Tiga Penyakit yang Harus Dihindari

1. Ekstrem dalam beragama

Penyimpangan dan distorsi (tahrif), datang dari arah sikap esktrem dan sok tahu, menjauh dari jalan tengah (moderasi) yang merupakan salah satu ciri agama Islam dan dari kelapangan yang merupakan identitasnya, yakni al-hanifiyyah as-samhah atau jalan lurus yang lapang dan juga dari kemudahan yang menjadi sifat pelbagai kewajiban syariat ini.

Itulah ghuluw (sikap berlebih-lebihan) yang telah membinasakan Ahl al-Kitab sebelum kita, yakni mereka yang berlebih-lebihan dalam akidah, dalam beribadah dan perilakunya. Hal itu telah dinyatakan oleh al-Qur’an ketika berbicara tentang mereka:

Hai Ahl al-Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang dahulu yang telah sesat dan menyesatkan kebanyakan manusia dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Ma’idah: 77)

Telah diriwayatkan dari Ibn Abbas, dari Nabi saw.:

Jangan sekali-kali kamu sekalian bersikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sebab sikap seperti itulah yang telah membinasakan orang-orang dahulu sebelum kamu.”

Ibn Mas’ud juga merawikan dari beliau:

Sungguh telah binasa orang-orang yang suka berlebih-lebihan.”

2. Manipulasi Orang-orang Sesat

Ada lagi manipulasi atau pemalsuan yang dilakukan oleh orang-orang sesat untuk dimasukkan ke dalam manhaj nabawi atau melekatkan padanya pelbagai bid’ah yang diada-adakan dan yang pada hakikatnya bertentangan dengan watak aslinya, tak dapat diterima oleh akidah maupun syariatnya dan bahkan tak dikehendaki sama sekali oleh ushul (pokok-pokok ajaran) dan furu‘ (cabang-cabang)-nya.

Dan manakala orang-orang sesat ini menyadari bahwa mereka tak mungkin berhasil menambah-nambahkan sesuatu dalam al-Qur’an yang terpelihara dalam hafalan para penghafal, tercatat dalam mushaf-mushaf dan dibaca oleh para pembacanya, mereka pun mengira akan berhasil dengan pemalsuan mereka melalui jalur as-Sunnah. Dan bahwa dengan mudah mereka akan berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw. ….” walaupun tanpa bukti.

Namun para pakar umat dan para penghafal hadis dengan sigapnya telah siap menangkal dan menutup setiap celah yang mungkin akan dimasuki oleh para pemalsu itu. Mereka tak mau menerima sebuah hadis tanpa sanad dan tidak mau menerima sanad tanpa menguraikan para perawinya satu demi satu. Sedemikian sehingga dikenal jati dirinya serta riwayat hidupnya, sejak kelahiran sampai wafatnya, dan dari kelompok mana? Siapa guru-gurunya? Siapa kawan-kawannya? Siapa murid-muridnya? Bagaimana kejujuran dan ketakwaannya, seberapa kuat hafalan dan ketelitiannya, sampai mana kebersesuaiannya dengan para perawi terkenal dan tepercaya lainnya atau apakah ia lebih banyak merawikan hadis-hadis gharib.

Itulah sebabnya mereka berkata: “Isnad (periwayatan hadis dengan menyebut rangkaian perawiny) adalah bagian dari agama. Dan seandainya tidak ada isnad, niscaya setiap orang dapat berkata apa saja yang dikehendakinya.”

Ujar mereka lagi: “Seorang penuntut ilmu (hadis) tanpa isnad sama seperti seorang pencari kayu di malam yang gelap.”

Mereka juga tidak mau menerima suatu hadis kecuali yang sanadnya bersambung, dari awal sampai akhir, melalui para perawi yang tepercaya (tsiqah), jujur (‘adil) dan cermat (dhabit), tanpa kekosongan nama, baik yang jelas ataupun yang samar-samar. Demikian pula hadis tersebut tidak boleh bersifat syadz (yakni salah satu rawinya bertentangan dalam periwayatannya dengan perawi lain yang dianggap lebih akurat dan lebih dipercaya) dan harus bersih dari ‘illah qadihah (yakni bersih dari cacat yang menyebabkannya ditolak oleh para ahli hadis).

Ketelitian yang sangat dalam masalah isnad ini, dengan pelbagai persyaratan dan batasan-batasannya, adalah di antara ciri khas umat Islam, yang dengannya mereka mendahului bangsa-bangsa yang berperadaban modern masa kini, dalam hal meletakkan dasar-dasar metodologi ilmiah yang dikenal sekarang.

3. Penafsiran Orang-orang Jahil

Selanjutnya ada lagi penafsiran yang buruk, yang merusak hakikat agama Islam, menyelewengkan konsep-konsepnya dan mencoba mengurangi integritasnya. Yaitu dengan cara menghilangkan berbagai hukum dan ajaran dari batang tubuhnya, sebagaimana orang-orang sesat tertentu berusaha memasukkan kedalamnya hal-hal yang asing darinya atau mengundurkan apa yang seharusnya dimajukan dan memajukan apa yang seharusnya diundurkan.

Penafsiran yang buruk dan pemahaman yang lemah dan keliru ini, merupakan ciri orang-orang yang jahil yang tidak mengerti Islam dan tidak mampu meresapi jiwa atau semangatnya. Mereka ini juga tidak mampu melihat hakikat-hakikatnya dengan mata hati mereka. Sebabnya ialah mereka tidak memiliki pijakan yang kuat dalam ilmu atau dalam upaya mencari kebenaran, sehingga mampu mencegah mereka dari kesesatan atau penyelewengan dalam pemahaman. Atau menghalangi mereka dari tindakan meninggalkan hal-hal yang muhkamat seraya mengikuti yang mutasyabihat, yang mereka lakukan demi menimbulkan fitnah (kekacauan) dan mencari-cari ta’wil-nya, serta demi mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Itulah ta’wil (penafsiran) orang-orang yang meskipun mengenakan pakaian ulama serta menampilkan diri dengan pelbagai gelar orang-orang bijak, sebenarnya adalah orang-orang jahil.

Keadaan seperti inilah yang harus dihadapi dengan sikap waspada dan hati-hati, serta dengan meletakkan aturan-aturan yang ketat guna pencegahannya.

Kebanyakan dari kelompok-kelompok sesat dan sekte-sekte yang menyempal dari umat, dari akidah dan syariatnya; semua mereka itu menjadi tersesat dari jalan yang benar, disebabkan ta’wil atau penafsiran yang buruk dan keliru.

Mengenai hal itu, Iman Ibn al-Qayyim mempunyai pendapat yang sangat bagus tentang keharusan adanya pemahaman yang benar berkenaan dengan apa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Hal itu disebutkan dalam bukunya, Ar-Ruh, yang kami kutip di bawah ini:

“Diperlukan pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksud oleh Rasulullah saw.; tanpa berlebihan ataupun kekurangan. Maka janganlah ucapan beliau diperluas artinya lebih daripada yang dimaksud atau dipersempit sehingga tidak memenuhi tujuannya dalam memberikan petunjuk dan penjelasan. Penyimpangan mengenai hal tersebut telah mengakibatkan penyesatan yang sedemikian luasnya sehingga tak ada yang mampu memperkirakannya kecuali Allah SWT. Dapatlah dikatakan bahwa pemahaman yang buruk berkenaan dengan apa yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya, adalah asal muasal dari setiap bid’ah serta kesesatan yang timbul dalam Islam. Bahkan hal itu adalah asal mula dari setiap kekeliruan dalam ushul dan furu‘. Lebih-lebih lagi apabila pemahaman seperti itu disertai dengan niat yang buruk. Sehingga bertemulah pemahaman yang buruk dalam beberapa hal dari tokoh yang diikuti, walaupun ia bermaksud baik, dengan niat yang buruk dari si pengikut. Maka dapatlah dipastikan, bencanalah yang akan menimpa agama beserta pemeluknya! Dan hanya dari Allah-lah diharapkan datangnya pertolongan!

“Bukankah pemahaman yang buruk tentang Allah dan Rasul-Nya pula yang telah menjerumuskan kelompok-kelompok Qadariyah, Murjiyah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Rafidhah serta berbagai kelompok bid’ah lainnya? Sedemikian sehingga agama dimengerti oleh kebanyakan manusia sejalan dengan pemahaman kelompok-kelompok tersebut.

“Sedangkan apa yang dipahami tentang Allah dan Rasul-Nya oleh para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka, menjadi sesuatu yang ditinggalkan, tidak dipandang kecuali dengan sebelah mata! Sedemikian sehingga adakalanya anda membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, sementara tak seorangpun dari mereka mempunyai pemahaman yang selayaknya tentang Allah dan Rasul-Nya walaupun dalam satu permasalahan saja?!”

“Hal-hal seperti ini hanya dapat diketahui oleh seseorang yang mengerti apa yang ada di tangan orang banyak, kemudian mencocokkannya dengan apa yang dibawa Rasulullah saw.

“Adapun orang yang memperlakukan agama secara terbalik, lalu mencocokkan apa yang dibawa Rasulullah saw. dengan apa yang diyakini dan dianut olehnya, yakni sesuatu yang ia menirunya dari orang lain yang dipercaya olehnya, maka takkan berguna omongan apapun bersamanya. Lebih baik anda tinggalkan saja ia bersama apa yang telah dipilihnya untuk dirinya sendiri. Biarkanlah ia berbuat apa yang dianggapnya paling benar, lalu tujukan puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anda dari cobaan yang ditimpakan oleh-Nya atas diri teman anda itu!”

Sumber:
Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW” karangan Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Kharisma, 1993 hal. 22-26.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: