Pandangan Ibnu Taimiyah terhadap Tasawuf

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (An-Nisaa’: 135)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maa’idah: 8)

Inilah sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap tasawuf dan sufi. Beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang berbeda pendapat dalam menilai jalan yang ditempuh oleh para sufi. Diantara mereka ada yang berlebihan dalam mengagungkannya dan sebagian lain berlebihan dalam mencela kaum sufi dan tasawuf dan mengatakan bahwa kaum sufi adalah termasuk orang-orang yang melakukan bid’ah, yang telah keluar dari sunnah. Pendapat ini dinukilkan sebagai pendapat ulama fikih dan kalam. Sementara golongan lain terlalu berlebihan dalam memandang para sufi. Dimana mereka menganggap kaum sufi sebaik-baiknya makhluk Allah dan yang paling sempurna setelah Nabi.

Menurut kami, kedua kelompok ini sama-sama buruknya. Karena yang benar, mereka semuanya adalah orang-orang yang melakukan ijtihad dalam rangka menaati Allah, sebagaimana ijtihad yang dilakukan selain mereka, yang sama-sama berusaha untuk selalu taat kepada Allah. Diantara mereka ada yang termasuk kategori as-sabiq, yaitu orang yang mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuannya. Dan diantara mereka ada yang termasuk kategori al-muqtashid yaitu termasuk kelompok kanan (ahlul yamin). Yang jelas di dalam kedua golongan terdapat beberapa orang yang telah melakukan ijtihad lalu ia melakukan kesalahan. Ada juga yang berbuat dosa kemudian dia bertaubat atau tidak bertaubat.

Diantara orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan mereka ada pula yang termasuk dalam kategori “menganiaya diri sendiri” (zhalim li nafsih) yang melakukan maksiat terhadap Tuhannya.

Sikap moderat merupakan sikap yang paling adil dan paling benar dari penilaian yang berlebihan atau sikap meremehkan. Karena bukan sikap yang adil, jika seseorang menilai mereka dengan melepaskan setiap keutamaan yang mereka miliki dan menjelek-jelekkan mereka dengan kekurangan mereka. Sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang fanatik dalam menentang kaum sufi dengan melemparkan tuduhan bid’ah dan berbagai penyimpangan terhadap kaum sufi yang mengotori kesucian Islam dan menodai kehidupan kaum muslimin.

Tuduhan seperti yang dilakukan mereka tidak menunjukkan sikap yang obyektif. Karena semua golongan yang ada di dalam tubuh umat memiliki sisi negatif dan positif sekaligus. Tidak ada satu kelompok pun yang terlepas dari sikap berlebihan atau meremehkan. Orang-orang yang ikhlas diantara kaum sufi tetap mendapat pahala atas kebaikan yang telah dilakukan. Adapun kesalahan-kesalahan mereka, Insya Allah akan diampuni. Bahkan mereka mendapatkan ganjaran yang berlipat jika kebaikan-kebaikan itu dilakukan melalui pengkajian yang mendalam dan ijtihad.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, hal. 65-68, penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2003

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: