Ketercelaan Pangkat dan Popularitas

Ketahuilah bahwa dasar pangkat adalah kepopuleran reputasi dan kemasyhuran nama baik dan ini tercela. Allah berfirman,

Negeri akherat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Allah menghimpun antara keinginan merusak, kehendak meraih keluhuran dan bahwa kebahagiaan akhirat hanya bagi orang yang terbebas dari dua kehendak tersebut di dalam satu ayat. Allah berfirman,

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

Dengan keumuman ayat ini juga menjangkau cinta pangkat, karena pangkat merupakan salah satu kesenangan hidup duniawi terbesar dan paling banyak hiasannya.

Rasulullah saw bersabda, “Cinta harta dan pangkat menumbuhkan kemunafikan seperti air menumbuhkan jamur.”

Rasulullah saw bersabda, “Dua serigala buas yang dilepas di kandang ternak tidak lebih banyak daya rusaknya daripada cinta pangkat dan harta di dalam keberagamaan seorang muslim.”

Rasulullah saw bersabda, “Manusia menjadi binasa karena mengikuti hawa nafsu dan cinta pujian.”

Jabir mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang akan menunjuk seseorang dengan jemari sesuai kadar kejahatannya, di dalam agama dan dunianya, kecuali orang yang dijaga Allah dari kejahatan. Sesungguhnya Allah tidak melihat (memperhitungkan) rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal-amal kalian.”

Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan satu takwil yang baik tentang hadis ini — ketika dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, orang-orang akan menunjuk anda dengan jemari mereka bila mereka melihat anda“, — “Hadis tersebut tidak bermakna seperti itu, hanya orang yang ahli bid’ah dalam agamanya dan fasik dalam dunianya yang memaknai seperti itu.”

Amir al-Mu’minin Mawlana al-Imam al-Muayyad Billah as berkata, “Beliau benar dalam keterangannya, karena sesungguhnya Rasulullah dan para imam setelah beliau memang ditunjuk dengan jemari, tetapi itu setelah mereka menjadi imam kebenaran, pembimbing dalam agama dan menjadi penempuh jalan akhirat.”

Ali k.w. berkata, “Berkorbanlah (berdermalah) tetapi jangan menjadi populer, jangan kau angkat pribadimu agar disebut-sebut dengan satu nama baik. Rahasiakanlah dan diamlah agar engkau selamat, engkau menyenangkan orang-orang shaleh dan membuat marah orang-orang jahat.”

Ibrahim ibn Adham berkata, “Orang yang cinta popularitas berarti tidak mempercayai Allah dengan benar.”

Ayyub berkata, “Seseorang tidak dianggap memercayai Allah dengan benar kecuali jika hatinya tidak merasa memiliki kedudukan.”

Ada seorang zahid yang jika halaqahnya semakin banyak, dia segera pergi karena takut mashyur. Demikian pula Abu al-Aliyah, jika duduk bersama lebih dari tiga orang, dia segera bangkit dan pergi.

Suatu hari Thalhah melihat sekelompok orang berjalan mengiringinya, sekitar sepuluh orang. Kemudian dia berkata, “Riya, tamak dan tempat tidur adalah neraka.”

Sumber:
Buku “Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs” karya Syekh Yahya ibn Hamzah al-Yamani penerbit Zaman, 2012 hal. 362-364.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: