Archive for June, 2013

Niat

Makna amal perbuatan bergantung kepada niatnya menunjukkan beberapa perkara:

1. Suatu amalan tidak diakui oleh syara’ sehingga ada hubungan dengan masalah dosa dan pahala, kecuali apabila disertai dengan niat.

2. Menentukan amalan yang diniati secara tepat dan menjelaskan perbedaannya dengan amalan-amalan lain, merupakan syarat dalam niat. Oleh sebab itu, tidaklah cukup niat melakukan shalat secara umum, melainkan harus ada penentuan shalat Zhuhur, Ashar atau Subuh misalnya. Ini adalah kesepakatan semua ulama.

3. Barangsiapa berniat melakukan amal saleh, kemudian ada sesuatu yang menghalanginya untuk merealisasikan niatnya itu seperti sakit atau mati, maka dia tetap mendapatkan pahala. Karena orang yang mempunyai kehendak untuk melakukan kebajikan kemudian dia tidak bisa melakukannya diberi pahala satu kebajikan. Dan barangsiapa berkehendak melakukan kejelekan namun dia tidak jadi melakukannya maka dosa tersebut tidak dicatat. Imam as-Suyuthi berkata, “Barangsiapa bertekad melakukan kemaksiatan, kemudian dia tidak melakukannya atau tidak mengucapkannya, maka dia tidak berdosa.” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh imam hadits yang enam dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbetik dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.

4. Keikhlasan dalam beribadah dan dalam melakukan amalan-amalan syara’ adalah asas bagi mendapatkan pahala di akhirat, kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia. Dalilnya adalah sebagaimana ditegaskan oleh Imam az-Zaila’i bahwa orang yang melakukan shalat membutuhkan niat yang ikhlas.

5. Semua amal yang bermanfaat atau pekerjaan yang mubah atau meninggalkan sesuatu yang dilarang apabila disertai dengan niat yang baik dan dimaksudkan untuk melaksanakan perintah Allah, dianggap ibadah dan akan mendapatkan pahala dari Allah.

6. Apabila tujuan ketika mengerjakan sesuatu adalah untuk disenangi orang, supaya terkenal atau untuk mendapatkan kemanfaatan duniawi, maka orang yang melakukannya tidak akan mendapat pahala di akhirat.

Sumber:
Buku “Fiqih Islam wa Adillatuhu” jilid 1 karya  Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili hal. 135, penerbit Gema Insani dan DarulFikir, 2010.

Leave a comment

Apakah Harus Memilih Mazhab Tertentu?

Para ulama terbagi menjadi dua kelompok:

Pertama. Harus mematuhi satu mazhab tertentu
Al-Jalal al-Mahalli mengatakan dalam syarahnya terhadap kitab Jam’ al-Jawami’, “Pendapat yang lebih unggul adalah bahwa orang awam dan lainnya yang belum mencapai derajat mujtahid wajib mengikuti mazhab tertentu dari mazhab-mazhab para mujtahid yang diyakininya lebih unggul dari yang lain atau sebanding dengan yang lain, meskipun pada kenyataannya ada mazhab yang lebih kuat. Dan dalam keadaan memilih mazhab yang sebanding dengan yang lain, maka seharusnya berusaha untuk meyakini yang lebih unggul, agar ada alasan mengapa dia menjatuhkan pilihannya kepada mazhab tertentu dan tidak memilih yang lain.”

Kedua. Dia tidak harus mematuhi mazhab tertentu pada setiap kejadian, tetapi bebas mengambil pendapat mujtahid yang dia kehendaki.
Inilah yang benar. Ada ungkapan terkenal, “Orang awam tidak memiliki mazhab, mazhabnya adalah mazhab muftinya,” yakni orang yang dikenal alim dan adil.

Pendapat terakhir inilah yang benar. Imam an-Nawawi pernah berkata, “Yang dipahami dari dalil yang ada adalah bahwa dia tidak harus mengikuti mazhab tertentu, tetapi bebas meminta fatwa kepada siapa saja yang dia kehendaki atau siapa saja yang kebetulan bersedia dan memungkinkan, asal tidak mencari-cari keringanan. Bisa jadi orang yang melarang hal ini karena khawatir akan terjadi praktek mencari-cari keringanan.”

Ibnu ‘Abidin pernah menukil pendapat asy-Syurunbulali yang mengatakan, “Seseorang tidak harus mematuhi mazhab tertentu, tetapi boleh mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan mazhabnyavkarena mengikuti imam lain yang memenuhi syarat menjadi mujtahid, sehingga memungkinkannya untuk melakukan dua perkara yang saling bertentangan pada dua peristiwa yang tidak berkaitan satu sama lain. Dia juga tidak boleh membatalkan keabsahan apa yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengikuti imam lain. Pelaksanaan suatu pekerjaan sama seperti pelaksanaan putusan hakim, tidak bisa dibatalkan.

Keikutan seorang muqallid  kepada seorang mujathid adalah keikutan kepada kebenaran, dalam arti bahwa seorang mujtajid tidak akan mengikuti kecuali apa yang ditunjukkan oleh ijtihadnya. Ketika memilih salah seorang mujtahid, seorang muqallid juga tidak perlu membayangkan bahwa orang lain berada dalam kesalahan.

Adapun mengikuti mazhab dalam rangka studi dan belajar agama, maka merupakan suatu hal yang tidak mungkin ditinggalkan, karena mazhab empat yang hingga kini menjadi panutan kaum muslimin telah mempersembahkan pengabdian yang tidak pernah diberikan oleh yang lain. Maka seorang pelajar hendaknya mentransmisikannya dengan benar, mancatatnya, mengetahui mana yang lebih unggul, meneliti dalilnya dan menyusun riwayat hidup para imamnya, sehingga menjadikan masing-masing dari mazhab itu sebagai madrasah tersendiri yang memiliki prinsip-prinsip dasar yang jelas dan masalah-masalah parsial yang terurai.

Sumber:
Buku “Bukan Bid’ah. Menimbang Jalan Pikiran Orang-orang Yang Bersikap Keras dalam Beragama” karya Prof. Dr. Ali Jum’ah hal 66-69, 2012.

Leave a comment