Archive for March, 2013

Polemik Memendekkan Tsaub Di Atas Mata Kaki

Untuk berhasil memahami as-Sunnah secara benar, kita harus menghimpun semua hadis sahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang muthlaq dengan yang muqayyad dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khash. Dengan cara itu, dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Dan sebagaimana telah ditetapkan bersama, bahwa as-Sunnah menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskan makna-maknanya; dalam arti bahwa as-Sunnah merinci apa yang dinyatakan oleh al-Qur’an secara garis besarnya saja, menafsirkan bagian-bagian yang kurang jelas, mengkhususkan apa yang disebutnya secara umum dan membatasi apa yang disebutnya secara lepas (muthlaq); maka sudah barang tentu, ketentuan-ketentuan seperti itu harus pula diterapkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Ambillah sebagai misal, hadis-hadis yang berkenaan dengan larangan “mengenakan sarung sampai di bawah mata kaki”, yang mengandung ancaman cukup keras terhadap pelakunya. Yaitu hadis-hadis yang dijadikan sandaran oleh sejumlah pemuda yang amat bersemangat, untuk menunjukkan kritik yang tajam terhadap siapa-siapa yang tidak memendekkan tsaub (baju gamis)-nya sehingga di atas mata kaki. Sedemikian bersemangatnya mereka, sehingga hampir-hampir menjadikan masalah memendekkan tsaub ini, sebagai syiar Islam terpenting, atau kewajiban yang mahaagung. Dan apabila menyaksikan seorang ‘alim atau da’i Muslim yang tidak memendekkan tsaubnya, seperti yang telah mereka lakukan, maka mereka akan mencibirnya dalam hati atau adakalanya menuduhnya secara terang-terangan sebagai orang yang “kurang beragama”! Padahal, seandainya mereka mau mengkaji sejumlah hadis yang berkenaan dengan masalah ini, lalu menghimpun antara yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan tuntunan agama Islam kepada para pengikutnya dalam soal-soal yang menyangkut kebiasaan hidup sehari-hari, niscaya mereka akan mengetahui apa sebenarnya yanh dimaksud oleh hadis-hadis seperti itu. Dan sebagai akibatnya, mereka akan mengurangi ketegaran sikap mereka dan tidak menyimpang terlalu jauh dari kebenaran, serta tidak akan mempersempit sesuatu yang sebetulnya telah dilapangkan oleh Allah SWT bagi manusia. Perhatikanlah hadis yang dirawikan oleh Muslim dari Abu Dzar r.a. bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Tiga jenis manusia, yang kelak, pada hari kiamat, tidak akan diajak bicara oleh Allah: (1) seorang mannan (pemberi) yang tidak memberi sesuatu kecuali untuk diungkit-ungkit; (2) seorang pedagang yang berusaha melariskan barang dagangannya dengan mengucapkan sumpah-sumpah bohong; dan (3) seorang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai di bawah kedua mata kakinya.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lainnya, juga dari Abu Dzar: “Tiga jenis manusia, yang kelak pada hari kiamat, tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang oleh-Nya, tidak ditazkiah oleh-Nya, dan bagi mereka tersedia azab yang pedih.” (Rasulullah saw mengulangi sabda beliau itu tiga kali, sehingga Abu Dzar berkata: ‘Sungguh mereka itu adalah manusia-manusia gagal dan merugi! Siapa mereka itu, ya Rasulullah?’ Maka jawab beliau): “Orang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai ke bawah mata kaki; orang yang memberi sesuatu untuk kemudian diungkit-ungkit; dan pedagang yang melariskan barang dagangannya dengan bersumpah bohong.” (HR. Muslim) Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan “orang yang menjulurkan sarung sampai ke bawah mata kaki”? Apakah mencakup siapa saja yang memanjangkan sarungnya, walaupun hal itu semata-mata karena kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat lingkungannya dan tanpa maksud menyombongkan diri? Mungkin saja hal itu didukung oleh hadis yang dirawikan dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah: “Sarung yang di bawah mata kaki akan berada di neraka.” Yang dimaksud dengan “sarung” dalam hadia itu, ialah “kaki” seseorang yang sarungnya terjulur sampai di bawah mata kakinya. Ia akan dimasukkan ke neraka, sebagai hukuman atas perbuatannya. Akan tetapi, bagi orang yang sempat membaca semua hadis yang berkenaan dengan masalah ini akan mengetahui apa yang ditarjihkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lainnya, bahwa yang dimaksud di sini adalah sikap sombong yang menjadi motivasi orang yang menjulurkan sarungnya. Itulah yang diancam dengan hukuman yang keras. Untuk itu, mari kita baca hadis-hadis shahih yang dirawikan berkenaan dengan hal ini. Telah dirawikan oleh Bukhari dalam bab “Barangsiapa Menyeret Sarungnya Bukan Karena Sombong”, sebuah hadis riwayat Abdullah bin Umar, dari Nabi saw, katanya: “Barangsiapa menyeret sarungnya (yakni menjulurkannya sampai menyentuh atau hampir menyentuh tanah) karena sombong, maka Allah tidak akan memandang kepadanya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah salah satu sisi sarungku selalu terjulur ke bawah, kecuali aku sering-sering membetulkan letaknya.” Nabi saw berkata kepadanya: “Engkau tidak termasuk orang-orang yang melakukannya karena kesombongan.” Al-Bukhari juga merawikan dalam bab yang sama, dari Abu Bakrah, katanya: “Kami sedang bersama Rasulullah ketika terjadi gerhana matahari. Beliau berdiri lalu berjalan menuju masjid sambil menyeret sarungnya karena tergesa-gesa ….” Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab “Orang yang Menyeret Sarungnya Karena Sombong”, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah SWT tidak akan memandang kepada siapa yang menyeret sarungnya karena kesombongan.” Dan dari Abu Hurairah pula, bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang laki-laki sedang berjalan dengan berpakaian amat mewah yang membuat dirinya sendiri merasa kagum, sementara rambutnya tersisir rapi, ketika tiba-tiba ia ditelan oleh longsoran tanah. Maka ia pun terus-menerus berteriak ketakutan sampai hari kiamat.” Dan diriwayatkan oleh Ibn Umar dan juga dari Abu Hurairah: “Seorang laki-laki sedang berjalan sambil menyeret sarungnya, ketika tiba-tiba ditelan longsoran tanah, membuatnya terus-menerus berteriak ketakutan didalamnya sampai hari kiamat.” Muslim telah merawikan hadis dari Abu Hurairah ini dan sebelumnya. Dan juga yang bersumber dari Ibn Umar, melalui beberapa jalur, diantaranya: “Barangsiapa menyeret sarungnya, tidak ada maksudnya selain untuk membanggakan diri, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Dari riwayat tersebut, secara jelas Nabi saw menekankan soal “membanggakan diri” sebagai satu-satunya alasan. Dengan demikian, tak ada ruang bagi siapa pun untuk menakwilkannya. An-Nawawi dikenal sebagai seorang tokoh yang tidak suka mempermudah, bahkan ia cenderung memilih penilaian yang lebih ketat dan lebih berhati-hati. Ketika menguraikan hadis tentang “orang yang menjulurkan sarungnya”, ia berkata: “Adapun yang dimaksud dalam sabda Nabi saw sebagai “orang yang menjulurkan sarungnya” adalah orang yang melakukannya sehingga sarungnya itu menyentuh atau hampir menyentuh tanah, sambil menyeretnya dengan sikap sombong. Makna tersebut dapat diketahui dari hadis lainnya yang berbunyi: ‘Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret tsaubnya dengan maksud menyombongkan diri.’ Adanya keterangan tentang sikap menyombongkan diri, membuat lingkup ancaman keras terhadapnya terbatas hanya apabila hal itu dilakukan demi menunjukkan kesombongan. Buktinya, Rasulullah saw mengizinkannya bagi Abu Bakar dengan ucapan beliau: ‘Engkau tidak termasuk mereka.’ Sebab, kalaupun ia juga ‘menyeret sarungnya’, maka hal itu tidak disertai dengan sikap menyombongkan diri.” Dan telah berkata al-Hafizh Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas hadis-hadis riwayat Bukhari yang berisi ancaman terhada orang-orang yang menjulurkan sarung atau menyeret baju gamisnya: “Dalam hadis-hadis ini, ditegaskan bahwa menjulurkan sarung (sampai ke bawah mata kaki) karena ingin menyombong, termasuk dosa besar. Dan jika hal itu bukan karena kesombongan pun, maka tetap saja hal itu haram menurut pengertian zahir hadis-hadis itu. Tetapi mengingat adanya keterangan tambahan tentang sikap sombong dari mereka yang melakukannya, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan menjulurkan sarung atau menyeretnya, tidaklah haram sepanjang tidak disertai sikap menyombong.” Dan telah berkata al-Hafizh al-Faqih Ibn ‘Abd al-Bar: “Yang dapat dipahami dari hadis-hadis tersebut ialah, apabila perbuatan ‘menyeret’ itu bukan karena kesombongan, maka ancaman terhadapnya itu tidak berlaku. Walaupun pada dasarnya perbuatan ‘menyeret’ gamis atau jenis pakaian lainnya, tetap tercela dalam keadaan apapun.” Masih ada lagi yang menguatkan pemahaman seperti ini, yakni membatasi perbuatan ‘menjulurkan sarung’ yang terkena ancaman, hanya apabila dilakukan karena kesombongan semata-mata. Hal itu ialah kenyataan bahwa ancaman dalam hadis-hadis itu merupakan ancaman amat keras. Sampai-sampai menjadikan orang seperti itu, termasuk tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang dan tidak ditazkiah oleh-Nya serta disediakan azab yang pedih bagi mereka! Dan sampai-sampai Nabi saw mengulangi ancaman itu sebanyak tiga kali, sehingga Abu Dzar merasa ketakutan dan berkata: “Sungguh mereka telah gagal dan sangat merugi! Siapakah mereka ya Rasulullah?” Semua itu menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu, termasuk dosa-dosa besar yang sangat terlarang dan mendatangkan kebinasaan. Dan itu tidak akan berlaku kecuali pada hal-hal yang berkaitan dengan “kebutuhan-kebutuhan mendasar” yang dijamin pelaksanaan dan keselamatannya oleh syariat, yakni yang berkenaan dengan urusan agama, jiwa, akal, kehormatan, nasab dan harta; dan itulah tujuan-tujuan pokok syariat Islam. Adapun perbuatan memendekkan sarung atau baju gamis adalah termasuk estetika dan berkaitan dengan kesopanan pergaulan yang dengannya hidup ini menjadi indah, dengan cita rasa yang tinggi dan budi pekerti yang luhur. Sedangkan memanjangkannya atau menjulurkannya — tanpa suatu tujuan yang tercela — paling-paling hanya termasuk hal yang makruh (tak disukai). Karena itu, yang sangat dipentingkan oleh agama mengenai ini dan yang ditujukan kepadanya perhatian terbesar adalah niat serta motivasi yang berada di balik suatu perbuatan lahiriah. Dan yang sangat ingin ditentang di sini olehnya adalah kesombongan, keangkuhan, kepongahan, kebanggaan diri dan sebagainya yang semua itu termasuk penyakit-penyakit hati dan penyimpangan kejiwaan yang tak seorang pun akan masuk surga apabila di dalam dirinya bersemayam perasaan seperti itu walaupun hanya sebesar zarrah. Itulah yang sangat menguatkan perlunya membatasi ancaman keras yang ditujukan terhadap perbuatan menjulurkan sarung semata-mata apabila hal itu bermotivasi kesombongan dan kebanggaan diri saja sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis lainnya. Masih ada lagi hal lain di samping apa yang telah kami kemukakan di atas. Yaitu bahwa urusan pakaian, potongan dan bentuknya berkaitan dengan kebiasaan dan adat istiadat manusia yang seringkali berlainan sesuai dengan perbedaan iklim antara panas dan dingin, juga antara yang kaya dan miskin, yang kuat dan yang lemah, jenis pekerjaan, tingkat kesejahteraan hidup serta pelbagai pengaruh dan latar belakang lainnya. Dalam hal-hal seperti ini, syariat senantiasa bersikap lunak dan tidak ikut campur kecuali dalam batas-batas tertentu, demi mencegah timbulnya penonjolan kemewahan dan kemubaziran dalam kehidupan lahiriah ataupun kehendak menyombongkan diri yang bersemayam di dalam hati seseorang serta dalam beberapa hal seperti itu yang telah diketahui secara rinci. Berkaitan dengan hal ini, al-Bukhari pada bab “Pakaian” dalam Shahihnya telah menyediakan pasal yang khusus tentang firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya …?” (al-A’raf: 32). Demikian pula Nabi saw telah bersabda: “Silakan kalian makan, minum, berpakaian dan bersedekah, tetapi jangan berlebih-lebihan dan jangan pula demi kesombongan.” Dan telah berkata Ibn Abbas ra: “Makanlah makanan yang kau ingini, kenakanlah pakaian yang kau ingini, selama kau menghindari dua hal: pemborosan dan keangkuhan.” Ibn Hajar mengutip ucapan salah seorang gurunya, al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Syarh Tirmidzi: “Pakaian yang sangat panjang sehingga menyentuh tanah adalah termasuk kesombongan dan hukumnya adalah haram. Dan sekiranya dinyatakan tentang haramnya semua pakaian yang dipanjangkan lebih daripada ukuran yang biasa dikenakan orang, maka pernyataan itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi manusia di zaman ini telah menciptakan berbagai aturan dalam memanjangkannya. Sehingga setiap kelompok masyarakat mempunyai tanda-tanda khusus yang menunjukkan identitas mereka. Maka apabila hal tersebut dilakukan demi kesombongan tentu hukumnya haram. Tetapi yang hanya mengikuti adat kebiasaan semata-mata tidaklah dianggap haram. Kecuali yang panjangnya sedemikian rupa sehingga menyentuh tanah dan menyebabkan orang berjalan sambil menyeretnya. Al-Qadhi ‘Iyadh mengutip dari sebagian ulama bahwa mereka tidak menyukai pakaian yang panjangnya melebihi kebiasaan, juga kebiasaan berpakaian yang sangat panjang atau sangat lebar. Berdasarkan hal tersebut di atas, apa yang telah menjadi adat kebiasaan harus pula diperhitungkan sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi. Sebab adakalanya suatu perbuatan yang menyimpang dari kebiasaan umum mungkin justru menjadikan pelakunya makin terkenal. Sedangkan cara berpakaian yang sengaja dimaksudkan untuk tujuan seperti itu adalah tercela pula. Maka yang paling baik adalah sikap yang tengah-tengah. Walaupun demikian, sekiranya ada orang yang memendekkan tsaubnya demi mengikuti as-Sunnah dan menjauhkan diri dari tuduhan hendak menyombong atau demi menghindar dari perbedaan pendapat para ulama ataupun ingin memilih jalan yang lebih selamat maka Insya Allah ia akan beroleh pahala juga. Tetapi dengan syarat, ia tidak boleh memaksa orang lain melakukan seperti dirinya sendiri. Dan juga tidak boleh bertindak keterlaluan dalam mengkritik orang yang tidak melakukannya; yang memercayai pendapat para imam dan ahli tahkik lain yang telah kami sebutkan sebelum ini. Sebab setiap mujtahid akan beroleh bagiannya dan setiap orang akan dinilai sesuai dengan niatnya. Mencukupkan diri dengan pengertian lahiriah (zahir) suatu hadis saja tanpa memperhitungkan hadis-hadis lainnya serta nash-nash lain yang berkaitan dengan topik tertentu; seringkali menjerumuskan orang ke dalam kesalahan dan menjauhkannya dari kebenaran serta maksud sebenarnya dari konteks hadis tersebut. Sumber: Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw” karangan Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Kharisma, 1993 hal. 106-113.

Advertisements

Leave a comment

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal Apa yang dikatakan oleh para ulama tentang dibolehkannya menggunakan hadis-hadis dha’if untuk fadhail amal, tidaklah berarti menetapkan disunnahkannya sesuatu berdasarkan hadis yang seharusnya tidak boleh dijadikan hujjah. Sebab, menetapkan disunnahkannya sesuatu adalah termasuk suatu hukum syar’i dan karena itu, tidak berlaku kecuali dengan suatu dalil syar’i pula. Dan siapa saja yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai suatu perbuatan tertentu, tanpa mengemukakan dengan suatu dalil syar’i maka ia telah mensyariatkan sesuatu yang tidak ada izin Allah tentangnya. Sama halnya seandainya ia menghukumkan tentang halal ataupun haramnya sesuatu (tanpa dalil syar’i). Karena itu, para ulama berbeda pendapat dalam selainnya. Bahkan hal itu merupakan dasar agama yang disyariatkan.

Adapun yang dimaksud oleh para ulama mengenai hal itu, adalah dalam kaitannya dengan suatu perbuatan yang memang telah dinyatakan sebagai disukai atau dibenci oleh Allah berdasarkan nash atau ijma‘. Seperti tentang disukainya tilawat Al-Qur’an, membaca tasbih, berdoa, bersedekah, memerdekakan budak dan berbuat kebajikan kepada manusia. Atau tentang tidak disukainya perbuatan berdusta, berkhianat dan sebagainya. Berdasarkan hal itu, apabila diriwayatkan suatu hadis tentang keutamaan beberapa perbuatan yang mustahab serta pahala yang disediakan baginya atau tentang tidak disukainya perbuatan tertentu serta hukuman yang disediakan baginya, sedangkan besarnya pahala dan hukumannya masing-masing, dinyatakan dalam suatu hadis yang tidak kita ketahui bahwa ia adalah maudhu’ maka dalam hal ini, boleh saja meriwayatkannya atau mengamalkannya. Dalam arti, bahwa orang (boleh saja) mengharapkan pahala tersebut atau merasa takut akan hukuman seperti itu. Sama halnya seperti seorang yang sudah mengetahui sebelumnya bahwa perdagangan adalah suatu usaha menguntungkan, tetapi kini ia diberitahu bahwa keuntungannya amat sangat banyak. Maka apabila keterangan tersebut memang benar, ia akan memperoleh manfaat darinya. Tetapi apabila keterangan tersebut ternyata bohong, ia tidak akan rugi karenanya.

Misalnya, berbicara tentang “targhib wa tarhib” dengan menggunakan hadis-hadis Israiliyat, mimpi-mimpi, ucapan para salaf dan ulama, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ulama tertentu dan sebagainya. Semua itu, yang tidak boleh dijadikan dasar bagi penetapan suatu hukum syar’i apapun, baik mustahab ataupun lainnya, tetapi boleh disebutkan dalam rangka targhib dan tarhib (memberikan harapan atau mempertakuti dengan ancaman).

Berdasarkan hal itu, apa saja yang telah diketahui kebaikan atau keburukannya dengan adanya dalil-dalik syariat, maka (hadis-hadis) seperti itu, (bisa saja) membawa manfaat dan tidak mengakibatkan suatu mudharat, baik dalam keadaannya benar-benar sebagai hadis ataupun tidak.

Adapun yang telah jelas diketahui sebagai hadis maudhu‘, maka tidak dibenarkan memberi perhatian kepadanya. Sebab, kebohongan tidak akan membawa manfaat apapun. Selanjutnya, jika telah diketahui dengan pasti bahwa ia adalah hadis shahih, maka ia dapat dijadikan dasar bagi penetapan hukum. Dan jika mengandung kedua kemungkinan (shahih dan maudhu‘) bolehlah diriwayatkan, mengingat adanya kemungkinan kesahihannya, disamping tidak adanya mudharat sekiranya ia adalah hasil kebohongan. Adapun Ahmad bin Hanbal hanyalah mengatakan: “Apabila yang dibicarakan adalah tentang targhib dan tarhib, maka kami akan mempermudah mengenai (persyaratannya) sanadnya.” Artinya, bahwa kami akan merawikannya (tetap) dengan menyebutkan sanadnya, walaupun para perawinya tidak termasuk orang-orang tsiqah (yang dipercayai) dan yang dapat dijadikan hujjah. Demikian pula pernyataan sebagian dari mereka, bahwa hadis-hadis dha’if boleh dijadikan dasar untuk amal-amal kebajikan (fadhail amal); yang dimaksud dengan itu adalah amalan-amalan yang memang dinilai sebagai amal shaleh (berdasarkan dalil-dalil syar’i) seperti tilawat Al-Qur’an dan zikir serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk.

Dan apabila hadis-hadis dha’if mengandung keterangan tentang kadar atau batasan tertentu, seperti shalat pada waktu tertentu dan dengan bacaan tertentu atau dalam bentuk tertentu, maka tidak dibenarkan meriwayatkannya. Sebab soal disukainya hal-hal yang ditentukan tersebut tidak berdasarkan dalil syar’i. Lain halnya jika seandainya diriwayatkan seperti ini: “Barang siapa memasuki pasar lalu membaca: ‘La ilaha illallah‘ maka ia akan memperoleh pahala … begini dan begini …” (Hal itu boleh saja) mengingat bahwa yang demikian itu termasuk dzikrullah diantara orang-orang yang lalai”, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang cukup dikenal: “Orang yang berzikir kepada Allah diantara orang-orang yang lalai, seperti pohon yang hijau di antara pohon-pohon yang kering.” Adapun sebutan tentang kadar pahala yang diriwayatkan berkaitan dengannya, maka tidak ada mudharatnya, baik itu memang benar ataupun tidak.

Kesimpulannya, hadis-hadis yang tergolong seperti itu (dha’if) boleh diriwayatkan dan diterapkan dalam targhib dan tarhib, tetapi tidak boleh untuk menetapkan tentang hukum mustahabnya. Kemudian dari itu, keyakinan akan kadar besarnya pahala atau ancaman pada perbuatan-perbuatan tersebut, haruslah berdasarkan dalil syar’i.

Sumber:

Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw.” karya Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Karisma, 1993 hal. 78-80

Leave a comment

Imam Syaukani

Imam Syaukani

Nama lengkapnya adalah al-Imam al-Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani ash-Shan’ani. Ia dilahirkan pada tanggal 28 Zulkaidah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman. Dari sini tampak bahwa nama asy-Syaukani dinisbahkan pada daerah tempat tinggalnya di Yaman, yaitu Hijratu Syaukan. Penisbahan seperti ini lazim dipakai oleh orang-orang Arab.

Sejak kecil asy-Syaukani berada di bawah asuhan sang ayah yang hidup di lingkungan yang agamis dan penuh keluhuran budi. Selain belajar kepada orang tuanya, asy-Syaukani juga belajar Al-Qur’an kepada beberapa guru Al-Qur’an dan dikhatamkan di hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al-Habi dan para syekh Al-Qur’an di Shan’an.

Tak hanya di bidang Al-Qur’an, asy-Syaukani juga mendalami berbagai disiplin ilmu lain, melalui banyak karya ulama seperti al-Azhar karya al-Imam al-Mahdi, Mukhtasar Faraid oleh al-Ushaifiri, al-Kafiyah asy-Syafiyah oleh Ibnul Hajib, at-Tahzib oleh at-Tifazani, at-Talkhis fi ‘Ulumil Balagah oleh al-Qazwaini, al-Gayah oleh Ibnul Imam dan Adabul Bahs wal Munazarah oleh al-Imam al-‘Adhud.

Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejak kecil ia memiliki ketajaman pikiran. Terbukti ia mampu menghafal pelbagai kitab yang dipelajarinya.

Awalnya asy-Syaukani banyak menelaah kitab-kitab sejarah dan adab. Kemudian ia mengembara untuk belajar hadis di berbagai daerah. Rute pengembaraannya  begitu luas sehingga ia banyak menampung riwayat-riwayat hadis dari para syekh hadis.

Selesai menimba ilmu dari para ulama besar, asy-Syaukani kemudian mulai menebarkan ilmu kepada masyarakat luas. Para penuntut ilmu ia layani dengan penuh cinta dan telaten. Karenanya banyak murid yang belajar kepadanya. Di antara muridnya adalah kedua putranya sendiri, Ali bin Muhammad asy-Syaukani dan Ahmad bin Muhammad asy-Syaukani. Disamping itu adapula nama-nama murid lainbya seperti Husain bin Muhasin as-Sab’i al-Ansari al-Yamani, Muhammad bin Hasan asy-Syajni adz-Dzammari, Abdul Haq bin Fadhl al-Hindi, Muhammad bin Nashir al-Hazimi, Ahmad bin Abdullah al-Amri dan as-Sayyid Ahmad bin Ali.

Asy-Syaukani tidak hanya menguasai bidang hadis, tetapi juga fikih. Ia belajar fikih kepada Imam Zaid sampai mumpuni, sehingga ia dikenal pakar dalam Mazhab Zaidiyah. Seiring berjalannya waktu, kemudian ia melepaskan diri dari ikatan mazhab tersebut dan membuat ijtihad sendiri.

Ia pun menulis kitab yang isinya mengkritik mazhab Zaidiyah. Kitab tersebut diberinya judul Hadaiqul Azhar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiqil Azhar. Dalam kitab tersebut, asy-Syaukani mengoreksi sejumlah permasalahan. Tentu saja para ulama Zaidiyah tidak tinggal diam. Mereka pun membantah koreksi asy-Syaukani, sehingga terjadilah perdebatan sengit diantara mereka dalam tempo yang cukup panjang.

Secara teologi, asy-Syaukani berpegang teguh pada akidah salaf yang menetapkan sifat-sifat Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah, tanpa adanya takwil. Untuk meneguhkan pendapatnya, ia menulis risalah tentang akidah yang berjudul at-Tuhaf bi Mazahibis Salaf. Ia gigih berdakwah kepada umat agar mengikuti akidah salafiyah sebagaiman diajarkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Syahdan, pada tahun 209 H, yang menjadi hakim di Yaman adalah Syekh Yahya bin Shalih asy-Syajari as-Sahuli. Saat itu, Kahlifah al-Makmun meminta asy-Syaukani untuk menggantikan Syaikh Yahya sebagai hakim di negeri Yaman.

Pada awalnya, asy-Syaukani menolak permintaan sang Khalifah karena takut disibukkan¬† dengan jabatan tersebut dan mengabaikan ilmu. Kemudian datanglah para ulama Shana’a kepadanya. Mereka meminta agar asy-Syaukani berkenan menerima jabatan tersebut. Sebab, jabatan hakim merupakan posisi vital yang menjadi rujukan syariat bagi para penduduk negeri Yaman. Jika kursi hakim diduduki oleh seseorang yang tidak amanah dalam urusan agama dan ilmu, tentu tatanan agama menjadi berantakan.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang dengan penuh kehati-hatian, asy-Syaukani pun menerima jabatan tersebut. Ia menduduki jabatan tersebut hingga wafat, yaitu selama tiga periode kepemimpinan (al-Makmun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq). Ketika menjabat sebagai hakim, asy-Syaukani dikenal sebagai hakim teladan. Ia mampu menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, menghilangkan fanatik buta dan mengajak umat menuju Al-Qur’an dan sunnah.

Meski kesehariannya sibuk berkecimpung dengan urusan hukum, tetapi ia tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai ulama. Karenanya di sela-sela waktu yang tersisa, ia menyempatkan diri untuk mengajar dan menulis ilmu. Bahkan ia terhitung sebagai ulama yang sangat produktif menghasilkan karya. Terbukti, ada puluhan karya yang lahir dari tangannya.

Imam asy-Syaukani wafat pada malam Rabu, 27 Jumadiakhir 250 H di Shana’a. Semoga Allah mwridai Imam asy-Syaukani dan menempatkannya di surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.

Sumber:
Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” karangan Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani, 2008 hal. 174-179.

Leave a comment

Jenis-Jenis Kitab Hadis

Jenis-Jenis Kitab Hadis Kitab-kitab hadis terbagi ke dalam beberapa bentuk dan jenis yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dan fungsi disusunnya kitab tersebut. Berikut ini jenis-jenis kitab hadis yang digunakan oleh umat Islam.

1. Kitab Jami’

Kitab jami‘ adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis berkenaan dengan bidang akidah, hukum, adab, tafsir, tarikh dan sejarah hidup. Kitab hadis Sahih al-Bukhari merupakan salah satu kitab yang digelari kitab jami‘. Sebuah kitab hadis disebut dengan jami’ bila mengandung sekurang-kurangnya 8 bidang yaitu: (1) akidah; (2) hukum; (3) sikap hidup orang-orang saleh; (4) adab; (5) tafsir; (6) tarikh; (7) al-fitan, yaitu fitnah-fitnah yang muncul di akhir zaman dan (8) manakib, yaitu pemaparan tentang biografi dan keistimewaan seseorang, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, tabiin, Ahlul Bait dan istri-istri Rasulullah saw. Kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah Sahih al-Bukhari, Jami’ at-Tarmizi, Sahih Muslim, Misykat al-Masabih, Jami’ Sufyan as-Sauri, Jami’ Abdur Razzaq bin Hammam as-San’ani, Jami’ ad-Darimi dan lain-lain.

2. Kitab as-Sunan atau al-Ahkam

Kitab sunan adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan sistematika pembahasan fikih yang bermula dari bab thaharah, shalat dan seterusnya. Namun demikian, di dalam kitab sunan sendiri tidak hanya dimuat hukum-hukum normatif tetapi juga persoalan-persoalan lainnya. Contoh kitab-kitab yang termasuk kategori ini ialah Sunan an-Nasa’i, Sunan at-Tirmizi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abi Daud, Sunan ad-Duruqutni dan Sunan Abi Ali bin as-Sakan.

3. Kitab Musnad

Kitab musnad adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Biasanya dimulai dengan nama sahabat yang pertama kali masuk Islam atau disesuaikan dengan urutan abjad. Misalnya Imam Ahmad yang menulis musnad telah mendahulukan hadis-hadis Abu Bakar dari pada sahabat yang lain.

4. Kitab Mu’jam

Istilah mu’jam tidak hanya digunakan dalam ilmu hadis. Istilah ini kadang digunakan untuk disiplin ilmu keislaman lainnya. Secara bahasa, kata mu’jam bermakna kamus dan bukan bermakna penulisan hadis. Ada juga yang menyebut mu’jam itu sebagai kamus geografi yang menjelaskan geografi suatu tempat seperti Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi atau biografi seorang tokoh seperti al-Mu’jam fi Atar Muluk al-‘Ajam. Kitab mu’jam disusun berdasarkan tertib huruf abjad atau mengikuti susunan nama guru-guru mereka, baik nama asli maupun julukan, sesuai dengan tertib huruf abjad. Selain itu, mu’jam hanya mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw sebanyak mungkin, tanpa mempertimbangkan kualitasnya. Kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah Mu’jam at-Tabrani, Mu’jam al-Kabir, Mu’jam as-Suyuti dan Mu’jam as-Sagir, Mu’jam Abi Bakar, Mu’jam Ibnu Mubarak dan sebagainya.

5. Kitab Rasail

Kitab rasail adalah kitab yang berisi hadis-hadis yang dikumpulkan berdasarkan suatu perkara atau tema tertentu, seperti Raf’u al-Yadain karya Iman Bukhari. Dalam kitab ini, Imam Bukhari mengemukakan hadis-hadis tentang mengangkat tangan tanpa membahas kedudukannya, apakah ada yang mansukh, syaz, mujmal atau lainnya. Contoh-contoh lainnya adalah kitab Juz an-Niyyah oleh Ibnu Abi ad-Dunya, Juz al-Qira’ah Khalfa al-Imam oleh al-Baihaqi, Juz Fadail Ahl al-Bait oleh Abu al-Husin al-Bazzar, Juz al-Munziri fi Man Gufira Lahu Ma Taqaddama min Zanbihi, Juz Asma’ al-Mudallisin dan Juz A’mal al-Yaum wa al-Lail.

6. Kitab Mustadrak

Kitab mustadrak adalah kitab hadis yang mengumpulkan hadis-hadis yang tidak disebutkan oleh pengarang sebelumnya, baik secara sengaja maupun tidak. Contohnya kitab Mustadrak al-Hakim yang diterbitkan sebanyak 4 jilid. Hadis-hadis dalam kitab ini dihimpun berdasarkan syarat-syarat yang digunakan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Kitab ini tidak boleh dibaca begitu saja, tetapi harus didampingi kitab takhrijnya yang ditulis oleh adz-Dzahabi. Diantara contoh kitab mustadrak yang lain adalah Mustadrak Hafiz Ahmad al-Maliki.

Sumber:

Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” karangan Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani, 2008

Leave a comment

Nasakh Sebagian Hukum Syariat Pada Masa Hidup Nabi

Nasakh Sebagian Hukum Syariat Pada Masa Hidup Nabi

Ada sejumlah kecil hukum syariat yang ditetapkan untuk jangka waktu tertentu dan terbatas, kemudian hukum tersebut dinasakh atau dibatalkan. Demi memerhatikan mashlahat manusia, menyesuaikan dengan tabiat perubahan dan perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat serta menjadi pengingat akan nikmat Allah, di mana syariat berganti dari satu hukum menjadi hukum lain yang lebih utama dan bersifat gradual (berangsur-angsur) sesuai dengan situasi dan kondisi. Jadi, nasakh tidak disebabkan ketidaktahuan pembuat syariat yang bijaksana akan hukum terakhir yang disyariatkan secara pasti hingga hari kiamat. Akan tetapi, syariat hendak menangani permasalahan seperti yang dituntut oleh hikmah dan dikehendaki oleh situasi serta kebutuhan sekarang dan yang akan datang. Allah SWT semata Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia menetapkan hukum untuk jangka waktu tertentu, kemudian menetapkan hukum lain guna melatih dan mempersiapkan para mukallaf untuk menanggung beban kewajiban secara berangsur-angsur. Allah SWT berfirman,

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (al-Baqarah: 106-107)

Kemudian Allah memberi bantahan kepada kaum Yahudi yang menolak adanya nasakh di dalam syariat, Allah SWT berfirman,

“Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israil) dahulu? Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Artinya, wahai kaum Yahudi pengingkar nasakh, akankah kalian meminta kepada rasul kalian sebagaimana nenek moyang kalian meminta kepada Musa a.s.? Di mana mereka meminta kepada Musa agar mereka bisa melihat Allah secara nyata. Barangsiapa tidak memercayai Al-Qur’an, meragukan hukum-hukumnya dan meminta hukum yang lain maka ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Contoh nasakh di dalam syariat: pada awalnya syariat shalat adalah dua rakaat pada waktu pagi dan dua rakaat di waktu sore, sebagai bentuk rahmat kepada manusia, sebab mereka baru memeluk Islam. Mereka juga belum merasakan manisnya shalat dan mengetahui lezatnya munajat di dalam shalat, Allah SWT menambahkan jumlah shalat seperti yang dikenal sekarang, sesuai dengan tuntutan hikmah ilahiah yang luhur.

Hukum pertama yang dinasakh di dalam Al-Qur’an adalah kiblat. Allah SWT berfirman,

“Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.” (al-Baqarah: 115).

Maka Rasulullah saw menunaikan shalat menghadap Baitul Maqdis, bukan Baitul Haram, kemudian Allah mengganti kiblat menjadi ke arah Baitul Haram.

Contoh nasakh: diharamkannya khamr dalam empat tahapan. Pertama, Al-Qur’an membuat orang enggan untuk mengkonsumsinya. Berdasarkan firman Allah SWT,

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.” (an-Nahl: 67)

Dimana al-Qur’an menyifati memakan anggur dan kurma sebagai tindakan menikmati kelezatan, sedangkan minuman memabukkan tidak disifati demikian. Kemudian Allah menyifati khamr dan perjudian bahwa didalamnya terdapat dosa besar, meskipun didalamnya terdapat manfaat dari sisi materi, bisnis atau profit. Kemudian Allah melarang orang-orang yang sedang mabuk untuk menunaikan shalat. Terakhir, Allah mengharamkan khamr dengan keharaman yang tegas dan bersifat abadi hingga hari kiamat.

Sebelumnya, hukuman bagi perempuan pezina adalah dikurung di dalam rumah hingga meninggal, sedangkan hukuman bagi laki-laki pezina adalah cacian dengan lisan, hinaan dan pukulan dengan sandal. Kemudian Allah menetapkan hukum terakhir, yaitu mencambuk laki-laki dan perempuan pezina sebanyak 100 kali cambuk.

Mengingat jumlah kaum muslimin pada awal masa Islam masih sangat sedikit, mereka masih lemah dan tidak kuat memerangi kaum musyrikin, maka mereka diperintahkan untuk memaafkan, bertoleransi, bersabar atas perlakuan buruk, berpaling dari mereka dan tidak beradu fisik dengan mereka, sesuai dengan tuntunan kebutuhan. Allah SWT berfirman,

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf: 199).

Kemudian Allah mensyariatkan peperangan dan membolehkan jihad untuk membela diri dan kehormatan Islam serta merasakan nikmatnya kemenangan. Allah SWT berfirman,

“Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.” (al-Hajj: 39).

Sumber:
Buku “Tafsir Al-Wasith” jilid 1 pengarang Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili penerbit Gema Insani 2012 hal 43-45.

Leave a comment