Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal Apa yang dikatakan oleh para ulama tentang dibolehkannya menggunakan hadis-hadis dha’if untuk fadhail amal, tidaklah berarti menetapkan disunnahkannya sesuatu berdasarkan hadis yang seharusnya tidak boleh dijadikan hujjah. Sebab, menetapkan disunnahkannya sesuatu adalah termasuk suatu hukum syar’i dan karena itu, tidak berlaku kecuali dengan suatu dalil syar’i pula. Dan siapa saja yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai suatu perbuatan tertentu, tanpa mengemukakan dengan suatu dalil syar’i maka ia telah mensyariatkan sesuatu yang tidak ada izin Allah tentangnya. Sama halnya seandainya ia menghukumkan tentang halal ataupun haramnya sesuatu (tanpa dalil syar’i). Karena itu, para ulama berbeda pendapat dalam selainnya. Bahkan hal itu merupakan dasar agama yang disyariatkan.

Adapun yang dimaksud oleh para ulama mengenai hal itu, adalah dalam kaitannya dengan suatu perbuatan yang memang telah dinyatakan sebagai disukai atau dibenci oleh Allah berdasarkan nash atau ijma‘. Seperti tentang disukainya tilawat Al-Qur’an, membaca tasbih, berdoa, bersedekah, memerdekakan budak dan berbuat kebajikan kepada manusia. Atau tentang tidak disukainya perbuatan berdusta, berkhianat dan sebagainya. Berdasarkan hal itu, apabila diriwayatkan suatu hadis tentang keutamaan beberapa perbuatan yang mustahab serta pahala yang disediakan baginya atau tentang tidak disukainya perbuatan tertentu serta hukuman yang disediakan baginya, sedangkan besarnya pahala dan hukumannya masing-masing, dinyatakan dalam suatu hadis yang tidak kita ketahui bahwa ia adalah maudhu’ maka dalam hal ini, boleh saja meriwayatkannya atau mengamalkannya. Dalam arti, bahwa orang (boleh saja) mengharapkan pahala tersebut atau merasa takut akan hukuman seperti itu. Sama halnya seperti seorang yang sudah mengetahui sebelumnya bahwa perdagangan adalah suatu usaha menguntungkan, tetapi kini ia diberitahu bahwa keuntungannya amat sangat banyak. Maka apabila keterangan tersebut memang benar, ia akan memperoleh manfaat darinya. Tetapi apabila keterangan tersebut ternyata bohong, ia tidak akan rugi karenanya.

Misalnya, berbicara tentang “targhib wa tarhib” dengan menggunakan hadis-hadis Israiliyat, mimpi-mimpi, ucapan para salaf dan ulama, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ulama tertentu dan sebagainya. Semua itu, yang tidak boleh dijadikan dasar bagi penetapan suatu hukum syar’i apapun, baik mustahab ataupun lainnya, tetapi boleh disebutkan dalam rangka targhib dan tarhib (memberikan harapan atau mempertakuti dengan ancaman).

Berdasarkan hal itu, apa saja yang telah diketahui kebaikan atau keburukannya dengan adanya dalil-dalik syariat, maka (hadis-hadis) seperti itu, (bisa saja) membawa manfaat dan tidak mengakibatkan suatu mudharat, baik dalam keadaannya benar-benar sebagai hadis ataupun tidak.

Adapun yang telah jelas diketahui sebagai hadis maudhu‘, maka tidak dibenarkan memberi perhatian kepadanya. Sebab, kebohongan tidak akan membawa manfaat apapun. Selanjutnya, jika telah diketahui dengan pasti bahwa ia adalah hadis shahih, maka ia dapat dijadikan dasar bagi penetapan hukum. Dan jika mengandung kedua kemungkinan (shahih dan maudhu‘) bolehlah diriwayatkan, mengingat adanya kemungkinan kesahihannya, disamping tidak adanya mudharat sekiranya ia adalah hasil kebohongan. Adapun Ahmad bin Hanbal hanyalah mengatakan: “Apabila yang dibicarakan adalah tentang targhib dan tarhib, maka kami akan mempermudah mengenai (persyaratannya) sanadnya.” Artinya, bahwa kami akan merawikannya (tetap) dengan menyebutkan sanadnya, walaupun para perawinya tidak termasuk orang-orang tsiqah (yang dipercayai) dan yang dapat dijadikan hujjah. Demikian pula pernyataan sebagian dari mereka, bahwa hadis-hadis dha’if boleh dijadikan dasar untuk amal-amal kebajikan (fadhail amal); yang dimaksud dengan itu adalah amalan-amalan yang memang dinilai sebagai amal shaleh (berdasarkan dalil-dalil syar’i) seperti tilawat Al-Qur’an dan zikir serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk.

Dan apabila hadis-hadis dha’if mengandung keterangan tentang kadar atau batasan tertentu, seperti shalat pada waktu tertentu dan dengan bacaan tertentu atau dalam bentuk tertentu, maka tidak dibenarkan meriwayatkannya. Sebab soal disukainya hal-hal yang ditentukan tersebut tidak berdasarkan dalil syar’i. Lain halnya jika seandainya diriwayatkan seperti ini: “Barang siapa memasuki pasar lalu membaca: ‘La ilaha illallah‘ maka ia akan memperoleh pahala … begini dan begini …” (Hal itu boleh saja) mengingat bahwa yang demikian itu termasuk dzikrullah diantara orang-orang yang lalai”, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang cukup dikenal: “Orang yang berzikir kepada Allah diantara orang-orang yang lalai, seperti pohon yang hijau di antara pohon-pohon yang kering.” Adapun sebutan tentang kadar pahala yang diriwayatkan berkaitan dengannya, maka tidak ada mudharatnya, baik itu memang benar ataupun tidak.

Kesimpulannya, hadis-hadis yang tergolong seperti itu (dha’if) boleh diriwayatkan dan diterapkan dalam targhib dan tarhib, tetapi tidak boleh untuk menetapkan tentang hukum mustahabnya. Kemudian dari itu, keyakinan akan kadar besarnya pahala atau ancaman pada perbuatan-perbuatan tersebut, haruslah berdasarkan dalil syar’i.

Sumber:

Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw.” karya Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Karisma, 1993 hal. 78-80

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: