Nasihat Imam Nawawi kepada Raja

Nasihat Imam Nawawi kepada Raja

Imam Nawawi memiliki sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang alim. Seorang penasihat di jalan Allah SWT dengan lisannya dan melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Beliau menyampaikan nasihat dengan ikhlas, tanpa ada maksud tertentu atau demi mengejar ambisi pribadi. Beliau sosok pemberani yang tidak pernah takut terhadap kecaman siapapun. Beliau juga menguasai masalah dan memiliki argumen yang kuat untuk menguatkan pendapatnya.

Semua orang merujuk kepadanya dan meminta fatwanya tentang berbagai macam kasus. Beliau selalu menerima mereka dan berusaha untuk memberikan solusi dari setiap persoalan yang mereka hadapi seperti halnya keputusan yang berkaitan dengan perkebunan kota Damaskus.

Ketika Raja Zhahir Baibars tiba di kota Damaskus setelah memerangi bangsa Tartar dan mengusir mereka dari negerinya, salah seorang petugas bendahara negara melaporkan mengenai banyaknya perkebunan milik negara di kota Damaskus. Kemudian sang Raja memberikan perintah dan berusaha untuk menguasai semua perkebunan itu untuk kerajaan.  Maka orang-orang berlari menuju Imam Nawawi di Darul Hadis untuk melaporkan hal tersebut. Beliau segera menuliskan surat kepada sang Raja:

“Sungguh kaum muslimin telah mendapat kerugian disebabkan oleh penguasaan terhadap beragam tanah milik mereka yang tidak mungkin dapat diungkapkan semuanya. Mereka dituntut untuk memberikan bukti kepemilikan yang sebenarnya tidak wajib bagi mereka. Penguasaan ini tidak dibenarkan oleh ulama manapun. Barangsiapa yang menguasai sesuatu maka dialah pemiliknya. Tidaklah halal merampas dan menuntut untuk memberikan bukti kepemilikannya.”

Surat itu membuat sang Raja marah besar. Maka ia memerintahkan supaya gajinya dihapus dan ia dipecat dari jabatannya. Masyarakat menjawab, “Tuan Guru ini tidak pernah mendapatkan gaji dan dia tidak memiliki jabatan apapun.” Ketika Imam Nawawi melihat bahwa suratnya itu tidak memberikan pengaruh sedikitpun maka beliau berjalan sendiri menghadap sang  Raja seraya menyampaikan kata-kata yang sangat keras. Sang Raja hendak menghukumnya, tetapi Allah SWT mengubah hatinya sehingga Imam Nawawi selamat dari hukuman sang Raja dan penguasaan itupun dibatalkan Sang Raja. Allah SWT telah menyelamatkan manusia dari kejahatannya.

Sumber:
Buku “Syarah Riyadhush Shalihin” Imam Nawawi pensyarah Dr. Musthafa Dib al-Bugha dkk hal. xxiii penerbit Gema Insani, 2010.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: