Imam Syaukani

Imam Syaukani

Nama lengkapnya adalah al-Imam al-Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani ash-Shan’ani. Ia dilahirkan pada tanggal 28 Zulkaidah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman. Dari sini tampak bahwa nama asy-Syaukani dinisbahkan pada daerah tempat tinggalnya di Yaman, yaitu Hijratu Syaukan. Penisbahan seperti ini lazim dipakai oleh orang-orang Arab.

Sejak kecil asy-Syaukani berada di bawah asuhan sang ayah yang hidup di lingkungan yang agamis dan penuh keluhuran budi. Selain belajar kepada orang tuanya, asy-Syaukani juga belajar Al-Qur’an kepada beberapa guru Al-Qur’an dan dikhatamkan di hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al-Habi dan para syekh Al-Qur’an di Shan’an.

Tak hanya di bidang Al-Qur’an, asy-Syaukani juga mendalami berbagai disiplin ilmu lain, melalui banyak karya ulama seperti al-Azhar karya al-Imam al-Mahdi, Mukhtasar Faraid oleh al-Ushaifiri, al-Kafiyah asy-Syafiyah oleh Ibnul Hajib, at-Tahzib oleh at-Tifazani, at-Talkhis fi ‘Ulumil Balagah oleh al-Qazwaini, al-Gayah oleh Ibnul Imam dan Adabul Bahs wal Munazarah oleh al-Imam al-‘Adhud.

Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejak kecil ia memiliki ketajaman pikiran. Terbukti ia mampu menghafal pelbagai kitab yang dipelajarinya.

Awalnya asy-Syaukani banyak menelaah kitab-kitab sejarah dan adab. Kemudian ia mengembara untuk belajar hadis di berbagai daerah. Rute pengembaraannya  begitu luas sehingga ia banyak menampung riwayat-riwayat hadis dari para syekh hadis.

Selesai menimba ilmu dari para ulama besar, asy-Syaukani kemudian mulai menebarkan ilmu kepada masyarakat luas. Para penuntut ilmu ia layani dengan penuh cinta dan telaten. Karenanya banyak murid yang belajar kepadanya. Di antara muridnya adalah kedua putranya sendiri, Ali bin Muhammad asy-Syaukani dan Ahmad bin Muhammad asy-Syaukani. Disamping itu adapula nama-nama murid lainbya seperti Husain bin Muhasin as-Sab’i al-Ansari al-Yamani, Muhammad bin Hasan asy-Syajni adz-Dzammari, Abdul Haq bin Fadhl al-Hindi, Muhammad bin Nashir al-Hazimi, Ahmad bin Abdullah al-Amri dan as-Sayyid Ahmad bin Ali.

Asy-Syaukani tidak hanya menguasai bidang hadis, tetapi juga fikih. Ia belajar fikih kepada Imam Zaid sampai mumpuni, sehingga ia dikenal pakar dalam Mazhab Zaidiyah. Seiring berjalannya waktu, kemudian ia melepaskan diri dari ikatan mazhab tersebut dan membuat ijtihad sendiri.

Ia pun menulis kitab yang isinya mengkritik mazhab Zaidiyah. Kitab tersebut diberinya judul Hadaiqul Azhar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiqil Azhar. Dalam kitab tersebut, asy-Syaukani mengoreksi sejumlah permasalahan. Tentu saja para ulama Zaidiyah tidak tinggal diam. Mereka pun membantah koreksi asy-Syaukani, sehingga terjadilah perdebatan sengit diantara mereka dalam tempo yang cukup panjang.

Secara teologi, asy-Syaukani berpegang teguh pada akidah salaf yang menetapkan sifat-sifat Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah, tanpa adanya takwil. Untuk meneguhkan pendapatnya, ia menulis risalah tentang akidah yang berjudul at-Tuhaf bi Mazahibis Salaf. Ia gigih berdakwah kepada umat agar mengikuti akidah salafiyah sebagaiman diajarkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Syahdan, pada tahun 209 H, yang menjadi hakim di Yaman adalah Syekh Yahya bin Shalih asy-Syajari as-Sahuli. Saat itu, Kahlifah al-Makmun meminta asy-Syaukani untuk menggantikan Syaikh Yahya sebagai hakim di negeri Yaman.

Pada awalnya, asy-Syaukani menolak permintaan sang Khalifah karena takut disibukkan  dengan jabatan tersebut dan mengabaikan ilmu. Kemudian datanglah para ulama Shana’a kepadanya. Mereka meminta agar asy-Syaukani berkenan menerima jabatan tersebut. Sebab, jabatan hakim merupakan posisi vital yang menjadi rujukan syariat bagi para penduduk negeri Yaman. Jika kursi hakim diduduki oleh seseorang yang tidak amanah dalam urusan agama dan ilmu, tentu tatanan agama menjadi berantakan.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang dengan penuh kehati-hatian, asy-Syaukani pun menerima jabatan tersebut. Ia menduduki jabatan tersebut hingga wafat, yaitu selama tiga periode kepemimpinan (al-Makmun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq). Ketika menjabat sebagai hakim, asy-Syaukani dikenal sebagai hakim teladan. Ia mampu menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, menghilangkan fanatik buta dan mengajak umat menuju Al-Qur’an dan sunnah.

Meski kesehariannya sibuk berkecimpung dengan urusan hukum, tetapi ia tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai ulama. Karenanya di sela-sela waktu yang tersisa, ia menyempatkan diri untuk mengajar dan menulis ilmu. Bahkan ia terhitung sebagai ulama yang sangat produktif menghasilkan karya. Terbukti, ada puluhan karya yang lahir dari tangannya.

Imam asy-Syaukani wafat pada malam Rabu, 27 Jumadiakhir 250 H di Shana’a. Semoga Allah mwridai Imam asy-Syaukani dan menempatkannya di surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.

Sumber:
Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” karangan Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani, 2008 hal. 174-179.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: