Sunnah

Sunnah arti asalnya dalam bahasa adalah jalan, metode dan tradisi yang mencakup tradisi yang baik dan yang tidak baik. Dengan pengertian ini pula kata sunnah digunakan dalam berbagai ayat dan hadis. Sebagai misal dalam sebuah ayat disebutkan:

“…. dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (Al-Ahzab: 62)

Sunnah dalam ayat ini juga bisa berarti undang-undang atau sistem. Dalam hadis Nabi saw disebutkan:

Siapa yang mentradisikan sebuah tradisi yang baik dalam Islam sehingga setelah wafatnya sunnah tersebut dilakukan oleh masyarakat, maka baginya akan dituliskan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…. ” (Shahih Muslim)

Adapun kata sunnah telah digunakan dalam berbagai cabang ilmu agama dan dalam beragam makna. Sebagai contoh, dalam istilah muhadditsin, sunnah diartikan sama dengan hadis, yang dapat digunakan untuk perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat seorang maksum. Makna sunnah seperti ini juga diterima oleh ulama ushul fikih. Mereka menjadikan sunnah sebagai sumber rujukan kedua setelah Al-Qur’an untuk mendapatkan hukum-hukum Islam.

Sementara dalam istilah fukaha, kata sunnah kadang diposisikan berlawanan dengan bid’ah, dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang mempunyai akar dalam agama dan kadang diposisikan berhadapan dengan faridhah dan dipakai untuk menunjukkan hal-hal yang mustahab.

Sepertinya kata “sunnah” meski digunakan untuk menunjukkan perkataan dan perbuatan maksum, namun dalam penggunaannya kata ini lebih sering dipakai untuk menujukkan perbuatan dan taqrir maksum (daripada untuk menunjukkan perkataan). Sebagaimana yang digunakan oleh Imam Ali dalam masalah khilafah, ketika beliau berkata, “Aku akan berbuat (menjalankan pemerintahan ini) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.” Maksud beliau adalah mengikuti sirah amali Rasulullah dalam segala urusan, termasuk didalamnya bagaimana Rasul saw melakukan pembagian baitul mal. Makna sunnah ini lebih sedikit cakupannya daripada hadis.
Dengan memperhatikan sumber-sumber dalam sebagian riwayat, makna yang lebih khusus ini diterima dikalangan ulama Islam. Perlu disebutkan, sebagian peneliti memperluas pengertian sunnah sehingga mencakup juga sirah para sahabat nabi, meski pandangan ini tidak benar menurut ulama Syi’ah.

Sumber:
Buku “Sejarah Hadis” hal. 32-34 karangan Dr. Majid Ma’arif penerbit Nurul al-Huda 2012

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: