Ibnu Khuzaimah (223-311 H)

Ibnu Khuzaimah Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburi. Ia lahir pada bulan Safar 223 H/838 M di Naisabur, sebuah kota di Khurasan yang sekarang terletak di bagian timur laut negara Iran.

Semenjak kecil, Ibnu Khuzaimah mendapatkan pendidikan Al-Qur’an dari ayahnya. Suatu ketika, ia ingin sekali menemui Ibnu Qutaibah (w. 240 H/854 M) untuk mempelajari hadis. Sayang, dia tak beroleh restu dari ayahnya. Sebab ayahnya ingin agar putranya terlebih dahulu mempelajari Al-Qur’an secara mendalam hingga benar-benar menguasai kandungannya. Bila dirasa pengetahuannya tentang Al-Qur’an telah matang, maka sang ayah tak keberatan memberi izin untuknya.

Waktu berjalan begitu cepat. Ibnu Khuzaimah kecil pun kemudian beranjak dewasa. Selama itu, ia tak henti-hentinya mengisi waktu dengan belajar Al-Qur’an sebagaimana harapan ayahnya. Setelah benar-benar menguasai Al-Qur’an, barulah sang ayah memberinya izin untuk pergi mencari guru-guru yang mengajarkan hadis.

Begitulah, Ibnu Khuzaimah pun merantau ke Marwa dan berguru kepada Ibnu Qutaibah dan Muhammad bin Hisyam. Ketika berusia 17 tahun, Ibnu Khuzaimah giat mengadakan lawatan intelektual ke berbagai kawasan Islam, di antaranya ke Ray, Mesir dan Jazirah Arab. Perjalanan yang jauh dan melelahkan diarunginya dengan senang hati. Berkat kesabarannya, sejumlah guru yang ahli di bidang hadis pun berhasil ia temui. Misalnya, Muhammad bin Humaid, Ishaq bin Rahawaih, Ali bin Muhammad, Muhammad bin Maran, Musa bin Sahl, Abdul Jabbar bin al-A’la.

Kemampuan Ibnu Khuzaimah dalam menghafal, mencatat, menganalisis dan menyeleksi hadis mengalami perkembangan yang pesat. Ketekunan, kegigihan dan kerajinannya untuk belajar hadis membuahkan hasil. Namanya pun mulai diakui dalam jagat hadis dan ia diangkat sebagai salah seorang guru besar di bidang hadis.

Banyak penuntut ilmu yang mendatangi majelisnya untuk menimba ilmu. Mereka berdatangan tak hanya dari kota tempat Ibnu Khuzaimah tinggal, tetapi dari seluruh penjuru negeri. Bahkan sejumlah guru yang pernah memberinya ilmu kini menjadi muridnya.

Beberapa guru hadis yang belajar kepada Ibnu Khuzaimah adalah Imam Bukhari, Muslim dan Imam al-Hakim. Hal ini menunjukkan secara jelas mengenai keahlian Ibnu Khuzaimah yang mumpuni di bidang hadis. Di samping itu hadis-hadisnya pun banyak diriwayatkan oleh para ulama terkemuka pada zamannya. Misalnya Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub at-Tabra’i, Abu Hatim, Muhammad bin Hibban al-Busyti, Abu Ahmad dan Abdullah al-Jurjani.

Melalui fase yang sangat panjang dalam pencarian dan pengajaran hadis, akhirnya kaum muslim di Khurasan mendaulat Ibnu Khuzaimah sebagai imam besar di bidang hadis. Ia pun mendapat julukan imam al-a’immah (imamnya para imam) . Julukan ini tampaknya tidak berlebihan jika kita melihat daftar karya yang telah dihasilkan oleh Ibnu Khuzaimah. Jumlah karyanya tidak kurang 140 buah. Sayangnya sebagian besar karyanya tidak sampai ke tangan kita. Karyanya yang hingga kini masih bisa kita jumpai adalah kitab at-Tauhid dan kitab Sahih-nya.

Setelah menebarkan manfaat kepada umat Islam dengan khazanah hadisnya, tiba saatnya bagi Ibnu Khuzaimah untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Ia menghadap Tuhannya pada Jum’at malam 2 Zulkaidah 311 H/924 M dalam usia kurang lebih 89 tahun. Jenazahnya disemayamkan di bekas kamarnya, tempat ia mendalami ilmu-ilmu agama terutama ilmu hadis.

Sumber:

Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” pengarang Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani 2008 hal. 69-71.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: