Keteladanan Ulama Salaf terhadap Ulama Terdahulu

Para salafus-shalih dari ulama-ulama kita mempunyai petunjuk dan contoh yang sudah dikenal, yang menjadi panutan dan bisa membawa kepada kebaikan yang mereka sebut dengan adab al-akabir (etika terhadap orang yang lebih tua). Di antara kisah yang termasuk dalam adab al-akabir adalah apa yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah r.a. bahwa setelah Rasulullah SAW. wafat, jenazahnya dikuburkan di kamar Aisyah. Kemudian setelah itu, wafat pula ayahnya, yaitu sang khalifah pertama Abu Bakar r.a. Maka olehnya, jenazah beliau disemayamkan disamping makam Nabi yang juga merupakan orang terkasihnya. Setelah itu, Aisyah sering memasuki kamar tersebut untuk mendoakan keduanya. Dia masuk tanpa menggunakan hijab dan cadar. Karena yang satu adalah suaminya dan yang satunya lagi adalah ayah sendiri.

Ketika Umar bin Khathab meninggal, dia juga dikuburkan di situ bersama kedua sahabatnya, sebagaimana permintaan Umar kepada Aisyah sebelum ia meninggal. Padahal, sebetulnya Aisyah pun ingin dikuburkan di tempat itu, karena selalu ingin dekat bersama suami tercinta dan sang ayah, tempat itu adalah kamarnya sendiri. Namun demi menghormati Umar, dia mengalah. Umar pun dikubur disamping Nabi dan Abu Bakar.

Menurut riwayat, setelah itu jika Aisyah masuk ke kamarnya untuk mendoakan mereka, dia mengrnakan kerudung dan cadarnya. Ketika ditanya kenapa dia mesti mengenakan hijab apabila masuk ke kamarnya, dia menjawab; karena di situ ada makam Umar disamping makam suami dan ayahnya! Aisyah tetap berhijab dari Umar yang bukan mahramnya, sekalipun Umar telah meninggal. Demikianlah, Aisyah tetap memperhatikan adab dan etika yang sepantasnya dipegang – khususnya ia adalah istri Nabi – ketika bertemu atau berbicara dengan lelaki asing.

Yang sungguh mengagumkan di sini adalah Aisyah tetap memakai kerudung dan cadarnya meskipun Umar sudah tidak hidup lagi dan telah menjadi mayat dan dikuburkan di kuburannya. Akan tetapi karena perasaan Aisyah sangat halus, dia tetap memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan orang yang masih hidup.

Sikap yang sama adalah sebagaimana diceritakan dari Imam Syafi’i r.a. ketika beliau berkunjung ke Baghdad dan berziarah ke makam Imam Abu Hanifah r.a. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i melaksanakan shalat subuh di masjid tetapi beliau tidak melakukan qunut ketika itu, sebagaimana yang telah ditetapkannya sendiri dalam mazhabnya. Beliau bersikap demikian karena demi memperhatikan dan menjaga adab sopan santun terhadap Imam Abu Hanifah yang tidak berpendapat sunnahnya qunut ketika shalat subuh.

Demikianlah Imam Syafi’i memperlakukan Abu Hanifah seolah-olah beliau masih hidup. Imam Syafi’i telah berusaha menjaga perasaannya dan memilih untuk tidak berselisih pendapat mengenai hal ini, yang mana para ulama dalam masalah seperti ini tidak boleh terlalu keras dalam memberikan pendapatnya.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi hal. 312-313 Penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2003.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: