Nasakh Sebagian Hukum Syariat Pada Masa Hidup Nabi

Nasakh Sebagian Hukum Syariat Pada Masa Hidup Nabi

Ada sejumlah kecil hukum syariat yang ditetapkan untuk jangka waktu tertentu dan terbatas, kemudian hukum tersebut dinasakh atau dibatalkan. Demi memerhatikan mashlahat manusia, menyesuaikan dengan tabiat perubahan dan perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat serta menjadi pengingat akan nikmat Allah, di mana syariat berganti dari satu hukum menjadi hukum lain yang lebih utama dan bersifat gradual (berangsur-angsur) sesuai dengan situasi dan kondisi. Jadi, nasakh tidak disebabkan ketidaktahuan pembuat syariat yang bijaksana akan hukum terakhir yang disyariatkan secara pasti hingga hari kiamat. Akan tetapi, syariat hendak menangani permasalahan seperti yang dituntut oleh hikmah dan dikehendaki oleh situasi serta kebutuhan sekarang dan yang akan datang. Allah SWT semata Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia menetapkan hukum untuk jangka waktu tertentu, kemudian menetapkan hukum lain guna melatih dan mempersiapkan para mukallaf untuk menanggung beban kewajiban secara berangsur-angsur. Allah SWT berfirman,

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (al-Baqarah: 106-107)

Kemudian Allah memberi bantahan kepada kaum Yahudi yang menolak adanya nasakh di dalam syariat, Allah SWT berfirman,

“Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israil) dahulu? Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Artinya, wahai kaum Yahudi pengingkar nasakh, akankah kalian meminta kepada rasul kalian sebagaimana nenek moyang kalian meminta kepada Musa a.s.? Di mana mereka meminta kepada Musa agar mereka bisa melihat Allah secara nyata. Barangsiapa tidak memercayai Al-Qur’an, meragukan hukum-hukumnya dan meminta hukum yang lain maka ia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Contoh nasakh di dalam syariat: pada awalnya syariat shalat adalah dua rakaat pada waktu pagi dan dua rakaat di waktu sore, sebagai bentuk rahmat kepada manusia, sebab mereka baru memeluk Islam. Mereka juga belum merasakan manisnya shalat dan mengetahui lezatnya munajat di dalam shalat, Allah SWT menambahkan jumlah shalat seperti yang dikenal sekarang, sesuai dengan tuntutan hikmah ilahiah yang luhur.

Hukum pertama yang dinasakh di dalam Al-Qur’an adalah kiblat. Allah SWT berfirman,

“Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.” (al-Baqarah: 115).

Maka Rasulullah saw menunaikan shalat menghadap Baitul Maqdis, bukan Baitul Haram, kemudian Allah mengganti kiblat menjadi ke arah Baitul Haram.

Contoh nasakh: diharamkannya khamr dalam empat tahapan. Pertama, Al-Qur’an membuat orang enggan untuk mengkonsumsinya. Berdasarkan firman Allah SWT,

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.” (an-Nahl: 67)

Dimana al-Qur’an menyifati memakan anggur dan kurma sebagai tindakan menikmati kelezatan, sedangkan minuman memabukkan tidak disifati demikian. Kemudian Allah menyifati khamr dan perjudian bahwa didalamnya terdapat dosa besar, meskipun didalamnya terdapat manfaat dari sisi materi, bisnis atau profit. Kemudian Allah melarang orang-orang yang sedang mabuk untuk menunaikan shalat. Terakhir, Allah mengharamkan khamr dengan keharaman yang tegas dan bersifat abadi hingga hari kiamat.

Sebelumnya, hukuman bagi perempuan pezina adalah dikurung di dalam rumah hingga meninggal, sedangkan hukuman bagi laki-laki pezina adalah cacian dengan lisan, hinaan dan pukulan dengan sandal. Kemudian Allah menetapkan hukum terakhir, yaitu mencambuk laki-laki dan perempuan pezina sebanyak 100 kali cambuk.

Mengingat jumlah kaum muslimin pada awal masa Islam masih sangat sedikit, mereka masih lemah dan tidak kuat memerangi kaum musyrikin, maka mereka diperintahkan untuk memaafkan, bertoleransi, bersabar atas perlakuan buruk, berpaling dari mereka dan tidak beradu fisik dengan mereka, sesuai dengan tuntunan kebutuhan. Allah SWT berfirman,

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf: 199).

Kemudian Allah mensyariatkan peperangan dan membolehkan jihad untuk membela diri dan kehormatan Islam serta merasakan nikmatnya kemenangan. Allah SWT berfirman,

“Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.” (al-Hajj: 39).

Sumber:
Buku “Tafsir Al-Wasith” jilid 1 pengarang Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili penerbit Gema Insani 2012 hal 43-45.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: