Archive for May, 2013

Pandangan Imam Hasan al-Banna tentang Dibolehkannya Taklid

Imam Hasan al-Banna berprinsip bahwa bagi setiap muslim yang belum sampai pada tingkatan sanggup mengkaji dalil dari hukum-hukum syariat hendaknya ia mengikuti salah seorang imam dari para imam yang ada. Dan sebaiknya ia berusaha untuk mencarivtahu dalilnya sebatas kemampuannya serta menerima semua petunjuk atau nasehat yang disertai dengan dalilnya selama ia memandang orang yang menasehatinya itu memiliki kapabilitas dan keahlian dalam hal yang dinasehatkannya. Dan bagi seorang alim hendaknya ia melengkapi kekurangan yang dimilikinya dalam bidang keilmuannya hingga ia bisa mencapai tingkatan an-nazhr (sanggup mengkaji hukum-hukum syariat)

Demikianlah Imam Hasan al-Banna berpandangan untuk tidak menjadikan taklid dan bermazhab sebagai suatu kewajiban dan juga tidak menjadikannya sebagai suatu yang diharamkan. Menurut beliau taklid dan bermazhab adalah sesuatu yang mubah dan dibolehkan oleh syariat. Namun meski demikian,  hal itu tidak berlaku bagi semua manusia, akan tetapi hanya dibolehkan bagi orang yang awam sekali dan yang serupa dengan mereka, yang tidak memiliki keahlian dalam mengkaji dalil-dalil hukum atau kemampuan untuk menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan sunnah, tidak mengetahui ijma’ dan qiyas atau dalil lainnya yang didasarkan pada dalil-dalil pokok tersebut. Contohnya istishlah (mengambil dalil dengan mempertimbangkan al-mashlahah al-mursalah), istihsan, ‘urf dan istishab, syar’u man qablana (syariat dari umat sebelum kita) dan seterusnya.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi hal. 100 penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2003

Advertisements

Leave a comment

Pandangan Ibnu Taimiyah terhadap Tasawuf

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (An-Nisaa’: 135)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maa’idah: 8)

Inilah sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap tasawuf dan sufi. Beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang berbeda pendapat dalam menilai jalan yang ditempuh oleh para sufi. Diantara mereka ada yang berlebihan dalam mengagungkannya dan sebagian lain berlebihan dalam mencela kaum sufi dan tasawuf dan mengatakan bahwa kaum sufi adalah termasuk orang-orang yang melakukan bid’ah, yang telah keluar dari sunnah. Pendapat ini dinukilkan sebagai pendapat ulama fikih dan kalam. Sementara golongan lain terlalu berlebihan dalam memandang para sufi. Dimana mereka menganggap kaum sufi sebaik-baiknya makhluk Allah dan yang paling sempurna setelah Nabi.

Menurut kami, kedua kelompok ini sama-sama buruknya. Karena yang benar, mereka semuanya adalah orang-orang yang melakukan ijtihad dalam rangka menaati Allah, sebagaimana ijtihad yang dilakukan selain mereka, yang sama-sama berusaha untuk selalu taat kepada Allah. Diantara mereka ada yang termasuk kategori as-sabiq, yaitu orang yang mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuannya. Dan diantara mereka ada yang termasuk kategori al-muqtashid yaitu termasuk kelompok kanan (ahlul yamin). Yang jelas di dalam kedua golongan terdapat beberapa orang yang telah melakukan ijtihad lalu ia melakukan kesalahan. Ada juga yang berbuat dosa kemudian dia bertaubat atau tidak bertaubat.

Diantara orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan mereka ada pula yang termasuk dalam kategori “menganiaya diri sendiri” (zhalim li nafsih) yang melakukan maksiat terhadap Tuhannya.

Sikap moderat merupakan sikap yang paling adil dan paling benar dari penilaian yang berlebihan atau sikap meremehkan. Karena bukan sikap yang adil, jika seseorang menilai mereka dengan melepaskan setiap keutamaan yang mereka miliki dan menjelek-jelekkan mereka dengan kekurangan mereka. Sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang fanatik dalam menentang kaum sufi dengan melemparkan tuduhan bid’ah dan berbagai penyimpangan terhadap kaum sufi yang mengotori kesucian Islam dan menodai kehidupan kaum muslimin.

Tuduhan seperti yang dilakukan mereka tidak menunjukkan sikap yang obyektif. Karena semua golongan yang ada di dalam tubuh umat memiliki sisi negatif dan positif sekaligus. Tidak ada satu kelompok pun yang terlepas dari sikap berlebihan atau meremehkan. Orang-orang yang ikhlas diantara kaum sufi tetap mendapat pahala atas kebaikan yang telah dilakukan. Adapun kesalahan-kesalahan mereka, Insya Allah akan diampuni. Bahkan mereka mendapatkan ganjaran yang berlipat jika kebaikan-kebaikan itu dilakukan melalui pengkajian yang mendalam dan ijtihad.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, hal. 65-68, penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2003

Leave a comment

Keteladanan Ulama Salaf terhadap Ulama Terdahulu

Para salafus-shalih dari ulama-ulama kita mempunyai petunjuk dan contoh yang sudah dikenal, yang menjadi panutan dan bisa membawa kepada kebaikan yang mereka sebut dengan adab al-akabir (etika terhadap orang yang lebih tua). Di antara kisah yang termasuk dalam adab al-akabir adalah apa yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah r.a. bahwa setelah Rasulullah SAW. wafat, jenazahnya dikuburkan di kamar Aisyah. Kemudian setelah itu, wafat pula ayahnya, yaitu sang khalifah pertama Abu Bakar r.a. Maka olehnya, jenazah beliau disemayamkan disamping makam Nabi yang juga merupakan orang terkasihnya. Setelah itu, Aisyah sering memasuki kamar tersebut untuk mendoakan keduanya. Dia masuk tanpa menggunakan hijab dan cadar. Karena yang satu adalah suaminya dan yang satunya lagi adalah ayah sendiri.

Ketika Umar bin Khathab meninggal, dia juga dikuburkan di situ bersama kedua sahabatnya, sebagaimana permintaan Umar kepada Aisyah sebelum ia meninggal. Padahal, sebetulnya Aisyah pun ingin dikuburkan di tempat itu, karena selalu ingin dekat bersama suami tercinta dan sang ayah, tempat itu adalah kamarnya sendiri. Namun demi menghormati Umar, dia mengalah. Umar pun dikubur disamping Nabi dan Abu Bakar.

Menurut riwayat, setelah itu jika Aisyah masuk ke kamarnya untuk mendoakan mereka, dia mengrnakan kerudung dan cadarnya. Ketika ditanya kenapa dia mesti mengenakan hijab apabila masuk ke kamarnya, dia menjawab; karena di situ ada makam Umar disamping makam suami dan ayahnya! Aisyah tetap berhijab dari Umar yang bukan mahramnya, sekalipun Umar telah meninggal. Demikianlah, Aisyah tetap memperhatikan adab dan etika yang sepantasnya dipegang – khususnya ia adalah istri Nabi – ketika bertemu atau berbicara dengan lelaki asing.

Yang sungguh mengagumkan di sini adalah Aisyah tetap memakai kerudung dan cadarnya meskipun Umar sudah tidak hidup lagi dan telah menjadi mayat dan dikuburkan di kuburannya. Akan tetapi karena perasaan Aisyah sangat halus, dia tetap memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan orang yang masih hidup.

Sikap yang sama adalah sebagaimana diceritakan dari Imam Syafi’i r.a. ketika beliau berkunjung ke Baghdad dan berziarah ke makam Imam Abu Hanifah r.a. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i melaksanakan shalat subuh di masjid tetapi beliau tidak melakukan qunut ketika itu, sebagaimana yang telah ditetapkannya sendiri dalam mazhabnya. Beliau bersikap demikian karena demi memperhatikan dan menjaga adab sopan santun terhadap Imam Abu Hanifah yang tidak berpendapat sunnahnya qunut ketika shalat subuh.

Demikianlah Imam Syafi’i memperlakukan Abu Hanifah seolah-olah beliau masih hidup. Imam Syafi’i telah berusaha menjaga perasaannya dan memilih untuk tidak berselisih pendapat mengenai hal ini, yang mana para ulama dalam masalah seperti ini tidak boleh terlalu keras dalam memberikan pendapatnya.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi hal. 312-313 Penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2003.

Leave a comment