliknya dan aku katakan kepadanya: perbaiki perahumu dan pergilah.”

Muhammad bin Hasan — dalam hujjah yang disampaikan — berkata, “Bukankah Nabi bersabda, “Tidak ada bahaya tidak pula (balasan) yang membahayakan.”

Aku menjawab, “Dia membahayakan diri sendiri dan itu tidak membahayakan orang lain

Kemudian aku katakan kepadanya, “Apa pendapatmu tentang orang yang melakukan ghasab seorang budak perempuan dari orang lain yang lantas melahirkan darinya sepuluh anak — semuanya mampu membaca Al-Qur’an, menyampaikan khutbah di atas mimbar dan memutuskan perkara di antara kaum muslim — lalu pemilik budak menyatakan diperjuat dua orang saksi adil bahwa orang ini telah melakukan ghasab terhadap budak tersebut dan melahirkan darinya anak-anak itu. Aku tekankan kepadamu dengan nama Allah, apa ketentuan hukum yang engkau tetapkan?”

Dia mengatakan, “Aku menetapkan bahwa anak-anaknya sebagai budak bagi pemilik budak tersebut dan aku kembalikan budak tersebut kepadanya?”

Aku katakan, “Allah merahmatimu, mana yang lebih besar bahayanya engkau mengembalikan anak-anaknya sebagai budak atau engkau membongkar bangunan di atas Sajdah? Dalam sejumlah masalah semacam ini.”

Buku-buku sejarah pemikiran Islam memuat dalam jumlah yang tidak sedikit perdebatan-perdebatan asy-Syafi’i dengan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dan semuanya menunjukkan kapasitas asy-Syafi’i dalam hal ini, pengetahuan tentang pokok-pokok hujah, kecermatan dalam penggunaan qiyas dan keluasan wawasan dalam memecahkan masalah serta perbuatan contoh-contoh untuk dapat mencapai penetapan yang menurut dugaan kuatnya itu benar. Ini tidak lain disebabkan kemampuannya dalam berdebat dan pengetahuannya tentang seni berdebat khususnya lantaran debat sudah menjadi ciri khas masanya.

Sumber:
Buku “Akidah Islam menurut Empat Madzhab” karangan Prof. Dr. Abul Yazid Abu Zaid Al-‘Ajami penerbit Pustaka Al-Kautsar

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: